P. 1
Makalah Agama Akhlak Dan Tasawuf

Makalah Agama Akhlak Dan Tasawuf

|Views: 309|Likes:
Published by ryseventhauro

More info:

Published by: ryseventhauro on Nov 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2015

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas kehendak dan keridhoannya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Akhlak dan Tasawuf ini dengan baik. Makalah ini disusun sebagai upaya untuk memenuhi salah satu tugas yang tercantum dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam, semester awal. Dalam makalah ini menyajikan tentang pengertian akhlak dan tasawuf, sumber-sumber surat (dalil-dalil), contoh dalam kehidupan sehari-hari dan masih banyak lagi. Pada kesempatan ini, kami penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Agama Islam, yang telah banyak membantu dan memberi pengarahan dalam membuat makalah ini. Akhirnya kami tim penyusun mengharap saran dan kritik demi kesempurnaan makalah ini.

Bandung, Des 2005

Penyusun

1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………… 1

DAFTAR ISI ………………………………………………... 2

Pendahuluan …………………………………………………. 3

Akhlak dalam Islam ………………………………………… 4

Tasawuf dalam Islam ……………………………………….. 7

Kesimpulan………………………………………………….. 8

2

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Banyak kendala kehidupan yang dihadapi manusia pada zaman sekarang ini, kendala-kendala yang umumnya banyak dirasakan oleh manusia zaman sekarang ialah kendala ketenangan dan kebahagiaan hidup. Banyak orang kaya dari segi kemeterian tetapi ternyata belum dapat dipastikan keadaan batin mereka merasakan bahagia dan tenang, hal ini dikarenakan waktu yang mereka punya digunakan untuk urusan-urusan dunia, sehingga mereka lupa akan kebutuhan rohani mereka. Mereka lupa akan kebutuhan rohani mereka dan keadaan lalai seperti ini kebanyakan terdapat pada orangorang yang terlalu mencintai harta dan lupa akan perintah Allah. Namun dibalik keadaan kehidupan yang seperti ini, ada pula orangorang yang mulai tersadar akan keadaan dirinya dan akan kebutuhan kerohaniannya. Mereka sadar akan makna kehidupan, mereka tidak mengejar kehidupan duniawi akan tetapi mereka tekun dalam berinbadah kepada Tuhannya, memperbanyak dzikir, zakat, puasa dan apapun yang mendekatkan diri padaTuhan. Keadaan seperti inilah yang membuat hati mereka tterlarut dalam kedamaian. Merekalah orang-orang yang disebut sebagai orang-orang Tasawuf / sufi. Dan hal inilah yang akan menjadi materi dalam makalah ini, pembahasan tentang akhlak dan tasawuf yang terdapat dalam khasanah kehidupan. II. Tujuan • Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Agama Islam • Untuk memahami beberapa hal tentang akhlak dan tasawuf. • Supaya dapat mengaplikasikan akhlak dan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari.

3

Akhlak Dalam Islam
Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab. Adalah Jama’ Taksir dari kata yang diartikan dengan istilah perangai atau kesopanan. Asal kata akhlak adalah meervoud dari khilqun; yang mengandung segi-segi persesuaian dengan kata khaliq dan mahluk. Dari sinilah asal perumusan Ilmu Akhlak ang merupakan koleksi ugerah yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara mahluk dengan khaliq dan antara mahluk dengan mahluk yang lain (Barmawie Umarie, 1978 : 1). Para ulama ilmu akhlak merumuskan pengertian akhlak berbeda-beda, antara lain: 1 Al-Qurthuby mengatakan : “ suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab-kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadiannya. “ (Al-Qurtuby, 1913 : 6706 pada buku Mahyudin, 1999 : 2). 2 Ibnu Maskawih mengatakan : “ Akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat, tanpa memikirkannya (lebih lama).” (Muhammad Ysuf Musa, 1963 : 81, pada buku Mahyudin, 1999 : 3). Imam Ghazaly menekankan, bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, yang dapat dinilai baik buruk, dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan norma agama (Al- Ghazaly, Ihya ‘ Ulumuddin’ :52). Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa akhlak pada dasarnya melekat dalam diri seseorang dalam bentuk perilaku dan perbuatan. Jika perilaku yang melekat itu buruk, disebut akhlak buruk (mazmumah) dan apabila perilaku tersebut baik, disebut akhlak baik (mahmudah).

3

Jenis- jenis akhlak
ulama ahlak menyatakan bahwa ahlak yang baik merupakan sifat para Nabi dan orang-orang shalih, sedangkan ahlak yang buruk merupakan sifat syaithan dan orang-orang yang tercela. pada dasarnya, ahlak itu terdiri atas dua jenis: a. Akhlak yang baik atau terpuji (akhlaaqul Mahmuudah) yaitu perbuatan yang baik terhadap Allah Ta'ala, sesama manusia dan mahluk yang lain. b. ahlak yang buruk atau tercela ( akhlaaqul Madzmuumah ) yaitu perbuatan buruk terhadap Allah Ta'ala sesama manusia dan mahluk yang lain.

4

Mengenai jenis ahlak akan diuraikan sebagai berikut :
• Akhlak baik terhadap Kholik melipurti: a. Bertaubat (At-Tauba ) yaitu sikap yang menyesali perbuatan-perbuatan buruk yang pernah dilakukannya dan berusaha menjauhinya serta melakukan perbuatan baik. Dalam Al quran banyak diterangkan masalah taubat antara lain At-Taubah ayat 75, An-Nisa ayat 16-17, An-Nur ayat 31, At-Tahrim ayat 8 dan An-Nahl ayat 119. b. Bersabar (Asy-Syukur) yaitu sikap dapat menahan diri pada kesulitan yang dihadapinya, tidak berarti sabar itu langsung menyerah tanpa usaha untuk melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapinya. sabar yang dimaksudkan adalah sikap yang diawali dengan ikhtisar lalu diakhiri dengan ridha dan ikhlas seseorang dilanda suatu cobaan. Dalam Al quran diterangkan dalam surat Ali Imran ayat 18 dan 120, Luqman ayat 18, An-Nisa ayat 24, Huud ayat 11, 49 dan 116, Al-Anfal ayat 47 , Al-Ma'arif ayat 5. c. Bersyukur (Asy-Syukr) yaitu suastu sikap yang selalu ingin memanfaatkan sebaik-baiknya nikmat baik yangbersifat fisik maupun non fisik yang disertai peningkatan pendekatan kepada Allah Ta'ala. Yang diterangkan dalam surat AlBaqarah ayat 52,56,152,158,172,185. d. Bertawakal (At-Tawakal) yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta'ala setelah berbuat semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Yang diterangkan dalam surat huud ayat 56,77,123. e. Ikhlas (Al-Ikhlas) yaitu menjauhkan diri dari sikap riya' ketika mengerjakan amal baik. Yang diterangkan dalam surat Al-BAqarah ayat 94,139, Yusuf ayat 24,54,80, Az-Zumar ayat 2,3,11,14, Ash-Shaffaat ayat 40,74. f. Raja' (Ar-Rajaa') yaituy sikap jiwa yang sedang menunggu sesuatu yang disenangi dari Allah Ta'ala setelah melakukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya sesuatu yang diharapkannya. bila tidak mengerjakan atau hanya menunggu sesuatu yang diharapkan maka hal itu disebut "tamanni" atau khayalan. Yang diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 218, An-Nisa ayat 103, Al-Isra ayat 28,57, Al-Kahfi ayat 111. g. Bersikap takut (Al-Khauf) yaitu sikap jiwa yang sedang menunggu sesuatu yang tidak disenangi dari Allah Ta'ala.Yang diterangkan dalam sirat Al-MAidah ayat 25,31,97,111, Al-An'am ayat 15,80,81, Al-A'raf ayat 47,55,57, As-Sajdah ayat 16.

Akhlak buruk terhadap Kholik melipurti: a. Takabbur (Al-Kibru) yaitu suatu sikap yang menyombongkan diri sehingga tidak mau mengalui kekuasaan Allah Ta’ala di ala mini, termasuk mengingkari nikmat Allah Ta’ala yang ada padanya. Allah Ta’ala berfirman pada surat Al- Araf ayat 146, An-Nahl ayat 23, 29 , Al- Mumin ayat 27, 35. b. Musyrik (Al-Isyraak) yaitu sikap yang mempersatukan Allah Ta’ala dengan mahluk-Nya dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu mahluk yang menyamai kekuasaan-Nya. Dalam Al quran, banyak diterangkan masalah musyrik 5

antara lain pada surat An-Nahl ayat 100, 120, Al- Ankabut ayat 8, Ar- Ruum ayat 31, 42 , Luqman ayat 13, Az-zumar ayat 65. c. Murtad (Ar-Riddah) yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama Islam, untuk menjadi kafir. Dalam Al quran, banyak diterangkan masalah murtad antara lain pada surat Al- Baqarah ayat 217, Al-Maidah ayat 54, Muhammad ayat 25. d. Riya (Ar- Riya) yaitu suatu sikap yang selalu menunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya, berbuat bukan karena Allah Ta’ala, melainkan hanya ingin dipuji oleh manusia. Perbuatan ini kebalikan dari sikap ikhlas. Dalam Al quran, banyak diterangkan masalah riya antara lain pada surah Al- Baqarah ayat 264, An- Nisa ayat 38, Al- Anfal ayat 47. e. Boros atau berfoya-foya (Al-Israaf) yaitu perbuatan yang selalu melampaui batasbatas ketentuan agama. Allah Ta’ala melarang bersikap boros karena hal itu termasuk dosa terhadap-Nya, merusak perekonomian manusia, merusak hubungan social, serta merusak diri sendiri. DAlam Al quran banyak diterangkan sikap boros antara lain pada surah An-Nisa ayat 6, Al-An’am ayat 141, Asy-Syu’ara ayat 151, Al-Mu’min ayat 28,34, Az-Zumar ayat 53. f. Rakus atau tamak (Al-Hirshu) yaitu suatu sikap yang tak pernah merasa cukup sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya dia miliki tanpa memperhatikan hak-hak orang lain. Hal ini termasuk kebalikan dari rasa cukup dan merupakan ahlak buruk terhadap Allah Ta’ala karena melanggar ketentuan larangannya. Dalam alqur’an, terdapat keterangan masalah rakus atau tamak antara lain pada surat Al-Baqarah ayat 96 dan surat Al-Mudatsir ayat 15. • Akhlak baik terhadap sesama manusia, antara lain: a. belas kasih atau kasih sayang yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan menyantuni orang lain. Diterangkan dalam Q.S. Ali Imran ayat 159. b. Rasa persaudaraaan yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berhubungan baik dan bersatu dengan orang lain karena ada keterikatan batin dengannya. Diterangkan dalam Q.S. Al-Imran ayat 103. c. Memberi nasihat yaitu suatu upaya untuk memberi petunjuk yang baik kepada orang lain. Dalam Al quran, terdapat keterangan masalah memberi nasihat antara lain surat Al-A’araf ayat 61,68,79,94, surah Huud ayat 34, Al- Qashash ayat 20, dan surat Al-Ashr ayat 3. d. Memberi pertolongan yaitu suatu upaya untuk membantu orang lain agar tidak mengalami suatu kesulitan. Diterangkan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 270, AlImran ayat 81, Al-Anfal ayat 72,74, Al-Hajj ayat 40. e. Menahan Amarah yaitu upaya menahan emosi agar tidak dikuasaai oleh perassan marah terhaadap orang lain. Diterangkan dalam Q.S. Al-Imran 134. f. Sopan santun yaitu sikap jiwa yang lemah lembut terhadap orang lain sehingga dalam perkataan dan perbuatannya selalu mengandung adab kesopanan yang mulia. Diterngkan dalam Q.S. Hud ayat 75. g. Suka memaafkan yaitu sikap yang suka memaafkan kesalahan orang lain yang pernah dibuat terhadap dirinya. Diterangkan dalam Al-Hadits oleh HR. Al-Khatib

6

yang bersumber dari An-Naas (“Tiga perkara yang termasuk akhlak baik, yang disenangi Allah agar engkau memaafkan orang yang telah menganiaya engkau, memberi kebaikan kepada orang yang telah menghalang-halangimu, dan menghubungi orang yang pernah memutuskan tali persahabatan denganm”).

Akhlak buruk terhadap sesama manusia, antara lain: a. Mudah marah yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadaran dirinya sehingga menonjolkan sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan orang lain. Kemarahan selalu ada dalam diri setiap orang, tetapi Islam memberikan tuntunan untuk mengendalikan sifat tersebut dengan baik. Diterangkan dalam Q.S. Al-A’raf ayat 150 dan 154. Iri hati atau dengki yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bias hilang sama sekali. Diterangkan dalam Q.S. Al- Baqarah ayat 109, An-Nisa ayat 54, Al-FAthir ayat 15, dan Al-Falaq ayat 5. Mengadu-adu yaitu sikap yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain agar hubungan social keduanya rusak. Diternagkan dalam Q.S. AlQalam ayat 10-11. Mengumpat yaitu suatu sikap yang suka membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain. Diterngkan dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 12. Bersikap kikir yaitu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain. Diterangkan dalam Q.S. Al-Imran ayat 180. Berbuat aniaya yaitu suatu perbuatan yang merugikan oaring lain baik merugikan materil maupun non materil. Al quran memberikan tuntunan karena sifat ini berbahaya bagi masyarakat. Diterangkan dalam Q.S.Al-Baqarah ayat 95,246,258, Al-Imran ayat 57,128, An-Nisa ayat 10,30.

b.

c. d. e. f.

Tashawuf Dalam Islam
Pengertian Tashawuf dan Shufi Para ulam Tashawuf berbeda cara memandang kegiatan tashawuf sehingga dalam merumuskan definisi tashawuf terdapat perbedaan, tetapi hal itu tidak sampai pada pemahaman yang berbeda, diantaranya : a. Imam Al-Ghazaly mengemukakan pendapat Abu Bakar Al-Kattany yang mengatakan : “ Tashawuf adalah budi pekerti, barang siapa memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam tasafuw. Maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal, karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan nur ( petunjuk ) Islam. Dan ahli zuhud yang jiwanya menerima ( perintah ) untuk melakukan beberapa ahlak ( terpuji ), karena mereka telah melakukan suluk dengan nur imannya” (Al-

7

Ghazaly, juz II : 376). b. Mahmud Amin An-NAwawy mengemukakan pendapat Al-Junaid AlBaghdaady yang mengatakan : “ Tasawuf adalah memelihara (menggunakan) waktu. (Lalu) ia berkata : Seorang hamba tidak akan menekuni (amalan tasawuf) tanpa aturan (tertentu), (menganggap) tidak tepat ( ibadahnya ) tanpa tertuju kepada Tuhan-Nya dan merasa tidak berhubungan dengan tuhannya) tanpa menggunakan waktu (untuk beribadah kepada-Nya) “ (Mahmud Amin Nawawy, 1989 : pada buku MAhudin, 1999 : 45). Sumber Tasawuf Kecendrungan pada tingkah laku sufi memilliki pengaruh dari dalam yang murni yaitu pengaruh yang berkaitan dengan pribadi sesorang dari sebelah dalam lebih banyak daripada factor luar. Dengan demikian, harus ada persiapan pribadi seseorang yang alami untuk menempuh jalan ini. Cukuplah dengan beramal, seperti ucapan, pemikiran, isyarat atau satu peristiwa. “ sesungguhnya aku pergi mengahdap Tuhanku” (QS. As-Shafaat, 37 :99). Ajaran tasawuf banyak tersirat dalam al quran sehingga dalam ajaran tasawuf ada maqomat (tingkatan) tertentu bagi orang- orang yang ingin mengamalkan ajaran tasawuftersebt. Diterangkan dalam QS. Al-Ahzab, 33 : 41-42 (“Ahli orang-orang yang beriman, berdzikirlah ( engan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”). Dan sabda nabi yang diterangkan oleh HR. Bukhori yang bersumber dari Abi Sa’id Al-Khudruyyi (“Takutlah firasat orang-oarang mu’min karena ia dapat memandang dengan nur (petunjuk Allah). Maqomat Kaum Shufi • • Menurut Abu Bakar Muhammmad Al- Kalabi maqomat tesebut yakni : - Tobat - Takwa - Zuhud - Tawakal - Sabar - Kerelaan - Kefakiran - Cinta - Kerendahan - Ma’rifat Al-Ghazaly dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan : - Tobat - Tawakal - Sabar - Cinta - Kefakiran - Ma’rifat - Zuhud - Kerelaan

Tahapan-tahapan dalam Tasawuf a. Syariat Istilah syariat dirumuskan definisinya oleh As-Sayyid Abu Bakar Al-MA’ruf dengan mengatakan : “ Syariat adalah suruhan yang telah diperintahkan oleh allah dan larangan Yang telah dilarang-Nya. Diterangkan juga dalam al quran QS. Al-MAidah, 5 : 48 (“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan ( tata cara pelaksanaannya ) yang terang”). b. Tarikat Istilah tarikat bersal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada hakikat atau dengan kata lain pengamalan syariat yang disebut “Al-Jaraa” atau “Al-Amal”, sehinnga Syeikh Muhammad Amin Al-Kurdi mengemukakan tiga macam

8

definisi yaitu : “ Tarekat adalh pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadah dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah yang sebenarnya tidak mudah”. c. Hakikat Istilah hakikat berasal dari kata haqq yang berarti kebenaran. Menurut AsySyeikh Abu Bakar Al-Ma’ruf “ Hakikat adalah suasana kejiwaan seorang shufi ketika ia mencapai suatu tujuan sehinnga ia dapat menyaksikan tanda-tanda ketuhanan dengan mata hatinya”. d. Ma’rifat Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yangberarti mengetahuui atau mengenal sesuatu. Asy-Syeikh Ihsan Muhammad DAhlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth AS-Samiriy bahwa : “Ma’rifat adalah hadirnys kebensrsn Allah (pada Shufi) dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi”.

Kesimpulan :
• • Akhlak merupakan koleksi anugerah yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara mahluk dengan Kholiq dan antara mahluk yang lainnya. Akhlak pada dasarnya melekat dalam diri seseorangdalam bentuk perilaku dan perbuatan. Jika perilaku yang melekat buruk disebut akhlak buruk yang merupakan sifat syaithan dan orang-orang yang tercela. Dan apabila perilaku tersebut baik disebut akhlak baik yang merupakan sifat para nabi dan orang-orang yang salih. Tasawuf adalah budi pekerti, dapat juga diartikan sebagai memelihara (menggunakan waktu). Tahap-tahap Tasawuf yakni : Syariat, Tarikat, Hakikat, Ma’rifat.

• •

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->