P. 1
Analisis Naskah Drama Perjuangan Suku Naga WS Rendra

Analisis Naskah Drama Perjuangan Suku Naga WS Rendra

|Views: 2,019|Likes:
Published by Amran Halim
WS Rendra menentang keras ketidakadilan, dan eksploitasi terhadap alam. mempertahankan berarti memperjuangkan sekuat tenaga.
WS Rendra menentang keras ketidakadilan, dan eksploitasi terhadap alam. mempertahankan berarti memperjuangkan sekuat tenaga.

More info:

Published by: Amran Halim on Nov 02, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved
List Price: $4.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

06/06/2014

$4.99

USD

Analisis Struktur Naskah Drama Perjuangan Suku Naga Karya WS Rendra

Oleh Amran Halim

Karya Ilmiah

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia 2012
1

Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................. 3 1.3 Sistematika Uraian ............................................................................................. 3 BAB II LANDASAN TEORI DAN DEFINISI 2.1 Analisis Struktur A.J Greimas ........................................................................... 5 2.3 Definisi Struktur Drama..................................................................................... 6 BAB III ANALISIS STRUKTUR MODEL AJ GREIMAS, DAN STRUKTUR DRAMA DALAM KISAH PERJUANAGN SUKU NAGA KARYA WS RENDRA 3.1 Struktur Aktan Perjuangan Suku Naga...................................................................................... 13 3.1.1 Sinopsis .......................................................................................................................... 13 3.1.2 Skema Aktan .................................................................................................................. 15 3.2 Struktur Drama .......................................................................................................................... 32 3.2.1 Tema ................................................................................................................................ 32 3.2.2 Plot ................................................................................................................................... 33 3.2.3 Setting .............................................................................................................................. 33 3.2.4 Tokoh ............................................................................................................................... 33 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan .. ................................................................................................................................. 36 Daftar Pustaka ............................................................................................................................ 37

2

Sebagai bentuk kesusastraan. (Bakdi Soemanto. Kata ―drama‖ juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM). baik praktisi. Bambang Sugiharto. Akan tetapi. Selain dapat dinikmati sebagai bacaan seperti halnya novel dan cerpen. Dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Struktur ini pertama kali di rumuskan oleh Aristoteles yang membagi menjadi lima bagian besar. atau becermin pada karya Rendra. Naskah lakon (drama) sebagaimana karya sastra lain. ataupun penikmat drama pada umumnya. 2008: 1). Senada dengan apa yang dikatakan guru besar filsafat Universitas Parahyangan. Orang menjadi merenung. Bandung. dan tokoh. Oleh karena itu. Untuk itu. Kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno ―draomai” yang berarti bertindak atau berbuat dan ―drame” yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. untuk tidak mempelajari teks drama sepanjang kita tidak melupakan bahwa tulisan itu untuk dipentaskan WS Rendra adalah seorang dramawan yang terosohor memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perjalan dunia teater di Indonesia. teks tertulis perlu dipelajari. drama pun dapat dijadikan sebagai sebuah pertunjukan. penulis sangat 3 . Sabtu 8 Agustus 2009). setting. dan konklusi (catastrope). Karya-karya WS Rendra pun terkenal sangat bijak dan penuh dengan renungan hidup. Drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra. yaitu eksposisi (pemaparan). naskah lakon yang khusus dipersiapkan untuk dipentaskan mempunyai struktur lain yang spesifik. sebelum dipentaskan.BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Drama merupakan karya yang unik. berefleksi. dalam Santosa dkk. anti klimaks atau resolusi. peneliti. pada dasarnya mempunyai struktur yang jelas. Kelima bagian tersebut pada perkembangan kemudian tidak diterapkan secara kaku. tidak ada alasan bagi kita. 2008:44). komplikasi. tetapi lebih bersifat fungsionalistik (Santosa dkk. dan Putu Wijaya. klimaks. sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). ‖Tidak berlebihan jika dikatakan pada sosok Rendra kesenian setiap kali berfungsi sebagai nurani peradaban. memiliki murid yang kini menjadi seorang dramawan besar seperti diantaranya N Riartiarno.‖ (Kompas. yaitu tema. plot.

tertarik untuk mengapresiasi karya-karya WS Rendra, salah satunya adalah naskah drama Kisah Perjuangan Suku Naga. Kisah Perjuangan Suku Naga ditulis oleh WS Rendra pada tahun 1975 ini menggunakan ruh teater rakyat (teater tradisional) yaitu mengambil idiom-idiom dari wayang, longser, lenong, ludruk, ketropak dsb. Dengan konsep demikian tentunya pagelaran tidak lantas akan menjadi seperti teater tradisi pada umumnya. Pertunjukan tetap menjadi pertunjukan modern. Tokoh- tokoh yang terdapat dalam lakon ini yakni Dalang, Koor Mesin, Koor duta Besar, Abivasam (Kepala Suku Naga), Abivara (Putra Abivasam), Carlos (Wartawan dari Tanah Seberang), Paman, Supaka (Bibi), Ratu Astinam, Perdana Menteri Astinam, Kolonel Srenggi, Menteri Keamanan Astinam, Ketua Parlemen, Mr. Joe (Duta Besardari tanah seberang), Menteri Pertambangan Astinam, Setyawati (Pacar Abivara), Insinyur, The Big Bos. (Rendra, 1975:2) Naskah drama yang berisikan 18 babak ini bercerita tentang perjuangan masyarakat adat yang mempertahankan tanah dan budaya lokalnya di tengah gempuran ―pembangunan‖ ala pemerintahan Astinam. Dikisahkanlah Abivara, putra kepala suku naga, yang baru pulang dari Luar Negeri bersama kawannya, Carlos menghadang rencana pembangunan proyek pertambangan di bukit Saloka. Proyek tersebut otomatis akan menggusur penduduk suku naga, karena tidak hanya eksplorasi barang tambang melaionkan akan dibangun juga pemukiman buruh tambang dengan segala fasilitas kesehariannya; sekolah, rumah sakit, pasar dll. Selain desakan dan teror yang dilakukan oleh pemerintahan Astinam, Abivara pun harus menghadapi pemahaman ―modern‖ yang didambakan oleh kekasih dan bibinya sendiri. Pemahaman modern yang digembargemborkan pemerintah dan diserap oleh kekasih dan bibinya sama sekali bertentangan dengan paham atau keyakinan penduduk suku naga; bahwa alam dan manusia harus saling bertukar karya serta saling menjaga. ―Petani yang maju, cepat mengenal tanaman baru dan cara yang baru untuk menjaga alamnya‖ (Rendra, 1975:16). Namun karena saat apresiasi merupakan tindakan menggauli karya sastra, maka mengkaji ialah tindakan menganalisis yang membutuhkan ilmu atau teori yang melandasinya. Tentang penjelasan mengkaji seperti yang diungkapkan oleh Aminudin (1995:39) kajian (sastra) adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antarunsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu. Maka dalam makalah ini, penulis berupaya membedah struktur cerita dalam
4

naskah drama Kisah Perjuangan Suku Naga dengan menggunakan Analisis Struktur Model AJ Greimas.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana Skema aktan Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra? 2. Bagaimana struktur drama Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra? 1.3 Sistematika Uraian 1. Membuat skema aktan Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra. 2. Menjabarkan landasan teori dan definisi teori yang digunakan untuk menyusun struktur Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra. 3. Penjabaran struktur Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra 4. Kesimpulan

5

BAB II LANDASAN TEORI DAN DEFINISI 2.1 Analisis Struktural Model A.J. Greimas Sejalan dengan upaya mengetahui pandangan dunia pengaran dengan menggunakan teori strukturalisme genetik, terlebih dahulu peneliti akan mengkaji struktur intrinsiknya. Abrams (Fransiska, 2010) berpendapat bahwa telaah karya sastra akan lebih dipahami secara tepat, jelas, dan utuh apabila tidak melepaskan struktur intrinsiknya. Naratologi Algirdas Julien Greimas (Selden, 1986: 59-60; Culler, 1997: 77-87; Ratna: 2007: 137-140) merupakan kombinasi antara model paradigmatis Levi-Strauss dengan model sintagmatis Propp. Namun objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre dongeng, tetapi diperluas pada mitos. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama, Greimas memberikan perhatian pada relasi, menawarkan konsep yang lebih tajam, dengan tujuan yang lebih umum, yaitu tata bahasa naratif univesal. Dengan menolak aturan, dikotomi yang kaku, Greimas pada gilirannya lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Tidak ada subjek di balik wacana, yang ada hanyalah subjek, manusia semu yang dibentuk oleh tindakan, yang disebut actans dan acteurs. Aktan tersebut kemudian dikelompokkan menjadi tiga pasangan oposisi biner, yaitu: subjek dengan objek, pengirim dengan penerima, penolong dengan penentang. Skema aktansial yang digunakan akan menurunkan struktur sebuah cerita didasari oleh adanya oposisi-oposisi biner yaitu; subjek (S) yang menginginkan suatu objek (O). Objek ini pada gilirannya, merupakan objek yang dikomunikasikan antara pengirim (sender/P1) dan penerima (receiver/P2). Bersamaan dengan itu, keinginan S didukung oleh penolong (helper/P3) dan dihambat oleh penghalang (opponent/P4). Secara lebbih ringkas, akan nada tiga pasang oposisi biner: (1) subjek-objek, (2) pengirim-penerima, dan (3) penolong-penghalang. 1. Subjek – objek Menurut Ratna (2007: 139), di antara ketiga pasangan oposisi biner aktan-aktan ini, yang terpenting adalah pasangan subjek-objek. Hal ini disebabkan karena tidak akan ada objek jika tidak ada subjek, begitu pula sebaliknya. Subjek ditugasi oleh pengirim untuk

6

mendapatkan objek. Objek bisa berupa hal yang konkrit, seperti ―manusia‖ atau ―sesuatu‖; akan tetapi bisa berupa hal yang abstrak, seperti ―pengetahuan‖, ―cinta‖, dan ―kekuasaan‖. 2. Pengirim – penerima Pengirim adalah pelaku atau seseorang (dapat pula sebuah ide) yang memotivasi suatu tindakan, atau yang mengakibatkan sesuatu terjadi (Amiruddin, 2002: 34; dalam Fansiska, 2010: 23). Dengan kata lain, pengirim memprovokasi subjek untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan objek, sedangkan penerima merupakan sesuatu atau seseorang yang menerima objek yang diusahakan oleh subjek. 3. Pendukung – penghalang Pendukung merupakan sesuatu atau seseorang yang membantu atau mempermudah usaha subjek untuk mendapatkan objek, sedangkan penghalang merupakan sesuatu atau seseorang yang menghalangi usaha subjek dalam mencapai objek. Adapun skema aktansialnya adalah sebagai berikut: SKEMA AKTAN Pengirim Objek Penerima

Pendukung

Subjek

Penghalang

Selain menunjukkan bagan aktan, (Sumiyadi, 2010: 59) Greimas juga mengemukakan model cerita yang tetap sebagai alur. Model itu dibangun oleh berbagai tindakan yang disebut fungsi. Model yang kemudian disebut model fungsional itu memiliki cara kerja yang tetap karena memang sebuah cerita selalu bergerak dari situasi awal ke situasi akhir.

7

Adapun model fungsional yang dimaksud adalah sebagai berikut. MODEL FUNGSIONAL SITUASI AWAL TRANSFORMASI TAHAP UJI KECAKAPAN TAHAP UTAMA TAHAP KEBERHASILAN SITUASI AKHIR

(1) Dalam situasi awal ditampilkan keadaan sebelum terjadi suatu peristiwa yang mengganggu keselarasan atau keseimbangan. Biasanya cerita diawali dengan munculnya pernyataan adanya keinginan untuk mendapatkan sesuatu sehingga muncul tindakan pemanggilan perintah, atau persetujuan. (2) Dalam transformasi terdapat tiga tahap, yaitu tahap uji kecakapan (adanya usaha subjek, munculnya penentang dan penolong, dan jika subjek/ pahlawan tidak mampu mengatasi tantangan akan didiskualifikasi sebagai pahlawan), tahap utama (adanya pergeseran ruang dan waktu, dalam arti pahlawan telah mengatasi tantangan dan melakukan perjalanan kembali), dan tahap kegemilangan atau keberhasilan (kedatangan pahlawan, eksisnya pahlawan asli, terbongkarnya tabir pahlawan palsu, hukuman bagi pahlawan palsu, dan jasa bagi pahlawan sejati). (3) Dalam situasi akhir subjek berhasil mendapatkan objek, objek telah diterima oleh penerima, keseimbangan telah terjadi, dan berakhirlah suatu keinginan terhadap sesuatu. Namun, situasi dapat terjadi sebaliknya, yaitu subjek gagal mendapatkan objek. Dengan skema aktan dan model fungsional yang diajukan oleh Greimas memiliki hubungan kausalitas: hubungan antaraktan ditentukan oleh fungsi-fungsi dalam membangun struktur cerita. 2.2 Devinisi Struktur Drama Dari sekian banyak buku yang memaparkan tentang struktur narasi sebuah karya sastra, khususnya drama, dalam kajian struktur naskah drama Kisah Perjuangan Suku Naga, pengkaji memilih buku Santosa Eko, dkk. 2008. Seni Teater Jilid 2 untuk SMK.

8

Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, sebagai rujukan devinisi, pengistilahan dan tehnik analisis drama. Buku tersebut secara khusus diperuntukkan memahami dan mempraktikkan seni teater. Maka sangat cocok dijadikan rujukan karena naskah drama Kisah Perjuangan Suku Naga adalah sebuah naskah sekenario pertunjukan drama atau teater. Berikut adalah penjelasan struktur lakon (drama) yang disusun oleh Santosa dkk (2008:61-95) tentang tema, plot, setting, dan tokoh. 2.2.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis, root idea, thought, aim, central idea, goal, driving force dan sebagainya. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. Akan tetapi, tema harus dirumuskan dengan jelas, karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta, tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. Keunggulan dari seorang pengarang ialah, dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya, dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989 dalam Santosa dkk, 2008). Ide-ide, pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samarsamar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara : • Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. • Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya.

9

2.2.2 Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan permainan. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian. Bagian-bagian itu antara lain.  Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materi-materi yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakter-karakter yang ada di lakon.    Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakterkarakter atau di dalam diri seorang karakter. Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat, atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain.  Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi.

10

2. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episode-episode ini akan bertemu. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot.2. 2. alur mundur atau regressive plot. lihat. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita.1 Jenis Plot Ketika kita menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita.2. 11 . tokoh. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik.1. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwa-peristiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. tema.1.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. alur maju atau progressive plot.2.2. alur menurun atau falling plot. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) 2. atau baca tersebut. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri.2.2.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. alur lurus atau straight plot. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. dan alur melingkar atau circular plot. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot.

2.2.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas, karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi. Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam, pagi hari, atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu, di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal, bulan, dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain, atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote, 1997, dalam Santosa, 2008). 2.2.3.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Seperti diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra, tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. Sebagai bahan bacaan sastra, interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan, tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. 2.2.3.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi. Latar waktu terkadang sudah diberikan atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon, tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. Tugas seorang sutradara dan pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut.

12

1.4 Penokohan Penokohan merupakan usaha untuk membedakan peran satu dengan peran yang lain. Motivasi-motivasi peran inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan peran. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. 2.2.4. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. 2. dalam Santosa dkk. tabrakan kepentingan. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri.2.2.1 Tokoh Tokoh/Peran merupakan sarana utama dalam sebuah lakon.1 Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku peran.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya.4. Jika proses identifikasi ini berhasil. Perbedaan-perbedaan peran ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. sebab dengan adanya peran maka timbul konflik. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran.2. Dalam drama.3.4.2.2 Antagonis 13 . tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan peran yang diidentifikasi tersebut.1985.2. Suatu misal kita mengidentifisasi satu peran. 2. Adjib Hamzah. bisa dari alam. Penokohan atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang peranan yang sangat penting. 1998). berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan peran tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. Peran-peran tersebut adalah sebagai berikut: 2. Peran ini juga menentukan jalannya cerita. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. peran dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. Keberadaan peran adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita.1.

Antagonis adalah tokoh lawan, karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian, dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. 2.2.4.1.3 Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Peran ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. 2.2.4.1.4 Tritagonis Tritagonis adalah peran penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. 2.2.4.1.4 Foil Foil adalah peran yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. 2.2.4.1.5 Utility Utility adalah peran pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis.

14

BAB III ANALISIS STRUKTURAL MODEL AJ GREIMAS, DAN STRUKTUR DRAMA DALAM KISAH PERJUANGAN SUKU NAGA KARYA WS RENDRA 3.1 Struktur Drama Kisah Perjuangan Suku Naga 3.1.1 Sinopsis naskah drama “Kisah Perjuangan Suku Naga” karya Rendra. Alkisah, kebudayaan manusia telah berbeda jauh atara negeri industri dan negeri pertanian. Negeri industri, kaya akan uang modal dan mesin-mesin yang menghasilkan barang dagangan. Mesin-mesin telah bergemuruh dan bekerja tanpa henti. Bahan-bahan mentah dicari terus menerus. Barang-barang hasil produksi kian berjubel tak tertampung di gudang. Negeri pertanian, kaya akan hasil bumi dan barang tambang. Dan terhadap negeri pertanianlah, persoalan dari negeri industri akan dilimpahkan. Duta Besar dipekerjakan untuk negosiasi demi perputaran sirkulasi uang modal. Agar tidak membeku. Agar proses produksi di negeri industri terus berjalan dan memperkaya Big Boss. Berbedaan ini sangat nampak dan berdampak pada sebuah negeri pertanian, Astinam. Dan para Petinggi Pemerintah Astinam sedang meracau-racau kata ‗Pembangunan‘. Keuntungan pribadi menjadi kepentingan paling pokok dari kata ‗Pembangunan‘ yang mereka agung-agungkan. Meski dengan mengorbankan rakyatnya sendiri. Sementara di dalam wilayah negeri Astinam, terdapat Suku Naga yang menempati lembah bukit Saloka. Mereka memegang teguh keyakinan dan keselarasan hidup dengan alam. Suku Naga adalah petani. Peraturan adat mereka menyatakan, bahwa tanah tidak bisa diperjualbelikan. Jika tidak mampu menggarap harus diserahkan kembali pada desa. Karena tanah adalah ruh bagi petani. Jual beli tanah adalah proses awal penghisapan kota terhadap desa. Tanpa kepemilikan tanah, petani tak ubahnya seperti kerbau. Bahkan di mata tuan tanah, kerbau lebih menghasilkan uang dibanding buruh tani. Suku Naga dikepalai oleh Abisavam, kebijakannya sangat bijak pada alam dan masyarakat Suku Naga. Senantiasa membimbing dan mendamping. Ia punya seorang anak laki-laki yang baru menyelesaikan pendidikan di luar negeri. Bernama Abivara. Meski Abivara sekolah di negeri maju, keteguhannya pada kebudayaan dan adat keyakinan Suku Naga tidak luntur sedikit pun. Malahan dengan pemahamanya tentang kemajuan, ia makin bijak pada keselarasan alam.
15

Abivara pulang bersama kawannya Carlos. Ia teman karib Abivara. Seorang wartawan media ternama di negeri maju tempat Abivara sekolah. Carlos adalah orang yang sangat tertarik untuk mempelajari budaya dan adat Suku Naga. Namun keselarasan hidup Suku Naga dengan alam diganggu oleh Mr. Joe, Duta Besar dari negeri seberang. Ia adalah orang suruhan Big Boss yang mengincar bahan tambang yang terdapat di dalam bukit Saloka. Mr. Joe dengan sangat mudah membujuk petinggi Astinam untuk mendukung keinginan Big Boss. Maka dipekerjakanlah petinggi-petinggi negara oleh Ratu Astinam untuk mulai menyusun rencana dan pembakuan peraturan untuk kelancaran rencana, mengusir Suku Naga dari lembah Bukit Saloka untuk dijadikan perumahan berikut segala sarana hiburan bagi para pekerja tambang bukit Saloka. Rencana tersebut mendapat perlawanan dari Suku Naga yang dipimpin Abisavam. Carlos, sahabat karib Abivara menuliskan berita pada medianya di negeri sebrang, bahwa pemerintah Astinam hendak mengusir Suku Naga yang telah turun temurun menjaga keselarasan alam hanya karena projeck perusahaan Big Boss untuk pengerjaan penggalian tambang tembaga di bukit saloka yang jelas-jelas akan memusnahkan sebuah kebudayaan dan kelestarian alam. Ratu dan para Petinggi negeri Astinam gerah dengan pemberitaan yang dituliskan Carlos di media no satu di negeri seberang tersebut yang dibaca dan menjadi bahan pergunjingan di antara orang-orang di Unesco. Mereka berpikir keras untuk membujuk Suku Naga agar tak jadi pemberitaan buruk di media. Karena mereka lebuh takut pada teguran PBB dengan Unesco-nya dari pada rakyatnya sendiri. Mula-mula Menteri Pertambangan datang menemui Abisavam. Karena ditolak kemudian datang ketua parlemen bersama tentara bersenjata dengan maksud menggertak Suku Naga. Upaya mereka kembali kandas karena keteguhan Suku Naga pada keyakinan leluhurnya yang kini terancam dipunahkan pemerintah dan meski mereka perjuangkan. Dan Carlos tak hentinya memberitakan semua upaya pemerintah Astinam untuk mengusir Suku Naga pada dunia. Karena ketakutan yang sama antara pemerintah Astinam dan Mr. Joe, yakni terhadap teguran masyarakat dunia lewat Unesco, akhirnya Mr. Joe membujuk Big Boss agar mengurungkan niatnya untuk sementara dan menjadikan usaha spiritual dan
16

tourismenya sebagai tempat pelatihan mata-mata negara Astinam. Agar mampu menyingkirkan suku-suku adat di negeri Astinam seperi Suku Naga dengan tuduhan aliran sesat dan lainnya. Hingga pada akhirnya, atas rencana baru yang sedang dilancarkan, ijin Carlos untuk tinggal di Astinam dicabut secara sepihak oleh pemerintah. Namun dengan perginya Carlos dari Suku Naga, tak menjadi ujung perjuangan Suku Naga. Masih ada Abisavam, Abivara dan seluruh penduduk Suku Naga yang berpegang teguh pada perjuangan mempertahankan adat dan keyakinan budaya Suku Naga.

3.1.2 Skema Aktan 3.1.2.1 Skema aktansial dan model fungsional 1 SKEMA AKTAN 1 Pengirim
Bisnis barang tambang

Objek
Ijin Penambangan

Penerima
Big Boss

Pendukung
M Pertambangan Ratu Per mentri Ket Parlemen Kol Srenggi

Subjek
Mr Joe

Penghalang
_

a)

Kalimat inti aktansial Ketika semua pejabat negara Astinam berkumpul dan sedang membicarakan

kondisi kesehatan mereka masing-masing, datanglah Mr Joe (S) merespon permohonan pinjaman dana luarnegeri yang disampaikan duta besar Astinam, dan tawaran kerjasama pertambangan yang diajukan oleh Mentri Pertambangan. Setelah berbasa-basi Mr Joe pun mulai mengungkapkan tujuan utamanya; yakni maksud dari Big Boss (P2) untuk berbisnis pertambangan (P1) dengan membuka pertambangan di Bukit Seloka Suku Naga, dan meminta perijinan penambangan (O) dari pemerintahan Astinam. Atas dorongan Mentri
17

Pertambangan dalam meyakinkan Ratu, Per Mentri, dan pejabat lainnya (P3), akhirnya tujuan Mr Joe pun berjalan tampa hambatan. b). Skema Fungsional: (1) Situasi Awal: Mr Joe menawarkan kerjasama pertambangan antara Big

Boss dan negara Astinam dan meminta ijin penambangan di Bukit Seloka Suku Naga. Mr Joe berupaya meyakinkan Ratu dengan mempresentasikan semua bisnis Big Boss. Mr Joe : Inilah yang sungguh utama. Ada satu perusahaan dari negara saya yang ingin bertanam modal yang besar di sini di dalam bidang pertambangan. Tentu saya akan memakai saluran resmi. Sebab ia selalu menghargai saluran resmi... : Asal orang penuh pengertian kami pasti menghargainya. (Rendra, 1975: 36)

Ratu

(2)

Tahap Transformasi:

I. Tahap kecakapan: Mr Joe langsung memberi kepastian, bahwa Big Boss adalah orang yang penuh pengertian. Mentri Pertambangan memberi dukungan pada Mr Joe menyampaikan dan meyakinkan Ratu bahwa Big Bos telah menyiapkan Intan sebagai bentuk pengertian awal pada Ratu.

Mr Joe M Pertambangan

Ratu

: Wah, pengertian beliau sungguh besar. : maaf, Sri Ratu, saya memberanikan diri untuk menambah dukungan terhadap beliau ini. pengertiannya benar-benar besar. Untuk membuktikan bahwa ia benar-benar ahli dalam bidang pertambangan, ia telah memilih sebutir dari hasil tambang mulia, untuk dipersembahkan pada Sri Ratu. Ialah intan ini! : Intan? (Rendra, 1975: 36)

II. Tahap Utama:

Sri Ratu sangat senang dengan hadiah intan yang diberikan

Big Bos lewat Mentri Pertambangannya. Dan ia berterima kasih. Ratu : Terima kasih. Aku senang sekali. Ini sungguh-sungguh art! (Rendra, 1975: 36)

18

Ibu Abivara .2. maka Ratu pun langsung merespon ajuan dan maksud dari kedatangan Mr Joe.1.III. : Saya kira ini perlu dengan sungguh-sunggu dipertimbangkan. begitu biasa kami panggil teman kami itu. 3. Tahap Kegemilangan: melihat pertanda baik. Dan penjelasan M Pertanian pun mendapat sambutan hangat dari pejabat Astinam lainnya.Pemahaman Abivara tentang kemajuan jaman Subjek Abivara Penghalang Keinginan Setyawati hidup di kota 19 . Mentri pertambang langsung menyampaikan lokasi pertambangan yang dimaksud Big Boss adalah Bukit Saloka di wilayah kaum suku naga.. sangat kagum dan terpikat kepada alam kita. The Big Boss.. 1975: 36-37) Per Mentri Koor Parlemen (3) Situasi Akhir: Atas dorongan dari Perdana mentri dan semua fraksi Parlemen. M Pertambangan : Sri. Ratu 1975:37) : Kalau begitu kita harus benar-benar pertimbangkan (Rendra. : tambang mentah di dalam bumi Tak ada harganya Daripada tidak diolah Ada baiknay diolah mkereka Lalu kita semua akan sibuk Da di dalam kesibukan Ada tambahan penghasilan (Rendra.2 Skema aktansial dan model fungsional 2 SKEMA AKTAN 2 Pengirim Melamar Setyawati Objek Setyawati Penerima Abivara Pendukung . Sehingga tahulah ia bahwa di bukit Saloka di wilayah kaum Suku Naga ada sebuah tambang tembaga yang cukup kaya. Terdorong oleh kekagumannya itu ia telah lama membuat survey hasil-hasil tambang kita.

. : . Namun ternyata.a) Kalimat inti aktansial Setelah beberapa hari kepulangan Abivara ke kampung halamannya. kekasihnya. Untunglah Abivara mampu mengungkap pemahamannya tentang modernitas dan kemajuan jaman dengan teguh pada Setyawati. Abivara mampu menyangkal semua pemahaman Setyawati yang salah kaprah tentang kehidupan perkotaan yang dianggapnya lebih maju. Aku tidak ingin anak-anak kita nanti ketinggalan mode : . Abivara (S) memulai percakapannya dengan menanyakan ihwal lamarannya (P1) yang disampaikan ibunya (P3) terhadap Setyawati (O). dan lebih baik dari pada pedesaan. di luar sepengetahuan Abivara. b). Skema Fungsional: (1) Situasi Awal: Abivara bertanya pada Setyawati soal lamaran dari Ibunya. terkait cita-cita Abivara untuk membangun desanya serta lamaran dari Abivara. . Mereka sebentar lagi akan menikah (2) I. 1975: 39) II. Setyawati memiliki keinginan untuk hidup di kota (P4) setelah pernikahannya. ―Setyawati: Sesudah menikah apakah kita akan pindah ke kota?‖ (Rendra. Mode malah mengikat orang. Setyawati memiliki keinginan untuk hidup di kota. Abivara Setyawati Abivara Setyawati Abivara : Film hanya hiburan bukan alat kemajuan : Yah. 1975: 39) III. Abivara meminta Setyawati untuk memikirkan ulang tentang keinginannya hidup di kota.. Dengan ketegasannya... : Benarkah di kota lebih terdapat pergaulan? Astaga! Nama tetangga sendiri jarang mereka mengenalnya. Sebagai tanda bahwa tidak lama lagi mereka akan dinikahkan. ia bertemu dengan Setyawati.. Satyawati tidak bisa mendebatnya dengan 20 . Mode tidak memajukan dan membebaskan orang. Tahap Kegemilangan: abivara mampu menyangkal semua sangkaan Setyawwati terhadap kehidupan di perkotaan. Tahap Utama: dengan pemahaman Abivara tentang kehidupan di kota. tetapi di desa kurang pergaulan. Setyawati menerimanya dengan bahagia. (Rendra. Tahap Transformasi: Tahap kecakapan: namun ternyata. Hidup bersama kemajuan jaman dan modernitas. lebih tinggi pergaulan..

: kenapa mesti minder? : kamu tahu bagaimana pandangan orang kota terhadap orang desa? : itulah pendapat yang kurang terpelajar. Orang desa memprodusir hasil bumi.1. Setyawati kemudian kebingungan dan menangis. Menganjurkan Setyawati untuk mencerna perbicaraan mereka barusan. Tetapi orang kota memprodusir apa? Mereka hanya mampu mengimpor. 1975: 39) (3) Situasi Akhir: karena mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. Ia kemudian kesal karena keinginannya hidup di kota jauh dari kemungkinan diwujudkan oleh Abivara setelah pernikahan. Setyawati Abivara Setyawati Abivara : Aku kesel! Aku tidak ingi anak-anaku nanti merasa minder. Atau mereka hanya mampu menciptakan birokrasi. Seharusnya mereka tahu bahwa orang desa lebih produktip dari pada orang kota. . Ekonomi mereka hanya ekonomi tukang kelontong.2. (Rendra.. Abivara Setyawati Abivara : renungkanlah dulu barang dua tiga hari : Abivara! (Menangis) : aku tidak akan menghiburmu. Abivara bersikap tegas dalam mendidik.. Dan birokrasi adalah penghambat kemajuan. Membuktikan rasa sayangnya dengan tidak memanjakan kekasihnya.3 Skema aktansial dan model fungsional 3 SKEMA AKTAN 3 Pengirim Keinginan menjual sawah Objek Sawah bagian suaminya Penerima Supaka Pendukung .sengit. 1975: 41) 3. (Rendra. Aku percaya kamu akan bisa mencerna semua ini.Suaminya meninggal .Ketidakmampuan bertani Penghalang Subjek Supaka Ketegasan Abisavam pada adat 21 .

Hingga supaka benar-benar gagal untuk bisa menjual sawahnya tersebut. dan juga desa harus mengontrol harga tanah. Dengan beralasan ketidakmampuannya bertani maka sawah tersebut hendak ia jual. Tahap Utama: Supaka tetap bersikukuh bahwa keahliannya bukan bertani tapi berdagang. Abisavam : seharusnya suamimu almarhum tercinta itu mengajar kamu bertani. 22 . 1975: 42-43) II. Tahap Transformasi: Tahap kecakapan: Supaka mempertanyakan sahnya kepemilikan sawah suaminya dan status jandanya sebagai penerima ahli waris suaminya. Meskipun supaka telah menjadi janda dan ia merasa berhak atas sawah bagian suaminya. akhirnya keinginan Supaka ditolaknya mentahmentah. : aku kurang paham bertani : kamu kurang pendidikan. Janda muda. : tidak bisa. Skema Fungsional: (1) Supaka Abisavam Situasi Awal: Supaka mengutarakan keinginannya untuk menjual sawahnya : Aku akan menjual sawahku. Tidak bisa kamu jual pada orang luar desa karena itu berarti permulaan bagi tumbuhnya tuan tanah di desa ini. (Rendra. 1975: 42) (2) I. karena masing-masing petani sudah mendapat tanah yang sesuai dengan kemampuan kerjanya. : aku bukan petani : kalau begitu jangan tinggal di desa. tidak mungkin pula kamu jual pada orang desa kita sendiri. : ya. Supaka Abisavam Supaka Abisavam Supaka Abisavam Supaka Abisavam : bukankah suamiku almarhum mendapatkan sawah itu dengan syah? : Syah : dan sekarang aku janda. dan meski Supaka adalah janda dari adiknya namun Abisavam tetap menolaknya.a) Kalimat inti aktansial Supaka (S) mengutarakan keinginannya untuk menjual sawah (P1) bagian almarhum suaminya pada Abisavam. b). Dengan ketegasan dan keteguhan Abisavam dalam memegang aturan adat Suku Naga (P4). serta ketidakmampuannya bertani akan menjadikan uang hasil penjualan sawahnya sebagai modal untuk berjualan di kota sebagai profesi hariannya (P3). (Rendra.

Abisavam Supaka Abisavam : kamu akan memakai senjatamu yang terakhir. 1975: 43) Situasi Akhir: karena mendapatkan tentangan yang tidak memuaskan. Paman a) Kalimat inti aktansial Suatau hari. Abivara. Ini namanya permulaan dari penghisapan kota atas desa. (Rendra. 1975: 43) 3. (Rendra. Supaka Abisavam : Jadi wajarlah kalau aku jual sawah hak suamiku yang syah itu untuk menambah modal dagang. Carlos. seorang Insinyur (S) asing datang mengukur bukit Saloka (P1). keteguhan inilah yang menjadi teladan bagi seluruh warga suku naga. Menangis. Abisavam 23 . : (menangis) kamu kejam. hilir mudik ke kota. hasil dari penjualan sawah tersebut akan dijadikannya modal tambahan. apa kubilang. itu tidak boleh. Berdagang adalah bakatku. Namun. terutama kelapa desa. : O. : Nah.1. Sebagai tetua adat di suku naga. Namun Abisavam kian tegas memegang peraturan adat dan menjelaskan pada Supaka bahwa sawah benar-benar tidak bisa dijual dengan alasan apa pun karena bisa mengganggu stabilitas kehipuan di pedesaan. 1975: 43) Tahap Kegemilangan: dalam bayangan Supaka.Supaka III. sebab itu artinya kamu akan memindahkan kekayaan desa ini ke kota. (3) Supaka kemudian mengeluarkan senjata utamanya. ia mendapat halangan dari warga suku naga.2. (Rendra. Sementara Abisavam tetap memegang teguh peraturan adat. Supaka. : tetapi aku selalu sibuk berdagang. Begitu menurut tradisi kami.4 Skema aktansial dan model fungsional 4 SKEMA AKTAN 4 Pengirim Mengukur bukit Saloka Objek Bukit Saloka Penerima Sri Ratu Pendukung Proyek Joint venture Subjek Insinyur Penghalang Abisavam.

b). Ini adalah suatu kebudayaan. leluhur para suku naga.. telah memilih tempat ini dengan teliti..Dan telaga itu. . menggambar dan merancang.. Ini tidak bisa begitu saja didatarkan menjadi sebuah kota.. Leluhur kami. Tahap kecakapan: Abisavam balik menanyakan pendapat pada insinyur tentang tempat yang sedang ia ukur. Berabad-abad sudah kami tinggal di sini. bagi keramat. Carlos. . : untuk apa? : Desa ini akan dijadikan kota pertambangan. semua ini bukan sekadar ―suatu tempat‖ melainkan suatu bagian dari keutuhan hidup kami... Abisavam Insinyur Abisavam : .. datanglah para tetua adat suku naga. Namun insinyur itu tetap keukeuh dan berpendapat bahwa kebudayaan ―lokal‖ sudah ketinggalan jaman. : Siapa yang mau bikin? : Join venture : ini proyek Sri Ratu : ..Kamu lihat.. karena di situlah kamii pergi mandi mensucikan diri sebelum kami berpuasa 40 hari dalam setahun... dataran batu di bawah pohon itu adalah tempat upacara kami untuk mengenangkan daya kesuburan. Skema Fungsional: (1) Situasi Awal: ketika insinyur sedang mengukur. Lihat itu! Itulah pekuburan leluhur kami. Ia ditegur oleh Paman dan di sanalah mulai percekcokan. Supaka dan Paman (P3).beserta Abivara. Lantas orang-orang desa ini bagaimana? : . 24 .dan di sana. lihat dulu nanti. Paman Insinyur Abisavam Insinyur Abisavam Insinyur .. : O. Abivara Insinyur : ... Kemudian Abisavam memberi penjelasan.. bahwa bukit Saloka lebih dari sekadar tempat tinggal yang penduduknya bisa diungsikan begitu saja. dipindah ke suatu tempat. Apa yang kamu kerjakan? : Mengukur. ... : Kamu punya pikiran lain? (Rendra. Apa pendapatmu tentang desa dan lembah ini? : Resep : Resep! Itu tepat.. Di situ terjadi percekcokan antara Insinyur yang bekerja atas nama join venture (P3) menjalankan printah Sri Ratu (P2) dengan warga suku naga yang hendak mempertahankan tanah adatnya. 1975: 47) (2) Tahap Transformasi: I. Insinyur Abisava Insinyur .

Insinyur Abisavam Insinyur Abisavam

: sekarang sudah jaman maju. Hal-hal semacam itu seharusnya tidak mengikat kita lagi. : Kenapa? : Tidak Effisien : Semua harus effisien ya? Yang tidak effisien tidak berguna ya? Menakjubkan! Apakah kamu juga jatuh cinta dengan effisien? Apakah beragama harus effisien?. (Rendra, 1975: 48)

II. Tahap Utama: melihat percekcokan kian sengit karena pendapat insinyur yang mengecilkan adat dan budaya suku naga, Carlos, Abivara, dan Supaka pun turut bicara. Dan Abisavam lebih menekankan tugas dan kewajiabnnya sebagai ketua adat untuk menjaga dan melestarikan budaya leluhurnya. Carlos Abisavam Carlos Abivara Abisavam : Kenapa tidak memilih tempat sebelah bukit yang di sana, kenapa mesti yang sebelah sini? : Ya, kenapa tidak? : Demi effisien? Supaya tidak usah bikin jalan yang melingkar. Untuk menghemat beberapa dollar sebuah kebudayaan mau dilenyapkan? : Ya, Ayah, seharusnya mereka mendirikan pabrik, perumahan dsb, itu di seberang sananya bukit Saloka. : kewajiban sayalah untuk melindungi keutuhan budaya kita. Aku suka perkembangan-perkembangan baru. Tetapi perkembangan baru toh tidak harus berarti penumpasan bagi yang lain. Sebab itu nanti namanya penindasan, bukan pergaulan. : Saya akan menulis barita mengenai hal ini. saya akan memberikan gambaran yang sedalam-dalamnya. Di negeri perusahaan orang-orang ini berada suara rakyat sangat diperhatikan. Parlemen mereka adalah parlemen betul-betulan. Jadi melewati surat kabar mereka saya akan memberi laporan apa yang dikerjakan oleh salah satu perusahaan raksasa negeri mereka di Astinam ini. ... : Abisavam, desa ini harus dipertahankan. Kuburan suamiku dan kuburan leluhurnya berada di sini. Jangan sampai kuburan itu mereka ubah menjadi casino, statsiun atau hotel. : Baik, Supaka. Saya tidak menduga bahwa kamu akan juga bangkit kesadarannya. (Rendra, 1975: 49) Tahap Kegemilangan: pada tahap ini, Paman, Supaka, Carlos, Abivara dan

Carlos

Supaka Abisavam III.

Abisavam menyatakan tekad dan mengajak pada seluruh kaum suku naga untuk berjuang sekuat tenaga mempertahankan tanah adat leluhur suku naga. Paman Supaka Abivara : Saya akan bertahan sekuat-kuatnya, : Jangan seorang pun diantara kamu mau mereka paksa untuk menjual tanahmu. : di desa suku Kariaman, dengan cara kasar maupun halus, mereka akhirnya berhasil membeli tanah-tanah subur di situ.
25

Abisavam Carlos

: Hal itu terjadi karena mereka berjuang sendiri-sendiri. Kita harus berjuang bersama-sama, baru bisa berhasil. Aku merasa kuat memimpin kamu semua Malam ini kita akan melakukan tirakatan : Perjuangan saudara-saudara nanti akan tepat sesuai dengan peradaban. Dunia luar akan membantu perjuangan semacam ini. cara-cara mereka praktekan di sini di negara mereka sendiri sanagat ditentang oleh rakyat mereka. Sekarang mereka berpikir, bahwa pemerintah dari negara yang sedang berkembang bisa diperbodoh begitu saja. (kepada Insinyur) jangan kamu pura-pura tidak tahu hal ini. (Rendra, 1975: 43) Situasi Akhir: karena mendapatkan tentangan yang keras dari kaum suku

(3)

naga dan pernyataan perlawanan dari para tetua suku naga, akhirnya Insinyur pun pergi dan sedikit mengancam Carlos dengan menanyakan identitas Carlos. Insinyur Carlos Insinyur Carlos Insinyur Carlos Abisavam : Who are you? : I am Carlos. And I am their friend. : I‘ll remember you. : You better do. : Good bye : Good bye. : Ya, Good bye-lah. (Rendra, 1975: 49-51)

3.1.2.5 Skema aktansial dan model fungsional 5 SKEMA AKTAN 5 Pengirim
Membujuk Suku naga

Objek
Suku Naga

Penerima
Sri Ratu

Pendukung
Pemahaman memadukan budaya dan pariwisata

Subjek
Mentri Pertambangan

Penghalang
Abisavam, Abivara, Carlos.

a)

Kalimat inti aktansial Suatau hari, seorang mentri Pertambangan (S) datang dalam upaya membujuk suku

naga (P1). Kedatangannya itu semata-mata karena kemarahan Sri Ratu (P2) saat membaca koran-korang luar negeri yang memuat permasalahan suku naga dengan Astinam. Namun,

26

ia mendapat halangan dari warga suku naga, terutama kelapa desa; Abisavam beserta Abivara, dan Carlos (P4). Di situ terjadi percekcokan antara Mentri Pertambangan yang menawarkan konsep pemaduan budaya suku naga dengan pariwisata (P3) dengan warga suku naga yang menolak komersialisasi adat dan budaya dan bersikeras mempertahankan tanah adatnya. b). Skema Fungsional: (1) Situasi Awal: Mentri Pertambangan datang ke perkampungan suku naga.

Dan mendapatkan sambutan yang tidak menyenangkan dari Abisavam dan yang lainnya. M Pertambangan Abisavam M Pertambangan Abisavam : Bapak kepala Suku Naga, para ibu, para wali suku, dan saudarasaudaraku semua. Salam Sejahtera! Saya senang berada di tengah-tengah saudara semua. : Apa yang saudara senangi pada kami? : Saya senang tarian-tarian saudara, saya senang bentuk rumahrumah saudara, saya senang kebudayaan dan kepribadian Suku Naga. : Itu semua akan lenyap kalau desa ini dijadikan kota pertambangan. (Rendra, 1975: 49-51)

(2) I.

Tahap Transformasi: Tahap kecakapan: mendapat sambutan yang tidak menyenangkan dari

abisavam, M Pertambangan pun mencoba menyangkal bahwa kebudayaan Suku Naga tidak hendak dimusnahkan. Malah akan turut dilestarikan oleh pemerintah dengan menjadikannya daerah pariwisata budaya sebagai bentuk penghargaannya terhadap budaya. M Pertambangan : tidak perlu lenyap! Waduh, jangan sampai lenyap. Semua itu bisa diselamatkan. Bayangkan! Di tengah sebuah kota pertambangan yang penuh gedung-gedung modern akan terdapat kuburan-kuburan kuno, rumah adat lengkap dengan peragaan peralatan upacara dan lain sebagainya. Tempat-tempat ibadah, telaga keramat, pohon keramat, semua akan di-up-grade, sehingga bisa dinikmati oleh banyak orang. : Di-up-grade artinya dijadikan objek tourisme, begitu? : Tourisme itu menambah penghasilan negara. (Rendra, 1975: 56)

Abisavam M Pertambangan

27

II.

Tahap

Utama: Abisavam memiliki pengetahuan yang luas tentang praktik

pariwisata budaya, maka tidak tidak mudah dibohongi, dan bersikeras menolak penawaran konsep pariwisata budaya dari Mentri Pertambangan. Abisavam : Saya tahu apa itu tourisme. Berdoa sambil ditonton orang, begitu kan? Kalau perlu upacaranya dipersingkat dan di pop-kan, begitu bukan? Kebaktian agama diperdagangkan, begitu maksud saudara, bukan? : O, keasliannya bisa tetap dipertahankan. : Omong kosong. Kemurnian upacara semacam itu sudah tidak ada lagi. Yang menonjol hanya unsur dramanya saja semata-mata. Saudara tidak benar-benar senang pada kebudayaan kami. Saudara mau memasukkan kebudayaan kami ke dalam musium. : Lho, itu justru karena saya menghargai kebudayaan saudara. : kalau begitu biarkan kebudayaan kami tumbuh. Jangan kami orangorang dipindahkan, dan sisa-sisa kebudayaan kami dimasukkan ke dalam kotak yang bernama musium. (Rendra, 1975: 56-57)

M Pertambangan Abisavam

M Pertambangan Abisavam

III.

Tahap Kegemilangan: pada tahap ini, Abisavam mampu menyudutkan M

Pertambangan, sehingga pembicaraan M Pertambangan kemudian melnceng dan mengarah pada tekanan bahwa Suku Naga harus patuh pada kepentingan nasional. Mendapat tekanan dari M Pertambangan, Abisavam malah memberi pandangan tentang bagaimana seharusnya peran dan fungsi antara rakyat dan pemerintah dalam hidup bernegara. M Pertambangan Abisavam M Pertambangan Abisavam : Janganlah kita lalai untuk mengabdi pada kepentingan nasional : Membina kebudayaan daerah termasuk juga kepentingan nasional. Kepentingan nasional tidak semata-mata berarti mencari keuntungan saja. : Kita semua harus berpartisipasi di dalam program pembangunan pemerintah. : Ikut berpartisipasi artinya ikut berpendapat, ikut menilai dan ikut mengontrol jalannya pembangunan. Jadi tidak asal setuju saja (Rendra, 1975: 57)

(3)

Situasi Akhir: karena mendapatkan tentangan yang tegas dari Abisavam dan

kaum Suku Naga dan pernyataan yang terkesan ―menggurui‖, akhirnya Insinyur pun pergi dan akan melaporkan hasil dialognya pada atasan. M Pertambangan Abisavam Abivara Carlos : Semuanya ini akan saya laporkan pada atasan. : Bagus sekali. Tetapi jangan lupa : hendaknya saudara laporkan juga kepada rakyat. : Saya akan melaporkan pada kawan-kawan. : dan aku akan melaporkannya kepada koran-koran di luar negeri. (Rendra, 1975: 57-58)
28

Ternyata.2.6 Skema aktansial dan model fungsional 6 SKEMA AKTAN 6 Pengirim Meninjau Suku naga Objek Suku Naga Penerima Sri Ratu Pendukung Pasukan tentara lengkap dengan senjata Subjek Ketua Parlemen Penghalang Abisavam. Semata-mata kedatangannya tiada lain adalah untuk menekan Suku Naga agar mau menerima rancana pembukaan lokasi tambang di atas tanah kaum Suku Naga.. Namun. a) Kalimat inti aktansial Suatau hari lainnya. Warga suku naga menjadi gemapar dan tegang..1.. : . ada orang ingin bertemu dengan ayah. Ia adalah Ketua Parlemen 29 . K Parlemen Abivara : Saudara-saudara.. saya adalah Ketua Parlemen. datanglah bertruk-truk tentara lengkap dengan senjatanya. Tindakannya ini sebagai bentuk kemarahan Sri Ratu (P2) karena upaya pembredelan koran masih tidak berhasil membungkam Carlos. ayah. beserta tank dan jeep. pasukan tentara (P3) tersebut mengantar Ketua Parlemen (S) untuk melakukan peninjauan (P1) pada lokasi sengketa.. karena sudah melihat potret saya di koran-koran. Seluruh warga Suku Naga menjadi gempar dan menegangkan. lagi-lagi Abisavam beserta Abivara (P4) menghadapinya dengan tenang dan penuh ketegasan. barangkali saudarasaudara sudah tahu. K Parlemen Abivara K Parlemen .3. Skema Fungsional: (1) Situasi Awal: Datanglah ketua parlemen beserta pasukan tentara ke wilayah kaum Suku Naga. : Mau apa datang kemari? : Apakah kamu kepala desanya? : . dan Abivara.. Abisavam telah paham bahwa kedatangannya dengan congkak dan maksud menggertak.. b). saya ingin ketemu dengan kepala desa saudara.

Abisavam Abivara Abivasam K Parlemen Abivasam

: Ketua Parlemen, jadi ia wakil rakyat. Kita ini rakyat. Jadi itu wakil kita, bukan? : Ya, ayah : O Ya? Saya tidak senang kepada saudara : Saudara jujur sekali. : Terima kasih, saya tidak senang kepada cara saudara datang dan menegur sapa. Saudara seperti orang mau menggertak. (Rendra, 1975: 62-63)

(2) I.

Tahap Transformasi: Tahap kecakapan: lagi-lagi terjadi percekcokan, Abisavam tak habis-habisnya

mengingatkan Ketua Parlemen bahwa ia adalah wakil rakyat. Harus mewakili suara rakyat dan patuh pada arahan rakyat. Namun dengan penuh ancaman, Ketua Parlemen pun terus mengeritik kejujuran Abisavam dan mengingatkan tentang pentingnya pengarahan dari pemerintah. Ketua Parlemen pun dengan sangat jelas memperingatkan Abisavam untuk berhati-hati dalam berbicara. K Parlemen II. Tahap : di samping jujur, orang juga harus berhati-hati di dalam bicaranya. (Rendra, 1975: 63) Utama: mendapan jawaban Abisavam yang terkesan ngeyel, tekanan

dari Ketua Parlemen terhadap Abisavam ditambahi ancaman. Bahwa dalam masalah sosial-politik, orang juga harus berhati-hati agar tidak dianggap anti pemerintah. Abisavam K Parlemen Abisavam K Parlemen : Betul. Saya selalu berhati-hati agar saya tidak berhianat kepada naluri saya, tidak pula menyalahi agama saya. : Di dalam masalah sosial-politik, saudara harus pula berhati-hati. : ya, berhati-hati agar saya tidak pernah menghianati kepentingan rakyat miskin dan hanya menjilat golongan kecil yang kaya dan berkuasa. : Sangat sayang kalau orang seperti saudara dianggap anti pemerintah. (Rendra, 1975: 65)

III. Tahap Kegemilangan: Ketua Parlemen kehabisan cara dan pembicaraan dalam menghadapi Abisavam yang selalu membenturkan tugas Ketua Parlemen terhadap rakyat dengan maksud kedatangannya ke wilayah Suku Naga atas perintah Sri Ratu. Abisavam : Tadi saudara sebut saya orang jujur, tiba-tiba sekarang dikuatirkan anti pemerintah. Orang jujur seharusnya kan malah dianggap berguna bagi pemerintah! Saya ingin keadilan. Saya tidak ingin pergantian pemerintah.
30

maka bisa dijadikan dalam satu aktan utama yang membalut ke enam aktan tersebut dan menjadi satu struktur cerita yang utuh.K Parlemen Abisavam (3) : Sungguh sulit berdebat dengan saudara. K Parlemen bermaksud pamit. 1975: 65) Situasi Akhir: karena pembicaraannya selalu tersudutkan. Abivara. Ratu Astinam. Karena keteguhan. Namun. dalam mempertahankan tanah adat Suku Naga dan atas bantuan catatan jurnalistik Carlos maka upaya penggusuran oleh perusahaan Big Boss pun mendapat kecaman dari Unicef (P4). Kaum Suku Naga. namun abisavam menahannya dan mencairkan suasana dengan meminjam penyulut rokok. 3. Kaum Suku Naga. Carlos. Unicef a) Kalimat inti aktansial Karena kekayaan barang tambang di bukit Saloka (P1). Kemudian K Parlemen pun melunak dan kalah kewibawaannya oleh Abisavam. Sayang kalau hanya bisa bilang setuju saja. ketegasan dan tekad perjuangan Abisavam. dan petinggi Astinam Subjek Big Boss Penghalang Abisavam. melaui Mr Joe dan di setujui oleh seluruh petinggi Astinam (P3) maka Big Boss (S) akan membuka areal pertambangan lengkap dengan perumahan.3 Sekema aktan utama Dari ke enam aktan di atas. saudara kan sebagai wakil rakyat harus pandai berdebat. Melihat segala upaya pemerintah Astinam dalam membujuk secara halus atau pun kasar 31 . rencananya tersebut tidak berjalan dengan mulus karena keberadaan kaum Suku Naga di sekitar bukit Saloka tersebut. (Rendra. casino dll demi mendapatkan barang tambang (O) yang dia inginkan. hotel.1. Joe. : Lho. SKEMA AKTAN UTAMA Pengirim Kekayaan barang tambang tembaga di bukit Saloka Objek Barang Tambang Tembaga Penerima Big Boss Pendukung Mr. Abivara. Koran-koran.

: Sebagai Mentri Keamanan saya akan segera mengumumkan pernyataan bahwa mengkritik pembangunan adalah sabotase. Big Boss berniat menggali barang tambang tersebut dan mengutus Mr. : Banyak pikiran yang menentang kemajuan : Dan mengganggu jalannya kemajuan. dan kecaman-kecaman dari luar negeri santer terhadapnya. b). maka Big Boss pun mengurungkan niat eksplorasi tambang di bukit Saloka dan mengalihkan bisnisnya pada komoditi lainnya. Mereka sedang keranjingan dengan kata pembangunan. oleh karena itu subversif. Bukan masalah rakyat.gagal.. untuk mendapat ijin eksplorasi pertambangan dari Petinggi Pemerintahan Astinam. Lain dari iut: proyek kita Rumah Sakit Wijaya Kusuma! Rumah sakit terbesar dan ter modern di seluruh Asia Tenggara.. : Wah ini akan mengangkat nama bangsa : Sayang tidak semua orang berfikir seperti kita. kemajuan teknologi dan perkembangan sarana kesehatan moderen untuk menyelesaikan masalah-masalah kesehatnnya. : Dengan begitu tidak ada lagi oposisi : Oposisi adalah musuh : Bagus! Lalu kita bisa bebas membangun dengan lancar. Joe. (Rendra. Skema Fungsional: (1) Situasi Awal: Para petinggi Astinam sedang berkumpul membicarakan penyakait. Kol Serenggi Ratu Kol serenggi Ratu (2) Tahap Transformasi: I. Banyak sudak modal asing yang bersimpati kepada program kita ini. mereka akan menanamkan modal berjuta-juta dolla untuk mendirikan pabrik-pabrik tonikum dan pil-pil Vitamin. Ratu : negara kita di dalam program pembangunannya tidak akan melupakan program kesehatan. Mereka bahkan menyiapkan kata ―Subversif‖ bagi siapa pun yang tidak sepakat terhadap rencana pembangunan versi mereka. Pada situasi awal tidak mendapat halangan sedikit pun 32 . Tahap kecakapan: Ketika di ketahui oleh Big Boss. 1975: 25-26) Kol Serenggi Ratu Per Mentri Ratu . dan program pembangunan. bahwa bukit Saloka mengandung barang tambang tembaga di dalamnya. Duta Besar.

Mr Joe

Ratu

: Inilah yang sungguh utama. Ada satu perusahaan dari negara saya yang ingin bertanam modal yang besar di sini di dalam bidang pertambangan. Tentu saya akan memakai saluran resmi. Sebab ia selalu menghargai saluran resmi... : Asal orang penuh pengertian kami pasti menghargainya. (Rendra, 1975: 36)

II. Tahap Utama: ketika terjadi pengukuran oleh insinyur, Suku Naga kian siaga dan tetap bersikukuh untuk mempertahankan keyakinan dan keselarasan alam. menolak upaya pertambangan bukit Saloka. Bersama kepala suku Abisavam, anaknya yang terpelajar Abivara, serta Carlos mereka menyatakan akan memperjuangkan tanah leluhur Suku naga. Paman Supaka Abivara Abisavam Carlos : Saya akan bertahan sekuat-kuatnya, : Jangan seorang pun diantara kamu mau mereka paksa untuk menjual tanahmu. : di desa suku Kariaman, dengan cara kasar maupun halus, mereka akhirnya berhasil membeli tanah-tanah subur di situ. : Hal itu terjadi karena mereka berjuang sendiri-sendiri. Kita harus berjuang bersama-sama, baru bisa berhasil. Aku merasa kuat memimpin kamu semua Malam ini kita akan melakukan tirakatan : Perjuangan saudara-saudara nanti akan tepat sesuai dengan peradaban. Dunia luar akan membantu perjuangan semacam ini. cara-cara mereka praktekan di sini di negara mereka sendiri sanagat ditentang oleh rakyat mereka. Sekarang mereka berpikir, bahwa pemerintah dari negara yang sedang berkembang bisa diperbodoh begitu saja. (kepada Insinyur) jangan kamu pura-pura tidak tahu hal ini. (Rendra, 1975: 43) Tahap Kegemilangan: Segala upaya negosiasi pemerintah ditolak mentah

III.

mentah kepala Suku Naga dan kemudian ditulis sebagai berita untuk media ternama di masyarakat dunia oleh Carlos, bahwa Big Bos bersama Pemerintahan Astinam berupaya mengusir Suku Naga dan merusak alam. Pemberitaan ini direspon oleh masyarakat dunia dan UNESCO Ratu : ... ini koran-koran luar negeri yang paling top. Sedang orang-orang Unesco sudah mulai menyindir-nyindir program pembangunan kita! (Rendra, 1975: 53) Situasi Akhir: Karena ketakutan akan teguran dari UNESCO, Big Boss

(3)

mengagalkan penambangan di bukit Saloka dan membuat industri musik, sarana yoga dan

33

.ini adalah persoalan di negaranegara mana pun..2 Struktur Drama Kisah Perjuangan Suku Naga Naskah lakon (drama) sebagaimana karya sastra lain. Cuma tinggal Suku Naga saja (Rendra. tema yang diusung oleh penulis drama Kisah Perjuangan Suku Naga sangat jelas ia mempertentangkan benturan budaya barat 34 .. Tetapi batas memang ada.2. Yah.1 Tema Pada perkembangan dunia saat ini (industrialisasi). Unesco bisa ribut. Boleh dikatakan semua opsisi sudah berhasil di bungkam. adalah negara yang melimpah ruah dengan kekayaan alam dan barang tambangnya. naga-naganya harus aku produsir nabi-nabi baru. Tetapi tak apa untuk pindah usaha. kekayaan alam berupa barang tambang menjadi komoditi utama karena barang tambang memiliki kedudukan dasar dalam setiap industri dasar. : musik-musik pop bisa kita industrikan sebagai agama. istilahnya di sini menciptakan kerapian demi pembangunan.. Sebagai negara yang berada di cincin khatulistiwa. 1975: 67) : desaklah ratu Astinam untuk mengusir wartawan-wartawan seperti Carlos itu. Suku Naga jangan di sentuh-sentuh. yaitu tema. Bersarkan prolog yang diutarakan tokoh Dalang. Kemudian mencabut injin tinggal Carlos dari Astinam demi kelancaran rencana selanjutnya. pertentangan antara kepentingan industrialisasi internasional dengan pemeliharaan alam.. Indonesia. saya suka berusaha.. setting. Di bawah ini adalah penjabaran struktur drama. . 1975: 68) : saya sudah berusaha keras. : Mundur terang bukan sifatku. dan para bintangnya bisa dibikin jadi nabi. kecantikan sumberdaya alam di negeri ini nampak seperti gadis cantik yang lugu di sarang penyamun.. Berikut pembicaraan antara Big Boss dengan Mr Joe: Mr Joe : sebenarnya saluran di dalam negeri Astinam sudah cukup licin. (Rendra. mengambil dari hasil analisis skema aktan di atas. Boss Mr Joe Boss Mr Joe 3. Konflik yang muncul dalam drama Kisah Perjuangan Suku Naga sematamata menyoroti permasalahan ini. Dewasa ini industri yoga dan agama lebih menguntungkan dari pada pertambangan. adat dan perekonomian pedeasan. dan tokoh. Dan sebagai negara yang masih berkembang. 3.. pada dasarnya mempunyai struktur yang jelas. ya. Pemerintahnya sudah bisa saya desak untuk lebih . Boss. budaya.pelatihan inteljen. plot.

ia muncul dan menjadi tokoh dalam aktan 2. kaya akan uang modal dan mesin-mesin yang menghasilkan barang dagangan. Di sini negeri pertanian. sebagai kepala suku ia muncul dan menjadi tokoh utama dalam aktan 3. 3. 11.2. Sementara kalau dilihat dari ke-18 babak. 10. Keberadaan peran adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. 5. 3. 3. Perbedaan ini akan nyata bila kita liaht dalam bentuk adegan-adegan. 16.yang industrialis dan timur (khususnya Indonesia) yang agraris. melalui skema aktan kita bisa menjabarkannya menjadi beberapa tipe penokohan atau karakter seperi berikut: 1. 14.2. 5. Dan plotplot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. Di sana negeri industri. Maka jelaslah Abisavam adalah tokoh Protagonis. 9. 18. 16. Sementara kalau dilihat dari ke-18 babak. keberadaan tokoh Abivara muncul dalam babak 4. Dalang : syhadan. Abisavam: keberadaannya dominan dalam setiap konflik. kehidupan ada lain di sana.3 Setting Latar cerita pada Drama Kisah Perjuangan Suku Naga terjadi di Lingkungan Pemerintahan Astinam.3.3 Tokoh Dari ke 18 tokoh dalam naskah Kisah Perjuangan Suku Naga. akhirnya semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi menyatu guna menyelesaikan cerita. 11. wilayah kaum Suku Naga. 8. Zoe. di seberang. Tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita.4. 18 atau sama jumlahnya dengan kemunculan Abisavam. 14. sebagai putra kepala suku yang baru pulang dari luar negeri. keberadaan tokoh Abivara muncul dalam babak 4. kaya akan hasil bumi dan barang tambang. 3. Namun perananya tidak sebagai pemimpin dalam setiap 35 . Skema aktan tersebut seolah berdiri sendiri.4. 2. di negeri-negeri para raksasa—maksud saya Eropa dan Amerika—dan Jepang juga. Abivara: keberadaannya hampir dominan.2 Plot Plot dalam Drama Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra adalah jenis multy plot dalam kategori Concentric Plot. 10.dan 5. Kita bisa melihat pada skema Kisah Perjuangan Suku Naga aktan 1-6.dan 5 atau memiliki satu aktan lebih banyak dari Abisavam. Hingga pada akhir cerita dengan penandaan aktan ke-6. dan ruang kerja Mr.

konflik, keberadaannya hanya mendampingi Abisavam. Maka jelaslah Abivara adalah tokoh Utility, peran pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. Dan tokoh ini mewakili jiwa penulis. 3. Carlos: keberadaannya memang tidak dominan, karena sebagai teman Abivara dari luar negeri, berprofesi sebagai wartawan yang hendak meliput kehidupan Suku Naga, keberadaannya menjadi kunci Kisah Perjuangan Suku Naga. Ia muncul dan menjadi tokoh pendukung dalam aktan 4,dan 5. Sementara kalau dilihat dari ke-18 babak, keberadaan tokoh Abivara muncul dalam babak 5, 10, 12, 14, 15, 16, 18. Maka jelaslah bahwa Carlos adalah tokoh yang memegang peran Deutragonis. Karena ia adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Perannya ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis dengan bentuk pemberitaannya di koran-koran luar negeri. 4. Paman, Setyawati, dan Supaka: keberadaannya memang tidak begitu dominan dalam penyelesaian konflik. Kemunculannya semata-mata untuk mewakilan dari pemikiran yang berkembangan di kaum Suku Naga. Konflik di internal Suku Naga. Terlihat dalam aktan 2 (konflik antara Abivara dan Setyawati), dan aktan 3 (konflik antara Abisavam dan Supaka). Namun dalam aktan 4 dan 5 kedua tokoh tersebut kembali mendukung tokoh utama seperti halnya tokoh Paman. Jelaslah bawa tokoh Paman, Setyawati dan Supaka adalah Deutragonis, tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Perannya ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. 5. Ratu Astinam: keberadaannya dominan dalam setiap konflik, sebagai kepala pemerintahan Astinam ia muncul dan menjadi tokoh dalam aktan 1 sebagai P3, dan pada aktan 4, dan 5 sebagai P2. Sementara kalau dilihat dari ke-18 babak, keberadaan tokoh Sri Ratu muncul secara fisik dalam babak 6, 7, 13, kemunculan namanya karena disebutkan tokoh lain ada pada babak 11,12, dan 17. Maka jelaslah Ratu adalah tokoh Antagonis, tokoh lawan, karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. 6. Insinyur, M Pertambangan, dan Ket Parlemen: keberadaan mereka tidak terlalu dominan, hanya menjadi orang suruhan dalam konflik. Sebagai orang suruhan pemerintah Astinam mereka masing-masing muncul sekali dan menjadi tokoh dalam aktan aktan 4, 5, dan 6 secara berurutan sebagai (S). Khusus M Pertambangan dan Ket Parlemen mereka muncul juga sebagai (P3) dalam aktan 1. Sementara kalau dilihat dari ke-18 babak, keberadaan tokoh insinyur hanya ada pada babak 11, sementara M Pertambangan dan Ket Parlemen
36

mereka muncul bersamaan dalam babak 6, 7, 13, dan muncul masing-masing dalam babak 14, dan 16 secara berurutan. Maka jelaslah Insinyur, M Pertambangan, dan Ket Parlemen adalah Tritagonis, peran penengah yang bertugas menjadi pengantara protagonis dan antagonis. 7. Mr Joe dan The Big Boss: keberadaan kedua tokoh ini sangat minim. Mr Joe muncul pada babak 7 dan 17 dan Big Boss dalam babak 7 hanya namanya saja dan baru muncul pada babak 17. Mereka adalah orang yang tidak bersentuhan langsung dengan konflik. Tapi keberadaan mereka menjadi pintu pembuka dan dan penutup cerita. Maka jelaslah bahwa Mr Joe dan Big Boss adalah Foil, peran yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. 8. Dalang, Koor Mesin, Koor Duta Besar, koor Suku Naga, dan Koor Parlemen: keberadaan mereka tidak nyata dalam konflik. Posisi dalang seperti narator sementara para koor adalah konkretisasi pemikiran masing-masing.

37

Zoe. wilayah kaum Suku Naga. Dengan puncak cerita urungnya niat Big Boss untuk mengeksplorasi tambang di wilayah Suku Naga. terutama Abivara. Alur dalam Drama Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra Plot dalam Drama Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra adalah jenis Multy Plot dalam kategori Concentric Plot. Atau dengan kalimat akatan: Gagalnya Bigg Boss (S) dalam upaya mendapatkan Barang Tambang (O) di Bukit Saloka (P1). Adapun tema dalam Drama Kisah Perjuangan Suku Naga adalah perkembangan dunia industrialisasi barat harus memiliki kesadaran untuk bijak. Serta pentingnya mempertahankan tanah adat guna kelestarian budaya leluhur yang mengedepankan keselarasan hidup bersama alam. menjaga dan memerhatikan kelestarian alam dan agrarian timur (Indonesia). Karena kaum Suku Naga (P4) adalah penghalang yang tangguh dan berwawan luas yang tidak bisa di tipu atau di tekan begitusaja oleh Pemerintah Astinam (P3). Latar cerita pada Drama Kisah Perjuangan Suku Naga terjadi di Lingkungan Pemerintahan Astinam.BAB IV PENUTUP 4. dan ruang kerja Mr.1 Simpulan Dari analisis Drama Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra di atas dapat disimpulkan bahwa: Stuktur Drama Kisah Perjuangan Suku Naga karya WS Rendra ini terdiri atas tokoh dan penokohan yakni dengan tokoh utama Abisavam dan Abivara sebagai tokoh Utility. *** 38 . Maka aktualisasi WS Rendra tercermin pada dua tokoh ini.

Seni Teater Jilid 2 untuk SMK. 2010.wordpress. dan Penerapannya. Masih menjadi Mahasiswa (tingkat paling akhir) UPI Bandung. 1995. Aktif bergiat di UKSK UPI. (Edisi Revisi). Metode. Teori. Biodata Penulis Amran Halim. Pasca Sarjana. Kelahiran Cirebon. Sabtu 8 Agustus 2009. Ratna. Pradopo. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. FMN. Kisah Perjuangan Suku Naga.com 39 . Di antaranya pernah dipublikasikan di beberapa media cetak. 2008. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. elektronik dan majalah kampus. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dan menulis kritik sastra.. Sekarang Tinggal di Bandung.com : 3209022311860006 : www. 2007. Semarang: Undip. Model Pengkajian dan Pengajaran Sastra Indonesia Berbasis Sastra Bandingan. Tesis. Rendra Memilih Jalan Seni yang Terlibat. UPI Bandung. Nyoman Kutha. komunitas ASAS UPI. 1975. No kontak Email NIK Webs : 085795098885 : banyurekso@gmail. Pujiyanti.Daftar Pustaka Kompas. Metode Kritik. Mohon konfirmasi jika menggunakan tulisan ini sebagai bahan acuan. Departemen Pendidikan Nasional Sumiyadi. D. Yogya: Bengkel Teater Santosa Eko. Serta sering menjuarai perlombaan cipta cerpen dengan nama Amran Banyurekso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.. Desertasi Pogram Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. cerpen. 2010. Menulis kajian akademik. Fariska. 23 November 1986. R. dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif.bandungmelawan. opini. “Dekonstruksi Dominasi Laki-laki dalam Novel The da Vinci Code Karya Dan Brown”. dkk. Beberapa Teori sastra. Rendra WS.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->