P. 1
Sedap Malam

Sedap Malam

|Views: 15|Likes:
Published by Nurparistiana
perkembangan bunga
perkembangan bunga

More info:

Published by: Nurparistiana on Nov 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2014

pdf

text

original

KARAKTERISASI BUNGA SEDAP MALAM (Polianthes tuberose) ASAL PASURUAN, JAWA TIMUR Tisnawati1

edap malam (Polianthes tuberosa) termasuk keluarga Amarylidaceae, berasal dari Meksiko (Heyne 1950). Tanaman ini dapat tumbuh baik di daerah subtropis maupun tropis termasuk Indonesia. Bunga sedap malam termasuk bunga yang cantik dan menarik. Warnanya putih bersih, baunya harum, serta dapat membawa ketenangan (Rismunandar 1991). Menurut Mukhopadhyay dan Bankar (1983), ada empat jenis bunga sedap malam, yaitu berbunga tunggal, ganda, semiganda, dan varigata (Gambar 1). Dari hasil penelitian, sedap malam berbunga tunggal adalah yang paling menguntungkan. Sedap malam berbunga tunggal banyak ditanam di Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah mencanangkan sedap malam sebagai maskot flora Jawa Timur karena bunganya indah dan bernilai ekonomi tinggi (Balai Informasi Pertanian Jawa Timur 1991). Pemasaran bunga sedap malam masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan bunga potong dalam negeri. Pemanfaatan bunga sebagai bahan baku industri minyak belum dilakukan. Untuk pemanfaatan bunga sedap malam sebagai bahan baku industri minyak perlu terlebih dahulu dipelajari karakteristik atau sifat-sifat bunganya. Tujuan penulisan ini adalah untuk menginformasikan karakteristik bunga sedap malam yang dibudidayakan di Jawa Timur.

S

BAHAN DAN METODE Kegiatan dilaksanakan di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias, Jakarta, pada bulan Juni 2003. Bunga sedap malam yang digunakan adalah jenis berbunga tunggal sebanyak 150 tangkai. Alat-alat yang dipergunakan antara lain adalah gunting bunga, gelas, gelas ukur, baskom, ember, gelas piala, jangka sorong, timbangan, dan kertas saring. Bunga diambil dari Pasuruan, Jawa Timur, dengan kondisi bunga mekar 1-5 kuntum. Bunga sedap malam dipanen, disortir, dibersihkan, sebagian daun dibuang kemudian dikemas dengan menggunakan daun pisang dan diangkut ke laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias, Jakarta. Setelah sampai di laboratorium, bunga dibersihkan, daun bunga dibuang, kemudian tangkai bunga dipotong sama panjang (40 cm), diukur dari bunga pertama mekar sampai ujung tangkai bunga dan diletakkan dalam gelas berisi air suling (Gambar 2). Parameter fisik bunga yang diamati dan diukur antara lain adalah:

• Panjang tangkai bunga, diukur 40 cm dari bunga pertama. • Diameter tangkai bunga, ujung tangkai diukur dengan • • • • • • • • •
jangka sorong. Jarak ruas bunga (antara bunga satu dan lainnya) Panjang malai bunga (dari bunga pertama sampai ujung bunga) Jumlah kuntum bunga Berat kuntum bunga (g) Panjang mahkota bunga (cm) Lebar mahkota bunga (cm) Jumlah mahkota bunga per kuntum (helai) Jumlah lapis mahkota bunga Tingkat ketuaan mekar 1-5 (bunga pertama sampai bunga kelima mekar) (Gambar 3).

Gambar 1. Bunga sedap malam, (a) jenis ganda, semiganda asal Purwakarta, (b) jenis tunggal asal Pasuruan

1

Teknisi Litkayasa Penyelia pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Jalan Tentara Pelajar No. 12, Bogor 16114, Telp. (0251) 321762, Faks. (0251) 350920

Pengamatan fisik bunga seperti diameter bunga, jumlah mahkota bunga per kuntum, dan jumlah lapis mahkotamahkota bunga dilakukan setelah bunga mekar. Untuk pengamatan panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, jarak ruas bunga, panjang malai bunga, jumlah kuntum bunga, bobot mahkota, panjang mahkota dan lebar mahkota bunga dilakukan setelah bunga dibersihkan dan tangkainya dipotong sama panjang. Buletin Teknik Pertanian Vol. 12 No. 1, 2007

24

Bunga sedap malam
t

Dibersihkan, daun bunga dibuang
t

Tangkai bunga dipotong 40 cm
t

diameter 7,5 mm hanya mampu menyerap air 5,03 ml/hari. Menurut Bankar (1988), untuk memperbaiki mutu tangkai bunga sedap malam disarankan menambahkan unsur P dan K dalam pemupukan. Ras et al. (1992) menyatakan kualitas tangkai bunga sedap malam dipengaruhi oleh besar kecilnya umbi bunga sedap malam. Bunga Bunga sedap malam mekar secara berturut-turut dari bawah ke atas dan termasuk bunga majemuk. Panjang malai dan jumlah kuntum bunga mempengaruhi umur peragaan. Makin banyak jumlah kuntum bunga makin lama umur peragaannya. Karakteristik kuntum bunga sedap malam dapat dilihat pada Tabel 1. Panjang kuntum bunga rata-rata 3,62 cm, dengan jarak antarruas 3,60 cm. Bunga sedap malam kultivar tunggal asal Pasuruan termasuk jenis yang tersusun rapat dan membentuk malai yang cukup tebal. Jumlah kuntum bunga rata-rata tiap tangkai mencapai 39,40. Jenis pupuk mempengaruhi jumlah kuntum bunga per tangkai. Pemupukan P dan K melalui daun dapat meningkatkan jumlah kuntum bunga (Mostafa et al. 1996). Kuntum bunga sedap malam berwarna putih dengan merah jambu pada ujung bunganya. Setelah bunga mekar, warna merah jambu berubah menjadi putih. Bunga sedap malam tersusun dari sembilan helai mahkota bunga yang membentuk dua lapis lingkaran, lapisan luar berjumlah enam helai dan lapis kedua tiga helai. Ukuran mahkota lapisan luar lebih panjang daripada mahkota lapisan dalam. Umur Peragaan Tangkai bunga sedap malam yang telah dipanen dipotong seragam menjadi 40 cm dari bunga pertama lalu diperagakan

Dimasukkan dalam gelas berisi air suling
t

Pengamatan Gambar 2. Diagram alur pengamatan bunga sedap malam

Gambar 3. Tingkat ketuaan bunga sedap malam dari mekar 0-5

HASIL DAN PEMBAHASAN Tangkai Bunga Hasil pengamatan terhadap 150 tangkai bunga sedap malam menunjukkan panjang tangkai rata-rata 86,93 cm, diameter tangkai 7,34 mm, dan jarak ruas bunga 3,60 cm. Untuk mendapatkan tampilan bunga sedap malam yang serasi dan menarik perlu diperhatikan keseimbangan antara panjang dan diameter tangkai dengan jarak ruas bunga. Diameter tangkai bunga perlu diperhatikan karena diameter tangkai bunga yang cukup besar mampu menyerap air lebih banyak selama peragaan (Naidu dan Reid 1989). Murtiningsih dan Tisnawati (1988) melaporkan bahwa tangkai bunga sedap malam berBuletin Teknik Pertanian Vol. 12 No. 1, 2007

Tabel 1. Sifat-sifat kuntum bunga sedap malam tipe tunggal asal Pasuruan, laboratorium Balithi, Jakarta, Juni 2003 Karakteristik kuntum bunga Panjang malai (cm) Jumlah kuntum Panjang kuntum (cm) Berat kuntum (g) Mekar Kuncup Tebal mahkota bunga (mm) Panjang mahkota bunga (cm) Lebar mahkota bunga (cm) Diameter bunga (cm) Jumlah mahkota per kuntum Jumlah lapis mahkota bunga Ukuran 25,35 39,40 3,62 0,728 0,419 0,34 1,82 0,72 3,54 6-9 1-2

25

pada suhu ruang. Hasil pengamatan peragaan dan jumlah kuncup mekar dengan tingkat ketuaan bunga yang berbeda disajikan pada Tabel 2. Bunga sedap malam yang dipetik pada saat masih kuncup mempunyai umur peragaan sekitar 6 hari. Bunga yang dipetik pada tingkat ketuaan mekar 5 mempunyai umur peragaan 4 hari. Jumlah kuncup mekar selama peragaan dari semua tingkat ketuaan bunga hampir sama yaitu rata-rata berkisar antara 14,80-16,93 kuntum. Berdasarkan hasil pengamatan, untuk pengiriman jarak jauh sebaiknya bunga dipetik pada tingkat ketuaan mekar 1 atau mekar 2. Jika bunga dipetik pada tingkat ketuaan mekar 5 maka kemungkinan bunga akan rusak selama pengangkutan. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk pengiriman jarak jauh, bunga sedap malam dianjurkan dipanen pada saat bunga mekar 1-2 kuntum. Agar penampak-

an bunga serasi dan menarik perlu diperhatikan keseimbangan antara panjang dan diameter tangkai bunga (panjang tangkai bunga jangan terlalu panjang dan diameter bunga jangan terlalu kecil agar penyerapan nutrisi lebih baik dan kuntum bunga lebih banyak yang mekar). Mutu tangkai bunga sedap malam dapat diperbaiki dengan pemupukan P dan K. DAFTAR PUSTAKA
Balai Informasi Pertanian Jawa Timur. 1991. Budidaya sedap malam. Lembaran Informasi Pertanian BIP Jawa Timur No. 17. Bankar, G.J. 1988. Nutritional studies in tuberose (Polianthes tuberose L.) cv. Double. Progressive 49-52. Heyne, K. 1950. De Nuttige Planten Van Indonesia. N.V. Uitge VeIjw van Hoeves, Gravenhag, Bandung. p. 447-448. Mostafa, M.M., Ta. A. El Fadl, and E.H. Hussein. 1996. Effect of phosphorus and boron on the vegetative growth, flower and corn production and oil yield of tuberose plants. Alexandria J. Agric. Res. 41(3): 93-107. Mukhopadhyay, A. and G.J. Bankar. 1983. Regulation of growth and ethrel spray. Scientia Horticulture 19(1/2): 149-152. Murtingsih dan Tisnawati. 1988. Pengaruh ukuran diameter bunga terhadap mutu bunga sedap malam potong. Risalah Seminar Nasional Tanaman Hias 1988. Balai Penelitian Tanaman Hias, Jakarta. hlm. 136-142. Naidu, S.N. and M.S. Reid. 1989. Postharvest handling of tuberose (Polianthes tuberose L.). Acta Horticultura 261: 313-317. Ras, D.V.R., K.B. Reddy, and L.N. Naidu. 1992. Effect of size and date of planting of growth and flowering of tuberose cv. Single. South Indian Horticulture 40(5): 298-300. Rismunandar. 1991. Budidaya dan Aneka Jenis Bunga Potong. Penebar Swadaya, Jakarta. hlm. 112-116.

Tabel 2. Umur peragaan bunga sedap malam tipe tunggal asal Pasuruan dan jumlah kuncup mekar selama peragaan dengan tingkat ketuaan bunga yang berbeda, Juni 2003 Tingkat ketuaan bunga Mekar Mekar Mekar Mekar Mekar Mekar 0 bunga bunga bunga bunga bunga 1 2 3 4 5 Umur peragaan (hari) 6,06 5,55 5,14 4,93 4,86 4,06 Jumlah kuncup mekar 14,80 15,53 15,07 16,93 15,06 16,00

26

Buletin Teknik Pertanian Vol. 12 No. 1, 2007

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->