P. 1
28702831 Cogito Ergo Sum vs Credo Ergo Sum

28702831 Cogito Ergo Sum vs Credo Ergo Sum

|Views: 2|Likes:
Published by Yanna 'Bunda' Fitri

More info:

Published by: Yanna 'Bunda' Fitri on Nov 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2013

pdf

text

original

== Cogito ergo sum == ''Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas'' '''Cogito ergo sum''' adalah sebuah ungkapan

dari Newberg dan Waldman. Artinya adalah `` aku percaya maka aku ada ``. Maksudnya aku percaya bahwa anda percaya pada diri sendiri, dunia menjadi milikmu. [Andrew Newberg] salah satu penulis buku itu, adalah seorang ahli radiologi dan psikiatri, sekaligus Direktur The Center for Spirituality and the Mind, Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia juga disebut sebagai ahli kardiologi nuklir, kedokteran nuklir, dan penyakit dalam. Dengan segudang keahlian itu, ia memusatkan perhatiannya pada the biological power of belief, kekuatan kepercayaan yang bisa dijelaskan secara biologis. Keyakinan, kepercayaan, atau persangkaan-semuanya dalam arti beliefmempengaruhi tubuh manusia. Keyakinan bisa mempengaruhi sistem saraf, sistem pencernaan, sistem imun, dan seluruh sistem tubuh kita. Secara singkat, keyakinan bisa menyembuhkan dan bisa mematikan. “Secara biologis dan ''neuropsikologis'', keyakinan adalah [persepsi], [kognisi], dan [emosi], yang diterima otak, secara sadar atau tidak sadar, sebagai kebenaran,” kata Newberg dan Waldman dalam buku tersebut. “The human brain is really a believing machine,” kata Jalaluddin Rakhmat. Otak kita berfungsi dengan menyimpan, mengolah, dan menggunakan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, kita tidak bisa hidup. Dari segi neuroscience, kata Newberg dan Waldman, eksistensi kita ditentukan oleh karena kita percaya. Bukan [Cogito Ergo Sum] (aku berpikir, maka aku ada) seperti kata Descartes; tetapi [Credo Ergo Sum], (aku percaya, maka aku ada). dalam bahasa Latin: CREDO ERGO SUM, aku percaya maka aku ada.

Rene Descartes

Rene Descartes Rene Descartes lahir di La Haye Touraine-Prancis pada tanggal 31 maret 1596 dari sebuah keluarga borjuis. Ayahnya adalah seorang pengacara yang aktif berpolitik sementara ibunya telah meninggal pada saat usia Descartes masih 1 tahun. Descartes dimasukkan ke sekolah La Fleche pada usia 8 tahun , disana dia belajar ilmu-ilmu alam dan filsafat skolastik lalu kemudian pada tahun 1613 melanjutkan study-nya di Poitier, bukan memperdalam filsafat melainkan belajar ilmu hukum. Dua tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1615 Descartes pergi ke Paris untuk belajar Matematika dan setelah itu pada tahun 1617 Dia dikirim ke Jerman untuk dinas militer. Dalam karir militernya Descartes tidak terlalu menonjol, dia lebih banyak memanfaatkan fasilitas militer untuk belajar kepada buku besar alam dan melancong keberbagai negara ketimbang terlibat pertempuran dalam peperangan. Sementara melancong, Descartes tetap membaca dan menulis pikiran-pikirannya sehingga dia bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh pemikir lainnya. Didalam kematangan berpikirnya, Descartes juga tidak sepi dari orang-orang yang mengecam pemikirannya, bahkan kecaman yang terkeras datang dari almamaternya sendiri, yaitu para Yesuit yang pernah mengasuhnya di sekolah La Fleche. Ajarannya dianggap sesat karena telah menyimpang jauh dari ajaran agama katolik. Cogito Ergo Sum Satu hal yang membuat Descartes sangat terkenal adalah bagaimana dia menciptakan satu metode yang betul-betul baru didalam berfilsafat yang kemudian dia beri nama metode keraguan atau kalau dalam bahasa aslinya dikatakan sebagai Le Doubte Methodique. Berdasarkan metode ini, berfilsafat menurut Descartes adalah membuat pertanyaan metafisis untuk kemudian menemukan jawabannya dengan sebuah fundamen yang pasti, sebagaimana pastinya jawaban didalam matematika. Untuk menentukan titik kepastian tersebut Descartes memulainya dengan meragukan semua persoalan yang telah diketahuinya. Misalnya, dia mulai meragukan apakah

asas-asas metafisik dan matematika yang diketahuinya selama ini bukan hanya sekedar ilusi belaka. Jangan-jangan apa yang diketahuinya selama ini hanyalah tipuan dari khayalan belaka, jika demikian adanya maka apakah yang bisa menjadi pegangan untuk menentukan titik kepastian? Menurut Descartes, setidak-tidaknya “aku yang meragukan” semua persoalan tersebut bukanlah hasil tipuan melainkan sebuah kepastian. Semakin kita dapat meragukan segala sesuatu maka semakin pastilah bahwa kita yang meragukan itu adalah ada dan bahkan semakin mengada (exist). Dengan demikian tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keraguan justru akan membuktikan keberadaan kita semakin nyata dan pasti. Semakin kita ragu maka kita akan semakin merasa pasti bahwa keraguan itu adalah ada, karena keraguan itu adanya pada diri kita maka sudah tentu kita sebagai tempat bercantolnya rasa ragu itu pasti sudah ada terlebih dahulu. Meragukan sesuatu adalah berpikir tentang sesuatu, dengan demikian bisa dikatakan bahwa kepastian akan eksistensi kita bisa dicapai dengan berpikir. Descartes kemudian mengatakan cogito ergo sum atau kalau dalam bahasa aslinya dikatakan Je pense donc je suis yang artinya adalah aku berpikir maka aku ada. Dengan metode keraguan ini, Descartes ingin mengokohkan kepastian akan kebenaran, yaitu “cogito” atau kesadaran diri. Cogito adalah sebuah kebenaran dan kepastian yang sudah tidak tergoyahkan lagi karena dipahami sebagai hal yang sudah jelas dan terpilah-pilah ( claire et distincte). Cogito tidak ditemukan didalam metode deduksi ataupun intuisi, melainkan ditemukan didalam pikiran itu sendiri, yaitu sesuatu yang dikenali melalui dirinya sendiri, tidak melalui Kitab Suci, pendapat orang lain, prasangka ataupun dongeng dan lain-lain yang sejenisnya. Karena ini sifatnya hanyalah sebuah metode maka tidak berarti Descartes menjadi seorang skeptis, melainkan sebaliknya Descartes ingin menunjukkan kepastian akan kebenaran yang kokoh jelas dan terpilah melalui metode yang diperkenalkannya ini.

Rene Descartes 2

Rene Descartes Ide-ide bawaan dan substansi : Metode keraguan yang diperkenalkan Descartes telah menemukan cogito , yaitu kesadaran, pikiran atau subjektivas. Descartes menyebut pikiran tersebut sebagai ide bawaan yang sudah melekat sejak kita lahir kedunia ini atau dalam istilahnya disebut sebagai “res cogians”. Descartes melanjutkan, bahwa dalam kenyataannya aku ini bukan hanya pikiran saja, melainkan bisa juga dilihat dan diraba, kejasmanianku ini bisa saja merupakan tipuan atau kesan yang telah menipu saya sejak lahir, namun demikian bukankah sudah sejak lahir itu pula kesan itu ada yang mana berarti kejasmanianku ini juga merupakan ide bawaan karena sudah terbawa sejak lahir. Untuk menjelaskan maksudnya ini Descartes kemudian menyebutnya dengan istilah “res extensa” atau keluasan. Merangkai cerita kejasmanian tersebut lalu kemudian Descartes menunjuk kepada dirinya sendiri dan mengatakan bahwa aku juga mempunyai ide tentang yang sempurna dan ide itu sudah ada didalam diriku dan sudah menjadi bawaanku. Kemudian tentang Tuhan, Tuhan juga merupakan ide bawaan. Dalam masalah ide bawaan ini, Descartes secara ringkas mengatakan bahwa terdapat 3 buah ide bawaan, yaitu : 1. Ide tentang pikiran 2. Ide tentang keluasan (res extensa) 3. Ide tentang Tuhan Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah ketiga ide itu hanya ada didalam pikiran kita saja atau adanya berada diluar pikiran? Mengenai yang pertama, tentang ide pikiran Descartes mengatakan bahwa cogito erfo sum atau aku berpikir maka aku ada, yang artinya berpikir adalah merupakan suatu substansi atau suatu kenyataan yang berdiri sendiri atau dengan kata lain berpikir itu adalah jiwa itu sendiri.

Mengenai yang kedua, tentang keluasaan Descartes mengatakan, tidak mungkin Tuhan yang maha sempurna itu menipu kita tentang adanya kejasmanian, karenanya bisa dikatakan bahwa kematerian adalah juga merupakan sebuah substansi. Mengenai yang ketiga, tentang Tuhan Descartes mengatakan ketika kita memiliki ide tentang Tuhan, maka Tuhan itu ada dan karena Tuhan ada maka adanya itu sendiri haruslah merupakan substansi ontologis. Dalam hal ini nampaknya Descartes sejalan dengan Anselmus.

Rene Descartes 3

Rene Descartes Hubungan Jiwa dan Badan : Descartes mengatakan bahwa aku itu terdiri dari dua substansi, yakni substansi jiwa dan substansi jasmani atau materi. Descartes selanjutnya membedakan antara substansi manusia dan hewan pada rasio atau jiwanya. Descartes mengatakan, manusia memiliki kebebasan yang mana tidak dimiliki oleh hewan. Hewan dalam prilakunya selalu terbentuk secara otomatis, bukan dengan kebebasan karena hewan tidak memiliki jiwa sebagai dasar kemandirian substansi. Adapun kesamaan antara hewan dan manusia adalah pada jasmani atau tubuhnya, karena itu bisa dikatakan bahwa sesungguhnya tubuh manusiapun sebenarnya berjalan secara otomatis dan tunduk kepada hukum-hukum alam. Descartes selanjutnya menyebut tubuh adalah sebagai L`homme machine atau mesin yang bisa berjalan secara otomatis (berjalan sendiri). Badan bisa bergerak, bernafas, mengedarkan darah dan seterusnya tanpa campur tangan pikiran atau jiwa. Perbedaannya adalah kalau pada manusia mesin ini diatur atau dikontrol oleh jiwa sementara pada hewan mesin ini berjalan secara alami atau otomatis. Bagaimana jiwa mengatur atau mengontrol tubuh (mesin), Descartes menjelaskannya dengan menunjukkan sebuah kelenjar kecil (glandula pinealis) yang ada di otak sebagai semacam jembatan. Dengan adanya kelenjar kecil yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ini maka tubuh bisa merepleksikan aktifitas-aktifitas unik seperti gembira, bersedih, tertawa , murung dan lain-lain.

Etika Dalam hal etika, Descartes mempunyai pandangan dualitas dimana disatu sisi dikatakan manusia bebas dan independen dan disisi lainnya dikatakan bahwa kebebasan tersebut tidak independen melainkan dituntun oleh Tuhan. Descartes mengatakan, untuk mencapai jiwa yang bebas dan independen maka kita harus mengendalikan hasrat-hasrat yang ada didalam diri kita sehingga jiwa bisa menguasai tingkah laku kita sepenuhnya. Dengan menguasai atau mengontrol hasrat dan tingkah laku, manusia bisa memiliki kebebasan spiritual. Hal ini bisa terjadi karena hasrat dan nafsu seperti : cinta, kebencian, kekaguman, kegembiraan, kesedihan dan gairah dianggap sebagai keadaan pasif dari jiwa dan jika manusia mampu menaklukkan nafsu-nafsu ini maka dia akan bebas dan independen. Akan tetapi kata Descartes, yang disebut bebas dan independen dalam pengertian otonomi tersebut bukanlah bebas mutlak melainkan bebas berdasarkan penyelenggaraan Ilahi. Problem dan Pengaruh Filsafat Descartes Pandangan Filsafat Descartes terutama tentang dasar filsafat cogito nya, selanjutnya dipercaya sebagai tonggak dimulainya filsafat rasionalis. Dengan cogito Descartes mengandaikan bahwa pikiran atau kesadaran akan melukiskan kenyataan diluar pikiran kita, dengan kata lain keadaan diluar pikiran atau kenyataan yang kita temui diluar pikiran adalah bersumber dari pikiran atau kesadaran diri kita. Dengan cara menyadari kesadaran diri kita sendiri maka kita akan mengenal dunia diluar diri kita. Pandangan Descartes tersebut dikemudian hari malah menimbulkan problem yang sangat mendasar, jika dikatakan bahwa pikiranlah yang melukiskan kenyataan diluar pikiran, namun pada kenyataan tidak disemua lukisan akan menampilkan kenyataan. Dengan kata lain, Descartes hanya berpijak kepada salah satu alat sementara alat yang lainnya ( kenyataan material ) diabaikan. Descartes beranggapan bahwa hanya dengan rasio atau kesadaran (cogito) maka kita akan mengenali diri dan pikiran kita, sementara kenyataannya kita masih melihat adanya ada lain di alam kenyataan.

Teori-teori Perkembangan
Teori adalah keyakinan umum yang membantu kita menjelaskan apa yang kita amati dan membuat prediksi. Teori yang baik memiliki hipotesis, yang merupakan asumsi yang harus diuji. Teori-teori Perkembangan Anak 1. Teori-teori Psikoanalitis 2. Teori-teori Kognitif 3. Teori-teori Perilaku dan Belajar Sosial 4. Teori Etologis 5. Teori-teori Ekologi 6. Orientasi Teoritis Eklektis

Penjelasan : Teori-teori Psikoanalitis Dua teori psikoanalitis yang penting ialah teori Freud dan teori Erikson.

Freud mengatakan kepribadian terdiri dari tiga struktur - id, ego dan superego - dan bahwa kebanyakan pemikiran anak-anak bersifat tidak disadari. Tuntutan struktur kepribadian yang saling bertentangan menyebabkan kecemasan. Mekanisme pertahanan, khususnya represi, melindungi ego dan mengurangi kecemasan. Freud yakin bahwa masalah berkembang karena pengalaman masa anak-anak sebelumnya. Ia mengatakan bahwa individu melampaui lima tahap psikoseksual - oral, anal, phallic, latency dan genital. Selama tahap phallic, Oedipus Complex merupakan sumber utama konflik. Erikson mengembangkan suatu teori yang menekankan delapan tahap perkembangan psikososial : kepercayaan versus ketidakpercayaan; otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu; prakarsa versus rasa bersalah; tekun versus versus rasa rendah diri; identitas versus kebingungan identitas; keintiman versus keterkucilan; bangkit versus mandeg; kepuasaan versus kekecewaan (keputusasaan).

Teori-teori Kognitif Dua teori kognitif yang penting adalah teori perkembangan kognitif dari Piaget dan teori pemrosesan informasi.

Piaget mengatakan bahwa anak-anak melampaui empat tahap perkembangan kognitif, yaitu : sensorimotor, praoperasional, operasional konkrit, dan operasonal formal. Teori pemrosesan informasi mengenai bagaimana individu memproses informasi tentang dunianya, yang meliputi : bagaimana informasi masuk ke dalam pikiran, bagaimana informasi disimpan dan disebarkan, dan bagaimana

informasi diambil kembali untuk memungkinkan kita berpikir dan memecahkan masalah. Teori-teori Perilaku dan Belajar Sosial

Behaviorisme menekankan bahwa kognisi tidak penting dalam memahami perilaku. Menurut B.F. Skinner, seorang pakar behavioris terkenal, perkembangan adalah perilaku yang diamati, yang ditentukan oleh hadiah dan hukuman di dalam lingkungan. Teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura dan kawankawan, menyatakan bahwa lingkungan adalah faktor penting yang mempengaruhi perilaku, tetapi proses-proses kognitif tidak kalah pentingnya. Menurut pandangan belajar sosial, manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilakunya sendiri.

Teori Etologis Konrad Lorenz adalah salah seorang pengembang penting teori etologi. Etologi menekankan landasan biologis dan evolusioner perkembangan. Penanaman (imprinting) dan periode penting (critical periods) merupakan konsep kunci. Teori-teori Ekologi Dalam teori ekologi Brofenbrenner, ada lima sistem lingkungan yang penting : mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem dan kronosistem Orientasi Teoritis Eklektis Tidak satupun toeri dapat menjelaskan kompleksitas perkembangan masa hidup yang kaya dan mengagumkan. Masing-masing teori memberikan sumbangan yang berbeda, dan barangkali strategi yang paling bijaksana adalah mengadopsi perspektif teoritis eklektis jika kita ingin memahami perkembangan masa hidup secara lengkap. Sebagai suatu perspektif, pandangan masa hidup mengkoordinasikan sejumlah prinsip teoritis tentang hakekat perkembangan. Dengan mempertimbangkan gagasan-gagasan tentang perspektif masa hidup bersama dengan teori-teori perkembangan yang ada, maka dapat diperoleh suatu rasa konsep teoritis yang penting dalam memahami perkembangan masa hidup.

Referensi : Santrock, John W. 2002. Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup. Jilid 1, Edisi 5. Jakarta, Penerbit Erlangga

Tuesday, March 3, 2009
Periode Perkembangan
Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Periode prakelahiran (prenatal period) Masa bayi (infancy) Masa awal anak-anak (early childhood) Masa pertengahan dan akhir anak (middle and late childhood) Masa remaja (adolescence) Masa aswal dewasa (early adulthood) Masa pertengahan dewasa (middle adulthood) Masa akhir dewasa (late adulthood)

Periode Prakelahiran ialah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa - dari satu sel tunggal menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku yang dihasilkan kira-kira dalam periode 9 bulan. Masa Bayi ialah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah suatu masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis, yang semuanya bersifat scaffolding untuk perkembangan selanjutnya, antara lain : bahasa, kognitif, emosi sosial dan lain-lain. Masa Awal Anak-anak ialah periode perkembangan yang merentang dari akhir masa bayi hingga usia kira-kira 5-6 tahun; periode ini kadang-kadang disebut "tahun-tahun prasekolah". selama masa ini, anak-anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan ketrampilan, kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), meluangkan waktu berjam-jam bermain dengan teman-teman sebaya. Kelas satu secara umum menandai akhir masa awal anak-anak. Masa Pertengahan dan Akhir Anak-anak ialah periode perkembangan yang merentang dari usia kira-kira 6 hingga 11 tahun, yang kira-kira setara dengan tahuntahun sekolah dasar; periode ini kadang-kadang disebut "tahun-tahun sekolah dasar". Ketrampilan-ketrampilan fundamental seperti membaca, menulis dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaannya. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat. Masa Remaja ialah periode perkembangan transisi dari masa anak-anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Masa remaja bermula dengan perubahan fisik yang cepat pertambahan tinggi dan berat badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan

pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada masa perkembangan ini, percapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol; pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis; dan semakin banyak waktu diluangkan di luar keluarga. Masa Awal Dewasa ialah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir paa usia tigapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga dan mengasuh anak-anak. Masa Pertengahan Dewasa ialah periode perkembangan yang bermula pada usia kira-kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial, membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa; dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam karir seseorang. Masa Akhir Dewasa ialah periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuhpuluhan tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupan, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran-peran sosial baru. Refensi : Santrock, John W. 2002. Life Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi 5 Jilid I. Jakarta, Erlangga

2. Pengertian dan Prinsip Perkembangan
I. Pengertian Tumbuh Tumbuh adalah dapat diartikan sebagai perubahan kuantitas pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari yang tidak ada menjadi yang ada, dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya. Ini berarti, bahwa pertumbuhan ini hanya berlaku pada hal – hal yang bersifat kuantitaif, karena tidak selamanya material itu kuantitatif. Material dapat terdiri dari bahan-bahan kuantitatif seperti misalnya atom, sel, kromosom, rambut, molekul, dan lain-lain, dapat pula material terdiri dari bahanbahan kualitatif seperti misalnya kesan, ide, keinginan, gagasan, pengetahuan, nilai dan lain-lain. jadi material itu terdapat terdiri dari kualitas maupun kuantitas. Kenyataan inilah yang barangkali membuat orang mengalami kesulitan dan membedakan antara pertumbuhan dan perkembangan. Salah satu kelengahan orang adalah yang menyebut material kualitatif sebagai perkembangan. Pertumbuhan pribadi sebagai perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Material pribadi seperti : sel, kromosom, butir darah, rambut, lemak, tulang, adalah tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh. Begitu juga material pribadi seperti : kesan, ide, keinginan, pengetahuan, nilai selama tidak dihubungkan dengan fungsinya tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh. II. Perkembangan pada dasarnya adalah perubahan kualitatif sesuatu hingga membuahkan hasil atau manfaat bagi pihak lain. dapat diartikan pula sebagai perubahan kualitatif dari fungsi-fungsi yang dimungkinkan adanya perubahan tingkah laku hasil belajar. Beberapa definisi psikologi perkembangan menurut para ahli :

Menurut Monks, Knoers dan Haditono bahwa “psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang lebih mempersolankan faktor-faktor umum yang mempengaruhi proses perkembangan (perubahan) yang terjadi dalam diri pribadi seseorang dengan menitik beratkan pada relasi antara kepribadian dan perkembangan.” Menurut Kartono bahwa “Psikologi perkembangan (psikologi anak) adalah suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang dimulai dengan periode masa bayi, anak pemain, anak sekolah, masa remaja sampai periode adolesense menjelang dewasa.” Encyclopedia International : “Developmental psychology is a branch of psychology devoted been placed on the search for those elements of behavior in the child which are thought to be prerequisite for complex adult behavior.”(Psikologi perkembangan adalah suatu cabang dari psikologi yang mengetengahkana pembahasan tentang perilaku anak secara historic titik berat pembahasannya pada penganalisaan elemen-elemen perilaku anak yang

dimungkinkan akan menjadi syarat terbentuknya perilaku dewasa yang kompleks). Good dalam Dictionary Of Education : “Developmental psychology: the branch of psychology concerned with the course of progressive stages of behavior, considered phylogenetically anda ontogenetically, and including both the phase of growth and of decline, broder in meaning than genetic psychology, though the terms are frequently use interchangeably.”Psikologi perkembangan adalah cabang dari psikologi yang membahas tentang arah atau tahapan kemajuan dari perilaku yang mempertimbangkan phylogenetic dan ontogenetic, termasuk semua phase pertumbuhan dan penurunan. Hal ini berarti adanya pembatasan yang lebih luas dari pengertian ilmu jiwa keturunan, walaupun bentuk dan polanya ada persamaannya serta dapat dipertukarkan).

III. Hukum Tumbuh Kembang 1. Pertumbuhan adalah kuantitatif serta kualitatif. Pertumbuhan mencakup dua aspek perubahan, yaitu perubahan kuantitatif dan perubahan kualitatif. Perubahan kuantitatif yang meliputi perbanyakan sel-sel, penambahan gigi, rambut, pembesaran material jasmaniah. Sedangkan perubahan kualitatif dapat menyebabkan adanya perubahan emosional. Perubahan ini menumbuhkan kepribadian manusia, dan menumbuhkan kapasitas intelektual untuk melakukan sesuatu. 2. Pertumbuhan merupakan proses yang berkesinambungan dan teratur karena dimulai dari keadaan sederhana menuju ke keadaan yang kompleks . kita dapat menjumpai seorang anak yang sudah dapat berjalan, tetapi sebelumnya ia belajar merangkak dan berdiri. 3. Tempo pertumbuhan adalah tidak sama. Sequence atau urutan pertumbuhan tidak bergerak dalam waktu yang konstan . ada saat dimana pertumbuhan berlangsung cepat, dan ada pula saat pertumbuhan berlangsung lambat. 4. Taraf perkembangan berbagai aspek pertumbuhan adalah berbeda-beda. Pada suatu ketika perkembangan bahasa anak mengalami kelambatan akibat adanya perkembangan pesat pada fungsi-fungsi jasmaniahnya. Karena perkembangan jasmani memerlukan banyak energi sehingga perkembangan bahasa menjadi berkurang. 5. Kecepatan serta pola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi-kondisi di dalam dan di luar badan. Kondisi-kondisi lingkungan internal sperti gizi, aktifitas, istirahat, tekanan kejiwaan, kesehatan jasmani dan lain sebagainya sangat menentukan kecepatan pertumbuhan serta keterlibatan potensi-potensi pertumbuhan pada individu. Juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan . apabila kondisilingkungan eksternal adalah positif, maka pertumbuhan akan cepat dan keterlibatan potensi-potensi pertumbuhan akan lebih luas.

6. Masing-masing individu tumbuh menurut caranya sendiri yang unik. Tidak semua individu mengalami pertumbuhan dengan cara yang sama. Ini buktinya ada yang tinggi, pendek, gemuk dan kurus. Keunikan pertumbuhan pada masing-masing individu diantaranya disebabkan : lingkungan internal, lingkungan eksternal, hereditary, aktifitas, usiakondisi fisiologis seperti cacat pisik, jenis kelamin, perbedaan hasil belajar 7. Pertumbuhan adalah kompleks dans emua aspeknya salaing berhubungan. Sebagai gambaran, terdapat hubungan yang sangat erat antara penyesuaian anak di sekolah dengan perangai / emosinya, kesehatan jasmanianya, dan kapasitas mentalnya.

IV. Hukum Perkembangan Suatu konsepsi yang biasanya bersifat deduktif dan menunjukkan adanya hubungan yang ajeg(continue) serta dapat diramalkan sebelumnya antara variabel-variabel yang empirik, hal itu lazimnya disebut sebagai hokum perkembangan. Hukum-hukum perkembangan tersebut antara lain : 1. Hukum Tempo Perkembangan. Bahwa perkembangan jiwa tiap-tiap anak itu berlainan, menurut temponya masing-masing perkembangan anak yang ada. Ada yang cepat (tempo singkat) adapula yang lambat. Suatu saat ditemukan seorang anak yang cepat sekali menguasai ketrampilan berjalan, berbicara,tetapi pada saat yang lain ditemukan seorang anak yang berjalan dan berbicaranya lambat dikuasai. Mereka memiliki tempo sendiri-sendiri. 2. Hukum Irama Perkembangan. Hukum ini mengungkapkan bukan lagi cepat atau lambatnya perkembangan anak, akan tetapi tentang irama atau rythme perkembangan. Jadi perkembangan anak tersebut mengalami gelombang “pasang surut”. Mulai lahir hingga dewasa, kadangkala anak tersebut mengalami juga kemunduran dalam suatu bidang tertentu. Misalnya , akan mudah sekali diperhatikan jika mengamati perkembangan pada anak-anak menjelang remaja. Ada anak yang menampakkan kegoncangan yang hebat, tetapi adapula anak yang melewati masa tersebut dengan tenang tanpa menunjukkan gejala-gejala yang serius. 3. Hukum Konvergensi Perkembangan. Pandangan pendidikan tradisional di masa lalu berpendapat bahwa hasil pendidikan yang dicapai anak selalu di hubung-hubungkan dengan status pendidikan orang tuanya. Menurut kenyataan yang ada sekarang ternyata bahwa pendapat lama itu tidak sesuai lagi dengan keadaan. Pandangan lama ini dikuasai oleh aliran nativisme yang dipelopori Schopen Hauer yang berpendapat bahwa manusia adalah hasil bentukan dari pembawaan 4. Hukum Kesatuan Organ. Tiap-tiap anak itu terdiri dari organ-organ tubuh , yang merupakan satu kesatuan diantara organ-organ tersebut antara fungsi dan bentuknya, tidak dapat dipisahkan berdiri integral. Contoh : perkembangan

5.

6.

7.

8.

kaki yang semakin besar dan panjang , mesti diiringi oleh perkembangan otak, kepala, tangan dan lain-lainnya. Hukum Hierachi Perkembangan. Bahwa perkembangan anak itu tidak mungkin akan mencapai suatu phase tertentu dengan spontan, akan tetapi harus melalui tingkat-tingkat atau tahapan tertentu yang tersusun sedemikian rupa sehingga perkembangan diri seorang menyerupai derajat perkembangan. Contoh : perkembangannya pikiran anak, mesti didahului dengan perkembangan pengenalan dan pengamatan. Hukum Masa Peka. Masa peka ialah suatu masa yang paling tepat untuk berkembang suatu fungsi kejiwaan atau fisik seseorang naka. Sebab perkembangan suatu fungsi tersebut tidak berjalan secara serempak antara satu dengan lainnya. Contoh : masa peka untuk berjalan bagi seorang anak itu pada awal tahun kedua dan untuk berbicara sekitar tahun pertama. Istilah peka pertama kali ditampilkan oleh seorang ahli biologi dari Belanda bernama Hugo de Vries (1848-1935), kemudian istilah tersebut dibawa kedalam dunia pendidikan, khussusnya psikologi oleh Maria Montessori (Italia 1870-1952). Hukum Mengembangkan Diri. Dorongan yang pertama adalah dorongan mempertahankan diri, kemudian disusul dengan dorongan mengembangkan diri. Dorongan mempertahankan diri terwujud misalnya dorongan makan dan menjaga keselamatan diri sendiri. Contoh : * Anak menyatakan perasaan lapar, haus , sakit dalam bentuk menangis maka tangisan itu dianggap sebagai dorongan mempertahankan diri.* Seorang anak yang ingin menjadi juara, pandai dan sukses. Hukum Rekapitulasi. Perkembangan jiwa anak adalah ulangan kembali secara singkat dari perkembangan manusia di dunia dari masa berburu hingga masa industri. Teori ini berlangsung dengan lambat secara berabad-abad. Jika pengertian rekapitulasi ini ditransfer ke psikologi perkembangan, dapat dikatakan bahwa perkembangan jiwa anak mengalami ulangan ringkas dari sejarah kehidupan umat manusia.

V. Prinsip-Prinsip Perkembangan 1. Bahwa perkembangan melibatkan perubahan. Tujuan perkembangan adalah realisasi diri atau pencapaian kemampuan bawaan. Sikap anak terhadap perubahan dipengaruhi oleh kesadaran akan perubahan tersebut, bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku anak, sikap social terhadap perubahan ini, bagaimanan mereka mempengaruhi penampilan anak, dan bagaimana mereka mempengaruhi penampilan anak, dan bagaimanan kelompok sosial bereaksi terhadap anak ketika perubahan ini terjadi. 2. Perkembangan awal lebih kritis dari pada perkembangan selanjutnya. Bahwa perkembangan awal lebih penting dari pada perkembangan selanjutnya, karena dasar awal sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan pengalaman. Apabila

perkembangan membahayakan penyesuaian pribadi dan sosial anak, ia dapat diubah sebelumnya menjadi pola kebiasaan. 3. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Perkembangan menekankan kenyataan bahwa perkembangan timbul dari interaksi kematangan dan belajar dengan kematangan yang menetapkan batas dari perkembangan. 4. Pola perkembangan dapat diramalkan. Walaupun pola yang dapat diramalakan ini dapat diperlambat dan dipercepat oleh kondisi lingkungan di masa pra lahir dan pasca lahir. 5. Pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan. Yang penting diantaranya adalah persamaan pola perkembangan bagi semua anak, perkembangan berlangsung dari tanggapan umum ke tanggapan spesifik, perkembangan terjadi secara berkesinambungan, berbagai bidang perkembangan dengan kecepatan yang berbeda, dan terdapat korelasi dalam perkembangan. 6. Terdapat perbedaan individu dalam berkembang. Bahwa terdapat perbedaan individu dalam perkembangan yang sebagian karena pengaruh bawaan dan sebagian karena kondisi lingkungan. Ini berlaku baik dalam perkembangan fisik maupun psikologis. Kepentingan untuk mengetahui bahwa terdapat perbedaan individu dalam perkembangan adalah bahwa ia mennekankan pentingnya melatih anak sesuai dengan kebutuhannya dan tidak mengharapkan perilaku yang sama pada semua anak. 7. Periode pola perkembangan. Periode perkembangan biasanya diebut periode pralahir, masa neonatus, masa bati, masa kanak-kanak, akhir masa kanakkanak, dan masa puber. Dalam semua periode ini terdapat saat-saat keseimbangan dan ketidakseimbangan, serta pola perilaku yang normal dan yang terbawa dari periode sebelumnya biasanya disebut perilaku “bermasalah”. 8. Pada setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial. Harapan sosial ini terbentuk tugas perkembangan yang menungkinkan para orang tua dan guru mengetahui pada usia berapa anak-anak mampu menguasaiberbagai pola perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik. 9. Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya dan potensial. Bahaya tersebut terjadi baik fisik maupun psikologis yang dapat mengubah pola perkembangan. 10. Kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode perkembangan. Tahun pertama kehidupan biasanya paling bahagia dan masa puber biasanya yang paling tidak bahagia.

V. Fase dan Tugas Perkembangan Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa teori-teori yang ada dapat digolongkan menjadi 3 macam yakni : 1. Fase berdasarkan Biologis

2. fase berdasarkan Didaktis 3. Fase berdasarkan Psikologis I. Fase berdasarkan Biologis Yang dimaksud dengan fase berdasarkan biologis adalah : para ahli mendasarkan bahasanya pada kondisi atau proses pertumbuhan biologis anak. Yang termasuk kelompok ini antara lain : a. Menurut Kretschmer, bahwa perkembangan anak terbagi menjadi 4 fase, yaitu :
• •

• •

Fullungs periode I : umur 0 : 0 – 3 = o, pada masa ini dalam keadaan pendek, gemuk, bersifat terbuka, mudah bergaul dan mudah didekati. Strecungs periode I : umur 3 : 0 – 7 : 0, kondisi badan anak tampak langsing (tidak begitu gemuk) biasanya sikap anak tertutup, sukar bergaul dan sukar didekati. Fullungs periode II : umur 7 : 0 – 13 : 0, keadaan fisik anak kembali gemuk. Strecungs periode II : umur 13 : 0 – 20, keadaan fisik anak kembali langsing.

b. Menurut Aristoteles, bahwa perkembangan anak terbagi dalam 3 fase, yaitu :
• • •

Fase I : umur 0-7 disebut masa nak kecil, kegiatan anak waktu ini hanya bermain. Fase II : umur 7-14, masa sekolah, dimana anak mulai belajar di sekolah dasar. Fase III : umur 14-21, disebut masa remaja atau pubertas, masa ini adalah masa peralihan (transisi)dari anak menjadi dewasa.

c. Sigmud Freud, membagi perkembangan anak menjadi 6 fase , yaitu :
• • • • • •

fase Oral : 0-1 : pada fase ini mulut merupakan sentral pokok keaktifan yang dinamis. fase anal : 1-3 : dorongan dan tahanan berpusat pada alat pembuangan kotoran. fase phalis : 3-5 : pada fase ini alat kelamin merupakan daerah organ paling perasa. fase Latent : 5-12/13 : impuls-impuls cenderung berada pada kondisi tertekan. fase pubertas : 12/13-20: fase ini impuls-impuls (dorongan kembali menonjol). fase Genital : umur 20 ke atas : seseorang telah sampai pada awal dewasa.

d. Jasse Feiring Williams Ia membagi perkembangan anak dengan :
• •

Masa nursery dan kendergarden 0-6 Masa cepat memperoleh kekuatan/tenaga 6-10

• •

Masa cepat perkembangan tubuh 10-14 Masa adolesen 14-19 masa perubahan pola dan kepentingan dan kemampuan anak dengan cepat.

2. Fase berdasarkan Dedaktis Yang dimaksud dari tinjauan ini adalah dari segi keperluan/materi apa kiranya yang dapat diberikan kepada anak didik pada masa-masa tertentu, serta memikirkan tentang metode yang paling efektif untuk diterapkan dalam mengajar atau mendidik anak pada masa tertentu. Para ahli yang termasuk dalam kelompok ini antara lain : a. Johann Amos Comenius (Komensky)
• •

• •

Scola maternal (sekolah ibu) usia 0-6, anak menggambarkan organ tubuh dan panca indera di bawah asuhan ibu (keluarga). Scole vermacula (sekolah bahasa ibu) usia 6-12, mengembangkan pikiran, ingatan dan perasaannya di sekolah dengan menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu) Scola latina (sekolah bahasa latin) masa anak mengembangkan potensinya terutama daya intelektualnya dengan bahasa asing, pada usia 12-18. Academia (akademi) adalah pendidikan yang tepat bagi anak usia 18-14 tahun.

b. Jean Jacques Rousseau Dalam karyanya “Emile eu du I’education”, memuat tahapan perkembangan anak antara lain :
• • • •

Usia 0-2 tahun : masa asuhan (nursery) Usia 2 –12 tahun : masa pentingnya pendidikan jasmani dan alat-lat indera. Usia 12-15 tahun : masa berkembangnya fikiran dan juga pubertas. Usia 15-20 tahun : masa pentingnya pendidikan serta pembentukan watak, kesusilaan, juga pembinaan mental agama.

c. Maria Montessori, membaginya dengan :
• • • •

1-7 tahun : masa penerimaan dan pengaturan rangsangan dari dunia luar melalui alat indra. 7-12 tahun : masa abstrak, dimana anak mulai memperhatikan masalah kesusilaan, mulai fungsi perasaan ethisnya. 12-18 tahun : masa penemuan diri serta kepuasan terhadap masalah-masalah sosial. 18-24 tahun : masalah pendidikan di perguruan tinggi melatih anak akan kepentingan realitas dunia.

3. Periode Berdasarkan Psikologis Para ahli membahas perkembangan jiwa anak, orientasi dari sudut pandang psikologis.

a. Pendapat Kroh
• • •

Dari lahir hingga Trotz periode I disebut masa anak-anak awal (0-3/4 tahun) dari Trotz periode I hingga Trotz periode II disebut masa keserasian bersekolah (3, 0/4-12/13) Dari Trotz periode II hingga akhir masa remaja disebut masa kematangan(12/13-21).

b. Charlotte Buhler, membagi perkembangan anak menjadi 5 fase :
• • • • •

Fase I (0-1) perkembangan sikap subyektif menjadi obyektif Fase II (I-4) makin luasnya hubungan dengan benda-benda sekitarnya atau mengenal benda-benda secara subyektif. Fase III (4-8) masa pemasukan diri pada masyarakat secara obyektif, adanya hubungan sosial. Fase IV (8-13)munculnya minat ke dunia obyek sampai pada puncaknya, ia mulai memisahkan diri dari orang lain dan disekitarnya secara sadar. Fase V (13-19) masa penemuan diri dan kematangan yakni synthesa sikap subyektif dan obyektif.

VI. Tugas Perkembangan. Tugas perkembangan adalah sesuatu tugas yang timbul pada periode tertentu dalam kehidupan seseorang. 1. Teori dorongan (motivasi) dikemukakan Morgan, bahwa segenap tingkah laku distimulir dari dalam. Bahwa motivasi adalah merupakan dorongan keinginan sekaligus sebagai sumberdaya penggerak melakukan sesuatu yang berasal dari dalam dirinya. 2. Teori dinamisme mengatakan bahwa di dalam organisme yang hidup itu selalu ada usaha yang positif ia akan selalu mencari pengalaman-pengalaman baru. 3. Kartono berpendapat bahwa ekstensi anak dipastikan oleh adanya : a) Segenap kualitas hereditas; b) Pengalaman masa lampau dan masa sekarang, dalam suatu lingkungan sosial tertentu dan sebagai produk proses belajar secara kontinyu. 4. Havighurst (1953). Mengemukakan bahwa perjalanan hidup seseorang ditandai oleh adanya tugas-tugas yang harus dipenuhi. Secara garis besar Havighurst menengaskan bahwa tugas-tugas perkembangan yang dilakukan seseorang pada masa kehidupan tertentu adalah disesuaikan dengan normanorma sosial serta norma-norma kebudayaan.Tugas-tugas perkembangan dituntut adanya korelasi antara potensi diri dan pendidikan yang diterima nak, serta norma-norma sosial budaya yang ada.

Sunday, February 22, 2009
GBRP
Fak/Jur/Prog./Angk. : FIP/KTP/S-1/2008 Mata Kuliah / SKS : Psikologi Pendidikan / 2 sks Kode Mata Kuliah : 91324202 Dosen Prof. Dr. Sunarto, M.Sc Damajanti Kusuma Dewi, M.Si Deskripsi Mata Kuliah : Pemahaman psikologi terkait dengan perkembangan peserta didik dan hakikat bimbingan dan konseling dan aplikasinya dalam proses pendidikan dan pengajaran Tujuan : Mahasiswa mampu mengaplikasikan dasar-dasar psikologi dan bimbingan dalam kegiatanpendidikan dan pembelajaran, sehingga tindakan serta pemilihan strategi dan proses pembelajaran sesuai dengan keadaan peserta didik Metode Perkuliahan : 1. Ceramah dan diskusi berbagai kehidupan peserta didik 2. Diskusi masalah riil pendidikan dan pembelajaran 3. Tugas makalah Teknik Evaluasi : 1. Penilaian tugas makalah 2. Penilaian aktivitas di dalam kelas (diskusi) 3. Penilaian aktivitas menelaah literatur 4. Ujian Tengah Semester 5. Ujian Akhir Semester Buku Wajib
• • • • •

Gagne, N.L. and Berliner, D.C. 1979. Educational Psychology. 2nd Ed. Chicago:Rand McNally Santrock, John W. 2004. Psikologi Pendidikan. Edisi Kedua. Jakarta : Kencana Santrock, John W. 2002. Life Span Development : Perkembangan Sepanjang Masa Hidup. Edisi 5, Jilid 1. Jakarta : Erlangga Santrock, John W. 2002. Life Span Development : Perkembangan Sepanjang Masa Hidup. Edisi 5, Jilid 2. Jakarta : Erlangga Slavin, R.E. 1994. Educational Psychology. Boston : Ally and Bacon

• •

Sunarto dan Hartono, B. Agung. 1999. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Press

Buku Anjuran
• • • •

Haditono, Siti Rahayu. 1984. Psikologi Perkembangan, Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah mada University Press Kartono, Kartini. 1995. Psikologi Anak. Bandung : Mandar Maju Nur, Muhammad & Masitah. 1999. Perkembangan Peserta Didik. Surabaya : University Press Unesa Yusuf, Syamsu. 2001. Psikologi Perkembangan. Bandung : Rosdakarya

Pokok/Sub Pokok Bahasan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pengertian dan tujuan Psikologi Pendidikan Pengertian dan prinsip perkembangan Fase dan tugas perkembangan Hukum-hukum perkembangan Perkembangan Anak Perkembangan Remaja Diagnostik Kesukaran Belajar Penanganan Anak ber-Kebutuhan Khusus

Monday, February 8, 2010
1. Pengantar

A. PENGERTIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN 1. Pengertian Psikologi Secara harafiah (Syah, 1997 / hal. 7) Berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu : psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa. William James (Syah, 1997/ hal. 8) menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental John B. Watson (Syah, 1997 / hal.8) mengubah definisi psikologi menurut James menjadi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme. Caplin (Syah, 1997 / hal. 8) mendefinisikan psikologi sebagai “..... the science of human and animal behavior, the study of of the organisme in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment” (Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan lingkungan). Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld (Sarwono dalam Syah, 1997 / hal.8) mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang hakikat manusia. Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal.8) membatasi psiklogi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan aas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya. Syah (1997 / hal.9) membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia. 2. Pengertian Pendidikan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Syah, 1997 / hal.10) Pendidikan berasal dari kata “didik”, yang mendapat awal me sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan Menurut McLeod (Syah, 1997 / hal. 10) Dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidikan) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan Tardif (Syah, 1997 / hal. 10) Secara luas, pendidikan adalah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Secara luas dan representatif, pendidikan ialah .....the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experience (seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan) Menurut Dictionary of Psychology (Syah, 1997 / hal. 11) Pendidikan diartikan sebagai ..... the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes etc. Usually the term is applied to formal institution. Jadi pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah, madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti sekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya. Bahkan menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction) Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal. 11) Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.

3. Pengertian Psikologi Pendidikan Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12) Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut : a. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas b. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum c. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan d. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif e. Penyenggaraan pendidikan keguruan Barlow (Syah, 1997 / hal. 12) Psikologi pendidikan adalah ...... a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process. Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif. Tardif (Syah, 1997 / hal. 13) Psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan. Witherington (Buchori dalam Syah, 1997 / hal. 13) Psikologi pendidikan sebagai “ A systematic study of process and factors involved in the education of human being. Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia. B. TUJUAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN Berdasarkan definisinya maka tujuan dari psikologi pendidikan adalah memberikan dasar-dasar psikologi bagi pendidik dalam memberikan materi, sehingga pendidik dapat memperlakukan anak didik sesuai dengan keadaannya. C. HUBUNGAN ANTARA PSIKOLOGI PENDIDIKAN DENGAN ILMU-ILMU YANG LAIN Psikologi Pendidikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri tidak berarti lepas dengan ilmu-ilmu yang lain. Ilmu-imu yang ada hubungannya dengan psikologi pendidikan, antara lain : 1. Biologi. Ilmu yang memberikan kontribusi mendapatkan pengetahuan

berapa jauh faktor keturunan memberikan pengaruhnya 2. Ilmu Kesehatan. Ilmu yang memberikan kontribusi dalam mendapataka pengetahuan berapa jauh faktor-faktor kesehatan memberikan pengaruhnya. 3. Sosiologi. Ilmu yang memberikan kontribusinya dalam mendapatkan pengetahuan berapa jauh faktor-faktor lingkungan memberikan pengaruhnya. 4. Psikologi Umum. Ilmu yang memberikan kontribusi materi-materi dasar, terminologinya dan eksperimen psikologis D. OBYEK PSIKOLOGI PENDIDIKAN Menurut Natawidjaya (1992) bahwa objek yang dipelajari dalam psikologi pendidikan adalah 1. Objek Material. Objek material psikologi pendidikan adalah perilaku manusia, khususnya perilaku manusia yang sedang belajar. 2. Objek Formal. Objek formal psikologi pendidikan adalah situasi pendidikan dengan penekanan pada aspek psikologisnya. Dimana situasi pendidikan mencakup : Tujuan Pendidikan Peserta didik Metode - Materi atau bahan ajar - Penilaian - Konteks sosio-kultural E. RUANG LINGKUP PSIKOLOGI PENDIDIKAN Secara garis besar (Syah, 1997 / hal. 25), banyak ahli yang membatasi pokok-pokok bahasan psikologi pendidikan menjadi tiga macam, yaitu : 1. Pokok bahasan mengenai “belajar” yang meliputi teori-teori, prinsipprinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar siswa dan sebagainya 2. Pokok bahasan mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar siswa. 3. Pokok bahasan mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa. Samuel Smith (Pintner dkk dalam Suryabrata, 2004 / hal.2) Menggolong-golongkan persoalan yang dikupas oleh diselidikinya menjadi 16 macam, 1. Pengetahuan tentang psikologi 2. Hereditas atau karakteristik pembawaan 3. Lingkungan yang bersifat 4. Perkembangan 5. Proses-proses tingkah

ahli-ahli yang yaitu : pendidikan sejak lahir fisik siswa laku

6. Hakikat dan ruang lingkup belajar 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar 8. Hukum-hukum dan teori-teori belajar 9. Pengukuran, yakni prinsip dasar dan batasan pengukuran 10. Transfer belajar 11. Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran 13. Kesehatan rohani 14. Pendidikan membentuk watak 15. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah 16. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar

METODE PENELITIAN YANG DIGUNAKAN DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN 1. Observasi 2. Wawancara 3. Angket 4. Eksperimen 5. Tes 6. Biografi Daftar Pustaka Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru. Edisi Revisi. PT.Rosda, Bandung Tugas : Individual : Berikan penjelasan terhadap masing-masing metode dalam Psikologi Pendidikan

Kelompok (terdiri dari 5 orang setiap kelompok) Cari 1 jurnal penelitian pendidikan yang metode penelitiannya menggunakan salah satu dari metode psikologi pendidikan di atas!

Ketentuan Tugas pertama dikumpulkan hari Kamis, tgl 11 Pebruari 2010, pukul 12.30 13.30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->