P. 1
Perpindahan Panas

Perpindahan Panas

|Views: 1,347|Likes:
Published by anindita

More info:

Published by: anindita on Nov 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : 1.1. Latar Belakang, 1.2. Tujuan Percobaan, 1.3. Prinsip Percobaan, 1.4.

Manfaat Percobaan, dan 1.5. Pelaksanaan Percobaan. 1.1. Latar Belakang Pemindahan panas merupakan satu unit operasi yang penting dalam industri pangan, karena hampir setiap proses pengolahan membutuhkan pemindahan panas baik dalam bentuk pemberian maupun kimia, pengambilan dan panas untuk merubah dari sifat fisik, tersebut

karakteristik

penyimpanan

bahan

(Wirakartakusumah, 1992). Proses pemanasan dalam pengolahan dan pengawetan pangan bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi aktivitas biologis yang tidak diinginkan, seperti aktivitas enzim dan mikroba. Selama proses tersebut, secara simultan terjadi juga kerusakan gizi serta faktor-faktor yang menentukan mutu bahan pangan, seperti warna, cita rasa, dan tekstur. Dengan dipahaminya prinsip-prinsip fisika pindah panas dan diketahuinya sifat bahan pangan dan mikroba, maka dapat ditentukan kondisi optimum dalam hal pemindahan panas dan membuat optimasi dalam memusnahkan mikroba, serta mempertahankan zat gizi dan faktor mutu bahan pangan

(Wirakartakususmah, 1992).

1.2. Tujuan Percobaan Tujuan percobaan perpindahan panas adalah untuk

memisahkan zat cair yang diinginkan dari campuran sehingga memperoleh suatu zat yang murni, untuk menentukan jumlah panas yang dibutuhkan pada proses pemindahan panas, untuk mengetahui proses perpindahan panas dari bahan yang mempunyai suhu tinggi ke bahan yang mempunyai suhu rendah secara konveksi, kunduksi, dan radiasi. 1.3. Prinsip Percobaan Prinsip dari perpindahan panas adalah berdasarkan konduksi yang merupakan proses perpindahan panas yang terjadi tanpa adanya perpindahan molekul-molekul benda. Perpindahan panas konveksi adalah perpindahan panas yang disertai dengan perpindahan molekul bahan yang bergerak akibat dorongan dan perpindahan panas radiasi didasarkan pada proses perpindahan panas yang terjadi karena pancaran cahaya dalam bentuk gelombang elektromaknetik. 1.4. Manfaat Percobaan Manfaat dari percobaan ini adalah mahasiswa dapat mengetahui proses-proses yang terjadi didalam proses perpindaan panas, mengetahui alat-alat yang digunakan dalam proses perpindaan panas, dan dapat mengaplikasikan proses perpindaan panas pada bahan pangan.

1.5. Pelaksanaan Percobaan Percobaan Pengeringan ini dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2010 di Laboratorium Mesin dan Peralatan Industri Pangan Universitas Pasundan Jl. Setia Budhi No.193 Bandung.

II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan menguraikan mengenai : 2.1. Perpindahan Panas, 2.2. Klasifikasi Perpindahan Panas, 2.4. Pasteurizer, dan 2.5. Susu.. 2.1. Perpindahan panas Perpindahan panas merupakan proses berpindahnya kalor atau panas dari bahan yang mempunyai suhu tinggi ke bahan yang mempunyai suhu rendah. Perpindahan panas merupakan suatu fenomena perpindahan energi. Peningkatan panas akan menyebabkan molekul-molekul bergerak lebih cepat, sehingga dengan diserapnya panas energi kinetik molekul akan meningkat. Bila molekul dengan kecepatan tinggi bertumbukan dengan molekul yang bergerak dengan kecepatan lebih rendah, maka panas akan dipindahkan, sehingga molekul yang cepat kehilangan energi, sedangkan molekul lambat memperoleh tambahan energi (Wirakartakusumah, 1992). Pemindahan panas merupakan suatu fenomena pemindahan energi. Peningkatan panas akan menyebabkan molekul-molekul

bergerak lebih cepat, sehingga dengan diserapnya panas energi kinetika molekul akan meningkat. Bila molekul dengan kecepatan tinggi bertumbukan dengan molekul yang bergerak dengan kecepatan lebih rendah, maka panas akan dipindahkan, sehingga molekul yang cepat kehilangan energi, sedangkan molekul yang lambat memperoleh tambahan energi. Perubahan energi panas dari bahan diketahui dari perubahan suhunya. Skala suhu umum yang

digunakan adalah derajat celcius dan Fahrenheit serta skala-skala absolut derajat Kelvin dan Rankine (Wirakartakusumah, 1992). Jika bahan dipanaskan maka suhu bahan berubah. Panas yang masuk dan menyebabkan perubahan suhu disebut panas sensibel, karena perubahan panas dapat dirasakan. Penambahan panas yang tidak menyebabkan perubahan suhu disebut panas laten. Panas sensibel dapat dihitung dari persamaan berikut: Q = m.Cp.∆T Dimana : Q = panas sensibel yang dipindahkan (Joule) m = massa bahan (kg) Cp= kapasitas panas (Joule/K) dT = Perubahan suhu (K)

Panas untuk evaporasi dapat dihitung dari persamaan: Q = m.L Dimana : Q = panas laten yang dipindahkan (joule) m = massa bahan (Kg) L = panas evaporasi (joule/Kg) Proses pemanasan dari suhu ruang menjadi uap, maka jumlah panas yang dipindahkan terdiri dari panas yang diperlukan untuk merubah suhu air dari suhu ruang menjadi suhu didih (100°C) menjadi uap pada suhu yang sama. Proses pemanasan dalam

pengolahan

dan

pengawetan

pangan

dimaksudkan

untuk

menghilangkan atau mengurangi aktifitas biologis yang tidak diinginkan, seperti aktifitas enzim dan mikroba. Selama proses tersebut, secara simultan terjadi juga kerusakan zat gizi serta faktorfaktor yang menentukan mutu bahan pangan, seperti warna, cita rasa dan tekstur. Dengan prinsip-prinsip fisika yaitu pindah panas dan diketahuinya sifat bahan pangan dan mikroba, maka dapat ditentukan kondisi optimum dalam hal pemindahan panas dan dapat membuat optimasi dalam memusnahkan mikroba dan mempertahankan zat gizi serta faktor mutu bahan pangan (Geankoplis, 1997). 2.2. Klasifikasi Perpindahan Panas Peristiwa berpindahnya panas diklasifikasikan 3 (tiga) cara yaitu : 2.2.1. Konduksi Perpindahan panas konduksi adalah proses perpindahan panas yang terjadi secara merambat dari satu molekul ke molekul lainnya, tanpa berpindahnya molekul-molekul benda. Perpindahan panas cara ini terjadi pada benda padat. Jika salah satu ujung sebuah batang logam diletakkan di dalam nyala api, sedangkan ujung yang satu lagi dipegang, bagian batang yang dipegang ini akan terasa makin lama makin panas, walaupun tidak kontak langsung dengan nyala api. Dalam hal ini dikatakan bahwa panas sampai di ujung batang yang lebih dingin secara konduksi sepanjang atau melalui bahan batang itu. Konduksi panas hanya dapat terjadi dalam suatu benda apabila

ada bagian-bagian benda itu berada pada suhu yang tidak sama, dan arah alirannya selalu dari titik yang suhunya lebih tinggi ke titik yang suhunya lebih rendah (Fellows, 1990). 2.2.2. Konveksi Perpindahan panas konveksi adalah proses perpindahan panas dari daerah yang mempunyai suhu tinggi ke daerah yang mempunyai suhu rendah disertai berpindahnya molekul-molekul bahan yang bergerak karena adanya dorongan. Kecepatan gerakan atau aliran memegang peranan penting, dan cara ini terjadi pada fluida cair maupun gas. perpindahan panas dari satu tempat ke tempat lain akibat perpindahan bahannya sendiri. Tungku udara panas dan sistem pemanasan dengan air panas adalah dua contohnya. Jika bahan yang dipanaskan dipaksa bergerak denga alat peniup atau pompa, prosesnya disebut konveksi yang dipaksa, kalau bahan itu mengalir akibat perbedaan rapat massa, prosesnya disebut konveksi alamiah atau konveksi bebas (Fellows, 1990). 2.2.3. Radiasi Radiasi adalah proses perpindahan panas yang terjadi secara pancaran dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Untuk

mempelajari pengolahan dengan menggunakan panas. Terlebih dahulu harus mengerti bagaimana panas tersebut dipindahkan ke dalam makanan. Pemindahan panas merupakan satu unit operasi yang penting dalam industri pangan, karena hampir setiap proses pengolahan membutuhkan pemindahan panas baik dalam bentuk

pemberian maupun pengambilan panas dari bahan untuk merubah sifat fisik, kimia, dan karakteristik penyimpanan dari bahan tersebut (Wirakatakusumah, 1992). Perpindahan panas merupakan proses berpindahnya kalor atau panas dari bahan yang mempunyai suhu tinggi ke bahan yang mempunyai suhu rendah. Pemanasan dapat dipakai sebagai suatu cara pengawetan, sebab bahan yang dimasak dapat disimpan lebih lama dibandingkan bahan mentahnya. Dua hal pengawetan terjadi sebagai hasil pemasakan, yaitu distruksi dan reduksi jumlah mikroba serta menonaktifkan enzim yang tidak dikehendaki dalam makanan. Pemasakan juga menghasilkan destruksi bahan toksin yang berbahaya secara alami terdapat dalam makanan atau terbentuk oleh mikroba, mrubah warna, cita rasa dan tekstur serta memperbaiki daya cerna dari bahan makanan. Sebaliknya perubahan-perubahan yang tidak diinginkan terjadi secara simultan, misalnya perubahan nilai gizi dan organoleptik (Wirakatakusumah, 1992).

2.3. Pasteurisasi Pasteurizer digunakan untuk memberikan heat treatment pada produk. Pasteurizer berbentuk bak dari lempengan stainless steel dengan sumber panas yang digunakan untuk menaikkan suhu air di dalamnya berasal dari steam (uap panas) yang dihasilkan dari boiler. Air tersebut berfungsi sebagai media penghantar panas dalam proses pasteurisasi. Uap panas dialirkan secara terus-menerus sampai suhu air yang ditunjukkan oleh termometer mencapai 85°C. Setelah mencapai suhu tersebut, suplai steam dihentikan dan kondisi tersebut dijaga selama 15 menit.

Gambar 1. Pasteurizer

Pasteurisasi merupakan pemanasan yang dilakukan pada suhu kurang dari 100ºC, akan tetapi dengan waktu yang bervariasi dari mulai beberapa detik sampai beberapa menit tergantung dari tingginya suhu tersebut. Makin tinggi suhu pasteurisasi, makin singkat proses pemanasannya. Pasteurisasi merupakan proses untuk menginaktifkan sel-sel vegetatif mikroba patogen, pembentuk toksin maupun sel pembusuk. Tinggi suhu dan lama pemanasan dalam pasteurisasi tergantung pada ketahanan mikroba yang akan dibunuh dan sensitifitas mutu makanan terhadap pemanasan (Wirakartakusumah, 1992). Tujuan utama pasteurisasi adalah untuk menonaktifkan sel-sel vegetatif mikroba patogen, pembentuk toksin maupun pembusuk. Tinggi suhu dan lama pemanasan pada pasteurisasi tergantung pada ketahanan panas mikroba yang akan dibunuh dan sensitifitas makanan terhadap pemanasan. Penggunaan metode HTST (High Temperature Short Time) biasanya menghasilkan produk dengan mutu yang lebih baik dibandingkan metode LTLT (Low Temperature Low Time). Pada pasteurisasi susu kondisi HTST yang digunakan adalah 161°F selama 15 detik. Untuk susu khususnya, pasteurisasi ini bertujuan untuk membunuh Coxiella burnetti, yaitu jenis mikroba riketsia yang dapat menyebabkan demam Q. Untuk minuman hasil fermentasi seperti bir dan anggur, pasteurisasi digunakan untuk membunuh kapang liar atau kontaminan (Wirakartakusumah, 1992).

2.4. Susu Secara Alami susu merupakan makanan yang paling baik, terutama untuk anak mamalia yang baru dilahirkan. Selanjutnya susu sangat tinggi nilai gizinya sebagai bahan makanan bagi orang dewasa terutama bagi Lansia Ada 3 komponen dalam susu sehingga menjadi penting dalam menu sehari-hari yaitu Protein, Calcium dan Riboflavin(vit B12). Protein susu mengandung banyak macam asam amino esensial yang umumnya sangat sedikit terdapat pada biji-bijian yang sering dijadikan makanan pokok manusia Jumlah konsumsi susu yang disarankan ± 1 liter/hari, dapat mencukupi semua kebutuhan protein anak-anak sampai dengan umur 6 tahun; 60% untuk anak masa pertumbuhan sampai dengan umur 14 tahun; 50% untuk usia 14-20 tahun; dan bagi wanita yang sedang menyusui dapat mencukupi 44% kebutuhan proteinnya. Susu mengandung 4 macam protein, yaitu Casein, laktalbumin, laktoglobulin dan

immunoglobulin (Deterper, 2010). .

III METODOLOGI PERCOBAAN Bab ini akan menguraikan mengenai : 3.1. Bahan yang Digunakan, 3.2. Alat yang Digunakan, dan 3.3. Metode Percobaan. 3.1. Bahan yang Digunakan Bahan yang digunakan dalam percoban perpindahan panas adalah 0,5 liter susu. 3.2. Alat yang Digunakan Alat yang digunakan dalam percobaan perpindahan panas

adalah termometer, pasteurizer.

3.3. Metode Percobaan

Gambar 2. Metode Percobaan Perpindahan Panas

Gambar 3. Diagram Alir Pencampuran Bahan yang akan dipasteurisasi disiapkan, yaitu 0,5 L susu, suhu susu dicatat terlebih dahlu sebelum dipasteurisasi. Set up alat pasteurizer kemudian air dimasukan kedalam tabung pada bagian atas pasteurizer. Setelah itu air dipanaskan dalam pasteurizer. Volume air dihitung dengan menghitung volume tabung alat pasteurizer. Susu dimasukan kedalam tabung pasteurizer bagian atas, dan kran pengeluaran susu pada bagian bawah dibuka. Diukur suhu susu saat keluar dari kran pengeluaran susu, dan diukur pula suhu air pada kran pengeluaran air.kemudian dihitung kalor perpindahan panasnya.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan menguraikan mengenai : 4.1. Hasil Pengamatan dan 4.2. Pembahasan. 4.1. Hasil Pengamatan Berdasarkan Hasil Percobaan Diperoleh Hasil Berikut : Tabel 12. Hasil Percobaan Perpindahan Panas Keterangan Hasil t 11 menit Vair 0,01954 m3 V susu 5 x x10-4 m3 T1 air 353 °K

T2 air T1 susu T2 susu LMTD air

339 °K 296 °K 348 °K 345,9528 K 321,2990 K 27557, 1038 kJ 694,0927 kJ 26863,0111 k J

LMTD susu Qair Qsusu Qperpindahan panas

Sumber : Anindita Tri Kusuma Pratita, Kelompok IV, Meja 4, (2010)

4.2. Pembahasan Tahap awal dari perpindahan panas ini adalah dengan mengukur suhu awal air dan susu, setelah itu dimasukkan ke dalam alat pasteurisasi yaitu pasteurizer dengan suhu 60-800C pada lubang yang berbeda. Waktu yang digunakan dalam proses ini adalah 11”, hal ini termasuk ke dalam HTST (High Themperature Sort Time). Setelah proses pasteurisasi selesai ukur suhu akhir air dan susu, yang telah dikeluarkan melalui kran yang berada pada tangki. Dari hasil pengamatan di dapat bahwa T 1 susu sebelum di pasteurisasi mengalami kenaikkan suhu setelah di pasteurisasi, hal ini disebabkan karena susu pada saat di pasteurisasi mengalami perpindahan panas dari suhu rendah ke suhu tinggi, sehingga susu yang keluar setelah melalui proses pasteurisasi menjadi naik suhunya yaitu T2. Susu yang keluar dari pasteurisasi tersebut setelah dihitung kembali volumenya mengalami penurunan volume, hal tersebut disebabkan masih terdapat sisa susu di alat pasteurisasi. Terdapat beberapa faktor susu tersebut masih tertinggal dalam alat pasteurisasi, yaitu efesiensi dari alat pasteurisasi tersebut sudah tidak baik lagi. Pasteurizer ini termasuk ke dalam Shell and Tube Heat Exchenger, karena alat ini mempunyai prinsip kerja yaitu konveksikonduksi-konveksi. Dimana konveksi (padat-cair) merupakan

perpindahan panas dari yang mempunyai suhu tinggi ke dalam bahan yang mempunyai suhu rendah, disertai dengan

molekul-molekul yang bergerak akibat adanya dorongan, sedangkan konduksi (padat-padat) adalah perpindahan panas dari yang

mempunyai suhu tinggi ke dalam bahan yang mempunyai suhu rendah, tetapi tidak disertai dengan perpindahan molekul-

molekulnya. Sedangkan radiasi (cair-gas) adalah perpindahan panas yang dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik, tetapi di dalam alat pasteurizer ini perpindahan panas secara radiasi ini tidak digunakan. Kerja alat ini adalah melalui perpindahan panas secara konveksi-konduksi-konveksi, yaitu secara konveksi pertama dengan berpindahnya suhu dari air di dalam tangki ke permukaan luar pipa (cair-padat), lalu perpindahan panas secara konduksi yaitu permukaan pipa luar akan memberikan panas ke melalui permukaan pipa bagian dalam (ketebalan pipa/ padat-padat), setelah itu tahap yang terakhir adalah perpindahan panas secara konveksi yaitu dengan perpindahan panas dari bagian permukaan pipa bagian dalam menuju susu (padat-cair). Berikut gambar kerja alat pasteurizer :

. Gambar 4. Mekanisme Perpindahan Panas pada Pasteurizer Pasteurisasi adalah pemanasan dengan suhu dibawah titik didih air, yang bertujuan untuk membunuh mikroba yang bersifat patogen, dengan mematikan sel vegetatifnya, tetapi sporanya tidak mati. Jumlah panas dapat diukur dengan satuan kalori, BTU atau joule. Satu kalori adalah jumlah panas yang dibutuhkan oleh 1 gram air untuk menaikkan suhunya 1 °C. Jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu bahan 1 derajat per satuan massa disebut kapasitas panas (Brennan, 1969).

Jumlah panas dapat diukur dengan satuan kalori, BTU atau joule. Satu kalori adalah jumlah panas yang dibutuhkan oleh 1 gram air untuk menaikkan suhunya 1 °C. Jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu bahan 1 derajat per satuan massa disebut kapasitas panas (Wirakartakusumah, 1992). Jika bahan dipanaskan maka suhu akan berubah. Panas yang msuk dan menyebabkan perubahan suhu disebut ”panas sensible”, karena perubahan panas dapat dirasakan. Penambahan panas yang tidak menyebabkan perubahan suhu disebut panas ”panas laten”. Panas sensible dapat dihitung dari persamaan berikut, Q = m Cp dT (Wirakartakusumah, 1992). Metode Pembersihan alat ada beberapa cara yaitu: 1. Busa atau Sabun: pembersihan dengan busa digunakan untuk membersihkan lapisan luar peralatan bisa menggunakan sabun atau deterjen. Pembersihan ini meningkatkan waktu sentuh bahan kimia dengan larutan kimia dengan tekanan mekanis dan temperatur yang kecil. 2. High Pressure: meningkatkan tekanan mekanis, membantu menghilangkan kotoran. Metode pembersihan ini terkadang ditambahkan deterjen dan penambahan suhu, untuk

meningkatkan efisiensi pembersihan. 3. Clean In Place (CIP): pembersihan untuk bagian dalam tangki atau pipa, Larutan kimia dimasukan kedalam sirkut tangki untuk membersihkan bagian dalam. Waktu, suhu dan tekanan kimia diubah-ubah sesuai kebutuhan untuk mendapatkan pembersihan yang maksimal

4.

Clean Out Place (COP): pembersihan yang dilakukan untuk suku cadang mesin yang dapat dilepas, pembersihan dilakukan di wadah berisi cairan kimia yang dipanaskan.

5.

Mechanical: menggunakan sikat, baik dengan tangan ataupun mesin (Zulkhaidarsyah, 2008)

V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan percobaan perpindahan panas didapatkan hasil yaitu ΔT LMTDair = 345,9528 K, ΔT LMTDsusu = 321,2990, Q air = 27557, 1038 kJ, Q susu = 694, 0927 kJ Q total = 26863,0111 kJ. Saran Dalam praktikum ini diharapkan para praktikan lebih teliti terutama dalam pengukuran suhu dengan menggunakan termometer dan pada saat penghitungan.

DAFTAR PUSTAKA Brennan. J. G., (1974), Food Engenering, Science Published, London. Deterper, (2010), Ternak Perah sebagai Produsen Susu, http://ocw.usu.ac.id/course/download/3180000042, Diakses : 5/12/2010 Fellows, P.J, (2000). Food Processing Technology. Ellis Horword Limited, England. Geankoplis. Christie, J. (1997) Transport Processes And Unit Operations. Prentice Hall International, Inc. University of Minnesota. Wirakartakusumah dkk, (1992), Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Zulkhaidarsyah (2008), Sanitasi Peralatan, http://www.slideshare.net/zulkhaidarsyah/pembersihanperalatan-gmp-modul-presentation//, Diakses : 4/12/2010.

LAMPIRAN
t Vair V susu T1 air T2 air T1 susu T2 susu 11 menit 0,01954 m3 5 x x10-4 m3 353 °K 339 °K 296 °K 348 °K

Sumber : Anindita Tri Kusuma Pratita, Kelompok IV, Meja 4, (2010)

Sampel : Susu Sampel air : V air = π r2 . t = 3,14 (16,0828 cm)2 x 24,6 = 19541,0813 cm3 = 0,01954 m3 m susu = ρ susu x v susu = 1030 x 0,0005 = 0,515 kg m air = ρ air x v air = 971,83 kg/m3 x 0,01954 m3 = 18,9896 kg Interpolasi (Cp Air)

= 4,1947 ΔTLMTD air = T2-T1 = 399-353 = 345,9528 K ln T2/T1 ln(399/353)

Q Air

= m Cp ΔTLMTD air = 18,9896 kg x 4,1947 Kj. K x 345,9528 K = 27557,1038 kJ T2-T1 = 348-296 = 321,2990 K Ln T2/T1 ln(348/296)

ΔTLMTD susu =

Q Susu= m Cp ΔTLMTD susu = 0,515 kg x 4,1947 kJ/kg K x 321,2990 = 694,0927 kJ Q total = Q Air – Q Susu = 27557,1038 kj - 694,0927 kJ = 26863,0111 kJ.

1.

Dik: V air = 19,534 L Cp air = 41,85 kj/kg°K V susu = 5 L T1 air = 350°K T2 air = 335°K T1 susu = 296°K T2 susu = 331°K

Dit: Qtotal Jawab: m susu = ρ susu x v susu = 1030 x 0,005 = 5,15 kg m air = ρ air x v air = 971,83 kg/m3 x 0,01953 m3 = 18,9798 kg ΔTLMTD air = Q Air T2-T1 = 335-350 = 342,4657 K ln T2/T1 ln(335/350)

= m Cp ΔTLMTD air = 18,9798 kg x 41,85 Kj. K x 342,4657 K = 272.022,0911 kJ T2-T1 = 331-296 = 298,6348 K Ln T2/T1 ln(331/296)

ΔTLMTD susu =

Q Susu= m Cp ΔTLMTD susu = 5,15 kg x 41,85 kJ/kg K x 298,6348 = 64.364,0118 kJ Q total = Q Air – Q Susu = 272.022,0911 kj - 64.364,0118 kJ = 207.658,079 kJ.

.

Metode yang dapat diandalkan untuk Minuman Pasteurisasi

. Pasteurisasi dioperasikan secara manual - Tergantung pada aplikasi dan volume, kecil dan pasteurizers mahal sering diperlukan. Di sini juga, kami dapat menawarkan konsep suara teknis dan finansial. Pasteurisasi minuman dalam botol dan kaleng secara biologis aman tetapi cenderung mempengaruhi warna dan rasa produk berikut panjang dan panas yang berlebihan juga diterapkan pada produk. Selain itu, pasteurisasi dalam terowongan pasteurizers membutuhkan banyak ruang dan energi. Kombinasi ideal antara standar kualitas tinggi dan desain yang aman bakteriologis adalah pelat penukar panas (PHE) pasteurizers yang menjamin kualitas hidup rak khusus produk Anda. Dibandingkan dengan pasteurisasi terowongan dan panas mengisi, investasi dan biaya operasional serta ruang lantai yang sangat berkurang.

Pasteurisasi otomatis Manfaat  Rendahnya investasi dan biaya operasi  lantai ruang yang dibutuhkan Kecil  Kapasitas disesuaikan dengan filler  No pasteurisasi atas  Proses sesuai dengan spesifikasi PU  operasi terus-menerus meminimalkan kerugian produk  Pasteurizing online efek diverifikasi

Plate mempastir

Quick Details Rincian Cepat Place of Origin: Shanghai China Brand Name: Shanghai Model Number: BS (Mainland) Tempat Jimei Merek Nama: Nomor model: BS Asal: China Shanghai Shanghai Jimei (Daratan) Processing Types: Processing: Sterilizer Milk Pengolahan Pengolahan: Sterilizer Jenis: Susu Spesifikasi This Plate Pasteurizer is the ideal equipment for liquid food pasteurizing, such as milk, yoghurt, juice etc. Ini mempastir Plate merupakan peralatan ideal untuk makanan cair pasteurisasi, seperti susu, yoghurt, jus dll The Plate Pasteurizer is a multifunctional equipment. It can heat, sterilize, keep warm and cool down heat sensitive liquid such as fresh milk, beverage, juice and wine. The mempastir Plate merupakan peralatan multifungsi. Hal ini dapat panas, mensterilkan, tetap hangat dan panas dingin sensitif cairan seperti segar, minuman jus susu, dan anggur.

This machine has a high heat recycling system, energy saving, economical, simple structure, simple operation, and convenient maintenance. Mesin ini memiliki sistem daur ulang panas tinggi, hemat energi, ekonomis, struktur sederhana, operasi sederhana, dan pemeliharaan nyaman. Controlling methods: Mengontrol cara: Semi-automatic and fully automatic options (PLC control, tactile screen) Semi-otomatis dan pilihan sepenuhnya otomatis (PLC kontrol, layar taktil) Main parts: Utama bagian: Material pump, balance bucket, hot water system, temperature control and record, and electric control system. Material pompa, ember keseimbangan, sistem air panas, kontrol suhu dan merekam, dan sistem kontrol listrik. Production capacity: 0.5-20t/h. Kapasitas produksi: 0,5-20t / h. S S terilizing temperature: 85-95º C. terilizing suhu: 85-95 º C. Warm keeping time: 15-30s. Hangat menjaga waktu: 15-30s. Technical parameter: Parameter teknis: Name-UnitBS-BSBS-BS- BS-BSBS-BSBS-BS-2 BS-BS-5 Model Nama1 BS3 BS- 4 BS10 BSBS-BS-2 BS-BS-5 Unit-Model BS-1 BS-3 BS-4 BS-10 Production capacity (L/h) 1000 2000 3000 4000 5000 10000 Kapasitas 1000 2000 3000 4000 5000 10000 produksi (L / h) Heat exchanging area (m 2 ) 12 12 15 15 20 20 25 25 28 28 52 52 Pertukaran panas 2) area (m Material inlet temperature 5ºC 5 º C Bahan inlet temperatur Material outlet temperature 5ºC 5 º C Bahan

temperatur outlet Sterilizing temperature 85-95ºC 85-95 º C Sterilisasi suhu Warm keeping time Hangat 25 s 25 s menjaga waktu Ice water temperature Air 1ºC 1 º C es suhu Ice water consumption 20400 L/h 20.400 L / jam Konsumsi air es Joint size (mm) Φ 38 Φ Φ38 Φ51 Bersama ukuran Φ38 Φ38 Φ51 Φ51 Φ68 Φ68 38 Φ38 Φ51 (mm) Weight (Kg) 1050 1200 1350 1800 928 928 985 985 Berat (Kg) 1050 1200 1350 1800 1500x1 2200x200 2200x2 2400x2 2400x220 2500x220 500 0 000 000 0 0 Size (mm) 1500x1 2200x200 2200x2 2400x2 2400x220 2500x220 Ukuran (mm) 500 0 000 000 0 0 x2000 x2400 x2400 x2400 x2500 x2500 x2000 x2400 x2400 x2400 x2500 x2500

LAPORAN MINGGUAN PERPINDAHAN PANAS SUSU (Bovine, sp)

Oleh : Nama NRP Kelompok Assisten Tanggal Percobaan : Anindita Tri Kusuma P : 083020064 : IV (Empat) : Roni Gumilar : 3 Desember 2010

LABORTORIUM MESIN PERALATAN INDUSTRI PANGAN JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->