LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI BIOMEKANIKA

DISUSUN OLEH : GILAR IMAM ARIYADI 10660002

LABORATORIUM ANALISIS DAN PERANCANGAN KERJA PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2012

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI

BIOMEKANIKA

Yang disusun oleh : GILAR IMAM ARIYADI 10660002

Telah disetujui oleh :

Asisten Praktikum SUKRIYADI Tanggal...............

NIM. 09660021

ABSTRAK Bionekanika merupakan bagian dari ilmu ergonomi yang mengukur tentang fisik manusia dan posisinya saat melakukan kegiatan atau pekerjaan dan cara kerja nya. Dalam praktikum biomekanika ini akan mengukur dengan dua cara yaitu RULA dan REBA. Dimana REBA (Rapid Entire Body Assessment) adalah suatu metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang operator. Sedangkan RULA(Rapid Upper Limb Assessment) adalah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi yang menginvestigasi dan menilai posisi kerja yang dilakukan oleh tubuh bagian atas. Dari hasil pengukuran postur tubuh pekerja dengan metode RULA maka akan didapat score sebagai pertimbangan kondisi tersebut aman atau perlu diperbaiki. Dalam RULA untuk mendapatkan score dilakukan dengan tiga tahap yaitu tahap 1 Pengembangan metode untuk pencatatan postur bekerja, tahap 2 Perkembangan sistem untuk pengelompokan skor postur bagian tubuh, dan tahap 3 Pengembangan Grand Skor dan Daftar Tindakan. Setelah melalui tahap tersebut di dapat score untuk menentukan level tindakan. Jika score 1 dan 2 maka terdapat pada level 1. Score 3 dan 4 ada di level 2, score 5 dan 6 ada di level 3. Untuk level 4 hanya untuk score 7. Pada REBA juga menggunakan score untuk mengetahui level tindakan, namun REBA menggunakan 4 tahap untuk mencari score, tahap 1 Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto, tahap 2 Penentuan sudut-sudut dari bagian tubuh pekerja, tahap 3 Penentuan berat benda yang diangkat, coupling dan aktivitas pekerja dan tahap 4 Perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan. Pada REBA level tindakannya berbeda dengan RULA yaitu level 0 untuk score 1, jika score 2 dan 3 maka masuk level 2, untuk score 4 sampai tujuh maka masuk level 3, score 8 sampai 10 masuk level 4, dan score 11

sampai 15 masuk level 4. Dari level yang telah ditentukan maka dapat dilakukan perbaikan atau tidak sesuai dengan kondisinya masuk level yang mana. Kata kunci : Ergonomi, Biomekanika, REBA, RULA, Score, Level

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam melakukan pekerjaan apapun postur tubuh sangat penting diperhatiakan untuk memaksimalkan produktivitas kerja dan menghindari CTD (Cumulative Trauma Disorders). Jika postur tubuh yang jelek saat bekerja tidak diperbaiki maka akan timbul kerusakan pada tubuh manusia atau pekerjanya. Cidera akibat postur tubuh yang tidak baik saat bekerja merupakan suatu kerugian, dimana produktivitas kerja juga akan menurun. Hal tersebut ataupun sangat dalam tidak suatu di kerja inginkan karena dalam akan perindustrian

mempengaruhi outputnya. Untuk itu dalam ergonomi dipelajari biomekanika yang meneliti tentang kekuatan fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja. Seperti menganalisis pekerja yang sedang mengangkat barang, pekerja yang sedang membungkuk, pekerja yang melakukan kerja dengan duduk, pekerja yang sedang mengetik, dan lain-lain. Biomekanika yang di gunakan adalah biomekanikan terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk meminimalisasi keluhan pada sistem kerangka otot agar produktifitas kerja dapat meningkat. Dalam praktikum kali ini dilakukan penilaian yang menggunakan metode RULA dan REBA. Dimana keduanya memiliki perbedaan dan kegunaan masing-masing namun pada dasarnya

sama-sama melakukan penilaian untuk mengetahui level tindakan yang perlu dilakukan. Penghitungan score RULA dilakukan beberapa tahapan seperti tahap 1 Pengembangan metode untuk pencatatan postur bekerja, tahap 2 Perkembangan sistem untuk pengelompokan skor postur bagian tubuh, dan tahap 3 Pengembangan Grand Skor dan Daftar Tindakan. Setelah diketahi score maka akan dapat menentukan lkevel tindakan yang nantinta informasi tersebut akan digunakan untuk menentukan perlunya tindakan perbaikan atau tidak pada kondisi kerja yang di ukur, level tindakan pada RULA ada 4 dengan score 1 dan 2 maka terdapat pada level 1. Score 3 dan 4 ada di level 2, score 5 dan 6 ada di level 3. Untuk level 4 hanya untuk score 7. Pada REBA ada 4 tahapan untuk mendapatkan angka score tahap 1 Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto, tahap 2 Penentuan sudutsudut dari bagian tubuh pekerja, tahap 3 Penentuan berat benda yang diangkat, coupling dan aktivitas pekerja dan tahap 4 Perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan. Level tindakan pada metode ini di mulai dari level 0, urutan score untuk mendapatkan level dengan cara seperti ini level 0 untuk score 1, jika score 2 dan 3 maka masuk level 2, untuk score 4 sampai tujuh maka masuk level 3, score 8 sampai 10 masuk level 4, dan score 11 sampai 15 masuk level 4. Dalam level tindakan semakin tinggi levelnya maka semakin perlu perbaikan dan berbahanya jika tidak diperbaharui cara kerjanya karena bisa menimbulkan cidera otot. 1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada kegiatan praktikum ini adalah sebagai berikut : a. Bagaimana mengukur posisi kerja yang baik menurut REBA? b. Bagaimana mengukur posisi kerja yang baik menurut RULA? c. Bagaimana melakukan tindakan yang tepat sesuai level tindakan pada REBA? d. Bagaimana melakukan tindakan yang tepat sesuai level tindakan pada REBA? e. Memahami keterbatasan tubuh manusia saat melakukan pekerjaannya. 1.3. Tujuan Praktikum Praktikum ini dilakukan memiliki tujuan tertentu, tujuan praktikum biomekanika ini adalah sebagai berikut : a. Mampu merancang metode kerja didasarkan pada prinsip– prinsip biomekanika. b. Mengetahui postur kerja yang baik menurut prinsip REBA dan RULA. c. Melakukan perhitungan portur kerja dengan metode REBA dan RULA. d. Mampu mengaplikasikan metode REBA dan RULA untuk mengurangi resiko kerja. e. Mampu memahami keterbatasan manusia dari beban kerja yang dibebankan pada anggota tubuh manusia. 1.4. Manfaat Praktikum Manfaat dari praktikum biomekanika ini adalah sebagai berikut : a. Praktikan dapat mengetahui posisi kerja yang baik dengan metode RULA.

b. Praktikan dapat mengetahui posisi kerja yang baik dengan metode RULA. c. Dapat menegrti posisi kerja yang buruk dan dapat menimbulkan cidera. d. Dapat menentukan tindakan atau perbaikan atas posisi kerja dengan level yang telah di hitung. 1.5. Batasan Masalah dan Asumsi 1.5.1.Batasan Masalah Batasan-batasan dalam praktikum biomekanika ini adalah sebagai berikut : a. Praktikum dilakukan di laboratorium APK UIN Sunan Kalijaga b. Operator kerja dari satu orang. c. Pengambilan data untuk RULA menggunakan beban 11.5 Kg. d. Pengambilan untuk REBA dengan operator yang sedang mengetik. e. Pengambilan gambar dengan kamera dan pengolahan gambar dengan Autocad. f. Metode pengambilan data dengan pengukuran. 1.5.2. Asumsi Asumsi yang berlaku pada praktikum ini adalah : a. Segmen kaki tidak diperhitungkan dalam pengukuran. b. Perhitungan segmen otot tidak diperhitungkan. c. Ruas jari dijadikan satu segmen perhitungan. d. Ruas punggung dijadikan satu segmen perhitungan.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Biomekanika Biomekanika merupakan salah satu dari empat bidang penelitian informasi hasil ergonomi. Yaitu penelitian tentang kekuatan fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja tersebut. 2.2. Konsep Biomekanika Biomekanika diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: 1. General Biomechanics Adalah bagian dari Biomekanika yang berbicara mengenai Hukum-hukum dan konsep–konsep dasar yang mempengaruhi tubuh organik manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak. Dibagi menjadi 2, yaitu:
• Biostaticsadalah

bagian

dari

biomekanika

umum

yang

hanya menganalisis tubuh pada posisi diam atau bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform).
• Biodinamics adalah bagian dari biomekanik umum yang

berkaitan dengan gambaran gerakan – gerakan tubuh tanpa mempertimbangkan gaya yang terjadi (kinematik) (kinetik). 2. Occupational Biomechanics Didefinisikan sebagai bagian dari biomekanik terapan yang mesin, mempelajari interaksi material dan fisik antara pekerja dengan peralatan dengan tujuan untuk dan gerakan yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh

meminimalisasi keluhan

pada sistem kerangka otot agar

produktifitas kerja dapat meningkat. Setelah melihat klasifikasi di atas, maka dalam praktikum kita ini dapat kita kategorikan dalam biomekanik Occupational Biomechanics. Untuk lebih jelasnya, di sini akan kita bahas tentang anatomi tubuh yang menjadi dasar perhitungan dan penganalisaan biomekanik. 2.3. Postur Kerja Postur kerja yang baik sangat ditentukan oleh pergerakan organ tubuh saat bekerja rotation, meliputi: pronation bekerja. dan Pergerakan supination. yang dilakukan saat flexion, extension, abduction, adduction, Flexion adalah gerakan dimana Abduction terjadi adalah

dimana sudut antara dua tulang terjadi pengurangan. Extension adalah gerakan merentangkan peningkatan pergerakan sudut antara menyamping dua (stretching) tulang.

menjauhi

dari sumbu tengah (the adalah gerakan

median plane) tubuh. Adduction adalah pergerakan kearah sumbu tengah tubuh (the median plane). Rotation perputaran bagian tengah (menuju keluar) dari anggota tubuh. 2.4. Cumulative Trauma Disorders (CTD) Cumulative sebagai Disorders) adalah trauma cidera disorders Injuries pada (dapat atau juga disebut yang Repetitive Motion Musculoskeletal otot perputaran bagian atas lengan atau kaki depan. Pronation adalah kedalam) dari anggota tubuh. Supination adalah perputaran ke arah samping (menuju

sistem kerangka

semakin bertambah secara bertahap sebagai akibat dari trauma kecil yang terus-menerus yang disebabkan oleh desain yang buruk yaitu desain tubuh dalam alat/sistem posisi kerja yang membutuhkan serta gerakan yang tidak normal penggunaan

perkakas/handtools atau alat lainnya yang terlalu sering. Empat faktor penyebab timbulnya CTD:

• •

Penggunaan gaya yang berlebihan selama gerakan normal. Gerakan sendi yang kaku yaitu tidak berada pada posisi yang

normal. Misalnya,bahu yang terlalu terangkat, lutut terlalu naik, punggung terlalu membungkuk dan lain-lain.
• •

Perulangan gerakan yang sama secara terus-menerus. Kurangnya istirahat yang cukup untuk memulihkan trauma Gejala yang berhubungan dengan CTD antara lain adalah

sendi. terasa sakit atau nyeri pada otot, gerakan sendi yang terbatas dan terjadi p embengkakan. Jika gejala ini dibiarkan maka akan menimbulkan kerusakan permanen. 2.5. Rapid Entire Body Assessment (REBA) Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang operator. Selain itu metode ini juga dipengaruhi oleh faktor coupling, beban eksternal pekerja. yang ditopang oleh tubuh serta REBA aktivitas tidak Penilaian dengan menggunakan

membutuhkan waktu lama untuk melengkapi dan melakukan scoring general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang diakibatkan postur kerja operator. Penilaian menggunakan metode REBA yang telah dilakukan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn McAtamney melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: Tahap 1 : Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto. Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung, lengan, pergelangan tangan hingga kaki

secara postur

terperinci tubuh data

dilakukan Hal postur

dengan merekam atau memotret ini tubuh dilakukan secara supaya detail peneliti (valid),

pekerja.

mendapatkan

sehingga dari hasil rekaman dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis selanjutnya. Tahap 2 : Penentuan sudut-sudut dari bagian tubuh pekerja. Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja dilakukan perhitungan masing segmen tubuh yang besar sudut dari masingmeliputi punggung (batang

tubuh), leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki. Pada metode REBA segmen-segmen tubuh tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sementara grup B meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Dari data sudut segmen tubuh pada masing-masing grup dapat diketahui skornya, kemudian dengan skor tersebut digunakan untuk melihat tabel A untuk grup A dan tabel B untuk grup B agar diperoleh skor untuk masing-masing tabel.

Hasil skor yang diperoleh dari tabel A dan tabel B digunakan untuk melihat tabel C sehingga didapatkan skor dari tabel C

Tahap 3 : Penentuan berat benda yang diangkat, coupling dan aktivitas pekerja. Selain skoring pada masing-masing segmen tubuh, faktor lain yang perlu disertakan adalah berat beban yang diangkat, coupling dan aktivitas pekerjanya. Masing -masing faktor tersebut juga mempunya kategori skor.

Tahap 4 : Perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan Setelah didapatkan skor dari tabel A kemudian dijumlahkan dengan skor untuk berat beban yang diangkat sehingga didapatkan nilai bagian A. Sementara skor dari tabel B dijumlahkan dengan skor dari tabel coupling sehingga didapatkan nilai bagian B. Dari nilai bagian A dan bagian B dapat digunakan untuk mencari nilai bagian C dari tabel C yang ada. Nilai bagian C REBA dengan didapatkan dari hasil pekerja. penjumlahan Dari nilai nilai REBA nilai aktivitas

tersebut dapat diketahui level resiko pada muscolusceletal dan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi resiko serta perbaikan kerja. Untuk lebih jelasnya, alur cara kerja dengan menggunakan metode REBA serta level resiko yang terjadi dapat dilihat pada gambar 1.8 dan tabel 1.13.

Dari tabel resiko di atas dapat diketahui dengan nilai REBA yang didapatkan dari asil perhitungan sebelumnya dapat diketahui level resiko yang terjadi dan perlu atau tidaknya tindakan dilakukan untuk perbaikan. Perbaikan kerja yang mungkin ulang peralatan dilakukan antara lain berupa perancangan kerja berdasarkan prinsip-prinsip ergonomi.

2.6. Definisi RULA (Rapid Upper Limb Assessment) RULA atau Rapid Upper Limb Assessment dikembangkan oleh of Dr.Lynn Mc Atamney Institute dan of Dr. Nigel Corlett yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University Nottingham’s Occupational Ergonomics). Pertama kali dijelaskan dalam bentuk jurnal aplikasi ergonomi pada tahun 1993. Rapid Upper Limb Assesment adalah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi yang menginvestigasi dan menilai posisi kerja yang dilakukan oleh tubuh bagian atas. Peralatan memberikan tubuh bagian ini tidak memerlukan dengan piranti fungsi khusus otot dan dengan dalam dan beban suatu pengukuran postur leher, punggung

atas, sejalan

eksternal yang ditopang oleh tubuh. Penilaian dan melakukan scoring

menggunakan RULA membutuhkan waktu sedikit untuk melengkapi general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang diakibatkan penggangkatan fisik yang dilakukan operator. RULA diperuntukkan dipakai pada bidang ergonomi dengan bidang cakupan yang luas (McAtamney, 1993). Teknologi ergonomi tersebut mengevaluasi posture (sikap), kekuatan dan aktivitas otot yang menimbulkan cidera akibat aktivitas berulang (repetitive strain injuries). Ergonomi diterapkan untuk mengevaluasi hasil pendekatan yang berupa skor besar resiko antara satu sampai tujuh, dalam yang mana Hal skor ini tertinggi menandakan level yang mengakibatkan resiko yang (berbahaya) untuk dilakukan bekerja. bukan berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang diteliti bebas dari ergonomic hazards. Oleh sebab itu RULA dikembangkan untuk mendeteksi postur kerja yang beresiko dan melakukan perbaikan sesegera mungkin (Lueder, 1996).

Perkembangan RULA RULA dikembangkan untuk memenuhi tujuan sebagai berikut:
1. Memberikan

suatu metode pemeriksaan populasi pekerja pemeriksaan paparan (exposure)

secara

cepat, terutama

terhadap resiko gangguan bagian tubuh atas yang disebabkan karena bekerja.
2. Menentukan penilaian gerakan-gerakan

otot

yang dikaitkan

dengan Postur kerja, mengeluarkan tenaga, dan melakukan kerja statis dan repetitive yang mengakibatkan kelelahan otot.
3. Memberikan hasil yang

dapat digunakan padap emeriksaan

atau pengukuran ergonomi yang mencakup faktor-faktor fisik, epidemiologis, mental, lingkungan dan faktor organisional dan khususnya mencegah terjadi gangguan pada tubuh bagian atas akibat kerja. RULA dikembangkan tanpa membutuhkan piranti khusus. Ini memudahkan peneliti untuk dapat dilatih dalam melakukan pemeriksaan danpengukuran tanpa biaya peralatan tambahan. terbatas untuk adalah Pemeriksaan RULA dapat dilakukan di tempat yang tiga tahap. Tahap pertama adalah pengembangan dan ketiga

tanpa mengganggu pekerja. Pengembangan RULA terjadi dalam perekaman atau pencatatan postur kerja, tahap kedua adalah system penskoran(scoring) level tindakan yang memberikan suatu

pengembangan

pengembangan skala

panduan terhadap level resiko dan kebutuhan akan tindakan untuk melakukan pengukuran yang lebih terperinci. Penilaian menggunakan RULA merupakan metode yang telah dilakukan oleh McAtamey dan Corlett (1993). Tahap-tahap menggunakan metode RULA adalah sebagai berikut: Tahap 1: Pengembangan metode untuk pencatatan postur bekerja Untuk menghasilkan suatu metode yang cepat

digunakan, tubuh dibagi menjadi dua bagian yang membentuk dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A meliputi lengan atas dan lengan bawah serta pergelangan tangan. Sementara grup B meliputi leher, badan dan kaki. Hal ini memastikan bahwa seluruh postur tubuh dicatat sehingga postur kaki, badan dan leher yang terbatas yang mungkin mempengaruhi postur tubuh bagian atas dapat masuk dalam pemeriksaan. Kisaran menjadi gerakan untuk setiap bagian yang tubuh berasal dibagi dari bagian-bagian menurut kriteria

interpretasi literatur yang relevan. Bagian- bagian ini diberi angka sehingga angka 1 berada pada kisaran gerakan atau postur bekerja dimana resiko faktor merupakan terkecil atau minimal. Sementara angka angka yang lebih tinggi diberikan pada bagian-bagian kisaran gerakan dengan postur yang lebih ekstrim yang menunjukkan adanya faktor resiko yang meningkat yang menghasilkan beban pada struktur bagian tubuh. Sistem penskoran (scoring) pada setiap postur bagian tubuh ini menghasilkan urutan angka yang logis dan mudah untuk diingat. Agar memudahkan identifikasi kisaran postur dari gambar setiap bagian tubuh disajikan dalam bidang sagital. Pemeriksaan atau pengukuran dimulai dengan mengamati operator selama beberapa siklus kerja untuk menentukan tugas dan postur pengukuran. Pemilihan mungkin dilakukan pada siklus kerja terlama dimana beban terbesar postur dengan

terjadi. Karena RULA dapat dilakukan dengan cepat, maka pengukuran dapat dilakukan pada setiap postur pada siklus kerja.

Rentang

untuk

lengan

bawah

dikembangkan

dari

penelitian Grandjean dan Tichauer. Skor tersebut adalah:

Panduan untuk pergelangan tangan dikembangkan dari penelitian Health and Savety Executive, digunakan untuk menghasilkan skor postur Sebagai berikut:

Putaran pergelangan tangan (pronation dan supination) yang dikeluarkan oleh Health and Safety Executive pada postur netral berdasar pada Tichauer. Skor tersebut adalah: +1 jika pergelangan tangan berada pada rentang menengah putaran +2 jika pergelangan tangan pada atau hampir berada pada akhir rentang putaran.

Kelompok B, rentang postur untuk leher didasarkan pada studi yang dilakukan oleh Chaffin dan Kilbom et al. Skor dan kisaran tersebut adalah:

Apabila leher diputar atau dibengkokkan Keterangan: +1 jika leher diputar atau posisi miring, dibengkokkan ke kanan ataukiri.

Kisaran

untuk

punggung

dikembangkan

oleh

Drury,

Grandjean dan Grandjean et al.:

Punggung Diputar atau Dibengkokkan Keterangan: +1 jika tubuh diputar +1 jika tubuh miring ke samping

Kisaran untuk postur kaki dengan skor postur kaki ditetapkan sebagai berikut: +1 jika kaki tertopang ketika duduk dengan bobot seimbang rata. +1 jika berdiri dimana bobot tubuh tersebar merata pada kaki, dimana terdapat ruang untuk berubah posisi. +2 jika kaki tidak tertopang atau bobot tubuh tidak tersebar merata.

Tahap 2 : Perkembangan sistem untuk pengelompokan skor postur bagian tubuh. Rekaman video yang dihasilkan dari postur kelompok A yang meliputi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan putaran pergelangan tangan diamati dan ditentukan skor untuk masing -masing postur.Kemudian skor tersebut dimasukkan dalam tabel A untuk memperoleh skor A.

Rekaman video yang dihasilkan dari postur kelompok B yaitu leher, punggung skor untuk (badan) dan kaki diamati dan ditentukan masing- masing postur. Kemudian skor

tersebut dimasukkan ke dalam tabel B untuk memperoleh skor B.

Sistem

penskoran

dilanjutkan

dengan melibatkan otot

dan tenaga yang digunakan. Penggunaan yang melibatkan otot dikembangkan berdasarkan penelitian Drury, yaitu sbb: Skor untuk penggunaan otot: +1 jika postur statis (dipertahankan dalam waktu 1 menit) atau penggunaan postur tersebut berulang lebih dari 4 kali dalam 1 menit. Penggunaan tenaga (beban) dikembangkan berdasarkan penelitian Putz - Anderson dan Stevenson dan Baida, yaitu sbb: 0 jika pembebanan sesekali atau tenaga kurang dari 20 Kg dan ditahan. 1 jika beban sesekali 20 – 10 Kg. 2 jika beban 2 – 10 Kg bersifat statis atau berulang-ulang. 2 jika beban sesekali namun lebih dari 10 Kg. 3 jika beban (tenaga) lebih dari 10 Kg dialami secara statis atau berulang. 4 jika pembebanan seberapapun besarnya dialami dengan sentakan cepat.

skor penggunaan otot dan skor tenaga pada kelompok tubuh bagian A dan B diukur dan dicatat dalam kotak-kotak yang tersedia kemudian ditambahkan dengan skor yang berasal dari tabel A dan B, yaitu sbb: Skor A + skor penggunaan otot + skor tenaga (beban) untuk kelompok A = skor C Skor B + skor penggunaan otot + skor tenaga (beban) untuk kelompok B = skor D

Tahap 3 : Setiap kombinasi skor C dan D diberikan rating yang disebut grand skor, yang nilainya 1 sampai 7. Nilai grand skor diperoleh dari tabel berikut ini:

Setelah diperoleh grand skor, yang bernilai 1 hingga 7 menunjukkan level tindakan (action level) sebagai berikut: Action level 1 Suatu skor 1 atau 2 menunjukkan bahwa postur ini bias diterima jika tidak dipertahankan atau tidak berulang dalam periode yang lama. Action level 2 Skor 3 atau 4 yang menunjukkan bahwa diperlukan pemeriksaan lanjutan dan juga diperlukan perubahan-perubahan. Action level 3 Skor 5 atau 6 menunjukkan bahwa pemeriksaan dan perubahan perlu segera dilakukan. Action level 4 Skor juga). 7 menunjukkan bahwa kondisi ini berbahaya maka pemeriksaan dan perubahan diperlukan dengan segera (saat itu

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 3.1. Pengumpulan Setelah selesai melakukan praktikum didapat data hasil pengukuran sebagai berikut. 3.1.1. REBA Pengukuran pada REBA dilakukan dua kali, yaitu REBA awalan dan REBA susulan. a. Postur tubuh awalan Berikut data hasil pengukuran REBA awalan.
Tabel 3.1. Postur Tubuh Awalan GROUP DIMENSI Leher Punggung A Lutut Kaki Beban GROUP B DIMENSI Lengan atas Lengan bawah pergelangan SUDUT 25⁰ 58⁰ 20⁰ 11.5kg SUDUT 53⁰ 20⁰ 5⁰

Titik koordinat posisi kerja pada REBA awalan.
Tabel 3.2.koordinat REBA awalan

Bagian tubuh

koordinat Terhadap sb x 57 46 46 48 49 35 40 37

Terhadap sb y 44 42 34 24 21 35 22 10

Kepala Bahu Siku Pergelangan tangan Ujung jari Pinggul Lutut Mata kaki

b. Postur Tubuh Usulan Berikut tabel hasil pengukuran REBA usulan.
Tabel 3.3. Postur Tubuh Usulan GROUP DIMENSI Leher Punggung A Lutut Kaki Beban GROUP B DIMENSI Lengan atas Lengan bawah pergelangan SUDUT 28⁰ 42⁰ 16⁰ 11.5kg SUDUT 44⁰ 15⁰ 9⁰

Titik koordinat posisi kerja pada REBA usulan.
Tabel 3.4. koordinat REBA usulan Bagian tubuh koordinat

Terhadap Kepala Bahu Siku Pergelangan tangan Ujung jari Pinggul Lutut Mata kaki sb x 62 52 53 56 56 42 47 48

Terhadap sb y 59 55 45 36 33 44 29 17

3.1.2. RULA Pengukuran pada RULA dilakukan dua kali, yaitu RULA awalan dan RULA susulan. a. Postur tubuh awalan Berikut data hasil pengukuran RULA awalan.
Tabel 3.5. Data Awalan RULA

A

Lengan atas Lengan bawah pergelangan Putaran Sudut leher Sudut punggung Kaki

Besar sudut 17° 48° 51° Otot tenaga 23° 3° Otot Tenaga

B

Tabel 3.6. Koordinat Titik Tubuh Awal

Titik Kepala Bahu Siku-siku Pergelangan tangan ujung jari Pinggul Lutut Mata kaki

Koordinat (114;118) (122;96) (115;78) (98;71) (92;75) (120;64) (92;61) (101;38)

b. Postur tubuh awalan Data susulan dari RULA
Tabel 3.7. Data Usulan RULA

A

Lengan atas Lengan bawah pergelangan Putaran Sudut leher Sudut punggung Kaki

Besar sudut 15° 63° 41° Otot tenaga 13° 1° Otot Tenaga

B

Tabel 3.8. Koordinat Titik Tubuh Usulan

Titik Kepala bahu Siku-siku Pergelangan tangan Ujung jari Pinggul Lutut Mata kaki 3.2. Pengolahan Data

Kooordinat (27;106) (31;93) (28;82) (19;80) (16;81) (31;77) (15;73) (20;58)

Untuk mendapatkan level tindakan diperlukan angka score. Berikut pengolahan data menggunakan metode RULA dan REBA. 3.2.1. REBA a. Postur tubuh awalan
Tabel 3.9. score REBA awalan

GROUP

DIMENSI Leher Punggung Lutut Kaki

SUDUT 25⁰ 58⁰ 20⁰

SKOR 2 3 1 Beban

TABEL A 4

SKOR A

SKOR C

SKOR REBA

A

6

2 TABEL B 4 SKOR B

GROUP

DIMENSI Lengan atas Lengan bawah Pergelangan

SUDUT 53⁰ 20⁰ 5⁰

SKOR 3 2 1 coupling

8

9

B

5

1 activity scrore

1

Gambar

3.1. REBA scoring

b. Postur tuduh susulan

Tabel 4.0. score REBA susulan

GROUP

DIMENSI Leher Punggung Lutut Kaki

SUDUT 28⁰ 42⁰ 16⁰

SKOR 2 3 1 Beban

TABEL A 4

SKOR A

SKOR C

SKOR REBA

A

6

2 TABEL B 2 SKOR B

GROUP

DIMENSI Lengan atas Lengan bawah Pergelangan

SUDUT 44⁰ 15⁰ 9⁰

SKOR 2 2 1 coupling

6

7

B

3

1 activity scrore

1

3.2.2.RULA a. Postur Tubuh Awalan

Besar sudut

skor

Tabel A

Skor C

RULA SCORE

A

Lengan atas Lengan bawah Pergelangan Putaran

17° 48° 51° Otot Tenaga

1 2 3 +1 1 0

3 4 5

B

Sudut leher Sudut punggung Kaki

23° 3° Otot Tenaga

3 2 2 1 0

4

5

Gambar 3.3. RULA scoring awalan

b.

Postur Tubuh Usulan

BESAR GROUP DIMENSI Lengan atas Lengan bawah A Pergelangan Putaran SUDUT 15⁰ 63⁰ 41⁰ SKOR 1 1 3 1 otot tenaga BESAR GROUP DIMENSI sudut leher sudut B punggung Kaki SUDUT 13⁰ 1⁰ SKOR 2 2 1 otot tenaga

TABEL A

SKOR C

RULA SKOR

2 3 1 0 TABEL B 2 3 1 0

skor D

3

Gambar 3.4. RULA Scoring usulan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Data 4.1.1. REBA a. Postur Tubuh Awalan Dari hasil pengolahan pada data REBA awalan didapat score A = 6, skor B = 5, skor C = 8 dan score REBA sebesar 9. Dengan demikian REBA awalan masuk pada level 3 dengan resiko tinggi dan tindak perbaikan perlu segera. b. Postur Tubuh Usulan Dari hasil pengolahan pada data REBA usulan didapat score A = 6, skor B = 3, skor C = 6 dan score REBA sebesar 7. Dengan demikian REBA usulan masuk pada level 2 dengan resiko sedang, dan masih perlu perbaikan. 4.1.2. RULA a. Postur Tubuh Awalan Dari hasil pengolahan pada data RULA awalan didapat tabel A = 3, tabel B = 4, skor C = 4, score D = 5, dan score RULA sebesar 5. Dengan demikian RULA awalan masuk pada level 3 menunjukkan bahwa pemeriksaan dan perubahan perlu segera dilakukan. b. Postur Tubuh Usulan

Dari hasil pengolahan pada data RULA usulan didapat tabel A = 2, tabel B = 2, skor C = 3, score D = 3, dan score RULA sebesar 3. Dengan demikian RULA usulan masuk pada level 2 yang menunjukkan bahwa diperlukan pemeriksaan lanjutan dan juga diperlukan perubahanperubahan. 4.2. Pembahasan 4.2.1. REBA a. Faktor Penyebabnya Dalam praktikum REBA penyebab utamanya adalah kondisi awalan tempat beradanya beban yang akan di angkat. Pada posisi awalan beban bera di lantai langsung tanpa ada penyangga atau tertopang, maka operator kerja akan lebih membungkuk untuk mengambilnya. Pada posisi usulan beban tertompang pada kursi, maka hasilnya akan berbeda, seperti data yang ada pada pengolahan data sebelumnya. b. Faktor Beban dan Coupling faktor beban yang di berikan adalah sebesar 11.5 Kg memberi score sebanyak 2. Dan coupling memiliki nilai 1, karena benda bisa di terima tangan namun kurang ideal. c. Level Resiko Level resiko pada REBA awalan adalah level 3 dengan resiko tinggi dan tindak perbaikan perlu segera. Sedangkan pada REBA usulan masuk pada level 2 dengan resiko sedang, dan masih perlu perbaikan.

d. Perbandingan Postur Tubuh Awalan dengan Usulan perbedaan yang sangat terlihat adalah pada besarnya sudut-sudut dimensi, pada awalan dimensi leher 25, punggung 58, lutut kaki 20, lengan atas 53, lengan bawah 20, dan pergelangan 5 sedangkan pada postur usulan dimensi leher 28, punggung 42, lutut kaki 16, lengan atas 44, lengan bawah 15, dan pergelangan 9. 4.2.2. RULA a. Faktor Penyebabnya Faktor yang membedakan score pada awalan dan usulan adalah pada kaki, dimana pada awalan kaki ttidak tertopang sedangkan pada usulan kakinya tertopang. b. Faktor Otot dan Tenaga untuk faktor ini tidak memberi perbedaan yang cukup jika di nilai dengan score karena memberi nilai yang sama. Faktor otot 1 dan tenaga 0 keduanya sama. c. Level Resiko RULA awalan masuk pada level 3 menunjukkan bahwa yang pemeriksaan menunjukkan dan bahwa perubahan diperlukan perlu segera dilakukan. Sedangkan RULA usulan masuk pada level 2 pemeriksaan lanjutan dan juga diperlukan perubahan-perubahan. d. Perbandingan Postur Tubuh Awalan dengan Usulan perbedaan yang sangat terlihat adalah pada besarnya sudut-sudut dimensi, pada awalan dimensi lengan atas 17, lengan bawah 48, pergelangan 51, leher 23, dan

punggung 3. Pada usulan dimensi lengan atas 15, lengan bawah 63, pergelangan 41, leher 13, dan punggung 1.

BAB V STUDI KASUS

PROSES PENGERJAAN BESI DAN PENGANGKATAN BENDA

5.1. Pengantar Studi kasus untuk pengaplikasian metode RULA dan REBA diterapkan pada proses pengerjaan besi dan pengankatan benda dalam karung. Berikut batasannya : 5.1.1. REBA Diterapkan pada proses pengangkatan suatu benda dengan berat 22Kg yang di bawa dalam karung. Dengan REBA akan dinilai posisi tersebut sudah baik atau belum. 5.1.2. RUBA Dengan metode RULA untuk menganalisis posisi kerja pada pengerjaan besi dengan cara duduk. Hasil analisis untuk mendapatkan informasi apakah posisi tersebut sudah baik atau belum. 5.2. Pengumpulan Data 5.2.1. REBA Setelah menganalisis dengan metode REBA pada proses pengangkatan barang berikut data yang didapat :
Tabel 5.1. data REBA

Group A Group B

Dimensi Leher Punggung lutut kaki Dimensi lengan atas lengan bawah pergelangan

Besar sudut 9o 38 o 3o beban Besar sudut 29 o 37 o 5o coupling

5.2.1. RULA Data hasil pengamatan pada pengerjaan besi, berikut data yang diperoleh :
Table 5.2. data RULA

Group A

Dimensi lengan atas lengan bawah pergelangan Dimensi Leher Punggung Kaki

Group B

Besar sudut 40 o 70 o 15 o otot tenaga Besar sudut 33 o 39 o otot tenaga

5.2. Pengolahan Data 5.2.1. REBA Berikut proses pengolahan data pada REBA :
Table 5.3. data pengolahan REBA

Group

Dimensi Leher Punggung lutut kaki Dimensi lengan atas lengan bawah pergelangan

Besar sudut 9o 38 o 3o Besar sudut 29 o 37 o 5o

A

Group

A 1 3 2 1 beban 2 Tabel Skor B 2 2 1 coupling 2

Skor

Tabel

Skor A 4 Skor B

Skor C

Reba score

4

5

B

3

1 activity score 1

Gambar 5.1. scoring REBA

5.2.1. RULA
Tabel 5.4. pehitungan RULA

Group

Dimensi lengan atas lengan

Besar sudut 40 o 70 o 15 o Besar sudut 33 o 39 o

Skor 2 1

Tabel A 3

Skor C

Rula score

A

bawah pergelangan

Group B

Dimensi Leher Punggung Kaki

2 otot 1 tenaga 0 Tabel Skor B 3 3 5 2 otot 1 tenaga 0

4

Skor B 6

6

Gambar 5.2. scoring REBA

5.3. Analisis Data 5.3.1. REBA Dari hasil pengolahan pada data REBA dieroleh nilaiskor A = 4, skor B= 3, skor C = 4, dan skor REBA = 5. Maka masuk pada action level 2. Dengan level resiko sedang dan perlu perbaikan. 5.3.2. RULA

Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai table A = 3, table B = 5, skor C= 4 dan nilai RULA = 5 maka masuk pada action level 3.

5.4. Pembahasan 5.4.1. REBA a. Faktor Penyebab dalam studi kasus pengangkatan barang beban sangat mempengaruhi level resiko selain itu cara membawanya pun mempengaruhi juga. Pembawaan benda dengan cara seperi menggendong cukup efektif untuk berat 22Kg, karena hanya masuk pada tingkat resiko sedang. b. Beban dan Coupling beban yang diangkat adalah 22Kg memberi skor sebanya 2. Dan coupling 1 karena benda bias di genggam meski kurang ideal. c. Level Resiko masuk pada action level 2. Dengan level resiko sedang dan perlu perbaikan. 5.4.2. RULA a. Faktor Penyebab faktor utama yang menyebabkan nilai RULA besar dan kecil adalah posisi operator saat melakukan pekerjaannya.

b. Faktor Otot dan tenaga Faktor otot dan tenaga pada kasus pengerjaan besi ini tidak terlalu berpengaruh kaena tenaga 0, dan otot = 1. c. Level Resiko nilai RULA = 5 maka masuk pada action level 3. Menunjukan bahwa pemeriksaan dan perubahan perlu dilakukan. 5.5. Kesimpulan dan Saran Posisi Kerja Dalam studi kasus pengangkatan barang dan pengerjaan mesin yang telahdi analisis menunjukan perlu adanya perbaikan posisi kerja. 5.5.1. Pengerjaan Besi Perlu adanya perbaikan posisi kerja pada kasus ini. Dari hasisl anailis dengan metode RUBA merekomendasikan pengerjaan tersebut seharusnya duduk di kursi yang lebih tinggi atau bahkan bias dengan berdiri, untuk bahan dan alat yang dikerjakan seharusnya terletak lebih tinggi lagi agar posisi sudut di antara tulang tidak saling berhimpitan. 5.5.1. Pengangkatan Benda Untuk kasus ini sudah cukup baik, tapi untuk mengurangi level resiko bias di angkat dengan alat bantu Seperti angkong.

LAMPIRAN STUDI KASUS Pengangkatan benda

Pengerjaan Besi

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Setelah melakukan praktikum dan menganalisis data maka didapat kesimpulan sebagai berikut : a. Merancang posisi kerja yang baik dengan prinsip biomekanika harus memperhatikan gerak flextion dan extention agar tidak berlebihan yang nantinya akan membuat posisi kerja kurang baik.
b. Postur kerja yang baik adalah kondisi action level < 2

c. Nilai REBA awalan sebesar 9 untuk usulannya sebesar 7. untuk nilai RULA awalan sebesar 5 dan usulannya sebesar 3. d. Pengaplikasian metode RULA telah di aplikasikan pada studi kasus pengerjaan besi, dan pada pengangkatan beban digunakan metode REBA. Untuk mengurangi resiko bias menggunakan alat bantu kerja dan memperbaiki postur kerja. e. Keterbatasan manusia dengan beban akan mempengaruhi cidera, semakin tinggi bebannya manusia semakin terbatas untuk mengatasi beban tersebut jika tanpa alat bantu. 6.2. Saran Saran untuk praktikum selanjutnya agar lebih baik adalah sebagai berikut : a. Seharusnya RUBA dan RULA usulan dilakukan praktikum setelah RUBA dan RULA selesai di analisis

b. Untuk sampel pengangkatan beban lebih baik jika dilakukan dengan beberapa cara, jadi tidak hanya satu, dan di coba juga dengan menggunakan alat bantu.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Asisten APK.2011. Panduan Praktikum Analisis Perancangan Kerja. UIN-SUKA: Yogyakarta. Trihendradi, Cornelius. 2005. Step by step SPSS 13 analisis data statistik. Yogyakarta: Penerbit ANDI. Wignjosoebroto,sritomo.2003. Ergonomi dan Studi Gerak dan Waktu. Guna Widya: Surabaya.

LEMBAR REVISI
No Revisi Keterangan

Asisten BIOMEKANIKA

Skriyadi Nim: 09660021

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful