P. 1
Model Pembelajaran NH

Model Pembelajaran NH

|Views: 244|Likes:
Published by Ikhsan Firmawan

More info:

Published by: Ikhsan Firmawan on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/22/2014

pdf

text

original

Sections

Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together

)
22 April 2009 oleh Herdian,S.Pd., M.Pd.

NHT (Numbered Head Together) Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : 1. Hasil belajar akademik stuktural Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2. Pengakuan adanya keragaman Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. 3. Pengembangan keterampilan social Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan

sebagainya.Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan tiga langkah yaitu : a) b) c) Pembentukan kelompok; Diskusi masalah; Tukar jawaban antar kelompok

Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut : Langkah 1. Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Langkah 2. Pembentukan kelompok Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok. Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru. Langkah 4. Diskusi masalah Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. Langkah 6. Memberi kesimpulan

Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi Memperbaiki kehadiran Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil Konflik antara pribadi berkurang Pemahaman yang lebih mendalam Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi Hasil belajar lebih tinggi 60 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF lainnya <<<<klik di sini>>>> INFO TAMBAHAN Dapatkan contoh beasiswa pemerintah provinsi. Mar 23 Model Pembelajaran Number Head Together (NHT) 6 Pengertian Model Number Head Together Model adalah contoh atau fiqur yang berkaitan dengan strategi mengajar. Model Number Head Together (NHT) merupakan cara belajar Cooperative atau beberapa kelompok dimana anak dikelompokan menjadi beberapa kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat honor, guru memberi tugas kepada setiap siswa berdasarkan nomor, jadi setiap siswa memiliki tugas berbeda. Model pembelajaran NHT juga merupakan suatu cara penyajian pelajaran dengan melakukan percobaan, mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu permasalahan yang dipelajari. Dengan model NHT siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek dan keadaan suatu proses pembelajaran mata pelajaran tertentu. Manfaat Model Pembelajaran NHT dalam Menceritakan Kembali Cerita yang dipelajarinya Number Head Together dalam menceritakan kembali cerita yang dipelajari yaitu merupakan model pembelajaran atau teknik yang berkaitan dengan kegiatan mengajar, sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menceritakan kembali cerita yang dipelajarinya.

Materi yang diberikan kepada siswa sekolah dasar harus disesuaikan dengan usia dan karakteristik siswa yang bersangkutan. Maksudnya adalah materi yang diberikan kepada siswa harus disesuaikan dengan tingkah laku, sehingga penguasaan pemahaman pengetahuan tentang Number Head Together dapat bermanfaat bagi para siswa Fungsi Model Pembelajaran NHT Model Pembelajaran Number Head Together bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam merangkum suatu cerita secara runtut sehingga siswa dapat menceritakan kembali cerita yang dipelajarinya. Tujuan Model Pembelajaran NHT Tujuan model pembelajaran Number Head Together adalah agar pemahaman siswa bercerita melalui model NHT yang diberikan dalam bentuk tugas per kelompok, agar siswa dapat saling menambah kekurangan pembendaharaan kata dalam merangkai kembali cerita yang dipelajarinya, karena ada kerjasama itulah diharapkan siswa tidak mengalami kesulitan atau kesukaran dalam menceritakan kembali cerita yang dipelajarinya. Dengan model NHT diharapkan dapat membangkitkan minat siswa dalam mengungkakan pendapat dalam bentuk rangkaian kata dan kalimat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan merangkai kata secara runtut sangat diperlukan sekali guna membantu mengembangkan hasanah Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi atau meningkatkan rasa nasionalisme. Landasan Model Pembelajaran Number Head Together Konsep adalah suatu rancangan, pedoman dan suatu perencanaan terhadap suatu kegiatan yang akan dilaksanakan demi mencapai suatu tujuan akhir yang telah disepakati, baik disepakati oleh pribadi maupun telah disepakati secara khalayak umum. Model pembelajaran merupakan salah satu dari konsep mengajar. Dimana konsep mengajar merupakan suatu proses yang kompleks, tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa, banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa, oleh karena rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana, dalam arti membutuhkan rumusan yang dapat meliputi seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu sendiri (Muhammad Ali, 1992).
 herdy07.wordpress.com/.../model-pembelajaran-nht-numbered-head-... 22 Apr 2009 – NHT (Numbered Head Together). Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang ...  Model Pembelajaran Number Head Together (NHT) | nesaci.com/model-pembelajaran-number-head-together-nht/ Model pembelajaran NHT juga merupakan suatu cara penyajian pelajaran dengan melakukan percobaan, mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu ...  Model Pembelajaran NHT | Akademik abdurrazzaaq.com/554/model-pembelajaran-nht

Model Pembelajaran NHT - Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) merupakan suatu model pembelajaran kooperatif.  MODEL PEMBELAJARAN NHT - KEPALA BERNOMOR STRUKTUR ... www.papantulisku.com/.../model-pembelajaran-kepala-bernomor_15... 16 Jan 2010 – Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe NHT (Numbered Heads Together). Model ini dapat dijadikan alternatif variasi model ...  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads ... www.tuanguru.net/.../penerapan-model-pembelajaran-kooperatif.htm... Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah antara lain adalah : 1) Rasa harga diri menjadi ...  Model Pembelajaran NHT | HAYARDIN BLOG hayardin-blog.blogspot.com/2012/03/model-pembelajaran-nht.html 28 Mar 2012 – Model Pembelajaran NHT adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa diberi nomor kemudian di buat suatu kelompok ...  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT www.inforppsilabus.com › Model Pembelajaran 4 Apr 2012 – Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT adalah suatu model pembelajaran dimana siswa dalam kelompok kecil terdiri 4-6 orang, siswa belajar dan ...  Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together ... www.sriudin.com/.../model-pembelajaran-nht-numbered-head.html 5 Jun 2011 – Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus ...  Penerapan model pembelajaran numbered head together (NHT) library.um.ac.id/ptk/index.php?mod=detail&id=39336 ABSTRAK Masofi, Muhammad Prima. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan Model Pembelajaran Student Facilitator and ...  Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) | Ilmu ... galuhprasetio.com/ilmu-pengetahuan/model-pembelajaran-nht Model pembelajaran NHT termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan

Model Pembelajaran NHT Model Pembelajaran NHT
Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) merupakan suatu model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan pendekatan struktural yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.

Sekarang Model Pembelajaran NHT banyak diterapkan disekolah-sekolah
Ciri khas NHT yaitu guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menunjuk siswa tersebut guru tidak memberitahu terlebih dahulu siswa yang akan mewakili kelompok tersebut. Cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok (Widdiharto, 2004: 18).
Model Pembelajaran NHT efektif diterapkan dalam pembelajaran

Model pembelajaran NHT ini mengajarkan kepada siswa agar dapat bekerja sama dan selalu siap untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dengan demikian Model Pembelajaran NHT dapat meningkatkan minat, motivasi belajar, disiplin, kolaborasi, toleransi, dan urunan pendapat. Model Pembelajaran NHT juga membawa siswa menjadi aktif dan bersemangat, baik aktif secara intelektual maupun aktif secara fisik, psikis, dan afeksi, sehingga pembelajaran ini mencerminkan pembelajaran yang aktif (active learning) yang bercirikan student-centered learning (Sunandar, 2008: 164).

Menurut Trianto (2007:63) ada 4 tahap dalam pembelajaran NHT yaitu sebagai berikut.

Tahap 1: Penomoran (Numbered) Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggotakan 3-5 siswa dan setiap anggota kelompok diberi nomor 1 sampai 5. Tahap 2: Mengajukan Pertanyaan (Questioning) Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, pertanyaan dapat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya atau bentuk arahan. Tahap 3: Berpikir Bersama (Heads Together) Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu. Tahap 4: Menjawab (Answering) Guru memanggil siswa dengan nomor tertentu. Siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Contoh implementasi model NHT dalam pembelajaran pada materi pokok segitiga adalah sebagai berikut.
       

Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang heterogen. Tiap anggota kelompok diberi nomor 1-5 (Numbering). Guru membagikan LKS dan latihan kepada tiap kelompok (Questioning). Tiap kelompok berdiskusi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru (Heads Together). Guru memanggil nomor tertentu, kemudian siswa dengan nomor yang sesuai maju untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya kepada semua siswa (Answering). Dengan bimbingan guru, siswa diminta untuk menarik kesimpulan. Guru memberikan kuis individual sebagai evaluasi.

Untuk mengembangkan potensi to live together salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Slavin (Ibrahim, 2000:16) tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar pada semua tingkat kelas dan semua bidang studi menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe NHT (Numbered Heads Together). Model ini dapat dijadikan alternatif variasi model pembelajaran sebelumnya. Dibentuk kelompok heterogen, setiap kelompok beranggotakan 3-5 siswa, setiap anggota memiliki satu nomor, guru mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan bersama dalam kelompok. Guru menunjuk salah satu nomor untuk mewakili kelompoknya. Menurut Muhammad Nur (2005) model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam dalam diskusi kelompok.

Sebenarnya Model ini adalah model yang mudah cukup mudah, namun banyak orang mengetahui pertama kalinya adalah dengan nama Numbered Heads Togheter, sehingga menimbulkan persepsi awal yang cukup sulit. Salah satu metode pembelajaran kooperatif yang cukup banyak diterapkan di sekolah-sekolah adalah Numbered Head Together atau disingkat NHT, tidak hanya itu saja, NHT juga banyak sekali digunkan sebagai bahan penelitian tindakan kelas (PTK). Apa dan bagaimana NHT itu? Bagaimana menerapkannya dan apa saja keunggulannya, baca terus artikel berikut. Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006). NHT pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk (1993). Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari sruktur kelas tradisional seperti mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk kemudian ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan. Suasana seperti ini menimbulkan kegaduhan dalam kelas, karena para siswa saling berebut dalam mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan peneliti (Tryana, 2008). Menurut Kagan (2007) model pembelajaran NHT ini secara tidak langsung melatih siswa untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran. Lalu seperti apa langkah-langkah dalam menerapkan NHT?, Sintaks NHT dijelaskan sebagai berikut: a. Penomoran Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok. b. Pengajuan Pertanyaan Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula. c. Berpikir Bersama Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan. d. Pemberian Jawaban Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk

seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut. Dengan melihat sintaksnya saja, Anda pasti dapat mengira-ngira apa saja kelebihan dari model ini,sebagaimana dijelaskan oleh Hill (!993) dalam Tryana (2008) bahwa model NHT memiliki kelebihan diataranya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, mampu memperdalam pamahaman siswa, menyenangkan siswa dalam belajar, mengembangkan sikap positif siswa, mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, mengembangkan rasa ingin tahu siswa, meningkatkan rasa percaya diri siwa, mengembangkan rasa saling memiliki, serta mengembangkan keterampilan untuk masa depan.

Langkah-langkah : 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap elompok mendapat nomor 2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya. 3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka. 4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain. 5. Kesimpulan Singkatnya, NHT merupakan kegiatan belajar kooperatif dengan 4 tahap kegiatan. Pertama, siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4 orang. Setiap anggota kelompok diberi satu nomor 1, 2, 3, dan 4. Kedua, guru menyampaikan pertanyaan. Ketiga, berpikir bersama, siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu. Keempat, guru menyebut nomor (1, 2, 3, atau 4) dan siswa dengan nomor yang bersangkutan yang harus menjawab (Widdiharto, 2004:18). Resource :
Tryana, Antin. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (Nht) tanslasi dari : http://Alt.Red/clnerwork/numbered.htm, http://www.eazhull.org.uk/nlc/numbered_heads.htm

  

  

  Jika Anda tidak menemukan dalam artikel kami, silahkan Anda cari di kotak penelusuran Google di bawah ini. Tipsnya : ketikkan dengan menggunakan BAHASA INGGRIS, cari websitenya yang ada dengan kata kunci yang Anda masukkan,kemudian copy artikelnya, dan paste kan ke Google Translate. Walapun sedikit rancu kalimatnya, namun masih dapat dipahami. Terima Kasih 

Read more: MODEL PEMBELAJARAN NHT - KEPALA BERNOMOR STRUKTUR (

NUMBERED HEADS TOGETHER)|EDUCATION FOR OUR COUNTRY PENDIDIKAN UNTUK NEGERI KITA Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial No Derivatives

7:52 AM HAYARDIN No comments

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT | Numbered Heads Together | Kepala Bernomor Pada postingan yang lalu hayardin blog telah berbagi mengenai Model Pembelajaran Jigsaw, pada postingan kali ini saya akan berbagi mengenai Model Pembelajaran NHT. Model Pembelajaran NHT adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa diberi nomor kemudian di buat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. (Komalasari, 2010)

Model Pembelajaran NHT ( Kepala Bernomor ) dari Spencer Kagan ( 1992 ) mengemukakan langkah-langkah Model Pembelajaran NHT sebagai berikut. Langkah-langkah Model Pembelajaran NHT sebagai berikut : 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor 2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya

3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya 4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka 5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain 6. Kesimpulan Demikianlah langkah-langkah model pembelajaran NHT . Kelebihan dan kekurangan Model pembelajaran NHT akan saya posting pada pada postingan berikutnya. Semoga bermanfaat... Daftar Pustaka : Komalasari Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual. Bandung: PT Refika Aditama Sumber : http://hayardin-blog.blogspot.com/2012/03/model-pembelajarannht.html#ixzz1uiOZOOYk

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Menurut Slavin dalam Isjoni (2010:15) adalah suatu model pembelajaran dimana siswa dalam kelompok kecil terdiri 4-6 orang, siswa belajar dan bekerja secara kolaboratif dengan struktur kelompok yang heterogen. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa dan mempersiapkan siswa agar memiliki sifat kepemimpinan. Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) merupakan salah satu teknik pembelajaran kooperatif. Menurut Spenser Kagan dalam Trianto (2009:82) melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan menegecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Selanjutnya Kagan Spenser dalam Anita Lie (2008:59) menyatakan teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.

Menurut Trianto (2010:82) dalam mengajukan pertanyaan dalam kelas, guru menggunakan struktur empat fase sebagai sintaks NHT berikut :

Fase sebagai sintaks NHT Menurut Trianto
Fase 1 : Penomoran. Guru membagi siswa kedalam kelompok beranggota 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor 1 sampai 5.

Fase 2 : Mengajukan pertanyaan. Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya, “berapakah jumlah gigi orang dewasa?” Atau arahan, misalnya “pastikan setiap orang mengetahui 5 buah ibu kota propinsi yang terletak di Pulau Sumatera”.

Fase 3 : Berpikir bersama. Siswa menyatukan pendapat terhadap jawaban pertanyaan itu dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim. Fase 4 : Menjawab. Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Selanjutnya Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi (2010:176) menyatakan dimana terdapat lima langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT, yaitu :

Lima langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT
1. Guru membagi siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 3-5 orang dan diberi nomor untuk setiap siswa. Kelompok Kooperatif merupakan pecampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku jenis kelamin dan kemampuan belajar. 2. Guru mengajukan pertanyaan secara langsung atau melalui LKS. 3. Siswa mendiskusikan jawaban bersama-sama dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawabannya. Jika perlu, ada anggota yang berfungsi untuk mengecek jawaban dari masing-masing anggota. 4. Guru memanggil siswa dengan menyebut nomor secara acak dan siswa dengan nomor tersebut mengangkat tangan dan memberikan jawaban untuk disampaiakn keseluruh siswa di kelas. 5. Pada akhir sesi, guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disampaikan. Demikian sedikit ulasan mengenai Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT yang dapat kami ulas, untuk detail mengenai Pembelajaran NHT saudara dapat membeli buku tentang kooperatif, semoga tulisan saya diatas dapat memberikan gambaran awal ketika saudara akan melakukan Penelitian Tindakan Kelas.

Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) 01:48 sriudin (Sahrudin &Sri Iriani) 2 comments Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagan dengan

melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut (Herdian, 2009). Langkah-langkah pembelajaran NHT (Numbered Head Together) Menurut Suyatno (2009 : 53) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran NHT (Numbered Head Together) yaitu : 1) Mengarahkan 2) Membuat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu 3) Memberikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi, tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. 4) Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. 5) Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa. 6) Mengumumkan hasil kuis dan memberikan reward. Foto-foto tahapan pembelajaran menggunakan model pembelajaran NHT

Guru sedang memberikan penjelasan materi pelajaran dengan menggunakan media pembelajaran sederhana

Membagi siswa menjadi beberapa kelompok secara heterogen dan guru membimbing siswa dalam kegiatan kelompok

Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama

Mengadakan kuis individual

ABSTRAK

Masofi, Muhammad Prima. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Kelas X Program Keahlian Penjualan SMKN 1 Turen. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Gatot Isnani, M.Si., (II) Rachmad Hidayat, S.Pd.

Kata kunci: nht, student facilitator and explaining, prestasi belajar.

Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu,

pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Kualitas pendidikan yang rendah adalah suatu permasalahan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Berdasarkan hal tersebut, untuk meningkatkan prestasi belajar siswa antara lain dapat dilakukan dengan menerapkan model-model pembelajaran yang merujuk kepada proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Salah satunya dengan penerapan model pembelajaran NHT merupakan model pembelajaran yang menekankan pola interaksi antar sesama siswa dalam hal belajar baik menjawab pertanyaan, menyanggah, bahkan menyimpulkan materi pelajaran. Sedangkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memberikan penjelasan atau mempresentasikan kepada peserta didik lainnya baik melalui bagan atau peta, konsep maupun lainnya. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran NHT dan Student Facilitator and Explaining, (2) Mendeskripsikan respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran NHT dan Student Facilitator and Explaining, (3) Mengetahui prestasi belajar siswa sebelum penerapan model pembelajaran NHT dan Student Facilitator and Explaining, (4) Mengetahui prestasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran NHT dan Student Facilitator and Explaining. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus (Siklus I dan Siklus II). Subyek dalam penelitian ini adalah Siswa Kelas X Program Keahlian Penjualan berjumlah 36 siswa dengan Mata Pelajaran Kewirausahaan semester II tahun pelajaran 2008/2009 di SMK Negeri 1 Turen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi (aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran), wawancara, tes (pre-test dan post-test), catatan lapangan, angket, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), dan conclution drawing (penarikan kesimpulan). Tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini meliputi proses perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa: (1) Sebelum pemberian tindakan hasil Pre-Test Siklus I nilai rata-rata prestasi belajar siswa 78,57 sedangkan setelah pemberian tindakan hasil Post-Test Siklus I nilai rata-rata prestasi belajar siswa 85,76, (2) Sebelum pemberian tindakan hasil Pre-Test Siklus II nilai rata-rata prestasi belajar siswa 66,57 sedangkan setelah pemberian tindakan hasil Post-Test Siklus II nilai rata-rata prestasi belajar siswa 85,76, (3) Hasil analisis angket respon siswa dapat diketahui bahwa keseluruhan aspek pernyataan menunjukkan kriteria respon yang sangat baik, (4) Hasil observasi pada Siklus I dan Siklus II menunjukkan bahwa, hasil observasi aktivitas guru dalam pembelajaran dengan taraf penilaian keberhasilan �A�, hasil aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan taraf penilaian keberhasilan �A�, dan hasil aktivitas siswa dalam penerapan model pembelajaran NHT dan Student Facilitator and Explaining taraf penilaian keberhasilan �A�. Dari paparan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa: (1) Penerapan model pembelajaran NHT dan Student Facilitator and Explaining terbukti dapat diterapkan dengan baik untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, (2) Hasil nilai rata-rata prestasi belajar siswa sebelum pemberian tindakan masih terdapat

penurunan, sedangkan (3) Hasil nilai rata-rata prestasi belajar siswa setelah pemberian tindakan terdapat peningkatan yang memuaskan, (4) Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran NHT dan Student Facilitator and Explaining sangat baik dan siswa mampu mengaktualisasikan diri mereka dalam proses pelaksanaan model pembelajaran ini. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diberikan oleh peneliti, (1) Bagi Guru Mata Pelajaran Kewirausahaan lainnya hendaknya memulai mencoba menerapkan model pembelajaran NHT dan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining dalam proses pembelajaran di kelas, karena model pembelajaran ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa menjadi lebih baik, (2) Bagi Depdiknas, hendaknya lebih mensosialisasikan penerapan berbagai model pembelajaran seperti NHT dan Student Facilitator and Explaining dengan cara memberikan penyuluhan, workshop/seminar, mengingat minimnya informasi yang diterima oleh guru/calon guru, (3) Dalam proses belajar mengajar, diharapkan guru menerapkan model pembelajaran yang inovatif seperti NHT, Student Facilitator and Explaining, STAD, Jigsaw, Think Pair Share, dan sejenisnya sehingga siswa tidak merasa bosan dan jenuh, apabila hal tersebut terjadi maka kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran akan berkurang, (4) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan model pembelajaran NHT dan Student Facilitator and Explaining dalam pembelajaran mata pelajaran/mata diklat lainnya. Stad

Minggu, 26 Agustus 2007
STAD dalam Matematika PENERAPAN KOOPERATIF TEKNIK “STAD” DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Oleh : Sutrisni Andayani

FKIP Universitas Muhammadiyah Metro Agust 2007

Pokok Bahasan : Penerapan Teknik STAD Dalam Pembelajaran Matematika. Sub Pokok Bahasan/Materi : 1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif. 2. Tahap-tahap Pembelajaran Kooperatif. 3. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. 4. Contoh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Waktu : 4 X 50 Menit ( 2 Sessi ).

1. RASIONAL 1. Salah satu tujuan didirikannya Pusat Sumber Belajar Setempat adalah untuk meningkatkan mutu luaran SLTP Swasta yang sejalan dengan salah satu misi utamanya adalah menyediakan paket-paket pelatihan dalam tugas (in-service training). 2. Pada akhir-akhir ini beberapa media massa menyoroti rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dengan salah satu indikator penilaian ialah hasil Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional yang dilaksanakan setiap tahun. Dari beberapa pelajaran yang diEBTANASkan di SLTP hasil yang diperoleh cenderung menurun khususnya pelajaran Matematika, dan salah satu penyebabnya adalah penyajian materi pelajaran guru hanya menggunakan metode-metode tertentu yang dikuasainya, serta model pembelajaran masih berpusat kepada guru. Untuk mengatasi permasalahan tersebut berbagai instansi terkait juga pakar pendidikan mencari solusi untuk mengatasinya dengan berbagai kegiatan atau pendekatan diantaranya dengan seminar, symposium atau lokakarya. Dari pendekatan tersebut diperoleh strategi diantaranya dengan mengubah pembelajaran yang berpusat kepada guru kepada pembelajaran yang berpusat kepada siswa dan pembelajaran dalam kelompok yang lebih dikenal dengan istilah kooperatif. Diantara beberapa tipe kooperatif yang lebih mudah diterapkan dibeberapa pokok bahasan mata pelajaran matematika SLTP yaitu Student Team Achievement Divisions (STAD). Model ini akan diuraikan lebih lanjut dalam modul ini.

2. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat memahami pembelajaran Kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) dan dapat menerapkannya ke dalam mata pelajaran masing-masing.

3. PETUNJUK UMUM MENGERJAKAN MODUL

1. Bacalah baik-baik tujuan pembelajaran serta uraian materi dalam modul ini agar dapat mengukur ketercapaian pembelajaran. 2. Kerjakan tugas-tugas/latihan pada akhir modul ini. 3. Diskusikan dengan teman-teman tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi mata pelajaran masing-masing.

4. MATERI KEGIATAN 4.1. Materi Kegiatan 1 a. Tujuan Pembelajaran Khusus. Setelah membaca uraian materi pada modul ini peserta dapat : 1. Menjelaskan pengertian pembelajaran kooperatif. 2. Menuliskan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif. 3. Menuliskan keterampilan-keterampilan dalam pembelajaran kooperatif. 4. Menjelaskan tahapan-tahapan dalam pembelajaran kooperatif. 5. Menjelaskan pengertian pembelajaran kooperatif tipe STAD. 6. Menjelaskan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif tipe STAD. b. Petunjuk Khusus Melakukan Kegiatan 1. Siapkan lembar kerja siswa dan lembar jawaban yang dipelajari dalam kelompok-kelompoknya. 2. Tetapkan kelompok menjadi 3 (tiga) yang beranggotakan 4 - 6 orang dengan heterogen. 3. Setelah proses belajar mengajar dilaksanakan dikerjakan lembar kerja/tugas. 4. Cocokan hasil lembar kerja anda dengan jawaban yang ada. 5. Pelajari kembali bagian-bagian dari lembaran tugas anda yang belum dikuasai. 6. Baca dengan cermat kembali rangkuman pada akhir setiap kegiatan belajar. 7. Kerjakan tes formatif untuk mengukur penguasaan anda pada kegiatan yang baru saja anda selesaikan. c. Uraian Materi I. Pengertian pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar melalui penempatan siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu memahami suatu bahan pelajaran artinya bahan belum selesai jika salah satu teman dalam sekelompok belum menguasai bahan pembelajaran. Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah : 1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajarnya. 2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. 3) Bilamana mungkin, anggota kelompok juga berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda. 4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi mampu memacu keberhasilan individu melalui kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya 3 tujuan pembelajaran yaitu :

1. Kemampuan akademik. 2. Penerimaan perbedaan individu. 3. Penembangan keterampilan sosial. II. Keterampilan kooperatif. Pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif berfungsi melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan. Keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut antara lain : 1. Keterampilan kooperatif tingkat awal. a. Menggunakan kesepakatan. b. Menghargai kontribusi. c. Mengambil giliran dan berbagai tugas. d. Berada dalam kelompok. e. Berada dalam tugas. f. Mendorong partisipasi. g. Mengundang orang lain untuk berbicara. h. Menyelesaikan tugas pada waktunya. i. Menghormati perbedaan individu. 2. Keterampilan tingkat menengah. a. Menunjukkan penghargaan. b. Mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima. c. Mendengarkan dengan aktif. d. Membuat ringkasan. e. Menafsirkan. f. Mengatur dan mengorganisir. g. Menerima tanggung jawab. h. Mengurangi ketegangan. 3. Keterampilan tingkat mahir. a. Mengelaborasi. b. Memeriksa dengan cermat. c. Menanyakan kebenaran. d. Menetapkan tujuan. e. Berkompromi. III. Tahap-tahap pembelajaran kooperatif. Pada dasarnya pembelajaran kooperatif mempunyai 6 (enam) langkah utama yaitu : Fase 1. Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase 2. Menyajikan informasi dalam bentuk demonstrasi atau melalui bahan bacaan. Fase 3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Fase 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Fase 5. Evaluasi tentang apa yang sudah dipelajari sehingga masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Fase 6. Memberikan penghargaan baik secara kelompok maupun individu. IV. Pembelajaran kooperatif tipe STAD. Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu. Tipe pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran matematika. V. Tahap pelaksanaan pembelajaran model STAD. a. Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok. Sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajarai siswa dalam kelompok-kelomok kooperatif. Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4 - 6 orang, aturan heterogenitas dapat berdasarkan pada : (1). Kemampuan akademik (pandai, sedang dan rendah) Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya. Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang. (2). Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawaan/sifat (pendiam dan aktif), dll. b. Penyajian materi pelajaran, ditekankan pada ha-hal berikut : (1) Pendahuluan Di sini perlu ditekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari. (2) Pengembangan Dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan-peranyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih kekonsep lain. (3) Praktek terkendali Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama. c. Kegiatan kelompok Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, mengulang konsep dan menjawab pertanyaan. d. Evaluasi Dilakukan selama 45 - 60 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan

disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok. e. Penghargaan kelompok Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat dan super. f. Perhitungan ulang skor awal dan pengubahan kelompok Satu periode penilaian (3 – 4 minggu) dilakukan perhitungan ulang skor evaluasi sebagai skor awal siswa yang baru. Kemudian dilakukan perubahan kelompok agar siswa dapat bekerja dengan teman yang lain. VI. Materi matematika yang relevan dengan STAD. Materi-materi matematika yang relevan dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah materi-materi yang hanya untuk memahami fakta-fakta, konsepkonsep dasar dan tidak memerlukan penalaran yang tinggidan juga hapalan, misalnya bilangan bulat, himpunan-himpunan, bilangan jam, dll.

d. Lembar Kerja/Tugas Petunjuk : Diskusikan soal-soal berikut dalam kelompok. 1. Jelaskan pengertian pembalajaran kooperatif !

2. Tuliskan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif !

3. Tuliskan keterampilan-keterampilan dalam pembelajaran kooperatif !

4. Jelaskan tahapan-tahapan dalam pembelajaran kooperatif !

5. Jelaskan pengertian pembelajaran kooperatif tipe STAD !

6. Jelaskan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif tipe STAD !

7. Diskusikan dengan kelompok tentang topik-topik yang cocok dengan pembelajaran kooperatif tipe

STAD !

e. Rangkuman Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu memahami suatu bahan pembelajaran artinya belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran dan mempunyai ciri-ciri, manfaat, keterampilan-keterampilan serta tipe-tipenya yaitu student team achievement divisons (STAD), team games tournament (TGT), jigsaw, penyelidikan kelompok, think pair share dan numberel head together Student team achievement divisions (STAD) merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dimana siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dimana pada saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.

4.2. Materi Kegiatan 2 a. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan siswa dapat : 1. Menuliskan bilangan-bilangan pada permukaan jam yang ditentukan (misalnya jam tujuan dan seterusnya) 2. Menentukan hasil operasi pada bilangan jam 3. Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan bilangan jam b. Petunjuk Khusus Melakukan Kegiatan 1. Telaah uraian yang dikemukakan berikut ini 2. Kerjakan soal-soal setiap selesai menelaah kegiatan belajar 3. Diskusikan hasil kerja anda dengan kelompok 4. Cocokkanlah hasil lembaran kerja latihan anda dengan kunci jawaban yang telah disiapkan 5. Pelajari kembali bagian-bagian dari lembaran tugas anda yang belum dikuasai 6. Baca dengan cermat kembali rangkuman pada akhir setiap kegiatan belajar 7. Kerjakan tes formatif untuk mengukur penguasaan anda pada kegiatan yang baru saja anda selesaikan c. Uraian Materi BILANGAN JAM A. PENGERTIAN BILANGAN JAM 1. Jam Tujuhan Pada jam tujuhan, keliling permukaan jam dibagi menjadi tujuh bagian yang sama, kemudian dibubuhkan angka 0, 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Jadi, pada jam tujuhan, terdapat tujuh bilangan yang digunakan, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5 dan 6.

2. Jam Enaman Pada jam enaman, terdapat enam bilangan yang digunakan, yaitu 0, 1, 2, 3, 4 dan 5.

3. Jam Empatan Pada jam empatan, terdapat empat bilangan yang digunakan yaitu 0, 1, 2 dan 3.

Catatan : Pada bahasan bilangan jam ini, bilangan yang digunakan dimulai dari 0 (nol) dengan pertimbangan untuk penyesuaian materi selanjutnya, misalnya pada bahasan Aritmatika Modular yang penggunaan bilangannya juga dimulai dari 0. B. OPERASI HITUNG PADA BILANGAN JAM 1. Penjumlahan Pada Bilangan Jam Pada penjumlahan bilangan jam, jarum jam bergerak searah dengan arah perputaran jarum jam biasa. Gambar di samping menunjukkan 1 + 3 pada jam empatan. i. Mula-mula jarum jam menunjukkan angka 1 ii. Jarum jam bergerak 3 langkah searah perputaran jarum jam biasa iii. Jarum jam menunjukkan ke angka 0, maka 1 + 3 = 0

Gambar di samping menunjukkan 5 + 4 pada jam tujuhan. i. Mula-mula jarum jam menunjukkan angka 5 ii. Jarum jam bergerak 4 langkah searah perputaran jarum jam biasa iii. Jarum jam menunjukkan keangka 2, maka 5 + 4 = 2

2. Pengurangan Pada Bilangan Jam Pada pengurangan bilangan jam, jarum jam bergerak berlawanan dengan arah perputaran jarum jam biasa. Gambar di samping menunjukkan 1 – 3 pada jam empatan. i. Mula-mula jarum jam menunjukkan angka 1. ii. Jarum jam bergerak 3 langkah berlawanan dengan arah perputaran jarum jam biasa iii. Jarum jam menunjukkan angka 2, maka 1 – 3 = 2.

Gambar di samping menunjukkan 2 – 5 pada jam tujuhan i. Mula-mula jarum jam menunjukkan angka 2. ii. Jarum jam bergerak 5 langkah berlawanan dengan arah perputaran jarum jam biasa. iii. Jarum jam menunjukkan angka 4, maka 2 – 5 = 4. 3. Perkalian Pada Bilangan Jam Gambar di samping menunjukkan 2 X 3 pada jam limaan. i. Mula-mula jarum jam menunjukkan angka 0. ii. Jarum jam bergerak 2 kali, masing-masing 3 langkah. iii. Jarum jam menunjukkan angka 1, maka 2 X 3 = 1. Gambar di samping menunjukkan 3 X 4 pada jam limaan. i. Mula-mula jarum jam menunjukkan angka 0 ii. Jarum jam bergerak 3 kali, masing-masing 4 langkah. iii. Jarum jam menunjukkan angka 2, maka 3 X 4 = 2. d. Lembar Kerja/Tugas Dengan menggunakan alat peraga bilangan jam tentukan nilai dari : 1. Pada jam tujuhan 3 + 4 = ……… 2. Pada jam enaman 4 + 5 = ……… 3. Pada jam limaan 3 + 3 = ……… 4. Pada jam tujuhan 2 - 6 = ……… 5. Pada jam enaman 2 - 4 = ……… 6. Pada jam limaan 1 - 4 = ……… 7. Pada jam limaan 2 X 3 = ……… 8. Pada jam enaman 3 X 4 = ……… 9. Pada jam tujuhan 4 X 6 = ……… 10. Pada jam delapanan 5 X 6 = ……… = ……… pada jam empatan + 3 = 2 11. = ……… pada jam limaan = 1 12. 4 + = ……… pada jam enaman - 3 = 5 13. = ……… pada jam tujuhan = 6 14. 5 -

e. Rangkuman (1) Pada bilangan jam angka-angka pada permukaan sebanyak bilangan jam yang bersangkutan yang dimulai dengan angka 0 (nol). (2) Pada pengoperasian bilangan jam dengan penjumlahan yaitu dengan cara melangkah kekanan searah jarum jam sedangkan pada pengurangan sebaliknya.

(3) Untuk perkalian bilangan jam dapat dilakukan dengan penjumlahan yang berulang contoh 3 X 4 pada jam limaan 4 + 4 + 4 = 2.

5. TES FORMATIF Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas dan singkat 1. Jelaskan pengertian pembelajaran kooperatif ! 2. Uraikan tahapan-tahapan dalam pembelajaran kooperatif ! 3. Jelaskan pengertian pembelajaran kooperatif tipe STAD ! 4. Uraikan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif tipe STAD! 5. Untuk bilangan jam yang ditentukan hitunglah : a. 2 + 3 = ……… (Jam empatan) b. 3 – 4 = ……… (Jam limaan) c. 2 X 4 = ……… (Jam enaman) + 5 = 1 (Jam tujuhan)d. c = ………

DAFTAR PUSTAKA

1. Kurikulum Matematika Dan Suplemen 1999 2. Sukino Matematika I SLTP Erlangga 2000 3. Widowati Budijastuti, Pembelajaran Kooperatif, Universitas Negeri Surabaya 2001 KUNCI JAWABAN SOAL LKS 1) 0 2) 3 3) 1 4) 3 5) 4 6) 2 7) 1 8) 0 9) 3 10) 6 = 311) = 212) = 213) = 614)

Diposkan oleh TrisniAndy di 01:32 0 komentar Beranda Langganan: Entri (Atom)

Arsip Blog

▼ 2007 (1) o ▼ Agustus (1)  STAD dalam Matematika

Mengenai Saya

TrisniAndy Lihat profil lengkapku

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STAD DENGAN MEDIA EVCD mail

UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 1 BANJARANGKAN TAHUN 2008/2009 OLEH DRS.I MADE SURIANTA (NIP.132161064) ABSTRAK Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus dengan subyek penelitian kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan semester 1 tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 42 orang.

Data keaktifan siswa dikumpulkan dengan pedoman observasi dan data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes hasil belajar. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisisi dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Pelaksanaan tindakan diawali dengan membagi kelas menjadi delapan kelompok, menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan materi pembelajaran dengan VCD, kerja kelompok mengerjakan LKS, presentasi kelompok, dan latihan soal-soal. Hasil Penelitian menunjukkan 1) Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pada pembelajaran bangun ruang sisi lengkung dapat meningkatkan keaktifan siswa dan 2) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 6,68 dan ketuntasan klasikal 70% pada siklus I menjadi rata-rata hasil belajar 7,01 dengan ketuntasan klasikal sebesar 83% pada siklus II. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar matematika siswa, sehingga model pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif pilihan pada pembelajaran matematika. Kata kunci : Kooperatif,STAD dan VCD

A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan mulai dari tingkat SD sampai sekolah tingkat menengah. Sampai saat ini matematika masih dianggap mata pelajaran yang sulit, membosankan, bahkan menakutkan. Anggapan ini mungkin tidak berlebihan selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya. Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana. Guru mempunyai tugas untuk memilih model dan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Sampai saat ini masih banyak ditemukan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa di dalam mempelajari matematika. Salah satu kesulitan itu adalah memahami konsep pada pokok bahasan Bangun ruang sisi lengkung. Akibatnya terjadi banyak kesulitan siswa dalam menjawab soal-soal baik soal-soal ulangan harian, ulangan umum, dan soal-soal UAN yang berhubungan dengan bangun ruang sisi lengkung. Menurut H.W. Fowler dalam Pandoyo (1997:1) matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak, sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang

tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Untuk itu diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. Menurut Sobel dan Maletsky dalam bukunya Mengajar Matematika (2001:1-2) banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas, lalu memberi pelajaran baru, memberi tugas kepada siswa. Pembelajaran seperti di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari dapat dikategorikan sebagai 3M, yaitu membosankan, membahayakan dan merusak seluruh minat siswa. Apabila pembelajaran seperti ini terus dilaksanakan maka kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tidak akan dapat tercapai secara maksimal.Selain itu pemilihan media yang tepat juga sangat memberikan peranan dalam pembelajaran. Selama ini media pembelajaran yang dipakai adalah alat peraga yang terbuat dari triplekstripleks. Tetapi seiring dengan berkembangnya teknologi, media pembelajaran tersebut kurang menarik perhatian dan minat siswa. Untuk itu diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat lebih menarik perhatian dan minat siswa tanpa mengurangi fungsi media pembelajaran secara umum. Berdasarkan uraian di atas perlu kiranya dikembangkan suatu tindakan yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa berupa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media VCD untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengemukakan gagasangagasan terhadap pemecahan suatu masalah dalam kelompoknya masing-masing. Pemilihan media pembelajaran dengan menggunakan VCD dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk VCD memungkinkan digunakan dalam berbagai keadaan tempat, baik di sekolah maupun di rumah; serta yang paling utama adalah dapat memenuhi nilai atau fungsi media pembelajaran secara umum. Berdasarkan uraian diatas ,maka judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah "Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif type STAD dengan media Video Compact Disk untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan "

B. Rumusan Masalah Dari Latar Belakang Masalah dapat Rumusan Masalah yang diangkat adalah : 1. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Media VCD dapat meningkatkan aktifitas belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Banjarangkan. 2. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Media VCD dapat

meningkatkan Prestasi belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Banjarangkan.

C. Kajian Teori dan Pustaka 1. Teori Belajar Matematika Menurut J. Bruner dalam Hidayat (2004:8) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar mengajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap sebagai berikut: a) Tahap Enaktif , suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata, b) Tahap Ikonik, suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif, c) Tahap Simbolik , suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, baik symbol-simbol verbal (misalkan huruf-huruf, kata-kata atau kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika maupun lambang-lambang abstrak lainnya (Hidayat, 2004:9). Suatu proses belajar akan berlangsung secara optimal jika pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian jika tahap belajar yang pertama ini dirasa cukup, siswa beralih ke tahap belajar yang kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik. Selanjutnya kegiatan belajar itu dilanjutkan pada tahap ketiga, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik. Contoh nyata untuk anak SMP kelas sembilan yang sedang mempelajari tentang Kesebangunan Bangun Datar, pada tahap enaktif anak diberikan contoh tentang benda benda di sekitarnya yang bentuknya sebangun dan ditunujukkan panjang sisi-sisinya. Kemudian mengajak siswa-siswa untuk mengukur panjang sisi-sisi dari bangunbangun tersebut . Selanjutnya pada tahap ikonik siswa dapat diberikan penjelasan tentang perbandinan dari sisi-sisi yang bersesuaian dari dua bangun sebangun dengan menggunakan gambar dan model dua bangun yang sebangun selanjutnya pada tahap simbolik siswa dibimbing untuk dapat mendefinisikan secara simbolik tentang kesebangunan, baik dengan lambanglambang verbal maupun dengan lambang-lambang matematika. 2. Pembelajaran Matematika Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004:1). Agar tujuan pengajaran dapat tercapai, guru harus mampu mengorganisir semua komponen sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan lainnya dapat berinteraksi secara harmonis (Suhito, 2000:12).Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah pemanfaatan

berbagai macam strategi dan metode pembelajaran secara dinamis dan fleksibel sesuai dengan materi, siswa dan konteks pembelajaran (Depdiknas, 2003:1). Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajaran. Dalam pembelajaran matematika salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD karena dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat terjadi proses saling membantu diantara anggota-anggota kelompok untuk memahami konsep-konsep matematika dan memecahkan masalah matematika dengan kelompoknya. Sedangkan penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat menunjang, karena dengan menggunakan media pembelajaran siswa lebih mudah memahami konsep matematika yang abstrak. Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Sekolah Menengah Pertama (Depdiknas, 2003:8) menyatakan bahwa potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal dan di dalam proses belajar matematika siswa dituntut untuk mampu; a) Melakukan kegiatan penelusuran pola dan hubungan; b) Mengembangkan kreatifitas dengan imajinasi, intuisi dan penemuannya; c) Melakukan kegiatan pemecahan masalah; d) Mengkomunikasikan pemikiran matematisnya kepada orang lain. Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan, memperhatikan keinginan siswa, membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa, menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan, menghargai setiap pencapaian siswa (Depdiknas, 2003:5). Selain itu di dalam mempelajari matematika siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda sehingga diperlukan usaha guru untuk: 1) menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga atau media pembelajaran yang menarik perhatian siswa; 2) memberikan kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan; 3)memberikan kesempatan menggunakan metematika untuk berbagai keperluan; 4) mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan matematika baik di sekolah maupun di rumah; 5) menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni di dalam pengembangan matematika; 6) membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya. (Depdiknas, 2003:6) Dari kurikulum di atas dapat dikatakan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran matematika harus bisa membuat situasi yang menyenangkan, memberikan alternatif penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang bisa digunakan pada berbagai tempat dan keadaan, baik di sekolah maupun di rumah. 3. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan

oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut; a) Presentasi kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya. b) Kerja kelompok. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaikbaiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran, c) Tes. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu, d) Peningkatan skor individu. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok, e) Penghargaan kolompok. Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi, diberikan pengghargaan. Dengan pemilihan metode yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti halnya pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. 4. Media Pembelajaran Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan.Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia; realia; gambar bergerak atau tidak; tulisan dan suara yang direkam. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Terdapat berbagai jenis media belajar (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/), diantaranya ; a) Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik, b) Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya, c) Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya, d) Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya. Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Kreteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersedian

fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran, sipembelajar atau belum. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka, estetika juga merupakan sebuah kriteria. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. 5. Media Pembelajaran Matematika Menurut H.W. Fowler (Suyitno, 2000:1) matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. Sehingga untuk menunjang kelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstraksi siswa (Suyitno, 2000:37). Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan matematika antara lain; a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi; b) Untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa; c) Untuk membuat konsep matematika yang abstrak, dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami, dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkattingkat berpikir siswa.(Darhim, 1993:10) Jadi salah satu fungsi media pembelajaran matematika adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar, membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati, 1994:78-79). 6. Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dalam Pembelajaran Matematika Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, berkembang pula jenis-jenis media pembelajaran yang lebih menarik dan dapat digunakan baik di sekolah maupun di rumah. Salah satunya adalah media pembelajaran yang berbentuk VCD (Video Compact Disc). Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dapat digunakan sebagai alternatif pemilihan media pembelajaran matematika yang cukup mudah untuk dilaksanakan. Hal ini dikarenakan akhirakhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi dan dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk VCD memungkinkan digunakan di rumah karena VCD player sekarang ini sudah

bukan merupakan barang mewah lagi dan dapat ditemukan hampir disetiap rumah siswa.

D. Prosedur Penelitian 1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini diadakan di kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran 2008/2009 mulai bulan Agustus sampai bulan Oktober 2008 2. Subyek dan Obyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IXB SMP Negeri 1 Banjarangkan, tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 42 orang. Sedangkan obyeknya adalah kompetensi dasar matematika yang meliputi aspek kognitif dan aktifitas pembelajaran siswa. 3. Variabel-variabel Penelitian Secara umum ada dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Sebagai variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media VCD dalam pembelajaran matematika kelas IX, sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika. 4. Prosedur Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama dua siklus. Rancangan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi,dan refleksi (Kemmis dan Taggart,1998). Adapun kreteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek penelitian; a ) dapat memahami materi yang sedang dipelajari, b) dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari, c) senang dan aktif mengikuti pembelajaran, d) memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 60 6. Metoda Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut ; a) tes pada setiap akhir tindakan, dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari setelah pemberian tindakan. Tes yang diberikan dalam bentuk uraian, karena peneliti ingin mengetahui proses jawaban siswa secara rinci, b) Observasi ; Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas siswa selama kegiatan penelitian, sebagai upaya untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan untuk mengetahui sejauh mana tindakan dapat menghasilkan perubahan yang dikehendaki oleh peneliti. Observasi ini dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan tindakan dalam dua siklus.

7. Tehnik Analisa Data dan Kreteria Keberhasilan Data aspek kognitif siswa dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menentukan nilai rata-rata, ketuntasan individual (KI) , dan ketuntasan klasikal (KK), dengan indikator keberhasilan nilai rata-rata mencapai lebih dari atau sama dengan 60 (KKM matematika kelas IX SMP Negeri 1 Banjaragkan) dan ketuntasan klasikal lebih dari atau sama dengan 80%. Analisis data aktivitas belajar siswa dilakukan secara deskriptif. Kriteria penggolongan aktivitas belajar disusun berdasarkan Mean Ideal (MI) dan Standar Deviasi Ideal (SDI) dengan rumus:

MI =

( skor tertinggi ideal + skor terrendah ideal )

SDI =

( skor tertinggi ideal - skor terrendah ideal )

Dengan pedoman seperti berikut : ≥ MI + 1,5 SDI MI + 0,5 SDI ≤ MI – 0,5 SDI ≤ MI – 1,5 SDI ≤ < MI – 1,5 SDI Keterangan : Sangat aktif < MI + 1,5 SDI < MI + 0,5 SDI < MI – 0,5 SDI Aktif Cukup aktif Kurang aktif

Sangat kurang aktif

= Skor rata-rata keaktivan siswa

( Nurkencana & Sunartana, 1992 ) Kriteria keaktifan siswa yang diharapkan dalam penelitian ini adalah berkisar 16,65 ≤ (kategori aktif) E. Hasil Penelitian dan Pembahasan Secara sistematik hasil penelitian ini disajikan dalam susunan : (1) Penyusunan program tindakan pembelajaran, (2) Pelaksanaan tindakan pembelajaran, (3) Evaluasi program tindakan pembelajaran dan, (4) Pembahasan. 1. Penyusunan Program Tindakan Pembelajara
Solusi untuk mengatasi masalah penggunaan model pembelajaran kooperatif type STAD dengan bantuan

< 19,95

media Video Compact Disk untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan perlu disusun kedalam suatu program tindakan pembelajaran. Penyusunan program tindakan pembelajaran dalam arti luas, berlangsung sejak mulai meneliti Standar Isi, Silabus, sampai meyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Permasalahan kelas yang perlu diatasi untuk usaha peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika adalah konsentrasi, pemahaman konsep, dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran kurang. Setelah mendapatkan masalah tersebut diatas, dilanjutkan dengan mengidentifikasi faktor penyebab lainnya. Karena melalui pemahaman berbagai kemungkinan penyebab masalah, suatu tindakan dapat dikembangkan. Peneliti menganggap bahwa penyebab masalah adalah kualitas pembelajaran seperti : a) pembelajaran cenderung satu arah, kurang demokratis, b) pembelajaran kurang memanfaatkan alat peraga, membosankan, dan c) di dalam pembelajaran tidak ada bimbingan dari guru terhadap individu maupun kelompok siswa.Perencanaan Solusi Masalah.

Tindakan solusi masalah yang digunakan oleh peneliti, yaitu pembenahan gaya mengajar dengan pemecahan yang akan dikembangkan pada siklus pertama sebagai berikut : a. Model pembelajaranPembelajaran yang biasanya cenderung satu arah dibenahi menjadi pembelajaran yang melaksanakan model pembelajaran Kooferatif type STAD Penerapan kombinasi pembelajaran ini secara
umum pembelajaran diawali dengan pertemuan klasikal untuk memberikan informasi dasar, penjelasan tentang tugas yang akan dikerjakan, serta hal-hal lain yang dianggap perlu. Setelah pertemuan secara klasikal siswa diberi kesempatan kerja dalam kelompok (penerapan latihan terkontrol), ,kemudian bekerja secara perorangan (penerapan latihan mandiri).

b. Tindakan Pembelajaran Tindakan pembelajaran dengan model pembelajaran Kooferatif type STAD dengan media VCD untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa adalah sebagai berikut : 1) Memberitahu Standar Kopetensi dan Kopetensi Dasar, inti materi ajar, dan kegiatan yang akan dilakukan. 2) Memberikan LKS sesuai materi ajar. 3) Menyampaikan materi ajar secara sistematis, simpel, dan menggunakan VCD sebagai media pembelajaran yang dapat membantu pemahaman siswa, 4) Mendorong dan membimbing siswa untuk menyampaikan ide, 5) Memberikan tugas baik kelompok maupun individu dengan petunjuk yang jelas dan membimbing proses penyelesaiannya, 6) Merespons setiap pendapat atau perilaku siswa, 7) Membimbing siswa membuat rangkuman materi ajar, 8) Memberikan PR dengan petunjuk langah-langkah pengerjaannya. 2. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran Pada Siklus I Materi yang diberikan adalah unsur-unsur dan luas bagun ruang sisi lengkung. Model pembelajaran yang digunakan adalah kooferatif type STAD dengan VCD sebgai media. Kelas dibagi menjadi 8 kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari lima siswa. Pengelompokan dilakukan dengan memperhatikan kemampuan siswa, sehingga tiap kelompok terdiri dari siswa yang mempunyai kemampuan diatas, sedang, dan di bawah rata-rata. Peneliti

sudah berusaha untuk menghindari kelompok dengan jumlah genap namun keadaan jumlah siswa yang memaksa ada dua kelompok terdiri dari 6 orang siswa. Pembelajaran dilakukan selama 8 jam ( empat kali pertemuan ). Tiga kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Sedangkan observasi keaktifan siswa dilaksanakan selama berlangsungnya proses pembelajaran. Pada siklus II materi yang diberikan adalah volume bangun ruang sisi lengkung, yang diberikan selama 6 jam (dalam 3 kali pertemuan). Dua kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Pembenahan yang dilakukan pada siklus II melihat dari observasi pada siklus I terdapat antara lain: a) pengulangan–pengulangan tayangan VCD yang dianggap penting, b) pengelompokan siswa diatur ulang disesuai dengan hasil tes siklus I, c) pemberian bimbingan dari guru terhadap kelompok yang kesulitan dalam memecahkan permasalahan, dan d) memotivasi siswa yang tergolong kurang untuk mewakili kelompoknya mempersentasikan kerja kelompoknya. 3. Evaluasi Program Tindakan Kelas Adapun hasil evaluasi selama Program Tindakan kelas disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut : Tabel 6.Hasil belajar dan Keaktifan siswa Hasil Belajar Siklus Banyak Siswa Ter tinggi I II 42 42 10 10 Ter rendah 3 4 1 Ratarata 6,68 70,01 0,33 Ketunt 70% 83% 13% Keaktifan Ratarata 17.29 17.45 0,16 Katagori Aktif Aktif

Peningkatan

Dari data diatas terlihat rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 6,68 dimana hasil ini tergolong cukup besar untuk ukuran sekolah kami, dengan ketuntasan 70% dan rata-rata keaktifan 17,29 yang tergolong katagori aktif. Bila dicermati lebih dalam lagi dari 42 siswa di kelas IX B pada siklus I sebanyak 30 orang yang mendapat nilai ≥ 6 atau 70% siswa tuntas, dan satu oarang siswa mendapat nilai 10, dengan nilai terendah 3 diperoleh oleh 4 orang siswa. Pada Siklus II hasil belajar yang diperoleh seperti terlihat dari tabel diatas , rata-rata prestasi belajar siswa adalah 7,01 dengan ketuntasan 83%, rata-rata keaktifan 17,45 katagori aktif. Bila

dibandingkan dengan hasil pada siklus I terdapat beberapan kenaikan yang cukup memuaskan seperti, untuk nilai tertinggi 10 pada siklus I hanya diperoleh oleh 1 orang siswa sedangkan pada siklus II diperoleh oleh 5 orang, begitu pula terjadi peningkatan pada nilai terendah dari 3 menjadi 4, rata-rata hasil belajar terjadi kenaikan sebesar 0,33 ketuntasan naik 13% , dan ratarata keaktifan naik 0,16 4. Pembahasan Hasil dialog awal dan diskusi dengan sesama guru matematika SMPN 1 Banjarangkan tentang keadaan siswa baik ditinjau dari hasil belajar dan motivasi siswa dalam belajar matematika yang cenderung menurun, memberikan dorongan kepada peneliti untuk melakukan pembelajaran yang memudahkan siswa belajar (efektif). Bantuan dan dorongan dari sesama guru matematika ditunjukkan oleh dengan memberikan masukan yang natinya sangat berguna dalam penelitian ini, bantuan juga diberikan dalam bentuk kesediaan dari guru yang untuk membantu menyediakan sarana yang diperlukan pada pelaksanaan tindakan baik siklus I maupun pada siklus II. Dari hasil diskusi dan berbagai masukan dari sesama guru matematika dan atas saran dan arahan Kepala Sekolah, peneliti menetapkan menerapkan tindakan berupa penerapan model pembelajaran kooferatif Type STAD dengan media VCD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siaswa. Penelitian tindakan ini dilakukan dalam dua siklus. Pada akhir tiap siklus dilaksanakan tes prestasi belajar, sedangkan observasi tentang keaktifan siswa dalam pembelajaran dilakukan selama berlangsungnya pemberian tindakan. Pada siklus I pengelompokan siswa dilakukan dengan mempertimbangkan hasil ulangan I, dimana setiap kelompok terdiri dari siswa pintar, biasa, dan yang bodoh. Dari delapan kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa masih tampak lebih mengutamakan penonjolan individu. Hal ini tampak dari anggota kelompok yang lebih suka mengerjakan kedepan sebelum membantu pemahaman teman sekelompoknya. Untuk mengatasi hal ini peneliti berulang-ulang memberitahukan agar sola-soal yang diberikan dalam LKS didiskusikan lebih dahulu dalam kelompoknya, dan bagi siswa yang kurang paham agar menanyakan kepada teman sekelompoknya. Pada setiap awal pembelajaran peneliti selalu memberitahukan tujuan pembelajaran, inti materi ajar, dan kegiatan yang dilakukan serta membimbing siswa yang bertujuan untuk membangun hubungan baik dengan siswa. Dari delapan kelompok yang ada tampak satu kelompok yaitu kelompok VIII yang kurang aktif dan kurang serius dalam proses pembelajaran. Dari hasil tes pada akhir siklus I dan hasil observasi tentang keaktifan siswa selama siklus I diperoleh rata-rata prestasi belajar siswa adalah 6,68 dengan 30 siswa ( 70%) tuntas, 12 siswa (30%) tidak tuntas, dan satu orang mendapat nilai 10. Sedangkan untuk keaktifan siswa rataratanya adalah 17,29 dengan katagori aktif. Kesalahan siswa dalam mengerjakan tes sebagian besar karena kurangnya pemahaman konsep dan kesalahan melihat gambar terutama dalam melihat jari-jari dan diameter. Pada siklus II diadakan beberapa perombakan kelompok, pengelompokan diatur ulang dengan melihat hasil belajar pada siklus I. Diskusi pada siklus II berjalan dengan baik, siswa yang sudah mengerti mau memberi penjelasan kepada anggota kelompok yang belum paham, sedangkan

yang belum paham tidak malu-malu untuk bertanya kepada temannya. Bahkan beberapa siswa sudah berani bertanya kepada guru bila ada soal yang belum dapat dikerjakan kelompoknya. Sedangkan untuk mengerjakan ke papan tulis dilakukan dengan menunjuk wakil tiap kelompoknya, penunjukan dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa agar lebih berani mengemukakan pendapat. Pada siklus II ini guru lebih banyak memberikan bimbingan pada siswa yang nilainya kurang pada siklus I. Hasil tes prestasi belajar pada siklus II menunjukkan rata-rata kelas 7,01. Ada 35 siswa ( 83% ) tuntas, 5 siswa mendapat nilai 10, dan nilai terendah 4. Sedangkan untuk keaktifan siswa rata-ratanya 17,45 dengan katagori aktif. Bila dibandingkan dengan siklus I hasil yang diperoleh pada siklus II hampir semua aspek penilaian mengalami peningkatan. Rata-rata kelas mengalami kenaikan dari 6,68 pada siklus I menjadi 7,01 pada siklus II. Untuk pencapaian nilai 10 pada siklus I hanya diperoleh oleh seorang siswa meningkat menjadi 5 orang pada siklus II, begitu pula untuk nilai terendah 3 pada siklus I meningkat menjadi 4 pada siklus II. Ketuntasan mengalami peningkatan dari 30 siswa (70% ) pada siklus I menjadi 37 siswa (83%) pada siklus II. Keaktifan siswa meningkat dari ratarata 17,29 ( katagori Aktif) pada siklus I menjadi 17,45 ( katagori Aktif). Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooferatif Type STAD dengan media VCD dapat meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan aktifitas belajar matematika siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran 2008/2009. F. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu : 1. Rata-rata skor aktifitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Pada siklus I rata-rata skor aktifitas siswa dalam pembelajaran sebesar 17,29 meningkat menjadi 17,45 pada siklus II. 2. Nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai pada siklus II. Peningkatan ini ditunjukkan dengan dengan kenaikan rata-rata nilai hasil belajar sebesar 6,68 pada suklus I menjadi 7,01 pada siklus II. Begitu pula dengan perolehan nilai 10 terjadi peningkatan dari hanya diperoleh oleh seorang siswa pada siklus I menjadi diperoleh sebanyak 5 orang siswa pada siklus II. Untuk nilai terendah pada siklus I sebesar 3 meningkat menjadi 4 pada siklus II.Sedangkan untuk ketuntasan klasikal juga terjadi peningkatan dari 70% pada siklus I menjadi 83% pada siklus II. Bersarkan temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Kooferatif Type STAD dengan media VCD pembelajaran dapat meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun 2008/2009 G. Saran. Mengingat hasil yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas ini sangat bagus, maka dapat

dikemukakan beberapa saran-saran sebagai berikut : 1. Disarankan kepada sesama guru matematika untuk mencoba model pembelajaran di atas dengan lebih baik, sehingga hasil yang diharapkan juga lebih baik. 2. Untuk meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran melalui tindakan kelas, disarankan agar pemberian dana block grant penelitian tindakan kelas dapat dilanjutkan dan ditingkatkan baik jumlah peserta maupun jumlah dana. H. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Nasional . 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdiknas. Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta : Depdikbud. Dimyati, Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdikbud. Hidayat. 2004. Diktat Kuliah Teori Pembelajaran Matematika. Semarang:FMIPA UNNES. Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan Bakat Dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta:PT Gramedia Widiasarana.

Nurkancana, Wayan & Sunartana. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya : Usaha Nasional. Pandoyo. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Semarang:IKIP Semarang Press. Suhito. 1990. Strategi Pembelajaran Matematika. Semarang:FPMIPA IKIP Semarang. Suyitno Amin, Pandoyo, Hidayah Isti, Suhito, Suparyan. 2000. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang:Pendidikan Matematika FMIPA UNNES Sudirman. 2007. Cerdas Aktif Matematika. Pembelajaran Matematika Untuk SMP. Bandung:Ganeca Exact.

Sudrajat, akhmad. 2008. Jenis-Jenis Media Pembelajaran. http ://akhmadsudrajat. wordpress.com/ Yitnosumarto, Santoyo. 1990. Dasar-Dasar Statistika. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

< Sebelumnya [ Kembali ] Rupa-rupa
  

Berikutnya >

Info Jardiknas Berita Buku Sekolah Elektronik

Pencarian
cari...

Random Image Tidak ada gambar

Top Menu Profil Disdik Klungkung Visi Misi Tupoksi Tujuan dan Sasaran Rencana Strategis Dasar Hukum Data Pokok Pendidikan Fasilitas Buku Tamu Download Kalender Kegiatan May 2012

S M T W T F S 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 Arsip

KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT SISWA KELAS VII SEMESTER 2 SMP NEGERI 1 SLAWI TAHUN PELAJARAN 2006/2007
Hesti Setianingsih, 4101403501 (2007) KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT SISWA KELAS VII SEMESTER 2 SMP NEGERI 1 SLAWI TAHUN PELAJARAN 2006/2007. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.
PDF (KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT SISWA KELAS VII SEMESTER 2 SMP NEGERI 1 SLAWI TAHUN PELAJARAN 2006/2007) - Published Version Restricted to Registered users only Request a copy

Abstract
Pembelajaran matematika di sekolah merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kecerdasan siswa. Siswa di SMP Negeri 1 Slawi tergolong siswa yang pandai dan cepat dalam menerima pelajaran. Meskipun demikian dipandang perlu adanya peningkatan aktivitas, pola berpikir kritis, dan kreatif serta hasil belajar matematika. STAD merupakan salah satu tipe cooperative learning. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih efektif daripada pembelajaran matematika dengan metode ekspositori pokok bahasan segiempat kelas VII semester 2 SMP Negeri 1 Slawi tahun pelajaran 2006/2007. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe STAD lebih efektif daripada pembelajaran matematika dengan metode ekspositori pokok bahasan segiempat kelas VII semester 2 SMP Negeri 1 Slawi tahun pelajaran 2006/2007. Populasi dari penelitian ini adalah kelas VII A, VII B, VII C, dan VII D SMP Negeri 1 Slawi tahun pelajaran 2006/2007. Dengan teknik random sampling terpilih 2 kelas sebagai sampel yaitu kelas VII C sebagai kelas eksperimen yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelas VII D sebagai kelas kontrol yang dikenai metode ekspositori. Pada akhir pembelajaran kedua kelas sampel diberi tes dengan menggunakan instrumen yang sama yang telah diuji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes dan metode observasi. Metode tes dilakukan untuk memperoleh data nilai akhir setelah diberi perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, data dianalisis dengan uji normalitas, uji kesamaan dua varians, dan uji hipotesis menggunakan uji t. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan uji t satu pihak diperoleh thitung = 2,64 untuk nilai pemahaman konsep, thitung = 4,07 untuk nilai penalaran dan komunikasi, thitung = 1,912 untuk nilai pemecahan masalah dan dari tabel diperoleh ttabel = 1,66, dengan α = 5% dan dk = 40+40-2 =78. Untuk tiap-tiap aspek, jelas thitung > ttabel maka Ho ditolak artinya rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran STAD lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode ekspositori pada pokok bahasan segiempat siswa kelas VII SMP Negeri 1 Slawi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD oleh guru pada pembelajaran I sampai dengan III masing-masing 70,83%, 79,17%, dan 85,42%. Sedangkan aktivitas siswa pada pembelajaran I sampai dengan III masing-masing 60%, 75%, dan 87,5%. Simpulan yang diambil adalah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih efektif daripada pembelajaran matematika dengan menggunakan metode ekspositori pokok bahasan segiempat kelas VII semester 2 SMP Negeri 1 Slawi tahun pelajaran 2006/2007. Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan hendaknya guru menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa pokok bahasan segiempat.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN NHT PADA PELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN HIMPUNAN ( Eksperimen Di Kelas VII Semester II SMP Negeri 2 Jaten )
NURHALIMAH, TITI (2008) PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN NHT PADA PELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN HIMPUNAN ( Eksperimen Di Kelas VII Semester II SMP Negeri 2 Jaten ). Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
TAMPILKAN FULLTEXT PDF 61Kb

PDF Restricted to Repository staff only 389Kb

Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan prestasi belajar Matematika yang dipengaruhi oleh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan model pembelajaran koperatif tipe NHT dalam kegiatan belajar mengajar Matematika. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VII yang terdiri dari enam kelas dan sampel sebanyak dua kelas, yaitu kelas VIIE sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 41 siswa, sedangkan kelas kontrol adalah siswa kelas VII D dengan jumlah 41 siswa. Teknik pengambilan sampel dengan acak kelompok (cluster random sampling). Metode pengumpulan data adalah metode tes dan dokumentasi. Persyaratan uji analisis dilakukan dengan uji normalitas Liliefors dan uji homogenitas Bartlet. Data dianalisis dengan analisis kovariansi (anakova) dengan kemampuan awal siswa sebagai variabel kendali. Hasil pengujian hipotesis menggunakan α = 5 % menunjukkan Fhit = 52.53 yang berarti ada perbedaan peningkatan yang signifikan pada prestasi belajar Matematika yang dipengaruhi oleh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan model pembelajaran koperatif tipe NHT. Lebih lanjut dikatakan bahwa prestasi belajar Matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik daripada prestasi belajar Matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkat sebesar 28.05 sedangkan siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe NHT meningkat sebesar 28.68. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional adalah menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat ( PP No 19 Tahun 2005 ). Salah satu perwujudannya melalui pendidikan bermutu pada setiap satuan pendidikan di Indonesia. Matematika salah satu mata pelajaran yang memberikan kontribusi positif tercapainya masyarakat yang cerdas dan bermartabat melalui sikap logis dan berfikir logis. Masalah klasik dalam pendidikan matematika di Indonesia adalah rendahnya prestasi serta kurangnya motivasi dan keinginan terhadap pembelajaran matematika di sekolah. Matematika yang diajarkan di sekolah terdiri dari (1) arti / hakekat kependidikan yang berfungsi mengembangkan daya nalar serta pembinaan kepribadian siswa ; (2) adanya kebutuhan nyata berupa tuntutan perkembangan riel berorientasi pada perkembangan pengetahuan seiring dengan kemajuan ilmu dan tekhnologi. Dalam pembelajaran matematika penyampaian guru cenderung bersifat monoton, kurang kreatif. Hal yang dirasakan siswa diantaranya matematika itu sulit, tidak mampu menjawab, takut disuruh guru di depan, dan sebagainya. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat

memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi dalam mengikuti zaman yang selalu berubah, tidak pasif dan kompetitif. Perubahan pendidikan matematika yang berkembang dewasa ini menurut hasil survei Widyaswara LPMP Jawa Tengah adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Beralihnya pendidikan matematika dari bentuk formal ke penerapan, proses dan pemecahan masalah. Beralihnya assessment (penilaian) kebentuk autentik seperti portofolio, produk, proyek, sikap atau perfoment. Pemaduan matematika dengan disiplin ilmu yang lain. Peralihan dari belajar individu kebelajar kooperatif. Peralihan dari belajar menghapal ke pemahaman dan pemecahan masalah. Peralihan dari behaviorist ke kontruktivisme. peralihan dari pemindahan pengetahuan kebentuk interaktif, investigasi, kegiatan terbuka, keterampilan proses, modeling dan pemecahan masalah. Untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi perlunya pemilihan strategi, pendekatan, metode dan tekhnik pembelajaran yang menarik dan tepat yang dapat membantu guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan konsepsi untuk mengajarkan materi dalam mencapai tujuan tertentu. Dalam model mencakup strategi, pendekatan, metode maupun tekhnik. Model mempunyai empat ciri khusus, yaitu : rasional teoritis yang logis, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tingkah laku belajar mengajar yang diperlukan untuk berhasilnya pelaksanaan model dan lingkungan belajar yang mendukung. Matematika adalah pelajaran yang dianggap sulit dan menakutkan dalam tiap proses pembelajarannya. Anggapan demikian tidak lepas dari persepsi yang berkembang dalam masyarakat tentang matematika yang dianggap sebagai ilmu yang kering, abstrak, teoritis, penuh dengan lambanglambang dan rumusrumus yang sulit dan membingungkan. Hal ini akan berdampak buruk terhadap prestasi belajar matematika. Maka dari itu seorang guru matematika harus trampil dan berstrategi dalam penyelenggaraan pembelajaran agar dapat menepis anggapan negatif tentang belajar matematika. Menurut Etin Solihatin (2007 : 5) salah satu model yang dianggap efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran, yaitu model pembelajaran kooperatif. Penerapan model kooperatif menurut penelitian yang selama ini dilakukan terbukti efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Semua metode kooperatif menitikberatkan pada proses belajar dalam kelompok dan bukan mengerjakan sesuatu bersama kelompok. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Model pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena dalam model kooperatif harus ada “struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif” sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interpendensi yang efektif antara anggota kelompok (Slavin, 1983 ;Stahl, 1994) Pola hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk berhasilnya berdasarkan kemampuan dirinya sebagai individual dan peran serta dari anggota lainnya selama mereka belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Model pembelajaran kooperatif memandang bahwa keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh dari guru, melainkan juga dari pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran, yaitu teman sebaya. Dalam pembelajaran kooperatif, para siswa dilatih untuk dapat bekerjasama dan mengakui perbedaan pendapat

dengan orang lain. Model pembelajaran kooperatif juga memiliki tipe antara lain (1) model pembelajaran Jigsaw (model tim ahli, dikembangkan Aronso, dkk); (2) model pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD); (3) model pembelajaran Numbered Head Together (NHT); (4) model pembelajaran Mind Mapping; (5) model pembelajaran Role Playing; (6) model pembelajaran Group Investigation; (7) model pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBI); (8) model pembelajaran Artikulasi; (9)model pembelajaran Team Assisted Individuilization atau Team Accelerated Instruction (TAI). Setiap tipe pada model pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda beserta keefektifan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi dalam pelaksanaanya. Seorang guru harus terampil menerapkan suatu model pembelajaran pada suatu materi pembelajaran tang akan disampaikan. Bahkan dalam menerapkan suatu tipe model pembelajaran harus hati-hati dan dapat melihat karakteristik tipe suatu model pembelajaran , karena tidak semua tipe tersebut dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. Hal ini karena menyangkut hasil akhir atau prestasi belajar siswa, apabila seorang guru tidak dapat menerapkan tipe model pembelajaran dengan baik maka tujuan pembelajaran yang dicapai tidak maksimal. Berdasarkan uraian permasalahan yanga ada, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan NHT dalam pembelajaran matematika. B. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut : 1. Rendahnya prestasi belajar matematika bukan hanya bersumber pada kurangnya kemampuan siswa, tetapi juga dipengaruhi oleh adanya kelemahan dari model pembelajaran yang digunakan guru. 2. Aktifitas belajar yang rendah dimungkinkan kurangnya motivasi dan keterlibatan dalam penghayatan, pengertian suatu konsep. Untuk meningkatkan aktivitas belajar perlu diupayakan pendekatan atau model pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar agar siswa menguasai tujuan-tujuan intruksional yang harus dicapai. 3. Dalam menerapkan tipe suatu tipe model pembelajaran harus hati-hati dan dapat melihat karakteristik tipe suatu model pembelajaran, karena tidak semua tipe tersebut dapat diterapkan pada semua mata pelajaran, terutama matematika. C. Pembatasan Mas alah Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini, difokuskan pada : 1. Pada penelitian ini model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran STAD untuk kelas eksperimen dan model pembelajaran NHT untuk kelas kontrol. 2. Prestasi belajar yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah prestasi belajar matematika yang diperoleh siswa kelas ********pada pelajaran matematika pokok bahasan himpunan. D. Perumusan Masalah Bertolak dari latar belakang masalah yang telah dijelaskan, dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan pada prestasi belajar matematika yang dipengaruhi oleh penggunaan model pembelajaran koopertif tipe STAD dan model pembelajaran kooperatif tipe NHT”? E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan serta melihat kebenaran kontribusi proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran NHT yang diterapkan dalam pengajaran Matematika pada siswa ************************ guna meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Disamping itu untuk merangsang keberanian dan konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran baik secara individu maupun kelompok. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar Matematika yang dipengaruhi oleh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran NHT dalam kegiatan belajar mengajar Matematika. F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Secara umum penelitian memberikan sumbangan kepada dunia pendidikan untuk dapat meningkatkan prestasi belajar matematika peserta didik. Prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta berperan sebagai umpan balik dalam dunia pendidikan. 2. Manfaat praktis a) Sebagai masukan bagi pengajar (guru) dan sekolah untuk menerapakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dan juga prestasi belajarnya. b) Sebagai pendidik maka pengetahuan selama mengadakan penelitian dapat ditransformasikan kepada peserta didik pada khususnya, maupun pada masyarakat luas pada umumnya. c) Sebagai bahan acuan, perbandingan ataupun referensi bagi para peneliti yang melakukan penelitian yang sejenis.

KEEFEKTIVAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN JIGSAW II TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN TEOREMA PYTHAGORAS PADA SISWA
Posted by dian_dewi on 13 January, 2011 No comments yet This item was filled under [ Matematika ] Rating: 4.7/5 (111 votes cast)

Skripsi Matematika : KEEFEKTIVAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN JIGSAW II TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN TEOREMA PYTHAGORAS PADA SISWA FULLU AZKA, 2005. Skripsi Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Semarang. Matematika yang bersifat deduktif aksiomatik dan berangkat dari hal-hal yangabstrak, cenderung sulit diterima dan dipahami oleh siswa sehingga mengakibatkandaya tarik siswa terhadap pelajaran matematika cukup rendah. Oleh karena itu penyajianmateri perlu mendapat perhatian

guru, dan hendaknya dalam pembelajaran di sekolahguru memilih dan menggunakan strategi pendekatan, metode dan teknik yang banyakmelibatkan siswa aktif dalam belajar, baik mental, fisik, maupun sosial. Salah satualternatif pembelajaran yang dapat digunakan diantaranya adalah pembelajaran denganmenggunakan model pembelajaran kooperatif. Ada beberapa tipe dalam modelpembelajaran kooperatif diantaranya tipe STAD dan tipe JIGSAW II. Dari hal tersebutmuncul permasalahan manakah yang lebih efektif antara pembelajaran denganmenggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, pembelajaran denganmenggunakan model pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW II, ataukah pembelajarankonvensional pada siswa kelas II semester 1 SMPN 10 Semarang tahun pelajaran 2004/2005 pada pokok bahasan teorema Pythagoras.

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan hasilbelajar matematika pokok bahasan Teorema Pythagoras antara siswa yang dikenaimodel pembelajaran kooperatif tipe STAD, tipe JIGSAW II, dan siswa yang dikenaiembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SMP N 10 Semarang TahunPelajaran 2004/ 2005, dengan jumlah siswa 230 orang. Sampel penelitian ini diambildengan teknik random sampling sejumlah 115 siswa yang terbagi dalam dua kelaseksperimen yaitu kelas II-D yang dikenai pembelajaran dengan menggunakan modelpembelajaran kooperatif tipe JIGSAW II dan kelas II-E yang dikenai pembelajarandengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan satu kelaskontrol yaitu kelas II-F yang dikenai pembelajaran konvensional. Kemudian ditentukanpula satu kelas Ujicoba yaitu kelas II-C. Variabel bebas dalam penelitian ini adalahpembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW II,odel pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan konvensional. Sedangkan variabelterikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa yang dikenai modelpembelajaran kooperatif tipe STAD, tipe JIGSAW II dan siswa yang dikenaipembelajaran konvensional. Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan terdiridari uji pendahuluan dan uji tahap akhir. Uji pendahuluan meliputi uji homogenitas danuji normalitas, sedangkan uji tahap akhir meliputi analisis varians dan uji RankBerganda Duncan. Data awal dalam penelitian ini diperoleh dari nilai ulangan harian siswa padapokok bahasan kuadrat dan akar kuadrat. Dari data tersebut diperoleh bahwa sampelberasal dari populasi yang normal dan homogen. Setelah dua kelas eksperimen dan satukelas kontrol diberi perlakuan yang berbeda, ketiga kelas tersebut diberikan tes hasilbelajar pokok bahasan teorema Pythagoras. Dari tes hasil belajar tersebut diperoleh nilairata-rata kelas II-D=5,007; nilai rata-rata kelas IIE=5,2053; dan nilai rata-rata kelas IIF=4,338. Dari Analisis Varians diperoleh Fhitung=5,28973 dan Ftabel=3,08 berartFhitung>Ftabel. Jadi Ho ditolak, dengan kata lain ada perbedaan yang signifikan hasilbelajar matematika pokok bahasan teorema Pythagoras siswa kelas II SMPN 10Semarang Tahun Pelajaran 2004/ 2005 antara siswa yang dikenai model pembelajarankooperatif tipe JIGSAW II, tipe STAD, dan siswa yang dikenai pembelajarankonvensional. Dari uji rank Berganda Duncan diperoleh hasil belajar siswa yang dikenaimodel pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW II lebih baik daripada hasil belajar siswayang dikenai pembelajaran konvensional dan hasil belajar siswa yang dikenai modelpembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang dikenaipembelajaran konvensional, sedangkan siswa yang dikenai model pembelajarankooperatif

tipe JIGSAW II maupun tipe STAD mempunyai hasil belajar yang tidakberbeda secara signifikan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa yang diberipengajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW IImaupun tipe STAD mempunyai hasil belajar yang lebih baik daripada hasil belajarsiswa yang dikenai pembelajaran konvensional. Untuk itu perlu diadakan suatupengenalan model pembelajaran kooperatif lebih lanjut agar model pembelajarankooperatif dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasanyang lain.
 Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division ... herdy07.wordpress.com/.../model-pembelajaran-stad-student-teams-... 22 Apr 2009 – Selain itu STAD juga terdiri dari siklus kegiatan pengajaran yang teratur. Variasi Model STAD. Lima komponen utama pembelajaran kooperatif ...  Model Pembelajaran STAD | HAYARDIN BLOG hayardin-blog.blogspot.com/2012/03/model-pembelajaran-stad.html 22 Mar 2012 – Demikianlah langkah-langkah Model pembelajaran STAD, semoga apa yang kugoreskan bisa memberikan setetes manfaat. Amin ...  PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STAD disdikklungkung.net/content/view/73/46/ Hasil Penelitian menunjukkan 1) Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pada ...  PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE ... ml.scribd.com › Research › Science PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL ...  Penerapan Model Pembelajaran STAD (Student Teams ... library.um.ac.id/index.php/Artikel-PTK/krisptk.html PTK. Rendahnya motivasi belajar siswa akibat dari kepasifan siswa dalam pembelajaran di kelas. Guru kurang melatihkan diskusi kelompok sehingga prestasi ...  Contoh Model Pembelajaran STAD Yang Diterapkan di Sekolah ... abdurrazzaaq.com/.../contoh-model-pembelajaran-stad-yang-diterapk... Kali ini saya akan berbagi dengan anda semuanya, yaitu informasi tentang Contoh Model Pembelajaran STAD, pasti ini sangat bermanfaat bagi Anda, oke ...

 Model Pembelajaran STAD - Ilmu Pengetahuan - CARApedia carapedia.com/model_pembelajaran_stad_info599.html STAD (Student Teams-Achievement Division) telah digunakan secara meluas dari tingkat sekolah dasar sampai universitas. Biasanya siswa dibagi menjadi 4 ...  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD www.farhan-bjm.web.id/.../model-pembelajaran-kooperatif-tipe-stad.... Dalam model pembelajaran kooperatif, diberikan beberapa jenis pendekatan yang salah satunya Student Teams Achievmet Division (STAD). Pembelajaran ...  YULIATMOKO: Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team ... yuliatmoko.blogspot.com/.../pembelajaran-kooperatif-tipe-stad.html 21 Okt 2011 – Pembelajaran model koooperatif tipe STAD merupakan” salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan ...  [DOC] Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif STAD sebagai Strategi ... harjonohanis.files.wordpress.com/2008/03/makalah-seminar-ok.doc Jenis File: Microsoft Word - Tampilan Cepat Model pembelajaran kooperatif STAD terdiri dari 4 tahap utama yaitu : penyajian materi oleh guru, siswa belajar didalam tim yang terdiri 4-5 siswa, pemberian ...

Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division)
22 April 2009 oleh Herdian,S.Pd., M.Pd.

STAD (Student Teams Achievement Division) Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan salah satu metode atau pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang sederhana dan baik untuk guru yang baru mulai menggunakan pendekatan kooperatif dalam kelas, STAD juga merupakan suatu metode pembelajaran kooperatif yang efektif. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri lima komponen utama, yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor pengembangan dan penghargaan kelompok. Selain itu STAD juga terdiri dari siklus kegiatan pengajaran yang teratur. Variasi Model STAD Lima komponen utama pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu: a) Penyajian kelas. b) Belajar kelompok. c) Kuis. d) Skor Perkembangan. e) Penghargaan kelompok. Berikut ini uraian selengkapnya dari pembelajaran kooperatif tipe StudentTeams Achievement Division (STAD). 1. Pengajaran Tujuan utama dari pengajaran ini adalah guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan yang direncanakan. Setiap awal dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD selalu dimulai dengan penyajian kelas. Penyajian tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan terbimbing dari keseluruhan pelajaran dengan penekanan dalam penyajian materi pelajaran. a) Pembukaan 1) Menyampaikan pada siswa apa yang hendak mereka pelajari dan mengapa hal itu penting. Timbulkan rasa ingin tahu siswa dengan demonstrasi yang menimbulkan teka-teki, masalah kehidupan nyata, atau cara lain. 2) Guru dapat menyuruh siswa bekerja dalam kelompok untuk menemukan konsep atau merangsang keinginan mereka pada pelajaran tersebut. 3) Ulangi secara singkat ketrampilan atau informasi yang merupakan syarat mutlak.

b) Pengembangan 1) Kembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. 2) Pembelajaran kooperatif menekankan, bahwa belajar adalah memahami makna bukan hapalan. 3) Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan. 4) Memberi penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah. 5) Beralih pada konsep yang lain jika siswa telah memahami pokok masalahnya. c) Latihan Terbimbing 1) Menyuruh semua siswa mengerjakan soal atas pertanyaan yang diberikan. 2) Memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan soal. Hal ini bertujuan supaya semua siswa selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin. 3) Pemberian tugas kelas tidak boleh menyita waktu yang terlalu lama. Sebaiknya siswa mengerjakan satu atau dua masalah (soal) dan langsung diberikan umpan balik. 2. Belajar Kelompok Selama belajar kelompok, tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan guru dan membantu teman satu kelompok untuk menguasai materi tersebut. Siswa diberi lembar kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih ketrampilan yang sedang diajarkan untuk mengevaluasi diri mereka dan teman satu kelompok. Pada saat pertama kali guru menggunakan pembelajaran kooperatif, guru juga perlu memberikan bantuan dengan cara menjelaskan perintah, mereview konsep atau menjawab pertanyaan. Selanjutnya langkah-langkah yang dilakukan guru sebagai berikut : 1) Mintalah anggota kelompok memindahkan meja / bangku mereka bersama-sama dan pindah kemeja kelompok. 2) Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok. 3) Bagikan lembar kegiatan siswa. 4) Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu kelompok utuh, tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka mengerjakan soal, masing-masing siswa harus mengerjakan soal sendiri dan kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah

satu tidak dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung jawab menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan jawaban pendek, maka mereka lebih sering bertanya dan kemudian antara teman saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha menjawab pertanyaan itu. 5) Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin teman-teman satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan siswa mengerti bahwa lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi dan diserahkan. Jadi penting bagi siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek diri mereka dan teman-teman sekelompok mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka seharusnya menanyakan teman sekelompoknya sebelum bertanya guru. 6) Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru sebaiknya memuji kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang anggotanya duduk dalam kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang lain bekerja dan sebagainya. 3. Kuis Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok. 4. Penghargaan Kelompok Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau penghargaan kelompok yang lain. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.

Model Pembelajaran STAD 9:33 AM HAYARDIN 2 comments

Model Pembelajaran kooperatif tipe STAD Model pembelajaran STAD merupakan model pembelajaran yang mengelompokkan siswa secara heterogen, kemudian siswa yang pandai menjelaskan pada anggota lain sampai mengerti. Model pembelajaran ini juga menjadi Andalan penulis ketika masih PPL dulu karena model pembelajaran ini terkesan simpel dan sangat mudah untuk diterapkan.

Student Teams Achievement Divisions ( STAD ) ( Tim Siswa Kelompok Prestasi ) dari Slavin ( 1995 ) mengemukakan langkah-langkah Model Pembelajaran STAD sebagai berikut Model Pembelajaran STAD Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD adalah sebagai berikut : 1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll) 2. Guru menyajikan pelajaran 3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. 4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu 5. Memberi evaluasi 6. Kesimpulan Demikianlah langkah-langkah Model pembelajaran STAD, semoga apa yang kugoreskan bisa memberikan setetes manfaat. Amin Daftar Pustaka: Komalasari Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual. Bandung: PT Refika Aditama

Sumber : http://hayardin-blog.blogspot.com/2012/03/model-pembelajaran-stad.html#ixzz1uiSKXqSb

152

Gambar 11.5 Peneliti Mengawasi Jalannya Diskusi Kelompok Gambar 11.6 Peneliti Memberikan Penguatan kepada Kelompok 158
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Arizna Putra Akbar NIM

: 106412400559 Jurusan/Program Studi : Manajemen/S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas : Ekonomi

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya aku sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Malang, 15 Januari 2010 Yang membuat pernyataan, Arizna Putra Akbar

159
RIWAYAT HIDUP

Arizna Putra Akbar dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timur tanggal 19 Mei 1988, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Hari Subagyo dan Ibu Isnayah. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri 4 Tanggul Kab. Jember, tamat tahun 2000. Pendidikan menengah pertama ditempuh di SMP Negeri 3 Tanggul Kab. Jember, tamat tahun 2003. Pendidikan menengah atas ditempuh di SMA Negeri 2 Tanggul Kab. Jember, tamat tahun 2006.

Pendidikan berikutnya ia tempuh di Universitas Negeri Malang (UM) melalui jalur PMDK dengan mengambil Jurusan Manajemen Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran, tamat tahun 2010. Dengan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, pada bulan Desember 2009

telah melakukan penelitian tentang “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif

MetodeStudent Teams Achievement Division (STAD) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Komunikasi (Studi pada Siswa Jurusan Administrasi Perkantoran Kelas X SMK Negeri 1 Tanggul Kabupaten Jember)”.

Contoh Model Pembelajaran STAD Yang Diterapkan di Sekolah Model Pembelajaran STAD
Halo semuanya, berjumpa lagi di abdurrazzaaq.com, setelah lama blog ini vacum. Kali ini saya akan berbagi dengan anda semuanya, yaitu informasi tentang Contoh Model Pembelajaran STAD, pasti ini sangat bermanfaat bagi Anda, oke kalau begitu berikut pemaparannya. Menurut Slavin (1995:71) STAD merupakan Model Pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru membagi peserta didik menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 orang dan terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

Komponen Model Pembelajaran STAD
Presentasi kelas Presentasi kelas dalam STAD berbeda dari cara pengajaran yang biasa. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka. Peserta didik harus betul-betul memperhatikan presentasi ini karena dalam presentasi terdapat materi yang dapat membantu untuk mengerjakan kuis yang diadakan setelah pembelajaran. Belajar dalam tim Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang, di mana mereka mengerjakan tugas yang diberikan berupa LKPD. Tiap kelompok diberi 2 eksemplar LKPD. Jika ada kesulitan, peserta didik yang merasa mampu membantu yang kesulitan. Selanjutnya, LKPD dibahas sesuai dengan kunci yang dibuat guru. Tes individu

Setelah pembelajaran selesai, diadakan tes individu (kuis). Skor pengembangan individu Skor yang didapatkan dari hasil tes selanjutnya dicatat oleh guru untuk dibandingkan dengan hasil prestasi sebelumnya. Skor tim diperoleh dengan menambahkan skor peningkatan semua anggota dalam 1 tim. Nilai rata-rata diperoleh dengan membagi jumlah skor penambahan dibagi jumlah anggota tim. Penilaian STAD versi Slavin dengan cara guru meminta peserta didik menjawab kuis tentang bahan pelajaran. Butir-butir tes pada kuis harus merupakan suatu jenis yang obyektif paper and pencil. Sehingga butir-butir itu dapat diskor di kelas. Prosedur penyekoran untuk STAD adalah sebagai berikut. (1) Langkah 1: menetapkan skor dasar

Setiap peserta didik diberi skor berdasarkan skor-skor kuis yang telah lalu. (2) Langkah 2: menghitung skor kuis terkini

Peserta didik memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan pelajaran terkini. (3) Langkah 3: menghitung skor perkembangan

Peserta didik mendapatkan poin perkembangan yang besarnya ditentukan oleh skor kuis terkini menyamai atau melampaui skor dasar mereka. Lebih dari 10 poin dibawah skor dasar …………………………… 0 poin 10 poin dibawah sampai 1 poin dibawah skor dasar …………… 10 poin Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar …………………… 20 poin Lebih dari 10 poin di atas skor dasar …………………………….. 30 poin Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar) ……….. 30 poin Penghargaan tim Penghargaan didasarkan nilai rata-rata tim, di mana dapat memotivasi mereka. Kriteria penghargaan adalah sebagai berikut. Nilai Rata-rata Tim 15 ≤ N <20 ……………………….. Penghargaan

……………………………… Tim Baik

20 ≤ N < 25 N ≥ 25

……………………………… Tim Hebat ……………………………… Tim Super

Nah… saya rasa cukup sekian info Model Pembelajaran dari saya.
Semoga artikel mengenai Contoh Model Pembelajaran STAD Yang Diterapkan di Sekolah ini bermanfaat bagi Anda

Model Pembelajaran, Model Pembelajaran, Model Pembelajaran, Model Pembelajaran Related posts:
1. 2. 3. 4. 5. Model Pembelajaran Tipe CIRC (cooperative learning) Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Model Pembelajaran NHT Model Pembelajaran Co-op Co-op, Langkah-langkahnya Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team Achievement Division )

Pembelajaran model koooperatif tipe STAD merupakan” salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen. Dimana model ini dipandang sebagai metode yang paling sederhana dan langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Metode ini paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh para peneliti pendidikan di John Hopkins Universitas Amerika Serikat dengan menyediakan suatu bentuk belajar kooperatif. Di dalamnya siswa diberi kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan” (Arindawati, 2004: 83 - 84). Dalam model pembelajaran ini, masing-masing kelompok beranggotakan 4 – 5 orang yang dibentuk dari anggota yang heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai suku, yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jadi, model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah salah satu model pembelajaran yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan kerjasama, kreatif, berpikir kritis dan ada kemampuan untuk membantu teman serta merupakanpembelajaran kooperatif yang sangat sederhana. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri lima komponen utama, yaitu : 1. Penyajian kelas Guru menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan penyajian kelas. Penyajian kelas tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan terbimbing. 2. Kegiatan kelompok Siswa mendiskusikan lembar kerja yang diberikan dan diharapkan saling membantu sesama anggota kelompok untuk memahami bahan pelajaran dan menyelesaikan permasalahan yang

diberikan. 3. Kuis (Quizzes) Kuis adalah tes yang dikerjakan secara mandiri dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa setelah belajar kelompok. Hasil tes digunakan sebagai hasil perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan dan keberhasilan kelompok. 4. Skor kemajuan (perkembangan ) individu Skor kemajuan individu ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada beberapa jauh skor kuis terkini yang melampui rata-rata skor siswa yang lalu. 5. Penghargaan kelompok Penghargaan keompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing kelompok. Predikat ini diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok. Skor kemajuan kelompok diperoleh dengan mengumpulkan skor kemajuan masing-masing kelompok sehingga diperoleh skor rata-rata kelompok.

Tabel 03. Langkah-langkah proses pembelajaran model kooperatif tipe STAD

No 1.

Tahap Tahap pendahuluan a.

Tingkah Laku Guru Guru memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan mereka pelajari, tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi agar siswa tertarik pada materi. Guru membentuk siswa kedalam kelompok yang sudah direncanakan. Mensosialiasakan kepada siswa tentang modell pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa mengenal dan memahamimya. yang akan

b. c.

d. Guru memberikan apersepsi berkaitan dengan materi yang dipelajari.

2.

Tahap a. Guru mendemonstrasikan konsep atau pengembangan keterampilan secara aktif dengan menggunakan alat bantu atau manipulatif lain. b. Guru membagikan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi kepada masingmasing kelompok. Siswa diberikan kesempatan untuk mendiskusikan LKS bersama kelompoknya.

c.

d. Guru memantau kerja dari tiap kelompok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
3 Tahap penerapana. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS dengan waktu yang ditentukan, siswa diharapkan bekerja secara individu tetapi tidak menutup kemungkinan mereka saling bertukar pikiran dengan anggota yang lainnya.

b. Setelah siswa selesai mengerjakan soal lembar jawaban, kemudian dikumpulkan untuk dinilai.

Keuntungan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Roestiyah (2001: 17), yaitu :

1. Keuntungan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu: • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah. • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah. • Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi. • Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu dan kebutuhan belajarnya. • Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi. • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan menghargai pendapat orang lain. Jumat, Oktober 21, 2011

2. Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:

Kerja kelompok hanya melibatkan mereka yang mampu memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang pandai dan kadang-kadang menuntut tempat yang berbeda dan gaya-gaya mengajar berbeda

Daftar Peserta Sertifikasi Guru 2012
KAB. TAPIN [149 peserta ], SD [118]
1

2 3 4 5 >>
NUPTK 6052744647200003 8149744648200003 7557747649200022 1642739639200002 7034744648200003 2644747648200012 6454747650200013 2945762663300022 5036747651200003 2333742646200013 2859746649200012 2635746648300012 Nomor Peserta 12150402710029 12150402710035 12150402710102 12150422010006 12150402710025 12150402710103 12150402710122 12150402710182 12150402710109 12150422010037 12150402710072 12150402710135 ABDUL KARIM ABDUL MALIK ADI RAHMAN AKHMAD YANI AKHMAD YANI ALAMSYAH ALFIAN NOOR ALFISYAH RINA ARDIANSYAH ARIANADI ARSYAD ASNAH Nama Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

No 13 14 15 16 17 18 19 20

NUPTK 9451747649200003 9462743647200003 2059748652200003 6553761663300013 8846740643200002 1256738640200023 7446760662300003 5039737639300033

Nomor Peserta 12150422010210 12150402710059 12150402710129 12150402710179 12150422010010 12150402710197 12150402710166 12150402710005 BAHRAN BAHRANSYAH

Nama

Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG

LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

BAMBANG SURATMAN BARNIAH BASERANI ARIFIN DARMANSYAH DESITRIANI ERNAWATI

KAB. TAPIN [149 peserta ], SD [118]

<< 2 3 4 5 >>
No 21 22 23 24 NUPTK 8449755656300003 2039744647300013 6233745649200003 2762745648300002 Nomor Peserta 12150402710191 12150402710022 12150402710115 12150402710073 ERNAWATI ERNAWATI FAHRUDIN FARIDA YANTY Nama Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

No 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

NUPTK 2337745647200043 4458746649200003 5436748650300002 2459748650300013 2052745648300033 2433738648300002 7062745647200003 0536753655200012 1061745649300003 1755759660300012 3153754657200003 5136743647200003 0648749652200012 0452758660300033 5437748651200013 4737746649200022

Nomor Peserta 12150422010120 12150402710098 12150402710126 12150422010144 12150402710096 12150402710038 12150402710104 12150402710187 12150402710099 12150402710159 12150402710190 12150422010057 12150402710148 12150402710157 12150402710142 12150402710139

Nama H. FATHURAKHMAN HAIRUDINNOR HARTATI HENNY HERLENA Hj. HARDANIAH Hj. RUSDIANA HD ISRANI JAMHARI JAMILAH JANATUL RAUDATI JHONY ARIANTO JOHANSYAH JUKHRANI JUMA' ANIAH JUMADERI JUMBERI

Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG

LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

KAB. TAPIN [149 peserta ], SD [118]

<< 2 3 4 5 >>
No 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 NUPTK 0846745648300022 9535747650200013 4236742643300023 5563744648300173 1461735638300003 6735749650300012 7439749650300002 4544761662300032 5438748650300032 2061746648300023 2950745648300042 0245746648200013 6856746648300002 9745747649300002 Nomor Peserta 12150402710079 12150402710123 12150402710032 12150402710047 12150402710002 12150402710149 12150402710147 12150402710172 12150402710127 12150402710077 12150402710087 12150402710085 12150402710071 12150402710106 JUMIATI JUMIATI JUMIYATI JURAIDAH JURIATI KARTIKA CANDRAYANI Karyawati LAMSIAH MARAWIAH MARIA NOOR ZAINAH MARWIAH MASDAR MEDIANA OLYANTI MINAH Nama Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

No 55 56 57 58 59 60

NUPTK 3134746648300033 3142752654300003 5036746649300013 2957744647300032 7946746648200002 9834743644200012

Nomor Peserta 12150402710202 12150402710163 12150402710075 12150402710021 12150402710074 12150402710046

Nama MIREY MASDIARTI MISLIANA MISRUKIAH MUGAIYARAH MUHAMMAD AYAN MUHAMMAD HUSNI

Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG

LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

KAB. TAPIN [149 peserta ], SD [118]

<< 2 3 4 5 >>
No 61 62 63 64 65 66 NUPTK 7139760662200003 1238747648200003 9853744647200002 6448748650200003 0757732634300012 8233750652300003 Nomor Peserta 12150402710165 12150402710201 12150402710020 12150402710143 12150402710001 12150402710161 Nama MUHAMMAD IFLIN MUHAMMAD SAFIE MUHAMMAD YUSUF MULYANDI MURDIANI MURNIYATI Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

No 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80

NUPTK 1241746649300073 6438746649300013 7837761661300002 7959762663300122 2342745647300013 7637747650200052 4845745649200002 1949761674300002 6438756658300023 8139747649200003 6447741642300002 5044746651300003 5560748651200003 9040748649300003

Nomor Peserta 12150402710083 12150402710095 12150402710173 12150402710183 12150402710130 12150402710107 12150402710078 12150402710185 12150402710194 12150402710113 12150422010013 12150402710076 12150402710146 12150402710128 MURSIDAH NISPIANI

Nama

Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG

LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Univer

NOFIATI RAMHI NOORHAYATI NOORHELENAWATI NOORMAN NORDIN AINI Norhalilah NORIAWATI NORKAMAL PAHSYA NURHALIDAH NURHAYATI NURIA DIANTO NURJANAH

KAB. TAPIN [149 peserta ], SD [118]

<< 2 3 4 5 >>

No 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96

NUPTK 2341752654300033 0344748651200013 5039743644200023 3435746649300023 0860750652300022 1956751655300002 7434746649200003 4437746648300013 4557752654300033 6254761662300013 6552758659200012 3735749650300002 3255745648300023 3949745649300002 5144748650200003 5557746649200012

Nomor Peserta 12150402710167 12150402710141 12150402710055 12150402710092 12150402710158 12150402710177 12150402710091 12150402710094 12150402710184 12150402710178 12150402710155 12150402710150 12150402710196 12150402710084 12150402710140 12150402710132

Nama NURUL WAHDAH PADIANSYAH PARDIYANA RABIAH RAHMAH RABIAH SRI MAILANY RATNA HAYANI RIDUANSYAH ROHANA RUSLINA RUSMAMILIANI RUSMAN RIYADI Rusminah RUSMINI SABARIAH SABERANI AGUS SALIMI

Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG

LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

No 97 98 99 100

NUPTK 7659740642200002 8457747650200002 3155747650300003 4957743646300022

Nomor Peserta 12150402710009 12150402710100 12150402710114 12150402710053 SARBAINI SARMANI SAUDAH

Nama

Pola Sertifikasi PLPG PLPG PLPG PLPG

LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

SILVANA SUPRIATI

KAB. TAPIN [149 peserta ], SD [118]

<< 2 3 4 5 6
No 101 102 103 104 105 106 107 108 NUPTK 3733742646300002 6453736638300003 9544744646300013 4940752654300022 5553751652300012 4260746650200003 0147746648300113 1560746645300002 Nomor Peserta 12150402710027 12150422010004 12150402710041 12150402710160 12150402710174 12150402710089 12150402710080 12150402710134 Nama SITI MARIAM SITI NAFISAH SITI PRISTIWAATI Siti Sumarni SRI HIRLIANI SUJITO SUKAENAH SUMIATI PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG Pola Sertifikasi LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

No 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118

NUPTK 3062745647300023 2733747649300052 7333743648200003 6553747649200013 5440744647200003 4643744647200022 7052739642300003 2846739641200022 4749757659200032 3262754656200013

Nomor Peserta 12150422010207 12150402710105 12150402710058 12150402710124 12150402710036 12150402710064 12150402710198 12150422010007 12150402710153 12150402710192

Nama SUSILAWATI SUTINAH SUWADI SYAHRUDI SYAIFUL NOR SYURIANI UMI KASUM WENETTO YAN HENDRA YASIR ARIFIN PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG PLPG

Pola Sertifikasi

LPTK Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat Universitas Lambung Mangkurat

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->