P. 1
Makalah Gerakan Sayang Ibu (Safe Motherhood Program)

Makalah Gerakan Sayang Ibu (Safe Motherhood Program)

|Views: 5,753|Likes:
Published by Desi Susanti

More info:

Published by: Desi Susanti on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/24/2013

pdf

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Safe Motherhood Program (Gerakan Sayang Ibu)

“Masa ada sih?? Ah, ngarang loe!” Mungkin itu ucapan yang terlintas di pikiran anda begitu membaca judul diatas. Terinspirasi dari diperingatinya Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember lalu, maka salah satu gerakan perdamaian yang diberi nama Gerakan Sayang Ibu ini dirasa perlu untuk diangkat dalam tulisan ini. Istilah Gerakan Sayang Ibu mungkin cukup asing bahkan terdengar aneh di telinga, karena memang tidak banyak yang tahu, dan eksistensinya pun masih sangat minim. Namun, Gerakan Sayang Ibu (GSI) ini benar adanya. Kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara ditentukan dengan

perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Dinegara miskin sekitar 25 – 50 % kematian wanita usia subur ( WUS ) disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan dan puncaknya pada saat melahirkan ( Manuaba, 1999 ). WHO ( 1996 ) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. 1

Umumnya ukuran yang dipakai untuk menilai baik – buruknya keadaan pelayanan kebidanan ( maternity care ) dalam suatu Negara atau daerah ialah maternal ( maternal mortality ). Menurut definisi WHO “ kematian maternal ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan “. Sebab – sebab kematian ini dapat di bagi dalam 2 golongan, yakni yang berlangsung disebabkan oleh komplikasi – komlikasi kehamilan, persalinan dan nifas dan sebab – sebab yang lain seperti penyakit jantung, kanker dan sebagainya ( associated causes ). Angka kematian maternal ( maternal mortality rate ) ialah jumlah kematian maternal diperhitungkan terhadap 1000 atau 10.000 kelahitan hidup, kini di beberapa Negara terhadap 100.000 kelahiran hidup. Dari pelaksanaan MPS target “ Indonesia Sehat Tahun 2010 “ adalah : angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup. Sesungguhnya tragedy kematian ibu tidak perlu terjadi karena lebih dari 80 % kematian ibu sebernarnya dapat di cegah melalui kegiatan yang efektif, seperti : pemeriksaan kehamilan dan pemberian gizi yang memadai. Penyebab langsung kematian ibu seperti halnya di Negara lain : pendarahan 30,5 %, infeksi 22,5 %, eklampsia 17,5 % dan anastesia 2,0 %. Sedangkan penyebab tidak langsung antara lain anemia, kurang energi kronis ( KEK ) dan keadaan “ 4 terlalu “ ( terlalu muda / tua, sering dan banyak ). ( Manuaba 1998 ).

1.2 1.2.1

Tujuan Penulisan Tujuan Umum Agar mampu melakukan dan memberikan pengertian tentang gerakan sayang

ibu, khususnya untuk ibu hamil.

2

1.2.2

Tujuan Khusus

1) Mampu menerapkan manajemen kebidanan dengan metode “ Tujuh Langkah Varney “ pada klien ( ibu hamil). 2) Mengumpulkan semua data yang di butuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan. 3) Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa / masalah 4) Mengidentifikasi penangananya. 5) Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan diagnosa/masalah potensial dan mengantisipasi

konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien. 6) Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya. 7) Melaksanakan secara langsung asuhan yang efisien dan aman. 8) Mengevaluasi ke efektivan asuhan yang diberikan kepada klien. 1.3 Ruang Lingkup Makalah ini membahas tentang pengertian, faktor-faktor yang melatar belakangi adanya Gerakan Sayang Ibu (GSI). 1.4 Sistimatika Penulisan Makalah ini terdiri atas 3 BAB, dimana rincian dalam BAB ini sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan

Berisi : Latar Belakang, Tujuan, Ruang Lingkup, dan Sistimatika Penulisan. BAB II : Pembahasan

Berisi : Sejarah Lahirnya GSI, Sekilas Tentang GSI, Faktor Pendukung Lahirnya GSI, Apa yang Harus Dilakukan? Dan Pengertian Gerakan Sayang Ibu BAB III : Penutup

Berisi : Kesimpulan dan Saran

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Lahirnya GSI Pada dasawarsa terakhir ini, dunia internasional nampaknya benar-benar terguncang. Bagaimana tidak jika setiap tahun hampir sekitar setengah juta warga dunia harus menemui ajalnya karena persalinan. Dan nampaknya hal ini menarik perhatian yang cukup besar sehingga dilakukannya berbagai usaha untuk menanggulangi masalah kematian ibu ini. Usaha tersebut terlihat dari beberapa program yang dilaksanakan oleh organisasi internasional misalnya program menciptakan kehamilan yang lebih aman (making pregnancy safer program) yang dilaksanakan oleh WHO (World Health Organisation), atau program Gerakan Sayang Ibu (Safe Motherhood Program) yang dilaksanakan oleh Indonesia sebagai salah satu rekomendasi dari konferensi internasional di Mesir, Kairo tahun 1994. Selain usaha-usaha tersebut, ada pula beberapa konferensi international yang juga bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu seperti Internasional Conference on Population and Development, di Cairo, 1994 dan the World Conference on Women, di Beijing, 1995. (Rahima; Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan_rahima2000@cbn.net.id copyright©Rahima 2001) Kemudian lihat kembali sejak diadakan Konferensi Safe Motherhood di Nairobi, Februari 1987, masalah kematian ibu yang berkaitan dengan kehamilan memang sudah menjadi persoalan global. Sejak itu makin banyak informasi tentang angka kematian ibu (AKI) beredar dan tercantum beberapa kali dalam buku UNDP, Human Development Report. Dalam edisi 1996 dicantumkan, AKI di seluruh dunia adalah 307 per 100.000 kelahiran, yakni 28 untuk negara-negara industri dan 384 untuk negara-negara sedang berkembang. Variasinya besar sekali, dari 0 di

4

Luksemburg dan Malta sampai lebih dari 1.500-100.000 kelahiran di Bhutan, Afghanistan, dan Sierra Leone. Di buku itu AKI Indonesia diperkirakan 650 per 100.000. Perkiraan resmi di Indonesia lebih rendah, 425 per 100.000 kelahiran pada awal PJP II (1994). Kiranya AKI 425 lebih realistis. Memang sulit memperkirakan AKI karena kejadiannya jarang dan cenderung dirahasiakan orang. AKI 425 itu termasuk tinggi, paling tinggi di ASEAN. Vietnam mempunyai AKI 120, Malaysia 59, dan Singapura 10.1

2.2 Sekilas Tentang GSI Awal dari kemunculan Gerakan Sayang Ibu ini tepat pada puncak acara peringatan Hari Ibu pada tahun 1996. Acara tersebut diadakan di Desa Jaten, Karanganyar, tempat kelahiran Ibu Tien Soeharto (almarhumah). Pada kesempatan itu Presiden Soeharto meluncurkan Gerakan Sayang Ibu, yang tujuannya mempercepat penurunan AKI. Sebelumnya, pada 19-21 Juni 1996, diadakan Lokakarya Penurunan Angka Kematian Ibu di Jakarta. Di situ Presiden menekankan perlunya percepatan penurunan AKI. Karena memang tanpa percepatan penurunan angka kematian ibu hamil dan bersalin, maka kemajuan wanita yang telah dicapai pada waktu itu dirasa tidak lengkap. Adapun struktur organisasi dari gerakan ini terlihat cukup kompleks, dari tingkat pusat sampai ke tingkat desa memiliki tugas pokok masing-masing. Di tingkat pusat dibentuk Kelompok Kerja (Pokja) dan Tim Asistensi Gerakan Sayang Ibu. Di tingkat kabupaten dibentuk Pokja Gerakan Sayang Ibu, diketuai bupati. Di tingkat kecamatan dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Sayang Ibu, diketuai camat. Di tingkat desa/kelurahan dibentuk Satgas Sayang Ibu, diketuai kepala desa/ketua umum LKMD. Diangkat dua ketua pelaksana, sekretaris, dan anggotaanggota. Tugas pokok mereka adalah menghimpun data tentang ibu hamil dan bersalin, memberikan penyuluhan, dan mengumpulkan dana untuk “ambulans desa” serta tabungan ibu bersalin.2

5

2.3 Faktor Pendukung Lahirnya GSI Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan suatu gerakan yang dilaksanakan dalam upaya membantu salah satu program pemerintah untuk peningkatan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang berdampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas. Penyebab tidak langsung dari tingginya AKI adalah: Pendidikan ibu yang masih rendah sehingga kurang mengetahui pentingnya perawatan kesehatan khususnya saat kehamilan, sosial ekonomi rendah sehingga kesehatan menjadi sesuatu yang kurang diprioritaskan, sosial budaya menyebabkan ibu hamil belum menjadi prioritas dalam pemenuhan gizinya, status gizi yang rendah, prevalensi anemi ibu hamil yang tinggi, kondisi 4 terlalu seperti, terlalu muda saat hamil, terlalu tua saat hamil, terlalu banyak anak, terlalu dekat usia kelahiran, serta kondisi geografis yang menyebabkan rendahnya akses untuk mendapatkan perawatan persalinan yang memadai. Dengan demikian, perhatian terhadap ibu khususnya ibu hamil merupakan langkah preventif untuk menekan angka kematian ibu. Oleh sebab itu, dengan adanya program seperti GSI ini, diharapkan menjadi wadah sekaligus sarana untuk memperhatikan dan memprioritaskan peningkatan gizi pada ibu hamil. Harapannya ”Ibu Sehat, Anak Sehat, Bangsa Kuat“ dapat terwujud. Menurut WHO, secara umum diperkirakan 7% sampai 50% dari kematian ibu karena abortus provokatus. Penelitian di Matlab, Bangladesh, menunjukkan bahwa 18% dari kematian ibu karena komplikasi aborsi, dan akibat pendarahan 20% (Fauveau dkk., 1988). Hal ini kurang lebih sama terjadi di Zimbabwe: di pedesaan, 15% kematian ibu karena aborsi, dan di perkotaan sebesar 23% (Safe Motherhood Newsletter, Februari, 1995). Angka Kematian Ibu karena hamil, melahirkan dan nifas (AKI) di Indonesia masih tinggi, yaitu 307/100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002). Untuk menurunkan AKI tidaklah mudah karena penurunan AKI tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja seperti Departemen Kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama lintas

6

Sektor dan melibatkan masyarakat secara langsung sebagai pelaku dan sekaligus sebagai sasaran. Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan salah satu upaya yang telah dilaksanakan dan menjadi gerakan nasional sejak tahun 1996, namun dalam perkembangannya gerakan ini perlu ditingkatkan kembali baik kepedulian maupun tanggung jawab masyarakat, LSM, swasta dan pemerintah. Pada beberapa tahun setelah itu angka kematian ibu (AKI) di Indonesia kenyataannya belum juga dapat menurun, bahkan masih lebih tinggi dibanding negara tetangga lain seperti Malaysia dan Singapura, tetapi nampaknya usaha global mampu menjadi pendorong agar pemerintah Indonesia dapat lebih serius lagi menangani masalah kematian ibu. Pada saat ini, menurut catatan WHO angka kematian ibu di Indonesia adalah 470 orang per100.000 kelahiran. Angka yang memang sangat mengkhawatirkan, karena meningkat dari angka yang tercatat pada beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 1997, angka kematian ibu mencapai 397 orang per 100.000 kelahiran yang berarti bertambah sekitar 73 orang. Dan untuk menangani dan mengantisipasi kematian ibu di tahun-tahun selanjutnya nampaknya keterlibatan Indonesia dalam usaha-usaha di lingkup global menjadi sangat penting. Negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, adalah negara dimana setiap warga perempuannya memiliki kemungkinan 20-60 kali lipat dibanding negaranegara Barat dalam hal kematian ibu karena persalinan. Beberapa faktor penyebabnya adalah pertama berkaitan dengan faktor pelayanan kesehatan, termasuk fasilitas yang kurang baik dan ketidakmampuan untuk menerima perlakukan yang khusus oleh seorang ahli medis. Faktor kedua adalah faktor reproduksi perempuan sendiri, yaitu perempuan yang terlalu muda atau terlalu tua dimana badannya tidak kuat untuk menangani persalinan. Sedangkan faktor yang ketiga adalah sosio-ekonomi, dimana dalam faktor ini termasuk juga hal-hal seperti kemiskinan, buta huruf, kekurangan gizi dan status sosio-ekonomi perempuan yang sering rendah. Dan semua faktor ini jauh lebih sering muncul di negara berkembang dari pada di negara Barat. Penyebab kematian ibu memang cukup kompleks, tapi perlu dipahami agar tindakan pencegahan efektif dapat dilakukan. Faktor medis dan pelayanan kesehatan telah disinggung di atas, yang juga berkaitan dengan masalah kemiskinan. Juga 7

terdapat faktor demografi, yakni umur ibu terlalu rendah atau tinggi saat melahirkan, umpamanya 15 tahun ke bawah atau 35 tahun ke atas, jumlah anak yang tinggi, juga faktor kehamilan yang tak diinginkan. Lebih dari itu, gerakan yang lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka kematian ibu ini, ternyata belum efektif menekan angka kematian. Hal ini pun diungkapkan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono bahwa Program Gerakan Sayang Ibu yang telah digulirkan sejak 10 tahun lalu belum efektif, hasilnya masih dirasakan kurang. 2.4 Apa yang Harus Dilakukan? Satu hal yang sangat disayangkan, struktur organisasi sebagaimana disebutkan sebelumnya ternyata tidak dapat ditemukan di setiap belahan bumi Indonesia, melainkan hanya beberapa daerah saja. Bahkan, saat ini batang hidungnya pun sudah mulai lenyap. Padahal gerakan seperti ini keberadaannya sangat dibutuhkan. Meskipun namanya masih ada, tapi peran dan tindak nyatanya perlahan pudar. Ini semua tidak lain dan tidak bukan karena faktor kesadaran generasi muda yang patut dipertanyakan. Seharusnya usaha yang dilakukan agar keberadaan GSI tidak hanya sebagai sebuah nama organisasi dengan susunan pengurusnya saja, beberapa diantaranya adalah dengan mengadakan dan merealisasikan berbagai program dan kegiatan seperti, seminar, penyuluhan, dll. Dengan adanya kegiatan semacam ini diharapkan dapat membantu ibu-ibu untuk lebih memperhatikan kesehatan mereka dan menyadari ancaman yang terjadi. Untuk itu diharapkan pula adanya dukungan dari pemerintah agar program semacam ini bisa lebih optimal. Namun, pada 19 April 2007 lalu, nampaknya ada sedikit angin segar buat siapa saja yang selama ini mempertanyakan keberadaannya. Sebagai Duta ASI Nasional yang peduli pada program pemberdayaan perempuan, Ibu Ani Bambang Yudhoyono, menghadiri Pencanangan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) di rumah dinas Bupati Karawang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat,.

8

Kemudian pada waktu itu Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meuthia Hatta Swasono, dalam sambutannya pada acara yang bertema “GSI Menuju Sumber Daya Manusia yang Berkualitas” ini menjelaskan kembali bahwa GSI merupakan suatu gerakan masyarakat bersama pemerintah untuk meningkatkan perbaikan kualitas hidup perempuan. Kegiatan yang dilakukan adalah upaya penurunan angka kematian ibu, atau AKI , dan angka kematian bayi atau AKB. Karena memang AKI di Indonesia masih tertinggi di kawasan Asia Tenggara. (www.presidensby.info) Memang, persoalan hidup dan mati sudah ada yang menentukan, dan menjadi suatu kewajaran. Namun, jika sebagian besar kematian ini terjadi pada kalangan Ibu saat melahirkan, tidak menutup kemungkinan jika dibalik itu ada faktor atau penyebab-penyebab tertentu yang setidaknya dapat di cegah, sehingga meningkatnya angka kematian ibu dapat diminimalisir. Faktor dan penyebab tersebut sedikit banyak telah disinggung sebelumnya. Tanpa perlu menghitung melalui data statistik pun dapat dilihat bahwa jumlah kaum perempuan di muka bumi ini lebih banyak dibandingkan laki-laki. Jadi tidak dapat dipungkiri jika ada yang justru mensyukuri meningkatnya angka kematian ibu ini, dengan alasan agar jumlah laki-laki dan perempuan bisa seimbang, Astagfirullahaladziim… Tidak begitu seharusnya yang dilakukan jika mereka mengaku sebagai generasi penerus bangsa yang sejati. Seyogyanyalah mendukung dan merevitalisasi program semacam ini. Namun, realitanya tidak demikian, penulis sendiri saja baru tahu akan adanya program mulia semacam ini. Lebih disayangkan lagi, mereka yang semangat untuk mencanangkan gerakan ini hanyalah dari kalangan ibu-ibu sendiri. Lantas kemana perginya generasi penerus yang telah mereka lahirkan? Akhirnya yang harus diingat dari uraian di atas adalah sesungguhnya masalah kematian ibu bukanlah masalah si ibu sendiri akan tetapi merupakan masalah internasional, dimana setiap negara seharusnya memiliki tanggungjawab untuk menanggulangi dan mencegah bertambahnya kematian ibu karena proses reproduksi. Tentunya kesadaran dan kepedulian masyarakat terutama generasi muda terhadap

9

masalah ini menjadi sangat penting disamping juga perhatian terhadap isu-isu kesehatan reproduksi. Hal yang tidak kalah penting untuk diingat adalah bahwa kematian ibu dan keamanan bagi kehamilan setiap calon ibu tentunya akan menjadi tanggungjawab seluruh warga dunia, bukan hanya organisasi internasional, seperti WHO atau PBB tetapi juga tanggungjawab kita semua. Dan ini menjadi sesuai dengan tujuan PBB yaitu menurunkan tiga per empat angka kematian ibu di seluruh dunia sebelum tahun 2015. Semoga keberadaan GSI ini selain untuk menyadarkan mereka akan pentingnya keselamatan ibu, juga semoga mampu berperan maksimal dan tercapai apa yang menjadi tujuan utamanya. “Ibu..! ini kata tentang penegasan madrasah agung. Tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak, dan keingintahuan paling dalam. Ini dermaga pengaduan paling luas saat mereka merasa teraniaya. Ini belai paling menentramkan saat mereka gelisah. Dan dekapan paling memberi rasa aman saat mereka ketakutan. Ibu, perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa.” (Salim A. Fillah) 2.5 Pengertian Gerakan Sayang Ibu Gerakan Sayang Ibu adalah Suatu Gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat, bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta penurunan angka kematian bayi.

10

Gerakan Sayang Ibu perlu dilakukan karena : 1) SDM yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan suatu pembangunan. 2) Pembentukkan kualitas SDM yang berkualitas ditentukan dari janin dalam kandungan, karena perkembangan otak terjadi selama hamil sampai dengan 5 tahun. 3) Kesehatan Ibu dan Anak factor paling strategis untuk meningkatkan mutu SDM. 4) Angka Kematian Ibu ( AKI ) karena hamil, bersalin dan nifas di Indonesia tergolong tinggi diantara Negara2 ASEAN. 5) Tingginya AKI dan AKB di Indonesia memberikan dampak negati pada berbagai aspek. 6) Kematian Ibu menyebabkan bayi menjadi piatu yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kualitas SDM akibatnya kurangnya perhatian, bimbingan dan kasih sayang seorang ibu. 7) Angka Kematian Ibu karena melahirkan dan nifas ( AKI ) di Kota Yogyakartatahun 2007 yaitu: 4/4872. Dasar Pelaksanaan : 1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984, tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan segala bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan; 2) Kesepakatan Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat, Menteri Kesehatan, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada tanggal 12 Maret 2002; Maksud dan Tujuan : 1) Menyegarkan dan meningkatkan pengetahuan Satgas GSI tentang berbagai program Gerakan Sayang Ibu ( GSI ) dari stake holder terkait. 2) Menyegarkan dan meningkatkanpengetahuan Satgas Gerakan Sayang Ibu ( GSI ) tentang peran stake holder terkait dalam Gerakan Sayang Ibu.

11

3) Identifikasi Masalah yang menyebabkan kematian Ibu faktor determinan yang perlu diperhatikan antara lain : 4) Kondisi sosial Ekonomi keluarga meliputi : pendapatan ( daya beli ), derajat pendidikan ibu,m pengetahuan keluarga dan masyarakat tentang kesehatan. 5) Kesehatan reproduksi : umur, paritas, status perkawina. 6) Tingkat partisipasi masyaraka. Potensi institusi dan peran serta masyarakat. 7) Kondisi sosial budaya masyarakat ( nilai-nilai budaya yang mendukung dan menghambat ). 8) Komitmen politik dan pemerintah daerah : Gubernur, Bupati/Walikot, Camat dan Kepala Desa/Lurah. 9) Komitmen para pelaksana : PLKB, Bidan, dll Jenis-Jenis Intervensi yang dapat dilakukan oleh Daerah : Setiap Daerah memiliki variasi alternatif pemecahan masalah yang berbedabeda. Untuk itu jenis-jenis intervensi yang dilakukan disesuaikan dengan sosial budaya, ekonomi dan tingkat pendidikan keluarga dan masyarakat. Karena melalui GSI diharapkan akan dapat menekan angka kematian ibu dan bayi, beberapa sebab kematian ibu dan bayi yang menonjol disebabkan oleh : pendarahan, eklamsia (keracunan kehamilan), infeksi, penanganan abortus yang tidak aman dan partus (Persalinan) yang lama.Angka kematian ibu dan bayi yang tinggi juga disebabkan oleh adanya hal-hal diluar medis seperti kurang adanya kesetaraan gender, nilai budaya di masyarakat yang merendahkan perempuan. Masalah tersebut mengakibatkan rendahnya perhatian suami/laki-laki terhadap masalah ibu melahirkan serta kurangnya kemampuan untuk membuat keputusan bagi kesehatan diri sendiri. Selanjutnya dikatakan bahwa GSI adalah gerakan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi yang dilaksanakan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat, untuk lebih meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kepedulian dalam upaya interaktif dan sinergis. Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu wujud hak asasi perempuan dan anak, akan tetapi pada saat ini kesehatan ibu dan anak khususnya bayi baru lahir, 12

merupakan tugas bersama antara pemerintah, masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi perempuan dan organisasi profesi. Disamping itu strategi Pemerintah dalam meningkatkan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi ini juga dilakukan program advokasi, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) bagi bidan, LPM, PKK, PLKB, tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam pendataan ibu hamil serta pengembangan rujukan oleh masyarakat serta peningkatan kualitas kesehatan kepada masyarakat. Disamping ada “SIAGA” ( siap, antar, jaga ) oleh pemerintah juga telah dikembangkan P 4 K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) yang dimaksudkan untuk menuju persalinan yang aman dan selamat bagi ibu. Selain itu juga untuk meringankan warga dalam hal pembayaran, biaya persalinan tersebut dicicil melalui tabungan ibu bersalin (tabulin). Cicilan dibayar sejak seorang ibu positif hamil sampai tiba saatnya melahirkan. Besar cicilan disesuaikan kemampuan masing-masing keluarga. Ada yang mencicil Rp 200 seminggu atau lebih. Uang itu disimpan pada bidan desa. Bila saat melahirkan tiba namun tabulin belum mencapai Rp 175.000, ibu bersangkutan boleh mencicil sisa biaya setelah melahirkan. Menurut Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) warga yang belum sanggup mencicil akan ditalangi. Dana talangan diambil dari tabulin para ibu lain. Para ibu hamil di desa itu juga diperiksa secara periodik (antenatal care) oleh bidan desa. Setiap ibu hamil mendapat kartu hasil pemeriksaannya sesuai dengan status kesehatannya. Misalnya, kartu warna merah untuk ibu hamil yang kondisinya kritis. Kartu kuning untuk ibu hamil yang mempunyai faktor risiko, dan kartu hijau untuk kehamilan normal. Diharapkan langkah – langkah tersebut merupakan langkah preventif untuk menekan angka kematian ibu. Oleh sebab itu program Gerakan Sayang Ibu kali ini, diharapkan menjadi momentum untuk memperhatikan dan memprioritaskan peningkatan gizi pada ibu hamil. Harapannya ”Ibu Sehat, Anak Sehat, Bangsa Kuat“ dapat terwujud

13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 1. Gerakan Sayang Ibu (Safe Motherhood Program) yang dilaksanakan oleh Indonesia sebagai salah satu rekomendasi dari konferensi internasional di Mesir, Kairo tahun 1994. 2. Presiden Soeharto meluncurkan Gerakan Sayang Ibu, yang tujuannya mempercepat penurunan AKI. Sebelumnya, pada 19-21 Juni 1996, diadakan Lokakarya Penurunan Angka Kematian Ibu di Jakarta. 3. Faktor Pendukung Lahirnya GSI : a. Pendidikan ibu yang masih rendah sehingga kurang mengetahui pentingnya perawatan kesehatan khususnya saat kehamilan, b. Sosial ekonomi rendah sehingga kesehatan menjadi sesuatu yang kurang diprioritaskan, c. Sosial budaya menyebabkan ibu hamil belum menjadi prioritas dalam pemenuhan gizinya, d. Status gizi yang rendah, e. Prevalensi anemi ibu hamil yang tinggi, f. Kondisi 4 terlalu seperti, terlalu muda saat hamil, terlalu tua saat hamil, terlalu banyak anak, terlalu dekat usia kelahiran, serta kondisi geografis yang menyebabkan rendahnya akses untuk mendapatkan perawatan persalinan yang memadai. 4. GSI merupakan gerakan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi yang dilaksanakan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat, untuk lebih meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kepedulian dalam upaya interaktif dan sinergis.

14

3.2 Saran Dengan hadirnya GSI ini diharapkan SDM yang berkualitas yang ditentukan dari janin dalam kandungan, karena perkembangan otak terjadi selama hamil sampai dengan 5 tahun; Kesehatan Ibu dan Anak faktor paling strategis untuk meningkatkannya. Karena Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil, bersalin dan nifas di Indonesia tergolong tinggi diantara Negara-negara ASEAN. Maka kita mesti mengetahuinya melalui program GSI yang digalakkan oleh pemerintah.

15

DAFTAR PUSTAKA :

1. GATRA, Artikel: Gerakan Sayang Ibu-Masri Singarimbun. Nomor 08/III, 11 Januari 1997-diakses: 31 Januari 2008 2. KBI Gemari, Artikel: Memacu Gerakan Ibu Sehat Sejahtera- Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan.

Copyright©2004_KBI. Gemari.or.id 3. Rahima; Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak

Perempuan_copyright©Rahima 2001_rahima2000@cbn.net.id 4. Tempointeraktif.com-Gerakan Sayang Ibu Belum Efektif Menekan Angka Kematian-Dwi Riyanto Agustiar–Kamis, 03 Mei 2007 | 02:30 WIB–diakses: 26 Desember 2008 5. www.menegpp.go.id 6. www.presidensby.info

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->