P. 1
Manusia Menurut Alkitab Dan Pandangan Lain

Manusia Menurut Alkitab Dan Pandangan Lain

|Views: 461|Likes:
Published by Apriyudi Hutabarat

More info:

Published by: Apriyudi Hutabarat on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2014

pdf

text

original

MANUSIA MENURUT ALKITAB DAN PANDANGAN LAIN

BAB I
KISAH PENCIPTAAN ATAS ALAM SEMESTA
a. Pendahuluan Dalam Alkitab hunjukan pada ajaran tentang penciptaan, tersebar luas baik dalam PL maupun PB, dan tidak terbatas pada ps-ps pembukaan Kej. Hunjukan-hunjukan berikutnya tercatat dalam: Kitab Yer 10:12-16; Am 4:13; dalam Mzm 33:6,9; 90:2; 102:25; juga Ayb 38:4, dst; Neh 9:6; dan dalam PB, Yoh 1:1 dab; Kis 17:24; Rm 1:20, 25; 11:36; Kol 1:16; Ibr 1:2; 11:3; Why 4:11; 10:6. Titik tolak ajaran itu ialah Ibr 11:3, 'Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah'. Ini berarti, bahwa ajaran Alkitab tentang penciptaan didasarkan atas penyataan, dan dapat dimengerti hanya berdasarkan iman. Inilah yg membedakan secara tajam pendekatan Alkitab dengan pendekatan ilmiah. Karya penciptaan, tidak kurang dari rahasia penyelamatan, tertutup bagi manusia dan hanya dapat diamati oleh iman. Dalam Alkitab karya penciptaan dihubungkan dengan ketiga oknum Trinitas: dengan Bapak -Kej 1:1; Yes 44:24; 45:12; Mzm 33:6; dengan Anak -- Yoh 1:3, 10; Kol 1:16; dan dengan Roh Kudus -- Kej 1:2; Ayb 26:13. Ini tidak berarti bahwa bagian penciptaan yg berbeda-beda itu dihubungkan dengan oknum yg berbeda-beda dalam Trinitas, melainkan bahwa keseluruhan penciptaan itu ialah karya Allah Tritunggal. Hubungan Ibr 11:3 'apa yg kita lihat telah terjadi dari apa yg tidak dapat kita lihat' dengan Kej 1:1 'pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi', menunjukkan bahwa alam semesta bukanlah dijadikan dari bahan apa pun yg telah ada sebelumnya, melainkan dijadikan dari yg tidak ada, hanya oleh firman Ilahi, dalam arti, bahwa keputusan penciptaan Ilahi itu tidak didahului oleh suatu bahan apa pun yg telah ada dari macam apa pun juga. Creatio ex nihilo ini mempunyai keterlibatan teologis yg penting, misalnya menghindarkan orang dari gagasan bahwa benda itu kekal (Kej 1:1 menunjuk bahwa penciptaan ada awalnya), atau bahwa mungkin ada dualisme -- entah dalam bentuk apa pun -- di alam semesta, di mana suatu bentuk eksistensi atau kekuatan lain berhadapan dengan Allah dan di luar pengawasan-Nya. Demikian juga ajaran ini menunjukkan, bahwa Allah berbeda dari ciptaan-Nya, dan alam semesta bukanlah penjelmaan gejalawi atau lahiriah dari Yg Mutlak, seperti dipertahankan oleh Panteisme. Pernyataan seperti Ef 4:6, 'Satu Allah ... di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua', menunjukkan bahwa Allah memiliki hubungan dengan tatanan ciptaan itu baik secara transenden maupun secara imanen. Ia di atas semua dan 'di atas segala sesuatu' (Rm 9:5). Artinya, Allah yg

transenden, tidak tergantung dari ciptaan-Nya, Ia berada sendiri, maupun dalam dan oleh diriNya sendiri. Kata-kata 'oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan' (Why 4:11), bnd 'segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia' (Kol 1:16), menunjuk kepada maksud dan tujuan penciptaan. Allah menciptakan dunia 'bagi penyataan kemuliaan kuasa, hikmat dan kebaikanNya yg kekal' (Westminster Confession). Dengan kata lain, penciptaan bersifat Allah sentris guna membeberkan kemuliaan Allah, seperti kata Calvin, 'menjadi panggung pementasan kemuliaan-Nya'. JP/HH b. Laporan Kitab Kejadian Laporan dasar Kej mengenai penciptaan ialah Kej 1:1-2:4a. Laporan itu mewujudkan pernyataan agung, bebas dari unsur-unsur kasar yg terdapat pada cerita-cerita penciptaan yg tidak berdasarkan Alkitab (Iih III, di bawah). Ps ini menyajikan rentetan realitas tentang bagaimana dunia yg nyata dan nampak ini terjadi. Bentuknya adalah laporan bersahaja dari seorang saksi mata, tanpa niat menyajikan rincian-rincian seperti dituntut oleh ilmu pengetahuan mutakhir. Terlepas dari soal penyataan, tiap cerita sederhana tentang penciptaan, hanya dapat menguraikan ihwal asal usul dari unsur-unsur di seputar dunia yg nampak bagi mata insani. Kej 1, sejauh membicarakan gejala-gejala yg hanya dapat diamati, adalah sejajar dengan banyak cerita yg lain tentang penciptaan. Cerita-cerita semacam itu membicarakan hal dunia, laut, langit, matahari, bulan dan bintang-bintang, binatang dan manusia. c. Hal-hal yg diciptakan Jika kita menerima Kej 1 sebagai laporan fenomenologis yg sederhana, maka hal pertama yg dilaporkannya ialah penciptaan terang. Setiap orang tahu, bahwa siang dan malam muncul dalam urutan yg teratur. Dan bahwa terang merupakan keharusan yg tak dapat dikurangi bagi segala kehidupan dan pertumbuhan. 'Siapakah yg menyebabkan semua itu demikian?' tanya penulis Kej 1. Jawabannya ialah: Allah yg melakukannya (Kej 1:3-5). Suatu pengamatan sederhana yg kedua ialah, bahwa air bukan hanya ada di bawah, yg membentuk lautan dan sumber-sumber di bawah tanah, tapi bahwa air ada juga di atas yg menjadi sumber hujan. Di antara keduanya itu ada ruang angkasa (cakrawala) (raqia, sesuatu yg disusun). Siapakah yg menyebabkan ini? Allah yg melakukannya (Kej 1:6-8). Lagi, setiap orang tahu bahwa laut dan daratan dibagi-bagi di daerahdaerah khusus -- di muka bumi ini (Kej 1:9, 10). Itu juga perbuatan Allah. Lalu bumi telah menghasilkan tumbuh-tumbuhan yg bermacam-macam (ay 11-13). Itu juga hasil karya tangan Allah. Tiada kepelikan dari perbedaan-perbedaan di bidang tanaman, dan penulis hanya tahu tiga pengelompokan yg besar dari tumbuh-tumbuhan, yaitu desye' (tunas-tunas muda, baru), `esyev (tumbuh-tumbuhan yg berbiji menurut jenisnya), dan 'ets (pohon-pohon yg menghasilkan buah yg bijinya ada di dalamnya sendiri). Agaknya penulis merasa bahwa penggolongan sederhana ini telah mencakup segala-galanya. Pengamatan berikutnya ialah, bahwa benda-benda langit ditempatkan di cakrawala, seperti matahari, bulan, bintang-bintang (Kej 1:14-19). Allah yg menempatkannya di sana guna

menandai waktu dan musim. Akan menjadi terlalu tajam untuk mengharapkan penulis membedakan meteor-meteor, planet-planet, bimasakti, dsb. Dengan memandang kepada suasana di mana makhluk-makhluk hidup dapat ditemukan, penulis mengamati bahwa air-air memunculkan 'makhluk merayap yg hidup' (Kej 1:20, syerets, makhluk yg berkerumun, binatang-binatang kecil dlm jumlah yg besar), dan binatang-binatang laut yg besar dan segala jenis makhluk hidup yg bergerak (Kej 1:21, tannin, binatang laut yg 'ganjil', ular). Tiada usaha untuk mengadakan pembedaan yg tepat antara jenis yg bermacam-macam dari binatang-binatang laut dalam arti zoologis. Sudah dipandang cukup untuk mengatakan, bahwa Allah menjadikan binatang-binatang laut, baik yg besar maupun yg kecil. Allah juga menjadikan burung-burung yg terbang di cakrawala (Kej 1:20-22, 'of). Istilah 'of mencakup semua jenis burung. Dari manakah datangnya makhluk-makhluk dalam jumlah besar yg menghuni bumi itu? Allah juga yg menjadikannya. Kemudian bumi mengeluarkan makhluk-makhluk hidup (Kej 1:24-25, nefesy khayya) yg oleh penulis digolongkan sebagai ternak (behema, binatangbinatang), binatang melata (Kej 1:24-25, remesy) dan binatang liar (Kej 1:24-25, khayya). Pembedaan zoologis di sini juga tidak ditemukan. Jelas penulis yakin bahwa penggolongannya yg sederhana itu secara memuaskan mencakup semua jenis pokok dari hidup duniawi. Akhirnya Allah menjadikan manusia (Kej 1:26, 27, 'adam) menurut gambar dan rupa-Nya, suatu ungkapan yg dengan segera diberi arti sebagai berkuasa atas segala penghuni daratan, lautan dan cakrawala (Kej 1:26, 28). Dan Allah menciptakan (bara') manusia terdiri dan laki-laki dan perempuan (Kej 1:27, zakhar dan neqeva). d. Kronologi dari kejadian-kejadian Penelitian yg cermat atas ps ini menunjukkan suatu penyajian yg skematis, dimana perbuatanperbuatan penciptaan diperas menjadi suatu pola dari 6 hari, sedang ada 8 perbuatan penjadian, yg diantarkan oleh kata-kata 'Berfirmanlah Allah'. Jika di sini kita mau melihat kronologi kejadian-kejadian yg tepat, maka sulit menerangkan munculnya benda-benda langit yg memberi terang pada hari keempat. Persoalan ini dapat dihindari jika kita memperlakukan Kej 1 sama seperti bagian-bagian lain dalam Alkitab, yg menceritakan peristiwa-peristiwa besar tapi bukan memperhatikan kronologi (lih cerita ttg penggodaan, Mat 4 dan Luk 4, yg menekankan fakta penggodaan-penggodaan, tapi yg memberikan urutannya yg berbeda; lih juga Mzm 78:13, 15, 24 yg menekankan fakta dari pemeliharaan Allah terhadap umat Israel yg telah dibebaskan, tapi menempatkan peristiwa manna setelah pemukulan batu karang, yg bertentangan dgn Kel). Jika kita mengerti bahwa penulis Kej 1 perhatiannya diarahkan kepada penekanan fakta penciptaan, dan bukan secara khusus kepada urutan kronologis dari kejadian-kejadian itu, kita menghindari sejumlah kesukaran. Ada suatu skema yg agak konsekuen dalam pengutaraan bahannya. Tiga hari yg pertama bersifat persiapan. Pemberian terang dan persiapan cakrawala, lautan, daratan dan tumbuh-tumbuhan itu berfungsi sebagai pendahuluan bagi penempatan penghuni-penghuni dalam sebuah rumah yg dipersiapkan. Burung-burung menghuni cakrawala, ikan-ikan menghuni lautan, binatangbinatang dan manusia menghuni daratan. Hari-hari pertama dan keempat tidak begitu mengikuti skema, tapi ada semacam hubungan. Hari-hari ketiga dan keenam masing-masing mempunyai

dua perbuatan penciptaan. Hari ketujuh berada di luar skema dan menceritakan tentang Allah berhenti lalu bergirang ketika pekerjaanNya telah selesai, yg menjadi pola mantap dari ciptaanNya, satu hari dalam sepekan. Sesuatu hilang jika dalam menerangkan ps ini kita menekankan tafsiran kepada batasan-batasan yg tidak perlu. Seluruh ps ini bersifat puitis dan tidak bermaksud untuk disejajarkan dengan ilmu pengetahuan. Tekanan dalam ps ini diletakkan pada apa yg difirmankan Allah (Kej 1:3, 6, 9, 11, 14, 20, 24, 26). Firman ini ialah firman Ilahi yg menciptakan, yg memunculkan tertib dari kebalauan, terang dari kegelapan, hidup dari maut. Lebih banyak tekanan harus diberikan kepada kata 'berfirman' ('amar), ketimbang kepada kata 'menjadikan' atau 'membuat', sebab penciptaan itu dinyatakan sebagai hasil kehendak pribadi Allah. Benar bahwa kata 'menciptakan' (bara') dipakai bagi langit dan bumi (Kej 1:1), bagi binatang-binatang lautan yg besar dan makhluk-makhluk yg hidup (Kej 1:21), dan bagi manusia (Kej 1:27), dan bahwa kata ini dipakai di tempat lain di PL hanya bagi perbuatan ilahi. Tapi di Kej 1 kata-kata lain juga dipakai. Demikian kata 'membuat' ('asa) dipakai bagi cakrawala (Kej 1:7), bagi benda-benda yg memberi terang (Kej 1:16), bagi binatangbinatang, ternak dan binatang melata (Kej 1:25) dan bagi manusia (Kej 1:26). Lagi, perbuatan ilahi itu diuraikan dengan memakai bentuk perintah dari kata kerja di beberapa tempat: 'hendaklah...' (Kej 1:3,6, 14, 15),'hendaklah ... berkumpul' (Kej 1:9), 'hendaklah ... menumbuhkan' (Kej 1:11, 20, 24). Supaya tidak membosankan, penulis telah mengumpulkan sederetan kata kerja yg bersama-sama menekankan perbuatan ilahi. Tapi perbuatan yg hakiki keluar dari firman Allah (berfirmanlah Allah).

BAB II
HAKEKAT PENCIPTAAN SEBAGAI MANUSIA YANG SEGAMBAR DAN SERUPA DENGAN ALLAH
a. Manusia Sebagai Gambar & Rupa Allah
Doktrin yang mempelajari manusia merupakan salah satu bagian dari teologi sistematik. Dimana doktrin ini membahas secara lengkap tentang manusia dalam hubungannya dengan pencipta dan alam semesta. Alkitab memberi dua catatan tentang penciptaan manusia, pertama dalam Kej. 1:26-27 dan yang kedua dalam Kej. 2:7, 21-23. Para higher Criticism berpendapat bahwa terdapat dua kali penciptaan manusia. Namun sebenarnya tidaklah demikian: Kej. 1 mengisahkan penciptaan manusia dan Kej. 2 memperjelasnya. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Bagian lain dari Alkitab yang relevan dengan pengajaran ini adalah dalam Kej. 5:1,3 yang memuat tentang penularan gambar (citra) Adam kepada keturunannya; Allah menciptakan manusia dengan begitu rupa, segambar dan serupa dengan Dia, itulah sebabnya manusia adalah ciptaan yang berbeda dengan ciptaan lainnya. Pengertian gambar dan rupa Allah ditafsirkan beragam oleh para teolog-teolog. Kita akan melihat dalam bab selanjutnya bagaimana pandangan-pandangan mengenai penertian manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah b. Manusia Sebagai Gambar dan Rupa Allah Dalam Berbagai Pandangan

Doktrin tentang gambar dan rupa Allah dalam diri manusia sangat penting dalam teologi, sebab gambar dan rupa Allah ini adalah suatu kualitas yang menjadikan manusia istimewa dalam hubungannya dengan Allah. Kenyataaan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah menjadikan manusia berbeda dengan binatang dan dengan semua makhluk lain. Banyak yang sudah ditulis orang untuk menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksudkan bahwa manusia itu

diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Berikut adalah konsep-konsep tentang gambar dan rupa Allah dalam diri manusia. 1. Pandangan Katolik Katolik membedakan gambar dan rupa. Gambar adalah gambar alamiah milik manusia sebagai makhluk yang dciptakan termasuk di dalamnya ialah kerohanian, kebebasan, dan kekekalan. Rupa adalah gambar moral yang bukan milik manusia pada saat ia diciptakan tetapi yang pada mula sekali ditambahkan dengan cepat pada manusia. Penambahan ini perlu karena kecenderungan wajar pada keinginan yang lebih rendah walau hal itu bukannya dosa. Pada waktu manusia berdosa, ia kehilangan rupa Allah tetapi tetap memiliki gambar. Sebab itu kebenaran semula yang telah hilang dapat diperoleh melalui sakramen-sakramen katolik. 2. Pandangan Neo-Ortodoks Karl Barth yang sering disebut-sebut sebagai bapak neo-ortodoksi mengungkapkan pemahamannya bahwa gambar dan rupa Allah tidak terdapat di dalam intelek atau rasio seseorang. Barth menolak untuk menempatkan gambar Allah di dalam setiap bentuk deskripsi antropologis keberadaan manusia, baik itu strukturnya, wataknya, kapasitasnya dll. Meskipun para teolog sebelumnya meluangkan banyak waktu secara tepat, struktur-struktur dan kualitas manusia yang di dalmnya gambar Allah berdiam, menurut Karl Barth mereka semua melakukan kesalahan dengan mencarinya di sana. Fakta bahwa kita diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa Allah memberikan karunia kepada manusia yang dengannya laku-laki dan perempuan mempunyai kemungkinan untuk mengalamai perjumpaan. Maka hubungan perjumpaan ini sebagai gambar Allah karena hubungan perjumpaan yang sama juga terjadi di antara Allah dan manusia. Allah merupakan keberadaan yang menjumpai kita dan masuk ke dalam hubungan aku-kamu dengan kita. Bahwa manusia diciptakan dengan kapasitas untuk memiliki hubungan yang serupa dengan sesamanya, menunjukkan bahwa ia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam keseluruhan pandangan Barth kita perlu mengkritiknya karena mereproduksi data Alkitab secara tidak memadai, ia mengatakan bahwa gambar Allah murni bersifat relasional dan oleh karenanya murni bersifat berformal: kapasitas untuk berjumpa dan bertemu. Dari antara penulis neo-ortodoks, konsep Brunner agak mirip dengan pandangan Katolik. Brunner berpendapat, ada gambar yang resmi yang tak dapat hilang pada waktu kejatuhan Adam, karena gambar menjadikan manusia sebagai manusia. Brunner juga melihat sebuah gambar yang

bersifat materi yang telah hilang pada waktu kejatuhan. Brunner mengatakan bahwa gambar Allah pertama-tama terletak dalam hubungan manusia dengan Allah, tanggungjawabnya kapada Allah dan kemungkinan adanya persekutuan dengan Allah. Pemahamannya adalah: “Allah yang berkehendak untuk memuliakan diriNya sendiri, menghendaki manusia menjadi makhluk yang menaggapi panggilan kasihNya dengan tanggapan kasih yang penuh syukur. 3. Pandangan Rasionalis Menurut pandangan Socinian dan sebagian Arminian, mula-mula gambar dan rupa Allah berada dalam kuasa manusia atas makhluk yang lebih rendah saja dan tidak lebih. Anababtis berpendapat bahwa manusia pertama sebagi manusia duniawi yang terbatas belumlah merupakan gambar dan rupa Allah tetapi hanya dapat menjadi demikian melalui kelahran kembali. Pelagian, sebagian besar Armenian, dan seluruh kaum rasional dengan berbagai variasinya menganggap gambar dan rupa Allah hanya berada dalam kepribadian bebas manusia, dalam karakter rasionalnya, dalam disposisi etika-religius dan nasibnya untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah. Semua penganut rasionalis percaya bahwa kebenaran yang diciptakan bersamaan dan kesucian saling berkontradiksi. Manusia menentukan karakternya melalui pemilihan bebasnya sendiri; sedangkan kesucian hanya dapat dihasilkan dari suatu kemenangan atas pergumulan melawan kejahatan. Jadi berdasarkan keadaan naturenya Adam tentunya tidak mungkin diciptakan dala keadaan suci, dan manusia diciptakan sebagai makhluk yang dapat mati. Dengan mengikuti ajaran Aristoteles, beberapa teolog mengidentifikasi bahwa kemampuan manusia untuk berpikir dan berargumentasi adalah cerminan penting dari gambar Allah. Martin Luther melihat hal ini hanya sebagai variasi atas apa yang telah ia katakan tentang otonom pribadi. Teolog liberal menekankan bahwa, karena manusia merupakan makhluk yang diciptakan menurut gambar Allah, berarti hidup manusia itu suci sehingga kita bisa melakukan apa yang harus dilakukan di bumi dan untuk bumi. Para teolog itu menganggapnya sebagai konsep "hubungan". Dengan kata lain, karena seseorang memiliki kapasitas untuk mengasihi orang lain, maka ia pasti memiliki gambar Allah dalam dirinya. Walaupun hal ini sangat benar, Martin Luther menganggap argumentasi seperti ini kurang kuat isinya, karena menurutnya "Imago Dei" melukiskan lebih dari sekadar apakah seseorang mengasihi sesamanya atau tidak!

c. Pengertian Gambar dan Rupa ALLAH Menurut Alkitab

Keistimewaan manusia terhadap ciptaan lainnya meliputi segala aspek, baik akal budi, perasaan, pikiran, pertimbangan, fisik, termasuk esensi manusia itu sendiri, yakni sebagai gambar dan rupa Allah. Pernyataan ini memberi pengertian bahwa manusia itu berhubungan erat dengan Allah sendiri. Sebagaimana kita tahu bahwa penyataan ini membuat banyak orang berusaha melakukan pendekatan-pendekatan untuk mencapai pengertian yang sempurna dan dapat diterima oleh orang lain. Dampaknya adalah lahir tafsiran-tafsiran yang kurang bahkan tidak Alkitabiah. Sekarang mari kita lihat Alkitab berbicara tentang manusia sebagai gambar dan rupa Allah. 1. Etimologi Gambar dan Rupa Allah Ketika Allah menciptakan ciptaan lainnya, Allah menciptakannya menurut jenisnnya artinya setiap jenis berasal dari jenisnya. Penciptaan ini jelas berbeda dengan penciptaan manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tselem Kata gambar adalah tselem (Ibrani), image (Inggris), dan morphe (Yunani), yang berarti gambar yang dihias, suatu bentuk/figure yang representatif. Arti suatu gambar memiliki bentuk atau pola tertentu. Hal ini bisa mengakibatkan kita cenderung berpikir ada bentuk fisik Allah. Istilah tselem memang lebih mudah dimengerti dengan bentuk materi-materi. Demuth Sedangkan kata rupa adalah demuth (Ibrani), likeness (Inggris), schema (Yunani) yang mengacu pada arti kesamaan tapi lebih bersifat abstrak atau ideal - Dalam PB, kata yang mirip untuk itu adalah eikon dan homoiosis. Pengertiannya mirip dengan bentuk, dalam arti sesuatu yang modelnya harus seperti bentuk yang pertama. Berarti hidup ini harus sesuai dengan bentuk ukuran standart. Kata gambar dan rupa dipakai secara bersinonim dan dipakai saling bergantian dan dengan demikian tidak mununjukkan dua hal yang berbeda. Kata “gambar” tidak mengacu pada suatu kesanggupan dalam diri manusia, melainkan pada kenyataan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai rekanNya dan bahwa manusia dapat hidup bersama dengan Allah. Ini menentang penafsir yang terpusat pada kebolehan manusia, yaitu sesuatu di dalam diri manusia

yang menurut penafsirnya dapat disamakan dengan gambar dan rupa Allah. Jadi, gambar Allah buka sesuatu yang dimiliki manusia atau sesuatu kemampuan untuk menjadi melainkan suatu hubungan Allah dengan manusia sebagai mitra kerja atau wakil Allah di bumi. 2. Manusia Sebagai Gambar dan Rupa Allah Pra-Dosa Kita mencari sebuah identitas di dalam lubuk hati kita yang dalam. Setiap kita dibentuk dengan keinginan untuk mengetahui siapakah kita, yang sering dinyatakan sebagai “menemukan diri sendiri.” Orang-orang Kristen menemukan jawabannya di dalam dua kitab pertama dari Alkitab - kita mirip dengan Allah karena kita diciptakan oleh Dia. Kita berbeda dengan segala sesuatu yang lain yang diciptakan Allah, karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berbeda daripada yang lainnya di seluruh alam semesta, bahkan malaikat pun tidak sunik kita. Para teolog memperdebatkan makna sesungguhnya dari menjadi gambar dan rupa Allah, memiliki dan menunjukkan sebagian sifatsifat Allah. Allah menggunakan diriNya sendiri sebagai pola pada saat menciptakan kita. Manusia adalah puncak karya terindah dari kreativitas seni Allah. Kebanyakan teolog percaya bahwa gambar Allah menrupakan gabungan dari cirri-ciri khas dan bukan sebuah sifat tunggal. Karena berbagai cirri khas tersebut adalah sungguhsungguh gambar Allah, maka cirri-ciri tersebut juga menggambarkan Allah. Gambar tersebut ditemukan di dalam hakikat kerohanian kita, kepribadian kita dengan kesadaran diri, akal budi, kehendak dan pertanggungjawaban moral kita. Seperti ditunjukkan pada Kejadian 1, kita juga menerapkan kukuasaan atau otoritas terhadapa seluruh ciptaaan lainnya sebagai hasil dari gambar Allah yang berkuasa.

3. Manusia Sebagai Gambar dan Rupa Allah Pasca- Dosa Kita masih bisa belajar lebih lagi tentang manusia adalah gambar dan rupa Allah. Tidak secara kebetulan, gambar Allah adalah "sangat penting" untuk memperbaiki pribadi. Inilah yang memberikan diri manusia sebuah otonomi -- keberadaan yang terpisah. Martin Luther percaya bahwa diciptakan dalam rupa Allah berarti memiliki "kebebasan untuk memilih untuk taat" pada kehendak Allah. Sebaliknya, umat manusia telah menyalahgunakan kebebasan ini. Demikianlah dosa dan kejatuhan manusia masuk ke dalam gambar ini.

Apakah kejatuhan manusia melepaskan rupa Allah dari kita? Hal itu bisa terjadi, tapi orang lain tidak percaya. Menurut Martin Luther, dosa telah menyelubungi atau "menutup" gambar ini. Tidak peduli betapa besar kenajisan karena dosa, kita tidak akan kehilangan gambar ini. Proses regenerasi atau kelahiran baru mengembalikan gambar tersebut ke tempat yang tepat dalam inti suatu pribadi. Mungkin ini hanyalah masalah semantik, tapi gambar ini memberikan pengertian yang lebih jelas tentang "Imago Dei" daripada pemikiran tentang kejatuhan manusia yang sama sekali tidak ada dalam gambar ini. Gambar Allah di dalam kita yang sekarang ini bukanlah gambar yang dahulu ada pada saat penciptaan. Gambar ini telah dirusak dan terdistorsi oleh kejatuhan; tetapi tidak hilang atau hilang sama sekali. Kejatuhan memang berdampak kehancuran total umat manusia (Kej. 3:1-19; Rm. 3:23). Ini tidak berarti kita boleh berbuat sejahat-jahatnya yang kita inginkan, tetapi bahwa setiap aspek keberadaan kita telah dipengaruhi oleh kejatuhan itu. Disa telah merusak setiap bagian manusia termasuk gambar Allah tersebut. Bagaimanapun, Allah membalik kerusakan itu. Tujuan dan proses penebusanNya adalah untuk membarui gambarNya di dalam diri manusia menuju refleksi aslinya. Seetelah keselamatan, kita bertumbuh secara rohani menjadi lebih menyerupai Kristus. Karena Kristus adalah Allah, ia sama persis dengan Allah. Ketika kita lebih menyerupaiNya, Allah mengembalikan gambarNya di dalam kita seperti maksudNya yang semula. Allah merancang dan menciptakan umat manusia supaya Ia dapat menikmati suatu hubungan dengna kita. Tujuan manusia, oleh sebab itu berpusat pada isu memiliki atau tidak memiliki hubungan dengan sang Pencipta. Kita tidak pernah mengetahui siapakah kita sampai kita berelasi dengna sang tunggal, yang menciptakan kita sesuai dengan gambarNya. Ketika kita mengenalNya, kita dapat mengenali diri kita sendiri. Kemudian, kita dapat hidup seperti yang dikehendakiNya dan menikmati Allah serta kebaikan-kebaikanNya. 4. Simpulan Dari penjelasan diatas maka kita ketahui bahwa penyataan gambar dan rupa memiliki arti yang sama, yaitu menjelaskan keunikan, keunggulan manusia yang bernilai sangat tinggi dari pada ciptaan yang lain. Setidaknya kita mendapat beberapa poin tentang pengertian gambar dan rupa Allah.

 

Sebagai gambar dan rupa Allah membedakan manusia - yang diciptakan mengacu pada pencipta – dengan ciptaan lain yang diciptakan mengacu pada ciptaan. Sebagai gambar dan rupa Allah manusia mewari sifat-sifat Allah. Sifat Allah dalam hal ini tentu tidak mutlak, sebab jika tidak demikian maka akan muncul pendapat bahwa Allah sama dengan manusia. Dan perlu juga kita ketahui bahwa ketika manusia memilih tidak taat da jatuh dalam dosa, itu bukanlah sifat yang diwarisinya dari Allah, melainkan pilihannya sendiri atas dasar kemauan dari dalam dirinya dengan freewill yang ia miliki.

  

Sebagai gambar dan rupa Allah manusia mampu menjalin relasi yang intim dengan Allah. Sebagai gambar dan rupa Allah, maka Allah telah menetapkan manusia sebagai wakilNya yang berkuasa atas ciptaan lain (Kej. 1:28) Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia diberi kemampuan untuk bersekutu dengan sesamanya, sebagaimana persekutuan Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, David. Kejadian 1-11. 2000. Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. Jakarta. Berkhof, Louis. Teologi Sistematika. 2009. Momentum. Surabya. Cornish, Rick. 2007. 5 menit Teologi. Pronir Jaya. Bandung Enns, Paul. 2003. The Moody Handbook of Theology 1. Literatur SAAT. Malang. Nee, Watchman. 2000. Kudus dan Tidak Bercela. Yayasan Perpustakaan Injil Indonesia. Surabaya. Rirye, Charles C. Teologi Dasar 1. 2008. ANDI Offset. Yogyakarta. Thiessen, Henry C. 2003. Teologi Sistematika. Gandum Mas. Malang. Tong, Stephen. 2007. Peta dan Teladan Allah. Lembaga Reformed Injili Indonesia. Jakarta.

BAB III MEMAHAMI TUGAS MANUSIA SEBAGAI PENGUASA, PEMELIHARA DAN PENERUS GENERASI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->