P. 1
Makalah Sejarah - Pemberontakan Apra

Makalah Sejarah - Pemberontakan Apra

|Views: 5,480|Likes:

More info:

Published by: Ozha Rozhavhia Lucia Nashwa on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2013

pdf

text

original

MAKALAH SEJARAH Pemberontakan APRA ( Angkatan Perang Ratu Adil ) ** * ** * ** * ** ** * * ** * ** Di susun oleh : Bonna Rosa Damayanti ; Diah Arum

A ; Dwi Agustina XI IPA 2 SMA NEGERI 1 BARAT Tahun 2011/2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. bahwa penulis telah menyelesaikan tugas Mata Pelajaran Sejarah tentang Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan kawan – kawan ,sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu guru bidang studi Sejarah yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini. 2. Teman- teman yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Kudeta_Angkatan_Perang_Ratu_Adil http://www.google.co.id/imgres?q=westerling&hl=id&client=firefoxa&sa=X&rls=org.mozilla:id:official&channel=s&biw=1280&bih=610&tbm=isch&prmd=imvnsb&t bnid=2xYgihtT1xk21M:&imgrefurl=https://sesukakita.wordpress.com/2011/09/04/pembantaia n-westerling-desember-1946-februari1947/&docid=4omOO9akqUUSUM&imgurl=http://sesukakita.files.wordpress.com/2011/09/we sterling.jpg&w=400&h=624&ei=4NIvT_b4KonorQf316TADA&zoom=1&iact=hc&vpx=176&vpy=1 15&dur=360&hovh=137&hovw=75&tx=108&ty=164&sig=108386156151048624106&page=1&t bnh=137&tbnw=75&start=0&ndsp=22&ved=1t:429,r:0,s:0 http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Apra.JPG
Kahin, George McTurnan (1952).Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca, N.Y.: Cornell University Press Westerling, Raymond Paul Pierre Challenge to terror. London: W. Kimber.

Daftar Isi

Halaman Judul i Daftar Isi Bab I Pendahuluan Bab II Perumusan Masalah Bab III Isi Bab IV Penutup Daftar Pustaka

Bab I Pendahuluan
Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa hal mengenai Pergerakan Ratu Adil yang sempat mengadakan kudeta militer di Indonesia, Angkatan perang yang didirikan oleh bekas tentara Belanda yang juga dibantu oleh orang pribumi. Kudeta berdarah ini memakan banyak korban dari kalangan Tentara Nasional Indonesia. Tentara ini adalah tentara Pro Belanda yang mengadakan kudeta di masa Revolusi Indonesia.gerakan ini ini mengadakan pemberontakan karena mereka tidak suka pada pengaruh Soekarno. Gerakan ini melakukan pergolakan di daerah Jawa, mereka pernah berhasil menguasai Kota Bandung, tetapi mereka tidak berhasil menguasai. Kota kota lain yang berada di daerah daerah lainnya. Dalam pergolakan ini mereka juga sempat meminta bantuan kepada Tentara Islam Indonesia, tetapi bantuan dari Tentara Islam Indonesia tidak datang sesuai perjanjian. Gerakan ini adalah gerakan yang berani memberi ultimatum kepada para petinggi pemerintah Indonesia.

Pemimpin dari gerakan ini adal Raymond Westerling, dia yang mencetuskan semua konspirasi untuk menggulingkan pengaruh pengaruh Nasionaalisme yang dicetuskan oleh Soekarno. Westerling tidak sendirian dalam melakukan aksinya di juga dibantu oleh salah satu sultan yaitu, Sultan Hamid II. Gerakan ini juga melakukan banyak pembantaian kepada masyarakat yang ada didaerah Sulawesi. Nama dari gerakan ini diambil dari ramalan Buku Jawa Kuno (Kitab Jayabaya),didalam kitab tersebut di ramalkan bahwa pada suatu saat nanti akan muncul seseorang yang akan menegakan hukum dan juga akan membebaskan rakyat Indonesia dari segala bentuk penjajahan dan juga belenggunya.gerakan ini merencanakan pembunuhan terhadap banyak anggota pemerintahan diantaranya Sultan Hamengkubuwono dan Ali Budiarjo namun upaya yang sudah direncanakan ini tidak berhasil di realisasikan, malahan otak dari konspirasi itu dapat diketahui. Otak dari gerakan tersebut salah satunya berhasil ditangkap oleh Tentara Nasional Indonesia yaitu Sultan Hamid I yang juga salah satu dari anggota RIS, namun Raymond Westerling berhasil melarikan diri ke luar Negeri dengan menumpang pesawat Catalina Milik Belanda.

Bab II Perumusan Masalah

Apakah Gerakan Ratu Adil itu? Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil atau Kudeta

23 Januari adalah peristiwa yang terjadi pada 23 Januari 1950 dimana kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang ada di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling yang juga mantan komandan Depot Speciale Troepen (Pasukan Khusus) KNIL, masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui. Aksi gerombolan ini telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda.

Bab III ISI
Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda menerima laporan, bahwa Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000 orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada8 Desember1949menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah “Ratu Adil Persatuan Indonesia” (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan Perang Ratu Adil(APRA). Pengikutnya kebanyakan adalah mantan anggota KNIL dan yang melakukan desersi dari pasukan khusus KST/RST. Dia juga mendapat bantuan dari temannya orang Tionghoa, Chia Piet Kay, yang dikenalnya sejak berada di kota Medan. Pada 5 Desember malam, Westerling menghubungi Letnan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda, pengganti Letnan Jenderal Spoor. Westerling menanyakan bagaimana pendapat van Vreeden, apabila setelah penyerahan kedaulatan Westerling berencana melakukan kudeta terhadap Sukarno dan kliknya Jenderal van Vreeden, sebagai yang harus bertanggung-jawab atas kelancaran “penyerahan kedaulatan” pada 27 Desember 1949, memperingatkan Westerling agar tidak melakukan tindakan tersebut, tapi van Vreeden tidak segera memerintahkan penangkapan Westerling.

Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada pemerintah RIS yang isinya adalah suatu ultimatum. Ia menuntut agar Pemerintah RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalm waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan timbul perang besar. Ultimatum Westerling ini tentu menimbulkan kegelisahan tidak saja di kalangan RIS, namun juga di pihak Belanda dan dr. H.M. Hirschfeld (kelahiran Jerman), Nederlandse Hoge Commissaris (Komisaris Tinggi Belanda) yang baru tiba di Indonesia.

Kabinet RIS menghujani Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya menjadi sangat tidak nyaman. Menteri Dalam Negeri Belanda, Stikker menginstruksikan kepada Hirschfeld untuk menindak semua pejabat sipil dan militer Belanda yang bekerjasama dengan Westerling. Pada 10 Januari 1950, Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa pihak Indonesia telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling. Sebelum itu, ketika A.H.J. Lovink masih menjabat sebagai Wakil Tinggi Mahkota Kerajaan Belanda, dia telah menyarankan Hatta untuk mengenakan pasal exorbitante rechten terhadap Westerling. Saat itu Westerling mengunjungi Sultan Hamid II di Hotel Des Indes,Jakarta. Sebelumnya, mereka pernah bertemu bulan Desember 1949. Westerling menerangkan tujuannya, dan meminta Hamid menjadi pemimpin gerakan mereka. Hamid ingin mengetahui secara rinci mengenai organisasi Westerling tersebut. Namun dia tidak memperoleh jawaban yang memuaskan dari Westerling. Dalam otobiografinya, Mémoires, yang terbit tahun 1952, Westerling menulis, bahwa telah dibentuk Kabinet Bayangan di bawah pimpinan Sultan Hamid II dari Pontianak, oleh karena itu dia harus merahasiakannya.

Pertengahan Januari 1950, Menteri UNI dan Urusan Provinsi Seberang Lautan, Mr. J.H. van Maarseven berkunjung ke Indonesia untuk mempersiapkan pertemuan Uni Indonesia-Belanda yang

akan diselenggarakan pada bulan Maret 1950. Hatta menyampaikan kepada Maarseven, bahwa dia telah memerintahkan kepolisian untuk menangkap Westerling. Ketika berkunjung ke Belanda, Menteri Perekonomian RIS Juanda pada 20 Januari 1950 menyampaikan kepada Menteri Gotzen, agar pasukan elit RST yang dipandang sebagai faktor risiko, secepatnya dievakuasi dari Indonesia. Sebelum itu, satu unit pasukan RST telah dievakuasi ke Ambon dan tiba di Ambon tanggal17 Januari 1950.

Pada 21 Januari Hirschfeld menyampaikan kepada Gotzen bahwa Jenderal Buurman van Vreeden dan Menteri Pertahanan Belanda Schokking telah menggodok rencana untuk evakuasi pasukan RST. Pada 22 Januari pukul 21.00 dia telah menerima laporan, bahwa sejumlah anggota pasukan RST dengan persenjataan berat telah melakukan desersi dan meninggalkan tangsi militer di Batujajar. Mayor KNIL G.H. Christian dan Kapten KNIL J.H.W. Nix melaporkan, bahwa kompi “Erik” yang berada di Kampemenstraat malam itu juga akan melakukan desersi dan bergabung dengan APRA untuk ikut dalam kudeta, namun dapat digagalkan oleh komandannya sendiri, Kapten G.H.O. de Witt. Engles segera membunyikan alarm besar.

Dia mengontak Letnan Kolonel TNI Sadikin, Panglima Divisi Siliwangi. Engles juga melaporkan kejadian ini kepada Jenderal Buurman van Vreeden di Jakarta. Antara pukul 8.00 dan 9.00 dia menerima kedatangan komandan RST Letkol Borghouts, yang sangat terpukul akibat desersi anggota pasukannya. Pukul 9.00 Engles menerima kunjungan Letkol. Sadikin. Ketika dilakukan apel pasukan RST di Batujajar pada siang hari, ternyata 140 orang yang tidak hadir. Dari kamp diPurabaya dilaporkan, bahwa 190 tentara telah desersi, dan dari SOP di Cimahi dilaporkan, bahwa 12 tentara asal Ambon telah desersi. Namun upaya mengevakuasi Regiment Speciale Troepen (RST), gabungan baret merah dan baret hijau telah terlambat untuk dilakukan. Dari beberapa bekas anak buahnya, Westerling mendengar mengenai rencana tersebut, dan sebelum deportasi pasukan RST ke Belanda dimulai, pada 23 Januari 1950, Westerling melancarkan kudetanya. Subuh pukul 4.30, Letnan Kolonel KNILT. Cassa menelepon Jenderal Engles dan melaporkan: “Satu pasukan kuat APRA bergerak melalui Jalan Pos Besar menuju Bandung.” Westerling dan anak buahnya menembak mati setiap anggota TNI yang mereka temukan di jalan. 94 anggota TNI tewas dalam pembantaian tersebut, termasukLetnan Kolonel Lembong, sedangkan di pihak APRA, tak ada korban seorang pun. Sementara Westerling memimpin penyerangan di Bandung, sejumlah anggota pasukan RST dipimpin oleh Sersan Meijer menuju Jakarta dengan maksud untuk menangkap Presiden Soekarno dan menduduki gedung-gedung pemerintahan.

Namun dukungan dari pasukan KNIL lain dan Tentara Islam Indonesia (TII) yang diharapkan Westerling tidak muncul, sehingga serangan ke Jakarta gagal dilakukan. Setelah puas melakukan pembantaian di Bandung, seluruh pasukan RST dan satuan-satuan yang mendukungnya kembali ke tangsi masing-masing. Westerling sendiri berangkat ke Jakarta, dan pada 24 Januari 1950 bertemu lagi dengan Sultan Hamid II di Hotel Des Indes. Hamid yang didampingi oleh sekretarisnya,dr. J. Kiers, melancarkan kritik pedas terhadap Westerling atas kegagalannya dan menyalahkan Westerling telah membuat kesalahan besar di Bandung. Tak ada perdebatan, dan sesaat kemudian Westerling pergi meninggalkan hotel. Setelah itu terdengar berita bahwa Westerling merencanakan untuk mengulang tindakannya.

Pada 25 Januari, Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa Westerling, didukung oleh RST danDarul Islam, akan menyerbu Jakarta. Engles juga menerima laporan, bahwa Westerling melakukan konsolidasi para pengikutnya di Garut, salah satu basis Darul Islam waktu itu. Akhir dari pemberontakan ini terjadi ketika TNI berhasil menangkap dalang dari Pemberontakan Ratu Adil yaitu Sultan Hamid II, namun westerling berhasil melarikan diri ke Luar negeri.

Bab IV Penutup

Seperti yang telah di kemukakan tadi, bahwa Pergerakan Ratu Adil yang di pimpin oleh Raymond Westerling dan di dalangi oleh Sultan Hamid II,gerakan ini ingin melakukan pembunuhan kepada tokohtokoh penting, diantaranya Sultan Hamengkubuwono. Munculnya gerakan gerakan seperti ini adalah wujud dari ketidakpuasan terhadap pemerintah. Gerakan ratu adil sendiri muncul karena kepercayaan masyarakat Jawa pada saat itu tentang akan munculnya seseorang yang akan menciptakan kedaimaian dan ketentraman di Jawa, kepercayaan tersebut menyebabkan rakyat ingin bergabung dengan sang Ratu Adil agar keinginan mereka dapat terpenuhi, Namun itu semua adalah tipu daya yang dilakukan oleh para petinggi negara yang ingin melakukan kudeta terhadap negara. Ratu Adil yang didalangi oleh salah satu petinggi RIS tersebut telah membuat banyak anggota TNI yang berada di Bandung tewas dan gerakan tersebut sempat menguasai Kota Bandung. Dan akhirnya gerakan gerakan yang dilakukan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab dapat ditumpas dengan persatuan seluruh elemen masyarakat Indonesia, maka dari itu kita sebagai penerus generassi bangsa agar tidak mementingkan diri sendiri. Dan sebagai warga negara yang baik kita harus mempunyai jiwa Nasionalisme dan persatuan yang baik agar negara kita tidak gampang untuk dirasuki oleh faham faham yang bertentangan dengan Pancasila.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->