P. 1
Isi-laporan Modul 5 Blok 17

Isi-laporan Modul 5 Blok 17

|Views: 80|Likes:
Published by Andreas Tedi

More info:

Published by: Andreas Tedi on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2014

pdf

text

original

Sections

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Pada makalah ini, kami akan secara khusus membahas tentang gangguan psikiatrik pada anak dan remaja. Dari skenario kita dapat mempelajari definisi(batasan), etiologi, patogenesis, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosa banding, diagnosis, serta pengobatan dan pencegahan dari gangguan pervasif, gangguan autistik, gangguan asperger, gangguan disintegrasi dan gangguan pervasif yang tidak ditentukan.

1.2 Tujuan Manfaat pembelajaran Modul 5 Blok XVII ini adalah mahasiswa mampu mengidentifikasi dan memahami definisi, epidemiologi, etiologi, psikopatologi,

penegakkan diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan dan prognosis dari gangguan autistik,gang. Rett, pada anak.

1

BAB II PEMBAHASAN Skenario ―Oh, Anakku Sayang!‖ Seorang ibu membawa anaknya yang berusia 3 tahun ke dokter puskesmas. Sebelumnya anak tersebut diperisakan ke bidan di desa dengan keluhan idak bisa diajak untuk tidur siang. oleh bidan yang memeriksanya menyampikan bahwa kemungkinan anak tersebut mengalami kelainan hiperaktif karena anak tersebut tidak bisa diam dan selalu bergerak. Dokter yang memeriksanya merujuk ke psikiater di kota karena kesulitan untuk menegakkan diagnosis. Psikiater di kota menemukan gejala lain yaitu ternyata anak tersebut belum bisa beicara dengan baik, hanya sekedar suara-suara yang tidak dapat dimengerti keluar dari mulutnya. Sebelumnya pasien sudah bisa bicara mama-papa tetapi kemudian kemampuan berbahasanya hilang lagi. Anak tersebut juga terlihat aneh karena senang merobek-robek kertas. Lalu psikiater merujuk ke dokter spesialis THT untuk tes audiometri dengan berpesan kalau hasil audiometrinya baik, pasien dipersilakan kembali untuk evaluasi lebih lanjut. Step 1 “Identifikasi Istilah” Hiperaktif : gerakan otot yang berlebihan, cenderung tidak bisa diam, bisa berupa gerakan/pembicaraan Step 2 “Identifikasi Masalah” 1. Mengapa anak belum bisa bicara dan tidak bisa diam? 2. Mengapa senang merobek kertas? 3. Mengapa tidak bisa diajak tidur siang? 4. Mengapa kemampuan berbahasa menghilang? 5. Apa penyebab anak hiperaktif? 6. Mengapa dirujuk ke THT, bukan spesialis anak? 7. Evaluasi apa yang dilakukan setelah pemeriksaan audiometri? 8. Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan? 9. DD 10. Penatalaksanaan untuk pasien? 11. Bagaimana perkembangan normal anak usia 3 tahun?
2

Step 3 “Brainstorming” 1. Tidak bisa bicara dengan baik: Anak mengalami speech delay Kelainan di pita suara anak Tidak bisa diam: Kelebihan gula, energi berlebih dan disalurkan melalui gerakan berlebihan Genetik Neurokimiawi (norepinefrin berkurang, peningkatan katekolamin) Psikososial (kecemasan) 2. Senang meronbek kertas Pada anak autis cenderung menyenangi dan memiliki minat berlebih pada satu hal spesifik 3. Hiperaktif karena energi berlebihan, ingin selalu bergerak dan tidak bisa diajak tidur

4. Kemampuan berbicara hilang kemungkinan akibat gangguan Rett atau gangguan disintegrasi anak. Tergantung dari usia menurunnya kemampuan

5. Sama dengan nomer 1

6. Dirujuk ke THT: dokter awal curiga dia mengalami gangguan pendengaran atau pita suara. Oleh dokter THT lebih spesifik dari dokter anak.

7. Jika audiometri baik: evauasi untuk cari penyakit lain, kemungkinan penyakit psikiatri yang dinilai dari gejalanya, lakukan pemeriksaan EEG Jika audiometri buruk:berarti gangguan muncul karena gangguan THT 8. Pemeriksaan psikiatri, EEG, dll 9. DD: gangguan pervasif (gangguan autistik, gangguan Rett, gangguan disintegratif anak), gangguan defisit-atensif (ADHD) 10. Tatalaksana:     Hindari makanan berkalori tinggi (untuk atasi hiperaktif)\ Temukan bakat anak Terapi bicara Psikofarmako: haloperidol, litium

3

11. Perkembangan normal anak usia 3 tahun Dapat merangkaikata-kata, memiliki 1000 kosa kata Komunikasi sosial baik Suka mengeksplorasi lingkungannya Rasa ingin tahu besar Perkembangan anak paling aktif, mengingat banyak hal Step 4 “Strukturisasi Konsep”

Etiologi: gangguan neurologi, gangguan psikososial, hangguan biologis, genetik, gangguan biokimiawi

Hiperaktif Gangguan bahasa/ komunikasi Inatensi Gerakan stereotipik berulang

Gangguan perkembangan

DD:     ADHD Gangguan autistik Gangguan Rett Gangguan disintegrasi anak

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan penunjang

Diagnosis

Tata laksana

Step 5 “Learning Objektive” 1. Menjelaskan definisi, etiologi, gambaran klinis, diagnosis, penatalaksanaan, prognosis
4

a. ADHD b. Gangguan autistik c. Gangguan Rett d. Gangguan disintegrasi anak 2. Definisi & etiologi a. Gangguan Asperger b. Gangguan perkembangan pervasif yang tidak tergolongkan Step 6 “Belajar Mandiri” Dalam step 6 ini, masing-masing dari kami melakukan proses belajar mandiri untuk mengetahui lebih lanjut mengenai materi yang sedang kami bahas. Adapun pedoman belajar mandiri kami adalah mencari informasi mengenai jawaban-jawaban terhadap learning objective atau sasaran pembelajaran yang telah kami rumuskan bersama-sama. Hasil dari belajar mandiri tersebut disampaikan pada diskusi kelompok kecil II (DKK II). Step 7 “Sintesis Masalah”

GANGGUAN DEFISIT-ATENSI/HIPERAKTIVITAS DEFINISI Gangguan deficit-atensi/hiperaktivitas (GDAH) ditandai oleh rentang perhatian yang buruk yang tidak sesuai dengan perkembangan atau ciri hiperaktivitas dan impulsivitas atau keduanya yang tidak sesuai dengan usia. Untuk memenuhi criteria, gangguan harus ada sekurangnya enam bulan, menyebabkan gangguan dalam fungsi akademik atau social, dan terjadi sebelum usia 7 tahun. Menurut DSM-IV, diagnosis dibuat dengan menegakkan

sejumlah gejala dalam bidang inatensi atau bidang hiperaktivitas-impulsivitas atau keduanya. Beberapa anak menunjukkan gejala multiple di sepanjang kedua dimensi. Dengan demikian, DSM-IV menuliskan tiga subtype GDAH : tipe predominan inatensi, tipe predominan hiperaktif-impulsif, dan tipe kombinasi. Suatu criteria tambahan dalam DSM-IV adalah adanya gejala pada dua atau lebih situasi, seperti di sekolah, rumah, dan pekerjaan. GDAH telah ditemukan dalam berbagai istilah selama bertahun-tahun. Tahun 1900an, anak yang impulsif, terdisinhibisi, dan hiperaktif (banyak yang memiliki cedera neurologis karena ensefalitis) disebut ―’sindrom hiperaktif‖. Padatahun 1960-an suatu kelompok heterogen anak-anak dengan koordinasi buruk, ketidakmampuan belajar, dan labilitas emosional tetapi tanpa cedera neurologis spesifik digambarkan sebagai menderita
5

cedera otak minimal. Sejak saat itu hipotesis lain telah diajukan, seperti kondisi ddenngan dasar genetic yang mencerminkan tingkat kesadaran yang abnormal dan kemampuan yang buruk untuk memodulasi emosi. Teori tersebut pada awalnya di dukung oleh pengamatan bahwa medikasi stimulant membantu menghasilkan atensi yang bertahan dan memperbaiki kemampuan anak untuk memusatkan perhatian pada tugas yang diberikan. Sekarang ini, tidak ada faktor tunggal yang dianggap menyebabkan gangguan, walaupun banyak variable lingkungan dapat menyebabkannya dan banyak gambaran klinis yang dapat diramalkan adalah berhubungan dengannya.

EPIDEMIOLOGI Laporan tentang insiden GDAH di Amerika adalah bervariasi dari 2-20% anak sekolah dasar. Di inggris insiden dilaporkan lebih rendah dibandingkan di Amerika. Anak laki-laki memiliki insidensi lebih tinggi dibandingkan anak perempuan, dengan rasio 3:1 sampai 5:1. Gangguan sering ditemukan pada anak laki-laki pertama. Orang tua dari anakanak dengan GDAH menunjukkan peningkatan insidensi hiperkinesis, sosiopati, gangguan penggunaan alcohol,dan gangguan konversi. Walaupun onset biasanya pada usia 3 tahun, diagnosis biasanya tidak dibuat sampai anak dalam sekolah dasar dan situasi belajar yang terstrukrut mengharuskan pola perilaku yang terstruktur, termasuk rentanperhatian dan konsentrasi yang sesuai dengan perkembangannya.

ETIOLOGI & PATOGENESIS Penyebabnya tidak diketahui. Sebagian besar anak dengan GDAH tidak menunjukkan tanda-tanda cedera struktural yang besar pada sistem saraf pusat. Sebaliknya, sebaian besar anak dengan ganguan neurologis akibat cedera otak tidak mengalami GDAH. Faktor

penyumbang yang diajukan untuk GDAH adalah pemaparan toksin prenatal, prematuritas, dan kerusakan mekanis prenatal pada system saraf janin. Penyedap makanan, zat pewarna, pengawet, dan gula telah juga diperkirakan sebagai kemungkinan penyebab untuk perilaku hiperaktif. Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa faktor-faktor tersebut menyebabkan gangguan deficit-atensi/hiperaktivitas.

a) Faktor genetik Bukti-buktik untuk dasar genetic adalah lebih besarnya angka kesesuaian dalam kembar monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Juga, sanak saudara anak-anak GDAH memiliki resiko dua kali dari populasi umum. Salah satu sanak mungkin gejala
6

hiperaktivitas yang menonjol, dan yang lain memiliki intense yang menonjol. Orang tua biologis dari anak dengan gangguan memilki risiko yang lebih tinggi untuk memiliki gangguan deficit-atensi/hiperaktivitas dibandingkan orangtua adoptif. Jika GDAH bersama-sama dengan gangguan konduksi pada seorang anak, gangguan kepribadian antisocial adalah lebih sering pada orang tua dibandingkan pada ppopulasi umum. b) Cedera otak. Telah lama diperkiakan bahwa beberapa anak yang terkena GDAH mendapatkan cedera otak yang minimal dan samar-samar pada system saraf pusatnya selama periode janin dan perinatalnya. Atau cedera otak mungkin disebabkan oleh efek sirkulasi , toksin, metabolic, mekanik, dan efek lain yang merugikan dan oleh stress dan kerusakan fisik pada otak selama masa bayi yang disebabkan oleh infeksi, peradangan, dan trauma. Cedera otak yang minimal, samar-samar, dan subklinis mungkin bertanggungjawwab untuk timbulnya gangguan belajar dan GDAH. Tanda neurologis nonfokal (lunak) sering ditemukan. Tomografi computer (CT ) kepala pada anak dengan GDAH tidak menunjukkan temuan yang konsisten. Penelitian dengan menggunakan tomografi emisi positron (PET) telah menemukan penurunana aliran darah serebral dan kecepatan metabolism di daerah lobus frontalis anak dengana GDAH deibandingkan dengan control. Satu teori

menyetakan bahwa lobus frontalis anak dengan gangguan GDAH tidak secara adekuat mengerjakan mekanisme inhibisinya pada struktur yang lebih rendah, yang menyebabkan disinhibisi. c) Faktor neurokimiawi Banyak neurotransmitter telah dihubungkan dengan gejala GDAH. Sebagian, temuan adalah berasal dari pemakaian banyak medikasi yang menimbulkan efek positif pada gangguan. Obat yang paling banyak diteliti, stimulant, mempengaruhi dopamine maupun norepinefrin, yang menghasilkan hipotesis neurotransmitter yang menyatakan kemungkinan disfungsi pada system adrenergic dan dopaminergik. Stimulant

meningkatkan katekolamin dengan mempermudah pelepasannya dan menghambat ambilannya. Stimulant dan beberapa obat trisiklik-sebagai contoh, desipramine (norpramine)-menurunkan 3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol (MHPG) urin, yang

merupakan metabolit dari norepinefrin. Clonidine (catapres), suatu agonis norepineefrin, adalah berguna dalam mengobati hiperaktivitas. Obat lain yang menurunkan hiperaktivitas adalah obat trisiklik dan inhibitor monoamine oksidase (MAOI). Secara keseluruhan ,

7

tidak ada bukti

yang jelas yang melibatkan suatu neurotransmitter tunggal dalam

perkembangan GDAH, tetapi banyak neurotransmitter mungkin terlibat dalam proses. d) Faktor neurologis Otak manusia normalnya menjalani kecepatan pertumbuhan utama pada beberapa usia: 3 sampai 10 bulan, 2 sampai 4 tahun, 6 sampai 8 tahun, 10 sampai 12 tahun, dan 14 sampai 16 tahun. Beberapa anak mengalami maturasi pertumbuhan secara berurutan dan menunjukkan gejala GDAH yang tampaknya sementara. Suatu korelasi fisiologis adalah ditemukannya berbagai pola EEG abnormal yang terdisorganisasi dan karakteristik untuk anak kecil. Pada beberapa kasus temuan EEG menjadi normal dengan berjalannya waktu. e.) Faktor psikososial Anak-anak dalam institusi sering kali overaktif dan memiliki rentan atensi yang buruk. Tanda tersebut dihasilkan dari pemutusan emosional yang lama, dan gejala menghilang jika faktor pemutus dihilangkan, seperti melalui adopsi atau di rumah penitipan. Kejadian fisik yang menimbulkan stress, suatu gangguan dalam keseimbangan keluarga, dan faktor yang menyebabkan kecemasan berperan dalam awal atau berlanjutnya GDAH. Faktor predisposisi mungkin termasuk temperamen anak, faktor genetic-familial, dan tuntutan social untuk mematuhi cara berkelakuan dan bertindak yang rutin. Status sosioekonomi tampaknya bukan merupakan faktor predisposisi.

DIAGNOSIS Tanda utama hiperaktivitas adalah menyadarkan klinisi tentang kemungkinan GDAH . riwayat prenatal yang terinci tentang pola perkembangan anak dan pengamatan langsung biasnyanya menemukan aktivitas motorik yang berlebihan. Hiperaktivitas mungkin ditemukan pada beberapa situasi, tetapi tidak dalam situasi lainnya, dan mungkin tidak jelas pada situasi yang terstruktur dibandingkan tidak terstruktur. Hiperaktivitas bukan merupakan manifestasi perilaku yang tersendiri, singkat, dan transien dibawah stress tetapi ditemukan selama waktu yang lama. Menurut DSM IV, gejala harus ditemukan pada sekurangnya dua kejadian. Ciri pembeda lain adalah rentan perhatian yang pendek dan distraktibilitas yang mudah. Mereka berperilaku secara impulsive,menunjukkan labilitas emosional, dan eksplosif dan iritabel. Anak yang hiperaktivitas sebagai ciri predominan lebih mudah dirujuk untuk terapi dibandingkan anak dengan gejala utama deficit atensi. Anak denngan tipe predominan hiperaktif-impulsif kemungkinan memiliki diagnosis yang stabil dengan berjalannya waktu

8

dan lebih mungkin memiliki gangguan konduksi bersamaan dibandingkan anak dengan tipe predominan inatentif tanpa hiperaktivitas. Gangguan yang mengenai membaca, aritmatika, dan kkoordinasi mungkin ditemukan bersamaan dengan GDAH. Riwayat penyakit anak dapat memberikan petunujk kepada faktor prenatal(termasuk genetic), natal, dan pascanatal yang mumngkin telaah mempengaruhi struktur atau fungsi system saraf pusat. Kecepatan perkembangan, penyimpangan perkembangan , dan reaksi parental terhadap transisi perilaku yang bermakna atau menegangkan harus dipastikan , karena dapat membantu klinisi menentukan derajat mana orangtua telah berperan atau bereaksi terhadap inefisiensi atau disfungsi anak. Riwayat disekolah dan laporan guru adalah penting dalam menilai apakah kesulitan anakdalam belajar dan perilaku sekolah terutama disebabkan oleh masalah perilaku atau maturasionalnya atau karena citra diri mereka yang buruk karena merasa tidak berdaya. Laporan tersebut mungkin juga mengungkapkan bagaimana anak telah menangani masalah tersebut. Bagaimana mereka berhubungan dengan sanak saudara, dengan teman sebaya, dan dengan aktivitas yang bebas dan terstruktur memberikan petunjuk diagnostik yang berguna mengenai adanya GDAH dan membantu mengidentifikasi komplikasi gangguan. Pemeriksaan status mental mungkin menunjukkan mood terdepresi sekunder tetapi tidak gangguan pikiran, gangguan tes realitas, atau afek yang tidak sesuai. Anak mungkin menunjukkan distraktibilitas yang besar, kekerasan hati, dan cara berpikir yang konkret dan harfiah. Indikasi masalah visual-perseptual, auditorik-perseptual, bahasa, atau kognisi mungkin ditemukan. Kadang-kadang, bukti-bukti menunjukkan kecemasan dasar, meresap, dan dengan dasar organic, seringkali dinamakan sebagai kecemasan tubuh (body anxiety). Pemeriksaan neurologist mungkin menemukan imaturitas atau gangguan visualmotorik-perseptual atau auditoris-diskriminatorik tanpa tanda gangguan ketajaman visual atau auditorik yang jelas. Anak-anak mungkin menunjukkan masalah pada koordinasi motorik dan kesulitan mencontoh gambar yang sesuai dengan usianya, gerakan yang berubah dengan cepat, diskriminasi kanan dan kiri, ambideksteritas, asimetri refleks, dan berbagai tanda neurologist nonfokal samara-samar (tanda lunak). Klinisi harus mendapatkan EEG untuk mengenali anak dengan pelepasan yang sering dan serempak secara bilateral yang mneyebabkan hilangnya pembicaraan yang singkat. Anak tersebut mungkin bereaksi di sekolah dengan hiperaktivitas untuk menyembunyikan frustasi. Anak dengan focus kejang lobus temporalis yang tidak diketahui dapat menunjukkan gangguan perilaku sekunder. Pada keadaan tersebut, beberapa ciri GDAH sering ditemukan. Identifikasi focus memerlukan EEG ynag diambil selama mengantuk dan selama tidur.
9

KRITERIA DIAGNOSTIK MENURUT DSM IV A. Salah satu (1) atau (2) : 1. Inatensi : enam (atau lebih) gejala inatensi berikut ini telah menetap selama sekurangnya enam bulan sampai tingkat yang maladaptive dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan: a) Sering gagal memberikan perhatian terhadap perincian atau melakukan kesalahan yang tidak berhati-hati dalam tugas sekolah, pekerjaan, atau aktivitas lain. b) Sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan atensi terhadap tugas atau aktivitas permainan c) Sering tidak tampak mendengarkan jika berbicara langsung d) Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah, pekerjaan, atau kewajiban di tempat kerja( bukan karena perilaku oposisional atau tidak dapat mengerti instruksi) e) Sering mengalami kesulitan dalam menyusun tugas dan aktivitas f) Sering menghindari, membenci, atau enggan, untuk terlibat dalam tugas yang memerlukan usaha mental yang lama (seperti tugas sekolah atau pekerjaan rumah) g) Sering menghindari hal-hal yang perlu untuk tugas atau aktivitas (misalnya, tugas sekolah, pensil, buku, atau peralatan) h) Sering mudah dialihkan perhatiannya oleh stimuli luar i) Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari 2. Hiperaktivitas-impulsivitas: enam (atau lebih) gejala hiperaktivitas-impulsivitas berikut ini telah menetap selama sekurangnya enam bulan sampai tingkat yang maladaptive dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan: Hiperaktivitas a) Sering gelisah dengan tangan dan kaki atau mengeliat-geliat di tempat duduk b) Sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau dalam situasi lain di mana diharapkan tetap duduk c) Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak tepat (pada remaja atau dewasa, mungkin terbatas pada perasaan subjektif kegelisahan) d) Sering mengalami kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas waktu luang secara tenang. e) Sering‖ siap-siap pergi‖ atau bertindak seakan-akan ― didorong oleh sebuah motor‖
10

f) Sering bicara berlebihan Impulsivitas a) Sering menjawab tanpa piker terhadap pertanyaan sebelum pertanyaan selesai b) Sering sulit menunggu gilirannya c) Sering memutus atau menganggu orang lain (misalnya, memotong masuk ke percakapan atau permainan) B. Beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau inatentif yang menyebabkan gangguan telah ada sebelum usia 7 tahun C. Beberapa gangguan akibat gejala ada selama dua atau lebig situasi ( misalnya di sekolah, dan di rumah) D. Harus terdapat bukti jelas adanya gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi social, akademik, atau fungsi pekerjaan. E. Gejala tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan perkembangan pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lain, dan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan disosiatif, atau gangguan kepribadian).

Penulisan didasarkan pada tipe: Gangguan deficit-atensi/hiperaktivitas, tipe kombinasi : jika memenuhi baik criteria A1 dan A2 selama enam bulan terakhir Gangguan deficit-atensi/hiperaktivitas, predominan tipe inatentif : jika memenuhi criteria A1 tetapi tidak criteria A2 selama 6 bulan terakhir Gangguan deficit-atensi/hiperaktivitas, predominan tipe hiperaktif-impulsif: jika

memenuhi criteria A2 tetapi tidak kriteria A1 selama 6 bulan terakhir. Catatan penulisan : untuk individu (terutama remaja dan dewasa) yang sekarang memiliki gejala yang tidak lagi memenuhi kriteria lengkap, harus dituliskan ― dalam remisi parsial‖

GAMBARAN KLINIS GDAH mungkin memiliki onset pada masa bayi. Bayi dengan GDAH adalah peka terhadap stimuli dan mudah dimarahkan oleh suara, cahaya, temperature, dan perubahan lingkungan lain. Kadang-kadang terjadi kebalikannya, anak-anak tenang dan lemah, banyak tidur, dan tampaknya berkembang lambat pada bulan-bulan pertama kehidupan. Tetapi, lebih sering untuk bayi dengan GDAH untuk bersikap aktif di tempat tidurnya, sedikit tidur, dan banyak menangis. Anak GDAH jauh lebih jarang dibandingkan anak normal untuk
11

menurunkan aktivitas lokomotoriknya saat lingkunagan mereka terstrukstur oleh batas-batas social. Di sekolah, anak GDAH dapat dengan cepat menyambar ujian tetapi hanya menjawab satu atau dua pekerjaan pertama. Mereka tidak mampu menunggu giliran orang lain. Di rumah, mereka tidak dapat didiamkan walaupun hanya semenit. Anak-anak dengan GDAH seringkali mudah marah secara meledak. Iritabilitas mereka mungkin ditimbulkan oleh stimuli yang relatif kecil, yang mungkin membingungkan dan mencemaskan anak. Mereka sering kali labil secara emosianal, mudah dibuat tertawa atau menagis, dan mood dan kinerja mereaka cenderung bervariasi dan tidak dapat diramalkan. Impulsivitas dan ketidakmampuan menunda kegembiraan adalah karakteristik. Mereka seringkali rentan terhadap kecelakaan. Kesulitan emosional penyerta adalah sering ditemukan. Kenyataan bahwa anak-anak lain menumbuhkan perilaku tersebut tetapi anak GDAH tidak menumbuhkannya pada waktu dan kecepatan yang sama dapat menyebabkan ketidakpuasan dan tekanan pada orang dewasa. Konsep diri yang negatif dan permusuhan reaktif yang dihasilkannya adalah diperburuk oleh kesadaran anak bahwa ia memiliki masalah. Karakteristik anak-anak dengan GDAH yang tersering dinyatakan adalah dalam urutan frekuansi: (1) hiperaktivitas, (2) gangguan motorik perseptual, (3) labilitas emosional, (4) defisit koordinasi menyeluruh, (5) gangguan atensi (rentang atensi yang pendek, distraktibilitas, keras hati, gagal menyelesaikan hal, inatensi, konsentrasi yang buruk), (6) impulsivitas (bertindak sebelum berpikir, mengubah perilaku dengan tiba-tiba, tidak memilki organisasi, meloncat-loncat di sekolah), (7) gangguan daya ingat dan pikiran, (8) ketidakmampuan belajar spesifik, (9) gangguan bicara dan pendengaran, dan (10) tanda neurologis dan iregularitas EEG yang samar-samar. Kira-kira 75% anak-anak dengan GDAH hampir konsisten mennujukkan gejala

perilaku agresi dan menantang. Tetapi, bilamana menantang dan agresi adalah berkaitan dengan hubungan dalam keluarga yang merugikan, hiperaktivitas lebih erat berhubungan dengan gangguan kinerja pada tes kognitif yang mmerlukan konsentrasi. Beberapa penelitian menyatakan bahwa beberapa sanak saudara dari anak-anak hiperaktivitas menunjukkan ciriciri gangguan kepribadian antisosial. Kesulitan sekolah, baik belajar maupun perilaku adalah sering ditemukan, kadangkadang berasal dari gangguan komunikasi atau gangguan belajar yanga ada bersama-sama atau dari distraktibilitas anak dan atensi yang berfluktuasi, yang menghalangi perolehan, penahanan, dan penunjukkan ilmu penegtahuan. Kesulitan tersebut ditemukan terutama pada kelompok uji. Reaksi merugikan personal sekolah terhadap karakteristik perilaku GDAH dan
12

menurunnya penghargaan diri karena merasa tidak mampu dapat berkombinasi dengan komentar merugikan dari teman sebaya sehingga menyebabkan sekolah menjadi tempat yang tidak menyenangkan, yang dapat menyebabkan dilakukannya perilaku antisosial dan perilaku merendahkan diri sendiri dan menghukum diri sendiri. Seorang laki-laki berusia 9 tahun dirujuk ke dokter psikiatri anak atas permintanan sekolahnya karena kesulitan yang dibuatnya di kelas. Ia telah 2 kali diberhen tikan sementara dari sekolah selama setahun. Gurunya mengeluh bahwa ia sangat tidak dapat diam sehingga murid-murid lain tidak dapat diam sehingga murid-murid lain tidak dapat memusatkan perhatian. Ia tidak pernah berada di bangkunya tetapi berjalan-jalan di sekolah, berbicara dengan anak lain saat mereka bekerja. Ia tampaknya tidak pernah mau tahu apa yang harus dikerjakanya kemudian dan kadang-kadnag melakukan sesuatu yang aneh. Pemberhentian sementara sementara dari sekolah terakhir ini adalah karena ia berayun-ayun dari tiang lampu di atas papan tulis, dimana ia mendakinya untuk pindah dari satu kelas ke kelas lain; karena ia tidak dapat turun lagi, kelas menjadi gaduh. Ibunya berkata bahwa perilaku anak telah sulit sejak ia masih kecil dan bahwa, saat ia berusia 3 tahun, ia tidak sangat bayank gerak dan menuntut. Ia hampir selalu membutuhkan tidur sebentar dan terbangun sebelum orang lain terbangun. Saat ia kecil, ‖ia masuk ke dalam apa saja,‖ terutama di pagi hari, saat ia akan terbangun pada jam 4.30 atau 5.00 pagi dan menuruni tangga sendirian. Orang tuanya akan terbangun dan menemukan ruang keluarga atau dapur ‖berantakan‖. Saat ia beruasia 4 tahun, ia belajar membuka kunci pintu apartemen dsna berjalan ke jalan utama yang ramai; untungnya ia diselamatkan dari kecelakaan lalulintas oleh orang-orang yang lewat. Ia ditolak oleh program prasekolah karena perilakunya yang sulit; akhirnya, setelah satu tahun penuh kesulitan di taman-kanak-kanak, ia dimasukkan di dalam program perilaku khusus untuk anak kelas satu dan kelas dua. Ia masuk dalam kelas yang biasanya untuk sebagain besar mata pelajaran tetapi menghabiskan banyak waktu di ruangan khusus dengan guru khusus. Tes psikologis menemukan bahwa anak laki-laki tersebut memiliki kemampuan ratarata, pencapaiannya hanya sedikit di bawah tingkat yang diharapkan. Rentang perhatiannya dijelaskan oleh ahli psikologis sebagai ‖ sebenarnya tidak ada‖. Ia tidak memiliki minat untuk menonton televisi dan tidak menyukai permainan dan mainan yang memerlukan konsentrasi atau ketenangan. Ia tidak populer dengan anak-anak lain, dan di rumah ia lebih senang berada di luar, bermain dengan anjingnya atau mengendarai sepedanya. Jika ia bernmain dengan mainan, permaniannya adalah merusak dan menghancurkan, ibunya tidak dapat meminta ia untuk menjaga barang-barangnya.
13

Ia juga tidak patuh dan dalam tahun-tahun selanjutnya telah provokatif dan menantang di sekolah dan, dengan suatu tingkat, di rumah. Ia telah mencuri sejumlah kecil uang dari rumah dan sekolah, dan anak lain telah mengeluh karena ia telah mengambil mainan kecil mereka yang dibawa dari rumah. Anak laki-laki tersebut telah diobati dengan stimulan, methylphenidate (Ritalin), dalam dosis kecil (5-10 mg sehari); tetapi medikasi tersebut telah dihentikan setahun yang lalu, tampaknya kerena tidak memiliki efek pada sikap menantang dan masalah

kelakuannya. Saat ia mengguanakan obat, ia jauh lebih mudah ditangani di sekolah; ia kurang banyak bergerak dan kemungkinan lebih banyak memperhatikan dibandingkan sebelumnya, walaupun aspek lain dari perilakunya adalah tidak memuaskan. Diskusi. Perilaku anak laki-laki tersbut secara grafis menunjukkan inatensi, impulsivitas, dan hiperaktif yang karaktersitik dari gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas. Ia mengalami kesulitan untuk tetap duduk berpikir, tidak dapat mengikuti instruksi, tidak dapat mempertahankan perhatian, sering terlihat tidak mendengarkan apa yang dikatakan pada dirinya, bnerpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, memiliki kesulitan dalam bermain dengan tenang, dan sering terlibat dalam aktivitas fisisk yang berbahaya tanpa memikirkan akibatnya. Karena ia hampir selalu memiliki gejala lain gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas (seperti sulit menunggu gilirannya, menjawab pertanyaan tanpa dipikir, banyak bicara, dan mengganggu orang lain) dan karena gejalanya dengan bermakna mengganggu fungsinya di rumah dan di sekolah, dinyatakan bahwa gangguan adalah parah.

PEMERIKSAAN PATOLOGI & LABOLATORIUM Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang patogmonik untuk gangguan defisit-atensi /hiperaktivitas. Beberapa pemeriksaan laboratorium sering menemukan hasil abnormal yang tidak spesifik pada anak-anak hiperaktif, seperti hasil EEG yang terdisorganisasi dan imatur, dan tomografi emisi positron (PET) mungkin menunjukkan penurunan aliarn darah serebral di daerah frontalis. Tes kognitif yang membantu dalam menegakkan inatensi dan impulsivitas anak adalah tugas kinerja kontinu, dimana anak diminta memijat tombol tiap kali urutan huruf atau angka tertentu ditampilkan di layar. Anak-anak dengan atensi yang buruki membuat kesalahan tindakan yaitu, mereka tidak memijat tombol, walaupun urutan tersebut telah ditampilkan. Impulsivitas dimanifestasikan oleh kesalahan tindakan, dimana mereka tidak mampu menahan memijat tombol, walaupun urutan yang diinginkan belum ditampilkan di layar.
14

KRITERIA

DIAGNOSTIK

UNTUK

GANGGUAN

DEFISIT

ATENSI

/

HIPERAKTIVITAS YANG TIDAK DITENTUKAN Kategori ini adalah untuk gangguan dengan gejala defisitatensi atau hiperaktivitasimpulsivitas yang menonjol yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan

defisitatensi/hiperaktivitas.

PERILAKU YANG MENYERTAI a. Gangguan belajar. b. Depresi. c. Kecemasan. d. Kepribadian anti sosial. e. Perilaku obsesif – kompulsif

DIAGNOSA BANDING Suatu kumpulan temperamental yang terdiri dari tingkat aktivitas yang tinggi dan rentang perhatian yang pendek harus dipertimbangkan pertama kali. Membedakan karakteristik temperamental tersebut dari gejala utama GADH sebelum usia 3 tahun adalah sulit, terutama karena bertumpangtindihnya ciri-ciri sistem saraf pusat yang imatur secara normal dan timbulnya tanda gangguan visual-motorik-perseptual yang sering ditemukan pada GADH. Kecemasan pada anak perlu diperiksa. Kecemasan mungkin menyertai GDAH sebagai ciri sekunder, dan kecemasan sendiri mungkin dimanifestasikan oleh overaktivitas dan distraktibilitas. Banyak anak dengan GADH memiliki depresi sekunder sebagai reaksi terhadap frustasi terus-menerus yang dirasakan mereka terhadap kegagalan mereka untuk belajar dan rasa rendah diri mereka. Kondisi tersebut harus dibedakan dari gangguan depresif primer, yang kemungkinan dibedakan oleh hipoaktivitas dan menarik diri. Seringkali, gangguan konduksi dari berbagai jenisnya harus dibedakan dari GADH, karena anak-anak mungkin tidak mampu membaca atau mengerjakan matematika karena gangguan belajar, bukannya inatensi. Tetapi gangguan defisit-atensi/ hiperaktivitas sering ditemukan salah satu atau lebih gangguan belajar, termasuk gangguan membaca, gangguan matematika, dan gangguan ekspresi menulis.
15

PERJALANAN PENYAKIT & PROGNOSIS Penyakit-penyakit GDAH agak bervariasi. Gejala dapat menetap sampai masa remaja atau kehidupan dewasa, gejala dapat menghilang pada pubertas, atau hiperaktivitas mungkin menghilang, tetapi penurunan rentang atensi dan masalah pengendalian impuls mungkin menetap. Overaktivitas biasanya merupakan gejala pertama yang menghilang dan

distraktibilitas adalah yang terakhir. Remisi mungkin tidak terjadi sebelum usia 12 tahun. Jika remisi memang terjadi, biasanya terjadi antara usia 12 dan 20 tahun. Remisi dapat disertai dengan masa remaja dan kehidupan dewasa yang produktif, hubungan interpersonal yang memuaskan, dan relatif sedikit sekuela yang bermakna. Tetapi, sebagian besar pasien dengan GDAH mengalami remisi parsial dan rentan terhadap gangguan kepribadian antisosial dan gangguan kepribadian lain dan gangguan mood. Masalah belajar seringkali terus ada. Pada kira-kira 15 sampai 20 persen kasus, gejala GDAH menetap sampai dewasa. Mereka dengan gangguan mungkin menunjukkan penurunan hiperaktivitas tetapi tetap impulsif dan rentan terhadap kecelakaan . Walaupun pencapaian pendidikan mereka adalah lebih rendah dari orang tanpa GDAH, riwayat pekerjaan awal mereka adalah tidak berbeda dari orang dengan pendidikan yang sama. Anak-anak dengan GDAH yang gejalanya menetap samapi masa remaja adalah berada dalam resiko tinggi untuk mengalami gangguan konduksi. Kira-kira 50% anak-anak dengan gangguan konduksi akan mengembangkan gangguan kepribadian antisosial di masa dewasanya. Anak-anak dengan kedua GDAH dan gangguan konduksi juga berada dalam resiko mengalami gangguan berhubungan dengan zat. Secara keseluruhan , hasil akhir GDAH pada masa anak-anak tampaknya berhubungan dengan jumlah gangguan konduksi yang menetap dan faktor keluarga yang kacau. Hasil optimal tampaknya dipermudah dengan menghilangkan agresi anak dan dengan menghilangkan agresi anak dan dengan memperbaiki fungsi keluarga sedini mungkin.

TERAPI a) Farmakoterapi Agen farmakologis untuk GDAH adalah stimulan sistem saraf pusat, terutama dextroamphetamine (Dexedrine), methylphenidate, dan pemoline (Cylert). Food And Drug administration (FDA) mengizinkan deztroamphetamine pada anak berusia 3 tahun

16

dan lebih dan methylphenidate pada anak berusia 6 tahun dan lebih; keduanya adalah obat yang paling sering digunakan. Mekanisme kerja yang tepat dari stimulan tetap tidak diketahui. Pendapat respons paradoksikal oleh anak hiperaktif tidak lagi diterima. Methylphenidate telah terbukti sangat efektif pada hampir tigaperempat anak dengan GDAH dan memiliki efek samaping yang relatif kecil. Methylphenidate adalah medikasi kerja singkat yang biasanyaa digunakan secara efektif selama jam-jam sekolah, sehingga anak dengan gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas dapat memperhatikan tugasnya dan tetap di dalam ruang kelas. Efek samping obat yang paling sering adalah nyeri kepala, nyeri lambung, mual, dan insomnia. Beberapa anak mengalami efek ’’rebound‖, dimana mereka menjadi agak mudah marah dan tampak agak hiperaktif selama waktu yang singkat saat medikasi dihentikan. Pada anak-anak dengan riwayat tik motorik, harus digunakan dengan berhatihati, karena pada beberapa kasus, methylphenidate dapat menyebabkan eksaserbasi gangguan tik. Permasalahan lain yang sering tentang metyhlphenidate adalah apakah obat akan menyebabkan supresi pertumbuhan, tetapi anak cenderung tumbuh saat mereka diberikan libur obat di musim panas atau pada akhir minggu. Pertanyaan penting tentang pemakaian methylpenidate adalah bagaimana obat menormalkan prestasi sekolah. Penelitian terakhir menemukan bahwa kira-kira 75% kelompok anak hiperaktif menunjukkan perbaikan bermakna dalam kemampuan mereka untuk memperhatikan di kelas dan pengukuran efisiensi akademik saat diobati dengan methylpenidate. Obat telah ditunjukkan memperbaiki skor anak hiperaktif pada tugas yang membutuhkan kegigihan, seperti tugas kinerja kontinu dan asosiasi berpasangan. Antidepresan – termasuk imipramine (Tofranil), desipramine, dan nortriptyline (Pamelor) – telah banyak digunakan untuk mengobati GDAH dengan suatu keberhasilan. Pada anak-anak dengan gangguan kecemasan atau gangguan depresif komorbid dan pada anak-anak dengan gangguan tik yang menghalangi pemakaian stimulan, antidepressan mungkin berguna, walaupun, untuk hiperaktivitasnya sendiri, stimulan adalah lebih manjur. Antidepressan memerlukan monitoring yang cermat pada fungsi jantung. Penelitian melaporkan kematian mendadak pada anak dengan GDAH yang sedang diobati dengan desipramine. Mengapa kematian terjadi adalah tidak jelas, tetapi kematian mendorong perlunya follow-up yang ketat pada tiap anak yang mendapatkan obat trisiklik. Penelitian terakhir terhadap anak-anak dengan GDAH dan gejala depresif yang menggunakan methylpenidate dan desipramine secara bersama-sama menemukan bahwa
17

kombinasi tersebut meningkatkan kemampuan anak untuk menggunakan strategi pelacakan visual (visual search) pada tugas kognitif tertentu seperti membandingkan beberapa gambar dengan perbedaan yang tersembunyi – sebagai contoh, tugas mencocokan wajah yang dikenali. Clonidine telah juga digunakan dalam terapi GDAH dengan suatu tingkat keberhasilan. Obat ini terutama berguna pada kasus dimana pasien juga menderita gangguan tik. Secara keseluruhan, stimulan tetap merupakan obat pilihan pertama dalam terapi farmakologis GDAH. PEMERIKSAAN KEMAJUAN TERAPEUTIK. Monitoring dimulai pada awal medikasi. Karena kinerja sekolah yang paling sering terganggu, perhatian dan usaha khusus harus diberikan untuk menegakkan dan mempertahankan hubungan kerja yang erat dengan sekolah anak. Pada sebagian besar pasien, stimulan menurunkan overaktivitas, distraktibilitas, impulsivitas, eksplosivitas, dan iritabilitas. Tidak ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa medikasi secara langsung memperbaiki tiap gangguan belajar yang telah ada sebelumnya, walaupun, jika defisit atensi menghilang, anak dapat belajar dengan lebih efektif dibandingkan sebelumnya. Di samping itu, anak-anak GDAH tidak lagi secara terusmenerus ditegur karena perilaku mereka.

b) Psikoterapi Medikasi sendiri saja jarang memuaskan kebutuhan terapeutik yang meneyluruh pada anak GADH dan biasanya hanya merupakan satu segi dari regimen multimodalitas. Pada psikoterapi individual, modifikasi perilaku, konseling orang tua, dan terapi tiap gangguan belajar yang menyertai mungkin diperlukan. Jika menggunakan medikasi, anak dengan GDAH harus diberikan kesempatan untuk menggali arti medikasi bagi mereka. Dengan melakukan hal itu akan menghilangkan kekeliruan pengertian (seperti, ‖saya gila‖) tentang pemakaian medikasi dan menjelaskan bahwa medikasi hanya sebagai tambahan. Anak-anak harus mengerti bahwa mereka tidak perlu selalu sempurna. Jika anak-anak dengan GDAH dibantu untuk menyusun lingkungannya, kecemasan mereka menghilang. Dengan demikian, orang tua dan guru mereka harus membangun struktur hadiah atau hukuman yang dapat diperkirakan, dengan menggunakan model terapi perilaku dan menerapkannya pada lingkungan fisik, temporal, dan interpersonal. Persyaratan yang hampir universal untuk terapi adalah membantu orang tua untuk menyadari bahwa sikap serba mengizinkan adalah tidak membantu bagi
18

anak-anak mereka. Orang tua harus juga dibantu untuk menyadari, bahwa walaupun ada kekurangan pada anak-anak mereka dalam beberapa bidang, mereka menghadapi tugas maturasi yang normal, termasuk perlu mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka. Dengan demikian, anak-anak dengan GDAH tidak mendapatkan manfaat dari dibebaskan dari persyaratan, harapan, dan perencanaan yang berlaku untuk anak lain.

AUTISME Definisi Autisme berasal dari kata ―autos‖ yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di ―alamnya‖ sendiri. Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 ( dalam Budiman, 1998) seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolaholah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi. Pada awalnya istilah ―autisme‖ diambilnya dari gangguan schizophrenia, dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia, autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung halusinasi dan delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan yang tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistik yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).

Gejala Klinis Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia satu tahun. Yang sangat
19

menonjol adalah tidak adanya kontak mata dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal, seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3 - 4 bulan. Bila ibu merangsang bayinya dengan menggerincingkan mainan dan mengajak berbicara, maka bayi tersebut akan berespon dan bereaksi dengan ocehan serta gerakan. Makin lama bayi makin responsive terhadap rangsang dari luar seiring dengan berkembangnya kemampuan sensorik. Pada umur 6-8 bulan ia sudah bisa berinteraksi dan memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara. Hal ini tidak muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Ia bersikap acuh tidak acuh dan seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain. Ia lebih suka bermain dengan ―dirinya sendiri‖ atau dengan mainannya. Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, ( Budiman, 1998) yaitu: 1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti , echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti maknanya, dstnya. 2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dstnya. 3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang berlebih ( excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana. 4. Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. 5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya. Gejala –gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme, tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.

KRITERIA DIAGNOSTIK
20

Pada dasarnya gangguan autisme tergolong dalam gangguan perkembangan pervasive, namun bukan satu-satunya golongan yang termasuk dalam gangguan perkembangan pervasive ( Pervasive Developmental Disorder) menurut DSM IV ( 1995). Namun dalam kenyataannya hampir keseluruhan golongan gangguan perkembangan pervasif disebut oleh para orangtua atau masyarakat sebagai Autisme. Padahal di dalam gangguan perkembangan pervasive meski sama-sama ditandai dengan gangguan dalam beberapa area perkembangan seperti kemampuan interaksi sosial, komunikasi serta munculnya perilaku stereotipe, namun terdapat Beberapa perbedaan antar golongan gangguan autistik (Autistic Disorder) dengan gangguan Rett ( Rett’s Disorder), gangguan disintegatif masa anak ( Childhood Disintegrative Disorder ) dan gangguan Asperger ( Asperger’s Disorder ). Gangguan autistik berbeda dengan gangguan Rett dalam rasio jenis kelamin penderita dan pola berkembangnya hambatan. Gangguan Rett hanya dijumpai pada wanita sementara gangguan Autistik lebih banyak dijumpai pada pria dibanding wanita dengan ratio 5 : 1. Selanjutnya pada sindroma Rett dijumpai pola perkembangan gangguan yang disebabkan perlambatan pertumbuhan kepala (head growth deceleration), hilangnya kemampuan ketrampilan tangan dan munculnya hambatan koordinasi gerak. Pada masa prasekolah, sama seperti penderita autistik, anak dengan gangguan Rett mengalami kesulitan dalam interaksi sosialnya. Selain itu gangguan Autistik berbeda dari Gangguan Disintegratif masa anak, khususnya dalam hal pola kemunduran perkembangan. Pada Gangguan Disintegratif, kemunduran (regresi) terjadi setelah perkembangan yang normal selama minimal 2 tahun sementara pada gangguan autistik abnormalitas sudah muncul sejak tahun pertama kelahiran. Selanjutnya, gangguan autistik dapat dibedakan dengan gangguan Asperger karena pada penderita asperger tidak terjadi keterlambatan bicara. Penderita Asperger sering juga disebut dengan istilah ― High Function Autism‖ , selain karena kemampuan komunikasi mereka yang cukup normal juga disertai dengan kemampuan kognisi yang memadai. Secara detail, menurut DSM IV ( 1995), kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut : A. Harus ada total 6 gejala dari (1),(2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari ( 2 ) dan (3) : 1. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalam sedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini : a. Kelemahan dalam penggunaan perilaku nonverbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi sosial.
21

b. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya. c. Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan orang lain. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik. 2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini: a. Perkembangan bahasa lisan ( bicara) terlambat atau sama sekali tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk berkomunikasi secara non verbal. b. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi c. Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulangulang. d. Kurang mampu bermain imajinatif ( make believe play ) atau permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf

perkembangannya. 3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang. Minimal harus ada 1dari gejala berikut ini : a. Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan focus dan intensitas yang abnormal/ berlebihan. b. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas c. Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti

menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan tubuh. d. Sikap tertarik yang sangat kuat/ preokupasi dengan bagian-bagian tertentu dari obyek. B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif. C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak Dengan mempelajari kriteria diagnostik di atas, sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk menentukan apakah seorang anak termasuk penyandang autisme atau gangguan perkembangan lainnya. Namun kesalahan diagnosis masih sering terjadi terutama pada autisme ringan yang umumnya disebabkan adanya tumpang tindih gejala. Sebagai contoh, penyandang hiperaktivitas dengan konsentrasi yang kurang terfokus kadang kala juga
22

menunjukkan keterlambatan bicara dan bila dipanggil tidak selalu berespon sesuai yang diharapkan. Demikian juga bagi penderita retardasi mental yang moderate, severe dan profound mereka menunjukkan gejala yang hampir sama dengan autisme seperti keterlambatan bicara, kurang adaptif dan impulsif.

PENYEBAB AUTISME Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam catatan pakar autis ( Nakita, 2002 ) jumlah penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran normal dari tahun ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah mencapai 1 dari 100 kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan pertanyaan, ada perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus terjadinya autisme bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di berbagai negara. 4.1. FAKTOR PSIKOGENIK Ketika autisme pertamakali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasu perdana banyak ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan,` yang orangtuanya bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak yang akhirnya menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak. Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik yang menerangkan penyebab autisme dari factor-faktor psikologis, dalam hal ini perlakuan/ pola asuh orangtua. Namun penelitian-penelitian selanjutnya tidak menyepakati pendapat Kanner. Alasannya, teori psikogenik tidak mampu menjelaskan ketertinggalan perkembangan kognitif, tingkah laku maupun komunikasi anak autis. Penelitian-penelitian selanjutnya lebih memfokuskan kaitan factor-faktor organik dan lingkungan sebagai penyebab autis. Kalau semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat ini bergeser ke factor organik dan lingkungan. 4.2. FAKTOR BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus lainnya penyebabnya bisa tidak sama. Penelitian tentang faktor organik menunjukkan adanya kelainan/keterlambatan dalam tahap perkembangan anak autis sehingga autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam perkembangan (developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian dan diagnosis dalam DSM IV.
23

Hasil pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian mengarahkan dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak, dalam hal ini neurotransmitter yang berbeda dari orang normal. Neurotransmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita,2002). Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis, diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal, komplikasi persalinan, dan genetik. Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus dan zat-zat kimia/ logam dapat mengakibatkan munculnya autisme. Zat-zat beracun seperti timah ( Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok; kadmium (Cd) dari batu baterai serta turunan air raksa ( Hg) yang digunakan sebagai bahan tambalan gigi ( Amalgam). Apabila tambalan gigi digunakan pada calon ibu, amalgam akan menguap didalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan disimpan dalam tulang. Ketika ibu hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal dari tulang ibu yang sudah mengandung logam berat. Selanjutnya proses keracunan logam beratpun terjadi pada saat pemberian Asi dimana logam yang disimpan ibu ikut dihisap bayi saat menyusui. Sebuah vaksin, MMR ( Measles, Mumps & Rubella) awalnya juga diperkirakan menjadi penyebab autisme pada anak akibat anak tidak kuat menerima campuran suntikan tiga vaksin sekaligus sehingga mereka mengalami kemunduran dan memperlihatkan gejala autisme. Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya kasus autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung ( siblings) anak penyandang autisme terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3 % untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat hasil yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri memang tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sample kecil . Penelitian pada kembar identik 1 telur menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya autis ( Nikita, 2002). Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan autisme diantaranya adalah usia ibu ( makin tinggi usia ibu, kemungkinan menyandang autis kian
24

besar ), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.

PENEGAKAN DIAGNOSA AUTISME Penegakan diagnosa yang tepat akan menghasilkan intervensi dan treatmen yang tepat, oleh karena itu penting sekali penegakan diagnosa dilakukan secara teliti dan akurat. Pemeriksaan terhadap anak penyandang autisme secara terpadu perlu dilakukan. Tim yang terdiri dari ahli psikologi anak, dokter anak, dokter neurologis serta ahli pendidikan perlu duduk bersama dalam menangani kasus ini. 6.1 Tes –tes psikologi 6.1.1 Tes PEP-R Berdasarkan pengalaman Sleeuwen ( 1996) , tes khusus untuk anak autistik disebut dengan Psycho Educational Profile Revised ( PEP-R). Tes tersebut dikembangkan oleh di Teacch, sebuah program pendidikan khusus untuk anak autis. Tes ini digunakan untuk anak autistik atau yang terganggu perkembangannya dan dipakai pada anak-anak dengan usia kronologis 6 bulan sampai dengan 7 tahun. Tes PEP-R ini memberikan informasi tentang fungsi perkembangan seperti imitasi, persepsi, ketrampilan motorik halus, ketrampilan motorik kasar, korrdinasi mata dan tangan, performansi kognitif dan kognisi verbal, Tes PEP-R juga dapat mendeteksi masalah-masalah dalam hal relasi dan afeksi, permainan dan minat terhadap benda dan respon penginderaan dan bahasa. Skor PEP-R digunakan untuk membuat rencana pendidikan individual anak sehingga guru dapat tertolong dalam menangani anak autistik. 6.1.2 Vineland Social Maturity Scale Skala Kematangan Sosial Vineland biasanya juga digunakan sebagai data tambahan untuk mendukung diagnosa. Semua versi dari Vineland ( dalam Anastasi, 1997 ) terfokus pada apa yang biasa dilakukan individu dan dirancang untuk menilai prilaku adaptif. Data diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara orangtua. Tes Vineland mengklasifikasikan empat domain/ranah adaptif utama yaitu ranah komunikasi, ranah ketrampilan sehari-hari, ranah sosialisasi, ranah ketrampilan motorik yang kemudian disertai dengan komposit perilaku adaptif dan maladaptif. Hasil tes Vineland penyandang autis berada pada kriteria kematangan sosial yang jauh dibawah rata-rata anak seusianya. 6.2. Diagnosa berdasarkan kriteria DSM IV
25

autisme tergolong dalam gangguan perkembangan pervasive dan dalam penegakan diagnosa didasarkan pada adanya hambatan pada 3 bidang utama yaitu interaksi sosial, komunikasi dan tingkah laku yang repetitive dan berulang. Selain itu dalam penegakan diagnosa autisme perlu diperhatikan: a. Diagnosa yang berhubungan dan mental retardasi. Dalam beberapa kasus, autisme berhubungan dengan mental retardasi, umumnya pada kriteria Moderate Mental Retarded, IQ 35 – 50 (DSM IV, 1995). Hampir 75% penyandang autisme berada pada taraf intelegensi mental retardasi. Terjadi abnormalitas dalam perkembangan kognitif penyandang autisme. Sementara menurut Sleeuwen (1996) sekitar 60 % anak-anak autistik menderita retardasi mental tingkat moderate ( IQ 35- 50) dan 20 % anak mengalami mental retardasi ringan sedangkan 20 % lainnya tidak mengalami mental retardasi dan memiliki IQ > 70 ( normal ). Beberapa anak memiliki apa yang disebut ― pulau intelegensi‖ yang artinya mereka memiliki bakat khusus di bidang-bidang tertentu seperti musik, berhitung, menggambar, dsbnya. Selanjutnya Sleeuwen menyatakan dalam mendeteksi mental retardasi pada anak autis dapat dilihat dari kemampuan umum anak yang jauh di bawah rata-rata anak seusianya ( terbelakang ) dan hambatan dalam komunikasi serta pemahaman sosial. Epilepsi yang menyertai juga berkaitan dengan kapasitas intelegensi yang rendah, namun 1 dari 20 anak yang mengalami epilepsi memiliki fungsi mental yang cukup baik. Retardasi mental dan autisme muncul bersamaan dari awal. b. Hubungannya dengan hasil laboratorium Jika autisme dikaitkan dengan kondisi kesehatan umum, ditemukan bahwa ada perbedaan aktivitas serotonin namun tidak begitu jelas terlihat. Namun hasil pemeriksaan EEG menunjukkan abnormalitas. ( DSM IV, 1996 ) c. Hubungannya dengan kondisi kesehatan umum Beberapa simptom kelainan neurologis terlihat pada penyandang autis, seperti refleks yang primitif, keterlambatan penggunaan tangan yang dominan, dsbnya. Kondisi ini berkaitan dengan kondisi kesehatan umum seperti enchepalitis, phenylketonuria, fragile X syndrome, anoxia saat kelahiran dan maternal rubella). 6.3.Diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan medis - neurologis Faktor biologis diperkirakan juga memberikan andil bagi berkembangkany gangguan autisme pada anak. Oleh karena itu untuk mendukung penegakan diagnosa diperlukan pemeriksaan kesehatan dan neurologis yang lengkap dan terpadu.

26

Selain diagnosa autisme, menurut dr. Rudi Sutadi (1998) terdapat juga pengklasifikasian berat-ringannya autisme dengan menggunakan CARS ( Childhood Autisme Rating Scale ). Untuk keperluan ilmiah, klasifikasi ini bermanfaat. Namun disarankan untuk hati-hati dalam penggunaan klasifikasi ringan-sedang-berat ini disebabkan untuk penanganan autis sampai saat ini peringkat tersebut tidak dikaitkan dengan perbedaan prognosis dan intervensi. Intervensi autisme pada klasifikasi manapun tetap sama yaitu intervensi (terutama tata laksana perilaku) yang terpadu dan optimal. Kehati-hatian penggunaan peringkat ini juga disebabkan pengaruhnya pada orangtua penyandang autisme. Bila anak didiagnosis menderita autisme ringan, dapat menimbulkan kelengahan pada orangtua untuk melaksanakan tatalaksana yang optimal. Sedangkan bagi mereka yang dinyatakan berat, mungkin saja mereka menjadi depresi dan putus asa sehingga tidak berbuat apa-apa pada anak mereka.

PENANGANAN ANAK AUTIS Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua adalah apakah anaknya dapat secara total bebas dari autisme. Agak sulit untuk menerangkan pada orang tua bahwa autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan ( not curable ), namun bisa diterapi ( treatable ). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anakanak lain secara normal. ( Wenar, 1994 ) Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor ( Budiman, 1998 ) yaitu : a. berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak. b. usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil. c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya d. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbedabeda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai prognosis yang lebih baik. e. Terapi yang intensif dan terpadu. 7.1. TERAPI YANG TERPADU Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak. Penanganan penyandang
27

autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik. Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain : a. Terapi medikamentosa b. Terapi psikologis c. Terapi wicara d. Fisioterapi 7.1.1. Terapi medikamentosa Menurut dr. Melly Budiman ( 1998) , pemberian obat pada anak harus didasarkan pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian obat yang umumnya berlangsung jangka panjang. Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga diberika obatobat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI ( Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Yang diinginkan dalam pemberian obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya. Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi bahkan dihentikan. 7.1.2. Terapi psikologis Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat dan mudah hilang ( Wenar,1994 ). Umumnya intervensi difokuskan pada meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri ( self mutilation ), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu dan bukan ―menyembuhkan‖ dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi normal. Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) membuat pendekatan yang komprehensif dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan :  membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal

28

 

meningkatkan kemampuan belajar anak autistik mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya ―hidup sendiri‖ . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini.

 

mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri sendiri mengurangi stress pada keluarga penderita autisme

Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen ( 1996 ) menyatakan intervensi psikologis anak-anak autistik harus terfokus pada :    memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan keterlambatan perkembangan secara menyeluruh memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh lingkungan yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai efek dari gangguan utama. Ketiga hal ini hanya dapat dilaksanakan pada lingkungan yang sangat terstruktur dan teratur dengan baik. Anak autistik memiliki pola berpikir yang berbeda, mereka mengalami kesulitan memahami lingkungannya. Oleh karena itu memberikan lingkungan terstruktur merupakan titik awal dalam proses intervensi penyandang autis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sbb: a. Keteraturan waktu dan tempat yaitu : jadwal harian yang tetap dan ruang yang pasti. Namun tidak berarti bahwa segala sesuatu harus terjadi dengan cara yang sama. Perubahanperubahan kecil juga diperlukan agar anak autis dapat meningkatkan fleksibilitas mereka. b. Berhubung adanya kesulitan berpikir dan bertingkah laku pada anak autis, maka perlu merangsang dan melatih anak melalui berbagai aspek yang disesuaikan dengan minat yang dimiliki anak. c. Pengajaran dilakukan secara bertahap dan bila memungkinkan menggunakan alat peraga d. Proses pendidikan berlangsung secara individual ( khusus ). Anak autis tidak memiliki ketrampilan sosial yang diperlukan untuk belajar dalam situasi kelompok. Oleh karena itu, pendekatan individual diberikan pada anak termasuk didalamnya individual play training. Training bermain ini merupakan terapi yang mengajari anak
29

bermain dan membimbing anak ke dalam berbagai kemungkinan fungsional suatu mainan. Contohnya seperti sebuah mobil tidak hanya merupakan benda dengan roda yang berjalan tetapi juga dapat disetir dan mengangkut orang dan benda-benda lain. Seperti halnya Rutter yang menekankan perlunya mengatasi stress pada keluarga, Sleeuwen ( 1996 ) juga menekankan pentingnya konseling keluarga. Setelah seorang anak didiagnosa autisme, adalah penting bahwa tidak hanya anak tersebut yang mendapatkan pertolongan, namun juga orang tua. Orang tua perlu diberikan pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak mereka yang menderita autis. Mereka juga dilibatkan dalam proses terapi ( Home training ). Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua belajar dan dilatih untuk dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan psikolog/terapis. Terapi tidak hanya dilakukan oleh terapis tetapi juga oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan meminimalisir kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai anak. 7.1.3. Terapi Wicara Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan bicara dan berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang autisme merupkan keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab lain. Salah seorang tokoh yang mengembangkan terapi bicara ini adalah Lovaas pada tahun 1977 yang menggunakan pendekatan behaviouris - model operant conditioning ( dalam Wenar, 1994 ). Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi terapis. Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) juga membahas mengenai terapi bicara dalam upaya meningkatkan kemampuan komunikasi anak autis. Ia membuat tabel Promotion of Language Development yang menerangkan alur kebutuhan dan masalah perkembangan bahasa anak autis disertai pemecahan masalah. 7.1.4. Fisioterapi Pada anak autisme juga diberikan fisioterapi yang berfungsi untuk merangsang perkembangan motorik dan kontrol tubuh. 7.2 Alternatif terapi lainnya Selain itu ada beberapa terapi lainnya yang menjadi alternatif penanganan penyandang autis menurut pengalaman Sleeuwen ( 1996 ) , yaitu : a. Terapi musik Meliputi aktivitas menyanyi, menari mengikuti irama dan memainkan alat musik. Musik dapat sangat bermanfaat sebagai media mengekspresikan diri, termasuk pada penyandang autis.
30

b. Son- rise program Program ini berdasarkan pada sikap menerima dan mencintai tanpa syarat pada anakanak autistik. Diciptakan oleh orangtua yang anaknya didiagnosa menderita autisme tetapi karena program latihan dan stimulasi yang intensif dari orangtua anak dapat berkembang tanpa tampak adanya tanda-tanda autistik. c. Program Fasilitas Komunikasi Meskipun sebenarnya bukan bentuk terapi, tetapi program ini merupakan metode penyediaan dukungan fisik kepada individu dalam mengekspresikan pikiran atau ideidenya melalui papan alfabet, papan gambar, mesin ketik atau komputer. d. Terapi vitamin Penyandang autis mengalami kemajuan yang berarti setelah mengkomsumsi vitamin tertentu seperti B 6 dalam dosis tinggi yang dikombinasikan dengan magnesium, mineral dan vitamin lainnya. e. Diet Khusus ( Dietary Intervention) yang disesuaikan dengan cerebral alergies yang diderita penyandang

GANGGUAN RETT Gangguan Rett atau dikenal dengan Rett syndrome (RS) merupakan gangguan genetika yang mengakibatkan adanya gangguan perkembangan otak. Gangguan ini muncul lebih banyak pada anak perempuan dibandingkan pria. Gangguan ini mirip sekali dengan gangguan autis, sehingga sindrom Rett juga dikenal sebagai gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorders;ASDs). American Psychiatric Association (APA) mengklasifikasikan gangguan Rett dalam gangguan perkembangan pervasif (pervasive development disorders; PDD) bersama dengan beberapa gangguan lain; gangguan autisme, sindromAsperger, gangguan disintegratif pada anak, dan gangguan perkembangan pervasif yang tidak terdefinisikan. Penyebab gangguan ini tidak diketahui dengan pasti, kebanyakan kasus disebabkan oleh faktor mutasi genetik yang terjadi secara tiba- tiba. Sampai saat ini masih terus dilakukan penelitian yang lebih mendalam penyebab dan pencegahan terjadinya gangguan ini. Bayi dengan sindrom Rett pada awal perkembangannya terlihat normal, akan tetapi gangguan ini sebenarnya sudah dibawa sejak lahir, selama itu, gangguan berkembang lambat namun gangguan barulah akan tampak jelas pada usia anak menjelang 18 bulan kemudian. Gangguan yang muncul berupa fungsi motorik dalam menggunakan tangan, berjalan,
31

berbicara, mengunyah dan bahkan adanya gangguan dalam bernafas. Gangguan tersebut merupakan kemunduran dalam perkembangan, bayi dengan gangguan Rett pada awalnya terlihat normal layaknya bayi- bayi normal lainnya, gangguan tersebut mulai terlihat nyata ketika usia mencapai 5 bulan dan tahun- tahun berikutnya. Bentuk- bentuk kemunduran dapat berupa gerakan tangan menjadi tak terkendali, gerakan yang terarah hilang, disertai dengan gangguan komunikasi dan penarikan diri secara sosial. Gerakan- gerakan otot tampak makin tidak terkoordinasi.

PENYEBAB Penyebab utama gangguan ini tidak diketahui secara pasti, namun banyak kasus yang terdeteksi disebabkan oleh mutasi dari gen MECP2, merupakan gen yang terlibat dalam pembuatan protein untuk perkembangan otak secara normal. Gen MECP2 terbentuk dari kromosom X, satu dari dua kromosom sebagai pembeda jenis kelamin seseorang. Pada wanita terdapat 2 kromosom X dalam setiap sel, mutasi gen disebabkan oleh ketidakmampuan sel- sel dalam tubuh untuk bekerja atau tidak berfungsi salah satu kromosom tersebut. Sehingga sel- sel tersebut gagal memutasikan dirinya untuk memiliki 2 kromosom yang sama setiap selnya. Sekitar 20% wanita yang memiliki RS mengalami gangguan mutasi gen MECP2. Menurut penelitian ditemukan perbedaan dalam setiap sel yang ada. Perbedaan antar sel ini masih dalam penelitian para ahli Beda halnya pada anak laki- laki yang memiliki kromosom X dan Y. Gangguan disebabkan oleh tidak berfungsinya kromosom X, sehingga anak laki- laki memiliki dampak yang lebih parah dibandingkan anak perempuan, kebanyakan dari mereka (anak laki-laki) meninggal lebih dahulu pada masa perkembangan kehamilan atau awal kelahiran. Beberapa anak laki- laki dengan gangguan Rett yang dapat bertahan hidup karena memiliki mutasi gen MECP2 dengan kromosom X lebih. Sangat sedikit dari anak laki-laki dapat memutasikan gen tersebut hanya beberapa sel saja, diantaranya dapat bertahan hingga usia dewasa. Sindrom Rett merupakan penyimpangan genetik, sangat sedikit kasus yang muncul akibat faktor turunan, mutasi genetik tersebut sifatnya random dan terjadi dengan spontan saat konsepsi terjadi.

GEJALA Gejala kemunculan adanya gangguan Rett sifatnya sangat bervariatif antara satu anak dengan anak yang lainnya. Beberapa bayi kadang secara langsung menunjukkan adanya
32

gangguan pada awal kelahiran, sementara lainnya beberapa bayi dapat diketahui adanya gangguan dikemudian hari. Gangguan Rett atau Rett sindrom terdiri dari beberapa tahap gangguan; 1) Stage I Gejala gangguan ini dimulai pada usia 6 sampai 18 bulan usia bayi. Pada tahap ini bayi mulai menghindari kontak mata dan kehilangan minat pada benda- benda mainan. Pada tahap ini bayi mengalami keterlambatan dalam merangkak dan duduk. 2) Stage II Gejala gangguan dimulai pada usia 1-4 tahun. Beberapa gangguan yang muncul;      Kehilangan kemampuan untuk berbicara Mengulang-ulang perbuatan yang sama Suka menggerakan tangan seperti sedang mencuci Menangis atau menjerit tanpa adanya provokasi Hambatan atau kesulitan dalam berjalan

3) Stage III Gejala gangguan dimulai berkisar antara usia 2-10 tahun. Meskipun gangguan gerak terus berlanjut, anak dengan gangguan Rett masih mengalami perkembangan perilaku. Beberapa gangguan lain pada tahap ini;     Sering menangis atau menjerit tanpa sebab yang jelas Perilaku waspada Permasalahan atensi Hambatan dalam komunikasi nonverbal

4) Stage IV Tahap gangguan ini merupakan lanjutan dari stage sebelumnya, gejala yang muncul pada usia relatif terutama pada ebilitas (kemampuan) mobilitas diri. Gangguan yang muncul berupa gangguan komunikasi, kesulitan dalam memahami bahasa, gangguan psikomotorik pada tangan. Penderita gangguan Rett terlihat lemah dan beberapa diantaranya didiagnosa mengidap scoliosis. Beberapa fakta, pada tahap ini terjadinya penurunan perilaku mengulang bermain- main jari- jari tangan seperti mencuci. Banyak pasien dengan gangguan Rett meninggal secara tiba- tiba pada saat tidur. Diperkirakan adanya kerusakan syaraf otak yang berhubungan dengan sistem pernafasan, kondisi ini disebut dengan sudden infant death syndrome (SIDS). Rata-rata usia pasien

33

dengan sindrom Rett dapat bertahan hidup 40- 50 tahun. Hampir keseluruhan hidup pasien membutuhkan pertolongan dari orang lain.

TEST DAN DIAGNOSIS Diagnosa RS dilakukan dengan hati-hati, observasi perkembangan dan pertumbuhkan, juga didalam catatan medis serta latar belakang keluarga perlu dilakukan. Anak juga diharuskan mengikuti beberapa tes sebagai studi banding dari beberapa simtom yang hampir serupa. Disebabkan karena gangguan RS ini mulai tampak pada usia-usia awal kelahiran, orangtua mestilah memperhatikan tanda-tanda yang tidak lazim yang tampak pada anak seusianya. Setidaknya orangtua mengetahui pola-pola perkembangan anak baik secara fisik maupunmental (lihat: TingkatPerkembangan Mental danFisik Anak, Developmental Milestones) untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan tersebut. Anak yang diduga mengidap RS juga perlu mengikuti tes darah dan urin, pemetaan susunan syaraf dan uji imajinasi anak dengan CT scan (computerized tomography) atau MRI (magnetic resonance imaging) serta beberapa tes lainnya untuk diagnosa yang lebih tepat. Beberapa diagnosa banding lainnya;           Petunjuk perkembangan normal untuk usia 6 bulan Perkembangan otak normal pada usia 3- 4 bulan Penggunaan bahasa Kebiasaan pergerakan tangan Gerakan kerangka badan Cara berjalan Bentuk tubuh Kesulitan tidur Kesulitan dalam pernafasan Uji genetik, seperti MECP2.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Rett (DSM –IV) A. Semua berikut: 1) Perkembangan pranatal dan perinatal yang tampaknya normal. 2) Perkembangan psikomotor yang tampaknya normal selama lima bulan pertama setelah lahir. 3) Lingkaran kepala yang normal saat lahir.
34

B.

Onset semua berikut ini setelah periode perkembangan normal: 1) Perlambatan pertumbuhan kepala antara usia 5 dan 48 bulan. 2) Hilangnya keterampilan tangan bertujuan yang sebelumnya telah dicapai antara usia 5 dan 30 bulan dengan diikuti perkembangan gerakan tangan stereotipik (misalnya, memuntirkan tangan atau mencuci tangan). 3) Hilangnya keterlibatan sosial dalam awal perjalanan (walaupun seringkali interaksi sosial tumbuh kemudian). 4) Terlihatnya gaya berjalan atau gerakan batang tubuh yang terkoordinasi secara buruk. 5) Gangguan parah pada perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif dengan retardasi psikomotor yang parah.

Catatan: Yang membedakan gangguan Rett dengan Autis: 1. Pada gangguan autis penyimpangan perkembangan secara umum terjadi sejak awal. 2. Pada gangguan Rett, gerakan tangan yang spesifik dan karakteristik selalu ditemukan, sementara pada autis tidak. 3. Koordinasi yang buruk, ataxia dan apraxia banyak ditemukan pada gangguan Rett. 4. Gangguan verbal biasanya hilang sama sekali. 5. Pada gangguan Rett kejang ditemukan sejak awal, sementara pada gangguan autis biasanya sering terjadi pada masa remaja. 6. Adanya disorganisasi pernafasan.

PENATALAKSANAAN Tidak ada obat untuk Rett Syndrome. Treatment untuk gangguan ini terfokus pada manajemen symptom yang ada dan membutuhkan pendekatan dari multidisiplin ilmu. Terapi memfokuskan pada tujuan untuk memperlambat kerusakan motorik dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi. a. Penggunaan Obat Obat dibutuhkan untuk kesulitan bernafas, kesulitan motorik, dan antiepilepsi.  L- Dopa adalah bentuk sintetis dari dopamine. Ini ditemukan untuk mengurangi kekakuan selama tahap kemunduran motorik (tahap 4), tetapi sebaliknya gagal untuk menyediakan peningkatan pada basis yang konsisten.

35

Naltrexone (Revia) adalah lawan dari opium, biasanya untuk mengurangi kecanduan obat. Penggunaan neltraxone dalam dosis rendah atau tinggi mungkin bermanfaat dalam mengontrol nafas yang tidak teratur dan kejang, dan mengurangi teriakan. Ini mungkin ada kaitannya dengan efek obat penenang. Namun terdapat efek lain yaitu kehilangan nafsu makan.

Bromokriptin (Parlodel) adalah obat yang meningkatkan fungsi system dopamine di otak. Satu obat yang diuji coba menunjukkan peningkatan awal dalam komunikasi, berkurangnya kegelisahan dan berkurangnya gerak tangan di tahap pertama, namun ketika obat berhenti, gejala akan muncul lagi, dan pengenalan kemali pada obat tidak membawa kembali pada peningkatan awal.

Tirosin (dopamine dan noradrenalin) dan triptophan (serotonin) adalah asam amino yang biasanya mendorong level transmitter. Studi menunjukkan tidak ada perbedaan dalam penampilan klinis ataun polla EEG. L- Carnitin adalah turunan dari asam amino esensial lisin.

Terapi  Terapi fisik dimaksudkan untuk menjaga atau meningkatkan kemampuan berjalan dan keseimbangan, mempertahankan jauhnya jangkauan gerak paling tidak

mempertahankan fungsi gerak dan mencegah kecacatan. Tujuan dari terapi fisik adalah untuk menjaga atau meningkatkan keterampilan motorik, mengembangkan keahlian transisional, mencegah atau mengurangi kecacatan, mengurangi

ketidaknyamanan dan kegelisahan serta meningkatkan kemandirian. Terapi fisik dapat memperbaiki dan meningkatkan pola duduk dan berjalan serta memonitor perubahan sepanjang waktu. Terapi fisik digunakan untuk: mengurangi apraxia, menstimulasi penggunaan tangan untuk mendukung mobilitas, mencapai keseimbangan yang lebih baik, meningkatkan koordinasi, mengurangi ataxia, meningkatkan body awareness, memberikan jangkauan gerakan yang lebih baik, mengurangi sakit pada otot, menjaga dan meningkatkan mobilitas, melawan kejang-kejang,dan meningkatkan respon protektif. Contoh terapi fisik yaitu menggunakan kolam bola, tempat tidur air, atau trampoline.  Terapi Occupational dapat digunakan untuk meningkatkan kegunaan tangan. Dari penelitian diketahui bahwa terdapat penurunan gerakan tangan yang diulang-ulang dapat mengarahkan pada kewaspadaan dan fokus yang lebih baik, sama baiknya
36

dengan membantu mengurangi kecemasan dan perilaku menyakiti diri sendiri. Penggunaan tangan yang tidak teratur atau mengikat siku mungkin berguna dalam mengurangi gerak tangan dan mungkin mendorong penggunaan tangan yang lebih berguna. Contoh terapi Occupational adalah membantu memakai baju sendiri, membantu melukis, membuat kerajinan tangan, dan belajar makan sendiri.  Terapi musik digunakan sebagai pelengkap terapi lain dan berguna untuk meningkatkan komunikasi dan membuat pilihan. Penelitian menunjukkan bahwa mendengar dan menciptakan musik berpengaruh positif pada otak, meningkatkan sirkulasi darah, glukosa dan oksigen. Perubahan ini menstimulasi untuk belajar. Terapi musik adalah penggunaan musik yang terstruktur atau kegiatan musical di bawah bimbingan seorang terapis musik. Kegiatan ini mempengaruhi perubahan pola perilaku yang mengarah pada tujuan individual yang telah disusun untuk anak. Terapi musik berfokus pada komunikasi, sosialisasi, membuat pilihan dan keahlian motorik. Musik memberikan ritme gerak dan kepekaan persepsi. Mereka belajar untuk merasakan dan memahami ruang dan waktu, kualitas dan kuantitas, serta sebab akibat. Terapi musik memberikan kepercayaan dan suasana aman. Dalam terapi musik terdapat: a. Kesempatan menikmati musik secara spontan b. Pengalaman bergerak dan memainkan alat yang dapat meningkatkan body awareness dan fungsi tangan c. Relaksasi untuk mendukung kebebasan gerak dan berekspresi d. Kesempatan untuk berkomunikasi dan ekspresi diri e. Stimulasi untuk kontak mata yang bermakna f. Motivasi untuk memperluas perhatian dan konsentrasi g. Sebagai dasar untuk meningkatkan memori h. Stimulus untuk mengurangi keterlambatan respon i. Sebagai fasilitas untuk berlatih memegang atau menggenggam j. Meningkatkan self- image dan self- esteem k. Mendorong perkembangan sensori motorik l. Lingkungan yang menyenangkan untuk pertumbuhan sosial dan emosional m. Peningkatan vokalisasi  Hydrotherapi (bergerak di air hangat) sangat penting untuk penderita RS. Karena mengidap apraxia juga, dia tidak dapat merencanakan dan melakukan gerakan yang

37

dia inginkan dan kesulitan untuk berjalan. Berenang adalah bagian utama dalam proses belajar fisik anak. Arti dari berenang adalah bertahan, kebugaran, dan kesenangan. Nilai-nilai ini sama untuk mereka yang mempunyai keterbatasan, mengintegrasikan mereka ke dalam kehidupan yang normal adalah salah satu tujuan dari hydrotherapy. Aktifitas dalam air dirasakan oleh anak, keluarga, dan lingkungan sebagai aktifitas anak yang normal, hal ini memperkuat penghargaan untuk kemampuan mereka berpartisipasi senormal mungkin. Perasaan ini menumbuhkan self-esteem dan percaya diri. Tujuan dari terapi ini adalah mendorong untuk mencapai tingkat kemandirian tertinggi, terlibat dalam masyarakat, menjaga kesehatan fisik, dan meningkatkan kualitas hidupnya. Air memberikan pengalaman baru dan

menyenangkan. Memungkinkan untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan di luar air. Ini juga memungkinkan untuk menunjukkan kemampuan motoriknya yang hilang atau hanya tersembunyi. Gerakan spontan lebih mudah dilakukan dalam air dan hydrotherapy meningkatkan jangkauan gerak dan mengurangi kejang- kejang. Kesulitan sensori dan persepsi yang ia rasakan saat berada di luar air tidak muncul ketika berada di air, sehingga ia dapat meraih keseimbangan yang lebih baik tanpa ragu- ragu dan takut. Hangatnya air membantu menenangkan gerak involunter, gerakan stereotype dan kesulitan bernafas. Fleksibilitas air memungkinkan ia untuk bergerak ke segala arah dan memungkinkan gerakan simetris. Hydrotherapy membantu menjaga kesehatan otot dan saraf. Hal ini meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, yang juga akan menambah kemampuan belajarnya. Kegiatan menunggang kuda dan hydrotherapy meningkatkan keseimbangan dan membantu mengembangkan respon yang protektif, juga untuk relaksasi dan kesenangan.  Terapi Cinta. Terapi cinta adalah dasar dari semua terapi mencakup penerimaan, perlindungan, kesabaran,toleransi dan pengertian. Semua terapi yang rumit dan mahal tidak akan berhasil tanpanya. Dimulai dengan menerimanya sebagai bagian penting dalam keluarga, masyarakat, dunianya dan dunia kita. Menyelimutinya dengan pelukan yang hangat dari kepercayaan bahwa ia berharga dan dicintai, apapun yang pernah ia alami. Cinta tidak akan menyerah apabila dihadapkan dengan kesulitan. Cinta akan tumbuh lebih kuat.

KOMPLIKASI Kebanyakan anak dengan gangguan Rett memiliki permasalahan dalam makan, sehingga anak dengan gangguan ini memiliki berat badan dibawah rata- rata anak normal.
38

Untuk mendapatkan makanan bergizi, beberapa anak harus mendapatkan makanan melalui infus.
Beberapa komplikasi anak dengan gangguan Rett; 1) Perubahan bentuk tubuh kurang normal dibandingkan anak / orang seusianya 2) Gangguan pernafasan (cardiac dysrhythmias) 3) Rapuh tulang 4) Scoliosis

GANGGUAN DISINTEGRATIF DEFINISI Gangguan disintegratif masa kanak-kanak, anak yang rupanya normal mulai bertindak lebih muda (mundur) sesudah usia 3 tahun. Dikenal juga sebagai Sindroma Heller dan psikosis disintegratif, dijelaskan pertama kali pada tahun 1908. Prevalensi kejadian kira-kira 1 dari 100.000 anak laki-laki. Pada kebanyakan anak, perkembangan fisik dan jiwa terjadi dengan cepat. Sering terjadi pada anak untuk mengalami langkah mundur; misalnya, seorang anak yang terlatih ke WC sekali-sekali mengompol. Gangguan masa kecil disintegratif, tetapi, adalah kekacauan serius yang langka dimana seorang anak dengan usia lebih dari 3 berhenti berkembang sevcara normal dan mengalami kemunduran pada banyak fungsi di bawahnya, biasanya mengikuti sakitnya gawat, seperti infeksi otak dan susunan syaraf. Ciri anak dengan gangguan disintegratif masa kanak-kanak berkembang secara normal sampai usia 3 atau 4 tahun, mempelajari keterampilan bicara, buang air dengan benar, dan memperlihatkan prilaku sosial yangs sesuai. Lalu, setelah beberapa minggu atau bulan anak cepat-marah dan murung, anak menjalani kemunduran nyata. Dia mungkin kehilangan kemampuan berbahasa yang diperoleh dulunya, gerakan, atau ketrampilan sosial, dan dia mungkin tidak lagi mempunyai kontrol pada kandung kemih atau usus besarnya. Juga, anak mengalami kesukaran dengan interaksi sosial dan mulai melakukan kelakuan berulang mirip yang terjadi pada anak dengan penyakit autisme. Cukup sering anak lambat laun memburuk sampai derajat yang sangat terbelakang. Seorang dokter membuat diagnosa berdasarkan gejala dan pencarian untuk akar gangguan.

39

Gangguan disintegratif masa kanak-kanak tidak bisa diobati secara khusus atau disembuhkan, dan kebanyakan anak, khususnya dengan keterbelakangan yang parah, memerlukan perawatan seumur hidup.

EPIDEMIOLOGI Data epidemiologi telah dipersulit oleh bermacam-macamnya kriteria diagnostik yang digunakan, tetapi gangguan desintegratif masa anak-anak di perkiraan sekurangnya sepersepuluh dari gangguan aukustik, dan prevalansi diperkirakan kira-kira satu kasus pada 100.000 anak laki-laki. Rasio anak laki-laki berbanding anak perempuan tampaknya antara 4 dan 8 anak laki-laki berbanding 1 anak perempuan.

ETIOLOGI Penyebabnya adalah tidak diketahui, tetapi gangguan telah berhungandengan kondidi neuroligis lain, termasuk gangguan kejang, sklerosis tuberosus, dan berbagai gangguan metabolik.

DIAGNOSIS DAN GAMBARAN KLINIS Diagnosis dibuat berdasarkan ciri-ciri yang memenuhi karakteristik usia 1 dan 9 tahun, tetapi sebagian besar onset adalah antara 3 dan 4 tahun; menurut DSM-IV, usia onset minimal adalah 2 tahun. Onset mungkin samar-samar selam beberapa bulan, atau mungkin relatif tiba-tiba, dengan menghilangnya kemampuan dalam beberapa hari atau minggu pada beberapa kasus, anak menunjukan kegelisahan, penigkatan tingkat aktivitas, dan kecemasan sebelum hilang fungsinya. Ciri inti dari gangguan adalah hilangnya keterampilan komunikasi, regeresi yang jelas pada reaksi timbal balik,dan onset gerakan sterotipik dan perilaku komfulsif. Gejala afektif adalah sering ditemukan, terutama kecemasan, dan juga regeresi dalam kecakapan menolong diri sendiri, seperti pengendalian usus dan kandung kemih. Untuk mendapatkan diagnosis, anak harus menunjukan kehilangan keterampilan dalam bidang berikut ini: bahasa, perilaku sosial atau adaptif, pengendalian usus atau kandung kemih, bermain, dan keterampilan motorik. Kelainan harus ditemukan sekurangnya pada dua kategori berikut: interaksi sosial timbal balik, keterampilan komunikasi, dan perilaku stereotipik atau terbatas. Ciri neurologis utama yang berhubungan adalah gangguan kejang

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Disintegratif Masa Anak-Anak
40

A. Pertumbuhan yang tampaknya normal selama sekurangnya dua tahun pertama setelah lahir seperti yang ditunjukkan oleh adanya komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai dengan usia, hubungan sosial, permainan dan perilaku adaptif. B. Kehilangan bermakna secara klinis keterampilan yang telah dicapai sebelumnya (sebelum usia 10 tahun) dalam sekurangnya bidang berikut: 6) Bahasa ekspresif atau reseptif 7) Keterampilan sosial atau perilaku adaptif. 8) Pengendalian usus atau kandung kemih. 9) Bermain. 10) Keterampilan motorik. C. Kelainan fungsi dalam sekurangnya dua bidang berikut: 1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial (misalnya, gangguan dalam perilaku non verbal, gagal untuk mengembangkan hubungan teman sebaya, tidak ada timbal balik sosial atau emosiaonal). 2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi (misalnya, keterlambatan atau tidak adanya bahasa ucapan, ketidak mampuan untuk memulai atau mempertahankan suatu percakapan, pemakaian bahasa yang stereotipik dan berulang, tidak adanya berbagai permainan khayalan). 3) Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, termasuk stereotipik dan manerisme motorik. D. Gangguan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan perkembangan pervasif spesifik lain atau oleh skizofrenia.

DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding gangguan disintegratif masa anak-anak adalah gangguan autistikdan gangguan Rett. Pada banyak kasus gangguan bertumpang tindih dengan gangguan aukustik, tetapi gangguan disintegratif pada masa anak-anak dibedakan dari gangguan aukustik dengan hilangnya perkembangan yang sebelumnya pernah tercapai. Sebelum onset gangguan disintegratif masa anak-anak (terjadi pada usia 2 tahun atau lebih), bahasa biasanya telah berkembang sampai ke pembentukan kalimat. Keterampilan tersebut jelas berbeda dari riwayat paramorbid pasien gangguan aukustik sekalipun yang berfungsi baik, dimana bahasa biasanya tidak melebihi satu kata atau frase sebelum diagnosis gangguan. Tetapi, jika terjadi

41

gangguan, anak-anak dengan gangguan disintegratif masa anak-anak lebih mungkin tidak memiliki kemampuan berbahasa dibandingkan pasien gangguan aukustik yang berfungsi baik. Pada gangguan Rett, pemburukan terjadi lebih awak dibandingkan gangguan disintegratif masa anak-anak, dan gerakan tangan stereotipik yang karakteristik untuk gangguan Rett tidak terjadi pada ganguan disintegratif masa anak-anak.

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS Perjalanan penyakit gangguan disintegratif masa anak-anak adalah bervariasi, dengan pendataran yang dicapai pada sebagian besar kasus, suatu pemburukan progresif perjalanan penyakit pada kasus yang jarang, dan kadang-kadang terjadi suatu perbaikan sampai titik mencapai kemampuan berbicara dalam kalimat.sebagian besar pasien tetap dalam retardasi mental yang sekurangnya sedang.

TERAPI Karena kemiripan klinis dengan gangguan autistik, terapi gangguan disintegratif masa anak-anak adalah sama dengan untuk gangguan autistik

GANGGUAN ASPERGER Pada tahun 1944 Hans Asperger, seorang dokter Austria, menggambarkan suatu sindrom yang dinamakannya ―psikopati autistik‖. Gambaran awalnya adalah orang dengan inteligensia normal yang menunjukkan gangguan kualitatif dalam interaksi social timbale balik dan keanehan perilaku tanpa keterlambatan dalam perkembangan bahasa. Sejak saat itu, orang dengan retardasi mental tetapi tanpa keterlambatan bahasa telah mendapatkan diagnosis gangguan Asperger, dan orang dengan keterlambatan bahasa tetapi tanpa retardasi mental telah diberikan diagnosis. Dalam International Classification of Disease revisi ke-10 (lCD-10), gangguan Asperger dnamakan sindrom Asperger dan ditandai oleh gangguan sosial kualitatif, tidak adanya keterlambatan bahasa dan kognitif yang bermakna, dana dan adanya minat dan perilaku yang terbatas. Menilai prevalensi gangguan adalah sulit karena tidak adanya stabilitas dalam criteria diagnostik.

Etiologi
42

Penyebabgangguan Asperger tidak diketahui, tetapi penelitian keluarga menyatakan kemungkinan hubungan dengan gangguan autistik. Kemiripan gangguan Asperger dengan gangguan autistik menyebabkan hipotesis genetik, metabolit, infeksi, dan perinatal.

Diagnosis dan Gambaran Kilnis Gambaran klinis adalah sekurangnya dua indikasi gangguan social kualitatif berikut ini: gaya komunikatif non-verbal yang jelas abnormal, kegagalan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya, tidak adanya timbale balik social atau emosional, dan gangguan kemampuan untuk mengekspresikan kesenangan atas kebahagiaan orang lain. Minat yang terbatas dan pola perilaku selalu ditemukan. Menurut DSM-IV pasien tidak menunjukkan keterlambatan berbahasa, gangguan adaptif. keter1ambatan kognitif yang bermakna secara klinis, atau

GANGGUAN PERVASIF YANG TIDAK DITENTUKAN Gangguan perkembangan pervasif yang tidak ditentukan harus didiagnosis jika seorang anak menunjukkan gangguan kualitatif dalam perkembangan interaksi sosial timbal balik dan keterampilan komunikasi verbal dan non-verbal tetapi tidak memenuhi kriteria untuk gangguan perkembangan pervasive lainnya, skizofrenia, atau gangguan kepribadian skizotipal atau menghindar. Beberapa anak yang mendapatkan diagnosis menunjukkan kumpulan aktivitas dan minat yang jelas terbatas.Kondisi biasanya menunjukkan hasil akhir yang lebih baik dibandingkan gangguan autistik. DiagnostikuntukGangguanPerkembanganPervasifyang TidakDitentukan Kategori ini harus digunakan jika terdapat gangguan yang parah dan pervasive dalam perkembangan interaksi social timbale balik atau keterampilan komunikasi verbal dan nonverbal, atau jika terdapat perilaku minat, dan aktivitas stereotipik, tetapi tidak memenuhi criteria untuk ganguan perkembangan pervasive spesifik, skizofrenia, gangguan kepribadian skizotipal, atau gangguan kepribadian menghindar. Sebagai contoh, kategori ini adalah termask ―autismea tipikal‖ — gambaran yang tidak memenuhi criteria gangguan autistic karena usia yang teriambat saat onset, simptomatologi atipikal, atau simptomatologi tidak mencukupi, atau semuanya. Terapi Pendekatan terapi pada dasarnya adalah sama dengan gangguan autistik. Sekolah biasa dimungkinkan. Dibandingkan dengan anak-anak autistik, anak-anak dengan gangguan
43

perkembangan pervasif yang tidak ditentukan biasanya memiliki keterampilan berbahasa yang lebih baik dan lebih menyadari dirinya sendiri, sehingga mereka merupakan calon yang lebih baik untuk psikoterapi.

44

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Gangguan perkembangan pervasive adalah kelompok kondisi psikiatrik dimana keterampilan sosial yang diharapkan, perkembangan bahasa, dan kejadian perilaku tidak berkembang secara sesuai atau hilang pada masa anak-anak awal. Pada umumnya gangguan mempengaruhi berbagai bidang perkembangan, bermanifestasi pada awal kehidupan, dan menyebabkan disfungsi yang persisten. DSM IV memiliki beberapa kategori gangguan perkembangan pervasive, yakni : autism, gangguan rett, gangguan disintegrative masa anak-anak, gangguan asperger, dan gangguan pervasive yang tidak ditentukan. Ganguan Autistik (autism infantile), merupakan gangguan yang terkenal, ditandai oleh gangguan berlarut-larut pada interaksi social timbal balik, penyimpangan komunikasi, dan pola perilaku yang terbatas dan stereotipik. Gangguan rett tampaknya terjadi hanya pada anak perempuan; ditandai oleh perkembangan normal untuk sekurang-kurangnya enam bulan, diikuti dengan degenerasi perjalanan perkembangan. Biasanya, anak mulai menunjukan gerakan tangan stereotipik, kehilangan gerakan bertujuan, menurunnya keterlibatan sosial, koordinasi buruk, dan menurunnya pemakaian bahasa. Pada gangguaan disinregratif masa kanak-kanak, perkembangan maju dengan normal selama 2 tahun pertama, setelah mana anak menunjukan hilangnya keterampilan yang telah dicapai sebelumnya dalam 2 atau lebih bidang berikut : pemakaian bahasa, responsivitas sosial, bermain, keterampilan motorik, dan pengendalian kantong kemih dan usus. Gangguan asperger adalah suatu kondisi dimana anak menunjukkan gangguan jelas dalam hubungan sosial dan pola perilaku yang berulang dan stereotipik tanpa keterlambatan dalam perkembangan bahasa; kemampuan kognitif dan adaptif anak ialah normal. Pada gangguan perkembangan pervasive yang tidak ditentukan, pasien menunjukkan gangguan kualitatif dalam interaksi social timbale balik dan komunikasi verbal dan nonverbal tetapi yang tidak memenuhi criteria lengkap untuk gangguan autistic.

3.2 Saran

45

Mengingat masih banyaknya kekurangan dari kelompok kami, baik dari segi diskusi kelompok, penulisan tugas tertulis dan sebagainya, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari dosen-dosen yang mengajar baik sebagai tutor maupun dosen yang memberikan materi kuliah, dari rekan-rekan angkatan 2009 dan dari berbagai pihak demi kesempurnaan laporan ini.

46

DAFTAR PUSTAKA Kaplan & Sadock: Sinopsis Psikiatri Jilid 2, Edisi 7, Penerbit Bina Rupa Aksara, Jakarta, 1997. W.F . Maramis, Catatan Ilmu Kedokteran jiwa, Universitas Airlangga, 1980

47

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->