P. 1
Resensi Buku Laskar Pelangi

Resensi Buku Laskar Pelangi

|Views: 175|Likes:
Published by adhezzz

More info:

Published by: adhezzz on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/24/2015

pdf

text

original

RESENSI BUKU LASKAR PELANGI

1 . identitas : Judul buku : laskar pelangi Penulis : Andrea Hirata . Negara : Indonesia . Bahasa : Indonesia . Genre : Roman . Penerbit : Bentang Pustaka , yogjakarta . tanggal terbit : 2005 . Halaman : xxxiv , 529 halaman . ISBN : ISBN 979-3062-7-7 2 . Sinopsis : Sebelas anak Melayu Belitong yang disebut Laskar Pelangi ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Sebut saja Lintang, seorang kuli kopra cilik, yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu-bahkan terkadang hanya untuk menyanyikan lagu padamu negeri di akhir jam sekolah. Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Selami ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka dan temukan diri anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya. Novel ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories dan khususnya juga buat siapa saja yang masih percaya akan adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia pendidikan. Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kembali harus menghadapi tantangan yang besar. 3 . Kekurangan / Kelebihan : Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah, kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas. Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita. Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik, menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur ”Aku” secara tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan karena sebuah goresan yang tidak perlu. 4 . Penilaian Sudut Pandang sebagai Peresei : Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan novel terlaris dalam sejarah kesusasteraan Indonesia. Novel ini mengangkat tema semangat pendidikan anak-anak Belitong di era tahun 70-an, yang diilhami dari kisah nyata penulisnya. Muatan intelektualitas serta spiritalitas novel Laskar Pelangi, menjadikan Andrea Hirata sebagai seorang penulis novel terkenal di Indonesia. Permasalahan yang muncul dalam kajian ini adalah bagaimana teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan fungsi dari teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tujuan yang muncul dalam kajuan ini adalah untuk mendeskripsikan teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan fungsi dari teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan strukturalisme. Pendekatan strukturalisme merupakan susunan yang menampakkan tata hubungan antar pembentuk karya sastra sebagai unsur yang terpadu, dengan demikian segala sesuatu yang ada di dalam karya sastra dilihat sebagai dunia yang berdiri sendiri, jadi dalam menganalisis unsur-unsur struktur yang ada di dalam karya

sastra harus ditopang oleh pengetahuan yang mendalam tentang pengertian, peran, fungsi, dan segala sesuatunya yang berkaitan dengan unsur itu. Pendekatan strukturalisme digunakan untuk menganalisis teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan menganalisis fungsi penggunaan sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Hasil dari kajian ini adalah pemakaian sudut pandang pada novel Laskar Pelangi ternyata bisa digunakan oleh pengarang untuk menggambarkan tindakantindakan tokohnya, dan bisa mengungkap pikiran yang ada pada diri tokoh. Sudut pandang, oleh pengarang bisa dipakai untuk memandang kehidupan tokoh secara fisik maupun secara kejiwaan. Selain itu, tuturan tokoh bisa dipakai untuk melihat sudut pandang yang dipakai oleh pengarang. Novel Laskar Pelangi setelah dianalisis sudut pandangnya yang meliputi (a) Luasnya pandangan, (b) kedalaman/tingkat ketajaman pandangan, (c) ujaran/tuturan dapat dipergunakan untuk mengungkap unsur-unsur lain dalam cerita-cerita tersebut seperti unsur latar tempat, latar waktu, peristiwa, konflik batin, konflik sosial, dan tingkah laku, sifat, dan sikap tokoh. Unsur-unsur inilah yang menjelaskan fungsi dari teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang “aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Penelitian ini diharapkan dapat lebih dikembangkan guna meningkatkan mutu atau kualitas pada penelitian studi strukturalisme pada teks sastra selanjutnya.

Resensi Novel Laskar Pelangi

Judul Buku : Laskar Pelangi Pengarang : Andrea Hirata Penerbit : Bentang Pustaka Tebal Buku : 534 halaman

Novel Karya Andrea Hirata dengan tebal buku 534 halaman ini mengandung sebuah cerita yang sangat menarik. Cerita yang ada didalam Novel ini merupakan kisah nyata dari perjalanan seorang Penulis dalam mengejar mimpinya hingga ke Negara Perancis. Cerita ini pun ramai dipuji hingga dijadikan Film yang sangat menarik oleh Sutradara terkenal Riri Riza dan Mira Lesmana. Novel ini mampu membuat pembaca merasa seperti terhanyut dan terbawa ke dalam cerita didalamnya.

Andrea Hirata adalah Seseorang yang suka bermimpi dalam menjalankan hidupnya. Namun, mimpi itu akan dia usahakan untuk menjadi kenyataan. Didalam Novelnya Dia lebih menceritakan tentang masa lalunya di Belitong. Sehingga cerita yang ada didalam Novel ini benar – benar bersuasana sama seperti tempat asli terjadinya kejadian tersebut.

Gaya bahasa yang digunakan Andrea Hirata dianggap sebagai gaya yang baik dan sangat menarik, didalamnya selain menggunakan Bahasa Indonesia juga menggunakan Bahasa Melayu yang membuat para pembaca tampak sedikit kebingungan dan harus menerka apa maksud dari bahasa tersebut. Namun, arti didalam setiap Bahasa Melayu yang digunakan selalu terdapat dikalimat terbawah, sehingga setelah membaca pengertian dari Bahasa yang digunakan kita dapat mencerna kembali Bahasa Melayu yang tadinya sedikit kurang dimengerti.

Alur yang terdapat didalam Novel ini adalah Alur Campuran, namun lebih dominan menggunakan Alur Maju. Pengarang menggunakan sudut pandang orang Pertama, karena Penulis merupakan Toko Utama didalam cerita ini. Sehingga ceritanya membuat penasaran bagi para pembaca sehingga ingin cepat menyelesaikan membacanya. Novel ini banyak mengandung amanat yang bermanfaat bagi para pembacanya. Andrea Hirata mengajarkan kita agar tidak terlebih dahulu Putus Asa, jika ingin meraih mimpi yang diinginkan. Cara pengarang menggambarkan tokoh – tokoh dalam cerita ini berlainan dengan cara yang biasa dipakai oleh Pengarang lainnya.

Tokoh utama dari cerita ini bernama Ikal ia adalah Seorang anak laki – laki yang tangguh, pintar, berani, dan mau belajar demi mimpi yang ingin diwujudkannya. Tokoh Lintang adalah Seorang anak laki – laki yang sangat cerdas, jenius, berani, tetapi karena keadaanlah yang membuat dia Putus Sekolah. Tokoh Mahar adalah Seorang anak laki – laki yang pintar menyanyi, cerdas, dan suka terhadap hal – hal yang gaib (misteri), Bu Mus adalah Seorang wanita yang sangat baik, bijaksana, dan guru yang sangat dicintai murid – muridnya, dan masih banyak tokoh lainnya.

Kisah dalam Laskar Pelangi ini diawali dari kehidupan seorang anak yang bernama Ikal yang memulai sekolah dengan harus menunggu sepuluh anak yang ingin bersekolah di sekolah Ikal. Dengan cemas Ikal, Sahara, Trapani, Kucai, Syahdan, Mahar, Lintang, Borek, A kiong, Bu Mus, Pak Harfan, dan para orang tua murid menunggu apakah ada satu orang lagi yang ingin bersekolah di SD Muhamaddiyah jika, tidak sampai sepuluh anak maka, mereka tidak akan bisa bersekolah. Karena, SD Muhamaddiyah akan tamat riwayatnya. Sekian lama mereka menunggu akhirnya Seorang pria jenaka berusia Lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya menyelamatkan kesembilan temannya juga Sekolah SD Muhamaddiyah. Ikal dan teman – temannya sangat senang, akhirnya mereka bisa

bersekolah di SD Muhamaddiyah untuk meraih mimpi dan cita - citanya bersama teman – temannya yang luar biasa di Belitong.

Hal yang menarik dari Novel ini adalah dapat membangkitkan kita agar tidak mudah putus asa jika, ingin meraih mimpi. Mengajarkan kita agar baik terhadap teman sesama dan mau untuk saling membantu. Dalam Novelnya, Andrea Hirata pandai menyelipkan pertanyaan yang terus tersirat, dari awal cerita sampai akhir ceritanya terdapat arti dari Bahasa Melayunya dan cara membacanya. Namun, dengan segala keindahan dan kelebihannnya, Novel ini membuat para pembacanya mendapat sedikit kesulitan karena adanya Bahasa Melayu, adanya ungkapan dan khiasan dalam kalimat membuat cerita ini sedikit terasa sulit. Walaupun begitu, cerita ini tetap memikat dan penuh dengan muatan pesan yang dapat direnungkan dan diterjemahkan dengan lebih dalam.

A. RESENSI LASKAR PELANGI 1. Identitas Novel Laskar Pelangi Judul : Laskar Pelangi Penulis : Andrea Hirata Penerbit : Bentang Kota Tempat Terbit : Jl. Pandega Padma 19, Yogyakarta Tahun Terbit : Cetakan III, Juli 2007 Tebal halaman : 533 halaman termasuk juga tentang penulis Harga : Rp.69.000,2. Tujuan Meresensi Novel Banyak orang (teman-teman) yang telah mengatakan bahwa buku ini bagus kepada saya, maka dari itu saya menjadi penasaran dan ingin membacanya. Setelah saya baca ternyata buku ini tidak hanya sekedar bagus tetapi “sangat bagus”, karena di dalamnya banya terdapat pelajaran yang dapat kita ambil tentang keagamaan, persahabatan yang luar biasa, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak. Cerita ini memang lain dari cerita biasanya, karena biasanya kita sering membaca novel percintaan yang tidak medidik moral maupun agama. Novel Laskar Pelangi karya Mas Andrea Hirata ini ceritanya sangat membuat saya terkesan dengan ceritanya yang menggabungkan dua hal yang berbeda, sastra dan science. Sebuah buku yang pintar hasil dari orang yang pintar. 3. Pokok-pokok Isi Novel (Unsur Instrinsik) a. Tema Persahabatan sepuluh anak yaitu Ikal, Mahar, Lintang, Harun, Syahdan, A Kiong, Trapani, Borek, Kucai dan satusatunya wanita di kelas mereka, Sahara dari orang kecil yang mempunyai cita-cita yang tinggi dengan bersekolah di pendidikan rakyat kecil Sekolah Muhamadiyah. b. Tokoh dan Perwatakan Aku sebagai ikal : tidak mudah putus asa dan tegar. Ayah ku/ayah ikal : baik hati dan bijaksana. Pak K.A. Harpan Noor : baik hati, ramah dan sabar. Ibu N.A. muslimah Hafsari : sabar, baik hati dan penyayang. Lintang : pantang menyerah dan cerdas. Mahar : kreatif, imajinatif dan cerdas. Trapani : manja dan cerdas. Kucai : hiperaktif, susah diatur dan benyak bicara Sahara : keras kepala, cerdas dan baik hati. A kiong : baik dan sedikit aneh. Harun : baik tetapi agak keterbelakangan mental.

Borek : nakal dan susah diatur. c. Alur Di dalam novel ini memakai alur maju, karena dalam ceritanya tidak terdapat kilas balik sehingga membuat pembaca penasaran apa yang akan terjadi di kisah selanjutnya. d. Sudut Pandang Memakai kata ganti orang pertama tunggal atau memakai akuan sertaan, karena dalam penceritaan novel penulis menggunakan kata aku. e. Gaya Bahasa Di sini saya tidak mengetahui gaya bahasanya, karena ada kata-kata yang sulit untuk dipahami atau dapat kita mengerti. Hal ini dikarenakan untuk menyesuaikan bahasa berdasarkan tempat yang diceritakan yaitu di Bangka Belitong, daerah terpencil yang belum meluas bahasanya. f. Latar (Setting) Tempat : di sekolah, di bawah pohon, di gua, dan di rumah. Suasana : menyenangkan, menyedihkan, dan menegangkan. Kapan : siang hari, sore hari, dan malam hari. 4. Keunggulan Novel a. Organisasi Dalam hal organisasi novel ini, hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain harmonis dan dapat menimbulkan rasa penasaran pembaca. Karena dalam penceritaan isi novel tidak berbelit-belit. b. Isi Kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah tokoh utama buku ini Ikal, akan menuntun kita dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar kita dapat melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar kita menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan kita sendiri. Secarah keseluruhan saya menilai novel ini bagus dan membangun. Novel laskar pelangi ini juga sarat hikmah, dakwah, dan rasa persahabatan yang sangat kental. Tuturannya mengalir, menyentuh, mencerahkan, menggelikan, membidik pusat kesadaran, dan jauh dari sifat menggurui. c. Bahasa Bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit walaupun ada kata-kata yang kita tidak tahu maknanya dan yang belum dapat kita pahami, dikarenakan cerita menyesuaikan tempat daerah Belitong. 5. Nilai-nilai Novel (Unsur Ekstrinsik) Kita dapat mengambil pelajaran bahwa bagaimanapun hidup yang kita jalani, kita harus senantiasa bersyukur. Kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit cita-cita yang tingggi. Pada dasarnya kemiskinan tidak berkorelasi/berinteraksi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita teladani dari novel tersebut seperti keagamaan, moral, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak. Selain itu kita dapat mencontoh tokoh-tokoh yang dapat diteladani seperti tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, dan sebagainya. Sumber: http://id.shvoong.com/books/novel-novella/1965955-resensi-laskar-pelangi/#ixzz26G56yGhG

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->