P. 1
hubungan

hubungan

|Views: 25|Likes:

More info:

Published by: العبد الفقير on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/26/2013

pdf

text

original

KALIMAT

adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang

mengungkapkan pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis harus memiliki S dan P (Arifin dan Tasai, 2002: 58). Ditinjau dari panjang atau pendeknya, sebuah sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya. Pendapat lain mengatakan, “Kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun.” (Ramlan, 2001:6). Ditinjau dari pola-pola dasar yang dimilikinya, kalimat dapat dibagi menjadi kalimat inti, kalimat luas, dan kalimat transformasional. Tiap-tiap kalimat memiliki unsur inti yaitu sekurangkurangnya terdiri dari unsur Subjek dan Predikat. Jika salah satu unsur inti tersebut diperluas maka kalimat tersebut menjadi kalimat luas. Jadi, kalimat luas merupakan perluasan kalimat inti yang penggunaannya biasanya sering mengalami kekeliruan dalam hal perluasannya. Kalimat dapat dibagi atas dua bagian besar, yaitu kalimat sederhana dan kalimat luas. Kalimat sederhana dibagi atas dua bagian, yaitu kalimat yang tak berklausa dan kalimat yang berklausa satu. Adapun kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Kalimat luas itu bermacam-macam. Macam-macam kalimat luas terdiri atas kalimat luas setara dan kalimat luas tak setara (Alwi dkk, 2004). Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu. a. Pola kalimat I = kata benda-kata kerja Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul. Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal” b. Pola kalimat II = kata benda-kata sifat Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.

Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif” c. Pola kalimat III = kata benda-kata benda Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan. d. Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor. Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial Suatu bentuk kalimat luas hasil penggabungan atau perluasan kalimat tunggal sehingga membentuk satu pola kalimat baru di samping pola yang ada. Kalimat Luas Setara Kalimat luas setara ialah struktur kalimat yang di dalamnya terdapat sekurang-kurangnya dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sebagai kalimat tunggal disebut kalimat luas setara (koordinatif). Kalimat berikut terdiri atas dua kalimat dasar. Saya datang, dia pergi. Kalimat itu terdiri atas dua kalimat dasar yaitu saya datang dan dia pergi. Jika kalimat dasar pertama ditiadakan, unsur dia pergi masih dapat berdiri sendiri sebagai kalimat mandiri. Demikian pula sebaliknya. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama. Itulah sebabnya kalimat itu disebut kalimat luas setara. Ciri-ciri kalimat luas antara lain sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Kedudukan pola-pola kalimat, sama derajatnya. Penggabungannya disertai perubahan intonasi. Berkata tugas/penghubung, pembeda sifat kesetaraan. Pola umum uraian jabatan kata : S-P+S-P

Kalimat luas setara dibentuk dari dua buah klausa atau lebih yang digabungkan menjadi sebuah kalimat, baik dengan bantuan kata penghubung ataupun tidak. Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat setara ini adalah sama derajatnya, yang satu tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain. Klausa-klausa itu mempunyai kedudukan yang bebas, sehingga kalau yang satu ditinggalkan, maka yang lain masih tetap berdiri sebagai sebuah klausa. Lihat bagan berikut.

Pengabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas setara ini memberikan makna yang menyatakan penggabungan : 1) Penambahan Kalimat luas serta setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna penambahan dibentuk dari dua buah klausa atau lebih; biasanya dengan bantuan kata penghubung dan. Contoh :
 

Selat Sunda terletak antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa dan Selat Bali antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali Kami belajar di perpustakaan, mereka bermain di halaman, dan guru-guru mengadakan rapat di kantor. Kalau ada unsur yang sama dari klausa-klausa yang digabungkan itu, maka unsur yang

sama itu dapat disatukan, artinya unsur yang sama itu hanya ditampilkan satu kali saja. Misalnya :

Adik belajar bahasa Inggris, Ida bahasa Perancis, dan Siti bahasa Jerman.

Predikat belajar pada klausa kedua dan ketiga dilesapkan; yang ditampilkan hanya pada klausa pertama 2) Pertentangan Kalimat luas setara yang hubungan anatara klausa-klausanya menyatakan makna ’pertentangan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung tetapi atau sedangkan. Contoh :
  

Saya ingin melanjutkan belajar ke perguruan tinggi tetapi orang tua saya tidak mampu membiayainya. Setahun yang lalu jalan ini bersih dan mulus tetapi sekarang kotor dan berlubang-lubang Kami bertiga mendirikan kemah sedangkan mereka berdua menyiapkan makanan.

3) Pemilihan Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pemilihan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung atau Contoh :
  

Barang-barang pesanan Tuan ini akan Tuan ambil sendiri, atau kami yang harus mengantarkannya ke alamat Tuan? Kamu mau menuruti nasihatku, atau kau dengarkan saja apa kata istrimu? Kau harus segera berangkat atau kita tunggu dulu kedatangan beliau?

4) Penegasan Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’penegasan’ dibentuk dari dua buah klausa;biasanya dengan bantuan kata penghubung bahkan, malah, apalagi, dan lagipula. Contoh :

Barang-barang kerajinan dari daerah itu sudah dipasarkan di seluruh Indonesia, bahkan telah juga di ekspor ke Negeri Belanda.

  

Pembangunan tidak boleh kita hentikan, bahkan harus kita tingkatkan pelaksanaannya. Anak-anak itu memang nakal, apalagi kalau tidak ada ibunya. Daerah ini hawanya sejuk, lagipula pemandangannya indah.

5) Pengurutan Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’pengurutan’ atau ’pengaturan’ dibentuk dari dua buah klausa atau lebih; biasanya dengan bantuan kata penghubung lalu, kemudian, dan sebagainya. Contoh :
 

Kami menoleh dulu ke kiri dan ke kanan, lalu segera berlari menyeberangi jalan yang ramai itu. Mula-mula mereka membuka pintu itu, lalu mereka menyiapkan pondok-pondok tempat tinggal, kemudian barulah mereka menyiapkan lahan pertanian.

Kalimat Luas Bertingkat Kalimat luas bertingkat ialah kalimat yang mengandung satu kalimat dasar yang merupakan inti (utama) dan satu atau beberapa kalimat dasar yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu misalnya keterangan, subjek, atau objek dapat disebut sebagai kalimat luas bertingkat jika di antara kedua unsur itu digunakan konjungtor. Konjungtor inilah yang membedakan struktur kalimat luas bertingkat dari kalimat setara. Kalimat luas bertingkat dibentuk dari dua buah klausa, yang digabungkan menjadi satu. Biasanya dengan bantuan kata penghubung sebab, kalau, meskipun, dan sebagainya. Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat luas bertingkat ini tidak sama derajatnya. Yang satu mempunyai kedudukan lebih tinggi dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain. Bagan berikut mungkin dapat lebih menjelaskan struktur kalimat bertingkat ini.

atau dapat juga sebagai berikut:

Penggabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas bertingkat ini memberikan makna yang, antara lain, menyatakan : 1. Sebab Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’sebab’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung karena atau sebab. Klausa pertama (klausa bebas) sebagai induk kalimat menyatakan sesuatu peristiwa yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya peristiwa pada klausa kedua (klausa yang tidak bebas) yang menjadi anak kalimat pada kalimat bertingkat itu. Contoh:
  

Banjir sering melanda kota kami karena saluran-saluran airnya penuh dengan sampah dan kotoran. Karena tidak pandai berenang akhirnya dia hanyut terseret air. Harga jual barang-barang ini terpaksa dinaikkan sebab biaya produksi dan ongkos kerja juga baik.

Anak kalimat dan induk kalimat pada kalimat bertingkat ini dapat dipertukarkan tempatnya. Kalau anak kalimat mendahului induk kalimat maka di muka induk kalimat dapat pula ditempatkan kata penghubung maka, misalnya :

Karena tidak pandai berenang, maka akhirnya dia terseret arus.

2. Akibat Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’akibat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung sampai, hingga, atau sehingga. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya sesuatu peristiwa yang mengakibatkan terjadinya peristiwa pada klausa kedua Contoh :
  

Tukang copet itu dipukuli orang ramai sampai mukanya babak belur. Dia suka sekali berjudi hingga harta bendanya habis dan hutangnya menumpuk. Penumpang kereta api itu penuh sesak sehingga untuk meletakkan sebelah kaki pun sukar. Dalam kalimat luas bertingkat yang hubungannya menyatakan akibat ini, posisi anak

kalimat selalu di belakang induk kalimat. 3. Syarat Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’syarat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kalau, jika, dan asal. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan akan terjadinya suatu peristiwa kalau sudah terjadi peristiwa lain yang dinyatakan pada klausa kedua atau anak kalimatnya. Namun, perlu diperhatikan urutan induk kalimat dan anak kalimat dapat dipertukarkan. Contoh :

  

Saya akan hadir kalau saya di undang. Jika mereka bersalah tentu kami yang akan menindaknya. Gajah bukanlah binatang buas yang suka menyerang asal mereka tidak kita ganggu.

4. Tujuan Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’tujuan’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabung menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung agar, supaya, dan untuk. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya suatu perbuatan yang harus dilakukan agar peristiwa yang disebutkan dalam kalimat klausa kedua atau induk kalimat dapat berlangsung. Disini pun urutan kedua klausa itu dapat dipertukarkan. Contoh :
  

Jalan-jalan diperlebar agar lalu lintas menjadi lancar. Kamu harus belajar baik-baik supaya hidupmu kelak menjadi enak. Pembangunan ini harus kita teruskan untuk memberi kehidupan yang lebih baik kepada anak cucu kita nanti.

5. Waktu Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’waktu berlangsungnya sesuatu peristiwa’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung ketika, sesudah, sebelum dan sejak. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya suatu peristiwa atau perbuatan, sedangkan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan waktu terjadinya peristiwa induk kalimatnya. Urutan anak kalimat dan induk kalimat dapat dipertukarkan tempatnya. Contoh :
  

Monumen Nasional itu dibuat ketika kamu masih kecil Sesudah selesai memperbaiki saluran air ini, kita akan memperbaiki tanggul sungai itu Dia sudah menyelesaikan tugasnya sebelum bel berbunyi

Sejak ibu meninggal kami tinggal bersama kakek di desa

6. Kesungguhan Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’kesungguhan’ dibentuk dari dua buah yang digabungkan menjadi menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung meskipun, biarpun, atau sungguhpun. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu peristiwa atau perbuatan, sedangkan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan peristiwa atau kondisi yang bertentangan untuk terjadinya peristiwa pada klausa pertama. Urutan induk kalimat dan anak kalimatnya dapat dipertukarkan Contoh :
  

Dia berangkat juga ke sekolah meskipun hujan turun lebat sekali Walaupun tidak diizinkan ayah, dia pergi juga ke hutan itu Pembangunan gedung itu belum selesai juga sungguhpun telah menelan biaya ratusan juta rupiah

7. Pembatasan Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan ’pembatasan’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kecuali atau hanya. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu perbuatan, dan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan pembatasan terhadap peristiwa pada anak kalimat Contoh :
 

Semua soal itu dapat saya kerjakan dengan baik kecuali nomor 17 tidak sempat saya selesaikan Semua orang sudah hadir hanya Siti dan Adi belum nampak batang hidungnya. Di sini lazim juga kata penghubung kecuali dan hanya diikuti pula dengan kata

penghubung kalau. Misalnya :

Saya tentu akan datang memenuhi undanganmu kecuali kalau ada halangan yang tidak bisa dihindarkan

8. Perbandingan Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-kluasanya menyatakan ’perbandingan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung seperti dan bagai. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu perbuatan, sedangkan kluasa kedua sebagai anak kalimat menyatakan perbuatan lain yang serupa dengan perbuatan pada induk kalimat. Contoh:
  

Dengan cepat disambarnya tas nenek tua itu bagai elang menyambar anak ayam. Dia terkejut bukan main seperti mendengar bunyi guruh di siang bolong. Direguknya air di gelas itu dengan sekali reguk sebagai orang belum minum tiga hari. Bedasarkan uraian di atas bahwa kalimat luas setara dan kalimat luas bertingkat memiliki

perbedaan. Ada tiga pedoman untuk membedakan kalimat luas setara dan kalimat luas bertingkat, yaitu a. Letak kata penghubung Pada kalimat luas setara kata penghubung selalu ada di antara klausa yang dihubungkan, sedanagkan pada kalimat luas bertingkat (kecuali dalam beberapa hal) posisinya dapat di antara kedua klausa yang dihubungkan, dapat pula pada awal kalimat. Contoh :
  

Sidin pergi ke Jakarta tetapi adiknya tinggal di rumah. (setara) Ia pergi ketika kita mengunginya. (bertingkat) Ketika kita mengunjunginya, ia pergi. (bertingkat)

b. Macam kata penghubung Kata penghubung yang digunakan di dalam kalimat luas setara jumlahnya tidak banyak, antara lain dan, bahkan, lalu, atau, tetapi, hanya, jadi.

Kata penghubung yang digunakan dalam kalimat luas bertingkat antara lain ketika, sebelum, sesudah, sehingga. c. Lagu/intonasi Pada kalimat luas setara lagu kalimat mempunyai dua puncak, jadi terbagi menjadi dua makrosegmen, sedangkan pada kalimat luas bertingkat intonasinya hanya mempunyai satu puncak. Dengan demikian lagu pada kalimat luas bertingkat sama seperti lagu pada kalimat tunggal. Contoh :
 

Uangnya banyak tetapi hidupnya tidak tenteram. Meskipun uangnya banyak, hidupnya tidak tenteram.

DAFTAR PUSTAKA Arifin dan E. Zainal dan S. Amran Tasai. 2002. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Presindo. Alwi, Hasan 2004. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Sebuah kalimat majemuk, baik setara mupun bertingkat, terdiri atas lebih dari satu klausa yang saling berhubungan. Ada dua macam hubungan antarklausa, yaitu hubungan koordinatif (setara) dan hubungan subordinatif (bertingkat/tak setara). 1. Hubungan antarklausa yang koordinatif Hubungan koordinatif menunjukkan hubungan yang setara. Kata penghubung yang digunakan hanya mengkoordinasi klausa yang setara. Hubungan koordinatif menghasilkan klausa yang sama kedudukannya, tidak menunjukkan hierarki karena klausa yang satu tidak menjadi bagian dari klausa yang lain. Yang dihasilkan bukan kalimat majemuk bertingkat, melainkan kalimat

majemuk setara. Jadi, kata penghubung pada klausa setara tidak masuk ke dalam klausa mana pun, tetapi berdiri sendiri. Hubungan antarklausa yang koordinatif dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: (1) Hubungan aditif (jumlah) Hubungan jumlah ditunjukkan klausa kedua berisikan informasi yang menambahkan isi informasi pada klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah dan atau bersama. - Saya dan Hardi pergi ke sekolah. - Saya bersama teman-teman memancing di laut. Perbedaan antara kata hubung dan dengan bersama adalah kata hubung dan dapat menghubungkan nomina/frasa nomina dan nomina/frasa nominal atau pun verba/frasa verbal dan verba/frasa verbal. Sedangkan kata hubung bersama menghubungkan nomina/frasa nominal dan nomina/frasa nominal (2) Hubungan adversatif (pertentangan) Hubungan pertentangan biasanya ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi yang bertentangan dengan isi informasi pada klausa pertama. Hubungan pertentangan terdiri atas pertentangan yang menyatakan penguatan, pertentangan yang menyatakan implikasi, dan pertentangan yang menyatakan perluasan. (a) Hubungan pertentangan yang menyatakan penguatan ditunjukkan oleh klausa kedua yang menyatakan sesuatu yang merupakan pertentangan yang menguatkan dan menandasakan infoemasi pada klausa pertama. - Ia tidak hanya rajin dan pandai, tetapi juga teliti dan rendah hati. - Penculikan itu tidak hanya menimbulkan marah warga, melainkan juga menimbulkan trauma pada orang tua. (b) Hubungan pertentangan yang menyatakan implikasi ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan pertentangan terhadap implikasi informasi yang dinyatakan oleh klausa pertama. - Adikku belum bersekolah, tetapi ia sudah bisa membaca dengan mengeja. - Aku sudah lama berdagang, tetapi belum juga punya banyak uang. (c) Hubungan pertentangan menyatakan perluasan yang ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi tambahan untuk melengkapi apa yang dinyatakan oleh klausa pertama. Kadang-kadang informasi justru memperlemah klausa pertama. - Budaya daerah harus dijaga, tetapi budaya luar yang baik jangan ditolak.

- Anak-anak Indonesia harus diajari bahasa Indonesia dengan baik, tetapi bahasa asing perlu juga dikuasai untuk memperluas cakrawala. (3) Hubungan alternatif (pilihan) Hubungan pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan di antara berbagai kemungkinan yang ada yang ditunjukkan oleh klausa yang dihubungkan itu. Hubungan pilihan dapat menyatakan pertentangan, tetapi juga tidak. (a) Hubungan pilhan yang menyatakan pertentangan - Aku terus bersekolah dengan sengsara atau berhenti, lalu mencari uang. - Kau harus mengatakan kebenaran atau kau harus berbohong dengan mendustai dirimu sendiri? (b) Hubungan pilihan yang tidak menyatakan pertentangan - Dia duduk merenungkan masa lalu ataukah sedang merancang masa datang? - Kamu datang ke sini mau belajar atau mau main kartu? 2. Hubungan antarklausa subordinatif Hubungan antarklausa subordinatif menunjukkan hubungan yang hierarkis. Kata penghubung yang digunakan menyebabkan klausa yang berada di bawah klausa yang lain karena klausa yang satu menjadi bagian dari klausa yang lain. Yang dihasilkan adalah kalimat majemuk bertingkat. Dengan kata lain, kata penghubung pada klausa hierarkis masuk ke dalam klausa subordinat. Hubungan antara klausa subordinatif dan klausa utama ditentukan oleh jenis dan fungsi klausa subordinatif. Hubungan itu ditunjukkan oleh jenis kata penghubung (subordinatif) yang digunakan. (1) Hubungan sebab Hubungan sebab terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan sebab atau alasan terjadinya apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah sebab, karena, dan oleh karena. (2) Hubungan akibat Hubungan akibat terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan akibat dari kejadian atau perbuatan yang dinyatakan dalam klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah akibat, akibatnya, dan hasilnya. (3) Hubungan tujuan

Hubungan tujuan terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan tujuan dri apa yang disebut oleh klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah untuk, demi, agar, dan biar. (4) Hubungan syarat Klausa subordinatif kalimat yang menunjukkan hubungan syarat menyatakan syarat terlaksananya apa yang disebutkan oleh klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah jika, kalau, jikalau, dan asalkan. (5) Hubungan waktu Hubungan waktu ditunjukkan oleh klausa koordinatif yang menyatakan waktu terjadinya suatu peristiwa atau keadaan yang disebutkan oleh klausa pertama. Hubungan waktu terbagi menjadi waktu permulaan, waktu bersamaan, waktu berurutan, waktu batas akhir terjadinya peristiwa atau keadaan. (a) Waktu batas permulaan Waktu batas permulaan ditandai oleh kata penghubung sejak atau sedari (b) Waktu bersamaan Waktu bersamaan ditandai oleh kata penghubung ketika, pada waktu, (se)waktu, serta, seraya, sambil, sementara, selagi, selama, dan tatkala. (c) Waktu berurutan Waktu berurutan ditandai oleh kata penghubung sebelum, sehabis, setelah, sesudah, seusai, dan begitu. (d) Waktu batas akhir Waktu batas akhir digunakan untuk menyatakan akhir atau ujung suatu proses. Waktu batas akhir ditandai oleh kata penghubung samapi dan kepada. (6) Hubungan konsesif Hubungan konsesif terdapat di dalam kalimat subordinatif yang klausa pertamanya tidak mengubah pernyataan yang terdapat di dalam klausa pertama. Hubungan konsesif biasanya ditandai oleh kata penghubung sungguh (pun), biar (pun), meski (pun), walau (pun), sekali (pun), dan kendati (pun). (7) Hubungan cara

Hubungan cara ditandai oleh kata penghubung dengan atau tanpa. Klausa subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan sesuatu. (8) Hubungan kenyataan Klausa subordinatif pada hubungan kenyataan atau hubungan komplementatif bertugas melengkapi verba atau melengkapi nomina subjek. (9) Hubungan alat Hubungan alat terdapat pada kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan alat yang disebutkan oleh klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah dengan, tidak dengan, memakai, dan menggunakan. (10) Hubungan perbandingan Hubungan perbandingan terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatif dan klausa utamanya memiliki unsur yang sama dan tarafnya bersifat sama (ekuatif) atau unurnya sama, tetapi tarafnya berbeda (komparatif). (a) Hubungan ekuatif Hubungan ekuatif mempersyaratkan persamaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah sama+adjektiva+dengan atau se+adjektiva (b) Hubungan komparatif Hubungan komparatif mempersyaratkan perbedaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk komparasi yang digunakan adalah lebih/kurang+dari atau lebih/kurang+adjektiva+daripada. (11) Hubungan hasil Hubungan hasil terdapat di dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan hasil atau akibat dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama. Hubungan hasil ditandai oleh kata penghubung sampai, sampai-sampai, sehingga, dan maka. (12) Hubungan atributif Hubungan atributif ditandai oleh kata penghubung subordinatif yang. Terdapat dua macam hubungan atributif, yaitu atributif restriktif dan atributif takrestriktif. Kalusa dengan yang itu sering juga disebut kalusa relatif. (a) Hubungan atributif restriktif

Hubungan seperti ini mewatasi makna nomina yang diterangkannya. Akibatnya, keterangan pewatas itu menjadi bagian integral dari nomina yang diterangkannya itu. - Istrinya yang tinggal di Bogor berjualan telur. (b) Hubungan atributif takrestriktif Klausa relatif pada hubungan atributif takrestriktif hanya memberikan tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya. Jadi, kalusa relatif itu tidak merupakan keterangan pewatas bagi nomina yang diterangkannya itu. Di dalam bahasa tulis, kalimat dengan klausa relatif yang menjadi keterangan tambahan itu diapit oleh tanda koma. - Istrinya, yang tinggal di Bogor, berjualan telur (13) Hubungan andaian Klausa subordinatif pada hubungan pengandaian berisikian andaian atas sesuatu yang terdapat pada klausa utama. Di dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa jenis andaian, seperti: (a) Andaian yang tidak mungkin terjadi Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung andai kata, seandainya, dan andaikan. (b) Andaian yang mungkin terjadi Andaian jenis ini biasanya menggunakan kata penghubung pengandaian jika, kalau, jikalau, apabila, dan bilamana. (c) Andaian yang menggambarkan kekhawatiran Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jangan-jangan. (d) Andaian yang berhubungan dengan ketidakpastian. Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung kalau-kalau. (14) Hubungan optatif Klausa utama kalimat majemuk yang berisikan hubungan optatif menyatakan harapan agar apa yang ada pada klausa subordinatif dapat terjadi. Kata penghubung yang digunakan adalah agar, semoga, moga-moga, dan mudah-mudahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->