P. 1
Hadits Tentang Agama Adalah Nasihat

Hadits Tentang Agama Adalah Nasihat

|Views: 56|Likes:

More info:

Published by: Zuha Muhammad Al-Matholi'i on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2012

pdf

text

original

Agama Adalah Nasihat

(Oleh : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

:

Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dâri radhiyallâhu'anhu, dari Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. Mereka (para sahabat) bertanya, ”Untuk siapa, wahai Rasûlullâh?” Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjawab, ”Untuk Allâh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.”

TAKHRIJ HADITS Hadits ini diriwayatkan dari jalan Suhail bin Abi Shalih, dari „Atha‟ bin Yazid al-Laitsi, dari Abu Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dâri radhiyallâhu'anhu. Hadits ini diriwayatkan oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Imam Muslim (no. 55 [95]). Imam Abu „Awanah (I/36-37). Imam al-Humaidi (no. 837). Imam Abu Dawud (no. 4944). Imam an-Nasâ-i (VII/156-157). Imam Ahmad (IV/102-103). Imam Ibnu Hibbân. Lihat at-Ta‟lîqâtul-Hisân „alâ Shahîh Ibni Hibbân (no. 4555) dan Raudhatul- „Uqalâ` (no. 174). 8. Imam al-Baihaqi (VIII/163). 9. Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh (II/681 no. 747,749,751,755).

10. Imam ath-Thabrani dalam al-Mu‟jamul-Kabîr (no. 1260-1268). 11. Imam al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (XIII/93, no. 3514).

Hadits ini memiliki syawâhid (penguat) dari beberapa sahabat, yaitu:

 

Abu Hurairah; diriwayatkan oleh Imam an-Nasâ-i (VII/157), at-Tirmidzi (no. 1926), Ahmad (II/297), dan Ibnu Nashr al-Marwazi, dalam Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh (II/682 no. 748). At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan shahih.” Ibnu Umar; diriwayatkan oleh Imam ad-Dârimi (II/311) dan Ibnu Nashr al-Marwazi (no. 757-758). Ibnu „Abbas; diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/351) dan ath-Thabrani dalam alMu‟jamul-Kabîr (no. 11198).

Para ulama ahli hadits menjelaskan bahwa hadits di atas shahih.

BIOGRAFI SINGKAT PERAWI HADITS Beliau adalah seorang sahabat Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, Abu Ruqayyah, Tamîm bin Aus bin Kharijâh bin Su-ud bin Jadzimah al-Lakhmi al-Falasthini ad-Dâri. Dahulu, beliau seorang yang beragama Nasrani dan sebagai rahib dan ahli ibadah penduduk Palestina. Kemudian pindah ke Madinah lalu masuk Islam bersama saudaranya, Nu‟aim, pada tahun 9H. Beliau menetap di Madinah sampai akhirnya pindah ke Syam setelah terjadinya pembunuhan Khalifah „Utsmân bin „Affân radhiyallâhu'anhu. Beliau adalah seorang yang tekun melakukan shalat Tahajjud, selalu menghatamkan Al-Qur„ân. Beliau pernah menceritakan tentang kisah Jassasah dan Dajjal kepada Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, kemudian Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menyampaikan kisah tersebut kepada para sahabat di atas mimbar. Ini menunjukkan keutamaan beliau. Beliau juga ikut berperang bersama Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Tamim ad-Dâri adalah orang yang pertama kali memasang lampu di dalam masjid dan membacakan kisah-kisah. Ini dilakukan pada zaman pemerintahan „Umar bin al-Khaththâb radhiyallâhu'anhu. Beliau meriwayatkan delapan belas hadits dari Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Satu hadits diantaranya terdapat dalam Shahîh Muslim. Beliau wafat di Palestina pada tahun 40 H.
[1]

PENGERTIAN NASIHAT

yang maknanya “khalasha” ( ). Semua hukum syari‟at. [4] Kesimpulannya.” [3] Imam Ibnu Rajab rahimahullâh menukil ucapan Imam al.Khaththabi rahimahullâh: “Nasihat. Ucapan singkat. “Dikatakan bahwa “nashaha” diambil dari “nashahar-rajulu tsaubahu” ( ) apabila dia menjahitnya. namun mengandung berbagai nilai dan manfaat penting.Kata “nasihat” berasal dari bahasa Arab. [2] Imam al-Khaththabi rahimahullâhmenjelaskan arti kata “nashaha”.Nawawi rahimahullâh. yang hanya dimiliki Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Lalu apakah maksud Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tersebut? . dengan usaha seseorang memperbaiki pakaiannya yang robek. baik ushul (pokok) maupun furu‟ (cabang) terdapat padanya. Bisa juga bermakna “khâtha” ( ). Bahkan satu kalimat “wa li Kitâbihi” saja. Yaitu menginginkan kebaikan pada orang yang diberi nasihat”. ada ulama yang berpendapat hadits ini merupakan poros ajaran Islam. Allâh Ta'ala berfirman: Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun dalam Kitab ini. (Qs al-An’âm/6:38) Oleh karena itu. Diambil dari kata kerja “nashaha” ( ). Yaitu murni serta bersih dari segala kotoran. Hal ini juga dikemukakan oleh Ibnul-Atsîr rahimahullâh . AGAMA ADALAH NASIHAT Hadits ini merupakan ucapan singkat dan padat. yaitu menjahit. Karena Kitab Allâh mencakup seluruh permasalahan agama. sebagaimana dinukil oleh Imam an. baik ushul maupun furu‟. Padahal beban syari‟at sangat banyak dan tidak terbatas hanya pada nasihat. ia sudah mencakup semuanya. Maka mereka mengumpamakan perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya. ialah kata yang menjelaskan sejumlah hal. Dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menamakan agama sebagai nasihat. perbuatan maupun keyakinan. nasihat adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan keinginan memberikan kebaikan pada orang yang diberi nasihat.

nasihat meliputi seluruh bagian Islam. dengan melaksanakan kewajiban. [6] Setiap nasihat untuk Allâh Ta'ala menuntut pelaksanaan kewajiban agama secara sempurna. dan ihsân. Adapun nasihat yang wajib untuk Allâh. bila dua hal dihadapkan pada diri seseorang. Karena setiap amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas. Sedangkan nasihat yang sunnah. Yaitu perhatian yang sangat dari pemberi nasihat untuk mengikuti semua yang Allâh cintai. Tidaklah sempurna nasihat untuk Allâh tanpa hal ini. berupa nasihat untuk pemimpin dan kaum Muslimin pada umumnya. hal ini bermakna. Pertama. sebagaimana halnya sabda Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam: Haji itu adalah wukuf di „Arafah. Yang pertama wajib. adakalanya bermakna pensifatan sesuatu dengan sifat kesempurnaan Allâh. Inilah yang disebut derajat ihsân. Karena nasihat. adalah dengan mendahulukan perbuatan yang dicintai Allâh daripada perbuatan yang dicintai oleh dirinya sendiri. bahwa hampir semua agama adalah nasihat. dan yang kedua sunnah. Nasihat untuk Allâh Ta'ala. SYARAH HADITS 1. Yang demikian itu. Kitab-Nya. iman. tetapi juga diperlukan kesungguhan mendekatkan diri kepada Allâh Ta'ala. bila tanpa disertai kesempurnaan cinta yang wajib dan sunnah. Adakalanya merupakan penyempurnaan kekurangan yang terjadi. yang pertama untuk kepentingan dirinya sendiri dan yang . Dengan demikian jelaslah keterangan para ulama tentang maksud sabda beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam “agama itu nasihat”. sebagaimana rincian selanjutnya dalam hadits ini. Tidaklah mungkin dicapai. yaitu dengan melaksanakan sunnah-sunnah secara sempurna dan meninggalkan hal-hal yang haram dan makruh secara sempurna pula. Al-Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi rahimahullâh (wafat 294H) berkata: "Nasihat hukumnya ada dua. dan dengan menjauhi semua yang Allâh haramkan. sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits Jibril. dan Rasul-Nya.Para ulama telah memberikan jawaban. agama itu seluruhnya adalah nasihat. [7] Ketiga. [5] Kedua. maka tidak termasuk agama.

Apabila ia tidak mampu melakukan kewajibannya karena suatu alasan tertentu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan meninggalkan apa-apa yang di larang Allâh Ta'ala. ialah menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya dengan seluruh anggota badannya selagi mampu melakukannya. dan lain-lain." Demikian ini penjelasan nasihat untuk Allâh Ta'ala secara global. . bahkan dengan lisan. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. meskipun disebabkan sakit yang tidak mungkin baginya untuk melakukan sesuatu dengan anggota tubuhnya. karena perbuatan mereka berupa nasihat untuk Allâh Ta'ala dengan hati mereka yang ikhlas ketika mereka terhalang untuk berjihad dengan jiwa raganya. Nasihat yang wajib untuk Allâh. apabila mereka menasihati kepada Allah dan Rasul-Nya (cinta kepada Allah dan Rasul-Nya). baik yang wajib maupun yang sunnah. Allâh Ta'ala berfirman: Tidak ada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah. maka dia memulai mengerjakan sesuatu untuk Rabb-nya terlebih dahulu dan menunda semua yang diperuntukkan bagi dirinya sendiri. apabila penghalang tadi telah hilang. (Qs at-Taubah/9:91) Allâh Ta'ala menamakan mereka sebagai “al-muhsinîn” (orang-orang yang berbuat kebaikan). terhalang.lain untuk Rabb-nya. seperti sakit. Adapun perinciannya akan kami sebutkan sebagiannya agar bisa dipahami dengan lebih jelas. atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. terkadang seorang hamba dibolehkan meninggalkan sejumlah amalan. maka ia tetap berniat dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan kewajiban tersebut. maka belum hilang kewajiban memberikan nasihat untuk Allâh Ta'ala dengan hatinya. tetapi tidak dibolehkan meninggalkan nasihat untuk Allâh Ta'ala. namun akalnya masih sehat. Yaitu dengan penyesalan atas dosa-dosanya dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allâh Ta'ala kepadanya. Dalam kondisi tertentu. atau sebab-sebab lainnya.

”Maksud nasihat untuk Allâh Ta'ala.Jika tidak (yaitu tidak ada amalan hati. berupa cinta. Sedangkan nasihat yang sunnah (bukan yang wajib). dan bersyukur atas segala nikmat-Nya … [9] Ibnu Rajab rahimahullâh menyebutkan.Nya. maka dia adalah penasihat berdasarkan tingkatan amalnya. termasuk nasihat untuk Allâh Ta'ala adalah dengan berjihad melawan orang-orang yang kufur kepada-Nya dan berdakwah mengajak manusia ke jalan Allâh Ta'ala. memusuhi orang yang durhaka kepada-Nya. maka ia tidak disebut sebagai pemberi nasihat untuk Allâh Ta'ala dengan hatinya. lebih-lebih lagi dari orang lain. melakukan amalan zhahir dan batin yang Allâh Ta'ala cintai dan menjauhi apa-apa yang Allâh Ta'ala benci. serta segala apa yang tidak pantas bagi-Nya. ialah beriman kepada Allâh Ta'ala. tidak mengingkari sifat-sifat. Dan termasuk nasihat yang wajib untuk Allâh Ta'ala. ialah dengan berjuang sekuat tenaga untuk lebih mengutamakan Allâh Ta'ala daripada segala apa yang ia cintai dalam hati dan seluruh anggota badan bahkan dirinya sendiri. dan yang bathil itu sebagai suatu kebathilan.Nya. loyal (mencintai) orang yang taat kepada-Nya. ialah dengan membenci dan tidak ridha terhadap kemaksiatan orang yang berbuat maksiat. bahkan berupaya keras melakukan hal-hal yang membuat orang yang dicintainya itu merasa senang dan cinta. mensucikan Allâh Ta'ala dari semua sifatsifat yang kurang. sabar atas bencana yang menimpanya. takut. ialah taat kepada Rasul-Nya dalam hal yang beliau wajibkan kepada manusia berdasarkan perintah Rabb-nya. termasuk nasihat untuk Allâh Ta'ala. mengakui nikmatNya. berjihad melawan orang yang kufur kepada-Nya. dan bersih dari noda syirik. Karena seorang penasihat. menjauhkan maksiat. menafikan sekutu bagi-Nya. Seorang muslim harus mengagungkan-Nya dengan sebesar-besarnya pengagungan. Juga termasuk nasihat untuk Allâh Ta'ala. apabila bersungguh-sungguh kepada orang yang dicintainya. [8] Imam an-Nawawi rahimahullâh menyebutkan. hatinya dipenuhi dengan rasa cinta dan rindu kepada-Nya. maka begitu pula pemberi nasihat untuk Allâh Ta'ala. melaksanakan ketaatan kepada-Nya. mencintai apa-apa yang Allâh Ta'ala cintai dan membenci apa-apa yang Allâh Ta'ala benci. Barangsiapa yang melakukan ibadah nafilah (sunnah) untuk Allâh Ta'ala tanpa dibarengi dengan kerja keras. [10] Syaikh Muhammad Hayât as-Sindi rahimahullâh (wafat 1163 H) berkata. ialah dengan berjihad melawan orang-orang yang kufur kepada-Nya dan berdakwah mengajak manusia ke jalan Allâh Ta'ala. meyakini apa-apa yang Allâh Ta'ala jadikan sesuatu itu benar sebagai suatu kebenaran. Adapun makna nasihat untuk Allâh Ta'ala. ialah agar seorang hamba menjadikan dirinya ikhlas kepada Rabb-nya dan meyakini Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dalam Uluhiyyah-Nya. penyerupaan. mensifatkan Allâh Ta'ala dengan seluruh sifat yang sempurna dan mulia. mencintai karena Allâh Ta'ala. dia tidak akan mementingkan dirinya. serta ridha dengan taqdir-Nya. bersyukur atas nikmatnikmat-Nya.” [11] . dan cinta kepada ketaatan orang yang taat kepada Allâh Ta'ala dan Rasul-Nya. dan harap kepada Allâh Ta'ala dan niat untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan-Nya). Allâh Ta'ala mempunyai segala sifat kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan. tandingan. benci karena-Nya. tetapi tidak melaksanakan nasihat dengan sebenarnya secara sempurna.

Dia sebagai penyejuk mata bagi orangorang yang berilmu. ialah dengan sangat mencintai dan mengagungkan kedudukannya karena Al-Qur‟an itu adalah Kalâmullâh. Dan di dalamnya terdapat ilmu-ilmu mengenai Uluhiyyah Allâh yang tidak terhitung banyaknya. Begitu pula pemberi nasihat untuk Kitâbullâh. ia pasti tersesat. [14] Secara rinci. memuliakan. Allâh Ta'ala berfirman: Sesungguhnya Kami yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur‘ân) dan Kami sendiri yang menjaganya. . dia akan mempelajari wasiat dari orang yang menasihatinya. dan mempelajari Al-Qur-an terus-menerus didasari rasa cinta kepadanya. mempunyai perhatian yang besar dalam merenunginya. Barangsiapa yang ingin sampai di tempat tujuan. yang senantiasa terpelihara. baik dalam hati maupun dalam lisan. berakhlak dengan akhlaknya. dan setelah memahaminya ia mengamalkan isinya. Seandainya seorang hamba mengetahui keagungan Kitâbullâh.2. Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi rahimahullâh berkata. maka ia mengamalkan apa-apa yang tertulis dari wasiat tersebut. dia dituntut untuk memahaminya agar dapat mengamalkannya karena Allâh. sesuai dengan apa yang Allâh cintai dan ridhai. Nasihat untuk Kitâbullâh. Al-Qur„an adalah Kalâmullâh yang penuh dengan mukjizat. membacanya dengan sebenar-benarnya. berkeinginan kuat untuk memahaminya. serta beradab dengan adab-adabnya. ”Sedangkan nasihat untuk Kitabullah. maka ia harus menempuh jalannya. nasihat untuk Kitâbullâh dilakukan melalui beberapa hal berikut. dan merupakan wasilah (jalan) bagi orang-orang yang selalu berhubungan dengan Allâh. dan penuh perhatian untuk mendapatkan ilmu-ilmunya. Dia merupakan teman dekat orang-orang yang berjalan menempuh jalan Allâh. mengutamakannya daripada selainnya. Allâh Ta'ala sendirilah yang menjamin hal itu. nasihat untuk kitab-Nya adalah dengan meyakini Al-Qur„ân itu Kalâmullâh.” [12] Hal ini diwujudkan dalam bentuk iman kepada Kitab-kitab samawi yang diturunkan Allâh Ta'ala dan meyakini Al-Qur„ân merupakan penutup dari semua Kitab-kitab tersebut. Karena kalau tidak. Wajib mengimani apa-apa yang ada di dalamnya. kemudian menyebarluaskan yang dia pahami kepada manusia. serius dan penuh konsentrasi membacanya untuk mendapatkan pemahaman maknanya sesuai dengan yang dikehendaki Allâh untuk dipahami. (Qs al-Hijr/15:9) [13] Menurut Syaikh Muhammad Hayât as-Sindi rahimahullâh. niscaya ia tidak akan meninggalkannya sedikitpun. Begitu pula halnya seorang yang menasihati dari kalangan hamba. wajib mengamalkan. Apabila ia diberi sebuah buku dengan maksud untuk dipahaminya.

sehingga bacaannya dapat masuk dan diresapi. dan mempertebal ketakwaan. sesuai dengan banyaknya hafalan yang dimiliki. derajatnya di akhirat akan semakin tinggi. ”Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia dengan tartil.a. karena pada hari Kiamat ia akan datang untuk memberi syafa‟at kepada orang yang membacanya. Karena kedudukanmu (di surga) sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca”. [15] Sedangkan menghafal Al-Qur„ân merupakan keutamaan yang besar. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Dikatakan kepada orang yang shahib (orang yang mengilmui dan mengamalkannya) Al-Qur„ân. hati akan lebih hidup dengan cahaya Kitâbullâh. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Bacalah Al-Qur„ân. Melalui hafalan. Dengan membaca al-Al-Qur„ân akan didapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan. manusia juga akan segan dan menghormatinya. [16] Membacanya dengan tartil dan suara yang bagus. Bahkan dengan hafalan itu. kejernihan perasaan. Membaca Al-Qur„ân merupakan kebaikan dan merupakan syafa‟at yang akan diberikan pada hari Kiamat kelak. Membaca dan menghafal Al-Al-Qur‘ân. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: • . Disamping itu akan melahirkan kebersihan jiwa.

Mengajarkannya kepada generasi muslim agar ikut berperan dalam menjaga AlQur‘ân. Memahami dan mengamalkannya. Seorang muslim wajib membaca Al-Qur„ân dan harus berusaha memahaminya serta berusaha untuk mengamalkannya. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur„ân. [17] b. Allâh Ta‟ala berfirman: Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur„ân ataukah hati mereka terkunci? (Qs Muhammad/ 47:24) c.Bukan golongan kami orang yang tidak membaca Al-Qur„ân dengan irama. Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur„an adalah kunci kebahagiaan dan „izzah (kejayaan) umat Islam. Bagaimanapun. [18] d. buah membaca Al-Qur„ân baru akan kita peroleh setelah memahami dan mengamalkannya. Oleh karena itu. alangkah buruknya jika kita memahami ayat Al-Qur„ân namun tidak mau mengamalkannya. Mentadabburi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ayatnya. Allâh Ta'ala berfirman: .

Wahai orang-orang yang beriman. dan dengan mencintainya. mengikutinya serta tidak ada kesempitan di dadanya terhadap semua yang Beliau putuskan. menerangkan kepada mereka jalan Allâh yang lurus agar mereka lulus mendapatkan kenikmatan surga dan terhindar dari kepedihan api neraka. menolong. memberikan harta (untuk perjuangan menegakkan agama Allâh) bila beliau menginginkannya. mencintai orang yang memiliki hubungan dengan Beliau. (Qs ash-Shaff/61:2-3) [19] 3. maka dengan perhatian dan kesungguhan untuk mencari Sunnah-nya. juga dari kaum Muhajirin dan Anshar. Dan orang yang rugi. Allâh mengutusnya kepada para hamba-Nya. Barangsiapa yang menentangnya. maka ia taat kepada Allâh. dan dengan mengikuti tuntunan beliau dalam hal berpenampilan dan berpakaian. dan bersegera untuk mencintai beliau. Nasihat untuk Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi rahimahullâh berkata: "Sedangkan nasihat untuk Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pada masa hidupnya. menjelaskan kepada mereka semua yang membuat mereka bahagia dan semua yang membuat mereka sengsara. membela. [21] . Barangsiapa yang taat kepada Beliau. memuliakannya. atau dari seorang sahabat yang menemani Beliau sesaat di malam atau siang hari. mengagungkan perintahnya. Orang yang menang. ialah dengan meyakini Beliau adalah seutamautama makhluk dan kekasih-Nya. marah terhadap orang yang menyia-nyiakan Sunnah beliau hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia. dari kalangan karib kerabat atau familinya. kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allâh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. adalah orang yang menang membawa kecintaan dan ketaatan pada Sunnahnya. agar Beliau mengeluarkan mereka dari segala kegelapan kepada cahaya. akhlak. sangat marah dan berpaling dari orang yang menjalankan agama yang bertentangan dengan Sunnah-nya. Tunduk serta patuh kepada Beliau. seperti orang yang buta mengikuti petunjuk jalan orang yang tajam matanya. adalah orang yang terhalang dari mengikuti ajarannya." [20] Yang dimaksud dengan nasihat untuk Rasul-Nya. dan adab-adabnya. ialah dengan mengerahkan segala kemampuan secara sungguh-sungguh dalam rangka taat. istiqâmah dalam melaksanakannya. maka ia telah menentang Allah dan kelak akan diberi balasan setimpal. meskipun ia meyakini akan kebenarannya. Adapun setelah Beliau wafat.

maka ikutilah aku (Muhammad). ialah dengan mencintai ketaatan mereka kepada Allâh. membenarkan semua yang disampaikan. niscaya kalian dicintai Allâh”. ”Makna „nasihat untuk para pemimpin kaum Muslimin‟. mencintai kelurusan dan keadilan mereka. membenci orang yang keluar dari ketaatan kepada mereka (yaitu membenci orang yang tidak mengakui kekuasaan mereka dan menganggap darah mereka halal). mencintai bersatunya umat di bawah pengayoman mereka. mengimani bahwa taat kepada mereka ialah demi ketaatan kepada Allâh. karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal . Allâh Ta‟ala berfirman: Katakanlah (hai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allâh. Allâh Ta‟ala berfirman: Barangsiapa yang taat kepada Rasul. Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi rahimahullâh berkata. serta mencintai dan mentaatinya. Nasihat untuk Para Pemimpin Kaum Muslimin.” [22] Syaikh Muhammad Hayât as-Sindi rahimahullâh berkata.Nisâ‘/4:80) 4. (Qs an. maka ia telah mentaati Allâh. baik dalam Al-Qur„an maupun as-Sunnah. Yaitu dengan menerima perintah mereka. ialah nasihat yang ditujukan kepada para penguasa mereka. ”Sedangkan nasihat untuk para pemimpin kaum Muslimin. (Qs Ali ‘Imran/3:31) Ketaatan kepada Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam merupakan bentuk ketaatan kepada Allâh Ta‟ala. benci kepada perpecahan umat dengan sebab melawan mereka. dan taat kepada mereka dalam hal yang bukan maksiat. Mencintai Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam ialah dengan ittibâ‟ (mengikuti) beliau dan taat kepadanya. dan mencintai kejayaan mereka dalam taat kepada Allâh.Hal ini diaplikasikan dalam bentuk membenarkan risalahnya. mendengar.

Tidak boleh melakukan provokasi. dan dalam kerusakan mereka berarti kerusakan bagi rakyat. Termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal-Jama‟ah. meskipun penguasa itu berbuat zhalim. Allâh Ta‟ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman. dan mengingatkan mereka dengan cara yang baik. Nasihat untuk para pemimpin dapat juga dilakukan dengan cara membantu mereka untuk senantiasa berada di atas jalan kebenaran. memerintahkan mereka kepada kebaikan. Kita juga senang dengan persatuan umat di bawah kepemimpinan mereka yang adil dan membenci perpecahan umat di bawah penguasa yang semena-mena.” [23] Yang dimaksud dengan pemimpin kaum Muslimin. atau media lainnya. Karena yang demikian menyalahi petunjuk Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan Salafush-Shalih. melarangnya dari kemungkaran. atau para ulama. serta mendo‟akan mereka agar mendapatkan kebaikan. dalam kebaikan mereka berarti kebaikan bagi rakyat. taatlah kepada Rasul dan penguasa dari kalian. ialah dengan mencintai kebaikan. menaati mereka dalam kebenaran. (QS. tempat khusus maupun umum. ialah para penguasa. Karena. melalui kepemimpinannyalah kemaslahatan kita bisa terpenuhi. . Tidak memerangi mereka selama mereka belum kafir. maka penguasa tersebut harus dari orang Islam sendiri. membersihkan kerusakan mereka. ialah tidak melakukan provokasi atau penghasutan untuk memberontak kepada penguasa. dan keadilannya. Karena. kebenaran. wakil-wakilnya. janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. berusaha untuk memperbaiki keadaan mereka. baik dari atas mimbar. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa. taatlah kalian kepada Allâh. bukan lantaran individunya. An-Nisaa’: 59) Nasihat untuk pemimpin.maksiat kepada Al-Khaliq. Agar penguasa ditaati.

bahkan menutup telinganya rapatrapat agar tidak mendengar suara-suara kebenaran. Dalam kondisi seperti ini.Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. karena hal tersebut dapat mengurangi kewibawaan dan membuat mereka sebagai bahan tuduhan. Bila penguasa itu mau mendengar nasihat tersebut maka itu yang terbaik. bagi penguasa yang menindas rakyatnya dan membungkam orang-orang yang berusaha menasihatinya. Para ulama juga mempunyai tanggung-jawab yang besar untuk selalu menasihati para penguasa. hendaklah mereka terus-menerus berusaha datang menyampaikan kebenaran dan nasihat yang baik kepada pemerintah (penguasa) dan sabar dalam melakukannya. [25] Para ulama juga akan dimintai pertanggung-jawaban. ialah dengan senantiasa mengingatkan mereka akan tanggung jawab tersebut. [24] Sesungguhnya tidak ada kebaikan bagi masyarakat yang tidak mau menasihati penguasanya dengan cara yang baik. dan senantiasa menyerukan agar para penguasa berhukum dengan hukum Allâh dan Rasul-Nya. Juga dengan jalan tidak mencerca mereka. jika mereka justru memuji penguasa yang semena-mena. Ini sangat mungkin terjadi jika masyarakat muslim telah menyeleweng dan jauh dari nilai-nilai Islam. maka kelak Allâh akan menghisabnya. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: • Jihad yang paling utama adalah mengatakan keadilan (dalam riwayat lain: kebenaran) di hadapan penguasa yang semena-mena. Dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima) maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya. apakah hadits tersebut shahih atau dha‟if. Jika mereka lalai dalam mengemban tanggung jawab ini sehingga tidak ada seorang pun yang menyerukan kebenaran di depan penguasa. Juga tidak ada kebaikan. bahkan kemudian menjadi corong mereka. Sedangkan nasihat kita untuk para ulama. Menjelaskan berbagai hadits. Kepada para ulama. dilakukan dengan jalan membantah berbagai pendapat sesat berkenaan dengan Al-Qur„an dan as-Sunnah. karena menyampaikan kalimat yang baik termasuk seutama-utama jihad. yang terjadi justru kerendahan dan kehancuran. nasihat yang dilakukan untuk Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh. . Adapun para ulama. jika memang mereka orang yang bisa dipercaya. mempercayai hadits-hadits yang mereka sampaikan.

karena mereka semua adalah hamba-hamba Allâh. maka nasihatilah ia. ialah dengan menolong mereka dalam kebaikan. Makna “nasihat untuk kaum Muslimin pada umumnya”. khususnya berkaitan dengan urusan akhirat. 7. ialah nasihat yang diberikan ketika seseorang dimintai nasihat. serta menghindari penipuan dan kedengkian. Nasihat yang Paling Baik Di antara Kaum Muslimin. sebagai penutup keburukan. [27] 6. Amal para rasul ialah menasihati manusia kepada sesuatu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Nasihat yang paling baik. kaum Muslimin telah mengabaikan tugas ini. dan mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana ia mencintainya untuk diri sendiri. pelengkap kekurangan. membimbing mereka kepada petunjuk. Dengan demikian. [28] Termasuk nasihat yang paling baik. amar ma’ruf nahyu mungkar.5. Mereka tidak mau menasihati muslim yang lain. melarang mereka berbuat keburukan. [26] Nasihat untuk masyarakat muslim. yaitu kacamata kebenaran. penghormatan terhadap yang besar. pencegah terhadap bahaya. tetapi harus diikuti dengan amalan. nasihat tersebut akan terlihat nyata dalam masyarakat muslim. dilakukan dengan cara menuntun mereka kepada berbagai hal yang membawa kebaikan dunia dan akhiratnya. mencegah mereka dengan sekuat tenaga dari kesesatan. Kedudukan Orang yang Memberikan Nasihat. Nasihat untuk Kaum Muslimin. yaitu nasihat yang dilakukan seseorang kepada orang lain ketika orang tersebut (yang dinasihati) tidak ada di hadapannya. kasih sayang terhadap yang lebih kecil. Maka seorang hamba harus memandang mereka dengan landasan yang satu. Nasihat yang dilakukan seharusnya tidak terbatas dengan ucapan. Allâh Ta'ala berfirman menceritakan hamba-Nya. Sangat disayangkan. Yaitu dilakukan dengan cara menolong dan membelanya. pemberi manfaat. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Jika seseorang meminta nasihat kepadamu. Nabi Hud 'alaihissalam : .

yaitu para nabi dan rasul. Mudah-mudahan Allâh Ta'ala menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang selalu saling menasihati. sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku. (Qs al-A’râf/7: 68) Allâh Ta'ala juga menceritakan Nabi Shalih 'alaihissalam yang berbicara kepada kaumnya: Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku. (Qs Al-A’râf/7:79) Seseorang seharusnya merasa cukup mulia dengan melaksanakan amalan hamba-hamba Allâh yang paling mulia. Sehingga memiliki sebagian sifat-sifat orang yang beruntung. Demikianlah hakikat nasihat. sebagaimana telah digariskan Allâh Ta'ala dengan firman-Nya: Demi masa.Aku menyampaikan amanat-amanat Rabb-ku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu. tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat”. dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran .

yaitu menasihati saudaranya dengan tidak diketahui orang lain. sunnah. ia berkata: • Aku membai‟at Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam (dengan isi kandungan bai'at. aku akan) tetap mengerjakan shalat. (Qs al-‘Ashr/103:1-3) HUKUM MEMBERIKAN NASIHAT Diriwayatkan dari Jarir bin „Abdillah radhiyallâhu'anhu.” Syaikh Nazhim Muhammad Sulthân berkata. Fudhail bin Iyadh rahimahullâh berkata. ”Hukum memberi nasihat ialah fardhu kifayah. ada yang wajib.” [30] ADAB-ADAB MEMBERI NASIHAT Di antara adab memberi nasihat dalam Islam.dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. Sebagian ulama berkata. dan fardhu kifayah. Karena Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjelaskan. [29] Imam Nawawi rahimahullâh berkata. ada yang fardhu kifayah. dan ada juga yang sunnah. Sedangkan hukum-hukum agama ada yang wajib. fardhu „ain. ”Saya berpendapat. Artinya. Dan nasihat ini adalah wajib menurut kadar kemampuan. hukum memberi nasihat dengan maknanya yang menyeluruh sebagaimana sudah dijelaskan. Karena. menunaikan zakat. . Barangsiapa menasihati saudaranya di depan banyak orang maka yang demikian itu mencela dan merendahkan orang yang dinasihati. maka itulah nasihat yang sebenarnya. agama adalah nasihat. dan menasihati setiap muslim. barangsiapa menasihati seseorang dan hanya ada mereka berdua. ada yang fardhu „ain. barangsiapa menutupi keburukan saudaranya maka Allâh Ta'ala akan menutupi keburukannya di dunia dan akhirat. apabila ada seseorang yang sudah mengerjakannya maka gugurlah kewajiban atas yang lain.

berarti ia telah mencelanya. ”Maka wajib bagi seseorang untuk selalu memberi nasihat. Karena." Kemudian al-Imam Ibnu Hibban rahimahullâh menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan." [31] Al-Imam Ibnu Hibbân rahimahullâh (wafat 354 H) berkata. Sedangkan orang fasik. maka aku tidak senang. dan gila ketaatan serta gila kekuasaan. barangsiapa menasihati saudaranya di hadapan orang lain. Jika engkau melampaui batas adab-adab tersebut maka engkau orang yang zhalim. orang yang dinasihati tidak memahami isyaratmu maka harus secara terus-terang. berarti ia telah memperbaikinya. jangan di hadapan orang lain dan cukup dengan memberikan isyarat. Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun. lebih besar kemungkinannya untuk diterima daripada menyampaikan dengan maksud mencelanya. ”Nasihat. ia berkata: "Saya bertanya kepada Mis‟ar.” Abu Hatim (Imam Ibnu Hibban) rahimahullâh mengatakan. bukan pemberi nasihat. ialah orang yang menutupi aib dan menasihati. Janganlah memberi nasihat dengan syarat harus diterima. tanpa secara terus-terang. apabila dilakukan seperti apa yang telah kami sebutkan maka akan melanggengkan kasih sayang dan menjadi penyebab terwujudnya hak ukhuwah (persaudaraan). maka aku senang‟. Kecuali. dan tuan dengan hamba sahayanya. Dan barangsiapa yang menasihatinya secara rahasia. baik yang diberi nasihat itu suka maupun benci.” [32] Al-Imam Abu Muhammad bin Ahmad bin Sa‟id Ibnu Hazm rahimahullâh (wafat 456 H) berkata. „Apakah engkau suka bila ada orang lain memberitahukan kekurangan-kekuranganmu?‟ Ia menjawab. Apabila engkau memberikan nasihat maka sampaikan secara rahasia. ‟Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangankekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku. ialah orang yang merusak dan mencela. memberi nasihat merupakan kewajiban seluruh manusia. Ini bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan."Seorang mukmin. tersinggung maupun tidak tersinggung.harus secara rahasia. bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukhuwah. Tetapi bila yang datang kepadaku seorang pemberi nasihat. melainkan hukum rimba seperti seorang penguasa dengan rakyatnya. tetapi dalam cara menyampaikannya -tidak boleh tidak.” [33] Imam asy-Syafi‟i rahimahullâh berkata dalam sya‟irnya: . "Sebagaimana telah kami sebutkan.

An-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts. Nasihat termasuk dari iman. 8. 3. Ibnul-Atsîr. 4. . Karena itulah Imam al-Bukhari berkata dalam Shahîh-nya. Nasihat dikatakan sebagai agama. pemimpin kaum Muslimin. Shahîh Muslim. Fiqih Nasihat. dalam Kitâbul. Kitab-Nya. karena iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Syaikh Muhammad Nashiruddin alAlbani. Jâmi‟ul „Ulum wal-Hikam. al-Hafizh Ibnu Hajar al-„Atsqalani. [34] FAWAID HADITS 1. Qawâ‟id wa Fawâ-id minal-„Arba‟în an-Nawawiyyah. Hindarilah menasihatiku di tengah khalayak ramai. Irwâ-ul Ghalîl fii Takhriiji Ahâdîts Manâris-Sabîl. Para sahabat radhiyallâhu'anhum sangat berkeinginan keras untuk mendapatkan ilmu. Tidak boleh khianat dalam memberikan nasihat. 2. 7. 2. dan kepada kaum Muslimin pada umumnya. Maka janganlah engkau kaget bila nasihatmu tidak ditaati.Nya. 6. Dakwah itu harus dimulai dari yang paling penting kemudian yang penting. Wajib ikhlas dalam memberikan nasihat. Bolehnya mengakhirkan keterangan dari waktu ketika menyampaikan nasihat. 1. aku tidak sudi mendengarnya. Tahqiq: Syaikh Syu‟aib al-Arnauth dan Ibrahim Bâjis. Dr. Nasihat ditujukan kepada Allah. 5. 3. Rasul. Baiknya Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dalam mengajarkan agama kepada para sahabatnya.Tutupilah kesalahanku dengan nasihatmu ketika aku seorang diri. Nasihat memiliki kedudukan yang besar dan agung dalam agama Islam. Sama saja dengan memburuk-burukkan. Marâji’: Al-Wâfî fî Syarhil-Arba‟în an-Nawawiyyah. 11. 4. karya: Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan. Fat-hul Bâri. dan lainnya sebagaimana yang disebutkan dalam takhrij hadits. 6. Ibnu Rajab al-Hanbali. 5. Karena memberikan nasihat di hadapan banyak orang. 10. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha. 7. Fariq bin Ghasim Anuz. Wajib ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta‟ala. 8.Imân. 9. Jika engkau menyalahiku dan tidak mengikuti ucapanku.

48. 1464) dan at-Tirmidzi (no. HR Muslim (no. 804). Lihat Fat-hul Bâri (I/138). hlm. hlm. Ta‟zhîmu Qadrish-Shalâh. Ta‟zhîmu Qadrish-Shalâh (II/693). al-Ishâbah fî Tamyîzish-Shâhâbah (I/183-184). al-„Allamah Muhammad Hayat as-Sindi. dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu. 7527). Dan kitab-kitab lainnya yang disebutkan dalam catatan kaki. hlm. Syarah Shahîh Muslim. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Cetakan I. Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. HR al-Bukhari (no. Lihat juga an-Nihâyah fî Gharîbil-Hadits (V/63). Syarhus-Sunnah. Lisânul-Arab (XIV/158-159) bagian kata “Nashaha”. an-Nasâ-i (V/256). dari Sahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallâhu'anhu.Tahdzîb (I/449. hlm.9. Syarah Shahîh Muslim (II/37). Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. dan Tahdzîbut. Fat-hul Bâri (I/138). at-Tirmidzi (no. karya: al-Imam an-Nawawi 12. 10. Daar Ramaadi. Al-Wâfî fî Syarh al-Arba‟în an-Nawawiyyah. Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh (II/693). 13. . HR al-Bukhari (no. 47-48. Jâmi‟ul-„Ulûm wal-Hikam (I/222). Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh (II/693-694). 48. Tahqiq dan Takhrij: Dr. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-„Utsaimin. 11. Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi.Arba‟în an-Nawawiyyah. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyah. Jâmi‟ul-„Ulûm wal-Hikam (I/219). Al-Wâfî fî Syarh al-Arba‟în an-Nawawiyyah. Jâmi‟ul-„Ulûm wal-Hikam (I/218). dari Sahabat „Abdullah bin „Amr radhiyallâhu'anhu. 15. 48. no. 5027). 42. „Abdurrahman bin „Abdul-Jabbar al-Fariyuwa‟i. 1949). Daar Ihyâ-ut Turats al-„Arabi. Syarah Shahîh Muslim (II/38) oleh Imam an-Nawawi. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. 2914). [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] Siyar „Alâmin Nubalâ (II/442-448). Cetakan I. 951). (II/691-692). Cetakan I. al-Imam al-Baghawi. Tahun 1408H. Syarhul. HR Abu Dawud (no. Maktabah ad-Dâr Madinah anNabawiyyah. hlm. 2975). dari Sahabat „Utsman bin „Affan radhiyallâhu'anhu. 42-43. 16. Tahun 1415 H. 14. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Tahqiq: Hikmat bin Ahmad al-Hariri. hlm. HR Abu Dawud (no. Syarah Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama‟ah.

hlm. 275. Darul-Fikr. 45). 2162). 2174). Al-Wâfî fî Syarah al-Arba‟iin an-Nawawiyyah. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. 45. hlm. Raudhatul-„Uqalâ‟ wa Nuzhatul-Fudhalâ`. hlm. 56 [97]). Lihat Silsilah al. hlm. 48. . Bab: Kaifa Nashihatur-Ra‟iyyah lil-Wulât (II/ 507-508 no. 46. HR Muslim (no. dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu. 4011). HR al-Bukhari (no. 4344). 1096. 176-177. hlm.[24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] HR Ibnu Abi „Ashim dalam as-Sunnah. Ahmad (III/403-404) dan al-Hakim (III/290) dari „Iyadh bin Ghunm rahimahullâh. dan Ibnu Majah (no. Qawâ‟id wa Fawâ-id minal-Arba‟în an-Nawawiyyah. 1098). 491. Akhlâq was Siyar fî Mudâwâtin Nufûs (hal. hlm. 95. dari Sahabat Abu Sa‟id al-Khudri. at-Tirmidzi (no. HR Abu Dawud (no. no.Ahâdîts ash-Shahîhah. Diwân Imam asy-Syafi‟i. dikumpulkan dan disusun oleh Muhammad „Abdur-Rahim. Al-Wâfî fî Syarh al-Arba‟în an-Nawawiyyah. 1097. 57) dan Muslim (no.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->