Agama Adalah Nasihat

(Oleh : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

:

Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dâri radhiyallâhu'anhu, dari Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. Mereka (para sahabat) bertanya, ”Untuk siapa, wahai Rasûlullâh?” Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjawab, ”Untuk Allâh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.”

TAKHRIJ HADITS Hadits ini diriwayatkan dari jalan Suhail bin Abi Shalih, dari „Atha‟ bin Yazid al-Laitsi, dari Abu Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dâri radhiyallâhu'anhu. Hadits ini diriwayatkan oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Imam Muslim (no. 55 [95]). Imam Abu „Awanah (I/36-37). Imam al-Humaidi (no. 837). Imam Abu Dawud (no. 4944). Imam an-Nasâ-i (VII/156-157). Imam Ahmad (IV/102-103). Imam Ibnu Hibbân. Lihat at-Ta‟lîqâtul-Hisân „alâ Shahîh Ibni Hibbân (no. 4555) dan Raudhatul- „Uqalâ` (no. 174). 8. Imam al-Baihaqi (VIII/163). 9. Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh (II/681 no. 747,749,751,755).

10. Imam ath-Thabrani dalam al-Mu‟jamul-Kabîr (no. 1260-1268). 11. Imam al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (XIII/93, no. 3514).

Hadits ini memiliki syawâhid (penguat) dari beberapa sahabat, yaitu:

 

Abu Hurairah; diriwayatkan oleh Imam an-Nasâ-i (VII/157), at-Tirmidzi (no. 1926), Ahmad (II/297), dan Ibnu Nashr al-Marwazi, dalam Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh (II/682 no. 748). At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan shahih.” Ibnu Umar; diriwayatkan oleh Imam ad-Dârimi (II/311) dan Ibnu Nashr al-Marwazi (no. 757-758). Ibnu „Abbas; diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/351) dan ath-Thabrani dalam alMu‟jamul-Kabîr (no. 11198).

Para ulama ahli hadits menjelaskan bahwa hadits di atas shahih.

BIOGRAFI SINGKAT PERAWI HADITS Beliau adalah seorang sahabat Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, Abu Ruqayyah, Tamîm bin Aus bin Kharijâh bin Su-ud bin Jadzimah al-Lakhmi al-Falasthini ad-Dâri. Dahulu, beliau seorang yang beragama Nasrani dan sebagai rahib dan ahli ibadah penduduk Palestina. Kemudian pindah ke Madinah lalu masuk Islam bersama saudaranya, Nu‟aim, pada tahun 9H. Beliau menetap di Madinah sampai akhirnya pindah ke Syam setelah terjadinya pembunuhan Khalifah „Utsmân bin „Affân radhiyallâhu'anhu. Beliau adalah seorang yang tekun melakukan shalat Tahajjud, selalu menghatamkan Al-Qur„ân. Beliau pernah menceritakan tentang kisah Jassasah dan Dajjal kepada Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, kemudian Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menyampaikan kisah tersebut kepada para sahabat di atas mimbar. Ini menunjukkan keutamaan beliau. Beliau juga ikut berperang bersama Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Tamim ad-Dâri adalah orang yang pertama kali memasang lampu di dalam masjid dan membacakan kisah-kisah. Ini dilakukan pada zaman pemerintahan „Umar bin al-Khaththâb radhiyallâhu'anhu. Beliau meriwayatkan delapan belas hadits dari Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Satu hadits diantaranya terdapat dalam Shahîh Muslim. Beliau wafat di Palestina pada tahun 40 H.
[1]

PENGERTIAN NASIHAT

nasihat adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan keinginan memberikan kebaikan pada orang yang diberi nasihat. sebagaimana dinukil oleh Imam an. Yaitu murni serta bersih dari segala kotoran.” [3] Imam Ibnu Rajab rahimahullâh menukil ucapan Imam al. baik ushul maupun furu‟. Diambil dari kata kerja “nashaha” ( ). Bisa juga bermakna “khâtha” ( ). AGAMA ADALAH NASIHAT Hadits ini merupakan ucapan singkat dan padat. Hal ini juga dikemukakan oleh Ibnul-Atsîr rahimahullâh .Kata “nasihat” berasal dari bahasa Arab. Dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menamakan agama sebagai nasihat. ialah kata yang menjelaskan sejumlah hal. ia sudah mencakup semuanya. yaitu menjahit. perbuatan maupun keyakinan. Allâh Ta'ala berfirman: Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun dalam Kitab ini. Maka mereka mengumpamakan perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya. Padahal beban syari‟at sangat banyak dan tidak terbatas hanya pada nasihat. Semua hukum syari‟at. “Dikatakan bahwa “nashaha” diambil dari “nashahar-rajulu tsaubahu” ( ) apabila dia menjahitnya.Nawawi rahimahullâh. ada ulama yang berpendapat hadits ini merupakan poros ajaran Islam. yang maknanya “khalasha” ( ). Karena Kitab Allâh mencakup seluruh permasalahan agama. Bahkan satu kalimat “wa li Kitâbihi” saja. [4] Kesimpulannya. Yaitu menginginkan kebaikan pada orang yang diberi nasihat”. Ucapan singkat.Khaththabi rahimahullâh: “Nasihat. [2] Imam al-Khaththabi rahimahullâhmenjelaskan arti kata “nashaha”. yang hanya dimiliki Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Lalu apakah maksud Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tersebut? . baik ushul (pokok) maupun furu‟ (cabang) terdapat padanya. dengan usaha seseorang memperbaiki pakaiannya yang robek. namun mengandung berbagai nilai dan manfaat penting. (Qs al-An’âm/6:38) Oleh karena itu.

Para ulama telah memberikan jawaban. [5] Kedua. dengan melaksanakan kewajiban. bila dua hal dihadapkan pada diri seseorang. sebagaimana halnya sabda Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam: Haji itu adalah wukuf di „Arafah. dan yang kedua sunnah. adakalanya bermakna pensifatan sesuatu dengan sifat kesempurnaan Allâh. Adakalanya merupakan penyempurnaan kekurangan yang terjadi. sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits Jibril. iman. yang pertama untuk kepentingan dirinya sendiri dan yang . Tidaklah sempurna nasihat untuk Allâh tanpa hal ini. Inilah yang disebut derajat ihsân. dan dengan menjauhi semua yang Allâh haramkan. bila tanpa disertai kesempurnaan cinta yang wajib dan sunnah. bahwa hampir semua agama adalah nasihat. hal ini bermakna. [7] Ketiga. berupa nasihat untuk pemimpin dan kaum Muslimin pada umumnya. Yaitu perhatian yang sangat dari pemberi nasihat untuk mengikuti semua yang Allâh cintai. Dengan demikian jelaslah keterangan para ulama tentang maksud sabda beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam “agama itu nasihat”. [6] Setiap nasihat untuk Allâh Ta'ala menuntut pelaksanaan kewajiban agama secara sempurna. Tidaklah mungkin dicapai. dan Rasul-Nya. adalah dengan mendahulukan perbuatan yang dicintai Allâh daripada perbuatan yang dicintai oleh dirinya sendiri. Yang demikian itu. Sedangkan nasihat yang sunnah. yaitu dengan melaksanakan sunnah-sunnah secara sempurna dan meninggalkan hal-hal yang haram dan makruh secara sempurna pula. Kitab-Nya. SYARAH HADITS 1. Adapun nasihat yang wajib untuk Allâh. Karena nasihat. dan ihsân. tetapi juga diperlukan kesungguhan mendekatkan diri kepada Allâh Ta'ala. Yang pertama wajib. Nasihat untuk Allâh Ta'ala. Pertama. nasihat meliputi seluruh bagian Islam. sebagaimana rincian selanjutnya dalam hadits ini. maka tidak termasuk agama. Al-Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi rahimahullâh (wafat 294H) berkata: "Nasihat hukumnya ada dua. Karena setiap amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas. agama itu seluruhnya adalah nasihat.

Adapun perinciannya akan kami sebutkan sebagiannya agar bisa dipahami dengan lebih jelas. Nasihat yang wajib untuk Allâh. maka ia tetap berniat dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan kewajiban tersebut. terkadang seorang hamba dibolehkan meninggalkan sejumlah amalan. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. (Qs at-Taubah/9:91) Allâh Ta'ala menamakan mereka sebagai “al-muhsinîn” (orang-orang yang berbuat kebaikan). terhalang. namun akalnya masih sehat." Demikian ini penjelasan nasihat untuk Allâh Ta'ala secara global. baik yang wajib maupun yang sunnah. meskipun disebabkan sakit yang tidak mungkin baginya untuk melakukan sesuatu dengan anggota tubuhnya. atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. tetapi tidak dibolehkan meninggalkan nasihat untuk Allâh Ta'ala. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allâh Ta'ala berfirman: Tidak ada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah. maka belum hilang kewajiban memberikan nasihat untuk Allâh Ta'ala dengan hatinya. karena perbuatan mereka berupa nasihat untuk Allâh Ta'ala dengan hati mereka yang ikhlas ketika mereka terhalang untuk berjihad dengan jiwa raganya. Yaitu dengan penyesalan atas dosa-dosanya dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allâh Ta'ala kepadanya.lain untuk Rabb-nya. apabila mereka menasihati kepada Allah dan Rasul-Nya (cinta kepada Allah dan Rasul-Nya). dan lain-lain. . Apabila ia tidak mampu melakukan kewajibannya karena suatu alasan tertentu. bahkan dengan lisan. Dalam kondisi tertentu. dan meninggalkan apa-apa yang di larang Allâh Ta'ala. seperti sakit. atau sebab-sebab lainnya. ialah menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya dengan seluruh anggota badannya selagi mampu melakukannya. maka dia memulai mengerjakan sesuatu untuk Rabb-nya terlebih dahulu dan menunda semua yang diperuntukkan bagi dirinya sendiri. apabila penghalang tadi telah hilang.

ialah beriman kepada Allâh Ta'ala. maka begitu pula pemberi nasihat untuk Allâh Ta'ala. melakukan amalan zhahir dan batin yang Allâh Ta'ala cintai dan menjauhi apa-apa yang Allâh Ta'ala benci. dan bersih dari noda syirik. termasuk nasihat untuk Allâh Ta'ala. penyerupaan. berjihad melawan orang yang kufur kepada-Nya. ialah dengan berjihad melawan orang-orang yang kufur kepada-Nya dan berdakwah mengajak manusia ke jalan Allâh Ta'ala. tidak mengingkari sifat-sifat. melaksanakan ketaatan kepada-Nya. sabar atas bencana yang menimpanya. dan bersyukur atas segala nikmat-Nya … [9] Ibnu Rajab rahimahullâh menyebutkan. ialah dengan berjuang sekuat tenaga untuk lebih mengutamakan Allâh Ta'ala daripada segala apa yang ia cintai dalam hati dan seluruh anggota badan bahkan dirinya sendiri. dia tidak akan mementingkan dirinya. hatinya dipenuhi dengan rasa cinta dan rindu kepada-Nya. Barangsiapa yang melakukan ibadah nafilah (sunnah) untuk Allâh Ta'ala tanpa dibarengi dengan kerja keras. bahkan berupaya keras melakukan hal-hal yang membuat orang yang dicintainya itu merasa senang dan cinta. loyal (mencintai) orang yang taat kepada-Nya. mensucikan Allâh Ta'ala dari semua sifatsifat yang kurang. Dan termasuk nasihat yang wajib untuk Allâh Ta'ala. dan cinta kepada ketaatan orang yang taat kepada Allâh Ta'ala dan Rasul-Nya. menafikan sekutu bagi-Nya. maka dia adalah penasihat berdasarkan tingkatan amalnya. ialah dengan membenci dan tidak ridha terhadap kemaksiatan orang yang berbuat maksiat. mengakui nikmatNya. Allâh Ta'ala mempunyai segala sifat kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan. serta ridha dengan taqdir-Nya. [10] Syaikh Muhammad Hayât as-Sindi rahimahullâh (wafat 1163 H) berkata. mencintai apa-apa yang Allâh Ta'ala cintai dan membenci apa-apa yang Allâh Ta'ala benci. termasuk nasihat untuk Allâh Ta'ala adalah dengan berjihad melawan orang-orang yang kufur kepada-Nya dan berdakwah mengajak manusia ke jalan Allâh Ta'ala. bersyukur atas nikmatnikmat-Nya. maka ia tidak disebut sebagai pemberi nasihat untuk Allâh Ta'ala dengan hatinya. Adapun makna nasihat untuk Allâh Ta'ala. Seorang muslim harus mengagungkan-Nya dengan sebesar-besarnya pengagungan. lebih-lebih lagi dari orang lain. serta segala apa yang tidak pantas bagi-Nya. menjauhkan maksiat.Nya. Karena seorang penasihat.” [11] .Nya. Sedangkan nasihat yang sunnah (bukan yang wajib). benci karena-Nya. tetapi tidak melaksanakan nasihat dengan sebenarnya secara sempurna. mencintai karena Allâh Ta'ala. berupa cinta. ialah taat kepada Rasul-Nya dalam hal yang beliau wajibkan kepada manusia berdasarkan perintah Rabb-nya. meyakini apa-apa yang Allâh Ta'ala jadikan sesuatu itu benar sebagai suatu kebenaran. ialah agar seorang hamba menjadikan dirinya ikhlas kepada Rabb-nya dan meyakini Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dalam Uluhiyyah-Nya. dan harap kepada Allâh Ta'ala dan niat untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan-Nya). takut.Jika tidak (yaitu tidak ada amalan hati. tandingan. ”Maksud nasihat untuk Allâh Ta'ala. [8] Imam an-Nawawi rahimahullâh menyebutkan. dan yang bathil itu sebagai suatu kebathilan. Juga termasuk nasihat untuk Allâh Ta'ala. mensifatkan Allâh Ta'ala dengan seluruh sifat yang sempurna dan mulia. apabila bersungguh-sungguh kepada orang yang dicintainya. memusuhi orang yang durhaka kepada-Nya.

mengutamakannya daripada selainnya. nasihat untuk kitab-Nya adalah dengan meyakini Al-Qur„ân itu Kalâmullâh. dan setelah memahaminya ia mengamalkan isinya. membacanya dengan sebenar-benarnya. maka ia mengamalkan apa-apa yang tertulis dari wasiat tersebut. Karena kalau tidak. Seandainya seorang hamba mengetahui keagungan Kitâbullâh. nasihat untuk Kitâbullâh dilakukan melalui beberapa hal berikut. serta beradab dengan adab-adabnya. maka ia harus menempuh jalannya. Dia sebagai penyejuk mata bagi orangorang yang berilmu. ialah dengan sangat mencintai dan mengagungkan kedudukannya karena Al-Qur‟an itu adalah Kalâmullâh. Apabila ia diberi sebuah buku dengan maksud untuk dipahaminya. yang senantiasa terpelihara. Wajib mengimani apa-apa yang ada di dalamnya. Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi rahimahullâh berkata. berakhlak dengan akhlaknya. Begitu pula pemberi nasihat untuk Kitâbullâh. Allâh Ta'ala sendirilah yang menjamin hal itu. Dia merupakan teman dekat orang-orang yang berjalan menempuh jalan Allâh. Barangsiapa yang ingin sampai di tempat tujuan. dan penuh perhatian untuk mendapatkan ilmu-ilmunya. niscaya ia tidak akan meninggalkannya sedikitpun. dia dituntut untuk memahaminya agar dapat mengamalkannya karena Allâh. dan merupakan wasilah (jalan) bagi orang-orang yang selalu berhubungan dengan Allâh. sesuai dengan apa yang Allâh cintai dan ridhai. ”Sedangkan nasihat untuk Kitabullah.2. baik dalam hati maupun dalam lisan. Nasihat untuk Kitâbullâh. wajib mengamalkan. mempunyai perhatian yang besar dalam merenunginya. dia akan mempelajari wasiat dari orang yang menasihatinya. Al-Qur„an adalah Kalâmullâh yang penuh dengan mukjizat. memuliakan. berkeinginan kuat untuk memahaminya. serius dan penuh konsentrasi membacanya untuk mendapatkan pemahaman maknanya sesuai dengan yang dikehendaki Allâh untuk dipahami. (Qs al-Hijr/15:9) [13] Menurut Syaikh Muhammad Hayât as-Sindi rahimahullâh. [14] Secara rinci. . Begitu pula halnya seorang yang menasihati dari kalangan hamba. Allâh Ta'ala berfirman: Sesungguhnya Kami yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur‘ân) dan Kami sendiri yang menjaganya. kemudian menyebarluaskan yang dia pahami kepada manusia. dan mempelajari Al-Qur-an terus-menerus didasari rasa cinta kepadanya. ia pasti tersesat.” [12] Hal ini diwujudkan dalam bentuk iman kepada Kitab-kitab samawi yang diturunkan Allâh Ta'ala dan meyakini Al-Qur„ân merupakan penutup dari semua Kitab-kitab tersebut. Dan di dalamnya terdapat ilmu-ilmu mengenai Uluhiyyah Allâh yang tidak terhitung banyaknya.

kejernihan perasaan. dan mempertebal ketakwaan. Membaca Al-Qur„ân merupakan kebaikan dan merupakan syafa‟at yang akan diberikan pada hari Kiamat kelak. sesuai dengan banyaknya hafalan yang dimiliki. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: • .a. [16] Membacanya dengan tartil dan suara yang bagus. Membaca dan menghafal Al-Al-Qur‘ân. [15] Sedangkan menghafal Al-Qur„ân merupakan keutamaan yang besar. Bahkan dengan hafalan itu. ”Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia dengan tartil. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Bacalah Al-Qur„ân. Melalui hafalan. hati akan lebih hidup dengan cahaya Kitâbullâh. sehingga bacaannya dapat masuk dan diresapi. Dengan membaca al-Al-Qur„ân akan didapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Dikatakan kepada orang yang shahib (orang yang mengilmui dan mengamalkannya) Al-Qur„ân. Disamping itu akan melahirkan kebersihan jiwa. karena pada hari Kiamat ia akan datang untuk memberi syafa‟at kepada orang yang membacanya. Karena kedudukanmu (di surga) sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca”. manusia juga akan segan dan menghormatinya. derajatnya di akhirat akan semakin tinggi.

Memahami dan mengamalkannya. Bagaimanapun. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur„ân. Mentadabburi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ayatnya. [17] b. Mengajarkannya kepada generasi muslim agar ikut berperan dalam menjaga AlQur‘ân. buah membaca Al-Qur„ân baru akan kita peroleh setelah memahami dan mengamalkannya. Allâh Ta'ala berfirman: . alangkah buruknya jika kita memahami ayat Al-Qur„ân namun tidak mau mengamalkannya. [18] d. Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur„an adalah kunci kebahagiaan dan „izzah (kejayaan) umat Islam. Seorang muslim wajib membaca Al-Qur„ân dan harus berusaha memahaminya serta berusaha untuk mengamalkannya. Allâh Ta‟ala berfirman: Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur„ân ataukah hati mereka terkunci? (Qs Muhammad/ 47:24) c. Oleh karena itu.Bukan golongan kami orang yang tidak membaca Al-Qur„ân dengan irama.

maka ia telah menentang Allah dan kelak akan diberi balasan setimpal. agar Beliau mengeluarkan mereka dari segala kegelapan kepada cahaya. dan bersegera untuk mencintai beliau. Barangsiapa yang menentangnya. menjelaskan kepada mereka semua yang membuat mereka bahagia dan semua yang membuat mereka sengsara.Wahai orang-orang yang beriman. Nasihat untuk Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi rahimahullâh berkata: "Sedangkan nasihat untuk Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pada masa hidupnya. Allâh mengutusnya kepada para hamba-Nya. adalah orang yang menang membawa kecintaan dan ketaatan pada Sunnahnya. mengagungkan perintahnya. Orang yang menang. Adapun setelah Beliau wafat. adalah orang yang terhalang dari mengikuti ajarannya. ialah dengan mengerahkan segala kemampuan secara sungguh-sungguh dalam rangka taat. membela. memberikan harta (untuk perjuangan menegakkan agama Allâh) bila beliau menginginkannya. ialah dengan meyakini Beliau adalah seutamautama makhluk dan kekasih-Nya. meskipun ia meyakini akan kebenarannya. seperti orang yang buta mengikuti petunjuk jalan orang yang tajam matanya. (Qs ash-Shaff/61:2-3) [19] 3. maka dengan perhatian dan kesungguhan untuk mencari Sunnah-nya. istiqâmah dalam melaksanakannya. dan dengan mengikuti tuntunan beliau dalam hal berpenampilan dan berpakaian. mencintai orang yang memiliki hubungan dengan Beliau. Tunduk serta patuh kepada Beliau. maka ia taat kepada Allâh. kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allâh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. mengikutinya serta tidak ada kesempitan di dadanya terhadap semua yang Beliau putuskan. menerangkan kepada mereka jalan Allâh yang lurus agar mereka lulus mendapatkan kenikmatan surga dan terhindar dari kepedihan api neraka. Dan orang yang rugi. juga dari kaum Muhajirin dan Anshar. dari kalangan karib kerabat atau familinya. akhlak. [21] . Barangsiapa yang taat kepada Beliau. sangat marah dan berpaling dari orang yang menjalankan agama yang bertentangan dengan Sunnah-nya. dan adab-adabnya. marah terhadap orang yang menyia-nyiakan Sunnah beliau hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia. dan dengan mencintainya." [20] Yang dimaksud dengan nasihat untuk Rasul-Nya. memuliakannya. menolong. atau dari seorang sahabat yang menemani Beliau sesaat di malam atau siang hari.

mengimani bahwa taat kepada mereka ialah demi ketaatan kepada Allâh. karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal . benci kepada perpecahan umat dengan sebab melawan mereka. (Qs an. mencintai kelurusan dan keadilan mereka. ”Makna „nasihat untuk para pemimpin kaum Muslimin‟. mendengar. ”Sedangkan nasihat untuk para pemimpin kaum Muslimin. maka ikutilah aku (Muhammad). baik dalam Al-Qur„an maupun as-Sunnah.Hal ini diaplikasikan dalam bentuk membenarkan risalahnya. ialah dengan mencintai ketaatan mereka kepada Allâh. dan mencintai kejayaan mereka dalam taat kepada Allâh. serta mencintai dan mentaatinya. Allâh Ta‟ala berfirman: Katakanlah (hai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allâh. Allâh Ta‟ala berfirman: Barangsiapa yang taat kepada Rasul. niscaya kalian dicintai Allâh”. maka ia telah mentaati Allâh. (Qs Ali ‘Imran/3:31) Ketaatan kepada Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam merupakan bentuk ketaatan kepada Allâh Ta‟ala. Yaitu dengan menerima perintah mereka.Nisâ‘/4:80) 4. membenarkan semua yang disampaikan.” [22] Syaikh Muhammad Hayât as-Sindi rahimahullâh berkata. membenci orang yang keluar dari ketaatan kepada mereka (yaitu membenci orang yang tidak mengakui kekuasaan mereka dan menganggap darah mereka halal). mencintai bersatunya umat di bawah pengayoman mereka. Mencintai Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam ialah dengan ittibâ‟ (mengikuti) beliau dan taat kepadanya. Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi rahimahullâh berkata. dan taat kepada mereka dalam hal yang bukan maksiat. Nasihat untuk Para Pemimpin Kaum Muslimin. ialah nasihat yang ditujukan kepada para penguasa mereka.

” [23] Yang dimaksud dengan pemimpin kaum Muslimin. atau media lainnya. Kita juga senang dengan persatuan umat di bawah kepemimpinan mereka yang adil dan membenci perpecahan umat di bawah penguasa yang semena-mena. meskipun penguasa itu berbuat zhalim. melarangnya dari kemungkaran. baik dari atas mimbar. . tempat khusus maupun umum. taatlah kalian kepada Allâh. Allâh Ta‟ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman. An-Nisaa’: 59) Nasihat untuk pemimpin. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa. serta mendo‟akan mereka agar mendapatkan kebaikan. kebenaran. dalam kebaikan mereka berarti kebaikan bagi rakyat. ialah dengan mencintai kebaikan. taatlah kepada Rasul dan penguasa dari kalian. Karena yang demikian menyalahi petunjuk Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan Salafush-Shalih. Tidak boleh melakukan provokasi. Agar penguasa ditaati. janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal-Jama‟ah. wakil-wakilnya. bukan lantaran individunya. ialah para penguasa. (QS. berusaha untuk memperbaiki keadaan mereka. menaati mereka dalam kebenaran. dan mengingatkan mereka dengan cara yang baik. dan dalam kerusakan mereka berarti kerusakan bagi rakyat.maksiat kepada Al-Khaliq. Tidak memerangi mereka selama mereka belum kafir. membersihkan kerusakan mereka. maka penguasa tersebut harus dari orang Islam sendiri. memerintahkan mereka kepada kebaikan. atau para ulama. Karena. dan keadilannya. melalui kepemimpinannyalah kemaslahatan kita bisa terpenuhi. Nasihat untuk para pemimpin dapat juga dilakukan dengan cara membantu mereka untuk senantiasa berada di atas jalan kebenaran. ialah tidak melakukan provokasi atau penghasutan untuk memberontak kepada penguasa. Karena.

Sedangkan nasihat kita untuk para ulama. Adapun para ulama. . jika mereka justru memuji penguasa yang semena-mena. bahkan menutup telinganya rapatrapat agar tidak mendengar suara-suara kebenaran. yang terjadi justru kerendahan dan kehancuran. karena menyampaikan kalimat yang baik termasuk seutama-utama jihad. Jika mereka lalai dalam mengemban tanggung jawab ini sehingga tidak ada seorang pun yang menyerukan kebenaran di depan penguasa. Kepada para ulama. [24] Sesungguhnya tidak ada kebaikan bagi masyarakat yang tidak mau menasihati penguasanya dengan cara yang baik. karena hal tersebut dapat mengurangi kewibawaan dan membuat mereka sebagai bahan tuduhan. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: • Jihad yang paling utama adalah mengatakan keadilan (dalam riwayat lain: kebenaran) di hadapan penguasa yang semena-mena. ialah dengan senantiasa mengingatkan mereka akan tanggung jawab tersebut. Juga dengan jalan tidak mencerca mereka. hendaklah mereka terus-menerus berusaha datang menyampaikan kebenaran dan nasihat yang baik kepada pemerintah (penguasa) dan sabar dalam melakukannya. apakah hadits tersebut shahih atau dha‟if. jika memang mereka orang yang bisa dipercaya. bagi penguasa yang menindas rakyatnya dan membungkam orang-orang yang berusaha menasihatinya. maka kelak Allâh akan menghisabnya. Menjelaskan berbagai hadits. Ini sangat mungkin terjadi jika masyarakat muslim telah menyeleweng dan jauh dari nilai-nilai Islam. mempercayai hadits-hadits yang mereka sampaikan.Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. bahkan kemudian menjadi corong mereka. Bila penguasa itu mau mendengar nasihat tersebut maka itu yang terbaik. dilakukan dengan jalan membantah berbagai pendapat sesat berkenaan dengan Al-Qur„an dan as-Sunnah. [25] Para ulama juga akan dimintai pertanggung-jawaban. dan senantiasa menyerukan agar para penguasa berhukum dengan hukum Allâh dan Rasul-Nya. Para ulama juga mempunyai tanggung-jawab yang besar untuk selalu menasihati para penguasa. Dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima) maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya. nasihat yang dilakukan untuk Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh. Juga tidak ada kebaikan. Dalam kondisi seperti ini.

ialah nasihat yang diberikan ketika seseorang dimintai nasihat. mencegah mereka dengan sekuat tenaga dari kesesatan. dan mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana ia mencintainya untuk diri sendiri. [27] 6. Nasihat yang paling baik. maka nasihatilah ia. dilakukan dengan cara menuntun mereka kepada berbagai hal yang membawa kebaikan dunia dan akhiratnya. Allâh Ta'ala berfirman menceritakan hamba-Nya. penghormatan terhadap yang besar. pemberi manfaat. Yaitu dilakukan dengan cara menolong dan membelanya. nasihat tersebut akan terlihat nyata dalam masyarakat muslim. Nasihat yang dilakukan seharusnya tidak terbatas dengan ucapan. melarang mereka berbuat keburukan. Nasihat yang Paling Baik Di antara Kaum Muslimin. Dengan demikian. tetapi harus diikuti dengan amalan.5. khususnya berkaitan dengan urusan akhirat. Amal para rasul ialah menasihati manusia kepada sesuatu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. kasih sayang terhadap yang lebih kecil. amar ma’ruf nahyu mungkar. serta menghindari penipuan dan kedengkian. [26] Nasihat untuk masyarakat muslim. Nasihat untuk Kaum Muslimin. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Jika seseorang meminta nasihat kepadamu. Nabi Hud 'alaihissalam : . Sangat disayangkan. pencegah terhadap bahaya. yaitu nasihat yang dilakukan seseorang kepada orang lain ketika orang tersebut (yang dinasihati) tidak ada di hadapannya. [28] Termasuk nasihat yang paling baik. Kedudukan Orang yang Memberikan Nasihat. Makna “nasihat untuk kaum Muslimin pada umumnya”. yaitu kacamata kebenaran. karena mereka semua adalah hamba-hamba Allâh. kaum Muslimin telah mengabaikan tugas ini. pelengkap kekurangan. ialah dengan menolong mereka dalam kebaikan. membimbing mereka kepada petunjuk. sebagai penutup keburukan. 7. Mereka tidak mau menasihati muslim yang lain. Maka seorang hamba harus memandang mereka dengan landasan yang satu.

yaitu para nabi dan rasul. sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku. dan aku telah memberi nasihat kepadamu. sebagaimana telah digariskan Allâh Ta'ala dengan firman-Nya: Demi masa. (Qs al-A’râf/7: 68) Allâh Ta'ala juga menceritakan Nabi Shalih 'alaihissalam yang berbicara kepada kaumnya: Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku. Sehingga memiliki sebagian sifat-sifat orang yang beruntung. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Demikianlah hakikat nasihat. Mudah-mudahan Allâh Ta'ala menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang selalu saling menasihati. tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat”. (Qs Al-A’râf/7:79) Seseorang seharusnya merasa cukup mulia dengan melaksanakan amalan hamba-hamba Allâh yang paling mulia.Aku menyampaikan amanat-amanat Rabb-ku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran .

[29] Imam Nawawi rahimahullâh berkata. barangsiapa menasihati seseorang dan hanya ada mereka berdua. dan menasihati setiap muslim. Karena. Sedangkan hukum-hukum agama ada yang wajib. Fudhail bin Iyadh rahimahullâh berkata. dan fardhu kifayah. (Qs al-‘Ashr/103:1-3) HUKUM MEMBERIKAN NASIHAT Diriwayatkan dari Jarir bin „Abdillah radhiyallâhu'anhu. fardhu „ain. Dan nasihat ini adalah wajib menurut kadar kemampuan. apabila ada seseorang yang sudah mengerjakannya maka gugurlah kewajiban atas yang lain. agama adalah nasihat. Artinya. aku akan) tetap mengerjakan shalat. sunnah. ada yang fardhu „ain.” Syaikh Nazhim Muhammad Sulthân berkata. ”Hukum memberi nasihat ialah fardhu kifayah. Karena Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjelaskan. ”Saya berpendapat. menunaikan zakat. ia berkata: • Aku membai‟at Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam (dengan isi kandungan bai'at. yaitu menasihati saudaranya dengan tidak diketahui orang lain. barangsiapa menutupi keburukan saudaranya maka Allâh Ta'ala akan menutupi keburukannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menasihati saudaranya di depan banyak orang maka yang demikian itu mencela dan merendahkan orang yang dinasihati. dan ada juga yang sunnah. ada yang wajib. ada yang fardhu kifayah. hukum memberi nasihat dengan maknanya yang menyeluruh sebagaimana sudah dijelaskan.dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” [30] ADAB-ADAB MEMBERI NASIHAT Di antara adab memberi nasihat dalam Islam. . Sebagian ulama berkata. maka itulah nasihat yang sebenarnya.

melainkan hukum rimba seperti seorang penguasa dengan rakyatnya. baik yang diberi nasihat itu suka maupun benci. Apabila engkau memberikan nasihat maka sampaikan secara rahasia. jangan di hadapan orang lain dan cukup dengan memberikan isyarat." Kemudian al-Imam Ibnu Hibban rahimahullâh menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan. dan gila ketaatan serta gila kekuasaan. ialah orang yang merusak dan mencela. maka aku tidak senang." [31] Al-Imam Ibnu Hibbân rahimahullâh (wafat 354 H) berkata. Janganlah memberi nasihat dengan syarat harus diterima. memberi nasihat merupakan kewajiban seluruh manusia. Kecuali. barangsiapa menasihati saudaranya di hadapan orang lain. „Apakah engkau suka bila ada orang lain memberitahukan kekurangan-kekuranganmu?‟ Ia menjawab. dan tuan dengan hamba sahayanya.” Abu Hatim (Imam Ibnu Hibban) rahimahullâh mengatakan."Seorang mukmin. lebih besar kemungkinannya untuk diterima daripada menyampaikan dengan maksud mencelanya. bukan pemberi nasihat. tanpa secara terus-terang. maka aku senang‟. ‟Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangankekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku. Tetapi bila yang datang kepadaku seorang pemberi nasihat.harus secara rahasia. tersinggung maupun tidak tersinggung. Sedangkan orang fasik. berarti ia telah mencelanya. apabila dilakukan seperti apa yang telah kami sebutkan maka akan melanggengkan kasih sayang dan menjadi penyebab terwujudnya hak ukhuwah (persaudaraan). Dan barangsiapa yang menasihatinya secara rahasia. ”Maka wajib bagi seseorang untuk selalu memberi nasihat. orang yang dinasihati tidak memahami isyaratmu maka harus secara terus-terang. ialah orang yang menutupi aib dan menasihati. Ini bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan. tetapi dalam cara menyampaikannya -tidak boleh tidak. berarti ia telah memperbaikinya. "Sebagaimana telah kami sebutkan.” [33] Imam asy-Syafi‟i rahimahullâh berkata dalam sya‟irnya: . ”Nasihat. ia berkata: "Saya bertanya kepada Mis‟ar. bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukhuwah. Karena.” [32] Al-Imam Abu Muhammad bin Ahmad bin Sa‟id Ibnu Hazm rahimahullâh (wafat 456 H) berkata. Jika engkau melampaui batas adab-adab tersebut maka engkau orang yang zhalim. Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun.

1. Karena itulah Imam al-Bukhari berkata dalam Shahîh-nya. 2. 4. Ibnul-Atsîr. Para sahabat radhiyallâhu'anhum sangat berkeinginan keras untuk mendapatkan ilmu. 4. Baiknya Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dalam mengajarkan agama kepada para sahabatnya. Irwâ-ul Ghalîl fii Takhriiji Ahâdîts Manâris-Sabîl. 3. 11.Imân. Jâmi‟ul „Ulum wal-Hikam. 3. Wajib ikhlas dalam memberikan nasihat. Jika engkau menyalahiku dan tidak mengikuti ucapanku.Nya.Tutupilah kesalahanku dengan nasihatmu ketika aku seorang diri. 7. 9. Nasihat termasuk dari iman. dan lainnya sebagaimana yang disebutkan dalam takhrij hadits. Fat-hul Bâri. Shahîh Muslim. 6. 8. Qawâ‟id wa Fawâ-id minal-„Arba‟în an-Nawawiyyah. [34] FAWAID HADITS 1. aku tidak sudi mendengarnya. Marâji’: Al-Wâfî fî Syarhil-Arba‟în an-Nawawiyyah. Nasihat memiliki kedudukan yang besar dan agung dalam agama Islam. 8. 5. Tahqiq: Syaikh Syu‟aib al-Arnauth dan Ibrahim Bâjis. Karena memberikan nasihat di hadapan banyak orang. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha. Fariq bin Ghasim Anuz. Maka janganlah engkau kaget bila nasihatmu tidak ditaati. Rasul. dan kepada kaum Muslimin pada umumnya. 2. 7. Nasihat ditujukan kepada Allah. Nasihat dikatakan sebagai agama. 10. Kitab-Nya. al-Hafizh Ibnu Hajar al-„Atsqalani. Wajib ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta‟ala. Sama saja dengan memburuk-burukkan. Tidak boleh khianat dalam memberikan nasihat. karya: Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan. Fiqih Nasihat. dalam Kitâbul. 5. Bolehnya mengakhirkan keterangan dari waktu ketika menyampaikan nasihat. An-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts. Syaikh Muhammad Nashiruddin alAlbani. Hindarilah menasihatiku di tengah khalayak ramai. Dr. . 6. karena iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Dakwah itu harus dimulai dari yang paling penting kemudian yang penting. Ibnu Rajab al-Hanbali. pemimpin kaum Muslimin.

Lihat juga an-Nihâyah fî Gharîbil-Hadits (V/63). al-„Allamah Muhammad Hayat as-Sindi. Lisânul-Arab (XIV/158-159) bagian kata “Nashaha”. hlm. Syarah Shahîh Muslim. 2914). 2975). Syarah Shahîh Muslim (II/38) oleh Imam an-Nawawi. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah. 7527). „Abdurrahman bin „Abdul-Jabbar al-Fariyuwa‟i. Tahun 1415 H. 804). 16. Jâmi‟ul-„Ulûm wal-Hikam (I/222). no. hlm. 11. Syarah Shahîh Muslim (II/37). 48. Tahqiq dan Takhrij: Dr. HR Abu Dawud (no. 48. karya: al-Imam an-Nawawi 12. 42. Syarhus-Sunnah. 14. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. Cetakan I. hlm. Maktabah ad-Dâr Madinah anNabawiyyah. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh (II/693). Ta‟zhîmu Qadrish-Shalâh (II/693). al-Imam al-Baghawi. 5027). 15. Fat-hul Bâri (I/138). hlm. Syarah Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama‟ah.9. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. . Lihat Fat-hul Bâri (I/138). Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh. Daar Ihyâ-ut Turats al-„Arabi. Al-Wâfî fî Syarh al-Arba‟în an-Nawawiyyah. Tahqiq: Hikmat bin Ahmad al-Hariri. hlm. 951). HR al-Bukhari (no. Syarhul. dari Sahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallâhu'anhu. dari Sahabat „Utsman bin „Affan radhiyallâhu'anhu. Daar Ramaadi. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. dari Sahabat „Abdullah bin „Amr radhiyallâhu'anhu. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] Siyar „Alâmin Nubalâ (II/442-448). 1949). Syaikh Muhammad bin Shalih al-„Utsaimin. HR al-Bukhari (no. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyah. an-Nasâ-i (V/256). Jâmi‟ul-„Ulûm wal-Hikam (I/218). Al-Wâfî fî Syarh al-Arba‟în an-Nawawiyyah. dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu. HR Abu Dawud (no. Cetakan I. dan Tahdzîbut. 13. Ta‟zhîmu Qadrish-Shalâh. 1464) dan at-Tirmidzi (no. Tahun 1408H. Ta‟zhîm Qadrish-Shalâh (II/693-694). Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. hlm. Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi.Arba‟în an-Nawawiyyah. al-Ishâbah fî Tamyîzish-Shâhâbah (I/183-184). Cetakan I. 48. Jâmi‟ul-„Ulûm wal-Hikam (I/219). Dan kitab-kitab lainnya yang disebutkan dalam catatan kaki. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. (II/691-692). 10. 47-48. HR Muslim (no. at-Tirmidzi (no.Tahdzîb (I/449. 42-43.

4011).Ahâdîts ash-Shahîhah. HR Abu Dawud (no. hlm. Darul-Fikr. 2174). dikumpulkan dan disusun oleh Muhammad „Abdur-Rahim. hlm. . at-Tirmidzi (no. 95. dari Sahabat Abu Sa‟id al-Khudri. Raudhatul-„Uqalâ‟ wa Nuzhatul-Fudhalâ`. 56 [97]). 4344). 275. HR al-Bukhari (no. 57) dan Muslim (no. Ahmad (III/403-404) dan al-Hakim (III/290) dari „Iyadh bin Ghunm rahimahullâh. dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu. Lihat Silsilah al. Al-Wâfî fî Syarah al-Arba‟iin an-Nawawiyyah. 491. no. 1097. 2162). hlm. Diwân Imam asy-Syafi‟i. Syarhul-Arba‟în an-Nawawiyyah. dan Ibnu Majah (no. 48. 45). HR Muslim (no. hlm. 1096. 1098). 45. Akhlâq was Siyar fî Mudâwâtin Nufûs (hal. 176-177. 46. hlm. Qawâ‟id wa Fawâ-id minal-Arba‟în an-Nawawiyyah. hlm. Al-Wâfî fî Syarh al-Arba‟în an-Nawawiyyah.[24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] HR Ibnu Abi „Ashim dalam as-Sunnah. Bab: Kaifa Nashihatur-Ra‟iyyah lil-Wulât (II/ 507-508 no.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful