P. 1
UNDANG-UNDANG K3

UNDANG-UNDANG K3

|Views: 72|Likes:

More info:

Published by: Arpico Hanif Pristiawan on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2013

pdf

text

original

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

:

a. bahwa pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya, untuk mewujudkan suatu masyarakat yang sejahtera, adil, makmur dan merata baik materiil maupun spritual; b. bahwa dengan semakin meningkatnya peranan tenaga kerja dalam perkembangan pembangunan nasional di seluruh tanah air dan semakin meningkatnya penggunaan teknologi di berbagai sektor, kegiatan usaha dapat mengakibatkan semakin tinggi resiko yang mengancam keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan tenaga kerja sehingga perlu upaya peningkatan perlindungan tenaga kerja; c. bahwa perlindungan tenaga kerja yang melakukan pekerjaan baik dalam hubungan kerja maupun diluar hubungan kerja melalui program jaminan social tenaga kerja selain memberikan ketenangan kerja juga mempunyai dampak positif terhadap usaha-usaha peningkatan disiplin dan produktivitas tenaga kerja; d. bahwa Undang-undang Nomor 2 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 3) dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1977 tentang Asuransi Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3112) belum mengatur secara lengkap jaminan social tenaga kerja serta tidak sesuai lagi dengan kebutuhan; e. bahwa untuk mencapai maksud tersebut perlu ditetapkan undang-undang yang mengatur penyelenggaraan jaminan sosial tenaga kerja. 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1) dan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan berlakunya Undang-Undang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 4); 3. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara tahun 1969 Nomor 55, Tambahan

Mengingat

:

hari tua dan meninggal dunia. bersalin. Orang. Orang. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (lembaran Negara Tahun 1970 nomor 1 Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918). b. persekutuan atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya. sakit. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3201). persekutuan atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri. persekutuan atau badan hukum yang berada di Indonesia dalam huruf a dan huruf b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia 4. Pengusaha adalah : a. . atau peraturan perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan tenaga kerja. Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja. 4. 3.Lembaran Negara Nomor 2912). c. baik milik swasta maupun milik negara 5. Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada tenaga kerja untuk sesuatu pekerjaan yang telah atau akan dilakukan. Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dan penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja. 5. 2. Orang. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 39. hamil. guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. termasuk tunjangan baik untuk tenaga kerja sendiri maupun keluarganya. Perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang memperkerjakan tenaga kerja dengan tujuan mencari untuk atau tidak. dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang ditetapkan menurut suatu perjanjian.

Badan Penyelenggara adalah badan hukum yang bidang usahanya menyelenggarakan program jaminan sosial tenaga kerja. pengobatan. Pasal 2 Usaha sosial dan usaha-usaha lain yang tidak berbentuk perusahaan diperlakukan sama dengan perusahaan. 10.6. termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja. Cacad adalah keadaan hilang atau berkurangnya fungsi anggota badan yang secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan hilang atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan. Sakit adalah setiap gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan. dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang ketenagakerjaan. BAB II PENYELENGGARAAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA Pasal 3 (1) Untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja diselenggarakan program jaminan social tenaga kerja yang pengelolaannya dapat dilaksanakan dengan mekanisme asuransi. 8. 7. dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. Setiap tenaga kerja berhak atas jaminan social tenaga kerja. Pasal 4 (2) . 9. 11. dan/atau perawatan. apabila mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain sebagaimana layaknya perusahaan mempekerjakan tenaga kerja. demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja. 12. pengobatan. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan. Pegawai Pengawas ketenagakerjaan adalah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri.

santunan berupa uang yang meliputi : 1. santunan cacad sebagian untuk selama-lamanya. (3) Persyaratan dan tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan pemerintah. c. narapidana yang dipekerjakan di perusahaan. dan/atau perawatan. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.(1) Program jaminan social tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib dilakukan oleh setiap perusahaan bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan kerja sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini. 4. Jaminan Hari Tua. BAB III PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA Bagian Pertama Ruang Lingkup Pasal 6 (1) Ruang lingkup program jaminan sosial tenaga kerja dalam Undang-undang ini meliputi : a. (2) Pengembangan program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayau (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. c. b. . Pasal 9 Jaminan Kecelakaan Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) meliputi : a. Jaminan Kematian. santunan cacad total untuk selama-lamanya baik fisik maupun mental. c. biaya pengangkutan. b. Jaminan Kecelakaan Kerja. d. 3. (2) Termasuk tenaga kerja dalam Jaminan Kecelakan Kerja ialah: a. Pasal 7 (1) Jaminan Sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 diperuntukkan bagi tenaga kerja. b. mereka yang memborong pekerjaan kecuali jika yang memborong adalah perusahaan. pengobatan. 2. (2) Jaminan Sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 huruf d berlaku pula untuk keluarga tenaga kerja. santunan sementara tidak mampu bekerja. biaya rehabilitasi. magang dan murid yang bekerja pada perusahaan baik yang menerima upah maupun tidak. santunan kematian. Pasal 5 Kebijakan dan pengawasan umum program jaminan sosial tenaga kerja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. d. Bagian Kedua Jaminan Kecelakaan Kerja Pasal 8 (1) Tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berhak menerima jaminan Kecelakaan Kerja. (2) Program jaminan sosial tenaga kerja bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. biaya pemeriksaan.

d. telah mencapai usia 55 (lima puluh lima) tahun. atau sebagian dan berkala. (2) Dalam hal tenaga kerja meninggal dunia. mertua. Bagian Ketiga Jaminan Kematian Pasal 12 (1) Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja. keluarganya berhak atas Jaminan Kematian. b. e. (2) Pengusaha wajib melaporkan kepada Kantor Departemen Tenaga Kerja dan Badan Penyelenggara dalam waktu tidak lebih dari 2 kali 24 jam setelah tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan oleh dokter yang merawatnya dinyatakan sembuh. (4) Tata cara dan bentuk laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. Bagian Kelima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pasal 16 . yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. cucu. Jaminan Hari Tua dibayarkan kepada janda atau duda atau anak yatim piatu. kepada tenaga kerja karena : a. biaya pemakaman. janda atau duda. Pasal 13 Urutan penerima yang diutamakan dalam pembayaran santunan kematian dan Jaminan Kematian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 hurf d butir 4 dan Pasal 12 ialah : a. Bagian Keempat Jaminan Hari TuaPasal 14 (1) Jaminan Hari Tua dibayarkan secara sekaligus. setelah mencapai masa kepesertaan tertentu. saudara kandung. Pasal 15 Jaminan Hari Tua sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dapat dibayarkan sebelum tenaga kerja mencapai usia 55 (lima puluh lima) tehun. b. c. kakek atau nenek. cacad atau meninggal dunia.Pasal 10 (1) Pengusaha wajib melaporkan kecelakaan kerja yang menimpa tenaga kerja kepada Kantor Departemen Tenaga Kerja dan Badan Penyelenggaran dalam waktu tidak lebih dari 2 kali 24 jam. atau berkala. atau b. Pasal 11 Daftar jenis penyakit yang timbul karena hubungan kerja serta perubahannya ditetapkan dengan Keputusan Presiden. f. (3) Pengusaha wajib mengurus hak tenaga kerja yang tertmpa kecelakaan kerja kepada Badan Penyelenggara sampai memperoleh hak-haknya. cacad total tetap setelah ditetapkan oleh dokter. santunan berupa uang. orang tua. anak. (2) Jaminan Kematian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. g.

f. pelayanan khusus. iuran Jaminan Kematian. d. (2) Iuran Jaminan Hari Tua ditanggung oleh pengusaha dan tenaga kerja. sehingga mengakibatkan kekurangan pembayaran jaminan kepada tenaga kerja. (2) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan meliputi : a. pengusaha wajib menyampaikan data ketenagakerjaan dan data perusahaan yangberhubungan dengan penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja kepada Badan Penyelenggara. rawat jalan tingkat pertama. (2) Dalam hal perusahaan belum ikut serta dalam program jaminan sosial tenaga kerja disebabkan adanya pentahapan kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). daftar kecelakaan kerja yang dimuat dalam buku. pelayanan gawat darurat. daftar upah. dan iuran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ditanggung oleh pengusaha. (5) Apabila pengusaha dalam menyampaikan data sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terbukti tidak benar. (3) Tata cara pelaksanaan hak tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (4) Apabila pengusaha dalam menyampaikan data sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terbukti tidak benar. suami atau istri. Pasal 19 (1) Pentahapan kepesertaan program jaminan sosial tenaga kerja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV K E P E S E R T A A NPasal 17 Pengusaha dan tenaga kerja wajib ikut serta dalam program jaminan sosial tenaga kerja. g. sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran jaminan. rawat inap. sehingga mengakibatkan ada tenaga kerja yang tidak terdaftar sebagai peserta program jaminan sosial tenaga kerja. b. (6) Bentuk daftar tenaga kerja.(1) Tenaga kerja. dan anak berhak memperoleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. maka pengusaha wajib memenuhi kekurangan jaminan tersebut. c. rawat jalan tingkat lanjutan. maka pengusaha wajib memberikan JaminanKecelakaan Kerja kepada tenaga kerjanya sesuai dengan Undang-undang ini. dan tata cara penyampaian data ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (2) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (3) Apabila pengusaha dalam menyampaikan data sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terbukti tidak benar. e. Pasal 21 . penunjang diagnostik. BAB V IURAN. pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan. Pasal 18 (1) Pengusaha wajib memiliki daftar tenaga kerja beserta keluarganya. BESARNYA JAMINAN DAN TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 20 (1) Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja. maka pengusaha wajib mengembalikan kelebihan tersebut kepada Badan Penyelenggara. maka pengusaha wajib memberikan hak-hak tenaga kerja sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini. daftar upah beserta perubahan-perubahan dan daftar kecelakaan kerja di perusahaan atau bagian perusahaan yang berdiri sendiri.

Perbedaan pendapat dan perhitungan besarnya jumlah Jaminan Kecelakaan Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) penyelesaiannya ditetapkan oleh Menteri. Pasal 22 (1) Pengusaha wajib membayar iuran dan melakukan pemungutan iuran yang menjadi kewajiban tenaga kerja melalui pemotongan upah tenaga kerja serta membayarkan kepada Badan Penyelenggara dalam waktu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan tatacara pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan besarnya jaminan yang belum tercantum dalam peraturan pelaksanaan Undang-undang ini. syarat pembayaran. dan bentuk iuran program jaminan sosial tenaga kerja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Jaminan Kematian. besarnya denda. tata cara. (2) Dalam hal keterlambatan pembayaran iuran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Jaminan Hari Tua. (2) Dalam hal perhitungan besarnya Jaminan Kecelakaan Kerja tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 24 (1) Perhitungan besarnya Jaminan Kecelakaan Kerja yang harus dibayarkan kepada tenaga kerja dilakukan oleh Badan Penyelenggara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (3) (4) BAB VI BADAN PENYELENGGARAPasal 25 (1) Penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja dialkukan oleh Badan Penyelenggara. Menteri menetapkan kecelakaan kerja. Pasal 23 Besarnya dan tatacara pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja. Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah Badan Usaha Milik Negara yang dibentuk dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) . maka Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan menghitung kembali dan menetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Besarnya iuran.

sedangkan dalam pengawasan mengikutsertakan unsur pengusaha dan unsur tenaga kerja. Pasal 18 ayat (1). dan ayat (5). (2) Dalam hal pengulangan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk kedua kalinya atau lebih setelah putusan akhir telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 22 ayat (1). Tambahan Lembaran tindak pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. ayat (4). atau denda yang akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. tenaga kerja. ayat (2). 50. dan Badan Penyelenggara yang tidak memenuhi ketentuan Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya dikenakan sanksi administrasi. dalam wadah yang menjalankan fungsi pengawasan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. BAB VIII P E N Y I D I K A NPasal 31 (1) Selain penyisik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi ketenagakerjaan. Pasal 30 Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) terhadap pengusaha.(3) Badan Usaha Milik Negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76). ganti rugi.000. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang : 1. Pasal 28 Penempatan investasi dan pengelolaan dana program jaminan sosial tenaga kerja oleh Badan Penyelenggara diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 27 Pengendalian terhadap penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja oleh Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dilakukan oleh Pemerintah. dan ayat (3). Pasal 10 ayat (1). dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya mengutamakan pelayanan kepada peserta dalam rangka peningkatan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja beserta keluarganya. Pasal 19 ayat (2). maka pelanggaran tersebut dipidana kurungan selama-lamanya 8 (delapan) bulan. (3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pelanggaran. ayat (3). dan Pasal 26. Pasal 26 Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2). ayat (2).(lima puluh juta rupiah). diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. . BAB VII KETENTUAN PIDANAPasal 29 (1) Barang siapa tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1).000. wajib membayar jaminan sosial tenaga kerja dalam waktu tidak lebih dari 1 (satu) bulan.

maka perusahaan yang telah menyelenggarakan program asuransi sosial tenaga kerja dan jaminan sosial tenaga kerja lainnya tetap melaksanakannya. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat barang bukti dan melakukan penyitaan terhadap barang yang dapat dijadikan barang bukti dalam perkara tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja. Agar setiap orang mengetahuinya. atau sering dimasuki tempat kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya sebagaimana diperinci dalam pasal 2. 5. add a comment BAB I TENTANG ISTILAH-ISTILAH Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) “tempat kerja” ialah tiap ruangan atau lapangan. maka Undang-undang Nomor 2 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-Undang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 3) dinyatakan tidak berlaku lagi. BAB XI KETENTUAN PENUTUPPasal 34 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini. tertutup atau terbuka. maka semua peraturan perundang-undangan yang mengatur program asuransi sosial tenaga kerja dan penyelenggaraannya yang ada pada waktu Undangundang ini mulai berlaku. melakukan penelitian terhadap orang atau badan yang diduga melakukan tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. BAB IX KETENTUAN LAIN-LAINPasal 32 Kelebihan pembayaran jaminan yang telah diterima oleh yang berhak tidak dapat diminta kembali. UU Keselamatan Kerja Februari 27. termasuk tempat kerja ialah semua ruangan. 3. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian sehubungan dengan tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. (2) “pengurus” ialah orang yang mempunyai tugas langsung sesuatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri. tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.2. halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagianbagian atau berhubung dengan tempat kerja tersebut. 4. Pasal 35 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (3) “pengusaha” ialah : . (3) Tenaga kerja yang telah menjadi tertanggung atau peserta dalam program asuransi sosial tenaga kerja dan jaminan sosial tenaga kerja lainnya dengan berlakunya Undang-undang ini tidak boleh dirugikan. lapangan. (2) Selama peraturan perundang-undangan sebagai pelaksanaan Undang-undang ini belum dikeluarkan. BAB X KETENTUAN PERALIHANPasal 33 (1) Selama peraturan perundang-undangan sebagai pelaksanaan Undang-undang ini belum dikeluarkan. meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. 2007 Posted by hiperkes95 in K3 .

dilakukan usaha: pertanian. c. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 (1) Yang diatur oleh Undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja. perikanan dan lapangan kesehatan. mencegah. dibangkitkan. saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan. dipermukaan air. pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air. peternakan. orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja. perbaikan. sumur atau lobang. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan. j. suara atau getaran. orang atau badan hukum. dicoba. diangkut. o. dirobah. minyak atau minieral lainnya. atau telepon. yang di Indonesia mewakili orang atau badan hukum termaksud pada (a) dan (b). terkena pelantingan benda. k. memberi pertolongan pada kecelakaan. r. f. baik di permukaan atau di dalam bumi. menggigit. i. gas. televisi. dibagi-bagikan atau disalurkan listrik. perawatan. dikumpulkan. minyak atau air. mengurangi dan memadamkan kebakaran. perahu. peracunan. atau disimpan atau bahan yang dapat meledak. yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah. dilakukan penyelamatan. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja. instalasi listrik atau mekanik. bersuhu tinggi. (4) “direktur” ialah pejabat yang ditunjuk oleh Mneteri Tenaga Kerja untuk melaksanakan Undang-undang ini. perak. uap. gas. h. memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai. dibuat. h. (3) Dengan peraturan perundangan dapat ditunjuk sebagai tempat kerja. menimbulkan infeksi. kotoran. dilakukan pekerjaan dalam tangki. api. (2) Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di mana : a. baik di darat. p. gas. baik di darat. c. i. batu-batuan. debu. asap. disimpan. infeksi dan penularan. cuaca. pembinaan. penyelidikan atau riset (penelitian) yang menggunakan alat teknis. q. e. dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan : emas. kelembaban. terdapat atau menyebar suhu. radar. suara dan getaran. dilakukan pendidikan. n. jikalau yang mewakili berkedudukan di luar Indonesia. dilakukan pengangkutan barang. b. uap. dikerjakan pembangunan. binatang atau manusia. hanyut atau terpelanting. pembukaan hutan.a. dipakai. mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psychis. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya. m. dalam air maupun di udara. (5) “pegawai pengawas” ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja. di dalam air maupun di udara. hembusan angin. terjatuh atau terperosok. beracun. kotoran. . l. pengerjaan hutan. mudah terbakar. dilakukan pekerjaan dalam ketinggian diatas permukaan tanah atau perairan. e. gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan perairan. stasiun atau gudang. kelembaban. alat. dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau rendah. diolah. mencegah dan mengurangi kecelakaan. di dalam tanah. (6) “ahli keselamatan kerja” ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawasi ditaatinya Undang-undang ini. gas. sinar atau radiasi. perkakas. pertunjukan sandiwara atau diselenggarakan reaksi lainnya yang memakai peralatan. asap. percobaan. dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah. kejatuhan. cuaca. dermaga. g. penyinaran atau penerimaan radio. dipergunakan. pembersihan atau pembongkaran rumah. b. sinar radiasi. pesawat. diperdagangkan. dok. dibuat. d. dilakukan pemancaran. b. mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu. f. d. ruangan-ruangan atau lapanganlapangan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan yang bekerja atau yang berada di ruangan atau lapangan itu dan dapat dirubah perincian tersebut dalam ayat (2). BAB III SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA Pasal 3 (1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk : a. pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya. peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan atau peledakan. perkebunan. dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal.diputar film. dipakai atau dipergunakan mesin. suhu. di permukaan air. hembusan angin. c. melalui terowongan. g. logam atau bijih logam lainnya. orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja. maupun di dasar perairan.

perlakuan dan penyimpanan barang. alat kerja. barang. keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan keselamatan umum. c. pengujian dan pengesyahan. produk teknis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. pembuatan. Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerja. menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup. (3) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1) dan (2). o. pengepakan atau pembungkusan. dengan peraturan perundangan ditetapkan siapa yang berkewajiban memenuhi dan mentaati syarat-syarat keselamatan tersebut. BAB V PEMBINAAN Pasal 9 (1) Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang : a. produk teknis dan aparat produk guna menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri. mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan. pengangkutan. q. (2) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. BAB IV PENGAWASAN Pasal 5 (1) Direktur melakukan pelaksanaan umum terhadap Undang-undang ini sedangkan para pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya Undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya. memelihara kebersihan. l. Pasal 7 Untuk pengawasan berdasarkan Undang-undang ini pengusaha harus membayar retribusi menurut ketentuanketentuan yang akan diatur dengan peraturan perundangan. BAB VI PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Pasal 10 . barang. Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya. Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerja. pemeliharaan dan penyimpanan bahan. memperoleh keserasian antara tenaga kerja. mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang. (3) Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya. peredaran. perlengkapan alat-alat perlindungan. lingkungan. perdagangan. (2) Pengurus diwajibkan memeriksakan semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya. pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja dalam melaksanakan Undang-undang ini diatur dengan peraturan perundangan. Pasal 6 (1) Barang siapa tidak dapat menerima keputusan direktur dapat mengajukan permohonan banding kepada Panitia Banding. d. n. (4) Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankan.j. tanaman atau barang. (3) Keputusan Panitia Banding tidak dapat dibanding lagi. pemasangan. binatang. b. susunan Panitia Banding. r. kesehatan dan ketertiban. mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. (2) Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat tersebut di atas. kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan padanya. tugas Panitia Banding dan lain-lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan. p. penggunaan. (2) Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur. (3) Norma-norma mengenai pengujian kesehatan ditetapkan dengan peraturan perundangan. menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik. (2) Wewenang dan kewajiban direktur. k. pemakaian. menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi. pemberian tanda-tanda pengenal atas bahan. Pasal 8 (1) Pengurus di wajibkan memeriksakan kesehatan badan. bahan. pengolahan dan pembuatan. Pasal 4 (1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan. jelas dan praktis yang mencakup bidang konstruksi. cara dan proses kerjanya. dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja. (2) Tata cara permohonan banding. teknik dan teknologi serta pendapatan-pendapatan baru di kemudian hari. mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat. pula dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. secara berkala pada Dokter yang ditunjuk oleh Pengusaha dan dibenarkan oleh Direktur. m.

Pasal 18 Undang-undang ini disebut “UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA” dan mulai berlaku pada hari diundangkan. 100. BAB X KEWAJIBAN PENGURUS Pasal 14 Pengurus diwajibkan : a. secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya. pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya. pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. maka peraturan dalam bidang keselamatan kerja yang ada pada waktu Undang-undang ini mulai berlaku. semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan.(1) Menteri Tenaga Kerja berwenang membertuk Panitia Pembina Keselamatan Kerja guna memperkembangkan kerja sama. tugas dan lain-lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja. BAB IX KEWAJIBAN BILA MEMASUKI TEMPAT KERJA Pasal 13 Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja. Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya. (2) Tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai termaksud dalam ayat (1) diatur dengan peraturan perundangan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. BAB XI KETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 (1) Pelaksanaan ketentuan tersebut pada pasal-pasal di atas diatur lebih lanjut dengan peraturan perundangan. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. BAB VII KECELAKAAN Pasal 11 (1) Pengurus diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya.. BAB VIII KEWAJIBAN DAN HAK TENAGA KERJA Pasal 12 Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk: a. semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut. dalam rangka melancarkan usaha berproduksi. Menyediakan secara cuma-cuma. disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. d. c. (2) Peraturan perundangan tersebut pada ayat (1) dapat memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. (3) Tindak pidana tersebut adalah pelanggaran. diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan. Pasal 16 Pengusaha yang mempergunakan tempat-tempat kerja yang sudah ada pada waktu Undang-undang ini mulai berlaku wajib mengusahakan di dalam satu tahun sesudah Undang-undang ini mulai berlaku. . saling pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat kerja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama di bidang keselamatan dan kesehatan kerja.000. Pasal 17 Selama peraturan perundangan untuk melaksanakan ketentuan dalam Undang-undang ini belum dikeluarkan. semua gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat kesehatan dan keselamatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khususditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau keselamatan kerja. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. (2) Susunan Panitia Pembina dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. sehelai Undang-undang ini dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan. e. b. b. untuk memenuhi ketentuan-ketentuan menurut atau berdasarkan Undang-undang ini. tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.(seratus ribu rupiah). c.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 12 Januari 1970 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ALAMSYAH . SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 12 Januari 1970 Sekretaris Negara Republik Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->