Landasan filosofis & perkmbngan so-bud djlaskan, priview dr kel 1 Landasan psikologis

BAB II PEMBAHASAN RASIONAL BK DITINJAU DARI TINJAUAN KONSEPTUAL PSIKOLOGIS DAN PENDIDIKAN SECARA UMUM a. Landasan Filosofis Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani. Philos berarti cinta dan shopos berarti bijaksana. Jadi filosofi berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan atau ilmu yang mempelajari kekuatan yang didasari proses berfikir dan bertingkah laku, teori tentang prinsipprinsip atau hukum-hukum alam semesta serta mendasari semua pengetahuan dan kenyataan, termasuk kedalamnya studi tentang estetika, etika, logika, metafisika, dan lain sebagainya. Pemikiran dan pemahaman filosofi menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan bagi konselor pada khususnya yaitu membantu konselor dalam memahami situasi konseling dan membuat kputusan yang tepat. b. Landasan perkembangan social budaya Kebutuhan akan konseling antarbudaya di Indonesia makin terasa mengingat penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang memiliki beraneka corak sub-kultur yang berbeda-beda. Para konselor di Indonesia dihadapkan pada kenyataan adanya keanekaragaman budaya yang menguasai kehidupan para penduduknya. Karakteristik social budaya masyarakat yang majemuk itu tidak dapat diabaikan dalam perencanaan dan penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling yang bertujuan mengembangkan kemampuan dan meningkatan mutu kehidupan serta martabat manusia Indonesia harus berakar pada budaya bangsa Indonesia sendiri. Klien-klien dari latar belakang social budaya yang berbineka tidak dapat disamaratakan penanganannya. Meskipun bangsa Indonesia sedang menuju pada satu budaya kesatuan Indonesia, namun akar budaya asli yang sekarang masih hidup dan besar pengaruhnya terhadap

yaitu tingkahlaku klien yang perlu diubah dan dikembangkan apabila ia hendak mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. perkembangan individu 4. Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian bidang psikologis perlu dikuasai yaitu tentang : 1. c. yang sewaktu-waktu dapat diaktifkan mendorong terwujudnya suatu tingkah laku. belajar 5. kekuatannya dapat meningkat sampai pada taraf yang tinggi. Motif yang sedang aktif biasnya disebut motivasi. Karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkahlaku klien. kepribadian 1. Landasan Psikologis Landasan psikologis dalam bimbingan dan konseling berarti memberi pemahaman tentang tingkahlaku individu yang menjadi sasaran layanan. Motif dan motivasi Motif adalah dorongan yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Oleh karena itu sering kita jumpai ada orang yang motivasinya rendah atau . Motiv skunder berkembang berkat adanya usaha belajar. dan dijadikan pertimbangan utama dalam pelayanan bimbingan dan konseling. motiv dan motivasi 2. Motif yang telah berkembang pada individu merupakan sesuatu yang laten pd diri individu itu. Sedangkan motiv skunder tidak dibawa sejak lahir melainkan terbentuk bersamaan dengan proses perkembangan individu yang bersangkutan. pembawaan dasar dan lingkungan 3. Motif dibedakan menjadi dua yaitu motif yang bersifat primer dan yang bersifat skunder. Motif primer didasari oleh kebutuhan asli yang sejak semula telah ada pada diri setiap individu sejak ia terlahir dan pemenuhannya tidak dapat ditunda-tunda. dihargai.masyarakat budaya asli itu patut dikenali. seperti kebutuhan menghilangkan rasa haus dan lapar.

melainkan bertahap dan berkesinambungan. Pembawaan dan lingkungan masing-masing individu tidaklah sama. kemampuan motorik memiliki tahap-tahap perkembangan sendiri. Apa yang dibawa sejak lahir itu sering disebut pembawaan. seperti perkembangan kognitif atau kecerdasan. Ada pembawaan yang tinggi. minat. Dalam arti luas pembawaan meliputi berbagai hal. 2. Keadaan pembawaan dan lingkungan seorang individu dapat diketahui melalui penerapan instrumentasi konseling yang dipergunakan oleh konselor. Masing-masing aspek perkembangan. bakat khusus. Pemahaman tentang faktor-faktor pembawaan itu perlu mendapat perhatian utama. hubungan sosial.golongan darah. Dengan demikian bahwa perkembangan individu itu tidak sekali jadi. Meskipun masing-masing aspek perkembangan cenderung memperlihatkan caranya sendiri. sedang. juga harus dapat melihat arah perkembangan individu dimasa depan. Oleh karena itu. Lebih dari itu konselor perlu menyikapi kondisi pembawaan dan lingkungan sasaran layanan secara dinamis. Untuk dapat berkembang apa-apa yang telah dibawa sejak lahir itu diperlukan sarana dan prasarana yang semuanya berada dalam lingkungan individu yang bersangkutan. Semua itu menggambarkan kuat lemahnya motiv yang sedang aktif mendorong tingkah laku yang dimaksutkan. . Artinya konselor memandang apa-apa yang terdapat dalam pembawaan sebagai modal atau asset yang harus ditumbuh kembangkan secara optimal. Pembawaan dan lingkungan Setiap individu dilahirkan ke dunia dengan membawa kondisi mental fisik tertentu. kecerdasan. kurang dan bahkan kurang sekali.tinggi. Kondisi yang menjadi pembawaan itu selanjutnya akan terus tumbuh dan berkembang. kecenderungan pertumbuhan fisik. 3. seperti warna kulit. Perkembangan individu Sejak masa konsepsi dalam rahim ibu bakal individu berkembang dari janin dan bertahap hingga menjadi manusia lanjut usia. bahasa. kecenderungan cirri-ciri kepribadian tertentu. moral. selain konselor harus memahami secara terpadu kondisi berbagai aspek perkembangan individu pada saat pelayanan bimbingan dan konseling diberikan. bentuk dan warna rambut. Penelitian Jensen misalnya (dalam Sulton-Smith 1973) menegaskan bahwa faktor yang menentukan tinggi rendahnya inteligensi seseorang adalah interaksi antara pembawaan dan lingkungan. namun aspek-aspek itu saling terkait. fisik.

maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. A. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan.4. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini. diantaranya : 1. dan mengabaikan aspek – aspek mental. bakat. Teori Behaviorisme Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. Tanpa belajar. Thorndike melakukan eksperimen terhadap kucing. b) Teori Belajar Kognitif c) Teori Pemrosesan Informasi d) Teori Belajar Gestalt. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. afektif maupun psikomotor/keterampilan. dari hasil eksperimennya dihasilkan hukum-hukum belajar. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Manusia belajar untuk hidup. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. diantaranya: 1) Law of Effect. Dengan kata lain. diantaranya adalah : a) Teori Belajar Behaviorisme. Sebaliknya. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Belejar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. semakin tidak memuaskan . e) Teori Belajar Alternatif Konstruktivisme. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. baik dalam aspek kognitif.

2) Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. 3. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. maka kekuatannya akan menurun. 3) Law of Exercise.F.F. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Skinner Eksperimen yang dilakukan B. diantaranya : 1) Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. diantaranya : 1) Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Reber (Muhibin Syah. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh . 2. 2) Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara StimulusRespons. Operant Conditioning menurut B. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit).efek yang dicapai respons. 2) Law of Readiness. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat.

seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Melalui pemberian reward dan punishment. B. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). which may mean changing the . Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment. (2) pre operational. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method).reinforcer. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor. Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. 4. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. (3) concrete operational dan (4) formal operational. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya.

evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation” Dikemukakannya pula. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. 4) Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisikondisi eksternal individu. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. (2) pemahaman. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. 3) Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. (5) ingatan kembali. (4) penyimpanan. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. (6) generalisasi. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1) Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. 5) Di dalam kelas. C. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. 2) Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. (1) motivasi. . mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. (3) pemerolehan.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. Berlari. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. 1) Kedekatan (proxmity). dan 5) Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang . 4) Kesederhanaan (simplicity). Bila figure dan latar bersifat samar-samar. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. 2) Kesamaan (similarity). Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. yaitu: 1) Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Menurut Koffka dan Kohler. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). potongan. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. mengikuti kuliah. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.D. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. 3) Arah bersama (common direction). penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. berjalan. 2) Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”.

2) Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). pisces. seperti : sagitarius. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Misalnya. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. 3) Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. virgo. Contoh lain. 4) Prinsip ruang hidup (life space). (lingkungan behavioral). adanya penamaan kumpulan bintang. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.sebenarnya ada. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Oleh karena itu. . Misalnya. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. 3) Perilaku bertujuan (pusposive behavior). gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. Oleh karena itu. gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1) Pengalaman tilikan (insight). Dalam proses pembelajaran. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. 4) Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai.

sehingga makna hasil belajar bersifat individualistik. Sistematika evaluasi lebih menekankan pada penyusunan makna secara aktif. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Teori Belajar Alternatif Konstruktivisme Teori belajar konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Evaluasi dilihat sebagai suatu bagian kegiatan belajar mengajar dengan . transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. pengetahuan. Suatu kegagalan dan kesuksesan dilihat sebagai beda interpretasi yang patut dihargai dan sukses belajar sangat ditentukan oleh kebebasan siswa melakukan pengaturan dari dalam diri siswa. perspektif yang dipakai. Untuk mendukung kualitas pembelajaran maka sumber belajar membutuhkan data primer.5) Transfer dalam Belajar.Sehingga teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Oleh karena itu. obyek. bahan manipulatif dengan penekanan pada proses penalaran dalam pengambilan kesimpulan. E. fungsi pikiran menginterpretasi peristiwa. Hasil belajar bergantung pada pengalaman dan perspektif yang dipakai dalam interpretasi pribadi. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Penyajian isi KBM fakta diinterpretasi untuk mengkonstruksikan pemahaman individu melalui interaksi sosial. keterampilan intergratif dalam masalah nyata. Menurut pandangan Gestalt. Tujuan pembelajaran adalah belajar how to learn. Sebaliknya. menggali munculnya jawaban divergen dan pemecahan ganda.

5. teori gestalt. karena siswa masih berada pada tingkatan mengkonsumsi pengetahuan. narasumber. Dalam perbuatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi diri pelajar maupun pengajar. berfikir dan pengamatan. antara lain model belajar yang didasarkan pada teori pembiasaan dan keterpaduan. Belajar adalah suatu proses dimana siswa memproduki pengetahuan. Sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar mereka berhasil dalam belajar. kegiatan belajar merupakan perbuatan inti. Pada dasarnya teori kontruktivisme menekankan bahwa belajar adalah meaning making atau membangun makna. serta dinamika dan perasaan (Mussen & Rosenzweiq) Meskipun Hotersall (1985) mencoba merumuskan kepribadian sebagai “predisposisi cara mereaksi yang secara relatif stabil pada diri individu” Namun dapat dipahami bahwa kepribadian individu itu amat kompleks. belumlah cukup. Langkah-langkah inilah yang sedang disosialisasikan dua tahun terakhir Dalam keseluruhan proses pendidikan. Oleh karena itu skenario suatu pembelajaran maupun kegiatan belajar mengajar yang hanya terhenti pada tahapan dimana siswa mengumpulkan data dan memperoleh informasi dari luar yakni guru. teori perkembangan kognisi.penugasan untuk menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata sekaligus sebagai evaluasi proses untuk memecahkan masalah. . membangun makna (meaning making). Mengenai pengertian ini para ahli psikologi umumnya memusatkan pada faktor-faktor fisik dan genetic. buku. Pembelajaran yang sedang dikampanyekan. Siswa menyusun pengetahuan. Teori-teori itu perlu dikenal oleh konselor dan dipahami berbagai kemungkinan penerapannya bagi perkembangan kegiatan belajar klien. sedang mengajar adalah schaffolding atau memfasilitasi. Berbagai model belajar telah dikembangkan oleh para ahli. melainkan sebagai sumber tunggal pengetahuan di depan kelas. Karena itu perlu langkah-langkah yang menunjukkan tindakan siswa mengkonstruksi gagasan untuk memproduksi pengetahuan. Selama ini masyarakat kita berada dalam suatu budaya dimana belajar dipandang sebagai suatu proses mengkonsumsi pengetahuan. Guru bukan sekadar fasilitator. teori proses informasi. Konselor perlu memahami kompleksifitas kepribadian klien. proses peniruan. laboratorium dan lingkungan ke dalam ingatan siswa saja. disosialisasikan justru berbeda dengan pandangan tersebut. Kepribadian Sering dikatakan bahwa ciri seseorang adalah kepribadiannya. serta mengkonstruksi gagasan.

segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Hall dan Gardner Lindzey. Fromm. Hull. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Pemahaman tipologis yang sempit justru akan mengebiri hakikat bimbingan dan konseling yang bersifat dinamis dan terbuka. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Watson. ketegangan emosional.. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. konselor mungkin cenderung tertarik pada tipologi kepribadian yang memberikan memberikan arah pada pemahaman terhadap cirri-ciri kepribadian tertentu. dinamis dan dapat dikembangkan. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Horney dan Sullivan. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Teori Psikologi Individual dari Allport. Teori The Self dari Carl Rogers dan . frustrasi dan konflik. Adapun predisposisi yang ada pada individu adalah sesuatu yang terbuka. hormon. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhankebutuhan dari dalam diri. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Allport (Calvin S. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. tampang. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya.disamping mampu memilah-milah cirri-ciri tertentu yang dapat diukur. teori Personologi dari Murray. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Tugas konselor justru mengoptimalkan perkembangan dan pendayagunaan predisposisi ataupun cirri kepribadian individu kea rah hal-hal positif sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan individu yang bersangkutan. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Teori Medan dari Kurt Lewin. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. Dalam kaitannya itu.

Landasan ini mengemukakan bahwa antara pendidikan dan bimbingan memang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Inti dari pendidikan adalah perkembangan kepribadian secara optimal dari setiap anak didik sebagai pribadi. Pendidikan merupakan salah satu lembaga social yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial (Budi Santoso. • Sikap. maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh yang tidak hanya berupa kegiatan instruksional (pengajaran). d. 1992). negatif atau ambivalen. • Sosiabilitas. yaitu disposisi reaktif seorang. atau putus asa. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. sedih. senantiasa menyelenggarakan pendidikan dengan berbagai cara dan sarana untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. cuci tangan. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Secara mendasar bimbingan dan konseling merupakan salah satu bentuk pendidikan. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. • Responsibilitas (tanggung jawab). sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Tujuan-tujuan bimbingan dan konseling . yang mencakup : • Karakter. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. Landasan pedagogis Setaip masyarakat. Sementara itu. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Untuk menuju tercapainya pribadi yang berkembang. Seperti mudah tidaknya tersinggung. tanpa kecuali. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar berkembang secara optimal. • Stabilitas emosi. Proses bimbingan dan konseling adalah proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan belajar dan sifat normative. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Dalam hubungan inilah bimbingan mempunyai peranan yang amat penting dalam pendidikan. • Temperamen.sebagainya. Seperti mau menerima resiko secara wajar. akan tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan sehingga dapat berkembang secara optimal.

maupun social. Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah. dan layanan pribadi kepada anak didik melalui bimbingan. kecerdasan. memperkuat kepribadian.blogspot.blogspot.html . agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa Dan pengertian dan tujuan di atas. http://yanermawan. Sedangkan tujuan pendidikan sebagaimana dikemukakan dalam GBHN adalah: “Untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. kurikulum beserta proses belajar mengajar yang memadai. keterampilan. adalah kegiatan pendidikan yang ditandai dengan pengadministrasian yang baik. Dengan demikian maka hasil pendidikan sesungguhnya akan tercermin pada pribadi anak didik yang berkembang baik secara akademik.html http://animenekoi.com/2011/07/alasan-rasional-perlunya-bimbingan-dan. akan tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan sehingga akhirnya dapat berkembang secara optimal. Untuk menuju tercapainya pribadi yang berkembang. psikologis. yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar berkembang secara optimal.com/2011/06/rasional-pentingnya-bimbingan-dan. Dengan demikian setiap kegiatan proses pendidikan diarahkan kepada tercapainya pribadipribadi yang berkembang optimal sesuai dengan potensi masing-masing. maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh yang tidak hanya berupa kegiatan instruksional (pengajaran). mempertinggi budi pekerti. jelas bahwa yang menjadi tujuan inti dari pendidikan adalah perkembangan kepribadian secara optimal dan setiap anak didik sebagai pribadi. pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.memperkuat tujuan-tujuan pendidikan dan menunjang program-program pendidikan secara menyeluruh. mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Dalam hubungan inilah bimbingan mempunyai peranan yang amat penting dalam pendidikan. Kegiatan pendidikan yang diinginkan seperti tersebut di atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful