MAKALAH KEPERAWATAN GERONTIK II “ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI PADA LANSIA” Disusun Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Gerontik II.

Disusun Oleh : Kelompok Deshy Lia S. Muhamad Ghufron Indriawati I. Diah Nurul H. Nina dwi A. Muhammad Tong (09060035) (09060059) (09060022) (090600 (090600 (08060125)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2012

1

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam,atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini penulis buat dengan tujuan memenuhi tugas Keperawatan Gerontik II. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada : 1. Team dosen mata kuliah Keperawatan Gerontik selaku dosen pembimbing mata kuliah. 2. Teman – teman dan berbagai pihak yang telah membantu terselasaikannya makalah ini. Penulis berharap agar setelah membaca makalah ini , para pembaca dapat memahami dan mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, sehingga dapat di aplikasikan untuk mengembangkan kompetensi dalam bidang keperawatan. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu penulis membuka diri menerima berbagai saran dan kritik demi perbaikan di masa mendatang.

2

DAFTAR ISI

COVER KATA PENGANTAR BAB 1 1.1 1.2 1.3 PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan

BAB 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9

PEMBAHASAN Pengertian hipertensi pada lansia Klasifikasi hipertensi pada lansia Etiologi hipertensi pada lansia Patofisiologi hipertensi pada lansia Tanda dan gejala hipertensi pada lansia Pemeriksaan penunjang hipertensi pada lansia Komplikasi hipertensi pada lansia Penatalaksanaan hipertensi pada lansia Asuhan keperawatan hipertensi pada lansia

3

4 persen. gagal ginjal dan stroke sebanyak 43% dari seluruh kamatian di dunia dan meningkat pada tahun 2000 kematian akibat penyakit tidak menular yaitu 64 % dari seluruh kematian dimana 60% disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah. dimana pada tahun 1990.05 tahun serta tahun 2000 : 64. dimana tekanan darah diastolik akan sedikit menurun sedangkan tekanan sistolik akan terus meningkat.7 juta jiwa atau 5. stroke dan gagal ginjal. diperkirakan kematian akibat penyakit tidak menular sebesar 73% dari seluruh kematian di dunia dan sebanyak 4 . Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat menjadi 11. Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia menjadi 15.19 tahun.BAB I PENDAHULUAN 1. dan tahun 1995 : 60.1 Latar Belakang Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular mengalami peningkatan resiko penyebab kematian.7 tahun.3 juta orang atau 8. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7.2 persen dari seluruh penduduk.2000) Dengan makin meningkatnya harapan hidup penduduk Indonesia. pada tahun 1980 : 55. pada tahun 1985 : 58.30 tahun. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 1968 adalah 45. pada tahun 1990 : 61. Pada tahun 2020. Dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11. sedangkan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.12 tahun.9 persen.1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7. Salah satu penyakit degeneratif yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi adalah hipertensi. perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya tidak seluruhnya sama dengan hipertensi pada usia dewasa muda. Pada umumnya tekanan darah akan bertambah tinggi dengan bertambahnya usia pasien. Hipertensi pada usia lanjut menjadi lebih penting lagi mengingat bahwa patogenesis.05 tahun (BPS. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. kematian penyakit tidak menular 48 % dari seluruh kematian di dunia. maka dapat diperkirakan bahwa insidensi penyakit degeneratif akan meningkat pula.2 persen dari seluruh jumlah penduduk.

66% diakibatkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Selanjutnya akan diestimasi akan meningkat menjadi 37 % pada tahun 2015 dan menjadi 42 % pada tahun 2025. gagal ginjal dan stroke. Kunci pencegahan atau penanggulangan perorangan adalah gaya hidup sehat.2009). Pemerintah bersama Departemen Kesehatan RI memberi apresiasi dan perhatian serius dalam pengendalian penyakit Hipertensi. Sekresi renin. Sehingga kehadiran hipertensi pada kelompok dewasa muda akan sangat membebani perekonomian keluarga. Patogenesis pasti tampaknya sangat kompleks dengan interaksi dari berbagai variabel. (3). dan (4). Dari berbagai strategi dapat disimpulkan bahwa penanggulangan hipertensi melibatkan banyak disiplin ilmu. (2). mungkin pula ada predisposisi genetik. Di Indonesia. Bentuk hipertensi idiopatik disebut hipertensi primer atau esensial. juga karena tingkat keganasannya yang tinggi berupa kecacatan permanen dan kematian mendadak. 2005). (Bahrianwar. Sedangkan 5% penyakit hipertensi terjadi sekunder akibat proses penyakit lain seperti penyakit parenkhim ginjal atau aldosterronisme primer (Prince. 2009) Di Indonesia dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995. 2006). prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 8. Sejak tahun 2006 Departemen Kesehatan RI melalui Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak 5 . karena biaya pengobatan yang mahal dan membutuhkan waktu yang panjang. dimana faktor resiko utama penyakit tersebut adalah hipertensi. (Zamhir. (Zamhir. Darah tinggi sering diberi gelar The Silent Killer karena hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi karena disamping karena prevalensinya yang tinggi dan cenderung meningkat di masa yang akan datang. Mekanisme lain yang dikemukakan mencakup perubahan – perubahan berikut: (1). bahkan seumur hidup. 2006). bahkan memperbaharui pedoman penanggulangan hipertensi. Penyebab hipertensi tidak diketahui pada sekitar 95 % kasus. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan kesakitan yang tinggi. Kepekaan baroreseptor. Beberapa organisasi dunia dan regional telah memproduksi. Masyarakat juga perlu tahu risiko hipertensi agar dapat saling mendukung untuk mencegah atau menanggulangi agar tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan sampai mencegah terjadinya komplikasi. Pada tahun 2000 prevalensi penderita hipertensi di indonesia mencapai 21% (pengukuran standart Depkes yaitu pada batas tekanan darah normal 139 / 89 mmHg).3% (pengkuran standart WHO yaitu pada batas tekanan darah normal 160/90 mmHg). (Bahrianwar. Respon vesikuler. Eksresi natrium dan air oleh ginjal.

(Depkes. Untuk mengendalikan hipertensi di Indonesia telah dilakukan beberapa langkah. dan mengembangkan sistem pembiayaan pengendalian hipertensi. strok dan penyakit ginjal. memperkuat logistik dan distribusi untuk deteksi dini faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk hipertensi. Juklak dan Juknis pengendalian hipertensi. serta gangguan akibat kecelakaan dan cedera. Banyak data akhir-akhir ini menunjukan bahwa pengobatan hipertensi pada lanjut usia dapat mengurangi mortalitas dan morbiditas. yaitu mendistribusikan buku pedoman. antara lain dengan dibentuknya Kelompok Kerja Pengendalian Hipertensi. melaksanakan monitoring dan evaluasi. akselerasi. melaksanakan intensifikasi. Dahulu hipertensi pada lanjut usia dianggap tidak selalu perlu diobati. Memang teori ini didukung oleh observasi yang menunjukkan turunnya tekanan darah sering kali diikuti pada jangka pendeknya oleh perburukan serangan iskemik yang transient (TIA). 2007).Menular yang bertugas untuk melaksanakan pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk hipertensi dan penyakit degenaritaif linnya. 2007). pengenalan berbagai penyakit yang juga diderita oleh orang tersebut perlu mendapatkan perhatian oleh karena berhubungan erat dengan penatalaksanaan secara keseluruhan. 6 . (Depkes. memperkuat jaringan kerja pengendalian hipertensi. mengembangkan (investasi) sumber daya manusia dalam pengendalian hipertensi. Pada usia lanjut aspek diagnosis selain kearah hipertensi dan komplikasi. melaksanakan advokasi dan sosialisasi. dan inovasi program sesuai dengan kemajuan teknologi dan kondisi daerah setempat (local area specific). bahkan dianggap berbahaya untuk diturunkan. Tetapi akhir-akhir ini dari penyelidikan epidemiologi maupun trial klinik obat-obat antihipertensi pada lanjut usia menunjukan bahwa hipertensi pada lansia merupakan risiko yang paling penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler. meningkatkan surveilans epidemiologi dan sistem informasi pengendalian hipertensi.

2. 7 .2 Rumusan Masalah 1.4 Manfaat Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi baik bagi tenaga kesehatan ataupun masyarakat umum mengenai Hipertensi pada lansia. 1. 1.7 1.3 1.3.2 1.3.3.2.1 Tujuan Umum Agar pembaca dapat memahami lebih jauh tentang penyakit hipertensi pada lansia.3 Tujuan 1.2.3.2.3.2.3 Untuk mengetahui etiologi hipertensi pada lansia.2.7 Untuk mengetahui komplikasi hipertensi pada lansia.3.6 1.1 Untuk mengetahui pengertian hipertensi pada lansia.3.4 1.2.1 1.6 Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang hipertensi pada lansia. 1.9 Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan hipertensi pada lansia.2. 1.5 Untuk mengetahui Tanda dan Gejala hipertensi pada lansia.5 1.2.8 Untuk mengetahui penatalaksanaan hipertensi pada lansia.3.2 Untuk mengetahui klasifikasi hipertensi pada lansia.2.1. 1.4 Untuk mengetahui patofisiologi hipertensi pada lansia.8 1.3.9 Apa itu hipertensi pada lansia? Apa saja klasifikasi hipertensi pada lansia? Bagaimana etiologi hipertensi pada lansia? Seperti apa patofisiologi hipertensi pada lansia? Bagaimana Tanda dan Gejala hipertensi pada lansia? Apa saja pemeriksaan penunjang hipertensi pada lansia? Apa saja komplikasi hipertensi pada lansia? Bagaimana penatalaksanaan hipertensi pada lansia? Bagaimana Asuhan Keperawatan hipertensi pada lansia? 1.2.3. 1. 1.2.2.2. 1. 1.2.2.2 Tujuan Khusus 1.2.3. 1.2.

Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Pedoman Joint National Committee 7 Kategori Optimal Normal Prehipertensi Sistolik (mmHg) 115 atau kurang < 120 120-139 Diastolik (mmHg) 75 atau kurang < 80 80-89 8 . Berdasarkan etiologinya. (Smeltzer.2. Pada populasi lansia.lemak jenuh dan penuaan adalah faktor pendukung.2. Jenis ini adalah yang terbanyak.1. 1996) 2. feokromositoma.Menurut WHO ( 1978 ). dan obat-obatan. sindrom cushing. Klasifikasi Hipertensi Pada Lansia 2. Walaupun faktor genetik sepertinya sangat berhubungan dengan hipertensi primer. Hipertensi yang penyebabnya diketahui seperti hipertensi renovaskuler. Riwayat keluarga. 2. tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Hipertensi sekunder Hipertensi sekunder akibat penyakit ginjal atau penyebab yang terindentifikasi lainya.2. aldosteronisme primer.2001).2. 2.1 Pengertian Hipertensi Pada Lansia Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik yang intermiten atau menetap. Pada Populasi manula. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. Hipertensi primer atau esensial Penyebab pasti masih belum diketahui. tapi mekanisme pastinya masih belum diketahui. yaitu sekitar 90-95% dari seluruh pasien hipertensi. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Brunner & Suddarth.diit tinggi natrium. yaitu sekitar 2-10% dari seluruh pasien hipertensi.obesitas. hipertensi dibagi menjadi : 1.BAB II PEMBAHASAN 2.

a. wanita : > 65 tahun).Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause.  Hipertensi sistolik-diastolik: terdapat pada 6-8% penderita usia di atas 60th. terdapat pada 6-12% penderita di atas usia 60th. Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol: Faktor risiko yang tidak dapat diubah. Etiologi Hipertensi Pada Lansia Dengan perubahan fisiologis normal penuaan. jenis kelamin pria atau wanita pasca menopause.3. terutama pada pria. terutama pada wanita. Menningkat dengan bertambahnya umur. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Insioden meningkat seiring bertambahnya umur. faktor resiko hipertensi lain meliputi diabetes ras riwayat keluarga jenis kelamin faktor gaya hidup seperti obesitas asupan garam yang tinggi alkohol yang berlebihan. Jenis kelamin Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita. seperti riwayat keluarga (genetik kromosomal). Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). terdapat antara 12-14% penderita di atas usia 60th. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini 9 . Insidensi menurun seiring bertambahnya umur. Faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak dapat dikontrol.  Hipertensi diastolic saja (Diastolic hypertension). umur (pria : > 55 tahun. lebih banyak pada wanita.Hipertensi stage I Hipertensi stage II 140-159 ≥ 160 90-99 ≥ 100 Berdasarkan klasifikasi dari JNC-VI maka hipertensi pada usia lanjut dapat dibedakan:  Hipertensi sistolik saja (Isolated systolic hypertension). 2. antara lain: a.

dan akibat dari berkurangnya kelenturan. arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami. Hanns Peter (2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah menopause.melindungi pembuluh darah dari kerusakan. wanita : > 65 tahun. hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut. terutama aorta. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun. Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56. Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun. jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. hipertensi sering terjadi pada usia pria : > 55 tahun. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. b. Keturunan (Genetik) Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akanmenyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi.Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause. c. sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. 10 .5%. Tetapi pada kebanyakan kasus . Umur Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya. karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat.

4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. terutama tekanan darah sistolik. semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri. Obesitas Pada usia + 50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 2030% memiliki berat badan lebih. Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah. 4. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia.b. Faktor resiko yang dapat dikontrol: 1. karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. 2. Kurang Olahraga. Kebiasaan Merokok Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular. Kelompok lansia dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis. jantung dan pembuluh darah. Konsumsi 11 . 3. Itu sebabnya berat badan meningkat. Mengkonsumsi garam berlebih Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. hipertensi.

Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar. Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. 12 . 6. dan karakteristik personal. termasuk pembuluh darah. Minum alkohol Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organ-organ lain. Minum kopi Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75 – 200 mg kafein.natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. 7. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Menurut Anggraini (2009) mengatakan stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi. sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. kelas sosial. ekonomi. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan. Stress Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). 5. di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.

Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi. j. d.6 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi Pada Lansia a. glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ).5 Tanda Dan Gejala Hipertensi Pada Lansia Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya. b. Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas. Menurut Rokhaeni ( 2001 ). manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala. e. pusing Lemas. Mual Muntah. Steroid urin 13 pembentukan . hipertensi sering tidak memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul tersamar (insidious) atau tersembunyi (occult). Epistaksis. i.4 2. c. anemia. Gelisah. Kalium serum Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik. f. k. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi). kelelahan. Kesadaran menurun 2. Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi. Urinalisa Darah. protein.2. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi. Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) g. h. Pemeriksaan tiroid. Sesak nafas.

Bunyi jantung presistolik (atrial. ditemukan tanda-tanda hipertrofi ventrikel kiri. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. Pada pemeriksaan fisik. kapasitasnya membesar dan timbul gejala-gejala dan tanda-tanda gagal jantung. keempat) sering terdengar pada penyakit jantung hipertensif. Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. perbesaran jantung. dan sebagian kecil pada pasien dengan retinopati. Suara penutupan aorta menonjol dan mungkin ditemukan murmur dari regurgitasi aorta. pola regangan. dan bunyi jantung protodiastolik (ventrikuler.Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme l. penyebab tersering kematian adalah penyakit jantung. a. IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal. ensefalopati. Pada elektrokardiogram. dapat terjadi iskemi dan infark. CT scan Untuk mengkaji tumor serebral. EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung. n.7 Komplikasi Hipertensi Pada Lansia Pasien dengan hipertensi dapat meninggal dengan cepat. yang ditandai dengan penebalan dinding ventrikel. Sebagian besar kematian dengan hipertensi disebabkan oleh infark miokard atau gagal jantung kongestif. sedangkan stroke dan gagal ginjal sering ditemukan. Angina pektoris dapat timbul sebagai akibat dari kombinasi penyakit arteri koronaria dan peningkatan kebutuhan oksigen miokard karena penambahan massanya. Komplikasi pada Sistem Kardiovaskuler Kompensasi akibat penambahan kerja jantung dengan peningkatan tekanan sistemik adalah hipertrofi ventrikel kiri. m. Data-data terbaru menduga bahwa kerusakan miokardial mungkin lebih diperantarai oleh aldosteron pada 14 . o. ketiga) atau irama gallop mungkin saja ditemukan. didapatkan pembesaran jantung dengan denyut ventrikel kiri yang menonjol. Bila penyakit berlanjut. gangguan konduksi. 2. batu ginjal / ureter. Hal ini menyebabkan fungsi ventrikel memburuk.

eksudat pada retina. yang merupakan salah satu dari gejala-gejala awal hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi memberikan kelainan pada retina berupa retinopati hipertensi. Infark serebri terjadi secara sekunder akibat peningkatan aterosklerosis pada pasien hipertensi. c. percabangan pembuluh darah yang tajam. Efek pada sistem saraf pusat juga sering terjadi pada pasien hipertensi. Sakit kepala di daerah oksipital. retinopati dengan papiledem dan kejang. edema retina dan perdarahan retina. gangguan kesadaran. Patogenesa dari kedua hal pertama sedikit berbeda. Patogenesisnya tidak jelas tapi kemungkinan tidak berkaitan dengan spasme arterioler atau udem serebri. Dapat juga ditemukan ’keleyengan’. Karena retina adalah satu-satunya jaringan dengan arteri dan arteriol yang dapat langsung diperiksa. dengan arteri yang besarnya tidak beraturan. Ensefalopati hipertensi terdiri dari gejala-gejala : hipertensi berat. Hanya umur dan tekanan arterial diketahui berpengaruh terhadap perkembangan mikroaneurisma. lebih dipikirkan suatu infark / perdarahan serebri atau transient ischemic attack.asupan garam yang normal atau tinggi dibandingkan hanya oleh peningkatan tekanan darah atau kadar angiotensin II. kepala terasa ringan. paling sering terjadi pada pagi hari. Tanda-tanda fokal neurologik jarang ditemukan dan jikalau ada. perdarahan atau ensefalopati. peningkatan tekanan intrakranial. Efek Neurologik Efek neurologik pada hipertensi lanjut dibagi dalam perubahan pada retina dan sistem saraf pusat. fenomena crossing atau sklerosis pembuluh darah. b. maka dengan pemeriksaan optalmoskopik berulang memungkinkan pengamatan terhadap proses dampak hipertensi pada pembuluh darah retina. Kelainan pembuluh darah dapat berupa penyempitan umum atau setempat. tapi manifestasi yang lebih serius adalah oklusi vaskuler. Efek pada Ginjal 15 . tinitus dan penglihatan menurun atau sinkope. dimana perdarahan serebri adalah akibat dari peningkatan tekanan darah dan perkembangan mikroaneurisma vaskuler serebri (aneurisma Charcot-Bouchard). vertigo.

Proteinuria dan hematuria mikroskopik terjadi karena lesi pada glomerulus dan ± 10 % kematian disebabkan oleh hipertensi akibat gagal ginjal. 5. Pengobatan dengan menggunakan standart triple therapy (stt) menjadi dasar pengobatan hipertensi. Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat antihipertensi. Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi. Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan sistem kardiovaskuler dan ginjal. Penurunan tekanan sistol dan diastol < 140 / 90 mmHg berhubungan dengan penurunan terjadinya komplikasi stroke. sehingga fokus utamanya adalah mencapai target tekanan sistol. hemoptisis dan metroragi juga sering terjadi pada pasien-pasien ini. 4. 3. Kehilangan darah pada hipertensi terjadi tidak hanya dari lesi pada ginjal. 2. 2. hipotensi postural dan penurunan kualitas hidup. target tekanan darah ialah < 130 / 80 mmHg. 16 . bahkan mungkin seumur hidup.Lesi aterosklerosis pada arteriol aferen dan eferen serta kapiler glomerulus adalah lesi vaskuler renal yang paling umum pada hipertensi dan berakibat pada penurunan tingkat filtrasi glomerulus dan disfungsi tubuler.8 Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Lebih dari 10 tahun yang lalu masih terjadi perdebatan tentang perlu tidaknya pengobatan hipertensi pada usia lanjut. epitaksis. Golongan yang kontra menyatakan bahwa penurunan tekanan darah pada hipertensi lansia justru akan menyebabkan kemungkinan terjadinya trombosis koroner. khususnya yang berusia > 50 tahun akan mencapai target tekanan diastol saat target tekanan sistol sudah dicapai. Dengan penelitian-penelitian yang diadakan dalam 10 tahun terakhir ini jelas dibuktikan bahwa menurunkan tekanan darah pada hipertensi lansia jelas akan menurunkan komplikasi akibat hipertensi secara bermakna. Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahulukan pengobatan kausal. Penalaksanaan hipertensi dilandasi oleh beberapa prinsip. yaitu : 1. Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang. Karena kebanyakan penderita hipertensi. dan pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus.

d. Hipertensi sekunder 17 . Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal. b. Secara garis besar. Gangguan absorsbsi dalam alat pencernaan b. kerusakan ginjal. Penggunaan obat-obat steroid 8. yaitu: 1. Kontrasepsi oral 7. Memungkinkan penggunaan obat dalam jangka panjang Tidak jarang penatalaksanaan hipertensi dengan menggunakan obat-obat antihipertensi mengalami kegagalan. Ketidakpatuhan penderita 2. Pola hidup dan indentifikasi ada tidaknya faktor resiko kardiovaskuler. Organ yang rusak karena hipertensi. Peningkatan volume oleh karena peningkatan asupan natrium. 2. dan kurangnya pemberian diuretik 3. c. Pada pengobatan hipertensi ada tiga hal evaluasi menyeluruh terhadap kondisi penderita adalah : a.Pemakain obat pada lanjut usia perlu dipikirkan kemungkinan adanya : a. Efek samping obat. Interaksi obat c. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan obat antihipertensi. 6. Dosis yang tidak adekuat 5. 4. Mempunyai efektivitas yang tinggi Mempunyai toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal Memungkinkan penggunaan obat secara oral. 5. Obesitas 4. 3. yang dapat disebabkan oleh hal-hal di bawah ini : 1. Penyebab langsung hipertensi sekunder atau primer. Tidak menimbulkan intoleransi Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh penderita. Interaksi obat 6.

ARB. Drug abbreviations : BP : ACEI : Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor ARB : Angiotensin Receptor Blocker CCB : Calsium Channel Bloker. † Initial combined therapy should be used cautiously in those at risk for orthostatic hypotension. BB. Stage Hypertension Yes Two-drug combination most † ACEI. BB Other . BB : Beta-Bloker * Treatment determined by highest BP category. ‡ Drug(s) for the for With Compelling Indication diuretics for most. compelling May consider indications. ARB. for CCB) as needed. ‡ Treat patients with chronic kidney disease or diabetes or BP goal < 130/80 mmHg 18 . combination. II ≥ 160 ≥ 100 CCB or antihypertensive drugs (diuretics.Klasifikasi dan Managemen Tekanan Darah untuk Dewasa * BP Classification SBP (mmHg) * DBP (mmHg )* Lifestyle Modificati on Initial Drug Therapy Without Compelling Indication Normal Prehypertension < 120 120-139 and < 80 Encourage or 80-89 Yes No antihypertensive indicated Stage Hypertension I 140-159 or 90-99 Yes Thiazide-type Drug(s) compelling indications. (usually thiazide-type diuretic and ACEI or ARB or BB or CCB) SBP : Systolic Blood Pressure DBP : Diastolic Blood Pressure. ‡ ACEI .

8. d. Pasien yang tidak memiliki komplikasi hipertensi. Golongan ACE Inhibitor sendiri atau kombinasi dengan golongan diuretic masih merupakan terapi pilihan yang terbaik untuk pasien dengan hipertensi yang sudah mengalami komplikasi penyakit jantung. Non Farmakologis atau modifikasi gaya hidup. Lebih memperhatikan tekanan darah sistolik dan penanganannya harus dimulai jika tekanan darah sistolik meningkat walaupun tekanan darah diastoliknya tidak. f. maka pengobatan adalah mudah.2. Kebanyakan pasien hipertensi memerlukan 2 atau lebih pengobatan untuk mencapai tekanan darah ± 20/10 mmHg di atas tekanan darah yang diinginkan. 2. Bila hipertensi yang terjadi tanpa disertai dengan komplikasi atau penyakit penyerta lain. e.1 Konsep Penatalaksanaan Hipertensi Terkini Joint National Committee VII merekomendasikan konsep terapi yang terbaru yaitu : a. diperlukan penatalaksanaan secara farmakologis dengan diberikan obat golongan diuretik atau bisa juga diberikan obat dari golongan lain. c. Penatalaksanaan untuk hipertensi dibagi menjadi : 1. Pasien dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolic 80-89 mmHg hanya memerlukan penatalaksanaan nonfarmakologis dengan cara modifikasi gaya hidup. Farmakologis 19 . b. salah satunya adalah obat dari golongan diuretik tiazid. Sebagian besar pasien hipertensi memerlukan obat kombinasi antihipertensi.

vegetables 8-14 mmHg and low fat dairy products with a reduced content of saturated and total fat Dietary reduction sodium Reduced dietary sodium intake to no more 2-8 mmHg than 100 mmol per day (2.4 g sodium or 6 g sodium chloride) Physical activity Engage in regular aerobic 20 physical 4-9 mmHg .9 ≥ 35.  Olahraga teratur sesuai dengan kondisi tubuh.  Berhenti merokok.  Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na.5 18.4 g Na . atau 6 g NaCl/hari)  Mempertahankan asupan kalium (90 mmol/hari).9 25. Non farmakologis atau modifikasi gaya hidup meliputi : Kriteria Indeks Massa Tubuh Kriteria Kurang Normal Berat badan lebih Obesitas Obesitas berat IMT (kg/m2) <18.9 kg/m2) Adopt eating plan weight loss SBP DASH Consume a diet rich in fruits.5-24.9 30. kalsium dan magnesium yang adekuat.  Kurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan.0  Jaga berat badan ideal. atau 2.0-29.0-34. Modifikasi Gaya Hidup Penatalaksanaan Hipertensi *† Modification Recommendation Approximate Reduction (Range) Weight reduction Maintain normal body weight (BMI 18. Turunkan berat badan bila IMT ≥ 27  Membatasi alkohol.5 5-20 mmHg / 10 kg – 24.A.

Terdapat beberapa golongan. contoh : Hidroklorotiazid (HCT) – tab 25 dan 50 mg Klortalidonn – tab 50 mg Bendroflumentiazid – tab 5 mg Indapamid – tab 2. Diuretik    Cara kerja : meningkatkan ekskresi natrium. Dietary Approaches to Stop Hypertension * For overall cardiovascular risk reduction. e. Diuretik Tiazid dan sejenisnya (paling luas digunakan) . B.5 mg Xipamid – tab 20 mg Furosemid – tab 40 mg b. 10 oz wine.g. stop smoking. Diuretik kuat : a. or 3 oz 80-proof whiskey) per day in most men and to no more thsn 1 drink per day in women and lighter weight persons DASH. † The effects of implementing these modifications are dose and time dependent. yaitu : a. 21 . 24 oz beer. Diuretik hemat kalium : a. most days of the week) Moderation alcohol consumption of Limit consumption to no more than 2 2-4 mmHg drinks (1 oz or 30 ml ethanol.activity such as brisk walking (at least 30 min per day. c. klorida dan air sehingga volume plasma dan cairan ekstrasel. Untuk terapi jangka panjang pengaruh utama adalah mengurangi resistensi perifer. Amilorid – tab 5 mg b. Farmakologis : Obat-obat Antihipertensi : 1. Spironolakton – tab 25 dan 100 mg  Efek samping : hipotensi dan hipokalemia. and could be greater for some individuals.

diaksozid. Pada gagal ginjal dosis dikurangi (bila CCT > 1. hidralazin. Vasodilator Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan cara relaksasi otot polos yang akan mengakibatkan penurunan resistensi pembuluh darah Yang termasuk golongan ini adalah natrium nitroprusid. proteinuria. Antagonis Reseptor Angiotensin II (AIIRA / ARB) 22 . atenolol. Penghambat Enzim Konversi Angiotensin    Bekerja menghambat sistem renin-angiotensin. guanfasin 3. diberikan 1 jam sebelum makan. verapamil dan diltiazem. reserpin. minoksidil. gangguan pengecap. serta menurunkan sekresi renin Kontraindikasi bagi pasien gagal jantung kongestif Terdiri dari golongan : penghambat adrenoreseptor α / α –bloker : terazosin. asebutolol.2.5 mg%). 4.  Preparat yang biasa digunakan seperti nifedipin. amilodipin. eritema. Yang paling sering digunakan adalah natrium nitroprusid dengan efek samping hipotensi ortostatik. 6. metildopa. Penghambat Adrenergik    Efektif untuk menurunkan denyut jantung dan curah jantung. Efek samping : batuk kering . gagal ginjal dan agranulositosis. prazosin. nikardipin. menstimulasi sintesis prostaglandin dan juga mengurangi aktivitas saraf simpatis Preparat yang paling banyak digunakan adalah Kaptopril. doksazosin. 5. doxazosin. bisoprolol    penghambat adrenoreseptor α dan β : labetalol adrenolitik sentral : klonidin. felodipin.  Antagonis Kalsium Mempunyai efek mengurangi tekanan darah dengan cara menyebabkan vasodilatasi perifer yang berkaitan dengan refleks takikardi yang kurang nyata dan retensi cairan yang kurang daripada vasodilator lainnya. prazosin penghambat adrenoreseptor β / β-bloker : propanolol.

Proses apoptosis dan regenerasi jaringan juga tetap berlangsung karena reseptor tidak dipengaruhi. obat penghambat ACE dan diuretik merupakan obat pilihan pertama. Akan tetapi pada umumnya pemakaian penyekat β tidak begitu disukai oleh karena menimbulkan perburukan penyakit vaskuler perifer dan bronkospastik. Pada pasien pascainfark miokard.5 – 25 mg atau setara) yang dikombinasi dengan diuretik hemat kalium dapat diberi sebagai pengobatan awal. akan tetapi harus hati-hati terhadap efek hipotensi ortostatik. Obat anti hipertensi lain dapat diberikan atas indikasi spesifik. Penghambat α merupakan pilihan pada pasien dengan dislipidemia dan hipertrofi prostat. sebaiknya dosis awal dimulai dengan dosis yang lebih rendah. Pada pasien dengan payah jantung. untuk penyesuaian autoregulasi guna mempertahankan perfusi ke organ vital. pemakaian penyebat β yang kardioselektif dianjurkan. Tetapi pada pemberian diuretika sering menimbulkan efek hipokalemia dan hiponatremia karena kedua mineral tadi ikut terbuang bersama urine. tidak mempengaruhi produksi Angiotensin II tetapi memblok di tempat kerja pada organ target. 23 . Oleh karena fungsi ginjal telah menurun dan terdapat gangguan metabolisme obat. Prinsip pemberian obat anti hipertensi pada lansia :  Dimulai dengan 1 macam obat dengan dosis kecil (START LOW GO SLOW)  Penurunan tekanan darah sebaiknya secara perlahan. Kelebihannya adalah tidak menimbulkan batuk karena tidak mempengaruhi metabolisme bradikinin.  Regimen obat harus sederhana dan dosis sebaiknya sekali sehari  Antisipasi efek samping obat-obat antihipertensi  Pemantauan tekanan darah untuk evaluasi efektivitas pengobatan  Setelah tercapai target maka pemberian obat harus disesuaikan kembali untuk maintenance (Gambar 2) Pengobatan harus segera dilakukan pada hipertensi berat dan apabila terdapat kelainan target organ.   Merupakan golongan obat antihipertensi terbaru. karena hal ini dapat menyebabkan lansia jatuh bahkan sampai mengalami komplikasi fraktur. Pada hipertensi tanpa komplikasi golongan diuretik dosis rendah (HCT 12.

 Gangguan autoregulasi otak sehingga iskemia serebral mudah terjadi dengan hanya sedikit penurunan tekanan darah sistemik. 3.  Sensitivitas terhadap hipokalemi sehingga mudah terjadi aritmia dan kelemahan otot. mulut kering dan hipotensi ortostatik. Obat simpatolitik sentral seperti metildopa. Pada pasien dengan diabetes dan proteinuria diindikasikan pemakaian obat penghambat ACE. Pendidikan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan akan bahaya hipertensi dan makna serta manfaat bila tekanan darah dapat dinormalkan. berdasarkan pada kondisi penyerta. Dan obat-obat yang mempunyai pengaruh pada susunan saraf pusat. Tahap-tahap yang perlu diperhatikan agar terapi hipertensi dapat berhasil adalah : 1.  Pemberian obat juga harus dipikirkan mengenai penyakit komorbid yang ada pada lansia itu. guanadrel. 24 . 4.  Penurunan fungsi ginjal dan hati sehingga terjadi akumulasi obat. pemakaiannya kurang dianjurkan pada usia lanjut karena efek samping sedasi.Antagonis kalsium jangka panjang cukup efektif.  Pengurangan volume intravaskular sehingga sensitif terhadap deplesi cairan. Meningkatkan kepatuhan berobat atau control pasien. α dan ß bloker dapat mengakibatkan depresi serta penurunan kesadaran/fungsi kognitif. dan pilihan antihipertensi harus secara individual. khususnya mengenai manfaat penurunan/terapi hipertensi. alfa bloker dan labetolol sebaiknya dihindarkan atau diberikan dengan hati-hati. Diagnosis yang tepat dan sedini mungkin (pengukuran beberapa kali dan kalau perlu lebih dari 1 kali kunjungan) 2. Berdasarkan hal-hal di atas. Jangan sampai obat antihipertensif yang kita beri mempunyai efek samping yang dapat memperberat gejala penyakit komorbid. Menyampaikan data yang akurat dari studi klinik pada tenaga kesehatan maupun masyarakat. tekanan darah diturunkan perlahan-lahan dengan cara memberi dosis awal yang lebih rendah dan peningkatan dosis yang lebih kecil dengan interval yang lebih panjang dari biasanya pada penderita yang lebih muda. terutama karena mempunyai efek natriuretik dan dianjurkan pada pasien dengan penyakit jantung koroner. klonidin dan guanfasin walaupun efektif. yaitu guanetidin. Pemberian antihipertensi pada lansia harus hati-hati karena pada lansia terdapat :  Penurunan refleks baroreseptor sehingga meningkatkan risiko hipotensi ortostatik. maka sebaiknya obat-obat yang dapat menyebabkan hipotensi ortostatik.

Terapi Kombinasi Biasanya bila terapi dengan satu macam obat gagal untuk mencapai sasaran. Hal ini adalah upaya untuk memaksimalkan efek penurunan tekanan darah dengan efek samping seminimal mungkin. Menggunakan obat antihipertensi yang dapat ditoleransi dengan baik dan yang dapat dimakan sekali sehari. Berikut diberikan pedoman yang dianut oleh para ahli hipertensi di Inggris yang disebut sebagai The Birmingham Hypertension Square. Memotivasi para tenaga kesehatan untuk berusahamenurunkan tekanan darah pasien hipertensi. The Birmingham Hypertension Square ACE Inhibitor atau Bloker Reseptor Angiotensin II Diuretik Tiazid Nasihat nonfarmakologik : garam. Walaupun dosis campuran tetap banyak disediakan oleh pabrik farmasi. Pada penelitian HOT. berat badan. rokok Bloker Kanal Kalsium golongan dihidropiridine β-Bloker 25 . maka perlu ditambahkan obat ke-2 dengan dosis rendah dahulu dan tidak meningkatkan dosis obat pertama. olahraga. Dalam JNC-VII. para ahli bahkan menganjurkan terapi antihipertensi kombinasi langsung pada penderita yang ada pada stadium 1.5. 6. alkohol. upaya titrasi dosis secara individual dianggap lebih baik. terapi kombinasi diperlukan pada sekitar 70% penderita.

Hilangkan/ minimalkan aktifitas vasokontraksi yang dapat meningkatkan sakit kepala. misalnya batuk panjang. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.Mulai terapi pada kotak manapun dan gunakan terapi tambahan dengan obat yang ditunjuk oleh panah. aksi yang saling melengkapi dan biasanya ditoleransi dengan baik. tindakan nonfarmakolog  Mengikuti regimen i untuk farmakologi menghilangkan yang sakit kepala.  Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral.  RASIONAL  Meminimalka n stimulasi dan meningkatkan relaksasi. 2.  Melaporkan ketidakyam anan hilang atau  Berikan terkontrol. diresepkan.efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya. mengejan saat BAB.d peningkatan tekanan intra kranial NOC NIC Tujuan: Intervensi : Menghilangkan  Pertahankan rasa nyeri tirah baring Kriteria hasil : selama fase akut. Obat-obatan pada kotak yang berdekatan memiliki efek antihipertensi tambahan.9 Asuhan Keperawatan Hipertensi Pada Lansia No 1 DIAGNOSA Gangguan rasa nyaman nyeri b. pijat punggung dan leher.   Meminimalka n penggunaan oksigen dan aktivitas yang berlebihan 26 . misalnya kompres dingin pada dahi.  Aktifitas yang meningkatkan vasokontraksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan vaskuler serebral.

berat badan  Menunjukk an perilaku meningkatk an atau mempertah ankan berat badan ideal  Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya atero sklerosis. Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan dan kondisi emosi saat makan. 2 pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.  Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf simpatis. anti ansietas.  Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik.  27 . kelebihan masukan garam memperbanya k volume cairan intra vaskuler dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi.   Dorong klien untuk mempertahank an masukan makanan harian termasuk kapan dan dimanamakan dilakukan.d intake nutrisi inadekuat Tujuan: kebutuhan nutrisi terpenuhi Intervensi:  Bicarakan pentingnya Kriteria hasil: menurunkan  Klien masukan menunjukk lemak. Mengidentifik asi kekuatan/kele mahan dalam program diit terakhir. garam an dan gula sesuai peningkatan indikasi. membantu untuk  Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.yang memperberat kondisi klien. diazepam dll.

Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi.  Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembanga n atero genesis. Tujuan : tidak terjadi Intoleransi aktifitas.  Intruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat. telur.   Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual 3 Intoleransi aktifitas b. hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega. memfokuskan perhatian pada factor mana pasien telah/dapat mengontrol perubahan. jeroan).lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan. daging dll) dan kolesterol (daging berlemak. kuning telur. es krim. dipsnea.d kelemahan umum. aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja jantung. produk kalengan. Intervensi :  Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas Kriteria Hasil : dengan menggunkan  Klien dapat berpartisipa parameter : si dalam frekwensi nadi aktivitas 20x/menit yang di diatas inginkan frekwensi atau istirahat. keju.  Melaporkan atau nyeri peningkatan 28  Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress. . catat diperlukan peningkatan TD.

menyikat gigi/rambut dengan duduk dan  29 .dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.  dada. pusing atau pingsan. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung. Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan  Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi. TD stabil.  Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual.   Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. berkeringat. Dorong memajukan aktivitas/tolera nsi perawatan diri. kelelahan berat dan kelemahan. peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan/kele lahan. frekwensi nadi.

Denyut pada tungkai mungkin menurun. Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung Kriteria Hasil :  Klien berpartisipa si dalam aktivitas yang menurunka n tekanan darah/beban kerja jantung  Mempertah ankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima. 4 Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. kualitas denyutan sentral dan perifer   Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. mencerminka n efek dari vasokontriksi dan kongesti vena. Denyutan karotis. jugularis. ICS4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi  Catat keberadaan. Intervensi:  Observasi tekanan darah. radialis dan femoralis mungkin teramati saat palpasi.  30 .   kebutuhan oksigen.sebagainya.  Memperliha tkan normal dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien. Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memilih periode aktivitas. Jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan mencegah kelemahan.  Perbandingan dari tekanan darah memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan vaskuler.

 Adanya pucat.     Kolaborasi dengan dokter Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress. Amati warna kulit. kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminka n dekompensasi /penurunan curah jantung. batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. kurangi aktivitas atau keributan ligkungan. dingin. Membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis. perkembanga n ICS3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi. adanya krakels. suhu. Anjurkan teknik relaksasi. meningkatkan relaksasi. dan masa pengisian kapiler. 31 .  Berikan lingkungan yang nyaman. atrium. kelembaban. panduan imajinasi dan distraksi. tenang. mengidapat mengindikasi kan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik.

BAB III 32 .sehing ga akan menurunkan tekanan darah.  membuat efek tenang.dalam pembrian terapi anti hipertensi dan diuretik. Menurunkan tekanan darah.

ginjal. Pemakaian berbagai obat tersebut bisa disesuaikan dengan penyakit komorbid yang menyertai keadaan hipertensi tersebut. Dan saat ini berbagai pilihan obat-obat anti hipertensi telah beredar di pasaran. Selain diagnosis yang sangat teliti. Meningkatnya tekanan darah sudah terbukti meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada usia lanjut. seperti kejadian penyakit kardiovaskuler. Penatalaksanaan hipertensi pada lansia tidak berbeda dengan penatalaksanaan hipertensi pada umumnya. Salah satu karakteristik hipertensi pada usia lanjut adalah terdapatnya berbagai penyakit penyerta (komorbid) dan komplikasi organ target. DAFTAR PUSTAKA 33 . gangguan pada sistem saraf pusat dan mata.1 Kesimpulan Dengan meningkatnya populasi lanjut usia di Indonesia. Dengan menurunkan tekanan darah sampai target 140/90 mmHg dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.PENUTUP 3. yaitu merubah pola hidup dan pengobatan anti hipertensi. kejadian hipertensi pada populasi ini meningkat pula. tatalaksana hipertensi pada usia lanjut harus juga memperhatikan kedua hal tersebut di atas.

2007.usu. 3. Jakarta : EGC. (2004). Terapi Hipertensi.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ve d=0CB8QFjAA&url=http%3A%2F%2Frepository. Buku Ajar GERIATRI (ilmu kesehatan usia lanjut) edisi 3. Ganiswarna S. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Penatalaksanaan Hipertensi pada Usia Lanjut. Martono. Jakarta : EGC. Geratosima. H. 2010. Salma 2004. 5. USA.. Keperawatan Gerontik . Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Nugroho. JNC VII Report 18th Annual Scientific Meeting and Exposotion of American Society of Hypertension. Stocklager.pdf&ei=FxSCUPTKEuciAeXsI DwAQ&usg=AFQjCNEirKwyg_Z55lpLGGwhFxTq-efDKA 34 . Chobanian A . 8.1. 2008. Asuhan Keperawatan Geriatric Edisi 2. http://www. et al. 7. 9. 2000 . Robert E. 1995. 6. 2003.co. Wahjudi. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi Ke-3.google.id%2Fbitstream%2F1 23456789%2F19074%2F5%2FChapter%2520I. Bandung : Mizan Pustaka. New York.ac. Jaime L. Mickey. Farmakologi & Terapi Edisi 4. Jakarta : EGC. 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Stanley. Kowalski. 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful