MENEMUKAN MASALAH-MASALAH PETANI UNTUK DICARIKAN SOLUSINYA SEBAGAI UPAYA MENOLONG MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MEREKA

Oleh: I Gede Setiawan Adi Putra1), Nurahimah Mohd Yusoff2, dan Amri Jahi3

PENDAHULUAN Latar Belakang Setiap mahluk hidup di dunia ini membutuhkan pangan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Ketahanan pangan bukan hanya masalah “cukup makan”. Lebih jauh dari itu, pemenuhan hak atas pangan dapat dipandang sebagai salah satu pilar utama hak azasi manusia. Dalam PP No 68 tahun 2002, tentang Ketahanan Pangan, dinyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting dalam rangka pembangunan nasional untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera melalui perwujudan ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam serta tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia dan terjangkau oleh daya beli masyarakat (Tempo Interaktif 2004:1). Hal ini menjadi renungan kita bersama bahwa bagaimana mungkin bisa mencapai prestasi jikalau kebutuhan pangan saja belum terpenuhi? Petani, sebagai insan yang berperan menghasilkan bahan pangan kondisinya sangat memperihatikan. Petani menghadapi banyak permasalahan dalam perannya menghasilkan bahan pangan. Permasalahan petani dan pertanian di Indonesia begitu kompleks baik secara makro maupun mikro. Secara makro masalah utama pertanian di Indonesia adalah (1) Marginalisasi pertanian, cirinya adalah pertanian kurang memberikan harapan, masih banyak petani yang berorientasi

1

Mahasiswa Program Doktor Istitut Pertanian Bogor , Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Pembimbing Program Sandwich di Universitas Utara Malaysia, Pimpinan Pusat Pengajaran Pembelajaran University (UTLC) Universiti Utara Malaysia. Ketua Komisi Pembimbing Disertasi, Dosen Institut Pertanian Bogor.

2

3

1

disisi lain petani hanya memanen 0. Pada tingkat petani masalah petani juga semakin banyak. pekerja pembangunan atau profesional lainnya. apa yang menimbulkan kebingungan. kurangnya motivasi. Dengan kata lain. solusi-solusi tersebut haruslah dapat diterima oleh berbagai pihak yang terkait. kurangnya dukungan atas modal dan sarana produksi usahatani. tidak memiliki kemampuan pengelolaan usaha tani. Pikirkan dulu. Selain itu. Dalam keadaan itu. ketidak pastian dan kesulitan yang merusak equilibrium kita tadi itu. hilang keseimbangan dan tidak berdaya. dan (2) Exchange farmer. ketrampilan dan kreativitas pihak-pihak yang terlibat. yang menghadirkan ketidakpastian. kebanyakan generasi muda enggan menjadi petani. definisikan dulu.02 ha (super gurem) sehingga pertanian penyumbang kemiskinan terbesar di Indonesia . rumuskan dulu “apa masalah yang kita hadapi!” 2 . tepatkah tindakan coba-coba (trial and error). dan menimbulkan kesulitan. yang biasanya langsung kita lakukan? Dewey (dalam Amri Jahi). jarang mendapatkan bimbingan dan conseling berupa penyuluhan dan tidak adanya wahana/tempat petani untuk belajar untuk meningkatkan kemapuan yang dibutuhkannya. kita sering menghadapi situasi yang dihadapi petani yang membingungkan. kurangnya dukungan kebijakan pemerintah. Rumusan Masalah Sebagai change agent. pakar “berpikir reflektif. rendahnya tingkat keterampilan. Menemukan atau merancang berbagai solusi alternatif untuk memecahkan masalah di atas memerlukan kemampuan. wajar bila kita ingin segera keluar dari situasi yang sulit itu. Namun demikian. apa lagi yang sifatnya masih coba-coba. Mereka harus bisa mengatasi kompleksitas permasalahan yang dihadapi dan merancang solusi-solusi alternatif yang berkualitas dan dapat memecahkan masalah itu.pada off farm.” yang menemukan proses pemecahan masalah ini pada 1910. mayoritas umur petani saat ini 70 tahun dan yang berumur dibawah 30 tahun jumlahnya sedikit. Kita ingin kembali berdaya seperti semula. Situasi itu membuat kita limbung. Masalah tersebut diantaranya: rendahnya pengetahuan/wawasan. menyarankan: agar kita menunda dulu tindakan itu. Kita ingin segera memulihkan kembali equilibrium atau keseimbangan mental yang sempat terganggu itu.

Bagaimanakah cara menolong mereka agar bisa menolong dirinya keluar dari masalah yang dihadapinya? Tujuan Dalam perencanaan program. Kesenjangan antara situasi saat ini. Di masa yang akan datang. maka secara spesifik tujuan penulisan literature studi ini adalah: 1. Berdasarkan uraian singkat di atas. Selain itu penulisan ini bertujuan untuk merancang solusi terbaik yang dapat dipilih itu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Apa masalah-masalah yang dihadapi petani dan level terjadinya masalah tersebut?. dan diinginkan. dan 2. 3 .Sebagai perbandingan. dan 2. Di negara berkembang belum ada organisasi yang dengan efektif memperjuangkan hak-hak petani. kebingungan dan ketidak pastian dapat dihilangkan dan pada akhirnya equilibrium atau keseimbangan pertanian di negeri ini pulih kembali. masalah sering dinyatakan sebagai kesenjangan diantara dua situasi. Sehingga harapan penulis adalah masalah-masalah yang dihadapi petani terpecahkan sehingga kesulitan. Menemukan alternative-alternatif pemecahan masalah petani terutama yang berhubungan dengan bagaimana menolong mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Menghilangkan atau mengurangi besarnya kesenjangan inilah yang kemudian menjadi tujuan penulisan ini yang hendak dicapai. Berdasarkan uraian di atas maka dirumuskan masalah penulisan dalam literature studi ini sebagai berikut: 1. di negara maju petani dengan berbagai cara membuat wadah untuk memenuhi kepentingan bersama. Organisasi demikian memegang peranan penting dalam pembangunan pertanian di negara industri maju. dan situasi baru. yang tidak lagi memuaskan. yang lebih baik. Mengidendifikasi masalah-masalah yang dihadapi petani melalui kajian literature. para penyuluh memegang peranan penting untuk membantu para petani menumbuhkan wadah-wadah untuk petani kembali belajar tentang berbagai hal yang berhubungan dengan usahataninya.

kelemahan. (c) Terbatasnya akses terhadap dukungan layanan pembiayaan. atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan mereka. Pengetahuan Sebagian petani tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan mereka. (e) Infrastruktur produksi (air. petani sebenarnya memiliki pengetahuan berupa kearifan lokal yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.LITERATURE REVIEW Keadaan Petani yang Menghambat Pembangunan Pertanian Kesejahteraan petani yang relatif rendah dan menurun saat ini akan sangat menentukan prospek ketahanan pangan. memikirkan pemecahannya. Selama penyuluh belum mampu memberikan informasi yang dibutuhkan petani tersebut. Kesejahteraan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor dan keterbatasan. Agen penyuluh dapat memberikan bantuan berupa pemberian informasi yang memadai yang bersifat teknis mengenai masalah yang dibutuhkan petani dan menunjukkan cara penanggulanganya. Di sisi lain. listrik. diantaranya yang utama menurut (Bayu Krisnamurthi 2008:1) adalah (a) Sebagian petani miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali tenaga kerjanya (they are poor becouse they are poor). Tugas agen penyuluh adalah meniadakan hambatan tersebut dengan cara menyediakan informasi dan memberikan pandangan mengenai masalah yang dihadapi. atau ketidak-tahuan petani sendiri. maka kegiatan penyuluhan tidak akan berjalan dengan baik (Sabetghadam 2003:1) Motivasi 4 . (d) Tidak adanya atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih baik. jalan. dan (g) Ketidak-mampuan. (b) Luas lahan petani sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi. telekomunikasi) yang tidak memadai (f) Struktur pasar yang tidak adil dan eksploitatif akibat posisi rebut-tawar (bargaining position) yang sangat lemah.

artinya bagaimana membuat orang untuk berusaha. Seharunsya kegiatan pelayanan dilakukan oleh lembaga service.Motivasi berasal dari kata motive dan action. Sebagian besar petani kurang memiliki motivasi untuk mengubah perilaku karena perubahan yang diharapkan berbenturan dengan motivasi yang lain. bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya dan mementingkan aspek-aspek kehidupan bersama (Soedijanto 2005:91). Kegiatan penyuluhan di Indonesia biasanya berada di bawah Departemen Pertanian seringkali diberikan tanggung jawab untuk mengawasi kredit dan mendistribusikan sarana produksi seperti pupuk. Apabila ketiga lembaga ini dapat berfungsi dengan baik maka kegiatan pembangunan pertanian juga akan berjalan dengan baik. saling menghargai satu sama lain. kegiatan pengaturan dilakukan oleh lembaga regulation dan kegiatan penyuluhan hanya dilakukan oleh lembaga penyuluhan. Atau sifat pertanian yang subsisten kurang diarahkan untuk berorientasi pada pasar. Masalahnya sekarang adalah organisasi yang menyediakan sumber daya tersebut tidak terlibat melainkan dilakukan oleh penyuluh. SDM petani harus menyadari bahwa setiap anggota masyarakat akan memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi. lebih mengedepankan prestasi ketimbang prestige. Sumber daya Beberapa organisasi penyuluhan bertanggung jawab untuk meniadakan hambatan yang disebabkan oleh kekurangan sumber daya. Kadang-kadang penyuluhan dapat mengatasi hal demikian dengan membantu petani mempertimbangkan kembali motivasi mereka. dan peranan penyuluhan sangat diperlukan pada keadaan seperti ini. Petani Adalah Orang yang Terpinggirkan (Marginal) 5 . Selama petani belum dimotivasi. Masalah ini hampir sama dengan hambatan pengetahuan. Petani kurang dimotivasi berusaha untuk merubah cara-cara tradisional kearah modernisasi. saling mengakui hak dan kewajiban. Tugas penyuluh adalah memberikan pandangan supaya wawasan petani menjadi lebih luas. Wawasan Sebagian petani kurang memiliki wawasan untuk memperoleh sumber daya yang diperlukan. maka akan menjadi masalah (Heryanti Suryantini 2003:36).

Adanya fenomena alih fungsi lahan sawah ke non-pertanian dan musnahnya beberapa sistem subak di suatu daerah di Bali merupakan bagian sekaligus dampak dari modernisasi. Penyuluh pertanian akan dapat berjalan seperti yang diharapkan apabila terdapat iklim kerja yang egaliter (Soedijanto 2005:92) Alih Fungsi Lahan Pertanian Laju penyusutan lahan pertanian di Indonesia kian cepat. Penyebabnya adalah fragmentasi lahan atau penyusutan kepemilikan lahan pertanian sebagai dampak sistem bagi waris dan alih fungsi lahan. Asosiasi petani tebu Jawa timur.8 juta ton. dengan kepemilikan lahan rata-rata 0.Kekuasaan petani untuk mengeluarkan pendapat belum diperhatikan. dalam waktu 21 6 . penyuluh juga harus membentuk asosiasi penyuluh sehingga kuat untuk mempejuangkan nasib petani. Selain petani. Petani adalah orang yang memiliki status sosial yang rendah. Fenomena lain adalah mulai berkembangnya sistem pertanian beririgasi berkelanjutan berbasis sistem irigasi pompa air tanah. Dengan kata lain. Petani lemah inilah yang harus diberdayakan untuk membentuk suatu asosiasi petani. perlu pertimbangan bahwa apabila pertanian masih diyakini sebagai salah satu leading sector dalam perekonomian Bali dan sistem subak masih dipercaya sebagai model kelembagaannya. Menghadapi kedua fenomena yang bersifat substitusi tersebut. Contoh: Asosiasi petani tebu jawa tengah. Badan Ketahanan Pangan Deptan memperkirakan. maka selayaknya eksistensi subak dilestarikan dan bahkan diperkuat secara proporsional guna mendukung pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan (Budiasa 2005:147) Dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. dan lain-lain sehingga petani tebu tersebut menjadi kuat. Penduduk sebanyak itu mengonsumsi beras 39. Ini tercermin dari peningkatan jumlah rumah tangga petani kecil alias gurem. lahan merupakan sumber daya pokok dalam usaha tani karena usaha yang dikembangkan bersifat land base agricultural. jumlah penduduk Indonesia tahun 2030 sebanyak 286 juta orang. Bali sebagai daerah pariwisata paling menjadi contoh nyata dalam penyusutan lahan pertanian. Tanpa berkelompok petani dan penyuluh tidak ada artinya. perekonomian yang lemah dan penguasaan tanah yang sangat sempit. Sempitnya lahan pertanian ini dihadapkan pada peningkatan kebutuhan pangan.34 hektar (Hermas 2008:1).

hotel. Penelitian perlu dilakukan agar lebih jelas seberapa jauh tingkat pencemaran yang terjadi dan dari mana menanggung pembiayaan pencemaran tersebut.13 yang berarti sudah tergolong “sangat kritis” (Sugandhi dalam Sutawan 2005:7). 7 . Di beberapa tempat telah muncul keluhan-keluahan dari masyarakat petani tentang adanya pencemaran air sungai dan air saluran irigasi akibat limbah dari industri garmen.63 juta ha (Hermas 2008:1). Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat dan perkembangan jumlah hotel dan restoran akibat pesatnya laju pembangunan sektor pariwisata. sumber ancaman lainnya bagi eksistensi subak adalah pesatnya alih fungsi lahan sawah beririgasi ke arah penggunaan lain di luar pertanian. Selain itu. Selain itu. sablon. banjir dan tanah longsonr sering terjadi karena kerusakan daerah hulu sungai (catchment area) akibat semakin menipisnya hutan serta pembangunan rumah dan vila di lereng-lereng bukit (Sutawan 2005:7). Sutawan (2005:6) menyatakan di Bali telah terjadi penciutan lahan sawah akibat alih fungsi. Kelestarian atau ketangguhan subak nampaknya mulai terancam akibat pesatnya perkembangan pariwisata Bali yang telah banyak membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali. Padahal. oleh Pemda Tabanan untuk kebutuhan air minum sekitar tahun 1990-an adalah contoh dari akibat persaingan pemanfaatan air. terutama antara sektor pertanian dan sektor nonpertanian. Indonesia memerlukan tambahan produksi beras sekitar 5 juta ton atau perlu tambahan lahan padi 3. dan restoran. telah terjadi pencemaran air sungai dan air pada saluran irigasi. menuntut terpenuhinya akan air yang terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Pemerhati lingkungan merasa cemas dan menyarankan pihak hotel untuk melakukan program penanggulangan limbah. Kasus petani-petani di Penebel Tabanan yang memprotes keras pengambilan air di Yeh Gembrong. sebab rumah tangga juga sangat perpotensi dalam menghasilkan limbah. Selain kurang berminatnya para pemuda pedesaan Bali untuk bekerja sebagai petani. Karena air semakin langka maka ini berimplikasi pada semakin tajamnya persaingan yang bisa menjurus ke arah konflik kepentingan dalam pemanfaatan air antara berbagai pengguna. indeks penggunaan air (IPA) yaitu rasio persediaan air terhadap penggunaannya di Bali tahun 2000 sudah diperkirakan mencapai 1.tahun lagi.

informasi atau materi penyuluhan kalau dirasakannya berguna untuk kegiatan usaha pertaniannya. pantai sekitar persawahan. Pada dasarnya. Mungkin saja Iptek baru itu tidak/belum dirasakan dibutuhkan masyarakat dan mungkin pula Iptek tersebut benar-benar telah dibutuhkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Teknologi Pertanian Tenologi yang tepatguna adalah teknologi yang bermakna bagi masyarakat penggunanya. secara teknis dapat dikerjakan dan dimanfaatkan. Teknologi pertanian yang ada saat ini tidak selalu sesuai dengan yang dibutuhkan petani. terjangkau oleh kemampuannya. petani akan mencari teknologi. harus didasarkan leh hasil percobaan/penelitian verifikasi di lokasi yang bersangkutan (Tjitropranoto 2005:96).Selanjutnya Sutawan (2005:8) menyatakan bahwa pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan oleh petani-petani di Bali juga telah terjadi di subak. Unsur-unsur kimia yang berlebihan selain bisa merusak tanaman. Dalam kaitan itu. Revolusi hijau dengan demikian dapat dianggap kurang mendukung keberlanjutan pertanian karena tidak ramah lingkungan. Jadi Iptek yang bermakna adalah yang secara ekonomis menguntungkan dan dapat meningkatkan kesejahteraann. Materi penyuluhan yang dibutuhkan petani harus didasarkan pada 8 . informasi ataupun materi penyuluhan pertanian yang dibutuhkan petani adalah yang benar-benar diyakini petani akan menguntungkannya. Adanya berbagai dampak negatif dari Revolusi hijau telah mendorong ahli-ahli pertanian mengembangkan caracara baru yang lebih menjamin kelestarian lingkungan seperti penggunaan pupuk organik atau setidak-tidaknya mengurangi dosis penggunaan pupuk anorganik dan obat-obatan kimia (low external inputs sustainable agriculture). untuk menetapkan anjuran teknologi untuk suatu lokasi. tetapi didominasi oleh upaya program/proyek untuk pencapaian target produksi yang telah ditetapkan. Hal ini tergantung pada “keadaan” masyarakat sasaran (Asngari 2008:11). dan memiliki pasar yang dekat dengan usaha pertaniannya. Usahatani sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim. curah hujan. Oleh karena itu. juga hanyut ke sungai dan mengalir ke laut. teknologi usahatani yang sesuai untuk suatu lokasi belum tentu sesuai untuk lokasi lainnya. Teknologi. dan ketersediaan air irigasi dan sifat-sifat tanah. dan secara sosial-psikologus dapat diterima serta sejalan dengan kebijakan pemerintah.

keempatan. bukan karena perhitungan yangsecara ilmiah akan menguntungkan (Tjitropranoto 2005:101). Sumardjo (2005:162) menyatakan bahwa kajian Iptek yang disponsori oleh pemerintah di masa lalu yang cenderung sentralistis. maka mereka akan kembali ke teknologi semula (Tjitropranoto 2005:101). lebih kearah teknologi sederhana. Dalam hal ini tentu saja masih diperlukan energi untuk mengatasi kelemahan tersebut. dan kemampuan petani untuk menrapkan/memanfaatkannya. namun nampaknya lembaga ini kurang didukung oleh tanga ahli baik dalam jumlah maupun kualitas. cenderung bias padi dan kurang kondusif dengan perkembangan inovasi yang spesifik lokal. baik dengan modal uang tunai maupun kredit. Penyuluhan Pertanian Istilah penyuluhan pertama kali digagas oleh James Stuart dari Trinity College (Canbridge) pada tahun 1967-68. maupun pendanaan yang memadai untuk menjangkau wilayah kerjany. Asngari (2008:11) menyebutkan bahwa pemanfaatan Iptek tergantung pada klien dan juga tergantung pada para penyuluh. sehingga kemudian Stuart dikenal sebagai Bapak Penyuluhan. menyebabkan adanya kecenderungan teknologi yang dikehendaki petani adalah teknologi yang tidak memerlukan modal besar. misalnya pemberian saranann produksi oleh proyek. 9 . Teknologi pertanian yang memerlukan sarana produksi yang mahal akan diterapkan oleh pertani selama ada bantuan untuk menerapkannya. walaupun produktivitasnya tidak begitu besar tetapi terjangkau oleh petani. baik berupa komitmen pemerintah terhadap pengembangan SDM maupun terhadap pengembangan Iptek dan kelembagaan petani. kemauan. Tentu akan lebih cepat prosesnya bilamana kedua belah pihak tersebut saling aktif dan dinamis mencari sampai menemukan teknologi tepat guna pertanian (TTP). Meningkatnya harga sarana produksi terutama benih. pakan ternak dan ikan.. Meskipun kebijakan pengembangan Balai Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP/LPTP) dinilai lebih kondusif bagi pengembangan inovasi yang berbasis pada Iptek unggul spesifik lokal beragam komoditi yang sesuai dengan kebutuhan petani. Hal seperti ini kurang efektif menjawab tantangan kebutuhan inovasi bagi upaya peningkatan pendapatan petani. pupuk. tetapi begitu proyek meninggalkan petani. pestisida.

Secara sistematis pengertian penyuluhan tersebut adalah proses yang. Menurut Margono Slamet (2005:15-17). agar tidak lagi berada dalam kegelapan mengenai suatu masalah tertentuVan Den Ban. A.S Hawkins (1999. (2) beratung (Bahasa Inggris dan Jerman) yang mengandung makna sebagai seorang pakar memberikan petunjuk kepada seseorang tetapi seseorang tersebut yang berhak untuk menentukan pilihannya. A. (4) membantu petani memperoleh pengetahuan yang khusus berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi serta akibat yang ditimbulkannya sehingga mereka mempunyai berbagai alternatif tindakan. dan bukan program untuk mencapai tujuan yang tak merupakan kepentingan pokok kelompok sasaran. (3) Meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah. 23-25) Secara harfiah penyuluhan berasal dari kata suluh yang berarti obor ataupun alat untuk menerangi keadaan yang gelap. dan H. Tetapi adalah program pendidikan luar sekolah yang 10 . (3) fordering (Bahasa Austria) yang diartikan sebagai menggiring seseorang ke arah yang diinginkan Van Den Ban. dan H. (7) membantu petani untuk mengevaluasi dan meningkatkan keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan mengambil keputusan. bukan program charity yang bersifat darurat. 25) mengartikan penyuluhan sebagai keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. (1) membantu petani menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan. serta membantu menyusun kerangka berdasarkan pengetahuan yang dimikili petani. (5) membantu petani memutuskan pilihan yang tepat yang menurut pendapat mereka sudah optimal.W. Dari asal perkataan tersebut dapat diartikan bahwa penyuluhan dimaksudkan untuk memberi penerangan ataupun penjelasan kepada mereka yang disukai. (3) erzeiehung (mirip artinya dengan pendidikan di Amerika Serikat) yang menekankan tujuan penyuluhan untuk mengajar seseorang sehingga dapat memecahkan sendiri masalahnya.W.Berbagai istilah digunakan pada berbagai negara menggambarkan proses-proses belajar penyuluhan (extention). pengertian penyuluhan bukanlah sekedar penerapan tentang kebijakan penguasa. (2) membantu petani menyadarkan terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari analisis tersebut. seperti’ (1) voorichting (Bahasa Belanda) yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. (6) meningkatkan motivasi petani untuk dapat menerapkan pilihannya.S Hawkins (1999. bukan hanya diseminasi teknologi.

(9) Penyuluh kurang membuat wadah untuk membantu petani. (8) Penyuluh lebih banyak mengubah cara bertani dibandingkan dengan mengubah petani. (2) Kegiatan penyuluhan kurang terorganisasi. meningkatkan kesejahteraaan sasaran secara mandiri dan membangun masyarakat madani. Diantaranya adalah: (1) Penyuluh melupakan tugas utama.bertujuan memberdayakan sasaran. keterampilan dan sikap agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya guna mencapai kehidupan yang lebih baik. sistem yang berfungsi secara berkelanjutlan dan tidak bersifat adhoc. 11 . Belum selesai BIPP dibentuk sudah digulirkannya UU No. Tetapi masalah penyuluhan sekarang adalah kegiatan penyuluhan lebih banyak pada proses pelayanan bukan mendidik petani agar mampu mengambil keputusan sendiri (Soedijanto 2001:2). Kurangnya pengorganisasian kegiatan penyuluhan menyebabkan kurangnya keberhasilan penyuluhan pertanian (Soedijanto 2001:2). (8) penyuluh kurang membantu petani mencapai tujuan. Pada jaman BIMAS dikeluarkan SK Mendagri-Mentan tahun 1985 tentang pembentukan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) sehingga penyuluh pertanian berada di BPP. (6) Perbedaan nilai yang dianut petani dan penyuluh. (4) Kelembagaan penyuluhan belum tertata dengan baik. Sehingga secara singkat penyuluhan dapat diartikan sebagai suatu pendidikan yang bersifat non formal yang bertujuan untuk membantu masyarakat/petani merubah perilakunya dalam hal pengetahuan. Tahun 1996 dikeluarkan SK Mendagri-Mentan tentang pembentukan BIPP (Balai Informasi Penyuluhan Pertanian). Pada kenyataannya kegiatan penyuluhan pertanian di Indonesia banyak mengalami masalah di dalam upaya menolong petani menolong dirinya sendiri. dan (11) Penyuluh kurang mengubah keadaan petani. (7) Pengetahuan penyuluh kurang memadai. (10) Penyuluh kurang mendidik petani. Tugas utama penyuluhan adalah membantu petani di dalam pengambilan keputusan dari berbagai alternatif pemecahan masalah. Kemudian tahun 1992 penyuluh berda di dinas-dinas sehingga BPP di bagi-bagi sesuai dengan dinas yang ada. (3) Kegiatan penyuluhan tidak berjalan dengan baik. serta program yang menghasilkan perubahan perilaku dan tindakan sasaran yang menguntungkan sasaran dan masyarakatnya. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. (5) Penyimpangan tujuan organisasi penyuluhan.

Kegiatan penyuluhan tidak efektif apabila kelima masalah diatas tidak diatasi. Upaya pemberdayaan petani miskin melalui pengembangan kelembagaan. A. input. sehingga rancangan kelembagaan akan menjadi lebih tepat (BPPP DEPTAN 2006:2). teknologi. partisipatif • Terpusat • Bekerja dalam wilayah kecil • Bekerja dalam skala nasional • Juga menghasilkan pengetahuan • Semata-mata alih pengetahuan • Tidak diarahkan • Diarahkan Sumber: Van Den Ban. dan H. 12 . Organisasi penyuluhan bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi petani. . Sikap-sikap yang berbeda dari berbagai organisasi penyuluhan Kenyataan Harapan • Bertujuan meningkatkan • Bertujuan memecahkan masalah produktivitas • Holistik • Parsial • Pelayanan terpadu • Semata-mata penyuluhan • Bantuan sendiri berdasarkan organisasi swasta • Agen pemerintah • Tidak terpusat.W. harus didasarkan kepada pemahaman yang utuh terhadap ragam dan sifat modal sosial yang mereka miliki. Tujuan kegiatan yang terjadi sekarang ini sangat jauh dari harapan. A.W.S Hawkins (1999) Nilai-nilai yang dianut petani kemungkinan berbeda dari nilai-nilai agen penyuluhan yang “berbau perkotaan”. intensitas produksi (harga yang layak) dan transportasi desa mencapai keadaan maksimum.Kegiatan penyuluhan akan berjalan dengan baik bila: pasar. Tujuan tersebut dapat dilihat pada Tabe 1. tetapi tidak beralasan jika beranggapan bahwa nilai-nilai agen penyuluhan dan atasannya lebih baik dibandingkan nilai-nilai petani dan keluarganya. Seharusnya penyuluhan lebih mendidik petani agar dapat memecahkan masalahnya sendiri.S Hawkins (1999:35-36). Penyuluh harus memainkan peranan bagaimana petani terlibat dalam kegiatan penyuluhan. Selama ini kegiatan penyuluhan lebih dilaksanakan oleh lembaga penerangan yang bertanggung jawab untuk menjembatani kebijakan pemerintah agar sampai kepada rakyat. Selama penyuluh belum bisa menyamakan nilai-nilai yang dianut ini maka akan timbul masalah. Tabel 1. dan H. Bagaimana membangun pertanian yang baik bila 80 % masalah berada di luar petani. Organisasi penyuluhan yang sekarang ini ingin menyampaikan kebijakan yang sebenarnya dilakukan oleh lembaga penerangan Van Den Ban.

persyaratan tenaga kerja pertanian mereka selama bulan-bulan yang berbeda. sedangkan petani dan keluarganya melengkapi kekurangannya. (5) merancang pendekatan penyuluhan. hubungan dengan petani lain. tetapi tidak tentang “bagaimana” mengatakannya agar petani mampu menjadi manajer yang baik dalam 13 . jumlah modal yang dimiliki. Mereka belajar tentang varietas tanaman. Mereka diajar mengenai “apa yang harus dilakukan” kepada petani. Puspadi (2005:121) menyatakan bahwa penyuluh dituntut memiliki kompetensi sebagai berikut: (1) system social setempat. (13) peta kognitif petani. pupuk. (17) proses pengembangan pertanian. (2) perilaku petani. (3) analisis system. (11) pengembangan kelompok dan organisasi. (12) perilaku pasar. Dewasa ini agen penyuluhan lebih mengarahkan langkahnya pada sistem pertanian yang berkelanjutan dan kurang memperhatikan input pertanian yang tinggi dibandingkan tahun-tahun yang lalu. (10) memahami caa petani belajar. (14) teknologi produksi.Agen penyuluh hanya memiliki setengah dari pengetahuan yang diperlukan untuk mengambil keputusan. tetapi biasanya tidak sebanyak pengetahuan yang dimiliki oleh keluarga petani sendiri. Pengetahuan khas setempat dari petani sangatlah penting untuk mengembangkan pertanian yang berkelanjutan karena cara ini harus disesuaikan dengan situasi setempat yang biasanya petani tahu lebih banyak dibandingkan peneliti atau agen penyuluhan Kebanyakan agen penyuluhan petanian memperoleh pendidikan formal tentang cara-cara mengubah atau memperbaiki cara bertani. (8) ekonomi rumah tangga. Mereka akan mengetahui tujuan-tujuan mereka. (7) mamajemen teknologi. kualitas lahan serta kesempatan-kesempatan menghasilkan uang diluar sektor pertanian. (15) teknologi pasca panen. tetapi di dalam tugasnya diminta untuk “mengubah petani” yang kemudian dapat membuat keputusan untuk mengubah “usaha taninya”. (4) analisis data. (9) mengembangkan teknologi local spesifik. dan (18) berkepribadian sesuai dengan profesinya sebagai penyuluh. Salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low input) Sistem pertanian memiliki kapasitas internal yang besar untuk melakukan regenerasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya internal (Drommond et. Banyak agen penyuluh belum terlatih dalam proses mengubah sikap. al 2008:1). dan sebagainya.m. Agen penyuluhan mungkin memiliki sebagian dari pengetahuan tersebut. makanan ternak. (6) perencanaan usaha pertanian. yaitu dalam hal pendidikan orang dewasa dan komunikasi. (16) usahatani sebagai bisnis. Oleh sebab itu.

Tugas mendidik dan pendidikan penyuluhan merupakan cabang dari pendidikan orang dewasa. efisiensi sistem pengumpulan di mana meningkatnya petani yang memasuki pasar mendorong harga-harga bersaing dan lokasi lebih menyenangkan untuk pelayanan petani pengumpul (Bank Dunia. atau kalaupun ada cenderung belum efektif. Di negara industri maju petani dengan berbagai cara membuat wadah untuk memenuhi kepentingan bersama mereka. Kenaikan hasil merupakan tujuan utama di negara-negara berkembang karena cepatnya pertumbuhan penduduk. (4) membantunya dalam memutusakan tujuan mana yang paling penting. kemungkinan disebabkan oleh adanya koordinasi informal di antara petani-petani yang berdekatan. seperti pemakaian pupuk. Agen penyuluhan sudah merasa puas jika pertanian menjadi lebih efisien.usaha taninya. Agen penyuluhan di banyak negara Eropa lebih merupakan seseorang yang menolong petani untuk memecahkan masalah mereka. dan kurang berminat untuk mengubah petani. Organisasi penyuluhan memegang peranan penting dalam membimbing petani mengorganisasikan diri secara efektif. Di negara berkembang belum ada organisasi demikian. Adanya organisasi pertanian yang efektif sama pentingnya dengan penerapan teknologi di banyak negara. yaitu: (1) Memberi nasihat secara tepat waktu guna menyadarkannya tentang suatu masalah. 14 . Organisasi demikian memegang peranan penting dalam pembangunan pertanian di negara industri maju. disamping adanya anggapan bahwa petani terbelakang dan tradisional. (6) Membantunnya belajar dari pengalaman dan dari pengujicobaan. Walaupun demikian diperlukan dukungan politik untuk dapat berperan tanpa membahayakan jabatan mereka. (3) Memberi informasi mengenai konsekuensi yang dapat diharapkan dari masing-masing alternatif. Petani kecil jarang membentuk kelompok tani formal. (5) Membantunya dalam mengambil keputusan secara sistematis baik secara perorangan maupun berkelompok. Tugas utama penyuluhan di banyak negara berkembang adalah menganjurkan penggunaan teknologi modern. dan (7) Mendorongnya untuk tukar-menukar informasi dengan petani lainnya. (2) Menambahkan kisaran alternatif yang dapat menjadi pilihannya. Perubahan yang demikian merupakan salah satu tujuan penting dari pendidikan penyuluhan. Agen penyuluhan dapat memanfaatkan berbagai cara untuk membantu kliennya untuk mencapai tujuannya. Selama ini kegiatan penyuluhan kurang membantu petani mencapai tujuan. 2001:9).

15 .Petani dapat dididik dengan dua cara yang berbeda: 1) mengajari mereka bagaimana cara memecahkan masalah spesifik. tetapi perlu disadari bahwa seseorang yang diberi pendidikan sepotong-sepotong lebih berbahaya dari orang buta huruf. Hal demikian ternyata tidak selalu benar. atau 2) mengajari mereka proses pemecahan masalah. karena cara bertani yang tidak menguntungkanlah yang membuat mereka tidak menggunakan teknologi tersebut. Petani di negara berkembang juga ingin memperbaiki cara bertani mereka. dan kewajiban agen penyuluhan adalah mendukung dan menciptakan proses demikian melalui belajar yang disebut “belajar mandiri” atau self-directed learning Selama bertahun-tahun konservatisme petani dianggap sebagai penyebab kegagalan adopsi teknologi yang dikembangkan penelitian. Petani wajib diberi pengertian tentang masalah mana yang dapat mereka pecahkan sendiri dan manakah yang tidak (Soedijanto 2005:89). Cara demikianlah yang terbaik. Cara kedua memerlukan banyak waktu dan upaya dari kedua pihak. tetapi untuk jangka panjang menghemat waktu dan menambah kemungkinan dikenalinya gejala hama dan penyakit secara tepat waktu dan segera dapat ditanggulangi.

W.htm. Diedit oleh: I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra. “Agenda Pemberdayaan Petani dalam Rangka Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional”. Internet.. Diperoleh dari: http://siteresources. Makalah presentasi dalam bentuk powerpoint disampaikan dalam Perkuliahan Aksi Sosial pada PS Ilmu Penyuluhan Pembangunan.com/syahyuti/ 2006socialcapital_proposal. Asngari. Diperoleh dari: http://www.or. Pang S. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat. Budiasa.org/edisi19/artikel 3. ”Pemanfaatan dan Penggunaan Teknologi Tepat Guna Bidang Pertanian.” Dalam: Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi. Bayu Krisnamurti. “Pertanian Berkelanjutan” [Article OnLine]. Bogor: IPB Press. Bank Dunia. Stacy Dysart. [Article on-line]. Diakses pada 22 Oktober 2008. Internet. 25 Juli 2006. 11 No. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Diakses pada 22 Oktober 2008.pdf. 2008. 2001. Diakses pada 22 Oktober 2008. Diakses pada 6 Oktober 2008.J.htm. Internet. Jurnal Ekonomi Rakyat Th. I. Drommond T. 2006. dan Andy Olson 2008.worldbank. “Pengembangan Modal Sosial Masyarakat dalam Upaya Membangun Kelembagaan dan Pemberdayaan Petani Miskin” [Article On-Line].geocities. 7 [Jurnal On-Line]. “Produsen Hortikultura dan Pengembangan Pasar Swalayan di Indonesia”. diperoleh dari: www.pd. Institut Pertanian Bogor (file elektronik).org/INTINDONESIA/ Resources/Publication/2800161168483675167/holtikultura_sum_bh. 2005. Internet. 2006.lablink. 2008. ”Subak dan Keberlanjutan Pengelolaan Sistem Pertanian Beririgasi di Bali. “Penyelesaian Masalah dalam Penyuluhan Sosial”. 16 .ekonomirakyat. Diperoleh dari: http://www. Yogyakarta: Penerbit Andi.” Dalam: Pemberdayaan Manusia Pembangunan yang Bermartabat.id/Agro/agr-sust.DAFTAR PUSTAKA Amri Jahi.

“PP RI No. Pustaka Wirausaha Muda. Diperoleh dari: http://www.com/hg/peraturan/2004/03/29/prn. Yogyakarta: Penerbit Andi. 2003. P. Puspadi.kompas. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat.68 Thn 2002 Tentang Ketahanan Pangan” [Article on-line]. Sutawan. No. Bogor: IPB Press. ” Penyuluhan sebagai Pilar Akselerasi Pembangunan Pertanian di Indonesia pada Masa Mendatang”. ”Indigenous knowledge: Implications for the theory and practice of agricultural education and extension” Agricultural Education Journal No. Diakses pada 22 Oktober 2008. ”Kualitas SDM Penyuluhan Pertanian dan Pertanian Masa Depan di Indonesia. September 2000. Proseding Seminar Nasional. “Kebutuhan Inforamsi dan Motivasi Kognitif Penyuluh Pertanian serta Hubungannya dengan Penggunaan Informasi (Kasus di Kabupaten Bogor Jawa Barat)” Jurnal Perpustakaan Pertanian. Internet. 2005. 2005.pangan. Bogor.pustaka-deptan. lahan.” Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Internet. 2001.” Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Sabetghadam. Ketut.pdf. Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Diperoleh dari: http://proquest.” Dalam: Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi. Soedijanto Padmowihardjo. Margono Slamet. Diperoleh dari: http://cetak.K.com. 17 . 2.go.” Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Perlu Upaya Pelestarian dan Pemberdayaan Secara Lebih Serius. Soedijanto Padmowihardjo.Hermas E Prabowo.com/read/xml/2008/10/04/0145356/penyusutan. Tahun 2003.utama. [Jurnal On-Line]. 2004. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat. Diedit oleh: Pambudy R dan Kardi A. 2005. “Penyusutan Lahan Isu Utama Ketahanan Pangan”. Bogor: IPB Press.isu. Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian dalam Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis. Diakses pada 6 Oktober 2008. AAT NQ88041. Diakses pada 6 Oktober 2008. Ahmad.umi. Sumardjo.id.html. N. Tjitropranoto.my/ pqdweb?did=765280381&sid=3& Fmt=2&clientId=28929&RQT=309&VName=PQD. “Pemantapan Posisi dan Meningkatkan Peran Penyuluhan Pembangunan dalam Pembangunan”. Departemen Pertanian. Bogor: IPB Press. ”Kepemimpinan dan Pengembangan Kelembagaan Perdesaan: Kasus Kelembagaan Ketahanan Pangan. 2003.uum. Tempo Interaktif. 2005. 2000. ketahanan.2004032907. ”Subak Menghadapi Tantantan Globalisasi. Bogor: IPB Press. 2005. Dalam: Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani.tempointeraktif. Diakses pada 6 Oktober 2008. ”Penyuluhan Pertanian: Masa Kini dan Masa Depan. 2008. Internet. [Article on-line]. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat.id/publikasi/pp122031. Diedit oleh: I Gde Pitana dan I Gede Setiawan Adi Putra.edu.eserv. [Jurnal On-Line]. Diedit oleh: Ida Yustina dan Adjat Sudrajat. Jakarta. Heryanti Suryantini. Vol 12. Diperoleh dari:http://www.

Jakarta 18 . 1999. penerjemah. Agnes Dwina Herdiastuti. Terjemahan dari Agricultural Extention (Second Edition). Kanisius.Van Den Ban dan Hawkins. Penyuluhan Pertanian.