EVALUASI HASIL BELAJAR FISIKA

(Indrawati, Staf Pengajar P Fisika-PMIPA, FKIP Universitas Jember)

1. Evaluasi, Pengukuran, dan Tes Masih sering kita jumpai bahwa para guru fisika kurang benar dalam menafsirkan istilah evaluasi, pengukuran, dan tes. Ketiganya sering digunakan secara sinonim. Pada kenyataannya, ketiganya mempunyai hubungan dekat, tetapi berbeda dalam proses. Untuk menghindari kesalahtafsiran ketiga istilah tersebut, maka masing-masing istilah perlu didefinisikan. Evaluasi atau penilaian didefinisikan sebagai suatu proses untuk mengambilt keputusan terhadap kriteria yang dipilih sebagai nilai tentang benda-benda atau ide-ide, didasarkan pada data yang relevan (Farmer dan Farrell, 1979). Zainul dan Nasoetion (1996) mendefinisikan peilaian sebagai proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun nontes. Pengukuran diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas (Zainul dan Nasoetion, 1996). Ketika kita mengukur kemampuan siswa kelas I SMU dalam menggunakan jangka sorong, yang kita ukur bukan siswa tetapi atribut atau karakteristik siswa, yaitu: kemampuannya menggunakan jangka sorong. Pengukuran pendidikan adalah salah satu pekerjaan profesional guru, instruktur, dan guru. Sehingga apabila ada guru yang tidak dapat melakukan pengukuran pendikan dapat dikatakan guru yang kurang atau tidak profesional. Tes yang dimaksud di sini didefinisikan sebagai suatu pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait atau atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar (Zainul dan Nasoetion, 1996). Hasil belajar fisika merupakan salah satu contoh atribut pendidikan. Kematangan seseorang adalah salah satu contoh atribut psikologik. Pedoman wawancara dan observasi merupakan contoh-contoh dari instrumen nontes. Tugas 1: Dari definisi evaluasi, pengukuran, dan tes di atas jelaskan hubungan antara ketiganya dan berikan contohnya dalam pembelajaran fisika!

Dari uraian di atas dapat kita pahami bahwa tes atau non-tes merupakan instrumen atau alat untuk mengukur atribut pendidikan. Tes Hasil Belajar (THB) Siswa Kelas I SMU tentang

Besaran, Satuan, dan Angka Penting merupakan contoh alat atau instrumen untuk mengukur kemampuan konsep besaran, satuan, dan angka penting siswa. Di sini kita hanya akan belajar tentang tes, sedangkan instrumen non-tes akan kita pelajari pada bahasan berikutnya. Pembahasan tentang tes meliputi: bagaimana merencanakan tes, mengkonstruksi butir soal, mengolah hasil tes, dan menganalisis soal. 2. Merencanakan Tes Beberapa hal yang perlu dipikirkan dalam merencanakan tes adalah pengambilan sampel dan pemilihan butir soal, tipe tes yang digunakan, aspek yang akan diuji, format butir soal, jumlah butir soal, dan distribusi tingkat kesukaran butir soal. a. Pengambilan sampel dan pemilihan butir soal THB terdiri atas butir-butir soal yang terpilih, yang secara akademik dapat dipertanggungjawabkan sebagai sampel yang representatif dari ilmu atau bidang studi yang diuji dengan perangkat tes tersebut. Pemilihan sampel ini didasarkan pada pertimbangan pentingnya konsep, generalisasi, dalil, atau teori yang diuji dalam hubungannya dengan peranannya terhadap bidang studi tersebut secara keseluruhan. Untuk mendapatkan sampel yang representatif, biasanya bidang studi itu dipilah-pilah menjadi beberapa pokok bahasan dan sub pokok bahasan. Jumlah pokok bahasan atau sub pokok bahasan tidak ada batasan, yang penting adalah tingkat kontribusinya terhadap keluasan pokok dan atau sub pokok bahasan itu. b. Tipe-tipe Tes Menurut Ebel dan Frisbie (1986), tes dibagi menjadi tiga, yakni: obyektif, esai, dan problematika. Selain itu juga dikenal tes lisan dan tes penampilan. Anggapan bahwa tipe soal satu lebih baik dari yang lain adalah tidak benar. Pemilihan tipe tes tergantung pada kemampuan dan waktu yang tersedia pada penyusunan tes, bukan aspek yang akan diukur. c. Aspek kemampuan yang akan diukur/diuji Aspek yang akan diuji ini merupakan kemampuan apa yang ditargetkan dalam rumusan tujuan pembelajaran. Jika menggunakan taksonomi Bloom, kemampuan ini bisa pada ranah kognitif, psikomotor, atau afektif. Setiap kemampuan inipun masih dipilah dalam tingkattingkat. Misalnya untuk ranah kognitif pada tingkat c1, c2, c3, c4, c5, atau c6. Begitupula untuk ranah psikomotor dan afektif. d. Format butir soal Baik tipe soal obyektif maupun esai mengenal berbagai format biasa. Misalnya pada tes obyektif, format A untuk pilihan ganda biasa; format B untuk pilihan ganda nalisis hubungan antar hal, dan lain-lain.Perbedaan antar format tidak terletak pada efektivitasnya mengukur tingkat kemampuan, tetapi pada penerkaannya (peserta tes kurang menguasai materi yang diteskan). e. Jumlah butir soal

jumlah untuk setiap pokok/sub pokok bahasan. dan jumlah untuk setiap tingkat pada setiap ranah. jumlah tiap kategori tingjat kesukaran. Beikut ini diberikan contoh model membuat kisi-kisi untuk tes obyektif dan esai. Para ahli berpendapat bahwa tes yang baik mempunyai tingkat kesukaran di sekitar 0. dan/atau psikomotor) dapat dibuat dalam bentuk kisi-kisi. Pokok/Sub Pokok Bahasan (Materi) Md Sd Sk Md Sd Sk Md Sd Sk Md Sd Sk : : : : : : Fisika I SMA I/2008 Jenjang Kemampuan & Tingkat Kesukaran C1 C2 C3 C4. Ada pertimbangan bahwa butir soal yang tingkat kesukaran rendah sebaiknya diletakkan pada awal tes dan yang tingkat kesukarannya tinggi pada akhir perangkat tes.5. Selain itu juga perlu mempertimbangkan waktu. f. kemampuan yang diuji. Walaupun tidak ada ketentuan tentang jumlah butir soal. dan kekpmpleksitasan yang dituntut dalam tes. maka kisi-kisi ini bisa dikembangkan dengan menambah kolom atau baris untuk Jenjang Kemampuan & Tingkat Kesukaran. Kisi-kisi (tabel spesifikasi) tes memuat pokok/sub pokok bahasan/materi. g. baik untuk tipe tes obyektif maupun esai. yaitu: berapa jumlah keseluruhan.5. tetapi jumlahnya harus direncanakan. KISI-KISI TES ESAI . jumlah setiap format. biaya yang tersedia. Pertimbangan ini dimaksudkan agar siswa termotivasi untuk mengerjakan seluruh butir soal. Kisi-kisi tes Untuk menggambarkan proporsi banyaknya butir soal pada setiap pokok/sub pokok bahasan dan setiap kategori untuk setiap ranah (kognitif. KISI-KISI TES OBYEKTIF Mata Pelajaran Kelas Semester/Tahun Waktu Tipe Tes Jumlah Butir Tes No.Tidak ada ketentuan berapa jumlah butir soal yang harus dibuat dalam suatu perangkat tes. Distribusi tingkat kesukaran Tingkat kesukaran butir soal pertimbangannya ada pada penulis soal.6 ∑ butir soal % ∑ butir soal % Catatan: Jika perangkat tes memuat ranah afektif dan psikomotor. afektif. dan tingkat kesukaran butir soal (menurut petimbangan guru). Jumlah butir soal berkaitan dengan reliabilitas dan representasi isi bidang studi yang diteskan.Tes yang baik adalah tes yang mampu membedakan antara siswa yang belajar dan yang tidak belajar.

(c) THB hendaknya sesuai dengan penggunaan tes itu sendiri (untuk pre dan post-tes.. Tipe dan bentuk tes apapun dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar bila butir soal itu dikonstruk dengan baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. yaitu: (a) THB harus sesuai dengan indikator atau tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Kemampuan guru untuk menyusun butir soal dengan baik tidak hanya dibutuhkan kemampuan yang bersifat pengetahuan dan pemahaman. tetapi perlu keterampilan dan kiat. Untuk mengkonstruk THB harus memahami dasar-dasar penyusunannya. tetapi tergantung pada bagaimana butir soal itu dikonstruk oleh guru dengan baik. Tes semacam ini disebut tes hasil belajar karena berfungsi untuk mengukur keberhasilan belajar siswa atau mahasiswa.Mata Pelajaran Kelas Cawu/Tahun Waktu Tipe Tes Jumlah Butir Tes SK/KD No. Kesukaran Terbatas Bebas ∑ butir soal % Tugas 2: Buatlah kisi-kisi THB dalam bentuk obyektif dan esai suatu Pokok/Sub Pokok Bahasan IPA/Fisika SLTP atau Fisika SMU untuk waktu 10-15 menit! 3. 3. menentukan ketuntasan penguasaan materi. Mengkonstruksi Butir Soal Kualitas suatu butir soal tidak ditentukan oleh tipe atau bentuk tes. dan (e) THB hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki PBM. I/TP/Materi ∑ butir soal % : : : : : : Fisika I SMA I/2008 Tipe soal Jenjang Kemapuan/ Tk.1 Dasar-dasar menyususn THB Ada beberapa dasar yang perlu diperhatikan dalam menyususn THB. dan bagaimana cara menulis butir soal esai dan obyektif tersebut. tes formatif. yaitu: PAP atau PAN.2 Cara Penulisan Butir Soal Esai . 3. atau untuk tes sumatif). (d) THB disesuaikan dengan pendekatan pengukuran yang dianut. (b) THB harus mewakili bahan yang dipelajari. diagnostik. Agar mempunyai kemampuan mengkonstruksi soal pada taraf mahir diperlukan latihan secara terus menerus.

E-32 Gaya termasuk besaran ……. (4) gunakan bahasa yang jelas (tidak mendua arti). misalnya luas bidang tanah yang panjangnya 12 m dan lebarnya 7 m adalah ……… m2. Jawaban peserta tes bersifat terbuka.1 Tes Uraian Bebas Ciri dari tes uraian bebas adalah hampir tidak ada pembatasan terhadap peserta tes dalam memberikan jawabannya. Butir soal melengkapi adalah butir soal yang meminta atau memerintah peserta tes untuk melengkapi suatu kalimat (pernyataan) dengan satu frasa. luwes. jumlah butir jawaban yang diharapkan. misalnya butir soal E-31 dan E-32. Butir soal ini dapat dicontohkan pada butir soal nomor E33 dan 34.2. sebaiknya nyatakan satuan tersebut dalam soal. satu angka. angka. (5) Bila yang ditanyakan menyangkut angka atau jumlah dari satu satuan tertentu. yaitu: E-35 Jelaskan secara singkat dan jelas bagamana cara menentukan ukuran suatu kertas (misalnya A4) yang meliputi pengukuran panjang. isi. yaitu: (1) konstruksilah butir soal yang mengukur hasil belajar yang penting saja. atau satu formula. antara lain ragam tes melengkapi dan ragam tes jawaban singkat. masing-masing adalah: E-31 Dalam fisika ada …… besaran pokok. Ada beberapa petunjuk untuk mengkonstruksi butir soal melengkapi. Butir soal jawaban singkat adalah butir soal berbentuk pertanyaan yang dapat dijawab dengan satu kata. keluasan uraian jawaban. meliputi konteks jawaban yang diinginkan. yaitu: tes uraian bebas (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response). frasa. Tes uraian terbatas ada beberapa ragam. Contoh tes ini dapat kita pada butir soal nomor E-35. arah dan luas jawaban yang diminta. yaitu: . (3) konstruksilah butir soal yang mengharuskan peserta tes memberi jawaban yang secara faktual benar. atau formula. 3. dan tebalnya? 3.2 Tes Uraian Terbatas Ciri tes uraian terbatas adalah jawaban peserta tes dibatasi dengan berbagai rambu-rambu yang ditentukan dalam butir soal.2. lebar. dan jawaban tidak disediakan oleh orang yang mengkonstruk butir soal. Butir soal melengkapi dapat kita lihat pada contoh butir soal nomor E-31 dan 32. Soal tes uraian terbatas ini harus menentukan batas jawaban yang dikehendaki..Butir soal esai atau uraian adalah butir soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tes tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes. Keterbatasan itu mencakup format. (6) setiap butir soal sebaiknya hanya berisi satu jawaban. dan tidak terstruktur. artinya harus dapat dijamin bahwa butir soal hanya dapat dijawab oleh peserta tes yang menguasai degan baik isi pelajaran. Tes tipe ini secara umum dibagi menjadi dua jenis. dan ruang lingkup jawaban. (2) butir soal harus spesifik.

(4) untuk menanyakan definisi atau istilah sebaiknya digunakan kalimat tanya secara lansung. angka. terutama untuk agka desimal. Konsep yang bobotnya lebih penting diberi bobot lebih besar. hasil penilainnya cenderung subyektif. yakni: (1) apakah jawaban yang terbaik untuk satu butir pertanyaan esai. misalnya: Apakah dimesi dari besaran pokok? adalah pertanyaan yang jawabannya bisa lebih dari satu simbol (bisa M. biarkan sebagaimana adanya. yaitu: (1) gunakan kalimat tanya yang menuntut jawaban satu kata.E-33 Apakah dimensi dari kecepatan? E-32 Berapakah orde dari bilangan 2078605 J? Ada beberapa petunjuk untuk mengkonstruk bentuk tes jawaban singkat.2. L. Penentuan skor pada setiap butir tidak tentu sama. Contoh pembuatan pedoman penskoran butir soal esai untuk butir-butir soal nomor E-31 sampai dengan E-35 dapat dilihat sebagai berikut: Butir soal E-31 sampai dengan E-35 (lihat Lampiran) Pedoman Penskoran No. (3) apakah ada butir yang leih penting di antara butir-butir jawaban yang diharapkan. Jika setiap konsep memiliki bobot sama maka diberi skor yang sama. Dalam mengkonstruk tes penyusun tes sudah harus menyediakan jawaban tiga pertanyaan tersebut. maksud tes adalah untuk menguji materi pelajaran. atau T). Untuk mengurangi subyektivitas dan meningkatkan obyektivitas dalam penilain tes esai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. tergantung pada bobot konsep pada butir jawaban tersebut. Dimensi besaran kecepatan itu apa? (5) untuk menanyakan masalah hitungan. misalnya soal E-33 akan tidak tepat bila ditulis: Setiap besaran fisika yang bersatuan dapat dinyatakan dengan dimensi. harus ditentukan tingkat ketepatannya. Dengan kata lain penyusun tes ketika mengembangkan butir tes sekaligus juga harus menyusun jawabannya yang berpedoman pada tiga buah pertanyaan di atas.3 Pedoman Penskoran Butir Soal Esai Butir soal esai atau uraian memeriksanya tidak mudah dan lama karena jawabannya bervariasi. (6) sebaiknya hanya satu jawaban untuk satu pertanyaan. Jawaban yang ditulis tidak perlu dinarasikan tetapi cukup dengan mencantumkan butir-butir penting yang harus termuat pada jawaban peserta tes. (2) hindari kalimat yang langsung diambil dari buku atau catatan. frasa. atau simbol. (3) pertanyaan jangan sampai menjadi tes bahasa. (2) butir apa saja yang harus terdapat dalam jawaban pertanyaan esai. Soal E-31 E-32 E-33 E-34 Aspek/Kata Kunci 7 (tujuh) Turunan [LT-1] 10-6 Skor 1 1 2 2 . 3. Skor maksimum tidak perlu dikonverskan pada skor 10 atau 100.

. Dalam tes 100 pertanyaan benar-salah.1 Penulisan Tes Benar-Salah Jika ujian dibatasi pada pertanyaan-pertanyaan benar-salah. Massa diukur dengan neraca. siswa harus dapat menjawab sekitar 50 pertanyaan tepat dengan menebak. Hal ini juga tidak dapat diinginkan karena siswa dihukum untuk menebak. “panjang bidang . Hasil pegukuran panjang (p) = ……. Jadi jawaban telah disediakan atau dipasok oleh pembuat soal. Secara umum tes obyektif dibedakan menjadi tiga tipe. Di antara pilihan itu ada satu pilihan yang benar disebut kunci (key) dan pilihan lainnya disebut pengecoh (distractors). Jangan menggunakan bahasa yang sama seperti dalam teks atau siswa cenderung untuk mengingat.. Semua bentuk tes pilihan ganda tersebut mempunyai struktur (format) yang sama. tebakan-tebakan yang baik. maka pemeriksaan tidak harus dilakukan oleh manusia. kompleks. sehingga siswa yang mengetahui sedikit tentang bahan tidak dapat memperoleh skor tinggi dengan sederhana dengan berasumsi bahwa lebih banyak pertanyaan adalah benar (atau salah). yaitu.E-35 Panjang dan lebar diukur dengan mistar. Misalnya. Hindari menggunakan pernyataan-pernyatan yang dapat menipu siswa. tetapi bisa dengan mesin. tabel. yaitu pilihan ganda biasa. Hindari ketidak-seimbangan tes dengan cukup banyak pertanyaan benar-salah. cm Hasil pengukuran lebar (l) = ………cm Hasil pengukuran massa (m) = ……… gr Jadi ukuran kertas adalah …. menjodohkan (matching).3 Cara Penulisan Butir Soal Obyektif Butir soal obyektif adalah butir soal yang telah mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Coba membuatnya agak baik rata dalam jumlah. Sehingga pemeriksaan atau penskoran jawaban peserta tes dapat dilakukan secara obyektif oleh pemeriksa. jangan menulis. analisis hubungan antar hal. yakni tipe: benar-salah (truefalse). 3. x …… cm. dan pilihan ganda yang menggunakan diagram. Hindari pernyataan-pernyataan yang mendua-arti. mereka menghukum untuk menebak. Karena sifat obyektif ini. yaitu ada pokok soal (stem) dan sejumlah pilihan (options). Tes pilihan ganda dapat dimodifikasi dalam lima bentuk. grafik. statistik menunjukkan bahwa 75 item atau lebih adalah perlu untuk mengatasi faktor menebak (guessing). ……gram Skor maksimum 6 3 15 3. dalam sains umumnya dan fisika khususnya kita ingin mempunyai siswa membuat hipotesis.3. analisis kasus. atau gambar. Prosedur ini tidak direkomendasi karena siswa biasanya berpikir bahwa instruktur mengunakan teknik ini secara dendam/dengki. Penulisan setiap tipe tes obyektif dapat diuraikan seperti berikut. dan pilihan ganda (multiple choice). Beberapa instruksi mengeliminasi masalah ini dengan mengurangi jumah jawabanjawaban salah dari jumlah jawaban benar untuk menentukan skor.

Prosedur ini menggantikan terlalu banyak ketegangan untuk siswa. Dst. Untuk menulis butir soal menjodohkan ada beberapa syarat. dan (2) jumlah pernyataan di bawah kolom kedua harus lebih banyak dari pernyataan di bawah kolom petama. logam-logam yang lebih baik menghantarkan listrik lebih cepat. Hukum Hooke Dst. Tugas 4: Tulislah 5 butir soal tipe menjodohkan untuk suatu pokok bahasan fisika SLTP atau SMU dan lengkapi pula dengan kunci jawabannya! . Ambil blok/tempat jawaban ada dalam satu margin sehingga mereka dapat diperiksa dengan mudah dengan menggunakan suatu kunci. Tugas 3: Berdasarkan 10 butir soal benar-salah pada contoh THB besaran. Skalar C. Kolom pertama untuk pokok soal (stem) atau premis dan kolom kedua untuk kolom jawaban. [LT-2] B. Besaran yang mempunyai besar dan arah 2. Perbandingan antara gaya tarik atau gaya tekan dan pemanjangan atau pemendekan pegas adalah konstan. Jangan menggunakan bahasa kualitatif jika anda dapat memungkinkan menghindarinya. Hukum II Newton F. apakah semua soal telah memenuhi syarat untuk tipe soal benar-salah yang baik? Berikan penjelasan! 3.2 Konstruksi Tes Menjodohkan Tipe soal menjodohkan ditulis dalam dua kolom. Dimensi percepatan adalah 3. A.3. yaitu: (1) pernyataan di bawah kolom pertama dan kolom kedua harus terdiri atas kelompok yang homogen. dan angka penting. Hindari menggunakan kalimat-kalimat kompleks dalam pernyataan-pernyataan anda. misalnya. 1. Susun pernyataan-pernyataan anda dalam 10 sampai dengan 20 pertanyaan. satuan. Tipe tes ini dapat dicontohkan sebagai berikut: Petunjuk: Pasangkan pernyataan pada kolom pertama dengan pilihan yang cocok pada kolom kedua dengan menulis huruf di muka nomor pernyataan kolom pertama! ……… ……….diukur dengan pengukur panjang”. ……… dst. Jangan menulis. Tugas peserta tes adalah menjodohkan antara kolom pertama dan kolom kedua. Vektor E. [LT2] D.

Alternatif pilihan ini tidak boleh terlalu banyak. (11)Gunakan tiga atau lebih alternatif pilihan. (7) Semua pilihan jawaban harus homogen dan dimungkinkan sebagai jawaban yang benar.3. (6) Hindari penggunaan kata-kata teknis atau ilmiah atau yang aneh atau mentereng. analisis kasus. yaitu: (1) Inti permasalahan harus ditempatkan pada pokok soal (steam). seringkali. (13)Pokok soal sedikit mungkin dalam pernyataan atau pertanyaan negatif. Tes pilihan ganda dapat berupa tes pilihan ganda biasa. atau tabel. (5) Susunan alternatif jawaban dibuat teratur dan sederhana. (10) Hindari menggunakan pilihan yang berbunyi “semua yang di atas benar” atau “tidak satupun yang di atas benar”. yaitu tes pilihan ganda yang setiap butir soal memuat pokok soal dan alternatif jawaban lebih dari dua (3-5 pilihan). Trowbridge dan Bybee (1990) menyebutkan ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam mengkonstruksi tes pilihan-ganda. Pilihan ganda biasa dicontohkan pada contoh soal bagian B (lihat lampiran). grafik. Tes Pilihan Ganda Analisis Hubungan Antarhal Tes pilihan ganda analisis hubungan antarhal terdiri atas dua pernyataan yang kedua nya dihubungkan dengan kata “SEBAB”. (8) Hindari keadaan dimana jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari jawaban yang salah. kompleks. bukan di tengah-tengah kalimat. Untuk tes pilihan ganda yang lain diuraikan berikut ini. dengan menggunakan diagram. maka kata atau kata-kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujung peryataan.3 Konstruksi Tes Pilihan Ganda Butir tes pilihan ganda (majemuk) adalah butir tes yang alternatif jawabannya lebih dari dua.3. Jika terpaksa menggunakan pernyataan negatif maka kata negatif tersebut digaris-bawahi atau ditulis miring atau tebal. dan yang . (9) Hindari adanya petunjuk/indikator pada jawaban yang benar. (3) Hindari rumusan kata yang berlebihan. (4) Jika pokok soal merupakan pernyataan yang belum lengkap. Jadi sifat hubungannya bisa berupa sebab akibat atau tidak ada hubungan sebab akibat. misalnya: kebanyakan. analisis hubungan antarhal. (2) Hindari pengulangan kata-kata yang sama dalam piliham. sebab selain menyulitkan peserta tes untuk menjawab juga kesulitan dalam mengkonstruknya. pada umumnya berkisar antara 4 (empat) atau 5 (lima). kadang-kadang. (12) sejenis. Agar kedua pernyataan termasuk pilihan ganda maka harus Pokok soal diusahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang bermakna tidak tentu. a.

Struktur pertanyaan sama dengan pilihan ganda biasa. Tes Pilihan Ganda Kompleks Tes pilihan ganda kompleks biasa disebut Asosiasi pilihan ganda. Mengadministrasi Tes Kegiatan mengadministrasi tes meliputi penyusunan perangkat tes dan pelaksanaan tes. atau grafik. Butir tes disusun mulai dari pokok bahasan yag dibahas paling awal ke yang dibahas paling akhir. mungkin bisa A jika 1 dan 2 benar . Variabel tersebut adalah kualitas pernyataan yaitu apakah pernyataan pertama benar atau salah dan sebaliknya. yaitu proses penyuntingan naskah tes dan penggandaan tes. Diagram.. 4. Butir soal disusun mulai dari yang termudah ke yang paling sulit. atau tabel mirip dengan analisis kasus baik struktur maupun pola pertanyaannya. Kedua kegiatan tersebut dapat kita lakukan seperti berikut.1 Penyusunan Tes Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun tes. Setiap pertanyaan dibuat dalam bentuk melengkapi pilihan. atau D: jika semuanya benar. Hubungan antar duapernyataan tersebut dapat dikembangkan lagi seperti yang dicontohkan pada contoh soal bagian C (lihat lampiran). surat kabar. peserta tes disajikan kasus dalam bentuk cerita. gambar. Tes Pilihan Ganda Analisis Kasus Pada tes pilihan ganda analisis kasus. yaitu: A jika penyataan benar dan alasan benar. c. tabel. perbedaannya adalah. B: 1 dan 3 benar. d.dicari variabel lain yang dapat mengukur kemampuan siswa. b. dan seterusnya. grafik. sedangkan untuk pilihan ganda kompleks jawabannya bisa lebih dari satu. c. Perbedaannya pada tes ini tidak disajikan kasus dalam bentuk ceritera atau peristiwa tetapi kasus tersebut berupa diagram. dan media yang lain. dan sejenisnya dan disertai dengan beberapa pertanyaan. atau Tabel Tes pilihan ganda dengan diagram. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyuntingan tes. tabel. keduanya merupakan hubungan sebab akibat. b. 4. Tugas 5: Tulislah masing-masing dua butir soal fisika SLTP atau SMU untuk soal pilihan ganda analisis kasus dan pilihan ganda dengan menggunakan gambar. Grafik. . Kasus tersebut bisa diambil dari jurnal. gambar. atau grafik. kalau pada pilihan ganda biasa hanya ada satu jawaban yang benar atau paling benar. majalah. B jika pernyataan benar dan alasan benar. Tes Pilihan Ganda dengan Gambar. yaitu: a. keduanya tidak ada hubungan sebab akibat. C: 2 dan 3 benar. peristiwa. Tes bentuk obyektif sebaiknya tidak dilaksanakan secara lisan.

Setelah naskah disunting. Prosedur penggandaan harus dapat menjamin kerahasiaan naskah tes. sebaiknya lembaran tes dan lembaran jawaban dipisah. d. Hindari meletakkan kunci jawaban dalam suatu pola tertentu. i.1 Pengolahan Hasil Tes Pengolahan hasil tes adalah kegiatan memeriksa hasil ujian dan mencocokkan jawaban peserta tes dengan kunci jawaban. langkah selanjutnya adalah digandakan (termasuk pengetikan). Cara pelaksanaan tersebut antara lain meliputi: tes catatan terbuka (open books) atau catatan tertutup (close books.2 Pelaksanaan Tes Dalam a. pengadministrasian tes juga harus mempertimbangkan cara-cara pelaksanaannya. Setelah hasil tes diperiksa berikutnya adalah memberikan skor. 5. artinya mereka yang menerka akan didenda. Pengolahan dan Penilaian Hasil Tes Setelah pelaksanaan tes kegitan berikutnya adalah mengolah hasil tes tersebut dan melakukan penilaian. g. dan Setiap pelaksanaan tes tersebut ada kelebihan dan kekurangannya. Jika peserta tes tidak diperkenankan menerka jawaban. Setiap butir tes hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan peserta tes untuk membacanya. f. Tugas 6: Jelaskan kelebihan dan kekurangan setiap pelaksanaan tes di atas! b. maka pada petunjuk umum mengerjakan soal harus mencantumkan: “Pikirkan dengan baik-baik sebelum menjawab. Letakkan wacana yang digunakan sebagai rujukan di atas butir tes yang bersangkutan. Petunjuk pengerjaan harus jelas. Dalam penggandaan. tes lisan atau tertulis. tes diumumkan atau tes dirahasiakan (mendadak). 4. Untuk itu kerjakan tugas 6 berikut ini. yaitu skor yang benar dikurangi skor yang salah.d. Stem dan options upayakan dalam satu halaman. karena . sehingga tidak memungkinkan untuk dipertanyaan lagi cara pengerjaannya. e. h. c. Mengolah tes bentuk tes obyektif lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan bentuk tes esai. Butir tes yang setipe dijadikan dalam satu kelompok. tes tindakan (praktek) 5. Sehingga mudah menempatkan jawabannya dan guru mudah dalam penskoran.

nama.25 merupakan angka denda. Angka 5/4 atau 1. skor maksimum untuk tes esai adalah 15. namun perlu . dan skor mahasiswa (sebagai siswa). Kedua pendekatan itu digunakan sebagai acuan untuk memberikan nilai siswa. Setelah itu kerjakan tugas 7 berikut: Tugas 7: Kumpulkan semua skor teman-teman anda.2 Pendekatan Penilaian Ada dua pendekatan untuk melakukan penilaian hasil belajar siswa. Untuk soal esai baik terbatas maupun bebas pemberian skor didasarkan pada Pedoman Penskoran (Marking Scheme) yang telah dirancang.75 Jika tidak ada denda dalam menerka jawaban. 5. maka dengan rumus tersebut Skor Badu = 25 – 5/(5-1) = 25 – 5/4 = 23. Di dalam proses pendidikan biasanya setiap pendekatan itu tidak dapat dilaksanakan secara murni. yaitu dengan menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan. urutkan skor dari skor tertinggi ke yang oaling rendah atau sebaliknya. kemudian buatlah tabel yang memuat nomor. maka skor Badu adalah 25. Badu menjawab benar 25 nomor dan salah 5 nomor. Pengurangan nilai ini dihiting dengan rumus: Skor = jumlah jawaban benar – jumlah kawaban salah/(n-1) (n adalah jumalternatif jawaban) Pada contoh soal (dalam lampiran) terdapat 30 butir soal obyektif. Berdasarkan pedoman penskoran yang telah dirancang untuk contoh soal pada lampiran.75 (jika ada denda) skor total Badu = 25 + 10 = 35 (jika tidak ada denda) Dari contoh di atas. Jika pada tes esai skor Badu 10. maka skor total Badu = 23. periksalah semua jawaban (soal pada lampiran) anda dan berikan skornya (anda bisa menggunakan aturan yang menggunakan denda atau yang tanpa denda).setiap jawaban yang salah akan mengurangi nilai anda”.75 + 10 = 33.

3%. Persentase tertinggi ini diberi skor tertinggi. 30. Pertama.14% Harga rata-rata skor dapat dihitung dengan rumus: X = ∑ skor seluruh anggota kelompok/∑ seluruh anggota kelompok . Misalnya sekelompok siswa ada 10 anak mendapat skor (nilai mentah): 70. 30. 60. Untuk anggota kelompok yang besar. Jika jumlah kelompok tidak terlalu besar (<30). maka jumlah peserta antara: X sampai dengan (X+1σ) adalah 34.59% (X+2σ) sampai dengan (X+3σ) adalah 2. 40.6 5 35 46. misalnya skor maksimum (semua jawaban benar) adalah 75.14% X sampai dengan (X-1σ) adalah 34. maka anak yang mempunyai skor tetinggi 70. maka untuk menentukan skor setiap anak berdasarkan kelompoknya dapat dilakukan dengan dua cara. 35. Distribusi (penyebaran) tersebut dapat digambarkan dengan kurve normal.diadakan penyesuaian yang kadang-kadang merupakan kombinasi dari kedua pendekatan tersebut. 55.3 10 65 86. Kemudian persentase tertinggi diberi nilai tertinggi. maka persentase yang benar adalah 70/75x100% atau 93. 65. Cara yang kedua adalah dengan menghitung persentase jawaban benar yang dijawab oleh setiap anak.3 6 35 46. Nilai mentah % yang benar Nilai 1-10 70 93.59% (X+2σ) sampai dengan (X-3σ) adalah 2. Pengolahan kelompok nilai mentah menjadi skor 1-10 dapat ditabelkan sebagai berikut: Tabel 5-1: Pengolahan Nilai Mentah menjadi 1-10 a.2.6 9 60 80 8 55 73. maka untuk memberi nilai setiap anggota kelompok dapat digunakan statistik sederhana. b. c.13% (X+1σ) sampai dengan (X+2σ) adalah 13. Misalnya ada sekelompok siswa memiliki skor rata-rata X.6 5 30 40 4 30 40 4 25 33.3 7 40 53. distribusi kemampuan anak dapat dimulai dari paling pandai.1 Pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) Yang dimaksud pendekatan PAN adalah pendekatan untuk memberikan nilai didasarkan pada perolehan kelompoknya.13% (X+1σ) sampai dengan (X-2σ) adalah 13.3 3 Apabila jumlah anggota kelompok besar (>30 orang) atau lebih dari satu kelas. 5. sedang. dan 25. dengan cara skor tertinggi diberi nilai 10 dan skor di bawahnya ditetapkan secara proporsional. dan sangat kurang. 35. kurang. yaitu 10 untuk skala 1-10. yaitu dengan menentukan skor rata-rata (X) dan simpangan baku (σ) kelompok. pandai. Dari contoh soal yang diberikan.

Sehinga keberhasilan siswa dalam suatu mata pelajaran ditentukan oleh kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Dalam Proses pembelajaran mengacu pada tujuan pembelajaran umum dan khusus.2. 5. maka untuk setiap tujuan harus ada butir soalnya.2 Pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) Pendekatan PAP adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk menentukan keberhasilan atau kelulusan seseorang berdasarkan patokan atau kriteria yang telah ditentukan. Untuk penguasaan yang tuntas. Inilah yang membedakan dengan pendekatan PAN.Dan Simpangan Baku dirumuskan: σ ∑ skor 1/6 dari anggota kelompok tinggi . Misalnya dalam rumusan tujuan pembelajaran khusus dirumuskan dengan “Siswa kelas 1 SMU dapat menulis dimensi besaran fisika”. . PAP digunakan dalam sistem belajar tuntas.∑ skor 1/6 dari anggota kelompok rendah = ½ ∑ seluruh anggota kelompok Apabila terdapat data skor fisika siswa SMU dari 35 anak yang telah diurutkan dari tertinggi sampai terrendah adalah sebagai berikut: 60 45 35 25 60 45 35 20 55 45 30 20 55 40 30 15 55 40 30 10 50 40 30 50 40 25 50 35 25 50 35 25 50 35 25 Dalam kurikulum 1975. kriteria yang dikembangkan antara lain siswa dapat: (1) menulis dimensi besaran pokok dan (2) menulis dimensi beberapa dimensi besaran turunan. yaitu kelulusan atau keberhasilan siswa ditentukan oleh kelompoknya. Jika siswa dapat mengerjakan dengan benar butir-butir soal tersebut maka dikatakan bahwa siswa telah menguasai tujuan tersebut dengan tuntas. Jika belum dikuasai maka perlu ada pembelajaran remedial (perbaikan). penentuan nilai menggunakan konversi seperti pada tabel 5-2 berikut: Tabel 5-2: Konversi skor mentah ke dalam nilai 1-10 Skor Mentah Nilai 1-10 X-2 1/4σ X-1 3/4σ X-1 1/4σ X-1/4σ X+1/4σ X+3/4σ X+11/4σ X+3/4σ X+13/4σ X+21/4σ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tugas 8: Berdasarkan data skor fisika dari 35 siswa SMU di atas hitungX dan σ kemudian tentukan skor ke-35 siswa tersebut dengan nilai 1-10. Untuk mengetahui apakan kedua tujuan tersebut telah dikuasai oleh siswa.

6. dan berfungsi atau tidaknya pilihan. daya beda (D). Penilaian mutu butir soal ditentukan oleh karakter dari butir soal itu sendiri. sedang. tetapi melihat tingkat penguasaan seseorang terhadap materi atau tujuan pembelajaran. daya beda.1 Karakteristik dan Spesifikasi Butir Soal Yang dimaksud karakteristik butir soal adalah parameter kuantitatif dari butir soal. pada harus pengembangan soal PAN. dan berfungsi tidaknya pilihan untuk tipe soal pilihan ganda. C. dan E. dan < 80% nilai E (tidak lulus).1.1 Karakteristik Butir Soal Karakteristik butir soal untuk tes hasil belajar dipertimbangkan berdasarkan tingkat kesukaran (p).1 Tingkat Kesukaran . 6. Penguasaan 100% ini sulit dicapai. yaitu keduanya menentukan lebih dahulu tujuan (TPK) atau hasil apa yang akan diukur dan bagaimana butir cara mengukurnya tingkat yang paling soal tepat.Perencanaan dan konstruksi butir soal baik untuk PAN maupun PAP kedua mempunyai kesamaan. Jika syarat ketuntasan adalah 80%. (80-85)% nilai D. (90. dengan rentangan: > 95% nilai A. kesukaran mengombinasikan butir soal yang mudah.5-95)% nilai B. Ada penilaian yang menggunakan kriteria lulus dan tidak lulus. B. Kedua hal ini akan diuraikan seperti berikut.5-90)% nilai C. sehingga ada beberapa sekolah yang menetapkan ketuntasan ini 80%. Setiap guru harus memiliki kemampuan untuk menentukan mutu butir soal dan perangkat soal agar mereka dapat merancang soal yang baik. maka apakah semua siswa yang mendapat skor 80% ke atas akan mendapat nilai yang sama? Jawabnya tergantung pada sistem penilaian yang digunakan. dan sukar. (85. Seharusnya sumua tujuan pembelajaran dapat dikuasai siswa 100%. Rentangan skor untuk mendapat nilai A-E tidak baku seperti dicontohkan. diperhatikan. Ynag dipentingkan dalam PAP adalah daya serap siswa. dan nilai A bisa ≥ 90% 6. harus Perbedaannya. 6. yang meliputi tingkat kesukaran. misalnya batas kelulusan bisa > 80% atau < 80%. Pada pengembangan butir soal PAP tingkat kesukaran dan daya beda tidak diperhatikan karena maksud soal bukan untuk membedakan siswa yang pintar dari siswa yang kurang pintar. sehingga tingkat keseluruhn butir soal adalah sekitar 50%. parameter kualitatif butir soal disebut dengan spesifikasi butir soal.1. yaitu: anak yang lulus adalah anak yang mempunyi skor ≥ 80% dan yang tidak lulus adalah anak yang skornya <80%. Sebaliknya. Penilaian mutu perangkat soal meliputi validitas dan reliabilitasnya.1. Spesifikasi butir soal ditentukan atas dasar penilaian ahli (expert judgment). D. Menganalisis Soal Kegiatan menganalisis soal merupakan kegiatan untuk menentukan mutu butir dan perangkat soal. Ada pula yang menggunakan kategori A.

26 .45+ 0. Jika komposisi butir soal tidak seimbang maka penggunaan PAN tidak tepat.4+ 0. 0. yaitu: sukar (25%). sedang (50%).4.1.6 + 0.25 Sukar 0.8 + 1.0.5.2 + 0.0)/10 = 5.7+ 0.0.35+ 0.2. 0. 0. Daya beda biasanya disimbolkan dengan D dan dirumuskan: D = (Ba – Bb)/1/2T .35.5+ 0. dan 1.7. biasanya kita jumpai kelompok yang berprestasi tinggi (kelompok atas) dan kelompok yang berprestasi rendah (kelompok bawah).5/10 = 0. sedang.1. 0.45.0. maka tingkat kesukaran butir soal nomor satu adalah 0. 0.Tingkat kesukaran butir soal dimaknai sebagai proporsi peserta tes menjawab benar terhadap butir soal tersebut. Jadi ukuran butir soal atau perangkat soal yang baik tidak ditentukan oleh tiinggi atau rendahnya tingkat kesukaran tetapi pada komposisi tingkat kesukarannya. dan sukar.5+ 0.2. dengan tingkat kesukaran setiap butirnya berturut-turut 0. 0.5. 6.75 Sedang 0. jumlah peserta tes yang menjawab benar 3 orang dan jumlah seluruh peserta tes 15 orang.1. maka tingkat kesukaran perangkat soal (p naskah ujian) tersebut adalah: p naskah ujian = (0. 0.00 Mudah Contoh perangkat soal tersebut termasuk kategori sedang. Indeks yang menunjukkan tingkat kemampuan butir soal yang dapat membedakan kelompok atas dan bawah disebut daya beda butir soal. dan mudah (25%). Komposisi ini dapat diterapkan pada PAN dan PAP.8. Jika dalam suatu perangkat soal terdapat 10 butir soal. Butir soal ini dikatakan sukar. Untuk menyusun suatu naskah ujian atau tes hasil belajar sebaiknya digunakan butir soal yang tingkat kesukarannya berimbang. sebab informasi kemampuan yang dihasilkan tidak berdistribusi normal. Penentuan ketiga kategori tersebut dapat menggunakan pedoman: Tingkat kesukaran Kategori 0.55 atau p naskah ujian = ∑b/∑butir soal Tingkat kesukaran butir soal atau perangkat soal biasanya dikategorikan mudah. 0.2 Daya Beda Dalam suatu kelompok peserta tes.00 .6. yang dirumuskan dengan: b = ∑ peserta yang menjawab benar/∑ peserta keseluruhan Misalnya soal nomor 1.76 .

maka kelompok atas dan bawah masing-masing diambil 27%. apabila jumlah peserta besar maka kelompok dibuat menjadi tiga.3 Berlaku Tidaknya Pilihan Dalam tipe soal obyektif. maka proporsi kelompok atas yang menjawab benar adalah 0. makin baik butir soal tersebut. Untuk memudahkan analisis. khususnya untuk soal pilihan ganda. Jadi daya beda soal nomor X adalah: 0. Sebaliknya untuk daya beda yang berharga –1.1. Kurang dari 0.8 dan proporsi kelompok bawah yang menjawab benar adalah 0. butir soal dianggap kurang mampu membedakan peserta tes yang siap menghadapi tes dari peserta yang tidak siap. kelompok atas yang menjawab benar adalah 4 orang dan kelompok bawah yang menjawab benar hanya satu orang.25.1. Sehingga butir soal ini harus dibuang atau tidak dihitung dalam penentuan skor mahasiswa. maka butir soal tidak dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.6 atau dapat dihitung dengan rumus: D = (4 – 1)/5 = 0.2. Distribusi dari jawaban kedua kelompok ini untuk setiap butir soal dimasukkan dalam satu tabel 6-1 berikut: Andaikan butir soal nomor 12 Tabel 6-1 : Distribusi jawaban soal nomor 12 Pilihan Kelompok Atas Bawah A* 3 1 B 0 1 C 1 1 D 0 2 E 0 1 . 6. Jika daya beda negatif.25. lembar jawaban peserta kelompok atas dan bawah dijadikan sebagai sumber informasi. untuk menentukan berfungsi tidaknya pengecoh suatu butir soal. Untuk menganalisis setiap butir soal tersebut. Andaikan jumlah seluruh peserta tes 10 orang. makin tinggi daya beda suatu butir soal. tengah dan bawah.2 = 0.8 – 0. Untuk soal nomor X misalnya. Daya beda berharga +1 berarti semua kelompok atas menjawab benar dan semua kelompok bawah menjawab salah terhadap suatu butir soal. dan sebaliknya makin rendah daya beda makin tidak baik butir soal tersebut.6 Koefisien atau indeks daya beda berkisar antara –1 sampai dengan +1. Jadi.Dimana D = daya beda Ba = ∑ kelompok atas yang menjawab benar Bb = ∑ kelompok bawah yang menjawab benar T = ∑ peserta tes (jika jumlah ganjil = T-1) Jika jumlah peserta banyak. maka butir soal tersebut perlu dianalisis. Harga daya beda yang dianggap masih memadai untuk sebutir soal adalah ≥ 0. yakni: kelompok atas.

ada dua hal . Pengecoh B. hal ini akan berakibat jauh bagi siswa di masa yang akan datang. Analisis validitas isi ini hanya bisa dilakukan oleh seorang yang menguasai bidang studi tersebut dengan baik. satuan dan angka penting anda di kelas. Sehingga semua pilihan pada soal nomor 12 sudah berfungsi.2 Spesifikasi Butir Soal Untuk menganalisis suatu butir soal ada dua spesifikasi yang harus dipertimbangkan. Tugas 9: a.1. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengecoh berfungsi sebagai jawaban yang salah. D. Berbahayanya. maka pilihan ini harus diperbaiki. 6. C. perumusan tujuan pendidikan masih cenderung mengacu pada tujuan pendidikan menurut Bloom dan kawan-kawan. bila butir soal itu digunakan untuk menentukan keputusan bagi seseorang. pilihan ini juga kurang baik dan perlu diperbaiki. aspek yang harus dianalisis secara kualitatif oleh seorang ahli bidang studi adalah apakah butir soal yang digunakan apakah mengukur tujuan pendidikan tertentu yang ditetapkan dalam kisi-kisi. cocokkan secara bersama jawaban THB tentang besaran. khususnya untuk kelompok atas. Apabila pada pengecoh ditemukan kelompok atas lebih banyak dibandingkan kelompok bawah. Andaikan tabel di atas jumlah yang menjawab benar A lebih banyak kelompok bawah.2 Karakteristik Perangkat Tes Meskipun suatu tes terdiri atas butir-butir soal yang baik. Selain itu. Di Indonesia. Tentukan tingkat kesukaran setiap butir soal! b. Apakah pada butir-butir soal obyektif ada pilihan-pilihan yang perlu diperbaiki? Sebutkan! 6. Analisis dimulai dengan mengadakan kajian terhadap kisi-kisi soal. jumlah peserta yang memilih A adalah banyak. bila pada pengecoh tidak ada satupun yang memilih. kemudian kerjakan bersama tugas 9 berikut di kelas. Yang perlu diperhatikan bahwa butir soal yang tidak secara akurat mengukur tujuan yang telah ditetapkan akan merupakan butir soal yang sia-sia. Dari uraian di atas. Dalam kisi-kisi itu ditentukan bahwa butir soal tertentu dimaksudkan untuk mengukur pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu. Jadi kisi-kisi soal digunakan sebagai tolok ukur untuk memvalidasi butir soal. Validitas isi (konten) pelajaran sangat diperlukan untuk menentukan apakah suatu butir soal merupakan alat ukur yang baik untuk suatu hasil belajar tertentu. Selain memvalidasi. yakni: validitas isi dan keakuratan pengukuran tujuan yang ingin dicapai. Selain penilaian terhadap setiap butir soal. belum tentu akan membuat perangkat tes (soal ujian) menjadi baik. Tentukan daya beda setiap butir soal dan tentukan pula kelayakannya untuk digunakan sebagai THB! c. dan E ada yang memilih terutama kelompok bawah. Untuk menganalisis ini perlu penguasaan tentang tujuan pendidikan.Jumlah 4 1 2 2 1 Jawaban yang benar adalah A (tanda *). maka pilihan ini harus diperbaiki pula.

Reliabilitas ditinjau dari stabilitas dapat ditentukan dengan mengkorelasikan anatardua skor dari satu tes yang diadministrasikan dua kali kepada kelompok peserta tes yang sama. Andaikan skor peserta tes itu tidak mengandung unsur kekeliruan. maka dapat dilihat dari aspek reliabilitasnya. mengapa? Reliabilitas dalam arti ekuivaensi dari dua tes yang paralel. maka skor itu merupakan skor yang sesungguhnya. 6. skor sesungguhnya (true score).yang harus diperhatikan dalam menilai soal ujian. ekuivalensi dari dua tes yang paralel. kita harus mengkonstruk dua perangkat tes yang paralel. Dalam hal ini. Kedua perangkat tes diadministrasikan pada kelompok peserta tes yang sama dalam waktu berurutan. Karena reliabilitas merupakan salah satu bentuk khusus korelasi yang menggambarkan keajegan alat ukur (tes). Hasil tes dari dua perangkat tes tersebut dikorelasikan. Sehingga skor yang diperoleh peserta tes adalah skor yang kemungkinan besar mengandung kekeliruan yang tidak dapat diketahui. karena dalam setiap tes selalu akan terdapat unsur kekeliruan (error). muncul pertanyaan atau keraguan pada diri kita. Skor yang diperoleh peserta es pada dasarnya merupakan skor yang secara langsung berhubungan dengan alat ukur dan kondisi eksternal saat tes berlangsung. .1 Reliabilitas Tes Ketika kita mengamati skor hasil tes siswa. dan konsistensi atau homogenitas tes. Secara umum. Hubungan ketiganya dinyatakan dengan: Skor yang diperoleh = skor sesungguhnya – kekeliruan Secara operasional reliabilitas tes didefinisikan sebagai koefisien korelasi antara dua perangkat skor yang dihasilkan oleh perangkat tes yang sama atau paralel yang diadministrasikan kepada sekelompok peserta tes yang sama. Tetapi skor sesungguhnya itupun tidak kita ketahui.2. Selang waktu antara dua pengadministrasian tes harus dekat. Kedua hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. begitupula alat ukur yang digunakan tidak dapat diketaui sepenuhnya kekuatan dan kelemahannya. yaitu: skor yang diperoleh (obtained score). yaitu apakah skor itu benar-benar menggambarkan tingkat kemampuan siswa kita. Kondisi eksternal tidak dapat didefinisikan sepenuhnya. Reliabilitas tes dapat ditinjau dari unsur stabilitas. Kekeliruan ini bisa bersumber pada alat ukurnya atau mungkin faktor yang lain. yakni: validitas dan reliabilitasnya. reliabilitas dimaknai sebagai sejauh mana suatu alat ukur dapat diyakini memberikan informsi yang konsisten (ajeg) dan tidak mendua tentang karakteristik peserta tes yang diujikan. Untuk melihat apakah perangkat tes itu dapat dipercaya sebagai alat ukur yang dapat menggambarkan kemampuan peserta tes. Keraguan atau pertanyaan ini sulit dijawab. Untuk itu kita kenal adanya tiga bentuk skor dalam setiap hasil tes. maka ada beberapa prosedur untuk memperoleh koefisien korelasi yang menggambarkan reliabilitasnya. dan kekeliruan skor (score error).

Untuk memperoleh skor setengah pertama dan kedua dapat dilakukan dengan mengkorelasikan skor pada nomor ganjil dan nomor genap. perangkat tes yang baik juga harus memenuhi kriteria valid (tepat). yaitu: teknik split-half dan teknik Kuder-Richardson (KR). aspek validitas yang paling penting adalah validitas isi (content validity). b. dalam arti mengukur mata pelajaran atau bidang studi yang sama. Validitas isi ini ditentukan oleh ahli yang menguasai bidang studi tersebut. Ketiga jenis validitas tersebut tidak dibahas di sini . Tugas 10: a. yaitu: validitas prediktif.Reliabilitas dalam arti konsistensi tes merupakan koefisien korelasi yang menunjukkan seberapa jauh suatu perangkat tes homogen. Validitas tes didefinisikan sebagai seberapa jauh perangkat tes itu berguna dalam mengambil keputusan yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Selain validitas isi. juga kita kenal jenis validitas tes yang lain. Apakah jumlah butir soal dalam perangkat tes berpengaruh terhadap reliabilitas tes? Jelaskan. validitas serempak. Untuk menentukan koefisien korelasi ini dapat dilakukan dengan dua cara. Apakah penskoran tes yang kurang obyektif berpengaruh terhadap reliabilitas tes? Jelaskan. dan validitas konstruk. Untuk tes hasil belajar.2 Validitas Tes Seperti halnya pada butir soal. Oleh karena itu. yaitu: ukuran yang menunjukkan sejauh mana skor dalam tes berasosiasi dengan penguasaan peserta dalam bidang studi yang diuji melalui perangkat tes tersebut. c. yang bisa menganalisis tes harus orang mempunyai latar belakang bidang studi yang baik. dengan rumus ke-20nya (KR-20): n SB2 . Teknik split-half dapat dilakukan dengan mengkorelasikan skor setengah pertama dengan skor setengah kedua dari suatu tes.2. Jadi untuk validitas ini analisisnya lebih bersifat kualitatif. 6. Apakah peserta tes yang bervariasi berpengaruh terhadap reliabilitas tes? Jelaskan. Tenik Kuder-Richardson dikembangkangkan oleh Kuder dan Richardson.∑pq SD2 KR-20 =  [ ] n-1 dimana n = ∑ butir soal SB = simpangan baku skor-skor tes p q = tingkat kesukaran tes (perangkat tes) =1-p Setelah anda mempelajari reliabilitas tes di atas. diskusikan dan kerjakan secara kelompok tugas 10 berikut ini.

. Systematic Instruction in Science for The Middle and High School Years. Depdikbud. Evaluation to Improve Learning. Englewood Clifs. Inc. 1995. Physics. F. Prentice-Hall International. Depdikbud. & Zain A. Tugas 11: Apakah reliabilitas tes berpengaruh terhadap validitas tes? Jelaskan.. Zainul A. (1980). A. dan Hastings. Columbus.. Setelah anda mempelajari validitas tes. Addison-Wesley Publishing Company. 1993.. B. Merrill Publishing Company. Strategi Belajar Mengajar. Fisika 1 untuk Sekolah Menengah Umum Kelas 1. Kertiasa N. McGraw-Hill Book Company. Trowbridge L. Djamarah S.. A. Jakarta. 1996. Madaus G. Depdikbud. Fourth edition.. 1990... 1995. CATATAN: KERJAKAN TUGAS 1 S/D 11 DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DAN KUMPULKAN PADA PERTEMUAN BERIKUTNYA!!!! . Farrel M... Jakarta.. SUMBER Bloom B. diskusikan secara kelompok tugas 11 berikut. S. Rineka Cipta. New York. Sydney. Bybee R. Depdikbud. Jakarta. W.. New Jersey. W. Becoming a Secondary School Science Teacher. Farmer W. Giancoli D. Program Pengembangan Keterampilan Teknik Instruksional (Pekerti): Penilaian Hasil Belajar. Jakarta. Kurikulum Sekolah Menengah Umum: GBPP Mata Pelajaran Fisika. Nasoetion N. Inc... 1995.karena ketekaitannya dengan keperluan terhadap penilaian perangkat tes hasil belajar tidak terlalu kuat..

Materi Kuliah EVALUASI HASIL BELAJAR: (Tes Hasil Belajar) Handout digunakan terbatas untuk: Matakuliah Evaluasi Hasil belajar Fisika .

2010 .Oleh: Indrawati (Staf Pengajar Pendidikan Fisika FKIP Unej) Jember.