Widarto

TEKNIK PEMESINAN
JILID 1 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PEMESINAN
JILID 1
Penulis

Untuk SMK
: Widarto

Perancang Kulit

: TIM

Ukuran Buku WID t

:

17,6 x 25 cm

WIDARTO Teknik Pemesinan Jilid 1 untuk SMK /oleh Widarto ---Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xii, 256 hlm Daftar Pustaka : Lampiran. A Lampiran : Lampiran. B Index : Lampiran. C ISBN : 978-979-060-115-4 ISBN : 978-979-060-116-1

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

PENGANTAR UMUM

Teknik Pemesinan

i

Buku Teknik Pemesinan ini terdiri dari 15 Bab. Bab 4 Memahami Kaidah Pengukuran. 4. Mengenal Proses Pemesinan. dan Mengenal Material dan Mineral. Berdasarkan pada cara pemotongannya. Dilanjutkan Bab 2 Memahami Proses-proses Dasar Kejuruan yang menjelaskan Proses Pengecoran Logam. Teknik Pemesinan ii .). Sebagai permulaan. Bab 12 Memahami Mesin CNC Dasar. roses pemotongan logam merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengubah bentuk suatu produk (komponen mesin) dari logam dengan cara memotong. buku ini hanya akan membahas kelompok ke-3 yaitu proses pemotongan dengan menggunakan pahat potong yang dipasang pada mesin perkakas dan kelompok ke-4. yang memuat secara rinci hampir semua proses pemesinan yang biasa dipakai dalam proses produksi dan hal-hal yang terkait dengan proses pemesinan. Dimulai dari Bab 1 tentang Memahami dasar-dasar Kejuruan. Bab 7 Mengenal Proses Frais (Milling). Bab 3 Merealisasi Kerja yang Aman. Bab 8 Mengenal Proses Gurdi (Drilling). Dari keempat proses pemotongan tersebut. Dalam istilah teknik. Mengenal Komponen Mesin. 3. Bab 6 Mengenal Proses Bubut (Turning). proses pemotongan logam dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok dasar.P 1. khususnya mesin EDM (Electrical Discharge Machining). Bab 9 Mengenal Proses Sekrap (Shaping). Mengenal Proses Pengerjaan Panas. dan Mesin Konversi Energi. Bab 5 Memahami Gambar Teknik. Laser Beam Machining. Untuk mempermudah pemahaman. proses ini sering disebut dengan nama Proses Pemotongan Logam (Metal Cutting Process) atau Proses Pemesinan (Machining Process). Bab 10 Mengenal Proses Gerinda (Grinding). materi buku ini dibuat dengan menganut sistematika pembahasan sebagaimana yang akan dibahas pada beberapa alinea berikut. dan Bab 15 Memahami Toleransi Ukuran dan Geometrik. untuk menghindari kesalahpahaman tentang istilah maka selanjutnya dipilih nama yang terakhir yaitu proses pemesinan. dsb. Bab 1 Memahami Dasar-dasar Kejuruan menjelaskan tentang Statika dan Tegangan. Bab 2 Memahami Proses-proses dasar Kejuruan. Oleh karena itu. Chemical Milling. Bab 11 Mengenal Cairan Pendingin yang Dipakai dalam Proses Pemesinan. yaitu: Proses pemotongan dengan mesin las Proses pemotongan dengan mesin pres Proses pemotongan dengan mesin perkakas Proses pemotongan non-konvensional (Electrical Discharge Machining. 2. Bab 13 Memahami Mesin CNC Lanjut. Bab 14 Mengenal EDM.

Lembar Kerja. membuat profil. dan proses pembubutan cembung maupun cekung.Berikutnya Bab 3 Merealisasi Kerja yang Aman. proses bubut adalah proses pemesinan yang sering digunakan dalam proses produksi. Bab 5 Memahami Gambar Teknik yang memberikan penjelasan Mengenal Alat Menggambar Teknik. sudut bebas (clearance angle). Pada bahasan mengenai proses bubut ini diakhiri dengan uraian tentang perencanaan dan perhitungan dalam proses bubut yang diawali dengan penjelasan tentang elemen dasar proses bubut yang dapat dihitung yaitu kecepatan potong. eksentris. lebih detail dijelaskan mulai dari material pahat (yaitu baja karbon sampai dengan keramik dan intan. dan Membaca Gambar Teknik. Teknik Pemesinan iii . Manajemen Bahaya. Alat Perlindungan Diri. Kemudian dipaparkan mengenai alat bantu produksi. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran. pemasangan pahat. serta Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas. perencanaan proses membubut. menguraikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Fasilitas Penunjang. dan sudut sisi potong (cutting edge angle). dan pemeriksaan hasil berdasarkan gambar kerja). mikrometer. yang dilanjutkan dengan membahas sistem satuan yang digunakan dalam proses pemesinan. penentuan langkah kerja (meliputi persiapan bahan benda kerja. setting mesin. Selanjutnya dibahas geometri pahat yang menguraikan besaran sudut pada pahat bubut. Pada sub-Bab terakhir. membahas tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. mengkartel. pemilihan mesin (dengan pertimbangan yang mendasar adalah dimensi benda kerja yang yang akan dikerjakan). yang terdiri dari sudut beram (rake angle). perhitungan waktu pemotongan. gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut). mesin. Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed). kecepatan makan. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran. dan jenis-jenis Mesin Bubut. tirus. dan jam ukur (dial indicator). Bab 6 membahas Proses Bubut (Turning) yang merupakan Bab yang paling banyak isinya. maupun alat-alat perkakasnya. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi. Pencahayaan. agar pekerja selalu menjaga keamanan dan keselamatan baik bagi operatornya. Maklum. alur. Bab ini menguraikan parameter yang diatur pada Mesin Bubut. Bahasan terakhir ini sangat penting untuk diperhatikan dalam setiap pekerjaan pemesinan. Bab 4 Memahami Kaidah Pengukuran. Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (noise). membahas alat ukur yang umum digunakan dalam pekerjaan pemesinan yaitu jangka sorong. penentuan jenis pemotongan. mulai dari membubut lurus. yaitu sistem Metris (Metric system) dan sistem Imperial (Imperial system/British system). penentuan kondisi pemotongan. dan kecepatan terjadinya beram. ulir.

Pada Bab ini dimulai dari pengertian Mesin Gurdi dan jenis-jenisnya. Dilanjutkan parameter pada proses frais yaitu parameter yang dapat langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang mengoperasikan Mesin Frais : putaran spindel (n). Kemudian dibahas tentang perkakas Mesin Gurdi yang terdiri dari ragum. Dibahas juga tentang metode kerja Mesin Frais yang ditentukan berdasarkan arah relatif gerak makan meja Mesin Frais terhadap putaran pahat. pencekam mata bor. Dijelaskan pula alat pencekam dan pemegang benda kerja yang menjelaskan pemegang benda kerja pada Mesin Frais dan beberapa macam asesoris yang berguna untuk membantu pengaturan Mesin Frais maupun penempatan benda kerja. peralatan sebagai alat bantu Mesin Frais terdiri dari arbor. Kemudian jenis-jenis Mesin Frais. gerak makan (f). dan special purposes. Elemen dasar atau parameter proses gurdi pada dasarnya sama dengan parameter proses pemesinan yang lain. arah penyayatan. sudut ujung (point angle /lip angle. dibahas tentang elemen dasar pada proses gurdi. Mesin Gurdi produksi. Dan pada akhir bab ini. ). Mesin Gurdi spindel jamak. dan sudut bebas (clearance angle. dan momen puntir yang diperlukan pada proses gurdi. Mesin Gurdi radial. Metode proses frais ini ada dua yaitu frais naik (up milling) dan frais turun (down milling). pasak pembuka. dan mata bor. tool holder. dan kedalaman potong (a). Diuraikan juga tentang pencekaman mata bor dan benda kerja yang berisi tentang alat pencekaman dan cara pencekaman yang benar.Bab 7 menjabarkan Proses Frais (Milling). waktu pemotongan. gerak makan. akan tetapi dalam proses gurdi selain kecepatan potong. Berikutnya diuraikan geometri pahat frais. Mesin Gurdi vertical. landasan (blok paralel). yakni hanya menguraikan apa itu Mesin Sekrap dan jenisTeknik Pemesinan iv . dan kedalaman potong perlu dipertimbangkan pula gaya aksial. dan posisi relatif pahat terhadap benda kerja. Mesin Gurdi peka. 2 r). terdiri dari column and knee milling machines. dan kolet. Pada Bab ini diawali dari klasifikasi proses frais yang diklasifikasikan dalam tiga jenis yaitu berdasarkan jenis pahat. Mesin Gurdi turret. klem set. dan Mesin Gurdi lubang dalam. Setelah diketahui perkakas Mesin Gurdi selanjutnya dijelaskan mengenai geometri mata bor (twist drill) yang berisi tentang sudut-sudut pada mata bor yaitu sudut helik (helix angle). sarung pengurang. serta perencanaan proses bor. Mesin Gurdi dikelompokkan menjadi Mesin Gurdi portable. gerak makan per gigi. boring head. bed type milling machines. kecepatan pembentukan beram dan diakhiri dengan contoh-contoh pengerjaan benda kerja yang terdiri dari proses frais datar/rata (surface milling) dan proses frais roda gigi. Pada Bab 9 dijelaskan Proses Sekrap (Shaping). Bab 8 menjelaskan tentang proses pembuatan lubang bulat dengan menggunakan mata bor (twist drill) yang disebut dengan Proses Gurdi (Drilling). Sub-Bab berikutnya elemen dasar proses frais yang menjelaskan tentang kecepatan potong. Bab ini cukup singkat.

Dimulai dari jenis-jenis Cairan Pendingin yang biasa dipakai. Bab 12 menguraikan tentang Mesin CNC Dasar. Pada keduanya dijelaskan hal yang mirip. tingkat kekerasan (grade). Bab ini membahas lebih jelas dan dalam Mesin CNC. serta bagaimana pengoperasiannya. kemudian apa saja elemen dasar Mesin Sekrap. Dan di akhir Bab ini diuraikan tentang perawatan serta pembuangan Cairan Pendingin yang benar dan aman. kecepatan pemakanan. Untuk elemen proses sekrap pada dasarnya sama dengan proses pemesinan lainnya. dan cairan sintetis (synthetic fluids). menuliskan jenis-jenis Mesin Gerinda dan menjelaskan batu asah gerinda. Teknik Pemesinan v . keamanan terhadap lingkungan dan keamanan terhadap kesehatan. waktu pemotongan. Ada dua Mesin CNC dasar yang dijelaskan yakni Mesin Bubut TU 2A dan Mesin Frais TU 3A. cairan semi sintetis (soluble oils semisynthetic fluids). Selanjutnya dibahas mengenai kriteria pemilihan Cairan Pendingin dilihat dari unjuk kerja proses. Jenis Mesin Sekrap yang ada meliputi Mesin Sekrap datar atau horizontal (shaper). jumlah putaran. Dibahas juga pengaruh Cairan Pendingin pada proses pemesinan sebagai fungsi utama dan dapat juga sebagai fungsi kedua. ukuran butiran asahan. dan Mesin Gerinda silindris. spesifikasi batu gerinda dan pemasangan batu gerinda. Data teknologis pada Mesin CNC sama dengan pada proses pemesinan lainnya. bagaimana pemrogramannya. Bab 10 yang menjelaskan Proses Gerinda (Grinding). harga. Bab 13 sedikit mengulang Bab 12 dan dilanjutkan membahas Mesin CNC secara lebih detail. Jenis Mesin Gerinda terdiri dari Mesin Gerinda datar. Diawali dengan sistem mekanik yang digunakan Mesin CNC. yaitu terdiri dari kecepatan potong.jenisnya. yaitu kecepatan potong. yakni data teknologisnya. pengontrolan sumbu Mesin CNC. macam-macam perekat. dan dikabutkan (mist application of fuid). dan Mesin Sekrap eretan (planner). dan kecepatan asutan. Kemudian dipaparkan cara pemberian Cairan Pendingin yaitu dengan cara manual disiramkan ke benda kerja. dan kecepatan pembentukan beram. sistem koordinat Mesin CNC. khususnya bagaimana suatu Mesin CNC bekerja. karena kedua mesin ini merupakan dasar bagi Mesin CNC generasi di atasnya. Informasi yang penting dari mesin ini adalah jenis-jenis Mesin EDM dan cara mengoperasikan mesin tersebut. Bab 14 buku ini memberi penjelasan sedikit tentang Mesin EDM (Electrical Discharge Machining). Untuk batu asah dipaparkan mengenai jenis-jenis butir asahan. terdiri dari minyak murni (straight oils). bentuk-bentuk batu gerinda. Mesin Sekrap vertical (slotter). klasifikasi batu gerinda. Bab 11 berisi uraian tentang Cairan Pendingin yang biasa dipakai pada proses pemesinan. susunan butiran asah. disemprotkan (jet application of fluid). dan pemrograman Mesin CNC. Mesin Perkakas CNC.

Teknik Pemesinan vi . cara penulisan toleransi ukuran/dimensi. suaian.Dan pada Bab 15 memuat penyimpangan ukuran yang terjadi selama proses pemesinan. toleransi standar dan penyimpangan fundamental. toleransi. Penulis terus berusaha untuk dapat menyempurnakan isi buku ini. Keterangan-keterangan di atas disusun sebagai gambaran menyeluruh isi buku ini. khususnya siswa Sekolah Menengah Kejuruan. dengan harapan akan mempermudah bagi para pembaca untuk memahami materi-materi yang telah dituliskan dalam buku ini. sehingga dapat memberikan informasi tentang keilmuan teknik pemesinan kepada para pembaca.

Mineral 3. Statika 2. Pengolahan Pasir Cetak 4. 8. Pemurnian Mineral BAB 2. Pembentukan Beram (Chips Formation) pada Proses Pemesinan C. Mengenal Elemen Mesin 1. Pengecoran Gips. Mengenal Proses Pengecoran Logam 1. Klasifikasi Proses Pemesinan 2. Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) 9. Pengertian Energi 2. Mengenal Proses Pengerjaan Panas 1. Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) 6. Berbagai Jenis sumber Daya Mineral 4. Mengenal Proses Mesin Konversi Energi 1. Pengertian 2. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi i vii JILID 1 1 2 2 9 14 14 18 19 19 21 21 22 25 26 26 27 29 29 30 31 31 32 33 35 36 36 38 42 42 43 43 43 43 47 Teknik Pemesinan vii . MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN A. Die Casting 10. Statika dan Tegangan 1. Penempaan (Forging) D. MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN A. Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) 7. Pembuatan Cetakan Manual 3. Poros 2.___________________________________________________Daftar Isi Daftar Isi Halaman Halaman Sampul Pengantar Umum Daftar Isi BAB 1. Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting) 5. Pengerolan (Rolling) 2. Bantalan C. Berbagai Macam sifat Logam 2. Beton. atau Plastik Resin. Mengenal Proses Pemesin 1. Kecepatan Pendinginan B. Mengenal Material dan Mineral 1. Tegangan B. Macam-Macam Energi 3.

Kertas Gambar 2. Rapido 4. Fasilitas Penunjang K. Klasifikasi kebakaran 4. Alat Ukur 1. Pensil Gambar 3.___________________________________________________Daftar Isi BAB 3. Peralatan pemadaman kebakaran 6. Manajemen Bahaya C. Sistem Satuan BAB 5. Jam Ukur (Dial indicator) A. Jangka Sorong 2. Mesin Gambar B. Keselamatan dan Kelematan Kerja Teknik Pemesinan 51 52 53 55 58 64 67 71 75 75 75 76 76 77 79 79 79 80 80 82 83 83 85 87 88 91 92 92 93 95 95 96 98 98 100 100 101 101 101 101 viii . Penggaris 5. Mikrometer 3. Sebab-sebab kebakaran 5. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas BAB 4. Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise) D. Meja Gambar 9. MEMAHAMI GAMBAR TEKNIK A. Penanganan dan Penyimpanan Bahan H. Mengenal Alat Menggambar Teknik 1. Lembar Kerja 1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) B. Pencahayaan E. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar 2. MEREALISASI KERJA YANG AMAN A. Petunjuk pemilihan APAR 7. Bahan 3. Pengendalian titik nyala 3. Karakteristik APAR I. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran 1. Alat Perlindungan Diri G. MEMAHAMI KAIDAH PENGUKURAN A. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran J. Penghapus dan Alat Pelindung Penghapus 7. Jangka 6. Alat-alat Penunjang Lainnya 8. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/polusi F. Alat 2.

Klasifikasi Proses Frais 1. Garis Arsiran 12. Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja pada Mesin Frais Teknik Pemesinan 102 102 103 106 107 107 109 109 114 115 120 130 133 136 142 151 153 155 158 159 163 163 165 167 174 177 188 190 194 196 196 197 197 197 197 198 199 202 203 206 208 ix . Pengukuran Ketebalan BAB 6. Perencanaan Proses Membubut/membuat Kartel BAB 7. Penentuan Langkah Kerja 5. Frais Naik (Up milling) 2. Geometri Pahat Frais F. Pemilihan Mesin 3. Membaca Gambar Teknik 1. Proyeksi Dimetris 4. MENGENAL PROSES BUBUT (TURNING) A. Bidang-bidang Proyeksi 8. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Frais E. Gambar Potongan 11. Frais Periperal (slab milling) 2. Perencanaan Proses Membubut Tirus 7. Penentuan Pandangan 10. Pencekaman Benda Kerja 4. Ukuran Pada Gambar Kerja 13. Proyeksi Miring (sejajar) 5. Jenis Mesin Frais D. Macam-macam Pandangan 7. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut B. Frais Turun (Down milling) C. Proyeksi Piktorial 2. MENGENAL PROSES FRAIS (MILLING) A. Penulisan Angka Pengukuran 14. Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut 1.___________________________________________________Daftar Isi C. Peralatan dan Asesoris untuk Memegang Pahat Frais G. Geometri Pahat Bubut C. Proyeksi Isometris 3. Frais Muka (Face milling) 3. Gambat Perspektif 6. Perencanaan Proses Membubut Lurus 6. Metode Proses Frais 1. Material Pahat 2. Simbol Proyeksi dan Anak Panah 9. Frais Jari (End milling) B. Perencanaan Proses Membubut Ulir 8. Perencanaan Proses Membubut Alur 9.

Susunan Butiran Asah 6. Pengerjaan Benda Kerja dengan Mesin Frais 1. Bentuk-bentuk Roda Gerinda 7. MENGENAL PROSES SEKRAP (SHAPING) A. Perencanaan Proses Gurdi BAB 9. Ukuran Butiran Asah 3. Elemen Dasar Proses Frais I. Ukuran Mesin gurdi 4. Jenis-jenis Butir Asahan/abrasive 2. Pengasahan Kembali Mata Bor E. Elemen Dasar Proses Gurdi G. Batu Asah 1. Mesin Gurdi (Drilling machine) 2. Pencekaman Mata Bor dan Benda Kerja F. Geometri Mata Bor (Twist drill) D. Jenis Cairan Pendingin B. Nama Bagian-bagian Mesin Sekrap B. Macam-macam Perekat 5. Elemen dasar Perencanaan Proses Sekrap BAB 10. Pemasangan Batu Gerinda BAB 11. Cara Pemberian Cairan Pendingin pada Proses Pemesinan Teknik Pemesinan 212 213 214 218 222 224 224 225 226 226 231 233 237 239 249 251 235 236 236 239 239 242 253 255 255 267 284 285 286 286 287 288 289 290 291 298 300 301 JILID 2 x . Proses Frais Roda Gigi BAB 8. Perkakas Mesin Gurdi C. Proses Frais Datar/rata 2. Jenis-Jenis Mesin Gurdi 3. MENGENAL PROSES GERINDA (GRINDING) A. Mesin Sekrap dan Jenis-jenisnya 1. Mesin gurdi (Drilling machine) dan Jenis-jenisnya 1. Tingkat Kekerasan (Grade) 4. Mekanisme Kerja Mesin Sekrap 3. MENGENAL CAIRAN PENDINGIN UNTUK PROSES PEMESINAN A. Jenis-jenis Mesin Sekrap 2. Jenis-jenis Mesin Gerinda 1. Mesin Gerinda Datar 2.___________________________________________________Daftar Isi H. Beberapa Mesin Gurdi yang Dipakai Pada Proses Produksi B. MENGENAL PROSES GURDI (DRILLING) A. Mesin Gerinda Silindris B. Klasifikasi Batu Gerinda 8.

Cara Setting Pisau terhadap Benda Kerja 6. Sistem Kontrol Tertutup (Close Loop Control) 3. Kompensasi Radius Pisau Sejajar Sumbu 8. Pengontrolan Sumbu Mesin Perkakas CNC 1. serta Soal Latihan Bagian I 7. Mesin Bubut CNC 1. MEMAHAMI MESIN CNC DASAR A. Penentuan Sumbu Putar dan Sumbu Tambahan D. Pemrograman CNC 1. serta Soal Latihan Bagian II BAB 13. Penentuan Sumbu Y 4. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Sistem Kontrol Terbuka (Open Loop Control) 2. Fungsi M. Pengoperasian Disket 6. Prinsip Kerja Mesin Bubut CNC TU-2A 2. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Pengoperasian Disket 5. Perawatan dan Pembuangan Cairan Pendingin BAB 12.___________________________________________________Daftar Isi C. Mesin Frais CNC 1. Fungsi M. Cara setting Benda Kerja 7. Bagian Utama Mesin Bubut CNC TU-2A 3. serta Soal Latihan B. Fungsi M. Kecepatan Potong dan Putaran Mesin 4. Penentuan Sumbu Z 2. Kecepatan Potong dan Kecepatan Putar Mesin 4. Penentuan Sumbu X 3. Sistem Kontrol Analog dan Sistem Kontrol Digital 5. Langkah Pelaksanaan Pembuatan Program Teknik Pemesinan 304 305 307 310 311 312 313 323 325 329 331 333 363 363 364 373 374 376 378 389 390 406 410 414 414 415 415 417 417 418 418 420 420 420 424 424 425 xi . Pengaruh Cairan Pendingin pada Proses Pemesinan D. Langkah Persiapan 2. Prinsip Kerja Mesin Frais CNC TU-3A 2. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Mesin Perkakas CNC B. MEMAHAMI MESIN CNC LANJUT A. Sistem Kontrol Absolut dan Sistem Kontrol Incremental C. Bagian Utama Mesin Frais CNC TU-3A 3. Pemrograman Mesin CNC 5. Penamaan Sistem Sumbu (Koordinat) Mesin Perkakas NC 1. Sistem Kontrol Langsung dan Sistem Kontrol Tidak Langsung 4. Kriteria Pemilihan Cairan Pendingin E.

___________________________________________________Daftar Isi 3. Langkah Percobaan 4. Tugas Programmer dalam Pembuatan Program NC 5. Kode dan Format Pemrograman 6. Pengertian Program NC 7. Struktur Program NC 8. Sistem Pemrograman Absolut dan Incremental 9. Kontruksi Program NC 10. Kode G (G-code) dan Fungsi M 11. Pembuatan Program NC BAB 14. MENGENAL EDM A. Gambaran Singkat EDM B. Cara kerja EDM C. Perkembangan Penggunaan EDM D. Penggunaan EDM E. Pemilihan Elektrode F. Jenis Bahan Elekrode G. Pembuatan Eektrode 1. Proses Galvano 2. Pembuatan Elektrode pada Umumnya 3. Pembuatan Elekrode Graphite H. Elektrode untuk Wire EDM I. Kualitas Hasil Pengerjaan EDM 1. Kelebihan Pemotongan (Overcut) 2. Pengerjaan Penghalusan (Fnishing) 3. Penyelesaian Setara Cermin (Mirror finishing) J. Keterbatasan Proses EDM BAB A. B. C. D. E. 15. MEMAHAMI TOLERANSI UKURAN GEOMETRIK Penyimpangan Selama Proses Pembuatan Toleransi dan Suaian Suaian Cara Penulisan Toleransi Ukuan/dimensi Toleransi Standar dan Penyimpangan Fundamental DAN 426 427 429 429 430 431 433 434 435 440 441 441 445 446 447 448 449 449 449 449 450 450 450 451 452 452 454 455 456 457 459 461

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN INDEKS

A B

C

Teknik Pemesinan

xii

BAB 1 MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN

Teknik Pemesinan

1

A. Statika dan Tegangan
1. Statika tatika adalah ilmu yang mempelajari tentang kesetimbangan benda, termasuk gaya-gaya yang bekerja pada sebuah benda agar benda tersebut dalam keadaan setimbang.

S
a.

Gaya Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan benda diam menjadi bergerak atau sebaliknya dari bergerak menjadi diam. Gaya dapat digambarkan sebagai sebuah vektor, yaitu besaran yang mempunyai besar dan arah. Gaya biasanya disimbolkan dengan huruf F.

Gambar 1 1. Perpindahan benda dari A ke B akibat gaya F Gaya yang bekerja pada benda di atas antara lain: Gaya berat (W) yang selalu berpusat pada titik beratnya dan arahnya selalu ke pusat grafitasi bumi. Gaya (F) dapat sejajar dengan permukaan benda atau membentuk sudut dengan permukanan tumpuan. Gaya F dapat menyebabkan masa (m) dari diam menjadi bergerak hingga memiliki percepatan sebesar a (m/s2), dapat dituliskan : F = m (Kg) . a (m/s2) = Kg.m/s2 = Newton (N) Bila gaya F dihilangkan benda (m) akan mengalami perlambatan hingga setelah waktu t detik benda akan berhenti (kecepatan v=0). Hal ini karena benda melewati permukaan kasar yang memiliki gaya gesek (f) yang arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda. Besarnya f tergantung pada harga koefisien geseknya (μ). Semakin kasar permukaan benda maka koefisien geseknya (μ) akan semakin besar. Bila gaya gesek lebih besar dari gaya tarik (F), maka benda akan berhenti (v = 0). Gaya gesek (f) berbanding lurus dengan gaya normal (N) benda atau dapat dituliskan : f = u . N Newton Teknik Pemesinan 2

di mana: N = gaya normal yang selalu tegak lurus permukaan benda (Newton) μ = koefisien gesek permukaan benda (tanpa satuan) Aplikasi dari gaya gesek dapat diilustrasikan pada contoh: roda yang masih baru akan memiliki cengkeraman yang lebih kuat dibanding dengan roda yang aus/halus. Pengereman di permukaan aspal lebih baik bila dibandingkan dengan di permukaan lantai keramik, karena μ aspal lebih besar dari u permukaan keramik.

Gambar 1 2. Gaya gesek antara roda mobil dan aspal jalan

1) Menentukan besarnya gaya Besarnya gaya dapat ditentukan oleh skala tertentu, misalnya 1 cm mewakili 1 Newton atau kelipatannya. Satuan gaya ditentukan oleh sistem satuan SI (standar internasional) yang dinyatakan dengan Newton (N). Garis lukisan gaya itu dapat diperpanjang sesuai besarnya gaya F. Titik tangkap gaya (A) dapat dipindahkan sepanjang lintasannya, asalkan besar dan panjangnya tetap sama sesuai dengan gaya F.

Gambar 1 3. Titik tangkap gaya (A) pada garis kerja gaya

Teknik Pemesinan

3

2) Menyusun dua buah gaya Arah gerak dan besar gaya pada benda A dipengaruhi oleh dua komponen gaya masing-masing gaya F1 dan F2. Pengaruh gaya F1 dan F2 terhadap benda/titik A dapat diwakili oleh Resultane gaya (F) yang besarnya dapat ditentukan sebagai berikut:

Gambar 1 4. Menyusun dua buah gaya menjadi gaya Resultan (F) Bila sudut persamaan : dibagi dalam
1

dan

2,

maka dapat dituliskan

F1 Sin

F2 Sin

F
2

Sin

3) Menyusun lebih dari dua gaya Benda A dikenai tiga buah gaya F1, F2 dan F3, maka resultan gayanya dapat dijabarkan sebagai berikut:

Gambar 1 5. Menyusun gaya lebih dari dua buah secara grafis Penyelesaian di atas disebut dengan penyelesaian secara grafis, namun ada juga penyelesaian secara Poligon (segi banyak) dan secara analitis, yaitu setiap gaya diuraikan kedalam sumbu x dan y. 4) Menyusun gaya dengan metode poligon Metode ini dengan cara memindahkan gaya P2 ke ujung P1, P3 ke ujung P2, P4 ke ujung P3 dan seterusnya secara berantai. Pemindahan gaya-gaya tersebut besar dan arahnya harus sama. Pemindahan dilakukan berurutan dan dapat berputar ke kanan atau ke kiri. Resultan gaya diperoleh dengan menarik garis dari titik A sampai ke ujung gaya

Teknik Pemesinan

4

dan arahnya adalah dari A menuju titik ujung gaya terakhir itu.yang terakhir. yaitu sebagai berikut. Gambar 1 7. Gambar 1 6. Untuk mencari resultan gaya juga dapat diakukan dengan cara analitis. kedudukan titik tangkapnya. baik untuk menentukan besarnya. Menyusun gaya lebih dari dua buah secara Analitis Teknik Pemesinan 5 . maupun arahnya melalui sumbu x dan y. Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon 5) Menyusun gaya secara Analitis.

Jika dua buah gaya dapat digantikan dengan sebuah gaya pengganti atau resultan. sistem pegas. Jarak (L) garis gaya (F) terhadap titik perputaran (o) Dimana F = gaya L = jarak gaya terhadap titik pusat M = Momen gaya Teknik Pemesinan 6 . pengguntingan pelat. Dalam bidang teknik mesin momen sering terjadi pada saat mengencangkan mur atau baut. Gambar 1 8. atau masing-masing komponen sebagai sisi-sisi dari jajaran genjang dengan sudut lancip tertentu yang mudah dihitung. Menguraikan gaya (proyeksi) ke sumbu X dan Y b. Pada gambar dibawah ini diberikan contoh sebuah gaya F yang diuraikan menjadi F1 dan F2 yang membentuk sudut lancip . Gambar 1 9. Momen Gaya dan Kopel 1) Momen Gaya Momen gaya F terhadap titik pusat O adalah hasil kali antara besarnya gaya F dengan jarak garis gaya. maka sebaliknya. dan sebagainya. ke titik pusat O.6) Menguraikan Gaya Menguraikan gaya dapat dilakukan dengan menguraikan pada arah vertikal dan horizontal yang saling tegak lurus. Besarnya momen tergantung dari besarnya gaya F dan jarak garis gaya terhadap titik putarnya (L). sebuah gaya dapat diuraikan menjadi dua buah gaya yang masing-masing disebut dengan komponen gaya menurut garis kerja yang sudah ditentukan.

Gambar 1 10. Dua gaya sama sejajar berlawanan arah dan berjarak L Dua gaya tersebut mengakibatkan suatu putaran yang besarnya merupakan hasil kali gaya dengan jaraknya. momen memiliki satuan Newton meter (N. Jika terdapat beberapa gaya yang tidak satu garis kerja seperti gambar di bawah maka momen gayanya adalah jumlah dari momen gaya-momen gaya itu terhadap titik tersebut. Suatu momen adalah positif (+) jika momen itu berputar searah jarum jam.Dalam satuan SI (standar international). Aplikasi dari kopel dapat dirasakan ketika membuat mur atau baut. (lihat gambar di bawah ini) Gambar 1 11. dan berharga negatif (-) jika berputar berlawanan arah putaran jarum jam. Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon 2) Kopel Sebuah kopel terjadi jika dua gaya dengan ukuran yang sama dan garis kerjanya sejajar tetapi arahnya berlawanan. dimana tangan kita memberikan gaya putar pada kedua tuas snei dan tap yang sama besar namun berlawanan arah. Teknik Pemesinan 7 .m). yang keduanya cenderung menimbulkan perputaran.

F2 Satuan momen: Nm atau kg. Teknik Pemesinan 8 . momen gaya F2 terhadap O. gaya luar dapat berupa F yang besar dan arahnya tergantung pada sumbernya. Kesetimbangan 1) Pengertian kesetimbangan Syarat kesetimbangan adalah jumlah momen-momen gaya terhadap titik kesetimbangan (o) sama dengan nol.= F1 . gaya luar dan gaya normal (N). gaya gesek (f). Dua gaya pada batang membentuk kesetimbangan Momen gaya F1 terhadap O. seperti pengungkit.cm. Aplikasi perhitungan momen biasanya dipergunakan dalam perhitungan pada alat angkat sederhana. Gambar di bawah ini menunjukkan gaya yang bekerja sejajar bidang lintasan. M2 = +F2 .F1 . tuas atau linggis. Gaya normal (N) merupakan reaksi tumpuan terhadap benda.c. arahnya tegak lurus dengan permukaan bidang. b . ton.a . antara lain gaya berat.m. kg. gaya gesek (f) arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda. a = 0 F 2 . Gaya berat (W) terletak pada titik pusat benda dan arahnya selalu menuju pusat bumi.m.b (berlawanan arah Jarum Jam) Persamaan kesetimbangannya: Mo = 0 F 2. 2) Kesetimbangan pada benda miring Benda pada bidang miring dalam kondisi diam atau bergerak memiliki gaya-gaya yang mempengaruhinya. Gambar 1 12. a (searah Jarum Jam). M1 = .F 1 . Nilai F tergantung pada arah benda ang bekerja.

Tegangan yang timbul pada penampang A-A Teknik Pemesinan 9 . Jika kita ambil penampang A-A dari balok. gaya sepusat (F) yang arahnya ke bawah.Gambar 1 13. dan di bawah penampang bekerja gaya reaksinya (F”) yang arahnya ke atas. Tegangan Pengertian Tegangan Hukum Newton pertama tentang aksi dan reaksi. Pada bidang penampang tersebut. Jika sebuah balok terletak di atas lantai. demikian pula sebaliknya lantai akan memberikan reaksi yang sama. maka setiap satuan luas penampang menerima beban sebesar: F A . balok akan memberikan aksi pada lantai. a. Kesetimbagan benda pada bidang miring Diagram vektor berbentuk segitiga siku di mana : F mg sin Jika gesekan diabaikan. Gambar 1 14. sehingga benda dalam keadaan setimbang. agar tetap setimbang maka gaya F sebesar: F = W sin o dan N = W Cos 2. Gaya aksi sepusat (F) dan gaya reaksi (F”) dari bawah akan bekerja pada setiap penampang balok tersebut. molekul-molekul di atas dan di bawah bidang penampang A-A saling tekan menekan.

begitu pula pada pembebanan yang lain. 2 m cm 2 Gambar 1 15. paku keling. Tegangan normal Sedangkan tegangan trangensialnya: Fq A kg. Tegangan biasanya dinyatakan dengan huruf Yunani (thau). Pada pembebanan tarik terjadi tegangan tarik. a) Tegangan Normal Tegangan normasl terjadi akibat adanya reaksi yang diberikan pada benda. pada pembebanan tekan terjadi tegangan tekan. Rantai yang diberi beban W akan mengalami tegangan tarik yang besarnya tergantung pada beratnya. tarikan. sedangkan luas penampang dalam m2. dan lain-lain. f m2 b) Tegangan Tarik Tegangan tarik pada umumnya terjadi pada rantai. maka satuan tegangan adalah N dyne atau . Gambar 1 16.Beban yang diterima oleh molekul-molekul benda setiap satuan luas penampang disebut tegangan. bengkokan. F A 1) Macam-macam tegangan Tegangan timbul akibat adanya tekanan. Tegangan tarik pada batang penampang luas A Teknik Pemesinan 10 . tali. dan reaksi. Jika gaya dalam diukur dalam N.

A = luas penampang c) Tegangan Tekan Tegangan tekan terjadi bila suatu batang diberi gaya F yang saling berlawanan dan terletak dalam satu garis gaya.Persamaan tegangan tarik dapat dituliskan: t F A Fa A Di mana : F = gaya tarik. Misalnya. gunting. Tegangan Geser Teknik Pemesinan 11 . tegak lurus sumbu batang. terjadi pada tiang bangunan yang belum mengalami tekukan. dan batang torak. Gambar 1 18. gaya tidak segaris namun pada penampangnya tidak terjadi momen. Tegangan tekan dapat ditulis: D Fa A F A Gambar 1 17. Tegangan tekan d) Tegangan Geser Tegangan geser terjadi jika suatu benda bekerja dengan dua gaya yang berlawanan arah. porok sepeda. Tegangan ini banyak terjadi pada konstruksi seperti sambungan keling. dan sambungan baut.

2 Dimana D = diameter paku keling n. maka F maksimum = 4 . Untuk hal ini tegangan yang terjadi adalah F g 4 .D 4 e) Tegangan Lengkung Misalnya. Gambar 1 19. maka pelengkungan benda diabaikan. Pada material akan timbul tegangan gesernya. . merupakan tegangan tangensial. Jadi. pada poros-poros mesin dan poros roda yang dalam keadaan ditumpu.D 2 Apabila pada konstruksi mempunyai n buah paku keling. sebesar: g gayadalam luaspenampang g F (N / m2 ) A Untuk konstruksi pada paku keling. dua gaya F sama besar berlawanan arah. maka sesuai dengan persamaan dibawah ini tegangan gesernya adalah F g .D 2 Tegangan geser terjadi karena adanya gaya radial F yang bekerja pada penampang normal dengan jarak yang relatif kecil. Tegangan lengkung pada batang rocker arm F RA RB dan b Mb Wb Mb = momen lengkung Wb = momen tahanan lengkung Teknik Pemesinan 12 .Pada gambar di atas. Gaya F bekerja merata pada penampang A.

Tegangan Puntir Tegagan puntir sering terjadi pada poros roda gigi dan batang-batang torsi pada mobil. juga saat melakukan pengeboran. f) Gambar 1 20. merupakan tegangan trangensial. Tegangan puntir Benda yang mengalami beban puntir akan menimbulkan tegangan puntir sebesar: t Mt Wp Mt = momen puntir (torsi) Wp = momen tahanan polar (pada puntir) Teknik Pemesinan 13 . Jadi.

Macam-macam poros Poros sebagai penerus pembebanannya sebagai berkut : daya diklasifikasikan menurut 1) Gandar Gandar merupakan poros yang tidak mendapatkan beban puntir. maka perlu diperhitungkan gaya yang bekerja pada poros di atas antara lain: Gaya dalam akibat beratnya (W) yang selalu berpusat pada titik gravitasinya. Kontruksi poros kereta api Untuk merencanakan sebuah poros. Teknik Pemesinan 14 . dan roda gigi. Gaya yang timbul pada benda dapat berasal dari gaya dalam akibat berat benda sendiri atau gaya luar yang mengenai benda tersebut. karena tegangan dapat rimbul pada benda yang mengalami gaya-gaya. dipasang berputar terhadap poros dukung yang tetap atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar. dan lain-lain. biasanya tidak berputar.B. roda jalan. As gardan. Gaya (F) merupakan gaya luar arahnya dapat sejajar dengan permukaan benda ataupun membentuk sudut dengan permukanan benda. Mengenal Elemen Mesin 1. fungsinya hanya sebagai penahan beban. yaitu poros roda kereta api. Poros Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga melalui putaran mesin. tromol kabel. F1 F2 Gambar 1 21. piringan kabel. seperti cakra tali. Baik gaya dalam maupun gaya luar akan menimbulkan berbagai macam tegangan pada kontruksi tersebut antara lain: a. puli sabuk mesin. Gaya F dapat menimbulkan tegangan pada poros. Contoh sebuah poros dukung yang berputar. Setiap elemen mesin yang berputar.

Gambar 1 22. seperti poros utama mesin perkakas. di mana beban utamanya berupa puntiran. atau pada as truk bagian depan. 2) Spindle Poros transmisi yang relatif pendek. dan lainlain. Poros transmisi mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur yang akan meneruskan daya ke poros melalui kopling. Spindle mesin bubut 3) Poros transmisi Poros transmisi berfungsi untuk memindahkan tenaga mekanik salah satu elemen mesin ke elemen mesin yang lain. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil. momen puntir yang akan dipindahkan oleh poros dapat ditentukan dengan mengetahui garis tengah pada poros. Konstruksi poros transmisi b.Contohnya seperti yang dipasang pada roda-roda kereta barang. roda gigi. puli sabuk atau sproket rantau. Beban pada poros 1) Poros dengan beban puntir Daya dan perputaran. Teknik Pemesinan 15 . disebut spindle. dan bentuk serta ukurannya harus teliti. Gambar 1 23.

Bila jarak ini ditempuh dalam waktu t. Beban lentur murni pada lengan robot Teknik Pemesinan 16 . maka daya. t M w. Momen ini merupakan momen puntir yang bekerja dalam poros. tetapi juga mendapat beban dinamis. W t ialah kecepatan sudut poros.Gambar 1 24. M w. Poros transmisi dengan beban puntir Apabila gaya keliling F pada gambar sepanjang lingkaran denga jarijari r menempuh jarak melalui sudut titik tengah (dalam radial). Meskipun pada kenyataannya gandar ini tidak hanya mendapat beban statis. Gaya F yang bekerja pada keliling roda gigi dengan jari-jari r dan gaya reaksi pada poros sebesar F merupakan suatu kopel yang momennya Mw = F. . melainkan diasumsikan mendapat pembebanan lentur saja. Gambar 1 25. momen puntirnya: Mw P 2) Poros dengan beban lentur murni Poros dengan beban lentur murni biasanya terjadi pada gandar dari kereta tambang dan lengan robot yang tidak dibebani dengan puntiran. maka jarak ini adalah r.r. M w.r. Jadi. W P di mana F . dan kerja yang dilakukan adalah F.

Beban puntir dan lentur pada arbor saat pemakanan Agar mampu menahan beban puntir dan lentur. terutama pada saat pemakanan. s 32M 3 ds dan 16T ds 3 . maka bahan poros harus bersifat liat dan ulet agar mampu menahan tegangan geser maksimum sebesar: 2 max 4 2 2 Pada poros yang pejal dengan penampang bulat.1 max ds 3 M2 T2 Teknik Pemesinan 17 .M 1 1 3 3) Poros dengan beban puntir dan lentur Poros dengan beban puntir dan lentur dapat terjadi pada puli atau roda gigi pada mesin untuk meneruskan daya melalui sabuk. gandar dan roda. Gambar 1 26. sehingga 5. Selain itu beban puntir dan lentur juga terjadi pada lengan arbor mesin frais. Jika poros tersebut mempunyai roda gigi untuk meneruskan daya besar. di mana beban pada suatu gandar diperoleh dari 1 2 berat kendaraan dengan muatan maksimum dikurangi berat a. atau rantai. maka kejutan berat akan terjadi pada saat mulai atau sedang berputar.Jika momen lentur M1. tegangan lentur yang diijinkan adalah diameter dari poros adalah maka ds 10. Beban yang bekerja pada poros pada umumnya adalah beban berulang.2 a . Dengan demikian poros tersebut mendapat beban puntir dan llentur akibat adanya beban.

Gambar 1 27. Bantalan radial. Bantalan poros dapat dibedakan menjadi dua. di mana arah beban yang ditumpu bantalan tegak lurus sumbu poros. Berdasarkan arah beban terhadap poros. di mana terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti rol atau rol jarum. di mana terjadi gerakan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan lapisan pelumas. Bantalan luncur dilengkapi alur pelumas b. Teknik Pemesinan 18 . hal ini agar elemen mesin dan poros dapat bekerja dengan baik. agar dapat berputar atau bergerak bolak-balik secara kontinnyu serta tidak berisik akibat adaya gesekan. Bantalan Bantalan diperlukan untuk menumpu poros berbeban. Gambar 1 28. Bantalan aksial.2. di mana arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros. antara lain: a. Posisi bantalan harus kuat. Bantalan radial b. Bantalan gelinding. a. Bantalan luncur. maka bantalan dibedakan menjadi tiga hal berikut.

antara lain: kekuatan bahan (strength). sedangkan logam nonferro (bukan besi) antara lain emas. Beberapa material seperti baja struktur. Dengan mengetahui unsur-unsur kimia ini. kita dapat menghasilkan logam yang kuat dan keras sesuai kebutuhan. perak. di mana bantalan ini menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros. dan besi cor. kekakuan. dan timah putih. Bantalan aksial c. Bantalan gelinding khusus C. material juga dapat dikelompokkan berdasarkan unsur-unsur kimia. Kekuatan (strength) adalah kemampuan material untuk menahan tegangan tanpa kerusakan. baja. sifat kimia. besi Teknik Pemesinan 19 . kelelahan bahan. sifat fisika. kekerasan elastisitas. Bantalan gelinding khusus. Yang termasuk sifat mekanis pada logam. Gambar 1 30. Bahan logam ferro diantaranya besi. Bahan non logam dapat dibagi menjadi bahan organik (bahan yang berasal dari alam) dan bahan anorganik. 1. Berbagai Macam Sifat Logam Logam mempunyai beberapa sifat antara lain: sifat mekanis. Selain pengelompokan di atas. Pembebanan yang diberikan dapat berupa pembebanan statis (besar dan arahnya tetap). plastisitas. Mengenal Material dan Mineral Material dapat berupa bahan logam dan non logam. dan sifat pengerjaan. Bahan logam ini terdiri dari logam ferro dan nonferro. sifat fisika. Sifat mekanis adalah kemampuan suatu logam untuk menahan beban yang diberikan pada logam tersebut.Gambar 1 29. ataupun pembebanan dinamis (besar dan arahnya berubah). nonlogam dan metalloid. sifat kimia dan sifat pengerjaan. yaitu unsur logam.

Elastisitas merupakan kemampuan suatu material untuk kembali ke ukuran semula setelah gaya dari luar dilepas.tempa. Ukuran kekuatan bahan adalah tegangan maksimumnya. Elastisitas ini penting pada semua struktur yang mengalami beban yang berubah-ubah terlebih pada alat-alat dan mesin-mesin presisi. Korosi adalah terjadinya reaksi kimia antara suatu bahan dengan lingkungannya. kekuatan gesermya kira-kira dua pertiga kekuatan tariknya. alumunium. Plastisitas adalah kemampuan suatu bahan padat untuk mengalami perubahan bentuk tetap tanpa ada kerusakan. atau geser. atau gaya terbesar persatuan luas yang dapat ditahan bahan tanpa patah. Kepadatan. tekan. Kelelahan bahan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima beban yang berganti-ganti dengan tegangan maksimum diberikan pada setiap pembebanan. Untuk mengetahui kekuatan suatu material dapat dilakukan dengan pengujian tarik. Kekerasan (hardness) adalah ketahanan suatu bahan untuk menahan pembebanan yang dapat berupa goresan atau penekanan. Yang termasuk sifat-sifat fisika adalah sebagai berikut: Titik lebur. Daya hantar panas. Sifat fisika adalah karakteristik suatu bahan ketika mengalami peristiwa fisika seperti adanya pengaruh panas atau listrik. Kekerasan merupakan kemampuan suatu material untuk menahan takik atau kikisan. Ada dua macam pengerjaan yang biasa dilakukan yaitu sebagai berikut : Teknik Pemesinan 20 . Sifat pengerjaan adalah suatu sifat yang timbul setelah diadakannya proses pengolahan tertentu. yaitu korosi karena efek galvanis dan reaksi kimia langsung. Sifat pengerjaan ini harus diketahui terlebih dahulu sebelum pengolahan logam dilakukan. Untuk mengetahui kekerasan suatu material digunakan uji Brinell. Sementara itu. Kekakuan adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk menahan perubahan bentuk atau deformasi setelah diberi beban. Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk kembali ke bentuk semula setelah menerima beban yang mengakibatkan perubahan bentuk. dan tembaga mempunyai kekuatan tarik dan tekan yang hampir sama. Secara garis besar ada dua macam korosi. dan daya hantar listrik Sifat kimia adalah kemampuan suatu logam dalam mengalami peristiwa korosi.

c. dan lain-lain. mineral mempunyai warna tertantu. Unsur-unsur Nonlogam Unsur-unsur nonlogam (nonmetallic) dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan kegunaannya. yang mempunyai bentuk dan ciri-ciri khusus serta mempunyai susunan kimia yang tetap. b. dan titanium. mineral mempunyai berat jenis antara 2 – 4 ton/m2. yaitu yang berlimpah di kerak bumi seperti besi. timah. Berat jenis. minyak bumi. Bahan bakar fosil. Persediaan energi kita sekarang sangat bergantung pada bahan-bahan ini. dan belerang merupakan bahanbahan utama industri-industri kimia dan pupuk buatan. batu kerikil. misalnya malagit berwarna hijau. dan ada pula mineral yang memiliki bermacam-macam warna misalnya kuarsa. dan yang sedikit terdapat di alam seperti tenbaga. batu hancur. Berbagai Jenis Sumber Daya Mineral a. kalsium fosfat. bentuk kristalnya dapat dipecah-pecah menjadi beberapa kubus dan patahannya akan terlihatk dengan jelas. Unsur-unsur Logam Unsur-unsur logam dibagi lagi dalam dua kelompok menurut banyaknya. b. Mineral Mineral merupakan suatu bahan yang banyak terdapat di dalam bumi. d. Air merupakan sumber mineral terpenting dari semuanya yang terdapat melimpah di permukaan bumi. Pasir.2. Misalnya. Tanpa air tidak mungkin kita dapat menanam dan menghasilkan bahan makanan. mangan. Setiap mineral memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda. Warna. Kristal atau belahan merupakan mineral yang mempunyai bidang datar halus. dan semen terutama dipakai sebagai bahan-bahan bangunan dan konstruksi lainnya. dan gas alam. gips. 3. timah hitam. Berat jenis ini akan berubah setelah diolah menjadi bahan. seng. bentuk heksagonal (enam bidang) pada kuarsa. Moneral memliki ciri-ciri khas antara lain: a. Contohnya bentuk kubus pada galmer (bilih seng). alumunium. Misalnya emas. dan tembaga yang mempunyai kilat logam. yaitu yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang seperti batubara. lazurit berwarna biru. Teknik Pemesinan 21 . Kilatan merupakan sinar suatu mineral apabila memantulkan cahaya yang dikenakan kepadanya. Cerat. merupakan warna yang timbul bila mineral tersebut digoreskan pada porselen yang tidak dilicinkan. antara lain : Natrium klorida.

(c) metode-metode untuk mereduksi bijih besi. antara lain: (a) metode untuk memproduksi baja yang berkualitas tinggi dari besi kasar. akibat semakin berkurangnya persediaan kayu. a. karbon dalam bentuk kokas dan oksida besi bereaksi pada suhu tinggi. batu kapur (CaCO3) harus juga ditambahkan sebagai imbuh (flux) agar bercampur dengan kotoran-kotoran dan mengeluarkannya sebagai slag (terak). Dapur pengolahan biji besi menjadi besi Sejak abad ke-14 besi mulai diproduksi dalam jumlah besar dan dasar-dasar eksploitasi industri besi secara modern sudah dimulai. (b) prosedur-prosedur tanur yang lebih efisien. (d) metode-metode untuk memamfaatkan bijih-bijih besi yang mengandung kotoran-kotoran perusak seperti fosfor dan belerang. Gambar 1 31.dan (d) metode-metode untuk memproses bijih besi berkadar rendah. Setelah itu diperoleh berbagai penemuan dalam produksi besi.4. Pemurnian mineral adalah proses memisahkan satu bentuk mineral dari mineral-mineral lainnya melalui satu proses dan cara tertentu. Selama proses itu. termasuk juga pemakaian kokas yang dibuat dari batu bara sebagai pengganti arang kayu. membentuk metalik iron (besi yang bersifat logam) dan gas karbon dioksida. Teknik Pemesinan 22 . Proses pemurnian bijih besi Melebur dan mengoksidasi besi adalah proses kimia yang sederhana. Karena bijih besi jarang ada yang murni. Pemurnian Mineral Mineral pada awalnya ditemukan di alam masih bercampur dengan mineral lain sehingga perlu dilakukan proses pemurnian untuk mendapatkan satu bentuk mineral.

c. sesudah itu dipanggang sehingga terbentuk campuran FeS. dan besi membentuk terak yang dibuang pada selang waktu tertentu. Panas oksidasi yang dihasilkan cukup tinggi sehingga muatan tetap cair dan sulfida tembaga akhirnya berubah menjadi oksida tembaga dan sulfat.b. e. kotoran-kotoran teroksidasi. akan didapatkan alumina. bagian lain tidak bereaksi dan dapat dipisahkan. Karena titik lelehnya tinggi. Campuran ini disebut kalsin dan dilebur dengan batu kapur sebagi fluks dalam dapur reverberatory. Teknik Pemesinan 23 . FeO. Campuran silikat timbel dengan oksida timbel yang dipijarkan pakai kokas kemudian dicampur dengan batu kapur. Tepung bijih dipekatkan terlebih dahulu. Besi yang ada larut dalam terak dan tembaga. bijih itu dilebur di dalam dapur corong atau dapur nyala api dengan kokas dan dituang menjadi balok-balok kecil. sedang proses elektrolisis di sini sebagai reduksi Al2O3. Proses pemurnian tembaga Proses pemurnian tembaga diawali dengan penggilingan bijih tembaga kemudian dicampur dengan batu kapur dan bahan fluks silika. Setelah itu. Setelah itu. d. alumina di dalamnya membentuk natrium aluminat. Bauksit dimasukkan ke dalam kauksit soda. tembaga ini dilebur dan dicor menjadi slab. Lima belas persen alumina (Al2O3) dapat diuraikan ke dalam kriolit. sedang timbel dengan campurannya yang lain berubah menjadi oksida timah hitam (PbO) dan sebagian lagi menjadi timbel sulfat (PbSO4). alumina dilarukan ke dalam cairan klorit (garam Na3AlF6) yang berfungsi sebagai elektrolit sehingga titik lelehnya menjadi rendah (1000°C). akan menghasilkan timbel. Proses pemurnian timbel/timah hitam (Pb) Bijih-bijih timbel harus dipanggang terlebih dahulu untuk menghilangkan sulfida-sulfida. kemudian diolah lebih lanjut secara elektronik menjadi tembaga murni. SiO2. Bila aliran udara dihentikan. Bijih bauksit mula-mula dimurnikan terlebih dahulu dengan proses kimia dan alumunium oksida murni diuraikan dengan elektrolisis. Proses pemurnian timah putih (Sn) Proses pemurnian timah putih diawali dengan memisahkan Bijih timah dan pasir dengan mencuci lalu dikeringkan. Dengan menambah kwarsa (SiO2) pada sulfat di atas suhu yang tinggi akan mengubah timbel sulfat menjadi silikat. dan CuS. Udara dihembuskan ke dalam konventor selama 4 – 5 jam. oksida bereaksi dengan sulfida membentuk tembaga blister dan dioksida belerang. besi yang tersisa ditaungkan ke dalam konventor. Proses pemurnian alumunium Proses pemurian alumunium dengan cara memanaskan alumunium hidroksida sampai lebih kurang 1300°C (diendapkan).

Bijih-bijih yang mengandung emas dikerjakan dalam air raksa. Teknik Pemesinan 24 . Proses pemurnian perak Proses pemurnian perak dilakukan dengan jalan elektrolisis bijih-bijih perak. sedangkan platina tidak dapat melarut dalam air raksa. j. Proses pemurnian nikel (Ni) Proses pemurnian nikel diawali dengan pembakaran bijih nikel. silikat seng (ZnSiO4H2O). proses pemurniannya dikerjakan dengan jalan elektrolisis di atas sebuah cawan tertutup dalam dapur nyala api. Proses pemurnian platina Proses pemurnian platina tergantung pada zat-zat yang terkandung dalam bijih-bijih logam. yaitu dengan cara memijarkan oksida magnesium bersama-sama dengan zat arang (karbon) atau silisium ferro sebagai bahan reduksi. Jika hasil yang diinginkan lebih baik (tidak berlubang). Setelah itu magnesium dapat terpisahkan h. Proses pemurnian seng (Zn) Proses pemurnian seng diawali dengan memisahkan bijih seng kemudian dipanggang dalam dapur untuk mengeluarkan belerang dan asam arang. Platina itu dapat dibersihkan sampai tercapai keadaan yang murni. Reduktor yang digunakan biasanya mangan dan fosfor. karbonatnya terurai dan sulfidanya dioksidasi. Bijih perak yang mengandung belerang dipanggang dahulu kemudian dicairkan.f. hanya tertinggal peraknya saja. g. Berikutnya adalah dengan proses kimiawi (proses elektrolisis). dan sulfida seng (ZnS). Setelah itu. kemudian dicairkan untuk proses reduksi dengan menggunakan arang dan bahan tambahan lain dalam sebuah dapur tinggi. Dari proses tersebut nikel yang didapat kurang lebih 99%. Proses pemurnian magnesium Untuk memperoleh magnesium dilakukan dengan jalan elektrolisis. i. Bijih seng didapat dari senyawa belerang diantaranya karbonat seng (ZnCO3). Bijih yang mengandung timbel dihaluskan kemudian dicairkan dengan memasukkan zat asam yang banyak sampai timbel terbakar menjadi glit-timbel dan dikeluarkan sebagai terak. Setelah itu terjadilah oksida seng.

BAB 2 MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN Teknik Pemesinan 25 .

Mengenal Proses Pengecoran Logam 1. yaitu : expandable (dapat diperluas) dan non expandable (tidak dapat diperluas). Pengecoran dapat berupa material logam cair atau plastik yang bisa meleleh (termoplastik). Proses pengecoran logam Teknik Pemesinan 26 . kemudian dibiarkan membeku di dalam cetakan tersebut. Logam cair sedang dituangkan ke dalam cetakan Pengecoran digunakan untuk membentuk logam dalam kondisi panas sesuai dengan bentuk cetakan yang telah dibuat. Proses pengecoran dibagi menjadi dua. P Gambar 2 1. dan lain-lain yang jika dalam kondisi kering akan berubah menjadi keras dalam cetakan. Pengecoran digunakan untuk membuat bagian mesin dengan bentuk yang kompleks.A. dan kemudian dikeluarkan atau dipecah-pecah untuk dijadikan komponen mesin. dan terbakar dalam perapian. Gambar 2 2. juga material yang terlarut air misalnya beton atau gips. Pengertian engecoran (casting) adalah suatu proses penuangan materi cair seperti logam atau plastik yang dimasukkan ke dalam cetakan. dan materi lain yang dapat menjadi cair atau pasta ketika dalam kondisi basah seperti tanah liat.

Teknik Pemesinan 27 . Cetakan pasir bisa dibuat secara manual maupun dengan mesin. Pembuatan Cetakan Manual Pembuatan cetakan tangan meliputi pembuatan cetakan dengan kup dan drag.Pengecoran biasanya diawali dengan pembuatan cetakan dengan bahan pasir. seperti pada gambar di bawah ini: 2. Pembuatan cetakan tangan dengan dimensi yang besar dapat menggunakan campuran tanah liat sebagai pengikat. dan banyak variasinya. Pembuatan cetakan secara manual dilakukan bila jumlah komponen yang akan dibuat jumlahnya terbatas. Dewasa ini cetakan banyak dibuat secara mekanik dengan mesin agar lebih presisi serta dapat diproduk dalam jumlah banyak dengan kualitas yang sama baiknya.

dapat dipakai kembali dengan mencampur pasir baru dan pengikat baru setelah kotoran-kotoran dalam pasir tersebut dibuang. dan pembuatan cetakan dengan pelempar pasir. Pasir cetak dapat digunakan berulang-ulang. Selain pembuatan cetakan secara manual. Adapun mesin-mesin yang dipakai dalam pengolahan pasir. prembuatan cetakan dengan mesin tekanan tinggi. Dimensi benda kerja yang akan dibuat (a). sedangkan untuk pengaduk pasir digunakan Teknik Pemesinan 28 . Setelah digunakan dalam proses pembuatan suatu cetakan.Gambar 2 3. Prosesnya dengan cara pembuangan debu halus dan kotoran. (b) cetakan siap (c). pembuatan cetakan dengan mesin pendesak. serta pendinginan pasir cetak. 3. pasir cetak tersebut dapat diolah kembali tidak bergantung pada bahan logam cair. menutupi permukaan pola dalam rangka cetak dengan pasir. pencampuran. antara lain: a. Penggiling pasir Penggiling pasir digunakan apabila pasir tersebut menggunakan lempung sebagai pengikat. proses penuangan (d). Pengolahan Pasir Cetak Pasir cetak yang sudah digunakan untuk membuat cetakan. dan produk pengecoran (e). pembuatan cetakan dengan mesin guncang desak. juga dikenal pembuatan cetakan dengan mesin guncang.

c. Pengayakan Untuk mendapatkan pasir cetak. pasir dari penggiling pasir kadang-kadang diisikan ke pencampur pasir atau biasanya pasir bekas diisikan langsung ke dalamnya. akan tetapi pasir kering memiliki batas ukuran berat tertentu. udara pendingin perlu bersentuhan dengan butir-butir pasir sebanyak mungkin.700 kg. Jadi. yaitu ayakan berputar dan ayakan bergetar. Pencampur pasir Pencampur pasir digunakan untuk memecah bungkah-bungkah pasir setelah pencampuran. 4. yang kemudian didinginkan oleh udara dari bawah. gips. 5. udara lewat melalui pasir yang diagitasi. b. Pasir hijau/green sand (basah) hampir tidak memiliki batas ukuran beratnya. Metode ini melibatkan penggunaan cetakan sementara dan cetakan sekali pakai. Pasir ini disatukan dengan menggunakan tanah liat (sama dengan proses pada pasir hijau) atau dengan menggunakan Teknik Pemesinan 29 . yaitu antara 2. Jenis ayakan ada dua macam. Batas minimumnya adalah antara 0. Adapun pada pendingin pasir tegak. Pendingin pasir Dalam mendinginkan pasir. tempurung. plastiK. ayakan dipakai untuk menyisihkan kotoran dan butir-butir pasir yang sangat kasar.300-2. Pada pendingin pasir pengagitasi. Pemisahan magnetis Pemisahan magnetis digunakan untuk menyisihkan potongan besi yang berada dalam pasir cetak tersebut. potongan- e.05-1 kg. d. Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) Pengecoran dengan pasir membutuhkan waktu selama beberapa hari dalam proses produksinya dengan hasil rata-rata (1-20 unit/jam proses pencetakan) dan proses pengecoran dengan bahan pasir ini akan membutuhkan waktu yang lebih lama terutama untuk produksi dalam skala yang besar. Pendingin pasir bergetar menunjukkan alat di mana pasir diletakkan pada pelat dan pengembangan pasir efektif. Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting) Expandable mold casting adalah sebuah klasifikasi generik yang melibatkan pasir. pasir dijatuhkan ke dalam tangki dan disebar oleh sebuah sudu selama jatuh. dan investment molding (teknik lost-wax).jika pasir menggunakan bahan pengikat seperti minyak pengering atau natrium silikat.

hasilnya akan lebih tahan lama (jika disimpan di tempat tertutup) dibanding dengan tanah liat asli yang harus disimpan di tempat yang basah agar tidak pecah. Pasir hampir pada setiap prosesnya dapat diulang beberapa kali dan membutuhkan bahan input tambahan yang sangat sedikit. magnesium. gips yang sederhana dan tebal dicetak. Dalam proses pengecoran ini. Dengan pencetakan gips.bahan perekat kimia/minyak polimer. diperkuat dengan menggunakan serat. Pada dasarnya. Pengecoran logam pada cetakan pasir 6. Cetakan kemudian dapat digunakan lagi di lain waktu untuk melapisi gips aslinya sehingga tampak benar-benar seperti tanah liat asli. Bentuk-bentuk ini harus mampu memuaskan standar tertentu sebab bentuk-bentuk tersebut merupakan inti dari proses pergecoran dengan pasir . proses ini akan secara tidak sengaja merusak keutuhan tanah liat tersebut. tembaga. gips ini dipindah dari tanah liat yang lembab. Pengecoran ini adalah teknik tertua dan paling dipahami hingga sekarang. Permukaan gips ini selanjutnya dapat Teknik Pemesinan 30 . Pengecoran dengan pasir ini juga dapat digunakan pada logam bertemperatur tinggi. kain goni. semua itu dibalut dengan tanah liat asli. dan nikel. Akan tetapi ini bukanlah masalah yang serius karena tanah liat tersebut telah berada di dalam cetakan. aluminium. seperti besi. Pada proses pembuatannya. pengecoran dengan pasir ini digunakan untuk mengolah logam bertemperatur rendah. namun untuk bahan logam selain itu tidak akan bisa diproses. Gambar 2 4. Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) Gips yang tahan lama lebih sering digunakan sebagai bahan dasar dalam produksi pahatan perunggu atau sebagai pisau pahat pada proses pemahatan batu.

diperbarui, dilukis, dan dihaluskan agar menyerupai pencetak dari perunggu. Pengecoran dengan gips hampir sama dengan pengecoran dengan pasir kecuali pada bagian gips diubah dengan pasir. Campuran gips pada dasarnya terdiri dari 70-80 % gipsum dan 20-30 % penguat gipsum dan air. Pada umumnya, pembentukan pengecoran gips ini membutuhkan waktu persiapan kurang dari 1 minggu, setelah itu akan menghasilkan produksi rata-rata sebanyak 1-10 unit/jam pengecorannya dengan berat untuk hasil produksinya maksimal mencapai 45 kg dan minimal 30 kg, dan permukaan hasilnyapun memiliki resolusi yang tinggi dan halus. Jika gips digunakan dan pecah, maka gips tersebut tidak dapat diperbaiki dengan mudah. Pengecoran dengan gips ini normalnya digunakan untuk logam non belerang seperti aluminium, seng, tembaga. Gips ini tidak dapat digunakan untuk melapisi bahan-bahan dari belerang karena sulfur dalam gipsum secara perlahan bereaksi dengan besi. Persiapan utama dalam pencetakan adalah pola yang ada disemprot dengan film yang tebal untuk membuat gips campuran. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah cetakan merusak pola. Unit cetakan tersebut dikocok sehingga gips dapt mengisi lubang-lubang kecil di sekitar pola. Pembentuk pola dipindahkan setelah gips diatur. Pengecoran gips ini menunjukkan kemajuan, karena penggunaan peralatan otomatis dapat segera digunakan dengan mudah ke sistem robot, karena ketepatan desain permintaan semakin meningkat yang bahkan lebih besar dari kemampuan manusia. 7. Pengecoran Gips, Beton, atau Plastik Resin.

Gips sendiri dapat dilapisi, demikian pula dengan bahan-bahan kimia lainnya seperti beton atau plastik resin. Bahan-bahan ini juga mengunakan percetakan yang sama seperti penjelasan di atas (waste mold) atau multiple use piece mold, atau percetakan yang terbuat dari bahan-bahan yang sangat kecil atau bahan yang elastis seperti karet latex (yang cenderung disertai dengan cetakan yang ekstrim). Jika pengecoran dengan gips atau beton maka produk yang dihasilkan akan seperti kelereng, tidak begitu menarik, kurang transparan dan biasanya dilukis. Tak jarang hal ini akan memberikan penampilan asli dari logam/batu. Alternatif untuk mengatasi hal ini adalah lapisan utama akan dibiarkan mengandung warna pasir sehingga memberikan nuansa bebatuan. Dengan menggunakan pengecoran beton, bukan pengecoran gips, memungkinkan kita untuk membuat ukiran, pancuran air, atau tempat duduk luar ruangan. Selanjutnya adalah membuat meja cuci (washstands) yang menarik, washstands dan shower stalls dengan perpaduan beraneka ragam warna akan menghasilkan pola yang menarik seperti yang tampak pada kelereng/ravertine.

Teknik Pemesinan

31

Gambar 2 5. Turbin air produk hasil pengecoran logam

Proses pengecoran seperti die casting dan sand casting menjadi suatu proses yang mahal, bagaimanapun juga komponen-komponen yang dapat diproduksi menggunakan pengecoran investment dapat menciptakan garis-garis yang tak beraturan dan sebagian komponen ada yang dicetak near net shape sehingga membutuhkan sedikit atau bahkan tanpa pengecoran ulang. Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) Pengecoran sentrifugal berbeda dengan penuangan gravitasi-bebas dan tekanan-bebas karena pengecoran sentrifugal membentuk dayanya sendiri menggunakan cetakan pasir yang diputar dengan kecepatan konstan. Pengecoran sentrifugal roda kereta api merupakan aplikasi awal dari metode yang dikembangkan oleh perusahaan industri Jerman Krupp dan kemampuan ini menjadikan perkembangan perusahaan menjadi sangat cepat. 8.

Gambar 2 6. Turbin air produk hasil pengecoran logam

Die Casting Die casting adalah proses pencetakan logam dengan menggunakan penekanan yang sangat tinggi pada suhu rendah. Cetakan tersebut disebut die. Rentang kompleksitas die untuk memproduksi bagian-bagian logam non belerang (yang tidak perlu sekuat, sekeras, atau setahan panas seperti baja) dari keran cucian sampai cetakan mesin (termasuk hardware, bagian-bagian komponen mesin, mobil mainan, dsb).

9.

Teknik Pemesinan

32

Gambar 2 7. Die casting

Logam biasa seperti seng dan alumunium digunakan dalam proses die casting. Logam tersebut biasanya tidak murni melainkan logam logam yang memiliki karakter fisik yang lebih baik. Akhir-akhir ini suku cadang yang terbuat dari plastik mulai menggantikan produk die casting banyak dipilih karena harganya lebih murah (dan bobotnya lebih ringan yang sangat penting khususnya untuk suku cadang otomotif berkaitan dengan standar penghematan bahan bakar). Suku cadang dari plastik lebih praktis (terutama sekarang penggunan pemotongan dengan bahan plastik semakin memungkinkan) jika mengesampingkan kekuatannya, dan dapat didesain ulang untuk mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan. Terdapat empat langkah utama dalam proses die casting. Pertamatama cetakan disemprot dengan pelicin dan ditutup. Pelicin tersebut membantu mengontrol temperatur die dan membantu saat pelepasan dari pengecoran. Logam yang telah dicetak kemudian disuntikkan pada die di bawah tekanan tinggi. Takanan tinggi membuat pengecoran setepat dan sehalus adonan. Normalnya sekitar 100 MPa (1000 bar). Setelah rongganya terisi, temperatur dijaga sampai pengecoran menjadi solid (dalam proses ini biasanya waktu diperpendek menggunakan air pendingin pada cetakan). Terakhir die dibuka dan pengecoran mulai dilakukan. Yang tak kalah penting dari injeksi bertekanan tinggi adalah injeksi berkecepatan tinggi, yang diperlukan agar seluruh rongga terisi, sebelum ada bagian dari pengecoran yang mengeras. Dengan begitu diskontinuitas (yang merusak hasil akhir dan bahkan melemahkan kualitas pengecoran) dapat dihindari, meskipun desainnnya sangat sulit untuk mampu mengisi bagian yang sangat tebal. Sebelum siklusnya dimulai, die harus di-instal pada mesin die pengecoran, dan diatur pada suhu yang tepat. Pengesetan membutuhkan waktu 1-2 jam, dan barulah kemudian siklus dapat berjalan selama sekitar beberapa detik sampai beberapa menit, tergantung ukuran pengecoran. Batas masa maksimal untuk magnesium, seng, dan aluminium adalah sekitar 4,5 kg, 18 kg, dan 45 kg. Sebuah die set dapat bertahan sampai 500.000 shot selama masa pakainya, yang sangat Teknik Pemesinan

33

dipengaruhi oleh suhu pelelehan dari logam yang digunakan. Aluminium biasanya memperpendek usia die karena tingginya temperatur dari logam cair yang mengakibatkan kikisan cetakan baja pada rongga. Cetakan untuk die casting seng bertahan sangat lama karena rendahnya temperatur seng. Sedang untuk tembaga, cetakan memiliki usia paling pendek dibanding yang lainnya. Hal ini terjadi karena tembaga adalah logam terpanas. Seringkali dilakukan operasi sekunder untuk memisahkan pengecoran dari sisa-sisanya, yang dilakukan dengan menggunakan trim die dengan power press atau hidrolik press. Metode yang lama adalah memisahkan dengan menggunakan tangan atau gergaji. Dalam hal ini dibutuhkan pengikiran untuk menghaluskan bekas gergajian saat logam dimasukkan atau dikeluarkan dari rongga. Pada akhirnya, metode intensif, yang membutuhkan banyak tenaga digunakan untuk menggulingkan shot jika bentuknya tipis dan mudah rusak. Pemisahan juga harus dilakukan dengan hati-hati. Kebanyakan die caster melakukan proses lain untuk memproduksi bahan yang tidak siap digunakan. Yang biasa dilakukan adalah membuat lubang untuk menempatkan sekrup.

Gambar 2 8. Salah satu produk die casting

10.

Kecepatan Pendinginan

Kecepatan di saat pendinginan cor mempengaruhi properti, kualitas dan mikrostrukturnya. Kecepatan pendinginan sangat dikontrol oleh media cetakan. Ketika logam yang dicetak dituangkan ke dalam cetakan, pendinginan dimulai. Hal ini terjadi, karena panas antara logam yang dicetak mengalir menuju bagian pendingin cetakan. Materi-materi cetakan memindahkan panas dari pengecoran menuju cetakan dalam kecepatan yang berbeda. Contohnya, beberapa cetakan yang terbuat dari plaster memungkinkan untuk memidahkan panas dengan lambat sekali sedangkan cetakan yang keseluruhannya terbuat dari besi yang dapat mentranfer panas dengan sangat cepat sekali. Pendinginan ini akan

Teknik Pemesinan

34

berakhir dengan pengerasan di mana logam cair berubah menjadi logam padat. Pada tahap dasar ini, pengecoran logam menuangkan logam ke dalam cetakan tanpa mengontrol bagaimana pencetakan mendingin dan logam membeku dalam cetakan. Ketika panas harus dipindahkan dengan cepat, para ahli akan merencanakan cetakan yang digunakan untuk mencakup penyusutan panas pada cetakan, disebut dengan chills. Fins bisa juga didesain pada pengecoran untuk panas inti, yang kemudian dipindahkan pada proses cleaning (juga disebut fetting). Kedua metode bisa digunakan pada titik-titik lokal pada cetakan dimana panas akan disarikan secara cepat. Ketika panas harus dipindahkan secara pelan, pemicu atau beberapa alas bisa ditambahkan pada pengecoran. Pemicu adalah sebuah cetakan tambahan yang lebih luas yang akan mendingin lebih lamban dibanding tempat dimana pemicu ditempelkan pada pengecoran. Akhirnya, area pengecoran yang didinginkan secara cepat akan memiliki struktur serat yang bagur dan area yang mendingin dengan lamban akan memilki struktur serat yang kasar. B. Mengenal Proses Pemesinan Proses pemesinan dengan menggunakan prinsip pemotongan logam dibagi dalam tiga kelompok dasar, yaitu : proses pemotongan dengan mesin pres, proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas, dan proses pemotongan non konvensional. Proses pemotongan dengan menggunakan mesin pres meliputi pengguntingan (shearing), pengepresan (pressing) dan penarikan (drawing, elongating). Proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas meliputi proses bubut (turning), proses frais (milling), dan sekrap (shaping). Proses pemotongan non konvensional contohnya dengan mesin EDM (Electrical Discharge Machining) dan wire cutting. Proses pemotongan logam ini biasanya disebut proses pemesinan, yang dilakukan dengan cara membuang bagian benda kerja yang tidak digunakan menjadi beram (chips), sehingga terbentuk benda kerja. Dari semua prinsip pemotongan di atas pada buku ini akan dibahas tentang proses pemesinan dengan menggunakan mesin perkakas. Proses pemesinan adalah proses yang paling banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu produk jadi yang berbahan baku logam. Diperkirakan sekitar 60% sampai 80% dari seluruh proses pembuatan komponen mesin yang komplit dilakukan dengan proses pemesinan. 1. Klasifikasi Proses Pemesinan Proses pemesinan dilakukan dengan cara memotong bagian benda kerja yang tidak digunakan dengan menggunakan pahat (cutting Teknik Pemesinan 35

Shaping). Pelubang (Punching Press). proses slot (sloting). Pahat dapat melakukan gerak potong (cutting) dan gerak makan (feeding). Klasifikasi yang pertama meliputi proses bubut dan variasi proses yang dilakukan dengan menggunakan mesin bubut. Pahat. mesin gurdi (drilling machine).tool). Teknik Pemesinan 36 . Sekrap (Planning. Gambar 2 9. Bor (Boring). dan proses pemotongan roda gigi (gear cutting). mesin gerinda (grinding machine). Gerinda Permukaan (Surface Grinding). Gurdi (Drilling). planing).9. proses menggergaji (sawing). dapat diklasifikasikan sebagai pahat bermata potong tunggal (single point cutting tool) dan pahat bermata potong jamak (multiple point cutting tool). sehingga terbentuk permukaan benda kerja menjadi komponen yang dikehendaki. dan proses pemesinan untuk membentuk benda kerja permukaan datar tanpa memutar benda kerja. Gerinda (Grinding). mesin frais (milling machine). Proses pemesinan dapat diklasifikasikan dalam dua klasifikasi besar yaitu proses pemesinan untuk membentuk benda kerja silindris atau konis dengan benda kerja/pahat berputar. Pahat yang digunakan pada satu jenis mesin perkakas akan bergerak dengan gerakan yang relatif tertentu (berputar atau bergeser) disesuaikan dengan bentuk benda kerja yang akan dibuat. Beberapa proses pemesinan tersebut ditampilkan pada Gambar 2. Beberapa proses pemesinan : Bubut (Turning/Lathe). Klasifikasi kedua meliputi proses sekrap (shaping. Frais (Milling).

dan parameter yang lain. Untuk semua jenis proses pemesinan termasuk gerinda. maka produksi elemen mesin menjadi sangat cepat.10. dan Gambar 2. berapa kecepatan (speed). bubut. sehingga menjadi sangat penting untuk menemukan perhitungan otomatis guna menentukan kecepatan dan gerak makan. dijelaskan tentang kategori dari jenisjenis beram : Teknik Pemesinan 37 . yang di masa yang lalu diperoleh dengan perkiraan oleh para ahli dan operator proses pemesinan. dan getaran pahat. Proses pembentukan beram tergantung pada bahan benda kerja. Alasan-alasan bahwa proses pembentukan beram adalah sulit untuk dianalisa dan diketahui karakteristiknya diringkas sebagai berikut : Laju regangan (strain rate) yang terjadi saat pembentukan sangat tinggi dibandingkan dengan proses pembentukan yang lain. dan telah diteliti untuk menemukan bentuk yang mendekati ideal.11. gerak makan (feed). temperatur pahat. Informasi singkat berikut akan menjelaskan tentang beberapa aspek penting proses pembentukan beram dalam proses pemesinan. planing. lapping. atau frais. Dengan diterapkannya CNC (Computer Numerically Controlled) pada mesin perkakas. fenomena pembentukan beram pada satu titik bertemunya pahat dengan benda kerja adalah mirip. dan sebagainya. Proses pembentukan beram sangat dipengaruhi oleh bentuk pahat (cutting tool). Proses terbentuknya beram adalah sama untuk hampir semua proses pemesinan. Pembentukan Beram (Chips Formation) pada Proses Pemesinan Karena pentingnya proses pemesinan pada semua industri. temperatur benda kerja. terutama terjadinya proses penyayatan sehingga terbentuk beram. Proses pembentukan beram juga tergantung pada material pahat. honing.2. maka teori pemesinan dipelajari secara luas dan mendalam sejak lama. cairan pendingin. Pada Gambar 2.

Jenis-jenis dan bentuk beram proses pemesinan pada saat mulai terbentuk. Gambar 2. maka digunakan gambar dua dimensi untuk menjelaskan geometri dasar dari terbentuknya beram.12. melingkar penuh (full turns).Gambar 2 10. Agar mudah dimengerti. Teknik Pemesinan 38 . helix tak terhingga (infinite helix). dan kecil (tight). Gambar 2 11. beram tidak teratur (snarling). Beberapa bentuk beram hasil proses pemesinan : beram lurus (straight). di bawah ini memberikan penjelasan tentang teori terbentuknya beram pada proses pemesinan. setengah melingkar (half turns).

Ketika pahat bergerak maju. daerah geser tersebut disederhanakan menjadi sebuah bidang.12. maka beram tersebut lepas. kemudian terpotong. dua dimensi terbentuknya beram (chips). Apabila material rapuh. Apabila materialnya ulet. Ketika bahan benda kerja bergerak dari material yang utuh ke daerah geser. terlihat sebagai garis tebal) . beram secara periodik retak dan menghasilkan beram berbentuk kecil-kecil. retakan tidak akan muncul dan beram akan berbentuk pita kontinyu.Gambar 2 12. dan selanjutnya menjadi beram. berikut menjelaskan tentang daerah pemotongan yang digambarkan dengan garis-garis arusnya. Gambar 2. bidang Teknik Pemesinan 39 . Material benda kerja di depan pahat dengan cepat melengkung ke atas dan tertekan pada bidang geser yang sempit (di Gambar 2. deformasi elastis akan diikuti deformasi plastis. material di depannya bergeser pada bidang geser tersebut. Untuk mempermudah analisis. Apabila hasil deformasi pada bidang geser terdorong material yang berikutnya.13. kemudian bahan pada akhirnya luluh akibat geser. Seperti pada diagram tegangan regangan logam.

Gambar 2 14. Pengerjaan panas logam dilakukan di atas suhu rekristalisasi atau di atas daerah pengerasan kerja. logam berada dalam keadaan plastik dan mudah di bentuk oleh tekanan. Salah satu pengerjaan itu adalah pengerjaan panas. Mengenal Proses Pengerjaan Panas Guna membentuk logam menjadi bentuk yang lebih bermanfaat. Proses ini juga mempunyai keuntungankeuntungan antara lain: (a) Porositas dalam logam dapat dikurangi. Pada waktu proses pengerjaan panas berlangsung. (d) Sifat- Teknik Pemesinan 40 .Gambar 2 13. (c) Butir yang kasar dan berbentuk kolom diperhalus. Pada proses ini hanya memerlukam daya deformasi yang rendah dan perubahan sifat mekanik yang terjadi juga kecil. Gambar skematis terbentuknya beram yang dianalogikan dengan pergeseran setumpuk kartu. biasanya dibutuhkan proses pengerjaan mekanik di mana logam tersebut akan mengalami deformasi plastik dan perubahan bentuk. (b) Ketidakmurnian dalam bentuk inklusi terpecah-pecah dan tersebar dalam logam. Pengerjaan logam dengan mesin bubut C.

Adapun lebarnya hanya bertambah sedikit. penempaan timpa. Penempaan (Forging) Proses penempaan ini ada berbagai jenis. kembali menjadi struktur memanjang akibat pengaruh penggilingan. keseragaman suhu sangat penting karena berpengaruh pada aliran logam dan plastisitas. Mesin pengerollan (rolling) Salah satu akibat dari proses dari pengolahan adalah penghalusan butir yang disebabkan rekristalisasi. Teknik Pemesinan 41 . pelat. bentuk profil. ketebalan logam mengalami deformasi terbanyak. Pada proses pengerolan suatu logam. dan batang. penempaan tekan. dan penempaan rol. Salah satu akibat dari proses pengolahan adalah penghalusan butir yang disebabkan rekristalisasi. Proses pengerjaan panas logam ini ada bermacam-macam. kembali menjadi struktur memanjang akibat pengaruh penggilingan. Struktur yang kasar. (e) Jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengubah bentuk logam dalam keadaan plastik lebih rendah. yaitu pada suhu yang tinggi terjadi oksidasi dan pembentukan kerak pada permukaan logam sehingga penyelesaian permukaan tidak bagus. Proses pengerjaan panas dengan pengerolan ini biasanya digunakan untuk membuat rel. 1. Hal itu akan berakibat pada toleransi dari benda tersebut menjadi tidak ketat. diubah bentuknya menjadi produk berguna melalui pengerolan. di antaranya penempaan palu. Gambar 2 15. 2. antara lain: Pengerolan (Rolling) Batangan baja yang membara.sifat fisik meningkat. Namun demikian. Struktur yang kasar. pada proses pengerjaan ini juga ada kerugiannya. Pada operasi pengerolan. penempaan upset.

Pengertian Energi Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Arus listrik akan mengalir bila penghantar listrik dilewatkan pada medan magnet. energi bersifat kekal. yakni menjadi energi gerak/mekanik pada mobil/motor. Bentuk transisinya adalah aliran elektron melalui konduktor jenis tertentu. c. misal turbin air akan mengubah energi potensial menjadi energi mekanik untuk memutar generator listrik.D. Contohnya air waduk di pegunungan dapat dikonversi menjadi energi mekanik untuk memutar turbin selanjutnya dikonversi lagi menjadi energi listrik. Energi Listrik Energi Listrik adalah energi yang berkaitan dengan arus elektron. Energi listrik dapat disimpan sebagai energi medan elektrostatis yang merupakan energi yang berkaitan dengan medan listrik yang dihasilkan oleh terakumulasinya muatan elektron pada pelat-pelat kapasitor. Macam-Macam Energi a. Teknik Pemesinan 42 . Sebagai contoh pada proses pembakaran pada mesin mobil/motor (sistem motor pembakaran dalam). enga kata lain availabilitas adalah kemampuan sistem untuk menghasilkan kerja yang berguna. b. bensin satu liter dikonversi menjadi kerja yang berhasil guna tinggi. dinyatakan dalam Watt-jam atau kilo Watt-jam. Energi bersifat abstrak yang sukar dibuktikan tetapi dapat dirasakan adanya. 4. Energi Mekanik Energi meknik merupakan energi gerak. tetapi dapat berubah bentuk (konversi) dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain. Dalam hal ini bensin satu liter memiliki energi dalam yang siap dirubah menjadi kerja yang berguna (availabilitas). Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnakan. Mengenal Proses Mesin Konversi Energi 3. Menurut hukum Termodinamika Pertama. sehingga dapat memindahkan manusia/barang dari suatu tempat ke tempat lain. Energi Potensial Merupakan energi karena posisinya di tempat yang tinggi.

e. Reaksi pembakaran melibatkan oksidasi dari bahan bakar fosil. Bila energi dilepas dalam suatu reaksi maka reaksinya disebut reaksi eksotermis yang dinyatakan dalam kJ. yang juga digunakan dalam evaluasi energi nuklir. dan energi listrik d. Bila dalam reaksi kimia energinya terserap maka disebut dengan reaksi endodermis. energi mekanik. Teknik Pemesinan 43 . Energi kimia hanya dapat terjadi dalam bentuk energi tersimpan. yakni elektron volt (eV) atau mega elektro volt (MeV). Energi radiasi dinyatakan dalam satuan energi yang sangat kecil. atau kKal. Sumber energi bahan bakar yang sangat penting bagi manusia adalah reaksi kimia eksotermis yang pada umumnya disebut reaksi pembakaran. Energi Kimia Energi kimia merupakan energi yang keluar sebagai hasil interaksi elektron di mana dua atau lebih atom/molekul berkombinasi sehingga menghasilkan senyawa kimia yang stabil.Gambar 2 16. Btu. konversi energi dari energi potensial. Energi Elektromagnetik Energi elektromagnetik merupakan bentuk energi yang berkaitan dengan radiasi elektromagnetik. PLTA.

Pada reaksi nuklir dapat terjadi peluluhan radioaktif.Gambar 2 17. Energi Nuklir Energi Nuklir adalah energi dalam bentuk energi tersimpan yang dapat dilepas akibat interaksi partikel dengan atau di dalam inti atom. fisi. Teknik Pemesinan 44 . pengonversian dari energi termal ke energi lain dibatasi oleh hukum Termodinamika II. dapat pula dalam bentuk energi tersimpan sebagai kalor ”laten” atau kalor “sensible” yang berupa entalpi. Bentuk energi transisi dan energi termal adalah energi panas. Salah satu reaktor nuklir g. Sebaliknya. Satuan yang digunakan adalah juta elektron reaksi. Energi ini dilepas sebagai hasil usaha partikel-partikel untuk memperoleh kondisi yang lebih stabil. Gambar 2 18. dan fusi. Accu sebagai bentuk energi kimia f. Energi Termal Energi termal merupakan bentuk energi dasar di mana dalam kata lain adalah semua energi yang dapat dikonversikan secara penuh menjadi energi panas.

Gambar 2 19. mesin-mesin fluida. material utama berupa angin dengan kecepatan tertentu yang mengenai turbin angin sehingga menjadi gerak mekanik dan listrik. motor pembakaran luar. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi Mesin-mesin konversi energi secara sederhana dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pemanfaatan energi angin 5. Mesin konversi dari panas ke uap h. yaitu mesin konversi energi konvensional dan mesin energi konversi non-konvensional. kecuali mesin energi konvensi berbahan dasar nuklir. Gambar 2 20. Mesin konversi energi konvensional umumnya menggunakan sumber energi konvensional yang tidak terbarui. Mesin konversi energi non-konvensial umumya menggunakan energi yang dapat diperbarui. dan mesin pendingin dan pengkondisian udara. dan umumnya dapat diklasifikasikan menjadi motor pembakaran dalam. kecuali turbin hidropower. Energi Angin Energi angin merupakan energi yang tidak akan habis. Teknik Pemesinan 45 .

Efisiensi pengonversian energinya berkisar 30% ( t ±30%). pembakaran dimulai. dan empat langkah (four stroke). mengalir ke dalam silinder. Namun sulit untuk mengisi secara penuh volume langkah dengan campuran bersih. a) Langkah kompresi dimulai dengan penutupan saluran masuk dan keluar kemudian menekan isi silinder dan di bagian bawah. Teknik Pemesinan 46 . Setiap siklus mesin dengan satu langkah tenaga diselesaikan dalam satu kali putaran poros engkol. yaitu dari energi bahan bakar menjadi energi panas dan kemudian baru menjadi energi mekanis. Piston dan saluran-saluran umumnya dibentuk membelokan campuran yang masuk langsung menuju saluran buang dan juga ditunjukkan untuk mendapatkan pembilasan gas residu secara efektif. b) Langkah kerja atau ekspansi. Bila piston mencapai titik mati atas. Motor pembakaran dalam Motor pembakaran dalam dikembangkan oleh Motos Otto. 1) Motor Bensin Dua Langkah Motor bensin dua langkah adalah motor yang pada dua langkah torak/piston (satu putaran engkol) sempurna akan menghasilkan satu langkah kerja. gesek/mekanis. Sistem siklus kerja motor bensin dibedakan atas motor bensin dua langkah (two stroke). campuran bahan bakar dan udara bersih tertekan di dalam rumah engkol. terjadilah kerja. dimuliai ketika piston bergerak mencapai titik tertentu sebelum titik mati atas busi memercikan bunga api. 2) Motor Bensin Empat Langkah Motor bensin empat langkah adalah motor yang pada setiap empat langkah torak/piston (dua putaran engkol) sempurna menghasilkan satu tenaga kerja (satu langkah kerja). dan pembakaran tak-sempurna). Hal ini karena kerugian 50% (panas. Ketika saluran masuk terbuka. Bahan bakar standar motor bensin adalah isooktan (C8H18). dan sebagian darinya mengalir langsung ke luar silinder selama langkah bilas. piston menghisap campuran bahan bakar udara bersih ke dalam rumah engkol. Sebagian besar gas yang terbakar keluar silinder dalam proses exhaust blowdown. Energi kimia bahan bakar tidak dikonversikan langsung menjadi energi mekanis.a. atau Beau de Roches merupakan mesin pengonvesi energi tak langsung. Pada awalnya saluran buang dan saluran masuk terbuka.

75. Ketika katup buang membuka. Gas bertekanan tinggi menekan piston turun dan memaksa engkol berputar. e) Perhitungan daya motor didasarkan pada dimensi mesin. atau langkah ekspansi. c) Langkah kerja.Gambar 2 21. diawali ketika kedua katup tertutup dan campuran di dalam silinder terkompresi sebagian kecil dari volume awalnya.a D2 S . piston mendorong keluar sisa gas pembakaran hingga piston mencapai titik mati atas.a Teknik Pemesinan 47 . Ketika piston mencapai titik mati bawah. demikian seterusnya.n 4 60. Bila piston mencapai titik mati atas. pembakaran dimulai dan tekanan silinder naik lebih cepat. katup buang tertutup. yang dimulai saat piston hampir mencapai titik mati atas dan berakhir sekitar 45o sebelum titik mati bawah.n 4 60. Siklus motor bensin 4 langkah a) Langkah pemasukan dimulai dengan katup masuk terbuka.Pi. dimulai ketika piston mencapai titik mati bawah. antara lain: Daya efektif: Ne Daya indikatif: Ni D2 S . Udara dan bahan bakar terhisap ke dalam silinder. katup buang terbuka untuk memulai proses pembuangan dan menurunkan tekanan silinder hingga mendekati tekanan pembuangan. d) Langkah pembuangan. b) Langkah kompresi. piston bergerak dari titik mati atas dan berakhir ketika piston mencapai titik mati bawah.Pe.75. katup masuk membuka.. Langkah ini berakhir hingga katup masuk menutup.L. Sesaat sebelum akhir langkah kompresi.L.

dua langkah a=1 . Fluida kerjanya dapat berupa air. atau gas. di mana energi fluida kerja dipergunakan langsung untuk memutar roda turbin. baling-baling atau mesin lainnya). berbeda dengan yang terjadi pada mesin torak. kompresor. yaitu proses penurunan tekanan.di mana D : diameter silinder (cm2) L i : panjang langkah torak (m) : jumlah silinder Pe : tekanan efek rata-rata (kgf/cm2) Pi : tekanan indikatif rata-rata (kgf/cm2) n a : putaran mesin (rpm) : . uap air. Jadi. Bagian berputar dinamai stator atau rumah turbin. pada turbin tidak terdapat bagian mesin yang bergerak translasi. Turbin air Turbin dilengkapi dengan sudu-sudu. dan mengalir secara kontinu. maka akan timbul gaya yang bekerja pada sudu. Di dalam turbin fluida kerja mengalami proses ekspansi. Pada roda turbin terdapat sudu dan fluida kerja akan mengalir melalui ruang di antara sudu tersebut. Gaya tersebut timbul karena terjadinya perubahan momentum dari fluida kerja yang mengalir di Teknik Pemesinan 48 . Turbin Turbin adalah mesin penggerak.empat langkah a=2 b. Apabila kemudian ternyata bahwa roda turbin dapat berputar. Gambar 2 22. pompa. Roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan atau memutar bebannya (generator listrik.

sudu turbin haruslah dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat terjadi perubahan momentum pada fluida kerja tersebut. Gambar 2 23. Jadi.antara sudu. Sebuah sistem turbin gas Teknik Pemesinan 49 .

BAB 3 MEREALISASI KERJA YANG AMAN Teknik Pemesinan 50 .

produk Input Proses Produksi Prosedur kerja Outcomes. S Adapun tujuan penanganan K3 adalah agar pekerja dapat nyaman. Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi. sadar. sehat dan selamat selama bekerja. & selamat Tempat kerja Lingkungan kerja Output. seberapa pun kecilnya. Karena itu sedapat mungkin dan sedini mungkin. impak. Teknik Pemesinan 51 . atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) elalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/aktivitas pekerjaan. peka Gambar 3 1. akan mengakibatkan efek kerugian (loss). sebagaimana digambarkan dalam bagan berikut : Tujuan nyaman. tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. sehat. nss. kecelakaan/potensi kecelakaan kerja harus dicegah/dihilangkan. Hubungan antar variabel pada sistem keselamatan kerja.A.

kelelahan dan stress dalam pekerjaan. Bahaya/resiko manusia Kejahatan di tempat kerja. bahaya-bahaya di atas dibagi ke dalam empat kelas. Secara garis besar. simultan. dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud. Jika kecelakaan terjadi maka akan sangat mempengauhi produktivitas kerja. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe working condition) 3. Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal. yaitu : Teknik Pemesinan 52 . pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work). ditengarai penyebab awalnya (pre-cause) adalah kurangnya training 4. panas/termal. situasi. dan segala sesuatu yang ada di tempat kerja/berhubungan dengan pekerjaan yang menjadi/berpotensi menjadi sumber kecelakaan/cedera/penyakit dan kematian disebut dengan Bahaya/Resiko. Kecepatan kerja (paced work). pekerjaanpekerjaan yang harus diawali dengan "pemanasan prosedural". cahaya dan pencahayaan. termasuk kekerasan. Kelelahan (fatigue) 2. pelatihan. Bahaya/resiko lingkungan Termasuk di dalamnya adalah bahaya-bahaya biologi. dll. Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. kimia. 1. bahan/material. peralatan dan perlengkapan dalam pekerjaan. beban kerja (workload). Karakteristik pekerjaan itu sendiri 5. ruang kerja. 3. bahaya/resiko dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu : 1. material. Peraturan Pemerintah RI No. tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). sifat pekerjaan itu sendiri yang berbahaya. suhu. Berdasarkan "derajad keparahannya".: 74 Tahun 2001. kebisingan. gejala. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan. proses. kualitas udara. Bahaya/resiko pekerjaan/tugas Misalnya : pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara manual. getaran.Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut : 1. Personal Protective Equipment. maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). 2. dsb. faktor ergonomi. Manajemen Bahaya Aktivitas. kondisi. kejadian. umur pekerja. dll.

Pemisahan jarak/distance separation 3. Pada saat perlengkapan/peralatan kerja dibeli. Pengendalian administratif/administrative controls 5. Pada saat prosedur operasional sedang dibuat 3. Extreme risk b. Low risk Dalam manajemen bahaya (hazard management) dikenal lima prinsip pengendalian bahaya yang bisa digunakan secara bertingkat/bersama-sama untuk mengurangi/menghilangkan tingkat bahaya. juga dikenal sebagai engineering control 2. Ada tiga tahap penting (critical stages) di mana kelima prinsip tersebut sebaiknya diimplementasikan. Pemisahan fisik/physical separation b. Pemisahan waktu/time separation c. Perlengkapan perlindungan personnel/Personnel Protective Equipment (PPE). Ventilasi/ ventilation 4.a. High risk c. yaitu : 1. Penggantian/substitution. yaitu : 1. Pada saat pekerjaan dan fasilitas kerja sedang dirancang 2. Teknik Pemesinan 53 . Moderate risk d. Pemisahan/separation a.

condition Sanitati on SMK3 Ergonomic job hazard analysis Combine Coordintion lightin’ HERSMIS Simplific ationSOP Education promotion Gambar 3 2. Dampak auditorial (Auditory effects) 2. Dan jika resiko ini terjadi (biasanya secara medis sudah tidak dapat diatasi/"diobati"). preventive. Teknik Pemesinan 54 . Dampak ini berhubungan langsung dengan fungsi (perangkat keras) pendengaran. Dampak non-auditorial (Non-auditory effects) 4. environment. dilution Eliminate. stress. safety) …….. seperti hilangnya/berkurangnya fungsi pendengaran. protection Change. reduction. Dampak ini bersifat psikologis. termasuk bagaimana prinsip pengendalian kecelakaan kerja dilakukan. 2. kebingungan. seperti gangguan cara berkomunikasi. yaitu : 1. Saling keterkaitan kata kunci dalam penanganan masalah. Resiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara permanen.Beberapa kata kunci yang saling berkaitan dalam penanganan masalah keselamatan kerja. modificate substitue HERS oriented. risk. suara dering/berfrekuensi tinggi dalam telinga. dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keamanan kerja. Secara umum dampak kebisingan bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar. digambarkan melalui bagan berikut : HERS (health. 3.key word Health exam OHS analysis Environt analysis Desain develop Isolation. Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise) Kebisingan sampai pada tingkat tertentu bisa menimbulkan gangguan pada fungsi pendengaran manusia. sudah barang tentu akan mengurangi efisiensi pekerjaan si penderita secara signifikan. anticipate Ventilate.

Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai tingkat keamanan kerja : 1. 6. 2. Pertambangan batu bara dan berbagai jenis pertambangan logam. 8. 3. yakni : T 8 2(L 90)/5 Teknik Pemesinan 55 . tempat kebisingan bisa menjadi sumber bahaya yang potensial bagi pekerja antara lain : 1. 7. 4. Formula NIOSH (National Institute of Occupational Safety & Health) untuk menghitung waktu maksimum yang diperkenankan bagi seorang pekerja untuk berada dalam tempat kerja dengan tingkat kebisingan tidak aman adalah sebagai berikut : T 480 2 (L 85)/3 Di mana : T = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam menit) L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 3 = exchange rate Bandingkan formula yang telah ditetapkan oleh NIOSH tersebut dengan formula yang masih biasa digunakan. Percakapan biasa (45-60 dB) Bor listrik (88-98 dB) Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB) Gergaji mesin (110-115 dB) Musik rock (metal) (115 dB) Sirene ambulans (120 dB) Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan (140 dB) Pesawat terbang jet (140 dB). Sedangkan jenis industri. Industri perkayuan (wood working & wood processing) 2. 5. Pekerjaan pemipaan (plumbing) 3. Catatan : Lingkungan dengan tingkat kebisingan lebih besar dari 104 dB atau kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan harus menghadapi tingkat kebisingan lebih besar dari 85 dB selama lebih dari 8 jam tergolong sebagai high level of noise related risks.

misalnya: resiko karena adanya penggunaan tenaga listrik.Di mana : T = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam jam) L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 5 = exchange rate Seringkali seseorang mengira dirinya telah berhasil “beradaptasi” dengan lingkungan yang bising manakala tidak merasa terganggu lagi dengan “tingkat kebisingan” yang pada awalnya sangat mengganggu dirinya. Implementasi prinsip-prinsip pengendalian bahaya untuk resiko yang disebabkan oleh kebisingan : 1.. Indikator adanya (potensi) gangguan kebisingan beresiko tinggi di antaranya : 1.. Penggantian (substitution) Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah Mengganti “jenis proses” mesin (dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah) dengan fungsi proses yang sama. Jika hal yang sama terjadi pada anda. Selalu ada resiko-resiko baru yang berhubungan dengan pekerjaan baru (welding). HATIHATI ! Mungkin fungsi pendengaran anda mulai terganggu. “Mengeraskan” sumber suara hingga tingkatan tertentu yang dianggap oleh seseorang sebagai kebisingan. panas (high temperature). welding equipment. Catatan : o Pertimbangan-pertimbangan teknis. termasuk analisis kekuatan struktur harus benar-benar diperhatikan (re-calculation). Karena itu perlu juga dikembangkan prosedur-prosedur baru (prinsip pengendalian administratif) untuk membantu proses minimisasi resiko kerja. dan radiasi cahaya.. contohnya pengelasan digunakan sebagai penggantian proses riveting. Terdengarnya suara-suara dering/berfrekuensi tinggi di telinga 2. Volume suara yang makin keras pada saat harus berbicara dengan orang lain 3... o Teknik Pemesinan 56 .. seperti “welder qualification”.

3. Pemasangan peredam akustik (acoustic barrier) dalam ruang kerja. Pemasangan peredam akustik. Perlengkapan perlindungan personnel (personnel protective equipment/PPE) Penggunaan earplug dan earmuffs Teknik Pemesinan 57 . Gambar 3 4. Contoh penggantian pada teknik penyambungan logam. 2. Rotasi pekerjaan dan pengaturan jam kerja termasuk dua cara yang biasa digunakan. Pemisahan (separation) 1) Pemisahan fisik (physical separation) Memindahkan mesin (sumber kebisingan) ke tempat yang lebih jauh dari pekerja 2) Pemisahan waktu (time separation) Mengurangi lamanya waktu yang harus dialami oleh seorang pekerja untuk “berhadapan” dengan kebisingan.Gambar 3 3. Modifikasi “tempat” mesin. seperti pemberian dudukan mesin dengan material-material yang memiliki koefisien redaman getaran lebih tinggi.

Gambar 3 5. antara lain : 1. Pengendalian administratif (administrative controls) Larangan memasuki kawasan dengan tingkat kebisingan tinggi tanpa alat pengaman. 5. Ingat! Tidak ada jaminan bahwa semua tindakan terbebas dari resiko! Begitu sebuah resiko teridentifikasi. Beberapa kata kunci dalam upaya perbaikan pencahayaan di tempat kerja secara detil dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut : Optimalkan pencahayaan alami 1) Mengapa ? Teknik Pemesinan 58 . 4. Selain itu pencahayaan yang memadai akan memberikan kesan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Kelelahan mata sehingga berkurang daya dan efisiensi kerja Kelelahan mental Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata Kerusakan penglihatan Meningkatnya kecelakaan kerja. 1. 4. Meninggikan penerangan : menambah jumlah dan meletakkan penerangan pada daerah kerja 3. Sebaliknya. Perbaikan kontras : dengan memilih latar penglihatan yang tepat 2. Perlengkapan perlindungan personel. 2. pencahayaan yang buruk dapat menimbulkan berbagai akibat. Pencahayaan Pencahayaan yang baik pada tempat kerja memungkinkan para pekerja melihat objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. harus segera diambil tindakan penanggulangan. antara lain : 1. Peringatan untuk terus mengenakan PPE selama berada di dalam tempat dengan tingkat kebisingan tinggi. 3. kurang Pencegahan kelelahan akibat pencahayaan yang memadai dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pemindahan tenaga kerja : pekerja muda pada shift malam.

atau cuaca dingin di musim dingin. 3) Petunjuk penting : a) Gabungkan cahaya alamiah dengan cahaya buatan untuk meningkatkan pencahayaan tempat kerja. putih = 80-90% pantulan) untuk langit-langit dan warna muda (50-85% pantulan) untuk dinding. hal ini terbukti dapat meningkatkan efisisiensi dan kenyamanan pekerja.a) Cahaya alami adalah yang terbaik dan merupakan sumber cahaya yang murah. d) Atur agar langit-langit dan tata lampu dapat saling memantul sehingga pencahayaan makin merata. c) Di musim panas cegah bukaan jendela dari sinar matahari langsung. sehingga akan menghemat biaya. d) Sendirikan saklar lampu pada tempat dekat jendela agar dapat dimatikan bila cahaya alamiahnya terang. c) Dinding dan langit-langit yang cerah akan membuat ruangan menjadi nyaman. Pantulan terbesar pada warna putih (90%). d) Permukaan warna cerah penting dalam pekerjaan teliti dan pemeriksaan 2) Bagaimana caranya ? a) Untuk mendapatkan pantulan sempurna gunakan warna paling cerah (mis. b) Pemerataan cahaya dalam tempat kerja dapat ditingkatkan melalui cahaya alami. Teknik Pemesinan 59 . terendah pada warna hitam. Gunakan warna cerah pada dinding dan langit-langit 1) Mengapa ? a) Perbedaan warna akan memberikan perbedaan pantulan. sehingga kondusif untuk bekerja efisien. b) Cermatilah : jendela dan genting kaca akan menyebabkan cuaca panas di musim panas. b) Dinding dan langit-langit yang cerah akan menghemat energi karena dengan sedikit cahaya dapat meningkatkan penerangan kamar. b) Ubah tempat kerja atau lokasi mesin agar dapat lebih banyak terkena cahaya alamiah. c) Perluas atau pertinggi jendela agar makin banyak cahaya alamiah yang masuk. 2) Bagaimana caranya ? a) Bersihkan jendela dan pindahkan sekat yang menghalangi cahaya alamiah. c) Jangan gunakan bahan/cat mengkilap agar tidak menyilaukan. b) Hindari perbedaan kecerahan antara dinding dan langit-langit. c) Penggunaan cahaya alamiah merupakan gerakan ramah lingkungan. e) Pasang genting transparan untuk menambah cahaya alamiah.

atau jika tiba-tiba mati dapat menimbulkan kecelakaan. e) Tempatkan saklar dekat pintu masuk/keluar lorong dan tangga. mengurangi kerusakan produk dan meningkatkan citra perusahaan. 2) Bagaimana caranya ? a) Bersihkan jendela dan pasang lampu. d) Usahakan cahaya alamiah dengan membuka pintu atau memasang jendela dan genting kaca. Teknik Pemesinan 60 . sehingga perlu perhatian pada daerah ini. tangga dan gudang boleh jadi kurang daripada di ruang produksi. tetapi hal ini penting bagi keselamatan transportasi dan perpindahan orang/barang. d) Penerangan yang baik pada lorong dan tangga mencegah kecelakaan pekerja dan tamu. apalagi pada pemindahan barang-barang. f) Gunakan warna cerah pada tangga agar nampak jelas. Terangi lorong. turunan. tetapi juga memberikan pencahayaan yang merata serta mencegah bertumpuknya kotoran. c) Penerangan yang memadai pada tempat-tempat ini akan mencegah kerusakan bahan dan produk. dll. b) Tangga. b) Bagian atas lampu yang terbuka bukan hanya memberikan pantulan dari langit-langit. b) Penerangan pada lorong. c) Pindahkan lampu agar makin terang. 3) Petunjuk penting : a) Tata lampu adalah bagian penting dalam pemeriksaan berkala dan program pemeliharaan. balik pintu dan gudang cenderung terlindung dan gelap karena tidak terjangkau sinar matahari. c) Warna cerah dinding dan langit-langit membuat lingkungan kerja menjadi nyaman dan efektif. b) Pindahkan sekat yang menghalangi sinar masuk. tangga. 1) Mengapa ? a) Tempat gelap menyebabkan kecelakaan. Pencahayaan merata mengurangi perubahan cahaya 1) Mengapa ? a) Perubahan pandangan dari terang ke gelap memerlukan adaptasi mata dan membutuhkan waktu serta menimbulkan kelelahan. lorong dan gudang digunakan secara teratur.3) Petunjuk penting : a) Bersihkan dinding dan langit-langit secara teratur. karena debu akan menyerap banyak cahaya. c) Pasang saklar otomatis bila tangga.

c) Periksalah kesehatan mata pekerja > 40 tahun.b) Bekerja menjadi lebih nyaman dan efisien pada ruangan dengan variasi penerangan kecil. 2) Bagaimana caranya ? a) Hilangkan kap. yang tua perlu penerangan lebih besar. c) Gunakan cahaya alamiah. b) Warna dinding yang cerah memantulkan lebih banyak cahaya dan memperbaiki atmosfer ruang kerja. karena melelahkan mata. gangguan & kelelahan mata. jendela. b) Pertimbangkan untuk mengubah ketinggian lampu dan menambah penerangan utama agar ruang makin terang. d) Usahakan penerangan yang baik dan memadai secara murah. banyak cara untuk mencapai hal itu. d) Bayangan pada permukaan benda kerja menyebabkan hasil kerja buruk. c) Penerangan yang memadai dan pas akan membantu pekerja mengawasi benda kerja secara cepat dan rinci sesuai tuntutan tugas. produktifitas rendah. dan kecelakaan. karena biasanya mereka berkaca mata. dinding. Teknik Pemesinan 61 . d) Pertimbangkan umur pekerja. e) Hindari cahaya bergetar dengan menukar neon dengan lampu pijar. d) Kurangi zone bayangan dengan pemasangan lampu. c) Ubah posisi lampu dan arah cahaya agar jatuh pada objek kerja. dsb. b) Pemasangan lampu mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan. 3) Petunjuk lain : a) Rawatlah tata lampu secara rutin. b) Penerangan memadai mengurangi kesalahan dan kecelakaan. 2) Bagaimana caranya ? a) Kombinasikan cahaya alamiah dan cahaya buatan. karena tidak ekonomis dan mengurangi terangnya ruang kerja. sekat. Penerangan yang memadai menjadikan pekerjaan efisien dan aman sepanjang waktu 1) Mengapa ? a) Penerangan memadai meningkatkan kenyamanan pekerja dan ruang kerja. pantulan dinding serta perbaikan layout ruang kerja. e) Penerangan diatur agar lebih mudah mengamati objek. c) Penting untuk mencegah kelap-kelip. reflektor. bersihkan lampu.

2) Bagaimana caranya? a) Pasang penerangan lokal dekat dan di atas pekerjaan teliti dan pemeriksaan.Pasang penerangan lokal untuk pekerjaan peliti dan pemeriksaan 1) Mengapa ? a) Dibanding dengan pekerjaan produksi dan kantor. Teknik Pemesinan 62 . c) Banyak cara mengurangi silau. d) Pastikan kombinasi cahaya alamiah dan buatan memberikan kontras antara benda kerja dan bidang latar. d) Kurangi silau dari jendela dengan sekat. b) Silau menyebabkan tidak nyaman dan kelelahan mata. b) Usahakan penerangan lokal mudah dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan. hindari ini dengan memasang lampu TL. tirai. dsb. e) Pasang lampu lokal. c) Gunakan neon untuk pekerjaan warna yang cermat. pasang lampu pada batang yang tegar. b) Pada mesin yang bergetar. 2) Bagaimana caranya ? a) Pasang panel display atau layar. f) Ubah arah pencahayaan. e) Pemasangan lampu lokal yang tepat menghemat energi dan sangat efektif. b) Jangan pakai lampu telanjang (pakailah kap). mudah dibersihkan dan dirawat. c) Kombinasi penerangan utama dan lokal akan diperoreh penerangan memadai dan mengurangi gangguan akibat adanya bayangan. c) Gunakan kap agar tidak menyilaukan. pekerjaan presisi dan pemeriksaan memerlukan lebih banyak penerangan. tabir. Pindahkan sumber cahaya atau pasang tabir untuk mengurangi silau 1) Mengapa? a) Silau langsung atau pantulan mengurangi daya lihat orang. 3) Petunjuk penting : a) Pastikan penerangan lokal tidak mengganggu pandangan pekerja. 3) Petunjuk lain : a) Ganti kaca jendela dari bening ke buram. b) Penerangan lokal yang memadai akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi. c) Pindahlan lampu di atas kepala atau naikkan. b) Lampu lokal dipasang sedekat mungkin dengan benda kerja. d) Lampu pijar timbulkan panas.

d) Sedapat mungkin gunakan lampu yang kapnya terbuka agar debu tidak menumpuk.Pindahkan benda mengkilap agar tidak menyilaukan 1) Mengapa ? a) Silau tidak langsung sama dengan silau langsung dapat mengurangi daya lihat tenaga kerja. Bersihkan jendela dan pelihara sumber penerangan 1) Mengapa ? a) Penerangan yang kotor dan tidak terpelihara akan mengurangi pencahayaan. Ventilasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis : 1. b) Gunakan penutup pada benda mengkilap. kecepatan aliran dan distribusi untuk mengurangi beban panas yang diderita pekerja. b) Petugas memadai dalam hal alat dan keterampilan. c) Pemeliharaan akan menambah umur bola lampu. kelembaban. b) Membuat kurang nyaman dan kelelahan mata. b) Pemeliharaan dan kebersihan akan menghemat energi. c) Kurangi nyala lampu. 2) Bagaimana caranya? a) Bersihkan secara teratur. d) Buat latar yang terang di belakang benda kerja. b) Coba berbagai posisi agar diperoleh pencahayaan yang baik. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi Pengendalian bahaya akibat pencemarann udara atau kondisi udara yang kurang nyaman dapat dilakukan antara lain dengan pembuatan ventilasi yang memadai. 3. 3. 2. hindarilah hal tsb. Teknik Pemesinan 63 . c) Rencanakan program pemeliharaan sebagai program terpadu. Ventilasi umum : pengeluaran udara terkontaminasi dari suatu ruang kerja melalui suatu bukaan pada dinding bangunan dan pemasukan udara segar melalui bukaan lain atau kebalikannya. sehingga perlu penerangan yang baik. 3) Petunjuk lain : a) Pekerja tua lebih sensitif thd silau. Disebut juga sebagai ventilasi pengenceran. Ventilasi pengeluaran setempat : pengisapan dan pengeluaran kontaminan secara serentak dari sumber pancaran sebelum kontaminan tersebar ke seluruh ruangan. c) Pantulan menyilaukan membuat mata lelah dan menurunkan kinerja. Ventilasi penurunan panas : perlakuan udara dengan pengendalian suhu. 2) Bagaimana caranya ? a) Kurangi pantulan dari permukaan mengkilap atau pindahkan letaknya.

Adapun cara membuat sistem ventilasi terdiri dari : 1. atau perbedaan suhu yang mengakibatkan beda kerapatan udara antara bangunan dengan sekelilingnya. kebakaran. dsb. Menurunkan kadar kontaminan dalam lingkungan kerja sampai pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan pekerja yaitu di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) sehingga terhindar dari keracunan. 2. Menurunkan kadar yang tidak menimbulkan kebakaran atau peledakan yaitu di bawah Batas Ledak Terendah (BLT) atau Lower Explosive Limit (LEL). peledakan. 5. Mencegah kerugian ekonomi karena kerusakan mesin oleh korosi. 4. Meningkatkan ketahanan fisik dan daya kerja pekerja. Secara alamiah di mana aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan alami. 3. Terjadi karena perbedaan tekanan udara sehingga timbul angin.Maksud dibuatnya sistem ventilasi adalah : 1. Memberikan penyegaran udara agar diperoleh kenyamanan dengan menurunkan tekanan panas. Teknik Pemesinan 64 . hilang waktu kerja karena sakit dan kecelakaan.

Aliran udara pada ventilasi (1).Gambar 3 6. Overshot Roof Blowing Precipitation from this side is deflected Blowing Precipitation from this side enters building Falling Precipitation runs of the roof Overshot Roof with Upstand Blowing Precipitation from this side is deflected Both falling and blowing precipitation is deflected from the building. The proper amount of clearance from the upstand to the open ridge allow for the continuous upward flow exhaust air Teknik Pemesinan 65 .

Gambar 3 7. blower dan ventilasi atap. sakit kepala. Teknik Pemesinan 66 . 3) Kipas angin berfungsi mengisap atau mengeluarkan kontaminan. Selain itu juga menyebabkan kelelahan. 2. Optimalkan penggunaan ventilasi alamiah agar udara ruang kerja nyaman. pusing. 2) Kipas angin dipasang di dinding. jendela. atau atap. Pasang sistem pengeluaran udara kotor yang efisien dan aman. Secara mekanis melalui : 1) Aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan mekanis seperti kipas. iritasi mata dan tenggorokan. Aliran udara pada ventilasi (2). Udara kotor menjadi penyebab gangguan kesehatan sehingga mengarah pada kecelakaan kerja. Gambar 3 8. Pengendalian udara masuk. 2. Untuk mendapatkan ventilasi udara ruang kerja yang baik perlu dicermati beberapa kata kunci sebagai berikut : 1. tetapi juga dapat memasukkan udara. Udara segar dapat menghilangkan udara panas dan polusi. sehingga terjadi inefisiensi.

tangan. badan dan kaki. umumnya berupa : Pelindung kepala dan wajah (Head & Face protection) Pelindung mata (Eyes protection) Pelindung telinga (Hearing protection) Pelindung alat pernafasan (Respiratory protection) Pelindung tangan (Hand protection) Pelindung kaki (Foot protection) Gambar 3 9. Untuk itu penggunaan alat perlindungan diri pekerja sangat penting. 4. Ventilasi yang baik dapat membantu mengendalikan dan mencegah akumulasi panas. telinga. Teknik Pemesinan 67 . Aliran udara yang baik pada tempat kerja sangat penting untuk mencapai kerja produktif dan sehat. Pakaian yang memenuhi syarat keselamatan kerja.3. Optimalkan sistem ventilasi untuk menjamin kualitas udara ruang kerja. mata. Alat Perlindungan Diri Secara teknis bagian tubuh manusia yang harus dilindungi sewaktu bekerja adalah : kepala dan wajah.

Buat petunjuk dan peringatan yang jelas. 2. Bekerja secara aman. Teknik Pemesinan 68 . Perbaiki fasilitas kesejahteraan bersama pekerja. Gambar 3 11. 4. Sediakan tempat makan dan istirahat yang layak agar unjuk kerja baik. 6. cuci dan kakus agar terjamin kesehatan. Sediakan APD secara memadai. 5.Kata kunci untuk pengaturan APD (Alat Perlindungan Diri) 1. Sediakan ruang pertemuan dan pelatihan. 3. Bekerja secara aman. Upayakan perawatan/kebersihan tempat ganti. Gambar 3 10.

Gambar 3 12. Pelatihan K3. Yakinkan bahwa penggunaan APD sangat diperlukan. Pastikan penggunaan APD melalui petunjuk yang penyesuaian dan latihan. Bekerja secara aman. Yakinkan bahwa penggunaan APD dapat diterima oleh pekerja. Gambar 3 13. Penjelasan teknis pengunaan alat.7. 8. 10. Gambar 3 14. 11. Sediakan layanan untuk pembersihan dan perbaikan APD secara teratur. lengkap. Pilihlah APD terbaik jika risiko bahaya tidak dieliminasi dengan alat lain. Teknik Pemesinan 69 . 9.

Gambar 3 15. Gambar 3 16. 13. Teknik Pemesinan 70 . Sediakan tempat penyimpanan APD yang memadai. Penanganan dan Penyimpanan Bahan 1. Pantau tanggung jawab atas kebersihan dan pengelolaan ruang kerja 2. Tandai dan perjelas rute transport barang. Rak penyimpanan alat K3. Peminjaman alat. 12. Rute transport barang. Gambar 3 17.

3. Gambar 3 18. Gambar 3 19.2. anak tangga yang rapat. Perbaiki layout tempat kerja. Permukaan jalan rata. Jalur arus dua arah. 4. tidak licin dan tanpa rintangan. Layout tempat kerja. Permukaan jalan tidak rata serta kemiringan tangga 5. Pintu dan gang harus cukup lebar untuk arus dua arah. Gambar 3 20. Teknik Pemesinan 71 . Kemiringan tanjakan 5-8%.

Gunakan kereta beroda untuk pindahkan barang. dll. Gambar 3 21. Gunakan pegangan. Gunakan konveyor. Gambar 3 23. Hilangkan/kurangi perbedaan ketinggian permukaan. 11. 9. 13. Gunakan alat pengangkat. Konveyor dan kerek. Rak penyimpanan barang serta keretta beroda 8. Gunakan rak bertingkat di dekat tempat kerja.6. Rak bertingkat serta alat pengangkat 10. Bagi dalam bagian kecil-kecil. Gunakan rak penyimpanan yang dapat bergerak/mobil. Gambar 3 22. 7. Teknik Pemesinan 72 . kerek. 12.

15. mendorong/menarik dengan cara Gambar 3 25. Pemindahan horizontal serta posisi yang tidak efisien 16. Gambar 3 26. Rapatkan beban ke tubuh sewaktu membawa barang. Kombinasikan pekerjaan angkat berat dengan tugas fisik ringan.Gambar 3 24. Teknik Pemesinan 73 . 19. Naik/turunkan barang secara perlahan di depan badan tanpa membungkuk dan memutar tubuh. 17. Pegangan serta perbedaan ketinggian 14. 20. Dipikul supaya seimbang. Penempatan sampah. Pemindahan horizontal lebih baik dengan daripada mengangkat/menurunkan. Kurangi pekerjaan yang dilakukan membungkuk/memutar badan. Membawa barang serta naik turunkan barang 18.

juga bahan yang bersifat mengoksidasi. Dengan demikian usaha pencegahan harus dilakukan oleh setiap individu dan unit kerja agar jumlah peristiwa kebakaran. kayu kering. Melalui pelatihan diharapkan peserta mampu mengidentifikasi potensi penyebab kebakaran di lingkungan tempat kerjanya dan melakukan upaya pemadaman kebakaran dini. Kebakaran terjadi akibat bertemunya 3 unsur : bahan (yang dapat) terbakar. bahan yang relatif mudah terbakar seperti batu bara. Bahan bakar dapat dibedakan dari jenis. bahan yang jika bertemu dengan air menghasilkan gas yang mudah terbakar (karbit). Gambar 3 27. Bahan bakar yang memiliki titik nyala rendah dan rendah sekali harus diwaspadai karena berpotensi besar penyebab kebakaran. kapuk. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran Pertimbangan utama mengapa perlu upaya penanggulangan bahaya kebakaran adalah karena adanya potensi bahaya kebakaran di semua tempat. suhu penyalaan/titik nyala dan zat pembakar (O2 atau udara). kertas. diberi sekat dari bahan tahan api. Selain itu kewaspadaan diperlukan bagi bahan-bahan yang berada pada suhu tinggi. cat. Penempatan sampah serta jalan keluar darurat 3. Untuk mencegah terjadinya kebakaran adalah dengan mencegah bertemunya salah satu dari dua unsur lainnya. titik nyala dan potensi menyala sendiri. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar Untuk mengendalikan bahan yang dapat terbakar agar tidak bertemu dengan dua unsur yang lain dilakukan melalui identifikasi bahan bakar tersebut. Kebakaran merupakan peristiwa berkobarnya api yang tidak dikehendaki dan selalu membawa kerugian. 1. Bahan seperti ini memerlukan pengelolaan yang memadai : penyimpanan dalam tabung tertutup. penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sekecil mungkin melalui perencanaan yang baik. Teknik Pemesinan 74 .21. terpisah dari bahan lain. plastik. ruang penyimpanan terbuka atau dengan ventilasi yang cukup serta dipasang detektor kebocoran. Tandai dengan jelas dan bebaskan jalan keluar darurat.

Gambar 3 28. Gambar 3 29. api pembakaran sampah. petir. Sumber penyalaan yang lain: benda membara.kain. Api terbuka tersebut bila memang diperlukan harus dijauhkan dari bahan yang mudah terbakar. timbulnya bara api juga terjadi karena gesekan benda dalam waktu relatif lama. lampu minyak. jerami. bunga api. atau terjadi hubung singkat rangkaian listrik. dsb. Pengendalian titik nyala. karet. Pengendalian bahan bakar 2. api rokok. pemanas. serta bahan-bahan yang mudah meledak pada bentuk serbuk atau debu. sampah kering. Pengendalian titik nyala Sumber titik nyala yang paling banyak adalah api terbuka seperti nyala api kompor. Teknik Pemesinan 75 . reaksi eksoterm.

terutama berkenaan dengan cuaca. dimaksudkan untuk pemilihan media pemadam kebakaran yang sesuai. LPG dll. Kebakaran kelas (tipe) B.3. yaitu kebakaran listrik yang bertegangan d. Kebakaran kelas (tipe) D. yang sejenis dengan itu. alkohol. sinar matahari. gempa bumi. hilangkan jejak kejahatan. minyak. 5. murah dan tidak ada akibat ikutan (side effect). kurang hati-hati menggunakan alat dan bahan yang dapat menimbulkan api. c. aspal. kalium. b. seperti : kurangnya pengertian pengetahuan penanggulangan bahaya kebakaran. mencari keuntungan ganti rugi klaim asuransi. Persedian air dilakukan dengan cadangan bak-bak air dekat daerah bahaya. bahan alam yang melimpah. bahan yang dapat menutup benda terbakar sehingga udara tidak masuk sehingga api padam. tekstil. Kebakaran karena peristiwa alam. air dan juga dengan bahan-bahan lainnya yang mudah meledak atau terbakar. Kebakaran kelas (tipe) C. Teknik Pemesinan 76 . a. karet. d. Kebakaran karena kesengajaan untuk tujuan tertentu. c. b. Kebakaran karena penyalaan sendiri. Pengelompokan itu adalah : a. yaitu kebakaran bahan padat kecuali logam. yaitu kebakaran bahan logam. gemuk. Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana 1) Air. 4. alat yang diperlukan berupa ember atau slang/pipa karet/plastik. dll. tujuan taktis pertempuran dengan jalan bumi hangus. magnesium. misalnya sabotase. yang sejenis dengan itu. seperti : kertas. busa. Kebakaran karena sifat kelalaian manusia. angin dan topan. yaitu kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar. sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran. Sebab-sebab kebakaran a. Caranya dengan menimbunkan pada benda yang terbakar menggunakan sekop atau ember. seperti : aluminium.: 04/MEN/1980 penggolongan atau pengelompokan jenis kebakaran menurut jenis bahan yang terbakar. kayu. Klasifikasi kebakaran Berdasar Permennaker No. 2) Pasir. sering terjadi pada gudang bahan kimia di mana bahan bereaksi dengan udara. seperti : bensin. Peralatan pemadaman kebakaran Untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran perlu disediakan peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dan cocok untuk bahan yang mungkin terbakar di tempat yang bersangkutan. petir. yang sejenis dengan itu. plastik. dll. kurangnya kesadaran pribadi atau tidak disiplin. Kebakaran kelas (tipe) A. letusan gunung berapi.

Alat pemadam kebakaran. pipa semprot dan kumparan slang. 2) Sistem penyembur api (sprinkler system). yang berfungsi untuk menyelimuti benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai oksigen terhenti. luasnya minimal 2 kali luas potensi api. 3) Sistem pemadam dengan gas. pipa kopel. Teknik Pemesinan 77 . Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan lebih besar dari tekanan diluar. kombinasi antara sistem isyarat alat pemadam kebakaran. Terdiri dari pompa. gantol dan lain-lain sejenis. saluran air. b. Alat pemadam kebakaran besar Alat-alat ini ada yang dilayani secara manual ada pula yang bekerja secara otomatis. c. kain katun. Konstruksi APAR sebagai berikut : Gambar 3 30. Jenis APAR meliputi : jenis air (water). 1) Sistem hidran mempergunakan air sebagai pemadam api. Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. serbuk kering (dry chemical) gas halon dan gas CO2. 4) Tangga. busa (foam). dipergunakan untuk alat bantu penyelamatan dan pemadaman kebakaran. mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. atau selimut basah sangat efektif untuk menutup kebakaran dini pada api kompor atau kebakaran di rumah tangga. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) APAR adalah alat yang ringan berupa tabung.3) Karung goni. boks hidran (dalam gedung) berisi : slang landas. pilar hidran (di luar gedung).

Dipom pa. mobil serta bahan mudah terbakar lainnya Petunjuk Pemakaian Lepas pena kunci. rumah. Sesuai untuk bahan bangunan. Petunjuk pemilihan APAR Pilih yang sesuai Multi Purpo se Serba guna A B C Keterangan Ya Ya Zat Kimia Kering (Dry Chemical) Sodium bicarbon at NaHCO3 Purple K Zat Kimia Basah (Wet Chemical) Loaded Stream Pump (Stored tank pressure d) Tanki Busa & bertekan pompa an Ya Tidak Ya Ya Tidak Sesuai untuk lab dan tempat bahan kimia Lepas pena kunci. Alat pemadam kebakaran besar. Lepas pena kunci.Gambar 3 31. sekolah. Pemilihan APAR Teknik Pemesinan 78 . guyur bahan terbak ar Tabel 3 1. genggam handel & arahkan moncong ke sumber api Tidak Tidak Murah. gengg am handel & guyur bahan terbak ar Pegan g monco ng. Sesuai untuk alat elektronik dan gudang bahan makanan Lepas pena kunci. genggam handel & arahkan moncong di bawah api Ya Ya Bahan ini tidak meninggalkan bekas. 6. genggam handel & guyur bahan terbakar CO2 Carbon dioxide Halon Halon 1211 Air Water CO2 Air bertek anan Tidak Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Bekerja dengan cepat Disarankan tersedia pada gudang bahan bakar minyak dan gas. grdung. perkantoran dsb.

Siagakan APAR selalu siap pakai. Tempatkan APAR selalu pada tempat yang sudah ditentukan. antara lain : oleh 1. e. 4. 3. Waktu ideal : 3 detik operasi. bila api terlanjur besar maka makin sulit memadamkannya. tidak terlindung benda/perabot seperti lemari. sehingga perlu jalan yang memadai. Untuk itu diperlukan fasilitas : a) b) c) d) Daun pintu dapat dibuka keluar Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci Lebar pintu dapat dilewati 40 orang/menit Bangunan beton strukturnya harus mampu terbakar minimal 7 jam. Upayakan latihan secara periodik untuk dapat bertindak secara tepat dan tenang. juga untuk keperluan evakuasi. Fire alarm secara otomatis akan mempercepat diketahuinya peristiwa kebakaran. Beberapa kebakaran terlambat diketahui karena tidak ada fire alarm. diperlukan untuk petugas yang datang menggunakan kendaraan pemadam kebakaran. 10 detik berhenti. Bila terjadi kebakaran besar : bertindaklah dengan tenang. dsb. Beri tanda segitiga warna merah panjang sisi 35 cm. Fasilitas Penunjang Keberhasilan pemadaman kebakaran juga ditentukan keberadaan fasilitas penunjang yang memadai. Jalan bagi petugas. 4. 2. b. minimal 2 tahun sekali. 5. c. rak buku. mudah dijangkau dan mudah dilihat. waktu maksimum terus menerus 8 detik. 5. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran 1. oleh karena itu sebelum menggunakan APAR perlu diidentifikasi jenis bahan terbakar.7. APAR hanya ideal dioperasikan pada situasi tanpa angin kuat. Karakteristik APAR : a. nyalakan alarm. Bila telah dipakai harus diisi ulang. kadang harus mondar-mandir/keluar masuk mengambil air. 2. keras dan lebar. APAR jenis tertentu bukan merupakan pemadam untuk segala jenis kebakaran. hubungi petugas pemadam kebakaran. Harus diperiksa secara periodik. beritahu orang lain untuk pengosongan lokasi. Bila terjadi kebakaran kecil : bertindaklah dengan tenang. identifikasi bahan terbakar dan tentukan APAR yang dipakai. APAR kimiawi ideal dioperasikan pada suhu kamar. Teknik Pemesinan 79 . d.

mistar-mistar ingsut. tap atau frais karena pembebanan yang besar pada poros-poros. Bak-bak minyak harus diisi sampai garis tandanya. 2. Jagalah supaya perkakas-perkakas tangan dan mesin-mesin tetap dalam keadaan bersih. Lumasilah alat-alat perkakas secara teratur. 7. Usahakanlah supaya jalan-jalan terusan tidak terhalang oleh bahan. 6. 3. warnanya menunjukkan jenis pelumas apa yang harus digunakan (perhatikan petunjuk-petunjuk dari pegusaha pabriknya).6. Pelat-pelat kode dapat berguna sekali. Akibat yang mungkin terjadi : a) Kecelakaan b) Kerusakan perkakasnya c) Kehancuran alat perkakasnya. dan sebagainya) berada di atas mesin yang sedang berjalan. terdapat beberapa pedoman. Periksalah alat-alat perkakas secara teratur akan kemungkinan terjadinya kerusakan-kerusakan. Hal ini dapat berakibat terjadinya kehancuran bor. 4. Korektif (tindakan setelah timbulnya kerusakan) Untuk pemeliharaan preventif. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas Pada dasarnya terdapat dua jenis pemeliharaan. dan lainnya. yang biasanya diutamakan. Teknik Pemesinan 80 . Jangan lupa peraturan-peraturan keamanan. Jangan membiarkan alat-alat bantu atau alat-alat ukur (kuncikunci. batang-batang ulir dan mur-mur dari mesin-mesinnya. 5. Bersihkanlah ayakan-ayakan minyaknya pada waktu-waktu tertentu dan tukarlah saringan-saringannya. Perbaiki atau gantilah perkakas yang rusak. ia menunjukkan setelah beberapa waktu minyak pelumasnya harus diperbaharui dan pelumasannya harus dilakukan. kalau itu merupakan kelengkapan mesin yang bersangkutan. Serahkanlah semua perkakas setelah dipakai. yaitu : 1. pahat. Ingatlah akan perlindungan dari bagian-bagian yang berputar. bila perlu pakailah kacamata pengaman. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah periksalah kotak penyimpanan obatobatan secara teratur pula. peti-peti. dalam keadaan bersih atau simpanlah dalam keadaan bersih. bantalan-bantalan. Preventif (pencegahan kerusakan dan keausan) 2. sambungan-sambungan listrik. mikometer. yaitu : 1. Jangan sekali-sekali menggunakan perkakas yang tumpul pada gesekan yang besar.

BAB 4 MEMAHAMI KAIDAH PENGUKURAN Teknik Pemesinan 81 .

3. Alat ukur yang baik merupakan kunci dari proses produksi massal. Jangka sorong tersebut memiliki skala ukur (vernier scale) dengan cara pembacaan tertentu.A. Sensor jangka sorong yang dapat digunakan untuk mengukur berbagai posisi. Beberapa macam jangka sorong dengan skala penunjuk pembacaan dapat dilihat pada Gambar 4. atau dilengkapi penunjuk ukuran digital. Pengukuran menggunakan jangka sorong dilakukan dengan cara menyentuhkan sensor ukur pada benda kerja yang akan diukur. Ada juga jangka sorong yang dilengkapi jam ukur. Alat Ukur M 1. (lihat Gambar 4.1. Gambar 4 1. komponen yang dirakit harus sesuai satu sama lain. engukur adalah proses membandingkan ukuran (dimensi) yang tidak diketahui terhadap standar ukuran tertentu. lebar celah dengan sensor bagian atas. Jangka sorong berfungsi sebagai alat ukur yang biasa dipakai operator mesin yang dapat mengukur panjang sampai dengan 200 mm. Gambar 4. berikut adalah gambar jangka sorong yang dapat mengukur panjang dengan rahangnya. Teknik Pemesinan 82 . kedalaman dengan ekornya.1. Jangka Sorong Jangka sorong adalah alat ukur yang sering digunakan di bengkel mesin. Pada saat ini. ketelitian 0.). elemen mesin tidak dapat dibuat cukup akurat untuk menjadi mampu tukar (interchangeable). Pada waktu merakit. alat ukur merupakan alat penting dalam proses pemesinan dari awal pembuatan sampai dengan kontrol kualitas di akhir produksi. Tanpa alat ukur.05 mm.

15 .3. dan digital. di bawah : 9 mm) Baca angka kelebihan ukuran dengan cara mencari garis skala utama yang segaris lurus dengan skala nonius (Gambar 4. hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada monitor digitalnya.15) Sehingga ukuran yang dimaksud 9. Teknik Pemesinan 83 .3. jam ukur. Jangka sorong dengan penunjuk pembacaan nonius. Pembacaan hasil pengukuran jangka sorong yang menggunakan jam ukur dilakukan dengan cara membaca skala utama ditambah jarak yang ditunjukkan oleh jam ukur. Untuk jangka sorong dengan penunjuk pembacaan digital.Gambar 4 2. cara pembacaan ukurannya secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka mm pada skala utama (pada Gambar 4. di bawah : 0. Jangka sorong yang menggunakan skala nonius.

05 mm. adalah 8.) biasanya lebih presisi dari pada menggunakan jangka sorong.01 mm. 2. yaitu sekitar 25 mm. Cara membaca skala mikrometer secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka skala pada skala utama/barrel scale (pada Gambar 4. 25–50 mm.4. Cara membaca skala jangka sorong ketelitian 0.5 mm) Baca angka skala pada thimble (pada posisi 0. Mikrometer memiliki ketelitian sampai dengan 0. dan seterusnya dengan selang 25 mm. Mikrometer luar. Akan tetapi jangkauan ukuran mikrometer lebih kecil.Gambar 4 3. 50-75 mm.19 mm) Teknik Pemesinan 84 . dan mikrometer dalam Hasil pengukuran dengan mengunakan mikrometer (Gambar 4.5. Jangkauan ukur mikrometer adalah 0-25 mm. Mikrometer Gambar 4 4.

untuk mengurangi kesalahan pembacaan hasil pengukuran. Beberapa contoh penggunaan mikrometer untuk mengukur benda kerja dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4 6. diameter dalam.69 mm). akan tetapi kepala mikrometer sebagai alat pengukur dan pembacaan hasil pengukuran tetap selalu digunakan. dan diameter luar. diameter dalam.6. Teknik Pemesinan 85 . Cara membaca skala mikrometer. panjang. Beberapa mikrometer juga dilengkapi penunjuk pembacaan digital. adalah 8. tebal. Untuk keperluan khusus mikrometer juga dibuat berbagai macam variasi. 30 25 20 0 5 10 15 15 10 20 Gambar 4 5. hampir sama dengan jangka sorong.Jumlahkan ukuran yang diperoleh (pada Gambar 1. Mikrometer dapat mengukur tebal. Berbagai macam pengukuran yang bisa dilakukan dengan mikrometer : pengukuran jarak celah.7.

01 mm.). Jam ukur (Dial Indicator).8. Alat ukur pembanding ini (Gambar 4. Pengecekan sumbu mesin bubut dengan bantuan jam ukur.7.). posisi senter/sumbu mesin perkakas (Gambar 4. digunakan oleh operator mesin perkakas untuk melakukan penyetelan mesin perkakas yaitu : pengecekan posisi ragum. Sistem Satuan Sistem satuan yang digunakan pada mesin perkakas adalah sistem metris (Metric system) dan sistem imperial (Imperial system/British system). Ketelitian ukur jam ukur yang biasa digunakan di bengkel adalah 0. Gambar 4 7.3. Buku terbitan USA dan England selalu Teknik Pemesinan 86 . dan pengujian kualitas geometris mesin perkakas. posisi benda kerja. 4. Jam Ukur (Dial Indicator) Jam ukur (dial indicator) adalah alat ukur pembanding (komparator). Gambar 4 8.

000984 1.S.056688 0.413063 0.97097 0.7639 1.3147 1.836127 2.879877 0.157473 0.764555 4.28084 1.785412 4.S.S.046909 0.113377 1.035195 liters to pints (U.404866 square centimeters to square inches square meters to square feet square meters to square yards 0.30795 0.) to liters gallons (imperial) to liters 16.18474 1016.S.589988 4046.092903 0.54609 cubic centimeters to cubic inches cubic meters to cubic feet cubic meters to cubic yards cubic kilometers to cubic miles milliliters to fluid ounces (U.1).907185 grams to ounces kilograms to pounds kilograms to stone (14 lb) kilograms to tons (U.568261 0.menggunakan satuan imperial.387064 0.000247 2.033814 6.) to metric tons 28.061024 35.386102 square meters to acres hectares to acres 0. maka untuk memudahkan perhitungan.473176 0.0393701 3.09361 4. dan beberapa data pada buku ini juga menggunakan satuan imperial.3048 0.19599 25.S.) kilograms to tons (imperial) metric tons to tons (U.035274 2.946353 1.10231 Teknik Pemesinan 87 .) to liters quarts (imperial) to liters gallons (U.S.350293 907.S.349523 0.S.) 0.453592 6.S.S. Mengubah Panjang inches to millimeters feet to meters yards to meters furlongs to kilometers miles to kilometers Luas square inches to square centimeters square feet to square meters square yards to square meters square miles to square kilometers acres to square meters acres to hectares Volume cubic inches to cubic centimeters cubic feet to cubic meters cubic yards to cubic meters cubic miles to cubic kilometers fluid ounces (U.) liters to gallons (imperial) 2.) liters to quarts (imperial) liters to gallons (U.136523 3.) to milliliters fluid ounces (imperial) to milliliters pints (U.9144 0.621371 Dikalikan Mengubah Dikalikan square kilometers to square miles 0.264172 0.001102 0.20462 0.1550 10.) 0.609344 millimeters to inches meters to feet meters to yards kilometers to furlongs kilometers to miles 0. berikut ditampilkan konversi satuan Imperial menjadi Metris (Tabel 4.S.S.469955 milliliters to fluid ounces (imperial) 0.239912 0.5735 28.) to kilograms tons (imperial) to kilograms tons (U.4516 0.028317 0.) to liters pints (imperial) to liters quarts (U.856422 0.) liters to pints (imperial) liters to quarts (U.219969 Massa/Berat ounces to grams pounds to kilograms stone (14 lb) to kilograms tons (U.1682 29.201168 1.4 0.759754 1.

064779 newtons per square centimeter to 0.44822 9.3540 0.824859 0.238846 0.89476 15.224809 0.101972 0.695942 0.S.016047 1.S.600 0.824859 per kilometer Microsoft ® Encarta ® Encyclopedia 2005.) kilometers per liter to miles per gallon (imperial) liters per kilometer to gallons per mile (U.80665 6.) to liters per 2.609344 0.000278 1. Faktor konversi satuan imperial menjadi metris dan sebaliknya.3521 2.4443 10.) to kilometers per liter miles per gallon (imperial) to kilometers per liter 1.098692 atmospheres pound-force per square inch to atmospheres joule to calorie joule to watt-hour kilowatts to horsepower kilometers per liter to miles per gallon (U. Teknik Pemesinan 88 .145038 0.3048 metric tons to tons (imperial) kilometers per hour to miles per hour meters per second to feet per second newton to pound-force newton to kilogram-force kilopascals to pound-force per square inch megapascals to tons-force per square inch (imperial) 0.7457 0. All rights reserved.tons (imperial) to metric tons Kecepatan miles per hour to kilometers per hour feet per second to meters per second Gaya pound-force to newton kilogram-force to newton Tekanan pound-force per square inch to kilopascals tons-force per square inch (imperial) to megapascals atmospheres to newtons per square centimeter atmospheres to pound-force per square inch Energi calorie to joule watt-hour to joule Usaha horsepower to kilowatts Konsumsi bahan bakar miles per gallon (U.3521 kilometer gallons per mile (imperial) to liters 2.) liters per kilometer to gallons per mile (imperial) 0.1868 3. Tabel 4 1.621371 3.068948 4.4251 0.1325 14.34102 2.4251 0.28084 4.S. © 1993-2004 Microsoft Corporation.3540 gallons per mile (U.984207 0.S.

BAB 5 MEMAHAMI GAMBAR TEKNIK Teknik Pemesinan 89 .

Demikian seterusnya.1. Mengenal alat Menggambar Teknik 1. Kertas Gambar a) Jenis Kertas erdasarkan jenis kertasnya. kertas gambar yang dapat digunakan untuk menggambar teknik adalah: 1) Kertas Padalarang 2) Kertas manila 3) Kertas Strimin 4) Kertas roti 5) Kertas Kalki B b) Ukuran Kertas Ukuran gambar teknik sudah ditentukan berdasarkan standar.189 x 841 841 x 594 594 x 420 420 x 297 297 x 210 210 x 148 20 20 20 20 15 15 Tabel 5 1 Kertas gambar berdasarkan ukuran Teknik Pemesinan 90 .1. Sedangkan perbandingan ukuran kertas gambar dapat dilihat dari gambar 5. Ukuran A2 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A1. Ukuran pokok kertas gambar adalah A0. Ukuran kertas gambar dapat dilihat pada tabel 5. Ukuran A1 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A0. Seri Ukuran Kertas Ukuran Garis Tepi Kiri Kanan 10 10 10 20 5 5 A0 A1 A2 A3 A4 A5 1. Ukuran A0 adalah 1 m2 dengan perbandingan 2 : 1 untuk panjang : lebar.A.

Batang pensil tetap tidak bisa habis.2. Pensil mekanik memiliki ukuran berdasarkan diameter mata pensil.3. Habisnya isi pensil bersamaan dengan habisnya batang pensil. Pensil mekanik Pensil mekanik. Gambar pensil batang dapat dilihat pada Gambar 5. 0.0 mm. antara isi dan batangnya menyatu. antara batang dan isi pensil terpisah.2. Cara penempelan kertas di atas meja gambar non magnetik 2.Gambar 5 1. Gambar pensil mekanik dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5 2 Pensil batang Gambar 5.3 mm. Untuk menggunakan pensil ini harus diraut terlebih dahulu. Pensil gambar terdiri dari batang pensil dan isi pensil. Jika Isi pensil habis dapat diisi ulang. Pensil Gambar Pensil adalah alat gambar yang paling banyak dipakai untuk latihan mengambar atau menggambar gambar teknik dasar. c) Pensil Gambar Berdasarkan Bentuk Pensil Batang Pada pensil ini. misalnya 0.5 mm dan 1. Teknik Pemesinan 91 .

Pensil berdasarkan kekerasannya Untuk mendapatkan garis dengan ketebalan yang merata dari ujung ke ujung. sedang dan lunak. maka kedudukan pensil sewaktu menarik garis harus dimiringkan 60o dan selama menarik garis sambil diputar dengan telunjuk dan ibu jari (lihat Gambar 5. 4. Pensil mekanik d) Pensil Gambar Berdasarkan Kekerasan Berdasarkan kekerasanya pensil gambar dibagi menjadi pensil keras.) Gambar 5 4. Cara menarik garis Teknik Pemesinan 92 . Tabel 5 2.Gambar 5 3.

Sepasang penggaris segitiga ini digunakan untuk membuat garis-garis sejajar. 90o. Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga. Penggaris Penggaris yang sering digunakan untuk menggambar teknik adalah penggaris –T dan penggaris segitiga. sudut-sudut istimewa dan garis yang saling tegak lurus.3. 90o dan 60o. 45o dan satu buah penggaris bersudut 30o. Gambar 5 6.5. bagian mistar panjang dan bagian kepala berupa mistar pendek tanpa ukuran yang bertemu membentuk sudut 90o. Gambar 5 5. b) Penggaris Segitiga Penggaris segitiga terdiri dari satu penggaris segitiga bersudut 45o. Teknik Pemesinan 93 . a) Penggaris -T Penggaris T terdiri dari dua bagian. Rapido 4. Gambar rapido dapat dilihat pada Gambar 5. Rapido Penggunaan rapido untuk menggambar dengan teknik tinta dianggap lebih praktis dari pada dengan trekpen.

Cara menggunakan penggaris-T Gambar 5 8. Gambar 5 9. Cara menggunakan penggaris segitiga 5. Gambar 9 memperlihatkan beberapa jenis jangka. Jangka Jangka adalah alat gambar yang digunakan untuk membuat lingkaran dengan cara menancapkan salah satu ujung batang pada kertas gambar sebagai pusat lingkaran dan yang lain berfungsi sebagai pensil untuk menggambar garis lingkarannya. Jenis jangka Teknik Pemesinan 94 .Gambar 5 7.

10. seperti Gambar 5. Kedudukan pena tarik saat menarik garis serta Cara menggunakan jangka Gambar 5 11. Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung 6.11. yaitu penghapus lunak dan penghapus keras. Gambar 5 10.13. maka digunakan plat pelindung penghapus seperti Gambar 5. Penghapus lunak untuk menghapus gambar dari pensil dan penghapus keras untuk menghapus gambar dari tinta. cara menggunakan jangka ditunjukkan pada Gambar 5.Kedukukan pena tarik sewaktu menarik garis sebaiknya miring 60o terhadap meja gambar. Penghapus dan alat pelindung penghapus Ada dua jenis penghapus. Teknik Pemesinan 95 . Agar gambar yang akan dihapus tepat dan tidak menghilangkan gambar yang lain.

lihat Gambar 5. Gambar 5 13. Busur derajat f) Sablon huruf dan angka Sablon huruf dan angka adalah sebuah alat gambar yang digunakan untuk menggambar huruf dan angka.15 Teknik Pemesinan 96 . Lihat Gambar 5. Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung 7.14. agar diperoleh tulisan yang rapi dan seragam dan mengikuti standar ISO. Alat-alat Penunjang lainnya Ada beberapa alat penunjang gambar teknik lainnya yang kadangkadang diperlukan didalam menggambar adalah : e) Busur derajat Busur derajat digunakan untuk mengukur dan membagi sudut. Dalam satu set mal lengkung ada 3 jenis mal.Gambar 5 12. g) Mal lengkung Mal lengkung digunakan untuk membuat garis lengkung yang tidak dapat dibuat dengan jangka.

Contoh penggunaan mal lengkung h) Mal bentuk Untuk membuat gambar geometri dan simbol-simbol tertentu dengan cepat. Bahan daun meja ada bermacam-macam. yaitu : daun meja dari papan non magnetik. Tidak seperti meja biasa. Gambar 5 16.Gambar 5 14. papan berlapis magnet dan kaca rayben Teknik Pemesinan 97 . Meja gambar terdiri dari rangka meja gambar dan daun meja gambar. Meja Gambar Meja gambar adalah meja yang digunakan sebagai alas menggambar. maka digunakan mal bentuk. meja gambar dapat diubah-ubah ketinggian dan kemiringan daun mejanya. Mal bentuk geometri 8. Mal lengkung Gambar 5 15.

Mesin gambar dapat menggantikan beberapa fungsi alat gambar lainnya seperti busur derajat. sepasang penggaris segitiga dan mistar T. Mesin Gambar Mesin gambar adalah mesin manual yang digunakan untuk memudahkan menggambar. yaitu: mesin gambar rol dan mesin gambar lengan. Berdasarkan bentuknya ada dua jenis mesin gambar.Gambar 5 17. Mesin gambar lengan Gambar 5 19. Mesin gambar rol Teknik Pemesinan 98 . Meja gambar 9. Gambar 5 18.

k. a. Perhatikan cara memegang penggarisnya. Tentukan dahulu titik-titik yang akan dihubungkan. i. j. g. 3. Perhatikan cara memegang mal dan cara menggesernya. Tempelkan kertas manila A3 di atas meja gambar dengan selotip. 4. Langkah Kerja a. Perhatikan arah penarikan garis. yaitu: cutter dan jarum jangka. Gunakan selotip berbahan kertas. Geser-geser mal lengkung untuk mendapatkan bentuk yang paling tepat antara dua garis. Gunakan sepasang penggaris segitiga untuk membuat garis-garis sejajar horisontal dan vertikal.B. e. d. f. Perhatikan dari mana mulai menarik garis dan mengakhirinya. Teknik Pemesinan 99 . 60º. 45º. Gunakan mal huruf-angka. Gunakan mal bentuk dan symbol. d. Gunakan mal lengkung sesuai contoh pada lembar informasi. b. c. Lembar Kerja 1. Buat garis lengkungnya dengan mal lengkung. Hati-hati menggunakan peralatan yang tajam. Alat Meja gambar Pensil gambar Sepasang penggaris segitiga Penggaris panjang 50 cm atau 60 cm Jangka Mal huruf dan angka Mal bentuk Mal lengkung Penghapus Selotip Cutter Bahan Kertas manila A3 Kesehatan dan Keselamatan Kerja a. 2. b. e. g. Cara menggunakan mal ini sama dengan cara menggunakan mal huruf-angka. c. h. Diameter lingkaran sembarang. f. Huruf dan angka yang di-mal sembarang. Panjang dan jarak antar garis sembarang. Gunakan jangka dengan benar untuk membuat lingkaran. 30º. 75º dan 90º dengan sepasang penggaris segitiga. b. Buatlah sudut-sudut 15º.

Proyeksi piktorial isometri 3. Ada beberapa macam cara proyeksi. Membaca Gambar Teknik Proyeksi Piktorial Untuk menampilkan gambar-gambar tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi. Gambar 5 20.21. Perspektif Untuk membedakan masing-masing proyeksi tersebut. perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu ciri dan syarat-syarat untuk membuat gambar dengan proyeksi tersebut. dapat kita lihat pada Gambar 5. 2) Ciri pada ukuran Teknik Pemesinan 100 . dapat kita lakukan dengan beberapa macam cara proyeksi sesuai dengan aturan rnenggarnbar. Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 5. Proyeksi piktorial miring 4. Proyeksi piktorial dimensi 2. Proyeksi Isometris c) Ciri Proyeksi Isometris Untuk mengetahui apakah suatu gambar disajikan dalam bentuk proyeksi isometris.C. Adapun ciri-ciri gambar dengan proyeksi isometris tersebut adalah: 1) Ciri pada sumbu • Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30° terhadap garis mendatar. antara lain: 1. Proyeksi piktorial 2.22. 1. • Sudut antara sumbu satu terhadap sumbu lainya 1200.

Panjang gambar pada masing-masing sumbu sama dengan panjang benda yang digambarkan (lihat Gambar 5. Penyajian proyeksi isometris Teknik Pemesinan 101 . Gambar 5 22. terbalik atau horizontal.22) Gambar 5 21. Proyeksi isometris d) Penyajian Proyeksi Isometris Penyajian gambar dengan proyeksi isometris dapat dilakukan dengan kedudukan normal. Mengenai hal ini dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu: a. 2) Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik.23. 1) Proyeksi isometris dengan kedudukan normal.23 berikut). Memutar gambar dengan sudut 180° ke kanan dan kedudukan normal. Kedudukan normal mempunyai sumbu dengan sudut-sudut seperti tampak pada Gambar 5. sesuai dengan kedudukan sumbunya (lihat Gambar 5.

b. a. Sumbu utama mempunyai sudut: =70 dan = 400 (lihat Gambar 5. Mengubah kedudukan benda yang digambar dengan tujuan untuk memperlihatkan bagian bawah benda tersebut (lihat Gambar 5. Mengubah kedudukan benda. Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik 3) Proyeksi isometris dengan kedudukan horizontal.25. Sebagaimana cara yang dilakukan untuk menggarnbar kedudukan proyeksi isometris terbalik. Proyeksi isometris kedudukan horizontal 2. Teknik Pemesinan 102 . maka untuk kedudukan horizontal 2700 ke kanan dan kedudukan sumbu norrnalnya (Iihat Gambar 5. Perbandingan skala ukuran pada sumbu x = 1 : 1. yaitu untuk memperlihatkan bagian samping kiri (yang tidak terlihat) sebagaimana terlihat pada Gambar 5.26) b. yaitu dengan memutar sumbu utama 1800 dan sumbu normal. Proyeksi Dimetris Proyeksi dimetris mempunyai ketentuan: a. dan pada sumbu z 1 : 1. Gambar 5 24.24) Gambar 5 23. pada sumbu y = 1 : 2.25) b.

Proyeksi dimetris Gambar kubus yang di gambarkan dengan proyeksi dimetris di bawah ini. Teknik Pemesinan 103 . sumbu x berimpit dengan garis horizontal/mendatar dan sumbu y mernpunyai sudut 450 dengan garis mendatar. yaitu 20 mm • Ukuran pada sunbu z digambar 40 mm Gambar 5 26. dan skala pada sumbu z = 1: 1 (ithat gambar di bawah ini) 3. Keterangan: • Ukuran pada sumbu x digambar 40 mm • Ukuran gambar pada sumbu y digambar 1/2 nya. Skala ukuran untuk proyeksi miring ini sama dengan skala pada proyeksi dimetris. pada sumbu y = 1 : 2.Gambar 5 25. Kubus dengan proyeksi dimetris Proyeksi Miring (sejajar) Pada proyeksi miring. yaitu skala pada sumbu x 1:1. mempunyai sisi-sisi 40 mm.

gambar perspektif jarang dipakai. h. Gambar 5 28. Perspektif dengan tiga titik hilang.Gambar 5 27. Gambar perspektif dibagi menjadi tiga macam. Proyeksi miring Gambar Perspektif Dalam garnbar teknik mesin. yaitu: a. Perspektif dengan satu titik hilang Teknik Pemesinan 104 . perspektif dengan satu titik hilang. 4. Perspektif dengan dua titik hilang. c.

Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di atas benda disebut pandangan atas. Demikian seterusnya. Perspektif dengan dua titik hilang Gambar 5 30. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di sebelah kanan benda disebut pandangan samping kanan.Gambar 5 29. c. b. 5. Perspektif dengan tiga titik hilang Macam-Macam Pandangan Untuk memberikan informasi lengkap suatu benda tiga dimensi dengan gambar proyeksi ortogonal. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di depan benda disebut pandangan depan. Teknik Pemesinan 105 . biasanya memerlukan lebih dari satu bidang proyeksi. a.

bidang vertikal. di depan bidang D.Gambar 5 31. dan di samping kanan bidang V disebut kuadran I. dan di sebelah kanan bidang V disebut kuadran IV. Bidang-Bidang Proyeksi Gambar 5 32. dan di depan bidang D disebut kuadran III. di depan bidang D. Teknik Pemesinan 106 . Macam-macam pandangan 6. di bawah bidang H. dan bidang horizontal. di depan bidang D. dan disebelah kiri bidang V disebut kuadran II. Ruang yang berada di bawah bidang H. Ruang yang dibatasi tersebut dikenal dengan sebutan kuadran. Bidang proyeksi Suatu ruang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi oleh bidang-bidang depan. Ruang di atas bidang H. Ruang yang berada di atas bidang H. Ruang disebelah kiri bidang V.

a) Proyeksi di Kuadran I (Proyeksi Eropa) Bila suatu benda diletakkan di atas bidang horizontal. seperti gambar berikut: Teknik Pemesinan 107 . Gambar 5 33. di depan bidang D. dan D. maka akan didapat gambar/proyeksi pada kuadran I yang dikenal juga dengan nama proyeksi Eropa. (depan) dan di sebelah kanan bidang V (vertikal) maka benda tersebut berada di kuadran I. V. maka sumbu x dan y sebagai sumbu putarnya dan sumbu z merupakan sumbu yang dibuka/dipisah.34 memperlihatkan titik yang terletak di kuadran I (lihat gambar 5. jika benda yang terletak di kuadran I kita proyeksikan terhadap bidang-bidang H. Proyeksi di kuadran I Keterangan: A = titik kuadran-I AD = proyeksi titik A di bidang D (depan) Av = proyeksi titik A di bidang V (vertikal) AH = proyeksi titik A di bidang H (horizontal) Bila ketiga bidang saling tegak lurus tersebut dibuka.34). Gambar 5.

Gambar 5 34. Pembukaan objek gambar di kuadran I Selanjutnya batas-batas bidang dihilangkan maka menjadi bentuk di bawah ini : Gambar 5 35. Pemutaran dengan jangka Teknik Pemesinan 108 .

Garis sumbu terpisah d Gambar 5 38.Gambar 5 36. Jadi yang nampak hanya Teknik Pemesinan 109 . Penyederhanaan dapat dilakukan seperti gambar berikut: Gambar 5 37. garis sumbu dan garis bantu tidak diperlukan lagi (dihilangkan). maka untuk menempatkan sumbu dapat disederhanakan sesuai dengan ruang yang tersedia. Garis sumbu berimpit dengan gambar Penampilan Gambar Untuk penampilan gambar berikutnya. Potongan garis yang bersudut 45o Bila penempatan benda di kuadran I tidak teratur.

Pandangan proyeksi Amerika • Pada bidang H ditempatkan pandangan atas • Pada bidang D ditempatkan pandangan depan • Fada bidang V diternpatkan pandangan samping kanan Contoh : Teknik Pemesinan 110 . perlu ditegaskan kembali bahwa untuk proyeksi di kuadran I (proyeksi Eropa). Pandangan proyeksi Eropa b) Proyeksi di Kuadran III (Proyeksi Amerika) Bidang-bidang H.pandangannya saja (lihat gambar 5. V.40). sedangkan pandangan atas berada di bawah pandangan depannya. dan D untuk proyeksi di kuadran III (proyeksi Amerika) yang telah di buka adalah: Gambar 5 40. penempatan pandangan samping akan berada disebelah kiri pandangan depannya. Gambar 5 39.

Gambar 5 41. Simbol proyeksi ditempatkan disisi kanan bawah kertas gambar. Proyeksi Eropa Teknik Pemesinan 111 . telah ditetapkan bahwa cara kedua proyeksi boleh dipergunakan. Simbol Proyeksi dan Anak Panah a) Simbol Proyeksi Untuk membedakan gambar/proyeksi di kuadran I dan gambar/proyeksi di kuadran III. Dalam satu buah gambar tidak diperkenankan terdapat gambar dengan menggunakan kedua gambar proyeksi secara bersamaan. Simbol/lambang proyeksi tersebut adalah sebuah kerucut terpancung (lihat gambar). Sedangkan untuk keseragaman ISO. Contoh pandangan proyeksi Amerika 7. gambar sebaiknya digambar menurut proyeksi sudut pertama (kuadran I atau kita kenal sebagai proyeksi Eropa). perlu diberi lambang proyeksi. Proyeksi Amerika Gambar 5 43. Dalam standar ISO (ISO/DIS 128). Gambar 5 42.

Proyeksi Di Kuadran I (Eropa) Atas dan Samping Kanan Menurut 8. Anak Panah Gambar 5 45.b) Anak Panah Anak panah digunakan untuk menunjukkan batas ukuran dan tempat/posisi atau arah pemotongan sedangkan angka ukuran ditempatkan di atas garis ukur atau di sisi kiri garis ukur (ithat gambar 5. Setelah kita menempatkan sistem proyeksi yang kita pakai.45). Penerapan Proyeksi Eropa Teknik Pemesinan 112 . Gambar 5 44. Gambar 5 46. apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) ataukah proyeksi di kuadran III (Amerika)?. barulah kita menenempatkan pandangan dan objek yang kita gambar tersebut. a) Menempatkan Pandangan Depan. Contoh penggambaran anak panah Penentuan Pandangan Untuk menempatkan pandangan atas atau pandangan samping dan pandangan depannya. terlebih dahulu kita harus menempatkan sistem proyeksi apa yang kita pakai.

tidak selamanya ketiga pandangan harus ditampilkan. Gambar satu pandangan d) Jenis-jenis Pandangan Utama Gambar kerja yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah gambar dalam bentuk pandangan-pandangan. Lthat gambar 49 berikut: Gambar 5 48. Hal terpentirig. dan pandangan atas. Atas dan Samping Kanan Menurut Pryeksi Di Kuadran III (Amerika) Gambar 5 47.50 di bawah ini: Teknik Pemesinan 113 . Penerapan Proyeksi Amerika c) Penetapan Jumlah Pandangan Jumlah pandangan dalam satu objek/gambar tidak semuanya harus digambar rnisa]nya untuk benda-benda bubutan sederhana. Dalam gambar kerja. pandangan samping. tergantung dan kompleks/rumit atau sederhananya bentuk benda. Perhatikan Gambar 5. gambar pandangan-pandangan ini harus dapat memberikan informasi yang jelas.b) Menentukan Pandangan Depan. Sebagai pandangan utamanya ialah pandangan depan. dengan satu pandangan saja yang dilengkapi dengan simbol (lingkaran) sudah cukup untuk memberikan informasi yang jelas.

Pembedaan bentuk benda dengan satu pandangan e) Pemelihan Pandangan Utama Untuk memberikan informasi bentuk gambar. seharusnya kita pilih pandangan yang dapat mewakili bentuk benda (perhatikan Gambar 5. dapat membedakan bentuk bendanya. yaitu dengan simbol/lambang O untuk bentuk lingkaran dan untuk bentuk bujur sangkar dan bentuk gambar piktorialnya adalah: Gambar 5 50.Gambar 5 49. Gambar pandangan Kedua gambar di atas.52) di bawah ini. walaupun hanya terdiri atas satu pandangan saja. Teknik Pemesinan 114 .

Gambar 5 52. Gambar 5.52 di atas.53). Pemilihan pandangan utama Pandangan/gambar di atas belum dapat memberikan informasi yang jelas. Oleh karena itu dalam memilih pandangan yang disajikan harus dapat mewakili bentuk benda (lihat Gambar 5. Gambar 5 53. Pandangan utama Dari gambar piktorial (Gambar 5.Gambar 5 51. yang dapat memberikafi informasi bentuk secara tepat dalam hentuk gambar pandangan adalah pandangan depan dengan pandangan sarnpingnya (lihat Gambar 54). Penentuan pandangan depan Teknik Pemesinan 115 .53) di atas.53 adalah benda yang mempunyai pandangan atas dan pandangan depan yang sama seperti Gambar 5.

Gambar 5 56. belum cukup memberikan informasi bentuk secara cepat dan tepat. Gambar 5 54. Gambar 5 55. barulah kita mendapatkan informasi bentuk yang lengkap dari Gambar 56.Sebaliknya dua pandangan depan dan samping belum tentu dapat memberikan informasi yang maksimum (lihat Gambar 5.55 berikut). perlu satu pandangan lagi untuk kejelasan gambar tersehut: yaitu pandangan atas. OIeh karena itu. Penggunaan dua pandangan Dengan dua pandangan di atas. Bentuk benda dari hasil pandangan Teknik Pemesinan 116 . Penggunaan tiga pandangan Setelah dilengkapi dengan pandangan atasnya.

58a Gambar 5 58.58). yaitu dengan menunjukkan ambar potongan/ irisan. a) Fungsi Gambar Potongan/Irisan Gambar potongan atau irisan fungsinya untuk menjelaskan bagian-bagian gambar benda yang tidak kelihatan. gambar 5. rongga-rongga pada rumah katup. b) Bentuk Potongan/Irisan Gambar potongan atau irisan dapat dijelaskan dengan menggunakan pemisalan benda yang dipotong dengan gergaji (lihat Gambar 5.58b Teknik Pemesinan 117 . 9. Gambar 5 57. sehingga terhindar dan kesalah pahaman membaca gambar. rnisalnya dari benda yang dibor (baik yang dibor tembus maupun dibor tidak tembus) lubanglubang pada flens atau pipa-pipa. Bentuk rongga tersebut perlu dilengkapi dengan penjelasan gambar potongan agar dapat memberikan ukuran atau informasi yang jelas dan tegas. Gambar 5. Oleh karena itu garis-garis gores yang akan menimbulkan salah pengertian (salah informasi) perlu dihindari. dan rongga-rongga pada blok mesin. Kadang-kadang gambar tampak lebih rumit karen adanya garis-garis gambar yang tidak kelihatan.Gambar Potongan Untuk memberikan inforamsi yang lengkap dan gambar yang berongga atau berlubang perlu menampilkan gambar dengan teknik menggambar yang tepat.

c) Tanda Pemotongan Untuk menjelaskan gambar yang dipotong. Keterangan: Gambar 5. seperti pada gambar 58c di atas. Gambar potongan atau irisan harus diasir sesuai dengan batas garis pemotongannya.58b. mempunyai lubang yang bertingkat atau rata. Sehingga setiap orang akan menafsirkan bentuk lubang yang berbeda. Memperlihatkan gambar yang kurang jelas.Tanda pemotongan ini terdiri atas: Teknik Pemesinan 118 .58a.58c. Gambar 5. sehingga bentuk rongga di dalamnya dapat terlihat dengan jelas dan tidak menimbulkan keraguan lagi dalam menentukan bentuk di bagian dalamnya.58c. maka gambar dapat dijelaskan dengan menggunakan pemisalan bahwa benda tersehut dipotong--dengan gergaji. sehingga informasi yang diberikan oleh gambar dapat efisien. yang menyebabkan informasi kurang jelas. Oleh karena Gambar 58a dan Gambar 58c menimbulkan keraguan dalam pembacaannya. Memperlihatkan gambar lengkap dengan garis gores sebagai batas-batas garis yang tidak kelihatan. Gambar 5. Dalam hal ini kita tidak bisa memastikan apakah lubang tersebut merupakan lubang tembus atau tidak tembus. Dengan adanya garis-garis tersebut gambar kelihatan agak rumit. Gambar 5. perlu adanya tanda pemotongan yang sudah ditetapkan sesuai dengan aturan-aturan menggambar teknik. diperoleh ketegasan atau kejelasan tentang bentuk dan rongga sebelah dalam.Gambar 5 59. Dengan gambar potongan atau irisan.

60).60). Untuk lebih jelasnya. Gambar 5 60. perhatikan Gambar 5. apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) atau proyeksi di kuadran III (Amerika).61. Tanda pemotongan dengan garis tipis bergelombang bebas (lihat Gambar 5. Teknik Pemesinan 119 .59).a. b. Tanda pemotongan dengan garis sumbu dan kedua ujungnya di tebalkan (lihat Gambar 5. Tanda pemotongan dengan garis tipis berzigzag (lihat Gambar 5. Tanda pemotongan Gambar 5 61. kita perlu memperhatikan penempatan gambar potongan tersebut sesuai dengan proyeksi yang akan kita gunakan. Tanda pemotongan dengan gelombang dan zigzag d) Menempatkan Gambar Penampang/Potongan Untuk menempatkan gambar penampang atau gambar potongan. c.

Penempatan gambar potongan (1) Gambar 5 63.Gambar 5 62. Penempatan gambar potongan (2) Teknik Pemesinan 120 .

62a.62b. Jika proyeksi yang digunakan proyeksi Eropa maka penempatan gambar potongnya berada di depan arah anak panahnya. Gambar 5. jari-jari pejal dan semacamnya (lihat Gambar 5.62a. misal : poros pejal. Penempatan potongan dengan diputar Gambar 5. atau dengan dipotong dan diputar kemudian dipindahkan ketempat lain segaris dengan sumbunya seperti tampak pada Gambar 5. maka gambar penampang potongannya diletakkan/berada di belakang arah anak panahnya. penampang potong dapat juga diputar ditempat (penampang putar) seperti tampak pada Gambar 5. misal: pelat-pelat penguat pada dudukan poros dan pelat penguat pada flens (lihat Gambar 5. Selain ditempatkan sesuai dengan proyeksi yang digunakan. Teknik Pemesinan 121 .62b.Jika proyeksi yang digunakan adaiah proyeksi Arnerika. Penempatan potongan dengan diputar dan dipindah e) Benda-benda yang Tidak Boleh Dipotong Benda-benda yang tidak boleh dipotong yaitu benda-benda pejal.63a).63b). Bagian-bagian yang tidak boleh dipotong tersebut yaitu bagian-bagian yang tidak diarsir. benda-benda tipis.

Potongan jari-jari pejal Gambar 5. Potongan dudukan poros f) Jenis-jenis Gambar Potongan Jenis-jenis gambar potongan/ irisan terdiri atas : • Gambar potongan penuh • Garnbar potongan separuh • Gambar potongan sebagian/setempat atau lokal • Gambar potongan putar • Gambar potongan bercabang atau meloncat 1. Gambar Potongan Penuh Perhatikan contoh gambar potongan penuh pada Gambar 5.Gambar 5.64 berikut : Teknik Pemesinan 122 .63b.63a.

Gambar Potongan Separuh Perhatikan contoh gambar potongan pada Gambar 5.Gambar 5. Gambar Potongan Sebagian Gambar potongan sebagian disebut juga potongan lokal atau potongan setempat (lihat contoh Gambar 5. Potongan penuh 2.65. Teknik Pemesinan 123 . Potongan separuh 3.65 berikut : Gambar 5.64.66).

68.62b. Potongan putar 5. Potongan sebagian 4. Gambar 5.Gambar 5.62a atau dapat juga penempatan potongannya seperti pada Gambar 5. Potongan bercabang atau meloncat Teknik Pemesinan 124 . Gambar 5.67. Gambar Potongan Bercabang atau Meloncat Perhatikan contoh Gambar 5. Gambar Potongan Putar Gambar potongan putar dapat diputar setempat seperti tampak pada Gambar 5.68 berikut.66.

sedangkan ketebalan arsiran digunakan garis tipis dengan perbandingan ketebalan sebagai berikut (lihat tabel 5. macam-macam garis arsiran yang disesuaikan dengan bendanya.3. bidang atau pengarsiran pada bidang yang luas 3. sudut dan ketebalàn garis arsiran 2. Tabel 5. atau 450 terhadap garis batas gambar. 1. Gambar 5. pengarsiran bidang yang berdampingan 4. Arsir yaitu garis-garis miring tipis yang dibatasi oleh garis-garis batas pemotongan.3). Contoh penggunaan arsiran a) Macam-macam Arsiran Hal-hal yang perlu diperhatikan pada gambar yang diarsir antara lain: 1.69 di bawah. Macam-macam ketebalan garis Teknik Pemesinan 125 . 10.Garis Arsiran Untuk membedakan gambar proyeksi yang dipotong dengan gambar pandanagn. maka gambar potongan/ irisan perlu diarsir. Lihat Gambar 5. peletakan angka ukuran pada gambar yang diarsir 6. pengarsiran benda-benda tipis 5.69. Sudut dan Ketebalan Garis Arsiran Sudut arsiran yang dibuat adalah 450 terhadap garis sumbu utamanya.

5 mm maka garis-garis arsirnya dibuat setebal 0.25 mm. Gambar 5. ada bidang-bidang potong yang berdampingan.71). Sudut ketebalan garis arsiran b) Penggarisan Pada Bidang yang Luas dan Bidang Berdampingan Untuk potongan benda yang luas. Sudut dan ketebalan garis arsiran dapat dilihat pada gambar berikut. maka batas-batas bidang yang berdampingan tersebut harus dibatasi oleh garis gores bertitik (sumbu) dan pengarsirannya harus turun atau naik dan ujung arsiran yang lainnya (lihat Gambar 5. arsiran pada bidang potongnya dilaksanakan pada garis tepi garis-garis batasnya (lihat Gambar 5. Gambar 5. Untuk pemotongan meloncat atau pemotongan bercabang.71).Dari tabel di atas kita dapat menentukan ketebalan garis arsiran yang disesuaikan dengan garis gambarnya. Jika garis tepi/gambar mempunyai ketebalan 0.70.71. Arsiran pada bidang luas dan bidang berdampingan c) Pengarsiran Benda-benda Tipis Teknik Pemesinan 126 .

73). maka angka ukurannya jangan diarsir (lihat Gambar 5.74 berikut ini.Untuk gambar potongan benda-benda tipis atau profil-profil tipis maka pengarsirannya dibuat dengan cara dilabur (lihat Gambar 5.73. a b c d Teknik Pemesinan 127 .72.72). Arsiran benda tipis d) Angka Ukuran dan Arsiran Jika angka ukuran terletak pada arsiran (karena tidak dapat dihindari). Angka ukuran dan arsiran e) Macam-macam Arsiran f) Perhatikan Gambar 5. Gambar 5. Gambar 5.

OIeh karena itu. ketentuan-ketentuan tersebut meliputi ketentuan: • Menarik garis ukur dan garis bantu • Menggambar anak panah • Menetapkan jarak antara garis ukur • Menetapkan angka ukuran 11. Gambar kerja harus memberikan informasi bentuk benda secara lengkap.74. baik proyeksi di kuadran I (Eropa) maupun proyeksi di kuadran III (Amerika). Macam-macam arsiran Keterangan: a = Besi tuang b = Aluminium dan panduannya c = Baja dan baja istimewa d = Besi tuang yang dapat ditempa e = Baja cair f = Logam putih g = Paduan tembaga tuang h = Seng. dengan ketentuan kedua macam proyeksi tersebut tidak boleh dilakukan/dipakai secara bersama-sarna dalam satu gambar kerja. telah ditetapkan bahwa gambar proyeksi di Kuadran I dan gambar proyeksi di Kuadran III dapat digunakan sebagai gambar kerja. maka pada gambar kerja harus dicantumkan ukuran dengan aturanaturan menggambar yang telah ditetapkan. a) Ketentuan-ketentuan Dasar Pencatuman Ukuran Agar tidak menimbulkan keraguan di dalam membaca gambar. air raksa Ukuran Pada Gambar Kerja Sesuai dengan standar ISO (ISO/DIS) 128.e f g h Gambar 5. ukuran pada gambar kerja harus dicantumkan secara Iengkap. Gambar kerja adalah gambar pandangan-pandangan. Teknik Pemesinan 128 . potongan/irisan dengan memperhatikan kaidah-kaidah proyeksi.

75 berikut. Menarik Garis ukur dan Garis Bantu Garis ukur dan garis bantu dibuat dengan garis tipis perbandingan ketebalan antara garis gambar dan garis ukur/bantu lihat Tabel 4. Selain itu perlu diperhatikan pula ganis ukur jangan sampai berpotongan dengan ganis bantu. Tabel 5. Gambar 5. Garis sumbu boleh digunakan sebagai garis bantu. Hal mi untuk rnenghindari perpotongan antara garis ukur dan garis bantu. ukuran terkecil ditempatkan pada bagian dalam dan ukuran besar ditempatkan di bagian luar. Menetapkan Jarak antara Garis Ukur Jika garis ukur terdiri atas garis-garis ukur yang sejajar. Perbandingan ketebalan garis bantu dengan garis gambar Contoh: Perhatikan Gambar 5. tetapi tidak boleh digunakan langsung sebagai garis ukur. Garis gambar tidak boleh digunakan sebagai garis ukur. maka jarak antara garis ukur yang satu dengan garis ukur Iainnya harus sarna. Untuk menempatkan garis ukur yang sejajar. Cara penarikan garis dan ketebalanya 2. kecuali terpaksa. Teknik Pemesinan 129 . Jika terdapat perpotongan garis bantu dengan garis ukur.4.75. garis bantunya diperpanjang 1 mm dan ujung anak panahnya.1.

77). 12. Jarak antara garis ukur Keterangan: 1. Perpanjangan garis bantu dilebihkan ± 1 mm dan garis ukurnya/ujung anak panahnya 7. sehingga penulisan dan pernbacaannya tidak terhalik. Angka ukuran harus dapat dibaca dari bawah atau dari sisi kanan ganis ukurnya. Penempatan ganis ukur yang sempit 8. (lihat Gambar 5. Garis bantu yang berpotongan (tidak dapat dihindarkan) 3. Garis ukur yang terkecil (ditempatkan di dalam) 5. dapat dilihat pada gambar berikut. kertas gambarnya dapat diputar ke kanan. Garis ukur tambahan (pelengkap) 6.Garis ukur pada umurnnya tegak lurus terhadap garis bantunya. tetapi pada keadaan tertentu garis bantu boleh dibuat miring sejajar/paralel. atau di tengah-tengah sebelah kiri ganis ukurnya. Garis ukur yang sejajar 2. Gambar 5.76. Teknik Pemesinan 130 . Garis sumbu yang digunakan secara tidak langsung sebagai garis bantu 4. Sebagai contoh. Garis bantu yang paralel (jika diperlukan) Penulisan Angka Ukuran Penulisan angka ukuran ditempatkan di tengah-tengah bagiar atas garis ukurnya. Untuk kertas gambar berukuran kecil maka penulisan angka ukuran pada garis ukur harus tegak.

77. a) Klasifikasi Pencatuman Ukuran Benda-benda yang diukur mempunyai bentuk yang bermacammacam. Penulisan angka ukuran Jika kertas gambar diputar ke kiri. maka digambar sesuai dengan ukurannya dan pencaturnan ukurannya sebagai fungsi pengerjaan.Gambar 5. Teknik Pemesinan 131 . Pengukuran dengan dimensi fungsional. Jika benda kerja yang di gambar berdiri sendiri. akan menghasilkan angka ukuran yang terbalik.mempunyai fungsi yang sama. maka ukuran bagian yang satu dengan Iainnya. tetapi dalam sistem pengeijaannya terhadap. Ukuran (c) pada gambar di atas adalah penulisan angka ukuran yang terbalik. nonfungsional dan ukuran tambahan Jika suatu benda terdiri atas bagian-bagian (bagian yang dirakit). kualitas. Oleh karena itu pencatuman ukuran diklasifikasikan menjadi: • Pengukuran dengan dimensi fungsional • Pengukuran dengan dirnensi nonfungsional • Pengukuran dengan dimensi tambahan • Pengukuran dengan kemiringan atau ketirusan • Pengukuran dengan bagian yang dikerjakan khusus • Pengukuran dengan kesimetrian 1. fungsi. sehingga satu sama lain mempunyai ukuran yang berpasangan dan pencatuman ukurannya sebagai fungsi yang berpasangan. atau pengerjaan yang khusus.

Untuk melengkapi ukuran. Pengukuran ketirusan Teknik Pemesinan 132 .79. Pengukuran Ketirusan Untuk mencatumkan ukuran benda yang mempunyai bentuk miring. Ukuran tambahan ini harus ditempatkan di antara dua kurung atau di dalam kurung (lihat Gambar 5. Gambar 5. maka ukuran pada gambar dilengkapi dengan ukuran tambahan.78 berikut).Ukuran-ukuran yang tidak berfungsi disebut ukuran nonfungsional. Gambar 5. ukuran kemiringannya dicantumkan dengan harga tangen sudutnya. dalam hal ini supaya tidak menimbulkan kekacauan dalam membaca gambar terutama dalarn jurnlah ukuran total. Ukuran tambahan Keterangan: F = dimensi fungsional NJF = dirnensi nonfungsional H = dimensi tambahan 2.78.

3. Penunjukan Ukuran pada bagian yang dikerjakan khusus Untuk memberikan keterangan gambar pada benda-benda yang dikerjakan khusus, misalnya dikartel pada bagian tertentu atau dihaluskan dengan ampelas halus, maka pada bagian yang dikerjakan khusus tadi gambar luarnya diberi garis tebal bertitik (lihat Gambar 5.80).

Gambar 5.80. Penunjukan ukuran pengerjaan khusus 4. Pemberian ukuran pada bagian-bagian yang simetris. Untuk memberikan ukuran-ukuran pada gambar-gambar simetris, jarak antara tepi dan sumbu simetrisnya tidak dicanturnkan (lihat Gambar 5.81).

Gambar 5.81. Penunjukan ukuran pada bagian yang simetris

Teknik Pemesinan

133

b) Pencatuman Simbol-simbol Ukuran Untuk benda-benda dengan bentuk tertentu, ukurannya dicantumkan disertai simbol bentuknya: misal benda-benda yang berbentuk silinder, bujur sangkar, bola dan pingulan (Chamfer). Lihat Gambar 5.82 berIkut.

Gambar 5.82. Pencantuman simbol-simbol ukuran Keterangan: 50 = Diameter bola dengan ukuran 32 mm SR 16 = Jari-jari bola dengan ukuran 16 mm C3 = Chamfer atau pinggulan dengan ukuran 3 x 45 023 = Simbol ukuran silinder, dengan ukuran 23 mm 34 = Simbol ukuran bujur sangkar, dengan ukuran sisinya 34 mm 120 = Simbol ukuran tidak menurut skala yang sehenarnya M12 = Simbol ukuran ulir dengan jenis ulir metris dan diameter luarnya 12 mm 2 = (Silang/cros clengan garis tipis) ; simbol bidang rata I = (Strip titik tebal) ; simbol bagian yang dikerjakan khusus

Teknik Pemesinan

134

a. Penunjukan ukuran jari-jari Untuk rnenunjukkan ukuran jari-jari, dapat digambarkan dengan garis ukur dimulai dan titik pusat sampai busur Iingkararmya. Sebagai simbol dari jari-jari tersebut, diberi tanda huruf “R” (lihat Gambar 5.83 berikut).

Gambar 5.83. Pengukuran jari-jari

Gambar 5.84. Penempatan anak panah dan ukuran di dalam lingkaran

Gambar 5.85. Penempatan anak panah dan ukuran di luar lingkaran

Teknik Pemesinan

135

Pengukuran Ketebalan Pengukuran benda-benda tipis, seperti pengukuran pada pelat ukuran tebalnya dapat dilengkapi dengan simbol “t” sebagai singkatan dan “thicknees” yang secara kebetulan artinya tebal (juga berhuruf awal “t”). Penunjukan ukurannya lihat Gambar 5.86 berikut :

13.

Gambar 5.86. Penunjukan ukuran a) Jenis-jenis Penulisan Ukuran Penulisan ukuran pada gambar kerja, menurut jenisnya terdiri atas; • Ukuran berantai • Ukuran paralel (sejajar) • Ukuran kombinasi • Ukuran berimpit • Ukuran koordinat • Ukuran yang berjarak sama • Ukuran terhadap bidang referensi 1. Ukuran berantai Percantuman ukuran secara berantai ini ada kelebihan dari kekurangannya. Kelebihannya adalah mempercepat pembuatan gambar kerja, sedangkan kekurangannya adalah dapat mengumpulkan toleransi yang semakin besar, sehingga pekerjaan tidak teliti. Oleh karena itu pencantuman ukuran secara berantai ini pada umumnya dilakukan pada pekerjaan-pckerjaan yang tidak mernerlukan ketelitian yang tinggi. Lihat Gambar 5.87.

Gambar 5.87. Ukuran berantai Teknik Pemesinan 136

2. Ukuran paralel (sejajar)

Gambar 5.88. Ukuran sejajar 3. Ukuran kombinasi

Gambar 5.89. Ukuran kombinasi 4. Ukuran berimpit Ukuran berimpit yaitu pengukuran dengan garis-garis ukur yang ditumpangkan (berimpit) satu sama lain. Ukuran berimpit ini dapat dibuat jika tidak menimbulkan kesalah pahaman dalam membaca gambarnya (lihat Gambar 5.90).

Gambar 5.90. Ukuran berimpit Teknik Pemesinan 137

91. titik pangkal sebagai batas ukuran/patokan ukuran (bidang referensi)nya harus dibuat lingkaran. Gambar 5.Pada pengukuran berimpit ini. yaitu penunjukan ukuran ke arah sumbu x dan penunjukan ukurah ke arah Teknik Pemesinan 138 . Perigukuran koordinat Jika pengukuran berimpit dilakukan dengan dua arah. dan angka ukurannya harus diletakkan dekat anak panah sesuai dengan penunjukan ukurannya. Pengukuran terhadap bidang ‘referensi Bidang referensi adalah bidang batas ukuran yang digunakan sebagai jatokan pengukur Contoh : pengukuran benda kerja bubutan terhadap bidang datar/rata (lihat Gambar 5.91). Pengukuran berimpit 6. 5.

93. Gambar 5. Teknik Pemesinan 139 .sumbu y dengan bidang referensinya di 0. Pengukuran berjarak sama Untuk rnenghindarkan kesalahan/keraguan didalam membaca gambarnya.92. maka akan didapat pengukuran “koordinat” (lihat Gambar 5.92). Pengukuran koordinat 7.94). Gambar 5. dapat dituliskan dalah satu ukurannya (lihat Gambar 5.93). Pengukuran yang berjarak sama Untuk memberikan ukuran pada bagian yang berjarak sama. penunjukan ukurannya dapat dilaksanakan sebagai berikut (lihat Gambar 5.

96 berikut. Pengukuran alur pasak 9. Pengukuran berjarak sama 8. Pengukuran pada lubang Untuk memberikan ukuran pada lubang yang berjarak sama. Pengukuran alur pasak Jika kita memberikan ukuran diameter pada penampang/potongan yang beralur pasak. Gambar 5. dapat dilakukan seperti tampak pada Gambar 5.94. atau alur pasak pada puli.95. misalnya pada kopling.Gambar 5. maka penunjukan ukuran diameternya seperti tampak pada Gambar 5. Pengukuran pada lubang Teknik Pemesinan 140 .95. Gambar 5. roda gigi.96.

97. Pengukuran mur Teknik Pemesinan 141 .99. serta pengukurannya. Pengukuran profil Untuk memberikan ukuran pada profil-profil yang telah distandar. Pengukuran profil 11. Cara membuat gambar mur dan baut. Gambar 5. dapat dilakukan seperti tampak pada Gambar 5.97 berikut. Pembuatan gambar mur Gambar 5.98. Gambar 5.10.

101.100. Pembuatan gambar mur dan baut Teknik Pemesinan 142 . Pembuatan gambar baut Gambar 5.Gambar 5.

BAB 6 MENGENAL PROSES BUBUT (TURNING) Teknik Pemesinan 143 .

tetapi arah gerakan pemakanan tegak lurus terhadap sumbu benda kerja. dan (3) bubut tirus.1 no. Proses bubut permukaan (surface turning. sehingga mengha-silkan bentuk yang diinginkan. Demikian juga proses bubut kontur. Proses bubut tirus (taper turning. Gambar 6 1. Teknik Pemesinan 144 . Walaupun proses bubut secara khusus menggunakan pahat bermata potong tunggal. dilakukan dengan cara memvariasi kedalaman potong.1 no.P roses bubut adalah proses pemesinan untuk menghasilkan bagianbagian mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan Mesin Bubut. 3) sebenarnya identik dengan proses bubut rata di atas. Gambar 6. 2) adalah proses bubut yang identik dengan proses bubut rata. Gambar 6. 1).1 no. tetapi proses bubut bermata potong jamak tetap termasuk proses bubut juga. karena pada dasarnya setiap pahat bekerja sendiri-sendiri. (1) Proses bubut rata. hanya jalannya pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. Gambar skematis Mesin Bubut dan bagianbagiannya dijelaskan pada Gambar 6. (2) bubut permukaan. Selain itu proses pengaturan (setting) pahatnya tetap dilakukan satu persatu. Prinsip dasarnya dapat didefinisikan sebagai proses pemesinan permukaan luar benda silindris atau bubut rata : Dengan benda kerja yang berputar Dengan satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool) Dengan gerakan pahat sejajar terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu sehingga akan membuang permukaan luar benda kerja (lihat Gambar 6.2.

n (speed)....... Gambar skematis Mesin Bubut dan nama bagian- bagiannya. rpm).Gambar 6 2.. A...... Akan tetapi yang diutamakan dalam proses bubut adalah kecepatan potong (cutting speed atau v) atau kecepatan benda kerja dilalui oleh pahat/keliling benda kerja (lihat Gambar 6. selalu dihubungkan dengan sumbu utama (spindel) dan benda kerja. Secara sederhana kecepatan potong dapat digambarkan sebagai keliling benda kerja dikalikan dengan kecepatan putar atau : v Di mana : dn .. tetapi tiga parameter di atas adalah bagian yang bisa diatur oleh operator langsung pada Mesin Bubut.. Kecepatan putar... gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut)... Kecepatan putar dinotasikan sebagai putaran per menit (rotations per minute.3)..1) 1000 v = kecepatan potong (m/menit) d = diameter benda kerja (mm) n = putaran benda kerja (putaran/menit) Teknik Pemesinan 145 .... Faktor yang lain seperti bahan benda kerja dan jenis pahat sebenarnya juga memiliki pengaruh yang cukup besar. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed)...(6.

material benda kerja. adalah jarak yang ditempuh oleh pahat setiap benda kerja berputar satu kali (Gambar 6.Gambar 6 3. maka diameter benda kerja akan Teknik Pemesinan 146 . Pada dasarnya pada waktu proses bubut kecepatan potong ditentukan berdasarkan bahan benda kerja dan pahat. Gambar 6 4. Selain kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja faktor bahan benda kerja dan bahan pahat sangat menentukan harga kecepatan potong. adalah tebal bagian benda kerja yang dibuang dari benda kerja. Dengan demikian kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja. material pahat. Gerak makan tersebut berharga sekitar 1/3 sampai 1/20 a. sehingga satuan f adalah mm/putaran. Panjang permukaan benda kerja yang dilalui pahat setiap putaran.).). misalnya untuk benda kerja Mild Steel dengan pahat dari HSS. Gerak makan ditentukan berdasarkan kekuatan mesin.4. Gerak makan. atau jarak antara permukaan yang dipotong terhadap permukaan yang belum terpotong (lihat Gambar 6. Gerak makan (f) dan kedalaman potong (a). f (feed). dan terutama kehalusan permukaan yang diinginkan. Kedalaman potong a (depth of cut).4. bentuk pahat. kecepatan potongnya antara 20 sampai 30 m/menit. Gerak makan biasanya ditentukan dalam hubungannya dengan kedalaman potong a. Ketika pahat memotong sedalam a. Harga kecepatan potong sudah tertentu. atau sesuai dengan kehalusan permukaan yang dikehendaki.

Sudutsudut pahat HSS dibentuk dengan cara diasah menggunakan mesin gerinda pahat (Tool Grinder Machine). Proses tersebut dilakukan di Mesin Bubut dengan bantuan/tambahan peralatan lain agar proses pemesinan bisa dilakukan (lihat Gambar 6. proses memperbesar lubang (boring). sudut pahat yang paling pokok adalah sudut beram (rake angle). yaitu bubut dalam (internal turning). Proses pemesinan yang dapat dilakukan pada Mesin Bubut : (a) pembubutan pinggul (chamfering). (c) pembubutan ulir (threading). Sedangkan bila pahat tersebut adalah pahat sisipan (insert) yang dipasang pada tempat pahatnya. Selain geometri pahat tersebut pahat bubut bisa juga diidentifikasikan berdasarkan letak sisi Teknik Pemesinan 147 .5. karena bagian permukaan benda kerja yang dipotong ada di dua sisi. Untuk pahat bubut bermata potong tunggal.1.7. akibat dari benda kerja yang berputar. Geometri Pahat Bubut Geometri/bentuk pahat bubut terutama tergantung pada material benda kerja dan material pahat. Beberapa proses pemesinan selain proses bubut pada Gambar 6.). Terminologi standar ditunjukkan pada Gambar 6. dan sudut sisi potong (cutting edge angle).. pembuatan ulir (thread cutting). geometri pahat dapat dilihat pada Gambar 6. (d) pembubutan lubang (boring). Gambar 6 5. dan (f) pembuatan kartel (knurling). pada Mesin Bubut dapat juga dilakukan proses pemesinan yang lain.6. (b) pembubutan alur (parting-off).berkurang 2a. proses pembuatan lubang dengan mata bor (drilling). dan pembuatan alur (grooving/parting-off). B. (e) pembuatan lubang (drilling). sudut bebas (clearance angle).

lihat Gambar 6. Gambar 6 6.potong (cutting edge) yaitu pahat tangan kanan (Right-hand tools) dan pahat tangan kiri (Left-hand tools). Geometri pahat bubut HSS (Pahat diasah dengan mesin gerinda pahat). Gambar 6 7. Geometri pahat bubut sisipan (insert).8. Teknik Pemesinan 148 .

Gambar 6 8. (c) pahat rata kanan. Teknik Pemesinan 149 . Pahat bubut di atas apabila digunakan untuk proses membubut biasanya dipasang pada pemegang pahat (tool holder).9). dan (e) pahat ulir. Untuk pahat yang berbentuk sisipan (inserts). Pahat tangan kanan dan pahat tangan kiri. (lihat Gambar 6. (d) pahat rata kiri. (b) pahat dalam.10). Gambar 6 9. pahat tersebut dipasang pada tempat pahat yang sesuai. Pemegang pahat HSS : (a) pahat alur. Pemegang pahat tersebut digunakan untuk memegang pahat dari HSS dengan ujung pahat diusahakan sependek mungkin agar tidak terjadi getaran pada waktu digunakan untuk membubut (lihat Gambar 6.

dan pahat sisipan yang dipasang pada pemegang pahat (tool holders). put/men r dm a Gambar 6 11. Gambar skematis proses bubut. Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut Elemen dasar proses bubut dapat dihitung/dianalisa dengan menggunakan rumus-rumus dan Gambar 6.Gambar 6 10. Keterangan : Benda Kerja do dm lt Pahat : : = diameter mula (mm) = diameter akhir (mm) = panjang pemotongan (mm) Teknik Pemesinan 150 . dan pengkodean pemegang pahat dapat dilihat juga pada Lampiran. berikut : lt do f. Pahat bubut sisipan (inserts). Bentuk dan pengkodean pahat sisipan serta pemegang pahatnya sudah distandarkan oleh ISO. Standar ISO untuk pahat sisipan dapat dilihat pada Lampiran. C.11.

........n....... penentuan cara pencekaman.2) ....14 2) Kecepatan makan vf f ...... Ketangguhan (toughness) dari pahat diperlukan...f mm2 Perencanaan proses bubut tidak hanya menghitung elemen dasar proses bubut........... Kekerasan dan kekuatan pahat harus tetap bertahan meskipun pada temperatur tinggi..................................... mm / menit.= sudut potong utama/sudut masuk r Mesin Bubut : a = kedalaman potong (mm) f = gerak makan (mm/putaran) n = putaran poros utama (putaran/menit) 1) Kecepatan potong : v dn . penentuan cara pengukuran dan alat ukur yang digunakan................v..( 1000 d = diameter rata-rata benda kerja ( (do+dm)/2 ) (mm) n = putaran poros utama (put/menit) = 3.... sifat ini dinamakan Hot Hardness..... tetapi juga meliputi penentuan/pemilihan material pahat berdasarkan material benda kerja. 1. pemilihan mesin............................. sehingga pahat tidak akan pecah atau retak terutama pada saat melakukan pemotongan dengan beban kejut.. m/ menit ..... sehingga nantinya dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik (ukuran tepat) dan ekonomis (waktu yang diperlukan pendek)...... Ketahanan aus sangat dibutuhkan yaitu ketahanan pahat melakukan pemotongan tanpa terjadi keausan yang cepat...... Material Pahat Pahat yang baik harus memiliki sifat-sifat tertentu. Teknik Pemesinan 151 .........(6.......(6.... menit...... penentuan langkah kerja/langkah penyayatan dari awal benda kerja sampai terbentuk benda kerja jadi...............(6.............. 6.4) vf 4) Kecepatan penghasilan beram Z A..3) 3) Waktu pemotongan tc lt .5) di mana : A = a.......... ........... cm 3 / menit.

Gambar 6 12. karena bahan ini tidak tahan panas (melunak pada suhu 300-500o F). dan jenis T berarti pahat HSS yang mengandung unsur Tungsten. dan pahat tangan. Baja karbon ini sekarang hanya digunakan untuk kikir. bilah gergaji.Penentuan material pahat didasarkan pada jenis material benda kerja dan kondisi pemotongan (pengasaran. (a) Kekerasan dari beberapa macam material pahat sebagai fungsi dari temperatur. Jenis M berarti pahat HSS yang mengandung unsur Molibdenum. Sifat hot hardness dari beberapa material pahat ditunjukkan pada Gambar 6. Material pahat yang ada ialah baja karbon sampai dengan keramik dan intan. Material pahat dari baja karbon (baja dengan kandungan karbon 1.05%) pada saat ini sudah jarang digunakan untuk proses pemesinan. Beberapa jenis HSS dapat dilihat pada Tabel 6.1. adanya beban kejut. (b) jangkauan sifat material pahat. Teknik Pemesinan 152 . Material pahat dari HSS (High Speed Steel) dapat dipilih jenis M atau T.12. penghalusan).

Teknik Pemesinan 153 . membubut bahan benda kerja hasil proses penuangan. M45. M2. Bila digunakan untuk benda kerja besi tuang yang tidak liat dinamakan cast iron cutting grade . M46 Tabel 6 1. Jenis pahat HSS Pahat dari HSS biasanya dipilih jika pada proses pemesinan sering terjadi beban kejut. M42. M43. Pahat jenis ini diberi kode huruf K (atau C1 sampai C4) dan kode warna merah. T6 M3-1. Pahat karbida ini digunakan untuk menyayat berbagai jenis baja. T4. M3-2. Contoh pahat karbida untuk menyayat berbagai bahan dapat dilihat pada Tabel 6. M10 T1. T2 M33. dan kode warna kuning. Pahat dari karbida dibagi dalam dua kelompok tergantung penggunaannya.2. T5. besi tuang dan non ferro yang mempunyai sifat mampu mesin yang baik. Pahat jenis ini diberi kode huruf P (atau C5 sampai C8) dan kode warna biru. M7. M36. atau proses pemesinan yang sering dilakukan interupsi (terputus-putus). membubut eksentris (proses pengasarannya). Hal tersebut misalnya membubut benda segi empat menjadi silinder. Selain kedua jenis tersebut ada pahat karbida yang diberi kode huruf M. M4. T15 M41.Jenis HSS HSS Konvensional Molibdenum HSS Tungsten HSS HSS Spesial Cobald added HSS High Vanadium HSS High Hardness Co HSS Cast HSS Powdered HSS Coated HSS Standart AISI M1. M44. Apabila digunakan untuk menyayat baja yang liat dinamakan steel cutting grade.

Tabel 6 2. Contoh penggolongan pahat jenis karbida dan penggunaannya. Teknik Pemesinan 154 .

Pemilihan Mesin Pertimbangan pemilihan mesin pada proses bubut adalah berdasarkan dimensi benda kerja yang yang akan dikerjakan. Ketika memilih mesin perlu dipertimbangkan kapasitas kerja mesin yang meliputi diameter maksimal benda kerja yang bisa dikerjakan oleh mesin. Gambar 6 13. Beberapa jenis Mesin Bubut manual dengan satu pahat sampai dengan Mesin Bubut CNC dapat dipilih untuk proses pemesinan (Lihat Lampiran 1). Benda kerja dipasang di antara dua senter. benda kerja harus ada lubang senternya di kedua sisi benda kerja. Pencekaman Benda Kerja Setelah langkah pemilihan mesin tersebut di atas. 3. dan panjang meja Mesin Bubut (length of the bed). Cara yang pertama adalah benda kerja tidak dicekam.). dipilih juga alat dan cara pencekaman/pemasangan benda kerja. dan panjang benda kerja yang bisa dikerjakan. Dalam hal ini. Sedangkan panjang maksimal benda kerja adalah panjang meja dikurangi jarak yang digunakan kepala tetap dan kepala lepas. Teknik Pemesinan 155 . Ukuran Mesin Bubut diketahui dari diameter benda kerja maksimal yang bisa dikerjakan (swing over the bed). Dengan pertimbangan awal diameter maksimal benda kerja yang bisa dikerjakan oleh mesin yang ada. tetapi menggunakan dua senter dan pembawa. Pemilihan Mesin Bubut yang digunakan untuk proses pemesinan bisa juga dilakukan dengan cara memilih mesin yang ada di bengkel (workshop).2.13. (lihat Gambar 6. Pencekaman/ pemegangan benda kerja pada Mesin Bubut bisa digunakan beberapa cara. Panjang meja Mesin Bubut diukur jarak dari headstock sampai ujung meja.

Alat pencekam ini masing-masing rahangnya bisa diatur sendirisendiri. sehingga mudah dalam mencekam benda kerja yang tidak silindris. Pencekaman dengan cara ini tidak akan meninggalkan bekas pada permukaan benda kerja. hendaknya digunakan juga senter jalan yang dipasang pada kepala lepas.Cara kedua yaitu dengan menggunakan alat pencekam (Gambar 6. Misalnya bubut. digunakan untuk menjepit benda kerja pada suatu permukaan plat dengan baut pengikat yang dipasang pada alur T. Penggunaan cekam rahang tiga atau cekam rahang empat. c.14. (lihat Gambar 6. Hal tersebut terjadi misalnya pada waktu proses bubut dengan kedalaman potong yang besar.). sangat menentukan hasil proses bubut. d. Collet. Pemilihan alat pencekam yang tepat akan menghasilkan produk yang sesuai Gambar 6 14. Pemilihan cara pencekaman tersebut di atas. apabila memilih cekam rahang tiga untuk mencekam benda kerja silindris yang relatif panjang. Face plate. Cekam rahang empat (untuk benda kerja tidak silindris) . sehingga benda kerja tergelincir atau selip. agar benda kerja tidak tertekan. Alat pencekam ini tiga buah rahangnya bergerak bersama-sama menuju sumbu cekam apabila salah satu rahangnya digerakkan. Cekam rahang tiga (untuk benda silindris). Alat pencekam yang bisa digunakan adalah : a. Teknik Pemesinan 156 . b. apabila kurang hati-hati akan menyebabkan permukaan benda kerja terluka. digunakan untuk mencekam benda kerja berbentuk silindris dengan ukuran sesuai diameter collet. karena gaya pencekaman tidak mampu menahan beban yang tinggi.15). Alat pencekam/ dengan kualitas geometris yang pemegang benda kerja proses dituntut oleh gambar kerja.

4. dan proses pembuatan alur. Gambar 6 16. Teknik Pemesinan 157 .Hal ini perlu diperhatikan terutama pada proses finishing. penentuan kondisi pemotongan. alur. Benda kerja yang relatif panjang dipegang oleh cekam rahang tiga dan didukung oleh senter putar Beberapa contoh proses bubut.16. perhitungan waktu pemotongan. Gambar 6 15. setting mesin. pemasangan pahat. permukaan. dengan cara pencekaman yang berbeda-beda dapat dilihat pada Gambar 6. Penentuan Langkah Kerja Langkah kerja dalam proses bubut meliputi persiapan bahan benda kerja. Hal tersebut dikerjakan untuk setiap tahap (jenis pahat tertentu). Beberapa contoh proses bubut dengan cara pencekaman/pemegangan benda kerja yang berbeda-beda. dan pemeriksaan hasil berdasarkan gambar kerja. proses pemotongan ulir. profil. ulir). penentuan jenis pemotongan (bubut lurus.

dan proses pemotongan tidak efektif. Usahakan posisi sumbu kerja kepala tetap (spindel) dengan kepala lepas pada satu garis untuk pembubutan lurus. Apabila pengerjaan pembubutan hanya memerlukan satu macam pahat lebih baik digunakan tempat pahat tunggal. supaya tidak terjadi getaran pada pahat ketika proses pemotongan dilakukan. Teknik Pemesinan 158 . pahat alur. Pengaturannya sekaligus sebelum proses pembubutan. Gambar 6 17. misalnya pahat rata. maka sebaiknya digunakan tempat pahat yang bisa dipasang sampai empat pahat. Pahat bubut bisa dipasang pada tempat pahat tunggal. atau pada tempat pahat yang berisi empat buah pahat (quick change indexing square turret). Pemasangan pahat. karena menyebabkan benda kerja terangkat. Pemasangan pahat dilakukan dengan cara menjepit pahat pada rumah pahat (tool post). Apabila pahat yang digunakan dalam proses pemesinan lebih dari satu. posisi kepala lepas. pemegangan pahat. alat pencekam benda kerja.Bahan benda kerja yang dipilih biasanya sudah ditentukan pada gambar kerja baik material maupun dimensi awal benda kerja. (lihat Gambar 6. sehingga hasil pembubutan tidak tirus.17). Posisi ujung pahat yang terlalu rendah tidak direkomendasi. Usahakan bagian pahat yang menonjol tidak terlalu panjang. putaran spindel. atau pada sumbu benda kerja yang dikerjakan. sehingga proses penggantian pahat bisa dilakukan dengan cepat (quick change). dan posisi kepala lepas. Penyiapan (setting) mesin dilakukan dengan cara memeriksa semua eretan mesin. Posisi ujung pahat harus pada sumbu kerja Mesin Bubut. pahat ulir.

Gambar 6 18. Contoh : Akan dibuat benda kerja dari bahan Mild Steel (ST. Tempat pahat (tool post) : (a) untuk pahat tunggal. Teknik Pemesinan 159 30 34 . (b) untuk empat pahat.19 berikut. Gambar benda kerja yang akan dibuat.5. Perencanaan Proses Membubut Lurus Proses membubut lurus adalah menyayat benda kerja dengan gerak pahat sejajar dengan sumbu benda kerja. sampai dengan rumus 6. Perencanaan proses penyayatan benda kerja dilakukan dengan cara menentukan arah gerakan pahat .2. 37) seperti Gambar 6. kemudian menghitung elemen dasar proses bubut sesuai dengan rumus 6. 5. 26 35 75 Gambar 6 19.

f. sudut masuk r = 93o. panjang ujung pahat dari tool post sekitar 10 sampai dengan 15 mm. Benda kerja dikerjakan Bagian I terlebih dulu. Pemasangan pahat : Menggunakan tempat pahat tunggal (tool post) yang tersedia di mesin. kemudian dibalik untuk mengerjakan Bagian II (Gambar 6. Mesin yang digunakan : Mesin Bubut dengan kapasitas diameter lebih dari 1 inchi. geometri pahat.Perencanaan proses bubut : a. v = 34 m/menit (HSS) =5o.3. Tabel 6 3. 37). =0o. Dengan geometri pahat dan kondisi pemotongan dipilih dari Tabel 6. Penentuan jenis pahat. dan f (EMCO). Material benda kerja : Mild Steel (ST.20). 34 mm x 75 mm b. Material pahat : HSS atau Pahat Karbida jenis P10. d. v. Pencekam benda kerja : Cekam rahang tiga. =14o. v = 170 m/menit (Pahat karbida sisipan) c. (Tabel yang direkomendasikan oleh produsen Mesin Bubut) : =8o. dia. e. 160 Teknik Pemesinan . pahat kanan.

kedua permukaan telah dihaluskan. sehingga bagian yang menonjol sekitar 50 mm. 21 : Teknik Pemesinan 161 .5 dan gambar rencana jalannya pahat adalah sebagai berikut (perhitungan dilakukan dengan software spreadshheet) : II I a1 a2 50 5 Gambar 6 20.g. dan lintasan pahat.. f = 0. Pemotongan pertama sebagai pemotongan pengasaran (roughing) dan pemotongan kedua sebagai pemotongan finishing. a = 2 mm.1 mm/put. h. untuk pahat karbida : v = 170 m/menit. Data untuk elemen dasar : untuk pahat HSS : v = 34 m/menit. Bahan benda kerja telah disiapkan (panjang bahan sudah sesuai dengan gambar).. Keterangan : 1) Benda kerja dicekam pada Bagian II.2 – 2. penyayatan. a = 2 mm. 2) Penyayatan dilakukan 2 kali dengan kedalaman potong a1 = 2 mm dan a2 = 2 mm. Perhitungan elemen dasar berdasarkan rumus 2. 3) Panjang pemotongan total adalah panjang benda kerja yang dipotong ditambah panjang awalan (sekitar 5 mm) dan panjang lintasan keluar pahat (sama dengan kedalaman potong) .1 mm/put. Gambar rencana pencekaman. Gerakan pahat dijelaskan seperti Gambar 6. f = 0. i.

Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) v= 34 mm/menit f= 0.80 Bubut rata a2 386. a.38 33. Gambar rencana gerakan dan lintasan pahat.80 b. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida P10) v= 170 mm/menit f= 0.84 1.1 mm/putaran d) Gerakan pahat dari titik 3 ke titik 4 adalah gerakan cepat (dikerjakan dengan memutar eretan memanjang).1 mm/putaran a= 4 mm 162 Teknik Pemesinan . Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 6.1 mm/putaran c) Gerakan pahat dari titik 2 ke titik 3 adalah gerakan penyayatan dengan f = 0.09 6. mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= 26 mm 42 mm lt= Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 338. Gambar 6 21..4.1 mm/putaran a= 4 mm a1= 2 mm a2= 2 mm a3= .72 38.67 1. Setelah rencana jalannya pahat tersebut di atas kemudian dilakukan perhitungan elemen dasar pemesinannya.a) Gerakan pahat dari titik 4 ke titik 1 adalah gerak maju dengan cepat (rapid) b) Gerakan pahat dari titik 1 ke titik 2 adalah gerakan penyayatan dengan f = 0.24 6.

mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= 26 mm 42 mm lt= Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 1691.00 Bubut rata a2 1933. penyayatan..19 0. Bagian II : Benda kerja dibalik.25 34. Lintasan pahat sama dengan lintasan pahat pada Gambar 6. sehingga bagian I menjadi bagian yang dicekam seperti terlihat pada Gambar 6. Gambar rencana pencekaman. hanya panjang penyayatannya berbeda. Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan Bagian I. I II a3 60 5 Gambar 6 22.88 169.00 Tabel 6 4.22.22 34. dan lintasan pahat.21.36 0.58 193. Teknik Pemesinan 163 .a1= 2 mm a2= 2 mm a3= . yaitu (50+5+2) mm.

2) Apabila parameter pemotongan n diubah.Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan dapat dilihat pada Tabel 6.1 mm/putaran a= 2 mm a1= .68 6.19 0. maka elemen dasar pemesinan yang lain berubah juga.88 169.80 Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida) v= 170 mm/menit f= 0. Hasil perhitungan eleman dasar pemesinan Bagian II. Kalau putaran spindel hasil perhitungan tidak ada yang sama (hampir sama) dengan tabel putaran spindel di mesin sebaiknya dipilih putaran spindel di bawah putaran spindel hasil perhitungan..1 mm/putaran a= 2 mm a1= . mm lt= 57 mm Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a3 338.5 berikut ini : Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) v= 34 mm/menit f= 0. mm a2= . Catatan : 1) Pada prakteknya parameter pemotongan terutama putaran spindel (n) dipilih dari putaran spindel yang tersedia di Mesin Bubut tidak seperti hasil perhitungan dengan rumus di atas.38 33. mm a3= 2 mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= .. mm a2= .84 1. 3) Waktu yang diperlukan untuk membuat benda kerja jadi bukanlah jumlah waktu pemotongan (tc) keseluruhan dari tabel perhitungan di Teknik Pemesinan 164 .... mm lt= 57 mm Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a3 1691.34 34..00 Tabel 6 5. mm a3= 2 mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= .

23).13). Akan tetapi hal tersebut akan menyebabkan pemborosan bahan benda kerja jika membuat benda kerja dalam jumlah banyak. karena waktu penyiapan mesin tidak dilakukan untuk setiap benda kerja yang dikerjakan. Waktu pembuatan benda kerja harus ditambah waktu non produktif yaitu : a) waktu penyiapan mesin/pahat b) waktu penyiapan bahan benda kerja (dengan mesin gergaji. Pengerjaan dengan cara ini memakan waktu cukup lama. 5) Untuk benda kerja tunggal waktu penyelesaian benda kerja lebih lama dari pada pembuatan massal (waktu rata-rata per produk). b.5). gerakan pahat (pemakanan) dilakukan secara manual (memutar handle eretan atas). 4) Tidak ada rumus baku untuk menentukan waktu non produktif. 8) Apabila benda kerja dikerjakan dengan dua senter (setting seperti Gambar 6.atas (Tabel 6. Waktu non produktif diperoleh dengan mencatat waktu yang diperlukan untuk masing-masing waktu non produktif tersebut. Dengan memiringkan eretan atas pada sudut tertentu (Gambar 6. 6) Untuk proses bubut rata dalam. Perencanaan Proses Membubut Tirus Benda kerja berbentuk tirus (taper) dihasilkan pada proses bubut apabila gerakan pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. perhitungan elemen dasar pada prinsipnya sama dengan bubut luar. tetapi pada bubut dalam diameter awal (do) lebih kecil dari pada diameter akhir (dm). Teknik Pemesinan 165 . karena gerakan pahat kembali relatif lama (ulir eretan atas kisarnya lebih kecil dari pada ulir transportir). Cara membuat benda tirus ada beberapa macam : a. maka bahan benda kerja dibuat lebih panjang sekitar 30 mm. 6. dan Mesin Bubut yang disetel khusus untuk membuat bahan benda kerja) c) waktu pemasangan benda kerja d) waktu pengecekan ukuran benda kerja e) waktu yang diperlukan pahat untuk mundur (retract) f) waktu yang diperlukan untuk melepas benda kerja g) waktu yang diperlukan untuk mengantarkan benda kerja (dari bagian penyiapan benda kerja ke mesin).4 dan Tabel 6. maka benda kerja harus diberi lubang senter pada kedua ujungnya. 7) Apabila diinginkan pencekaman hanya sekali tanpa membalik benda kerja. 9) Pahat karbida lebih produktif dari pada pahat HSS. Dengan demikian waktu ditambah dengan waktu pembuatan lubang senter.

24). Teknik Pemesinan 166 . Proses membubut tirus luar dengan bantuan alat bantu tirus (taper attachment).c. Proses membubut tirus luar dan tirus dalam dengan memiringkan eretan atas. Dengan alat bantu tirus (taper attachment). gerakan penyayatan ditunjukkan oleh anak panah. Gambar 6 24. Pembuatan tirus lebih cepat karena gerakan pemakanan (feeding) bisa dilakukan otomatis (Gambar 6. Gambar 6 23. pembuatan tirus dengan alat ini adalah untuk benda yang memiliki sudut tirus relatif kecil (sudut sampai dengan ±9o).

d. dengan cara ini proses pembubutan tirus dilakukan sama dengan proses membubut lurus dengan bantuan dua senter. Pergeseran kepala lepas (x) pada Gambar 6. Benda kerja tirus terbentuk karena sumbu kepala lepas tidak sejajar dengan sumbu kepala tetap (Gambar 6. Gambar benda kerja tirus dan notasi yang digunakan. Perhitungan pergeseran kepala lepas pada pembubutan tirus dijelaskan dengan gambar dan rumus berikut. Gambar 6 25. dan pembubutan tirus dengan kepala lepas yang digeser. Dengan menggeser kepala lepas (tail stock). Gambar 6 26. Bagian kepala lepas yang bisa digeser.).26 di atas dapat dihitung dengan rumus : Teknik Pemesinan 167 .25. karena apabila sudut tirus besar bisa merusak senter jalan yang dipasang pada kepala lepas. Untuk cara ini sebaiknya hanya untuk sudut tirus yang sangat kecil.

27. Nama. sedangkan ulir Whitwoth sudut Teknik Pemesinan 168 .. Untuk ulir Metris sudut ulir adalah 60o....(6.. Ulir segi tiga tersebut bisa berupa ulir tunggal atau ulir ganda. Pahat yang digunakan untuk membuat ulir segi tiga ini adalah pahat ulir yang sudut ujung pahatnya sama dengan sudut ulir atau setengah sudut ulir. karena pengulangan pemotongan harus dikendalikan secara manual.6) mana : D = diameter mayor (terbesar) (mm) d = diameter minor (terkecil) (mm) l = panjang bagian tirus (mm) L = panjang benda kerja seluruhnya (mm) Penentuan pahat.... 7. Perbedaannya ada pada perhitungan waktu pemesinan untuk pembuatan tirus dengan cara menggeser sudut eretan atas.. Dengan Mesin Bubut yang dikendalikan CNC proses pembubutan ulir menjadi sangat efisien dan efektif... Nama-nama bagian ulir.......... Hal ini terjadi karena gerakan pahat dilakukan secara manual sehingga rumus waktu pemesinan (tc) tidak dapat digunakan.... sehingga proses pembubutan lama dan hasilnya kurang presisi... dan penentuan langkah kerja/jalannya pahat untuk pembuatan benda kerja tirus sama dengan perencanaan proses bubut lurus..nama bagian ulir segi tiga dapat dilihat pada Gambar 6.L................ Gambar 6 27.Di x D 2l d .. Pada Mesin Bubut konvensional (manual) proses pembuatan ulir kurang efisien. Perencanaan Proses Membubut Ulir Proses pembuatan ulir bisa dilakukan pada Mesin Bubut.... perhitungan elemen pemesinan. karena sangat memungkinkan membuat ulir dengan kisar (pitch) yang sangat bervariasi dalam waktu relatif cepat dan hasilnya presisi........

Misalnya ulir M5x0.).6. Teknik Pemesinan 169 . Identifikasi ulir biasanya ditentukan berdasarkan diameter mayor dan kisar ulir (Tabel 6.8 mm.8 berarti ulir metris dengan diameter mayor 5 mm dan kisar (pitch) 0.ulir 55o.

Tabel 6 6. Dimensi ulir Metris. Teknik Pemesinan 170 .

Ulir ini biasanya digunakan untuk membuat ulir pada pipa (mencegah kebocoran fluida). Tabel 6 7. Teknik Pemesinan 171 .7. Selain ulir segi tiga.0625”). pada Mesin Bubut bisa juga dibuat ulir segi empat (Gambar 6. dan sudut helix.Selain ulir Metris pada Mesin Bubut bisa juga dibuat ulir Whitworth (sudut ulir 55o). Identifikasi ulir ini ditentukan oleh diamater mayor ulir dan jumlah ulir tiap inchi (Tabel 6. Pahat yang digunakan untuk membuat ulir segi empat adalah pahat yang dibentuk (diasah) menyesuaikan bentuk alur ulir segi empat dengan pertimbangan sudut helix ulir. Pahat ini biasanya dibuat dari HSS atau pahat sisipan dari bahan karbida.). Dimensi ulir Whitworth. Misalnya untuk ulir Whitwoth 3/8” jumlah ulir tiap inchi adalah 16 (kisarnya 0. diameter minor.28). Ulir segi empat ini biasanya digunakan untuk ulir daya. Dimensi utama dari ulir segi empat pada dasarnya sama dengan ulir segi tiga yaitu : diameter mayor. kisar (pitch).

29. Pahat ulir pada gambar tersebut adalah pahat ulir luar dan pahat ulir dalam. Pada Gambar 6. Pahat ulir metris dan mal ulir untuk ulir luar dan ulir dalam. Teknik Pemesinan 172 . Gambar 6 29.30). Pahat ulir Pada proses pembuatan ulir dengan menggunakan Mesin Bubut manual pertama-tama yang harus diperhatikan adalah sudut pahat. Selain pahat terbuat dari HSS pahat ulir yang berupa sisipan ada yang terbuat dari bahan karbida (Gambar 6.Gambar 6 28. Ulir segi empat. ditunjukkan bentuk pahat ulir metris dan alat untuk mengecek besarnya sudut tersebut (60o). a.

8. Setelah pahat dipilih.31).Gambar 6 30. Perbandingan harga kecepatan potong untuk proses bubut rata (stright turning) dan proses bubut ulit (threading) dapat dilihat pada Tabel 6. Hal tersebut terjadi karena pada proses pembuatan ulir harga gerak makan (f) adalah kisar (pitch) ulir tersebut. Parameter pemesinan untuk proses bubut ulir berbeda dengan bubut rata. supaya diperoleh sudut ulir yang simetris terhadap sumbu yang tegak lurus terhadap sumbu benda kerja (Gambar 6. sehingga putaran spindel tidak terlalu tinggi (secara kasar sekitar setengah dari putaran spindel untuk proses bubut rata). Teknik Pemesinan 173 . Setting ini dilakukan terutama untuk mengecek posisi ujung pahat bubut terhadap sumbu. Setting pahat bubut untuk proses pembuatan ulir luar. Proses pembuatan ulir luar dengan pahat sisipan. kemudian dilakukan setting posisi pahat terhadap benda kerja. Gambar 6 31. Setelah itu dicek posisi pahat terhadap permukaan benda kerja.

Hal tersebut karena pahat ulir melakukan penyayatan berbentuk V.Tabel 6 8. Supaya dihasilkan ulir yang halus permukaannya perlu dihindari kedalaman potong yang relatif besar. proses penyayatan tidak dilakukan sekali potong.5. Langkah penyayatan ulir Gambar 6 32. dalamnya ulir 0. Walaupun kedalaman ulir kecil (misalnya untuk ulir M10x1. maka sebaiknya pahat hanya menyayat pada satu sisi saja (sisi potong pahat sebelah kiri untuk ulir kanan. Eretan atas diatur menyudut terhadap sumbu tegak lurus benda kerja dan arah pemakanan pahat bubut. Kecepatan potong proses bubut rata dan proses bubut ulir untuk pahat HSS. Proses tersebut dilakukan dengan cara memiringkan eretan atas Teknik Pemesinan 174 .934 mm). atau sisi potong pahat sebelah kanan untuk ulir kiri). Agar diperoleh hasil yang presisi dengan proses yang tidak membahayakan operator mesin. b. biasanya dilakukan penyayatan antara 5 sampai 10 kali penyayatan ditambah sekitar 3 kali penyayatan kosong (penyayatan pada diameter terdalam).

) untuk ulir metris. 7) sampai kedalaman ulir maksimal tercapai.dengan sudut 29o (Gambar 6. sehingga pahat di luar benda kerja dengan jarak bebas sekitar 10 mm di sebelah kanan benda kerja 4) Atur pengatur kisar menurut tabel kisar yang ada di Mesin Bubut. Sedang untuk ulir Acme dan ulir cacing dengan sudut 29o.). Langkah-langkah proses bubut ulir dengan menggunakan mesin konvensional dilakukan dengan cara : 1) Memajukan pahat pada diameter luar ulir 2) Setting ukuran pada handle ukuran eretan atas menjadi 0 mm 3) Tarik pahat ke luar benda kerja. eretan atas dimiringkan 14.8) sampai panjang ulir yang dibuat terdapat goresan pahat. 8) Gerakkan pahat mundur dengan cara memutar spindel arah kebalikan.1 mm 6) Putar spindel mesin (kecepatan potong mengacu Tabel 6. 7) Periksa kisar ulir yang dibuat (Gambar 6. Proses penambahan kedalaman potong (dept of cut) dilakukan oleh eretan atas . 10) Langkah dilanjutkan seperti No.33. 9) Majukan pahat untuk kedalaman potong berikutnya dengan memajukan eretan atas. hentikan setelah posisi pahat di depan benda kerja (Gerakan seperti gerakan pahat untuk membuat poros lurus pada Gambar 6. 11) Pada kedalaman ulir maksimal proses penyayatan perlu dilakukan berulang-ulang agar beram yang tersisa terpotong semuanya. geser handle gerakan eretan bawah untuk pembuatan ulir 5) Masukkan pahat dengan kedalaman potong sekitar 0. Pengecekan kisar ulir dengan kaliber ulir.) dengan menggunakan kaliber ulir (screw pitch gage). kemudian hentikan mesin dan tarik pahat keluar.5 o. Apabila sudah sesuai maka proses pembuatan ulir dilanjutkan.21.32. Teknik Pemesinan 175 . Kalau kisar belum sesuai periksa posisi handle pengatur kisar pada Mesin Bubut. Gambar 6 33.

12) Setelah selesai proses pembuatan ulir, hasil yang diperoleh dicek ukuranya (diameter mayor, kisar, diameter minor, dan sudut ulir). c. Pembuatan ulir ganda Pembuatan ulir di atas adalah untuk ulir tunggal. Selain ulir tunggal ada tipe ulir ganda (ganda dua dan ganda tiga). Pada dasarnya ulir ganda dan ulir tunggal dimensinya sama, perbedaanya ada pada pitch dan kisar (Gambar 6.34). Pada ulir tunggal pitch dan kisar (lead) sama. Pengertian kisar adalah jarak memanjang sejajar sumbu yang ditempuh batang berulir (baut) bila diputar 360O (satu putaran). Pengertian pitch adalah jarak dua puncak profil ulir. Pada ulir kanan tunggal bila sebuah baut diputar satu putaran searah jarum jam, maka baut akan bergerak ke kiri sejauh kisar (Gambar 6.34). Apabila baut tersebut memiliki ulir kanan ganda dua, maka bila baut tersebut diputar satu putaran akan bergerak ke kiri sejauh kisar (dua kali pitch). Bentuk-bentuk profil ulir yang telah distandarkan ada banyak. Proses pembuatannya pada prinsipnya sama dengan yang telah diuraikan di atas. Gambar 6.35 – 6.37. berikut ditunjukkan gambar bentuk profil ulir dan dimensinya.

Gambar 6 34. Single thread, double thread dan triple thread.

Teknik Pemesinan

176

Gambar 6 35. Beberapa jenis bentuk profil ulir (1).

Teknik Pemesinan

177

Gambar 6.36. Beberapa jenis bentuk profil ulir (2).

Gambar 6 36. Beberapa jenis bentuk profil ulir (1).

Teknik Pemesinan

178

Gambar 6 37. Beberapa jenis bentuk profil ulir (3).

8.

Perencanaan Proses Membubut Alur

Alur (grooving) pada benda kerja dibuat dengan tujuan untuk memberi kelonggaran ketika memasangkan dua buah elemen mesin, membuat baut dapat bergerak penuh, dan memberi jarak bebas pada proses gerinda terhadap suatu poros, (Gambar 6.38.). Dimensi alur ditentukan berdasarkan dimensi benda kerja dan fungsi dari alur tersebut. Bentuk alur ada tiga macam yaitu kotak, melingkar, dan V (Gambar 6.39). Untuk bentuk-bentuk alur tersebut pahat yang digunakan diasah dengan mesin gerinda disesuaikan dengan bentuk alur yang akan Teknik Pemesinan 179

dibuat. Kecepatan potong yang digunakan ketika membuat alur sebaiknya setengah dari kecepatan potong bubut rata. Hal tersebut dilakukan karena bidang potong proses pengaluran relatif lebar. Alur bisa dibuat pada beberapa bagian benda kerja baik di bidang memanjang maupun pada bidang melintangnya, dengan menggunakan pahat kanan maupun pahat kiri, (Gambar 6.40.)

Gambar 6 38. Alur untuk : (a) pasangan poros dan lubang, (b)

pergerakan baut agar penuh, (c) jarak bebas proses penggerindaan poros. Proses yang identik dengan pembuatan alur adalah proses pemotongan benda kerja (parting). Proses pemotongan ini dilakukan ketika benda kerja selesai dikerjakan dengan bahan asal benda kerja yang relatif panjang (Gambar 6.41).

Teknik Pemesinan

180

Proses pemotongan benda kerja (parting). Ujung pahat diatur pada sumbu benda kerja c. Cairan pendingin diberikan sebanyak mungkin b. Gambar 6 40.Gambar 6 39. Beberapa petunjuk penting yang harus diperhatikan ketika melakukan pembuatan alur atau proses pemotongan benda kerja adalah: a. Posisi pahat atau pemegang pahat tepat 90o terhadap sumbu benda kerja (Gambar 6. Alur bisa dibuat pada bidang memanjang atau melintang.41) Teknik Pemesinan 181 .

Untuk alur aksial. Gambar 6 41. Panjang pemegang pahat atau pahat yang menonjol ke arah benda kerja sependek mungkin agar pahat atau benda kerja tidak bergetar e.43) ada dalam berbagai ukuran yaitu kasar (14 pitch). Teknik Pemesinan 182 . dan alat pahat kartel.d. Perencanaan Proses Membubut/Membuat Kartel Kartel (knurling) adalah proses membuat injakan ke permukaan benda kerja berbentuk berlian (diamond) atau garis lurus beraturan untuk memperbaiki penampilan atau memudahkan dalam pemegangan (Gambar 6. Bentuk injakan kartel (Gambar 6. Bentuk dan kisar injakan kartel. Gambar 6 42. medium (21 pitch). 9. dan halus (33 pitch).42). penyayatan pertama dimulai dari diameter terbesar untuk mencegah berhentinya pembuangan beram. Gerak makan dikurangi (20% dari gerak makan bubut rata) h. Dipilih batang pahat yang terbesar f. berlian. Kecepatan potong dikurangi (50% dari kecepatan potong bubut rata) g. Proses pembuatan kartel bentuk lurus.

Putaran spindel diatur pada kecepatan rendah (antara 6080 rpm) dan gerak makan medium (sebaiknya 0. dan pahat kartel didekatkan ke benda kerja menyentuh benda sekitar 2 mm. Setelah benda kerja berputar beberapa kali (misalnya 20 kali). Hasil proses kartel dicek apakah hasilnya bagus atau ada bekas injakan yang ganda (Gambar 6. dan kontak awal untuk penyetelan hanya setengah dari lebar pahat kartel. maka mesin dijalankan lagi. kemudian mengatur mesin untuk proses kartel.Pembuatan injakan kartel dimulai dengan mengidentifikasi lokasi dan panjang bagian yang akan dikartel. Agar supaya tekanan awal pada pahat kartel menjadi kecil. dan permukaannya paralel dengan permukaan benda kerja. kemudian diatur untuk membuat kartel lagi. maka spindel Mesin Bubut kemudian diputar. Teknik Pemesinan 183 .2 sampai 0. Setelah semua diatur. Selama proses penyayatan kartel. gerak makan pahat tidak boleh dihentikan jika spindel masih berputar. Dengan cara demikian awal penyayatan menjadi lembut.44.4 mm per putaran spindel). lihat Gambar 6. Apabila hasilnya masih ada bekas injakan ganda.). sebaiknya ujung benda kerja dibuat pinggul (chamfer). karena di permukaan benda kerja akan muncul ring/cincin (Gambar 6. Kemudian pahat ditarik mundur dan dibawa ke luar benda kerja. Benda kerja dibuat menyudut pada ujungnya agar tekanan pada pahat kartel menjadi kecil dan penyayatannya lembut. Gambar 6 43. maka sebaiknya benda kerja dibubut rata lagi. Apabila ingin menghentikan proses.45. kemudian Mesin Bubut dihentikan. misalnya untuk memeriksa hasil. Pahat kartel harus dipasang pada tempat pahat dengan sumbu dari kepalanya setinggi sumbu Mesin Bubut. Harus dijaga bahwa rol pahat kartel dapat bergerak bebas dan pada kondisi pemotongan yang bagus. maka mesin dihentikan dengan menginjak rem. kemudian pada roda pahat yang kontak dengan benda kerja harus diberi pelumas. kemudian gerak makan dijalankan otomatis.45(c)). Apabila hasilnya sudah bagus.

(a) Injakan kartel yang benar.Gambar 6 44. dan (c) cincin yang ada pada benda kerja karena berhentinya gerakan pahat kartel sementara benda kerja tetap berputar. (b) injakan kartel ganda (salah). Teknik Pemesinan 184 .

BAB 7 MENGENAL PROSES FRAIS (MILLING) Teknik Pemesinan 185 .

memutar pisau.) yang digunakan untuk memegang benda kerja.1. dan penyayatannya disebut Mesin Frais (Milling Machine). menyudut. Permukaan yang disayat bisa berbentuk datar. Mesin konvensional manual posisi spindelnya ada dua macam yaitu horizontal dan vertical. dan (b) Mesin Frais horizontal tipe column and knee. Mesin (Gambar 7. Mesin Frais (Gambar 7. Skematik dari gerakan-gerakan dan komponen-komponen dari (a) Mesin Frais vertical tipe column and knee. atau melengkung.P roses pemesinan frais (milling) adalah proses penyayatan benda kerja menggunakan alat potong dengan mata potong jamak yang berputar.) ada yang dikendalikan secara mekanis (konvensional manual) dan ada yang dengan bantuan CNC. Permukaan benda kerja bisa juga berbentuk kombinasi dari beberapa bentuk. Gambar 7 1.2. Teknik Pemesinan 186 . Sedangkan Mesin Frais dengan kendali CNC hampir semuanya adalah Mesin Frais vertical (beberapa jenis Mesin Frais dapat dilihat pada Lampiran 3) . Proses penyayatan dengan gigi potong yang banyak yang mengitari pisau ini bisa menghasilkan proses pemesinan lebih cepat.

Mesin Frais turret vertical horizontal.Gambar 7 2. Frais Muka (Face Milling) Pada frais muka.3). Klasifikasi Proses Frais Proses frais dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis. Frais Periperal (Slab Milling) Proses frais ini disebut juga slab milling. Tiga klasifikasi proses frais : (a) Frais periperal (slab milling). arah penyayatan. (b) frais muka (face milling). 2. Permukaan Teknik Pemesinan 187 . dan posisi relatif pisau terhadap benda kerja (Gambar 7. A. Gambar 7 3. permukaan yang difrais dihasilkan oleh gigi pisau yang terletak pada permukaan luar badan alat potongnya. Klasifikasi ini berdasarkan jenis pisau. Sumbu dari putaran pisau biasanya pada bidang yang sejajar dengan permukaan benda kerja yang disayat. dan (c) frais jari (end milling). pisau dipasang pada spindel yang memiliki sumbu putar tegak lurus terhadap permukaan benda kerja. 1.

Metode Proses Frais Metode proses frais ditentukan berdasarkan arah relatif gerak makan meja Mesin Frais terhadap putaran pisau (Gambar 7. Arah dari putaran pisau sama dengan arah gerak makan meja Mesin Frais. Frais Jari (End Milling) Pisau pada proses frais jari biasanya berputar pada sumbu yang tegak lurus permukaan benda kerja. Gambar 7 4.). 3.4. Metode proses frais ada dua yaitu frais naik dan frais turun. Frais Turun (Down Milling) Proses frais turun dinamakan juga climb milling. B. Sebagai contoh. karena pada mesin konvensional backlash ulir transportirnya relatif besar dan tidak dilengkapi backlash compensation. (a)Frais naik (up milling) dan (b) frais turun (down milling). 2. Pisau dapat digerakkan menyudut untuk menghasilkan permukaan menyudut. benda kerja disayat ke arah kanan. Penampang melintang bentuk beram (chips) untuk proses frais naik adalah seperti koma diawali dengan ketebalan minimal kemudian menebal. Proses frais ini sesuai untuk Mesin Frais konvensional/manual.hasil proses frais dihasilkan dari hasil penyayatan oleh ujung dan selubung pisau. Gigi potong pada pisau terletak pada selubung pisau dan ujung badan pisau.4. Gerak dari putaran pisau berlawanan arah terhadap gerak makan meja Mesin Frais (Gambar 7. 1. pada proses frais naik apabila pisau berputar searah jarum jam. Sebagai contoh Teknik Pemesinan 188 . Frais Naik (Up Milling ) Frais naik biasanya disebut frais konvensional (conventional milling).).

benda kerja disayat ke kanan. Proses pemesinan dengan Mesin Frais merupakan proses penyayatan benda kerja yang sangat efektif.jika pisau berputar berlawanan arah jarum jam. Untuk Mesin Frais konvensional tidak direkomendasikan melaksanakan proses frais turun. dan dilengkapi backlash compensation. maka pisau frais analog dengan beberapa buah pisau bubut (Gambar 7. Pisau frais dapat melakukan penyayatan berbagai bentuk benda kerja.).5. Pisau frais identik dengan beberapa pahat bubut. membuat alur lebar sampai dengan membentuk alur tipis bisa dilakukan oleh pisau frais ( Gambar 7. Proses frais ini sesuai untuk Mesin Frais CNC. Berbagai jenis bentuk pisau frais untuk Mesin Frais horizontal dan vertical. karena pada mesin CNC gerakan meja dipandu oleh ulir dari bola baja. Apabila dibandingkan dengan pisau bubut. Penampang melintang bentuk beram (chips) untuk proses frais naik adalah seperti koma diawali dengan ketebalan maksimal kemudian menipis. Proses meratakan bidang. karena pisau frais memiliki sisi potong jamak. karena meja Mesin Frais akan tertekan dan ditarik oleh pisau. Gambar 7 5. Gambar 7 6.6. Teknik Pemesinan 189 .). sesuai dengan pisau yang digunakan.

sadel. Special purposes Mesin jenis column and knee dibuat dalam bentuk Mesin Frais vertical dan horizontal (lihat Gambar 7. . Teknik Pemesinan 190 . Mesin Frais tersebut pada saat ini telah banyak yang dilengkapi dengan pengendali CNC untuk meningkatkan produktivitas dan fleksibilitasnya. Pada dasarnya pada mesin jenis ini meja (bed). yaitu : 1. Beberapa asesoris seperti cekam.C. kepala pembagi menambah kemampuan dari Mesin Frais jenis ini. menjadikan mesin ini banyak digunakan pada perusahaan manufaktur (Gambar 7. dan lutut (knee) dapat digerakkan. Kekakuan mesin yang baik. Bed type milling machines 3. Jenis Mesin Frais Mesin Frais yang digunakan dalam proses pemesinan ada tiga jenis.). meja putar. Column and knee milling machines 2.). bed. Mesin Frais tipe bed (bed type) memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari pada jenis Mesin Frais yang pertama. Kemampuan melakukan berbagai jenis pemesinan adalah keuntungan utama pada mesin jenis ini. serta tenaga mesin yang biasanya relatif besar. Mesin Frais tipe .8. Walaupun demikian mesin ini memiliki kekurangan dalam hal kekakuan dan kekuatan penyayatannya. Gambar 7 8.7. Mesin Frais tipe column and knee Gambar 7 7.

Mesin Frais CNC tipe bed (bed type CNC milling machine). Mesin Frais dengan spindel ganda (dua. Mesin Frais tipe khusus (special purposes). Mesin tersebut misalnya Mesin Frais profil.Produk pemesinan di industri pemesinan semakin kompleks. karena mesin jenis ini tidak memerlukan setting yang rumit. sampai lima spindel). biasanya digunakan untuk keperluan mengerjakan satu jenis penyayatan dengan produktivitas/duplikasi yang sangat tinggi. maka Mesin Frais jenis baru dengan bentuk yang tidak biasa telah dibuat. Teknik Pemesinan 191 .). tiga. Mesin Frais dengan dua buah spindel. Dengan menggunakan Mesin Frais khusus ini maka produktivitas mesin sangat tinggi. dan Mesin Frais planer. sehingga ongkos produksi menjadi rendah. Gambar 7 10. Mesin Frais tipe khusus ini (contoh pada Gambar 7.9. Gambar 7 9.

Seperti pada Mesin Bubut.... gerak makan (f).. biasanya satuan gerak makan yang digunakan adalah mm/menit.. Putaran spindel bisa langsung diatur dengan cara mengubah posisi handle pengatur putaran mesin. maka gerak makan harus ditentukan.. Kecepatan potong ditentukan oleh kombinasi material pisau dan material benda kerja. efisien waktu dan biaya yang diperlukan. dan gerak makan per putaran (mm/putaran). Rumus kecepatan potong identik dengan rumus kecepatan potong pada mesin bubut. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Frais Maksud dari parameter yang dapat diatur adalah parameter yang dapat langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang mengoperasikan Mesin Frais...d .. dan produk yang dihasilkan memiliki ketelitian tinggi.). dan kedalaman potong (a)... Gerak makan bisa diatur dengan cara mengatur handle gerak makan sesuai dengan tabel f yang ada di mesin. maka parameter yang dimaksud adalah putaran spindel (n). Rumus kecepatan potong : v Di mana : . Pada proses frais besarnya diameter yang digunakan adalah diameter pisau. atau dengan cara menurunkan pisau. Kedalaman potong diatur dengan cara menaikkan benda kerja..n . Gerak makan (Gambar 7.. pada saat ini telah dibuat Mesin Frais dengan jenis yang sama dengan mesin konvensional tetapi menggunakan kendali CNC (Computer Numerically Controlled).Selain Mesin Frais manual..1) 1000 v = kecepatan potong (m/menit) d = diameter pisau (mm) n = putaran benda kerja (putaran/menit) Setelah kecepatan potong diketahui.. Putaran spindel (n) ditentukan berdasarkan kecepatan potong.. Kecepatan potong adalah jarak yang ditempuh oleh satu titik (dalam satuan meter) pada selubung pisau dalam waktu satu menit. Untuk kedalaman potong Teknik Pemesinan 192 ..11) ini pada proses frais ada dua macam yaitu gerak makan per gigi (mm/gigi).. Kedalaman potong (a) ditentukan berdasarkan selisih tebal benda kerja awal terhadap tebal benda kerja akhir. Gerak makan (f) adalah jarak lurus yang ditempuh pisau dengan laju konstan relatif terhadap benda kerja dalam satuan waktu... D. Dengan bantuan kendali CNC (Gambar 7. Beberapa Mesin Frais yang lain dapat dilihat pada Lampiran 7.10...(3. maka Mesin Frais menjadi sangat fleksibel dalam mengerjakan berbagai bentuk benda kerja...

dan kode khusus pembuat pisau.14. Material pisau untuk proses frais pada dasarnya sama dengan material pisau untuk pisau bubut.13. karena proses pemotongannya adalah proses pemotongan dengan mata potong majemuk (Gambar 7. maka kedalaman potong yang telah ditentukan bisa digunakan. panjang sisi potong. E. Gambar jalur pisau frais menunjukkan perbedaan antara gerak makan per gigi (ft) dan gerak makan per putaran (fr). arah pemakanan.15.yang relatif besar diperlukan perhitungan daya potong yang diperlukan untuk proses penyayatan. M. sudut potong. Apabila daya potong yang diperlukan masih lebih rendah dari daya yang disediakan oleh mesin (terutama motor listrik). Dengan demikian nama sudut atau istilah yang digunakan juga sama dengan pisau bubut. Standar tersebut mengatur tentang bentuk sisipan. Teknik Pemesinan 193 . Untuk pisau karbida juga digolongkan dengan kode P. Jumlah gigi minimal adalah dua buah pada pisau frais ujung (end mill). Geometri Pisau Frais Pada dasarnya bentuk pisau frais adalah identik dengan pisau bubut. sudut bebas. Nama-nama bagian pisau frais rata dan geometri gigi pisau frais rata ditunjukkan pada Gambar 7. Pisau untuk proses frais dibuat dari material HSS atau karbida. Pisau sisipan yang telah dipasang pada pemegang pisau dapat dilihat pada Gambar 7. tebal sisipan. dan K. Pisau frais karbida bentuk sisipan dipasang pada tempat pisau sesuai dengan bentuknya. pemutus tatal (chipbreaker). toleransi bentuk.12. Gambar 7 11. Pisau frais memiliki bentuk yang rumit karena terdiri dari banyak gigi potong.). Standar ISO untuk bentuk dan ukuran pisau sisipan dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 12. Teknik Pemesinan 194 . Bentuk dan nama-nama bagian pisau frais rata. Gambar 7 13.

Gambar 7 14. Teknik Pemesinan 195 . Standar ISO pisau sisipan untuk frais (milling).

Pasak yang dipasang mencegah terjadinya selip ketika pisau Gambar 7 16. Teknik Pemesinan 196 . agar pisau tidak mengalami selip pada pemegangnya. Gambar skematik arbor Mesin Frais.16. Kolet ini berfungsi mencekam bagian pemegang (shank) pisau. lihat Gambar 7. Peralatan dan Asesoris untuk Memegang Pisau Frais Proses penyayatan menggunakan Mesin Frais memerlukan alat bantu untuk memegang pisau dan benda kerja. Gambar skematik arbor yang digunakan pada Mesin Frais horizontal dapat dilihat pada Gambar 7. menahan gaya potong yang relatif besar dan tidak kontinyu ketika gigigigi pisau melakukan penyayatan benda kerja. Pisau frais bentuk sisipan dipasang pada tempat pisau yang sesuai.17. Arbor ini pada porosnya diberi alur untuk menempatkan pasak sesuai dengan ukuran alur pasak pada pisau frais.Gambar 7 15. Pemegang pisau untuk Mesin Frais vertical yaitu kolet (collet. F. Bentuk kolet adalah silinder lurus di bagian dalam dan tirus di bagian luarnya. sehingga ketika kolet dimasuki pisau bisa dengan mudah memegang pisau.1). Pada Mesin Frais konvensional horizontal pemegang pisau adalah arbor dan poros arbor (lihat kembali Gambar 7. Pada sisi kolet dibuat alur tipis beberapa buah. Pisau harus dicekam cukup kuat sehingga proses penyayatan menjadi efektif.

Kepala bor ini jarak antara ujung pisau terhadap sumbu bisa diubah-ubah. Pemegang pisau (tool holder) standar bisa digunakan untuk memegang pisau frais ujung (end mill).18). dan pembuatan champer (chamfering). sehingga tidak akan terjadi selip ketika pisau menerima gaya potong. (a) Kolet pegas yang memiliki variasi ukuran diameter. Sesudah pisau dimasukkan ke kolet kemudian kolet tersebut dimasukkan ke dalam pemegang pisau (tool holder).Gambar 7 17. Karena bentuk luar kolet tirus maka pemegang pisau akan menekan kolet dan benda kerja dengan sangat kencang. sehingga dinamakan offset boring heads. perataan permukaan (facing). Beberapa proses frais juga memerlukan sebuah cekam (chuck) untuk memegang pisau frais. (a) Pemegang pisau frais ujung (end mill) (b) pemegang pisau shell end mill. Gambar 7 19. (b) kolet solid pemasangan pisau dengan baut. Pemegang pisau ini biasanya digunakan untuk proses bor (boring). Pemegang pisau yang lain adalah kepala bor (Gambar 7. Gambar 7 18. Pemegang pisau ini ada dua jenis yaitu dengan ujung tirus Morse (Morse taper) dan lurus (Gambar 7. Teknik Pemesinan 197 .19). Kepala bor (offset boring head).

(a) (b) Gambar 7 20.20. balok. payung) Membuat roda gigi cacing.). (b) Ragum universal yang biasa digunakan pada ruang alat.). Kepala pembagi (Gambar 7. terutama untuk keperluan : Membuat segi banyak Membuat alur pasak Membuat roda gigi (lurus. balok bertingkat). Pemegang benda kerja ini biasanya dinamakan ragum. (a) Ragum sederhana (plain vise).20. Teknik Pemesinan 198 . Ragum sederhana digunakan bila benda kerja yang dibuat bidang-bidangnya saling tegak lurus dan paralel satu sama lain (kubus. Jenis ragum cukup banyak.) ini biasanya digunakan untuk memegang benda kerja silindris. Ragum tersebut diikat pada meja Mesin Frais dengan menggunakan baut T. Apabila bentuk benda kerja silindris. penggunaannya disesuaikan dengan bentuk benda kerja yang dikerjakan di mesin. helix.21. maka untuk memegang benda kerja digunakan kepala pembagi (dividing head). atau bila menggunakan ragum sederhana bentuk pisau yang dipakai menyesuaikan bentuk sudut yang dibuat. Apabila digunakan untuk membuat bentuk sudut digunakan ragum universal (Gambar 7. Untuk benda kerja berbentuk balok atau kubus ragum yang digunakan adalah ragum sederhana atau ragum universal (Gambar 7. Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja pada Mesin Frais Alat pemegang benda kerja pada Mesin Frais berfungsi untuk memegang benda kerja yang sedang disayat oleh pisau frais.G.

Selain itu dengan meja putar ini bisa dibuat bentuk melingkar. Untuk keperluan pemegangan benda kerja seperti itu. Benda kerja yang berbentuk plat lebar. dan benda hasil tuangan sulit dicekam dengan ragum. Teknik Pemesinan 199 . atau helix.23) ini diletakkan di atas meja Mesin Frais. kemudian ragum atau cekam rahang tiga bisa diletakkan di atasnya. baik satu lingkaran penuh (360o) atau kurang dari 360o. Meja yang dapat Gambar 7 22. Meja putar. Apabila benda kerja yang dibuat ada bentuk sudutnya. Alat bantu pemegang benda kerja di Mesin Frais yang lain yaitu meja putar (rotary table). cukup memutar handle meja putar dengan sudut yang dikekendaki. maka benda kerja bisa langsung diletakkan di meja Mesin Frais kemudian diikat dengan menggunakan bantuan klem (clamp). diikat pada meja Mesin Frais . Berbagai bentuk klem dan baut pengikatnya biasanya digunakan untuk satu benda kerja yang relatif besar. roda gigi. Meja tersebut (Gambar 7. (Gambar 7. karena untuk menyayat sisisisi benda kerja tidak usah melepas benda kerja. Ragum biasa yang dipasang langsung pada meja Mesin Frais hanya dapat digunakan untuk mengerjakan benda kerja lurus atau bertingkat dengan bidang datar atau tegak lurus. Dengan bantuan meja putar ini proses penyayatan bidang-bidang benda kerja bisa lebih cepat. Kepala pembagi (dividing head) untuk membuat segi banyak. Benda kerja yang dikerjakan di Mesin Frais tidak hanya benda kerja yang bentuknya teratur. diatur sudutnya dalam beberapa arah. piringan dengan diameter besar dan tipis. maka ragum diletakkan pada meja yang dapat diatur sudutnya (identik dengan meja sinus).Gambar 7 21.22). digunakan untuk alat bantu pengerjaan benda kerja yang memiliki sudut lebih dari satu arah.

(d) edge finder yang digunakan untuk mencari posisi pojok benda kerja.Gambar 7 23. dan (h) klem (clamp) untuk membantu memegang benda kerja. (b) Meja putar yang dapat diatur sudutnya. Gambar perlengkapan Mesin Frais tersebut dapat dilihat pada Gambar 7. Teknik Pemesinan 200 . Selain pemegang benda kerja. (f) pembatas ragum. maupun penempatan benda kerja. Asesoris tersebut misalnya (a) parallel yang berguna untuk meninggikan posisi benda kerja pada ragum. pada Mesin Frais juga ada beberapa macam asesoris yang berguna untuk membantu pengaturan Mesin Frais. (g) blok V untuk membantu memegang benda kerja berbentuk silindris. (c) line finder dipasang pada kolet.24. (a) Meja putar (rotary table) yang bisa digunakan untuk Mesin Frais vertical maupun horizontal. (e) pembatas ragum (vise stop) yang berguna untuk batas peletakan benda kerja di ragum. (b) line finder untuk membantu mencari posisi garis pinggir benda kerja.

(f) Pembatas ragum.(a) Parallel (b) Line finder (c) Line finder dipasang pada kolet (d) Edge finder. Berbagai macam asesoris yang digunakan pada Mesin Frais. Teknik Pemesinan 201 . digunakan untuk mencari posisi pojok benda kerja (e) Pembatas ragum (vise stop) yang dipasang menyatu dengan mulut ragum. (g) Blok V (h) Satu set klem Gambar 7 24.

Gambar skematis proses frais vertical dan frais horizontal. Elemen diturunkan berdasarkan rumus dan Gambar 7.H. Keterangan : Benda Kerja : w lw lt a = lebar pemotongan (mm) = panjang pemotongan (mm) = lv+lw+ln (mm) = kedalaman potong (mm) Teknik Pemesinan 202 . Elemen Dasar Proses Frais Elemen dasar proses frais hampir sama dengan elemen dasar proses bubut.25. berikut : n w a ln lv vf lw n a w ln vf lw lv Gambar 7 25.

....2 sampai 3.......3) 7) Waktu pemotongan : tc lt ..a..... . Teknik Pemesinan 203 . ... . Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan bukan hanya kecepatan potong dan gerak makan saja.......4) vf 8) Kecepatan penghasilan beram : Z vf ........... .... .n.............. kehalusan produk. ..w/1000 cm / menit ....... Dengan demikian hasil analisa/perencaaan merupakan pendekatan bukan merupakan hasil yang optimal....... .....( 3 ....... getaran mesin dan getaran benda kerja............ Proses frais bisa dilakukan dengan banyak cara menurut jenis pisau yang digunakan dan bentuk benda kerjanya.. 2 ) 1000 6) Gerak makan per gigi : fz v f / z........ .......................n .menit........ m / menit ..(3.... ..... . Selain itu jenis Mesin Frais yang bervariasi menyebabkan analisa proses frais menjadi rumit.....5) 3 Rumus-rumus (3.................... mm/ menit... I.. ...5) tersebut di atas digunakan untuk perencanaan proses frais.. gaya potong..........d .......... Perencanaan proses frais dibahas satu kesatuan dengan beberapa pengerjaan proses frais...... ....(3..... Pengerjaan Benda Kerja dengan Mesin Frais Beberapa variasi bentuk benda kerja bisa dikerjakan dengan Mesin Frais.. tetapi juga cara pencekaman..Pisau Frais : d z r = diameter luar (mm) = jumlah gigi/mata potong = sudut potong utama (90o)untuk pisau frais selubung Mesin Frais : n vf = putaran poros utama (rpm) = kecepatan makan (mm/putaran) 5) Kecepatan potong : V .. 3 ..(......

(Gambar 7. Benda kerja dicekam dengan ragum biasa. Frais rata dilakukan dengan cara permukaan benda kerja dipasang paralel terhadap permukaan meja Mesin Frais dan pisau frais dipasang pada arbor mesin.).27).20. (Gambar 7. Teknik Pemesinan 204 .26). Proses frais rata (surface/slab milling). Proses Frais Datar/Rata Proses frais datar/rata (dinamakan juga surface milling atau slab milling) adalah proses frais dengan sumbu pisau paralel terhadap permukaan benda kerja. Gambar 7 26. sebaiknya bagian benda kerja yang menonjol di atas ragum tidak terlalu tinggi agar benda kerja tidak bergetar. Arbor dipasang horizontal didukung oleh spindel mesin dan penahan arbor di sisi yang lain. (Gambar 7.1.

Gerak makan per gigi Teknik Pemesinan 205 . bagian kanan pencekaman yang salah (incorrect) dan bagian kiri pencekaman yang benar (correct). Pisau yang digunakan untuk proses pengasaran (roughing) sebaiknya dipilih pisau frais yang ukuran giginya relatif besar. Benda kerja di pinggir ragum. dengan kecepatan potong dipilih yang minimal dari kecepatan potong yang diijinkan untuk pasangan pisau dan benda kerja yang dikerjakan (Tabel 7. Cara pencekaman benda kerja.Benda kerja di tengah ragum. Benda kerja didukung parallel. Benda kerja yang menonjol terlalu tinggi. Untuk proses finishing pisau yang digunakan dipilih pisau yang memiliki gigi yang relatif kecil dengan kecepatan potong dipilih harga terbesar dari kecepatan potong yang diijinkan. Gambar 7 27.1). Benda kerja tidak didukung parallel Benda kerja yang menonjol diusahakan serendah mungkin.

Tabel 7 2. Kecepatan potong untuk proses frais untuk pasangan benda kerja dan pisau HSS.28. mesin. sistem pencekaman. bisa dilakukan setelah kecepatan potong dan gerak makan per gigi ditentukan.28).ditentukan berdasarkan ketebalan beram yang diinginkan (direncanakan). Teknik Pemesinan 206 . b) Apabila satuan kecepatan potong (cutting speed diubah menjadi m/menit angka pada tabel dibagi 3. Tabel 7 1. dan kecepatan potong.5).2. Tebal beram dapat dipilih berdasarkan benda kerja dan pisau yang digunakan. Tebal beram untuk proses frais disarankan seperti pada Tabel 7. Perhitungan elemen pemesinan untuk proses frais yang lain (Gambar 7. Perhitungan elemen mesin yang lain (Rumus 3.) identik dengan langkah di atas. a) Untuk pisau karbida harga kecepatan potong angka pada tabel dikalikan 2.2 sampai 3. Tebal beram per gigi untuk beberapa tipe pisau frais dan benda kerja yang dikerjakan (satuan dalam inchi).

Gambar 7 28. Teknik Pemesinan 207 . Beberapa variasi proses frais yang dilakukan pada Mesin Frais.

Dari informasi tersebut perencana proses frais gigi harus menyiapkan : kepala pembagi (Gambar 7. Proses Frais Roda Gigi Proses frais gigi (Gambar 7. Kepala pembagi digunakan sebagai pemegang bakal roda gigi (dengan bantuan mandrel). (Lanjutan). pisau frais gigi. untuk proses frais roda gigi diperoleh data tentang jumlah gigi. 2.Gambar 7 28.28. Teknik Pemesinan 208 . gerak makan. dan kedalaman potong). dan perhitungan elemen dasar (putaran spindel.). dan dimensi bakal roda gigi. tetapi karena bentuknya yang spesifik. bentuk profil gigi. Beberapa proses frais : frais bentuk dan dan frais alur. Pada kepala pembagi terdapat mekanisme yang memungkinkan operator Mesin Frais memutar benda kerja dengan sudut tertentu. sudut tekan.29). sebenarnya sama dengan frais bentuk pada Gambar 7.21. serta proses pencekaman dan pemilihan pisau berbeda maka akan dibahas lebih detail. modul.. Dari informasi yang diperoleh dari gambar kerja.

41. Sisi pertama dengan jumlah lubang : 24.66 Misalnya akan dibuat pembagian 160 buah.28. 1/5 putaran). Sisi kedua (sebaliknya) dengan jumlah lubang : 46. Kepala pembagi (dividing head) digunakan sebagai alat untuk memutar bakal roda gigi.58. Piringan 1 dengan jumlah lubang : 15.54.37. Gambar 7. Untuk membagi putaran pada spindel sehingga bisa menghasilkan putaran spindel selain 40 bagian.Pisau frais gigi Mandrel dicekam pada kepala pembagi Roda gigi Gambar 7 29. Pengaturan putaran engkol pada kepala pembagi adalah sebagai berikut (Gambar 7.29. Mekanisme perubahan gerak pada kepala pembagi adalah roda gigi cacing dan ulir cacing dengan perbandingan 1:40.19.33 c.47.38.30.30.43 b.62.18.30.39. ¼.57. maka pada bagian engkol dilengkapi dengan piringan pembagi dengan jumlah lubang tertentu. 1/3.20 b.51.42.16.53.47. Tipe Brown and Sharpe : a. Proses frais roda gigi dengan Mesin Frais horizontal. dengan cara sekrup pengatur arah radial kita setel sehingga ujung engkol yang berbentuk runcing bisa masuk ke lubang yang dipilih (Gambar 7.) : Dipilih piringan yang memiliki lubang 20.17. Tipe Cincinnati (satu piringan dilubangi pada kedua sisi) : a.34.49 2.25.59. Piringan 2 dengan jumlah lubang : 21.31.39. maka spindelnya berputar 1/40 kali.23.43. Piringan 3 dengan jumlah lubang : 37.c) Teknik Pemesinan 209 .27.41.49. dengan demikian putaran engkol bisa diatur (misal ½. Pada piringan pembagi diberi lubang dengan jumlah lubang sesuai dengan tipenya yaitu : 1. Dengan demikian apabila engkol diputar satu kali.29.

2 dan 3. 6 (telah dibatasi oleh gunting) Dengan demilian engkol berputar ¼ lingkaran dan benda kerja) berputar ¼ x1/40 = 1/160 putaran Gunting digeser sehingga bilah bagian kiri di no. 1 Pelat penggerak 6 lubang 5 bagian spindel (b) Bilah gunting Sekrup pengatur bilah (c) (d) Lubang no.(d) (a) Engkol Piringan pembagi Sekrup pengatur arah radial Bilah gunting Lubang no. Gunting diatur sehingga melingkupi 5 bagian atau 6 lubang (Gambar 7.3.3.25 modul). 6 Gambar 7 30.30. Sedangkan kedalaman potong ditentukan berdasarkan tinggi gigi dalam gambar kerja atau sesuai dengan modul gigi yang dibuat (antara 2 sampai 2. Teknik Pemesinan 210 .d) Sisi pertama benda kerja dimulai dari lubang no. Nomer pisau frais gigi berdasarkan jumlah gigi yang dibuat dapat dilihat pada Tabel 7. Kepala pembagi dan pengoperasiannya.1 Sisi kedua dilakukan dengan cara memutar engkol ke lubang no. Penentuan elemen dasar proses frais yaitu putaran spindel dan gerak makan pada proses frais gigi tetap mengikuti rumus 3. Pemilihan pisau untuk memotong profil gigi (biasanya profil gigi involute) harus dipilih berdasarkan modul dan jumlah gigi yang akan dibuat. 6 Pemutaran engkol selanjutnya mengikuti bilah gunting.

5 30 sampai 34 4 25 sampai 34 4.5 23 sampai 25 5 21 sampai 25 5.5 80 sampai 134 2 55 sampai 134 2 . Urutan nomer pisau frais gigi involute. Teknik Pemesinan 211 .Digunakan untuk membuat roda gigi Nomer Pisau/ dengan jumlah gigi Cutter 1 135 sampai dengan rack 1.5 42 sampai 54 3 35 sampai 54 3.5 15 sampai 16 7 14 sampai 16 7.5 19 sampai 20 6 17 sampai 20 6.5 13 8 12 dan 13 Tabel 7 3.

Teknik Pemesinan 200 .

Moscow. Avrutin. Teknologi Mekanik Jilid 2. Operation. Bridgeport. Foreign Languages Publishing House. EDM ProcessMecanism. Alat-alat Perkakas 3. Austria. Diktat Praktikum Proses Pemesinan II (CNC TU2A dan CNC TU3A) Jurusan Pendidikan Teknik Mesin. Maximat Super 11 Installation Manual. Emco Emco Maier Maier CNC TU-3A. B. 2007. A Center Lathe. Lubrication. 1980.m. (1994). (1995).Hallein. Universitas Negeri Yogyakarta. 1991. Teacher’s Handbook Compact 5 PC. EMCO Maier+Co. Instalation. Geoffrey.m. Postfach 131.Poco Graphite Inc.Hallein. Bambang Priambodo. Harun. EMCO. 1977. (1981). Health and Safety at Work Act.b.LAMPIRAN. Manual.S. Bridgeport Textron . Courtesy EDM Tech.b. Bandung: Binacipta. 2005. tt.H. Teknik Pemesinan . Postfach 131. EMCO. Amstead. Fundamentals of Milling Practice.H. Maintenance Manual. Maintenance. Jakarta: Erlangga Boothroyd. EMCO Maier+Co.H. Emco Maier Ges. 1991. EMCO. Pengerjaan Logam Dengan Perkakas Tangan dan Mesin Sederhana. 1980.A-5400 Hallein: Austria. Instructions and Operating Manual. Singapore: Mc Graw-Hill Book Co. Teacher’s Handbook Ges. EMCO. C. A ___________________________________________Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA Alois SCHONMETZ.m.A-5400 Hallein: Austria.Hallein. Teacher’s Handbook Ges. van Terheijden.b. (1985). Austria. CNC TU-2A. Bridgeport Mahines Devision of Textron Limited PO Box 22 Forest Road Leicester LE5 0FJ : England. Bandung: Angkasa. Fundamentals of Metal Machining and Machine Tools. Austria. 1991.H. EMCO.

__________________________________________________Lampiran LAMPIRAN Teknik Pemesinan .

Standar ISO untuk pengkodean pemegang pahat sisipan/ tool holders. Teknik Pemesinan . B Lampiran 1.__________________________________________________Lampiran LAMPIRAN.

Standar ISO untuk pengkodean pemegang pahat sisipan.__________________________________________________Lampiran Lampiran 1. (Lanjutan). Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Teknik Pemesinan .

Beberapa macam Mesin Bubut konvensional dan CNC. Sumber : Katalog PT. Kawan Lama Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.

Beberapa macam Mesin Bubut. Kawan Lama Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 2. Sumber : Katalog PT. (Lanjutan).

Teknik Pemesinan . (Lanjutan).__________________________________________________Lampiran Lampiran 2. Beberapa macam Mesin Bubut.

Sumber : IMTS 2006 (www. Beberapa macam Mesin Bubut.toolingandproduction.com) Teknik Pemesinan . (Lanjutan).__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.

Beberapa macam Mesin Frais. Beberapa macam Mesin Frais konvensional dan CNC. Lampiran 3. (Lanjutan).__________________________________________________Lampiran Lampiran 3. Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Sumber : Katalog PT. Kawan Lama Teknik Pemesinan .

com) Teknik Pemesinan .toolingandproduction. Sumber : IMTS 2006 (www. (Lanjutan). Beberapa macam Mesin Frais.__________________________________________________Lampiran Lampiran 3.

Mesin Bor Radial Lampiran 4. Beberapa macam Mesin Gurdi (Drilling) konvensional dan CNC. Beberapa macam Mesin Gurdi (Drilling). (Lanjutan). Mesin Gurdi manual dan Mesin Gurdi & Tap CNC Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 4.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 5. Proses pembuatan ulir dan tabel. Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Lampiran 6. Fundamental Deviatons a to j Over Up -to (Incl.) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Fundamental Deviation (es ) a -270 -270 -280 -290 -290 -300 -300 -310 -320 -340 -360 -380 -410 -460 -520 -580 -660 -740 -820 -920 -1050 -1200 -1350 -1500 -1650 a b c cd -34 -46 -56 d -20 -30 -40 -50 -50 -65 -65 -80 -80 -100 -100 -120 -120 -145 -145 -145 -170 -170 -170 -190 -190 -210 -210 -230 -230 cd d e -14 -20 -25 -32 -32 -40 -40 -50 -50 -60 -60 -72 -72 -85 -85 -85 -100 -100 -100 -110 -110 -125 -125 -135 -135 e ef ef -10 -14 -18 -6 -10 -13 -16 -16 -20 -20 -25 -25 -30 -30 -36 -36 -43 -43 -43 -50 -50 -50 -56 -56 -62 -62 -68 -68 f fg f fg -4 -6 -8 g -2 -4 -5 -6 -6 -7 -7 -9 -9 -10 -10 -12 -12 -14 -14 -14 -15 -15 -15 -17 -17 -18 -18 -20 -20 g h 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 h js ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 js j5 -2 -2 -2 -3 -3 -3 -3 -4 -4 -5 -7 -9 -9 -11 -11 -11 -13 -13 -13 -16 -16 -18 -18 -20 -20 j5 -140 -60 -140 -70 -150 -80 -150 -95 -150 -95 -160 -110 -160 -110 -170 -120 -180 -130 -190 -140 -200 -150 -220 -170 -240 -180 -260 -200 -280 -210 -310 -230 -340 -240 -380 -260 -420 -280 -480 -300 -540 -330 -600 -360 -680 -400 -760 -440 -840 -480 b c (ei ) j6 -2 -2 -2 -3 -3 -3 -3 -4 -4 -5 -7 -9 -9 -11 -11 -11 -13 -13 -13 -16 -16 -18 -18 -20 -20 (ei ) j6 j7 j7 -4 -4 -5 -6 -6 -8 -8 -10 -10 -12 -12 -15 -15 -18 -18 -18 -21 -21 -21 -26 -26 -28 -28 -32 -32 Up -to Over (Incl.) Fundamental Deviation (es ) Teknik Pemesinan . Besarnya toleransi fundamental dari a sampai zc.

) k7 other m k (inc) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 Over 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 0 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 4 6 7 7 8 8 9 9 11 11 13 13 15 15 15 17 17 17 20 20 21 21 23 23 n 4 8 10 12 12 15 15 17 17 20 20 23 23 27 27 27 31 31 31 34 34 37 37 40 40 p 6 12 15 18 18 22 22 26 26 32 32 37 37 43 43 43 50 50 50 56 56 62 62 68 68 r 10 15 19 23 23 28 28 34 34 41 43 51 54 63 65 68 77 80 84 94 98 108 114 126 132 s 14 19 23 28 28 35 35 43 43 53 59 71 79 92 100 108 122 130 140 158 170 190 208 232 252 41 48 54 66 75 91 104 122 134 146 166 180 196 218 240 268 294 330 360 t u 18 23 28 33 33 41 48 60 70 87 102 124 144 170 190 210 236 258 284 315 350 390 435 490 540 39 47 55 68 81 102 120 146 172 202 228 252 284 310 340 385 425 475 530 595 660 v x 20 28 34 40 45 54 64 80 97 122 146 178 210 248 280 310 350 385 425 475 525 590 660 740 820 63 75 94 114 144 174 214 254 300 340 380 425 470 520 580 650 730 820 920 1000 y 26 35 42 50 60 73 88 112 136 172 210 258 310 365 415 465 520 575 640 710 790 900 1000 1100 1250 z 32 42 52 64 77 98 118 148 180 226 274 335 400 470 535 600 670 740 820 920 1000 1150 1300 1450 1600 za 40 50 67 90 108 136 160 200 242 300 360 445 525 620 700 780 880 960 1050 1200 1300 1500 1650 1850 2100 zb zc 60 80 97 130 150 188 218 274 325 405 480 585 690 800 900 1000 1150 1250 1350 1550 1700 1900 2100 2400 2600 Fundamental Deviation ( ei ) Up to k4(Incl. Besarnya toleransi fundamental dari a sampai zc. Fundamental Deviatons k to zc Fundamental Deviation ( ei ) Over Up to k4(Incl. (Lanjutan).__________________________________________________Lampiran Lampiran 6.) k7 other m k (inc) n p r s t u v x y z za zb zc Teknik Pemesinan .

shaft size 500-3150mm Deviations in μmetres = (m -6) Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 7. ISO Shaft Limit Nearest Zero (Fundamental Deviation ).

) 1050 1600 1200 1850 1350 2000 0 ITn/2 0 68 110 195 440 1000 1500 2300 0 ITn/2 0 68 110 195 460 1100 1650 2500 0 ITn/2 0 76 135 240 550 1250 1900 2900 0 ITn/2 0 76 135 240 580 1400 2100 3200 Fundamental Deviation (ei) h js k m n p r s t u Fundamental Deviation (es) Teknik Pemesinan .) 560 630 710 800 900 1000 Fundamental Deviation (es) d -260 -260 -290 -290 -320 -320 -350 -350 -390 -390 -430 -430 -480 -480 -520 -520 d e -145 -145 -160 -160 -170 -170 -195 -195 -220 -220 -240 -240 -260 -260 -290 -290 e ef ef f -76 -76 -80 -80 -86 -86 -98 -98 -110 -110 -120 -120 -130 -130 -145 -145 f fg fg g -22 -22 -24 -24 -26 -26 -28 -28 -30 -30 -32 -32 -34 -34 -38 -38 g h js k m Fundamental Deviation (ei) n p 78 78 88 88 r s t 400 450 500 560 620 680 780 840 960 u 600 660 740 840 940 1050 1150 1300 1450 0 ITn/2 0 26 44 0 ITn/2 0 26 44 0 ITn/2 0 30 50 0 ITn/2 0 30 50 0 ITn/2 0 34 56 0 ITn/2 0 34 56 0 ITn/2 0 40 66 0 ITn/2 0 40 66 0 ITn/2 0 48 78 0 ITn/2 0 48 78 0 ITn/2 0 58 92 0 ITn/2 0 58 92 150 280 155 310 175 340 185 380 100 210 430 100 220 470 120 250 520 120 260 580 140 300 640 140 330 720 170 370 820 170 400 920 1000 1120 1120 1250 1250 1400 1400 1600 1600 1800 1800 2000 2000 2240 2240 2500 2500 2800 2800 3150 Up -to Over (Incl. (Lanjutan). Fundamental Deviatons d to u Over 500 560 630 710 800 900 Up -to (Incl.__________________________________________________Lampiran Lampiran 7.

Teknik Pemesinan . Holes sizes 0-400mm.__________________________________________________Lampiran Lampiran 8. ISO Hole Nearest Dim to Zero (Fundamental Deviation).

__________________________________________________Lampiran Deviations in μmetres = (m -6) over Up to (Incl.) Fundamental Deviation (El ) A 270 270 280 290 290 300 300 310 320 340 360 380 410 460 520 580 660 740 820 920 B C CD 34 46 56 D 20 30 40 50 50 65 65 80 80 E 14 20 25 32 32 40 40 50 50 EF F FG G H 10 6 4 2 4 5 6 6 7 7 9 9 14 10 6 18 13 8 16 16 20 20 25 25 30 30 36 36 43 43 43 50 50 50 56 56 62 62 68 68 140 60 140 70 150 80 150 95 150 95 160 110 160 110 170 120 180 130 190 140 200 150 220 170 240 180 260 200 280 210 310 230 340 240 380 260 420 280 480 300 Fundamental Deviation (Es ) JS J6 J7 J8 K7 K8 >K8 4 6 8 6 0+ 0 5 6 8 8 10 10 12 12 14 14 0 10 3 12 5 0 IT/2 2 0 IT/2 5 0 IT/2 5 0 IT/2 6 0 IT/2 6 0 IT/2 8 0 IT/2 8 10 15 6 10 15 6 12 20 6 12 20 6 0 IT/2 10 14 24 7 0 IT/2 10 14 24 7 100 60 100 60 120 72 120 72 145 85 145 85 145 85 170 100 170 100 170 100 190 110 190 110 210 125 210 125 230 135 230 135 CD D E 10 0 IT/2 13 18 28 9 10 0 IT/2 13 18 28 9 12 0 IT/2 16 22 34 10 16 12 0 IT/2 16 22 34 10 16 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 17 0 IT/2 25 36 55 16 25 17 0 IT/2 25 36 55 16 25 18 0 IT/2 29 39 60 17 28 18 0 IT/2 29 39 60 17 28 20 0 IT/2 33 43 66 18 29 20 0 IT/2 33 43 66 18 29 Fundamental Deviation (Es ) JS J6 J7 J8 K7 K8 >K8 1050 540 330 1200 600 360 1350 680 400 1500 760 440 1650 840 480 A B C Fundamental Deviation (El ) EF F FG G H Teknik Pemesinan .) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 over 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Up to (Incl.

__________________________________________________Lampiran Important Note: For Fundamental deviations P-ZC ITn's > 7 only applies .) M7 M8 >M8 N7 N8 >N8 P Fundamental Deviation (Es ) R S T U V X Teknik Pemesinan . over Up to (Incl.) M7 M8 >M8 N7 N8 >N8 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 -2 -2 -2 0 0 0 1 0 1 0 2 0 2 0 2 0 0 2 0 0 3 0 1 0 2 2 1 2 5 4 6 5 7 5 8 6 8 8 9 9 9 -4 -6 -7 -7 -8 -8 -9 -9 -5 -4 -4 -5 -5 -7 -7 -8 -8 -4 -4 -2 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -4 0 -4 0 Fundamental Deviation (Es ) P -6 R -10 S -14 -19 -23 -28 -28 -35 -35 -43 -43 -53 -59 -71 -79 -92 -41 -48 -54 -66 -75 -91 -104 -122 T U -18 -23 -28 -33 -33 -41 -48 -60 -70 -87 -39 -47 -55 -68 -81 V X -20 -28 -34 -40 -45 -54 -64 -80 -97 -63 -75 -94 Y Z -26 -35 -42 -50 -60 -73 -88 ZA -32 -42 -52 -64 -77 -98 -118 ZB -40 -50 -67 -90 -108 -136 -160 -200 -242 -300 -360 -445 -525 -620 -700 -780 -880 -960 ZC -60 -80 -97 -130 -150 -188 -218 -274 -325 -405 -490 -585 -690 -800 -900 -1000 -1150 -1250 -12 -15 -15 -19 -18 -23 -18 -23 -22 -28 -22 -28 -26 -34 -26 -34 -32 -41 -32 -43 -37 -51 -37 -54 -43 -63 -43 -65 -43 -68 -50 -77 -50 -80 -50 -84 -56 -94 -56 -98 -112 -148 -114 -136 -180 -144 -172 -226 -174 -210 -274 -214 -258 -335 -254 -310 -400 -300 -365 -470 -340 -415 -535 -380 -465 -600 -425 -520 -670 -470 -575 -740 -520 -640 -820 -580 -710 -920 -11 -9 -11 -9 -102 -122 -102 -120 -146 -124 -146 -178 -144 -172 -210 -170 -202 -248 -190 -228 -280 -210 -252 -310 -236 -284 -340 -258 -310 -385 -284 -340 -425 -315 -385 -475 -350 -425 -525 -390 -475 -590 -435 -530 -660 -490 -595 -740 -540 -660 -820 -13 -10 -4 0 -15 -12 -4 0 -15 -12 -4 0 -17 -14 -5 0 -17 -14 -5 0 -20 -14 -5 0 100 120 120 140 140 160 160 180 180 200 200 225 225 250 250 280 280 315 315 355 355 400 400 450 450 500 over 10 -13 -10 -4 0 -100 -134 -108 -146 -122 -166 -130 -180 -140 -196 -158 -218 -170 -240 11 -15 -12 -4 0 12 -17 -14 -5 0 12 -20 -14 -5 0 11 -21 -16 -5 0 13 -21 -16 -5 0 -1050 -1350 -1200 -1550 -650 -790 -1000 -1300 -1700 -730 -900 -1150 -1500 -1900 -820 -920 -1300 -1650 -2100 1000 -1450 -1850 -2400 1100 -62 -108 -190 -268 -62 -114 -208 -294 -68 -126 -232 -330 -68 -132 -252 -360 48 59 -23 -17 -6 0 25 25 -23 -17 -6 0 -1600 -2100 -2600 1000 1250 Y Z ZA ZB ZC Up to (Incl.. For ITs 6 & 7 refer to table below.

) Fundamental Deviation (Es ) Teknik Pemesinan .. over Up to (Incl. ) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Fundamental Deviation (Es ) P7 -6 -9 -12 -15 -15 -18 -18 -21 -21 -26 -26 -30 -30 -36 -36 -36 -41 -41 -41 -47 -47 -51 -51 -55 -55 P7 P7 -6 -8 -9 -11 -11 -14 -14 -17 -17 -21 -21 -24 -24 -28 -28 -28 -33 -33 -33 -36 -36 -41 -41 -45 -45 P7 R6 -10 -12 -16 -20 -20 -24 -24 -29 -29 -35 -37 -44 -47 -56 -58 -61 -68 -71 -75 -85 -89 -97 -103 -113 -119 R6 R7 -10 -11 -13 -16 -16 -20 -20 -25 -25 -30 -32 -38 -41 -48 -50 -53 -60 -63 -67 -74 -78 -87 -93 -103 -109 R7 S6 -14 -16 -20 -25 -25 -31 -31 -38 -38 -47 -53 -64 -72 -85 -93 -101 -113 -121 -131 -149 -161 -179 -197 -219 -239 S6 S7 -14 -15 -17 -21 -21 -27 -27 -34 -34 -42 -48 -58 -66 -77 -85 -93 -105 -113 -123 -138 -150 -169 -187 -209 -229 S7 -37 -43 -49 -60 -69 -84 -97 -115 -127 -139 -157 -171 -187 -209 -231 -257 -283 -317 -347 T6 -33 -39 -45 -55 -64 -78 -91 -107 -119 -131 -149 -163 -179 -198 -220 -247 -273 -307 -337 T7 T6 T7 U6 -18 -20 -25 -30 -30 -37 -44 -55 -65 -81 -96 -117 -137 -163 -183 -203 -227 -249 -275 -306 -341 -379 -424 -477 -527 U6 U7 -18 -19 -22 -26 -26 -33 -40 -51 -61 -76 -91 -111 -131 -155 -175 -195 -219 -241 -267 -295 -330 -369 -414 -467 -517 U7 -36 -43 -51 -63 -76 -96 -114 -139 -165 -195 -221 -245 -275 -301 -331 -376 -416 -464 -519 -582 -647 V6 -32 -39 -47 -59 -72 -91 -109 -133 -159 -187 -213 -237 -267 -293 -323 -365 -405 -454 -509 -572 -637 V7 V6 V7 X6 -20 -25 -31 -37 -42 -50 -60 -75 -92 -116 -140 -171 -203 -241 -273 -303 -331 -376 -416 -466 -516 -579 -649 -727 -807 X6 X7 -20 -24 -28 -33 -38 -46 -56 -71 -88 -111 -135 -165 -197 -233 -265 -295 -323 -368 -408 -455 -505 -569 -639 -717 -797 X7 -59 -71 -89 -109 -138 -168 -207 -247 -293 -333 -373 -416 -461 -511 -571 -641 -719 -809 -907 -987 Y6 -55 -67 -85 -105 -133 -163 -201 -241 -285 -325 -365 -408 -453 -503 -560 -630 -709 -799 -897 -977 Y7 Y6 Y7 Z6 -26 -32 -39 -47 -57 -69 -84 -107 -131 -166 -204 -251 -303 -358 -408 -458 -511 -566 -631 -701 -781 -889 -989 -1087 -1237 Z6 Z7 -26 -31 -36 -43 -53 -65 -80 -103 -127 -161 -199 -245 -297 -350 -400 -450 -503 -558 -623 -690 -770 -879 -979 -1077 -1227 Z7 Up to over (Incl.__________________________________________________Lampiran Important Note: For Fundamental deviations (P to Z) For ITn = 6 & 7 refer to table below.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 9. ISO Hole Nearest Dim to Zero (Fundamental Deviation). Teknik Pemesinan . Holes sizes 400-3150mm.

) Fundamental Deviation (El ) Fundamental Deviation (Es ) Teknik Pemesinan .Deviations in μmetres = (m -6) Up to over ( Incl.) 500 560 630 710 800 900 1000 1120 1250 1400 1600 1800 2000 2240 2500 2800 560 630 710 800 900 1000 1120 1250 1400 1600 1800 2000 2240 2500 2800 3150 Fundamental Deviation (El ) D 260 260 290 290 320 320 350 350 390 390 430 430 480 480 520 520 D E F G H __________________________________________________Lampiran Fundamental Deviation (Es ) JS IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 JS K 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 K M N P -78 -78 -88 -88 -100 -100 -120 -120 -140 -140 -170 -170 R -150 -155 -175 -185 -210 -220 -250 -260 -300 -330 -370 -400 -440 -460 -550 -580 R S -280 -310 -340 -380 -430 -470 -520 -580 -640 -720 -820 -920 T -400 -450 -500 -560 -620 -680 -780 -840 -960 U -600 -660 -740 -840 -940 -1050 -1150 -1300 -1450 145 76 145 76 160 80 160 80 170 86 170 86 195 98 195 98 22 0 22 0 24 0 24 0 26 0 26 0 28 0 28 0 -26 -44 -26 -44 -30 -50 -30 -50 -34 -56 -34 -56 -40 -66 -40 -66 -48 -78 -48 -78 -58 -92 -58 -92 220 110 30 0 220 110 30 0 240 120 32 0 240 120 32 0 260 130 34 0 260 130 34 0 290 145 38 0 290 145 38 0 E F G H -1050 -1600 -1200 -1850 -1350 -2000 -68 -110 -195 -68 -110 -195 -76 -135 -240 -76 -135 -240 M N P -1000 -1500 -2300 -1100 -1650 -2500 -1250 -1900 -2900 -1400 -2100 -3200 S T U Up to over ( Incl.

Penyimpangan fundamental dari ukuran 250 sampai dengan 3150 mm.__________________________________________________Lampiran Lampiran 10. Ukuran Nominal (mm)/D Dari IT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 6 8 12 16 23 32 52 81 7 9 13 18 25 36 57 89 8 10 15 20 27 40 63 97 250 315 400 500 630 800 1000 1250 1600 2000 2500 Penyimpangan ( dalam μm) 9 11 16 22 32 44 70 10 13 18 25 36 50 80 11 15 21 28 40 56 90 13 18 24 33 47 66 15 21 29 39 55 78 18 25 35 46 65 92 22 30 41 55 78 26 36 50 68 96 sampai 315 400 500 630 800 1000 1250 1600 2000 2500 3150 110 135 105 125 150 175 210 110 125 140 165 195 230 280 330 130 140 155 175 200 230 260 310 370 440 540 210 230 250 280 320 360 420 500 600 700 860 320 360 400 440 500 560 660 780 920 1100 1350 520 570 630 700 800 900 1050 1250 1500 1750 2100 810 890 970 1100 1250 1400 1650 1950 2300 2800 3300 1300 1400 1550 1750 2000 2300 2600 3100 3700 4400 5400 Teknik Pemesinan .

1990. 1996. Bandung: ITB Headquartes Department of The Army USA. Tabellenbunch Metall.m. Emco Maier EMCO MAIER Ges.htm). 2007. Machine Shop 3 : "Milling Machines" Tool Holding (http://its.edu/machshop3/ basicmill/default. Austria. All about Machine Tools. Student’s Handbook Ges. Rohrer. Emco Maier CNC TU-3A. Training Circular N0 9-524 : Fundamentals of Machine Tools . 2007.m. Fox Valley Technnical College.htm). Cutting Tool (www.htm). 1991. George Schneider Jr. 560 Wuppertal 2. Austria. 2007. Schiling. Applications. (1990).H. Heinrichi. Hand Out Politeknik Manufaktur Bandung. Austria. Student’s Handbook Ges. Fox Valley Technnical College. Keliner Werth 50.___________________________________________Daftar Pustaka EMCO.Hallein. A-5400 Hallein. Headquartes Department of The Army USA : Washington DC Teknik Pemesinan . Kilgus.bh. EMCO MAIER Ges. Students’s Handbook EMCO TU-2A. EMCO. Fox Valley Technnical College.com). Leopold. 1990. (1990). 1991.fvtc. (1974).m. Machine Shop 3 : Milling Machine"Accessories(http://its. Bandung: ITB Hand Out Politeknik Manufaktur Bandung.m. Teori Gerinda Datar. Fischer.Hallein. Prentice Hall Gerling. New Delhi: Wiley Eastern. Austria. A-5400 Hallein. CNC TU-2A.toolingandproduction.edu/ machshop3/basicmill/default.bh.fvtc.fvtc. Machine Shop 3 : "Types of Milling Machines"Work Holding(http://its. Teacher’s Handbook EMCO TU-2A.H. Teori Gerinda Silindris.edu/ machshop3/basicmill/default.b.b.

Fitting&Assembly. 2007. Metal Cutting Processes1– Turning.hk/handout/handout. http://mmu.edu.htm The Hong Kong Polytechnic University. 2007.polyu. 1998.hk/handout/handout.hk/handout/handout.edu. Taufiq Rochim.ic.mfg.html).edu/marc/ primers/turning/turn. Metal Cutting Processes2Milling.ic.ic.htm Teknik Pemesinan . http://mmu. 2007. Basic Machining andFitting.polyu.polyu.edu.htm The Hong Kong Polytechnic University. A TUTORIAL ON CUTTING FLUIDS IN MACHINING.mfg. 2007. http://mmu.mtu. Sutherland.polyu..htm Marking Out.edu.hk/handout/handout. (1990). Bandung: Politeknik Manufaktur Bandung. http://www.html#cfintro_name. (1993).mtu.htm The Hong Kong Polytechnic University.___________________________________________Daftar Pustaka John W. Teori Kerja Bor. Measurement. http://mmu. Michigan Technological University's Turning Information Center : Michigan ----------------. Turning (www.polyu. Bandung: Proyek HEDS. Taufiq Rochim.edu.ic. The Hong Kong Polytechnic University. 2007. The Hong Kong Polytechnic University. http://mmu.hk/handout/handout. Safety Instruction.edu/testbeds/cfest/fluid. 2007.ic. Teori & Teknologi Proses Pemesinan.

183 axis. 295. 519. 368. 166. 20. 263. 465. 311. 234. 306 drilling. 178. 33. 472. 453. 468. 171. 212. 286. 192. 14. 41. 171. 26. 354. 359. 286. 207. 186. 370. 208. 498 gerak makan. 445. 341. 446. 22. 49. 172. 185. 295. 289. 522 collet. 163. 159. 39. 37 cekam. 310. 283. 506 F face milling. 336. 261. 28. 265. 483. 352. 205. 316. 36. 29. 38. 213. 406 attachment. 472 B bantalan. 41. 495 Teknik Pemesinan . 23. 247. 351. 44. C _____________________________________________________Indeks A absolut. 489. 316. 493 cutting. 304. 218. 254. 379. 18. 213. 353. 188. 365. 38. 155. 99. 232. 348. 470. 33. 191. 41. 299. 300. 243. 153. 203. 174. 485. 357. 249. 65. 466. 12. 379 E EDM. 487. 218. 451. 358. 295. 181. 317. 317. 467 D dial indicator. 493. 43. 306. 160. 476. 467. 170. 202. 87. 270. 186. 160. 19. 87. 484. 368. 37. 406. 306. 492. 161. 213. 446.LAMPIRAN. 202. 224. 298. 174. 348. 474. 368. 16. 198. 365. 491. 359. 473. 367. 472. 370. 153. 14. 252. 352. 402 column. 206 energi. 402 cetakan. 354. 171. 250. 53. 253. 224. 9. 46. 198. 287. 161. 269 current. 483. 201. 264. 464. 358. 263. 488. 242. 190. 159. 371. 341. 266. 355. 447. 161. 491. 34. 277 gerinda. 39. 35. 39. 205. 219. 8. 457. 159. 262. 256. 300. 211. 21. 310. 39. 168. 17. 459. 259 elektrode. 185. 198. 162. 347. 458. 51. 237. 492. 493. 6. 489 asutan. 208. 286. 309. 473. 406. 281. 188. 182. 68. 488. 353. 170. 162. 267. 192. 227. 165. 467. 218. 379. 465. 38. 252. 358. 45. 246. 221. 268. 350. 28. 334. 194. 200 dielectric. 171. 317. 351. 185. 162. 86. 206. 515. 172. 491. 489. 244. 47. 315. 280. 50. 311. 183. 507. 31. 406. 41. 317. 468. 244. 210. 223. 292 G ganda. 20. 315. 451. 2. 214. 247. 309. 21. 54. 48. 402 baut. 502 alarm. 297. 486. 245 CNC. 217. 402. 208. 182. 106. 468. 464. 179. 308. 460 counterboring. 269. 290. 458. 146. 470. 34. 38. 262. 265. 280. 406. 220. 256. 298. 454. 456. 165. 158. 41. 450. 317. 258. 194. 490. 193. 53. 447. 492 clamp. 221 clearance. 406 boring. 359. 448. 200. 175. 307. 234. 6. 194. 160. 489. 456. 252. 273. 401. 31. 229. 303. 466. 234. 207 dresser. 220. 359. 257. 469. 200. 93. 11. 212. 494. 217. 213. 112. 504 diamond. 263. 486. 191. 159. 292. 487. 508. 175. 482 dimetris. 238. 227. 256. 282. 359. 209. 449. 402. 69 C casting. 168. 36. 218. 170. 158. 200. 260. 371. 242. 472. 113 disket. 350. 171. 337. 370. 371. 503. 359. 210. 218. 462. 490. 458. 92. 356. 481. 379. 309. 171. 494 end mill. 311 diameter. 212. 406. 507 eksentris. 5. 219. 469. 259. 41. 172. 338. 161. 12. 168. 334. 8. 482. 317. 39. 30. 310. 455 ferro. 175. 402. 212. 244 bubut. 245. 208. 379. 406 alur. 406. 352. 247 gaya. 302. 32. 234. 259. 94. 172. 199. 266. 269. 209. 482. 467 down milling. 214. 358. 162. 206 feed. 448. 217. 475. 251. 10. 317 bor. 467. 165. 161. 7. 244. 367. 198. 229. 35. 162. 497 geometri. 224. 302. 487. 200. 3. 310. 458. 465. 359. 220. 379. 359. 406 end milling. 477. 295. 364. 4. 161. 290.

170. 154. 167. 206. 225. 108. 496. 232. 178. 87. 39. 226. 185. 63 kecepatan potong. 253. 337. 486. 489. 191. 161. 304. 247. 188. 251. 277. 491. 473. 182. 182. 267. 214. 21. 379. 188. 242. 406 mineral. 18. 502 isolator. 263. 317. 250 manual. 164. 210 knurling. 449. 406. 162. 493 P pahat. 249. 483 konversi. 490. 262. 23. 502 H helix. 205. 22. 379 knee. 245. 487. 168. 501. 406. 212. 482. 213. 406. 29. 168. 94. 7. 193. 466. 503. 506 grooving. 22. 8. 262 mur. 41. 311. 111. 467. 492. 186. 269. 166. 161. 169. 402 horisontal. 174. 8. 359. 170. 188. 57. 19. 249. 311. 458. 62. 290. 223. 212. 49. 307 lead. 295. 303. 249. 61. 512. 163. 492 kartel. 175. 336. 468. 171. 491. 252. 214. 165. 493. 243. 498. 176. 262. 266. 247. 310. 257. 201. 502. 163. 214. 252. 194. 307. 160. 191. 252. 95 mikrometer. 21. 185. 358. 46. 308. 30. 160. 268. 160. 9. 90 O overcut. 317. 126. 62. 527. 93. 253. 51. 170. 87. 49. 209. 337. 42. 172. 94. 265. 34 Graphite. 202. 317 J jam ukur. 263. 159. 172. 159. 500. 160. 488. 112 HSS. 84. 84 L lathe. 406 material. 259. 190. 39. 289. 406. 497. 192. 247. 242. 66. 235. 317. 522 mata bor. 39. 359. 492 kedalaman potong. 489. 265. 216. 229. 246. 317. 6. 112 M machine. 336. 248. 182. 162. 167. 484 ISO. 472 gurdi. 200. 295. 153. 379. 190. 37. 24. 155. 406 I imperial. 164. 295. 245. 43. 14. 334. 501. 94. 185. 234. 57._____________________________________________________Indeks gips. 339. 244. 198. 450 kopel. 120. 28. 246. 345. 6. 354. 163. 177. 498. 39. 317. 56. 346 momen. 491 konduktor. 90. 254. 503 metris. 266. 266. 470 mal. 277. 167. 511. 462. 163 ion. 267. 166. 451. 47. 193. 248. 305 insert. 176. 340. 33. 529. 338. 227. 270. 287. 265. 343. 214. 250. 58. 489. 257. 160. 253. 337. 110. 247 holder. 235. 47. 263. 351. 191. 168. 200. 198. 317. 94 K karbida. 106. 469. 307. 316. 504. 286. 490. 243. 39. 198. 127. 254. 244. 466. 247. 337. 353. 507 grinding. 230. 162. 161. Teknik Pemesinan . 31. 161. 486. 190. 234. 491. 41. 224. 7. 467. 237. 239. 234. 200 komparator. 139. 181. 483 isometris. 108. 17. 212. 173. 235. 172. 218. 240. 216. 15. 176. 33. 188. 359. 502 N nonferro. 341. 106. 245. 95. 23. 273. 246. 175. 356. 57. 379. 261. 158. 205. 12. 466. 207. 212. 60. 38. 308. 227. 213. 33. 95. 247. 402. 178. 219. 317. 96 indicator. 208. 337. 173. 244. 38. 237. 203 kebisingan. 335. 262. 260. 183. 92 milling. 472. 268. 18. 467 kekerasan. 193. 212. 499. 105. 239. 194 lubang. 207. 227. 159. 169. 266. 246. 242. 177. 21 nonius. 109. 231. 235. 311. 105. 311. 190. 43. 175. 67 kisar. 234. 205. 212. 91. 184. 89. 28. 158. 499. 266. 309. 57. 446. 173. 215. 265. 209. 353 keselamatan. 162. 337. 496 kepala lepas.

113. 200 planner. 258. 340. 17. 471. 466. 379. 168. 311. 248. 476. 467. 307. 230. 5. 476. 462. 482 sinus. 298. 308. 158. 461. 203. 317. 317. 466. 232. 173. 227. 272. 359. 186. 454. 3. 132. 446. 359. 469. 115. 188. 243. 224. 473. 466. 451. 242. 376. 370. 335. 512 skala. 178. 459. 368. 2. 466. 241. 175. 105. 283. 489. 112. 180. 309. 472. 379. 308. 449. 265. 270. 351. 37. 477. 235. 335. 36. 496. 53. 135. 290. 208. 317. 371. 468. 191. 461. 450. 297. 447. 145. 3. 90. 109. 179. 198. 144. 458. 193. 447. 254. 202. 277. 4. 205. 334. 167. 42. 224. 269. 94. 93. 337. 194. 339. 181. 116. 449. 81. 119. 213. 338. 108. 40. 171. 265. 298. 494. 497 perspektif. 193. 454. 467 plotter. 258. 192. 17. 448. 452. 159. 86. 458. 163. 253. 183. 220. 304. 277. 273. 371. 192. 406 setting. 188. 113. 93. 247. 402. 176. 260. 47. 261. 457. 311. 459. 469. 401. 190. 38. 51. 186. 185. 185. 34 resultan. 207. 231. 5. 131. 472. 190. 275. 468. 455. 308. 482. 160. 234. 120. 200. 201. 489. 368. 357. 459. 194. 159. 454. 365. 369. 4. 272. 234. 211. 272 sparks. 352. 262. 406 stamping._____________________________________________________Indeks 179. 201. 277. 406. 476. 232. 181. 216. 270. 406. 36. 455. 250. 165. 252. 346. 466. 475. 87. 406. 505 pemrograman. 172. 336. 8. 213. 334. 448. 208. 242. 451. 303. 161 pemesinan. 211. 351. 229. 379. 474. 295. 229. 185. 28. 208. 473. 447. 273. 276. 459. 280. 224. 270. 194 proyeksi. 182. 402. 469. 307. 214. 345. 499. 317 profil ulir. 371. 251. 38. 489. 275. 487. 207. 243. 259. 338. 110. 32. 165. 371. 237. 39. 219. 249. 456. 245. 370. 471. 341. 456 sekrap. 246. 465. 270. 406 sudut. 496. 307. 454. 281. 315. 21. 209. 340. 188. 511. 357. 303. 406 rake. 345. 191. 356. 340. 447. 493 spindel. 317. 191. Teknik Pemesinan . 193. 139 pulley. 359. 41. 406. 502 R ragum. 131. 6. 162. 219. 239. 365. 39. 268. 194. 182. 283. 16. 181. 511. 121. 470. 340. 503. 454. 270. 454 Sinker EDM. 17. 493. 11. 154. 45. 353. 81. 41. 15. 181. 174. 185. 193. 173. 166. 266. 231. 34. 334. 249. 93. 346. 187. 182. 253 slotter. 457. 83. 353. 112. 343. 379. 359. 476. 158. 501. 370. 190. 336. 462. 468. 194. 354. 487 pendingin. 89. 206. 344. 262. 136. 249. 304. 212. 368. 247. 183. 294. 235. 39. 465. 337. 317. 306. 235. 465. 51. 498. 10. 371. 14. 211. 270. 224. 164. 406. 344. 348. 7 poros. 406 poligon. 464. 472. 41. 476 spindle. 213. 365. 18. 359. 406. 501 perkakas. 185. 191. 38. 165. 211. 113. 6. 202. 495 reaming. 279. 469. 129. 227. 449. 472. 348. 240. 249. 460. 186. 53. 378. 222. 281. 459. 341. 488 step motor. 406. 289. 7. 212. 92. 270 simetris. 20. 502 portable. 489. 486. 359. 52. 309. 336. 406. 201. 200. 446. 473. 504 screw. 182. 193. 236. 18. 293. 342. 51. 379. 246. 448. 181. 16. 6 S satuan. 287. 238. 454. 166. 359. 472. 503 simulasi. 16. 182. 38. 359. 198. 184. 113 pitch. 279. 89. 379. 337. 350. 464. 353 putaran. 244. 238 profil. 162 Ram EDM. 94. 276. 370. 365. 456 sleeve. 300. 178. 476 perencanaan. 7. 496. 247. 352. 317. 252. 230. 95. 286. 492. 46. 108. 453. 191. 162. 458. 229. 82. 503. 341. 282. 161. 110. 486. 306. 446. 462. 482. 276. 234. 184. 406 shaping. 460 senter. 221. 472. 239. 497. 19. 246. 172. 241. 160. 172. 303. 212. 130. 191. 226. 4. 173. 159. 283. 217. 457. 317. 338. 41. 220. 170. 401. 447. 456. 446. 259. 247. 446. 158. 260. 311. 294 sisipan. 225. 359. 357. 225. 470. 229. 87. 293. 352. 244. 112. 146. 191. 467. 220. 91. 102. 468. 137. 512 parameter. 243. 188. 109. 304. 460. 311. 341 resin. 379. 476 parting-off. 120. 212. 190. 111. 348. 177. 487. 237. 257. 379. 270. 311. 451. 31. 454. 217. 253. 240. 334. 379. 214. 273 plastik. 475. 449.

269. 254. 304 up milling. 461. 273. 161. 455. 406. 305. 273. 207 V vektor. 358. 302. 265. 183. 317. 240. 511. 53. 306. 467. 283. 190. 207. 473. 267 universal. 112. 365. 93. 194 sumbu. 466. 6. 162. 234 T tap. 113. 467. 176. 136. 194. 176 training unit. 402. 161._____________________________________________________Indeks 252. 15. 406 vise. 108. 22. 266. 144. 242. 464. 191. 370. 489. 459. 495 swivel. 161 threading. 475. 17. 158. 192. 173. 352. 246. 230. 5. 351. 38. 87. 379. 317. 357. 295. 240. 94. 128. 454. 406. 241. 336. 208. 19. 302. 368. 492 turbin. 190. 146. 462. 11. 193. 491. 495 sudut ulir. 116. 191. 191. 201. 452. 270. 448. 277. 460. 41. 317. 36. 173. 518. 119. 187. 218. 472 tirus. 508. 456 tunggal. 111. 219. 449. 371. 494. 509 U ulir. 176. 402. 317. 182. 369. 186. 268. 117. 186. 446. 186. 489 temperatur. 371. 158. 354. 87. 335. 194. 54 turning. 238. 158. 140. 316. 317. 170. 151. 190. 359. 200. 173. 379. 16. 253. 183. 266. 402. 483. 306. 461. 401. 489. 253. 41. 289. 218. 109. 450. 259. 486. 267. 186. 294. 172. 173. 365. 174. 110. 459 vertikal. 521 tool post. 185. 185. 38. 447. 491. 192. 341. 194. 158. 294. 191. 163. 337 taper. 253. 174. 225. 342. 183. 352. 451. 484. 2. 334. 159. 4. 10 Teknik Pemesinan . 269 tegangan. 217. 187. 237. 18. 167. 468. 506. 348. 485. 489. 183. 359 tungsten. 158. 304. 252. 137. 370. 191. 254. 257. 12. 57. 184. 371. 406. 171. 188. 146. 254 W Wire EDM. 184. 166. 402 transmisi. 359. 487. 49. 369. 222. 6. 51. 21. 39. 353. 118. 218. 20. 277. 364. 242. 492. 492. 495 workshop. 459. 523 ulir metris. 298. 141. 158. 12. 497 thread. 356. 458. 8. 265. 43. 495 tool. 39. 266. 279. 494. 482. 277. 490. 218 tapping. 14. 342. 270. 46. 174. 221. 253. 239. 359. 311. 379. 295. 250.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful