Widarto

TEKNIK PEMESINAN
JILID 1 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PEMESINAN
JILID 1
Penulis

Untuk SMK
: Widarto

Perancang Kulit

: TIM

Ukuran Buku WID t

:

17,6 x 25 cm

WIDARTO Teknik Pemesinan Jilid 1 untuk SMK /oleh Widarto ---Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xii, 256 hlm Daftar Pustaka : Lampiran. A Lampiran : Lampiran. B Index : Lampiran. C ISBN : 978-979-060-115-4 ISBN : 978-979-060-116-1

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

PENGANTAR UMUM

Teknik Pemesinan

i

Bab 10 Mengenal Proses Gerinda (Grinding). Bab 3 Merealisasi Kerja yang Aman. Sebagai permulaan. 3. Bab 4 Memahami Kaidah Pengukuran. Bab 14 Mengenal EDM.). Bab 8 Mengenal Proses Gurdi (Drilling). Mengenal Proses Pemesinan. Buku Teknik Pemesinan ini terdiri dari 15 Bab. Bab 11 Mengenal Cairan Pendingin yang Dipakai dalam Proses Pemesinan. Untuk mempermudah pemahaman. Bab 6 Mengenal Proses Bubut (Turning). Bab 5 Memahami Gambar Teknik. dan Mesin Konversi Energi. Oleh karena itu. 2. Mengenal Komponen Mesin. Dimulai dari Bab 1 tentang Memahami dasar-dasar Kejuruan. yaitu: Proses pemotongan dengan mesin las Proses pemotongan dengan mesin pres Proses pemotongan dengan mesin perkakas Proses pemotongan non-konvensional (Electrical Discharge Machining. Dalam istilah teknik. dan Mengenal Material dan Mineral. Dilanjutkan Bab 2 Memahami Proses-proses Dasar Kejuruan yang menjelaskan Proses Pengecoran Logam. proses pemotongan logam dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok dasar. Bab 1 Memahami Dasar-dasar Kejuruan menjelaskan tentang Statika dan Tegangan. materi buku ini dibuat dengan menganut sistematika pembahasan sebagaimana yang akan dibahas pada beberapa alinea berikut. Bab 12 Memahami Mesin CNC Dasar. Bab 13 Memahami Mesin CNC Lanjut. buku ini hanya akan membahas kelompok ke-3 yaitu proses pemotongan dengan menggunakan pahat potong yang dipasang pada mesin perkakas dan kelompok ke-4. dsb. roses pemotongan logam merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengubah bentuk suatu produk (komponen mesin) dari logam dengan cara memotong. Teknik Pemesinan ii . Bab 2 Memahami Proses-proses dasar Kejuruan. Mengenal Proses Pengerjaan Panas. 4. yang memuat secara rinci hampir semua proses pemesinan yang biasa dipakai dalam proses produksi dan hal-hal yang terkait dengan proses pemesinan. untuk menghindari kesalahpahaman tentang istilah maka selanjutnya dipilih nama yang terakhir yaitu proses pemesinan.P 1. Dari keempat proses pemotongan tersebut. dan Bab 15 Memahami Toleransi Ukuran dan Geometrik. Chemical Milling. Bab 9 Mengenal Proses Sekrap (Shaping). proses ini sering disebut dengan nama Proses Pemotongan Logam (Metal Cutting Process) atau Proses Pemesinan (Machining Process). khususnya mesin EDM (Electrical Discharge Machining). Laser Beam Machining. Berdasarkan pada cara pemotongannya. Bab 7 Mengenal Proses Frais (Milling).

setting mesin. penentuan jenis pemotongan. Bab 5 Memahami Gambar Teknik yang memberikan penjelasan Mengenal Alat Menggambar Teknik. perencanaan proses membubut. Bahasan terakhir ini sangat penting untuk diperhatikan dalam setiap pekerjaan pemesinan. eksentris. serta Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas. mesin. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran. Alat Perlindungan Diri. dan kecepatan terjadinya beram. yang dilanjutkan dengan membahas sistem satuan yang digunakan dalam proses pemesinan. Bab 4 Memahami Kaidah Pengukuran. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran. membahas alat ukur yang umum digunakan dalam pekerjaan pemesinan yaitu jangka sorong. Manajemen Bahaya. Selanjutnya dibahas geometri pahat yang menguraikan besaran sudut pada pahat bubut.Berikutnya Bab 3 Merealisasi Kerja yang Aman. yang terdiri dari sudut beram (rake angle). ulir. menguraikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). lebih detail dijelaskan mulai dari material pahat (yaitu baja karbon sampai dengan keramik dan intan. mulai dari membubut lurus. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi. tirus. penentuan kondisi pemotongan. penentuan langkah kerja (meliputi persiapan bahan benda kerja. Teknik Pemesinan iii . Maklum. yaitu sistem Metris (Metric system) dan sistem Imperial (Imperial system/British system). proses bubut adalah proses pemesinan yang sering digunakan dalam proses produksi. Kemudian dipaparkan mengenai alat bantu produksi. Pada sub-Bab terakhir. gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut). Bab ini menguraikan parameter yang diatur pada Mesin Bubut. maupun alat-alat perkakasnya. kecepatan makan. pemilihan mesin (dengan pertimbangan yang mendasar adalah dimensi benda kerja yang yang akan dikerjakan). dan jam ukur (dial indicator). membahas tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. perhitungan waktu pemotongan. pemasangan pahat. membuat profil. dan proses pembubutan cembung maupun cekung. Bab 6 membahas Proses Bubut (Turning) yang merupakan Bab yang paling banyak isinya. Lembar Kerja. dan jenis-jenis Mesin Bubut. dan sudut sisi potong (cutting edge angle). Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed). mikrometer. alur. dan pemeriksaan hasil berdasarkan gambar kerja). mengkartel. dan Membaca Gambar Teknik. agar pekerja selalu menjaga keamanan dan keselamatan baik bagi operatornya. Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (noise). Pencahayaan. sudut bebas (clearance angle). Pada bahasan mengenai proses bubut ini diakhiri dengan uraian tentang perencanaan dan perhitungan dalam proses bubut yang diawali dengan penjelasan tentang elemen dasar proses bubut yang dapat dihitung yaitu kecepatan potong. Fasilitas Penunjang.

Dibahas juga tentang metode kerja Mesin Frais yang ditentukan berdasarkan arah relatif gerak makan meja Mesin Frais terhadap putaran pahat. gerak makan (f). Sub-Bab berikutnya elemen dasar proses frais yang menjelaskan tentang kecepatan potong. Mesin Gurdi radial. serta perencanaan proses bor. Dijelaskan pula alat pencekam dan pemegang benda kerja yang menjelaskan pemegang benda kerja pada Mesin Frais dan beberapa macam asesoris yang berguna untuk membantu pengaturan Mesin Frais maupun penempatan benda kerja. ). Mesin Gurdi vertical. Bab 8 menjelaskan tentang proses pembuatan lubang bulat dengan menggunakan mata bor (twist drill) yang disebut dengan Proses Gurdi (Drilling). dan sudut bebas (clearance angle. dan kedalaman potong (a). waktu pemotongan. gerak makan per gigi. dan posisi relatif pahat terhadap benda kerja. Pada Bab ini dimulai dari pengertian Mesin Gurdi dan jenis-jenisnya. dan special purposes. Mesin Gurdi peka. Setelah diketahui perkakas Mesin Gurdi selanjutnya dijelaskan mengenai geometri mata bor (twist drill) yang berisi tentang sudut-sudut pada mata bor yaitu sudut helik (helix angle). Pada Bab ini diawali dari klasifikasi proses frais yang diklasifikasikan dalam tiga jenis yaitu berdasarkan jenis pahat. Mesin Gurdi produksi. Elemen dasar atau parameter proses gurdi pada dasarnya sama dengan parameter proses pemesinan yang lain. Mesin Gurdi turret. Diuraikan juga tentang pencekaman mata bor dan benda kerja yang berisi tentang alat pencekaman dan cara pencekaman yang benar. tool holder. pencekam mata bor. yakni hanya menguraikan apa itu Mesin Sekrap dan jenisTeknik Pemesinan iv . boring head. Kemudian jenis-jenis Mesin Frais. sudut ujung (point angle /lip angle. dan Mesin Gurdi lubang dalam. peralatan sebagai alat bantu Mesin Frais terdiri dari arbor. kecepatan pembentukan beram dan diakhiri dengan contoh-contoh pengerjaan benda kerja yang terdiri dari proses frais datar/rata (surface milling) dan proses frais roda gigi. Dilanjutkan parameter pada proses frais yaitu parameter yang dapat langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang mengoperasikan Mesin Frais : putaran spindel (n). arah penyayatan. sarung pengurang. klem set. Dan pada akhir bab ini. Kemudian dibahas tentang perkakas Mesin Gurdi yang terdiri dari ragum. dan momen puntir yang diperlukan pada proses gurdi. dan mata bor. Pada Bab 9 dijelaskan Proses Sekrap (Shaping). Mesin Gurdi dikelompokkan menjadi Mesin Gurdi portable. Bab ini cukup singkat. Mesin Gurdi spindel jamak. terdiri dari column and knee milling machines. dibahas tentang elemen dasar pada proses gurdi. landasan (blok paralel). dan kolet. gerak makan. pasak pembuka. dan kedalaman potong perlu dipertimbangkan pula gaya aksial. 2 r). Metode proses frais ini ada dua yaitu frais naik (up milling) dan frais turun (down milling). Berikutnya diuraikan geometri pahat frais. bed type milling machines. akan tetapi dalam proses gurdi selain kecepatan potong.Bab 7 menjabarkan Proses Frais (Milling).

dan dikabutkan (mist application of fuid). tingkat kekerasan (grade). Dibahas juga pengaruh Cairan Pendingin pada proses pemesinan sebagai fungsi utama dan dapat juga sebagai fungsi kedua. kemudian apa saja elemen dasar Mesin Sekrap. ukuran butiran asahan. Dan di akhir Bab ini diuraikan tentang perawatan serta pembuangan Cairan Pendingin yang benar dan aman. Bab 12 menguraikan tentang Mesin CNC Dasar. spesifikasi batu gerinda dan pemasangan batu gerinda. susunan butiran asah. Untuk batu asah dipaparkan mengenai jenis-jenis butir asahan. serta bagaimana pengoperasiannya. Jenis Mesin Gerinda terdiri dari Mesin Gerinda datar. Teknik Pemesinan v . karena kedua mesin ini merupakan dasar bagi Mesin CNC generasi di atasnya. Dimulai dari jenis-jenis Cairan Pendingin yang biasa dipakai. Ada dua Mesin CNC dasar yang dijelaskan yakni Mesin Bubut TU 2A dan Mesin Frais TU 3A. Selanjutnya dibahas mengenai kriteria pemilihan Cairan Pendingin dilihat dari unjuk kerja proses. dan Mesin Sekrap eretan (planner). yaitu terdiri dari kecepatan potong. disemprotkan (jet application of fluid).jenisnya. macam-macam perekat. bentuk-bentuk batu gerinda. Kemudian dipaparkan cara pemberian Cairan Pendingin yaitu dengan cara manual disiramkan ke benda kerja. Bab 10 yang menjelaskan Proses Gerinda (Grinding). Pada keduanya dijelaskan hal yang mirip. kecepatan pemakanan. Data teknologis pada Mesin CNC sama dengan pada proses pemesinan lainnya. waktu pemotongan. yaitu kecepatan potong. Mesin Sekrap vertical (slotter). dan cairan sintetis (synthetic fluids). Diawali dengan sistem mekanik yang digunakan Mesin CNC. khususnya bagaimana suatu Mesin CNC bekerja. Bab 13 sedikit mengulang Bab 12 dan dilanjutkan membahas Mesin CNC secara lebih detail. cairan semi sintetis (soluble oils semisynthetic fluids). Bab ini membahas lebih jelas dan dalam Mesin CNC. Mesin Perkakas CNC. bagaimana pemrogramannya. pengontrolan sumbu Mesin CNC. terdiri dari minyak murni (straight oils). jumlah putaran. Bab 11 berisi uraian tentang Cairan Pendingin yang biasa dipakai pada proses pemesinan. keamanan terhadap lingkungan dan keamanan terhadap kesehatan. menuliskan jenis-jenis Mesin Gerinda dan menjelaskan batu asah gerinda. sistem koordinat Mesin CNC. dan kecepatan asutan. Untuk elemen proses sekrap pada dasarnya sama dengan proses pemesinan lainnya. klasifikasi batu gerinda. dan pemrograman Mesin CNC. Informasi yang penting dari mesin ini adalah jenis-jenis Mesin EDM dan cara mengoperasikan mesin tersebut. Bab 14 buku ini memberi penjelasan sedikit tentang Mesin EDM (Electrical Discharge Machining). dan Mesin Gerinda silindris. dan kecepatan pembentukan beram. harga. yakni data teknologisnya. Jenis Mesin Sekrap yang ada meliputi Mesin Sekrap datar atau horizontal (shaper).

cara penulisan toleransi ukuran/dimensi. suaian. Keterangan-keterangan di atas disusun sebagai gambaran menyeluruh isi buku ini. sehingga dapat memberikan informasi tentang keilmuan teknik pemesinan kepada para pembaca. toleransi standar dan penyimpangan fundamental. toleransi. khususnya siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Teknik Pemesinan vi . Penulis terus berusaha untuk dapat menyempurnakan isi buku ini.Dan pada Bab 15 memuat penyimpangan ukuran yang terjadi selama proses pemesinan. dengan harapan akan mempermudah bagi para pembaca untuk memahami materi-materi yang telah dituliskan dalam buku ini.

Mengenal Material dan Mineral 1. Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) 9. Pengerolan (Rolling) 2. Berbagai Jenis sumber Daya Mineral 4. Poros 2. Statika dan Tegangan 1. Klasifikasi Proses Pemesinan 2. Bantalan C. MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN A. Penempaan (Forging) D. Pembentukan Beram (Chips Formation) pada Proses Pemesinan C. Mengenal Proses Pemesin 1. Mengenal Proses Mesin Konversi Energi 1. Tegangan B. Statika 2. Kecepatan Pendinginan B. Berbagai Macam sifat Logam 2. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi i vii JILID 1 1 2 2 9 14 14 18 19 19 21 21 22 25 26 26 27 29 29 30 31 31 32 33 35 36 36 38 42 42 43 43 43 43 47 Teknik Pemesinan vii . Mineral 3. atau Plastik Resin. Pengertian 2. Mengenal Proses Pengerjaan Panas 1. Mengenal Elemen Mesin 1. Pembuatan Cetakan Manual 3. Die Casting 10. Pengertian Energi 2. MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN A. Pengecoran Gips. Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting) 5. Mengenal Proses Pengecoran Logam 1. Beton. Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) 7. 8.___________________________________________________Daftar Isi Daftar Isi Halaman Halaman Sampul Pengantar Umum Daftar Isi BAB 1. Macam-Macam Energi 3. Pemurnian Mineral BAB 2. Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) 6. Pengolahan Pasir Cetak 4.

Meja Gambar 9. Peralatan pemadaman kebakaran 6. Mengenal Alat Menggambar Teknik 1. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran J. Alat 2. Penggaris 5. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar 2. Klasifikasi kebakaran 4.___________________________________________________Daftar Isi BAB 3. Jangka Sorong 2. Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise) D. Jangka 6. Alat Perlindungan Diri G. Rapido 4. Lembar Kerja 1. Jam Ukur (Dial indicator) A. Kertas Gambar 2. MEMAHAMI GAMBAR TEKNIK A. MEMAHAMI KAIDAH PENGUKURAN A. Sistem Satuan BAB 5. MEREALISASI KERJA YANG AMAN A. Karakteristik APAR I. Penanganan dan Penyimpanan Bahan H. Manajemen Bahaya C. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) B. Sebab-sebab kebakaran 5. Pensil Gambar 3. Alat Ukur 1. Keselamatan dan Kelematan Kerja Teknik Pemesinan 51 52 53 55 58 64 67 71 75 75 75 76 76 77 79 79 79 80 80 82 83 83 85 87 88 91 92 92 93 95 95 96 98 98 100 100 101 101 101 101 viii . Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/polusi F. Fasilitas Penunjang K. Alat-alat Penunjang Lainnya 8. Mesin Gambar B. Pengendalian titik nyala 3. Mikrometer 3. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas BAB 4. Petunjuk pemilihan APAR 7. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran 1. Pencahayaan E. Bahan 3. Penghapus dan Alat Pelindung Penghapus 7.

___________________________________________________Daftar Isi C. Material Pahat 2. Pencekaman Benda Kerja 4. Perencanaan Proses Membubut Tirus 7. Gambat Perspektif 6. Macam-macam Pandangan 7. Frais Jari (End milling) B. Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut 1. MENGENAL PROSES BUBUT (TURNING) A. Perencanaan Proses Membubut Lurus 6. Penentuan Langkah Kerja 5. Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja pada Mesin Frais Teknik Pemesinan 102 102 103 106 107 107 109 109 114 115 120 130 133 136 142 151 153 155 158 159 163 163 165 167 174 177 188 190 194 196 196 197 197 197 197 198 199 202 203 206 208 ix . MENGENAL PROSES FRAIS (MILLING) A. Simbol Proyeksi dan Anak Panah 9. Pengukuran Ketebalan BAB 6. Perencanaan Proses Membubut Ulir 8. Frais Periperal (slab milling) 2. Klasifikasi Proses Frais 1. Bidang-bidang Proyeksi 8. Frais Turun (Down milling) C. Peralatan dan Asesoris untuk Memegang Pahat Frais G. Garis Arsiran 12. Pemilihan Mesin 3. Geometri Pahat Bubut C. Ukuran Pada Gambar Kerja 13. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Frais E. Penentuan Pandangan 10. Proyeksi Isometris 3. Metode Proses Frais 1. Gambar Potongan 11. Frais Naik (Up milling) 2. Proyeksi Dimetris 4. Membaca Gambar Teknik 1. Perencanaan Proses Membubut Alur 9. Geometri Pahat Frais F. Penulisan Angka Pengukuran 14. Proyeksi Miring (sejajar) 5. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut B. Frais Muka (Face milling) 3. Jenis Mesin Frais D. Proyeksi Piktorial 2. Perencanaan Proses Membubut/membuat Kartel BAB 7.

MENGENAL CAIRAN PENDINGIN UNTUK PROSES PEMESINAN A.___________________________________________________Daftar Isi H. Beberapa Mesin Gurdi yang Dipakai Pada Proses Produksi B. Elemen Dasar Proses Frais I. Perkakas Mesin Gurdi C. Pemasangan Batu Gerinda BAB 11. Perencanaan Proses Gurdi BAB 9. Batu Asah 1. Bentuk-bentuk Roda Gerinda 7. Klasifikasi Batu Gerinda 8. Ukuran Mesin gurdi 4. Jenis-jenis Mesin Gerinda 1. MENGENAL PROSES SEKRAP (SHAPING) A. Susunan Butiran Asah 6. Mekanisme Kerja Mesin Sekrap 3. Proses Frais Datar/rata 2. Mesin Gerinda Silindris B. Jenis-jenis Mesin Sekrap 2. Mesin gurdi (Drilling machine) dan Jenis-jenisnya 1. Elemen dasar Perencanaan Proses Sekrap BAB 10. Jenis-Jenis Mesin Gurdi 3. Nama Bagian-bagian Mesin Sekrap B. Pencekaman Mata Bor dan Benda Kerja F. Macam-macam Perekat 5. Jenis-jenis Butir Asahan/abrasive 2. Tingkat Kekerasan (Grade) 4. Elemen Dasar Proses Gurdi G. Cara Pemberian Cairan Pendingin pada Proses Pemesinan Teknik Pemesinan 212 213 214 218 222 224 224 225 226 226 231 233 237 239 249 251 235 236 236 239 239 242 253 255 255 267 284 285 286 286 287 288 289 290 291 298 300 301 JILID 2 x . Geometri Mata Bor (Twist drill) D. MENGENAL PROSES GERINDA (GRINDING) A. Mesin Gerinda Datar 2. Jenis Cairan Pendingin B. Mesin Gurdi (Drilling machine) 2. Ukuran Butiran Asah 3. MENGENAL PROSES GURDI (DRILLING) A. Mesin Sekrap dan Jenis-jenisnya 1. Pengerjaan Benda Kerja dengan Mesin Frais 1. Proses Frais Roda Gigi BAB 8. Pengasahan Kembali Mata Bor E.

Langkah Persiapan 2. Kriteria Pemilihan Cairan Pendingin E. Sistem Kontrol Terbuka (Open Loop Control) 2.___________________________________________________Daftar Isi C. serta Soal Latihan Bagian II BAB 13. Perawatan dan Pembuangan Cairan Pendingin BAB 12. Sistem Kontrol Tertutup (Close Loop Control) 3. Fungsi M. Mesin Perkakas CNC B. serta Soal Latihan B. Penentuan Sumbu Putar dan Sumbu Tambahan D. Penentuan Sumbu Y 4. Kecepatan Potong dan Putaran Mesin 4. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Cara Setting Pisau terhadap Benda Kerja 6. Kecepatan Potong dan Kecepatan Putar Mesin 4. Penentuan Sumbu X 3. MEMAHAMI MESIN CNC DASAR A. Mesin Bubut CNC 1. Bagian Utama Mesin Bubut CNC TU-2A 3. Cara setting Benda Kerja 7. Sistem Kontrol Absolut dan Sistem Kontrol Incremental C. Pengaruh Cairan Pendingin pada Proses Pemesinan D. MEMAHAMI MESIN CNC LANJUT A. Prinsip Kerja Mesin Bubut CNC TU-2A 2. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Pengontrolan Sumbu Mesin Perkakas CNC 1. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Penentuan Sumbu Z 2. Pemrograman CNC 1. Sistem Kontrol Langsung dan Sistem Kontrol Tidak Langsung 4. Kompensasi Radius Pisau Sejajar Sumbu 8. Prinsip Kerja Mesin Frais CNC TU-3A 2. serta Soal Latihan Bagian I 7. Pengoperasian Disket 6. Pemrograman Mesin CNC 5. Langkah Pelaksanaan Pembuatan Program Teknik Pemesinan 304 305 307 310 311 312 313 323 325 329 331 333 363 363 364 373 374 376 378 389 390 406 410 414 414 415 415 417 417 418 418 420 420 420 424 424 425 xi . Sistem Kontrol Analog dan Sistem Kontrol Digital 5. Mesin Frais CNC 1. Fungsi M. Bagian Utama Mesin Frais CNC TU-3A 3. Penamaan Sistem Sumbu (Koordinat) Mesin Perkakas NC 1. Pengoperasian Disket 5. Fungsi M.

___________________________________________________Daftar Isi 3. Langkah Percobaan 4. Tugas Programmer dalam Pembuatan Program NC 5. Kode dan Format Pemrograman 6. Pengertian Program NC 7. Struktur Program NC 8. Sistem Pemrograman Absolut dan Incremental 9. Kontruksi Program NC 10. Kode G (G-code) dan Fungsi M 11. Pembuatan Program NC BAB 14. MENGENAL EDM A. Gambaran Singkat EDM B. Cara kerja EDM C. Perkembangan Penggunaan EDM D. Penggunaan EDM E. Pemilihan Elektrode F. Jenis Bahan Elekrode G. Pembuatan Eektrode 1. Proses Galvano 2. Pembuatan Elektrode pada Umumnya 3. Pembuatan Elekrode Graphite H. Elektrode untuk Wire EDM I. Kualitas Hasil Pengerjaan EDM 1. Kelebihan Pemotongan (Overcut) 2. Pengerjaan Penghalusan (Fnishing) 3. Penyelesaian Setara Cermin (Mirror finishing) J. Keterbatasan Proses EDM BAB A. B. C. D. E. 15. MEMAHAMI TOLERANSI UKURAN GEOMETRIK Penyimpangan Selama Proses Pembuatan Toleransi dan Suaian Suaian Cara Penulisan Toleransi Ukuan/dimensi Toleransi Standar dan Penyimpangan Fundamental DAN 426 427 429 429 430 431 433 434 435 440 441 441 445 446 447 448 449 449 449 449 450 450 450 451 452 452 454 455 456 457 459 461

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN INDEKS

A B

C

Teknik Pemesinan

xii

BAB 1 MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN

Teknik Pemesinan

1

A. Statika dan Tegangan
1. Statika tatika adalah ilmu yang mempelajari tentang kesetimbangan benda, termasuk gaya-gaya yang bekerja pada sebuah benda agar benda tersebut dalam keadaan setimbang.

S
a.

Gaya Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan benda diam menjadi bergerak atau sebaliknya dari bergerak menjadi diam. Gaya dapat digambarkan sebagai sebuah vektor, yaitu besaran yang mempunyai besar dan arah. Gaya biasanya disimbolkan dengan huruf F.

Gambar 1 1. Perpindahan benda dari A ke B akibat gaya F Gaya yang bekerja pada benda di atas antara lain: Gaya berat (W) yang selalu berpusat pada titik beratnya dan arahnya selalu ke pusat grafitasi bumi. Gaya (F) dapat sejajar dengan permukaan benda atau membentuk sudut dengan permukanan tumpuan. Gaya F dapat menyebabkan masa (m) dari diam menjadi bergerak hingga memiliki percepatan sebesar a (m/s2), dapat dituliskan : F = m (Kg) . a (m/s2) = Kg.m/s2 = Newton (N) Bila gaya F dihilangkan benda (m) akan mengalami perlambatan hingga setelah waktu t detik benda akan berhenti (kecepatan v=0). Hal ini karena benda melewati permukaan kasar yang memiliki gaya gesek (f) yang arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda. Besarnya f tergantung pada harga koefisien geseknya (μ). Semakin kasar permukaan benda maka koefisien geseknya (μ) akan semakin besar. Bila gaya gesek lebih besar dari gaya tarik (F), maka benda akan berhenti (v = 0). Gaya gesek (f) berbanding lurus dengan gaya normal (N) benda atau dapat dituliskan : f = u . N Newton Teknik Pemesinan 2

di mana: N = gaya normal yang selalu tegak lurus permukaan benda (Newton) μ = koefisien gesek permukaan benda (tanpa satuan) Aplikasi dari gaya gesek dapat diilustrasikan pada contoh: roda yang masih baru akan memiliki cengkeraman yang lebih kuat dibanding dengan roda yang aus/halus. Pengereman di permukaan aspal lebih baik bila dibandingkan dengan di permukaan lantai keramik, karena μ aspal lebih besar dari u permukaan keramik.

Gambar 1 2. Gaya gesek antara roda mobil dan aspal jalan

1) Menentukan besarnya gaya Besarnya gaya dapat ditentukan oleh skala tertentu, misalnya 1 cm mewakili 1 Newton atau kelipatannya. Satuan gaya ditentukan oleh sistem satuan SI (standar internasional) yang dinyatakan dengan Newton (N). Garis lukisan gaya itu dapat diperpanjang sesuai besarnya gaya F. Titik tangkap gaya (A) dapat dipindahkan sepanjang lintasannya, asalkan besar dan panjangnya tetap sama sesuai dengan gaya F.

Gambar 1 3. Titik tangkap gaya (A) pada garis kerja gaya

Teknik Pemesinan

3

2) Menyusun dua buah gaya Arah gerak dan besar gaya pada benda A dipengaruhi oleh dua komponen gaya masing-masing gaya F1 dan F2. Pengaruh gaya F1 dan F2 terhadap benda/titik A dapat diwakili oleh Resultane gaya (F) yang besarnya dapat ditentukan sebagai berikut:

Gambar 1 4. Menyusun dua buah gaya menjadi gaya Resultan (F) Bila sudut persamaan : dibagi dalam
1

dan

2,

maka dapat dituliskan

F1 Sin

F2 Sin

F
2

Sin

3) Menyusun lebih dari dua gaya Benda A dikenai tiga buah gaya F1, F2 dan F3, maka resultan gayanya dapat dijabarkan sebagai berikut:

Gambar 1 5. Menyusun gaya lebih dari dua buah secara grafis Penyelesaian di atas disebut dengan penyelesaian secara grafis, namun ada juga penyelesaian secara Poligon (segi banyak) dan secara analitis, yaitu setiap gaya diuraikan kedalam sumbu x dan y. 4) Menyusun gaya dengan metode poligon Metode ini dengan cara memindahkan gaya P2 ke ujung P1, P3 ke ujung P2, P4 ke ujung P3 dan seterusnya secara berantai. Pemindahan gaya-gaya tersebut besar dan arahnya harus sama. Pemindahan dilakukan berurutan dan dapat berputar ke kanan atau ke kiri. Resultan gaya diperoleh dengan menarik garis dari titik A sampai ke ujung gaya

Teknik Pemesinan

4

dan arahnya adalah dari A menuju titik ujung gaya terakhir itu. Gambar 1 6. yaitu sebagai berikut. Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon 5) Menyusun gaya secara Analitis. Untuk mencari resultan gaya juga dapat diakukan dengan cara analitis. baik untuk menentukan besarnya. kedudukan titik tangkapnya. maupun arahnya melalui sumbu x dan y. Gambar 1 7. Menyusun gaya lebih dari dua buah secara Analitis Teknik Pemesinan 5 .yang terakhir.

sebuah gaya dapat diuraikan menjadi dua buah gaya yang masing-masing disebut dengan komponen gaya menurut garis kerja yang sudah ditentukan. Besarnya momen tergantung dari besarnya gaya F dan jarak garis gaya terhadap titik putarnya (L). Jika dua buah gaya dapat digantikan dengan sebuah gaya pengganti atau resultan. sistem pegas. ke titik pusat O. Dalam bidang teknik mesin momen sering terjadi pada saat mengencangkan mur atau baut. pengguntingan pelat. atau masing-masing komponen sebagai sisi-sisi dari jajaran genjang dengan sudut lancip tertentu yang mudah dihitung.6) Menguraikan Gaya Menguraikan gaya dapat dilakukan dengan menguraikan pada arah vertikal dan horizontal yang saling tegak lurus. Gambar 1 8. Jarak (L) garis gaya (F) terhadap titik perputaran (o) Dimana F = gaya L = jarak gaya terhadap titik pusat M = Momen gaya Teknik Pemesinan 6 . Menguraikan gaya (proyeksi) ke sumbu X dan Y b. dan sebagainya. maka sebaliknya. Momen Gaya dan Kopel 1) Momen Gaya Momen gaya F terhadap titik pusat O adalah hasil kali antara besarnya gaya F dengan jarak garis gaya. Pada gambar dibawah ini diberikan contoh sebuah gaya F yang diuraikan menjadi F1 dan F2 yang membentuk sudut lancip . Gambar 1 9.

Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon 2) Kopel Sebuah kopel terjadi jika dua gaya dengan ukuran yang sama dan garis kerjanya sejajar tetapi arahnya berlawanan.Dalam satuan SI (standar international). (lihat gambar di bawah ini) Gambar 1 11. Dua gaya sama sejajar berlawanan arah dan berjarak L Dua gaya tersebut mengakibatkan suatu putaran yang besarnya merupakan hasil kali gaya dengan jaraknya.m). dan berharga negatif (-) jika berputar berlawanan arah putaran jarum jam. dimana tangan kita memberikan gaya putar pada kedua tuas snei dan tap yang sama besar namun berlawanan arah. Gambar 1 10. Aplikasi dari kopel dapat dirasakan ketika membuat mur atau baut. yang keduanya cenderung menimbulkan perputaran. Suatu momen adalah positif (+) jika momen itu berputar searah jarum jam. Jika terdapat beberapa gaya yang tidak satu garis kerja seperti gambar di bawah maka momen gayanya adalah jumlah dari momen gaya-momen gaya itu terhadap titik tersebut. momen memiliki satuan Newton meter (N. Teknik Pemesinan 7 .

arahnya tegak lurus dengan permukaan bidang. a (searah Jarum Jam). Nilai F tergantung pada arah benda ang bekerja. gaya gesek (f).c. F2 Satuan momen: Nm atau kg. Gambar di bawah ini menunjukkan gaya yang bekerja sejajar bidang lintasan.cm. b . seperti pengungkit. momen gaya F2 terhadap O. Dua gaya pada batang membentuk kesetimbangan Momen gaya F1 terhadap O. Teknik Pemesinan 8 .a . gaya gesek (f) arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda. a = 0 F 2 . gaya luar dapat berupa F yang besar dan arahnya tergantung pada sumbernya. kg.m.F 1 .m.= F1 . Gambar 1 12. gaya luar dan gaya normal (N). Gaya berat (W) terletak pada titik pusat benda dan arahnya selalu menuju pusat bumi. 2) Kesetimbangan pada benda miring Benda pada bidang miring dalam kondisi diam atau bergerak memiliki gaya-gaya yang mempengaruhinya.b (berlawanan arah Jarum Jam) Persamaan kesetimbangannya: Mo = 0 F 2. M2 = +F2 . ton. Aplikasi perhitungan momen biasanya dipergunakan dalam perhitungan pada alat angkat sederhana. Kesetimbangan 1) Pengertian kesetimbangan Syarat kesetimbangan adalah jumlah momen-momen gaya terhadap titik kesetimbangan (o) sama dengan nol. M1 = . antara lain gaya berat.F1 . tuas atau linggis. Gaya normal (N) merupakan reaksi tumpuan terhadap benda.

gaya sepusat (F) yang arahnya ke bawah. Gambar 1 14. Gaya aksi sepusat (F) dan gaya reaksi (F”) dari bawah akan bekerja pada setiap penampang balok tersebut. Tegangan Pengertian Tegangan Hukum Newton pertama tentang aksi dan reaksi. demikian pula sebaliknya lantai akan memberikan reaksi yang sama. sehingga benda dalam keadaan setimbang. maka setiap satuan luas penampang menerima beban sebesar: F A .Gambar 1 13. Kesetimbagan benda pada bidang miring Diagram vektor berbentuk segitiga siku di mana : F mg sin Jika gesekan diabaikan. molekul-molekul di atas dan di bawah bidang penampang A-A saling tekan menekan. agar tetap setimbang maka gaya F sebesar: F = W sin o dan N = W Cos 2. Pada bidang penampang tersebut. a. Jika sebuah balok terletak di atas lantai. balok akan memberikan aksi pada lantai. dan di bawah penampang bekerja gaya reaksinya (F”) yang arahnya ke atas. Tegangan yang timbul pada penampang A-A Teknik Pemesinan 9 . Jika kita ambil penampang A-A dari balok.

Rantai yang diberi beban W akan mengalami tegangan tarik yang besarnya tergantung pada beratnya. maka satuan tegangan adalah N dyne atau . pada pembebanan tekan terjadi tegangan tekan.Beban yang diterima oleh molekul-molekul benda setiap satuan luas penampang disebut tegangan. Tegangan normal Sedangkan tegangan trangensialnya: Fq A kg. bengkokan. Gambar 1 16. Jika gaya dalam diukur dalam N. paku keling. F A 1) Macam-macam tegangan Tegangan timbul akibat adanya tekanan. Tegangan biasanya dinyatakan dengan huruf Yunani (thau). begitu pula pada pembebanan yang lain. tali. a) Tegangan Normal Tegangan normasl terjadi akibat adanya reaksi yang diberikan pada benda. dan lain-lain. dan reaksi. sedangkan luas penampang dalam m2. Pada pembebanan tarik terjadi tegangan tarik. tarikan. Tegangan tarik pada batang penampang luas A Teknik Pemesinan 10 . f m2 b) Tegangan Tarik Tegangan tarik pada umumnya terjadi pada rantai. 2 m cm 2 Gambar 1 15.

dan sambungan baut. gaya tidak segaris namun pada penampangnya tidak terjadi momen. Tegangan tekan dapat ditulis: D Fa A F A Gambar 1 17. Tegangan ini banyak terjadi pada konstruksi seperti sambungan keling. gunting. Misalnya. A = luas penampang c) Tegangan Tekan Tegangan tekan terjadi bila suatu batang diberi gaya F yang saling berlawanan dan terletak dalam satu garis gaya. tegak lurus sumbu batang. terjadi pada tiang bangunan yang belum mengalami tekukan.Persamaan tegangan tarik dapat dituliskan: t F A Fa A Di mana : F = gaya tarik. Tegangan tekan d) Tegangan Geser Tegangan geser terjadi jika suatu benda bekerja dengan dua gaya yang berlawanan arah. porok sepeda. dan batang torak. Tegangan Geser Teknik Pemesinan 11 . Gambar 1 18.

Pada material akan timbul tegangan gesernya. dua gaya F sama besar berlawanan arah. maka F maksimum = 4 . maka sesuai dengan persamaan dibawah ini tegangan gesernya adalah F g . Gambar 1 19.D 2 Apabila pada konstruksi mempunyai n buah paku keling. Jadi. Tegangan lengkung pada batang rocker arm F RA RB dan b Mb Wb Mb = momen lengkung Wb = momen tahanan lengkung Teknik Pemesinan 12 . 2 Dimana D = diameter paku keling n. maka pelengkungan benda diabaikan. Untuk hal ini tegangan yang terjadi adalah F g 4 .D 4 e) Tegangan Lengkung Misalnya. pada poros-poros mesin dan poros roda yang dalam keadaan ditumpu.D 2 Tegangan geser terjadi karena adanya gaya radial F yang bekerja pada penampang normal dengan jarak yang relatif kecil. Gaya F bekerja merata pada penampang A.Pada gambar di atas. merupakan tegangan tangensial. sebesar: g gayadalam luaspenampang g F (N / m2 ) A Untuk konstruksi pada paku keling. .

Tegangan puntir Benda yang mengalami beban puntir akan menimbulkan tegangan puntir sebesar: t Mt Wp Mt = momen puntir (torsi) Wp = momen tahanan polar (pada puntir) Teknik Pemesinan 13 . f) Gambar 1 20. Jadi.Tegangan Puntir Tegagan puntir sering terjadi pada poros roda gigi dan batang-batang torsi pada mobil. juga saat melakukan pengeboran. merupakan tegangan trangensial.

B. tromol kabel. Gaya (F) merupakan gaya luar arahnya dapat sejajar dengan permukaan benda ataupun membentuk sudut dengan permukanan benda. Teknik Pemesinan 14 . dan lain-lain. karena tegangan dapat rimbul pada benda yang mengalami gaya-gaya. yaitu poros roda kereta api. maka perlu diperhitungkan gaya yang bekerja pada poros di atas antara lain: Gaya dalam akibat beratnya (W) yang selalu berpusat pada titik gravitasinya. Kontruksi poros kereta api Untuk merencanakan sebuah poros. Contoh sebuah poros dukung yang berputar. seperti cakra tali. F1 F2 Gambar 1 21. Baik gaya dalam maupun gaya luar akan menimbulkan berbagai macam tegangan pada kontruksi tersebut antara lain: a. dipasang berputar terhadap poros dukung yang tetap atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar. piringan kabel. Poros Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga melalui putaran mesin. As gardan. dan roda gigi. Macam-macam poros Poros sebagai penerus pembebanannya sebagai berkut : daya diklasifikasikan menurut 1) Gandar Gandar merupakan poros yang tidak mendapatkan beban puntir. Gaya F dapat menimbulkan tegangan pada poros. puli sabuk mesin. Gaya yang timbul pada benda dapat berasal dari gaya dalam akibat berat benda sendiri atau gaya luar yang mengenai benda tersebut. Setiap elemen mesin yang berputar. roda jalan. fungsinya hanya sebagai penahan beban. biasanya tidak berputar. Mengenal Elemen Mesin 1.

di mana beban utamanya berupa puntiran. roda gigi. disebut spindle. Konstruksi poros transmisi b. Gambar 1 22. Beban pada poros 1) Poros dengan beban puntir Daya dan perputaran. momen puntir yang akan dipindahkan oleh poros dapat ditentukan dengan mengetahui garis tengah pada poros. seperti poros utama mesin perkakas.Contohnya seperti yang dipasang pada roda-roda kereta barang. atau pada as truk bagian depan. Teknik Pemesinan 15 . 2) Spindle Poros transmisi yang relatif pendek. Spindle mesin bubut 3) Poros transmisi Poros transmisi berfungsi untuk memindahkan tenaga mekanik salah satu elemen mesin ke elemen mesin yang lain. dan bentuk serta ukurannya harus teliti. puli sabuk atau sproket rantau. Poros transmisi mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur yang akan meneruskan daya ke poros melalui kopling. dan lainlain. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil. Gambar 1 23.

W t ialah kecepatan sudut poros. Jadi.r. maka daya. M w.Gambar 1 24. t M w. M w. dan kerja yang dilakukan adalah F.r. momen puntirnya: Mw P 2) Poros dengan beban lentur murni Poros dengan beban lentur murni biasanya terjadi pada gandar dari kereta tambang dan lengan robot yang tidak dibebani dengan puntiran. Gaya F yang bekerja pada keliling roda gigi dengan jari-jari r dan gaya reaksi pada poros sebesar F merupakan suatu kopel yang momennya Mw = F. W P di mana F . Meskipun pada kenyataannya gandar ini tidak hanya mendapat beban statis. Gambar 1 25. maka jarak ini adalah r. Momen ini merupakan momen puntir yang bekerja dalam poros. . Bila jarak ini ditempuh dalam waktu t. Beban lentur murni pada lengan robot Teknik Pemesinan 16 . Poros transmisi dengan beban puntir Apabila gaya keliling F pada gambar sepanjang lingkaran denga jarijari r menempuh jarak melalui sudut titik tengah (dalam radial). tetapi juga mendapat beban dinamis. melainkan diasumsikan mendapat pembebanan lentur saja.

gandar dan roda. Beban yang bekerja pada poros pada umumnya adalah beban berulang.1 max ds 3 M2 T2 Teknik Pemesinan 17 . Gambar 1 26. Beban puntir dan lentur pada arbor saat pemakanan Agar mampu menahan beban puntir dan lentur. maka bahan poros harus bersifat liat dan ulet agar mampu menahan tegangan geser maksimum sebesar: 2 max 4 2 2 Pada poros yang pejal dengan penampang bulat.M 1 1 3 3) Poros dengan beban puntir dan lentur Poros dengan beban puntir dan lentur dapat terjadi pada puli atau roda gigi pada mesin untuk meneruskan daya melalui sabuk. maka kejutan berat akan terjadi pada saat mulai atau sedang berputar. atau rantai. Jika poros tersebut mempunyai roda gigi untuk meneruskan daya besar. tegangan lentur yang diijinkan adalah diameter dari poros adalah maka ds 10. di mana beban pada suatu gandar diperoleh dari 1 2 berat kendaraan dengan muatan maksimum dikurangi berat a.Jika momen lentur M1. terutama pada saat pemakanan. Selain itu beban puntir dan lentur juga terjadi pada lengan arbor mesin frais. s 32M 3 ds dan 16T ds 3 .2 a . Dengan demikian poros tersebut mendapat beban puntir dan llentur akibat adanya beban. sehingga 5.

Teknik Pemesinan 18 . Berdasarkan arah beban terhadap poros. Bantalan aksial. a. Bantalan luncur. Gambar 1 27. Bantalan gelinding. Gambar 1 28. di mana terjadi gerakan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan lapisan pelumas. Bantalan radial. antara lain: a. di mana arah beban yang ditumpu bantalan tegak lurus sumbu poros. agar dapat berputar atau bergerak bolak-balik secara kontinnyu serta tidak berisik akibat adaya gesekan. Bantalan radial b.2. di mana terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti rol atau rol jarum. Bantalan poros dapat dibedakan menjadi dua. hal ini agar elemen mesin dan poros dapat bekerja dengan baik. maka bantalan dibedakan menjadi tiga hal berikut. Bantalan Bantalan diperlukan untuk menumpu poros berbeban. Bantalan luncur dilengkapi alur pelumas b. di mana arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros. Posisi bantalan harus kuat.

Mengenal Material dan Mineral Material dapat berupa bahan logam dan non logam. Gambar 1 30. dan besi cor. plastisitas. dan timah putih. kita dapat menghasilkan logam yang kuat dan keras sesuai kebutuhan.Gambar 1 29. Beberapa material seperti baja struktur. Sifat mekanis adalah kemampuan suatu logam untuk menahan beban yang diberikan pada logam tersebut. antara lain: kekuatan bahan (strength). material juga dapat dikelompokkan berdasarkan unsur-unsur kimia. kelelahan bahan. sedangkan logam nonferro (bukan besi) antara lain emas. kekakuan. Dengan mengetahui unsur-unsur kimia ini. 1. di mana bantalan ini menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros. Kekuatan (strength) adalah kemampuan material untuk menahan tegangan tanpa kerusakan. dan sifat pengerjaan. Pembebanan yang diberikan dapat berupa pembebanan statis (besar dan arahnya tetap). Berbagai Macam Sifat Logam Logam mempunyai beberapa sifat antara lain: sifat mekanis. baja. sifat fisika. nonlogam dan metalloid. Bantalan aksial c. Selain pengelompokan di atas. sifat fisika. ataupun pembebanan dinamis (besar dan arahnya berubah). Bahan logam ini terdiri dari logam ferro dan nonferro. perak. Bahan logam ferro diantaranya besi. sifat kimia dan sifat pengerjaan. Yang termasuk sifat mekanis pada logam. Bantalan gelinding khusus. kekerasan elastisitas. sifat kimia. besi Teknik Pemesinan 19 . yaitu unsur logam. Bahan non logam dapat dibagi menjadi bahan organik (bahan yang berasal dari alam) dan bahan anorganik. Bantalan gelinding khusus C.

Sementara itu. Korosi adalah terjadinya reaksi kimia antara suatu bahan dengan lingkungannya. Kepadatan. Kelelahan bahan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima beban yang berganti-ganti dengan tegangan maksimum diberikan pada setiap pembebanan. Elastisitas ini penting pada semua struktur yang mengalami beban yang berubah-ubah terlebih pada alat-alat dan mesin-mesin presisi. Plastisitas adalah kemampuan suatu bahan padat untuk mengalami perubahan bentuk tetap tanpa ada kerusakan. Sifat pengerjaan adalah suatu sifat yang timbul setelah diadakannya proses pengolahan tertentu. dan tembaga mempunyai kekuatan tarik dan tekan yang hampir sama. alumunium. Kekerasan merupakan kemampuan suatu material untuk menahan takik atau kikisan. Secara garis besar ada dua macam korosi. Kekakuan adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk menahan perubahan bentuk atau deformasi setelah diberi beban. yaitu korosi karena efek galvanis dan reaksi kimia langsung. atau geser. Yang termasuk sifat-sifat fisika adalah sebagai berikut: Titik lebur. Sifat fisika adalah karakteristik suatu bahan ketika mengalami peristiwa fisika seperti adanya pengaruh panas atau listrik. Kekerasan (hardness) adalah ketahanan suatu bahan untuk menahan pembebanan yang dapat berupa goresan atau penekanan. Ada dua macam pengerjaan yang biasa dilakukan yaitu sebagai berikut : Teknik Pemesinan 20 . atau gaya terbesar persatuan luas yang dapat ditahan bahan tanpa patah. tekan. Ukuran kekuatan bahan adalah tegangan maksimumnya. Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk kembali ke bentuk semula setelah menerima beban yang mengakibatkan perubahan bentuk. dan daya hantar listrik Sifat kimia adalah kemampuan suatu logam dalam mengalami peristiwa korosi. Untuk mengetahui kekuatan suatu material dapat dilakukan dengan pengujian tarik.tempa. kekuatan gesermya kira-kira dua pertiga kekuatan tariknya. Daya hantar panas. Sifat pengerjaan ini harus diketahui terlebih dahulu sebelum pengolahan logam dilakukan. Untuk mengetahui kekerasan suatu material digunakan uji Brinell. Elastisitas merupakan kemampuan suatu material untuk kembali ke ukuran semula setelah gaya dari luar dilepas.

timah. dan yang sedikit terdapat di alam seperti tenbaga. Unsur-unsur Nonlogam Unsur-unsur nonlogam (nonmetallic) dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan kegunaannya. bentuk heksagonal (enam bidang) pada kuarsa. Bahan bakar fosil. Persediaan energi kita sekarang sangat bergantung pada bahan-bahan ini. 3. Tanpa air tidak mungkin kita dapat menanam dan menghasilkan bahan makanan. seng. dan gas alam. dan titanium. b. c. Teknik Pemesinan 21 . dan lain-lain. mineral mempunyai warna tertantu. Setiap mineral memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda. Moneral memliki ciri-ciri khas antara lain: a. dan belerang merupakan bahanbahan utama industri-industri kimia dan pupuk buatan. Air merupakan sumber mineral terpenting dari semuanya yang terdapat melimpah di permukaan bumi. batu kerikil. kalsium fosfat. mineral mempunyai berat jenis antara 2 – 4 ton/m2. dan ada pula mineral yang memiliki bermacam-macam warna misalnya kuarsa. Mineral Mineral merupakan suatu bahan yang banyak terdapat di dalam bumi. Kristal atau belahan merupakan mineral yang mempunyai bidang datar halus. antara lain : Natrium klorida. d. dan tembaga yang mempunyai kilat logam. Cerat. dan semen terutama dipakai sebagai bahan-bahan bangunan dan konstruksi lainnya. Pasir. mangan. yaitu yang berlimpah di kerak bumi seperti besi. Misalnya emas. Berat jenis. batu hancur. minyak bumi. b. Misalnya. Unsur-unsur Logam Unsur-unsur logam dibagi lagi dalam dua kelompok menurut banyaknya. Contohnya bentuk kubus pada galmer (bilih seng). Warna. timah hitam. Kilatan merupakan sinar suatu mineral apabila memantulkan cahaya yang dikenakan kepadanya. yang mempunyai bentuk dan ciri-ciri khusus serta mempunyai susunan kimia yang tetap. Berat jenis ini akan berubah setelah diolah menjadi bahan.2. Berbagai Jenis Sumber Daya Mineral a. misalnya malagit berwarna hijau. alumunium. merupakan warna yang timbul bila mineral tersebut digoreskan pada porselen yang tidak dilicinkan. bentuk kristalnya dapat dipecah-pecah menjadi beberapa kubus dan patahannya akan terlihatk dengan jelas. yaitu yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang seperti batubara. lazurit berwarna biru. gips.

(d) metode-metode untuk memamfaatkan bijih-bijih besi yang mengandung kotoran-kotoran perusak seperti fosfor dan belerang. (c) metode-metode untuk mereduksi bijih besi. karbon dalam bentuk kokas dan oksida besi bereaksi pada suhu tinggi. Setelah itu diperoleh berbagai penemuan dalam produksi besi. membentuk metalik iron (besi yang bersifat logam) dan gas karbon dioksida. Karena bijih besi jarang ada yang murni. Gambar 1 31. batu kapur (CaCO3) harus juga ditambahkan sebagai imbuh (flux) agar bercampur dengan kotoran-kotoran dan mengeluarkannya sebagai slag (terak). Pemurnian Mineral Mineral pada awalnya ditemukan di alam masih bercampur dengan mineral lain sehingga perlu dilakukan proses pemurnian untuk mendapatkan satu bentuk mineral. Dapur pengolahan biji besi menjadi besi Sejak abad ke-14 besi mulai diproduksi dalam jumlah besar dan dasar-dasar eksploitasi industri besi secara modern sudah dimulai. Pemurnian mineral adalah proses memisahkan satu bentuk mineral dari mineral-mineral lainnya melalui satu proses dan cara tertentu. antara lain: (a) metode untuk memproduksi baja yang berkualitas tinggi dari besi kasar. termasuk juga pemakaian kokas yang dibuat dari batu bara sebagai pengganti arang kayu.dan (d) metode-metode untuk memproses bijih besi berkadar rendah. akibat semakin berkurangnya persediaan kayu. Selama proses itu.4. (b) prosedur-prosedur tanur yang lebih efisien. Teknik Pemesinan 22 . a. Proses pemurnian bijih besi Melebur dan mengoksidasi besi adalah proses kimia yang sederhana.

Proses pemurnian timbel/timah hitam (Pb) Bijih-bijih timbel harus dipanggang terlebih dahulu untuk menghilangkan sulfida-sulfida. Campuran ini disebut kalsin dan dilebur dengan batu kapur sebagi fluks dalam dapur reverberatory. oksida bereaksi dengan sulfida membentuk tembaga blister dan dioksida belerang. alumina dilarukan ke dalam cairan klorit (garam Na3AlF6) yang berfungsi sebagai elektrolit sehingga titik lelehnya menjadi rendah (1000°C). bijih itu dilebur di dalam dapur corong atau dapur nyala api dengan kokas dan dituang menjadi balok-balok kecil. sedang proses elektrolisis di sini sebagai reduksi Al2O3. tembaga ini dilebur dan dicor menjadi slab. Karena titik lelehnya tinggi. dan CuS. d.b. bagian lain tidak bereaksi dan dapat dipisahkan. kemudian diolah lebih lanjut secara elektronik menjadi tembaga murni. Proses pemurnian alumunium Proses pemurian alumunium dengan cara memanaskan alumunium hidroksida sampai lebih kurang 1300°C (diendapkan). Proses pemurnian tembaga Proses pemurnian tembaga diawali dengan penggilingan bijih tembaga kemudian dicampur dengan batu kapur dan bahan fluks silika. Proses pemurnian timah putih (Sn) Proses pemurnian timah putih diawali dengan memisahkan Bijih timah dan pasir dengan mencuci lalu dikeringkan. Teknik Pemesinan 23 . akan didapatkan alumina. besi yang tersisa ditaungkan ke dalam konventor. alumina di dalamnya membentuk natrium aluminat. akan menghasilkan timbel. SiO2. sedang timbel dengan campurannya yang lain berubah menjadi oksida timah hitam (PbO) dan sebagian lagi menjadi timbel sulfat (PbSO4). Tepung bijih dipekatkan terlebih dahulu. Panas oksidasi yang dihasilkan cukup tinggi sehingga muatan tetap cair dan sulfida tembaga akhirnya berubah menjadi oksida tembaga dan sulfat. Bila aliran udara dihentikan. sesudah itu dipanggang sehingga terbentuk campuran FeS. c. dan besi membentuk terak yang dibuang pada selang waktu tertentu. FeO. Bijih bauksit mula-mula dimurnikan terlebih dahulu dengan proses kimia dan alumunium oksida murni diuraikan dengan elektrolisis. Bauksit dimasukkan ke dalam kauksit soda. e. Lima belas persen alumina (Al2O3) dapat diuraikan ke dalam kriolit. kotoran-kotoran teroksidasi. Udara dihembuskan ke dalam konventor selama 4 – 5 jam. Setelah itu. Setelah itu. Besi yang ada larut dalam terak dan tembaga. Campuran silikat timbel dengan oksida timbel yang dipijarkan pakai kokas kemudian dicampur dengan batu kapur. Dengan menambah kwarsa (SiO2) pada sulfat di atas suhu yang tinggi akan mengubah timbel sulfat menjadi silikat.

Bijih yang mengandung timbel dihaluskan kemudian dicairkan dengan memasukkan zat asam yang banyak sampai timbel terbakar menjadi glit-timbel dan dikeluarkan sebagai terak. Reduktor yang digunakan biasanya mangan dan fosfor. j. Proses pemurnian platina Proses pemurnian platina tergantung pada zat-zat yang terkandung dalam bijih-bijih logam. silikat seng (ZnSiO4H2O). Jika hasil yang diinginkan lebih baik (tidak berlubang).f. karbonatnya terurai dan sulfidanya dioksidasi. Proses pemurnian nikel (Ni) Proses pemurnian nikel diawali dengan pembakaran bijih nikel. Proses pemurnian magnesium Untuk memperoleh magnesium dilakukan dengan jalan elektrolisis. Teknik Pemesinan 24 . Platina itu dapat dibersihkan sampai tercapai keadaan yang murni. yaitu dengan cara memijarkan oksida magnesium bersama-sama dengan zat arang (karbon) atau silisium ferro sebagai bahan reduksi. Bijih-bijih yang mengandung emas dikerjakan dalam air raksa. Berikutnya adalah dengan proses kimiawi (proses elektrolisis). i. Bijih seng didapat dari senyawa belerang diantaranya karbonat seng (ZnCO3). proses pemurniannya dikerjakan dengan jalan elektrolisis di atas sebuah cawan tertutup dalam dapur nyala api. Setelah itu magnesium dapat terpisahkan h. g. Proses pemurnian seng (Zn) Proses pemurnian seng diawali dengan memisahkan bijih seng kemudian dipanggang dalam dapur untuk mengeluarkan belerang dan asam arang. kemudian dicairkan untuk proses reduksi dengan menggunakan arang dan bahan tambahan lain dalam sebuah dapur tinggi. Bijih perak yang mengandung belerang dipanggang dahulu kemudian dicairkan. dan sulfida seng (ZnS). Setelah itu terjadilah oksida seng. Proses pemurnian perak Proses pemurnian perak dilakukan dengan jalan elektrolisis bijih-bijih perak. Dari proses tersebut nikel yang didapat kurang lebih 99%. hanya tertinggal peraknya saja. sedangkan platina tidak dapat melarut dalam air raksa. Setelah itu.

BAB 2 MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN Teknik Pemesinan 25 .

Gambar 2 2. Mengenal Proses Pengecoran Logam 1. dan lain-lain yang jika dalam kondisi kering akan berubah menjadi keras dalam cetakan. Pengecoran dapat berupa material logam cair atau plastik yang bisa meleleh (termoplastik). Proses pengecoran logam Teknik Pemesinan 26 . P Gambar 2 1. dan kemudian dikeluarkan atau dipecah-pecah untuk dijadikan komponen mesin. Proses pengecoran dibagi menjadi dua. kemudian dibiarkan membeku di dalam cetakan tersebut. dan materi lain yang dapat menjadi cair atau pasta ketika dalam kondisi basah seperti tanah liat. yaitu : expandable (dapat diperluas) dan non expandable (tidak dapat diperluas). Pengertian engecoran (casting) adalah suatu proses penuangan materi cair seperti logam atau plastik yang dimasukkan ke dalam cetakan.A. Logam cair sedang dituangkan ke dalam cetakan Pengecoran digunakan untuk membentuk logam dalam kondisi panas sesuai dengan bentuk cetakan yang telah dibuat. dan terbakar dalam perapian. juga material yang terlarut air misalnya beton atau gips. Pengecoran digunakan untuk membuat bagian mesin dengan bentuk yang kompleks.

Pembuatan Cetakan Manual Pembuatan cetakan tangan meliputi pembuatan cetakan dengan kup dan drag. Dewasa ini cetakan banyak dibuat secara mekanik dengan mesin agar lebih presisi serta dapat diproduk dalam jumlah banyak dengan kualitas yang sama baiknya. Cetakan pasir bisa dibuat secara manual maupun dengan mesin. Pembuatan cetakan secara manual dilakukan bila jumlah komponen yang akan dibuat jumlahnya terbatas. seperti pada gambar di bawah ini: 2. dan banyak variasinya.Pengecoran biasanya diawali dengan pembuatan cetakan dengan bahan pasir. Pembuatan cetakan tangan dengan dimensi yang besar dapat menggunakan campuran tanah liat sebagai pengikat. Teknik Pemesinan 27 .

(b) cetakan siap (c). pencampuran. antara lain: a. Adapun mesin-mesin yang dipakai dalam pengolahan pasir. sedangkan untuk pengaduk pasir digunakan Teknik Pemesinan 28 . Setelah digunakan dalam proses pembuatan suatu cetakan. 3. pembuatan cetakan dengan mesin guncang desak. juga dikenal pembuatan cetakan dengan mesin guncang. dan pembuatan cetakan dengan pelempar pasir.Gambar 2 3. Selain pembuatan cetakan secara manual. Pengolahan Pasir Cetak Pasir cetak yang sudah digunakan untuk membuat cetakan. dapat dipakai kembali dengan mencampur pasir baru dan pengikat baru setelah kotoran-kotoran dalam pasir tersebut dibuang. Penggiling pasir Penggiling pasir digunakan apabila pasir tersebut menggunakan lempung sebagai pengikat. Dimensi benda kerja yang akan dibuat (a). serta pendinginan pasir cetak. prembuatan cetakan dengan mesin tekanan tinggi. Pasir cetak dapat digunakan berulang-ulang. pasir cetak tersebut dapat diolah kembali tidak bergantung pada bahan logam cair. proses penuangan (d). menutupi permukaan pola dalam rangka cetak dengan pasir. dan produk pengecoran (e). Prosesnya dengan cara pembuangan debu halus dan kotoran. pembuatan cetakan dengan mesin pendesak.

potongan- e. Pengayakan Untuk mendapatkan pasir cetak. udara pendingin perlu bersentuhan dengan butir-butir pasir sebanyak mungkin. Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) Pengecoran dengan pasir membutuhkan waktu selama beberapa hari dalam proses produksinya dengan hasil rata-rata (1-20 unit/jam proses pencetakan) dan proses pengecoran dengan bahan pasir ini akan membutuhkan waktu yang lebih lama terutama untuk produksi dalam skala yang besar. yaitu antara 2. plastiK. Pendingin pasir Dalam mendinginkan pasir. Batas minimumnya adalah antara 0. yang kemudian didinginkan oleh udara dari bawah.05-1 kg. dan investment molding (teknik lost-wax). Metode ini melibatkan penggunaan cetakan sementara dan cetakan sekali pakai. udara lewat melalui pasir yang diagitasi. Pada pendingin pasir pengagitasi. c. 5. Pasir hijau/green sand (basah) hampir tidak memiliki batas ukuran beratnya. 4.700 kg. tempurung. pasir dari penggiling pasir kadang-kadang diisikan ke pencampur pasir atau biasanya pasir bekas diisikan langsung ke dalamnya. Jenis ayakan ada dua macam. Pencampur pasir Pencampur pasir digunakan untuk memecah bungkah-bungkah pasir setelah pencampuran. Pasir ini disatukan dengan menggunakan tanah liat (sama dengan proses pada pasir hijau) atau dengan menggunakan Teknik Pemesinan 29 . ayakan dipakai untuk menyisihkan kotoran dan butir-butir pasir yang sangat kasar. gips. Pendingin pasir bergetar menunjukkan alat di mana pasir diletakkan pada pelat dan pengembangan pasir efektif. Jadi. Adapun pada pendingin pasir tegak.300-2. yaitu ayakan berputar dan ayakan bergetar. Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting) Expandable mold casting adalah sebuah klasifikasi generik yang melibatkan pasir. pasir dijatuhkan ke dalam tangki dan disebar oleh sebuah sudu selama jatuh.jika pasir menggunakan bahan pengikat seperti minyak pengering atau natrium silikat. b. akan tetapi pasir kering memiliki batas ukuran berat tertentu. Pemisahan magnetis Pemisahan magnetis digunakan untuk menyisihkan potongan besi yang berada dalam pasir cetak tersebut. d.

tembaga. aluminium. namun untuk bahan logam selain itu tidak akan bisa diproses. Pengecoran dengan pasir ini juga dapat digunakan pada logam bertemperatur tinggi. seperti besi. Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) Gips yang tahan lama lebih sering digunakan sebagai bahan dasar dalam produksi pahatan perunggu atau sebagai pisau pahat pada proses pemahatan batu. Dengan pencetakan gips. magnesium. Pengecoran logam pada cetakan pasir 6. hasilnya akan lebih tahan lama (jika disimpan di tempat tertutup) dibanding dengan tanah liat asli yang harus disimpan di tempat yang basah agar tidak pecah. Permukaan gips ini selanjutnya dapat Teknik Pemesinan 30 . Bentuk-bentuk ini harus mampu memuaskan standar tertentu sebab bentuk-bentuk tersebut merupakan inti dari proses pergecoran dengan pasir . pengecoran dengan pasir ini digunakan untuk mengolah logam bertemperatur rendah. Pasir hampir pada setiap prosesnya dapat diulang beberapa kali dan membutuhkan bahan input tambahan yang sangat sedikit. diperkuat dengan menggunakan serat. proses ini akan secara tidak sengaja merusak keutuhan tanah liat tersebut. Pada proses pembuatannya. Gambar 2 4. gips yang sederhana dan tebal dicetak. semua itu dibalut dengan tanah liat asli. Pada dasarnya. gips ini dipindah dari tanah liat yang lembab. dan nikel. Pengecoran ini adalah teknik tertua dan paling dipahami hingga sekarang. Akan tetapi ini bukanlah masalah yang serius karena tanah liat tersebut telah berada di dalam cetakan.bahan perekat kimia/minyak polimer. kain goni. Cetakan kemudian dapat digunakan lagi di lain waktu untuk melapisi gips aslinya sehingga tampak benar-benar seperti tanah liat asli. Dalam proses pengecoran ini.

diperbarui, dilukis, dan dihaluskan agar menyerupai pencetak dari perunggu. Pengecoran dengan gips hampir sama dengan pengecoran dengan pasir kecuali pada bagian gips diubah dengan pasir. Campuran gips pada dasarnya terdiri dari 70-80 % gipsum dan 20-30 % penguat gipsum dan air. Pada umumnya, pembentukan pengecoran gips ini membutuhkan waktu persiapan kurang dari 1 minggu, setelah itu akan menghasilkan produksi rata-rata sebanyak 1-10 unit/jam pengecorannya dengan berat untuk hasil produksinya maksimal mencapai 45 kg dan minimal 30 kg, dan permukaan hasilnyapun memiliki resolusi yang tinggi dan halus. Jika gips digunakan dan pecah, maka gips tersebut tidak dapat diperbaiki dengan mudah. Pengecoran dengan gips ini normalnya digunakan untuk logam non belerang seperti aluminium, seng, tembaga. Gips ini tidak dapat digunakan untuk melapisi bahan-bahan dari belerang karena sulfur dalam gipsum secara perlahan bereaksi dengan besi. Persiapan utama dalam pencetakan adalah pola yang ada disemprot dengan film yang tebal untuk membuat gips campuran. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah cetakan merusak pola. Unit cetakan tersebut dikocok sehingga gips dapt mengisi lubang-lubang kecil di sekitar pola. Pembentuk pola dipindahkan setelah gips diatur. Pengecoran gips ini menunjukkan kemajuan, karena penggunaan peralatan otomatis dapat segera digunakan dengan mudah ke sistem robot, karena ketepatan desain permintaan semakin meningkat yang bahkan lebih besar dari kemampuan manusia. 7. Pengecoran Gips, Beton, atau Plastik Resin.

Gips sendiri dapat dilapisi, demikian pula dengan bahan-bahan kimia lainnya seperti beton atau plastik resin. Bahan-bahan ini juga mengunakan percetakan yang sama seperti penjelasan di atas (waste mold) atau multiple use piece mold, atau percetakan yang terbuat dari bahan-bahan yang sangat kecil atau bahan yang elastis seperti karet latex (yang cenderung disertai dengan cetakan yang ekstrim). Jika pengecoran dengan gips atau beton maka produk yang dihasilkan akan seperti kelereng, tidak begitu menarik, kurang transparan dan biasanya dilukis. Tak jarang hal ini akan memberikan penampilan asli dari logam/batu. Alternatif untuk mengatasi hal ini adalah lapisan utama akan dibiarkan mengandung warna pasir sehingga memberikan nuansa bebatuan. Dengan menggunakan pengecoran beton, bukan pengecoran gips, memungkinkan kita untuk membuat ukiran, pancuran air, atau tempat duduk luar ruangan. Selanjutnya adalah membuat meja cuci (washstands) yang menarik, washstands dan shower stalls dengan perpaduan beraneka ragam warna akan menghasilkan pola yang menarik seperti yang tampak pada kelereng/ravertine.

Teknik Pemesinan

31

Gambar 2 5. Turbin air produk hasil pengecoran logam

Proses pengecoran seperti die casting dan sand casting menjadi suatu proses yang mahal, bagaimanapun juga komponen-komponen yang dapat diproduksi menggunakan pengecoran investment dapat menciptakan garis-garis yang tak beraturan dan sebagian komponen ada yang dicetak near net shape sehingga membutuhkan sedikit atau bahkan tanpa pengecoran ulang. Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) Pengecoran sentrifugal berbeda dengan penuangan gravitasi-bebas dan tekanan-bebas karena pengecoran sentrifugal membentuk dayanya sendiri menggunakan cetakan pasir yang diputar dengan kecepatan konstan. Pengecoran sentrifugal roda kereta api merupakan aplikasi awal dari metode yang dikembangkan oleh perusahaan industri Jerman Krupp dan kemampuan ini menjadikan perkembangan perusahaan menjadi sangat cepat. 8.

Gambar 2 6. Turbin air produk hasil pengecoran logam

Die Casting Die casting adalah proses pencetakan logam dengan menggunakan penekanan yang sangat tinggi pada suhu rendah. Cetakan tersebut disebut die. Rentang kompleksitas die untuk memproduksi bagian-bagian logam non belerang (yang tidak perlu sekuat, sekeras, atau setahan panas seperti baja) dari keran cucian sampai cetakan mesin (termasuk hardware, bagian-bagian komponen mesin, mobil mainan, dsb).

9.

Teknik Pemesinan

32

Gambar 2 7. Die casting

Logam biasa seperti seng dan alumunium digunakan dalam proses die casting. Logam tersebut biasanya tidak murni melainkan logam logam yang memiliki karakter fisik yang lebih baik. Akhir-akhir ini suku cadang yang terbuat dari plastik mulai menggantikan produk die casting banyak dipilih karena harganya lebih murah (dan bobotnya lebih ringan yang sangat penting khususnya untuk suku cadang otomotif berkaitan dengan standar penghematan bahan bakar). Suku cadang dari plastik lebih praktis (terutama sekarang penggunan pemotongan dengan bahan plastik semakin memungkinkan) jika mengesampingkan kekuatannya, dan dapat didesain ulang untuk mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan. Terdapat empat langkah utama dalam proses die casting. Pertamatama cetakan disemprot dengan pelicin dan ditutup. Pelicin tersebut membantu mengontrol temperatur die dan membantu saat pelepasan dari pengecoran. Logam yang telah dicetak kemudian disuntikkan pada die di bawah tekanan tinggi. Takanan tinggi membuat pengecoran setepat dan sehalus adonan. Normalnya sekitar 100 MPa (1000 bar). Setelah rongganya terisi, temperatur dijaga sampai pengecoran menjadi solid (dalam proses ini biasanya waktu diperpendek menggunakan air pendingin pada cetakan). Terakhir die dibuka dan pengecoran mulai dilakukan. Yang tak kalah penting dari injeksi bertekanan tinggi adalah injeksi berkecepatan tinggi, yang diperlukan agar seluruh rongga terisi, sebelum ada bagian dari pengecoran yang mengeras. Dengan begitu diskontinuitas (yang merusak hasil akhir dan bahkan melemahkan kualitas pengecoran) dapat dihindari, meskipun desainnnya sangat sulit untuk mampu mengisi bagian yang sangat tebal. Sebelum siklusnya dimulai, die harus di-instal pada mesin die pengecoran, dan diatur pada suhu yang tepat. Pengesetan membutuhkan waktu 1-2 jam, dan barulah kemudian siklus dapat berjalan selama sekitar beberapa detik sampai beberapa menit, tergantung ukuran pengecoran. Batas masa maksimal untuk magnesium, seng, dan aluminium adalah sekitar 4,5 kg, 18 kg, dan 45 kg. Sebuah die set dapat bertahan sampai 500.000 shot selama masa pakainya, yang sangat Teknik Pemesinan

33

dipengaruhi oleh suhu pelelehan dari logam yang digunakan. Aluminium biasanya memperpendek usia die karena tingginya temperatur dari logam cair yang mengakibatkan kikisan cetakan baja pada rongga. Cetakan untuk die casting seng bertahan sangat lama karena rendahnya temperatur seng. Sedang untuk tembaga, cetakan memiliki usia paling pendek dibanding yang lainnya. Hal ini terjadi karena tembaga adalah logam terpanas. Seringkali dilakukan operasi sekunder untuk memisahkan pengecoran dari sisa-sisanya, yang dilakukan dengan menggunakan trim die dengan power press atau hidrolik press. Metode yang lama adalah memisahkan dengan menggunakan tangan atau gergaji. Dalam hal ini dibutuhkan pengikiran untuk menghaluskan bekas gergajian saat logam dimasukkan atau dikeluarkan dari rongga. Pada akhirnya, metode intensif, yang membutuhkan banyak tenaga digunakan untuk menggulingkan shot jika bentuknya tipis dan mudah rusak. Pemisahan juga harus dilakukan dengan hati-hati. Kebanyakan die caster melakukan proses lain untuk memproduksi bahan yang tidak siap digunakan. Yang biasa dilakukan adalah membuat lubang untuk menempatkan sekrup.

Gambar 2 8. Salah satu produk die casting

10.

Kecepatan Pendinginan

Kecepatan di saat pendinginan cor mempengaruhi properti, kualitas dan mikrostrukturnya. Kecepatan pendinginan sangat dikontrol oleh media cetakan. Ketika logam yang dicetak dituangkan ke dalam cetakan, pendinginan dimulai. Hal ini terjadi, karena panas antara logam yang dicetak mengalir menuju bagian pendingin cetakan. Materi-materi cetakan memindahkan panas dari pengecoran menuju cetakan dalam kecepatan yang berbeda. Contohnya, beberapa cetakan yang terbuat dari plaster memungkinkan untuk memidahkan panas dengan lambat sekali sedangkan cetakan yang keseluruhannya terbuat dari besi yang dapat mentranfer panas dengan sangat cepat sekali. Pendinginan ini akan

Teknik Pemesinan

34

berakhir dengan pengerasan di mana logam cair berubah menjadi logam padat. Pada tahap dasar ini, pengecoran logam menuangkan logam ke dalam cetakan tanpa mengontrol bagaimana pencetakan mendingin dan logam membeku dalam cetakan. Ketika panas harus dipindahkan dengan cepat, para ahli akan merencanakan cetakan yang digunakan untuk mencakup penyusutan panas pada cetakan, disebut dengan chills. Fins bisa juga didesain pada pengecoran untuk panas inti, yang kemudian dipindahkan pada proses cleaning (juga disebut fetting). Kedua metode bisa digunakan pada titik-titik lokal pada cetakan dimana panas akan disarikan secara cepat. Ketika panas harus dipindahkan secara pelan, pemicu atau beberapa alas bisa ditambahkan pada pengecoran. Pemicu adalah sebuah cetakan tambahan yang lebih luas yang akan mendingin lebih lamban dibanding tempat dimana pemicu ditempelkan pada pengecoran. Akhirnya, area pengecoran yang didinginkan secara cepat akan memiliki struktur serat yang bagur dan area yang mendingin dengan lamban akan memilki struktur serat yang kasar. B. Mengenal Proses Pemesinan Proses pemesinan dengan menggunakan prinsip pemotongan logam dibagi dalam tiga kelompok dasar, yaitu : proses pemotongan dengan mesin pres, proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas, dan proses pemotongan non konvensional. Proses pemotongan dengan menggunakan mesin pres meliputi pengguntingan (shearing), pengepresan (pressing) dan penarikan (drawing, elongating). Proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas meliputi proses bubut (turning), proses frais (milling), dan sekrap (shaping). Proses pemotongan non konvensional contohnya dengan mesin EDM (Electrical Discharge Machining) dan wire cutting. Proses pemotongan logam ini biasanya disebut proses pemesinan, yang dilakukan dengan cara membuang bagian benda kerja yang tidak digunakan menjadi beram (chips), sehingga terbentuk benda kerja. Dari semua prinsip pemotongan di atas pada buku ini akan dibahas tentang proses pemesinan dengan menggunakan mesin perkakas. Proses pemesinan adalah proses yang paling banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu produk jadi yang berbahan baku logam. Diperkirakan sekitar 60% sampai 80% dari seluruh proses pembuatan komponen mesin yang komplit dilakukan dengan proses pemesinan. 1. Klasifikasi Proses Pemesinan Proses pemesinan dilakukan dengan cara memotong bagian benda kerja yang tidak digunakan dengan menggunakan pahat (cutting Teknik Pemesinan 35

Beberapa proses pemesinan : Bubut (Turning/Lathe). planing). Pahat dapat melakukan gerak potong (cutting) dan gerak makan (feeding). mesin gurdi (drilling machine). dapat diklasifikasikan sebagai pahat bermata potong tunggal (single point cutting tool) dan pahat bermata potong jamak (multiple point cutting tool). dan proses pemesinan untuk membentuk benda kerja permukaan datar tanpa memutar benda kerja. Klasifikasi yang pertama meliputi proses bubut dan variasi proses yang dilakukan dengan menggunakan mesin bubut. Pahat yang digunakan pada satu jenis mesin perkakas akan bergerak dengan gerakan yang relatif tertentu (berputar atau bergeser) disesuaikan dengan bentuk benda kerja yang akan dibuat. Gambar 2 9. dan proses pemotongan roda gigi (gear cutting). mesin frais (milling machine). Frais (Milling).9. Beberapa proses pemesinan tersebut ditampilkan pada Gambar 2. Bor (Boring). Klasifikasi kedua meliputi proses sekrap (shaping. Gurdi (Drilling). proses menggergaji (sawing). proses slot (sloting).tool). Sekrap (Planning. Gerinda Permukaan (Surface Grinding). mesin gerinda (grinding machine). sehingga terbentuk permukaan benda kerja menjadi komponen yang dikehendaki. Gerinda (Grinding). Proses pemesinan dapat diklasifikasikan dalam dua klasifikasi besar yaitu proses pemesinan untuk membentuk benda kerja silindris atau konis dengan benda kerja/pahat berputar. Pahat. Shaping). Pelubang (Punching Press). Teknik Pemesinan 36 .

dijelaskan tentang kategori dari jenisjenis beram : Teknik Pemesinan 37 . temperatur pahat. dan sebagainya. dan Gambar 2. Informasi singkat berikut akan menjelaskan tentang beberapa aspek penting proses pembentukan beram dalam proses pemesinan. Pada Gambar 2. sehingga menjadi sangat penting untuk menemukan perhitungan otomatis guna menentukan kecepatan dan gerak makan. planing. dan parameter yang lain. Proses pembentukan beram sangat dipengaruhi oleh bentuk pahat (cutting tool).2. berapa kecepatan (speed). atau frais. terutama terjadinya proses penyayatan sehingga terbentuk beram. lapping. Dengan diterapkannya CNC (Computer Numerically Controlled) pada mesin perkakas. Proses pembentukan beram juga tergantung pada material pahat. Proses terbentuknya beram adalah sama untuk hampir semua proses pemesinan.10. cairan pendingin. temperatur benda kerja. Pembentukan Beram (Chips Formation) pada Proses Pemesinan Karena pentingnya proses pemesinan pada semua industri. bubut. Alasan-alasan bahwa proses pembentukan beram adalah sulit untuk dianalisa dan diketahui karakteristiknya diringkas sebagai berikut : Laju regangan (strain rate) yang terjadi saat pembentukan sangat tinggi dibandingkan dengan proses pembentukan yang lain. dan telah diteliti untuk menemukan bentuk yang mendekati ideal. honing. yang di masa yang lalu diperoleh dengan perkiraan oleh para ahli dan operator proses pemesinan. maka teori pemesinan dipelajari secara luas dan mendalam sejak lama. Untuk semua jenis proses pemesinan termasuk gerinda.11. gerak makan (feed). maka produksi elemen mesin menjadi sangat cepat. dan getaran pahat. fenomena pembentukan beram pada satu titik bertemunya pahat dengan benda kerja adalah mirip. Proses pembentukan beram tergantung pada bahan benda kerja.

12.Gambar 2 10. Gambar 2 11. dan kecil (tight). helix tak terhingga (infinite helix). setengah melingkar (half turns). beram tidak teratur (snarling). maka digunakan gambar dua dimensi untuk menjelaskan geometri dasar dari terbentuknya beram. Gambar 2. Beberapa bentuk beram hasil proses pemesinan : beram lurus (straight). Agar mudah dimengerti. di bawah ini memberikan penjelasan tentang teori terbentuknya beram pada proses pemesinan. Teknik Pemesinan 38 . Jenis-jenis dan bentuk beram proses pemesinan pada saat mulai terbentuk. melingkar penuh (full turns).

12. Material benda kerja di depan pahat dengan cepat melengkung ke atas dan tertekan pada bidang geser yang sempit (di Gambar 2. dua dimensi terbentuknya beram (chips). berikut menjelaskan tentang daerah pemotongan yang digambarkan dengan garis-garis arusnya. kemudian bahan pada akhirnya luluh akibat geser. bidang Teknik Pemesinan 39 . Apabila material rapuh. terlihat sebagai garis tebal) . Ketika bahan benda kerja bergerak dari material yang utuh ke daerah geser. deformasi elastis akan diikuti deformasi plastis. daerah geser tersebut disederhanakan menjadi sebuah bidang.Gambar 2 12. Ketika pahat bergerak maju. material di depannya bergeser pada bidang geser tersebut. beram secara periodik retak dan menghasilkan beram berbentuk kecil-kecil. Seperti pada diagram tegangan regangan logam. Gambar 2.13. Apabila hasil deformasi pada bidang geser terdorong material yang berikutnya. kemudian terpotong. retakan tidak akan muncul dan beram akan berbentuk pita kontinyu. Untuk mempermudah analisis. Apabila materialnya ulet. dan selanjutnya menjadi beram. maka beram tersebut lepas.

Pengerjaan logam dengan mesin bubut C. (b) Ketidakmurnian dalam bentuk inklusi terpecah-pecah dan tersebar dalam logam. biasanya dibutuhkan proses pengerjaan mekanik di mana logam tersebut akan mengalami deformasi plastik dan perubahan bentuk. Gambar 2 14. logam berada dalam keadaan plastik dan mudah di bentuk oleh tekanan. Pada waktu proses pengerjaan panas berlangsung. (d) Sifat- Teknik Pemesinan 40 . Mengenal Proses Pengerjaan Panas Guna membentuk logam menjadi bentuk yang lebih bermanfaat.Gambar 2 13. Gambar skematis terbentuknya beram yang dianalogikan dengan pergeseran setumpuk kartu. Proses ini juga mempunyai keuntungankeuntungan antara lain: (a) Porositas dalam logam dapat dikurangi. Salah satu pengerjaan itu adalah pengerjaan panas. Pada proses ini hanya memerlukam daya deformasi yang rendah dan perubahan sifat mekanik yang terjadi juga kecil. Pengerjaan panas logam dilakukan di atas suhu rekristalisasi atau di atas daerah pengerasan kerja. (c) Butir yang kasar dan berbentuk kolom diperhalus.

(e) Jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengubah bentuk logam dalam keadaan plastik lebih rendah. kembali menjadi struktur memanjang akibat pengaruh penggilingan. Penempaan (Forging) Proses penempaan ini ada berbagai jenis. pelat. Struktur yang kasar. antara lain: Pengerolan (Rolling) Batangan baja yang membara. Teknik Pemesinan 41 . Gambar 2 15. penempaan upset. Namun demikian. yaitu pada suhu yang tinggi terjadi oksidasi dan pembentukan kerak pada permukaan logam sehingga penyelesaian permukaan tidak bagus. pada proses pengerjaan ini juga ada kerugiannya. Proses pengerjaan panas logam ini ada bermacam-macam. 2. 1. kembali menjadi struktur memanjang akibat pengaruh penggilingan. penempaan tekan. Mesin pengerollan (rolling) Salah satu akibat dari proses dari pengolahan adalah penghalusan butir yang disebabkan rekristalisasi. diubah bentuknya menjadi produk berguna melalui pengerolan. Pada operasi pengerolan. Struktur yang kasar. Pada proses pengerolan suatu logam. dan batang. Salah satu akibat dari proses pengolahan adalah penghalusan butir yang disebabkan rekristalisasi. penempaan timpa. dan penempaan rol. ketebalan logam mengalami deformasi terbanyak. Proses pengerjaan panas dengan pengerolan ini biasanya digunakan untuk membuat rel. Adapun lebarnya hanya bertambah sedikit. bentuk profil. Hal itu akan berakibat pada toleransi dari benda tersebut menjadi tidak ketat. di antaranya penempaan palu. keseragaman suhu sangat penting karena berpengaruh pada aliran logam dan plastisitas.sifat fisik meningkat.

enga kata lain availabilitas adalah kemampuan sistem untuk menghasilkan kerja yang berguna. bensin satu liter dikonversi menjadi kerja yang berhasil guna tinggi. tetapi dapat berubah bentuk (konversi) dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain. Energi bersifat abstrak yang sukar dibuktikan tetapi dapat dirasakan adanya. Bentuk transisinya adalah aliran elektron melalui konduktor jenis tertentu.D. energi bersifat kekal. yakni menjadi energi gerak/mekanik pada mobil/motor. c. sehingga dapat memindahkan manusia/barang dari suatu tempat ke tempat lain. Energi listrik dapat disimpan sebagai energi medan elektrostatis yang merupakan energi yang berkaitan dengan medan listrik yang dihasilkan oleh terakumulasinya muatan elektron pada pelat-pelat kapasitor. Arus listrik akan mengalir bila penghantar listrik dilewatkan pada medan magnet. Energi Mekanik Energi meknik merupakan energi gerak. 4. Menurut hukum Termodinamika Pertama. Contohnya air waduk di pegunungan dapat dikonversi menjadi energi mekanik untuk memutar turbin selanjutnya dikonversi lagi menjadi energi listrik. Energi Potensial Merupakan energi karena posisinya di tempat yang tinggi. Pengertian Energi Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Energi Listrik Energi Listrik adalah energi yang berkaitan dengan arus elektron. misal turbin air akan mengubah energi potensial menjadi energi mekanik untuk memutar generator listrik. Macam-Macam Energi a. Dalam hal ini bensin satu liter memiliki energi dalam yang siap dirubah menjadi kerja yang berguna (availabilitas). b. dinyatakan dalam Watt-jam atau kilo Watt-jam. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnakan. Sebagai contoh pada proses pembakaran pada mesin mobil/motor (sistem motor pembakaran dalam). Teknik Pemesinan 42 . Mengenal Proses Mesin Konversi Energi 3.

PLTA. atau kKal. Bila energi dilepas dalam suatu reaksi maka reaksinya disebut reaksi eksotermis yang dinyatakan dalam kJ. yang juga digunakan dalam evaluasi energi nuklir. Teknik Pemesinan 43 . Energi radiasi dinyatakan dalam satuan energi yang sangat kecil. yakni elektron volt (eV) atau mega elektro volt (MeV). Reaksi pembakaran melibatkan oksidasi dari bahan bakar fosil. Energi kimia hanya dapat terjadi dalam bentuk energi tersimpan. Bila dalam reaksi kimia energinya terserap maka disebut dengan reaksi endodermis. konversi energi dari energi potensial.Gambar 2 16. Btu. dan energi listrik d. e. Energi Kimia Energi kimia merupakan energi yang keluar sebagai hasil interaksi elektron di mana dua atau lebih atom/molekul berkombinasi sehingga menghasilkan senyawa kimia yang stabil. energi mekanik. Sumber energi bahan bakar yang sangat penting bagi manusia adalah reaksi kimia eksotermis yang pada umumnya disebut reaksi pembakaran. Energi Elektromagnetik Energi elektromagnetik merupakan bentuk energi yang berkaitan dengan radiasi elektromagnetik.

Satuan yang digunakan adalah juta elektron reaksi. Energi Termal Energi termal merupakan bentuk energi dasar di mana dalam kata lain adalah semua energi yang dapat dikonversikan secara penuh menjadi energi panas. Energi ini dilepas sebagai hasil usaha partikel-partikel untuk memperoleh kondisi yang lebih stabil. dapat pula dalam bentuk energi tersimpan sebagai kalor ”laten” atau kalor “sensible” yang berupa entalpi. dan fusi. Pada reaksi nuklir dapat terjadi peluluhan radioaktif. Salah satu reaktor nuklir g. Bentuk energi transisi dan energi termal adalah energi panas.Gambar 2 17. pengonversian dari energi termal ke energi lain dibatasi oleh hukum Termodinamika II. Sebaliknya. Gambar 2 18. Energi Nuklir Energi Nuklir adalah energi dalam bentuk energi tersimpan yang dapat dilepas akibat interaksi partikel dengan atau di dalam inti atom. fisi. Accu sebagai bentuk energi kimia f. Teknik Pemesinan 44 .

kecuali turbin hidropower. Mesin konversi energi non-konvensial umumya menggunakan energi yang dapat diperbarui. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi Mesin-mesin konversi energi secara sederhana dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pemanfaatan energi angin 5. Teknik Pemesinan 45 . dan umumnya dapat diklasifikasikan menjadi motor pembakaran dalam. Gambar 2 20. material utama berupa angin dengan kecepatan tertentu yang mengenai turbin angin sehingga menjadi gerak mekanik dan listrik. mesin-mesin fluida.Gambar 2 19. dan mesin pendingin dan pengkondisian udara. Mesin konversi energi konvensional umumnya menggunakan sumber energi konvensional yang tidak terbarui. Mesin konversi dari panas ke uap h. yaitu mesin konversi energi konvensional dan mesin energi konversi non-konvensional. motor pembakaran luar. kecuali mesin energi konvensi berbahan dasar nuklir. Energi Angin Energi angin merupakan energi yang tidak akan habis.

b) Langkah kerja atau ekspansi. Ketika saluran masuk terbuka. Teknik Pemesinan 46 . dan empat langkah (four stroke). terjadilah kerja. dan pembakaran tak-sempurna). dimuliai ketika piston bergerak mencapai titik tertentu sebelum titik mati atas busi memercikan bunga api. Bahan bakar standar motor bensin adalah isooktan (C8H18). dan sebagian darinya mengalir langsung ke luar silinder selama langkah bilas. Energi kimia bahan bakar tidak dikonversikan langsung menjadi energi mekanis. a) Langkah kompresi dimulai dengan penutupan saluran masuk dan keluar kemudian menekan isi silinder dan di bagian bawah. Setiap siklus mesin dengan satu langkah tenaga diselesaikan dalam satu kali putaran poros engkol.a. pembakaran dimulai. campuran bahan bakar dan udara bersih tertekan di dalam rumah engkol. Sistem siklus kerja motor bensin dibedakan atas motor bensin dua langkah (two stroke). piston menghisap campuran bahan bakar udara bersih ke dalam rumah engkol. Pada awalnya saluran buang dan saluran masuk terbuka. 2) Motor Bensin Empat Langkah Motor bensin empat langkah adalah motor yang pada setiap empat langkah torak/piston (dua putaran engkol) sempurna menghasilkan satu tenaga kerja (satu langkah kerja). Sebagian besar gas yang terbakar keluar silinder dalam proses exhaust blowdown. gesek/mekanis. Efisiensi pengonversian energinya berkisar 30% ( t ±30%). yaitu dari energi bahan bakar menjadi energi panas dan kemudian baru menjadi energi mekanis. Bila piston mencapai titik mati atas. Hal ini karena kerugian 50% (panas. 1) Motor Bensin Dua Langkah Motor bensin dua langkah adalah motor yang pada dua langkah torak/piston (satu putaran engkol) sempurna akan menghasilkan satu langkah kerja. Motor pembakaran dalam Motor pembakaran dalam dikembangkan oleh Motos Otto. Namun sulit untuk mengisi secara penuh volume langkah dengan campuran bersih. atau Beau de Roches merupakan mesin pengonvesi energi tak langsung. mengalir ke dalam silinder. Piston dan saluran-saluran umumnya dibentuk membelokan campuran yang masuk langsung menuju saluran buang dan juga ditunjukkan untuk mendapatkan pembilasan gas residu secara efektif.

75. piston mendorong keluar sisa gas pembakaran hingga piston mencapai titik mati atas.L. atau langkah ekspansi. katup buang tertutup.Pi. e) Perhitungan daya motor didasarkan pada dimensi mesin.. Gas bertekanan tinggi menekan piston turun dan memaksa engkol berputar.a D2 S . Siklus motor bensin 4 langkah a) Langkah pemasukan dimulai dengan katup masuk terbuka.75. Ketika katup buang membuka.Gambar 2 21. c) Langkah kerja. Bila piston mencapai titik mati atas. yang dimulai saat piston hampir mencapai titik mati atas dan berakhir sekitar 45o sebelum titik mati bawah.n 4 60. katup buang terbuka untuk memulai proses pembuangan dan menurunkan tekanan silinder hingga mendekati tekanan pembuangan.a Teknik Pemesinan 47 . Sesaat sebelum akhir langkah kompresi. antara lain: Daya efektif: Ne Daya indikatif: Ni D2 S . b) Langkah kompresi.L.Pe.n 4 60. Ketika piston mencapai titik mati bawah. diawali ketika kedua katup tertutup dan campuran di dalam silinder terkompresi sebagian kecil dari volume awalnya. piston bergerak dari titik mati atas dan berakhir ketika piston mencapai titik mati bawah. demikian seterusnya. Udara dan bahan bakar terhisap ke dalam silinder. d) Langkah pembuangan. Langkah ini berakhir hingga katup masuk menutup. pembakaran dimulai dan tekanan silinder naik lebih cepat. katup masuk membuka. dimulai ketika piston mencapai titik mati bawah.

Fluida kerjanya dapat berupa air. berbeda dengan yang terjadi pada mesin torak. Apabila kemudian ternyata bahwa roda turbin dapat berputar. Roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan atau memutar bebannya (generator listrik. pompa. di mana energi fluida kerja dipergunakan langsung untuk memutar roda turbin. Turbin air Turbin dilengkapi dengan sudu-sudu. yaitu proses penurunan tekanan. Bagian berputar dinamai stator atau rumah turbin. kompresor.di mana D : diameter silinder (cm2) L i : panjang langkah torak (m) : jumlah silinder Pe : tekanan efek rata-rata (kgf/cm2) Pi : tekanan indikatif rata-rata (kgf/cm2) n a : putaran mesin (rpm) : . Jadi. Turbin Turbin adalah mesin penggerak. baling-baling atau mesin lainnya). Gaya tersebut timbul karena terjadinya perubahan momentum dari fluida kerja yang mengalir di Teknik Pemesinan 48 . atau gas. pada turbin tidak terdapat bagian mesin yang bergerak translasi. Gambar 2 22.dua langkah a=1 . Di dalam turbin fluida kerja mengalami proses ekspansi. dan mengalir secara kontinu. Pada roda turbin terdapat sudu dan fluida kerja akan mengalir melalui ruang di antara sudu tersebut.empat langkah a=2 b. maka akan timbul gaya yang bekerja pada sudu. uap air.

sudu turbin haruslah dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat terjadi perubahan momentum pada fluida kerja tersebut. Jadi.antara sudu. Gambar 2 23. Sebuah sistem turbin gas Teknik Pemesinan 49 .

BAB 3 MEREALISASI KERJA YANG AMAN Teknik Pemesinan 50 .

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) elalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/aktivitas pekerjaan. kecelakaan/potensi kecelakaan kerja harus dicegah/dihilangkan. S Adapun tujuan penanganan K3 adalah agar pekerja dapat nyaman. tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi. & selamat Tempat kerja Lingkungan kerja Output. impak. Hubungan antar variabel pada sistem keselamatan kerja. peka Gambar 3 1. seberapa pun kecilnya. Karena itu sedapat mungkin dan sedini mungkin.produk Input Proses Produksi Prosedur kerja Outcomes. Teknik Pemesinan 51 . sehat dan selamat selama bekerja.A. atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha. sebagaimana digambarkan dalam bagan berikut : Tujuan nyaman. nss. sadar. sehat.

Berdasarkan "derajad keparahannya". ruang kerja. pekerjaanpekerjaan yang harus diawali dengan "pemanasan prosedural". Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan.Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut : 1. 1.: 74 Tahun 2001. dll. 3. kondisi. maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). bahaya-bahaya di atas dibagi ke dalam empat kelas. Personal Protective Equipment. kejadian. Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. faktor ergonomi. bahan/material. sifat pekerjaan itu sendiri yang berbahaya. bahaya/resiko dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu : 1. umur pekerja. Kecepatan kerja (paced work). Karakteristik pekerjaan itu sendiri 5. Peraturan Pemerintah RI No. dan segala sesuatu yang ada di tempat kerja/berhubungan dengan pekerjaan yang menjadi/berpotensi menjadi sumber kecelakaan/cedera/penyakit dan kematian disebut dengan Bahaya/Resiko. kimia. pelatihan. peralatan dan perlengkapan dalam pekerjaan. ditengarai penyebab awalnya (pre-cause) adalah kurangnya training 4. kelelahan dan stress dalam pekerjaan. Secara garis besar. Kelelahan (fatigue) 2. tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal. Manajemen Bahaya Aktivitas. panas/termal. suhu. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe working condition) 3. termasuk kekerasan. Bahaya/resiko manusia Kejahatan di tempat kerja. simultan. proses. dll. beban kerja (workload). pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work). 2. Bahaya/resiko lingkungan Termasuk di dalamnya adalah bahaya-bahaya biologi. cahaya dan pencahayaan. kualitas udara. Jika kecelakaan terjadi maka akan sangat mempengauhi produktivitas kerja. situasi. getaran. gejala. Bahaya/resiko pekerjaan/tugas Misalnya : pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara manual. kebisingan. dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud. dsb. material. yaitu : Teknik Pemesinan 52 .

Ventilasi/ ventilation 4. Extreme risk b. High risk c. Pemisahan waktu/time separation c. Penggantian/substitution. Pemisahan/separation a. Low risk Dalam manajemen bahaya (hazard management) dikenal lima prinsip pengendalian bahaya yang bisa digunakan secara bertingkat/bersama-sama untuk mengurangi/menghilangkan tingkat bahaya. Moderate risk d. Pemisahan fisik/physical separation b. yaitu : 1.a. Pemisahan jarak/distance separation 3. yaitu : 1. Perlengkapan perlindungan personnel/Personnel Protective Equipment (PPE). Pada saat perlengkapan/peralatan kerja dibeli. Pengendalian administratif/administrative controls 5. Pada saat prosedur operasional sedang dibuat 3. Teknik Pemesinan 53 . juga dikenal sebagai engineering control 2. Ada tiga tahap penting (critical stages) di mana kelima prinsip tersebut sebaiknya diimplementasikan. Pada saat pekerjaan dan fasilitas kerja sedang dirancang 2.

Dampak auditorial (Auditory effects) 2. dilution Eliminate. condition Sanitati on SMK3 Ergonomic job hazard analysis Combine Coordintion lightin’ HERSMIS Simplific ationSOP Education promotion Gambar 3 2. preventive. environment. seperti gangguan cara berkomunikasi. protection Change. risk. Teknik Pemesinan 54 . safety) ……. anticipate Ventilate. reduction. Secara umum dampak kebisingan bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar. yaitu : 1. Resiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara permanen. termasuk bagaimana prinsip pengendalian kecelakaan kerja dilakukan. modificate substitue HERS oriented. Dampak ini berhubungan langsung dengan fungsi (perangkat keras) pendengaran. digambarkan melalui bagan berikut : HERS (health. 3. Dampak ini bersifat psikologis. Dan jika resiko ini terjadi (biasanya secara medis sudah tidak dapat diatasi/"diobati"). seperti hilangnya/berkurangnya fungsi pendengaran.. kebingungan. suara dering/berfrekuensi tinggi dalam telinga. Saling keterkaitan kata kunci dalam penanganan masalah. stress.Beberapa kata kunci yang saling berkaitan dalam penanganan masalah keselamatan kerja. 2. Dampak non-auditorial (Non-auditory effects) 4.key word Health exam OHS analysis Environt analysis Desain develop Isolation. dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keamanan kerja. Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise) Kebisingan sampai pada tingkat tertentu bisa menimbulkan gangguan pada fungsi pendengaran manusia. sudah barang tentu akan mengurangi efisiensi pekerjaan si penderita secara signifikan.

6. Sedangkan jenis industri. 2. 4. 3. Formula NIOSH (National Institute of Occupational Safety & Health) untuk menghitung waktu maksimum yang diperkenankan bagi seorang pekerja untuk berada dalam tempat kerja dengan tingkat kebisingan tidak aman adalah sebagai berikut : T 480 2 (L 85)/3 Di mana : T = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam menit) L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 3 = exchange rate Bandingkan formula yang telah ditetapkan oleh NIOSH tersebut dengan formula yang masih biasa digunakan. 5. Industri perkayuan (wood working & wood processing) 2. 8. tempat kebisingan bisa menjadi sumber bahaya yang potensial bagi pekerja antara lain : 1. Pekerjaan pemipaan (plumbing) 3. Catatan : Lingkungan dengan tingkat kebisingan lebih besar dari 104 dB atau kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan harus menghadapi tingkat kebisingan lebih besar dari 85 dB selama lebih dari 8 jam tergolong sebagai high level of noise related risks. 7. yakni : T 8 2(L 90)/5 Teknik Pemesinan 55 . Percakapan biasa (45-60 dB) Bor listrik (88-98 dB) Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB) Gergaji mesin (110-115 dB) Musik rock (metal) (115 dB) Sirene ambulans (120 dB) Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan (140 dB) Pesawat terbang jet (140 dB).Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai tingkat keamanan kerja : 1. Pertambangan batu bara dan berbagai jenis pertambangan logam.

contohnya pengelasan digunakan sebagai penggantian proses riveting. dan radiasi cahaya. seperti “welder qualification”. Selalu ada resiko-resiko baru yang berhubungan dengan pekerjaan baru (welding). Volume suara yang makin keras pada saat harus berbicara dengan orang lain 3. Implementasi prinsip-prinsip pengendalian bahaya untuk resiko yang disebabkan oleh kebisingan : 1. Jika hal yang sama terjadi pada anda. o Teknik Pemesinan 56 .Di mana : T = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam jam) L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 5 = exchange rate Seringkali seseorang mengira dirinya telah berhasil “beradaptasi” dengan lingkungan yang bising manakala tidak merasa terganggu lagi dengan “tingkat kebisingan” yang pada awalnya sangat mengganggu dirinya. Penggantian (substitution) Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah Mengganti “jenis proses” mesin (dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah) dengan fungsi proses yang sama. HATIHATI ! Mungkin fungsi pendengaran anda mulai terganggu.. Karena itu perlu juga dikembangkan prosedur-prosedur baru (prinsip pengendalian administratif) untuk membantu proses minimisasi resiko kerja. Indikator adanya (potensi) gangguan kebisingan beresiko tinggi di antaranya : 1. termasuk analisis kekuatan struktur harus benar-benar diperhatikan (re-calculation). misalnya: resiko karena adanya penggunaan tenaga listrik..... panas (high temperature). “Mengeraskan” sumber suara hingga tingkatan tertentu yang dianggap oleh seseorang sebagai kebisingan.. Terdengarnya suara-suara dering/berfrekuensi tinggi di telinga 2. welding equipment. Catatan : o Pertimbangan-pertimbangan teknis.

Perlengkapan perlindungan personnel (personnel protective equipment/PPE) Penggunaan earplug dan earmuffs Teknik Pemesinan 57 . Modifikasi “tempat” mesin. Contoh penggantian pada teknik penyambungan logam. Rotasi pekerjaan dan pengaturan jam kerja termasuk dua cara yang biasa digunakan. 2. 3. seperti pemberian dudukan mesin dengan material-material yang memiliki koefisien redaman getaran lebih tinggi.Gambar 3 3. Pemasangan peredam akustik (acoustic barrier) dalam ruang kerja. Pemasangan peredam akustik. Gambar 3 4. Pemisahan (separation) 1) Pemisahan fisik (physical separation) Memindahkan mesin (sumber kebisingan) ke tempat yang lebih jauh dari pekerja 2) Pemisahan waktu (time separation) Mengurangi lamanya waktu yang harus dialami oleh seorang pekerja untuk “berhadapan” dengan kebisingan.

Gambar 3 5. antara lain : 1. Kelelahan mata sehingga berkurang daya dan efisiensi kerja Kelelahan mental Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata Kerusakan penglihatan Meningkatnya kecelakaan kerja. 5. Perlengkapan perlindungan personel. 4. kurang Pencegahan kelelahan akibat pencahayaan yang memadai dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pencahayaan Pencahayaan yang baik pada tempat kerja memungkinkan para pekerja melihat objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. Selain itu pencahayaan yang memadai akan memberikan kesan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. pencahayaan yang buruk dapat menimbulkan berbagai akibat. antara lain : 1. 4. Pemindahan tenaga kerja : pekerja muda pada shift malam. harus segera diambil tindakan penanggulangan. Sebaliknya. 3. 2. Meninggikan penerangan : menambah jumlah dan meletakkan penerangan pada daerah kerja 3. Ingat! Tidak ada jaminan bahwa semua tindakan terbebas dari resiko! Begitu sebuah resiko teridentifikasi. Beberapa kata kunci dalam upaya perbaikan pencahayaan di tempat kerja secara detil dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut : Optimalkan pencahayaan alami 1) Mengapa ? Teknik Pemesinan 58 . Perbaikan kontras : dengan memilih latar penglihatan yang tepat 2. Pengendalian administratif (administrative controls) Larangan memasuki kawasan dengan tingkat kebisingan tinggi tanpa alat pengaman. 1. Peringatan untuk terus mengenakan PPE selama berada di dalam tempat dengan tingkat kebisingan tinggi.

2) Bagaimana caranya ? a) Bersihkan jendela dan pindahkan sekat yang menghalangi cahaya alamiah. b) Cermatilah : jendela dan genting kaca akan menyebabkan cuaca panas di musim panas. b) Dinding dan langit-langit yang cerah akan menghemat energi karena dengan sedikit cahaya dapat meningkatkan penerangan kamar. b) Hindari perbedaan kecerahan antara dinding dan langit-langit. sehingga akan menghemat biaya. b) Ubah tempat kerja atau lokasi mesin agar dapat lebih banyak terkena cahaya alamiah.a) Cahaya alami adalah yang terbaik dan merupakan sumber cahaya yang murah. e) Pasang genting transparan untuk menambah cahaya alamiah. terendah pada warna hitam. Pantulan terbesar pada warna putih (90%). d) Atur agar langit-langit dan tata lampu dapat saling memantul sehingga pencahayaan makin merata. Gunakan warna cerah pada dinding dan langit-langit 1) Mengapa ? a) Perbedaan warna akan memberikan perbedaan pantulan. atau cuaca dingin di musim dingin. hal ini terbukti dapat meningkatkan efisisiensi dan kenyamanan pekerja. c) Jangan gunakan bahan/cat mengkilap agar tidak menyilaukan. b) Pemerataan cahaya dalam tempat kerja dapat ditingkatkan melalui cahaya alami. c) Di musim panas cegah bukaan jendela dari sinar matahari langsung. putih = 80-90% pantulan) untuk langit-langit dan warna muda (50-85% pantulan) untuk dinding. d) Sendirikan saklar lampu pada tempat dekat jendela agar dapat dimatikan bila cahaya alamiahnya terang. Teknik Pemesinan 59 . c) Dinding dan langit-langit yang cerah akan membuat ruangan menjadi nyaman. c) Penggunaan cahaya alamiah merupakan gerakan ramah lingkungan. d) Permukaan warna cerah penting dalam pekerjaan teliti dan pemeriksaan 2) Bagaimana caranya ? a) Untuk mendapatkan pantulan sempurna gunakan warna paling cerah (mis. c) Perluas atau pertinggi jendela agar makin banyak cahaya alamiah yang masuk. sehingga kondusif untuk bekerja efisien. 3) Petunjuk penting : a) Gabungkan cahaya alamiah dengan cahaya buatan untuk meningkatkan pencahayaan tempat kerja.

karena debu akan menyerap banyak cahaya. f) Gunakan warna cerah pada tangga agar nampak jelas. 1) Mengapa ? a) Tempat gelap menyebabkan kecelakaan. Terangi lorong. e) Tempatkan saklar dekat pintu masuk/keluar lorong dan tangga. tetapi hal ini penting bagi keselamatan transportasi dan perpindahan orang/barang. Pencahayaan merata mengurangi perubahan cahaya 1) Mengapa ? a) Perubahan pandangan dari terang ke gelap memerlukan adaptasi mata dan membutuhkan waktu serta menimbulkan kelelahan. tangga. c) Warna cerah dinding dan langit-langit membuat lingkungan kerja menjadi nyaman dan efektif. tetapi juga memberikan pencahayaan yang merata serta mencegah bertumpuknya kotoran.3) Petunjuk penting : a) Bersihkan dinding dan langit-langit secara teratur. apalagi pada pemindahan barang-barang. dll. d) Usahakan cahaya alamiah dengan membuka pintu atau memasang jendela dan genting kaca. atau jika tiba-tiba mati dapat menimbulkan kecelakaan. Teknik Pemesinan 60 . sehingga perlu perhatian pada daerah ini. b) Pindahkan sekat yang menghalangi sinar masuk. b) Penerangan pada lorong. c) Penerangan yang memadai pada tempat-tempat ini akan mencegah kerusakan bahan dan produk. tangga dan gudang boleh jadi kurang daripada di ruang produksi. 2) Bagaimana caranya ? a) Bersihkan jendela dan pasang lampu. balik pintu dan gudang cenderung terlindung dan gelap karena tidak terjangkau sinar matahari. c) Pindahkan lampu agar makin terang. d) Penerangan yang baik pada lorong dan tangga mencegah kecelakaan pekerja dan tamu. mengurangi kerusakan produk dan meningkatkan citra perusahaan. b) Tangga. lorong dan gudang digunakan secara teratur. 3) Petunjuk penting : a) Tata lampu adalah bagian penting dalam pemeriksaan berkala dan program pemeliharaan. turunan. b) Bagian atas lampu yang terbuka bukan hanya memberikan pantulan dari langit-langit. c) Pasang saklar otomatis bila tangga.

dinding. c) Gunakan cahaya alamiah. karena melelahkan mata. c) Penerangan yang memadai dan pas akan membantu pekerja mengawasi benda kerja secara cepat dan rinci sesuai tuntutan tugas. dan kecelakaan. produktifitas rendah. 3) Petunjuk lain : a) Rawatlah tata lampu secara rutin. karena tidak ekonomis dan mengurangi terangnya ruang kerja. 2) Bagaimana caranya ? a) Kombinasikan cahaya alamiah dan cahaya buatan. yang tua perlu penerangan lebih besar. karena biasanya mereka berkaca mata. d) Usahakan penerangan yang baik dan memadai secara murah. c) Ubah posisi lampu dan arah cahaya agar jatuh pada objek kerja. banyak cara untuk mencapai hal itu. pantulan dinding serta perbaikan layout ruang kerja. d) Bayangan pada permukaan benda kerja menyebabkan hasil kerja buruk. c) Penting untuk mencegah kelap-kelip. b) Pemasangan lampu mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan. e) Penerangan diatur agar lebih mudah mengamati objek. b) Penerangan memadai mengurangi kesalahan dan kecelakaan. Penerangan yang memadai menjadikan pekerjaan efisien dan aman sepanjang waktu 1) Mengapa ? a) Penerangan memadai meningkatkan kenyamanan pekerja dan ruang kerja. d) Pertimbangkan umur pekerja.b) Bekerja menjadi lebih nyaman dan efisien pada ruangan dengan variasi penerangan kecil. sekat. Teknik Pemesinan 61 . b) Pertimbangkan untuk mengubah ketinggian lampu dan menambah penerangan utama agar ruang makin terang. e) Hindari cahaya bergetar dengan menukar neon dengan lampu pijar. d) Kurangi zone bayangan dengan pemasangan lampu. bersihkan lampu. b) Warna dinding yang cerah memantulkan lebih banyak cahaya dan memperbaiki atmosfer ruang kerja. dsb. c) Periksalah kesehatan mata pekerja > 40 tahun. jendela. reflektor. 2) Bagaimana caranya ? a) Hilangkan kap. gangguan & kelelahan mata.

b) Lampu lokal dipasang sedekat mungkin dengan benda kerja. d) Pastikan kombinasi cahaya alamiah dan buatan memberikan kontras antara benda kerja dan bidang latar. tirai. tabir. b) Jangan pakai lampu telanjang (pakailah kap). f) Ubah arah pencahayaan. dsb. e) Pemasangan lampu lokal yang tepat menghemat energi dan sangat efektif. d) Kurangi silau dari jendela dengan sekat. 2) Bagaimana caranya? a) Pasang penerangan lokal dekat dan di atas pekerjaan teliti dan pemeriksaan. c) Kombinasi penerangan utama dan lokal akan diperoreh penerangan memadai dan mengurangi gangguan akibat adanya bayangan. mudah dibersihkan dan dirawat. 3) Petunjuk penting : a) Pastikan penerangan lokal tidak mengganggu pandangan pekerja. d) Lampu pijar timbulkan panas. 3) Petunjuk lain : a) Ganti kaca jendela dari bening ke buram. c) Gunakan neon untuk pekerjaan warna yang cermat. b) Silau menyebabkan tidak nyaman dan kelelahan mata.Pasang penerangan lokal untuk pekerjaan peliti dan pemeriksaan 1) Mengapa ? a) Dibanding dengan pekerjaan produksi dan kantor. b) Pada mesin yang bergetar. c) Banyak cara mengurangi silau. pasang lampu pada batang yang tegar. pekerjaan presisi dan pemeriksaan memerlukan lebih banyak penerangan. c) Gunakan kap agar tidak menyilaukan. b) Penerangan lokal yang memadai akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi. b) Usahakan penerangan lokal mudah dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan. Teknik Pemesinan 62 . Pindahkan sumber cahaya atau pasang tabir untuk mengurangi silau 1) Mengapa? a) Silau langsung atau pantulan mengurangi daya lihat orang. c) Pindahlan lampu di atas kepala atau naikkan. e) Pasang lampu lokal. hindari ini dengan memasang lampu TL. 2) Bagaimana caranya ? a) Pasang panel display atau layar.

3. b) Membuat kurang nyaman dan kelelahan mata. c) Pantulan menyilaukan membuat mata lelah dan menurunkan kinerja. c) Rencanakan program pemeliharaan sebagai program terpadu. 2) Bagaimana caranya ? a) Kurangi pantulan dari permukaan mengkilap atau pindahkan letaknya.Pindahkan benda mengkilap agar tidak menyilaukan 1) Mengapa ? a) Silau tidak langsung sama dengan silau langsung dapat mengurangi daya lihat tenaga kerja. 3. Ventilasi pengeluaran setempat : pengisapan dan pengeluaran kontaminan secara serentak dari sumber pancaran sebelum kontaminan tersebar ke seluruh ruangan. Bersihkan jendela dan pelihara sumber penerangan 1) Mengapa ? a) Penerangan yang kotor dan tidak terpelihara akan mengurangi pencahayaan. Teknik Pemesinan 63 . Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi Pengendalian bahaya akibat pencemarann udara atau kondisi udara yang kurang nyaman dapat dilakukan antara lain dengan pembuatan ventilasi yang memadai. Disebut juga sebagai ventilasi pengenceran. d) Buat latar yang terang di belakang benda kerja. hindarilah hal tsb. 2. c) Kurangi nyala lampu. b) Petugas memadai dalam hal alat dan keterampilan. sehingga perlu penerangan yang baik. c) Pemeliharaan akan menambah umur bola lampu. Ventilasi umum : pengeluaran udara terkontaminasi dari suatu ruang kerja melalui suatu bukaan pada dinding bangunan dan pemasukan udara segar melalui bukaan lain atau kebalikannya. b) Pemeliharaan dan kebersihan akan menghemat energi. 2) Bagaimana caranya? a) Bersihkan secara teratur. 3) Petunjuk lain : a) Pekerja tua lebih sensitif thd silau. b) Coba berbagai posisi agar diperoleh pencahayaan yang baik. kelembaban. Ventilasi penurunan panas : perlakuan udara dengan pengendalian suhu. Ventilasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis : 1. d) Sedapat mungkin gunakan lampu yang kapnya terbuka agar debu tidak menumpuk. b) Gunakan penutup pada benda mengkilap. kecepatan aliran dan distribusi untuk mengurangi beban panas yang diderita pekerja.

dsb. Adapun cara membuat sistem ventilasi terdiri dari : 1. 3. peledakan. Teknik Pemesinan 64 . Secara alamiah di mana aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan alami. 4. Terjadi karena perbedaan tekanan udara sehingga timbul angin. Mencegah kerugian ekonomi karena kerusakan mesin oleh korosi. 2.Maksud dibuatnya sistem ventilasi adalah : 1. Menurunkan kadar yang tidak menimbulkan kebakaran atau peledakan yaitu di bawah Batas Ledak Terendah (BLT) atau Lower Explosive Limit (LEL). 5. atau perbedaan suhu yang mengakibatkan beda kerapatan udara antara bangunan dengan sekelilingnya. Menurunkan kadar kontaminan dalam lingkungan kerja sampai pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan pekerja yaitu di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) sehingga terhindar dari keracunan. kebakaran. hilang waktu kerja karena sakit dan kecelakaan. Meningkatkan ketahanan fisik dan daya kerja pekerja. Memberikan penyegaran udara agar diperoleh kenyamanan dengan menurunkan tekanan panas.

The proper amount of clearance from the upstand to the open ridge allow for the continuous upward flow exhaust air Teknik Pemesinan 65 . Aliran udara pada ventilasi (1).Gambar 3 6. Overshot Roof Blowing Precipitation from this side is deflected Blowing Precipitation from this side enters building Falling Precipitation runs of the roof Overshot Roof with Upstand Blowing Precipitation from this side is deflected Both falling and blowing precipitation is deflected from the building.

Udara segar dapat menghilangkan udara panas dan polusi. jendela. Selain itu juga menyebabkan kelelahan. Untuk mendapatkan ventilasi udara ruang kerja yang baik perlu dicermati beberapa kata kunci sebagai berikut : 1. 3) Kipas angin berfungsi mengisap atau mengeluarkan kontaminan. atau atap. 2) Kipas angin dipasang di dinding. tetapi juga dapat memasukkan udara. 2. pusing. Pengendalian udara masuk.Gambar 3 7. sehingga terjadi inefisiensi. blower dan ventilasi atap. sakit kepala. Secara mekanis melalui : 1) Aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan mekanis seperti kipas. Pasang sistem pengeluaran udara kotor yang efisien dan aman. Udara kotor menjadi penyebab gangguan kesehatan sehingga mengarah pada kecelakaan kerja. Teknik Pemesinan 66 . 2. iritasi mata dan tenggorokan. Optimalkan penggunaan ventilasi alamiah agar udara ruang kerja nyaman. Aliran udara pada ventilasi (2). Gambar 3 8.

tangan. badan dan kaki. 4. Ventilasi yang baik dapat membantu mengendalikan dan mencegah akumulasi panas. mata. umumnya berupa : Pelindung kepala dan wajah (Head & Face protection) Pelindung mata (Eyes protection) Pelindung telinga (Hearing protection) Pelindung alat pernafasan (Respiratory protection) Pelindung tangan (Hand protection) Pelindung kaki (Foot protection) Gambar 3 9.3. Aliran udara yang baik pada tempat kerja sangat penting untuk mencapai kerja produktif dan sehat. Alat Perlindungan Diri Secara teknis bagian tubuh manusia yang harus dilindungi sewaktu bekerja adalah : kepala dan wajah. Teknik Pemesinan 67 . Optimalkan sistem ventilasi untuk menjamin kualitas udara ruang kerja. Untuk itu penggunaan alat perlindungan diri pekerja sangat penting. telinga. Pakaian yang memenuhi syarat keselamatan kerja.

Buat petunjuk dan peringatan yang jelas. Bekerja secara aman. Sediakan APD secara memadai. Bekerja secara aman. 4. 6. Perbaiki fasilitas kesejahteraan bersama pekerja. Teknik Pemesinan 68 . Sediakan tempat makan dan istirahat yang layak agar unjuk kerja baik. Gambar 3 10. 2. Sediakan ruang pertemuan dan pelatihan. cuci dan kakus agar terjamin kesehatan.Kata kunci untuk pengaturan APD (Alat Perlindungan Diri) 1. 5. 3. Upayakan perawatan/kebersihan tempat ganti. Gambar 3 11.

Gambar 3 12. 8. Gambar 3 13. Teknik Pemesinan 69 . 11. Sediakan layanan untuk pembersihan dan perbaikan APD secara teratur. Pilihlah APD terbaik jika risiko bahaya tidak dieliminasi dengan alat lain. 9. Yakinkan bahwa penggunaan APD dapat diterima oleh pekerja. Bekerja secara aman. 10. lengkap. Gambar 3 14. Penjelasan teknis pengunaan alat. Pelatihan K3.7. Yakinkan bahwa penggunaan APD sangat diperlukan. Pastikan penggunaan APD melalui petunjuk yang penyesuaian dan latihan.

Gambar 3 17. Rute transport barang.Gambar 3 15. Teknik Pemesinan 70 . Rak penyimpanan alat K3. Gambar 3 16. Pantau tanggung jawab atas kebersihan dan pengelolaan ruang kerja 2. Tandai dan perjelas rute transport barang. 13. Peminjaman alat. Penanganan dan Penyimpanan Bahan 1. Sediakan tempat penyimpanan APD yang memadai. 12.

Kemiringan tanjakan 5-8%. Permukaan jalan rata. Layout tempat kerja. Perbaiki layout tempat kerja. 3. Teknik Pemesinan 71 .2. Pintu dan gang harus cukup lebar untuk arus dua arah. anak tangga yang rapat. 4. Gambar 3 18. tidak licin dan tanpa rintangan. Gambar 3 20. Jalur arus dua arah. Gambar 3 19. Permukaan jalan tidak rata serta kemiringan tangga 5.

12. Rak penyimpanan barang serta keretta beroda 8. Gunakan rak penyimpanan yang dapat bergerak/mobil. Gunakan rak bertingkat di dekat tempat kerja. 7. Bagi dalam bagian kecil-kecil. Gunakan kereta beroda untuk pindahkan barang. Teknik Pemesinan 72 . Gunakan alat pengangkat. Rak bertingkat serta alat pengangkat 10. Gambar 3 21. Gunakan konveyor. Gunakan pegangan. 11. Gambar 3 23. 13. Hilangkan/kurangi perbedaan ketinggian permukaan. 9. kerek. Konveyor dan kerek. Gambar 3 22.6. dll.

Naik/turunkan barang secara perlahan di depan badan tanpa membungkuk dan memutar tubuh.Gambar 3 24. Kurangi pekerjaan yang dilakukan membungkuk/memutar badan. 20. 17. mendorong/menarik dengan cara Gambar 3 25. Membawa barang serta naik turunkan barang 18. Pemindahan horizontal serta posisi yang tidak efisien 16. Rapatkan beban ke tubuh sewaktu membawa barang. 19. Penempatan sampah. Teknik Pemesinan 73 . Dipikul supaya seimbang. Pegangan serta perbedaan ketinggian 14. Gambar 3 26. Kombinasikan pekerjaan angkat berat dengan tugas fisik ringan. Pemindahan horizontal lebih baik dengan daripada mengangkat/menurunkan. 15.

plastik. Kebakaran merupakan peristiwa berkobarnya api yang tidak dikehendaki dan selalu membawa kerugian. Teknik Pemesinan 74 . bahan yang relatif mudah terbakar seperti batu bara. diberi sekat dari bahan tahan api. Melalui pelatihan diharapkan peserta mampu mengidentifikasi potensi penyebab kebakaran di lingkungan tempat kerjanya dan melakukan upaya pemadaman kebakaran dini. Dengan demikian usaha pencegahan harus dilakukan oleh setiap individu dan unit kerja agar jumlah peristiwa kebakaran.21. penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sekecil mungkin melalui perencanaan yang baik. juga bahan yang bersifat mengoksidasi. bahan yang jika bertemu dengan air menghasilkan gas yang mudah terbakar (karbit). Gambar 3 27. titik nyala dan potensi menyala sendiri. Bahan bakar dapat dibedakan dari jenis. ruang penyimpanan terbuka atau dengan ventilasi yang cukup serta dipasang detektor kebocoran. Untuk mencegah terjadinya kebakaran adalah dengan mencegah bertemunya salah satu dari dua unsur lainnya. kertas. Selain itu kewaspadaan diperlukan bagi bahan-bahan yang berada pada suhu tinggi. kapuk. Penempatan sampah serta jalan keluar darurat 3. terpisah dari bahan lain. suhu penyalaan/titik nyala dan zat pembakar (O2 atau udara). Tandai dengan jelas dan bebaskan jalan keluar darurat. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran Pertimbangan utama mengapa perlu upaya penanggulangan bahaya kebakaran adalah karena adanya potensi bahaya kebakaran di semua tempat. Bahan seperti ini memerlukan pengelolaan yang memadai : penyimpanan dalam tabung tertutup. cat. Kebakaran terjadi akibat bertemunya 3 unsur : bahan (yang dapat) terbakar. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar Untuk mengendalikan bahan yang dapat terbakar agar tidak bertemu dengan dua unsur yang lain dilakukan melalui identifikasi bahan bakar tersebut. Bahan bakar yang memiliki titik nyala rendah dan rendah sekali harus diwaspadai karena berpotensi besar penyebab kebakaran. 1. kayu kering.

timbulnya bara api juga terjadi karena gesekan benda dalam waktu relatif lama.kain. Pengendalian titik nyala. petir. Sumber penyalaan yang lain: benda membara. Teknik Pemesinan 75 . reaksi eksoterm. sampah kering. dsb. api pembakaran sampah. pemanas. jerami. bunga api. karet. lampu minyak. Pengendalian bahan bakar 2. Api terbuka tersebut bila memang diperlukan harus dijauhkan dari bahan yang mudah terbakar. serta bahan-bahan yang mudah meledak pada bentuk serbuk atau debu. api rokok. Gambar 3 28. Pengendalian titik nyala Sumber titik nyala yang paling banyak adalah api terbuka seperti nyala api kompor. Gambar 3 29. atau terjadi hubung singkat rangkaian listrik.

yaitu kebakaran listrik yang bertegangan d. yaitu kebakaran bahan padat kecuali logam. b. kurang hati-hati menggunakan alat dan bahan yang dapat menimbulkan api. Kebakaran karena peristiwa alam. Caranya dengan menimbunkan pada benda yang terbakar menggunakan sekop atau ember. seperti : kurangnya pengertian pengetahuan penanggulangan bahaya kebakaran. aspal.: 04/MEN/1980 penggolongan atau pengelompokan jenis kebakaran menurut jenis bahan yang terbakar. yang sejenis dengan itu. busa. gemuk. dll. seperti : aluminium. petir. karet.3. bahan yang dapat menutup benda terbakar sehingga udara tidak masuk sehingga api padam. 4. Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana 1) Air. Sebab-sebab kebakaran a. mencari keuntungan ganti rugi klaim asuransi. gempa bumi. Peralatan pemadaman kebakaran Untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran perlu disediakan peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dan cocok untuk bahan yang mungkin terbakar di tempat yang bersangkutan. b. yaitu kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar. seperti : bensin. Kebakaran kelas (tipe) D. Kebakaran karena penyalaan sendiri. Persedian air dilakukan dengan cadangan bak-bak air dekat daerah bahaya. yang sejenis dengan itu. Kebakaran karena sifat kelalaian manusia. tujuan taktis pertempuran dengan jalan bumi hangus. sering terjadi pada gudang bahan kimia di mana bahan bereaksi dengan udara. plastik. Teknik Pemesinan 76 . minyak. Pengelompokan itu adalah : a. 2) Pasir. yaitu kebakaran bahan logam. hilangkan jejak kejahatan. tekstil. d. c. sinar matahari. sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran. murah dan tidak ada akibat ikutan (side effect). bahan alam yang melimpah. Kebakaran kelas (tipe) C. LPG dll. kayu. c. Klasifikasi kebakaran Berdasar Permennaker No. magnesium. Kebakaran kelas (tipe) A. dimaksudkan untuk pemilihan media pemadam kebakaran yang sesuai. air dan juga dengan bahan-bahan lainnya yang mudah meledak atau terbakar. terutama berkenaan dengan cuaca. seperti : kertas. a. misalnya sabotase. 5. yang sejenis dengan itu. alat yang diperlukan berupa ember atau slang/pipa karet/plastik. alkohol. kalium. Kebakaran kelas (tipe) B. letusan gunung berapi. kurangnya kesadaran pribadi atau tidak disiplin. dll. Kebakaran karena kesengajaan untuk tujuan tertentu. angin dan topan.

kombinasi antara sistem isyarat alat pemadam kebakaran. boks hidran (dalam gedung) berisi : slang landas. luasnya minimal 2 kali luas potensi api. Jenis APAR meliputi : jenis air (water). c. gantol dan lain-lain sejenis. busa (foam). b. Alat pemadam kebakaran besar Alat-alat ini ada yang dilayani secara manual ada pula yang bekerja secara otomatis. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) APAR adalah alat yang ringan berupa tabung. Alat pemadam kebakaran. saluran air. pipa semprot dan kumparan slang. atau selimut basah sangat efektif untuk menutup kebakaran dini pada api kompor atau kebakaran di rumah tangga. Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. Konstruksi APAR sebagai berikut : Gambar 3 30. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan lebih besar dari tekanan diluar.3) Karung goni. dipergunakan untuk alat bantu penyelamatan dan pemadaman kebakaran. kain katun. 4) Tangga. 3) Sistem pemadam dengan gas. Terdiri dari pompa. serbuk kering (dry chemical) gas halon dan gas CO2. 2) Sistem penyembur api (sprinkler system). pipa kopel. Teknik Pemesinan 77 . mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. yang berfungsi untuk menyelimuti benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai oksigen terhenti. 1) Sistem hidran mempergunakan air sebagai pemadam api. pilar hidran (di luar gedung).

Gambar 3 31. genggam handel & arahkan moncong di bawah api Ya Ya Bahan ini tidak meninggalkan bekas. Petunjuk pemilihan APAR Pilih yang sesuai Multi Purpo se Serba guna A B C Keterangan Ya Ya Zat Kimia Kering (Dry Chemical) Sodium bicarbon at NaHCO3 Purple K Zat Kimia Basah (Wet Chemical) Loaded Stream Pump (Stored tank pressure d) Tanki Busa & bertekan pompa an Ya Tidak Ya Ya Tidak Sesuai untuk lab dan tempat bahan kimia Lepas pena kunci. perkantoran dsb. genggam handel & guyur bahan terbakar CO2 Carbon dioxide Halon Halon 1211 Air Water CO2 Air bertek anan Tidak Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Bekerja dengan cepat Disarankan tersedia pada gudang bahan bakar minyak dan gas. 6. Pemilihan APAR Teknik Pemesinan 78 . mobil serta bahan mudah terbakar lainnya Petunjuk Pemakaian Lepas pena kunci. sekolah. genggam handel & arahkan moncong ke sumber api Tidak Tidak Murah. rumah. guyur bahan terbak ar Tabel 3 1. Alat pemadam kebakaran besar. Dipom pa. Sesuai untuk bahan bangunan. gengg am handel & guyur bahan terbak ar Pegan g monco ng. grdung. Sesuai untuk alat elektronik dan gudang bahan makanan Lepas pena kunci. Lepas pena kunci.

5.7. Fire alarm secara otomatis akan mempercepat diketahuinya peristiwa kebakaran. 4. Jalan bagi petugas. e. mudah dijangkau dan mudah dilihat. d. rak buku. 5. keras dan lebar. Upayakan latihan secara periodik untuk dapat bertindak secara tepat dan tenang. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran 1. minimal 2 tahun sekali. 3. 10 detik berhenti. hubungi petugas pemadam kebakaran. oleh karena itu sebelum menggunakan APAR perlu diidentifikasi jenis bahan terbakar. Harus diperiksa secara periodik. beritahu orang lain untuk pengosongan lokasi. APAR jenis tertentu bukan merupakan pemadam untuk segala jenis kebakaran. diperlukan untuk petugas yang datang menggunakan kendaraan pemadam kebakaran. 2. Bila telah dipakai harus diisi ulang. sehingga perlu jalan yang memadai. juga untuk keperluan evakuasi. kadang harus mondar-mandir/keluar masuk mengambil air. Karakteristik APAR : a. 2. waktu maksimum terus menerus 8 detik. Beri tanda segitiga warna merah panjang sisi 35 cm. Bila terjadi kebakaran kecil : bertindaklah dengan tenang. dsb. Bila terjadi kebakaran besar : bertindaklah dengan tenang. Untuk itu diperlukan fasilitas : a) b) c) d) Daun pintu dapat dibuka keluar Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci Lebar pintu dapat dilewati 40 orang/menit Bangunan beton strukturnya harus mampu terbakar minimal 7 jam. identifikasi bahan terbakar dan tentukan APAR yang dipakai. b. Waktu ideal : 3 detik operasi. Beberapa kebakaran terlambat diketahui karena tidak ada fire alarm. antara lain : oleh 1. Fasilitas Penunjang Keberhasilan pemadaman kebakaran juga ditentukan keberadaan fasilitas penunjang yang memadai. Teknik Pemesinan 79 . APAR kimiawi ideal dioperasikan pada suhu kamar. nyalakan alarm. APAR hanya ideal dioperasikan pada situasi tanpa angin kuat. c. 4. Tempatkan APAR selalu pada tempat yang sudah ditentukan. tidak terlindung benda/perabot seperti lemari. bila api terlanjur besar maka makin sulit memadamkannya. Siagakan APAR selalu siap pakai.

Teknik Pemesinan 80 . terdapat beberapa pedoman. ia menunjukkan setelah beberapa waktu minyak pelumasnya harus diperbaharui dan pelumasannya harus dilakukan. batang-batang ulir dan mur-mur dari mesin-mesinnya.6. bantalan-bantalan. dalam keadaan bersih atau simpanlah dalam keadaan bersih. Perbaiki atau gantilah perkakas yang rusak. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah periksalah kotak penyimpanan obatobatan secara teratur pula. mikometer. Akibat yang mungkin terjadi : a) Kecelakaan b) Kerusakan perkakasnya c) Kehancuran alat perkakasnya. mistar-mistar ingsut. yaitu : 1. Usahakanlah supaya jalan-jalan terusan tidak terhalang oleh bahan. yang biasanya diutamakan. Korektif (tindakan setelah timbulnya kerusakan) Untuk pemeliharaan preventif. peti-peti. warnanya menunjukkan jenis pelumas apa yang harus digunakan (perhatikan petunjuk-petunjuk dari pegusaha pabriknya). Bak-bak minyak harus diisi sampai garis tandanya. Preventif (pencegahan kerusakan dan keausan) 2. pahat. dan lainnya. Bersihkanlah ayakan-ayakan minyaknya pada waktu-waktu tertentu dan tukarlah saringan-saringannya. Pelat-pelat kode dapat berguna sekali. tap atau frais karena pembebanan yang besar pada poros-poros. Jagalah supaya perkakas-perkakas tangan dan mesin-mesin tetap dalam keadaan bersih. Ingatlah akan perlindungan dari bagian-bagian yang berputar. Periksalah alat-alat perkakas secara teratur akan kemungkinan terjadinya kerusakan-kerusakan. 3. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas Pada dasarnya terdapat dua jenis pemeliharaan. Serahkanlah semua perkakas setelah dipakai. 6. sambungan-sambungan listrik. yaitu : 1. Jangan lupa peraturan-peraturan keamanan. 2. 4. 5. 7. dan sebagainya) berada di atas mesin yang sedang berjalan. Jangan sekali-sekali menggunakan perkakas yang tumpul pada gesekan yang besar. Jangan membiarkan alat-alat bantu atau alat-alat ukur (kuncikunci. kalau itu merupakan kelengkapan mesin yang bersangkutan. bila perlu pakailah kacamata pengaman. Hal ini dapat berakibat terjadinya kehancuran bor. Lumasilah alat-alat perkakas secara teratur.

BAB 4 MEMAHAMI KAIDAH PENGUKURAN Teknik Pemesinan 81 .

Ada juga jangka sorong yang dilengkapi jam ukur. elemen mesin tidak dapat dibuat cukup akurat untuk menjadi mampu tukar (interchangeable). Gambar 4 1. engukur adalah proses membandingkan ukuran (dimensi) yang tidak diketahui terhadap standar ukuran tertentu. Tanpa alat ukur. berikut adalah gambar jangka sorong yang dapat mengukur panjang dengan rahangnya. Gambar 4.1. Jangka sorong berfungsi sebagai alat ukur yang biasa dipakai operator mesin yang dapat mengukur panjang sampai dengan 200 mm. komponen yang dirakit harus sesuai satu sama lain. Pengukuran menggunakan jangka sorong dilakukan dengan cara menyentuhkan sensor ukur pada benda kerja yang akan diukur.3. Jangka Sorong Jangka sorong adalah alat ukur yang sering digunakan di bengkel mesin.1. lebar celah dengan sensor bagian atas.A. Sensor jangka sorong yang dapat digunakan untuk mengukur berbagai posisi. Beberapa macam jangka sorong dengan skala penunjuk pembacaan dapat dilihat pada Gambar 4. kedalaman dengan ekornya. (lihat Gambar 4. Jangka sorong tersebut memiliki skala ukur (vernier scale) dengan cara pembacaan tertentu. Teknik Pemesinan 82 . Alat ukur yang baik merupakan kunci dari proses produksi massal. atau dilengkapi penunjuk ukuran digital.05 mm. Alat Ukur M 1.). ketelitian 0. Pada waktu merakit. alat ukur merupakan alat penting dalam proses pemesinan dari awal pembuatan sampai dengan kontrol kualitas di akhir produksi. Pada saat ini.

Jangka sorong dengan penunjuk pembacaan nonius. Jangka sorong yang menggunakan skala nonius. Teknik Pemesinan 83 . di bawah : 9 mm) Baca angka kelebihan ukuran dengan cara mencari garis skala utama yang segaris lurus dengan skala nonius (Gambar 4. di bawah : 0.15) Sehingga ukuran yang dimaksud 9.Gambar 4 2.15 . Pembacaan hasil pengukuran jangka sorong yang menggunakan jam ukur dilakukan dengan cara membaca skala utama ditambah jarak yang ditunjukkan oleh jam ukur. hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada monitor digitalnya.3. jam ukur.3. cara pembacaan ukurannya secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka mm pada skala utama (pada Gambar 4. dan digital. Untuk jangka sorong dengan penunjuk pembacaan digital.

5. Mikrometer luar.4. 2.) biasanya lebih presisi dari pada menggunakan jangka sorong.Gambar 4 3.5 mm) Baca angka skala pada thimble (pada posisi 0. Cara membaca skala mikrometer secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka skala pada skala utama/barrel scale (pada Gambar 4. yaitu sekitar 25 mm. 50-75 mm. adalah 8.01 mm. dan mikrometer dalam Hasil pengukuran dengan mengunakan mikrometer (Gambar 4. Cara membaca skala jangka sorong ketelitian 0. Akan tetapi jangkauan ukuran mikrometer lebih kecil.05 mm. Jangkauan ukur mikrometer adalah 0-25 mm.19 mm) Teknik Pemesinan 84 . Mikrometer Gambar 4 4. Mikrometer memiliki ketelitian sampai dengan 0. dan seterusnya dengan selang 25 mm. 25–50 mm.

30 25 20 0 5 10 15 15 10 20 Gambar 4 5. Beberapa contoh penggunaan mikrometer untuk mengukur benda kerja dapat dilihat pada Gambar 4. Untuk keperluan khusus mikrometer juga dibuat berbagai macam variasi. Cara membaca skala mikrometer. Gambar 4 6. Beberapa mikrometer juga dilengkapi penunjuk pembacaan digital. hampir sama dengan jangka sorong. Mikrometer dapat mengukur tebal. diameter dalam. untuk mengurangi kesalahan pembacaan hasil pengukuran.6. Berbagai macam pengukuran yang bisa dilakukan dengan mikrometer : pengukuran jarak celah. adalah 8.7. Teknik Pemesinan 85 .Jumlahkan ukuran yang diperoleh (pada Gambar 1. akan tetapi kepala mikrometer sebagai alat pengukur dan pembacaan hasil pengukuran tetap selalu digunakan. tebal.69 mm). diameter dalam. panjang. dan diameter luar.

posisi senter/sumbu mesin perkakas (Gambar 4. Sistem Satuan Sistem satuan yang digunakan pada mesin perkakas adalah sistem metris (Metric system) dan sistem imperial (Imperial system/British system).). Gambar 4 7. Ketelitian ukur jam ukur yang biasa digunakan di bengkel adalah 0.3. Pengecekan sumbu mesin bubut dengan bantuan jam ukur. Buku terbitan USA dan England selalu Teknik Pemesinan 86 . Gambar 4 8.01 mm. 4. Jam Ukur (Dial Indicator) Jam ukur (dial indicator) adalah alat ukur pembanding (komparator). posisi benda kerja.). Alat ukur pembanding ini (Gambar 4.8. Jam ukur (Dial Indicator). dan pengujian kualitas geometris mesin perkakas.7. digunakan oleh operator mesin perkakas untuk melakukan penyetelan mesin perkakas yaitu : pengecekan posisi ragum.

856422 0.264172 0.469955 milliliters to fluid ounces (imperial) 0.S.09361 4.061024 35.239912 0.) to liters pints (imperial) to liters quarts (U.S.20462 0.) 0.9144 0.S.759754 1.4516 0.785412 4.18474 1016.54609 cubic centimeters to cubic inches cubic meters to cubic feet cubic meters to cubic yards cubic kilometers to cubic miles milliliters to fluid ounces (U.) to kilograms tons (imperial) to kilograms tons (U.386102 square meters to acres hectares to acres 0.113377 1.836127 2.0393701 3.) to milliliters fluid ounces (imperial) to milliliters pints (U.S.S.) liters to gallons (imperial) 2.) 0. maka untuk memudahkan perhitungan.30795 0.4 0.349523 0.1).5735 28.609344 millimeters to inches meters to feet meters to yards kilometers to furlongs kilometers to miles 0. Mengubah Panjang inches to millimeters feet to meters yards to meters furlongs to kilometers miles to kilometers Luas square inches to square centimeters square feet to square meters square yards to square meters square miles to square kilometers acres to square meters acres to hectares Volume cubic inches to cubic centimeters cubic feet to cubic meters cubic yards to cubic meters cubic miles to cubic kilometers fluid ounces (U.S.035274 2.092903 0.000984 1.473176 0.) liters to pints (imperial) liters to quarts (U.056688 0.201168 1.10231 Teknik Pemesinan 87 .350293 907.946353 1.1550 10.28084 1.menggunakan satuan imperial.046909 0.7639 1.387064 0.219969 Massa/Berat ounces to grams pounds to kilograms stone (14 lb) to kilograms tons (U. berikut ditampilkan konversi satuan Imperial menjadi Metris (Tabel 4.) to metric tons 28.19599 25.028317 0.3147 1.033814 6.453592 6.879877 0.97097 0.) to liters quarts (imperial) to liters gallons (U.1682 29.589988 4046.) liters to quarts (imperial) liters to gallons (U.136523 3.907185 grams to ounces kilograms to pounds kilograms to stone (14 lb) kilograms to tons (U. dan beberapa data pada buku ini juga menggunakan satuan imperial.S.) kilograms to tons (imperial) metric tons to tons (U.404866 square centimeters to square inches square meters to square feet square meters to square yards 0.035195 liters to pints (U.568261 0.621371 Dikalikan Mengubah Dikalikan square kilometers to square miles 0.3048 0.001102 0.S.157473 0.000247 2.S.S.S.413063 0.S.764555 4.) to liters gallons (imperial) to liters 16.

44822 9.824859 0.064779 newtons per square centimeter to 0.) to kilometers per liter miles per gallon (imperial) to kilometers per liter 1.4443 10.016047 1.3048 metric tons to tons (imperial) kilometers per hour to miles per hour meters per second to feet per second newton to pound-force newton to kilogram-force kilopascals to pound-force per square inch megapascals to tons-force per square inch (imperial) 0.S.3521 2.3540 0.3540 gallons per mile (U.S. All rights reserved.3521 kilometer gallons per mile (imperial) to liters 2. © 1993-2004 Microsoft Corporation.34102 2.1325 14.89476 15.) kilometers per liter to miles per gallon (imperial) liters per kilometer to gallons per mile (U.068948 4.238846 0. Teknik Pemesinan 88 .80665 6.695942 0.600 0.tons (imperial) to metric tons Kecepatan miles per hour to kilometers per hour feet per second to meters per second Gaya pound-force to newton kilogram-force to newton Tekanan pound-force per square inch to kilopascals tons-force per square inch (imperial) to megapascals atmospheres to newtons per square centimeter atmospheres to pound-force per square inch Energi calorie to joule watt-hour to joule Usaha horsepower to kilowatts Konsumsi bahan bakar miles per gallon (U. Faktor konversi satuan imperial menjadi metris dan sebaliknya.609344 0.1868 3.S.824859 per kilometer Microsoft ® Encarta ® Encyclopedia 2005.000278 1.28084 4. Tabel 4 1.4251 0.4251 0.224809 0.7457 0.145038 0.) liters per kilometer to gallons per mile (imperial) 0.984207 0.S.621371 3.) to liters per 2.098692 atmospheres pound-force per square inch to atmospheres joule to calorie joule to watt-hour kilowatts to horsepower kilometers per liter to miles per gallon (U.101972 0.

BAB 5 MEMAHAMI GAMBAR TEKNIK Teknik Pemesinan 89 .

Ukuran A2 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A1. Kertas Gambar a) Jenis Kertas erdasarkan jenis kertasnya. Seri Ukuran Kertas Ukuran Garis Tepi Kiri Kanan 10 10 10 20 5 5 A0 A1 A2 A3 A4 A5 1. Demikian seterusnya. Ukuran A0 adalah 1 m2 dengan perbandingan 2 : 1 untuk panjang : lebar. Ukuran pokok kertas gambar adalah A0.189 x 841 841 x 594 594 x 420 420 x 297 297 x 210 210 x 148 20 20 20 20 15 15 Tabel 5 1 Kertas gambar berdasarkan ukuran Teknik Pemesinan 90 . Ukuran kertas gambar dapat dilihat pada tabel 5. Mengenal alat Menggambar Teknik 1. Sedangkan perbandingan ukuran kertas gambar dapat dilihat dari gambar 5.1.A. kertas gambar yang dapat digunakan untuk menggambar teknik adalah: 1) Kertas Padalarang 2) Kertas manila 3) Kertas Strimin 4) Kertas roti 5) Kertas Kalki B b) Ukuran Kertas Ukuran gambar teknik sudah ditentukan berdasarkan standar.1. Ukuran A1 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A0.

Untuk menggunakan pensil ini harus diraut terlebih dahulu. Batang pensil tetap tidak bisa habis.0 mm.Gambar 5 1. antara isi dan batangnya menyatu. Jika Isi pensil habis dapat diisi ulang. c) Pensil Gambar Berdasarkan Bentuk Pensil Batang Pada pensil ini. Pensil gambar terdiri dari batang pensil dan isi pensil.3 mm. Gambar pensil mekanik dapat dilihat pada Gambar 5. Teknik Pemesinan 91 . Gambar pensil batang dapat dilihat pada Gambar 5. Pensil mekanik memiliki ukuran berdasarkan diameter mata pensil. Pensil mekanik Pensil mekanik.2. Pensil Gambar Pensil adalah alat gambar yang paling banyak dipakai untuk latihan mengambar atau menggambar gambar teknik dasar.5 mm dan 1. Gambar 5 2 Pensil batang Gambar 5. Habisnya isi pensil bersamaan dengan habisnya batang pensil. misalnya 0. 0. Cara penempelan kertas di atas meja gambar non magnetik 2. antara batang dan isi pensil terpisah.3.2.

sedang dan lunak. maka kedudukan pensil sewaktu menarik garis harus dimiringkan 60o dan selama menarik garis sambil diputar dengan telunjuk dan ibu jari (lihat Gambar 5.Gambar 5 3. Pensil mekanik d) Pensil Gambar Berdasarkan Kekerasan Berdasarkan kekerasanya pensil gambar dibagi menjadi pensil keras. Tabel 5 2.) Gambar 5 4. Cara menarik garis Teknik Pemesinan 92 . 4. Pensil berdasarkan kekerasannya Untuk mendapatkan garis dengan ketebalan yang merata dari ujung ke ujung.

45o dan satu buah penggaris bersudut 30o. Gambar 5 5. Penggaris Penggaris yang sering digunakan untuk menggambar teknik adalah penggaris –T dan penggaris segitiga. Teknik Pemesinan 93 . b) Penggaris Segitiga Penggaris segitiga terdiri dari satu penggaris segitiga bersudut 45o. bagian mistar panjang dan bagian kepala berupa mistar pendek tanpa ukuran yang bertemu membentuk sudut 90o. Sepasang penggaris segitiga ini digunakan untuk membuat garis-garis sejajar.3.5. 90o dan 60o. Gambar rapido dapat dilihat pada Gambar 5. sudut-sudut istimewa dan garis yang saling tegak lurus. Rapido Penggunaan rapido untuk menggambar dengan teknik tinta dianggap lebih praktis dari pada dengan trekpen. Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga. a) Penggaris -T Penggaris T terdiri dari dua bagian. Rapido 4. 90o. Gambar 5 6.

Cara menggunakan penggaris-T Gambar 5 8.Gambar 5 7. Jenis jangka Teknik Pemesinan 94 . Gambar 5 9. Jangka Jangka adalah alat gambar yang digunakan untuk membuat lingkaran dengan cara menancapkan salah satu ujung batang pada kertas gambar sebagai pusat lingkaran dan yang lain berfungsi sebagai pensil untuk menggambar garis lingkarannya. Gambar 9 memperlihatkan beberapa jenis jangka. Cara menggunakan penggaris segitiga 5.

seperti Gambar 5. Kedudukan pena tarik saat menarik garis serta Cara menggunakan jangka Gambar 5 11. yaitu penghapus lunak dan penghapus keras.11. Penghapus lunak untuk menghapus gambar dari pensil dan penghapus keras untuk menghapus gambar dari tinta.13. Penghapus dan alat pelindung penghapus Ada dua jenis penghapus. Teknik Pemesinan 95 . Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung 6. maka digunakan plat pelindung penghapus seperti Gambar 5. cara menggunakan jangka ditunjukkan pada Gambar 5.10. Gambar 5 10.Kedukukan pena tarik sewaktu menarik garis sebaiknya miring 60o terhadap meja gambar. Agar gambar yang akan dihapus tepat dan tidak menghilangkan gambar yang lain.

g) Mal lengkung Mal lengkung digunakan untuk membuat garis lengkung yang tidak dapat dibuat dengan jangka. Lihat Gambar 5. lihat Gambar 5. agar diperoleh tulisan yang rapi dan seragam dan mengikuti standar ISO. Busur derajat f) Sablon huruf dan angka Sablon huruf dan angka adalah sebuah alat gambar yang digunakan untuk menggambar huruf dan angka. Alat-alat Penunjang lainnya Ada beberapa alat penunjang gambar teknik lainnya yang kadangkadang diperlukan didalam menggambar adalah : e) Busur derajat Busur derajat digunakan untuk mengukur dan membagi sudut. Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung 7.15 Teknik Pemesinan 96 .Gambar 5 12.14. Gambar 5 13. Dalam satu set mal lengkung ada 3 jenis mal.

Mal lengkung Gambar 5 15. maka digunakan mal bentuk. Meja Gambar Meja gambar adalah meja yang digunakan sebagai alas menggambar. Gambar 5 16. Bahan daun meja ada bermacam-macam. Tidak seperti meja biasa. meja gambar dapat diubah-ubah ketinggian dan kemiringan daun mejanya. Mal bentuk geometri 8.Gambar 5 14. Contoh penggunaan mal lengkung h) Mal bentuk Untuk membuat gambar geometri dan simbol-simbol tertentu dengan cepat. yaitu : daun meja dari papan non magnetik. Meja gambar terdiri dari rangka meja gambar dan daun meja gambar. papan berlapis magnet dan kaca rayben Teknik Pemesinan 97 .

Berdasarkan bentuknya ada dua jenis mesin gambar. Meja gambar 9. yaitu: mesin gambar rol dan mesin gambar lengan. Mesin Gambar Mesin gambar adalah mesin manual yang digunakan untuk memudahkan menggambar. Mesin gambar dapat menggantikan beberapa fungsi alat gambar lainnya seperti busur derajat. sepasang penggaris segitiga dan mistar T. Gambar 5 18.Gambar 5 17. Mesin gambar rol Teknik Pemesinan 98 . Mesin gambar lengan Gambar 5 19.

75º dan 90º dengan sepasang penggaris segitiga. Perhatikan arah penarikan garis. Gunakan mal bentuk dan symbol. e. k. 30º. Geser-geser mal lengkung untuk mendapatkan bentuk yang paling tepat antara dua garis. j. f. f. 4.B. b. e. 45º. c. b. i. Hati-hati menggunakan peralatan yang tajam. Tempelkan kertas manila A3 di atas meja gambar dengan selotip. Perhatikan cara memegang mal dan cara menggesernya. Perhatikan dari mana mulai menarik garis dan mengakhirinya. Langkah Kerja a. Huruf dan angka yang di-mal sembarang. Gunakan mal lengkung sesuai contoh pada lembar informasi. Tentukan dahulu titik-titik yang akan dihubungkan. Gunakan mal huruf-angka. Cara menggunakan mal ini sama dengan cara menggunakan mal huruf-angka. Alat Meja gambar Pensil gambar Sepasang penggaris segitiga Penggaris panjang 50 cm atau 60 cm Jangka Mal huruf dan angka Mal bentuk Mal lengkung Penghapus Selotip Cutter Bahan Kertas manila A3 Kesehatan dan Keselamatan Kerja a. g. yaitu: cutter dan jarum jangka. b. 60º. 2. d. h. Buatlah sudut-sudut 15º. a. Panjang dan jarak antar garis sembarang. Buat garis lengkungnya dengan mal lengkung. c. Perhatikan cara memegang penggarisnya. d. Gunakan sepasang penggaris segitiga untuk membuat garis-garis sejajar horisontal dan vertikal. 3. g. Gunakan selotip berbahan kertas. Diameter lingkaran sembarang. Gunakan jangka dengan benar untuk membuat lingkaran. Teknik Pemesinan 99 . Lembar Kerja 1.

Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 5. Perspektif Untuk membedakan masing-masing proyeksi tersebut. Ada beberapa macam cara proyeksi. Adapun ciri-ciri gambar dengan proyeksi isometris tersebut adalah: 1) Ciri pada sumbu • Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30° terhadap garis mendatar. Proyeksi piktorial isometri 3. • Sudut antara sumbu satu terhadap sumbu lainya 1200.C. Gambar 5 20. dapat kita lihat pada Gambar 5.22. Proyeksi Isometris c) Ciri Proyeksi Isometris Untuk mengetahui apakah suatu gambar disajikan dalam bentuk proyeksi isometris. Proyeksi piktorial 2. Proyeksi piktorial dimensi 2. Proyeksi piktorial miring 4. perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu ciri dan syarat-syarat untuk membuat gambar dengan proyeksi tersebut.21. Membaca Gambar Teknik Proyeksi Piktorial Untuk menampilkan gambar-gambar tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi. dapat kita lakukan dengan beberapa macam cara proyeksi sesuai dengan aturan rnenggarnbar. 2) Ciri pada ukuran Teknik Pemesinan 100 . antara lain: 1. 1.

22) Gambar 5 21. Penyajian proyeksi isometris Teknik Pemesinan 101 . Gambar 5 22.23.Panjang gambar pada masing-masing sumbu sama dengan panjang benda yang digambarkan (lihat Gambar 5. Memutar gambar dengan sudut 180° ke kanan dan kedudukan normal. Kedudukan normal mempunyai sumbu dengan sudut-sudut seperti tampak pada Gambar 5. 2) Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik. sesuai dengan kedudukan sumbunya (lihat Gambar 5. terbalik atau horizontal. Proyeksi isometris d) Penyajian Proyeksi Isometris Penyajian gambar dengan proyeksi isometris dapat dilakukan dengan kedudukan normal.23 berikut). 1) Proyeksi isometris dengan kedudukan normal. Mengenai hal ini dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu: a.

yaitu dengan memutar sumbu utama 1800 dan sumbu normal. Mengubah kedudukan benda. pada sumbu y = 1 : 2. yaitu untuk memperlihatkan bagian samping kiri (yang tidak terlihat) sebagaimana terlihat pada Gambar 5.b. Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik 3) Proyeksi isometris dengan kedudukan horizontal.24) Gambar 5 23. Mengubah kedudukan benda yang digambar dengan tujuan untuk memperlihatkan bagian bawah benda tersebut (lihat Gambar 5.25. Sumbu utama mempunyai sudut: =70 dan = 400 (lihat Gambar 5. a. dan pada sumbu z 1 : 1. Sebagaimana cara yang dilakukan untuk menggarnbar kedudukan proyeksi isometris terbalik. Perbandingan skala ukuran pada sumbu x = 1 : 1. Gambar 5 24. Proyeksi isometris kedudukan horizontal 2. Teknik Pemesinan 102 . Proyeksi Dimetris Proyeksi dimetris mempunyai ketentuan: a.26) b. maka untuk kedudukan horizontal 2700 ke kanan dan kedudukan sumbu norrnalnya (Iihat Gambar 5.25) b.

yaitu skala pada sumbu x 1:1. sumbu x berimpit dengan garis horizontal/mendatar dan sumbu y mernpunyai sudut 450 dengan garis mendatar. Teknik Pemesinan 103 . dan skala pada sumbu z = 1: 1 (ithat gambar di bawah ini) 3. yaitu 20 mm • Ukuran pada sunbu z digambar 40 mm Gambar 5 26. Proyeksi dimetris Gambar kubus yang di gambarkan dengan proyeksi dimetris di bawah ini. Skala ukuran untuk proyeksi miring ini sama dengan skala pada proyeksi dimetris. Keterangan: • Ukuran pada sumbu x digambar 40 mm • Ukuran gambar pada sumbu y digambar 1/2 nya.Gambar 5 25. pada sumbu y = 1 : 2. mempunyai sisi-sisi 40 mm. Kubus dengan proyeksi dimetris Proyeksi Miring (sejajar) Pada proyeksi miring.

Gambar perspektif dibagi menjadi tiga macam. 4. yaitu: a. Perspektif dengan satu titik hilang Teknik Pemesinan 104 . Perspektif dengan dua titik hilang. perspektif dengan satu titik hilang. gambar perspektif jarang dipakai. Gambar 5 28. c.Gambar 5 27. h. Proyeksi miring Gambar Perspektif Dalam garnbar teknik mesin. Perspektif dengan tiga titik hilang.

Gambar 5 29. Demikian seterusnya. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di depan benda disebut pandangan depan. Perspektif dengan tiga titik hilang Macam-Macam Pandangan Untuk memberikan informasi lengkap suatu benda tiga dimensi dengan gambar proyeksi ortogonal. 5. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di atas benda disebut pandangan atas. c. a. b. Teknik Pemesinan 105 . Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di sebelah kanan benda disebut pandangan samping kanan. biasanya memerlukan lebih dari satu bidang proyeksi. Perspektif dengan dua titik hilang Gambar 5 30.

Ruang disebelah kiri bidang V. di depan bidang D.Gambar 5 31. dan disebelah kiri bidang V disebut kuadran II. dan bidang horizontal. Macam-macam pandangan 6. Teknik Pemesinan 106 . Ruang yang dibatasi tersebut dikenal dengan sebutan kuadran. di depan bidang D. Ruang yang berada di bawah bidang H. di depan bidang D. dan di sebelah kanan bidang V disebut kuadran IV. Bidang proyeksi Suatu ruang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi oleh bidang-bidang depan. Ruang yang berada di atas bidang H. Ruang di atas bidang H. Bidang-Bidang Proyeksi Gambar 5 32. bidang vertikal. dan di samping kanan bidang V disebut kuadran I. dan di depan bidang D disebut kuadran III. di bawah bidang H.

(depan) dan di sebelah kanan bidang V (vertikal) maka benda tersebut berada di kuadran I. maka sumbu x dan y sebagai sumbu putarnya dan sumbu z merupakan sumbu yang dibuka/dipisah. di depan bidang D. Gambar 5 33. maka akan didapat gambar/proyeksi pada kuadran I yang dikenal juga dengan nama proyeksi Eropa.a) Proyeksi di Kuadran I (Proyeksi Eropa) Bila suatu benda diletakkan di atas bidang horizontal.34). dan D.34 memperlihatkan titik yang terletak di kuadran I (lihat gambar 5. jika benda yang terletak di kuadran I kita proyeksikan terhadap bidang-bidang H. seperti gambar berikut: Teknik Pemesinan 107 . Proyeksi di kuadran I Keterangan: A = titik kuadran-I AD = proyeksi titik A di bidang D (depan) Av = proyeksi titik A di bidang V (vertikal) AH = proyeksi titik A di bidang H (horizontal) Bila ketiga bidang saling tegak lurus tersebut dibuka. V. Gambar 5.

Gambar 5 34. Pembukaan objek gambar di kuadran I Selanjutnya batas-batas bidang dihilangkan maka menjadi bentuk di bawah ini : Gambar 5 35. Pemutaran dengan jangka Teknik Pemesinan 108 .

maka untuk menempatkan sumbu dapat disederhanakan sesuai dengan ruang yang tersedia. Penyederhanaan dapat dilakukan seperti gambar berikut: Gambar 5 37. Potongan garis yang bersudut 45o Bila penempatan benda di kuadran I tidak teratur. Jadi yang nampak hanya Teknik Pemesinan 109 . garis sumbu dan garis bantu tidak diperlukan lagi (dihilangkan). Garis sumbu terpisah d Gambar 5 38.Gambar 5 36. Garis sumbu berimpit dengan gambar Penampilan Gambar Untuk penampilan gambar berikutnya.

40). Pandangan proyeksi Eropa b) Proyeksi di Kuadran III (Proyeksi Amerika) Bidang-bidang H. penempatan pandangan samping akan berada disebelah kiri pandangan depannya. dan D untuk proyeksi di kuadran III (proyeksi Amerika) yang telah di buka adalah: Gambar 5 40. sedangkan pandangan atas berada di bawah pandangan depannya. V. Pandangan proyeksi Amerika • Pada bidang H ditempatkan pandangan atas • Pada bidang D ditempatkan pandangan depan • Fada bidang V diternpatkan pandangan samping kanan Contoh : Teknik Pemesinan 110 .pandangannya saja (lihat gambar 5. perlu ditegaskan kembali bahwa untuk proyeksi di kuadran I (proyeksi Eropa). Gambar 5 39.

perlu diberi lambang proyeksi. Contoh pandangan proyeksi Amerika 7. Sedangkan untuk keseragaman ISO. Proyeksi Eropa Teknik Pemesinan 111 . Simbol Proyeksi dan Anak Panah a) Simbol Proyeksi Untuk membedakan gambar/proyeksi di kuadran I dan gambar/proyeksi di kuadran III. Simbol/lambang proyeksi tersebut adalah sebuah kerucut terpancung (lihat gambar). Gambar 5 42. gambar sebaiknya digambar menurut proyeksi sudut pertama (kuadran I atau kita kenal sebagai proyeksi Eropa). Proyeksi Amerika Gambar 5 43.Gambar 5 41. Simbol proyeksi ditempatkan disisi kanan bawah kertas gambar. Dalam satu buah gambar tidak diperkenankan terdapat gambar dengan menggunakan kedua gambar proyeksi secara bersamaan. Dalam standar ISO (ISO/DIS 128). telah ditetapkan bahwa cara kedua proyeksi boleh dipergunakan.

Gambar 5 46. Setelah kita menempatkan sistem proyeksi yang kita pakai. Contoh penggambaran anak panah Penentuan Pandangan Untuk menempatkan pandangan atas atau pandangan samping dan pandangan depannya.45). Penerapan Proyeksi Eropa Teknik Pemesinan 112 . Proyeksi Di Kuadran I (Eropa) Atas dan Samping Kanan Menurut 8. barulah kita menenempatkan pandangan dan objek yang kita gambar tersebut. Gambar 5 44. apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) ataukah proyeksi di kuadran III (Amerika)?. terlebih dahulu kita harus menempatkan sistem proyeksi apa yang kita pakai.b) Anak Panah Anak panah digunakan untuk menunjukkan batas ukuran dan tempat/posisi atau arah pemotongan sedangkan angka ukuran ditempatkan di atas garis ukur atau di sisi kiri garis ukur (ithat gambar 5. a) Menempatkan Pandangan Depan. Anak Panah Gambar 5 45.

gambar pandangan-pandangan ini harus dapat memberikan informasi yang jelas. Penerapan Proyeksi Amerika c) Penetapan Jumlah Pandangan Jumlah pandangan dalam satu objek/gambar tidak semuanya harus digambar rnisa]nya untuk benda-benda bubutan sederhana.b) Menentukan Pandangan Depan. tidak selamanya ketiga pandangan harus ditampilkan. Gambar satu pandangan d) Jenis-jenis Pandangan Utama Gambar kerja yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah gambar dalam bentuk pandangan-pandangan. dan pandangan atas. Sebagai pandangan utamanya ialah pandangan depan. Dalam gambar kerja. pandangan samping. dengan satu pandangan saja yang dilengkapi dengan simbol (lingkaran) sudah cukup untuk memberikan informasi yang jelas. Perhatikan Gambar 5. tergantung dan kompleks/rumit atau sederhananya bentuk benda. Atas dan Samping Kanan Menurut Pryeksi Di Kuadran III (Amerika) Gambar 5 47. Hal terpentirig. Lthat gambar 49 berikut: Gambar 5 48.50 di bawah ini: Teknik Pemesinan 113 .

52) di bawah ini. yaitu dengan simbol/lambang O untuk bentuk lingkaran dan untuk bentuk bujur sangkar dan bentuk gambar piktorialnya adalah: Gambar 5 50. dapat membedakan bentuk bendanya. seharusnya kita pilih pandangan yang dapat mewakili bentuk benda (perhatikan Gambar 5. walaupun hanya terdiri atas satu pandangan saja.Gambar 5 49. Pembedaan bentuk benda dengan satu pandangan e) Pemelihan Pandangan Utama Untuk memberikan informasi bentuk gambar. Teknik Pemesinan 114 . Gambar pandangan Kedua gambar di atas.

53 adalah benda yang mempunyai pandangan atas dan pandangan depan yang sama seperti Gambar 5. Gambar 5 53.53) di atas. yang dapat memberikafi informasi bentuk secara tepat dalam hentuk gambar pandangan adalah pandangan depan dengan pandangan sarnpingnya (lihat Gambar 54). Pemilihan pandangan utama Pandangan/gambar di atas belum dapat memberikan informasi yang jelas. Gambar 5.53). Pandangan utama Dari gambar piktorial (Gambar 5.52 di atas. Penentuan pandangan depan Teknik Pemesinan 115 .Gambar 5 51. Gambar 5 52. Oleh karena itu dalam memilih pandangan yang disajikan harus dapat mewakili bentuk benda (lihat Gambar 5.

belum cukup memberikan informasi bentuk secara cepat dan tepat. Penggunaan dua pandangan Dengan dua pandangan di atas.55 berikut). Bentuk benda dari hasil pandangan Teknik Pemesinan 116 . OIeh karena itu. perlu satu pandangan lagi untuk kejelasan gambar tersehut: yaitu pandangan atas. Gambar 5 56. barulah kita mendapatkan informasi bentuk yang lengkap dari Gambar 56. Gambar 5 54.Sebaliknya dua pandangan depan dan samping belum tentu dapat memberikan informasi yang maksimum (lihat Gambar 5. Gambar 5 55. Penggunaan tiga pandangan Setelah dilengkapi dengan pandangan atasnya.

Gambar 5 57.58). Bentuk rongga tersebut perlu dilengkapi dengan penjelasan gambar potongan agar dapat memberikan ukuran atau informasi yang jelas dan tegas.Gambar Potongan Untuk memberikan inforamsi yang lengkap dan gambar yang berongga atau berlubang perlu menampilkan gambar dengan teknik menggambar yang tepat. 9. dan rongga-rongga pada blok mesin. rnisalnya dari benda yang dibor (baik yang dibor tembus maupun dibor tidak tembus) lubanglubang pada flens atau pipa-pipa. yaitu dengan menunjukkan ambar potongan/ irisan.58b Teknik Pemesinan 117 . b) Bentuk Potongan/Irisan Gambar potongan atau irisan dapat dijelaskan dengan menggunakan pemisalan benda yang dipotong dengan gergaji (lihat Gambar 5. rongga-rongga pada rumah katup. Gambar 5.58a Gambar 5 58. sehingga terhindar dan kesalah pahaman membaca gambar. gambar 5. Kadang-kadang gambar tampak lebih rumit karen adanya garis-garis gambar yang tidak kelihatan. Oleh karena itu garis-garis gores yang akan menimbulkan salah pengertian (salah informasi) perlu dihindari. a) Fungsi Gambar Potongan/Irisan Gambar potongan atau irisan fungsinya untuk menjelaskan bagian-bagian gambar benda yang tidak kelihatan.

58a. mempunyai lubang yang bertingkat atau rata. Keterangan: Gambar 5. Gambar 5. diperoleh ketegasan atau kejelasan tentang bentuk dan rongga sebelah dalam.Gambar 5 59. seperti pada gambar 58c di atas. Sehingga setiap orang akan menafsirkan bentuk lubang yang berbeda. Gambar 5. Oleh karena Gambar 58a dan Gambar 58c menimbulkan keraguan dalam pembacaannya. Dengan adanya garis-garis tersebut gambar kelihatan agak rumit. c) Tanda Pemotongan Untuk menjelaskan gambar yang dipotong. perlu adanya tanda pemotongan yang sudah ditetapkan sesuai dengan aturan-aturan menggambar teknik. Memperlihatkan gambar lengkap dengan garis gores sebagai batas-batas garis yang tidak kelihatan.58c.58c. Gambar 5. sehingga bentuk rongga di dalamnya dapat terlihat dengan jelas dan tidak menimbulkan keraguan lagi dalam menentukan bentuk di bagian dalamnya. sehingga informasi yang diberikan oleh gambar dapat efisien. yang menyebabkan informasi kurang jelas.Tanda pemotongan ini terdiri atas: Teknik Pemesinan 118 . maka gambar dapat dijelaskan dengan menggunakan pemisalan bahwa benda tersehut dipotong--dengan gergaji.58b. Gambar potongan atau irisan harus diasir sesuai dengan batas garis pemotongannya. Memperlihatkan gambar yang kurang jelas. Dengan gambar potongan atau irisan. Dalam hal ini kita tidak bisa memastikan apakah lubang tersebut merupakan lubang tembus atau tidak tembus.

a.60). Tanda pemotongan dengan garis tipis berzigzag (lihat Gambar 5. perhatikan Gambar 5. Tanda pemotongan dengan garis tipis bergelombang bebas (lihat Gambar 5. Tanda pemotongan dengan garis sumbu dan kedua ujungnya di tebalkan (lihat Gambar 5. b.61. Tanda pemotongan dengan gelombang dan zigzag d) Menempatkan Gambar Penampang/Potongan Untuk menempatkan gambar penampang atau gambar potongan. Teknik Pemesinan 119 . kita perlu memperhatikan penempatan gambar potongan tersebut sesuai dengan proyeksi yang akan kita gunakan.60). Gambar 5 60. Tanda pemotongan Gambar 5 61. c.59). apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) atau proyeksi di kuadran III (Amerika). Untuk lebih jelasnya.

Penempatan gambar potongan (2) Teknik Pemesinan 120 .Gambar 5 62. Penempatan gambar potongan (1) Gambar 5 63.

atau dengan dipotong dan diputar kemudian dipindahkan ketempat lain segaris dengan sumbunya seperti tampak pada Gambar 5. Selain ditempatkan sesuai dengan proyeksi yang digunakan. benda-benda tipis. Bagian-bagian yang tidak boleh dipotong tersebut yaitu bagian-bagian yang tidak diarsir. misal: pelat-pelat penguat pada dudukan poros dan pelat penguat pada flens (lihat Gambar 5. jari-jari pejal dan semacamnya (lihat Gambar 5.62b. misal : poros pejal.63b).62a. Penempatan potongan dengan diputar Gambar 5.62b. Gambar 5.62a.63a). maka gambar penampang potongannya diletakkan/berada di belakang arah anak panahnya. Jika proyeksi yang digunakan proyeksi Eropa maka penempatan gambar potongnya berada di depan arah anak panahnya. penampang potong dapat juga diputar ditempat (penampang putar) seperti tampak pada Gambar 5.Jika proyeksi yang digunakan adaiah proyeksi Arnerika. Penempatan potongan dengan diputar dan dipindah e) Benda-benda yang Tidak Boleh Dipotong Benda-benda yang tidak boleh dipotong yaitu benda-benda pejal. Teknik Pemesinan 121 .

Potongan jari-jari pejal Gambar 5. Potongan dudukan poros f) Jenis-jenis Gambar Potongan Jenis-jenis gambar potongan/ irisan terdiri atas : • Gambar potongan penuh • Garnbar potongan separuh • Gambar potongan sebagian/setempat atau lokal • Gambar potongan putar • Gambar potongan bercabang atau meloncat 1. Gambar Potongan Penuh Perhatikan contoh gambar potongan penuh pada Gambar 5.64 berikut : Teknik Pemesinan 122 .63a.Gambar 5.63b.

Potongan separuh 3. Potongan penuh 2. Gambar Potongan Separuh Perhatikan contoh gambar potongan pada Gambar 5. Teknik Pemesinan 123 .65 berikut : Gambar 5.65.Gambar 5.66). Gambar Potongan Sebagian Gambar potongan sebagian disebut juga potongan lokal atau potongan setempat (lihat contoh Gambar 5.64.

Gambar 5.62a atau dapat juga penempatan potongannya seperti pada Gambar 5.68. Potongan putar 5.62b. Gambar 5. Gambar Potongan Putar Gambar potongan putar dapat diputar setempat seperti tampak pada Gambar 5. Potongan sebagian 4. Potongan bercabang atau meloncat Teknik Pemesinan 124 .66.67.68 berikut. Gambar 5. Gambar Potongan Bercabang atau Meloncat Perhatikan contoh Gambar 5.

Arsir yaitu garis-garis miring tipis yang dibatasi oleh garis-garis batas pemotongan. Gambar 5. bidang atau pengarsiran pada bidang yang luas 3. 1. Macam-macam ketebalan garis Teknik Pemesinan 125 . 10. sedangkan ketebalan arsiran digunakan garis tipis dengan perbandingan ketebalan sebagai berikut (lihat tabel 5. Contoh penggunaan arsiran a) Macam-macam Arsiran Hal-hal yang perlu diperhatikan pada gambar yang diarsir antara lain: 1. maka gambar potongan/ irisan perlu diarsir.Garis Arsiran Untuk membedakan gambar proyeksi yang dipotong dengan gambar pandanagn.69. Sudut dan Ketebalan Garis Arsiran Sudut arsiran yang dibuat adalah 450 terhadap garis sumbu utamanya. atau 450 terhadap garis batas gambar. Lihat Gambar 5. Tabel 5.3). peletakan angka ukuran pada gambar yang diarsir 6. pengarsiran bidang yang berdampingan 4. pengarsiran benda-benda tipis 5. macam-macam garis arsiran yang disesuaikan dengan bendanya.69 di bawah. sudut dan ketebalàn garis arsiran 2.3.

25 mm. Untuk pemotongan meloncat atau pemotongan bercabang. Arsiran pada bidang luas dan bidang berdampingan c) Pengarsiran Benda-benda Tipis Teknik Pemesinan 126 .71).70. Gambar 5.Dari tabel di atas kita dapat menentukan ketebalan garis arsiran yang disesuaikan dengan garis gambarnya.71.5 mm maka garis-garis arsirnya dibuat setebal 0. arsiran pada bidang potongnya dilaksanakan pada garis tepi garis-garis batasnya (lihat Gambar 5. ada bidang-bidang potong yang berdampingan. Gambar 5. Sudut ketebalan garis arsiran b) Penggarisan Pada Bidang yang Luas dan Bidang Berdampingan Untuk potongan benda yang luas.71). Jika garis tepi/gambar mempunyai ketebalan 0. Sudut dan ketebalan garis arsiran dapat dilihat pada gambar berikut. maka batas-batas bidang yang berdampingan tersebut harus dibatasi oleh garis gores bertitik (sumbu) dan pengarsirannya harus turun atau naik dan ujung arsiran yang lainnya (lihat Gambar 5.

73).74 berikut ini. Gambar 5. Gambar 5. Arsiran benda tipis d) Angka Ukuran dan Arsiran Jika angka ukuran terletak pada arsiran (karena tidak dapat dihindari).73.Untuk gambar potongan benda-benda tipis atau profil-profil tipis maka pengarsirannya dibuat dengan cara dilabur (lihat Gambar 5.72). maka angka ukurannya jangan diarsir (lihat Gambar 5. Angka ukuran dan arsiran e) Macam-macam Arsiran f) Perhatikan Gambar 5. a b c d Teknik Pemesinan 127 .72.

e f g h Gambar 5. ukuran pada gambar kerja harus dicantumkan secara Iengkap. Macam-macam arsiran Keterangan: a = Besi tuang b = Aluminium dan panduannya c = Baja dan baja istimewa d = Besi tuang yang dapat ditempa e = Baja cair f = Logam putih g = Paduan tembaga tuang h = Seng. Gambar kerja harus memberikan informasi bentuk benda secara lengkap. baik proyeksi di kuadran I (Eropa) maupun proyeksi di kuadran III (Amerika). maka pada gambar kerja harus dicantumkan ukuran dengan aturanaturan menggambar yang telah ditetapkan. air raksa Ukuran Pada Gambar Kerja Sesuai dengan standar ISO (ISO/DIS) 128. Gambar kerja adalah gambar pandangan-pandangan. OIeh karena itu. a) Ketentuan-ketentuan Dasar Pencatuman Ukuran Agar tidak menimbulkan keraguan di dalam membaca gambar. Teknik Pemesinan 128 .74. potongan/irisan dengan memperhatikan kaidah-kaidah proyeksi. dengan ketentuan kedua macam proyeksi tersebut tidak boleh dilakukan/dipakai secara bersama-sarna dalam satu gambar kerja. telah ditetapkan bahwa gambar proyeksi di Kuadran I dan gambar proyeksi di Kuadran III dapat digunakan sebagai gambar kerja. ketentuan-ketentuan tersebut meliputi ketentuan: • Menarik garis ukur dan garis bantu • Menggambar anak panah • Menetapkan jarak antara garis ukur • Menetapkan angka ukuran 11.

4. maka jarak antara garis ukur yang satu dengan garis ukur Iainnya harus sarna. Perbandingan ketebalan garis bantu dengan garis gambar Contoh: Perhatikan Gambar 5. Gambar 5. Menetapkan Jarak antara Garis Ukur Jika garis ukur terdiri atas garis-garis ukur yang sejajar. Cara penarikan garis dan ketebalanya 2. Garis gambar tidak boleh digunakan sebagai garis ukur. garis bantunya diperpanjang 1 mm dan ujung anak panahnya.1. kecuali terpaksa. tetapi tidak boleh digunakan langsung sebagai garis ukur. ukuran terkecil ditempatkan pada bagian dalam dan ukuran besar ditempatkan di bagian luar. Jika terdapat perpotongan garis bantu dengan garis ukur. Untuk menempatkan garis ukur yang sejajar. Teknik Pemesinan 129 .75.75 berikut. Hal mi untuk rnenghindari perpotongan antara garis ukur dan garis bantu. Garis sumbu boleh digunakan sebagai garis bantu. Menarik Garis ukur dan Garis Bantu Garis ukur dan garis bantu dibuat dengan garis tipis perbandingan ketebalan antara garis gambar dan garis ukur/bantu lihat Tabel 4. Selain itu perlu diperhatikan pula ganis ukur jangan sampai berpotongan dengan ganis bantu. Tabel 5.

Jarak antara garis ukur Keterangan: 1. tetapi pada keadaan tertentu garis bantu boleh dibuat miring sejajar/paralel. Garis ukur yang terkecil (ditempatkan di dalam) 5. Teknik Pemesinan 130 . sehingga penulisan dan pernbacaannya tidak terhalik. Untuk kertas gambar berukuran kecil maka penulisan angka ukuran pada garis ukur harus tegak.77). Garis sumbu yang digunakan secara tidak langsung sebagai garis bantu 4.76. (lihat Gambar 5. dapat dilihat pada gambar berikut. Penempatan ganis ukur yang sempit 8. Angka ukuran harus dapat dibaca dari bawah atau dari sisi kanan ganis ukurnya. kertas gambarnya dapat diputar ke kanan. atau di tengah-tengah sebelah kiri ganis ukurnya. Sebagai contoh.Garis ukur pada umurnnya tegak lurus terhadap garis bantunya. Garis bantu yang paralel (jika diperlukan) Penulisan Angka Ukuran Penulisan angka ukuran ditempatkan di tengah-tengah bagiar atas garis ukurnya. Garis ukur tambahan (pelengkap) 6. Garis bantu yang berpotongan (tidak dapat dihindarkan) 3. Gambar 5. Garis ukur yang sejajar 2. 12. Perpanjangan garis bantu dilebihkan ± 1 mm dan garis ukurnya/ujung anak panahnya 7.

sehingga satu sama lain mempunyai ukuran yang berpasangan dan pencatuman ukurannya sebagai fungsi yang berpasangan. Penulisan angka ukuran Jika kertas gambar diputar ke kiri. Oleh karena itu pencatuman ukuran diklasifikasikan menjadi: • Pengukuran dengan dimensi fungsional • Pengukuran dengan dirnensi nonfungsional • Pengukuran dengan dimensi tambahan • Pengukuran dengan kemiringan atau ketirusan • Pengukuran dengan bagian yang dikerjakan khusus • Pengukuran dengan kesimetrian 1. Teknik Pemesinan 131 . Jika benda kerja yang di gambar berdiri sendiri. maka ukuran bagian yang satu dengan Iainnya. Pengukuran dengan dimensi fungsional. a) Klasifikasi Pencatuman Ukuran Benda-benda yang diukur mempunyai bentuk yang bermacammacam. atau pengerjaan yang khusus. kualitas.77. fungsi.mempunyai fungsi yang sama. nonfungsional dan ukuran tambahan Jika suatu benda terdiri atas bagian-bagian (bagian yang dirakit). akan menghasilkan angka ukuran yang terbalik. maka digambar sesuai dengan ukurannya dan pencaturnan ukurannya sebagai fungsi pengerjaan.Gambar 5. Ukuran (c) pada gambar di atas adalah penulisan angka ukuran yang terbalik. tetapi dalam sistem pengeijaannya terhadap.

Ukuran-ukuran yang tidak berfungsi disebut ukuran nonfungsional. ukuran kemiringannya dicantumkan dengan harga tangen sudutnya. Gambar 5. Pengukuran Ketirusan Untuk mencatumkan ukuran benda yang mempunyai bentuk miring. Ukuran tambahan ini harus ditempatkan di antara dua kurung atau di dalam kurung (lihat Gambar 5.79. Pengukuran ketirusan Teknik Pemesinan 132 . Gambar 5. Ukuran tambahan Keterangan: F = dimensi fungsional NJF = dirnensi nonfungsional H = dimensi tambahan 2. Untuk melengkapi ukuran.78 berikut). maka ukuran pada gambar dilengkapi dengan ukuran tambahan.78. dalam hal ini supaya tidak menimbulkan kekacauan dalam membaca gambar terutama dalarn jurnlah ukuran total.

3. Penunjukan Ukuran pada bagian yang dikerjakan khusus Untuk memberikan keterangan gambar pada benda-benda yang dikerjakan khusus, misalnya dikartel pada bagian tertentu atau dihaluskan dengan ampelas halus, maka pada bagian yang dikerjakan khusus tadi gambar luarnya diberi garis tebal bertitik (lihat Gambar 5.80).

Gambar 5.80. Penunjukan ukuran pengerjaan khusus 4. Pemberian ukuran pada bagian-bagian yang simetris. Untuk memberikan ukuran-ukuran pada gambar-gambar simetris, jarak antara tepi dan sumbu simetrisnya tidak dicanturnkan (lihat Gambar 5.81).

Gambar 5.81. Penunjukan ukuran pada bagian yang simetris

Teknik Pemesinan

133

b) Pencatuman Simbol-simbol Ukuran Untuk benda-benda dengan bentuk tertentu, ukurannya dicantumkan disertai simbol bentuknya: misal benda-benda yang berbentuk silinder, bujur sangkar, bola dan pingulan (Chamfer). Lihat Gambar 5.82 berIkut.

Gambar 5.82. Pencantuman simbol-simbol ukuran Keterangan: 50 = Diameter bola dengan ukuran 32 mm SR 16 = Jari-jari bola dengan ukuran 16 mm C3 = Chamfer atau pinggulan dengan ukuran 3 x 45 023 = Simbol ukuran silinder, dengan ukuran 23 mm 34 = Simbol ukuran bujur sangkar, dengan ukuran sisinya 34 mm 120 = Simbol ukuran tidak menurut skala yang sehenarnya M12 = Simbol ukuran ulir dengan jenis ulir metris dan diameter luarnya 12 mm 2 = (Silang/cros clengan garis tipis) ; simbol bidang rata I = (Strip titik tebal) ; simbol bagian yang dikerjakan khusus

Teknik Pemesinan

134

a. Penunjukan ukuran jari-jari Untuk rnenunjukkan ukuran jari-jari, dapat digambarkan dengan garis ukur dimulai dan titik pusat sampai busur Iingkararmya. Sebagai simbol dari jari-jari tersebut, diberi tanda huruf “R” (lihat Gambar 5.83 berikut).

Gambar 5.83. Pengukuran jari-jari

Gambar 5.84. Penempatan anak panah dan ukuran di dalam lingkaran

Gambar 5.85. Penempatan anak panah dan ukuran di luar lingkaran

Teknik Pemesinan

135

Pengukuran Ketebalan Pengukuran benda-benda tipis, seperti pengukuran pada pelat ukuran tebalnya dapat dilengkapi dengan simbol “t” sebagai singkatan dan “thicknees” yang secara kebetulan artinya tebal (juga berhuruf awal “t”). Penunjukan ukurannya lihat Gambar 5.86 berikut :

13.

Gambar 5.86. Penunjukan ukuran a) Jenis-jenis Penulisan Ukuran Penulisan ukuran pada gambar kerja, menurut jenisnya terdiri atas; • Ukuran berantai • Ukuran paralel (sejajar) • Ukuran kombinasi • Ukuran berimpit • Ukuran koordinat • Ukuran yang berjarak sama • Ukuran terhadap bidang referensi 1. Ukuran berantai Percantuman ukuran secara berantai ini ada kelebihan dari kekurangannya. Kelebihannya adalah mempercepat pembuatan gambar kerja, sedangkan kekurangannya adalah dapat mengumpulkan toleransi yang semakin besar, sehingga pekerjaan tidak teliti. Oleh karena itu pencantuman ukuran secara berantai ini pada umumnya dilakukan pada pekerjaan-pckerjaan yang tidak mernerlukan ketelitian yang tinggi. Lihat Gambar 5.87.

Gambar 5.87. Ukuran berantai Teknik Pemesinan 136

2. Ukuran paralel (sejajar)

Gambar 5.88. Ukuran sejajar 3. Ukuran kombinasi

Gambar 5.89. Ukuran kombinasi 4. Ukuran berimpit Ukuran berimpit yaitu pengukuran dengan garis-garis ukur yang ditumpangkan (berimpit) satu sama lain. Ukuran berimpit ini dapat dibuat jika tidak menimbulkan kesalah pahaman dalam membaca gambarnya (lihat Gambar 5.90).

Gambar 5.90. Ukuran berimpit Teknik Pemesinan 137

5.Pada pengukuran berimpit ini. dan angka ukurannya harus diletakkan dekat anak panah sesuai dengan penunjukan ukurannya. Pengukuran berimpit 6. Perigukuran koordinat Jika pengukuran berimpit dilakukan dengan dua arah. yaitu penunjukan ukuran ke arah sumbu x dan penunjukan ukurah ke arah Teknik Pemesinan 138 .91). Pengukuran terhadap bidang ‘referensi Bidang referensi adalah bidang batas ukuran yang digunakan sebagai jatokan pengukur Contoh : pengukuran benda kerja bubutan terhadap bidang datar/rata (lihat Gambar 5.91. titik pangkal sebagai batas ukuran/patokan ukuran (bidang referensi)nya harus dibuat lingkaran. Gambar 5.

sumbu y dengan bidang referensinya di 0. Pengukuran koordinat 7. Teknik Pemesinan 139 . maka akan didapat pengukuran “koordinat” (lihat Gambar 5. dapat dituliskan dalah satu ukurannya (lihat Gambar 5. Pengukuran berjarak sama Untuk rnenghindarkan kesalahan/keraguan didalam membaca gambarnya.92. penunjukan ukurannya dapat dilaksanakan sebagai berikut (lihat Gambar 5. Gambar 5. Gambar 5. Pengukuran yang berjarak sama Untuk memberikan ukuran pada bagian yang berjarak sama.93).93.94).92).

96 berikut.95. atau alur pasak pada puli. misalnya pada kopling. Gambar 5. Pengukuran pada lubang Teknik Pemesinan 140 . Pengukuran alur pasak Jika kita memberikan ukuran diameter pada penampang/potongan yang beralur pasak. Pengukuran alur pasak 9. Gambar 5. dapat dilakukan seperti tampak pada Gambar 5.Gambar 5.94. roda gigi.95.96. maka penunjukan ukuran diameternya seperti tampak pada Gambar 5. Pengukuran pada lubang Untuk memberikan ukuran pada lubang yang berjarak sama. Pengukuran berjarak sama 8.

97.97 berikut.10.99. serta pengukurannya. Gambar 5. dapat dilakukan seperti tampak pada Gambar 5. Pengukuran profil 11. Gambar 5. Cara membuat gambar mur dan baut. Pengukuran profil Untuk memberikan ukuran pada profil-profil yang telah distandar. Pengukuran mur Teknik Pemesinan 141 .98. Pembuatan gambar mur Gambar 5.

Pembuatan gambar mur dan baut Teknik Pemesinan 142 .100.101. Pembuatan gambar baut Gambar 5.Gambar 5.

BAB 6 MENGENAL PROSES BUBUT (TURNING) Teknik Pemesinan 143 .

sehingga mengha-silkan bentuk yang diinginkan. dilakukan dengan cara memvariasi kedalaman potong.P roses bubut adalah proses pemesinan untuk menghasilkan bagianbagian mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan Mesin Bubut. hanya jalannya pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. tetapi proses bubut bermata potong jamak tetap termasuk proses bubut juga. Demikian juga proses bubut kontur. Prinsip dasarnya dapat didefinisikan sebagai proses pemesinan permukaan luar benda silindris atau bubut rata : Dengan benda kerja yang berputar Dengan satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool) Dengan gerakan pahat sejajar terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu sehingga akan membuang permukaan luar benda kerja (lihat Gambar 6. 1).1 no. 2) adalah proses bubut yang identik dengan proses bubut rata. Walaupun proses bubut secara khusus menggunakan pahat bermata potong tunggal. karena pada dasarnya setiap pahat bekerja sendiri-sendiri. Gambar 6 1.1 no. (2) bubut permukaan. tetapi arah gerakan pemakanan tegak lurus terhadap sumbu benda kerja. dan (3) bubut tirus. Selain itu proses pengaturan (setting) pahatnya tetap dilakukan satu persatu.2. Proses bubut permukaan (surface turning.1 no. Teknik Pemesinan 144 . 3) sebenarnya identik dengan proses bubut rata di atas. (1) Proses bubut rata. Gambar 6. Gambar 6. Gambar skematis Mesin Bubut dan bagianbagiannya dijelaskan pada Gambar 6. Proses bubut tirus (taper turning.

........ A. Kecepatan putar. rpm).. Akan tetapi yang diutamakan dalam proses bubut adalah kecepatan potong (cutting speed atau v) atau kecepatan benda kerja dilalui oleh pahat/keliling benda kerja (lihat Gambar 6. selalu dihubungkan dengan sumbu utama (spindel) dan benda kerja.......1) 1000 v = kecepatan potong (m/menit) d = diameter benda kerja (mm) n = putaran benda kerja (putaran/menit) Teknik Pemesinan 145 .. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed). Kecepatan putar dinotasikan sebagai putaran per menit (rotations per minute. tetapi tiga parameter di atas adalah bagian yang bisa diatur oleh operator langsung pada Mesin Bubut. Gambar skematis Mesin Bubut dan nama bagian- bagiannya...... Secara sederhana kecepatan potong dapat digambarkan sebagai keliling benda kerja dikalikan dengan kecepatan putar atau : v Di mana : dn .(6.. Faktor yang lain seperti bahan benda kerja dan jenis pahat sebenarnya juga memiliki pengaruh yang cukup besar.. n (speed)..Gambar 6 2. gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut).3).

adalah tebal bagian benda kerja yang dibuang dari benda kerja. material pahat.). Gerak makan (f) dan kedalaman potong (a).). kecepatan potongnya antara 20 sampai 30 m/menit. Pada dasarnya pada waktu proses bubut kecepatan potong ditentukan berdasarkan bahan benda kerja dan pahat. Gerak makan biasanya ditentukan dalam hubungannya dengan kedalaman potong a. dan terutama kehalusan permukaan yang diinginkan. f (feed). Harga kecepatan potong sudah tertentu. Panjang permukaan benda kerja yang dilalui pahat setiap putaran. Kedalaman potong a (depth of cut). Gambar 6 4. bentuk pahat.4. material benda kerja. Dengan demikian kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja. atau sesuai dengan kehalusan permukaan yang dikehendaki.Gambar 6 3. Gerak makan ditentukan berdasarkan kekuatan mesin. adalah jarak yang ditempuh oleh pahat setiap benda kerja berputar satu kali (Gambar 6. Gerak makan. Gerak makan tersebut berharga sekitar 1/3 sampai 1/20 a.4. misalnya untuk benda kerja Mild Steel dengan pahat dari HSS. maka diameter benda kerja akan Teknik Pemesinan 146 . Selain kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja faktor bahan benda kerja dan bahan pahat sangat menentukan harga kecepatan potong. sehingga satuan f adalah mm/putaran. Ketika pahat memotong sedalam a. atau jarak antara permukaan yang dipotong terhadap permukaan yang belum terpotong (lihat Gambar 6.

pembuatan ulir (thread cutting). proses memperbesar lubang (boring). Sudutsudut pahat HSS dibentuk dengan cara diasah menggunakan mesin gerinda pahat (Tool Grinder Machine). Proses tersebut dilakukan di Mesin Bubut dengan bantuan/tambahan peralatan lain agar proses pemesinan bisa dilakukan (lihat Gambar 6.5. Sedangkan bila pahat tersebut adalah pahat sisipan (insert) yang dipasang pada tempat pahatnya. Gambar 6 5. (c) pembubutan ulir (threading).berkurang 2a. Geometri Pahat Bubut Geometri/bentuk pahat bubut terutama tergantung pada material benda kerja dan material pahat. Beberapa proses pemesinan selain proses bubut pada Gambar 6. yaitu bubut dalam (internal turning). Untuk pahat bubut bermata potong tunggal. dan pembuatan alur (grooving/parting-off). sudut pahat yang paling pokok adalah sudut beram (rake angle). dan (f) pembuatan kartel (knurling). geometri pahat dapat dilihat pada Gambar 6. (b) pembubutan alur (parting-off).6. (e) pembuatan lubang (drilling). pada Mesin Bubut dapat juga dilakukan proses pemesinan yang lain. proses pembuatan lubang dengan mata bor (drilling). B. akibat dari benda kerja yang berputar..7. karena bagian permukaan benda kerja yang dipotong ada di dua sisi. Selain geometri pahat tersebut pahat bubut bisa juga diidentifikasikan berdasarkan letak sisi Teknik Pemesinan 147 .). dan sudut sisi potong (cutting edge angle). Proses pemesinan yang dapat dilakukan pada Mesin Bubut : (a) pembubutan pinggul (chamfering). Terminologi standar ditunjukkan pada Gambar 6. sudut bebas (clearance angle).1. (d) pembubutan lubang (boring).

lihat Gambar 6.potong (cutting edge) yaitu pahat tangan kanan (Right-hand tools) dan pahat tangan kiri (Left-hand tools). Gambar 6 7. Gambar 6 6. Teknik Pemesinan 148 . Geometri pahat bubut HSS (Pahat diasah dengan mesin gerinda pahat).8. Geometri pahat bubut sisipan (insert).

Pemegang pahat HSS : (a) pahat alur. Untuk pahat yang berbentuk sisipan (inserts). pahat tersebut dipasang pada tempat pahat yang sesuai.Gambar 6 8. Pahat tangan kanan dan pahat tangan kiri. Gambar 6 9. Pemegang pahat tersebut digunakan untuk memegang pahat dari HSS dengan ujung pahat diusahakan sependek mungkin agar tidak terjadi getaran pada waktu digunakan untuk membubut (lihat Gambar 6. (d) pahat rata kiri. (lihat Gambar 6.9). (b) pahat dalam. (c) pahat rata kanan.10). Pahat bubut di atas apabila digunakan untuk proses membubut biasanya dipasang pada pemegang pahat (tool holder). Teknik Pemesinan 149 . dan (e) pahat ulir.

Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut Elemen dasar proses bubut dapat dihitung/dianalisa dengan menggunakan rumus-rumus dan Gambar 6.11. dan pengkodean pemegang pahat dapat dilihat juga pada Lampiran. put/men r dm a Gambar 6 11. Keterangan : Benda Kerja do dm lt Pahat : : = diameter mula (mm) = diameter akhir (mm) = panjang pemotongan (mm) Teknik Pemesinan 150 . Pahat bubut sisipan (inserts). berikut : lt do f. Bentuk dan pengkodean pahat sisipan serta pemegang pahatnya sudah distandarkan oleh ISO. Gambar skematis proses bubut. C. Standar ISO untuk pahat sisipan dapat dilihat pada Lampiran. dan pahat sisipan yang dipasang pada pemegang pahat (tool holders).Gambar 6 10.

........ penentuan cara pengukuran dan alat ukur yang digunakan... tetapi juga meliputi penentuan/pemilihan material pahat berdasarkan material benda kerja..... . sehingga pahat tidak akan pecah atau retak terutama pada saat melakukan pemotongan dengan beban kejut............. penentuan langkah kerja/langkah penyayatan dari awal benda kerja sampai terbentuk benda kerja jadi..5) di mana : A = a..= sudut potong utama/sudut masuk r Mesin Bubut : a = kedalaman potong (mm) f = gerak makan (mm/putaran) n = putaran poros utama (putaran/menit) 1) Kecepatan potong : v dn .. Material Pahat Pahat yang baik harus memiliki sifat-sifat tertentu........(6......2) ... mm / menit............n.(6....14 2) Kecepatan makan vf f ....... m/ menit ...f mm2 Perencanaan proses bubut tidak hanya menghitung elemen dasar proses bubut......( 1000 d = diameter rata-rata benda kerja ( (do+dm)/2 ) (mm) n = putaran poros utama (put/menit) = 3. cm 3 / menit. Ketahanan aus sangat dibutuhkan yaitu ketahanan pahat melakukan pemotongan tanpa terjadi keausan yang cepat................... sehingga nantinya dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik (ukuran tepat) dan ekonomis (waktu yang diperlukan pendek). penentuan cara pencekaman..... pemilihan mesin......4) vf 4) Kecepatan penghasilan beram Z A......(6..........3) 3) Waktu pemotongan tc lt .......... 1.......................................... Ketangguhan (toughness) dari pahat diperlukan. 6.. Teknik Pemesinan 151 ...................v.... sifat ini dinamakan Hot Hardness... menit. Kekerasan dan kekuatan pahat harus tetap bertahan meskipun pada temperatur tinggi.....................

05%) pada saat ini sudah jarang digunakan untuk proses pemesinan. Teknik Pemesinan 152 . karena bahan ini tidak tahan panas (melunak pada suhu 300-500o F). Baja karbon ini sekarang hanya digunakan untuk kikir.Penentuan material pahat didasarkan pada jenis material benda kerja dan kondisi pemotongan (pengasaran. dan pahat tangan. Gambar 6 12. (a) Kekerasan dari beberapa macam material pahat sebagai fungsi dari temperatur. dan jenis T berarti pahat HSS yang mengandung unsur Tungsten. bilah gergaji. Material pahat yang ada ialah baja karbon sampai dengan keramik dan intan. Beberapa jenis HSS dapat dilihat pada Tabel 6.12. Material pahat dari HSS (High Speed Steel) dapat dipilih jenis M atau T. Jenis M berarti pahat HSS yang mengandung unsur Molibdenum. adanya beban kejut. Sifat hot hardness dari beberapa material pahat ditunjukkan pada Gambar 6. penghalusan). (b) jangkauan sifat material pahat. Material pahat dari baja karbon (baja dengan kandungan karbon 1.1.

M3-2. T6 M3-1. Pahat dari karbida dibagi dalam dua kelompok tergantung penggunaannya. Jenis pahat HSS Pahat dari HSS biasanya dipilih jika pada proses pemesinan sering terjadi beban kejut. M42. M44. T15 M41. M10 T1. T2 M33. T4. M2. Pahat jenis ini diberi kode huruf K (atau C1 sampai C4) dan kode warna merah. M43. M4.Jenis HSS HSS Konvensional Molibdenum HSS Tungsten HSS HSS Spesial Cobald added HSS High Vanadium HSS High Hardness Co HSS Cast HSS Powdered HSS Coated HSS Standart AISI M1. Hal tersebut misalnya membubut benda segi empat menjadi silinder. Pahat karbida ini digunakan untuk menyayat berbagai jenis baja. dan kode warna kuning. M45. Bila digunakan untuk benda kerja besi tuang yang tidak liat dinamakan cast iron cutting grade . besi tuang dan non ferro yang mempunyai sifat mampu mesin yang baik. M36. membubut eksentris (proses pengasarannya). Selain kedua jenis tersebut ada pahat karbida yang diberi kode huruf M. M46 Tabel 6 1. M7. atau proses pemesinan yang sering dilakukan interupsi (terputus-putus). T5. Apabila digunakan untuk menyayat baja yang liat dinamakan steel cutting grade. Contoh pahat karbida untuk menyayat berbagai bahan dapat dilihat pada Tabel 6. Teknik Pemesinan 153 . Pahat jenis ini diberi kode huruf P (atau C5 sampai C8) dan kode warna biru. membubut bahan benda kerja hasil proses penuangan.2.

Contoh penggolongan pahat jenis karbida dan penggunaannya.Tabel 6 2. Teknik Pemesinan 154 .

Ketika memilih mesin perlu dipertimbangkan kapasitas kerja mesin yang meliputi diameter maksimal benda kerja yang bisa dikerjakan oleh mesin. dipilih juga alat dan cara pencekaman/pemasangan benda kerja. Sedangkan panjang maksimal benda kerja adalah panjang meja dikurangi jarak yang digunakan kepala tetap dan kepala lepas. Ukuran Mesin Bubut diketahui dari diameter benda kerja maksimal yang bisa dikerjakan (swing over the bed). Pencekaman Benda Kerja Setelah langkah pemilihan mesin tersebut di atas. Dalam hal ini. Panjang meja Mesin Bubut diukur jarak dari headstock sampai ujung meja. Pemilihan Mesin Bubut yang digunakan untuk proses pemesinan bisa juga dilakukan dengan cara memilih mesin yang ada di bengkel (workshop). dan panjang benda kerja yang bisa dikerjakan.2.13. Benda kerja dipasang di antara dua senter. tetapi menggunakan dua senter dan pembawa. Pemilihan Mesin Pertimbangan pemilihan mesin pada proses bubut adalah berdasarkan dimensi benda kerja yang yang akan dikerjakan. dan panjang meja Mesin Bubut (length of the bed). Gambar 6 13. Pencekaman/ pemegangan benda kerja pada Mesin Bubut bisa digunakan beberapa cara. Beberapa jenis Mesin Bubut manual dengan satu pahat sampai dengan Mesin Bubut CNC dapat dipilih untuk proses pemesinan (Lihat Lampiran 1). Cara yang pertama adalah benda kerja tidak dicekam. 3. Teknik Pemesinan 155 . Dengan pertimbangan awal diameter maksimal benda kerja yang bisa dikerjakan oleh mesin yang ada. (lihat Gambar 6. benda kerja harus ada lubang senternya di kedua sisi benda kerja.).

karena gaya pencekaman tidak mampu menahan beban yang tinggi. Teknik Pemesinan 156 . apabila kurang hati-hati akan menyebabkan permukaan benda kerja terluka. Pemilihan cara pencekaman tersebut di atas.). Hal tersebut terjadi misalnya pada waktu proses bubut dengan kedalaman potong yang besar. apabila memilih cekam rahang tiga untuk mencekam benda kerja silindris yang relatif panjang. hendaknya digunakan juga senter jalan yang dipasang pada kepala lepas.Cara kedua yaitu dengan menggunakan alat pencekam (Gambar 6. Misalnya bubut. sangat menentukan hasil proses bubut. c.15). Pemilihan alat pencekam yang tepat akan menghasilkan produk yang sesuai Gambar 6 14. Face plate. Alat pencekam ini tiga buah rahangnya bergerak bersama-sama menuju sumbu cekam apabila salah satu rahangnya digerakkan. agar benda kerja tidak tertekan. digunakan untuk mencekam benda kerja berbentuk silindris dengan ukuran sesuai diameter collet. (lihat Gambar 6. Cekam rahang tiga (untuk benda silindris). d. Collet. b. Alat pencekam/ dengan kualitas geometris yang pemegang benda kerja proses dituntut oleh gambar kerja. sehingga benda kerja tergelincir atau selip. Alat pencekam yang bisa digunakan adalah : a.14. Pencekaman dengan cara ini tidak akan meninggalkan bekas pada permukaan benda kerja. Cekam rahang empat (untuk benda kerja tidak silindris) . Penggunaan cekam rahang tiga atau cekam rahang empat. digunakan untuk menjepit benda kerja pada suatu permukaan plat dengan baut pengikat yang dipasang pada alur T. sehingga mudah dalam mencekam benda kerja yang tidak silindris. Alat pencekam ini masing-masing rahangnya bisa diatur sendirisendiri.

16. pemasangan pahat. dan pemeriksaan hasil berdasarkan gambar kerja. setting mesin. Teknik Pemesinan 157 . Beberapa contoh proses bubut dengan cara pencekaman/pemegangan benda kerja yang berbeda-beda. Gambar 6 15. ulir). dengan cara pencekaman yang berbeda-beda dapat dilihat pada Gambar 6. alur. Benda kerja yang relatif panjang dipegang oleh cekam rahang tiga dan didukung oleh senter putar Beberapa contoh proses bubut. perhitungan waktu pemotongan. Hal tersebut dikerjakan untuk setiap tahap (jenis pahat tertentu). permukaan. Penentuan Langkah Kerja Langkah kerja dalam proses bubut meliputi persiapan bahan benda kerja. 4. penentuan jenis pemotongan (bubut lurus.Hal ini perlu diperhatikan terutama pada proses finishing. profil. penentuan kondisi pemotongan. dan proses pembuatan alur. proses pemotongan ulir. Gambar 6 16.

Apabila pahat yang digunakan dalam proses pemesinan lebih dari satu. posisi kepala lepas. atau pada sumbu benda kerja yang dikerjakan. maka sebaiknya digunakan tempat pahat yang bisa dipasang sampai empat pahat. (lihat Gambar 6. supaya tidak terjadi getaran pada pahat ketika proses pemotongan dilakukan. Penyiapan (setting) mesin dilakukan dengan cara memeriksa semua eretan mesin. Pemasangan pahat.Bahan benda kerja yang dipilih biasanya sudah ditentukan pada gambar kerja baik material maupun dimensi awal benda kerja. sehingga hasil pembubutan tidak tirus. pemegangan pahat. Pemasangan pahat dilakukan dengan cara menjepit pahat pada rumah pahat (tool post). dan proses pemotongan tidak efektif. dan posisi kepala lepas. Usahakan bagian pahat yang menonjol tidak terlalu panjang. alat pencekam benda kerja. misalnya pahat rata. Usahakan posisi sumbu kerja kepala tetap (spindel) dengan kepala lepas pada satu garis untuk pembubutan lurus. Teknik Pemesinan 158 . putaran spindel. atau pada tempat pahat yang berisi empat buah pahat (quick change indexing square turret).17). pahat alur. karena menyebabkan benda kerja terangkat. Pengaturannya sekaligus sebelum proses pembubutan. pahat ulir. Posisi ujung pahat yang terlalu rendah tidak direkomendasi. Posisi ujung pahat harus pada sumbu kerja Mesin Bubut. Pahat bubut bisa dipasang pada tempat pahat tunggal. Gambar 6 17. Apabila pengerjaan pembubutan hanya memerlukan satu macam pahat lebih baik digunakan tempat pahat tunggal. sehingga proses penggantian pahat bisa dilakukan dengan cepat (quick change).

Perencanaan proses penyayatan benda kerja dilakukan dengan cara menentukan arah gerakan pahat . Perencanaan Proses Membubut Lurus Proses membubut lurus adalah menyayat benda kerja dengan gerak pahat sejajar dengan sumbu benda kerja. Teknik Pemesinan 159 30 34 . 26 35 75 Gambar 6 19. Tempat pahat (tool post) : (a) untuk pahat tunggal. 37) seperti Gambar 6.2. kemudian menghitung elemen dasar proses bubut sesuai dengan rumus 6.19 berikut.5. (b) untuk empat pahat. 5. Contoh : Akan dibuat benda kerja dari bahan Mild Steel (ST. Gambar benda kerja yang akan dibuat.Gambar 6 18. sampai dengan rumus 6.

Mesin yang digunakan : Mesin Bubut dengan kapasitas diameter lebih dari 1 inchi. v = 170 m/menit (Pahat karbida sisipan) c. =0o. d. dan f (EMCO). Dengan geometri pahat dan kondisi pemotongan dipilih dari Tabel 6. 37). (Tabel yang direkomendasikan oleh produsen Mesin Bubut) : =8o. Material pahat : HSS atau Pahat Karbida jenis P10. f. Material benda kerja : Mild Steel (ST. v = 34 m/menit (HSS) =5o. Benda kerja dikerjakan Bagian I terlebih dulu. dia. pahat kanan. 160 Teknik Pemesinan . Pencekam benda kerja : Cekam rahang tiga. Tabel 6 3. Penentuan jenis pahat. =14o.Perencanaan proses bubut : a. sudut masuk r = 93o. kemudian dibalik untuk mengerjakan Bagian II (Gambar 6. Pemasangan pahat : Menggunakan tempat pahat tunggal (tool post) yang tersedia di mesin. v. e.3. panjang ujung pahat dari tool post sekitar 10 sampai dengan 15 mm. geometri pahat.20). 34 mm x 75 mm b.

21 : Teknik Pemesinan 161 . f = 0. Pemotongan pertama sebagai pemotongan pengasaran (roughing) dan pemotongan kedua sebagai pemotongan finishing.1 mm/put. Gambar rencana pencekaman. i. Gerakan pahat dijelaskan seperti Gambar 6. 3) Panjang pemotongan total adalah panjang benda kerja yang dipotong ditambah panjang awalan (sekitar 5 mm) dan panjang lintasan keluar pahat (sama dengan kedalaman potong) .2 – 2. a = 2 mm. a = 2 mm. Keterangan : 1) Benda kerja dicekam pada Bagian II. Perhitungan elemen dasar berdasarkan rumus 2. penyayatan.g.5 dan gambar rencana jalannya pahat adalah sebagai berikut (perhitungan dilakukan dengan software spreadshheet) : II I a1 a2 50 5 Gambar 6 20. 2) Penyayatan dilakukan 2 kali dengan kedalaman potong a1 = 2 mm dan a2 = 2 mm. kedua permukaan telah dihaluskan. dan lintasan pahat. sehingga bagian yang menonjol sekitar 50 mm. Bahan benda kerja telah disiapkan (panjang bahan sudah sesuai dengan gambar). h. f = 0. untuk pahat karbida : v = 170 m/menit.. Data untuk elemen dasar : untuk pahat HSS : v = 34 m/menit..1 mm/put.

Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) v= 34 mm/menit f= 0.1 mm/putaran d) Gerakan pahat dari titik 3 ke titik 4 adalah gerakan cepat (dikerjakan dengan memutar eretan memanjang). a.1 mm/putaran a= 4 mm a1= 2 mm a2= 2 mm a3= .67 1. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 6. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida P10) v= 170 mm/menit f= 0.09 6.72 38.4. Gambar rencana gerakan dan lintasan pahat.84 1.80 Bubut rata a2 386.38 33.80 b.. Gambar 6 21.24 6.1 mm/putaran a= 4 mm 162 Teknik Pemesinan . Setelah rencana jalannya pahat tersebut di atas kemudian dilakukan perhitungan elemen dasar pemesinannya.1 mm/putaran c) Gerakan pahat dari titik 2 ke titik 3 adalah gerakan penyayatan dengan f = 0. mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= 26 mm 42 mm lt= Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 338.a) Gerakan pahat dari titik 4 ke titik 1 adalah gerak maju dengan cepat (rapid) b) Gerakan pahat dari titik 1 ke titik 2 adalah gerakan penyayatan dengan f = 0.

Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan Bagian I. yaitu (50+5+2) mm. Bagian II : Benda kerja dibalik. dan lintasan pahat.19 0.a1= 2 mm a2= 2 mm a3= . Lintasan pahat sama dengan lintasan pahat pada Gambar 6.21.36 0. Teknik Pemesinan 163 .22 34..22.88 169.00 Tabel 6 4. hanya panjang penyayatannya berbeda. mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= 26 mm 42 mm lt= Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 1691.58 193. penyayatan. sehingga bagian I menjadi bagian yang dicekam seperti terlihat pada Gambar 6. I II a3 60 5 Gambar 6 22.00 Bubut rata a2 1933. Gambar rencana pencekaman.25 34.

mm a3= 2 mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= . Hasil perhitungan eleman dasar pemesinan Bagian II.80 Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida) v= 170 mm/menit f= 0.1 mm/putaran a= 2 mm a1= . mm a2= ..19 0. 2) Apabila parameter pemotongan n diubah. Catatan : 1) Pada prakteknya parameter pemotongan terutama putaran spindel (n) dipilih dari putaran spindel yang tersedia di Mesin Bubut tidak seperti hasil perhitungan dengan rumus di atas.84 1.1 mm/putaran a= 2 mm a1= .Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan dapat dilihat pada Tabel 6. Kalau putaran spindel hasil perhitungan tidak ada yang sama (hampir sama) dengan tabel putaran spindel di mesin sebaiknya dipilih putaran spindel di bawah putaran spindel hasil perhitungan.68 6.. mm lt= 57 mm Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a3 338. mm a2= .88 169.. 3) Waktu yang diperlukan untuk membuat benda kerja jadi bukanlah jumlah waktu pemotongan (tc) keseluruhan dari tabel perhitungan di Teknik Pemesinan 164 .34 34.. mm a3= 2 mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= .38 33. maka elemen dasar pemesinan yang lain berubah juga..00 Tabel 6 5.. mm lt= 57 mm Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a3 1691.5 berikut ini : Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) v= 34 mm/menit f= 0.

maka benda kerja harus diberi lubang senter pada kedua ujungnya.13).23).atas (Tabel 6. dan Mesin Bubut yang disetel khusus untuk membuat bahan benda kerja) c) waktu pemasangan benda kerja d) waktu pengecekan ukuran benda kerja e) waktu yang diperlukan pahat untuk mundur (retract) f) waktu yang diperlukan untuk melepas benda kerja g) waktu yang diperlukan untuk mengantarkan benda kerja (dari bagian penyiapan benda kerja ke mesin).5). 6. 7) Apabila diinginkan pencekaman hanya sekali tanpa membalik benda kerja. Perencanaan Proses Membubut Tirus Benda kerja berbentuk tirus (taper) dihasilkan pada proses bubut apabila gerakan pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. karena gerakan pahat kembali relatif lama (ulir eretan atas kisarnya lebih kecil dari pada ulir transportir). Cara membuat benda tirus ada beberapa macam : a. Waktu non produktif diperoleh dengan mencatat waktu yang diperlukan untuk masing-masing waktu non produktif tersebut.4 dan Tabel 6. 6) Untuk proses bubut rata dalam. Waktu pembuatan benda kerja harus ditambah waktu non produktif yaitu : a) waktu penyiapan mesin/pahat b) waktu penyiapan bahan benda kerja (dengan mesin gergaji. 5) Untuk benda kerja tunggal waktu penyelesaian benda kerja lebih lama dari pada pembuatan massal (waktu rata-rata per produk). maka bahan benda kerja dibuat lebih panjang sekitar 30 mm. Teknik Pemesinan 165 . Dengan memiringkan eretan atas pada sudut tertentu (Gambar 6. gerakan pahat (pemakanan) dilakukan secara manual (memutar handle eretan atas). Akan tetapi hal tersebut akan menyebabkan pemborosan bahan benda kerja jika membuat benda kerja dalam jumlah banyak. 8) Apabila benda kerja dikerjakan dengan dua senter (setting seperti Gambar 6. b. karena waktu penyiapan mesin tidak dilakukan untuk setiap benda kerja yang dikerjakan. 4) Tidak ada rumus baku untuk menentukan waktu non produktif. Dengan demikian waktu ditambah dengan waktu pembuatan lubang senter. tetapi pada bubut dalam diameter awal (do) lebih kecil dari pada diameter akhir (dm). 9) Pahat karbida lebih produktif dari pada pahat HSS. perhitungan elemen dasar pada prinsipnya sama dengan bubut luar. Pengerjaan dengan cara ini memakan waktu cukup lama.

Pembuatan tirus lebih cepat karena gerakan pemakanan (feeding) bisa dilakukan otomatis (Gambar 6. Proses membubut tirus luar dan tirus dalam dengan memiringkan eretan atas. Dengan alat bantu tirus (taper attachment).24). Gambar 6 23. pembuatan tirus dengan alat ini adalah untuk benda yang memiliki sudut tirus relatif kecil (sudut sampai dengan ±9o). Proses membubut tirus luar dengan bantuan alat bantu tirus (taper attachment). gerakan penyayatan ditunjukkan oleh anak panah.c. Teknik Pemesinan 166 . Gambar 6 24.

25. Pergeseran kepala lepas (x) pada Gambar 6. Gambar 6 25. Untuk cara ini sebaiknya hanya untuk sudut tirus yang sangat kecil. karena apabila sudut tirus besar bisa merusak senter jalan yang dipasang pada kepala lepas.d. Dengan menggeser kepala lepas (tail stock). Perhitungan pergeseran kepala lepas pada pembubutan tirus dijelaskan dengan gambar dan rumus berikut. Gambar 6 26.). Gambar benda kerja tirus dan notasi yang digunakan. dengan cara ini proses pembubutan tirus dilakukan sama dengan proses membubut lurus dengan bantuan dua senter. dan pembubutan tirus dengan kepala lepas yang digeser. Benda kerja tirus terbentuk karena sumbu kepala lepas tidak sejajar dengan sumbu kepala tetap (Gambar 6.26 di atas dapat dihitung dengan rumus : Teknik Pemesinan 167 . Bagian kepala lepas yang bisa digeser.

Perencanaan Proses Membubut Ulir Proses pembuatan ulir bisa dilakukan pada Mesin Bubut. Nama-nama bagian ulir.L.......Di x D 2l d ..... Nama. sehingga proses pembubutan lama dan hasilnya kurang presisi........ karena pengulangan pemotongan harus dikendalikan secara manual. Pahat yang digunakan untuk membuat ulir segi tiga ini adalah pahat ulir yang sudut ujung pahatnya sama dengan sudut ulir atau setengah sudut ulir...... Perbedaannya ada pada perhitungan waktu pemesinan untuk pembuatan tirus dengan cara menggeser sudut eretan atas. dan penentuan langkah kerja/jalannya pahat untuk pembuatan benda kerja tirus sama dengan perencanaan proses bubut lurus...........27. sedangkan ulir Whitwoth sudut Teknik Pemesinan 168 .. 7. Ulir segi tiga tersebut bisa berupa ulir tunggal atau ulir ganda.6) mana : D = diameter mayor (terbesar) (mm) d = diameter minor (terkecil) (mm) l = panjang bagian tirus (mm) L = panjang benda kerja seluruhnya (mm) Penentuan pahat. Hal ini terjadi karena gerakan pahat dilakukan secara manual sehingga rumus waktu pemesinan (tc) tidak dapat digunakan.. Untuk ulir Metris sudut ulir adalah 60o... perhitungan elemen pemesinan..... Pada Mesin Bubut konvensional (manual) proses pembuatan ulir kurang efisien...(6... karena sangat memungkinkan membuat ulir dengan kisar (pitch) yang sangat bervariasi dalam waktu relatif cepat dan hasilnya presisi. Dengan Mesin Bubut yang dikendalikan CNC proses pembubutan ulir menjadi sangat efisien dan efektif....... Gambar 6 27.nama bagian ulir segi tiga dapat dilihat pada Gambar 6...

). Misalnya ulir M5x0.ulir 55o.8 berarti ulir metris dengan diameter mayor 5 mm dan kisar (pitch) 0. Identifikasi ulir biasanya ditentukan berdasarkan diameter mayor dan kisar ulir (Tabel 6. Teknik Pemesinan 169 .6.8 mm.

Teknik Pemesinan 170 .Tabel 6 6. Dimensi ulir Metris.

Pahat ini biasanya dibuat dari HSS atau pahat sisipan dari bahan karbida.28). Selain ulir segi tiga. Ulir segi empat ini biasanya digunakan untuk ulir daya. pada Mesin Bubut bisa juga dibuat ulir segi empat (Gambar 6.7. kisar (pitch).Selain ulir Metris pada Mesin Bubut bisa juga dibuat ulir Whitworth (sudut ulir 55o). Dimensi ulir Whitworth. Identifikasi ulir ini ditentukan oleh diamater mayor ulir dan jumlah ulir tiap inchi (Tabel 6. Dimensi utama dari ulir segi empat pada dasarnya sama dengan ulir segi tiga yaitu : diameter mayor. Teknik Pemesinan 171 . diameter minor. dan sudut helix. Ulir ini biasanya digunakan untuk membuat ulir pada pipa (mencegah kebocoran fluida). Misalnya untuk ulir Whitwoth 3/8” jumlah ulir tiap inchi adalah 16 (kisarnya 0. Tabel 6 7.).0625”). Pahat yang digunakan untuk membuat ulir segi empat adalah pahat yang dibentuk (diasah) menyesuaikan bentuk alur ulir segi empat dengan pertimbangan sudut helix ulir.

Gambar 6 28.29. Pahat ulir metris dan mal ulir untuk ulir luar dan ulir dalam.30). Pada Gambar 6. ditunjukkan bentuk pahat ulir metris dan alat untuk mengecek besarnya sudut tersebut (60o). Gambar 6 29. Teknik Pemesinan 172 . Selain pahat terbuat dari HSS pahat ulir yang berupa sisipan ada yang terbuat dari bahan karbida (Gambar 6. Ulir segi empat. Pahat ulir Pada proses pembuatan ulir dengan menggunakan Mesin Bubut manual pertama-tama yang harus diperhatikan adalah sudut pahat. a. Pahat ulir pada gambar tersebut adalah pahat ulir luar dan pahat ulir dalam.

8. sehingga putaran spindel tidak terlalu tinggi (secara kasar sekitar setengah dari putaran spindel untuk proses bubut rata). Setting ini dilakukan terutama untuk mengecek posisi ujung pahat bubut terhadap sumbu.Gambar 6 30.31). Perbandingan harga kecepatan potong untuk proses bubut rata (stright turning) dan proses bubut ulit (threading) dapat dilihat pada Tabel 6. Teknik Pemesinan 173 . Hal tersebut terjadi karena pada proses pembuatan ulir harga gerak makan (f) adalah kisar (pitch) ulir tersebut. Setelah pahat dipilih. Setelah itu dicek posisi pahat terhadap permukaan benda kerja. Gambar 6 31. Parameter pemesinan untuk proses bubut ulir berbeda dengan bubut rata. Proses pembuatan ulir luar dengan pahat sisipan. Setting pahat bubut untuk proses pembuatan ulir luar. supaya diperoleh sudut ulir yang simetris terhadap sumbu yang tegak lurus terhadap sumbu benda kerja (Gambar 6. kemudian dilakukan setting posisi pahat terhadap benda kerja.

934 mm). Langkah penyayatan ulir Gambar 6 32. Eretan atas diatur menyudut terhadap sumbu tegak lurus benda kerja dan arah pemakanan pahat bubut. Kecepatan potong proses bubut rata dan proses bubut ulir untuk pahat HSS.5. Supaya dihasilkan ulir yang halus permukaannya perlu dihindari kedalaman potong yang relatif besar. atau sisi potong pahat sebelah kanan untuk ulir kiri). maka sebaiknya pahat hanya menyayat pada satu sisi saja (sisi potong pahat sebelah kiri untuk ulir kanan. biasanya dilakukan penyayatan antara 5 sampai 10 kali penyayatan ditambah sekitar 3 kali penyayatan kosong (penyayatan pada diameter terdalam). Agar diperoleh hasil yang presisi dengan proses yang tidak membahayakan operator mesin. proses penyayatan tidak dilakukan sekali potong. Walaupun kedalaman ulir kecil (misalnya untuk ulir M10x1. Hal tersebut karena pahat ulir melakukan penyayatan berbentuk V. b. Proses tersebut dilakukan dengan cara memiringkan eretan atas Teknik Pemesinan 174 . dalamnya ulir 0.Tabel 6 8.

33. Sedang untuk ulir Acme dan ulir cacing dengan sudut 29o. Teknik Pemesinan 175 .).) dengan menggunakan kaliber ulir (screw pitch gage). 7) sampai kedalaman ulir maksimal tercapai. kemudian hentikan mesin dan tarik pahat keluar.21. 9) Majukan pahat untuk kedalaman potong berikutnya dengan memajukan eretan atas. 7) Periksa kisar ulir yang dibuat (Gambar 6.8) sampai panjang ulir yang dibuat terdapat goresan pahat.5 o. 8) Gerakkan pahat mundur dengan cara memutar spindel arah kebalikan. geser handle gerakan eretan bawah untuk pembuatan ulir 5) Masukkan pahat dengan kedalaman potong sekitar 0. Kalau kisar belum sesuai periksa posisi handle pengatur kisar pada Mesin Bubut. eretan atas dimiringkan 14.dengan sudut 29o (Gambar 6. 11) Pada kedalaman ulir maksimal proses penyayatan perlu dilakukan berulang-ulang agar beram yang tersisa terpotong semuanya. Gambar 6 33. Pengecekan kisar ulir dengan kaliber ulir. 10) Langkah dilanjutkan seperti No.1 mm 6) Putar spindel mesin (kecepatan potong mengacu Tabel 6.) untuk ulir metris.32. sehingga pahat di luar benda kerja dengan jarak bebas sekitar 10 mm di sebelah kanan benda kerja 4) Atur pengatur kisar menurut tabel kisar yang ada di Mesin Bubut. Proses penambahan kedalaman potong (dept of cut) dilakukan oleh eretan atas . Langkah-langkah proses bubut ulir dengan menggunakan mesin konvensional dilakukan dengan cara : 1) Memajukan pahat pada diameter luar ulir 2) Setting ukuran pada handle ukuran eretan atas menjadi 0 mm 3) Tarik pahat ke luar benda kerja. Apabila sudah sesuai maka proses pembuatan ulir dilanjutkan. hentikan setelah posisi pahat di depan benda kerja (Gerakan seperti gerakan pahat untuk membuat poros lurus pada Gambar 6.

12) Setelah selesai proses pembuatan ulir, hasil yang diperoleh dicek ukuranya (diameter mayor, kisar, diameter minor, dan sudut ulir). c. Pembuatan ulir ganda Pembuatan ulir di atas adalah untuk ulir tunggal. Selain ulir tunggal ada tipe ulir ganda (ganda dua dan ganda tiga). Pada dasarnya ulir ganda dan ulir tunggal dimensinya sama, perbedaanya ada pada pitch dan kisar (Gambar 6.34). Pada ulir tunggal pitch dan kisar (lead) sama. Pengertian kisar adalah jarak memanjang sejajar sumbu yang ditempuh batang berulir (baut) bila diputar 360O (satu putaran). Pengertian pitch adalah jarak dua puncak profil ulir. Pada ulir kanan tunggal bila sebuah baut diputar satu putaran searah jarum jam, maka baut akan bergerak ke kiri sejauh kisar (Gambar 6.34). Apabila baut tersebut memiliki ulir kanan ganda dua, maka bila baut tersebut diputar satu putaran akan bergerak ke kiri sejauh kisar (dua kali pitch). Bentuk-bentuk profil ulir yang telah distandarkan ada banyak. Proses pembuatannya pada prinsipnya sama dengan yang telah diuraikan di atas. Gambar 6.35 – 6.37. berikut ditunjukkan gambar bentuk profil ulir dan dimensinya.

Gambar 6 34. Single thread, double thread dan triple thread.

Teknik Pemesinan

176

Gambar 6 35. Beberapa jenis bentuk profil ulir (1).

Teknik Pemesinan

177

Gambar 6.36. Beberapa jenis bentuk profil ulir (2).

Gambar 6 36. Beberapa jenis bentuk profil ulir (1).

Teknik Pemesinan

178

Gambar 6 37. Beberapa jenis bentuk profil ulir (3).

8.

Perencanaan Proses Membubut Alur

Alur (grooving) pada benda kerja dibuat dengan tujuan untuk memberi kelonggaran ketika memasangkan dua buah elemen mesin, membuat baut dapat bergerak penuh, dan memberi jarak bebas pada proses gerinda terhadap suatu poros, (Gambar 6.38.). Dimensi alur ditentukan berdasarkan dimensi benda kerja dan fungsi dari alur tersebut. Bentuk alur ada tiga macam yaitu kotak, melingkar, dan V (Gambar 6.39). Untuk bentuk-bentuk alur tersebut pahat yang digunakan diasah dengan mesin gerinda disesuaikan dengan bentuk alur yang akan Teknik Pemesinan 179

dibuat. Kecepatan potong yang digunakan ketika membuat alur sebaiknya setengah dari kecepatan potong bubut rata. Hal tersebut dilakukan karena bidang potong proses pengaluran relatif lebar. Alur bisa dibuat pada beberapa bagian benda kerja baik di bidang memanjang maupun pada bidang melintangnya, dengan menggunakan pahat kanan maupun pahat kiri, (Gambar 6.40.)

Gambar 6 38. Alur untuk : (a) pasangan poros dan lubang, (b)

pergerakan baut agar penuh, (c) jarak bebas proses penggerindaan poros. Proses yang identik dengan pembuatan alur adalah proses pemotongan benda kerja (parting). Proses pemotongan ini dilakukan ketika benda kerja selesai dikerjakan dengan bahan asal benda kerja yang relatif panjang (Gambar 6.41).

Teknik Pemesinan

180

41) Teknik Pemesinan 181 . Cairan pendingin diberikan sebanyak mungkin b. Posisi pahat atau pemegang pahat tepat 90o terhadap sumbu benda kerja (Gambar 6. Proses pemotongan benda kerja (parting). Gambar 6 40.Gambar 6 39. Ujung pahat diatur pada sumbu benda kerja c. Alur bisa dibuat pada bidang memanjang atau melintang. Beberapa petunjuk penting yang harus diperhatikan ketika melakukan pembuatan alur atau proses pemotongan benda kerja adalah: a.

Perencanaan Proses Membubut/Membuat Kartel Kartel (knurling) adalah proses membuat injakan ke permukaan benda kerja berbentuk berlian (diamond) atau garis lurus beraturan untuk memperbaiki penampilan atau memudahkan dalam pemegangan (Gambar 6. Gambar 6 42. Proses pembuatan kartel bentuk lurus.42). Gerak makan dikurangi (20% dari gerak makan bubut rata) h.d. Untuk alur aksial. Bentuk dan kisar injakan kartel. Kecepatan potong dikurangi (50% dari kecepatan potong bubut rata) g.43) ada dalam berbagai ukuran yaitu kasar (14 pitch). berlian. dan halus (33 pitch). penyayatan pertama dimulai dari diameter terbesar untuk mencegah berhentinya pembuangan beram. Panjang pemegang pahat atau pahat yang menonjol ke arah benda kerja sependek mungkin agar pahat atau benda kerja tidak bergetar e. Bentuk injakan kartel (Gambar 6. Teknik Pemesinan 182 . medium (21 pitch). 9. dan alat pahat kartel. Dipilih batang pahat yang terbesar f. Gambar 6 41.

Putaran spindel diatur pada kecepatan rendah (antara 6080 rpm) dan gerak makan medium (sebaiknya 0. Pahat kartel harus dipasang pada tempat pahat dengan sumbu dari kepalanya setinggi sumbu Mesin Bubut. kemudian Mesin Bubut dihentikan.45. Setelah benda kerja berputar beberapa kali (misalnya 20 kali).44.2 sampai 0. maka sebaiknya benda kerja dibubut rata lagi.). Selama proses penyayatan kartel. kemudian diatur untuk membuat kartel lagi. Teknik Pemesinan 183 .Pembuatan injakan kartel dimulai dengan mengidentifikasi lokasi dan panjang bagian yang akan dikartel. maka spindel Mesin Bubut kemudian diputar. dan kontak awal untuk penyetelan hanya setengah dari lebar pahat kartel. lihat Gambar 6. kemudian mengatur mesin untuk proses kartel. Apabila hasilnya masih ada bekas injakan ganda.4 mm per putaran spindel). Benda kerja dibuat menyudut pada ujungnya agar tekanan pada pahat kartel menjadi kecil dan penyayatannya lembut. karena di permukaan benda kerja akan muncul ring/cincin (Gambar 6. Harus dijaga bahwa rol pahat kartel dapat bergerak bebas dan pada kondisi pemotongan yang bagus. kemudian gerak makan dijalankan otomatis. kemudian pada roda pahat yang kontak dengan benda kerja harus diberi pelumas. Dengan cara demikian awal penyayatan menjadi lembut. maka mesin dijalankan lagi. Gambar 6 43. Apabila hasilnya sudah bagus. dan permukaannya paralel dengan permukaan benda kerja. Hasil proses kartel dicek apakah hasilnya bagus atau ada bekas injakan yang ganda (Gambar 6. gerak makan pahat tidak boleh dihentikan jika spindel masih berputar. misalnya untuk memeriksa hasil. Apabila ingin menghentikan proses. Setelah semua diatur. dan pahat kartel didekatkan ke benda kerja menyentuh benda sekitar 2 mm. sebaiknya ujung benda kerja dibuat pinggul (chamfer). Kemudian pahat ditarik mundur dan dibawa ke luar benda kerja. maka mesin dihentikan dengan menginjak rem.45(c)). Agar supaya tekanan awal pada pahat kartel menjadi kecil.

(a) Injakan kartel yang benar.Gambar 6 44. dan (c) cincin yang ada pada benda kerja karena berhentinya gerakan pahat kartel sementara benda kerja tetap berputar. Teknik Pemesinan 184 . (b) injakan kartel ganda (salah).

BAB 7 MENGENAL PROSES FRAIS (MILLING) Teknik Pemesinan 185 .

Mesin (Gambar 7. Permukaan benda kerja bisa juga berbentuk kombinasi dari beberapa bentuk. Gambar 7 1. Permukaan yang disayat bisa berbentuk datar. menyudut. Mesin konvensional manual posisi spindelnya ada dua macam yaitu horizontal dan vertical.1. Skematik dari gerakan-gerakan dan komponen-komponen dari (a) Mesin Frais vertical tipe column and knee.) yang digunakan untuk memegang benda kerja. atau melengkung. dan penyayatannya disebut Mesin Frais (Milling Machine).P roses pemesinan frais (milling) adalah proses penyayatan benda kerja menggunakan alat potong dengan mata potong jamak yang berputar. Teknik Pemesinan 186 . Mesin Frais (Gambar 7. Sedangkan Mesin Frais dengan kendali CNC hampir semuanya adalah Mesin Frais vertical (beberapa jenis Mesin Frais dapat dilihat pada Lampiran 3) . memutar pisau. Proses penyayatan dengan gigi potong yang banyak yang mengitari pisau ini bisa menghasilkan proses pemesinan lebih cepat.) ada yang dikendalikan secara mekanis (konvensional manual) dan ada yang dengan bantuan CNC.2. dan (b) Mesin Frais horizontal tipe column and knee.

Klasifikasi ini berdasarkan jenis pisau. permukaan yang difrais dihasilkan oleh gigi pisau yang terletak pada permukaan luar badan alat potongnya. arah penyayatan. 1. Mesin Frais turret vertical horizontal. dan (c) frais jari (end milling). 2. Sumbu dari putaran pisau biasanya pada bidang yang sejajar dengan permukaan benda kerja yang disayat. dan posisi relatif pisau terhadap benda kerja (Gambar 7. Frais Muka (Face Milling) Pada frais muka. Tiga klasifikasi proses frais : (a) Frais periperal (slab milling).3). Permukaan Teknik Pemesinan 187 . (b) frais muka (face milling).Gambar 7 2. pisau dipasang pada spindel yang memiliki sumbu putar tegak lurus terhadap permukaan benda kerja. A. Klasifikasi Proses Frais Proses frais dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis. Gambar 7 3. Frais Periperal (Slab Milling) Proses frais ini disebut juga slab milling.

Gigi potong pada pisau terletak pada selubung pisau dan ujung badan pisau.4. Frais Naik (Up Milling ) Frais naik biasanya disebut frais konvensional (conventional milling). Arah dari putaran pisau sama dengan arah gerak makan meja Mesin Frais. Proses frais ini sesuai untuk Mesin Frais konvensional/manual. pada proses frais naik apabila pisau berputar searah jarum jam. Gambar 7 4. Metode Proses Frais Metode proses frais ditentukan berdasarkan arah relatif gerak makan meja Mesin Frais terhadap putaran pisau (Gambar 7.). B. karena pada mesin konvensional backlash ulir transportirnya relatif besar dan tidak dilengkapi backlash compensation. 3. Pisau dapat digerakkan menyudut untuk menghasilkan permukaan menyudut. 1. Penampang melintang bentuk beram (chips) untuk proses frais naik adalah seperti koma diawali dengan ketebalan minimal kemudian menebal. Sebagai contoh.).hasil proses frais dihasilkan dari hasil penyayatan oleh ujung dan selubung pisau. Metode proses frais ada dua yaitu frais naik dan frais turun. Sebagai contoh Teknik Pemesinan 188 . Frais Jari (End Milling) Pisau pada proses frais jari biasanya berputar pada sumbu yang tegak lurus permukaan benda kerja. Frais Turun (Down Milling) Proses frais turun dinamakan juga climb milling.4. (a)Frais naik (up milling) dan (b) frais turun (down milling). 2. Gerak dari putaran pisau berlawanan arah terhadap gerak makan meja Mesin Frais (Gambar 7. benda kerja disayat ke arah kanan.

Teknik Pemesinan 189 .5. maka pisau frais analog dengan beberapa buah pisau bubut (Gambar 7. Gambar 7 6. Gambar 7 5. Untuk Mesin Frais konvensional tidak direkomendasikan melaksanakan proses frais turun. karena pada mesin CNC gerakan meja dipandu oleh ulir dari bola baja. Pisau frais dapat melakukan penyayatan berbagai bentuk benda kerja. dan dilengkapi backlash compensation. benda kerja disayat ke kanan. Proses pemesinan dengan Mesin Frais merupakan proses penyayatan benda kerja yang sangat efektif. Berbagai jenis bentuk pisau frais untuk Mesin Frais horizontal dan vertical. karena meja Mesin Frais akan tertekan dan ditarik oleh pisau. karena pisau frais memiliki sisi potong jamak. Penampang melintang bentuk beram (chips) untuk proses frais naik adalah seperti koma diawali dengan ketebalan maksimal kemudian menipis.). Proses frais ini sesuai untuk Mesin Frais CNC. membuat alur lebar sampai dengan membentuk alur tipis bisa dilakukan oleh pisau frais ( Gambar 7.jika pisau berputar berlawanan arah jarum jam. Pisau frais identik dengan beberapa pahat bubut. Apabila dibandingkan dengan pisau bubut. sesuai dengan pisau yang digunakan.). Proses meratakan bidang.6.

bed. Mesin Frais tipe column and knee Gambar 7 7. dan lutut (knee) dapat digerakkan. Special purposes Mesin jenis column and knee dibuat dalam bentuk Mesin Frais vertical dan horizontal (lihat Gambar 7. Walaupun demikian mesin ini memiliki kekurangan dalam hal kekakuan dan kekuatan penyayatannya. Teknik Pemesinan 190 . Jenis Mesin Frais Mesin Frais yang digunakan dalam proses pemesinan ada tiga jenis. sadel.C. meja putar. Column and knee milling machines 2.). Mesin Frais tipe . Kekakuan mesin yang baik. menjadikan mesin ini banyak digunakan pada perusahaan manufaktur (Gambar 7.7.). Mesin Frais tersebut pada saat ini telah banyak yang dilengkapi dengan pengendali CNC untuk meningkatkan produktivitas dan fleksibilitasnya. Beberapa asesoris seperti cekam. yaitu : 1. Kemampuan melakukan berbagai jenis pemesinan adalah keuntungan utama pada mesin jenis ini. Bed type milling machines 3.8. Mesin Frais tipe bed (bed type) memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari pada jenis Mesin Frais yang pertama. serta tenaga mesin yang biasanya relatif besar. kepala pembagi menambah kemampuan dari Mesin Frais jenis ini. Pada dasarnya pada mesin jenis ini meja (bed). . Gambar 7 8.

Gambar 7 9.9. sampai lima spindel). biasanya digunakan untuk keperluan mengerjakan satu jenis penyayatan dengan produktivitas/duplikasi yang sangat tinggi. Mesin Frais dengan dua buah spindel. Mesin Frais tipe khusus (special purposes). Dengan menggunakan Mesin Frais khusus ini maka produktivitas mesin sangat tinggi. Mesin Frais tipe khusus ini (contoh pada Gambar 7. Mesin tersebut misalnya Mesin Frais profil. dan Mesin Frais planer. sehingga ongkos produksi menjadi rendah. karena mesin jenis ini tidak memerlukan setting yang rumit. Gambar 7 10. Mesin Frais dengan spindel ganda (dua. tiga. Mesin Frais CNC tipe bed (bed type CNC milling machine).). maka Mesin Frais jenis baru dengan bentuk yang tidak biasa telah dibuat. Teknik Pemesinan 191 .Produk pemesinan di industri pemesinan semakin kompleks.

.n ..11) ini pada proses frais ada dua macam yaitu gerak makan per gigi (mm/gigi).. atau dengan cara menurunkan pisau.. Seperti pada Mesin Bubut.. pada saat ini telah dibuat Mesin Frais dengan jenis yang sama dengan mesin konvensional tetapi menggunakan kendali CNC (Computer Numerically Controlled). Kecepatan potong adalah jarak yang ditempuh oleh satu titik (dalam satuan meter) pada selubung pisau dalam waktu satu menit.. Dengan bantuan kendali CNC (Gambar 7.Selain Mesin Frais manual. dan gerak makan per putaran (mm/putaran). Pada proses frais besarnya diameter yang digunakan adalah diameter pisau. Gerak makan (f) adalah jarak lurus yang ditempuh pisau dengan laju konstan relatif terhadap benda kerja dalam satuan waktu. efisien waktu dan biaya yang diperlukan...(3. maka Mesin Frais menjadi sangat fleksibel dalam mengerjakan berbagai bentuk benda kerja. gerak makan (f). Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Frais Maksud dari parameter yang dapat diatur adalah parameter yang dapat langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang mengoperasikan Mesin Frais. dan produk yang dihasilkan memiliki ketelitian tinggi. biasanya satuan gerak makan yang digunakan adalah mm/menit..... Rumus kecepatan potong : v Di mana : . Beberapa Mesin Frais yang lain dapat dilihat pada Lampiran 7.1) 1000 v = kecepatan potong (m/menit) d = diameter pisau (mm) n = putaran benda kerja (putaran/menit) Setelah kecepatan potong diketahui. Rumus kecepatan potong identik dengan rumus kecepatan potong pada mesin bubut.. dan kedalaman potong (a). Putaran spindel (n) ditentukan berdasarkan kecepatan potong.. Kecepatan potong ditentukan oleh kombinasi material pisau dan material benda kerja.. Kedalaman potong (a) ditentukan berdasarkan selisih tebal benda kerja awal terhadap tebal benda kerja akhir. Kedalaman potong diatur dengan cara menaikkan benda kerja. maka parameter yang dimaksud adalah putaran spindel (n).. Gerak makan (Gambar 7.. Untuk kedalaman potong Teknik Pemesinan 192 ....).d .. Gerak makan bisa diatur dengan cara mengatur handle gerak makan sesuai dengan tabel f yang ada di mesin... Putaran spindel bisa langsung diatur dengan cara mengubah posisi handle pengatur putaran mesin. maka gerak makan harus ditentukan.10. D..

toleransi bentuk. tebal sisipan. M. Teknik Pemesinan 193 .13. Pisau untuk proses frais dibuat dari material HSS atau karbida. dan K.14. pemutus tatal (chipbreaker). Gambar jalur pisau frais menunjukkan perbedaan antara gerak makan per gigi (ft) dan gerak makan per putaran (fr).). Apabila daya potong yang diperlukan masih lebih rendah dari daya yang disediakan oleh mesin (terutama motor listrik). sudut potong. Dengan demikian nama sudut atau istilah yang digunakan juga sama dengan pisau bubut. Nama-nama bagian pisau frais rata dan geometri gigi pisau frais rata ditunjukkan pada Gambar 7.yang relatif besar diperlukan perhitungan daya potong yang diperlukan untuk proses penyayatan. arah pemakanan.12. Material pisau untuk proses frais pada dasarnya sama dengan material pisau untuk pisau bubut. Pisau sisipan yang telah dipasang pada pemegang pisau dapat dilihat pada Gambar 7. Jumlah gigi minimal adalah dua buah pada pisau frais ujung (end mill).15. maka kedalaman potong yang telah ditentukan bisa digunakan. dan kode khusus pembuat pisau. Gambar 7 11. Standar tersebut mengatur tentang bentuk sisipan. Pisau frais karbida bentuk sisipan dipasang pada tempat pisau sesuai dengan bentuknya. sudut bebas. Standar ISO untuk bentuk dan ukuran pisau sisipan dapat dilihat pada Gambar 7. karena proses pemotongannya adalah proses pemotongan dengan mata potong majemuk (Gambar 7. Geometri Pisau Frais Pada dasarnya bentuk pisau frais adalah identik dengan pisau bubut. panjang sisi potong. Untuk pisau karbida juga digolongkan dengan kode P. E. Pisau frais memiliki bentuk yang rumit karena terdiri dari banyak gigi potong.

Teknik Pemesinan 194 . Gambar 7 13.Gambar 7 12. Bentuk dan nama-nama bagian pisau frais rata.

Gambar 7 14. Standar ISO pisau sisipan untuk frais (milling). Teknik Pemesinan 195 .

lihat Gambar 7. Pada Mesin Frais konvensional horizontal pemegang pisau adalah arbor dan poros arbor (lihat kembali Gambar 7. Pasak yang dipasang mencegah terjadinya selip ketika pisau Gambar 7 16. Gambar skematik arbor yang digunakan pada Mesin Frais horizontal dapat dilihat pada Gambar 7. menahan gaya potong yang relatif besar dan tidak kontinyu ketika gigigigi pisau melakukan penyayatan benda kerja.Gambar 7 15. Pisau frais bentuk sisipan dipasang pada tempat pisau yang sesuai. Bentuk kolet adalah silinder lurus di bagian dalam dan tirus di bagian luarnya. Peralatan dan Asesoris untuk Memegang Pisau Frais Proses penyayatan menggunakan Mesin Frais memerlukan alat bantu untuk memegang pisau dan benda kerja. Pisau harus dicekam cukup kuat sehingga proses penyayatan menjadi efektif. Teknik Pemesinan 196 . Kolet ini berfungsi mencekam bagian pemegang (shank) pisau. sehingga ketika kolet dimasuki pisau bisa dengan mudah memegang pisau. Gambar skematik arbor Mesin Frais. Arbor ini pada porosnya diberi alur untuk menempatkan pasak sesuai dengan ukuran alur pasak pada pisau frais.16. agar pisau tidak mengalami selip pada pemegangnya.17. F. Pemegang pisau untuk Mesin Frais vertical yaitu kolet (collet.1). Pada sisi kolet dibuat alur tipis beberapa buah.

Karena bentuk luar kolet tirus maka pemegang pisau akan menekan kolet dan benda kerja dengan sangat kencang. Gambar 7 18. Pemegang pisau ini ada dua jenis yaitu dengan ujung tirus Morse (Morse taper) dan lurus (Gambar 7. Sesudah pisau dimasukkan ke kolet kemudian kolet tersebut dimasukkan ke dalam pemegang pisau (tool holder). (a) Pemegang pisau frais ujung (end mill) (b) pemegang pisau shell end mill. Teknik Pemesinan 197 .18). (b) kolet solid pemasangan pisau dengan baut. Pemegang pisau (tool holder) standar bisa digunakan untuk memegang pisau frais ujung (end mill). Pemegang pisau ini biasanya digunakan untuk proses bor (boring). dan pembuatan champer (chamfering). perataan permukaan (facing). Gambar 7 19. (a) Kolet pegas yang memiliki variasi ukuran diameter. sehingga tidak akan terjadi selip ketika pisau menerima gaya potong. Beberapa proses frais juga memerlukan sebuah cekam (chuck) untuk memegang pisau frais. Pemegang pisau yang lain adalah kepala bor (Gambar 7. Kepala bor (offset boring head). Kepala bor ini jarak antara ujung pisau terhadap sumbu bisa diubah-ubah. sehingga dinamakan offset boring heads.Gambar 7 17.19).

Apabila bentuk benda kerja silindris.). Untuk benda kerja berbentuk balok atau kubus ragum yang digunakan adalah ragum sederhana atau ragum universal (Gambar 7. Apabila digunakan untuk membuat bentuk sudut digunakan ragum universal (Gambar 7. balok. atau bila menggunakan ragum sederhana bentuk pisau yang dipakai menyesuaikan bentuk sudut yang dibuat. penggunaannya disesuaikan dengan bentuk benda kerja yang dikerjakan di mesin. maka untuk memegang benda kerja digunakan kepala pembagi (dividing head).20. (b) Ragum universal yang biasa digunakan pada ruang alat. Teknik Pemesinan 198 . payung) Membuat roda gigi cacing. balok bertingkat). terutama untuk keperluan : Membuat segi banyak Membuat alur pasak Membuat roda gigi (lurus. Ragum tersebut diikat pada meja Mesin Frais dengan menggunakan baut T. Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja pada Mesin Frais Alat pemegang benda kerja pada Mesin Frais berfungsi untuk memegang benda kerja yang sedang disayat oleh pisau frais.) ini biasanya digunakan untuk memegang benda kerja silindris.).G. (a) (b) Gambar 7 20. (a) Ragum sederhana (plain vise).21. helix. Jenis ragum cukup banyak. Ragum sederhana digunakan bila benda kerja yang dibuat bidang-bidangnya saling tegak lurus dan paralel satu sama lain (kubus.20. Pemegang benda kerja ini biasanya dinamakan ragum. Kepala pembagi (Gambar 7.

Alat bantu pemegang benda kerja di Mesin Frais yang lain yaitu meja putar (rotary table). atau helix. Meja yang dapat Gambar 7 22.22). maka ragum diletakkan pada meja yang dapat diatur sudutnya (identik dengan meja sinus). digunakan untuk alat bantu pengerjaan benda kerja yang memiliki sudut lebih dari satu arah.23) ini diletakkan di atas meja Mesin Frais. diatur sudutnya dalam beberapa arah. Ragum biasa yang dipasang langsung pada meja Mesin Frais hanya dapat digunakan untuk mengerjakan benda kerja lurus atau bertingkat dengan bidang datar atau tegak lurus. karena untuk menyayat sisisisi benda kerja tidak usah melepas benda kerja. dan benda hasil tuangan sulit dicekam dengan ragum. Berbagai bentuk klem dan baut pengikatnya biasanya digunakan untuk satu benda kerja yang relatif besar. Benda kerja yang dikerjakan di Mesin Frais tidak hanya benda kerja yang bentuknya teratur. kemudian ragum atau cekam rahang tiga bisa diletakkan di atasnya. Teknik Pemesinan 199 . baik satu lingkaran penuh (360o) atau kurang dari 360o. Apabila benda kerja yang dibuat ada bentuk sudutnya. piringan dengan diameter besar dan tipis. cukup memutar handle meja putar dengan sudut yang dikekendaki. Meja tersebut (Gambar 7. Selain itu dengan meja putar ini bisa dibuat bentuk melingkar. maka benda kerja bisa langsung diletakkan di meja Mesin Frais kemudian diikat dengan menggunakan bantuan klem (clamp). Dengan bantuan meja putar ini proses penyayatan bidang-bidang benda kerja bisa lebih cepat. Untuk keperluan pemegangan benda kerja seperti itu. diikat pada meja Mesin Frais . Kepala pembagi (dividing head) untuk membuat segi banyak. (Gambar 7. Benda kerja yang berbentuk plat lebar. Meja putar. roda gigi.Gambar 7 21.

(d) edge finder yang digunakan untuk mencari posisi pojok benda kerja. (b) Meja putar yang dapat diatur sudutnya. (b) line finder untuk membantu mencari posisi garis pinggir benda kerja. (c) line finder dipasang pada kolet. (g) blok V untuk membantu memegang benda kerja berbentuk silindris. dan (h) klem (clamp) untuk membantu memegang benda kerja. (f) pembatas ragum. Asesoris tersebut misalnya (a) parallel yang berguna untuk meninggikan posisi benda kerja pada ragum. pada Mesin Frais juga ada beberapa macam asesoris yang berguna untuk membantu pengaturan Mesin Frais. maupun penempatan benda kerja.24. (a) Meja putar (rotary table) yang bisa digunakan untuk Mesin Frais vertical maupun horizontal.Gambar 7 23. Teknik Pemesinan 200 . (e) pembatas ragum (vise stop) yang berguna untuk batas peletakan benda kerja di ragum. Gambar perlengkapan Mesin Frais tersebut dapat dilihat pada Gambar 7. Selain pemegang benda kerja.

(a) Parallel (b) Line finder (c) Line finder dipasang pada kolet (d) Edge finder. digunakan untuk mencari posisi pojok benda kerja (e) Pembatas ragum (vise stop) yang dipasang menyatu dengan mulut ragum. (f) Pembatas ragum. Teknik Pemesinan 201 . Berbagai macam asesoris yang digunakan pada Mesin Frais. (g) Blok V (h) Satu set klem Gambar 7 24.

berikut : n w a ln lv vf lw n a w ln vf lw lv Gambar 7 25. Elemen diturunkan berdasarkan rumus dan Gambar 7.H. Keterangan : Benda Kerja : w lw lt a = lebar pemotongan (mm) = panjang pemotongan (mm) = lv+lw+ln (mm) = kedalaman potong (mm) Teknik Pemesinan 202 . Elemen Dasar Proses Frais Elemen dasar proses frais hampir sama dengan elemen dasar proses bubut.25. Gambar skematis proses frais vertical dan frais horizontal.

.. Proses frais bisa dilakukan dengan banyak cara menurut jenis pisau yang digunakan dan bentuk benda kerjanya.... getaran mesin dan getaran benda kerja.d .(3................ Perencanaan proses frais dibahas satu kesatuan dengan beberapa pengerjaan proses frais........... Pengerjaan Benda Kerja dengan Mesin Frais Beberapa variasi bentuk benda kerja bisa dikerjakan dengan Mesin Frais.......... ........... ... Dengan demikian hasil analisa/perencaaan merupakan pendekatan bukan merupakan hasil yang optimal... tetapi juga cara pencekaman.. kehalusan produk.... .Pisau Frais : d z r = diameter luar (mm) = jumlah gigi/mata potong = sudut potong utama (90o)untuk pisau frais selubung Mesin Frais : n vf = putaran poros utama (rpm) = kecepatan makan (mm/putaran) 5) Kecepatan potong : V .... Teknik Pemesinan 203 . m / menit .... . .......menit.......a........... 2 ) 1000 6) Gerak makan per gigi : fz v f / z.5) tersebut di atas digunakan untuk perencanaan proses frais.................. ...n .. I.. mm/ menit.... gaya potong....... .. ..... ....5) 3 Rumus-rumus (3..(..... Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan bukan hanya kecepatan potong dan gerak makan saja.............4) vf 8) Kecepatan penghasilan beram : Z vf ..(3................ ....... . 3 ...( 3 ........ ...2 sampai 3....n.. Selain itu jenis Mesin Frais yang bervariasi menyebabkan analisa proses frais menjadi rumit........3) 7) Waktu pemotongan : tc lt .w/1000 cm / menit .............

1. Frais rata dilakukan dengan cara permukaan benda kerja dipasang paralel terhadap permukaan meja Mesin Frais dan pisau frais dipasang pada arbor mesin. Arbor dipasang horizontal didukung oleh spindel mesin dan penahan arbor di sisi yang lain. Proses frais rata (surface/slab milling). Teknik Pemesinan 204 .20.). (Gambar 7. (Gambar 7. Proses Frais Datar/Rata Proses frais datar/rata (dinamakan juga surface milling atau slab milling) adalah proses frais dengan sumbu pisau paralel terhadap permukaan benda kerja. (Gambar 7.26). sebaiknya bagian benda kerja yang menonjol di atas ragum tidak terlalu tinggi agar benda kerja tidak bergetar. Gambar 7 26. Benda kerja dicekam dengan ragum biasa.27).

Benda kerja didukung parallel. bagian kanan pencekaman yang salah (incorrect) dan bagian kiri pencekaman yang benar (correct).Benda kerja di tengah ragum. Benda kerja yang menonjol terlalu tinggi. Pisau yang digunakan untuk proses pengasaran (roughing) sebaiknya dipilih pisau frais yang ukuran giginya relatif besar. Gerak makan per gigi Teknik Pemesinan 205 .1). Gambar 7 27. Benda kerja tidak didukung parallel Benda kerja yang menonjol diusahakan serendah mungkin. dengan kecepatan potong dipilih yang minimal dari kecepatan potong yang diijinkan untuk pasangan pisau dan benda kerja yang dikerjakan (Tabel 7. Untuk proses finishing pisau yang digunakan dipilih pisau yang memiliki gigi yang relatif kecil dengan kecepatan potong dipilih harga terbesar dari kecepatan potong yang diijinkan. Benda kerja di pinggir ragum. Cara pencekaman benda kerja.

ditentukan berdasarkan ketebalan beram yang diinginkan (direncanakan).28).2 sampai 3. sistem pencekaman. Tebal beram per gigi untuk beberapa tipe pisau frais dan benda kerja yang dikerjakan (satuan dalam inchi). Tebal beram untuk proses frais disarankan seperti pada Tabel 7. Teknik Pemesinan 206 . Perhitungan elemen pemesinan untuk proses frais yang lain (Gambar 7.5). Tebal beram dapat dipilih berdasarkan benda kerja dan pisau yang digunakan. Kecepatan potong untuk proses frais untuk pasangan benda kerja dan pisau HSS. a) Untuk pisau karbida harga kecepatan potong angka pada tabel dikalikan 2. mesin. bisa dilakukan setelah kecepatan potong dan gerak makan per gigi ditentukan. Perhitungan elemen mesin yang lain (Rumus 3.) identik dengan langkah di atas. Tabel 7 2. dan kecepatan potong.28. b) Apabila satuan kecepatan potong (cutting speed diubah menjadi m/menit angka pada tabel dibagi 3. Tabel 7 1.2.

Teknik Pemesinan 207 .Gambar 7 28. Beberapa variasi proses frais yang dilakukan pada Mesin Frais.

Kepala pembagi digunakan sebagai pemegang bakal roda gigi (dengan bantuan mandrel). pisau frais gigi. 2. gerak makan.Gambar 7 28. untuk proses frais roda gigi diperoleh data tentang jumlah gigi.21. serta proses pencekaman dan pemilihan pisau berbeda maka akan dibahas lebih detail.29). Beberapa proses frais : frais bentuk dan dan frais alur. tetapi karena bentuknya yang spesifik.28. (Lanjutan). Pada kepala pembagi terdapat mekanisme yang memungkinkan operator Mesin Frais memutar benda kerja dengan sudut tertentu.). dan dimensi bakal roda gigi. Dari informasi tersebut perencana proses frais gigi harus menyiapkan : kepala pembagi (Gambar 7. bentuk profil gigi. modul. Proses Frais Roda Gigi Proses frais gigi (Gambar 7. sebenarnya sama dengan frais bentuk pada Gambar 7. Teknik Pemesinan 208 . sudut tekan. Dari informasi yang diperoleh dari gambar kerja.. dan perhitungan elemen dasar (putaran spindel. dan kedalaman potong).

Sisi kedua (sebaliknya) dengan jumlah lubang : 46.33 c.41.66 Misalnya akan dibuat pembagian 160 buah. Proses frais roda gigi dengan Mesin Frais horizontal. Mekanisme perubahan gerak pada kepala pembagi adalah roda gigi cacing dan ulir cacing dengan perbandingan 1:40.17.39. Piringan 3 dengan jumlah lubang : 37. Dengan demikian apabila engkol diputar satu kali.51. maka spindelnya berputar 1/40 kali.39.43 b. Untuk membagi putaran pada spindel sehingga bisa menghasilkan putaran spindel selain 40 bagian.25.58. Pengaturan putaran engkol pada kepala pembagi adalah sebagai berikut (Gambar 7. Tipe Brown and Sharpe : a.) : Dipilih piringan yang memiliki lubang 20.31.42.27.37. maka pada bagian engkol dilengkapi dengan piringan pembagi dengan jumlah lubang tertentu. 1/3.29. Piringan 2 dengan jumlah lubang : 21.53.23.30.62.41.c) Teknik Pemesinan 209 .28.43. Sisi pertama dengan jumlah lubang : 24. dengan demikian putaran engkol bisa diatur (misal ½.30.59.49 2.49.47.Pisau frais gigi Mandrel dicekam pada kepala pembagi Roda gigi Gambar 7 29. ¼.19.54.38.18.47. Gambar 7.20 b.16.57. 1/5 putaran). Kepala pembagi (dividing head) digunakan sebagai alat untuk memutar bakal roda gigi. Pada piringan pembagi diberi lubang dengan jumlah lubang sesuai dengan tipenya yaitu : 1.34.29.30. dengan cara sekrup pengatur arah radial kita setel sehingga ujung engkol yang berbentuk runcing bisa masuk ke lubang yang dipilih (Gambar 7. Tipe Cincinnati (satu piringan dilubangi pada kedua sisi) : a. Piringan 1 dengan jumlah lubang : 15.

Sedangkan kedalaman potong ditentukan berdasarkan tinggi gigi dalam gambar kerja atau sesuai dengan modul gigi yang dibuat (antara 2 sampai 2. Kepala pembagi dan pengoperasiannya. Teknik Pemesinan 210 .3.2 dan 3. 6 (telah dibatasi oleh gunting) Dengan demilian engkol berputar ¼ lingkaran dan benda kerja) berputar ¼ x1/40 = 1/160 putaran Gunting digeser sehingga bilah bagian kiri di no. Penentuan elemen dasar proses frais yaitu putaran spindel dan gerak makan pada proses frais gigi tetap mengikuti rumus 3. Nomer pisau frais gigi berdasarkan jumlah gigi yang dibuat dapat dilihat pada Tabel 7. 1 Pelat penggerak 6 lubang 5 bagian spindel (b) Bilah gunting Sekrup pengatur bilah (c) (d) Lubang no. 6 Gambar 7 30. Gunting diatur sehingga melingkupi 5 bagian atau 6 lubang (Gambar 7.(d) (a) Engkol Piringan pembagi Sekrup pengatur arah radial Bilah gunting Lubang no.25 modul).30. 6 Pemutaran engkol selanjutnya mengikuti bilah gunting.3.d) Sisi pertama benda kerja dimulai dari lubang no. Pemilihan pisau untuk memotong profil gigi (biasanya profil gigi involute) harus dipilih berdasarkan modul dan jumlah gigi yang akan dibuat.1 Sisi kedua dilakukan dengan cara memutar engkol ke lubang no.

5 19 sampai 20 6 17 sampai 20 6. Urutan nomer pisau frais gigi involute.5 42 sampai 54 3 35 sampai 54 3.5 23 sampai 25 5 21 sampai 25 5.5 15 sampai 16 7 14 sampai 16 7. Teknik Pemesinan 211 .5 80 sampai 134 2 55 sampai 134 2 .Digunakan untuk membuat roda gigi Nomer Pisau/ dengan jumlah gigi Cutter 1 135 sampai dengan rack 1.5 30 sampai 34 4 25 sampai 34 4.5 13 8 12 dan 13 Tabel 7 3.

Teknik Pemesinan 200 .

2005. Bridgeport Mahines Devision of Textron Limited PO Box 22 Forest Road Leicester LE5 0FJ : England.m. Avrutin. Amstead.m.Hallein.b.b. 2007. Austria. A Center Lathe. (1995). Lubrication.A-5400 Hallein: Austria. Bridgeport Textron . Postfach 131. Bandung: Angkasa. 1980. Teacher’s Handbook Compact 5 PC. EMCO. van Terheijden. Teknologi Mekanik Jilid 2.m. 1991. EMCO Maier+Co. Instructions and Operating Manual. Fundamentals of Milling Practice.LAMPIRAN. Harun. Diktat Praktikum Proses Pemesinan II (CNC TU2A dan CNC TU3A) Jurusan Pendidikan Teknik Mesin.Poco Graphite Inc. A ___________________________________________Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA Alois SCHONMETZ.A-5400 Hallein: Austria. Geoffrey. Maximat Super 11 Installation Manual. Alat-alat Perkakas 3. B. Austria. 1991.S. EMCO.Hallein.H. Emco Emco Maier Maier CNC TU-3A.H. (1981). Teknik Pemesinan . EMCO. Teacher’s Handbook Ges. (1985). Austria. C.H. Operation. EMCO.Hallein. Instalation. tt. 1991. Fundamentals of Metal Machining and Machine Tools. Singapore: Mc Graw-Hill Book Co. Bambang Priambodo. Moscow. 1980.b. Health and Safety at Work Act. Jakarta: Erlangga Boothroyd. EMCO. Pengerjaan Logam Dengan Perkakas Tangan dan Mesin Sederhana. Manual. EMCO Maier+Co. 1977. Teacher’s Handbook Ges. Emco Maier Ges. Bridgeport. Postfach 131.H. Universitas Negeri Yogyakarta. Maintenance Manual. Bandung: Binacipta. CNC TU-2A. EDM ProcessMecanism. Maintenance. Courtesy EDM Tech. (1994). Foreign Languages Publishing House.

__________________________________________________Lampiran LAMPIRAN Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran LAMPIRAN. B Lampiran 1. Teknik Pemesinan . Standar ISO untuk pengkodean pemegang pahat sisipan/ tool holders.

Standar ISO untuk pengkodean pemegang pahat sisipan.__________________________________________________Lampiran Lampiran 1. Teknik Pemesinan . (Lanjutan).

__________________________________________________Lampiran Teknik Pemesinan .

Sumber : Katalog PT. Kawan Lama Teknik Pemesinan . Beberapa macam Mesin Bubut konvensional dan CNC.__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.

Beberapa macam Mesin Bubut. Kawan Lama Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 2. Sumber : Katalog PT. (Lanjutan).

Beberapa macam Mesin Bubut. (Lanjutan). Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.

com) Teknik Pemesinan .toolingandproduction. (Lanjutan). Beberapa macam Mesin Bubut.__________________________________________________Lampiran Lampiran 2. Sumber : IMTS 2006 (www.

Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 3. (Lanjutan). Beberapa macam Mesin Frais. Lampiran 3. Beberapa macam Mesin Frais konvensional dan CNC.

__________________________________________________Lampiran Sumber : Katalog PT. Kawan Lama Teknik Pemesinan .

toolingandproduction. Sumber : IMTS 2006 (www. Beberapa macam Mesin Frais.__________________________________________________Lampiran Lampiran 3.com) Teknik Pemesinan . (Lanjutan).

__________________________________________________Lampiran Lampiran 4. Mesin Gurdi manual dan Mesin Gurdi & Tap CNC Teknik Pemesinan . (Lanjutan). Beberapa macam Mesin Gurdi (Drilling). Beberapa macam Mesin Gurdi (Drilling) konvensional dan CNC. Mesin Bor Radial Lampiran 4.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 5. Teknik Pemesinan . Proses pembuatan ulir dan tabel.

) Fundamental Deviation (es ) Teknik Pemesinan .) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Fundamental Deviation (es ) a -270 -270 -280 -290 -290 -300 -300 -310 -320 -340 -360 -380 -410 -460 -520 -580 -660 -740 -820 -920 -1050 -1200 -1350 -1500 -1650 a b c cd -34 -46 -56 d -20 -30 -40 -50 -50 -65 -65 -80 -80 -100 -100 -120 -120 -145 -145 -145 -170 -170 -170 -190 -190 -210 -210 -230 -230 cd d e -14 -20 -25 -32 -32 -40 -40 -50 -50 -60 -60 -72 -72 -85 -85 -85 -100 -100 -100 -110 -110 -125 -125 -135 -135 e ef ef -10 -14 -18 -6 -10 -13 -16 -16 -20 -20 -25 -25 -30 -30 -36 -36 -43 -43 -43 -50 -50 -50 -56 -56 -62 -62 -68 -68 f fg f fg -4 -6 -8 g -2 -4 -5 -6 -6 -7 -7 -9 -9 -10 -10 -12 -12 -14 -14 -14 -15 -15 -15 -17 -17 -18 -18 -20 -20 g h 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 h js ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 js j5 -2 -2 -2 -3 -3 -3 -3 -4 -4 -5 -7 -9 -9 -11 -11 -11 -13 -13 -13 -16 -16 -18 -18 -20 -20 j5 -140 -60 -140 -70 -150 -80 -150 -95 -150 -95 -160 -110 -160 -110 -170 -120 -180 -130 -190 -140 -200 -150 -220 -170 -240 -180 -260 -200 -280 -210 -310 -230 -340 -240 -380 -260 -420 -280 -480 -300 -540 -330 -600 -360 -680 -400 -760 -440 -840 -480 b c (ei ) j6 -2 -2 -2 -3 -3 -3 -3 -4 -4 -5 -7 -9 -9 -11 -11 -11 -13 -13 -13 -16 -16 -18 -18 -20 -20 (ei ) j6 j7 j7 -4 -4 -5 -6 -6 -8 -8 -10 -10 -12 -12 -15 -15 -18 -18 -18 -21 -21 -21 -26 -26 -28 -28 -32 -32 Up -to Over (Incl. Besarnya toleransi fundamental dari a sampai zc. Fundamental Deviatons a to j Over Up -to (Incl.__________________________________________________Lampiran Lampiran 6.

Besarnya toleransi fundamental dari a sampai zc.) k7 other m k (inc) n p r s t u v x y z za zb zc Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 6.) k7 other m k (inc) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 Over 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 0 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 4 6 7 7 8 8 9 9 11 11 13 13 15 15 15 17 17 17 20 20 21 21 23 23 n 4 8 10 12 12 15 15 17 17 20 20 23 23 27 27 27 31 31 31 34 34 37 37 40 40 p 6 12 15 18 18 22 22 26 26 32 32 37 37 43 43 43 50 50 50 56 56 62 62 68 68 r 10 15 19 23 23 28 28 34 34 41 43 51 54 63 65 68 77 80 84 94 98 108 114 126 132 s 14 19 23 28 28 35 35 43 43 53 59 71 79 92 100 108 122 130 140 158 170 190 208 232 252 41 48 54 66 75 91 104 122 134 146 166 180 196 218 240 268 294 330 360 t u 18 23 28 33 33 41 48 60 70 87 102 124 144 170 190 210 236 258 284 315 350 390 435 490 540 39 47 55 68 81 102 120 146 172 202 228 252 284 310 340 385 425 475 530 595 660 v x 20 28 34 40 45 54 64 80 97 122 146 178 210 248 280 310 350 385 425 475 525 590 660 740 820 63 75 94 114 144 174 214 254 300 340 380 425 470 520 580 650 730 820 920 1000 y 26 35 42 50 60 73 88 112 136 172 210 258 310 365 415 465 520 575 640 710 790 900 1000 1100 1250 z 32 42 52 64 77 98 118 148 180 226 274 335 400 470 535 600 670 740 820 920 1000 1150 1300 1450 1600 za 40 50 67 90 108 136 160 200 242 300 360 445 525 620 700 780 880 960 1050 1200 1300 1500 1650 1850 2100 zb zc 60 80 97 130 150 188 218 274 325 405 480 585 690 800 900 1000 1150 1250 1350 1550 1700 1900 2100 2400 2600 Fundamental Deviation ( ei ) Up to k4(Incl. (Lanjutan). Fundamental Deviatons k to zc Fundamental Deviation ( ei ) Over Up to k4(Incl.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 7. ISO Shaft Limit Nearest Zero (Fundamental Deviation ). shaft size 500-3150mm Deviations in μmetres = (m -6) Teknik Pemesinan .

(Lanjutan). Fundamental Deviatons d to u Over 500 560 630 710 800 900 Up -to (Incl.__________________________________________________Lampiran Lampiran 7.) 560 630 710 800 900 1000 Fundamental Deviation (es) d -260 -260 -290 -290 -320 -320 -350 -350 -390 -390 -430 -430 -480 -480 -520 -520 d e -145 -145 -160 -160 -170 -170 -195 -195 -220 -220 -240 -240 -260 -260 -290 -290 e ef ef f -76 -76 -80 -80 -86 -86 -98 -98 -110 -110 -120 -120 -130 -130 -145 -145 f fg fg g -22 -22 -24 -24 -26 -26 -28 -28 -30 -30 -32 -32 -34 -34 -38 -38 g h js k m Fundamental Deviation (ei) n p 78 78 88 88 r s t 400 450 500 560 620 680 780 840 960 u 600 660 740 840 940 1050 1150 1300 1450 0 ITn/2 0 26 44 0 ITn/2 0 26 44 0 ITn/2 0 30 50 0 ITn/2 0 30 50 0 ITn/2 0 34 56 0 ITn/2 0 34 56 0 ITn/2 0 40 66 0 ITn/2 0 40 66 0 ITn/2 0 48 78 0 ITn/2 0 48 78 0 ITn/2 0 58 92 0 ITn/2 0 58 92 150 280 155 310 175 340 185 380 100 210 430 100 220 470 120 250 520 120 260 580 140 300 640 140 330 720 170 370 820 170 400 920 1000 1120 1120 1250 1250 1400 1400 1600 1600 1800 1800 2000 2000 2240 2240 2500 2500 2800 2800 3150 Up -to Over (Incl.) 1050 1600 1200 1850 1350 2000 0 ITn/2 0 68 110 195 440 1000 1500 2300 0 ITn/2 0 68 110 195 460 1100 1650 2500 0 ITn/2 0 76 135 240 550 1250 1900 2900 0 ITn/2 0 76 135 240 580 1400 2100 3200 Fundamental Deviation (ei) h js k m n p r s t u Fundamental Deviation (es) Teknik Pemesinan .

Teknik Pemesinan . Holes sizes 0-400mm. ISO Hole Nearest Dim to Zero (Fundamental Deviation).__________________________________________________Lampiran Lampiran 8.

) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 over 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Up to (Incl.__________________________________________________Lampiran Deviations in μmetres = (m -6) over Up to (Incl.) Fundamental Deviation (El ) A 270 270 280 290 290 300 300 310 320 340 360 380 410 460 520 580 660 740 820 920 B C CD 34 46 56 D 20 30 40 50 50 65 65 80 80 E 14 20 25 32 32 40 40 50 50 EF F FG G H 10 6 4 2 4 5 6 6 7 7 9 9 14 10 6 18 13 8 16 16 20 20 25 25 30 30 36 36 43 43 43 50 50 50 56 56 62 62 68 68 140 60 140 70 150 80 150 95 150 95 160 110 160 110 170 120 180 130 190 140 200 150 220 170 240 180 260 200 280 210 310 230 340 240 380 260 420 280 480 300 Fundamental Deviation (Es ) JS J6 J7 J8 K7 K8 >K8 4 6 8 6 0+ 0 5 6 8 8 10 10 12 12 14 14 0 10 3 12 5 0 IT/2 2 0 IT/2 5 0 IT/2 5 0 IT/2 6 0 IT/2 6 0 IT/2 8 0 IT/2 8 10 15 6 10 15 6 12 20 6 12 20 6 0 IT/2 10 14 24 7 0 IT/2 10 14 24 7 100 60 100 60 120 72 120 72 145 85 145 85 145 85 170 100 170 100 170 100 190 110 190 110 210 125 210 125 230 135 230 135 CD D E 10 0 IT/2 13 18 28 9 10 0 IT/2 13 18 28 9 12 0 IT/2 16 22 34 10 16 12 0 IT/2 16 22 34 10 16 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 17 0 IT/2 25 36 55 16 25 17 0 IT/2 25 36 55 16 25 18 0 IT/2 29 39 60 17 28 18 0 IT/2 29 39 60 17 28 20 0 IT/2 33 43 66 18 29 20 0 IT/2 33 43 66 18 29 Fundamental Deviation (Es ) JS J6 J7 J8 K7 K8 >K8 1050 540 330 1200 600 360 1350 680 400 1500 760 440 1650 840 480 A B C Fundamental Deviation (El ) EF F FG G H Teknik Pemesinan .

) M7 M8 >M8 N7 N8 >N8 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 -2 -2 -2 0 0 0 1 0 1 0 2 0 2 0 2 0 0 2 0 0 3 0 1 0 2 2 1 2 5 4 6 5 7 5 8 6 8 8 9 9 9 -4 -6 -7 -7 -8 -8 -9 -9 -5 -4 -4 -5 -5 -7 -7 -8 -8 -4 -4 -2 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -4 0 -4 0 Fundamental Deviation (Es ) P -6 R -10 S -14 -19 -23 -28 -28 -35 -35 -43 -43 -53 -59 -71 -79 -92 -41 -48 -54 -66 -75 -91 -104 -122 T U -18 -23 -28 -33 -33 -41 -48 -60 -70 -87 -39 -47 -55 -68 -81 V X -20 -28 -34 -40 -45 -54 -64 -80 -97 -63 -75 -94 Y Z -26 -35 -42 -50 -60 -73 -88 ZA -32 -42 -52 -64 -77 -98 -118 ZB -40 -50 -67 -90 -108 -136 -160 -200 -242 -300 -360 -445 -525 -620 -700 -780 -880 -960 ZC -60 -80 -97 -130 -150 -188 -218 -274 -325 -405 -490 -585 -690 -800 -900 -1000 -1150 -1250 -12 -15 -15 -19 -18 -23 -18 -23 -22 -28 -22 -28 -26 -34 -26 -34 -32 -41 -32 -43 -37 -51 -37 -54 -43 -63 -43 -65 -43 -68 -50 -77 -50 -80 -50 -84 -56 -94 -56 -98 -112 -148 -114 -136 -180 -144 -172 -226 -174 -210 -274 -214 -258 -335 -254 -310 -400 -300 -365 -470 -340 -415 -535 -380 -465 -600 -425 -520 -670 -470 -575 -740 -520 -640 -820 -580 -710 -920 -11 -9 -11 -9 -102 -122 -102 -120 -146 -124 -146 -178 -144 -172 -210 -170 -202 -248 -190 -228 -280 -210 -252 -310 -236 -284 -340 -258 -310 -385 -284 -340 -425 -315 -385 -475 -350 -425 -525 -390 -475 -590 -435 -530 -660 -490 -595 -740 -540 -660 -820 -13 -10 -4 0 -15 -12 -4 0 -15 -12 -4 0 -17 -14 -5 0 -17 -14 -5 0 -20 -14 -5 0 100 120 120 140 140 160 160 180 180 200 200 225 225 250 250 280 280 315 315 355 355 400 400 450 450 500 over 10 -13 -10 -4 0 -100 -134 -108 -146 -122 -166 -130 -180 -140 -196 -158 -218 -170 -240 11 -15 -12 -4 0 12 -17 -14 -5 0 12 -20 -14 -5 0 11 -21 -16 -5 0 13 -21 -16 -5 0 -1050 -1350 -1200 -1550 -650 -790 -1000 -1300 -1700 -730 -900 -1150 -1500 -1900 -820 -920 -1300 -1650 -2100 1000 -1450 -1850 -2400 1100 -62 -108 -190 -268 -62 -114 -208 -294 -68 -126 -232 -330 -68 -132 -252 -360 48 59 -23 -17 -6 0 25 25 -23 -17 -6 0 -1600 -2100 -2600 1000 1250 Y Z ZA ZB ZC Up to (Incl.) M7 M8 >M8 N7 N8 >N8 P Fundamental Deviation (Es ) R S T U V X Teknik Pemesinan . over Up to (Incl.__________________________________________________Lampiran Important Note: For Fundamental deviations P-ZC ITn's > 7 only applies .. For ITs 6 & 7 refer to table below.

) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Fundamental Deviation (Es ) P7 -6 -9 -12 -15 -15 -18 -18 -21 -21 -26 -26 -30 -30 -36 -36 -36 -41 -41 -41 -47 -47 -51 -51 -55 -55 P7 P7 -6 -8 -9 -11 -11 -14 -14 -17 -17 -21 -21 -24 -24 -28 -28 -28 -33 -33 -33 -36 -36 -41 -41 -45 -45 P7 R6 -10 -12 -16 -20 -20 -24 -24 -29 -29 -35 -37 -44 -47 -56 -58 -61 -68 -71 -75 -85 -89 -97 -103 -113 -119 R6 R7 -10 -11 -13 -16 -16 -20 -20 -25 -25 -30 -32 -38 -41 -48 -50 -53 -60 -63 -67 -74 -78 -87 -93 -103 -109 R7 S6 -14 -16 -20 -25 -25 -31 -31 -38 -38 -47 -53 -64 -72 -85 -93 -101 -113 -121 -131 -149 -161 -179 -197 -219 -239 S6 S7 -14 -15 -17 -21 -21 -27 -27 -34 -34 -42 -48 -58 -66 -77 -85 -93 -105 -113 -123 -138 -150 -169 -187 -209 -229 S7 -37 -43 -49 -60 -69 -84 -97 -115 -127 -139 -157 -171 -187 -209 -231 -257 -283 -317 -347 T6 -33 -39 -45 -55 -64 -78 -91 -107 -119 -131 -149 -163 -179 -198 -220 -247 -273 -307 -337 T7 T6 T7 U6 -18 -20 -25 -30 -30 -37 -44 -55 -65 -81 -96 -117 -137 -163 -183 -203 -227 -249 -275 -306 -341 -379 -424 -477 -527 U6 U7 -18 -19 -22 -26 -26 -33 -40 -51 -61 -76 -91 -111 -131 -155 -175 -195 -219 -241 -267 -295 -330 -369 -414 -467 -517 U7 -36 -43 -51 -63 -76 -96 -114 -139 -165 -195 -221 -245 -275 -301 -331 -376 -416 -464 -519 -582 -647 V6 -32 -39 -47 -59 -72 -91 -109 -133 -159 -187 -213 -237 -267 -293 -323 -365 -405 -454 -509 -572 -637 V7 V6 V7 X6 -20 -25 -31 -37 -42 -50 -60 -75 -92 -116 -140 -171 -203 -241 -273 -303 -331 -376 -416 -466 -516 -579 -649 -727 -807 X6 X7 -20 -24 -28 -33 -38 -46 -56 -71 -88 -111 -135 -165 -197 -233 -265 -295 -323 -368 -408 -455 -505 -569 -639 -717 -797 X7 -59 -71 -89 -109 -138 -168 -207 -247 -293 -333 -373 -416 -461 -511 -571 -641 -719 -809 -907 -987 Y6 -55 -67 -85 -105 -133 -163 -201 -241 -285 -325 -365 -408 -453 -503 -560 -630 -709 -799 -897 -977 Y7 Y6 Y7 Z6 -26 -32 -39 -47 -57 -69 -84 -107 -131 -166 -204 -251 -303 -358 -408 -458 -511 -566 -631 -701 -781 -889 -989 -1087 -1237 Z6 Z7 -26 -31 -36 -43 -53 -65 -80 -103 -127 -161 -199 -245 -297 -350 -400 -450 -503 -558 -623 -690 -770 -879 -979 -1077 -1227 Z7 Up to over (Incl. over Up to (Incl. ) Fundamental Deviation (Es ) Teknik Pemesinan ..__________________________________________________Lampiran Important Note: For Fundamental deviations (P to Z) For ITn = 6 & 7 refer to table below.

Holes sizes 400-3150mm. ISO Hole Nearest Dim to Zero (Fundamental Deviation).__________________________________________________Lampiran Lampiran 9. Teknik Pemesinan .

) 500 560 630 710 800 900 1000 1120 1250 1400 1600 1800 2000 2240 2500 2800 560 630 710 800 900 1000 1120 1250 1400 1600 1800 2000 2240 2500 2800 3150 Fundamental Deviation (El ) D 260 260 290 290 320 320 350 350 390 390 430 430 480 480 520 520 D E F G H __________________________________________________Lampiran Fundamental Deviation (Es ) JS IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 JS K 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 K M N P -78 -78 -88 -88 -100 -100 -120 -120 -140 -140 -170 -170 R -150 -155 -175 -185 -210 -220 -250 -260 -300 -330 -370 -400 -440 -460 -550 -580 R S -280 -310 -340 -380 -430 -470 -520 -580 -640 -720 -820 -920 T -400 -450 -500 -560 -620 -680 -780 -840 -960 U -600 -660 -740 -840 -940 -1050 -1150 -1300 -1450 145 76 145 76 160 80 160 80 170 86 170 86 195 98 195 98 22 0 22 0 24 0 24 0 26 0 26 0 28 0 28 0 -26 -44 -26 -44 -30 -50 -30 -50 -34 -56 -34 -56 -40 -66 -40 -66 -48 -78 -48 -78 -58 -92 -58 -92 220 110 30 0 220 110 30 0 240 120 32 0 240 120 32 0 260 130 34 0 260 130 34 0 290 145 38 0 290 145 38 0 E F G H -1050 -1600 -1200 -1850 -1350 -2000 -68 -110 -195 -68 -110 -195 -76 -135 -240 -76 -135 -240 M N P -1000 -1500 -2300 -1100 -1650 -2500 -1250 -1900 -2900 -1400 -2100 -3200 S T U Up to over ( Incl.Deviations in μmetres = (m -6) Up to over ( Incl.) Fundamental Deviation (El ) Fundamental Deviation (Es ) Teknik Pemesinan .

Ukuran Nominal (mm)/D Dari IT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 6 8 12 16 23 32 52 81 7 9 13 18 25 36 57 89 8 10 15 20 27 40 63 97 250 315 400 500 630 800 1000 1250 1600 2000 2500 Penyimpangan ( dalam μm) 9 11 16 22 32 44 70 10 13 18 25 36 50 80 11 15 21 28 40 56 90 13 18 24 33 47 66 15 21 29 39 55 78 18 25 35 46 65 92 22 30 41 55 78 26 36 50 68 96 sampai 315 400 500 630 800 1000 1250 1600 2000 2500 3150 110 135 105 125 150 175 210 110 125 140 165 195 230 280 330 130 140 155 175 200 230 260 310 370 440 540 210 230 250 280 320 360 420 500 600 700 860 320 360 400 440 500 560 660 780 920 1100 1350 520 570 630 700 800 900 1050 1250 1500 1750 2100 810 890 970 1100 1250 1400 1650 1950 2300 2800 3300 1300 1400 1550 1750 2000 2300 2600 3100 3700 4400 5400 Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 10. Penyimpangan fundamental dari ukuran 250 sampai dengan 3150 mm.

Training Circular N0 9-524 : Fundamentals of Machine Tools . All about Machine Tools. 1990.m. 560 Wuppertal 2.fvtc. Hand Out Politeknik Manufaktur Bandung.toolingandproduction.___________________________________________Daftar Pustaka EMCO. Teacher’s Handbook EMCO TU-2A. CNC TU-2A. 2007. New Delhi: Wiley Eastern. Bandung: ITB Hand Out Politeknik Manufaktur Bandung. EMCO. Leopold.bh.edu/machshop3/ basicmill/default. 1991. EMCO MAIER Ges.htm). Fox Valley Technnical College. Tabellenbunch Metall. Students’s Handbook EMCO TU-2A.m. Applications.Hallein.b. Austria. Schiling. Machine Shop 3 : Milling Machine"Accessories(http://its.htm). Rohrer.edu/ machshop3/basicmill/default. Austria. Student’s Handbook Ges.Hallein. A-5400 Hallein. Machine Shop 3 : "Types of Milling Machines"Work Holding(http://its.H.fvtc. George Schneider Jr.m. Keliner Werth 50.htm).bh. Fischer. Fox Valley Technnical College.b. Fox Valley Technnical College. 1991. (1990). Heinrichi. 1990. Teori Gerinda Silindris. Emco Maier CNC TU-3A. Student’s Handbook Ges. Prentice Hall Gerling. 2007.edu/ machshop3/basicmill/default.H.com). Headquartes Department of The Army USA : Washington DC Teknik Pemesinan . Kilgus. Cutting Tool (www.fvtc. Teori Gerinda Datar. 1996. Emco Maier EMCO MAIER Ges. 2007. Austria. (1974). Machine Shop 3 : "Milling Machines" Tool Holding (http://its. Bandung: ITB Headquartes Department of The Army USA. (1990).m. Austria. A-5400 Hallein.

Taufiq Rochim. (1990).polyu.htm The Hong Kong Polytechnic University. 2007. The Hong Kong Polytechnic University. Michigan Technological University's Turning Information Center : Michigan ----------------.edu. Teori & Teknologi Proses Pemesinan. Measurement. Bandung: Proyek HEDS.htm The Hong Kong Polytechnic University.hk/handout/handout.ic. 2007. (1993).ic.edu. http://mmu.htm The Hong Kong Polytechnic University. The Hong Kong Polytechnic University.hk/handout/handout. Basic Machining andFitting. 2007.ic.html). 1998.polyu. 2007.edu.edu..Fitting&Assembly. Teori Kerja Bor.htm Teknik Pemesinan . A TUTORIAL ON CUTTING FLUIDS IN MACHINING. Turning (www.polyu. Metal Cutting Processes1– Turning.hk/handout/handout.edu/marc/ primers/turning/turn. Taufiq Rochim. http://mmu. Bandung: Politeknik Manufaktur Bandung.hk/handout/handout.ic.edu.mtu.html#cfintro_name. Safety Instruction.polyu. http://mmu.___________________________________________Daftar Pustaka John W.edu/testbeds/cfest/fluid.ic.hk/handout/handout. 2007. Metal Cutting Processes2Milling. http://mmu.mfg. http://www.polyu.mtu.mfg. 2007. Sutherland. http://mmu.htm Marking Out.

402. 359. 256. 112. 303. 487. 502 alarm. 53. 232. 460 counterboring. 28. 31. 206 energi. 292. 470. 221. 202. 214. 262. 234. 491. 286. 498 gerak makan. 295. 160. 46. 338. 249. 359. 348. 472. 34. 238. 194. 359. 205. 8. 402. 194. 174. 317. 495 Teknik Pemesinan . 20. 468. 379. 470. 26. 41. 38. 256. 289. 368. 491. 447. 153. 36. 9. 454. 242. 254. 198. 258. C _____________________________________________________Indeks A absolut. 472. 263. 171. 475. 507. 302. 458. 406. 482. 263. 193. 54. 350. 247 gaya. 86. 493. 217. 50. 295. 41. 218. 456. 402. 489. 462. 299. 448. 170. 371. 465. 351. 165. 309. 192. 522 collet. 317. 352. 224. 210. 165. 68. 14. 212. 482. 171. 166. 12. 302. 220. 220. 368. 214. 273. 287. 456. 406. 113 disket. 208. 491. 48. 453. 32. 10. 280. 292 G ganda. 341. 194. 281. 300. 179. 244 bubut. 219. 297. 406 boring. 356. 212. 488. 379 E EDM. 306 drilling. 252. 406. 162. 309. 39. 39. 182. 447. 161. 21. 357. 265. 365. 298. 468. 158. 465. 465. 466. 218. 317. 160. 174. 486. 192. 172. 458. 209. 457. 370. 65. 191. 18. 459. 202. 35. 213. 171. 316. 283. 34. 39. 466. 341. 153. 200. 36. 19. 218. 181. 493. 200. 494. 379. 316. 163. 21. 487. 212. 175. 350. 455 ferro. 37 cekam. 206 feed. 22. 175. 353. 2. 198. 39. 250. 445. 337. 259. 213. 172. 270. 217. 183. 317 bor. 494 end mill. 353. 490. 237. 282. 41. 402 column. 311. 210. 171. 406. 359. 266. 92. 170. 159. 161. 161. 49. 490. 469. 310.LAMPIRAN. 352. 364. 158. 198. 168. 253. 172. 485. 359. 286. 162. 170. 171. 368. 23. 203. 358. 472. 295. 99. 358. 183 axis. 286. 334. 266. 5. 244. 304. 207 dresser. 371. 94. 371. 200. 211. 519. 39. 298. 492 clamp. 464. 379. 317. 191. 43. 242. 188. 458. 354. 306. 267. 198. 406 end milling. 402 cetakan. 162. 370. 206. 16. 310. 218. 467. 467. 492. 30. 234. 348. 359. 227. 315. 38. 257. 515. 175. 307. 358. 87. 354. 483. 41. 406. 317. 87. 497 geometri. 467 down milling. 489. 359. 186. 227. 7. 188. 20. 507 eksentris. 311 diameter. 207. 468. 3. 474. 190. 106. 260. 37. 212. 450. 29. 209. 300. 168. 200 dielectric. 45. 229. 370. 508. 334. 38. 464. 473. 199. 161. 47. 69 C casting. 365. 261. 218. 213. 482 dimetris. 309. 155. 269. 269 current. 6. 492. 161. 171. 358. 448. 247. 486. 8. 162. 244. 477. 290. 161. 208. 178. 234. 229. 277 gerinda. 406. 259. 367. 185. 17. 200. 269. 446. 503. 11. 160. 481. 290. 306. 53. 446. 467 D dial indicator. 352. 483. 33. 451. 379. 489. 12. 186. 268. 451. 41. 506 F face milling. 355. 168. 224. 159. 41. 308. 244. 208. 243. 280. 259 elektrode. 252. 473. 251. 315. 44. 219. 449. 310. 51. 504 diamond. 488. 208. 14. 182. 246. 402 baut. 458. 401. 317. 262. 93. 467. 162. 234. 35. 247. 31. 224. 245. 484. 406 alur. 265. 185. 172. 493 cutting. 264. 4. 33. 185. 205. 359. 263. 336. 295. 472 B bantalan. 223. 379. 220. 245 CNC. 28. 6. 487. 252. 38. 347. 351. 367. 311. 476. 489 asutan. 159. 165. 201. 213. 406 attachment. 310. 469. 159. 146. 217. 221 clearance. 256.

163. 277. 17. 28. 470 mal. 105. 450 kopel. 506 grooving. 29. 159. 295. 183. 120. 172. 472 gurdi. 492 kartel. 89. 176. 173. 49. 267. 336. 337. 190. 193. 95. 19. 94. 235. 406. 57. 96 indicator. 192. 95 mikrometer. 353 keselamatan. 94. 168. 57. 175. 346 momen. 265. 402. 94. 504. 234. 61. 522 mata bor. 257. 229. 247. 246. 359. 87. 14. 483 konversi. 252. 287. 317. 289. 307. 247 holder. 490. 169. 237. 214. 8. 39. 62. 501. 500. 338. 226. 266. 57. 337. 267. 511. 161. 188. 201. 467 kekerasan. 216. 112 HSS. 176. 482. 227. 491. 239. 469. 63 kecepatan potong. 164. 487. 337. 153. 84 L lathe. 62. 245. 205. 191. 337. 200 komparator. 193. 379. 337._____________________________________________________Indeks gips. 262. 248. 46. 402 horisontal. 273. 170. 163. 165. 160. 206. 210 knurling. 497. 18. 194. 194 lubang. 190. 173. 182. 112 M machine. 166. 160. 379. 311. 190. 160. 205. 308. 269. 177. 303. 486. 43. 38. 507 grinding. 249. 307 lead. 248. 160. 245. 257. 343. 290. 251. 239. 317. 66. 30. 9. 234. 21. 268. 489. 305 insert. 200. 175. 212. 246. 94 K karbida. 467. 213. 502 N nonferro. 162. 489. 359. 23. 203 kebisingan. 110. 171. Teknik Pemesinan . 154. 227. 492. 8. 356. 266. 168. 215. 170. 249. 224. 186. 262. 354. 174. 337. 177. 178. 317. 42. 502. 209. 191. 49. 60. 501. 339. 253. 246. 244. 310. 247. 173. 496 kepala lepas. 167. 341. 527. 155. 317. 182. 109. 67 kisar. 491. 235. 230. 223. 242. 38. 491. 200. 57. 498. 263. 259. 406 mineral. 336. 176. 493. 340. 311. 484 ISO. 245. 489. 483 isometris. 295. 198. 263. 188. 247. 212. 184. 193. 108. 266. 379 knee. 161. 209. 227. 244. 253. 159. 503 metris. 462. 503. 252. 22. 37. 446. 496. 488. 161. 39. 237. 90 O overcut. 499. 225. 58. 406 material. 406. 162. 47. 182. 43. 231. 41. 406 I imperial. 208. 498. 159. 529. 93. 473. 263. 304. 472. 502 H helix. 175. 198. 243. 178. 242. 188. 33. 406. 95. 486. 39. 168. 268. 7. 317 J jam ukur. 254. 51. 22. 406. 164. 185. 512. 359. 219. 265. 216. 31. 214. 181. 262 mur. 358. 7. 6. 317. 449. 12. 191. 218. 262. 90. 502 isolator. 499. 247. 214. 467. 39. 6. 295. 249. 111. 492 kedalaman potong. 166. 207. 163. 139. 170. 41. 105. 458. 242. 33. 202. 266. 158. 23. 250. 185. 167. 240. 234. 92 milling. 265. 21 nonius. 56. 311. 466. 266. 15. 451. 353. 212. 232. 160. 491 konduktor. 162. 277. 316. 212. 252. 247. 205. 106. 345. 250 manual. 106. 265. 18. 185. 379. 190. 47. 214. 468. 84. 244. 213. 162. 34 Graphite. 188. 466. 169. 24. 317. 172. 39. 212. 317. 234. 158. 254. 243. 307. 172. 246. 198. 163 ion. 33. 126. 91. 161. 286. 260. 466. 490. 335. 108. 253. 493 P pahat. 235. 212. 311. 21. 127. 28. 309. 207. 261. 334. 351. 167. 87. 308. 235. 270.

359. 2. 248. 34. 51._____________________________________________________Indeks 179. 476. 185. 297. 93. 505 pemrograman. 213. 471. 205. 213. 38. 370. 303. 454. 194. 231. 185. 212. 225. 139 pulley. 229. 295. 357. 371. 379. 279. 276. 293. 280. 460. 36. 249. 455. 465. 47. 211. 451. 450. 406 poligon. 173. 511. 20. 503. 163. 161 pemesinan. 202. 172. 17. 37. 270. 41. 244. 220. 468. 317. 476. 311. 454. 458. 482. 471. 317. 447. 164. 129. 217. 446. 237. 446. 462. 6. 240. 254. 344. 6 S satuan. 317. 190. 273 plastik. 306. 190. 365. 113. 468. 86. 454. 258. 201. 3. 406. 130. 460 senter. 293. 472. 501. 193. 260. 472. 190. 359. 379. 7. 338. 131. 311. 359. 340. 451. 241. 10. 253. 16. 36. 5. 447. 158. 3. 177. 265. 217. 371. 406. 244. 181. 476 spindle. 178. 188. 238. 162. 406. 369. 144. 119. 467. 459. 311. 379. 120. 212. 462. 259. 232. 370. 270. 191. 258. 249. 146. 466. 253 slotter. 113 pitch. 283. 475. 17. 212. 246. 482 sinus. 51. 458. 182. 93. 459. 353. 512 parameter. 131. 270. 497. 16. 270. 489. 309. 160. 4. 94. 165. 467. 34 resultan. 251. 468. 53. 214. 449. 181. 348. 81. 448. 198. 184. 460. 476 parting-off. 216. 503 simulasi. 160. 277. 359. 337. 203. 222. 90. 511. 272. 406. 16. 91. 489. 207. 406 setting. 307. 162 Ram EDM. 368. 226. 304. 89. 11. 5. 166. 276. 207. 337. 266. 454 Sinker EDM. 200. 495 reaming. 406 stamping. 339. 472. 370. 112. 457. 45. 472. 354. 262. 459. 191. 449. 340. 224. 245. 236. 17. 276. 220. 172. 303. 219. 38. 446. 359. 42. 452. 261. 202. 187. 454. 191. 456. 194. 341. 464. 277. 317. 379. 206. 4. 359. 477. 120. 8. 272. 186. 247. 162. 287. 502 portable. 311. 402. 504 screw. 229. 281. 221. 225. 371. 186. 105. 182. 94. 7. 7 poros. 113. 247. 182. 350. 159. 336. 159. 51. 4. 334. 154. 476. 476 perencanaan. 257. 181. 371. 224. 145. 191. 406. 201. 475. 165. 281. 461. 252. 188. 461. 6. 82. 243. 247. 334. 336. 179. 132. 188. 230. 308. 311. 453. 211. 472. 317. 286. Teknik Pemesinan . 466. 249. 243. 469. 166. 346. 109. 269. 110. 277. 368. 115. 473. 379. 38. 273. 53. 489. 46. 200 planner. 87. 235. 116. 208. 184. 348. 31. 21. 340. 15. 290. 459. 497 perspektif. 489. 496. 467 plotter. 401. 136. 448. 39. 308. 486. 224. 493. 237. 186. 246. 208. 447. 457. 317. 39. 343. 406. 492. 487 pendingin. 345. 352. 459. 298. 306. 501 perkakas. 219. 161. 406 shaping. 102. 273. 211. 499. 357. 294 sisipan. 241. 235. 183. 158. 193. 334. 260. 379. 191. 337. 454. 335. 352. 470. 304. 232. 192. 406. 283. 28. 159. 365. 307. 449. 451. 469. 81. 137. 270. 93. 303. 379. 268. 487. 379. 448. 338. 234. 32. 469. 229. 456 sleeve. 112. 270. 300. 224. 259. 359. 454. 493 spindel. 220. 52. 365. 211. 447. 378. 193. 512 skala. 112. 456. 379. 270. 95. 190. 446. 231. 194. 352. 279. 494. 294. 262. 304. 181. 171. 83. 182. 466. 178. 108. 340. 234. 110. 111. 246. 473. 371. 250. 458. 289. 193. 41. 309. 135. 447. 376. 192. 462. 341. 456 sekrap. 283. 488 step motor. 40. 227. 365. 89. 341. 359. 482. 173. 335. 41. 357. 194. 470. 180. 238 profil. 351. 181. 188. 229. 474. 401. 174. 243. 465. 270 simetris. 468. 449. 455. 473. 191. 503. 466. 185. 368. 402. 38. 165. 344. 18. 200. 469. 175. 253. 185. 406. 338. 336. 282. 466. 109. 170. 242. 464. 213. 230. 265. 87. 498. 476. 193. 334. 19. 113. 121. 234. 298. 486. 454. 317 profil ulir. 346. 198. 351. 168. 194 proyeksi. 239. 496. 275. 173. 317. 348. 214. 353. 240. 92. 172. 235. 406 rake. 342. 356. 227. 183. 167. 272 sparks. 108. 18. 359. 14. 341 resin. 496. 201. 315. 212. 307. 275. 239. 182. 472. 176. 252. 487. 457. 158. 209. 41. 185. 502 R ragum. 406 sudut. 39. 242. 191. 249. 465. 446. 247. 345. 308. 208. 353 putaran. 370.

174. 446. 20. 144. 193. 369. 451. 194. 201. 185. 253. 167. 459. 449. 191. 254 W Wire EDM. 267 universal. 485. 317. 402. 250. 51. 14. 277. 273. 186. 459. 54 turning. 173. 200. 238. 190. 242. 335. 508. 298. 402. 166. 482. 19. 117. 495 workshop. 353. 371. 176 training unit. 38. 222. 41. 141. 483. 217. 447. 489. 268. 306. 110. 492. 257. 495 swivel. 371. 497 thread. 191. 464. 6. 305. 467. 269 tegangan. 316. 93. 466. 87. 253. 379. 18. 183. 163. 452. 304. 173. 351. 183. 237. 294. 489 temperatur. 57. 10 Teknik Pemesinan . 183. 171. 186. 269. 489. 265. 379. 475. 158. 22. 462. 191. 369. 158. 277. 518. 186. 146. 461. 174. 455. 158. 359. 294. 253. 108. 136. 342. 484. 159. 491. 304 up milling. 302. 511. 472 tirus. 5. 289. 460. 359 tungsten. 187. 239. 365. 317. 39. 492 turbin. 128. 454. 295. 267. 265. 183. 221. 225. 295. 192. 188. 11. 158. 450. 467. 352. 509 U ulir. 94. 461. 489. 208. 240. 337 taper. 194. 113. 356. 219. 176. 279. 266. 191. 151. 283. 317. 207 V vektor. 174. 277. 12. 456 tunggal. 36. 368. 15. 254. 119. 473. 118. 359. 140. 406. 161. 359. 336. 370._____________________________________________________Indeks 252. 109. 494. 41. 173. 176. 172. 317. 240. 252. 158. 112. 161 threading. 207. 506. 161. 448. 46. 146. 17. 184. 111. 523 ulir metris. 364. 6. 49. 53. 370. 170. 402 transmisi. 182. 401. 116. 194. 458. 406 vise. 8. 402. 348. 365. 186. 492. 21. 317. 468. 190. 490. 185. 311. 270. 259. 43. 273. 194 sumbu. 2. 218 tapping. 352. 358. 234 T tap. 192. 379. 302. 218. 184. 191. 137. 495 sudut ulir. 495 tool. 218. 406. 486. 12. 357. 39. 87. 341. 459 vertikal. 242. 16. 342. 241. 173. 334. 253. 494. 218. 38. 487. 158. 246. 187. 306. 4. 254. 371. 230. 354. 162. 266. 190. 406. 266. 521 tool post. 270. 491.