P. 1
Teknik Pemesinan Jilid 1

Teknik Pemesinan Jilid 1

|Views: 19|Likes:
Published by Rezha Risdiyan

More info:

Published by: Rezha Risdiyan on Nov 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

Widarto

TEKNIK PEMESINAN
JILID 1 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PEMESINAN
JILID 1
Penulis

Untuk SMK
: Widarto

Perancang Kulit

: TIM

Ukuran Buku WID t

:

17,6 x 25 cm

WIDARTO Teknik Pemesinan Jilid 1 untuk SMK /oleh Widarto ---Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xii, 256 hlm Daftar Pustaka : Lampiran. A Lampiran : Lampiran. B Index : Lampiran. C ISBN : 978-979-060-115-4 ISBN : 978-979-060-116-1

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

PENGANTAR UMUM

Teknik Pemesinan

i

Dimulai dari Bab 1 tentang Memahami dasar-dasar Kejuruan. Bab 12 Memahami Mesin CNC Dasar. khususnya mesin EDM (Electrical Discharge Machining). Laser Beam Machining. Untuk mempermudah pemahaman. dan Mengenal Material dan Mineral. Bab 7 Mengenal Proses Frais (Milling). Dilanjutkan Bab 2 Memahami Proses-proses Dasar Kejuruan yang menjelaskan Proses Pengecoran Logam. yang memuat secara rinci hampir semua proses pemesinan yang biasa dipakai dalam proses produksi dan hal-hal yang terkait dengan proses pemesinan. Bab 10 Mengenal Proses Gerinda (Grinding).P 1. Oleh karena itu. dsb. Bab 8 Mengenal Proses Gurdi (Drilling). dan Bab 15 Memahami Toleransi Ukuran dan Geometrik. Bab 1 Memahami Dasar-dasar Kejuruan menjelaskan tentang Statika dan Tegangan. buku ini hanya akan membahas kelompok ke-3 yaitu proses pemotongan dengan menggunakan pahat potong yang dipasang pada mesin perkakas dan kelompok ke-4. roses pemotongan logam merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengubah bentuk suatu produk (komponen mesin) dari logam dengan cara memotong. Bab 2 Memahami Proses-proses dasar Kejuruan. Bab 14 Mengenal EDM. Bab 5 Memahami Gambar Teknik. Berdasarkan pada cara pemotongannya. Bab 9 Mengenal Proses Sekrap (Shaping). dan Mesin Konversi Energi. Bab 6 Mengenal Proses Bubut (Turning). Bab 4 Memahami Kaidah Pengukuran. 4. proses ini sering disebut dengan nama Proses Pemotongan Logam (Metal Cutting Process) atau Proses Pemesinan (Machining Process).). materi buku ini dibuat dengan menganut sistematika pembahasan sebagaimana yang akan dibahas pada beberapa alinea berikut. Buku Teknik Pemesinan ini terdiri dari 15 Bab. Bab 3 Merealisasi Kerja yang Aman. yaitu: Proses pemotongan dengan mesin las Proses pemotongan dengan mesin pres Proses pemotongan dengan mesin perkakas Proses pemotongan non-konvensional (Electrical Discharge Machining. Chemical Milling. 2. Mengenal Proses Pengerjaan Panas. 3. Bab 11 Mengenal Cairan Pendingin yang Dipakai dalam Proses Pemesinan. untuk menghindari kesalahpahaman tentang istilah maka selanjutnya dipilih nama yang terakhir yaitu proses pemesinan. proses pemotongan logam dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok dasar. Sebagai permulaan. Teknik Pemesinan ii . Mengenal Proses Pemesinan. Dari keempat proses pemotongan tersebut. Dalam istilah teknik. Bab 13 Memahami Mesin CNC Lanjut. Mengenal Komponen Mesin.

Bahasan terakhir ini sangat penting untuk diperhatikan dalam setiap pekerjaan pemesinan. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi. dan jenis-jenis Mesin Bubut. mengkartel. dan proses pembubutan cembung maupun cekung. mikrometer. maupun alat-alat perkakasnya. Pada bahasan mengenai proses bubut ini diakhiri dengan uraian tentang perencanaan dan perhitungan dalam proses bubut yang diawali dengan penjelasan tentang elemen dasar proses bubut yang dapat dihitung yaitu kecepatan potong. Teknik Pemesinan iii . perhitungan waktu pemotongan. sudut bebas (clearance angle). setting mesin. pemilihan mesin (dengan pertimbangan yang mendasar adalah dimensi benda kerja yang yang akan dikerjakan). lebih detail dijelaskan mulai dari material pahat (yaitu baja karbon sampai dengan keramik dan intan. dan pemeriksaan hasil berdasarkan gambar kerja). tirus. Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed). Kemudian dipaparkan mengenai alat bantu produksi. yang dilanjutkan dengan membahas sistem satuan yang digunakan dalam proses pemesinan. Selanjutnya dibahas geometri pahat yang menguraikan besaran sudut pada pahat bubut. pemasangan pahat. membahas tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. dan sudut sisi potong (cutting edge angle). serta Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas. menguraikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). dan kecepatan terjadinya beram. Lembar Kerja. agar pekerja selalu menjaga keamanan dan keselamatan baik bagi operatornya. Pada sub-Bab terakhir. penentuan jenis pemotongan. Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (noise). proses bubut adalah proses pemesinan yang sering digunakan dalam proses produksi. gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut). Alat Perlindungan Diri.Berikutnya Bab 3 Merealisasi Kerja yang Aman. eksentris. perencanaan proses membubut. alur. membuat profil. Bab 5 Memahami Gambar Teknik yang memberikan penjelasan Mengenal Alat Menggambar Teknik. Maklum. Bab ini menguraikan parameter yang diatur pada Mesin Bubut. yang terdiri dari sudut beram (rake angle). dan jam ukur (dial indicator). membahas alat ukur yang umum digunakan dalam pekerjaan pemesinan yaitu jangka sorong. mesin. yaitu sistem Metris (Metric system) dan sistem Imperial (Imperial system/British system). penentuan langkah kerja (meliputi persiapan bahan benda kerja. kecepatan makan. Manajemen Bahaya. Bab 4 Memahami Kaidah Pengukuran. mulai dari membubut lurus. Pencahayaan. dan Membaca Gambar Teknik. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran. penentuan kondisi pemotongan. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran. Bab 6 membahas Proses Bubut (Turning) yang merupakan Bab yang paling banyak isinya. Fasilitas Penunjang. ulir.

Kemudian jenis-jenis Mesin Frais. Metode proses frais ini ada dua yaitu frais naik (up milling) dan frais turun (down milling). dan kolet. Mesin Gurdi spindel jamak. serta perencanaan proses bor. Mesin Gurdi radial. Berikutnya diuraikan geometri pahat frais. Diuraikan juga tentang pencekaman mata bor dan benda kerja yang berisi tentang alat pencekaman dan cara pencekaman yang benar. Bab ini cukup singkat. dan momen puntir yang diperlukan pada proses gurdi. Pada Bab ini dimulai dari pengertian Mesin Gurdi dan jenis-jenisnya. dan mata bor. Kemudian dibahas tentang perkakas Mesin Gurdi yang terdiri dari ragum. Pada Bab ini diawali dari klasifikasi proses frais yang diklasifikasikan dalam tiga jenis yaitu berdasarkan jenis pahat. dan kedalaman potong (a). Mesin Gurdi turret. sudut ujung (point angle /lip angle. Pada Bab 9 dijelaskan Proses Sekrap (Shaping). klem set. dibahas tentang elemen dasar pada proses gurdi. Mesin Gurdi dikelompokkan menjadi Mesin Gurdi portable. yakni hanya menguraikan apa itu Mesin Sekrap dan jenisTeknik Pemesinan iv . ). gerak makan (f). Setelah diketahui perkakas Mesin Gurdi selanjutnya dijelaskan mengenai geometri mata bor (twist drill) yang berisi tentang sudut-sudut pada mata bor yaitu sudut helik (helix angle). gerak makan. kecepatan pembentukan beram dan diakhiri dengan contoh-contoh pengerjaan benda kerja yang terdiri dari proses frais datar/rata (surface milling) dan proses frais roda gigi. Dibahas juga tentang metode kerja Mesin Frais yang ditentukan berdasarkan arah relatif gerak makan meja Mesin Frais terhadap putaran pahat. Dan pada akhir bab ini. Sub-Bab berikutnya elemen dasar proses frais yang menjelaskan tentang kecepatan potong. gerak makan per gigi. Elemen dasar atau parameter proses gurdi pada dasarnya sama dengan parameter proses pemesinan yang lain. Bab 8 menjelaskan tentang proses pembuatan lubang bulat dengan menggunakan mata bor (twist drill) yang disebut dengan Proses Gurdi (Drilling). pencekam mata bor. 2 r). Mesin Gurdi peka. dan Mesin Gurdi lubang dalam. Dilanjutkan parameter pada proses frais yaitu parameter yang dapat langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang mengoperasikan Mesin Frais : putaran spindel (n). tool holder. landasan (blok paralel). peralatan sebagai alat bantu Mesin Frais terdiri dari arbor. dan sudut bebas (clearance angle. waktu pemotongan. terdiri dari column and knee milling machines. arah penyayatan. Mesin Gurdi produksi. akan tetapi dalam proses gurdi selain kecepatan potong. boring head. Dijelaskan pula alat pencekam dan pemegang benda kerja yang menjelaskan pemegang benda kerja pada Mesin Frais dan beberapa macam asesoris yang berguna untuk membantu pengaturan Mesin Frais maupun penempatan benda kerja. dan posisi relatif pahat terhadap benda kerja. bed type milling machines.Bab 7 menjabarkan Proses Frais (Milling). dan special purposes. sarung pengurang. Mesin Gurdi vertical. dan kedalaman potong perlu dipertimbangkan pula gaya aksial. pasak pembuka.

tingkat kekerasan (grade). Ada dua Mesin CNC dasar yang dijelaskan yakni Mesin Bubut TU 2A dan Mesin Frais TU 3A. pengontrolan sumbu Mesin CNC. macam-macam perekat. dan dikabutkan (mist application of fuid). harga. Bab 10 yang menjelaskan Proses Gerinda (Grinding). spesifikasi batu gerinda dan pemasangan batu gerinda. klasifikasi batu gerinda. bagaimana pemrogramannya. kecepatan pemakanan. bentuk-bentuk batu gerinda. khususnya bagaimana suatu Mesin CNC bekerja. Data teknologis pada Mesin CNC sama dengan pada proses pemesinan lainnya. serta bagaimana pengoperasiannya. Mesin Sekrap vertical (slotter). susunan butiran asah. sistem koordinat Mesin CNC. jumlah putaran. yaitu kecepatan potong. Selanjutnya dibahas mengenai kriteria pemilihan Cairan Pendingin dilihat dari unjuk kerja proses. yakni data teknologisnya. menuliskan jenis-jenis Mesin Gerinda dan menjelaskan batu asah gerinda. Dan di akhir Bab ini diuraikan tentang perawatan serta pembuangan Cairan Pendingin yang benar dan aman. kemudian apa saja elemen dasar Mesin Sekrap. cairan semi sintetis (soluble oils semisynthetic fluids). dan kecepatan pembentukan beram. dan pemrograman Mesin CNC. Bab 11 berisi uraian tentang Cairan Pendingin yang biasa dipakai pada proses pemesinan. Teknik Pemesinan v . ukuran butiran asahan. Informasi yang penting dari mesin ini adalah jenis-jenis Mesin EDM dan cara mengoperasikan mesin tersebut. karena kedua mesin ini merupakan dasar bagi Mesin CNC generasi di atasnya. disemprotkan (jet application of fluid). Jenis Mesin Gerinda terdiri dari Mesin Gerinda datar. Bab 14 buku ini memberi penjelasan sedikit tentang Mesin EDM (Electrical Discharge Machining). dan kecepatan asutan. Bab ini membahas lebih jelas dan dalam Mesin CNC. Diawali dengan sistem mekanik yang digunakan Mesin CNC. dan cairan sintetis (synthetic fluids). Untuk batu asah dipaparkan mengenai jenis-jenis butir asahan. keamanan terhadap lingkungan dan keamanan terhadap kesehatan. Pada keduanya dijelaskan hal yang mirip. Bab 12 menguraikan tentang Mesin CNC Dasar. Dibahas juga pengaruh Cairan Pendingin pada proses pemesinan sebagai fungsi utama dan dapat juga sebagai fungsi kedua. dan Mesin Sekrap eretan (planner). Mesin Perkakas CNC. Jenis Mesin Sekrap yang ada meliputi Mesin Sekrap datar atau horizontal (shaper). dan Mesin Gerinda silindris. Dimulai dari jenis-jenis Cairan Pendingin yang biasa dipakai. Bab 13 sedikit mengulang Bab 12 dan dilanjutkan membahas Mesin CNC secara lebih detail. yaitu terdiri dari kecepatan potong. Kemudian dipaparkan cara pemberian Cairan Pendingin yaitu dengan cara manual disiramkan ke benda kerja. Untuk elemen proses sekrap pada dasarnya sama dengan proses pemesinan lainnya. terdiri dari minyak murni (straight oils). waktu pemotongan.jenisnya.

cara penulisan toleransi ukuran/dimensi. suaian. Penulis terus berusaha untuk dapat menyempurnakan isi buku ini. Keterangan-keterangan di atas disusun sebagai gambaran menyeluruh isi buku ini.Dan pada Bab 15 memuat penyimpangan ukuran yang terjadi selama proses pemesinan. sehingga dapat memberikan informasi tentang keilmuan teknik pemesinan kepada para pembaca. Teknik Pemesinan vi . toleransi. toleransi standar dan penyimpangan fundamental. khususnya siswa Sekolah Menengah Kejuruan. dengan harapan akan mempermudah bagi para pembaca untuk memahami materi-materi yang telah dituliskan dalam buku ini.

Mengenal Elemen Mesin 1. Statika 2. Pembentukan Beram (Chips Formation) pada Proses Pemesinan C. 8. Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting) 5. Pengecoran Gips. Mengenal Proses Pengecoran Logam 1. Pemurnian Mineral BAB 2. Mengenal Proses Mesin Konversi Energi 1. Mengenal Material dan Mineral 1. Poros 2. Pengolahan Pasir Cetak 4. Tegangan B. Mineral 3. Penempaan (Forging) D. Bantalan C. Pembuatan Cetakan Manual 3. Kecepatan Pendinginan B. atau Plastik Resin. Die Casting 10. MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN A. Klasifikasi Proses Pemesinan 2. Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) 6. Berbagai Macam sifat Logam 2. Statika dan Tegangan 1. Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) 7. Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) 9. Mengenal Proses Pemesin 1. Mengenal Proses Pengerjaan Panas 1. Pengerolan (Rolling) 2. MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN A. Berbagai Jenis sumber Daya Mineral 4. Macam-Macam Energi 3. Pengertian Energi 2. Pengertian 2. Beton. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi i vii JILID 1 1 2 2 9 14 14 18 19 19 21 21 22 25 26 26 27 29 29 30 31 31 32 33 35 36 36 38 42 42 43 43 43 43 47 Teknik Pemesinan vii .___________________________________________________Daftar Isi Daftar Isi Halaman Halaman Sampul Pengantar Umum Daftar Isi BAB 1.

Pensil Gambar 3. Penanganan dan Penyimpanan Bahan H. Manajemen Bahaya C. Mengenal Alat Menggambar Teknik 1. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran J. Pengendalian titik nyala 3. Pencahayaan E. Klasifikasi kebakaran 4. Alat 2. Sebab-sebab kebakaran 5. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas BAB 4. Karakteristik APAR I. Jangka Sorong 2. Peralatan pemadaman kebakaran 6. Mikrometer 3. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/polusi F. Fasilitas Penunjang K. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) B.___________________________________________________Daftar Isi BAB 3. Meja Gambar 9. Mesin Gambar B. Alat-alat Penunjang Lainnya 8. MEMAHAMI KAIDAH PENGUKURAN A. Kertas Gambar 2. Sistem Satuan BAB 5. Rapido 4. Bahan 3. Petunjuk pemilihan APAR 7. MEREALISASI KERJA YANG AMAN A. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran 1. Keselamatan dan Kelematan Kerja Teknik Pemesinan 51 52 53 55 58 64 67 71 75 75 75 76 76 77 79 79 79 80 80 82 83 83 85 87 88 91 92 92 93 95 95 96 98 98 100 100 101 101 101 101 viii . Jangka 6. Alat Ukur 1. Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise) D. Penghapus dan Alat Pelindung Penghapus 7. Alat Perlindungan Diri G. Jam Ukur (Dial indicator) A. Lembar Kerja 1. MEMAHAMI GAMBAR TEKNIK A. Penggaris 5. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar 2.

Jenis Mesin Frais D. Garis Arsiran 12.___________________________________________________Daftar Isi C. Pengukuran Ketebalan BAB 6. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Frais E. Perencanaan Proses Membubut Ulir 8. Metode Proses Frais 1. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut B. Material Pahat 2. Geometri Pahat Frais F. Proyeksi Miring (sejajar) 5. Frais Periperal (slab milling) 2. Frais Jari (End milling) B. Pencekaman Benda Kerja 4. Ukuran Pada Gambar Kerja 13. Proyeksi Piktorial 2. Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja pada Mesin Frais Teknik Pemesinan 102 102 103 106 107 107 109 109 114 115 120 130 133 136 142 151 153 155 158 159 163 163 165 167 174 177 188 190 194 196 196 197 197 197 197 198 199 202 203 206 208 ix . Perencanaan Proses Membubut Lurus 6. Geometri Pahat Bubut C. Simbol Proyeksi dan Anak Panah 9. Proyeksi Dimetris 4. Macam-macam Pandangan 7. Pemilihan Mesin 3. Perencanaan Proses Membubut/membuat Kartel BAB 7. Proyeksi Isometris 3. MENGENAL PROSES BUBUT (TURNING) A. Bidang-bidang Proyeksi 8. Penentuan Pandangan 10. Peralatan dan Asesoris untuk Memegang Pahat Frais G. Klasifikasi Proses Frais 1. Frais Naik (Up milling) 2. Penentuan Langkah Kerja 5. Frais Turun (Down milling) C. Perencanaan Proses Membubut Tirus 7. Membaca Gambar Teknik 1. Gambat Perspektif 6. MENGENAL PROSES FRAIS (MILLING) A. Frais Muka (Face milling) 3. Gambar Potongan 11. Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut 1. Perencanaan Proses Membubut Alur 9. Penulisan Angka Pengukuran 14.

MENGENAL CAIRAN PENDINGIN UNTUK PROSES PEMESINAN A. MENGENAL PROSES SEKRAP (SHAPING) A. Mesin Gerinda Datar 2. MENGENAL PROSES GURDI (DRILLING) A. Jenis Cairan Pendingin B. Mesin gurdi (Drilling machine) dan Jenis-jenisnya 1. Jenis-jenis Mesin Sekrap 2. Mekanisme Kerja Mesin Sekrap 3. Mesin Sekrap dan Jenis-jenisnya 1. MENGENAL PROSES GERINDA (GRINDING) A. Ukuran Mesin gurdi 4. Susunan Butiran Asah 6. Proses Frais Roda Gigi BAB 8. Jenis-jenis Mesin Gerinda 1. Elemen Dasar Proses Frais I.___________________________________________________Daftar Isi H. Ukuran Butiran Asah 3. Nama Bagian-bagian Mesin Sekrap B. Elemen dasar Perencanaan Proses Sekrap BAB 10. Klasifikasi Batu Gerinda 8. Pemasangan Batu Gerinda BAB 11. Jenis-jenis Butir Asahan/abrasive 2. Pengerjaan Benda Kerja dengan Mesin Frais 1. Proses Frais Datar/rata 2. Tingkat Kekerasan (Grade) 4. Beberapa Mesin Gurdi yang Dipakai Pada Proses Produksi B. Pencekaman Mata Bor dan Benda Kerja F. Mesin Gurdi (Drilling machine) 2. Perencanaan Proses Gurdi BAB 9. Geometri Mata Bor (Twist drill) D. Cara Pemberian Cairan Pendingin pada Proses Pemesinan Teknik Pemesinan 212 213 214 218 222 224 224 225 226 226 231 233 237 239 249 251 235 236 236 239 239 242 253 255 255 267 284 285 286 286 287 288 289 290 291 298 300 301 JILID 2 x . Jenis-Jenis Mesin Gurdi 3. Macam-macam Perekat 5. Batu Asah 1. Elemen Dasar Proses Gurdi G. Pengasahan Kembali Mata Bor E. Bentuk-bentuk Roda Gerinda 7. Perkakas Mesin Gurdi C. Mesin Gerinda Silindris B.

Kecepatan Potong dan Kecepatan Putar Mesin 4. Prinsip Kerja Mesin Bubut CNC TU-2A 2. Kriteria Pemilihan Cairan Pendingin E. Pengoperasian Disket 6. Langkah Persiapan 2. Prinsip Kerja Mesin Frais CNC TU-3A 2. Mesin Bubut CNC 1. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Sistem Kontrol Terbuka (Open Loop Control) 2. Sistem Kontrol Langsung dan Sistem Kontrol Tidak Langsung 4. Sistem Kontrol Absolut dan Sistem Kontrol Incremental C. Bagian Utama Mesin Frais CNC TU-3A 3. Fungsi M. Sistem Kontrol Analog dan Sistem Kontrol Digital 5. serta Soal Latihan Bagian I 7. Penentuan Sumbu Y 4. Kecepatan Potong dan Putaran Mesin 4. Pemrograman CNC 1. Bagian Utama Mesin Bubut CNC TU-2A 3. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. serta Soal Latihan B. Sistem Kontrol Tertutup (Close Loop Control) 3. Fungsi M. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Penentuan Sumbu Putar dan Sumbu Tambahan D. Pemrograman Mesin CNC 5. Kompensasi Radius Pisau Sejajar Sumbu 8. Cara Setting Pisau terhadap Benda Kerja 6. Pengoperasian Disket 5. Langkah Pelaksanaan Pembuatan Program Teknik Pemesinan 304 305 307 310 311 312 313 323 325 329 331 333 363 363 364 373 374 376 378 389 390 406 410 414 414 415 415 417 417 418 418 420 420 420 424 424 425 xi . Pengontrolan Sumbu Mesin Perkakas CNC 1. Perawatan dan Pembuangan Cairan Pendingin BAB 12. serta Soal Latihan Bagian II BAB 13. Penamaan Sistem Sumbu (Koordinat) Mesin Perkakas NC 1. Penentuan Sumbu X 3. Mesin Perkakas CNC B. Cara setting Benda Kerja 7. MEMAHAMI MESIN CNC LANJUT A. Penentuan Sumbu Z 2. Fungsi M. MEMAHAMI MESIN CNC DASAR A.___________________________________________________Daftar Isi C. Mesin Frais CNC 1. Pengaruh Cairan Pendingin pada Proses Pemesinan D.

___________________________________________________Daftar Isi 3. Langkah Percobaan 4. Tugas Programmer dalam Pembuatan Program NC 5. Kode dan Format Pemrograman 6. Pengertian Program NC 7. Struktur Program NC 8. Sistem Pemrograman Absolut dan Incremental 9. Kontruksi Program NC 10. Kode G (G-code) dan Fungsi M 11. Pembuatan Program NC BAB 14. MENGENAL EDM A. Gambaran Singkat EDM B. Cara kerja EDM C. Perkembangan Penggunaan EDM D. Penggunaan EDM E. Pemilihan Elektrode F. Jenis Bahan Elekrode G. Pembuatan Eektrode 1. Proses Galvano 2. Pembuatan Elektrode pada Umumnya 3. Pembuatan Elekrode Graphite H. Elektrode untuk Wire EDM I. Kualitas Hasil Pengerjaan EDM 1. Kelebihan Pemotongan (Overcut) 2. Pengerjaan Penghalusan (Fnishing) 3. Penyelesaian Setara Cermin (Mirror finishing) J. Keterbatasan Proses EDM BAB A. B. C. D. E. 15. MEMAHAMI TOLERANSI UKURAN GEOMETRIK Penyimpangan Selama Proses Pembuatan Toleransi dan Suaian Suaian Cara Penulisan Toleransi Ukuan/dimensi Toleransi Standar dan Penyimpangan Fundamental DAN 426 427 429 429 430 431 433 434 435 440 441 441 445 446 447 448 449 449 449 449 450 450 450 451 452 452 454 455 456 457 459 461

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN INDEKS

A B

C

Teknik Pemesinan

xii

BAB 1 MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN

Teknik Pemesinan

1

A. Statika dan Tegangan
1. Statika tatika adalah ilmu yang mempelajari tentang kesetimbangan benda, termasuk gaya-gaya yang bekerja pada sebuah benda agar benda tersebut dalam keadaan setimbang.

S
a.

Gaya Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan benda diam menjadi bergerak atau sebaliknya dari bergerak menjadi diam. Gaya dapat digambarkan sebagai sebuah vektor, yaitu besaran yang mempunyai besar dan arah. Gaya biasanya disimbolkan dengan huruf F.

Gambar 1 1. Perpindahan benda dari A ke B akibat gaya F Gaya yang bekerja pada benda di atas antara lain: Gaya berat (W) yang selalu berpusat pada titik beratnya dan arahnya selalu ke pusat grafitasi bumi. Gaya (F) dapat sejajar dengan permukaan benda atau membentuk sudut dengan permukanan tumpuan. Gaya F dapat menyebabkan masa (m) dari diam menjadi bergerak hingga memiliki percepatan sebesar a (m/s2), dapat dituliskan : F = m (Kg) . a (m/s2) = Kg.m/s2 = Newton (N) Bila gaya F dihilangkan benda (m) akan mengalami perlambatan hingga setelah waktu t detik benda akan berhenti (kecepatan v=0). Hal ini karena benda melewati permukaan kasar yang memiliki gaya gesek (f) yang arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda. Besarnya f tergantung pada harga koefisien geseknya (μ). Semakin kasar permukaan benda maka koefisien geseknya (μ) akan semakin besar. Bila gaya gesek lebih besar dari gaya tarik (F), maka benda akan berhenti (v = 0). Gaya gesek (f) berbanding lurus dengan gaya normal (N) benda atau dapat dituliskan : f = u . N Newton Teknik Pemesinan 2

di mana: N = gaya normal yang selalu tegak lurus permukaan benda (Newton) μ = koefisien gesek permukaan benda (tanpa satuan) Aplikasi dari gaya gesek dapat diilustrasikan pada contoh: roda yang masih baru akan memiliki cengkeraman yang lebih kuat dibanding dengan roda yang aus/halus. Pengereman di permukaan aspal lebih baik bila dibandingkan dengan di permukaan lantai keramik, karena μ aspal lebih besar dari u permukaan keramik.

Gambar 1 2. Gaya gesek antara roda mobil dan aspal jalan

1) Menentukan besarnya gaya Besarnya gaya dapat ditentukan oleh skala tertentu, misalnya 1 cm mewakili 1 Newton atau kelipatannya. Satuan gaya ditentukan oleh sistem satuan SI (standar internasional) yang dinyatakan dengan Newton (N). Garis lukisan gaya itu dapat diperpanjang sesuai besarnya gaya F. Titik tangkap gaya (A) dapat dipindahkan sepanjang lintasannya, asalkan besar dan panjangnya tetap sama sesuai dengan gaya F.

Gambar 1 3. Titik tangkap gaya (A) pada garis kerja gaya

Teknik Pemesinan

3

2) Menyusun dua buah gaya Arah gerak dan besar gaya pada benda A dipengaruhi oleh dua komponen gaya masing-masing gaya F1 dan F2. Pengaruh gaya F1 dan F2 terhadap benda/titik A dapat diwakili oleh Resultane gaya (F) yang besarnya dapat ditentukan sebagai berikut:

Gambar 1 4. Menyusun dua buah gaya menjadi gaya Resultan (F) Bila sudut persamaan : dibagi dalam
1

dan

2,

maka dapat dituliskan

F1 Sin

F2 Sin

F
2

Sin

3) Menyusun lebih dari dua gaya Benda A dikenai tiga buah gaya F1, F2 dan F3, maka resultan gayanya dapat dijabarkan sebagai berikut:

Gambar 1 5. Menyusun gaya lebih dari dua buah secara grafis Penyelesaian di atas disebut dengan penyelesaian secara grafis, namun ada juga penyelesaian secara Poligon (segi banyak) dan secara analitis, yaitu setiap gaya diuraikan kedalam sumbu x dan y. 4) Menyusun gaya dengan metode poligon Metode ini dengan cara memindahkan gaya P2 ke ujung P1, P3 ke ujung P2, P4 ke ujung P3 dan seterusnya secara berantai. Pemindahan gaya-gaya tersebut besar dan arahnya harus sama. Pemindahan dilakukan berurutan dan dapat berputar ke kanan atau ke kiri. Resultan gaya diperoleh dengan menarik garis dari titik A sampai ke ujung gaya

Teknik Pemesinan

4

Menyusun gaya lebih dari dua buah secara Analitis Teknik Pemesinan 5 . kedudukan titik tangkapnya.yang terakhir. Untuk mencari resultan gaya juga dapat diakukan dengan cara analitis. dan arahnya adalah dari A menuju titik ujung gaya terakhir itu. maupun arahnya melalui sumbu x dan y. yaitu sebagai berikut. Gambar 1 6. baik untuk menentukan besarnya. Gambar 1 7. Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon 5) Menyusun gaya secara Analitis.

Dalam bidang teknik mesin momen sering terjadi pada saat mengencangkan mur atau baut. Besarnya momen tergantung dari besarnya gaya F dan jarak garis gaya terhadap titik putarnya (L).6) Menguraikan Gaya Menguraikan gaya dapat dilakukan dengan menguraikan pada arah vertikal dan horizontal yang saling tegak lurus. sistem pegas. Momen Gaya dan Kopel 1) Momen Gaya Momen gaya F terhadap titik pusat O adalah hasil kali antara besarnya gaya F dengan jarak garis gaya. maka sebaliknya. atau masing-masing komponen sebagai sisi-sisi dari jajaran genjang dengan sudut lancip tertentu yang mudah dihitung. ke titik pusat O. sebuah gaya dapat diuraikan menjadi dua buah gaya yang masing-masing disebut dengan komponen gaya menurut garis kerja yang sudah ditentukan. Gambar 1 8. pengguntingan pelat. Menguraikan gaya (proyeksi) ke sumbu X dan Y b. Gambar 1 9. Jika dua buah gaya dapat digantikan dengan sebuah gaya pengganti atau resultan. Pada gambar dibawah ini diberikan contoh sebuah gaya F yang diuraikan menjadi F1 dan F2 yang membentuk sudut lancip . dan sebagainya. Jarak (L) garis gaya (F) terhadap titik perputaran (o) Dimana F = gaya L = jarak gaya terhadap titik pusat M = Momen gaya Teknik Pemesinan 6 .

yang keduanya cenderung menimbulkan perputaran. Aplikasi dari kopel dapat dirasakan ketika membuat mur atau baut. Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon 2) Kopel Sebuah kopel terjadi jika dua gaya dengan ukuran yang sama dan garis kerjanya sejajar tetapi arahnya berlawanan. dan berharga negatif (-) jika berputar berlawanan arah putaran jarum jam. Jika terdapat beberapa gaya yang tidak satu garis kerja seperti gambar di bawah maka momen gayanya adalah jumlah dari momen gaya-momen gaya itu terhadap titik tersebut. Gambar 1 10.m). Dua gaya sama sejajar berlawanan arah dan berjarak L Dua gaya tersebut mengakibatkan suatu putaran yang besarnya merupakan hasil kali gaya dengan jaraknya. momen memiliki satuan Newton meter (N. Teknik Pemesinan 7 . dimana tangan kita memberikan gaya putar pada kedua tuas snei dan tap yang sama besar namun berlawanan arah. (lihat gambar di bawah ini) Gambar 1 11.Dalam satuan SI (standar international). Suatu momen adalah positif (+) jika momen itu berputar searah jarum jam.

M1 = . gaya luar dapat berupa F yang besar dan arahnya tergantung pada sumbernya.c. Gaya normal (N) merupakan reaksi tumpuan terhadap benda. Kesetimbangan 1) Pengertian kesetimbangan Syarat kesetimbangan adalah jumlah momen-momen gaya terhadap titik kesetimbangan (o) sama dengan nol.= F1 . Nilai F tergantung pada arah benda ang bekerja. Teknik Pemesinan 8 . gaya gesek (f).b (berlawanan arah Jarum Jam) Persamaan kesetimbangannya: Mo = 0 F 2. Gambar 1 12. a = 0 F 2 . 2) Kesetimbangan pada benda miring Benda pada bidang miring dalam kondisi diam atau bergerak memiliki gaya-gaya yang mempengaruhinya. ton. seperti pengungkit. gaya luar dan gaya normal (N). Dua gaya pada batang membentuk kesetimbangan Momen gaya F1 terhadap O. a (searah Jarum Jam).m. gaya gesek (f) arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda. arahnya tegak lurus dengan permukaan bidang. F2 Satuan momen: Nm atau kg. M2 = +F2 . Gambar di bawah ini menunjukkan gaya yang bekerja sejajar bidang lintasan.m. Gaya berat (W) terletak pada titik pusat benda dan arahnya selalu menuju pusat bumi. kg. antara lain gaya berat. Aplikasi perhitungan momen biasanya dipergunakan dalam perhitungan pada alat angkat sederhana.F 1 . tuas atau linggis. momen gaya F2 terhadap O.cm.a .F1 . b .

sehingga benda dalam keadaan setimbang. Jika kita ambil penampang A-A dari balok. Gaya aksi sepusat (F) dan gaya reaksi (F”) dari bawah akan bekerja pada setiap penampang balok tersebut. molekul-molekul di atas dan di bawah bidang penampang A-A saling tekan menekan. agar tetap setimbang maka gaya F sebesar: F = W sin o dan N = W Cos 2. Jika sebuah balok terletak di atas lantai. balok akan memberikan aksi pada lantai. Pada bidang penampang tersebut. maka setiap satuan luas penampang menerima beban sebesar: F A . gaya sepusat (F) yang arahnya ke bawah. Gambar 1 14. dan di bawah penampang bekerja gaya reaksinya (F”) yang arahnya ke atas. demikian pula sebaliknya lantai akan memberikan reaksi yang sama. a. Tegangan yang timbul pada penampang A-A Teknik Pemesinan 9 .Gambar 1 13. Tegangan Pengertian Tegangan Hukum Newton pertama tentang aksi dan reaksi. Kesetimbagan benda pada bidang miring Diagram vektor berbentuk segitiga siku di mana : F mg sin Jika gesekan diabaikan.

tali. Tegangan tarik pada batang penampang luas A Teknik Pemesinan 10 . bengkokan. dan lain-lain. a) Tegangan Normal Tegangan normasl terjadi akibat adanya reaksi yang diberikan pada benda. Gambar 1 16. sedangkan luas penampang dalam m2. 2 m cm 2 Gambar 1 15. F A 1) Macam-macam tegangan Tegangan timbul akibat adanya tekanan. Jika gaya dalam diukur dalam N. Tegangan biasanya dinyatakan dengan huruf Yunani (thau). begitu pula pada pembebanan yang lain. maka satuan tegangan adalah N dyne atau . pada pembebanan tekan terjadi tegangan tekan. tarikan. Pada pembebanan tarik terjadi tegangan tarik.Beban yang diterima oleh molekul-molekul benda setiap satuan luas penampang disebut tegangan. dan reaksi. Tegangan normal Sedangkan tegangan trangensialnya: Fq A kg. f m2 b) Tegangan Tarik Tegangan tarik pada umumnya terjadi pada rantai. paku keling. Rantai yang diberi beban W akan mengalami tegangan tarik yang besarnya tergantung pada beratnya.

Gambar 1 18. Tegangan ini banyak terjadi pada konstruksi seperti sambungan keling. terjadi pada tiang bangunan yang belum mengalami tekukan.Persamaan tegangan tarik dapat dituliskan: t F A Fa A Di mana : F = gaya tarik. A = luas penampang c) Tegangan Tekan Tegangan tekan terjadi bila suatu batang diberi gaya F yang saling berlawanan dan terletak dalam satu garis gaya. dan batang torak. Tegangan tekan dapat ditulis: D Fa A F A Gambar 1 17. gunting. gaya tidak segaris namun pada penampangnya tidak terjadi momen. Tegangan tekan d) Tegangan Geser Tegangan geser terjadi jika suatu benda bekerja dengan dua gaya yang berlawanan arah. tegak lurus sumbu batang. dan sambungan baut. Misalnya. Tegangan Geser Teknik Pemesinan 11 . porok sepeda.

2 Dimana D = diameter paku keling n. dua gaya F sama besar berlawanan arah.D 4 e) Tegangan Lengkung Misalnya. Gambar 1 19. .D 2 Tegangan geser terjadi karena adanya gaya radial F yang bekerja pada penampang normal dengan jarak yang relatif kecil. maka pelengkungan benda diabaikan. sebesar: g gayadalam luaspenampang g F (N / m2 ) A Untuk konstruksi pada paku keling. pada poros-poros mesin dan poros roda yang dalam keadaan ditumpu. Pada material akan timbul tegangan gesernya.D 2 Apabila pada konstruksi mempunyai n buah paku keling. Tegangan lengkung pada batang rocker arm F RA RB dan b Mb Wb Mb = momen lengkung Wb = momen tahanan lengkung Teknik Pemesinan 12 . merupakan tegangan tangensial. Gaya F bekerja merata pada penampang A.Pada gambar di atas. maka sesuai dengan persamaan dibawah ini tegangan gesernya adalah F g . Untuk hal ini tegangan yang terjadi adalah F g 4 . maka F maksimum = 4 . Jadi.

Tegangan Puntir Tegagan puntir sering terjadi pada poros roda gigi dan batang-batang torsi pada mobil. merupakan tegangan trangensial. juga saat melakukan pengeboran. Tegangan puntir Benda yang mengalami beban puntir akan menimbulkan tegangan puntir sebesar: t Mt Wp Mt = momen puntir (torsi) Wp = momen tahanan polar (pada puntir) Teknik Pemesinan 13 . f) Gambar 1 20. Jadi.

tromol kabel. As gardan. Mengenal Elemen Mesin 1. Gaya F dapat menimbulkan tegangan pada poros. dan lain-lain. Setiap elemen mesin yang berputar. Gaya (F) merupakan gaya luar arahnya dapat sejajar dengan permukaan benda ataupun membentuk sudut dengan permukanan benda. F1 F2 Gambar 1 21. Gaya yang timbul pada benda dapat berasal dari gaya dalam akibat berat benda sendiri atau gaya luar yang mengenai benda tersebut. seperti cakra tali. Contoh sebuah poros dukung yang berputar. yaitu poros roda kereta api. fungsinya hanya sebagai penahan beban. biasanya tidak berputar. Teknik Pemesinan 14 . Kontruksi poros kereta api Untuk merencanakan sebuah poros. Macam-macam poros Poros sebagai penerus pembebanannya sebagai berkut : daya diklasifikasikan menurut 1) Gandar Gandar merupakan poros yang tidak mendapatkan beban puntir. puli sabuk mesin. dan roda gigi. maka perlu diperhitungkan gaya yang bekerja pada poros di atas antara lain: Gaya dalam akibat beratnya (W) yang selalu berpusat pada titik gravitasinya. karena tegangan dapat rimbul pada benda yang mengalami gaya-gaya. piringan kabel. Poros Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga melalui putaran mesin. dipasang berputar terhadap poros dukung yang tetap atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar. Baik gaya dalam maupun gaya luar akan menimbulkan berbagai macam tegangan pada kontruksi tersebut antara lain: a.B. roda jalan.

dan bentuk serta ukurannya harus teliti. atau pada as truk bagian depan. Konstruksi poros transmisi b.Contohnya seperti yang dipasang pada roda-roda kereta barang. disebut spindle. dan lainlain. Gambar 1 22. 2) Spindle Poros transmisi yang relatif pendek. seperti poros utama mesin perkakas. Teknik Pemesinan 15 . Beban pada poros 1) Poros dengan beban puntir Daya dan perputaran. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil. puli sabuk atau sproket rantau. di mana beban utamanya berupa puntiran. roda gigi. Poros transmisi mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur yang akan meneruskan daya ke poros melalui kopling. momen puntir yang akan dipindahkan oleh poros dapat ditentukan dengan mengetahui garis tengah pada poros. Spindle mesin bubut 3) Poros transmisi Poros transmisi berfungsi untuk memindahkan tenaga mekanik salah satu elemen mesin ke elemen mesin yang lain. Gambar 1 23.

M w. Bila jarak ini ditempuh dalam waktu t. tetapi juga mendapat beban dinamis. Beban lentur murni pada lengan robot Teknik Pemesinan 16 . Poros transmisi dengan beban puntir Apabila gaya keliling F pada gambar sepanjang lingkaran denga jarijari r menempuh jarak melalui sudut titik tengah (dalam radial). Meskipun pada kenyataannya gandar ini tidak hanya mendapat beban statis. W t ialah kecepatan sudut poros. Jadi. dan kerja yang dilakukan adalah F. maka daya. maka jarak ini adalah r. Momen ini merupakan momen puntir yang bekerja dalam poros.Gambar 1 24.r. W P di mana F . M w. Gambar 1 25. momen puntirnya: Mw P 2) Poros dengan beban lentur murni Poros dengan beban lentur murni biasanya terjadi pada gandar dari kereta tambang dan lengan robot yang tidak dibebani dengan puntiran. t M w. melainkan diasumsikan mendapat pembebanan lentur saja. .r. Gaya F yang bekerja pada keliling roda gigi dengan jari-jari r dan gaya reaksi pada poros sebesar F merupakan suatu kopel yang momennya Mw = F.

Selain itu beban puntir dan lentur juga terjadi pada lengan arbor mesin frais. Jika poros tersebut mempunyai roda gigi untuk meneruskan daya besar. di mana beban pada suatu gandar diperoleh dari 1 2 berat kendaraan dengan muatan maksimum dikurangi berat a. maka bahan poros harus bersifat liat dan ulet agar mampu menahan tegangan geser maksimum sebesar: 2 max 4 2 2 Pada poros yang pejal dengan penampang bulat. Dengan demikian poros tersebut mendapat beban puntir dan llentur akibat adanya beban.1 max ds 3 M2 T2 Teknik Pemesinan 17 .2 a . terutama pada saat pemakanan. s 32M 3 ds dan 16T ds 3 . atau rantai. sehingga 5. maka kejutan berat akan terjadi pada saat mulai atau sedang berputar. Beban yang bekerja pada poros pada umumnya adalah beban berulang. tegangan lentur yang diijinkan adalah diameter dari poros adalah maka ds 10. gandar dan roda. Beban puntir dan lentur pada arbor saat pemakanan Agar mampu menahan beban puntir dan lentur.Jika momen lentur M1.M 1 1 3 3) Poros dengan beban puntir dan lentur Poros dengan beban puntir dan lentur dapat terjadi pada puli atau roda gigi pada mesin untuk meneruskan daya melalui sabuk. Gambar 1 26.

di mana arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros. Teknik Pemesinan 18 . Bantalan poros dapat dibedakan menjadi dua. Bantalan luncur dilengkapi alur pelumas b. maka bantalan dibedakan menjadi tiga hal berikut. antara lain: a. Bantalan luncur. Bantalan gelinding. Posisi bantalan harus kuat. Bantalan radial. Bantalan radial b. Bantalan Bantalan diperlukan untuk menumpu poros berbeban. hal ini agar elemen mesin dan poros dapat bekerja dengan baik. Bantalan aksial. agar dapat berputar atau bergerak bolak-balik secara kontinnyu serta tidak berisik akibat adaya gesekan. di mana terjadi gerakan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan lapisan pelumas.2. di mana terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti rol atau rol jarum. a. di mana arah beban yang ditumpu bantalan tegak lurus sumbu poros. Berdasarkan arah beban terhadap poros. Gambar 1 27. Gambar 1 28.

Bahan logam ini terdiri dari logam ferro dan nonferro. ataupun pembebanan dinamis (besar dan arahnya berubah). Berbagai Macam Sifat Logam Logam mempunyai beberapa sifat antara lain: sifat mekanis. antara lain: kekuatan bahan (strength). Bahan non logam dapat dibagi menjadi bahan organik (bahan yang berasal dari alam) dan bahan anorganik. dan timah putih. sifat fisika. Mengenal Material dan Mineral Material dapat berupa bahan logam dan non logam. sedangkan logam nonferro (bukan besi) antara lain emas. Bahan logam ferro diantaranya besi. material juga dapat dikelompokkan berdasarkan unsur-unsur kimia. Selain pengelompokan di atas. Gambar 1 30. Bantalan aksial c. 1. di mana bantalan ini menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros. sifat fisika. Yang termasuk sifat mekanis pada logam. kekakuan. besi Teknik Pemesinan 19 . kita dapat menghasilkan logam yang kuat dan keras sesuai kebutuhan. perak. Kekuatan (strength) adalah kemampuan material untuk menahan tegangan tanpa kerusakan. yaitu unsur logam. Pembebanan yang diberikan dapat berupa pembebanan statis (besar dan arahnya tetap). Bantalan gelinding khusus. dan sifat pengerjaan. sifat kimia dan sifat pengerjaan.Gambar 1 29. dan besi cor. Dengan mengetahui unsur-unsur kimia ini. kekerasan elastisitas. Bantalan gelinding khusus C. Beberapa material seperti baja struktur. sifat kimia. nonlogam dan metalloid. kelelahan bahan. Sifat mekanis adalah kemampuan suatu logam untuk menahan beban yang diberikan pada logam tersebut. baja. plastisitas.

Kekerasan (hardness) adalah ketahanan suatu bahan untuk menahan pembebanan yang dapat berupa goresan atau penekanan. Plastisitas adalah kemampuan suatu bahan padat untuk mengalami perubahan bentuk tetap tanpa ada kerusakan. yaitu korosi karena efek galvanis dan reaksi kimia langsung. Secara garis besar ada dua macam korosi.tempa. Kekerasan merupakan kemampuan suatu material untuk menahan takik atau kikisan. dan tembaga mempunyai kekuatan tarik dan tekan yang hampir sama. Untuk mengetahui kekerasan suatu material digunakan uji Brinell. kekuatan gesermya kira-kira dua pertiga kekuatan tariknya. Kekakuan adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk menahan perubahan bentuk atau deformasi setelah diberi beban. Elastisitas ini penting pada semua struktur yang mengalami beban yang berubah-ubah terlebih pada alat-alat dan mesin-mesin presisi. Yang termasuk sifat-sifat fisika adalah sebagai berikut: Titik lebur. Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk kembali ke bentuk semula setelah menerima beban yang mengakibatkan perubahan bentuk. atau geser. Sifat pengerjaan ini harus diketahui terlebih dahulu sebelum pengolahan logam dilakukan. Kepadatan. Ukuran kekuatan bahan adalah tegangan maksimumnya. atau gaya terbesar persatuan luas yang dapat ditahan bahan tanpa patah. Elastisitas merupakan kemampuan suatu material untuk kembali ke ukuran semula setelah gaya dari luar dilepas. Untuk mengetahui kekuatan suatu material dapat dilakukan dengan pengujian tarik. Sifat fisika adalah karakteristik suatu bahan ketika mengalami peristiwa fisika seperti adanya pengaruh panas atau listrik. Sementara itu. Daya hantar panas. dan daya hantar listrik Sifat kimia adalah kemampuan suatu logam dalam mengalami peristiwa korosi. Sifat pengerjaan adalah suatu sifat yang timbul setelah diadakannya proses pengolahan tertentu. Korosi adalah terjadinya reaksi kimia antara suatu bahan dengan lingkungannya. Ada dua macam pengerjaan yang biasa dilakukan yaitu sebagai berikut : Teknik Pemesinan 20 . tekan. alumunium. Kelelahan bahan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima beban yang berganti-ganti dengan tegangan maksimum diberikan pada setiap pembebanan.

dan tembaga yang mempunyai kilat logam. dan yang sedikit terdapat di alam seperti tenbaga. Kilatan merupakan sinar suatu mineral apabila memantulkan cahaya yang dikenakan kepadanya. bentuk heksagonal (enam bidang) pada kuarsa. 3. Misalnya emas. minyak bumi. dan ada pula mineral yang memiliki bermacam-macam warna misalnya kuarsa. dan titanium. b. dan lain-lain. c. mangan. mineral mempunyai warna tertantu. batu kerikil. Warna. lazurit berwarna biru. timah. d.2. Tanpa air tidak mungkin kita dapat menanam dan menghasilkan bahan makanan. Teknik Pemesinan 21 . merupakan warna yang timbul bila mineral tersebut digoreskan pada porselen yang tidak dilicinkan. Pasir. Unsur-unsur Logam Unsur-unsur logam dibagi lagi dalam dua kelompok menurut banyaknya. Contohnya bentuk kubus pada galmer (bilih seng). Misalnya. Berat jenis ini akan berubah setelah diolah menjadi bahan. alumunium. Berat jenis. Air merupakan sumber mineral terpenting dari semuanya yang terdapat melimpah di permukaan bumi. yang mempunyai bentuk dan ciri-ciri khusus serta mempunyai susunan kimia yang tetap. seng. timah hitam. dan belerang merupakan bahanbahan utama industri-industri kimia dan pupuk buatan. dan gas alam. kalsium fosfat. Bahan bakar fosil. Persediaan energi kita sekarang sangat bergantung pada bahan-bahan ini. Mineral Mineral merupakan suatu bahan yang banyak terdapat di dalam bumi. Kristal atau belahan merupakan mineral yang mempunyai bidang datar halus. yaitu yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang seperti batubara. Unsur-unsur Nonlogam Unsur-unsur nonlogam (nonmetallic) dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan kegunaannya. Berbagai Jenis Sumber Daya Mineral a. bentuk kristalnya dapat dipecah-pecah menjadi beberapa kubus dan patahannya akan terlihatk dengan jelas. yaitu yang berlimpah di kerak bumi seperti besi. Setiap mineral memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda. mineral mempunyai berat jenis antara 2 – 4 ton/m2. batu hancur. Cerat. Moneral memliki ciri-ciri khas antara lain: a. b. antara lain : Natrium klorida. misalnya malagit berwarna hijau. gips. dan semen terutama dipakai sebagai bahan-bahan bangunan dan konstruksi lainnya.

(b) prosedur-prosedur tanur yang lebih efisien. karbon dalam bentuk kokas dan oksida besi bereaksi pada suhu tinggi. antara lain: (a) metode untuk memproduksi baja yang berkualitas tinggi dari besi kasar. batu kapur (CaCO3) harus juga ditambahkan sebagai imbuh (flux) agar bercampur dengan kotoran-kotoran dan mengeluarkannya sebagai slag (terak).4. Proses pemurnian bijih besi Melebur dan mengoksidasi besi adalah proses kimia yang sederhana. Pemurnian mineral adalah proses memisahkan satu bentuk mineral dari mineral-mineral lainnya melalui satu proses dan cara tertentu. akibat semakin berkurangnya persediaan kayu. termasuk juga pemakaian kokas yang dibuat dari batu bara sebagai pengganti arang kayu. Dapur pengolahan biji besi menjadi besi Sejak abad ke-14 besi mulai diproduksi dalam jumlah besar dan dasar-dasar eksploitasi industri besi secara modern sudah dimulai. (d) metode-metode untuk memamfaatkan bijih-bijih besi yang mengandung kotoran-kotoran perusak seperti fosfor dan belerang. Selama proses itu. Teknik Pemesinan 22 .dan (d) metode-metode untuk memproses bijih besi berkadar rendah. membentuk metalik iron (besi yang bersifat logam) dan gas karbon dioksida. a. Gambar 1 31. Pemurnian Mineral Mineral pada awalnya ditemukan di alam masih bercampur dengan mineral lain sehingga perlu dilakukan proses pemurnian untuk mendapatkan satu bentuk mineral. Karena bijih besi jarang ada yang murni. Setelah itu diperoleh berbagai penemuan dalam produksi besi. (c) metode-metode untuk mereduksi bijih besi.

oksida bereaksi dengan sulfida membentuk tembaga blister dan dioksida belerang. Tepung bijih dipekatkan terlebih dahulu. bijih itu dilebur di dalam dapur corong atau dapur nyala api dengan kokas dan dituang menjadi balok-balok kecil. Bila aliran udara dihentikan. Teknik Pemesinan 23 . alumina dilarukan ke dalam cairan klorit (garam Na3AlF6) yang berfungsi sebagai elektrolit sehingga titik lelehnya menjadi rendah (1000°C). Bijih bauksit mula-mula dimurnikan terlebih dahulu dengan proses kimia dan alumunium oksida murni diuraikan dengan elektrolisis. e.b. Setelah itu. Panas oksidasi yang dihasilkan cukup tinggi sehingga muatan tetap cair dan sulfida tembaga akhirnya berubah menjadi oksida tembaga dan sulfat. besi yang tersisa ditaungkan ke dalam konventor. dan besi membentuk terak yang dibuang pada selang waktu tertentu. sedang timbel dengan campurannya yang lain berubah menjadi oksida timah hitam (PbO) dan sebagian lagi menjadi timbel sulfat (PbSO4). Setelah itu. alumina di dalamnya membentuk natrium aluminat. Proses pemurnian timah putih (Sn) Proses pemurnian timah putih diawali dengan memisahkan Bijih timah dan pasir dengan mencuci lalu dikeringkan. Bauksit dimasukkan ke dalam kauksit soda. kemudian diolah lebih lanjut secara elektronik menjadi tembaga murni. akan didapatkan alumina. Campuran ini disebut kalsin dan dilebur dengan batu kapur sebagi fluks dalam dapur reverberatory. c. Karena titik lelehnya tinggi. Dengan menambah kwarsa (SiO2) pada sulfat di atas suhu yang tinggi akan mengubah timbel sulfat menjadi silikat. Udara dihembuskan ke dalam konventor selama 4 – 5 jam. Besi yang ada larut dalam terak dan tembaga. Lima belas persen alumina (Al2O3) dapat diuraikan ke dalam kriolit. sedang proses elektrolisis di sini sebagai reduksi Al2O3. tembaga ini dilebur dan dicor menjadi slab. Campuran silikat timbel dengan oksida timbel yang dipijarkan pakai kokas kemudian dicampur dengan batu kapur. kotoran-kotoran teroksidasi. d. Proses pemurnian alumunium Proses pemurian alumunium dengan cara memanaskan alumunium hidroksida sampai lebih kurang 1300°C (diendapkan). dan CuS. Proses pemurnian timbel/timah hitam (Pb) Bijih-bijih timbel harus dipanggang terlebih dahulu untuk menghilangkan sulfida-sulfida. bagian lain tidak bereaksi dan dapat dipisahkan. sesudah itu dipanggang sehingga terbentuk campuran FeS. Proses pemurnian tembaga Proses pemurnian tembaga diawali dengan penggilingan bijih tembaga kemudian dicampur dengan batu kapur dan bahan fluks silika. akan menghasilkan timbel. FeO. SiO2.

Proses pemurnian magnesium Untuk memperoleh magnesium dilakukan dengan jalan elektrolisis. Bijih perak yang mengandung belerang dipanggang dahulu kemudian dicairkan. Setelah itu terjadilah oksida seng. g. Proses pemurnian seng (Zn) Proses pemurnian seng diawali dengan memisahkan bijih seng kemudian dipanggang dalam dapur untuk mengeluarkan belerang dan asam arang. Reduktor yang digunakan biasanya mangan dan fosfor. Setelah itu. karbonatnya terurai dan sulfidanya dioksidasi. proses pemurniannya dikerjakan dengan jalan elektrolisis di atas sebuah cawan tertutup dalam dapur nyala api. Proses pemurnian nikel (Ni) Proses pemurnian nikel diawali dengan pembakaran bijih nikel. Proses pemurnian perak Proses pemurnian perak dilakukan dengan jalan elektrolisis bijih-bijih perak. Teknik Pemesinan 24 . dan sulfida seng (ZnS). kemudian dicairkan untuk proses reduksi dengan menggunakan arang dan bahan tambahan lain dalam sebuah dapur tinggi. hanya tertinggal peraknya saja. j. yaitu dengan cara memijarkan oksida magnesium bersama-sama dengan zat arang (karbon) atau silisium ferro sebagai bahan reduksi.f. Dari proses tersebut nikel yang didapat kurang lebih 99%. Bijih yang mengandung timbel dihaluskan kemudian dicairkan dengan memasukkan zat asam yang banyak sampai timbel terbakar menjadi glit-timbel dan dikeluarkan sebagai terak. Jika hasil yang diinginkan lebih baik (tidak berlubang). i. sedangkan platina tidak dapat melarut dalam air raksa. Platina itu dapat dibersihkan sampai tercapai keadaan yang murni. Berikutnya adalah dengan proses kimiawi (proses elektrolisis). Bijih-bijih yang mengandung emas dikerjakan dalam air raksa. Bijih seng didapat dari senyawa belerang diantaranya karbonat seng (ZnCO3). Proses pemurnian platina Proses pemurnian platina tergantung pada zat-zat yang terkandung dalam bijih-bijih logam. Setelah itu magnesium dapat terpisahkan h. silikat seng (ZnSiO4H2O).

BAB 2 MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN Teknik Pemesinan 25 .

Pengertian engecoran (casting) adalah suatu proses penuangan materi cair seperti logam atau plastik yang dimasukkan ke dalam cetakan. dan kemudian dikeluarkan atau dipecah-pecah untuk dijadikan komponen mesin. Gambar 2 2. Pengecoran digunakan untuk membuat bagian mesin dengan bentuk yang kompleks. Pengecoran dapat berupa material logam cair atau plastik yang bisa meleleh (termoplastik). kemudian dibiarkan membeku di dalam cetakan tersebut. dan terbakar dalam perapian. yaitu : expandable (dapat diperluas) dan non expandable (tidak dapat diperluas). Mengenal Proses Pengecoran Logam 1. dan materi lain yang dapat menjadi cair atau pasta ketika dalam kondisi basah seperti tanah liat. Proses pengecoran logam Teknik Pemesinan 26 . Logam cair sedang dituangkan ke dalam cetakan Pengecoran digunakan untuk membentuk logam dalam kondisi panas sesuai dengan bentuk cetakan yang telah dibuat.A. juga material yang terlarut air misalnya beton atau gips. Proses pengecoran dibagi menjadi dua. P Gambar 2 1. dan lain-lain yang jika dalam kondisi kering akan berubah menjadi keras dalam cetakan.

Pembuatan cetakan secara manual dilakukan bila jumlah komponen yang akan dibuat jumlahnya terbatas. Dewasa ini cetakan banyak dibuat secara mekanik dengan mesin agar lebih presisi serta dapat diproduk dalam jumlah banyak dengan kualitas yang sama baiknya. Pembuatan cetakan tangan dengan dimensi yang besar dapat menggunakan campuran tanah liat sebagai pengikat. Teknik Pemesinan 27 . dan banyak variasinya. Pembuatan Cetakan Manual Pembuatan cetakan tangan meliputi pembuatan cetakan dengan kup dan drag. seperti pada gambar di bawah ini: 2. Cetakan pasir bisa dibuat secara manual maupun dengan mesin.Pengecoran biasanya diawali dengan pembuatan cetakan dengan bahan pasir.

pembuatan cetakan dengan mesin pendesak. Dimensi benda kerja yang akan dibuat (a). pembuatan cetakan dengan mesin guncang desak. dan pembuatan cetakan dengan pelempar pasir.Gambar 2 3. menutupi permukaan pola dalam rangka cetak dengan pasir. antara lain: a. Adapun mesin-mesin yang dipakai dalam pengolahan pasir. dapat dipakai kembali dengan mencampur pasir baru dan pengikat baru setelah kotoran-kotoran dalam pasir tersebut dibuang. prembuatan cetakan dengan mesin tekanan tinggi. dan produk pengecoran (e). juga dikenal pembuatan cetakan dengan mesin guncang. sedangkan untuk pengaduk pasir digunakan Teknik Pemesinan 28 . Selain pembuatan cetakan secara manual. Setelah digunakan dalam proses pembuatan suatu cetakan. Prosesnya dengan cara pembuangan debu halus dan kotoran. Penggiling pasir Penggiling pasir digunakan apabila pasir tersebut menggunakan lempung sebagai pengikat. serta pendinginan pasir cetak. Pasir cetak dapat digunakan berulang-ulang. proses penuangan (d). pencampuran. (b) cetakan siap (c). pasir cetak tersebut dapat diolah kembali tidak bergantung pada bahan logam cair. Pengolahan Pasir Cetak Pasir cetak yang sudah digunakan untuk membuat cetakan. 3.

akan tetapi pasir kering memiliki batas ukuran berat tertentu. Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) Pengecoran dengan pasir membutuhkan waktu selama beberapa hari dalam proses produksinya dengan hasil rata-rata (1-20 unit/jam proses pencetakan) dan proses pengecoran dengan bahan pasir ini akan membutuhkan waktu yang lebih lama terutama untuk produksi dalam skala yang besar. gips. udara lewat melalui pasir yang diagitasi. Jadi. Metode ini melibatkan penggunaan cetakan sementara dan cetakan sekali pakai.05-1 kg. ayakan dipakai untuk menyisihkan kotoran dan butir-butir pasir yang sangat kasar. Pencampur pasir Pencampur pasir digunakan untuk memecah bungkah-bungkah pasir setelah pencampuran. tempurung. Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting) Expandable mold casting adalah sebuah klasifikasi generik yang melibatkan pasir. Pendingin pasir bergetar menunjukkan alat di mana pasir diletakkan pada pelat dan pengembangan pasir efektif. d. Pemisahan magnetis Pemisahan magnetis digunakan untuk menyisihkan potongan besi yang berada dalam pasir cetak tersebut. Pasir hijau/green sand (basah) hampir tidak memiliki batas ukuran beratnya.300-2. Adapun pada pendingin pasir tegak. potongan- e. c. Batas minimumnya adalah antara 0. Pasir ini disatukan dengan menggunakan tanah liat (sama dengan proses pada pasir hijau) atau dengan menggunakan Teknik Pemesinan 29 . Pendingin pasir Dalam mendinginkan pasir. plastiK. dan investment molding (teknik lost-wax). pasir dijatuhkan ke dalam tangki dan disebar oleh sebuah sudu selama jatuh.jika pasir menggunakan bahan pengikat seperti minyak pengering atau natrium silikat.700 kg. udara pendingin perlu bersentuhan dengan butir-butir pasir sebanyak mungkin. pasir dari penggiling pasir kadang-kadang diisikan ke pencampur pasir atau biasanya pasir bekas diisikan langsung ke dalamnya. 5. b. yaitu antara 2. yang kemudian didinginkan oleh udara dari bawah. Jenis ayakan ada dua macam. yaitu ayakan berputar dan ayakan bergetar. 4. Pengayakan Untuk mendapatkan pasir cetak. Pada pendingin pasir pengagitasi.

Pasir hampir pada setiap prosesnya dapat diulang beberapa kali dan membutuhkan bahan input tambahan yang sangat sedikit. Pengecoran logam pada cetakan pasir 6. Dengan pencetakan gips. Bentuk-bentuk ini harus mampu memuaskan standar tertentu sebab bentuk-bentuk tersebut merupakan inti dari proses pergecoran dengan pasir . Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) Gips yang tahan lama lebih sering digunakan sebagai bahan dasar dalam produksi pahatan perunggu atau sebagai pisau pahat pada proses pemahatan batu. gips ini dipindah dari tanah liat yang lembab. tembaga. proses ini akan secara tidak sengaja merusak keutuhan tanah liat tersebut. Permukaan gips ini selanjutnya dapat Teknik Pemesinan 30 . magnesium. Pengecoran dengan pasir ini juga dapat digunakan pada logam bertemperatur tinggi. pengecoran dengan pasir ini digunakan untuk mengolah logam bertemperatur rendah. Akan tetapi ini bukanlah masalah yang serius karena tanah liat tersebut telah berada di dalam cetakan. gips yang sederhana dan tebal dicetak. hasilnya akan lebih tahan lama (jika disimpan di tempat tertutup) dibanding dengan tanah liat asli yang harus disimpan di tempat yang basah agar tidak pecah. Gambar 2 4. aluminium. kain goni. dan nikel. namun untuk bahan logam selain itu tidak akan bisa diproses. Pada proses pembuatannya. Pengecoran ini adalah teknik tertua dan paling dipahami hingga sekarang. Cetakan kemudian dapat digunakan lagi di lain waktu untuk melapisi gips aslinya sehingga tampak benar-benar seperti tanah liat asli. semua itu dibalut dengan tanah liat asli. diperkuat dengan menggunakan serat.bahan perekat kimia/minyak polimer. seperti besi. Pada dasarnya. Dalam proses pengecoran ini.

diperbarui, dilukis, dan dihaluskan agar menyerupai pencetak dari perunggu. Pengecoran dengan gips hampir sama dengan pengecoran dengan pasir kecuali pada bagian gips diubah dengan pasir. Campuran gips pada dasarnya terdiri dari 70-80 % gipsum dan 20-30 % penguat gipsum dan air. Pada umumnya, pembentukan pengecoran gips ini membutuhkan waktu persiapan kurang dari 1 minggu, setelah itu akan menghasilkan produksi rata-rata sebanyak 1-10 unit/jam pengecorannya dengan berat untuk hasil produksinya maksimal mencapai 45 kg dan minimal 30 kg, dan permukaan hasilnyapun memiliki resolusi yang tinggi dan halus. Jika gips digunakan dan pecah, maka gips tersebut tidak dapat diperbaiki dengan mudah. Pengecoran dengan gips ini normalnya digunakan untuk logam non belerang seperti aluminium, seng, tembaga. Gips ini tidak dapat digunakan untuk melapisi bahan-bahan dari belerang karena sulfur dalam gipsum secara perlahan bereaksi dengan besi. Persiapan utama dalam pencetakan adalah pola yang ada disemprot dengan film yang tebal untuk membuat gips campuran. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah cetakan merusak pola. Unit cetakan tersebut dikocok sehingga gips dapt mengisi lubang-lubang kecil di sekitar pola. Pembentuk pola dipindahkan setelah gips diatur. Pengecoran gips ini menunjukkan kemajuan, karena penggunaan peralatan otomatis dapat segera digunakan dengan mudah ke sistem robot, karena ketepatan desain permintaan semakin meningkat yang bahkan lebih besar dari kemampuan manusia. 7. Pengecoran Gips, Beton, atau Plastik Resin.

Gips sendiri dapat dilapisi, demikian pula dengan bahan-bahan kimia lainnya seperti beton atau plastik resin. Bahan-bahan ini juga mengunakan percetakan yang sama seperti penjelasan di atas (waste mold) atau multiple use piece mold, atau percetakan yang terbuat dari bahan-bahan yang sangat kecil atau bahan yang elastis seperti karet latex (yang cenderung disertai dengan cetakan yang ekstrim). Jika pengecoran dengan gips atau beton maka produk yang dihasilkan akan seperti kelereng, tidak begitu menarik, kurang transparan dan biasanya dilukis. Tak jarang hal ini akan memberikan penampilan asli dari logam/batu. Alternatif untuk mengatasi hal ini adalah lapisan utama akan dibiarkan mengandung warna pasir sehingga memberikan nuansa bebatuan. Dengan menggunakan pengecoran beton, bukan pengecoran gips, memungkinkan kita untuk membuat ukiran, pancuran air, atau tempat duduk luar ruangan. Selanjutnya adalah membuat meja cuci (washstands) yang menarik, washstands dan shower stalls dengan perpaduan beraneka ragam warna akan menghasilkan pola yang menarik seperti yang tampak pada kelereng/ravertine.

Teknik Pemesinan

31

Gambar 2 5. Turbin air produk hasil pengecoran logam

Proses pengecoran seperti die casting dan sand casting menjadi suatu proses yang mahal, bagaimanapun juga komponen-komponen yang dapat diproduksi menggunakan pengecoran investment dapat menciptakan garis-garis yang tak beraturan dan sebagian komponen ada yang dicetak near net shape sehingga membutuhkan sedikit atau bahkan tanpa pengecoran ulang. Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) Pengecoran sentrifugal berbeda dengan penuangan gravitasi-bebas dan tekanan-bebas karena pengecoran sentrifugal membentuk dayanya sendiri menggunakan cetakan pasir yang diputar dengan kecepatan konstan. Pengecoran sentrifugal roda kereta api merupakan aplikasi awal dari metode yang dikembangkan oleh perusahaan industri Jerman Krupp dan kemampuan ini menjadikan perkembangan perusahaan menjadi sangat cepat. 8.

Gambar 2 6. Turbin air produk hasil pengecoran logam

Die Casting Die casting adalah proses pencetakan logam dengan menggunakan penekanan yang sangat tinggi pada suhu rendah. Cetakan tersebut disebut die. Rentang kompleksitas die untuk memproduksi bagian-bagian logam non belerang (yang tidak perlu sekuat, sekeras, atau setahan panas seperti baja) dari keran cucian sampai cetakan mesin (termasuk hardware, bagian-bagian komponen mesin, mobil mainan, dsb).

9.

Teknik Pemesinan

32

Gambar 2 7. Die casting

Logam biasa seperti seng dan alumunium digunakan dalam proses die casting. Logam tersebut biasanya tidak murni melainkan logam logam yang memiliki karakter fisik yang lebih baik. Akhir-akhir ini suku cadang yang terbuat dari plastik mulai menggantikan produk die casting banyak dipilih karena harganya lebih murah (dan bobotnya lebih ringan yang sangat penting khususnya untuk suku cadang otomotif berkaitan dengan standar penghematan bahan bakar). Suku cadang dari plastik lebih praktis (terutama sekarang penggunan pemotongan dengan bahan plastik semakin memungkinkan) jika mengesampingkan kekuatannya, dan dapat didesain ulang untuk mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan. Terdapat empat langkah utama dalam proses die casting. Pertamatama cetakan disemprot dengan pelicin dan ditutup. Pelicin tersebut membantu mengontrol temperatur die dan membantu saat pelepasan dari pengecoran. Logam yang telah dicetak kemudian disuntikkan pada die di bawah tekanan tinggi. Takanan tinggi membuat pengecoran setepat dan sehalus adonan. Normalnya sekitar 100 MPa (1000 bar). Setelah rongganya terisi, temperatur dijaga sampai pengecoran menjadi solid (dalam proses ini biasanya waktu diperpendek menggunakan air pendingin pada cetakan). Terakhir die dibuka dan pengecoran mulai dilakukan. Yang tak kalah penting dari injeksi bertekanan tinggi adalah injeksi berkecepatan tinggi, yang diperlukan agar seluruh rongga terisi, sebelum ada bagian dari pengecoran yang mengeras. Dengan begitu diskontinuitas (yang merusak hasil akhir dan bahkan melemahkan kualitas pengecoran) dapat dihindari, meskipun desainnnya sangat sulit untuk mampu mengisi bagian yang sangat tebal. Sebelum siklusnya dimulai, die harus di-instal pada mesin die pengecoran, dan diatur pada suhu yang tepat. Pengesetan membutuhkan waktu 1-2 jam, dan barulah kemudian siklus dapat berjalan selama sekitar beberapa detik sampai beberapa menit, tergantung ukuran pengecoran. Batas masa maksimal untuk magnesium, seng, dan aluminium adalah sekitar 4,5 kg, 18 kg, dan 45 kg. Sebuah die set dapat bertahan sampai 500.000 shot selama masa pakainya, yang sangat Teknik Pemesinan

33

dipengaruhi oleh suhu pelelehan dari logam yang digunakan. Aluminium biasanya memperpendek usia die karena tingginya temperatur dari logam cair yang mengakibatkan kikisan cetakan baja pada rongga. Cetakan untuk die casting seng bertahan sangat lama karena rendahnya temperatur seng. Sedang untuk tembaga, cetakan memiliki usia paling pendek dibanding yang lainnya. Hal ini terjadi karena tembaga adalah logam terpanas. Seringkali dilakukan operasi sekunder untuk memisahkan pengecoran dari sisa-sisanya, yang dilakukan dengan menggunakan trim die dengan power press atau hidrolik press. Metode yang lama adalah memisahkan dengan menggunakan tangan atau gergaji. Dalam hal ini dibutuhkan pengikiran untuk menghaluskan bekas gergajian saat logam dimasukkan atau dikeluarkan dari rongga. Pada akhirnya, metode intensif, yang membutuhkan banyak tenaga digunakan untuk menggulingkan shot jika bentuknya tipis dan mudah rusak. Pemisahan juga harus dilakukan dengan hati-hati. Kebanyakan die caster melakukan proses lain untuk memproduksi bahan yang tidak siap digunakan. Yang biasa dilakukan adalah membuat lubang untuk menempatkan sekrup.

Gambar 2 8. Salah satu produk die casting

10.

Kecepatan Pendinginan

Kecepatan di saat pendinginan cor mempengaruhi properti, kualitas dan mikrostrukturnya. Kecepatan pendinginan sangat dikontrol oleh media cetakan. Ketika logam yang dicetak dituangkan ke dalam cetakan, pendinginan dimulai. Hal ini terjadi, karena panas antara logam yang dicetak mengalir menuju bagian pendingin cetakan. Materi-materi cetakan memindahkan panas dari pengecoran menuju cetakan dalam kecepatan yang berbeda. Contohnya, beberapa cetakan yang terbuat dari plaster memungkinkan untuk memidahkan panas dengan lambat sekali sedangkan cetakan yang keseluruhannya terbuat dari besi yang dapat mentranfer panas dengan sangat cepat sekali. Pendinginan ini akan

Teknik Pemesinan

34

berakhir dengan pengerasan di mana logam cair berubah menjadi logam padat. Pada tahap dasar ini, pengecoran logam menuangkan logam ke dalam cetakan tanpa mengontrol bagaimana pencetakan mendingin dan logam membeku dalam cetakan. Ketika panas harus dipindahkan dengan cepat, para ahli akan merencanakan cetakan yang digunakan untuk mencakup penyusutan panas pada cetakan, disebut dengan chills. Fins bisa juga didesain pada pengecoran untuk panas inti, yang kemudian dipindahkan pada proses cleaning (juga disebut fetting). Kedua metode bisa digunakan pada titik-titik lokal pada cetakan dimana panas akan disarikan secara cepat. Ketika panas harus dipindahkan secara pelan, pemicu atau beberapa alas bisa ditambahkan pada pengecoran. Pemicu adalah sebuah cetakan tambahan yang lebih luas yang akan mendingin lebih lamban dibanding tempat dimana pemicu ditempelkan pada pengecoran. Akhirnya, area pengecoran yang didinginkan secara cepat akan memiliki struktur serat yang bagur dan area yang mendingin dengan lamban akan memilki struktur serat yang kasar. B. Mengenal Proses Pemesinan Proses pemesinan dengan menggunakan prinsip pemotongan logam dibagi dalam tiga kelompok dasar, yaitu : proses pemotongan dengan mesin pres, proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas, dan proses pemotongan non konvensional. Proses pemotongan dengan menggunakan mesin pres meliputi pengguntingan (shearing), pengepresan (pressing) dan penarikan (drawing, elongating). Proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas meliputi proses bubut (turning), proses frais (milling), dan sekrap (shaping). Proses pemotongan non konvensional contohnya dengan mesin EDM (Electrical Discharge Machining) dan wire cutting. Proses pemotongan logam ini biasanya disebut proses pemesinan, yang dilakukan dengan cara membuang bagian benda kerja yang tidak digunakan menjadi beram (chips), sehingga terbentuk benda kerja. Dari semua prinsip pemotongan di atas pada buku ini akan dibahas tentang proses pemesinan dengan menggunakan mesin perkakas. Proses pemesinan adalah proses yang paling banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu produk jadi yang berbahan baku logam. Diperkirakan sekitar 60% sampai 80% dari seluruh proses pembuatan komponen mesin yang komplit dilakukan dengan proses pemesinan. 1. Klasifikasi Proses Pemesinan Proses pemesinan dilakukan dengan cara memotong bagian benda kerja yang tidak digunakan dengan menggunakan pahat (cutting Teknik Pemesinan 35

Pahat yang digunakan pada satu jenis mesin perkakas akan bergerak dengan gerakan yang relatif tertentu (berputar atau bergeser) disesuaikan dengan bentuk benda kerja yang akan dibuat. Gambar 2 9. Proses pemesinan dapat diklasifikasikan dalam dua klasifikasi besar yaitu proses pemesinan untuk membentuk benda kerja silindris atau konis dengan benda kerja/pahat berputar. mesin gurdi (drilling machine). Gerinda Permukaan (Surface Grinding). Klasifikasi yang pertama meliputi proses bubut dan variasi proses yang dilakukan dengan menggunakan mesin bubut. Klasifikasi kedua meliputi proses sekrap (shaping. Teknik Pemesinan 36 . Frais (Milling). Pahat dapat melakukan gerak potong (cutting) dan gerak makan (feeding). dan proses pemotongan roda gigi (gear cutting). Sekrap (Planning. dapat diklasifikasikan sebagai pahat bermata potong tunggal (single point cutting tool) dan pahat bermata potong jamak (multiple point cutting tool). sehingga terbentuk permukaan benda kerja menjadi komponen yang dikehendaki. Shaping). proses slot (sloting). Bor (Boring). dan proses pemesinan untuk membentuk benda kerja permukaan datar tanpa memutar benda kerja. Gurdi (Drilling).9. mesin gerinda (grinding machine). Beberapa proses pemesinan : Bubut (Turning/Lathe). planing). mesin frais (milling machine). proses menggergaji (sawing). Gerinda (Grinding).tool). Beberapa proses pemesinan tersebut ditampilkan pada Gambar 2. Pelubang (Punching Press). Pahat.

lapping. yang di masa yang lalu diperoleh dengan perkiraan oleh para ahli dan operator proses pemesinan. fenomena pembentukan beram pada satu titik bertemunya pahat dengan benda kerja adalah mirip. bubut. Alasan-alasan bahwa proses pembentukan beram adalah sulit untuk dianalisa dan diketahui karakteristiknya diringkas sebagai berikut : Laju regangan (strain rate) yang terjadi saat pembentukan sangat tinggi dibandingkan dengan proses pembentukan yang lain. dan telah diteliti untuk menemukan bentuk yang mendekati ideal. Dengan diterapkannya CNC (Computer Numerically Controlled) pada mesin perkakas. atau frais.2. dan Gambar 2. dan sebagainya. sehingga menjadi sangat penting untuk menemukan perhitungan otomatis guna menentukan kecepatan dan gerak makan. Pembentukan Beram (Chips Formation) pada Proses Pemesinan Karena pentingnya proses pemesinan pada semua industri. maka teori pemesinan dipelajari secara luas dan mendalam sejak lama. temperatur benda kerja.10. honing. gerak makan (feed). Proses pembentukan beram tergantung pada bahan benda kerja. maka produksi elemen mesin menjadi sangat cepat.11. cairan pendingin. Untuk semua jenis proses pemesinan termasuk gerinda. terutama terjadinya proses penyayatan sehingga terbentuk beram. dan parameter yang lain. Proses pembentukan beram sangat dipengaruhi oleh bentuk pahat (cutting tool). Proses pembentukan beram juga tergantung pada material pahat. temperatur pahat. Informasi singkat berikut akan menjelaskan tentang beberapa aspek penting proses pembentukan beram dalam proses pemesinan. dan getaran pahat. dijelaskan tentang kategori dari jenisjenis beram : Teknik Pemesinan 37 . Pada Gambar 2. planing. berapa kecepatan (speed). Proses terbentuknya beram adalah sama untuk hampir semua proses pemesinan.

Beberapa bentuk beram hasil proses pemesinan : beram lurus (straight). setengah melingkar (half turns). maka digunakan gambar dua dimensi untuk menjelaskan geometri dasar dari terbentuknya beram. dan kecil (tight). melingkar penuh (full turns). beram tidak teratur (snarling). helix tak terhingga (infinite helix). Teknik Pemesinan 38 .12. Agar mudah dimengerti. Jenis-jenis dan bentuk beram proses pemesinan pada saat mulai terbentuk. Gambar 2 11.Gambar 2 10. Gambar 2. di bawah ini memberikan penjelasan tentang teori terbentuknya beram pada proses pemesinan.

kemudian bahan pada akhirnya luluh akibat geser. dua dimensi terbentuknya beram (chips). berikut menjelaskan tentang daerah pemotongan yang digambarkan dengan garis-garis arusnya. Material benda kerja di depan pahat dengan cepat melengkung ke atas dan tertekan pada bidang geser yang sempit (di Gambar 2.13. Ketika bahan benda kerja bergerak dari material yang utuh ke daerah geser. Ketika pahat bergerak maju. dan selanjutnya menjadi beram. terlihat sebagai garis tebal) . Apabila material rapuh. deformasi elastis akan diikuti deformasi plastis.12. Gambar 2. Apabila materialnya ulet.Gambar 2 12. retakan tidak akan muncul dan beram akan berbentuk pita kontinyu. bidang Teknik Pemesinan 39 . maka beram tersebut lepas. material di depannya bergeser pada bidang geser tersebut. daerah geser tersebut disederhanakan menjadi sebuah bidang. Seperti pada diagram tegangan regangan logam. Apabila hasil deformasi pada bidang geser terdorong material yang berikutnya. Untuk mempermudah analisis. beram secara periodik retak dan menghasilkan beram berbentuk kecil-kecil. kemudian terpotong.

Gambar 2 13. Pada proses ini hanya memerlukam daya deformasi yang rendah dan perubahan sifat mekanik yang terjadi juga kecil. Pada waktu proses pengerjaan panas berlangsung. Gambar skematis terbentuknya beram yang dianalogikan dengan pergeseran setumpuk kartu. (d) Sifat- Teknik Pemesinan 40 . Proses ini juga mempunyai keuntungankeuntungan antara lain: (a) Porositas dalam logam dapat dikurangi. logam berada dalam keadaan plastik dan mudah di bentuk oleh tekanan. Mengenal Proses Pengerjaan Panas Guna membentuk logam menjadi bentuk yang lebih bermanfaat. Gambar 2 14. Pengerjaan logam dengan mesin bubut C. (b) Ketidakmurnian dalam bentuk inklusi terpecah-pecah dan tersebar dalam logam. biasanya dibutuhkan proses pengerjaan mekanik di mana logam tersebut akan mengalami deformasi plastik dan perubahan bentuk. Salah satu pengerjaan itu adalah pengerjaan panas. Pengerjaan panas logam dilakukan di atas suhu rekristalisasi atau di atas daerah pengerasan kerja. (c) Butir yang kasar dan berbentuk kolom diperhalus.

Struktur yang kasar. Gambar 2 15. Adapun lebarnya hanya bertambah sedikit. yaitu pada suhu yang tinggi terjadi oksidasi dan pembentukan kerak pada permukaan logam sehingga penyelesaian permukaan tidak bagus. Pada proses pengerolan suatu logam. Namun demikian. bentuk profil. Penempaan (Forging) Proses penempaan ini ada berbagai jenis. Mesin pengerollan (rolling) Salah satu akibat dari proses dari pengolahan adalah penghalusan butir yang disebabkan rekristalisasi. dan batang. penempaan upset.sifat fisik meningkat. penempaan tekan. Hal itu akan berakibat pada toleransi dari benda tersebut menjadi tidak ketat. pada proses pengerjaan ini juga ada kerugiannya. 2. keseragaman suhu sangat penting karena berpengaruh pada aliran logam dan plastisitas. Struktur yang kasar. di antaranya penempaan palu. kembali menjadi struktur memanjang akibat pengaruh penggilingan. Salah satu akibat dari proses pengolahan adalah penghalusan butir yang disebabkan rekristalisasi. penempaan timpa. Proses pengerjaan panas dengan pengerolan ini biasanya digunakan untuk membuat rel. 1. (e) Jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengubah bentuk logam dalam keadaan plastik lebih rendah. diubah bentuknya menjadi produk berguna melalui pengerolan. Proses pengerjaan panas logam ini ada bermacam-macam. dan penempaan rol. Teknik Pemesinan 41 . kembali menjadi struktur memanjang akibat pengaruh penggilingan. Pada operasi pengerolan. antara lain: Pengerolan (Rolling) Batangan baja yang membara. ketebalan logam mengalami deformasi terbanyak. pelat.

c. Mengenal Proses Mesin Konversi Energi 3. sehingga dapat memindahkan manusia/barang dari suatu tempat ke tempat lain. enga kata lain availabilitas adalah kemampuan sistem untuk menghasilkan kerja yang berguna. Dalam hal ini bensin satu liter memiliki energi dalam yang siap dirubah menjadi kerja yang berguna (availabilitas). misal turbin air akan mengubah energi potensial menjadi energi mekanik untuk memutar generator listrik. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnakan.D. Sebagai contoh pada proses pembakaran pada mesin mobil/motor (sistem motor pembakaran dalam). tetapi dapat berubah bentuk (konversi) dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain. bensin satu liter dikonversi menjadi kerja yang berhasil guna tinggi. Macam-Macam Energi a. Menurut hukum Termodinamika Pertama. dinyatakan dalam Watt-jam atau kilo Watt-jam. Pengertian Energi Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Energi Potensial Merupakan energi karena posisinya di tempat yang tinggi. Teknik Pemesinan 42 . Energi bersifat abstrak yang sukar dibuktikan tetapi dapat dirasakan adanya. Energi Mekanik Energi meknik merupakan energi gerak. b. Contohnya air waduk di pegunungan dapat dikonversi menjadi energi mekanik untuk memutar turbin selanjutnya dikonversi lagi menjadi energi listrik. Energi listrik dapat disimpan sebagai energi medan elektrostatis yang merupakan energi yang berkaitan dengan medan listrik yang dihasilkan oleh terakumulasinya muatan elektron pada pelat-pelat kapasitor. Bentuk transisinya adalah aliran elektron melalui konduktor jenis tertentu. yakni menjadi energi gerak/mekanik pada mobil/motor. energi bersifat kekal. Arus listrik akan mengalir bila penghantar listrik dilewatkan pada medan magnet. Energi Listrik Energi Listrik adalah energi yang berkaitan dengan arus elektron. 4.

dan energi listrik d. Teknik Pemesinan 43 . e. yakni elektron volt (eV) atau mega elektro volt (MeV). Bila dalam reaksi kimia energinya terserap maka disebut dengan reaksi endodermis. Bila energi dilepas dalam suatu reaksi maka reaksinya disebut reaksi eksotermis yang dinyatakan dalam kJ.Gambar 2 16. PLTA. Sumber energi bahan bakar yang sangat penting bagi manusia adalah reaksi kimia eksotermis yang pada umumnya disebut reaksi pembakaran. Energi kimia hanya dapat terjadi dalam bentuk energi tersimpan. atau kKal. energi mekanik. Btu. Energi Elektromagnetik Energi elektromagnetik merupakan bentuk energi yang berkaitan dengan radiasi elektromagnetik. Reaksi pembakaran melibatkan oksidasi dari bahan bakar fosil. Energi radiasi dinyatakan dalam satuan energi yang sangat kecil. Energi Kimia Energi kimia merupakan energi yang keluar sebagai hasil interaksi elektron di mana dua atau lebih atom/molekul berkombinasi sehingga menghasilkan senyawa kimia yang stabil. konversi energi dari energi potensial. yang juga digunakan dalam evaluasi energi nuklir.

Energi Termal Energi termal merupakan bentuk energi dasar di mana dalam kata lain adalah semua energi yang dapat dikonversikan secara penuh menjadi energi panas. Gambar 2 18. Bentuk energi transisi dan energi termal adalah energi panas. Teknik Pemesinan 44 . Satuan yang digunakan adalah juta elektron reaksi. Energi ini dilepas sebagai hasil usaha partikel-partikel untuk memperoleh kondisi yang lebih stabil. Pada reaksi nuklir dapat terjadi peluluhan radioaktif. Salah satu reaktor nuklir g.Gambar 2 17. Energi Nuklir Energi Nuklir adalah energi dalam bentuk energi tersimpan yang dapat dilepas akibat interaksi partikel dengan atau di dalam inti atom. dapat pula dalam bentuk energi tersimpan sebagai kalor ”laten” atau kalor “sensible” yang berupa entalpi. pengonversian dari energi termal ke energi lain dibatasi oleh hukum Termodinamika II. Sebaliknya. Accu sebagai bentuk energi kimia f. fisi. dan fusi.

Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi Mesin-mesin konversi energi secara sederhana dapat diklasifikasikan menjadi dua. Mesin konversi energi konvensional umumnya menggunakan sumber energi konvensional yang tidak terbarui. Gambar 2 20. material utama berupa angin dengan kecepatan tertentu yang mengenai turbin angin sehingga menjadi gerak mekanik dan listrik. Pemanfaatan energi angin 5. Mesin konversi dari panas ke uap h. dan umumnya dapat diklasifikasikan menjadi motor pembakaran dalam. kecuali mesin energi konvensi berbahan dasar nuklir. mesin-mesin fluida. Mesin konversi energi non-konvensial umumya menggunakan energi yang dapat diperbarui. Teknik Pemesinan 45 . yaitu mesin konversi energi konvensional dan mesin energi konversi non-konvensional.Gambar 2 19. kecuali turbin hidropower. dan mesin pendingin dan pengkondisian udara. Energi Angin Energi angin merupakan energi yang tidak akan habis. motor pembakaran luar.

Efisiensi pengonversian energinya berkisar 30% ( t ±30%). atau Beau de Roches merupakan mesin pengonvesi energi tak langsung. dimuliai ketika piston bergerak mencapai titik tertentu sebelum titik mati atas busi memercikan bunga api. Bahan bakar standar motor bensin adalah isooktan (C8H18). terjadilah kerja. Teknik Pemesinan 46 . Sistem siklus kerja motor bensin dibedakan atas motor bensin dua langkah (two stroke). mengalir ke dalam silinder. Namun sulit untuk mengisi secara penuh volume langkah dengan campuran bersih. dan sebagian darinya mengalir langsung ke luar silinder selama langkah bilas. 2) Motor Bensin Empat Langkah Motor bensin empat langkah adalah motor yang pada setiap empat langkah torak/piston (dua putaran engkol) sempurna menghasilkan satu tenaga kerja (satu langkah kerja). Ketika saluran masuk terbuka. Hal ini karena kerugian 50% (panas. Piston dan saluran-saluran umumnya dibentuk membelokan campuran yang masuk langsung menuju saluran buang dan juga ditunjukkan untuk mendapatkan pembilasan gas residu secara efektif. campuran bahan bakar dan udara bersih tertekan di dalam rumah engkol. Motor pembakaran dalam Motor pembakaran dalam dikembangkan oleh Motos Otto. gesek/mekanis. dan pembakaran tak-sempurna). 1) Motor Bensin Dua Langkah Motor bensin dua langkah adalah motor yang pada dua langkah torak/piston (satu putaran engkol) sempurna akan menghasilkan satu langkah kerja. Energi kimia bahan bakar tidak dikonversikan langsung menjadi energi mekanis. b) Langkah kerja atau ekspansi. Setiap siklus mesin dengan satu langkah tenaga diselesaikan dalam satu kali putaran poros engkol. Sebagian besar gas yang terbakar keluar silinder dalam proses exhaust blowdown. dan empat langkah (four stroke). piston menghisap campuran bahan bakar udara bersih ke dalam rumah engkol. Pada awalnya saluran buang dan saluran masuk terbuka.a. yaitu dari energi bahan bakar menjadi energi panas dan kemudian baru menjadi energi mekanis. a) Langkah kompresi dimulai dengan penutupan saluran masuk dan keluar kemudian menekan isi silinder dan di bagian bawah. Bila piston mencapai titik mati atas. pembakaran dimulai.

c) Langkah kerja.Gambar 2 21.Pe. piston mendorong keluar sisa gas pembakaran hingga piston mencapai titik mati atas. Ketika katup buang membuka.a Teknik Pemesinan 47 .L. Ketika piston mencapai titik mati bawah. Langkah ini berakhir hingga katup masuk menutup. demikian seterusnya. Sesaat sebelum akhir langkah kompresi.a D2 S . yang dimulai saat piston hampir mencapai titik mati atas dan berakhir sekitar 45o sebelum titik mati bawah. Gas bertekanan tinggi menekan piston turun dan memaksa engkol berputar.75. diawali ketika kedua katup tertutup dan campuran di dalam silinder terkompresi sebagian kecil dari volume awalnya. atau langkah ekspansi. Bila piston mencapai titik mati atas. pembakaran dimulai dan tekanan silinder naik lebih cepat. katup buang terbuka untuk memulai proses pembuangan dan menurunkan tekanan silinder hingga mendekati tekanan pembuangan.. Udara dan bahan bakar terhisap ke dalam silinder.L.75. d) Langkah pembuangan. Siklus motor bensin 4 langkah a) Langkah pemasukan dimulai dengan katup masuk terbuka.n 4 60. katup buang tertutup. piston bergerak dari titik mati atas dan berakhir ketika piston mencapai titik mati bawah. dimulai ketika piston mencapai titik mati bawah. b) Langkah kompresi. antara lain: Daya efektif: Ne Daya indikatif: Ni D2 S .n 4 60. e) Perhitungan daya motor didasarkan pada dimensi mesin. katup masuk membuka.Pi.

Turbin air Turbin dilengkapi dengan sudu-sudu. Apabila kemudian ternyata bahwa roda turbin dapat berputar. uap air. Gaya tersebut timbul karena terjadinya perubahan momentum dari fluida kerja yang mengalir di Teknik Pemesinan 48 . Jadi.empat langkah a=2 b. Di dalam turbin fluida kerja mengalami proses ekspansi. maka akan timbul gaya yang bekerja pada sudu. pompa.di mana D : diameter silinder (cm2) L i : panjang langkah torak (m) : jumlah silinder Pe : tekanan efek rata-rata (kgf/cm2) Pi : tekanan indikatif rata-rata (kgf/cm2) n a : putaran mesin (rpm) : . Pada roda turbin terdapat sudu dan fluida kerja akan mengalir melalui ruang di antara sudu tersebut. berbeda dengan yang terjadi pada mesin torak. Fluida kerjanya dapat berupa air. Turbin Turbin adalah mesin penggerak. atau gas. Bagian berputar dinamai stator atau rumah turbin. kompresor. yaitu proses penurunan tekanan. baling-baling atau mesin lainnya). Gambar 2 22. pada turbin tidak terdapat bagian mesin yang bergerak translasi.dua langkah a=1 . Roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan atau memutar bebannya (generator listrik. di mana energi fluida kerja dipergunakan langsung untuk memutar roda turbin. dan mengalir secara kontinu.

Gambar 2 23. Jadi.antara sudu. sudu turbin haruslah dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat terjadi perubahan momentum pada fluida kerja tersebut. Sebuah sistem turbin gas Teknik Pemesinan 49 .

BAB 3 MEREALISASI KERJA YANG AMAN Teknik Pemesinan 50 .

produk Input Proses Produksi Prosedur kerja Outcomes. peka Gambar 3 1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) elalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/aktivitas pekerjaan. kecelakaan/potensi kecelakaan kerja harus dicegah/dihilangkan.A. Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha. Karena itu sedapat mungkin dan sedini mungkin. impak. & selamat Tempat kerja Lingkungan kerja Output. Hubungan antar variabel pada sistem keselamatan kerja. sebagaimana digambarkan dalam bagan berikut : Tujuan nyaman. nss. tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi. sehat. atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. sehat dan selamat selama bekerja. Teknik Pemesinan 51 . sadar. seberapa pun kecilnya. akan mengakibatkan efek kerugian (loss). S Adapun tujuan penanganan K3 adalah agar pekerja dapat nyaman.

tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). bahaya-bahaya di atas dibagi ke dalam empat kelas. Peraturan Pemerintah RI No. dll. ruang kerja. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan. 1. situasi. Karakteristik pekerjaan itu sendiri 5. Kecepatan kerja (paced work). dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud. kondisi. umur pekerja. pelatihan. kebisingan. kejadian. suhu. proses.Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan "derajad keparahannya". material. beban kerja (workload). gejala.: 74 Tahun 2001. 3. bahaya/resiko dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu : 1. dsb. bahan/material. pekerjaanpekerjaan yang harus diawali dengan "pemanasan prosedural". faktor ergonomi. Kelelahan (fatigue) 2. sifat pekerjaan itu sendiri yang berbahaya. Manajemen Bahaya Aktivitas. Jika kecelakaan terjadi maka akan sangat mempengauhi produktivitas kerja. Bahaya/resiko pekerjaan/tugas Misalnya : pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara manual. pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work). Bahaya/resiko lingkungan Termasuk di dalamnya adalah bahaya-bahaya biologi. dan segala sesuatu yang ada di tempat kerja/berhubungan dengan pekerjaan yang menjadi/berpotensi menjadi sumber kecelakaan/cedera/penyakit dan kematian disebut dengan Bahaya/Resiko. maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. cahaya dan pencahayaan. Personal Protective Equipment. peralatan dan perlengkapan dalam pekerjaan. Secara garis besar. ditengarai penyebab awalnya (pre-cause) adalah kurangnya training 4. simultan. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe working condition) 3. getaran. 2. panas/termal. kualitas udara. yaitu : Teknik Pemesinan 52 . kimia. termasuk kekerasan. kelelahan dan stress dalam pekerjaan. Bahaya/resiko manusia Kejahatan di tempat kerja. Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal. dll.

juga dikenal sebagai engineering control 2. Pada saat perlengkapan/peralatan kerja dibeli. Pengendalian administratif/administrative controls 5. Low risk Dalam manajemen bahaya (hazard management) dikenal lima prinsip pengendalian bahaya yang bisa digunakan secara bertingkat/bersama-sama untuk mengurangi/menghilangkan tingkat bahaya. Pada saat prosedur operasional sedang dibuat 3. High risk c. Pemisahan waktu/time separation c. Penggantian/substitution. Ada tiga tahap penting (critical stages) di mana kelima prinsip tersebut sebaiknya diimplementasikan. yaitu : 1. yaitu : 1. Pada saat pekerjaan dan fasilitas kerja sedang dirancang 2. Perlengkapan perlindungan personnel/Personnel Protective Equipment (PPE). Teknik Pemesinan 53 . Moderate risk d. Pemisahan fisik/physical separation b. Ventilasi/ ventilation 4.a. Pemisahan jarak/distance separation 3. Extreme risk b. Pemisahan/separation a.

Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise) Kebisingan sampai pada tingkat tertentu bisa menimbulkan gangguan pada fungsi pendengaran manusia. kebingungan. condition Sanitati on SMK3 Ergonomic job hazard analysis Combine Coordintion lightin’ HERSMIS Simplific ationSOP Education promotion Gambar 3 2.key word Health exam OHS analysis Environt analysis Desain develop Isolation. yaitu : 1. Dampak ini berhubungan langsung dengan fungsi (perangkat keras) pendengaran. suara dering/berfrekuensi tinggi dalam telinga. termasuk bagaimana prinsip pengendalian kecelakaan kerja dilakukan. dilution Eliminate. Dampak auditorial (Auditory effects) 2. Dampak non-auditorial (Non-auditory effects) 4. 3. 2. Saling keterkaitan kata kunci dalam penanganan masalah. seperti hilangnya/berkurangnya fungsi pendengaran. seperti gangguan cara berkomunikasi. dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keamanan kerja. digambarkan melalui bagan berikut : HERS (health. stress. preventive. modificate substitue HERS oriented. environment.Beberapa kata kunci yang saling berkaitan dalam penanganan masalah keselamatan kerja. Resiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara permanen. protection Change. reduction. Dampak ini bersifat psikologis. Teknik Pemesinan 54 . Secara umum dampak kebisingan bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar. safety) ……. risk. anticipate Ventilate.. Dan jika resiko ini terjadi (biasanya secara medis sudah tidak dapat diatasi/"diobati"). sudah barang tentu akan mengurangi efisiensi pekerjaan si penderita secara signifikan.

tempat kebisingan bisa menjadi sumber bahaya yang potensial bagi pekerja antara lain : 1. Pekerjaan pemipaan (plumbing) 3. 6. 8. 7. Formula NIOSH (National Institute of Occupational Safety & Health) untuk menghitung waktu maksimum yang diperkenankan bagi seorang pekerja untuk berada dalam tempat kerja dengan tingkat kebisingan tidak aman adalah sebagai berikut : T 480 2 (L 85)/3 Di mana : T = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam menit) L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 3 = exchange rate Bandingkan formula yang telah ditetapkan oleh NIOSH tersebut dengan formula yang masih biasa digunakan. Sedangkan jenis industri. Pertambangan batu bara dan berbagai jenis pertambangan logam. Percakapan biasa (45-60 dB) Bor listrik (88-98 dB) Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB) Gergaji mesin (110-115 dB) Musik rock (metal) (115 dB) Sirene ambulans (120 dB) Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan (140 dB) Pesawat terbang jet (140 dB). yakni : T 8 2(L 90)/5 Teknik Pemesinan 55 . Catatan : Lingkungan dengan tingkat kebisingan lebih besar dari 104 dB atau kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan harus menghadapi tingkat kebisingan lebih besar dari 85 dB selama lebih dari 8 jam tergolong sebagai high level of noise related risks.Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai tingkat keamanan kerja : 1. Industri perkayuan (wood working & wood processing) 2. 5. 2. 3. 4.

seperti “welder qualification”. Selalu ada resiko-resiko baru yang berhubungan dengan pekerjaan baru (welding). o Teknik Pemesinan 56 .... Penggantian (substitution) Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah Mengganti “jenis proses” mesin (dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah) dengan fungsi proses yang sama. termasuk analisis kekuatan struktur harus benar-benar diperhatikan (re-calculation).. Volume suara yang makin keras pada saat harus berbicara dengan orang lain 3. Jika hal yang sama terjadi pada anda. “Mengeraskan” sumber suara hingga tingkatan tertentu yang dianggap oleh seseorang sebagai kebisingan. dan radiasi cahaya. panas (high temperature).. contohnya pengelasan digunakan sebagai penggantian proses riveting. HATIHATI ! Mungkin fungsi pendengaran anda mulai terganggu.. Implementasi prinsip-prinsip pengendalian bahaya untuk resiko yang disebabkan oleh kebisingan : 1. welding equipment. misalnya: resiko karena adanya penggunaan tenaga listrik.Di mana : T = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam jam) L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 5 = exchange rate Seringkali seseorang mengira dirinya telah berhasil “beradaptasi” dengan lingkungan yang bising manakala tidak merasa terganggu lagi dengan “tingkat kebisingan” yang pada awalnya sangat mengganggu dirinya. Indikator adanya (potensi) gangguan kebisingan beresiko tinggi di antaranya : 1. Karena itu perlu juga dikembangkan prosedur-prosedur baru (prinsip pengendalian administratif) untuk membantu proses minimisasi resiko kerja. Terdengarnya suara-suara dering/berfrekuensi tinggi di telinga 2. Catatan : o Pertimbangan-pertimbangan teknis.

2. Pemasangan peredam akustik (acoustic barrier) dalam ruang kerja. Pemisahan (separation) 1) Pemisahan fisik (physical separation) Memindahkan mesin (sumber kebisingan) ke tempat yang lebih jauh dari pekerja 2) Pemisahan waktu (time separation) Mengurangi lamanya waktu yang harus dialami oleh seorang pekerja untuk “berhadapan” dengan kebisingan. Pemasangan peredam akustik. seperti pemberian dudukan mesin dengan material-material yang memiliki koefisien redaman getaran lebih tinggi. Rotasi pekerjaan dan pengaturan jam kerja termasuk dua cara yang biasa digunakan. Gambar 3 4. Contoh penggantian pada teknik penyambungan logam. Perlengkapan perlindungan personnel (personnel protective equipment/PPE) Penggunaan earplug dan earmuffs Teknik Pemesinan 57 .Gambar 3 3. 3. Modifikasi “tempat” mesin.

Pencahayaan Pencahayaan yang baik pada tempat kerja memungkinkan para pekerja melihat objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. 2. antara lain : 1. 4. Kelelahan mata sehingga berkurang daya dan efisiensi kerja Kelelahan mental Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata Kerusakan penglihatan Meningkatnya kecelakaan kerja. Ingat! Tidak ada jaminan bahwa semua tindakan terbebas dari resiko! Begitu sebuah resiko teridentifikasi. Perlengkapan perlindungan personel. 4. kurang Pencegahan kelelahan akibat pencahayaan yang memadai dapat dilakukan melalui berbagai cara. antara lain : 1.Gambar 3 5. 5. harus segera diambil tindakan penanggulangan. Sebaliknya. Peringatan untuk terus mengenakan PPE selama berada di dalam tempat dengan tingkat kebisingan tinggi. Perbaikan kontras : dengan memilih latar penglihatan yang tepat 2. Pengendalian administratif (administrative controls) Larangan memasuki kawasan dengan tingkat kebisingan tinggi tanpa alat pengaman. pencahayaan yang buruk dapat menimbulkan berbagai akibat. Beberapa kata kunci dalam upaya perbaikan pencahayaan di tempat kerja secara detil dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut : Optimalkan pencahayaan alami 1) Mengapa ? Teknik Pemesinan 58 . Meninggikan penerangan : menambah jumlah dan meletakkan penerangan pada daerah kerja 3. Selain itu pencahayaan yang memadai akan memberikan kesan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Pemindahan tenaga kerja : pekerja muda pada shift malam. 1. 3.

sehingga akan menghemat biaya. d) Atur agar langit-langit dan tata lampu dapat saling memantul sehingga pencahayaan makin merata. terendah pada warna hitam. putih = 80-90% pantulan) untuk langit-langit dan warna muda (50-85% pantulan) untuk dinding. c) Perluas atau pertinggi jendela agar makin banyak cahaya alamiah yang masuk. b) Hindari perbedaan kecerahan antara dinding dan langit-langit. sehingga kondusif untuk bekerja efisien.a) Cahaya alami adalah yang terbaik dan merupakan sumber cahaya yang murah. d) Sendirikan saklar lampu pada tempat dekat jendela agar dapat dimatikan bila cahaya alamiahnya terang. c) Jangan gunakan bahan/cat mengkilap agar tidak menyilaukan. b) Ubah tempat kerja atau lokasi mesin agar dapat lebih banyak terkena cahaya alamiah. c) Penggunaan cahaya alamiah merupakan gerakan ramah lingkungan. 2) Bagaimana caranya ? a) Bersihkan jendela dan pindahkan sekat yang menghalangi cahaya alamiah. Teknik Pemesinan 59 . e) Pasang genting transparan untuk menambah cahaya alamiah. 3) Petunjuk penting : a) Gabungkan cahaya alamiah dengan cahaya buatan untuk meningkatkan pencahayaan tempat kerja. hal ini terbukti dapat meningkatkan efisisiensi dan kenyamanan pekerja. c) Dinding dan langit-langit yang cerah akan membuat ruangan menjadi nyaman. d) Permukaan warna cerah penting dalam pekerjaan teliti dan pemeriksaan 2) Bagaimana caranya ? a) Untuk mendapatkan pantulan sempurna gunakan warna paling cerah (mis. atau cuaca dingin di musim dingin. b) Dinding dan langit-langit yang cerah akan menghemat energi karena dengan sedikit cahaya dapat meningkatkan penerangan kamar. Pantulan terbesar pada warna putih (90%). c) Di musim panas cegah bukaan jendela dari sinar matahari langsung. b) Cermatilah : jendela dan genting kaca akan menyebabkan cuaca panas di musim panas. b) Pemerataan cahaya dalam tempat kerja dapat ditingkatkan melalui cahaya alami. Gunakan warna cerah pada dinding dan langit-langit 1) Mengapa ? a) Perbedaan warna akan memberikan perbedaan pantulan.

e) Tempatkan saklar dekat pintu masuk/keluar lorong dan tangga. 1) Mengapa ? a) Tempat gelap menyebabkan kecelakaan. tangga. d) Penerangan yang baik pada lorong dan tangga mencegah kecelakaan pekerja dan tamu. c) Pindahkan lampu agar makin terang. balik pintu dan gudang cenderung terlindung dan gelap karena tidak terjangkau sinar matahari. f) Gunakan warna cerah pada tangga agar nampak jelas. karena debu akan menyerap banyak cahaya.3) Petunjuk penting : a) Bersihkan dinding dan langit-langit secara teratur. tetapi hal ini penting bagi keselamatan transportasi dan perpindahan orang/barang. 3) Petunjuk penting : a) Tata lampu adalah bagian penting dalam pemeriksaan berkala dan program pemeliharaan. lorong dan gudang digunakan secara teratur. b) Penerangan pada lorong. apalagi pada pemindahan barang-barang. turunan. 2) Bagaimana caranya ? a) Bersihkan jendela dan pasang lampu. b) Pindahkan sekat yang menghalangi sinar masuk. tetapi juga memberikan pencahayaan yang merata serta mencegah bertumpuknya kotoran. Terangi lorong. c) Pasang saklar otomatis bila tangga. c) Penerangan yang memadai pada tempat-tempat ini akan mencegah kerusakan bahan dan produk. Pencahayaan merata mengurangi perubahan cahaya 1) Mengapa ? a) Perubahan pandangan dari terang ke gelap memerlukan adaptasi mata dan membutuhkan waktu serta menimbulkan kelelahan. dll. c) Warna cerah dinding dan langit-langit membuat lingkungan kerja menjadi nyaman dan efektif. atau jika tiba-tiba mati dapat menimbulkan kecelakaan. b) Bagian atas lampu yang terbuka bukan hanya memberikan pantulan dari langit-langit. b) Tangga. tangga dan gudang boleh jadi kurang daripada di ruang produksi. d) Usahakan cahaya alamiah dengan membuka pintu atau memasang jendela dan genting kaca. mengurangi kerusakan produk dan meningkatkan citra perusahaan. Teknik Pemesinan 60 . sehingga perlu perhatian pada daerah ini.

d) Pertimbangkan umur pekerja. b) Pemasangan lampu mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan. c) Penerangan yang memadai dan pas akan membantu pekerja mengawasi benda kerja secara cepat dan rinci sesuai tuntutan tugas. sekat. d) Bayangan pada permukaan benda kerja menyebabkan hasil kerja buruk. 3) Petunjuk lain : a) Rawatlah tata lampu secara rutin. karena tidak ekonomis dan mengurangi terangnya ruang kerja. banyak cara untuk mencapai hal itu. b) Penerangan memadai mengurangi kesalahan dan kecelakaan. yang tua perlu penerangan lebih besar. 2) Bagaimana caranya ? a) Kombinasikan cahaya alamiah dan cahaya buatan. pantulan dinding serta perbaikan layout ruang kerja. reflektor. d) Usahakan penerangan yang baik dan memadai secara murah. gangguan & kelelahan mata. jendela. c) Ubah posisi lampu dan arah cahaya agar jatuh pada objek kerja. b) Warna dinding yang cerah memantulkan lebih banyak cahaya dan memperbaiki atmosfer ruang kerja. c) Penting untuk mencegah kelap-kelip. 2) Bagaimana caranya ? a) Hilangkan kap. e) Penerangan diatur agar lebih mudah mengamati objek. dinding. c) Periksalah kesehatan mata pekerja > 40 tahun. Penerangan yang memadai menjadikan pekerjaan efisien dan aman sepanjang waktu 1) Mengapa ? a) Penerangan memadai meningkatkan kenyamanan pekerja dan ruang kerja. e) Hindari cahaya bergetar dengan menukar neon dengan lampu pijar. dan kecelakaan. bersihkan lampu. karena biasanya mereka berkaca mata. produktifitas rendah.b) Bekerja menjadi lebih nyaman dan efisien pada ruangan dengan variasi penerangan kecil. d) Kurangi zone bayangan dengan pemasangan lampu. dsb. b) Pertimbangkan untuk mengubah ketinggian lampu dan menambah penerangan utama agar ruang makin terang. karena melelahkan mata. Teknik Pemesinan 61 . c) Gunakan cahaya alamiah.

d) Kurangi silau dari jendela dengan sekat. e) Pasang lampu lokal.Pasang penerangan lokal untuk pekerjaan peliti dan pemeriksaan 1) Mengapa ? a) Dibanding dengan pekerjaan produksi dan kantor. mudah dibersihkan dan dirawat. tabir. pasang lampu pada batang yang tegar. dsb. d) Lampu pijar timbulkan panas. b) Lampu lokal dipasang sedekat mungkin dengan benda kerja. d) Pastikan kombinasi cahaya alamiah dan buatan memberikan kontras antara benda kerja dan bidang latar. c) Pindahlan lampu di atas kepala atau naikkan. b) Pada mesin yang bergetar. b) Jangan pakai lampu telanjang (pakailah kap). f) Ubah arah pencahayaan. b) Usahakan penerangan lokal mudah dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan. tirai. 2) Bagaimana caranya ? a) Pasang panel display atau layar. b) Penerangan lokal yang memadai akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi. c) Banyak cara mengurangi silau. e) Pemasangan lampu lokal yang tepat menghemat energi dan sangat efektif. 3) Petunjuk lain : a) Ganti kaca jendela dari bening ke buram. c) Kombinasi penerangan utama dan lokal akan diperoreh penerangan memadai dan mengurangi gangguan akibat adanya bayangan. Pindahkan sumber cahaya atau pasang tabir untuk mengurangi silau 1) Mengapa? a) Silau langsung atau pantulan mengurangi daya lihat orang. c) Gunakan kap agar tidak menyilaukan. 3) Petunjuk penting : a) Pastikan penerangan lokal tidak mengganggu pandangan pekerja. hindari ini dengan memasang lampu TL. Teknik Pemesinan 62 . b) Silau menyebabkan tidak nyaman dan kelelahan mata. pekerjaan presisi dan pemeriksaan memerlukan lebih banyak penerangan. c) Gunakan neon untuk pekerjaan warna yang cermat. 2) Bagaimana caranya? a) Pasang penerangan lokal dekat dan di atas pekerjaan teliti dan pemeriksaan.

Ventilasi umum : pengeluaran udara terkontaminasi dari suatu ruang kerja melalui suatu bukaan pada dinding bangunan dan pemasukan udara segar melalui bukaan lain atau kebalikannya. b) Coba berbagai posisi agar diperoleh pencahayaan yang baik. 2) Bagaimana caranya? a) Bersihkan secara teratur.Pindahkan benda mengkilap agar tidak menyilaukan 1) Mengapa ? a) Silau tidak langsung sama dengan silau langsung dapat mengurangi daya lihat tenaga kerja. Teknik Pemesinan 63 . sehingga perlu penerangan yang baik. c) Kurangi nyala lampu. 2) Bagaimana caranya ? a) Kurangi pantulan dari permukaan mengkilap atau pindahkan letaknya. c) Pantulan menyilaukan membuat mata lelah dan menurunkan kinerja. Ventilasi pengeluaran setempat : pengisapan dan pengeluaran kontaminan secara serentak dari sumber pancaran sebelum kontaminan tersebar ke seluruh ruangan. hindarilah hal tsb. Bersihkan jendela dan pelihara sumber penerangan 1) Mengapa ? a) Penerangan yang kotor dan tidak terpelihara akan mengurangi pencahayaan. Ventilasi penurunan panas : perlakuan udara dengan pengendalian suhu. 3) Petunjuk lain : a) Pekerja tua lebih sensitif thd silau. d) Buat latar yang terang di belakang benda kerja. Ventilasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis : 1. 3. b) Membuat kurang nyaman dan kelelahan mata. c) Pemeliharaan akan menambah umur bola lampu. 3. kecepatan aliran dan distribusi untuk mengurangi beban panas yang diderita pekerja. b) Pemeliharaan dan kebersihan akan menghemat energi. b) Petugas memadai dalam hal alat dan keterampilan. kelembaban. d) Sedapat mungkin gunakan lampu yang kapnya terbuka agar debu tidak menumpuk. c) Rencanakan program pemeliharaan sebagai program terpadu. 2. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi Pengendalian bahaya akibat pencemarann udara atau kondisi udara yang kurang nyaman dapat dilakukan antara lain dengan pembuatan ventilasi yang memadai. b) Gunakan penutup pada benda mengkilap. Disebut juga sebagai ventilasi pengenceran.

Terjadi karena perbedaan tekanan udara sehingga timbul angin. 5. dsb. Teknik Pemesinan 64 . 2. Memberikan penyegaran udara agar diperoleh kenyamanan dengan menurunkan tekanan panas. Secara alamiah di mana aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan alami. hilang waktu kerja karena sakit dan kecelakaan. Menurunkan kadar yang tidak menimbulkan kebakaran atau peledakan yaitu di bawah Batas Ledak Terendah (BLT) atau Lower Explosive Limit (LEL). atau perbedaan suhu yang mengakibatkan beda kerapatan udara antara bangunan dengan sekelilingnya. 4. kebakaran. Menurunkan kadar kontaminan dalam lingkungan kerja sampai pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan pekerja yaitu di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) sehingga terhindar dari keracunan. Mencegah kerugian ekonomi karena kerusakan mesin oleh korosi. Adapun cara membuat sistem ventilasi terdiri dari : 1. peledakan. 3.Maksud dibuatnya sistem ventilasi adalah : 1. Meningkatkan ketahanan fisik dan daya kerja pekerja.

Gambar 3 6. The proper amount of clearance from the upstand to the open ridge allow for the continuous upward flow exhaust air Teknik Pemesinan 65 . Aliran udara pada ventilasi (1). Overshot Roof Blowing Precipitation from this side is deflected Blowing Precipitation from this side enters building Falling Precipitation runs of the roof Overshot Roof with Upstand Blowing Precipitation from this side is deflected Both falling and blowing precipitation is deflected from the building.

Selain itu juga menyebabkan kelelahan. Teknik Pemesinan 66 . Gambar 3 8. Optimalkan penggunaan ventilasi alamiah agar udara ruang kerja nyaman. blower dan ventilasi atap. 2.Gambar 3 7. sakit kepala. pusing. Untuk mendapatkan ventilasi udara ruang kerja yang baik perlu dicermati beberapa kata kunci sebagai berikut : 1. Udara segar dapat menghilangkan udara panas dan polusi. iritasi mata dan tenggorokan. sehingga terjadi inefisiensi. 2. Udara kotor menjadi penyebab gangguan kesehatan sehingga mengarah pada kecelakaan kerja. 2) Kipas angin dipasang di dinding. 3) Kipas angin berfungsi mengisap atau mengeluarkan kontaminan. Aliran udara pada ventilasi (2). Secara mekanis melalui : 1) Aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan mekanis seperti kipas. tetapi juga dapat memasukkan udara. jendela. Pasang sistem pengeluaran udara kotor yang efisien dan aman. atau atap. Pengendalian udara masuk.

telinga. Ventilasi yang baik dapat membantu mengendalikan dan mencegah akumulasi panas. Alat Perlindungan Diri Secara teknis bagian tubuh manusia yang harus dilindungi sewaktu bekerja adalah : kepala dan wajah. tangan. umumnya berupa : Pelindung kepala dan wajah (Head & Face protection) Pelindung mata (Eyes protection) Pelindung telinga (Hearing protection) Pelindung alat pernafasan (Respiratory protection) Pelindung tangan (Hand protection) Pelindung kaki (Foot protection) Gambar 3 9.3. mata. badan dan kaki. Optimalkan sistem ventilasi untuk menjamin kualitas udara ruang kerja. Teknik Pemesinan 67 . Aliran udara yang baik pada tempat kerja sangat penting untuk mencapai kerja produktif dan sehat. 4. Pakaian yang memenuhi syarat keselamatan kerja. Untuk itu penggunaan alat perlindungan diri pekerja sangat penting.

6. Gambar 3 10. 3. Bekerja secara aman. cuci dan kakus agar terjamin kesehatan. Teknik Pemesinan 68 .Kata kunci untuk pengaturan APD (Alat Perlindungan Diri) 1. Gambar 3 11. Sediakan tempat makan dan istirahat yang layak agar unjuk kerja baik. Bekerja secara aman. 5. 4. Buat petunjuk dan peringatan yang jelas. 2. Perbaiki fasilitas kesejahteraan bersama pekerja. Upayakan perawatan/kebersihan tempat ganti. Sediakan ruang pertemuan dan pelatihan. Sediakan APD secara memadai.

lengkap. Bekerja secara aman. 8. Penjelasan teknis pengunaan alat.7. Pelatihan K3. 10. Yakinkan bahwa penggunaan APD dapat diterima oleh pekerja. Gambar 3 13. Pastikan penggunaan APD melalui petunjuk yang penyesuaian dan latihan. Sediakan layanan untuk pembersihan dan perbaikan APD secara teratur. 11. Teknik Pemesinan 69 . Gambar 3 12. Gambar 3 14. Pilihlah APD terbaik jika risiko bahaya tidak dieliminasi dengan alat lain. Yakinkan bahwa penggunaan APD sangat diperlukan. 9.

Gambar 3 15. 12. Gambar 3 16. Peminjaman alat. Penanganan dan Penyimpanan Bahan 1. Tandai dan perjelas rute transport barang. 13. Gambar 3 17. Rak penyimpanan alat K3. Rute transport barang. Pantau tanggung jawab atas kebersihan dan pengelolaan ruang kerja 2. Teknik Pemesinan 70 . Sediakan tempat penyimpanan APD yang memadai.

tidak licin dan tanpa rintangan. Jalur arus dua arah. Gambar 3 20. Kemiringan tanjakan 5-8%. Permukaan jalan rata.2. 3. Perbaiki layout tempat kerja. Layout tempat kerja. anak tangga yang rapat. Gambar 3 18. Teknik Pemesinan 71 . Pintu dan gang harus cukup lebar untuk arus dua arah. Gambar 3 19. Permukaan jalan tidak rata serta kemiringan tangga 5. 4.

Hilangkan/kurangi perbedaan ketinggian permukaan. 13. 9. Rak penyimpanan barang serta keretta beroda 8. dll. Gambar 3 22. 12. Gunakan rak bertingkat di dekat tempat kerja. Gunakan kereta beroda untuk pindahkan barang. Rak bertingkat serta alat pengangkat 10. 11. Gunakan konveyor. Bagi dalam bagian kecil-kecil. Konveyor dan kerek. Gunakan pegangan. kerek. Gambar 3 21. Gambar 3 23. 7. Gunakan alat pengangkat. Gunakan rak penyimpanan yang dapat bergerak/mobil. Teknik Pemesinan 72 .6.

Penempatan sampah. 20. Pemindahan horizontal serta posisi yang tidak efisien 16. 17. 15. Pemindahan horizontal lebih baik dengan daripada mengangkat/menurunkan. mendorong/menarik dengan cara Gambar 3 25. Dipikul supaya seimbang. Teknik Pemesinan 73 .Gambar 3 24. Gambar 3 26. Naik/turunkan barang secara perlahan di depan badan tanpa membungkuk dan memutar tubuh. Rapatkan beban ke tubuh sewaktu membawa barang. Pegangan serta perbedaan ketinggian 14. Kombinasikan pekerjaan angkat berat dengan tugas fisik ringan. Kurangi pekerjaan yang dilakukan membungkuk/memutar badan. Membawa barang serta naik turunkan barang 18. 19.

Dengan demikian usaha pencegahan harus dilakukan oleh setiap individu dan unit kerja agar jumlah peristiwa kebakaran. Kebakaran terjadi akibat bertemunya 3 unsur : bahan (yang dapat) terbakar. terpisah dari bahan lain. Gambar 3 27. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar Untuk mengendalikan bahan yang dapat terbakar agar tidak bertemu dengan dua unsur yang lain dilakukan melalui identifikasi bahan bakar tersebut. diberi sekat dari bahan tahan api. juga bahan yang bersifat mengoksidasi. Selain itu kewaspadaan diperlukan bagi bahan-bahan yang berada pada suhu tinggi. bahan yang relatif mudah terbakar seperti batu bara. Melalui pelatihan diharapkan peserta mampu mengidentifikasi potensi penyebab kebakaran di lingkungan tempat kerjanya dan melakukan upaya pemadaman kebakaran dini. titik nyala dan potensi menyala sendiri. Kebakaran merupakan peristiwa berkobarnya api yang tidak dikehendaki dan selalu membawa kerugian. Untuk mencegah terjadinya kebakaran adalah dengan mencegah bertemunya salah satu dari dua unsur lainnya. Bahan bakar yang memiliki titik nyala rendah dan rendah sekali harus diwaspadai karena berpotensi besar penyebab kebakaran. 1. cat. Bahan bakar dapat dibedakan dari jenis. kapuk. Penempatan sampah serta jalan keluar darurat 3. ruang penyimpanan terbuka atau dengan ventilasi yang cukup serta dipasang detektor kebocoran.21. plastik. kayu kering. penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sekecil mungkin melalui perencanaan yang baik. Tandai dengan jelas dan bebaskan jalan keluar darurat. suhu penyalaan/titik nyala dan zat pembakar (O2 atau udara). Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran Pertimbangan utama mengapa perlu upaya penanggulangan bahaya kebakaran adalah karena adanya potensi bahaya kebakaran di semua tempat. Bahan seperti ini memerlukan pengelolaan yang memadai : penyimpanan dalam tabung tertutup. Teknik Pemesinan 74 . bahan yang jika bertemu dengan air menghasilkan gas yang mudah terbakar (karbit). kertas.

Pengendalian bahan bakar 2. Gambar 3 29. karet. reaksi eksoterm. petir. Pengendalian titik nyala. api rokok. Sumber penyalaan yang lain: benda membara. bunga api. api pembakaran sampah. Pengendalian titik nyala Sumber titik nyala yang paling banyak adalah api terbuka seperti nyala api kompor. atau terjadi hubung singkat rangkaian listrik. Gambar 3 28.kain. sampah kering. jerami. lampu minyak. serta bahan-bahan yang mudah meledak pada bentuk serbuk atau debu. Api terbuka tersebut bila memang diperlukan harus dijauhkan dari bahan yang mudah terbakar. dsb. pemanas. Teknik Pemesinan 75 . timbulnya bara api juga terjadi karena gesekan benda dalam waktu relatif lama.

mencari keuntungan ganti rugi klaim asuransi. magnesium. plastik. petir. angin dan topan. Kebakaran kelas (tipe) D. busa. seperti : bensin. Kebakaran kelas (tipe) B. kurang hati-hati menggunakan alat dan bahan yang dapat menimbulkan api. 5. Peralatan pemadaman kebakaran Untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran perlu disediakan peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dan cocok untuk bahan yang mungkin terbakar di tempat yang bersangkutan. gemuk. sering terjadi pada gudang bahan kimia di mana bahan bereaksi dengan udara. Pengelompokan itu adalah : a. a. Klasifikasi kebakaran Berdasar Permennaker No. b. seperti : aluminium. yaitu kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar. Caranya dengan menimbunkan pada benda yang terbakar menggunakan sekop atau ember. LPG dll. Kebakaran kelas (tipe) C. letusan gunung berapi. tekstil. seperti : kurangnya pengertian pengetahuan penanggulangan bahaya kebakaran. yaitu kebakaran bahan padat kecuali logam. c. Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana 1) Air. karet. Kebakaran karena peristiwa alam. Persedian air dilakukan dengan cadangan bak-bak air dekat daerah bahaya. terutama berkenaan dengan cuaca. dll. Kebakaran karena sifat kelalaian manusia. sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran. 4. kayu. alkohol. misalnya sabotase. hilangkan jejak kejahatan. gempa bumi. murah dan tidak ada akibat ikutan (side effect). seperti : kertas. alat yang diperlukan berupa ember atau slang/pipa karet/plastik. 2) Pasir. dimaksudkan untuk pemilihan media pemadam kebakaran yang sesuai. dll. bahan yang dapat menutup benda terbakar sehingga udara tidak masuk sehingga api padam. c. yaitu kebakaran bahan logam.: 04/MEN/1980 penggolongan atau pengelompokan jenis kebakaran menurut jenis bahan yang terbakar. air dan juga dengan bahan-bahan lainnya yang mudah meledak atau terbakar. tujuan taktis pertempuran dengan jalan bumi hangus. yang sejenis dengan itu. bahan alam yang melimpah. Teknik Pemesinan 76 . Kebakaran karena kesengajaan untuk tujuan tertentu. yang sejenis dengan itu.3. Sebab-sebab kebakaran a. Kebakaran karena penyalaan sendiri. d. minyak. yaitu kebakaran listrik yang bertegangan d. Kebakaran kelas (tipe) A. b. kurangnya kesadaran pribadi atau tidak disiplin. kalium. aspal. sinar matahari. yang sejenis dengan itu.

Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. saluran air. atau selimut basah sangat efektif untuk menutup kebakaran dini pada api kompor atau kebakaran di rumah tangga. luasnya minimal 2 kali luas potensi api. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) APAR adalah alat yang ringan berupa tabung. 4) Tangga. 2) Sistem penyembur api (sprinkler system). serbuk kering (dry chemical) gas halon dan gas CO2. b. busa (foam).3) Karung goni. pipa kopel. kombinasi antara sistem isyarat alat pemadam kebakaran. Terdiri dari pompa. boks hidran (dalam gedung) berisi : slang landas. mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. Alat pemadam kebakaran besar Alat-alat ini ada yang dilayani secara manual ada pula yang bekerja secara otomatis. 1) Sistem hidran mempergunakan air sebagai pemadam api. Teknik Pemesinan 77 . gantol dan lain-lain sejenis. Konstruksi APAR sebagai berikut : Gambar 3 30. Jenis APAR meliputi : jenis air (water). dipergunakan untuk alat bantu penyelamatan dan pemadaman kebakaran. kain katun. Alat pemadam kebakaran. pilar hidran (di luar gedung). 3) Sistem pemadam dengan gas. pipa semprot dan kumparan slang. yang berfungsi untuk menyelimuti benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai oksigen terhenti. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan lebih besar dari tekanan diluar. c.

Dipom pa. genggam handel & arahkan moncong ke sumber api Tidak Tidak Murah. mobil serta bahan mudah terbakar lainnya Petunjuk Pemakaian Lepas pena kunci. grdung. genggam handel & guyur bahan terbakar CO2 Carbon dioxide Halon Halon 1211 Air Water CO2 Air bertek anan Tidak Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Bekerja dengan cepat Disarankan tersedia pada gudang bahan bakar minyak dan gas. rumah. Lepas pena kunci. Alat pemadam kebakaran besar.Gambar 3 31. genggam handel & arahkan moncong di bawah api Ya Ya Bahan ini tidak meninggalkan bekas. guyur bahan terbak ar Tabel 3 1. 6. perkantoran dsb. Sesuai untuk alat elektronik dan gudang bahan makanan Lepas pena kunci. gengg am handel & guyur bahan terbak ar Pegan g monco ng. Pemilihan APAR Teknik Pemesinan 78 . Sesuai untuk bahan bangunan. Petunjuk pemilihan APAR Pilih yang sesuai Multi Purpo se Serba guna A B C Keterangan Ya Ya Zat Kimia Kering (Dry Chemical) Sodium bicarbon at NaHCO3 Purple K Zat Kimia Basah (Wet Chemical) Loaded Stream Pump (Stored tank pressure d) Tanki Busa & bertekan pompa an Ya Tidak Ya Ya Tidak Sesuai untuk lab dan tempat bahan kimia Lepas pena kunci. sekolah.

Upayakan latihan secara periodik untuk dapat bertindak secara tepat dan tenang. 10 detik berhenti. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran 1. Fire alarm secara otomatis akan mempercepat diketahuinya peristiwa kebakaran. Teknik Pemesinan 79 . Bila terjadi kebakaran besar : bertindaklah dengan tenang. antara lain : oleh 1. Beberapa kebakaran terlambat diketahui karena tidak ada fire alarm. kadang harus mondar-mandir/keluar masuk mengambil air. Harus diperiksa secara periodik. Waktu ideal : 3 detik operasi. 3. e. bila api terlanjur besar maka makin sulit memadamkannya. APAR kimiawi ideal dioperasikan pada suhu kamar. hubungi petugas pemadam kebakaran. d. Jalan bagi petugas. Beri tanda segitiga warna merah panjang sisi 35 cm. Bila terjadi kebakaran kecil : bertindaklah dengan tenang. b. APAR hanya ideal dioperasikan pada situasi tanpa angin kuat. diperlukan untuk petugas yang datang menggunakan kendaraan pemadam kebakaran. Fasilitas Penunjang Keberhasilan pemadaman kebakaran juga ditentukan keberadaan fasilitas penunjang yang memadai. 5. sehingga perlu jalan yang memadai. waktu maksimum terus menerus 8 detik. Karakteristik APAR : a. APAR jenis tertentu bukan merupakan pemadam untuk segala jenis kebakaran. Siagakan APAR selalu siap pakai. minimal 2 tahun sekali. Tempatkan APAR selalu pada tempat yang sudah ditentukan.7. Bila telah dipakai harus diisi ulang. dsb. 5. Untuk itu diperlukan fasilitas : a) b) c) d) Daun pintu dapat dibuka keluar Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci Lebar pintu dapat dilewati 40 orang/menit Bangunan beton strukturnya harus mampu terbakar minimal 7 jam. nyalakan alarm. juga untuk keperluan evakuasi. c. identifikasi bahan terbakar dan tentukan APAR yang dipakai. 4. 2. rak buku. 2. mudah dijangkau dan mudah dilihat. tidak terlindung benda/perabot seperti lemari. beritahu orang lain untuk pengosongan lokasi. 4. oleh karena itu sebelum menggunakan APAR perlu diidentifikasi jenis bahan terbakar. keras dan lebar.

Lumasilah alat-alat perkakas secara teratur. Jangan sekali-sekali menggunakan perkakas yang tumpul pada gesekan yang besar. warnanya menunjukkan jenis pelumas apa yang harus digunakan (perhatikan petunjuk-petunjuk dari pegusaha pabriknya). tap atau frais karena pembebanan yang besar pada poros-poros. dalam keadaan bersih atau simpanlah dalam keadaan bersih. Ingatlah akan perlindungan dari bagian-bagian yang berputar. mikometer. 4. Akibat yang mungkin terjadi : a) Kecelakaan b) Kerusakan perkakasnya c) Kehancuran alat perkakasnya. Jangan membiarkan alat-alat bantu atau alat-alat ukur (kuncikunci. Bersihkanlah ayakan-ayakan minyaknya pada waktu-waktu tertentu dan tukarlah saringan-saringannya. Jangan lupa peraturan-peraturan keamanan. Pelat-pelat kode dapat berguna sekali. dan lainnya.6. yaitu : 1. batang-batang ulir dan mur-mur dari mesin-mesinnya. 7. Korektif (tindakan setelah timbulnya kerusakan) Untuk pemeliharaan preventif. 5. 6. yaitu : 1. Periksalah alat-alat perkakas secara teratur akan kemungkinan terjadinya kerusakan-kerusakan. Preventif (pencegahan kerusakan dan keausan) 2. kalau itu merupakan kelengkapan mesin yang bersangkutan. dan sebagainya) berada di atas mesin yang sedang berjalan. peti-peti. terdapat beberapa pedoman. Hal ini dapat berakibat terjadinya kehancuran bor. Teknik Pemesinan 80 . Usahakanlah supaya jalan-jalan terusan tidak terhalang oleh bahan. Bak-bak minyak harus diisi sampai garis tandanya. sambungan-sambungan listrik. mistar-mistar ingsut. pahat. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas Pada dasarnya terdapat dua jenis pemeliharaan. ia menunjukkan setelah beberapa waktu minyak pelumasnya harus diperbaharui dan pelumasannya harus dilakukan. Serahkanlah semua perkakas setelah dipakai. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah periksalah kotak penyimpanan obatobatan secara teratur pula. yang biasanya diutamakan. Jagalah supaya perkakas-perkakas tangan dan mesin-mesin tetap dalam keadaan bersih. bantalan-bantalan. bila perlu pakailah kacamata pengaman. Perbaiki atau gantilah perkakas yang rusak. 2. 3.

BAB 4 MEMAHAMI KAIDAH PENGUKURAN Teknik Pemesinan 81 .

komponen yang dirakit harus sesuai satu sama lain. Pada waktu merakit.3. Pengukuran menggunakan jangka sorong dilakukan dengan cara menyentuhkan sensor ukur pada benda kerja yang akan diukur. engukur adalah proses membandingkan ukuran (dimensi) yang tidak diketahui terhadap standar ukuran tertentu. ketelitian 0. Sensor jangka sorong yang dapat digunakan untuk mengukur berbagai posisi. Alat Ukur M 1. Alat ukur yang baik merupakan kunci dari proses produksi massal. atau dilengkapi penunjuk ukuran digital. lebar celah dengan sensor bagian atas. Pada saat ini.). Jangka Sorong Jangka sorong adalah alat ukur yang sering digunakan di bengkel mesin. Jangka sorong tersebut memiliki skala ukur (vernier scale) dengan cara pembacaan tertentu.05 mm. Jangka sorong berfungsi sebagai alat ukur yang biasa dipakai operator mesin yang dapat mengukur panjang sampai dengan 200 mm. kedalaman dengan ekornya.1. Teknik Pemesinan 82 .1. Gambar 4 1. Tanpa alat ukur. Ada juga jangka sorong yang dilengkapi jam ukur. Gambar 4. (lihat Gambar 4. alat ukur merupakan alat penting dalam proses pemesinan dari awal pembuatan sampai dengan kontrol kualitas di akhir produksi.A. berikut adalah gambar jangka sorong yang dapat mengukur panjang dengan rahangnya. elemen mesin tidak dapat dibuat cukup akurat untuk menjadi mampu tukar (interchangeable). Beberapa macam jangka sorong dengan skala penunjuk pembacaan dapat dilihat pada Gambar 4.

3. cara pembacaan ukurannya secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka mm pada skala utama (pada Gambar 4. di bawah : 0. dan digital. Teknik Pemesinan 83 .15) Sehingga ukuran yang dimaksud 9. Jangka sorong dengan penunjuk pembacaan nonius. jam ukur. di bawah : 9 mm) Baca angka kelebihan ukuran dengan cara mencari garis skala utama yang segaris lurus dengan skala nonius (Gambar 4.3.Gambar 4 2. Untuk jangka sorong dengan penunjuk pembacaan digital. hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada monitor digitalnya. Pembacaan hasil pengukuran jangka sorong yang menggunakan jam ukur dilakukan dengan cara membaca skala utama ditambah jarak yang ditunjukkan oleh jam ukur. Jangka sorong yang menggunakan skala nonius.15 .

Gambar 4 3.05 mm.) biasanya lebih presisi dari pada menggunakan jangka sorong. dan seterusnya dengan selang 25 mm. 50-75 mm. adalah 8. 2.01 mm. Akan tetapi jangkauan ukuran mikrometer lebih kecil. Mikrometer luar.5 mm) Baca angka skala pada thimble (pada posisi 0. Cara membaca skala jangka sorong ketelitian 0. Mikrometer memiliki ketelitian sampai dengan 0. Mikrometer Gambar 4 4. Cara membaca skala mikrometer secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka skala pada skala utama/barrel scale (pada Gambar 4.5. 25–50 mm. dan mikrometer dalam Hasil pengukuran dengan mengunakan mikrometer (Gambar 4.19 mm) Teknik Pemesinan 84 .4. yaitu sekitar 25 mm. Jangkauan ukur mikrometer adalah 0-25 mm.

hampir sama dengan jangka sorong. Beberapa mikrometer juga dilengkapi penunjuk pembacaan digital.Jumlahkan ukuran yang diperoleh (pada Gambar 1. tebal. Gambar 4 6. Mikrometer dapat mengukur tebal. Untuk keperluan khusus mikrometer juga dibuat berbagai macam variasi. dan diameter luar. adalah 8. diameter dalam. Beberapa contoh penggunaan mikrometer untuk mengukur benda kerja dapat dilihat pada Gambar 4. Teknik Pemesinan 85 .7.69 mm). diameter dalam. untuk mengurangi kesalahan pembacaan hasil pengukuran. Berbagai macam pengukuran yang bisa dilakukan dengan mikrometer : pengukuran jarak celah.6. Cara membaca skala mikrometer. 30 25 20 0 5 10 15 15 10 20 Gambar 4 5. akan tetapi kepala mikrometer sebagai alat pengukur dan pembacaan hasil pengukuran tetap selalu digunakan. panjang.

Gambar 4 7. Jam ukur (Dial Indicator). Pengecekan sumbu mesin bubut dengan bantuan jam ukur. dan pengujian kualitas geometris mesin perkakas.3. posisi benda kerja. 4.7. Ketelitian ukur jam ukur yang biasa digunakan di bengkel adalah 0. posisi senter/sumbu mesin perkakas (Gambar 4.).01 mm. Sistem Satuan Sistem satuan yang digunakan pada mesin perkakas adalah sistem metris (Metric system) dan sistem imperial (Imperial system/British system). Alat ukur pembanding ini (Gambar 4.). Buku terbitan USA dan England selalu Teknik Pemesinan 86 . Gambar 4 8. digunakan oleh operator mesin perkakas untuk melakukan penyetelan mesin perkakas yaitu : pengecekan posisi ragum. Jam Ukur (Dial Indicator) Jam ukur (dial indicator) adalah alat ukur pembanding (komparator).8.

028317 0.453592 6.621371 Dikalikan Mengubah Dikalikan square kilometers to square miles 0.473176 0.000984 1.S.404866 square centimeters to square inches square meters to square feet square meters to square yards 0.30795 0.) to liters pints (imperial) to liters quarts (U.97097 0.4516 0.764555 4.) kilograms to tons (imperial) metric tons to tons (U.) liters to pints (imperial) liters to quarts (U.S.1).157473 0.836127 2.4 0.7639 1.0393701 3.113377 1.035274 2.061024 35.) to milliliters fluid ounces (imperial) to milliliters pints (U.469955 milliliters to fluid ounces (imperial) 0.056688 0.907185 grams to ounces kilograms to pounds kilograms to stone (14 lb) kilograms to tons (U.264172 0.350293 907.S.3147 1.S.001102 0.785412 4.19599 25.18474 1016. Mengubah Panjang inches to millimeters feet to meters yards to meters furlongs to kilometers miles to kilometers Luas square inches to square centimeters square feet to square meters square yards to square meters square miles to square kilometers acres to square meters acres to hectares Volume cubic inches to cubic centimeters cubic feet to cubic meters cubic yards to cubic meters cubic miles to cubic kilometers fluid ounces (U. dan beberapa data pada buku ini juga menggunakan satuan imperial.759754 1.413063 0.S.) to kilograms tons (imperial) to kilograms tons (U.136523 3.S.219969 Massa/Berat ounces to grams pounds to kilograms stone (14 lb) to kilograms tons (U.568261 0.) to liters gallons (imperial) to liters 16.046909 0.28084 1.S.033814 6.10231 Teknik Pemesinan 87 .000247 2.menggunakan satuan imperial.387064 0.239912 0.) to metric tons 28.5735 28.201168 1.) 0.386102 square meters to acres hectares to acres 0.09361 4.1550 10.) 0.3048 0.S.54609 cubic centimeters to cubic inches cubic meters to cubic feet cubic meters to cubic yards cubic kilometers to cubic miles milliliters to fluid ounces (U.609344 millimeters to inches meters to feet meters to yards kilometers to furlongs kilometers to miles 0.S.) liters to quarts (imperial) liters to gallons (U. maka untuk memudahkan perhitungan.S.S.589988 4046.946353 1.1682 29.856422 0.) to liters quarts (imperial) to liters gallons (U.349523 0.20462 0.9144 0.S. berikut ditampilkan konversi satuan Imperial menjadi Metris (Tabel 4.035195 liters to pints (U.092903 0.879877 0.) liters to gallons (imperial) 2.

Faktor konversi satuan imperial menjadi metris dan sebaliknya.1325 14.4443 10.064779 newtons per square centimeter to 0.621371 3.89476 15.) to liters per 2.3048 metric tons to tons (imperial) kilometers per hour to miles per hour meters per second to feet per second newton to pound-force newton to kilogram-force kilopascals to pound-force per square inch megapascals to tons-force per square inch (imperial) 0.S.7457 0.695942 0.000278 1.3521 kilometer gallons per mile (imperial) to liters 2. Tabel 4 1.S.) to kilometers per liter miles per gallon (imperial) to kilometers per liter 1.101972 0.34102 2.016047 1. All rights reserved.4251 0.4251 0. © 1993-2004 Microsoft Corporation.3540 0.609344 0. Teknik Pemesinan 88 .145038 0.S.3540 gallons per mile (U.984207 0.3521 2.224809 0.098692 atmospheres pound-force per square inch to atmospheres joule to calorie joule to watt-hour kilowatts to horsepower kilometers per liter to miles per gallon (U.80665 6.28084 4.) liters per kilometer to gallons per mile (imperial) 0.) kilometers per liter to miles per gallon (imperial) liters per kilometer to gallons per mile (U.S.600 0.tons (imperial) to metric tons Kecepatan miles per hour to kilometers per hour feet per second to meters per second Gaya pound-force to newton kilogram-force to newton Tekanan pound-force per square inch to kilopascals tons-force per square inch (imperial) to megapascals atmospheres to newtons per square centimeter atmospheres to pound-force per square inch Energi calorie to joule watt-hour to joule Usaha horsepower to kilowatts Konsumsi bahan bakar miles per gallon (U.824859 0.1868 3.238846 0.068948 4.824859 per kilometer Microsoft ® Encarta ® Encyclopedia 2005.44822 9.

BAB 5 MEMAHAMI GAMBAR TEKNIK Teknik Pemesinan 89 .

A. Mengenal alat Menggambar Teknik 1. kertas gambar yang dapat digunakan untuk menggambar teknik adalah: 1) Kertas Padalarang 2) Kertas manila 3) Kertas Strimin 4) Kertas roti 5) Kertas Kalki B b) Ukuran Kertas Ukuran gambar teknik sudah ditentukan berdasarkan standar. Ukuran A2 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A1. Ukuran A1 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A0. Seri Ukuran Kertas Ukuran Garis Tepi Kiri Kanan 10 10 10 20 5 5 A0 A1 A2 A3 A4 A5 1.1.1. Demikian seterusnya. Ukuran pokok kertas gambar adalah A0. Ukuran kertas gambar dapat dilihat pada tabel 5.189 x 841 841 x 594 594 x 420 420 x 297 297 x 210 210 x 148 20 20 20 20 15 15 Tabel 5 1 Kertas gambar berdasarkan ukuran Teknik Pemesinan 90 . Ukuran A0 adalah 1 m2 dengan perbandingan 2 : 1 untuk panjang : lebar. Sedangkan perbandingan ukuran kertas gambar dapat dilihat dari gambar 5. Kertas Gambar a) Jenis Kertas erdasarkan jenis kertasnya.

5 mm dan 1. Cara penempelan kertas di atas meja gambar non magnetik 2. Pensil Gambar Pensil adalah alat gambar yang paling banyak dipakai untuk latihan mengambar atau menggambar gambar teknik dasar. Habisnya isi pensil bersamaan dengan habisnya batang pensil.Gambar 5 1. Untuk menggunakan pensil ini harus diraut terlebih dahulu. Pensil mekanik memiliki ukuran berdasarkan diameter mata pensil. Gambar pensil batang dapat dilihat pada Gambar 5. Pensil gambar terdiri dari batang pensil dan isi pensil.2. Teknik Pemesinan 91 . 0. misalnya 0. c) Pensil Gambar Berdasarkan Bentuk Pensil Batang Pada pensil ini. Gambar pensil mekanik dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5 2 Pensil batang Gambar 5.0 mm. antara isi dan batangnya menyatu.2. antara batang dan isi pensil terpisah. Pensil mekanik Pensil mekanik.3 mm. Batang pensil tetap tidak bisa habis.3. Jika Isi pensil habis dapat diisi ulang.

Pensil berdasarkan kekerasannya Untuk mendapatkan garis dengan ketebalan yang merata dari ujung ke ujung.) Gambar 5 4. Tabel 5 2. Cara menarik garis Teknik Pemesinan 92 . Pensil mekanik d) Pensil Gambar Berdasarkan Kekerasan Berdasarkan kekerasanya pensil gambar dibagi menjadi pensil keras. maka kedudukan pensil sewaktu menarik garis harus dimiringkan 60o dan selama menarik garis sambil diputar dengan telunjuk dan ibu jari (lihat Gambar 5.Gambar 5 3. 4. sedang dan lunak.

5. Teknik Pemesinan 93 . 90o. 45o dan satu buah penggaris bersudut 30o. sudut-sudut istimewa dan garis yang saling tegak lurus. 90o dan 60o. Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga. Gambar 5 6. Sepasang penggaris segitiga ini digunakan untuk membuat garis-garis sejajar. Gambar 5 5. Rapido 4. Penggaris Penggaris yang sering digunakan untuk menggambar teknik adalah penggaris –T dan penggaris segitiga. bagian mistar panjang dan bagian kepala berupa mistar pendek tanpa ukuran yang bertemu membentuk sudut 90o. Gambar rapido dapat dilihat pada Gambar 5. Rapido Penggunaan rapido untuk menggambar dengan teknik tinta dianggap lebih praktis dari pada dengan trekpen. a) Penggaris -T Penggaris T terdiri dari dua bagian.3. b) Penggaris Segitiga Penggaris segitiga terdiri dari satu penggaris segitiga bersudut 45o.

Gambar 9 memperlihatkan beberapa jenis jangka. Jangka Jangka adalah alat gambar yang digunakan untuk membuat lingkaran dengan cara menancapkan salah satu ujung batang pada kertas gambar sebagai pusat lingkaran dan yang lain berfungsi sebagai pensil untuk menggambar garis lingkarannya. Cara menggunakan penggaris segitiga 5. Jenis jangka Teknik Pemesinan 94 . Gambar 5 9.Gambar 5 7. Cara menggunakan penggaris-T Gambar 5 8.

Gambar 5 10. Kedudukan pena tarik saat menarik garis serta Cara menggunakan jangka Gambar 5 11. Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung 6. Penghapus lunak untuk menghapus gambar dari pensil dan penghapus keras untuk menghapus gambar dari tinta. cara menggunakan jangka ditunjukkan pada Gambar 5. Penghapus dan alat pelindung penghapus Ada dua jenis penghapus.13.Kedukukan pena tarik sewaktu menarik garis sebaiknya miring 60o terhadap meja gambar. seperti Gambar 5. yaitu penghapus lunak dan penghapus keras. Teknik Pemesinan 95 . Agar gambar yang akan dihapus tepat dan tidak menghilangkan gambar yang lain.10. maka digunakan plat pelindung penghapus seperti Gambar 5.11.

Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung 7. Busur derajat f) Sablon huruf dan angka Sablon huruf dan angka adalah sebuah alat gambar yang digunakan untuk menggambar huruf dan angka. Dalam satu set mal lengkung ada 3 jenis mal. g) Mal lengkung Mal lengkung digunakan untuk membuat garis lengkung yang tidak dapat dibuat dengan jangka.14.Gambar 5 12. Lihat Gambar 5. lihat Gambar 5. Gambar 5 13. agar diperoleh tulisan yang rapi dan seragam dan mengikuti standar ISO.15 Teknik Pemesinan 96 . Alat-alat Penunjang lainnya Ada beberapa alat penunjang gambar teknik lainnya yang kadangkadang diperlukan didalam menggambar adalah : e) Busur derajat Busur derajat digunakan untuk mengukur dan membagi sudut.

Mal lengkung Gambar 5 15. Tidak seperti meja biasa. Contoh penggunaan mal lengkung h) Mal bentuk Untuk membuat gambar geometri dan simbol-simbol tertentu dengan cepat. Mal bentuk geometri 8. papan berlapis magnet dan kaca rayben Teknik Pemesinan 97 . Meja Gambar Meja gambar adalah meja yang digunakan sebagai alas menggambar. meja gambar dapat diubah-ubah ketinggian dan kemiringan daun mejanya. Gambar 5 16. yaitu : daun meja dari papan non magnetik. maka digunakan mal bentuk. Meja gambar terdiri dari rangka meja gambar dan daun meja gambar. Bahan daun meja ada bermacam-macam.Gambar 5 14.

Gambar 5 17. Meja gambar 9. sepasang penggaris segitiga dan mistar T. Mesin gambar rol Teknik Pemesinan 98 . yaitu: mesin gambar rol dan mesin gambar lengan. Berdasarkan bentuknya ada dua jenis mesin gambar. Mesin gambar lengan Gambar 5 19. Mesin Gambar Mesin gambar adalah mesin manual yang digunakan untuk memudahkan menggambar. Mesin gambar dapat menggantikan beberapa fungsi alat gambar lainnya seperti busur derajat. Gambar 5 18.

Hati-hati menggunakan peralatan yang tajam. Perhatikan cara memegang penggarisnya. Cara menggunakan mal ini sama dengan cara menggunakan mal huruf-angka. Gunakan jangka dengan benar untuk membuat lingkaran. e. g. 3. Buat garis lengkungnya dengan mal lengkung. Huruf dan angka yang di-mal sembarang. Gunakan sepasang penggaris segitiga untuk membuat garis-garis sejajar horisontal dan vertikal. Tempelkan kertas manila A3 di atas meja gambar dengan selotip. 30º. b. b. Gunakan mal lengkung sesuai contoh pada lembar informasi. d. g. 4. j. k. Perhatikan cara memegang mal dan cara menggesernya. 75º dan 90º dengan sepasang penggaris segitiga. Gunakan mal bentuk dan symbol. Teknik Pemesinan 99 . Geser-geser mal lengkung untuk mendapatkan bentuk yang paling tepat antara dua garis. Alat Meja gambar Pensil gambar Sepasang penggaris segitiga Penggaris panjang 50 cm atau 60 cm Jangka Mal huruf dan angka Mal bentuk Mal lengkung Penghapus Selotip Cutter Bahan Kertas manila A3 Kesehatan dan Keselamatan Kerja a. Buatlah sudut-sudut 15º. f. c. Perhatikan dari mana mulai menarik garis dan mengakhirinya. yaitu: cutter dan jarum jangka. Lembar Kerja 1. Langkah Kerja a.B. Gunakan mal huruf-angka. e. Diameter lingkaran sembarang. d. Tentukan dahulu titik-titik yang akan dihubungkan. b. 60º. c. h. i. Perhatikan arah penarikan garis. Gunakan selotip berbahan kertas. 2. f. 45º. a. Panjang dan jarak antar garis sembarang.

Ada beberapa macam cara proyeksi. Membaca Gambar Teknik Proyeksi Piktorial Untuk menampilkan gambar-gambar tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi. dapat kita lihat pada Gambar 5.22. Proyeksi piktorial miring 4. Proyeksi piktorial isometri 3. • Sudut antara sumbu satu terhadap sumbu lainya 1200. Proyeksi piktorial dimensi 2. Adapun ciri-ciri gambar dengan proyeksi isometris tersebut adalah: 1) Ciri pada sumbu • Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30° terhadap garis mendatar. antara lain: 1. Perspektif Untuk membedakan masing-masing proyeksi tersebut. perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu ciri dan syarat-syarat untuk membuat gambar dengan proyeksi tersebut.21. dapat kita lakukan dengan beberapa macam cara proyeksi sesuai dengan aturan rnenggarnbar. Proyeksi Isometris c) Ciri Proyeksi Isometris Untuk mengetahui apakah suatu gambar disajikan dalam bentuk proyeksi isometris. 1. Proyeksi piktorial 2. 2) Ciri pada ukuran Teknik Pemesinan 100 . Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 5. Gambar 5 20.C.

Gambar 5 22. Mengenai hal ini dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu: a. 1) Proyeksi isometris dengan kedudukan normal. sesuai dengan kedudukan sumbunya (lihat Gambar 5.22) Gambar 5 21. terbalik atau horizontal.23 berikut). Proyeksi isometris d) Penyajian Proyeksi Isometris Penyajian gambar dengan proyeksi isometris dapat dilakukan dengan kedudukan normal. Kedudukan normal mempunyai sumbu dengan sudut-sudut seperti tampak pada Gambar 5. Penyajian proyeksi isometris Teknik Pemesinan 101 .23. 2) Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik.Panjang gambar pada masing-masing sumbu sama dengan panjang benda yang digambarkan (lihat Gambar 5. Memutar gambar dengan sudut 180° ke kanan dan kedudukan normal.

25.25) b. Proyeksi Dimetris Proyeksi dimetris mempunyai ketentuan: a. pada sumbu y = 1 : 2. Mengubah kedudukan benda yang digambar dengan tujuan untuk memperlihatkan bagian bawah benda tersebut (lihat Gambar 5. maka untuk kedudukan horizontal 2700 ke kanan dan kedudukan sumbu norrnalnya (Iihat Gambar 5. Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik 3) Proyeksi isometris dengan kedudukan horizontal.24) Gambar 5 23. Teknik Pemesinan 102 . Gambar 5 24. Sebagaimana cara yang dilakukan untuk menggarnbar kedudukan proyeksi isometris terbalik. yaitu dengan memutar sumbu utama 1800 dan sumbu normal. a. Sumbu utama mempunyai sudut: =70 dan = 400 (lihat Gambar 5. Perbandingan skala ukuran pada sumbu x = 1 : 1. Proyeksi isometris kedudukan horizontal 2. yaitu untuk memperlihatkan bagian samping kiri (yang tidak terlihat) sebagaimana terlihat pada Gambar 5.b.26) b. dan pada sumbu z 1 : 1. Mengubah kedudukan benda.

dan skala pada sumbu z = 1: 1 (ithat gambar di bawah ini) 3. yaitu 20 mm • Ukuran pada sunbu z digambar 40 mm Gambar 5 26. Skala ukuran untuk proyeksi miring ini sama dengan skala pada proyeksi dimetris. Kubus dengan proyeksi dimetris Proyeksi Miring (sejajar) Pada proyeksi miring. sumbu x berimpit dengan garis horizontal/mendatar dan sumbu y mernpunyai sudut 450 dengan garis mendatar. pada sumbu y = 1 : 2.Gambar 5 25. Proyeksi dimetris Gambar kubus yang di gambarkan dengan proyeksi dimetris di bawah ini. Teknik Pemesinan 103 . Keterangan: • Ukuran pada sumbu x digambar 40 mm • Ukuran gambar pada sumbu y digambar 1/2 nya. mempunyai sisi-sisi 40 mm. yaitu skala pada sumbu x 1:1.

Gambar perspektif dibagi menjadi tiga macam. gambar perspektif jarang dipakai. c. Proyeksi miring Gambar Perspektif Dalam garnbar teknik mesin. Gambar 5 28. Perspektif dengan dua titik hilang.Gambar 5 27. Perspektif dengan satu titik hilang Teknik Pemesinan 104 . Perspektif dengan tiga titik hilang. h. perspektif dengan satu titik hilang. 4. yaitu: a.

Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di depan benda disebut pandangan depan. Perspektif dengan tiga titik hilang Macam-Macam Pandangan Untuk memberikan informasi lengkap suatu benda tiga dimensi dengan gambar proyeksi ortogonal. b.Gambar 5 29. Teknik Pemesinan 105 . Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di sebelah kanan benda disebut pandangan samping kanan. biasanya memerlukan lebih dari satu bidang proyeksi. Demikian seterusnya. 5. a. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di atas benda disebut pandangan atas. c. Perspektif dengan dua titik hilang Gambar 5 30.

Ruang yang berada di bawah bidang H. Bidang proyeksi Suatu ruang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi oleh bidang-bidang depan. Teknik Pemesinan 106 . bidang vertikal. Bidang-Bidang Proyeksi Gambar 5 32. di bawah bidang H. di depan bidang D. Ruang yang berada di atas bidang H. di depan bidang D. dan di depan bidang D disebut kuadran III. Ruang disebelah kiri bidang V.Gambar 5 31. di depan bidang D. Macam-macam pandangan 6. dan bidang horizontal. Ruang di atas bidang H. Ruang yang dibatasi tersebut dikenal dengan sebutan kuadran. dan di sebelah kanan bidang V disebut kuadran IV. dan di samping kanan bidang V disebut kuadran I. dan disebelah kiri bidang V disebut kuadran II.

dan D. Gambar 5 33.34 memperlihatkan titik yang terletak di kuadran I (lihat gambar 5. jika benda yang terletak di kuadran I kita proyeksikan terhadap bidang-bidang H. Gambar 5. di depan bidang D. seperti gambar berikut: Teknik Pemesinan 107 .34). V. Proyeksi di kuadran I Keterangan: A = titik kuadran-I AD = proyeksi titik A di bidang D (depan) Av = proyeksi titik A di bidang V (vertikal) AH = proyeksi titik A di bidang H (horizontal) Bila ketiga bidang saling tegak lurus tersebut dibuka. maka akan didapat gambar/proyeksi pada kuadran I yang dikenal juga dengan nama proyeksi Eropa. (depan) dan di sebelah kanan bidang V (vertikal) maka benda tersebut berada di kuadran I. maka sumbu x dan y sebagai sumbu putarnya dan sumbu z merupakan sumbu yang dibuka/dipisah.a) Proyeksi di Kuadran I (Proyeksi Eropa) Bila suatu benda diletakkan di atas bidang horizontal.

Gambar 5 34. Pembukaan objek gambar di kuadran I Selanjutnya batas-batas bidang dihilangkan maka menjadi bentuk di bawah ini : Gambar 5 35. Pemutaran dengan jangka Teknik Pemesinan 108 .

Jadi yang nampak hanya Teknik Pemesinan 109 . Garis sumbu berimpit dengan gambar Penampilan Gambar Untuk penampilan gambar berikutnya. garis sumbu dan garis bantu tidak diperlukan lagi (dihilangkan). Penyederhanaan dapat dilakukan seperti gambar berikut: Gambar 5 37.Gambar 5 36. Garis sumbu terpisah d Gambar 5 38. maka untuk menempatkan sumbu dapat disederhanakan sesuai dengan ruang yang tersedia. Potongan garis yang bersudut 45o Bila penempatan benda di kuadran I tidak teratur.

V. dan D untuk proyeksi di kuadran III (proyeksi Amerika) yang telah di buka adalah: Gambar 5 40. sedangkan pandangan atas berada di bawah pandangan depannya.40). perlu ditegaskan kembali bahwa untuk proyeksi di kuadran I (proyeksi Eropa). Gambar 5 39.pandangannya saja (lihat gambar 5. Pandangan proyeksi Amerika • Pada bidang H ditempatkan pandangan atas • Pada bidang D ditempatkan pandangan depan • Fada bidang V diternpatkan pandangan samping kanan Contoh : Teknik Pemesinan 110 . penempatan pandangan samping akan berada disebelah kiri pandangan depannya. Pandangan proyeksi Eropa b) Proyeksi di Kuadran III (Proyeksi Amerika) Bidang-bidang H.

Dalam standar ISO (ISO/DIS 128). Gambar 5 42. perlu diberi lambang proyeksi. Simbol Proyeksi dan Anak Panah a) Simbol Proyeksi Untuk membedakan gambar/proyeksi di kuadran I dan gambar/proyeksi di kuadran III. Simbol proyeksi ditempatkan disisi kanan bawah kertas gambar. gambar sebaiknya digambar menurut proyeksi sudut pertama (kuadran I atau kita kenal sebagai proyeksi Eropa). Sedangkan untuk keseragaman ISO. telah ditetapkan bahwa cara kedua proyeksi boleh dipergunakan. Proyeksi Amerika Gambar 5 43. Dalam satu buah gambar tidak diperkenankan terdapat gambar dengan menggunakan kedua gambar proyeksi secara bersamaan. Proyeksi Eropa Teknik Pemesinan 111 . Contoh pandangan proyeksi Amerika 7. Simbol/lambang proyeksi tersebut adalah sebuah kerucut terpancung (lihat gambar).Gambar 5 41.

Contoh penggambaran anak panah Penentuan Pandangan Untuk menempatkan pandangan atas atau pandangan samping dan pandangan depannya.45). apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) ataukah proyeksi di kuadran III (Amerika)?. Penerapan Proyeksi Eropa Teknik Pemesinan 112 . terlebih dahulu kita harus menempatkan sistem proyeksi apa yang kita pakai. Setelah kita menempatkan sistem proyeksi yang kita pakai. Anak Panah Gambar 5 45. Gambar 5 46. Proyeksi Di Kuadran I (Eropa) Atas dan Samping Kanan Menurut 8. a) Menempatkan Pandangan Depan. Gambar 5 44. barulah kita menenempatkan pandangan dan objek yang kita gambar tersebut.b) Anak Panah Anak panah digunakan untuk menunjukkan batas ukuran dan tempat/posisi atau arah pemotongan sedangkan angka ukuran ditempatkan di atas garis ukur atau di sisi kiri garis ukur (ithat gambar 5.

Sebagai pandangan utamanya ialah pandangan depan. Lthat gambar 49 berikut: Gambar 5 48. dan pandangan atas.b) Menentukan Pandangan Depan. Perhatikan Gambar 5. Dalam gambar kerja. dengan satu pandangan saja yang dilengkapi dengan simbol (lingkaran) sudah cukup untuk memberikan informasi yang jelas. tergantung dan kompleks/rumit atau sederhananya bentuk benda.50 di bawah ini: Teknik Pemesinan 113 . Penerapan Proyeksi Amerika c) Penetapan Jumlah Pandangan Jumlah pandangan dalam satu objek/gambar tidak semuanya harus digambar rnisa]nya untuk benda-benda bubutan sederhana. Gambar satu pandangan d) Jenis-jenis Pandangan Utama Gambar kerja yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah gambar dalam bentuk pandangan-pandangan. gambar pandangan-pandangan ini harus dapat memberikan informasi yang jelas. pandangan samping. tidak selamanya ketiga pandangan harus ditampilkan. Atas dan Samping Kanan Menurut Pryeksi Di Kuadran III (Amerika) Gambar 5 47. Hal terpentirig.

Teknik Pemesinan 114 .Gambar 5 49. Gambar pandangan Kedua gambar di atas. Pembedaan bentuk benda dengan satu pandangan e) Pemelihan Pandangan Utama Untuk memberikan informasi bentuk gambar. walaupun hanya terdiri atas satu pandangan saja. dapat membedakan bentuk bendanya. seharusnya kita pilih pandangan yang dapat mewakili bentuk benda (perhatikan Gambar 5. yaitu dengan simbol/lambang O untuk bentuk lingkaran dan untuk bentuk bujur sangkar dan bentuk gambar piktorialnya adalah: Gambar 5 50.52) di bawah ini.

Gambar 5. Gambar 5 52.53 adalah benda yang mempunyai pandangan atas dan pandangan depan yang sama seperti Gambar 5. Oleh karena itu dalam memilih pandangan yang disajikan harus dapat mewakili bentuk benda (lihat Gambar 5.Gambar 5 51. Pandangan utama Dari gambar piktorial (Gambar 5.53).53) di atas. yang dapat memberikafi informasi bentuk secara tepat dalam hentuk gambar pandangan adalah pandangan depan dengan pandangan sarnpingnya (lihat Gambar 54).52 di atas. Gambar 5 53. Penentuan pandangan depan Teknik Pemesinan 115 . Pemilihan pandangan utama Pandangan/gambar di atas belum dapat memberikan informasi yang jelas.

Bentuk benda dari hasil pandangan Teknik Pemesinan 116 . perlu satu pandangan lagi untuk kejelasan gambar tersehut: yaitu pandangan atas. barulah kita mendapatkan informasi bentuk yang lengkap dari Gambar 56. Gambar 5 54. Gambar 5 56.55 berikut). belum cukup memberikan informasi bentuk secara cepat dan tepat. OIeh karena itu. Penggunaan dua pandangan Dengan dua pandangan di atas. Penggunaan tiga pandangan Setelah dilengkapi dengan pandangan atasnya.Sebaliknya dua pandangan depan dan samping belum tentu dapat memberikan informasi yang maksimum (lihat Gambar 5. Gambar 5 55.

Kadang-kadang gambar tampak lebih rumit karen adanya garis-garis gambar yang tidak kelihatan. dan rongga-rongga pada blok mesin. Oleh karena itu garis-garis gores yang akan menimbulkan salah pengertian (salah informasi) perlu dihindari. Gambar 5. b) Bentuk Potongan/Irisan Gambar potongan atau irisan dapat dijelaskan dengan menggunakan pemisalan benda yang dipotong dengan gergaji (lihat Gambar 5. rongga-rongga pada rumah katup. a) Fungsi Gambar Potongan/Irisan Gambar potongan atau irisan fungsinya untuk menjelaskan bagian-bagian gambar benda yang tidak kelihatan. rnisalnya dari benda yang dibor (baik yang dibor tembus maupun dibor tidak tembus) lubanglubang pada flens atau pipa-pipa.58b Teknik Pemesinan 117 . Gambar 5 57.Gambar Potongan Untuk memberikan inforamsi yang lengkap dan gambar yang berongga atau berlubang perlu menampilkan gambar dengan teknik menggambar yang tepat.58). gambar 5.58a Gambar 5 58. yaitu dengan menunjukkan ambar potongan/ irisan. sehingga terhindar dan kesalah pahaman membaca gambar. 9. Bentuk rongga tersebut perlu dilengkapi dengan penjelasan gambar potongan agar dapat memberikan ukuran atau informasi yang jelas dan tegas.

58c. Memperlihatkan gambar yang kurang jelas. sehingga bentuk rongga di dalamnya dapat terlihat dengan jelas dan tidak menimbulkan keraguan lagi dalam menentukan bentuk di bagian dalamnya. perlu adanya tanda pemotongan yang sudah ditetapkan sesuai dengan aturan-aturan menggambar teknik. Dengan adanya garis-garis tersebut gambar kelihatan agak rumit. Gambar 5. maka gambar dapat dijelaskan dengan menggunakan pemisalan bahwa benda tersehut dipotong--dengan gergaji. Gambar 5. diperoleh ketegasan atau kejelasan tentang bentuk dan rongga sebelah dalam. Dengan gambar potongan atau irisan.Tanda pemotongan ini terdiri atas: Teknik Pemesinan 118 . c) Tanda Pemotongan Untuk menjelaskan gambar yang dipotong. Gambar 5. Gambar potongan atau irisan harus diasir sesuai dengan batas garis pemotongannya. Dalam hal ini kita tidak bisa memastikan apakah lubang tersebut merupakan lubang tembus atau tidak tembus. yang menyebabkan informasi kurang jelas. sehingga informasi yang diberikan oleh gambar dapat efisien. mempunyai lubang yang bertingkat atau rata. Oleh karena Gambar 58a dan Gambar 58c menimbulkan keraguan dalam pembacaannya. seperti pada gambar 58c di atas.Gambar 5 59. Keterangan: Gambar 5. Sehingga setiap orang akan menafsirkan bentuk lubang yang berbeda.58c.58a. Memperlihatkan gambar lengkap dengan garis gores sebagai batas-batas garis yang tidak kelihatan.58b.

c.60). Teknik Pemesinan 119 . Untuk lebih jelasnya. Tanda pemotongan dengan garis tipis berzigzag (lihat Gambar 5. apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) atau proyeksi di kuadran III (Amerika).60). Gambar 5 60. Tanda pemotongan dengan garis tipis bergelombang bebas (lihat Gambar 5. Tanda pemotongan dengan gelombang dan zigzag d) Menempatkan Gambar Penampang/Potongan Untuk menempatkan gambar penampang atau gambar potongan.a. perhatikan Gambar 5. Tanda pemotongan dengan garis sumbu dan kedua ujungnya di tebalkan (lihat Gambar 5. Tanda pemotongan Gambar 5 61.59). kita perlu memperhatikan penempatan gambar potongan tersebut sesuai dengan proyeksi yang akan kita gunakan. b.61.

Gambar 5 62. Penempatan gambar potongan (1) Gambar 5 63. Penempatan gambar potongan (2) Teknik Pemesinan 120 .

jari-jari pejal dan semacamnya (lihat Gambar 5. Bagian-bagian yang tidak boleh dipotong tersebut yaitu bagian-bagian yang tidak diarsir.63a).62b. Gambar 5. Selain ditempatkan sesuai dengan proyeksi yang digunakan. Teknik Pemesinan 121 .62b. benda-benda tipis. penampang potong dapat juga diputar ditempat (penampang putar) seperti tampak pada Gambar 5. misal: pelat-pelat penguat pada dudukan poros dan pelat penguat pada flens (lihat Gambar 5. Penempatan potongan dengan diputar dan dipindah e) Benda-benda yang Tidak Boleh Dipotong Benda-benda yang tidak boleh dipotong yaitu benda-benda pejal.Jika proyeksi yang digunakan adaiah proyeksi Arnerika. maka gambar penampang potongannya diletakkan/berada di belakang arah anak panahnya. Jika proyeksi yang digunakan proyeksi Eropa maka penempatan gambar potongnya berada di depan arah anak panahnya.63b).62a. misal : poros pejal. atau dengan dipotong dan diputar kemudian dipindahkan ketempat lain segaris dengan sumbunya seperti tampak pada Gambar 5.62a. Penempatan potongan dengan diputar Gambar 5.

63a. Potongan dudukan poros f) Jenis-jenis Gambar Potongan Jenis-jenis gambar potongan/ irisan terdiri atas : • Gambar potongan penuh • Garnbar potongan separuh • Gambar potongan sebagian/setempat atau lokal • Gambar potongan putar • Gambar potongan bercabang atau meloncat 1. Gambar Potongan Penuh Perhatikan contoh gambar potongan penuh pada Gambar 5.64 berikut : Teknik Pemesinan 122 . Potongan jari-jari pejal Gambar 5.63b.Gambar 5.

Teknik Pemesinan 123 . Gambar Potongan Sebagian Gambar potongan sebagian disebut juga potongan lokal atau potongan setempat (lihat contoh Gambar 5. Potongan separuh 3.66).Gambar 5.64.65.65 berikut : Gambar 5. Potongan penuh 2. Gambar Potongan Separuh Perhatikan contoh gambar potongan pada Gambar 5.

Gambar 5. Potongan putar 5. Potongan sebagian 4. Gambar 5.67. Potongan bercabang atau meloncat Teknik Pemesinan 124 .62a atau dapat juga penempatan potongannya seperti pada Gambar 5. Gambar 5.68. Gambar Potongan Putar Gambar potongan putar dapat diputar setempat seperti tampak pada Gambar 5.62b.68 berikut. Gambar Potongan Bercabang atau Meloncat Perhatikan contoh Gambar 5.66.

Gambar 5.3). 1. Arsir yaitu garis-garis miring tipis yang dibatasi oleh garis-garis batas pemotongan. Tabel 5.69. Contoh penggunaan arsiran a) Macam-macam Arsiran Hal-hal yang perlu diperhatikan pada gambar yang diarsir antara lain: 1.Garis Arsiran Untuk membedakan gambar proyeksi yang dipotong dengan gambar pandanagn.69 di bawah. maka gambar potongan/ irisan perlu diarsir. Lihat Gambar 5. peletakan angka ukuran pada gambar yang diarsir 6. atau 450 terhadap garis batas gambar.3. Sudut dan Ketebalan Garis Arsiran Sudut arsiran yang dibuat adalah 450 terhadap garis sumbu utamanya. sedangkan ketebalan arsiran digunakan garis tipis dengan perbandingan ketebalan sebagai berikut (lihat tabel 5. pengarsiran bidang yang berdampingan 4. 10. sudut dan ketebalàn garis arsiran 2. bidang atau pengarsiran pada bidang yang luas 3. Macam-macam ketebalan garis Teknik Pemesinan 125 . pengarsiran benda-benda tipis 5. macam-macam garis arsiran yang disesuaikan dengan bendanya.

5 mm maka garis-garis arsirnya dibuat setebal 0.25 mm.70. Gambar 5. Sudut ketebalan garis arsiran b) Penggarisan Pada Bidang yang Luas dan Bidang Berdampingan Untuk potongan benda yang luas. Sudut dan ketebalan garis arsiran dapat dilihat pada gambar berikut.71).71). ada bidang-bidang potong yang berdampingan. maka batas-batas bidang yang berdampingan tersebut harus dibatasi oleh garis gores bertitik (sumbu) dan pengarsirannya harus turun atau naik dan ujung arsiran yang lainnya (lihat Gambar 5. arsiran pada bidang potongnya dilaksanakan pada garis tepi garis-garis batasnya (lihat Gambar 5.Dari tabel di atas kita dapat menentukan ketebalan garis arsiran yang disesuaikan dengan garis gambarnya. Gambar 5. Untuk pemotongan meloncat atau pemotongan bercabang.71. Jika garis tepi/gambar mempunyai ketebalan 0. Arsiran pada bidang luas dan bidang berdampingan c) Pengarsiran Benda-benda Tipis Teknik Pemesinan 126 .

Gambar 5.73.Untuk gambar potongan benda-benda tipis atau profil-profil tipis maka pengarsirannya dibuat dengan cara dilabur (lihat Gambar 5.72). Gambar 5. Arsiran benda tipis d) Angka Ukuran dan Arsiran Jika angka ukuran terletak pada arsiran (karena tidak dapat dihindari).73). Angka ukuran dan arsiran e) Macam-macam Arsiran f) Perhatikan Gambar 5.72. a b c d Teknik Pemesinan 127 .74 berikut ini. maka angka ukurannya jangan diarsir (lihat Gambar 5.

telah ditetapkan bahwa gambar proyeksi di Kuadran I dan gambar proyeksi di Kuadran III dapat digunakan sebagai gambar kerja. Gambar kerja harus memberikan informasi bentuk benda secara lengkap. Macam-macam arsiran Keterangan: a = Besi tuang b = Aluminium dan panduannya c = Baja dan baja istimewa d = Besi tuang yang dapat ditempa e = Baja cair f = Logam putih g = Paduan tembaga tuang h = Seng. baik proyeksi di kuadran I (Eropa) maupun proyeksi di kuadran III (Amerika). potongan/irisan dengan memperhatikan kaidah-kaidah proyeksi. Gambar kerja adalah gambar pandangan-pandangan. Teknik Pemesinan 128 . ketentuan-ketentuan tersebut meliputi ketentuan: • Menarik garis ukur dan garis bantu • Menggambar anak panah • Menetapkan jarak antara garis ukur • Menetapkan angka ukuran 11. ukuran pada gambar kerja harus dicantumkan secara Iengkap.e f g h Gambar 5.74. OIeh karena itu. maka pada gambar kerja harus dicantumkan ukuran dengan aturanaturan menggambar yang telah ditetapkan. dengan ketentuan kedua macam proyeksi tersebut tidak boleh dilakukan/dipakai secara bersama-sarna dalam satu gambar kerja. a) Ketentuan-ketentuan Dasar Pencatuman Ukuran Agar tidak menimbulkan keraguan di dalam membaca gambar. air raksa Ukuran Pada Gambar Kerja Sesuai dengan standar ISO (ISO/DIS) 128.

Tabel 5. Selain itu perlu diperhatikan pula ganis ukur jangan sampai berpotongan dengan ganis bantu. Teknik Pemesinan 129 . Garis gambar tidak boleh digunakan sebagai garis ukur. ukuran terkecil ditempatkan pada bagian dalam dan ukuran besar ditempatkan di bagian luar. Hal mi untuk rnenghindari perpotongan antara garis ukur dan garis bantu. Menarik Garis ukur dan Garis Bantu Garis ukur dan garis bantu dibuat dengan garis tipis perbandingan ketebalan antara garis gambar dan garis ukur/bantu lihat Tabel 4. kecuali terpaksa. maka jarak antara garis ukur yang satu dengan garis ukur Iainnya harus sarna.75 berikut.1. Menetapkan Jarak antara Garis Ukur Jika garis ukur terdiri atas garis-garis ukur yang sejajar. tetapi tidak boleh digunakan langsung sebagai garis ukur. Garis sumbu boleh digunakan sebagai garis bantu.4. Jika terdapat perpotongan garis bantu dengan garis ukur. Gambar 5. Cara penarikan garis dan ketebalanya 2. Untuk menempatkan garis ukur yang sejajar. garis bantunya diperpanjang 1 mm dan ujung anak panahnya. Perbandingan ketebalan garis bantu dengan garis gambar Contoh: Perhatikan Gambar 5.75.

Garis ukur pada umurnnya tegak lurus terhadap garis bantunya. Garis ukur tambahan (pelengkap) 6. Sebagai contoh. Teknik Pemesinan 130 . dapat dilihat pada gambar berikut. Garis ukur yang sejajar 2. tetapi pada keadaan tertentu garis bantu boleh dibuat miring sejajar/paralel. 12. Angka ukuran harus dapat dibaca dari bawah atau dari sisi kanan ganis ukurnya. Penempatan ganis ukur yang sempit 8. Garis bantu yang berpotongan (tidak dapat dihindarkan) 3. sehingga penulisan dan pernbacaannya tidak terhalik. (lihat Gambar 5. Garis ukur yang terkecil (ditempatkan di dalam) 5. kertas gambarnya dapat diputar ke kanan. Garis sumbu yang digunakan secara tidak langsung sebagai garis bantu 4. Garis bantu yang paralel (jika diperlukan) Penulisan Angka Ukuran Penulisan angka ukuran ditempatkan di tengah-tengah bagiar atas garis ukurnya.76. Perpanjangan garis bantu dilebihkan ± 1 mm dan garis ukurnya/ujung anak panahnya 7. atau di tengah-tengah sebelah kiri ganis ukurnya. Gambar 5. Untuk kertas gambar berukuran kecil maka penulisan angka ukuran pada garis ukur harus tegak.77). Jarak antara garis ukur Keterangan: 1.

fungsi. Oleh karena itu pencatuman ukuran diklasifikasikan menjadi: • Pengukuran dengan dimensi fungsional • Pengukuran dengan dirnensi nonfungsional • Pengukuran dengan dimensi tambahan • Pengukuran dengan kemiringan atau ketirusan • Pengukuran dengan bagian yang dikerjakan khusus • Pengukuran dengan kesimetrian 1. maka ukuran bagian yang satu dengan Iainnya. sehingga satu sama lain mempunyai ukuran yang berpasangan dan pencatuman ukurannya sebagai fungsi yang berpasangan. Penulisan angka ukuran Jika kertas gambar diputar ke kiri. Jika benda kerja yang di gambar berdiri sendiri.Gambar 5. a) Klasifikasi Pencatuman Ukuran Benda-benda yang diukur mempunyai bentuk yang bermacammacam. Ukuran (c) pada gambar di atas adalah penulisan angka ukuran yang terbalik. maka digambar sesuai dengan ukurannya dan pencaturnan ukurannya sebagai fungsi pengerjaan. Teknik Pemesinan 131 . akan menghasilkan angka ukuran yang terbalik.77.mempunyai fungsi yang sama. atau pengerjaan yang khusus. nonfungsional dan ukuran tambahan Jika suatu benda terdiri atas bagian-bagian (bagian yang dirakit). Pengukuran dengan dimensi fungsional. tetapi dalam sistem pengeijaannya terhadap. kualitas.

dalam hal ini supaya tidak menimbulkan kekacauan dalam membaca gambar terutama dalarn jurnlah ukuran total.78. Pengukuran ketirusan Teknik Pemesinan 132 . maka ukuran pada gambar dilengkapi dengan ukuran tambahan. Pengukuran Ketirusan Untuk mencatumkan ukuran benda yang mempunyai bentuk miring.Ukuran-ukuran yang tidak berfungsi disebut ukuran nonfungsional.79. Gambar 5. Untuk melengkapi ukuran. Ukuran tambahan ini harus ditempatkan di antara dua kurung atau di dalam kurung (lihat Gambar 5. Ukuran tambahan Keterangan: F = dimensi fungsional NJF = dirnensi nonfungsional H = dimensi tambahan 2. Gambar 5. ukuran kemiringannya dicantumkan dengan harga tangen sudutnya.78 berikut).

3. Penunjukan Ukuran pada bagian yang dikerjakan khusus Untuk memberikan keterangan gambar pada benda-benda yang dikerjakan khusus, misalnya dikartel pada bagian tertentu atau dihaluskan dengan ampelas halus, maka pada bagian yang dikerjakan khusus tadi gambar luarnya diberi garis tebal bertitik (lihat Gambar 5.80).

Gambar 5.80. Penunjukan ukuran pengerjaan khusus 4. Pemberian ukuran pada bagian-bagian yang simetris. Untuk memberikan ukuran-ukuran pada gambar-gambar simetris, jarak antara tepi dan sumbu simetrisnya tidak dicanturnkan (lihat Gambar 5.81).

Gambar 5.81. Penunjukan ukuran pada bagian yang simetris

Teknik Pemesinan

133

b) Pencatuman Simbol-simbol Ukuran Untuk benda-benda dengan bentuk tertentu, ukurannya dicantumkan disertai simbol bentuknya: misal benda-benda yang berbentuk silinder, bujur sangkar, bola dan pingulan (Chamfer). Lihat Gambar 5.82 berIkut.

Gambar 5.82. Pencantuman simbol-simbol ukuran Keterangan: 50 = Diameter bola dengan ukuran 32 mm SR 16 = Jari-jari bola dengan ukuran 16 mm C3 = Chamfer atau pinggulan dengan ukuran 3 x 45 023 = Simbol ukuran silinder, dengan ukuran 23 mm 34 = Simbol ukuran bujur sangkar, dengan ukuran sisinya 34 mm 120 = Simbol ukuran tidak menurut skala yang sehenarnya M12 = Simbol ukuran ulir dengan jenis ulir metris dan diameter luarnya 12 mm 2 = (Silang/cros clengan garis tipis) ; simbol bidang rata I = (Strip titik tebal) ; simbol bagian yang dikerjakan khusus

Teknik Pemesinan

134

a. Penunjukan ukuran jari-jari Untuk rnenunjukkan ukuran jari-jari, dapat digambarkan dengan garis ukur dimulai dan titik pusat sampai busur Iingkararmya. Sebagai simbol dari jari-jari tersebut, diberi tanda huruf “R” (lihat Gambar 5.83 berikut).

Gambar 5.83. Pengukuran jari-jari

Gambar 5.84. Penempatan anak panah dan ukuran di dalam lingkaran

Gambar 5.85. Penempatan anak panah dan ukuran di luar lingkaran

Teknik Pemesinan

135

Pengukuran Ketebalan Pengukuran benda-benda tipis, seperti pengukuran pada pelat ukuran tebalnya dapat dilengkapi dengan simbol “t” sebagai singkatan dan “thicknees” yang secara kebetulan artinya tebal (juga berhuruf awal “t”). Penunjukan ukurannya lihat Gambar 5.86 berikut :

13.

Gambar 5.86. Penunjukan ukuran a) Jenis-jenis Penulisan Ukuran Penulisan ukuran pada gambar kerja, menurut jenisnya terdiri atas; • Ukuran berantai • Ukuran paralel (sejajar) • Ukuran kombinasi • Ukuran berimpit • Ukuran koordinat • Ukuran yang berjarak sama • Ukuran terhadap bidang referensi 1. Ukuran berantai Percantuman ukuran secara berantai ini ada kelebihan dari kekurangannya. Kelebihannya adalah mempercepat pembuatan gambar kerja, sedangkan kekurangannya adalah dapat mengumpulkan toleransi yang semakin besar, sehingga pekerjaan tidak teliti. Oleh karena itu pencantuman ukuran secara berantai ini pada umumnya dilakukan pada pekerjaan-pckerjaan yang tidak mernerlukan ketelitian yang tinggi. Lihat Gambar 5.87.

Gambar 5.87. Ukuran berantai Teknik Pemesinan 136

2. Ukuran paralel (sejajar)

Gambar 5.88. Ukuran sejajar 3. Ukuran kombinasi

Gambar 5.89. Ukuran kombinasi 4. Ukuran berimpit Ukuran berimpit yaitu pengukuran dengan garis-garis ukur yang ditumpangkan (berimpit) satu sama lain. Ukuran berimpit ini dapat dibuat jika tidak menimbulkan kesalah pahaman dalam membaca gambarnya (lihat Gambar 5.90).

Gambar 5.90. Ukuran berimpit Teknik Pemesinan 137

titik pangkal sebagai batas ukuran/patokan ukuran (bidang referensi)nya harus dibuat lingkaran. Perigukuran koordinat Jika pengukuran berimpit dilakukan dengan dua arah.91). yaitu penunjukan ukuran ke arah sumbu x dan penunjukan ukurah ke arah Teknik Pemesinan 138 . dan angka ukurannya harus diletakkan dekat anak panah sesuai dengan penunjukan ukurannya. Pengukuran terhadap bidang ‘referensi Bidang referensi adalah bidang batas ukuran yang digunakan sebagai jatokan pengukur Contoh : pengukuran benda kerja bubutan terhadap bidang datar/rata (lihat Gambar 5.Pada pengukuran berimpit ini. Gambar 5. Pengukuran berimpit 6.91. 5.

sumbu y dengan bidang referensinya di 0. Pengukuran berjarak sama Untuk rnenghindarkan kesalahan/keraguan didalam membaca gambarnya.92. penunjukan ukurannya dapat dilaksanakan sebagai berikut (lihat Gambar 5.94). Teknik Pemesinan 139 . Gambar 5.93.92). maka akan didapat pengukuran “koordinat” (lihat Gambar 5. Pengukuran yang berjarak sama Untuk memberikan ukuran pada bagian yang berjarak sama. dapat dituliskan dalah satu ukurannya (lihat Gambar 5. Pengukuran koordinat 7.93). Gambar 5.

misalnya pada kopling. Pengukuran alur pasak Jika kita memberikan ukuran diameter pada penampang/potongan yang beralur pasak.95. Pengukuran pada lubang Untuk memberikan ukuran pada lubang yang berjarak sama.96. dapat dilakukan seperti tampak pada Gambar 5. roda gigi. atau alur pasak pada puli. Pengukuran berjarak sama 8. Pengukuran pada lubang Teknik Pemesinan 140 .96 berikut. Gambar 5.95. Gambar 5. Pengukuran alur pasak 9. maka penunjukan ukuran diameternya seperti tampak pada Gambar 5.Gambar 5.94.

10.97.99. Pengukuran profil Untuk memberikan ukuran pada profil-profil yang telah distandar. serta pengukurannya. Pengukuran profil 11. Pengukuran mur Teknik Pemesinan 141 .98. dapat dilakukan seperti tampak pada Gambar 5. Pembuatan gambar mur Gambar 5.97 berikut. Gambar 5. Cara membuat gambar mur dan baut. Gambar 5.

Pembuatan gambar baut Gambar 5.Gambar 5.101.100. Pembuatan gambar mur dan baut Teknik Pemesinan 142 .

BAB 6 MENGENAL PROSES BUBUT (TURNING) Teknik Pemesinan 143 .

Prinsip dasarnya dapat didefinisikan sebagai proses pemesinan permukaan luar benda silindris atau bubut rata : Dengan benda kerja yang berputar Dengan satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool) Dengan gerakan pahat sejajar terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu sehingga akan membuang permukaan luar benda kerja (lihat Gambar 6. Gambar 6 1. Selain itu proses pengaturan (setting) pahatnya tetap dilakukan satu persatu.1 no. Teknik Pemesinan 144 . tetapi proses bubut bermata potong jamak tetap termasuk proses bubut juga. Gambar 6. 2) adalah proses bubut yang identik dengan proses bubut rata. Proses bubut permukaan (surface turning. Gambar 6.1 no. dilakukan dengan cara memvariasi kedalaman potong. tetapi arah gerakan pemakanan tegak lurus terhadap sumbu benda kerja. hanya jalannya pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja.2. 3) sebenarnya identik dengan proses bubut rata di atas. Walaupun proses bubut secara khusus menggunakan pahat bermata potong tunggal.1 no. karena pada dasarnya setiap pahat bekerja sendiri-sendiri.P roses bubut adalah proses pemesinan untuk menghasilkan bagianbagian mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan Mesin Bubut. Demikian juga proses bubut kontur. dan (3) bubut tirus. Proses bubut tirus (taper turning. sehingga mengha-silkan bentuk yang diinginkan. Gambar skematis Mesin Bubut dan bagianbagiannya dijelaskan pada Gambar 6. (2) bubut permukaan. 1). (1) Proses bubut rata.

.(6. A. rpm).. gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut)...Gambar 6 2.. tetapi tiga parameter di atas adalah bagian yang bisa diatur oleh operator langsung pada Mesin Bubut.. Kecepatan putar dinotasikan sebagai putaran per menit (rotations per minute. Akan tetapi yang diutamakan dalam proses bubut adalah kecepatan potong (cutting speed atau v) atau kecepatan benda kerja dilalui oleh pahat/keliling benda kerja (lihat Gambar 6. n (speed)... Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed).... Faktor yang lain seperti bahan benda kerja dan jenis pahat sebenarnya juga memiliki pengaruh yang cukup besar..... Kecepatan putar..1) 1000 v = kecepatan potong (m/menit) d = diameter benda kerja (mm) n = putaran benda kerja (putaran/menit) Teknik Pemesinan 145 .. Gambar skematis Mesin Bubut dan nama bagian- bagiannya.. selalu dihubungkan dengan sumbu utama (spindel) dan benda kerja..3)..... Secara sederhana kecepatan potong dapat digambarkan sebagai keliling benda kerja dikalikan dengan kecepatan putar atau : v Di mana : dn ..

Gerak makan tersebut berharga sekitar 1/3 sampai 1/20 a. adalah tebal bagian benda kerja yang dibuang dari benda kerja.). Gambar 6 4.Gambar 6 3. adalah jarak yang ditempuh oleh pahat setiap benda kerja berputar satu kali (Gambar 6. Dengan demikian kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja. Kedalaman potong a (depth of cut). Gerak makan. atau sesuai dengan kehalusan permukaan yang dikehendaki. kecepatan potongnya antara 20 sampai 30 m/menit. maka diameter benda kerja akan Teknik Pemesinan 146 . atau jarak antara permukaan yang dipotong terhadap permukaan yang belum terpotong (lihat Gambar 6. Gerak makan ditentukan berdasarkan kekuatan mesin.4. Ketika pahat memotong sedalam a. Selain kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja faktor bahan benda kerja dan bahan pahat sangat menentukan harga kecepatan potong. material pahat. Gerak makan (f) dan kedalaman potong (a). Panjang permukaan benda kerja yang dilalui pahat setiap putaran. Pada dasarnya pada waktu proses bubut kecepatan potong ditentukan berdasarkan bahan benda kerja dan pahat. Gerak makan biasanya ditentukan dalam hubungannya dengan kedalaman potong a. bentuk pahat. misalnya untuk benda kerja Mild Steel dengan pahat dari HSS. material benda kerja.4. sehingga satuan f adalah mm/putaran. f (feed). Harga kecepatan potong sudah tertentu. dan terutama kehalusan permukaan yang diinginkan.).

berkurang 2a. Untuk pahat bubut bermata potong tunggal. Proses tersebut dilakukan di Mesin Bubut dengan bantuan/tambahan peralatan lain agar proses pemesinan bisa dilakukan (lihat Gambar 6. proses memperbesar lubang (boring). (b) pembubutan alur (parting-off).. B. karena bagian permukaan benda kerja yang dipotong ada di dua sisi.). yaitu bubut dalam (internal turning). Sedangkan bila pahat tersebut adalah pahat sisipan (insert) yang dipasang pada tempat pahatnya. (d) pembubutan lubang (boring). proses pembuatan lubang dengan mata bor (drilling). pada Mesin Bubut dapat juga dilakukan proses pemesinan yang lain.1. Proses pemesinan yang dapat dilakukan pada Mesin Bubut : (a) pembubutan pinggul (chamfering). akibat dari benda kerja yang berputar. geometri pahat dapat dilihat pada Gambar 6. Sudutsudut pahat HSS dibentuk dengan cara diasah menggunakan mesin gerinda pahat (Tool Grinder Machine). dan pembuatan alur (grooving/parting-off). dan (f) pembuatan kartel (knurling).7.6. Geometri Pahat Bubut Geometri/bentuk pahat bubut terutama tergantung pada material benda kerja dan material pahat. sudut pahat yang paling pokok adalah sudut beram (rake angle). (c) pembubutan ulir (threading). (e) pembuatan lubang (drilling). Beberapa proses pemesinan selain proses bubut pada Gambar 6. Selain geometri pahat tersebut pahat bubut bisa juga diidentifikasikan berdasarkan letak sisi Teknik Pemesinan 147 . Terminologi standar ditunjukkan pada Gambar 6. pembuatan ulir (thread cutting). Gambar 6 5. sudut bebas (clearance angle). dan sudut sisi potong (cutting edge angle).5.

Gambar 6 6.potong (cutting edge) yaitu pahat tangan kanan (Right-hand tools) dan pahat tangan kiri (Left-hand tools). Geometri pahat bubut sisipan (insert). Teknik Pemesinan 148 .8. lihat Gambar 6. Geometri pahat bubut HSS (Pahat diasah dengan mesin gerinda pahat). Gambar 6 7.

Gambar 6 9. Untuk pahat yang berbentuk sisipan (inserts). Pemegang pahat HSS : (a) pahat alur. (lihat Gambar 6.10). Teknik Pemesinan 149 . Pahat bubut di atas apabila digunakan untuk proses membubut biasanya dipasang pada pemegang pahat (tool holder). pahat tersebut dipasang pada tempat pahat yang sesuai. dan (e) pahat ulir. (c) pahat rata kanan. Pemegang pahat tersebut digunakan untuk memegang pahat dari HSS dengan ujung pahat diusahakan sependek mungkin agar tidak terjadi getaran pada waktu digunakan untuk membubut (lihat Gambar 6.Gambar 6 8. Pahat tangan kanan dan pahat tangan kiri.9). (d) pahat rata kiri. (b) pahat dalam.

Standar ISO untuk pahat sisipan dapat dilihat pada Lampiran. Pahat bubut sisipan (inserts).Gambar 6 10. C. dan pengkodean pemegang pahat dapat dilihat juga pada Lampiran. dan pahat sisipan yang dipasang pada pemegang pahat (tool holders). Bentuk dan pengkodean pahat sisipan serta pemegang pahatnya sudah distandarkan oleh ISO. Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut Elemen dasar proses bubut dapat dihitung/dianalisa dengan menggunakan rumus-rumus dan Gambar 6. berikut : lt do f.11. Gambar skematis proses bubut. Keterangan : Benda Kerja do dm lt Pahat : : = diameter mula (mm) = diameter akhir (mm) = panjang pemotongan (mm) Teknik Pemesinan 150 . put/men r dm a Gambar 6 11.

.....5) di mana : A = a. mm / menit...... sifat ini dinamakan Hot Hardness...... Ketahanan aus sangat dibutuhkan yaitu ketahanan pahat melakukan pemotongan tanpa terjadi keausan yang cepat........... Kekerasan dan kekuatan pahat harus tetap bertahan meskipun pada temperatur tinggi......................2) ...(6...............v.......... m/ menit .... pemilihan mesin... 6.............. menit..... 1........ tetapi juga meliputi penentuan/pemilihan material pahat berdasarkan material benda kerja. sehingga nantinya dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik (ukuran tepat) dan ekonomis (waktu yang diperlukan pendek).... penentuan cara pengukuran dan alat ukur yang digunakan............... sehingga pahat tidak akan pecah atau retak terutama pada saat melakukan pemotongan dengan beban kejut....................( 1000 d = diameter rata-rata benda kerja ( (do+dm)/2 ) (mm) n = putaran poros utama (put/menit) = 3... Teknik Pemesinan 151 . Ketangguhan (toughness) dari pahat diperlukan...... penentuan langkah kerja/langkah penyayatan dari awal benda kerja sampai terbentuk benda kerja jadi.......3) 3) Waktu pemotongan tc lt ....= sudut potong utama/sudut masuk r Mesin Bubut : a = kedalaman potong (mm) f = gerak makan (mm/putaran) n = putaran poros utama (putaran/menit) 1) Kecepatan potong : v dn ......(6. ..f mm2 Perencanaan proses bubut tidak hanya menghitung elemen dasar proses bubut.... Material Pahat Pahat yang baik harus memiliki sifat-sifat tertentu..........n.....14 2) Kecepatan makan vf f ... penentuan cara pencekaman....(6.................4) vf 4) Kecepatan penghasilan beram Z A. cm 3 / menit...........

Teknik Pemesinan 152 . penghalusan). Baja karbon ini sekarang hanya digunakan untuk kikir. (a) Kekerasan dari beberapa macam material pahat sebagai fungsi dari temperatur. Sifat hot hardness dari beberapa material pahat ditunjukkan pada Gambar 6. dan pahat tangan. bilah gergaji. Material pahat yang ada ialah baja karbon sampai dengan keramik dan intan.1. karena bahan ini tidak tahan panas (melunak pada suhu 300-500o F).12.Penentuan material pahat didasarkan pada jenis material benda kerja dan kondisi pemotongan (pengasaran. (b) jangkauan sifat material pahat.05%) pada saat ini sudah jarang digunakan untuk proses pemesinan. adanya beban kejut. Material pahat dari HSS (High Speed Steel) dapat dipilih jenis M atau T. dan jenis T berarti pahat HSS yang mengandung unsur Tungsten. Gambar 6 12. Material pahat dari baja karbon (baja dengan kandungan karbon 1. Beberapa jenis HSS dapat dilihat pada Tabel 6. Jenis M berarti pahat HSS yang mengandung unsur Molibdenum.

2. besi tuang dan non ferro yang mempunyai sifat mampu mesin yang baik. Teknik Pemesinan 153 . membubut bahan benda kerja hasil proses penuangan. Pahat jenis ini diberi kode huruf P (atau C5 sampai C8) dan kode warna biru. M2. M43. Selain kedua jenis tersebut ada pahat karbida yang diberi kode huruf M. T5. M7. Hal tersebut misalnya membubut benda segi empat menjadi silinder. Pahat dari karbida dibagi dalam dua kelompok tergantung penggunaannya. M3-2. dan kode warna kuning. Pahat jenis ini diberi kode huruf K (atau C1 sampai C4) dan kode warna merah. membubut eksentris (proses pengasarannya). M36. M46 Tabel 6 1.Jenis HSS HSS Konvensional Molibdenum HSS Tungsten HSS HSS Spesial Cobald added HSS High Vanadium HSS High Hardness Co HSS Cast HSS Powdered HSS Coated HSS Standart AISI M1. M42. M45. Jenis pahat HSS Pahat dari HSS biasanya dipilih jika pada proses pemesinan sering terjadi beban kejut. T4. atau proses pemesinan yang sering dilakukan interupsi (terputus-putus). T2 M33. M4. M44. Bila digunakan untuk benda kerja besi tuang yang tidak liat dinamakan cast iron cutting grade . T15 M41. Pahat karbida ini digunakan untuk menyayat berbagai jenis baja. M10 T1. T6 M3-1. Apabila digunakan untuk menyayat baja yang liat dinamakan steel cutting grade. Contoh pahat karbida untuk menyayat berbagai bahan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 2. Contoh penggolongan pahat jenis karbida dan penggunaannya. Teknik Pemesinan 154 .

benda kerja harus ada lubang senternya di kedua sisi benda kerja. Ukuran Mesin Bubut diketahui dari diameter benda kerja maksimal yang bisa dikerjakan (swing over the bed). Teknik Pemesinan 155 .13. Dengan pertimbangan awal diameter maksimal benda kerja yang bisa dikerjakan oleh mesin yang ada.). Dalam hal ini. Gambar 6 13. Pemilihan Mesin Pertimbangan pemilihan mesin pada proses bubut adalah berdasarkan dimensi benda kerja yang yang akan dikerjakan. tetapi menggunakan dua senter dan pembawa. Pemilihan Mesin Bubut yang digunakan untuk proses pemesinan bisa juga dilakukan dengan cara memilih mesin yang ada di bengkel (workshop). dan panjang meja Mesin Bubut (length of the bed). Ketika memilih mesin perlu dipertimbangkan kapasitas kerja mesin yang meliputi diameter maksimal benda kerja yang bisa dikerjakan oleh mesin. Benda kerja dipasang di antara dua senter. Cara yang pertama adalah benda kerja tidak dicekam. Panjang meja Mesin Bubut diukur jarak dari headstock sampai ujung meja. Pencekaman/ pemegangan benda kerja pada Mesin Bubut bisa digunakan beberapa cara.2. Sedangkan panjang maksimal benda kerja adalah panjang meja dikurangi jarak yang digunakan kepala tetap dan kepala lepas. 3. (lihat Gambar 6. Pencekaman Benda Kerja Setelah langkah pemilihan mesin tersebut di atas. Beberapa jenis Mesin Bubut manual dengan satu pahat sampai dengan Mesin Bubut CNC dapat dipilih untuk proses pemesinan (Lihat Lampiran 1). dipilih juga alat dan cara pencekaman/pemasangan benda kerja. dan panjang benda kerja yang bisa dikerjakan.

Cekam rahang empat (untuk benda kerja tidak silindris) . Cekam rahang tiga (untuk benda silindris).Cara kedua yaitu dengan menggunakan alat pencekam (Gambar 6. Alat pencekam yang bisa digunakan adalah : a. Alat pencekam ini tiga buah rahangnya bergerak bersama-sama menuju sumbu cekam apabila salah satu rahangnya digerakkan. Penggunaan cekam rahang tiga atau cekam rahang empat.14. Alat pencekam/ dengan kualitas geometris yang pemegang benda kerja proses dituntut oleh gambar kerja.15). c. Face plate. apabila kurang hati-hati akan menyebabkan permukaan benda kerja terluka. Pencekaman dengan cara ini tidak akan meninggalkan bekas pada permukaan benda kerja. karena gaya pencekaman tidak mampu menahan beban yang tinggi. (lihat Gambar 6. Alat pencekam ini masing-masing rahangnya bisa diatur sendirisendiri. sehingga benda kerja tergelincir atau selip. sehingga mudah dalam mencekam benda kerja yang tidak silindris. b. digunakan untuk mencekam benda kerja berbentuk silindris dengan ukuran sesuai diameter collet. Collet. digunakan untuk menjepit benda kerja pada suatu permukaan plat dengan baut pengikat yang dipasang pada alur T. agar benda kerja tidak tertekan. apabila memilih cekam rahang tiga untuk mencekam benda kerja silindris yang relatif panjang. Pemilihan alat pencekam yang tepat akan menghasilkan produk yang sesuai Gambar 6 14. sangat menentukan hasil proses bubut. d. hendaknya digunakan juga senter jalan yang dipasang pada kepala lepas. Teknik Pemesinan 156 . Hal tersebut terjadi misalnya pada waktu proses bubut dengan kedalaman potong yang besar.). Pemilihan cara pencekaman tersebut di atas. Misalnya bubut.

Hal ini perlu diperhatikan terutama pada proses finishing. proses pemotongan ulir. permukaan. Benda kerja yang relatif panjang dipegang oleh cekam rahang tiga dan didukung oleh senter putar Beberapa contoh proses bubut. alur. Penentuan Langkah Kerja Langkah kerja dalam proses bubut meliputi persiapan bahan benda kerja. profil. Hal tersebut dikerjakan untuk setiap tahap (jenis pahat tertentu).16. penentuan kondisi pemotongan. ulir). Beberapa contoh proses bubut dengan cara pencekaman/pemegangan benda kerja yang berbeda-beda. setting mesin. Gambar 6 15. Gambar 6 16. perhitungan waktu pemotongan. penentuan jenis pemotongan (bubut lurus. pemasangan pahat. Teknik Pemesinan 157 . dan proses pembuatan alur. dan pemeriksaan hasil berdasarkan gambar kerja. dengan cara pencekaman yang berbeda-beda dapat dilihat pada Gambar 6. 4.

Usahakan bagian pahat yang menonjol tidak terlalu panjang. pemegangan pahat. Pengaturannya sekaligus sebelum proses pembubutan. sehingga proses penggantian pahat bisa dilakukan dengan cepat (quick change). alat pencekam benda kerja. Posisi ujung pahat harus pada sumbu kerja Mesin Bubut. Apabila pahat yang digunakan dalam proses pemesinan lebih dari satu. dan posisi kepala lepas. pahat ulir. pahat alur. Usahakan posisi sumbu kerja kepala tetap (spindel) dengan kepala lepas pada satu garis untuk pembubutan lurus. Pahat bubut bisa dipasang pada tempat pahat tunggal. Pemasangan pahat dilakukan dengan cara menjepit pahat pada rumah pahat (tool post). Apabila pengerjaan pembubutan hanya memerlukan satu macam pahat lebih baik digunakan tempat pahat tunggal. Penyiapan (setting) mesin dilakukan dengan cara memeriksa semua eretan mesin. (lihat Gambar 6. Pemasangan pahat. Posisi ujung pahat yang terlalu rendah tidak direkomendasi. Gambar 6 17. Teknik Pemesinan 158 . posisi kepala lepas. putaran spindel. dan proses pemotongan tidak efektif. sehingga hasil pembubutan tidak tirus. karena menyebabkan benda kerja terangkat.Bahan benda kerja yang dipilih biasanya sudah ditentukan pada gambar kerja baik material maupun dimensi awal benda kerja. supaya tidak terjadi getaran pada pahat ketika proses pemotongan dilakukan. atau pada sumbu benda kerja yang dikerjakan. misalnya pahat rata. maka sebaiknya digunakan tempat pahat yang bisa dipasang sampai empat pahat. atau pada tempat pahat yang berisi empat buah pahat (quick change indexing square turret).17).

Teknik Pemesinan 159 30 34 . Perencanaan proses penyayatan benda kerja dilakukan dengan cara menentukan arah gerakan pahat .2. sampai dengan rumus 6. 5.Gambar 6 18. Tempat pahat (tool post) : (a) untuk pahat tunggal. 37) seperti Gambar 6. Perencanaan Proses Membubut Lurus Proses membubut lurus adalah menyayat benda kerja dengan gerak pahat sejajar dengan sumbu benda kerja. Gambar benda kerja yang akan dibuat. kemudian menghitung elemen dasar proses bubut sesuai dengan rumus 6.19 berikut.5. (b) untuk empat pahat. Contoh : Akan dibuat benda kerja dari bahan Mild Steel (ST. 26 35 75 Gambar 6 19.

Benda kerja dikerjakan Bagian I terlebih dulu. v = 34 m/menit (HSS) =5o. 160 Teknik Pemesinan . Penentuan jenis pahat. geometri pahat.Perencanaan proses bubut : a. panjang ujung pahat dari tool post sekitar 10 sampai dengan 15 mm. Material benda kerja : Mild Steel (ST. 34 mm x 75 mm b. pahat kanan. (Tabel yang direkomendasikan oleh produsen Mesin Bubut) : =8o. =14o. Pemasangan pahat : Menggunakan tempat pahat tunggal (tool post) yang tersedia di mesin.20). =0o.3. 37). Material pahat : HSS atau Pahat Karbida jenis P10. dia. d. Dengan geometri pahat dan kondisi pemotongan dipilih dari Tabel 6. e. kemudian dibalik untuk mengerjakan Bagian II (Gambar 6. Mesin yang digunakan : Mesin Bubut dengan kapasitas diameter lebih dari 1 inchi. v = 170 m/menit (Pahat karbida sisipan) c. f. Tabel 6 3. dan f (EMCO). sudut masuk r = 93o. v. Pencekam benda kerja : Cekam rahang tiga.

dan lintasan pahat.1 mm/put. sehingga bagian yang menonjol sekitar 50 mm. f = 0..5 dan gambar rencana jalannya pahat adalah sebagai berikut (perhitungan dilakukan dengan software spreadshheet) : II I a1 a2 50 5 Gambar 6 20. Gerakan pahat dijelaskan seperti Gambar 6. Gambar rencana pencekaman. Data untuk elemen dasar : untuk pahat HSS : v = 34 m/menit. penyayatan. f = 0. h..g. 21 : Teknik Pemesinan 161 . Pemotongan pertama sebagai pemotongan pengasaran (roughing) dan pemotongan kedua sebagai pemotongan finishing. Keterangan : 1) Benda kerja dicekam pada Bagian II. a = 2 mm.2 – 2. untuk pahat karbida : v = 170 m/menit. Bahan benda kerja telah disiapkan (panjang bahan sudah sesuai dengan gambar). i. 2) Penyayatan dilakukan 2 kali dengan kedalaman potong a1 = 2 mm dan a2 = 2 mm. kedua permukaan telah dihaluskan. Perhitungan elemen dasar berdasarkan rumus 2.1 mm/put. a = 2 mm. 3) Panjang pemotongan total adalah panjang benda kerja yang dipotong ditambah panjang awalan (sekitar 5 mm) dan panjang lintasan keluar pahat (sama dengan kedalaman potong) .

67 1.80 b.84 1.a) Gerakan pahat dari titik 4 ke titik 1 adalah gerak maju dengan cepat (rapid) b) Gerakan pahat dari titik 1 ke titik 2 adalah gerakan penyayatan dengan f = 0.4.38 33.1 mm/putaran a= 4 mm a1= 2 mm a2= 2 mm a3= . Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 6.. a.1 mm/putaran d) Gerakan pahat dari titik 3 ke titik 4 adalah gerakan cepat (dikerjakan dengan memutar eretan memanjang). mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= 26 mm 42 mm lt= Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 338. Gambar 6 21. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida P10) v= 170 mm/menit f= 0. Gambar rencana gerakan dan lintasan pahat.1 mm/putaran c) Gerakan pahat dari titik 2 ke titik 3 adalah gerakan penyayatan dengan f = 0.1 mm/putaran a= 4 mm 162 Teknik Pemesinan .09 6. Setelah rencana jalannya pahat tersebut di atas kemudian dilakukan perhitungan elemen dasar pemesinannya.24 6.80 Bubut rata a2 386. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) v= 34 mm/menit f= 0.72 38.

00 Bubut rata a2 1933.19 0.58 193. yaitu (50+5+2) mm. mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= 26 mm 42 mm lt= Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 1691.. Gambar rencana pencekaman. dan lintasan pahat.00 Tabel 6 4.25 34. Lintasan pahat sama dengan lintasan pahat pada Gambar 6.88 169. Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan Bagian I.22 34. Teknik Pemesinan 163 . hanya panjang penyayatannya berbeda.a1= 2 mm a2= 2 mm a3= . penyayatan. I II a3 60 5 Gambar 6 22.36 0. Bagian II : Benda kerja dibalik.21.22. sehingga bagian I menjadi bagian yang dicekam seperti terlihat pada Gambar 6.

84 1. mm a3= 2 mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= ...5 berikut ini : Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) v= 34 mm/menit f= 0. mm a2= . mm lt= 57 mm Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a3 338.80 Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida) v= 170 mm/menit f= 0. mm lt= 57 mm Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a3 1691. 2) Apabila parameter pemotongan n diubah. 3) Waktu yang diperlukan untuk membuat benda kerja jadi bukanlah jumlah waktu pemotongan (tc) keseluruhan dari tabel perhitungan di Teknik Pemesinan 164 .88 169.68 6.1 mm/putaran a= 2 mm a1= .34 34.00 Tabel 6 5.19 0.. Kalau putaran spindel hasil perhitungan tidak ada yang sama (hampir sama) dengan tabel putaran spindel di mesin sebaiknya dipilih putaran spindel di bawah putaran spindel hasil perhitungan. mm a3= 2 mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= . Catatan : 1) Pada prakteknya parameter pemotongan terutama putaran spindel (n) dipilih dari putaran spindel yang tersedia di Mesin Bubut tidak seperti hasil perhitungan dengan rumus di atas.38 33. mm a2= .1 mm/putaran a= 2 mm a1= .. Hasil perhitungan eleman dasar pemesinan Bagian II..Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan dapat dilihat pada Tabel 6.. maka elemen dasar pemesinan yang lain berubah juga.

Akan tetapi hal tersebut akan menyebabkan pemborosan bahan benda kerja jika membuat benda kerja dalam jumlah banyak. 8) Apabila benda kerja dikerjakan dengan dua senter (setting seperti Gambar 6. Dengan demikian waktu ditambah dengan waktu pembuatan lubang senter. Waktu non produktif diperoleh dengan mencatat waktu yang diperlukan untuk masing-masing waktu non produktif tersebut.5). Perencanaan Proses Membubut Tirus Benda kerja berbentuk tirus (taper) dihasilkan pada proses bubut apabila gerakan pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. karena gerakan pahat kembali relatif lama (ulir eretan atas kisarnya lebih kecil dari pada ulir transportir).13). Pengerjaan dengan cara ini memakan waktu cukup lama. maka benda kerja harus diberi lubang senter pada kedua ujungnya. dan Mesin Bubut yang disetel khusus untuk membuat bahan benda kerja) c) waktu pemasangan benda kerja d) waktu pengecekan ukuran benda kerja e) waktu yang diperlukan pahat untuk mundur (retract) f) waktu yang diperlukan untuk melepas benda kerja g) waktu yang diperlukan untuk mengantarkan benda kerja (dari bagian penyiapan benda kerja ke mesin). Dengan memiringkan eretan atas pada sudut tertentu (Gambar 6. 9) Pahat karbida lebih produktif dari pada pahat HSS. b. karena waktu penyiapan mesin tidak dilakukan untuk setiap benda kerja yang dikerjakan. Waktu pembuatan benda kerja harus ditambah waktu non produktif yaitu : a) waktu penyiapan mesin/pahat b) waktu penyiapan bahan benda kerja (dengan mesin gergaji. perhitungan elemen dasar pada prinsipnya sama dengan bubut luar. gerakan pahat (pemakanan) dilakukan secara manual (memutar handle eretan atas). 5) Untuk benda kerja tunggal waktu penyelesaian benda kerja lebih lama dari pada pembuatan massal (waktu rata-rata per produk). 6.23). 4) Tidak ada rumus baku untuk menentukan waktu non produktif. Cara membuat benda tirus ada beberapa macam : a.atas (Tabel 6. 7) Apabila diinginkan pencekaman hanya sekali tanpa membalik benda kerja.4 dan Tabel 6. maka bahan benda kerja dibuat lebih panjang sekitar 30 mm. 6) Untuk proses bubut rata dalam. Teknik Pemesinan 165 . tetapi pada bubut dalam diameter awal (do) lebih kecil dari pada diameter akhir (dm).

Teknik Pemesinan 166 . Pembuatan tirus lebih cepat karena gerakan pemakanan (feeding) bisa dilakukan otomatis (Gambar 6.24).c. Gambar 6 24. Proses membubut tirus luar dengan bantuan alat bantu tirus (taper attachment). Gambar 6 23. Dengan alat bantu tirus (taper attachment). pembuatan tirus dengan alat ini adalah untuk benda yang memiliki sudut tirus relatif kecil (sudut sampai dengan ±9o). gerakan penyayatan ditunjukkan oleh anak panah. Proses membubut tirus luar dan tirus dalam dengan memiringkan eretan atas.

Benda kerja tirus terbentuk karena sumbu kepala lepas tidak sejajar dengan sumbu kepala tetap (Gambar 6. Bagian kepala lepas yang bisa digeser. Pergeseran kepala lepas (x) pada Gambar 6. Perhitungan pergeseran kepala lepas pada pembubutan tirus dijelaskan dengan gambar dan rumus berikut.).25. Dengan menggeser kepala lepas (tail stock). Gambar 6 25. dan pembubutan tirus dengan kepala lepas yang digeser. karena apabila sudut tirus besar bisa merusak senter jalan yang dipasang pada kepala lepas. Untuk cara ini sebaiknya hanya untuk sudut tirus yang sangat kecil. Gambar 6 26.d.26 di atas dapat dihitung dengan rumus : Teknik Pemesinan 167 . Gambar benda kerja tirus dan notasi yang digunakan. dengan cara ini proses pembubutan tirus dilakukan sama dengan proses membubut lurus dengan bantuan dua senter.

. sehingga proses pembubutan lama dan hasilnya kurang presisi... Gambar 6 27. Untuk ulir Metris sudut ulir adalah 60o...... Perencanaan Proses Membubut Ulir Proses pembuatan ulir bisa dilakukan pada Mesin Bubut....... Dengan Mesin Bubut yang dikendalikan CNC proses pembubutan ulir menjadi sangat efisien dan efektif. Hal ini terjadi karena gerakan pahat dilakukan secara manual sehingga rumus waktu pemesinan (tc) tidak dapat digunakan.......... sedangkan ulir Whitwoth sudut Teknik Pemesinan 168 ..... Nama. Perbedaannya ada pada perhitungan waktu pemesinan untuk pembuatan tirus dengan cara menggeser sudut eretan atas.. dan penentuan langkah kerja/jalannya pahat untuk pembuatan benda kerja tirus sama dengan perencanaan proses bubut lurus.... Pahat yang digunakan untuk membuat ulir segi tiga ini adalah pahat ulir yang sudut ujung pahatnya sama dengan sudut ulir atau setengah sudut ulir..L.. karena pengulangan pemotongan harus dikendalikan secara manual.....nama bagian ulir segi tiga dapat dilihat pada Gambar 6. 7.27..... karena sangat memungkinkan membuat ulir dengan kisar (pitch) yang sangat bervariasi dalam waktu relatif cepat dan hasilnya presisi.. Pada Mesin Bubut konvensional (manual) proses pembuatan ulir kurang efisien. Ulir segi tiga tersebut bisa berupa ulir tunggal atau ulir ganda....6) mana : D = diameter mayor (terbesar) (mm) d = diameter minor (terkecil) (mm) l = panjang bagian tirus (mm) L = panjang benda kerja seluruhnya (mm) Penentuan pahat...(6...Di x D 2l d ... Nama-nama bagian ulir.. perhitungan elemen pemesinan.

8 berarti ulir metris dengan diameter mayor 5 mm dan kisar (pitch) 0. Teknik Pemesinan 169 .6.8 mm. Misalnya ulir M5x0.). Identifikasi ulir biasanya ditentukan berdasarkan diameter mayor dan kisar ulir (Tabel 6.ulir 55o.

Tabel 6 6. Dimensi ulir Metris. Teknik Pemesinan 170 .

diameter minor. Teknik Pemesinan 171 .7. Identifikasi ulir ini ditentukan oleh diamater mayor ulir dan jumlah ulir tiap inchi (Tabel 6. kisar (pitch). pada Mesin Bubut bisa juga dibuat ulir segi empat (Gambar 6.). Tabel 6 7. Ulir segi empat ini biasanya digunakan untuk ulir daya.28). Selain ulir segi tiga.0625”). Misalnya untuk ulir Whitwoth 3/8” jumlah ulir tiap inchi adalah 16 (kisarnya 0. Dimensi ulir Whitworth. dan sudut helix. Ulir ini biasanya digunakan untuk membuat ulir pada pipa (mencegah kebocoran fluida).Selain ulir Metris pada Mesin Bubut bisa juga dibuat ulir Whitworth (sudut ulir 55o). Pahat yang digunakan untuk membuat ulir segi empat adalah pahat yang dibentuk (diasah) menyesuaikan bentuk alur ulir segi empat dengan pertimbangan sudut helix ulir. Pahat ini biasanya dibuat dari HSS atau pahat sisipan dari bahan karbida. Dimensi utama dari ulir segi empat pada dasarnya sama dengan ulir segi tiga yaitu : diameter mayor.

Ulir segi empat. Pahat ulir pada gambar tersebut adalah pahat ulir luar dan pahat ulir dalam.30).Gambar 6 28. Selain pahat terbuat dari HSS pahat ulir yang berupa sisipan ada yang terbuat dari bahan karbida (Gambar 6. Gambar 6 29.29. a. ditunjukkan bentuk pahat ulir metris dan alat untuk mengecek besarnya sudut tersebut (60o). Teknik Pemesinan 172 . Pada Gambar 6. Pahat ulir metris dan mal ulir untuk ulir luar dan ulir dalam. Pahat ulir Pada proses pembuatan ulir dengan menggunakan Mesin Bubut manual pertama-tama yang harus diperhatikan adalah sudut pahat.

31). kemudian dilakukan setting posisi pahat terhadap benda kerja. Gambar 6 31. Hal tersebut terjadi karena pada proses pembuatan ulir harga gerak makan (f) adalah kisar (pitch) ulir tersebut. Perbandingan harga kecepatan potong untuk proses bubut rata (stright turning) dan proses bubut ulit (threading) dapat dilihat pada Tabel 6. Setting ini dilakukan terutama untuk mengecek posisi ujung pahat bubut terhadap sumbu. Setelah pahat dipilih. Proses pembuatan ulir luar dengan pahat sisipan. Setting pahat bubut untuk proses pembuatan ulir luar. Parameter pemesinan untuk proses bubut ulir berbeda dengan bubut rata. supaya diperoleh sudut ulir yang simetris terhadap sumbu yang tegak lurus terhadap sumbu benda kerja (Gambar 6. Setelah itu dicek posisi pahat terhadap permukaan benda kerja. sehingga putaran spindel tidak terlalu tinggi (secara kasar sekitar setengah dari putaran spindel untuk proses bubut rata).Gambar 6 30. Teknik Pemesinan 173 .8.

Proses tersebut dilakukan dengan cara memiringkan eretan atas Teknik Pemesinan 174 . biasanya dilakukan penyayatan antara 5 sampai 10 kali penyayatan ditambah sekitar 3 kali penyayatan kosong (penyayatan pada diameter terdalam). Walaupun kedalaman ulir kecil (misalnya untuk ulir M10x1. Kecepatan potong proses bubut rata dan proses bubut ulir untuk pahat HSS. maka sebaiknya pahat hanya menyayat pada satu sisi saja (sisi potong pahat sebelah kiri untuk ulir kanan. b.Tabel 6 8. atau sisi potong pahat sebelah kanan untuk ulir kiri). Eretan atas diatur menyudut terhadap sumbu tegak lurus benda kerja dan arah pemakanan pahat bubut.5. Hal tersebut karena pahat ulir melakukan penyayatan berbentuk V.934 mm). proses penyayatan tidak dilakukan sekali potong. dalamnya ulir 0. Agar diperoleh hasil yang presisi dengan proses yang tidak membahayakan operator mesin. Supaya dihasilkan ulir yang halus permukaannya perlu dihindari kedalaman potong yang relatif besar. Langkah penyayatan ulir Gambar 6 32.

Proses penambahan kedalaman potong (dept of cut) dilakukan oleh eretan atas . sehingga pahat di luar benda kerja dengan jarak bebas sekitar 10 mm di sebelah kanan benda kerja 4) Atur pengatur kisar menurut tabel kisar yang ada di Mesin Bubut. 10) Langkah dilanjutkan seperti No. Sedang untuk ulir Acme dan ulir cacing dengan sudut 29o. geser handle gerakan eretan bawah untuk pembuatan ulir 5) Masukkan pahat dengan kedalaman potong sekitar 0.) untuk ulir metris. eretan atas dimiringkan 14. Pengecekan kisar ulir dengan kaliber ulir.21.33. 8) Gerakkan pahat mundur dengan cara memutar spindel arah kebalikan.) dengan menggunakan kaliber ulir (screw pitch gage). Teknik Pemesinan 175 .8) sampai panjang ulir yang dibuat terdapat goresan pahat. Gambar 6 33. 9) Majukan pahat untuk kedalaman potong berikutnya dengan memajukan eretan atas. kemudian hentikan mesin dan tarik pahat keluar.1 mm 6) Putar spindel mesin (kecepatan potong mengacu Tabel 6.dengan sudut 29o (Gambar 6. 7) Periksa kisar ulir yang dibuat (Gambar 6. 11) Pada kedalaman ulir maksimal proses penyayatan perlu dilakukan berulang-ulang agar beram yang tersisa terpotong semuanya. Apabila sudah sesuai maka proses pembuatan ulir dilanjutkan.). Langkah-langkah proses bubut ulir dengan menggunakan mesin konvensional dilakukan dengan cara : 1) Memajukan pahat pada diameter luar ulir 2) Setting ukuran pada handle ukuran eretan atas menjadi 0 mm 3) Tarik pahat ke luar benda kerja. hentikan setelah posisi pahat di depan benda kerja (Gerakan seperti gerakan pahat untuk membuat poros lurus pada Gambar 6.5 o. Kalau kisar belum sesuai periksa posisi handle pengatur kisar pada Mesin Bubut.32. 7) sampai kedalaman ulir maksimal tercapai.

12) Setelah selesai proses pembuatan ulir, hasil yang diperoleh dicek ukuranya (diameter mayor, kisar, diameter minor, dan sudut ulir). c. Pembuatan ulir ganda Pembuatan ulir di atas adalah untuk ulir tunggal. Selain ulir tunggal ada tipe ulir ganda (ganda dua dan ganda tiga). Pada dasarnya ulir ganda dan ulir tunggal dimensinya sama, perbedaanya ada pada pitch dan kisar (Gambar 6.34). Pada ulir tunggal pitch dan kisar (lead) sama. Pengertian kisar adalah jarak memanjang sejajar sumbu yang ditempuh batang berulir (baut) bila diputar 360O (satu putaran). Pengertian pitch adalah jarak dua puncak profil ulir. Pada ulir kanan tunggal bila sebuah baut diputar satu putaran searah jarum jam, maka baut akan bergerak ke kiri sejauh kisar (Gambar 6.34). Apabila baut tersebut memiliki ulir kanan ganda dua, maka bila baut tersebut diputar satu putaran akan bergerak ke kiri sejauh kisar (dua kali pitch). Bentuk-bentuk profil ulir yang telah distandarkan ada banyak. Proses pembuatannya pada prinsipnya sama dengan yang telah diuraikan di atas. Gambar 6.35 – 6.37. berikut ditunjukkan gambar bentuk profil ulir dan dimensinya.

Gambar 6 34. Single thread, double thread dan triple thread.

Teknik Pemesinan

176

Gambar 6 35. Beberapa jenis bentuk profil ulir (1).

Teknik Pemesinan

177

Gambar 6.36. Beberapa jenis bentuk profil ulir (2).

Gambar 6 36. Beberapa jenis bentuk profil ulir (1).

Teknik Pemesinan

178

Gambar 6 37. Beberapa jenis bentuk profil ulir (3).

8.

Perencanaan Proses Membubut Alur

Alur (grooving) pada benda kerja dibuat dengan tujuan untuk memberi kelonggaran ketika memasangkan dua buah elemen mesin, membuat baut dapat bergerak penuh, dan memberi jarak bebas pada proses gerinda terhadap suatu poros, (Gambar 6.38.). Dimensi alur ditentukan berdasarkan dimensi benda kerja dan fungsi dari alur tersebut. Bentuk alur ada tiga macam yaitu kotak, melingkar, dan V (Gambar 6.39). Untuk bentuk-bentuk alur tersebut pahat yang digunakan diasah dengan mesin gerinda disesuaikan dengan bentuk alur yang akan Teknik Pemesinan 179

dibuat. Kecepatan potong yang digunakan ketika membuat alur sebaiknya setengah dari kecepatan potong bubut rata. Hal tersebut dilakukan karena bidang potong proses pengaluran relatif lebar. Alur bisa dibuat pada beberapa bagian benda kerja baik di bidang memanjang maupun pada bidang melintangnya, dengan menggunakan pahat kanan maupun pahat kiri, (Gambar 6.40.)

Gambar 6 38. Alur untuk : (a) pasangan poros dan lubang, (b)

pergerakan baut agar penuh, (c) jarak bebas proses penggerindaan poros. Proses yang identik dengan pembuatan alur adalah proses pemotongan benda kerja (parting). Proses pemotongan ini dilakukan ketika benda kerja selesai dikerjakan dengan bahan asal benda kerja yang relatif panjang (Gambar 6.41).

Teknik Pemesinan

180

Ujung pahat diatur pada sumbu benda kerja c. Gambar 6 40. Beberapa petunjuk penting yang harus diperhatikan ketika melakukan pembuatan alur atau proses pemotongan benda kerja adalah: a.Gambar 6 39. Proses pemotongan benda kerja (parting). Posisi pahat atau pemegang pahat tepat 90o terhadap sumbu benda kerja (Gambar 6. Cairan pendingin diberikan sebanyak mungkin b.41) Teknik Pemesinan 181 . Alur bisa dibuat pada bidang memanjang atau melintang.

42). dan halus (33 pitch). penyayatan pertama dimulai dari diameter terbesar untuk mencegah berhentinya pembuangan beram. medium (21 pitch). berlian. Bentuk injakan kartel (Gambar 6. Gambar 6 42. 9. dan alat pahat kartel. Panjang pemegang pahat atau pahat yang menonjol ke arah benda kerja sependek mungkin agar pahat atau benda kerja tidak bergetar e. Kecepatan potong dikurangi (50% dari kecepatan potong bubut rata) g. Gerak makan dikurangi (20% dari gerak makan bubut rata) h.43) ada dalam berbagai ukuran yaitu kasar (14 pitch). Gambar 6 41. Perencanaan Proses Membubut/Membuat Kartel Kartel (knurling) adalah proses membuat injakan ke permukaan benda kerja berbentuk berlian (diamond) atau garis lurus beraturan untuk memperbaiki penampilan atau memudahkan dalam pemegangan (Gambar 6. Dipilih batang pahat yang terbesar f. Bentuk dan kisar injakan kartel. Untuk alur aksial.d. Teknik Pemesinan 182 . Proses pembuatan kartel bentuk lurus.

Gambar 6 43. gerak makan pahat tidak boleh dihentikan jika spindel masih berputar. dan pahat kartel didekatkan ke benda kerja menyentuh benda sekitar 2 mm. Pahat kartel harus dipasang pada tempat pahat dengan sumbu dari kepalanya setinggi sumbu Mesin Bubut. Teknik Pemesinan 183 . misalnya untuk memeriksa hasil. Selama proses penyayatan kartel.Pembuatan injakan kartel dimulai dengan mengidentifikasi lokasi dan panjang bagian yang akan dikartel. Setelah semua diatur. sebaiknya ujung benda kerja dibuat pinggul (chamfer). dan kontak awal untuk penyetelan hanya setengah dari lebar pahat kartel.4 mm per putaran spindel). Harus dijaga bahwa rol pahat kartel dapat bergerak bebas dan pada kondisi pemotongan yang bagus. Agar supaya tekanan awal pada pahat kartel menjadi kecil. Benda kerja dibuat menyudut pada ujungnya agar tekanan pada pahat kartel menjadi kecil dan penyayatannya lembut. Apabila hasilnya sudah bagus. maka mesin dihentikan dengan menginjak rem. Putaran spindel diatur pada kecepatan rendah (antara 6080 rpm) dan gerak makan medium (sebaiknya 0. maka mesin dijalankan lagi.45(c)).45. kemudian mengatur mesin untuk proses kartel. kemudian diatur untuk membuat kartel lagi. maka sebaiknya benda kerja dibubut rata lagi. kemudian gerak makan dijalankan otomatis. Kemudian pahat ditarik mundur dan dibawa ke luar benda kerja.). Apabila hasilnya masih ada bekas injakan ganda. Dengan cara demikian awal penyayatan menjadi lembut. Setelah benda kerja berputar beberapa kali (misalnya 20 kali). dan permukaannya paralel dengan permukaan benda kerja.44. maka spindel Mesin Bubut kemudian diputar.2 sampai 0. Apabila ingin menghentikan proses. karena di permukaan benda kerja akan muncul ring/cincin (Gambar 6. kemudian pada roda pahat yang kontak dengan benda kerja harus diberi pelumas. kemudian Mesin Bubut dihentikan. lihat Gambar 6. Hasil proses kartel dicek apakah hasilnya bagus atau ada bekas injakan yang ganda (Gambar 6.

(b) injakan kartel ganda (salah). Teknik Pemesinan 184 . (a) Injakan kartel yang benar. dan (c) cincin yang ada pada benda kerja karena berhentinya gerakan pahat kartel sementara benda kerja tetap berputar.Gambar 6 44.

BAB 7 MENGENAL PROSES FRAIS (MILLING) Teknik Pemesinan 185 .

Gambar 7 1.P roses pemesinan frais (milling) adalah proses penyayatan benda kerja menggunakan alat potong dengan mata potong jamak yang berputar. Teknik Pemesinan 186 . atau melengkung. Proses penyayatan dengan gigi potong yang banyak yang mengitari pisau ini bisa menghasilkan proses pemesinan lebih cepat. dan penyayatannya disebut Mesin Frais (Milling Machine). Mesin (Gambar 7. menyudut. Skematik dari gerakan-gerakan dan komponen-komponen dari (a) Mesin Frais vertical tipe column and knee. memutar pisau. Sedangkan Mesin Frais dengan kendali CNC hampir semuanya adalah Mesin Frais vertical (beberapa jenis Mesin Frais dapat dilihat pada Lampiran 3) . dan (b) Mesin Frais horizontal tipe column and knee. Mesin konvensional manual posisi spindelnya ada dua macam yaitu horizontal dan vertical.) yang digunakan untuk memegang benda kerja.2.1. Permukaan yang disayat bisa berbentuk datar. Mesin Frais (Gambar 7.) ada yang dikendalikan secara mekanis (konvensional manual) dan ada yang dengan bantuan CNC. Permukaan benda kerja bisa juga berbentuk kombinasi dari beberapa bentuk.

A. Sumbu dari putaran pisau biasanya pada bidang yang sejajar dengan permukaan benda kerja yang disayat. Gambar 7 3. pisau dipasang pada spindel yang memiliki sumbu putar tegak lurus terhadap permukaan benda kerja. (b) frais muka (face milling). Frais Periperal (Slab Milling) Proses frais ini disebut juga slab milling. dan (c) frais jari (end milling). Mesin Frais turret vertical horizontal. Permukaan Teknik Pemesinan 187 . dan posisi relatif pisau terhadap benda kerja (Gambar 7. 1. Klasifikasi Proses Frais Proses frais dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis. Klasifikasi ini berdasarkan jenis pisau. Frais Muka (Face Milling) Pada frais muka. arah penyayatan.3).Gambar 7 2. permukaan yang difrais dihasilkan oleh gigi pisau yang terletak pada permukaan luar badan alat potongnya. Tiga klasifikasi proses frais : (a) Frais periperal (slab milling). 2.

pada proses frais naik apabila pisau berputar searah jarum jam. Frais Turun (Down Milling) Proses frais turun dinamakan juga climb milling. B. Proses frais ini sesuai untuk Mesin Frais konvensional/manual.4. Penampang melintang bentuk beram (chips) untuk proses frais naik adalah seperti koma diawali dengan ketebalan minimal kemudian menebal. Metode proses frais ada dua yaitu frais naik dan frais turun. Pisau dapat digerakkan menyudut untuk menghasilkan permukaan menyudut. Frais Naik (Up Milling ) Frais naik biasanya disebut frais konvensional (conventional milling). (a)Frais naik (up milling) dan (b) frais turun (down milling). 3. benda kerja disayat ke arah kanan. Arah dari putaran pisau sama dengan arah gerak makan meja Mesin Frais. Frais Jari (End Milling) Pisau pada proses frais jari biasanya berputar pada sumbu yang tegak lurus permukaan benda kerja. Gerak dari putaran pisau berlawanan arah terhadap gerak makan meja Mesin Frais (Gambar 7. 1.). Gambar 7 4.4. Sebagai contoh. karena pada mesin konvensional backlash ulir transportirnya relatif besar dan tidak dilengkapi backlash compensation. Metode Proses Frais Metode proses frais ditentukan berdasarkan arah relatif gerak makan meja Mesin Frais terhadap putaran pisau (Gambar 7. 2. Gigi potong pada pisau terletak pada selubung pisau dan ujung badan pisau.hasil proses frais dihasilkan dari hasil penyayatan oleh ujung dan selubung pisau. Sebagai contoh Teknik Pemesinan 188 .).

Gambar 7 5. Penampang melintang bentuk beram (chips) untuk proses frais naik adalah seperti koma diawali dengan ketebalan maksimal kemudian menipis. membuat alur lebar sampai dengan membentuk alur tipis bisa dilakukan oleh pisau frais ( Gambar 7. Pisau frais dapat melakukan penyayatan berbagai bentuk benda kerja. Teknik Pemesinan 189 . Proses meratakan bidang.6. karena pisau frais memiliki sisi potong jamak. Gambar 7 6.5. dan dilengkapi backlash compensation. Berbagai jenis bentuk pisau frais untuk Mesin Frais horizontal dan vertical. Pisau frais identik dengan beberapa pahat bubut.). sesuai dengan pisau yang digunakan. karena meja Mesin Frais akan tertekan dan ditarik oleh pisau. Untuk Mesin Frais konvensional tidak direkomendasikan melaksanakan proses frais turun.). karena pada mesin CNC gerakan meja dipandu oleh ulir dari bola baja. Apabila dibandingkan dengan pisau bubut. maka pisau frais analog dengan beberapa buah pisau bubut (Gambar 7.jika pisau berputar berlawanan arah jarum jam. Proses frais ini sesuai untuk Mesin Frais CNC. benda kerja disayat ke kanan. Proses pemesinan dengan Mesin Frais merupakan proses penyayatan benda kerja yang sangat efektif.

yaitu : 1. Walaupun demikian mesin ini memiliki kekurangan dalam hal kekakuan dan kekuatan penyayatannya. meja putar. Special purposes Mesin jenis column and knee dibuat dalam bentuk Mesin Frais vertical dan horizontal (lihat Gambar 7. bed. dan lutut (knee) dapat digerakkan. Mesin Frais tersebut pada saat ini telah banyak yang dilengkapi dengan pengendali CNC untuk meningkatkan produktivitas dan fleksibilitasnya. Beberapa asesoris seperti cekam. Jenis Mesin Frais Mesin Frais yang digunakan dalam proses pemesinan ada tiga jenis.8. Mesin Frais tipe column and knee Gambar 7 7. Mesin Frais tipe . kepala pembagi menambah kemampuan dari Mesin Frais jenis ini.C. Pada dasarnya pada mesin jenis ini meja (bed). sadel. Teknik Pemesinan 190 . Kekakuan mesin yang baik. Bed type milling machines 3. serta tenaga mesin yang biasanya relatif besar.).). Kemampuan melakukan berbagai jenis pemesinan adalah keuntungan utama pada mesin jenis ini. . Gambar 7 8.7. menjadikan mesin ini banyak digunakan pada perusahaan manufaktur (Gambar 7. Column and knee milling machines 2. Mesin Frais tipe bed (bed type) memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari pada jenis Mesin Frais yang pertama.

sehingga ongkos produksi menjadi rendah. sampai lima spindel). Gambar 7 10. maka Mesin Frais jenis baru dengan bentuk yang tidak biasa telah dibuat. Mesin Frais CNC tipe bed (bed type CNC milling machine). karena mesin jenis ini tidak memerlukan setting yang rumit. Gambar 7 9. Mesin Frais tipe khusus ini (contoh pada Gambar 7. Mesin Frais dengan dua buah spindel. dan Mesin Frais planer. tiga.Produk pemesinan di industri pemesinan semakin kompleks. Teknik Pemesinan 191 . Mesin tersebut misalnya Mesin Frais profil.).9. biasanya digunakan untuk keperluan mengerjakan satu jenis penyayatan dengan produktivitas/duplikasi yang sangat tinggi. Mesin Frais dengan spindel ganda (dua. Dengan menggunakan Mesin Frais khusus ini maka produktivitas mesin sangat tinggi. Mesin Frais tipe khusus (special purposes).

. maka gerak makan harus ditentukan....(3. Seperti pada Mesin Bubut.. efisien waktu dan biaya yang diperlukan. dan gerak makan per putaran (mm/putaran).. atau dengan cara menurunkan pisau....). Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Frais Maksud dari parameter yang dapat diatur adalah parameter yang dapat langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang mengoperasikan Mesin Frais...d ..Selain Mesin Frais manual. Kedalaman potong diatur dengan cara menaikkan benda kerja...... Gerak makan (Gambar 7. Gerak makan bisa diatur dengan cara mengatur handle gerak makan sesuai dengan tabel f yang ada di mesin. Kecepatan potong adalah jarak yang ditempuh oleh satu titik (dalam satuan meter) pada selubung pisau dalam waktu satu menit.n .. D. Pada proses frais besarnya diameter yang digunakan adalah diameter pisau. Putaran spindel bisa langsung diatur dengan cara mengubah posisi handle pengatur putaran mesin.. Beberapa Mesin Frais yang lain dapat dilihat pada Lampiran 7. gerak makan (f). Gerak makan (f) adalah jarak lurus yang ditempuh pisau dengan laju konstan relatif terhadap benda kerja dalam satuan waktu. dan kedalaman potong (a).. Rumus kecepatan potong identik dengan rumus kecepatan potong pada mesin bubut.11) ini pada proses frais ada dua macam yaitu gerak makan per gigi (mm/gigi). Untuk kedalaman potong Teknik Pemesinan 192 . pada saat ini telah dibuat Mesin Frais dengan jenis yang sama dengan mesin konvensional tetapi menggunakan kendali CNC (Computer Numerically Controlled). Dengan bantuan kendali CNC (Gambar 7. Kecepatan potong ditentukan oleh kombinasi material pisau dan material benda kerja.10. dan produk yang dihasilkan memiliki ketelitian tinggi.. maka parameter yang dimaksud adalah putaran spindel (n). biasanya satuan gerak makan yang digunakan adalah mm/menit. Rumus kecepatan potong : v Di mana : .1) 1000 v = kecepatan potong (m/menit) d = diameter pisau (mm) n = putaran benda kerja (putaran/menit) Setelah kecepatan potong diketahui.. Putaran spindel (n) ditentukan berdasarkan kecepatan potong. Kedalaman potong (a) ditentukan berdasarkan selisih tebal benda kerja awal terhadap tebal benda kerja akhir. maka Mesin Frais menjadi sangat fleksibel dalam mengerjakan berbagai bentuk benda kerja...

15. panjang sisi potong. Untuk pisau karbida juga digolongkan dengan kode P. Geometri Pisau Frais Pada dasarnya bentuk pisau frais adalah identik dengan pisau bubut.14. karena proses pemotongannya adalah proses pemotongan dengan mata potong majemuk (Gambar 7.13. M. Nama-nama bagian pisau frais rata dan geometri gigi pisau frais rata ditunjukkan pada Gambar 7. Gambar 7 11. Pisau frais memiliki bentuk yang rumit karena terdiri dari banyak gigi potong. Gambar jalur pisau frais menunjukkan perbedaan antara gerak makan per gigi (ft) dan gerak makan per putaran (fr). dan K.12. Pisau untuk proses frais dibuat dari material HSS atau karbida. tebal sisipan. arah pemakanan. dan kode khusus pembuat pisau. Teknik Pemesinan 193 . sudut potong. Standar ISO untuk bentuk dan ukuran pisau sisipan dapat dilihat pada Gambar 7. maka kedalaman potong yang telah ditentukan bisa digunakan. pemutus tatal (chipbreaker).). toleransi bentuk. Pisau frais karbida bentuk sisipan dipasang pada tempat pisau sesuai dengan bentuknya. sudut bebas.yang relatif besar diperlukan perhitungan daya potong yang diperlukan untuk proses penyayatan. Jumlah gigi minimal adalah dua buah pada pisau frais ujung (end mill). Dengan demikian nama sudut atau istilah yang digunakan juga sama dengan pisau bubut. Material pisau untuk proses frais pada dasarnya sama dengan material pisau untuk pisau bubut. Pisau sisipan yang telah dipasang pada pemegang pisau dapat dilihat pada Gambar 7. Apabila daya potong yang diperlukan masih lebih rendah dari daya yang disediakan oleh mesin (terutama motor listrik). Standar tersebut mengatur tentang bentuk sisipan. E.

Bentuk dan nama-nama bagian pisau frais rata.Gambar 7 12. Gambar 7 13. Teknik Pemesinan 194 .

Standar ISO pisau sisipan untuk frais (milling).Gambar 7 14. Teknik Pemesinan 195 .

1). Arbor ini pada porosnya diberi alur untuk menempatkan pasak sesuai dengan ukuran alur pasak pada pisau frais. Gambar skematik arbor yang digunakan pada Mesin Frais horizontal dapat dilihat pada Gambar 7. F. Bentuk kolet adalah silinder lurus di bagian dalam dan tirus di bagian luarnya. menahan gaya potong yang relatif besar dan tidak kontinyu ketika gigigigi pisau melakukan penyayatan benda kerja. Peralatan dan Asesoris untuk Memegang Pisau Frais Proses penyayatan menggunakan Mesin Frais memerlukan alat bantu untuk memegang pisau dan benda kerja.Gambar 7 15. Gambar skematik arbor Mesin Frais. lihat Gambar 7. Pisau frais bentuk sisipan dipasang pada tempat pisau yang sesuai.16. Pada sisi kolet dibuat alur tipis beberapa buah. agar pisau tidak mengalami selip pada pemegangnya. Teknik Pemesinan 196 . Pada Mesin Frais konvensional horizontal pemegang pisau adalah arbor dan poros arbor (lihat kembali Gambar 7. Kolet ini berfungsi mencekam bagian pemegang (shank) pisau. Pemegang pisau untuk Mesin Frais vertical yaitu kolet (collet. Pasak yang dipasang mencegah terjadinya selip ketika pisau Gambar 7 16. sehingga ketika kolet dimasuki pisau bisa dengan mudah memegang pisau. Pisau harus dicekam cukup kuat sehingga proses penyayatan menjadi efektif.17.

sehingga dinamakan offset boring heads. Kepala bor ini jarak antara ujung pisau terhadap sumbu bisa diubah-ubah. Pemegang pisau yang lain adalah kepala bor (Gambar 7.18). Pemegang pisau (tool holder) standar bisa digunakan untuk memegang pisau frais ujung (end mill).Gambar 7 17. Gambar 7 18. Pemegang pisau ini biasanya digunakan untuk proses bor (boring). (b) kolet solid pemasangan pisau dengan baut. Gambar 7 19. dan pembuatan champer (chamfering). (a) Kolet pegas yang memiliki variasi ukuran diameter. Teknik Pemesinan 197 . Kepala bor (offset boring head).19). Sesudah pisau dimasukkan ke kolet kemudian kolet tersebut dimasukkan ke dalam pemegang pisau (tool holder). Beberapa proses frais juga memerlukan sebuah cekam (chuck) untuk memegang pisau frais. Pemegang pisau ini ada dua jenis yaitu dengan ujung tirus Morse (Morse taper) dan lurus (Gambar 7. Karena bentuk luar kolet tirus maka pemegang pisau akan menekan kolet dan benda kerja dengan sangat kencang. perataan permukaan (facing). (a) Pemegang pisau frais ujung (end mill) (b) pemegang pisau shell end mill. sehingga tidak akan terjadi selip ketika pisau menerima gaya potong.

21. balok.) ini biasanya digunakan untuk memegang benda kerja silindris. Untuk benda kerja berbentuk balok atau kubus ragum yang digunakan adalah ragum sederhana atau ragum universal (Gambar 7.). Jenis ragum cukup banyak.).20. maka untuk memegang benda kerja digunakan kepala pembagi (dividing head). (a) Ragum sederhana (plain vise). Ragum tersebut diikat pada meja Mesin Frais dengan menggunakan baut T. Ragum sederhana digunakan bila benda kerja yang dibuat bidang-bidangnya saling tegak lurus dan paralel satu sama lain (kubus. atau bila menggunakan ragum sederhana bentuk pisau yang dipakai menyesuaikan bentuk sudut yang dibuat. Apabila bentuk benda kerja silindris. Apabila digunakan untuk membuat bentuk sudut digunakan ragum universal (Gambar 7.20. (b) Ragum universal yang biasa digunakan pada ruang alat. penggunaannya disesuaikan dengan bentuk benda kerja yang dikerjakan di mesin. Kepala pembagi (Gambar 7.G. payung) Membuat roda gigi cacing. (a) (b) Gambar 7 20. helix. Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja pada Mesin Frais Alat pemegang benda kerja pada Mesin Frais berfungsi untuk memegang benda kerja yang sedang disayat oleh pisau frais. balok bertingkat). Pemegang benda kerja ini biasanya dinamakan ragum. terutama untuk keperluan : Membuat segi banyak Membuat alur pasak Membuat roda gigi (lurus. Teknik Pemesinan 198 .

Benda kerja yang dikerjakan di Mesin Frais tidak hanya benda kerja yang bentuknya teratur. roda gigi. Ragum biasa yang dipasang langsung pada meja Mesin Frais hanya dapat digunakan untuk mengerjakan benda kerja lurus atau bertingkat dengan bidang datar atau tegak lurus. digunakan untuk alat bantu pengerjaan benda kerja yang memiliki sudut lebih dari satu arah. Apabila benda kerja yang dibuat ada bentuk sudutnya. baik satu lingkaran penuh (360o) atau kurang dari 360o. atau helix.Gambar 7 21. maka ragum diletakkan pada meja yang dapat diatur sudutnya (identik dengan meja sinus). Alat bantu pemegang benda kerja di Mesin Frais yang lain yaitu meja putar (rotary table). Kepala pembagi (dividing head) untuk membuat segi banyak. Meja yang dapat Gambar 7 22. piringan dengan diameter besar dan tipis. Teknik Pemesinan 199 . Dengan bantuan meja putar ini proses penyayatan bidang-bidang benda kerja bisa lebih cepat. Meja putar. Selain itu dengan meja putar ini bisa dibuat bentuk melingkar. diatur sudutnya dalam beberapa arah. Berbagai bentuk klem dan baut pengikatnya biasanya digunakan untuk satu benda kerja yang relatif besar. Meja tersebut (Gambar 7. karena untuk menyayat sisisisi benda kerja tidak usah melepas benda kerja. kemudian ragum atau cekam rahang tiga bisa diletakkan di atasnya. Untuk keperluan pemegangan benda kerja seperti itu. Benda kerja yang berbentuk plat lebar. dan benda hasil tuangan sulit dicekam dengan ragum. (Gambar 7. maka benda kerja bisa langsung diletakkan di meja Mesin Frais kemudian diikat dengan menggunakan bantuan klem (clamp).23) ini diletakkan di atas meja Mesin Frais. cukup memutar handle meja putar dengan sudut yang dikekendaki.22). diikat pada meja Mesin Frais .

maupun penempatan benda kerja. (b) Meja putar yang dapat diatur sudutnya. (f) pembatas ragum. pada Mesin Frais juga ada beberapa macam asesoris yang berguna untuk membantu pengaturan Mesin Frais. (a) Meja putar (rotary table) yang bisa digunakan untuk Mesin Frais vertical maupun horizontal. Gambar perlengkapan Mesin Frais tersebut dapat dilihat pada Gambar 7. (c) line finder dipasang pada kolet.Gambar 7 23. (b) line finder untuk membantu mencari posisi garis pinggir benda kerja. (e) pembatas ragum (vise stop) yang berguna untuk batas peletakan benda kerja di ragum. Asesoris tersebut misalnya (a) parallel yang berguna untuk meninggikan posisi benda kerja pada ragum. Teknik Pemesinan 200 . Selain pemegang benda kerja. dan (h) klem (clamp) untuk membantu memegang benda kerja. (g) blok V untuk membantu memegang benda kerja berbentuk silindris.24. (d) edge finder yang digunakan untuk mencari posisi pojok benda kerja.

(f) Pembatas ragum. digunakan untuk mencari posisi pojok benda kerja (e) Pembatas ragum (vise stop) yang dipasang menyatu dengan mulut ragum. (g) Blok V (h) Satu set klem Gambar 7 24.(a) Parallel (b) Line finder (c) Line finder dipasang pada kolet (d) Edge finder. Berbagai macam asesoris yang digunakan pada Mesin Frais. Teknik Pemesinan 201 .

Gambar skematis proses frais vertical dan frais horizontal. Keterangan : Benda Kerja : w lw lt a = lebar pemotongan (mm) = panjang pemotongan (mm) = lv+lw+ln (mm) = kedalaman potong (mm) Teknik Pemesinan 202 .25. Elemen diturunkan berdasarkan rumus dan Gambar 7. Elemen Dasar Proses Frais Elemen dasar proses frais hampir sama dengan elemen dasar proses bubut.H. berikut : n w a ln lv vf lw n a w ln vf lw lv Gambar 7 25.

. Proses frais bisa dilakukan dengan banyak cara menurut jenis pisau yang digunakan dan bentuk benda kerjanya...........Pisau Frais : d z r = diameter luar (mm) = jumlah gigi/mata potong = sudut potong utama (90o)untuk pisau frais selubung Mesin Frais : n vf = putaran poros utama (rpm) = kecepatan makan (mm/putaran) 5) Kecepatan potong : V . tetapi juga cara pencekaman..................... .......... . gaya potong....... ...... ....d .5) 3 Rumus-rumus (3...menit..5) tersebut di atas digunakan untuk perencanaan proses frais........ mm/ menit..(3....w/1000 cm / menit ..............4) vf 8) Kecepatan penghasilan beram : Z vf ... .. Teknik Pemesinan 203 ......... getaran mesin dan getaran benda kerja......2 sampai 3.....(........ kehalusan produk..n . Dengan demikian hasil analisa/perencaaan merupakan pendekatan bukan merupakan hasil yang optimal............ .. m / menit ... .n....... I.............3) 7) Waktu pemotongan : tc lt ...... . Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan bukan hanya kecepatan potong dan gerak makan saja... Selain itu jenis Mesin Frais yang bervariasi menyebabkan analisa proses frais menjadi rumit......... 2 ) 1000 6) Gerak makan per gigi : fz v f / z.. Perencanaan proses frais dibahas satu kesatuan dengan beberapa pengerjaan proses frais...... .(3......... ....( 3 ... .. Pengerjaan Benda Kerja dengan Mesin Frais Beberapa variasi bentuk benda kerja bisa dikerjakan dengan Mesin Frais. 3 ................a.. .....

Frais rata dilakukan dengan cara permukaan benda kerja dipasang paralel terhadap permukaan meja Mesin Frais dan pisau frais dipasang pada arbor mesin. sebaiknya bagian benda kerja yang menonjol di atas ragum tidak terlalu tinggi agar benda kerja tidak bergetar. (Gambar 7. Teknik Pemesinan 204 . Benda kerja dicekam dengan ragum biasa.). Gambar 7 26. Arbor dipasang horizontal didukung oleh spindel mesin dan penahan arbor di sisi yang lain. (Gambar 7. Proses Frais Datar/Rata Proses frais datar/rata (dinamakan juga surface milling atau slab milling) adalah proses frais dengan sumbu pisau paralel terhadap permukaan benda kerja.26).1. Proses frais rata (surface/slab milling).27). (Gambar 7.20.

Gambar 7 27. Benda kerja di pinggir ragum. bagian kanan pencekaman yang salah (incorrect) dan bagian kiri pencekaman yang benar (correct). Benda kerja yang menonjol terlalu tinggi. Benda kerja didukung parallel.1). Pisau yang digunakan untuk proses pengasaran (roughing) sebaiknya dipilih pisau frais yang ukuran giginya relatif besar. Cara pencekaman benda kerja. Gerak makan per gigi Teknik Pemesinan 205 .Benda kerja di tengah ragum. Benda kerja tidak didukung parallel Benda kerja yang menonjol diusahakan serendah mungkin. Untuk proses finishing pisau yang digunakan dipilih pisau yang memiliki gigi yang relatif kecil dengan kecepatan potong dipilih harga terbesar dari kecepatan potong yang diijinkan. dengan kecepatan potong dipilih yang minimal dari kecepatan potong yang diijinkan untuk pasangan pisau dan benda kerja yang dikerjakan (Tabel 7.

Tebal beram untuk proses frais disarankan seperti pada Tabel 7. Tebal beram per gigi untuk beberapa tipe pisau frais dan benda kerja yang dikerjakan (satuan dalam inchi). bisa dilakukan setelah kecepatan potong dan gerak makan per gigi ditentukan.ditentukan berdasarkan ketebalan beram yang diinginkan (direncanakan). mesin.28. sistem pencekaman. Tabel 7 2.) identik dengan langkah di atas. Kecepatan potong untuk proses frais untuk pasangan benda kerja dan pisau HSS.2. Teknik Pemesinan 206 . Tabel 7 1. Perhitungan elemen pemesinan untuk proses frais yang lain (Gambar 7.2 sampai 3. b) Apabila satuan kecepatan potong (cutting speed diubah menjadi m/menit angka pada tabel dibagi 3. dan kecepatan potong. Perhitungan elemen mesin yang lain (Rumus 3. a) Untuk pisau karbida harga kecepatan potong angka pada tabel dikalikan 2.5). Tebal beram dapat dipilih berdasarkan benda kerja dan pisau yang digunakan.28).

Teknik Pemesinan 207 .Gambar 7 28. Beberapa variasi proses frais yang dilakukan pada Mesin Frais.

Dari informasi tersebut perencana proses frais gigi harus menyiapkan : kepala pembagi (Gambar 7. dan dimensi bakal roda gigi. sebenarnya sama dengan frais bentuk pada Gambar 7. pisau frais gigi. sudut tekan. (Lanjutan). Beberapa proses frais : frais bentuk dan dan frais alur.Gambar 7 28.). Kepala pembagi digunakan sebagai pemegang bakal roda gigi (dengan bantuan mandrel). bentuk profil gigi. dan perhitungan elemen dasar (putaran spindel. tetapi karena bentuknya yang spesifik.21.. gerak makan. dan kedalaman potong). untuk proses frais roda gigi diperoleh data tentang jumlah gigi.29). Pada kepala pembagi terdapat mekanisme yang memungkinkan operator Mesin Frais memutar benda kerja dengan sudut tertentu.28. modul. Teknik Pemesinan 208 . Dari informasi yang diperoleh dari gambar kerja. 2. Proses Frais Roda Gigi Proses frais gigi (Gambar 7. serta proses pencekaman dan pemilihan pisau berbeda maka akan dibahas lebih detail.

34.39. maka spindelnya berputar 1/40 kali.Pisau frais gigi Mandrel dicekam pada kepala pembagi Roda gigi Gambar 7 29.33 c.66 Misalnya akan dibuat pembagian 160 buah.54.) : Dipilih piringan yang memiliki lubang 20.31.28.18. Tipe Cincinnati (satu piringan dilubangi pada kedua sisi) : a. Kepala pembagi (dividing head) digunakan sebagai alat untuk memutar bakal roda gigi.19.62.29. Proses frais roda gigi dengan Mesin Frais horizontal.30.17. Sisi pertama dengan jumlah lubang : 24.37. ¼.51.49.30. Mekanisme perubahan gerak pada kepala pembagi adalah roda gigi cacing dan ulir cacing dengan perbandingan 1:40.41.16.41.38.49 2.59. 1/5 putaran). Untuk membagi putaran pada spindel sehingga bisa menghasilkan putaran spindel selain 40 bagian.58. Pada piringan pembagi diberi lubang dengan jumlah lubang sesuai dengan tipenya yaitu : 1. Piringan 2 dengan jumlah lubang : 21. Dengan demikian apabila engkol diputar satu kali.23. dengan demikian putaran engkol bisa diatur (misal ½.39.43 b.29. Piringan 1 dengan jumlah lubang : 15. Piringan 3 dengan jumlah lubang : 37.30. dengan cara sekrup pengatur arah radial kita setel sehingga ujung engkol yang berbentuk runcing bisa masuk ke lubang yang dipilih (Gambar 7.57. maka pada bagian engkol dilengkapi dengan piringan pembagi dengan jumlah lubang tertentu. 1/3.42. Pengaturan putaran engkol pada kepala pembagi adalah sebagai berikut (Gambar 7. Gambar 7.20 b.25.53.43.47.47.c) Teknik Pemesinan 209 . Tipe Brown and Sharpe : a.27. Sisi kedua (sebaliknya) dengan jumlah lubang : 46.

25 modul). Sedangkan kedalaman potong ditentukan berdasarkan tinggi gigi dalam gambar kerja atau sesuai dengan modul gigi yang dibuat (antara 2 sampai 2.3. Nomer pisau frais gigi berdasarkan jumlah gigi yang dibuat dapat dilihat pada Tabel 7.(d) (a) Engkol Piringan pembagi Sekrup pengatur arah radial Bilah gunting Lubang no.3. Pemilihan pisau untuk memotong profil gigi (biasanya profil gigi involute) harus dipilih berdasarkan modul dan jumlah gigi yang akan dibuat. Teknik Pemesinan 210 .d) Sisi pertama benda kerja dimulai dari lubang no.2 dan 3.1 Sisi kedua dilakukan dengan cara memutar engkol ke lubang no. 1 Pelat penggerak 6 lubang 5 bagian spindel (b) Bilah gunting Sekrup pengatur bilah (c) (d) Lubang no.30. 6 Pemutaran engkol selanjutnya mengikuti bilah gunting. 6 Gambar 7 30. Kepala pembagi dan pengoperasiannya. Gunting diatur sehingga melingkupi 5 bagian atau 6 lubang (Gambar 7. Penentuan elemen dasar proses frais yaitu putaran spindel dan gerak makan pada proses frais gigi tetap mengikuti rumus 3. 6 (telah dibatasi oleh gunting) Dengan demilian engkol berputar ¼ lingkaran dan benda kerja) berputar ¼ x1/40 = 1/160 putaran Gunting digeser sehingga bilah bagian kiri di no.

5 15 sampai 16 7 14 sampai 16 7.5 13 8 12 dan 13 Tabel 7 3. Teknik Pemesinan 211 .5 30 sampai 34 4 25 sampai 34 4.5 23 sampai 25 5 21 sampai 25 5.5 42 sampai 54 3 35 sampai 54 3.5 19 sampai 20 6 17 sampai 20 6.Digunakan untuk membuat roda gigi Nomer Pisau/ dengan jumlah gigi Cutter 1 135 sampai dengan rack 1.5 80 sampai 134 2 55 sampai 134 2 . Urutan nomer pisau frais gigi involute.

Teknik Pemesinan 200 .

Bandung: Angkasa. Bridgeport. Courtesy EDM Tech. 1980. Teknik Pemesinan . Maximat Super 11 Installation Manual. Harun. Maintenance.m. EMCO Maier+Co.H.A-5400 Hallein: Austria. Teacher’s Handbook Ges. Bandung: Binacipta. (1981). Bridgeport Textron . EMCO.Poco Graphite Inc. EMCO Maier+Co. Emco Maier Ges. Moscow. 1991. Bambang Priambodo. Bridgeport Mahines Devision of Textron Limited PO Box 22 Forest Road Leicester LE5 0FJ : England. Austria. Jakarta: Erlangga Boothroyd. (1985).H. Pengerjaan Logam Dengan Perkakas Tangan dan Mesin Sederhana. (1994). Maintenance Manual. Alat-alat Perkakas 3. EMCO.LAMPIRAN.b. Foreign Languages Publishing House.H. Emco Emco Maier Maier CNC TU-3A.A-5400 Hallein: Austria. 1977.Hallein. 2007. 1980. Geoffrey. A Center Lathe. Instructions and Operating Manual. Fundamentals of Metal Machining and Machine Tools. EMCO. Manual. Fundamentals of Milling Practice. Austria. Teacher’s Handbook Compact 5 PC. B. Teknologi Mekanik Jilid 2.m. CNC TU-2A. Diktat Praktikum Proses Pemesinan II (CNC TU2A dan CNC TU3A) Jurusan Pendidikan Teknik Mesin.S.H. 2005. EDM ProcessMecanism. Instalation.b. Operation. A ___________________________________________Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA Alois SCHONMETZ.Hallein. (1995). C. Lubrication. van Terheijden. 1991. 1991. Avrutin.b. Singapore: Mc Graw-Hill Book Co. Amstead.Hallein. tt. Postfach 131. Health and Safety at Work Act. Teacher’s Handbook Ges. Postfach 131. EMCO. Universitas Negeri Yogyakarta. EMCO.m. Austria.

__________________________________________________Lampiran LAMPIRAN Teknik Pemesinan .

Standar ISO untuk pengkodean pemegang pahat sisipan/ tool holders. Teknik Pemesinan . B Lampiran 1.__________________________________________________Lampiran LAMPIRAN.

Teknik Pemesinan . Standar ISO untuk pengkodean pemegang pahat sisipan. (Lanjutan).__________________________________________________Lampiran Lampiran 1.

__________________________________________________Lampiran Teknik Pemesinan .

Sumber : Katalog PT. Beberapa macam Mesin Bubut konvensional dan CNC. Kawan Lama Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 2. Beberapa macam Mesin Bubut. Sumber : Katalog PT. (Lanjutan). Kawan Lama Teknik Pemesinan .

(Lanjutan). Beberapa macam Mesin Bubut. Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.

com) Teknik Pemesinan . Beberapa macam Mesin Bubut. Sumber : IMTS 2006 (www. (Lanjutan).__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.toolingandproduction.

Beberapa macam Mesin Frais konvensional dan CNC. (Lanjutan). Beberapa macam Mesin Frais.__________________________________________________Lampiran Lampiran 3. Lampiran 3. Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Sumber : Katalog PT. Kawan Lama Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Lampiran 3. Beberapa macam Mesin Frais. Sumber : IMTS 2006 (www. (Lanjutan).com) Teknik Pemesinan .toolingandproduction.

Beberapa macam Mesin Gurdi (Drilling) konvensional dan CNC. Mesin Gurdi manual dan Mesin Gurdi & Tap CNC Teknik Pemesinan . Mesin Bor Radial Lampiran 4. Beberapa macam Mesin Gurdi (Drilling).__________________________________________________Lampiran Lampiran 4. (Lanjutan).

__________________________________________________Lampiran Lampiran 5. Proses pembuatan ulir dan tabel. Teknik Pemesinan .

) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Fundamental Deviation (es ) a -270 -270 -280 -290 -290 -300 -300 -310 -320 -340 -360 -380 -410 -460 -520 -580 -660 -740 -820 -920 -1050 -1200 -1350 -1500 -1650 a b c cd -34 -46 -56 d -20 -30 -40 -50 -50 -65 -65 -80 -80 -100 -100 -120 -120 -145 -145 -145 -170 -170 -170 -190 -190 -210 -210 -230 -230 cd d e -14 -20 -25 -32 -32 -40 -40 -50 -50 -60 -60 -72 -72 -85 -85 -85 -100 -100 -100 -110 -110 -125 -125 -135 -135 e ef ef -10 -14 -18 -6 -10 -13 -16 -16 -20 -20 -25 -25 -30 -30 -36 -36 -43 -43 -43 -50 -50 -50 -56 -56 -62 -62 -68 -68 f fg f fg -4 -6 -8 g -2 -4 -5 -6 -6 -7 -7 -9 -9 -10 -10 -12 -12 -14 -14 -14 -15 -15 -15 -17 -17 -18 -18 -20 -20 g h 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 h js ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 js j5 -2 -2 -2 -3 -3 -3 -3 -4 -4 -5 -7 -9 -9 -11 -11 -11 -13 -13 -13 -16 -16 -18 -18 -20 -20 j5 -140 -60 -140 -70 -150 -80 -150 -95 -150 -95 -160 -110 -160 -110 -170 -120 -180 -130 -190 -140 -200 -150 -220 -170 -240 -180 -260 -200 -280 -210 -310 -230 -340 -240 -380 -260 -420 -280 -480 -300 -540 -330 -600 -360 -680 -400 -760 -440 -840 -480 b c (ei ) j6 -2 -2 -2 -3 -3 -3 -3 -4 -4 -5 -7 -9 -9 -11 -11 -11 -13 -13 -13 -16 -16 -18 -18 -20 -20 (ei ) j6 j7 j7 -4 -4 -5 -6 -6 -8 -8 -10 -10 -12 -12 -15 -15 -18 -18 -18 -21 -21 -21 -26 -26 -28 -28 -32 -32 Up -to Over (Incl. Fundamental Deviatons a to j Over Up -to (Incl. Besarnya toleransi fundamental dari a sampai zc.) Fundamental Deviation (es ) Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 6.

Besarnya toleransi fundamental dari a sampai zc.__________________________________________________Lampiran Lampiran 6. Fundamental Deviatons k to zc Fundamental Deviation ( ei ) Over Up to k4(Incl. (Lanjutan).) k7 other m k (inc) n p r s t u v x y z za zb zc Teknik Pemesinan .) k7 other m k (inc) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 Over 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 0 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 4 6 7 7 8 8 9 9 11 11 13 13 15 15 15 17 17 17 20 20 21 21 23 23 n 4 8 10 12 12 15 15 17 17 20 20 23 23 27 27 27 31 31 31 34 34 37 37 40 40 p 6 12 15 18 18 22 22 26 26 32 32 37 37 43 43 43 50 50 50 56 56 62 62 68 68 r 10 15 19 23 23 28 28 34 34 41 43 51 54 63 65 68 77 80 84 94 98 108 114 126 132 s 14 19 23 28 28 35 35 43 43 53 59 71 79 92 100 108 122 130 140 158 170 190 208 232 252 41 48 54 66 75 91 104 122 134 146 166 180 196 218 240 268 294 330 360 t u 18 23 28 33 33 41 48 60 70 87 102 124 144 170 190 210 236 258 284 315 350 390 435 490 540 39 47 55 68 81 102 120 146 172 202 228 252 284 310 340 385 425 475 530 595 660 v x 20 28 34 40 45 54 64 80 97 122 146 178 210 248 280 310 350 385 425 475 525 590 660 740 820 63 75 94 114 144 174 214 254 300 340 380 425 470 520 580 650 730 820 920 1000 y 26 35 42 50 60 73 88 112 136 172 210 258 310 365 415 465 520 575 640 710 790 900 1000 1100 1250 z 32 42 52 64 77 98 118 148 180 226 274 335 400 470 535 600 670 740 820 920 1000 1150 1300 1450 1600 za 40 50 67 90 108 136 160 200 242 300 360 445 525 620 700 780 880 960 1050 1200 1300 1500 1650 1850 2100 zb zc 60 80 97 130 150 188 218 274 325 405 480 585 690 800 900 1000 1150 1250 1350 1550 1700 1900 2100 2400 2600 Fundamental Deviation ( ei ) Up to k4(Incl.

shaft size 500-3150mm Deviations in μmetres = (m -6) Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 7. ISO Shaft Limit Nearest Zero (Fundamental Deviation ).

(Lanjutan).__________________________________________________Lampiran Lampiran 7.) 560 630 710 800 900 1000 Fundamental Deviation (es) d -260 -260 -290 -290 -320 -320 -350 -350 -390 -390 -430 -430 -480 -480 -520 -520 d e -145 -145 -160 -160 -170 -170 -195 -195 -220 -220 -240 -240 -260 -260 -290 -290 e ef ef f -76 -76 -80 -80 -86 -86 -98 -98 -110 -110 -120 -120 -130 -130 -145 -145 f fg fg g -22 -22 -24 -24 -26 -26 -28 -28 -30 -30 -32 -32 -34 -34 -38 -38 g h js k m Fundamental Deviation (ei) n p 78 78 88 88 r s t 400 450 500 560 620 680 780 840 960 u 600 660 740 840 940 1050 1150 1300 1450 0 ITn/2 0 26 44 0 ITn/2 0 26 44 0 ITn/2 0 30 50 0 ITn/2 0 30 50 0 ITn/2 0 34 56 0 ITn/2 0 34 56 0 ITn/2 0 40 66 0 ITn/2 0 40 66 0 ITn/2 0 48 78 0 ITn/2 0 48 78 0 ITn/2 0 58 92 0 ITn/2 0 58 92 150 280 155 310 175 340 185 380 100 210 430 100 220 470 120 250 520 120 260 580 140 300 640 140 330 720 170 370 820 170 400 920 1000 1120 1120 1250 1250 1400 1400 1600 1600 1800 1800 2000 2000 2240 2240 2500 2500 2800 2800 3150 Up -to Over (Incl.) 1050 1600 1200 1850 1350 2000 0 ITn/2 0 68 110 195 440 1000 1500 2300 0 ITn/2 0 68 110 195 460 1100 1650 2500 0 ITn/2 0 76 135 240 550 1250 1900 2900 0 ITn/2 0 76 135 240 580 1400 2100 3200 Fundamental Deviation (ei) h js k m n p r s t u Fundamental Deviation (es) Teknik Pemesinan . Fundamental Deviatons d to u Over 500 560 630 710 800 900 Up -to (Incl.

Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 8. Holes sizes 0-400mm. ISO Hole Nearest Dim to Zero (Fundamental Deviation).

) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 over 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Up to (Incl.) Fundamental Deviation (El ) A 270 270 280 290 290 300 300 310 320 340 360 380 410 460 520 580 660 740 820 920 B C CD 34 46 56 D 20 30 40 50 50 65 65 80 80 E 14 20 25 32 32 40 40 50 50 EF F FG G H 10 6 4 2 4 5 6 6 7 7 9 9 14 10 6 18 13 8 16 16 20 20 25 25 30 30 36 36 43 43 43 50 50 50 56 56 62 62 68 68 140 60 140 70 150 80 150 95 150 95 160 110 160 110 170 120 180 130 190 140 200 150 220 170 240 180 260 200 280 210 310 230 340 240 380 260 420 280 480 300 Fundamental Deviation (Es ) JS J6 J7 J8 K7 K8 >K8 4 6 8 6 0+ 0 5 6 8 8 10 10 12 12 14 14 0 10 3 12 5 0 IT/2 2 0 IT/2 5 0 IT/2 5 0 IT/2 6 0 IT/2 6 0 IT/2 8 0 IT/2 8 10 15 6 10 15 6 12 20 6 12 20 6 0 IT/2 10 14 24 7 0 IT/2 10 14 24 7 100 60 100 60 120 72 120 72 145 85 145 85 145 85 170 100 170 100 170 100 190 110 190 110 210 125 210 125 230 135 230 135 CD D E 10 0 IT/2 13 18 28 9 10 0 IT/2 13 18 28 9 12 0 IT/2 16 22 34 10 16 12 0 IT/2 16 22 34 10 16 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 17 0 IT/2 25 36 55 16 25 17 0 IT/2 25 36 55 16 25 18 0 IT/2 29 39 60 17 28 18 0 IT/2 29 39 60 17 28 20 0 IT/2 33 43 66 18 29 20 0 IT/2 33 43 66 18 29 Fundamental Deviation (Es ) JS J6 J7 J8 K7 K8 >K8 1050 540 330 1200 600 360 1350 680 400 1500 760 440 1650 840 480 A B C Fundamental Deviation (El ) EF F FG G H Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Deviations in μmetres = (m -6) over Up to (Incl.

over Up to (Incl.) M7 M8 >M8 N7 N8 >N8 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 -2 -2 -2 0 0 0 1 0 1 0 2 0 2 0 2 0 0 2 0 0 3 0 1 0 2 2 1 2 5 4 6 5 7 5 8 6 8 8 9 9 9 -4 -6 -7 -7 -8 -8 -9 -9 -5 -4 -4 -5 -5 -7 -7 -8 -8 -4 -4 -2 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -4 0 -4 0 Fundamental Deviation (Es ) P -6 R -10 S -14 -19 -23 -28 -28 -35 -35 -43 -43 -53 -59 -71 -79 -92 -41 -48 -54 -66 -75 -91 -104 -122 T U -18 -23 -28 -33 -33 -41 -48 -60 -70 -87 -39 -47 -55 -68 -81 V X -20 -28 -34 -40 -45 -54 -64 -80 -97 -63 -75 -94 Y Z -26 -35 -42 -50 -60 -73 -88 ZA -32 -42 -52 -64 -77 -98 -118 ZB -40 -50 -67 -90 -108 -136 -160 -200 -242 -300 -360 -445 -525 -620 -700 -780 -880 -960 ZC -60 -80 -97 -130 -150 -188 -218 -274 -325 -405 -490 -585 -690 -800 -900 -1000 -1150 -1250 -12 -15 -15 -19 -18 -23 -18 -23 -22 -28 -22 -28 -26 -34 -26 -34 -32 -41 -32 -43 -37 -51 -37 -54 -43 -63 -43 -65 -43 -68 -50 -77 -50 -80 -50 -84 -56 -94 -56 -98 -112 -148 -114 -136 -180 -144 -172 -226 -174 -210 -274 -214 -258 -335 -254 -310 -400 -300 -365 -470 -340 -415 -535 -380 -465 -600 -425 -520 -670 -470 -575 -740 -520 -640 -820 -580 -710 -920 -11 -9 -11 -9 -102 -122 -102 -120 -146 -124 -146 -178 -144 -172 -210 -170 -202 -248 -190 -228 -280 -210 -252 -310 -236 -284 -340 -258 -310 -385 -284 -340 -425 -315 -385 -475 -350 -425 -525 -390 -475 -590 -435 -530 -660 -490 -595 -740 -540 -660 -820 -13 -10 -4 0 -15 -12 -4 0 -15 -12 -4 0 -17 -14 -5 0 -17 -14 -5 0 -20 -14 -5 0 100 120 120 140 140 160 160 180 180 200 200 225 225 250 250 280 280 315 315 355 355 400 400 450 450 500 over 10 -13 -10 -4 0 -100 -134 -108 -146 -122 -166 -130 -180 -140 -196 -158 -218 -170 -240 11 -15 -12 -4 0 12 -17 -14 -5 0 12 -20 -14 -5 0 11 -21 -16 -5 0 13 -21 -16 -5 0 -1050 -1350 -1200 -1550 -650 -790 -1000 -1300 -1700 -730 -900 -1150 -1500 -1900 -820 -920 -1300 -1650 -2100 1000 -1450 -1850 -2400 1100 -62 -108 -190 -268 -62 -114 -208 -294 -68 -126 -232 -330 -68 -132 -252 -360 48 59 -23 -17 -6 0 25 25 -23 -17 -6 0 -1600 -2100 -2600 1000 1250 Y Z ZA ZB ZC Up to (Incl. For ITs 6 & 7 refer to table below..__________________________________________________Lampiran Important Note: For Fundamental deviations P-ZC ITn's > 7 only applies .) M7 M8 >M8 N7 N8 >N8 P Fundamental Deviation (Es ) R S T U V X Teknik Pemesinan .

) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Fundamental Deviation (Es ) P7 -6 -9 -12 -15 -15 -18 -18 -21 -21 -26 -26 -30 -30 -36 -36 -36 -41 -41 -41 -47 -47 -51 -51 -55 -55 P7 P7 -6 -8 -9 -11 -11 -14 -14 -17 -17 -21 -21 -24 -24 -28 -28 -28 -33 -33 -33 -36 -36 -41 -41 -45 -45 P7 R6 -10 -12 -16 -20 -20 -24 -24 -29 -29 -35 -37 -44 -47 -56 -58 -61 -68 -71 -75 -85 -89 -97 -103 -113 -119 R6 R7 -10 -11 -13 -16 -16 -20 -20 -25 -25 -30 -32 -38 -41 -48 -50 -53 -60 -63 -67 -74 -78 -87 -93 -103 -109 R7 S6 -14 -16 -20 -25 -25 -31 -31 -38 -38 -47 -53 -64 -72 -85 -93 -101 -113 -121 -131 -149 -161 -179 -197 -219 -239 S6 S7 -14 -15 -17 -21 -21 -27 -27 -34 -34 -42 -48 -58 -66 -77 -85 -93 -105 -113 -123 -138 -150 -169 -187 -209 -229 S7 -37 -43 -49 -60 -69 -84 -97 -115 -127 -139 -157 -171 -187 -209 -231 -257 -283 -317 -347 T6 -33 -39 -45 -55 -64 -78 -91 -107 -119 -131 -149 -163 -179 -198 -220 -247 -273 -307 -337 T7 T6 T7 U6 -18 -20 -25 -30 -30 -37 -44 -55 -65 -81 -96 -117 -137 -163 -183 -203 -227 -249 -275 -306 -341 -379 -424 -477 -527 U6 U7 -18 -19 -22 -26 -26 -33 -40 -51 -61 -76 -91 -111 -131 -155 -175 -195 -219 -241 -267 -295 -330 -369 -414 -467 -517 U7 -36 -43 -51 -63 -76 -96 -114 -139 -165 -195 -221 -245 -275 -301 -331 -376 -416 -464 -519 -582 -647 V6 -32 -39 -47 -59 -72 -91 -109 -133 -159 -187 -213 -237 -267 -293 -323 -365 -405 -454 -509 -572 -637 V7 V6 V7 X6 -20 -25 -31 -37 -42 -50 -60 -75 -92 -116 -140 -171 -203 -241 -273 -303 -331 -376 -416 -466 -516 -579 -649 -727 -807 X6 X7 -20 -24 -28 -33 -38 -46 -56 -71 -88 -111 -135 -165 -197 -233 -265 -295 -323 -368 -408 -455 -505 -569 -639 -717 -797 X7 -59 -71 -89 -109 -138 -168 -207 -247 -293 -333 -373 -416 -461 -511 -571 -641 -719 -809 -907 -987 Y6 -55 -67 -85 -105 -133 -163 -201 -241 -285 -325 -365 -408 -453 -503 -560 -630 -709 -799 -897 -977 Y7 Y6 Y7 Z6 -26 -32 -39 -47 -57 -69 -84 -107 -131 -166 -204 -251 -303 -358 -408 -458 -511 -566 -631 -701 -781 -889 -989 -1087 -1237 Z6 Z7 -26 -31 -36 -43 -53 -65 -80 -103 -127 -161 -199 -245 -297 -350 -400 -450 -503 -558 -623 -690 -770 -879 -979 -1077 -1227 Z7 Up to over (Incl. ) Fundamental Deviation (Es ) Teknik Pemesinan . over Up to (Incl..__________________________________________________Lampiran Important Note: For Fundamental deviations (P to Z) For ITn = 6 & 7 refer to table below.

Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 9. ISO Hole Nearest Dim to Zero (Fundamental Deviation). Holes sizes 400-3150mm.

) 500 560 630 710 800 900 1000 1120 1250 1400 1600 1800 2000 2240 2500 2800 560 630 710 800 900 1000 1120 1250 1400 1600 1800 2000 2240 2500 2800 3150 Fundamental Deviation (El ) D 260 260 290 290 320 320 350 350 390 390 430 430 480 480 520 520 D E F G H __________________________________________________Lampiran Fundamental Deviation (Es ) JS IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 JS K 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 K M N P -78 -78 -88 -88 -100 -100 -120 -120 -140 -140 -170 -170 R -150 -155 -175 -185 -210 -220 -250 -260 -300 -330 -370 -400 -440 -460 -550 -580 R S -280 -310 -340 -380 -430 -470 -520 -580 -640 -720 -820 -920 T -400 -450 -500 -560 -620 -680 -780 -840 -960 U -600 -660 -740 -840 -940 -1050 -1150 -1300 -1450 145 76 145 76 160 80 160 80 170 86 170 86 195 98 195 98 22 0 22 0 24 0 24 0 26 0 26 0 28 0 28 0 -26 -44 -26 -44 -30 -50 -30 -50 -34 -56 -34 -56 -40 -66 -40 -66 -48 -78 -48 -78 -58 -92 -58 -92 220 110 30 0 220 110 30 0 240 120 32 0 240 120 32 0 260 130 34 0 260 130 34 0 290 145 38 0 290 145 38 0 E F G H -1050 -1600 -1200 -1850 -1350 -2000 -68 -110 -195 -68 -110 -195 -76 -135 -240 -76 -135 -240 M N P -1000 -1500 -2300 -1100 -1650 -2500 -1250 -1900 -2900 -1400 -2100 -3200 S T U Up to over ( Incl.Deviations in μmetres = (m -6) Up to over ( Incl.) Fundamental Deviation (El ) Fundamental Deviation (Es ) Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Lampiran 10. Ukuran Nominal (mm)/D Dari IT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 6 8 12 16 23 32 52 81 7 9 13 18 25 36 57 89 8 10 15 20 27 40 63 97 250 315 400 500 630 800 1000 1250 1600 2000 2500 Penyimpangan ( dalam μm) 9 11 16 22 32 44 70 10 13 18 25 36 50 80 11 15 21 28 40 56 90 13 18 24 33 47 66 15 21 29 39 55 78 18 25 35 46 65 92 22 30 41 55 78 26 36 50 68 96 sampai 315 400 500 630 800 1000 1250 1600 2000 2500 3150 110 135 105 125 150 175 210 110 125 140 165 195 230 280 330 130 140 155 175 200 230 260 310 370 440 540 210 230 250 280 320 360 420 500 600 700 860 320 360 400 440 500 560 660 780 920 1100 1350 520 570 630 700 800 900 1050 1250 1500 1750 2100 810 890 970 1100 1250 1400 1650 1950 2300 2800 3300 1300 1400 1550 1750 2000 2300 2600 3100 3700 4400 5400 Teknik Pemesinan . Penyimpangan fundamental dari ukuran 250 sampai dengan 3150 mm.

m.___________________________________________Daftar Pustaka EMCO. Austria. Rohrer. Fox Valley Technnical College. 560 Wuppertal 2. 2007.htm).b. Austria. 1990. Keliner Werth 50. Machine Shop 3 : "Types of Milling Machines"Work Holding(http://its. (1974). 1996. George Schneider Jr.edu/ machshop3/basicmill/default. Emco Maier CNC TU-3A. Bandung: ITB Hand Out Politeknik Manufaktur Bandung.fvtc. Leopold.htm). Applications.Hallein. Teori Gerinda Silindris. 2007.m. Kilgus. 1991. Schiling. CNC TU-2A. Teori Gerinda Datar.m. Cutting Tool (www.bh. A-5400 Hallein.fvtc. (1990). A-5400 Hallein.H. EMCO MAIER Ges. 2007. Headquartes Department of The Army USA : Washington DC Teknik Pemesinan . 1991. Austria.Hallein. Students’s Handbook EMCO TU-2A.fvtc. Machine Shop 3 : Milling Machine"Accessories(http://its.edu/machshop3/ basicmill/default.htm). Tabellenbunch Metall. Teacher’s Handbook EMCO TU-2A.H. Prentice Hall Gerling.b.toolingandproduction. All about Machine Tools. Heinrichi. Austria. 1990.com). Bandung: ITB Headquartes Department of The Army USA. Fox Valley Technnical College.bh. Hand Out Politeknik Manufaktur Bandung. Fox Valley Technnical College. (1990). Emco Maier EMCO MAIER Ges. Training Circular N0 9-524 : Fundamentals of Machine Tools . EMCO. Student’s Handbook Ges. Fischer. Student’s Handbook Ges.m. Machine Shop 3 : "Milling Machines" Tool Holding (http://its. New Delhi: Wiley Eastern.edu/ machshop3/basicmill/default.

Metal Cutting Processes1– Turning.hk/handout/handout.edu. 2007. http://mmu. http://mmu. 2007.Fitting&Assembly. (1993).polyu. (1990).hk/handout/handout. The Hong Kong Polytechnic University. Teori & Teknologi Proses Pemesinan.polyu. Bandung: Proyek HEDS..polyu.___________________________________________Daftar Pustaka John W.hk/handout/handout. Measurement. 1998. Turning (www.mtu.ic. Taufiq Rochim. Michigan Technological University's Turning Information Center : Michigan ----------------.hk/handout/handout.polyu.edu.edu/marc/ primers/turning/turn. Metal Cutting Processes2Milling.edu.polyu. http://mmu.htm Teknik Pemesinan .htm The Hong Kong Polytechnic University.ic.htm The Hong Kong Polytechnic University.html#cfintro_name. Basic Machining andFitting. 2007.ic. A TUTORIAL ON CUTTING FLUIDS IN MACHINING.edu/testbeds/cfest/fluid.edu. http://mmu. Taufiq Rochim. http://mmu. 2007.htm The Hong Kong Polytechnic University. 2007.mfg.html). Teori Kerja Bor.ic.ic. Safety Instruction. 2007. The Hong Kong Polytechnic University. http://www.mtu. Sutherland. Bandung: Politeknik Manufaktur Bandung.htm Marking Out.hk/handout/handout.edu.mfg.

281. 359. 190. 487. 493. 491. 87. 364. 260. 12. 179. 165. 200. 302. 19. 162. 359. 93. 182. 242. 194. 221. 163. 246. 208. 515. 352. 457. 448. 221 clearance. 295. 6. 5. 370. 208. 308. 198. 31. 465. 292 G ganda. 218. 493 cutting. 297. 174. 317. 160. 267. 266. 243. 161. 402. 172. 295. 219. 494 end mill. 465. 36. 38. 212. 448. 358. 259. 41. 306. 227. 212. 41. 489. 186. 160. 295. 200. 171. 51. 259. 220. 352. 336. 289. 358. 39. 10. 175. 286. 490. 171. 48. 286. 161. 65. 379 E EDM. 304. 264. 455 ferro. 468. 370. 210. 185. 188. 11. 402. 459. 469. 486. 171. 282. 492 clamp. 207. 155. 483. 2. 218. 7. 218. 273. 229. 486. 489 asutan. 41. 447. 4. 14. 265. 8. 168. 458. 218. 224. 209. 481. 292. 300. 214. 465. 245. 41. 165. 353. 160. 9. 298. 158. 170. 193. 256. 234. 359. 450. 69 C casting. 146. 310. 350. 172. C _____________________________________________________Indeks A absolut. 317. 229. 483. 317 bor. 493. 250. 300. 485. 482. 38. 206 energi. 31. 359. 244. 473. 263. 259 elektrode. 406. 182.LAMPIRAN. 317. 477. 224. 355. 269 current. 359. 482 dimetris. 207 dresser. 317. 158. 497 geometri. 166. 8. 492. 205. 21. 247 gaya. 277 gerinda. 309. 224. 262. 20. 28. 492. 258. 494. 12. 181. 53. 306 drilling. 212. 402 column. 39. 202. 495 Teknik Pemesinan . 371. 371. 178. 34. 153. 211. 406. 213. 484. 33. 453. 16. 26. 467 down milling. 219. 504 diamond. 198. 469. 295. 32. 234. 256. 29. 198. 212. 487. 172. 38. 302. 359. 237. 202. 316. 506 F face milling. 379. 244 bubut. 265. 205. 175. 14. 159. 208. 191. 458. 317. 194. 247. 365. 159. 37. 183 axis. 45. 213. 41. 309. 311. 269. 298. 46. 357. 315. 351. 468. 252. 218. 334. 491. 472. 311 diameter. 348. 266. 311. 171. 287. 489. 348. 185. 489. 22. 203. 309. 171. 447. 162. 467. 159. 456. 208. 257. 280. 234. 269. 263. 472. 185. 199. 451. 213. 256. 192. 359. 406 boring. 254. 161. 334. 464. 446. 507. 352. 162. 379. 467 D dial indicator. 35. 310. 252. 87. 262. 194. 92. 337. 210. 217. 467. 445. 482. 39. 171. 379. 473. 227. 406 end milling. 290. 18. 99. 162. 466. 47. 220. 268. 249. 252. 299. 451. 472 B bantalan. 39. 406 attachment. 522 collet. 303. 191. 162. 503. 49. 174. 487. 491. 456. 106. 245 CNC. 165. 28. 153. 446. 367. 38. 44. 406 alur. 341. 238. 354. 466. 472. 244. 359. 338. 242. 475. 263. 467. 358. 247. 470. 286. 454. 209. 406. 161. 261. 468. 315. 353. 402. 192. 113 disket. 502 alarm. 53. 30. 170. 112. 35. 365. 188. 351. 244. 232. 201. 316. 354. 402 cetakan. 368. 200. 217. 234. 406. 86. 358. 474. 401. 37 cekam. 498 gerak makan. 220. 223. 270. 217. 159. 368. 168. 307. 175. 200 dielectric. 200. 68. 317. 39. 161. 214. 490. 168. 460 counterboring. 6. 350. 488. 470. 283. 253. 310. 371. 367. 462. 402 baut. 507 eksentris. 213. 368. 50. 33. 251. 206 feed. 280. 379. 356. 170. 519. 458. 21. 17. 347. 406. 449. 310. 476. 36. 370. 183. 508. 488. 290. 458. 186. 54. 3. 406. 94. 172. 43. 23. 41. 34. 20. 306. 198. 206. 379. 341. 464. 161.

_____________________________________________________Indeks gips. 163. 267. 214. 266. 467. 483 konversi. 39. 317. 182. 51. 91. 155. 483 isometris. 491 konduktor. 172. 341. 168. 212. 159. 84. 168. 38. 127. 492. 167. 213. 336. 6. 22. 254. 60. 317. 21. 317. 486. 161. 209. 512. 502 isolator. 286. 317. 185. 14. 212. 63 kecepatan potong. 305 insert. 207. 234. 249. 167. 311. 503. 336. 23. 507 grinding. 94 K karbida. 244. 402. 268. 472. 160. 178. 214. 160. 379 knee. 94. 229. 259. 18. 359. 62. 160. 185. 406 material. 215. 353 keselamatan. 346 momen. 164. 307 lead. 504. 253. 270. 173. 57. 262. 250. 242. 161. 110. 200. 246. 93. 173. 227. 467. 337. 406. 257. 253. 266. 62. 340. 213. 502 H helix. 466. 33. 57. 212. 190. 354. 193. 317. 38. 198. 208. 252. 496 kepala lepas. 212. 162. 304. 484 ISO. 112 HSS. 493 P pahat. 95. 224. 266. 218. 295. 158. 106. 345. 246. 43. 235. 57. 112 M machine. 502 N nonferro. 181. 244. 358. 493. 462. 191. 160. 188. 22. 379. 230. 267. 153. 174. 234. 491. 33. 6. 232. 191. 503 metris. 239. 469. 234. 9. 254. 248. 308. 246. 359. 176. 225. 41. 359. 66. 184. 205. 498. 8. 265. 379. 219. 162. 185. 39. 205. 198. 529. 18. 159. 178. 262. 216. 56. 90 O overcut. 237. 226. 37. 162. 269. 43. 57. 498. 237. 246. 166. 92 milling. 15. 176. 266. 472 gurdi. 266. 499. 262 mur. 216. 170. 496. 168. 451. 235. 234. 263. 303. 488. 188. 235. 309. 247. 492 kartel. 245. 7. 193. 165. 47. 206. 247. 265. 499. 194. 316. 450 kopel. 87. 317. 94. 169. 351. 170. 202. 198. 210 knurling. 337. 522 mata bor. 183. 289. 251. 46. 406. 205. 61. 227. 263. 172. 42. 29. 231. 491. 166. 290. 486. 245. 7. 182. 242. 338. 200 komparator. 501. 337. 249. 511. 200. 47. 252. 209. 310. 489. 120. 212. 193. 8. 240. 182. 257. 19. 506 grooving. 95 mikrometer. 96 indicator. 214. 295. 105. 30. 23. 21 nonius. 277. 247. 490. 192. 171. 260. 353. 108. 17. 89. 406. 190. 307. 84 L lathe. 39. 212. 317. 41. 28. 12. 501. 500. 173. 253. 247. 186. 161. 190. 235. 311. 466. 161. 108. 317 J jam ukur. 105. 311. 95. 94. 227. 203 kebisingan. 265. 295. 223. 268. 449. 265. 163 ion. 252. 248. 242. 39. 159. 379. 31. 162. 194 lubang. 106. 49. 28. 160. 492 kedalaman potong. 497. 490. 406 mineral. 307. 458. 245. 339. 247 holder. 263. 175. 277. 470 mal. 249. 214. 191. 154. 158. 406. 58. 489. 21. 244. 489. 172. 176. 177. 126. 308. 207. 188. 163. Teknik Pemesinan . 337. 468. 502. 337. 170. 49. 39. 261. 90. 473. 139. 167. 169. 247. 343. 334. 487. 24. 111. 175. 163. 335. 164. 466. 482. 33. 250 manual. 446. 175. 262. 34 Graphite. 177. 467 kekerasan. 243. 188. 243. 311. 87. 109. 201. 337. 67 kisar. 402 horisontal. 287. 527. 239. 190. 406 I imperial. 273. 491. 356.

406. 343. 40. 182. 191. 224. 8. 184. 170. 459. 234. 451. 41. 341. 370. 175. 3. 87. 308. 338. 105. 19. 279. 206. 224. 231. 406. 317. 219. 209. 236. 167. 83. 359. 247. 194. 294. 41. 307. 281. 306. 194. 132. 113. 376. 229. 348. 232. 473. 298. 295. 158. 447. 336. 406. 161. 276. 51. 207. 348. 188. 501. 258. 309. 476 spindle. 82. 205. 447. 53. 191. 245. 120. 14. 17. 340. 173. 112. 38. 337. 371. 229. 346. 115. 200. 5. 344. 447. 462. 335. 211. 454. 34 resultan. 311. 20. 181. 261. 144. 208. 10. 401. 37. 487. 39. 511. 180. 39. 15. 470. 17. 482. 465. 89. 460. 338. 351. 466. 512 parameter. 202. 307. 466. 293. 200 planner. 359. 353 putaran. 225. 370. 456. 280. 46. 352. 192. 165. 208. 3. 254. 221. 297. 340. 283. 467. 93. 172. 469. 501 perkakas. 220. 471. 336. 350. 81. 502 portable. 353. 279. 273 plastik. 298. 108. 250. 272 sparks. 45. 348. 188. 28. 38. 109. 235. 303. 244. 338. 503. 198. 193. 466. 475. 191. 176. 113. 451. 16. 4. 246. 294 sisipan. 354. 181. 158. 239. 370. 179. 253. 230. 289. 317. 187. 139 pulley. 270. 182. 309. 489. 229. 159. 378. 511. 467. 7. 113 pitch. 502 R ragum. 469. 16. Teknik Pemesinan . 368. 476. 4. 290. 93. 258. 470. 190. 244. 458. 457. 454. 317. 454 Sinker EDM. 300. 359. 496. 86. 7 poros. 129. 252. 270. 253. 273. 308. 81. 357. 359. 247. 181. 472. 165. 339. 488 step motor. 406 sudut. 496. 450. 452. 472. 334. 273. 182. 93. 159. 130. 194 proyeksi. 369. 359. 473. 41. 160. 145. 235. 158. 208. 160. 459. 475. 270. 186. 334. 259. 249. 193. 486. 172. 191. 240. 90. 365. 464. 340. 193. 217. 503 simulasi. 237. 194. 356. 246. 212. 110. 352. 365. 190. 277. 92. 454. 2. 446. 406. 468. 173. 249. 346. 379. 249. 198. 191. 477. 454. 317. 371. 494. 11. 193. 241. 283. 161 pemesinan. 406 shaping. 287. 212. 357. 317. 486. 304. 344. 165. 262. 315. 212. 379. 487 pendingin. 461. 234. 247. 468. 162 Ram EDM. 17. 311. 213. 248. 371. 260. 473. 368. 112. 32. 181. 6. 135. 201. 21. 334. 240. 36. 306. 174. 454. 482. 406. 379. 317 profil ulir. 111. 224. 504 screw. 201. 359. 454. 282. 469. 216. 163. 146. 241. 178. 190. 213. 185. 476 parting-off. 193. 286. 468. 471. 446. 260. 342. 237. 243. 449. 173. 94. 121. 334. 51. 303. 455. 340. 341. 459. 192. 171. 277. 164. 38. 131. 119. 224. 472. 352. 462. 379. 276. 109. 379. 489. 304. 371. 495 reaming. 454. 359. 379. 311. 446. 269. 456 sekrap. 259. 446. 402. 89. 185. 219. 226. 371. 489. 270. 159. 451. 220. 401. 476. 243. 238 profil. 113. 234. 293. 162. 231. 512 skala. 112. 94. 168. 183._____________________________________________________Indeks 179. 110. 214. 345. 308. 162. 39. 455. 345. 337. 203. 186. 249. 359. 253 slotter. 472. 406 poligon. 202. 472. 359. 311. 353. 505 pemrograman. 365. 464. 317. 246. 120. 235. 476. 453. 213. 497. 262. 154. 447. 116. 42. 468. 281. 275. 16. 178. 211. 172. 242. 182. 268. 257. 137. 36. 18. 185. 91. 466. 225. 496. 493. 460. 266. 41. 247. 476. 207. 102. 177. 182. 191. 379. 406. 368. 406 setting. 227. 459. 498. 447. 487. 365. 87. 47. 194. 166. 448. 458. 38. 336. 357. 406 stamping. 311. 472. 448. 448. 6. 181. 379. 186. 265. 53. 275. 283. 131. 270. 303. 474. 185. 499. 406. 406. 251. 351. 462. 252. 7. 265. 317. 489. 188. 465. 402. 5. 211. 232. 201. 34. 469. 492. 136. 184. 456 sleeve. 239. 191. 214. 370. 183. 51. 212. 230. 307. 337. 446. 227. 503. 449. 457. 467 plotter. 466. 31. 6 S satuan. 335. 379. 190. 270. 276. 166. 270 simetris. 465. 460 senter. 459. 497 perspektif. 277. 449. 242. 304. 243. 211. 406 rake. 18. 461. 482 sinus. 222. 185. 220. 341. 108. 341 resin. 456. 238. 229. 457. 188. 4. 217. 52. 272. 272. 476 perencanaan. 200. 493 spindel. 270. 95. 449. 458.

183. 239. 359 tungsten. 289. 269 tegangan. 192. 316. 187. 402 transmisi. 448. 467. 317. 406. 494. 508. 369. 146. 94. 19. 518. 257. 38. 194. 207. 162. 337 taper. 113. 379. 357. 298. 342. 234 T tap. 521 tool post. 317. 39. 452. 277. 191. 4. 456 tunggal. 273. 359. 87. 482. 109. 371. 352. 136. 460. 2. 170. 370. 158. 110. 14. 51. 16. 158. 174. 506. 207 V vektor. 455. 265. 167. 334. 369. 118. 449. 238. 305. 187. 351. 356. 491. 36. 240. 495 sudut ulir. 459. 140. 241. 49. 240. 279. 459. 446. 302. 141. 342. 317. 511. 304. 302. 11. 353. 266. 174. 188. 295. 402. 406 vise. 379. 484. 219. 119. 173. 172. 208. 151. 6. 163. 230. 183. 406. 184. 402. 38. 112. 184. 144. 193. 128. 186. 336. 191. 265. 22. 111. 41. 341. 266. 200. 186. 494. 492. 201. 368. 354. 192. 183. 359. 173. 487. 217. 461. 218. 461. 185. 54 turning. 489. 458. 492. 306. 191. 304 up milling. 450. 87. 253. 468. 253. 242. 270. 237. 273. 364. 475. 5. 185. 191. 41. 93. 161. 295. 466. 250. 492 turbin. 171. 222. 252. 18. 158. 183. 311. 57. 43. 489. 116. 39. 194. 277. 270. 473. 352. 53. 269. 462. 277. 254. 173. 359. 266. 8. 190. 254 W Wire EDM. 348. 523 ulir metris. 186. 259. 365. 467. 158. 267. 161. 253. 485. 406. 306. 454. 253. 464. 194. 242. 509 U ulir. 6. 246. 489. 221. 294. 158. 486. 283. 490. 46. 495 tool. 108. 317. 182. 268. 176. 117. 191. 176 training unit. 218. 225. 10 Teknik Pemesinan . 146. 194 sumbu. 483._____________________________________________________Indeks 252. 158. 317. 137. 166. 218. 459 vertikal. 370. 365. 20. 489 temperatur. 495 swivel. 371. 218 tapping. 447. 401. 190. 173. 161 threading. 176. 15. 21. 294. 186. 17. 12. 159. 497 thread. 495 workshop. 358. 371. 254. 190. 491. 174. 267 universal. 451. 335. 402. 379. 12. 472 tirus.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->