Widarto

TEKNIK PEMESINAN
JILID 1 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PEMESINAN
JILID 1
Penulis

Untuk SMK
: Widarto

Perancang Kulit

: TIM

Ukuran Buku WID t

:

17,6 x 25 cm

WIDARTO Teknik Pemesinan Jilid 1 untuk SMK /oleh Widarto ---Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xii, 256 hlm Daftar Pustaka : Lampiran. A Lampiran : Lampiran. B Index : Lampiran. C ISBN : 978-979-060-115-4 ISBN : 978-979-060-116-1

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

PENGANTAR UMUM

Teknik Pemesinan

i

yaitu: Proses pemotongan dengan mesin las Proses pemotongan dengan mesin pres Proses pemotongan dengan mesin perkakas Proses pemotongan non-konvensional (Electrical Discharge Machining. buku ini hanya akan membahas kelompok ke-3 yaitu proses pemotongan dengan menggunakan pahat potong yang dipasang pada mesin perkakas dan kelompok ke-4. Mengenal Komponen Mesin. Dalam istilah teknik. Untuk mempermudah pemahaman. Dari keempat proses pemotongan tersebut. proses pemotongan logam dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok dasar. dan Mesin Konversi Energi. 2.P 1. 4. Berdasarkan pada cara pemotongannya. Bab 13 Memahami Mesin CNC Lanjut. Laser Beam Machining. Dimulai dari Bab 1 tentang Memahami dasar-dasar Kejuruan. Bab 14 Mengenal EDM. Bab 1 Memahami Dasar-dasar Kejuruan menjelaskan tentang Statika dan Tegangan. dan Bab 15 Memahami Toleransi Ukuran dan Geometrik. yang memuat secara rinci hampir semua proses pemesinan yang biasa dipakai dalam proses produksi dan hal-hal yang terkait dengan proses pemesinan. Sebagai permulaan. Chemical Milling. Teknik Pemesinan ii .). khususnya mesin EDM (Electrical Discharge Machining). Oleh karena itu. materi buku ini dibuat dengan menganut sistematika pembahasan sebagaimana yang akan dibahas pada beberapa alinea berikut. Bab 3 Merealisasi Kerja yang Aman. Bab 9 Mengenal Proses Sekrap (Shaping). Bab 5 Memahami Gambar Teknik. Dilanjutkan Bab 2 Memahami Proses-proses Dasar Kejuruan yang menjelaskan Proses Pengecoran Logam. roses pemotongan logam merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengubah bentuk suatu produk (komponen mesin) dari logam dengan cara memotong. dan Mengenal Material dan Mineral. untuk menghindari kesalahpahaman tentang istilah maka selanjutnya dipilih nama yang terakhir yaitu proses pemesinan. proses ini sering disebut dengan nama Proses Pemotongan Logam (Metal Cutting Process) atau Proses Pemesinan (Machining Process). Bab 6 Mengenal Proses Bubut (Turning). 3. Bab 8 Mengenal Proses Gurdi (Drilling). Bab 2 Memahami Proses-proses dasar Kejuruan. Bab 10 Mengenal Proses Gerinda (Grinding). Buku Teknik Pemesinan ini terdiri dari 15 Bab. Mengenal Proses Pemesinan. Mengenal Proses Pengerjaan Panas. Bab 4 Memahami Kaidah Pengukuran. Bab 7 Mengenal Proses Frais (Milling). Bab 11 Mengenal Cairan Pendingin yang Dipakai dalam Proses Pemesinan. Bab 12 Memahami Mesin CNC Dasar. dsb.

Kemudian dipaparkan mengenai alat bantu produksi. mulai dari membubut lurus. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi. maupun alat-alat perkakasnya. Bab 4 Memahami Kaidah Pengukuran. kecepatan makan. dan jam ukur (dial indicator). Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran. mesin. membuat profil. serta Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas. dan Membaca Gambar Teknik. proses bubut adalah proses pemesinan yang sering digunakan dalam proses produksi. Lembar Kerja. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran. penentuan langkah kerja (meliputi persiapan bahan benda kerja. membahas tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. penentuan jenis pemotongan. Manajemen Bahaya. sudut bebas (clearance angle). Bab 5 Memahami Gambar Teknik yang memberikan penjelasan Mengenal Alat Menggambar Teknik. Teknik Pemesinan iii . yang terdiri dari sudut beram (rake angle). menguraikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). dan proses pembubutan cembung maupun cekung. yang dilanjutkan dengan membahas sistem satuan yang digunakan dalam proses pemesinan. ulir. yaitu sistem Metris (Metric system) dan sistem Imperial (Imperial system/British system). perhitungan waktu pemotongan. tirus. membahas alat ukur yang umum digunakan dalam pekerjaan pemesinan yaitu jangka sorong. eksentris. perencanaan proses membubut. mikrometer. Selanjutnya dibahas geometri pahat yang menguraikan besaran sudut pada pahat bubut. dan sudut sisi potong (cutting edge angle). Bab 6 membahas Proses Bubut (Turning) yang merupakan Bab yang paling banyak isinya. pemasangan pahat. Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (noise). Alat Perlindungan Diri. agar pekerja selalu menjaga keamanan dan keselamatan baik bagi operatornya. Bab ini menguraikan parameter yang diatur pada Mesin Bubut. Pada bahasan mengenai proses bubut ini diakhiri dengan uraian tentang perencanaan dan perhitungan dalam proses bubut yang diawali dengan penjelasan tentang elemen dasar proses bubut yang dapat dihitung yaitu kecepatan potong. Bahasan terakhir ini sangat penting untuk diperhatikan dalam setiap pekerjaan pemesinan. gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut).Berikutnya Bab 3 Merealisasi Kerja yang Aman. mengkartel. dan kecepatan terjadinya beram. setting mesin. Pencahayaan. alur. Pada sub-Bab terakhir. pemilihan mesin (dengan pertimbangan yang mendasar adalah dimensi benda kerja yang yang akan dikerjakan). penentuan kondisi pemotongan. dan jenis-jenis Mesin Bubut. Fasilitas Penunjang. Maklum. dan pemeriksaan hasil berdasarkan gambar kerja). lebih detail dijelaskan mulai dari material pahat (yaitu baja karbon sampai dengan keramik dan intan. Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed).

boring head. dan momen puntir yang diperlukan pada proses gurdi. sudut ujung (point angle /lip angle. dan kedalaman potong perlu dipertimbangkan pula gaya aksial. Kemudian jenis-jenis Mesin Frais. Mesin Gurdi radial. Kemudian dibahas tentang perkakas Mesin Gurdi yang terdiri dari ragum. klem set. Pada Bab ini dimulai dari pengertian Mesin Gurdi dan jenis-jenisnya. Mesin Gurdi produksi. Metode proses frais ini ada dua yaitu frais naik (up milling) dan frais turun (down milling). Mesin Gurdi spindel jamak. pasak pembuka. dan kolet. kecepatan pembentukan beram dan diakhiri dengan contoh-contoh pengerjaan benda kerja yang terdiri dari proses frais datar/rata (surface milling) dan proses frais roda gigi. gerak makan per gigi. terdiri dari column and knee milling machines. Mesin Gurdi dikelompokkan menjadi Mesin Gurdi portable. Dijelaskan pula alat pencekam dan pemegang benda kerja yang menjelaskan pemegang benda kerja pada Mesin Frais dan beberapa macam asesoris yang berguna untuk membantu pengaturan Mesin Frais maupun penempatan benda kerja. Dilanjutkan parameter pada proses frais yaitu parameter yang dapat langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang mengoperasikan Mesin Frais : putaran spindel (n). dan Mesin Gurdi lubang dalam.Bab 7 menjabarkan Proses Frais (Milling). dan special purposes. Pada Bab 9 dijelaskan Proses Sekrap (Shaping). tool holder. Setelah diketahui perkakas Mesin Gurdi selanjutnya dijelaskan mengenai geometri mata bor (twist drill) yang berisi tentang sudut-sudut pada mata bor yaitu sudut helik (helix angle). gerak makan (f). dan kedalaman potong (a). arah penyayatan. Mesin Gurdi vertical. Dan pada akhir bab ini. ). yakni hanya menguraikan apa itu Mesin Sekrap dan jenisTeknik Pemesinan iv . Mesin Gurdi turret. Bab ini cukup singkat. peralatan sebagai alat bantu Mesin Frais terdiri dari arbor. pencekam mata bor. bed type milling machines. waktu pemotongan. 2 r). dan sudut bebas (clearance angle. Berikutnya diuraikan geometri pahat frais. akan tetapi dalam proses gurdi selain kecepatan potong. dan posisi relatif pahat terhadap benda kerja. Bab 8 menjelaskan tentang proses pembuatan lubang bulat dengan menggunakan mata bor (twist drill) yang disebut dengan Proses Gurdi (Drilling). gerak makan. landasan (blok paralel). dibahas tentang elemen dasar pada proses gurdi. Mesin Gurdi peka. sarung pengurang. Pada Bab ini diawali dari klasifikasi proses frais yang diklasifikasikan dalam tiga jenis yaitu berdasarkan jenis pahat. serta perencanaan proses bor. Dibahas juga tentang metode kerja Mesin Frais yang ditentukan berdasarkan arah relatif gerak makan meja Mesin Frais terhadap putaran pahat. dan mata bor. Sub-Bab berikutnya elemen dasar proses frais yang menjelaskan tentang kecepatan potong. Diuraikan juga tentang pencekaman mata bor dan benda kerja yang berisi tentang alat pencekaman dan cara pencekaman yang benar. Elemen dasar atau parameter proses gurdi pada dasarnya sama dengan parameter proses pemesinan yang lain.

Bab 14 buku ini memberi penjelasan sedikit tentang Mesin EDM (Electrical Discharge Machining). Dibahas juga pengaruh Cairan Pendingin pada proses pemesinan sebagai fungsi utama dan dapat juga sebagai fungsi kedua. Jenis Mesin Gerinda terdiri dari Mesin Gerinda datar. Dimulai dari jenis-jenis Cairan Pendingin yang biasa dipakai. khususnya bagaimana suatu Mesin CNC bekerja. Jenis Mesin Sekrap yang ada meliputi Mesin Sekrap datar atau horizontal (shaper). klasifikasi batu gerinda. karena kedua mesin ini merupakan dasar bagi Mesin CNC generasi di atasnya.jenisnya. yakni data teknologisnya. jumlah putaran. Teknik Pemesinan v . dan kecepatan pembentukan beram. yaitu kecepatan potong. susunan butiran asah. waktu pemotongan. ukuran butiran asahan. terdiri dari minyak murni (straight oils). Diawali dengan sistem mekanik yang digunakan Mesin CNC. harga. bagaimana pemrogramannya. Ada dua Mesin CNC dasar yang dijelaskan yakni Mesin Bubut TU 2A dan Mesin Frais TU 3A. Bab 11 berisi uraian tentang Cairan Pendingin yang biasa dipakai pada proses pemesinan. dan dikabutkan (mist application of fuid). bentuk-bentuk batu gerinda. menuliskan jenis-jenis Mesin Gerinda dan menjelaskan batu asah gerinda. Informasi yang penting dari mesin ini adalah jenis-jenis Mesin EDM dan cara mengoperasikan mesin tersebut. kecepatan pemakanan. dan kecepatan asutan. dan Mesin Gerinda silindris. yaitu terdiri dari kecepatan potong. Mesin Perkakas CNC. dan Mesin Sekrap eretan (planner). Dan di akhir Bab ini diuraikan tentang perawatan serta pembuangan Cairan Pendingin yang benar dan aman. Pada keduanya dijelaskan hal yang mirip. disemprotkan (jet application of fluid). Bab ini membahas lebih jelas dan dalam Mesin CNC. Selanjutnya dibahas mengenai kriteria pemilihan Cairan Pendingin dilihat dari unjuk kerja proses. sistem koordinat Mesin CNC. spesifikasi batu gerinda dan pemasangan batu gerinda. Data teknologis pada Mesin CNC sama dengan pada proses pemesinan lainnya. dan cairan sintetis (synthetic fluids). Untuk elemen proses sekrap pada dasarnya sama dengan proses pemesinan lainnya. macam-macam perekat. Bab 12 menguraikan tentang Mesin CNC Dasar. Kemudian dipaparkan cara pemberian Cairan Pendingin yaitu dengan cara manual disiramkan ke benda kerja. cairan semi sintetis (soluble oils semisynthetic fluids). pengontrolan sumbu Mesin CNC. Mesin Sekrap vertical (slotter). Untuk batu asah dipaparkan mengenai jenis-jenis butir asahan. Bab 10 yang menjelaskan Proses Gerinda (Grinding). serta bagaimana pengoperasiannya. keamanan terhadap lingkungan dan keamanan terhadap kesehatan. kemudian apa saja elemen dasar Mesin Sekrap. tingkat kekerasan (grade). Bab 13 sedikit mengulang Bab 12 dan dilanjutkan membahas Mesin CNC secara lebih detail. dan pemrograman Mesin CNC.

suaian. Penulis terus berusaha untuk dapat menyempurnakan isi buku ini. toleransi standar dan penyimpangan fundamental. Keterangan-keterangan di atas disusun sebagai gambaran menyeluruh isi buku ini. khususnya siswa Sekolah Menengah Kejuruan. sehingga dapat memberikan informasi tentang keilmuan teknik pemesinan kepada para pembaca. toleransi. cara penulisan toleransi ukuran/dimensi. dengan harapan akan mempermudah bagi para pembaca untuk memahami materi-materi yang telah dituliskan dalam buku ini.Dan pada Bab 15 memuat penyimpangan ukuran yang terjadi selama proses pemesinan. Teknik Pemesinan vi .

8. Pengertian Energi 2. Beton. Pemurnian Mineral BAB 2. Mengenal Material dan Mineral 1. Bantalan C. Mengenal Proses Pengecoran Logam 1. Poros 2. Mengenal Proses Pengerjaan Panas 1. Statika 2. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi i vii JILID 1 1 2 2 9 14 14 18 19 19 21 21 22 25 26 26 27 29 29 30 31 31 32 33 35 36 36 38 42 42 43 43 43 43 47 Teknik Pemesinan vii . Penempaan (Forging) D. Tegangan B. Pembentukan Beram (Chips Formation) pada Proses Pemesinan C. Pengerolan (Rolling) 2. Berbagai Macam sifat Logam 2. Berbagai Jenis sumber Daya Mineral 4. Klasifikasi Proses Pemesinan 2. Mineral 3. Mengenal Elemen Mesin 1. Statika dan Tegangan 1. Mengenal Proses Mesin Konversi Energi 1. Die Casting 10. Macam-Macam Energi 3. Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) 6. Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) 9. MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN A. Pengertian 2. atau Plastik Resin.___________________________________________________Daftar Isi Daftar Isi Halaman Halaman Sampul Pengantar Umum Daftar Isi BAB 1. Pengolahan Pasir Cetak 4. Mengenal Proses Pemesin 1. Pembuatan Cetakan Manual 3. Pengecoran Gips. MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN A. Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) 7. Kecepatan Pendinginan B. Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting) 5.

Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran 1. Sistem Satuan BAB 5. Penanganan dan Penyimpanan Bahan H. MEREALISASI KERJA YANG AMAN A. Pencahayaan E. Kertas Gambar 2. MEMAHAMI GAMBAR TEKNIK A. Mesin Gambar B. Klasifikasi kebakaran 4. Contoh Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise) D. Peralatan pemadaman kebakaran 6. Mengenal Alat Menggambar Teknik 1. Manajemen Bahaya C. Petunjuk pemilihan APAR 7. Fasilitas Penunjang K. Alat-alat Penunjang Lainnya 8. Meja Gambar 9. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas BAB 4. Lembar Kerja 1. Pensil Gambar 3. Jam Ukur (Dial indicator) A. Penggaris 5. Jangka 6. Keselamatan dan Kelematan Kerja Teknik Pemesinan 51 52 53 55 58 64 67 71 75 75 75 76 76 77 79 79 79 80 80 82 83 83 85 87 88 91 92 92 93 95 95 96 98 98 100 100 101 101 101 101 viii . Jangka Sorong 2. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran J.___________________________________________________Daftar Isi BAB 3. Rapido 4. Sebab-sebab kebakaran 5. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/polusi F. Mikrometer 3. MEMAHAMI KAIDAH PENGUKURAN A. Alat 2. Penghapus dan Alat Pelindung Penghapus 7. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar 2. Karakteristik APAR I. Bahan 3. Alat Perlindungan Diri G. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) B. Alat Ukur 1. Pengendalian titik nyala 3.

Simbol Proyeksi dan Anak Panah 9. Penentuan Pandangan 10. Membaca Gambar Teknik 1. Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja pada Mesin Frais Teknik Pemesinan 102 102 103 106 107 107 109 109 114 115 120 130 133 136 142 151 153 155 158 159 163 163 165 167 174 177 188 190 194 196 196 197 197 197 197 198 199 202 203 206 208 ix . Gambar Potongan 11. Proyeksi Piktorial 2. Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut 1. Perencanaan Proses Membubut Alur 9. Frais Muka (Face milling) 3. MENGENAL PROSES BUBUT (TURNING) A. MENGENAL PROSES FRAIS (MILLING) A. Pemilihan Mesin 3. Frais Periperal (slab milling) 2. Metode Proses Frais 1. Peralatan dan Asesoris untuk Memegang Pahat Frais G. Perencanaan Proses Membubut Ulir 8. Frais Naik (Up milling) 2. Perencanaan Proses Membubut/membuat Kartel BAB 7. Klasifikasi Proses Frais 1. Geometri Pahat Frais F. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Frais E. Macam-macam Pandangan 7. Bidang-bidang Proyeksi 8. Ukuran Pada Gambar Kerja 13. Proyeksi Miring (sejajar) 5. Perencanaan Proses Membubut Tirus 7. Material Pahat 2. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut B. Geometri Pahat Bubut C. Penulisan Angka Pengukuran 14. Proyeksi Isometris 3. Frais Turun (Down milling) C. Pencekaman Benda Kerja 4. Frais Jari (End milling) B. Garis Arsiran 12. Perencanaan Proses Membubut Lurus 6. Penentuan Langkah Kerja 5.___________________________________________________Daftar Isi C. Gambat Perspektif 6. Pengukuran Ketebalan BAB 6. Jenis Mesin Frais D. Proyeksi Dimetris 4.

MENGENAL CAIRAN PENDINGIN UNTUK PROSES PEMESINAN A. MENGENAL PROSES SEKRAP (SHAPING) A. Perkakas Mesin Gurdi C. Mesin Gerinda Datar 2. Perencanaan Proses Gurdi BAB 9. Jenis Cairan Pendingin B. Jenis-jenis Mesin Gerinda 1. Ukuran Butiran Asah 3. Batu Asah 1. Elemen Dasar Proses Gurdi G. Beberapa Mesin Gurdi yang Dipakai Pada Proses Produksi B. Susunan Butiran Asah 6. Jenis-jenis Mesin Sekrap 2. Jenis-Jenis Mesin Gurdi 3.___________________________________________________Daftar Isi H. Geometri Mata Bor (Twist drill) D. Mesin Sekrap dan Jenis-jenisnya 1. Klasifikasi Batu Gerinda 8. Jenis-jenis Butir Asahan/abrasive 2. Nama Bagian-bagian Mesin Sekrap B. Mekanisme Kerja Mesin Sekrap 3. Pencekaman Mata Bor dan Benda Kerja F. Proses Frais Roda Gigi BAB 8. Pengasahan Kembali Mata Bor E. Elemen dasar Perencanaan Proses Sekrap BAB 10. Pemasangan Batu Gerinda BAB 11. Elemen Dasar Proses Frais I. Mesin Gurdi (Drilling machine) 2. Tingkat Kekerasan (Grade) 4. Mesin gurdi (Drilling machine) dan Jenis-jenisnya 1. Bentuk-bentuk Roda Gerinda 7. Proses Frais Datar/rata 2. MENGENAL PROSES GERINDA (GRINDING) A. MENGENAL PROSES GURDI (DRILLING) A. Mesin Gerinda Silindris B. Pengerjaan Benda Kerja dengan Mesin Frais 1. Cara Pemberian Cairan Pendingin pada Proses Pemesinan Teknik Pemesinan 212 213 214 218 222 224 224 225 226 226 231 233 237 239 249 251 235 236 236 239 239 242 253 255 255 267 284 285 286 286 287 288 289 290 291 298 300 301 JILID 2 x . Ukuran Mesin gurdi 4. Macam-macam Perekat 5.

___________________________________________________Daftar Isi C. serta Soal Latihan B. Penentuan Sumbu Z 2. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Sistem Kontrol Analog dan Sistem Kontrol Digital 5. Mesin Perkakas CNC B. Penentuan Sumbu Y 4. Penentuan Sumbu Putar dan Sumbu Tambahan D. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Penentuan Sumbu X 3. Fungsi M. Sistem Kontrol Terbuka (Open Loop Control) 2. serta Soal Latihan Bagian II BAB 13. Penamaan Sistem Sumbu (Koordinat) Mesin Perkakas NC 1. MEMAHAMI MESIN CNC DASAR A. Perawatan dan Pembuangan Cairan Pendingin BAB 12. Pengoperasian Disket 6. Sistem Kontrol Langsung dan Sistem Kontrol Tidak Langsung 4. MEMAHAMI MESIN CNC LANJUT A. Contoh-contoh Aplikasi Fungsi G. Fungsi M. Mesin Frais CNC 1. Kompensasi Radius Pisau Sejajar Sumbu 8. Langkah Persiapan 2. Sistem Kontrol Absolut dan Sistem Kontrol Incremental C. Pengaruh Cairan Pendingin pada Proses Pemesinan D. Pemrograman CNC 1. Pengontrolan Sumbu Mesin Perkakas CNC 1. Prinsip Kerja Mesin Frais CNC TU-3A 2. Kecepatan Potong dan Putaran Mesin 4. serta Soal Latihan Bagian I 7. Kriteria Pemilihan Cairan Pendingin E. Pemrograman Mesin CNC 5. Bagian Utama Mesin Frais CNC TU-3A 3. Mesin Bubut CNC 1. Prinsip Kerja Mesin Bubut CNC TU-2A 2. Langkah Pelaksanaan Pembuatan Program Teknik Pemesinan 304 305 307 310 311 312 313 323 325 329 331 333 363 363 364 373 374 376 378 389 390 406 410 414 414 415 415 417 417 418 418 420 420 420 424 424 425 xi . Bagian Utama Mesin Bubut CNC TU-2A 3. Cara setting Benda Kerja 7. Cara Setting Pisau terhadap Benda Kerja 6. Sistem Kontrol Tertutup (Close Loop Control) 3. Pengoperasian Disket 5. Fungsi M. Kecepatan Potong dan Kecepatan Putar Mesin 4.

___________________________________________________Daftar Isi 3. Langkah Percobaan 4. Tugas Programmer dalam Pembuatan Program NC 5. Kode dan Format Pemrograman 6. Pengertian Program NC 7. Struktur Program NC 8. Sistem Pemrograman Absolut dan Incremental 9. Kontruksi Program NC 10. Kode G (G-code) dan Fungsi M 11. Pembuatan Program NC BAB 14. MENGENAL EDM A. Gambaran Singkat EDM B. Cara kerja EDM C. Perkembangan Penggunaan EDM D. Penggunaan EDM E. Pemilihan Elektrode F. Jenis Bahan Elekrode G. Pembuatan Eektrode 1. Proses Galvano 2. Pembuatan Elektrode pada Umumnya 3. Pembuatan Elekrode Graphite H. Elektrode untuk Wire EDM I. Kualitas Hasil Pengerjaan EDM 1. Kelebihan Pemotongan (Overcut) 2. Pengerjaan Penghalusan (Fnishing) 3. Penyelesaian Setara Cermin (Mirror finishing) J. Keterbatasan Proses EDM BAB A. B. C. D. E. 15. MEMAHAMI TOLERANSI UKURAN GEOMETRIK Penyimpangan Selama Proses Pembuatan Toleransi dan Suaian Suaian Cara Penulisan Toleransi Ukuan/dimensi Toleransi Standar dan Penyimpangan Fundamental DAN 426 427 429 429 430 431 433 434 435 440 441 441 445 446 447 448 449 449 449 449 450 450 450 451 452 452 454 455 456 457 459 461

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN INDEKS

A B

C

Teknik Pemesinan

xii

BAB 1 MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN

Teknik Pemesinan

1

A. Statika dan Tegangan
1. Statika tatika adalah ilmu yang mempelajari tentang kesetimbangan benda, termasuk gaya-gaya yang bekerja pada sebuah benda agar benda tersebut dalam keadaan setimbang.

S
a.

Gaya Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan benda diam menjadi bergerak atau sebaliknya dari bergerak menjadi diam. Gaya dapat digambarkan sebagai sebuah vektor, yaitu besaran yang mempunyai besar dan arah. Gaya biasanya disimbolkan dengan huruf F.

Gambar 1 1. Perpindahan benda dari A ke B akibat gaya F Gaya yang bekerja pada benda di atas antara lain: Gaya berat (W) yang selalu berpusat pada titik beratnya dan arahnya selalu ke pusat grafitasi bumi. Gaya (F) dapat sejajar dengan permukaan benda atau membentuk sudut dengan permukanan tumpuan. Gaya F dapat menyebabkan masa (m) dari diam menjadi bergerak hingga memiliki percepatan sebesar a (m/s2), dapat dituliskan : F = m (Kg) . a (m/s2) = Kg.m/s2 = Newton (N) Bila gaya F dihilangkan benda (m) akan mengalami perlambatan hingga setelah waktu t detik benda akan berhenti (kecepatan v=0). Hal ini karena benda melewati permukaan kasar yang memiliki gaya gesek (f) yang arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda. Besarnya f tergantung pada harga koefisien geseknya (μ). Semakin kasar permukaan benda maka koefisien geseknya (μ) akan semakin besar. Bila gaya gesek lebih besar dari gaya tarik (F), maka benda akan berhenti (v = 0). Gaya gesek (f) berbanding lurus dengan gaya normal (N) benda atau dapat dituliskan : f = u . N Newton Teknik Pemesinan 2

di mana: N = gaya normal yang selalu tegak lurus permukaan benda (Newton) μ = koefisien gesek permukaan benda (tanpa satuan) Aplikasi dari gaya gesek dapat diilustrasikan pada contoh: roda yang masih baru akan memiliki cengkeraman yang lebih kuat dibanding dengan roda yang aus/halus. Pengereman di permukaan aspal lebih baik bila dibandingkan dengan di permukaan lantai keramik, karena μ aspal lebih besar dari u permukaan keramik.

Gambar 1 2. Gaya gesek antara roda mobil dan aspal jalan

1) Menentukan besarnya gaya Besarnya gaya dapat ditentukan oleh skala tertentu, misalnya 1 cm mewakili 1 Newton atau kelipatannya. Satuan gaya ditentukan oleh sistem satuan SI (standar internasional) yang dinyatakan dengan Newton (N). Garis lukisan gaya itu dapat diperpanjang sesuai besarnya gaya F. Titik tangkap gaya (A) dapat dipindahkan sepanjang lintasannya, asalkan besar dan panjangnya tetap sama sesuai dengan gaya F.

Gambar 1 3. Titik tangkap gaya (A) pada garis kerja gaya

Teknik Pemesinan

3

2) Menyusun dua buah gaya Arah gerak dan besar gaya pada benda A dipengaruhi oleh dua komponen gaya masing-masing gaya F1 dan F2. Pengaruh gaya F1 dan F2 terhadap benda/titik A dapat diwakili oleh Resultane gaya (F) yang besarnya dapat ditentukan sebagai berikut:

Gambar 1 4. Menyusun dua buah gaya menjadi gaya Resultan (F) Bila sudut persamaan : dibagi dalam
1

dan

2,

maka dapat dituliskan

F1 Sin

F2 Sin

F
2

Sin

3) Menyusun lebih dari dua gaya Benda A dikenai tiga buah gaya F1, F2 dan F3, maka resultan gayanya dapat dijabarkan sebagai berikut:

Gambar 1 5. Menyusun gaya lebih dari dua buah secara grafis Penyelesaian di atas disebut dengan penyelesaian secara grafis, namun ada juga penyelesaian secara Poligon (segi banyak) dan secara analitis, yaitu setiap gaya diuraikan kedalam sumbu x dan y. 4) Menyusun gaya dengan metode poligon Metode ini dengan cara memindahkan gaya P2 ke ujung P1, P3 ke ujung P2, P4 ke ujung P3 dan seterusnya secara berantai. Pemindahan gaya-gaya tersebut besar dan arahnya harus sama. Pemindahan dilakukan berurutan dan dapat berputar ke kanan atau ke kiri. Resultan gaya diperoleh dengan menarik garis dari titik A sampai ke ujung gaya

Teknik Pemesinan

4

Gambar 1 6. kedudukan titik tangkapnya. Gambar 1 7.yang terakhir. dan arahnya adalah dari A menuju titik ujung gaya terakhir itu. Menyusun gaya lebih dari dua buah secara Analitis Teknik Pemesinan 5 . yaitu sebagai berikut. baik untuk menentukan besarnya. Untuk mencari resultan gaya juga dapat diakukan dengan cara analitis. maupun arahnya melalui sumbu x dan y. Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon 5) Menyusun gaya secara Analitis.

Jarak (L) garis gaya (F) terhadap titik perputaran (o) Dimana F = gaya L = jarak gaya terhadap titik pusat M = Momen gaya Teknik Pemesinan 6 . sebuah gaya dapat diuraikan menjadi dua buah gaya yang masing-masing disebut dengan komponen gaya menurut garis kerja yang sudah ditentukan. Gambar 1 8. atau masing-masing komponen sebagai sisi-sisi dari jajaran genjang dengan sudut lancip tertentu yang mudah dihitung. Momen Gaya dan Kopel 1) Momen Gaya Momen gaya F terhadap titik pusat O adalah hasil kali antara besarnya gaya F dengan jarak garis gaya. Pada gambar dibawah ini diberikan contoh sebuah gaya F yang diuraikan menjadi F1 dan F2 yang membentuk sudut lancip . dan sebagainya. Menguraikan gaya (proyeksi) ke sumbu X dan Y b. Dalam bidang teknik mesin momen sering terjadi pada saat mengencangkan mur atau baut. pengguntingan pelat. maka sebaliknya. ke titik pusat O. Besarnya momen tergantung dari besarnya gaya F dan jarak garis gaya terhadap titik putarnya (L). Gambar 1 9. Jika dua buah gaya dapat digantikan dengan sebuah gaya pengganti atau resultan. sistem pegas.6) Menguraikan Gaya Menguraikan gaya dapat dilakukan dengan menguraikan pada arah vertikal dan horizontal yang saling tegak lurus.

dan berharga negatif (-) jika berputar berlawanan arah putaran jarum jam. Suatu momen adalah positif (+) jika momen itu berputar searah jarum jam. Dua gaya sama sejajar berlawanan arah dan berjarak L Dua gaya tersebut mengakibatkan suatu putaran yang besarnya merupakan hasil kali gaya dengan jaraknya. Teknik Pemesinan 7 . Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon 2) Kopel Sebuah kopel terjadi jika dua gaya dengan ukuran yang sama dan garis kerjanya sejajar tetapi arahnya berlawanan. dimana tangan kita memberikan gaya putar pada kedua tuas snei dan tap yang sama besar namun berlawanan arah. momen memiliki satuan Newton meter (N. Jika terdapat beberapa gaya yang tidak satu garis kerja seperti gambar di bawah maka momen gayanya adalah jumlah dari momen gaya-momen gaya itu terhadap titik tersebut. (lihat gambar di bawah ini) Gambar 1 11. Aplikasi dari kopel dapat dirasakan ketika membuat mur atau baut.m).Dalam satuan SI (standar international). Gambar 1 10. yang keduanya cenderung menimbulkan perputaran.

momen gaya F2 terhadap O. gaya luar dapat berupa F yang besar dan arahnya tergantung pada sumbernya. gaya gesek (f) arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda. M2 = +F2 .c.cm. Nilai F tergantung pada arah benda ang bekerja. Gaya berat (W) terletak pada titik pusat benda dan arahnya selalu menuju pusat bumi. Gaya normal (N) merupakan reaksi tumpuan terhadap benda. b . a = 0 F 2 . arahnya tegak lurus dengan permukaan bidang. a (searah Jarum Jam). 2) Kesetimbangan pada benda miring Benda pada bidang miring dalam kondisi diam atau bergerak memiliki gaya-gaya yang mempengaruhinya.m. Aplikasi perhitungan momen biasanya dipergunakan dalam perhitungan pada alat angkat sederhana. seperti pengungkit. gaya luar dan gaya normal (N). Gambar di bawah ini menunjukkan gaya yang bekerja sejajar bidang lintasan. Teknik Pemesinan 8 .= F1 . kg.m.a . Gambar 1 12. Dua gaya pada batang membentuk kesetimbangan Momen gaya F1 terhadap O.b (berlawanan arah Jarum Jam) Persamaan kesetimbangannya: Mo = 0 F 2.F1 . M1 = . F2 Satuan momen: Nm atau kg. Kesetimbangan 1) Pengertian kesetimbangan Syarat kesetimbangan adalah jumlah momen-momen gaya terhadap titik kesetimbangan (o) sama dengan nol. ton. antara lain gaya berat. gaya gesek (f). tuas atau linggis.F 1 .

demikian pula sebaliknya lantai akan memberikan reaksi yang sama. sehingga benda dalam keadaan setimbang. a. gaya sepusat (F) yang arahnya ke bawah. Tegangan yang timbul pada penampang A-A Teknik Pemesinan 9 . dan di bawah penampang bekerja gaya reaksinya (F”) yang arahnya ke atas. maka setiap satuan luas penampang menerima beban sebesar: F A . Jika kita ambil penampang A-A dari balok. molekul-molekul di atas dan di bawah bidang penampang A-A saling tekan menekan. agar tetap setimbang maka gaya F sebesar: F = W sin o dan N = W Cos 2. Jika sebuah balok terletak di atas lantai. Kesetimbagan benda pada bidang miring Diagram vektor berbentuk segitiga siku di mana : F mg sin Jika gesekan diabaikan. Pada bidang penampang tersebut. Gaya aksi sepusat (F) dan gaya reaksi (F”) dari bawah akan bekerja pada setiap penampang balok tersebut. Gambar 1 14. balok akan memberikan aksi pada lantai. Tegangan Pengertian Tegangan Hukum Newton pertama tentang aksi dan reaksi.Gambar 1 13.

Gambar 1 16. tarikan. a) Tegangan Normal Tegangan normasl terjadi akibat adanya reaksi yang diberikan pada benda. Tegangan biasanya dinyatakan dengan huruf Yunani (thau). tali. bengkokan. dan lain-lain. dan reaksi. Pada pembebanan tarik terjadi tegangan tarik. paku keling. Rantai yang diberi beban W akan mengalami tegangan tarik yang besarnya tergantung pada beratnya. 2 m cm 2 Gambar 1 15. begitu pula pada pembebanan yang lain. maka satuan tegangan adalah N dyne atau . F A 1) Macam-macam tegangan Tegangan timbul akibat adanya tekanan. f m2 b) Tegangan Tarik Tegangan tarik pada umumnya terjadi pada rantai. Tegangan tarik pada batang penampang luas A Teknik Pemesinan 10 . Jika gaya dalam diukur dalam N. Tegangan normal Sedangkan tegangan trangensialnya: Fq A kg. sedangkan luas penampang dalam m2. pada pembebanan tekan terjadi tegangan tekan.Beban yang diterima oleh molekul-molekul benda setiap satuan luas penampang disebut tegangan.

dan sambungan baut. tegak lurus sumbu batang. Tegangan Geser Teknik Pemesinan 11 . terjadi pada tiang bangunan yang belum mengalami tekukan. gunting. porok sepeda. Tegangan tekan d) Tegangan Geser Tegangan geser terjadi jika suatu benda bekerja dengan dua gaya yang berlawanan arah. Misalnya. A = luas penampang c) Tegangan Tekan Tegangan tekan terjadi bila suatu batang diberi gaya F yang saling berlawanan dan terletak dalam satu garis gaya. Tegangan tekan dapat ditulis: D Fa A F A Gambar 1 17. gaya tidak segaris namun pada penampangnya tidak terjadi momen.Persamaan tegangan tarik dapat dituliskan: t F A Fa A Di mana : F = gaya tarik. Tegangan ini banyak terjadi pada konstruksi seperti sambungan keling. Gambar 1 18. dan batang torak.

maka pelengkungan benda diabaikan.D 2 Apabila pada konstruksi mempunyai n buah paku keling. pada poros-poros mesin dan poros roda yang dalam keadaan ditumpu. Gaya F bekerja merata pada penampang A. Pada material akan timbul tegangan gesernya. maka F maksimum = 4 . .D 4 e) Tegangan Lengkung Misalnya. sebesar: g gayadalam luaspenampang g F (N / m2 ) A Untuk konstruksi pada paku keling.D 2 Tegangan geser terjadi karena adanya gaya radial F yang bekerja pada penampang normal dengan jarak yang relatif kecil.Pada gambar di atas. Jadi. Gambar 1 19. Untuk hal ini tegangan yang terjadi adalah F g 4 . Tegangan lengkung pada batang rocker arm F RA RB dan b Mb Wb Mb = momen lengkung Wb = momen tahanan lengkung Teknik Pemesinan 12 . maka sesuai dengan persamaan dibawah ini tegangan gesernya adalah F g . dua gaya F sama besar berlawanan arah. merupakan tegangan tangensial. 2 Dimana D = diameter paku keling n.

merupakan tegangan trangensial. juga saat melakukan pengeboran. Tegangan puntir Benda yang mengalami beban puntir akan menimbulkan tegangan puntir sebesar: t Mt Wp Mt = momen puntir (torsi) Wp = momen tahanan polar (pada puntir) Teknik Pemesinan 13 .Tegangan Puntir Tegagan puntir sering terjadi pada poros roda gigi dan batang-batang torsi pada mobil. Jadi. f) Gambar 1 20.

Kontruksi poros kereta api Untuk merencanakan sebuah poros. biasanya tidak berputar. puli sabuk mesin. fungsinya hanya sebagai penahan beban. seperti cakra tali. Gaya (F) merupakan gaya luar arahnya dapat sejajar dengan permukaan benda ataupun membentuk sudut dengan permukanan benda. tromol kabel. F1 F2 Gambar 1 21. Poros Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga melalui putaran mesin. Gaya yang timbul pada benda dapat berasal dari gaya dalam akibat berat benda sendiri atau gaya luar yang mengenai benda tersebut. piringan kabel. dan lain-lain. roda jalan. dan roda gigi. Mengenal Elemen Mesin 1. karena tegangan dapat rimbul pada benda yang mengalami gaya-gaya. As gardan. Baik gaya dalam maupun gaya luar akan menimbulkan berbagai macam tegangan pada kontruksi tersebut antara lain: a. Contoh sebuah poros dukung yang berputar. dipasang berputar terhadap poros dukung yang tetap atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar.B. Setiap elemen mesin yang berputar. Gaya F dapat menimbulkan tegangan pada poros. Teknik Pemesinan 14 . maka perlu diperhitungkan gaya yang bekerja pada poros di atas antara lain: Gaya dalam akibat beratnya (W) yang selalu berpusat pada titik gravitasinya. Macam-macam poros Poros sebagai penerus pembebanannya sebagai berkut : daya diklasifikasikan menurut 1) Gandar Gandar merupakan poros yang tidak mendapatkan beban puntir. yaitu poros roda kereta api.

Gambar 1 23. 2) Spindle Poros transmisi yang relatif pendek. momen puntir yang akan dipindahkan oleh poros dapat ditentukan dengan mengetahui garis tengah pada poros. Beban pada poros 1) Poros dengan beban puntir Daya dan perputaran. Konstruksi poros transmisi b. Spindle mesin bubut 3) Poros transmisi Poros transmisi berfungsi untuk memindahkan tenaga mekanik salah satu elemen mesin ke elemen mesin yang lain. dan bentuk serta ukurannya harus teliti. Poros transmisi mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur yang akan meneruskan daya ke poros melalui kopling. dan lainlain. roda gigi. seperti poros utama mesin perkakas.Contohnya seperti yang dipasang pada roda-roda kereta barang. disebut spindle. atau pada as truk bagian depan. Gambar 1 22. Teknik Pemesinan 15 . Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil. di mana beban utamanya berupa puntiran. puli sabuk atau sproket rantau.

W P di mana F . tetapi juga mendapat beban dinamis. dan kerja yang dilakukan adalah F. Bila jarak ini ditempuh dalam waktu t. Gambar 1 25. Beban lentur murni pada lengan robot Teknik Pemesinan 16 .r. melainkan diasumsikan mendapat pembebanan lentur saja. Jadi. Poros transmisi dengan beban puntir Apabila gaya keliling F pada gambar sepanjang lingkaran denga jarijari r menempuh jarak melalui sudut titik tengah (dalam radial). M w.Gambar 1 24. . M w. Meskipun pada kenyataannya gandar ini tidak hanya mendapat beban statis. t M w. momen puntirnya: Mw P 2) Poros dengan beban lentur murni Poros dengan beban lentur murni biasanya terjadi pada gandar dari kereta tambang dan lengan robot yang tidak dibebani dengan puntiran. W t ialah kecepatan sudut poros.r. Gaya F yang bekerja pada keliling roda gigi dengan jari-jari r dan gaya reaksi pada poros sebesar F merupakan suatu kopel yang momennya Mw = F. maka jarak ini adalah r. Momen ini merupakan momen puntir yang bekerja dalam poros. maka daya.

gandar dan roda. sehingga 5.Jika momen lentur M1. di mana beban pada suatu gandar diperoleh dari 1 2 berat kendaraan dengan muatan maksimum dikurangi berat a. Selain itu beban puntir dan lentur juga terjadi pada lengan arbor mesin frais. Beban yang bekerja pada poros pada umumnya adalah beban berulang. Dengan demikian poros tersebut mendapat beban puntir dan llentur akibat adanya beban. terutama pada saat pemakanan. Beban puntir dan lentur pada arbor saat pemakanan Agar mampu menahan beban puntir dan lentur.M 1 1 3 3) Poros dengan beban puntir dan lentur Poros dengan beban puntir dan lentur dapat terjadi pada puli atau roda gigi pada mesin untuk meneruskan daya melalui sabuk. Gambar 1 26.2 a . maka bahan poros harus bersifat liat dan ulet agar mampu menahan tegangan geser maksimum sebesar: 2 max 4 2 2 Pada poros yang pejal dengan penampang bulat. tegangan lentur yang diijinkan adalah diameter dari poros adalah maka ds 10. atau rantai. Jika poros tersebut mempunyai roda gigi untuk meneruskan daya besar.1 max ds 3 M2 T2 Teknik Pemesinan 17 . s 32M 3 ds dan 16T ds 3 . maka kejutan berat akan terjadi pada saat mulai atau sedang berputar.

Bantalan luncur dilengkapi alur pelumas b. a. antara lain: a. Bantalan luncur. Bantalan gelinding. di mana arah beban yang ditumpu bantalan tegak lurus sumbu poros.2. Teknik Pemesinan 18 . maka bantalan dibedakan menjadi tiga hal berikut. Posisi bantalan harus kuat. di mana arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros. Berdasarkan arah beban terhadap poros. Gambar 1 28. Bantalan aksial. Bantalan poros dapat dibedakan menjadi dua. Bantalan Bantalan diperlukan untuk menumpu poros berbeban. di mana terjadi gerakan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan lapisan pelumas. Bantalan radial b. di mana terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti rol atau rol jarum. agar dapat berputar atau bergerak bolak-balik secara kontinnyu serta tidak berisik akibat adaya gesekan. Gambar 1 27. Bantalan radial. hal ini agar elemen mesin dan poros dapat bekerja dengan baik.

kekerasan elastisitas.Gambar 1 29. di mana bantalan ini menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros. kita dapat menghasilkan logam yang kuat dan keras sesuai kebutuhan. sedangkan logam nonferro (bukan besi) antara lain emas. Dengan mengetahui unsur-unsur kimia ini. Beberapa material seperti baja struktur. 1. Selain pengelompokan di atas. kekakuan. perak. besi Teknik Pemesinan 19 . Bantalan gelinding khusus. Kekuatan (strength) adalah kemampuan material untuk menahan tegangan tanpa kerusakan. dan timah putih. nonlogam dan metalloid. plastisitas. Sifat mekanis adalah kemampuan suatu logam untuk menahan beban yang diberikan pada logam tersebut. Pembebanan yang diberikan dapat berupa pembebanan statis (besar dan arahnya tetap). Bahan logam ini terdiri dari logam ferro dan nonferro. Bantalan aksial c. baja. kelelahan bahan. Bantalan gelinding khusus C. sifat fisika. sifat kimia dan sifat pengerjaan. ataupun pembebanan dinamis (besar dan arahnya berubah). dan besi cor. Bahan logam ferro diantaranya besi. yaitu unsur logam. sifat fisika. Gambar 1 30. Mengenal Material dan Mineral Material dapat berupa bahan logam dan non logam. material juga dapat dikelompokkan berdasarkan unsur-unsur kimia. Berbagai Macam Sifat Logam Logam mempunyai beberapa sifat antara lain: sifat mekanis. Bahan non logam dapat dibagi menjadi bahan organik (bahan yang berasal dari alam) dan bahan anorganik. sifat kimia. dan sifat pengerjaan. antara lain: kekuatan bahan (strength). Yang termasuk sifat mekanis pada logam.

Korosi adalah terjadinya reaksi kimia antara suatu bahan dengan lingkungannya. Secara garis besar ada dua macam korosi. Elastisitas merupakan kemampuan suatu material untuk kembali ke ukuran semula setelah gaya dari luar dilepas. Kekerasan merupakan kemampuan suatu material untuk menahan takik atau kikisan. dan daya hantar listrik Sifat kimia adalah kemampuan suatu logam dalam mengalami peristiwa korosi. alumunium. Kepadatan. Ada dua macam pengerjaan yang biasa dilakukan yaitu sebagai berikut : Teknik Pemesinan 20 . kekuatan gesermya kira-kira dua pertiga kekuatan tariknya. atau gaya terbesar persatuan luas yang dapat ditahan bahan tanpa patah.tempa. Kekerasan (hardness) adalah ketahanan suatu bahan untuk menahan pembebanan yang dapat berupa goresan atau penekanan. Elastisitas ini penting pada semua struktur yang mengalami beban yang berubah-ubah terlebih pada alat-alat dan mesin-mesin presisi. Kelelahan bahan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima beban yang berganti-ganti dengan tegangan maksimum diberikan pada setiap pembebanan. Plastisitas adalah kemampuan suatu bahan padat untuk mengalami perubahan bentuk tetap tanpa ada kerusakan. Sementara itu. Untuk mengetahui kekuatan suatu material dapat dilakukan dengan pengujian tarik. Sifat pengerjaan adalah suatu sifat yang timbul setelah diadakannya proses pengolahan tertentu. Sifat pengerjaan ini harus diketahui terlebih dahulu sebelum pengolahan logam dilakukan. dan tembaga mempunyai kekuatan tarik dan tekan yang hampir sama. Ukuran kekuatan bahan adalah tegangan maksimumnya. yaitu korosi karena efek galvanis dan reaksi kimia langsung. Untuk mengetahui kekerasan suatu material digunakan uji Brinell. Sifat fisika adalah karakteristik suatu bahan ketika mengalami peristiwa fisika seperti adanya pengaruh panas atau listrik. Daya hantar panas. atau geser. tekan. Kekakuan adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk menahan perubahan bentuk atau deformasi setelah diberi beban. Yang termasuk sifat-sifat fisika adalah sebagai berikut: Titik lebur. Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk kembali ke bentuk semula setelah menerima beban yang mengakibatkan perubahan bentuk.

b. Misalnya. minyak bumi. bentuk heksagonal (enam bidang) pada kuarsa. seng. yang mempunyai bentuk dan ciri-ciri khusus serta mempunyai susunan kimia yang tetap. Kristal atau belahan merupakan mineral yang mempunyai bidang datar halus. Kilatan merupakan sinar suatu mineral apabila memantulkan cahaya yang dikenakan kepadanya. dan yang sedikit terdapat di alam seperti tenbaga. yaitu yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang seperti batubara. Berat jenis ini akan berubah setelah diolah menjadi bahan. mineral mempunyai berat jenis antara 2 – 4 ton/m2. Pasir. Moneral memliki ciri-ciri khas antara lain: a. bentuk kristalnya dapat dipecah-pecah menjadi beberapa kubus dan patahannya akan terlihatk dengan jelas.2. Bahan bakar fosil. kalsium fosfat. yaitu yang berlimpah di kerak bumi seperti besi. misalnya malagit berwarna hijau. Air merupakan sumber mineral terpenting dari semuanya yang terdapat melimpah di permukaan bumi. Teknik Pemesinan 21 . mineral mempunyai warna tertantu. mangan. dan lain-lain. Tanpa air tidak mungkin kita dapat menanam dan menghasilkan bahan makanan. merupakan warna yang timbul bila mineral tersebut digoreskan pada porselen yang tidak dilicinkan. d. dan titanium. Contohnya bentuk kubus pada galmer (bilih seng). alumunium. batu kerikil. Cerat. Berat jenis. Mineral Mineral merupakan suatu bahan yang banyak terdapat di dalam bumi. dan belerang merupakan bahanbahan utama industri-industri kimia dan pupuk buatan. dan semen terutama dipakai sebagai bahan-bahan bangunan dan konstruksi lainnya. b. Unsur-unsur Nonlogam Unsur-unsur nonlogam (nonmetallic) dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan kegunaannya. Warna. c. Misalnya emas. dan gas alam. antara lain : Natrium klorida. timah hitam. gips. dan tembaga yang mempunyai kilat logam. timah. Unsur-unsur Logam Unsur-unsur logam dibagi lagi dalam dua kelompok menurut banyaknya. 3. lazurit berwarna biru. dan ada pula mineral yang memiliki bermacam-macam warna misalnya kuarsa. Berbagai Jenis Sumber Daya Mineral a. batu hancur. Setiap mineral memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda. Persediaan energi kita sekarang sangat bergantung pada bahan-bahan ini.

Pemurnian Mineral Mineral pada awalnya ditemukan di alam masih bercampur dengan mineral lain sehingga perlu dilakukan proses pemurnian untuk mendapatkan satu bentuk mineral. Proses pemurnian bijih besi Melebur dan mengoksidasi besi adalah proses kimia yang sederhana. membentuk metalik iron (besi yang bersifat logam) dan gas karbon dioksida. Dapur pengolahan biji besi menjadi besi Sejak abad ke-14 besi mulai diproduksi dalam jumlah besar dan dasar-dasar eksploitasi industri besi secara modern sudah dimulai. a. akibat semakin berkurangnya persediaan kayu. (b) prosedur-prosedur tanur yang lebih efisien. Pemurnian mineral adalah proses memisahkan satu bentuk mineral dari mineral-mineral lainnya melalui satu proses dan cara tertentu. Setelah itu diperoleh berbagai penemuan dalam produksi besi.4. Karena bijih besi jarang ada yang murni. batu kapur (CaCO3) harus juga ditambahkan sebagai imbuh (flux) agar bercampur dengan kotoran-kotoran dan mengeluarkannya sebagai slag (terak). (c) metode-metode untuk mereduksi bijih besi. karbon dalam bentuk kokas dan oksida besi bereaksi pada suhu tinggi. Teknik Pemesinan 22 . Gambar 1 31. termasuk juga pemakaian kokas yang dibuat dari batu bara sebagai pengganti arang kayu. antara lain: (a) metode untuk memproduksi baja yang berkualitas tinggi dari besi kasar.dan (d) metode-metode untuk memproses bijih besi berkadar rendah. Selama proses itu. (d) metode-metode untuk memamfaatkan bijih-bijih besi yang mengandung kotoran-kotoran perusak seperti fosfor dan belerang.

Setelah itu. bagian lain tidak bereaksi dan dapat dipisahkan. dan CuS. Panas oksidasi yang dihasilkan cukup tinggi sehingga muatan tetap cair dan sulfida tembaga akhirnya berubah menjadi oksida tembaga dan sulfat. Bauksit dimasukkan ke dalam kauksit soda. e. alumina di dalamnya membentuk natrium aluminat. kotoran-kotoran teroksidasi. akan didapatkan alumina. Teknik Pemesinan 23 . bijih itu dilebur di dalam dapur corong atau dapur nyala api dengan kokas dan dituang menjadi balok-balok kecil. sesudah itu dipanggang sehingga terbentuk campuran FeS. Tepung bijih dipekatkan terlebih dahulu. oksida bereaksi dengan sulfida membentuk tembaga blister dan dioksida belerang. kemudian diolah lebih lanjut secara elektronik menjadi tembaga murni. c. Karena titik lelehnya tinggi. sedang proses elektrolisis di sini sebagai reduksi Al2O3. Dengan menambah kwarsa (SiO2) pada sulfat di atas suhu yang tinggi akan mengubah timbel sulfat menjadi silikat. Besi yang ada larut dalam terak dan tembaga. Bila aliran udara dihentikan. SiO2. besi yang tersisa ditaungkan ke dalam konventor. Campuran silikat timbel dengan oksida timbel yang dipijarkan pakai kokas kemudian dicampur dengan batu kapur. tembaga ini dilebur dan dicor menjadi slab. Udara dihembuskan ke dalam konventor selama 4 – 5 jam. Proses pemurnian timah putih (Sn) Proses pemurnian timah putih diawali dengan memisahkan Bijih timah dan pasir dengan mencuci lalu dikeringkan.b. Setelah itu. Lima belas persen alumina (Al2O3) dapat diuraikan ke dalam kriolit. Proses pemurnian tembaga Proses pemurnian tembaga diawali dengan penggilingan bijih tembaga kemudian dicampur dengan batu kapur dan bahan fluks silika. akan menghasilkan timbel. sedang timbel dengan campurannya yang lain berubah menjadi oksida timah hitam (PbO) dan sebagian lagi menjadi timbel sulfat (PbSO4). d. Campuran ini disebut kalsin dan dilebur dengan batu kapur sebagi fluks dalam dapur reverberatory. dan besi membentuk terak yang dibuang pada selang waktu tertentu. FeO. Bijih bauksit mula-mula dimurnikan terlebih dahulu dengan proses kimia dan alumunium oksida murni diuraikan dengan elektrolisis. Proses pemurnian alumunium Proses pemurian alumunium dengan cara memanaskan alumunium hidroksida sampai lebih kurang 1300°C (diendapkan). Proses pemurnian timbel/timah hitam (Pb) Bijih-bijih timbel harus dipanggang terlebih dahulu untuk menghilangkan sulfida-sulfida. alumina dilarukan ke dalam cairan klorit (garam Na3AlF6) yang berfungsi sebagai elektrolit sehingga titik lelehnya menjadi rendah (1000°C).

Proses pemurnian nikel (Ni) Proses pemurnian nikel diawali dengan pembakaran bijih nikel. Dari proses tersebut nikel yang didapat kurang lebih 99%. hanya tertinggal peraknya saja. j. g.f. karbonatnya terurai dan sulfidanya dioksidasi. Bijih-bijih yang mengandung emas dikerjakan dalam air raksa. Teknik Pemesinan 24 . proses pemurniannya dikerjakan dengan jalan elektrolisis di atas sebuah cawan tertutup dalam dapur nyala api. Proses pemurnian platina Proses pemurnian platina tergantung pada zat-zat yang terkandung dalam bijih-bijih logam. Proses pemurnian seng (Zn) Proses pemurnian seng diawali dengan memisahkan bijih seng kemudian dipanggang dalam dapur untuk mengeluarkan belerang dan asam arang. Proses pemurnian perak Proses pemurnian perak dilakukan dengan jalan elektrolisis bijih-bijih perak. Bijih perak yang mengandung belerang dipanggang dahulu kemudian dicairkan. kemudian dicairkan untuk proses reduksi dengan menggunakan arang dan bahan tambahan lain dalam sebuah dapur tinggi. sedangkan platina tidak dapat melarut dalam air raksa. silikat seng (ZnSiO4H2O). Reduktor yang digunakan biasanya mangan dan fosfor. Bijih yang mengandung timbel dihaluskan kemudian dicairkan dengan memasukkan zat asam yang banyak sampai timbel terbakar menjadi glit-timbel dan dikeluarkan sebagai terak. yaitu dengan cara memijarkan oksida magnesium bersama-sama dengan zat arang (karbon) atau silisium ferro sebagai bahan reduksi. dan sulfida seng (ZnS). Setelah itu magnesium dapat terpisahkan h. Proses pemurnian magnesium Untuk memperoleh magnesium dilakukan dengan jalan elektrolisis. Platina itu dapat dibersihkan sampai tercapai keadaan yang murni. i. Jika hasil yang diinginkan lebih baik (tidak berlubang). Setelah itu. Setelah itu terjadilah oksida seng. Berikutnya adalah dengan proses kimiawi (proses elektrolisis). Bijih seng didapat dari senyawa belerang diantaranya karbonat seng (ZnCO3).

BAB 2 MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN Teknik Pemesinan 25 .

dan kemudian dikeluarkan atau dipecah-pecah untuk dijadikan komponen mesin. Pengecoran digunakan untuk membuat bagian mesin dengan bentuk yang kompleks. Logam cair sedang dituangkan ke dalam cetakan Pengecoran digunakan untuk membentuk logam dalam kondisi panas sesuai dengan bentuk cetakan yang telah dibuat. dan materi lain yang dapat menjadi cair atau pasta ketika dalam kondisi basah seperti tanah liat. dan terbakar dalam perapian. juga material yang terlarut air misalnya beton atau gips. Pengecoran dapat berupa material logam cair atau plastik yang bisa meleleh (termoplastik). Mengenal Proses Pengecoran Logam 1. Gambar 2 2. Proses pengecoran logam Teknik Pemesinan 26 . Pengertian engecoran (casting) adalah suatu proses penuangan materi cair seperti logam atau plastik yang dimasukkan ke dalam cetakan. dan lain-lain yang jika dalam kondisi kering akan berubah menjadi keras dalam cetakan. yaitu : expandable (dapat diperluas) dan non expandable (tidak dapat diperluas). kemudian dibiarkan membeku di dalam cetakan tersebut. Proses pengecoran dibagi menjadi dua.A. P Gambar 2 1.

Pembuatan cetakan tangan dengan dimensi yang besar dapat menggunakan campuran tanah liat sebagai pengikat. Dewasa ini cetakan banyak dibuat secara mekanik dengan mesin agar lebih presisi serta dapat diproduk dalam jumlah banyak dengan kualitas yang sama baiknya. seperti pada gambar di bawah ini: 2. Pembuatan Cetakan Manual Pembuatan cetakan tangan meliputi pembuatan cetakan dengan kup dan drag. dan banyak variasinya. Pembuatan cetakan secara manual dilakukan bila jumlah komponen yang akan dibuat jumlahnya terbatas. Cetakan pasir bisa dibuat secara manual maupun dengan mesin.Pengecoran biasanya diawali dengan pembuatan cetakan dengan bahan pasir. Teknik Pemesinan 27 .

Prosesnya dengan cara pembuangan debu halus dan kotoran.Gambar 2 3. pencampuran. Setelah digunakan dalam proses pembuatan suatu cetakan. pembuatan cetakan dengan mesin pendesak. Pengolahan Pasir Cetak Pasir cetak yang sudah digunakan untuk membuat cetakan. Pasir cetak dapat digunakan berulang-ulang. 3. prembuatan cetakan dengan mesin tekanan tinggi. Adapun mesin-mesin yang dipakai dalam pengolahan pasir. Dimensi benda kerja yang akan dibuat (a). pembuatan cetakan dengan mesin guncang desak. (b) cetakan siap (c). juga dikenal pembuatan cetakan dengan mesin guncang. Selain pembuatan cetakan secara manual. proses penuangan (d). dan produk pengecoran (e). Penggiling pasir Penggiling pasir digunakan apabila pasir tersebut menggunakan lempung sebagai pengikat. sedangkan untuk pengaduk pasir digunakan Teknik Pemesinan 28 . serta pendinginan pasir cetak. pasir cetak tersebut dapat diolah kembali tidak bergantung pada bahan logam cair. antara lain: a. menutupi permukaan pola dalam rangka cetak dengan pasir. dapat dipakai kembali dengan mencampur pasir baru dan pengikat baru setelah kotoran-kotoran dalam pasir tersebut dibuang. dan pembuatan cetakan dengan pelempar pasir.

Pendingin pasir Dalam mendinginkan pasir. Pemisahan magnetis Pemisahan magnetis digunakan untuk menyisihkan potongan besi yang berada dalam pasir cetak tersebut.300-2. Batas minimumnya adalah antara 0. Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) Pengecoran dengan pasir membutuhkan waktu selama beberapa hari dalam proses produksinya dengan hasil rata-rata (1-20 unit/jam proses pencetakan) dan proses pengecoran dengan bahan pasir ini akan membutuhkan waktu yang lebih lama terutama untuk produksi dalam skala yang besar. tempurung. yaitu ayakan berputar dan ayakan bergetar.jika pasir menggunakan bahan pengikat seperti minyak pengering atau natrium silikat. Pengayakan Untuk mendapatkan pasir cetak. 5. 4. b. pasir dijatuhkan ke dalam tangki dan disebar oleh sebuah sudu selama jatuh. Pasir hijau/green sand (basah) hampir tidak memiliki batas ukuran beratnya. Pada pendingin pasir pengagitasi.05-1 kg. Pendingin pasir bergetar menunjukkan alat di mana pasir diletakkan pada pelat dan pengembangan pasir efektif. potongan- e. akan tetapi pasir kering memiliki batas ukuran berat tertentu. ayakan dipakai untuk menyisihkan kotoran dan butir-butir pasir yang sangat kasar. plastiK. Jadi.700 kg. udara lewat melalui pasir yang diagitasi. Adapun pada pendingin pasir tegak. c. udara pendingin perlu bersentuhan dengan butir-butir pasir sebanyak mungkin. yang kemudian didinginkan oleh udara dari bawah. yaitu antara 2. gips. dan investment molding (teknik lost-wax). Jenis ayakan ada dua macam. Metode ini melibatkan penggunaan cetakan sementara dan cetakan sekali pakai. Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting) Expandable mold casting adalah sebuah klasifikasi generik yang melibatkan pasir. pasir dari penggiling pasir kadang-kadang diisikan ke pencampur pasir atau biasanya pasir bekas diisikan langsung ke dalamnya. Pasir ini disatukan dengan menggunakan tanah liat (sama dengan proses pada pasir hijau) atau dengan menggunakan Teknik Pemesinan 29 . Pencampur pasir Pencampur pasir digunakan untuk memecah bungkah-bungkah pasir setelah pencampuran. d.

Akan tetapi ini bukanlah masalah yang serius karena tanah liat tersebut telah berada di dalam cetakan. Gambar 2 4. Pada proses pembuatannya. Pengecoran logam pada cetakan pasir 6. semua itu dibalut dengan tanah liat asli. Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) Gips yang tahan lama lebih sering digunakan sebagai bahan dasar dalam produksi pahatan perunggu atau sebagai pisau pahat pada proses pemahatan batu. pengecoran dengan pasir ini digunakan untuk mengolah logam bertemperatur rendah. dan nikel. magnesium. Pasir hampir pada setiap prosesnya dapat diulang beberapa kali dan membutuhkan bahan input tambahan yang sangat sedikit. Pada dasarnya. aluminium.bahan perekat kimia/minyak polimer. Dalam proses pengecoran ini. Bentuk-bentuk ini harus mampu memuaskan standar tertentu sebab bentuk-bentuk tersebut merupakan inti dari proses pergecoran dengan pasir . gips yang sederhana dan tebal dicetak. gips ini dipindah dari tanah liat yang lembab. Permukaan gips ini selanjutnya dapat Teknik Pemesinan 30 . Cetakan kemudian dapat digunakan lagi di lain waktu untuk melapisi gips aslinya sehingga tampak benar-benar seperti tanah liat asli. seperti besi. proses ini akan secara tidak sengaja merusak keutuhan tanah liat tersebut. hasilnya akan lebih tahan lama (jika disimpan di tempat tertutup) dibanding dengan tanah liat asli yang harus disimpan di tempat yang basah agar tidak pecah. tembaga. Dengan pencetakan gips. namun untuk bahan logam selain itu tidak akan bisa diproses. diperkuat dengan menggunakan serat. Pengecoran dengan pasir ini juga dapat digunakan pada logam bertemperatur tinggi. Pengecoran ini adalah teknik tertua dan paling dipahami hingga sekarang. kain goni.

diperbarui, dilukis, dan dihaluskan agar menyerupai pencetak dari perunggu. Pengecoran dengan gips hampir sama dengan pengecoran dengan pasir kecuali pada bagian gips diubah dengan pasir. Campuran gips pada dasarnya terdiri dari 70-80 % gipsum dan 20-30 % penguat gipsum dan air. Pada umumnya, pembentukan pengecoran gips ini membutuhkan waktu persiapan kurang dari 1 minggu, setelah itu akan menghasilkan produksi rata-rata sebanyak 1-10 unit/jam pengecorannya dengan berat untuk hasil produksinya maksimal mencapai 45 kg dan minimal 30 kg, dan permukaan hasilnyapun memiliki resolusi yang tinggi dan halus. Jika gips digunakan dan pecah, maka gips tersebut tidak dapat diperbaiki dengan mudah. Pengecoran dengan gips ini normalnya digunakan untuk logam non belerang seperti aluminium, seng, tembaga. Gips ini tidak dapat digunakan untuk melapisi bahan-bahan dari belerang karena sulfur dalam gipsum secara perlahan bereaksi dengan besi. Persiapan utama dalam pencetakan adalah pola yang ada disemprot dengan film yang tebal untuk membuat gips campuran. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah cetakan merusak pola. Unit cetakan tersebut dikocok sehingga gips dapt mengisi lubang-lubang kecil di sekitar pola. Pembentuk pola dipindahkan setelah gips diatur. Pengecoran gips ini menunjukkan kemajuan, karena penggunaan peralatan otomatis dapat segera digunakan dengan mudah ke sistem robot, karena ketepatan desain permintaan semakin meningkat yang bahkan lebih besar dari kemampuan manusia. 7. Pengecoran Gips, Beton, atau Plastik Resin.

Gips sendiri dapat dilapisi, demikian pula dengan bahan-bahan kimia lainnya seperti beton atau plastik resin. Bahan-bahan ini juga mengunakan percetakan yang sama seperti penjelasan di atas (waste mold) atau multiple use piece mold, atau percetakan yang terbuat dari bahan-bahan yang sangat kecil atau bahan yang elastis seperti karet latex (yang cenderung disertai dengan cetakan yang ekstrim). Jika pengecoran dengan gips atau beton maka produk yang dihasilkan akan seperti kelereng, tidak begitu menarik, kurang transparan dan biasanya dilukis. Tak jarang hal ini akan memberikan penampilan asli dari logam/batu. Alternatif untuk mengatasi hal ini adalah lapisan utama akan dibiarkan mengandung warna pasir sehingga memberikan nuansa bebatuan. Dengan menggunakan pengecoran beton, bukan pengecoran gips, memungkinkan kita untuk membuat ukiran, pancuran air, atau tempat duduk luar ruangan. Selanjutnya adalah membuat meja cuci (washstands) yang menarik, washstands dan shower stalls dengan perpaduan beraneka ragam warna akan menghasilkan pola yang menarik seperti yang tampak pada kelereng/ravertine.

Teknik Pemesinan

31

Gambar 2 5. Turbin air produk hasil pengecoran logam

Proses pengecoran seperti die casting dan sand casting menjadi suatu proses yang mahal, bagaimanapun juga komponen-komponen yang dapat diproduksi menggunakan pengecoran investment dapat menciptakan garis-garis yang tak beraturan dan sebagian komponen ada yang dicetak near net shape sehingga membutuhkan sedikit atau bahkan tanpa pengecoran ulang. Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) Pengecoran sentrifugal berbeda dengan penuangan gravitasi-bebas dan tekanan-bebas karena pengecoran sentrifugal membentuk dayanya sendiri menggunakan cetakan pasir yang diputar dengan kecepatan konstan. Pengecoran sentrifugal roda kereta api merupakan aplikasi awal dari metode yang dikembangkan oleh perusahaan industri Jerman Krupp dan kemampuan ini menjadikan perkembangan perusahaan menjadi sangat cepat. 8.

Gambar 2 6. Turbin air produk hasil pengecoran logam

Die Casting Die casting adalah proses pencetakan logam dengan menggunakan penekanan yang sangat tinggi pada suhu rendah. Cetakan tersebut disebut die. Rentang kompleksitas die untuk memproduksi bagian-bagian logam non belerang (yang tidak perlu sekuat, sekeras, atau setahan panas seperti baja) dari keran cucian sampai cetakan mesin (termasuk hardware, bagian-bagian komponen mesin, mobil mainan, dsb).

9.

Teknik Pemesinan

32

Gambar 2 7. Die casting

Logam biasa seperti seng dan alumunium digunakan dalam proses die casting. Logam tersebut biasanya tidak murni melainkan logam logam yang memiliki karakter fisik yang lebih baik. Akhir-akhir ini suku cadang yang terbuat dari plastik mulai menggantikan produk die casting banyak dipilih karena harganya lebih murah (dan bobotnya lebih ringan yang sangat penting khususnya untuk suku cadang otomotif berkaitan dengan standar penghematan bahan bakar). Suku cadang dari plastik lebih praktis (terutama sekarang penggunan pemotongan dengan bahan plastik semakin memungkinkan) jika mengesampingkan kekuatannya, dan dapat didesain ulang untuk mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan. Terdapat empat langkah utama dalam proses die casting. Pertamatama cetakan disemprot dengan pelicin dan ditutup. Pelicin tersebut membantu mengontrol temperatur die dan membantu saat pelepasan dari pengecoran. Logam yang telah dicetak kemudian disuntikkan pada die di bawah tekanan tinggi. Takanan tinggi membuat pengecoran setepat dan sehalus adonan. Normalnya sekitar 100 MPa (1000 bar). Setelah rongganya terisi, temperatur dijaga sampai pengecoran menjadi solid (dalam proses ini biasanya waktu diperpendek menggunakan air pendingin pada cetakan). Terakhir die dibuka dan pengecoran mulai dilakukan. Yang tak kalah penting dari injeksi bertekanan tinggi adalah injeksi berkecepatan tinggi, yang diperlukan agar seluruh rongga terisi, sebelum ada bagian dari pengecoran yang mengeras. Dengan begitu diskontinuitas (yang merusak hasil akhir dan bahkan melemahkan kualitas pengecoran) dapat dihindari, meskipun desainnnya sangat sulit untuk mampu mengisi bagian yang sangat tebal. Sebelum siklusnya dimulai, die harus di-instal pada mesin die pengecoran, dan diatur pada suhu yang tepat. Pengesetan membutuhkan waktu 1-2 jam, dan barulah kemudian siklus dapat berjalan selama sekitar beberapa detik sampai beberapa menit, tergantung ukuran pengecoran. Batas masa maksimal untuk magnesium, seng, dan aluminium adalah sekitar 4,5 kg, 18 kg, dan 45 kg. Sebuah die set dapat bertahan sampai 500.000 shot selama masa pakainya, yang sangat Teknik Pemesinan

33

dipengaruhi oleh suhu pelelehan dari logam yang digunakan. Aluminium biasanya memperpendek usia die karena tingginya temperatur dari logam cair yang mengakibatkan kikisan cetakan baja pada rongga. Cetakan untuk die casting seng bertahan sangat lama karena rendahnya temperatur seng. Sedang untuk tembaga, cetakan memiliki usia paling pendek dibanding yang lainnya. Hal ini terjadi karena tembaga adalah logam terpanas. Seringkali dilakukan operasi sekunder untuk memisahkan pengecoran dari sisa-sisanya, yang dilakukan dengan menggunakan trim die dengan power press atau hidrolik press. Metode yang lama adalah memisahkan dengan menggunakan tangan atau gergaji. Dalam hal ini dibutuhkan pengikiran untuk menghaluskan bekas gergajian saat logam dimasukkan atau dikeluarkan dari rongga. Pada akhirnya, metode intensif, yang membutuhkan banyak tenaga digunakan untuk menggulingkan shot jika bentuknya tipis dan mudah rusak. Pemisahan juga harus dilakukan dengan hati-hati. Kebanyakan die caster melakukan proses lain untuk memproduksi bahan yang tidak siap digunakan. Yang biasa dilakukan adalah membuat lubang untuk menempatkan sekrup.

Gambar 2 8. Salah satu produk die casting

10.

Kecepatan Pendinginan

Kecepatan di saat pendinginan cor mempengaruhi properti, kualitas dan mikrostrukturnya. Kecepatan pendinginan sangat dikontrol oleh media cetakan. Ketika logam yang dicetak dituangkan ke dalam cetakan, pendinginan dimulai. Hal ini terjadi, karena panas antara logam yang dicetak mengalir menuju bagian pendingin cetakan. Materi-materi cetakan memindahkan panas dari pengecoran menuju cetakan dalam kecepatan yang berbeda. Contohnya, beberapa cetakan yang terbuat dari plaster memungkinkan untuk memidahkan panas dengan lambat sekali sedangkan cetakan yang keseluruhannya terbuat dari besi yang dapat mentranfer panas dengan sangat cepat sekali. Pendinginan ini akan

Teknik Pemesinan

34

berakhir dengan pengerasan di mana logam cair berubah menjadi logam padat. Pada tahap dasar ini, pengecoran logam menuangkan logam ke dalam cetakan tanpa mengontrol bagaimana pencetakan mendingin dan logam membeku dalam cetakan. Ketika panas harus dipindahkan dengan cepat, para ahli akan merencanakan cetakan yang digunakan untuk mencakup penyusutan panas pada cetakan, disebut dengan chills. Fins bisa juga didesain pada pengecoran untuk panas inti, yang kemudian dipindahkan pada proses cleaning (juga disebut fetting). Kedua metode bisa digunakan pada titik-titik lokal pada cetakan dimana panas akan disarikan secara cepat. Ketika panas harus dipindahkan secara pelan, pemicu atau beberapa alas bisa ditambahkan pada pengecoran. Pemicu adalah sebuah cetakan tambahan yang lebih luas yang akan mendingin lebih lamban dibanding tempat dimana pemicu ditempelkan pada pengecoran. Akhirnya, area pengecoran yang didinginkan secara cepat akan memiliki struktur serat yang bagur dan area yang mendingin dengan lamban akan memilki struktur serat yang kasar. B. Mengenal Proses Pemesinan Proses pemesinan dengan menggunakan prinsip pemotongan logam dibagi dalam tiga kelompok dasar, yaitu : proses pemotongan dengan mesin pres, proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas, dan proses pemotongan non konvensional. Proses pemotongan dengan menggunakan mesin pres meliputi pengguntingan (shearing), pengepresan (pressing) dan penarikan (drawing, elongating). Proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas meliputi proses bubut (turning), proses frais (milling), dan sekrap (shaping). Proses pemotongan non konvensional contohnya dengan mesin EDM (Electrical Discharge Machining) dan wire cutting. Proses pemotongan logam ini biasanya disebut proses pemesinan, yang dilakukan dengan cara membuang bagian benda kerja yang tidak digunakan menjadi beram (chips), sehingga terbentuk benda kerja. Dari semua prinsip pemotongan di atas pada buku ini akan dibahas tentang proses pemesinan dengan menggunakan mesin perkakas. Proses pemesinan adalah proses yang paling banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu produk jadi yang berbahan baku logam. Diperkirakan sekitar 60% sampai 80% dari seluruh proses pembuatan komponen mesin yang komplit dilakukan dengan proses pemesinan. 1. Klasifikasi Proses Pemesinan Proses pemesinan dilakukan dengan cara memotong bagian benda kerja yang tidak digunakan dengan menggunakan pahat (cutting Teknik Pemesinan 35

9. Pahat dapat melakukan gerak potong (cutting) dan gerak makan (feeding). dan proses pemotongan roda gigi (gear cutting). dapat diklasifikasikan sebagai pahat bermata potong tunggal (single point cutting tool) dan pahat bermata potong jamak (multiple point cutting tool). Bor (Boring). Shaping). mesin gerinda (grinding machine). Klasifikasi kedua meliputi proses sekrap (shaping. Teknik Pemesinan 36 . mesin frais (milling machine). Gambar 2 9. Pelubang (Punching Press).tool). dan proses pemesinan untuk membentuk benda kerja permukaan datar tanpa memutar benda kerja. Beberapa proses pemesinan : Bubut (Turning/Lathe). Gurdi (Drilling). Pahat yang digunakan pada satu jenis mesin perkakas akan bergerak dengan gerakan yang relatif tertentu (berputar atau bergeser) disesuaikan dengan bentuk benda kerja yang akan dibuat. Sekrap (Planning. Frais (Milling). sehingga terbentuk permukaan benda kerja menjadi komponen yang dikehendaki. Gerinda (Grinding). planing). proses menggergaji (sawing). Pahat. Beberapa proses pemesinan tersebut ditampilkan pada Gambar 2. Proses pemesinan dapat diklasifikasikan dalam dua klasifikasi besar yaitu proses pemesinan untuk membentuk benda kerja silindris atau konis dengan benda kerja/pahat berputar. Klasifikasi yang pertama meliputi proses bubut dan variasi proses yang dilakukan dengan menggunakan mesin bubut. mesin gurdi (drilling machine). Gerinda Permukaan (Surface Grinding). proses slot (sloting).

Alasan-alasan bahwa proses pembentukan beram adalah sulit untuk dianalisa dan diketahui karakteristiknya diringkas sebagai berikut : Laju regangan (strain rate) yang terjadi saat pembentukan sangat tinggi dibandingkan dengan proses pembentukan yang lain. Proses terbentuknya beram adalah sama untuk hampir semua proses pemesinan.10. lapping. dan sebagainya. Informasi singkat berikut akan menjelaskan tentang beberapa aspek penting proses pembentukan beram dalam proses pemesinan. sehingga menjadi sangat penting untuk menemukan perhitungan otomatis guna menentukan kecepatan dan gerak makan. terutama terjadinya proses penyayatan sehingga terbentuk beram. Untuk semua jenis proses pemesinan termasuk gerinda. dan telah diteliti untuk menemukan bentuk yang mendekati ideal. temperatur benda kerja.11.2. dan getaran pahat. fenomena pembentukan beram pada satu titik bertemunya pahat dengan benda kerja adalah mirip. dan parameter yang lain. yang di masa yang lalu diperoleh dengan perkiraan oleh para ahli dan operator proses pemesinan. cairan pendingin. temperatur pahat. Proses pembentukan beram sangat dipengaruhi oleh bentuk pahat (cutting tool). Proses pembentukan beram juga tergantung pada material pahat. planing. dan Gambar 2. bubut. Pembentukan Beram (Chips Formation) pada Proses Pemesinan Karena pentingnya proses pemesinan pada semua industri. dijelaskan tentang kategori dari jenisjenis beram : Teknik Pemesinan 37 . maka produksi elemen mesin menjadi sangat cepat. maka teori pemesinan dipelajari secara luas dan mendalam sejak lama. gerak makan (feed). Pada Gambar 2. honing. atau frais. Dengan diterapkannya CNC (Computer Numerically Controlled) pada mesin perkakas. berapa kecepatan (speed). Proses pembentukan beram tergantung pada bahan benda kerja.

Beberapa bentuk beram hasil proses pemesinan : beram lurus (straight). melingkar penuh (full turns). beram tidak teratur (snarling). maka digunakan gambar dua dimensi untuk menjelaskan geometri dasar dari terbentuknya beram. Gambar 2 11. Teknik Pemesinan 38 . Gambar 2. di bawah ini memberikan penjelasan tentang teori terbentuknya beram pada proses pemesinan.Gambar 2 10. helix tak terhingga (infinite helix). Jenis-jenis dan bentuk beram proses pemesinan pada saat mulai terbentuk. Agar mudah dimengerti.12. dan kecil (tight). setengah melingkar (half turns).

maka beram tersebut lepas. beram secara periodik retak dan menghasilkan beram berbentuk kecil-kecil.Gambar 2 12. kemudian bahan pada akhirnya luluh akibat geser. Ketika bahan benda kerja bergerak dari material yang utuh ke daerah geser.12. Gambar 2. daerah geser tersebut disederhanakan menjadi sebuah bidang. Apabila materialnya ulet.13. Untuk mempermudah analisis. Apabila material rapuh. material di depannya bergeser pada bidang geser tersebut. Apabila hasil deformasi pada bidang geser terdorong material yang berikutnya. Material benda kerja di depan pahat dengan cepat melengkung ke atas dan tertekan pada bidang geser yang sempit (di Gambar 2. deformasi elastis akan diikuti deformasi plastis. terlihat sebagai garis tebal) . berikut menjelaskan tentang daerah pemotongan yang digambarkan dengan garis-garis arusnya. retakan tidak akan muncul dan beram akan berbentuk pita kontinyu. Ketika pahat bergerak maju. bidang Teknik Pemesinan 39 . kemudian terpotong. Seperti pada diagram tegangan regangan logam. dan selanjutnya menjadi beram. dua dimensi terbentuknya beram (chips).

Gambar 2 13. (d) Sifat- Teknik Pemesinan 40 . (c) Butir yang kasar dan berbentuk kolom diperhalus. (b) Ketidakmurnian dalam bentuk inklusi terpecah-pecah dan tersebar dalam logam. Proses ini juga mempunyai keuntungankeuntungan antara lain: (a) Porositas dalam logam dapat dikurangi. Pada proses ini hanya memerlukam daya deformasi yang rendah dan perubahan sifat mekanik yang terjadi juga kecil. Mengenal Proses Pengerjaan Panas Guna membentuk logam menjadi bentuk yang lebih bermanfaat. Gambar 2 14. logam berada dalam keadaan plastik dan mudah di bentuk oleh tekanan. Gambar skematis terbentuknya beram yang dianalogikan dengan pergeseran setumpuk kartu. Salah satu pengerjaan itu adalah pengerjaan panas. Pengerjaan logam dengan mesin bubut C. Pengerjaan panas logam dilakukan di atas suhu rekristalisasi atau di atas daerah pengerasan kerja. Pada waktu proses pengerjaan panas berlangsung. biasanya dibutuhkan proses pengerjaan mekanik di mana logam tersebut akan mengalami deformasi plastik dan perubahan bentuk.

dan batang. pelat. ketebalan logam mengalami deformasi terbanyak. Adapun lebarnya hanya bertambah sedikit. bentuk profil. Hal itu akan berakibat pada toleransi dari benda tersebut menjadi tidak ketat. Gambar 2 15. penempaan upset. Struktur yang kasar. penempaan tekan. Teknik Pemesinan 41 . 2. Proses pengerjaan panas dengan pengerolan ini biasanya digunakan untuk membuat rel. antara lain: Pengerolan (Rolling) Batangan baja yang membara. Struktur yang kasar. Salah satu akibat dari proses pengolahan adalah penghalusan butir yang disebabkan rekristalisasi. Mesin pengerollan (rolling) Salah satu akibat dari proses dari pengolahan adalah penghalusan butir yang disebabkan rekristalisasi. (e) Jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengubah bentuk logam dalam keadaan plastik lebih rendah. Penempaan (Forging) Proses penempaan ini ada berbagai jenis. di antaranya penempaan palu. Pada operasi pengerolan. pada proses pengerjaan ini juga ada kerugiannya.sifat fisik meningkat. yaitu pada suhu yang tinggi terjadi oksidasi dan pembentukan kerak pada permukaan logam sehingga penyelesaian permukaan tidak bagus. dan penempaan rol. kembali menjadi struktur memanjang akibat pengaruh penggilingan. Proses pengerjaan panas logam ini ada bermacam-macam. keseragaman suhu sangat penting karena berpengaruh pada aliran logam dan plastisitas. Namun demikian. penempaan timpa. Pada proses pengerolan suatu logam. kembali menjadi struktur memanjang akibat pengaruh penggilingan. diubah bentuknya menjadi produk berguna melalui pengerolan. 1.

sehingga dapat memindahkan manusia/barang dari suatu tempat ke tempat lain.D. Macam-Macam Energi a. Contohnya air waduk di pegunungan dapat dikonversi menjadi energi mekanik untuk memutar turbin selanjutnya dikonversi lagi menjadi energi listrik. Energi Mekanik Energi meknik merupakan energi gerak. Teknik Pemesinan 42 . Pengertian Energi Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Energi listrik dapat disimpan sebagai energi medan elektrostatis yang merupakan energi yang berkaitan dengan medan listrik yang dihasilkan oleh terakumulasinya muatan elektron pada pelat-pelat kapasitor. Dalam hal ini bensin satu liter memiliki energi dalam yang siap dirubah menjadi kerja yang berguna (availabilitas). b. Bentuk transisinya adalah aliran elektron melalui konduktor jenis tertentu. misal turbin air akan mengubah energi potensial menjadi energi mekanik untuk memutar generator listrik. Arus listrik akan mengalir bila penghantar listrik dilewatkan pada medan magnet. Mengenal Proses Mesin Konversi Energi 3. Energi Listrik Energi Listrik adalah energi yang berkaitan dengan arus elektron. Menurut hukum Termodinamika Pertama. 4. bensin satu liter dikonversi menjadi kerja yang berhasil guna tinggi. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnakan. c. enga kata lain availabilitas adalah kemampuan sistem untuk menghasilkan kerja yang berguna. tetapi dapat berubah bentuk (konversi) dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain. Energi Potensial Merupakan energi karena posisinya di tempat yang tinggi. yakni menjadi energi gerak/mekanik pada mobil/motor. energi bersifat kekal. Sebagai contoh pada proses pembakaran pada mesin mobil/motor (sistem motor pembakaran dalam). Energi bersifat abstrak yang sukar dibuktikan tetapi dapat dirasakan adanya. dinyatakan dalam Watt-jam atau kilo Watt-jam.

Teknik Pemesinan 43 . yakni elektron volt (eV) atau mega elektro volt (MeV). Sumber energi bahan bakar yang sangat penting bagi manusia adalah reaksi kimia eksotermis yang pada umumnya disebut reaksi pembakaran. e.Gambar 2 16. Energi Elektromagnetik Energi elektromagnetik merupakan bentuk energi yang berkaitan dengan radiasi elektromagnetik. konversi energi dari energi potensial. Energi kimia hanya dapat terjadi dalam bentuk energi tersimpan. atau kKal. Bila energi dilepas dalam suatu reaksi maka reaksinya disebut reaksi eksotermis yang dinyatakan dalam kJ. Energi Kimia Energi kimia merupakan energi yang keluar sebagai hasil interaksi elektron di mana dua atau lebih atom/molekul berkombinasi sehingga menghasilkan senyawa kimia yang stabil. dan energi listrik d. energi mekanik. yang juga digunakan dalam evaluasi energi nuklir. Reaksi pembakaran melibatkan oksidasi dari bahan bakar fosil. PLTA. Btu. Bila dalam reaksi kimia energinya terserap maka disebut dengan reaksi endodermis. Energi radiasi dinyatakan dalam satuan energi yang sangat kecil.

Energi Termal Energi termal merupakan bentuk energi dasar di mana dalam kata lain adalah semua energi yang dapat dikonversikan secara penuh menjadi energi panas. dapat pula dalam bentuk energi tersimpan sebagai kalor ”laten” atau kalor “sensible” yang berupa entalpi. Bentuk energi transisi dan energi termal adalah energi panas. Teknik Pemesinan 44 . dan fusi. fisi. Sebaliknya. Accu sebagai bentuk energi kimia f. Satuan yang digunakan adalah juta elektron reaksi. Energi Nuklir Energi Nuklir adalah energi dalam bentuk energi tersimpan yang dapat dilepas akibat interaksi partikel dengan atau di dalam inti atom.Gambar 2 17. Salah satu reaktor nuklir g. Energi ini dilepas sebagai hasil usaha partikel-partikel untuk memperoleh kondisi yang lebih stabil. Pada reaksi nuklir dapat terjadi peluluhan radioaktif. pengonversian dari energi termal ke energi lain dibatasi oleh hukum Termodinamika II. Gambar 2 18.

Mesin konversi energi konvensional umumnya menggunakan sumber energi konvensional yang tidak terbarui. mesin-mesin fluida. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi Mesin-mesin konversi energi secara sederhana dapat diklasifikasikan menjadi dua. Energi Angin Energi angin merupakan energi yang tidak akan habis. dan umumnya dapat diklasifikasikan menjadi motor pembakaran dalam.Gambar 2 19. motor pembakaran luar. Teknik Pemesinan 45 . yaitu mesin konversi energi konvensional dan mesin energi konversi non-konvensional. dan mesin pendingin dan pengkondisian udara. Gambar 2 20. Mesin konversi energi non-konvensial umumya menggunakan energi yang dapat diperbarui. kecuali turbin hidropower. Pemanfaatan energi angin 5. material utama berupa angin dengan kecepatan tertentu yang mengenai turbin angin sehingga menjadi gerak mekanik dan listrik. kecuali mesin energi konvensi berbahan dasar nuklir. Mesin konversi dari panas ke uap h.

dan empat langkah (four stroke).a. terjadilah kerja. gesek/mekanis. Setiap siklus mesin dengan satu langkah tenaga diselesaikan dalam satu kali putaran poros engkol. Ketika saluran masuk terbuka. dimuliai ketika piston bergerak mencapai titik tertentu sebelum titik mati atas busi memercikan bunga api. atau Beau de Roches merupakan mesin pengonvesi energi tak langsung. b) Langkah kerja atau ekspansi. Bila piston mencapai titik mati atas. Efisiensi pengonversian energinya berkisar 30% ( t ±30%). dan pembakaran tak-sempurna). Bahan bakar standar motor bensin adalah isooktan (C8H18). pembakaran dimulai. Motor pembakaran dalam Motor pembakaran dalam dikembangkan oleh Motos Otto. Teknik Pemesinan 46 . 1) Motor Bensin Dua Langkah Motor bensin dua langkah adalah motor yang pada dua langkah torak/piston (satu putaran engkol) sempurna akan menghasilkan satu langkah kerja. campuran bahan bakar dan udara bersih tertekan di dalam rumah engkol. Sebagian besar gas yang terbakar keluar silinder dalam proses exhaust blowdown. yaitu dari energi bahan bakar menjadi energi panas dan kemudian baru menjadi energi mekanis. Energi kimia bahan bakar tidak dikonversikan langsung menjadi energi mekanis. piston menghisap campuran bahan bakar udara bersih ke dalam rumah engkol. Namun sulit untuk mengisi secara penuh volume langkah dengan campuran bersih. Hal ini karena kerugian 50% (panas. Sistem siklus kerja motor bensin dibedakan atas motor bensin dua langkah (two stroke). mengalir ke dalam silinder. 2) Motor Bensin Empat Langkah Motor bensin empat langkah adalah motor yang pada setiap empat langkah torak/piston (dua putaran engkol) sempurna menghasilkan satu tenaga kerja (satu langkah kerja). Pada awalnya saluran buang dan saluran masuk terbuka. Piston dan saluran-saluran umumnya dibentuk membelokan campuran yang masuk langsung menuju saluran buang dan juga ditunjukkan untuk mendapatkan pembilasan gas residu secara efektif. dan sebagian darinya mengalir langsung ke luar silinder selama langkah bilas. a) Langkah kompresi dimulai dengan penutupan saluran masuk dan keluar kemudian menekan isi silinder dan di bagian bawah.

d) Langkah pembuangan.L. c) Langkah kerja. demikian seterusnya. katup masuk membuka.75.. katup buang tertutup.75.a D2 S . Gas bertekanan tinggi menekan piston turun dan memaksa engkol berputar. dimulai ketika piston mencapai titik mati bawah.a Teknik Pemesinan 47 .Pe. piston mendorong keluar sisa gas pembakaran hingga piston mencapai titik mati atas. Bila piston mencapai titik mati atas. pembakaran dimulai dan tekanan silinder naik lebih cepat. Siklus motor bensin 4 langkah a) Langkah pemasukan dimulai dengan katup masuk terbuka.Pi. diawali ketika kedua katup tertutup dan campuran di dalam silinder terkompresi sebagian kecil dari volume awalnya. yang dimulai saat piston hampir mencapai titik mati atas dan berakhir sekitar 45o sebelum titik mati bawah.n 4 60. Ketika piston mencapai titik mati bawah. Langkah ini berakhir hingga katup masuk menutup. piston bergerak dari titik mati atas dan berakhir ketika piston mencapai titik mati bawah. Udara dan bahan bakar terhisap ke dalam silinder. katup buang terbuka untuk memulai proses pembuangan dan menurunkan tekanan silinder hingga mendekati tekanan pembuangan. antara lain: Daya efektif: Ne Daya indikatif: Ni D2 S .Gambar 2 21.L. b) Langkah kompresi. atau langkah ekspansi. e) Perhitungan daya motor didasarkan pada dimensi mesin.n 4 60. Sesaat sebelum akhir langkah kompresi. Ketika katup buang membuka.

Roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan atau memutar bebannya (generator listrik. baling-baling atau mesin lainnya). maka akan timbul gaya yang bekerja pada sudu. di mana energi fluida kerja dipergunakan langsung untuk memutar roda turbin. uap air.di mana D : diameter silinder (cm2) L i : panjang langkah torak (m) : jumlah silinder Pe : tekanan efek rata-rata (kgf/cm2) Pi : tekanan indikatif rata-rata (kgf/cm2) n a : putaran mesin (rpm) : . pompa. Jadi. berbeda dengan yang terjadi pada mesin torak. Di dalam turbin fluida kerja mengalami proses ekspansi. kompresor.dua langkah a=1 . Pada roda turbin terdapat sudu dan fluida kerja akan mengalir melalui ruang di antara sudu tersebut. Gambar 2 22. Turbin Turbin adalah mesin penggerak. dan mengalir secara kontinu. atau gas. Fluida kerjanya dapat berupa air. yaitu proses penurunan tekanan. Bagian berputar dinamai stator atau rumah turbin. Turbin air Turbin dilengkapi dengan sudu-sudu.empat langkah a=2 b. Apabila kemudian ternyata bahwa roda turbin dapat berputar. pada turbin tidak terdapat bagian mesin yang bergerak translasi. Gaya tersebut timbul karena terjadinya perubahan momentum dari fluida kerja yang mengalir di Teknik Pemesinan 48 .

antara sudu. Sebuah sistem turbin gas Teknik Pemesinan 49 . Jadi. Gambar 2 23. sudu turbin haruslah dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat terjadi perubahan momentum pada fluida kerja tersebut.

BAB 3 MEREALISASI KERJA YANG AMAN Teknik Pemesinan 50 .

impak. Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha. tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. Karena itu sedapat mungkin dan sedini mungkin.A. sehat dan selamat selama bekerja. Hubungan antar variabel pada sistem keselamatan kerja.produk Input Proses Produksi Prosedur kerja Outcomes. atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. nss. sadar. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi. peka Gambar 3 1. seberapa pun kecilnya. akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Teknik Pemesinan 51 . kecelakaan/potensi kecelakaan kerja harus dicegah/dihilangkan. S Adapun tujuan penanganan K3 adalah agar pekerja dapat nyaman. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) elalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/aktivitas pekerjaan. sebagaimana digambarkan dalam bagan berikut : Tujuan nyaman. & selamat Tempat kerja Lingkungan kerja Output. sehat.

material. kualitas udara. dan segala sesuatu yang ada di tempat kerja/berhubungan dengan pekerjaan yang menjadi/berpotensi menjadi sumber kecelakaan/cedera/penyakit dan kematian disebut dengan Bahaya/Resiko. sifat pekerjaan itu sendiri yang berbahaya. pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work). bahan/material. kondisi. Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal. ditengarai penyebab awalnya (pre-cause) adalah kurangnya training 4. umur pekerja. Bahaya/resiko lingkungan Termasuk di dalamnya adalah bahaya-bahaya biologi. situasi. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe working condition) 3. bahaya-bahaya di atas dibagi ke dalam empat kelas. dll. Bahaya/resiko pekerjaan/tugas Misalnya : pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara manual. Kecepatan kerja (paced work). kebisingan. dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud. pelatihan. bahaya/resiko dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu : 1. cahaya dan pencahayaan. Kelelahan (fatigue) 2. Secara garis besar. maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). kimia.Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut : 1. tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Manajemen Bahaya Aktivitas. getaran. kelelahan dan stress dalam pekerjaan. dsb. Personal Protective Equipment. pekerjaanpekerjaan yang harus diawali dengan "pemanasan prosedural". 2. Bahaya/resiko manusia Kejahatan di tempat kerja. beban kerja (workload). Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri.: 74 Tahun 2001. Berdasarkan "derajad keparahannya". Karakteristik pekerjaan itu sendiri 5. ruang kerja. yaitu : Teknik Pemesinan 52 . termasuk kekerasan. peralatan dan perlengkapan dalam pekerjaan. Jika kecelakaan terjadi maka akan sangat mempengauhi produktivitas kerja. kejadian. suhu. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan. proses. dll. 3. gejala. panas/termal. Peraturan Pemerintah RI No. 1. faktor ergonomi. simultan.

Teknik Pemesinan 53 . Pemisahan waktu/time separation c. yaitu : 1. Pada saat pekerjaan dan fasilitas kerja sedang dirancang 2. Perlengkapan perlindungan personnel/Personnel Protective Equipment (PPE). Penggantian/substitution. High risk c. yaitu : 1. Pengendalian administratif/administrative controls 5. Ada tiga tahap penting (critical stages) di mana kelima prinsip tersebut sebaiknya diimplementasikan. Pemisahan fisik/physical separation b. juga dikenal sebagai engineering control 2. Pemisahan jarak/distance separation 3. Low risk Dalam manajemen bahaya (hazard management) dikenal lima prinsip pengendalian bahaya yang bisa digunakan secara bertingkat/bersama-sama untuk mengurangi/menghilangkan tingkat bahaya. Pada saat prosedur operasional sedang dibuat 3.a. Extreme risk b. Pemisahan/separation a. Pada saat perlengkapan/peralatan kerja dibeli. Moderate risk d. Ventilasi/ ventilation 4.

seperti gangguan cara berkomunikasi. reduction.Beberapa kata kunci yang saling berkaitan dalam penanganan masalah keselamatan kerja. Resiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara permanen. Teknik Pemesinan 54 . Dampak auditorial (Auditory effects) 2. Dampak ini berhubungan langsung dengan fungsi (perangkat keras) pendengaran. yaitu : 1. environment. Saling keterkaitan kata kunci dalam penanganan masalah.. safety) ……. seperti hilangnya/berkurangnya fungsi pendengaran. dilution Eliminate. suara dering/berfrekuensi tinggi dalam telinga. risk. termasuk bagaimana prinsip pengendalian kecelakaan kerja dilakukan. 2. stress. preventive. sudah barang tentu akan mengurangi efisiensi pekerjaan si penderita secara signifikan. anticipate Ventilate. protection Change. Dan jika resiko ini terjadi (biasanya secara medis sudah tidak dapat diatasi/"diobati"). Dampak non-auditorial (Non-auditory effects) 4. Dampak ini bersifat psikologis. condition Sanitati on SMK3 Ergonomic job hazard analysis Combine Coordintion lightin’ HERSMIS Simplific ationSOP Education promotion Gambar 3 2. dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keamanan kerja. kebingungan. 3. digambarkan melalui bagan berikut : HERS (health. modificate substitue HERS oriented.key word Health exam OHS analysis Environt analysis Desain develop Isolation. Secara umum dampak kebisingan bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar. Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise) Kebisingan sampai pada tingkat tertentu bisa menimbulkan gangguan pada fungsi pendengaran manusia.

tempat kebisingan bisa menjadi sumber bahaya yang potensial bagi pekerja antara lain : 1. 6. 7. Percakapan biasa (45-60 dB) Bor listrik (88-98 dB) Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB) Gergaji mesin (110-115 dB) Musik rock (metal) (115 dB) Sirene ambulans (120 dB) Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan (140 dB) Pesawat terbang jet (140 dB). 4.Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai tingkat keamanan kerja : 1. Pertambangan batu bara dan berbagai jenis pertambangan logam. Formula NIOSH (National Institute of Occupational Safety & Health) untuk menghitung waktu maksimum yang diperkenankan bagi seorang pekerja untuk berada dalam tempat kerja dengan tingkat kebisingan tidak aman adalah sebagai berikut : T 480 2 (L 85)/3 Di mana : T = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam menit) L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 3 = exchange rate Bandingkan formula yang telah ditetapkan oleh NIOSH tersebut dengan formula yang masih biasa digunakan. 8. 5. Industri perkayuan (wood working & wood processing) 2. 3. 2. Pekerjaan pemipaan (plumbing) 3. Catatan : Lingkungan dengan tingkat kebisingan lebih besar dari 104 dB atau kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan harus menghadapi tingkat kebisingan lebih besar dari 85 dB selama lebih dari 8 jam tergolong sebagai high level of noise related risks. yakni : T 8 2(L 90)/5 Teknik Pemesinan 55 . Sedangkan jenis industri.

seperti “welder qualification”. Indikator adanya (potensi) gangguan kebisingan beresiko tinggi di antaranya : 1. welding equipment. Karena itu perlu juga dikembangkan prosedur-prosedur baru (prinsip pengendalian administratif) untuk membantu proses minimisasi resiko kerja. Implementasi prinsip-prinsip pengendalian bahaya untuk resiko yang disebabkan oleh kebisingan : 1. Volume suara yang makin keras pada saat harus berbicara dengan orang lain 3. Selalu ada resiko-resiko baru yang berhubungan dengan pekerjaan baru (welding). panas (high temperature). Jika hal yang sama terjadi pada anda. o Teknik Pemesinan 56 . Catatan : o Pertimbangan-pertimbangan teknis..Di mana : T = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam jam) L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 5 = exchange rate Seringkali seseorang mengira dirinya telah berhasil “beradaptasi” dengan lingkungan yang bising manakala tidak merasa terganggu lagi dengan “tingkat kebisingan” yang pada awalnya sangat mengganggu dirinya.. termasuk analisis kekuatan struktur harus benar-benar diperhatikan (re-calculation). Penggantian (substitution) Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah Mengganti “jenis proses” mesin (dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah) dengan fungsi proses yang sama. HATIHATI ! Mungkin fungsi pendengaran anda mulai terganggu. misalnya: resiko karena adanya penggunaan tenaga listrik. dan radiasi cahaya.... “Mengeraskan” sumber suara hingga tingkatan tertentu yang dianggap oleh seseorang sebagai kebisingan.. Terdengarnya suara-suara dering/berfrekuensi tinggi di telinga 2. contohnya pengelasan digunakan sebagai penggantian proses riveting.

Pemasangan peredam akustik. Pemasangan peredam akustik (acoustic barrier) dalam ruang kerja. Contoh penggantian pada teknik penyambungan logam.Gambar 3 3. 3. seperti pemberian dudukan mesin dengan material-material yang memiliki koefisien redaman getaran lebih tinggi. Modifikasi “tempat” mesin. Perlengkapan perlindungan personnel (personnel protective equipment/PPE) Penggunaan earplug dan earmuffs Teknik Pemesinan 57 . 2. Gambar 3 4. Pemisahan (separation) 1) Pemisahan fisik (physical separation) Memindahkan mesin (sumber kebisingan) ke tempat yang lebih jauh dari pekerja 2) Pemisahan waktu (time separation) Mengurangi lamanya waktu yang harus dialami oleh seorang pekerja untuk “berhadapan” dengan kebisingan. Rotasi pekerjaan dan pengaturan jam kerja termasuk dua cara yang biasa digunakan.

Kelelahan mata sehingga berkurang daya dan efisiensi kerja Kelelahan mental Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata Kerusakan penglihatan Meningkatnya kecelakaan kerja. 5. antara lain : 1. Beberapa kata kunci dalam upaya perbaikan pencahayaan di tempat kerja secara detil dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut : Optimalkan pencahayaan alami 1) Mengapa ? Teknik Pemesinan 58 . 4. antara lain : 1. pencahayaan yang buruk dapat menimbulkan berbagai akibat. harus segera diambil tindakan penanggulangan. Pemindahan tenaga kerja : pekerja muda pada shift malam. kurang Pencegahan kelelahan akibat pencahayaan yang memadai dapat dilakukan melalui berbagai cara. Perlengkapan perlindungan personel. Pencahayaan Pencahayaan yang baik pada tempat kerja memungkinkan para pekerja melihat objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. Sebaliknya. Meninggikan penerangan : menambah jumlah dan meletakkan penerangan pada daerah kerja 3. Pengendalian administratif (administrative controls) Larangan memasuki kawasan dengan tingkat kebisingan tinggi tanpa alat pengaman. 4. 3. Ingat! Tidak ada jaminan bahwa semua tindakan terbebas dari resiko! Begitu sebuah resiko teridentifikasi. Selain itu pencahayaan yang memadai akan memberikan kesan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Perbaikan kontras : dengan memilih latar penglihatan yang tepat 2. Peringatan untuk terus mengenakan PPE selama berada di dalam tempat dengan tingkat kebisingan tinggi.Gambar 3 5. 1. 2.

c) Dinding dan langit-langit yang cerah akan membuat ruangan menjadi nyaman. hal ini terbukti dapat meningkatkan efisisiensi dan kenyamanan pekerja. 2) Bagaimana caranya ? a) Bersihkan jendela dan pindahkan sekat yang menghalangi cahaya alamiah. Gunakan warna cerah pada dinding dan langit-langit 1) Mengapa ? a) Perbedaan warna akan memberikan perbedaan pantulan. b) Dinding dan langit-langit yang cerah akan menghemat energi karena dengan sedikit cahaya dapat meningkatkan penerangan kamar. d) Sendirikan saklar lampu pada tempat dekat jendela agar dapat dimatikan bila cahaya alamiahnya terang. sehingga kondusif untuk bekerja efisien. Teknik Pemesinan 59 . b) Hindari perbedaan kecerahan antara dinding dan langit-langit. Pantulan terbesar pada warna putih (90%). b) Pemerataan cahaya dalam tempat kerja dapat ditingkatkan melalui cahaya alami. d) Atur agar langit-langit dan tata lampu dapat saling memantul sehingga pencahayaan makin merata. b) Ubah tempat kerja atau lokasi mesin agar dapat lebih banyak terkena cahaya alamiah. c) Penggunaan cahaya alamiah merupakan gerakan ramah lingkungan. terendah pada warna hitam. 3) Petunjuk penting : a) Gabungkan cahaya alamiah dengan cahaya buatan untuk meningkatkan pencahayaan tempat kerja. c) Di musim panas cegah bukaan jendela dari sinar matahari langsung. c) Jangan gunakan bahan/cat mengkilap agar tidak menyilaukan.a) Cahaya alami adalah yang terbaik dan merupakan sumber cahaya yang murah. putih = 80-90% pantulan) untuk langit-langit dan warna muda (50-85% pantulan) untuk dinding. b) Cermatilah : jendela dan genting kaca akan menyebabkan cuaca panas di musim panas. sehingga akan menghemat biaya. d) Permukaan warna cerah penting dalam pekerjaan teliti dan pemeriksaan 2) Bagaimana caranya ? a) Untuk mendapatkan pantulan sempurna gunakan warna paling cerah (mis. e) Pasang genting transparan untuk menambah cahaya alamiah. atau cuaca dingin di musim dingin. c) Perluas atau pertinggi jendela agar makin banyak cahaya alamiah yang masuk.

b) Pindahkan sekat yang menghalangi sinar masuk. lorong dan gudang digunakan secara teratur. Pencahayaan merata mengurangi perubahan cahaya 1) Mengapa ? a) Perubahan pandangan dari terang ke gelap memerlukan adaptasi mata dan membutuhkan waktu serta menimbulkan kelelahan. balik pintu dan gudang cenderung terlindung dan gelap karena tidak terjangkau sinar matahari. 3) Petunjuk penting : a) Tata lampu adalah bagian penting dalam pemeriksaan berkala dan program pemeliharaan. c) Pindahkan lampu agar makin terang. dll. d) Penerangan yang baik pada lorong dan tangga mencegah kecelakaan pekerja dan tamu. turunan. b) Tangga. sehingga perlu perhatian pada daerah ini. d) Usahakan cahaya alamiah dengan membuka pintu atau memasang jendela dan genting kaca. b) Bagian atas lampu yang terbuka bukan hanya memberikan pantulan dari langit-langit. mengurangi kerusakan produk dan meningkatkan citra perusahaan. tangga dan gudang boleh jadi kurang daripada di ruang produksi. b) Penerangan pada lorong. 2) Bagaimana caranya ? a) Bersihkan jendela dan pasang lampu. 1) Mengapa ? a) Tempat gelap menyebabkan kecelakaan. Terangi lorong. c) Pasang saklar otomatis bila tangga. Teknik Pemesinan 60 . karena debu akan menyerap banyak cahaya. c) Warna cerah dinding dan langit-langit membuat lingkungan kerja menjadi nyaman dan efektif. f) Gunakan warna cerah pada tangga agar nampak jelas. e) Tempatkan saklar dekat pintu masuk/keluar lorong dan tangga. tangga. c) Penerangan yang memadai pada tempat-tempat ini akan mencegah kerusakan bahan dan produk.3) Petunjuk penting : a) Bersihkan dinding dan langit-langit secara teratur. tetapi hal ini penting bagi keselamatan transportasi dan perpindahan orang/barang. apalagi pada pemindahan barang-barang. tetapi juga memberikan pencahayaan yang merata serta mencegah bertumpuknya kotoran. atau jika tiba-tiba mati dapat menimbulkan kecelakaan.

c) Periksalah kesehatan mata pekerja > 40 tahun. karena melelahkan mata. bersihkan lampu. banyak cara untuk mencapai hal itu. c) Ubah posisi lampu dan arah cahaya agar jatuh pada objek kerja. pantulan dinding serta perbaikan layout ruang kerja. 3) Petunjuk lain : a) Rawatlah tata lampu secara rutin.b) Bekerja menjadi lebih nyaman dan efisien pada ruangan dengan variasi penerangan kecil. produktifitas rendah. b) Pertimbangkan untuk mengubah ketinggian lampu dan menambah penerangan utama agar ruang makin terang. d) Usahakan penerangan yang baik dan memadai secara murah. d) Bayangan pada permukaan benda kerja menyebabkan hasil kerja buruk. dinding. dan kecelakaan. c) Gunakan cahaya alamiah. dsb. karena tidak ekonomis dan mengurangi terangnya ruang kerja. sekat. b) Penerangan memadai mengurangi kesalahan dan kecelakaan. Teknik Pemesinan 61 . e) Hindari cahaya bergetar dengan menukar neon dengan lampu pijar. karena biasanya mereka berkaca mata. d) Pertimbangkan umur pekerja. gangguan & kelelahan mata. d) Kurangi zone bayangan dengan pemasangan lampu. yang tua perlu penerangan lebih besar. reflektor. Penerangan yang memadai menjadikan pekerjaan efisien dan aman sepanjang waktu 1) Mengapa ? a) Penerangan memadai meningkatkan kenyamanan pekerja dan ruang kerja. e) Penerangan diatur agar lebih mudah mengamati objek. b) Pemasangan lampu mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan. b) Warna dinding yang cerah memantulkan lebih banyak cahaya dan memperbaiki atmosfer ruang kerja. jendela. 2) Bagaimana caranya ? a) Kombinasikan cahaya alamiah dan cahaya buatan. 2) Bagaimana caranya ? a) Hilangkan kap. c) Penerangan yang memadai dan pas akan membantu pekerja mengawasi benda kerja secara cepat dan rinci sesuai tuntutan tugas. c) Penting untuk mencegah kelap-kelip.

3) Petunjuk lain : a) Ganti kaca jendela dari bening ke buram. c) Gunakan kap agar tidak menyilaukan. hindari ini dengan memasang lampu TL. c) Kombinasi penerangan utama dan lokal akan diperoreh penerangan memadai dan mengurangi gangguan akibat adanya bayangan. 3) Petunjuk penting : a) Pastikan penerangan lokal tidak mengganggu pandangan pekerja. b) Jangan pakai lampu telanjang (pakailah kap).Pasang penerangan lokal untuk pekerjaan peliti dan pemeriksaan 1) Mengapa ? a) Dibanding dengan pekerjaan produksi dan kantor. d) Pastikan kombinasi cahaya alamiah dan buatan memberikan kontras antara benda kerja dan bidang latar. c) Gunakan neon untuk pekerjaan warna yang cermat. b) Usahakan penerangan lokal mudah dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan. pekerjaan presisi dan pemeriksaan memerlukan lebih banyak penerangan. b) Penerangan lokal yang memadai akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi. b) Silau menyebabkan tidak nyaman dan kelelahan mata. c) Banyak cara mengurangi silau. pasang lampu pada batang yang tegar. tirai. b) Lampu lokal dipasang sedekat mungkin dengan benda kerja. d) Kurangi silau dari jendela dengan sekat. b) Pada mesin yang bergetar. 2) Bagaimana caranya ? a) Pasang panel display atau layar. f) Ubah arah pencahayaan. Teknik Pemesinan 62 . d) Lampu pijar timbulkan panas. e) Pasang lampu lokal. c) Pindahlan lampu di atas kepala atau naikkan. Pindahkan sumber cahaya atau pasang tabir untuk mengurangi silau 1) Mengapa? a) Silau langsung atau pantulan mengurangi daya lihat orang. e) Pemasangan lampu lokal yang tepat menghemat energi dan sangat efektif. 2) Bagaimana caranya? a) Pasang penerangan lokal dekat dan di atas pekerjaan teliti dan pemeriksaan. tabir. mudah dibersihkan dan dirawat. dsb.

Pindahkan benda mengkilap agar tidak menyilaukan 1) Mengapa ? a) Silau tidak langsung sama dengan silau langsung dapat mengurangi daya lihat tenaga kerja. 3. Ventilasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis : 1. Ventilasi umum : pengeluaran udara terkontaminasi dari suatu ruang kerja melalui suatu bukaan pada dinding bangunan dan pemasukan udara segar melalui bukaan lain atau kebalikannya. 2) Bagaimana caranya ? a) Kurangi pantulan dari permukaan mengkilap atau pindahkan letaknya. c) Kurangi nyala lampu. Disebut juga sebagai ventilasi pengenceran. Bersihkan jendela dan pelihara sumber penerangan 1) Mengapa ? a) Penerangan yang kotor dan tidak terpelihara akan mengurangi pencahayaan. Teknik Pemesinan 63 . c) Pantulan menyilaukan membuat mata lelah dan menurunkan kinerja. hindarilah hal tsb. Ventilasi penurunan panas : perlakuan udara dengan pengendalian suhu. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi Pengendalian bahaya akibat pencemarann udara atau kondisi udara yang kurang nyaman dapat dilakukan antara lain dengan pembuatan ventilasi yang memadai. d) Sedapat mungkin gunakan lampu yang kapnya terbuka agar debu tidak menumpuk. b) Gunakan penutup pada benda mengkilap. sehingga perlu penerangan yang baik. b) Coba berbagai posisi agar diperoleh pencahayaan yang baik. b) Petugas memadai dalam hal alat dan keterampilan. b) Membuat kurang nyaman dan kelelahan mata. c) Rencanakan program pemeliharaan sebagai program terpadu. Ventilasi pengeluaran setempat : pengisapan dan pengeluaran kontaminan secara serentak dari sumber pancaran sebelum kontaminan tersebar ke seluruh ruangan. d) Buat latar yang terang di belakang benda kerja. kelembaban. kecepatan aliran dan distribusi untuk mengurangi beban panas yang diderita pekerja. c) Pemeliharaan akan menambah umur bola lampu. b) Pemeliharaan dan kebersihan akan menghemat energi. 3) Petunjuk lain : a) Pekerja tua lebih sensitif thd silau. 3. 2. 2) Bagaimana caranya? a) Bersihkan secara teratur.

peledakan.Maksud dibuatnya sistem ventilasi adalah : 1. hilang waktu kerja karena sakit dan kecelakaan. Meningkatkan ketahanan fisik dan daya kerja pekerja. Teknik Pemesinan 64 . 2. Adapun cara membuat sistem ventilasi terdiri dari : 1. 4. Secara alamiah di mana aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan alami. Terjadi karena perbedaan tekanan udara sehingga timbul angin. Menurunkan kadar kontaminan dalam lingkungan kerja sampai pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan pekerja yaitu di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) sehingga terhindar dari keracunan. atau perbedaan suhu yang mengakibatkan beda kerapatan udara antara bangunan dengan sekelilingnya. 3. kebakaran. Menurunkan kadar yang tidak menimbulkan kebakaran atau peledakan yaitu di bawah Batas Ledak Terendah (BLT) atau Lower Explosive Limit (LEL). dsb. Memberikan penyegaran udara agar diperoleh kenyamanan dengan menurunkan tekanan panas. 5. Mencegah kerugian ekonomi karena kerusakan mesin oleh korosi.

Overshot Roof Blowing Precipitation from this side is deflected Blowing Precipitation from this side enters building Falling Precipitation runs of the roof Overshot Roof with Upstand Blowing Precipitation from this side is deflected Both falling and blowing precipitation is deflected from the building.Gambar 3 6. The proper amount of clearance from the upstand to the open ridge allow for the continuous upward flow exhaust air Teknik Pemesinan 65 . Aliran udara pada ventilasi (1).

Gambar 3 7. 3) Kipas angin berfungsi mengisap atau mengeluarkan kontaminan. Optimalkan penggunaan ventilasi alamiah agar udara ruang kerja nyaman. Udara segar dapat menghilangkan udara panas dan polusi. Teknik Pemesinan 66 . Secara mekanis melalui : 1) Aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan mekanis seperti kipas. tetapi juga dapat memasukkan udara. sehingga terjadi inefisiensi. sakit kepala. blower dan ventilasi atap. 2) Kipas angin dipasang di dinding. Aliran udara pada ventilasi (2). Untuk mendapatkan ventilasi udara ruang kerja yang baik perlu dicermati beberapa kata kunci sebagai berikut : 1. 2. pusing. Pengendalian udara masuk. atau atap. Udara kotor menjadi penyebab gangguan kesehatan sehingga mengarah pada kecelakaan kerja. 2. iritasi mata dan tenggorokan. Gambar 3 8. Pasang sistem pengeluaran udara kotor yang efisien dan aman. jendela. Selain itu juga menyebabkan kelelahan.

Alat Perlindungan Diri Secara teknis bagian tubuh manusia yang harus dilindungi sewaktu bekerja adalah : kepala dan wajah. Ventilasi yang baik dapat membantu mengendalikan dan mencegah akumulasi panas. Untuk itu penggunaan alat perlindungan diri pekerja sangat penting.3. Teknik Pemesinan 67 . mata. Optimalkan sistem ventilasi untuk menjamin kualitas udara ruang kerja. 4. umumnya berupa : Pelindung kepala dan wajah (Head & Face protection) Pelindung mata (Eyes protection) Pelindung telinga (Hearing protection) Pelindung alat pernafasan (Respiratory protection) Pelindung tangan (Hand protection) Pelindung kaki (Foot protection) Gambar 3 9. Pakaian yang memenuhi syarat keselamatan kerja. Aliran udara yang baik pada tempat kerja sangat penting untuk mencapai kerja produktif dan sehat. telinga. badan dan kaki. tangan.

Gambar 3 10. 5. cuci dan kakus agar terjamin kesehatan. Bekerja secara aman. Upayakan perawatan/kebersihan tempat ganti. 2. 4. Bekerja secara aman. Teknik Pemesinan 68 . Sediakan APD secara memadai. 3. Sediakan ruang pertemuan dan pelatihan. Perbaiki fasilitas kesejahteraan bersama pekerja.Kata kunci untuk pengaturan APD (Alat Perlindungan Diri) 1. Sediakan tempat makan dan istirahat yang layak agar unjuk kerja baik. Gambar 3 11. Buat petunjuk dan peringatan yang jelas. 6.

9. Teknik Pemesinan 69 . lengkap. Gambar 3 13. Bekerja secara aman. Pastikan penggunaan APD melalui petunjuk yang penyesuaian dan latihan. Sediakan layanan untuk pembersihan dan perbaikan APD secara teratur. Gambar 3 14. Gambar 3 12. Pelatihan K3. Penjelasan teknis pengunaan alat. 10. Pilihlah APD terbaik jika risiko bahaya tidak dieliminasi dengan alat lain. 11. Yakinkan bahwa penggunaan APD sangat diperlukan.7. Yakinkan bahwa penggunaan APD dapat diterima oleh pekerja. 8.

Teknik Pemesinan 70 . Rute transport barang. Penanganan dan Penyimpanan Bahan 1. 12. Gambar 3 17. Tandai dan perjelas rute transport barang. 13. Pantau tanggung jawab atas kebersihan dan pengelolaan ruang kerja 2. Gambar 3 16. Peminjaman alat.Gambar 3 15. Sediakan tempat penyimpanan APD yang memadai. Rak penyimpanan alat K3.

Permukaan jalan rata. Pintu dan gang harus cukup lebar untuk arus dua arah. Gambar 3 20. Teknik Pemesinan 71 .2. 4. Perbaiki layout tempat kerja. anak tangga yang rapat. Jalur arus dua arah. tidak licin dan tanpa rintangan. Kemiringan tanjakan 5-8%. 3. Layout tempat kerja. Permukaan jalan tidak rata serta kemiringan tangga 5. Gambar 3 18. Gambar 3 19.

12. kerek. Teknik Pemesinan 72 . dll. Rak penyimpanan barang serta keretta beroda 8. Gunakan konveyor. Gunakan alat pengangkat. Konveyor dan kerek. 11. 9. Gunakan rak penyimpanan yang dapat bergerak/mobil. 7. Bagi dalam bagian kecil-kecil. Gunakan pegangan. 13. Rak bertingkat serta alat pengangkat 10. Gunakan kereta beroda untuk pindahkan barang. Gambar 3 22. Hilangkan/kurangi perbedaan ketinggian permukaan. Gambar 3 21. Gambar 3 23.6. Gunakan rak bertingkat di dekat tempat kerja.

19.Gambar 3 24. Naik/turunkan barang secara perlahan di depan badan tanpa membungkuk dan memutar tubuh. 17. Kurangi pekerjaan yang dilakukan membungkuk/memutar badan. Pemindahan horizontal lebih baik dengan daripada mengangkat/menurunkan. Pegangan serta perbedaan ketinggian 14. Kombinasikan pekerjaan angkat berat dengan tugas fisik ringan. Penempatan sampah. 15. mendorong/menarik dengan cara Gambar 3 25. Teknik Pemesinan 73 . Gambar 3 26. Rapatkan beban ke tubuh sewaktu membawa barang. Membawa barang serta naik turunkan barang 18. Pemindahan horizontal serta posisi yang tidak efisien 16. Dipikul supaya seimbang. 20.

bahan yang relatif mudah terbakar seperti batu bara.21. suhu penyalaan/titik nyala dan zat pembakar (O2 atau udara). Bahan bakar dapat dibedakan dari jenis. Untuk mencegah terjadinya kebakaran adalah dengan mencegah bertemunya salah satu dari dua unsur lainnya. bahan yang jika bertemu dengan air menghasilkan gas yang mudah terbakar (karbit). Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran Pertimbangan utama mengapa perlu upaya penanggulangan bahaya kebakaran adalah karena adanya potensi bahaya kebakaran di semua tempat. penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sekecil mungkin melalui perencanaan yang baik. Tandai dengan jelas dan bebaskan jalan keluar darurat. 1. ruang penyimpanan terbuka atau dengan ventilasi yang cukup serta dipasang detektor kebocoran. terpisah dari bahan lain. Kebakaran terjadi akibat bertemunya 3 unsur : bahan (yang dapat) terbakar. Selain itu kewaspadaan diperlukan bagi bahan-bahan yang berada pada suhu tinggi. kertas. Dengan demikian usaha pencegahan harus dilakukan oleh setiap individu dan unit kerja agar jumlah peristiwa kebakaran. diberi sekat dari bahan tahan api. Penempatan sampah serta jalan keluar darurat 3. Bahan seperti ini memerlukan pengelolaan yang memadai : penyimpanan dalam tabung tertutup. titik nyala dan potensi menyala sendiri. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar Untuk mengendalikan bahan yang dapat terbakar agar tidak bertemu dengan dua unsur yang lain dilakukan melalui identifikasi bahan bakar tersebut. kayu kering. Bahan bakar yang memiliki titik nyala rendah dan rendah sekali harus diwaspadai karena berpotensi besar penyebab kebakaran. plastik. cat. Gambar 3 27. kapuk. juga bahan yang bersifat mengoksidasi. Teknik Pemesinan 74 . Kebakaran merupakan peristiwa berkobarnya api yang tidak dikehendaki dan selalu membawa kerugian. Melalui pelatihan diharapkan peserta mampu mengidentifikasi potensi penyebab kebakaran di lingkungan tempat kerjanya dan melakukan upaya pemadaman kebakaran dini.

Pengendalian titik nyala Sumber titik nyala yang paling banyak adalah api terbuka seperti nyala api kompor. Teknik Pemesinan 75 . pemanas. petir. Sumber penyalaan yang lain: benda membara. Api terbuka tersebut bila memang diperlukan harus dijauhkan dari bahan yang mudah terbakar. reaksi eksoterm. Gambar 3 29. bunga api. jerami. api pembakaran sampah. timbulnya bara api juga terjadi karena gesekan benda dalam waktu relatif lama. serta bahan-bahan yang mudah meledak pada bentuk serbuk atau debu. lampu minyak.kain. sampah kering. api rokok. Pengendalian bahan bakar 2. Pengendalian titik nyala. dsb. karet. Gambar 3 28. atau terjadi hubung singkat rangkaian listrik.

Kebakaran karena penyalaan sendiri. yaitu kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar. angin dan topan. a. kalium. kurang hati-hati menggunakan alat dan bahan yang dapat menimbulkan api. magnesium. aspal. hilangkan jejak kejahatan. plastik. yaitu kebakaran listrik yang bertegangan d. bahan alam yang melimpah.: 04/MEN/1980 penggolongan atau pengelompokan jenis kebakaran menurut jenis bahan yang terbakar. yaitu kebakaran bahan logam. seperti : kurangnya pengertian pengetahuan penanggulangan bahaya kebakaran. sering terjadi pada gudang bahan kimia di mana bahan bereaksi dengan udara. kayu. yang sejenis dengan itu. terutama berkenaan dengan cuaca. b. Kebakaran karena peristiwa alam. Kebakaran kelas (tipe) D. Pengelompokan itu adalah : a. dll. Kebakaran karena sifat kelalaian manusia. busa. 4. 2) Pasir. yang sejenis dengan itu. Peralatan pemadaman kebakaran Untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran perlu disediakan peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dan cocok untuk bahan yang mungkin terbakar di tempat yang bersangkutan. c. tekstil. yaitu kebakaran bahan padat kecuali logam. dimaksudkan untuk pemilihan media pemadam kebakaran yang sesuai. petir. seperti : kertas. bahan yang dapat menutup benda terbakar sehingga udara tidak masuk sehingga api padam. d. Caranya dengan menimbunkan pada benda yang terbakar menggunakan sekop atau ember. 5. seperti : bensin. letusan gunung berapi. misalnya sabotase. Kebakaran kelas (tipe) B. yang sejenis dengan itu. Persedian air dilakukan dengan cadangan bak-bak air dekat daerah bahaya. alkohol. Kebakaran karena kesengajaan untuk tujuan tertentu. mencari keuntungan ganti rugi klaim asuransi. Teknik Pemesinan 76 . seperti : aluminium. minyak. air dan juga dengan bahan-bahan lainnya yang mudah meledak atau terbakar. gempa bumi. Kebakaran kelas (tipe) C. gemuk. murah dan tidak ada akibat ikutan (side effect). alat yang diperlukan berupa ember atau slang/pipa karet/plastik. Klasifikasi kebakaran Berdasar Permennaker No. Sebab-sebab kebakaran a. LPG dll. c. kurangnya kesadaran pribadi atau tidak disiplin. karet. dll. tujuan taktis pertempuran dengan jalan bumi hangus. sinar matahari. b. Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana 1) Air. Kebakaran kelas (tipe) A.3. sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran.

4) Tangga. Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. Konstruksi APAR sebagai berikut : Gambar 3 30. 2) Sistem penyembur api (sprinkler system). kain katun. saluran air. Alat pemadam kebakaran. Alat pemadam kebakaran besar Alat-alat ini ada yang dilayani secara manual ada pula yang bekerja secara otomatis. serbuk kering (dry chemical) gas halon dan gas CO2. pipa kopel. busa (foam). Terdiri dari pompa. yang berfungsi untuk menyelimuti benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai oksigen terhenti. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) APAR adalah alat yang ringan berupa tabung. 3) Sistem pemadam dengan gas. luasnya minimal 2 kali luas potensi api. dipergunakan untuk alat bantu penyelamatan dan pemadaman kebakaran. boks hidran (dalam gedung) berisi : slang landas. pipa semprot dan kumparan slang. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan lebih besar dari tekanan diluar. Teknik Pemesinan 77 . b. gantol dan lain-lain sejenis. Jenis APAR meliputi : jenis air (water).3) Karung goni. atau selimut basah sangat efektif untuk menutup kebakaran dini pada api kompor atau kebakaran di rumah tangga. kombinasi antara sistem isyarat alat pemadam kebakaran. pilar hidran (di luar gedung). 1) Sistem hidran mempergunakan air sebagai pemadam api. mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. c.

Gambar 3 31. Alat pemadam kebakaran besar. Lepas pena kunci. perkantoran dsb. sekolah. Dipom pa. Sesuai untuk alat elektronik dan gudang bahan makanan Lepas pena kunci. Petunjuk pemilihan APAR Pilih yang sesuai Multi Purpo se Serba guna A B C Keterangan Ya Ya Zat Kimia Kering (Dry Chemical) Sodium bicarbon at NaHCO3 Purple K Zat Kimia Basah (Wet Chemical) Loaded Stream Pump (Stored tank pressure d) Tanki Busa & bertekan pompa an Ya Tidak Ya Ya Tidak Sesuai untuk lab dan tempat bahan kimia Lepas pena kunci. 6. gengg am handel & guyur bahan terbak ar Pegan g monco ng. rumah. mobil serta bahan mudah terbakar lainnya Petunjuk Pemakaian Lepas pena kunci. Sesuai untuk bahan bangunan. guyur bahan terbak ar Tabel 3 1. genggam handel & arahkan moncong ke sumber api Tidak Tidak Murah. grdung. Pemilihan APAR Teknik Pemesinan 78 . genggam handel & guyur bahan terbakar CO2 Carbon dioxide Halon Halon 1211 Air Water CO2 Air bertek anan Tidak Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Bekerja dengan cepat Disarankan tersedia pada gudang bahan bakar minyak dan gas. genggam handel & arahkan moncong di bawah api Ya Ya Bahan ini tidak meninggalkan bekas.

2. 2. APAR hanya ideal dioperasikan pada situasi tanpa angin kuat. Beri tanda segitiga warna merah panjang sisi 35 cm. Teknik Pemesinan 79 . Fire alarm secara otomatis akan mempercepat diketahuinya peristiwa kebakaran. oleh karena itu sebelum menggunakan APAR perlu diidentifikasi jenis bahan terbakar. waktu maksimum terus menerus 8 detik. identifikasi bahan terbakar dan tentukan APAR yang dipakai. c. 5. Harus diperiksa secara periodik. 5. rak buku. Waktu ideal : 3 detik operasi. Upayakan latihan secara periodik untuk dapat bertindak secara tepat dan tenang. APAR kimiawi ideal dioperasikan pada suhu kamar. bila api terlanjur besar maka makin sulit memadamkannya. antara lain : oleh 1. 4. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran 1. kadang harus mondar-mandir/keluar masuk mengambil air. Fasilitas Penunjang Keberhasilan pemadaman kebakaran juga ditentukan keberadaan fasilitas penunjang yang memadai. Bila telah dipakai harus diisi ulang. hubungi petugas pemadam kebakaran. mudah dijangkau dan mudah dilihat. d. tidak terlindung benda/perabot seperti lemari. sehingga perlu jalan yang memadai. Tempatkan APAR selalu pada tempat yang sudah ditentukan. 10 detik berhenti. Bila terjadi kebakaran besar : bertindaklah dengan tenang. Beberapa kebakaran terlambat diketahui karena tidak ada fire alarm. juga untuk keperluan evakuasi.7. beritahu orang lain untuk pengosongan lokasi. minimal 2 tahun sekali. 4. dsb. Untuk itu diperlukan fasilitas : a) b) c) d) Daun pintu dapat dibuka keluar Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci Lebar pintu dapat dilewati 40 orang/menit Bangunan beton strukturnya harus mampu terbakar minimal 7 jam. nyalakan alarm. Jalan bagi petugas. APAR jenis tertentu bukan merupakan pemadam untuk segala jenis kebakaran. diperlukan untuk petugas yang datang menggunakan kendaraan pemadam kebakaran. Karakteristik APAR : a. 3. Siagakan APAR selalu siap pakai. e. Bila terjadi kebakaran kecil : bertindaklah dengan tenang. b. keras dan lebar.

Pelat-pelat kode dapat berguna sekali. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas Pada dasarnya terdapat dua jenis pemeliharaan. Jangan sekali-sekali menggunakan perkakas yang tumpul pada gesekan yang besar. Usahakanlah supaya jalan-jalan terusan tidak terhalang oleh bahan. mikometer. yaitu : 1. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah periksalah kotak penyimpanan obatobatan secara teratur pula. dalam keadaan bersih atau simpanlah dalam keadaan bersih. dan lainnya. Hal ini dapat berakibat terjadinya kehancuran bor. pahat. mistar-mistar ingsut. warnanya menunjukkan jenis pelumas apa yang harus digunakan (perhatikan petunjuk-petunjuk dari pegusaha pabriknya). Periksalah alat-alat perkakas secara teratur akan kemungkinan terjadinya kerusakan-kerusakan. 7. sambungan-sambungan listrik. dan sebagainya) berada di atas mesin yang sedang berjalan. Preventif (pencegahan kerusakan dan keausan) 2. Jagalah supaya perkakas-perkakas tangan dan mesin-mesin tetap dalam keadaan bersih. peti-peti. bantalan-bantalan. Perbaiki atau gantilah perkakas yang rusak. Teknik Pemesinan 80 . Ingatlah akan perlindungan dari bagian-bagian yang berputar. 6. yaitu : 1. 3. tap atau frais karena pembebanan yang besar pada poros-poros. ia menunjukkan setelah beberapa waktu minyak pelumasnya harus diperbaharui dan pelumasannya harus dilakukan.6. Korektif (tindakan setelah timbulnya kerusakan) Untuk pemeliharaan preventif. 4. kalau itu merupakan kelengkapan mesin yang bersangkutan. Lumasilah alat-alat perkakas secara teratur. batang-batang ulir dan mur-mur dari mesin-mesinnya. Bersihkanlah ayakan-ayakan minyaknya pada waktu-waktu tertentu dan tukarlah saringan-saringannya. Jangan lupa peraturan-peraturan keamanan. yang biasanya diutamakan. 2. Serahkanlah semua perkakas setelah dipakai. 5. Bak-bak minyak harus diisi sampai garis tandanya. bila perlu pakailah kacamata pengaman. terdapat beberapa pedoman. Jangan membiarkan alat-alat bantu atau alat-alat ukur (kuncikunci. Akibat yang mungkin terjadi : a) Kecelakaan b) Kerusakan perkakasnya c) Kehancuran alat perkakasnya.

BAB 4 MEMAHAMI KAIDAH PENGUKURAN Teknik Pemesinan 81 .

lebar celah dengan sensor bagian atas. Pada saat ini. Tanpa alat ukur. Teknik Pemesinan 82 . engukur adalah proses membandingkan ukuran (dimensi) yang tidak diketahui terhadap standar ukuran tertentu. kedalaman dengan ekornya. ketelitian 0. elemen mesin tidak dapat dibuat cukup akurat untuk menjadi mampu tukar (interchangeable). berikut adalah gambar jangka sorong yang dapat mengukur panjang dengan rahangnya. Jangka sorong tersebut memiliki skala ukur (vernier scale) dengan cara pembacaan tertentu. Ada juga jangka sorong yang dilengkapi jam ukur.1. atau dilengkapi penunjuk ukuran digital. Jangka Sorong Jangka sorong adalah alat ukur yang sering digunakan di bengkel mesin. Gambar 4 1.). Alat ukur yang baik merupakan kunci dari proses produksi massal. Sensor jangka sorong yang dapat digunakan untuk mengukur berbagai posisi. Jangka sorong berfungsi sebagai alat ukur yang biasa dipakai operator mesin yang dapat mengukur panjang sampai dengan 200 mm. Pengukuran menggunakan jangka sorong dilakukan dengan cara menyentuhkan sensor ukur pada benda kerja yang akan diukur. alat ukur merupakan alat penting dalam proses pemesinan dari awal pembuatan sampai dengan kontrol kualitas di akhir produksi. (lihat Gambar 4. komponen yang dirakit harus sesuai satu sama lain.A. Pada waktu merakit. Alat Ukur M 1. Beberapa macam jangka sorong dengan skala penunjuk pembacaan dapat dilihat pada Gambar 4.1. Gambar 4.05 mm.3.

15 . jam ukur. Teknik Pemesinan 83 . hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada monitor digitalnya. di bawah : 0. dan digital. Untuk jangka sorong dengan penunjuk pembacaan digital.15) Sehingga ukuran yang dimaksud 9. Jangka sorong dengan penunjuk pembacaan nonius.Gambar 4 2.3. di bawah : 9 mm) Baca angka kelebihan ukuran dengan cara mencari garis skala utama yang segaris lurus dengan skala nonius (Gambar 4.3. cara pembacaan ukurannya secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka mm pada skala utama (pada Gambar 4. Jangka sorong yang menggunakan skala nonius. Pembacaan hasil pengukuran jangka sorong yang menggunakan jam ukur dilakukan dengan cara membaca skala utama ditambah jarak yang ditunjukkan oleh jam ukur.

4. 50-75 mm. Mikrometer luar. Cara membaca skala jangka sorong ketelitian 0.5 mm) Baca angka skala pada thimble (pada posisi 0. Mikrometer memiliki ketelitian sampai dengan 0. yaitu sekitar 25 mm. Akan tetapi jangkauan ukuran mikrometer lebih kecil.5.05 mm.01 mm.19 mm) Teknik Pemesinan 84 . Jangkauan ukur mikrometer adalah 0-25 mm.Gambar 4 3.) biasanya lebih presisi dari pada menggunakan jangka sorong. dan mikrometer dalam Hasil pengukuran dengan mengunakan mikrometer (Gambar 4. adalah 8. 2. Mikrometer Gambar 4 4. dan seterusnya dengan selang 25 mm. Cara membaca skala mikrometer secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka skala pada skala utama/barrel scale (pada Gambar 4. 25–50 mm.

Gambar 4 6.6. diameter dalam. Mikrometer dapat mengukur tebal. Cara membaca skala mikrometer.69 mm). Untuk keperluan khusus mikrometer juga dibuat berbagai macam variasi. Teknik Pemesinan 85 . Beberapa mikrometer juga dilengkapi penunjuk pembacaan digital. tebal.Jumlahkan ukuran yang diperoleh (pada Gambar 1. diameter dalam. hampir sama dengan jangka sorong. akan tetapi kepala mikrometer sebagai alat pengukur dan pembacaan hasil pengukuran tetap selalu digunakan. Beberapa contoh penggunaan mikrometer untuk mengukur benda kerja dapat dilihat pada Gambar 4. 30 25 20 0 5 10 15 15 10 20 Gambar 4 5. panjang. dan diameter luar.7. untuk mengurangi kesalahan pembacaan hasil pengukuran. adalah 8. Berbagai macam pengukuran yang bisa dilakukan dengan mikrometer : pengukuran jarak celah.

dan pengujian kualitas geometris mesin perkakas. Gambar 4 7. posisi benda kerja. Pengecekan sumbu mesin bubut dengan bantuan jam ukur. digunakan oleh operator mesin perkakas untuk melakukan penyetelan mesin perkakas yaitu : pengecekan posisi ragum. Gambar 4 8. posisi senter/sumbu mesin perkakas (Gambar 4.01 mm.3. Sistem Satuan Sistem satuan yang digunakan pada mesin perkakas adalah sistem metris (Metric system) dan sistem imperial (Imperial system/British system). Alat ukur pembanding ini (Gambar 4. Buku terbitan USA dan England selalu Teknik Pemesinan 86 . Ketelitian ukur jam ukur yang biasa digunakan di bengkel adalah 0. 4.8. Jam ukur (Dial Indicator).). Jam Ukur (Dial Indicator) Jam ukur (dial indicator) adalah alat ukur pembanding (komparator).7.).

387064 0.4516 0.349523 0.) to milliliters fluid ounces (imperial) to milliliters pints (U.000984 1.menggunakan satuan imperial.9144 0.1682 29.157473 0.S.879877 0.5735 28.20462 0.S.785412 4.469955 milliliters to fluid ounces (imperial) 0.S.413063 0.264172 0.) to liters gallons (imperial) to liters 16.609344 millimeters to inches meters to feet meters to yards kilometers to furlongs kilometers to miles 0.54609 cubic centimeters to cubic inches cubic meters to cubic feet cubic meters to cubic yards cubic kilometers to cubic miles milliliters to fluid ounces (U.) to liters pints (imperial) to liters quarts (U.30795 0.4 0.S.473176 0. berikut ditampilkan konversi satuan Imperial menjadi Metris (Tabel 4.056688 0.S.) 0.201168 1.) liters to gallons (imperial) 2.S.836127 2.18474 1016.621371 Dikalikan Mengubah Dikalikan square kilometers to square miles 0.7639 1.) to liters quarts (imperial) to liters gallons (U.28084 1.239912 0. Mengubah Panjang inches to millimeters feet to meters yards to meters furlongs to kilometers miles to kilometers Luas square inches to square centimeters square feet to square meters square yards to square meters square miles to square kilometers acres to square meters acres to hectares Volume cubic inches to cubic centimeters cubic feet to cubic meters cubic yards to cubic meters cubic miles to cubic kilometers fluid ounces (U.19599 25.946353 1.) 0.97097 0.000247 2.453592 6.907185 grams to ounces kilograms to pounds kilograms to stone (14 lb) kilograms to tons (U.035274 2.) to metric tons 28.3147 1.S.) to kilograms tons (imperial) to kilograms tons (U.S.) liters to pints (imperial) liters to quarts (U.09361 4.404866 square centimeters to square inches square meters to square feet square meters to square yards 0.046909 0.0393701 3.061024 35.S.S.3048 0. dan beberapa data pada buku ini juga menggunakan satuan imperial.759754 1.035195 liters to pints (U. maka untuk memudahkan perhitungan.S.10231 Teknik Pemesinan 87 .1550 10.028317 0.S.033814 6.) liters to quarts (imperial) liters to gallons (U.350293 907.) kilograms to tons (imperial) metric tons to tons (U.568261 0.386102 square meters to acres hectares to acres 0.001102 0.856422 0.1).764555 4.092903 0.589988 4046.219969 Massa/Berat ounces to grams pounds to kilograms stone (14 lb) to kilograms tons (U.113377 1.136523 3.

S.4251 0.064779 newtons per square centimeter to 0.600 0. © 1993-2004 Microsoft Corporation.609344 0.3521 2.) to kilometers per liter miles per gallon (imperial) to kilometers per liter 1.44822 9.984207 0.1868 3.S.016047 1.S.238846 0.621371 3.3048 metric tons to tons (imperial) kilometers per hour to miles per hour meters per second to feet per second newton to pound-force newton to kilogram-force kilopascals to pound-force per square inch megapascals to tons-force per square inch (imperial) 0.224809 0.4251 0.89476 15.145038 0.28084 4. All rights reserved. Faktor konversi satuan imperial menjadi metris dan sebaliknya.1325 14.80665 6.3540 0.824859 per kilometer Microsoft ® Encarta ® Encyclopedia 2005.098692 atmospheres pound-force per square inch to atmospheres joule to calorie joule to watt-hour kilowatts to horsepower kilometers per liter to miles per gallon (U.34102 2.4443 10.3540 gallons per mile (U. Teknik Pemesinan 88 .824859 0.7457 0.) kilometers per liter to miles per gallon (imperial) liters per kilometer to gallons per mile (U.068948 4.3521 kilometer gallons per mile (imperial) to liters 2.S.tons (imperial) to metric tons Kecepatan miles per hour to kilometers per hour feet per second to meters per second Gaya pound-force to newton kilogram-force to newton Tekanan pound-force per square inch to kilopascals tons-force per square inch (imperial) to megapascals atmospheres to newtons per square centimeter atmospheres to pound-force per square inch Energi calorie to joule watt-hour to joule Usaha horsepower to kilowatts Konsumsi bahan bakar miles per gallon (U. Tabel 4 1.000278 1.) liters per kilometer to gallons per mile (imperial) 0.) to liters per 2.695942 0.101972 0.

BAB 5 MEMAHAMI GAMBAR TEKNIK Teknik Pemesinan 89 .

Demikian seterusnya.A. kertas gambar yang dapat digunakan untuk menggambar teknik adalah: 1) Kertas Padalarang 2) Kertas manila 3) Kertas Strimin 4) Kertas roti 5) Kertas Kalki B b) Ukuran Kertas Ukuran gambar teknik sudah ditentukan berdasarkan standar. Seri Ukuran Kertas Ukuran Garis Tepi Kiri Kanan 10 10 10 20 5 5 A0 A1 A2 A3 A4 A5 1.1. Ukuran pokok kertas gambar adalah A0.189 x 841 841 x 594 594 x 420 420 x 297 297 x 210 210 x 148 20 20 20 20 15 15 Tabel 5 1 Kertas gambar berdasarkan ukuran Teknik Pemesinan 90 . Ukuran A0 adalah 1 m2 dengan perbandingan 2 : 1 untuk panjang : lebar. Ukuran A2 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A1. Ukuran A1 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A0. Sedangkan perbandingan ukuran kertas gambar dapat dilihat dari gambar 5. Kertas Gambar a) Jenis Kertas erdasarkan jenis kertasnya. Ukuran kertas gambar dapat dilihat pada tabel 5. Mengenal alat Menggambar Teknik 1.1.

Teknik Pemesinan 91 . Pensil Gambar Pensil adalah alat gambar yang paling banyak dipakai untuk latihan mengambar atau menggambar gambar teknik dasar.0 mm. Batang pensil tetap tidak bisa habis.2. Pensil mekanik memiliki ukuran berdasarkan diameter mata pensil. c) Pensil Gambar Berdasarkan Bentuk Pensil Batang Pada pensil ini. Habisnya isi pensil bersamaan dengan habisnya batang pensil. Pensil gambar terdiri dari batang pensil dan isi pensil.Gambar 5 1. antara isi dan batangnya menyatu.3 mm. Jika Isi pensil habis dapat diisi ulang. Pensil mekanik Pensil mekanik.3. 0. Gambar pensil batang dapat dilihat pada Gambar 5.5 mm dan 1. misalnya 0. Untuk menggunakan pensil ini harus diraut terlebih dahulu. Gambar 5 2 Pensil batang Gambar 5. Gambar pensil mekanik dapat dilihat pada Gambar 5.2. antara batang dan isi pensil terpisah. Cara penempelan kertas di atas meja gambar non magnetik 2.

maka kedudukan pensil sewaktu menarik garis harus dimiringkan 60o dan selama menarik garis sambil diputar dengan telunjuk dan ibu jari (lihat Gambar 5. Pensil berdasarkan kekerasannya Untuk mendapatkan garis dengan ketebalan yang merata dari ujung ke ujung. 4.) Gambar 5 4. Pensil mekanik d) Pensil Gambar Berdasarkan Kekerasan Berdasarkan kekerasanya pensil gambar dibagi menjadi pensil keras. Cara menarik garis Teknik Pemesinan 92 . sedang dan lunak. Tabel 5 2.Gambar 5 3.

Gambar 5 5. b) Penggaris Segitiga Penggaris segitiga terdiri dari satu penggaris segitiga bersudut 45o. Penggaris Penggaris yang sering digunakan untuk menggambar teknik adalah penggaris –T dan penggaris segitiga. Teknik Pemesinan 93 . Rapido Penggunaan rapido untuk menggambar dengan teknik tinta dianggap lebih praktis dari pada dengan trekpen. Rapido 4. 45o dan satu buah penggaris bersudut 30o. 90o dan 60o. a) Penggaris -T Penggaris T terdiri dari dua bagian.5. 90o. Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga. Gambar rapido dapat dilihat pada Gambar 5. Sepasang penggaris segitiga ini digunakan untuk membuat garis-garis sejajar.3. bagian mistar panjang dan bagian kepala berupa mistar pendek tanpa ukuran yang bertemu membentuk sudut 90o. Gambar 5 6. sudut-sudut istimewa dan garis yang saling tegak lurus.

Gambar 5 9. Cara menggunakan penggaris-T Gambar 5 8. Jenis jangka Teknik Pemesinan 94 . Cara menggunakan penggaris segitiga 5. Gambar 9 memperlihatkan beberapa jenis jangka. Jangka Jangka adalah alat gambar yang digunakan untuk membuat lingkaran dengan cara menancapkan salah satu ujung batang pada kertas gambar sebagai pusat lingkaran dan yang lain berfungsi sebagai pensil untuk menggambar garis lingkarannya.Gambar 5 7.

10. cara menggunakan jangka ditunjukkan pada Gambar 5. yaitu penghapus lunak dan penghapus keras. Agar gambar yang akan dihapus tepat dan tidak menghilangkan gambar yang lain. Penghapus lunak untuk menghapus gambar dari pensil dan penghapus keras untuk menghapus gambar dari tinta. Gambar 5 10. maka digunakan plat pelindung penghapus seperti Gambar 5.13.11. seperti Gambar 5. Teknik Pemesinan 95 . Penghapus dan alat pelindung penghapus Ada dua jenis penghapus. Kedudukan pena tarik saat menarik garis serta Cara menggunakan jangka Gambar 5 11.Kedukukan pena tarik sewaktu menarik garis sebaiknya miring 60o terhadap meja gambar. Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung 6.

Gambar 5 12.14. lihat Gambar 5. g) Mal lengkung Mal lengkung digunakan untuk membuat garis lengkung yang tidak dapat dibuat dengan jangka. Busur derajat f) Sablon huruf dan angka Sablon huruf dan angka adalah sebuah alat gambar yang digunakan untuk menggambar huruf dan angka. Lihat Gambar 5. Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung 7. Gambar 5 13. Alat-alat Penunjang lainnya Ada beberapa alat penunjang gambar teknik lainnya yang kadangkadang diperlukan didalam menggambar adalah : e) Busur derajat Busur derajat digunakan untuk mengukur dan membagi sudut. agar diperoleh tulisan yang rapi dan seragam dan mengikuti standar ISO. Dalam satu set mal lengkung ada 3 jenis mal.15 Teknik Pemesinan 96 .

Meja gambar terdiri dari rangka meja gambar dan daun meja gambar. Bahan daun meja ada bermacam-macam. Mal lengkung Gambar 5 15.Gambar 5 14. papan berlapis magnet dan kaca rayben Teknik Pemesinan 97 . maka digunakan mal bentuk. Gambar 5 16. Tidak seperti meja biasa. Meja Gambar Meja gambar adalah meja yang digunakan sebagai alas menggambar. yaitu : daun meja dari papan non magnetik. Mal bentuk geometri 8. meja gambar dapat diubah-ubah ketinggian dan kemiringan daun mejanya. Contoh penggunaan mal lengkung h) Mal bentuk Untuk membuat gambar geometri dan simbol-simbol tertentu dengan cepat.

Mesin gambar rol Teknik Pemesinan 98 . yaitu: mesin gambar rol dan mesin gambar lengan. Mesin gambar dapat menggantikan beberapa fungsi alat gambar lainnya seperti busur derajat. sepasang penggaris segitiga dan mistar T. Gambar 5 18. Meja gambar 9. Mesin Gambar Mesin gambar adalah mesin manual yang digunakan untuk memudahkan menggambar. Mesin gambar lengan Gambar 5 19. Berdasarkan bentuknya ada dua jenis mesin gambar.Gambar 5 17.

f. Cara menggunakan mal ini sama dengan cara menggunakan mal huruf-angka. Hati-hati menggunakan peralatan yang tajam. k. Gunakan jangka dengan benar untuk membuat lingkaran. c. i. 30º. 75º dan 90º dengan sepasang penggaris segitiga. Gunakan mal lengkung sesuai contoh pada lembar informasi. 4. Gunakan mal bentuk dan symbol. Perhatikan cara memegang penggarisnya.B. 60º. j. 45º. 3. e. b. d. Lembar Kerja 1. Buatlah sudut-sudut 15º. d. Perhatikan dari mana mulai menarik garis dan mengakhirinya. Perhatikan cara memegang mal dan cara menggesernya. b. e. Gunakan selotip berbahan kertas. Tentukan dahulu titik-titik yang akan dihubungkan. Gunakan sepasang penggaris segitiga untuk membuat garis-garis sejajar horisontal dan vertikal. Tempelkan kertas manila A3 di atas meja gambar dengan selotip. Panjang dan jarak antar garis sembarang. Gunakan mal huruf-angka. c. g. h. g. f. yaitu: cutter dan jarum jangka. Buat garis lengkungnya dengan mal lengkung. Teknik Pemesinan 99 . 2. Geser-geser mal lengkung untuk mendapatkan bentuk yang paling tepat antara dua garis. Langkah Kerja a. Perhatikan arah penarikan garis. Alat Meja gambar Pensil gambar Sepasang penggaris segitiga Penggaris panjang 50 cm atau 60 cm Jangka Mal huruf dan angka Mal bentuk Mal lengkung Penghapus Selotip Cutter Bahan Kertas manila A3 Kesehatan dan Keselamatan Kerja a. b. Huruf dan angka yang di-mal sembarang. a. Diameter lingkaran sembarang.

Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 5.C. Membaca Gambar Teknik Proyeksi Piktorial Untuk menampilkan gambar-gambar tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi. dapat kita lihat pada Gambar 5. Perspektif Untuk membedakan masing-masing proyeksi tersebut. Proyeksi piktorial miring 4.21. Ada beberapa macam cara proyeksi.22. • Sudut antara sumbu satu terhadap sumbu lainya 1200. Proyeksi piktorial dimensi 2. perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu ciri dan syarat-syarat untuk membuat gambar dengan proyeksi tersebut. antara lain: 1. dapat kita lakukan dengan beberapa macam cara proyeksi sesuai dengan aturan rnenggarnbar. Gambar 5 20. Proyeksi piktorial 2. 1. Proyeksi Isometris c) Ciri Proyeksi Isometris Untuk mengetahui apakah suatu gambar disajikan dalam bentuk proyeksi isometris. Proyeksi piktorial isometri 3. Adapun ciri-ciri gambar dengan proyeksi isometris tersebut adalah: 1) Ciri pada sumbu • Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30° terhadap garis mendatar. 2) Ciri pada ukuran Teknik Pemesinan 100 .

2) Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik. Mengenai hal ini dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu: a. Memutar gambar dengan sudut 180° ke kanan dan kedudukan normal. Kedudukan normal mempunyai sumbu dengan sudut-sudut seperti tampak pada Gambar 5. 1) Proyeksi isometris dengan kedudukan normal. Gambar 5 22.Panjang gambar pada masing-masing sumbu sama dengan panjang benda yang digambarkan (lihat Gambar 5.23.22) Gambar 5 21. sesuai dengan kedudukan sumbunya (lihat Gambar 5. Penyajian proyeksi isometris Teknik Pemesinan 101 . Proyeksi isometris d) Penyajian Proyeksi Isometris Penyajian gambar dengan proyeksi isometris dapat dilakukan dengan kedudukan normal.23 berikut). terbalik atau horizontal.

maka untuk kedudukan horizontal 2700 ke kanan dan kedudukan sumbu norrnalnya (Iihat Gambar 5.24) Gambar 5 23. Sebagaimana cara yang dilakukan untuk menggarnbar kedudukan proyeksi isometris terbalik. Gambar 5 24. Mengubah kedudukan benda. Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik 3) Proyeksi isometris dengan kedudukan horizontal. Proyeksi isometris kedudukan horizontal 2. Sumbu utama mempunyai sudut: =70 dan = 400 (lihat Gambar 5. Mengubah kedudukan benda yang digambar dengan tujuan untuk memperlihatkan bagian bawah benda tersebut (lihat Gambar 5. Proyeksi Dimetris Proyeksi dimetris mempunyai ketentuan: a.26) b. pada sumbu y = 1 : 2. Teknik Pemesinan 102 .25) b.b. yaitu dengan memutar sumbu utama 1800 dan sumbu normal. a. yaitu untuk memperlihatkan bagian samping kiri (yang tidak terlihat) sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Perbandingan skala ukuran pada sumbu x = 1 : 1.25. dan pada sumbu z 1 : 1.

Kubus dengan proyeksi dimetris Proyeksi Miring (sejajar) Pada proyeksi miring. mempunyai sisi-sisi 40 mm. dan skala pada sumbu z = 1: 1 (ithat gambar di bawah ini) 3. sumbu x berimpit dengan garis horizontal/mendatar dan sumbu y mernpunyai sudut 450 dengan garis mendatar.Gambar 5 25. pada sumbu y = 1 : 2. Teknik Pemesinan 103 . Keterangan: • Ukuran pada sumbu x digambar 40 mm • Ukuran gambar pada sumbu y digambar 1/2 nya. Skala ukuran untuk proyeksi miring ini sama dengan skala pada proyeksi dimetris. yaitu skala pada sumbu x 1:1. yaitu 20 mm • Ukuran pada sunbu z digambar 40 mm Gambar 5 26. Proyeksi dimetris Gambar kubus yang di gambarkan dengan proyeksi dimetris di bawah ini.

h.Gambar 5 27. Perspektif dengan satu titik hilang Teknik Pemesinan 104 . Perspektif dengan tiga titik hilang. 4. Gambar 5 28. yaitu: a. Gambar perspektif dibagi menjadi tiga macam. gambar perspektif jarang dipakai. perspektif dengan satu titik hilang. Perspektif dengan dua titik hilang. c. Proyeksi miring Gambar Perspektif Dalam garnbar teknik mesin.

Teknik Pemesinan 105 . biasanya memerlukan lebih dari satu bidang proyeksi. Perspektif dengan dua titik hilang Gambar 5 30. 5. c. Perspektif dengan tiga titik hilang Macam-Macam Pandangan Untuk memberikan informasi lengkap suatu benda tiga dimensi dengan gambar proyeksi ortogonal. Demikian seterusnya. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di depan benda disebut pandangan depan. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di atas benda disebut pandangan atas. a.Gambar 5 29. b. Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di sebelah kanan benda disebut pandangan samping kanan.

Gambar 5 31. dan disebelah kiri bidang V disebut kuadran II. dan bidang horizontal. di depan bidang D. Ruang di atas bidang H. Teknik Pemesinan 106 . dan di sebelah kanan bidang V disebut kuadran IV. Bidang proyeksi Suatu ruang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi oleh bidang-bidang depan. Ruang yang berada di atas bidang H. di bawah bidang H. Ruang yang dibatasi tersebut dikenal dengan sebutan kuadran. di depan bidang D. di depan bidang D. Ruang yang berada di bawah bidang H. bidang vertikal. dan di depan bidang D disebut kuadran III. Bidang-Bidang Proyeksi Gambar 5 32. Ruang disebelah kiri bidang V. Macam-macam pandangan 6. dan di samping kanan bidang V disebut kuadran I.

(depan) dan di sebelah kanan bidang V (vertikal) maka benda tersebut berada di kuadran I. maka akan didapat gambar/proyeksi pada kuadran I yang dikenal juga dengan nama proyeksi Eropa. Gambar 5.34). jika benda yang terletak di kuadran I kita proyeksikan terhadap bidang-bidang H. seperti gambar berikut: Teknik Pemesinan 107 . Gambar 5 33. Proyeksi di kuadran I Keterangan: A = titik kuadran-I AD = proyeksi titik A di bidang D (depan) Av = proyeksi titik A di bidang V (vertikal) AH = proyeksi titik A di bidang H (horizontal) Bila ketiga bidang saling tegak lurus tersebut dibuka. di depan bidang D.34 memperlihatkan titik yang terletak di kuadran I (lihat gambar 5.a) Proyeksi di Kuadran I (Proyeksi Eropa) Bila suatu benda diletakkan di atas bidang horizontal. V. dan D. maka sumbu x dan y sebagai sumbu putarnya dan sumbu z merupakan sumbu yang dibuka/dipisah.

Gambar 5 34. Pemutaran dengan jangka Teknik Pemesinan 108 . Pembukaan objek gambar di kuadran I Selanjutnya batas-batas bidang dihilangkan maka menjadi bentuk di bawah ini : Gambar 5 35.

Gambar 5 36. Jadi yang nampak hanya Teknik Pemesinan 109 . Garis sumbu terpisah d Gambar 5 38. maka untuk menempatkan sumbu dapat disederhanakan sesuai dengan ruang yang tersedia. Garis sumbu berimpit dengan gambar Penampilan Gambar Untuk penampilan gambar berikutnya. Potongan garis yang bersudut 45o Bila penempatan benda di kuadran I tidak teratur. garis sumbu dan garis bantu tidak diperlukan lagi (dihilangkan). Penyederhanaan dapat dilakukan seperti gambar berikut: Gambar 5 37.

dan D untuk proyeksi di kuadran III (proyeksi Amerika) yang telah di buka adalah: Gambar 5 40. Gambar 5 39. sedangkan pandangan atas berada di bawah pandangan depannya. Pandangan proyeksi Eropa b) Proyeksi di Kuadran III (Proyeksi Amerika) Bidang-bidang H. perlu ditegaskan kembali bahwa untuk proyeksi di kuadran I (proyeksi Eropa). Pandangan proyeksi Amerika • Pada bidang H ditempatkan pandangan atas • Pada bidang D ditempatkan pandangan depan • Fada bidang V diternpatkan pandangan samping kanan Contoh : Teknik Pemesinan 110 .pandangannya saja (lihat gambar 5. V.40). penempatan pandangan samping akan berada disebelah kiri pandangan depannya.

perlu diberi lambang proyeksi. Dalam standar ISO (ISO/DIS 128). Dalam satu buah gambar tidak diperkenankan terdapat gambar dengan menggunakan kedua gambar proyeksi secara bersamaan. Sedangkan untuk keseragaman ISO. Proyeksi Amerika Gambar 5 43. Simbol proyeksi ditempatkan disisi kanan bawah kertas gambar. gambar sebaiknya digambar menurut proyeksi sudut pertama (kuadran I atau kita kenal sebagai proyeksi Eropa). Proyeksi Eropa Teknik Pemesinan 111 . telah ditetapkan bahwa cara kedua proyeksi boleh dipergunakan. Simbol Proyeksi dan Anak Panah a) Simbol Proyeksi Untuk membedakan gambar/proyeksi di kuadran I dan gambar/proyeksi di kuadran III.Gambar 5 41. Gambar 5 42. Contoh pandangan proyeksi Amerika 7. Simbol/lambang proyeksi tersebut adalah sebuah kerucut terpancung (lihat gambar).

Anak Panah Gambar 5 45. barulah kita menenempatkan pandangan dan objek yang kita gambar tersebut. Contoh penggambaran anak panah Penentuan Pandangan Untuk menempatkan pandangan atas atau pandangan samping dan pandangan depannya. Proyeksi Di Kuadran I (Eropa) Atas dan Samping Kanan Menurut 8. a) Menempatkan Pandangan Depan.45). apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) ataukah proyeksi di kuadran III (Amerika)?.b) Anak Panah Anak panah digunakan untuk menunjukkan batas ukuran dan tempat/posisi atau arah pemotongan sedangkan angka ukuran ditempatkan di atas garis ukur atau di sisi kiri garis ukur (ithat gambar 5. Penerapan Proyeksi Eropa Teknik Pemesinan 112 . terlebih dahulu kita harus menempatkan sistem proyeksi apa yang kita pakai. Setelah kita menempatkan sistem proyeksi yang kita pakai. Gambar 5 46. Gambar 5 44.

Lthat gambar 49 berikut: Gambar 5 48. Sebagai pandangan utamanya ialah pandangan depan. Perhatikan Gambar 5. dan pandangan atas. tergantung dan kompleks/rumit atau sederhananya bentuk benda. Dalam gambar kerja. dengan satu pandangan saja yang dilengkapi dengan simbol (lingkaran) sudah cukup untuk memberikan informasi yang jelas.b) Menentukan Pandangan Depan.50 di bawah ini: Teknik Pemesinan 113 . Penerapan Proyeksi Amerika c) Penetapan Jumlah Pandangan Jumlah pandangan dalam satu objek/gambar tidak semuanya harus digambar rnisa]nya untuk benda-benda bubutan sederhana. pandangan samping. Gambar satu pandangan d) Jenis-jenis Pandangan Utama Gambar kerja yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah gambar dalam bentuk pandangan-pandangan. Hal terpentirig. tidak selamanya ketiga pandangan harus ditampilkan. gambar pandangan-pandangan ini harus dapat memberikan informasi yang jelas. Atas dan Samping Kanan Menurut Pryeksi Di Kuadran III (Amerika) Gambar 5 47.

seharusnya kita pilih pandangan yang dapat mewakili bentuk benda (perhatikan Gambar 5. Gambar pandangan Kedua gambar di atas. walaupun hanya terdiri atas satu pandangan saja. Teknik Pemesinan 114 . yaitu dengan simbol/lambang O untuk bentuk lingkaran dan untuk bentuk bujur sangkar dan bentuk gambar piktorialnya adalah: Gambar 5 50.Gambar 5 49.52) di bawah ini. dapat membedakan bentuk bendanya. Pembedaan bentuk benda dengan satu pandangan e) Pemelihan Pandangan Utama Untuk memberikan informasi bentuk gambar.

Gambar 5. Gambar 5 53. Penentuan pandangan depan Teknik Pemesinan 115 . Pemilihan pandangan utama Pandangan/gambar di atas belum dapat memberikan informasi yang jelas.53) di atas. yang dapat memberikafi informasi bentuk secara tepat dalam hentuk gambar pandangan adalah pandangan depan dengan pandangan sarnpingnya (lihat Gambar 54). Pandangan utama Dari gambar piktorial (Gambar 5. Gambar 5 52.53). Oleh karena itu dalam memilih pandangan yang disajikan harus dapat mewakili bentuk benda (lihat Gambar 5.Gambar 5 51.52 di atas.53 adalah benda yang mempunyai pandangan atas dan pandangan depan yang sama seperti Gambar 5.

Penggunaan tiga pandangan Setelah dilengkapi dengan pandangan atasnya. Gambar 5 54. perlu satu pandangan lagi untuk kejelasan gambar tersehut: yaitu pandangan atas.Sebaliknya dua pandangan depan dan samping belum tentu dapat memberikan informasi yang maksimum (lihat Gambar 5. Gambar 5 56. OIeh karena itu.55 berikut). Bentuk benda dari hasil pandangan Teknik Pemesinan 116 . Gambar 5 55. barulah kita mendapatkan informasi bentuk yang lengkap dari Gambar 56. Penggunaan dua pandangan Dengan dua pandangan di atas. belum cukup memberikan informasi bentuk secara cepat dan tepat.

Kadang-kadang gambar tampak lebih rumit karen adanya garis-garis gambar yang tidak kelihatan. a) Fungsi Gambar Potongan/Irisan Gambar potongan atau irisan fungsinya untuk menjelaskan bagian-bagian gambar benda yang tidak kelihatan.Gambar Potongan Untuk memberikan inforamsi yang lengkap dan gambar yang berongga atau berlubang perlu menampilkan gambar dengan teknik menggambar yang tepat. yaitu dengan menunjukkan ambar potongan/ irisan. Oleh karena itu garis-garis gores yang akan menimbulkan salah pengertian (salah informasi) perlu dihindari. Gambar 5 57.58). dan rongga-rongga pada blok mesin. Bentuk rongga tersebut perlu dilengkapi dengan penjelasan gambar potongan agar dapat memberikan ukuran atau informasi yang jelas dan tegas. b) Bentuk Potongan/Irisan Gambar potongan atau irisan dapat dijelaskan dengan menggunakan pemisalan benda yang dipotong dengan gergaji (lihat Gambar 5. gambar 5. rnisalnya dari benda yang dibor (baik yang dibor tembus maupun dibor tidak tembus) lubanglubang pada flens atau pipa-pipa.58a Gambar 5 58. 9. Gambar 5.58b Teknik Pemesinan 117 . sehingga terhindar dan kesalah pahaman membaca gambar. rongga-rongga pada rumah katup.

sehingga bentuk rongga di dalamnya dapat terlihat dengan jelas dan tidak menimbulkan keraguan lagi dalam menentukan bentuk di bagian dalamnya. diperoleh ketegasan atau kejelasan tentang bentuk dan rongga sebelah dalam. Gambar 5. perlu adanya tanda pemotongan yang sudah ditetapkan sesuai dengan aturan-aturan menggambar teknik. Dengan adanya garis-garis tersebut gambar kelihatan agak rumit. yang menyebabkan informasi kurang jelas. Sehingga setiap orang akan menafsirkan bentuk lubang yang berbeda. Keterangan: Gambar 5. Dengan gambar potongan atau irisan. sehingga informasi yang diberikan oleh gambar dapat efisien. Dalam hal ini kita tidak bisa memastikan apakah lubang tersebut merupakan lubang tembus atau tidak tembus. Memperlihatkan gambar yang kurang jelas.Gambar 5 59. mempunyai lubang yang bertingkat atau rata.58c.58c. Gambar 5.58a. maka gambar dapat dijelaskan dengan menggunakan pemisalan bahwa benda tersehut dipotong--dengan gergaji. Gambar 5. Memperlihatkan gambar lengkap dengan garis gores sebagai batas-batas garis yang tidak kelihatan.58b. seperti pada gambar 58c di atas. Gambar potongan atau irisan harus diasir sesuai dengan batas garis pemotongannya. c) Tanda Pemotongan Untuk menjelaskan gambar yang dipotong.Tanda pemotongan ini terdiri atas: Teknik Pemesinan 118 . Oleh karena Gambar 58a dan Gambar 58c menimbulkan keraguan dalam pembacaannya.

apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) atau proyeksi di kuadran III (Amerika). Tanda pemotongan Gambar 5 61. kita perlu memperhatikan penempatan gambar potongan tersebut sesuai dengan proyeksi yang akan kita gunakan. Untuk lebih jelasnya.60). Teknik Pemesinan 119 . c. Tanda pemotongan dengan garis tipis berzigzag (lihat Gambar 5.60). Tanda pemotongan dengan garis sumbu dan kedua ujungnya di tebalkan (lihat Gambar 5. Tanda pemotongan dengan garis tipis bergelombang bebas (lihat Gambar 5.a.59).61. Gambar 5 60. Tanda pemotongan dengan gelombang dan zigzag d) Menempatkan Gambar Penampang/Potongan Untuk menempatkan gambar penampang atau gambar potongan. perhatikan Gambar 5. b.

Penempatan gambar potongan (1) Gambar 5 63.Gambar 5 62. Penempatan gambar potongan (2) Teknik Pemesinan 120 .

atau dengan dipotong dan diputar kemudian dipindahkan ketempat lain segaris dengan sumbunya seperti tampak pada Gambar 5. benda-benda tipis.Jika proyeksi yang digunakan adaiah proyeksi Arnerika. misal : poros pejal. maka gambar penampang potongannya diletakkan/berada di belakang arah anak panahnya. Selain ditempatkan sesuai dengan proyeksi yang digunakan.62a.63b).62b. Bagian-bagian yang tidak boleh dipotong tersebut yaitu bagian-bagian yang tidak diarsir. Penempatan potongan dengan diputar dan dipindah e) Benda-benda yang Tidak Boleh Dipotong Benda-benda yang tidak boleh dipotong yaitu benda-benda pejal. Penempatan potongan dengan diputar Gambar 5. Jika proyeksi yang digunakan proyeksi Eropa maka penempatan gambar potongnya berada di depan arah anak panahnya.62b. misal: pelat-pelat penguat pada dudukan poros dan pelat penguat pada flens (lihat Gambar 5. Teknik Pemesinan 121 . jari-jari pejal dan semacamnya (lihat Gambar 5.62a. penampang potong dapat juga diputar ditempat (penampang putar) seperti tampak pada Gambar 5. Gambar 5.63a).

63a.Gambar 5. Potongan jari-jari pejal Gambar 5. Gambar Potongan Penuh Perhatikan contoh gambar potongan penuh pada Gambar 5. Potongan dudukan poros f) Jenis-jenis Gambar Potongan Jenis-jenis gambar potongan/ irisan terdiri atas : • Gambar potongan penuh • Garnbar potongan separuh • Gambar potongan sebagian/setempat atau lokal • Gambar potongan putar • Gambar potongan bercabang atau meloncat 1.64 berikut : Teknik Pemesinan 122 .63b.

Gambar Potongan Sebagian Gambar potongan sebagian disebut juga potongan lokal atau potongan setempat (lihat contoh Gambar 5.Gambar 5.64. Gambar Potongan Separuh Perhatikan contoh gambar potongan pada Gambar 5.66). Potongan separuh 3.65 berikut : Gambar 5. Teknik Pemesinan 123 .65. Potongan penuh 2.

Potongan putar 5. Gambar 5. Potongan bercabang atau meloncat Teknik Pemesinan 124 .66.Gambar 5.62a atau dapat juga penempatan potongannya seperti pada Gambar 5.67. Gambar Potongan Putar Gambar potongan putar dapat diputar setempat seperti tampak pada Gambar 5.68. Gambar Potongan Bercabang atau Meloncat Perhatikan contoh Gambar 5.62b. Gambar 5. Potongan sebagian 4.68 berikut.

1.69 di bawah. pengarsiran bidang yang berdampingan 4. Gambar 5. macam-macam garis arsiran yang disesuaikan dengan bendanya. 10. Contoh penggunaan arsiran a) Macam-macam Arsiran Hal-hal yang perlu diperhatikan pada gambar yang diarsir antara lain: 1. Tabel 5.3. Macam-macam ketebalan garis Teknik Pemesinan 125 . atau 450 terhadap garis batas gambar. Lihat Gambar 5. sudut dan ketebalàn garis arsiran 2. Sudut dan Ketebalan Garis Arsiran Sudut arsiran yang dibuat adalah 450 terhadap garis sumbu utamanya.69. sedangkan ketebalan arsiran digunakan garis tipis dengan perbandingan ketebalan sebagai berikut (lihat tabel 5. peletakan angka ukuran pada gambar yang diarsir 6. maka gambar potongan/ irisan perlu diarsir.Garis Arsiran Untuk membedakan gambar proyeksi yang dipotong dengan gambar pandanagn. pengarsiran benda-benda tipis 5. bidang atau pengarsiran pada bidang yang luas 3.3). Arsir yaitu garis-garis miring tipis yang dibatasi oleh garis-garis batas pemotongan.

Sudut ketebalan garis arsiran b) Penggarisan Pada Bidang yang Luas dan Bidang Berdampingan Untuk potongan benda yang luas. Arsiran pada bidang luas dan bidang berdampingan c) Pengarsiran Benda-benda Tipis Teknik Pemesinan 126 .25 mm. Jika garis tepi/gambar mempunyai ketebalan 0. arsiran pada bidang potongnya dilaksanakan pada garis tepi garis-garis batasnya (lihat Gambar 5.71). Gambar 5.5 mm maka garis-garis arsirnya dibuat setebal 0. maka batas-batas bidang yang berdampingan tersebut harus dibatasi oleh garis gores bertitik (sumbu) dan pengarsirannya harus turun atau naik dan ujung arsiran yang lainnya (lihat Gambar 5. Sudut dan ketebalan garis arsiran dapat dilihat pada gambar berikut.Dari tabel di atas kita dapat menentukan ketebalan garis arsiran yang disesuaikan dengan garis gambarnya.71. Gambar 5. Untuk pemotongan meloncat atau pemotongan bercabang. ada bidang-bidang potong yang berdampingan.71).70.

maka angka ukurannya jangan diarsir (lihat Gambar 5.72.73.72). Gambar 5.Untuk gambar potongan benda-benda tipis atau profil-profil tipis maka pengarsirannya dibuat dengan cara dilabur (lihat Gambar 5. Arsiran benda tipis d) Angka Ukuran dan Arsiran Jika angka ukuran terletak pada arsiran (karena tidak dapat dihindari).73). a b c d Teknik Pemesinan 127 . Angka ukuran dan arsiran e) Macam-macam Arsiran f) Perhatikan Gambar 5. Gambar 5.74 berikut ini.

a) Ketentuan-ketentuan Dasar Pencatuman Ukuran Agar tidak menimbulkan keraguan di dalam membaca gambar. baik proyeksi di kuadran I (Eropa) maupun proyeksi di kuadran III (Amerika). OIeh karena itu. ukuran pada gambar kerja harus dicantumkan secara Iengkap. Gambar kerja adalah gambar pandangan-pandangan.e f g h Gambar 5. Gambar kerja harus memberikan informasi bentuk benda secara lengkap. telah ditetapkan bahwa gambar proyeksi di Kuadran I dan gambar proyeksi di Kuadran III dapat digunakan sebagai gambar kerja. air raksa Ukuran Pada Gambar Kerja Sesuai dengan standar ISO (ISO/DIS) 128. dengan ketentuan kedua macam proyeksi tersebut tidak boleh dilakukan/dipakai secara bersama-sarna dalam satu gambar kerja. Macam-macam arsiran Keterangan: a = Besi tuang b = Aluminium dan panduannya c = Baja dan baja istimewa d = Besi tuang yang dapat ditempa e = Baja cair f = Logam putih g = Paduan tembaga tuang h = Seng.74. Teknik Pemesinan 128 . maka pada gambar kerja harus dicantumkan ukuran dengan aturanaturan menggambar yang telah ditetapkan. ketentuan-ketentuan tersebut meliputi ketentuan: • Menarik garis ukur dan garis bantu • Menggambar anak panah • Menetapkan jarak antara garis ukur • Menetapkan angka ukuran 11. potongan/irisan dengan memperhatikan kaidah-kaidah proyeksi.

kecuali terpaksa.75 berikut. Garis sumbu boleh digunakan sebagai garis bantu. Menetapkan Jarak antara Garis Ukur Jika garis ukur terdiri atas garis-garis ukur yang sejajar. Menarik Garis ukur dan Garis Bantu Garis ukur dan garis bantu dibuat dengan garis tipis perbandingan ketebalan antara garis gambar dan garis ukur/bantu lihat Tabel 4. Jika terdapat perpotongan garis bantu dengan garis ukur. Tabel 5. tetapi tidak boleh digunakan langsung sebagai garis ukur. Perbandingan ketebalan garis bantu dengan garis gambar Contoh: Perhatikan Gambar 5. Untuk menempatkan garis ukur yang sejajar. Selain itu perlu diperhatikan pula ganis ukur jangan sampai berpotongan dengan ganis bantu. Garis gambar tidak boleh digunakan sebagai garis ukur.1. Hal mi untuk rnenghindari perpotongan antara garis ukur dan garis bantu. Gambar 5. Cara penarikan garis dan ketebalanya 2. maka jarak antara garis ukur yang satu dengan garis ukur Iainnya harus sarna. ukuran terkecil ditempatkan pada bagian dalam dan ukuran besar ditempatkan di bagian luar.4.75. Teknik Pemesinan 129 . garis bantunya diperpanjang 1 mm dan ujung anak panahnya.

Gambar 5. (lihat Gambar 5. Garis ukur yang terkecil (ditempatkan di dalam) 5.Garis ukur pada umurnnya tegak lurus terhadap garis bantunya. kertas gambarnya dapat diputar ke kanan.76. Garis bantu yang berpotongan (tidak dapat dihindarkan) 3. Untuk kertas gambar berukuran kecil maka penulisan angka ukuran pada garis ukur harus tegak. sehingga penulisan dan pernbacaannya tidak terhalik. atau di tengah-tengah sebelah kiri ganis ukurnya. 12. tetapi pada keadaan tertentu garis bantu boleh dibuat miring sejajar/paralel. Perpanjangan garis bantu dilebihkan ± 1 mm dan garis ukurnya/ujung anak panahnya 7. Garis sumbu yang digunakan secara tidak langsung sebagai garis bantu 4.77). Garis ukur tambahan (pelengkap) 6. dapat dilihat pada gambar berikut. Garis bantu yang paralel (jika diperlukan) Penulisan Angka Ukuran Penulisan angka ukuran ditempatkan di tengah-tengah bagiar atas garis ukurnya. Penempatan ganis ukur yang sempit 8. Angka ukuran harus dapat dibaca dari bawah atau dari sisi kanan ganis ukurnya. Sebagai contoh. Jarak antara garis ukur Keterangan: 1. Teknik Pemesinan 130 . Garis ukur yang sejajar 2.

Jika benda kerja yang di gambar berdiri sendiri.77. nonfungsional dan ukuran tambahan Jika suatu benda terdiri atas bagian-bagian (bagian yang dirakit). akan menghasilkan angka ukuran yang terbalik. atau pengerjaan yang khusus.mempunyai fungsi yang sama. Ukuran (c) pada gambar di atas adalah penulisan angka ukuran yang terbalik. Penulisan angka ukuran Jika kertas gambar diputar ke kiri. tetapi dalam sistem pengeijaannya terhadap.Gambar 5. fungsi. maka digambar sesuai dengan ukurannya dan pencaturnan ukurannya sebagai fungsi pengerjaan. Pengukuran dengan dimensi fungsional. maka ukuran bagian yang satu dengan Iainnya. a) Klasifikasi Pencatuman Ukuran Benda-benda yang diukur mempunyai bentuk yang bermacammacam. sehingga satu sama lain mempunyai ukuran yang berpasangan dan pencatuman ukurannya sebagai fungsi yang berpasangan. Teknik Pemesinan 131 . Oleh karena itu pencatuman ukuran diklasifikasikan menjadi: • Pengukuran dengan dimensi fungsional • Pengukuran dengan dirnensi nonfungsional • Pengukuran dengan dimensi tambahan • Pengukuran dengan kemiringan atau ketirusan • Pengukuran dengan bagian yang dikerjakan khusus • Pengukuran dengan kesimetrian 1. kualitas.

79. Ukuran tambahan Keterangan: F = dimensi fungsional NJF = dirnensi nonfungsional H = dimensi tambahan 2. Ukuran tambahan ini harus ditempatkan di antara dua kurung atau di dalam kurung (lihat Gambar 5. maka ukuran pada gambar dilengkapi dengan ukuran tambahan. Untuk melengkapi ukuran. Gambar 5.78 berikut).78. ukuran kemiringannya dicantumkan dengan harga tangen sudutnya. Gambar 5. dalam hal ini supaya tidak menimbulkan kekacauan dalam membaca gambar terutama dalarn jurnlah ukuran total.Ukuran-ukuran yang tidak berfungsi disebut ukuran nonfungsional. Pengukuran ketirusan Teknik Pemesinan 132 . Pengukuran Ketirusan Untuk mencatumkan ukuran benda yang mempunyai bentuk miring.

3. Penunjukan Ukuran pada bagian yang dikerjakan khusus Untuk memberikan keterangan gambar pada benda-benda yang dikerjakan khusus, misalnya dikartel pada bagian tertentu atau dihaluskan dengan ampelas halus, maka pada bagian yang dikerjakan khusus tadi gambar luarnya diberi garis tebal bertitik (lihat Gambar 5.80).

Gambar 5.80. Penunjukan ukuran pengerjaan khusus 4. Pemberian ukuran pada bagian-bagian yang simetris. Untuk memberikan ukuran-ukuran pada gambar-gambar simetris, jarak antara tepi dan sumbu simetrisnya tidak dicanturnkan (lihat Gambar 5.81).

Gambar 5.81. Penunjukan ukuran pada bagian yang simetris

Teknik Pemesinan

133

b) Pencatuman Simbol-simbol Ukuran Untuk benda-benda dengan bentuk tertentu, ukurannya dicantumkan disertai simbol bentuknya: misal benda-benda yang berbentuk silinder, bujur sangkar, bola dan pingulan (Chamfer). Lihat Gambar 5.82 berIkut.

Gambar 5.82. Pencantuman simbol-simbol ukuran Keterangan: 50 = Diameter bola dengan ukuran 32 mm SR 16 = Jari-jari bola dengan ukuran 16 mm C3 = Chamfer atau pinggulan dengan ukuran 3 x 45 023 = Simbol ukuran silinder, dengan ukuran 23 mm 34 = Simbol ukuran bujur sangkar, dengan ukuran sisinya 34 mm 120 = Simbol ukuran tidak menurut skala yang sehenarnya M12 = Simbol ukuran ulir dengan jenis ulir metris dan diameter luarnya 12 mm 2 = (Silang/cros clengan garis tipis) ; simbol bidang rata I = (Strip titik tebal) ; simbol bagian yang dikerjakan khusus

Teknik Pemesinan

134

a. Penunjukan ukuran jari-jari Untuk rnenunjukkan ukuran jari-jari, dapat digambarkan dengan garis ukur dimulai dan titik pusat sampai busur Iingkararmya. Sebagai simbol dari jari-jari tersebut, diberi tanda huruf “R” (lihat Gambar 5.83 berikut).

Gambar 5.83. Pengukuran jari-jari

Gambar 5.84. Penempatan anak panah dan ukuran di dalam lingkaran

Gambar 5.85. Penempatan anak panah dan ukuran di luar lingkaran

Teknik Pemesinan

135

Pengukuran Ketebalan Pengukuran benda-benda tipis, seperti pengukuran pada pelat ukuran tebalnya dapat dilengkapi dengan simbol “t” sebagai singkatan dan “thicknees” yang secara kebetulan artinya tebal (juga berhuruf awal “t”). Penunjukan ukurannya lihat Gambar 5.86 berikut :

13.

Gambar 5.86. Penunjukan ukuran a) Jenis-jenis Penulisan Ukuran Penulisan ukuran pada gambar kerja, menurut jenisnya terdiri atas; • Ukuran berantai • Ukuran paralel (sejajar) • Ukuran kombinasi • Ukuran berimpit • Ukuran koordinat • Ukuran yang berjarak sama • Ukuran terhadap bidang referensi 1. Ukuran berantai Percantuman ukuran secara berantai ini ada kelebihan dari kekurangannya. Kelebihannya adalah mempercepat pembuatan gambar kerja, sedangkan kekurangannya adalah dapat mengumpulkan toleransi yang semakin besar, sehingga pekerjaan tidak teliti. Oleh karena itu pencantuman ukuran secara berantai ini pada umumnya dilakukan pada pekerjaan-pckerjaan yang tidak mernerlukan ketelitian yang tinggi. Lihat Gambar 5.87.

Gambar 5.87. Ukuran berantai Teknik Pemesinan 136

2. Ukuran paralel (sejajar)

Gambar 5.88. Ukuran sejajar 3. Ukuran kombinasi

Gambar 5.89. Ukuran kombinasi 4. Ukuran berimpit Ukuran berimpit yaitu pengukuran dengan garis-garis ukur yang ditumpangkan (berimpit) satu sama lain. Ukuran berimpit ini dapat dibuat jika tidak menimbulkan kesalah pahaman dalam membaca gambarnya (lihat Gambar 5.90).

Gambar 5.90. Ukuran berimpit Teknik Pemesinan 137

Perigukuran koordinat Jika pengukuran berimpit dilakukan dengan dua arah. Gambar 5. 5.91). Pengukuran berimpit 6. yaitu penunjukan ukuran ke arah sumbu x dan penunjukan ukurah ke arah Teknik Pemesinan 138 .91.Pada pengukuran berimpit ini. titik pangkal sebagai batas ukuran/patokan ukuran (bidang referensi)nya harus dibuat lingkaran. Pengukuran terhadap bidang ‘referensi Bidang referensi adalah bidang batas ukuran yang digunakan sebagai jatokan pengukur Contoh : pengukuran benda kerja bubutan terhadap bidang datar/rata (lihat Gambar 5. dan angka ukurannya harus diletakkan dekat anak panah sesuai dengan penunjukan ukurannya.

dapat dituliskan dalah satu ukurannya (lihat Gambar 5.93).92.sumbu y dengan bidang referensinya di 0. Pengukuran koordinat 7.93.94). maka akan didapat pengukuran “koordinat” (lihat Gambar 5. Gambar 5. Gambar 5.92). Teknik Pemesinan 139 . penunjukan ukurannya dapat dilaksanakan sebagai berikut (lihat Gambar 5. Pengukuran yang berjarak sama Untuk memberikan ukuran pada bagian yang berjarak sama. Pengukuran berjarak sama Untuk rnenghindarkan kesalahan/keraguan didalam membaca gambarnya.

Pengukuran alur pasak Jika kita memberikan ukuran diameter pada penampang/potongan yang beralur pasak. misalnya pada kopling.94. Gambar 5. Pengukuran pada lubang Untuk memberikan ukuran pada lubang yang berjarak sama.96 berikut. Pengukuran berjarak sama 8.96.95. dapat dilakukan seperti tampak pada Gambar 5.Gambar 5. Gambar 5. Pengukuran alur pasak 9. Pengukuran pada lubang Teknik Pemesinan 140 . roda gigi. atau alur pasak pada puli.95. maka penunjukan ukuran diameternya seperti tampak pada Gambar 5.

Pembuatan gambar mur Gambar 5.10.97 berikut. Pengukuran profil Untuk memberikan ukuran pada profil-profil yang telah distandar. Gambar 5. serta pengukurannya. Cara membuat gambar mur dan baut. dapat dilakukan seperti tampak pada Gambar 5.97.98. Gambar 5.99. Pengukuran profil 11. Pengukuran mur Teknik Pemesinan 141 .

101.Gambar 5. Pembuatan gambar baut Gambar 5. Pembuatan gambar mur dan baut Teknik Pemesinan 142 .100.

BAB 6 MENGENAL PROSES BUBUT (TURNING) Teknik Pemesinan 143 .

Proses bubut tirus (taper turning. dilakukan dengan cara memvariasi kedalaman potong. (1) Proses bubut rata.2. tetapi arah gerakan pemakanan tegak lurus terhadap sumbu benda kerja. tetapi proses bubut bermata potong jamak tetap termasuk proses bubut juga. karena pada dasarnya setiap pahat bekerja sendiri-sendiri. hanya jalannya pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. Demikian juga proses bubut kontur. 3) sebenarnya identik dengan proses bubut rata di atas.P roses bubut adalah proses pemesinan untuk menghasilkan bagianbagian mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan Mesin Bubut. Gambar 6. Gambar 6. (2) bubut permukaan.1 no. Prinsip dasarnya dapat didefinisikan sebagai proses pemesinan permukaan luar benda silindris atau bubut rata : Dengan benda kerja yang berputar Dengan satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool) Dengan gerakan pahat sejajar terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu sehingga akan membuang permukaan luar benda kerja (lihat Gambar 6. Gambar skematis Mesin Bubut dan bagianbagiannya dijelaskan pada Gambar 6. Teknik Pemesinan 144 . dan (3) bubut tirus. 2) adalah proses bubut yang identik dengan proses bubut rata. Walaupun proses bubut secara khusus menggunakan pahat bermata potong tunggal. Gambar 6 1. Proses bubut permukaan (surface turning. Selain itu proses pengaturan (setting) pahatnya tetap dilakukan satu persatu.1 no. 1).1 no. sehingga mengha-silkan bentuk yang diinginkan.

....... Kecepatan putar..Gambar 6 2.. rpm).1) 1000 v = kecepatan potong (m/menit) d = diameter benda kerja (mm) n = putaran benda kerja (putaran/menit) Teknik Pemesinan 145 . tetapi tiga parameter di atas adalah bagian yang bisa diatur oleh operator langsung pada Mesin Bubut.. Secara sederhana kecepatan potong dapat digambarkan sebagai keliling benda kerja dikalikan dengan kecepatan putar atau : v Di mana : dn .. gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut).... Akan tetapi yang diutamakan dalam proses bubut adalah kecepatan potong (cutting speed atau v) atau kecepatan benda kerja dilalui oleh pahat/keliling benda kerja (lihat Gambar 6... Gambar skematis Mesin Bubut dan nama bagian- bagiannya. selalu dihubungkan dengan sumbu utama (spindel) dan benda kerja. n (speed). A.(6. Kecepatan putar dinotasikan sebagai putaran per menit (rotations per minute.. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Bubut Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed).3).... Faktor yang lain seperti bahan benda kerja dan jenis pahat sebenarnya juga memiliki pengaruh yang cukup besar.....

adalah jarak yang ditempuh oleh pahat setiap benda kerja berputar satu kali (Gambar 6. misalnya untuk benda kerja Mild Steel dengan pahat dari HSS.4. bentuk pahat. Dengan demikian kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja. material pahat. Pada dasarnya pada waktu proses bubut kecepatan potong ditentukan berdasarkan bahan benda kerja dan pahat. atau jarak antara permukaan yang dipotong terhadap permukaan yang belum terpotong (lihat Gambar 6. Gerak makan (f) dan kedalaman potong (a). Selain kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja faktor bahan benda kerja dan bahan pahat sangat menentukan harga kecepatan potong. Gerak makan biasanya ditentukan dalam hubungannya dengan kedalaman potong a. Kedalaman potong a (depth of cut). dan terutama kehalusan permukaan yang diinginkan. Panjang permukaan benda kerja yang dilalui pahat setiap putaran. Harga kecepatan potong sudah tertentu. Ketika pahat memotong sedalam a.4. Gerak makan tersebut berharga sekitar 1/3 sampai 1/20 a. sehingga satuan f adalah mm/putaran. Gerak makan ditentukan berdasarkan kekuatan mesin. f (feed). material benda kerja.). Gambar 6 4. kecepatan potongnya antara 20 sampai 30 m/menit. adalah tebal bagian benda kerja yang dibuang dari benda kerja. Gerak makan.Gambar 6 3.). atau sesuai dengan kehalusan permukaan yang dikehendaki. maka diameter benda kerja akan Teknik Pemesinan 146 .

Beberapa proses pemesinan selain proses bubut pada Gambar 6. dan pembuatan alur (grooving/parting-off). (d) pembubutan lubang (boring). karena bagian permukaan benda kerja yang dipotong ada di dua sisi. Proses pemesinan yang dapat dilakukan pada Mesin Bubut : (a) pembubutan pinggul (chamfering). Geometri Pahat Bubut Geometri/bentuk pahat bubut terutama tergantung pada material benda kerja dan material pahat. Proses tersebut dilakukan di Mesin Bubut dengan bantuan/tambahan peralatan lain agar proses pemesinan bisa dilakukan (lihat Gambar 6.. sudut pahat yang paling pokok adalah sudut beram (rake angle).berkurang 2a. Untuk pahat bubut bermata potong tunggal.). akibat dari benda kerja yang berputar. Gambar 6 5. B. dan sudut sisi potong (cutting edge angle).1. pembuatan ulir (thread cutting). Sedangkan bila pahat tersebut adalah pahat sisipan (insert) yang dipasang pada tempat pahatnya. proses memperbesar lubang (boring). Selain geometri pahat tersebut pahat bubut bisa juga diidentifikasikan berdasarkan letak sisi Teknik Pemesinan 147 . proses pembuatan lubang dengan mata bor (drilling). (c) pembubutan ulir (threading). sudut bebas (clearance angle). dan (f) pembuatan kartel (knurling). yaitu bubut dalam (internal turning). (e) pembuatan lubang (drilling).6. Sudutsudut pahat HSS dibentuk dengan cara diasah menggunakan mesin gerinda pahat (Tool Grinder Machine).7. pada Mesin Bubut dapat juga dilakukan proses pemesinan yang lain. (b) pembubutan alur (parting-off). Terminologi standar ditunjukkan pada Gambar 6. geometri pahat dapat dilihat pada Gambar 6.5.

Gambar 6 7. Teknik Pemesinan 148 .potong (cutting edge) yaitu pahat tangan kanan (Right-hand tools) dan pahat tangan kiri (Left-hand tools).8. Geometri pahat bubut HSS (Pahat diasah dengan mesin gerinda pahat). Gambar 6 6. Geometri pahat bubut sisipan (insert). lihat Gambar 6.

Gambar 6 9. Pemegang pahat HSS : (a) pahat alur. Pahat bubut di atas apabila digunakan untuk proses membubut biasanya dipasang pada pemegang pahat (tool holder). Pahat tangan kanan dan pahat tangan kiri. Teknik Pemesinan 149 . Pemegang pahat tersebut digunakan untuk memegang pahat dari HSS dengan ujung pahat diusahakan sependek mungkin agar tidak terjadi getaran pada waktu digunakan untuk membubut (lihat Gambar 6. (lihat Gambar 6.9).Gambar 6 8. (c) pahat rata kanan. dan (e) pahat ulir. pahat tersebut dipasang pada tempat pahat yang sesuai. (b) pahat dalam.10). Untuk pahat yang berbentuk sisipan (inserts). (d) pahat rata kiri.

Bentuk dan pengkodean pahat sisipan serta pemegang pahatnya sudah distandarkan oleh ISO. Gambar skematis proses bubut. dan pengkodean pemegang pahat dapat dilihat juga pada Lampiran. Pahat bubut sisipan (inserts). Perencanaan dan Perhitungan Proses Bubut Elemen dasar proses bubut dapat dihitung/dianalisa dengan menggunakan rumus-rumus dan Gambar 6. put/men r dm a Gambar 6 11. C.Gambar 6 10. berikut : lt do f. Keterangan : Benda Kerja do dm lt Pahat : : = diameter mula (mm) = diameter akhir (mm) = panjang pemotongan (mm) Teknik Pemesinan 150 . dan pahat sisipan yang dipasang pada pemegang pahat (tool holders). Standar ISO untuk pahat sisipan dapat dilihat pada Lampiran.11.

.................. penentuan cara pengukuran dan alat ukur yang digunakan.............n.......................14 2) Kecepatan makan vf f .. ..4) vf 4) Kecepatan penghasilan beram Z A.... penentuan langkah kerja/langkah penyayatan dari awal benda kerja sampai terbentuk benda kerja jadi..... Material Pahat Pahat yang baik harus memiliki sifat-sifat tertentu..... Ketangguhan (toughness) dari pahat diperlukan. m/ menit ...(6.......... cm 3 / menit..................v..2) ........... pemilihan mesin.....(6.........( 1000 d = diameter rata-rata benda kerja ( (do+dm)/2 ) (mm) n = putaran poros utama (put/menit) = 3....= sudut potong utama/sudut masuk r Mesin Bubut : a = kedalaman potong (mm) f = gerak makan (mm/putaran) n = putaran poros utama (putaran/menit) 1) Kecepatan potong : v dn ............. tetapi juga meliputi penentuan/pemilihan material pahat berdasarkan material benda kerja... sehingga nantinya dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik (ukuran tepat) dan ekonomis (waktu yang diperlukan pendek)...........(6........... sifat ini dinamakan Hot Hardness..... sehingga pahat tidak akan pecah atau retak terutama pada saat melakukan pemotongan dengan beban kejut. Ketahanan aus sangat dibutuhkan yaitu ketahanan pahat melakukan pemotongan tanpa terjadi keausan yang cepat........ Kekerasan dan kekuatan pahat harus tetap bertahan meskipun pada temperatur tinggi. mm / menit. penentuan cara pencekaman....................3) 3) Waktu pemotongan tc lt ............ Teknik Pemesinan 151 .. 1.. menit..........f mm2 Perencanaan proses bubut tidak hanya menghitung elemen dasar proses bubut.5) di mana : A = a. 6.

Teknik Pemesinan 152 . dan jenis T berarti pahat HSS yang mengandung unsur Tungsten. adanya beban kejut. penghalusan). (b) jangkauan sifat material pahat. Material pahat dari baja karbon (baja dengan kandungan karbon 1.12.1.Penentuan material pahat didasarkan pada jenis material benda kerja dan kondisi pemotongan (pengasaran. (a) Kekerasan dari beberapa macam material pahat sebagai fungsi dari temperatur. karena bahan ini tidak tahan panas (melunak pada suhu 300-500o F). Jenis M berarti pahat HSS yang mengandung unsur Molibdenum.05%) pada saat ini sudah jarang digunakan untuk proses pemesinan. Material pahat dari HSS (High Speed Steel) dapat dipilih jenis M atau T. bilah gergaji. Baja karbon ini sekarang hanya digunakan untuk kikir. dan pahat tangan. Material pahat yang ada ialah baja karbon sampai dengan keramik dan intan. Gambar 6 12. Sifat hot hardness dari beberapa material pahat ditunjukkan pada Gambar 6. Beberapa jenis HSS dapat dilihat pada Tabel 6.

M2. M42. T5. T4. M4.2. Pahat dari karbida dibagi dalam dua kelompok tergantung penggunaannya. M43. Pahat karbida ini digunakan untuk menyayat berbagai jenis baja. T6 M3-1. besi tuang dan non ferro yang mempunyai sifat mampu mesin yang baik. M7.Jenis HSS HSS Konvensional Molibdenum HSS Tungsten HSS HSS Spesial Cobald added HSS High Vanadium HSS High Hardness Co HSS Cast HSS Powdered HSS Coated HSS Standart AISI M1. Pahat jenis ini diberi kode huruf K (atau C1 sampai C4) dan kode warna merah. Jenis pahat HSS Pahat dari HSS biasanya dipilih jika pada proses pemesinan sering terjadi beban kejut. Teknik Pemesinan 153 . M3-2. M46 Tabel 6 1. T15 M41. atau proses pemesinan yang sering dilakukan interupsi (terputus-putus). Apabila digunakan untuk menyayat baja yang liat dinamakan steel cutting grade. T2 M33. membubut bahan benda kerja hasil proses penuangan. M10 T1. M44. M36. Pahat jenis ini diberi kode huruf P (atau C5 sampai C8) dan kode warna biru. Selain kedua jenis tersebut ada pahat karbida yang diberi kode huruf M. M45. membubut eksentris (proses pengasarannya). Contoh pahat karbida untuk menyayat berbagai bahan dapat dilihat pada Tabel 6. Hal tersebut misalnya membubut benda segi empat menjadi silinder. dan kode warna kuning. Bila digunakan untuk benda kerja besi tuang yang tidak liat dinamakan cast iron cutting grade .

Tabel 6 2. Contoh penggolongan pahat jenis karbida dan penggunaannya. Teknik Pemesinan 154 .

).13. Dengan pertimbangan awal diameter maksimal benda kerja yang bisa dikerjakan oleh mesin yang ada. Panjang meja Mesin Bubut diukur jarak dari headstock sampai ujung meja. (lihat Gambar 6. Cara yang pertama adalah benda kerja tidak dicekam. Gambar 6 13. Ketika memilih mesin perlu dipertimbangkan kapasitas kerja mesin yang meliputi diameter maksimal benda kerja yang bisa dikerjakan oleh mesin. dipilih juga alat dan cara pencekaman/pemasangan benda kerja. benda kerja harus ada lubang senternya di kedua sisi benda kerja. Pencekaman Benda Kerja Setelah langkah pemilihan mesin tersebut di atas. dan panjang benda kerja yang bisa dikerjakan.2. Dalam hal ini. Sedangkan panjang maksimal benda kerja adalah panjang meja dikurangi jarak yang digunakan kepala tetap dan kepala lepas. 3. Ukuran Mesin Bubut diketahui dari diameter benda kerja maksimal yang bisa dikerjakan (swing over the bed). Pencekaman/ pemegangan benda kerja pada Mesin Bubut bisa digunakan beberapa cara. Teknik Pemesinan 155 . Beberapa jenis Mesin Bubut manual dengan satu pahat sampai dengan Mesin Bubut CNC dapat dipilih untuk proses pemesinan (Lihat Lampiran 1). Pemilihan Mesin Pertimbangan pemilihan mesin pada proses bubut adalah berdasarkan dimensi benda kerja yang yang akan dikerjakan. Pemilihan Mesin Bubut yang digunakan untuk proses pemesinan bisa juga dilakukan dengan cara memilih mesin yang ada di bengkel (workshop). Benda kerja dipasang di antara dua senter. tetapi menggunakan dua senter dan pembawa. dan panjang meja Mesin Bubut (length of the bed).

c. Teknik Pemesinan 156 . Collet. apabila memilih cekam rahang tiga untuk mencekam benda kerja silindris yang relatif panjang. Alat pencekam ini tiga buah rahangnya bergerak bersama-sama menuju sumbu cekam apabila salah satu rahangnya digerakkan. d. digunakan untuk menjepit benda kerja pada suatu permukaan plat dengan baut pengikat yang dipasang pada alur T. sehingga benda kerja tergelincir atau selip. Misalnya bubut. agar benda kerja tidak tertekan. Alat pencekam/ dengan kualitas geometris yang pemegang benda kerja proses dituntut oleh gambar kerja. Pemilihan alat pencekam yang tepat akan menghasilkan produk yang sesuai Gambar 6 14.Cara kedua yaitu dengan menggunakan alat pencekam (Gambar 6. Hal tersebut terjadi misalnya pada waktu proses bubut dengan kedalaman potong yang besar.15). Pemilihan cara pencekaman tersebut di atas. hendaknya digunakan juga senter jalan yang dipasang pada kepala lepas.14. Pencekaman dengan cara ini tidak akan meninggalkan bekas pada permukaan benda kerja. karena gaya pencekaman tidak mampu menahan beban yang tinggi. b. sangat menentukan hasil proses bubut. Alat pencekam yang bisa digunakan adalah : a. Cekam rahang tiga (untuk benda silindris). (lihat Gambar 6. sehingga mudah dalam mencekam benda kerja yang tidak silindris. Alat pencekam ini masing-masing rahangnya bisa diatur sendirisendiri.). Face plate. apabila kurang hati-hati akan menyebabkan permukaan benda kerja terluka. digunakan untuk mencekam benda kerja berbentuk silindris dengan ukuran sesuai diameter collet. Cekam rahang empat (untuk benda kerja tidak silindris) . Penggunaan cekam rahang tiga atau cekam rahang empat.

dan proses pembuatan alur. Benda kerja yang relatif panjang dipegang oleh cekam rahang tiga dan didukung oleh senter putar Beberapa contoh proses bubut. pemasangan pahat. Teknik Pemesinan 157 . Hal tersebut dikerjakan untuk setiap tahap (jenis pahat tertentu). dengan cara pencekaman yang berbeda-beda dapat dilihat pada Gambar 6. penentuan kondisi pemotongan. alur. setting mesin.16. penentuan jenis pemotongan (bubut lurus. ulir). dan pemeriksaan hasil berdasarkan gambar kerja. Beberapa contoh proses bubut dengan cara pencekaman/pemegangan benda kerja yang berbeda-beda. Gambar 6 15. perhitungan waktu pemotongan. profil.Hal ini perlu diperhatikan terutama pada proses finishing. Gambar 6 16. permukaan. Penentuan Langkah Kerja Langkah kerja dalam proses bubut meliputi persiapan bahan benda kerja. 4. proses pemotongan ulir.

dan proses pemotongan tidak efektif. Pengaturannya sekaligus sebelum proses pembubutan. atau pada tempat pahat yang berisi empat buah pahat (quick change indexing square turret). misalnya pahat rata. alat pencekam benda kerja. dan posisi kepala lepas. pahat alur. pahat ulir. (lihat Gambar 6. Pemasangan pahat. Pemasangan pahat dilakukan dengan cara menjepit pahat pada rumah pahat (tool post). Apabila pengerjaan pembubutan hanya memerlukan satu macam pahat lebih baik digunakan tempat pahat tunggal. Posisi ujung pahat harus pada sumbu kerja Mesin Bubut. Teknik Pemesinan 158 . putaran spindel. posisi kepala lepas. pemegangan pahat. atau pada sumbu benda kerja yang dikerjakan. supaya tidak terjadi getaran pada pahat ketika proses pemotongan dilakukan. Pahat bubut bisa dipasang pada tempat pahat tunggal. Gambar 6 17. Apabila pahat yang digunakan dalam proses pemesinan lebih dari satu. Posisi ujung pahat yang terlalu rendah tidak direkomendasi. karena menyebabkan benda kerja terangkat. sehingga hasil pembubutan tidak tirus. Usahakan posisi sumbu kerja kepala tetap (spindel) dengan kepala lepas pada satu garis untuk pembubutan lurus.17).Bahan benda kerja yang dipilih biasanya sudah ditentukan pada gambar kerja baik material maupun dimensi awal benda kerja. Usahakan bagian pahat yang menonjol tidak terlalu panjang. maka sebaiknya digunakan tempat pahat yang bisa dipasang sampai empat pahat. Penyiapan (setting) mesin dilakukan dengan cara memeriksa semua eretan mesin. sehingga proses penggantian pahat bisa dilakukan dengan cepat (quick change).

2. 26 35 75 Gambar 6 19. Contoh : Akan dibuat benda kerja dari bahan Mild Steel (ST. Perencanaan Proses Membubut Lurus Proses membubut lurus adalah menyayat benda kerja dengan gerak pahat sejajar dengan sumbu benda kerja. kemudian menghitung elemen dasar proses bubut sesuai dengan rumus 6.19 berikut.Gambar 6 18. 37) seperti Gambar 6. Gambar benda kerja yang akan dibuat. Perencanaan proses penyayatan benda kerja dilakukan dengan cara menentukan arah gerakan pahat . 5. sampai dengan rumus 6. Teknik Pemesinan 159 30 34 . Tempat pahat (tool post) : (a) untuk pahat tunggal. (b) untuk empat pahat.5.

37). kemudian dibalik untuk mengerjakan Bagian II (Gambar 6. geometri pahat.Perencanaan proses bubut : a. Penentuan jenis pahat. 160 Teknik Pemesinan . Pemasangan pahat : Menggunakan tempat pahat tunggal (tool post) yang tersedia di mesin. dan f (EMCO). v = 170 m/menit (Pahat karbida sisipan) c.3. Mesin yang digunakan : Mesin Bubut dengan kapasitas diameter lebih dari 1 inchi. sudut masuk r = 93o. e. Dengan geometri pahat dan kondisi pemotongan dipilih dari Tabel 6. Pencekam benda kerja : Cekam rahang tiga. v = 34 m/menit (HSS) =5o. Material benda kerja : Mild Steel (ST. pahat kanan. d. 34 mm x 75 mm b. Tabel 6 3. (Tabel yang direkomendasikan oleh produsen Mesin Bubut) : =8o. dia. v. Material pahat : HSS atau Pahat Karbida jenis P10. panjang ujung pahat dari tool post sekitar 10 sampai dengan 15 mm. =0o. f. =14o. Benda kerja dikerjakan Bagian I terlebih dulu.20).

Gerakan pahat dijelaskan seperti Gambar 6. Gambar rencana pencekaman.. penyayatan.1 mm/put. Bahan benda kerja telah disiapkan (panjang bahan sudah sesuai dengan gambar).. sehingga bagian yang menonjol sekitar 50 mm. Keterangan : 1) Benda kerja dicekam pada Bagian II. f = 0.5 dan gambar rencana jalannya pahat adalah sebagai berikut (perhitungan dilakukan dengan software spreadshheet) : II I a1 a2 50 5 Gambar 6 20. Perhitungan elemen dasar berdasarkan rumus 2. kedua permukaan telah dihaluskan.2 – 2.g. dan lintasan pahat. a = 2 mm. i. h. 2) Penyayatan dilakukan 2 kali dengan kedalaman potong a1 = 2 mm dan a2 = 2 mm. a = 2 mm. Pemotongan pertama sebagai pemotongan pengasaran (roughing) dan pemotongan kedua sebagai pemotongan finishing. Data untuk elemen dasar : untuk pahat HSS : v = 34 m/menit. f = 0. 21 : Teknik Pemesinan 161 .1 mm/put. untuk pahat karbida : v = 170 m/menit. 3) Panjang pemotongan total adalah panjang benda kerja yang dipotong ditambah panjang awalan (sekitar 5 mm) dan panjang lintasan keluar pahat (sama dengan kedalaman potong) .

09 6.1 mm/putaran a= 4 mm 162 Teknik Pemesinan . Gambar 6 21. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida P10) v= 170 mm/menit f= 0.24 6..67 1.84 1.80 b.1 mm/putaran d) Gerakan pahat dari titik 3 ke titik 4 adalah gerakan cepat (dikerjakan dengan memutar eretan memanjang).38 33.80 Bubut rata a2 386.1 mm/putaran c) Gerakan pahat dari titik 2 ke titik 3 adalah gerakan penyayatan dengan f = 0. Setelah rencana jalannya pahat tersebut di atas kemudian dilakukan perhitungan elemen dasar pemesinannya. a.a) Gerakan pahat dari titik 4 ke titik 1 adalah gerak maju dengan cepat (rapid) b) Gerakan pahat dari titik 1 ke titik 2 adalah gerakan penyayatan dengan f = 0. mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= 26 mm 42 mm lt= Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 338. Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) v= 34 mm/menit f= 0.4. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 6.72 38.1 mm/putaran a= 4 mm a1= 2 mm a2= 2 mm a3= . Gambar rencana gerakan dan lintasan pahat.

58 193. mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= 26 mm 42 mm lt= Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 1691. dan lintasan pahat.88 169.25 34. Teknik Pemesinan 163 . I II a3 60 5 Gambar 6 22.22 34.a1= 2 mm a2= 2 mm a3= ..21. Lintasan pahat sama dengan lintasan pahat pada Gambar 6. hanya panjang penyayatannya berbeda. penyayatan. Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan Bagian I. yaitu (50+5+2) mm. Gambar rencana pencekaman.00 Bubut rata a2 1933.36 0. Bagian II : Benda kerja dibalik.22.19 0.00 Tabel 6 4. sehingga bagian I menjadi bagian yang dicekam seperti terlihat pada Gambar 6.

1 mm/putaran a= 2 mm a1= .. mm a3= 2 mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= .38 33. Catatan : 1) Pada prakteknya parameter pemotongan terutama putaran spindel (n) dipilih dari putaran spindel yang tersedia di Mesin Bubut tidak seperti hasil perhitungan dengan rumus di atas..5 berikut ini : Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) v= 34 mm/menit f= 0.68 6.00 Tabel 6 5.. mm a2= .34 34. Hasil perhitungan eleman dasar pemesinan Bagian II. mm a2= .. 3) Waktu yang diperlukan untuk membuat benda kerja jadi bukanlah jumlah waktu pemotongan (tc) keseluruhan dari tabel perhitungan di Teknik Pemesinan 164 . maka elemen dasar pemesinan yang lain berubah juga.Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan dapat dilihat pada Tabel 6. mm lt= 57 mm Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a3 1691.19 0..80 Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida) v= 170 mm/menit f= 0.1 mm/putaran a= 2 mm a1= ..88 169. mm a3= 2 mm do= 34 mm dm1= 30 mm dm2= . 2) Apabila parameter pemotongan n diubah. Kalau putaran spindel hasil perhitungan tidak ada yang sama (hampir sama) dengan tabel putaran spindel di mesin sebaiknya dipilih putaran spindel di bawah putaran spindel hasil perhitungan. mm lt= 57 mm Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a3 338.84 1.

b.13).23).4 dan Tabel 6. 7) Apabila diinginkan pencekaman hanya sekali tanpa membalik benda kerja. 6) Untuk proses bubut rata dalam. 9) Pahat karbida lebih produktif dari pada pahat HSS. Waktu pembuatan benda kerja harus ditambah waktu non produktif yaitu : a) waktu penyiapan mesin/pahat b) waktu penyiapan bahan benda kerja (dengan mesin gergaji. 5) Untuk benda kerja tunggal waktu penyelesaian benda kerja lebih lama dari pada pembuatan massal (waktu rata-rata per produk). 8) Apabila benda kerja dikerjakan dengan dua senter (setting seperti Gambar 6. dan Mesin Bubut yang disetel khusus untuk membuat bahan benda kerja) c) waktu pemasangan benda kerja d) waktu pengecekan ukuran benda kerja e) waktu yang diperlukan pahat untuk mundur (retract) f) waktu yang diperlukan untuk melepas benda kerja g) waktu yang diperlukan untuk mengantarkan benda kerja (dari bagian penyiapan benda kerja ke mesin). Dengan memiringkan eretan atas pada sudut tertentu (Gambar 6. Dengan demikian waktu ditambah dengan waktu pembuatan lubang senter. Waktu non produktif diperoleh dengan mencatat waktu yang diperlukan untuk masing-masing waktu non produktif tersebut. Cara membuat benda tirus ada beberapa macam : a. 6. karena gerakan pahat kembali relatif lama (ulir eretan atas kisarnya lebih kecil dari pada ulir transportir). maka benda kerja harus diberi lubang senter pada kedua ujungnya. perhitungan elemen dasar pada prinsipnya sama dengan bubut luar. Akan tetapi hal tersebut akan menyebabkan pemborosan bahan benda kerja jika membuat benda kerja dalam jumlah banyak.5). karena waktu penyiapan mesin tidak dilakukan untuk setiap benda kerja yang dikerjakan. Pengerjaan dengan cara ini memakan waktu cukup lama. tetapi pada bubut dalam diameter awal (do) lebih kecil dari pada diameter akhir (dm). gerakan pahat (pemakanan) dilakukan secara manual (memutar handle eretan atas). Perencanaan Proses Membubut Tirus Benda kerja berbentuk tirus (taper) dihasilkan pada proses bubut apabila gerakan pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. Teknik Pemesinan 165 . maka bahan benda kerja dibuat lebih panjang sekitar 30 mm. 4) Tidak ada rumus baku untuk menentukan waktu non produktif.atas (Tabel 6.

Pembuatan tirus lebih cepat karena gerakan pemakanan (feeding) bisa dilakukan otomatis (Gambar 6. Proses membubut tirus luar dengan bantuan alat bantu tirus (taper attachment). gerakan penyayatan ditunjukkan oleh anak panah. Gambar 6 24. Gambar 6 23. Proses membubut tirus luar dan tirus dalam dengan memiringkan eretan atas. pembuatan tirus dengan alat ini adalah untuk benda yang memiliki sudut tirus relatif kecil (sudut sampai dengan ±9o).24). Teknik Pemesinan 166 .c. Dengan alat bantu tirus (taper attachment).

karena apabila sudut tirus besar bisa merusak senter jalan yang dipasang pada kepala lepas. Pergeseran kepala lepas (x) pada Gambar 6. Benda kerja tirus terbentuk karena sumbu kepala lepas tidak sejajar dengan sumbu kepala tetap (Gambar 6. Bagian kepala lepas yang bisa digeser.26 di atas dapat dihitung dengan rumus : Teknik Pemesinan 167 . Gambar benda kerja tirus dan notasi yang digunakan. Untuk cara ini sebaiknya hanya untuk sudut tirus yang sangat kecil.d. Dengan menggeser kepala lepas (tail stock).25. dengan cara ini proses pembubutan tirus dilakukan sama dengan proses membubut lurus dengan bantuan dua senter. Gambar 6 26. Perhitungan pergeseran kepala lepas pada pembubutan tirus dijelaskan dengan gambar dan rumus berikut. Gambar 6 25. dan pembubutan tirus dengan kepala lepas yang digeser.).

. sedangkan ulir Whitwoth sudut Teknik Pemesinan 168 .. dan penentuan langkah kerja/jalannya pahat untuk pembuatan benda kerja tirus sama dengan perencanaan proses bubut lurus. Nama. Nama-nama bagian ulir.. Perencanaan Proses Membubut Ulir Proses pembuatan ulir bisa dilakukan pada Mesin Bubut.........(6.... Perbedaannya ada pada perhitungan waktu pemesinan untuk pembuatan tirus dengan cara menggeser sudut eretan atas.... Hal ini terjadi karena gerakan pahat dilakukan secara manual sehingga rumus waktu pemesinan (tc) tidak dapat digunakan..6) mana : D = diameter mayor (terbesar) (mm) d = diameter minor (terkecil) (mm) l = panjang bagian tirus (mm) L = panjang benda kerja seluruhnya (mm) Penentuan pahat. perhitungan elemen pemesinan.. Dengan Mesin Bubut yang dikendalikan CNC proses pembubutan ulir menjadi sangat efisien dan efektif.... Untuk ulir Metris sudut ulir adalah 60o...nama bagian ulir segi tiga dapat dilihat pada Gambar 6. Pada Mesin Bubut konvensional (manual) proses pembuatan ulir kurang efisien.27. Pahat yang digunakan untuk membuat ulir segi tiga ini adalah pahat ulir yang sudut ujung pahatnya sama dengan sudut ulir atau setengah sudut ulir.......... sehingga proses pembubutan lama dan hasilnya kurang presisi. Gambar 6 27.........L....... karena sangat memungkinkan membuat ulir dengan kisar (pitch) yang sangat bervariasi dalam waktu relatif cepat dan hasilnya presisi... karena pengulangan pemotongan harus dikendalikan secara manual. Ulir segi tiga tersebut bisa berupa ulir tunggal atau ulir ganda....Di x D 2l d . 7.

).8 berarti ulir metris dengan diameter mayor 5 mm dan kisar (pitch) 0. Identifikasi ulir biasanya ditentukan berdasarkan diameter mayor dan kisar ulir (Tabel 6.ulir 55o. Misalnya ulir M5x0. Teknik Pemesinan 169 .8 mm.6.

Teknik Pemesinan 170 . Dimensi ulir Metris.Tabel 6 6.

Ulir segi empat ini biasanya digunakan untuk ulir daya. pada Mesin Bubut bisa juga dibuat ulir segi empat (Gambar 6. Teknik Pemesinan 171 .).28). Pahat yang digunakan untuk membuat ulir segi empat adalah pahat yang dibentuk (diasah) menyesuaikan bentuk alur ulir segi empat dengan pertimbangan sudut helix ulir.0625”). Dimensi utama dari ulir segi empat pada dasarnya sama dengan ulir segi tiga yaitu : diameter mayor. kisar (pitch). Ulir ini biasanya digunakan untuk membuat ulir pada pipa (mencegah kebocoran fluida). Dimensi ulir Whitworth. Misalnya untuk ulir Whitwoth 3/8” jumlah ulir tiap inchi adalah 16 (kisarnya 0. Identifikasi ulir ini ditentukan oleh diamater mayor ulir dan jumlah ulir tiap inchi (Tabel 6. Pahat ini biasanya dibuat dari HSS atau pahat sisipan dari bahan karbida. dan sudut helix.Selain ulir Metris pada Mesin Bubut bisa juga dibuat ulir Whitworth (sudut ulir 55o). Selain ulir segi tiga. Tabel 6 7.7. diameter minor.

Selain pahat terbuat dari HSS pahat ulir yang berupa sisipan ada yang terbuat dari bahan karbida (Gambar 6. Pahat ulir pada gambar tersebut adalah pahat ulir luar dan pahat ulir dalam.29. Pahat ulir metris dan mal ulir untuk ulir luar dan ulir dalam. Ulir segi empat. ditunjukkan bentuk pahat ulir metris dan alat untuk mengecek besarnya sudut tersebut (60o). Gambar 6 29. Pahat ulir Pada proses pembuatan ulir dengan menggunakan Mesin Bubut manual pertama-tama yang harus diperhatikan adalah sudut pahat. Pada Gambar 6. a.30).Gambar 6 28. Teknik Pemesinan 172 .

Proses pembuatan ulir luar dengan pahat sisipan. sehingga putaran spindel tidak terlalu tinggi (secara kasar sekitar setengah dari putaran spindel untuk proses bubut rata).Gambar 6 30. Teknik Pemesinan 173 . Gambar 6 31.31). Setting pahat bubut untuk proses pembuatan ulir luar. kemudian dilakukan setting posisi pahat terhadap benda kerja. Hal tersebut terjadi karena pada proses pembuatan ulir harga gerak makan (f) adalah kisar (pitch) ulir tersebut.8. Setelah pahat dipilih. Setting ini dilakukan terutama untuk mengecek posisi ujung pahat bubut terhadap sumbu. supaya diperoleh sudut ulir yang simetris terhadap sumbu yang tegak lurus terhadap sumbu benda kerja (Gambar 6. Parameter pemesinan untuk proses bubut ulir berbeda dengan bubut rata. Perbandingan harga kecepatan potong untuk proses bubut rata (stright turning) dan proses bubut ulit (threading) dapat dilihat pada Tabel 6. Setelah itu dicek posisi pahat terhadap permukaan benda kerja.

Walaupun kedalaman ulir kecil (misalnya untuk ulir M10x1.Tabel 6 8. proses penyayatan tidak dilakukan sekali potong. Agar diperoleh hasil yang presisi dengan proses yang tidak membahayakan operator mesin. Supaya dihasilkan ulir yang halus permukaannya perlu dihindari kedalaman potong yang relatif besar. Langkah penyayatan ulir Gambar 6 32.934 mm). biasanya dilakukan penyayatan antara 5 sampai 10 kali penyayatan ditambah sekitar 3 kali penyayatan kosong (penyayatan pada diameter terdalam). Kecepatan potong proses bubut rata dan proses bubut ulir untuk pahat HSS.5. b. maka sebaiknya pahat hanya menyayat pada satu sisi saja (sisi potong pahat sebelah kiri untuk ulir kanan. Proses tersebut dilakukan dengan cara memiringkan eretan atas Teknik Pemesinan 174 . Hal tersebut karena pahat ulir melakukan penyayatan berbentuk V. dalamnya ulir 0. atau sisi potong pahat sebelah kanan untuk ulir kiri). Eretan atas diatur menyudut terhadap sumbu tegak lurus benda kerja dan arah pemakanan pahat bubut.

dengan sudut 29o (Gambar 6. hentikan setelah posisi pahat di depan benda kerja (Gerakan seperti gerakan pahat untuk membuat poros lurus pada Gambar 6.21.32. Proses penambahan kedalaman potong (dept of cut) dilakukan oleh eretan atas . Teknik Pemesinan 175 .1 mm 6) Putar spindel mesin (kecepatan potong mengacu Tabel 6.8) sampai panjang ulir yang dibuat terdapat goresan pahat. eretan atas dimiringkan 14. 11) Pada kedalaman ulir maksimal proses penyayatan perlu dilakukan berulang-ulang agar beram yang tersisa terpotong semuanya. Kalau kisar belum sesuai periksa posisi handle pengatur kisar pada Mesin Bubut. Sedang untuk ulir Acme dan ulir cacing dengan sudut 29o.5 o. Apabila sudah sesuai maka proses pembuatan ulir dilanjutkan. Langkah-langkah proses bubut ulir dengan menggunakan mesin konvensional dilakukan dengan cara : 1) Memajukan pahat pada diameter luar ulir 2) Setting ukuran pada handle ukuran eretan atas menjadi 0 mm 3) Tarik pahat ke luar benda kerja. 9) Majukan pahat untuk kedalaman potong berikutnya dengan memajukan eretan atas.) dengan menggunakan kaliber ulir (screw pitch gage). Pengecekan kisar ulir dengan kaliber ulir. 8) Gerakkan pahat mundur dengan cara memutar spindel arah kebalikan. 7) Periksa kisar ulir yang dibuat (Gambar 6. sehingga pahat di luar benda kerja dengan jarak bebas sekitar 10 mm di sebelah kanan benda kerja 4) Atur pengatur kisar menurut tabel kisar yang ada di Mesin Bubut. kemudian hentikan mesin dan tarik pahat keluar.33.) untuk ulir metris.). geser handle gerakan eretan bawah untuk pembuatan ulir 5) Masukkan pahat dengan kedalaman potong sekitar 0. 10) Langkah dilanjutkan seperti No. Gambar 6 33. 7) sampai kedalaman ulir maksimal tercapai.

12) Setelah selesai proses pembuatan ulir, hasil yang diperoleh dicek ukuranya (diameter mayor, kisar, diameter minor, dan sudut ulir). c. Pembuatan ulir ganda Pembuatan ulir di atas adalah untuk ulir tunggal. Selain ulir tunggal ada tipe ulir ganda (ganda dua dan ganda tiga). Pada dasarnya ulir ganda dan ulir tunggal dimensinya sama, perbedaanya ada pada pitch dan kisar (Gambar 6.34). Pada ulir tunggal pitch dan kisar (lead) sama. Pengertian kisar adalah jarak memanjang sejajar sumbu yang ditempuh batang berulir (baut) bila diputar 360O (satu putaran). Pengertian pitch adalah jarak dua puncak profil ulir. Pada ulir kanan tunggal bila sebuah baut diputar satu putaran searah jarum jam, maka baut akan bergerak ke kiri sejauh kisar (Gambar 6.34). Apabila baut tersebut memiliki ulir kanan ganda dua, maka bila baut tersebut diputar satu putaran akan bergerak ke kiri sejauh kisar (dua kali pitch). Bentuk-bentuk profil ulir yang telah distandarkan ada banyak. Proses pembuatannya pada prinsipnya sama dengan yang telah diuraikan di atas. Gambar 6.35 – 6.37. berikut ditunjukkan gambar bentuk profil ulir dan dimensinya.

Gambar 6 34. Single thread, double thread dan triple thread.

Teknik Pemesinan

176

Gambar 6 35. Beberapa jenis bentuk profil ulir (1).

Teknik Pemesinan

177

Gambar 6.36. Beberapa jenis bentuk profil ulir (2).

Gambar 6 36. Beberapa jenis bentuk profil ulir (1).

Teknik Pemesinan

178

Gambar 6 37. Beberapa jenis bentuk profil ulir (3).

8.

Perencanaan Proses Membubut Alur

Alur (grooving) pada benda kerja dibuat dengan tujuan untuk memberi kelonggaran ketika memasangkan dua buah elemen mesin, membuat baut dapat bergerak penuh, dan memberi jarak bebas pada proses gerinda terhadap suatu poros, (Gambar 6.38.). Dimensi alur ditentukan berdasarkan dimensi benda kerja dan fungsi dari alur tersebut. Bentuk alur ada tiga macam yaitu kotak, melingkar, dan V (Gambar 6.39). Untuk bentuk-bentuk alur tersebut pahat yang digunakan diasah dengan mesin gerinda disesuaikan dengan bentuk alur yang akan Teknik Pemesinan 179

dibuat. Kecepatan potong yang digunakan ketika membuat alur sebaiknya setengah dari kecepatan potong bubut rata. Hal tersebut dilakukan karena bidang potong proses pengaluran relatif lebar. Alur bisa dibuat pada beberapa bagian benda kerja baik di bidang memanjang maupun pada bidang melintangnya, dengan menggunakan pahat kanan maupun pahat kiri, (Gambar 6.40.)

Gambar 6 38. Alur untuk : (a) pasangan poros dan lubang, (b)

pergerakan baut agar penuh, (c) jarak bebas proses penggerindaan poros. Proses yang identik dengan pembuatan alur adalah proses pemotongan benda kerja (parting). Proses pemotongan ini dilakukan ketika benda kerja selesai dikerjakan dengan bahan asal benda kerja yang relatif panjang (Gambar 6.41).

Teknik Pemesinan

180

41) Teknik Pemesinan 181 . Posisi pahat atau pemegang pahat tepat 90o terhadap sumbu benda kerja (Gambar 6. Beberapa petunjuk penting yang harus diperhatikan ketika melakukan pembuatan alur atau proses pemotongan benda kerja adalah: a.Gambar 6 39. Ujung pahat diatur pada sumbu benda kerja c. Proses pemotongan benda kerja (parting). Alur bisa dibuat pada bidang memanjang atau melintang. Gambar 6 40. Cairan pendingin diberikan sebanyak mungkin b.

dan halus (33 pitch). Bentuk injakan kartel (Gambar 6. Gambar 6 41. Gerak makan dikurangi (20% dari gerak makan bubut rata) h.42). berlian. Proses pembuatan kartel bentuk lurus. 9.43) ada dalam berbagai ukuran yaitu kasar (14 pitch). Teknik Pemesinan 182 . penyayatan pertama dimulai dari diameter terbesar untuk mencegah berhentinya pembuangan beram. Bentuk dan kisar injakan kartel. Dipilih batang pahat yang terbesar f. Untuk alur aksial. Gambar 6 42. dan alat pahat kartel. medium (21 pitch). Kecepatan potong dikurangi (50% dari kecepatan potong bubut rata) g. Panjang pemegang pahat atau pahat yang menonjol ke arah benda kerja sependek mungkin agar pahat atau benda kerja tidak bergetar e.d. Perencanaan Proses Membubut/Membuat Kartel Kartel (knurling) adalah proses membuat injakan ke permukaan benda kerja berbentuk berlian (diamond) atau garis lurus beraturan untuk memperbaiki penampilan atau memudahkan dalam pemegangan (Gambar 6.

Apabila ingin menghentikan proses. maka mesin dihentikan dengan menginjak rem.4 mm per putaran spindel). kemudian Mesin Bubut dihentikan. dan kontak awal untuk penyetelan hanya setengah dari lebar pahat kartel. Apabila hasilnya masih ada bekas injakan ganda. Setelah semua diatur. misalnya untuk memeriksa hasil. maka mesin dijalankan lagi. Agar supaya tekanan awal pada pahat kartel menjadi kecil. kemudian diatur untuk membuat kartel lagi. Gambar 6 43. maka sebaiknya benda kerja dibubut rata lagi. kemudian mengatur mesin untuk proses kartel. Teknik Pemesinan 183 . maka spindel Mesin Bubut kemudian diputar. dan permukaannya paralel dengan permukaan benda kerja. kemudian pada roda pahat yang kontak dengan benda kerja harus diberi pelumas. Pahat kartel harus dipasang pada tempat pahat dengan sumbu dari kepalanya setinggi sumbu Mesin Bubut. karena di permukaan benda kerja akan muncul ring/cincin (Gambar 6.44.Pembuatan injakan kartel dimulai dengan mengidentifikasi lokasi dan panjang bagian yang akan dikartel. dan pahat kartel didekatkan ke benda kerja menyentuh benda sekitar 2 mm. Selama proses penyayatan kartel. Hasil proses kartel dicek apakah hasilnya bagus atau ada bekas injakan yang ganda (Gambar 6. Harus dijaga bahwa rol pahat kartel dapat bergerak bebas dan pada kondisi pemotongan yang bagus.2 sampai 0.45(c)). Putaran spindel diatur pada kecepatan rendah (antara 6080 rpm) dan gerak makan medium (sebaiknya 0. Dengan cara demikian awal penyayatan menjadi lembut. Apabila hasilnya sudah bagus. sebaiknya ujung benda kerja dibuat pinggul (chamfer). kemudian gerak makan dijalankan otomatis.). Benda kerja dibuat menyudut pada ujungnya agar tekanan pada pahat kartel menjadi kecil dan penyayatannya lembut. Setelah benda kerja berputar beberapa kali (misalnya 20 kali). Kemudian pahat ditarik mundur dan dibawa ke luar benda kerja. gerak makan pahat tidak boleh dihentikan jika spindel masih berputar. lihat Gambar 6.45.

Gambar 6 44. (a) Injakan kartel yang benar. dan (c) cincin yang ada pada benda kerja karena berhentinya gerakan pahat kartel sementara benda kerja tetap berputar. Teknik Pemesinan 184 . (b) injakan kartel ganda (salah).

BAB 7 MENGENAL PROSES FRAIS (MILLING) Teknik Pemesinan 185 .

Teknik Pemesinan 186 . atau melengkung. Permukaan benda kerja bisa juga berbentuk kombinasi dari beberapa bentuk.P roses pemesinan frais (milling) adalah proses penyayatan benda kerja menggunakan alat potong dengan mata potong jamak yang berputar.2. Mesin (Gambar 7. Skematik dari gerakan-gerakan dan komponen-komponen dari (a) Mesin Frais vertical tipe column and knee.) ada yang dikendalikan secara mekanis (konvensional manual) dan ada yang dengan bantuan CNC. Mesin Frais (Gambar 7. Sedangkan Mesin Frais dengan kendali CNC hampir semuanya adalah Mesin Frais vertical (beberapa jenis Mesin Frais dapat dilihat pada Lampiran 3) . dan (b) Mesin Frais horizontal tipe column and knee. Mesin konvensional manual posisi spindelnya ada dua macam yaitu horizontal dan vertical. Proses penyayatan dengan gigi potong yang banyak yang mengitari pisau ini bisa menghasilkan proses pemesinan lebih cepat. menyudut.1. Gambar 7 1.) yang digunakan untuk memegang benda kerja. Permukaan yang disayat bisa berbentuk datar. dan penyayatannya disebut Mesin Frais (Milling Machine). memutar pisau.

dan (c) frais jari (end milling). Frais Muka (Face Milling) Pada frais muka. Frais Periperal (Slab Milling) Proses frais ini disebut juga slab milling. Klasifikasi Proses Frais Proses frais dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis. Gambar 7 3. (b) frais muka (face milling).3).Gambar 7 2. Tiga klasifikasi proses frais : (a) Frais periperal (slab milling). Mesin Frais turret vertical horizontal. permukaan yang difrais dihasilkan oleh gigi pisau yang terletak pada permukaan luar badan alat potongnya. Permukaan Teknik Pemesinan 187 . arah penyayatan. 2. pisau dipasang pada spindel yang memiliki sumbu putar tegak lurus terhadap permukaan benda kerja. A. Sumbu dari putaran pisau biasanya pada bidang yang sejajar dengan permukaan benda kerja yang disayat. dan posisi relatif pisau terhadap benda kerja (Gambar 7. 1. Klasifikasi ini berdasarkan jenis pisau.

Arah dari putaran pisau sama dengan arah gerak makan meja Mesin Frais. 2. 3. Metode proses frais ada dua yaitu frais naik dan frais turun. Gerak dari putaran pisau berlawanan arah terhadap gerak makan meja Mesin Frais (Gambar 7.).4.hasil proses frais dihasilkan dari hasil penyayatan oleh ujung dan selubung pisau. B. Proses frais ini sesuai untuk Mesin Frais konvensional/manual. Gigi potong pada pisau terletak pada selubung pisau dan ujung badan pisau. Metode Proses Frais Metode proses frais ditentukan berdasarkan arah relatif gerak makan meja Mesin Frais terhadap putaran pisau (Gambar 7. Penampang melintang bentuk beram (chips) untuk proses frais naik adalah seperti koma diawali dengan ketebalan minimal kemudian menebal. Sebagai contoh. Frais Turun (Down Milling) Proses frais turun dinamakan juga climb milling. Frais Naik (Up Milling ) Frais naik biasanya disebut frais konvensional (conventional milling).). benda kerja disayat ke arah kanan. karena pada mesin konvensional backlash ulir transportirnya relatif besar dan tidak dilengkapi backlash compensation. (a)Frais naik (up milling) dan (b) frais turun (down milling).4. Frais Jari (End Milling) Pisau pada proses frais jari biasanya berputar pada sumbu yang tegak lurus permukaan benda kerja. Gambar 7 4. 1. Sebagai contoh Teknik Pemesinan 188 . Pisau dapat digerakkan menyudut untuk menghasilkan permukaan menyudut. pada proses frais naik apabila pisau berputar searah jarum jam.

Gambar 7 6. dan dilengkapi backlash compensation. Proses meratakan bidang. Teknik Pemesinan 189 . Penampang melintang bentuk beram (chips) untuk proses frais naik adalah seperti koma diawali dengan ketebalan maksimal kemudian menipis. maka pisau frais analog dengan beberapa buah pisau bubut (Gambar 7. sesuai dengan pisau yang digunakan. Gambar 7 5. Berbagai jenis bentuk pisau frais untuk Mesin Frais horizontal dan vertical. Pisau frais dapat melakukan penyayatan berbagai bentuk benda kerja. Proses pemesinan dengan Mesin Frais merupakan proses penyayatan benda kerja yang sangat efektif.). Pisau frais identik dengan beberapa pahat bubut. benda kerja disayat ke kanan. Apabila dibandingkan dengan pisau bubut. Untuk Mesin Frais konvensional tidak direkomendasikan melaksanakan proses frais turun. karena pada mesin CNC gerakan meja dipandu oleh ulir dari bola baja.5. Proses frais ini sesuai untuk Mesin Frais CNC.jika pisau berputar berlawanan arah jarum jam.6. karena meja Mesin Frais akan tertekan dan ditarik oleh pisau. karena pisau frais memiliki sisi potong jamak. membuat alur lebar sampai dengan membentuk alur tipis bisa dilakukan oleh pisau frais ( Gambar 7.).

. Pada dasarnya pada mesin jenis ini meja (bed).C. bed. Mesin Frais tipe bed (bed type) memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari pada jenis Mesin Frais yang pertama.). Mesin Frais tipe . serta tenaga mesin yang biasanya relatif besar. dan lutut (knee) dapat digerakkan. Kekakuan mesin yang baik. Beberapa asesoris seperti cekam. Kemampuan melakukan berbagai jenis pemesinan adalah keuntungan utama pada mesin jenis ini. meja putar. sadel. Bed type milling machines 3. Teknik Pemesinan 190 . menjadikan mesin ini banyak digunakan pada perusahaan manufaktur (Gambar 7.).7. Mesin Frais tipe column and knee Gambar 7 7. Gambar 7 8. Jenis Mesin Frais Mesin Frais yang digunakan dalam proses pemesinan ada tiga jenis. Walaupun demikian mesin ini memiliki kekurangan dalam hal kekakuan dan kekuatan penyayatannya. Special purposes Mesin jenis column and knee dibuat dalam bentuk Mesin Frais vertical dan horizontal (lihat Gambar 7. kepala pembagi menambah kemampuan dari Mesin Frais jenis ini. Mesin Frais tersebut pada saat ini telah banyak yang dilengkapi dengan pengendali CNC untuk meningkatkan produktivitas dan fleksibilitasnya. yaitu : 1.8. Column and knee milling machines 2.

Mesin Frais dengan dua buah spindel. dan Mesin Frais planer. Mesin tersebut misalnya Mesin Frais profil. Mesin Frais tipe khusus (special purposes). Dengan menggunakan Mesin Frais khusus ini maka produktivitas mesin sangat tinggi. sehingga ongkos produksi menjadi rendah. biasanya digunakan untuk keperluan mengerjakan satu jenis penyayatan dengan produktivitas/duplikasi yang sangat tinggi. Gambar 7 9. sampai lima spindel). tiga.9. Teknik Pemesinan 191 . Mesin Frais dengan spindel ganda (dua.Produk pemesinan di industri pemesinan semakin kompleks. maka Mesin Frais jenis baru dengan bentuk yang tidak biasa telah dibuat. Mesin Frais CNC tipe bed (bed type CNC milling machine). karena mesin jenis ini tidak memerlukan setting yang rumit. Mesin Frais tipe khusus ini (contoh pada Gambar 7.). Gambar 7 10.

dan kedalaman potong (a)..n . pada saat ini telah dibuat Mesin Frais dengan jenis yang sama dengan mesin konvensional tetapi menggunakan kendali CNC (Computer Numerically Controlled).d .. Kedalaman potong (a) ditentukan berdasarkan selisih tebal benda kerja awal terhadap tebal benda kerja akhir. Gerak makan (Gambar 7. biasanya satuan gerak makan yang digunakan adalah mm/menit. Putaran spindel (n) ditentukan berdasarkan kecepatan potong.(3... maka parameter yang dimaksud adalah putaran spindel (n). dan gerak makan per putaran (mm/putaran)....11) ini pada proses frais ada dua macam yaitu gerak makan per gigi (mm/gigi). Rumus kecepatan potong identik dengan rumus kecepatan potong pada mesin bubut. Beberapa Mesin Frais yang lain dapat dilihat pada Lampiran 7. efisien waktu dan biaya yang diperlukan.Selain Mesin Frais manual..)... Pada proses frais besarnya diameter yang digunakan adalah diameter pisau. atau dengan cara menurunkan pisau. maka gerak makan harus ditentukan. gerak makan (f)..10.. Putaran spindel bisa langsung diatur dengan cara mengubah posisi handle pengatur putaran mesin.. Rumus kecepatan potong : v Di mana : . D... maka Mesin Frais menjadi sangat fleksibel dalam mengerjakan berbagai bentuk benda kerja. Parameter yang Dapat Diatur pada Mesin Frais Maksud dari parameter yang dapat diatur adalah parameter yang dapat langsung diatur oleh operator mesin ketika sedang mengoperasikan Mesin Frais. Gerak makan (f) adalah jarak lurus yang ditempuh pisau dengan laju konstan relatif terhadap benda kerja dalam satuan waktu. Kecepatan potong ditentukan oleh kombinasi material pisau dan material benda kerja.... Dengan bantuan kendali CNC (Gambar 7. Gerak makan bisa diatur dengan cara mengatur handle gerak makan sesuai dengan tabel f yang ada di mesin.1) 1000 v = kecepatan potong (m/menit) d = diameter pisau (mm) n = putaran benda kerja (putaran/menit) Setelah kecepatan potong diketahui. Kecepatan potong adalah jarak yang ditempuh oleh satu titik (dalam satuan meter) pada selubung pisau dalam waktu satu menit.... dan produk yang dihasilkan memiliki ketelitian tinggi. Kedalaman potong diatur dengan cara menaikkan benda kerja.... Untuk kedalaman potong Teknik Pemesinan 192 . Seperti pada Mesin Bubut.

Standar tersebut mengatur tentang bentuk sisipan. toleransi bentuk.12. tebal sisipan. Jumlah gigi minimal adalah dua buah pada pisau frais ujung (end mill). pemutus tatal (chipbreaker). Gambar jalur pisau frais menunjukkan perbedaan antara gerak makan per gigi (ft) dan gerak makan per putaran (fr).yang relatif besar diperlukan perhitungan daya potong yang diperlukan untuk proses penyayatan. sudut bebas. Teknik Pemesinan 193 . panjang sisi potong. Dengan demikian nama sudut atau istilah yang digunakan juga sama dengan pisau bubut. Material pisau untuk proses frais pada dasarnya sama dengan material pisau untuk pisau bubut. Pisau untuk proses frais dibuat dari material HSS atau karbida. Apabila daya potong yang diperlukan masih lebih rendah dari daya yang disediakan oleh mesin (terutama motor listrik). Pisau sisipan yang telah dipasang pada pemegang pisau dapat dilihat pada Gambar 7. Pisau frais memiliki bentuk yang rumit karena terdiri dari banyak gigi potong. Pisau frais karbida bentuk sisipan dipasang pada tempat pisau sesuai dengan bentuknya. Gambar 7 11. E. dan kode khusus pembuat pisau. M. karena proses pemotongannya adalah proses pemotongan dengan mata potong majemuk (Gambar 7. maka kedalaman potong yang telah ditentukan bisa digunakan. Nama-nama bagian pisau frais rata dan geometri gigi pisau frais rata ditunjukkan pada Gambar 7.15.).13. Standar ISO untuk bentuk dan ukuran pisau sisipan dapat dilihat pada Gambar 7.14. arah pemakanan. Untuk pisau karbida juga digolongkan dengan kode P. dan K. Geometri Pisau Frais Pada dasarnya bentuk pisau frais adalah identik dengan pisau bubut. sudut potong.

Bentuk dan nama-nama bagian pisau frais rata. Teknik Pemesinan 194 . Gambar 7 13.Gambar 7 12.

Teknik Pemesinan 195 .Gambar 7 14. Standar ISO pisau sisipan untuk frais (milling).

Pasak yang dipasang mencegah terjadinya selip ketika pisau Gambar 7 16. Gambar skematik arbor yang digunakan pada Mesin Frais horizontal dapat dilihat pada Gambar 7. lihat Gambar 7. Arbor ini pada porosnya diberi alur untuk menempatkan pasak sesuai dengan ukuran alur pasak pada pisau frais. Pisau frais bentuk sisipan dipasang pada tempat pisau yang sesuai.Gambar 7 15. Pada sisi kolet dibuat alur tipis beberapa buah. Pisau harus dicekam cukup kuat sehingga proses penyayatan menjadi efektif.1). agar pisau tidak mengalami selip pada pemegangnya. Pada Mesin Frais konvensional horizontal pemegang pisau adalah arbor dan poros arbor (lihat kembali Gambar 7. sehingga ketika kolet dimasuki pisau bisa dengan mudah memegang pisau.17.16. Gambar skematik arbor Mesin Frais. Peralatan dan Asesoris untuk Memegang Pisau Frais Proses penyayatan menggunakan Mesin Frais memerlukan alat bantu untuk memegang pisau dan benda kerja. Kolet ini berfungsi mencekam bagian pemegang (shank) pisau. Pemegang pisau untuk Mesin Frais vertical yaitu kolet (collet. Teknik Pemesinan 196 . F. Bentuk kolet adalah silinder lurus di bagian dalam dan tirus di bagian luarnya. menahan gaya potong yang relatif besar dan tidak kontinyu ketika gigigigi pisau melakukan penyayatan benda kerja.

18). Sesudah pisau dimasukkan ke kolet kemudian kolet tersebut dimasukkan ke dalam pemegang pisau (tool holder). dan pembuatan champer (chamfering). sehingga tidak akan terjadi selip ketika pisau menerima gaya potong. Pemegang pisau ini ada dua jenis yaitu dengan ujung tirus Morse (Morse taper) dan lurus (Gambar 7. Kepala bor ini jarak antara ujung pisau terhadap sumbu bisa diubah-ubah. Gambar 7 18. Gambar 7 19. sehingga dinamakan offset boring heads. (a) Pemegang pisau frais ujung (end mill) (b) pemegang pisau shell end mill.19). Kepala bor (offset boring head). perataan permukaan (facing). Karena bentuk luar kolet tirus maka pemegang pisau akan menekan kolet dan benda kerja dengan sangat kencang. Pemegang pisau (tool holder) standar bisa digunakan untuk memegang pisau frais ujung (end mill). Pemegang pisau yang lain adalah kepala bor (Gambar 7. (b) kolet solid pemasangan pisau dengan baut. Teknik Pemesinan 197 .Gambar 7 17. Pemegang pisau ini biasanya digunakan untuk proses bor (boring). (a) Kolet pegas yang memiliki variasi ukuran diameter. Beberapa proses frais juga memerlukan sebuah cekam (chuck) untuk memegang pisau frais.

helix. (a) (b) Gambar 7 20. (a) Ragum sederhana (plain vise).).) ini biasanya digunakan untuk memegang benda kerja silindris. Ragum tersebut diikat pada meja Mesin Frais dengan menggunakan baut T. Pemegang benda kerja ini biasanya dinamakan ragum. Kepala pembagi (Gambar 7.20. maka untuk memegang benda kerja digunakan kepala pembagi (dividing head).20. Apabila bentuk benda kerja silindris. Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja pada Mesin Frais Alat pemegang benda kerja pada Mesin Frais berfungsi untuk memegang benda kerja yang sedang disayat oleh pisau frais. balok bertingkat). Untuk benda kerja berbentuk balok atau kubus ragum yang digunakan adalah ragum sederhana atau ragum universal (Gambar 7. Jenis ragum cukup banyak. Teknik Pemesinan 198 . Apabila digunakan untuk membuat bentuk sudut digunakan ragum universal (Gambar 7.21.). penggunaannya disesuaikan dengan bentuk benda kerja yang dikerjakan di mesin. Ragum sederhana digunakan bila benda kerja yang dibuat bidang-bidangnya saling tegak lurus dan paralel satu sama lain (kubus.G. terutama untuk keperluan : Membuat segi banyak Membuat alur pasak Membuat roda gigi (lurus. atau bila menggunakan ragum sederhana bentuk pisau yang dipakai menyesuaikan bentuk sudut yang dibuat. balok. payung) Membuat roda gigi cacing. (b) Ragum universal yang biasa digunakan pada ruang alat.

diikat pada meja Mesin Frais . maka benda kerja bisa langsung diletakkan di meja Mesin Frais kemudian diikat dengan menggunakan bantuan klem (clamp). Dengan bantuan meja putar ini proses penyayatan bidang-bidang benda kerja bisa lebih cepat. Meja putar. kemudian ragum atau cekam rahang tiga bisa diletakkan di atasnya. Selain itu dengan meja putar ini bisa dibuat bentuk melingkar. piringan dengan diameter besar dan tipis.23) ini diletakkan di atas meja Mesin Frais. Apabila benda kerja yang dibuat ada bentuk sudutnya. maka ragum diletakkan pada meja yang dapat diatur sudutnya (identik dengan meja sinus). Berbagai bentuk klem dan baut pengikatnya biasanya digunakan untuk satu benda kerja yang relatif besar. Benda kerja yang dikerjakan di Mesin Frais tidak hanya benda kerja yang bentuknya teratur. Ragum biasa yang dipasang langsung pada meja Mesin Frais hanya dapat digunakan untuk mengerjakan benda kerja lurus atau bertingkat dengan bidang datar atau tegak lurus. Meja yang dapat Gambar 7 22. digunakan untuk alat bantu pengerjaan benda kerja yang memiliki sudut lebih dari satu arah. Teknik Pemesinan 199 . Kepala pembagi (dividing head) untuk membuat segi banyak. dan benda hasil tuangan sulit dicekam dengan ragum.22). Benda kerja yang berbentuk plat lebar. baik satu lingkaran penuh (360o) atau kurang dari 360o.Gambar 7 21. Alat bantu pemegang benda kerja di Mesin Frais yang lain yaitu meja putar (rotary table). karena untuk menyayat sisisisi benda kerja tidak usah melepas benda kerja. cukup memutar handle meja putar dengan sudut yang dikekendaki. Meja tersebut (Gambar 7. roda gigi. Untuk keperluan pemegangan benda kerja seperti itu. atau helix. diatur sudutnya dalam beberapa arah. (Gambar 7.

(e) pembatas ragum (vise stop) yang berguna untuk batas peletakan benda kerja di ragum. Teknik Pemesinan 200 . dan (h) klem (clamp) untuk membantu memegang benda kerja. (c) line finder dipasang pada kolet. (b) Meja putar yang dapat diatur sudutnya. Selain pemegang benda kerja.Gambar 7 23. (f) pembatas ragum. maupun penempatan benda kerja. (a) Meja putar (rotary table) yang bisa digunakan untuk Mesin Frais vertical maupun horizontal.24. (g) blok V untuk membantu memegang benda kerja berbentuk silindris. (d) edge finder yang digunakan untuk mencari posisi pojok benda kerja. Gambar perlengkapan Mesin Frais tersebut dapat dilihat pada Gambar 7. pada Mesin Frais juga ada beberapa macam asesoris yang berguna untuk membantu pengaturan Mesin Frais. (b) line finder untuk membantu mencari posisi garis pinggir benda kerja. Asesoris tersebut misalnya (a) parallel yang berguna untuk meninggikan posisi benda kerja pada ragum.

digunakan untuk mencari posisi pojok benda kerja (e) Pembatas ragum (vise stop) yang dipasang menyatu dengan mulut ragum. (f) Pembatas ragum. Teknik Pemesinan 201 . (g) Blok V (h) Satu set klem Gambar 7 24. Berbagai macam asesoris yang digunakan pada Mesin Frais.(a) Parallel (b) Line finder (c) Line finder dipasang pada kolet (d) Edge finder.

Elemen diturunkan berdasarkan rumus dan Gambar 7. Gambar skematis proses frais vertical dan frais horizontal.25. berikut : n w a ln lv vf lw n a w ln vf lw lv Gambar 7 25.H. Elemen Dasar Proses Frais Elemen dasar proses frais hampir sama dengan elemen dasar proses bubut. Keterangan : Benda Kerja : w lw lt a = lebar pemotongan (mm) = panjang pemotongan (mm) = lv+lw+ln (mm) = kedalaman potong (mm) Teknik Pemesinan 202 .

......2 sampai 3.......n..5) 3 Rumus-rumus (3.... Dengan demikian hasil analisa/perencaaan merupakan pendekatan bukan merupakan hasil yang optimal. Teknik Pemesinan 203 . .....3) 7) Waktu pemotongan : tc lt . gaya potong........................... .. ....... kehalusan produk......... ......... Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan bukan hanya kecepatan potong dan gerak makan saja...........( 3 ..... m / menit ..(............ Perencanaan proses frais dibahas satu kesatuan dengan beberapa pengerjaan proses frais. 3 .a.. mm/ menit.w/1000 cm / menit ..(3. . tetapi juga cara pencekaman....n ...............5) tersebut di atas digunakan untuk perencanaan proses frais......... .. .................. .Pisau Frais : d z r = diameter luar (mm) = jumlah gigi/mata potong = sudut potong utama (90o)untuk pisau frais selubung Mesin Frais : n vf = putaran poros utama (rpm) = kecepatan makan (mm/putaran) 5) Kecepatan potong : V ...d .. Proses frais bisa dilakukan dengan banyak cara menurut jenis pisau yang digunakan dan bentuk benda kerjanya.......menit........4) vf 8) Kecepatan penghasilan beram : Z vf .... .... .. Selain itu jenis Mesin Frais yang bervariasi menyebabkan analisa proses frais menjadi rumit.................... I... .(3... getaran mesin dan getaran benda kerja... Pengerjaan Benda Kerja dengan Mesin Frais Beberapa variasi bentuk benda kerja bisa dikerjakan dengan Mesin Frais. 2 ) 1000 6) Gerak makan per gigi : fz v f / z........ ..

Arbor dipasang horizontal didukung oleh spindel mesin dan penahan arbor di sisi yang lain. Benda kerja dicekam dengan ragum biasa. (Gambar 7. sebaiknya bagian benda kerja yang menonjol di atas ragum tidak terlalu tinggi agar benda kerja tidak bergetar. Frais rata dilakukan dengan cara permukaan benda kerja dipasang paralel terhadap permukaan meja Mesin Frais dan pisau frais dipasang pada arbor mesin. Gambar 7 26. Proses frais rata (surface/slab milling).27). Proses Frais Datar/Rata Proses frais datar/rata (dinamakan juga surface milling atau slab milling) adalah proses frais dengan sumbu pisau paralel terhadap permukaan benda kerja. (Gambar 7. (Gambar 7.20.26).1. Teknik Pemesinan 204 .).

Untuk proses finishing pisau yang digunakan dipilih pisau yang memiliki gigi yang relatif kecil dengan kecepatan potong dipilih harga terbesar dari kecepatan potong yang diijinkan. Cara pencekaman benda kerja. Benda kerja tidak didukung parallel Benda kerja yang menonjol diusahakan serendah mungkin.Benda kerja di tengah ragum. Pisau yang digunakan untuk proses pengasaran (roughing) sebaiknya dipilih pisau frais yang ukuran giginya relatif besar. Benda kerja yang menonjol terlalu tinggi.1). Benda kerja di pinggir ragum. dengan kecepatan potong dipilih yang minimal dari kecepatan potong yang diijinkan untuk pasangan pisau dan benda kerja yang dikerjakan (Tabel 7. bagian kanan pencekaman yang salah (incorrect) dan bagian kiri pencekaman yang benar (correct). Gambar 7 27. Gerak makan per gigi Teknik Pemesinan 205 . Benda kerja didukung parallel.

Tebal beram dapat dipilih berdasarkan benda kerja dan pisau yang digunakan.28).2 sampai 3. mesin. dan kecepatan potong.5). Tebal beram per gigi untuk beberapa tipe pisau frais dan benda kerja yang dikerjakan (satuan dalam inchi). Tebal beram untuk proses frais disarankan seperti pada Tabel 7.ditentukan berdasarkan ketebalan beram yang diinginkan (direncanakan).2. Perhitungan elemen pemesinan untuk proses frais yang lain (Gambar 7. Kecepatan potong untuk proses frais untuk pasangan benda kerja dan pisau HSS. Tabel 7 1. Tabel 7 2. Perhitungan elemen mesin yang lain (Rumus 3. b) Apabila satuan kecepatan potong (cutting speed diubah menjadi m/menit angka pada tabel dibagi 3. Teknik Pemesinan 206 . sistem pencekaman. bisa dilakukan setelah kecepatan potong dan gerak makan per gigi ditentukan. a) Untuk pisau karbida harga kecepatan potong angka pada tabel dikalikan 2.28.) identik dengan langkah di atas.

Gambar 7 28. Beberapa variasi proses frais yang dilakukan pada Mesin Frais. Teknik Pemesinan 207 .

28. Dari informasi yang diperoleh dari gambar kerja. pisau frais gigi. Pada kepala pembagi terdapat mekanisme yang memungkinkan operator Mesin Frais memutar benda kerja dengan sudut tertentu.. Beberapa proses frais : frais bentuk dan dan frais alur. dan dimensi bakal roda gigi. Proses Frais Roda Gigi Proses frais gigi (Gambar 7. tetapi karena bentuknya yang spesifik. Dari informasi tersebut perencana proses frais gigi harus menyiapkan : kepala pembagi (Gambar 7. (Lanjutan).21. dan perhitungan elemen dasar (putaran spindel. Teknik Pemesinan 208 . dan kedalaman potong). gerak makan. serta proses pencekaman dan pemilihan pisau berbeda maka akan dibahas lebih detail. sebenarnya sama dengan frais bentuk pada Gambar 7. Kepala pembagi digunakan sebagai pemegang bakal roda gigi (dengan bantuan mandrel). sudut tekan. modul.).Gambar 7 28.29). bentuk profil gigi. untuk proses frais roda gigi diperoleh data tentang jumlah gigi. 2.

Piringan 2 dengan jumlah lubang : 21. maka pada bagian engkol dilengkapi dengan piringan pembagi dengan jumlah lubang tertentu. dengan cara sekrup pengatur arah radial kita setel sehingga ujung engkol yang berbentuk runcing bisa masuk ke lubang yang dipilih (Gambar 7.30.31. Gambar 7. Pada piringan pembagi diberi lubang dengan jumlah lubang sesuai dengan tipenya yaitu : 1. Piringan 3 dengan jumlah lubang : 37.29.41.Pisau frais gigi Mandrel dicekam pada kepala pembagi Roda gigi Gambar 7 29.27.47. Proses frais roda gigi dengan Mesin Frais horizontal.43.37.17. Tipe Cincinnati (satu piringan dilubangi pada kedua sisi) : a. Untuk membagi putaran pada spindel sehingga bisa menghasilkan putaran spindel selain 40 bagian.39.30.18.28.30.49 2.43 b. Piringan 1 dengan jumlah lubang : 15.62.54. Tipe Brown and Sharpe : a. ¼.58. Sisi pertama dengan jumlah lubang : 24.33 c.29.47.c) Teknik Pemesinan 209 .25. 1/3. dengan demikian putaran engkol bisa diatur (misal ½.66 Misalnya akan dibuat pembagian 160 buah.41. Sisi kedua (sebaliknya) dengan jumlah lubang : 46.) : Dipilih piringan yang memiliki lubang 20.34. Kepala pembagi (dividing head) digunakan sebagai alat untuk memutar bakal roda gigi. Mekanisme perubahan gerak pada kepala pembagi adalah roda gigi cacing dan ulir cacing dengan perbandingan 1:40. maka spindelnya berputar 1/40 kali.39.49.42.16.53. 1/5 putaran).20 b. Dengan demikian apabila engkol diputar satu kali.51.59.19.23.57.38. Pengaturan putaran engkol pada kepala pembagi adalah sebagai berikut (Gambar 7.

3. Sedangkan kedalaman potong ditentukan berdasarkan tinggi gigi dalam gambar kerja atau sesuai dengan modul gigi yang dibuat (antara 2 sampai 2. Gunting diatur sehingga melingkupi 5 bagian atau 6 lubang (Gambar 7.d) Sisi pertama benda kerja dimulai dari lubang no.25 modul). Pemilihan pisau untuk memotong profil gigi (biasanya profil gigi involute) harus dipilih berdasarkan modul dan jumlah gigi yang akan dibuat. 6 Pemutaran engkol selanjutnya mengikuti bilah gunting. Teknik Pemesinan 210 . 6 (telah dibatasi oleh gunting) Dengan demilian engkol berputar ¼ lingkaran dan benda kerja) berputar ¼ x1/40 = 1/160 putaran Gunting digeser sehingga bilah bagian kiri di no.30.1 Sisi kedua dilakukan dengan cara memutar engkol ke lubang no. 1 Pelat penggerak 6 lubang 5 bagian spindel (b) Bilah gunting Sekrup pengatur bilah (c) (d) Lubang no. Nomer pisau frais gigi berdasarkan jumlah gigi yang dibuat dapat dilihat pada Tabel 7. Kepala pembagi dan pengoperasiannya.(d) (a) Engkol Piringan pembagi Sekrup pengatur arah radial Bilah gunting Lubang no.2 dan 3.3. 6 Gambar 7 30. Penentuan elemen dasar proses frais yaitu putaran spindel dan gerak makan pada proses frais gigi tetap mengikuti rumus 3.

5 23 sampai 25 5 21 sampai 25 5. Teknik Pemesinan 211 .5 15 sampai 16 7 14 sampai 16 7.5 30 sampai 34 4 25 sampai 34 4.5 42 sampai 54 3 35 sampai 54 3. Urutan nomer pisau frais gigi involute.Digunakan untuk membuat roda gigi Nomer Pisau/ dengan jumlah gigi Cutter 1 135 sampai dengan rack 1.5 19 sampai 20 6 17 sampai 20 6.5 80 sampai 134 2 55 sampai 134 2 .5 13 8 12 dan 13 Tabel 7 3.

Teknik Pemesinan 200 .

EDM ProcessMecanism. Foreign Languages Publishing House.b.m. EMCO. Maintenance.LAMPIRAN.Hallein. Amstead. A ___________________________________________Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA Alois SCHONMETZ. Postfach 131. Austria. Teacher’s Handbook Ges. 2007. 1991. Courtesy EDM Tech. Singapore: Mc Graw-Hill Book Co. Austria.H.Poco Graphite Inc. Fundamentals of Milling Practice. (1985). van Terheijden. Diktat Praktikum Proses Pemesinan II (CNC TU2A dan CNC TU3A) Jurusan Pendidikan Teknik Mesin. EMCO. 1977. Maintenance Manual. Bandung: Angkasa. Instructions and Operating Manual. tt.H. EMCO.Hallein.Hallein. EMCO Maier+Co.m. Universitas Negeri Yogyakarta. Geoffrey.A-5400 Hallein: Austria.A-5400 Hallein: Austria. Maximat Super 11 Installation Manual. B. Austria. 1991. Jakarta: Erlangga Boothroyd. CNC TU-2A.b. 1980.H.H. EMCO Maier+Co. Operation. Bridgeport. (1995).S. Teacher’s Handbook Ges. 2005. Harun.b. Teknik Pemesinan . Instalation. Avrutin. Emco Emco Maier Maier CNC TU-3A. Bandung: Binacipta. Health and Safety at Work Act. Bridgeport Textron .m. (1994). Bridgeport Mahines Devision of Textron Limited PO Box 22 Forest Road Leicester LE5 0FJ : England. Bambang Priambodo. Emco Maier Ges. EMCO. C. Pengerjaan Logam Dengan Perkakas Tangan dan Mesin Sederhana. (1981). Moscow. Lubrication. A Center Lathe. Postfach 131. EMCO. Fundamentals of Metal Machining and Machine Tools. Manual. Alat-alat Perkakas 3. 1980. 1991. Teknologi Mekanik Jilid 2. Teacher’s Handbook Compact 5 PC.

__________________________________________________Lampiran LAMPIRAN Teknik Pemesinan .

Standar ISO untuk pengkodean pemegang pahat sisipan/ tool holders.__________________________________________________Lampiran LAMPIRAN. Teknik Pemesinan . B Lampiran 1.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 1. (Lanjutan). Teknik Pemesinan . Standar ISO untuk pengkodean pemegang pahat sisipan.

__________________________________________________Lampiran Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Lampiran 2. Kawan Lama Teknik Pemesinan . Sumber : Katalog PT. Beberapa macam Mesin Bubut konvensional dan CNC.

Sumber : Katalog PT.__________________________________________________Lampiran Lampiran 2. Kawan Lama Teknik Pemesinan . Beberapa macam Mesin Bubut. (Lanjutan).

(Lanjutan). Teknik Pemesinan . Beberapa macam Mesin Bubut.__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 2.toolingandproduction.com) Teknik Pemesinan . Beberapa macam Mesin Bubut. Sumber : IMTS 2006 (www. (Lanjutan).

(Lanjutan). Lampiran 3.__________________________________________________Lampiran Lampiran 3. Beberapa macam Mesin Frais konvensional dan CNC. Beberapa macam Mesin Frais. Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Sumber : Katalog PT. Kawan Lama Teknik Pemesinan .

__________________________________________________Lampiran Lampiran 3. Sumber : IMTS 2006 (www.com) Teknik Pemesinan . (Lanjutan). Beberapa macam Mesin Frais.toolingandproduction.

Mesin Gurdi manual dan Mesin Gurdi & Tap CNC Teknik Pemesinan . Beberapa macam Mesin Gurdi (Drilling).__________________________________________________Lampiran Lampiran 4. Beberapa macam Mesin Gurdi (Drilling) konvensional dan CNC. Mesin Bor Radial Lampiran 4. (Lanjutan).

Teknik Pemesinan . Proses pembuatan ulir dan tabel.__________________________________________________Lampiran Lampiran 5.

) Fundamental Deviation (es ) Teknik Pemesinan . Fundamental Deviatons a to j Over Up -to (Incl.__________________________________________________Lampiran Lampiran 6. Besarnya toleransi fundamental dari a sampai zc.) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Fundamental Deviation (es ) a -270 -270 -280 -290 -290 -300 -300 -310 -320 -340 -360 -380 -410 -460 -520 -580 -660 -740 -820 -920 -1050 -1200 -1350 -1500 -1650 a b c cd -34 -46 -56 d -20 -30 -40 -50 -50 -65 -65 -80 -80 -100 -100 -120 -120 -145 -145 -145 -170 -170 -170 -190 -190 -210 -210 -230 -230 cd d e -14 -20 -25 -32 -32 -40 -40 -50 -50 -60 -60 -72 -72 -85 -85 -85 -100 -100 -100 -110 -110 -125 -125 -135 -135 e ef ef -10 -14 -18 -6 -10 -13 -16 -16 -20 -20 -25 -25 -30 -30 -36 -36 -43 -43 -43 -50 -50 -50 -56 -56 -62 -62 -68 -68 f fg f fg -4 -6 -8 g -2 -4 -5 -6 -6 -7 -7 -9 -9 -10 -10 -12 -12 -14 -14 -14 -15 -15 -15 -17 -17 -18 -18 -20 -20 g h 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 h js ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 ITn/2 js j5 -2 -2 -2 -3 -3 -3 -3 -4 -4 -5 -7 -9 -9 -11 -11 -11 -13 -13 -13 -16 -16 -18 -18 -20 -20 j5 -140 -60 -140 -70 -150 -80 -150 -95 -150 -95 -160 -110 -160 -110 -170 -120 -180 -130 -190 -140 -200 -150 -220 -170 -240 -180 -260 -200 -280 -210 -310 -230 -340 -240 -380 -260 -420 -280 -480 -300 -540 -330 -600 -360 -680 -400 -760 -440 -840 -480 b c (ei ) j6 -2 -2 -2 -3 -3 -3 -3 -4 -4 -5 -7 -9 -9 -11 -11 -11 -13 -13 -13 -16 -16 -18 -18 -20 -20 (ei ) j6 j7 j7 -4 -4 -5 -6 -6 -8 -8 -10 -10 -12 -12 -15 -15 -18 -18 -18 -21 -21 -21 -26 -26 -28 -28 -32 -32 Up -to Over (Incl.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 6. Besarnya toleransi fundamental dari a sampai zc.) k7 other m k (inc) n p r s t u v x y z za zb zc Teknik Pemesinan . (Lanjutan).) k7 other m k (inc) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 Over 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 0 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 4 6 7 7 8 8 9 9 11 11 13 13 15 15 15 17 17 17 20 20 21 21 23 23 n 4 8 10 12 12 15 15 17 17 20 20 23 23 27 27 27 31 31 31 34 34 37 37 40 40 p 6 12 15 18 18 22 22 26 26 32 32 37 37 43 43 43 50 50 50 56 56 62 62 68 68 r 10 15 19 23 23 28 28 34 34 41 43 51 54 63 65 68 77 80 84 94 98 108 114 126 132 s 14 19 23 28 28 35 35 43 43 53 59 71 79 92 100 108 122 130 140 158 170 190 208 232 252 41 48 54 66 75 91 104 122 134 146 166 180 196 218 240 268 294 330 360 t u 18 23 28 33 33 41 48 60 70 87 102 124 144 170 190 210 236 258 284 315 350 390 435 490 540 39 47 55 68 81 102 120 146 172 202 228 252 284 310 340 385 425 475 530 595 660 v x 20 28 34 40 45 54 64 80 97 122 146 178 210 248 280 310 350 385 425 475 525 590 660 740 820 63 75 94 114 144 174 214 254 300 340 380 425 470 520 580 650 730 820 920 1000 y 26 35 42 50 60 73 88 112 136 172 210 258 310 365 415 465 520 575 640 710 790 900 1000 1100 1250 z 32 42 52 64 77 98 118 148 180 226 274 335 400 470 535 600 670 740 820 920 1000 1150 1300 1450 1600 za 40 50 67 90 108 136 160 200 242 300 360 445 525 620 700 780 880 960 1050 1200 1300 1500 1650 1850 2100 zb zc 60 80 97 130 150 188 218 274 325 405 480 585 690 800 900 1000 1150 1250 1350 1550 1700 1900 2100 2400 2600 Fundamental Deviation ( ei ) Up to k4(Incl. Fundamental Deviatons k to zc Fundamental Deviation ( ei ) Over Up to k4(Incl.

ISO Shaft Limit Nearest Zero (Fundamental Deviation ). shaft size 500-3150mm Deviations in μmetres = (m -6) Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 7.

__________________________________________________Lampiran Lampiran 7.) 560 630 710 800 900 1000 Fundamental Deviation (es) d -260 -260 -290 -290 -320 -320 -350 -350 -390 -390 -430 -430 -480 -480 -520 -520 d e -145 -145 -160 -160 -170 -170 -195 -195 -220 -220 -240 -240 -260 -260 -290 -290 e ef ef f -76 -76 -80 -80 -86 -86 -98 -98 -110 -110 -120 -120 -130 -130 -145 -145 f fg fg g -22 -22 -24 -24 -26 -26 -28 -28 -30 -30 -32 -32 -34 -34 -38 -38 g h js k m Fundamental Deviation (ei) n p 78 78 88 88 r s t 400 450 500 560 620 680 780 840 960 u 600 660 740 840 940 1050 1150 1300 1450 0 ITn/2 0 26 44 0 ITn/2 0 26 44 0 ITn/2 0 30 50 0 ITn/2 0 30 50 0 ITn/2 0 34 56 0 ITn/2 0 34 56 0 ITn/2 0 40 66 0 ITn/2 0 40 66 0 ITn/2 0 48 78 0 ITn/2 0 48 78 0 ITn/2 0 58 92 0 ITn/2 0 58 92 150 280 155 310 175 340 185 380 100 210 430 100 220 470 120 250 520 120 260 580 140 300 640 140 330 720 170 370 820 170 400 920 1000 1120 1120 1250 1250 1400 1400 1600 1600 1800 1800 2000 2000 2240 2240 2500 2500 2800 2800 3150 Up -to Over (Incl. (Lanjutan).) 1050 1600 1200 1850 1350 2000 0 ITn/2 0 68 110 195 440 1000 1500 2300 0 ITn/2 0 68 110 195 460 1100 1650 2500 0 ITn/2 0 76 135 240 550 1250 1900 2900 0 ITn/2 0 76 135 240 580 1400 2100 3200 Fundamental Deviation (ei) h js k m n p r s t u Fundamental Deviation (es) Teknik Pemesinan . Fundamental Deviatons d to u Over 500 560 630 710 800 900 Up -to (Incl.

ISO Hole Nearest Dim to Zero (Fundamental Deviation). Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 8. Holes sizes 0-400mm.

) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 over 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Up to (Incl.__________________________________________________Lampiran Deviations in μmetres = (m -6) over Up to (Incl.) Fundamental Deviation (El ) A 270 270 280 290 290 300 300 310 320 340 360 380 410 460 520 580 660 740 820 920 B C CD 34 46 56 D 20 30 40 50 50 65 65 80 80 E 14 20 25 32 32 40 40 50 50 EF F FG G H 10 6 4 2 4 5 6 6 7 7 9 9 14 10 6 18 13 8 16 16 20 20 25 25 30 30 36 36 43 43 43 50 50 50 56 56 62 62 68 68 140 60 140 70 150 80 150 95 150 95 160 110 160 110 170 120 180 130 190 140 200 150 220 170 240 180 260 200 280 210 310 230 340 240 380 260 420 280 480 300 Fundamental Deviation (Es ) JS J6 J7 J8 K7 K8 >K8 4 6 8 6 0+ 0 5 6 8 8 10 10 12 12 14 14 0 10 3 12 5 0 IT/2 2 0 IT/2 5 0 IT/2 5 0 IT/2 6 0 IT/2 6 0 IT/2 8 0 IT/2 8 10 15 6 10 15 6 12 20 6 12 20 6 0 IT/2 10 14 24 7 0 IT/2 10 14 24 7 100 60 100 60 120 72 120 72 145 85 145 85 145 85 170 100 170 100 170 100 190 110 190 110 210 125 210 125 230 135 230 135 CD D E 10 0 IT/2 13 18 28 9 10 0 IT/2 13 18 28 9 12 0 IT/2 16 22 34 10 16 12 0 IT/2 16 22 34 10 16 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 14 0 IT/2 18 26 41 12 20 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 15 0 IT/2 22 30 47 13 22 17 0 IT/2 25 36 55 16 25 17 0 IT/2 25 36 55 16 25 18 0 IT/2 29 39 60 17 28 18 0 IT/2 29 39 60 17 28 20 0 IT/2 33 43 66 18 29 20 0 IT/2 33 43 66 18 29 Fundamental Deviation (Es ) JS J6 J7 J8 K7 K8 >K8 1050 540 330 1200 600 360 1350 680 400 1500 760 440 1650 840 480 A B C Fundamental Deviation (El ) EF F FG G H Teknik Pemesinan .

For ITs 6 & 7 refer to table below.) M7 M8 >M8 N7 N8 >N8 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 -2 -2 -2 0 0 0 1 0 1 0 2 0 2 0 2 0 0 2 0 0 3 0 1 0 2 2 1 2 5 4 6 5 7 5 8 6 8 8 9 9 9 -4 -6 -7 -7 -8 -8 -9 -9 -5 -4 -4 -5 -5 -7 -7 -8 -8 -4 -4 -2 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -3 0 -4 0 -4 0 Fundamental Deviation (Es ) P -6 R -10 S -14 -19 -23 -28 -28 -35 -35 -43 -43 -53 -59 -71 -79 -92 -41 -48 -54 -66 -75 -91 -104 -122 T U -18 -23 -28 -33 -33 -41 -48 -60 -70 -87 -39 -47 -55 -68 -81 V X -20 -28 -34 -40 -45 -54 -64 -80 -97 -63 -75 -94 Y Z -26 -35 -42 -50 -60 -73 -88 ZA -32 -42 -52 -64 -77 -98 -118 ZB -40 -50 -67 -90 -108 -136 -160 -200 -242 -300 -360 -445 -525 -620 -700 -780 -880 -960 ZC -60 -80 -97 -130 -150 -188 -218 -274 -325 -405 -490 -585 -690 -800 -900 -1000 -1150 -1250 -12 -15 -15 -19 -18 -23 -18 -23 -22 -28 -22 -28 -26 -34 -26 -34 -32 -41 -32 -43 -37 -51 -37 -54 -43 -63 -43 -65 -43 -68 -50 -77 -50 -80 -50 -84 -56 -94 -56 -98 -112 -148 -114 -136 -180 -144 -172 -226 -174 -210 -274 -214 -258 -335 -254 -310 -400 -300 -365 -470 -340 -415 -535 -380 -465 -600 -425 -520 -670 -470 -575 -740 -520 -640 -820 -580 -710 -920 -11 -9 -11 -9 -102 -122 -102 -120 -146 -124 -146 -178 -144 -172 -210 -170 -202 -248 -190 -228 -280 -210 -252 -310 -236 -284 -340 -258 -310 -385 -284 -340 -425 -315 -385 -475 -350 -425 -525 -390 -475 -590 -435 -530 -660 -490 -595 -740 -540 -660 -820 -13 -10 -4 0 -15 -12 -4 0 -15 -12 -4 0 -17 -14 -5 0 -17 -14 -5 0 -20 -14 -5 0 100 120 120 140 140 160 160 180 180 200 200 225 225 250 250 280 280 315 315 355 355 400 400 450 450 500 over 10 -13 -10 -4 0 -100 -134 -108 -146 -122 -166 -130 -180 -140 -196 -158 -218 -170 -240 11 -15 -12 -4 0 12 -17 -14 -5 0 12 -20 -14 -5 0 11 -21 -16 -5 0 13 -21 -16 -5 0 -1050 -1350 -1200 -1550 -650 -790 -1000 -1300 -1700 -730 -900 -1150 -1500 -1900 -820 -920 -1300 -1650 -2100 1000 -1450 -1850 -2400 1100 -62 -108 -190 -268 -62 -114 -208 -294 -68 -126 -232 -330 -68 -132 -252 -360 48 59 -23 -17 -6 0 25 25 -23 -17 -6 0 -1600 -2100 -2600 1000 1250 Y Z ZA ZB ZC Up to (Incl..) M7 M8 >M8 N7 N8 >N8 P Fundamental Deviation (Es ) R S T U V X Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Important Note: For Fundamental deviations P-ZC ITn's > 7 only applies . over Up to (Incl.

. over Up to (Incl. ) Fundamental Deviation (Es ) Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Important Note: For Fundamental deviations (P to Z) For ITn = 6 & 7 refer to table below. ) 3 3 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 6 10 14 18 24 30 40 50 65 80 100 120 140 160 180 200 225 250 280 315 355 400 450 500 Fundamental Deviation (Es ) P7 -6 -9 -12 -15 -15 -18 -18 -21 -21 -26 -26 -30 -30 -36 -36 -36 -41 -41 -41 -47 -47 -51 -51 -55 -55 P7 P7 -6 -8 -9 -11 -11 -14 -14 -17 -17 -21 -21 -24 -24 -28 -28 -28 -33 -33 -33 -36 -36 -41 -41 -45 -45 P7 R6 -10 -12 -16 -20 -20 -24 -24 -29 -29 -35 -37 -44 -47 -56 -58 -61 -68 -71 -75 -85 -89 -97 -103 -113 -119 R6 R7 -10 -11 -13 -16 -16 -20 -20 -25 -25 -30 -32 -38 -41 -48 -50 -53 -60 -63 -67 -74 -78 -87 -93 -103 -109 R7 S6 -14 -16 -20 -25 -25 -31 -31 -38 -38 -47 -53 -64 -72 -85 -93 -101 -113 -121 -131 -149 -161 -179 -197 -219 -239 S6 S7 -14 -15 -17 -21 -21 -27 -27 -34 -34 -42 -48 -58 -66 -77 -85 -93 -105 -113 -123 -138 -150 -169 -187 -209 -229 S7 -37 -43 -49 -60 -69 -84 -97 -115 -127 -139 -157 -171 -187 -209 -231 -257 -283 -317 -347 T6 -33 -39 -45 -55 -64 -78 -91 -107 -119 -131 -149 -163 -179 -198 -220 -247 -273 -307 -337 T7 T6 T7 U6 -18 -20 -25 -30 -30 -37 -44 -55 -65 -81 -96 -117 -137 -163 -183 -203 -227 -249 -275 -306 -341 -379 -424 -477 -527 U6 U7 -18 -19 -22 -26 -26 -33 -40 -51 -61 -76 -91 -111 -131 -155 -175 -195 -219 -241 -267 -295 -330 -369 -414 -467 -517 U7 -36 -43 -51 -63 -76 -96 -114 -139 -165 -195 -221 -245 -275 -301 -331 -376 -416 -464 -519 -582 -647 V6 -32 -39 -47 -59 -72 -91 -109 -133 -159 -187 -213 -237 -267 -293 -323 -365 -405 -454 -509 -572 -637 V7 V6 V7 X6 -20 -25 -31 -37 -42 -50 -60 -75 -92 -116 -140 -171 -203 -241 -273 -303 -331 -376 -416 -466 -516 -579 -649 -727 -807 X6 X7 -20 -24 -28 -33 -38 -46 -56 -71 -88 -111 -135 -165 -197 -233 -265 -295 -323 -368 -408 -455 -505 -569 -639 -717 -797 X7 -59 -71 -89 -109 -138 -168 -207 -247 -293 -333 -373 -416 -461 -511 -571 -641 -719 -809 -907 -987 Y6 -55 -67 -85 -105 -133 -163 -201 -241 -285 -325 -365 -408 -453 -503 -560 -630 -709 -799 -897 -977 Y7 Y6 Y7 Z6 -26 -32 -39 -47 -57 -69 -84 -107 -131 -166 -204 -251 -303 -358 -408 -458 -511 -566 -631 -701 -781 -889 -989 -1087 -1237 Z6 Z7 -26 -31 -36 -43 -53 -65 -80 -103 -127 -161 -199 -245 -297 -350 -400 -450 -503 -558 -623 -690 -770 -879 -979 -1077 -1227 Z7 Up to over (Incl.

ISO Hole Nearest Dim to Zero (Fundamental Deviation). Teknik Pemesinan . Holes sizes 400-3150mm.__________________________________________________Lampiran Lampiran 9.

) 500 560 630 710 800 900 1000 1120 1250 1400 1600 1800 2000 2240 2500 2800 560 630 710 800 900 1000 1120 1250 1400 1600 1800 2000 2240 2500 2800 3150 Fundamental Deviation (El ) D 260 260 290 290 320 320 350 350 390 390 430 430 480 480 520 520 D E F G H __________________________________________________Lampiran Fundamental Deviation (Es ) JS IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 IT/2 JS K 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 K M N P -78 -78 -88 -88 -100 -100 -120 -120 -140 -140 -170 -170 R -150 -155 -175 -185 -210 -220 -250 -260 -300 -330 -370 -400 -440 -460 -550 -580 R S -280 -310 -340 -380 -430 -470 -520 -580 -640 -720 -820 -920 T -400 -450 -500 -560 -620 -680 -780 -840 -960 U -600 -660 -740 -840 -940 -1050 -1150 -1300 -1450 145 76 145 76 160 80 160 80 170 86 170 86 195 98 195 98 22 0 22 0 24 0 24 0 26 0 26 0 28 0 28 0 -26 -44 -26 -44 -30 -50 -30 -50 -34 -56 -34 -56 -40 -66 -40 -66 -48 -78 -48 -78 -58 -92 -58 -92 220 110 30 0 220 110 30 0 240 120 32 0 240 120 32 0 260 130 34 0 260 130 34 0 290 145 38 0 290 145 38 0 E F G H -1050 -1600 -1200 -1850 -1350 -2000 -68 -110 -195 -68 -110 -195 -76 -135 -240 -76 -135 -240 M N P -1000 -1500 -2300 -1100 -1650 -2500 -1250 -1900 -2900 -1400 -2100 -3200 S T U Up to over ( Incl.Deviations in μmetres = (m -6) Up to over ( Incl.) Fundamental Deviation (El ) Fundamental Deviation (Es ) Teknik Pemesinan .

Penyimpangan fundamental dari ukuran 250 sampai dengan 3150 mm. Ukuran Nominal (mm)/D Dari IT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 6 8 12 16 23 32 52 81 7 9 13 18 25 36 57 89 8 10 15 20 27 40 63 97 250 315 400 500 630 800 1000 1250 1600 2000 2500 Penyimpangan ( dalam μm) 9 11 16 22 32 44 70 10 13 18 25 36 50 80 11 15 21 28 40 56 90 13 18 24 33 47 66 15 21 29 39 55 78 18 25 35 46 65 92 22 30 41 55 78 26 36 50 68 96 sampai 315 400 500 630 800 1000 1250 1600 2000 2500 3150 110 135 105 125 150 175 210 110 125 140 165 195 230 280 330 130 140 155 175 200 230 260 310 370 440 540 210 230 250 280 320 360 420 500 600 700 860 320 360 400 440 500 560 660 780 920 1100 1350 520 570 630 700 800 900 1050 1250 1500 1750 2100 810 890 970 1100 1250 1400 1650 1950 2300 2800 3300 1300 1400 1550 1750 2000 2300 2600 3100 3700 4400 5400 Teknik Pemesinan .__________________________________________________Lampiran Lampiran 10.

Austria.Hallein. Rohrer. Machine Shop 3 : "Types of Milling Machines"Work Holding(http://its. (1990). George Schneider Jr. EMCO MAIER Ges.fvtc. Training Circular N0 9-524 : Fundamentals of Machine Tools . Student’s Handbook Ges.m. 1990. New Delhi: Wiley Eastern. Cutting Tool (www. Prentice Hall Gerling. CNC TU-2A.edu/ machshop3/basicmill/default. Fox Valley Technnical College. (1990).m.fvtc. Schiling. Fox Valley Technnical College.htm). Fischer. All about Machine Tools.b. 2007. Keliner Werth 50. Machine Shop 3 : Milling Machine"Accessories(http://its. Tabellenbunch Metall. Heinrichi. Student’s Handbook Ges. Emco Maier CNC TU-3A.H. Austria. Emco Maier EMCO MAIER Ges. Teori Gerinda Silindris. 1990. (1974). Kilgus. Bandung: ITB Headquartes Department of The Army USA. 1991.edu/ machshop3/basicmill/default. Bandung: ITB Hand Out Politeknik Manufaktur Bandung. EMCO. Headquartes Department of The Army USA : Washington DC Teknik Pemesinan . 2007. Machine Shop 3 : "Milling Machines" Tool Holding (http://its. Austria.Hallein. Leopold.b. Austria.m. Applications.H.toolingandproduction. Students’s Handbook EMCO TU-2A. 560 Wuppertal 2. Hand Out Politeknik Manufaktur Bandung. 1991. Fox Valley Technnical College.bh.fvtc. 1996. Teori Gerinda Datar. A-5400 Hallein. 2007.___________________________________________Daftar Pustaka EMCO.bh.m. Teacher’s Handbook EMCO TU-2A.com).htm). A-5400 Hallein.edu/machshop3/ basicmill/default.htm).

Metal Cutting Processes1– Turning. Metal Cutting Processes2Milling.. The Hong Kong Polytechnic University.edu/testbeds/cfest/fluid.edu.htm The Hong Kong Polytechnic University.mfg.Fitting&Assembly.hk/handout/handout.html).polyu.polyu. (1990). (1993). 2007. http://mmu. http://mmu.ic. http://mmu. Basic Machining andFitting.___________________________________________Daftar Pustaka John W. The Hong Kong Polytechnic University.polyu.mtu.mtu.hk/handout/handout. http://mmu. Michigan Technological University's Turning Information Center : Michigan ----------------.edu. Measurement.htm The Hong Kong Polytechnic University. Taufiq Rochim. http://mmu.polyu. http://www.edu.htm The Hong Kong Polytechnic University.edu/marc/ primers/turning/turn. A TUTORIAL ON CUTTING FLUIDS IN MACHINING.ic.htm Marking Out.edu. Teori Kerja Bor. 2007. 2007.htm Teknik Pemesinan .ic. Sutherland.ic.hk/handout/handout. Turning (www. Teori & Teknologi Proses Pemesinan. Taufiq Rochim.polyu.mfg. Safety Instruction. 1998.hk/handout/handout.ic. 2007.html#cfintro_name.edu. 2007. Bandung: Proyek HEDS.hk/handout/handout. Bandung: Politeknik Manufaktur Bandung. 2007.

20. 250. 194. 473. 53. 507. 234. 486. 263. 4. 315. 298. 270. 208. 49. 462. 39. 359. 379. 309. 368. 227. 159. 234. 453. 162. 243. 44. 37 cekam. 161. 203. 217. 317. 159. 266. 356. 20. 31. 202. 211. 179. 237. 69 C casting. 334. 165. 191. 406. 220. 171. 522 collet. 317. 31. 26. 295. 359. 491. 86. 359. 159. 365. 6. 347. 258. 158. 207. 205. 508. 182. 460 counterboring. 358. 280. 247. 352. 379. 311. 468. 35. 191. 448. 183. 467. 185. 217. 171. 379. 359. 161. 351. 217. 92. 470. 260. 507 eksentris. 292 G ganda. 371. 19. 493. 37. 492. 316. 41. 11. 489. 493 cutting. 303. 308. 506 F face milling. 465. 358. 249. 223. 190. 454. 299. 208. 43. 200. 35. 406 end milling. 175. 34. 6. 519. 54. 256. 201. 259. 472 B bantalan. 470. 8. 46. 485. 12. 162. 264. 368. 281. 213. 212. 213. 220. 494 end mill. 200. 492 clamp. 317. 170. 253. 94. 252. 87. 50. 38. 259. 273. 219. 172. 161. 205. 182. 224. 36. 162. 402 cetakan. 379. 29. 224. 206 energi. 451. 194. 282. 247. 341. 286. 5. 306 drilling. 269. 48. 93. 242. 287. 352. 202. 300. 295. 353. 503. 185. 28. 188. 244. 234. 352. 171. 23. 200 dielectric. 492. 367. 219. 467 D dial indicator. 9. 379. 488. 188. 482. 259 elektrode. 474. 289. 368. 484. 214. 487. 497 geometri. 358. 458. 28. 47. 357. 51. 306. 515. 465. 491. 468. 245 CNC. 267. 171. 261. 206 feed. 206. 464. 494. 473. 350. 286. 359. 210. 30. 159. 224. 186. 295. 200. 262. 406 boring. 307. 402 column. 175. 317. 158. 227. 310. 489 asutan. 155. 302. 221. 162. 41. 448. 7. 469. 165. 8. 208. 317 bor. 39. 302. 38. 251. 14. 207 dresser. 292. 468. 210. 490. 297. 458. 458. 198. 467 down milling. 245. 310. 17. 168. 354. 209. 256. 298. 160. 208. 334. 2. 315. 99. 348. 21. 162. 213. 218. 269. 153. 406. 406. 487. 38. 290. 402. 171. 337. 482 dimetris. 172. 406 attachment. 341. 370. 277 gerinda. 475. 41. 472. 406. 221 clearance. 469. 455 ferro. 317. 310. 446. 246. 174. 160. 220. 472. 465. 406. 181. 113 disket. 218. 350. 447. 39. 68. 186. 183 axis. 34. 266. 14. 348. 256. 338. 269 current. 359. 212. 41. 165. 286. 198. 447. 194. 379 E EDM. 459. 481. 170. 456. 483. 493. 445. 106. 472. 168. 304. 359. 371. 280. 198. 488. 238. 402. 316. 244. 268. 263. 458. 311. 449. 371. 402 baut. 172. 358. 41. 41. 252. 21. 354. 161. 39. 364. 234. 65. 311 diameter. 232. 146. 200. 370. 451. 489. 457. 192. 153. 306. 244. 175. 406. 254. 495 Teknik Pemesinan . 198. 214. 33. 300. 351. 53. 38. 309. 265. 477. 401. 370. 36. 218. 32. 193. 242. 489. C _____________________________________________________Indeks A absolut. 112. 161. 464. 353. 491. 229. 247 gaya. 490. 18. 486. 3. 467. 367. 456. 170. 482. 310. 476. 87. 406 alur. 402. 192. 502 alarm. 12. 355. 10. 263. 166.LAMPIRAN. 483. 359. 174. 212. 262. 229. 498 gerak makan. 450. 33. 283. 252. 178. 446. 172. 466. 290. 309. 317. 257. 365. 467. 218. 199. 212. 22. 504 diamond. 185. 336. 244 bubut. 168. 163. 161. 45. 209. 171. 160. 39. 295. 218. 213. 487. 466. 16. 265.

295. 51. 491. 29. 492. 207. 230. 337. 232._____________________________________________________Indeks gips. 406 mineral. 248. 235. 466. 243. 473. 503. 158. 257. 316. 93. 470 mal. 522 mata bor. 57. 105. 490. 359. 337. 166. 87. 311. 160. 170. 317. 507 grinding. 94 K karbida. 39. 487. 446. 173. 305 insert. 497. 159. 7. 466. 262. 501. 239. 47. 337. 18. 158. 24. 216. 512. 246. 94. 191. 500. 106. 277. 6. 379 knee. 190. 504. 308. 159. 336. 490. 247 holder. 209. 57. 182. 31. 163. Teknik Pemesinan . 212. 8. 39. 87. 62. 168. 163. 242. 176. 402. 235. 175. 164. 91. 89. 254. 191. 502. 250. 251. 358. 252. 266. 337. 493 P pahat. 359. 161. 234. 212. 176. 198. 489. 311. 190. 270. 111. 247. 90 O overcut. 160. 9. 402 horisontal. 192. 95. 108. 39. 249. 498. 343. 467 kekerasan. 491. 190. 33. 193. 198. 247. 34 Graphite. 482. 267. 63 kecepatan potong. 200. 263. 169. 356. 188. 30. 237. 290. 212. 246. 39. 200. 484 ISO. 58. 262 mur. 248. 253. 499. 223. 242. 163. 186. 379. 224. 252. 200 komparator. 90. 208. 353 keselamatan. 22. 491. 7. 353. 450 kopel. 171. 317. 263. 486. 496 kepala lepas. 21 nonius. 317. 185. 95. 295. 23. 244. 262. 188. 289. 499. 268. 182. 257. 206. 262. 307 lead. 8. 227. 286. 6. 307. 112 HSS. 245. 336. 161. 483 konversi. 21. 178. 311. 167. 216. 37. 205. 188. 239. 379. 263. 17. 96 indicator. 501. 112 M machine. 317 J jam ukur. 458. 472. 235. 181. 67 kisar. 155. 502 H helix. 243. 215. 57. 308. 491 konduktor. 56. 120. 94. 165. 317. 235. 66. 105. 94. 62. 261. 41. 295. 172. 311. 406. 49. 338. 265. 167. 483 isometris. 153. 162. 169. 245. 193. 139. 193. 351. 47. 38. 249. 277. 250 manual. 213. 309. 492 kedalaman potong. 406. 229. 449. 406. 14. 164. 175. 183. 227. 33. 185. 511. 173. 268. 234. 240. 190. 246. 267. 43. 210 knurling. 467. 33. 527. 506 grooving. 198. 160. 21. 213. 39. 337. 168. 502 N nonferro. 244. 503 metris. 266. 108. 22. 266. 176. 496. 109. 92 milling. 194. 41. 178. 469. 61. 182. 242. 212. 245. 265. 177. 49. 472 gurdi. 84 L lathe. 231. 57. 188. 488. 191. 451. 317. 379. 307. 226. 166. 175. 345. 214. 502 isolator. 247. 170. 168. 310. 244. 126. 227. 346 momen. 205. 259. 247. 203 kebisingan. 219. 260. 173. 172. 341. 60. 15. 253. 489. 334. 214. 159. 84. 174. 218. 337. 162. 43. 498. 46. 287. 269. 205. 406 I imperial. 529. 234. 225. 214. 406. 234. 170. 19. 184. 265. 207. 12. 177. 162. 266. 214. 127. 162. 339. 110. 18. 266. 304. 493. 212. 359. 252. 172. 246. 42. 161. 265. 38. 106. 249. 160. 161. 167. 28. 468. 340. 273. 154. 462. 23. 486. 160. 237. 317. 354. 406 material. 212. 163 ion. 303. 209. 335. 194 lubang. 489. 95 mikrometer. 466. 317. 492 kartel. 467. 202. 253. 28. 185. 254. 201. 247.

339. 186. 357. 185. Teknik Pemesinan . 19. 184. 504 screw. 159. 486. 51. 17. 93. 237. 359. 379. 164. 20. 131. 135. 172. 503. 47. 477. 193. 379. 462. 144. 194. 262. 178. 253 slotter. 370. 234. 234. 15. 283. 459. 173. 239. 298. 317 profil ulir. 16. 340. 113. 242. 191. 212. 206. 225. 344. 181. 451. 458. 470. 254. 182. 334. 335. 2. 39. 34 resultan. 229. 448. 244. 338. 198. 41. 454. 154. 89. 214. 108. 359. 4. 220. 511. 166. 369. 317. 273. 379. 3. 379. 191. 352. 113. 276. 311. 401. 307. 453. 317. 269. 345. 18. 213. 178. 472. 464. 159. 348. 163. 379. 208. 190. 498. 190. 82. 460. 200 planner. 180. 336. 359. 446. 94. 211. 229. 10. 227. 294. 93. 457._____________________________________________________Indeks 179. 406. 258. 224. 5. 175. 340. 452. 194. 406 rake. 502 R ragum. 41. 252. 368. 279. 289. 225. 38. 280. 465. 224. 45. 459. 499. 270. 270. 249. 249. 222. 273 plastik. 496. 38. 272. 482. 191. 469. 357. 451. 341 resin. 193. 245. 512 skala. 447. 185. 90. 309. 200. 242. 497 perspektif. 211. 464. 211. 501 perkakas. 81. 346. 469. 497. 455. 181. 214. 202. 365. 277. 281. 337. 406 setting. 365. 209. 340. 298. 473. 311. 406. 201. 172. 469. 487. 136. 110. 449. 472. 252. 315. 18. 493 spindel. 190. 194 proyeksi. 51. 53. 461. 342. 343. 183. 158. 346. 270. 277. 457. 174. 354. 459. 378. 460. 246. 232. 230. 476 spindle. 406. 113 pitch. 493. 5. 17. 473. 139 pulley. 307. 182. 473. 243. 303. 489. 371. 14. 193. 476. 272. 454. 376. 120. 235. 304. 216. 368. 472. 486. 52. 181. 247. 317. 488 step motor. 317. 294 sisipan. 270. 279. 220. 454. 406 stamping. 338. 334. 37. 190. 168. 471. 466. 260. 110. 260. 482. 306. 468. 181. 489. 167. 471. 247. 89. 83. 198. 402. 91. 309. 356. 474. 406 poligon. 458. 202. 184. 467. 39. 451. 503 simulasi. 401. 337. 306. 109. 112. 179. 182. 188. 275. 341. 41. 317. 165. 286. 207. 297. 201. 36. 200. 449. 454. 340. 217. 454. 282. 352. 341. 371. 112. 212. 379. 207. 465. 160. 182. 304. 115. 258. 39. 257. 359. 459. 496. 177. 406. 482 sinus. 93. 194. 38. 31. 268. 350. 212. 446. 353. 226. 250. 4. 247. 192. 173. 492. 449. 505 pemrograman. 92. 251. 162. 303. 351. 172. 146. 87. 304. 186. 336. 261. 455. 38. 181. 34. 162. 120. 511. 121. 186. 241. 273. 243. 456 sekrap. 402. 166. 246. 109. 359. 406. 494. 102. 406. 489. 108. 476. 182. 94. 188. 272 sparks. 308. 466. 270. 224. 501. 21. 41. 295. 208. 161 pemesinan. 4. 208. 307. 40. 472. 379. 311. 270 simetris. 201. 379. 16. 227. 466. 217. 370. 476 perencanaan. 191. 131. 352. 293. 449. 308. 231. 6 S satuan. 42. 351. 406 sudut. 503. 224. 238. 3. 229. 467 plotter. 448. 293. 365. 193. 266. 240. 472. 36. 467. 160. 249. 212. 371. 112. 95. 370. 371. 357. 249. 468. 469. 489. 219. 241. 262. 265. 465. 165. 370. 353 putaran. 234. 276. 231. 253. 6. 487 pendingin. 203. 270. 238 profil. 317. 7. 459. 235. 113. 8. 472. 336. 270. 454 Sinker EDM. 283. 475. 456. 161. 137. 475. 192. 173. 281. 194. 468. 317. 450. 446. 348. 359. 247. 337. 220. 495 reaming. 244. 159. 211. 193. 334. 188. 213. 171. 462. 454. 46. 185. 191. 185. 345. 277. 7. 170. 303. 338. 253. 447. 248. 221. 7 poros. 158. 11. 406. 276. 240. 116. 365. 275. 359. 53. 456 sleeve. 130. 468. 6. 87. 129. 348. 368. 246. 287. 359. 191. 236. 487. 335. 446. 162 Ram EDM. 371. 341. 235. 176. 447. 406 shaping. 259. 466. 283. 476. 219. 16. 476 parting-off. 265. 496. 28. 132. 454. 205. 230. 213. 232. 229. 311. 188. 406. 290. 185. 447. 145. 334. 300. 470. 183. 462. 461. 105. 466. 353. 308. 81. 111. 512 parameter. 460 senter. 239. 502 portable. 32. 456. 119. 379. 191. 359. 237. 187. 158. 17. 476. 344. 457. 458. 243. 86. 448. 311. 447. 165. 446. 259. 51.

270. 41. 269. 190. 506. 222. 521 tool post. 161 threading. 337 taper. 194. 111. 277. 294. 475. 2. 266. 257. 489 temperatur. 11. 402. 483. 406. 306. 484. 239. 183. 401. 183. 49. 240. 490. 238. 253. 184. 359 tungsten. 4. 406. 218 tapping. 371. 242. 187. 482. 173. 518. 269 tegangan. 371. 185. 295. 523 ulir metris. 304 up milling. 357. 225. 265. 188. 467. 200. 406. 20. 369. 495 sudut ulir. 151. 21. 311. 118. 402. 208. 406 vise. 336. 176. 358. 173. 117. 17. 173. 277. 241. 192. 468. 266. 141. 486. 10 Teknik Pemesinan . 369. 116. 289. 183. 191. 217. 192. 8. 458. 379. 317. 472 tirus. 218. 39. 283. 158. 173. 230. 185. 348. 237. 342. 304. 183. 108. 146. 364. 509 U ulir. 119. 352. 491. 461. 207 V vektor. 171. 449. 161. 305. 252. 170. 246. 54 turning. 190. 158. 191. 370. 254 W Wire EDM. 186. 176. 302. 294. 53. 219. 253._____________________________________________________Indeks 252. 12. 371. 87. 452. 454. 144. 5. 194 sumbu. 38. 136. 492. 172. 368. 254. 6. 455. 191. 240. 254. 128. 459 vertikal. 163. 485. 302. 18. 41. 43. 341. 15. 353. 379. 495 swivel. 112. 234 T tap. 253. 57. 273. 447. 351. 450. 497 thread. 140. 317. 191. 316. 38. 94. 16. 146. 186. 162. 459. 467. 190. 489. 19. 176 training unit. 451. 494. 12. 491. 158. 46. 489. 277. 193. 487. 87. 265. 14. 365. 334. 137. 194. 159. 250. 379. 492 turbin. 402. 317. 317. 191. 456 tunggal. 158. 508. 187. 39. 268. 273. 448. 466. 186. 51. 495 tool. 174. 267 universal. 253. 494. 370. 158. 218. 335. 174. 184. 158. 354. 270. 221. 295. 279. 266. 218. 462. 6. 113. 22. 402 transmisi. 495 workshop. 489. 473. 492. 267. 194. 93. 461. 356. 207. 317. 511. 182. 460. 352. 259. 446. 109. 167. 174. 166. 459. 365. 359. 161. 464. 342. 359. 36. 186. 306. 242. 298. 359. 110. 201.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful