P. 1
Fz4007 Hubungan+Pola+Asuh+Orang+Tua+Dengan+Prestasi+Belajar+Siswa+Mts+Al Falah+Jakarta+Timur

Fz4007 Hubungan+Pola+Asuh+Orang+Tua+Dengan+Prestasi+Belajar+Siswa+Mts+Al Falah+Jakarta+Timur

|Views: 138|Likes:
Published by zanwar77

More info:

Published by: zanwar77 on Nov 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2015

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah
  • D. Sistematika Penulisan
  • A. Pengertian Pola Asuh Orang Tua
  • B. Macam-macam Pola Asuh Orang Tua
  • C. Pengertian Prestasi Belajar
  • D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
  • E. Kerangka Berpikir
  • F. Hipotesa
  • A. Tujuan dan Manfaat penelitian
  • B. Penentuan Lokasi Penelitian
  • C. Populasi dan Sampel
  • D. Teknik pengumpulan data
  • E. Teknik pengolahan dan analisa data
  • 1. Teknik pengolahan data
  • 2. Teknik analisa data
  • F. Konsep dan pengukuran variabel
  • Dimensi dan indikator pola asuh orang tua yang demokratis
  • G. Teknik Interpretasi data
  • A. Gambaran Umum MTS al-Falah Jakarta Timur
  • 1. Sejarah Berdiri
  • 2. Struktur Organisasi
  • 3. Visi dan Misi
  • 4. Kurikulum
  • B. Deskripsi Data
  • 1. Deskripsi data
  • Mengikutsertakan anak dalam membuat peraturan keluarga
  • dihadapi anak
  • Memperhatikan penjelasan anak ketika melakukan kesalahan
  • tidak pernah memperhatikan penjelasan anak ketika melakukan kesalahan tidak
  • Memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik
  • Memberikan pujian kepada anak jika berperilaku baik
  • Memberikan teguran kepada anak jika berperilaku tidak baik
  • Memenuhi keperluan/kebutuhan anak sehari-hari
  • Terdapat tutur kata yang baik antar anggota keluarga
  • Bersikap adil terhadap setiap anak dalam pemberian tugas
  • Memberikan kesempatan untuk bertanya/berpendapat
  • 2. Analisis data
  • D. Interpretasi Data
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MTS AL-FALAH JAKARTA TIMUR

Skripsi Ini Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pdi)

Oleh : YUSNIYAH NIM: 104011000041

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429 H / 2008 M

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MTS AL-FALAH JAKARTA TIMUR

SKRIPSI
Skripsi Ini Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pdi)

Oleh

YUSNIYAH NIM 104011000041

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I

Drs. H. Elman Sadri NIP. 150.203.320

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429 H – 2008 M

PENGESAHAN PANITIA UJIAN Skripsi berjudul: “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Prestasi Belajar Siswa MTs Al-Falah Jakarta Timur” diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasah pada Tanggal 19 Agustus 2008 dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S. Pdi) dalam bidang Pendidikan Agama Islam (PAI). Jakarta, Agustus 2008 Panitia Ujian Munaqasah Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Program Studi) Tanggal Tanda Tangan

Dr. H. Abdul Fatah Wibisono, MA NIP.: 150 236 009 Sekretaris (Sekretaris Jurusan/ Prodi) Drs. Sapiudin Shiddiq, M. Ag NIP.: 150 299 477 Penguji I Drs. Alisuf Sabri NIP.: 150 011 333 Penguji II Tanenji, MA NIP.: 150 285 599 Mengetahui, Dekan

.......................

...........................

.......................

...........................

.......................

...........................

.......................

...........................

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA NIP.:150 231 356

NIM : 104011000041. “Metode korelasi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara suatu variabel dengan variabel-variabel lain”. Hipotesis yang diajukan adalah diduga bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa MTs Al-Falah Jakarta Timur.ABSTRAK Skripsi ini di tulis oleh Yusniyah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi. Untuk memperoleh data yang obyektif. Dengan cara mendatangi langsung sekolah yang akan diteliti. maka digunakan dua bentuk penelitian. yaitu penelitian untuk memperoleh datadata lapangan langsung. . b. sedangkan uji signifikansi kofesien korelasi menunjukkan bahwa rt pada taraf signifikansi 5 % sebesar 0.yaitu : a. Pengolahan data diakukan dengan analisis korelasi product moment. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua (X) dan prestasi belajar (Y). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar siswa MTs AlFalah Jakarta Timur. Metode penilitian ini diharapkan dapat menemukan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti yaitu pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa. metode penelitian ini adalah poenelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Hasil penelitian dengan mengunakan analisis korelasi product moment menunjukkan bahwa nilai r hitung = 0.396. membaca dan menganalisa buku yang ada relevansinya dengan masalah yang dibahas dalam skripsi. Skripsi ini tentang hubungan antara poa asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa Mts Al-Falah Jakarta Timur. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas I MTs Al-Falah yang terdaftar pada tahun pelajaran 2007-2008 dengan jumlah populasi sebanyak 114 siswa sedangkan sampel yang diambil berjumlah 25 orang. Elman Sadri. Penelitian Kepustakaan (Library Reserch).605 berada pada arah yang positif. dengan demikian dapat diketahui r hitung lebih tingi daripada “r” tabel pada tarf signifikansi 5 % denga kata lain Ho ditolak sehingga demikian Ha diterima. Penelitian Lapangan (Field Reserch). yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan. Jadi terdapat hubungan yang positif dan signifikansi antara pola asuh dengan prestasi belajar siswa MTs Al-Falah Jakarta Timur. yakni melihat bentuk hubungan antara variabel-variabel yang di teliti. Instrumen penelitian yang digunakan untuk memperoleh data adalah dengan menggunakan angket (kuesioner) dalam bentuk piliha ganda. H. Di samping itu. di bawah bimbingan Drs.

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan skripsi ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 3.LEMBAR PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Jakarta. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya sendiri yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu (S1) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2. maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 05 Juni 08 Yusniyah . Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain.

perjuangan dan kesabaran yang telah diajarkan kepada umatnya. Toyib Umar BA. masukan.KATA PENGANTAR ϢϴΣήϟ΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ Alhamdulillah. Elman Sadri yang telah memberikan bimbingan dan dorongannya kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini dan yang telah meluangkan waktunya untuk penulis serta nasihat. Kepada Kepala Sekolah MTs Al-Falah Jakarta Timur. keluarga. Firdaus Idris yang telah banyak membantu penulis. Skripsi ini berjudul Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Prestasi Belajar siswa MTs Al-Falah Jakarta Timur. Atas selesainya skripsi ini. puji syukur atas nikmat yang banyak yang Engkau anugerahkan kepada penulis. teladan. arahan dan motivasi yang tak henti-hentinya sehingga skripsi ini dapat tersusun dan terselesaikan. sekaligus pembimbing skripsi Bapak Drs. Salawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad saw. Bapak Moh. Kepada Penasehat Akademik. takdir dan nikmat dari-Mu yang tak boleh penulis sia-siakan. penulis harus mengelolanya dengan baik dan amanah. beserta seluruh staf pengajar dan staf administrasi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan atas segala fasilitas yang diberikan kepada penulis. beserta i . Salah satu nikmat yang terbesar dari-Mu adalah hidup penulis. Bapak Prof. sahabat. Dede Rosyada MA. merupakan tugas akhir yang harus dipenuhi untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Islam. Semoga dengan terselesainya penulisan skripsi ini. penulis semakin sadar bahwa setiap tarikan nafas adalah anugerah. untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu: Kepada Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Bapak. H. dan para pengikutnya terima kasih atas doa. Untuk itu sebagai wujud rasa syukur penulis kepada-Mu. tidak terlepas dari upaya berbagai pihak yang telah memberikan kontribusinya dalam rangka penyusunan dan penulisan skripsi ini.

cinta. Udin. mamah Hj. didikkan. Kepada abang H. Doa dan keridaan abeh mamah selalu penulis nantikan dan mengiringi perjalanan penulis untuk mencapai kesuksesan di masa yang akan datang. pengertian. abang H. Rohaenah sebagai pelita hati penulis. Matnadjih dan mamah Hj. perhatian yang tercurahkan untuk untuk penulis. dorongan. Syarif. semangat kepercayaan dan pengorbanan abeh mamah yang tulus yang tak henti-hentinya untuk penulis. Aisah. Zubaidillah. abang Komaruddin. Kepada Abeh H. abang Aab dan kakakku Hj. sayang. Ola. pengertian. Nafis. kasih sayang. abang H. ii . mendengarkan dan merasakan keluh kesah penulis.seluruh stafnya terima kasih atas bantuannya kepada penulis yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian dan banyak membantu penulis dalam mengumpulkan data-data dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. abang Haris. pengorbanan serta semangat yang tercurahkan untuk penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Kepada “Azhari” orang yang selalu ada di hati penulis terima kasih atas kesetiaan menemani penulis di saat suka maupun duka dan perhatian. Mahilah. Rohili. abang H. Serta kepada siswa kelas I MTs Al-Falah penulis ucapkan terima kasih atas partisipasinya yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. doa. cinta. Kepada sahabat-sahabatku Abi. Ayu. Ade. semangat yang kalian berikan untuk penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. terima kasih atas dukungan. Hasan. semangat. Serta terima kasih atas candaan-candaan yang telah kalian berikan sehingga dapat menghibur penulis di saat mengalami kesusahan dan kejenuhan. Fitri terima kasih atas kesetiaannya juga menemani hari-hari penulis. yang selalu menemani penulis di saat penulis mengalami kebimbangan dan masalah yang sangat berat dalam hidup penulis. dorongan. Syarifah Umi Hani serta adikku Amirullah dan Upi Fadliyah tersayang yang selalu mengisi hari-hari penulis dengan canda dan tawanya di saat penulis mengalami kejenuhan. abang H. Lutfi. masukan yang kalian berikan untuk penulis. May. terima kasih atas doa. perhatian.

Kepada teman-teman jurusan PAI angkatan 2004 terima kasih atas masukan, dorongan dan sharingnya yang telah diberikan untuk penulis sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini. Tiada kata yang dapat melukiskan rasa syukur dan terima kasih atas semua yang membuat kelancaran proses penulisan kepada seluruh pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan, semoga Allah swt membalas kebaikan kalian semua. Akhirnya tiada gading yang tak retak dan tiada mawar yang tak berduri, penulis menyatakan sebagai manusia tidak sempurna, maka dengan senang hati penulis akan menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya skripsi ini. Semoga karya sederhana ini bermanfaat.

Jakarta, Juni 2008

Penulis

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................. DAFTAR TABEL ......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. BAB I : PENDAHULUAN ....................................................................... A. Latar Belakang Masalah ......................................................... B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ................ C. Metodologi Penelitian ............................................................ D. Sistematika Penulisan ............................................................. BAB II : LANDASAN TEORITIS ........................................................... A. Pengertian Pola Asuh Orang Tua ........................................... B. Macam-macam Pola Asuh Orang Tua ................................... C. Pengertian Prestasi Belajar ..................................................... D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar .............. E. Kerangka Berpikir .................................................................. F. Hipotesis ................................................................................. BAB III : METODOLOGI PENELITIAN ............................................... A. Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................. B. Penentuan Lokasi Penelitian .................................................. C. Populasi dan Sampel .............................................................. D. Teknik Pengumpulan Data ..................................................... E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ................................... 1. Teknik Pengolahan Data .................................................. 2. Teknik Analisis Data ........................................................ F. Konsep dan Pengukuran Variabel .......................................... G. Teknik Interpreatasi Data ....................................................... BAB IV : HASIL PENELITIAN ................................................................ A. Gambaran Umum MTS al-Falah Jakarta Timur .................... 1. Sejarah Berdiri ................................................................. iv

i iv vi viii 1 1 5 6 7 9 9 10 21 24 30 32 33 33 33 34 34 35 35 36 37 40 42 42 42

2. Struktur Organisasi .......................................................... 3. Visi dan Misi .................................................................... 4. Kurikulum ........................................................................ 5. Hubungan Sekolah dengan Orang Tua Siswa .................. B. Deskripsi Data ........................................................................ 1. Deskripsi Data .................................................................. 2. Analisis Data .................................................................... C. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa ...................................................................................... D. Interpretasi Data ..................................................................... BAB V : PENUTUP ................................................................................... A. Kesimpulan ............................................................................ B. Saran ....................................................................................... Daftar Pustaka Lampiran

43 43 44 45 45 45 57

62 62 64 64 65

v

...DAFTAR TABEL Tabel Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Halaman Dimensi dan indikator pola asuh orang tua yang demokratis .......... Terdapat tutur kata yang baik antar anggota keluarga ............................................................... Tabel 6 Bermusyawarah dalam memecahkan problem-problem yang dihadapi anak ................................................................ Memberikan kesempatan untuk bertanya/berpendapat ................................. Mengingatkan anak untuk belajar .. Memenuhi keperluan/kebutuhan anak sehari-hari ....................................... Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik ....................................................................................................... Memenuhi kebutuhan sekolah anak ....................................... Saling mengharagai antara yang satu dengan yang lainnya . Memberi izin bersyarat dalam hal bergaul dengan temantemannya .. Mengikutsertakan anak dalam membuat peraturan keluarga .............................................. Bersikap adil terhadap setiap anak dalam pemberian tugas ....................................................... Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Memperhatikan penjelasan anak ketika melakukan kesalahan ............................... Tabel 11 Tabel 12 Bertanya tentang kegiatan sehari-hari ......... Kriteria nilai siswa........................................ Mengajak anak-anak berunding dalam menetapkan kelanjutan sekolah................................................................................................................................................................................. Meminta izin jika hendak keluar ............................................................................. Tabel 7 Mendengarkan & mempertimbangkan pendapat dan keinginan anak ................ Memberikan teguran kepada anak jika berperilaku tidak baik...... Memberikan penjelasan tentang perbuatan baik dan 50 50 51 51 52 52 53 53 54 54 55 55 49 49 47 48 48 47 46 38 39 40 46 mendukungnya ........................................................... Memberikan pujian kepada anak jika berperilaku baik.... Tolong menolong dalam bekerja ........ vi .......... Kriteria pola asuh demokratis..................................

......................................................... Skor pola asuh dan nilai rata-rata raport siswa......... Membicarakan segala persoalan dalam keluarga ...... Korelasi antara variabel X dan variabel Y ....................................Tabel 24 Tabel 25 Tabel 26 Tabel 27 Tabel 28 Tabel 29 Menjelaskan alasan ditetapkan suatu peraturan ......................................... Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua siswa ............................................................. Item soal ...................... 56 56 57 58 59 61 vii ....

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Lampiran 2 Pedoman Wawancara Lampiran 3 Angket Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa Lampiran 4 Daftar “r” Tabel viii .

Alam mempercayakan pertumbuhan serta perkembangan anak pada mereka. 19 1 1 . Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dra. Dalam keluarga umumnya anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. watak. Fungsi keluarga yang utama ialah mendidik anak-anaknya. karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. dan pendidikan anak. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. Orang tua dikatakan pendidik pertama karena dari merekalah anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya dan dikatakan pendidik utama karena pendidikan dari orang tua menjadi dasar bagi perkembangan dan kehidupan anak dikemudian hari. arus kehidupan di kemudikan oleh orang tua. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Dalam kelompok ini. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku. wanita dan pria serta anak-anak yang mereka lahirkan. Peran Keluarga Memandu Anak.BAB I PENDAHULUAN A. Mengasuh dan membesarkan anak berarti memelihara kehidupan dan kesehatannya serta mendidiknya dengan penuh Kartini Kartono. Kartini Kartono. moral. Ke-2. 1992). “keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak. (Jakarta : Rajawali Press. Cet.”1 Masalah anak-anak dan pendidikan adalah suatu persolan yang amat menarik bagi seorang pendidik dan ibu-ibu yang setiap saat menghadapi anakanak yang membutuhkan pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. h. Latar Belakang Masalah Keluarga sebagai kelompok masyarakat terkecil terbentuk oleh ikatan dua orang dewasa yang berlainan jenis kelamin.

” (Q. Secara umum tanggung jawab mengasuh anak adalah tugas kedua orang tuanya. Firman Allah swt yang menunjukkan perintah tersebut adalah : “Hai orang-orang yang beriman. Keluarga adalah koloni terkecil di dalam masyarakat dan dari keluargalah akan tercipta pribadi-pribadi tertentu yang akan membaur dalam satu masyarakat. 86 2 . cara berpikir. Orang tua menjadi faktor terpenting dalam menanamkan dasar Umar Hasyim. pakaian. kebersihannya. cerdas dan berakhlakul karimah. at Tahrim : 6) Pengertian mengasuh anak adalah mendidik. Dan menjadi bagian dari kebiasaan bersikap dan bertingkah laku atau bagian dari kepribadiannya. atau pada segala perkara yang seharusnya diperlukannya. pemelihara.2 Anak lahir dalam pemeliharaan orang tua dan dibesarkan dalam keluarga. dan sebagai pendidik terhadap anak-anaknya. Adakalanya orang tua bersikap atau bertindak sebagai patokan. membimbing dan ΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ memeliharanya.2 ketulusan dan cinta kasih. sampai batas bilamana si anak telah mampu melaksanakan keperluannya yang vital. Akan tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka mendidik membuat anak merasa tidak diperhatikan. sebagai contoh agar ditiru dan apa yang ditiru akan meresap dalam dirinya. Setiap orang tua pasti menginginkan anakanaknya menjadi manusia yang pandai. jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…. seperti makan. dibatasi kebebasannya. Perasaan-perasaan itulah yang banyak mempengaruhi sikap. mandi dan berpakaian. Orang tua bertugas sebagai pengasuh. pembimbing. Anak Soleh ( Cara Mendidik Anak dalam Islam). perasaan. bahkan ada yang merasa tidak disayang oleh orang tuanya. Adakalanya ini berlangsung melalui ucapan-ucapan.S. minuman. Lingkungan keluarga acapkali disebut sebagai lingkungan pendidikan informal yang mempengaruhi berbagai aspek perkembangan anak. h. mengurus makanan. bahkan kecerdasan mereka. Jilid 2. minum. perintah-perintah yang diberikan secara langsung untuk menunjukkan apa yang seharusnya diperlihatkan atau dilakukan anak. (Surabaya : PT Bina Ilmu. 1993).

Cet. Suasana emosional di dalam rumah. Sebagaimana dalam buku Ilmu Pendidikan karangan Drs. mengungkapkan. Tetapi jika dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja. maka anak itu akan celaka dan binasa. Ada orang tua yang terlalu melindungi anak. dapat sangat merangsang perkembangan otak anak yang sedang tumbuh dan mengembangkan kemampuan mentalnya. “banyak proyek riset jangka lama menunjukkan bahwa intelegensi anak akan berkembang ke tingkat yang lebih tinggi. Asih.”3 Prinsip serta harapan-harapan seseorang dalam bidang pendidikan anak beraneka ragam coraknya. Abu Ahmadi dan Nuruhbiyati. ada yang bersikap acuh terhadap anak. Mengasuh dan Mendidik Anak Agar Cerdas”. Asah. pangan. Sebaliknya. seperti pemenuhan kebutuhan sandang. Asuh. Joan Beck dalam bukunya “Asih. h. ada yang menginginkan anaknya lebih banyak kebebasan dalam berpikir maupun bertindak. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan- kebutuhan jasmani. Ke-4. Asah. Abu Ahmadi. 117 Joan Beck. h. 1992). Asuh. Mengasuh dan Mendidik Anak agar Cerdas. Dari kedua orang tua serta semua guru-gurunya dan pendidik-pendidiknya akan mendapat kebahagian pula dari kebahagian itu. Maka yang menjadi ukuran dari ketinggian anak itu ialah terletak pada yang bertanggung jawab (pendidik) dan walinya. dan papan. Potensi jasmaniah dan rohaniah anak diupayakan tumbuh dan berkembang secara selaras. hangat dan demokratis daripada dingin dan otoritas. Jika anak itu dibiasakan dan diajari berbuat baik maka anak itu akan hidup berbahagia di dunia dan akhirat. 50 4 3 .3 kepribadian tersebut yang turut menentukan corak dan gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa. bila sikap di rumah terhadap anak. Ilmu Pendidikan. ada yang menginginkan anaknya menjalankan disiplin keras.”4 Mendidik anak dengan baik dan benar berati menumbuh kembangkan totalitas potensi anak secara wajar. yang dilukiskan dan condong kepada semua yang tertuju kepadanya. Ada yang mengadakan suatu jarak dengan anak dan ada pula yang menganggap anak sebagai teman. suasana tersebut bisa memperlambat perkembangan otak. Imam Ghazali menyatakan “dan anak itu sifatnya menerima semua yang dilakukan. (Semarang : Dahara Prize.

yang meliputi : a. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar. melainkan berpengaruh pula pada perkembangan kepribadian anak. Lembaga pendidikan tidak hanya berpengaruh pada perkembangan kognitif atau intelektual semata. h. di antaranya adalah pendapat A. Faktor lingkungan spritual atau keagamaan. Anak Soleh Dambaan Keluarga. 2.4 Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. (Yogyakarta : Mira Pustaka. seperti adat istiadat. Faktor budaya. maka itu adalah urusan guru di sekolah. teknologi dan kesenian. h. (Bandung : Rosda Karya. guru.5 Banyak orang tua yang beranggapan bahwa anak mereka setelah diserahkan kepada guru di sekolah maka lepaslah hak dan kewajibannya untuk memberikan pendidikan kepada mereka. Faktor internal ialah faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri. yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. ilmu pengetahuan. 32-34 6 A Tabrani Rusyan. 1994). Faktor lingkungan fisik. Sehubungan dengan itu. dan lingkungan di dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan. d. merupakan agenda penting bagi para orang tua. maka orang tua hendaklah pandai-pandai dalam mengarahkan anaknya tatkala hendak memasuki sebuah lembaga pendidikan. Semua tanggung jawabnya telah beralih kepada guru di sekolah. Nipan Abdul Halim.6 M. yaitu : 1. Faktor eksternal ialah faktor yang datang dari luar diri si anak. c. Tabrani Rusyan. fasilitas belajar dan iklim. apakah menjadi pandai atau bodoh anak tersebut. akan menjadi nakal atau berbudi pekerti yang baik dan luhur. b. dan lingkungan kelompok. lingkungan masyarakat. di mana ia akan bersosialisasi dengan sesama teman. dan budi pekerti. seperti fasilitas rumah. Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga. 2000). perasaan. Perihal memilihkan lembaga pendidikan yang paling tepat bagi anak. 81 5 . Ke-3. lingkungan sekolah. Cet.

oleh karena itu pola asuh orang tua dalam mendidik anak akan mempengaruhi keberhasilan anak adalam belajar. dari keluargalah anak mulai memperoleh pendidikan sebelum memasuki pendidikan secara formal di sekolah. maka permasalahan yang diteliti dapat diidentifikasikan sebagai berikut : a. Pembatasan Masalah Karena terbatasnya waktu. Bagaimana hubungan pola asuh orang tua dengan prestasi belajar ? c. Bagaimana hubungan pola asuh orang tua dengan mental beragama anak ? e. untuk itu anak memerlukan bimbingan. Atas dasar pemikiran di atas. tenaga serta sarana yang tersedia. B. arahan dan didikan dari orang tua sejak dini. Bagaimana hubungan pola asuh orang tua dengan tingkah laku anak ? 2.5 Adapun alasan untuk memilih pokok masalah di atas adalah sebagai berikut : 1. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Bagaimana hubungan pola asuh orang tua dengan aktivitas belajar ? b. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas. sebagai persiapan untuk menghadapi masa yang akan datang. Anak adalah tunas bangsa yang akan menerima tongkat estafet perjuangan dan cita-cita bangsa. Keluarga adalah masyarakat terkecil yang paling inti. Dengan batasan sebagai berikut : . Bagaimana hubungan pola asuh orang tua dengan motivasi belajar ? d. Identifikasi. penulis merasa tertarik untuk membahas masalah tersebut khususnya yang berkenaan dengan pola asuh dalam lingkungan keluarga untuk itu penulis mengajukan skripsi dengan judul “HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MADRASAH TSANAWIYAH AL-FALAH JAKARTA TIMUR”. 2. maka penulis membatasi permasalahan kepada hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas satu Madrasah Tsanawiyah Al-Falah Jakarta Timur.

42 8 S. Metode Penelitian Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu. Margono.7 Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi. 3. Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar. Dengan demikian. 9 7 . maka dapat dirumuskan masalah yang diteliti sebagai berikut : a. Metodologi Penelitian Pendidikan. Apakah ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa ? C.6 a. Prestasi belajar adalah hasil aktivitas belajar siswa yang diaktualisasikan dalam angka atau skor yang dapat dilihat dalam buku raport. yakni melihat bentuk hubungan antara variabel-variabel yang di teliti. Bagaimana prestasi belajar yang telah dicapai siswa ? b. h. yang mempunyai langkah-langkah sistematis. (Jakarta : Bumi Aksara. Sedangkan metodologi ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode. h. Bagaimanakah pola asuh yang diterapkan oleh masing-masing orang tua siswa ? c. b. (Jakarta : PT R0ineka Cipta. 2005). yaitu pola asuh yang merupakan kombinasi dari pola asuh ekstrem yang bertentangan (otoriter dan laissez fair) ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas. Metodologi Penelitian Sosial. metode penelitian ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturanperaturan yang terdapat dalam penelitian.8 Metode penilitian ini diharapkan dapat menemukan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti yaitu pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa. Pola asuh yang diteliti adalah pola asuh demokratis. “Metode korelasi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara suatu variabel dengan variabel-variabel lain”. 1998).

teknik . Untuk memperoleh data yang obyektif. Dengan cara mendatangi langsung sekolah yang akan diteliti. dan hipotesis. BAB III : Metodologi penelitian. setiap bab dirinci dalam beberapa sub bab sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan. kerangka berpikir. membaca dan menganalisa buku yang ada relevansinya dengan masalah yang dibahas dalam skripsi.” berhubungan. BAB II : Landasan teoritis. sedangkan untuk mencari hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa penulis menggunakan analisis statistik dengan rumus “Korelasi Product Moment. penentuan lokasi penelitian. Adapun teknik penulisan skripsi ini. metode penelitian. FITK UIN Syarif Hidayatullah Karena data ini membahas dua variabel yang D. metode penelitian ini adalah poenelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. berisi latar belakang masalah. pengertian prestasi belajar. populasi dan sampel.yaitu : a. faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. yang diterbitkan oleh Jakarta. serta sistematika penulisan. macammacam pola asuh orang tua.7 Di samping itu. meliputi : pengertian pola asuh orang tua. b. Penelitian Lapangan (Field Reserch). penulis menggunakan analisis data distribusi frekuensi. Penelitian Kepustakaan (Library Reserch). 2007”. maka digunakan dua bentuk penelitian. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam skripsi ini dibagi dalam lima bab. teknik pengumpulan data. yaitu penelitian untuk memperoleh datadata lapangan langsung. Untuk analisis data. pembatasan dan perumusan masalah. yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan. meliputi : tujuan dan manfaat. penulis merujuk kepada buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta”. identifikasi.

serta teknik interpretasi data. BAB V : Penutup. konsep dan pengukuran variabel. yang meliputi : kesimpulan dan saran. deskripsi data dan analisis data.8 pengolahan dan analisis data. meliputi : gambaran umum MTS Al-Falah Jakarta Timur. serta interpretasi data. . hubungan pola asuh orang tua dengan prestasi belajar. BAB IV : Hasil penelitian.

56 Depdikbud.1 Dalam mendidik anak. cara kerja. terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian dari pola asuh itu sendiri. Ilmu Jiwa Agama. sistem. 54 3 TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1996). membimbing (membantu. bahawa “Kepribadian orang tua. dan harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. h. bentuk (struktur) yang tetap”. (Jakarta : Bulan Bintang. Besar Bahasa Indonesia. Orang tua sebagai pembentuk pribadi yang pertama dalam kehidupan anak. “pola berarti corak. 1988). Menurut Kamus 9 . 692 2 1 Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu “pola” dan “asuh”. Ke-1. Cet ke-15. 1988). Sebelum berlanjut kepada pembahasan berikutnya. sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. h. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta : Balai Pustaka. dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga”.BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Pola Asuh Orang Tua Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang berkepribadian baik.2 Sedangkan kata “asuh dapat berati menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil. (Jakarta : Balai Pustaka.3 Lebih jelasnya. Cet. Zakiyah Darajat. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Zakiyah Daradjat. h. melatih dan sebagainya). sikap dan cara hidup merupakan unsur-unsur pendidikan yang secara tidak langsung akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh”. Kamus Besar Bahasa Indonesia. terdapat berbagai macam bentuk pola asuh yang bisa dipilih dan digunakan oleh orang tua. model.

2. sedangkan pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Asah. Macam-macam Pola Asuh Orang Tua Dalam mengelompokkan pola asuh orang tua dalam mendidik anak.5 5 Danny I. yaitu : 1. dan bantuan sehingga orang tetap berdiri dan menjalani hidupnya secara sehat. (Jakarta : Arcan. h. 94 4 . Asih. Cet. agar anak dapat mandiri. para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Asuh Keutamaan Wanita. Yatim-Irwanto “Pola asuh berarti pendidikan. dukungan. 1991). perawatan. Ahmad Tafsir seperti yang dikutip oleh Danny I. B. Yatim-Irwanto.4 Menurut Dr. Di antaranya adalah sebagai berikut : Dr.” 5 Jadi pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak. Kepribadian Keluarga Narkotika. 1990). Paul Hauck menggolongkan pengelolaan anak ke dalam empat macam pola. Ke-1.10 kata asuh adalah mencakup segala aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan. Kasar dan tegas Orang tua yang mengurus keluarganya menurut skema neurotik menentukan peraturan yang keras dan teguh yang tidak akan di ubah dan mereka membina suatu hubungan majikan-pembantu antara mereka sendiri dan anak-anak mereka. (Yogyakarta : Kanisius. yang lemah dan yang tergantung. yang antara satu sama lain hampir mempunyai persamaan. Cet. Ke-1. pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua. di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku. h. tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal. Baik hati dan tidak tegas Metode pengelolaan anak ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja. Elaine Donelson. dan yang bersifat kekanak-kanakan secara emosional.

Abu Ahmadi mengemukakan bahwa. Baik hati dan tegas Orang tua tidak ragu untuk membicarakan dengan anak-anak mereka tindakan yang mereka tidak setujui. Namun dalam melakukan ini. 6 Paul Hauck. Pola memiliki-melepaskan. Melindungi secara berlebihan Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang berlebihan. 4. Cet. h. (Mendidik Anak dengan Berhasil).11 3. tidak pernah si anak atau pribadinya.Ke-5. 1993). anak dapat berpartisifasi dalam keputusankeputusan keluarga. 47 7 Abu Ahmadi. Kasar dan tidak tegas Inilah kombinasi yang menghancurkan kekasaran tersebut biasanya diperlihatkan dengan keyakinan bahwa anak dengan sengaja berprilaku buruk dan ia bisa memperbaikinya bila ia mempunyai kemauan untuk itu. Pola demokrasi-otokrasi. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak. antara lain : 1.6 Drs. 180 . pola ini didasarkan atas taraf partisifasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fels Research Institute. H. yaitu : 1. pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak. 2. 3. Psikologi Populer. 1991). sampai batas-batas tertentu. h. sedangkan dalam pola demokrasi. Sosiologi Pendidikan. Hurlock ada beberapa sikap orang tua yang khas dalam mengasuh anaknya. corak hubungan orang tua-anak dapat dibedakan menjadi tiga pola. mereka membuat suatu batas hanya memusatkan selalu pada tindakan itu sendiri. (Jakarta : PT Rieneka Cipta. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali. pola ini didasarkan atas sikap protektif orang tua terhadap anak.7 Menurut Elizabet B. Pola menerima-menolak. (Jakarta : Arcan.

4.12 2. Terj. (Jakarta : Erlangga. 8. Hal ini membuat mereka lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya dari pada anak lain dalam keluarga. h. 9. Memanjakan Permisivitas yang berlebih-memanjakan membuat anak egois. Ke-2. Hurlock. Cet. 7. Ambisi ini sering dipengaruhi oleh ambisi orang tua yang tidak tercapai dan hasrat orang tua supaya anak mereka naik di tangga status sosial. Meitasari Tjandrasa. memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak. Perkembangan Anak/Child Development. Permisivitas Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat sesuka hati dengan sedikit pengendalian. kebanyakan orang tua mempunyai favorit.8 Elizabeth B. sopan dan berhati-hati tetapi cenderung malu. Ambisi orang tua Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka seringkali sangat tinggi sehingga tidak realistis. 5. Dominasi Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua bersifat jujur. 1990). Penerimaan Penerimaan orang tua ditandai oleh perhatian besar dan kasih sayang pada anak. 3. Tunduk pada anak Orang tua yang tunduk pada anaknya membiarkan anak mendominasi mereka dan rumah mereka. 204 8 . Penolakan Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak atau dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan yang terbuka. 6. orang tua yang menerima. patuh dan mudah dipengaruhi orang lain. Favoritisme Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak dengan sama rata. menuntut dan sering tiranik. mengalah dan sangat sensitif.

1994).9 Thomas Gordon mengemukakan metode pengelolaan anak. 5. Overprotection ( terlalu melindungi ) b. yaitu : a. 94 Thomas Gordon. pola ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. pola asuhan ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya. Pola asuh tidak menang dan tidak kalah.. 1986). 2. Domination ( dominasi ) f. Terj.13 Danny I. Yatim-Irwanto mengemukakan beberapa pola asuh orang tua. 21 10 9 . h. Sumarji. Kebebasan anak sangat dibatasi. yaitu : 1. 127 11 Syamsu Yusuf. Menjadi orang tua efektif. Over disipline ( terlalu disiplin )11 Danny I. Permisivienes ( pembolehan ) c. Pola asuhan dengan ancaman. Rejection ( penolakan ) d. Acceptance ( penerimaan ) e. h.. Pola asuh permisif.10 Menurut Syamsu Yusuf terdapat 7 macam bentuk pola asuh yaitu : a. 4. Pola asuhan dengan hadiah. Pola asuh menang b. (Jakarta : Gramedia. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Yatim-Irwanto. Kepribadian…………. (Jakarta : Erlangga. Submission ( penyerahan ) g. yang dimaksud disini adalah jika orang tua mempergunakan hadiah yang bersifat material atau suatu janji ketika menyuruh anak berprilaku seperti yang diinginkan. Ia akan melanggarnya untuk menunjukkan bahwa ia mempunyai harga diri. Pola asuh otoriter. Pola asuh demokratik. pola ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. h. 3. ancaman atau peringatan yang dengan keras diberikan pada anak akan dirasa sebagai tantangan terhadap otonomi dan pribadinya. Pola asuh mengalah c.

14 Sedangkan Marcolm Hardy dan Steve Heyes mengemukakan empat macam pola asuh yang dilakukan orang tua dalam keluarga. Edisi ke-2. permisiveness. 131 12 .12 Ditandai dengan sikap acuh tak acuh orang tua terhadap anaknya. Dominasi. Pengantar Psikologi. yaitu pola asuh otoriter. acuh tak acuh. penulis hanya akan mengemukakan tiga macam saja. maka penulis hanya akan membahas tiga macam pola asuh. (Jakarta : Erlangga. kedisiplinan dan kepatuhan yang berlebihan. Soenardji. Demokratis Ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak. jika dilihat dari berbagai macam bentuk pola asuh di atas pada intinya hampir sama. Terj. kesemuanya itu memperlihatkan suatu sikap yang kurang berwibawa. Laissez faire. over discipline. favoritisme. over protection. Demikian pula halnya dengan pola asuh laissez faire. Misalnya saja antara pola asuh autokratis. rejection. Permisif Ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. semuanya menekankan pada sikap kekuasaan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar pembahasan menjadi lebih terfokus dan jelas. Adapun acceptance (penerimaan) bisa termasuk bagian dari pola asuh demokratis. Autokratis (otoriter) Ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua dan kebebasan anak sangat di batasi. Oleh karena. Secara implisit. demokratis dan laissez faire. yang secara teoritis lebih dikenal bila dibandingkan dengan yang lainnya. Dari berbagai macam pola asuh yang dikemukakan di atas. memanjakan. bebas. c. d. ambisi orang tua dan otoriter. 1986). demokratis dan laissez faire. Yaitu pola asuh otoriter. b. yaitu : a. submission. Malcom Hardy dan Steve Heyes. Oleh karena itulah. h.

Pada pola asuhan ini akan terjadi komunikasi satu arah. Karena menurutnya tanpa sikap keras tersebut anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya. Utami Munandar mengemukakan bahwa. Karena disiplin yang dinilai efektif oleh orang tua (sepihak). Kamus……………. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. dalam hal ini kebebasan anak sangatlah dibatasi.Y. Otoriter Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.Y. 6-8 14 13 . Apa saja yang dilakukan anak harus sesuai dengan keinginan orang tua. Prof. Singgih D. 692 Singgih D. h. Cet. maka ia tak segan-segan memberikan hukuman. Gunarsa dan Ny. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua.14 Jadi pola asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa kompromi dan memperhitungkan keadaan anak. 87 15 Parsono. Dr. Serta orang tualah yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanyalah sebagai objek pelaksana saja. Gunarsa dan Ny. Singgih D. 1995). 1994). Cet ke-2.15 1. h. Materi Pokok Landasan Kependidikan. Jadi. Gunarsa. otoriter “berarti berkuasa sendiri dan sewenang-wenang”. Jadi anak melakukan perintah orang tua karena takut. Orang tualah yang memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan dan keinginan anak. belum tentu serasi dengan perkembangan anak. dapat mempengaruhi proses pendidikan anak terutama dalam pembentukan kepribadiannya. BPK. Ke-7. Jika anak-anaknya menentang atau membantah. (Jakarta : PT. h.15 Penerapan pola asuh otoriter oleh orang tua terhadap anak. Gunarsa.13 Menurut Singgih D. pola asuh otoriter adalah suatu bentuk pola asuh yang menuntut anak agar patuh dan tunduk terhadap semua perintah dan aturan yang dibuat oleh orang tua tanpa ada kebebasan untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya sendiri. “sikap orang tua yang otoriter paling tidak menunjang Depdikbud. bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakannya itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak. (Jakarta : Universitas terbuka. Gunung Mulia.

h. Suami dan Anak dalam Keluarga. maka anak dianggap pembangkang. Utami Munandar. 112 18 Kartini Kartono. 4) Jika terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dan anak. sopan. ia merasa tidak dapat mengimbangi temantemannya dalam segala hal. ragu-ragu di dalam semua tindakan. Lamalama ia akan mempunyai perasaan rendah diri dan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Karena kepercayaan terhadap diri sendiri tidak ada. serta lambat berinisiatif. Anak menjadi patuh.18 Adapun ciri-ciri dari pola asuh otoriter adalah sebagai berikut : 1) Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak boleh membantah. Sifat pribadi anak yang otoriter biasanya suka menyendiri. sehingga anak menjadi pasif dalam pergaulan. mengalami kemunduran kematangannya. 2) Orang tua cenderung mencari kesalahan-kesalahan anak dan kemudian menghukumnya.”16 Disini perkembangan anak itu semata-mata ditentukan oleh orang tuanya. perlindungan dan pengamanan. Ini berarti anak tidak berani memikul tanggung jawab. anak tidak akan berani mencoba. dan ia tidak akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak dapat kesempatan untuk mencoba. tetapi kurang bebas dan kurang percaya diri. 98 16 . h. h. Hubungan Isteri. (Jakarta : Pustaka Antara. rajin mengerjakan pekerjaan sekolah. Larangan dan hukuman orang tua akan menekan daya kreativitas anak yang sedang berkembang.17 Anak yang dibesarkan di rumah yang bernuansa otoriter akan mengalami perkembangan yang tidak diharapkan orang tua. Sosiologi……………. 1992). 127 17 Abu Ahmadi.16 perkembangan kemandirian dan tanggung jawab sosial. Peran……………. Anak akan menjadi kurang kreatif jika orang tua selalu melarang segala tindakan anak yang sedikit menyimpang dari yang seharusnya dilakukan. Anak juga akan takut untuk mengemukakan pendapatnya. 3) Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak. maka setelah dewasapun masih akan terus mencari bantuan.

6) Orang tua cenderung memaksakan segala sesuatu untuk anak dan anak hanya sebagai pelaksana. melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua. Demokratis Menurut Prof.21 Dengan kata lain. 7) Tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak. pola asuh demokratis ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat.19 2. Orang tua juga selalu memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. di mana orang tua menentukan peraturan-peraturan tetapi dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak”. Bukhari) ϯέΎΨΒϟ΍ϩ΍ϭέ. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.17 5) Orang tua cenderung memaksakan disiplin. namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orang tua dan anak.20 Pola asuh demokratis adalah suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak.R. Dr. Hal tersebut dilakukan orang tua dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah mencintai kelemah-lembutan dalam segala urusan”. (H. “Pola asuh demokratis adalah cara mendidik anak. Utami Munandar.

Pemanduan Anak Berbakat. 98 21 Singgih D. Pola asuh demokratis dapat dikatakan sebagai kombinasi dari dua pola asuh ekstrim yang bertentangan. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Pengantar Pendidikan (Jakarta : Gramedia Widiasarana. Gunarsa dan Ny. 88 20 Utami Munandar. perasaan dan keinginanya. 84 19 . h. h. 1982). (Jakarta : CV. Rajawali. 1992). Cet. Jadi dalam pola asuh ini terdapat komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. yaitu pola asuh otoriter dan laissez faire. Pola Zahara Idris dan Lisma Jamal. Singgih D. Ke-2. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat.ϪϠϛήϣϷ΍ϲϓϖϓήϟ΍ΐΤϳͿ΍ϥ· Pola asuh demokrasi ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak.Y. Psikologi……………. h. Gunarsa.

h.18 asuhan demokratik ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat.23 Pendapat Fromm. perkembangannya lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. 51 24 Abu Ahmadi. Asah. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. bukan seekor hewan terlatih yang patuh tanpa pertanyaan. memandang kekuasan sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan bersifat magi (rahasia). Sosiologi…………. 180 .22 Rumah tangga yang hangat dan demokratis. 97 Joan Beck. yang dikutip oleh Mohammad Shochib adalah bahwa dalam pola asuh dan sikap orang tua yang demokratis menjadikan adanya kominukasi yang dialogis antara anak dan orang tua dan adanya kehangatan yang membuat anak remaja merasa diterima oleh orang tua sehingga ada pertautan perasaan. Asuh. seperti yang dikutip oleh Abu Ahmadi bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratik. hal. h. Hal ini mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri. Daya kreativitasnya berkembang baik karena orang tua selalu merangsang anaknya untuk mampu berinisiatif. Sebaliknya anak yang dibesarkan dalam suasana otoriter. anak remaja yang merasa diterima oleh orang tua memungkinkan 22 23 Danny I. anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap prilakunya sendiri dengan hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakat. Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak. Asih. yang dapat menilai situasi dan bertindak dengan tepat.……………. perasaan dan keinginanya dan belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain.24 Indikasi dari hasil penelitian Lutfi (1991) dan Nur Hidayat (1993) dan Nur Hidayah dkk (1995). juga berarti bahwa orang tua merencanakan kegiatan keluarga untuk mempertimbangkan kebutuhan anak agar tumbuh dan berkembang sebagai individu dan bahwa orang tua memberinya kesempatan berbicara atas suatu keputusan semampu yang diatasi oleh anak. atau justru sikap menentang kekuasaan.. Ini mungkin menimbulkan sikap tunduk secara membuta kepada kekuasaan. Oleh sebab itu. Yatim-Irwanto. Kepribadian………….. Sasaran orang tua ialah mengembangkan individu yang berpikir. Dengan pola asuhan ini. bertanggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri.

h. 1998). Pengantar……………. 87-88 27 Soegarda Poebakawatja. Tidak ada orang tua yang menerapkan salah satu macam pola asuh dengan murni. menerima. (Jakarta : Gunung Agung. mampu menghargai orang lain. Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Disiplin diri. Cet. dipahami dan dimengerti oleh anak 2) Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertahankan dan yang tidak baik agar di tinggalkan 3) Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian 4) Dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga 5) Dapat menciptakan suasana komunikatif antara orang tua dan anak serta sesama keluarga26 Dari berbagai macam pola asuh yang banyak dikenal. mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya.27 Pola asuhan ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua menerapkan berbagai macam pola asuh dengan memiliki kecenderungan kepada salah satu macam pola. Orang tua tidak pernah memberi Mohammad Shochib.19 mereka untuk memahami. 3. Dalam istilah pendidikan. (Jakarta : PT Rieneka Cipta. dalam mendidik anak-anaknya. h. dan menginternalisasi “pesan” nilai moral yang diupayakan untuk diapresiasikan berdasarkan kata hati.25 Adapun ciri-ciri pola asuh demokratis adalah sebagai berikut : 1) Menentukan peraturan dan disiplin dengan memperhatikan dan mempertimbangkan alasan-alasan yang dapat diterima. Dengan pola asuh demokratis anak akan menjadi orang yang mau menerima kritik dari orang lain. 1976). 6 26 Zahara Idris dan Lisma Jamal. Laissez Faire Kata laissez faire berasal dari Bahasa Perancis yang berarti membiarkan (leave alone). Ke-1. laissez faire adalah suatu sistim di mana si pendidik menganut kebijaksanaan non intereference (tidak turut campur). h. pola asuh demokratis mempunyai dampak positif yang lebih besar dibandingkan dengan pola asuh otoriter maupun laissez faire. Ensiklopedi Pendidikan. 163 25 .

5) Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga. Seorang anak yang belum pernah diajar untuk mentoleransi frustasi. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan orang tua. Kesukaran-kesukaran yang terpendam antara pandangan suami istri atau kawan sekerja terlihat nyata. tergantung dan bersifat kekanak-kanakan secara emosional. dan bahkan marah-marah. Kepribadian Keluarga Narkotika. h. 3) Mengutanakan kebutuhan material saja..29 Adapun yang termasuk pola asuh laissez faire adalah sebagai berikut : 1) Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan membimbingnya.30 28 29 Danny I. Dalam perkawinan dan pekerjaan. Anak adalah subjek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. Pandangan orang lain jarang sekali dipertimbangkan. Kebebasan sepenuhnya diberikan kepada anak. Ketika mereka kecewa mereka menjadi gusar. tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. 50-52 30 Zahara Idris dan Lisma Jamal. h. 2) Mendidik anak acuh tak acuh. anak-anak yang manja tersebut mengharapkan orang lain untuk membuat penyesuaian terhadap tingkah laku mereka. penuh kebencian. Yatim-Irwanto. Akibatnya anak akan berprilaku sesuai dengan keinginanya sendiri. Pengantar……………. Psikolog……………. akan menemukan banyak masalah ketika dewasa. bersikap pasif dan masa bodoh. Orang tua membiarkan anaknya mencari dan menentukan sendiri apa yang diinginkannya. 97 Paul Hauck. h. Orang tua seperti ini cenderung kurang perhatian dan acuh tak acuh terhadap anaknya. Hanya pandangan mereka yang berguna. karena ia diperlakukan terlalu baik oleh orang tuanya. lemah. 4) Membiarkan saja apa yang dilakukan anak (terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan-peraturan dan norma-norma yang digariskan orang tua).28 Pada pola asuh ini anak dipandang sebagai makhluk hidup yang berpribadi bebas.20 aturan dan pengarahan kepada anak. 89-90 . Anak tidak tahu apakah prilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan ataupun menyalahkan anak. Metode pengelolaan anak ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja.

700 . h.33 Dengan demikian prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dilakukan. orang tua akan membantunya mencari jalan keluar tanpa berusaha mendiktenya. Karena itu. kegelisahannya kepada orang tua karena ia tahu. orang tua memberi kontrol terhadap anaknya dalam batas-batas tertentu. yaitu prestasi dan belajar. Anak memang akan memiliki rasa percaya yang lebih besar. kurang dapat bergaul dengan lingkungan sosialnya. Melalui pola asuh ini anak juga dapat merasa bebas mengungkapkan kesulitannya. h. dengan tetap menunjukkan dukungan. 31 32 Mohammad Shochib. Pola Asuh Orang Tua……………. pola asuh yang dianggap lebih cocok untuk membantu anak mengembangkan kreativitasnya adalah otoratif atau biasa lebih dikenal dengan demokratis. 42 Mohammad Shochib. aturan untuk hal-hal yang esensial saja. Dalam pola asuh ini. cinta dan kehangatan kepada anaknya. “prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan atau dilakukan atau dikerjakan”. Sementara pola asuh laissez faire. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh seperti ini mungkin memang tidak memiliki masalah dengan pelajaran dan juga bebas dari masalah kenakalan remaja. Pola Asuh Orang Tua…………….31 Anak membutuhkan dukungan dan perhatian dari keluarga dalam menciptakan karyanya. dan tingkat depresi lebih rendah.32 C. Anak tidak mengetahuyi norma-norma sosial yang harus dipatuhinya. Tipe otoriter memang memudahkan orang tua. 44 33 Depdikbud. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar terdiri dari dua kata. karena tidak perlu bersusah payah untuk bertanggung jawab dengan anak. ketergantungan kepada orang lain. Akan tetapi cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri. kemampuan sosial baik. Tapi juga akan lebih mungkin terlibat dalam kenakalan remaja dan memiliki prestasi yang rendah di sekolah. h. kurang kreatif. diciptakan baik dilakukan secara pribadi maupun kelompok.21 Setiap tipe pengasuhan pasti memiliki resiko masing-masing. Kamus……………. serta memiliki defresi yang lebih tinggi. membuat anak merasa boleh berbuat sekehendak hatinya.

belajar adalah suatu kegiatan anak didik dalam menerima. Cet. h. 80 37 Muhibbin Syah. (Jakarta : Logos Wacana Ilmu.172 38 .. menganggapi serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh guru yang berakhir pada kemampuan anak menguasai bahan pelajaran yang disajikan.36 Menurut. Cet. menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Ke-4. (Jakarta : Bulan Bintang. 9 Depdikbud. 1990). Psikologi Pendidikan. h. 1999). bahwa “belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Perubahan ini berlangsung secara proses sebagai akibat dari hasil latihan dan pengalaman.”37 Sedangkan menurut HM. berlatih. 13 36 Ngalim Purwanto. Arifin. h. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Masyarakat.34 Keberhasilan siswa dalam proses belajarnya dapat dilihat dari prestasi yang dicapai dalam kurun waktu tertentu dalam hal ini dapat dilihat dari nilai yang dibukukan dalam bentuk buku laporan pendidikan atau raport. h. Kamus…………. 64 M. maka dengan belajar akan terjadi perubahan tingkah laku seseorang. 1983). Desain Instruksional. 1978). Dengan demikian besar kecilnya nilai yang diperoleh menunjukkan besar kecilnya prestasi yang dicapai. Ke-1. Psikologi Belajar.. IKIP. Arifin.Ed.38 34 35 Abdul Gafur. Nilai-nilai yang tertera dalam buku tersebut merupakan penjumlahan nilai dari seluruh mata pelajaran yang diperoleh siswa dalam satu semester.22 Menurut Gagne. (Jakarta : BPT. prestasi adalah penguasaan siswa terhadap materi pelajaran tertentu yang telah diperoleh dari hasil tes belajar yang dinyatakan dalam bentuk skor. “belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.35 Adapun Ngalim Purwanto mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang bersifat relatif. h. Belajar merupakan suatu keharusan kalau kita ingin maju. Muhibbin Syah M. berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan pengalaman”. (Bandung : Remaja Rosda Karya.

artinya perubahan yang senantiasa bertambah baik. 67 41 Nana Sujana. berpendapat bahwa “belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan di mana perubahan tersebut dapat menunjukkan dalam berbagai bentuk seperti penambahan pengetahuan. Cet. maka dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil suatu proses aktivitas belajar yang membawa perubahan tingkah laku pada diri siswa tersebut (seseorang). kemudian aspek-aspek tersebut dievaluasikan dan diaktualisasikan dalam angka atau skor yang dapat dilihat dalam buku raport. Widodo Supriyono. 1991). keterampilan dan sikap. h. membedakan antara keadaan sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan belajar.” Perubahan ini pada pokoknya. baik itu keterampilannya. pemahaman setiap tingkah laku.121 40 Abdur Rachman Abror. Abu Ahmadi dan Drs. 1995). H. Dan perubahan itu dilakukan lewat kegiatan. Psikologi Belajar. Widodo Supriyono mengemukakan bahwa “belajar menurut pengertian psikologi merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan didalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Psikologi Pendidikan. Ke-4. Cet.”41 Dari definisi yang dikemukakan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan kontinyu pada seseorang hingga akan mengalami perubahan tingkah laku secara keseluruhan. atau usaha atau praktek yang disengaja atau diperkuat. (Yogya : Tiara Wacana. h. menyimpulkan bahwa. daya reaksi. Ke-1. Ke-5. kecakapan atau kemampuan. kemampuannya ataupun sikapnya sebagai hasil belajar. kapasitas) yang relatif tetap. “belajar menimbulkan suatu perubahan (dalam arti tingkah laku. Cet. (Bandung : Sinar Baru Algensindo. daya penerimaan dan lain-lain yang ada pada individu. Perubahan tersebut meliputi aspek pengetahuan. Abu Ahmadi dan Drs.”39 Kemudian Abdur Rachman Abror. (Jakarta : PT Rieneka Cipta. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.23 Drs. Berdasarkan pengertian prestasi dan belajar yang telah dikemukakan di atas. 1993). h.40 Selain itu Nana Sujana. 28 39 .

bakat. Pembinaan Anak dalam Keluarga. Faktor internal siswa 1) Faktor fisiologis siswa. ada faktorfaktor lain yang mendukung prestasi belajar yang diperoleh siswa.24 Jadi seseorang dapat memperoleh prestasi apabila telah melakukan proses belajar beberapa waktu dalam penguasaan pengetahuan dan keterampilan. seperti minat. sikap. sebaiknya jangan terlampau cepat mengambil kesimpulan bahwa ia adalah anak yang bodoh. Ke-2. 2) Faktor psikologis siswa. Seperti dinyatakan oleh Slameto bahwa prestasi belajar siswa tidak semata-mata dinyatakan oleh tingkat kemampuan intelektualnya. kepribadian. Cet. Alisuf Sabri mengatakan bahwa ada berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang secara garis besar dibagi menjadi dua. (Jakarta : BPK Gunung Mulia. Di antara faktor-faktor tersebut adalah faktor orang tua yang dalam banyak hal menempati peranan yang cukup penting. kesehatan fisik dan mental. seperti kondisi kesehatan dan kebugaran fisik. h.42 Linda Wahyudi mengatakan bila anak menampilkan prestasi yang buruk di sekolah.M. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi anak. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari dalam diri anak dan dapat pula berasal dari luar diri anak. motivasi. Ke-1. a.130 43 Alex Sobur. dan kemampuan-kemampuan kognitif seperti kemampuan persepsi. tetapi ada faktor-faktor lain seperti motivasi.144 42 . Cet. serta kondisi panca inderanya terutama penglihatan dan pendengaran. Hal ini dikarenakan orang tua merupakan tokoh yang penting di dalam kehidupan seorang anak. Slameto. ketekunan dan lain-lain. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Tingkat intelegensi siswa memang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. h.43 Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang (siswa) adalah sebagai berikut : H. intelegensi. 1988). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta : Bina Aksara. yaitu faktor internal dan faktor eksternal siswa. D. 1988). namun hal itu bukanlah faktor utama.

waktu (pagi. 1996). dan sebagainya. sekolah.44 Sedangkan M. yaitu pertama faktor lingkungan alam atau non sosial seperti keadaan suhu. Faktor ini terbagi dua. b. Faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa. intelegensi dan bakat. Orang yang badannya sakit akibat penyakit-penyakit kelelahan tidak akan dapat belajar dengan efektif. M. Intelegensi Intelegensi pada umumnya diartikan dengan kecerdasan. Ke-2. Kesehatan jasmani dan rohani Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat. h. 57 Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. sedikit frustasi atau putus asa?46 b. Psikologi……………. Dalam proses belajar tingkat intelegensi siswa sangat berpengaruh terhadap prestasi 44 M. masyarakat dan lingkungan sekitar.45 Penjelasan dari masing-masing faktor tersebut adalah sebagai berikut : 1. 138 h. yaitu kesehatan jasmani dan rohani. Psikologi Pendidikan. minat dan motivasi. 1997). berpikir dan kemampuan dasar pengetahuan (bahan apersepsi) yang dimiliki siswa. 2) Faktor instrumental. Faktor internal a. Faktor-faktor eksternal siswa 1) Faktor lingkungan siswa. guru dan kurikulum atau materi pelajaran serta strategi belajar mengajar. media pengajaran. letak sekolah. Dalyono berpendapat bahwa ada 2 faktor yang menentukan pencapaian hasil belajar. yaitu : 1. (Jakarta : Rieneka Cipta. siang. Psikologi Pendidikan. yaitu keluarga. h. Kedua faktor lingkungan sosial seperti manusia dan budayanya. malam).25 ingatan. Cacat fisik juga mengganggu hal belajar. antara lain gedung atau sarana fisik kelas. Dalyono. Cet. serta cara belajar 2. Faktor eksternal yang bersal dari luar diri siswa. Bagaimana orang dapat belajar dengan baik apabila ia sakit ingatan. kelembaban udara. Alisuf Sabri. 59-60 45 46 . (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya. Demikian pula gangguan serta cacat-cacat mental pada seseorang sangat menggangu hal belajar yang bersangkutan. sarana atau alat pengajaran.

Anak sebaiknya dibiasakan belajar sedikit demi sedikit setiap hari secara teratur. e.49 Seorang yang menaruh minat pada suatu bidang akan mudah mempelajari bidang itu.Y. dan tujuan. Psikologi…………. Singgih D. Jika dalam belajar hafalan anak tidak dibarengi dengan Kartini Kartono.. Evaluasi Pendidikan. Widodo Supriyono. h. Psikologi………. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat kecerdasan siswa. Sering anak diarahkan sesuai dengan kemampuan orang tuanya. h. karena motivasi menggerakkan organisme. h. Bakat Bakat adalah potensi atau kemampuan. Minat Minat adalah suatu gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktivitas yang menstimulus perasaan senang pada individu. Cara belajar Anak yang tidak setiap hari belajar. meskipun hanya sebentar. mengarahkan tindakan.48 d. 139 47 . motif . Seorang anak yang tidak berbakat teknik tetapi karena keinginan orang tuanya. sangat mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar.26 siswa. Motivasi Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan. akibatnya bagi anak sekolah dirasakan sebagai suatu beban. dan nilai-nilai yang didapat anak buruk serta tidak ada kemauan lagi untuk belajar.50 f.. anak itu disekolahkan pada jurusan tehnik. 129 49 Wayan Nurkancana dan PPN Sunartana.47 c. sehingga bahan-bahan pelajaran akan tertimbun sampai saat ulangan. (Jakarta : CV Rajawali. tentu nilainya tidak baik. 1 48 Singgih D. 1985). serta memilih tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupan individu. Motivasi adalah penting bagi proses belajar. 229 50 Abu Ahmadi dan Drs. Orang tua kadang-kadang tidak memperhatikan faktor bakat ini. Bimbingan Belajar di SMA dan Perguruan Tinggi. Gunarsa dan Ny.. 1993). (Surabaya : Usaha Nasional. tetapi dibiarkan dulu menunggu saat hampir ulangan baru belajar. semakin besar peluang siswa berhasil dalam proses pelajarannya. tekanan. Gunarsa.. h.

27

pengertian-pengertian yang baik, anak tidak mengerti apa hubungan antara suatu hal dengan hal lainnya. Jadi cara menghafalnya tepat seperti yang ada dibuku. Perlu diperhatikan bahwa belajar dengan mengerti hubungan antara bahan yang satu dengan yang lain akan lebih mudah dan lebih lama diingat oleh anak.51 2. Faktor eksternal a. Keluarga Lingkungan keluarga merupakan media pertama dan utama yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku dalam perkembangan anak didik. Tujuan pendidikan secara universal dapat dikatakan agar anak manusia tersebut menjadi mandiri, dalam arti bukan saja dapat mencari nafkahnya sendiri, namun juga mengarahkan dirinya berdasarkan keputusannya sendiri untuk mengembangkan semua

kemampuan fisik, mental, sosial dan emosional yang dimilikinya. Sehingga dapat mengembangkan suatu kehidupan yang sehat dan produktif, dengan memiliki kepedulian terhadap orang lain.52 Pendidikan keluarga adalah fundamen atau dasar dari pendidikan anak selanjutnya. Hasil-hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya, baik di sekolah maupun di masyarakat. Ngalim Purwanto mengutip pendapatnya C. G. Salzmann (1744-1811), seorang penganut aliran philantropium, yang telah mengeritik dan mengecam pendidikan yang telah dilakukan oleh para orang tua waktu itu. Dalam karangannya, Kresbuchlein (buku Udang Karang). Salzmann mengatakan bahwa segala kesalahan anak-anak itu adalah akibat dari perbuatan pendidik-pendidiknya, terutama orang tua. Orang tua pada masa Salzmann dipandangnya sebagai penindas yang menyiksa anaknya dengan pukulan yang merugikan kesehatannya, dan menyakiti perasaan-perasaan kehormatannya. Disini Salzmann hendak

Singgih D. Gunarsa dan Ny.Y. Singgih D. Gunarsa, Psikoloi…………, h. 35 Conny R. Semiawan, Ed. Yufiarti dan Theodorus Immanuel Setiawan, Pendidikan Keluarga dalam Era Global, (Jakarta : Prenhallindo, 2002), Cet. Ke-10, h. 79
52

51

28

menunjukkan bahwa pendidikan keluarga atau orang tua itu penting sekali.53 Dari pendapat ke dua ahli tersebut dapat di simpulkan bahwa salah satu yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor keluarga. Adapun faktor keluarga ini dapat di golongkan menjadi lima golongan, yaitu : 1) Cara mendidik anak Setiap keluarga mempunyai spesifikasi dalam mendidik. Ada keluarga yang cara mendidik anak secara dictator militer, ada yang demokratis di mana pendapat anak diterima oleh orang tua. Tetapi ada juga keluarga yang acuh dengan pendapat setiap anggota keluarga. Jadi tiap-tiap anggota keluarga berjalan sendiri. Dari ketiga cara mendidik anak ini maka timbul pula macam-macam kepribadian dari anak tersebut. 2) Hubungan orang tua dan anak Ada keluarga yang hubungan anak dan orang tua dekat sekali sehingga anak tidak mau lepas dari orang tuanya. Bahkan ke sekolah pun susah. Ia takut terjadi sesuatu dengan orang tuanya. Pada anakanak yang berasal dari hubungan keluarga demikian kadang-kadang mengakibatkan anak menjadi tergantung. Bentuk lain misalnya hubungan orang tua dan anak yang ditandai oleh sikap acuh tak acuh pada orang tua. Sehingga dalam diri anak timbul reaksi frustasi. Sebaliknya orang tua yang terlalu keras terhadap anak, hubungan anak dan orang tua menjadi jauh sehingga menghambat proses belajar dan anak selalu diliputi oleh ketakutan terus menerus.

Ngalim Purwanto, MP., Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1995), Cet. Ke-8, Edisi 2, h. 79

53

29

3) Sikap orang tua Hal ini tidak dapat dihindari, karena secara tidak langsung anak adalah gambaran dari orang tuanya. Jadi sikap orang tua menjadi contoh bagi anak. 4) Ekonomi keluarga Faktor ekonomi sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan rumah tangga. Keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak kadang-kadang tidak dapat terlepas dari faktor ekonomi. Begitu pula faktor keberhasilan seseorang. Pada keluarga yang ekonominya kurang mungkin dapat menyebabkan anak kekurangan gizi, kebutuhan-kebutuhan anak mungkin tidak dapat terpenuhi. Selain itu ekonomi yang kurang menyebabkan suasana rumah menjadi muram dan gairah untuk belajar tidak ada. Tetapi hal ini tidak mutlak demikian. Kadang-kadang kesulitan ekonomi bisa menjadi pendorong anak untuk lebih berhasil, sebaliknya bukan berarti pula ekonomi yang berlebihan tidak akan menyebabkan kesulitan belajar. Pada ekonomi yang berlebihan anak mungkin akan selalu dipenuhi semua kebutuhannya, sehingga perhatian anak terhadap pelajaran-pelajaran sekolah akan berkurang karena anak terlalu banyak bersenang-senang, misalnya dengan permainan yang beraneka ragam atau pergi ke tempat-tempat hiburan dan lain-lain. 5) Suasana dalam keluarga Suasana rumah juga berpengaruh dalam membantu belajar anak. Apabila suasana rumah itu selalu gaduh, tegang, sering ribut dan bertengkar, akibatnya anak tidak dapat belajar dengan baik, karena belajar membutuhkan ketenangan dan konsentrasi.54

54

Singgih D. Gunarsa dan Ny.Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi…………, h. 131-133

merangsang dan membimbing terhadap aktivitas anaknya atau tidak. . cekcok dan sebagainya. Apakah ia ikut mendorong.30 E. Ada keluarga yang besar (banyak anggota keluarganya). atau dengan perkataan lain pola asuh orang tua dapat mempengaruhi prestasi siswa. keadaan dalam keluarga yang bermacam-macam coraknya itu akan membawa pengaruh yang berbeda-beda pula terhadap pendidikan anak-anak. Faktor keluarga mencakup . dapat sangat merangsang anak belajar dan mengembangkan kemampuan mentalnya yang sedang tumbuh. sedangkan sebagian lagi menganut pendirian-pendirian yang kuno atau kolot. Sebaliknya. hubungan orang tua dan anak. Kerangka Berpikir Dalam penelitian ini penulis ingin membuktikan bahwa ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar yang dicapai siswa. Dengan sendirinya. Ada keluarga yang selalu diliputi oleh suasana tenang dan tentram. faktor fisiologis dan psikologis. sekolah merupakan lanjutan dari pendidikan anak-anak yang telah dilakukan dirumah. ada pula yang selalu gaduh. Ada keluarga yang kaya. Sebagian orang tua mendidik anak-anaknya menurut pendirian-pendirian modern. ekonomi keluarga dan suasana dalam keluarga. cara mendidik anak. dan ada pula keluarga kecil. sikap orang tua. Pendidikan keluarga adalah fundamen atau dasar dari pendidikan anak selanjutnya. Dalam mendidik anak-anak. Keadaan tiap-tiap keluarga berlainan pula satu sama lain. baik di sekolah maupun dalam masyarakat. Berhasil baik atau tidaknya pendidikan di sekolah bergantung pada dan dipengaruhi oleh pendidikan di dalam keluaraga. tetapi dipengaruhi juga oleh faktor eksternal yang antara lain adalah keluarga. Pengaruh keluarga terhadap pendidikan anak itu berbeda-beda. Suasana emosionil di dalam rumah. Jadi orang tua mempunyai peranan yang penting dalam keberhasilan belajar anak antara lain cara orang tua mendidik anak. Penelitian ini didasarkan pada kerangka berpikir sebagai berikut : Prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi. Hasilhasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya. ada keluarga yang kurang mampu.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Reynolds (1975). Dari uraian di atas jelas terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar. dan sedikit menggunakan hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. bersama-sama dengan sifat pembawaan lahir. yang menyatakan bahwa orang tua yang mempunyai harga diri tinggi banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk membuat keputusan secara bebas. dan menerapkan disiplin berdasarkan kecintaan. penuh kasih sayang. berkomunikasi dengan lebih baik. perlu adanya hubungan yang akrab dan bentuk komunikasi yang memberikan kebebasan kepada anak untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Pendapat ini diperkuat oleh hasil penelitian Madison (1989). yang dibawa sejak lahir. Hubungan orang tua dengan anak. sehingga terlihat jelas adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa.31 suasana tersebut bisa memperlambat otaknya yang sedang tumbuh dan menjemukan perasaan kreatif. yaitu : Skema Kerangka Berpikir Penelitian Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa Faktor Internal Pola asuh orang tua Prestasi belajar Hubungan orang tua dan anak Faktor Eksternal Keluarga Sikap orang tua Ekonomi keluarga Suasana dalam keluarga . mendukung anak untuk memiliki “kebebasan” sehingga anak mempunyai kepuasan. Dengan demikian dapat digambarkan skema berpikir dalam penelitian ini. dia menyatakan bahwa anak yang berhasil di sekolah adalah anak yang berlatar belakang dari keluarga yang berhubungan akrab. akan banyak menentukan bagaimana dia maju dengan belajarnya untuk sisa hidupnya. Selain itu.

Hipotesa Dalam skripsi ini yang hendak diuji kebenarannya adalah: Hipotesa Alternatif (Ha) : Ada hubungan positif yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar.32 F. . Hipotesa Nihil (Ho) : Tidak ada hubungan positif yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar.

2 B 33 . 2. Untuk bahan masukan bagi sekolah yang diteliti khususnya bagi wali murid. Penentuan Lokasi Penelitian Setelah mempertimbangkan beberapa hal. B. Untuk memberikan gambaran yang tepat tentang pola asuh orang tua kepada para pendidik. 2. khususnya bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya. Tujuan dan Manfaat penelitian Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah : 1.Falah Jakarta Timur yang terletak di Jl. Untuk mengetahui pola asuh orang tua terhadap pendidikan anak. Untuk menambah pengetahuan. Pahlawan Revolusi No. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan presatasi belajar siswa MTs al-Falah Jakrta Timur. maka penulis menentukan penelitian ini berlokasi di MTs Al. Sedangkan manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. 3. agar dapat mengambil sikap dalam membimbing anak sebagai tindakan preventif maupun kuratif.

yaitu merupakan tanya jawab yang dikerjakan secra sistematis berlandaskan pada tujuan penelitian. observasi biasa diartikan dengan pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. (Bandung : Sinar Baru Algensindo. Jilid 2. yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke obyek penelitian.34 C. artikel-artikel atau sumber bacaan lain yang berkaitan dengan penelitian. sebagai metode ilmiah. Cet. 1996). Observasi. 1998).115 2 Nana Sujana. penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : 1. Wawancara ini dilakukan dengan Kepala Sekolah. Wawancara. Ke-3. Teknik pengumpulan data Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian lapangan (field research). mengadakan penelitian kepustakaan dengan cara mengkaji buku-buku. Sampel adalah “sebagian dari populasi yang memiliki sifat dan karakteristik yang sama sehingga betul-betul mewakili populasi”. dengan tujuan untuk memperoleh informasi dan melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini. Dokumentasi. 2. 3. 1992). dan c. h. (Jakarta : Rieneka Cipta. h. 84 3 Sutrisno Hadi. Library research. 4.2 Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari siswa kelas satu a. b. yang diambil secara acak sebanyak 25 orang. h. 136 1 . Untuk memperoleh data-data lapangan ini. Populasi dan Sampel Populasi adalah “keseluruhan obyek dari suatu penelitian”.3 Observasi ini dilakukan untuk memperoleh data tentang kondisi umum MTs al-Falah Jakarta Timur. yaitu suatu usaha aktif bagi suatu badan atau lembaga dengan menyajikan hasil pengolahan bahan-bahan dokumen yang Suharsimi Arikunto. Penelitian dan Penelitian Pendidikan. (Yogyakarta : Andi Offset.1 Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas satu MTs al-Falah Jakarta Timur yang berjumlah 114 orang. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. D. Metode Reseach.

Mariadinata dan Wiana Mulyana. yaitu merupakan suatu daftar atau rangkaian pertanyaan yang disusun secara tertulis mengenai sesuatu yang berkaitan dengan penelitian. b. 1999). serta data prestasi belajar siswa. f P= N x 100 % Juhana S. Teknik pengolahan dan analisa data 1. h. Dalam hal ini pertanyaan yang diajukan kepada para siswa dalam angket ini adalah mengenai pola asuh. yaitu : a. jawaban kadang-kadang diberi skor 1. Dokumentasi dan Perpustakaan. Cet. c.4 Dokumentasi ini dilakukan untuk memperoleh data tentang struktur organisasi. E. jawaban selalu diberi skor 3. Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. h. visi dan misi didirikan MTs al-Falah Jakarta Timur. 5.5 Angket yang digunakan adalah tipe pilihan (tertutup).35 bermanfaat bagi badan atau lembaga yang mengadakan. Ke-9.21 5 Anas Sudjono. Cet. Angket atau kuesioner. Skoring yaitu memberi nilai pada setiap data jawaban yang ada dalam angket. dan c. Editing yaitu meneliti semua angket atau kuesioner satu persatu tentang kelengkapan pengisian dan kejelasannya. jawaban sering diberi skor 2. Ke-2. (Bandung : CV Armico. Tabulating yaitu mentabulasi data jawaban yang telah diberikan ke dalam bentuk tabel selanjutnya dinyatakan dalam bentuk frekuensi dan prosentase. 1991). b. kurikulum. Teknik pengolahan data Untuk memperoleh data dalam penelitian ini penulis melakukan langkahlangkah sebagai berikut : a.261 4 . Angket diberikan kepada siswa yang dijadikan sampel dalam penelitian untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap prestasi siswa.

Teknik analisa data Untuk analisa data. . 3. penulis menggunakan analisa data distribusi frekuensi. 5. sedangkan mencari hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa penulis menggunakan analisa statistik dengan rumus “Korelasi Product Momet.49 % 1 % . Secara operasional analisis data teknik korelasi dilakukan melalui tahapan berikut : a. interpretasi sederhana dengan cara mencocokkan hasil perhitungan dengan angka indeks korelasi “r” product moment. rxy = [ NX  (X ) 2 ][ NY 2  (Y ) 2 ] 2 Prosentase 60 % . Mencari angka korelasi dengan rumus.39 % Penafsiran Sebagian besar Lebih dari setengahnya Setengahnya Hampir setengahnya Sebagian kecil NXY  (X )(Y ) Keterangan : rxy N XY X Y : Angka indeks “r” produk moment (antara variabel X dan Y) : Jumlah responden : Jumlah hasil perkalian antara skor X dan Y : Jumlah seluruh skor X : Jumlah seluruh skor Y b. 2.59 % 50 % 40 % . 4.” Karena data ini membahas dua variabel yang berhubungan.36 P F : Prosentase yang dicari : Frekuensi N : Number of cases Dengan ketentuan skala prosentase sebagai berikut : No 1. 2.99 % 51 % . Memberi interpretasi terhadap rxy.

(Jakarta : Bumi Aksara.6 Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua variabel. Jilid I. moment. musyawarah. adanya komunikasi dua arah. 101 6 . F. Metode Penelitian Untuk Ilmu-ilmu Prilaku. h. Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan dalam bab II (landasan teoritis). Konsep dan pengukuran variabel Variabel merupakan suatu konsep yang mempunyai variasi nilai. Cara 2) Menguji kebenaran dari hipotesa yang telah dirumuskan dengan jalan membandingkan besarnya “r” Product Moment dengan besarnya “r” yang tercantum dalam tabel nilai (rt) terlebih dahulu mencari derajat bebasnya (db) atau degress of freedom (df) yang rumusnya adalah : Df = N-nr Keterangan : Df : Degressa of freedom N : Number of cases Nr : Banyaknya variabel yang dikorelasikan. Dalam penelitian ini penulis hanya membahas pola asuh orang tua yang bersifat demokratis dengan dimensi dan indikator-indikator sebagai berikut Sudarwan Danim. yaitu pola asuh orang tua dan prestasi belajar. 2000). Yang dimaksud dengan pola asuh orang tua demokratis adalah cara mendidik orang tua terhadap anak ditandai dengan adanya perhatian. Memberikan interpretasi terhadap angka indeks korelasi “r” product ini ditempuh melalui prosedur sebagai berikut : 1) Merumuskan Hipotesa Alternatif (Ha) dan Hipotesa nihil (Ho). dengan jalan berkonsultasi pada tabel “r” product moment. memberikan kebebasan yang bertanggung jawab.37 c. Pola asuh orang tua disebut variabel bebas [selanjutnya dilambangkan dengan X] dan prestasi belajar disebut variabel terikat [selanjutnya dilambangkan dengan Y]. dan saling menghormati antar anggota keluarga. penulis akan memberikan definisi operasional dari kedua variabel yang digunakan. dan variasi nilai itu tampak jika variabel itu didefinisikan secara operasional atau ditentukan tingkatannya.

Adanya kebebasan yang terkendali 3. Mendengar dan mempertimbangkan pendapat dan keinginan anak b. Adanya bimbingan dan perhatian 5. Mengurus keperluan/kebutuhan anak sehari-hari e. jika salah atau berprilaku buruk c. Dimensi Adanya musyawarah dalam keluarga Indikator a. Memberikan izin bersyarat dalam hal bergaul dengan teman-temannya a.38 Tabel 1 Dimensi dan indikator pola asuh orang tua yang demokratis No 1. jika benar atau berprilaku baik b. Memberikan penjelasan tentang perbuatan yang baik dan mendukungnya c. Memenuhi kebutuhan sekolah anak sesuai dengan kemampuan d. Terdapat tutur kata yang baik antara anggota keluarga c. Memberikan pujian kepada anak. Mengingat anak untuk belajar b. Mengajak anak-anak berunding dalam menetapkan kelanjutan sekolah c. Anak meminta izin jika hendak keluar rumah d. Mengikutsertakan anak dalam membuat peraturan keluarga b. Memperhatikan penjelasan anak ketika melakukan kesalahan c. Tolong menolong dalam bekerja 2. Adanya pengarahan dari orang tua 4. Bermusyawarah dalam memecahkan problem-problem yang dihadapi anak a. Bertanya kepada anak tentang kegiatan sehari-hari b. Adanya saling menghormati antar anggota keluarga . Memberikan teguran kepada anak. Memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik dan menganjurkannya untuk di tinggalkan a.

Bersikap adil terhadap setiap anak dalam pemberian tugas a. dengan ketentuan. yaitu jawaban a berarti demokratis. Untuk mengetahui pola asuh yang diterapkan oleh masing-masing orang tua siswa menggunakan ketentuan sebagai berikut : Tabel 2 Kriteria Pola Asuh Demokratis No 1. keterampilan dan sikap. Adanya komunikasi dua arah d. dan c. 2. penulis menggunakan instrumen kuesioner yang disebarkan kepada siswa yang dijadikan sampel penelitian. Untuk mengukur variabel Y. Nilai 62 42-61 23-40 22 Kriteria Sangat demokratis Cukup demokratis Kurang demokratis Tidak demokratis Sedangkan prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa yang meliputi aspek pengetahuan. jawaban b berarti cukup demokratis. yaitu a. 3. Membicarakan segala persoalan yang timbul dalam keluarga Untuk mengukur variabel X ini. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya / berpendapat tentang suatu hal b. penulis menggunakan nilai rata-rata semester 1 dari raport dengan ketentuan sebagai berikut : .39 6. b. Menjelaskan alasan ditetapkannya suatu peraturan c. 4. dan jawaban c berati tidak demokratis. Saling menghargai antara yang satu dengan yang lainnya e. Instrumen kuesioner terdiri dari tiga alternatif jawaban.

20 – 0. 5. Interpretasi secara sederhana Dalam memberikan interpretasi secara sederhana terhadap Angka Indeks Korelasi “r” Product Moment (rxy).90 0.. Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang kuat atau tinggi. Dalam hubungan ini ada dua macam cara dapat ditempuh.7 0. pada umumnya dipergunakan pedoman sebagai berikut : Besarnya “r” Product Moment 0.40 – 0. Pengantar…………. Sumber : Nilai 10 9 8 7 6 Kriteria Istimewa Amat baik Baik Lebih dari cukup Cukup Departemen Agama RI. Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang lemah atau yang rendah. h. 3.70 – 0. Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.40 0. Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sedang atau cukup.70 0.40 Tabel 3 Kriteria Nilai Siswa No 1. Teknik Interpretasi data Terhadap angka indeks korelasi yang telah diperoleh dari perhitungan (proses komputasi) dapat diberikan interpreatsi atau penafsiran tertentu. Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi. 4..90 – 1. 180 .00 7 Anas Sudjono. yaitu : 1. 2.20 Interpretasi Antara variabel X dan variabel Y memang terdapat korelasi.00 – 0. akan tetapi korelasi itu sangat lemah atau rendah sehingga korelasi itu diabaikan (dianggap tidak ada korelasi antara variabel X dan variabel Y). Laporan Penilaian Hasil Belajar G.

yang diterbitkan oleh FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.41 2. Sebaliknya. . jika Hipotesa Nihil (Ho) tidak dapat disetujui atau tidak dapat diterima atau tidak dapat terbukti kebenarannya. baik pada taraf signifikan 5 % Hipotesa alternatif (Ha) disetujui atau diterima atau terbukti kebenarannya. b. Dalam teknik penulisan. Merumuskan (membuat) Hipotesa Alternatif (Ha) dan Hipotesa Nihil (Ho). maka prosedur yang dilalui secara berturut-turut adalah sebagi berikut : a. Jika ro sama dengan atau lebih besar dari para rt maka Hidayatullah Jakarta”. Interpretasi dengan menggunakan Tabel Nilai “r” Product Moment Apabila cara kedua ini yang ditempuh. penulis menggunakan buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Dengan memperoleh db atau df maka dapat dicari besarnya “r” yang maupun taraf 1 %. tercantum dalam Tabel Nilai “r” Produt Moment. 2007”. Menguji kebenatan atau kepalsuan dri hipotesa yang telah diajukan di atas tadi (maksudnya : manakah yang benar : ha atau ho?). dengan jalan memperbandingkan besarnya “r” yang telah diuperoleh dalam proses perhitungan atau “r” observasi (ro) dengan besarnya “r” yang tercantum pada Tabel Nilai “r” Product Moment (rt) dengan terlebih dahulu mencari drajat bebasnya (db) atau degrees of freedomnya (df) yang rumusnya adalah sebagi berikut : Df = N-nr Keterangan : Df N Nr : Degressa of freedom : Number of cases : Banyaknya variabel yang dikorelasikan.

Kemudian pada tahun 1960 diadakan perombakan total disegala bidang untuk mensejajarkan sistim pendidikan dan kurikulum yang dipakai pemerintah.H. terbukti jumlah murid mencapai 700 anak Ibtidaiyah dan 80 orang santri yang tinggal di pesantren. tepat hari pengakuan Kedaulatan untuk melanjutkan pendidikan Pondok Pesantren Madrasah al-Falah kembali dilanjutkan. Tahun 1969 berjumlah 260 orang. Sejarah Berdiri Madrasah al-Falah didirikan oleh K. Pada saat itu jumlah para pelajar seluruhnya 65 orang. Demikianlah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan baik jumlah siswanya 42 . Pada tahun 1945 di saat perjuangan bangsa Indonesia mencapai klimaknya para santri-santri yang dewasa di ajak bersama-sama berjuang memanggul senjata dengan nama “Barisan Rakyat Klender” bergabung dengan Bapak H. Selama masa perjuangan tersebut. maka tanggal 1 Januari 1950. pada awalnya adalah sebuah majelis ta’lim kemudian pada tahun 1935 diterapkanlah sistim pendidikan klasikal (Madrasah Ibtidaiyah) pada siang hari dan pondok pesantren yang mempelajari kitab-kitab kuning pada malam harinya. Mulai saat itu dari tahun ke tahun terlihat peningkatan. Pada tahun 1967 didirikanlah Madrasah Tsanawiyah sebagai lanjutan dari tingkat Ibtidaiyah. Maisin. kegiatan pendidikan agak terhenti sementara.BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum MTS al-Falah Jakarta Timur 1. Darip. Pada saat itu jumlah siswa yang tercatat sebanyak 350 anak. Tahun 1968 meningkat jumlahnya menjadi 130 orang.

Abd.Ur. Toyib Umar BA.Ur Sarana/Humas Dewan Guru Siswa Siswi 3. Firdaus Idris BP Drs. Moh. Sedangkan misi dari MTs al-Falah Jakarta Timur adalah sebagai berikut : . Pada tingkat Aliyahpun mengalami jumlah yang berarti. 2. Kurikulum/Kesiswaan Drs. Ritakumala Ka.43 maupun tenaga pengajarnya. Struktur Organisasi MAPENDA KANDEPAG JAKARTA TIMUR H. Pada tahun 1980 didirikanlah Madrasah Aliyah alFalah sebagai lanjutan dari tingkat Tsanawiyah. MTs Al Falah YAYASAN AL FALAH Gusti Mahmud Ka. Mujib Ka. Tata Usaha Dra. Bid. Visi dan Misi Adapun visi dari MTs al-Falah Jakarta Timur adalah menjadikan Madrasah Tsanawiyah Swasta al-Falah sebagai tempat hamba Allah SWT berjuang jihad fisabilillah mencari ridho Allah SWT agar selamat sejahtera dunia dan akhirat. Ka.

Sejarah c. PLKJ Jumlah Jam Pelajaran Kelas 1 1 2 2 2 1 2 4 4 6 3 3 3 3 3 1 2 2 Kelas 2 1 2 2 2 1 2 4 4 6 3 3 3 3 3 1 2 2 Kelas 3 1 2 2 2 1 2 4 4 6 3 3 3 3 3 1 2 2 1 45 1 45 1 45 Sumber : Dokumentasi MTs al-Falah Jakarta Timur . Geografi b. Seni Budaya 9. Matematika 6. Ekonomi 8. Aqidah Akhlak c. Membina kader bangsa yang mampu tampil sebagai rohmatan lilalamin d. Memasyarakatkan Ukhuwah Islamiyah c. Biologi 7. Fisika b. Muatan Lokal a. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) a. Fiqih d.44 a. SKI e. Bahasa Inggris 5. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) a. Bahasa Indonesia 4. Kurikulum Kurikulum yang dipergunakan oleh MTs al-Falah Jakarta Timur adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) yang telah disempurnakan dengan ketentuan sebagai berikut : No Mata Pelajaran 1. Pendidikan & Kewarganegaraan 3. Mengantarkan siswa untuk mampu menguasai IPTEK dan IMTAK 4. Pendidikan Agama Islam : a. Pendidikan Jasmani & Kesehatan (Penjaskes) 10. Mempersiapkan kader bangsa yang berilmu dan beramal yang Islami b. al-Qur’an Hadits b. Bahasa Arab 2. Keterampilan (Kerajinan Tangan dan Kesenian) 11.

Hubungan Sekolah dengan Orang Tua Siswa Adapun hubungan sekolah dengan para orang tua siswa cukup baik & harmonis. Kegiatan lain adalah apabila ada sesuatu hal yang perlu disampaikan kepada orang tua. Kemudian data yang diperoleh diolah dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dengan menggunakan rumus : f P= N P F : Prosentase yang dicari : Frekuensi x 100 % N : Number of cases . karena adanya saling keterbukaan dan kekeluargaan.45 Keterangan : Jumlah jam pelajaran satu Minggu = 45 jam @ 40 menit Senin = 7 jam pelajaran Selasa = 8 jam pelajaran Rabu = 8 jam pelajaran Kamis = 8 jam pelajaran Jum'at = 6 jam pelajran Sabtu = 8 jam pelajaran Jumlah = 45 jam pelajaran 5. Sekolah selalu mengadakan silaturahmi. maka orang tua diundang datang ke sekolah. Deskripsi data Salah satu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket yang disebarkan pada responden berdasarkan sampel. B. Respon orang tuapun positif. Deskripsi Data 1. terutama pada saat pembagian raport.

dapat diketahui bahwa 48 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu mengikutsertakan anak dalam membuat peraturan keluarga. Berdasarkan tabel di atas. dapat dilihat pada tabel-tabel berikut : 1) Musyawarah Tabel 4 Mengikutsertakan anak dalam membuat peraturan keluarga Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa hampir setengah orang tua siswa selalu mengikutsertakan anak dalam membuat peraturan keluarga. sedangkan tidak ada siswa yang menyatakan orang tua mereka tidak pernah mengikutsertakan anak dalam membuat peraturan keluarga.2 F 19 6 25 % 76 24 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa.1 F 12 13 25 % 48 52 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Tabel 5 Mengajak anak-anak berunding dalam menetapkan kelanjutan sekolah Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No.46 Hasil angket dimasukkan dalam tabulasi yang merupakan proses mengubah data dan instrumen pengumpulan data (angket) menjadi tabel-tabel angka (prosentase). . 52 % kadang-kadang.

3 F 16 9 25 % 64 36 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. 24 % menyatakan kadang-kadang.4 F 17 8 25 % 68 32 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. 36 % menyatakan kadang-kadang. dan yang menyatakan tidak pernah diajak berunding dalam menetapkan kelanjutan sekolah oleh orang tua mereka tidak ada. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa membantu memecahkan problem-problem yang dihadapi anak. 2) Kebebasan yang terkendali Tabel 7 Mendengarkan & mempertimbangkan pendapat dan keinginan anak Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. sedangkan yang menyatakan orang tua mereka tidak pernah bermusyawarah dalam memecahkan problemproblem yang dihadapi anak tidak ada. Tabel di atas menunjukkan bahwa 64 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu bermusyawarah dalam memecahkan problem-problem yang dihadapi anak. Tabel 6 Bermusyawarah dalam memecahkan problem-problem yang dihadapi anak Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. Dengan demikian berarti sebagian besar orang tua mengajak anakanaknya berunding dalam menetapkan kelanjutan sekolah.47 Tabel di atas menunjukkan bahwa 76 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu mengajak anak-anak berunding dalam menetapkan kelanjutan sekolah. .

20 % menyatakan kadang-kadang. Tabel 8 Memperhatikan penjelasan anak ketika melakukan kesalahan Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. Tabel di atas menunjukkan bahwa 80 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu memperhatikan penjelasan anak ketika melakukan kesalahan. . Dengan demikian dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa mendengarkan & mempertimbangkan pendapat dan keinginan anak. Tabel 9 Meminta izin jika hendak keluar rumah Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. dan yang menyatakan orang tua mereka tidak pernah mendengarkan & mempertimbangkan pendapat dan keinginan anak tidak ada. sedangkan yang menyatakan orang tua mereka tidak pernah memperhatikan penjelasan anak ketika melakukan kesalahan tidak ada. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa memperhatikan penjelasan anak ketika melakukan kesalahan. 32 % menyatakan kadang-kadang.48 Tabel di atas menunjukkan bahwa 68 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu mendengarkan & mempertimbangkan pendapat dan keinginan anak.6 F 18 7 25 % 72 28 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa.5 F 20 5 25 % 80 20 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa.

8 F 15 10 25 % 60 40 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. 28 % menyatakan kadang-kadang.7 F 20 5 25 % 80 20 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Dari tabel di atas terlihat bahwa 80 % siswa menyatakan diberi izin dengan syarat untuk bergaul dengan teman-temannya. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa memberi izin dengan syarat kepada mereka untuk bergaul dengan teman-temannya. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa mengharuskan anaknya meminta izin jika hendak keluar rumah.49 Tabel di atas menunjukkan bahwa 72 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu harus meminta izin jika hendak keluar rumah. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah memberi izin bersyarat untuk bergaul dengan teman-temannya tidak ada. Tabel 10 Memberi izin bersyarat dalam hal bergaul dengan teman-temannya Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak harus meminta izin jika hendak keluar rumah tidak ada. 3) Pengarahan dari orang tua Tabel 11 Bertanya tentang kegiatan sehari-hari Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. . 20 % menyatakan kadangkadang.

Tabel 12 Memberikan penjelasan tentang perbuatan baik dan mendukungnya Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No.9 F 20 5 25 % 80 20 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa.50 Dari tabel di atas terlihat bahwa 60 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu bertanya tentang kegiatan sehari-hari. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah memberikan penjelasan tentang perbuatan baik tidak ada. 40 % menyatakan kadang-kadang.10 F 13 11 1 25 % 52 44 4 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Tabel di atas menunjukkan bahwa 80 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu memberikan penjelasan tentang perbuatan baik dan mendukungnya. Dengan demikian maka sebagian besar orang tua siswa bertanya kepada anak tentang kegiatan sehari-hari. 20 % menyatakan kadang-kadang. Tabel 13 Memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah bertanya tentang kegiatan sehari-hari tidak ada. Dengan demikian dapat diketahui sebagian besar orang tua siswa memberikan penjelasan tentang perbuatan baik dan mendukungnya. .

11 F 21 4 25 % 84 16 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. . Tabel 15 Memberikan teguran kepada anak jika berperilaku tidak baik Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. 44 % menyatakan kadang-kadang.51 Tabel di atas menunjukkan bahwa 52 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik. 16 % menyatakan kadang-kadang. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah memberikan pujian jika berperilaku baik tidak ada.12 F 20 5 25 % 80 20 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Dengan demikian maka dapat diketahui lebih dari setengah orang tua siswa memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik. dan 4 % menyatakan orang tua siswa tidak pernah memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik. Tabel di atas menunjukkan bahwa 84 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu memberikan pujian jika berperilaku baik. 4) Bimbingan dan Perhatian Tabel 14 Memberikan pujian kepada anak jika berperilaku baik Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. Dengan demikian dapat diketahui sebagian besar orang tua siswa memberikan pujian kepada anaknya jika berperilaku baik.

14 F 20 5 25 % 80 20 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Dari tabel di atas terlihat bahwa 84 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu memenuhi kebutuhan sekolah anak sesuai dengan kemampuan. Dengan demikian maka sebagian besar orang tua siswa memenuhi kebutuhan sekolah anak sesuai dengan kemampuannya. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah memberikan teguran jika berperilaku tidak baik tidak ada. Tabel 17 Memenuhi keperluan/kebutuhan anak sehari-hari Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. Tabel 16 Memenuhi kebutuhan sekolah anak Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. . sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah memenuhi kebutuhan sekolah anak tidak ada. 20 % menyatakan kadang-kadang. 16 % menyatakan kadang-kadang.52 Tabel di atas menunjukkan bahwa 80 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu memberikan teguran jika berperilaku tidak baik.13 F 21 4 25 % 84 16 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Dengan demikian dapat diketahui sebagian besar orang tua siswa memberikan teguran kepada anaknya jika berperilaku tidak baik.

. Melihat tabel di atas.15 F 19 6 25 % 64 36 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. 36 % menyatakan kadang-kadang diingatkan untuk belajar. sedangkan tidak ada siswa yang tidak pernah diingatkan untuk belajar. 5) Saling menghormati antar keluarga Tabel 19 Terdapat tutur kata yang baik antar anggota keluarga Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah memenuhi keperluan/kebutuhan anak sehari-hari tidak ada. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa selalu mengingatkan anakanak mereka untuk belajar. Dengan demikian maka sebagian besar orang tua siswa memenuhi keperluan/kebutuhan anak sehari-hari. 20 % menyatakan kadang-kadang. Tabel 18 Mengingatkan anak untuk belajar Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No.53 Dari tabel di atas terlihat bahwa 80 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu memenuhi keperluan/kebutuhan anak sehari-hari.16 F 19 6 25 % 64 36 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. ternyata 64 % siswa selalu diingatkan untuk belajar.

sedangkan yang menyatakan tidak pernah terdapat tutur kata yang baik antar anggota keluarga tidak ada.54 Tabel di atas menunjukkan bahwa 764 % siswa menyatakan bahwa selalu terdapat tutur kata yang baik antar anggota keluarga. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah memenuhi keperluan/kebutuhan anak sehari-hari tidak ada.17 F 21 4 25 % 84 16 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sebagian besar terdapat tutur kata yang baik antar anggota keluarga. Dengan demikian maka sebagian besar orang tua siswa memenuhi keperluan/kebutuhan anak sehari-hari. Tabel 21 Saling menghargai antara yang satu dengan yang lainnya Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No.18 F 23 2 25 % 92 8 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. sedangkan yang menyatakan tidak pernah menghargai antara . 36 % menyatakan kadang-kadang. Tabel 20 Tolong menolong dalam bekerja Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. 8 % menyatakan kadang-kadang. Dari tabel di atas terlihat bahwa 84 % siswa menyatakan bahwa mereka selalu tolong menolong dalam bekerja. 16 % menyatakan kadang-kadang. Tabel di atas menunjukkan bahwa 92 % siswa menyatakan bahwa mereka selalu menghargai antara yang satu dengan yang lainnya.

6) Komunikasi dua arah Tabel 23 Memberikan kesempatan untuk bertanya/berpendapat Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. dan yang menyatakan bahwa orang tua siswa tidak pernah adil terhadap anak dalam pemberian tugas tidak ada. 44 % menyatakan kadang-kadang. ternyata 56 % siswa menyatakan bahwa orang tua selalu bersikap adil terhadap setiap anak dalam pemberian tugas. Dengan demikian dapat diketahui sebagian besar selalu menghargai antara yang satu dengan yang lainnya.19 F 14 11 25 % 56 44 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. dan yang menyatakan bahwa orang . Dengan demikian dapat diketahui bahwa lebih dari setengah orang tua siswa selalu bersikap adil terhadap anaknya dalam pemberian tugas. Tabel 22 Bersikap adil terhadap setiap anak dalam pemberian tugas Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No.20 F 20 5 25 % 80 20 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Tabel di atas menunjukkan bahwa 80 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu memberikan kesempatan bertanya/berpendapat tentang suatu hal. 20 % menyatakan kadang-kadang. Melihat tabel di atas.55 yang satu dengan yang lainnya tidak ada.

56 tua siswa tidak pernah memberikan kesempatan bertanya/berpendapat tentang suatu hal tidak ada. dan yang menyatakan bahwa orang tua siswa tidak pernah membicarakan segala persolan yang timbul di dalam . Tabel 24 Menjelaskan alasan ditetapkan suatu peraturan Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. Dengan demikian dapat diketahui sebagian besar orang tua siswa memberikan kesempatan bertanya/berpendapat tentang suatu hal.22 F 16 9 25 % 64 36 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa. Dari tabel di atas terlihat bahwa 64 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu menjelaskan alasan ditetapkan suatu peraturan. 36 % menyatakan kadang-kadang. Tabel 25 Membicarakan segala persolan dalam keluarga Alternatif Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah No. Dengan demikian maka sebagian besar orang tua siswa selalu menjelaskan alasan ditetapkan suatu peraturan. 36 % menyatakan kadang-kadang. Tabel di atas menunjukkan bahwa 64 % siswa menyatakan bahwa orang tua mereka selalu membicarakan segala persolan yang timbul di dalam keluarga. sedangkan yang menyatakan orang tua siswa tidak pernah menjelaskan alasan ditetapkan suatu peraturan tidak ada.21 F 16 9 25 % 64 36 100 Sumber : Instrumen Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa.

57 keluarga tidak ada. Dengan demikian dapat diketahui sebagian besar orang tua siswa selalu membicarakan segala persolan yang timbul di dalam keluarga 2. Analisis data Tabel 26 Item soal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 JML 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 3 3 2 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 3 Sumber : Siswa 3 2 2 3 2 3 3 1 3 2 3 3 2 2 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 60 60 60 65 50 60 60 65 60 65 50 60 60 58 55 55 65 65 60 65 60 65 60 65 50 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 Hasil Instrument Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar .

58 Tabel 27 Pola Asuh yang Diterapkan oleh Orang Tua Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Responden Irene Gardenia Megawati Iqbal Putra P Eli Nur Syaidah Nurdiah Apriyani Sri Apriliani Dheyang Mayangsari Ahmad Fajri Ida Triyanti Dwi Nurlinda Nurdini Winda Kartika R Ague Wobowo M Reza Malevi Ananda Citra D Nani Widia A Fathiyah Diah Cordova Raysa Humaira Muhammad Alvi Zahra Tia Sania Yukoco Raharjanto Intan Tri R Rahmat Sukra Ahmad Hardianto Sumber : Hasil Instrument Kuesioner Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa Skor Pola Asuh 60 60 60 65 50 60 60 65 60 65 50 60 60 58 55 55 65 65 65 65 60 65 60 65 50 Pola Asuh Orang Tua Cukup Demokratis Cukup Demokratis Cukup Demokratis Sangat Demokratis Cukup Demokratis Cukup Demokratis Cukup Demokratis Sangat Demokratis Cukup Demokratis Sangat Demokratis Cukup Demokratis Cukup Demokratis Cukup Demokratis Cukup Demokratis Cukup Demokratis Cukup Demokratis Sangat Demokratis Sangat Demokratis Sangat Demokratis Sangat Demokratis Cukup Demokratis Sangat Demokratis Cukup Demokratis Sangat Demokratis Cukup Demokratis .

59 Tabel di bawah ini adalah tabel yang menunjukkan skor pola asuh orang tua (X) dan nilai prestasi belajar (Y) : Tabel 28 Skor Pola Asuh dan Nilai Rata-rata Raport Siswa NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Responden Irene Gardenia Megawati Iqbal Putra P Eli Nur Syaidah Nurdiah Apriyani Sri Apriliani Dheyang Mayangsari Ahmad Fajri Ida Triyanti Dwi Nurlinda Nurdini Winda Kartika R Ague Wobowo M Reza Malevi Ananda Citra D Nani Widia A Fathiyah Diah Cordova Raysa Humaira Muhammad Alvi Zahra Tia Sania Yukoco Raharjanto Intan Tri R Rahmat Sukra Ahmad Hardianto Jumlah Skor Pola Asuh (X) 60 60 60 65 50 60 60 65 60 65 50 60 60 58 55 55 65 65 65 65 60 65 60 65 50 1503 Nilai Rata-rata Raport (Y) 65 66 71 64 61 67 71 71 70 69 70 69 69 62 65 62 74 67 70 75 67 68 69 75 60 1697 Sumber : Hasil Instrumen Kuesioner dan Raport .

88 N 25 My = Rata-rata nilai prestasi belajar Y N = Jumlah total dari nilai prestasi belajar = Jumlah siswa Jadi rata-rata skor pola asuh adalah 60.12 dan rata-rata nilai prestasi belajar adalah 67. Untuk mengetahui apakah ada hubungan yang positif anatara pola asuh orang tua (variabel X) dengan prestasi belajar siswa (variabel Y). maka penulis menggunakan rumus “Product Moment” dengan memasukkan data-data yang diperoleh ke dalam tabel yaitu : .12 N 25 Mx = Rata-rata nilai angket X N = Jumlah total dari nilai angket = Jumlah siswa Sedangkan jumlah total dari nilai prestasi belajar adalah 1697.88.60 Dari data tabel di atas jumlah total dari skor pola asuh adalah 1503 sehingga rata-rata nilainya adalah : Mx = X 1503 = = 60. sehingga rata-rata nilai prestasi belajar dapat dihitung sebagai berikut : My = Y 1697 = = 67.

61 Tabel 29 Korelasi antara Variabel X dan Variabel Y NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 N= 25 X 60 60 60 65 50 60 60 65 60 65 50 60 60 58 55 55 65 65 65 65 60 65 60 65 50 1503 Y 65 66 71 64 61 67 71 71 70 69 70 69 69 62 65 62 74 67 70 75 67 68 69 75 60 1697 X2 3600 3600 3600 4225 2500 3600 3600 4225 3600 4225 2500 3600 3600 3364 3025 3025 4225 4225 4225 4225 3600 4225 3600 4225 2500 90936 Y2 4225 4356 5041 4096 3721 4489 5041 5041 4900 4761 4900 4761 4761 3844 4225 3844 5476 4489 4900 5625 4489 4624 4761 5625 3600 115595 XY 3900 3960 4260 4160 3050 4020 4260 4615 4200 4485 3500 4140 4140 3596 3575 3410 4810 4355 4550 4875 4020 4420 4140 4875 3600 102316 .

Ini berarti korelasi antara variabel X (pola asuh orang tua) dengan variabel Y (prestasi belajar) terdapat hubungan yang searah. Selanjutnya untuk mengetahui apakah ada hubungan yang positif atau tidak.102316  (1503)(1697) = (2273475)  (259009) x(2889875)(2879809) 7309 (14466) x(10066) 7309 12067. dengan istilah lain : . Interpretasi Data Seperti telah dikemukakan pada bab terdahulu dalam memberikan interpreasi terhadap rxy atau ro dapat ditempuh dengan dua macam cara. terlebih dahulu dicari df atau db-nya dengan rumus df = N – nr yaitu : 25 – 2 = 23. maka Angka Indeks Korelasi yang telah diperoleh tidak bertanda negatif.605 C.62 rxy = [ NX  (X ) 2 ][ NY 2  (Y ) 2 ] 2 NXY  (X )(Y ) = [ 25.094 25557900  2550591 = = = 0. Sebelum membandingkannya. df sebesar 23 diperoleh “r” tabel (rt) pada taraf signifikansi 5 % sebesar 0. jika diperhatikan. Interpretasi secara sederhana Dari perhitungan di atas. D. yaitu : 1.396.605. Sedangkan pada taraf signifikansi 1 % sebesar 0. 505.115595 2  (1697 2 )] 25.90939 2  (1503 2 )][25. telah diperoleh rxy sebesar 0. Dengan demikian dapat diketahui r hitung lebih tinggi daripada “r” tabel pada taraf signifikansi 5 % maupun pada taraf signifikansi 1 %.605. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa Dari perhitungan di atas ternyata angka nilai koefisien korelasi antara hasil penelitian angket pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa sebesar 0. maka r hasil perhitungan dibandingkan dengan “r” tabel.

63 terdapat korelasi yang positif diantara kedua variabel tersebut.605 ternyata terletak antara 0. yaitu bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara variabel X dan variabel Y. Apabila dilihat besarnya rxy yang diperoleh ini. yaitu : 0. Langkah pertama yang ditempuh adalah terlebih dahulu mencari df (degree of freedom atau derajat kebebasan) dengan rumus df = N – nr. . Dengan demikian secara sederhana dapat penulis berikan interpretasi terhadap rxy tersebut. jadi nr = 2.40 – 0. Responden yang diteliti yakni sebanyak 25 orang.70. Dengan mudah dapat diperoleh df-nya yaitu df = 25 – 2 = 23. 2. dapat dinyatakan bahwa korelasi antara variabel X dan variabel Y ialah korelasi yang tergolong sedang atau cukup. variabel yang penulis cari korelasinya adalah variabel X dan variabel Y. dengan demikian N = 25. Interpretasi dengan menggunakan Tabel Nilai “r” Product Moment.

Hubungan pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa Berdasarkan hasil penelitian. Prestasi belajar siswa Prestasi belajar siswa yang diambil dari nilai rata-rata raport semester I menunjukkan sembilan orang siswa mempunyai nilai baik dengan nilai rata-rata masing-masing adalah 70. Kesimpulan Berdasarkan analisa dan interpretasi yang telah dilakukan. 67.BAB V PENUTUP A. 64. 74.88. 61.605. ini menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa rata-rata berada pada taraf cukup. Dalam kondisi tertentu orang tua bersikap demokratis atau cukup demokratis. 3. 69. 68. kemudian angka ini di interpretasikan pada interpretasi secara sederhana angka indeks korelasi yang diperoleh ternyata terletak antara 64 . diperoleh angka indeks korelasi sebesar 0. jumlah nilai rata-rata keseluruhan adalah 67. Pola asuh yang diterapkan oleh masing-masing orang tua siswa Pola asuh yang diterapkan oleh masing-masing orang tua siswa secara umum dapat dikatakan cukup demokratis. 65. tapi pada kondisi yang lain bersikap tidak demokratis. namun tak satupun dari orang tua siswa yang menerapkan pola asuh demokratis yang murni. 71. Enam belas orang siswa mempunyai nilai cukup dengan nilai rata-rata masing-masing adalah 60. 75. maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. 66. 2. 62.

sedangkan Hipotesa Nol (Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar siswa sangat bergantung pada pola asuh yang diterapkan oleh orang tua di rumah. Untuk para guru. Sedangkan dalam interpretasi dengan menggunakan Table Nilai “r” Product Moment. maka akan semakin tinggi prestasi belajar siswa. Karena para pendidiklah yang akan membimbing anak didik mereka menuju kedewasaan. Pengalaman interaksi di dalam keluarga akan menentukan pula pola tingkah laku anak terhadap orang lain dalam masyarakat. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Untuk para siswa janganlah merasa takut untuk berkomunikasi. Saran 1. Semakin demokratis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. ungkapknlah masalah dan perasaan anda. Yang lebih terpenting berusahalah terus untuk dapat berprestasi. Untuk para orang tua hendaklah menyadari bahwa keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak.65 0. baik dengan orang tua maupun guru. baik pada taraf signifikansi 5 % maupun 1 %. maka akan semakin tinggi prestasi belajar yang dapat dicapai. watak. moral dan pendidikan pada anak. Walaupun anak telah di masukkan ke sekolah. 2. Bahkan cara orang tua dalam mendidik anak-anaknya itu sangat berhubungan dengan prestasi belajar yang akan dicapai siswa. karena sekolah merupakan lembaga pendidikan setelah keluarga hendaklah memperhatikan perkembangan siswa terutama yang mempunyai pestasi rendah atau mempunyai kesulitan dalam belajar. Dengan demikian Hipotesa Alternatif (Ha) diterima atau disetujui. 3. namun bukan berarti peran orang tua dalam mendidik anak hilang. B. Keluarga memberikan dasar pembentukan tungkah laku. ternyata “r” hitung lebih besar dari pada “r” table. . Oleh karena itu hendaklah orang tua menerapkan pola asuh demokratis dalam mendidik anak.40 – 0. karena semakin demokratis pola asuh yang diterapkan.70 dengan ini berarti terdapat korelasi yang positif yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa.

Desain Instruksional. Yogyakarta : Andi Offset. Abu Sosiologi Pendidikan. Cet III. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sutrisno. _______________. 1994. Cet. M. Zakiyah. I. Y. Donelson. 1988. Jakarta : Bulan Bintang. Jakarta : Bumi Aksara. Jakarta : Gramedia. Beck. Sudarwan. Anak soleh Dambaan Keluarga. M. Jakarta : BPT. Jakarta : PT. Menjadi Orang Tua efektif. Jakarta : Bulan Bintang.. 1992. Joan. IKIP.1990. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Hubungan Timbal Balik Pendidsikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Masyarakat. Asih. Purnomo dan Usman. Gunarsa. Gunarsa. Asih. Arifin. Jakarta : Rieneka Cipta. Elaine. Rachman. Singgih. D. 1995a. Asuh Keutamaan Wanita. Semarang : Dahara Prize. 1993 Ahmadi. Gafur. 1996b. Metode Penelitian Untuk Ilmu-ilmu Prilaku. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Yogyakarta : Kanisius. Jakarta : Rieneka Cipta. M. Psikologi Pendidikan. Hadi. Psikologi Pendidikan. Dalyono. Depdikbud. 1983. 1992. IV. VII.1995.Abdul. Asah. Suharsimi. 1978. Jakarta : Bumi aksara. Danim. Yogyakarta : Mira Pustaka. Jakarta : Balai Pustaka. 1998. Ilmu Jiwa Agama. 1991 Akbar.DAFTAR PUSTAKA Abror. 1996. BPK. Cet. Gordon. Singgih. 2000 Daradjat. dkk. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta : PT Rieneka Cipta. IV. Asah. 1997. Abdur. Yogyakarta : Tiara Wacana. 2000. Jakarta : Bumi Aksara. Cet. Mengasuh dan Mendidik Anak agar Cerdas. Abdul. Setiady. Asuh. Husaini Metodologi Penelitian Sosial. 66 . Thomas. Metode Reseach. Cet. Nipan. Halim. D. I. Gunung Mulia. Cet. Arikunto. Ny.

Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Jakarta : CV Rajawali. Juhana. II. Cet. 1996. ____________. S. Suami dan Anak dalam Keluarga. Hasyim. Materi Pokok Landasan Kependidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta. Dokumentasi dan Perpustakaan. malcom. B. Meitasari Tjandrasa. Margono. 1999. Bandung : Sinar Baru Algesindo. Armico. Jakarta : Pustaka Antara. Metodologi Penelitian Pendidikan. Ensiklopedi Pendidikan. 1998b. Cet. Parsono. Kartono. Jakarta : Universitas Terbuka. Nana Sujana. 1990. Soegarda. Poebakawatja. Jakarta : Erlangga. Lisma. ______________. Cet. I. Umar. 2005. . II. 1976. 1991. 1991. Nuruhbiyati. dan Mariadinata. Utami. Hubungan Isteri. Jakarta : Arcan. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Terj. Jakarta : Gunung Agung. Heyes. Terj. Jakarta : PT Rineka Cipta. Pengantar Pendidikan Jakarta : Gramedia Widiasarana. Perkembangan Anak/Child Development.67 Hauck. Abu Ahmadi. 1993. 1985a. Bandung : CV. Kartini. Cet II. S. Ilmu Pendidikan. Surabaya : PT Bina Ilmu. Bimbingan Belajar di SMA dan Perguruan Tinggi. 1992. 1992b. _____________. Mulyana. 1992a. Pengantar Psikologi. Soenardji. 1995a. Munandar. Elizabeth. Penelitian dan Penelitian Pendidikan. Wiana. Pemanduan Anak Berbakat. II. Rajawali. Hurlock. Idris. Steve dan hardy. Cet. Cet. Peran Keluarga Memandu Anak. Jakarta : CV. Jakarta : Rajawali Press. Psikologi Populer (Mendidik Anak dengan Berhasil). Anak Soleh ( cara mendidik anak dalam Islam).V. Paul. Jakarta : Erlangga. Jamal. zahara. 1982b. 1993.

Psikologi Pendidikan. 1988. TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1999 Theodorus Immanuel. Jakarta : Balai Pustaka. Alisuf. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Abu Ahmadi. Widodo Supriyono. 1995a. Ed. II. 1988. Evaluasi Pendidikan. I. Pembinaan Anak Dalam Keluarga. Mohammad. Psikologi Belajar. Malcom. Yatim-Irwanto. M. Syah. Jakarta : Elangga. Tabrani. Jakarta : Prenhallindo. Kepribadian Keluarga Narkotika. I. Cet. Pengantar Psikologi. 1990b. Bandung : Rosda Karya. Cet. Rusyan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Psikologi Belajar. 1994. 2002. 1986. Jakarta : PT Rieneka Cipta. Yufiarti. Hayes. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Alex. Semiawan. Pola Asuh Orang Tua dalam membantu Disiplin diri. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : PT Rieneka Cipta. II.68 Purwanto. Cet. Slameto. Ngalim. Conny. _______________. Steve. 1993. . 1988. A. VIII. Muhibbin. Sunartana. Terj. Hardy. Sudjono. 1991. Setiawan. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Wayan. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya Jakarta : Bina Aksara. Danny. 1996. I.1998. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya. I. Sabri. Psikologi Pendidikan. 1999. Cet. Cet. R. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1991. Sobur. Anas. PPN. Surabaya : Usaha Nasional. Bandung : Remaja Rosda Karya. dan Nurkancana. Soenardji. Pendidikan Keluarga dalam Era Global. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Cet. Cet. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. Jakarta : Arcan. I. Shochib.

Syamsu. . Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.69 Yusuf. Terj. Jakarta : Erlangga. 1986. Sumarji.

Bagaimana Hubungan sekolah dengan orang tua siswa ? . Jenis Kelamin 4. Materi Wawancara 1. Identitas Responden 1.Lampiran 2 PEDOMAN WAWANCARA A. Bagaimana sejarah berdirinya MTs Al-Falah Jakarta timur ? 2. Apakah faktor yang mendukung didirikannya MTs Al-Falah Jakarta Timur ? 3. Nama 2. Tempat Tanggal Lahir 3. Jabatan : : : : B.

B. Pertanyan-pertanyaan 1. Petunjuk Pengisian Angket 1. kadang-kadang c. Ayah Ibu : : : C. selalu b. Apakah anda diikutsertakan dalam membuat peraturan keluarga : a. 2. 4. 5. tidak pernah 3. 3. kadang-kadang c. tidak pernah 2. tidak pernah . apakah diputuskan melalui musyawarah : a. selalu b. selalu b. Tanyakan jika ada hal yang kurang jelas. Mulailah kerja dengan membaca basmallah dan akhiri dengan hamdallah. Isilah jawaban sesuai dengan pendapat dan keadaan yang sebenarnya. Ketika anda akan melanjutkan sekolah. Teliti terlebih dahulu sebelum diserahkan kembali. kadang-kadang c. jawaban anda dijamin kerahasiannya dan tidak akan mempengaruhi nilai anda. Identitas Diri Jenis kelamin Kelas Anak ke : : : Pendidikan orang tua.Lampiran 3 ANGKET TENTANG HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA A. Beri tanda silang ( X ) pada pilihan yang anda anggap sesuai. Apakah orang tua anda membantu memecahkan masalah anda ketika anda mengungkapkannya : a. Ayah : Ibu Pekerjaan orang tua.

tidak pernah 11. kadang-kadang c. selalu b. Apakah orang tua anda bertanya kepada anda. kadang-kadang c. kadang-kadang c. selalu b. memberi izin dengan syarat b. apakah orang tua anda memperhatikan penjelasan dari anda : a. Jika anda akan bergaul dengan teman-teman anda : a. apakah orang tua anda menegur anda : a. selalu b. Apakah orang tua anda memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik kepada anda dan menganjurkan untuk ditinggalkan : a. memberi izin c. tidak pernah 7. Ketika anda menyatakan pendapat atau keinginan anda. selalu b. kadang-kadang c. tidak pernah 10. selalu b. jika hendak keluar rumah : a. kadang-kadang c. Ketika anda mendapat prestasi yang baik. kadang-kadang c. kadang-kadang c. Apakah anda harus meminta izin. selalu b. tidak pernah 9. tidak pernah . selalu b. kadang-kadang c. selalu b. selalu b. Ketika anda mendapat prestasi buruk. tentang kegiatan anda seharihari : a. tidak pernah 6.4. Apakah orang tua anda memenuhi kebutuhan sekolah anda sesuai dengan kemampuan mereka : a. apakah orang tua andamendengarkan dan mempertimbangkannya : a. Apakah orang tua anda memberikan penjelasan tentang perbuatan yang baik kepada anda dan mendukungnya : a. apakah orang tua anda memberikan pujian kepada anda : a. Bagaimana sikap orang tua anda. tidak pernah 13. kadang-kadang c. tidak pernah 5. tidak pernah memberi izin 8. Ketika anda berbuat salah. tidak pernah 12.

tidak adil 20. sedang-sedang c. tidak pernah TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASI ANDA . kadang-kadang c. Apakah orang tua anda mengingatkan anda untuk belajar : a. kadang-kadang c. kadang-kadang c. selalu b. Apakah orang tua anda mengurus keperluan atau kebutuhan anda sehari-hari : a. Apakah orang tua anda menjelaskan alasan ditetapkannya suatu keputusan atau peraturan : a. selalu b. kadang-kadang c. Bagaimana sikap orang tua anda terhadap pembagian tugas anda dengan kakak atau adik anda : a. kadang-kadang c.14. tidak pernah 15. Apakah dalam keluarga anda saling menghargai antara yang satu dengan lainnya : a. tidak pernah 21. tidak pernah 18. sangat adil b. Apakah di dalam keluarga anda terdapat tutur kata yang baik antara anggota keluarga : a. kadang-kadang c. tidak pernah 19. Apakah orang tua anada membicarakan segala persoalan yang timbul dalam keluarga : a. selalu b. Apakah dalam keluarga anda saling tolong menolong dalam bekerja : a. kadang-kadang c. Apakah orang tua anda memberikan kesempatan kepada anda untuk bertanya atau berpendapat tentang suatu hal : a. tidak pernah 22. masa bodoh 17. selalu b. selalu b. selalu b. sangat akrab b. cukup adil c. tidak pernah 16. selalu b.

606 0.590 0.433 0.959 0.423 0.666 0.661 0.735 0.496 .444 0.950 0.623 0.575 0.997 0.549 0.708 0.834 0.000 0.505 0.798 0.576 0.754 0.990 0.404 0.811 0.561 0.602 0.537 0.553 0.707 0.684 0.526 0.878 0.Lampiran 4 Df (degrees of freedom) atau Db (derajat bebas) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Banyak variabel yang dikorelasikan 2 Harga “ r “ pada taraf signifikansi 5% 0.482 0.497 0.632 0.515 0.388 1% 1.514 0.641 0.765 0.874 0.468 0.917 0.413 0.456 0.532 0.396 0.

232 0.113 0.228 0.463 0.355 0.374 0.205 0.273 0.128 0.449 0.250 0.217 0.361 0.115 0.392 0.325 0.138 0.381 0.288 0.081 .487 0.159 0.478 0.254 0.372 0.267 0.349 0.325 0.195 0.418 0.456 0.098 0.470 0.208 0.354 0.367 0.181 0.283 0.148 0.088 0.174 0.302 0.Df (degrees of freedom) atau Db (derajat bebas) 25 26 27 28 29 30 35 40 45 50 60 70 80 90 100 125 150 200 300 400 500 1000 Banyak variabel yang dikorelasikan 2 Harga “ r “ pada taraf signifikansi 5% 0.304 0.062 1% 0.

Nama 2.PEDOMAN WAWANCARA A. Jenis Kelamin 4. Bagaimana Hubungan sekolah dengan orang tua siswa ? . Apakah faktor yang mendukung didirikannya MTs Al-Falah Jakarta Timur ? 3. Identitas Responden 1. Bagaimana sejarah berdirinya MTs Al-Falah Jakarta timur ? 2. Materi Wawancara 1. Tempat Tanggal Lahir 3. Jabatan : : : : B.

Isilah jawaban sesuai dengan pendapat dan keadaan yang sebenarnya. apakah diputuskan melalui . 2. Pertanyan-pertanyaan 1. selalu musyawarah : a. jawaban anda dijamin kerahasiannya dan tidak akan mempengaruhi nilai anda. tidak pernah b. selalu mengungkapkannya : a. Tanyakan jika ada hal yang kurang jelas. Apakah orang tua anda membantu memecahkan masalah anda ketika anda b. C. Identitas Diri Jenis kelamin Kelas Anak ke Ayah Ibu Ayah Ibu : : : : : : : Pendidikan orang tua . Mulailah kerja dengan membaca basmallah dan akhiri dengan hamdallah. B. tidak pernah 2. Teliti terlebih dahulu sebelum diserahkan kembali.ANGKET TENTANG HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA A. Pekerjaan orang tua . Petunjuk Pengisian Angket 1. selalu b. tidak pernah 3. 3. kadang-kadang c. kadang-kadang c. 5. 4. Apakah anda diikutsertakan dalam membuat peraturan keluarga : a. Ketika anda akan melanjutkan sekolah. Beri tanda silang ( X ) pada pilihan yang anda anggap sesuai. kadang-kadang c.

apakah orang tua andamendengarkan dan mempertimbangkannya : a. kadang-kadang c. kadang-kadang c. Apakah orang tua anda memenuhi kebutuhan sekolah anda sesuai dengan kemampuan mereka : a. Apakah orang tua anda bertanya kepada anda. Ketika anda mendapat prestasi yang baik. tidak pernah 13. tidak pernah 12. tidak pernah 6. selalu b. selalu b. Ketika anda mendapat prestasi buruk. selalu b. selalu b. kadang-kadang c. memberi izin dengan syarat b. Ketika anda menyatakan pendapat atau keinginan anda. kadang-kadang c. apakah orang tua anda menegur anda : a. kadang-kadang c. selalu b. Apakah orang tua anda memberikan penjelasan tentang perbuatan yang baik kepada anda dan mendukungnya : a. tidak pernah 7. selalu b. Jika anda akan bergaul dengan teman-teman anda : a. tentang kegiatan anda seharihari : a. selalu b. tidak pernah 9. Ketika anda berbuat salah. kadang-kadang c. kadang-kadang c. tidak pernah 11. kadang-kadang c. Apakah anda harus meminta izin. Bagaimana sikap orang tua anda. selalu b. memberi izin c. tidak pernah . kadang-kadang c. apakah orang tua anda memberikan pujian kepada anda : a. Apakah orang tua anda memberikan penjelasan tentang perbuatan yang tidak baik kepada anda dan menganjurkan untuk ditinggalkan : a.4. selalu b. tidak pernah 5. apakah orang tua anda memperhatikan penjelasan dari anda : a. jika hendak keluar rumah : a. tidak pernah memberi izin 8. tidak pernah 10.

14. selalu b. kadang-kadang c. kadang-kadang c. Bagaimana sikap orang tua anda terhadap pembagian tugas anda dengan kakak atau adik anda : a. kadang-kadang c. Apakah orang tua anada membicarakan segala persoalan yang timbul dalam keluarga : a. Apakah dalam keluarga anda saling tolong menolong dalam bekerja : a. Apakah orang tua anda menjelaskan alasan ditetapkannya suatu keputusan atau peraturan : a. kadang-kadang c. Apakah orang tua anda mengingatkan anda untuk belajar : a. selalu b. tidak pernah 22. sangat adil b. selalu b. cukup adil c. Apakah orang tua anda mengurus keperluan atau kebutuhan anda sehari-hari : a. Apakah dalam keluarga anda saling menghargai antara yang satu dengan lainnya : a. selalu b. Apakah di dalam keluarga anda terdapat tutur kata yang baik antara anggota keluarga : a. sangat akrab b. tidak adil 20. tidak pernah 21. kadang-kadang c. selalu b. masa bodoh 17. tidak pernah 18. selalu b. sedang-sedang c. tidak pernah 19. Apakah orang tua anda memberikan kesempatan kepada anda untuk bertanya atau berpendapat tentang suatu hal : a. tidak pernah 15. tidak pernah 16. tidak pernah TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASI ANDA . selalu b. kadang-kadang c. kadang-kadang c.

05 Juni 08 Yusniyah . Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan skripsi ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 3. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya sendiri yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu (S1) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2.LEMBAR PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Jakarta. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain. maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->