P. 1
hedonisme

hedonisme

|Views: 269|Likes:
Published by dolphinzegers

More info:

Published by: dolphinzegers on Nov 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Perilaku hedonisme kini telah merekat pada kehidupan pada kehidupan Dewan

Perwakilan Rakyat kita yang terhormat . Meskipun tidak semua anggota dewan dan pejabat yang senang pamer kekayaan karena sudah terjangkit virus penyakit „OKB‟ alias orang kaya baru. Manusiawi memang ketika manusia hidup untuk mencari kesenangan dan kepuasan, karena itu merupakan sifat dasar manusia. Manusia memang selalu ingin mengejar

kebahagiaan. Miris memang apabila kita melihat potret kehidupan antara para anggota dewan yang terhormat, dengan kehidupan rakyat miskin yg hanya bisa tinggal di gubuk derita atau kolong jembatan. Ilustrasi ini memang bagaikan suatu jurang pemisah diantara keduannya. DPR sudah lari dari fungsi yang diamanatkan rakyat. Mereka sudah terjebak pada gaya hidup hedonis, tanpa memikirkan bagaimana cara rakyat mensejahterakan rakyat. Kini banyak proyek-proyek mewah yang diajukan anggota DPR. Banyaknya proyek mewah yang memakan anggaran besar di DPR RI mengundang banyak kritikan. Anggota DPR dinilai sudah terjebak gaya hedonis yang gemar akan kemewahan. Proyek-proyek yang memakan dana besar tersebut sebenarnya tidak diperlukan. Masyarakat menganggap DPR dinilai bukan lagi lembaga yang bekerja untuk rakyat, namun hanya untuk kepentingan golongan tertentu saja.

1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apakah yang dimaksud dengan hedonisme ? 2. Bagaimanakah potret kemewahan dan sikap hedonism anggota DPR di Indonesia ? 3. Apakah yang menyebabkan para anggota DPR bersikap Hedonisme ? 4. Bagaimanakah perilaku hedonisme anggota DPR jika ditinjau dari norma kesusilaan ? 5. Bagaimanakah cara menghindari sikap hedonisme ? 1.3 TUJUAN 1. Mengetahui pengertian hedonisme. 2. Mengetahui potret kemewahan dan sikap hedonisme anggota DPR di Indonesia. 3. Mengetahui penyebabkan para anggota DPR bersikap Hedonisme.

4. Mengetahui perilaku hedonisme anggota DPR jika ditinjau dari norma kesusilaan. 5. Mengetahui cara menghindari sikap hedonisme.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN HEDONISME Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Kata hedonisme diambil dari Bahasa Yunani ἡδονισμός hēdonismos dari akar kata ἡδονή hēdonē, artinya "kesenangan". Paham ini berusaha menjelaskan adalah baik apa yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu. Latar belakang Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?" Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pandangan tentang 'kesenangan' (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani lain bernama Epikuros (341-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja --seperti Kaum Aristippos--, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.

2.2 POTRET KEMEWAHAN ANGGOTA DPR Gaya Hidup Hedonistis Pejabat Negara Tidak pantas rasanya kalau kita melihat gaya hidup mewah yang ditampilkan oleh para pejabat negara di Indonesia. Bagaimana tidak, ditengah kondisi bangsa kita yang sebagian besar masyarakatnya berada dibawah garis kemiskinan, mereka masih tetap memperlihatkan sikap hedonistis yang terkadang merugikan masyarakat. Salah satu faktor terlihatnya gaya hidup mewah yang demikian karena peraturan pemerintah yang sudah ada, seperti standar penggunaan mobil dinas untuk para menteri dan pejabat negara lainnya, adanya fasilitas rumah dinas dan pengawalan keamanan yang ketat. Sebenarnya tidak perlu para pejabat negara berpergian dengan pengawalan yang berlebihan sehingga menyebabkan terhambatnya lalu lintas. Dengan menggunakan mobil mewah saja sudah menunjukkan sikap hedonistis mereka, ditambah lagi dengan pengawalan seperti itu. Banyak Proyek Mewah, Anggota DPR Terjebak Gaya Hedonisme Banyaknya proyek mewah yang memakan anggaran besar di DPR RI mengundang banyak kritikan. Anggota DPR dinilai sudah terjebak gaya hedonis yang gemar akan kemewahan. DPR sudah lari dari fungsi yang diamanatkan rakyat. Mereka sudah terjebak pada gaya hidup hedonis, tanpa memikirkan bagaimana cara rakyat mensejahterakan rakyat.

Tak Ada yang Spesial di Kalender DPR Rp 1,3 M Kalender tahun 2012 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah dicetak dengan anggaran Rp 1,3 miliar. Seperti apa bentuknya?Tak ada yang spesial dari kalender 2012 yang dibuat khusus untuk anggota DPR ini. Kalender ini dibuat sebanyak 13 halaman dengan kertas kalender mengkilat yang cukup tebal.

Setiap lembar kalender berisi foto-foto kegiatan pimpinan DPR. Beberapa kegiatan Sekjen DPR juga ada di bagian atas kalender. Sedangkan di bagian bawah, seperti layaknya kalender, berisi tanggal.Setiap anggota Dewan mendapat 20 eksemplar kalender spesial ini. Jika dihitung total untuk 560 anggota DPR adalah 11200 eksemplar.

Meski diproduksi sejumlah itu, namun harga Rp 1,3 miliar dipandang berlebihan. Diambil dari situs resmi milik DPR, Senin (16/1/2012), proyek ini menggunakan anggaran tahun 2011. Nama paket proyeknya adalah 'Kalender DPR'. Kabar Menyakitkan dari Gedung DPR Senayan Sebagai rakyat kecil heran dan tidak habis pikir kalau mendengar atau membaca berita dari gedung DPR RI Senayan. Kenapa mereka buta dan tuli tidak peka akan kondisi kesejahteraan masyarakat yang masih minim saat ini. Hati rakyat terlalau banyak disakiti dengan prilaku penghuni gedung DPR Senayan ini. Rakyat hanya bisa menelan ludah ketika deretan mobil mewah hatga miliaran rupiah parkir di senayan , rencana pembangunan gedung DPR yang memakan biaya sampai Rp 1,7 Triliiun,lalu pembelian laptop untuk masing-masing anggota DPR senilai Rp 21 Miliar, pembangunan toilet DPR seharga Rp 2 Miliar dan parkiran motor sebesar Rp 3 Miliar , Rakyat dibuat geleng -geleng kepala karena di gedung DPR tiba-tiba sudah selesai dilakukan renovasi terhadap ruang rapat Badan Anggaran (Banggar) yang menelan biaya Rp 20 M. Sungguh angka yang fantastis umtuk sebuah ruang rapat berukuran 10 x 10 meter. Ruang Badan Anggaran (Banggar) DPR benar-benar sangat mewah. Untuk lighting system alias lampu saja rumornya menelan anggaran hampir Rp 250 juta. Lampu-lampu di ruang Banggar berkelas dunia. Lampu ruang pimpinan Banggar berharga sangat mahal, seharga dua unit mobil Daihatsu Xenia. Kira-kira Rp 250 juta rupiah. Lampu paling mahal itu ada di plavon ruang pimpinan Banggar DPR seluas 8×3 meter. Ruang ini terletak di sisi luar ruang rapat Banggar DPR. Lampu ini berbentuk seperti huruf lengkungan seperti huruf S panjang. Kursi ruang Banggar DPR memang diimpor dari Jerman. Untuk kursi ruang pimpinan Banggar, rumornya rata-rata berharga Rp 12 juta, sedang untuk anggota Banggar sekitar Rp 5 juta-an. Selain itu ruang Banggar DPR juga dilengkapi karpet impor merk Miliken. Harganya ditaksir Rp 5 juta per meternya. Terdapat juga 3 TV wall berukuran 3×2 meter yang disusun dari 12 unit TV LCD tanpa bingkai yang per unitnya Rp 5 juta. Total untuk tiga TV wall ini sekitar Rp 180 juta. Fantastis.

2.3 PENYEBAB HEDONISME Faktor yang Mempengaruhi Hedonisme Gaya hidup hedonisme tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonisme, antara lain : 1. Kaum kerabat Kerabat adalah penyebab utama mereka menjadi hedonisme. Mereka sering kali lalai dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Selain itu mereka sering ikut-ikutan gaya hidup kerabat. Sering kali mereka iri apabila para kerabat mereka mempunyai mobil mewah, atau rumah mewah. 2. Pengaruh teknologi Faktor kemudahan teknologi memang dapat mempermudah segala urusan manusia. Hal ini mampu mencuci otak untuk menjadi orang yang memegang prinsip hedonisme. Dengan memiliki mobil mewah yang canggih tentu akan mempernyaman dan mempermudah hidup mereka, dengan mendapatkan kenyamanan maka mereka akan mendapatkan kebahagiaan atau kesenangan. 2.4 NORMA KESUSILAAN Norma kesusilaan adalah norma yang bersumber dari hati nurani (batin) manusia agar manusia selalu berbuat kebaikan dan tidak melakukan perbuatan yang tercela. Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani yang sama dan selalu mengajak pada kebaikan dan kebenaran. Karenanya, ketika melakukan pelanggaran terhadap teguran hati nurani, akan timbul penyesalan dan rasa kecewa yang mendalam. Inilah sanksi yang diterima saat melanggar norma kesusilaan. Contoh norma kesusilaan antara lain berkata dan berbuat jujur, berbuat baik pada sesama manusia, menghindari rasa iri dan dengki serta tidak menyombongkan diri. 2.5 CARA MENGHINDARI SIKAP HEDONISME Mengikuti gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita

kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang, jauh-jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencari rezeki. Adapun cara untuk menghindari sikap Hedonisme yaitu dengan : 1. Menerima Berdoalah agar Tuhan memberikan rasa cukup dan syukur atas segala yang saudara miliki, bersyukur atas apa yang kita miliki dan mohon petunjuk untuk mengelolanya agar apa yang kita miliki menjadi berkat bagi orang lain. 2. Merenungkan Berpikirlah sebelum membelanjakan uang kita. Apakah hal itu penting dan memang lagi dibutuhkan atau tidak.

BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Paham hidup seperti ini kini sudah mulai mengakar pada mindset para anggota DPR kita yang terhormat. Mereka lalai atas mandat yang dibebankan rakyat kepada mereka. Mereka cenderung mengejar kesenagan pribadi dan golongaan, dengan hidup bermewah-mewahan.

Mengalokasikan uang rakyat secara tidak logis. Membeli sesuatu yang sekiranya tidak perlu ataupun yang sudah ada sebelumnya. Mengikuti gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita

kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang, jauh-jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencari rezeki.

DAFTAR PUSTAKA
 http://id.wikipedia.org/wiki/Hedonisme  http://ridhoyahya89.blogspot.com/2009/09/hedonisme.html  Ali.imam.Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku.2003.Bandung.Pustaka Hidayah  http://dpd.go.id/2011/11/gaya-hidup-hedonistis-pejabat-negara/  http://www.sindonews.com/read/2011/11/18/435/531306/istana-terjangkiti-virus-hedon#  http://blog.uad.ac.id/arifrahman/2011/12/05/perilaku-hedonisme/  http://cheisypuspita-chessypuspita.blogspot.com/factor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonism (online)/06 Mei 2011.  http://berita.plasa.msn.com/nasional...mentid=5552237  http://namakuddn.wordpress.com/2012/01/15/kabar-menyakitkan-dari-gedung-dpr-senayan/  http://gkkk-tamankopoindah.blogspot.com/2009/03/menikmati-kepuasan_18.html

1. A.

Latar Belakang Masalah

Perilaku hedonisme dan konsumtif telah merekat pada kehidupan kita. Pola hidup seperti ini sering kita jumpai di kalangan mahasiswa. Dimana orientasinya diarahkan kenikmatan, kesenangan, serta kepuasan dalam mengkonsumsi barang secara berlebihan. Manusiawi memang ketika manusia hidup untuk mencari kesenangan dan kepuasan, karena itu merupakan sifat dasar manusia. Contohnya sekarang, segala macam media informasi merayu kita mengenai gaya hidup. Gaya hidup yang terus disajikan bagaikan fast food melalui media informasi. Para remaja berlomba-berlomba mengaktualisasikan dirinya untuk mencapai kepuasan dan apa yang mereka inginkan. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapainya. Salah satunya dengan mencari popularitas dan membelanjakan barang yang bukan merupakan kebutuhan pokok. Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkan secara individual. Inilah yang senantiasa didorong oleh hedonisme dan konsumenisme, sebuah konsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidup dan mencapai kepuasan dalam membelanjakan kebutuhan yang berlebihan sesuai arus gaya hidup. 1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disebutkan diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengertian gaya hidup hedonisme Faktor apa saja yang mempengaruhi gaya hidup hedonism di kalangan mahasiswa? Bagaimana cara mengatasi gaya hidup hedonism di kalangan mahasiswa? Pengertian gaya hidup konsumtif. Faktor apa saja yang mempengaruhi gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa? Bagaimana cara mengatasi gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa?

1. C.

Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengertian gaya hidup hedonisme. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonism di kalangan mahasiswa. Cara mengatasi gaya hidup hedonism di kalangan mahasiswa. Pengertian gaya hidup konsumtif. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa. Cara mengatasi gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa BAB II PEMBAHASAN

1. 1.

Pengertian Gaya Hidup

Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya (Kottler dalam Sakinah,2002). Menurut Susanto (dalam Nugrahani,2003) gaya hidup adalah perpaduan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku. Oleh karena itu banyak diketahui macam gaya hidup yang berkembang di masyarakat sekarang misalnya gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis, gaya hidup global dan lain sebagainya.

1. 2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup

Gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Lebih lanjut Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dengan penjelasannya sebagai berikut : 1. Sikap Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya.

1. Pengalaman dan pengamatan Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat membentuk pandangan terhadap suatu objek. 1. Kepribadian Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu. 1. Konsep diri

Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep diri. Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas untuk menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan image merek. Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan frame of reference yang menjadi awal perilaku. 1. Motif Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis. 1. Persepsi Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.

Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut : 1. Kelompok referensi Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan kelompok yang memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana individu tidak menjadi anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu. 1. Keluarga Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku individu.Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya. penyebab utama seseorang menjadi hedonisme adalah orang tua lalai untuk mewarisi anak dengan norma dan gaya hidup timur yang punya nilai spiritual. 1. Kelas sosial Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan.

Kedudukan sosial artinya tempat seseorang dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya. Kedudukan sosial ini dapat dicapai oleh seseorang dengan usaha yang sengaja maupun diperoleh karena kelahiran. Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan. Apabila individu melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan.

1. Kebudayaan Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciriciri pola pikir, merasakan dan bertindak. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup berasal dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal). Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif , dan persepsi. Adapun faktor eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.

1. A.

Gaya Hidup Hedonisme di Kalangan Mahasiswa 1. 1. Pengertian gaya hidup hedonisme

Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang mahal yang disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian.

Hedonisme adalah derivasi (turunan) dari liberalisme. Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis, hidup adalah meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan artifisial. Pandangan ini lahir di Barat, yang memuja kebebasan berperilaku.

Di era reformasi, masyarakat berharap munculnya pemimpin dari kaum muda, baik di level kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat. Beberapa pemimpin muda memang telah lahir di daerah, tetapi belum untuk level nasional. Regenarasi kepemimpinan nasional berjalan lambat. Kaum muda yang ditunggu-tunggu belum menunjukkan tanda-tanda positif menjadi calon pemimpin bangsa.

Kondisi ini tergambar jelas di kampus-kampus. Masih pantaskah mahasiswa diberi label agen perubahan atau intelektual muda? Alih-alih menjalankan peran maksimal sebagai agen perubahan, yang terjadi justru berkembangnya budaya hedonisme di kampus-kampus.

Mahasiswa sekarang cenderung mendewakan kesenangan dan kenikmatan dalam menjalani hidup. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar terlupakan oleh kilau kenikmatan sesaat. Sisi kehidupan mahasiswa saat ini telah dihadapkan pada berbagai godaan yang menarik dan menggiurkan sehingga bisa menyimpang dari idealisme hakiki manusia. Gaya hidup mahasiswa saat ini adalah gaya hidup kelas menengah ke atas yang dicirikan dengan kemampuan mengonsumsi produk dan gaya hidup yang serba modern. Mahasiswa sering kali digambarkan sibuk mengejar urusan cinta dengan gaya hidup yang menonjolkan tampilan fisik. Fenomena hura-hura oriented kerap ditemui di kampus. Semakin jarang terdengar percakapan akademis di lingkungan mahasiswa. Percakapan mereka lebih didominasi masalah fashion, sinetron dan film terbaru, serta aneka bentuk hedonisme lainnya.

Hedonisme Dalam Dunia Pendidikan Jika perilaku hedonisme dibiarkan saja, ini akan menjadi racun bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Membiarkan racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya menyediakan pembunuh karakter intelektual atas mahasiswa dan sivitas aka-demika. Budaya negatif ini telah mengikis sense of crisis generasi muda terhadap berbagai permasalahan bangsa. Jangankan peduli negara, kebijakan di tingkat kampus dan rektorat pun jarang direspon.

Apatis, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sikap para mahasiswa masa kini. Tak percaya? Perhatikanlah lingkungan kampus: sebuah padepokan yang dihuni orang-orang muda berpendidikan. Sebagian besar dari mereka, entah mahasiswa atau mahasiswi, menghabiskan waktu dan uangnya untuk berburu kesenangan di tempat-tempat hiburan. Lihat pula kematian kelompok-kelompok diskusi. Mahasiswa lebih suka memberikan apresiasi pada kegiatan hiburan ketimbang aksi seminar dan penelitian. Jika ada pertunjukan musik di kampus, misalnya di auditorium, kawasan itu sesak oleh lautan mahasiswa. Tetapi menjadi sepi saat berlangsung kegiatan akademik seperti seminar dan diskusi publik lainnya. Setiap malam, kawasan kampus ramai bukan karena kegiatan akademik, namun oleh gerombolan mahasiswa yang begadang hingga dinihari untuk kegiatan yang tidak jelas.

Belum lagi perilaku dugemania dan seks bebas yang sekarang kian menjadi-jadi dan dianggap sebagai ”kewajaran” bagi mahasiswa. Fenomena ini menunjukkan rapuhnya mental generasi muda. Sangat disayangkan mengapa budaya itu begitu mudahnya merasuk ke mental generasi muda saat ini.

Kenyataan ini sungguh ironis mengingat mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa dan di pundak mahasiswalah harapan semua orang bertumpu. Mahasiswa yang terpengaruh budaya konsumtif dan sulit melepaskan diri dari pengaruh teman-temannya yang sama-sama berperilaku konsumerisme perlahan-lahan akan kehilangan daya pikir, logika, nalar, dan analisisnya. Akibatnya adalah kita terancam kehilangan generasi penerus yang pandai, idealis, kritis, dan dapat memberi solusi atas permasalahan yang timbul. Dalam lingkup yang

lebih luas negara kita terancam kehilangan pemimpin yang dapat diandalkan untuk memimpin bangsa yang pada akhirnya dapat mengakibatkan negara kita akan mudah dikuasai oleh negara lain. Tujuan pendidikan Negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (pembukaan UUD 1945, alinea 4). Tujuannya tentu bukan untuk menciptakan bangsa yang hedonisme, tetapi bangsa yang punya spiritual, punya emosional quotient- peduli pada sesama dan tidak selfish atau mengutamakan diri sendiri.

1. 2.

Faktor yang Mempengaruhi Hedonisme

Gaya hidup hedonisme tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonism, antara lain : 1. Orang tua dan kaum kerabat Orang tua dan kerabat adalah penyebab utama generasi mereka menjadi hedonisme. Orang tua lalai untuk mewarisi anak dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Orang tua tidak banyak mencampurtangankan anak tentang hal spiritual. Sebagian orang tua jarang yang ambil pusing apakah anak sudah melakukan sholat atau belum, apakah lidahnya masih terbata- bata membaca alif –ba-ta, dan tidak sedih melihat remaja mereka kalau tidak mengerti dengan nilai puasa. 1. Faktor Bacaan Faktor bacaan memang dapat mencuci otak mahasiswa untuk menjadi orang yang memegang prinsip hedonisme. Adalah kebiasaan mahasiswa kalau pulang kampus pergi dulu ke tempat keramaian, pasar, paling kurang mampir di kios penjualan majalah dan tabloid. Mereka senang dengan bacaan mengenai trend atau gaya hidup terbaru dan entertainment sehingga timbul keinginan untuk mengikuti atau menirunya. 1. Pengaruh tontonan Pengaruh tontonan, tayangan televisi (profil sinetron, liputan tokoh selebriti dan iklan) juga mengundang mahasiswa untuk mengejar hedonisme. Majalah remaja popular dan kebanyakan tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema tema berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan. hamil di luar nikah dan bermesraan di muka publik sudah

nggak apa-apa lagi, cobalah dan lakukanlah ! seolah-olah beginilah ajakan misi televisi dan majalah yang tidak banyak mendidik, kecuali hanya banyak menghibur. Rancangan majalah popular dan tema televisi komersil di negara kita memang sedang menggiring mahasiswa menjadi generasi konsumerisme bukan memotivasi mereka untuk menjadi generasi produktif. Tema iklannya adalah “manjakanlah kulitmu”. Andaikata semua mahasiswa dan mahasiswa melakukan hal yang demikian, memuja kulit. Pastilah sawah dan ladang, serta lahan-lahan subur makin banyak yang tidak terurus. Karena mereka semua takut jadi hitam. Pada hal untuk manusia yang patut dimuliakan adalah kualitas intelektual, kualitas spiritual dan kualitas hubungan dengan manusia (kualitas fikiran dan keimanan).

1. 3.

Cara Mengatasi Budaya Hedonisme :

Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan sosialisasi, yaitu : 1. Perlunya kearifan dalam memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme. 2. Menanamkan pola hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari. 3. Dalam memilih barang mahasiswa perlu membuat skala prioritas dalam berbelanja sehingga dapat membedakan barang apa yang benar-benar diperlukan dan barangbarang yang diinginkan namun tidak diperlukan. 4. Penerapan pola hidup sederhana dalam kegiatan sehari-hari diperlukan untuk mengatur keuangan mahasiswa agar pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua tidaklah lebih kecil daripada pengeluaran. 5. Adanya kedewasaan dalam berpikir sehingga mahasiswa dapat membentengi diri dari pola hidup konsumerisme. Memilih gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang jauh-jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencari rezeki.

1. B.

Gaya Hidup Konsumtif di Kalangan Mahasiswa 1. 1. Pengertian perilaku konsumtif

Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran –if) sering diartikan sama dengan kata “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.

Konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Misalnya sebagai ilustrasi, seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100 ribu ia belanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Tapi apabila ia belanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan (apalagi ia membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka ia dapat disebut berperilaku konsumtif. Pengertian perilaku menurut Sarwono adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh satu individu dengan individu lainnya dan bersifat nyata. Perilaku mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian secara luas dan pengertian secara sempit. Pengertian perilaku secara luas mencakup segala sesuatu yang dilakukan atau dialami seseorang, sedangkan dalam arti sempit perilaku mencakup semua reaksi yang dapat diamati. Pengertian konsumsi menurut Zain dan Badudu adalah pemakaian barang-barang hasil industri, barang-barang keperluan sehari-hari. Menurut Barnhart dan Williams istilah konsumsi berasal dari bahasa latin yaitu consumere dan consummare. Consumere mempunyai arti menggunakan sepenuhnya atau seluruhnya. Adapun consummare mengandung arti menghimpun, menjumlahkan, atau melengkapi. Pembahasan tentang perilaku konsumsi terkait dengan konsumen dan perilakunya. Menurut Schiffman dan Lazar konsumen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konsumen perseorangan dan konsumen organisasi. Konsumen perseorangan yaitu seseorang yang membeli barang dan menggunakan jasa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, sedangkan konsumen organisasi yaitu seseorang yang membeli produk, perlengkapan, dan jasa untuk menjalankan suatu perusahaan. Menurut Walters konsumen adalah individu yang membeli atau mempunyai kapasitas untuk melakukan pembelian terhadap barang dan jasa yang ditawarkan oleh pihak institusi pemasaran dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan memuaskan keinginannya. Berdasarkan pengertian konsumen dan perilaku diatas dapat dijelaskan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut. Engel menambahkan bahwa perilaku konsumen tidak hanya melibatkan apa yang dikonsumsi seseorang tetapi juga menyangkut dimana, seberapa sering, dan dalam kondisi seperti apa barang dan jasa tersebut dikonsumsi. Dahlan menyatakan bahwa perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paling mahal dan memberikan kepuasaan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata. Menurut Sumartono seseorang yang konsumtif mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. Membeli produk untuk menjaga status, penampilan, dan gengsi. 2. Memakai sebuah produk karena adanya unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan produk tersebut.

3. Adanya penilaian bahwa dengan memakai atau membeli produk dengan harga yang mahal akan menimbulkan rasa percaya diri. 4. Membeli produk dengan pertimbangan harga bukan karena manfaat dan kegunaannya. 5. Membeli karena kemasan produk yang menarik. 6. Membeli produk karena iming-iming hadiah. 7. Mencoba produk sejenis dengan dua merk yang berbeda. Dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku membeli barangbarang dan jasa yang sifatnya kurang diperlukan dan hanya mementingkan faktor keinginan dan kesenangan dibandingkan dengan faktor kebutuhan. 1. 2. Faktor Pendorong Gaya Hidup Konsumtif

Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif dikalangan mahasiswa : 1. 2. 3. 4. terpengaruh penampilan produk atau kemasanproduk dan iklan, terhegemoni akan hypermarket maupun supermarket yang ada di lingkungan, Keinginan mengikuti trend dan mode bagaiamana tanggapan orang tua terhadap perilaku konsumtif.

Peran status ekonomi orang tua tidak begitu berpengaruh terhadap perilaku konsumtif anaknya (mahasiswa). Disini pada dasarnya orang tua tidak pernah memberikan uang tambahan untuk jalan-jalan atau membeli pakaian. Tetapi disini anak malah yang menyalahgunakan uang yang diberikan oleh orang tuanya karena mereka meminta uang tambahan jarang diberi oleh orang tuanya maka jalan satu-satunya mereka yaitu bohong minta uang alasannya untuk mengerjakan tugas padahal disini uang digunakan untuk ke mall, atau beli pakaian, untuk jalan dll. Mereka juga terhegemoni mall karena mereka mempunyai rasa gengsi dengan teman sepergaulan. Dan kadang mereka membeli suatu produk juag dipengaruhi oleh adanya iklan media cetak. Karena sebagian besar mahasiswa dapat dilihat jika dikampus berpenampilan gaul-gaul otomatis kalau tidak bisa mengikutinya pasti akan minder. Anak bisa membeli barang atau tidak juga didasari oleh kebutuhan orang tua banyak atau tidak pengeluarannya tiap bulannya. Jika pengeluaran orang tua tidak banyak maka terkadang anak juga diberi uang tambahan jika meminta tetapi uang tersebut digunakan untuk jalan-jalan tadi. Disitu mahasiswa bisa selalu mengikuti trend yang selalu berkembang, dan tidak lagi ketinggalan dengan trend ataupun malu dengan teman lainnya. Jelas bahwa bisa tidaknya mahasiswa untuk berperilaku konsumtif dipengaruhi oleh peran status ekonomi orang tuanya. Dan dalam pemilihan fashion bagi mereka adalah trend dan desain yang utama lalu merk juga penting karena paling tidak kualitas juga bagus jika merknya bagus. Pada dasarnya membeli barang di mall alasannya adalah kualitas terjamin dari segi awet dan enak tidaknya dipakai. Yang jelas tingkat konsumtif antara mereka yang berstatus ekonomi tinggi, sedang dan rendah ada perbedaan. Meskipun mereka yang berstatus ekonomi rendah juga bisa berpenampilan konsumtif tetapi tingkatan konsumtifnya berbeda dengan mereka yang berstatus ekonomi tinggi dan sedang dikarenakan faktor ekonomi dari orang tuanya.

1. 3.

Cara mengatasi budaya konsumtif :

1. Membuat daftar belanja yang diinginkan dan dibutuhkan. Diutamakan barang yang dibutuhkan, untuk menghindari terbuangnya uang untuk barang yang siasia. 2. Tanyakan diskon khusus. 3. Selalu update jadwal diskon. 4. Gunakan kupon belanja. 5. Jangan terlalu fanatik pada satu nama perancang. 6. Tunggulah diskon perancang. Bersabar sampai barang-barang yang “mahal harus punya” sampai turun harga. 7. Kunjungi pameran. Selain menawarkan harga untuk model terbaru, juga tersedia berbagai hadiah saat pameran.

BAB III PENUTUP 1. A. Kesimpulan

Hedonisme adalah derivasi (turunan) dari liberalisme. Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis, hidup adalah meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan artifisial. Faktor yang mempengaruhi hedonisme adalah orang tua dan kaum kerabat, faktor Bacaan, dan pengaruh tontonan. Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan sosialisasi, yaitu : 1. Perlunya kearifan dalam memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme. 2. Menanamkan pola hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari. 3. Dalam memilih barang mahasiswa perlu membuat skala prioritas dalam berbelanja sehingga dapat membedakan barang apa yang benar-benar diperlukan dan barangbarang yang diinginkan namun tidak diperlukan. 4. Penerapan pola hidup sederhana dalam kegiatan sehari-hari diperlukan untuk mengatur keuangan mahasiswa agar pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua tidaklah lebih kecil daripada pengeluaran. 5. Adanya kedewasaan dalam berpikir sehingga mahasiswa dapat membentengi diri dari pola hidup konsumerisme. Perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paling mahal dan memberikan kepuasaan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan sematamata. Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif terpengaruh penampilan produk atau kemasan produk dan iklan, terhegemoni akan hypermarket maupun supermarket yang ada di lingkungan, keinginan mengikuti trend dan mode, dan bagaiamana tanggapan orang tua terhadap perilaku konsumtif. Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan sosialisasi, yaitu : 1. Membuat daftar belanja yang diinginkan dan dibutuhkan. Diutamakan barang yang dibutuhkan, untuk menghindari terbuangnya uang untuk barang yang sia-sia. 2. Tanyakan diskon khusus. 3. Selalu update jadwal diskon. 4. Gunakan kupon belanja. 5. Jangan terlalu fanatik pada satu nama perancang. 6. Tunggulah diskon perancang. Bersabar sampai barang-barang yang “mahal harus punya” sampai turun harga. 7. Kunjungi pameran. Selain menawarkan harga untuk model terbaru, juga tersedia berbagai hadiah saat pameran.

1. B.

Saran

Kita sebagai mahasiswa yang kebanyakan tinggal jauh dengan orang tua seharusnya sedikit menimalisir pola hidup hedonisme dan konsumtif dengan tidak terlalu mengikuti gaya hidup yang terus mengalir, belajar mengatur pengeluaran sesuai dengan uang yang diberikan oleh orang tua dan memanfaatkannya untuk kebutuhan yang pokok. Serta tetap menjadi diri sendiri.

Hedonisme itu dekat dengan korupsi! Tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Memang korupsi dan hedonisme berkaitan sangat erat. Semuanya diawali dari kedekatan hedonisme dengan perilaku hidup boros. Hedonisme pada dasarnya adalah perilaku yang lebih mementingkan aspek fisik ketimbang aspek kejiwaan. Penampilan glamour akan lebih dihargai oleh kaum hedonis dibandingkan dengan penampilan secukupnya saja. Meskipun secara kualitas, bisa saja orang yang berpenampilan biasa saja mungkin jauh lebih baik dibandingkan dengan orang yang berpenampilan glamour. Pandangan berlebih terhadap aspek fisik inilah yang membuat kaum hedon rela menghabiskan banyak uang demi penampilan fisik yang sempurna. Maka gaya hidup boros pun muncul akibat hedonisme ini. Banyak barang yang mungkin tidak perlu dimiliki, akan dibeli oleh penganut gaya hidup ini. Jika sang hedon itu perempuan, maka mengikuti gaya hidup artis di televisi adalah hal yang lumrah. Belum lama ini fenomena rebonding ramai dilakukan oleh kaum perempuan. Sah saja ini dilakukan. Tetapi kebutuhan lain yang mungkin lebih penting sering tergantikan oleh penampilan mempercantik diri yang kadang kala tidak cocok oleh pelaku. Akan lebih baik jika uang yang dipakai untuk perawatan rambut dibelikan buku bacaan yang jelas lebih bermanfaat. Hal serupa dilakukan oleh kaum hedon laki-laki. Fenomena kontemporer yang cukup menarik adalah penggunaan kawat gigi oleh banyak laki-laki. Jika dimaksudkan untuk kesehatan, hal ini tentu sangatlah baik. Tapi jika hanya mengikuti trend, maka perlu dipikirkan lebih dari satu kali. Gigi yang awalnya bagus dan rapi tanpa hiasan, akan terkesan aneh ketika kawat gigi dipasang. Belum lagi jika berbicara biaya perawatannya. Untuk mereka yang memiliki uang cukup, ini adalah hal yang biasa saja. Tapi bagi mereka yang tidak memiliki uang lebih, biaya perawatan ini akan dianggap sesuatu yang fantastis. Tarif pemasangan berkisar antara Rp 1.000.000 hingga Rp 4.000.000 akan lebih baik jika diberikan kepada para pengangguran yang tidak memiliki modal. Jika sudah seperti ini, apakah salah jika dikatakan : Hedon itu dengan perilaku korup? Bukankah pada dasarnya korupsi itu diawali dengan gaya hidup boros? Posisi Pemuda Mengingat posisi kaum muda sebagai cadangan masa depan, maka virus hedonis sangat mengganggu dan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik saat ini maupun saat yang akan datang. Nilai positif apa yang bisa didapatkan dari pemuda hedonis untuk membangun bangsa ini? Justru bayangan ketakutan yang terbayang. Mereka yang terbiasa hidup mewah tentu akan susah merasakan penderitaan masyarakat yang semakin hari semakin susah hidupnya. Bagaimana jika nantinya pemuda seperti ini yang akan memegang tampuk kepemimpinan negeri ini? Kebijakan seperti apa yang nantinya lahir dari pemikiran manusia yang tidak mengerti perasaan manusia yang diperjuangkannya? Dipastikan akan semakin banyak kebijakan yang tidak pro rakyat hadir di negeri ini. Akan semakin miris rasanya jika kita berbicara tentang kehidupan dan kedaulatan bangsa ini. Manusia yang sibuk mengurus diri sendiri tentu tidak akan berpikir lebih untuk bangsanya. Jika pun ternyata cengkeraman asing semakin kuat di negara ini, maka kaum hedonis tidak akan ambil pusing. Asal kebutuhan fisik mereka terpenuhi, maka tidak akan ada lagi yang perlu dirisaukan. Termasuk merisaukan penindasan yang dialami bangsanya. Jika negara yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tetap utuh atau kacau balau, kaum hedon tidak akan peduli selama kepentingan mereka terpenuhi. Semua ini tidak lepas dari perilaku individualisme yang selalu mengikuti ataupun diikuti oleh hedonisme. Ini semua memperlihatkan jika hedonisme di kalangan pemuda sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, harus ada penyelamatan segera untuk kaum muda. Harus ada solusi cerdas agar hedonisme terhapus dari kehidupan bangsa yang

ingin maju ini. Menghapus perilaku hedonis di kalangan pemuda merupakan langkah tepat untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini. Lalu, solusi apa yang bisa ditawarkan? BPK : Barisan Produktif Kepemudaan Menjadi pemuda yang produktif adalah langkah awal yang tepat untuk menghapus perilaku hedonis. Berfoya-foya adalah kegiatan yang dilakukan karena terlalu banyak memiliki waktu luang. Jika seseorang memiliki banyak kegiatan yang produktif dan positif, maka ia tidak akan memiliki banyak waktu luang. Secara otomatis, tidak ada kesempatan untuk melakukan tindakan sia-sia. Terlebih lagi jika orang itu adalah pemuda. Siapapun tahu jika pemuda memiliki semangat yang tinggi dan energi yang besar. Seperti Si Raja Dangdut Rhoma Irama nyanyikan : darah muda, darah yang berapi-api. Gejolak semangat dan penuh keberanian pada dasarnya dimiliki oleh anak muda. Jika energi ini tidak disalurkan ke tempat yang produktif, maka dengan sendirinya ia akan mengalir ke tempat yang tidak produktif. Siapapun sepakat jika perilaku hedonis sangat tidak produktif. Bahkan akan lebih tepat jika disebut konsumtif. Banyak kegiatan produktif yang bisa dilakukan. Ide-ide brilian bisa muncul kapan saja dan dimana saja jika kita mau. Pemuda di desa akan produktif jika ia mengaktifkan organisasi kepemudaan di tingkat desa. Bahkan bisa berinovasi membuat hal-hal positif yang baru. Begitu juga dengan mereka yang ada di kota. Membuat even yang berbau sosial sangat baik untuk kesehatan jiwa manusia. Tidak ada salahnya jika pemuda di kota membuat acara buka puasa bersama dengan anak-anak jalanan. Menyisihkan sebagian uang untuk membuat perpustakaan mini di lingkungan sekitar. Bahkan hobi yang dianggap berbau hedonistik pun bisa menjadi positif jika kita berpikir keras agar produktif. Para gamers (sebutan umum untuk orang yang hobi bermain game online) sering membuat orang berprasangka bahwa mereka adalah orang-orang yang sering membuang uang hanya untuk kesenangan individual. Mungkin kita perlu menonton film Thailand „TOP – Secret The Billionaire‟. Seorang pemuda yang notabene gamers bisa berpikir produktif dan menjadi jutawan dalam usia 26 tahun. Begitu juga dengan perilaku kaum perempuan yang dianggap sering membuang uang untuk berbelanja (Shoping). Film „Confessions of a Shopaholic‟ menjadi referensi untuk memperlihatkan bahwa perilaku hedonis bisa dirubah asal kita mau berpikir produktif. Memang hanya film (meski salah satu film di atas diangkat dari kisah nyata milyuner Thailand). Setidaknya ini memotivasi bahwa berpikir dan bertindak produktif adalah kunci untuk meninggalkan perbuatan hedonis. Jika sebagian besar atau seluruh pemuda bangsa ini menjadi manusia yang berpikir dan berperilaku produktif, maka bisa dibayangkan masa depan yang cerah akan mendatangi bangsa ini. Siapapun tahu jika lawan produktif adalah konsumtif. Maka menjadi realistis jika melawan perilaku konsumtif adalah dengan menggalakkan perilaku produktif. GPS : Gerakan Pemuda Sederhana Tawaran nyata untuk menusuk langsung hedonisme adalah dengan penerapan nilai sederhana dalam kehidupan. Selain diajarkan oleh agama, pendiri bangsa ini juga mengajarkan nilai sederhana tidak saja secara teori tetapi praktek. Ini memperlihatkan jika nilai sederhana memang mungkin dijalankan oleh pemuda Indonesia. Bung Hatta adalah contoh tepat untuk gerakan hidup sederhana. Sejak dini perilaku sederhana sudah ia terapkan. Menabung adalah hal yang diajarkan oleh bung Hatta. Koin yang ia sisihkan dari uang jajan, disusun sepuluh tingkat. Jika dirasa sudah cukup, uang itu ia belikan buku. Bahkan dalam surat wasiatnya ia mengatakan : Saya tidak ingin dikubur di Makam Pahlawan (Kalibata). Saya ingin dikubur di tempat kuburan rakyat biasa yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya.

Sangat terbukti jika bung Hatta jauh dari nilai hedonis. Sosok bersih dan anti korupsi jelas tergambar dari beliau. Sederhana dalam berpenampilan tetapi berkualitas tinggi dalam pemikiran. Jika nilai sederhana bisa diterapkan secara individual, mengapa tidak dikonsolidasikan dalam satu gerakan besar. Gerakan Pemuda Sederhana mutlak dilakukan untuk melawan arus hedonisme. Tentu dampak yang dirasakan akan sangat besar jika dilakukan dengan kekuatan yang besar. Sederhana merupakan solusi bangsa yang korup ini. Kita semua tahu, jika hedonisme dekat dengan perilaku hidup boros. Sedangkan boros sendiri adalah akar perilaku korup manusia. Maka resep anti korupsi adalah dengan menerapkan gaya hidup sederhana.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->