P. 1
Mubeng Beteng, Satu Sura

Mubeng Beteng, Satu Sura

|Views: 14|Likes:
Published by Aditya Dwi Rahmanto

More info:

Published by: Aditya Dwi Rahmanto on Nov 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2013

pdf

text

original

Mubeng Beteng, Tradisi Satu Sura Bagi sebagian masyarakat Indonesia 1 Sura dipandang sebagai hari sakral, lebih

khususnya bagi orang Jawa. Oleh karenanya setiap tahun pada hari tersebut banyak yang merayakan dengan berbagai cara. Berbagai tradisi yang dilakukan pada 1 Sura antara lain; sesuci, puasa, berjalan mengelilingi kraton dengan membisu, semedi di tempat yang sunyi, meremdam diri di sungai dal lain sebagainya. Satu Sura adalah Tahun Baru menurut kalender Jawa. Berbeda dengan perayaan Tahun Baru kalender Masehi yang setiap tanggal 1 Januari dirayakan dengan nuansa pesta , orang Jawa tradisional lebih menghayati nuansa spiritualnya. Secara tradisi turun temurun, kebanyakan orang mengharapkan ngalap berkah (mendapatkan berkah) pada hari besar yang suci ini. Pada malam 1 Sura, biasanya orang melakukan laku prihatin untuk tidak tidur semalam suntuk atau selama 24 jam. Inilah salah satu laku prihatin orang Jawa untuk mencapai suatu cita-cita luhur yang menjamin hidupnya. Yang menarik dari perayaan malam 1 Sura ini adalah adanya Tradisi Mubeng Beteng, mulai dari Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta. Tidak hanya sekedar berjalan mengelilingi benteng. Tradisi Mubeng Beteng merupakan tradisi berjalan mengitari jalan di luar benteng tanpa bicara sebagai simbolisasi bahwa hidup akan terus berputar, introspeksi diri, dan senantiasa berdoa kepada tuhan Dimulai sejak tahun 1950, paguyuban bangsawan Jogjakarta yang bernama Hari Dewado memperingati 1 Suro dengan cara melakukan kirab, berjalan kaki mengelilingi Benteng Karaton disebelah luar. Kegiatan ini kemudian menjadi tradisi. Sampai kini, setiap malam 1 Suro , masyarakat secara spontan berjalan keliling Benteng Kraton Ngayogyakarta sebagai upacara ritual. Meski kirab ini tidak ada yang mengorganisir, tetapi warga yang berpartisipasi melakukan dengan tertib. Selama berjalan keliling benteng tidak bicara, istilah lokalnya mbisu (bisu). Ini merupakan salah satu laku spiritual supaya mendapatkan ketentraman hidup. Kirab keliling benteng berakhir jam 4 ( empat) pagi. Tidak sedikit, untuk dapat dikatakan demikian, warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng, hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol. Dengan Tapa Bisu, atau mengunci mulut, tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya. Ritual atau tradisi lainya yang masih terkait

dengan 1 Sura di Jogja yakni, Kungkum atau berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta, yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi, adalah Tirakatan dan Pagelaran Wayang Kulit. Begitu pula di Pantai Parangkusumo, kawasan Parangtritis, Kretek, Bantul Yogyakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->