P. 1
TORAJA

TORAJA

|Views: 121|Likes:
Published by Coppermine Boedi

More info:

Published by: Coppermine Boedi on Nov 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

Suku Toraja (ans/liputan6.

com/IM) Bagi suku Toraja, “Rambu Solo” adalah upacara untuk memakamkan leluhur atau orang tua tercinta. Tradisi leluhur ini sekaligus menjadi perekat kekerabatan masyarakat Toraja terhadap tanah kelahiran nenek moyang mereka. Suatu malam di dataran tinggi Tanah Toraja. Saat itu, malam kian larut ketika sang bulan memancarkan pantulan cahayanya. Di sekeliling halaman Tongkonan atau rumah adat Tana Toraja terlihat sanak saudara dan para keluarga mendiang Ne Ne Lai Sumule berkumpul menandai dimulainya pembukaan ritual pemakaman adat Toraja. Suasana pun menjadi sakral ketika mereka bersama-sama melantunkan syair kesedihan dalam tarian Mabadong. Tarian ini menyimbolkan ratapan kesedihan mengingat jasa mendiang semasa hidupnya serta sebagai ungkapan dukacita bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Tana Toraja di Sulawesi Selatan adalah daerah yang indah. Wilayah kabupaten ini didominasi dataran tinggi. Hamparan pegunungan dan perbukitan pun seolah menjadi saksi bisu asal muasal kehidupan manusia di sana. Di kaki pegunungan Kandora, misalnya beragam kisah dan legenda mengiringi munculnya masyarakat Toraja. Syahdan sekitar 15 abad yang lalu, sekumpulan imigran dari Teluk Tongkin, daratan Tiongkok, berlabuh di kawasan pegunungan sebelah barat Sulawesi Selatan. Para imigran asal Tiongkok ini akhirnya memilih menetap dan membaur dengan penduduk asli di pedalaman. Akulturasi atau percampuran budaya mereka inilah yang kemudian sering disebut kebudayaan Toraja. Tak mengherankan, bila di Tana Toraja banyak dijumpai rumah yang menyerupai perahu Tiongkok yang biasa disebut Tongkonan. Rumah adat ini dilengkapi dengan lumbung tempat menyimpan padi sekaligus sebagai lambang kebesaran dan kesejahteraan masyarakat Toraja. Status kebangsawanan orang Toraja mudah dikenali, terutama saat mereka melakukan ritual pemakaman orang yang meninggal dunia. Berbeda dengan masyarakat biasa, para bangsawan suku Toraja jika meninggal dunia jenazahnya diawetkan terlebih dahulu sebelum dikuburkan. Ciri lainnya, jenazah bangsawan

biasanya dimakamkan di atas tebing maupun gua-gua di wilayah Tana Toraja beserta harta benda kesukaan mereka. Saat prosesi pemakaman adat Toraja yang dinamakan upacara “Rambu Solo”. “Rambu Solo” adalah ritual yang sangat panjang dan melelahkan. Sebab kematian bukanlah akhir dari segala risalah hidup. Maka, suatu kewajiban bagi keluarga untuk merayakan pesta terakhir sebagai bentuk penghormatan kepada arwah yang akan menuju ke alam baka. Kini, malam semakin larut. Ritual demi ritual pun telah dijalankan. Sekarang saatnya pihak keluarga melangsungkan ritual Ma`tundan atau membangunkan arwah. Seiring dimulainya Ma`tundan, suasana duka kembali tergurat di wajah sanak saudara dan orang-orang terdekat dari mendiang. Air mata pun jatuh bercucuran sebagai wujud orang yang mereka cintai bakal pergi selamanya. Bunyi-bunyian lesung dan bambu tersebut dilakukan bersamaan dengan prosesi pemindahan jasad mendiang dari rumah duka untuk disinggahkan ke rumah adat Tongkonan untuk disemayamkan selama satu malam. Maka, sanak saudara dan keluarga bahu-membahu mengangkat peti jenazah yang beratnya mencapai 100 kilogram untuk dinaikkan ke dalam rumah adat. Menurut adat Toraja prosesi ini melambangkan penyatuan kembali jenazah dengan para leluhurnya. Di dalam rumah adat, peti berisi jasad mendiang itu harus dijaga semalam suntuk oleh sanak keluarga. Hari pun berganti, kini saatnya melanjutkan prosesi pemindahan peti jenazah. Panas terik matahari pun tak mengurangi warga sekitar untuk menghormati yang meninggal. Mereka telah berkumpul di lumbung rumah adat untuk melanjutkan prosesi pemindahan peti jenazah dari rumah adat ke lumbung padi. Maka tarian penghormatan pun dilakukan. Kain merah dibentangkan sebagai lambang kebesaran suku Toraja. Sanak saudara dan warga bahu-membahu mengantarkan peti jenazah ke bawah lumbung. Ketika peti mati diturunkan, soraksorai bergema di antara penduduk. Warga mencoba mengatasi beban berat yang bertumpu di atas pundak mereka. Kain merah atau lamba-lamba ini dibentangkan sebagai simbol jalan yang harus dilalui jenazah. Akhirnya, sampailah peti jenazah di lumbung yang letaknya tepat di bawah rumah adat. Dalam keyakinan masyarakat Toraja, peletakan jasad ke dalam lumbung selama

tiga malam itu menandakan jasad mendiang telah menuju pada fase kematian yang sebenarnya.

Toraja Fiesta Kearifan Lokal Tana Toraja SEJUMLAH bocah laki-laki berkostum bahan tenun bergaris-garis merah menggerakgerakkan sepotong bambu di tangan kanan mereka. Sembari bergerak lincah, mereka mengarahkan rombongan tamu ke panggung utama yang berada di tengah lapangan pasar seni Rantepao, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. SUARA tetabuhan yang membahana, tarian yang lincah memeriahkan pembukaan "Toraja Fiesta" yang berlangsung pada tanggal 28-29 Desember 2004. Upacara menyambut tamu, yakni rombongan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, adalah salah satu bagian dari upacara Rambu Tuka’, upacara kegembiraan yang dimiliki masyarakat Tana Toraja. Pesta Toraja tersebut digelar berkaitan dengan telah masuknya Tana Toraja dalam daftar sementara warisan budaya dunia (inscription world heritage list) C1038 Unesco. Usulan pertama tahun 2000 baru sebatas satu situs, perkampungan Kete Kesu di Kecamatan Sanggalangi. Namun, dalam kunjungan tim Unesco ke Tana Toraja tahun 2002 direkomendasikan agar nominasi Tana Toraja dikembangkan menjadi Serial Nomination, yakni usulan yang terdiri dari beberapa situs dalam satu kawasan. Atas dasar kesepakatan bersama, maka diputuskan penambahan delapan situs baru, selain situs Kete Kesu, yaitu Pallawa, Bori Parinding, Kandeapi, Rante Karrasik, Buntupune, Pala Tokke, Londa, dan Lemo. Karena nominasi itulah, masyarakat Tana Toraja patut berbangga dan merayakannya dengan upacara Rambu Tuka’. SUKU Toraja sebelum datangnya agama Kristen dan Islam telah menganut agama nenek moyangnya yang disebut Aluk Todolo, yang diyakini sama tuanya dengan nenek moyang manusia pertama yang disebut Datu La Ukku. Keturunan Datu La Ukku inilah yang pertama kali diutus ke bumi. Salah satu keturunannya yang bernama Pong Mula Tau yang turun dari langit (To Manurun Di Langi’) membawa ajaran untuk mengadakan pemujaan/ persembahan kepada Puang Matua (Tuhan). E Bernard M dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tana Toraja menjelaskan, Aluk Todolo inilah yang mendasari sendi-sendi kehidupan masyarakat Toraja, termasuk adat istiadatnya. Sekalipun ada pengaruh Kristen dan Islam, Aluk Todolo percaya kepada tiga kekuatan yang wajib disembah, yaitu Puang Matua (Tuhan), unsur kekuatan tertinggi sebagai pencipta bumi, langit, dan segala isinya; Deata-deata (penguasa dan pemelihara bumi); serta To Membali Puang (arwah para leluhur yang telah menjelma menjadi dewa). Ketiga unsur tersebut merupakan kekuatan gaib yang dipercayai oleh manusia. Suku Toraja pun memberikan persembahan sesajian dan kurban- kurban yang terdiri dari

kerbau, babi, ayam, dan sejenisnya, dan dilakukan secara terpisah dalam waktu yang berbeda dengan cara yang berbeda pula: Puang Matua yang bersemayam di langit dipuja dan disembah dengan upacara di depan rumah Tongkonan, Deata disembah di sebelah timur rumah, To Membali Puang di sebelah barat rumah atau di liang kubur di mana jenazahnya dikubur. Ajaran dari warisan nenek moyang orang Toraja inilah yang membentuk pola tingkah laku orang Toraja sebagai sumber keseluruhan unsur kebudayaan yang tampak dalam fenomena sosial sampai sekarang. Anggapan tentang alam raya dikenal adanya klasifikasi timur-barat dan utara-selatan. Timur adalah matallo, yakni tempat terbitnya matahari yang dianggap sebagai kualitas mewakili kebahagiaan, terang, kesukaan, dan sumber kehidupan. Barat (matampu’), tempat terbenamnya matahari mewakili unsur gelap, kedukaan. Klasifikasi timur-barat membawa konsekuensi dalam kehidupan yang menyangkut tata pelaksanaan upacara. Kehidupan masyarakat Toraja tak lepas dari upacara. Setiap fase kehidupan selalu dibarengi dengan upacara. Sama halnya dalam hidup ini tidak luput dari masalah sukaduka, terang dan gelap. Dalam sistem upacaranya dikenal dengan nama Rambu Tuka’ (upacara kegembiraan) dan Rambu Solo’ (upacara kedukaan). Waktu pelaksanaan, tempat, dan pejabat yang bertugas dalam dua perangkat upacara sudah terbagi secara tajam. Contohnya, pejabat Rambu Tuka’ tidak boleh bertugas untuk Rambu Solo’. Utara-selatan. Utara adalah yang paling utama yang disebut ulunna lino (kepala bumi) dan selatan disebut pollo’na (bawahnya bumi). Utara mewakili anggapan seperti kepala, atasan, depan, orang-orang yang dihormati yang diidentifikasi sebagai tersuci dan terhormat. Sedangkan selatan diidentifikasi dengan bawahan, kaki, pengikut. Model rumah adat Tongkonan dengan segala aturannya mengikuti model tersebut. Dalam kegiatan upacara, tongkonan menjadi pusat lintang timur-barat, utara-selatan. Upacara Rambu Tuka’ diselenggarakan di sebelah timur tongkonan pada waktu matahari mulai naik, sedangkan Rambu Solo’ diselenggarakan di sebelah barat pada waktu matahari mulai terbenam. Upacara penyembahan kepada Puang Matua dilakukan di depan rumah (utara). Rambu Tuka’ ini adalah upacara keselamatan dari empat persekutuan hidup, yakni Aluk Ma’lolo, upacara untuk kehidupan dan keselamatan manusia; Aluk Patuoan, upacara untuk keselamatan dan kehidupan hewan ternak dan binatang-binatang; Aluk Tanaman, upacara untuk keselamatan tanaman serta tempat tumbuhnya tanamantanaman; dan Aluk Bangunan Banua, upacara untuk keselamatan pembangunan rumah dan penempatan rumah oleh empunya.

Tak terlalu banyak orang tahu bahwa masyarakat Toraja memiliki upacara Rambu Tuka’ karena selama ini yang lebih banyak mengedepan di media massa adalah upacara Rambu Solo’. Rambu Solo’ adalah upacara kematian dan pemakaman manusia sebagai upacara yang dilakukan dengan kurban hewan yang bisa jadi memakan biaya ratusan juta rupiah, tergantung pada strata sosial seseorang yang akan dimakamkan tersebut. Kedua ritus upacara tersebut mengikat hidup dan kehidupan orang Toraja, dalam perkembangannya sangat susah ditinggalkan karena upacara-upacara ini adalah sarana untuk melestarikan kebudayaan dan kesenian Toraja. TORAJA Fiesta adalah salah perwujudan Rambu Tuka’, ungkapan kegembiraan yang menyuguhkan serangkaian tarian/atraksi dari 15 kecamatan di Tana Toraja. Inilah upaya untuk membangkitkan kembali pariwisata Tana Toraja yang sempat ’mati suri’, terutama setelah peristiwa peledakan bom di Bali. Menurut survei Dinas Pariwisata Kantor Wilayah Daerah Tana Toraja, Association of The Indonesia Tour and Travel Agencies (Asita), dan Persatuan Hotel dan Restoran (PHRI) Sulawesi Selatan, pada tahun 1979-1997 Toraja termasuk tujuan wisata paling populer di Indonesia setelah Bali. Tahun 1996, total wisatawan yang mengunjungi Toraja mencapai lebih kurang 387.000 wisatawan, dengan wisatawan terbesar dari Eropa dengan jumlah 200.600 orang, dari Kanada sebanyak 100.000 wisatawan, selebihnya dari Asia dan Amerika. Toraja dengan kebudayaannya yang unik, dengan julukan Land of the Heavenly Kings yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain di dunia dan masih hidup hingga sekarang, haruslah tetap dijaga dan dilestarikan. Begitu banyak situs tua yang bisa dikunjungi, termasuk pekuburan leluhur, seperti situs makam pahat di Lemo, makam goa purba di Londa, menhir di Rante Karassik, perkampungan Kete Kesu yang begitu populer di kalangan turis karena di sana ada tongkonan, lumbung padi dan megalit di antara persawahan, serta makam aristokrat. Berkunjung ke Rantepao- Makale, berarti kita belajar kearifan lokal Tana Toraja. Masyarakat Toraja begitu menghargai adat budaya mereka, menghargai para leluhur mereka, dengan tetap menjaga eksistensi pekuburan leluhur. Kearifan lokal itulah warisan budaya yang sangat berarti untuk kita semua. (elok dyah messwati)

Membangun Toraja dengan Wawasan Budaya Toraja Refleksi Toraja di Hari Bahagianya Setiap unsur kebudayaan mengandung simbol yang sarat dengan makna denotasi dan pragmatis, yang saling berhubungan satu dengan lainnya dan dipraktikkan oleh unit sosial masyarakat tertentu dalam dimensi ruang dan waktu tertentu. Demikian halnya kebudayaan Toraja yang bersifat kompleks. Kompleksitasnya itu ditandai dengan berbagai unsur seperti agama Alukta, upacaraupacara yang sarat makna, sistem pengetahuan, organisasi sosial, pertanian dan sebagainya. Simbol-simbol dari unsur kebudayaan masyarakat Toraja yang sarat dengan makna perlu untuk dikembangkan dan terus dipupuk sebagai perekat integrasi sosial masyarakat Toraja yang memiliki ciri dan keunikan dalam budayanya. Kemajemukan masyarakat Toraja dapat dilihat adanya kelompok masyarakat di samping menganut falsafah Toraja, juga sudah menganut agama yang lain dari Alukta (agama leluhur). Kemajemukan pada tingkat ini semakin menjadi rumit oleh terdapatnya stratifikasi sosial tradisional yang cukup berpengaruh di beberapa tempat. Dengan demikian terdapat pula lapisan-lapisan budaya yang saling berinteraksi yang didukung oleh berbagai unit sosial masyarakat yang mempraktikkan budaya ini dengan maksud, rencana dan motivasi-motivasi tertentu. Hal inilah yang dapat menyebabkan konflik internal. Di saat seperti inilah kembali dirindukannya sosok Lakipapa yang dapat mengembalikan dimensi ide dan cara berpikir masyarakat Toraja sebagai suatu entitas dan proses akal yang meliputi seluruh konsep, proposisi, sistem nilai yang dibagi bersama untuk masyarakat Toraja, dan bagaimana sikap-sikap dan cara menanganinya. Nilai-nilai tersebut yang bersifat abstrak perlu dieksternalisasikan ke dalam bentukbentuk budaya yang dicapai dan dimengerti oleh masyarakat Toraja pada umumnya. Hasil itu kemudian didistribusikan secara sosial dengan cara bagaimana makna budaya kolektif tersebut dan bentuk-bentuk eksternal yang sarat dengan makna tersebar di masyarakat luas dan bagaimana hubungan antara satu dengan yang lainnya. Sekiranya ini dapat terwujud, maka kemungkinan besar ditemukan masyarakat Toraja yang saling berinteraksi dan membentuk suatu identitas ke-Toraja-an. Suatu identitas yang dapat menunjang integrasi nasional. Toraja yang Berwawasan Budaya Budaya Toraja yang berkembang dari Aluk Todolo-Alukta (agama dan kepercayaan) mengandung makna yang luar biasa. Misalnya dalam upacara kematian (death ritual) dan syukuran (life ritual). Meskipun sebagian masyarakat menganggap upacara tersebut memakan biaya yang begitu tinggi (mahal), jauh lebih rumit dan menakutkan,

namun jika ditilik dari segi dampak, secara sosial ekonomis, memberikan sesuatu makna minimal semangat kebersamaan. Misalnya, membangun Lantang secara bersama-sama dan tidak digaji, cukup dengan menyiapkan makanan dengan lauk dan setelah upacara mereka diberikan atau dibagikan daging kerbau yang dipotong. Banyak keluarga dan handai tolan dari keluarga yang berduka untuk meluangkan waktunya berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ada yang datang dengan rombongan menunjukkan simpatinya membawa sumbangan baik berupa kerbau, babi, tuak, gula atau rokok. Rombongan-rombongan tersebut dijamu sebagai tamu kehormatan. Memang, kegiatan ini memakan biaya yang begitu besar. Akan tetapi, jika dilihat dari segi makro yaitu dari sisi masyarakat secara keseluruhan, ternyata upacara tersebut memberikan sumbangan yang menguntungkan bagi perekonomian masyarakat Toraja, sebab secara teoritis, pengeluaran seseorang yang besar akan menjadi pendapatan bagi orang lain. Hal ini berarti jumlah pengeluaran bagi penyelenggara upacara, merupakan pendapatan yang besar bagi kelompok masyarakat lainnya. Di samping itu, juga menopang sektor pariwisata. Dalam membangun masyarakat Toraja, perlu memperhatikan aspek budayanya. Sebab nilai-nilai luhur yang muncul dalam tatanan simbol, mengandung makna yang dapat menunjang integrasi sosial seperti nilai keagamaan, nilai kemasyarakatan dan nilai yang berkaitan dengan manusia Toraja sebagai pencipta karya. Manusia Toraja baru menjadi manusia sebenarnya (Tau Tongen) apabila dalam kehidupannya ia mampu dan berhasil melaksanakan upacara kehidupan (aluk rampe matallo) dan upacara kematian (aluk rampe matampu) mulai dari pelaksanaan aluk yang paling rendah sampai ke aluk yang lebih tinggi (bua). Dalam hal ini, perlu diketahui bahwa manusia Toraja adalah manusia yang religius. Nilai tongkonan, misalnya menyimbolkan tentang pandangan orang Toraja tentang apa hakekat masyarakat di mana simbol ini lebih banyak berbicara mengenai hubungan sosial dalam masyarakat yaitu hubungan kekerabatan dan perkawinan, dan hubungan sosial lainnya baik secara horisontal maupun vertikal. Hubungan-hubungan tersebut dilandasi oleh tekad persatuan dan kesatuan, serta semangat kegotongroyongan. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan masyarakat Toraja, di antaranya sipadiong lisunna pala, sipolan se?ponna kalepak, setia sekata, saling menghormati, saling melindungi satu sama lain. Misa' kada dipotuo pantan kad dipomate, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Makna simbol tersebut dikaitkan dengan pembangunan masyarakat Toraja adalah pondasi yang sangat kuat, terutama keterpaduan antara agama dan masyarakat, bahwa dalam pandangan budaya Toraja, mustahil memikirkan masyarakat tanpa agama dan demikian pula sebaliknya.

Toraja dengan Tongkonannnya, merupakan suatu karya seni yang melambangkan bahwa manusia-manusia Toraja memiliki etos kerja. Tongkonan hanya dihasilkan oleh orang-orang yang mau bekerja keras, sebagaimana salah satu ciri orang Toraja yang ulet dan giat berusaha, etos kerja yang tinggi, inovatif kreatif, keharmonisan. Tongkonan mengandung makna keharmonisan di mana dalam berbagai aspek tergambar keharmonisan kosmos, ritus syukuran dan ritus kematian, hubungan sosial, semuanya ini tergambar dalam pranata tongkonan. Di samping itu, simbol kejujuran dan keikhlasan, yang tampak dalam tekad persatuan dan kesatuan, kegotongroyongan dan kekeluargaan yang sangat tampak dalam setiap pelaksanaan upacara. Semangat atau spirit budaya Toraja itulah yang penting untuk menopang pembangunan masyarakat di Toraja, khususnya dalam pengambilan kebijakan pembangunan masyarakat Toraja. Dalam hal ini, Toraja yang melekat dengan budaya, Toraja dengan semangat kegotongroyongan, Toraja dengan semangat dan etos kerja yang tinggi, Toraja dengan inovasi dan kreativitasnya, Toraja dengan kehidupan masyarakat yang harmonis, penuh kejujuran dan keikhlasan, sebagaimana tergambar dalam upacara-upacara yang begitu bermakna. Tongkonan janganlah menjadi tontonan saja, tetapi simbol dan makna tongkonan memberikan semangat dan jati diri bagi masyarakat Toraja untuk terus maju. Toraja dapat dibangun dengan kebersamaan, etos kerja, inovasi dan kreativitas, keharmonisan yang dilandasi oleh semangat kegotongroyongan yang bersimbol dari makna-makna budaya masyarakat Toraja. Toraja teruslah maju, selamat Hari Ulang Tahun bagi masyarakat Toraja, semoga cita-cita dan usaha kerja keras membawa kepada masyarakat Toraja yang maju dan sukses selalu. Sekali lagi, selamat hari ulang tahun Pemerintah Kabupatan Tana Toraja. ** http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=10050

Kembalinya Masyarakat Rumah Stanislaus Sandarupa
Torromoko iko so’e/ Angku malemo aku/ Lako padangna tau/ Male tang sule-sule...// (Selamat tinggal Saudaraku/ Aku akan pergi/ Ke negeri seberang/ Aku pergi tak kan kembali...//) Kutipan sebagian syair lagu Toraja yang dilantunkan pada tahun 1960-an—yang menggambarkan tekad orang Toraja pergi merantau dan tak akan kembali—dapat dibandingkan dengan tekad orang Bugis yang pergi berlayar dengan semboyan: sekali layar berkembang pantang surut kembali. Tampaknya merantau, kerja keras, dan kembali ke kampung halamannya untuk membangun setelah sukses di rantau merupakan ciri khas masyarakat ini. Mereka senantiasa rindu akan tanah kelahirannya (ungkamali’ tondok kadadianna). Kerinduan orang-orang Toraja untuk kembali ke kampung halaman itu diwujudkan dalam suatu pesta budaya Toraya Mamali'’(Sule Sang Torayan), yang digelar pada 1928 Oktober 2006 di Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja (Kompas, 30/10). Toraya Mamali’ sebetulnya merupakan revitalisasi budaya Toraja yang berkaitan dengan nilai-nilai yang terungkap dalam rumah (tongkonan). Pembangunan yang direncanakan didasarkan pada kearifan lokal nenek moyang yang terbuka dan berinteraksi secara dialektis dengan budaya nasional dan internasional. Visi kebudayaan Dalam melakukan revitalisasi, Toraya Mamali’ memakai pendekatan kebudayaan yang integratif (Kleden, 1987). Pendekatan itu mempertimbangkan tiga faktor, yaitu sikap dan pandangan budaya pelaku revitalisasi, aspek-aspek budaya yang hendak direvitalisasi dan korelasinya dengan aspek-aspek budaya luar, serta strategi-strategi kegiatan revitalisasi yang menggunakan kearifan lokal. Tampak bahwa Toraya Mamali’ punya visi kebudayaan yang menggabungkan warisan masa lampau dan masa kini, bahkan terbuka terhadap masa depan sebagai daya kreasi. Dalam pandangan ini terdapat tradisi dan kontinuitas, namun keduanya terbuka untuk dikembangkan dan diinterpretasi ulang sesuai konteks era global. Mulai dari istilah-istilah yang dipakai seperti mamali’ (rindu), sang Torayan (Toraja menyatu), sule (kembali), sampai tema dan sejumlah program yang hendak dilaksanakan jelas menunjukkan bahwa pembangunan yang direncanakan berkaitan erat dengan konsep tongkonan dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Berdasarkan

klasifikasi Levi- Strauss (1983), diperkuat hasil penelitian Waterson (1990), Toraja dengan konsep tongkonan masuk dalam kategori masyarakat rumah (house societies). Ciri utama yang sangat menonjol ialah keeratan hubungan antara tongkonan, manusia (badan), dan pikiran yang terus- menerus berinteraksi satu dengan yang lain. Nilainilai, struktur fisik, tanda-tanda ornamen ukiran, konvensi sosial dan gambaran mental tongkonan memberdayakan, membentuk, dan mengarahkan pikiran dan praktik-praktik sosial penghuninya. Masyarakat Toraja membangun tongkonan dan menjadikannya sebagai gambaran dan identitas mereka. Sebaliknya, pada saat yang sama mereka memakai tongkonan dan gambaran tongkonan untuk membangun diri mereka. Dari sudut itu rumah pertamatama berarti kelompok sosial yang moralitasnya dibina lewat tongkonan. Kedua, ungkapan sang Torayan, dalam konsep Toraya Mamali’ berkaitan erat dengan kesatuan yang dibina tongkonan. Namun, di sini telah terjadi perubahan besar. Toraya Mamali’ sudah mengembangkan konsep tongkonan yang tadinya sangat mengutamakan sistem genealogi (satu turunan) dengan penekanan pada imanensi kesatuan dalam sekat-sekat tongkonan menjadi sebuah konsep kesatuan yang lebih transendental yang mengatasi sekat-sekat tadi. Sebagai gantinya, misalnya, ia lalu bermain pada pemakaian simbol-simbol seperti pembangunan patung di tengah kolam Makale sebagai lambang persatuan, yang akan menempatkan masyarakat Toraja di tengah- tengah masyarakat Sulawesi Selatan, Indonesia dan internasional dan ke berbagai pertimbangan sistem yang memakai kriteria kekayaan, kekuasaan dan status dalam skala yang lebih luas. Ketiga, penetapan sektor garapan pendidikan juga sangat berbasis budaya tongkonan. Sebagaimana diketahui, satu-satunya pendidikan formal tradisional yang ada dalam masyarakat Toraja adalah yang berkaitan dengan ritus tongkonan, yang dapat disebut diparung, yang setingkat dengan sekolah agama (aluk). Kegiatan pendidikan ini dilaksanakan dalam upacara aluk bua’ kasalle (upacara bua’ yang besar), pasangan dari upacara kematian tingkat menengah (pitung bongi) dan tertinggi (rapasan). Salah satu ritus yang dilakukan di dalam tongkonan ialah menyekolahkan gadis-gadis yang belum mengalami menstruasi selama tiga tahun. Dibimbing oleh toburake (banci), gadis-gadis itu diajarkan mengonstruksi tuturan ritus dalam bentuk paralelisme, memakai mantra untuk berhubungan dengan dewa-dewa, serta menyembuhkan orang sakit. Akhirnya, konsep sule (kembali) berkaitan dengan ritus peresmian tongkonan (merok). Dalam upacara itu semua rumpun keluarga kembali ke tongkonan mereka dan berkumpul serta melakukan upacara setelah mencapai keberhasilan dalam

pembangunan atau renovasi tongkonan. Kembali ke tongkonan merupakan suatu pelaksanaan ritus yang disebut sule lako lamunan lolo (kembali ke tempat tali pusar dikuburkan). Dalam budaya ini, bila seorang lahir, tali pusarnya dikubur di sebelah timur rumah dengan harapan si bayi bertumbuh seiring dengan naiknya matahari sebagai simbol kehidupan. Jelaslah bahwa bagi masyarakat Toraja rumah merupakan sebuah proses yang sedang bertumbuh. Pembaruan diri Bila masyarakat rantau Toraja kembali hendak merevitalisasi budayanya lewat pembangunan, sebaliknya perantau Toraja memperbarui diri dengan mengadopsi nilainilai kebudayaan lokal, kearifan lokal nenek moyang yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan. Kembalinya masyarakat perantau Toraja untuk bertemu dengan sanak saudara dapat dianggap sebagai sebuah retret (retreat) besar. Tujuan utamanya untuk mencipta atau membangun diri kembali atau memperbarui diri. Penciptaan diri kembali yang hendak dilakukan diarahkan pada pertanyaan berikut ini: bagaimana masyarakat Toraja perantau memainkan peran di tingkat nasional dengan tetap berakar pada kearifan lokal nenek moyang mereka? Tiga kearifan lokal nenek moyang berikut ini yang sangat relevan dengan kehidupan nasional, dan dapat memberi identitas tingkah laku ketorajaan adalah kerja keras, kesatuan sebagai totalitas yang mengandung keberagaman sehingga piawai dalam mengorganisir perbedaan, dan nilai kebaikan (kameloan) sebagai nilai tertinggi. Pertama, pesan utama nenek moyang adalah untuk selalu bekerja keras seperti yang terungkap dalam peribahasa osokki to rakka' sangpulomu (pakailah sepuluh jemarimu). Kedua, mengedepankan persatuan sebagai totalitas/keutuhan yang di dalamnya terdapat pluralisme budaya. Secara keluar, budaya Toraja memperlihatkan kesatuan, namun secara ke dalam terjadi keberagaman multiversi. Budaya Toraja menekankan bukan organisasi keseragaman melainkan organisasi perbedaan. Masyarakat Toraja yang berpenduduk 400.000 orang (1,5 juta orang di rantau) merupakan satu kelompok etnis kecil di Sulwesi Selatan. Namun, mereka mempunyai satu sistem pikir dan sistem ritus unik yang tetap dipertahankan. Dalam tradisi itu mereka sangat menghargai keberagaman/perbedaan seperti yang ada dalam ungkapan pantan lembang pantan serekan bane' (masing-masing punya negeri masing-masing punya praktik ritus’). Kalau masyarakat Toraja mempertahankan Negara Kesatuan

Republik Indonesia itu bukan karena minoritasnya, melainkan karena mereka sudah terbiasa hidup dalam keberagaman (diversitas). Ketiga, tetap mempertahankan nilai kebaikan sebagai nilai tertinggi. Pengaruh nilai ini pada tingkah laku dapat mempertahankan budaya bersih dan menangkal perilaku korupsi. Di samping itu, nilai ini menjadi pedoman yang efektif dalam menyelesaikan pertikaian dan konflik (dipasikitanan melona). Stanislaus Sandarupa Dosen Antropologi-Linguistik, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin

BAHASAN Toraja
Oleh Arifin Hutabarat Tana Toraja di pasar pariwisata internasional sudah biasa dikenal dengan sebutan sesuai terjemahannya Toraja Land. Artinya, pada batas tertentu, ia sudah masuk peta, khususnya bila peta pariwisata Indonesia dibicarakan. Dulunya, tur ke Toraja tergolong special interest tour, artinya bukanlah wisman dalam rombongan besar atau mass tourism atau arus deras utama wisman, lantaran letaknya yang relatif terpencil. Itu karena antara lain, dari Makassar sebagai pintu masuk melalui udara ke kawasan selatan Pulau Sulawesi, wisman harus menempuh sekitar 7 jam perjalanan darat untuk tiba ke tujuan Tana Toraja. Jalan rayanya pun tidak mulus alias ada bagian perjalanan yang berlobang-lobang dan harus dikendarai dengan pelahan. Jadi, hanyalah mereka yang sungguh punya minat khusus, akan berkunjung selaku wisman ke sana. Wisman ke sana tidak tergolong bertujuan sekadar pleasure and leisure, karena, hotel tempat menginap yang ada sederhana, tidak ada hotel bintang 3 atau 4. Kamar tak berpendingin ruangan. Pokoknya tidak senyaman seperti ditemui di Bali atau Yogyakarta atau bahkan Danau Toba, Sumatera Utara. Tana Toraja masih tergolong special interest tour, lantaran dikaitkan pula dengan sumber-sumber pariwisata di sana. Sumber daya alamnya memikat, tetapi lebih dari itu, budaya dan kebudayaan yang ditampilkan oleh kehidupan masyarakat sehari-hari, yang sangat etnis dan unik, merupakan spirit daya tariknya. Tetapi, wisman yang ingin menikmati dan mendalami tur semacam itu, selama ini umumnya datang dari Barat. Tak heran wisman ke Tana Toraja datangnya seakan terbatas dari Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Prancis. Artinya? Golongan orang muda atau wisman pleasure and leisure, yang kebanyakan mengisi pasar pariwisata dunia, memang tak banyak diharapkan untuk seakan bersusah-susah datang ke tengah perut Pulau Sulawesi ini. Bagaimana sekarang? Rasanya tidak bisa dilepaskan dari spirit yang sesungguhnya menjadi daya tarik orang dari sebelah bumi di sana, berkunjung ke sini dan menikmatinya. Spirit Toraja ialah tradisinya yang sangat mengakar, tetap hidup dan tetap mengisi nilai-nilai kehidupan sehari-hari, menjadi living culture. Jenazah yang dikuburkan secara tradisional lama, tidak pula berkaitan dengan agama, dan upacaraupacara adat yang melekat. Cerminannya terlihat dari kehidupan yang hening, tenang, maka tak pernah rasanya isu gangguan keamanan dari sini mencuat ke tengah masyarakat ekonomi. Semenjak jalan raya antara pintu gerbang Makassar dan Toraja sudah mulus, jarak tempuh menjadi sekitar 4 jam, maka status special interest tur melunak. Bisa masuk

sebagai paket tur biasa dan reguler. Hotel berpendingin ruangan pun mulai tersedia. Tetapi, ya itu tadi, karena sifat pleasure and leisure di situ tidak kuat, lantaran kunjungan ke situ bobotnya memang menyaksikan budaya dan kebudayaan masyarakat setempat, maka tak urung harapan mendapat wisman dalam jumlah arus deras, tidaklah tepat. Minat khusus untuk termotivasi ke Toraja tetaplah rasanya lebih kuat. Berdasarkan itu, perkembangan kunjungan wisman ke Tana Toraja lebih tepat bilamana diharapkan secara berkesinambungan, namun bukanlah dalam jumlah-jumlah besar. Kelompok kecil kunjungan wisman, atau FITs, agaknya merupakan pasar yang cocok. Namun tantangannya ialah bagaimana agar kesinambungan kunjungan lebih lancar, lebih merata sepanjang tahun, tidak tergantung sekedar musim puncak turis di dunia saja. Musim puncak alias peak season kan terbatas period musim summer atau winter, yaitu di pertengahan dan ujung tahun belaka. Dengan kata lain, memasarkan Tana Toraja ke dunia pariwisata adalah berupaya memanfaatkan secara optimal ciri pasar untuk special interest tour: konsumennya tidak bergantung pada musiman turis. Mereka akan pergi ke mana saja mereka suka, kapan saja sesuai jadual sendiri yang mereka punyai, karena motif bepergiannya memang karena minatnya yang khusus.*** Penulis adalah pengamat pariwisata

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->