P. 1
Implementasi Manajemen Pendidikan Di Sekolah Islam

Implementasi Manajemen Pendidikan Di Sekolah Islam

|Views: 136|Likes:
Published by Rabial Kanada

More info:

Published by: Rabial Kanada on Nov 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2013

pdf

text

original

IMPLEMENTASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DI SEKOLAH ISLAM

OLEH :

Nama NIM Matrikulasi Dosen Pengasuh

: RABIAL KANADA : 0102502003 : Kapita Selekta Manajemen : Dr. Kardoyo, M.Pd

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Ilmu manajemen sebetulnya sama usianya dengan kehidupan manusia, mengapa demikian karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip manajemen, baik langsung maupun tidak langsung. Baik di sadarai ataupun tidak disadari. Ilmu manajemen ilmiah timbul pada sekitar awal abad ke 20 di benua Eropa barat dan Amerika. Dimana di negara-negara tersebut sedang dilanda revolusi yang dikenal dengan nama revolusi industri. Yaitu perubahan-berubahan dalam pengelolaan produksi yang efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah semakin maju dan kebutuhan manusia sudah semakin banyak dan beragama sejenisnya. Sekarang timbul suatu pertanyaan “siapa sajakah yang sebenarnya memakai manajemen “ apakah hanya digunakan di perusahaan saja atau apakah di pemerintahan saja. Manajemen diperlukan dalam segala bidang. Bentuk dan organisasi serta tipe kegiatan. Dimana orang-orang saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal; dalam berbagai bidang seperti industri, pendidikan, kesehatan, bisnis, finansial dan sebagainya. Dengan kata lain efektif menyangkut tujuan dan efisien menyangkut cara dan lamanya suatu proses mencapai tujuan tersebut. Manajemen sangat penting dan harus ada

untuk semua gerakan keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuanya. Manajemen menentukan nasib suatu organisasi di masa yang akan datang. Manajemen menjadi fungsi perencanaan, pengorganisasian, aktualisasi dan kontrol secara menyeluruh pada semua area kerja suatu organisasi. Jadi berhasil tidaknya suatu organisasi sangat tergantung pada manajemen yang diterapkanya.Yakinlah, bahwa apa pun bentuk, jenis dan karakteristik organisasi memerlukan manajemen yang baik untuk dapat mencapai tujuan dengan maksimal. Kompleknya kehidupan masyarakat atau organisasi yang hidup sebagai tuntutan kemajuan peradaban, menjadikan adanya kebutuhan alat – alat, sistem, atau pemecah – pemecah masalah yang ampuh, efektif, efisien dan kompetetif. Semuanya terangkum dalam ilmu manajemen yang ampuh. Manajemen pendidikan merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan, sehingga menghasilkan keluaran yang diinginkan. Kenyataannya, banyak institusi pendidikan yang belum memiliki manajemen yang bagus dalam pengelolaan pendidikannya. Manajemen pendidikan merupakan suatu proses untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya pendidikan seperti guru, sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, dsb untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan

jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. 1.2 Ruang Lingkup Pembahasan Berdasaarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut: “bagaimana implementasi manajemen pendidikan di sekolah Islam ?” BAB II KERANGKA TEORITIS 2.1 Hakekat Manajemen
Istilah manajemen berasal dari kata management (Bahasa Inggris), berasal dari kata “to manage” yang artinya mengurus atau tata laksana. Sehingga manajemen dapat diartikan bagaimana cara mengatur, membimbing dan memimpin semua orang yang menjadi bawahannya agar usaha yang sedang dikerjakan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang manajemen, diantaranya: Menurut Thomas H. Nelson bahwa manajemen perusahaan adalah ilmu dan seni memadukan ide-ide, fasilitas, proses, bahan dan orang-orang untuk menghasilkan barang atau jasa yang bermanfaat dan menjualnya dengan menguntungkan. Sedangkan menurut G.R. Terri, manajemen diartikan sebagai proses yang khas yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan usaha mencapai sasaran-sasaran dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Dengan bertitik tolak dari defenisi manajemen sebagai seni memperoleh hasil melalui

kegiatan orang lain dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, manajemen dapat dilihat sebagai kelompok orang yang menduduki berbagai jenjang dan jabatan kepemimpinan. Sebagai kelompok pimpinan tanggung jawab utamanya bukanlagi melaksanakan sendiri berbagai kegiatan operasional, melainkan menyelenggarakan berbagai fungsi yang memungkinkan para tenaga pelaksana melaksanakan tugas operasionalnya dengan efisiensi, efektif, ekonomis, dan produktif. Pertanyaan diatas pada hakikatnya berarti bahwa para manajer dalam suatu organisasi lebih dituntut memiliki human skill ketimbang keterampilan teknis.
Dalam Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya. Pada umumnya ada empat (4) fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing (pembentukan staf). Para manajer dalam organisasi perusahaan bisnis diharapkan mampu menguasai semua fungsi manajemen yang ada untuk mendapatkan hasil manajemen yang maksimal. A. Fungsi Perencanaan (Planning) Fungsi perencanaan adalah suatu kegiatan membuat tujuan perusahaan dan diikuti dengan membuat berbagai rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan tersebut. Kegiatan seorang manejer adalah menyusun rencana. Menyusun rencana, berarti memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Agar dapat membuat rencana secara teratur dan logis, sebelumnya harus ada keputusan terlebih dahulu sebagai petunjuk langkah-langkah selanjutnya. Berbagai batasan tentang

planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang sederhana, merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Perencanaan adalah pemilihan fakta-fakta dan usaha menghubung-hubungkan antara fakta yang satu dengan yang lain, kemudian membuat perkiraan dan peramalan tentang keadaan dan perumusan tindakan untuk masa yang akan dating yang sekiranya diperlukan untuk mencapai hasil yang dikehendaki. Atau dengan kata lain, perencanaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan waktu untuk mencapai tujuan. Perencanaan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut: a. Perencanaan jangka pendek atau kurang dari 1 tahun. Misalnya perencanaan strategik yang meliputi proses pemilihan tujuan organisasi, penentuan strategi, kebijakan dan program-program yang diperlukan untuk tujuan tersebut. b. Perencanaan jangka menengah atau dalam waktu 1 tahun sampai dengan lima tahun. Contoh: perencanaan laba. c. Perencanaan jangka panjang atau lebih dari lima tahun. Contoh: perencanaan produk, perencanaan bidang penjualan, bidang teknik, bidang permodalan, dan bidang personil. Dalam menyusun perencanaan, langkah-langkah yang harus dilakukan antara lain: a. menetapkan serangkaian tujuan, b. merumuskan keadaan saat ini, c. mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan, d. mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencanaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut : 1) Tindakan apa yang harus dikerjakan ? 2) Mengapa tindakan itu harus dikerjakan ? 3) Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ? 4) Kapankah tindakan itu harus dikerjakan ? 5) Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ? 6) Bagaimana cara melaksanakan tindakan itu ? Menurut Stoner, Planning adalah proses menetapkan sasaran/tujuan dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi. Proses menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi. B. Fungsi Pengorganisasian (Organizing) Fungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta menggapai tujuan perusahaan. Organisasi (Organizing) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran. Bila di tinjau dari proses, maka proses itu adalah proses menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan diatur dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan dapat bekerja secara efektif. Pengorganisasian atau Organizing berarti mdenciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan antar bagian-bagian satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan keseluruhan struktur tersebut. Pengorganisasian bertujuan membagi satu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil.

Selain itu, mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Berikut ini alasan pengorganisasian sangat diperlukan dalam setiap kegiatan manajemen. a. Mempermudah pelaksanaan kerja b. Membagi-bagi kegiatan atas bagian-bagian yang khusus c. Mempermudah pengawasan oleh pihak atasan d. Mencegah kegiatan-kegiatan kembar dan bertumpuktumpuk atau mencegah terjadi overlaping. e. Agar dapat menempatkan pekerja yang sesuai dengan tugas dan kemampuannya atau the right man on the right place. f. Agar kegiatan selesai sesuai dengan rencana. Sementara itu, untuk menyusun organisasi secara teratur harus memperhatikan tindakan-tindakan berikut ini. a. Ketahuilah tujuan-tujuan yang akan dicapai. b. Bagi-bagilah pekerjaan dalam kegiatan-kegiatan kecil. c. Kelompokkanlah kegiatan tersebut ke dalam kesatuan yang praktis dan homogen. d. Gariskanlah dengan jelas dan tegas tugas-tugas yang harus dilakukan serta sediakanlah fasilitas yang memadai. e. Tempatkanlah tenaga kenja yang kompeten. f. Berilah wewenang kepada petugas yang dipercaya. C. Fungsi Penggerakan (Actuating) Penggerakan atau actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah penggerakkan orang-orang agar mau bekerja denagn seidirinya atau penuh kesadaran secara brsamasama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership). Actuating merupakan bagian yang sangat penting dalam proses manajemen, karena inti dari manajemen adalah penggerakan, dan inti dari penggerakan adalah memimpin (leadership). Seseorang yang dapat menggerakkan orang di bawah kekuasaannya, berarti ia dapat menjalankan manajemen, begitu juga bila ia dapat memimpin orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya berarti ia dapat menggerakkan orang-orang itu. Kegiatan penggerakan atau actuating biasanya akan memperoleh hasil yang maksimal apabila memperhatikan faktor-faktor berikut. a. Memperlakukan manusia dengan sebaik-baiknya. b. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia. c. Menampakkan pada manusia keinginan untuk melebihi. d. Menghargai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna. e. Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih. f. Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup. g. Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya. Actuating maengandung definisi sebagai berikut. a. Actuating adalah menggerakkan orang lain secara umum. b. Directing adalah menggerakkan orang lain dengan memberikan petunjukpetunjuk dan pengarahan.

c. Commanding adalah menggerakkan orang lain dengan memberikan perintah atau komando, terkadang disertai faktor paksa. d. Motivating adalah menggerakkan orang lain dengan memberikan alasanalasan, bimbingan, nasihat, dan dorongan. e. Staffing adalah menggerakkan orang lain dengan menempatkannya pada fungsi-fungsi yang sesuai ataupun dengan memberikan jabatan-jabatan tertentu. f. Leading adalah menggerakkan orang lain dengan memberi contoh dan teladan yang baik, membawa kepada tujuan. D. Fungsi Pengendalian (Controling) Fungsi pengendalian adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan. Kendali, sering juga disebut Pengawasan, Controlling atau, sering juga disebut pengendalian adalah satu diantara beberapa fungsi manajemen beru-pa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan tujuan yang telah digariskan semula. Bila ditinjau dari proses, maka proses itu adalah proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan bisa berjalan sesuai target yang diharapkan. Pengawasan merupakan tindakan seorang manejer untuk menilai dan mengndalikan jalannya suatu kegiatan yang mengarah dmi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Proses pengawasan dilakukan dengan tiga langkah, yaitu sebagai berikut : a. Mengukur hasil pekerjaan. b. Membandingkan hasil pekerjaan dengan standar dan memastikan perbedaan. c. Mengoreksi penyimpangan yang tidak dikehendaki melalui tindakan perbaikan, baik melalui perencanaan, pengorganisasian, maupun penggerakan. Sementara itu, fungsi pengawasan yang baik di antaranya adalah: a. mencegah penyimpangan-penyimpangan, b. memperbaiki kesalahan-kesalahan, kelemaban-kelemahan dan menindak penyalahgunaan serta penyelewengan, c. mendinamisasi organisasi serta segenap kegiatan manajemen, d. mempertebal rasa tanggung jawab, e. mendidik pegawai atau pelaksana. Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pengawasan antara lain sebagai berikut : a. Adanya rencana yang dilaksanakan dan standar hasil. b. Adanya ketegasan manajer pengontrol. c. Proses pengawasan itu sendiri. d. Penerapan strategi yang digunakan. e. Keahlian dari manajer pengawas mulai dari menentukan kesalahan sampai melakukan koreksi. f. Menunjuk manajer pengawas yang benar-benar mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan. g. Kinerja manajer yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan. Dalam melaksanakan pengawasan harus digunakan suatu metode/cara. Banyak sekali metode pengawasan yang dapat dipergunakan untuk mengendalikan dan menilai pelaksanaan, baik secara keseluruhan maupun secara bertahap. Akan tetapi pada dasarnya metode pengawasan yang dipergunakan terdiri atas tiga macam, yaitu sebagai berikut.

1. Metode observasi langsung, di mana pengamatan dilakukan langsung oleh atasan atau pimpinan terhadap pelaksanaan kerja yang sedang dilakukan oleh pegawai atau petugas dengan tidak mempercayakan orang lain yang akan mengamatinya. 2. Metode statistik, di mana pengamatan dilakukan melalui data-data yang disusun secara statistik dan grafis. Biasanya statistik itu disusun dari data-data yang sudah diolah sedemikian rupa, sehingga mudah dimengerti dan dipahami. 3. Metode laporan, yaitu pengawasan dilakukan setelah diketahui kesalahan, kekeliruan, dan penyalahgunaan dari laporan yang diterima. 2.2. Fungsi Operasional Manajemen Pada pelaksanaannya, fungsi-fungsi manajemen yang dijalankan menurut tahapan tertentu akan sangat berbeda jika didasarkan pada fungsi operasionalnya. Operasional adalah proses penentuan pengamatan kegiatan yang dapat diamati, berarti apa yang dilakukan/diamati. Dalam manajemen organisasi kegiatan/usaha (bisnis), dapat dibedakan secara garis besar menjadi fungsi-fungsi sebagai berikut: 1. Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen Sumber Daya Manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah. 2. Manajemen Pemasaran Manajemen Sumber Daya Manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah. 3. Manajemen Operasi/Produksi Manajemen Produksi adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan dalam proses produksi. 4. Manajemen Keuangan Manajemen Keuangan adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan. 5. Manajemen Informasi Manajemen Informasi adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.

2.3. Filsafat dan Azas-Azas Manajemen 2.3.1 Filsafat Manajemen Filsafat Manajemen adalah kerjasama saling menguntungkan, bekerja efektif dan metode kerja yang terbaik untuk mencapai hasil yang optimal. Manfaat Filsafat Manajemen yaitu : a. Memberikan suatu dasar dan pedoman bagi pekerjaan manajer b. Memberikan kepercayaan dan pegangan bagi manajer dalam proses manajemen untuk mencapai tujuan c. Memberikan dasar dan pedoman berfikir efektif bagi manajer d. Dapat dipergunakan untuk mendapatkan sokongan dan partisipasi para bawahan, jika mereka mengetahui peranan manajer dan mengerti tindakan-tindakannya, asalkan mereka telah menghayati filasafat manajemen e. Memberikan pedoman arah pemecahan yang terbaik terhadap masalah-masalah yang dihadapi manajer f. Menjadi pedoman dasar dan kepercayaan bagi manajer dalam melakukan wewenang kepemimpinannya. 2.3.2 Azas-Azas Manajemen

Asas-Asas Manajemen menurut Henry Fayol : Division of Work (pembagian kerja) Authority and Responsibility (wewenang dan tanggungjawab) Discipline Unity of Command (kesatuan perintah) Unity of Direction (kesatuan tindakan) Subordinaioan of Individual Interest into General Interest (mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentinga pribadi) g. Renumeration of Personal h. Centaliation i. Scalar of Chain (Hierarchy) j. Order k. Equity l. Initiative m. Esprit de Corp (Kesatuan) n. Stability of Turn-ver of Personnel (Kestabilan Jabatan Karyawan) 2.4. Tipe Keputusan Manajemen Pengambilan keputusan ( Decision making) : adalah tindakan manajemen dalam pemilihan alternative untuk mencapai sasaran. Keputusan dibagi dalam 3 tipe : 1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yg berulang2 dan rutin, sehingga dapt diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pd manjemen tkt bawah. Contoh: keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang,dll. 2. Keputusan setengah terprogram / setengah terstruktur : keputusan yg sebagian dpt diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tdk terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan a. b. c. d. e. f.

membutuhkan perhitungan2 serta analisis yg terperinci. Contoh: Keputusan membeli sistem komputer yg lebih canggih, keputusan alokasi dana promosi. 3. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yg tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tdk terstruktur tdk mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg sangat penting didalam pengambilan keputusan tdk terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain adalah contoh keputusan tdk terstruktur yg jarang terjadi.
2.5. Jenis Manajer Berdasarkan Tingkatannya

Pada umumnya manajer memiliki tanggung jawab yang sama, yaitu melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, serta penyusunan staf namun dari sisi tingkat atau level manajemen dapat dibagi menjadi tiga 3 macam, yakni : 1. Manajer Puncak / Top Manager Tanggung jawab dari manajer puncak adalah keseluruhan kinerja dan keefektifan dari suatu perusahaan. Manajer tingkat puncak membuat kebijakan, keputusan dan strategi yang berlaku secara umum pada suatu perusahaan. Manajer puncak juga yang melakukan hubungan dengan perusahaan lain dan pemerintah. 2. Manajer Menegah / Middle Manager Manajer tingkat menengah berada di antara manajer puncak dan manajer lini pertama. Manajer ini bertugas mengimplementasikan strategi, kebijakan serta keputusan yang diambil oleh manajer tingkat atas atau puncak. 3. Manajer Lini Pertama / First-Line Manager Manajer tingkat bawah ini kebanyakan melakukan pengawasan atau supervisi para karyawan dan memastikan strategi, kebijakan dan keputusan yang telah diambil oleh manajer puncak dan menengah telah dijalankan dengan baik. Manajer lini pertama juga memiliki andil dan turut serta dalam proses pengimplementasian strategi yang telah ditetapkan.

BAB III MANAJEMEN DI SEKOLAHAN ISLAM

3.1. Manajer (Leader) Di Sekolah Islam Meningkatkan mutu lembaga pendidikan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan pendidikan nasional memang bukan hal yang mudah. Upaya ini harus benar-benar mendapatkan dukungan sepenuhnya dari berbagai pihak, agar dalam proses pelaksanaannya tidak tersendat-sendat dan keberhasilan dapat dicapai dengan mudah. Berbagai partisipasi dari seluruh elemen terkait pun sangat diperlukan, dalam hal ini ialah pemerintah, warga sekolah, orang tua siswa, tokoh agama dan seluruh

tokoh masyarakat lah yang harus berperan aktif dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan melalui kerja sama yang solid. Partisipasi mereka sangat dibutuhkan dan menentukan, serta mendukung upaya peningkatan mutu lembaga pendidikan di negara ini. Peran aktif dan partisipasi mereka di antaranya adalah proses penentuan, penataan dan pengaplikasian manajemen yang dipakai dalam sebuah lembaga pendidikan. Demi meningkatkan mutu lembaga pendidikan, hal yang tidak boleh diabaikan adalah manajemen yang digunakan. Dan di sini lah peran-peran stake holders serta share holders sangat menentukan. Dalam sebuah lembaga pendidikan, manajemen memiliki tempat yang penting. Usaha untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang representatif bagi masyarakat salah satunya didukung oleh manajemen lembaga pendidikan. Manajemen lembaga pendidikan yang sederhana tidak akan dapat mendukung upaya peningkatan mutu lembaga pendidikan. Dewasa ini, bukan rahasia lagi bila banyak sekolah miskin yang menerapkan manajemen ‘asal jalan’, kegiatan pendidikan tidak direncanakan dengan baik, bahkan terkadang sekolah dikelola oleh keluarga-keluarga dengan kepemimpinan yang otoriter. Dari sinilah dirasa perlu untuk melihat dan mengkaji kembali manajemen pendidikan Islam untuk kemudian dapat mengaplikasikannya sejalan dengan manajemen pendidikan nasional. Manajemen Pendidikan Islam sejatinya sangat membantu upaya peningkatan mutu lembaga pendidikan. Tidak hanya bagi lembaga pendidikan Islam saja, akan tetapi lebih dari itu, selain lembaga pendidikan Islam pun juga dapat mengkaji dan mengaplikasikan manajemen pendidikan Islam. Bukan hanya madrasah yang berhak mengaplikasikan manajemen pendidikan Islam, tetapi sekolah-sekolah umum pun dapat mengaplikasikannya demi meningkatkan mutu sekolah itu sendiri. Manajemen pendidikan Islam yang diaplikasikan dalam operasional suatu lembaga pendidikan (sekolah) dan dijadikan sebagai suatu pelengkap dari implementasi manajemen pendidikan nasional sudah pasti akan mendukung tercapainya peningkatan mutu lembaga pendidikan. Karena memang sebagai pelengkap dan penyempurna, maka apabila manajemen pendidikan Islam diaplikasikan sejalan dengan manajemen pendidikan nasional niscaya peningkatan mutu lembaga pendidikan pun dapat segera terealisasikan. Dibutuhkannya usaha mengaplikasikan manajemen pendidikan Islam dalam sebuah lembaga pendidikan (sekolah) sebagai upaya peningkatan mutu lembaga pendidikan bukanlah tanpa alasan. Justru karena manajemen pendidikan Islam sebagai pelengkap dan penyempurna bagi manajemen pendidikan nasional itulah sejatinya diperlukan penerapan manajemen pendidikan Islam seiring dengan manajemen pendidikan nasional.
Pendidikan Islam pada dasarnya adalah suatu proses : mengembangkan fitrah keberagamaan subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran ajaran Islam baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat. Pengertian ini adalah pendidikan Islam dalam perspektif tujuan. Sedangkan pengertian pendidikan Islam pada sudut pandang kelembagaan bisa diartikan suatu badan atau lembaga pendidikan Islam yang melakukan usaha pendidikan Islam dengan tujuan mengembangkan fitrah keberagamaan subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan

mengamalkan ajaran- ajaran Islam baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat. Manajemen pendidikan Islam diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan Islam yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yakni mengembangkan fitrah keberagamaan subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat.

Para penyelenggara di sekolah-sekolah Islam diharapkan untuk bertindak lebih daripada hanya sebagai seorang manajer profesional yang memiliki kemampuan dan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar majemen seperti yang diuraikan di atas. Mereka diharapkan juga bisa berperan sebagai seorang pemimpin. Menurut Prof. Dr. H. Muhaimin, M.A. mengemukakan pengertian Pendidikan Islam dalam dua aspek pertama pendidikan Islam merupakan aktivitas pendidikan yang diselenggarakan atau didirikan dengan hasrat dan niat untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Kedua, pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dikembangkan dari dan disemangati atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat di definisikan bahwa manajemen pendidikan Islam sebagai suatu proses dengan menggunakan berbagai sumber daya untuk melakukan bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. 3.2. Tujuan Manajemen Pendidikan Islam Manajemen pada dasarnya merupakan suatu penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu. Istilah manajemen biasa dikenal dalam ilmu ekonomi yang memfokuskan pada profit (keuntungan) dan komoditas komersial. Seorang manajer adalah orang yang menggunakan wewenang dan kebijaksanaan organisasi/perusahaan untuk menggerakkan staf atau bawahannya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena itu seorang manajer biasanya bertugas untuk mengelola sumber daya fisik, yang berupa capital (modal), skills (keterampilan-ketermapilan manusia), row material (bahan dan mentah), dan technologi, agar dapat melahirkan produktivitas, efesiensi, tepat waktu (sesuai dengan rencana kerja dengan kualitas). Berbeda halnya dengan seorang pemimpin (leader) yang lebih memfokuskan pada visi. Ia berusaha mengajak dan memotivasi bawahannya untuk bersama-sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena itu seorang pemimpin (leader) biasanya berusaha mengelola sumber-sumber emosional dan spritual, yang berupa values (aspirasi), commitment (keberpihakan) dan aspiration (aspirasi) staf atau bawahannya, agar dapat melahirkan kebanggaan dan kepuasan dalam bekerja. Menurut teori manajemen, bahwa manajer yang sukses adalah manajer yang memiliki unsur kepemimpinan (leadership) dan mampu menerapkan serta mengembangkannya. Dengan kata lain manajer yang mampu bertindak sebagai pemimpin (manager is a leader) Manajemen pendidikan adalah manajemen yang diterapkan dalam pengembangan pendidikan. Dalam arti ia merupakan seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan Islam untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efesian. Bisa juga diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber daya pendidikan Islam untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efesien. Manajemen pendidikan lebih bersifat umum untuk semua aktifitas pendidikan pada umumnya, sedangkan manajemen pendidikan lebih khusus lagi mengarah pada manajemen yang diterapkan dalam pengembangan pendidikan Islam. Dalam arti bagaimana

menggunakan dan mengelola sumber daya pendidikan Islam secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pengembangan, kemajuan dan kualitas proses dan hasil pendidikan Islam itu sendiri. Sudah barang tentu aspek manager dan leader yang Islami atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam dan/atau yang berciri khas Islam, harus melekat pada manajemen pendidikan Islam. Lembaga pendidikan Islam bisa dikategorikan sebagai lembaga industri mulia (nobel industri) karena mengembang misi ganda yaitu profit sekaligus sosial. Misi profit yaitu, untuk mencapai keuntungan, ini dapat dicapai ketika efisiensi dan efektifitas dana bisa tercapai, sehingga pemasukan (income) lebih besar daripada biaya operasional. Misi sosial bertujuan untuk mewariskan dan menginternalisasikan nilai luhur. Misi kedua ini dapat dicapai secara maksimal apabila lembaga pendidikan Islam tersebut memiliki modal humancapital dan social capital yang memadai dan juga memiliki tingkat keefektifan dan efisiensi yang tinggi. Itulah sebabnya mengelola lembaga pendidikan Islam tidak hanya dibutuhkan profesionalisme yang tinggi, tetapi juga misi niat suci dan mental berlimpah, sama halnya dengan mengelola noble industry yang lain, seperti rumah sakit, panti asuhan, yayasan sosial, lembaga riset atau kajian dan lemabaga swadaya masyarakat. Sumber daya pendidikan Islam itu setidak-tidaknya menyangkut peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan (termasuk di dalamnya tenaga adminstrasi), kurikulum atau program pendidikan, sarana/prasarana, biaya keuangan, informasi, proses belajar mengajar atau pelaksanaan pendidikan, lingkungan, output dan outcome serta hubungan kerjasama/kemitraan dengan stakeholder dan lain-lain, yang ada pada lembaga-lembaga pendidikan Islam. 3.3. Tugas Utama Pemimpin Manajemen Sekolah Katolik: Membangun Budaya Trust (Rasa Saling Percaya) Kenyataan dunia usaha saat ini adalah jelas: berubah atau mati. Keunggulan kompetitif diperoleh tidak dari sejarah kekuatan perusahaan di masa lampau, tetapi dari kemampuannya untuk membangun kekuatan baru dalam menghadapi munculnya tantangan dan peluang baru. Dengan kata lain, keunggulan kompetitif muncul dari kemampuan organisasi untuk menggunakan sumber daya yang ada untuk mengganti pola sukses di masa lampau dengan pendekatan-pendekatan inovatif di masa sekarang. Membangun kekuatan baru berarti menuntut perusahaan untuk meninggalkan, paling tidak sebagian, dari pola kerja lamanya. Rasa percaya di antara anggota organisasi menambah kemungkinan keberhasilan suatu perubahan. Artinya, rasa percaya menambah keberanian bahwa orang akan meninggalkan pola kerja lama demi pendekatan-pendekatan yang baru. Rasa percaya adalah suatu modal bersama (collaborative capital) yang bisa dipergunakan demi mencapai kemajuan. Kata Trust atau Rasa Percaya dibedakan dari kata “Keyakinan”. Kita percaya pada seseorang karena kita melakukan penilaian atas kemampuan atau karakter dari orang tersebut. Kita percaya pada seseorang karena dia menunjukkan bahwa memang layak untuk dipercaya. Sedangkan keyakinan berasal dari pengetahuan tertentu, dibangun atas dasar akal dan fakta. Rasa Percaya dibangun atas dasar iman. Namun percaya di sini juga bukan berarti “iman mutlak”. Dalam situasi ekstrim, iman bisa dipandang sebagai suatu keyakinan yang kebal terhadap kontradiksi informasi atau peristiwa. Iman murni adalah melewati batas akal budi. Namun percaya biasanya dipandang lebih rapuh dari iman. Rasa percaya bisa patah atau hilang. Kita bisa menarik rasa percaya kita dari seseorang, dan demikian pula orang lain bisa tidak lagi percaya kepada kita. Jadi percaya lebih dari hanya sekedar keyakinan dan sedikit di

bawah iman buta. Percaya adalah kesadaran bahwa dia yang dipercaya bisa memenuhi harapan positif kita. Rasa percaya tersebut sedemikian kompleks sehingga amat sulit untuk menumbuhkannya lagi sekali itu hilang. Oleh karena itu, rasa percaya harus dipandang sebagai asset penting yang harus dilindungi oleh organisasi dan dikembangkan sama seperti asset penting lainnya. Merancang dan mengimplementasikan struktur dan proses-proses formal dari organisasi supaya dapat menjaga rasa percaya adalah sebuah tugas yang tidak mudah. Bagian paling sulit adalah untuk membangun kultur atau budaya rasa percaya, yang sering disebut sebagai perangkat lunak dari hidup satu organisasi. Tahun 1980-an banyak perusahaan Amerika memusatkan perhatian dan tenaga untuk membangun perangkat keras organisasi. Akan tetapi perangkat keras selalu ada batasnya. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan Jepang mengembangkan perangkat lunak yakni budaya yang menyatukan produktivitas dengan roh manusia, yang tidak ada batasnya. Bagian-bagian paling kritis dalam usaha mengembangkan budaya rasa percaya tinggi dalam organisasi atau tim adalah: 1. Bagaimana mengembangkan visi bersama yang mencerminkan keunggulan kompetitif: Rasa percaya akan lebih mudah tumbuh di dalam organisasi yang mengartikulasikan secara jelas tujuan dan keinginan yang mau dicapai bersama. Hal ini menjadi amat penting ketika perbedaan individu muncul, ketika anggota organisasi saling mempertanyakan motif masing-masing, apakah masing-masing bertindak demi kepentingan pribadi atau demi kepentingan keseluruhan organisasi. Adanya visi bersama yang diterima sebagai tujuan bersama membantu individu untuk mengatasi masalah-masalah perbedaan pendapat atau kepentingan tersebut. Visi bersama menjadi semacam daya ikat untuk terus membangun rasa percaya di tengah segala perbedaan. 2. Bagaimana menghidupi nilai dan prinsip-prinsip dasar secara nyata dan terasakan: Rasa percaya semakin mudah tumbuh ketika orang berbagi prinsip hidup dan normanorma yang sama. Rasa percaya tumbuh ketika orang bisa memiliki harapan atau ekspektasi tentang konsistensi dan tindakan jujur. 3. Membangun kebiasaan untuk saling mengenal di semua level organisasi: Amat sulit mempercayai orang yang tidak kita kenal. Rasa percaya dibangun dari kontak langsung antara pimpinan dengan anggota organisasi. Dengan hadirnya teknologi informasi yang membuat orang bisa berkomunikasi tanpa perlu bertatapan muka, semakin penting bagi organisasi untuk mencari cara agar hubungan personal antar anggota organisasi tetap terjaga. Hewlett-Packard melembagakan sejumlah teknik manajerial yang memastikan ada kontak teratur dan terus menerus antara anggota organisasi di semua level. Hal ini termasuk kebijakan pelayanan “pintu terbuka” atau “open-door policy” dimana perbedaan jabatan disingkirkan dan percakapan bisa berlangsung bebas. Setiap orang boleh mengungkapkan ide, pendapat, masalah atau keprihatinan mereka. Pelayanan ini dibuat untuk membangun rasa saling percaya antar anggota organisasi. 4. Mendorong budaya berani mengambil resiko dan bereksperimen. Di dalam konteks bisnis dan situasi dunia yang berubah cepat, kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan maju ke depan dengan inisiatif-inisiatif adalah kunci dalam mempertahankan rasa percaya. Hal ini didukung oleh budaya organisasi yang memungkinkan bahwa karyawan atau anggota organisasi diberi otonomi secukupnya dalam menjalankan berbagai aspek usaha dengan disertai rasa

percaya bahwa mereka yang gagal akan diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka dan menjadi lebih baik dalam pekerjaan dan tanggung jawab selanjutnya. Kemampuan untuk melewati saat-saat sulit, saling mendukung ketika berada dalam kondisi rawan, akan mampu membangun rasa percaya yang luar biasa. Memang tidak berarti kemudian bisa asal-asalan atau nekat-nekatan mengambil resiko, namun “well-intentioned failure” atau kegagalan sebagai buah sebuah usaha serius dan baik dalam jangka panjang akan amat berarti. 5. Membuat symbol-simbol nyata dari Rasa Percaya: Keterbukaan adalah symbol nyata dari Rasa Percaya. Kesediaan untuk diaudit, secara jujur melaporkan barang atau penghargaan yang diterima dari pelanggan atau supplier untuk disposisi lebih lanjut, dsb memberi gambaran tentang level rasa percaya yang ada dalam budaya organisasi.

KERANGKA IMPLEMENTASI STRATEGI MANAJEMEN YANG UTUH:

Profil Organisasi : Lingkungan, Hubungan, Tantangan

2 perencanaan strategis 1 Kepemimpinan 3 Mahasiswa, Stakeholder, dan Pasar Fokus

5 Pembagian Staf Fokus 7 Organisasi Kinerja Hasil 6 Proses Manajemen

4 Pengukuran, Analisis, dan Manajemen Pengetahuan

3.4. Prinsip-prinsip Manejemen Pendidikan Islam

Azhar Arsyad mengatakan bahwa prinsip-prinsi manajemen pendidikan Islam adalah; a. Pembagian kerja b. Disiplin c. Kesatuan perintah (Unity of comment) d. Kesatuan arah e. Kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi f. Rantai berjenjang dan rentang kendali Sedangkan Effendi Mochtar menyatakan bahwa prinsip-prinsip atau kaidah manajemen yang ada relevansinya dengan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits antara lain sebagai berikut: a. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar. b. Prinsip menegakkan kebenaran. c. Prinsip menegakkan keadilan. d. Amanah. e. Prinsip mawaddah atau prinsip keseimbangan antara dunia dan akhirat (tawazun). f. Prinsip Akhlaqul karimah

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan Islam adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat. Banyak sekali para ulama di bidang manajemen yang menyebutkan tentang fungsifungsi manajemen diantaranya adalah Mahdi bin Ibrahim, dia mengatakan bahwa fungsi manajemen itu di antaranya adalah fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Bila Para Manajer dalam pendidikan Islam telah bisa melaksanakan tugasnya dengan tepat sesuai dengan fungsi manajemen di atas, terhindar dari semua ungkupan sumir yang menyatakan bahwa lembaga pendidikan Islam dikelola dengan manajemen yang asalasalan tanpa tujuan yang tepat. Maka tidak akan ada lagi lembaga pendidikan Islam yang ketinggalan zaman, tidak teroganisir dengan rapi, dan tidak memiliki sistem kontrol yang sesuai. Dari pemaparan makalah diatas dapat di ambil kesimpulan: 1. Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumberdaya manusia muslim dan non manusia demi menggerakkannya untuk mencapai pendidian Islam secara efektif dan efisien.

2. Tujuan manajemen dalam pendidikan Islam adalah untui meningkatkan produktivitas pencapaian hasil maksimal dalam pendidikan dalam berbagai aspek , jasmani, rohani, dunia, akhirat. 3. Unsur-unsur pendukung manajemen dalam pendidikan Islam meliputi planning, organisizing, actuating, dan controlling. 4. Prinsip-prinsip manajemen dalam pendidikan Islam meliputi amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan kebenaran, menegakkan keadilan, amanah, maeaddah, keseimbangan antara dunia dan akhirat (tawazun) dan akhlaqul karimah. 4.2 Saran Dalam hal menjalankan manajemen pendidikan sekolah berbasis Islam, hendaknya benar-benar diterapkan sebagaimana prinsip manajemen dan Al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. A. 2010. Makalah Manajemen Controlling. http://ndonesianhacker.blogspot.com. Diakses 30 Agustus 2012. Adji. 2011. Resume Hakikat Manajemen. http://www.scribd.com. Diakses 30 Agustus 2012. Afida, Nur, Yusfita. 2012. Macam" dan Jenis Manajer / Manajemen Berdasarkan Level atau Tingkatan - Ilmu Ekonomi Manajemen. http://yusfitaafida-yusfita.blogspot.com. Diakses 02 September 2012. Anakciremai. 2008. Makalah Manajemen Tentang Pengertian Manajemen. http://www.anakciremai.com. Diakses 30 Agustus 2012. Darmayanti, Dwi, Nurma. 2009. Tipe Keputusan Manajemen. http://nurmadwidarmayanti.blogspot.com. Diakses 01 September 2012. Elqorni, Ahmad. 2010. Hakikat Manajemen. http://elqorni.wordpress.com. Diakses 30 Agustus 2012. Fatoni4ever. 2009. Pemikiran Filosofis Manajemen Pendidikan Islam. http://fatoni4ever.wordpress.com. Diakses 01 September 2012. Hoesin, Haslizen. 2011. Fungsi-Fungsi Manajemen. http://lizenhs.wordpress.com. Diakses 01 September 2012. Ismawanto. 2012. Fungsi Manajemen. http://ssbelajar.blogspot.com. Diakses 01 September 2012. Joko. 2010. Makalah Manajemen Umum. http://ilmupasti-joko.blogspot.com. Diakses 29 Agustus 2012. Julia. 2012. Manajemen Pendidikan Islam dan Implementasinya. http://juliacreatifitas.blogspot.com. Diakses 01 September 2012. Organisasi. 2011. Fungsi Manajemen Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, Pengendalian Belajar di Internet Ilmu Teori Ekonomi Manajemen. http://organisasi.org. Diakses 30 Agustus 2012. Rasyid, Syamsuddin. 2012. Konsep Dasar Manajemen Pendidikan Islam. Http://syamsuddinrasyid.blogspot.com. Diakses 01 september 2012. Sarw. 2010. Manajemen Pendidikan di Indonesia. http://edukasi.kompasiana.com. Diakses 31 Agustus 2012. Suryaman, Babam. 2011. Makalah Manajemen – Pengertian, Bagian dan Fungsi Manajemen. www.kosmaext2010.com. Diakses 30 Agustus 2012. Ula, Shoimatul. 2012. Meningkatkan Mutu Lembaga dengan Manajemen Pendidikan Islam. http://ulashoim.blogspot.com. Diakses 02 September 2012.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->