MAKALAH FARMAKOKINETIK

“ BIOAVAILABILITAS & BIOEKUIVALENSI”

OLEH o o o o o ELVIRA HARINGI NOVA RISTI AMALIA (F1F1 10 050) (F1F1 10 080)

IRA INDRYASARI RUSLAN (F1F1 10 062) PUTRI REZKYA MISTRIYANI (F1F1 10 072) (F1F1 10 024)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami memperoleh kesehatan dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan “Kinetika Absorpsi Obat” ini. Penghargaan yang tulus dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada seluruh pihak, khususnya kepada dosen atas kebijaksanaan dalam membantu dan membimbing kami sehingga “Kinetika Absorpsi Obat” ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari sepenuhnya atas keterbatasan ilmu maupun dari segi penyampaian yang menjadikan “Kinetika Absorpsi Obat” ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah ini.

Kendari,

April 2012

Penyusun

farmasis dan orang lain yang menulis resep. distribusi ke dalam jaringan dan organ tubuh. Karena kebanyakan produk-produk obat mengandung jumlah bahan obat aktif yang sama. menyalurkan atau membeli obat harus memilih produk yang memberikan efek terapeutik yang ekuivalen. adanya keluhan dari pasien dan dokter di man obat yang sama memberikan efek terapeutik yang berbeda. tablet. Dimulai di negara Amerika Serikat. akan mengalami proses absorpsi. suspensi dll). Untuk memudahkan mengambil keputusan tersebut. Dari studi biofarmasetik member fakta yang kuat bahwa metode fabrikasi dan formulasi dengan nyata mempengaruhi bioavaibilitas obat tersebut. Beberapa obat dibuat dan dipasarkan oleh lebih dari satu pabrik farmasi. yang kemudian diperluas pengertiannya dengan istilah bioavailabilitas. namun demikian dapat dikarakteristik dengan bantuan Model Matematika dan Statistika. barulah pada tahun 1960 istilah bioavailabilitas masuk ke dalam arena promosi obat. suatu pedoman telah dikembangkan oleh US Food and Drug Administration (FDA). maka dokter. yaitu pada waktu Osser mempelajari absorpsi relatif sediaan vitamin. Latar Belakang Obat setelah dilepas dari bentuk sediaannya (injeksi. kemudian dimetabolisme serta terakhir dieliminasi ke luar tubuh. kemudian dengan adanya ketentuan tidak diperbolehkannya Apotek mengganti obat yang tertulis dalam resep dengan obat merek lainnya. Konsep bioavailabilitas pertama kali diperkenalkan oleh Osser pada tahun 1945. Keempat proses diatas biasanya berbeda untuk setiap individu. . Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya produk obat yang sama yang diproduksi oleh berbagai industri obat. Istilah yang dipakai pertamakali adalah availabilitas fisiologik.BAB I PENDAHULUAN A.

Bioekivalensi produk obat merupakan ekivalensi farmasetik atau alternative adalah suatu sediaan yang laju dan jumlah absorpsinya tidak berbeda secara bermakna apabila diberikan pada dosis dan kondisi percobaan yang sama. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas dan bioekuivalensi 4. Untuk mengetahui definisi bioavailabilitas dan bioekuivalensi 2. Untuk mengetahui tipe bioavailabilitas dan bioekuivalensi 3. Adapun persyaratan bioekivalensi. suatu persyaratan yang ddibuat oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk uji in vitro dan atau in vivo produk-produk obat tertentu yang persyaratan tersebut harus dipenuhi sebagai kondisi untuk pemasaran. Apa saja faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas dan bioekuivalensi? 4. Oleh karena itu. dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang bioavaibilitas dan bioekivalensi. Bagaimana dengan metode dan kriteria uji bioavailabilitas dan bioekuivalensi? C. Rumusan Masalah 1. Apa definisi bioavailabilitas dan bioekuivalensi? 2.Boiavaibilitas menunjukkan ssuatu pengukuran laju dan jumlah obat yang aktif terapetik yan mencapai sirkulasi umum. B. Apas saja tipe bioavailabilitas dan bioekuivalensi? 3. Tujuan 1. Untuk mengetahui metode dan kriteria uji bioavailabilitas dan bioekuivalensi . Beberapa obat yang mempunyai jumlah absorpsi sama tetapi berbeda dalam laju absorpsi dapat dianggap ekivalen farmasetik apabila perbedaan laju absorpsi tidak menyebabkan perbedaan efek klinik yang bermakna.

dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik. 1. .BAB II PEMBAHASAN III. Tujuan uji bioekivalensi baik di pedoman WHO maupun di Indonesia adalah sama yaitu untuk menjamin bahwa obat copy yang beredar mempunyai standar yang sama dengan produk inovatornya. Sedangkan. atau suatu bentuk pemakaian baru obat dibandingkan terhadap formulasi yang diperdagangkan. Uji bioavailabilitas dapat digunakan untuk menentukan bahwa produk obatnya dengan formulasi dan proses produksi yang spesifik akan memberikan efek klinik yang sebanding dengan produk obat sejenis yang diproduksi industri obat lain (produk originator atau produk inovator). bioekuivalensi merupakan istilah yang lebih relatif yang membandingkan satu produk obat dengan yang lain atau dengan satu produk standar yang sudah dikembangkan. Bioekivalensi mengindikasikan bahwa suatu obat dalam dua atau lebih bentuk dosis yang sama mencapai sirkulasi umum pada tingkat relatif yang sama dan keberadaan relatif yang sama. Definisi bioavailabilitas dan bioekuivalensi Bioavailabilitas merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sistem sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetik dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang dberikan. Ketersediaan hayati merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut. yang pada uji kliniknya memberikan hasil yang baik.Studi bioekivalensi produk obat pada umumnya dengan maksud membandingkan bioavailabilitas antara suatu formulasi baru obat standar dibandingkan terhadap formulasi asli/lama. Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh.

bioavailabilitas ini dapat digunakan untuk menilai potensi suatu obat yaitu dengan mengetahui jumlah relatif obat yang diabsorpsi dan kecepatan obat berada dalam sirkulasi sistemik. dan dapat diperkirakan tercapai atau tidaknya efek terapi yang dikehendaki menurut formulasinya.waktu (AUC) yang teramati. yang dinilai sebagai perbedaan efisiensi absorpsi obat karena adanya perbedaan kualitas produk obat yang dipengaruhi formulasi. . yang pada uji kliniknya memberikan hasil yang baik. Uji bioavailabilitas dapat digunakan untuk menentukan bahwa produk obatnya dengan formulasi dan proses produksi yang spesifik akan memberikan efek klinik yang sebanding dengan produk obat sejenis yang diproduksi industri obat lain (produk originator atau produk inovator). Tujuan uji bioekivalensi baik di pedoman WHO maupun di Indonesia adalah sama yaitu untuk menjamin bahwa obat copy yang beredar mempunyai standar yang sama dengan produk inovatornya. Yang perlu diperhatikan dalam studi BA dan atau BE adalah perbedaan luas di bawah kurva konsentrasi zat aktif/obat dalam plasma . Berdasarkan penjelasan diatas.Bila dilakukan dengan baik. Studi bioekivalensi produk obat pada umumnya dengan maksud membandingkan bioavailabilitas antara suatu formulasi baru obat standar dibandingkan terhadap formulasi asli/lama. dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik. atau suatu bentuk pemakaian baru obat dibandingkan terhadap formulasi yang diperdagangkan. tujuan lain dari bioavailability yaitu :    Pengembangan senyawa baru Eksplorasi/ pengembangan ilmu Pengembangan produk / formulasi Jaminan mutu produk (quality control) Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh.

2. Tipe bioavailabilitas dan bioekuivalensi Bioavailabilitas terbagi menjadi 2. yaitu membandingkan bioavailabilitas suatu bentuk sediaan obat per oral dengan pemberian secara intravena. yaitu membandingkan secara relatif bioavailabilitas suatu bentuk sediaan obat peroral dengan bentuk sediaan obat sejenis lainnya. Bioavailabilitas absolut: bioavaibilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik dari suatu sediaan obat dibandingkan dengan bioavaibiltas zat aktif tersebut dengan pemberian intra vena.JENIS PENELITIAN BIOAVAILABILITAS OBAT Penelitian bioavailabilitas obat dapat merupakan : 1) Penelitian bioavailabilitas absolut. Pengukuran dapat dilakukan sepanjang Vd dan K tidak tergantung pada rute pemberian. yaitu: a. Availabililitas absolut dengan menggunakan data plasma dapat ditentukan sebagai berikut : [ [ ] ] . Sebagai produk standar dapat digunakan III. Bioavailabilitas absolut dapat diukur dengan membandingkan AUC produk yang bersangkutan setelah pemberian oral dan IV. 2) Penelitian bioavailabilitas relatif.

Parameter-parameter yang berguna dalam penentuan ketersediaan hayati suatu obat meliputi : . Data darah atau data urin lazim digunakan untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiatnyatelah diketahui cara dan validitasnya. Availabilitas relatif dari dua produk obat yang diberikan pada dosis dan rute pemberian yang sama dapat diperoleh dengan persamaan berikut : [ [ ] ] Dimana produk obat B sebagai standar pembanding yang telah diketahui. yaitu metode dengan menggunakan data darah. suatu koreksi untuk dosis dibuat seperti dalam persamaan berikut : [ [ ] ] Penilaian ketersediaan hayati / bioavaibilitas pada sukarelawan dapat dilakukan dengan beberapa metode. Jika dosis yang diberikan berbeda. Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi. namun metode ini juga mempunyai kerugian diantaranya tidak semua obat diekskresikan melalui urin sehingga ekskresi urin hanya mewakili sebagian kecil dari fraksi kecil ketersediaan hayati obat. Jika cara dengan validitas analisis belum diketahui. Ada beberapa metode langsung dan tidak langsung untuk penilaian ketersediaan hayati pada manusia. data urin dandata farmakologis atau klinis. Bioavailabilitas relatif: bioavaibilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik dari suatu sediaan obat dibandingakan dengan bentuk sediaan lain selain intra vena.b. dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yangtimbul dapat diukur secara kuantitatif. metode analisis untuk penetapan kadar obat dan sifat produk obat. Fraksi tersebut dapat dikalikan 100 untuk memberi prosen availabilitas relatif. Meskipun metode ekskresi urin mempunyai keuntungan diantaranya menghindari gangguan dan bahaya dari pengambilan secara intravena.

kecepatan denyut jantung atau tekanan darah dapat digunakan sebagai indeks dari ketersediaan hayati obat. satuannya adalah satuan waktu misalnya. metode rumus trapesium atau secara langsung dengan menggunakan planimeter. . Data ini secara langsung berhubungan dengan jumlah total obat terabsorpsi  Laju ekskresi obat dalam urin (dDu/dt)  Waktu untuk terjadi ekskresi obat maksimum dalam urin (t-) 3.1. menit dan jam  Konsentrasi plasma maksimal dalam darah (Cmaks). 2. AUC dapat ditentukan dengan suatu prosedur integrasi numerik. misalnya efek pada diameter pupil.  Jumlah kumulatif obat yang diekskresi dalam urin (Du). misalnya µg/ml dan mg/ml  Luas daerah di bawah kurva kadar obat dalam plasma-waktu dari t = 0 sampai = . Data plasma  Waktu untuk mencapai konsentrasi plasma maksimal (tmaks). Data urin Agar didapat perkiraan yang sahih. Efek farmakologi akut Merupakan pengukuran kuantitatif yang dilakukan dengan melihat efek farmakologi akut yang ditimbulkan. satuannya adalah satuan konsentrasi. Satuan AUC adalah konsentrasi waktu (misalnya.(AUC < 0--) menunjukkan suatu ukuran dari jumlah total obat aktif yangmencapai sirkulasi sistemik AUC tidak tergantung pada rute pemberian dan proses eliminasi obat selama proses eliminasi obat tidak berubah. obat harus diekskresi dalam jumlahyang bermakna di dalam urin dan cuplikan urin harus dikumpulkan secara lengkap. mg jam/ml).

toleransi obat. Berbagai penelitian membuktikan adanya resiko yang berkaitan dengan pemahaman yang terlalu sederhana tenyang notasi kesetaraan obat. 2. Respon klinik Perbedaan dari respon klinik mungkin disebabkan oleh perbedaan farmakokinetika atau farmakodinamika obat antar individu produk-produk obat yang bioekivalen harus mempunyai ketersediaan hayati yang sistemik yang sama. Kesetaraan obat (BE) dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu : 1. interaksi obat dan faktor-faktor patofisiologik yang tidak diketahui. perubahan respon klinik antar individu yang tidak dikaitkan dengan ketersediaan hayati mungkin disebabkan adanya perbedaan dalam farmakodinamika obat diantaranya adalah umur. Kesetaraan farmakoklinik yaitu kesetaraan dua obat dengan 2 molekul berbeda tapi memiliki aktivitas intrinsik yang sama dan yang secara In vivo bekerja pada substrat molekular yang sama. Dengan demikian ketersediaan hayati dapat ditentukan dengan memeriksa kurva dosis-respon maupun total area dari kurva efek farmakologi akut-waktu. Oleh sebab itu. 3.Penggunaan efek farmakologi obat untuk menentukan ketersediaan hayati memerlukan adanya kaitan dosis-respon. 4. 4. Kesetaraan biologik atau bioekuivalen yaitu obat yang mempunyai kesetaraan kimia atau kesetaraan farmasetik.menunjukkan kriteria ketersediaan hayati yang sama pada setiap individu.sehingga respon obat yang sama dapat diperkirakan. yang bila diberikan dengan posologi yang sama dengan mengacu pada kadar obat dalam darah. yang . Kesetaraan farmasetik yaitu kesetaraan antara dua bentuk samadengan zat aktif dan dosis lazim yang sama. Kesetaran kimia yaitu kesetaran 2 obat yang masing masing dengan caradan dosis zat aktif yang sama.

misalnya grisovulvin sukar larut dalam air. dan teknik pembuatan b) Subjek: karakteristik subjek (umur. digunakan surfaktan alami sehingga baik diabsorpsi. Perbedaan bioavaibilitas sampai dengan 10 % umumnya tidak menimbulkan perbedaan yang berarti terutama dalam efek kliniknya . II. Pemberian vitamin B12 dengan coca cola menghasilkan absorpsi yang lebih baik. artinya memperlihatkan ekuivalensi terapi.3. dan pada obat obat yang mengalami metabolisme selama absorpsinya misalnya eritromisin dan levodopa. . formulasi. Faktor yang Mempengaruhi bioavailabilitas Secara umum bioavaibiltas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain. Kesetaraan klinik atau terapetik yaitu obat dengan kesetaraanfarmakologik. kondisi patologis. Dua sediaan obat yang berekuivalensi kimia tetapi tidak berekuivalensi biologik dikatakan memperlihatkan bioinekuivalensi. posisis dan aktivitas tubuh (pada subjek yang sama) c) Rute pemberian d) Antar aksi obat/makanan. kimia atau farmasetik. Ini terutama terjadi pada obat obat yang bioekuivalensinya lambat karena sukar larut dalam cairan saluran cerna. Di dalam tubuh. Apabila diberikan bersama makanan berlemak jadi mudah larut. Kesetaraan jumlah obat dalam sediaan belum tentu menghasilkan kadar obat yang sama dalam darah dan jaringan yaitu yang disebut ekuivalensi biologik atau bioekuivalensi. Bioinekuivalensi lebih dari 10 % dapat menimbulkan inekuivalensi terapi. misalnya pada obat jantung digoksin. yang bila diberikan dengan posologi yang sama akan memberikan efektivitas terapetik yang sama dan terkendali serta mempunyai toksisitas yang sama. bobot badan). terutama untuk obat obat yang memiliki indeks terapinya sempit. a) Obat: sifat fisiko-kimia zat aktif.5. difenilhidantoin dan juga teofilin. misalnya digoksin dan difenilhidantoin.

5. Stabilitas obat dalam sampel 4. distribusi. efek toksik. 2. Sebelum melakukan uji bioavaibilitas. bioavaibilitas obat aktif dalam suatu bentuk sediaan padat bergantung pada beberapa faktor.  Absorpsi atau permeasi obat melintasi membran sel II. Laju pelarutan obat obat dengan kelarutan dalam air sangat kecil dari bentuk sediaan padat yang utuh atau terdistegrasi dalam saluran cerna sering mengendalikan laju absorpsi obat. 4. yaitu 1. yang meliputi :  Disintegrasi produk obat dan pelepasan partikel obat aktif Secara umum telah dikenal sejak beberapa tahun yang lalu bahwa sebelumabsorpsi terjadi. yaitu dengan memakai beberapa titik waktu pengambilan sampel.8 pada waktu . Metode dan Kriteria uji bioavailabilitas Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam uji BA/BE: 1.4. yang dibandingkan adalah profil disolusi dari sediaan uji dengan sediaan pembanding (produk inovator) pada 3 pH.2. 6. Protokol harus lulus kajian ilmiah. metabolisme. dilakukan uji disolusi terbanding.  Pelarutan obat Pelarutan merupakan proses dimana zat kimia atau obat menjadi terlarut dalam suatu pelarut. sebaiknya mendapat persetujuan dari BPOM dan dilakukan kajian etik terlebih dahulu. Pemilihan metode analisis yang tepat: hal ini diperlukan untuk mengetahui efek samping. Pada uji ini. dan eliminasi). 3. Penyusunan percobaan protokol yang tepat: sebelum dilakukan uji.Secara farmasetik. dan penanganan terhadap efek-efek tersebut. Adanya pemahaman terhadap farmakokinetik obat (absorpsi. suatu produk obat padat harus mengalami disintegrasi kedalam partikel partikel kecil dan melepaskan obat.

Kriteria obat pembanding antara lain Produk obat innovator. maka uji disolusi terbanding tidak perlu dilakukan. Jumlah subjek 4. Sediaan pembanding 2. Subjek percobaan dan kriteria 3. 7. berulang. Dari hasil uji kemudian dihitung faktor similaritasnya (f2). jumlah dosis. Jenis sampel yang akan dikumpulkan: darah/urin. Modalitas pengambilan sampel: tunggal. f2=50 log [100/√1+(Σ (Rt . karena: .40. Jika produk copy atau produk pembanding memiliki uji disolusi yang cepat (≥85%) larut dalam waktu ≤15 menit dalam ke-3 media dengan metode uji yang dianjurkan.20. Primary market di negara lain atau. dan 60 menit. dan Produk pembanding yang digunakan harus mendapatkan persetujuan dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Market leader di Indonesia. dll. Uji bioavailabilitas terbagi atas dua yaitu In vivo dan uji disolusi in vitro.pengambilan sampel. Senyawa yang akan dianalisis dan metodenya. Interval waktu pemberian 6. 8. 9. hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan atau ekivalensi ke-2 kurva yang berarti mempunyai kemiripan profil disolusi kedua produk. yaitu 10. 1) In Vivo  Penggunaan in vivo menjadi sangat terbatas.30. Desain percobaan 5.50. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rancangan percobaan BA/BE: 1. Frekuensi dan waktu pengambilan sampel.Tt)2)/n] Apabila nilai f2 50 atau lebih besar (50-100).

dan menginterpretasi. maka kedua uji ini hanya merupakan indikator yang dapat digunakan untuk memperkirakan bioavailabilitas obat. 2) Uji Disolusi In Vitro Akibatnya uji disolusi secara in vitro dipakai dan dikembangkan secara luas. melakukan. Uji laju disolusi dan uji difraksi sinar X merupakan 2 contoh prosedur laboratoris yang dapat merefleksikan perilaku obat in-vivo.  Tingginya keterampilan yang diperlukan bagi pengkajian pada manusia. uji difraksi sinar X atau uji in vitro lainnya yang relevan. pemakaian subjek manusia bagi penelitian yang “nonesensial”. Suatu industri obat yang mempunyai data klinik atau informasi yang menunjukkan bahwa produk obatnya secara klinik efektif. Sementara kedua uji ini bukan merupakan uji bioavailabilitas yang sebenarnya. Uji laju disolusi mengukur laju disolusi sejumlah obat dalam medium tertentu dan pada kondisi tertentu. . terutama pada penentuan pendahuluan dari faktor-faktor formulasi dan berbagai metode pembuatan yang tampaknya akan mempengaruhi bioavailabilitas. dengan demikian akan bermanfaat dalam memperkirakan absorpsi obat.  Besarnya biaya yang diperlukan. Uji ini telah dimasukkan dalam USP dan NF dan telah diterapkan pada sejumlah obat. Lamanya waktu yang diperlukan untuk merencanakan.  Ketepatan yang rendah serta besarnya penyimpangan pengukuran. dan bila formulasi serta prosedur produksi tidak berubah.  Keharusan menganggap adanya hubungan yang sempurna antara manusia yang sehat dan tidak sehat yang digunakan dalam uji. maka konsistensi dari batch ke batch dapat dijamin dengan melakukan uji laju disolusi. dan bila data ini dikorelasikan dengan uji in vitro dengan tepat. Uji difraksi sinar X melengkapi beberapa indikasi dari laju dan jumlah obat yang melarut. dan secara tidak langsung dipakai sebagai pengukur availabilitas obat.

Gambar 1. Jika suatu obat diberikan per oral dan beberapa jam sesudahnya diambil satu seri dari sampel darah dan dianalisis kadar obat dalarn darah. atau dari jumlah obat kumulatif yang diekskresikan melalui urin. Kurva kadar serum — waktu setelah pemberian dosis tunggal suatu obat per oral.Sasaran uji disolusi in vitro adalah pelepasan obat dari tablet kalau dapat mendekati 100 % dan laju pelepasan seragam pada setiap batch dan harus sama dengan laju pelepasan dari batch yang telah dibuktikan berbioavailabilitas dan efektif secara klinis. PENGUKURAN BIOAVAILABILITAS Jumlah obat yang diabsorpsi biasanya ditentukan dengan mengukur luas area di bawah kurva (AUC) dari kurva kadar obat dalam darah versus waktu. . akan diperoleh kurva kadar darah-waktu seperti pada gambar 1. kemudian hasilnya di plot pada kertas grafik.

Pada titik ini kecepatan absorpsi sebanding dengan kecepatan eliminasi. Titik ini disebut puncak kurva kadar serum — waktu. Hubungan antara bioavailabilitas dan efektivitas klinik obat didasarkan pada asumsi bahwa intensitas dan durasi respon farmakologik obat berkaitan erat dengan kadar dan durasi obat aktif dalam darah atau sirkulasi sistemik. adalah beralasan untuk mengharapkan bahwa formulasi yang dikembangkan industri obat ke dua akan memberikan efek terapeutik yang sama dengan produk obat pertama. maka industry obat lainnya yang ingin memasarkan obat yang sejenis haruslah melakukan suatu penetapan bioavailabilitas yang dapat menunjukkan bahwa formulasinya memberikan kadar puncak yang sama. kecepatan absorpsi yang sama.Obat diberikan per oral pada waktu nol. dengan demikian data ini sangat membantu dalam mengevaluasi besarnya pengaruh formulasi pada perilaku obat dalam tubuh. Di sebelah kanan titik puncak kurva disebut fase eliminasi. Setelah obat melalui lambung dan/atau usus. . Di sebelah kiri titik puncak kurva merupakan fase absorpsi. Peningkatan kadar obat dalam darah akan terlihat pada sampel darah berikutnya sampai tercapai kadar puncak. Jika ke tiga kriteria di atas dipenuhi. Aplikasi konsep bioavailabilitas yang semacam ini disebut bioekivalensi. Bila suatu industri obat telah memiliki data efektifitas obat melalui uji klinik dari suatu formulasi obat. akan berdisintegrasi dan segera melarut dan absorpsi pun berlangsung. di man kecepatan absorpsi lebih kecil daripada kecepatan eliminasi. pada saat ini kadar obat dalam darah adalah nol. dan jumlah obat yang diabsorpsi yang sama dengan formulasi dari industri obat yang pertama. di mana kecepatan absorpsi lebih besar daripada kecepatan-eliminasi. Profil kadar obat dalam darah memungkinkan perhitungan kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi dari suatu produk obat.

dan uji disolusi in vitro komparatif. bahan obat aktif tidak stabil pada sisi target.  Sifat fisikokimia yang meliputi bahan obat aktif memiliki kelarutan rendah dalam air. derajat absorpsinya kecil baik dalam bentuk murninya. produk obat mempunyai perbandingan bahan tambahan yang besar terhadap bahan aktif. bentuk struktur tertentu dari bahan aktif terlarut sangat rendahsehingga mempengaruhi absorpsi. terjadinya prosesmetabolisme yang terlalu cepat pada bagian terapeutik pada dinding ususatau hati. Kriteria penetapan persyaratan bioekivalensi antara lain.  Penetapan secara medik oleh yang berwenang menyatakan bahwa suatukekurangan bioekivalensi akan menyebabkan suatu efek yang tidak dikehendaki yang membahayakan pada pengobatan. .Kriteria Bioekivalensi Metode uji bioekivalensi antara lain uji bioavaibilitas komparatif.  Adanya fakta bahwa produk obat yang memperlihatkan rasioterapeutik yang sempit dan konsentrasi efektif minimum dalam darah.  Adanya fakta dari studi bioekivalensi yang terkendali dengan baik menyatakan bahwa produk-produk tersebut bukan merupakan produkproduk yang ekivalen. uji farmakodinamik komparatif. laju pelarutan dari produk tersebut sangat rendah.serta penggunaannya secara aman dan efektif memerlukan dosis yangsesuai.  Adanya fakta dari percobaan klinik yang terkendali dengan baik atau pengamatan terkendali pada penderita yang menyatakan bahwa berbagai produk obat tidak memberi efek terapeutik sebanding. dan kebutuhan akan bahan inaktif dalam formulasi  Sifat-sifat farmakokinetik antara lain : diserapnya bahan aktif dalam jumlah besar pada bagian tertentu dari saluran cerna.

Cmaks (mcg/ml). 2) Waktu mencapai kadar maksimal. Bioekivalensi berdasarkan data ekskresi obat dalam urin. dapat disimpulkan bahwa ke dua produk obat tersebut adalah bioekivalen. Ini didasarkan pada konsep bahwa obat yang diekskresikan ke dalam urin berasal dari darah. Jika kedua profil kadar obat dalam darah dan pengukuran ekskresi obat dalam urin diperoleh dari satu subyek yang sama. Bila yang diukur adalah ekskresi obat dalam urin kumulatif. maka ke dua data tersebut merupakan komplemen satu sama lain. . Kadar maksimal dari kurva kadar darah — waktu merupakan kadar dalam darah tertinggi yang dicapai setelah pemberian obat per oral. tmaks = 2. Parameter tmaks berkaitan erat dengan kecepatan absorpsi obat dan dapat digunakan sebagai ukuran yang sederhana untuk mengukur kecepatan absorpsi. Waktu mencapai kadar maksimal merupakan waktu yang diperlukan untuk mencapai kadar maksimal setelah pemberian obat. tmaks (jam) Pada Gambar 1. yaitu : 1) Kadar maksimal/kadar puncak.0 jam. Luas area di bawah kurva merupakan parameter yang terpenting dan merupakan ukuran banyaknya obat yang diabsorpsi setelah pemberian dosis tunggal suatu obat per oral. Ada tiga parameter penting dalam mengevaluasi bioekivalensi antara dua formulasi dari obat yang sama. 3) Luas area di bawah kurva. parameter-parameter yang penting adalah : 1) Jumlah kumulatif obat yang diekskresikan dalam urin 2) Kecepatan ekskresi obat dalam urin Jika kecepatan dan jumlah obat yang diekskresikan melalui urin setelah pemberian 2 macam produk obat yang mengandung obat aktif yang sama itu identik.Sedangkan bioekivalensi berdasarkan data kadar obat dalam darah. AUC (mcg/ml x jam).

dan kesetaraan klinik. Biasanya diukur dari perkembangan kadar obat (senyawa aktif) atau metabolit aktifnya dalam darahatau dari ekskresinya dalam urin terhadap waktu. 2) Tipe bioavaibilitas adalah bioavaibilitas absolute dan bioavaibilitas relative. dan bentuk sediaan yang sama serta diteliti dengan kondisieksperimental yang sama akan memberikan bioavailabilitas yang sama. 3) Factor-faktor yang mempengaruhi bioavaibilitas terbagi atas dua yaitu secara umum dan secara farmasetik. 4) Uji bioavailabilitas terbagi atas dua yaitu In vivo dan uji disolusi in vitro B. kesetaraan biologik atau bioekuivalen. Kesimpulan 1) Bioavailabilitas adalah suatu istilah yang menyatakan jumlah atau proporsiobat yang diabsorpsi dan kecepatan absorpsi obat tersebut. Saran Saran dan kritik dari semua pihak sangat diperlukan guna membantu berkembangnya makalah ini. .BAB IV PENUTUP A. kesetaraan farmasetik. rute pemberian. Sedangkan tipe bioekivalensi antara lain Kesetaraan farmakoklinik. kesetaran kimia. Sedangkan bioekivalensi merupakan dua atau lebih obat yang apabila diberikan dalamdosis.

2005. Edisi Kedua. Artikel karya tulis ilmiah.html. 1980. Farmasetika 2 Biofarmasi. 2006. Aiache. M. 1993. Airlangga University Press. Surabaya. Airlangga University Press. Semarang. Shargel. Fakultas kedokteran. Philadelphia. Clinical Pharmacokinetics : Concept and Application.. .M. J. Farmakologi Dasar Edisi II. Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan. T. 2010. Diakses pada tanggal 29 April 2012. M. Universitas diponegoro. Hagemaru. 2010. Lea and Febiger.blogspot.DAFTAR PUSTAKA Ardiarini. Uji Bioavailabilitas dan Bioekivalen Sanmol Tablet dengan Pembanding Panadol Tablet. Leskonfi. Rowland. and Tozer. Priyanto.com/2010/05/uji-bioavailabilitas-danbioekivalen. Surabaya. Jakarta. http://rafaeljosephhimawan. Ari. Drs. Perbandingan bioavailabilitas ( bioekivalensi ) obat cimetidine Dalam sediaan generik dan paten secara in vitro. Leon.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful