P. 1
Tipoid

Tipoid

|Views: 62|Likes:
Published by MrRohmawan

More info:

Published by: MrRohmawan on Nov 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/12/2013

pdf

text

original

Tipoid

A. PENGERTIAN Deman Typhoid adalah penyakit infeksi akut yang mengenai usus halus. (Waspanji, 2002,: 435) Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ). Deman Typoid adalah penyakit akuty yang biasanya mengenai saluran urna dengan segala deman letih dan kyuh hari, gangguaan pada saluran urna. (Mansjoer, 2002,; 432) Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999). Typoid abdominalis adlah penyakit infeksi akut yang mengenai saluran pencernaan dengan gejala deman letih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran.(Ngastiyah, 1997,; 155) B. ETIOLOGI Salmonella typhi, Basal gram negative bergerak dengan rambut getar, tidak berspora mempunyai sekurang-kurangnya 4 macam antigen yaitu: Antigen O (Osematir) H ( Flagela) VI dan protein healin (Mansjoer, 2000,; 432) Salmonella typhi, S. Paratyphi A, S. Paratyphi B, S. Paratyphi C (Waspanji, 2002,; 435) C. MANIFESTASI KLINIS 1. Deman 2. Nyeri Kepal 3. Pusing 4. Anoreksia 5. Mual muntah 6. Batuk 7. Diare 8. Apitaksis 9. Gangguan kesadaran (Waspanji, 2002,; 435) D. PATOFISIOLOGI

Masuknya kuman salmonella typhi (S. typhi) dan salmonella paratyphi (S. Paratyphi) kedalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian yang lain lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon amunitas hormonal (16. A) usus kurang baik, maka kuman menembus sel-sel epital (terutama sel – M) dan selanjutnya lulamina propia kuman berkembang biak dan di fogosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh fakrofog. Kuman dapat hidup dan berkembang biakdi dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plague. Piyenikum dislat dan kemudian kelenjar getah bening mesentrika. Selanjutnya melalui duktus terasikus kuman yang terdapat makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar keseluruh organ retikulo endotetial tubuh terutama hati dan limpa. Diagnosa ini kuman meninggalkan sel-sel fogosit dan kemudian berkembang biak di luar sell fagosit dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi menyebabkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejal penyakit infeksi sisremir di dalam usus, sebagian kuman dikeluarkan melalui rases dan sewbagian masuk lagi ked lam serkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali berhubungan makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat-saat fagosifosis kuman salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi dan selanjutnya akan menimbulkan imflamasi sisteler seperti deman, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, mtabilitas vaskuler, gangguan muntah dan koagulasi. E. PATHWAY(belum di ketik) F. KOMPLIKASI 1. Perporasi usus 2. Pendarahan usus 3. Peritonisis 4. Meningitis 5. Enselopati 6. Bronzho Pnemonia 7. Hepatitis (Mansjoer, 2002,: 433) 1. Komplikasi Internal a) Pendarahan usus b) Perforasi usus c) Jenis paralitir 2. Komplikasi eksternal

a) Kompliksi kardiovaskuler: gagal sirkulasi ferifer, miokarditis, tromboplebitis. b) Komplikasi darah: anemia, trombositofenia, homolitik dan koagulasi intravaskuler disemirata (KID) dan sindrom uremia c) Komplikasi paru: pneumonia, epiema, pluritis d) Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis, kolelitiasis e) Komplikasi tulang: oseomelitis, spondilitis, artitis f) Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, meningitis, polinefritis perifer g) Komplikasi ganjal: glomerunefritis, pielonefritis, perinefritis (Mansjoer, 2002,; 424) G. PENTALAKSANAAN 1. Keperawatan a. Tirah baring 7-14 hari untuk mencegah perforasi b. Mengubah posisi tidur untuk mencegah pneumonia c. Anjurkan makan makanan yang tidak merangsang ataupun menimbulkan gas d. Isolasi pasien 2. Medis a. Pemberian antibiotic Untuk menghentikan dan mencegah penyebaran kuman Anti biotik yang diberikan - kloraminitol diberikan selama deman (500-1000 mg) - hari pertama sampai hari kelima, kemudian dosis diturunkan atau diganti - diet cukup cairan, kalori, tinggi protein H. FOKUS PENGKAJIAN 1. Aktifitas dan istirahat Tanda : kelemahan, kelelahan Gejala : takikardi 2. Integritas ego Tanda : perasaan tidak terduga Gejala : ansietas (gelisah, pucat) 3. Makanan dan cairan Tanda : membrane mukosa kering Gejala : penurunan BB 4. Nyeri/ Kenyamanan Tanda : kenaikan suhu Gejala : nyeri tiba-tiba 5. Keamanan Tanda : kenaikan suhu (Doenges, 1999,; 471) I. FOKUS INTERVENSI

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhi KH : Berat Badan stabil Intervensi 1) Kaji KU dan TTV R. untuk mengetahui perkembangan keadaan pasien 2) Beri makan sedikit tapi serig R. untuk mencegah rasa penuh dalam lambung 3) Berikan makanan dalam keadaan hangat R. untuk merangsang nafsu makan 4) Berikan lingkungan yang bersih R. untuk merangsang nafsu makan 5) Timbang BB stiap saat R. untuk mngtahui penambahan BB 6) Kolaborasi dengan ahli gizi R. untuk mnentukan tindakan lebih lanjut 2. Gangguan termoregulasi: hipertermi berhubungan dengan proses infeksi pada usus halus dan peningkatan laju metabolisme dalam tubuh. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam hipertermi teratasi KH : temperature suhu tubuh normal Intervensi : 1) Kaji KU pasien R. untuk mengetahui keadaan umum pasien 2) Kaji TTV R. untuk mengetahui peningkatan suhu tubuh 3) Berikan kompres hangat R. untuk menurunkan suhu tubuh 4) Berikan intake yang adekuat R. untuk mencegah terjadinya desindran 5) Berikan cairan IV R. untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan 6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiseptic R. untuk membantu menurunkan suhu tubuh 3. Nyeri akut berhubungan dengan proses peradangan pada usus halus

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam nyeri teratasi KH : nyeri berkurang/ hilang Intervensi : 1) Kaji KU pasin R. untuk mengetahui keadaan umum pasien 2) Kaji TTV R. untuk mengetahui perkembangan keadaan pasien 3) Kaji lokasi nyri an kualitas nyeri R. untuk menentukan tindakan 4) Beri posisi nyaman R. untuk mengetahui rasa sakit 5) Ajarkan teknik relaksasi R. untuk meningkatkan rasa nyaman dan mengurangi rasa nyeri 6) Kolaborasikan dngan dokter alam pembrian obat R. untuk menghilangkan rasa nyeri 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam intoleransi aktivitas teratasi KH : pasien bisa melakukan aktivitas sendiri tanpa bantua orang lain Intervensi : 1) Kaji KU pasien R. untuk mengetahui keadaan umum pasien 2) Kaji kekuatan otot R. untuk mengetahui kelemahan otot/ skala kekuatan otot 3) Kaji repon pasien terhadap aktivitas R. untuk mengetahui kemampuan respon pasien terhadap aktivitas 4) Kaji aktivitas pasien R. untuk mengetahui kemampuan aktivitas pasien, untuk mencegah peningkatan aktivitas secara tiba-tiba 5) Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, Bantu dalam melakukan latihan R. untuk meningkatkan toleransi terhadap aktivitas dan mencegah kelemahan 6) Bantu aktivitas sehari-hari R. untuk mengurangi kecemasan

Laporan Pendahuluan Thypoid (Tipes)
I. Kasus Masalah Utama : Tifus abdominalis : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

II. Proses terjadinya masalah : Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya menyerang saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan dapat terjadi gangguan kesadaran. Kuman masuk melalui mulut sebagian kuman akan dimusnahkan di lambung oleh asam lambung dan sebagian lagi akan masuk kedalam usus halus. Terjadi koloni kuman dalam usus yang cepat diikuti terjadinya bakterimia, denyut nadi lambat, demam tinggi ( terutama malam hari ), kejang perut, diare dan konstipasi. Keadaan ini yang menyebabkan gangguan pada intake makanan yang dibutuhkan oleh tubuh III. Etilogi : Salmonella typhosa IV. Patofisiologi : Kuman masuk melalui mulut sebagian kuman akan dimusnahkan di dalam lambung dan sebagian kuman lagi akan terus masuk ke dalam usus halus, jaringan limfoid, dan berkembang biak menyerang villi usus halus kemudian kuman masuk keperedaran darah danmencapai sel-sel retikulo endoteleal, hati, limfa, dan organ lain terjadi selama masa incubasi dan akan berakhir saat sel retikuloendoteleal melepaskan kuman kedalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya, kemudian kuman masuk ke dalam bebrapa organ tubuh terutama limfa, hati dan kandung empedu. Pada minggu pertama : terjadi hiperplasia plaque peyeri ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Pada minggu kedua : terjadi nekrosis Pada minggu ketiga : terjadi ulserasi plaque peyeri Minggu ke empat : terjadi penyembuhan usus dan terjadi sikatrik, ulkus dapat menyebabkan perdarahan sampai terjadi perforasi, sedangkan gejala pada saluran cerna disebabkan oleh kelainan pada usus halus. V. Manifestasi Klinis : a. Nyeri kepala, lemah dan lesu b. Demam tidak terlalu tinggi berlangsung selama 3 minggu, minggu pertama peningkatan suhu tubuh berpluktuasi biasanya suhu meningkat pada malam hari dan turun pada pagi hari. Minggu kedua suhu tubuh terus meningkat. Minggu ketiga suhu mulai turun dan dapat kembali normal c. Gangguan pada saluran cerna ; holitosis, bibir kering dan pecah, lidah kotor ( coated tongue ), meteorismus, mual, tidak nafsu makan, hepatomegali, splenomegali disertai dengan nyeri perabaan d. Penurunan kesadaran ; apatis atau somnolen e. Bintik kemerahan pada kulit ( roseola ) akibat emboli bakteri pada kapiler kulit f. Epistaksis VI. Pohon masalah

VII. Masalah perawatan dan data yang perlu dikaji : Data DO masalah

Porsi makan tidak habis, Muntah, klien tampak tidak mau makan DS Ibu klien mengatakan “ klien tidak mau makan, makanan tidak pernah dihabiskan “ DO Klien terlihat muntah, bibir terlihat kering, suhu tubuh meningkat DS Klien mengatakan minum hanya sedikit ± 3 gelas sehari, Ibu klien mengatkan “ klien demam bila malam hari dan minum hanya sedikit “ DO Peningkatan suhu tubuh > 37 5 0 C Muka terlihat merah Nadi tachicardi Kulit teraba panas DS Keluarga mengatakan anak demam dan cengeng

Nutrisi kurang dari kebutuhan

Defisit volume cairan

Hipertermi

VIII. Diagnosa keperawatan 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat 2. Risti defisit volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang tidak adekuat dan peningkatan suhu tubuh. 3. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi IX. Rencana intervensi 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat a. Motivasi untuk makan sedikit tapi sering b. Sajikan makanan dalam keadaan hangat c. Pertahankan oral hygiene d. Berikan makanan tinggi kalori dan protein e. Timbang BB setiap 3 hari sekali f. Kolaborasi untuk pemberian terapi 2. Risti defisit volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang tidak adekuat dan peningkatan suhu tubuh. a. Anjurkan untuk minum ± 1500 ml / hari b. Monitor intake output c. Monitor turgor kulit d. Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral 3. a. b. c. d. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Berikan kompres hangat Motivasi untuk banyak minum Motivasi untuk mengurangi aktifitas ( Bedrest ) Kolaborasi untuk pemberian antipiretik X. Daftar kepustakaan :

CAPERNITO LINDA JUALL, 2001, Asuhan Keperawatan, edisi 8, EGC, Jakarta, DOENGOES MARILLYN E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, edisi ke III, EGC, Jakarta Suriadi. Yuliani, Rita. 2001, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Sagung Seto, Jakarta Wong, L, Donna, 2003, Pedoman Keperawatan Pediatrik, Jakarta, EGC

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian Febris typhoid adalah merupakan salah satu penyakit infeksi akut usus halus yang menyerang saluran pencernaan disebabkan oleh kuman salmonella typhi dari terkontaminasinya air / makanan yang biasa menyebabkan enteritis akut disertai gangguan kesadaran (Suriadi dan Yuliani, R., 2001). Demam typhoid adalah penyakit sistemik akut akibat infeksi salmonella typhi yang ditandai dengan malaise (Corwin, 2000). B. Etiologi Menurut Ngastiyah (2005) Penyebab utama dari penyakit ini adalah kumanSalmonella typhosa, Salmonella typhi, A, B, dan C. Kuman ini banyak terdapat di kotoran, tinja manusia, dan makanan atau minuman yang terkena kuman yang di bawa oleh lalat. Sebenarnya sumber utama dari penyakit ini adalah lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Tidak seperti virus yang dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan, dan minuman yang tidak higienis. Salmonella typosa merupakan basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora, mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen, yaitu antigen O,antigen somatik yang tidak menyebar, terdiri dari zat komplek lipopolisakarida,antigen Vi (kapsul) yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis dan antigen H (flagella). Ketiga jenis antigen tersebut dalam tubuh manusia akan menimbulkan pembentukkan tiga macam antibody yang biasa disebut agglutinin (Arif Mansjoer, 2000).

C. Patofisiologi Corwin (2000) Mengemukakan bahwa kuman salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque pleyeri di liteum terminalis yang mengalami hipertropi. Ditempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman salmonella typhi kemudian menembus ke dalam lamina profia, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe mesentrial yang juga mengalami hipertropi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini, salmonella typhi masuk aliran darah melalui duktus toracicus. Kuman-kuman salmonella typhi mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. Salmonella typhi bersarang di plaque pleyeri, limfe, hati dan bagian-bagian lain dari sistem retikulo endotelial. Semula disangka demam dan gejala-gejala syoksemia pada demam typhoid disebabkan oleh endotoksemia, tetapi kemudian berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan penyebab utama demam dan gejalagejala toksemia pada demam typhoid. Endotoksin salmonella typhi salmonella typhi berperan

dalam patogenesis demam typhoid, karena membantu proses terjadinya inflamasi lokal pada jaringan tempat salmonella typhi berkembang biak. Demam pada typhoid disebabkan karena salmonella typhi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan septi pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. E. Manifestasi Klinik Menurut Corwin (2000), Proses bekerjanya bakteri ini ke dalam tubuh manusia cukup cepat, yaitu 24-72 jam setelah masuk, meski belum menimbulkan gejala, tetapi bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. Rentang waktu antara masuknya kuman sampai dengan timbulnya gejala penyakit, sekitar 7 hari. Gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Soedarto (2007) mengemukakan bahwa manifestasi klinis klasik yang umum ditemui pada penderita demam typhoid biasanya disebut febris remitter atau demam yang bertahap naiknya dan berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan dengan perincian : § Minggu pertama, demam lebih dari 40°C, nadi yang lemah bersifat dikrotik, dengan denyut nadi 80-100 per menit. § Minggu kedua, suhu tetap tinggi, penderita mengalami delirium, lidah tampak kering mengkilat, denyut nadi cepat. Tekanan darah menurun dan limpa dapat diraba. § Minggu ketiga, § Jika keadaan membaik : suhu tubuh turun, gejala dan keluhan berkurang. § Jika keadaan memburuk : penderita mengalami delirium, stupor, otot-otot bergerak terus, terjadi inkontinensia alvi dan urine. Selain itu terjadi meteorisme dan timpani, dan tekanan perut meningkat, disertai nyeri perut. Penderita kemudian kolaps, dan akhirnya meninggal dunia akibat terjadinya degenerasi mikardial toksik. § Minggu keempat, bila keadaan membaik, penderita akan mengalami penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis. F. Pemeriksaan Penunjang Menurut Corwin (2000) Pemeriksaan diagnostik untuk pasien dengan kasus febris typhoid antara lain : § Pemeriksaan Leukosit Pada febris typhoid terhadap ileumopenia dan limfobrastis relatif tetap kenyataan leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kasus febris typhoid jumlah leukosit pada sediaan darah tepi pada berada dalam batas normal, walaupun kadang-kadang terikat leukositanis tidak ada komplikasi berguna untuk febris typhoid. § Pemeriksaan SGOT dan SGPT Sering kali meningkat tetapi kembali normal setelah sembuhnya febris typhoid, kenaikan SGOT dan SGPT tidak memerlukan pembatasan pengobatan.

Kenaikan Darah Gerakan darah (+) memastikan febris typhoid tetapi biakan (-) tidak menyingkirkan febris typhoid. Hal ini karena hasil biakan darah bergantung pada beberapa faktor, yaitu : § Tekhnik pemeriksaan laboratorium. § Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit. § Laksinasi di masa lampau. § Pengobatan dengan obat anti mikroba. § Uji Widal Suatu uji dimana antara antigen dan antibodi yang spesifik terhadap saluran monolle typhi dalam serum pasien dengan febris typhoid juga pada orang yang pernah terkena salmonella typhi dan pada orang yang pernah divaksinasi terhadap febris typhoid dengan tujuan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita yang disangka menderita febris typhoid. Hasil pemeriksaan widal, titer antibodi terhadap antigen O yang bernilai ≥ 1/200 atau peningkatan ≥ 4 kali antara masa akut dan konvalesens mengarah pada demam typhoid, meskipun dapat terjadi positif ataupun negatif palsu akibat adanya reaksi silang antara spesies salmonella. Diagnosis mikrobiologis merupakan metode diagnosis yang paling spesifik.Kultur darah dan sum-sum tulang positif pada minggu pertama dan kedua, sedang minggu ketiga dan keempat kultur tinja dan kultur urin positif (Wong, 2003).
§

G. Penatalaksanaan (Soedarto, 2007) 1. Secara Fisik a. Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau. Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas atau apakah anak mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu mencapai otak. Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel-sel otak. Dalam keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya fungsi intelektual tertentu. b. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan c. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan d. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak yang akan berakibat rusaknya sel – sel otak. e. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak –banyaknya Minuman yang diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya. f. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang g. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya untuk menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu tubuh dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Jangan

menggunakan air es karena justru akan membuat pembuluh darah menyempit dan panas tidak dapat keluar. Menggunakan alkohol dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi (keracunan). h. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-suam kuku. Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar terasa hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas. Dengan demikian tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh lagi. Di samping itu lingkungan luar yang hangat akan membuat pembuluh darah tepi di kulit melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan membuat pori-pori kulit terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas dari tubuh. 2. Obat-obatan Antipiretik Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu di hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus direndahkan kembali menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas diatas normal dan mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi. Penderita tifus perlu dirawat dirumah sakit untuk isolasi (agar penyakit ini tidak menular ke orang lain). Penderita harus istirahat total minimal 7 hari bebas panas. Istirahat total ini untuk mencegah terjadinya komplikasi di usus. Makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak berserat. Sayuran dengan serat kasar seperti daun singkong harus dihindari, jadi harus benar-benar dijaga makanannya untuk memberi kesempatan kepada usus menjalani upaya penyembuhan. Pengobatan yang diberikan untuk pasien febris typoid adalah antibiotika golonganChloramphenicol dengan dosis 3-4 x 500 mg/hari; pada anak dosisnya adalah 50-100 mg/kg berat badan/hari. Jika hasilnya kurang memuaskan dapat memberikan obat seperti : § Tiamfenikol, dosis dewasa 3 x 500 mg/hari, dosis anak: 30-50 mg/kg berat badan/hari. § Ampisilin, dosis dewasa 4 x 500 mg, dosis anak 4 x 500-100 mg/kg berat badan/hari. § Kotrimoksasol ( sulfametoksasol 400 mg + trimetoprim 80 mg ) diberikan dengan dosis 2 x 2 tablet/hari. Dan untuk pencegahan agar tidak terjangkit penyakit febris typoid perlu memperhatikan beberpa hal sebagai berikut : § Harus menyediakan air yang memenuhi syarat. Misalnya, diambil dari tempat yang higienis, seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Apabila menggunakan air yang harus dimasak terlebih dahulu maka dimasaknya harus 1000C. § Menjaga kebersihan tempat pembuangan sampah. § Upayakan tinja dibuang pada tempatnya dan jangan pernah membuangnya secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri Salmonella typhi.

Bila di rumah banyak lalat, basmilah hingga tuntas. § Daya tahan tubuh juga harus ditingkatkan ( gizi yang cukup, tidur cukup dan teratur, olah raga secara teratur 3-4 kali seminggu). Hindarilah makanan yang tidak bersih. Belilah makanan yang masih panas sehingga menjamin kebersihannya. Jangan banyak jajan makanan/minuman di luar rumah.
§

· · · ·

H. Komplikasi Menurut Corwin (2000) Takikardi Insufisiensi jantung Insufisiensi pulmonal Kejang demam

I. Konsep Asuhan Keperawatan Menurut Doenges (2002) a. Pengkajian Data dasar pengkajian pasien dengan febris typhoid adalah : 1) Aktivitas atau istirahat Gejala yang ditemukan pada kasus febris typhoid antara lain kelemahan, malaise, kelelahan, merasa gelisah dan ansietas, cepat lelah dan insomnia. 2) Sirkulasi Tanda takikardi, kemerahan, tekanan darah hipotensi, kulit membrane mukosa kotor, turgor buruk, kering dan lidah pecah-pecah akan ditemukan pada pasien febris typhoid. 3) Integritas ego Gejala seperti ansietas, emosi, kesal dan faktor stress serta tanda seperti menolak dan depresi juga akan ditemukan dalam pengkajian integrits ego pasien. 4) Eliminasi Pengkajian eiminasi akan menemukan gejala tekstur feses yang bervariasi dari lunak sampai bau atau berair, perdarahan per rectal dan riwayat batu ginjal dengan tanda menurunnya bising usus, tidak ada peristaltik dan ada haemoroid. 5) Makanan dan cairan Pasien akan mengalami anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan dan tidak toleran terhadap diet. Dan tanda yang ditemukan berupa penurunan lemak sub kutan, kelemahan hingga inflamasi rongga mulut. 6) Hygiene Pasien akan mengalami ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri dan bau badan. 7) Nyeri atau ketidaknyamanan Nyeri tekan pada kuadran kiri bawah akan dialami pasien dengan titik nyeri yang dapat berpindah. 8) Keamanan

Pasien mengalami anemia hemolitik, vaskulotis, arthritis dan peningkatan suhu tubuh dengan kemungkinan muncul lesi kulit. J. Diagnosa Keperawatan Doenges (2002) 1. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi. 2. Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang. 3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuan tubuh berhubungan dengan nafsu makan yang menurun. 4. Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit, kebutuhan pengobatan dan prognosis berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat.

K. Intervensi Keperawatan Doenges (2002) Diagnosa Keperawatan 1 : Hypertermi berhubungan dengan proses infeksi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan menujukan temperatur dalan batas normal Kriteria hasil : 1. Bebas dari kedinginan 2. Suhu tubuh stabil 36-37 C Intervensi : 1) Monitor suhu tubuh minimal tiap 2 jam. Rasional: Mengetahui perubahan suhu, suhu 38,9-41,1C menunjukkan proses inflamasi. 2) Jelaskan upaya untuk mengatasi hipertermi dan bantu klien/ keluarga dalam melaksanakan upaya tersebut, seperti: dengan memberikan kompres dingin pada daerah frontal, lipat paha dan aksila, selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh, tingkatkan intake cairan dengan perbanyak minum. Rasional: Membantu mengurangi demam. 3) Observasi tanda-tanda vital (Tekanan darah, Suhu, Nadi dan Respirasi) setiap 2-3 jam. Rasional: Tanda-tanda vital dapat memberikan gambaran keadaan umum klien. 4) Monitor penurunan tingkat kesadaran. Rasional: Menentukan intervensi selanjutnya untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

5) Anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien. Rasional: Untuk mempercepat proses penyembuhan. 6) Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian obat antipiretik dan antibiotik. Rasional: Obat antiperitik untuk menurunkan panas dan antibiotik mengobati infeksi basil salmonella typhi. Diagnosa keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan deperosis Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan volume cairan adekuat Kriteria hasil : 1. tanda vital dalam batas normal 2. nadi perifer teraba kuat 3. haluran urine adekuat 4. tidak ada tanda-tanda dehidrasi Intervensi : 1) Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, turgor kulit, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik) jika diperlukan. Rasional: Perubahan status hidrasi, membran mukosa, turgor kulit menggambarkan berat ringannya kekurangan cairan. 2) Monitor tanda-tanda vital Rasional: Perubahan tanda vital dapat menggambarkan keadaan umum klien. 3) Monitor masukan makanan/ cairan dan hitung intake kalori harian. Rasional: Memberikan pedoman untuk menggantikan cairan. 4) Dorong keluarga untuk membantu pasien makan. Rasional: Keluarga sebagai pendorong pemenuhan kebutuhan cairan klien. 5) Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian cairan IV. Rasional: Pemberian cairan IV untuk memenuhi kebutuhan cairan. Diagnosa Keperawatan 3: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake kurang akibat mual, muntah, anoreksia, atau output yang berlebihan akibat diare. Intervensi: 1) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.

Rasional: Mengetahui penyebab pemasukan yang kurang sehingga dapat menentukan intervensi yang sesuai dan efektif. 2) Monitor adanya penurunan berat badan. Rasional: Kebersihan nutrisi dapat diketahui melalui peningkatan berat badan 500 gr/minggu. 3) Monitor lingkungan selama makan. Rasional: Lingkungan yang nyaman dapat menurunkan stress dan lebih kondusif untuk makan. 4) Monitor mual dan muntah. Rasional: Mual dan muntah mempengaruhi pemenuhan nutrisi. 5) Libatkan keluarga dalam kebutuhan nutrisi klien. Rasional: Meningkatkan peran serta keluarga dalam pemenuhan nutrisi untuk mempercepat proses penyembuhan. 6) Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C. Rasional: Protein dan vitamin C dapat memenuhi kebutuhan nutrisi. 7) Berikan makanan yang terpilih. Rasional: Untuk membantu proses dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi. 8) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. Rasional: Membantu dalam proses penyembuhan. Diagnosa Keperawatan 4: Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit, kebutuhan pengobatan dan prognosis berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat. Intervensi: 1) Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga klien tentang penyakit anaknya. Rasional: Mengetahui pengetahuan ibu tentang penyakit demam typoid. 2) Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan klien. Rasional: Agar ibu klien mengetahui tentang penyakit demam typoid, penyebab, tanda dan gejala, serta perawatan dan pengobatan penyakit demam typoid.

3) Beri kesempatan keluarga untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti. Rasional: Supaya keluarga lebih memahami tentang penyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, 2000, Hand Book Of Pathofisiologi, EGC, Jakarta. Doenges, M.E. Geisler, A.C. Moorhouse, M.F., 2000, Rencana Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Keperawatan, (terjemahan), Edisi VIII, EGC, Jakarta.Hidayat, A. A., 2005, Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, Salemba Medika, Jakarta. Nanda, 2005, Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi, Prima Medika, Jakarta. Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta. Robert, 2007, Penyakit – Penyakit Tropis, Artikel diakses dari www.who_peditric.com Soedarto, 2007, Sinopsis Kedokteran Tropis, Airlangga Universitas Press, Surabaya. Suriadi dan Yuliani, R., 2001, Asuhan Keperawatan Pada Anak, CV. Sagung Seto, Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->