INDONESIA

1) Sistem pemerintahan Indonesia Secara teori, berdasarkan UUD 1945, Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensiil. Namun dalam prakteknya banyak bagian-bagian dari sistem pemerintahan parlementer yang masuk ke dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Sehingga secara singkat bisa dikatakan bahwa sistem pemerintahan yang berjalan i Indonesia adalah sistem pemerintahan yang merupakan gabungan atau perpaduan antara sistem pemerintahan presidensiil dengan sistem pemerintahan parlementer. 2) Sistem hukum Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat yang diserap dalam perundang-undangan atau yurisprudensi,[1] yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara. 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Pedoman Umum Good Corporate Governance di Indonesia Pedoman Umum Good Corporate Governance di Indonesiakan disusun oleh Komite nasional Kebijakan Governance. Pedoman yang diterbitkan pada tahun 2006 ini merupakan revisi atas Pedoman Good Corporate Governance yang diterbitkan pada tahun 2001. Meskipun Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia 2006 ini tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, namun dapat menjadi rujukan bagi dunia usaha dalam menerapkan Good Corporate Governance. Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance Pelaksanaan Pedoman Umum Good Corporate Governance oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia baik perusahaan terbuka (Emiten/Perusahaan Publik) maupun perusahaan tertutup pada dasarnya bersifat comply and explain. Di mana perusahaan diharapkan menerapkan seluruh aspek Pedoman Good Corporate Governance ini. Apabila belum seluruh aspek pedoman ini dilaksanakan maka perusahaan harus mengungkapkan aspek yang belum dilaksanakan tersebut beserta alasannya dalam laporan tahunan. Namun demikian mengingat Pedoman ini hanya merupakan acuan sedangkan pelaksanaannya diharapkan diatur lebih lanjut oleh otoritas masing-masing industri maka penerapan ini bersifat voluntary dan tidak terdapat sanksi hukum apabila perusahaan tidak menerapkan pedoman ini.

Saat ini, Bapepam-LK sebagai otoritas pasar modal tidak mewajibkan Emiten dan Perusahaan Publik untuk menerapkan Pedoman ini, namun beberapa substansi yang terdapat dalam pedoman ini diadopsi oleh Bapepam-LK ke dalam peraturan-peraturan Bapepam-LK yang sifatnya mandatory seperti kewajiban pembentukan komite audit dan keberadaan komisaris independen dalam perusahaan. Dengan cara demikian, BapepamLK dapat memberikan sanksi atas ketidakpatuhan terhadap peraturan tersebut. Lebih lanjut, Bapepam-LK juga mewajibkan Emiten dan Perusahaan Publik untuk mengungkapkan pelaksanaan tata kelola perusahaan dalam laporan tahunan seperti frekuensi rapat dewan komisaris dan direksi, frekuensi kehadiran anggota dewan komisaris dan direksi dalam rapat tersebut, frekuensi rapat dan kehadiran komite audit, pelaksanaan tugas dan pertanggungjawaban dewan komisaris dan direksi serta remunerasi dewan komisaris dan direksi. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate Governance Mengingat Pedoman Umum Good Corporate Governance ini bersifat voluntary maka tidak terdapat sanksi dalam hal perusahaan tidak menerapkan pedoman tersebut. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia memuat prinsip dasar dan pedoman pokok pelaksanaan Good Corporate Governance yang merupakan standar minimal yang mencakup: a. Peran negara, dunia usaha dan masyarakat dalam menciptakan situasi kondusif untuk melaksanakan Good Corporate Governance b. Asas-asas Good Corporate Governance yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan kewajaran dan kesetaraan c. Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku d. Rapat Umum Pemegang Saham e. Komposisi, persyaratan, pengangkatan/pemberhentian, tugas dan fungsi, komite penunjang dan pertanggungjawaban Dewan Komisaris f. komposisi, persyaratan, pengangkatan/pemberhentian, pertanggungjawaban Direksi g. Hak dan tanggungjawab Pemegang saham h. Pemangku kepentingan yang meliputi karyawan, mitra bisnis dan masyarakat serta pengguna produk atau jasa perusahaan i. Pernyataan tentang penerapan Pedoman Good Corporate Governance j. Pedoman Praktis Penerapan Good Corporate Governance Komposisi dan persyaratan Komisaris Independen Berdasarkan Pedoman Good Corporate Governance, komposisi atau jumlah Komisaris Independen tidak ditentukan dalam jumlah tertentu namun demikian jumlah atau tugas dan fungsi, dan

komposisi komisaris independen harus dapat menjamin agar mekanisme pengawasan berjalan secara efektif dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Adapun kriteria yang ditetapkan yaitu salah satu dari Komisaris Independen harus mempunyai latar belakang akuntansi atau keuangan. Meskipun Pedoman Good Corporate Governance tidak menentukan jumlah Komisaris Independen, dalam Peraturan Bapepam-LK, Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki sekurang-kurangnya satu orang komisaris independen sedangkan Bursa Efek Indonesia mewajibkan sekurang-kurangnya 30% dari Dewan Komisaris adalah Komisaris Independen. Kriteria Komisaris Independen secara rinci diatur dalam peraturan Bapepam-LK yaitu : a. Berasal dari luar Emiten atau Perusahaan Publik b. Tidak mempunyai saham Emiten atau Perusahaan Publik baik langsung maupun tidak langsung c. Tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan Komisaris, Direksi dan Pemegang saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik d. Tidak mempunyai hubungan usaha dengan Emiten atau Perusahaan Publik baik langsung maupun tidak langsung Komposisi/jumlah Direksi Dalam Pedoman Good Corporate Governance tidak dinyatakan secara kuantitatif jumlah atau komposisi dari direksi, namun demikian jumlah anggota direksi harus disesuaikan dengan kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan efektifitas dalam pengambilan keputusan. Komite yang dibentuk Komisaris Dalam melaksanakan tugas pengawasannya, dewan komisaris dapat membentuk komite yang akan membantu tugas-tugas dewan komisaris. Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, sekurang-kurangnya harus membentuk Komite Audit, sedangkan komite lain dibentuk sesuai dengan kebutuhan. Berikut ini dijelaskan secara rinci mengenai tugas dari komite-komite penunjang Komisaris. a. Komite Audit Komite Audit bertugas membantu dewan komisaris untuk memastikan bahwa: (i) laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, (ii) struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik, (iii) pelaksanaan audit internal maupun eksternal dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku, dan (iv) tindak lanjut temuan hasil audit dilaksanakan oleh manajemen. Disamping itu,

Komite Audit juga bertugas memproses calon auditor eksternal termasuk imbalan jasanya untuk disampaikan kepada Dewan Komisaris. Pedoman Good Corporate Governance tidak mengatur banyaknya anggota Komite Audit dalam suatu perusahaan namun harus disesuaikan dengan kompleksitas Perusahaan dengan tetap memperhatikan efektifitas dalam pengambilan keputusan. Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku profesi dari luar perusahaan. Salah seorang anggota memiliki latar belakang dan kemampuan akuntasi dan atau keuangan. Pengaturan mengenai jumlah Komite Audit bagi Emiten dan Perusahaan Publik diatur dalam peraturan Bapepam-LK No.IX.I.5 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit. Dalam peraturan tersebut Emiten dan Perusahaan Publik diwajibkan membentuk Komite Audit yang berjumlah sekurang-kurangnya tiga orang dimana salah satunya merupakan Komisaris Independen Perusahaan dan bertindak sebagai ketua Komite Audit. Adapun persyaratan anggota Komite Audit sebagai berikut : 1) Memiliki integritas yang tinggi, kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang memadai sesuai latar belakang pendidikannya 2) Mempunyai kemampuan komunikasi yang baik 3) Memiliki kemampuan yang cukup untuk membaca dan memahami laporan keuangan 4) Memiliki pengetahuan yang memadai mengenai peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal 5) Salah satu anggota memiliki latar belakang pendidikan akuntansi atau keuangan 6) Bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik, Konsultan Hukum mapupun Pihak lain yang memberikan jasa audit, non audit maupun jasa konsultasi lain kepada Emiten atau Perusahaan Publik dalam waktu enam bulan terakhir sebelum diangkat 7) Tidak mempunyai hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua dengan Direksi, Komisaris dan Penegang saham Utama Emiten maupun Perusahaan Publik 8) Tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung mapun tidak langsung dengan kegiatan usaha Emiten maupun Perusahaan Publik 9) Tidak memiliki saham Emiten atau Perusahaan Publik baik langsung maupun tidak langsung 10) Bukan merupakan orang yang berwenang dan bertanggungjawab merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan Emiten maupun Perusahaan Publik dalam waktu enam bulan terakhir sebelum diangkat

Komite Nominasi dan Remunerasi Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris dalam menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta sistem remunerasinya; membantu Dewan Komisaris mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan mengusulkan besaran remunerasinya. Dewan Komisaris dapat mengajukan calon tersebut dan remunerasinya untuk memperoleh keputusan RUPS dengan cara yang sesuai ketentuan Anggaran Dasar. Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, Komite Nominasi dan Remunerasi diketuai oleh Komisaris Independen dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku profesi dari luar perusahaan. Selanjutnya, keberadaan Komite Nominasi dan Remunerasi serta tata kerjanya dilaporkan dalam RUPS. Komite Kebijakan Risiko Komite Kebijakan Risiko bertugas membantu Dewan Komisaris dalam mengkaji sistem manajemen risiko yang disusun oleh Direksi serta menilai toleransi risiko yang dapat diambil oleh perusahaan. Anggota Komite Kebijakan Risiko terdiri dari anggota Dewan Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar perusahaan. Komite Kebijakan Corporate Governance Komite Kebijakan Corporate Governance bertugas membantu Dewan Komisaris dalam mengkaji kebijakan GCG secara menyeluruh yang disusun oleh Direksi serta menilai konsistensi penerapannya, termasuk yang bertalian dengan etika bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility). Anggota Komite Kebijakan Corporate Governance terdiri dari anggota Dewan Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar perusahaan. Bila dipandang perlu, Komite Kebijakan Corporate Governance dapat digabung dengan Komite Nominasi dan Remunerasi. Fungsi Internal Audit Sebagaimana dijelaskan di atas, Pedoman Good Corporate Governance mensyaratkan perlunya pengendalian internal dalam rangka menjaga kekayaan dan kinerja perusahaan serta memenuhi peraturan perundang-undangan. Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, harus memiliki satuan kerja pengawasan internal. Satuan kerja atau fungsi pengawasan internal bertugas membantu Direksi dalam memastikan pencapaian tujuan dan kelangsungan usaha dengan: a. melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program perusahaan

b. memberikan saran dalam upaya memperbaiki efektifitas proses pengendalian risiko c. melakukan evaluasi kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perusahaan, pelaksanaan GCG dan perundangundangan d. memfasilitasi kelancaran pelaksanaan audit oleh auditor eksternal Satuan kerja atau pemegang fungsi pengawasan internal bertanggung jawab kepada Direktur Utama atau Direktur yang membawahi tugas pengawasan internal. Satuan kerja pengawasan internal mempunyai hubungan fungsional dengan Dewan Komisaris melalui Komite Audit. Sejalan dengan Pedoman tersebut, Bapepam-LK mengatur secara khusus mengenai keberadaan unit internal audit bagi Emiten dan Perusahaan Publik. Dalam peraturan No.IX.I.7 tentang Pembentukan dan Pedoman Penyusunan Piagam Unit Audit Internal dinyatakan bahwa Emiten dan Perusahaan Publik wajib membentuk Unit Audit Internal yang menjalankan fungsi Audit Internal, yaitu memberikan keyakinan (assurance) dan konsultasi yang bersifat independen dan obyektif, dengan tujuan untuk meningkatkan nilai dan memperbaiki operasional perusahaan, melalui pendekatan yang sistematis, dengan cara mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko, pengendalian, dan proses tata kelola perusahaan. Jumlah auditor dalam unit tersebut disesuaikan dengan besaran dan kompleksitas kegitan usaha perusahaan dimana sekurang-kurangnya berjumlah satu orang Adapun persyaratan bagi auditor internal yang duduk dalam Unit Audit Internal sekurang-kurangnya adalah : a. memiliki integritas dan perilaku yang profesional, independen, jujur, dan obyektif dalam pelaksanaan tugasnya; b. memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai teknis audit dan disiplin ilmu lain yang relevan dengan bidang tugasnya; c. memiliki pengetahuan tentang peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan peraturan perundang-undangan terkait lainnya; d. memiliki kecakapan untuk berinteraksi dan berkomunikasi baik lisan maupun tertulis secara efektif; e. wajib mematuhi standar profesi yang dikeluarkan oleh asosiasi Audit Internal; f. wajib mematuhi kode etik Audit Internal; g. wajib menjaga kerahasiaan informasi dan/atau data perusahaan terkait dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Audit Internal kecuali diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan atau penetapan/putusan pengadilan; h. memahami prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan manajemen risiko; dan i. bersedia meningkatkan pengetahuan, keahlian dan kemampuan profesionalismenya secara terus-menerus. Kedudukan Unit Internal Audit ini cukup kuat mengingat pengangkatan dan pemberhentian Kepala Unit Audit Internal dilakukan oleh direktur utama dengan persetujuan dewan komisaris. Disamping itu, meskipun Kepala Unit Audit Internal bertanggung jawab kepada direktur utama namun laporan hasil audit wajib disampaikan juga kepada dewan komisaris.

Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku Untuk mencapai keberhasilan dalam jangka panjang, pelaksanaan prinsip-prinsip Good Corporate Governance perlu dilandasi oleh integritas yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pedoman perilaku yang dapat menjadi acuan bagi organ perusahaan dan semua karyawan dalam menerapkan nilai-nilai (values) dan etika bisnis sehingga menjadi bagian dari budaya perusahaan. Prinsip-prinsip dasar yang harus dimiliki oleh perusahaan adalah: a. memiliki nilai-nilai perusahaan yang menggambarkan sikap moral perusahaan dalam pelaksanaan usahanya b. Untuk dapat merealisasikan sikap moral dalam pelaksanaan usahanya, perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yang disepakati oleh organ perusahaan dan semua karyawan. Pelaksanaan etika bisnis yang berkesinambungan akan membentuk budaya perusahaan yang merupakan manifestasi dari nilai-nilai perusahaan. c. Nilai-nilai dan rumusan etika bisnis perusahaan perlu dituangkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku agar dapat dipahami dan diterapkan. Remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi Pedoman Umum Good Corporate Governance tidak mengatur keterbukaan informasi mengenai remunerasi bagi dewan komisaris dan direksi. Namun bagi Emiten dan Perusahaan Publik, Bapepam-LK mewajibkan pengungkapan dalam laporan tahunan mengenai prosedur penetapan dan besarnya remunerasi anggota dewan komisaris dan direksi. Kewajiban ini diatur dalam peraturan Bapepam-LK No.X.K.6 tahun 2006 tentang Kewajiban Penyampaian laporan tahunan bagi Emiten dan Perusahaan Publik. 4) Prinsip-prinsip GCG 1. Keterbukaan (Transparency) Dalam melaksanakan kegiatan usahanya bank harus menganut prinsip keterbukaan. 2. Akuntabilitas (Accountability) Bank memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang konsisten dengan corporate values. 3. Tanggung Jawab (Responsibility) Berpegang pada prudential banking practices dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang berlaku sebagai wujud tanggung jawab bank. 4. Independensi (Independency) Dalam pengambilan keputusan harus objektif dan bebas dari tekanan pihak manapun. 5. Kewajaran (Fairness)

Senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran. (Pedoman Good Corporate Governance Perbankan Indonesia KNKCG, 2004) 5) Sistem perekonomian & perdagangan Indonesia menganut sistem ekonomi Pancasila. Ini berarti bahwa sistem perekonomian di Indonesia harus mengacu serta berdasarkan pada kelima sila dalam Pancasila. Sehingga secara normatif landasaan idiil sistem perekonomian di Indonesia adalah Pancasila dan UUD 1945. Dimana aplikasi pelaksanaan sistem ekonomi di Indonesia tidak boleh menyimpang dari sila-sila pada Pancasila serta pasal-pasal yang terkandung dalam UUD 1945. Mulai dari sila pertama, sistem perekonomian kita haruslah sesuai dengan nilai - nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan materialisme. Tidak mengenal pemerasan maupun exploitasi sehingga dalam menjalankan perekonomian Indonesia juga harus berlaku adil agar sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan sila ke-2. Berlakunya kebersamaan, asas kekeluargaan, sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi ekonomi yang semata mata dijalankan untuk membentuk persatuan bangsa yang semakin kuat, ini sesuai dengan sila ke-3. Mengutamakan kepentingan ekonomi rakyat dan hajat hidup orang banyak. Tidak mengedepankan kepentingan golongan tertentu. Hal ini sesuai dengan sila ke-4 dalam Pancasila. Yang terakhir, mengutamakan persamaan, kemakmuran rakyat, dan bukan bertujuan untuk kemakmuran perorangan sehingga sesuai dengan sila ke-5. Jadi, sistem perekonomian di Indonesia harus berorientasi pada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan, serta Keadilan Sosial. Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan sistem perekonomian di Indonesia adalah KEADILAN yang merupakan titik tolak, proses, serta sekaligus sebagai tujuan dari pelaksanaan ekonomi di Indonesia. Sedangkan dalam UUD 1945, pasal yang memuat tentang sistem perekonomian Indonesia adalah pasal 33 beserta ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Pada ayat 1 dalam pasal 33 tersebut menyebutkan bahwa "perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Pada ayat 3 menyebutkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan pada ayat 4 dijelaskan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan atas dasar demokrasi ekonomi, dengan prinsipprinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Jadi jelas sudah, apa yang menjadi landasan sistem perekonomian di Indonesia. Secara teori, sistem perekonomian Indonesia sudah sangat sempurna. Namun pada kenyataannya terjadi banyak penyimpangan sehingga melenceng jauh dari teori. Hal ini sangat disesalkan karena mengingat Indonesia sebenarnya negara yang sangat kaya kana hasil alam yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Sistem perdagangan yang ada di Indonesia sudah mulai memasuki atau menggunakan sistem perdagangan bebas (free trade). Sedangkan kondisi perdagangan Indonesia secara umum dan secara khususnya BUMN belum siap untuk mengikuti sistem perdagangan bebas yang berlaku Internasional atau dapat dikatakan bahwa sistem BUMN dengan sistem hukum perdagangan internasional di Indonesia belum sinkron, 6) Sistem regulasi pasar modal Paket Kebijaksanaan Desember 1987 atau yang lebih dikenal dengan Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi saham dan obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelumnya dipungut oleh Bapepam, seperti biaya pendaftaran emisi efek. Kebijakan ini juga menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan bursa paralel. Sebagai pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk memasuki bursa efek. Kemudian Paket Kebijaksanaan Oktober 1988 atau disingkat Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankkan, namun mempunyai dampak terhadap perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang ketentuan 3 L (Legal, Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga deposito. Pengenaan pajak ini berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Sebab dengan keluarnya kebijaksanaan ini berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama antara sektor perbankan dan sektor pasar modal. Yang ketiga adalah Paket Kebijaksanaan Desember 1988 atau Pakdes 88 yang pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada pasar modal dengan membuka peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa.Hal ini memudahkan investor yang berada di luar Jakarta. Di samping ketiga paket kebijakan ini terdapat pula peraturan mengenai dibukanya izin bagi investor asing untuk membeli saham di bursa Indonesia yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 1055/KMK.013/1989. Investor asing diberikan kesempatan untuk memiliki saham sampai batas maksimum 49% di pasar perdana, maupun 49 % saham yang tercatat di bursa efek dan bursa paralel. Setelah itu disusul dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan No. 1548/KMK.013/1990 yang diubah lagi dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 1199/KMK.010/1991. Dalam keputusan ini dijelaskna bahwa tugas Bapepam yang semula juga bertindak sebagai penyelenggara bursa, maka hanya menjadi badan regulator. Selain itu pemerintah juga membentuk lembaga baru seperti Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), reksadana, serta manajer Investasi. Keadaan setelah kebijakan deregulasi itu dikeluarkan benar-benar berbeda. Pasar modal menjadi sesuatu yang menggemparkan, karena investasi di bursa efek berkembang sangat pesat. Banyak perusahaan antri untuk dapat masuk bursa. Para investor domestik juga ramai-ramai ikut bermain di bursa saham. Selama tahun 1989 tercatat 37 perusahaan go public dan sahamnya tercatat (listed) di Bursa Efek Jakarta. Sedemikian banyaknya

perusahaan yang mencari dana melalui pasar modal, sehingga masyarakat luas pun berbondong-bondong untuk menjadi investor. Perkembangan ini berlanjut dengan swastanisasi bursa, yakni berdirinya PT. Bursa Efek Surabaya, serta pada tanggal 13 Juli 1992 berdiri PT. Bursa Efek Jakarta yang menggantikan peran Bapepam sebagai pelaksana bursa. Akibat dari perubahan yang menggembirakan ini adalah semakin tumbuhnya rasa kepercayaan investor terhadap keberadaan pasar modal Indonesia. Hal ini ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan mengeluarkan peraturan berupa Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 yang berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 1996. Undang-undang ini dilengkapi dengan peraturan organiknya, yakni Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal, serta Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal. Tahun 1995, mulai diberlakukan sistem JATS (Jakarta Automatic Trading System) Suatu system perdagangan di lantai bursa yang secara otomatis me-match kan antara harga jual dan beli saham. Sebelum diberlakukannya JATS, transaksi dilakukan secara manual. Misalnya dengan menggunakan “papan tulis” sebagai papan untuk memasukkan harga jual dan beli saham. Perdagangan saham berubah menjadi scripless trading, yaitu perdagangan saham tanpa warkat (bukti fisik kepemilikkan saham)Lalu dengan seiring kemajuan teknologi, bursa kini menggunakan sistem Remote Trading, yaitu sistem perdagangan jarak jauh. Pada tanggal 22 Juli 1995, BES merger dengan Indonesian Parallel Stock Exchange (IPSX), sehingga sejak itu Indonesia hanya memiliki dua bursa efek: BES dan BEJ. Pada tanggal 19 September 1996, BES mengeluarkan sistem Surabaya Market information and Automated Remote Trading (S-MART) yang menjadi Sebuah sistem perdagangan yang komprehensif, terintegrasi dan luas remote yang menyediakan informasi real time dari transaksi yang dilakukan melalui BES. Pada tahun 1997, krisis ekonomi melanda negara-negara Asia, khususnya Thailand, Filipina, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Cina, termasuk Indonesia. Akibatnya, terjadi penurunan nilai mata uang asing terhadap nilai dolar. Bursa Efek Jakarta melakukan merger dengan Bursa Efek Surabaya pada akhir 2007dan pada awal 2008 berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia. Dari regulasi yang dikeluarkan periode ini mempunyai ciri khas yakni, diberikannya kewenangan yang cukup besar dan luas kepada Bapepam selaku badan pengawas. Amanat yang diberikan dalam UU Pasar Modal secara tegas menyebutkan bahwa Bapepam dapat melakukan penyelidikan, pemeriksaan, dan penyidikan jika terjadi kejahatan di pasar modal.

7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Pertamina tetap tidak akan membayar tuntutan Karaha Bodas Company (KBC) dan Pertamina akan tetap berjuang untuk menyelamatkan dana milik pemerintah dan rakyat Indonesia. Menurut rencana, Pemerintah Indonesia akan melakukan banding atas keputusan Supreme Court Amerika yang telah memenangkan tuntutan KBC. Hal ini dilakukan supaya uang milik pemerintah Republik Indonesia yang mencapai 270 juta dolar AS tidak disita. Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama Widya Purnama kepada pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (26/10). ?Dana tersebut murni milik pemerintah Indonesia, bukan milik Pertamina. Pertamina hanya memiliki retensi saja,? tegasnya. Lebih lanjut Dirut menegaskan bahwa Pertamina diberikan waktu satu bulan (sampai 22 November, red) untuk hal ini. Oleh karena itu, Dirut berharap agar pemerintah segera mengirimkan surat ke Amerika untuk mengajukan banding atas keputusan pengadilan tersebut dan menyatakan bahwa uang tersebut adalah milik pemerintah Indonesia. Dirut Widya Purnama menegaskan bahwa keputusan Pertamina menolak untuk membayar tuntutan KBC tidak berubah. ?Apabila ada paksaan untuk membayar maka saya akan mundur dari jabatan Direktur Utama,? tegasnya. Dirut memastikan bahwa hal ini didasari dengan adanya indikasi negatif seperti mark up di dalam proyek tersebut. Bahkan Pengadilan Indonesia pun sudah memenangkan Pertamina dalam perkara ini. INDIKASI KORUPSI Pihak POLRI hingga saat ini masih menyatakan adanya indikasi tindak pidana korupsi (tipikor, red) yang melekat pada proyek pembangkit tenaga listirk Karaha Bodas yang oleh Karaha Bodas Company LLC (KBC). Pertamina berharap aparat kepolisian dapat mengungkap dan membuktikan tindak pidana korupsi dalam kasus ini yang dapat dijadikan sebagai bukti baru di Amerika maupun di negara lain. Investigasi tersebut merupakan bentuk law enforcement dari otoritas suatu negara yang berdaulat atas adanya indikasi fraud dan korupsi dari suatu proyek. Upaya ini sekaligus sebagai upaya penegakan Good Corporate Governance di Indonesia dan Pertamina. MARK UP Sejumlah lembaga independen telah melaporkan hasil auditnya atas proyek Karaha Bodas ini. Berdasarkan penilaian independence appraisal dari Italia menegaskan bahwa nilai proyek tersebut tidak lebih dari 50 juta dolar AS. Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menegaskan bahwa pihak KBC telah melakukan ketidakjujuran di depan Arbitrase Internasional mengenai investasinya di Indonesia. KBC melaporkan angka investasi yang jauh lebih besar daripada laporannya kepada Pertamina yang tertuang pada Work Planning & Budget (WP&B) serta laporan biaya dalam SPT Pph yang disampaikannya kepada Ditjen Pajak periode 1995-1998. Selain itu, BPKP juga menemukan kecurangan KBC yakni penggelembungan WP&B sebesar 19,16 juta dolar AS, kekurangan bayar pajak Pph pasal 21 yang mencapai Rp 5,97 miliar dan kekurangan pembayaran yang terdapat dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang

Bayar PPN No. 0060. 287.99.053.00 tanggal 24 Januari 2000 yang mencapai Rp 12,24 miliar. Di samping itu, kecurangan KBC lainnya adalah dengan mengingkari bahwa pihaknya telah menerima uang asuransi proyek tersebut sebesar 75 juta dolar AS 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG Lembaga penegakan GCG di Indonesia yaitu KNKG 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG Implementasi GCG dan Efektivitas Mekanisme Pasar Memasuki era reformasi, Indonesia mendapatkan dirinya memiliki peluang besar untuk meningkatkan kapasitas ekonominya. Saat ini, kita juga menjadikan pasar bebas (free market) sebagai salah satu karakteristik perekonomian kita. Prinsip dasar dari pasar bebas yang paling kentara adalah adanya kompetisi. Pasar bebas yang mempromosikan kompetisi tentu akan meningkatkan risiko atas arus modal yang pada akhirnya memaksa pelaku bisnis untuk menerapkan prinsip tata kelola perusahaan. Tanpa penerapan tata kelola perusahaan yang baik, sulit bagi perusahaan untuk bertahan dalam kompetisi persaingan bebas. Hal ini tidak seperti di era Orde Baru dimana perusahaan yang dekat dengan kekuasaan bisa mendapatkan banyak proyek dengan menyuap pejabat rusak. Dalam mekanisme pasar, perusahaan tidak bisa mengandalkan dukungan pemerintah atau elite penguasa untuk dapat bertahan. Kinerja atau performa yang baik adalah satu-satunya indikator yang dapat diandalkan di dalam mekanisme pasar. Peningkatan kinerja atau performa hanya dapat dicapai dengan implementasi good corporate governance. Perusahaan adalah pemain penting dalam pembangunan ekonomi berbasis pasar. Mereka memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB dan lapangan kerja. Bagaimana mereka menata-kelola perusahaan memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja perusahaan mereka dan lebih lanjut pertumbuhan ekonomi makro yang berkelanjutan. Tata kelola perusahaan berarti bahwa perusahaan dijalankan untuk kepentingan terbaik para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Tatkala prinsip-prinsip dasar tata kelola perusahaan seperti transparansi, akuntabilitas, dan sistem kontrol tidak berkerja, akan berdampak kepada melemahnya kepercayaan investor yang tentunya akan berdampak kepada iklim investasi yang pada akhirnya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Krisis 2008 mengajarkan kita bahwa lemahnya tata kelola perusahaan akan memperparah terjadinya krisis ekonomi. Hubungan antara mekanisme pasar dan good corporate governance dapat terlihat di dalam pasar modal. Pasar modal dan peraturan yang dimilikinya memainkan peranan penting dalam mendorong dan advokasi praktek tata kelola perusahaan yang sehat. Pengalaman di beberapa negara termasuk di Indonesia telah membuktikan bahwa pasar modal berfungsi dengan baik sebagai faktor eksternal dalam mendorong terciptanya good corporate governance di setiap perusahaan yang tercatat di bursa saham.

Pasar modal menyediakan mekanisme monitoring eksternal terhadap tata kelola perusahaan dimana setiap performen yang jelek dari manajemen akan direspon negatif oleh pasar dan begitu pula sebaliknya. Praktek ini pada akhirnya menjadi mekanisme kontrol yang efektif terhadap perusahaan. Tak heran jika mekanisme pasar yang lemah dalam berbisnis hanya akan memperlemah serta membatasi efektivitas tata kelola perusahaan. Dari perjalanan penerapan good corporate governance dan kaitannya dengan efektivitas pasar, setidaknya terdapat tiga pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Pelajaran penting pertama adalah regulasi membutuhkan pelaksanaan yang efektif. Regulasi sangat penting untuk menciptakan standar baku untuk penerapan good governance. Sekarang, KNKG (Komite Nasional Kebijakan Governance) telah mengeluarkan pedoman umum atau code of ethics bagi pelaksanaan good corporate governance di Indonesia. Artinya, dari segi peraturan, Indonesia telah memiliki seperangkat aturan yang sudah jelas. Namun, sejauh mana implementasi dari aturan-aturan ini. Inilah yang menjadi permasalahan dalam penerapan good corporate governance. Regulasi good corporate governance tidak akan efektif bila tidak diikuti dengan penerapan regulasi yang ada. Tantangan kita kedepan adalah sejauh mana para pelaku bisnis dapat konsisten untuk patuh terhadap aturan yang ada dan sejauh mana kita berani memberikan penalti kepada perusahaan yang nakal. Selain itu juga harus ada mekanisme pemberian reward bagi perusahaan yang tingkat kepatuhannya tinggi. Pelajaran penting kedua adalah political will untuk menerapkan aturan good corporate governance. Sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa pengamat, terdapat ancaman bagi good corporate governance berupa perselingkuhan pengusaha dan penguasa. Ada kemungkinan terjadinya conflict of interest tatkala pengusaha juga turut andil di dunia politik sebagaimana yang kita alami baru-baru ini. Intervensi politik dalam setiap pengambilan kebijakan yang terkait perekonomian dapat mengancam praktek good governance yang sedang diupayakan terus-menerus. Pelajaran penting ketiga kedua adalah resesi ekonomi. Sebagaimana krisis ekonomi 2008, resesi ekonomi terkang dilihat sebagai permaslahan serius yang menciptakan penderitaan bagi masyarakat banyak. Namun resesi maupun krisis juga dapat dilihat sebagai awal untuk membangkitkan perekonomian. Krisis ekonomi juga penting untuk mendapatkan nilai aset asli dari sebuah portofolio. Inilah mengapa banyak para analis melihat ere krisis maupun resesi sebagai bagian dari business cycle dimana dari resesi ini, peluang untuk menciptakan good corporate governance dapat ditingkatkan. Tantangan kita adalah bagaimana menyikapi pasar yang kondusif. Dalam pasar yang kondusif, mekanisme pasar akan berjalan dengan baik dan akan ada tekanan-tekanan pasar terhadap korporasi untuk meningkatkan corporate governance mereka. Berbagai macam tekanan akan dihadapi oleh korporasi. Korporasi di bidang perbankan akan menghadapi tekanan dari deposan maupun kreditor. Dengan tidak adanya penjaminan meyeluruh

pemerintah terhadap dana pihak ketiga di perbankan, deposan lebih berhati-hati dalam memilih tempat untuk menyimpan uang mereka. Disini, pelaku perbankan dipaksa untuk memberikan transparansi yang lebih mengenai tingkat kesehatan bank atau peringkat kredit bank. Perusahaan juga akan mendapatkan tekanan yang berasal kreditur atau pemegang obligasi. Tekanan lainnya tentu dari para pemegang saham dimana mereka akan memonitor gerak-gerik perusahaan dan memberikan penilaian bahkan hukuman terhadap tata kelola sebuah perusahaan yang buruk.

SINGAPURA
1) Sistem pemerintahan Singapura

Tanggal 5 Agustus 1955, Singapura menjadi sebuah negara yang merdeka. Sebelumnya Singapura bergabung dengan Malaysia menjadi sebuah negara federal (negara bagian Malaysia tahun 1953-1955). Karena konflik politik, akhirnya Singapura keluar dari federasi Malaysia. Hal ini terjadi pada tahun 1955. Ketika itu orang-orang Melayu mempunyai program Malay for Malayu, membuat Singapura yang 75% penduduknya etnis Tionghua tersinggung dan ingin membentuk negara sendiri. Sistem pemerintahan Singapura adalah sistem demokrasi parlementer dengan model westminder. Presiden adalah kepala negara. Sedangkan kepala pemerintahan adalah perdana menteri (prime minister). Parlemen dibagi menjadi dua kamar: Kongres atau Majelis Tinggi dan Majelis Rendah (House of Low) yang semula mempunyai 81 anggota. Pemilihan anggota parlemen dilaksanakan 4 tahun sekali. Anggota parlemen memilih PM. Sedangkan PM sebagai kepala pemerintahan membentuk kabinet berdasarkan rangking dan mendapat persetujuan dari pemerintah. Sampai tahun 1991, secara seremonial pemilihan presiden dilakukan setelah pengisian anggota parlemen. Di dalam konstitusi Singapura, diamanatkan untuk melakukan pemilihan langsung terhadap posisi presiden. Jadi kekuasaan seorang presiden semakin kuat (The Encyclopedia Britannica. Log, Cit, hal. 769-788). Dalam suatu tatanan kehidupan masyarakat bangsa yang demokratis, peran rakyat di arena politik nasional, melalui pembentukan sebuah pemerintahan, ditempuh melalui general election. Dalam pemilu tersebut, rakyat memilih wakil-wakilnya untuk memerintah. Negara yang mempunyai jumlah penduduk statis (4 juta jiwa) itu terdiri dari 75% etnis China, 15% Melayu, 5 % India. Panggung politik Singapura tetap didominasi oleh People Action Party/Partai Aksi Rakyat (PAP), partai yang didirikan oleh mantan PM Lee Kuan Yew. PAP merupakan the ruling party. Kubu oposisi baru bisa memperoleh kursi di parlemen pada pemilu 1981. Ketika itu Partai Pekerja mampu memasukkan kadernya lewat pemilu susulan. Dalam setiap pemilu, negara ini menggunakan sistem distrik dalam setiap pesta demokrasi. Pemikiran politik Lee Kuan Yew mampu menciptakan strong governance, yakni bagaimana membuat sistem politik memberikan ruang terhadap reformasi politik -memperkuat lembaga presiden, dan memberi jaminan kursi kepada oposisi. Dengan strategi ini, pada satu pihak diharapkan dapat menjamin kestabilan sistem, dan pada sisi lain diharapkan mampu membatasi pengaruh oposisi. Akan tetapi tindakan ini bukan bermakna melakukan liberalisasi politik.

Jadi, kubu oposisi tidak berkembang, memang sudah dirancang oleh arsitek politik Singapura. Ada dua alasan mengapa kubu oposisi tidak mampu mempunyai pengaruh yang signifikan dalam kehidupan politik. Pertama, pihak oposisi tidak mempunyai tokoh yang handal dan setara dengan Lee Kuan Yew, Gooh Tjoh Tong, BG Lee. Kedua, kubu oposisi tidak mudah memberikan wacana alternatif, sebab ruang lingkupnya sudah dibatasi. Jadi, dalam situasi politik seperti sekarang ini, PAP membuat suatu tim yang solid. Sehingga setiap suksesi kepimpinan nasional di Singapura tidak terjadi gejolak politik yang berarti. 2) Sistem hukum Singapura memiliki sistem hukum biasa dengan undng-undang dasar tertulis yang dianggap sebagai hukum tertinggi Republik (Pasal 4). Terdapat juga perjanjian hak asasi manusia, yang berisi hak-hak dasar seperti hak seseorang untuk memiliki pengacara, dan mengetahui alasan penahanan, perlindungan atas bahaya dan hukum pidana retrospektif, persamaan dalam perlindungan, dan hak warga negara untuk berpendapat, berkumpul dan berserikat. Kebanyakan hak dibatasi dan dapat dikurangi dengan alasan-alasan tertentu. Namun terdapat dua hak absolut yaitu: kebebasan dari perbudakan dan kebebasan warga negara dari pembuangan. 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Model Anglo-Saxon di mana Direktur Eksekutif & Non-Eksekutif berada di satu badan secara bersama. Chairman bekerja bersama, dan dibantu oleh Dewan Komite untuk audit, remunerasi, dan nominasi 4) Prinsip-prinsip GCG Prinsip-prinsip ruang lingkung Tata Kelola perusahaan a. Board Matters b. Remuneration Matters c. Accountability and Audit d. Communication with Shareholders e. Disclosure of Corporate Governance Arrangements 5) Sistem perekonomian & perdagangan Singapura menganut sistem Ekonomi pasar yang maju Singapura sangat bergantung pada Ekspor dan pengolahan barang Import khususnya di bidang Manufaktur (sektor Elektronik, pengolahan minyak Bumi, bahan kimia, teknik mekanik dan ilmu Biomedis) Singapura sangat menggantungkan perekonomiannya pada perdagangan luar negeri. Oleh karena itu pula Singapura sangat berkepentingan terhadap sistem perdagangan internasional yang terbuka dan bebas di bawah naungan WTO. Guna mengamankan kepentingannya, Singapura tidak hanya mengandalkan pada proses negosiasi multilateral, sejak 1999 Singapura telah mulai menjajagi bentuk-bentuk pengaturan perdagangan bilateral. Belakangan dengan tersendatnya proses negosiasi di WTO, Singapura semakin gencar menempuh langkah-langkah bilateral dan regional yang diyakini dapat mengakselerasi proses liberalisasi perdagangan dan memperkuat sistem perdagangan multilateral.

6) Sistem regulasi pasar modal Singapore Exchange Limited (SGX, SGX: S68 ) adalah perusahaan investasi induk berlokasi di Singapura dan menyediakan layanan yang berbeda terkait dengan sekuritas dan perdagangan derivatif dan lain-lain. SGX adalah anggota dari Federasi Bursa Dunia dan Asia dan Oseania Bursa Federasi. Singapore Exchange perdagangan 9:00-5:00, dengan am 12:30 02:00 untuk istirahat di antara. Dari Agustus 2011, Singapura Penukaran diperkenalkan terus menerus sepanjang hari perdagangan untuk pasar sekuritas. SGX mengoperasikan beberapa divisi yang berbeda, masing-masing bertanggung jawab untuk menangani bisnis tertentu. a) ETS SGX (Sistem Perdagangan Elektronik): menyediakan akses perdagangan global ke pasar SGX mana 80 persen pelanggan dari Singapura luar. b) SGX DT (Derivatif Trading): menyediakan perdagangan derivatif. c) SGX ST (Perdagangan Efek): menyediakan perdagangan efek. d) SGX DC (Kliring Berjangka): pembantu untuk kliring dan penyelesaian operasi. e) SGX AsiaClear: menawarkan jasa kliring untuk over-the-counter (OTC) swap minyak dan maju perjanjian angkutan. f) SGX Jangkauan:. Sebuah platform perdagangan elektronik g) Kustodian Sentral Pte Ltd: anak bertanggung jawab untuk efek kliring penyelesaian dan penyimpanan jasa. 7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan untuk tidak menerapkannya. 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG Bursa efek Singapore 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG a. Komite Audit Dewan harus membentuk Komite Audit dan menyusun kerangka acuan tertulis yang menjelaskan wewenang dan tugas komite. Komite audit sekurang-kurangnya beranggotakan tiga komisaris dimana mayoritas merupakan komisaris independen. Komite audit diketuai oleh komisaris independen. Dewan harus memastikan bahwa anggota komite audit telah memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka. Persyaratan tersebut antara lain sekurang-kurangnya dua anggota komite audit harus memiliki keahlian dibidang akuntansi atau keuangan atau pengalaman yang terkait. Adapun wewenang komite audit antara lain harus memiliki otoritas yang dinyatakan secara eksplisit untuk menyelidiki setiap permasalahan perusahaan, mempunyai akses penuh dan bekerjasama dengan manajemen serta mempunyai wewenang penuh untuk mengundang setiap anggota dewan komisaris atau direksi untuk menghadiri rapat. Komite audit juga harus mempunyai sumber daya yang memadai untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik.

Adapun tugas dan tanggungjawab komite audit mencakup: 1) menelaah ruang lingkup, hasil audit, efektivitas biaya, independensi dan obyektivitas auditor eksternal. Apabila auditor eksternal juga memberikan kontribusi yang besar dalam jasa non-audit kepada perusahaan, komite audit harus menjaga objektivitas dan menyeimbangkan jasa yang diberikan tersebut; 2) menelaah masalah-masalah signifikat terkait dengan laporan keuangan dan penilaian yang dilakukan dewan sehingga dapat menjamin integritas laporan keuangan perusahaan dan setiap informasi yang diungkapkan perusahaan terkait dengan kinerja keuangan perusahaan; 3) menelaah kecukupan pengendalian internal perusahaan 4) mengkaji efektivitas fungsi audit internal perusahaan, dan 5) membuat rekomendasi kepada Dewan tentang pengangkatan, pengangkatan kembali dan pemecatan auditor eksternal, dan menyetujui remunerasi dan persyaratan keterlibatan auditor eksternal. 6) bertemu dengan auditor eksternal, dan dengan internal auditor, tanpa kehadiran Manajemen perusahaan, setidaknya setiap tahun. 7) mengkaji independensi auditor eksternal setiap tahun. 8) Menelaah perjanjian-perjanjian yang memungkinkan munculnya permasalahanpermasalahan terkait dengan laporan keuangan atau lainnya dan memastikan dpat dilakukan pemeriksaan secara independen atas hal tersebut. Dewan harus mengungkapkan nama-nama anggota komite audit dan rincian kegiatan Komite dalam laporan tahunan perusahaan. b. Komite Nominasi 1) Perusahaan harus membentuk Komite Nominasi untuk membuat rekomendasi kepada Dewan terhadap semua penunjukkan anggota dewan. Komite Nominasi harus terdiri dari setidaknya tiga direktur non-eksekutif dimana mayoritas dari anggota komite nominasi termasuk Ketua komite harus independen. Selain itu, Ketua komite nominasi bukan merupakan atau tidak terkait langsung dengan pemegang saham substansial (5% atau lebih dalam kepemilikan hak suara perusahaan). Keberadaan komite nominasi ini harus diungkapkan dalam laporan tahunan. Komite Nominasi harus memiliki pedoman secara tertulis yang memuat tanggung jawab anggotanya. 2) Komite Nominasi harus mempunyai tanggung jawab untuk re-nominasi dengan memperhatikan kontribusi anggota dewan dan kinerja (misalnya kehadiran,kesiapan dan partisipasi) termasuk, jika ada, sebagai komisaris independen. Semua anggota dewan diminta mendaftarkan kembali pencalonan dan pemilihan sebagai anggota dewan secara berkala, setidaknya setiap tiga tahun.

3) Komite Nominasi harus mempunyai tanggung jawab untuk memastikan pemenuhan kriteria komisaris independen setiap tahunnya. Apabila Komite Nominasi menemukan bahwa seorang komisaris independen memenuhi satu atau beberapa kriteria tidak independen sebagaimana telah ditetapkan namun tetap dianggap independen, perusahaan harus melakukan pengungkapan yang cukup mengenai hal tersebut. Namun demikian, Komite Nominasi harus memiliki kewenangan untuk menentukan bahwa seorang komisaris tidak independen. 4) Apabila seorang komisaris memiliki rangkapan jabatan sebagai komisaris di beberapa tempat, harus dipastikan bahwa yang bersangkutan memberikan waktu dan perhatian yang cukup terhadap masing-masing perusahaan. Komite nominasi harus memutuskan apakan direktur tersebut mampu dan telah memadai dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai direktur perusahaan. Pedoman internal harus mengadopsi komitmen tentang direksi yang memiliki beberapa peran sebagai direktur dibeberapa dewan perusahaan lainnya. 5) Proses pemilihan dan pengangkatan komisaris baru oleh dewan harus diungkapkan secara jelas, termasuk pengungkapan tentang proses pencarian dan nominasinya. 6) Informasi penting mengenai anggota dewan komisaris dan direksi, seperti kualifikasi pendidikan, pengalaman, kepemilikan saham di perusahaan dan anak perusahaan, keterlibatan dalam komite (baik sebagai anggota atau Ketua), tanggal pengangkatan pertama sebagai komisaris atau direktur, tanggal terakhir terpilihnya kembali sebagai komisaris atau direktur, jabatan komisaris atau direktur baik sekarang maupun tiga tahun sebelumnya di perusahaan lain, harus diungkapkan dalam laporan tahunan. Nama-nama anggota dewan komisaris dan direksi yang calonkan dalam pengangkatan atau pemilihan kembali harus disertai dengan informasi tersebut di atas. Hal ini untuk memberikan informasi yang cukup bagi pemegang saham dalam membuat keputusan. c. Komite Remunerasi Dewan harus membentuk Komite Remunerasi yang sepenuhnya terdiri dari direktur non-eksekutif(komisaris) yang mayoritas anggotanya termasuk Ketuanya harus independen. Hal ini untuk meminimalkan potensi terjadinya benturan kepentingan. Adapun tugas dan tanggung jawab komite remunerasi adalah : 1) Komite Remunerasi akan merekomendasikan kepada Dewan kebijakan remunerasi dan paket remunerasi untuk setiap anggota dewan komisaris dan CEO (atau tingkat eksekutif setara) jika CEO bukan anggota dewan. Komite remunerasi menyerahkan rekomendasi remunerasi kepada dewan untuk disahkan. Rekomendasi yang disampaikan komite mencakup semua aspek remunerasi, namun tidak terbatas pada fee anggota dewan komisaris, gaji, tunjangan, bonus, opsi, dan manfaat dalam bentuk. Komite remunerasi juga meninjau remunerasi manajemen senior.

2) Jika diperlukan, komite remunerasi dapat meminta pendapat pihak ahli baik dari dalam maupun dari luar perusahaan terkait penentuan remunerasi semua anggota dewan komisaris dan direksi. 3) Komite remunerasi harus menelaah apakah anggota dewan memenuhi syarat untuk imbalan menerima manfaat berdasarkan skema insentif yang bersifat jangka panjang. Biaya dan manfaat dari skema insentif jangka panjang harus dievaluasi secara cermat.

MALAYSIA
1) Sistem pemerintahan Sistem ketatanegaraan Malaysia menganut sistem parlementer namun masih melestarikan pola feodal berupa dominasi raja (kerajaan) dalam struktur negara. Demokrasi parlementer suatu hal yang dapat di kenal dalam pola organisasi antara eksekutif dan legislatif yang selalu berhadapan dan berjalan berirama. Namun keberadaan kerajaan sebagai simbol negara masih dapat dipandang elemen struktural yang absolute dan otoritarian. Walaupun demikian posisi semua partai politik ini terbagi menjadi 2 koalisi besar, yaitu: Barisan Nasional yang berkuasa dan Pakatan Rakyat yang beroposisi. Dengan sistem politik yang sederhana – dengan 2 kekuatan besar yang terpolarisasi – seperti ini membuat rakyat Malaysia lebih mudah memilih. Ketika rakyat tidak puas dengan kinerja Barisan Nasional, maka rakyat mengurangi dukungannya, bahkan mungkin menjatuhkannya. Polarisasi ini akan mematangkan partai politik dalam mempersiapkan kader yang naik sebagai anggota parlemen. Anggota parlemen adalah orang yang terlatih, mengerti politik, mengerti bagaimana membuat undang-undang, bukan orang asal-asalan, apalagi artis sinetron yang mungkin hanya mengenal bedak dan gincu, daripada kebijakan publik. Semua calon pemimpin Malaysia dipersiapkan sejak awal. Pemimpin Malaysia adalah anggota parlemen yang pernah menggeluti seluk beluk birokrasi pemerintah sebagai seorang menteri. Pengetahuan ini sangat penting sehingga pemimpin dalam membuat kebijakan bukan semata berasal dari teori dari buku, namun juga memiliki pengalaman praktis. Dan yang menarik dari Malaysia adalah sejak Husein Onn, semua Perdana Menteri Malaysia berikutnya adalah mantan Menteri Pendidikan. Sedemikian pentingnya masalah pendidikan, sehingga setiap perdana menteri Malaysia pasti sangat mengerti seluk beluk kebijakan pendidikan. Semua ini kesederhanaan sistem politik dan suksesi yang bisa diprediksi akan menghasilkan negara yang stabil dan pembangunan yang berkesinambungan sehingga Malaysia kemungkinan besar akan berhasil menjadi negara maju di tahun 2020. 2) Sistem hukum Sebagai bekas jajahan Inggris, Malaysia tetap mempertahankan tradisi hukum kebiasaan Inggris. Tradisi ini berdiri ditengah-tengah sistem hukum Islam (yang dilaksanakan oleh pengadilan Syari’ah) dan hukum adat berbagai kelompok penduduk asli. Undang-undang Dasar Malaysia memiliki sistem federal yang membagi kekuasaan pemerintahan menjadi pemerintahan federal dan pemerintahan negara bagian. Pembagian kekuasaan ini trercantum dalam undang-undang dasar federal. Walaupun undang-undang dasar menggunakan sistem federal namun sistem ini berjalan dengan kekuasaan yang besar dari pemerintahan pusat. Beberapa kewenangan dari pemerintahan federal adalah urusan luar

negeri, pertahanan, keamanan nasional, polisi, hukum perdata dan pidana sekaligus prosedur dan administrasi keadilan, kewarganegaraan, keuangan, perdagangan, perniagaan dan industri, perkapalan, navigasi dan perikanan, komunikasi dan trasnsportasi, kinerja dan kekuasaan federal, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan keamanan sosial. Beberapa kewenangan negara bagian diantaranya adalah hal-hal yang berkaitan dengan praktek agama Islam dalam negara, hak kepmilikan tanah, kewajiban pengambilan tanah, izin pertambangan, pertanian dan eksploitasi hutan, pemerintahan kota, dan kerja publik demi kepentingan negara. Terdapat juga beberapa kekuasaan yang berlaku secara bersamaan diantaranya sanitasi, pengaliran dan irigasi, keselamatan dari kebakaran, kependudukan dan kebudayaan serta olah raga. Ketika hukum federal dan hukum negara bagian saling bertentangan maka hukum federallah yang dianggap berlaku. Masing-masing negara bagian juga memiliki undang-undang dasar yang harus mencantumkan beberapa ketentuan undang-undang dasar federal. Hal ini juga menyatakan Malaysia sebagai negara federal, monarki konstitusi, dan demokrasi parlementer. Ketentuan ini juga menyatakan Islam sebagai agama negara namun dengan tetap menghormati kebebasan beragama. Undang-undang dasar ini menyediakan kerangka cabang-cabang pemerintahan eksekutif, parlemen, dan yudikatif. Undang-undang dasar federal membuat ketentuan mengenai beberapa hak dan kebebasan tertentu, termasuk hak kebebasan individu, hak untuk diberitahu alasan penahanan, hak untuk mendapatkan penasehat hukum, dan dibebasakan dari penahanan tanpa penundaan. Diantara hak dan kebebasan terdapat juga larangan perbudakan dan kerja paksa; perlindungan dari hukum pidana retrospektif dan peradilan yang berulang; persamaan hak di hadapan hukum dan persamaan perlindungan di bawah hukum; kebebasan bergerak; larangan pengasingan, kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat; kebebasan beragama; dan hak untuk tidak dirugikan oleh kemiskinan tanpa kompensasi yang memadai. Keberlakuan berberapa hak dan kebebasan ini absolut. Sedangkan yang lain berlaku dengan beberapa persyaratan tertentu. Sebagai contoh, parlemen diberi kewenangan membuat hukum yang membatasi kebebasan berpendapat karena dianggap perlu dan merupakan langkah bijak bagi kepentingan keamanan negara federasi. Undang-undang dasar federal dapat diamendemen oleh undang-undang yang dikeluarkan parlemen jika didukung tidak kurang dari 2/3 keseluruhan jumlah anggota parlemen. Beberapa amendemen tertentu membutuhkan izin dari konferensi penguasa (Conference of Rulers). 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Pedoman Good Corporate Governance di Malaysia Pedoman Good Corporate Governance (The Malaysian Code on Corporate Governance) ini diterbitkan oleh Bursa Efek Malaysia dan kewajiban untuk melaksanakan Pedoman ini diatur dalam peraturan tentang pencatatan efek di bursa efek tersebut. Pedoman ini diterbitkan pada tahun 2007 dan merupakan revisi atas pedoman yang diterbitkan sebelumnya.

Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bagi perusahaan bersifat comply and explain. Denagan demikian tidak ada sanksi apabila perusahaan tidak menerapkan seluruh aspek dalam Pedoman tersebut. Bagi perusahaan yang tercatat di bursa efek Malaysia, prinsip-prinsip Good Corporate Governance dan praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan perusahaan wajib diungkapkan dalam laporan tahunan. Perusahaan juga wajib mengidentifikasi prinsip dan praktik terbaik yang tidak dilaksanakan disertai alasan atas ketidakpatuhan tersebut. Apabila perusahaan mengadopsi praktek tata kelola negara lain, hal ini juga harus diungkapkan. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate Governance Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and explain sehingga tidak terdapat sanksi dalam hal perusahaan tidak menerapkan seluruh aspek dalam Pedoman Good Corporate Governance. Namun terdapat kewajiban untuk mengungkapkan pelaksanaan dari Pedoman tersebut dalam laporan tahunan. Dengan demikian bagi perusahaan yang tercatat atau akan mencatatkan sahamnya di bursa tidak mengungkapkan dalam laporan tahunannya terkait dengan penerapan tata kelola, Bursa Malaysia dapat mengambil tindakan terhadap perusahaan atau direksi sebagaimana tercantum dalam Persyaratan Listing di Bursa Malaysia. Jumlah dan persyaratan Komisaris Independen Direktur non-eksekutif atau komisaris dalam two tier system harus orang yang mempunyai reputasi baik, kredibilitas dan memiliki keterampilan yang diperlukan dan pengalaman untuk memberikan penilaian secara independen terhadap isu-isu strategi, kinerja dan sumber daya perusahaan, termasuk kontrak perjanjian dan standar perilaku. Agar efektif, jumlah direktur non-eksekutif yang independen setidaknya satu per tiga (1/3) dari anggota dewan. Dalam keadaan dimana sebuah perusahaan memiliki pemegang saham yang signifikan, di samping persyaratan bahwa sepertiga dewan harus terdiri dari direksi non-eksekutif independen, dewan harus terdiri dari sejumlah direksi non-eksekutif yang merefleksikan pemegang saham perusahaan selain pemegang saham yang signifikan. Untuk tujuan ini, "pemegang saham yang signifikan" didefinisikan sebagai pemegang saham yang memiliki suara mayoitas dalam pemilihan direksi non-eksekutif. Dalam keadaan dimana tidak terdapat pemegang saham mayoritas tetapi terdapat pemegang saham yang memiliki porsi saham terbesar, dewan harus melakukan penilaian dalam menentukan jumlah direksi noneksekutif yang akan mencerminkan kepentingan dari sisa pemegang saham lainnya. Komposisi Direksi Malaysia menganut one board sistem dimana kedudukan dewan komisaris dan direksi terletak dalam satu dewan dengan demikian pengaturan mengenai direksi menjadi satu kesatuan dengan dewan komisaris. Dalam Pedoman Good Corporate Governance disyaratkan setiap perusahaan terdaftar harus dipimpin oleh suatu dewan yang efektif yang harus memimpin dan mengendalikan perusahaan. Dewan harus mencakup keseimbangan

antara direktur eksekutif dan direktur non-eksekutif (termasuk non-eksekutif independen) sedemikian rupa sehingga tidak ada individu atau kelompok tertentu yang dapat mendominasi pengambilan keputusan dewan. Harus ada pembagian tanggung jawab yang jelas antara (Chairman and Chief executive Officer). Ketua Dewan akan memastikan keseimbangan kekuasaan dan wewenang, sehingga tidak ada individu yang tidak terikat dengan keputusan perusahaan. Ketika terjadi penggabungan peran antara ketua dan CEO harus ada elemen independen di dalam board. Keputusan untuk menggabungkan peran ketua dan CEO harus secara terbuka dijelaskan dalam laporan tahunan.Setiap dewan harus memastikan jumlah yang tepat, dengan maksud untuk menentukan dampak jumlah anggota dewan terhadap efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsinya. Komite yang dibentuk Komisaris a. Komite audit Dewan harus membentuk Komite Audit terdiri dari setidaknya tiga anggota, yang mayoritas dari mereka adalah independen. Semua anggota komite audit harus direksi noneksekutif. Dewan harus menyediakan pedoman komite audit secara tertulis sebagai kerangka acuan yang jelas terkai dengan kewenangan dan tugasnya. Semua anggota komite audit harus mengerti tentang finansial dan setidaknya salah satu anggota komite audit harus menjadi anggota asosiasi akuntansi atau sejenisnya. Adapun tugas komite audit harus mencakup : 1) mempertimbangkan penunjukan auditor eksternal, biaya audit dan pertanyaan pengunduran diri atau pemecatannya 2) mendiskusikan dengan auditor eksternal sebelum audit dimulai mengenai sifat dan lingkup audit, dan memastikan adanya koordinasi apabila audit yang dilakukan melibatkan lebih dari satu auditor; 3) melakukan penelaahan laporan keuangan triwulanan dan akhir tahun dengan fokus terutama pada : a) setiap perubahan kebijakan dan praktik akuntansi b) penyesuaian yang signifikan yang timbul dari audit c) asumsi-asumsi kelangsungan usaha perusahaan d) kesesuaian dengan standar akuntansi dan persyaratan hukum lainnya 4) mendiskusikan masalah-masalah yang timbul dalam audit interim dan audit tahunan dan masalah-masalah lain yang ingin dibahas oleh auditor (bila diperlukan, tanpa adanya pihak manajemen) 5) menelaah external auditor’s management letter dan tanggapan manajemen; 6) melakukan hal-hal terkait dengan fungsi audit internal: a) penelaahan kecukupan ruang lingkup fungsi dan sumber daya audit internal, dan bahwa audit internal memiliki otoritas yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya b) review atas program audit internal dan hasil dari proses audit internal dan, jika perlu, memastikan bahwa ada tindakan yang tepat yang diambil pada rekomendasi dan fungsi audit internal; c) mereview setiap penilaian atau kinerja fungsi audit internal;

d) menyetujui setiap penunjukan atau pemberhentian anggota staf senior fungsi audit internal, dan e) tahu tentang pengunduran diri anggota staf audit internal dan menyediakan kesempatan bagi anggota staf yang mengundurkan diri untuk mengajukan alasan pengundurkan diri 7) Untuk setiap transaksi yang terkait dalam mempertimbangkan pihak yang mungkin masuk dalam perusahaan atau kelompok 8) Untuk mempertimbangkan temuan utama dari penyelidikan internal dan respon manajemen 9) Untuk mempertimbangkan topik lain seperti yang didefinisikan oleh pengurus. Komite Nominasi Dewan perusahaan harus menunjuk sebuah komite nominasi yang terdiri dari direktur noneksekutif, yang mayoritas independen, dengan tanggung jawab untuk mengajukan calon baru kepada dewan dan untuk menilai kinerja direksi secara berkelanjutan. Keputusan tentang pencalonan harus menjadi tanggung jawab dewan secara penuh setelah mempertimbangkan rekomendasi komite tersebut. Secara rinci tugas dan tanggungjawab komite nominasi adalah : 1) merekomendasikan kepada dewan, semua calon direktur untuk diisi oleh pemegang saham atau dewan. Dalam membuat rekomendasinya, Komite nominasi harus mempertimbangkan keterampilan, pengetahuan, keahlian dan pengalaman; profesionalisme; serta integritas calon. Dalam menominasikan kandidat untuk posisi direksi non-eksekutif independen, komite nominasi juga harus mengevaluasi kemampuan calon untuk melaksanakan tanggung jawab yang diharapkan sebagai direksi non-eksekutif independen 2) merekomendasikan kepada dewan, komisaris yang akan menjadi anggota komitekomite yang dibentuk dewan. 3) menelaah persyaratan keterampilan dan pengalaman anggota dewan termasuk kompetensi pokok komisaris harus di informasikan. Persyaratan ini harus diungkapkan dalam laporan tahunan. 4) melaksanakan proses yang telah ditetapkan dewan untuk menilai efektivitas dewan secara keseluruhan, dewan komite, dan untuk menilai kontribusi masing-masing direktur, termasuk direktur non-eksekutif independen, serta chief executive officer. Semua penilaian dan evaluasi yang dilakukan harus didokumentasikan dengan baik. Fungsi Internal Audit Pentingnya fungsi internal audit ditunjukan dengan adanya kewajiban bagi dewan untuk membentuk fungsi audit internal dan menunjuk seorang ketua internal audit. Fungsi audit internal harus independen dari kegiatan yang mereka audit dan harus dilakukan secara independen dan profesional. Ketua audit internal bertanggung jawab atas review yang dilakukan secara reguler dan/atau menilai efektivitas manajemen risiko, pengendalian internal, dan tata kelola perusahaan. Untuk menjaga independensi fungsi internal audit, ketua audit internal harus menyampaikan laporannya langsung kepada komite audit.

Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku Dalam Pedoman Good Corporate Governance tersebut tidak terdapat ketentuan yang mengatur mengenai keberadaan etika bisnis dan pdoman perilaku (code of conduct) yang harus dimiliki dan dilaksanakan oleh perusahaan. Remunerasi Direksi dan Dewan Komisaris Tingkat remunerasi harus cukup menarik untuk mempertahankan anggota dewan yang diperlukan untuk mengelola perusahaan dengan baik. Komponen remunerasi harus terstruktur dan dikaitkan dengan kinerja perusahaan. Khusus untuk direksi, remunerasi juga harus dikaitkan dengan kinerja individu sedangkan untuk komisaris tingkat remunerasi harus mencerminkan pengalaman dan tingkat tanggung jawab yang dilakukan oleh anggota komisaris tersebut. Selanjutnya perusahaan harus menetapkan prosedur formal dan transparan untuk menentukan kebijakan remunerasi bagi direksi dan dewan komisaris. Rincian jumlah remunerasi masing-masing anggota dewan komisaris dan direksi harus diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan. 4) Prinsip-prinsip GCG Pedoman Good Corporate Governanc terdiri dari tiga bagian yaitu : a. Bagian 1 : Memuat prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang luas yang berlaku di Malaysia. Tujuan dari prinsip-prinsip ini adalah untuk memungkinkan fleksibilitas perusahaan dalam menerapkan prinsip-prinsip sesuai dengan keadaan masing-masing perusahaan. b. Bagian 2 : Menetapkan praktik-praktik terbaik dalam tata kelola perusahaan. mengidentifikasi seperangkat pedoman atau praktek yang dimaksudkan untuk membantu perusahaan dalam merancang pendekatan mereka terhadap tata kelola perusahaan yang baik bagi perusahaannya. c. Bagian 3 : Dorongan atau himbauan bagi pihak-pihak selain tersebut di atas yang bersifat sukarela. Hal ini tidak ditujukan kepada perusahaan yang terdaftar tetapi untuk investor dan auditor untuk meningkatkan peran mereka dalam tata kelola perusahaan. Adapun ruang lingkup dari Pedomana Good Corporate Governance tersebut adalah : a. The Board Structure, Duties and Effectiveness b. The Audit Committee and its Challenges c. Assessing the Risk and Control Environment d. Effective Oversight of Financial Reporting e. Internal and External Audit: “Eyes And Ears” of Audit Committee f. Conflict of Interest and Related Party Transactions g. Nominating Committee h. Remuneration Committee i. Shareholder Relations

5) Sistem perekonomian & perdagangan Sistem ekonomi Malaysia sekarang ini adalah ekonomi kapitalis/liberal dengan kendali dari pemerintah Sistem ekonomi di Malaysia pada abad ke-19 dan sehingga tahun 1963 boleh dikategorikan kepada 2 bentuk yang utama iaitu sistem ekonomi sara diri dan sistem ekonomi komersil. Bentuk dan kegiatan ekonomi yang mereka amalkan telah menerima pengaruh daripada sistem pemerintahan pada masa dahulu. Sebagai contoh, rakyat biasa menjadi petani, pedagang; pembesar pula menjadi pemilik tapak perlombongan dan sebagainya. Ekonomi sara diri ialah kegiatan ekonomi yang bertujuan atau sekadar mampu untuk menampung keperluan harian keluarga. Maknanya, hasil kegiatan ekonomi akan digunakan untuk keluarga mereka. Segala kelebihan pengeluaran akan dijual, hasil jualan tersebut akan digunakan untuk membeli barangan keperluan yang lain yang juga menjadi asas keperluan seperti pakaian dan sebagainya. Kegiatan ekonomi sara diri yang utama ialah bercucuk tanam, menangkap ikan dan memungut hasil hutan. Kegiatan sebegini tidak memerlukan penggunaan mata wang yang banyak. Sistem ekonomi komersil hanya wujud di Tanah Melayu setelah kehadiran penjajah British pada abad ke-19. Kehadiran mereka telah mempergiatkan bentuk ekonomi tersebut memandangkan mereka mengutip cukai daripada rakyat, memaksa rakyat mendapatkan duit tunai. Ini kerana mereka yang gagal menjelaskan cukai akan dihukum. Salah satu perkembangan yang nyata semasa itu dapat dilihat dalam sektor perdagangan dan perlombongan. Kegiatan perdagangan di Tanah Melayu merupakan lanjutan daripada kegiatan perlombongan memandangkan bahan-bahan perdagangan itu sendiri lebih berasaskan kepada bahan-bahan mentah. Walau bagaimanapun, terdapat juga bahan-bahan dagangan yang berorientasikan kepada hasil-hasil pertanian. Dalam soal perkembangan perdagangan, beberapa aspek yang berkaitan seperti sistem pengangkutan, perkapalan dan sebagainya telah dibincangkan. Dalam tahun 1879, pendapatan cukai terhadap perlombongan bijih timah dari Perak dan Selangor masing-masing berjumlah $281823 dan $107558. Dalam tahun 1895, eksport bijih timah mencapai paras 127714498 (89% daripada nilai jumlah eksport Negeri-negeri Melayu Bersekutu) bagi negeri Perak dan Selangor. Hasil yang banyak membolehkan British menjalankan rancangan pembinaan jalan keretapi dan sebagainya. Pembinaan infrastruktur ini membolehkan bijih timah dieksport dengan mudah. Tetapi pengeluaran bijih timah yang banyak menyebabkan lebihan penawaran di pasaran dunia. Dengan itu, harga bijih timah telah menyusut dari 99.7 pound setan (1870-an) kepada 96.7 pound setan (1880-an). Beberapa langkah telah diambil oleh British untuk menyekat dan mengawal pengeluaran bijih timah agar harganya tidak turun. Selain bijih timah, lada hitam, rempah, gambir dan tebu juga merupakan barang dagangan yang penting. Kegiatan penanaman tumbuhan ini dapat dilihat di Johor dimana orang Cina yang berhijrah dari Singapura mengusahakan penanaman gambir; di Pulau Pinang dan Perak usaha penanaman tebu dijalankan oleh orang Eropah.

Bermula, abad ke-20, getah pula menjadi tanaman eksport atau hasil dagangan yang penting kerana ia sangat menguntungkan. Perkembangannya berhubung rapat dengan sistem pengangkutan, sebab itulah banyak kemudahan infrastruktur dibina. Perkembangan yang pesat dalam penanaman getah telah menambahkan lagi hasil perdagangan Tanah Melayu. Antara tahun 1906-1929, purata keluasan penanaman getah di Tanah Melayu telah meningkat dari 129809 hektar kepada 2971000 hektar dan eksport getah telah bertambah dari 6500 tan dalam tahun 1910 kepada 456000 tan pada tahun 1929. Harga getah juga meningkat daripada 1s3d sepaun kepada 2s6d sepaun antara tahun 1830-1900. Harganya terus menaik sehingga 8s9d sepaun pada tahun 1910. Walau bagaimanapun, pengeluaran yang tidak terkawal menyebabkan kelebihan penawaran dan harga getah telah merosot daripada 8s9d (1910) kepada 1s10d sepaun (1920-an). Fenomena ini menyebabkan British mengambil langkah untuk menyusun semula program perusahaan getah dan beberapa pendekatan telah dibuat seperti Rancangan Sekatan Stevenson (19221928). Sejak 1917, kelapa sawit telah ditanam secara komersil di Selangor. Akibat kemelesetan harga getah, kawasan penanaman kelapa sawit telah meningkat dari 4900 hektar (1926) kepada 25777 hektar (1933). Hasil kelapa sawit seterusnya menjadi bahan dagangan yang penting di Tanah Melayu. 6) Sistem regulasi pasar modal Peran Bursa Malaysia Anda hanya dapat berinvestasi di saham melalui bursa saham, pasar yang terorganisir dimana saham yang dibeli dan dijual di bawah aturan ketat, peraturan dan pedoman. Bursa Malaysia disebut Bursa Malaysia. Bursa Malaysia memiliki lebih dari 1.000 perusahaan yang terdaftar yang menawarkan berbagai pilihan investasi untuk investor lokal dan global. Perusahaan yang baik tercatat di Bursa Malaysia Securities Market atau Pasar Utama ACE. Meningkatkan Modal di Pasar Saham Pasar Saham diciptakan oleh perusahaan yang ingin meningkatkan modal untuk bisnis mereka. Ketika seseorang mengatakan mereka memiliki sebuah perusahaan terdaftar yang mereka maksud tercatat di Bursa Malaysia. Semua perusahaan membutuhkan uang tunai untuk mengambil keuntungan dari peluang pertumbuhan. Banyak perusahaan start-up namun menemukan diri mereka kekurangan modal untuk mendanai ekspansi. Salah satu cara untuk mendapatkan uang tunai ini adalah untuk publik mengapung perusahaan. Hal ini melibatkan menjual bagian dari perusahaan untuk investor individu dan institusi swasta yang kemudian dapat dengan bebas bertukar saham-saham pada pasar terbuka. Pembelian saham di sebuah perusahaan yang terdaftar di pasar saham dilakukan melalui Initial Public Offering atau IPO. Setelah IPO telah diterbitkan, Anda dapat menghubungi perusahaan (telepon, fax atau email) untuk salinan Prospektus dan lengkap aplikasi untuk mengajukan alokasi saham.

Atau Anda dapat menunggu sampai perusahaan tersebut melayang dan membeli saham di pasar terbuka. Selain Bursa Malaysia, pialang saham juga akan memiliki informasi mengenai Penawaran Umum Perdana. Perusahaan yang telah terdaftar juga dapat mengumpulkan uang tambahan di pasar saham dengan menawarkan pemegang saham yang ada kesempatan untuk membeli lebih banyak saham di perusahaan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan terdaftar yang ingin meningkatkan modal tambahan mungkin masalah satu saham baru di 5sen masing-masing setiap tiga saham investor yang sudah ada memiliki. Ketika Anda membeli saham, Anda membeli saham dalam perusahaan itu dan sehingga Anda memiliki persentase perusahaan yang. Ketika perusahaan membuat keuntungan, Anda berbagi dalam keuntungan yang dalam bentuk dividen. Biasanya, jumlah saham yang telah dikeluarkan dikalikan dengan harga saham memberikan kita berapa banyak perusahaan bernilai. 7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and explain sehingga tidak terdapat sanksi dalam hal perusahaan tidak menerapkan seluruh aspek dalam Pedoman Good Corporate Governance. Namun terdapat kewajiban untuk mengungkapkan pelaksanaan dari Pedoman tersebut dalam laporan tahunan. Dengan demikian bagi perusahaan yang tercatat atau akan mencatatkan sahamnya di bursa tidak mengungkapkan dalam laporan tahunannya terkait dengan penerapan tata kelola. Bursa Malaysia dapat mengambil tindakan terhadap perusahaan atau direksi sebagaimana tercantum dalam Persyaratan Listing di Bursa Malaysia

8) Lembaga & organisasi penegakan GCG Lembaga Corporate Governance di Malaysia yaitu Finance Committee on Corporate Governance (FCCG) mendifinisikan corporate governance sebagai proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan aktivitas perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan. 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG a. Komite audit Dewan harus membentuk Komite Audit terdiri dari setidaknya tiga anggota, yang mayoritas dari mereka adalah independen. Semua anggota komite audit harus direksi non-eksekutif. Dewan harus menyediakan pedoman komite audit secara tertulis sebagai kerangka acuan yang jelas terkai dengan kewenangan dan tugasnya. Semua anggota komite audit harus mengerti tentang finansial dan setidaknya salah

satu anggota komite audit harus menjadi anggota asosiasi akuntansi atau sejenisnya. Adapun tugas komite audit harus mencakup : 1) mempertimbangkan penunjukan auditor eksternal, biaya audit dan pertanyaan pengunduran diri atau pemecatannya 2) mendiskusikan dengan auditor eksternal sebelum audit dimulai mengenai sifat dan lingkup audit, dan memastikan adanya koordinasi apabila audit yang dilakukan melibatkan lebih dari satu auditor; 3) melakukan penelaahan laporan keuangan triwulanan dan akhir tahun dengan fokus terutama pada : a) setiap perubahan kebijakan dan praktik akuntansi b) penyesuaian yang signifikan yang timbul dari audit c) asumsi-asumsi kelangsungan usaha perusahaan d) kesesuaian dengan standar akuntansi dan persyaratan hukum lainnya 4) mendiskusikan masalah-masalah yang timbul dalam audit interim dan audit tahunan dan masalah-masalah lain yang ingin dibahas oleh auditor (bila diperlukan, tanpa adanya pihak manajemen) 5) menelaah external auditor’s management letter dan tanggapan manajemen; 6) melakukan hal-hal terkait dengan fungsi audit internal: a) penelaahan kecukupan ruang lingkup fungsi dan sumber daya audit internal, dan bahwa audit internal memiliki otoritas yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya b) review atas program audit internal dan hasil dari proses audit internal dan, jika perlu, memastikan bahwa ada tindakan yang tepat yang diambil pada rekomendasi dan fungsi audit internal; c) mereview setiap penilaian atau kinerja fungsi audit internal; d) menyetujui setiap penunjukan atau pemberhentian anggota staf senior fungsi audit internal, dan e) tahu tentang pengunduran diri anggota staf audit internal dan menyediakan kesempatan bagi anggota staf yang mengundurkan diri untuk mengajukan alasan pengundurkan diri 7) Untuk setiap transaksi yang terkait dalam mempertimbangkan pihak yang mungkin masuk dalam perusahaan atau kelompok

8) Untuk mempertimbangkan temuan utama dari penyelidikan internal dan respon manajemen 9) Untuk mempertimbangkan topik lain seperti yang didefinisikan oleh pengurus. b. Komite Nominasi Dewan perusahaan harus menunjuk sebuah komite nominasi yang terdiri dari direktur non-eksekutif, yang mayoritas independen, dengan tanggung jawab untuk mengajukan calon baru kepada dewan dan untuk menilai kinerja direksi secara berkelanjutan. Keputusan tentang pencalonan harus menjadi tanggung jawab dewan secara penuh setelah mempertimbangkan rekomendasi komite tersebut. Secara rinci tugas dan tanggungjawab komite nominasi adalah : 1) merekomendasikan kepada dewan, semua calon direktur untuk diisi oleh pemegang saham atau dewan. Dalam membuat rekomendasinya, Komite nominasi harus mempertimbangkan keterampilan, pengetahuan, keahlian dan pengalaman; profesionalisme; serta integritas calon. Dalam menominasikan kandidat untuk posisi direksi non-eksekutif independen, komite nominasi juga harus mengevaluasi kemampuan calon untuk melaksanakan tanggung jawab yang diharapkan sebagai direksi non-eksekutif independen 2) merekomendasikan kepada dewan, komisaris yang akan menjadi anggota komite-komite yang dibentuk dewan. 3) menelaah persyaratan keterampilan dan pengalaman anggota dewan termasuk kompetensi pokok komisaris harus di informasikan. Persyaratan ini harus diungkapkan dalam laporan tahunan. 4) melaksanakan proses yang telah ditetapkan dewan untuk menilai efektivitas dewan secara keseluruhan, dewan komite, dan untuk menilai kontribusi masing-masing direktur, termasuk direktur non-eksekutif independen, serta chief executive officer. Semua penilaian dan evaluasi yang dilakukan harus didokumentasikan dengan baik.

THAILAND
1) Sistem pemerintahan Thailand Sistem pemerintahan (sistem kabinet) Thailand adalah Sistem Parlementer. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki Konstitusional Sang raja mempunyai sedikit kekuasaan langsung di bawah konstitusi namun merupakan pelindung Buddhisme Thailand dan lambang jati diri dan persatuan bangsa. Raja yang memerintah saat ini dihormati dengan besar dan dianggap sebagai pemimpin dari segi moral, suatu hal yang telah dimanfaatkan pada beberapa kesempatan untuk menyelesaikan krisis politik. Kepala pemerintahan adalah Perdana Menteri, yang dilantik sang raja dari anggotaanggota parlemen dan biasanya adalah pemimpin partai mayoritas. Parlemen Thailand yang menggunakan sistem dua kamar dinamakan Majelis Nasional atau Rathasapha, yang terdiri dari Dewan Perwakilan yang beranggotakan 480 orang dan Senat yang beranggotakan 150 orang. Anggota Dewan Perwakilan menjalani masa bakti selama empat tahun, sementara para senator menjalani masa bakti selama enam tahun. Badan kehakiman tertinggi adalah Mahkamah Agung , yang jaksanya dilantik oleh raja. Thailand juga adalah anggota aktif dalam ASEAN. 2) Sistem hukum Hukum Thailand didasarkan pada hukum sipil , namun memiliki pengaruh dari hukum umum Sumber-sumber hukum prinsip di Thailand adalah:
• •

• • •

Konstitusi Thailand - menang atas undang-undang lainnya Kisah dan ketetapan - Banyak yang diciptakan dan diubah 4 kode dasar: Kode Sipil dan Komersial (CCC), KUHP (PC), Hukum Acara Perdata dan Hukum Acara Pidana. Kode baru termasuk Kode Tanah dan Revenue Code. Tahun pada undang-undang di Thailand diberikan di Era Buddhis (BE) berdasarkan kalender matahari Thailand . Keputusan darurat atau Proklamasi Royal -. Ini dibuat oleh Raja, atas nasehat kabinet, di mana suatu hukum mendesak diperlukan untuk keamanan nasional, keselamatan publik, stabilitas ekonomi nasional atau mencegah bencana umum [2] Contohnya adalah Darurat Keputusan tentang Administrasi Publik di Situasi Darurat BE 2548 (AD 2005). [2] Perjanjian Legislasi bawahan - termasuk Peraturan (Menteri), Pesanan, Pemberitahuan, Royal Keputusan dan Peraturan. Pendapat Mahkamah Agung dan Keputusan Peradilan lainnya - preseden Yudisial di Thailand tidak mengikat. Pengadilan tidak terikat untuk mengikuti keputusan sendiri dan pengadilan yang lebih rendah tidak terikat untuk mengikuti preseden yang

ditetapkan oleh pengadilan yang lebih tinggi. Namun, Thailand hukum telah dipengaruhi oleh preseden hukum umum. Pengadilan sehingga secara signifikan dipengaruhi oleh keputusan sebelumnya atau keputusan pengadilan yang lebih tinggi. Mahkamah Agung menerbitkan keputusan itu, yang dikenal sebagai Pendapat Mahkamah Agung. Ini sering digunakan sebagai otoritas sekunder dan diberi nomor sesuai dengan tahun yang diterbitkan. Keputusan peradilan lain atau peraturan yang diterbitkan oleh Pengadilan Administrasi dan Mahkamah Konstitusi 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance di Thailand bersifat Comply or Explain . Oleh karena itu, Stock Exchange of Thailand (SET) mengharapkan perusahaan untuk mengikuti Pedoman Good Corporate Governance tersebut. Selain itu, perusahaan dapat mengadaptasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance sesuai kebutuhan fungsional tiap perusahaan. Bagi perusahaan yang memilih untuk tidak mematuhi prinsip Good Corporate Governance, diharuskan menjelaskan secara rinci alasan untuk tidak menerapkannya. Perusahaan Tercatat telah diminta untuk mulai mengungkapkan pelaksanaan prinsipprinsip Good Corporate Governance pada tahun 2007 pada Laporan Tahunan perusahaan. Selain itu, perusahaan yang terdaftar harus mengungkapkan penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) melalui media komunikasi yang yang paling nyaman bagi Perusahaan, pemegang saham, investor, stakeholder lainnya dan pihak-pihak terkait. Salah satu saluran yang disarankan adalah situs web perusahaan.

Sanksi atas ketidakpatuhan Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan untuk tidak menerapkannya. Komposisi/jumlah, dan persyaratan Komisaris Independen Dewan direksi, dengan persetujuan dari rapat pemegang saham, harus menetapkan jumlah anggota dan komposisi. Harus ada sejumlah direktur independen yang setidaknya setara dengan sepertiga dari jumlah dewan, tetapi tidak kurang dari 3. Direksi yang tersisa pada board merupakan perwakilan dari setiap kelompok pemegang saham, jumlah direksi harus proporsional dengan kepemilikan masing-masing kelompok. Komposisi/jumlah Direksi Dewan memainkan peran penting dalam tata kelola perusahaan untuk kepentingan terbaik perusahaan. Dewan ini bertanggung jawab kepada pemegang saham dan manajemen independen. Dewan harus memiliki kepemimpinan, visi, dan kemandirian dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan terbaik perusahaan dan seluruh pemegang saham. Dewan secara jelas harus memisahkan peran dan tanggung jawabnya dari

manajemen dan memantau operasi perusahaan untuk memastikan bahwa semua kegiatan yang dilakukan sesuai dengan hukum yang relevan dan standar etika. Struktur dewan harus terdiri dari director dengan berbagai kualifikasi, keterampilan, pengalaman, dan keahlian yang berguna untuk perusahaan. Direksi harus melaksanakan tugas mereka dengan itikad baik, dengan due diligence and care, untuk Kepentingan terbaik perusahaan dan seluruh pemegang saham. Agar direksi dapat melakukan tugas mereka, direksi harus menerima informasi yang benar dan lengkap. Struktur Dewan diatur sebagai berikut : a. Dewan direksi, dengan persetujuan dari rapat pemegang saham, harus menetapkan jumlah anggota dan komposisi. Harus ada sejumlah direktur independen yang setidaknya setara dengan sepertiga dari jumlah dewan, tetapi tidak kurang dari 3. Direksi yang tersisa pada board merupakan perwakilan dari setiap kelompok pemegang saham, jumlah direksi harus proporsional dengan kepemilikan masing-masing kelompok. b. Masa jabatan direksi harus secara jelas dinyatakan dalam kebijakan tata kelola perusahaan (company’s corporate governance policy). c. Anggota dewan perusahaan yang terlalu banyak digunakan untuk mengisi komposisi dewan mungkin tidak dapat melakukan tugasnya secara efektif. Dewan dapat mengetahui efektivitas anggota Dewan dengan membatasi jumlah direksi dalam Dewan. Perusahaan harus mengungkapkan informasi tentang posisi keanggotaan direksi kepada pemegang saham. d. Dewan harus menyatakan dengan jelas kebijakan dan prosedur mengenai posisi dewan di perusahaan lain yang dimiliki oleh direktur perusahaan dan eksekutif puncak, baik dalam segi jenis direktur (eksekutif misalnya, di luar, atau independen) dan jumlah posisi dewan yang dapat dipegang. Misalnya, dewan mungkin menyatakan bahwa jabatan Dewan pada perusahaan lain yang dimiliki oleh direktur perusahaan harus disetujui oleh dewan. e. Peran dan tanggung jawab ketua dewan berbeda dari managing director. Dewan harus memisahkan peran dan tanggung jawab dari kedua posisi. Dalam rangka untuk mencapai keseimbangan kekuasaan, dua posisi tersebut harus dipegang oleh individu yang berbeda. f. Ketua dewan harus merupakan komisaris independen. Pelatihan bagi Dewan dan Manajemen perusahaan : a. Dewan harus mendorong dan memfasilitasi pelatihan untuk semua pihak internal yang berhubungan dengan tata kelola perusahaan seperti anggota dewan komisaris, anggota komite audit, anggota direksi, sekretaris perusahaan dll. Pelatihan akan memungkinkan mereka untuk terus meningkatkan kinerja mereka. Hal ini dapat berupa training internal maupun eksternal. b. Anggota dewan yang baru harus dilengkapi dengan semua dokumen dan informasi yang berguna untuk melakukan tugas mereka. Pengantar bisnis dan operasi perusahaan yang diperlukan.

c. Dewan harus meminta komisaris untuk mempresentasikan perencanaan suksesi secara teratur. Eksekutif puncak dan managing director seharusnya menetapkan pengganti dalam kasus jika mereka tidak dapat melakukan tugas mereka. d. Dewan harus membentuk program pengembangan eksekutif. Direktur harus melaporkan ke dewan setiap tahun tentang program. Dewan harus mempertimbangkan pengembangan eksekutif ketika membahas rencana suksesi. Komite yang dibentuk Komisaris Untuk efisiensi dan efektivitas, dewan direksi membentuk komite untuk mempelajari dan memonitor tugas-tugas tertentu atas nama dewan direksi, khususnya isu-isu yang perlu pendapat bias. Komite harus memiliki lingkup kerja yang jelas, peran dan tanggung jawab pekerjaan mereka dan prosedur kerja seperti rapat dan pelaporan kepada Dewan Direksi. Beberapa prinsip yang direkomendasikan terkait komite yang akan dibentuk yaitu: a. Komite harus transparan dan independen dalam menjalankan tugasnya b. Mayoritas anggota komite harus komisaris independen c. Ketua komite harus merupakan komisaris independen d. Ketua Dewan seharusnya tidak menjadi ketua atau anggota komite apapun untuk memastikan independensi komite. Stock Exchange Rule (SET) mengharuskan setiap perusahaan memiliki Komite Audit. Selain itu, Pedoman GCG juga merekomendasikan dua Komite lainnya yaitu: Komite Remunerasi dan Komite Nominasi. a. Komite Remunerasi bertanggung jawab untuk menetapkan kriteria dan bentuk pembayaran kepada dewan dan eksekutif puncak dan menyajikan hasilnya kepada dewan. Sementara dewan menyetujui remunerasi eksekutif, para pemegang saham menyetujui remunerasi anggota dewan. b. Komite Nominasi bertanggung jawab untuk menetapkan kriteria dan proses pencalonan anggota dewan dan eksekutif puncak, memilih calon yang memenuhi syarat sesuai dengan pre-determined kriteria dan proses, dan menyajikan hasilnya ke dewan. Kemudian, dewan akan menyajikan hasilnya pada rapat pemegang saham untuk pemilihan anggota dewan dan eksekutif puncak. Beberapa ketentuan yang berlaku bagi komite-komite yang dibentuk sebagai berikut a. Dalam melakukan tugasnya, komite harus transparan dan independen, mayoritas anggota komite harus komisaris independen. Ketua komite harus merupakan komisaris independen. b. Ketua Dewan seharusnya tidak menjadi ketua atau anggota komite apapun untuk memastikan independensi komite. Fungsi Internal Audit

Dewan direksi harus memastikan bahwa sistem pengendalian internal perusahaan, termasuk keuangan, kepatuhan, dan kontrol kebijakan, dan meninjau sistem setidaknya setiap tahun. Dewan juga harus menetapkan seseorang atau suatu departemen untuk melakukan audit secara independen dan melaporkan kepada dewan. Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku Dewan harus memastikan bahwa code of conduct perusahaan dibuat secara tertulis agar semua direktur, eksekutif dan karyawan memahami standar etika bisnis perusahaan. Kepatuhan terhadap code of conduct perusahaan harus diawasi secara ketat oleh dewan. Di samping itu perusahaan juga harus mengadopsi pedoman internal yang mengatur mengenai hal-hal yang membutuhkan persetujuan dewan, dan menentukan pengungkapan jenis transaksi material yang memerlukan persetujuan dewan. Remunerasi Direksi dan Dewan Komisaris Remunerasi Dewan harus sebanding dengan tingkat industri di mana perusahaan beroperasi, mencerminkan pengalaman, kewajiban, ruang lingkup kerja, akuntabilitas dan tanggung jawab serta kontribusi masing-masing direktur. Anggota dewan yang ditugaskan untuk tugas-tugas yang lebih, seperti komite, harus dibayar lebih. Disamping itu remunerasi direktur eksekutif dan manajemen puncak harus sesuai dengan kebijakan dewan dalam batas yang disetujui oleh pemegang saham. Untuk kepentingan perusahaan, gaji eksekutif, bonus, dan kompensasi jangka panjang lainnya harus sesuai dengan kinerja perusahaan dan eksekutif masing-masing. Semua komisaris atau komite remunerasi harus menilai kinerja Direksi setiap tahun untuk menetapkan jumlah kompensasi nya. Dasar penilaian harus disetujui oleh dewan sebelum evaluasi. Kriteria harus obyektif, termasuk kinerja keuangan, kinerja strategis jangka panjang, rencana pengembangan karir, dll. Penilaian ini harus disampaikan kepada dewan untuk disetujui. Ketua dewan atau komisaris utama harus menyerahkan hasil evaluasi kepada dewan. Keterbukaan informasi mengenai remunerasi board meliputi 'kebijakan remunerasi direksi dan eksekutif sesuai dengan kontribusi dan tanggung jawab setiap orang, bentuk dan jumlah pembayaran. Jika ada direktur perusahaan yang juga merupakan direktur anak perusahaan, maka jumlah biaya yang dibayarkan oleh anak perusahaan kepada direksi tersebut harus diungkapkan juga. 4) Prinsip-prinsip GCG Prinsip-prinsip dan praktek-praktek terbaik Good Corporate Governance Perusahaan tercatat yang direkomendasikan oleh SET (Stock Exchange of Thailand) mencakup 5 kategori yaitu, a. Hak Pemegang Saham (Rights of Shareholders) b. Perlakuan Adil kepada Pemegang Saham (Equitable Treatment of Shareholders) c. Peran Pemangku Kepentingan (Role of Stakeholders) d. Keterbukaan dan Transparansi (Disclosure and Transparency) e. Tanggung Jawab Dewan Direksi (Responsibilities of the Board) 5) Sistem perekonomian & perdagangan

Ekonomi Thailand bergantung pada ekspor, dengan nilai ekspor sekitar 60% PDB. Kepulihan Thailand dari Krisis Finansial Asia pada 1997-1998 banyak tergantung permintaan luar dari Amerika Serikat dan pasar asing lainnya. Pemerintahan Thaksin yang mulai menjabat pada Februari 2001 dengan maksud menstimulasi permintaan domestik dan mengurangi ketergantungan Thailand kepada perdagangan dan investasi asing. Sejak itu, administrasi Thaksin telah memperbaiki pesan ekonominya dengan mengambil ekonomi "jalur ganda" yang menggabungkan stimulan domestik dengan promosi tradisional Thailand tentang pasar terbuka dan investasi asing. Ekspor yang lemah menahan pertumbuhan PDB pada 2001 hingga 1,9%. Namun pada 2002-3 stimulan domestik dan kembalinya ekspor menambah performa yang semakin baik, dengan pertumbuhan PDB pada 5,3% dan 6,3%. Sebelum krisis finasial, ekonomi Thai memiliki pertumbuhan ekonomi produksi yang bagus dengan rata-rata 9,4% untuk dekade sampai 1996. Tenaga kerja dan sumber daya yang lumayan banyak, konsevatis fiskal, kebijakan investasi asing terbuka, dan pendorongan sektor swasta merupakan dasar dari sukses ekonomi pada tahun-tahun sampai pada 1997. Ekonominya intinya sebuah sistem perusahaan-bebas. Beberapa jasa, seperti pembangkit listrik, transportasi, dan komunikasi, dimiliki dan dioperasikan negara, tetapi pemerintah sedang mempertimbangkan menswastakan mereka pada awal krisis finansial.Pemerintah Kerajaan Thailand menyambut investasi asing, dan investor yang bisa memenuhi beberapa persyaratan dapat mendaftar hak investasi istimewa melalui Dewan Investasi Thailand. Untuk menarik investasi asing lainnya, pemerintah telah memodifikasi peraturan investasinya. Gerakan serikat buruh tetap lemah dan terpecah-pecah di Thailand. Hanya 3% dari seluruh angkatan kerja tergabung dalam serikat buruh. Pada tahun 2000, Undang-undang Hubungan Kerja-Perusahaan Negara (SELRA) disahkan, hingga memberikan para pegawai sektor publik hak-hak yang sama dengan mereka yang bekerja di sektor swasta, termasuk hak untuk bergabung dengan serikat buruh. Sekitar 60% dari seluruh angkatan kerja Thailand dipekerjakan di bidang pertanian. Beras adalah hasil bumi yang paling penting. Thailand adalah eksportir besar di pasar beras dunia. Komoditi pertanian lainnya yang dihasilkan dengan jumlah yang cukup besar adalah ikan dan produk-produk perikanan lainnya, tapioka, karet, biji-bijian, dan gula. Ekspor makanan jadi seperti tuna kaleng, nenas dan udang beku juga sedang meningkat. 6) Sistem regulasi pasar modal Regulatory Framework of the Capital Market

Securities Act dan Pertukaran 1992 (SEA), menetapkan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), badan pengawas satu kesatuan, sebagai regulator Pasar Modal Thailand. Sementara SEC mengawasi perkembangan pasar modal Kerajaan, Bank of Thailand (BOT) bertanggung jawab untuk pasar uang negara. SEA juga menyediakan pemisahan yang jelas antara primer dan pasar sekunder untuk memfasilitasi pengembangan sukses mereka. Pasar primer dan sekunder diatur oleh SEC. • Pasar primer

SEC mengawasi dan mengatur pasar primer. Dalam hal ini, sebuah perusahaan yang ingin menerbitkan surat berharga baru, melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) atau menawarkan efek tambahan untuk publik harus terlebih dahulu mengajukan permohonan persetujuan SEC dan memenuhi persyaratan pengajuan nya. SEC ini kemudian diminta untuk hati-hati meninjau status keuangan dan operasi perusahaan sebelum mengizinkan perusahaan untuk menerbitkan sekuritas untuk publik. • Pasar sekunder

Setelah penawaran umum perdana, sekuritas dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah penerbit telah mengajukan permohonan dan telah diberikan persetujuan oleh SET. Sebagaimana didefinisikan dalam SEA (1992), peran utama SET adalah: 1. Untuk melayani sebagai pusat perdagangan efek yang tercatat, dan untuk menyediakan sistem penting yang dibutuhkan untuk memfasilitasi perdagangan efek; 2. Untuk melakukan bisnis apapun yang berkaitan dengan Bursa Efek, seperti rumah kliring, pusat penyimpanan sekuritas, sekuritas registrar, atau kegiatan serupa; 3. Untuk melakukan bisnis lain yang disetujui oleh SEC.

7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan untuk tidak menerapkannya. 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG SET (Stock Exchange of Thailand) 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG Untuk efisiensi dan efektivitas, dewan direksi membentuk komite untuk mempelajari dan memonitor tugas-tugas tertentu atas nama dewan direksi, khususnya isu-isu yang perlu pendapat bias. Komite harus memiliki lingkup kerja yang jelas, peran dan tanggung jawab pekerjaan mereka dan prosedur kerja seperti rapat dan pelaporan kepada Dewan Direksi. Beberapa prinsip yang direkomendasikan terkait komite yang akan dibentuk yaitu: a. Komite harus transparan dan independen dalam menjalankan tugasnya b. Mayoritas anggota komite harus komisaris independen c. Ketua komite harus merupakan komisaris independen d. Ketua Dewan seharusnya tidak menjadi ketua atau anggota komite apapun untuk memastikan independensi komite. Stock Exchange Rule (SET) mengharuskan setiap perusahaan memiliki Komite Audit. Selain itu, Pedoman GCG juga merekomendasikan dua Komite lainnya yaitu: Komite Remunerasi dan Komite Nominasi. a. Komite Remunerasi bertanggung jawab untuk menetapkan kriteria dan bentuk pembayaran kepada dewan dan eksekutif puncak dan menyajikan hasilnya kepada dewan. Sementara dewan menyetujui remunerasi eksekutif, para pemegang saham menyetujui remunerasi anggota dewan. b. Komite Nominasi bertanggung jawab untuk menetapkan kriteria dan proses pencalonan anggota dewan dan eksekutif puncak, memilih calon yang memenuhi syarat sesuai dengan pre-determined kriteria dan proses, dan menyajikan hasilnya ke dewan. Kemudian, dewan akan menyajikan hasilnya pada rapat pemegang saham untuk pemilihan anggota dewan dan eksekutif puncak. Beberapa ketentuan yang berlaku bagi komite-komite yang dibentuk sebagai berikut a. Dalam melakukan tugasnya, komite harus transparan dan independen, mayoritas anggota komite harus komisaris independen. Ketua komite harus merupakan komisaris independen.

b. Ketua Dewan seharusnya tidak menjadi ketua atau anggota komite apapun untuk memastikan independensi komite.

FILIPINA
1) Sistem pemerintahan Filipina Pemerintah Filipina mengikuti Pemerintah Amerika Serikat. Dia ditata sebagai sebuah republik, di mana Presiden berfungsi sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, dan Panglima Tertinggi angkatan bersenjata. Presiden dipilih dalam pemilu untuk masa jabatan 6 tahun, dan memilih dan mengepalai kabinet. Dewan Legislatif Filipina mempunyai dua kamar: Kongres terdiri dari Senat dan Dewan Perwakilan; anggota keduanya dipilih oleh pemilu. Ada 24 senator yang menjabat selama 6 tahun di Senat, sedangkan Dewan Perwakilan terdiri dari tidak lebih dari 250 anggota kongres yang melayani selama 3 tahun. Cabang yudikatif pemerintah dikepalai oleh Mahkamah Agung, yang memiliki seorang Ketua Mahkamah Agung sebagai kepalanya dan 14 Hakim Agung, semuanya ditunjuk oleh Presiden. 2) Sistem hukum Sistem hukum yang dianut Filipina adalah sistem hukum campuran dari sistem civil law dan common law/sistem hukum Anglo Saxon. Sistem Hukum Sipil (civil law) Sistem hukum sipil atau yang biasa dikenal dengan Romano-Germanic Legal System adalah sistem hukum yang berkembang di dataran Eropa. Sistem ini memiliki ciri – ciri yaitu adanya berbagai ketentuan hukum yang di kodifikasi atau dihimpun secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya.Titik tekan pada sistem hukum ini adalah, penggunaan aturan-aturan hukum yang sifatnya tertulis. Sistem hukum ini berkembang di daratan Eropa sehingga dikenal juga dengan sistem Eropa Kontinental. Kemudian disebarkan negara-negara Eropa Daratan kepada daerah-daerah jajahanya. Sistem hukum Anglo-Saxon Sistem Anglo-Saxon adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada yurisprudensi, yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakimhakim selanjutnya. Sistem hukum anglo saxon, sebenarnya penerapannya lebih mudah terutama pada masyarakat pada negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman.Pendapat para ahli dan prakitisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutus perkara. 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Pedoman Good Corporate Governance di Philipina Sesuai dengan kebijakan Negara untuk secara aktif mempromosikan reformasi tata kelola perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor, mengembangkan pasar modal dan membantu mencapai pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan untuk sektor korporasi dan ekonomi, Securities Commission, melalui Resolusi No.135, Seri 4 April 2002, menyetujui berlakunya dan pelaksanaan Pedoman Good Corporate

Governance ini. Pedoman ini berlaku untuk perusahaan efek yang tercatat atau terdaftar, perusahaan penerima izin/lisensi dan perusahaan publik. Pedoman Good Corporate Governance ini juga berlaku untuk cabang atau anak perusahaan dari perusahaan asing yang beroperasi di Filipina yang terdaftar atau listed. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance Penerapan Pedonam Good Corporate Governance di Philipina merupakan suatu kewajiban. Penegakan hukum atas pelaksanaan Pedoman Good Corporate Governance tersebut dilakukan oleh Securities and Exchange Commission dan dapat dikenakan sanksi. Bursa Efek Philipina mewajibkan perusahaan tercatat untuk melaporkan secara periodik mengenai kepatuhan terhadap manual tata kelola termasuk hal-hal yang belum dapat dipenuhi wajib diungkapkan lengkap dengan alasannya. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate Governance Kegagalan untuk mengadopsi manual tata kelola perusahaan seperti yang ditentukan untuk perusahaan, setelah pemberitahuan waktu dan alasan jatuh tempo dikenakan denda sebesar P100, 000.00. Komposisi dan persyaratan Komisaris Independen Perusahaan publik harus memiliki minimal dua (2) direktur independen atau sedikitnya dua puluh persen (20%) dari jumlah anggota dewan. Semua perusahaan didorong untuk memiliki direktur independen. Dewan harus menjaga keseimbangan jumlah anggotanya yang mencakup direktur eksekutif dan direkrur non-eksekutif (termasuk non-eksekutif independen). dewan harus memiliki pembagian jawab tanggung yang jelas sehingga tidak ada individu atau kelompok yang dapat mendominasi pengambilan keputusan Dewan. Para direktur non-eksekutif harus memiliki kualifikasi yang cukup, dan memiliki peranan yang penting dalam pengambilan keputusan dewan. direktur non-eksekutif independen dipertimbangkan oleh Dewan dan harus diidentifikasi dalam laporan tahunan. Komposisi/jumlah Direksi Dewan setidaknya terdiri dari lima (5) orang tetapi tidak lebih dari lima belas (15) anggota yang dipilih oleh pemegang saham. Perusahaan publik harus memiliki minimal dua (2) komisaris independen atau sedikitnya dua puluh persen (20%) dari jumlah anggota dewan. Semua perusahaan didorong untuk memiliki komisaris independen. Dewan harus menjaga keseimbangan jumlah anggotanya yang mencakup executive director (direksi) dan nonexecutive director (komisaris, termasuk komisaris independen). Dewan harus memiliki pembagian jawab tanggung yang jelas sehingga tidak ada individu atau kelompok yang dapat mendominasi pengambilan keputusan Dewan. Para direktur non-eksekutif harus memiliki kualifikasi yang cukup, dan memiliki peranan yang penting dalam pengambilan keputusan dewan. Dewan dapat mempertimbangkan pedoman tentang jumlah direktur. pada umumnya Jumlah optimal direktur terkait dengan kapasitas direktur untuk melaksanakan tugasnya dengan tekun.

Peranan Chairman of Board dan Chief Executive Officer dilakukan secara terpisah untuk menjamin perimbangan kekuasaan, meningkatkan akuntabilitas dan kapasitas yang lebih besar dari Dewan untuk pengambilan keputusan yang independen. Perusahaan harus mengungkapkan hubungan antara Ketua dan CEO pada saat pemilihan mereka. ketika kedua posisi Ketua dan CEO disatukan, maka harus secara jelas ada seorang pemimpin untuk memberikan visi dan misi tunggal. Dalam hal ini, checks and balances harus jelas disediakan untuk membantu memastikan keindependenannya, pandangan luar, perspektif, dan memberikan penilaian tepat pada saat sidang Dewan. Dewan dapat memberikan kualifikasi tambahan untuk direktur , namun tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut: a. Pendidikan yang memadai b. Kompetensi dan pemahaman tentang bisnis yang memadai c. Persyaratan umur d. Integritas / kejujuran e. Ketekunan Komite yang dibentuk Komisaris Dewan membentuk komite-komite untuk membantu pelaksanaan Tata Kelola perusahaan yang baik. a. Komite Audit Ketua komite audit harus merupakan direktur independen. Ketua komite audit harus bertanggung jawab menanamkan dalam pikiran anggota Dewan pentingnya tanggung jawab manajemen dalam mempertahankan sistem pengendalian internal dan tanggung jawab pengawasan Dewan. Cabang atau anak dari perusahaan asing di Filipina harus mengikuti standar ini. Ketua komite audit perusahaan tersebut harus independen, dan harus melapor kantor pusat perusahaan. Komite Audit terdiri dari sedikitnya tiga (3) anggota Dewan, sebaiknya dengan latar belakang akuntansi dan keuangan, salah satu merupakan direktur independen dan lainnya harus mempunyai pengalaman audit. Komite audit mempunyai fungsi spesifik sebagai berikut: 1) Memberikan pengawasan atas kegiatan manajemen senior dalam mengelola kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum dan risiko lain atas perusahaan. fungsi ini harus termasuk menerima informasi dari manajemen senior secara berkala tentang eksposur risiko dan manajemen risiko. 2) melakukan pengawasan atas auditor internal perusahaan dan eksternal; 3) mereview dan menyetujui ruang lingkup audit, frekuensi, dan rencana tahunan audit internal;

4) Diskusi dengan auditor eksternal sebelum audit dimulai sesuai dengan sifat dan ruang lingkup audit, dan memastikan koordinasi karna melibatkan lebih dari satu perusahaan audit yang terlibat; 5) Bertanggung jawab atas pengaturan departemen internal audit dan mempertimbangkan penunjukan auditor internal serta auditor eksternal independen, biaya audit dan semua pertanyaan pengunduran diri atau pemecatan; 6) Memantau dan mengevaluasi kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian internal korporasi; 7) Menerima dan menelaah laporan auditor internal dan eksternal dan badan regulasi, dan memastikan manajemen mengambil tindakan koreksi yang tepat, pada waktu yang tepat dalam menangani fungsi kontrol dan kepatuhan terhada peraturan regulator; 8) Review triwulanan, laporan keuangan tengah tahun dan tahunan sebelum diserahkan kepada Dewan, dengan fokus terutama pada: a) Setiap perubahan dalam kebijakan akuntansi dan prakteknya; b) Area-area yang memerlukan penilaian (Major judgmental areas) c) penyesuaian yang signifikan dari audit d) asumsi-asumsi going concern perusahaan e) Kesesuaian dengan standar akuntansi f) Kepatuhan pajak, hukum, dan persyaratan bursa 9) Bertanggung jawab atas koordinasi, monitoring dan memfasilitasi kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. Ini juga mungkin merupakan tujuan dari Unit Kepatuhan. 10) Mengevaluasi dan menentukan pekerjaan non-audit oleh auditor eksternal dan menjaga dalam peninjauan audit non-biaya yang dibayar kepada auditor eksternal sehubungan dengan total pengeluaran perusahaan untuk konsultasi. Pekerjaan nonaudit harus diungkapkan dalam laporan tahunan. 11) Menetapkan dan mengidentifikasi pelaporan tugas dan tanggung jawab audit internal oleh kepala audit eksekutif. Komite Audit harus memastikan bahwa auditor internal harus memiliki akses yang bebas dan penuh ke semua catatan perusahaan, properti dan personel yang relevan dengan aktivitas audit internal dan aktivitas audit internal harus bebas dari campur tangan manajemen dalam menentukan ruang lingkup pemeriksaan audit internal, bekerja dan berkomunikasi, dan menyediakan tempat bagi Komite Audit untuk meninjau dan menyetujui rencana audit internal tahunan. b. Komite Nominasi Dewan dapat membentuk komite remunerasi yang terdiri dari setidaknya tiga(3) orang anggota, salah satunya harus merupakan direktur independen untuk meninjau dan mengevaluasi kualifikasi orang yang dinominasikan Dewan serta mereka yang dicalonkan untuk posisi anggota Dewan dan memberikan penilaian pada Board dalam melakukan proses penggangkatan dan penggantian anggota dewan.

c. Komite Kompensasi atau Remunerasi Dewan dapat membentuk komite remunerasi dimana paling sedikit terdiri dari tiga (3) anggota, salah satunya harus direktur independen. Komite ini bertugas menetapkan prosedur formal dan transparan dalam mengembangkan kebijakan remunerasi eksekutif dan untuk menetapkan paket remunerasi pejabat perusahaan dan direksi, dan memberikan pengawasan terhadap remunerasi manajemen senior dan personil kunci lainnya, memastikan kompensasi yang konsisten dengan budaya korporasi, strategi dan pengendalian lingkungan. Fungsi Internal Audit Setiap perusahaan harus membentuk fungsi audit independen, dimana dewan, manajemen senior dan pemegang saham dapat memberikan tugas untuk melakukan tugas pengendalian perusahaan secara efektif, tepat dan ditaati. Dewan dapat menunjuk seorang ketua eksekutif audit untuk melaksanakan fungsi audit, dan melaporkannya kepada perusahaan. Kepala audit Eksekutif harus melaporkan secara langsung kepada Komite audit. Manajemen juga dapat membentuk suatu sistem evaluasi kinerja untuk mengukur kinerja Dewan dan manajemen eksekutif perusahaan. Pembentukan sistem evaluasi tersebut, termasuk fiturnya, dapat diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan. 4) Prinsip-prinsip GCG a. The Board Governance b. Supply Information c. Accountability and Audit d. Stockholders’ Rights and Protection of Minority Stockholders’ Interests e. Evaluation Systems f. Disclosure and Transparency g. Commitment to Corporate Governance h. Administrative Sanction 5) Sistem perekonomian & perdagangan Ekonomi Filipina merupakan keempat terbesar di Asia Tenggara dan ketiga puluh enam di dunia berdasarkan PDB. Filipina menganut sistem ekonomi campuran dengan industri utama bergerak pada bidang pengolahan makanan, tekstil, elektronik dan otomotif. Pusat industri umumnya berada di daerah Metro Manila dan Metro Cebu. Agrikultur masih memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi diFilipina. Amerika Serikat dan Jepang telah menjadi mitra ekspor utama Filipina. Selain itu, RRC, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan dan Jermanjuga menjadi mitra ekspor terbesar Filipina. Sebagian besar ekspor berupa barang komponen elektronik dan semi

konduktor, disamping itu hasil alam seperti gas alam, minyak kelapa dan buah - buahan menjadi andalan utama bidang ekspor hasil alam.Filipina tergabung dalam beberapa forum ekonomi internasional seperti ASEAN, WTO dan APEC. 6) Sistem regulasi pasar modal Meskipun ekonomi Filipina sedang buruk dan ada halangan untuk berinvestasi. Pasar modal di Filipina tetap sangat menarik bagi investor asing karena tingkat inflasi yang rendah, banyaknya karyawan outsourcing yang murah dan berkualitas, perbankan yang kuat dan pertambangan yang terus berkembang. Hal ini tidak lepas dari kerja keras pemerintah, perusahaan swasta dan LSM yang meprioritaskan pemodal asing mau berinvestasi di Filipina. Pihak pihak yang terkait di Filipina saling bahumembahu untuk mewujudkan berbagai kebijakan (a) mengelola masuknya proses bisnis outsourcing, termasuk melalui rehabilitasi dan pemeliharaan kader yang kuat dari sumber daya manusia, (b) mempromosikan persaingan yang meningkat di sektor-sektor penting, (c) memperbaiki lingkungan untuk investasi pertanian; (d) mengatasi ketidakamanan kontrak sebagai pencegah terhadap investasi asing; (e) mengakui peran signifikan dari pekerja asing di luar negeri (OFWs) sebagai investor, dan (e) berhubungan dengan masalah korupsi. 7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Kegagalan untuk mengadopsi manual tata kelola perusahaan seperti yang ditentukan untuk perusahaan, setelah pemberitahuan waktu dan alasan jatuh tempo dikenakan denda sebesar P100, 000.00. 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG • Securities Commission • Bursa Efek Philipina

9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku Perusahaan harus mengumumkan dan menetapkan peraturan tata kelola perusahaan dan prinsip-prinsip sesuai dengan Kode Etik ini. Peraturan harus dalam bentuk manual dan tersedia sebagai referensi bagi direksi. Ha Ini harus disampaikan kepada Komisi yang akan mengevaluasi kepatuhan dengan mempertimbangkan Kode Etik ini, dan mempertimbangkan ukuran dan sifat usaha perusahaan. Ketua Dewan bertugas dan bertanggung jawab untuk menjamin kepatuhan terhadap praktek dan kode tata kelola perusahaan kecuali diamanatkan oleh hukum.

LAOS

1) Sistem pemerintahan Laos Satu-satunya partai politik yang diakui di Laos adalah Partai Revolusioner Rakyat Laos (LPRP). Kepala negara adalah seorang presiden yang ditentukan oleh parlemen untuk masa jabatan 5 tahun. Kepala pemerintahan adalah seorang perdana menteri yang ditunjuk oleh presiden dengan persetujuan dari parlemen. Kebijakan pemerintahan ditentukan oleh partai melalui 9 anggota yang sangat berkuasa Politbiro dan 49 anggota Komite Pusat. Keputusan pemerintah yang penting ditentukan Dewan Menteri. Laos menganut konstitusi baru sejak 1991. Pada tahun berikutnya, pemilu diadakan untuk 85 kursi baru Majelis Nasional yang anggotanya dipilih secara rahasia untuk masa jabatan 5 tahun. Parlemen tunggal ini diperluas sejak pemilu 1997 menjadi 99 anggota, menyetujui semua hukum baru, meskipun presidenlah yang memegang kekuasaan untuk mengeluarkan dekrit yang sifatnya mengikat. Pemilu yang terbaru dilaksanakan pada Februari 2002 ketika Majelis Nasional diperluas menjadi 109 anggota. 2) Sistem hukum Bentuk pemerintahan Laos adalah republik yang dipimpin seorang presiden menggantikan sistem kerajaan pada tahun 1975. Tahun 1989 Laos menyelenggarakan pemilu pertama tetapi baru tahun 1991 Laos memiliki konstitusi yang memperbolehkan penduduk berusia 18 tahun keatas untuk memilih. Menurut konstitusi 1991, kekuasaan eksekutif dipegang seorang presiden, yang dipilih oleh Majelis Nasional untuk masa jabatan lima-tahun. Presiden dibantu oleh seorang wakil presiden. Presiden menunjuk perdana menteri, kabinet yang harus disetujui oleh Majelis Nasional. Kekuasaan legislatif berada di tangan Majelis Nasional. 109 anggotanya dipilih setiap lima tahun. Majelis Nasional memiliki kekuatan untuk mengubah konstitusi, hukum lulus, dan menyetujui anggaran. Laos dibagi menjadi 16 provinsi, daerah khusus Xaisomboun, dan kota Vientiane. Provinsi dibagi menjadi kabupaten yang terdiri dari kota dan desa. Semua dikelola oleh komite administratif, yang kegiatannya dimonitor di tingkat kabupaten dan tingkat provinsi oleh komite paralel LPRP tersebut.

3) Struktur Corporate Governance (Board System) Di Laos, pemerintah sedang mengupayakan perubahan kondisi ekonominya dengan mengupayakan setiap perusahaan yang ada di Laos agar memiliki hukum perusahaan yang baik. Laos juga mendorong perusahaan untuk beralih dari ekonomi bawah tanah ke ekonomi terbuka yang bisa memberikan bantuan modal untuk mengembangkan usaha mereka. Pemerintah Laos juga sedang mengupayakan perlindungan yang lebih baik kepada investor sehingga mau berinvestasi di Laos.Hukum perusahaan juga harus memperhatikan hak buruh agar kesehjahteraan mereka bisa terjamin dan meningkatkan standar hidup masyarakat Laos itu sendiri. 4) Prinsip-prinsip GCG

Secara umum prinsip-prinsip GCG belum berjalan baik di Laos. Lemahnya hukum membuat banyak terjadi pelanggaran yang tidak ditangani dengan baik seperti pencucian uang, pelanggaran terhadap buruh, perusakan lingkungan, dan bermacam-macam lainya 5) Sistem perekonomian & perdagangan Pemerintah Laos - salah satu dari sekian negara komunis yang tersisa - memulai melepas kontrol ekonomi dan mengizinkan berdirinya perusahaan swasta pada tahun 1986. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi melesat dari sangat rendah menjadi rata-rata 6% per tahun periode 1988-2004 kecuali pada saat krisis finansial Asia yang dimulai pada 1997. Seperti negara berkembang umumnya, kota-kota besarlah yang paling banyak menikmati pertumbuhan ekonomi. Ekonomi di Vientiane, Luang Prabang, Pakxe, dan Savannakhet, mengalami pertumbuhan signifikan beberapa tahun terakhir. Sebagian besar dari wilayahnya kekurangan infrastruktur memadai. Laos masih belum memiliki jaringan rel kereta api, meskipun adanya rencana membangun rel yang menghubungkan Vientiane dengan Thailand yang dikenal dengan Jembatan Persahabatan Thailand-Laos. Jalan-jalan besar yang meghubungkan pusat-pusat perkotaan, disebut Rute 13, telah diperbaiki secara besar-besaran beberapa tahun terakhir, namun desa-desa yang jauh dari jalan-jalan besar hanya dapat diakses melalui jalan tanah yang mungkin tidak dapat dilalui sepanjang tahun. Ada telekomunikasi internal dan eksternal yang terbatas, terutama lewat jalur kabel, namun penggunaan telepon genggam/handphone telah menyebar luas di pusat perkotaan. Listrik tidak tersedia di banyak daerah pedesaab atau hanya selama kurun waktu tertentu. Pertanian masih memengaruhi setengah dari PDB dan menyerap 80% dari tenaga kerja yang ada. Ekonomi Laos menerima bantuan dari IMF dan sumber internasional lain serta dari investasi asing baru dalam bidang pemrosesan makanan dan pertambangan, khususnya tembaga dan emas. Pariwisata adalah industri dengan pertumbuhan tercepat di Laos. Pertumbuhan ekonomi umumnya terhambat oleh banyaknya penduduk berpendidikan yang pindah ke luar negeri akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai. Pada 2005 penelitian oleh Bank Dunia melaporkan bahwa 37% dari penduduk Laos yang berpendidikan tinggal di luar negeri, menempatkan Laos pada tempat ke-5 di dunia untuk kasus ini. Akhir 2004 Laos menormalisasi hubungan dagangnya dengan Amerika Serikat, yang membuat produsen Laos mendapatkan tarif ekspor yang lebih rendah sehingga merangsang pertumbuhan ekonomi mereka dari sektor ekspor. 6) Sistem regulasi pasar modal Secara keseluruhan, hukum Laos, lembaga-lembaga publik dan swasta tidak mendukung terkait perdagangan arus uang. Produk pasar keuangan tidak tersedia secara luas untuk para pedagang (bankir), meskipun beberapa bank teknis memberikan berbagai layanan perbankan internasional, termasuk surat impor dan ekspor kredit, impor dan ekspor koleksi, obligasi dan jaminan, transfer ke dalam dan luar dan pembayaran. Pertukaran mata uang asing sangat sulit, kalaupun tersedia, semua pedagang bisa melakukannya

Namun demi mencapairencana pembangunan negara. Pemerintah Laos memutuskan belajar dari Thailnd mengenai pasar modal mereka. Bursa efek Laos (LSX) bekerja sama engan bursa Thailand (SEC) membuka workshop tentang dunia permodalan yang diikuti sejumlah dinas terkait di Laos. Workshop ini difokuskan pada pentingnya pasar modal bagi pembangunan ekonomi nasional, tata kelola perusahaan, dan peran pertukaran sekuritas untuk perlindungan investor di Thailand, dan menampilkan presentasi oleh perwakilan dari SEC. 7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Di Laos, uang hasil kejahatan narkoba menjadi salah satu isu keuangan ilegal yang serius. Banyaknya pencucian uang terkait narkoba dikarenakan batas hukum yang lemah dan penegakan yang tidak serius.Untuk memperbaiki kondisi itu, pemerintah Laos telah menandatangani Perjanjian PBB mengenai obat terlarang dan kejahatan transnasional, yang menentukan langkah-langkah untuk memerangi pencucian uang dan menyita hasil kegiatan terlarang. Laos juga bekerja untuk membuat Intelligence Unit Keuangan (FIU) di bank sentral dengan otoritas untuk mengkoordinasikan dan memonitor kebijakankebijakan anti-pencucian uang. Kantor PBB Obat dan Kejahatan (UNODC) dan Bank Pembangunan Asia telah memberikan bantuan teknis kepada pemerintah Laos untuk membangun kapasitas dan meningkatkan kepatuhan di bidang kejahatan keuangan. 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG Hukum Perusahaan sangat penting dalam ekonomi pasar, itu set lingkungan hukum untuk penciptaan dan operasi usaha milik swasta. Hukum Perusahaan yang baik adalah sangat penting dalam transisi-ekonomi negara. Hal ini dapat mendorong kewirausahaan dengan membuatnya mudah untuk memulai dan mendaftarkan perusahaan, yang dapat mendorong perusahaan untuk keluar dari ekonomi bawah tanah ke dalam ekonomi publik pembayar pajak terdaftar, dan dapat mendorong investasi baru - dan memberikan perlindungan investor dengan menetapkan sebagainya yang jelas dan obyektif aturan untuk pemerintahan yang sedang berlangsung internal perusahaan. Di sebagian besar negara aturan untuk memulai sebuah perusahaan baru adalah bagian kecil dan sederhana dari Hukum Perusahaan, sedangkan aturan untuk operasi perusahaan yang terus-menerus dan pemerintahan jauh lebih penting dan lebih rinci. Di Laos, bagaimanapun, proses start-up yang panjang dan tak terduga - begitu banyak sehingga ini dapat dianggap nomor satu masalah di bawah Hukum Perusahaan Laos. Tapi start-up tidak masalah saja; hukum juga tidak memiliki banyak ketentuan dasar untuk kontrol dan perlindungan investor yang ditemukan dalam Hukum Perusahaan lainnya dan yang, semakin, diperlukan untuk menarik investasi luar dan bertemu dengan praktik terbaik internasional. Dengan demikian, perusahaan start-up proses di Laos harus benar-benar dirubah dan efisien.Di luar itu, semua-baru Lao Hukum Perusahaan diperlukan pada titik lain. Hal ini dimengerti bahwa seperti undang-undang baru sudah sedang disusun dan pada stadium lanjut dari tinjauan. Bahkan jika rancangan yang berisi proses pendaftaran disederhanakan, bagaimanapun, bekerja akan tetap mempertimbangkan bagaimana perusahaan tertanam sistem start-up sekarang ini.

VIETNAM
1) Sistem pemerintahan Vietnam

Vietnam menganut sistem partai tunggal dengan Republik Sosialis Vietnam sebagai partai tunggal negara. Pada April 1992, lahir sebuah konstitusi baru menggantikan versi 1975. Peran utama terdahulu Partai Komunis disertakan kembali dalam semua organ-organ pemerintah, politik dan masyarakat. Hanya organisasi poltik yang bekerjasama atau didukung oleh Partai Komunis diperbolehkan ikut dalam pemilihan umum. Ini meliputi Barisan Tanah Air Vietnam (Vietnamese Fatherland Front), partai serikat pedagang dan pekerja. Meskipun negara tetap secara resmi berjanji kepada sosialisme sebagai doktrinnya, makna ideologi tersebut telah berkurang secara besar sejak tahun 1990-an. Presiden Vietnam adalah kepala negara dan secara nominal adalah panglima tertinggi militer Vietnam, menduduki Dewan Nasional untuk Pertahanan dan Keamanan (Council National Defense and Security). Perdana Menteri Vietnam adalah kepala pemerintahan, mengepalai kabinet yang terdiri atas 3 deputi perdana menteri dan kepala 26 menterimenteri dan perwira-perwira. Adapun Majelis Nasional Vietnam (National Assembly of Vietnam) adalah pemegang hak legislatif di negara tersebut yang terdiri atas 498 anggota yang mempunyai tugas sebagai pembuat undang-undang. Majelis ini memiliki posisi yang lebih tinggi daripada lembaga eksekutif dan judikatif. Seluruh anggota kabinet berasal dari Majelis Nasional. Mahkamah Agung Rakyat (Supreme People’s Court of Vietnam) memiliki kewenangan hukum tertinggi di Vietnam, juga bertanggung jawab kepada Majelis Nasional. Di bawah Mahkamah Agung Rakyat adalah Pengadilan Kotamadya Propinsi dan Pengadilan Daerah Vietnam. Pengadilan Militer Vietnam juga cabang adjudikatif yang kuat dengan kewenangan khusus dalam hal keamanan nasional. Semua organ-organ pemerintah Vietnam secara besar dikontrol oleh Partai Komunis. Mayoritas orang-orang yang ditunjuk pemerintah adalah anggota-anggota partai. Sekretaris Jenderal Partai Komunis mungkin adalah salah satu pemimpin politik terpenting di Vietnam, mengontrol organisasi nasional partai dan perjanjian-perjanjian negara, juga mengatur undang-undang. 2) Sistem hukum Sistem hukum Vietnam adalah Sistem Hukum Continental European. 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Tampaknya tidak ada istilah setara dengan tata kelola perusahaan sebagaimana yang dipahami di negara maju dalam bahasa Vietnam. Akibatnya, beberapa cendekiawan Vietnam, untuk Bich misalnya, mencoba untuk menyarankan alternatif istilah abstrak dalam bahasa Vietnam untuk menggambarkan governance.Terms perusahaan yang merujuk untuk mengarahkan, mengendalikan, dan mengelola sebuah perusahaan yang digunakan dalam sastra Vietnam, misalnya, "quển tri Cong ty" , "Quan ly ̶điều Hanh

Cong ty, Quan tri doanh nghiệp, sebuah dquản tri doanh Kinh Quan tri Cong ty dapat dipahami sebagai manajemen perusahaan, dan istilah lainnya seperti mengelola Vietnam perusahaan, perusahaan. manajemen, dan manajemen bisnis masing-masing. Dengan kata lain, istilah-istilah dalam bahasa Vietnam dapat dipahami sebagai konsepsi sempit tata kelola perusahaan. Dalam hukum perusahaan Vietnam, pemahaman dari "Quan ly" istilah yang d "điều Hanh" berbeda. Sementara mantan mengacu pada aktivitas pengambilan keputusan perusahaan, yang terakhir ini digunakan untuk menyebutkan kegiatan manajemen sehari-hari perusahaan. Secara historis, Vietnam pembuat hukum sering prihatin dengan struktur manajemen perusahaan ketimbang mekanisme tata kelola perusahaan seperti yang terlihat di negara maju. Inthe literatur, beberapa ulama seperti Doanh Vietnam, Huy, dan Nghia mengutip struktur tata kelola internal perusahaan sebagai model organisasi untuk manajemen perusahaan atau aparat manajemen. Namun, menurut pandangan yang paling umum, "tata kelola perusahaan" secara kasar dapat diterjemahkan ke Vietnam sebagai "tri Cong Quan ty" walaupun itu mengacu pada administrationof perusahaan dalam bahasa Vietnam. Istilah "quan tri cong ty", misalnya, telah digunakan oleh Kamar Vietnam Dagang dan Industri (VCCI) ̶organisasi bisnis terbesar Vietnam, dan oleh Departemen Keuangan dalam Kode Corporate Governance untuk Perusahaan Tercatat. Quan tri Cong ty adalah istilah yang digunakan sebagai terjemahan resmi dari "corporate governance" pada konferensi internasional yang diselenggarakan oleh pemerintah Vietnam dan lembaga-lembaga internasional seperti United Nations Development Programme (UNDP), Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), International Finance Corporation (IFC), Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Dunia (WB). selama masa kebijakan perintah ekonomi, bentuk perusahaan dan tata kelola perusahaan tidak baik topik hukum atau literatur untuk beberapa dekade. Para Đổi Moi kebijakan dimulai pada akhir 1980-an, dan lebih khusus, pengenalan UU, Perusahaan 1990 yang memungkinkan orang untuk mendirikan perusahaan swasta untuk tujuan keuntungan, merupakan langkah penting bagi tata kelola perusahaan untuk menjadi isu penting dalam transisi perekonomian. Sampai beberapa tahun lalu, tata kelola perusahaan tidak penting dalam bisnis, membuat kebijakan, atau literatur. Mr Fred Burke, CEO cabang Vietnam dari sebuah firma hukum AS, Baker & McKenzie, komentar bahwa meskipun dasar prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang diresepkan oleh UU Enterprise, Vietnam masih belajar apa yang kelola. Pemisahan kepemilikan dan manajemen sebagai Berle dan Means mengembangkan tujuh dekade yang lalu tampaknya diabaikan oleh pengusaha Vietnam, yang sering pemegang saham-manajer perusahaan. Baru-baru ini dinyatakan dalam Buletin Bisnis Isu Kamar Vietnam Dagang dan Industri (VCCI), yang diterbitkan dengan dukungan dari Development Facility Mekong Sektor

Swasta (MPDF) dari International Finance Corporation (IFC), bahwa Tata kelola perusahaan masih sebuah konsep baru di Vietnam. Dalam sebuah studi IFC-MPDF barubaru ini perusahaan Vietnam yang besar, kurang dari 25% percaya bahwa pengusaha di Vietnam memahami konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan. Wawancara mendalam dengan direktur perusahaan mengungkapkan bahwa masih ada beberapa kebingungan tentang perbedaan antara tata kelola perusahaan dan manajemen operasional. Akibatnya, beberapa perusahaan Vietnam memiliki sistem good corporate governance. Sebagian besar dari direksi yang diwawancarai dalam penelitian ini setuju bahwa perusahaan harus meningkatkan praktek Vietnam perusahaan mereka kelola. Dalam beberapa tahun terakhir, dengan pertumbuhan yang cepat dari perusahaan swasta dan investasi asing, (BUMN) BUMN equitisationprocess, terjadinya beberapa kasus kriminal yang serius menyangkut tata kelola perusahaan, dan integrasi ekonomi internasional, tata kelola perusahaan telah menjadi semakin topik penting di Vietnam. Sampai dengan akhir 2007, sekitar 9.500 FDI (investasi langsung asing) proyek telah berlisensi dengan modal total terdaftar dari sekitar US $ 98 billionparticularly, sementara in2007, Vietnam menerima sekitar US $ 25,6 billionfrom foreignin vestors.90 Selain itu, sejak akhir tahun 2000, Vietnam hanya 35 ribu perusahaan swasta, namun pada akhir tahun 2007 ada lebih dari 200 ribu perusahaan atau lebih dengan peningkatan yang signifikan dalam modal. Pentingnya tata kelola perusahaan yang kini dianggap oleh para pembuat kebijakan dan pengusaha. Dari perspektif legislatif, pengenalan UU Perusahaan tahun 2005 dan UU Surat Berharga 2006 peraturan tentang perlindungan investor meningkatkan dan pengungkapan adalah contoh signifikan. Penelitian tata kelola perusahaan oleh Institut Manajemen Ekonomi Tengah (CIEM), yang VCCI, MPDF, dan beberapa lembaga internasional, seperti Bank Dunia dan UNDP, juga menunjukkan semakin pentingnya tata kelola perusahaan dalam transisi Vietnam. Vietnam memiliki "miskin" kerangka regulasi tata kelola perusahaan. Vietnam "hukum keras", termasuk konstitusi undang-undang dan perusahaan, merupakan sumber dasar kerangka regulasi, namun, undang-undang harus bergantung pada undang-undang bawahan dalam pelaksanaannya. Standar akuntansi dan audit diumumkan oleh pemerintah sebagai "hukum keras" juga harus ditingkatkan untuk memenuhi standar internasional dan mempromosikan "baik" tata kelola perusahaan dengan efisien keterlibatan asosiasi profesi akuntan dan auditor. Selain itu, ada kurangnya sumber penting dari peraturan tata kelola perusahaan seperti di negara maju, seperti kode tata kelola perusahaan dan aturan oleh regulator sekuritas daftar. Dalam rangka untuk menciptakan kerangka tata kelola ane ffective peraturan perusahaan, aturan kekurangan tata kelola perusahaan harus dilaksanakan oleh keterlibatan efisien tidak hanya badan pemerintah dan non-pemerintah, tetapi juga pemegang saham dan perusahaan itu sendiri. Singkatnya, sejak diperkenalkannya reformasi ekonomi dan hukum perusahaan adalah kurang dari dua dekade tua, kebanyakan pengusaha Vietnam dan

sarjana yang belum familiar dengan mekanisme tata kelola perusahaan sebagaimana yang dipahami di negara maju. Namun, ada sejumlah alasan mengapa tata kelola perusahaan menjadi semakin penting dalam ekonomi transisi Vietnam. 4) Prinsip-prinsip GCG 5) Sistem perekonomian & perdagangan Perang Vietnam sangat menghancurkan bagi perekonomian Vietnam. Pada saat pengambilalihan kekuatan, pemerintah menciptakan sebuah ekonomi terencana, mirip apa yang dilakukan Indonesia di zaman Orde Baru lewat Rencana Pembangunan Lima Tahun. Kolektivisasi pertanian, pabrik-pabrik dan modal ekonomi diterapkan, dan jutaan orang diperkerjakan pada program-program pemerintah. Untuk beberapa dekade, ekonomi Vietnam terganggu oleh ketidak efisien-an dan korupsi dalam program-program negara, kualitas buruk dan di bawah target produksi dan pembatasan pada kegiatan perekonomian dan perdagangan. Vietnam juga menderita akibat embargo perdagangan oleh Amerika Serikat dan kebanyakan negara-negara Eropa setelah Perang Vietnam. Setelah itu, partner-partner perdagangan dengan blok-blok Komunis mulai surut. Pada 1986, Kongres Partai Keenam memperkenalkan reformasi ekonomi penting dengan elemen-elemen ekonomi pasar sebagai bagian dari paket reformasi ekonomi luas yang disebut Doi Moi (Renovasi). Kepemilikan swasta digenjot dalam bidang industri, perdagangan dan pertanian. Dalam satu pihak, Vietnam berhasil mencapai pertumbuhan GDP tahunan sebesar 8% dari tahun 1990 hingga 1997 dan berlanjut sekitar 7% dari tahun 2000 hingga 2005, membuat Vietnam sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia. Pada saat yang bersamaan, investasi asing tumbuh tiga kali lipat dan simpanan domestik tumbuh empat kali lipat. Manufaktur, teknologi informasi dan industri teknologi canggih membentuk bagian besar dan tumbuh dengan cepat daripada ekonomi nasional. Vietnam secara relatif adalah pemain baru dalam bisnis perminyakan, tetapi sekarang Vietnam adalah produser minyak terbesar ketiga di Asia Tenggara dengan nilai produksi 400.000 barel per hari. Vietnam adalah salah satu negara Asia yang memiliki kebijakan ekonomi paling terbuka; neraca perdagangan mencapai sekitar 160% GDP, lebih dari dua kali rasio yang dimiliki Cina dan lebih dari empat kali rasio India.[1] Vietnam secara umum masih tergolong negara miskin dengan GDP US$280,2 miliar (estimasi 2006). Ini menandakan kemampuan daya beli sebesar ~US$3.300 per kapita (atau US$726 per kapita berdasarkan market exchange rate). Tingkat inflasi diperkirakan 7.5% per tahun pada 2006. Daya beli publik meningkat dengan pesat. Kemiskinan, berdasarkan jumlah penduduk yang hidup dengan pendapatan di bawah $1 per hari, telah menurun secara drastis dan sekarang lebih sedikit daripada di Cina, India dan Filipina.[2] Sebagai hasil dari langkah-langkah reformasi tanah (land reform), Vietnam sekarang adalah produsen kacang cashew terbesar dengan pangsa 1/3 dari kebutuhan dunia dan eksportir beras kedua terbesar di dunia setelah Thailand. Vietnam memiliki persentasi tertinggi atas penggunaan lahan untuk kepentingan cocok tanam permanen, 6,93%, daripada negara-negara lain di Sub-wilayah Mekong Raya (Greater Mekong Subregion). Selain beras, kunci ekspor adalah kopi, teh, karet dan produk-produk perikanan.

Tetapi, peranan pertanian terhadap pemasukan ekonomi telah berkurang, jatuh berdasarkan sumbangan terhadap GDP dari 42% pada tahun 1989 menjadi 20% pada tahun 2006, akibat dari meningkatnya produksi sektor-sektor ekonomi lainnya. Pengangguran diperkotaan meningkat terus menerus dalam beberapa tahun terakhir karena tingginya tingkat migrasi dari desa ke kota-kota, sedangkan pengangguran di pedesaan sudah mencapai level kritis. Di antara langkah-langkah lain yang diambil dalam proses transisi ke ekonomi pasar, Vietnam, pada Juli 2006 meng-update peraturan properti intelektualnya untuk mematuhi TRIPS. Vietnam diterima sebagai anggota WTO pada 7 November 2006. Partner-partner perdagangan utama Vietnam termasuk Jepang, Australia, negara-negara ASEAN, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat. 6) Sistem regulasi pasar modal Para Perdagangan Saham Pusat Vietnam juga mekanisme yang baru resmi melalui obligasi pemerintah yang diterbitkan, dan berfungsi sebagai pasar sekunder untuk obligasi sejumlah isu yang ada. Semua surat berharga yang diperdagangkan di Pusat Perdagangan Efek dalam mata uang Vietnam Vietnam dong (VND). Nilai nominal adalah standar di VND10, 000 untuk ekuitas dan VND100, 000 untuk obligasi. Perdagangan dilakukan setiap hari dengan dua matching dalam sesi pagi, 09:00-11:00 Negara Securities Commission (SSC), didirikan sebuah badan resmi pada tahun 1996, bertanggung jawab untuk pengembangan pasar modal, perizinan peserta, dan masalah dan penegakan peraturan. Berbagai macam peraturan, dengan masukan yang signifikan dari badan-badan multilateral seperti International Finance Corporation, telah diumumkan, termasuk yang berhubungan dengan isu-isu seperti insider trading , mengambil-alih titik pemicu dan pinjaman marjin. Untuk menjadi terdaftar, perusahaan harus telah menguntungkan untuk minimal 2 tahun, memiliki kapitalisasi minimum VND5b (sekitar US $ 318.000), dan memiliki setidaknya 50 pemegang saham yang bukan pegawai perusahaan, menahan sedikitnya 20% dari saham. Asing yang diinvestasikan perusahaan patungan secara teknis memenuhi syarat untuk daftar, tapi untuk melakukannya, mereka harus direorganisasi ke status perusahaan saham gabungan. Perusahaan berniat untuk daftar juga harus tunduk pada audit oleh perusahaan, audit independen disetujui. Mekanisme perdagangan di Pusat Perdagangan Efek Vietnam adalah melalui sistem pemesanan-pencocokan otomatis. Kapasitas dari sistem ini adalah 300.000 pesanan per hari. Saat ini, perdagangan batas dari 5% (untuk obligasi dan saham) kedua sisi dari penutupan sebelumnya berlaku. Tidak ada pembatasan harga telah ditetapkan untuk efek baru terdaftar tapi topi harga yang diterapkan dalam kasus hari pertama operasi pasar. Penyelesaian secara terpusat melalui Pusat Perdagangan Saham Vietnam menggunakan Bank untuk Investasi dan Pengembangan Vietnam (BIDV), sebuah bank komersial milik negara. Beberapa bank domestik dan perusahaan sekuritas telah berwenang untuk menerima tahanan dari efek, dengan HSBC 'dan Deutsche Bank 's Chi Ho cabang Minh saat ini bank hanya menyediakan jasa penitipan bagi investor asing. Penitipan didasarkan pada, penyimpanan pusat pusat registri sistem pemindahbukuan.

7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Perusahaan Vietnam Governance Forum yang diadakan di Ho Chi Minh Oktober lalu, menggarisbawahi pentingnya bagi Vietnam memperkuat reputasinya sebagai tempat yang aman bagi modal investasi dengan meningkatkan standar pelaporan dan tingkat pengungkapan. Pembicara mencatat dampak dari krisis kredit global dan dampak yang dirasakan oleh perusahaan-perusahaan AS dan Eropa dalam menjadi lebih bijaksana tentang keputusan investasi mereka dengan meneliti standar CG di pasar negara berkembang. Mereka juga menggambarkan bagaimana krisis telah revved sampai kompetisi untuk FDI, dan bahwa Vietnam sekarang akan bersaing secara efektif dengan China dan India untuk sepotong sangat mengurangi modal FDI global. Tutup link dibuat antara FDI tarik dan CG, di risiko yang lebih besar dan biaya untuk investor yang berasal dari kurangnya transparansi bisa sebagian dikurangi oleh perusahaan-perusahaan Vietnam mengikuti standar CG yang baik dan praktek. Pembicara juga digunakan Forum sebagai kesempatan untuk meminta pemerintah untuk memperbaiki peraturan tidak lengkap dan sanksi dalam kerangka hukum, dan untuk BUMN (BUMN) dan Anggota Dewan menyambut akuntabilitas perusahaan yang lebih besar. Di samping rekomendasi ini, joint venture, merger dan akuisisi yang menyoroti sebagai alat terbelakang untuk menarik investasi asing ke Vietnam. IFC dan LexisNexis Hosti Corporate Governance Forum respon n 9, perwakilan pemerintah mencatat bahwa 2010 akan melihat perubahan peraturan CG dan sanksi untuk menghukum perusahaan yang terdaftar atas pelanggaran apapun. CG juga akan menjadi kondisi yang diperlukan bagi setiap perusahaan yang ingin terdaftar di bursa saham. Selain itu, pada tahun 2011, Negara Efek Komisi akan memiliki unit khusus yang bertanggung jawab untuk mengawasi hal-hal tata kelola perusahaan.Para pembicara dan host panel mewakili berbagai macam internasional, regional, dan tenaga ahli lokal dari sektor swasta maupun publik, termasuk IFC, Komisi Perdagangan Australia, KPMG Vietnam, Naga Modal, Dunia-Periksa Asia, Vietnam Negara Securities Commission, Hanoi dan Bursa Efek Ho Chi Minh, dan Departemen Perencanaan dan Investasi. Diskusi tertutup kanvas macam hal yang berkaitan mulai dari topikal ('Corporate Governance di Masa Krisis'), untuk struktural ('Update pada Peraturan Upaya Meningkatkan Praktek CG di Perusahaan Vietnam'), praktis ('Membangun Dewan Lebih Baik Direksi ', yang' Aplikasi Praktis Prinsip Pemerintahan di Vietnam ', dan' Pelaksanaan Tata Kelola Risiko dan Sistem Kepatuhan di Perusahaan Vietnam '), dan strategis (' Hubungan antara Perdagangan, Investasi, dan Corporate Governance ', dan' Upaya Menarik Lokal dan Investor Asing kepada Perusahaan Vietnam '). 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG Bursa Efek Vietnam 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG

TIMOR LESTE
1)

Sistem pemerintahan Timor Leste

Berdasarkan Konstitusi, pemerintahan Timor-Leste menganut sistem pemisahan kekuasaan, sehingga terdapat empat lembaga tinggi negara masing-masing Presiden Republik, Parlemen Nasional, Pemerintah dan Lembaga Peradilan. Pemerintah sebagai lembaga eksekutif mempunyai kekuasaan untuk menjalankan undangundang, sehingga Perdana Menteri sebagai kepala pemerintah mengepalai dewan meteri atau kabinet. Berikut daftar Kabinet Pemerintah Timor-Leste: Kabinet 1975 Kabinet 1975 adalah Kabinet Pemerintahan Timor-Leste yang dibentuk pada tanggal 30 November 1975 setelah Proklamasi Kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 28 November 1975 oleh (Comité Central da Fretilin / CCF) Komite Pusat Fretilin melalui Francisco Xavier do Amaral. Namun Kabinet ini tak berumur panjang, karena tujuh hari kemudian tepatnya tanggal 7 Desember 1975 militer Indonesia masuk ke Timor Leste. Kabinet Pemerintah Konstitusional Pertama Pemerintah Konstitusional Pertama (Primeiro Governo Constitucional) adalah kabinet Timor-Leste pertama yang dibentuk setelah pengambil-alihan kekuasaan dari PBB melalui misinya di Timor Timur UNTAET (United Nations Transitional Administration in East Timor) kepada Timor-Leste pada tanggal 20 Mei 2002 yang dikenal sebagai Hari Restorasi Kemerdekaan Timor-Leste. Kabinet ini dikepalai oleh Dr. Marí Alkatiri sejak Mei 2002 sampai Juni 2006 karena terjadi krisis politik militer. Kabinet ini mengalami perubahan sedikit demi sedikit guna pembenahan institusi pemerintah, kemudian pada bulan Juli 2005 baru dilakukan Reshuffle (remodelação). Kabinet Pemerintah Konstitusional Kedua Pemerintah Konstitusional Kedua (Segundo Governo Constitucional) adalah kabinet lanjutan dari Pemerintah Konstitusional Pertama Timor-Leste, yang dibentuk setelah Marí Alkatiri turun dari jabatannya sebagai Perdana Menteri ketika terjadi krisis politik militer tahun 2006. Kabinet ini dikepalai oleh Dr. José Manuel Ramos Horta sebagai Perdana Menteri dan dua Wakil Perdana Menteri masing-masing Wakil Perdana Menteri I Ir. Estanislau Aleixo da Silva dan Wakil Perdana Menteri II Dr. Rui Maria de Araújo sejak Juli 2006 sampai dengan Mei 2007. Kabinet Pemerintah Konstitusional Ketiga Pemerintah Konstitusional Ketiga (Terceiro Governo Constitucional) adalah kabinet Timor-Leste periode Mei-Agustus 2007 yang dibentuk untuk menlanjutkan kabinet Pemerintah Konstitusional Kedua, karena Perdana Menteri Dr. José Manuel Ramos Horta

terpilih sebagai Presiden Republik pada Pemilihan Presiden Timor Leste tahun 2007. Kabinet ini dikepalai oleh Ir. Estanislau Aleixo da Silva sebagai Perdana Menteri dan Dr. Rui Maria de Araújo sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus sebagai Menteri Kesehatan. Kabinet ini lebih diutamakan untuk mempersiapkan Pemilu Presiden dan Pemilu Parlemen yang diadakan pada tahun 2007 seperti yang dipaparkan dalam programnya yang disampaikan kepada parlemen. Kabinet Pemerintah Konstitusional Keempat Pemerintah Konstitusional Keempat (Quarto Governo Constitucional) adalah kabinet Timor-Leste yang dibentuk melalui hasil pemilu legislatif 2007. Kabinet ini dikepalai oleh José Alexandre Gusmão (Xanana Gusmão) sejak 8 Agustus 2007. Kemudian pada awal Maret 2009, Perdana Menteri Xanana Gusmão me-reshuffle kabinetnya, namun bisa dikatakan bahwa hanya menambahkan anggota kabinetnya saja. Pada tanggal 5 Maret 2009 Presiden melantik penambahan anggota kabinet antara lain: Mário Viegas Carrascalão sebaga Wakil PM II, Cristiano da Costa sebagai Wakil Menteri Ekonomi dan Pembangunan dan José Manuel Carrascalão sebagai Wakil Menteri Infrastruktur. Sedangkan Rui Manuel Hanjam yang sebelumnya sebagai Wakil Menteri Ekonomi dan Pembangunan baru diambil sumpahnya pada tanggal 18 Maret 2009 sebagai Wakil Menteri Keuangan 2) Sistem hukum Sistem hukum Timor Leste masih di persimpangan jalan JSMP menyadari dan meyakini bahwa sektor peradilan adalah sektor yang sangat menentukan dalam proses pembangunan bangsa. Oleh karena itu, JSMP mendorong semua pihak untuk menghormati wibawa institusi hukum dan menempatkan institusi hukum pada tempatnya dengan menghormati kedaulatan dan kompetensi mereka. Proses ini termasuk memberikan keleluasaan yang utuh dalam menjalankan mandat mereka sebagaimana telah ditentukan dalam Konstitusi dan undang-undang lainnya untuk menjamin keadialan bagi semua orang. Sepanjang tahun 2010, JSMP mencatat bahwa adanya upaya dan kerja keras untuk membangun sistem hukum yang kuat dan dapat dijangkau oleh semua pihak. JSMP mengakui bahwa adanya capaian/perkembangan positif dalam beberapa aspek yang tidak bisa diabaikan. Namun, demikian, JSMP juga mengamati bahwa terdapat tindakan atau praktek politik tertentu yang JSMP memakluminya sebagai praktek yang berpotensi untuk meminimalisir upaya koletif dalam menegakan sistem hukum yang kredibel dan mengakomodir kepentingan semua pihak. JSMP tetap berkomitmen dan menghimbau kepada semua pihak untuk terus bekerja sama secara kolektif untuk menegakan sistem hukum, sebagai investasi untuk perdamaian,

keadilan, pemerintahan yang baik, dalam dalam kesempatan yang sama sebagai investasi untuk masa depan Timor Leste yang lebih baik. JSMP tetap berharap bahwa di tahun 2011 akan menjadi sebuah tahun atau dekade baru yang mencerminkan sebuah Negara hukum yang berwibawa, tegaknya hukum, tercipta perdamaian, penghormatan terhadap prinsip Negara hukum, prinsip pemisahan kekuasaan dan independensi institusi peradilan. Melalui kesempatan ini, JSMP tidak lupa mengapresiasikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para lembaga donor yang selama ini memberikan dukungan mereka terhadap program yang dijalani oleh JSMP. Para lembaga donor tersebut antara lain: USAID, The Asia Foundation, Pemerintah Australia melalui AusAID, Justice Facility, NOREM (Kedutaan Besar Norwegia di Jakarta), Misereor, UNFPA danUNIFEM. JSMP senantiasa berharap bahwa tahun 2011, dukungan anda sekalian selaku lembaga donor akan sangat dibutuhkan untuk investasi lebih lanjut di sektor peradilan di Timor Leste melalui JSMP. Dengan demikian JSMP akan terus melanjutkan peranannya untuk memberikan dukungan kepada mereka yang rentan dalam sektor peradilan dan tetap menantang para aktor peradilan untuk memenuhi mandat dan kewajiban institusionalnya untuk menjami keadilan bagi semua orang. “Mendukung JSMP adalah mendukung program keadilan bagi semua orang”. 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Model Kontinental Eropa, di mana Badan Pengawas hanya terdiri dari pejabat Non-eksekutif, sedangkan pihak manajemen terdiri dari beberapa direktur yang bekerja full-time. Badan Pengawas benar-benar bekerja sendiri (independen) dan terpisah dari pihak manajemen. 4) Prinsip-prinsip GCG 5) Sistem perekonomian & perdagangan 6) Sistem regulasi pasar modal 7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan untuk tidak menerapkannya. 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG

Kamboja
1) Sistem pemerintahan Kamboja adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang berbentuk kerajaan dan di kepalai seorang raja. Sihanouk diangkat sebagai Raja pada tahun 1951 oleh Perancis dan pada 9 November 1953, Perancis memberikan kemerdekaan kepada Kamboja. Sihanouk kemudian memproklamirkan Kamboja sebagai negara yang netral dan berusaha tidak terlibat dalam Perang Vietnam. 2) Sistem hukum Konflik internal yang melanda Kamboja sejak tahun 1970 hingga 1993 telah menghancurkan infrastruktur fisik dan kapasitas suber daya manusia. Untuk memulihkan kondisi di Kamboja dibentuklah Supreme Council of Magistracy (SCM) atau Dewan Kehakiman Tertinggi yang mulai diberlakukan sejak tahun 1994. Keanggotaan SCM ditujuk langsung oleh raja yang terdiri dari Menteri Kehakiman, Presiden Mahkamah Agung, Jaksa - Umum Mahkamah Agung, Presiden Pengadilan Banding, Jaksa Anggota, Pengadilan Banding, Tiga hakim alternatif yang dipilih oleh hakim jika ada hakim yang absen. SCM memiliki tugas utama memastikan kelancaran sitem peradilan. Dalam pelaksanaan tugasnya, SCM mempengaruhi hampir semua keputusan peradilan, termasuk meberhentikan hakim dan jaksa agar sesuai dengan kebijakan pemerintah. Selain SCM, ada juga Ministry of Judicasy (kementrian kehakiman) yang mengatur hukum perdata, pidana, administratif dan komersial. Supreme Court (Mahkamah Agung) yang merupakan pengadilan tertinggi di Kamboja. Appellate Court (pengadilan banding) yang melayani permintaan banding dari seluruh Kamboja. Court of First Instance (pengadilan tingkat pertama) yang menjalankan persidangan pidana, militer dan niaga di kota-kota dan daerah. 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Untuk mengembangkan dunia usaha di Kamboja, pemerinyah Kamboja memberlakukan undang-undang tentang perusahaan baru yang efektif diberlakukan sejak tahun 2005. Undang-undang ini dibuat untuk mempermudah prosedur pendaftaran perusahaan baru di catatan negara. Disebutkan juga mengenai tata kelola perusahaan yang baik dengan mengikuti pedoman internasional agar investor tertarik datang ke Kamboja. Meski tampaknya positif, perusahaan-perusahaan baru di Kamboja masih mengalami kesulitan ketika ingin mendaftarkan diri di pemerintah. Selain itu dalam undang-undang tersebut masih tercantum ketentuan-ketentuan yang bisa menghambat transparansi dalam pengelolan perusahaan.

4) Prinsip-prinsip GCG Prinsip transparansi masih kurang di Kamboja. Hukum yang belum benar-benar tegas mengatur masalah transparansi menjadi faktor utama kurangnya transparansi di Kamboja. Prinsip kemandirian belum tercapai mengingat kondisi ekonomi Kamboja yang masih lemah sehingga perusahaan-perusahaan belum mampu berdiri sendiri tanpa dukungan pemerintah. Prinsip keadilan cukup baik karena Kamboja memiliki undah-undang perburuhan yang mengatur perlindungan buruh. Dengan undang-undang ini, pemerintah Kamboja berharap menjadi kelebihan bagi tenaga kerja Kamboja di pasar tenaga kerja. 5) Sistem perekonomian & perdagangan Agar sistem perekonomian bisa berjalan dengan baik. Kamboja berusaha sebaik mungkin untuk mengajak masyarakatnya untuk ikut serta dalam pembangunan baik infrastruktur, hukum, pendidikan dan bidang-bidang lain agar kondisi di Kamboja ideal bagi para investor. Dalam bidang perdagangan Pemerintah kamboja mengintegrasikan komitmen keanggotaan dalam perjanjian perdagangan bilateral, regional dan internasional ke dalam infrastruktur hukum dan kelembagaan. Komoditas yang cukup populer di Kamboja sendiri adalah garmen disusul oleh komoditas pertanian. 6) Sistem regulasi pasar modal Kamboja sebetulnya sudah memilik sistem yang mengatur perdagangan arus uang akan tetapi sistem ini belum mencukupi karena masih memiliki banyak kekurangan terutama di pertukaran valuta asing. Di Kamboja saat ini ada dua puluh delapan bank domestik dan asing dimana limabelas bank memiliki lisensi komersial penuh. empat bank khusus, sedikitnya sembilan lembaga keuangan mikro, dan satu kantor bank perwakilan asing. 7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Pencucian uang belum menjadi masalah yang serius di Kamboja karena sistem keuangan yang masih kecil dan tidak canggih. Meski demikian penegakan hukum yang menjdai masalah. Bank Nasional Kamboja (NBC) memiiki kewenangan untuk mengatur sektor perbankan tetapi tidak memiliki kapasitas sebagi penyidik atau mengawasi transaksi keuangan yang rumit. Pengadilan tidak memiliki wewenang untuk menyidik dan menuntut kejahatan keuangan yang rumit dan tidak bisa menegakkan kejahatan serius lainnya. Sebagian besar kejahatan keuangan sendiri melibatkan tokoh-tokaoh berkuasa Kamboja sehingga sulit untuk mengadili transaksi ilegal. 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG

Myanmar
1) Sistem pemerintahan Republik Persatuan Myanmar (juga dikenal sebagai Birma, disebut "Burma" di dunia Barat) adalah sebuah negara di Asia Tenggara. Negara seluas 680 ribu km² ini telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun 1988. Negara ini adalah negara berkembang dan memiliki populasi lebih dari 50 juta jiwa. Ibu kota negara ini sebelumnya terletak di Yangon sebelum dipindahkan oleh pemerintahan junta militer ke Naypyidaw pada tanggal 7 November 2005. 2) Sistem hukum Sistem hukum Myanmar adalah Sistem Hukum Continental European. 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Model Kontinental Eropa, di mana Badan Pengawas hanya terdiri dari pejabat Noneksekutif, sedangkan pihak manajemen terdiri dari beberapa direktur yang bekerja full-time. Badan Pengawas benar-benar bekerja sendiri (independen) dan terpisah dari pihak manajemen. 4) Prinsip-prinsip GCG 5) Sistem perekonomian & perdagangan 6) Sistem regulasi pasar modal Sesuai dengan Undang-Undang Peraturan Devisa 1947 dan Kontrol manual Pertukaran 1957, kontrol devisa ini dikelola oleh Bank Sentral Myanmar (CBM) sesuai dengan instruksi dari Departemen Keuangan dan Pendapatan (MFR). CBM batas operasi mata uang asing ke tiga bank milik negara, yaitu, Myanma Perdagangan Luar Negeri Bank (MFTB), Investasi Myanmar dan Commercial Bank (MICB) dan Myanmar Economic Bank (MEB) Mata Uang Myanmar adalah Kyat Myanmar yang secara resmi dipatok untuk SDR di Ks. (8.50847) per SDR 1. (8,50847) per SDR 1. Myanmar berlaku margin sebesar 2% untuk spot transaksi pertukaran, berdasarkan tingkat Kyat-SDR tetap. Kurs dari Kyats untuk Euro, Dolar Singapura, Pound Sterling, Yen Jepang, Dolar Amerika Serikat, Rupee India, Rupee Pakistan, Sri Lanka Rupee dan Swiss Franc ditentukan dengan perhitungan sehari-hari berdasarkan nilai mata uang ini terhadap SDR yang dikeluarkan oleh IMF Untuk mata uang lainnya ditentukan berdasarkan nilai tukar harian asing Pasar Singapura. 7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG 9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG

Brunei Darussalam
1) Sistem pemerintahan Brunei Darussalam merupakan salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang terkenal sangat makmur. Brunei Darussalam yang merupakan anggota ke-6 ASEAN ini mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris pada tanggal 1 Januari 1984. Kepala negara Brunei Darussalam adalah seorang Sultan yang sekaligus sebagai Kepala Pemerintahan (Perdana Menteri). Kendatipun wewenang serta kekuasaan Sultan yang diberikan Konstitusi begitu besar, namun sistem pemerintahan Brunei Darussalam bersifat demokratis. Tetapi dalam hal cara pemilihan para birokrat di Brunei cenderung dengan sistem rekruitmen tertutup. Sistem ini tidak menyerap personil dari seluruh lapisan masyarakat. 2) Sistem hukum Sistem hukum yang dipakai di negara Brunei Darussalam adalag Sistem Hukum anglo Saxon. 3) Struktur Corporate Governance (Board System) Model Anglo-Saxon di mana Direktur Eksekutif & Non-Eksekutif berada di satu badan secara bersama. Chairman bekerja bersama, dan dibantu oleh Dewan Komite untuk audit, remunerasi, dan nominasi. 4) Prinsip-prinsip GCG 5) Sistem perekonomian & perdagangan Ekonomi Brunei hampir sepenuhnya didukung oleh ekspor minyak mentah dan gas alam, yang account selama lebih dari 90% dari PDB dan lebih dari 50% dari ekspor. Pemerintah menggunakan pendapatannya dalam bagian untuk membangun cadangan devisa. Badan Investasi Brunei mengelola sebagian besar investasi asing bangsa, yang dilaporkan telah mencapai lebih dari $ 30 miliar. Kekayaan negara, ditambah dengan keanggotaannya di PBB, Asosiasi Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan Organisasi Kerjasama Islam memberikan pengaruh dalam dunia yang tidak proporsional dengan ukurannya. 6) Sistem regulasi pasar modal 7) Upaya penegakan GCG (GCG Compliance System) Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan untuk tidak menerapkannya. 8) Lembaga & organisasi penegakan GCG • Bursa Efek Brunei Darussalam

9) Aspek-aspek lain yang relevan dengan implementasi GCG

Tugas Good Corporate Government

“Implementasi GCG di Negara Asean”

Kelompok

Aditya Lilian Ian Ferdhian Surbakti Ikmal Roby Alam Reno Prima Dirgantara Yasri Fadli

108400582 108400208 108400210 108400222 108400230

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful