P. 1
STRATEGI DAN MODEL PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA DI KELAS DENGAN JUMLAH PERANGKAT TIK TERBATAS

STRATEGI DAN MODEL PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA DI KELAS DENGAN JUMLAH PERANGKAT TIK TERBATAS

|Views: 105|Likes:
Published by carwoto
Bagaimanakah seharusnya perangkat TIK yang ada di sekolah dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar? Adakah model-model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan memanfaatkan perangkat TIK? Juga, bagaimanakah memaksimalkan pemanfaatan perangkat TIK untuk mengatasi keterbatasan jumlahnya? Pada makalah ini, penulis mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas didasarkan pada pengalaman penulis sebagai pendamping guru-guru sekolah dasar (SD) dalam mengimplementasikan pembelajaran aktif berbasis TIK di dalam kelas.
Bagaimanakah seharusnya perangkat TIK yang ada di sekolah dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar? Adakah model-model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan memanfaatkan perangkat TIK? Juga, bagaimanakah memaksimalkan pemanfaatan perangkat TIK untuk mengatasi keterbatasan jumlahnya? Pada makalah ini, penulis mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas didasarkan pada pengalaman penulis sebagai pendamping guru-guru sekolah dasar (SD) dalam mengimplementasikan pembelajaran aktif berbasis TIK di dalam kelas.

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: carwoto on Nov 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

01/11/2016

STRATEGI DAN MODEL PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA DI KELAS DENGAN JUMLAH PERANGKAT TIK TERBATAS1

Oleh: Carwoto2

LATAR BELAKANG
Hingga saat ini sudah banyak sekolah di Indonesia yang telah mengalokasikan dana untuk pengadaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK), terutama komputer dan internet untuk digunakan di sekolah tersebut. Pemerintah Indonesia juga telah meluncurkan sebuah program pengadaan infrastruktur jaringan pendidikan nasional menggunakan jaringan Internet, bernama Jardiknas. Dengan jumlah yang bervariasi, bisa sedikit atau banyak, perangkat TIK juga sudah banyak dimiliki oleh sekolah dasar (SD) sebagai inventaris sekolah atau dimiliki secara individu oleh guru-guru sekolah dasar. Pengadaan perangkat TIK yang membutuhkan dana tidak sedikit tersebut tentu saja diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah khususnya, dan kualitas pendidikan nasional pada umumnya. Permasalannya, apakah perangkat TIK tersebut sudah dimanfaatkan secara tepat dan optimal untuk mendukung dan meningkatkan kualitas belajarmengajar di sekolah? Disinyalir sebagian besar guru belum memanfaatkan dengan baik perangkat TIK yang ada di sekolah tersebut untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Bahkan banyak diantaranya yang menggunakannya secara “salah kaprah”. Pertanyaannya, bagaimanakah seharusnya perangkat TIK yang ada di sekolah dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar? Adakah model-model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan memanfaatkan perangkat TIK? Juga, bagaimanakah memaksimalkan pemanfaatan perangkat TIK untuk mengatasi keterbatasan jumlahnya? Pada makalah ini, penulis mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas didasarkan pada pengalaman penulis sebagai pendamping guru-guru sekolah dasar (SD) dalam mengimplementasikan pembelajaran aktif berbasis TIK di dalam kelas.

Makalah disajikan pada Seminar Nasional PGSD dengan tema "Pembelajaran Berbasis ICT untuk Meningkatkan Profesionalisme Pendidik di Sekolah Dasar" di Auditorium PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan UNNES tanggal 5 Juni 2010 2 Provincial ICT Coordinator projek Decentralized Basic Education (DBE) component 2: Teaching and Learning di Jawa Tengah

1

1

PRINSIP PEMANFAATAN
Bagaimanakah seharusnya perangkat TIK di sekolah dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran? Informasi yang beredar menunjukkan banyak sekolah yang menggunakan perangkat TIK di sekolah (seperti komputer dan internet) hanya untuk pelajaran tentang TIK (komputer dan internet) itu sendiri. Misalnya, siswa diajari MS Office, belajar membuat gambar dengan Paint, belajar membuat dan mengirim e-mail, berlatih melakukan pencarian dan download di Internet, sebagaimana termaktub dalam kurikulum mata pelajaran TIK di sekolah. Sesungguhnya, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah secara umum, sangat memungkinkan perangkat TIK dimanfaatkan pada semua mata pelajaran yang ada di sekolah. Selain itu, sesuai dengan pendekatan pengajaran abad ke-21 [1], perangkat TIK juga perlu digunakan dalam pembelajaran dalam konteks pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang memiliki pendekatan yang berbeda dari segi isi, instruksi, lingkungan kelas, penilaian, dan teknologi yang digunakan. Dengan kata lain, TIK tersebut tidak hanya sekedar digunakan oleh guru untuk menyajikan slide presentasi, memutar video atau animasi materi pelajaran. Perlu dirancang supaya perangkat TIK tersebut dimanfaatkan oleh siswa dalam pembelajaran secara individual, kelompok, atau secara bersama oleh keseluruhan siswa di dalam kelas sehingga menjadikan pembelajaran lebih berkualitas. Untuk mencapai tujuan di atas, dalam pengembangan pembelajaran aktif menggunakan TIK kita perlu memperhatikan prinsip penggunaan teknologi pembelajaran. Perangkat TIK (komputer, internet, hanphone, radio, televisi, kamera, software aplikasi, dan video, dll.) perlu dimanfaatkan secara terpadu dengan penggunaan media pembelajaran lain sebagai bagian dari pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa. Dalam pelaksanaannya, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran harus tetap menekankan pada praktek-praktek pedagogis yang mempromosikan pembelajaran kolaboratif dan tingkat pemikiran yang lebih tinggi [2], dimana TIK digunakan untuk meningkatkan ketrampilan ini. Dengan demikian siswa belajar bagaimana menggunakan teknologi melalui pembelajaran aktif dan mengaplikasikan ketrampilan berpikir kritis menggunakan ICT, serta lebih terfokus pada pelatihan kelompok. Dengan kata lain, penekanan yang lebih besar pada pembelajaran kolaboratif. Sebagaimana kita semua tahu, dalam kegiatan pembelajaran guru bukanlah satu-satunya sumber belajar [3], [4]. Berbagai sumber belajar juga perlu digunakan, misalnya sesama siswa (peer), sumber belajar berbasis teks, juga lingkungan sekitar (masyarakat setempat, lingkungan luar kelas, dsb). Dalam konteks inilah perangkat TIK dapat menjadi sumber belajar bagi siswa dalam bentuk buku dan artikel elektronik, informasi yang tersimpan di komputer dan handphone multifungsi, informasi dari radio dan televisi, Internet dengan seabrek informasi di dalamnya dan dapat diunduh, atau software-software pendidikan. 2

Dalam pemanfaatan TIK di kelas, kita harus mengakui bahwa ketersediaan perangkat TIK di dalam kelas seringkali jumlahnya masih sangat terbatas, selain juga harus mengakui bahwa akses guru ke teknologi (TIK) kadang juga masih sangat terbatas. Oleh karena itu, dalam tahap awal perencanaan implementasi, para guru perlu lebih fokus pada model kegiatan pembelajaran menggunakan TIK, bukan pada penggunaan perangkat TIK itu sendiri.

MODEL PEMANFAATAN TIK YANG BERPUSAT PADA SISWA
Saat ini sedang digencarkan implementasi pembelajaran yang bersifat aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Tentu banyak cara untuk mewujudkan pembelajaran semacam itu. Terkait dengan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, tulisan ini menyajikan (memperkenalkan?) empat model pengelolaan kelas [5] dengan jumlah perangkat TIK (terutama komputer) yang terbatas, misalnya sebuah kelas yang hanya memiliki 1 sampai 4 komputer dengan jumlah siswa sekitar 40 anak.

Model Stasiun Pembelajaran
Pada model Stasiun Pembelajaran, siswa bekerja dalam tim dan berotasi untuk menggunakan beberapa stasiun pembelajaran multi-fungsi, dimana salah satunya adalah stasiun komputer. Di saat sekelompok siswa ada di dalam stasiun pembelajaran, mereka dapat mengumpulkan apa yang dapat mereka peroleh dari seperangkat sumber daya tertentu. Setiap stasiun fokus pada teknologi, ketrampilan, atau tipe sumber daya yang berbeda-beda. Setiap stasiun pembelajaran terdiri atas 5 siswa dan harus ada perintah tertulis tentang sebuah aktivitas atau tugas yang harus dipenuhi siswa. Hanya satu stasiun yang merupakan stasiun komputer. Setelah satu periode waktu tertentu, siswa berotasi untuk pergi ke stasiun lain dan ke satu stasiun yang terakhir. Di akhir aktivitas (misal setelah satu minggu, satu periode kelas, atau satu jam pelajaran) seluruh siswa telah melalui seluruh stasiun tersebut.

Gambar 1. Skema pembagian stasiun pembelajaran [5]

3

Model Navigator
Kerja Model Navigator dapat dilaksanakan dengan baik apabila kita menggabungkan individu-individu yang memiliki tingkat ketrampilan yang berbeda-beda dalam menggunakan satu komputer. Salah satu cara memahami aktivitas ini adalah dengan mengandaikannya dengan perjalanan dengan sebuah mobil. Anda tahu tujuan Anda dan beberapa orang di dalam mobil akan membantu Anda mencapai tujuan. Misalnya, ada satu pengemudi yang menjalankan mobilnya, lalu ada seorang navigator yang memberikan arah atau seorang penumpang yang memberikan informasi lain. Dalam Model Navigator, cara komputer bekerja diibaratkan sama dengan cara kerja sebuah mobil. Misalkan ada sebuah tim dari 4 siswa yang harus menyusun presentasi Power Point mengenai pulau-pulau terbesar di Indonesia. Setelah kelompok ini melakukan brainstorming dan ide-ide utama yang ditemukan itu telah ditulis di atas kertas, barulah meraka bekerja dengan komputer dengan peran masing.

Navigator: Memberi arahan pada Pengemudi, tidak mengoperasikan mouse dan keyboard Pengemudi: Mengoperasikan mouse dan keyboard Wisatawan: Mengamati dan mencatan hasil pengamatan

Penumpang: Berkontribusi terhadap isi/materi
Gambar 2. Deskripsi pembagian peran dalam Model Navigator

4

Model Kelompok Kolaboratif
Setiap tim kecil bertanggung jawab untuk memberikan peran kerja dan kontribusi untuk terciptanya sebuah produk kreasi bagi seluruh kelas. Setiap tim tidak melakukan hal yang sama di saat yang sama, namun melakukan sesuatu yang berbeda untuk ikut berperan dalam terciptanya sebuah produk yang disusun oleh seluruh tim (tim besar) – pada prinsipnya, yang dilakukan adalah pembagian kerja. Contoh di bawah ini menunjukkan cara bagaimana menciptakan sebuah leaflet (newsletter). Setiap rantai dalam jaringan kerja ini adalah topik tugas untuk setiap tim kecil. Peran siswa juga dapat (tetapi tidak harus) dirotasi di antara tim (sehingga setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk menulis, mengambil foto, edit, menggunakan komputer, dsb).

Tim Leaflet

Seluruh kelompok (kelas) membuat leaflet mengenai topik khusus (misalnya, air bersih di lingkungan kita). Siswa dibagi ke dalam kelompok (di bawah ini) dan setiap kelompok kecil ini harus melakukan tugas-tugas tertentu yang dapat memberi kontribusi terhadap terciptanya leaflet ini.

Tim Editor: Tim Penulis:
Tim-tim ini (harus lebih dari 1 tim) menulis isi leaflet – ketersediaan air bersih, masalah curah hujan, air minum, dsb.

Tim Fotografi: Tim Artistik:
membuat diagram, grafik, karya seni lain untuk menjelaskan tulisan secara visual Mengambil foto air bersih, air kotor, persiapan air minum, pengambilan air dari sumber air, dsb.

Tim ini mengedit isi tulisan. Mereka mungkin akan mengirimkan haasil editing ke tim lain (selain Tim Penulis) untuk revisi lebih lanjut

Tim Layout Komputer: Mereka mengumpulkan produk dari setiap tim dan menyusunnya di komputer, menciptakan hasil akhir dari leaflet yang siap dipublikasikan

Gambar 3. Distribusi tugas dalam tim pada Model Kelompok Kolaboratif [5]

5

Model Ahli
Pada Model Ahli, peserta dibagi dalam tim yang terdiri atas 3 – 6 siswa. Guru menunjuk satu ‘ahli’ (misalnya siswa yang paling menguasai program komputer tertentu) yang akan membantu seluruh tim untuk menggunakan komputer. Setiap tim bertanggung jawab untuk mencari data dan mengumpulkan materi untuk topik tertentu yang berhubungan dengan masalah yang sedang didiskusikan oleh seluruh anggota kelas. Misalnya, guru menugaskan siswa untuk membuat koran sekolah dengan menggunakan MS Publisher yang akan fokus pada masalah air bersih di lingkungan kita. Para siswa dibagi dalam tim yang terdiri atas 6 orang dimana masing-masing tim akan fokus pada masalah-masalah khusus yang berkenaan dengan air – tim ilmu air, tim geografi (dimana perairan dapat ditemukan), tim bahasa (mewawancarai para lanjut usia di masyarakat tentang perubahan iklim), dsb. Dalam setiap tim, siswa berbagi peran – mengumpulkan data, mewawancarai tetangga mereka, mengambil foto atau mencari foto perairan-perairan, dsb.

Gambar 4. Deskripsi pembagian tugas pada Model Ahli [5]

6

Saat seluruh tim telah menyelesaikan setiap bagian dari artikel mereka, mereka menuju ke stasiun komputer dimana siswa ‘ahli’ yang ditunjuk oleh guru ini akan membantu seluruh siswa menulis di MS Publisher. Siswa yang ahli ini mengenalkan teman-teman mereka dengan program tersebut sehingga mereka memahami fungsi-fungsi yang dimiliki oleh program, dan membantu siswa yang lain tanpa melakukannya secara langsung untuk mereka. Siswa yang ahli ini juga bekerja dengan setiap tim dan dapat melakukan penyuntingan (editing) akhir. Siswa ahli mungkin adalah satu-satunya dalam kelas, atau setiap tim juga dapat memiliki siswa ahlinya sendiri.

BEBERAPA STRATEGI UNTUK KELAS DENGAN SATU KOMPUTER
Berapa jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah tempat kita bekerja? Jawaban atas pertanyaan di atas bisa sangat beragam. Ada sekolah yang memiliki komputer sampai 40 unit atau lebih, ada yang jumlahnya kurang dari itu, atau mungkin jumlahnya hanya satu di sekolah dan sudah digunakan untuk keperluan administrasi sekolah. Di mana komputer milik sekolah ditempatkan? Apakah dikumpulkan di dalam sebuah ruang laboratorium komputer, atau didistribusikan di dalam ruang-ruang kelas yang ada? Apakah kita sendiri sebagai guru memilki komputer (laptop) yang bisa dibawa dan digunakan untuk kegiatan pembelajaran di dalam kelas? Apabila sebagai seorang guru kita bisa menghadirkan sebuah komputer di dalam kelas (tidak perduli dari mana pun asal komputer tersebut), maka kita dapat meningkatkan kualitas pembelajaran bagi anak didik dengan memanfaatkan secara maksimal sebuah perangkat komputer tersebut. Berikut ini adalah beberapa strategi memanfaatkan satu unit komputer saja di dalam kelas, mungkin ditambah satu unit projektor [5].

Demonstrasi/Aktivitas yang Dipimpin oleh Guru: Menggunakan komputer sebagai papan tulis multimedia.
Dalam skenario ini – yang paling biasa digunakan para guru – guru berdiri seiring dengan komputer dan proyektor ‘memimpin’ kelas untuk memahami langkah-langkah, prosedur, demonstrasi. Proses ini pada prinsipnya menggunakan komputer sebagai papan tulis beresolusi tinggi. Jika sebagai guru kita masih terbiasa dengan cara ini, bersegeralah meninggalkan strategi ini karena strategi ini justru mendukung dan memperkuat cara mengajar tradisional yaitu dengan model instruksi ‘berdiri dan mengajar.’ Secara bertahap, kita bisa memulainya dengan menunjuk siswa untuk mengoperasikan komputer sehingga guru dapat bersirkulasi di antara siswa.

7

Komputer sebagai Stasiun Input Tunggal untuk Kerja Perorangan: Gunakan komputer ‘stasiun input’ sebagai bagian dari kelompok atau sebuah proyek kelas yang lebih besar.
Dalam skenario ini, seluruh kelas mengerjakan tugas (menulis, menjawab pertanyaan, menyelesaikan soal matematika, dsb.). Komputer dinyalakan dan diletakkan di tempat strategis di kelas (mis. di tengah kelas). Siswa akan bergiliran menuju komputer. Siswa dapat menggunakan komputer secara perorangan atau secara berpasangan. Strategi ini memungkinkan guru untuk melanjutkan aktivitas saat siswa menggunakan komputer tanpa terganggu.

Komputer sebagai Stasiun Penelitian Kelompok
Ini mirip dengan strategi nomor dua di atas, namun penggunaannya secara kelompok, bukan perorangan, yang menggunakan stasiun kerja komputer. Bukan pula untuk memasukkan (input) informasi tetapi untuk mengumpulkan informasi. Strategi ini mengasumsikan bahwa siswa-siswa bekerja dalam kelompok. Komputer disiapkan dan dengan berkelompok siswa mengakses informasi atau memeriksa hasil kerja mereka dengan menggunakan komputer.

Komputer sebagai Stasiun Pembelajaran Kooperatif: Aktivitas Pembelajaran Terdistribusi
Salah satu cara terbaik untuk mengelola kelas dengan satu komputer adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang berbasis pada proyek (project-based learning approach) dimana siswa-siswa dapat mengerjakan sebuah ‘proyek’ – sebuah skema tugas atau prosedur dimana siswa dapat menciptakan sebuah produk akhir. Pengerjaan proyek ini diatur dalam ‘stasiun’ – atau area-area dimana kelompok-kelompok siswa mengerjakan bagian-bagian tertentu dari sebuah produk final. Misalnya, satu stasiun dapat menjadi ‘stasiun penelitian’ dimana siswa dapat memperoleh informasi tercetak untuk penyusunan buku. Stasiun kedua adalah ‘stasiun penulisan’ dimana siswa dapat menggunakan komputer untuk menulis artikel-artikel mereka. Stasiun ketiga dapat dijadikan ‘stasiun editing’ dimana siswa menyerahkan buku mereka untuk memeriksa buku mereka. Kelas-kelas yang lebih besar dapat menetapkan sebuah proyek yang lebih kompleks dengan stasiun-stasiun yang lebih banyak. Kelompok yang terdiri atas 4 sampai 5 siswa berotasi menggunakan ‘stasiunstasiun pembelajaran’ ini untuk mengumpulkan data dan informasi tentang proyek mereka.

8

Aktivitas Lima-Menit: Menggunakan komputer untuk aktivitas seluruh kelas atau kelompok-kelompok kecil dalam kelas selama ‘5 menit’.
Di awal sesi, bagi siswa dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas 4 siswa. Guru mengarahkan proses belajar (memberi instruksi) dan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk menemukan sebuah kata, membuat prediksi, dan membuat perubahan. Manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas ini adalah aktivitas ini cepat, interaktif karena melibatkan para siswa dalam aktivitas. Selain itu, tidak membutuhkan penggunaan komputer secara intensif - hanya ‘mencicipi’ prosesnya saja.

PENUTUP
Sebagai pertanyaan penutup, seandainya jumlah perangkat TIK tersedia sesuai permintaan, apakah kita lebih memilih menyediaan satu perangkat TIK untuk setiap anak atau hanya menyediakan beberapa unit saja di dalam kelas? Dengan berbagai alasan, terkadang kita lebih memilih menggunakan perangkat yang lebih sedikit dibanding jumlah siswa di dalam kelas. Penggunaan satu komputer untuk satu anak, misalnya, seringkali tidak menjadikan pembelajaran lebih efektif – meskipun untuk pelajaran komputer itu sendiri. Tidak semua pelajaran membutuhkan TIK. Meskipun ada banyak peluang menggunakannya dalam berbagai aktivitas pembelajaran di kelas, para guru harus mempertimbangkan tujuan pembelajaran sebelum memutuskan untuk menggunakan TIK. Apabila TIK dapat memperkaya, memperluas atau memfasilitasi pembelajaran, maka TIK memang harus dipakai. Namun apabila tidak, maka lebih baik tidak menggunakan TIK. Bahasan mengenai hal tersebut dapat ditemukan lebih lanjut di pustaka [6] dan [7]. Hal-hal penting dalam menangani kelas dengan perangkat TIK berjumlah terbatas, diantaranya: gunakan kelompok-kelompok belajar kooperatif daripada menempatkan siswa satu per satu untuk menggunakan komputer; mintalah bantuan masyarakat: gunakan siswa yang sudah terlatih, relawan, orang tua siswa untuk membantu guru dan para siswa belajar menggunakan dan mengelola komputer; tunjuk ‘ahli yang trampil’ dari antara para siswa di kelas, rencanakan aktivitas pembelajaran secara seksama (Ingat, kita tidak hanya menugaskan siswa untuk menggunakan komputer – tetapi anda harus memiliki tujuan pembelajaran khusus sehingga siswa dapat menggunakan komputer secara bijak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan); gunakan format/template (yang ada di Word, PowerPoint); cetak clipart/huruf dari program-program yang akan digunakan oleh siswa; bagi proyek menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga siswa dapat bekerja di seksi-seksi/stasiun-stasiun yang berbeda; dan, buatlah tim yang terdiri atas para guru untuk saling meminjamkan dan mengelompokkan komputer-kelompok yang ada. 9

PUSTAKA
[1]. Institute of Computer Technology (ICT), Program Pengajaran Intel Getting Started, Intel Education, 2007. [2]. Adams, S. and M. Burns, Menghubungkan Pembelajaran Siswa dan Teknologi, Southwest Education Development Laboratory (SEDL), Austin (USA). [3]. Belcher, J.W., “Improving Student Understanding with Technology Enhanched Active learning (TEAL), The MIT Faculty Newsletter vol. XVI No.2, October/november 2003, pp. 1, 8-11. [4]. Dory, Y.J., et. al., “Technology for Active Learning”, Materials Today, December 2003, pp. 44-49. [5]. DBE2-USAID, Manajemen Kelas Komputer Terbatas: Strategi dan Model Integrasi ICT ke dalam Kelas, modul pelatihan tidak diterbitkan. [6]. Koumi, J. , Designing Video and Multimedia for Open and Flexible Learning, Routledge, New York, 2006. [7]. Mendes, A.J., I. Pereira., and R. Costa (ed.), Computers and Education: Towards Educational Change and Innovation, Springer-Verlag, London, 2008.

TENTANG PENULIS
Carwoto, lahir di Batang Jawa Tengah. Saat ini bekerja sebagai konsultan pendidikan di Education Development Center, Inc. pada projek Decentarlized Basic Education (DBE) 2: Teaching and Learning sebagai ICT Coordinator provinsi Jawa Tengah. Semenjak bergabung di DBE 2 sejak 2008 hingga saat ini telah terlibat menangani program pengembangan pembelajaran aktif dengan TIK, menjadi fasilitator perancangan e-learning bagi perguruan tinggi mitra, mentor kursus online pendampingan berbasis sekolah, serta terlibat dalam projek pengembangan dan pemanfaatan jaringan internet gugus (ClusterNet). Sebelum bergabung di projek DBE 2, penulis adalah dosen Teknik Informatika. Terkait dengan profesinya, penulis telah memperoleh sertifikat sebagai Instruktur di Cisco Networking Academy Program (CNAP), sertifikat Master Teacher Intel Teach GS dari Intel Education, sertifikat Pemrograman Komputer dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Telematika, serta sertifikat sebagai Asesor KKPI dari PPPGT Malang. Akun kontak: email: carwoto@edc.org, blog: carwoto.wordpress.com, YM/Skype/facebook: carwoto HP: 0811 272 2341

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->