P. 1
Makalah Agama

Makalah Agama

|Views: 6,974|Likes:
Published by Ernitha Sinaga

More info:

Published by: Ernitha Sinaga on Nov 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/10/2013

pdf

text

original

•Hubungan seksual hanya dilakukan oleh sepasang suami-istri yang
sah secara hukum Gereja, meski tidak secara Sakramen
•Hubungan seksual hanya dilakukan dengan lawan jenis. Sebab
homoseksualitas melawan hukum kodrat. Akan tetapi manusia
yang memiliki dorongan homoseksualitas dipandang Gereja
mengalami cobaan yang berat dan perlu dilayani dengan adil,
bukan dengan memojokkan atau mengadili.
•Hubungan seksual dilakukan sebagai perwujudan cinta kasih,
bukan pemenuhan nafsu belaka.
•Hubungan seksual selalu diarahkan pada kelahiran manusia baru
("bahwa tiap persetubuhan harus tetap diarahkan kepada kelahiran
kehidupan manusia" (Humanae Vitae 11) ). Oleh sebab itu upaya
kontrasepsi buatan (kondom, spiral, suntik, dll) dipandang sebagai
persetubuhan yang tidak mengarah pada kelahiran, dan dilarang
oleh Gereja. Dalam pandangan yang sama, perbuatan seksual
selain penetrasi penis melalui vagina tidak dibenarkan.
•Inses , hubungan seksual antar sanak saudara atau ipar, juga
kepada anak muda pedofilia, tidak dibenarkan oleh Gereja.

Bagaimana seorang Kristen memahami seks? Apa yang Alkitab katakan
tentang seksualitas? Tujuh prinsip dibawah ini diharapkan dapat
membantu orang Kristen yang mempercayai Alkitab memahami seks.

Prinsip 1: Alkitab mengatakan bahwa seksualitas manusia sebagai
sesuatu yang baik.
Mari kita mulai dari awal: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut
gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan

perempuan diciptakanNya mereka” (Kej 1:27) Setelah penciptaan
sebelumnya dilakukan, Allah melihat bahwa “semuanya itu baik” (Kej
1:12,18,21,25
), tapi setelah penciptaan manusia sebagai laki-laki dan
perempuan, Allah melihat bahwa “segala yang dijadikanNya itu, sungguh
amat baik” (Kej 1:31). Awal pengertian secara ilahi bahwa seksualitas
manusia itu ‘sungguh amat baik’ menunjukan perbedaan seksual pria dan
wanita sebagai bagian dari kebaikan dan kesempurnaan dari ciptaan
Tuhan yang pertama.

Perhatikan juga bahwa perbedaan jenis kelamin pria dan wanita
berhubungan dengan kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut peta
Allah. Karena Kitab suci membedakan manusia dengan ciptaan yang lain,
para ahli teologi berpendapat bahwa pengertian peta Allah mengaju pada
kemampuan rasional, moral, dan spiritual yang Tuhan berikan kepada pria
dan wanita.

Namun demikian, masih ada cara lain bagi kita untuk memahami
pengertian dari peta Allah, berdasarkan apa yang tertulis dalam Kej 1:27:
“menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan
diciptakanNya mereka.” Jadi kepriaan dan kewanitaan manusia
mencerminkan peta Allah dalam pengertian bahwa pria dan wanita
mempunyai kemampuan untuk memiliki kesatuan hubungan yang sama
dengan kesatuan hubungan yang ada dalam konsep Trinitas. Tuhan
dalam pengertian Alkitabiah bukanlah Sesuatu yang sendiri dalam
singularitas abadi melainkan berada dalam hubungan tiga Oknum yang
secara misterius disatukan sehingga kita menyembahnya sebagai satu
Tuhan. Kesatuan yang misterius dalam konsep Trinitas ini dicerminkan
melalui gambar ilahi dalam manusia, dalam dua jenis kelamin yang
berbeda; pria dan wanita; yang juga secara misterius disatukan dalam
perkawinan menjadi ‘satu daging’.

Prinsip 2: Seksualitas manusia adalah satu proses dimana dua menjadi
‘satu daging’.
Hubungan intim antara seorang pria dan wanita diekspresikan dalam Kej
2:24
: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya
dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”.
Istilah ‘satu daging’ mengacu pada penyatuan tubuh, jiwa, dan roh yang
utuh diantara pasangan yang telah menikah. Penyatuan utuh ini dapat

dialami khususnya melalui hubungan seksual yang merupakan tindakan
dari pengekspresian cinta sejati, rasa hormat, dan komitmen.

Istilah ‘menjadi satu daging’ menunjukan rencana Tuhan tentang seks
dalam perkawinan. Hal ini menjelaskan bahwa Tuhan melihat seks
sebagai media bagi suami istri untuk mencapai kesatuan. Harus
diperhatikan bahwa pengandaian ‘satu daging’ tidak diterapkan untuk
mengambarkan hubungan seorang anak dengan orang tuanya. Seorang
laki-laki akan ‘meninggalkan’ orang tuanya untuk menjadi ‘satu daging’
dengan istrinya. Hubungan dengan istrinya berbeda dengan hubungan
dengan orang tuanya karena hubungan dengan istri merupakan kesatuan
baru yang diperoleh melalui penyatuan seksual.

Menjadi ‘satu daging’ juga mengambarkan tujuan dari kegiatan seksual
yang tidak hanya sebagai prokreasi (untuk memperoleh keturunan) tetapi
juga psikologi (memenuhi kebutuhan emosional untuk mencapai satu
hubungan kesatuan). Kesatuan menunjukan keinginan untuk mengetahui
sisi paling khusus dari pasangan secara emosi, fisik dan intelektual. Ketika
mereka saling memahami dengan cara yang paling khusus, mereka akan
mengerti arti dari menjadi satu daging. Hubungan seksual tidak secara
otomatis memberikan pengertian kesatuan. Lebih jauh lagi setiap
pasangan harus memahami betul arti saling berbagi dalam hubungan
suami-istri.

Prinsip 3: Seks adalah memahami satu sama lain melalui cara yang
paling intim.
Hubungan seksual diantara pasangan yang telah menikah membuat
mereka dapat saling memahami melalui cara yang paling khusus. Hal ini
tidak dapat diperoleh dengan cara yang lain. Berhubungan seksual tidak
hanya membiarkan pasangan kita melihat tubuh kita tapi juga kepribadian
kita. Inilah sebabnya mengapa kitab suci sering menggambarkan
hubungan seksual sebagai ‘memahami’, kata kerja yang sama digunakan
dalam Ibrani yang mengacu pada memahami Tuhan.

Adam tentu saja sudah mengenal Hawa sebelum mereka berhubungan
seksual, namun ia mengenal Hawa lebih jauh lagi melalui cara yang paling
khusus tersebut. Dwight H. Small mengemukakan, “pengungkapan
rahasia diri melalui hubungan seksual merupakan pengungkapan diri yang

paling tinggi dari semua tingkat dalam keberadaan satu pribadi. Ini adalah
satu cara unik yang eklusif. Mereka saling mengenal seolah mereka tidak
pernah mengenal orang lain. Pengetahuan yang unik ini merupakan satu
rasa memiliki yang sejati… keadaan telanjang merupakan satu simbol
bahwa tidak ada yang tersembunyi diantara pasangan suami istri.”

Proses menuju hubungan seksual adalah satu proses pertumbuhan. Mulai
dari sekedar mengenal, kemudian berkencan, bertunangan, menikah, dan
berhubungan seksual, pasangan belajar mengenal satu sama lain.
Hubungan seksual merupakan puncak dari proses pertumbuhan
tersebut.Seperti yang dikemukakan oleh Elizabeth Achtemeier: “Kami
merasa seolah kedalaman diri yang paling tersembunyi muncul
kepermukaan dan terungkap sebagai satu ekspresi cinta kami yang
murni”.

Prinsip 4: Alkitab mengecam hubungan seks diluar nikah.
Karena seks melambangkan hubungan antar pribadi yang paling intim dan
mengekspresikan penyatuan ‘satu daging’ berdasarkan komitmen total,
seks tidak boleh dilakukan dalam satu hubungan biasa yang hanya
berlandaskan kesenangan. Penyatuan dalam hubungan semacam itu
merupakan tindakan amoral.

Hubungan seks diluar nikah adalah masalah yang serius karena
membawa pengaruh yang lebih dalam dari dosa-dosa yang lain. Seperti
yang rasul Paulus nyatakan :”Setiap dosa lain yang dilakukan manusia,
terjadi diluar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa
terhadap dirinya sendiri” (I Kor 6:18). Sebagian orang berpendapat bahwa
minuman beralkohol juga berpengaruh terhadap diri seseorang. Tetapi
pengaruhnya tidak bersifat permanen seperti yang ditimbulkan oleh dosa
seksual.
Kebiasaan makan makanan yang dilarang dapat ditiadakan, barang yang
dicuri dapat dikembalikan, kebohongan dapat diganti dengan kebenaran,
namun perbuatan seksual tidak dapat dihapuskan begitu saja.

Ini bukan berarti bahwa dosa seksual tidak bisa diampuni. Kitab suci
mengatakan bahwa jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan
adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan ‘menyucikan kita
dari segala kejahatan.’ (I Yoh 1:9) Ketika Daud bertobat karena telah

melakukan perzinahan dan pembunuhan, Tuhan memaafkannya. (lihat
Mazmur 32 dan 51)

Prinsip 5: Seks tanpa komitmen membuat manusia sama seperti benda.
Seks diluar nikah adalah seks tanpa komitmen. Hubungan semacam ini
menghancurkan integritas seseorang dengan merendahkannya menjadi
satu obyek yang digunakan untuk kepuasan pribadi. Seseorang yang
merasa terhina setelah berhubungan seksual bisa saja menjadi trauma
karena takut hanya akan dimamfaatkan atau justru menjadi tidak
menghargai tubuhnya lagi sehingga melakukan hubungan seksual secara
sangat bebas. Ia telah kehilangan kesempatan untuk mengunakan seks
sebagai cara untuk mengekspresikan rasa cinta dan merusak pengertian
seksualitas manusia yang sesungguhnya.

Seks tidak dapat digunakan sebagai cara untuk bersenang-senang
dengan seseorang sementara disaat yang sama digunakan untuk
menunjukan cinta sejati dan komitmen dengan orang lain. Pandangan
alkitab tentang kesatuan, keintiman, dan cinta sejati tidak ditunjukan
melalui seks diluar nikah atau seks dengan lebih dari satu orang
pasangan.
Pasangan yang telah bertunangan mungkin mengatakan bahwa mereka
mengekspresikan cinta yang sejati saat mereka melakukan hubungan
seks sebelum mereka menikah. Dari sudut pandang Kristen, pasangan
yang bertunangan harus saling menghormati dan melihat pertunangan
sebagai persiapan menuju pernikahan, bukan sebagai pernikahan itu
sendiri. Sampai janji pernikahan diucapkan, kemungkinan pertunangan itu
putus tetap ada. Jika pasangan itu telah melakukan hubungan seksual
sebelum menikah, mereka telah melanggar komitmen. Dan bila
dikemudian hari hubungan ini putus, akan meninggalkan bekas luka emosi
yang permanen. Hubungan seksual yang sah hanya bisa dilakukan bila
seorang pria dan wanita bersedia untuk menjadi satu tidak hanya secara
fisik tetapi juga secara psikis dengan memikul tanggung jawab terhadap
masing-masing pasangannya.

Kecaman terkeras dari sudut pandang Kriten memang ditujukan kepada
tindakan amoral seks diluar nikah. Kecaman tersebut jelas terdapat dalam
Alkitab. Alkitab menolak menggunakan ‘istilah yang lebih lunak’.
Contohnya seks pra-nikah dengan tekanan pada ‘pra’ dan bukan pada

‘nikah’. Perzinahan diartikan sebagai ‘seks diluar nikah’. Homoseksualitas
digambarkan dengan istilah yang lebih lunak sebagai satu ‘variasi gay’
dan bukan disebut sebagai ‘penyimpangan’.

Orang Kristen saat ini mulai mempertimbangkan satu alasan bahwa ‘cinta
membuat seks diluar nikah sesuatu benar’. Jika seorang pria dan wanita
jatuh cinta, mereka berhak mengekspresikan cinta mereka walaupun
melalui hubungan seks diluar nikah. Beberapa pendapat mengatakan
bahwa seks sebelum nikah membebaskan mereka dari tradisi kuno dan
memberikan mereka satu kebebasan emosi. Kebenaran dalam hal ini
adalah bahwa seks pra-nikah menimbulkan tekanan emosi karena
mengartikan cinta sekedar hubungan fisik tanpa satu komitmen total
diantara pasangan yang menikah.

Prinsip 6:Seks merupakan sarana prokreasi dan relasi.
Sampai awal abad ini, orang Kristen percaya bahwa fungsi utama seks
adalah untuk prokreasi. Pertimbangan lain, seperti aspek kesatuan,
relational, dan kesenangan, dianggap sebagai fungsi sampingan. Namun
keadaan tersebut mulai berubah diabad 20.

Dari sudut pandang Alkitab, kegiatan seksual dalam perkawinan
merupakan sarana prokreasi dan relasi. Sebagai orang Kristen kita perlu
menjaga keseimbangan antara kedua fungsi seks ini. Hubungan seks
adalah kegiatan menyenangkan yang menimbulkan rasa saling memiliki
dan menjadi satu sementara menciptakan satu kemungkinan untuk
membawa satu kehidupan baru ke dalam dunia ini. Kita harus menyadari
bahwa seks adalah anugerah ilahi yang hanya dapat dinikmati dalam
perkawinan.

Paulus menganjurkan pada suami-istri “Hendaklah suami memenuhi
kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya.
Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula
suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. Janganlah
kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk
sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa.
Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya iblis
jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.” (I Kor 7:3-5;
lihat juga Ibrani 13:4)

Prinsip 7: Seks memampukan pria dan wanita untuk mencermikan peta
Allah dengan turut serta dalam kegiatan kreatifNya.
Dalam Alkitab, seks tidak hanya berfungsi dalam proses penyatuan roh
yang misterius tetapi juga menciptakan kemungkinan untuk membawa
anak-anak lahir kedunia ini. “Beranak cuculah dan bertambah banyak”,
perintah Tuhan dalam Kej 1:28.
Tentu saja tidak semua pasangan dianugerahi anak. Usia tua,
kemandulan, ataupun penyakit genetik adalah beberapa dari faktor yang
menyebakan seseorang tidak mungkin mempunyai anak. Namun bagi
sebagian besar pasangan yang menikah, mempunyai anak adalah hal
yang wajar dalam kehidupan perkawinan. Hal ini tidak berarti bahwa
setiap tindakan dari kesatuan seks harus mengacu pada konsep tersebut.

“Kita tidak bermaksud memisahkan seks dari kemungkinan untuk
mempunyai anak,” tulis David Phypers, “dan mereka yang melakukan hal
itu dengan alasan-alasan pribadi, sesungguhnya tidak memahami tujuan
Tuhan terhadap hidup mereka. Mereka mengambil resiko untuk tidak
mengindahkan perkawinan mereka dan kegiatan seksual dalam
perkawinan hanyalah demi kepuasan semata. Mereka tidak bersedia turut
serta dalam satu proses kreatif untuk membawa kehidupan baru anak-
anak mereka ke dalam dunia ini, membesarkan dan mendidik mereka
hingga sampai pada kedewasaan.”

Kita tidak akan menemukan jawaban yang gamblang dalam Alkitab. Kita
telah melihat bahwa seks memiliki sarana prokreasi dan relasi. Kenyataan
bahwa fungsi seks dalam perkawinan tidak hanya untuk meneruskan
keturunan tetapi juga untuk mengekspresikan cinta dan komitmen,
menunjukan adanya keterbatasan dalam fungsi seks sebagai sarana
reproduksi. Dengan kata lain bahwa fungsi relasi merupakan fungsi yang
lebih dinamis dibandingkan fungsi reproduksi.

Hal ini memicu pertanyaan: apakah kita berhak campur tangan dalam
proses reproduksi yang direncanakan Tuhan? Jawaban dari Gereja katolik
Roma adalah Tidak!. Apa yang harus dilakukan oleh umat katolik telah
dijelaskan Paus Paulus VI dalam suratnya Humane Vitae (29 Juli 1968),
yang mengakui moralitas kesatuan seksual antara suami dan istri,
walaupun tidak memiliki anak. Dalam suratnya Paus tidak menyeujui

penggunaan alat kontrasepsi buatan dan menganjurkan mengunakan cara
alamiah ‘metode ritme’ untuk mengontrol kelahiran. Dalam metode ini
hubungan seksual hanya boleh dilakukan pada saat istri dalam masa tidak
subur.

Usaha Humane Vitae untuk membedakan antara kontrasepsi ‘buatan’ dan
‘alami’ kemudian menimbulkan masalah baru. Penolakan untuk
menggunakan kontrasepsi buatan menjalar pada penolakan untuk
menggunakan vaksin, hormon, atau obat-obatan yang tidak diproduksi
secara alami dalam tubuh manusia.

“Seperti penemuan manusia yang lain,” tulis David Phypers,”kontrasepsi
dipandang sebagai sesuatu yang netral dari segi moral; masalahnya
terletak pada apa yang akan kita lakukan dengan kontrasepsi itu. Jika kita
menggunakannya untuk melakukan hubungan seks diluar nikah atau demi
keegoisan kita, atau jika kita menggunakannya untuk merusak perkawinan
orang lain, kita akan dipersalahkan karena tidak mematuhi kehendak Allah
dan karenanya kita menghancurkan arti perkawinan. Namun apabila kita
menggunakannya dengan tepat untuk kesehatan dan demi kesejahteraan
keluarga kita, kontrasepsi justru akan membantu kita memperoleh rumah
tangga yang bahagia. Dengan kontrasepsi kita dapat melindungi keluarga
kita dari masalah fisik, emosi, ekonomi, dan psikologi yang mungkin
ditimbulkan oleh kehamilan yang tidak direncanakan, sementara diwaktu
yang sama kita dapat mencurahkan perhatian kita untuk menumbuhkan
cinta yang dapat memperkuat ikatan perkawinan.

Seksualitas manusia adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang indah. Tidak
ada jejak dosa didalamnya. Namun, sama seperti anugerah Tuhan yang
lain bagi manusia, seks juga digunakan oleh setan untuk menjauhkan
manusia dari kehendak Tuhan. Seks berfungsi sebagai sarana untuk
menyatukan dan memperoleh keturunan, dalam hubungan pria dan wanita
untuk menjadi ‘satu daging’. Ketika hubungan itu rusak, baik oleh seks
pra-nikah atau seks diluar nikah, kita telah melanggar hukum ketujuh. Kita
telah berbuat dosa, dosa terhadap Allah dan dosa terhadap diri sendiri.
Tapi Alkitab tidak meninggalkan kita tanpa harapan. Alkitab
memperkenalkan kita kepada kasih Allah yang bersedia mengampuni
segala dosa, termasuk dosa seksual. Walaupun dosa seksual

meninggalkan bekas dalam kesadaran kita dan dapat menyakiti orang
lain, pertobatan yang sungguh-sungguh mampu membuka pintu maaf
Allah. Tidak ada dosa yang sangat besar sehingga kasih Allah tidak dapat
membawa penyembuhan dan perbaikan. Yang harus kita lakukan adalah
meraih kasih itu, karena hanya kasih yang membuat kita menyadari
potensi kita masing-masing yang telah diberikan oleh Pencipta kita.
Kita juga harus menerapkan hal itu dalam kehidupan seksual kita. Pada
saat orang-orang mulai memperbolehkan seks bebas, saat itulah menjadi
peringatan bagi kita sebagai orang Kristen untuk kembali memperkuat
komitmen kita tentang seks menurut pandangan Alkitab sebagai satu
anugerah ilahi yang hanya boleh dilakukan dalam perkawinan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->