PURANA

1. Pengertian Purana Setiap Pura yang dibangun di jaman dahulu sudah semestinya mempunyai Purana, namun data menunjukkan tidak semua orang yang mengemong Pura tertentu mengetahui tentang Purana Pura yang disungsungnya, hal ini mungkin disebabkan karena terjadi perubahan atau perpindahan penduduk ke desa yang lain atau karena bencana alam, dll. Pengertian dari Purana adalah suatu cerita kuno yang terkumpul dari kalangan rakyat yang mengisahkan kehidupan para dewa tentang penciptaan alam semesta. Pada dasarnya Purana itu ada 18 buah yang dirangkum menjadi 5 bagian yang disebut dengan Panca Laksana, yang kelimanya itu memiliki corak khusus antara lain: 1. Sorga adalah mengisahkan tentang penciptaan alam semesta 2. Pratisarga adalah penciptaan kembali dunia ini, jika sebelumnya mengalami pralaya 3. Wamca adalah mengisahkan asal-usul para Dewa Rsi (pendeta tertinggi) 4. Manwamtarani adalah pembagian waktu satu hari Brahman dalan 14 masha 5. Wamca Nucarita adalah sejarah raja-raja yang memerintah di atas dunia (sejarah kebudayaan, S Soekomo) Untuk menghindari kerancuan di masyarakat, berikut ini kami mencoba menguraikan perbedaan antara Purana, Prasasti, Babad, Pabancangah, Prakempa. Kesemuanya itu mempunyai pengertian yang berbeda dan ciri yang berbeda pula, hal mana kami maksudkan untuk menghindari salah penapsiran, berikut definisi dari kelimanya itu adalah: 6. Purana adalah ceritera yang mengisahkan jaman kadewatan yang berstana pada parhyangan tertentu. 7. Prasasti adalah suatu maklumat raja/ keputusan dari raja yang berkuasa tatkala prasasti itu dikeluarkan, misalnya prasasti Batur Abang Al, th Caka 933. 8. Babad adalah ceritera suatu golongan termasuk perkembangan keturunannya, misalnya Babad Arya Sentong. 9. Pabancangah adalah kumpulan dari berbagai ceritera/ kajian yang isinya tentang rangkuman-rangkuman dari ceritera itu. 10. Prakempa adalah mengisahkan tokoh pada suatu wilayah yang tanpa menguraikan kedatangannya dari daerah lain dari tokoh bersangkutan. Dari pengklasifikasian tersebut di atas, maka Purana yang paling tua umurnya dan sangat wajib pada setiap Pura terdapat adanya Purana, karena dalam Purana akan tersirat dengan jelas tentang manifestasi Tuhan yang berstana di Pura bersangkutan. 2. Purana Pura Luhur Pucak Gegelang - Nungnung

titah itu pun dilaksanakan oleh para Dewata terutama kaum Dewa sembilan. Mendengar sabdha Tuhan yang demikian itu. Mardiwarsito. jadi dengan demikian pada gunung Tapsari yang terletak di wilayah Desa Bon Kecamatan Petang Kabupaten Badung tempat memuja kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Çiwa. dari yoghanya itu terciptalah gunung Tapsari (adakalanya masyarakat menyebut dengan nama gunung Antapsai). demikian sabdha beliau Tuhan Yang Maha Esa yang bergelar Bhatara Guru. demikian pula agar pada tempat ini didirikan sebuah parhyangan (Pura) sebagai tempat memuja kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dalam prabhawanya sebagai Dewa Wishnu dan Dewa Brahma. hai engkau para dewata sekalian. Jawa Kuno). dan beliau pun juga berkeinginan menciptakan gunung. seperti telah tersurat dalam pustaka kuno. di Bali pada itu berkuasa seorang raja yang bernama Asta Sura Ratna Bhumi Banten dengan Patihnya bernama Ki Pasung Grigis dan Ki Kebo Waruya. Bhs. Tersebutlah sekarang tahun berganti tahun. maka dalam perjalanan beliau itu sejenak terdiam di angkasa. demikian pada saat pertemuan itu diselenggarakan sangat banyak para punggawa/ petinggi kerajaan menghadap raja di balai pertemuan. yang selanjutnya Bhatara Çiwa berkahyangan di gunung itu. dan beliau (Bhatara Çiwa) lalu melanjutkan perjalanan ke arah timur laut dan sampailah pada suatu tempat. dan semoga dikemudian hari menjadi sebuah Desa (Thani = Desa. maka dari itu raja Majapahit mengadakan pertemuan dengan para petinggi kerajaan. Tersebutlah Bhatara Çiwa mengawasi pulau ini. di mana tempat itu diberi nama "NUNGNUNG" yang secara harfiah artinya batal (Wojowarsito. maka Asta Sura Ratna Bhumi Banten bergelar Dhalem Bedahulu (Beda=secara harfiah artinya tidak sama. dalam pada itu Bhatara Guru lagi bersabdha kepada sekalian para Dewata. dan akhirnya beliau berkeinginan untuk turun di pulau Bali. Karena Raja Bali ini tidak mau tunduk dengan Majapahit. menyebabkan Raja Majapahit kurang senang melihat sikap Raja Bali yang demikian itu. keberadaan raja Bali ini sangat tidak sependapat dengan pemerintahan Majapahit. Hulu=kepala. L. demikian sabdha beliau Bhatara Çiwa. tersebutlah didalam Purana yaitu pada awal terjadinya kehidupan di Pulau Bali. agar engkau siap bekerja lagi agar pulau Bali menjadi stabil sampai kelak dikemudian hari. yang dalam Purana tersebutkan awal Pulau Bali ini yaitu pada candi Purusada di Desa Kapal yang diciptakan oleh Bhatara Guru. di mana pada tempat beliau membatalkan niatnya keluarlah kutukan dari Bhatara Çiwa. artinya Asta Sura Ratna Bhumi Banten tidak sependapat/ tidak mau tunduk kepada Majapahit sebagai pemerintahan pusat di Nusantara ini). Demikianlah cikalbakal tentang keberadaan Desa Nungnung yang terkait dengan Pura Luhur Pucak Gegelang. . yang intinya agar para Dewata menciptakan gununggunung di Pulau Bali baik yang besar maupun kecil. karena pulau yang baru ini belum stabil.Sebagai awal kisah Purana Pura Luhur Pucak Gegelang. semuanya saling bertukar pikiran dalam sidang yang dilaksanakan itu. setelah peristiwa tersebut keadaan pulau Bali masih sangat labil. maka dari itu Bhatara Guru yang berstana di Candi Purusada bersabda kepada para Dewata. 581). di situlah Bhatara Çiwa menyatukan pikiran dengan yogha yang sangat khusuk. namun tiba-tiba Bhatara Guru mengurungkan niatnya untuk turun. lalu para Dewata mulai melakukan tapa yogha samadi dan dari yogha para Dewata muncullah panas di bhumi ini. Kamus Jawa Kuno.

para patih dan punggawa kerajaan undur dan siap melaksanakan tugas yang diamanatkan. setelah selesai memberi wejangan yang demikian itu lalu Sirarya Dhamar dan Patih Gajah Mada kembali ke tanah Jawa (Majapahit). Mendengar titah raja yang demikian itu. Arya Benculuk ditempatkan di Desa Tangkas 7. Patih Gajah Mada dan para Arya yang lainnya seperti : Arya Sentong. Ya paduka tuanku. tidak gentar melawan musuh dan berani dihujani segala jenis senjata. yang tiada lain yang mengganjal pikiranku adalah raja Bali yang selalu bertentangan dengan kita. karena adinda paling disegani lantaran gagah perkasa dalam tingkah laku. serta berbudi pekerti luhur. karena tugasnya mengalahkan pulau Bali telah tercapai dan . Arya Belog ditempatkan di Desa Kaba-Kaba 5. Arya Wang Bang ditempatkan di Desa Sidemen Namun engkau adikku Sangarya Sentong. Arya Sentong ditempatkan di Desa Pacung 2. akhirnya dimupakati untuk mulai penyerangan. selanjutnya raja lagi bersabdha kepada Arya Dhamar dan Patih Gajah Mada serta kepada pararya yang lainnya. demikian kata Arya Dhamar yang mengatur penempatan para Arya seperti tersebut diatas. yaitu memerangi raja Bali termasuk laskarnya. demikian sabdha raja Majapahit. akhirnya Bali dapat ditaklukkan serta penduduk Bali Aga semuanya pada menyerah yaitu pada tahun caka 1265 atau tahun 1343 masehi. tidak diceriterakan dalam perjalanan sekarang dikisahkan telah tiba di pulau Bali. Arya Kapakisan. setelah ia dapat ditaklukan bawalah dia ke Majapahit sebagai tawanan. hai orang-orangku sekalian ingatlah pesanku ini. demikan sabdha raja Majapahit. termasuk para Arya sekalian. di mana dalam peperangan itu tidak dikisahkan lamanya perang itu. tidaklah terlalu sukar bagi hamba sekalian mengalahkan raja Bali. Arya Belog. Hai engkau saudaraku sekalian. Ya tuanku raja apakah ada yang perlu tuan amanatkan kepada kami dan apakah ada halhal yang mengganjal dalam pikiran paduka?. Arya Kuta Waringin ditempatkan di Desa Gelgel 4. Arya Bleteng. karena itulah patut diberi imbalan yang layak dan adinda sebagai patih. hai engkau adikku Sang Arya Dhamar dan Maha Patih Gajah Mada. jika demikian hambamu ini tidak akan berani menolak perintah tuan. karena dosanya tidak mau tunduk dan patuh kepadaku. jika paduka berkenan jelaskanlah kepada kami. selanjutnya agar pulau Bali tetap aman maka para Arya yang turut serta menyerang Bali ditetapkan pada tempat-tempat yang strategis seperti : 1. dengarlah kata-kataku ini. demikian juga yang lainnya (Sira Wangbang) dan yang terakhir adalah Arya Kuta Waringin berangkat menuju pulau Bali sesuai dengan hari yang telah ditentukan. Selanjutnya Arya Dhamar. demikian Sangarya Dhamar. Arya Bleteng ditempatkan di Desa Penatih 3. janganlah kalian membunuh Ki Pasung Grigis. bagaimana menurut anda sekalian tentang kelakuan raja Bali yaitu Asta Sura Ratna Bhumi Banten. Arya Benculuk. demikian hatur para petinggi kerajaan. Arya Kapakisan ditempatkan di Desa Abiansemal 6. Arya Wangbang. maka dari itu aku perintahkan kalian untuk datang ke pulau Bali inemerangi raja tersebut.Dalam pada itu akhirnya bersabdhalah penguasa/ raja Majapahit.

sekarang beliau telah tiba di pulau Bali dengan menginjakkan kakinya pertama kali di pantai Batu Bolong . 3. Tersebutlah beberapa tahun kemudian karena sudah takdir dari Tuhan Yang Mahe Esa. pada tempat-tempat tersebut beliau melakukan tapasya dan dari Gianyar Sangarya Sentong bersama dengan para pengiringnya melanjutkan perjalanan ke arah barat dan tidak dikisahkan dalam perjalanan yang akhirnya tibalah beliau di sebuah tempat yaitu disebelah selatan gunung Mangu. Para pengiring itu . adapun tujuannya adalah untuk melakukan tapa yogha samadhi.menyatukan Nusantara ini di bawah kekuasaan Majapahit (Dwipantara = Nusantara). Slamet Muljana). maka sebelum keberangkatannya ke Bali. Dwipantara adalah sinonim Nusantara. wilayah itu bernama Desa Nungnung. sebagai tempat engkau sekalian memuja kebesaranKu. Politik Nusantara Sri Kertanagara yang berhasil gemilang itu secara resmi disebut politik dwipantara. beliau mohon petunjuk dan wara nugraha kehadapan Tuhan yang berstana di Dhalem Peed. Artinya : Salam bahagia! Tahun caka 1214 pada waktu itu ditegakkan arca paduka Bhatari. tiba-tiba dalam yoghanya itu beliau mendengar suara angawangngawang (sabdha) yang isinya : hai engkau Arya Sentong termasuk orangorang sekalian yang ada di tempat ini. hai engkau orangorangku sekalian. yang bunyinya seperti berikut : Swasti cakawarsatita 1 tatkala kapratisthan paduka Bhatari maka tewek huwus cri Maharaja digwijaya ring sakala loka pawayungi sadwipantara (Prof. dengarlah kata-kataku ini. titahku ini agar segera engkau membangun tempat pemujaan. tiada dikisahkan dalam perjalanan. ini terbukti dari prasasti CAMUNDA '9 bertarikh 1 April 1292. Dr. sira Arya Sentong menanggalkan jabatan patihnya di Gelgel. menjadi pelindung seluruh Dwipantara. dalam pada itu beliau bertukar pikiran yang mana dalam wacananya tiada lain adalah isinya beliau ingin datang ke pulau Bali. tujuanku tiada lain adalah akan membuat pura bersama-sama dengan engkau sekalian. Sri Maharaja sudah puas dengan kemenangan-kemenangan yang diperoleh disetiap tempat. Selanjutnya beliau Sangarya Sentong memberikan pengarahan kepada para pengikutnya. ditempat inilah Sangarya Sentong melakukan yogha samadhi dengan duduk di atas sebuah batu. Agar tujuan tersebut di atas sesuai dengan harapan beliau. memusatkan pikiran kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Ini jelas yang dimaksud dwipantara tiada lain adalah Bhumi Nusantara. serta meninggalkan Gelgel menuju Nusa Panida. demikian suara itu terdengar oleh beliau. setibanya di Nusa Panida di sana beliau bertemu dengan penguasa Nusa Panida yang bernama I Gusti Ngurah Wayan Sakti dan setelah beberapa lama Arya Sentong tinggal di Nusa Panida bersama dengan para pengikutnya semua. tepatnya di sebelah selatan Desa Tinggan. Sekarang dikisahkan beliau berangkat ke Bali. selanjutnya menuju Keramas -Gianyar.Canggu.

tidak tersebut lamanya pengerjaan pura. pada masa itulah masyarakat Nungnung dan desa-desa sekitarnya sebagian ada yang mengungsi ke tempat lain dan ada pula yang masih tetap tinggal di Nungnung dan desa sekitarnya. andaikata engkau melanggar aturan ini. selanjutnya Tuhan (Sanghyang Çiwa) bersabdha lagi. Darmasaba dan setelah beberapa lama ia tinggal di tempat yang baru itu adapula yang membangun tempat pangastawan Pura Pucak Gegelang Nungnung (berfungsi sebagai pasimpangan). jika demikian hambamu ini tidak akan berani menolaknya. lagi-lagi mohon petunjuk kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa tentang nama dari Kahyangan ini. Aku adalah Sanghyang Çiwa yang berstana di gunung Tapsari. begitu terdengar sabdha itu. hai engkau manusia sekalian. percekcokan dalam keluarga dan Desa pakraman. sudah pasti mendapat kutukan . tiada lain penyebabnya adalah seekor Macan yang mengamuk bagaikan Kalantaka tiada tertandingi. merupakan kewajibanmu termasuk anak cucumu sampai dikemudian hari bertanggung jawab secara penuh terhadap kahyangan (pura) ini. Kesiman. mereka yang mengungsi/ pindah ada yang menuju Buleleng. selanjutnya dilaksanakan upacara Pratistha (pratistha artinya upacara pembersihan) seperti bhuta yadnya dan dewa yadnya sebagaimana lazimya dalam ritual agama Hindu yaitu pada sasih kapat (sekitar bulan Oktober) menuju bulan purnama tahun Isaka 1293 atau tahun 1371 masehi. hai engkau orangorangku sekalian. sira Arya Sentong tetap setia diiringi oleh Pasek Bandesa sehingga akhirnya lebih dikenal Pasek Sabeng Puri). di pura ini tempatmu mohon Wara nugraha dengan mohon tirtha suci (Wangsuh pada) yang mampu menyelamatkan tanaman termasuk penduduknya. Selanjutnya Sangarya Sentong meninggalkan para pengiringnya dan beliau melanjutkan perj alanan menuju kebagian barat dari Nungnung di mana tempat yang dituju tiada lain adalah Gunung Padang Dawa dan Batu Pucak Kembar (dalam persi Babad Nusa. nama pura seperti itu tiada lain sebagai tanda asal kedatangan dari tanah Jawa Dwipa. karena Pura Pucak Gegelang merupakan pura yang harus disembah oleh orang kebanyakan (Kahyangan Jagat). demikian pesan Sangarya Sentong kepada masyarakat sebagai tanda peringatan sampai kelak dikemudian hari. ia Tuhanku siapakah gerangan yang dipuja di pura ini. timbullah kekacauan diwilayah Nungnung dan sekitarnya. Setelah selesai demikian itu maka pembuatan pura mulai dikerjakan secara bersama-sama. berilah nama Kahyangan (pura) ini Pucak Gegelang. Setelah upacara tersebut selesai. Setelah selesai demikian Arya Sentong memberikan wejangan kepada para yang hadir. Setelah beberapa lama terjadilah perubahan jaman (kali sangara). dan akupun tak akan berani melupakan kahyangan ini termasuk keturunanku juga. hai engkau manusia sekalian.umatur. Sahdan pura itu telah rampung dikerjakan. ia Tuhanku kenapa kahyangan ini diberi nama demikian. Pura ini tiada lain sebagai tempat memuja kebesaran sanghyang Wishnu dan sanghyang Brahma dan jika di kemudian hari tanaman pertanian terserang oleh wabah hama penyakit. Beringkit. demikian sabdhaKu kepada engkau sekalian. Kedaton. apa sebab demikian. tidak boleh lupa akan Wit/ asalnya lebih-lebih Pura Luhur Pucak Gegelang. jika Pura Luhur Pucak GegelangNungnung terlupakan/ diabaikan oleh masyarakat tersebut. namun orang-orang/ penduduk yang mengalami perpindahan itu. dalam mohon petunjuk itu terdengarlah suara dari langit. maka petaka tak dapat dihindari. demikian dialog itu. di mana kejadian itu pada tahun caka 1473 atau tahun 1515 masehi.

Jembatan Situbanda penyebrangan Rama ke Alengka dan masih banyak lagi yang lainnya. dan mengandung makna yang dalam. Hal tersebut dipertegas dalam Mahabharata pada Svargarohana Parva (5. Namun kandungan makna yang terdapat di dalamnya bisa kita temukan nilainilai ajaran Weda. Namun nilai-nilainya tetap diambil dari Weda. Carita=cerita) jadi Wiracarita adalah Cerita kepahlawanan. 9. Berani. demikian Purana Pura Luhur Pucak Gegelang yang berlokasi di desa Nungnung. 4. 8.dari Ida Bhatara yang berstana di Pura Luhur Pucak Gegelang. dan mengandung ajaran yang ada pada cerita ini sama seperti ajaran suci Weda. Karya Maharsi Wyasa hendaknya didegar terlebih bagi seorang Brahmana. Hal tersebut didasarkan atas bukti-bukti sejarah yang menunjukan bahwa tempat kejadian dalam Itihasa masih ada. Wiracarita (Wira=Laki. karena cerita ini dahulu sering diceritakan melalui tradisi mulut ke mulut.57) yaitu Parva ke 18. Itìhàsa sering disebut juga sebagai Wiracarita. Kata Itihasa berasal dari 3 bagian yaitu iti + ha + asa (iti = begini. Sehingga Itihasa adalah cerita berdasarkan latar sejarah yang memasukkan nilai-nilai ajaran Weda didalamnya. Namun dalam perkembangan yang terjadi sampai saat ini khususnya diIndia kata Itihasa sering dihubungkan sebagai Sejarah. asa = sudah terjadi) jadi kata Itihasa artinya sudah terjadi begitu. Itihàsmimaý puóyaý mahàrtaý vedasamitam Vyàsoktaý sruyate yena kåtvà bràhmaóamagrataá Cerita ini adalah peristiwa sejarah. Pahlawan. 6. ITÌHÀSA DAN RUANG LINGKUPNYA 1. . Perwira. Kabupaten Badung. Dari kreteria yang tersebut di atas maka Itihasa atau Wiracarita merupakan salah satu model penjelasan dari Weda yang dilatarkan pada cerita sejarah yang terjadi. Pengertian Itìhàsa Itìhàsa merupakan Kitab yang tergolong Smerti pada bagian Upangaweda. 5. Cerita kepahlawanan ini didasarkan pada latar sejarah para raja. Contohnya yaitu Kuruksetra medan perang Pandawa dan Kurawa. Kecamatan Petang. ha = tentu. 7.

Dua Itìhàsa yang sangat terkenal adalah Ramayana dan Mahabarata. Penyusun Kitab Ramayana adalah Maharsi Walmiki sedangkan Kitab Mahabarata disusun oleh Maharsi Wyasa. Setelah itu. Kedua Kitab tersebut di atas sangat popular di masyarakat sehingga dalam beberapa kesempatan mendapatkan tempat untuk dibacakan pada saat ada upacaraupacara keagamaan baik sekarang maupun di masa lalu.000 sloka. 10. Kitab Balakanda menceritakan Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri. 2. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. kemudian ia menyusul Rama. yaitu: Kosalya. Ramayana karya Maharsi Walmiki terdiri dari 7 Kanda dengan 24. Prabu Dasarata berputra empat orang. Kekayi. Rama menolak untuk kembali ke kerajaan. Kitab Balakanda juga menceritakan kisah Sang Rama yang berhasil memenangkan sayembara dan memperistri Sita. Ramayana dibagi menjadi tujuh kitab atau kanda sebagai berikut: 1. Ayodhyakanda. Kitab Itìhàsa terdiri dari dua buah kitab besar yaitu Ramayana dan Mahabaratha. Akhirnya Bharata memerintah kerajaan atas nama Sang Rama.Itìhàsa sebagai penjelasan lebih disebabkan metode ini lebih bisa dimengerti oleh masyarakat umum melalui cerita sehingga esensi ajaran Weda bisa langsung dipahami dan diterapkan sebagai pedoman hidup. Ramayana berarti kisah perjalanan Sri Rama. Bharata tidak ingin dinobatkan menjadi Raja. dan Sumitra. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin maupun prosa. 11. Bharata. Balakanda. Kitab Ayodhyakanda berisi kisah dibuangnya Rama ke hutan bersama Dewi Sita dan Lakshmana karena permohonan DewiKekayi. 2. 13. puteri PrabuJanaka. Lakshmana danSatrughna. yaitu: Rama. Pada zaman kerajaan di Indonesia. Kitab Balakanda merupakan awal dari kisah Ramayana. kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Ruang Lingkup Kitab Itìhàsa 12. . Prabu Dasarata yang sudah tua wafat.

Sang Rama membantu Sugriwa merebut kerajaannya dari Subali. Kitab Aranyakakanda juga menceritakan kisah Sita diculikRawana dan pertarungan antara Jatayu dengan Rawana. Jadi Mahabharata adalah cerita agung dari keluarga Bharata. Kusa dan Lawa ating ke istana Sang Rama pada saat upacara Aswamedha. 5. Kitab Sundarakanda menceritakan kisah tentaraKiskindha yang membangun jembatan Situbanda yang menghubungkanIndia dengan Alengka. Sugriwa menjadi Raja di Kiskindha. Yuddhakanda. Dalam pertempuran. 4. Cerita diawali dengan usaha pasukan Sang Rama yang berhasil menyeberangi lautan dan mencapai Alengka. Kitab Mahabarata berasal dari kata Maha berarti besar dan Bharata berarti raja-raja dari dinasti Bharata. Kiskindhakanda. Kemudian Dewi Sita tinggal di pertapaan Rsi Walmiki dan melahirkan Kusa dan Lawa. Kemudian Sang Rama dan Sugriwa bersekutu untuk menggempur Kerajaan Alengka. Rama sering membantu para pertapa yang diganggu oleh pararakshasa. Pada saat itulah mereka menyanyikan Ramayana yang digubah oleh Rsi Walmiki. Rawana gugur di tangan Rama oleh senjata panah sakti. 7. Sundarakanda. Kitab Yuddhakanda menceritakan kisah pertempuran antara laskar kera Sang Rama dengan pasukan rakshasa Sang Rawana. Sementara itu Wibisanadiusir oleh Rawana karena terlalu banyak memberi nasihat. Namun dalam perjalanannya Kitab Mahabarata mengalami 3 tahap pengembangan diantaranya : . Dalam pertempuran. Hanuman yang menjadi duta Sang Rama pergi ke Alengka dan menghadap Dewi Sita. dan Lakshmana di tengah hutan selama masa pengasingan. Di tengah hutan.000 buah namun dalam setiap edisi jumlah slokanya mungkin berbeda dikarenakan terdapat beberapa versi berbeda. Kitab Aranyakakanda menceritakan kisah Rama. Sedangkan di Indonesia Ramayana dikenal melalui Kekawin yang penulisnya tidak dikenalsecara pasti namun terdapat nama Yogiswara dalam tulisan akhirnya.3. Sang Rama pulang dengan selamat ke Ayodhya bersama Dewi Sita. Uttarakanda. Aranyakanda. Sita. Di sana ia ditangkap namun dapat meloloskan diri dan membakar ibukota Alengka. kakaknya. Subali terbunuh. Kitab Kiskindhakanda menceritakan kisah pertemuan Sang Rama dengan Raja kera Sugriwa. Demikian jumlah sloka Ramayana menakati 24. Kitab Uttarakanda menceritakan kisah pembuangan Dewi Sita karena Sang Rama mendengar desas-desus dari rakyat yang sangsi dengan kesucian Dewi Sita. 6.

seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri. Karena usaha licik Sangkuni. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Duswanta. atas rencana Duryodana. Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa danKorawa di sebuah balairung untuk main judi. kisah para leluhur Pandawa danKorawa. Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa sehingga sesuai perjanjian. Sabhaparwa. Adiparwa. Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskanHindu. Wanaparwa. dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi. Wirataparwa. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa. Puru. Mahabharata juga mengandung nilainilai Hindu. Yadu. Mahabharata Samhita Oleh Suta Ugrasrwa 100.800 Sloka 2. Kitab Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami pengasingan selama 12 . termasuk di Asia Tenggara. kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa. kisah kelahiran Rsi Byasa. 4. Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun. Kitab Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12 tahun pengasingan diri di hutan. teristimewa oleh pemeluk agama Hindu.000 Sloka 3. Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua. 1. 3. mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. kisah BagawanDhomya yang menguji ketiga muridnya. Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga. Kisah Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.Sakuntala. kisah tewasnya rakshasa Hidimba di tangan Bhimasena. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahābhārata.1.000 Sloka Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita). Jaya Samhita oleh Wyasa 8. Kuru. yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti. 2. terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia. Bharata Samhita oleh Waisampayana 24.

Salya gugur di medan perang. Dalam kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Resi Bhisma pada hari kesepuluh karena usaha Arjuna yang dibantu oleh Srikandi. Drona. Dalam perkelahian tersebut. kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang. 9. Aswatama. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang menceritakan kematian anaknya.tahun. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha). Salyaparwa. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gītā. Salya menjadi kusir kereta Karna. Duryodana gugur. 8. Kitab Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Korawa. Kitab Bhismaparwa merupakan kitab awal yang menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. namun gagal. dan sekutunya yang lain. Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. 6. Dronaparwa. Karnaparwa. Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17. dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok.Pandawa dan Korawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuruBharatawarsha. Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. . Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah gugurnya Abimanyu danGatotkaca. Akhirnya. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya. Pada hari itu juga. Bhismaparwa. Udyogaparwa. Drona berusaha menangkap Yudistira. Arjuna sebagai guru tari. Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. kecuali para Pandawa. Sahadewa sebagai pengembala. Pada malam hari. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana oleh Bhima. 10. Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma. Nakula sebagai penjinak kuda. Sauptikaparwa. tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima. 5.Bhima sebagai juru masak. Yudistira menyamar sebagai ahli agama. Dalam beberapa bagiannya terselip suatu percakapan suci antara Kresna dan Arjunamenjelang perang berlangsung. dan Dropadi sebagai penata rias. 7.

Asramawasikaparwa. Gandari. dan Sanjaya ke tengah hutan. Dalam pengembaraannya. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa. sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Parikesit. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Mosalaparwa. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. 17. 12. Aswamedhikaparwa. Kitab Mosalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. untuk meninggalkan dunia ramai. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma. 14. Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Artha. Widura. Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. kewajiban seorang Raja. dan sebagainya. Akhirnya. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia. aturan tentang berbagai upacara. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. 16. Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra.Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan Byasa. Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya. 11. Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Resi Bhisma untuk menerima ajarannya. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Striparwa. kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama. Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang. Anusasanaparwa. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna. Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. 15. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya. Mahaprastanikaparwa. Dropadi dan para Pandawa . cucu Arjuna. Santiparwa. Atas nasihat Rsi Byasa. Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Kunti. Akhirnya Resi Narada datang membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri. 13.

Demikian cerita Mahabharata terbagi dalam 18 Parwa yang masing-masing memiliki nilai-nilai kehidupan. Dalam perjalanannya. zaman Weda berada tahun 6500-2000 SM. Dari semua keterangan di atas banyak pedapat dengan berbagai argumentasi namun belum bisa dipastikan kapan kejadian ini terjadi dan di tulis. Kemudian Zaman Ramayana terjadi sekitar tahun 4750 SM. Itihasa termuat tokoh Rama dan Kresna yang pada hakekatnya tokoh tersebut lebih dulu ada ketimbang zaman Budha yaitu sekitar abad ke-5 SM.Lal memperkirakan penulisan Ramayana secara kasar sekitar abad ke 152 SM. meninggal dalam perjalanan. Namun dari penelitian para sarjana didapat sebuah kesimpulan bahwa karya Ramayana lebih dahulu ada dibandingkan Mahabharata. Dan sebagai Sastra sekterian vasnawa sekitar abad ke-2 SM. Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Di Indonesia Hindu mulai masuk pada abad ke 4. yaitu Dewa Dharma. Jadi dalam kurun waktu ini sudah di tulis itihasa. Namun masih banyak ditemukan sloka yang berisi tetang kejadian yang atau penyebutan tokoh dalam Ramayana di dalam Mahabharata. Hal tersebut didasarkan atas penemuan Arkeologis yang menemukan kota Shringaverapura dalam Ramayana yang berumur 2800 tahun. ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Swargarohanaparwa. Sarjana India P. Hopkins dan Keith sepakat bahwa Itihasa muncul bersamaan sekitar abad ke 6-3 SM. sedangkan Mahabharata tahun 3000 SM. Hal tersebut didasaran pada sloka Ramayana yang tidak memuat hal yang ada pada Mahabharata. 3. 18. Pada abad ini di india sedang popularna . Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya. Kejadian ini bila menurut David Frawley mengacu pada kosologi alam yang tergamar dalam Weda. Itihasa popular dimasyarakat sebagai sebuah sastra adalah sekitr abad ke 6-3 SM. Hanya perkiraan yang didasarkan pada persepektif tertentu.(kecuali Yudistira). Masa Penyusunan Kitab-kitab Itihasa Hal yang menimbulkan penasaran adalah kapan itihasa ini mulai ditulis. Dan menurut sarjana barat seperti Macdonell. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian.

Di Indonesia. Di luar itu. Wirataparwa. dan diperkirakan pula menggubahGaţotkacāśraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri. salinan berbagai bagian dari Mahabharata. menantu raja Dharmawangsa. ada juga yang menyatakan Kekawin ini ditulis pada masa pemerintahan Diah Balitung tahun 898-910 M. Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut. dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir jaman Majapahit. ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. ada juga yang menyatakan bahwa karya ini ditulis pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh tahun 991-1007 M. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha. sepertiAdiparwa. Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain. Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya(1135-1157 M). Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder. di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) danBhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari jaman kerajaan Kediri. Karya sastra lain yang juga terkenal adalah kakawin Bharatayuddha. Prosa maupun Kidung. mpu Panuluh juga menulis kakawinHariwangśa di masa Jayabaya. Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin. Tentang masa pengubahan Ramayana di Jawa terdapat beberapa pendapat Zoutmulder berpendapat bahwa Kekawin Ramayan ditulis pada masa kerajaan Kediri abad ke 11-12 M. yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Karena sifatnya itu. 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan. Hal tersebut terbukti dengan ditemukan gubahan-gubahan berbetuk Kekawin. diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasaKawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi.Itihasa sehingga zaman berkembangnya Itihasa di India sangat berpegaruh terhadap perkembangan agama Hidu di Indonesia. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar . Dari susastra Ramayana dan Mahabharata didapat bahwa terdapat proyek menjawakan karya Bagawan Wyasa. bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa. Semua pendapat ini didasarkan atas karenkter tulian dengan membandinkan prasasti yang ada. yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri.

Masing-masing Veda mempunyai kitab-kitab Brahmana dan Upanisad sendirisendiri. Kata Upanisad artinya duduk di bawah dekat guru. Pada dasarnya kitab ini menguraikan sistem upacara sampai sekecil-kecilnya sehingga dengan demikian lebih banyak berkaitan dengan bentuk luar pelaksanaan hidup beragama dibandingkan dengan hidup kerohanian.daunlontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali. Pada sakhas itu duduk beberapa murid terpilih (dipilih berdasarkan kesetiannya pada guru dan kejujurannya) di bawah mengelilingi seorang guru. Kitab ini diperkirakan orang mulai ada sekitar 1000 tahun sebelum Masehi dan merupakan buku pedoman untuk mengadakan upacara. Apa-apa yang diajarkan oleh guru tersebut kemudian dikumpulkan menjadi kitab Upanisad. mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan. Di samping itu. kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18. Di dalam masa yang lebih belakangan. lebih dari 200 judul. mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi. Salah satu yang terkenal adalah karya dari R.. Salah satu kitab Brahmana yang terkenal ialah Satapatha Brahmana yang masuk bagian kitab Yajur Veda. cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik yang membuat cerita ini dikenal luas di kalangan awam. terutama di Jawa dan Bali. Dalam dunia sastra popular Indonesia. Kosasih.. . seni tari. Jumlahnya amat banyak.A. Setelah Veda maka terdapat kitab-kitab Brahmana dan kitab-kitab Upanisad sebagai kitab-kitab suci agama Hindu. Upanisad-Upanisad tua dan penting ialah:              Isa Upanisad Kena Upanisad Katha Upanisad Prasna Upanisad Mundaka Upanisad Mandukya Upanisad Taittiriya Upanisad Aitareya Upanisad Chandogya Upanisad Brhadaranyaka Upanisad Kausitaki Upanisad Maitrayaniya Upanisad dan . Karena sakhas itu banyak maka Upanisad itupun banyak pula jumlahnya. seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. namun Muktika Upanisad menerangkan jumlahnya 108 buah dan banyak di antaranya berasal dari jaman yang tidak terlalu tua. Kitab-kitab Upanisad diperkirakan muncul setelah kitab-kitab Brahmana yaitu sekitar 800 tahun sebelum Masehi.. Kitab-kitab Brahmana dan kitab-kitab Upanisad merupakan bagian-bagian kitab suci Veda. Kata ini erat hubungannya dengan sakhas yaitu kelompok orang yang mempelajari Veda. Svetasvatara Upanisad.

14. . dan untuk masing-masing Veda tinggal memiliki beberapa sakhas dan Upanisad yang penting-penting saja.Dari sakhas yang banyak jumlahnya itu sebagian besar lenyap dalam perjalanan jaman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful