P. 1
PENGENALAN DASAR ALAT DAN MESIN PENGENDALI HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN DAN KALIBERASI SPRAYER

PENGENALAN DASAR ALAT DAN MESIN PENGENDALI HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN DAN KALIBERASI SPRAYER

|Views: 2,595|Likes:
PENGENALAN DASAR ALAT DAN MESIN PENGENDALI HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN DAN KALIBERASI SPRAYER
PENGENALAN DASAR ALAT DAN MESIN PENGENDALI HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN DAN KALIBERASI SPRAYER

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: tunjung bayu hernawan on Nov 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2015

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM ENERGI DAN MESIN PERTANIAN ( TPT 2021

)

ACARA KE VII PENGENALAN DASAR ALAT DAN MESIN PENGENDALI HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN DAN KALIBERASI SPRAYER

DISUSUN OLEH : NAMA NIM Gol Co.Ass : Tunjung Bayu Hernawan : 10/300816/TP/09883 : Senin : 1. Jhonny Sigiro 2. Fajar Tsani R.

LABORATORIUM ENERGI DAN MESIN PERTANIAN JURUSAN TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang bidang pertaniannya memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara disamping bidangbidang lainnya. Atas dasar tersebut, maka diperlukan adanya perawatan yang baik dalam tanaman pertanian agar didapatkan hasil pertanian yang berkualitas. Karena tanaman pertanian tidak terlepas dari hama dan penyakit yang menyerang. Dalam menjaga kualitas tanaman pertanian yang baik, sehat harus diusahakan suatu pengendalian hama/penyakit tanaman. Hama dan penyakit tanaman merupakan musuh alami dalam tanaman pertanian yang harus dihilangkan dan di basmi. Oleh karena itu, hama dan penyakit tanaman memerlukan perhatian khusus agar produksi pertanian mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Untuk memudahkan dalam pengendalian hama maka perlu berbagai alat/mesin pengendali hama dan penyakit tanaman. Kinerja alat/mesin pengendali hama dan penyakit tanaman juga harus terjaga dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara kaliberasi alat pengendali hama dan penyakit tanaman untuk suatu skala usaha pertanian. Dalam praktikum kali ini akan dipelajari tentang suatu mesin pertanian dalam pemeliharaan tanaman pertanian. Mesin pertanian yang dipelajari yaitu sprayer dan mist blower. Praktikum pada acara kali ini sangat erat hubungannya dengan studi praktikan. Hal ini karena nantinya praktikan akan menemui peralatan maupun mesin-mesin tersebut di dalam kehidupan kerjanya. Dengan mempelajari praktikum kali ini, maka praktikan diharapkan akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai sprayer dan mist blower sehingga tidak akan mengalami kesulitan ketika nantinya sudah bekerja di bidang teknologi pertanian. Selain itu praktikan juga akan mendapatkan ilmu yang lebih, sehingga dalam masa perkuliahannya akan semakin mudah menyelesaikan masalah-masalah yang ada.

B. Tujuan 1. Untuk mendapatkan persyaratan agroteknis yang diperlukan serta mempelajari cara pengaturan bagian-bagian sprayer dalam kaitannya dengan penggunaan sprayer tersebut untuk melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan dosis penggunaan obat-obatan yang tertentu, yang diberikan dalam konsentrasi larutan yang tertentu pula. 2. Untuk mempelajari prinsip kerja serta cara pengaturan bagian-bagian mist blower dalam kaitannya dengan penggunaannya mesin tersebut dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman baik di lapangan maupun di dalam ruangan, dengan penggunaan obat tertentu, yang diberikan dalam bentuk larutan cairan maupun dalam bentuk bubuk (powder).

C. Manfaat Pada praktikum acara kali ini di harapkan dapat membuat mahasiswa atau praktikan untuk bisa mendapatkan persyaratan agroteknis yang diperlukan untuk suatu alat pengendali hama dan penyakit tanaman, dapat membuat praktikan atau mahasiswa dapat mengetahui cara pengaturan bagian-bagian sprayer dalam kaitannnya dengan penggunaan sprayer tersebut untuk melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan dosis penggunaan obat-obatan tertentu, yang diberikan dalam konsentrasi larutan yang tertentu pula dan dapat membuat praktikan atau mahasiswa mengetahui bagian dan cara pakai dari mist blower sehingga dengan mengetahui fungsi dan cara pakai dari alat sprayer dan mist blower dapat mempermudah praktikan dalam menjalani suatu perkerjaan yang berkaitan dengan praktikum kali ini.

BAB II DASAR TEORI

Sprayer adalah salah satu dari penggunaan mesin secara umum untuk bahan kimia cair untuk pengendalian gulma dan serangga. Pupuk cair juga dapat menggunakan sprayer. Tipe dari penyemprotan pertanian digolongkan

berdasarkan tujuan pemakaian, penggunaan bahan kimia, dan tekanan dari sprayer (Jacobs,1983). Alat penyemprot (Sprayer) digunakan untuk mengaplikasikan sejumlah tertentu bahan kimia aktif pemberantas hama penyakit yang terlarut dalam air ke objek semprot (daun, tangkai, buah) dan sasaran semprot (hama-penyakit). Efesiensi dan efektivitas alat semprot ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas bahan aktif tersebut yang terkandung di dalam setiap butiran larutan tersemprot (droplet) yang melekat pada objek dan sasaran semprot (Kastaman, dkk, 2002). Sprayer digunakan untuk (Anonim 1, 2010): 1. Menyemprotkan insektisida untuk mencegah dan memberantas hama 2. Menyemprotkan fungisida untuk mencegah dan memberantas penyakit 3. Menyemprotkan herbisida untuk mencegah dan memberantas gulma 4. Menyemprotkan pupuk cairan 5. Menyemprotkan cairan hormon pada tanaman untuk tujuan tertentu Prinsip kerja alat penyemprot handsprayer adalah memecah cairan menjadi butiran partikel halus yang menyerupai kabut. Dengan bentuk dan ukuran yang halus ini maka pemakaian pestisida akan efektif dan merata ke seluruh permukaan daun atau tajuk tanaman. Untuk memperoleh butiran halus, biasanya dilakukan dengan menggunakan proses pembentukan partikel dengan menggunakan tekanan (hydraulic atomization), yakni cairan di dalam tangki dipompa sehingga mempunyai tekanan yang tinggi, dan akhirnya mengalir melalui selang karet menuju ke alat pengabut. Cairan dengan tekanan tinggi dan mengalir melalui celah yang sempit dari alat pengabut, sehingga cairan akan pecah menjadi partikel-partikel yang sangat halus. (Anonim 1. 2010).

Faktor – faktor yang mempengaruhi efektifitas penggunaan sprayer. Faktor yang berasal dari peralatan sendiri, yaitu lebar nozzle, tekanan, bentuk nozzle. Faktor yang ditentukan oleh cairannya adalah viskositas, harga kerapatan cairan, dan tegangan muka sangat mempengaruhi bentuk ukuran butiran maupun penyebaran butirannya. (Ciptohadijoyo,2003). Penyemprot Tekanan Tinggi untuk tanaman pertanian adalah Type Gendong atau Knapsack merek Zenoah dirancang untuk dapat menyelesaikan Penyemprotan tanaman dengan cepat dan efisien,Power Sprayers Dusters/Misters ini banyak digunakan pada Lahan Pertanian dan Perkebunan yang luas dan tersebar.Power Sprayers Zenoah asal Jepang ini adalah Power Sprayers yang handal dan mempunyai performa tinggi ,sangat ringan dan Nyaman untuk di gendong sehingga menghasilkan penyemprotan tanaman yang merata,(Anonim 2.2010). Ditinjau dari sumber daya penggeraknya, sprayer dibedakan menjadi dua, yaitu sprayer yang digerakkan dengan sumber daya penggerak manusia dan sprayer yang digerakkan dengan daya penggerak motor (Ciptohadijoyo, 1998). Kemudian apabila ditinjau dari ukuran dan prinsip kerjanya, sprayer dapat digolongkan sebagai berikut (Irwanto,1980) : 1.Sprayer Hidraulik Pada tipe hidraulik tekanan di dalamnya berasal dari kerja pompa pada bahan semprotan yang cair. Tekanan yang terjadi mendesak cairan melalui nozzle yang memecah semprotan ke dalam tetes-tetes kecil dengan ukuran yang tepat dan memancarkannya dalam pola semprot yang diinginkan. Tenaga yang cukup besar juga diberikan pada tetes-tetes semprotan untuk membawa tetes-tetes itu dari nozzle ke permukaan yang diberi perlakuan. 2. Sprayer Hidropneumatik Sprayer tipe ini mempunyai kisaran penggunaan kira-kira sama dengan penyemprot tekanan rendah volume rendah yang telah dipertelakan sebelumnya. Cairan semprotan dibawa di dalam tangki bertekanan dan tekanan penyemprotan diberikan oleh kompresor udara yang digerakkan oleh

mesin. Pengadukan dilakukan dengan pengadukan mekanik atau dengan pipa udara yang mengeluarkan udara di bawah permukaan cairan di dalam tangki. 3. Sprayer Tiup Sprayer tiup juga dikenal sebagai penyemprot konsentrat atau penyemprot kabut. Dikembangkan untuk pemberian pestisida dalam bentuk yang pekat. Penyemprot ini digunakan untuk penyemprotan kebun pohon buah-buahan yang luas, pohon peneduh yang besar, sayuran, serta tanaman budidaya tertentu lainnya. 4. Sprayer Aerosol Sprayer ini menyebarkan bahan semprotan dalam bentuk tetes-tetes yang sangat halus (diameter 1-50 mikron) yang bertahan di dalam udara dalam waktu yang cukup lama. Pembunuhan serangga dengan alat ini bergantung pada tersentuhnya oleh insektisida di udara karena lazimnya tidak ada atau sangat kecilnya pengaruh aksi-aksi bahan kimia. Alat ini digunakan untuk pengendalian sementara nyamuk dewasa, lalat, dan serangga lain sejenisnya. Alat penyemprot hama dan penyakit. Sprayer berfungsi untuk memecah zat cair menjadi partikel- partikel kecil dengan ukuran yang efektif dan menyebarnya secara merata pada permukaan atau ruangan yang akan dilindungi, dan mengatur jumlah pestisida/insektisida untuk mencegah penggunaan yang berlebihan yang akan merusak atau terbuang (Daywin,1977). Beberapa metoda pemecahan cairan antara lain (Anonim 2, 2010): 1) Tekanan cairan (hydraulic atomization) : Cairan dipompa ke nozzle secara langsung 2) Arus udara (gas atomization) : Cairan dialirkan pada suartu arus udara (dengan hembusan yang kuat), sehingga menghasilkan semprotan udara yang mengandung butiran cairan 3) Sentrifusi (centrifugal atomization) : Cairan dialirkan ke suatu alat sentrifusi sehingga terpecah menjadi butiran halus

Sedangkan menurut tekanan yang digunakan, sprayer dapat digolongkan sebagai berikut (Purwadi, 1999) : a. Tekanan rendah b. Tekanan 20 – 30 kg/cm2 c. Tekanan 30 – 40 kg/cm2 d. Tekanan 40 – 50 kg/cm2 Sprayer dikelompokan berdasarkan tenaga penggerak dan jenis pompa sprayer (Anonim 3, 2010): 1. Berdasarkan tenaga penggerak a) Sprayer dengan penggerak tangan (Hand operated sprayer) b) Atomizer (Hand sprayer) Sprayer otomatis (Compressed air sprayer) Sprayer semi otomatis (Knapsack sprayer) Bucket sprayer Barrel sprayer Wheel barrow sprayer Slide pump sprayer

Sprayer bermotor (Power sprayer) Hydraulic sprayer Blower sprayer Hydro pneumatic sprayer Aerosol generator

2. Berdasarkan tenaga penggerak a) Pompa tekanan udara : memompa udara ke dalam tangki cairan dan menekan cairan ke nozzle b) Sprayer otomatis (Compressed air sprayer) Hydro pneumatic sprayer

Pompa cairan : memompa cairan langsung ke nozzle Sprayer semi otomatis Bucket sprayer Barrel sprayer

c)

Wheel barrow sprayer Slide pump sprayer Power hydraulic sprayer

Pompa penghembus udara Atomizer (Hand sprayer) Power blower sprayer

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan nozzle : Tipe pekerjaan penyemprotan, yaitu padang penggembalaan penyemprotan gulma, insektisida, dan lain-lain, jumlah larutan semprotan total yang harus diberikan per akre untuk tiap penyemprotan, jarak antar larikan dan jumlah nozzle yang digunakan per larik, jika penyemprotan harus dilakukan terhadap tanaman larikan, jarak antar nozzle semprot jika keseluruhan areal, seperti dalam pekerjaan di lahan penggembalaan harus disemprot, tipe pola semprotan yang diinginkan, seperti tipe kipas atau kerucut, perkiraan kecepatan yang harus ditempuh, dan perkiraan tekanan yang harus digunakan. (Smith, 1955): Kaliberasi adalah usaha untuk menentukan atau memperbaiki pada ukuran yang sesuai. Dalam hal ini kalibrasi berhubungan dengan penggunaan volume bahan kimia yang akan disemprotkan persatuan luas, sesuai yang diinginkan. Kalibrasi ini bisa dilakukan dengan cara laboratorium atau dengan efektif di lapangan (Purwadi, 1999). Kalibrasi adalah menghitung/mengukur kebutuhan air suatu alat semprot untuk luasan areal tertentu. Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya.Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Kalibrasi harus dilakukan pada setiap kali akan melakukan penyemprotan yang gunanya adalah menghindari pemborosan herbisida, memperkecil terjadinya keracunan pada tanman akibat pemupukan herbisida dan memperkecil pencemaran lingkungan (Anonim 3, 2010).

Agar dapat diperoleh persyaratan agroteknis yang diperlukan sebelum sprayer dipergunakan, perlu dilakukan kegiatan kaliberasi. Kaliberasi dapat dilakukan secara laboratoris maupun secara aktual di lapangan. Perhitungan untuk menentukan barapa jumlah bahan kimia yang diperlukan dalam satuan liter/menit (Ciptohadijoyo, 2003) : q = V.B.N

α x10x60
q = bahan kimia yang diperlukan, lt/menit lewat l nozzle v = kecepatan kerja, km/jam B = lebar kerja efektif, m N = jumlah larutan bahan kimia, lt/ha Kalau penghasilan cairan untuk setiap waktu tidak sama seperti pada hand sprayer tipe knapsack maupun pada sprayer bertekanan udara dimana tekanan udara tidak dapat dibuat tetap, besarnya q diperhitungkan : q= V.B.N

α x10x60
dimana α : faktor penghasilan nozzle 0,50 – 0,70. Kalau nozzlenya ganda atau jumlahnya lebih dari satu dipasang pada suatu batang, maka besarnya penghasilan : q = Penghasilan total x jarak tiap nozzle panjang lengan Mist blower merupakan salah satu tipe sprayer yang bisa membentuk partikel-partikel sangat kecil dari suatu campuran insektisida dan fungisida berkonsentrasi tinggi serta mendispersikannya ke dalam suatu arus udara kecepatan tinggi. Bahan yang dipakai bisa berupa larutan atau suspensi (Purwadi, 1999). Didasarkan atas konstruksinya, mist blower dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu (Ciptohadijoyo, 2003) : a. Sistem pompa (mist pump), dengan tekanan pompa sentrifugal kecil cairan yang disalurkan pada selang ke ujung (kepala) penghembus menjadi jauh lebih besar. Dengan demikian sistem ini membutuhkan alat pengatur tekanan

lagi yang umumnya berupa sekrup penyetel dan diperlukan pula adanya pelimpahan kembali untuk mengatur cairan yang berlebihan ke tangki, sehingga konstruksi menjadi lebih rumit. b. Sistem tekanan udara (air pressure), tekanan udara dipergunakan untuk menekan cairan di dalam tangki, sehingga cairan dapat mengalir melalui selang ke ujung (kepala) penghembus dengan kecepatan aliran yang relatif rendah. Konstruksi sederhana serta pemeliharaannya lebih mudah. Sistem ini termasuk model baru yang banyak diproduksi dewasa ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1. 2010. Prinsip Kerja Handsprayer (Alat Penyemprot).[Diakses pada tanggal 10-12-2011. pada pukul 16.00] dari http://www.ideelok.com/alatdan-mesin/traktor-tangan. Anonim 2.2010. Mesin Aplikasi Bahan Kimia Cair (Sprayer).[diakses tanggal 1012-2011 pada pukul 16.05].URL:http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Teknik%20Me sin%20Budidaya%20Pertanian/TIK-SPRAYER.htm Anonim 3.2010. Power Sprayers - Dusters.[Diakses pada tanggal 10-12-2011. pada pukul 17.00] dari http://www.hasilbumi.com/ 2009/11/powersprayers-dusters.html.

Ciptohadijoyo, S. 1998. Alat dan Mesin Pertanian I. Hand Out Kuliah. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Ciptohadijoyo, Sunarto. 2003. Hand Out Mata Kuliah Mesin Produksi Pertanian. Yogyakarta:Fakultas Teknologi Pertanian. Daywin, Frans J., 1977, Teknik Budidaya Pertanian, Departemen Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian dan THP Institut PertanianBogor, Bogor. Irwanto, Kohar. 1980. Alat dan Mesin Budidaya Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Departemen Mekanisasi Pertanian. Bogor. Jacobs,O.Clinton.,William R. Harrel, 1983, Agricultural Power and Machinery, Gregg Division McGraw-Hill Book Company, USA Kastaman, Roni, Wahyu Daradjat dan Entun Santosa.2002.Aplikasi Alat Penyemprot Listrik-Statik Sistem Butiran Terkontrol. (Online: diakses tanggal 18 April 2010). URL: http://72.14.235.132/search?q=cache:YYmuosTnc0J:resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publika si_dose n/No.03%2520paperskimRoni2.pdf+fungsi+sprayer&cd=11&hl=i d&ct=l nk&gl=id&client=firefox-a Purwadi, Tri, Ir. M. Eng. 1999. Mesin Tanam dan Mesin Pemeliharaan Tanaman. Program Studi Teknik Pertanian. Jurusan Mekanisasi Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Smith, Harris P. 1935. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

.

BAB III METODOLOGI

A. Alat 1. Alat penyemprot (knapsack sprayer dan mist blower), 2. Botol/Gelas plastik, 3. Stopwatch, 4. Meteran 5. Gelas ukur

B. Bahan Bahan yang digunakan pada acara praktikum kali ini adalah air jernih.

C. Cara Kerja 1. Pengenalan sprayer: a. Mengamati bagian-bagian sprayer dan menentukan fungsi dari bagianbagian tersebut. b. Mencatat spesifikasi sprayerdengan cara mengukur bagian-bagian dari sprayer.

2. Kalibrasi sprayer: a. Tangki sprayer diisi dengan air jernih. b. Botol/Gelas plastik disusun tepat di bawah alur dari seng plastik, agar air hasil penyemprotan dapat tertampung. c. Sprayer dipompa hingga barometer menunjukkan pada tekanan 6 kg/cm2. d. Stopwatch diaktifkan bersamaan dengan kran selang air dibuka. e. Waktu yang diperlukan untuk penyemprotan pada tekanan 6-5 kg/cm2 dicatat. f. Volume air yang tertampung pada tiap-tiap gelas plastik penampung air dengan menggunakan gelas ukur.

g. Cara kerja poin a-f diulangi untuk variasi tekanan 5-4 kg/cm2 dan 4-3 kg/cm2. h. Cara kerja poin a sampai g dilakukan sebanyak dua kali ulangan. i. Hasil pengamatan dicatat pada blanko yang tersedia dan selanjutnya analisa data dari data yang diperoleh dilakukan.

3. Pengenalan mist blower: a. Mengamati kondisi fisik dari mist blower berikut alat pendukungnya. b. Mencatat spesifikasi mist blower berikut alat pendukungnya ke dalam blangko spesifikasi alat yang telah tersedia.

D. Cara analisa Menentukan nilai SD : √

CV = SD/x rata-rata Untuk menghitung lebar kerja dengan metode statistic dipilih alternative nilai CV yang terkecil. Dibuat gravik antara no.botol vs Xrata-rata, ∑ overlap dan ∑x.(ada 3 variasi tekanan) dan setiap variasi ada 5 alternatif overlap Dibuat grafik no.Botol vs ∑x untuk setiap variasi tekanan (ada 3 ) dicari nilai R² yang mendekati 1( untuk mencari lebar kerja)

Menghitung lebar kerja Alternatif 1

Alternatif 2

Alternatif 3

Alternatif 4

Alternatif 5

Faktor koreksi :

JKP = ∑(Xirata-rata)²- FK

JKV = JKT-JKP Dbu = nv -1 = 3-1=2 KTV= JKV/dbv Dbu = nv(nu-1)=3(2-1)=3 KTU=JKP/dbu

Debit aliran : Pada tekanan 6-5 kg/cm2

Pada tekanan 5-4 kg/cm2

Pada tekanan 4-3 kg/cm2

Dosis penggunaan

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA I. HASIL PENGAMATAN

A. Sprayer 1. Spesifikasi Nama Merek Model Tipe No. Seri Negara pembuat Tahun pembuatan Jenis sprayer Jenis pompa penekan Jenis nozzle Jumlah nozzle Harga skala tekanan tanki Kapasitas tanki Berat Spesifikasi lainnya Tinggi Diameter Panjang selang : 71 cm : 22 cm : 116 cm : Sprayer : Maruyama : MHC-11 : Hand Sprayer : : Japan : : Knapsack Sprayer : Manual : Solid Cone Nozzle Satu Pancaran : 1 : 10 kg/cm3 : 11,3 liter : -

Panjang btg. Sprayer : 78,5 cm

2. Bagian-bagian Sprayer

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Handle Body Sprayer Manometer Kran Slang Silinder 7. 8. 9. Batang Penyalur Nozzle Shaft

10. Piston 11. Katup 12. Silinder dalam

B. Mist Blower 1. Spesifikasi Nama Merek Model Tipe No. Seri Negara pembuat Tahun pembuatan Jenis Ukuran (p / l / t) Berat kosong : Mist Blower : Shikutani : DMG-70 : : 28457 : Japan : : Knapsack : 71 / 30 / 67 (cm) : -

Kapasitas tanki obat-obatan : Debit maksimum Mist Duster Granuler : : : -

Maksimum kecepatan udara : Maksimum volume udara Panjang pipa penghembus Motor penggerak Merek Model Type Daya / rpm Isi silinder Spesifikasi lainnya Jenis M.P Perb. Kompresi : Motor Bensin 2 Tak : : : 2 cycle : : : 0,75 cc : : 79 cm

2. Bagian-bagian Mist Blower

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tanki bahan kimia Pengatur tekanan tabung Pengatur tekanan luar Busi Knalpot Engkol 7. 8. 9. 10. 11. 12. Standar Filter Saluran udara Tempat nozzle Pengatur saluran cairan Selang bahan kimia

BAB V PEMBAHASAN

Pada praktikum acara ke 7 kali ini akan mempelajari dua alat/mesin produksi pertanian khususnya untuk membasmi hama alat tersebut adalah sprayer dan mist blower. Sprayer merupakan alat yang berfungsi untuk memecahkan cairan yang disemprotkan menjadi tetesan kecil (droplet) dan mendistribusikan secara merata pada objek yang dilindungi. Sprayer banyak digunakan untuk menyemprotkan insektisida untuk mencegah dan memberantas hama,

menyemprotkan fungisida untuk mencegah dan memberantas penyakit, menyemprotkan herbisida untuk mencegah dan memberantas gulma,

menyemprotkan pupuk cairan dan menyemprotkan cairan hormon pada tanaman untuk tujuan tertentu. Pada alat sprayer memiliki beberapa bagian, bagian yang paling utama adalah pompa. Pompa berfungsi untuk mengembangkan atau pemberi tekanan dengan kisaran yang dibutuhkan untuk penyemprotan, karena pada penyemprotan yang paling di perhatikan adalah tanaman apa yang akan di semprot serta luas area yang akan di semprot. Yang kedua adalah tangki yang berfungsi sebagai tempat cairan atau fluida yang akan disemprotkan. Pada tangki terdapat sebuah lubang terbuka yang cukup besar, dipasangi tapisan yang dapat dilepas yang disediakan diatas untuk memudahkan pengisian, pemeriksaan dan pembersihan. Bagian yang penting lainnya adalah nozzle penyemprot. Nozzle ini berfungsi untuk memecah cairan semprotan menjadi tetes-tetes dengan ukuran yang diinginkan untuk disemprotkan kebagian yang diinginkan serta dapat diubah menurut bentuk semprotan yang diinginkan seperti bentuk kipas ataupun lingkaran. Pada sprayer juga terdapat alat pengatur tekanan(manometer) yang berfungsi untuk memandu operator dalam pengaturan tekanan dan dengan adanya alat ini maka operator dapat mengatur tekanan yang dibutuhkan dapat pekerjaannya, agar hasil yang dihasilkan dapat optimal. Pada praktikum kali ini sprayer yang digunakan oleh praktikan memiliki merk Maruyama dengan model Hand sprayer dan bertipe MHC-11. Sprayer ini buatan Jepang. Jenis pompa penekan yang ada pada sprayer ini yaitu manual.

Pada sprayer ini hanya terdapat 1 buah nozzle yang berjenis Solid Cone Nozzle dengan satu pancaran. Harga skala tangkinya 11,3 lt. Untuk ukurannya, sprayer ini memiliki tinggi 71 cm, diameter 20 cm, panjang selang 15 cm dan panjang batang sprayer 63 cm. Selain melakukan spesifikasi alat sprayer, pada praktikum kali ini praktikan juga akan melakukan kaliberasi pada sprayer. Pada setiap proses pengembangan sprayer sangat perlu adanya proses kaliberasi, karena dengan adanya kaliberasi maka akan dapat mengetahui kelemahan pada alat sprayer tersebut dan pada akhirnya dapat mengembengkan alat sprayer yang lebih bagus atau baik dari sebelumnya dan dengan kaliberasi maka akan dapat mengetahui dosis yang akan keluar pada alat tersebut bila digunakan sehingga dapat dijadikan patokan untuk melakukan pekerjaan penyemprotan. Kaliberasi yaitu suatu proses untuk mengukur ketepatan suatu alat. Proses kaliberasi dapat dilakukan di lapangan maupun di laboratorium. Data yang diambil dilakukan variasi, yaitu pada tekanannya dengan variasinya tekanan 6-5 kg/cm², tekanan 5-4 kg/cm², dan tekanan 4-3 kg/cm². Percobaan dilakukan dengan 2 kali ulangan. Tekanan pada sprayer divariasi untuk mengetahui apakah tekanan mempengaruhi volume cairan yang keluar dari sprayer. Dari data yang diperoleh praktikan, dilakukan analisa untuk menghitung lebar kerjanya. Metode yang dilakukan ada dua yaitu metode statistik dan metode grafik. Pada metode statistik ditentukan dahulu nilai Cvnya untuk mengetahui lebar kerjanya. Nilai CV yang paling kecil digunakan untuk menghitung lebar kerjanya. Pada alternative 1 didapatkan nilai CV paling kecil dari semua variasi tekanan yaitu 0,24904. Pada alternative 2 didapatkan nilai CV paling kecil dari semua variasi tekanan yaitu 0,35199. Pada alternative 3 didapatkan nilai CV paling kecil dari semua variasi tekanan yaitu 0,29912. Pada alternative 4

didapatkan nilai CV paling kecil dari semua variasi tekanan yaitu 0,35195. Pada alternative 5 didapatkan nilai CV paling kecil dari semua variasi tekanan yaitu 0,34822. Pada semua alternative didapatkan nilai CV paling kecil dari semua variasi tekanan adalah yaitu 0,24904 sehingga nilai lebar kerjanya menjadi 0.45 meter

Pada metode grafik, yang pertama dibuat adalah grafik nomer botol vs ∑x untuk setiap variasi tekanan agar diketahui nilai R2nya. Nilai R2 dibutuhkan untuk menentukan alternatif mana yang dipilih. Nilai R2 yang dipakai adalah yang paling mendekati 1. Pada alternative 1 di semua variasi didapatkan nilai R2 paling mendekati 1 yaitu 0,00323. Pada alternative 2 di semua variasi didapatkan nilai R2 paling mendekati 1 yaitu 0,00108. Pada alternative 3 di semua variasi didapatkan nilai R2 paling mendekati 1 yaitu 0,01493. Pada didapatkan nilai R2 paling alternative 4 di semua variasi didapatkan nilai R2 paling mendekati 1 yaitu 0,00032. Pada alternative 5 di semua variasi

mendekati 1 yaitu 0,02083. Pada semua alternative di semua variasi didapatkan nilai R2 paling mendekati 1 yaitu 0,02083 dan dapat menghasilkan lebar kerja sebesar 0.69 meter . Pada perhitungan dengan kedua metode tersebut terdapat perbedaan hasil perhitungan lebar kerja. Hal ini disebabkan oleh pengambilan data yang tidak sesuai. Pada waktu dilakukan percobaan dengan sprayer, air yang ditampung pada gelas tidak semuanya tertampung. Hal ini disebabkan karena letak gelas penampungnya yang kurang tepat sehingga airnya mengalir ke tempat lain atau tumpah sehingga airnya tidak tertampung dengan sempurna. Selain hal itu, kesalahan juga mungkin terjadi akibat dari perhitungan praktikan yang kurang teliti. Pada analisa data yang digunakan untuk praktikum kali ini cukup rumit sehingga ketika terdapat kesalahan memasukkan data sedikit saja maka hasil yang diperoleh praktikan akan berbeda dengan yang seharusnya. Pada praktikum kali ini praktikan juga menganalisa hubungan tekanan tabung dengan volume keluaran dengan metode anova 1 arah. Dari hasil analisa data, didapatkan nilai jumlah kuadrat penampang sebesar kuadrat total sebesar , nilai jumlah ,

, nilai jumlah kuadrat volume sebesar

nilai kuadrat total variasi sebesar sebesar

dan nilai kuadrat total ulangan

. Dari hasil-hasil tersebut dapat digunakan untuk mencari F

hitungnya. F hitung yang didapatkan sebesar 24,61 dan F tabel yang didapat sebesar 9,55. Karena F hitungnya lebih besar daripada F tabelnya, maka H0 ditolak atau H1 diterima. Oleh karena itu didapatkan kesimpulan bahwa rataan

volume dari ketiga variasi tekanan berbeda, sehingga variasi tekanan pada tabung sprayer mempengaruhi jumlah volume yang dikeluarkan. Berdasarkan teori yang ada, maka hal ini telah sesuai dengan teori. Untuk perhitungan debit aliran, didapatkan hasil bahwa pada tekanan 6-5 kg/cm , debit alirannya adalah sebesar kg/cm2, debit alirannya adalah sebesar kg/cm2, debit alirannya adalah sebesar
2

liter/menit, pada tekanan 5-4 liter/menit dan pada tekanan 4-3 liter/menit. Hal ini menunjukkan

bahwa semakin besar tekanan maka semakin besar pula debit alirannya, begitu juga sebaliknya. Untuk perhitungan dosis penggunaannya digunakan nilai lebar kerja dari cara statistik dan cara grafik. Dengan nilai lebar kerja dari cara statistik, didapatkan hasil bahwa dosis penggunaan pada tekanan 6-5 kg/cm2 adalah sebesar sebesar adalah sebesar liter/hektar, dosis penggunaan pada tekanan 5-4 kg/cm2 adalah liter/hektar, dan dosis penggunaan pada tekanan 4-3 kg/cm2 liter/hektar. Sedangkan dengan nilai lebar kerja dari cara liter/hektar, dosis penggunaan pada tekanan 5-4 kg/cm2 adalah liter/hektar, dan dosis penggunaan pada tekanan 4-3 kg/cm2 liter/hektar. Pada praktikum yang dilakukan praktikan

grafik, didapatkan hasil bahwa dosis penggunaan pada tekanan 6-5 kg/cm2 adalah sebesar sebesar adalah sebesar

kali ini kurang sesuai dengan teori yang ada atau bisa dikatakan memiliki banyak kesalahan. Kesalahan utama yang terjadi adalah pada waktu pengambilan datanya. Pada waktu dilakukan percobaan dengan sprayer, air yang ditampung pada gelas tidak semuanya tertampung. Hal ini karena letak gelas penampungnya yang kurang tepat sehingga airnya mengalir ke tempat lain dan tidak terukur dengan kata lain banyak yang tumpah. Serta kesalahan pada praktikan dalam mengkonversi satuan yang ada pada analisa data. Pada praktikum kali ini praktikan juga diamati Mist Blower. Seperti halnya sprayer, mist blower juga memecah cairan menjadi partikel-partikel yang sangat halus dari suatu campuran obat-obat pengendali hama dan penyakit tanaman yang berkonsentrasi tinggi ke dalam suatu arus udara dengan kecepatan tinggi. Selain dalam bentuk cairan, mist blower dapat digunakan juga untuk menghembuskan obat-obatan dalam bentuk bubuk atau butiran-butiran.

Pada praktikum ini Mist blower yang diamati pada praktikan bermerk Shikutani dengan nomor seri 28457 dan modelnya adalah DMG-70. Alat ini buatan negara Jepang. Jenis mist blower yang diamati ini adalah knapsack. Jenis motor penggerak pada sprayer ini adalah motor bensin 2 tak dengan perbandingan kompresi 25:1. Mist blower ini memiliki ukuran panjang 148 cm, lebar 397 cm dan tinggi 63 cm. Bagian dari mist blower antara lain adalah blower (penghembus), untuk menciptakan aliran udara berkecepatan tinggi pada pipa penghembus, yang tenaganya diambil dari tenaga motor berukuran kecil. Saluran udara bertekanan, untuk membantu mengalirkan cairan ataupun bubuk obatobatan dari tangki ke ujung (kepala) penghembus, lewat selang cairan atau obatobatan. Pipa penghembus. Tuas pengatur gas, untuk mengatur besarnya kecepatan aliran udara pada pipa penghembus melalui pengaturan rpm motor berukuran kecil. Tuas pengatur pengeluaran cairan/bubuk obat-obatan. Ujung (kepala) penghembus, untuk mengatur bentuk sebaran obat-obatan. Antara sprayer dan mist blower memiliki beberapa perbedaan diantaranya adalah bila pada sprayer jenis pompa penekannya adalah manual atau dengan tenaga manusia. Sedangkan pada mist blower menggunakan motor penggerak untuk menekan larutan dari dalam tangki. Pada spayer lebih banyak daya tampungnya daripada mist blower. Pada jurnal Sprayer merupakan alat aplikator pestisida yang sangat
diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama & penyakit tumbuhan. Kinerja sprayer sangat ditentukan kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan penggunaan dosis pestisida yang akan disemprotkan. Alat penyemprot (Sprayer)

digunakan untuk mengaplikasikan sejumlah tertentu bahan kimia aktif pemberantas hama penyakit yang terlarut dalam air ke objek semprot (daun, tangkai, buah) dan sasaran semprot (hama-penyakit). Efesiensi dan efektivitas alat semprot ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas bahan aktif tersebut yang terkandung di dalam setiap butiran larutan tersemprot (droplet) yang melekat pada objek dan sasaran semprot. Pengalaman di lapangan selama ini menunjukan bahwa kemampuan droplet tersebut untuk memberantas hama-penyakit sangat

terganggu oleh adanya hembusan angin pada saat penyemprotan (drifted), sehingga kuantitas droplet yang mencapai objek dan sasaran semprot menjadi kurang efektif. Masalah ini telah diantisipasi melalui system penyemprotan dengan piringan berputar yang mengaplikasikan butiran bermuatan listrik statik, sehingga butiran tersebut mampu melayang mendekati dan melekat di objek semprot berdasarkan gaya tarik listrik antara droplet dan objek semprot. Metode ini sudah efektif, namun masih kurang efisien, karena kuantitas bahan aktif menjadi terlalu berlebih dan cenderung boros (67 butiran/cm2 dengan diameter butiran 464,1ìm). Masalah ini dapat diatasi dengan cara mereduksi volume bahan aktif serendah mungkin dengan memodifikasi sprayer piringan berputar yang mengaplikasikan dalam volume butiran bermuatan listrik-statik sangat rendah (ultra low volume droplet) dengan cara mengontrol kuantitas bahan aktif dan kecepatan piringan berputar. Dengan modifikasi ini pola penyebaran droplet lebih merata (79 butiran/cm2 dengan diameter butiran 362,1 ìm) dan efektif pada objek semprot, serta terjadi penghematan bahan aktif antara 11-16 persen

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Sprayer adalah alat yang berfungsi untuk memecahkan cairan yang disemprotkan menjadi tetesan kecil (droplet) dan mendistribusikan secara merata pada objek yang dilindungi. Prinsip kerja dari sprayer yaitu dengan menberikan tekanan pada fluida pada tabung sprayer sampai fluida tersebut dapat keluar melalui nozzle. Pada bagian nozzle dapat diatur berapa atau bagaimana pancaran dari fluida yang akan keluar pada nozzle. Bagian-bagian dari sprayer antara lain : pegangan, manometer, kran, selang, nozzle dan tabung. Persyaratan agroteknis yang diperlukan oleh suatu tanaman adalah tergantung dari tanaman dan luas areanya tersebut karena bila diberi dosis terlalu tinggi atau terlalu rendah tanaman tersebut akan mati, oleh karena itu berdasarkan percobaan berdasar tekanan nya di dapat hasil sebagai berikut : Menurut statistik : Dosis pada tekanan 6-5 kg/cm2 : Dosis pada tekanan 5-4 kg/cm2 : Dosis pada tekanan 4-3 kg/cm2 : Menurut grafik Dosis pada tekanan 6-5 kg/cm2 : Dosis pada tekanan 5-4 kg/cm2 : Dosis pada tekanan 4-3 kg/cm2 :

2. Mist blower digunakan untuk memecah cairan menjadi partikel-partikel yang sangat halus dari suatu campuran obat-obat pengendali hama dan penyakit tanaman yang berkonsentrasi tinggi ke dalam suatu arus udara dengan kecepatan tinggi. Prinsip kerja dari mist blower yaitu hampir sama dengan semprotan nyamuk. Karena dengan adanya suatu aliran kecepatan udara yang tinggi maka pada bagian bawah akan mengalami tekanan ke

atas sangat kuat sehingga fluida pada bagian bawah akan keatas dan akan tercampur dengan fluida yang ada di atas. Untuk penggunaan mist blower sebaiknya di sesuaikan dengan kebutuhan serta dosisnya sehingga tidak merugikan tanaman. Bagian-bagian pada mist blower adalah sebagai berikut : Tanki bahan kimia, Standar, Pengatur tekanan tabung, Filter, pengatur tekanan luar, Saluran udara, Busi, Tempat nozzle, knalpot, Pengatur saluran cairan, engkol dan Selang bahan kimia.

B. Saran Pada praktikum kali ini praktikan merasa sudah cukup baik. Dan sebaiknya terus di tingkatkan.

LAPORAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->