P. 1
makalah 1 (logam berat)

makalah 1 (logam berat)

|Views: 1,163|Likes:
Published by Nanang Fauzi

More info:

Published by: Nanang Fauzi on Nov 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb, Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan banyak nikmatnya kepada kami. Sehingga kami mampu menyelesaikan Makalah Toksikologi sesuai dengan waktu yang kami rencanakan. Makalah ini kami buat dalam rangka memenuhi salah satu syarat penilaian mata kuliah Toksikologi. Yang meliputi nilai tugas, nilai kelompok, nilai individu, dan nilai keaktifan. Penyusunan makalah ini tidak berniat untuk mengubah materi yang sudah tersusun. Namun, hanya lebih pendekatan pada study banding atau membandingkan beberapa materi yang sama dari berbagai referensi. Yang semoga bisa memberi tambahan pada hal yang terkait dengan Pelajaran Mengenai Toksikologi. Pembuatan makalah ini menggunakan metode study pustaka, yaitu mengumpulkan dan mengkaji materi Toksikologi dari berbagai referensi. Kami gunakan metode pengumpulan data ini, agar makalah yang kami susun dapat memberikan informasi yang akurat dan bisa dibuktikan. Kami sebagai penyusun pastinya tidak pernah lepas dari kesalahan. Begitu pula dalam penyusunan makalah ini, yang mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mohon maaf atas segala kekurangannya. Kami ucapkan terima kasih kepada Hijrawati T., SKM sebagai dosen mata kuliah Toksikologi yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.tidak lupa pula kepada rekan rekan yang telah ikut berpartisipasi. Sehingga makalah ini selesai tepat pada waktunya.

Tanjung Pinang, 22 September 2012

Penulis

1

DAFTAR ISI

Kata pengantar ....................................................................................................................1 Daftar isi ...............................................................................................................................2 BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................................3 1.1 Latar belakang masalah .........................................................................................3 1.2 Tujuan ....................................................................................................................4 1.3 Ruang Lingkup ......................................................................................................4 1.4 Manfaat ..................................................................................................................4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................................5 2.1 Pengertian Logam Berat .......................................................................................5 2.2 Sumber Pencemaran ..............................................................................................6 2.3 Indikator Pencemaran Logam Berat Dalam Air ....................................................7 2.4 Proses Pencemaran Logam Berat Dalam Air ........................................................10 2.5 Dampak Pencemaran Logam Berat Dalam Air .....................................................13 2.6 Menanggulangi Logam Berat ................................................................................15

BAB 3 PEMBAHASAN .....................................................................................................18 3.1 Contoh Kasus .......................................................................................................18 3.2 Pembahasan Kasus ...............................................................................................18

BAB 4 PENUTUP ...............................................................................................................20 4.1 Kesimpulan ..........................................................................................................20 4.2 Saran ....................................................................................................................20 Daftar Pustaka .....................................................................................................................21

2

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Disebut logam berat berbahaya karena umumnya memiliki rapat massa tinggi (5 gr/cm3) dan sejumlah konsentrasi kecil dapat bersifat racun dan berbahaya. Di antara semua unsur logam berat, Hg menduduki urutan pertama dalam hal sifat racunnya, kemudian diikuti oleh logam berat antara lain Cd, Ag, Ni, Pb, As, Cr, Sn, dan Zn. Logam berat merupakan komponen alami tanah. Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam-logam lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk ke dalam tubuh organisme hidup. Sebagai contoh, bila unsur logam besi (Fe) masuk kedalam tubuh, meski dalam jumlah agak berlebihan, biasanya tidaklah menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap tubuh. Karena unsur besi (Fe) dibutuhkan dalam darah untuk mengikat oksigen. Sedangkan unsur logam berat baik itu logam berat beracun yang dipentingkan seperti tembaga (Cu), bila masuk kedalam tubuh dalam jumlah berlebihan akan menimbulkan pengaruh-pengaruh buruk terhadap fungsi fisiologi tubuh. Jika yang masuk kedalam tubuh organisme hidup adalah unsur logam berat beracun seperti hidragyrum(Hg) atau disebut juga air raksa, maka dapat dipastikan bahwa organisme tersebut akan langsung keracunan. Sehingga dengan kata lain elemen ini tidak dapat didegradasi maupun dihancurkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, air minum, atau udara. Logam berat seperti tembaga, selenium, atau seng dibutuhkan tubuh manusia untuk membantu kinerja metabolisme tubuh. Akan tetapi, dapat berpotensi menjadi racun jika konsentrasi dalam tubuh berlebih. Logam berat menjadi berbahaya disebabkan sistem bioakumulasi, yaitu peningkatan konsentrasi unsur kimia didalam tubuh manusia.

3

1.2

Tujuan 1. Mengetahui pengertian pencemaran logam berat dalam air 2. Mengetahui sumber pencemaran air serta indikator terjadinya pencemaran air oleh logam berat 3. Mengetahui proses pencemaran air oleh logam berat. 4. Mengetahui dampak dan cara pengendalin pencemaran air oleh logam berat

1.3 Ruang Lingkup Makalah “Logam Berat” ini merupakan ruang lingkup Pengendalian Pencemaran Lingkungan Fisik.

1.4 Manfaat Makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang pengendalian pencemaran lingkungan “Logam Berat” terhadap manusia dan lingkungan.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Logam Berat Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam-logam lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk ke dalam tubuh organisme hidup. Sebagai contoh, bila unsur logam besi (Fe) masuk kedalam tubuh, meski dalam jumlah agak berlebihan, biasanya tidaklah menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap tubuh. Karena unsur besi (Fe) dibutuhkan dalam darah untuk mengikat oksigen. Sedangkan unsur logam berat baik itu logam berat beracun yang dipentingkan seperti tembaga (Cu), bila masuk kedalam tubuh dalam jumlah berlebihan akan menimbulkan pengaruh-pengaruh buruk terhadap fungsi fisiologi tubuh. Jika yang masuk kedalam tubuh organisme hidup adalah unsur logam berat beracun seperti hidragyrum(Hg) atau disebut juga air raksa, maka dapat dipastikan bahwa organisme tersebut akan langsung keracunan (Palar, 2004). Istilah logam berat sebetulnya telah dipergunakan secara luas, terutama dalam perpustakaan ilmiah, sebagai suatu ilmiah yang menggambarkan bentuk dari logam tertentu. Karakteristik dari kelompok logam berat adalah sebagai berikut : a. Memiliki spesifikasi graviti yang sangat besar (lebih dari 4). b. Mempunyai nomor atom 22-34 dan 40-50 serta unsur-unsur lantanida dan aktinida. c. Mempunyai respon biokimia khas (spesifik) pada organisme hidup. Nierbor dan Richardson menggunakan istilah logam berat untuk menggantikan pengelompokan ion-ion logam kedalam 3 kelompok biologi dan kimia (bio-kimia) pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut ; a. Logam-logam yang dengan mudah mengalami reaksi kimia bila bertemu

dengan unsur oksigen atau disebur juga dengan oxygen-seeking metal.
5

b.

Logam-logam yang dengan mudah mengalami reaksi kimia bila bertemu

dengan unsur nitrogen dan atau unsur belerang (sulfur) atau disebut juga nitrogen/sulfur seeking metal. c. Logam antara atau logam transisi yang memiliki sifat khusus (spesifik)

sebagai logam pengganti (ion pengganti) untuk logam-logam atau ion-ion logam dari kelas A dan logam dari kelas B. Bio-kimia dapat diartikan sebagai peranan kimia (unsure-unsur kimia) dalam kehidupan makhluk hidup, di antaranya adalah unsure-unsur logam. Beberapa unsure logam sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk mempertahankan kehidupannya. Sebagai contoh adalah unsure logam besi (Fe), unsure ini berkaitan dengan Hb darah membentuk haemoglobin yang berfungi sebagai pengikat oksigen (O2) dalam darah. Berbeda dengan logam biasa, logam berat biasanya menimbulkan efek-efek khusus pada makhluk hidup. Dapat dikatakan bahwa semua logam berat dapat menjadi racun yang akan meracuni tubuh makhluk hidup. Sebagai contoh adalah logam air raksa (Hg), kadmium (Cd), timah (Pb), dan khrom (Cr). Namun demikian, meski semua logam berat dapat mengakibatkan hidup, keracunan atas makhluk hidup, sebagian dari logam-logam berat tersebut tetap dibutuhkan oleh makhluk hidup.kebutuhan tersebut berada dalam jumlah yang sangat sedikit. Tetapi bila kebutuhan dalam jumlah yang sangat kecil itutidak terpenuhi, maka akan berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup dari setiap makhluk hidup. Karena tingkat kebutuhan sangat dipentingkan maka logam-logam tersebut juga dinamakan sebagai logam-logam atau mineral-mineral esensial tubuh. Ternyata kemudian, bila jumlah dari loga-logam esensial ini masuk ke dalam tubuh dalam jumlah berlebihan, maka akan berubah fungsi menjadi zat racun bagi tubuh. Contoh dari logam-logam berat esensial ini adalah tembaga (Cu), seng (Zn), dan nikel (Ni).

2.2

Sumber Pencemaran Sumber pencemaran logam berat adalah masuknya material pencemar seperti partikel kimia, limbah industri, limbah pertanian dan perumahan,industry bahan kimia,pertambangan (emas),yang masuk ke dalam perairan, yang bisa merusak lingkungan khususnya perairan. Material berbahaya tersebut memiliki dampak yang

6

bermacam-macam dalam perairan. Ada yang berdampak langsung, maupun tidak langsung. Limbah kimia yang bersifat toxic (racun) yang masuk ke perairan laut akan menimbulkan efek yang sangat berbahaya. Kelompok limbah kimia ini terbagi dua, pertama kelompok racun yang sifatnya cenderung masuk terus menerus seperti pestisida, furan, dioksin dan fenol. Terdapat pula logam berat, suatu unsur kimia metalik yang memiliki kepadatan yang relatif tinggi dan bersifat racun atau beracun pada konsentrasi rendah. Contoh logam berat yang sering mencemari adalah air raksa, timah, nikel, arsenik dan cadmium, ketika pestisida masuk ke dalam ekosistem laut, mereka segera diserap ke dalam jaring makanan di laut. Dalam jaring makanan, pestisida ini dapat menyebabkan mutasi, serta penyakit, yang dapat berbahaya bagi hewan laut, seluruh penyusun rantai makanan termasuk manusia. Racun semacam itu dapat terakumulasi dalam jaringan berbagai jenis organisme laut yang dikenal dengan istilah bioakumulasi. Racun ini juga diketahui terakumulasi dalam dasar perairan yang berlumpur. Bahan-bahan ini dapat menyebabkan mutasi keturunan dari organisme yang tercemar serta penyakit dan kematian secara massal seperti yang terjadi pada kasus yang terjadi di Teluk Minamata. Bahan kimia anorganik lain yang bisa berbahaya bagi ekosistem laut adalah nitrogen, dan fosfor. Sumber dari limbah ini umumnya berasal dari sisa pupuk pertanian yang terhanyut kedalam perairan, juga dari limbah rumah tangga berupa detergent yang banyak mengandung fosfor. Senyawa kimia ini dapat menyebabkan eutrofikasi, karena senyawa ini merupakan nutrien bagi tumbuhan air seperti alga dan phytoplankton. Tingginya konsentrasi bahan tersebut menyebabkan pertumbuhan tumbuhan air ini akan meningkat dan akan mendominasi perairan, sehingga menganggu organisme lain bahkan bisa mematikan. 2.3 Indikator Pencemaran Logam Berat Dalam Air Aspek-Aspek Pencemaran Air Ada beberapa aspek sebagai pengukuran tingkat pencemaran air, apakah air tersebut termasuk air yang tercemar ataukah tidak tercemar. Aspek-aspek pencemaran air yaitu terdiri dari aspek kimia-fisika pencemran air dan aspek biokimia pencemaran. Adapun aspek kimia-fisika pencemaran air itu adalah sebagai berikut :
7

a. Nilai pH, Keasaman dan Alkhalinitas. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH sekitar 6,5 – 7,5. Air akan bersifat asam atau basa tergantung besar kecilnya pH. Bila pH di bawah pH normal, maka air tersebut bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH di atas pH normal bersifat basa. Air limbah dan bahan buangan industri akan mengubah pH air yang akhirnya akan mengganggu kehidupan biota akuatik. Alkalinitas berkaitan dengan kesadahan air, yan merupakan salah satu sifat air. Adanya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) di dalam air akan mengakibatkan sifat kesadahan air tersebut. b. Suhu Air sering digunakan sebagai medium pendingin dalam berbagai proses industri. Air pendingin tersebut setelah digunakan akan mendapatkan panas dari bahan yang didinginkan, kemudian dikembalikan ke tempat asalnya, ayitu sungai atau sumber air lainnya. Air buangan lebih tingi dari pada air asalnya. Naiknya suhu air akan menimbulkan akibat sebagai berikut : - Menurunya jumlah oksigen terlarut dalam air - Meningkatkan kecepatan reaksi kimia - Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air alinya - Jika bata suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati. c. Oksigen Terlarut Untuk mempertahankan hidupnya, makhluk yang tinggal di dalam air, baik tumbuhan maupun hewan, bergantung kepada oksigen terlarut. Jada kadar oksigen terlarut dapat dijadikan ukuran untuk menetukan kualitas air. d. Karbondioksida Dalam Air Kepekaan oksigen terlarut dalam air bergantung kepda kepekaan

karbondioksida yang ada. Jika udara (yang mengandung 0,03% karbondioksida) bersentuhan dengna permukaan air pada tekanan standar maka kelarytan karbondioksida terhadap perubahan suhu. e. Warna dan Kekeruhan Warna air yang tidak normaal biasanya merupakan indikasi terjadinya pencemaran air. Warna air dibedakan menjadi dua macam yaiti warna sejati (akibat
8

bahan-bahan terlarut) dan air semu (akibat bahan terlaru, bahan tersuspensi diantaranya yang bersifat koloid. Kekeruhan menunjukan sifat toptis air, yang mengakibatkan pembiasan cahaya ke dalam air. Kekruhan membatasi masukannya cahaya ke dalam iar. Kekurahan ini terjadi karena adanya bahan terapung, dan terurainya zat tertentu, seperti bahan organik, jasad renik, lumpur tanah liat dan benda yang terapung dan sangat halus sekali. Semakin keruh air, semakin tinggi daya hantar listriknya dan semakin banyak pula padatannya.

f. Padatan Pada dasarnya air yang tercemar selalu mengandung padatan yang dapat dibedakan menjadi empat kelompok berdasarkan besar partikelnya dan sifat-sfat lainnya, terutama kelarutannya, yaitu : - Padatan terendap (sedimen) - Padatan tersuspensi dan koloid - Padatan terlarut total - Minyak dan Lemak g. Nitrat Jika kandungan nitrat tersebut akan berubah menjadi nitrit di perut. Keracunan nitrit akan mengakibatkan wajah membiru dan kematian.

h. Posfor Posfor memasuki air melalui berbagai jalan yaitu kotoran, limbah, sisa pertanian, kotoran hewan dan sisa tumbuhan dan hewan yang mati. Pencegahan pencemaran posfor dapat dilakukan dengan melarang penggunaan ditergen yang mengandung posfat. Juga dengan mewajibkan pengolahan limbah industri dengan memberikann air kapur atau aluminium sulfat agar posfatnya mengendapa dan dapat dibuang.

9

Selain itu ada juga yang disebut dengan aspek biokimia pencemaran air. Aspek ini menggunakan dua pengujian yang berhubungan dengan kandungan oksigen dalam air yaitu : a. Uji BOD (Biochemical Oxygen Demand Test = uji kebutuhan oksigen biokimia). b. Uji COD (Chemical Oxygen Demand = uji kebutuhan oksigen kimia).

2.4

Proses Pencemaran Logam Berat Dalam Air Air laut adalah suatu komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, di mana buangan limbah dari daratan akan bermuara ke laut. Selain itu air laut juga sebagai tempat penerimaan polutan (bahan cemar) yang jatuh dari atmosfir. Limbah tersebut yang mengandung polutan kemudian masuk ke dalam ekosistem perairan pantai dan laut. Sebagian larut dalam air, sebagian tenggelam ke dasar dan terkonsentrasi ke sedimen, dan sebagian masuk ke dalam jaringan tubuh organisme laut (termasuk fitoplankton, ikan, udang, cumi-cumi, kerang, rumput laut dan lainlain). Kemudian, polutan tersebut yang masuk ke air diserap langsung oleh fitoplankton.Fitoplankton adalah produsen dan sebagai tropik level pertama dalam rantai makanan. Kemudian fitoplankton dimakan zooplankton. Konsentrasi polutan dalam tubuh zooplankton lebih tinggi dibanding dalam tubuh fitoplankton karena zooplankton memangsa fitoplankton sebanyak-banyaknya. Fitoplankton dan

zooplankton dimakan oleh ikan-ikan planktivores (pemakan plankton) sebagai tropik level kedua. Ikan planktivores dimangsa oleh ikan karnivores (pemakan ikan atau hewan) sebagai tropik level ketiga, selanjutnya dimangsa oleh ikan predator sebagai tropik level tertinggi.Ikan predator dan ikan yang berumur panjang mengandung konsentrasi polutan dalam tubuhnya paling tinggi di antara seluruh organisme laut. Kerang juga mengandung logam berat yang tinggi karena cara makannya dengan menyaring air masuk ke dalam insangnya setiap saat dan fitoplankton ikut tertelan. Polutan ikut masuk ke dalam tubuhnya dan terakumulasi terus-menerus dan bahkan bisa melebihi konsentrasi yang di air. Polutan tersebut mengikuti rantai makanan mulai dari fitoplankton sampai ikan predator dan pada akhirnya sampai ke manusia. Bila polutan ini berada dalam jaringan tubuh organisme laut tersebut dalam
10

konsentrasi yang tinggi, kemudian dijadikan sebagai bahan makanan maka akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Karena kesehatan manusia sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan. Makanan yang berasal dari daerah tercemar kemungkinan besar juga tercemar. Demikian juga makanan laut (seafood) yang berasal dari pantai dan laut yang tercemar juga mengandung bahan polutan yang tinggi. Salah satu polutan yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah logam berat. WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan FAO (Food Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan Dunia merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi makanan laut (seafood) yang tercemar logam berat. Logam berat telah lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun yang sangat potensil dan memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak sedikit yang menyebabkan kematian. Beberapa logam berat yang berbahaya adalah : a. Mercury Air Raksa atau Mercury (Hg) adalah salah satu logam berat dalam bentuk cair. Terjadinya pencemaran mercury di perairan laut lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia dibanding faktor alam. Meskipun pencemaran mercury dapat terjadi secara alami tetapi kadarnya sangat kecil. Pencemaran mercury secara besar-besaran disebabkan karena limbah yang dibuang oleh manusia. Manusia telah menggunakan mercury oksida (HgO) dan mercury sulfida (HgS) sebagai zat pewarna dan bahan kosmetik sejak jaman dulu. Dewasa ini mercury telah digunakan secara meluas dalam produk elektronik, industri pembuatan cat, pembuatan gigi palsu, peleburan emas, sebagai katalisator, dan lain-lain. Penggunaan mercury sebagai elektroda dalam pembuatan soda api dalam industri makanan seperti minyak goreng, produk susu, kertas tima, pembungkus makanan juga kadang mencemari makanan tersebut. Pencemaran logam mercury (Hg) mulai mendapat perhatian sejak munculnya kasus minamata di Jepang pada tahun 1953. Pada saat itu banyak orang mengalami penyakit yang mematikan akibat mengonsumsi ikan, kerang, udang dan makanan laut lainnya yang mengandung mercury. Kasus minamata yang terjadi dari tahun 1953 sampai 1975 telah menyebabkan ribuan orang meninggal dunia akibat pencemaran mercury di Teluk Minamata Jepang. Industri Kimia Chisso menggunakan mercury khlorida (HgCl2) sebagai katalisator dalam memproduksi acetaldehyde sintesis di mana setiap
11

memproduksi satu ton acetaldehyde menghasilkan limbah antara 30-100 gr mercury dalam bentuk methyl mercury (CH3Hg) yang dibuang ke laut Teluk Minamata. Methyl mercury ini masuk ke dalam tubuh organisme laut baik secara langsung dari air maupun mengikuti rantai makanan. Kemudian mencapai konsentrasi yang tinggi pada daging kerang-kerangan, crustacea dan ikan yang merupakan konsumsi sehari-hari bagi masyarakat Minamata. Konsentrasi atau kandungan mercury dalam rambut beberapa pasien di rumah sakit Minamata mencapai lebih 500 ppm. Masyarakat Minamata yang mengonsumsi makanan laut yang tercemar tersebut dalam jumlah banyak telah terserang penyakit syaraf, lumpuh, kehilangan indera perasa dan bahkan banyak yang meninggal dunia. b. Kadmium Kadmium (Cd) menjadi populer sebagai logam berat yang berbahaya setelah timbulnya pencemaran sungai di wilayah Kumamoto Jepang yang menyebabkan keracunan pada manusia. Pencemaran kadmium pada air minum di Jepang menyebabkan penyakit “itai-itai”. Gejalanya ditandai dengan ketidak-normalan tulang dan beberapa organ tubuh menjadi mati. Keracunan kronis yang disebabkan oleh Cd adalah kerusakan sistem fisiologis tubuh seperti pada pernapasan, sirkulasi darah, penciuman, serta merusak kelenjar reproduksi, ginjal, jantung dan kerapuhan tulang. Kadmium telah digunakan secara meluas pada berbagai industri antara lain pelapisan logam, peleburan logam, pewarnaan, baterai, minyak pelumas, bahan bakar. Bahan bakar dan minyak pelumas mengandung Cd sampai 0,5 ppm, batubara mengandung Cd sampai 2 ppm, pupuk superpospat juga mengandung Cd bahkan ada yang sampai 170 ppm. Limbah cair dari industri dan pembuangan minyak pelumas bekas yang mengandung Cd masuk ke dalam perairan laut serta sisa-sisa pembakaran bahan bakar yang terlepas ke atmosfir dan selanjutnya jatuh masuk ke laut. Konsentrasi Cd pada air laut yang tidak tercemar adalah kurang dari 1 mg/l atau kurang dari 1 mg/kg sedimen laut.Konsentrasi Cd maksimum dalam air minum yang diperbolehkan oleh Depkes RI dan WHO adalah 0,01,mg/l. Sementara batas maksimum konsentrasi atau kandungan Cd pada daging makanan laut yang layak bagi kesehatan yang direkomendasikan FAO dan WHO adalah lebih kecil dari 0,95 mg/kg.

12

Sebaliknya Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan merekomendasikan tidak lebih dari 2,0 mg/kg. c. Timbal Timbal (Pb) juga salah satu logam berat yang mempunyai daya toksitas yang tinggi terhadap manusia karena dapat merusak perkembangan otak pada anak-anak, menyebabkan penyumbatan sel-sel darah merah, anemia dan mempengaruhi anggota tubuh lainnya. Pb dapat diakumulasi langsung dari air dan dari sedimen oleh organisme laut. Dewasa ini pelepasan Pb ke atmosfir meningkat tajam akibat pembakaran minyak dan gas bumi yang turut menyumbang pembuangan Pb ke atmosfir. Selanjutnya Pb tersebut jatuh ke laut mengikuti air hujan. Dengan kejadian tersebut maka banyak negara di dunia mengurangi tetraeil Pb pada minyak bumi dan gas alam untuk mengurangi pencemaran Pb di atmosfir.

2.5 

Dampak Pencemaran Logam Dalam Air Dampak Pada Lingkungan

1. Dampak pencemaran air di lingkungan sekitar Pencemaran air berdampak luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum, meracuni makanan hewan, ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam, dan sebagainya. Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat (dari kegiatan pertanian) telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali (eutrofikasi berlebihan). Ledakan pertumbuhan ini menyebabkan oksigen, yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh

hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang.Ketika tanaman air tersebut mati, dekomposisi mereka menyedot lebih banyak oksigen. Sebagai akibatnya, ikan akan mati, dan aktivitas bakteri menurun.

13

Dampak pencemaran air pada umumnya dibagi atas 4 kelompok, yaitu : Dampak terhadap kehidupan biota air Dampak terhadap kualitas air tanah Dampak terhadap kesehatan Dampak terhadap estetika lingkungan

2. Dampak terhadap kehidupan biota air Banyaknya zat pencemaran pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga mengakibatkan kehidupan dalam air membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya. Akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan air secara alamiah yang seharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat. Dengan air limbah yang sulit terurai. Panas dari industri juga akan membawa dampak bagi kematian organisme, apabila air limbah tidak didinginkan terlebih dahulu. 3. Dampak terhadap kualitas air tanah Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal coliform telah terjadi dalam skala yang luas, hal ini dibuktikan oleh suatu survey sumur dangkal di Jakarta. Banyak penelitian yang mengindikasikan terjadinya pencemaran tersebut. 4. Dampak terhadap kesehatan Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain : Air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen,Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit,Jumlah air yang tersedia tidak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat membersihkan diri,Air sebaga media untuk hidup vector penyakit. 5. Dampak terhadap estetika lingkungan Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang ke lingkungan perairan, maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat disamping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Masalah limbah minyak atau lemak juga dapat mengurangi estetika lingkungan.

14

 Dampak Pada Manusia
Bahaya yang Dapat Ditimbulkan oleh Logam Berat di dalam Tubuh Manusia : 1. Barium (Ba): Dalam bentuk serbuk, mudah terbakar pada temperatur ruang. Jangka panjang, menyebabkan naiknya tekanan darah dan terganggunya sistem syaraf. 2. Cadmium (Cd): Dalam bentuk serbuk mudah terbakar. Beracun jika terhirup dari udara atau uap.Dapat menyebabkan kanker.Larutan dari kadmium sangat beracun. Jangka panjang, terakumulasi di hati, pankreas, ginjal dan tiroid, dicurigai dapat menyebabkan hipertensi. 3. Kromium (Cr): Kromium hexavalen bersifat karsinogenik dan korosif pada jaringan tubuh. Jangka panjang, peningkatan sensitivitas kulit dan kerusakan pada ginjal. 4. Timbal (Pb): Beracun jika termakan atau terhirup dari udara atau uap. Jangka panjang, menyebabkan kerusakan otak dan ginjal; kelainan pada kelahiran. 5. Raksa (Hg): Sangat beracun jika terserap oleh kulit atau terhirup dari uap. Jangka panjang, beracun pada sistem syaraf pusat, dapat menyebabkan kelainan pada kelahiran. Perak (Ag): Beracun. Jangka panjang, pelunturan abu-abu permanen pada kulit, mata dan membran mukosa (mucus).

2.6

Menaggulangi Pencemaran Logam Berat Pengolahan limbah industri sebelum dibuang ke tempat pembuangan, dialirkan ke sungai atau selokan hendaknya dikumpulkan di suatu tempat yang disediakan, kemudian diolah, agar bila terpaksa harus dibuang ke sungai tidak menyebabkan terjadinya pencemaran air. Bahkan kalau dapat setelah diolah tidak dibuang ke sungai melainkan dapat digunakan lagi untuk keperluan industri sendiri.

Pencemaran air yang telah terjadi secara alami misalnya adanya jumlah logam-logam berat yang masuk dan menumpuk dalam tubuh manusia, logam berat ini dapat meracuni organ tubuh melalui pencernaan karena tubuh memakan tumbuhtumbuhan yang mengandung logam berat meskipun diperlukan dalam jumlah kecil. Penumpukan logam-logam berat ini terjadi dalam tumbuh-tumbuhan karena
15

terkontaminasi oleh limbah industri. Untuk menanggulangi agar tidak terjadi penumpukan logam-logam berat, maka limbah industri hendaknya dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Proses pencegahan terjadinya pencemaran lebih baik daripada proses penanggulangan terhadap pencemaran yang telah terjadi.Usaha-usaha tersebut dapat dilakukan, diantaranya melalui menjaga air tanah agar tetap bersih misalnya :        Menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah perumahan atau pemukiman Pembuangan limbah industri diatur sehingga tidak mencermari lingkungan atau ekosistem Pengawasan terhadap penggunaan jenis–jenis pestisida dan zat–zat kimia lain yang dapat menimbulkan pencemaran Memperluas gerakan penghijauan Tindakan tegas terhadap perilaku pencemaran lingkungan Memberikan kesadaran terhadap masyaratkat tentang arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih lebih mencintai lingkungan hidupnya Melakukan intensifikasi pertanian

Pencegahan adalah lebih baik dari pengobatan. Artinya, ini kembali pada soal koordinasi unsur-unsur masyarakat terkait. Khususnya untuk kasus PETI

(Penambangan Emas Tanpa Izin), kebijakan publik, Gubernur, Bupati, dan Departemen Pertambangan sangat menentukan dalam mengurangi pencemaran sungai. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan pada masyarakat penambang. Peran pemerintah untuk melakukan AMDAL terhadap suatu perusahaan yang menggunakan air raksa harus dilakukan dengan benar dan sanksi yang tegas apabila AMDALnya membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Pengendalian/penanggulangan pencemaran air di Indonesia telah diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air. Salah satu upaya serius yang telah dilakukan Pemerintah dalam pengendalian pencemaran air adalah melalui Program Kali Bersih (PROKASIH).

16

Pada prinsipnya ada 2 (dua) usaha untuk menanggulangi pencemaran, yaitu penanggulangan secara non-teknis dan secara teknis. Penanggulangan secara non teknis yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan peraturan perundangan yang dapat merencanakan, mengatur dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak terjadi pencemaran. Peraturan perundangan ini hendaknya dapat memberikan gambaran secara jelas tentang kegiatan industri yang akan dilaksanakan, misalnya meliputi AMDAL, pengaturan dan pengawasan kegiatan dan menanamkan perilaku disiplin. Sedangkan penanggulangan secara teknis bersumber pada perlakuan industri terhadap perlakuan buangannya, misalnya dengan mengubah proses, mengelola limbah atau menambah alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran.

17

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Contoh Kasus  Pencemaran laut. Semua pencemar, baik berasl udara, air dan tanah seagian besar akan tersalurkan air dan masuk ke dalam laut. Penelitian di Kepulauan Seribu menunjukkan bahwa konsentrasi beberapa logam berat sudah melampaui standar yang berlaku. 6 jenis ikan yang biasa di makan turis, ternyata juaga mengandung Cd, Cu, Pb, Zn, dan Hg dalam konsentrasi yang jauh lebih besar dari yang diperolehkan. Hal ini diperkirakan akibat dari proses biokonsentrasi. Factor biokonsentrasi ( BCF ) yang diperkirakan untuk logam-logam tersebut sangat bervariasi, muali dari yang terkecil 11,20 untuk Pb sampai 65.196.50 untuk Zn ( Kunaefi dan Herto, 2000 ). Patut dicatat disini , bahwa Teluk Jakarta menerima air dari 13 sungai. Sekalipun demikian, belum ada peraturan yang menentukan bagian laut mana saja yang boleh dieksploitasi produknya, sehingga tidak meracuni mayarakat. Penelitian lain di Pantai Utara Tangerang yang menerima air 12 sungai, menunjukkan kualitas air sudah tidak lagi memenuhi syarat bagi perikanan, biota laut, dan pariwisata ( berenang dan menyelam ), standar yang berlaku telah di lampaui sebanyak 45% sampai 91 % ( Djuangsih, 2000 )

3.2

Pembahasan Kasus 1. Analisa Kasus Di Kepulauan Seribu, konsentrasi beberapa logam berat sudah melampaui standar yang berlaku dan sebagian besar tersalurkan air ke dalam laut.

2. Dampak Kasus Kepulauan Seribu menunjukkan bahwa konsentrasi beberapa logam berat sudah melampaui standar yang berlaku. 6 jenis ikan yang biasa di makan turis,
18

ternyata juaga mengandung Cd, Cu, Pb, Zn, dan Hg dalam konsentrasi yang jauh lebih besar dari yang diperolehkan. Hal ini diperkirakan akibat dari proses biokonsentrasi. Sehingga kualitas air sudah tidak lagi memenuhi syarat bagi perikanan, biota laut, dan pariwisata ( berenang dan menyelam ), standar yang berlaku telah di lampaui. 3. Pengendalian dari kasus Untuk logam-logam berat seperti Hg, Cd, Cu, Zn, Pb, dan lain-lain dalam pemakaiannya diperhatikan menurut standar yang berlaku dan limbah yang dihasilkan diolah melalui pengolahan sehingga tidak mencemari lingkungan khususnya air. Dan untuk masyarakat yang mengalami keracunan seharusnya di tindak lanjuti lebih dini.

19

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa: 1. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup dan komponen lain yang berasal dari alamiah atau aktivitas manusia ke dalam air sehingga tidak sesuai lagi dengan peruntunannya.( PP No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air 2. Sumber-sumber pencemaran adalah partikel kimia, limbah industri, limbah pertanian dan perumahan,industry bahan kimia,pertambangan (emas),yang masuk ke dalam perairan, yang bisa merusak lingkungan khususnya perairan. Sedangkan indikator terjadinya pencemaran lingkungan dapat dilihat dari aspek kimia-fisika pencemran air dan aspek biokimia pencemaran. 3. Proses pencemaran air oleh logam berat melalui interaksi suatu komponen
lingkungan daratan, di mana buangan limbah dari daratan akan bermuara ke laut.

4. Cara pengendalian pencemaran air oleh logam berat dengan Pengolahan limbah industri sebelum dibuang ke tempat pembuangan,

4.2

Saran Saran dari penyusun adalah kita telah mengetahui logam berat itu berbahaya jika masuk dalam tubuh dan hendaknya kita bias mengontrol keluar masuknya limbah yng mengandung logam berat.

20

DAFTAR PUSTAKA

Palar Drs Heryando . 2004 . Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat . Jakarta : RinekCipta Soemirat Juli . 2003 . Toksikologi Lingkungan . Yogyakarta : Gadjah Mada University Prees http://www.bluefame.com/topic/135886-pencemaran-air-oleh-logam-berat/ http://dinkesbonebolango. http://dinkesbonebolango.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=490

21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->