P. 1
Peranan Media Massa Dalam Komunikasi Politik

Peranan Media Massa Dalam Komunikasi Politik

|Views: 203|Likes:
Published by Nano Karno

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Nano Karno on Nov 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2015

pdf

text

original

A. KEBERADAAN DAN PERANAN MEDIA MASSA DALAM KOMUNIKASI POLITIK Mc.

Luhan menguraikan bahwa media secara umum adalah perpanjangan alat indera manusia. Dengan media kita memperoleh informasi tentang benda, orang, dan tempat yang tidak kita pahami secara langsung termasuk berbagai pesan tentang lingkungan sosial dan politik. Semua pesan yang mengandung muatan politik dapat membentuk atau mempertahankan citra politik dan pendapat umum. Mc. Luhan juga menyebut bahwa media atau medium adalah pesan (the medium is the message). Artinya, media saja sudah menjadi pesan. Menurutnya, yang mempengaruhi khalayak adalah bukan apa yang disampaikan oleh media, tetapi jenis media komunikasi yang dipergunakan, yaitu antarpersona, media cetak, atau media elektronik. 1. Kehadiran Media Pada prinsipnya media adalah segala sesuatu sebagai saluran bagi seseorang yang menyatakan gagasan, isi jiwa, atau kesadarannya. Atau media adalah alat untuk mewujudkan gagasan manusia. Peranan Media Massa (Arifin 2003:4)

Penyalur ucapan (the spoken words)

Penyalur tulisan (the printed writing)

Menyalurkan gambar hidup

Bagan 1.1 Peranan media massa. Komunikasi politik dengan menggunakan media massa, disebut komunikasi massa, dengan ciri-ciri dasar yang bersifat umum, terbuka, dan aktual. Menurut Bittner (1980:10) komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa kepada sejumlah orang. Sedangkan Maletze (1963) menulis bahwa komunikasi massa diartikan sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyatakan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara langsung dan satu arah kepada publik yang tersebar. Ciri lain dari media massa adalah penggunaan dan isinya bersifat terbuka dan umum, selain itu pesan komunikasi massa bersifat aktual dari segi waktu dan substansi. Itulah sebabnya komunikasi massa sangat erat kaitannya dengan politik dan komunikasi politik. No. Arifin (2203:96) 1 Fungsi informasi 2 3 4 5 6 Charles Wright Mills (1988) Fungsi pengawasan lingkungan (surveillance)

Fungsi mendidik pendapat umum. Fungsi hubungan (correlation) Fungsi hiburan Fungsi menghubungkan Fungsi kontrol sosial Fungsi membentuk Tabel 1.1 Fungsi media massa menurut para ahli. Fungsi hiburan Fungsi transmisi budaya

1

2. Pentingnya Media Massa Media massa, mulai dari pers, televisi, radio dan lain-lain, serta proses komunikasi massa (peran yang dimainkan) semakin banyak dijadikan sebagai objek studi. Memahami komunikasi massa ini ada beberapa asumsi yang menjadi titik tolak bahwa media memiliki fungsi penting. Asumsi tersebut ditopang oleh lima contoh seperti ditulis McQuail (1987;3).  Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industri lain yang terkait.  Media massa merupakan sumber kekuatan alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat.  Media merupakan lokasi (atau forum) yang semakin berperan untuk menampilkan peristiwaperistiwa kehidupan masyarakat.  Media sering berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian perkembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup, dan norma-norma.  Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Peran media massa dapat dirumuskan secara ringkas antara lain:  Media massa memberikan informasi dan membantu kita mengetahui secara jelas ikhwal tentang dunia sekelilingnya kemudian menyimpannya ke dalam ingatan kita.  Media massa membantu kita menyusun agenda, menyusun jadwal kehidupan setiap hari.  Media massa berfungsi membantu berhubungan dengan berbagai kelompok masyarakat lain di luar masyarakat kita.  Media massa membantu mensosialisasikan pribadi manusia. Media mengajarkan berbagai sistem nilai baru yang harus dianut dan ditolak.  Media digunakan untuk membujuk khalayak yang mencari kentungan dari pesan-pesan yang diterimanya.  Media massa sebagai media hiburan, sebagian besar media melakukan fungsi sebagai media yang memberikan hiburan. B. RAGAM TEORI ATAU SISTEM NORMATIF MEDIA MASSA 1. Teori/Sistem Media Massa Otoriter Teori atau sistem ini lazim diterapkan dalam masyarakat prademokrasi dan masyarakat yang masih didominasi oleh kekuasaan otoriter atau penekanan. Secara umum beberapa prinsip yang menjadi ciri dari teori/sistem pers ini adalah: a) Media tidak boleh melakukan hal yang dapat wewenang yang berlaku. b) Media harus tunduk pada pemegang otoritas kekuasaan. c) Media harus menghindari perbuatan yang menentang nilai-nilai moral dan politik dari kalangan dominan. d) Sensorship (penyensoran) dapat dibenarkan untuk menegakkan prinsip yang dianut. e) Kalangan wartawan dan profesional media lainnya tidak memiliki independensi dalam organisasi medianya.

2

2. Teori/Sistem Media Massa Bebas Pola ini muncul sejak abad ke 17 sebagai reaksi atas kontrol penguasa terhadap pers, dan kini diterapkan secara meluas di berbagai negara di dunia khususnya yang menganut sistem demokrasi liberal. Beberapa prinsip dari teori/sistem ini adalah: a. Publikasi harus bebas dari setiap upaya penyensoran yang dilakukan pihak ketiga. b. Kegiatan penerbitan dan pendistribusiannya harus terbuka bagi setiap orang atau kelompok tanpa memerlukan izin atau lisensi. c. Kecaman terhadap pemerintah, pejabat, atau partai politik (yang berbeda) seyogyanya tidak dapat dipidana. d. Tidak perlu ada kewajiban untuk mempublikasikan segala macam hal. e. Publikasi mengenai ”kesalahan” dilindungi sama halnya dengan publikasi tentang”kebenaran” khususnya yang berkaitan dengan opini dan keyakinan. f. Tidak diperlukan adanya pembatasan-pembatasan hukum terhadap upaya pengumpulan informasi untuk keperluan publikasi. g. Tidak diperlukan adanya pembatasan-pembatasan dalam pengiriman dan penerimaan “pesan” di dalam negeri atau pun antarnegara. h. Wartawan harus memiliki otonomi profesional yang kuat dalam organisasi medianya. 3. Teori/Sistem Media Massa Tanggung Jawab Sosial Prinsip-prinsip utama dari sistem ini adalah: a. Media seyogyanya menerima dan memenuhi kewajiban tertentu kepada masyarakat b. Kewajiban-kewajiban tersebut perlu dipenuhi dengan menetapkan standar standar profesionalisme yang menyangkut keinformasian, kebenaran, akurasi, objektifitas, dan keseimbangan. c. Dalam menerima dan melaksanakan kewajiban tersebut, media seyogyanya dapat mengatur diri sendiri sesuai kerangka hukum dan kelembagaan yang berlaku. d. Media seyogyanya menghindarkan diri dari setiap upaya yang dapat menjurus ke tindak kejahatan, kekerasan, merusak tatanan sosial, atau menyakiti kelompok-kelompok minoritas. e. Media secara keseluruhan hendakya bersifat pluralistis dan merefleksikan kebinekaan masyarakat, memberikan kesempatan yang sama untuk mengekspresikan berbagai sudut pandang serta memberikan jamina hak jawab. f. Masyarakat dan publik, memiliki hak untuk menuntut standar kinerja yang tinggi dari media masa, karena intervensi dapat dibenarkan mengingat media massa merupakan public good. g. Wartawan dan kalangan profesional media lainnya bertanggung jawab terhadap masyarakat, pihak majikan, serta pasar. 4. Teori/Sistem Media Massa Soviet Sistem ini menganut beberapa prinsip sebagai berikut: a. Media harus melayani kepentingan diri, dan berada dalam kontrol kelas pekerja. b. Kalangan swasta tidak dibenarkan memiliki media. c. Media harus selalu melakukan fungsi positif bagi masyarakat dengan cara melakukan upaya sosialisasi norma-norma, pendidikan, penerangan, motivasi, dan mobilisasi yang diinginkan. d. Dalam menjalankan seluruh tugasnya kepada masyarakat, media harus tanggap terhadap kebutuhan dan keinginan khalayaknya. e. Masyarakat berhak melakukan sensor dan tindakan hukum lainnya dalam upaya mencegah dan memberikan hukuman setelah terjadinya peristiwa publikasi yang bersifat antisosial.
3

f. Media harus memberikan pemikiran dan pandangan yang lengkap dan obyektif mengenai masyarakat dan dunia yang sesuai dengan ajaran Marxisme Leninisme. g. Wartawan adalah kalangan profesional yang bertanggung jawab yang memiliki cita-cita yang selaras dengan kepentingan utama masyarakat. h. Media harus mendukung gerakan gerakan progresif di dalam dan di luar negeri. 5. Teori/Sistem Media Massa Pembangunan Prinsip-prinsip dari sistem ini adalah: a. Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas-tugas positif pembangunan sesuai dengan kebijakan nasional yang ditetapkan b. Kebebasan media perlu dibatasi sesuai dengan prioritas ekonomi dan kebutuhan masyarakat akan masyarakat. c. Isi media perlu memprioritaskan kebudayaan dan bahasa nasional d. Media perlu memprioritaskan isi berita dan informasinya kepada negara-negara berkembang lainnya yang memiliki kedekatan secara geografis, budaya, atau politik. e. Wartawan dan pekerja media lainnya mempunyai tanggung jawab dan kebebasan menjalankan tugasnya mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi. f. Demi kepentingan pembangunan, negara berhak ikut campur, atau mengeluarkan pembatasanpembatasan, dan pengoperasian media, melakukan penyensoran, memberikan subsidi, dan pengadilan secara langsung dapat dibenarkan 6. Teori/Sistem Media Massa Demokratik Partisipan Prinsip-prinsip dari sistem ini adalah: a. Setiap individu warga negara dan kelompok minoritas berhak memperoleh akses terhadap media (right to communicate) dan hak untuk dilayani sesuai kebutuhan yang mereka tentukan sendiri. b. Organisasi dan isi media tidak perlu tunduk pada pengendalian birokrasi negara atau sentral kekuasaan politik c. Eksistensi media terutama lebih ditunjukkan untuk kepentingan khalayaknya, bukan untuk kepentingan pihak organisasi media, kalangan profesional, atauy pihak klien media. d. Organisasi-organisasi, kelompok-kelompok, dan komunitas lokal hendaknya memiliki media sendiri. e. Bentuk-bentuk media berskala kecil, interaktif, partisipatif lebih baik ketimbang media yang berskala besar, satu arah, dan profesional f. Kebutuhan sosial tertentu yang terkait dengan media tidak cukup dikemukakan baik melalui tuntutan konsumen secara individual, ataupun melalui negara dan berbagai sarana utama kelembagaaannya. g. Komunikasi terlalu penting untuk hanya diserahkan kepada kalangan profesional. C. DILEMA MEDIA MASSA DAN REFORMASI MEDIA MASSA 1. Dilema Media Massa: Benturan Kepentingan Permasalahan yang terjadi pada media massa, menurut pendekatan fungsional struktural, merupakan produk atau hasil dari permasalahan sistem sosial politik yang ada. Fungsi kontrol sosial dari media, khususnya untuk menyampaikan berbagai kritikan serta pandangan berbeda mengenai realitas pembangunan cenderung menurut atau bahkan tidak ada sama sekali.

4

Berikut ini adalah gambaran alur terjadinya dilema dan reformasi media massa: Pendekatan Fungsional Struktural

penyebab

Ketidakberdayaan para pengelola media massa menghadapi tekanan politik eksternal

Politik media yang berlaku di masa orde baru semakin memperkokoh integrasi vertikal dalam sistem komunikasi politik

Reformasi Media Massa (Ardial )2005:162-164 Suatu sistem ideal yang diharapkan mampu memenuhi tuntutan aspirasi dan kepentingan masyarakat sesuai dengan tuntutan reformasi, serta antisipatif tantangan dan perkembangan situasi era globalisasi komunikasi dan informasi. Bagan 1.2 Alur reformasi dan dilema media massa. D. PERAN MEDIA MASSA MEMBENTUK CITRA POLITIKUS DAN MENDUKUNG KEGIATAN KOMUNIKASI POLITIK 1. Peran Media Massa Membentuk Citra Politikus Dalam komunikasi politik mekanistis, politikus dan aktivis disebut sebagai komunikator politik oleh Dan Nimmo (1999:30-37). Politikus adalah pekerja politik yang melakukan aktifitas politik, baik di dalam pemerintahan maupun di luar atau di dalam parlemen. Sedangkan aktivis adalah para penggiat atau pemimpin organisasi masyarakat yang memiliki perhatian dan kegiatan yang berkitan dengan politik. Politikus dan aktivis harus melakukan komunikasi politik untuk memperoleh dukungan massa atau pendapat umum. Media Massa
Negara Otoriter Dikendalikan negara sebagai alat politik

Negara Demokrasi

Memiliki kepribadian masing-masing atau tidak kaku serta fleksibel Penyampaian berita

Realitas media

Fakta di lapangan

Dapat dimanfaatkan pejabat sebagai penggalang dukungan kemudian dilemparkan sebagai isu publik

Bagan 1.3 Pembentukan citra politikus dalam mendukung kegiatan komunikasi politik.

Media massa di negara demokrasi dan negara otoriter memiliki perbedaan, di negara otoriter media massa di gunakan pemerintah sebagai alat politik untuk mengendalikan opini
5

rakyatnya hal ini sebagaimana dapat di lihat pada negara unisoviet serta keberlangsungan media massa tergantung kebijakan yang ada pada pemerintah. Sedangkan di negara demokrasi peran media massa lebih luas karena memiliki kepribadian sendiri berdasarkan latar belakang redaktur dan wartawan yang melakuan peliputan berita, sehingga hal ini bagaikan koin yang tidak dapat di pisahkan. Di satu pihak dapat mendukung program pemerintah, dilain pihak dapat menimbulkan opini publik yang dapat menghambat program pemerintah. Dalam hal ini pejabat atau pemerintah dapat memanfaatkan media massa sebagai alat politik untuk menimbulkan opini baru di masyarakat sehingga kepentingan pemerintah dapat berjalan dengan baik atau pejabat dapat memanfaatkan pemberitaan di media massa untuk memperoleh dukungan publik. Pada penyusunan berita kadang media massa lebih mengedepankan kepentingan profitnya yakni dengan memberitakan peristiwa di luar fakta yang terjadi sehingga menimbulkan spekulasi baru di masyarakat. Sehingga perlu adanya koordinasi antara narasumber dengan pencari berita sehingga tidak menimbulkan persepsi baru yang akan merugikan berbagai pihak. 2. Peranan Media Masa Mendukung Kegiatan Komunikasi Politik Bentuk komunikasi politik sangat terkait dengan perilaku politikus atau aktivis politik untuk mencapai tujuan politiknya. Tekhnik komunikasi yang digunakan untuk mencapai dukungan legitimasi (otoritas sosial) meliputi tiga level, yaitu pengetahuan, sikap, dan perilaku khalayak. Kegiatan komunikasi politik meliputi juga upaya untuk mencari, mempertahankan, dan meningkatkan dukungan politik. Media massa juga berperan membentuk citra politikus dan kegiatan komunikasi politik. Dengan demikian disimpulkan bahwa media massa sangat mendukung kegiatan komunikasi politik. Hal ini berkaitan dengan fungsi komunikasi massa. Wilbur Schramm menyatakan, komunikasi massa berfungsi sebagai decoder, interpreter, dan encoder. Komunikasi massa mencode lingkungan sekitar untuk kita, mengawasi kemungkinan timbulnya bahaya, mengawasi terjadinya persetujuan dan efek hiburan. Komunikasi massa mengintrepetasikan hal-hal yang dikode sehingga dapat mengambil kebijakan terhadap effek, menjaga berlangsungnya interaksi, serta membantu masyarakat menikmati kehidupan. Komunikasi massa juga mencode pesan-pesan yang memelihara hubungan kita dengan masyarakat lain serta menyampaikan kebudayaan baru kepada masyarakat. a. Menghibur b. Meyakinkan Fungsi Pokok Media Massa (De Vito) menurut De vito c. Menginformasikan d. Menganugerahkan status e. Membius Hubungan parasosial f. Menciptakan rasa kebersatuan Bagan 1.4 Fungsi pokok media massa. Mengukuhkan Mengubah Menawarkan etika atau nilai sistem tertentu Privatisasi

6

a. Retorika Politik Retorika berasal dari bahasa Yunani rhetorica yang berarti seni bicara. Retorika adalah komunikasi yang bersifat dua arah atau dialogis, yaitu antara satu dengan yang lain. Atau satu orang berbicara kepada satu orang atau beberapa orang, untuk saling mempengaruhi dengan secara persuasive dan timbal balik (dua arah). Dale Carnage mengatakan “we are judged each day by our speech” yang artinya setiap hari kita dihakimi oleh perkataan kita sendiri. Cara bicara mengungkapkan apakah anda orang terpelajar atau kurang ajar. b. Agitasi Politik Agitasi berasal dari bahasa Latin yaitu agitare (bergerak, menggerakkan). Menurut Herbert Blumer (1969) agitasi adalah beroperasi untuk membangkitkan rakyat pada gerakan tertentu terutama gerakan politik. Dengan kata lain, agitasi adalah upaya untuk menggerakkan massa dengan lisan atau tulisan, dengan cara merangsang dan membangkitkan emosi khalayak. Orang yang melakukan agitasi itu dinamakan agitator. Napheus Smith menyebut agitator sebagai orang yang berusaha menimbulkan ketidakpuasan, kegelisahan, atau pemberontakan orang lain. Dengan demikian, agitasi bersifat negatif karena sifatnya yang menghasut, mengancam, menggelisahkan, membangkitkan rasa tidak puas khalayak, dan mendorong adanya pemberontakan. c. Propaganda Politik Propaganda berasal dari kata latin propagare (menyemai tunas tanaman). Propagandis adalah orang yang melaksanakan kegiatan propaganda, yang mampu menjangkau khalayak kolektif yang lebih besar. Propagandis merupakan politikus atau kader partai politik yang memiliki kemampuan dalam melakukan sugesti kepada khalayak dan menciptakan suasana yang mudah terkena sugesti (suggistible). Propaganda menurut para ahli: 1. Lenin, propaganda yaitu mengemukakan banyak gagasan atau pikiran secara mendalam kepada sedikit orang. Propaganda di lakukan dalam bentuk pendidikan dikelas atau ceramahceramah yang jumlah khalayaknya sangat terbatas dan terpilih. 2. Leonard W. Dobb (1966), dipahami sebagai individu atau kelompok yang berkepentingan mengontrol sikap kelompok individu lain dengan menggunakan sugesti. 3. Harbert Blumer (1969) propaganda dianggap sebagai kampanye politik yang dengan sengaja mengajak dan membimbing untuk mempengaruhi/membujuk orang guna menerima pandangan, sentimen, atau nilai tertentu. 4. Jacques Ellul (1965) membagi propaganda ke dalam dua tipe, yaitu: a. Propaganda politik adalah kegiatan yang di lakukan oleh pemerintah, partai politik (strategis atau taktis) dengan pesan-pesan yang khas yang lebih berjangka pendek. b. Propaganda sosiologis biasanya kurang kentara dan lebih berjangka panjang, dengan pesanpesan cara hidup, yang selanjutnya akan mempengaruhi lembaga-lembaga sosial, ekonomi, dan politik. 5. Doob (1966) membedakan: a. Propaganda Tersembunyi terjadi jika propagandis menyelubungi (membungkus) tujuantujuannya ketika berbicara. b. Propaganda Terang-terangan menyingkap tujuan politiknya tatkala berusaha memperoleh dukungan suara. c. Propaganda Disengaja adalah propaganda yang memang dipersiapkan dengan cermat untuk memperoleh dukungan politik.
7

d. Propaganda Tidak Disengaja adalah propaganda yang terjadi secara spontan, dalam suasana atau kondisi yang tidak direncanakan sebelumnya. 6. Ellul (1965) juga membedakan antara propaganda vertikal dan propaganda horizontal. d. Public Relations Politik Secara umum public relations dipahami sebagai usaha atau kegiatan atau badan atau organisasi untuk menciptakan dan menjaga hubungan yang harmonis dan menguntungkan dengan golongan-golongan tertentu atau masyarakat, guna mendapat dukungan dan penghargaan. Hartono (1966:45) menguraikan bahwa public relations adalah fungsi manajemen dengan tugas melakukan penelitian terhadap pendapat, keinginan dan sikap publik, melakukan usaha-usaha penerangan dan hubungan-hubungan untuk mencapai saling pengertian, kepercayaan, dukungan, dan integrasi dengan publik. Public relations politik dilakukan baik di dalam partai politik (internal public) maupun di luar partai politik (external public) seperti masyarakat luas. Kegiatan yang bersifat internal adalah: (1) mengadakan analisis terhadap kebijakan partai politik yang sudah maupun sedang berjalan, dan (2) mengadakan perbaikan sebagai kelanjutan analisis yang dilakukan terhadap kebijaksanaan partai politik, baik yang sedang bejalan maupun tcrhadap perencanaan kebijakan baru. e. Kampanye Politik Kampanye politik adalah bentuk komunikasi politik yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang atau organisasi politik dalam waktu tertentu untuk memperoleh dukungan politik dari rakyat. Kampanye politik merupakan kegiatan yang bersifat formal dalam perebutan jabatanjabatan politik tertentu. Dalam kampanye politik, biasanya semua bentuk komunikasi politik dikembangkan seperti agitasi politik, propaganda politik, public relations politik, dan retorika politik. Namun, dapat diingat pula bahwa di Negara demokrasi termasuk Indonesia penggunaan agitasi politik dan propaganda politik yang mengabaikan nilai-nilai kebenaran, etika, dan moral harus ditinggalkan. f. Lobi Politik Menurut Dan Nimmo (1999), karakteristik percakapan politik yang terjadi dalam lobi politik, antara lain adalah koorientasi, yaitu orang saling bertukar pandangan tentang suatu masalah. Dalam pertukaran pandangan itu diperlukan kemampuan negosiasi karena pesan yang dipersoalkan itu memiliki dimensi isi maupun dimensi hubungan yang memerlukan kesepakatan. Dalam lobi politik itu pengaruh pribadi sangat penting. Dalam hal ini kompetensi, penguasaan masalah, jabatan, dan kepribadian (kharisma) politikus sangat berpengaruh. Lobi politik merupakan gelanggang terpenting pembicaraan para politikus atau kader partai politik tentang kekuasaan, pengaruh, otoritas, konflik, dan konsensus. Tidak salah jika para pakar seperti Laswell dan Kaplan menyebut bahwa pembicaraan dibelakang layar para politik itu lebih memberi gambaran tentang kondisi politik yang sesungguhnya, ketimbang yang dikatakan melalui media. g. Pola Tindakan Politik Sesungguhnya lobi politik, retorika politik, dan kampanye politik merupakan peristiwaperistiwa politik yang dapat diamati dari waktu ke waktu, yang dalam waktu lama membentuk pola. Dengan demikian, lobi politik, retorika politik, dan kampanye politik, dapat disebut sebagai tindakan politik.

8

Tindakan politik dalam peristiwa komunikasi politik bertujuan membentuk citra (image) politik bagi khalayak (masyarakat), yaitu gambaran tentang realitas politik yang memiliki makna. Secara umum citra adalah peta seseorang tentang realitas. Citra merupakan gambaran tentang realitas, kendatipun tidak harus selalu sesuai dengan realitas yang sesungguhnya, citra adalah dunia menurut persepsi kita. Walter Lipp man (1965) menyebutnya picture in pada dasarnya citra politik terbentuk berdasarkan informasi (verbal dan nonverbal) yang kita terima baik langsung maupun melalui media politik termasuk media massa yang bekerja untuk menyampaikan pesan politik. 3. Peran Wartawan/Media Massa Dalam Komunikasi Politik Wartawan merupakan gambaran dari peran penting media dalam suatu pemilihan umum (election) seperti dikemukakan oleh Oskamp & Schultz (1998), yakni memusatkan perhatian pada kampanye, menyediakan informasi akan kandidat dan isu seputar pemilu. Pertanyaan besar yang sering dilemparkan ialah, bagaimana media mempengaruhi wawasan politik, sikap dan perilaku masyarakat, berikut empat pengaruh media dalam politik bagi masyarakat yaitu: a. Penambahan Informasi Wartawan memiliki peran yakni memberi informasi politik kepada masyrakat mengenai pilihan mereka akan perilaku politiknya, Hampir sebagian besar orang dewasa menyatakan bahwa mereka mendapatkan hampir seluruh informasi tentang berbagai peristiwa dunia maupun nasional dari media massa. b. Kontrol Masyarakat Wartawan memberi informasi kepada masyrakat mengenai kondisi politik sehingga masyrakat mampu mengontrol situasi politik yang ada c. Perilaku Memilih Wartawan lebih cenderung menguatkan tujuan-tujuan yang ada dalam pemungutan suara daripada merubahnya. Seperti telah disinggung diawal bahwa peran utama media dalam suatu pemilihan umum ialah menfokuskan perhatian masyarakat pada kampanye yang sedang berlangsung serta berbagai informasi seputar kandidat dan isu politik lainnya. tetap mampu mempengaruhi banyaknya suara yang terjaring dalam suatu pemilu. d. Efek Dalam Sistem Politik Wartawan tidak hanya mempengaruhi politik dengan fokus tayangan, kristalisasi atau menggoyang opini publik, namun secara luas berdampak pada para politisi yang memiliki otoritas dalam memutuskan kebijakan publik. Dengan publisitas, pemasangan iklan dan ulasan beritanya, wartawan juga memiliki kemampuan yang kuat untuk secara langsung mempengaruhi meningkatnya jumlah dana dalam suatu kampanye politik.

- TERIMA KASIH –
9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->