ILMU PENGETAHUAN YANG BEBAS NILAI

Pendahuluan Sejarah manusia untuk menemukan pengetahuan yang benar, bergulir melalui proses dialektika, yang memperlihatkan proposisi dan postulat dengan derajat perbedaan yang sangat beragam, dari yang memperlihatkan perbedaan secara inkremental, hingga saling bertolak belakang secara diametral. Para pemikir (rokhaniawan) di era Kebudayaan Yunani kuno, yang berupaya membangun “pengetahuan yang benar” berdasarkan konsep bios theoretikhos (dimana pengetahuan itu diyakini akan diperoleh melalui serangkaian ritus keagamaan), kemudian digantikan oleh konsep ontologi yang lahir sebagai upaya para filosof Yunani (Kelompok pemikir yang kemudian bermetamorfosis menjadi madzhab positivisme[1]), yang lebih mengutamakan kekuatan dan kemampuan rasio dan pengamatan. Tradisi keilmuan berdasarkan konsep bios theoretikos, yang dibangun dengan menghubungkan secara erat antara teori dan praxis (mempertautkan pengetahuan dan kepentingan), dipandang tidak relevan bagi upaya-upaya untuk memperoleh pengetahuan yang benar, karena pencarian pengetahuan yang benar tidak dapat disandarkan pada pengetahuan yang diperoleh melalui ritus-ritus keagamaan dan upacara-upacara mistis ataupun cara-cara yang bersifat metafisik lainnya, melainkan harus dilakukan melalui ilmu pengetahuan. Proses demitologisasi melalui pengembangan konsep ontologi inilah, yang kemudian mengikis habis konsep bios theoretikos, dan memberikan alternatif lain sebagai pondasi dasarnya yaitu rasionalitas dan empirisme, menuju terbentuknya masyarakat positif yang “ilmiah”. Melalui pengandain-pengandaian keilmuan yang mengikuti apa yang terdapat dalam ilmu-ilmu alam, kaum positivisme berupaya menuju pada pemurnian ilmu pengetahuan yang dilakukan melalui proses kontemplasi bebaskepentingan (sikap teoritis murni), dengan cara memisahkan secara tegas antara teori dengan praxis (pengetahuan dengan kepentingan). Perkembangan madzhab positivisme di millieu atmospher ilmu pengetahuan abad modern itu, pada akhirnya tidak dapat secara terus menerus mempertahankan hegemoninya. Adanya klaim bahwa ilmu pengetahuan merupakan satunya-satunya bentuk pengetahuan yang sejati, telah merubah karakter ilmiah madzhab ini, menjadi mitos atau ideologi[2], yang tidak kedap lagi terhadap kritik yang ditujukan kepadanya.

Gugatan gugatan terhadap eksistensi madzhab positivisme pun mulai terdengar dari para pemikir yang berasal madzhab Frankfurt (yang kemudian lebih dikenal sebagai pemikiran dari aliran ilmu-ilmu kritis/ teori kritis)[3] serta kelompok filosof atau pemikir yang termasuk dalam aliran pemikiran post-modernisme atau pun post-strukturalisme. Kritik keras yang diajukan oleh para ilmuwan madzhab Frankfurt, ditujukan pada salah satu asumsi dasar yang dikukuhi oleh pendukung mdzhab positivisme, yang menyatakan bahwa Ilmu pengetahuan harus bersifat objektif (bebas nilai dan netral). Mengapa para ilmuwan dari madzhab Frankrut, demikian keras menolak asumsi dasar dari madzhab positivisme tersebut? apakah memang asumsi dasar tersebut tidak memiliki landasan keilmuan yang benar, sehingga harus didekonstruksi sedemikian rupa? Kalaupun terbukti klaim obyektivitas ilmu itu tidak dapat dipertahankan lagi, lalu apakah yang dapat dijadikan sebagai alternatif penggantinya? Deskripsi dan eksplanasi dari berbagai pertanyaan-pertanyaan inilah, yang kemudian akan dipaparkan pada paragrap-paragrap di bawah ini. Pengetahuan Bebas Nilai : Dari Demitologisai Pemikiran Mistis dan Ontologi Menuju Saintisme Madzhab positivistime, sebagai salah satu aliran filsafat, telah berkembang dalam alur sejarahnya sendiri. Madzhab pemikiran ini berkembang sebagai bagian dari upaya untuk menemukan dan membangun pengetahuan yang benar, dengan cara memurnikan ilmu pengetahuan, yang dilakukan melalui proses kontemplasi bebas-kepentingan (sikap teoritis murni). Akar sejarah perkembangan madzhab positivisme dapat diruntut dari mulai munculnnya pemikiran filosofis dalam masyarakat Yunani yang bermaksud melakukan demitologisasi pemikiran-pemikiran mistis. Sebelum munculnya pemikiran filosofis ini, kebutuhan untuk memperoleh pengetahuan yang benar telah ada dalam tradisi pemikiran Yunani purba. Pada masa itu upaya untuk memperoleh pengetahuan yang benar, dilakukan dengan mempertautkan antara teori dan praxis hidup manusia sehari-hari, yang senantiasa mengacu pada cita-cita etis, seperti: kebaikan, kebijaksanaan atau kehidupan sejati, baik secara individual maupun secara kolektif, di dalam polis (negara kota). Melalui teori, manusia memperoleh suatu orientasi untuk bertindak secara tepat, sehingga praxis hidupnya dapat merealisasikan kebaikan, kebahagiaan, dan kemerdekaan. Dengan kata lain, dalam tradisi pemikiran Yunani purba, pengetahuan tidak dipisahkan dari kehidupan konkret. Pemahaman mengenai pengetahuan semacam itu tertuang secara padat dalam istilah bios theoretikos [4]. Bios theoretikos merupakan suatu bentuk kehidupan, suatu “jalan” untuk mengolah dan mendidik jiwa, dengan membebaskan manusia dari perbudakan dan doxa[5] dan dengan jalan itu manusia mencapai otonomi dan kebijaksanaan hidup.

Kata theorea berasal dari tradisi keagamaan kebudayaan Yunani kuno. Theoros adalah seorang wakil yang dikirim oleh polis untuk keperluan ritus keagamaan. Dalam ritus ini orang melakukan theorea (memandang), ke arah peristiwa sakral yang dipentaskan, dan kemudian berpartisipasi didalamnya. Melalui theorea ini setiap orang mengalami emansipasi dari nafsu-nafsu rendah. Pengalaman ini dalam istilah Yunani disebut katharsis (purifikasi, pembebasan diri dari perasaan dan dorongan fana yang berubah-ubah). Dengan demikian dalam pengertian awalnya, teori memiliki kekuatan emansipatoris[6]. Konsep bios theoretikos yang telah terbangun dan dipraktikkan dalam tradisi kebudayaan keagamaan Yunani kuno inilah yang kemudian digugat oleh para filosof Yunani, melalui pemikiran-pemikiran filsafatinya. Berdasarkan ungkapan-ungkapan berdimensi filosofis, teori mulai dijauhkan dari ritus-ritus keagamaan, meskipun secara harfiah memiliki arti yang sama, yaitu “memandang”. Dalam pemikiran filosofis, teori lalu diartikan sebagai “kontemplasi atas kosmos”. Dalam kontemplasi ini, para filosof memandang alam semesta dan menemukan suatu tertib yang tidak berubah-ubah, yaitu suatu makrokosmos.[7] Dengan memandang makrokosmos, sang filosof menyadari adanya gerak alamiah dan nada harmonis yang sama dalam dirinya sendiri. Oleh karena itulah, yang kemudian dilakukan oleh filosof adalah menyesuaikan diri dengan tertib alam semesta itu. Tertib harmonis makrokosmos merupakan keadaan yang baik, dan pengetahuan akan apa yang baik itu, mendorongnya untuk mewujudkan tertib itu dalam tingkah laku kehidupannya sendiri. Dengan jalan ini, sang filosof melakukan kegiatan yang disebut mimesis (meniru). ”kontemplasi atas kosmos”, dengan demikian, menjadi tingkah laku praktis, melalui keasadaran akan dirinya, sebagai mikrokosmos. Pada titik inilah, teori mulai dipisahkan dari praxis. Dengan mengartikan teori sebagai kontemplasi atas kosmos, filsafat telah menarik garis batas antara ”ada” dan ”waktu”, yaitu antara yang ”tetap” dan yang ”berubah-ubah”. Inilah bibit cara berpikir yang menyebabkan lahirnya ontologi dalam sejarah pemikiran manusia. Melalui teori, para filosof mulai menyusun konsep-konsep tentang ”ke-apa-an” (hakekat) benda-benda, karena ”ke-apa-an” (hakekat) benda-benda tak lain adalah inti kenyataan yang tetap (tidak berubah-ubah). Dengan berusaha mengangkat pemahamannya kedalam rumusan yang tak berubah-ubah, filsuf berkehendak menerapkan pemahaman konseptual akan kosmos itu pada berbagai situasi. Pemahaman semacam ini dipandang sebagai pengetahuan yang sejati, dan untuk memperoleh pengetahuan yang sejati, teori harus dimurnikan dari unsur-unsur yang berubah-ubah, yaitu dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan subjektif manusia sendiri. Sikap mengambil jarak dan membersihkan pengetahuan dari dorongan empiris itu disebut ”sikap teoretis murni”. Dengan sikap itu manusia dapat memahami kenyataan sebagaimana adanya. “Kontemplasi atas kosmos” kemudian menjadi “kontemplasi bebaskepentingan”. Dengan menekankan pada kepentingan, manusia berupaya membebaskan diri dari dorongan dan perasaan yang dianggapnya sebagai

Dalam hal ini — sebagaimana dikemukan oleh Plato — intuisi memainkan peranan yang penting. khatarsis yang semula dialami lewat upacara mistis. Dengan demikian apa yang saat ini dikenal dengan istilah ontologi. Pengetahuan manusia bersifat apriori. yakni pengetahuan yang menangkap ide-ide. dan kemudian diikuti oleh Malebrache.kekuatan jahat Dengan kata lain. sehingga dari yang partikular diperoleh yang universal. Pada cara yang pertama. adalah bentuk pemahaman atas kenyataan yang menghendaki pengetahuan murni yang bebas-kepentingan. disatu sisi — dengan Plato sebagai tokohnya — mengutamakan kemampuan rasio. yaitu demi mencapai pengetahuan murni. Pengetahuan yang lahir dari refleksi ontologis adalah suatu disinterested knowladge. melainkan justru menarik diri dari kehidupan praktis manusia. sedang disisi lain — dengan Aristoteles sebagai tokohnya — lebih mementingkan pengalaman empiris terhadap obyek pengetahuan. dengan demikian tugas manusia adalah mengamati unsur-unsur yang berubah-ubah dan melakukan abstraksi atas unsur-unsur tersebut. terdapat pemahaman bahwa pengetahuan murni dapat diperoleh melalui rasio manusia sendiri. karena mengatasi pengamatan empiris yang bersifat khusus dan berubah-ubah. Plato mengungkapkan. agar dapat menembus hakekat kenyataan atau idea-idea. dan Wolf. Para pendukung aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan sejati dapat diperoleh dalam rasio sendiri dan bersifat a-priori. Pengetahuan manusia bersifat universal dan trans-historis. bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan tunggal yang tidak berubah-ubah. Aristoteles lebih mengutamakan peranan abstraksi untuk memperoleh pengetahuan sejati. Leibniz. sudah melekat pada rasio itu sendiri. Pada jalar lain tampil aliran empirisme yang didukung . maka tugas manusia ”hanyalah” mengingat (menemukan) kembali apa yang terdapat secara a-priori dalam rasionya yaitu idea-idea. sekarang dicapai lewat kemauan manusia sendiri. Tanpa disadari. Pada jalur pertama tampil aliran rasionalisme. yang teraplikasi dalam bentuk pernyataan logis dan matematis. pemisahan kepentingan-kepentingan manusiawi ini merupakan pelaksanaan kepentingan sendiri. yang dirintis oleh René Descartes. Hal ini muncul kembali dalam filsafat modern. Untuk itu manusia harus terus menerus membersihkan pengetahuannya dari unsu-unsur yang berubah-ubah. yaitu dengan berteori. Pengetahuan bersifat a-posteriori. Pengetahuan murni semacam ini disebut pengetahuan trensedental. Pada cara yang kedua. Spinoza. Kelahiran ontologi mengikis habis bios theoretikos karena teori tidak lagi memperoleh kepenuhan isinya dalam kehidupan. Dalam perkembangan berikutnya pembersihan teori dari kepentingan dilakukan melalui dua cara. Baginya pengetahun sejati adalah hasil pengamatan empiris.

yaitu: (1) Alam diwawancarai. Bacon menyatakan hanya melalui ilmulah. dan. Hal ini dipandang perlu. (3) Bersikap pasif terhadap bahan-bahan yang disajikan alam.oleh para pemikir seperti Hobbes. manusia akan dapat memperlihatkan kemampuan kodratinya. Setelah fakta-fakta ditetapkan. dapat dipergunakan untuk memajukan kehidupan manusia. kemudian menetapkan fakta berdasarkan percobaan berkali-kali dengan cara yang bervariasi. Menurut pemahaman Bacon. Mereka beranggapan bahwa pengetahuan sejati dapat diperoleh hanya melalui pengamatan empiris dan karenanya bersifat a-posteriori. Berkeley. Bacon sangat percaya umat manusia dapat sejahtera melalui ilmu pengetahuannya. mempelajari sifat universalnya dan perkecualiannya. Menurut Bacon. Bacon berpendapat. akan tetapi keduanya sama-sama berkeyakinan bahwa teori murni hanya mungkin diperoleh dengan jalan membersihkan pengetahuan dari dorongan dan kepentingan manusia[8]. Teori ilmiah semacam ini dapat diperoleh melalui “evidensi pengamatan indrawi”. kemudian fakta tersebut diikhtisarkan. Meskipun kedua aliran tersebut menawarkan cara berbeda untuk memperoleh pengetahuan murni. Sedangkan “kuasa” dipahaminya sebagai kuasa atas alam (natura non nisi parendo vincitur artinya alam hanya dapat ditaklukkan dengan mematuhinya). Tahap selanjutnya dari proses pengenalan fakta adalah pengenalan . Locke. Tiga tahapan untuk memperoleh pengetahuan di atas harus dilakukan secara sistematis. artinya orang harus menghindarkan dirinya untuk mengemukakan prasangka terlebih dahulu. (2) Menggunakan metode yang benar. dimulai dengan mengamati (mewawancarai) alam semesta tanpa prasangka. menurut Bacon haruslah dilakukan dengan cara-cara benar. Untuk memperoleh pengetahuan yang benar. serta tidak dapat melahirkan halhal baru yang berfaedah bagi kehidupan umat manusia. bahwa alam hanya bisa dikuasai oleh pikiran kalau pikiran dapat mematuhinya dengan cara memahami hukum-hukumnya. ilmu pengetahuan lama tidak sanggup memberikan kemajuan. Maksud Bacon. pengalaman dari hasil pengamatan yang bersifat partikular akan menemukan pengetahuan yang benar. untuk mencegah timbulnya gambarangambaran yang keliru. pengetahuan inderawi tidak dapat menguasai segalanya. dan Hume. hakikat pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan indrawi dengan dunia fakta. Dengan slogannnya Knowledge is Power. namun pengetahuan inderawi bersifat fungsional. Menurut pemikirannya. Persentuhan ini biasanya disebut pengalaman. tidak dapat memberikan hasil-hasil yang bermanfaat. Upaya-upaya untuk melakukan pemisahan antara teori dengan praxis tersebut semakin mendapatkan bentuknya ketika Francis Bacon berupaya meninggalkan ilmu pengetahuan lama dan mengusahakan ilmu yang baru. dan oleh karena itu ia yakin bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan sejati. Dengan menaklukkan alam.

Dalam hal ini. yaitu: • • Rasio yang digunakan harus mengacu pada pengamatan inderawi yang partikular. Menurutnya. Idola cave (cave/specus = gua).hukum-nya. sehingga menjadi prasangka yang kolektif. sehingga dunia obyektif dikaburkan. Untuk mencari dan menemukan kebenaran dengan metode induksi. pertama yang perlu . Bacon mengemukakan ada dua cara yang harus dilakukan. Lalu disusun kembali sehingga menemukan pengetahuan benar. menemukan bentuk universal dari sifat-sifatnya yang partikular. Induksi tidak boleh berhenti pada taraf laporan semata. Rasio yang berpangkal pada pengamatan inderawi yang partikular digunakan untuk merumuskan ungkapan umum yang terdekat dan masih dalam jangkauan pengamatan itu sendiri. mereka sudah dipandang mampu untuk melakukan penafsiran atas alam melalui induksi secara tepat. maksudnya pengalaman dan minat pribadi kita sendiri mengarahkan cara kita melihat dunia. dan setelah itu seketika dianggap selesai (tamat) seperti sebuah teater. Sistem ini dipentaskan. Bacon menyarankan agar menghindari empat macam idola atau rintangan dalam berpikir. Idola theatra (theatra = panggung). sistem filsafat tradisional adalah kenyataan subyektif dari para filosofnya. Untuk menghindari penggunaan metode induksi yang keliru. Berdasarkan pemikirannya tersebut. kemudian secara bertahap mengungkap yang lebih umum di luar pengamatan. kemudian mengungkapnya secara umum. karena ciri khas induksi ialah menemukan dasar inti (formale) yang melampaui data-data partikular. Idola fora (forum = pasar) adalah yang paling berbahaya. Idola ini menawan pikiran orang banyak. Dengan konsep ini. • • • Apabila seorang ilmuan sudah bisa melepaskan diri dari semua idola itu. metode induksi yang tepat adalah induksi yang bertitik pangkal pada pemeriksaan yang teliti dan telaten mengenai data-data partikular. yaitu: • Idola tribus (tribus = bangsa) yaitu prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajegan tatanan alamiah sehingga seringkali orang tidak mampu memandang alam secara obyektif. yang pada tahap selanjutnya rasio dapat bergerak maju menuju penafsiran terhadap alam (interpretatio natura). Acuannya adalah pendapat orang yang diterimanya begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan dan penilaiannya yang tidak teruji. Bacon merumuskan dasar-dasar berpikir induktif modern. berapapun besar jumlahnya.

induksi itulah yang dianggap menyesatkan. Maka prosedur yang dapat dbenarkan adalah prosedur ilmu-ilmu alam. Dalam hal dasar inti ini. manusia harus menyelidiki gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara fenomena-fenomena fisik-faktual tersebut sehingga ia dapat memproyeksikan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. pengetahun diperoleh dengan melakukan mimesis fakta[11] . Induksi bukanlah penjumlahan belaka dari data-data khusus. prevoir pour pouvoir” (dari ilmu muncul prediksi. Berdasarkan uraian di atas. barulah boleh terus maju menemukan dasar inti yang semakin umum dan luas. baru akan ditemukan dasar inti. Hal ini sejalan dengan Mach yang menyatakan bahwa pengetahuan yang sahih tentang kenyataan adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara “menyalin fakta”.dikumpulkan data heterogen tentang sesuatu hal. diperlukan “contoh-contoh negatif”. atau kausa materialnya). sehingga tidak ada gunanya mencari hakikat kenyataan yang tidak mempunyai arti faktual sama sekali. kemudian suatu hal yang lebih umum sifatnya (menyangkut skema. Ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. Jika yang ini sudah cukup handal. begitulah langkah-langkah induksi yang tepat. dan dari prediksi muncul aksi). Agar induksi mencapai kesimpulan obyektif yang bersih dari idolaidola. Dalam gerak itu. sebab hanyalah generalisasi yang gegabah. observasi dan analisis menduduki tempat yang sangat penting.[10] dan fakta adalah kenyataan yang dapat diraba atau diindra. Filsafat Comte adalah filsafat anti-metafisis. Dengan prosedur ini. dan kemudian menempatkan positivisme sebagai pemenang dalam wacana pemikiran modern. Bacon memberikan ketegasan bahwa induksi adalah menarik kesimpulan umum dari hasil-hasil pengamatan yang bersifat khusus. “Savoir pour prevoir. Kemudian urutannya akan nampak dengan jelas. Jika hal tersebut dilakukan. Menurut Bacon. Positivisme klasik hanya mengakui tentang gejala-gejala (fenomenfenomen). pertama-tama ditemukan dasar inti yang masih bersifat partikular. yang kemudian menjadikan ilmu-ilmu alam direfleksikan secara filosofis sebagai pengetahuan yang sahih tentang kenyataan. yang paling awal adalah peristiwa konkrit partikular yang sebenarnya terjadi (menyangkut proses atau kausa efisien). Bagi Bacon. Hubunganhubungan antara gejala-gejala itu disebut oleh Comte dengan konsep-konsep atau hukum-hukum positif yang dapat dipersepsi oleh akal pikiran manusia[9]. yang keabsahannya perlu diperiksa secara deduksi. semboyan inilah yang menjadi pamungkas semakin terpilah dan terpisahnya ilmu pengetahuan dari nilai. induksi yang berhasil harus ada gerak bolak-balik dari data khusus ke kesimpulan umum. Pengetahuan empiris-analitis dari Bacon sebagaimana terdeskripsi di ataslah. sebab ilmu-ilmu alam itu objektif. Puncak pembersihan pengetahuan dari kepentingan terjadi dengan lahirnya madzhab positivisme yang dirintis oleh Auguste Comté. Oleh karena itu.

Bila dalam empirisme dan rasionalisme pengetahuan masih direfleksikan. Manusia bebas ala Renaissance itu kemudian “didewasakan” oleh zaman Aufklarung. yaitu data yang bersih dari unsurunsur subjektifnya seperti. Tiada hari tanpa hasil kreasi dan inovasi. Zaman Renaissance adalah zaman yang didukung oleh cita-cita untuk melahirkan kembali manusia yang bebas. Oleh karena itu. biologi atau kimia mengamati obyek yang ditelitinya dengan sikap berjarak. dan sangat optimis untuk dapat menguasai masa depannya. yang ternyata telah melahirkan sikap mental menusia yang percaya akan kemampuan diri sendiri atas dasar rasionalitas. Semenjak itulah dunia Barat telah melakukan tinggal landas mengarungi angkasa ilmu pengetahuan yang tiada bertepi untuk menaklukkan dan menguasai alam demi kepentingan “kesejahteraan hidupnya”. dan subur pada masa Aufklärung adalah metode ilmu-ilmu alam. Peneliti mengambil sikap distansi penuh. maka…. hanya saja obyeknya .. setelah ambruknya tatanan dunia dan nilai-nilai masyarakat abad pertengahan. yang telah dibelenggu oleh zaman abad tengah yang dikuasai oleh Gereja atau agama. manipulasi. postivisme mendasarkan pada pengandaian dasar dalam ilmu-ilmu alam yaitu: pertama : seorang ahli fisika. dan lain sebagainya. Manusia bebas ala Renaissance adalah manusia yang tidak mau lagi terikat oleh orotitas yang manalun (tradisi. menghadapi obyek yang ditelitinya sebagai obyek semata. positivisme menempatkan metodologi ilmu-ilmu alam pada ruang yang dulunya menjadi refleksi epistemologi. moral. sistem gereja. dan lain sebagainya). Hasilnya adalah teknologi supramodern yang mereka miliki.Positivisme menjadi lokomotif penggerak sejarah pemikiran barat modern. ia harus menghadapi objeknya itu sebagai ”fakta netral”. sebagaimana dapat dilihat sekarang ini[12] Didalam menerapkan metode ilmu-ilmu alam dalam ilmu-ilmu sosial ini. keempat. teori yang dihasilkan merupakan sebuah pengetahuan yang bebas dari kepentingan (disinterested) dapat diterapkan secara instrumental secara universal. sehingga manusia (Barat) menjadi kreatif dan inovatif. yang kemudian oleh positivisme diterapkan pada penelitian-penelitian sosial.[13] Berbagai pengandaian itulah (distansi penuh. keinginan-keinginan. kedua.. yang sangat menitikberatkan metodologi dalam refleksi filsafatannya. universalitas. dengan distansi penuh. yaitu pengetahuan manusia tentang kenyataan. ketiga. hukumhukum.. Tawaran baru dari positivisme adalah tentang metode ilmu pengetahuan. dan satu-satunya metodologi yang berkembang secara meyakinkan sejak renaissance. penilaian-penilain. dengan jalan itu. dalam positivistisme pengetahuan diganti metodologi. dan instrumentalis). bebas kepentingan. Ada daya dorong yang mempengaruhi perkembangan ilmu dan teknologi yaitu pandangan untuk menguasai alam.). ia dapat memanipulasi objeknya dalam eksperimen untuk menemukan pengetahuan menurut model ”sebab-akibat”. kelima. mimpi. hasil manipulasi adalah sebuah pengetahuan tentang hukum-hukum yang niscaya berdasarkan rumusan deduktif-nomologis (bila …. kecuali otoritas yang ada pada masing-masing diri pribadi. netralitas. nafsu.

yaitu teori yang dipisahkan dari praksis kehidupan manusia. antara lain karena memang kesan baik yang diberikan oleh ilmu fisika sebagai disiplin ilmu yang prestisius dengan teknik-teknik penelitian yang impresif. menempatkan filsafat ilmu pengetahuan sebagai logika ilmu. karena ontologi menelaah apa yang melampaui fakta inderawi. bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah diatur. estetika. Ilmu-ilmu sosial yang dihasilkan. Positivisme — dengan menyingkirkan pengetahuan yang melampaui fakta — telah mengakhiri riwayat ontologi atau metafisika. Pandangan semacam itu menguasai dan diterima luas oleh para filsuf ilmu pengetahuan pada zaman itu. Dengan mengkuantifikasi data dan mencapai perumusan dedukti-nomologis. diyakini sebagai potret tentang fakta sosial yang biasa dikenal dengan istilah ”bebas nilai” (value-free). melainkan kenyataan sosial. Siapa pun dia — asal memenuhi prosedurprosedur penelitian yang telah disepakati — tak akan mempengaruhi pengetahuan yang dihasilkan. dengan beberapa gagasan pokok. karena bersiat universal dan instrumental. menolak filsafat yang tidak menghiraukan kenyataan dan susunan serta hasil ilmu pengetahuan empiris. dan (4) memandang tugas filsafat sebagai analisis atas kata-kata atau pernyataan-pernyataan[14] Kaum positivisme logis itu sendiri. yaitu teori yang bebas dari kepentingan-kepentingan manusiawi. Mereka menganggap. serta dapat diperiksa secara empiris. . ilmu-ilmu sosial dapat membantu menciptakan susunan masyarakat yang rasional Hal ini merupakan awal memperoleh pengetahuan demi pengetahuan. dan diperoleh dari pengamatan inderawi. di samping itu juga disebabkan oleh adanya orang-orang besar dan terhormat dalam bidang ilmu pengetahuan yang terdapat dalam kelompok ini seperti Albert Einstein[15]. hal ini terlihat dari apa yang dikemukakan oleh Comte: ”savoir pour prevoir” (mengetahui untuk meramalkan). dan metafisika sebagai pernyataan-pernyataan yang tidak berguna atau nonsense. yang dikenal dengan nama Positivisme logis. Dengan cara itu.bukan lagi benda mati (alam) atau binatang. seperti etika. Positivisme logis. Dalam filsafat abad ke-20 pemikiran positivistis tampil dalam Lingkungan Wina. empirisme logis atau neo-positivisme. (2) menganggap pernyataan-pernyataan yang tidak dapat diverifikasikan. yaitu tak mengandung interprestasi subjektif dari penelitinya. (3) berusaha mempersatukan semua ilmu pengetahuan di dalam satu bahasa ilmiah yang universal. sehingga pengetahuan itu dapat dipakai secara instrumental oleh siapa saja. dan dirumuskan dalam kaidah-kaidah ilmu alam. Sebagai tradisi intelektual yang berakar pada ilmu pengetahuan alam kodrati (natural sciences). namun demikian positivisme tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari ontologi. yaitu (1) menolak pembedaan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. ilmu-ilmu sosial lalu bertujuan untuk meramalkan dan mengendalikan proses-proses sosial. hal ini tampak pada teori yang dianut. pesatnya perkembangan kelompok yang lazim juga dinamakan empirisme neo-klasik ini disebabkan oleh berbagai faktor.

seorang murid dari Max Planck yang pada saat itu ia memusatkan karyanya pada filsafat fisika. dan bahwa pernyataan itu harus bersifat ilmiah. Inti pandangan mereka terletak pada keyakinan. Kemudian pada tahun 1929. pandangan ontologi aliran ini menentang segala bentuk pikiran.Berdasarkan kronologi sejarahnya. dan ilmu-ilmu lain yang diperoleh dari gejala-gejala yang dapat diamati oleh indera. sebab mereka menganggap bahwa ilmu formal (matematika. kalangan positivisme logis menolak persoalan sebab-sebab terakhir (final causes) yang menjadi pokok perdebatan filsafat klasik. sehingga mengakibatkan pembicaraan tentang Tuhan pun sama sekali tertolak[17]. matematikus dan filsuf berlatar belakang matematika. yang memberikan perangkat-perangkat hukum pada interpretasi terhadap observasi yang terbatas. logika) bukan sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu di luar bahasa (kenyataan). Ilmu formal sama sekali tidak menyinggung tentang bukti dan data empirik (kenyataan). kelompok ini menerbitkan sebuah manifesto yang berisi tentang tujuan perkumpulan itu dan memberinya nama: “A Scientific Conception of the World: The Vienna Circle” (Suatu Konsepsi Ilmiah Tentang Dunia: Lingkaran Wina)[16]. para kaum positivis yang kebanyakan adalah ahli ilmu alam. Dengan demikian. Bagi aliran ini. tetapi hanya menampilkan jalinan hubungan antara lambang-lambang logiko-matematis yang membuka kemungkinan pemakaian data observasi yang telah diperoleh untuk menghitung (menyusun penjabaran logis dan deduksi)[19]. Seperti halnya dengan Bacon. positivisme logis muncul pertama kali sebagai suatu logika bagi ilmu-ilmu fisika. Tahun 1895. dan pada tahun 1922. Ilmu pengetahuan sendiri dirumuskan dan diuraikan sebagai kalkulasi aksiomatis. yang menyatakan adanya suatu dunia yang bersifat adi-alami atau transendental[18]. bahwa setiap pernyataan mengikuti ketentuan logika formal. Ernst March menjabat sebagai guru besar pertama filsafat ilmu-ilmu induksi di Universitas Wina. artinya dapat dinyatakan atau dibuktikan (verifiable-positive knowledge). yang mendeskripsikan semua pengetahuan atas dasar pengalaman dan pengamatan inderawi. Positivisme logis bertitik tolak dari data empiris dan tetap setia pada sifatnya yang empiristis dengan menganggap hukum-hukum logis sebagai hubungan antara istilah-istilah. terutama mengenai sebab pertama (first cause). persoalan-persoalan ilmiah harus dipecahkan secara lebih tepat dan sistematis dengan menggunakan teknik-teknik logika matematika. Para anggota yang ikut bergabung dalam kelompok ini adalah. Pengetahuan semacam ini yang disebutnya sebagai pengetahuan positif. posisi itu digantikan oleh Moritz Schlick. Aliran Positivisme logis membagi pengetahuan hanya terbatas kepada ilmu matematika (ilmu pasti). . hasil pengamatan dan fakta yang dinyatakan dengan memakai ungkapan dasar dalam suatu ilmu yang bercorak empiris atau—dalam pengertian Rudolf Carnap—“kalimat protokol”.

apabila diterjemahkan ke dalam bahasa literal hurufiah. serta menghapus perang dimuka bumi[25]. menyingkirkan diskriminasi rasial dan seksual. Prinsip verifikasi sebagai sentral dalam doktrin positivisme logis menegaskan bahwa. menyempurnakan kemampuan manusia. Mereka yakin pula bahwa. dan bebas dari kepentingan-kepentingan manusiawi. sains merupakan pembawa nilai-nilai modern yang paling . Hal ini dapat direalisasi. suatu ungkapan baru akan mempunyai makna. yang justru berciri preskriptif. dan secara tegas dibedakan dengan etika. manakala ia menunjuk pada pengalaman langsung dan konkrit. hanya apa yang nampak jelas dan berguna saja yang secara prinsipil bisa diverifikasi melalui observasi dan eksperimentasi. eksperimen dan verifikasi[20].Positivisme sebagai sebuah pandangan filsafat mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum-hukum dapat dibuktikan dengan teknik observasi. Eksplorasi dan pengembangan aspek epistemologi yang harus digunakan untuk memperoleh pengetahuan sejati. menjadi titik sentral refleksi filosofisnya. karena watak sains modern adalah “netral”. Dan bahasa figuratif atau kiasan juga hanya akan dianggap mempunyai makna. Dengan watak-watak macam ini. Menurut Positivisme logis. mewujudkan kebahagiaan pribadi. filsafat hanya bisa maju jika menggunakan bahasa lugas literal murni. Persoalan tentang nilai sebuah teori atau makna suatu penjelasan. Optimisme terhadap sains modern ini antara lain terlihat dari pendapat Marquis de Condorcet. yang menyatakan bahwa penyebaran kekuatan-kekuatan rasional dalam masyarakat akan membawa suatu kemajuan yang tidak sekedar pertumbuhan ekonomi. personal dan menilai tindakan. yang justru kemudian menggeser kedudukan pengetahuan. Imbasnya lantas timbul keyakinan umum yang semakin kuat bahwa. Condorcet memprediksi. Dalam konteks yang demikian postivisme yang bertumpu pada aspek epistemologi telah merubah wujudnya menjadi saintisme[24]. tidak memberikan penilaian baik atau buruk. dan pembangunan materi. Manusia baru dapat menjadi rasional dan dewasa. bahwa rasio yang terwujud dalam sains akan menghancurkan ketimpangan-ketimpangan kultural. namun terutama terwujudnya tujuan (telos) sejarah. yaitu tidak berprasangka. dianggapnya tidak berarti apa-apa karena tidak memberikan jawaban yang pasti dan terukur[21]. secara meyakinkan melekat pada ilmu-ilmu alam. dalam dunia kebahasaan manusia sebetulnya yang berperan besar adalah memang bahasa literal itu sendiri[22]. Watak-watak objektivistis semacam ini. politis. Pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip dasar positivisme. yaitu kesempurnaan tak terbatas umat manusia yang juga bersiat etis. dan kesejahteraan umum. agama dan filsafat abstrak metafisik. diganti oleh ilmu pengetahuan[23]. demikian mendominasi perkambangan ilmu-ilmu sosial di era modern. apabila segala mitos. Positivisme logis menggabungkan argumen epistemologis dengan argumen semantik. dan ekonomis diantara bangsa.

Kesadaran teknokratik telah mendominasi kehidupan manusia sehingga manusia diarahkan dan ditentukan oleh dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi. sekaligus merubah kesadaran masyarakat menjadi kesadaran teknokratik (technocratic conciousness). karena penelitian ilmiah bagaimanapun meyakini adanya kebenaran objektif yang tidak tergantung pada perspektif. dan prediksiprediksi ilmiah seperti dalam ilmu-ilmu alam. dapat menjadi sumber autoritatif bagi masyarakat luas. maka ia harus menghasilkan hukum-hukum umum. Hal ini diperlukan. akan tetapi telah berubah menjadi cara berfikir masyarakat (yaitu cara berpikir yang positif).mendasar dikalangan komunitas ilmiah. Asumsi inilah yang kemudian oleh Tom Sorrel disebut saintisme. Apa yang kemudian lahir dari krisis epistemologi ini adalah filsafat ilmu pengetahuan (philosophy sciene). Kondisi ini tidak hanya mereduksi manusia ke matra objektifnya. pengetahuan haruslah bebas nilai. yang memusatkan diri pada penelitian tentang “metodologi”. Untuk mencapai tujuan itu. Bila ilmu-ilmu sosial mau berlaku sebagai ilmu pengetahuan. dari subjek (yang dipergunakan oleh Renĕ Descrates sebagai tokoh aliran rasionalisme)[27]. Menurut Herbert Marcuse teknologi dan ilmu pengetahuan bukan lagi dipandang sebagai salah satu teori tentang pengetahuan. seperti sikap toleran. Dalam dunia intelektual. mengandaikan. . Perubahan ini bukan hanya sekedar pergeseran tekanan yang masih menerima subjek. dan pada akhirnya justru menyudahi epistemologi sendiri. dan menjadi sistem pandangan dunia yang menyeluruh. Dengan demikian Ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi ideologi. tak memihak. Anggapan bahwa sains dapat menjadi juru selamat sebagai terdeskripsi di atas. menjadi objek[28]. Objektivisme bukan hanya tidak mengakui peranan subjek (yang berarti subjek hanya menyalin fakta objektif). bahwa nilai-nilai yang dianut komunitas ilmiah yang terbatas itu. atau menjelma menjadi ideologi sebagaimana dikemukan oleh Herbert Marcuse[26] Berubahnya positivisme menjadi saintisme. yang pada gilirannya menyebabkan fragmentasi pandangan tentang manusia[30]. dan autoritas subjektif. hal inilah yang kemudian melahirkan objektivisme. Ilmu ditempatkan sebagai satu-satunya penafsir realitas dan kebenaran. riset sosial harus menghasilkan deskripsi dan eksplanasi ilmiah yang tidak memihak. melainkan justru menghapus subjek. tetapi — karena terjadi fragmentasi ilmu-ilmu[29] — terjadi juga fragmentasi kenyataan. berawal bergesernya pendulum epistemologi. rasional dan demokratis. agar para ilmuwan dapat memperoleh teori murni. melainkan juga mengosongkan apa-apa saja dalam diri subjek sedemikian rupa sehingga menjadi fungsi-fungsi objektif dan mekanis. dibangun dengan (salah satu) asumsi bahwa. Pengetahuan yang Bebas Nilai Dalam Perspektif Teori Kritis : Sebuah Kritik Ideologi Madzhab positivisme. karena telah menjelma menjadi sistem total yang melegitimasi masyarakat dan keadaannya.

. Klaim adanya kebebasan nilai dalam ilmu pengetahuan sebagaimana ditawarkan para pendukung madzhab positivisme tersebut. dalam mendekati objek yang diteliti. Pada masa kini perdebatan tersebut terus berlanjut.[35] Dalam artikel dengan judul Traditionelle und Kritische Theori (teori Tradisional dan Teori Kritis). Menger dan Schmoller. Tahun 1880-an perbantahan terjadi antara dua ahli ekonomi C. adalah tentang pertautan antara pengetahuan dan kepentingan. harapan. Peristiwa ini diberi nama methodenstrit (perbantahan mengenai metode). teori dan praxis. Pokok perdebatan yang muncul dalam possitivismusstreit. penilaian moralnya. Sejalan dengan itu. dan tahun 1909 serta tahun 1914 antara Max Webber dan Sombart. lalu antara dua filosof neo-kantinian Windelband dan Rickert. melalui teori kepentingan kognitif dan teori komunikasi masyarakat. dan konteks inilah Jürgen Habermas[34]. maupun yang bermaksud menggantikannya dengan alternatif lain. dan kemudian jatuh pada saintisme atau positivisme. Salah satu aliran yang banyak melakukan kritik adalah para pemikir yang tergabung dalam madzhab Frankfurt (Atau dikenal juga dengan istilah Marxisme kritis atau Neo-Marxisme)[33]. tidak saja krisis dalam pengetahuan[31]. akan tetapi juga krisis dalam masyarakat[32]. pengetahuan dan kehidupan. riset dan nilai. ilmuwan sosial harus mampu melepaskan perasaan. sebagaimana terlihat dari adanya perdebatan antara Karl Popper dengan sekelompok cendikiawan yang termasuk dalam madzhab Frankfurt. keinginan. tampil sebagai juru bicara terdepan dari madzhab Frankfurt. di dalam mengembangkan teori kritis ini. di tahap akhir perkembangaannya ternyata telah menyebabkan terjadinya krisis. Perdebatan pertama antara para pendukung madzhab positivisme dengan pemikir dari madzhab lain. konsep “teori kritis” untuk pertama kalinya muncul. yaitu berupaya mengaitkan rasio dan kehendak. akan tetapi mereka semua pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. anggapan. sehingga ia memperoleh pengetahuan objektif tentang kenyataan sosial atau “fakta sosial”. Oleh karena itu. baik yang ditujukan untuk memperbaiki kelemahankelemahan yang terdapat dalam pemikiran positivisme. kritik-kritik dari berbagai aliran pemikiran lain pun mulai muncul dan berkembang. Meskipun terdapat perbedaan pandangan diantara para pendukung madzhab Frankrut. sebagai kritiknya terhadap “teori tradisional” yang dipandang disinterested. yang kemudian dikenal dengan nama possitivismusstreit (perbantahan mengenai positivisme). berkisar pada usaha untuk memberi bentuk metodologi yang khas bagi ilmu-ilmu sosial. Seluruh program teori kritis madzhab Frankfurt dapat dikembalikan pada sebuah manifesto yang ditulis dalam zeitschrift tahun 1957 oleh Horkheimer.serta tidak memberi penilaian apa pun.

sehingga semua pernyataan itu dapat diturunkan dari sejumlah pernyataan dasar. dan terlepas dari konteks kegiatan masyarakat sehari-hari. Dengan menjadi sistem tertutup seperti itu. teori tradisional ini memiliki citacita. yang dapat dipelajari secara objektif. Menurut Horkheimer terdapat selubung ideologis dari teori positivistime yang membeku dalam teori tradisional ini. kegiatan berteori haruslah dilakukan cara memisahkan atau menyingkirkan unsur subjektif dari teori. Dalam wawasan teori ini. dengan perkataan lain teori ini bermaksud menciptakan unfied science. teori tradisional mengklaim dirinya mandiri. Kedua. dan karenanya teori yang dihasilkan juga a-historis dan a-sosial. dan oleh karena itu teori yang dihasilkan pun bersifat netral. untuk menerapkan metode deduktif-induktif itu pada ilmu-ilmu sosial – humaniora. menurut Horkheimer merupakan suatu keseluruhan proposisi mengenai bidang keahlian tertentu yang tersusun sedemikian rupa. dan inilah yang dilakukan oleh positivisme. makin sempurnalah teori itu. Sukses ilmu-ilmu alam dalam memprediksi dan memanipulasi atau mendayagunakan gejala alamiah mendorong para pemikir tentang gejala sosial dan kemanusiaan. teori tradisional menjadi — seperti apa yang disebut Husserl — sistem tertutup dari proposisi bagi ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Teori. Teori tradisional ini disatu sisi bekerja dengan cara deduktif. yaitu menciptakan suatu sistem ilmiah yang menyeluruh meliputi segala bidang keahlian. teori tradisional mengandaikan bahwa pengetahuan manusia bersifat ahistoris. harus dipandang sebagai fakta yang netral. fakta atau objek yang diketahui. Karena keberhasilannya dalam menjelaskan fakta. lalu mengambil kesimpulan umum darinya. disatu pihak tidak . yang tersirat dalam slogan “pengetahuan demi pengetahuan”. dan dengan demikian pengetahuan yang dimilki bersifat netral. maka dalam hubungannya dengan fakta.Toeri-teori tradisional (teori yang muncul dari madzhab positivisme). ilmu-ilmu alam tidak hanya sukses menjelaskan fakta. Dengan cara ini. cukup diri. yaitu bertolak dari hukum yang berhasil dirumuskan lalu bergerak menuju fakta konkret. teori tradisional ini pun bekerja dengan cara induktif. berdasarkan ciri a-historisnya itu. Teori dipandang sebagai deskripsi murni tentang fakta. Hal ini dapat dilihat dari asumsi-asumsi dasar yang dibangunnya. karena hukum dirumuskan dari kejadian konkret dan empiris. teori tradisional selanjutnya memiliki pengandaian. Masyarakat sebagai objek yang ingin dijelaskan dalam teori. Berdasarkan pengertian itu dapat disimpulkan bahwa makin sedikit jumlah pernyataan dasar yang terbentuk dibandingkan dengan turunannya. Di sisi lain. yaitu bertolak dari pengamatan data khusus. yaitu : pertama. tetapi juga sukses memanipulasi objek melalui teknologi sebagai terapan teori. Dengan kedua metode itu. Karena yang dimaksud dengan proposisi adalah pernyataan tentang fakta. yang menjadi suatu “hukum”. yang dipandang tunduk pada hukum umum itu. sehingga membuatnya berubah menjadi ideologi. teori tetap merupakan hipotesis yang siap digugurkan. dan oleh karenanya pengetahuan haruslah bebas dari kepentingan (disinterreste).

dan budaya. dengan tujuan untuk mencapai status teori demi teori. Positivisme yang mulai memperoleh tambatan fondasi perkembangannya pada abad pencarahan.dapat mempengaruhi atau mengubah objeknya. dengan tidak mempengaruhi objeknya. Ketiga. Rasionalistas yang diagungkanagungkan dalam positivisme. dengan merefleksikan proses rasionalisasi dalam masyarakat barat. Menurut Adorno dan Horkheimer. kemudian melakukan penelusuran hingga ke akar munculnya cara berpikir positivisme masyarakat modern. Cara rasio memahami kenyataan metafisik tersebut. irrasionalitas dan sifat ideologis kehidupan masyarakat modern. atau . Di sini rasio telah kehilangan “isi” dan “tujuan” pada dirinya sendiri untuk memahamai kenyataan. Rasio instrumental ini meskipun disatu sisi memusuhi metafisika dan pemahaman mitologi. Berdasarkan kritik yang dikemukakan oleh Horkheimar di atas. Jika konsep teori sebagaiman yang diandaikan oleh teori tradisional diterapkan pada kenyataan sosial kemasyarakatan. dan pengetahuan dapat dipisahkan dari kepentingan. teori dapat dipisahkan dari praxis. dimunculkan sebagai pengganti mitos yang mendominasi perkembangan pengetahuan di abad-abad sebelumnya. beku dan mati. bertolak dari netralitas tersebut. dan yang tertinggal hanya “bentuk”-nya melulu. adalah rasionalitas tujuan atau rasionalitas instrumetal. berakar pada pemikiran yang dilatarbelakangi oleh penerapan teori tradisional pada kehidupan sosial. Adorno dan Horkheimer. Hasil yang dicapai melalui formalisasi cara berpikir yang demikian adalah logika formal dan matematika. yang berusaha memahami konsep abstrak objektif tentang kenyataan yang penuh misteri. teori menjadi berisifat ideologis dan menjadi penjaga status quo masyarakat yang pada dasanya menindas. teori tradisional mendasarkan pada pengandaian bahwa. dapatlah diketahui bahwa. mendasarkan pada kemampuan rasionalitas manusia. teori tradisional membenarkan dan membiarkan fakta itu tanpa menarik konsekuensi praktis untuk mengubahnya. merupakan sesuatu yang tidak berubah. oleh positivisme dirumuskan dalam konsep yang logis. pemahaman rasionalitas yang dipergunakan oleh postivisme. dan di lain pihak. akan tetapi sesungguhnya di sisi lain ia. dan karenanya tidak dapat mempengaruhi kegiatan untuk memperoleh teori murni tentang objek itu. politis. maka rasio menjadi netral dan dapat dipakai demi tujuan diluar dirinya. sesungguhnya mempertahankan “cara” rasio memahami kenyataan metafisik. Untuk memperkuat kritiknya terhadap positivisme. proses penelitian dapat dipisahkan dari tindakan etis. yang telah dikosongkan dari “isi”-nya yang metafisik. karena telah berubah menjadi “prinsip” belaka. Dengan perkataan lain rasio menjadi instrumen belaka. sebagi motor penggerak perkembangan teorinya. Dengan telah hilangnya isi dan tujuan dari rasio tersebut.

teori kritis merupakan “teori dengan maksud praktis”. teori kritis melakukan — apa yang disebut Horkheimer dan rekan-rekannya — kritik imanen terhadap masyarakat yang nyata-nyata tidak manusiawi. ketimpangan. yang disebutnya sebagai dialektika terbuka. Ketiga. karena rasio tidak peduli pada tujuannya sendiri. Jika teori tradisional menggantungkan kesahihannya pada verifikasi empiris. teori kritis bersiat historis. membangun masyarakat atas dasar hubungan antar pihak yang merdeka. Teori kritis mempertahankan kesahihannya melalui evaluasi. dengan demikian teori kritis menjadi tidak netral. Dengan adanya berbagai masalah dalam teori tradisional tersebut. ia sendiri kemudian menundukan dirinya dibawah tujuan itu. Dengan perkataan lain. menurut Horkheimer. kritik dan refleksi terhadap dirinya sendiri. — seperti yang dipraktikan oleh para theoros dalam ritus theorea — terhadap prinsip itu. yaitu pembebasan manusia dari perbudakan. Ketidak-netralan teori kritis tersebut. ekonomi. karena baginya tujuan pengetahuan rasional telah tercapai dengan cara seperti itu. Kekuatan kritis dari teori itu terletak pada penggunaan metode dialektika. karena teori kritis disusun dalam kesadaran akan keterlibatan akan keterlibatan historis para pemikirnya. Keadaan yang demikian untuk selanjutnya — sebagaimana dikemukakan oleh Adorno dan Horkheimer — menyebabkan rasio manusia tidak memperoleh kemajuan apa-apa. ideologi. dan pemihakannya terlihat pada tujuan teori ini. a-historis. serta menjadi pelayan yang setia dari tujuan diluar dirinya. disebabkan karena teori kritis memihak pada praxis sejarah tertentu. yang bisa jadi terselubung oleh ideologi yang menutup-nutupi.[36] karena bermaksud mencari kontradiksi di dalam kenyataan konkrit. bahwa setiap teori sangat mungkin jatuh ke dalam salah satu bentuk ideologi. setelah prinsip itu diterapkan pada tujuan diluar dirinya. Artinya teori dikembangkan berdasarkan situasi masyarakat konkret dan berpijak di atasnya. rasio instrumental yang hanya memperhatikan prinsip kerja rasionya ini. Sejauh cara atau metode telah diterapkan sebagaimana mestinya. sebagai akibat metode dialektikanya. teori kritis memiliki kecurigaan terhadap masyarakat aktual. yaitu teori yang tidak memisahkan dirinya dengan praxis. bersifat “kritis”. bahwa seharusnya teori masyarakat tidak bersifat netral. dan kemudian. dan lepas dari praxis. Dengan kenetralannya. Keempat. seperti politik. dan . telah berubah menjadi alat kalkulasi dan verifikasi. maka teori ini juga bersifat kritis terhadap dirinya sendiri. manipulasi.sebagaimana yang dikatakan Weber. Dengan metode dialektika terbukanya ini. melainkan pada cara-cara yang dipergunakan. tunduk pada berbagai macam tujuan dan dapat dipakai oleh siapa pun. maka Horkheimar pun berpendapat. teori kritis memiliki empat karakter: pertama. dan kontradiksi dalam masyarakat. Dengan demikian rasio pertama-tama melakukan mimesis. Maksudnya teori kritis menyadari risiko. menurut Horkheimer. Kedua. maka rasio telah merasa puas. melainkan sebaliknya.

yang diharapkan dapat menjadi penggerak revolusi. positivisme memiliki akar sejarah dari tradisi filsafati pemikiran Yunani yang telah melakukan demitologisasi terhadap pemikiran mistis (yang dipergunakan oleh para pemikir dari tardisi kebudayaan keagamaan Yunani kuno). sebagai pendukung Madzhab Frankfrut generasi pertama) belum secara jelas menetapkan siapakah subjek yang menjadi alamat dari teori ini. agar dapat . Horkheimer (dan dengan demikian termasuk juga didalamnya Adorno dan Marcuse. maka ilmu pengetahuan di zaman positivisme ini mendapat otonominya diluar filsafat. dan “netral”. ditambah bukti-bukti meyakinkan dalam bentuk teknologi.pemulihan kedudukan manusia sebagai subjek yang mengelola sendiri kenyataan sosialnya. Menurut Habermas. Meskipun telah meletakan dasar-dasar pengembangan teori kritis. Melalui cara yang demikian. merupakan penyebab utama terjadinya krisis dalam ilmu pengetahuan. filsuf Yunani. Ontologi yang dibangun dalam positivisme sesungguhnya mendasarkan pada konsep kuno tentang teori. menurut F. melakukan kontemplasi. melalui teori kepentingan kognitif dan teori komunikasi masyarakat. Hal ini sejalan dengan ungkapan Marcuse yang menyatakan. bahwa kemampuan teori tradisional ini tidak sama dengan “berpikir ke masa depan”. Sebagai bagian dari upayanya untuk memperoleh keapa-an” (hakekat) benda-benda. teori tradisional diam-diam melestarikan masa kini. Kekurangan dari pendukung teori kritis generasi pertama inilah yang kemudian diisi oleh Jürgen Habermas. dan kemudian menggantikannya dengan ontologi serta didukung oleh aspek epistemologi yang meniru metode dalam ilmu-ilmu alam. positivisme yang memiliki keinginan untuk memperoleh sebuah teori murni. Aspek utopia inilah yang membedakan teori kritis dari teori tradisional yang melulu ingin menyalin fakta masa kini. terikat pada tempat dan waktu tertentu). teori ini menutupi kemungkinan perubahan ke masa depan. Dengan demikian. “bebas nilai”. Dengan cara ini. Dengan keberhasilannya menemukan metode yang sanggup menjelaskan dunia secara empiris. teori kritis hendak mengkritik keadaan aktual dengan referensi pada tujuannya. Kandungan utopia teori kritis justru dimiliki dalam bentuk ketegangan imajinatif yang mampu melampaui batas hic et nunc (di sini dan pada masa kini. memang dalam teori kritis terkandung muatan utopia tertentu yang menyebabkan pemikiran didalamnya tidak bersifat netral. Sebagaimana telah dideskripsikan pada bagian-bagian awal makalah ini. sehingga dengan kedok “tidak memihak”. Budi Hardiman. karena teori ini menyingkirkan berbagai imajinasi kreatif. ilmu pengetahuan dapat memberikan sebuah penjelasan ilmiah yang bersih dari kepentingan subjektif penelitinya (memperoleh teori Murni). Selain itu Horkheimer juga belum secara jelas merumuskan dasar-dasar epistemologi teori kritisnya. Dengan pemihakan ini.

dengan lingkungan yang berupa interaksi atau bahasa[41]. yaitu tatanan yang tetap abadi dalam kosmos dan seluruh suluruh realitasnya. Demikian pula dengan seluruh ilmu pengetahuan yang ada. orang harus memberishkan diri dari refleksi. dapat menunjukan bahwa. Demikian pula dengan ilmu-ilmu historis-hermeneutis (ilmu-ilmu sosialkemanusiaan). yaitu teori murni. mengeksplanasi. Menurut Jürgen Habermas. Habermas. Hal yang relatif sama juga terjadi dalam ilmu kritis. kemudian mengalami purifikasi jiwa. penelitian dalam ilmu ini diarahkan oleh kepentingan yang bersikap praktis. Sesuai dengan tipologi ilmu yang dilakukan olehnya[39]. Para partisispan yang disebut theoros. yang mereka anggap sebagai “setan” tersebut.[38] Konsep teori murni dalam ontologi inilah. nafsu. mitos. Filsuf tidak menyadari bahwa pembersihan unsurunsur subjektif (yang oleh Habermas disebut kepentingan). serta memprediksi objek yang ditelit. [37] Untuk memperoleh teori murni tentang kenyataan. Sebagai bagian dari upayanya untuk memahami makna dari fakta yang diobservasi. Hal ini dilakukan untuk menemukan ontologi.memisahkan unsur-unsur yang tetap dengan unsur-unsur yang berubah. . Dengan menyembunyikan kaitan pengetahuan dengan kepentingan dan mengklaim dirinya objektif. Inilah yang ingin dicapai oleh para filsuf dimasa itu. yang bertujuan memuaskan keinginan untuk memahami manusia melalui pengungkapan makna. Konsep prufikasi atau katharsis inilah yang kemudian digantikan oleh teori murni tentang kosmos atau ontologi. Dengan demikian. yang bersifat nomologis ini berupaya mencari hukum-hukum yang pasti[40]. ilmu-ilmu ini mendasarkan pada sistem acuannya pada penguasaan teknis. Ilmu yang bertujuan untuk melakukan pembebasan dan memberi akses pada emansipasi ini[42]. pada dasarnya merupakan kepentingan juga. untuk mencapai saling pengertian dan konsensus. dihilangkan melalui ritus keagamaan. semua ini dipandang sebagai setan dalam jiwa manusia. Dalam tradisi kebudayaan keagamaan Yunani kuno. perasaan yang dalam. keinginan. Sebagai bagian dari upayanya untuk mendeskripsikan. ilmu pengetahuan justru sedang berupaya melaksanakan kepentingannya sendiri. Melalui ontologi inilah orang kemudian dapat melakukan penjelasan objektif tentang seluruh realitas. seluruh ilmu pengetahuan — berdasarkan proses penelitian yang diterapkannya — tidak dapat melepaskan diri dari kepentingan. ilmu-ilmu empiris analitis (ilmu-ilmu alam). melalui berbagi model penafsiran. atau mengalami katharsis (pembebasan diri dari perasaan dan dorongan fana yang berubah-ubah). penelitian dalam ilmu-ilmu ini tidak dapat melepaskan diri kepentingan teknis untuk menguasai proses-proses yang dinilai objektif. yang menurut Habermas merupakan ilusi yang berbahaya.

tampak dalam usaha manusia dalam sejarah untuk mencapai konsensus itu melalui dialog.menawarkan refleksi diri sebagai metode ilmunya. Segala upaya untuk mewujudkan otonomi dan tanggung jawab kedewasaan (konsensus bebas-paksaan). kesatuan antara pengetahuan dan kepentingan. berupaya memulihkan kembali peranan subjek pengetahuan yang sanggup menafsirkan objeknya. karena sebagaimana dikemukakan oleh Fitchte. secara monologal untuk memaksakan visivisi dan keyakinan-keyakinannya kepada orang lain. meskipun Adorno dan Horkheimer telah melakukan kritik terhadap ciri-ciri rasio instrumentalis. Rasio memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengatasi kendala yang merintangi perkembangan manusia. salah satu persoalan yang belum diselesaikan oleh Madzhab Frankfrut generasi pertama dalam teori . pada dasarnya merupakan antitesis dari positivisme yang secara radikal telah menempatkan objek sebagai pusat pengkajian teorinya. Habermas menegaskan posisi filsafatinya. yang kemudian justru menggantikan peranan subjek dengan metode ilmiah. penelitian dalam ilmu ini diarahkan oleh kepentingan kognitif partisipatif. dengan menunjuk universalitas rasio sebagai arah refleksi diri. penindasan dialog. Dengan cara yang demikian kritik pada dasarnya merupakan maniestasi dari ideologi. Namun penafsiran itu bukanlah konstitusi objek oleh subjek seperti idealisme. Selain itu pada bagian lainnya Habermas mengemukakan bahwa. inilah yang merupakan kepentingan kognitif emansipatoris. dengan cara menyingkapkan hubungan timbal balik antara mitos dan pencerahan. menurut Habermas terlihat dari pernyataan yang menyatakan bahwa : dalam kekuatan refleksi diri. Kesatuan antara pengetahuan dan kepentingan dapat dibuktikan dalam suatu dialektika yang memiliki jejak sejarahnya dari dialog yang ditindas dan merekonstruksi apa yang telah ditindas. pengetahuan dan kepentingan adalah satu. mereka tetap terperangkap dalam asumsi-asumsi filsafat kesadaran. yaitu kehendak dan kesadaran. ideologi dan kritik. Sama seperti seorang ideolog. Atau dengan perkataan lain. dan pada gilirannya melalui tafsiran atau refleksi atas dialog yang ditindas[43]. Madzhab Frankrut (sebagaimana fenomenologi dan hermeneutik). Hal ini dapat terjadi. yang dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan dewasa ini. dalam rasio mengandung dua segi. melainkan dihasilkan oleh proses komunikasi intersubjektif untuk saling memahami[45] Sebagaimana dikemukakan pada paragrap terdahulu. Pertautan antara pengetahuan dan kepentingan tersebut. Dengan pernyataan ini. untuk mencapai otonomi dan tanggung jawab kedewasaan (atau menurut Habermas disebut dengan istilah konsensus bebas-paksaan). seorang kritikus masyarakat ingin menguasai objek yang dikritiknya.[44] Kritik yang dilakukan oleh Habermas.

yakni dengan tidak melepaskan pengandaian dasar Marx bahwa praxis adalah kerja. sebagai addresat dari teori kritisnya. Oleh karena itulah. dan mencoba mempertautkan teori dengan praxis. Budi Hardiman. Hal ini terutama disebabkan karena konsep rasionalitas yang dipergunakan oleh generasi pertama dari madzhab Frankfrut ini adalah rasionalitas dalam perspektif pencerahan.kritisnya. mengalamatkan teori kritisnya pada kelompok cendikiawan dan mahasiswa. sejauh mereka berada dibawah kekuasaan dan dogmatisme. Menurut Habermas. tercapailah apa yang oleh Habermas disebut “proses pencerahan”. Pemunculan rasio manusia yang memihak pada pada kepentingan emansipatoris ini tidak dapat dilepaskan dari kritik Habermas terhadap kemandegan perkembangan teori kritis pada generasi pertama madzhab Frankfrut. teori Marxis ortodoks misalnya. karena mereka sadar tidak dapat lagi menaruh harapan pada kaum ploretar. yang pada dasarnya adalan proses emansipatoris. diarahkan pada kelompok sasarannya. Dengan demikian meskipun generasi pertama ini bermaksud meninggalkan marxisme ortodoks. akan tetapi mereka tetap setia pada dialektika meterialis Marx (meskipun kemudian telah dirubah wujudnya menjadi dialektika terbuka). meskipun generasi pertama dari madzhab ini telah melakukan kritik terhadap positivisme. Manakala kelompok sasaran itu menyadari dirinya dalam teori itu. Untuk itulah Jürgen Habermas berupaya melengkapi teori kritis. khususnya rasio yang memiliki kepentingan emansipatoris. yang menjadi alamat bagi teori itu. setiap praxis emansipatoris selalu menghasilkan perbudakan baru. Menurut F. Hebermas mengemukakan rasio yang memiliki kepentingan emansipatoris. Dengan terminologi yang demikian. yaitu rasio manusia. untuk mendorong proses refleksi diri atas kepentingan anggota kelompok itu. para pendahulu Habermas. Dalam perspektif ini. untuk menjadi teori yang emansipatoris. Rasionalitas instrumental dan rasionalitas teknologis mewujudkan dirinya dalam kerja sosial. maka menurut Habermas kelompok sasaran dari teori kritis ini bisa siapa saja. akan tetapi generasi ini menghadapi jalan buntu. yaitu sistem teknologis dan sistem ekonomi masyarakat modern. adalah penetapan pelaku praxis. dan mengalamatkan teorinya pada sesuatu yang sangat umum. yang mendapat tambatan filosofis dan teoretisnya pada teori marxisme (ortodoks). Inilah yang kemudian oleh Habermas disebut dengan “paradigma kerja” (praxis dalam pengertian Marxian). Habermas pun meninggalkan ploretar. Dengan tetap berpegang pada pengandaian dasar ini. Dalam konteks untuk mengatasi kebuntuan itulah. dari berbagai bentuk ideologi dan . bahkan Marcuse mengalamatkannya pada the great refusal. meletakan kaum proletariat sebagai “jantung hati revolusi”. karena emansipasi berarti penguasa baru. pada dasarnya semua teori kritis telah menetapkan siapa yang menjadi subjek praxis-nya. Suatu teori yang dihasilkan oleh rasio yang memihak. rasionalitas disamakan dengan penguasaan atas alam.

serta psikoanalisis dari Freud dan materialiems historis dari Karl Marx. bahkan menggantungkan rasio murni pada rasio praktis. Dalam arti inilah perjuangan kelas dalam pandangan klasik diganti oleh Habermas dengan “perbincangan rasional”.dogmatisme. untuk mencapai konsensus. Fitche berdasarkan idealisme praktisnya berupaya mengatasi jurang antara rasio murni dan rasio praktis. dan kehendak inilah yang memunculkan pemikiran pada rasio murni. Dengan kata lain. Habermas mendasarkan pada pendapat Fitche tentang kemungkinan adanya persatuan antara pengetahuan dan kepentingan melalui refleksi diri. Menurut Fitche. dimana refleksi diri kemudian ditempatkan dalam proses pembentukan diri dari rasio atau sejarah rasio. Sebagai bagian dari upayanya untuk mempertautkan pengetahuan dan kepentingan (teori dan praxis). Bagi Fitche.[46] dengan lebih mengutamakan tindakan. melainkan juga dihasilkan dari alam (hal-hal lain di luar dirinya). rasio adalah kesadaran yang tidak hanya dihasilkan oleh kehendaknya sendiri (kebebasannya). dan seluruh kepentingan pengetahuan berlandasarkan kepentingan akan dirik kita sendiri. untuk membina suasana saling memahami demi pencapaian konsensus. Menurut pandangan Habermas. sehingga rasionya tidak dikendalikan oleh unsur-unsur diluar dirinya. Untuk menyingkirkan kungkungan dogmatisme inilah. sebagaimana idealisme Hegel. melekat satu kehendak untuk membebaskan diri. yang dibangun dengan melakukan refleksi terhadap pendapat Hegel dan Fitche. maupun diantara kelompok sasaran dan kelompok lain. Dalam rasio praktis. Bagi Fitche rasio adalah sesuatu yang bertindak. semua pengetahuan secara hakiki. Semua pengetahuan didorong oleh kepentingan emansipatoris. orang harus pertamatama mempergunakan kepentingan rasionya sebagai miliknya sendiri. baik dalam kelompok sasaran itu sendiri (sebagai sebuah bentuk pemahaman diri). Rasio tidak sepenuhnya merdeka. Habermas mengusulkan refleksi diri sebagai metodenya. yang termanifestasi dengan adanya kekurangan moral dan ketidakmampuan teoretis. lalu diartikan sebagai usaha untuk menciptakan situasi saling berargumentasi secara dialogal dan komunikatif. Untuk memberi isi pada kerangka epsitemologi yang telah dibangun oleh Adorno dan Horkheimer. dan tindakan rasio adalah tindakan yang direfeksikan kembali ke dalam rasio itu sendiri. Perjuangan kelas. akan tetapi berada di dalam kungkungan dogmatisme (kesadaran yang tidak direfleksikan atau keasadaran yang tidak disadari). Fitche lebih mengutamakan rasio praktis. Argumetasi itu dilaksanakan. secara konkrit kegiatan berteori itu terlaksana dalam bentuk argumentasi rasional yang bersifat dialogis. . mengandaikan kebutuhan akan pembebasan yang memungkinkan manusia mencapai otonomi dan tanggung jawab. diantara para pihak.

maupun sikap dogmatis yang menjadi habit dalam bentuk kehidupan yang dihayati. bukan dalam perkembangan . Dogmatisme adalah bentuk ideologi. relfeksi diri menjadi tindakan emansipatoris dalam masyarakat. oleh Habermas diletakan dalam proses pembentukan diri dari rasio atau sejarah rasio. sebagai ego. Karena dalam refleksi diri. Agar tidak terjebak dalam idealisme semata. maupun dalam bentuk kehidupan individu dan sosial.Tindakan rasio yang menyebabkan ego dapat membebaskan diri dari dogmatisme atau kesadaran palsu inilah yang oleh Habermas disebut refleksi diri. Selanjutnya idealisme praktis dari fitche tersebut. Dalam kegiatan refleksi diri ini. sebagaimana idealisme Hegel. Hegel. yaitu kesadaran empiris sehari-hari. Dalam gerak emansipatoris ini pun. bentuk kesadaran palsu itu muncul. dengan refleksi fenomenologisnya. rasio langsung menjadi praktis. Dalam refleksi diri. maka dalam kegiatan refleksi. tidak hanya memiliki kesadaran baru tentang diri kita sendiri. baik pandangan yang keliru tentang sesuatu. merupakan kegiatan rasio dan kepentingan emansipatoris. dalam konteks materialisme adalah kritik ideologi. yang bergerak secara evolutif dari bentuk kesadaran elementer. adalah kekuatan produksi dan hubungan produksi. terjadi kombinasi antara rasio dan kepentingan. rasio didorong oleh kepentingan emansipatoris untuk menghancurkan. sehingga dicapai tahap baru dalam proses pembentukan diri. kesadaran dan tindakan emansipatoris menyatu. Dalam pandangan Marx. melainkan juga bahwa kesadaran baru itu mengubah hidup eksistensi kita sendiri. rasio — pada setiap tahapnya —dapat menghancurkan dogmatisme yang terwujud. Melalu cara ini. ego menjadi transparan terhadap dirinya sendiri dan terhadap asal-usul kesadarannya itu. Di sini proses pembentukan diri ditentukan oleh kondisi alamiah yang bersifat empiris dan berubah-ubah. dalam konteks idealisme Hegel. sekaligus untuk membongkar kesadaran palsu dan bentuk kehidupan yang menindas. kondisi yang mempengaruhi proses pembentuk diri itu. Refleksi diri. kita. Tindakan mengubah hidup itulah yang disebut dengan emansipatoris. Hal inilah yang kemudian menyebabkan. menempatkan proses pembentukan diri dalam sejarah produksi dalam masyarakat. maka Habermas memasukan penafsiran metarialistik dari Marx. Sebagaimana dikemukakan oleh Habermas. atau kerja dan interaksi. Dalam refleksi diri. sampai pengetahuan absolut. baik dalam pandangan hidup. dan rasio adalah kritik ideologi itu sendiri. tampak pada kesadaran sosial yang baru dan penataan masyarakat yang baru. refleksi diri dan kepentingan emansipatoris memperoleh panfsiran idealistis sebagai aktivitas rasio belaka. Tahap baru ini. Perjuangan kelas dan revolusi proletariat. menempatkan kegiatan refleksi diri dalam konteks proses pembentukan diri dari rasio. Terjadinya perkembangan kesadaran ke tahap yang lebih tinggi terjadi karena dalam refleksi diri. Menurut Marx yang memiliki pandangan materialistis tentang pengetahuan.

Dengan demikian. Di sini penulis teks dipandang mengetahui dirinya dan secara sadar mengungkapkan struktur . Menurut Habermas. yang dapat menyatukan kepentingan teknis dan kepentingan praktis dalam satu kerangka kerja yang disebutnya kepentingan emansipatoris. Secara antropologis. merupakan bentuk tertentu dari kepentingan dasariah dari rasio. sebagai makhluk sosial dan individual. yang mengembangkan suatu kerangka kerja interpretatif. Dalam arti inilah. Habermas mencari tambatan konsepsionalnya pada psikoanalisis dari Freud. kedua kepentingan itu ingin merealisasikan komunikasi bebas penguasaan dan penguasaan teknis atas alam. Dalam membangun kerangka kerjanya ini. dengan metode yang kemudian disebutnya psikoanalisis. maka perlu dicari kerangka metodologis. yaitu teks-teks yang memuat ingataningatan subjektif tentang sejarah hidupnya dalam kondisi normal. yaitu: kerja dan komunikasi. Dengan konsep materialisme Marx ini. Freud membangun sebuah model penafsiran yang berbeda dengan hermenuetika. Dengan kata lain. kepentingan kognitif ini timbul dari desakan untuk mempertahankan hidup. Uraian diatas menunjukan bagaimana dasardasar konsepsional Habermas tentang teori pengetahuan (cara membentuk pengetahuan). Tahap teori pengetahuan itu. untuk meneliti perkembangan hidup psikis seorang individu (meneliti proses pembentukan diri individu). yaitu kepentingan emansipatoris. keduanya ingin membebaskan manusia dari kendala alam (kerja) dan kendala sosial (interaksi sosial). dan kritik ideologi Karl Marx. Itulah yang oleh Habermas disebut. Freud adalah seorang psikolog. yang oleh Habermas dapat dibedakan menjadi dua. dan kritik ideologi dari Karl Marx. kepentingan emansipatoris yang membimbing refleksi juga membimbing juga terwujud dalam praxis sosial. dapat dikatakan. Menurut Habermas untuk dapat merealisasi tujuan dari teori kritis. terhadap tahap teori pengetahuan. melainkan dalam perkembangan alat produksi dan perjuangan kelas. Maka dari itu kepentingan emansipatoris bertujuan untuk mewujudkan syarat interaksi simbolis dan tindakan instrumental yang mungkin. Dengan merealisasikan tindakan komunikati dan tindakan instrumental. yaitu memudahkan proses refleksi diri secara metodis dan menghancurkan segala kendala proses pembentukan diri manusia. kepentingan teknis dan kepentingan praktis.rasio absolut Hegelian. kepentingan emansipatoris dari rasio. sebagai upaya untuk melakukan kritik radikal (refleksi diri metodis). refleksi diri mendapat sifat empirisnya dalam konteks masyarakat sehari-hari. Dasar-dasar konsepsional kerangka kerja emansipatoris tersebut dapat dilihat dalam psikoanalisi-nya Freud. Untuk melakukan ini. bila hermeneutika menghadapi teks-teks normal. kemudian oleh Habermas dilanjutkan dengan tahap metodelogis.

Sebagai hermeneutika dalam memusatkan diri pada subjek yang menipu dirinya sendiri tentang dirinya sendiri. Struktur simbolis yang diungkapkan sejak awal telah terdistorsi (oleh penyakit) dari maksud sesungguhnya. pembatasan dalam komunikasi biasanya muncul karena adanya hubungan kekuasaan. Dengan adanya unsur tak sadar dan terselubung itu. yang justru tidak dicurigai oleh hermeneutika biasa. diperlukan seorang penafsir yang mengajarkan subjek untuk dapat memahami bahasanya sendiri. Oleh karena itulah hermeneutika dalam berupaya menerjemahkan teks tersebut sampai dapat dipahami baik oleh lain. Untuk mengatasi komunikasi yang terganggu ini. merekonstruksi hal-hal yang dilupakan (karena direpresi). dan menembus sampai ke asal usul kejadian teks tetsebut. Metode ini menurut Habermas disebut dengan “hermeneutika dalam”. Karena distorsi struktur simbolik mengandaikan adanya hambatan psikis yang terbentuk pada masa lampau subjek. karena berbagai faktor. misalnya konteks sejarah si penafsir sendiri. menurut Habermas. yaitu analisis bahasa dan penelitian psikologis. hingga menemukan motif tak sadar dari subjek. ke dalam bahasa publik atau language game sehari-hari. Hal yang berbeda dihadapi oleh psikoanalisis. penafsir. psikoanalisis melampaui hermeneutik biasa. Dalam psikoanalisis dua metode digabungan menjadi satu. Dalam hal ini tafsir terhadap teks harus masuk ke balik isi teks yang diungkapkan untuk menangkap maksud tersembunyi di balik ungkapan teks. dengan perkataan lain hermeneutika dalam menerjemahkan ketidaksadaran menjadi keasadaran. atau subjek yang mengalami gangguan internal (simtom neurotis). Psikoanalisis bermaksud menembus makna simbolis yang ada dipermukaan. maka ia akan mengendap dan terus beroperasi ada level psikologis dari pihak yang berkomunikasi. menjadi asing bagi orang lain dan oleh subjek sendiri tidak dimengerti. Proses untuk dapat melampaui pemahaman makna inilah yang oleh Habermas disebut releksi diri. Dengan demikian jika hermeneutik menghadapi language game yang berfungsi baik. psikoanalisis menghadapi language game yang telah menjadi kacau. karena yang dihadapi adalah teks yang mencurigakan dari segi internal si penulis. maka penerjemahannya dilakukan dengan mengangkat proses pembentukan diri subjek itu kedalam kesadarannya. Di sini tafsir menjadi sebuah proses refleksi diri yang bertolak dari teks. Jika pembatasan ini tidak mempengaruhi level inter-subjektif yang nampak. Dalam konteks sosial. maupun subjek sendiri. Dalam refleksi diri ini. lalu mengajarkannya bagaimana menerjemahkan struktur simbolik privat tersebut. sementara subjek mengingat peristiwa . Teks hidup dari language game sehari-hari (kata-kata dan tindakan). melainkan juga makna distorsi itu sendiri. Tafsir tiak hanya berusaha memahami teks yang telah terdistorsi secara psikis.simbolis dalam teks tersebut. Seorang penafsir lalu berupaya memahami teks tersebut “dari dalam” untuk memahami apa yang dimaksud oleh teks tersebut. Penafsir mengajarnya untuk membaca teks yang telah didistorsikannya sendiri. Makna struktur simbolik itu dipelajari dengan kecurigaan hanya terhadap intervensi tak sadar dari kondisi eksternal.

Menurut Habermas. yang kemudian — melalui komunikasi yang terjadi secara terus menerus. dibawah naungan paradigma kerja. Freud. Melalui proses yang demikian maka terlihatlah sebagai sebuah refleksi menyatukan pengetahuan dan kepentingan. masyarakat real tempat manusia hidup bukanlah masyarakat tanpa represi.berkembang menjadi pengetahuan “baginya” (yaitu bagi subjek). sehingga komunikasi berubah menjadi pencerahan —. Freud mendasarkan pada interaksi. Pranata sosial menukarkan kekuasaan eksternal dengan tekanan internal yang permanen.hidupnya dalam terang rekonstruksi tersebut. akan tetapi produktif. Untuk melengkapi kerangka konsepsional metodologisnya ini. mulai dari rekonstruksi dan berakhir dengan ingatan kembali subjek akan kesadarannya. Keadaan patologis. Seorang individu dianggap berada dalam keadaan patologis jika ia menyimpang dari model komunikasi dan interaksi dalam konteks masyarakatnya. padahal masyarakat itu sendiri dapat saja dipandang sebagai masyarakat yang patologis. sesungguhnya terjadi hanya jika keadaan individu itu dibandingakan dengan suatu model komunikasi ideal yang terjadi dalam masyarakat yang tidak bersifat represif. Berbeda denga Marx. memahami pranata kekuasaan dan ideologinya sebagai tindakan komuniaktif yang terdistorsi. Pengetahuan yang diperoleh melalui paradigma kerja ini bukan lagi pengetahuan refleksi. Dalam hal ini penafsir. menjadi relatif tidak mudah untuk menarik garis batas yang tegas bagi individu untuk dinilai normal atai abnormal. aktivitas revolusioner tersebut haruslah dipahami dalam konteks tindakan komunikatif. subjek di dorong oleh kepentingan emansipatorisnya untuk menjadi sadar. dan sebaliknya penafsir didorong kepentingan untuk membebaskan subjek dari ketidaksadarannya. yang memusatkan diri pada kerja sosial sebagai dasar alamiah dari sejarah. dalam katagori dorongan naluriah yang . Kekurangan inilah yang dapat diatasi dengan memasukan psikoalisis dari Freud. dan menetapkan dasar alamiah dari sejarah adalah penataan fisik atas tindakan komunikatif. jika dibandingkan dengan masyarakat dari kebudayaan lain. disertai rekonstruksi dan rekoleksi[47] kedua belah pihak. yang menghasilkan komunikasi yang terdistorsi. Menurut Habermas. Dengan demikian perkembangan masyarakat dilihat dalam kerangka acuan komunikasi. Pengintgrasian materailisme sejarah ini didasarkan pada keadaan bahwa alat kalibrasi yang dapat digunakan untuk mengukur kesadaran subjek (normalitas subjek). Habermas lalu mengintegrasikan psikoanalisis Freud tersebut ke dalam meterialisme sejarah Marx. dan untuk menyempurnakan kelemahan dari teori Marx. Dalam keadaan sehari-hari. Karena normalitas pada dasarnya hanyalah suatu perbandingan dengan kerangka institusional atau masyarakat. menurut Habermas. karena melalui proses tersebut. agar bisa diterapkan dalam realitas sosial. Menurut Habermas kegagalan Marx untuk menghasilkan ilmu sebagai kritik. Menurut Habermas. karena marx memahami aktivitas revolusioner yang mendorong proses pembentukan diri itu dalam konteks tindakan rasional bertujuan. hal ini dilakukan melalui proses pembentukan pengetahuan “bagi kita”.

Dengan demikian kegiatan revolusioner (atau proses refleksi diri) dalam materialisme sejarah. Penutup Bebas nilai merupakan salah satu tema yang terus diperdebatkan dalam filsafat ilmu. Gugatan-gugatan terhadap eksistensi madzhab positivisme pun mulai terdengar dari para pemikir yang berasal madzhab Frankfurt (yang kemudian lebih dikenal sebagai pemikiran dari aliran ilmu-ilmu kritis/ teori kritis) yang mengehendaki agar teori tidak dipisahkan dari praxis seharihari. pada akhirnya tidak dapat secara terus menerus mempertahankan hegemoninya.berlebihan dan penyalurannya. melainkan perkembangan pranata yang dapat mengatasi konflik internalnya dengan dorongan alamiah yang berlebihan dan kendala penyalurannya dalam kenyataan. berupaya membangun pemurnian ilmu pengetahuan melalui proses kontemplasi bebas-kepentingan (sikap teoritis murni). terdapat hubungan yang erat antara teori dan praxis (mempertautkan pengetahuan dan kepentingan). harus dapat menciptakan masyarakat yang berinteraksi dalam komunkasi bebas penguasaan. dengan munculnya kajian-kajian dari perspektif filsafat yang mendasarkan dirinya pada rasionalitas dan empirisme. diberi makna yang baru yaitu dalam konteks interaksi atau komunikasi. . dengan cara memisahkan secara tegas antara teori dengan praxis (pengetahuan dengan kepentingan). Oleh karena itulah ilmu menurut Habermas. suatu penataan hubungan-hubungan sosial menurut prisnisp bahwa kesahihan setiap norma konsekuensi politis yang dibuat tergantung pada konsensus yang divapai dalam komunikasi bebas dari kekuasaan. Dengan demikian yang utama ingin diusahakan manusia dalam sejarah bukanlah penataan kerja. Adapun yang menjadi tujuan utama dari teori kritis ini. Pranata yang tercipta adalah pranata interaksi atau tindakan komunikatif. Bila diawal perkembangannya. menurut Habermas adalah menyediakan dasar rasional untuk aturan-aturan kebudayaan. Madzhab positvistk yang dipandang sebagai motor penggerak gerakan baru ini. Perkembangan madzhab positivisme ini. Dengan perkataan lain. Proses demikian yang kemudian menyebabkan proses rfeleksi diri akan dapat membebaskan manusia dalam realitas sosial yang repersif. paham ini kemudian secara perlahan mulai tergeser.

http://www. Chariri.132/ search?. Semarang : Fakultas Ekonomi UNDIP.. Yogyarakta : Penerbit Kanisius. dan Ontologis. http://74. Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. NILAINISASI ILMU (Sebuah Upaya Integrasi Ilmu dalam Pembelajaran Sekolah di Era Globalisasi. Ninuk KledenProbonegoro (ed. Jakarta: Pustaka Alhusna. A . 2003.uinsuska. Howard.info. 2009 __________________.). Budiman. Oktober 2008 Hamersma. 2000. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Harry. 1992. 2009. Yogyarakta : Penerbit Kanisius. Wacana Analitik. Anis. Psikososial. Roy J. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Hardiman. Hanafi. Pengantar atas Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika.125. __________________. Critical Theory. 2003. Bandung: Nuansa.). __________________. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat.Daftar Pustaka Amril M.153. Demokrasi Deliberatif : Menimbang “Negara Hukum” dan “Ruang Publik” dalam Teori Diskursus Jürgen Habermas . Yogyarakta : Penerbit Kanisius. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. F. . 1981. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia.

Yogyakarta: Kanisius.Kattsoff. http://jaringskripsi. Henry. Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta: U. van Peursen. I Bambang. Franz Magnis. Syekhuddin. Susunan Ilmu Pengetahuan. Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. Asmin (ed. Indonesia. Cornelis Anthonie. 2000.. Salam. Sugiharto. 2000. Majalah Basis. wordpress. Yudian W. 1987. dari Adam Müller ke Postmodernisme. 1996. Louis O. Jakarta: Rineka Cipta. Ilmu dan Teknologi sebagai Kerangka Budaya Modern. W.. Pijar-Pijar Filsafat : Dari Gotholoco ke Filsafat Perempuan . Yogyakarta: Tiara Wacana. alih bahasa Soejono Soemargono. 1984.Y. .P. Jakarta: Gramedia. 2005. Wartaya. 1995. Prawirohardjo. Burhanuddin. Pengantar Filsafat. Rasionalisme dan Empirisme).). Sejarah Filsafat.com/2009/09/22/filsafat-modern-danpembentukannya renaisans-rasionalisme-dan-empiris me/22 September 2009 van Laer.. Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. Filsafat Modern Dan Pembentukannya (Renaisans. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Pengamatan Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 1985. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Soeroso H. Suseno. Agustus.

125. Budiman Hardiman. 2009. 21-22.Y. Budiman Hardiman. Majalah Basis. dengan sekelompok cendikiawan yang kemudian dikenal dengan sebutan Madzhab Frankrut. dalam Karim. Critical Theory. Yogyarakta : Penerbit Kanisius.). [1] F. [4] F. Yogyakarta : Tiara Wacana. Cit.132/ search?. pada awal abad ini antara dua filosof Neo-Kantinian. 27-28. Budiman Hardiman. [3] Perdebatan antara madzhab postivistik dengan madzhab Frankfurt dinamakan Methodesterit (perbantahan mengenai metode). Wartaya. 22 dan 28. Tahun 1880 perbantahan terjadi antara ahli ekonomi C. 1992. Cit. Windelband dan Rickert. hal 15 [6] F. Pokok perselisihan ini dipertegan lagi dalam perdebatan antara Karl Popper. 2009. Perdebatan terakhir ini lebih dikenal dengan sebutan Possitivismusstreit (pembantahan mengenai positivisme). Budiman Hardiman. Lihat lebih Lanjut F. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Loc. & Ridjal Fauzi (Ed. Menger dan Schmoller. Ilmu dan Teknologi sebagai Kerangka Budaya Modern. Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan. Op. http://74. Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. Yogyarakta : Penerbit Kanisius. [5] Doxa adalah keyakinan yang diterima secara universal yang menstimulasi tindakan & pemikiran agen dalam arena sosial tertentu. hal. Agustus. 1987. .153. dan tahun 1909 serta 1914 antara sosiolog Max Webber dan Sombart. Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan. Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. Koento.Wibisono. Hal. hal. hal. Semarang : Fakultas Ekonomi UNDIP. [2] W. 308. Rusli. Lihat lebih lanjut Anis Chariri. M.

[10] Yang dimaksud disini adalah penyesuaian pikiran dengan fakta. sehingga ciri pemikiran filsafat pada zaman ini disebut kosmosentris. Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. [11] F. Budiman Hardiman.com/2009/09/22/filsafat-moderndan-pembentukannya renaisans-rasionalisme-dan-empiris me/22 September 2009 [8] F.[7] Ciri yang menonjol dari filsafat Yunani kuno adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. 54-55. Hal 24-25 [9] Harry Hamersma. 104. hal. Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan.Cit. hal. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Filsafat Modern Dan Pembentukannya (Renaisans. wordpress. Cit. Rasionalisme dan Empirisme). Yogyakarta : Tiara Wacana. hal 23. & Ridjal Fauzi (Ed. Positivisme. 22. [13] F. [12] KoentoWibisono. hal. 1992. dan juga empirisme. . http://jaringskripsi. memilki anggapan dasar bahwa subjektivitas atas kebenaran adalah korespondensi antara pengetahuan dan akta indrawi. Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan. Budiman Hardiman. Para filosof pada masa ini mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya. Budiman Hardiman. 142. Jakarta: Gramedia. Op. Op. Rusli. M. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern.). [14] Ibid. hal. dalam Karim. Ibid. Lihat lebih lanjut Syekhuddin. maka keduanya menganut the copy theory of truth atau the correspondence theory of truth. 1992. Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas.

9-10. hal. hlm. [16] Roy J. 2005. Jakarta: Gramedia. Psikososial. 82. hal. 2000. hal.). Wacana Analitik. 51. [17] A. Pengantar Filsafat. [22] I. Pijar-Pijar Filsafat : Dari Gotholoco ke Filsafat Perempuan .). Ninuk KledenProbonegoro (ed. dari Adam Müller ke Postmodernisme. Bambang Sugiharto.[15] Soeroso H. [20] Burhanuddin Salam. 12 . [21] Henry van Laer. 2000. hal. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Indonesia. Pengantar atas Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika. 1996. (Bandung: Nuansa. 65 [18] Louis O. Sejarah Filsafat. hlm. 1985. Jakarta: Rineka Cipta. 133. Jakarta: Pustaka Alhusna. Susunan Ilmu Pengetahuan. 193. Asmin (ed. Prawirohardjo. alih bahasa Soejono Soemargono. Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. 126-127. Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. dan Ontologis. Yogyakarta: Kanisius. hal. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Pengamatan Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Yogyakarta: U. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat.P. 1995. 116 [19] Cornelis Anthonie van Peursen. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2000). Hanafi. 1981. Ilmu dan Teknologi. [23] Franz Magnis Susesno. Howard. hal. Yudian W. Kattsoff. hal. 1984).

52. Lihat lebih lanjut F. Aliran ini sampai pada keyakinan. dengan memerlihatkan the condition o possiblility dari pikiran manusia. Dengan adanya batas-batas kemampun pemikiran itu. kebebasan. kenyataan tertinggi (objek). hal. aliran rasionalisme. yaitu apa yang kemudian disebut oleh Kant dengan istilah das Ding an sich (kenyataan pada dirinya).Y Wartaya. Terlebih-lebih lagi dalam objek kajian formal dimana menjadikan ilmu semakin terpilah dan terisolasi jauh dari ilmu lainnya sehingga sangat tidak memungkinkan adanya ketersentuhan antara satu objek kajian untuk memberikan kontribusi penyempurnaan oleh ilmu tertentu terhadap ilmu lainnya yang juga . dan oleh karenanya tidaklah mungkin dapat melampaui hal-hal yang bersifat transendental (sesuatu yang berada dibalik tabir kenyataan indrawi). bahwa lebih sahihlah menyelidiki kondisi pikiran-pikiran manusia sendiri (subjek). dan seriusnya. kebenaran. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. [27] Melalui slogannya cogito ergo sum. Cit. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Loc. objek dalam positivisme ini adalah objek indrawi. dibentuk antara lain oleh pikiran mereka sendiri.[24] Menurut Tom Sorrel. saintisme adalah suatu keperrcayaan bahwa sains adalah satu-satunya proses belajar manusia yang paling bernilai. . hal. [28] Berbeda dengan objek ilmu pengetahuan di abad pertengahan. Op. Budiman Hardiman.. [26] W. [25] Ibid. karena sifat kegunaan . 174. Pendapat yang demikian diradikalkan oleh Immanule Kant. autorotaif. Tatanan dunia objektif yang mereka yakini dan mereka pikirkan. menjadikan pengembangan ilmu pengetahuan bersifat atomistik. spesifik dan rigid. Lihat F. ditemukan pada kenyataan indrawi yang terlihat dan terjamah. sedemikian rupa akan sangat sukar terjadinya penyapaan antar ilmu sekalipun dalam objek kajian material yang sama. mengakui subjek yang mampu membentuk realtitas dengan penafsirannya. daripada memperdebatkan tak habishabisnya masalah ada tidaknya Allah. Op. Cit. [29] Apa yang dihasilkan oleh peradaban modern dan variannya yang ditopang oleh pemikiran positivisme seperti di atas. Budiman Hardiman. bukan objek spekulatif. Cit.

Lihat lebih lanjut F. Op.memiliki objek kajian yang sama. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Cit. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Hal ini terutama disebabkan. masih dipergunakannya konsep teori murni yang mengandung konsep ontologi di dalamnya. [33] Madzhab Frankfurt. 54. Op. hal.info [30] F. Budiman Hardiman. dengan teori kritisnya. [34] Jürgen Habermas adalah generasi kedua dari Madzhab Frankfurt. karena positivisme yang berupaya mengilmiahkan (merasionalisasikan) masyarakat dan kehidupannya.).uinsuska. Op. yang disertai dengan fragmentasi dan instrumentalisasi pengetahuan. hal. 53. 5051. Cit. http://www. Cit. [31] Krisis ini lebih menyangkut menyempitnya pengetahuan sebagai akibat reduksi-reduksi metodologis yang ditawarkan dan dipraktikan oleh madzhab postivisme. pada gilirannya jutsru mempermiskin dan mengosongkan makna kehidupan manusia. Generasi pertama dari madzhab ini didukung antara lain oleh Theodor W. Lihat lebih lanjut F. NILAINISASI ILMU (Sebuah Upaya Integrasi Ilmu dalam Pembelajaran Sekolah di Era Globalisasi. yang ternyata menurut Habermas belum dapat melepaskan spenuhnya dari kungkungan positisvisme dan mengalami kemandegan dalam melakukan kritik terhadap postivisme. Lihat lebih lanjut Amril M. dapat dipandang sebagai salah satu pengkritik positivisme. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Adorno. [32] Krisis kemanusiaan terjadi. selain fenomenologi dan hermeneutik. Hockheimer. Totalitas saintisme memecah belah manusia sampai pada akar-akar integrasinya. Budiman Hardiman. Budiman Hardiman. sampai akhirnya menginstrumentalisasikan manusia. hal. yang mencoba mengembalikan kedudukan (peranan) subjek pengetahuan yang sanggup menafsirkan objeknya. .

hal. . Sebalikanya dalam dialektika terbuka. Budiman Hardiman. [40] Franz Magnis Susesno. ilmu-ilmu historis-hermeneutis (ilmuilmu sosial-kemanusiaan) dan ilmu kritis. 31 [39] Habermas membedakan ilmu pengetahuan dalam tiga kelompok besar. [36] Dialektika terbuka ini dilawankan dengan apa yang mereka sebut “pemikiran identitas”. jika “a” benar. Masyarakat. didasarkan asumsi. 157. “c”. Hal ini mendasarkan cara berpikir identitas. [43] F. dan dengan demikian fakta tetap teguh dan tidak berubah. melainkan “b”.[35] Urain pada paragraph-paragarp selanjutnya tentang kritik Madzhab Frankfrut ini daimbil dari F. Yogyarakta : Penerbit Kanisius. 30. maka suatu identitas antara subjek dan objek tidak tercipta di masa kini melainkan di masa depan. maka “non-a” pasti salah. hal. yaitu a = a atau a ≠ non-a. hal.Cit. 2009. Cit. Op. Budiman Hardiman. yaitu ilmu-ilmu empiris analitis (ilmu-ilmu alam). [38] Ibid.Cit. 36-37. [41] Ibid. hal. Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. 60 – 81. Menuju Masyarakat Komunikatif : Ilmu. kontradiksi “a” bukanlah “non-a”. Pijar-Pijar Filsafat : Dari Gotholoco ke Filsafat Perempuan . Op. atau “d” dan sebagainya. Politik dan Postmodernisme menurut Jürgen Habermas. Bagi teori yang mendasarkan pada pemikiran identitas. Politik dan Postmodernisme menurut Jürgen Habermas. Op. hal. Masyarakat. Pemikiran yang demikian hanya mencocokan dirinya dengan fakta. Budiman Hardiman. Teori kritis bermaksud mengubah fakta. Dengan cara ini fakta dicurigai dan tidak dibiarkan. [42] Ibid. dari Adam Müller ke Postmodernisme. [37] F. Menuju Masyarakat Komunikatif : Ilmu.

[44] F. Demokrasi Deliberatif : Menimbang “Negara Hukum” dan “Ruang Publik” dalam Teori Diskursus Jürgen Habermas . dan memahami objeknya tanpa dicampuri oleh kepentingan empiris apa pun. 27. [45] F. dengan tujuan untuk memperhatikan hal-hal surgawi) .Cit. Budiman Hardiman. Budiman Hardiman. Ini termasuk menarik diri untuk sementara waktu dari pemikiran dan hubungan dengan keduniawian. Rasio praktis merupakan kemampuan rasional untuk mengetahui apa yang seharusnya dilakukan. hal. disini faktor kehendak bebas memainkan peranan. Dalam pengertian kehidupan rohani. 69 [46] Menurut Immanuel Kant. Masyarakat. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. rekoleksi dapat berarti memperhatikan kehadiran Tuhan dalam jiwa kita. rasio murni adalah rasio yang menjalankan ilmu pengetahuan. Menuju Masyarakat Komunikatif : Ilmu. [47] Relokasi diartikan sebagai pendamaian kembali dengan diri sendiri terutama dengan sesama. Op. hal. Politik dan Postmodernisme menurut Jürgen Habermas.