P. 1
Makalah Klmpok 3 Limbah Padat

Makalah Klmpok 3 Limbah Padat

|Views: 334|Likes:
Published by Nur Asda

More info:

Published by: Nur Asda on Nov 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2014

pdf

text

original

Makalah Kelompok Mata Kuliah Kesehatan Lingkungan & Kesehatan Kerja Lanjut Dosen : dr. Hasanuddin Ishak, M.Sc.,Ph.

D

PENGELOLAAN LIMBAH PADAT

DISUSUN OLEH

NUR AFNI PONSENG NUR ASDA MUSTARING ASBUDI ANDI SANI SURATMAN

P1802212003 P1802212007 P1802212404 P1802212408 P1802212012

KONSENTRASI ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kecenderungan jumlah penduduk yang semakin meningkat dewasa ini diikuti aktivitas perkotaan yang makin berkembang menimbulkan dampak adanya kecenderungan buangan/limbah yang meningkat dan bervariasi. Limbah/buangan yang ditimbulkan dari aktivitas dan konsumsi masyarakat yang lebih dikenal sebagai limbah domestik telah menjadi permasalahan lingkungan yang harus ditangani oleh pemerintah dan masyarakat. Limbah domestik tersebut, utamanya limbah padat menjadi permasalahan lingkungan karena secara kuantitas maupun tingkat bahayanya dapat mengganggu kesehatan manusia, mencemari lingkungan, dan mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya.(Nur Afni)

Pengelolaan limbah padat perkotaan merupakan salah satu tantangan penyedia layanan yang paling penting yang dihadapi kota-kota di Afrika dan kota lainnya (Achankeng, 2003). Karena menurunnya perekonomian yang dialami Zimbabwe selama sepuluh tahun, antara tahun 2000 dan 2010, banyak tantangan yang menghalangi pengelolaan limbah padat perkotaan. Tantangan-tantangan ini termasuk ketidakmampuan kota untuk memasok air bersih bagi penduduk, ketidakmampuan untuk membuang dan mengelola limbah mulai dari pelayanan dalam kegiatan pemisahan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan yang aman. Berbagai permasalahan dalam pengelolaan sampah tersebut tentu saja memerlukan penanganan yang serius karena pertumbuhan kota yang cepat secara langsung berimplikasi pada pembangunan infrastruktur dasar dan pelayanan publik. (Nur Afni) Terjadinya penumpukan sampah di sebabkan oleh beberapa hal, diantaranya pertambahan penduduk dan arus urbanisasi yang pesat menyebabkan timbulnya sampah pada perkotaan semakin tinggi kendaraan pengangkutan yang jumlah maupun kondisinya kurang memadai; system pengelolaan TPA yang kurang tepat dan tidak ramah lingkungan; serta belum diterapkannya pendekatan reduce, reuse, dan recycle.(Andi Sani)

Salah satu Negara seperti Afrika Selatan, kabupaten dan kotamadyanya

diharapkan

untuk saling melengkapi dalam menangani pengelolaan sampah, yaitu penghapusan sampah, menolak pembuangan dan pembuangan limbah padat. Survei yang dilakukan di Afrika Selatan mengungkapkan bahwa pembuangan limbah padat di sebagian besar tempat pembuangan tidak mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Limbah rumah sakit dan bahan bangunan berbahaya berserakan tanpa adanya pemisahan. Afrika Selatan memiliki sekitar 1.280 tempat pembuangan sampah, dan sebagian besar dimiliki dan dioperasikan oleh masing-masing kota dan terletak di sebuah lokasi seperti tambang yang telah ditinggalkan dan jurang. (Nur Asda) Limbah padat adalah issue global lain yang signifikan sebagai sumber penting dalam menghasilkan gas rumah kaca. Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari limbah padat, manajemen limbah padat secara konvensional harus dikonversi menjadi manajemen sumber daya dan membangun konstruksi baru hierarki manajemen limbah padat yang terintegrasi. Beberapa tahun terakhir, pemanasan global diarahkan pada peningkatan efek Gas Rumah kaca di atmosfir bumi dan itu menyebabkan perubahan secara global khususnya tentang iklim. Sekarang menjadi ancaman serius kepada ummat manusia. (Suratman) Dalam pengelolaan limbah padat di Indonesia diperlukan metode penanganan limbah yang tepat dan optimal untuk diterapkan agar limbah yang semakin meningkat kuantitasnya dapat tertangani dengan baik sehingga dampak negatif yang ditimbulkannya dapat diminimalkan. (Asbudi) B. FAKTA MASALAH

1. Emisi Gas Rumah Kaca dipengaruhi oleh proses manajemen limbah padat yang mana emisinya terhitung 3,6 % total emisi gas rumah kaca dunia per tahun. Pemanasan Global diarahkan pada peningkatan Gas Rumah Kaca yang mana mencakup penguapan air, CO2, CH4, dan nitrat oksida. (Suratman)

2. Penyebab langsung dari kerusakan pelayanan kota, termasuk ketidakteraturan pengumpulan sampah (Federasi Palang Merah & Bulan Sabit Merah, 2010)

mengakibatkan munculnya wabah kolera yang terjadi pada tahun 2008-2009 yang menginfeksi lebih dari 3.500 nyawa manusia di Zimbabwe. Berdasarkan survey yang telah dilakukan penduduk kota Chinhoyi menghasilkan limbah rata-rata 6.895 ton per tahun, dimana 47% adalah limbah yang mudah terurai (3.240 ton). Jumlah limbah yang dihasilkan per rumah tangga per hari adalah mencapai tiga kali lipat (0,8 kg) dari limbah di pinggiran kota Sakubva yang populasi penduduknya lebih banyak di banding Kota Chinhoyi yakni sebanyak 62.419 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di kota Chinhoyi belum berjalan dengan baik. Karena keterbatasan sumber daya keuangan, pemerintah kota tidak memiliki sumber daya manusia yang khusus menangani pengelolaan sampah. Selama ini, pengelolaan limbah di kota Chinhoyi melewati lima tahap mulai dari pemisahan limbah, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan limbah. Namun pelaksanaannya belum berjalan sesuai dengan kebijakan pemerintah setempat. Hal ini menunjukkan masalah limbah/sampah kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah kota Chinhoyi. Terbukti dengan menumpuknya sampah di depo-depo sampah atau pun di tempat sampah rumah tangga. Keadaan ini amat memprihatinkan, karena dengan penumpukkan sampah dapat mengakibatkan penyakit dan polusi. (Nur Afni) 3. Hanya 44% dari 1.280 tempat pembuangan sampah di Afrika Selatan diberi kuasa melalui izin pembuangan limbah padat, dan dari yang diizinkan, sesuai dengan kondisinya jarang diaudit dan sering tidak diketahui pengelolaannya, seharusnya setiap pembuangan sampah memliki izin operasional dan sesuai dengan standar Persyaratan Minimum pembuangan sampah oleh pemerintah Afrika Selatan. (Nur Asda) 4. Permasalahan limbah padat di Indonesia, hanya sebagian kecil saja yang pengangkutannya sampai pada TPA. Hanya 40% sampah perkotaan yang diangkut oleh TPA (Andi Sani) 5. Salah satu limbah industri adalah limbah pabrik kelapa sawit (PKS). Limbah PKS semakin meningkat seiring dengan perkembangan industri kelapa sawit yang sedang terjadi sehingga kuantitas dan kualitas limbah padat yang dihasilkan juga semakin

meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan manajemen penanganan limbah padat industri yang terstandardisasi. (Asbudi)

C. PERTANYAN MASALAH Rumusan masalah dalam makalah ini adalah. 1. Limbah padat apa saja yang terdapat di Indonesia, Zimbabwe, dan Afrika Selatan? 2. Bagaimana dampak pengelolaan limbah padat terhadap Emisi rumah kaca? 3. Bagaimana pengelolaan limbah padat ditinjau dari aspek penyimpanan/ pewadahan dan pengumpulan? 4. Apa saja faktor penyebab dan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh pengelolaan limbah padat? 5. Bagamana konsep dan solusi dalam pengelolaan limbah padat di Indonesia, Zimbabwe, Afrika Selatan dan secara global?

D. TUJUAN Tujuan dalam penulisan ini adalah : 1. Untuk mengetahui limbah padat apa saja yang terdapat di Indonesia, Zimbabwe, dan Afrika Selatan 2. Untuk mengetahui dampak pengelolaan limbah padat terhadap Emisi rumah kaca 3. Untuk mengetahui pengelolaan limbah padat ditinjau dari aspek penyimpanan/ pewadahan dan pengumpulan 4. Untuk mengetahui faktor penyebab dan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh pengelolaan limbah padat 5. Untuk mengetahui konsep dan solusi dalam pengelolaan limbah padat di Indonesia, Zimbabwe, Afrika Selatan dan secara global

BAB II PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Jenis Limbah padat Organik dan Non organik di beberapa kota di dunia berdasarkan jurnal penelitian:

Tipe Sampah No Negara Organik Contoh Indonesia (Jakarta, 1. Makassar, Surabaya, Bandung) Limbah biomassa 2. Zimbabwe (Kota Chinhoyi) (potongan kayu, gulma) dan sisa makanan 3 Limbah makanan, 3. Afrika (Kota Alice) kompos dan Bangkai binatang 10 Limbah umum, limbah B3 Limbah elektronik, limbah bahan bangunan, Limbah spare part mobil, material pakaian dan kertas 90 47 Plastik, Logam, bahan kimia, kertas dan lainnya. 53 Daun-daun dan makanan 79,45 (%) Non Organik Contoh Kertas, Karton, plastik, logam, debu, karet, kaca dan tekstil 20,55 (%)

Ket: (Dari Jurnal Andi Sani, Nur Afni, dan Nur Asda) Dari beberapa jurnal yang dirangkum diketahui bahwa sampah organik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang bias terurai secara alamiah/biologis.(sampah dapur/sisa masakan, potongan kayu, potongan kecil kertas, sisa makanan, dsb). Sedangkan sampah non-organik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit

terurai secara biologis sehingga penghancurannya membutuhkan lebih lanjut (logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol, kaca).

penanganan

Dari tabel diatas didapatkan bahwa Di Indonesia, kota dengan komposisi sampah terbanyak berupa makanan berada pada kota Jakarta dengan jumlah presentasi 66.41 % dan kota dengan komposisi sampah terendah berupa makanan berada pada kota bandung dengan presentasi 63.55%, hal ini membuktikan bahwa semakin banyak jumlah penduduk pada suatu wilayah dihasilkan. (Andi Sani) Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa penghasil tertinggi limbah padat pada rumah tangga di kota Chinhoyi adalah limbah yang mudah terurai (47,1%) yang terdiri dari limbah biomassa dan sisa makanan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa setiap rumah tangga menghasilkan limbah rata-rata 2,7 kg perhari atau sama dengan 985,5 kg per tahun tiap rumah tangga.(Nur Afni) Limbah padat yang ada di kota Alice paling banyak adalah limbah kertas sebesar 25 % sedangkan jumlah limbah yang paling sedikit di TPA limbah padat Alice adalah Pakaian bekas atau material pakaian sebesar 3%. (Nur Asda) 2. Hubungan pengelolaan limbah padat berkaitan dengan Emisi gas rumah kaca di Cina (Suratman) Menurut hasil penelitian (data) bahwa dan limbah padat memberikan kontribusi sebesar 3,6 % sedangkan persentase teringgi yang memberikan sumbangsih terbesar terhadap emisi gas rumah kaca adalah dari “Electricity and Heat” sebesar 24,58 %, kemudian selanjutnya adalah “land use Change” sebesar 18,18 % maka semakin banyak pula jumlah sampah yang

Berikut ini disajikan data-data perbandingan emisi Gas Rumah Kaca dari Berbagai sector yang berbeda yang berhubungan dengan manajemen limbah.

3. Hasil Penelitian berkaitan dengan operasional Limbah Padat. (Nur Afni) Sistem Penyimpanan Sementara / Pewadahan Sampah yang ada dilokasi sumber (kantor, rumah tangga, hotel, dsb) di Kota Chinhoyi, Zimbabwe ditempatkan dalam tempat penyimpanan sementara, dalam hal ini tempat sampah. Dari tempat penyimpanan tersebut, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam dipo (rumah sampah). Dipo ini berbentuk bak besar yang digunakan untuk menampung sampah rumah tangga yang dikelola oleh pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pengumpulan dan pengangkutan ke tempat pembuangan sampah, 22% rumah tangga menggunakan tempat penyimpanan gandum/arang sebagai wadah penyimpanan limbah sementara, 26% menggunakan karung, 19% yang menggunakan kantong plastik, 25% yang membuang limbah ke lubang, dan 8% yang menggunakan wadah alternatif lain, seperti kotak dan ember plastik.

Sedangkan penyimpanan sementara limbah hasil bisnis dan industri yaitu menggunakan wadah plastik dan gudang, namun limbah seperti kertas biasanya di simpan secara terpisah dan dikumpulkan oleh sebuah perusahaan daur ulang limbah kertas. 4. Tahap Pengangkutan dan Pengumpulan Limbah Pengumpulan limbah padat kota Chinhoyi berada di bawah tanggung jawab Departemen Kesehatan Lingkungan. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah Kota, frekuensi pengumpulan sampah di wilayah pemukiman harus dilakukan sekali setiap minggu, sedangkan pada pusat kota dan tempat-tempat umum harus dilakukan setiap hari. Tempat pembuangan terletak sekitar 3 km dari kota, sehingga dalam pengangkutan sampah menuju tempat pembuangan, pemerintah menyediakan 3 kendaraan yaitu sebuah truk terbuka 7 ton dan dua trailer yang ditarik oleh traktor.

Hasil penelitian pada tabel 2 menunjukkan bahwa 26% responden menyatakan pemerintah kota tidak mengumpulkan limbah dari rumah-rumah

penduduk, 48% menyatakan pengumpulan limbah yang seharusnya dilakukan sekali seminggu ternyata dilakukan dua kali seminggu. Sisanya (18%) dari responden menyatakan pengumpulan limbah tidak menentu dan tidak konsisten. Dalam bisnis dan industri, limbah seharusnya dikumpulkan setiap hari, namun karena teterbatasan sumber daya, pengumpulan menjadi tidak menentu.

B. FAKTOR PENYEBAB DAN DAMPAK KESEHATAN Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara garis besar, kegiatan pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transport, pengolahan, dan pembuangan akhir. Ada beberapa faktor penyebab jika ditinjau dari manajemen / operasional limbah padat diantaranya: 1. Sistem Pewadahan dan Pengumpulan Limbah Padat Di Indonesia, pengumpulan limbah padat masih mengalami hambatan terutama pada pengumpulan sampah dimana dalam pengolahannya tidak dilakukan pemisahan baik sebelum atau selama pembuangan di rumah tangga maupun TPS. (Andi Sani)

2.

Sistem Pengangkutan Sistem pengangkutan sampah di Indonesia menggunakan alat pengangkut / truk banyak yang masih tidak tertutup sehingga menimbulkan bau dan sampah yang diangkut biasanya diterbangkan oleh angin. (Andi Sani)

Pengangkutan sampah yang juga ddilakukan di Kota Chinhoyi menunjukkan bahwa pemerintah kota tidak mengumpulkan limbah dari rumah-rumah penduduk, pengumpulan limbah yang seharusnya dilakukan sekali seminggu ternyata dilakukan dua kali seminggu. Selain itu, pengumpulan limbah tidak menentu dan tidak konsisten. Dalam bisnis dan industri, limbah seharusnya dikumpulkan setiap hari, namun karena keterbatasan sumber daya, pengumpulan menjadi tidak menentu. Hal ini berdasarkan hasil penelitian pengelolaan limbah di Kota Chinhoyi (Nur Afni)

3.

Pembuangan Akhir dan Pengolahan limbah padat TPA di Indonesia lebih dari 90 % menggunakan metoda Open Dumping, kurang dari 10% Berupa TPA Controlled Landfll dan Sanitary Landfll (Andi Sani) Pembuangan limbah seperti limbah rumah sakit yang tidak seharusnya dibuang di lokasi TPA tak terkendali. Limbah rumah sakit seperti penyeka, botol bekas obat-obatan, masker oksigen dan kateter berserakan dimana-mana. Adapula sisa bekas bangunan dan limbah elektronik. Selain itu, Penyemprotan dengan bahan kimia juga dilakukan untuk membasmi hama dan vector penyakit (Penelitian di Afrika Selatan, di Kota Alice)(Nur Asda) Konstruksi tempat pembuangan limbah di kota Chinhoyi tidak dilakukan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Tempat pembuangan tidak dipadatkan dan tanpa lapisan dasar sehingga bisa berdampak pada pencemaran air bawah tanah yang merupakan alternative sumber air yang penting bagi warga yang bermukim dekat tempat pembuangan tersebut. (Nur Afni)

Dampak Kesehatan

1. Terhadap kesehatan dan keselamatan (Andi Sani) Menjadi tempat pengembangbiakan bibit penyakit. Sampah yang menutup saluran air menyebabkan banjir. Sampah yang dibakar terus menerus dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).

2. Terhadap air dan tanah Sampah yang mencemari sungai mematikan kehidupan akuatik dan pendangkalan. Pencemaran air permukaan dan air tanah. Bakteri pathogen dan E.coli dapat berkembang biak menyebabkan

3. Terhadap kualitas udara Pembakaran sampah menyebabkan penyakit ISPA, kanker Timbulnya gas-gas beracun (H2S, NH3, dan lain-lain) Pemanasan global: CO2, CH4 (Gas Rumah Kaca) : (gasdioxin).

4. Masalah lingkungan

Umumnya TPA dengan metode Open Dumping mengakibatkan pencemaran air permukaan dan air tanah (dari air lindi), udara (bau dan asap), seta tanah (sampah dan air lindi). TPA Open Dumping juga dapat menjadi sarang penyakit.

Dampak Kesehatan dari pengolahan sampah beberapa Negara 1. Pemulung yang mengumpulkan sampah memiliki risiko tinggi terhadap infeksi penyakit seperti infeksi kulit dan infeksi darah akibat kontak langsung dengan limbah, dan dari luka yang terinfeksi. Infeksi Mata dan infeksi saluran pernafasan akibat paparan debu yang terinfeksi, khususnya selama operasi TPA. Penyakit lain yang dihasilkan dari gigitan binatang yang ada di sampah. Infeksi usus yang ditularkan oleh lalat di tempat sampah. Penyakit kronis pada operator TPA beresiko penyakit pernapasan kronis, termasuk kanker akibat paparan debu dan senyawa berbahaya. Kecelakaan Tulang dan gangguan otot akibat penanganan kontainer yang berat. Menginfeksi luka akibat kontak dengan benda tajam. Keracunan dan luka bakar akibat kontak dengan sejumlah kecil limbah bahan kimia berbahaya campur dengan limbah umum. Luka bakar dan cedera lainnya akibat kecelakaan kerja di tempat pembuangan sampah atau dari ledakan gas metana di lokasi TPA. (Nur Asda) 2. Di kota Chinhoyi, sampah yang terkumpul di buang di lokasi pembuangan kota yang terbuka. Hal ini dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi warga yang bermukim di daerah tersebut. Lalat adalah vector pembawa yang efektif bagi sanitasi patogen untuk penyakit seperti kolera dan diare, sebab lalat mampu terbang hingga 5 kilometer.

Selain itu, konstruksi tempat pembuangan limbah di kota Chinhoyi tidak dilakukan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Tempat pembuangan tidak dipadatkan dan tanpa lapisan dasar sehingga bisa berdampak pada pencemaran air bawah tanah yang merupakan alternatif sumber air yang penting bagi warga yang bermukim dekat tempat pembuangan tersebut. Di samping itu, dalam proses pengelolaan limbah tidak dilakukan pula pemisahan limbah sebelum atau selama pembuangan limbah sehingga campuran limbah yang terdiri dari plastik, kertas, kaca, logam, asbes, dan limbah medis dapat menimbulkan bahaya kesehatan utamanya bagi pemulung aktif di tempat tersebut. (Nur Afni) 3. Aktivitas pembakaran limbah padat juga dapat membawa dampak negatif tidak hanya bagi kesehatan namun membawa dampak pula bagi lingkungan. Asap pembakaran tidak hanya dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bagi penduduk sekitar, tetapi asap pembakaran juga dapat merusak keanekaragaman hayati, menimbulkan polusi udara, dan emisi gas perusak ozon, seperti karbonmonoksida, nitrogendioksida, dan sulfur dioksida. Gas-gas ini juga dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia. (Nur Asda) 4. Sampah padat yang bercampur dengan sampah organic menjadi sumber penyebaran penyakit karena tempat berkembang biak vector penyakit seperti lalat, nyamuk, tikus dan kecoa. Lalat dan nyamuk dapat terbang sejauh 5 kilometer yang menyebarkan penyakit yang dapat membayakan kesehatan warga di sekitar TPA Alice. Nyamuk Aedes, yang mengirimkan filariasis, demam kuning perkotaan, demam berdarah, dan beberapa infeksi lainnya. (Nur Asda)

5. Salah satu limbah lainnya adalah limbah kelapa sawit. Dengan meningkatnya kuantitas limbah pabrik kelapa sawit seperti tandang kosong, hal ini akan mempunyai dampak terhadap kesehatan dengan tidak mengelolah tandang kosong seperti : a. Menyebabkan pencemaran lingkungan seperti membusuknya tandang kosong tadi secara otomatis akan mengundang vektor seperti lalat dan tikus. b. Dengan kuantitas tandang kosong yang berlebihan dihasilkan oleh perusahaan biasanya biasanya pihak perusahaan membakarnya sehingga ini akan menimbulkan pencemaran udara. (Asbudi)

C. SOLUSI DAN KONSEP Ada beberapa solusi pengelolaan limbah padat yang diterapkan oleh beberapa negara, yaitu : 1. Sistem Pewadahan dan Pengumpulan Di Afrika Selatan khususnya di Kota Alice Pemerintah telah membuat kebijakan mengenai pengelolaan limbah padat. Adanya peraturan mengenai kategorisasi limbah menurut jenisnya, sampah yang cepat membusuk dipisahkan dengan sampah yang tidak cepat membusuk (Nur Asda) 2. Sistem Pengangkutan Pengangkutan dimaksudkan sebagai kegiatan operasi yang dimulai dari titik pengumpulan terakhir dari suatu siklus pengumpulan sampai ke TPA pada pengumpulan dengan pola individual langsung, atau dari tempat pemindahan (Trasfer Depo, Trasfer Station), penampungan sementara (TPS, TPSS,) atau tempat penampungan komunal sampai ke tempat pengolahan/pembuangan akhir. Sehubungan dengan hal tersebut, solusi pengangkutan serta penggnaan peralatan yang akan dipakai tergantung dari pola pengumpulan yang dipergunakan baik dari individu maupun komunal dengan kendaraan atau tempat seperti container, kendaraan truck sampah biasa, dump truck atau compactor truck.

3. Sistem Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir Lokasi pembuangan limbah Alice diberi pagar agar meminimalisasi efek bau yang dibawa oleh angin yang ditimbulkan oleh sampah. Selain itu untuk menghindari adanya pemulung illegal yang mengambil sampah yang dapat tertular oleh penyakit dan menghindari pembakaran limbah padat oleh masyarakat. Pagar difungsikan juga sebagai pengahalang binatang seperti Anjing dan sapi yang memakan plastik yang beracun dan akhirnya mati. Setelah itu dilakukan penimbangan berat sampah yang masuk ke lokasi TPA dengan jembatan timbang, yang didaftar menurut kategori, berat (dengan ton atau kilogram), dan

sumber, nama perusahaan pengangkutan dan waktu dan tanggal pengiriman. Data ini penting karena mereka membentuk dasar untuk menentukan bagaimana TPA harus dikelola dalam hal peralatan yang diperlukan dan menentukan usia TPA, serta mengetahui kapasitas TPA sehingga dapat menampung limbah dari masyarakat. Lebih penting lagi untuk mendeteksi adanya limbah berbahaya sehingga dapat dipindahkan ke lokasi lainnya. Jembatan timbang berguna sebagai kendaraan pengumpul sampah pada saat sampah tiba di lokasi TPA, beban limbah juga diperiksa untuk limbah yang tidak selaras dengan kriteria penerimaan landfill. Dari aspek keamanan, solusi yang ditawarkan oleh pemerintah Afrika Selatan adalah TPA harus memiliki petugas penjaga atau manajer untuk mengawasi jalannya pembuangan dan pengolahan sampah di TPA (Nur Asda) 4. Sistem Pemilahan dan Pengolahan Limbah Padat (daur ulang dan pengomposan) Dalam pengelolaan limbah yang efektif harus ada kegiatan untuk mengurangi dan mendaur ulang sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan bahaya kesehatan. Sebagai solusi dalam menangani 47,1% limbah domestik di Chinhoyi maka dianjurkan untuk melakukan pemisahan sumber dan skala besar pengomposan komponen yang mudah terurai sebagai sarana untuk mengurangi limbah pada tingkat rumah tangga. Daur ulang limbah domestik yang dapat terurai menjadi kompos dapat mereduksi sampah dan mengurangi polusi air melalui subtitusi pupuk kimia dengan kompos di bidang pertanian perkotaan. Hal ini dapat dijadikan solusi untuk mengurangi limbah padat perkotaan. Praktek pertanian saat ini banyak menggunakan pupuk kimia yang menyebabkan pencemaran air bawah tanah melalui eutrofikasi dan pencucian. Pengomposan limbah padat dan penggunaan kompos tersebut pada petani perkotaan dapat membantu dalam mengurangi pencemaran. Sedangkan pengomposan komponen limbah domestik yang dapat terurai, dapat membantu mengurangi limbah padat kota jika dilakukan di rumah tangga. Studi di Israel menunjukkan bahwa sektor limbah dapat berkontribusi sebanyak 25% dari emisi gas rumah kaca lebih dari 20 tahun. Ayalon dkk (2002), menyatakan bahwa cara yang paling efektif dalam segi biaya untuk mengurai limbah komponen organic adalah dengan menggunakan pengomposan aerobik.

Selain itu, penggunaan teknologi pupuk vermikultur (pertanian cacing tanah) untuk mendaur ulang limbah padat yang mudah terurai merupakan pilihan yang layak. Pelatihan teknologi pertanian cacing tanah menggunakan limbah domestik yang mudah terurai dapat menjadi cara pengurangan limbah dan daur ulang sementara dan pada saat yang sama dapat pula menciptakan kesempatan kerja. Teknologi dapat digunakan untuk mengembangkan beberapa produk alternatif yang dihasilkan limbah yang sama, yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Teknologi yang tersedia dapat memulihkan energi panas yang terkandung dalam limbah, sehingga dapat menggantikan bahan bakar fosil yang terbatas, seperti batu bara, minyak, atau gas alam yang dapat digunakan oleh pembangkit listrik tenaga konvensional, dengan berkontribusi terhadap pengurangan emisi CO2. Teknologi dapat dimanfaatkan secara efisien dengan mengkonversi komponen limbah yang mudah terurai menjadi gas benilai kalori tinggi, seperti metana melalui proses bio-methanation. Komponen limbah yang terurai melalui pengomposan sangat kaya akan nutrisi dan secara luas digunakan sebagai bio-pupuk diberbagai belahan dunia. Limbah yang dikonversi ke dalam bentuk energi, dapat mengurangi ketergantungan pada pengisian tanah dan bahan bakar fosil. (Nur Afni) Solusi lainnya adalah Landfill. Walaupun menimbulkan percemaran tanah, menutupi sampah dengan tanah secara teratur merupakan salah satu solusi untuk menghalangi perkembangbiakan vector pembawa penyakit seperti kecoa, lalat, tikus, dan nyamuk. Selain itu penutupan sampah juga untuk mengurangi bau sampah. Pengelolaan limbah padat anorganik seperti Tandan Kosong kelapa sawit juga dilakukan dengan pegomposan, sehingga dapat dipakai sebagai pupuk pada tanaman kelapa sawit (Asbudi)

Solusi mengenai pengelolaan limbah padat sekarang ini telah dikembangkan oleh berbagai Negara diataranya: Pengelolaan Limbah padat di Indonesia dan Zimbabwe (Kota Chinhoyi):

Apabila kita melakukan pengelolaan kembali sampah, maka manfaat yang didapatkan antara lain berupa: sumber pendapatan; penghematan sumber daya alam; penghematan energy; penghematan lahan TPA; dan lingkungan yang bersih, sehat, serta nyaman. Selain itu, penerapan Manajemen Limbah Padat yang tepat menjadi salah satu poin penting untuk mengurangi peningkatan emisi gas rumah kaca yang berdampak kepada pemanasan global. Berikut adalah Hierarki baru penerapan manajemen Limbah padat yang terintegrasi seperti pada gambar berikut;

New Hierarcy of integrated solid waste management Hierarki baru integrasi pengelolaan limbah berkaitan dengan global warming sbb : (Suratman) 1. Eco-design adalah suatu pendekatan untuk merancang suatu produk dengan pertimbangan khusus pada dampak lingkungan dari produk selama seluruh siklus hidup, dan dapat mengurangi pengolahan atau pembuangan limbah padat. Bangunan dan produk harus dirancang dengan tujuan menggunakan bahan kimia lebih sedikit dan peningkatan efisiensi energi, serta mengurangi hasil buangan atau emisi 2. Recycling atau daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, and Recycle). 3. Recovery adalah pemakaian kembali sebagian sampah/limbah yang dapat digunakan untuk keperluan lain. Konsep ini dapat diterapkan misalnya dengan mengolah sebagian

dari batu baterai bekas sebagai sumber energi alternatif. Konsep ini banyak diterapkan oleh masyarakat di pedesaan terpencil yang tidak terjangkau aliran listrik oleh PLN. 4. Reuse atau penggunaan kembali adalah menggunakan lagi suatu barang lebih dari sekali. Ini mencakup penggunaan kembali secara konvensional di mana barang dipakai lagi dengan fungsi yang sama, dan penggunaan kembali di mana barang dipergunakan dengan fungsi yang berbeda. Berbeda dengan proses daur ulang yang menghancurkan barang bekas menjadi bahan mentah yang dipakai untuk membuat barang baru. Dengan mengambil produk yang berguna dan menukarkannya, tanpa melalui proses, hal ini menghemat waktu, uang, energi, dan sumber daya. 5. Disposal adalah pembuangan limbah yang tidak bisa dimanfaatkan lagi dan limbah residu yang akan dibuang melalui proses landfill.

Di beberapa Negara, telah dikembangkan suatu strategi dalam pengelolaan Limbah padat. Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Saudi Arabia mengadopsi sebuah system manajemen pengelolaan Limbah secara seragam dan mekanisme monitoring dimulai dari produksi limbah, pengumpulan, sortir, pengelolaan dan pembuangan. Pengelolaan ini juga dianut secara global oleh Negara-negara di dunia.

Hierarki pengelolaan limbah padat terpadu berbentuk piramida. Pengelolaan yang paling dianjurkan adalah reduction, kemudian reuse, recycling dan composting, waste to energy, treatments dan yang terakhir dianjurkan adalah landfilling. Waste to Energy atau Limbah-ke-energi (WtE) atau energi-dari-limbah (EFW) adalah proses menciptakan energi dalam bentuk listrik atau panas dari pembakaran sumber limbah . WtE adalah bentuk pemulihan energi . Proses yang paling WtE menghasilkan listrik langsung melalui pembakaran, atau menghasilkan komoditas bahan bakar yang mudah terbakar, seperti metana , metanol , etanol bahan bakar atau sintetis. Insinerasi, pembakaran bahan organik seperti limbah dengan pemulihan energi adalah implementasi WtE paling umum. Treatment sampah disini termasuk compacting (pemadatan sampah) dan Chemical treatment (pemberian bahan kimia). Pemadatan dapat mengurangi volume sampah dan biaya relative lebih rendah sedangkan pemberian bahan kimia pada limbah yang dikeringkan dan diolah secara kimia untuk menghilangkan bahan kimia beracun berbahaya dan membuat limbah terbentuk lebih stabil. Landfill adalah Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg tidak terpakai , lubang bekas pertambangan , atau lubang lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yg dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yg tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan , diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya hama , dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. Karakteristik desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik. Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya , dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang dipasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Kesimpulan dari jurnal penelitian : 1. Masing-masing negara seperti Indonesia, Afrika Selatan, China dan Zimbabwe memiliki limbah padat baik organik maupun anorganik. 2. Beberapa factor penyebab masalah limbah diantaranya pengelolaan limbah yang tidak sesuai dengan standar minimum pengelolaan limbah, mulai dari sistem pewadahan dan pengumpulan limbah padat, sistem pengangkutan, pembuangan akhir dan pengolahan limbah padat 3. Dampak kesehatan dari pengelolaan limbah padat yang buruk berupa pencemaran udara dari pembakaran limbah dan bau busuk yang menyengat, pencemaran air dari mikroorganisme, serta pencemaran tanah. Pencemaran udara yang terakumulasi menjadi sebab timbulnya efek rumah kaca dan global warming. Kesemuanya memiliki kontribusi dalam timbulnya penyakit seperti kolera, malaria, infeksi mata, diare, ISPA, filariasis, demam kuning perkotaan, demam berdarah, dan beberapa infeksi lainnya. 4. Indonesia, Afrika, dan Zimbabwe telah memiliki manajemen pengelolaan limbah padat mulai dari tingkat rumah tangga sampai di TPA. Di Afrika Selatan dan Zimbabwe pengelolaan sampah hamper sama dengan Indonesia. Sedangkan secara global berupa Integrated Waste Management Hierarchy.

B. SARAN

1. Perlu adanya regulasi mengenai pengelolaan limbah padat oleh pemerintah dan swasta seperti perusahaan agar tidak membahayakan kesehatan manusia berupa konsep baru dalam pengelolaan manajemen Limbah Padat 2. Pemerintah dari setiap Negara seharusnya mengadopsi dan mematuhi Pengelolaan Limbah Padat Terpadu bertaraf internasional (ISWM), yang merupakan pencegahan, daur

ulang, pengomposan, dan program pembuangan limbah yang komprehensif dan berusaha untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. 3. Pemberdayaan masyarakat berupa pendidikan dan keterampilan dalam mengolah limbah padat agar dapat bernilai secara ekonomi dan mengurangi limbah padat yang sampai di tempat pembuangan akhir sampah.

DAFTAR PUSTAKA

Al. Sentot Sudarwanto, SH, MH, 2010, Jurnal Peran Strategis Perempuan dalam Pengelolaan limbah padat di akses pada tanggal 8 september 2012 jurnal.pasca.uns.ac.id/index.php/ekosains/article/download/9/10 ___(Andi Sani)

Downmore, Musademba. 2011. Municiplity Solid Waste (MSW) Management Challenges of Chinhoyi Town in Zimbabwe : Opportunities of Waste Reduction and Recycling. www.jsd-africa.com ___(Nur Afni Ponseng)

M. Hidayanto, 2010 limbah kelapa sawit sebagai sumber pupuk pada pakan ternak organik, peternakan.litbang.deptan.go.id/fullteks/lokakarya/plimbah08-13.pdf____(Asbudi)

Remigios, Mupindu Wiseman. 2012. The Management, Practice and Environmental Health Implications of the Municipal Solid Waste Dump Site in Alice, South Africa. Available Online at http://www.onlineresearchjournals.org/JSS____ (Nur Asda Mustaring) Zeng, Xianlai, dkk. 2010. Integrated Solid Waste Management Under Global Warming di China. diakses dari www.google.com ____(Suratman) Gautam , Vivek. 2009. Solid Waste Management in GCC: Challenges & Opportunities. Diakses dari http://www.frost.com/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->