BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Tindak perilaku korupsi akhir-akhir ini makin marak dipublikasikan di media massa maupun maupun media cetak. Tindak korupsi ini mayoritas dilakukan oleh para pejabat tinggi negara yang sesungguhnya dipercaya oleh masyarakat luas untuk memajukan kesejahteraan rakyat sekarang malah merugikan negara. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan bagi kelangsungan hidup rakyat yang dipimpin oleh para pejabat yang terbukti melekukan tindak korupsi. Maka dari itu, di sini kami akan membahas tentang korupsi di Indonesia dan upaya untuk memberantasnya.

1.2 Rumusan Masalah Adapun beberapa rumusan masalah yang kami angkat adalah sebagai berikut : Apa yang dimaksud dengan korupsi ? Bagaimana gambaran umum tentang korupsi di Indonesia ? Bagaimana persepsi masyarakat tentang korupsi ? Bagaimana fenomena korupsi di Indonesia ? Bagaimana peran serta pemerintah dalam memberantas korupsi ? Upaya apa yang dapat ditempuh dalam pemberantasan korupsi ?

a) b) c) d) e) f)

1.3 Tujuan Adapun tujuan dapi penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : Mengetahui pengertian dari korupsi. Mengetahui gambaran umum tentang korupsi yang ada di Indonesia. Mengetahui persepsi masyarakat tentang korupsi. Mengetahui fenomena korupsi di Indonesia. Mengetahui peran serta pemerintah dalam memberantas korupsi. Mengetahui upaya yang dapat ditempuh dalam pemberantasan korupsi

a) b) c) d) e) f)

Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia

1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Korupsi Kata “korupsi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaaan) dan sebagainya untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Perbuatan korupsi selalu mengandung unsur “penyelewengan” atau dis-honest (ketidakjujuran). Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28Tahun 1999 tentang Penyelewengan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dise-butkan bahwa korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan per-aturan perundang-undangan yang mengatur tentang pidana korupsi.

2.2 Gambaran Umum Korupsi di Indonesia Korupsi di Indonsia dimulai sejak era Orde Lama sekitar tahun 1960-an bahkan sangat mungkin pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 24 Prp 1960 yang diikuti dengan dilaksanakannya “Operasi Budhi” dan Pembentukan Tim Pemberantasan Korupsi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 228 Tahun 1967 yang dipimpin langsung oleh Jaksa Agung, belum membuahkan hasil nyata. Pada era Orde Baru, muncul Undang-Undang Nomor3 Tahun 1971 dengan “Operasi Tertib”yang dilakukan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), namun dengan kemajuan iptek, modus operandi korupsi semakin canggih dan rumit sehingga Undang-Undang tersebut gagal dilaksanakan. Selanjutnya dikeluarkan kembali Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999. Upaya-upaya hukum yang telah dilakukan pemerintah sebenarnya sudah cukup banyak dan sistematis. Namun korupsi di Indonesia semakin banyak sejak akhir 1997 saat negara mengalami krisis politik, sosial, kepemimpinan, dan kepercayaan yang pada akhirnya menjadi krisis multidimensi. Gerakan reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru menuntut antara lain ditegakkannya supremasi hukum dan pemberantasan Korupsi, Kolusi & Nepotisme (KKN). Tuntutan tersebut akhirnya dituangkan di dalam Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 & Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penye-lenggaraan Negara yang Bersih & Bebas dari KKN.

2.3 Persepsi Masyarakat tentang Korupsi Rakyat kecil yang tidak memiliki alat pemukul guna melakukan koreksi dan memberikan sanksi pada umumnya bersikap acuh tak acuh. Namun yang paling menyedihkan adalah sikap rakyat menjadi apatis dengan semakin meluasnya praktik-praktik korupsi oleh be-berapa oknum pejabat lokal, maupun nasional.

Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia

2

Kelompok mahasiswa sering menanggapi permasalahan korupsi dengan emosi dan de-monstrasi. Tema yang sering diangkat adalah “penguasa yang korup” dan “derita rakyat”. Mereka memberikan saran kepada pemerintah untuk bertindak tegas kepada para korup-tor. Hal ini cukup berhasil terutama saat gerakan reformasi tahun 1998. Mereka tidak puas terhadap perbuatan manipulatif dan koruptif para pejabat. Oleh karena itu, mereka ingin berpartisipasi dalam usaha rekonstruksi terhadap masyarakat dan sistem pemerin-tahan secara menyeluruh, mencita-citakan keadilan, persamaan dan kesejahteraan yang merata.

2.4 Fenomena Korupsi di Indonesia Fenomena umum yang biasanya terjadi di negara berkembang contohnya Indonesia ialah: i. Proses modernisasi belum ditunjang oleh kemampuan sumber daya manusia pada lembagalembaga politik yang ada. ii. Institusi-institusi politik yang ada masih lemah disebabkan oleh mudahnya “ok-num” lembaga tersebut dipengaruhi oleh kekuatan bisnis/ekonomi, sosial, keaga-maan, kedaerahan, kesukuan, dan profesi serta kekuatan asing lainnya. iii. Selalu muncul kelompok sosial baru yang ingin berpolitik, namun sebenarnya banyak di antara mereka yang tidak mampu. iv. Mereka hanya ingin memuaskan ambisi dan kepentingan pribadinya dengan dalih “kepentingan rakyat”. v. Sebagai akibatnya, terjadilah runtutan peristiwa sebagai berikut : Partai politik sering inkonsisten, artinya pendirian dan ideologinya sering beru-bah-ubah sesuai dengan kepentingan politik saat itu. Muncul pemimpin yang mengedepankan kepentingan pribadi daripada kepenting-an umum. Sebagai oknum pemimpin politik, partisipan dan kelompoknya berlomba-lomba mencari keuntungan materil dengan mengabaikan kebutuhan rakyat. Terjadi erosi loyalitas kepada negara karena menonjolkan pemupukan harta dan kekuasaan. Dimulailah pola tingkah para korup. Sumber kekuasaan dan ekonomi mulai terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil yang mengusainya saja. Derita dan kemiskinan tetap ada pada kelompok masyarakat besar (rakyat). Lembaga-lembaga politik digunakan sebagai dwi aliansi, yaitu sebagai sektor di bidang politik dan ekonomi-bisnis. Kesempatan korupsi lebih meningkat seiring dengan semakin meningkatnya ja-batan dan hirarki politik kekuasaan.

a) b) c) d) e) f) g)

2.5 Peran Serta Pemerintah dalam Memberantas Korupsi Partisipasi dan dukungan dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengawali upaya-upaya pemerintah melalui KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan aparat hukum lain. KPK yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi untuk mengatasi, menanggulangi, dan memberan-tas korupsi, merupakan komisi independen yang diharapkan mampu menjadi “martir” bagi para pelaku tindak KKN.

Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia

3

Mewujudkan keberhasilan penindakan terhadap pelaku korupsi besar. d.6. Upaya penindakan (kuratif). 2. Membangun kultur yang mendukung pemberantasan korupsi. g.6. Melakukan penerimaan pegawai berdasarkan prinsip keterampilan teknis. Menahan Konsul Jenderal RI di Johor Baru. f. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 4 .1 Upaya Pencegahan (Preventif) a. informal dan agama. Membangun kepercayaan masyarakat. Ia diduga melekukan pungutan liar dalam pengurusan dokumen keimigrasian. e. Para pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang memadai dan ada jaminan masa tua.6 Upaya yang Dapat Ditempuh dalam Pemberantasan Korupsi Ada beberapa upaya yang dapat ditempuh dalam memberantas tindak korupsi di Indonesia.Adapun agenda KPK adalah sebagai berikut : i. Menanamkan semangat nasional yang positif dengan mengutamakan pengabdian pada bangsa dan negara melalui pendidikan formal.2 Upaya Penindakan (Kuratif) Upaya penindakan. Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin kerja yang tinggi. Dugaan korupsi dalam pengadaan Helikopter jenis MI-2 Merk Ple Rostov Rusia milik Pemda NAD (2004).Beberapa contoh penindakan yang dilakukan oleh KPK : a. Upaya edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). b. Memacu aparat hukum lain untuk memberantas korupsi 2. iv. Mendorong pemerintah melakukan reformasi public sector dengan mewujudkangood governance. iii. Upaya edukasi masyarakat/mahasiswa. Malaysia. d. e. b. Upaya pencegahan (preventif). Para pejabat dihimbau untuk mematuhi pola hidup sederhana dan memiliki tang-gung jawab yang tinggi. Sistem keuangan dikelola oleh para pejabat yang memiliki tanggung jawab etis tinggi dan dibarengi sistem kontrol yang efisien. v. Peran serta masyarakat. 2. yaitu dilakukan kepada mereka yang terbukti melanggar dengan dibe-rikan peringatan. c. b. c. EM. h. Berusaha melakukan reorganisasi dan rasionalisasi organisasi pemerintahan mela-lui penyederhanaan jumlah departemen beserta jawatan di bawahnya. ii. Melakukan pencatatan ulang terhadap kekayaan pejabat yang mencolok. dilakukan pemecatan tidak terhormat dan dihukum pidana. antara lain sebagai berikut : a.

2 sejajar dengan Azerbaijan. b.6. IPK Indonesia adalah 2. Kasus korupsi dan penyuapan anggota KPU kepada tim audit BPK (2005). e. Kasus penyuapan panitera Pengadilan Tinggi Jakarta (2005). Pakistan. 2. f. 2. Transparency International (TI) adalah organisasi internasional yang bertujuan memerangi korupsi politik dan didirikan di Jerman sebagai organisasi nirlaba se-karang menjadi organisasi non-pemerintah yang bergerak menuju organisasi yang demokratik.4 Upaya Edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) a. Sedangkan survei TI pada 2005. Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hingga ke tingkat pusat/nasional. d. Sedangkan Islandia adalah negara terbebas dari korupsi. h. Kasus penyuapan Hakim Agung MA dalam perkara Probosutedjo. Survei TI Indonesia yang membentuk Indeks Persepsi Korupsi (IPK) In-donesia 2004 menyatakan bahwa Jakarta sebagai kota terkorup di Indonesia. Publikasi tahunan oleh TI yang terkenal adalah Laporan Korupsi Global. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 5 . g. ICW la-hir di Jakarta pd tgl 21 Juni 1998 di tengahtengah gerakan reformasi yang meng-hendaki pemerintahan pasca-Soeharto yg bebas korupsi. Kamerun. Kasus korupsi di KBRI Malaysia (2005). Angola. In-donesia berada di posisi keenam negara terkorup di dunia. Dugaan korupsi pada penyalahgunaan fasilitas preshipment dan placementdeposito dari BI kepada PT Texmaco Group melalui BNI (2004). disu-sul Surabaya. Nigeria. b. Kenya.6. Sudan. Paraguay. Indonesia Corruption Watch (ICW) adalah organisasi non-pemerintah yang meng-awasi dan melaporkan kepada publik mengenai korupsi di Indonesia dan terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen untuk memberantas korupsi me-lalui usaha pemberdayaan rakyat untuk terlibat melawan praktik korupsi. c. Libya dan Usbekistan. Semarang dan Batam.3 Upaya Edukasi Masyarakat/Mahasiswa a. Medan. e. Irak. j. Haiti & Myanmar. Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial terkait dengan kepentingan publik. Dugaan korupsi dalam Proyek Program Pengadaan Busway pada Pemda DKI Jakarta (2004). Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh. d. Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan peme-rintahan negara dan aspek-aspek hukumnya. Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.9 miliar (2004). Somalia. Menetapkan seorang bupati di Kalimantan Timur sebagai tersangka dalam kasus korupsi Bandara Loa Kolu yang diperkirakan merugikan negara sebesar Rp 15. Dugaan penyalahgunaan jabatan dalam pembelian tanah yang merugikan keuang-an negara Rp 10 milyar lebih (2004). i.c. Etiopia. ser-ta hanya lebih baik dari Kongo.

maka masyarakat dapat tampil ke depan untuk sementara mengambil alih tugas-tugas aparat penegak hukum. Meskipun aspek pemberdayaan itu sangat penting dalam proses dan strategi pemberantasan tindak pidana korupsi. Dengan alasan apapun pemerintah tidak boleh mengulur waktu untuk memberantas tindak pidana korupsi kelas kakap. Semua pilar-pilar yang terkait dengan upaya dan proses penegakan hukum harus menopang dan memperkuat sehingga korupsi dapat ditekan ketitik yang dapat dikendalikan. Dengan demikian proses penegakan hukum merupakan rangkaian panjang dan saling terkait antar aspek yang saling mempengaruhi dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. namun titik tekannya harus terfokus pada penegakkan hukum berikut dengan lembaga-lembaga yang bertugas menangani masalah korupsi. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 6 . Begitu juga untuk memberantas tindak pidana korupsi. tetapi masyarakat jarang dapat langsung merasakannya. maupun sosial budaya dan hukum. tanpa harus mengabaikan perlindungan dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia. kita harus memahami dan mengerti apa saja jenisjenis korupsi dan penyebabnya. bahkan jika proses penegakan hukum lemah dam tidak dapat menghadapi kejahatan ini (korupsi). Untuk melakukan sesuatu kita harus mengetahui terlebih dahulu apa sebab dan jenisnya. maka resikonya adalah kehilangan kepercayaan masyarakat dan menumbuhkan rasa ketidakpercayaan kepada pemerintah bahkan masyarakat akan berpikir bahwa pemerintah melindungi para koruptor kelas kakap.5 Peran Serta Masyarakat Pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari strategi pemberantasan tindak pidana korupsi merupakan langkah yang jitu memiliki tingkat keberhasilan di negara-negara lain. Masyarakat banyak tidak menyadari bahwa perbuatan korupsi berakibat sangat buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. namun itu semua harus dilakukan dalam batas-batas dan koridor hukum yang berlaku. namun tidak berarti upaya penegakan hukumnya disubordinasi oleh aspek politik dan kepemerintahan. Meskipun upaya pemberantasan tindak pidana korupsi merupakan bagian dari upaya menciptakan tata pemerintahan yang baik (good governance). Pemerintah jangan sampai kehilangan dukungan dari masyarakat akibat ketidak seriusannya memberantas tindak pidana korupsi. Meskipun pemberdayaan masyarakat itu sangat penting dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Masyarakat dan aparat penegak hukum merupakan ujung tombak yang keberadaannya saling melengkapi satu sama lain.2. Korupsi dapat berakibat sangat besar baik secara ekonomi.6. Apabila pemerintah takut berhadapan dengan koruptor kelas kakap dan hanya mengadili atau memproses koruptor kelas teri. syaratnya masyarakat harus diberi ruang dan kesempatan luas untuk berpartisipasi melalui sistem dan tatanan yang demokratis dan transparan. politik. Bentuk dan sifat partisipasi masyarakat dalam proses tersebut harus diselenggarakan secara demokratis dalam susunan yang menghargai nilai-nilai (norma) dan rasa kepatuhan serta keadilan. Masyarakat yang berdaya atau berperan dapat mengontrol.

Korupsi mengurangi minat para investor untuk menginvestasikan uangnya atau modalnya di Indonesia. yaitu : a. Bantuan pendanaan untuk petani. 1. Rendahnya upah buruh. yaitu : a. Lembaga negara yang dibentuk hasil politik akan tidak berjalan sebagaimana mestinya jika dipegang oleh orang-orang yang korup dan tidak bertanggungjawab. pada hal secara tidak langsung yang dirugikan adalah masyarakat itu sendiri.Masyarakat hanya berasumsi yang dirugikan oleh perbuatan korupsi adalah keuangan dan perekonomian negara. e. maupun koperasi tidak pernah sampai ketangan masyarakat. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 7 . Sistem politik yang dipegang oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab mengancam keabsahan pemerintah dan pada akhirnya berdampak pada produk hukum yang dibuat yang dianggap ilegal oleh masyarakat. Dampak Ekonomi Dampak dari sektor ekonomi dapat dilihat dari beberapa aspek. dampak pelayanan publik. d. Korupsi dapat menghancurkan integritas bangsa. legislatif. b. c. e. yang artinya korupsi menghambat pembangunan ekonomi rakyat. 2. Hampir sebagian besar posisi elit politik dipegang oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. d. Dampak dari perbuatan korupsi di dalam sektor ini. Korupsi yang sistemik membuat masyarakat tidak lagi mempercayai penyelenggara negara baik eksekutif. Produk petani Indonesia tidak dapat bersaing. dan g. b. Korupsi membuat utang bangsa Indonesia menjadi banyak. yang disebabkan karena pemilihan untuk memilih para elit politik tersebut tidak demokratis. c. malah dibuat sebagai sarana untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab tanpa memikirkan masyarakat kecil. dampak politik. Harga barang menjadi mahal. yaitu ditinjau dari dampak ekonomi. Dampak Politik Politik yang seharusnya sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahtaraan rakyat dan sebagai sarana untuk memberantas tindak pidana korupsi. Sebagian besar uang hanya berputar pada segelintir orang elit ekonomi dan elit politik saja. Korupsi menjadi sumber utama untuk membiayai aktifitas politik dan mempertahankan kekuasaan. Di bawah ini ada beberapa contoh dampak dari akibat yang ditimbulkan dari permasalahan korupsi. dampak hukum dan dampak sosial budaya. dan f. usaha kecil. dan yudikatif. f.

Dampak Sosial Budaya Perubahan lain dari perbuatan korupsi adalah perubahan paradikma atau cara pandang masyarakat itu sendiri. yang dulunya Bangsa Indonesia adalah bangsa yang jujur dan ternyata sekarang semua itu berubah menjadi salah satu bangsa yang terkorup di dunia. b. b. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 8 . Dampak Pelayanan Publik Akibat perbuatan para pejabat yang tidak bertanggungjawab dapat berakibat pada pelayanan publik yang kurang memihak pada masyarakat kecil. dan c. Banyak para aparat penegak hukum yang tidak bersih dikarenakan pada awalnya meraka melakukan pelanggaran hukum. dan mereka yang melakukan perbuatan korupsi yang dikenal dengan koruptor tidak pernah merasa malu atau takut dalam melakukan perbuatan yang tercela itu. b. karena birokrasi tidak berorientasi pada pelayanan masyarakat kecil. dan c. baik dibidang politik. dan c. Menjadikan rakyat tidak percaya lagi pada mekanisme hukum yang dikarenakan mental para aparat penegak hukum sengat rendah. Dampak-dampak dari perbuatan korupsi dibidang hukum. 4. Pelayanan publik buruk. yaitu : a. baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional.3. Dampak Hukum Hukum sebagai pilar untuk menekan laju pertumbuhan tindak pidana korupsi. Dalam hal ini dampak dari perbuatan korupsi pada pelayanan publik. Korupsi yang bersifat sistematis menyebabkan masyarakat tidak lagi menghiraukan aspekaspek profesionalisme dan kejujuran. ekonomi. dan sosial masyarakat yang ada disekitar kita. Perbuatan korupsi yang berkepanjangan akan menghilangkan harapan masa depan yang lebih baik Banyak cara atau penyebab terjadinya korupsi. sehingga putusan yang dihasilkan menjadi tidak adil. 5. Hukum dijual belikan oleh aparat penegak hukum itu sendiri. hukum. yaitu : a. Berubahnya fungsi-fungsi pelayanan publik. Semangat profesionalisme pegawai yang bersih dan jujur makin luntur. Dampak-dampak dari korupsi dibidang ini adalah : a. Runtuhnya bangunan moral bangsa. malah dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mendapatkan uang yang banyak atau dengan kata lain hukum dijadikan sebagai salah satu sarang dari perbuatan korupsi.

Korupsi Transiktif. yaitu suatu perbuatan korupsi yang terpaksa dilakukan dalam rangka mempertahankan diri dari perasaan. serta hal-hal yang dihargainya. yaitu korupsi yang mengacu pada penciptaan suasana kondusif untuk melindungi atau mempertahankan keberadaan tindak pidana korupsi yang dilakukan. maka perlu dibuat rumusan yang agar dapat memudahkan kita dalam memahami dan mengerti faktor penyebab korupsi. Yudisial Corruption. dan kedua pihak tersebut sama-sama aktif melakukan atau menjalankan perbuatan korupsi tersebut.Secara sosiologis Syed Hasein Alatas sebagaimana dikutip oleh Syahrul Mustofa. yaitu korupsi yang terjadi pada ruang lingkup proses-proses politik. 7. 4. yaitu korupsi yang terjadi pada ruang lingkup penegak hukum. Untuk memudahkan pemahaman kita agar dapat mengetahui penyebab-penyebab terjadinya korupsi. Korupsi diibaratkan sebagai mata rantai yang saling berhubungan satu sama lain dan hal itu juga yang menyebabkan korupsi seakan-akan tidak memiliki ujung pangkal. 3. yaitu korupsi yang berupa pemberian kelakuan khusus kepada teman atau yang memiliki kedekatan hubungan dalam rangka memduduki jabatan politik. pemberian kelakukan pengutamaan dalam segala bentuk yang bertentangan dengan norma atau peraturan yang berlaku. yaitu : 1. 6. Korupsi Ekstroktif. kepentingan orang-orangnnya. Keuntungan diharapkan akan terjadi atau akan diperoleh dimasa yang akan datang. Hal ini menunjukan bahwa hukum yang mengatur hal tersebut jauh tertinggal dengan kenyataan yang ada dimasyarakat. Korupsi Nepotisme. yaitu korupsi yang menyatakan bentuk-bentuk korelasi (penekanan) dimana pihak pemberi dipaksa untuk memberikan suap guna mencegah kerugian yang mengancam dirinya. Korupsi Suportif. Bureucratik Corruption. Korupsi Defensif. yaitu korupsi yang melibatkan suatu penawaran barang atau jasa tanpa adanya pertalian langsung dengan keuntungan yang memberi. Sedangkan menurut Locus sebagaimana dikutip oleh Syahrul Mustofa. yaitu korupsi yang terjadi pada ruang ligkup pelaksanaan fungsifungis pemerintahan. 3. 5. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 9 . Political Corruption. Dengan kata lain. Korupsi Investif. 2. yaitu : 1. Korupsi Autogenik. yaitu korupsi yang menunjukan adanya kesepakatan timbal-balik. mengklasifikasikan jenis-jenis korupsi menjadi 7 (tujuh) bentuk korupsi. yaitu korupsi yang dilakukan individu kerena mempunyai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari pengetahuan dan pemehamannya atas sesuatu yang diketahuinya sendiri. Pengertian yang kemukakan oleh Syed Hasein Alatas di atas jauh lebih luas daripada pengertian dan jenis-jenis yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Tindak Pidana Korupsi. antara pihak yang memberi dengan pihak yang menerima demi keuntungan bersama. korupsi dibagi menjadi 3 (tiga). 2.

Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 10 . aspek politik. yaitu faktor internal dari seseorang (iman dan moral) dan faktor eksternal yaitu dari lingkungan sekitar. Rendahnya sanksi hukum yang diberikan akan memberikan kesempatan untuk setiap orang melakukan perbuatan korupsi. dan juga lemahnya pengawasan publik. b. Faktor yang menyebabkan celah-celah atau hal-hal yang menyebabkan seseorang melakukan perbuatan korupsi. Peluang terjadinya perbuatan korupsi akan terbuka lebar jika instrumen hukumnya lemah dan hukum yang ada tidak memiliki sanksi yang tegas terhadap para pelanggarnya. suasana yang kondusif dapat menimbulkan niat untuk melakukan pebuatan melanggar hukum termasuk perbuatan korupsi. Korupsi akan terjadi jika resiko yang ditanggung itu rendah. 2. dan c. terdapat juga faktor yang ada diluar diri seseorang yang bisa menyebabkan orang tersebut melakukan perbuatan korupsi. sehingga tidak khawatir dijerat oleh hukum dan dikarenakan ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada para koruptor. Faktor tersebut disebabkan karena lemahnya mental seseorang yaitu terdapat ketidakjujuran. Lemahnya peraturan perundang-undangan sehingga banyak celah-celah yang dimanfaatkan para koruptor. Niat adalah faktor internal yang ada di dalam hati atau diri seseorang. Dimonopolinya kekuasaan oleh para koruptor yang kebanyakan adalah orang-orang yang memimpin atau yang bekerja disebuah instansi pelayanan publik. Lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak yang berwajib melakukan pengawasan baik pengawasan yang dilakukan di dalam instansi maupun pengawasan yang dilakukan di luar instansi. Selain faktor internal dari diri seseorang. serta Pertanggung Jawaban yang Lemah Kekuasaan cenderung dapat mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan korupsi. yaitu : a. Sebaliknya. petinggi lembaga pradilan dan kalangan bisnis. elit partai politk. Kekuasaan yang absolut akan menimbulkan menjamurnya perbuatan korupsi. 3. dan terkait dengan lemahnya tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa.1. tamak dan sombong dalam hati orang tersebut. Absolutisme tidak akan lahir jika tingkat kesadaran sosial masyarakat tinggi dan secara kritis melakukan berbagai upaya kontrol kekuasaan. aspek ekonomi dan juga sosial budaya. Niat dan Kesempatan Niat akan dilakukan apabila terdapat suatu suasana yang kondusif. Kekuasaan Monopoli dan Kewenangan. Pendekatan Jaringan Jaringan korupsi melibatkan para elit politik yang terdiri dari pimpinan eksekutif. sehingga terbuka kesempatan untuk melakukan perbuatan korupsi. dan juga aspek hukum. Faktor yang paling utama adalah terdapatnya celah untuk melakukan perbuatan tersebut.

pedagang maupun orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan harus berjuang bersama-sama dalam memerangi korupsi. oleh karena itu masyarakat harus membantu melaporkan dan memberikan data dan informasi berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi. Pilar-Pilar Integrasi Nasional atau Bangsa Integritas Nasional atau bangsa adalah proses penyatuan kembali kelompok budaya dan sosial kedalam suatu wilayah nasional. Aparat penegak hukum memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk mengidentigikasi dan menyelidiki kasus korupsi. Sudah kita ketahui bersama korban dari perbutaan korupsi baik secara langsung maupun tidak langsung adalah masyarakat menegah ke bawah (masyarakat miskin).Sulitnya pemberantasan korupsi. karena yang menjadi korban utama adalah masyarakat terutama masyarakat menengah ke bawah. yaitu sistem penyebaran kekuasaan dimana tidak adanya kekuasaan yang dimonopoli oleh orangorang yang berkepentingan. Permasalahan korupsi bukan hanya urusan pemerintah. Komponen masyarakat yang dimaksud adalah seluruh lapisan masyarakat baik dari kalangan petani. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 11 . Di dalam sistem ini masing-masing pemegang kekuasaan mempertanggungjawabkan penggunaan kekuasaannya kepada masyarakat atau publik. maka korupsi akan banyak berkurang. buruh atau pekerja. Penyelesaian kasus-kasus tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah dan aparat hukum saja. politikus dan penegak hukum sangat kuat. dikarenakan aparat penegak hukum sering berada di situasi yang dilematis. karena KKN antara pengusaham. bagaimanapun pemerintah khususnya lembaga-lembaga hukum memiliki keterbatasanketerbatasan. Perlu disadari bahwa korupsi tidak akan hilang sepenuhnya. Selain adanya partisipasi dari semua lapisan atau kalangan masyarakat dalam pemberantasan tindak piadan korupsi harus juga mempunyai strategi yang akan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan agar terorganisir dengan baik serta terarah. aparat dan lembaga harus menjauhkan diri dari sistem pengawasan atas bawah dan sistem ini harus diubah menjadi pengawasan horizontal. tetapi melalui gerakan bersama-sama memerangi korupsi dan dengan strategi yang jelas. oleh karena itu jaringan korupsi sulit untuk diterobos dari dalam. kusir. dan juga korupsi sulit diberantas dari luar karena para aparat penegak hukum dapat menyediakan penjahat kelas teri untuk dikorbankan. walaupun pada negara yang sistem pemerintahannya sudah baik sekalipun. dan sistem ini akan melahirkan suatu lingkaran kebijakan yakni lingkaran yang memungkinkan setiap lembaga apapun berperan sekaligus sebagai pengawas dan pihak yang diawasi. Kita harus menyadari bahwa peran serta masyarakat dalam memberantas tindak pidana korupsi harus dilakukan oleh semua komponen masyarakat secara aktif. atau dengan kata lain sebagai pemantau dan sekaligus yang dipantau. Dalam sistem integrasi. Hal ini akan membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap dan memberikan sanksi hukum kepada pelaku tindak pidana korupsi. yaitu: 1. 4. Pemberantasan tindak pidana koruspi akan berhasil jika masyarakat ikut aktif berperan dalam pemberantasannya.

dan sosial budaya akan mengalami keberhasilan jika masyarakat dilibatkan dalam pembangunan tersebut. Kurang aktifnya masyarakat dalam mengontrol. Disinilah aspek pemberdayaan masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik. yang artinya tidak akan terciptanya pemerintahan yang baik jika korupsi masih berkembang tidak terkendali. 3. Baik itu pembangunan dibidang politik. Pemberantasan korupsi merupakan mata rantai yang saling melekat dalam setiap langkah menciptakan pemerintahan yang baik (good governance). 2. komunis. ekonomi dan sosial budaya. Ada beberapa peluang dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. maka kemungkinan besar akan lalai yang dikarenakan beratnya tugas yang diemban disatu sisi. Demikian pula pemberantasan tindak pidana korupsi. Semakin kuatnya tekanan masyarakat terhadap penanganan kasus. kapitalis. 2. Sistem pemerintahan yang memungkinkan dan memberikan peluang untuk melakukan korupsi. Kegagalan pembangunan pada era Orde Baru adalah contoh terpinggirnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. serta manisnya godaan kekuasaan dan uang disisi lain. hanya maka akan menjadi impian yang kosong atau hanya akan menjadi harapan korupsi akan hilang dari Indonesia.2. maka besarnya peluang pemberantasan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh masyarakat dan dilakukan secara bersama-sama dalam arti semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi memberantas tindak pidana korupsi. dan 3. dan melupakan keberadaan Allah SWT dalam kehidupan. Ada empat (4) hal yang membuat korupsi sulit diberantas atau tumbuh tidak terkendali. baik dibidang politik. Pemerintah tentunya menyadari bahwa jika tidak ada yang diingatkan terus menerus untuk melakukan sesuatu untuk memberantas tindak pidana korupsi. baik dari peraturan perundang-undangan maupun dari norma-norma yang ada. masyarakat harus dilibatkan dalam pemberantasan tindak pidana korupsi dan masyarakat juga harus dilibatkan dalam setiap kegiatan pembangunan agar terjadi kontrol sosial yang menyeluruh. Semakin menurunya moralitas. Oleh karena itu. Lembaga hukum sering kali tidak memiliki kemauan atau keinginan terhadap penanganan kasus korupsi karena lembaga atau instansi tersebut merupakan bagian dari korupsi yang sistemik dan sistematis. Pandangan hidup yang materialistik. sekuler. ekonomi. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 12 . serta 4. Dengan sistem politik yang semakin demokratis membuka ruang gerak bagi po¬litisi maupun aktivis yang anti korupsi untuk berpolitik dengan mengedepankan dan memperjuangkan aspirasi rakyat. dan kesadaran masyarakat. jika masyarakat tidak ikut serta dalam perberantasan korupsi.kasus korupsi. Berdasarkan kelemahan-kelemahan dari lembaga-lembaga penegak hukum. Sebagian aparat penegak hukum yang bersih dan memiliki kemauan untuk tidak melakukan perbuatan korupsi. sulit menjalankan tugas karena mendapat tekanan dari lingkungan kerja atau lembaga dimana dia bekerja. yaitu : 1. Produk perundang-undangan yang semakin mengedepankan partisipasi masyarakat dan trasparansi informasi. Pemberantasan tindak pidana korupsi merupakan jalan untuk menciptakan pemerintahan yang baik (good governance). yaitu : 1. akhlak.

Menginformasikan. dan Manipulasi. dan 3. dan 6. 8. Partisipasi masyarakat akan melahirkan suatu kebijakan pemerintah yang lebih berorientasi pada kepentingan masyarakat. Tangga ke-4 sampai tangga ke-6 dikatagorikan sebagai tingkat Tekonisme. 4. Sebagaimana yang dimaksud di atas. Kemitraan Peredaman. yaitu : Pertama. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 13 . yaitu : 1. 4.Pentingnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Penentraman atau terapi. 6. Adanya campur tangan masyarakat dalam proses pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. bentuk dari partisipasi masyarakat dapat dilihat dari sifatnya yang dapat dibedakan menjadi dua (2) jenis. partisipasi otonom atau mandiri yaitu suatu partisipasi masyarakat yang lahir dari kesadaran masyarakat untuk mempengaruhi kebijakan publik. Konsultasi. 2 dan 3) termasuk ke dalam tingkat kekuasaan masyarakat (Citizen Power). yaitu suatu peran masyarakat yang didengar dan diperkenankan berpendapat. 3. Partisipasi aktif akan lahir jika masyarakat aktif dan sadar (mengetahui dan memahami permasalahan yang sebenarnya terjadi). 7. Adanya kebebasan dari masyarakat untuk memperoleh informasi. Sedangkan yang Kedua. 2. Suatu kebijakan pemerintah yang disusun secara partisipatif akan lebih legitimate di masyarakat. 2. Pengawasan oleh warga atau masyarakat. Partisipasi masyarakat akan meringankan tugas-tugas aparat pemerintah. yaitu : 1. Sedangkan tiga tangga teratas (1. Adanya komitmen transparansi dari pemerintah. karena sasarannya adalah bentuk mendidik dari masyarakat yang berpartisipasi. Delegasi kekuasaan. Bentuk partisipasi masyarakat yang sesungguhnya harus mensyaratkan adanya kesepakatan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan publik. 5. Dengan itu dalam partisipasi masyarakat harus mensyaratkan : 1. Adanya kesadaran masyarakat untuk mencari informasi. Bentuk dari partisipasi masyarakat dapat dibagi menjadi delapan (8). Adanya kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat. Adanya jaminan hukum bagi masyarakat. 2. Masyarakat pada tingkat ini memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan dengan menjalankan kemitraan (Partnership) dengan memiliki kemampuan tawar menawar dengan penguasa. 5. mobilisasi termasuk di dalamnya partisipasi seremonial yaitu bentuk partisipasi masyarakat yang digerakkan oleh orang atau kelompok elit politik tertentu. Dua tangga terbawah (7 dan 8) dikatagorikan sebagai non partisipasi. 3.

maka kita harus menciptakan kontrol sosial bagi diri kita dan orang lain. suku. Kontrol Manajerial Selain kita meningkatkan kontrol pada diri kita dan kontrol sosial. atau pun garis keturunan. dengan cara mendatangi kelompok-kelompok atau orang-orang yang dapat memberikan nilai positif bagi diri kita. Selain pemberantasan korupsi dimulai dari diri pribadi dan lingkungan keluarga. baik kepada bawahan maupun atasan. 3. Langkah pencegahan korupsi harus mentrasmisikan nilai-nilai kejujuran. kebenaran dan keadilan pada keluarga dalam hal pengelolaan uang. Pemberantasan korupsi harus dilakukan pada diri sendiri dan orang yang dekat dengan kita. maka kita memerlukan kontrol dari orang lain. ada lagi kontrol yang dapat menjauhi diri kita dari perbuatan korupsi yaitu kontrol manajerial yang menjadi bagian dari mekanisme kerja. penanganan korupsi harus juga dimulai dengan pemberdayaan masyarakat dan kalangan birokrasi untuk tidak menyuap atau menerima suap. Kontrol Sosial Agar kita tidak malakukan perbuatan korupsi. Kontrol Transenden Ini adalah kontrol tertinggi dari segala kontrol yang sudah disebutkan di atas. Ada beberapa kontrol yang berkait dengan bentuk peran serta masyarakat dalam mencegah dan memberantasan tindak pidana korupsi. bukan dari “aib” orang lain. menambah pemahaman terhadap korupsi. dampak akibat korupsi. 4. yaitu : Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 14 .Sebagaimana syarat-syarat dari partisipasi masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi harus didukung dengan kontrol sosial secara umum. keluarga kita dan masyarakat luas. Kontrol Internal. resiko yang harus dihadapi jika melakukan korupsi dan bahaya korupsi bagi diri kita. dan dilanjutkan dengan penegakkan hukum yang konsisten dan tanpa adanya diskriminasi baik atas dasar jabatan. Oleh karena itu melakukan sesuatu dan agar tidak terjadi suatu kesalahan. Kontrol ini lahir dari keyakinan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui segala yang kita kerjakan baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. begitu juga pemberantasan korupsi harus harus dilakukan dengan kontrol sosial yang terkait dengan bentuk partisipasi masyarakat. Dalam hal ini kita dituntuk untuk terbuka terutama dalam urusan keuangan. yang tersirat ataupun yang tersurat. Ada tiga (3) bentuk strategi yang dapat membantu dalam peran dari masyarakat dalam memberantas tindak pidana korupsi. yaitu : 1. agama. Yaitu kontrol dari dalam diri sendiri. 2. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kontrol internal seperti beribadah kepada Allah SWT.

Strategi ini harus dilakukan dengan cara yakinkan diri kita untuk tidak melakukan atau membantu melakukan perbuatan korupsi. a. Pemilu yang telah berlangsung secara demokratis. Maka kita bisa mengerti bagaimana ketiga pitar (legislatif. Kita tahu ketiganya tidak steril dari rezim lama yang korup. Sistem pemilu secara proporsional terbukti tidak menjamin public accountability dari anggota DPR.1. sektor swasta dan civil society dengan memperkuat rule of law. yaitu : 1) Reformasi politik harus menjadi agenda utama dalam pemeberantasan korupsi. malah sekarang masalah politik uang (money politic) menjadi fenomena tersendiri. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 15 . Norma Kesusilaan dan Norma Kesopanan. Realitas money politic di kalangan wakil rakyat harus dilihat bukan semata dari sisi moral para wakil rakyat. Di bawah ini. memperkuat kapasitas anggota DPR dan civil society dan perubahan sistem pemilu yang lebih demokratis dengan tidak memperjual belikan suara rakyat 2) Pemberdayaan legislatif yang terkait dengan reformasi sistem pemilihan umum. harus dilakukan pencegahan preventif lainnya yaitu dengan cara mereformasikan sistem politik dan sistem birokrasi. 3) Pemberdayaan civil society yang paling penting dalam hal ini menyangkut pemberian akses masyarakat terhadap inforrnasi mengenai kebijakan pemerintah. dan Norma Kesopanan. kalau tidak ada kebebasan memperoleh informasi. tapi juga sistem electoral yang membangun loyalitas mereka kepada elite parpol. Kebebasan pers menjadi tidak bermakna dalam menjalankan fungsi pengawasan. terbukti tidak mampu melahirkan elite-elite politik yang memiliki integritas tinggi dan lepas dari masa lalu. Dalam konteks ini bukan rahasia partai politik membisniskan jabatan politik. terutama dalam upaya pembatasan dan pembagian kekuasaan yang seimbang dalam hubungan negara. sehingga kebijakan pemerintahan berdasar pada preferensi masyarakat. bukan kepada rakyat. Strategi Preventif Yaitu strategi yang bersifat mencegah atau setidaknya meminimalkan terjadinya tindak pidana korupsi. Partai politik yang kebanyakan dibentuk oleh elite politik yang sumber keuangannya sangat tergantung dari kalangan pengusaha besar dan anggota-anggota mereka yang berada di pemerintahan atau BUMN. Yang diharapkan akan lahir lembaga legislatif yang kuat dan bersih untuk bisa melakukan kontrol terhadap penyelenggaraan pemerintahan. eksekutif dan yudikatif) penyelenggara negara itu tidak berdaya atau cenderung melangengkan korupsi. Selain strategi preventif ini terkait dengan Norma Agama. Strategi ini terkait dengan norma-norma yang ada di masyarakat seperti Norma Agama. Norma Kesusilaan. ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mereformasikan sistem politik di Indonesia. turut mempertahankan realitas patronasi politik dalam bisnis yang menjadi akar korupsi di tingkat atas. Reformasi Politik Korupsi di tingkat elite lebih merupakan masalah politik.

b. sebagai agenda utama pemberantasan korupsi. Dekonstruksi sosial bukanlah antitesis dari tesis yang ada. 2. Rasanya korupsi hanya bisa dikendalikan jika semua urusan publik dilepaskan dari pemujaan atas topeng-topeng kekuasaan yang ada dengan cara transparansi data dari setiap pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. dan keterbukaan merupakan prasyarat utama dalam proses pembaruan itu sendiri. Ide subsidiaritas. Strategi Detektif Yaitu strategi yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi atau mendeteksi apakah telah terjadi tindak pidana korupsi. untuk memperpendek perijinan atau pelayanan publik di tingkat birokrasi paling rendah. Strategi Advokasi Yaitu strategi yang dilakukan dengan cara membangun sistem yang dapat menyelesaikan kasuskasus korupsi secara hukum dan memberikan sanksi yang berat terhadap kejahatan korupsi yang dilakukan. Strategi ini harus dilakukan dengan cara pengumpulan data. dekonstruksi sosial merupakan rajutan-rajutan baru yang terbuka secara terus-menerus. tetapi suatu sintesis dari keunggulan-keunggulan kemanusiaan dan bersifat dinamis melalui proses dialektika yang akan terus-menerus memperbarui dirinya. Reformasi Birokrasi Pencegahan korupsi yang paling strategis adalah menutup semua peluang terjadinya korupsi. Kasus-kasus korupsi yang diproses secara hukum Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 16 . Peningkatan gaji di tingkat elite pemerintahan tidak akan efektif untuk mencegah korupsi. Kesalahan pertama yang dilakukan pemerintah justru tidak memprioritaskan penegakan hukum. pemerintah akan gagal dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN. Otonomi daerah harus dilihat sebagai upaya untuk mengikis sentralisasi kekuasaan administrasi pemerintahan yang kondusif bagi pemberantasan korupsi. Dekonstruksi sosial akan melahirkan sistem kehidupan masyarakat baru yang terbuka dan semua urusan publik tidak lagi bertopeng atau tertutup-tutupi. Di dalam strategi detekdif memerlukan suatu dekonstruksi sosial. Penegakan hukum tidak hanya menyangkut independensi lembaga yudikatif terhadap eksekutif. Sebagai sintesis. mungkin dapat dipertimbangkan untuk memangkas rantai korupsi pada birokrasi pemerintahan. 3. Agenda reformasi birokrasi pemerintahan harus termasuk didalamnya adalah memperbaharui sistem birokrasi yag berbelit-belit dan pembersihan birokrasi dari pejabat-pejabat yang diduga melakukan tindak pidana korupsi. tapi yang paling penting adanya kerangka hukum dan mekanisme untuk menegakannya untuk menjamin hak-hak warga negara dalam menegakan akuntabilitas pemerintah. apabila sistem birokrasi masil menyulitkan masyarakat. Sejauh ini hukum nampak tidak berdaya di hadapan para konglomerat hitam dan elite politik. karena sistem pelayanan publik sangat birokratis. Pintupintu korupsi itu sekarang sangat terbuka lebar.

Selama mereka yang melakukan tindak pidana korupsi tidak dijebloskan ke penjara. Masyarakat senantiasa mengaitkan kinerja kejaksaan dan kepolisian yang di masa lalu menjadi aparat represif pemerintah Oere Baru yang sangat efektif membungkam aktivis atau oposisi. Di dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. jika tidak ada proses dari penegak hukum maka para koruptor tidak akan mendapatkan hukuman yang setimpal. b. jangan harap korupsi akan berhenti sekalipun peluang untuk korupsi sudah diminimalisir. sampai saat ini belum tersentuh reformasi. Sekarang ini masyarakat sangat sulit untuk menyeret koruptor ke pengadilan karena harus cukup bukti. memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi. jangan harap koruptor akan diadili. jaksa. hakim dan pengacara.senantiasa dihentikan di tingkat penyidikan atau dibebaskan di pengadilan. yang melibatkan polisi. hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari. Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diwujudkan dalam bentuk : a. sebagai benteng terakhir pencari keadilan masyarakat. Masalah ini terkait dengan realitas mafia peradilan yang juga nampak masih bercokol. memperoleh. Memang sudah dibentuk lembaga-lembaga pemeberantasan korupsi untuk mensubstitusi fungsi kejaksaan dan kepolisian. Program pembersihan lembaga peradilan harus dimulai dari MA. dan dalam pembuktian ini akan sangat dipengaruhi oleh kepentingan jaksa atau penyidik. hak mencari. Pembaharuan institusi hukum dan perundang-undangan sekarang ini menjadi tidak ada artinya di tengan mafia peradilan. hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang diberikan kepada penegak hukum dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari. Tetapi independensi lembaga tersebut masih diragukan oleh masyarakat. c. 31 tahun 1999 belum mempermudah proses peradilan korupsi. di dalam BAB V Tentang Peran Serta Masyarakat Pasal 41 menyatakan : 1. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi. dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi. sebatas yang dilimpahkan oleh kejaksaan. Membersihkan mafia peradilan. karena belum mengakomodir asas pembalikan beban pembuktian (pembuktian terbalik). Selain strategi yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk memerangi korupsi ada satu lagi strategi yang tidak kalah pentingnya yaitu strategi represif yaitu kewenangan penegak hukum untuk memproses tersangka tindak pidana korupsi. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 17 . 2. Revisi Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pindana Korupsi No. dan Jaksa Agung tidak memberikan kewenangan penuh untuk menangani korupsi. Maka kalau penyidiknya bagian dari sindikasi korupsi. d. Masyarakat dapat berperan serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. dengan melibatkan unsur masyarakat.

Di dalam ayat (4) mengatur tentang “mentaati norma sosial lainnya”. saksi. terdapat Norma Agama. Di dalam Pasal 41 ayat (5) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999. Oleh karena itu. bentuk peran serta masyarakat dalam memberantas tindak pidana korupsi harus mentaati dan didasari oleh keempat (4) norma yang ada dimasyarakat. penyidikan. 3. dengan maksud agar dalam menjalankan atau melaksanakan bentuk peran serta dari masyarakat dalam pemberantasan korupsi tidak keluar jalur yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undagan dan norma yang ada dimasyarakat. Hak dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) dilaksanakan dengan berpegang teguh pada asas-asas atau ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dengan mentaati norma agama dan norma sosial lainnya. agar terlaksananya bentuk peran serta masyarakat dengan baik dalam hal pemberantasan tidank pidana korupsi dibuatlah Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran sera Masyarakat Dan Pemberian Penghargaan Dalam Mencegah Dan Memberantas Tindak Pidana Korupsi. Norma Kesusilaan dan Norma Kesopanan. 4. 2) diminta hadir dalam proses penyelidikan. b. Masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai hak dan tanggung jawab dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat empat (4) norma yaitu Norma Ketuhanan yang mengatur tentang keimanan dan ketakwaan seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Norma Kesopanan tentang tata cara hidup bermasyarakat. oleh karena itu. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Norma Kesusilaan yaitu mengenai isi dari jiwa dan hati seseorang (badaniah). Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini. Pada Pasal 2 ayat (2) Peraturan Pemerintah tersebut. hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal: 1) melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a. dan c.e. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 18 . dan yang terakhir adalah Norma Hukum yaitu berkaitan dengan pengaturan seseorang hidup dimasyarakat. atau saksi ahli. diterangkan bahwa ketentuan mengenai tata cara peran serta masyarakat dalam pemberantasan tidank pidana korupsi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. yang menunjukkan bahwa tata cara pelaksanaan bentuk dari peran serta masyarakat harus didasarkan oleh norma-norma yang ada dan hidup dimasyarakat. dan di sidang pengadilan sebagai saksi pelapor.

Di dalam Pasal 2 ayat (2) tersebut dicantumkan secara tanggung jawab sesuai Norma Agama. banyak terjadi proses pengadilan kasus korupsi yang hanya dikatakan. 71 Pasal 4. Jika hukum saja sudah Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 19 . dan memberikan informasi tentang dugaan tindak pidana korupsi jangan hanya dilihat dari hukum positif tetapi juga harus dilihat dari Norma Agama. Peraturan Pemerintah No. yaitu mencari. para penegak hukum di negeri ini dengan dengan mudah menjawab menjawab. Kemudian. “Tidak ada ketentuan undang-undang yang melarang hal itu”. seperti rahasia bank. tetapi harus juga mengacu pada norma-norma yang ada di masyarakat. dan Kesopanan”. Dalam hal peran dari masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi yaitu terkait dengan pasal-pasal dalam peraturan perundang-undagan yang berlaku yaitu Pasal 41 ayat (2) Undangundang No. dan pendapat atau permintaan informasi harus dilakukan secara bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Norma Agama Di dalam pembuatan peraturan perundang-undangan diawalnya dengan kalimat “Dengan Rahmat Tuhan Yang Esa”. Kesusilaan. bagi para praktisi hukum atau para penegak hukum dan pejuang keadilan jangan hanya mengacu pada hukum positif saja. “Semua itu sudah sesuai dengan proses hukum dan pengadilan yang berlaku di atas undang-undang yang sudah digariskan”. Di dalam Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dan Pemberian Pengahargaan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. bahkan dibebaskan. sebagai peraturan yang menjalankan tentang peran serta masyarakat telah memberikan peluang sebesar-besarnya dalam mencari. Karena di balik hukum positif yang diperjuangkan. makna dari kalimat ini adalah sesuatu perbuatan yang akan kita lakukan harus berdasarkan Ketuhanan. saran. 31 Tahun 1999.1. Di balik hukum positif terdapat hukum yang lebih tinggi yaitu hukum Tuhan yang berdasarkan Norma Ketuhanan yang memiliki nilai jauh lebih tinggi dan pertanggungjawabannya jauh lebih berat daripada hukum positif yang diciptakan atau diundang-undangkan oleh manusia. rahasia pajak. Artinya. Jika seorang pencuri biasa seperti pencuri ayam dikurung hingga belasan tahun dalam penjara. sedangkan koruptor miliaran rupiah hanya diganjar satu tahun penjara. memperoleh dan melaporkan dugaan korupsi. memperoleh. rahasia kekayaan pejabat negara. begitu pula dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur baik pemberantasan tindak pidana korupsi maupun peraturan pelaksana dari peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. tetapi dalam ayat (3) peraturan tersebut juga ada bentuk penolakan tentang pemberian informasi tentang dugaan korupsi yang terkait dengan rahasia-rahasia negara. terdapat norma-norma hukum lain yang sangat luhur yang seharusnya diperhatikan secara serius oleh para penegak hukum. Norma Agama. karena di dalam pasal tersebut juga mensyaratkan mentaati norma Agama. dengan tujuan pemberantasan korupsi di Indonesia dilakukan berlandaskan Ketuhanan dan diberikan rahmat oleh Tuhan Yang Maha Esa agar yang dicita-citakan yaitu hilangnya korupsi di bumi Indonesia dapat cepat terwujud. Hal tersebut telah jelas bahwa dalam peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi harus disesuaikan dengan Norma Agama. pada Pasal 2 ayat (2) “Penyampaian informasi.

akan dengan mudah memberikan jawaban “tidak. pedangang. Upaya pemberantasan korupsi sesuai denan norma agama adalah terkait dengan keimanan seseorang yang dikarenakan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan keimana terkait dengan kejujuran terhadap apa yang diperbuat. Problemnya. Norma agama adalah norma yang sangat fundamental yang berlaku secara universal. buruh. Melihat dari kasus-kasus korupsi besar. diperlukannya komitmen bersama untuk membulatkan tekat dan niat memberantas tindak pidana korupsi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kolusi dan Nepotisme (KKN) sesuai dengan “Sila Pertama dalam Panca Sila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa” dan kalimat pembuka dalam setiap peraturan perundang-undangan yaitu “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa”. Di dalam kehidupan beragama dikenal adanya surga dan neraka. Tetapi jika tingkat keimanan seseorang rendah. apabila tingkat keimana seseorang tinggi maka hampir semua tingkah lakunya terarah atau dengan kata lain tingkat kejujurannya tinggi. Apabila. maka tingkat kejujurannya pun masih diragukan. undang-undang anti korupsi memfasilitasi penegakan hukum. Oleh karena itu. Norma hukum memang belum sepenuhnya sempurna. pegawai baik yang negeri maupun yang Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 20 . yang dikarenkan jika informasi tersebut tidak diberikan maka akan menyengsarakan masyarakat banyak. Apabila kita ingin melakukan sesuatu kita harus membenahi dan memperkuat niat kita yaitu niat untuk menciptakan bangsa Indonesia yang bebas dari Korupsi. bahkan menggariskan rambu pidana sampai tahap hukumam mati. yang melibatkan aparat penegak hukum.memberikan kesempatan untuk tidak memberikan informasi tentang dugaan korupsi. Niat adalah faktor internal yang sangat berpengaruh di dalam menjalankan suatu kegiatan atau perbuatan dan niat ada di dalam hati seseorang atau ada di dalam diri seseorang. oleh karena itu terjadinya kesenjangan antara law in the book (hukum dalam UU) dengan law in action (hukum dalam kenyataan). Aparat penegak hukum hanya melihat persoalan utama yang kemudian teridentifikasi hanya pada level law enforcement (penegakan hukum). baik dari kalangan petani. maka apalagi pejabat yang menjalankan atau yang hanya mengacu pada hukum positif saja tidak melihat normanorma yang ada di masyarakat. Dari segi normanorma hukum positif. maka mereka akan merasa bahwa informasi tersebut sangat penting untuk mencegah atau bahkan untuk memberantas korupsi. tanpa memiliki efek jera. ini rahasia negara!!!”. yang dikarenakan dia yakin bahwa Tuhan Maha Melihat dan Mendengar segala sesuatu yang diperbuat oleh setiap manusia. Hukum positif tidak cukup sebagai solusi dengan langkahnya law enforcement. semua aparat penegak hukum tidak hanya melihat dari satu sisi yaitu sisi hukum positif. Norma-norma hukum tak sanggup ditegakkan dengan baik. sumber daya manusia penegaknya dilanda krisis moral dan agama sehingga norma-norma hukum positif hanya berfungsi sebatas konsep law enforcement. bahkan ada benturan antara satu norma hukum dengan norma yang lainnya terutama Norma Agama yang sifatnya fundamental.

Oleh karena itu. Bila pelaku korupsi ditanya sikapnya tentang korupsi. Dalam kaitannya dengan Norma Agama. hampir bisa dipastikan akan menilai korupsi sebagai keburukan. Sikap positif adalah salah satu implementasi dari tingkat keimanan terhadap korupsi maka kecenderungan seseorang untuk melakukan korupsi cenderung besar. mereka melakukan korupsi juga. serta niat yang baik karena Tuhan Yang Maha Esa dan takut kepada-Nya. Sikap dalam menilai suatu masalah termasuk masalah korupsi adalah terkait dari tingakat keimana kepada Tuhan Yang Maha Esa. serta niat yang telah bulat untuk tidak malakukan hal-hal yang berbau korupsi. kita harus membenahi sikap dan perilaku kita agar sejalan dalam hal memberantas korupsi.swasta. mengetahui dampak dari perbuatan korupsi. oleh karena itu bentuk peran serta masyarakat hanya dapat diinterprestasikan dalam bentuk-bentuk peran serta masyarakat yang terkait dengan Norma Agama seperti mengingkatkan iman dan takwa kepada Tuhan. menambah pemahaman terhadap korupsi. karena semua kejadian atau perbuatan berawal dari niat di dalam diri pribadi (masyarakat). Sedangkan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemberantasan tindak pidana korupsi baik Undang-Undang No. Jadi. maka semua bentuk kejelekan atau keburukan yang ada dan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang terkait dengan perbuatan korupsi akan sulit masuk ke dalam diri kita yang dikarenakan telah tertanam keimanan dan ketakwaan. pengusaha sampai pejabat tinggi negara. Namun hal ini tidak berarti bila sikap seseorang negatif terhadap korupsi akan membuat seseorang tidak berkorupsi. sikap positif atau negatif terhadap korupsi belum bisa dijadikan prediksi yang kuat atas timbulnya perilaku korup. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kontrol internal seperti beribadah menurut agama masing-masing. resiko yang harus dihadapi jika melakukan korupsi dan bahaya korupsi bagi diri kita. Apabila benteng keimanan dan ketakwaan sudah sangat kokoh. Kontorl internal yaitu kontrol dari dalam diri sendiri. Antara sikap dan perilaku kadangkala tidak sejalan. Norma agama memiliki sanksi yang tidak dapat dirasakan langsung tetapi sanksi tersebut akan diberikan kelak pada saat di akhirat. bentuk dari peran masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi sebagai individu-individu harus dimulai dari diri pribadi dengan cara meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 31 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. Namun. dan untuk korupsi „seringkali‟ tidak sejalan. 70 Tahun 2000 tidak mengatur lebih rinci atau dijelaskan secara jelas tentang tata cara peran serta masyarakat dalam pemberantasan korupsi yang terkait dengan Norma Agama yang dikarenakan norma tersebut memiliki sifat yang universal dan hanya dapat dilakukan dengan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Mengetahui segala perbuatan manusia. Pejabat-pejabat dari berbagai tingkatan sering mengecam dan mengutuk korupsi. keluarga kita dan masyarakat luas. agar tidak terjerumus dan berniat untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang ada terutama norma agama. kontrol internal dalam diri pribadi sangat diperlukan agar seseorang tidak melakukan hal-hal yang buruk dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 21 . Masyarakat yang menyakini dan mengimani bahwa akan datang suatu pembalasan kepada dirinya untuk setiap tindakan-tindakan yang dilakukan baik itu tindakan yang baik maupun tindakan yang buruk.

sejatinya ancaman pidana itu merupakan psikologisce dwang (paksaan psikologis). Pertama. semakin berbudaya suatu bangsa. Keterlibatan semua elemen masyarakat merupakan keniscayaan dan kita harus memulainya dari sekarang. Namun. Dengan demikian masih pantaskah dirinya mencalonkan diri ke dalam jabatan-jabatan publik yang menghendaki kredibilitas yang tinggi. Bangkitnya kesadaran diri inilah yang menjadi tujuan akhir sesungguhnya dari cara-cara hukum. Kasusilaan. alternatif dilakukan dengan pendekatan kultural. Di lain sisi. semakin tinggi pula budaya bangsa itu dalam berhukum. semua harus menyadari. Contoh konkret hal ini adalah gerakan untuk tidak memilih politisi busuk dalam pemilu legislatif justru mendapat tantangan dari komunitas hukum karena ada asas praduga tidak bersalah dan sejenisnya. pencelaan ini merupakan suatu bentuk penyesalan yang ditimpakan terhadap mereka yang melakukan pelanggaran hukum. Di lain pihak. Mungkinkah pencelaan dan penyesalan ini masih relevan di tengah arus liberalisme dan kapitalisme yang mengepung kita kini? Akan tetapi. ingin dipuji dan lain sebagainya. pendekatan psikologis. Kesopanan dan Hukum) dan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dan Pemberian Penghargaan Dalam Mencegah Dan Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 22 . Norma Kesusilaan Di dalam menjalankan Norma Kesusilaan adalah norma yang terkait dengan tingkah laku seseorang yang timbul dari dalam jiwa seseorang yang bersifat badaniah dan terkait dengan sifat sombong. Teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat harus memberi kontribusi positif dalam cara-cara berhukum.2. Mereka yang melanggar hukum secara psikologis hendaknya menyadari bahwa yang bersangkutan telah melakukan perbuatan tercela. maka menghidupkan nilai budaya malu sebenarnya menemukan relevansinya dalam kultur kehidupan kita. Apa lagi bangsa ini dikenal sebagai bangsa berbudaya. Budaya malu harus dihidupkan. Sementara perilakunya telah menyimpang dari Norma Kesusilaan. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang mengatur tentang Permerantasan Tindak Pidana Korupsi untuk mentaati norma-norma sosial lainnya (Agama. masihkah budaya malu ini meresap dalam kalbu masing-masing individu di dalam kehidupan bermasyarakat? Kedua. Pendekatan budaya ini menghendaki agar nilai-nilai kultural yang dijunjung tinggi ditegakkan kembali. Pendekatan ini memunculkan dampak psikologis terhadap mereka yang ditengarai melakukan pelanggaran hukum. Pendekatan ini hendak menegaskan. Baik pendekatan kultural maupun psikologis. di atas segalanya. kedua pendekatan ini merupakan proyek besar yang tidak pernah selesai. hendaknya memunculkan kesadaran dalam diri masing-masing untuk berperilaku yang pantas dengan mengindahkan aturan-aturan di bidang mana pun. kedua pendekatan ini dirasakan tidak efektif dalam tataran faktual. Pelaku seharusnya merasa dirinya tidak layak lagi mencalonkan diri akibat paksaan psikologis ini. Penghukuman yang dijatuhkan merupakan bentuk pencelaan atas perbuatan yang dilakukan. pamer. Masalahnya kini.

Norma ini terkait dengan pencegahan perventif. sombong dan lain sebagainya. ingin dipuji. Apabila pelaksanaan peraturan tersebut dijalani dengan penuh rasa sombong. ingin dipuji dan lain sebagainya. baik dengan jalan yang halal maupun yang haram seperti melakukan perbuatan korupsi. Niat untuk melakukan korupsi. seperti melihat tetangga atau teman kita membeli motor baru kita pun ingin membeli motor baru tersebut. isi hati. Menjaga hati dan jiwa dari sifat pamer. iri hati. Korupsi yang dilakukan dilevel atas akan menyebabkan kesulitan-kesulitan ekonomi dan kesulitan ini juga pada gilirannya menjangkitkan korupsi yang lebih lanjut. niat terhadap korupsi lebih bisa dijadikan prediksi terhadap kemungkinan timbulnya perilaku korup. mengatakan : “Sebab utama korupsi adalah nafsu untuk dapat hidup mewah melalui jalan pintas. Nafsu terkait dengan sifat-sifat hati dan jiwa yang lain seperti. Dari pada sikap. Niat ini dipengaruhi oleh keadaan dan situasi. Jika hal tersebut telah kita jauhi maka tidak ada lagi kebutuhan-kebutunan yang keluar percuma dan tidak akan ada kata korupsi di dalam kehidupan kita yang kita usahakan untuk memenuhi sifat pamer kita. sombong dan lain sebagainya dengan cara tidak melakukan perbuatan yang bisa menimbulkan kata-kata sombong. apakah mereka sudah dapat mengkontrol diri dari sifat nafsu atau tidak ?. ingin dipuji dan laing sebagainya. b. iri seperti sering mengonta-ganti mobil. Menjauhi lingkungan yang dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang serba pamer. Sebaliknya seseorang yang memiliki sikap negatif mungkin tidak berniat mungkin juga berniat. Jadi. justru pemberantasan korupsi harus dimulai dari akarnya. yaitu pencegahan dini sebelum perbuatan itu dilakukan oleh seseorang. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam pelaksanaan peraturan tersebut haruslah dijalankan dengan hati dan jiwa yang bersih baik dari sifat iri. oleh karena itu dalam menjalankan atau melaksanakan peran dari masyarakat sebagai kontrol sosial harus mengkontrol diri meraka masingmasing. Seseorang yang bersikap positif mungkin berniat melakukan korupsi mungkin juga tidak. niat lebih dekat terhadap perilaku. yaitu pada level yang atas dan penanggulannganya harus pula melibatkan seluruh komponen bangsa” Nafsu adalah salah satu faktor yang dapat membuat seseorang akan melakukan apa pun untuk memenuhi kebutuhan dari nafsunya tersebut. sombong.Memberantas Tindak Pidana Korupsi pun mencantumkan kata mentaati Norma Kesusilaan. Hanya saja bila seseorang bersikap positif terhadap korupsi maka niat melakukan korupsi cenderung lebih besar daripada yang memiliki sikap negatif. Abdul Rahman Ibnu Khalidun sebagaimana dikutip oleh Syahrul Mustofa. maka hal tersebut akan menimbulkan suatu fitnah jika hal tersebut tidak terbukti dan bisa juga menimbulkan korupsi yang tidak disadari. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 23 . ingin pamer. Bentuk peran serta masyarakat yang terkait dengan pemberantasan tindak pidana korupsi dilihat dari norma kesusilaan yaitu : a. karena dengan menjauhi lingkungan tersebut kita dan keluarga kita tidak akan ada dorongan untuk melakukan hal-hal yang terkait dengan sifat pamer. Misalnya saja adanya tuntutan akan taraf hidup yang lebih baik. Niat memiliki bagian yaitu adalah nafsu. pamer. Baik sikap positif maupun negatif terhadap korupsi bisa melahirkan niat untuk berkorupsi. pamer. tamak. tuntutan untuk melepaskan diri dari kesulitan dan lainnya.

Empati dapat ditumbuhkan sejak kecil hingga dewasa baik dengan pendidikan yang formal maupun pendidikan yang non formal. Agar kita tidak malakukan perbuatan korupsi. memperoleh dan melaporkan tentang dugaan perbutan korupsi jangan dirusak dengan tata cara yang salah. maka kita harus menciptakan kontrol sosial bagi diri kita dan orang lain. Upaya pemberantasan korupsi sesuai dengan Norma Kesopanan adalah agar kehidupan bersama dalam masyarakat menjadi harmonis dan menjadi rukun tidak terjadi sesuatu yang menyebabkan konflik. Sebagaimana peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. yang sama sebagai korban akibat perbuatan korupsi. Dengan menumbuhkan rasa atau sifat empati di dalam diri seseorang akan menumbuhkan budaya anti korupsi dimana tidak ada rasa iba terhadap pelaku tindak pidana korupsi. dengan cara mendatangi kelompok-kelompok atau orang-orang yang dapat memberikan nilai positif bagi diri kita. b. tersosialisasikannya yang secara luas dapat diterima sebagai pemandu arah gerakan. Norma ini pun terkait dengan norma-norma yang lain. Norma Kesopanan adalah norma yang mengatur tentang kesedapan hidup bertetangga dan bermasyarakat. Kontrol manajerial yang menjadi bagian dari mekanisme kerja. Dalam pemberantasan tindak pidana korupsi bukan hanya dengan jalan mencari simpati dari masyarakat tetapi juga empati dari masyarakat. dan tidak menghilangkan rasa hormat terhadap ketentuan hukum yang berlaku baik yang tumbuh di masyarakat maupun peranturan perundangundangan. Bentuk peran serta masyarakat dalam pemberantasan korupsi terkait dengan norma Kesopanan yaitu : a. Kaitannya dengan peran masyarakat dalam memberantasn koruspi dalam mencari. Norma Kesopanan Dalam mencari. niat baik kita dalam mencari. atau dengan kata lain bertentangan dengan hukum dan norma yang ada. dan melaporkan tentang dugaan tindak pidana korupsi harus memiliki tata cara yang telah ditentukan di dalam peraturan perundang-undagan dan juga telah ditentukan oleh norma-norma yang hidup dan tumbuh di masyarakat. salah satunya adalah Norma Kesopanan sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan yaitu Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2000 Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. baik kepada bawahan maupun atasan. Kunci utama dalam keberhasilan masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi ditinjau dari segi Norma Kesopanan yang terkait dengan kesedapan hidup bermasyarakat adalah kemampuan dalam membangun jaringan yang luas dan berbasis massa. Oleh karena itu. dari ide tersebut dapat diterima sebagai suatu cara untuk meraih Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 24 . norma ini juga salah satu dari pencegahan preventif. memperoleh dan memberikan informasi tentang dugaan korupsi harus menghormati orang yang lebih tua atau dalam artian jabatan yang lebih tinggi. yaitu pencegahan sebelum perbuatan itu dilakukan. inisiatif masyarakat akan muncul secara kreatif dan mendiri.3. untuk itu ada dua (2) tahap yang harus dijalani yaitu : Pertama. Empati adalah kondisi mental yang membuat seseorang merasa dirinya dalam perasaan yang sama dengan orang lain. Dalam hal ini kita dituntut untuk terbuka terutama dalam urusan keuangan. memperoleh.

Antara lain adalah kampanye sikap zero tolerance to corruption serta penerapan sanksi sosial terhadap figur-figur pejabat atau pengusaha yang korup. Kalau tidak. tokoh masyarakat. Sanksi sosial ini dapat berbentuk character assasination (penghancuran karakter). dan media massa. kekhawatiran bila gejala ketidakberdayaan hukum. Demikian juga hukum positif dan lembaga penegak hukum formal tak dapat dikatakan menjadi satu-satunya wadah untuk mengadili koruptor. Sikap seperti ini amat penting untuk mengimbangi rasa tak berdaya kita bersama terhadap pemberantasan KKN. inkonsistensi elite reformis dan apatisme sosial masyarakat secara bersama-sama akan mengawali krisis jilid kedua Indonesia tercinta ini. secara bersama lewat berbagai mekanisme pengorganisasian sosial yang ada. kembali mengangkat genderang perang melawan praktik KKN dan mengadili secara sosial figur pejabat dan pengusaha yang korup. menurut hemat penulis. Hasilnya. proses penyatuan ide-ide tersebut secara konkrit dalam sebuah rencana bersama yang sistematis dan terorganisir. Lebih jauh. kini kesadaran dan partisipasi masyarakat menjadi salah satu alternatif pemecahan lingkaran setan korupsi. simulasi peradilan komunal serta penerapan sanksi sosial ternyata telah menimbulkan rasa takut berikut rasa malu para koruptor dan anggota keluarga yang menikmati hasil korupsi itu. character assasination. intelektual. Ada banyak bentuk untuk mentransformasikan partisipasi dan kesadaran masyarakat ini ke dalam bentuk-bentuk konkrit pemberantasan KKN.harapan masa depan yang lebih baik. Bila kita sepakat bahwa korupsi juga merupakan penyakit sosial yang baik langsung maupun tidak langsung merugikan kepentingan masyarakat luas. berupa pendidikan politik bagi masyarakat sekaligus penegasan kembali terhadap norma-norma sosial konstruktif di masyarakat bahwa pejabat publik harus menganut prinsip akuntabilitas. Sudah sangat jelas bila cita-cita memberantas KKN tak lagi dapat diletakkan hanya di pundak para elite pemimpin kita kini. haruslah pula diterapkan saksi sosial. alienasi sosial (pengucilan sosial) terhadap figur koruptor berikut anggota keluarganya atau simulasi peradilan komunal terhadap para koruptor dalam rangka pendidikan politik di tingkat masyarakat. Artinya. seperti masalah kriminalitas. amat masuk akal bila kesadaran masyarakat luas dimobilisir untuk memerangi KKN. Kelembagaan sanksi sosial akan dengan sendirinya mendorong terciptanya iklim di masyarakat untuk menganut sikap zero tolerance to corruption secara perlahan-lahan. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 25 . Berbeda dengan peradilan formal. Kesadaran dan partisipasi masyarakat merupakan satu bentuk kekuatan yang dalam banyak hal telah terbukti mencegah dan meredam berbagai epidemi sosial. mahasiswa. Sedangkan tahapan yang Kedua. Selain hal-hal di atas. Koruptor diadili oleh masyarakat yang dirugikan. rasa-rasanya sudah saatnya kembali para LSM.

Di dalam pelaksanaan peran serta masyarakat untuk memberantas tindak pidana korupsi. Korupsi telah memberikan andil yang luar biasa besar dalam kebobrokan perekonomian negara. maka Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Nasional menegaskan bahwa : “suatu perbuatan tidak dapat dipidana. kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan pidana yang telah ada ” Meskipun terkesan hanya bersifat sebagai suatu formalitas. Oleh karena itu.4. Hak dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) dilaksanakan dengan berpegang teguh pada asas-asas atau ketentuan yang diatur dalam peraturan Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 26 . c. sebagai pedoman dalam upaya menegakkan hukum maka berdasarkan ketentuan hukum pidana nasional. Dengan akal yang dimilikinya sudah barang tentu manusia seharusnya mampu untuk menegakkan supremasi hukum. Seperti yang tercantum dalam Pasal 41 Undang-Undang Nomot 31 Tahun 1999 Tentang PemberantasanTindak Pidana Korupsi. Pra Ajudikasi yaitu mencegah masyarakat menjadi korban. Norma Hukum Karakteristik yang begitu beragam dan disertai dengan dampak yang ditimbulkan oleh korupsi itu sendiri bagi masyarakat. Era Ajudikasi yaitu menyelesaikan kejahatan yang terjadi dengan memberikan putusan yang sesuai dengan rasa keadilan. tetapi pada hakekatnya pasal tersebut merupakan asas universal yang dianut dalam ilmu hukum pidana diseluruh dunia. Pasca Ajudikasi yaitu membuat pelaku tidak lagi melakukan kejahatan tersebut. Untuk memberantas korupsi. Di dalam tujuan penegakan hukum memiliki 3 (tiga) tahap. yaitu : a. sebagaimana didasarkan pada prinsip keterbukaan atau kebebasan dalam negara demokratis yang sekarang sedang dianut di negara Indonesia. b. maka pemberian wewenang terhadap warga masyarakat yang ingin mencari tahu dan memdapatkan informasi tentang dugaan tindak pidana korupsi harus dilindungi oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. dikeluarkanlah TAP MPR Nomor IX/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. maka amanat telah diberikan negara kepada penyelenggara negara untuk memberantas tindak pidana korupsi. terlebih lagi hukum pidana sebagai wujud ultimatum remedium bagi pengembalian keseimbangan kehidupan masyarakat. Masyarakat dapat berperan serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Kolusi dan Nepotisme (KKN). Kekuatan keberlakuan suatu undang-undang untuk mengatur mengenai apa yang tidak boleh dilakukan dan dengan menjatuhkan pidana terhadap mereka yang melakukannya sebagaimana ungkapan buah pemikiran manusia yang paling mendasar dan dapat dikatakan bertahan sepanjang masa. Amanat ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif dan oleh karenanya wajib untuk dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan di akhir masa jabatannya. 3. Masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai hak dan tanggung jawab dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. 2. 1. Koridor negara hukum (rechstaat) yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (3) membuat kita tidak dapat secara serta merta memberantas korupsi tanpa adanya suatu landasan hukum yang berlaku dan mengikat. Dengan adanya TAP MPR ini. menjadikan korupsi tercatat sebagai salah satu agenda hukum utama.

Pentingnya peran dari masyarakat dalam memberantasn korupsi dan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada Pasal 41 ayat (5). sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dibuatlah Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pemerintah sadar bahwa dalam melaksanakan suatu peraturan perundang-undagan tidak terlepas dari kontrol sosial masyarakat. dan kesopanan. dan di sidang pengadilan sebagai saksi pelapor. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.perundang-undangan yang berlaku dan dengan menaati norma agama dan norma sosial lainnya. hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari. memperoleh. memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi. b. 2) diminta hadir dalam proses penyelidikan. penyidikan. yang menyatakan Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dalam Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 27 . Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diwujudkan dalam bentuk : a. e. Setiap orang. 5. saran. hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang diberikan kepada penegak hukum dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari. Oleh karena itu. Peran dari masyarakat sangat diperlukan untuk menekan dan memberantasn tindak pidana korupsi. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi. saksi. atau saksi ahli. dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi. kesusilaan. 2. dan pendapat atau permintaan informasi harus dilakukan secara bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan c. Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini. Pasal 2 1. memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi serta menyampaikan saran dan pendapat kepada penegak hukum dan atau Komisi mengenai perkara tindak pidana korupsi. b. 4. hak mencari. Penyampaian informasi. atau Lembaga Swadaya Masyarakat berhak mencari. apalagi memberantas tindak pidana korupsi yang sudah semakin sistemik di Indonesia. c. hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal : 1) melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a. norma agama. d. Organisasi Masyarakat. Pada Pasal 2 dan Pasal 3 Peraturan Pemerintah tersebut mengatur tentang Hak dan Tenggung Jawab Masyarakat dalam mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi.

saran atau pendapat diterima. Organisasi Masyarakat. saran. keterangan mengenai dugaan pelaku tindak pidana korupsi dilengkapi dengan buktibukti permulaan. atau Lembaga Swadaya Masyarakat berhak memperoleh pelayanan dan jawaban dari penegak hukum atau Komisi atas informasi. harus disertai dengan hak mendapatkan informasi tentang dugaan tersebut. atau pendapat dari setiap orang. Di dalam Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi. Organisasi Masyarakat. aparat penegak hukum atau komisi tidak memberikan jawaban atas pertanyaan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari maka dapat dilaporkan jika tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang diminta dengan alasan yang tidak jelas dan masuk akal. Di dalam ayat (3) pasal tersebut penegak hukum atau komisi berhak menolak memberikan informasi atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh masyarkaat dengan alasan. saran. atau Lembaga Swadaya Masyarakat dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi. atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum.Pasal 3 1. Informasi. Penegak hukum atau Komisi wajib memberikan jawaban secara lisan atau tertulis atas informasi. dan b. Dalam penjelasan Pasal 4 ayat (3) yang dimaksud “hal tertentu adalah hal yang mengenai sesuatu masalah lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku misalnya yang berkaitan dengan Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 28 . walaupun di dalam aturan perundang-undagan yang mengatur tentang korupsi tidak memuat hal tersebut yang dikarenakan tujuan hukum adalah menciptakan keadilan di masyarakat. Norma Kesusilaan. Hak mencari. 3. Setiap informasi. saran. pada Pasal 4 tersebut dicantumkan yaitu mengenai hak memperoleh jawaban dan pelayanan untuk mendapatkan informasi yang dinginkan. Kolusi dan Nepotisme sesuai dengan agenda reformasi yaitu menciptakan negara yang bebas dari Korupsi. 2. pimpinan Organisasi Masyarakat. seperti Norma Agama. 2. memperoleh dan meleporkan dugaan perbuatan korupsi. 1. Semua hak-hak yang diamanatkan kepada masyarakat untuk mencari. dan Norma Kesopanan. Di dalam Pasal 4 ayat (2). memperoleh dan menyampaikan informasi tentang dugaan tindak pidana korupsi harus disampaikan dengan tanggungjawab dan mentaati norma-norma yang hidup di masyarakat. data mengenai nama dan alamat pelapor. Kolusi dan Nepotisme (KKN). Dalam hal tertentu penegak hukum atau komisi dapat menolak memberikan isi informasi atau memberikan jawaban atas saran atau pendapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. atau pendapat dari masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. saran. harus disampaikan secara tertulis dan disertai: a. Setiap orang. atau pendapat yang disampaikan kepada penegak hukum atau Komisi. atau pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat dengan melampirkan foto copy kartu tanda penduduk atau dentitas diri lain. Hal tersebut bertentangan dengan asas negara demokrasi yaitu keterbukaan dalam segala hal yang terkait dengan perbuatan Korupsi.

Dengan demikian UU No. Atensi publik dimaksudkan untuk memberikan tekanan yang besar bagi penegak hukum untuk berhati-hati dalam menjatuhkan sanksi bagi pelaku tindak pidana korupsi. Penjatuhan hukuman mati memang mudah diucapkan dalam tataran ideal. Apabila si pelapor melakukan publikasi kepada khalayak umum. pada waktu terjadi bencana alam nasional. Dalam pelaksanan Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi haruslah terdapat keseimbangan antara masyarakat yang mencari informasi dengan aparat penegak hukum yang memberikan informasi agar tidak terjadi kesalah pahaman mengenai informasi yang diinginkan oleh masyarakat yang dikarenakan informasi tersebut tidak diberikan oleh aparat penegak hukum dengan alasan “Rahasia Negara” atau “Dirahasiakan” dengan tidak memberikan alasan-alasan yang logis dan masuk akal. sebagai pengulangan tindak pidana korupsi atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. belum ada satupun terpidana perkara korupsi yang di pidana mati. Akan tetapi. Lalu sanksi macam apa yang diberikan oleh negara bagi pelaku tindak pidana korupsi? Undangundang sebagai suatu bentuk peraturan yang tertinggi di dalamnya telah dapat dicantumkan adanya sanksi pidana dan sanksi pemaksa. kalau maling ayam ketangkap masuk tahanan. Tidak main-main. Kerugian yang diderita oleh negara dan terlebih lagi untuk masyarakat kebanyakan sangat tidak memungkinkan apabila tidak memenuhi perhatian masyarakat yang luas. Sejak saat diundangkan hingga tulisan ini dibuat. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 29 . konsekuensi yang berat harus dipikul oleh hakim sebagai pemutus perkara apakah hukuman mati memang memenuhi rasa keadilan. 31 Tahun 1999 jo. Rasa keadilan yang objektif tentunya adalah yang diharapkan. Sanksi pidana yang diberikan sangat bergantung pada rasa keadilan. mungkin saja hal itu akan mengganggu proses penyelidikan atau penyidikan atas dugaan korupsi tersebut. sang pejabat yang ada bukti awal korupsi juga seharusnya segera dimasukkan dalam tahanan. Nilai keadilan sangat terasa bagi masyarakat banyak untuk menjatuhkan hukuman yang seberatberatnya bagi pelaku tindak pidana korupsi. pasal 2 ayat (2) UU No.kerahasiaan (rahasia bank dan rahasia pos)”. Suatu wacana moral yang tidak akan pernah padam. 20 Tahun 2001 telah diberikan kekuatan oleh kedaulatan negara untuk memberikan sanksi pidana. Namun demikian subyektifitas pasti akan berperan. serta merupakan peraturan yang sudah dapat langsung berlaku dan mengikat umum. Pihakpihak yang dilaporkan mungkin akan segera menghilangkan bukti-bukti yang relevan atau segera melarikan diri ke luar negeri sebelum penegak hukum sempat melakukan tindakan pencegahan. jelas ini masalah moral dan mental yang perlu segera dibenahi. pelaku kriminal lainnya hanya boleh dibesuk pada jam dan waktu yang telah ditentukan. 31 Tahun 1999 bahkan menjatuhkan pidana mati bagi pelaku tindak pidana korupsi yang melakukan korupsi dalam keadaan tertentu yaitu apabila tindak pidana dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan undang-undang yang berlaku. sang koruptor harusnya juga diperlakukan sama dan seringkali pihak aparat penegak hukumnya seolah-olah kalah wibawa dengan sang koruptor. Terkait dengan hal di atas mengenai pemberian laporan tentang dugaan tindak pidana korupsi penegak hukum tentu memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu sebelum melakukan gelar perkara tersebut. UU No. Dalam pelaksanaan sistem hukum negara. Lalu kepada siapa kita harus berpaling untuk mendapatkan suatu keadilan yang objektif ? Jawaban kita tentunya berpulang kepada Hakim sebagai pemutus perkara. kita jangan ada perbedaan perlakuan dalam bentuk apapun dan terhadap siapapun.

Dalam hal untuk membangun integrasi bangsa harus menciptakan hal-hal seperti di bawah ini. Strategi atau bentuk dari pemberantasan tindak pidana korupsi dari eksekutif. 3. Banyak sekali kasus tentang seleksi calon hakim dan calon jaksa terjadi sogok-menyogok. Pemimpin harus menanamkan nilai-nilai anti korupsi kepada bawahannya. f. yaitu : a. d. dan g. Pemimpin harus memiliki visi dan strategi yang jelas dalam pemberantasan korupsi.Tindakan pelapor yang melakukan publikasi kepada pers atau khalayak umum atas adanya dugaan korupsi tersebut dapat mendorong terjadinya trial by press terhadap pihak-pihak yang dilaporkan. e. Integrasi adalah kesadaran publik dan nilai-nilai masyarakat. kepala daerah. Pemberantasan tindak pidana korupsi tidak bisa hanya mengandalkan sanksi baik yang ada diperaturan perundang-undangan maupun sanksi yang ada pada norma-norma yang berlaku di masyarkat atau pembentukan suatu lembaga yang sifatnya independen. b. sehingga hakim dan jaksa yang terpilih bukanlah orang-orang yang memiliki kapasitas. tatapi harus membangun sistem integrasi bangsa. Seorang presiden. Pemimpin harus mengedepankan kepentingan masyarakat luas. memperjuangkan kepentingan publik dan melakukan pengawasan serta meminta pertanggungjawaban eksekutif. Mungkin tidak masalah kalau dugaan korupsi tersebut terbukti benar di pengadilan. Bagaimanapun juga asas praduga tak bersalah seharusnya tetap dihormati. sedangkan arti dari integrasi adalah pembaharuan sehingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. Pemimpin harus berada pada garda terdepan dalam pemberantasan korupsi. Korupsi di lembaga peradilan sudah sedemikian sistemik. Sistem Peradilan yang Independen Kepercayaan masyarakat terhadap peradilan di Indonesia sangat rendah yang disebabkan salah satu sarang mafia atau sarang korupsi adalah lembaga peradilan. Bagaimana kalau ternyata dugaan korupsi tersebut tidak terbukti namun sudah terbentuk opini publik bahwa pihak-pihak yang dilaporkan tersebut dianggap telah melakukan korupsi. c. Eksekutif Pemberantasan korupsi membutuhkan keteladanan dari seorang pemimpin. Oleh karena itu masyarakat harus mengawasi jalannya pemilihan anggota legislatif 2. dikarenakan sejak awal ketika masuk menjadi calon legislatif (caleg) mereka harus membayar ke partai untuk membantu keperluan caleg terserbut untuk masuk ke dalam lembaga legislatif. hingga kepala desa harus memberi contoh yang baik dan menanamkan nilai-nilai dan prilaku anti korupsi kepada pegawai bawahannya. Peluang terjadinya perbuatan korupsi di lembaga legislatif sangat terbuka lebar. Banyak kasus korupsi yang tidak dapat Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 30 . Legislatif Tugas dari legislatif adalah menegakan kedaulatan rakyat. Pemimpin tidak boleh putus asa. yaitu : 1. Adanya contoh teladan dari pemimpin. Pemimpin harus berani melawan politisi dan aparat penegak hukum yang korup. integritas dan kapabilitas yang memadai.

Dukungan politik dari pemerintahan. c. b. Badan pengawasan yang efektif seharusnya memiliki ciri-ciri. Membuat laporan dengan bebas dan tanpa pembatasan mengenai hasil-hasil kerjanya dan menyebarkan kepada publik. Adanya tekanan-tekanan baik dari eksekutif maupun legislatif tentang kineja lembaga pengawasan. Komisi Independen Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Agar Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK) dapat menjalankan tugas dan fungsinya. Perlu menyusun standar audit yang tersosialisasikan secara luas. Lingkaran yang korup ini tidak mungkin dapat memberantas tindak pidana korupsi. sebagai berikut : a.diadili. Standar audit yang tertutup dan rendahnya transparansi hasil pemeriksaan tentang dugaan tindak pidana korupsi. Rendahnya integritas aparat yang melaksanakan pemeriksaan tentang dugaan tindak pidana korupsi. dan g. jika para penagaknya sendiri juga melakukan perbuatan korupsi atau dengan kata lain aparat penegak hukum menjadi aktor dalam perbuatan korupsi. Harus mempunyai wewenang dan tugas yang jelas. f. Memiliki independensi baik dari sisi organisasi. sehingga temuan dari lembaga pengawasan tidak dapat diakses oleh publik. d. Melaksanakan seluruh tugas audit pada sektor publik. KPTPK harus lepas dari kendali politik kekuatan legislatif dan eksekutif. sehingga banyak hasil temuan lembaga pegawasan atau lembaga pemeriksaan macet atau tidak ada tindak lanjutnya kerena instansi atau lembaga di atasnya tidak memberikan dukungan untuk menindaklanjuti hasil temuan tentang dugaan korupsi. Lembaga Pengawasan atau Lembaga Pemeriksaan Lembaga pengawasan selama ini kurang efektif dalam memberantas tindak pidana korupsi. 5. Memiliki sumber daya yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tugasnya. Koruptor yang bersalah dapat dimenagkan oleh hakim yang dikarenakan pengacara menyogok hakim. dan e. Penggunaan sumber daya manusia dan sumber daya keuangan yang efektif dan efisien. b. d. c. karena jaksa tidak melalukan penuntutan terhadap pelaku tindak pindana korupsi dan mengakibatkan banyaknya pelaku tindak pidana korupsi tersebut yang tidak terkena sanksi hukum. c. maka diperlukan : a. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 31 . dikarenakan : a. Kewenangan lembaga pengawasan sangat terbatas dan tidak dukungan dukungan yang cukup kuat untuk menjamin pelaksanaan tugas dan fungsi lembaga pengawas. Staf atau karyawan haruslah orang-orang yang ahli. 4. Kedudukan berada di bawah eksekutif. e. b. operasi dan keuangan. serta mempunyai alat untuk memeriksa semua dana yang terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi.

Semakin banyak orang yang memiliki informasi.d. Peran dari media akan efektif jika : a. Sedangkan masyarakat yang apatis dan bersikap menyerah pada penyalahgunaan wewenang oleh pejabat pemerintah merupakan lahan yang subur bagi koruptor untuk menjalankan atau melakukan perbuatan korupsi. Tanpa informasi. e. 7. Media cukup independen dan wartawan terbebas dari bentuk campur tangan apa pun dalam menjalankan profesinya. Masyarakat yang memiliki informasi dan sadar mengenai hak-haknya dan berusaha menegakkan hukum untuk memperjuangkan hak-haknya tersebut. Memiliki keberanian untuk menindak pelaku korupsi dan keberanian untuk mengambil alih tugas kepolisian dan/atau kejaksaan terhadap kasus korupsi yang terlaksana. Media yang Independen dan Bebas Informasi adalah kekuasaan. masyarkaat tidak dapat menjalankan haknya karena masyarakat tidak tahu tak-haknya telah dilanggar. b. dan g. Adanya jaminan perlindungan keamanan dan penegakan hak-hak bagi wartawan dari undang-undang dalam menjalankan profesinya. Jurnalis memiliki kapasitas memadai untuk melakukan invertigasi kasus-kasus korupsi. dan d. pembagian kekuasaan semakin luas. f. Masyarakt Sipil Masyarakat sipil diartikan sebagai jumlah keseluruhan dari organisasi-organisasi yang berada di luar sturktur formal pemerintahan. c. 6. Adanya perlindungan hukum terhadap sumber yang mengungkap kasus dugaan korupsi. Memiliki pertanggungjawaban yang jelas kepada publik dan kerelaan untuk melepas jabatan bila tidak mampu melaksanakan tugas. Memiliki pemimpin dan anggota yang memiliki integritas yang tinggi. Memiliki pemimpin dan anggota yang punya komitmen dan strategi yang jelas dalam memberantas korupsi. Masyarakat sipil mendapat legitimasi kuat dari publik jika melakukan aktivitas yang bertujuan untuk memajukan kepentingan publik. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 32 .

1 Kesimpulan Dari teori yang telah kami sajikan. Peran serta pemerintah dalam pemberantasan korupsi ditunjukkan dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan aparat hukum lain. b. 3. namun sebenarnya banyak di antara mereka yang tidak mampu. Rakyat kecil umumnya bersikap apatis dan acuh tak acuh. Diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasi-kannya di dalam kehidupan sehari-hari. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia 33 . upaya penindakan (kuratif). sosial. c. menanggulangi dan memberantas korup-si. b. f. g. Kelompok mahasiswa sering menanggapi permasalahan korupsi dengan emosi dan demonstrasi. Mereka hanya ingin memuaskan ambisi dan kepentingan pri-badinya dengan dalih “kepentingan rakyat”. dan peran serta masyarakat.BAB III PENUTUP 3. Korupsi di Indonsia dimulai sejak era Orde Lama sekitar tahun 1960-an bahkan sangat mungkin pada tahun-tahun sebelumnya. antara lain :upaya pencegahan (preventif). Masyarakat-pun sangat berperan penting dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Korupsi di Indonesia semakin banyak sejak akhir 1997 saat negara mengalami krisis politik. upaya edukasi masyarakat/mahasiswa. upaya edukasi LSM (Lembaga Swada-ya Masyarakat). d. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Perlu dikaji lebih dalam lagi tentang teori upaya pemberantasan korupsi di Indonesia agar mendapat informasi yang lebih akurat. e. Fenomena umum yang biasanya terjadi di Indonesia ialah selalu muncul kelom-pok sosial baru yang ingin berpolitik.2 Saran a. Ada beberapa upaya yang dapat ditempuh dlam memberantas tindak korupsi diIndonesia. kepemim-pinan dan kepercayaan yang pada akhirnya menjadi krisis multidimensi. Korupsi adalah penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaaan) dan sebagainya untuk keuntungan pribadi atau orang lain serta selalu mengandung unsur “penyelewengan” atau dishonest (ketidakjujuran). KPK yang ditetapkan melalui UndangUndang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi untuk mengatasi.