P. 1
Makalah Agama Kerukunan Umat

Makalah Agama Kerukunan Umat

|Views: 69|Likes:

More info:

Published by: Agung Pribadi Wicaksono on Nov 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

“KERUKUNAN HIDUP ANTAR UMAT BERAGAMA”
DIBIMBING OLEH NURCHANIFAH, S.Pd.I, M.Pd.I

Anggota Kelompok 5: Agung Pribadi W. Borneo Satria P. Evi handayani Triananda Maulana 125061100111014 125061100111044 125061100111004 125061100111034

PROGAM STUDI TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan YME atas rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “ Konsep Akhlak dalam Islam ” ini tepat pada waktunya. Ucapan terima kasih disampaikan : 1. Ibu NURCHANIFAH, S.Pd.I, M.Pd.I selaku dosen pengajar 2. Teman-teman yanag telah memberi gagasan menyelesaikan makalah ini. 3. Pihak-pihak lain yang telah menyediakan media informasi yang berkaitan dengan Konsep kerukunan hidup antar umat beragama Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi baca umumnya dan khusuanya bagi penulis.

Malang,

Oktober 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang multikultural karena terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ras, bahasa, budaya maupun agama. Dalam makalah saya ini akan membicarakan tentang kerukunan antar umat beragama di Indonesia yang umumnya agama masyarakat Indonesia sangat beragam, yaitu terdiri dari dari agama islam, katolik, protestan, hindu, budha dan kong hu chu. Penyebab beraneka ragamnya agama yang di anut masyarakat Indonesia tidaklah lepas dari sejarah. Dimana Indonesia terletak di jalur perdagangan dunia yang menyebabkan para pedagang yang singgah di berbagai wilayah pesisir di Indonesia mulai menetap dan mengajarkan agama serta kebudayaan para pedagang tersebut kepada masyarakat Indonesia yang waktu itu belum beragama dan masih menganut kepercayaan animisme maupun dinamisme. Masuknya agama di Indonesia yang tidak merata ini menyebabkan terjadinya proses multikultural pada masyarakat Indonesia terutama dalam hal keagamaan. Dengan perbedaan agama yang dianut masyarakat Indonesia harus bisa hidup bertoleransi antar umat beragama karena apabila antar umat beragama saling bermusuhan maka akan terjadi konflik yang juga bisa merusak integrasi nasional bangsa Indonesia. 1.2 Tujuan 1. 2. 3. Untuk mengidentifikasi peranan Islam sebagai Agama rahmat bagi seluruh Alam Untuk memahami bagaimana Ukhwah Islamiyah Untuk memahami kebersamaan dalam pluralitas agama

BAB II PERMASALAHAN
2.1 Bagaimanakah peranan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam? Mendengar kata “Negara Islam”, yang terlintas dibenak banyak orang adalah betapa sadisnya hukum-hukum dunia yang diterpkan di agama Islam. Contohnya saja adlah hukuman rajam, potong tangan dan seterusnya. Ditambah lagi dengan gerakan-gerakan bid’ah yang berjihad tanpa ilmu, yang menambah rusaknya gambaran Islam di mata umat non-is lainnya. Yang akibatnya mereka mengira gerakan jihad identik dengan terorisme, perampokan, penjarahan, dan seterusnya. 2.2 Bagaimanakah pengertian Ukhwah Islamiyah? Apabila kita peka terhadap keadaan Islam sekarang, banyak permasalahan Umat Islam akan mudah ditangani jika kita benar-benar mampu memahami kaidah Ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah dan membina Ukhuwah Islamiyah yang sebenarnya. Bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini jika kita tidak saling mengenali antara satu sama lain? Dalam Islamiyah, terbinanya Ukhuwah Islamiyah mempunyai peranan yang penting sekali demi kejayaan dakwah. 2.3 Bagaimanakah kebersamaan dalam pluralitas agama? Dalam Islam, Islam itu mengakui pluralitas, sebagaimana dalam QS. al-Hujurat dan ar-Ruum. Islam mengakui adanya perbedaan bangsa dan suku, etnis dan bahasa. Keragaman ini tidak bisa dihapus. Tapi Islam mampu mengatasi keragaman atau perbedaan ini. Yang pertama, Islam ditujukan bagi seluruh umat manusia. Ini menunjukkan bahwa syariat Allah adalah untuk seluruh umat manusia. Jadi tidak menyalahi aturan kalau Allah juga yang mengatur dan punya aturan terbaik. Kalau semua manusia di dunia ini mati, kembalinya juga kepada Allah.

BAB III PEMBAHASAN
3.1 Peranan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam
Dewasa ini, Islampobia telah menjalar di masyarakat, bahkan orang-orang yang berstatus Muslim pun takut kalau hukum Islam diterapkan di Indonesia Raya ini. Padahal kalau kita mau melihat Islam dari sumbernya yang asli dari Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman generasi-generasi terbaik yang dipuji Allah dan Rasul-Nya, maka kita akan dapati Islam adalah rahmat dan kasih sayang untuk seluruh alam. Ibnu Abbas radliyallahu `anhu berkata tentang ayat ini: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka Allah tuliskan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Adapun orang yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya, maka mereka pun mendapat rahmat dengan datangnya Rasul yaitu keselamatan dari adzab di dunia, seperti ditenggelamkannya ke dalam bumi atau dihujani dengan batu.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/222) Oleh karena itu ketika malaikat Jibril datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam keadaan beliau terusir dari kaumnya, dilempari dengan batu di Thaif hingga berdarah kakinya, duduk di luar kota tanpa kawan, bermunajat kepada Allah. Malaikat itu berkata: “Aku diutus Allah untuk mentaati perintah-Mu. Jika engkau menginginkan agar aku menimpakan gunung ini kepada mereka aku akan laksanakan.” Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, berilah hidayah pada mereka karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.” Melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berdoa seperti itu, Jibril mengatakan: “Maha benar Allah yang menamakanmu ra’ufur rahim.” (Nurul Yaqin hal. 56) Seperti inilah Islam, inilah keadilan. Tidak akan didapati kebijaksanaan yang seperti ini dalam agama lain. Hanya saja orang-orang yang kurang paham dengan Islam dan para ahli bid’ah merusak gambaran yang indah ini dengan melanggarnya, atau dengan mengadaadakan aturan-aturan baru (bid’ah) dan kebijaksanaan-kebijaksanaan sendiri yang mereka anggap baik dengan emosi dan hawa nafsunya. Yang akhirnya justru merusak gambaran Islam dan membuat manusia takut kepadanya. 3.1.1 Rahmat Islam dalam Perang Dalam peperangan, Agama Islam tidak lepas dari sifatnya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan peraturan-peraturan dan hukum-hukum perang. Siapa yang boleh dibunuh dan siapa yang tidak. Bolehkah merusak jasad musuh atau tidak, dan seterusnya.

Setiap melepas suatu pasukan untuk berperang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selalu memberikan wasiat kepada mereka, yang berisi nasihat dan peraturan peperangan. Di dalamnya kita akan dapati rahmat dan kasih sayang. Simaklah wasiat beliau berikut ini: Diriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya dari Aisyah radliyallahu `anha, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam jika mengutus seseorang komandan yang membawa sebuah pasukan –besar atau kecil– beliau mewasiatkan kepada pribadinya untuk bertakwa kepada Allah dan mewasiatkan untuk kaum muslimin dengan kebaikan. Kemudian bersabda: “Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah! Perangilah orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah tapi jangan mencuri rampasan perang, jangan ingkar janji, jangan merusak jasad musuh, jangan membunuh anak-anak. Jika kalian menemui musuhmu dari kalangan musyrikin, maka ajaklah mereka kepada tiga perkara. Jika mereka menerima salah satunya, maka terimalah dan berhentilah (tidakmemerangi): Ajaklah kepada Islam. Kalau mereka mengikuti ajakanmu, maka terimalah dari mereka dan tahanlah peperangan. Ajaklah kepada Islam. Kalau mereka menyambut ajakanmu, maka terimalah dan ajaklah untuk pindah (hijrah) dari desa mereka ke tempat muhajirin (Madinah). Kalau mereka menolak, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa mereka dianggap sebagai orang-orang arab gunung (nomaden) yang Muslim. Tidak ada bagi mereka bagian ghanimah (pampasan perang) sedikit pun kecuali jika mereka berjihad bersama kaum muslimin. Kalau mereka menolak (untuk masuk Islam) maka mintalah dari mereka untuk membayar jizyah (upeti) (sebagai orang-orang kafir yang dilindungi). Kalau mereka menolak, maka minta tolonglah kepada Allah untuk menghadapi mereka kemudian perangilah. Jika engkau mengepung penduduk suatu benteng, kemudian mereka menyerah ingin meminta jaminan Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kau lakukan. Tetapi jadikanlah untuk mereka jaminanmu, karena jika kalian melanggar jaminan-jaminan kalian itu lebih ringan daripada kalian menyelisihi jaminan Allah. Dan jika mereka menginginkan engkau untuk mendudukkan mereka di atas hukum Allah, maka jangan kau lakukan. Tetapi dudukkanlah mereka di atas hukummu karena engkau tidak tahu apakah engkau menepati hukum Allah pada mereka atau tidak.” (HR. Muslim dalam Kitabul Jihad bab Ta’mirul Imam no. 1731) Di awal wasiatnya Beliau memperingatkan untuk jangan mencuri, jangan ingkar janji, jangan merusak jasad musuh, jangan membunuh anak-anak, dan seterusnya. Sebuah nasihat yang merupakan kasih sayang Islam kepada seluruh manusia walaupun terhadap orang kafir. Kemudian Beliau menganjurkan untuk memberikan pilihan kepada musuh. Apakah mereka akan masuk Islam atau membayar jizyah yang berarti mereka akan selamat; atau

tidak mau memilih keduanya yang berarti perang. Ini merupakan kasih sayang yang sangat besar, memberikan kesempatan kepada musuh untuk selamat dunia dan akhirat. Kalau mereka memilih Islam berarti mereka selamat di dunia dan di akhirat. kalau memilih jizyah berarti selamat di dunia. Sedangkan kalau mereka tidak ingin selamat, maka barulah mereka diperangi. Selanjutnya Beliau menasihatkan dalam memberikan keputusan terhadap musuh tidak boleh mengatasnamakan Allah. Karena bisa jadi dia tidak tepat atau tidak mencocoki hukum Allah dalam memutuskan. Wanita juga termasuk pihak yang tidak boleh dibunuh dalam peperangan. Islam dengan rahmatnya tidakmembolehkan pembunuhan terhadap wanita. Pernah pada suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berjalan bersama pasukannya dalam suatu peperangan. Kemudian Beliau melihat orang-orang berkerumun pada sesuatu, maka beliau pun mengutus seseorang untuk melihatnya. Ternyata mereka mengerumuni seorang wanita yang terbunuh oleh pasukan terdepan. Waktu itu pasukan terdepan dipimpin oleh Khalid bin Walid. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun bersabda: “Berangkatlah engkau menemui Khalid dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah melarang engkau untuk membunuh dzuriyah (wanita dan anak-anak, ed) dan pekerja / pegawai.” (HR. Abu Dawud). Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Katakan pada Khalid jangan ia membunuh wanita dan pekerja.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thahawi. Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 6 / 314). Dalam riwayat yang lebih shahih dikatakan: “Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam melihat seorang wanita terbunuh dalam suatu peperangan. Maka beliau pun mengingkari pembunuhan wanita dan anak-anak.” (Muttafaqun `alaihi) Dari riwayat-riwayat ini jelas bahwa wanita dan anak-anak tidak boleh dibunuh dalam peperangan. Sedangkan pegawai atau pekerja yang dimaksud adalah warga sipil yang tidak ikut dalam peperangan. Mereka ini juga tidak boleh dibunuh. Demikianlah peraturan Islam, betapa indahnya peraturan tersebut. Kaum muslimin sudah mengenal istilah “warga sipil” yang tidak boleh dibunuh sejak turunnya Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu. Inilah kasihsayang Islam yang datang sebagai rahmat bagi seluruh alam termasuk kepada musuhnya sekali pun.

3.1.2 Rahmat dalam Hukum Had Dalam hukum had dan qishas, kasih sayang Islam tidak pernah hilang. Di samping hukum itu sendiri memang membawa rahmat, penerapannya pun tidak sembarangan. Membutuhkan penyelidikan dan kepastian serta masih terkait dengan tuntutan korban atau maafnya. Seperti hukum qishas, hukum seorang yang membunuh adalah dibunuh pula. Hukum ini membawa rahmat kepada seluruh kaum muslimin yaitu keamanan dan ketentraman. Bahkan hukum yang sepintas terlihat akan membawa korban lebih banyak, ternyata bagi orang yang cerdas akan terlihat bahwa sesungguhnya hukum ini justru menjaga kehidupan. Allah berfirman : “Sesungguhnya pada hukum qishash ada kehidupan bagi kalian wahai orang yang cerdas, semoga kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 179) Namun hukum ini pun terkait dengan tuntutan keluarga korban. Jika mereka memaafkan maka tidak dilakukan hukum bunuh melainkan membayar diat, semacam uang denda atau tebusan senilai harga seratus ekor unta yang diberikan kepada keluarga korban. Ini pun merupakan rahmat dan keringanan dari Allah untuk mereka sebagaimana Allah katakan sendiri dalam ayat-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaknya (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (AlBaqarah: 178) Ini pun kalau benar-benar terbukti ia membunuh dengan sengaja, kalau ternyata tidak sengaja maka tidak ada qishas yang ada adalah diat. Bahkan kalau keluarga korban akan menginfakkan tebusan tersebut kepada sipembunuh dan mema’afkannya, berarti ia tidak perlu membayar diat. Walaupun yang dibunuh adalah seorang kafir mu’ahad yang terikat perjanjian, tetap wajib bagi si pembunuh yang Muslim membayar diat kepada keluarga korban serta memerdekakan seorang budak. Tetapi tidak ada qishas baginya. Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman: “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu) kecuali jika mereka (keluarga

terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu padahal ia mukmin, (maka hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturutturut sebagai cara bertaubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 92) Sedangkan hukum potong tangan bagi pencuri atau hukum cambuk (bagi penzina yang belum menikah) dan rajam (bagi penzina yang telah menikah) dan lain-lain merupakan kejahatan yang jika sudah sampai kasusnya kepada pemerintah maka harus ditegakkan hukum padanya. Inipun sesungguhnya merupakan rahmat bagi seluruh kaum muslimin bahkan seluruh manusia. Hukum potong tangan bagi pencuri -misalnya– membawa keamanan dan ketenangan bagi seluruh rakyat. Hukum cambuk dan rajam bagi penzina membawa keselamatan bagi seluruh manusia dari berbagai penyakit-penyakit kelamin disamping menjaga keturunan dan nasab, agar tidak tercampur dan kacau. Hukum-hukum ini pun tidak begitu saja diterapkan, tetapi melalui proses dan aturanaturan yang jelas. Seperti pada hukum potong tangan, tidak semua pencuri di potong tangannya. Jika ia mencuri di bawah tiga dirham, maka ia tidak dipotong tangannya. Berarti ada jumlah tertentu yang menyebabkan seorang pencuri mendapatkan hukuman potong tangan. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Jangan dipotong tangan seorang pencuri kecuali pada pencurian seperempat dinar ke atas.” (muttafaqun ‘alaihi. Dengan lafadh Muslim). Sedangkan dalam riwayat Bukhari dengan lafadh sebagai berikut: “Dipotong tangan seorang pencuri pada pencurian seperempat dinar ke atas.” (HR. Bukhari) Seperempat dinar adalah tiga dirham, karena satu dinar adalah duabelas dirham. Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang juga dirkeluarkan oleh bukhari dan muslim disebutkan bahwa Rasulullah memotong tangan seorang pencuri yang mencuri sebuah tameng seharga tiga dirham: “Dari Ibnu Umar radliyallahu `anhuma bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam memotong tangan pada pencurian sebuah tameng seharga tiga dirham.” (Muttafaqun `alaihi) Seperti kita katakan tadi bahwa hukum ini dilaksanakan jika sudah sampai kasusnya pada pemerintah. Adapun jika belum sampai kasusnya pada pemerintah, maka dianjurkan

untuk saling memaafkan dan tidak saling menuntut. Abu Majidah menceritakan: Pernah pada suatu hari aku duduk bersama Abdullah bin Mas’ud radliyallahu `anhu, maka beliau pun berkata: Aku ingat orang pertama yang dipotong tangannya oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Waktu itu didatangkan seorang pencuri kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Lalu beliau pun memerintahkan untuk dipotong tangannya. Aku melihat wajah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sepertinya memendam kekecewaan. Maka para shahabat pun berkata: “Wahai Rasulullah, sepertinya engkau tidak suka orang itu dipotong tangannya?” Maka beliau pun bersabda: “Apa yang menghalangiku untuk memotongnya?” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah kalian menjadi pendukung-pendukung setan terhadap saudaramu! Sesungguhnya tidak pantas bagi seorang imam jika telah sampai kepadanya hukum had kecuali harus menegakkannya. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf dan cinta pada pemaaf. Maka saling memaafkanlah kalian dan saling memaklumi. Bukankah kalian suka kalau Allah mengampuni kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Baihaqi. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah oleh Syaikh AlAlbani rahimahullah 4 / 181). Demikianlah kasih sayang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang diutus oleh Allah yang Maha Penyayang untuk menebarkan kasih sayang kepada seluruh alam. Kemudian mengenai hukum cambuk dan hukum rajam bagi para pezina. Pernah seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam meminta ijin untuk berzina. Maka dengan sabar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menerangkan kepadanya cara berfikir yang benar: “Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada ibumu?” Anak itu menjawab: ” Ayah dan ibuku sebagai jaminan! aku tidak akan ridla.” “Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada istrimu?” Anak muda itu menjawab: “Ayah dan ibuku sebagai jaminan! aku tidak akan ridla.” Demikian seterusnya Beliau menanyakan bagaimana kalau terjadi perzinaan itu pada keluarganya, anak perempuannya, kakak perempuannya, bibinya, ternyata dia tidak ridla. Maka beliaupun bersabda: “Kalau begitu orang lain pun tidak ridla perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka, istri-istri mereka, anak-anak perempuan mereka, saudara-saudara perempuan mereka, atau pun bibi-bibi mereka.” Inilah hikmah ditegakkannya hukum bagi para pezina dengan cambuk atau rajam. Menjaga istri-istri kita, anak-anak perempuan kita, ibu-ibu kita, saudara-saudara perempuan kita, bibi-bibi kita, dan seterusnya. Di samping itu juga penerapannya tidak sembarangan, harus didatangkan empat saksi untuk ditegakkannya hukum ini. Dan saksi-saksi itu harus mengetahui betul kejadiannya. Bahkan harus yakin betul kalau “timba telah masuk ke dalam sumurnya”. Adapun dugaan, prasangka, atau melihatnya berpelukan, berciuman dan lain-lain belum bisa diterima sebagai saksi sampai ia yakin betul bahwa “timba telah masuk ke dalam sumurnya”.

Empat saksi dalam keadaan yang seperti ini sangat susah didapat. Keadaan seperti ini tidak akan didapat kecuali pada beberapa kemungkinan: Kemungkinan pertama adalah seorang yang datang mengakui bahwa dirinya telah berzina. Ini pun Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berusaha untuk memberikan kesempatan kalau dia mau mencabut ucapannya kembali sebagaimana dalam riwayat berikut: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu bahwa datang seseorang dari kaum Muslimin kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, sedang beliau berada di masjid. Orang itu memanggil Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah berzina.” Rasulullah pun memalingkan wajahnya. Kemudian orang itu bergeser ke hadapan muka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sambil berkata kembali: “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah berzina.” Beliau pun berpaling kembali ke arah lain. Dan orang itu pun kembali mengikuti ke hadapan muka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan mengucapkan kembali ucapannya, demikian sampai empat kali. Setelah empat kali orang itu mempersaksikan atas dirinya dengan zina, Rasulullah memanggilnya dan bersabda: “Apakah engkau gila?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau berkata lagi: “Apakah engkau seorang yang muhsan ?” Orang itu menjawab: “Ya.” Maka Nabi pun memerintahkan kepada kaum Muslimin: “Pergilah kalian membawa orang ini dan rajamlah ia.” (HR. Muttafaqun `alaih) Dalam riwayat Bukhari, orang tersebut ketika dirajam sempat lari. Yaitu pada saat mulai terasa batu-batu itu menyakiti tubuhnya. Namun orang-orang mengejarnya dan melanjutkan hukuman rajam sampai matinya. Ketika disampaikan kejadian larinya orang tersebut, Rasulullah bersabda: “Tidakkah kalian biarkan orang itu lari. Barangkali orang itu bertaubat kepada Allah dan Allah menerima taubatnya.” Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak membawanya kembali kemari.” (HR. Abu Dawud) Oleh karena itu, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad menyatakan: “Bolehnya seorang yang sudah mengaku berzina mencabut kembali pernyataannya dan jika orang tersebut lari tidak dikejar, semoga dia mau ruju’ dan mencabut kembali ucapannya. Sekali lagi ini adalah khusus bagi yang datang mempersaksikan dirinya bahwa ia telah berzina. Inilah kasih sayang Islam kepada manusia. Tidak sekejam apa yang digambarkan oleh orang-orang kafir dan munafiqin” Kemungkinan kedua adalah seorang yang sangat biadab, berzina di tempat terbuka dan menjadi tontonan manusia tanpa merasa malu apalagi merasa berdosa. Atau bahkan pemain dalam adegan-adegan porno didepan para penonton yang membayarnya. Sungguh fitrah kita pun ingin merajam orang yang seperti ini sebelum kita mengerti hukum rajam. Atau

kemungkinan ketiga terbukti dengan kehamilan. Berkata Umar bin Khattab dalam khutbahnya: “…Sesungguhnya rajam itu adalah hak di dalam kitab Allah bagi orang yang berzina jika ia seorang yang muhsan, baik ia laki-laki maupun perempuan jika telah tegak buktibukti (saksi-saksi). Atau adanya kehamilan, atau ia mempersaksikan dirinya dengan zina.” (Muttafaqun `alaih). 3.1.3 Rahmat Kepada Hewan Kepada hewan sekali pun Islam tetap mengajarkan untuk memberikan kasih sayangnya. Dalam memelihara kita harus memberinya makan yang cukup. Dalam menunggangi kita dilarang memberikan beban yang terlalu berat. Dalam menyembelih kita harus menggunakan pisau yang tajam dan di tempat yang langsung mematikan, yaitu di lehernya. Dan seterusnya. Pernah suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memasuki perkampungan kaum Anshar. Kemudian beliau masuk ke suatu tembok kebun salah seorang dari mereka. Tiba-tiba beliau melihat seekor unta yang kurus. Ketika melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, unta itu menangis, merintih dan meneteskan air mata. Maka beliau pun mendekatinya lalu mengusap perutnya sampai ke punuknya dan ekornya. Unta itu pun tenang kembali. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Siapa penggembala unta ini?” atau dalam riwayat lain beliau bersabda: “Siapa pemilik unta ini?” Maka datanglah seorang pemuda dari Anshar, kemudian berkata: “Itu milikku ya Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berkata: “Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam memelihara ternak yang telah Allah berikan kepadamu itu? Sesungguhnya ia mengeluh kepadaku bahwa engkau melaparkan dan melelahkannya.” Yakni beliau menegur si pemilik unta tersebut karena dia kurang dalam memberi makan, tetapi mempekerjakannya dengan beban yang terlalu berat. Maka beliau menegurnya dengan ucapan: “Tidakkah kamu takut kepada Allah.”

Ini mengandung ancaman bagi orang yang menyiksa hewan peliharaannya. Bukankah ini suatu rahmat dan kasih sayang yang besar.

3.2 Pengertian Ukhwah Islamiyah
3.2.1 Hakikat Ukhwah Islamiyah Ukhuwah Islamiyah ialah suatu ikatan yang mempunyai ciri-ciri berikut : 1. 2. 3. 4. Ia adalah nikmat Allah swt Umpama tali tasbih yang hanya diikat dengan taqwa Merupakan kehendak Rabbani Merupakan cermin kekuatan iman

Berkenaan dengan usaha peningkatan Ukhuwah Islamiyah ini, adalah sesuatu yang munasabah untuk kita meneliti tahapan-tahapan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw dan para sahabat dan selayaknya untuk dijadikan sebagai asas untuk kita berpijak dalam membina Ukhuwah Islamiyah di manapun kita berada. Program peneguhan ikatan Ukhuwah Islamiyah memerlukan proses yang panjang, bertahap dan berterusan. Setidak-tidaknya ada empat tahap yang mesti dilalui sebelum terciptanya Ukhuwah Islamiyah yang benar-benar kuat dan utuh. 1) Tahap saling mengenal (TA’ARUF) Dalam tahap ini, seorang muslim tidak hanya mengenal begitu sahaja saudaranya; namun ia seharusnya pergi lebih jauh dan mencuba untuk mengenali : • • • Penampilan saudaranya. Sifat-sifat (Syakhsiyah) saudaranya. Pemikiran saudaranya.

Pengenalan dalam tahap ini mencakupi aspek ‘jasadi’ (fizikal), ‘fikri’ (pemikiran) dan’nafsi’ (kejiwaan). 2) Tahap saling memahami (TAFAAHUM) Ini merupakan tahap yang penting kerana ia mencakupi berbagai proses penyatuan. Seperti juga dalam tahap pertama, ruang lingkup proses ‘tafaahum’ ini adalah lebih kurang sama. Perbezaannya terletak pada kekuatan pengenalan. Pada tahap ini, setiap muslim dituntut untuk memahami :

• • • • •

Kebiasaan saudaranya. Kesukaan saudaranya. Karakter saudaranya. Ciri khas individu. Cara berfikir saudaranya.

Dengan yang demikian, perasaan-perasaan seperti tidak enak, tidak sesuai dan sebagainya dapat dihapuskan dalam rangka saling menasihati. Dalam tahap ini terdapat tiga bentuk proses penyatuan yang meliputi : A. Penyatuan hati (TA’LIFUL QULUB) Penyatuan hati merupakan asas awal yang mesti ada dalam proses pembentukan ukhuwah kerana hati merupakan sumber setiap gerakan dan sikap seseorang dalam : 1. 2. 3. 4. 5. Menilai. Memilih. Mengasingkan. Mencintai. Membenci.

Apabila hati telah terpaut dan jiwa telah menyatu, barulah persaudaraan seseorang dengan yang lainnya akan berjalan lancer, bersih dan dipenuhi rasa kasih sayang. Hati manusia hanya mampu disatukan secara murni dan bersih apabila bermuara kepada satu simpul ikatan yang fitrah dan simpul tali itu adalah aqidah. Inilah satu-satunya asas berpijak, bertemu dan menjadi pengikat yang utuh dan abadi. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran : 103)

B. Penyatuan pemikiran (TA’LIFUL AFKAR) Dalam proses ini, orang-orang yang sudah sehati sejiwa sepatutnya berhimpun bersama untuk mempelajari suatu sumber yang sama sehingga menghasilkan suatu fikrah (cara berfikir) yang serupa.

Bahkan yang jauh lebih penting adalah bila berlaku perbezaan cara pandang, maka dengan titik mula cara berfikir yang sama akan dapat diselesaikan dengan segera sehingga mampu meningkatkan keberkesanan kerja. Ikatan Ukhuwah Islamiyyah adalah ikatan yang aktif dan dinamik dalam menegakkan kalimah Allah swt. Untuk itu diperlukan tidak hanya sekadar hati yang ikhlas tetapi juga gagasan, pemikiran, konsep dan idealism yang cemerlang. Meskipun sekelompok individu telah saling mengikatkan diri, sehati dan sejiwa; namun kerana terdapat perbezaan orientasi dan wawasan pemikiran, maka strategi dan taktik pun menjadi berserakan di mana akhirnya kerja akan membawa kepada kegagalan dan kekalahan. Oleh kerana itulah tahap “penyatuan pemikiran” ini menjadi suatu kemestian dalam membentuk Ukhuwah Islamiyah. C. Penyatuan kerja (TA’LIFUL AMAL) Individu-individu yang telah berhimpun di atas tujuan dan pemikiran yang sama ini tidak boleh hanya berdiam diri sahaja atau bekerja sendiri-sendiri. Adalah menjadi sunnatullah bahwa sesuatu yang diam atau tidak bergerak mempunyai kecenderungan untuk mendapat penyakit misalnya seperti air yang terkumpul dan tidak mengalir boleh menjadi sumber penyakit. Demikian pula dengan kumpulan individu yang bersemangat tinggi dan memiliki setompok gagasan cemerlang akan menjadi “penyakit” apabila tidak ada langkah kerjanya. Oleh kerana itu sangat perlu adanya kerja yang nyata dalam berbagai bidang dan keahlian dan agar kerja itu berkesan, maka ianya hendaklah tersusun dalam suatu arus yang terarah. 3) Tahap saling tolong menolong (TA’AWUN) Dalam proses penyatuan kerja, adalah suatu yang mutlak diperlukan usaha tolongmenolong yang merupakan usaha lanjutan dari tahap ‘tafaahum’ (saling memahami) pada tahap kedua di atas. Saling mengenal semata-mata tanpa diteruskan dengan saling memahami tidak akan mampu membentuk hubungan antara individu yang mampu tolong menolong, saling isimengisi dengan kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada setiap individu. 4) Tahap saling memikul beban (TAKAAFUL)

Tahap ini merupakan akhir dari proses Ukhuwah Islamiyyah yaitu timbulnya rasa senasib dan sepenanggungan meliputi suka maupun duka dalam setiap langkah kerja. Apabila tahap takaaful ini terwujud, maka ikatan Ukhuwah Islamiyahpun terbentuk dengan utuh. Dari rangkuman di atas, kita dapat lihat bahwa usaha penyatuan peribadi-peribadi muslim dalam suatu amal Islami adalah merupakan perbuatan yang sia-sia jika tidak dimulai dengan tahapan dan proses yang telah disebutkan itu. 3.2.2 Kepentingan Ukhwah Islamiyah 1. Di kalangan mereka sendiri, umat Islam ketika ini terpecah-pecah menjadi lebih 55 negara di mana masing-masing bangga dengan negaranya sendiri. Seringkali negaranegara Islam sendiri tidak mempunyai perasaan damai antara satu dengan yang lain. Bahkan tidak jarang pula satu negara dengan yang lain terjadi peperangan kerana hanya satu masalah yang remeh misalnya batas wilayah. 2. Umat Islam telah kehilangan satu kepimpinan dan akibatnya sering lemah dan tidak berdayA dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Ini dapat dilihat dengan jelas terhadap peristiwa pembantaian umat Islam yang berlaku di Palestin, Kashmir, Bosnia, Asia Tengah, India dan lain-lain. 3. Hubungan di antara orang-orang Islam sendiri tidak begitu kemas di mana kita sering tidak memberikan hak kepada saudara kita se-Islam dengan semestinya. Akibatnya ikatan antara sesama muslim menjadi begitu lemah sekali kerana mereka hanya berbaik-baik jika ada keuntungan yang boleh diraih tapi jika tiada apa-apa manfaat keduniaan, maka agak sukar untuk mereka memikirkan akan nasib saudara mereka sendiri dalam Islam seolah-olah tidak ada ikatan yang istimewa di antara orang-orang Islam.

3.3 Kebersamaan dalam pluralitas agama
Sikap menghargai dan toleransi terhadap pemeluk agama lain adalah mutlak dan harus dijalankan. Kita harus mengakui bahwa Pluralitas memang harus ada dalam kehidupan ini agar tercipta masyarakat yang aman dan sejahtera. Namun bukan berarti kita beranggapan bahwa semua agama adalah sama, dalam arti tidak menganggap bahwa Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang kalian sembah. Bagaimanakah seharusnya kita memahami hal ini? Al-Quran telah menyebutkan bahwa pluralitas (kemajemukan), yaitu keragaman keyakinan manusia, adalah rancangan Allah, atau hukum alam yang ada dan tidak akan hilang tanpa kehendakNya.

‫ولو شاء ربك لمن من في الرض كلهم جميعا أفأنت تكره الناس حتى‬ ّ َ َ ّ ُ ِ ْ ُ َ ْ ََ َ ً ِ َ ْ ُ ُّ ِ ْ َْ ِ ْ َ َ َ َ َ ّ َ َ َ ْ ََ َ ِِ ْ ُ ُ ُ َ ‫يكونوا مؤمنين‬
Wa lau syaa'a rabbuka la'aamana man fil ardi kulluhum jami'aa, a fa anta tukrihunnaasa hattaa yakuunuu mu'miniin

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orangorang yang beriman semuanya? (QS. Yunus:99) Ayat di atas menerangkan bahwa jika Allah SWT. berkehendak agar seluruh manusia beriman kepada-Nya, maka hal itu akan terlaksana, karena hal itu adalah mudah bagi-Nya. Tetapi Dia tidak menghendaki hal itu. Dia berkehendak melaksanakan sunah-Nya di alam ciptaan-Nya ini, dan tidak seorang pun dapat merubahnya kecuali Dia sendiri yang menghendakinya. Di antara sunah-Nya itu ialah memberi manusia akal, pikiran dan perasaan yang membedakannya dengan malaikat dan makhluk-makhluk yang lain. Dengan akal, pikiran dan perasaannya itu manusia menjadi makhluk berbudaya, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, baik untuk dirinya, untuk orang lain maupun untuk alam semesta ini. Kemudian manusia diberi balasan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya itu; perbuatan baik dibalas dengan pahala dan perbuatan jahat dan buruk dibalas dengan siksa.

َ ُِ ْ َ َ َ ِ ّ ََ َ ْ ّ ُ َ ْ َ َ ّ ِ ْ ِِ ّ ِ َ ِ ْ ُ ْ َ ٍ ْ َ ِ َ َ َ َ ‫وما كان لنفس أن تؤمن إل بإذن ال ويجعل الرجس على الذين ل يعقلون‬ ِ
Wa maa kaana li nafsin an tu'mina illaa bi iznillaah, wa yaj'alur-rijsa 'alal-ladziina laa ya'qiluun Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. Yunus:100) Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak Allah SWT. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar kehendak-Nya. Allah swt. menunjuki dan memudahkan seseorang beriman, bila orang itu mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat yang telah disampaikan kepada para Rasul-Nya dan Dia memandang hina dan mengazab setiap orang yang tidak mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat-Nya.

ِ ْ ََ ً ِ ْ َ ُ َ ِ َ ِ ْ َ ‫ََ ْ َ ْ َ َِ ْ َ ْ ِ َ َ ِ ْ َ ّ ُ َ ّ ً ِ َ َ ْ َ َ َ ْ ِ م‬ ‫وأنزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه ِن الكتاب ومهيمنا عليه‬ ْ ‫َ ْ ُ ْ َ ْ َ ُ ْ ِ َ َ ْ َ َ ّ َ َ َ ّ ِ ْ َ ْ َ َ ُ ْ َ ّ َ َ َ ِ َ ْ َ ّ ِ ُ ّ جع ْ َ ِ ْك‬ ‫فاحكم بينهم بما أنزل ال ول تتبع أهواءهم عما جاءك من الحق لكل َ َلنا من ُم‬ ُ ْ ُ َ َ ِ ْ ُ َ ُْ َ ِ ْ ِ َ‫ِ ْ َ ً َ ِ ْ َ ً ََ ْ َ َ ّ َ َ ََ ُ ْ ُ ّ ً َ ِ َ ً و‬ ‫شرعة ومنهاجا ولو شاء ال لجعلكم أمة واحدة َلكن ليبلوكم في ما آتاكم‬ ُ َ ُ َِ ْ َ ِ ِ ْ ُ ْ ُ َ ِ ْ ُ ُ ّ َ ُ َ ً ِ َ ْ ُ ُ ِ ْ َ ّ ‫فاسْتبقوا الخيرات إلى ال مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم فيه تختلفون‬ ِ َِ ِ َ ْ َ ْ ُ ِ َ َ
Wa anzalnaa ilaikal-kitaaba bil-haddi mushaddiqal limaa baina yadaihi minal kitaabi wa muhaiminan 'alaihi fahkum bainahum bimaa anzalallaahu wa laa tattabi' ahwaa'ahum 'ammaa jaa'aka minal haqq, li kullin ja'alnaa minkum syir'ataw wa minhaajaa, wa lau syaa'allaahu la ja'alakum ummataw waahidataw wa laakil li yabluwakum fii maa aataakum fastabiqul khairaat, ilallaahi marji'ukum jamii'an fa yunabbi'ukum bimaa kuntum fiihi takhtalifun

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS. Al-Maa'idah:48) Sekiranya Allah SWT. menghendaki, tentu Dia dapat menjadikan manusia hanya mempunyai satu syariat dan satu jalan yang akan ditempuh dan diamalkan mereka sehingga dari zaman ke zaman tidak ada peningkatan dan kemajuan. Allah SWT. menghendaki manusia menjadi makhluk yang dapat mempergunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Dari masa kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dst. Untuk itulah, Allah SWT. mengutus para Rasul untuk menjelaskan kepada manusia mana yang baik dilakukan dan mana yang terlarang dilakukan. Manusia dengan akal, pikiran dan perasaan yang dianugerahkan Allah kepadanya dapat menilai apa yang disampaikan para Rasul itu. Tidak ada sesuatu paksaan bagi manusia dalam menentukan pilihannya, apakah yang baik atau yang buruk. Islam tetap menghormati pilihan individu, mengakui kebebasan dalam mengambil pilihan pribadi sesuai dengan keyakinan masing-masing, yang masingmasing akan berbuah imbalan atau konsekuensi di akhirat nanti.

ِ َ َ ّ ِ ِ ْ َُ ِ ُ ّ ِ ْ ُ ْ َ ْ َ َ ّ َ ْ َ ِ ُ ْ ّ َ َّ َ ْ َ ِ ّ ِ َ َ ْ ِ َ ‫ل إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي فمن يكفر بالطاغوت ويؤمنْ بال فقد‬ ِ ٌ َِ ٌ ِ َ ّ َ َ َ َ َ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ ِ َ ْ ُ ْ ِ َ َ ْ َ ‫اسْتمسك بالعروة الوثقى ل انفصام لها وال سميع عليم‬ ُ
Laa ikraaha fid-diin, qat tabayyanar-rusydu minal-gayy, fa may yakfur bit-thaaguuti wa yu'mim billaahi fa qadistamsaka bil 'urwatil-wusqaa lanfishaama lahaa, wallaahu samii'un aliim Tidak ada paksaan untuk agama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 256) Maha Bijaksana Allah yang telah menciptakan manusia, sang khalifah bumi, dengan hak istimewa berupa kebebasan untuk memilih sesuai dengan keyakinannya. Allah SWT. menghendaki dan memberikan syariat tersendiri kepada tiap-tiap umat untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi laranganNya, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam kitab Samawi-Nya. Pada suatu waktu nanti, mau tak mau manusia akan kembali kepada Allah swt. memenuhi panggilan-Nya, ke alam Baqa. Di sanalah nanti Allah swt. akan memberitahukan segala sesuatunya tentang hakikat yang diperselisihkan mereka.

ْ ِ ّ َ َ ْ َ َ ِ ُ ْ َ ْ ُ َ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ِ ّ َ َ َ َ ْ ِ ُ َ َ ْ ِ َ ْ َ ُ ْ َ َ َِ َِ ‫فلذلك فادع واستقم كما أمرت ول تتبع أهواءهم وقل آمنت بما أنزل ال من‬ ُ ‫كتاب وأمرت لعدل بينكم ال ربنا وربكم لنا أعمالنا ولكم أعمالكم ل حجة بيننا‬ َ َ ْ َ َ ّ ُ َ ْ ُ ُ َ ْ َ ْ ُ ََ َ ُ َ ْ َ َ َ ْ ُ ّ َ َ َ ّ َ ّ ُ ُ َ ْ َ َ ِ ْ ِ ُ ْ ِ َُ ٍ َ ِ ُ َ ُ ِ َ ْ ِ ْ ََِ َ َ ْ َ ُ َ ْ َ ّ ُ ُ َ ْ َ َ ‫وبينكم ال يجمع بيننا وإليه المصير‬ ُ
Fa li zaalika fad', wastaqim kamaa umirt, wa laa tattabi' ahwaa'ahum, wa qul aamantu bimaa anzalallaahu min kitaab, wa umirtu li a'dila bainakum, Allaahu rabbunaa wa rabbukum, lanaa a'maalunaa wa lakum a'maalukum, laa hujjata bainanaa wa bainakum, Allaahu yajma'u bainanaa, wa ilaihil-mashiir. Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: `Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).(Asy-Syuuraa:15) Begitulah Al-Quran memandang Pluralitas di antara umat manusia. Sepakat untuk saling berbeda tentang identitas agama masing-masing (lakum diinukum wa liya diin), dengan batas yang jelas menyangkut akidah keimanan. Bersikap dewasa dalam perbedaan, dan saling menghormati pilihan. Akan tetapi, jangan sampai kita tergelincir ke dalam pemahaman yang salah bahwa semua agama adalah sama. Pasti ada satu pilihan terbaik, pilihan yang diridhoi oleh Allah SWT di antara sekian banyak pilihan. Oleh karena itu seharusnya manusia menggunakan akalnya untuk memilih dan berlomba-lomba menuju jalan yang terbaik, berbuat kebaikan dan beramal saleh, sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Nabi penutup, Rasul terakhir Muhammad saw, syariat yang menggantikan syariat sebelumnya, untuk kepentingan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

BAB IV PENUTUP
1.1 Kesimpulan • Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa beberapa cara agar dapat menjadi rahmat bagi seluruh alam ialah : 1. Menerapkan syariat Islam secara kâffah dalam wadah Khilafah Islamiyah. 2. Menyebarluaskan Islam ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad. Jadi, terlepas dari kita mau menjalin Ukhuwah Islamiyah atau tidak, Islam akan tetap kekal dan dakwah Islam akan terus berjalan, tetapi kita tidak boleh hidup tanpa Ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah Islamiyah muncul sebagai penyangga kepada kekuatan aqidah dan merupakan nikmat yang Allah swt berikan di samping ianya juga adalah suatu kehendak Allah swt. Kita hanya mampu berusaha untuk sentiasa mempersatukan hati-hati kita, namun Allah jualah yang dapat memadukannya. Muslim dan Non Muslim harus diperlakukan sama sebagai warga negara Secara khusus malah yang wajib bagi muslim tidak wajib bagi non muslim, seperti membayar zakat, ini tidak wajib bagi yang beragama non Islam. Dalam kehidupan publik, warga non muslim mendapat perlakuan sama dengan yang muslim. Seperti keduanya berhak mendapat perlindungan keamanan, pendidika dan layanan kesehatan gratis. Jika seorang muslim tidak boleh diciderai jiwa dan kehormatannya serta diambil hartanya tanpa hak, maka begitu juga non muslim.

1.2 Saran Pentingnya kerukunan hidup antar umat beragama adalah terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis dalam kedamaian, saling tolong menolong, dan tidak saling bermusuhan agar agama bisa menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang secara tidak langsung memberikan stabilitas dan kemajuan Negara. Cara menjaga sekaligus mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama adalah dengan mengadakan dialog antar umat beragama yang di dalamnya membahas tentang hubungan antar sesama umat beragama. Selain itu ada beberapa cara menjaga sekaligus mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama antara lain: 1. Menghilangkan perasaan curiga atau permusuhan terhadap pemeluk agama lain 2. Jangan menyalahkan agama seseorang apabila dia melakukan kesalahan tetapi salahkan orangnya. 3. Biarkan umat lain melaksanakan ibadahnya jangan mengganggu umat lain yang sedang beribadah. 4. Hindari diskriminasi terhadap agama lain.

DAFTAR PUSTAKA
Drs. M. Mansyur Amin, dkk., Aqidah dan Akhlaq, Yogyakarta: Kota Kembang, 1991. A. Zainuddin, S.Ag, dan Muhammad Jamhari, S.Ag. al-Islam 2 : Muamalah dan Akhlaq, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998. Sumber: http://sherwintobing.com/2007/08/30/kerukunan-antar-umat-beragama-di-indonesiamungkinkah/comment-page-1/ . Diakses tanggal 15 September 2012 Sumber : http://www.misterguru.web.id/2011/08/pluralitas-agama-menurutislam.html#ixzz26hcaa5tL. Diakses tanggal 15 September 2012 Sumber : http://pojokkata.wordpress.com/2007/08/14/islam-dan-pluralitas-agama/. Diakses tanggal 15 September 2012 Sumber : http://mediaislamnet.com/2010/03/pluralitas-vs-pluralisme/. Diakses tanggal 15 September 2012

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->