P. 1
Panca Sila

Panca Sila

|Views: 58|Likes:
Published by Dyah Muawiyah

More info:

Published by: Dyah Muawiyah on Nov 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2013

pdf

text

original

Makalah Pancasila

Disusun Oleh :
Aji Prihantoro (K3312004) Aqin Rizka Ayati (K3312010) Dimas Ridho T P (K3312020) Dyah Muawiyah (K3312026) Hasna Putri Azizah (3312032) Juventie Primastuti (K3312042) Nur Fitri Fatimah (K3312056) Salima Puji Astuti (K3312070) Tuti Prihatinah (K3312072)

Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan nikmat dan hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Shalawat seiring salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatsahabatnya, yang telah berjasa menghantarkan umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang penduh dengan ilmu pengetahuan seperti saat ini. Makalah Pancasila ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pancasila pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, jurusan Pendidikan Kimia. Kami sadar bahwa makalah ini masih memiliki kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar kami dapat menjadi lebih baik lagi.

Surakarta, 12 Oktober 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... i KATA PENGANTAR…………………………………………………………. ii DAFTAR ISI…………………………………………………………………… iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang…………………………………………... 1 B. Rumusan Masalah……………………………………….. 1 C. Tujuan…………………………………………………… 1 ISI A. B. C. D. E. F.

BAB II

Pengertian Nilai…………………………………………..2 Pancasila Sebagai Nilai dan Sumber Norma……………..3 Pancasila Sebagai Sistem Nilai…………………………...4 Pancasila sebagai Sistem Filsafat…………………………5 Pemikiran Filosofis Pancasila…………………………….6 Makna Pancasila Dasar Filsafat Negara Indonesia……….11

BAB III

PENUTUP A. Kesimpulan……………………………………………… 12 B. Saran……………………………………………………...12

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………...13

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kedudukan pokok dari Pancasila yakni sebagai dasar filsafat negara. Dianggap sebagai kedudukan pokok, oleh karena kedudukan Pancasila sebagai dasar negara ini memang telah diakui dan diterima oleh banyak pemikiran akademik. Pancasila dasar negara memiliki dimensi yuridis dan politis bakan memiliki dimensi etis. Pancasila dasar negara nantinya akan menjadikan Pancasila sebagai ideology nasional dan sebagai sumber hukum. Menurut Darji Darmodiharjo, kedudukan pokok Pancasila dasar negara meliputi Pancasila sebagai dasar falsafah negara, Pancasila sebagai sumber tertib hukum, Pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa, Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa, dan Pancasila sebagai falsafah hidup yang mempersatukan kita. Membahas Pancasila sebagai dasar negara dapat dilakuka dengan pendekatan filosofis, politis, dan yuridis.

B.

Rumusan Masalah
1. 2. 3. Bagaimanakah makna Pancasila sebagai sumber nilai? Bagaimanakah makna pancasila sebagai dasar falsafah negara? Bagaimanakah makna nilai-nilai dasar dari Pancasila?

C.

Tujuan
1. 2. 3. Agar pembaca dapat menjelaskan makna Pancasila sebagai sumber nilai. Agar pembaca dapat menjelaskan makna Pancasila sebagai dasar falsafah negara. Agar pembaca dapat menjelaskan makna nilai-nilai dasar dari Pancasila.

BAB II ISI A. Pengertian Nilai
Pada hakekatnya, nilai merupakan sesuatu yang berharga dan berguna. Tiap nilai membantu perkembangan keseluruhan pribadi seseorang. Sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986) adalah : 1. Nilai itu suatu realitas abstrak Nilai itu ada (riil) dalam kehidupan manusia, tetapi nilai itu abstrak sehingga yang dapat diamati hanyalah objek yang memiliki nilai. Contoh : seseorang memiliki kujujuran. Kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak dapat mengindera kejujuran. Kita hanya dapat mengindera orang yang memiliki nilai kejujuran itu. 2. Nilai itu memiliki sifat normatif Nilai mengandung harapan, cita-cita, suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Contoh : nilai keadilan. Semua orang berharap mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan. 3. Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia sebagai pendukung nilai Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Contoh : nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk dapat mencapai derajat takwa. Sedangakan dalam filsafat nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu: 1. Nilai logika adalah nilai benar dan salah. 2. Nilai estetika adalah nilai indah dan tidak indah. 3. Nilai etika/moral adalah nilai baik dan buruk. Notonagoro dan Kaelan (2001) menyebutkan adanya tiga macam nilai, yaitu : 1. Nilai material Segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas. 2. Nilai vital Segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas. 3. Nilai kerohanian Segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian dibedakan atas empat macam : a. Nilai kebenaran Nilai yang bersumber pada akal manusia, meliputi rasio, budi, dan cipta. b. Nilai keindahan Nilai yang bersumber pada unsure perasaan manusia.

Nilai kebaikan Nilai yang bersumber pada unsure kehendak manusia. d. Nilai religius Nilai yang bersumber pada kepercayaan dan keyakinan manusia. Nilai kerohanian merupakan nilai tertinggi dan mutlak. Tatanan nilai terdapat tiga tingkatan : 1. Nilai dasar Yaitu asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang bersifat sedikit banyak mutlak. Kita menerima nilai dasar itu sebagai sesuatu yang benar tidak perlu dipertanyakan lagi. Nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilandalam Pancasila merupakan nilai-nilai dasar. 2. Nilai instrumental Yaitu pelaksanaan umum dari nilai dasar. Umumnya berbentuk norma sosial dan norma hukum yang terkristalisasi dalam peraturan dan mekanisme lembaga negara. 3. Nilai praksis Yaitu nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan. Nilai ini menjadi batu ujian apakah nilai dasar dan nilai instrumental benar-benar hiup dalam masyarakat Indonesia.

c.

B.

Pancasila Sebagai Nilai dan Sumber Norma
Diterimanya Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia membawa konsekuensi logisbahwa nilai-nilai Pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi penyelenggaraan bernegara Indonesia. Pancasila berisi lima sila yang pada hakekatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental. Nilai dasar dari Pancasila adalah nilai Ketuhanan, nilai Kemanusiaan, nilai Persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai Keadilan. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa tehadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa Indoesia adalah bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memiliki arti bagi adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku deskriminatif antar umat beragama. Nilai Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan prilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. Berdasar nilai ini maka secara mutlak ada pengakuan terhadap hak asasi manusia. Nilai Persatuan Indonesia mengandung makna usaha keras bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Kesadaran ini tercipta dengan baik bila sungguhsungguh menghayati sesanti “Bhineka Tunggal Ika”.

Nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.berdasarkan nilai ini maka diakui paham demokrasi yang lebih mengutamakan pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat. Nilai Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan yaitu tercapainya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur secara lahiriah maupun batiniah. Berdasarkan sila ini, maka keadilan adalah nilai yang amat mendasar yang diharapkan oleh seluruh bangsa. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normative. Karena sifatnya abstrak dan normatif, maka isinya belum dapat dioperasionalkan. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit maka perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental, sebagai nilai dasar maka nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai instrumental. Artinya dengan bersumber pada kelima nilai dasar di atas, maka dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental dari pada penyelenggaraan Negara Indonesia. Nilai-nilai Pancasila dijabarkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang ada. Hal tersebut dikarenakan nilai-nilai dasar dari Pancasila merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan menjiwai satu sama lain. Oleh karena itu semua nilai dasar daripada silasila pada Pancasila tersebut harus menjadi acuan dalam penyelenggaraan bernegara. Nilai-nilai instrumental pada dasarnya merupakan norma sebagai acuan bersikap dan bertindak dalam kehiduan bernegara.

C.

Pancasila Sebagai Sistem Nilai
Nilai-nilai Pancasila termasuk nilai etik atau nilai moral dan berada pada tingkatan.nilai dasar. Menurut Notonagoro (1980), nilai-nilai Pancasila termasuk nilai kerohanian, yang mengakui adanya nilai meteriil dan nilai vital secara seimbang. Hal ini tercermin dari susunan kelima sila Pancasila yang tersusun secara sistematis dan hirarki. Sebagai contoh kristalisasi nilai-nilai luhur Pancasila yaitu nilai-nilai luhur yang menonjol dan sudah mengakar dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang adalah : sikap yang religious, toleransi, tepo slira / tenggang rasa, demokratis, musyawarah,ramah, kekeluargaan, gotong-royong, kerja keras, sederhana, dan sebagainya. Pancasila berikut nilai-nilai sebagai penjabarannya, adalah sebagai berikut : 1. Nilai Dasar Merupakan esensi dari sila-sila Pancasila yang bersifat universal, sehingga dalam nilai dasar ini terkandung cita-cita, tujuan serta nilainilai yang baik dan benar. Nilai dasar tersebut tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 kemudian dijabarkan dalam pasal-pasal batang tubuh UUD 1945. Nilai dasar ini bersifat tetap dan tetap melekat pada kelangsungan hidup Negara, sehingga mengubah nilai dasar ideologi pancasila tersebut sama halnya dengan pembubaran Negara. 2. Nilai Instrumental Merupakan eksplitasi penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai dasar ideologi Pancasila. Misalnya Rencana Pembangunan Jangka

Menengah (RPJM) Naional yang setiap lima tahun senantiasa disesuaikan dengan perkembangan zaman serta aspirasi masyarakat , undang-undang, peraturan departemen-departemen sebagai lembaga pelaksanaan dan lain sebagainya. Pada aspek ini sentiasa dapat dilakukan perubahan (reformatif). 3. Nilai Praktis Nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi pengalaman yang bersifat nyata, dalam kehidupan kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah bahwa nilai-nilai dasarnya tetap namun penjabarannya dapat dijabarkan secara dinamis dan kreatif sesuai dengan kebutuhan perkembangan masyarakat Indonesia. Nilai yang berubah dan berkembang adalah nilai instrumental dan nilai praksis. Nilai-nilai dasar Pancasila yang abadi itu kita temukan dalam empat alinea Pembukaan UUD 1945, yaitu alinea pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Menurut RM. A.B Kusuma (2010), ada sejumlah nilai-nilai dasar (core values) yang dapat kita temukan dalam Pembukaan UUD 1945 yakni, : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa (Believe in the One and Only God), 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab (Humanity), 3. Persatuan Indonesia (Nationalism/Unity), 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan (Representative democracy ), 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ( Social justice , 6. Keadilan ekonomi dan politik ( Economic and political justice ), 7. Merdeka (Independent), 8. Bersatu (Unity), 9. Berdaulat (Sovereign ), 10. Makmur (Welfare). Jadi menurutnya, selain nilai-nilai Pancasila yang jumlahnya lima itu masih terdapat nilai-nilai dasar yang lain. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut memerlukan penjabaran lebih lanjut sabagai arahan untuk kehidupan nyata. Penjabaran lebih lanjut ini dinamakan instrumental. Nilai instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang dijabarkannya. Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh nilai dasar itu yang jelas tidak boleh bertentangan. Dokomen konstitusional yang disediakan untuk penjabaran secara kreatif dan niilai-nilai dasar itu adalah pasal-pasal UUD 1945, Program pembangunan, peraturan perundang-undangan dan kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya.

D.

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
Apakah Pancasila merupakan suatu filsafat? Beberapa pemikir dan penulis menyatakan bahwa Pancasila merupakan salah satu aliran filsafat yang merupakan hasil pemikiran filosof bangsa Indonesia sendiri. Menurut Ir. Soekarno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 di depan Sidang BPUPKI, menegaskan : “….. berpuluh – puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasarnya – dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschaauung kita….” Dari ungkapan diatas, pemikirannya yang dikenal dengan Pancasila merupakan pemikiran filsafat. Menurut Mr. Muhammad Yamin yang juga menyampaikan pidato tanggal 29 Mei 1945 di depan sidang BPUPKI, menyampaikan bahwa ajaran Pancasila adalah tersusun secara harmonis dalam suatu sistem filsafat.

Menurut Prof. Drs. Notonegoro, SH dalam Seminar Pancasila 1 di Yogyakarta tahun 1959, antara lain mengatakan : “… kata kata “dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, menentukan kedudukan Pancasila dalam Negara Republik Indonesia sebagai dasar Negara, dalam pengertian dasar filsafat. R. Soejadi, SH dan Prof. Dr. Koento Wibisono, menyatakan bahwa filsafat Pancasila adalah suatu aliran filsafat yang di dalamnya mencakup hubungan manusia baik dengan alam maupun hubungan dengan manusia sebagai pribadi dan masyarakat bahkan hubungan dengan Tuhannya. Pancasila merupakan salah satu aliran filsafat yang dipakai sebagai dasar falsafah Negara Republik Indonesia karena : 1. Pancasila merupakan hasil perenungan contemplative) secara individual maupun kelompok yang dilakukan secara radikal, sistematis dan universal dengan mendasarkan diri kepada kenyataan/realitas yang ada pada bangsa Indonesia. Perenungan individual dilakukan Mr. Muhammad Yamin, Ir. Soekarno dan Prof. Dr. Mr. Soepomo, sedangkan secara kelompok dilakukan oleh Panitia Sembilan, anggota BPUPKI dan PPKI. 2. Rumusan sila-sila Pancasila merupakan rumusan abstrak disusun secara sistematis yang dipakai sebagai filsafat Negara, ideologi Negara. 3. Rumusan hakekat Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial merupakan konsep universal yang dapat berlaku pada setiap bangsa di dunia. 4. Rumusan Pancasila dipergunakan bagi kepentingan manusia (khususnya manusia Indonesia) dan secara mendalam/ radikal menempatkan dan mengakui eksistensi Tuhan Yang Maha Esa dan manusia. 5. Nilai – nilai yang terkandung dalam sila – sila Pancasila hakekatnya dapat diterima secara benar, baik dan universal walaupun ada juga nilai – nilai yang bersifat spesifik/ singular berlaku bagi bangsa Indonesia dan tidak bertentangan dengan nilai – nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan.

E.

Pemikiran Filosofis Pancasila
Bagaimanakah pengertian atau tafsir atas sila- sila Pancasila sehingga daripadanya dapat di ketemukan nilai dan normanya ? Pada bagian berikut ini, sesuai dengan kajian bab, akan disajikan pemikiran filosofis terhadap Pancasila. Pemikiran filosofis terhadap Pancasila adalah suatu renungan reflektif dan sistematis mengenai Pancasila yang sifatnya personal

(Pranarka, 1985). Slamet Sutrisno (2006) juga mengatakan pemikiran filosofis Pancasila merupakan renungan mendalam tentang Pancasila dari para tokoh atau ahli filsafat. Meskipun sebagai renungan mendalam dari seseorang dan sifatnya personal, namun pemikiran filosofis termasuk jenis pemikiran intelektual karena dilakukan secara reflektif, objektif, kritis, logis dan sistematis. Orang bisa merenungkan sesuatu namun tidak semua orang bisa berpikir filosofis terhadap suatu hal. Sudah banyak ahli yang menjelaskan isi Pancasila secara filosofis. Beberapa ahli tersebut antara lain : Notonagoro, Soediman Kartohadiprojo, N Drivakrya, Abdul Kadir Besar, Kuntowijoyo, Soerjanto Poepowardojo, Mohammad Noer Syam, Sunaryo Wreksosuhardjo, dan Hardono Hadi. Bahkan pemikiran presiden Indonesia ke 1, Ir. Soekarno, dalam pidatonya mengenai Pancasila di berbagai kesempatan dan presiden ke 2, Soeharto, dalam buku “Pandangan Presiden Soeharto” tentang Pancasila (1976) dapat dikatakan sebagai bentuk pemikiran filosofisnya mengenai Pancasila, meskipun untuk sebagian dipengaruhi pula oleh pemikiran yang sifatnya ideologis politis. Menurut Natanagoro (1982), isi dari sila- sila Pancasila sebagai dasar falsafah negara ialah pengertian yang umum, abstrak, dan universil, yang dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagi sila pertama „ Ketuhanan Yang Maha Esa‟ adalah kesesuaian sifat- sifat dan keadaan- keadaan daripada dan di dalam negara kita dengan hakekat daripada Tuhan. 2. Bagi sila kedua „ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab‟ adalah kesesuaian sifat- sifat dan keadaan- keadaan dari[ada dan didalam negara kita dengan hakekat daripada manusia. 3. Bagi sila ketiga „Persatuan Indonesia‟ adalah kesesuaian sifat- sifat dan keadaan- keadaan daripada dan di dalam negara kita dengan hakekat daripada satu. 4. Bagi sila keempat „ Kerakyatan yang Adil dan Beradab bagi Seluruh Rakyat Indonesia‟ adalah kesesuaian sifat- sifat dan keadaan- keadaan daripada dan di dalam negara kita dengan hakekat daripada rakyat 5. Bagi sila kelima „ Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia‟ adalah kesesuaian sifat- sifat dan keadaan- keadaan daripada dan di dalam negara kita dengan hakekat daripada adil. Dengan adanya hakekat/ substansi dari sila- sila Pancasila tersebut, mempunyai sifat tetap, mutlak, tidak berubah, abstrak, umum dan universal, dan karenanya nilai- nilai pada sila- sila Pancasila sebagai filsafat yang berlaku umum dan universal. Namun dengan terdapatnya aksidensi di belakang hakekat/ substansi sila- sila yang seperti kalimat Yang Maha Esa, Yang Adil dan Beradab, maka fisafat ini mempunyai lingkup berlaku di Indonesia. Sila Persatuan Indonesia dan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia memperjelas bahwa Filsafat Pancasila khusus diberlakukan di Indonesia. Ir. Soekarno sebagai orang pertama yang memperkenalkan Pancasila telah menjelaskan isi atau substansi tiap sila Pancasila. Penjelasan tersebut adalah pada sidang I BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Tidak hanya itu saja,

penjelasan Ir. Soekarno mengenai sila- sila Pancasila ini di kemukakan kembali pada kursus presiden tentang Pancasila di tahun 1956 dan pada pidato di muka sidang umum PBB tahun 1960. Menurut Ir. Soekarno muatan yang terkandung dalam masing- masing sila Pancasila dapat dikemukakan secara sederhana, sebagai berikut : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa berarti bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan. Bukan hanya bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan tetapi hendaknya masing- masing orang Indonesia bertuhan menurut Tuhannya sendiri. 2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berarti humanity atau persaudaraan bangsa- bangsa. 3. Persatuan Indonesia berarti nasionalisme. 4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan berarti demokrasi. 5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia berarti tidak ada kemiskinan dalam Indonesia merdeka. Soediman kartohadiprodjo dalam buku “Beberapa Pikiran sekitar Pantja-Sila”(1970) menyatakan bahwa pancasila awalnya berisi singkat hanya inti dari kelima sila. Karena itu perlu pemikiran bulat untuk menemukan “isi” pancasila itu sendiri.isi pancasila harus haruslah memenuhi isi jiwa bangsa Indonesia. Filsafat Pantja-Sila intinya dibawakan dengan hal- hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia(Soediman Kartohadiprojo,1970:43). Pancasila berkaitan dengan manusia oleh karena sebagai filsafat dalam mencari hakekat. Hakekat alam semesta dan hubunganya dengan yang lain. Alam semesta terdiri dari benda mati dan benda hidup. Benda hidup terdiri dari tumbuhan,hewan,dan manusia. Isi filsafat pancasila tidak mengenai hal hal tersebut sebab pertama kali dalam “lahirnya” sebagai “dasar filsafat negara Indonesia merdeka yang kelak akan didirikan”. Negara adalah sesuatu yang bertalian dengan manusia. Pemikiran yang bulat dari isi filsafat tergambar dalam masing masing sila.Arti dari sila pertama bahwa bangsa Indonesia percaya dengan adanya Tuhan, pencipta Alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Arti sila ke kedua, Perikemanusiaan atau internasionalisme.pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan satu umat. Namun manusia hidup di berbagai bumi yang berbeda keadaan tanah, iklim, dan lain-lain. Maka menimbulkan perbedaan sifat dari manusia satu dengan yang lain yang menimbulkan adanya bangsa (sila ke-3, Nasionalisme atau Kebangsaan). Sila kelima dimaksudkan kebahagiaan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan untuk berusaha menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Kebahagiaan dicapai dengan musyawarah /mufakat/sila keempat. Driyarkara dalam buku “Driyarkara tentang negara dan bangsa”(1980) membahas Pancasila sebagai filosofis yang bertolak dari

refleksinya tentang manusia. Tulisan ini berasal dari prasaran tentang Pancasila dan Relegi pada Seminar Pancasila I tahun 1959 di Yogyakart. Menurutnya, manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan manusia lain. Aspek ini, pertama-pertama dalam relasinya dengan alam jasmani yang disebut membudaya. Aspek kedua relasinya dengan rohani. Menurut strukturnya kita ada bersama yang berarti terlibat dalam hubungan cinta kasih, dan menjadi dasar bagi perikemanusiaan, demokrasi, semangat cinta kasih tanah air, nasionalisme, dan Internasionalisme. Keberadaan kita baik dalam dunia material maupun dalam interaksi adalah diadakan oleh yang Maha Ada. Dengan demikian sila KETUHANAN itu timbul dari kodrat manusia itu sendiri. PERIKEMANUSIAAN berarti menghormati, menjunjung tinggi sesama manusia. Perikemanusiaan menolak perbudakan, penghisaban, dan sebagainya sesama manusia. Apa yang tidak diinginkan untuk dirimu sendiri, janganlah itu kau lakukan terhadap sesama manusia. Itulah rumusan negatif dari perikemanusiaan. Sedangkan rumusan positifnya bahwa cintailah sesama manusia seperti dirimu sendiri perlakukanlah kepadanya apa yang kau inginkan untuk dirisendiri. Maka hidup bersama merupakan persaudaraan. Perikemanusiaan memuat rumusan yang umum, yakni memuat segala kebajikan yang harus dilakukan manusia menurut hakikat kodratnya. KEADILAN SOSIAL adalah suatu percabangan, pengkhususan yang muncul bila kita memandang manusia berhadapan dengan alam jasmani, yang dikerjakan, dibangun, dijadikan perlengkapan, dan syarat hidup. Keadilan sosial adalah perikemanusiaan sepanjang dilaksanakan dalam suatu bidang ekonomi atau bidang penyelenggaran perlengkapan dan syarat syarat hidup. Prinsip DEMOKRASI atau kerakyatan. Karena manusia pada kodratnya ada bersama, maka dengan sendirinya timbulah masyarakat. Manusia itu bermasyarakat. Memasyarakat adalah bentuk pelaksanakan dari cinta kasih. Masyarakat adalah bentuk konkrit dari permasyarakatan. Negara sebagai kelompok negara yang besar. Memasyarakat menjadi menegara diperlukan prinsip DEMOKRASI. Cinta kasih yang dilakukan dengan pemasyarakatan berbentuk negara menuntut agar dilakukan suatu cara yang disebut demokrasi. Demokrasi adalah prinsip yang menyebabkan para warga negara saling memandang menghormati, menerima kerja sama dalam satu kesatuan, sehingga masyarakat dapat bertindak satu subyek yang menyelenggarakan kepentingan bersama. KEBANGSAAN adalah suatu cara dari ada bersama. Berada bersama sebagai satu bangsa belum tentu menegara, misalkan karena dijajah bangsa lain. Jika suatu bangsa itu merdeka dan menegara maka kebangsaan menjadi dasar penegaraaan. Kebangsaan adalah pelaksanaan memasyarakat dalam kelompok yang lebih kecil yakni bangsa. Abdul Kadir Besar dalam tulisan “Pancasila dan Alam Pikiran Integralistik (1994) menyatakan bahwa untuk mengetahui serba konsep yang terkandung dalam tiap sila Pancasila dan bagaimana hubungan antar konsep, perlu dilakukan refleksi filsafati. Menurutnya tiap sila Pancasila

adalah abstraksi dari serba konsep yang secara logik terkandung didalamnya, tersusun secara berjenjang dari konsep yang bersifat universal, berturut-turut secara deduktif logik ke konsep yang makin bersifat partikular. Konsep universal yang terkandung dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah alam semesta itu ciptaan Tuhan YME, yang eksistensinya juga dirangkai oleh suatu mantikan yang juga ciptaan Tuhan yang dinamai Mantikan Eksistensi Alam Semesta. Mantikan Eksistensi Alam Semesta mengandung tiga tesis ontologik yaitu : 1. Di alam semesta tidak ada satu fenomena yang mampu berdiri sendiri terlepas dari fenomena lain. 2. Ada itu memberi, tidak ada itu tidak memeberi. 3. Suatu pendapat itu benar, bila totalitas reslasi sesuai dengannya dan nir benar bila tidak ada kesesuaian. Kebenaran itu adalah totalitas dan ide mengenai kebenaran bersifat integral. Kesimpulannya ialah sila Ketuhanan Yang Maha Esa beralam pikiran itegralistik. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah abstraksi dari kondisi konkrit manusia secara riil terus menerus bersama manusia lain. Manusia adalah salah satu fenomena dari alam semesta, yang tidak mungkin berdiri sendiri terlepas dari fenomena lain yang bertautan. Adil menunjukkan kemakhlukan individu dalam diri manusia, sedangkan beradab menunjukan kemakhlukan sosialnya. Konsep universal yang terkandung dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Tugas hidup manusia adalah apriori memberi pada lingkungan termasuk manusia lain. Tujuan memberi adalah demi terpeliharanya eksistensi yang diberi dan kemampuan memberi kepada fenomena lain, dari yang diberi. Sila Persatuan Indonesia ialah abstraksi dari ketautan manusia dengan fenomena lain diluar dirinya yakni ketautan manusia dengan lingkungannya. Ketautan memberi kualifikasi loyalitas manusia pada lingkungan yang diartikan sebagai rasa keterikatan diri manusia pada lingkungannya yang digerakkan hasrat memberi. Loyalitas terkecil yang mengelilingi manusia adalah keluarga sebagai loyalitas tingkat kedua. Lalu keluarga wajib memberi pada lingkungan dimana ia berada yakni lingkungan suku bangsa sebagai loyalitas tingkat ketiga. Suku bangsa sebagai totalitas melaksanakan kewajiban pada lingkungan ia berada yakni bangsa sebagai loyalitas tingkat keempat yang dalam Pancasila dirumuskan sebagai Persatuan Indonesia. Totalitas memberi terus dilakukan pada tingkat kelima yakni loyalitas pada umat manusia. Dan akhirnya loyalitas pada alam semesta ciptaan Tuhan pada hakekatnya bentuk loyalitas pada Tuhan YME sebagai tingkat loyalitas keenam sebagai puncaknya. Konsep universal yang terkandung dalam Sila Persatuan Indonesia adalah integralistik. Konsep yang terkandung dalam sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan adalah mengenai masyarakat. Faham Pancasila mengenai masyarakat adalah

kebersamaan hidup antara sejumlah orang yang terselenggara melalui intraksi saling memberi. Interaksi informasi yang mencerminkan kehendak warga dalam pengertian Pancasila disebut musyawarah mufakat. Substansi ajaran demokrasi Pancasila adala kebersamaan yakni yang terkandung dalam ungkapan “yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Konsep universal yang tekandung dalam keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah produk dari relasi antarsubyek, bukan barang jadi yang diakui sebagai bawaan dari individu manusia. Konsep yang mendasari keadilan adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban. Perangkat hidup yang original adalah kewajiban yakni kewajiban memberi kepada lingkungan. Melalui saling memberi, terungkaplah pengertian hak yakni hak seseorang adalah hasil terlaksananya kewajiban orang lain yang bertautan. Hak adalah derivat dari kewajiban. Hak itu ada karena adanya orang lain. Hak adalah relasi, menjadi ada setelah berlangsungnya relasi dengan orang lain yang bertautan. Faham keadilan ajaran filsafat Pancasila adalah : 1. Subyeknya jamak yang bertingkah laku serentak. 2. Bahan baku keadilan adalah terlaksananya kewajiban memberu dari para subyek. 3. Keaadaan bersifat fungsional, karena orang yang tidak pernah kewajiban memberi, tak akan mendapat hak, mengingat hak adalah transformasi dari kewajiban ke hak antar pasangan subyek. 4. Terjadinya transformasi kewajiban ke hak antar subyek jamak, keadilan sosial terwujud. Demikian paparan dari sejumlah pemikiran filosofi Pancasila dari para ahli. Pemikiran filosofi ini bersifat personal karena itu muncul perbedaan-perbedaan.

F.

Makna Pancasila Dasar Filsafat Negara Indonesia
Pancasila dasar negara bermakna nilai-nilai Pancasila menjadi dasar penyelenggaraan bernegara. Menurut Ketut Rinjin (2010), Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki tiga pengertian sekaligus tiga tingkatan, yakni : 1. Sebagai dasar negara yang bersifat abstrak-universal seperti tercantum pada Pembukaan UUD 1945. 2. Sebagai pedoman penyelenggaraan nergara yang bersifat umum koleltif seperti tercantum pada Batang Tubuh UUD 1945; dan 3. Sebagai petunjuk kebijakan penyelenggaraan negara yang bersifat khusu-konkret seperti terdapat pada UU, PP, Peraturan Presiden, dsb. Kata kunci dari sila-sila Pancasila adalah ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Menurut bentuknya, masing-masing terdiri atas kata dasar Tuhan, manusia, satu, rakyat dan adil, yang ditambah dengan awalan serta akhiran ked an an, serta per dan an, sehingga kata itu mempunyai makna abstrak, hanya ada dalam pikiran. Inilah isi arti Pancasila yang abstrak. Hal ini sesuai dengan kedudukan Pancasila sebagai dasar falsafah negara dan asas kerohanian negara.

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan 1. 2. Nilai-nilai Pancasila dijadikan sebagai landasan pokok, landasan fundamental bagi penyelenggaraan bangsa Indonesia. Sila-sila Pancasila bersifat abstrak dan hanya ada dalam pikiran. Hal ini sesuai dengan kedudukan Pancasila sebagai dasar falsafah negara dan asas kerohanian negara. Nilai-nilai dasar Pancasila bersifat abstrak dan normatif, sehingga apabila isinya ingin dioperasionalkan maka nilai-nilai dasar tersebut menjadi nilai instrumental.

3.

B.

Saran Dengan adanya makalah ini, mahasiswa ataupun pembaca diharapkan : 1. Menjadikan Pancasila sebagai pedoman bersikap dan bertingkah laku sebagai warga negara Indonesia. 2. Kita dapat memahami makna dari masing-masing sila Pancasila. 3. Berusaha untuk mengamalkan nilai-nilai dasar Pancasila.

DAFTAR PUSTAKA

Haryati, Sri, dkk. 2005. Pendidikan Pancasila. Surakarta: Pustaka Cakra. Winarno. 2012. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Surakarta : Yuma Pustaka.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->