Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh.

Khoeron 197 197

Benang Merah Huffaz di Indonesia
Studi Penelitian Biografi Huffaz
Moh. Khoeron Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Jakarta.
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an selama dua tahun telah melakukan penelitian “Biografi Hufaz di Indonesia”. Tulisan ini mencoba menarik benang merah dari penelitian tersebut. Lebih jauh, mencoba melacak peran dan posisi para huffaz dalam melestarikan tradisi dan tata nilai pesantren. Pengalaman para penjaga Al-Qur'an yang ditemukan dalam penelitian ini cukup menggambarkan kegigihan, keuletan, dan kecintaan mereka dalam mu’amalatul-Qur’an. Dari keistiqamahannya, para santri, pelajar, dan penghafal Al-Qur'an dilahirkan. Peran dan fungsinya untuk ikut mencerdaskan anak bangsa terus dikembangkan dengan dasar keikhlasan hingga terlahir pribadi-pribadi Qur'ani. Kata kunci: Huffaz, hafiz, tahfiz, Al-Qur'an, pesantren. Over the past two years, the Committee for the Checking of the Holy Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an), Jakarta has carried out biographical research on huffaz (those who have learnt the Qur’an by the heart) in Indonesia. This article will attempt to draw out the key linkages from that research, and will also try to trace the role and position of the huffaz in preserving the traditions and the values of Islamic boarding schools (pesantren). The experience of these guardians of the Qur'an as documented in this research reflects their persistence, patience and love for practising the teachings of the Qur’an, and it from these qualities that religious students and huffaz emerge. Their role in helping to educate the people of the nation is continuously being developed, based on a sincere determination to produce people with a Qur'anic orientation. Key words: huffaz, hafiz, tahfiz, Al-Qur'an, pesantren.

Asyrafu ummatī ¥amalatul-Qur'ān Umatku yang paling mulia adalah para penghafal Al-Qur’an (Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu al-‘Abbās) Khairukum man ta‘allamal-Qur'ān wa ‘āllamahū Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya; (Riwayat al-Bukhari dari ‘U£mān)

198 ¢u¥uf, Vol. 4, No. 2, 2011: 197 – 219 198 Pendahuluan Edisi perdana Jurnal ‘SUHUF’ (Vol 1, No. 1, 2008) memuat tulisan M. Syatibi AH yang bertajuk “Potret Lembaga Tahfiz AlQur'an di Indonesia: Studi Tradisi Pembelajaran Tahfiz” yang merupakan rangkuman dari hasil penelitian Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an pada tahun 2007 terhadap 20 Lembaga/Pesantren Tahfizul Qur'an di Jawa, Bali, dan Madura. Sesuai dengan tema penelitiannya, temuan yang diinformasikan dalam tulisan ini banyak mencakup hal yang terkait dengan kelembagaan berikut dengan ciri khasnya. Jaringan intelektual yang teridentifikasi dari sanad, metodologi pembelajaran, dan kurikulum pun dikupas dalam perspektif institusionalnya.1 Syatibi juga mengutip hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan (2005) terhadap tujuh pesantren yang berciri khas tahfiz Al-Qur'an di Jawa dan Sumatera. Salah satu kesimpulan yang cukup mengejutkan adalah bahwa kemampuan seorang ulama dalam menghafal Al-Qur'an merupakan puncak intelektual keulamaan yang pada titik tertentu dapat meningkatkan status sosial dalam kehidupan beragama. 2 Gayung bersambut, sejak tahun 2009-2010, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an mengadakan penelitian tentang Biografi Huffaz di Indonesia. Dalam rentang dua tahun, setidaknya sudah 26 biografi para penghafal Al-Qur'an yang diteliti yang tersebar dalam 4 daerah mencakup Pulau Sumatera (10), Jawa (12), Sulawesi (2), dan Nusa Tenggara (2). Mengambil jenis penelitian studi kasus dengan analisa kualitatif atas data yang terkumpul dari kajian pustaka, wawancara, dan observasi partisipatif, penelitian ini mencoba menggali informasi tentang bagaimana tradisi menghafal Al-Qur'an terus terjaga. Berbeda dengan sebelumnya, penelitian Lajnah ini mencoba menelisik lebih dalam dari sisi personal, bukan institusional. Berangkat dari semangat untuk mendokumentasikan denyut perjuangan dan kerja keras para penghafal Al-Qur'an atas keistiqamahannya menjaga keotentikan ayat-ayat Al-Qur'an sehingga bisa dijadikan sarana pendidikan bagi generasi selanjutnya, penelitian ini berhasil mengungkap beberapa informasi terkait perkembangan tradisi dalam kultur pesantren, dedikasi para huffaz dalam menjaga Al-Qur'an,
M. Syatibi AH, “Potret Lembaga Tahfiz Al-Qur'an di Indonesia: Studi Tradisi Pembelajaran Tahfiz”, Suhuf, Vol. 1, No. 1, 2008, h. 111 – 133. 2 Ibid, hlm. 113.
1

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. Lebih jauh lagi. mengajar dan mengamalkan Al-Qur'an adalah panggilan jiwa dan tugas mulia.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. 3 . diperoleh beberapa temuan penting sebagai berikut. Tulisan ini mencoba mengambil signifikansinya pada bagian itu. 4 Disarikan dari Laporan Akhir Penelitian Biografi Huffaz. Mekanisme yang dipilih adalah talaqqī dan musyāfahah.2010. 2009 .4 Pertama. Ada juga temuan penting lainnya yang melengkapi hasil temuan sebelumnya. Ketiga. mencoba melacak peran dan posisi mereka dalam melestarikan tradisi dan tata nilai pesantren. khususnya yang terkait dengan personal experiences masingmasing penjaga Al-Qur'an dalam perjalanannya melakukan rihlah/ muhibah ilmiah. kebanyakan dari mereka mendirikan pondok pesantren.2010. Karenanya. riwayat hidup para huffaz menggambarkan betapa tradisi tahfiz Al-Qur'an di Indonesia tumbuh dan berkembang dalam kultur pesantren. dedikasi para huffaz dalam menjaga Al-Qur'an tercermin dari keikhlasan dan kekuatan tekad untuk mempelajari kandungan Al-Qur'an dan mengajarkannya. secara umum. Laporan Akhir Penelitian Biografi Huffaz. atau minimal mempunyai pengajian sebagai sarana ber-talaqqīmusyāfahah dengan generasi berikutnya. Kedua. memotret pengalaman personal penjaga Al-Qur'an. Bagi mereka. Temuan Penelitian Dari hasil penelitian. Khoeron 199 199 proses pewarisan sanad yang ketat melalui mekanisme talaqqīmusyāfahah. Kontak langsung inilah yang kemudian membentuk rangkaian sanad yang terwariskan secara talaqqī-musyāfahah dalam pola guru dan murid dari satu generasi ke generasi. sesuai dengan tradisi yang dibangun sejak awal. khususnya setelah ada kontak langsung antara ulama nusantara dan ulama Timur Tengah.3 Sebagian temuan penelitian ini memperkuat simpulan dan temuan penelitian sebelumnya. demi memastikan bahwa setiap sanad harus sampai kepada Rasulullah saw. proses pewarisan sanad terhadap para penjaga Al-Qur'an ini juga sangat ketat. Pun temuan-temuan baru. Proses belajar langsung kepada guru (talaqqī dan musyāfahah) ini harus berlangsung sampai sang murid berhasil Tim Peneliti. serta kiprah dan dedikasi pengabdiannya. serta program dan metode tahfiz Al-Qur'an.2009 .

penelitian ini setidaknya mengkonfirmasi beberapa temuan baru. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah. selain kepada Yusuf Hajar atau Yusuf adDimyati sebagaimana dijelaskan dalam sanad kepunyaan KH Ulil Albab Arwani dan KH Noor Hadi Bali. Di luar itu. Pertama. Vol. 140 – 142. Syatibi. Dari rangkain inilah tergambar betapa sanad para huffaz di Indonesia mempunyai hubungan yang bersambung dekat dengan para guru di Saudi Arabia. bin-na§ar (setoran dengan melihat teks AlQur'an) dan bil-gaib (setoran tanpa melihat teks Al-Qur'an). Baca Wawan Djunaidi Soffandi.5 (ketiga rangkaian sanad ini sebagaimana terlampir) Kedua. khususnya yang terkait 5 jaringan sanad yang berperan besar dalam penyebaran tahfiz Al-Qur'an di Indonesia. Keempat. tahfiz Al-Qur'an umumnya menjadi program takha¡¡u¡ (spesialisasi). KH Muhammad Munawwir juga berguru kepada Syekh ‘Abdul Karim Ibn ‘Umar al-Badry. No. Metode yang digunakan terbagi menjadi dua. Romo Kyai Qodir: Pendiri Madrosatul Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Madzhab Qiraat Ashim Riwayat Hafsh di Nusantara. yaitu pertama. cet. Mas’udi Fathurrohman. Jakarta. Sleman: Tiara Wacana. 4. Artinya. Ahmad Badawi meninggal pada 1977 saat berusia 90 tahun. 6 Kurun waktu ini didasarkan pada catatan Wawan Djunaedi bahwa KH. Sanad ini dimiliki oleh KH Muhammad Najib yang memperolehnya dari KH Arwani Kudus. Kedua metode ini merupakan tahapan yang harus dijalani oleh setiap santri yang akan menghafal Al-Qur'an. 2. jika dia ingin mendapatkan ijazah untuk mengajarkannya kepada orang lain. 2011. dalam kultur pesantren. Studi Sejarah Ilmu. Sanad dan Jejaringnya Informasi tentang ini sudah cukup banyak dijelaskan dalam tulisan M. 2011: 197 – 219 200 mengkhatamkan Al-Qur'an. Abdul Qodir Munawwir.200 ¢u¥uf. 5 . hlm. 2004. I. 244. Ketika diwawancarai Zarkasyi (peneliti Lajnah). sanad KH Ahmad Badawi ar-Rasyidi Kaliwungu (1887 – 19776). Lihat M. hlm. KH Abu Bakar Shofwan. belum ditemukan dalam penelitian ini. adanya jaringan sanad baru yang terkait langsung dengan Timur Tengah. R. sang Sanad yang sama juga dimiliki oleh KH. Namun seperti apa rangkaian sanadnya. sanad KH Muhammad Munawwir yang mempunyai rangkaian yang sama dengan sanad KH Munawwar.

dan tidak mau memberikan sanadnya kepada para santri yang menghafal Al-Qur'an kepadanya. Wawan Djunaidi mensinyalir keterangan KH Ali Basyar Arjowinangun. Salah satu bukunya yang sangat populer adalah Qaulus-Sadīd fī ‘Ilmit-Tajwīd. urutan sanad keduanya dari Nabi Muhammad saw. Khoeron 201 201 murid yang pernah meminta sanad setelah mengkhatamkan hafalannya.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. Talaqqī dan Musy±fahah dalam Tahfiz Al-Qur'an Terminologi talaqqī dan musy±fahah sudah cukup dijelaskan oleh Syatibi dalam tulisannya. 243 . dan Badawi Kaliwungu. sedangkan KH M. yaitu: Muhammad Munawir Krapyak. Munawwar Sedayu. sangat hormat kepada KH Muhammad Munawwir Krapyak. Rangkaian sanad keduanya sebagaimana terlampir. Potret Lembaga Tahfiz Al-Qur'an di 7 Ibid. Junaid Sulaiman pada urutan ke-34. Malang. Namun demikian. Junaid Sulaiman Sulawesi. Azra‘i ‘Abdur Rauf berada pada urutan ke-42. murid Kyai Badawi. berbeda.7 Keterangan ini juga diperkuat oleh keterangan Kyai Dimyati Pemalang. Jika disandingkan dengan lima sanad yang ditulis M Syatibi. Kedua.” Keterangan yang diperoleh hanya menyebutkan bahwa Kyai Badawi dikenal sangat tawadlu‘. “Untuk apa kamu minta sanad? Paling hanya untuk kepentingan duniawi. seorang ulama yang diberi gelar ra'īsul-qurrā'. yang juga diwawancarai Zarkasyi Afif (peneliti). sanad Syekh Azra‘i ‘Abdur Rauf Sumatera Utara dan KH M. hlm. Keduanya berguru kepada Syekh Ahmad Hijazi Al-Faqih. bahwa sang kyai sezaman dengan KH Munawwar Sedayu. Meski demikian. Diterangkan bahwa keduanya sering ber-fastabiqul-khairāt dalam menghafal AlQur'an. Syekh Ahmad Hijazi sendiri adalah murid dari Syekh Muhammad Sabiq al-Iskandariyah.244 . titik temu kedua sanad ini juga pada Syekh Nasyiruddin at-Tablawi dari Syekh Abu Yahya Zakariyya al-Anshari. Biar nanti saya saja yang bersaksi di hadapan malaikat bahwa kamu hafal Al-Qur'an 30 juz. justru ditegur. yang mendapatkan informasi dari KH Badawi bahwa setidaknya ada tiga pelajar Indonesia yang belajar ilmu qiraat kepada Syeikh ‘Abd Karim ibn ‘Umar al-Badri ad-Dimyati. Sedang Syekh Muhammad Sabiq adalah guru dari Ahmad Hamid Abdurrazak yang merupakan guru dari KH Dahlan Kholil Peterongan.

im±lah. yaitu: Q.S.202 ¢u¥uf.: al-Bā¥i£ fil -Qur'ān was-Sunnah edisi Maktabah asySyāmilah) 10 Saktah adalah diam sejenak tanpa mengambil napas (tidak lebih dari dua harakat) dan harus diteruskan dengan kalimat berikutnya. Berbeda dengan itu. al-Qiyamah/76: 27. United Islamic Cultural Centre of 8 . tash³l. Tajwid Qarabasyi. Tidak sekadar menjadi metode. Im±lah adalah memiringkan fathah ra’ ke dalam 2/3 kasrah (miring seperti membaca meja.) ح‬Isym±m adalah menutup bibir dan memajukannya sambil menunjukan dhammah setelah membaca sukun. j. keduanya dijelaskan sebagai bagian dari metode dalam pendidikan Tahfiz Al-Qur'an. tempe. musy±fahah lebih pada makh±rijul ¥urµf.S. hasil penelitian ini menemukan posisi penting talaqqī dan musy±fahah dalam pembelajaran Al-Qur'an. keduanya harus terus dilakukan hingga akhir zaman.S. Di situ dijelaskan bahwa talaqqi merupakan proses memperdengarkan hafalan ayatayat Al-Qur'an di hadapan guru/kyai. Hµd/11: 41. sebagaimana yang dilakukan Jibril kepada Nabi Muhammad saw. 2011: 197 – 219 202 Indonesia: Studi Tradisi Pembelajaran Tahfiz. 2.tp.10 Disebut khusus M. dalam konteks pembelajaran Al-Qur'an. hanya ada di satu tempat. Dalam Al-Qur'an. temuan penelitian ini setidaknya mengkonfirmasi dua hal penting terkait talaqqī dan musyafahah. Syatibi. Q. talaqqī. Q. tetapi keduanya merupakan sebuah keharusan. musy±fahah adalah proses memperagakan hafalan di hadapan guru.S. seperti saktah. setoran. Sementara itu.9 Sedemikian pentingnya talaqqī dan musy±fahah dalam pembelajaran Al-Qur'an juga disebabkan adanya bacaanbacaan tertentu yang mempunyai teknis pembacaan khusus (gar³b). lengser). Yµsuf/12: 11. Kalau talaqqi menitikberatkan pada kelancaran hafalan. dan musy±fahah).S. yaitu Q. Al-Mu¯affif³n/83: 14.8Oleh Syatibi. Vol. Y±s³n/36: 52. 2008 9 ‘Ali bin Nāyif as-Sa¥µd. Tash³l adalah melemahkan bacaan hamzah yang kedua atau dibaca tidak jelas (mendekati suara ‫ ا‬dan ‫ . yaitu Q. Suhuf 1 (1): 126.Temuan ini sejalan dengan penjelasan ‘Ali bin Nāyif as-Sa¥µd bahwa keduanya merupakan as±su naqlil-qur'ān. Dalam Al-Qur'an. (t. al-I‘jāz al-Lugaw³ wal-Bayān³ fil-Qur'ān alKar³m. 261. h. pembelajaran Al-Qur'an tidak boleh tidak harus dilakukan dengan keduanya. No.S. hanya ada di satu tempat. Oleh karenanya. 1. Di dalam al-Qur’an ada empat. dan Q. 4. Adapun sejauhmana posisi keduanya dalam mengajarkan hafalan Al-Qur'an belum terlalu disinggung. dan isym±m. “Potret Lembaga Tahfiz Al-Qur'an di Indonesia: Studi Tradisi Pembelajaran Tahfiz”. al-Kahf/18: 1. Lihat. Pertama. mur±ja‘ah. mud±rasah. dengan istilahnya yang berbeda-beda (ngeloh.

tradisi merupakan sesuatu yang diwariskan dari masa lalu ke masa kini berupa non materi. II. baik kebiasaan. fa¡±¥ah. perhatian yang sedemikian rupa terhadap persoalan tajwid. kepercayaan. Pada titik tertentu. h. makh±rijul ¥urµf. dan di sinilah fungsi guru untuk mengajarkannya. Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa.wordpress. Bambang Pranowo.google. Sebagai guru.11 Khazanah Lokalitas dan Tradisi dalam Pendidikan Tahfiz Al-Qur'an Lokalitas adalah penentu keragaman antara tradisi yang satu dengan yang lain.13 Pemahaman seperti ini mencirikan adanya kekhasan pada setiap lokalitas. sering dipahami sebagai sesuatu yang ditransmisikan dan diwariskan dari masa lalu ke masa kini. Kedua. 1999) . demikian Bima Krida mendefiniskannya dalam salah satu tulisannya. 13 M. Diakses pada 7 Oktober 2011 12 Bima Krida. semua ¥±fi§ Al-Qur'an yang menjadi objek penelitian ini mempersyaratkan hal itu kepada para santrinya. makh±rijul ¥urµf. bahkan minggu dan bulan. dan murattal sebagai pra syarat dalam menghafal Al-Qur'an. Lihat juga. hanya untuk bisa membaca surah AlFatihah dengan baik dan benar. posisi penting talaqqi dan musyafahah dalam pembelajaran Al-Qur'an ditandai dengan dijadikannya ta¥s³n bin-na§ari yang menitikberatkan pada aspek kesesuaian tajwid. Lebih lengkapnya. cet. Buku Panduan Bacaan Salat dan Ilmu Tajwid. Khoeron 203 203 disebabkan teknis membacanya tidak persis sama dengan tulisannya. dan murattal ini menjadikan seorang santri membutuhkan waktu beberapa hari.com/ 2011/01/27/model-pembelajaran-langsung. http://www. Dari sini bisa dipahami bahwa posisi guru merupakan hal utama dalam pembelajaran Al-Qur'an.00 WIB.http://akhmadsudrajat.com/2010/04/30/lokalitas-budayadalam-pagar-negara/ diunduh pada 29 Oktober 2011 pukul 10. fa¡±¥ah. (Yogyakarta: Adicita. atau tindakan-tindakan. 4-5 .kompasiana. pendekatan pendidikannya adalah pembelajaran langsung atau yang biasa dikenal sebagai teacher centered approaches. baik dalam Indonesia. http://sosbud. Ade Sukaryat.12Sementara tradisi.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. Karenanya.ca/search?q=tashil+%22isymam%22+tashil+OR+ imalah+OR+isymam+filetype%3Apdf&hl=en&num=10&lr=lang_id&ft=i&cr= &safe=images&tbs=diakses pada 28 Oktober 2011 11 Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang lebih berpusat pada guru dan lebih mengutamakan strategi pembelajaran efektif guna memperluas informasi materi ajar.

Di luar itu. Vol. 2009 . lokalitas terkadang juga menjadi ciri unik dari sebuah komunitas. No. Tradisi ini berupa seperangkat ritual yang mengharuskan santri yang sudah khatam menghafal AlQur'an untuk berpuasa selama 40 (empat puluh) hari. serta dimensi lokalitas lainnya yang berkembang di lingkungan pesantren/lembaga pendidikan tahfiz Al-Qur'an yang mereka asuh. riy±«ah dalam menjaga hafalan. santri harus menjaga dirinya agar selalu dalam keadaan suci (berwudlu). beberapa amalan sunah lainnya. dan yang tidak kalah 14 Disarikan dari Laporan Akhir Penelitian Biografi Huffaz. Selain itu.2010 . 2. Selama berpuasa. Kedua. Adapun pelaksanaannya bisa dilakukan di masa saja. Sebagaimana tertuang dalam desain operasionalnya. sebelum mereka menyetorkan hafalannya. 2011: 197 – 219 204 pengertiannya sebagai ruang maupun waktu. Penelitian ini pun terbilang sukses dengan terpotretnya beberapa kekayaan lokalitas sebagai berikut: 14 Pertama. tidak harus di pondok pesantren. lengkap dengan ta¥s³n tajwid dan makh±rijul ¥urµf-nya. Ritual semacam ini diijazahkan oleh KH Abu Bakar Shofwan kepada santrinya yang sudah berhasil menghatamkan hafalan Al-Qur'an. Ritual Matang Puluh. santri juga harus menghatamkan 30 juz Al-Qur'an bil-gaib dengan posisi menghadap kiblat di setiap harinya (sehari-semalam). 4. tirakat wetonan. Tradisi ini merupakan teknik pembelajaran ta¥f³z yang mengharuskan santri mengulang-ngulang lembar mushaf yang akan dihafal sebanyak 40 kali. seperti tahajjud dan «u¥±.204 ¢u¥uf. Izin itu sendiri diberikan setelah santri berhasil menghafal juz 30 dan mengkhatamkan Al-Qur'an bin-na§ar. Hal ini dimaksudkan agar informasi yang selama ini belum tersaji pada ruang buku-buku biografi yang sudah terbit bisa terungkap secara lebih mendalam. termasuk keunikan pesantren/lembaga tahfiz Al-Qur'an. juga dianjurkan untuk dilaksanakan.Teknik ini dikembangkan oleh KH As’ad Bugis dalam pembelajaran tahfiz Al-Qur'an di PP As’adiyah Sulawesi Selatan dan KH M Junaid Sulaeman Wajo di PP Ma’had Hadits Biru Bone. Tradisi ini merupakan pra syarat yang ditetapkan oleh KH Ahmad Umar Abdul Manan kepada wali santri ketika anaknya sudah diberi izin untuk menghafalkan Al-Qur'an. penelitian Biografi Huffaz di Indonesia ini juga dititikberatkan pada usaha untuk menggali keunikan-keunikan. Kedua. Karena sifatnya yang khas. darassa patap puloh.

th. sebelum menghafal dari al-F±ti¥ah sampai an-N±s. metode menghafal Al-Qur'an. mengkhatamkan Al-Qur'an setiap hari. dan tiga tahun terakhir. Moenauwir Al-Marhum: Pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. wali santri dipanggil untuk dinasihati sekaligus diminta ikut menjalani tirakat selama anaknya menghafal AlQur'an. yaitu tiga tahun pertama belajar mengkhatamkan Al-Qur'an setiap tujuh hari sekali. Tradisi ini dikembangkan oleh KH Muntaha Wonosobo di pondok Penjelasan yang sama juga bisa dilihat pada Tim Penyusun. Khoeron 205 205 penting lagi adalah berakhlak terpuji. h. wali santri diminta melakukan tiga hal: (1) membaca 1000 kali Surah al-Ikhlas setiap weton anaknya. Sebab. Hal yang hampir sama sebenarnya dijumpai juga pada teknik menghafal di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. tiga tahun berikutnya. hingga tetap terdengar hingga sekarang. Dalam tirakat itu. (2) setiap pagi dianjurkan untuk bersedekah.) 15 . Lokalitas ketiga ini mungkin lebih tepat bila disebut sebagai pengalaman pribadi KH Munawwir Krapyak ketika menghafal Al-Qur'an dan menjaga hafalannya di Haramain. dan (3) dianjurkan untuk membiasakan salat tahajjud. (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. 35. Perbedaannya adalah santri Krapyak diharuskan menghafal juz 30 terlebih dahulu sebelum menghafal surah pilihan. cet. II. Ketiga. t. Namun demikian. Dijelaskan bahwa setelah mendapat izin. Tradisi ini berkembang di lembaga pendididikan tahfiz Al-Qur'an pimpinan Syekh Azra’i Abdurrauf. Santri yang ingin menghafalkan Al-Qur'an. M. Tirakat itu didasarkan pada hari lahir (weton) santri. ritual mengkhatamkan Al-Qur'an seminggu sekali.15 Keempat. hafalan surah pilihan untuk bacaan salat malam (tahajjud).Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. Pengalaman dimaksud menyangkut metode menghafal KH Munawir. apa pun bentuknya. pengalaman ini sering diceritakan dan dituliskan. KH. belum ditemukan data apakah pengalaman itu kemudian diikuti oleh para santrinya atau tidak. Ketiga. Hal lain yang membedakannya adalah bahwa keharusan untuk lebih dahulu menghafal surah pilihan ini dimaksudkan agar surah-surah itu ditradisikan sebagai bacaan setiap melaksanakan salat tahajjud yang memang sangat dianjurkan oleh Syekh Azra’i Abdurrauf selama menghafal Al-Qur'an. mengkhatamkan Al-Qur'an setiap tiga hari sekali. mengawalinya dengan menghafal surahsurah pilihan.

Untuk menjaga hafalannya. sajak. sehingga dikenal dengan “na§am romo”. 2. beliau selalu mengkhatamkan Al-Qur'an seminggu sekali. Mbah Mun – demikian sapaan akrabnya – menganjurkan para santrinya mengkhatamkan Al-Qur'an seminggu sekali. atau puisi. Syair puji-pujian itu sudah tersusun dalam sebuah buku saku yang kemudian diberi nama Ris±lat al-W±f³ ‘ala al-K±f³. Oleh Mbah Mun. Di Pondok Pesantren Kempek.p.Ada ketentuan khusus terkait pelantunan puji-pujian ini. serta jelang asar dan isya. na§aman. Misalnya. Ahmad Warson Munawwir. Dalam masyarakat pesantren. 1984) 17 Ibid. Sambil menunggu masuknya waktu salat.16 merupakan lawan kata dari an-na£ru yang berarti prosa atau kalimat tidak bersajak. h.17 Tradisi ini berupa puji-pujian yang disenandungkan menjelang pelaksanaan salat berjamaah. (Yogyakarta: t. Kelima. Sebagian di antaranya merupakan karangan KH Umar Sholeh Kempek. Al-Munawwir: Kamus Arab – Indonesia. Selain itu. 1482 16 . istilah ini sering dikenal juga dengan “puji-pujian”. Bahkan.206 ¢u¥uf. jelang zuhur dan magrib. Vol. Istilah ini berasal dari kata an-na§m yang berarti syair. alat kentongan sudah dipukul sebagai penanda santri harus berkumpul di masjid. ada juga na§aman yang selalu disenandungkan sebelum melaksanakan salat rawatib. mereka diminta istiqamah dengan amalan ini sampai kapanpun. 1554. h. No. yaitu: Saben salat kedah nderek berjamaah (Setiap salat harus ikut berjamaah) Kendel ngantos maos du’a lan fatihah (Berdiam sampai membaca doa dan Fatihah) Najan bade ngaos kitab lan turutan (Walaupun akan belajar kitab dan turutan) Kedah kendel ampun sami nurut setan (Harus diam jangan sampai menuruti setan) Insya Allah angsal ilmu kang manfaat (Insya Allah mendapat ilmu yang manfaat) Dunya akherat saha luhur dateng darajat (Dunia akhirat serta luhur kedudukan) Niki kedah dipun pikir ingkang tandes (Ini harus dipikir dengan sungguhsungguh) Ahmad Warson Munawwir. halaman 12 – 18. membaca na§am romo halaman 1 – 7. Mbah Mun sendiri menjalaninya. 4. Al-Asy‘ariyyah. dilantunkanlah puji-pujian yang mengagungkan Allah. lima belas menit sebelum masuk waktu salat. menjelang subuh. 2011: 197 – 219 206 pesantrennya. Khataman dilakukan setiap hari jum’at sore. halaman 8 – 12.

syair wasiat Kyai Umar. khususnya yang terkait dengan salat berjamaah dan etika mencari ilmu. rajinlah) Mumpung ngaji ilmu nafi’ sangu mati (Selagi menuntut ilmu nafi untuk bekal mati) Aja isin aja rikuh kudu ngaji (Jangan malu. Syair ini merupakan rangkaian nasihat karya KH Ahmad Umar Abdul Manan. amal terus dilaksanakan) Aja ngangsi gegojegan dedolanan (Jangan sampai hanya main dan gurauan) Rina wengi kabeh iku manut setan (Siang malam hanya ikut nafsu setan) Ora kena kandha kasep sebab tuwa (Tidak boleh beralasan umur tua) Selagine durung pecat sangka nyawa (Selama raga belum terpisah dari nyawa) Ayo kanca padha guyub lan rukunan (Ayo teman saling tolong dan yang rukun) Aja ngangsi pisah congkrang lan neng-nengan (Jangan sampai cerai berai dan saling mendiamkan) Guyub rukun iku marake rosa (Hidup saling tolong-menolong dan rukun itu sebab kita kuat) . Hingga sekarang. jangan segan. Adapun syair dimaksud adalah sebagai berikut: Wasiate Kyai Umar marang kita (wasiat Kyai Umar kepada kita) Mumpung sela ono dunya dha mempenga (Selagi ada kesempatan di dunia.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. Keenam. harus mengaji) Dha ngajiya marang sedulur kang ngarti (Ayo mengaji kepada saudara yang mengerti) Aja isin najan gurune mung bayi (Jangan malu meski gurunya masih bayi) Yen wis hasil entuk ilmu lakonana (Kalau sudah berhasil mendapat ilmu. laksanakanlah) Najan sithik nggonmu ngamal dilanggengna (Meski sedikit. bait-bait syair ini masih disenandungkan menjelang pelaksanaan muj±hadah pada setiap hari Senin malam Selasa (setelah salat Magrib) di serambi masjid Pondok Pesantren AlMuayyad. Khoeron 207 207 Ampun dipun paham ingkang mboten letes (Jangan sampai tidak faham sama sekali) Tiyang salat mboten nderek berjamaah (Orang yang salat tidak ikut berjamaah) Kasabipun boten diparingi berkah (Hasil kerjanya tidak dianugerahi berkah) Tiyang santri ingkang manggen Pondok Kempek (Santri yang tinggal di Pondok Kempek) Mugi-mugi diparingi taufik (Semoga diberi taufik) Sekilas tampak betapa na§aman di atas mengandung nilai dan pesan moral yang sangat baik bagi para santri.

Di antara pesannya adalah anjuran agar memanfaatkan hidup untuk menuntut ilmu. karena tanpa adanya ini. berjalan. 2. 2011: 197 – 219 208 Pisah congkrang lan neng-nengan iku dosa (Cerai berai dan saling mendiamkan itu dosa) Ing sak rehne dhawuh rukun iku nyata (Karena anjuran untuk hidup rukun itu benar adanya) Ayo enggal dha nglakoni aja gela (Ayo segera laksanakan dan jangan menyesal) Aja isin aja rikuh aja wedi (Jangan malu. Adapun tradisi atau kebiasaan merupakan sesuatu yang telah berlangsung lama hingga menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. sehingga mencerminkan kedalaman ilmu dan pengalaman pengarangnya. jangan takut) Kudu enggal dilakoni salak mati (Harus segera dijalankan keburu ajal datang) Mulo ayo bebarengan sekolaha (Untuk itu. ayo sekolah bersama-sama) Mesti pinter dadi bocah kang utama (Pasti pintar menjadi anak yang utama) Budi perketine becik serta tata (Baik budi pekertinya dan tata keramanya) Woh-wohane bakal bhekti marang wong tuwa (Buahnya berupa sifat berbakti kepada orang tua) Ing sak rehne dhawuh rukun iku nyata (Karena anjuran untuk hidup rukun itu benar adanya) Ayo enggal dha nglakoni aja gela (Ayo segera laksanakan dan jangan menyesal) Ayo sekolah nyang madrasah Al-Qur'an (Ayo sekolah di Madrasah Al-Qur'an) Padha ngaji Qur’an ana Mangkuyudan (Bersama-sama mengaji Al-Qur'an di Mangkuyudan) Syairnya sederhana. bergerak (di bidang tertentu). . menjaga kerukunan. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan. berkembang. 4. Vol. berusaha giat dalam bidang pendidikan. tetapi sarat makna. atau agama yang sama. Dari pengertian ini. suatu tradisi dapat punah. Terminologinya dipahami sebagai kata kerja yang berarti melakukan kegiatan dengan semangat tinggi. dan terwariskan di lingkungan pondok pesantren. serta terus mempelajari Al-Qur'an. dan lain lain. saling membantu.208 ¢u¥uf. Kiprah dalam Melestarikan Tradisi Pesantren Etimologi kiprah menunjuk makna derap kegiatan. kebudayaan. kesenian. tradisi pesantren dipahami sebagai sesuatu yang hidup. jangan segan. biasanya dari suatu negara. waktu. berakhlak mulia. No.

hlm. Abdurrahman Wahid.daneprairie. keempat. berkembangnya proses saling mempengaruhi dengan masyarakat di luarnya sehingga terbentuk nilai-nilai baru yang bisa diterima kedua belah pihak.20 tradisi yang dikembangkan pesantren memiliki keunikan dan perbedaan jika dibandingkan dengan tradisi dari entitas Islam lainnya di Indonesia seperti kaum reformis atau modernis. Lihat. 17. II. hlm. 21 Tentang pesantren sebagai subkultur. Afrika. terdapatnya sejumlah penunjang yang menjadi tulang punggung kehidupan pesantren. II. kelima. eksistensi pesantren sebagai lembaga kehidupan yang menyimpang dari pola kehidupan umum di negeri ini. hlm. Lihat. Diakses pada tanggal 15 September 2011. 19 Konsep tradisi besar (great tradition) dan tradisi kecil (little tradition) pertama kali diperkenalkan oleh antropologi Amerika R. 1995. temuan penelitian ini menjelaskan besar dan luasnya kiprah para penjaga Al-Qur'an dalam melestarikan tradisi pesantren. 1999. kedua. Studi Geertz yakni The Religion of Java yang kemudian menjadi master piece di antara karyakarya antropologi mengenai Jawa juga dilakukan dalam kerangka konsep tradisi besar (great tradition) dan tradisi kecil (little tradition) ini. 20 Syamsul Arifin. Martin18 menyebut tradisi pengajaran agama Islam melalui pembelajaran kitab kuning yang berkembang di pesantren Jawa dan lembaga serupa di luar Jawa dan Semenanjung Malaya sebagai salah satu manifestasi tradisi agung (great tradition). dan di Amerika sendiri. berlangsungnya proses pembentukan tata nilai yang tersendiri dalam pesantren. ketiga. cet. cet. dalam http://www. Bambang Pranowo.21 Dari kerangka ini. lengkap dengan simbolsimbolnya. adanya daya tarik keluar sehingga memungkinkan masyarakat menganggap pesantren sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup yang ada di masyarakat itu sendiri. Riedfield yang kemudian banyak digunakan para antropologi dalam studi mereka terhadap masyarakat beragama di berbagai negara Asia. Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa. Keunikan pesantren tentu terlihat pada kegigihannya merawat tradisi keilmuan klasik yang nyaris diabaikan oleh kaum modernis. M. 3. Pesantren Sebagai Saluran Mobilitas Sosial: Suatu Pengantar Penelitian. Keunikan yang dimiliki pesantren dipertegas oleh Abdurrahman Wahid melalui tesis pesantren sebagai subkultur. Kitab Kuning. Yogyakarta: Adicita.com. Abdurrahman Wahid setidaknya menetapkan lima kriteria minimal kekhasan pesantren sebagai berikut: Pertama. Pesantren. Menggerakkan Tradisi. Hal ini setidaknya bisa dipotret dari tiga hal berikut: Pertama.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. Khoeron 209 209 Tentang ini.19 Menurut Syamsul Arifin. dan Tarekat: TradisiTradisi Islam di Indonesia. 3 18 . Bandung: Mizan. peran dan fungsinya sebagai pengasuh pesantren dan atau Martin Van Bruinessen.

Menggerakkan Tradisi. baik di masjid (Syekh Azra‘i ‘Abdurrauf). Kalaupun ada di antara mereka yang tidak mendirikan pesantren atau surau atau dayah. Meski belum terdokumentasikan dengan baik. namun temuan penelitian ini memastikan bahwa semuanya adalah guru-guru Al-Qur'an yang tulus dan istiqamah. No. lihat Murtadho Hadi. 4. Temuan penelitian ini mengkonfirmasi bahwa mereka semua adalah para pengajar Al-Qur'an. Pun tidak sedikit dari mereka yang menekuni dunia tasawwuf hingga menjadi guru tarekat. berupa dua buah buku catatan ilmu hikmah yang diwarisi oleh putranya. Kiprah para penjaga Al-Qur'an juga terlihat dari karya-karya yang ditinggalkannya. mereka juga mengajarkan pengajian kitab kuning sesuai keahlian yang dimilikinya. temuan penelitian ini juga mencatat beberapa karya tulis mereka yang diajarkan secara turun-temurun dalam teknis pembelajaran di pesantren ataupun lembaga tahfiz masing-masing.210 ¢u¥uf. Syaikh Muslih Mranggen. Kiprah dan peran sufistik ini sangat signifikan. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Vol. Syaikh Romli Tamim Rejoso. Hal yang hampir sama dimiliki juga oleh KH Yusuf Junaedi Bogor. 2011. 23 AbdurrahmanWahid.23 Kedua. Gambaran tentang kiprah sufistik dan wejangan Abuya Dimyathi. Tiga Guru Sufi Tanah Jawa: Abuya Dimyathi Banten. cet. Berangkat dari keyakinan akan nilai bahwa asyrafu ummatī ¥amalat al-Qur'ān dan khairukum man ta‘allama al-Qur'ān wa ‘āllamahū.28 22 . ataupun madrasah (Tengku Mahjiddin Yusuf). KH Munawwar Sedayu misalnya. karya tulisnya. II. hlm. Nama-nama seperti Abuya Dimyathi22 dan KH Umar Abdul Manan adalah bagian dari pelestari tradisi yang terus bergerak dari fiqih menuju fiqih sufistik. meninggalkan lembaran-lembaran doa yang terus dipelajari murid-muridnya. rumah (Syekh Jakfar Abdul Qodir Al-Mandili). kemudian diikuti oleh adat kebiasaan kaum sufi. mereka menghabiskan hidupnya dalam lingkup pengabdian pendidikan AlQur'an. Perpaduan antara preskripsi fiqih (wadag) dengan nilai-nilai sufistik (ruh) merupakan kulminasi tertinggi dalam tata nilai yang berkembang di pesantren. mengingat kedudukan yang dominan dalam pembentukan tata nilai di lingkungan pesantren dipegang oleh hukum fiqih. 2. Selain itu. 26 . Tidak hanya itu. 2011: 197 – 219 210 pengajar Al-Qur'an. Tidak bisa dimungkiri bahwa pesantren dan lembaga tahfiz adalah karya terbesar para penjaga Al-Qur'an.

24 mereka melanjutkan kiprah intelektualnya hingga Dalam tradisi pesantren. ditemukan juga kitab ad-Durul Mukhtār yang berisi manaqib KH Umar. antara lain: 1. Lc. menjadi penjaga nilai agama yang bercorak fiqih24 . Lebih dari itu. Mereka adalah para santri yang berhasil melanjutkan estafet keilmuan sang guru untuk terus melanjutkan perjuangan dalam mengajarkan dan mengamalkan firman Sang Rahman. Dari dua puluh enam para penjaga Al-Qur'an yang dijadikan objek penelitian. Salawat Wasiat (kumpulan syair dan pujian dalam Bahasa Jawa). dan KH Umar Abdul Manan adalah bagian dari bukti nyata kiprah intelektual KH Muhammad Munawwir dalam melestarikan tradisi pesantren. Fai«ul Barakat fi Sab'il Qiraat dan Risalah Mubarakah. Ra¡n al-Qa¡r fī Kha¡ā'i¡ ¦izb an-Na¡r. tulisan KH Ahmad Baidlowi Syamsuri. sebagian besar di antaranya terjalin dalam bingkai relasi kyai-santri melalui mekanisme mobilitas horizontal-vertikal sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Bahjah al-Qalā'id fī ‘Ilm al-‘Aqā'id. (menantu Kyai Umar) 4. Majmū‘ah al-Khi¯āb. AlHadiyyah al-Jalāliyyah f³ a¯-°ār³qah asy-Syā©iliyyah. kiprah para santrinya. Abdurrahman Wahid. ustaz juga menempati posisi penjaga nilai-nilai agama yang bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan sehari-hari di lingkup pesantren menurut hukum agama. pertama. lalu menjadi ustaz. KH Muntaha. Nama-nama seperti KH Muhammad Arwani Kudus. Lihat Ibid. Nūr alHidāyah fī Ba‘d a¡-¢alawāt ‘alā Khair al-Bariyyah. Khoeron 211 211 Pada tingkat yang lebih sempurna. dan kedua. 20. di susun oleh Tim Sembilan yang dibentuk oleh KH Muntaha Wonosobo 3. Minhājul-Istifā' fī Kha¡a'i¡ ¦izban-Na¡r wa ¦izb al-Ikhfā'. al-Jawahirul Hisan (kumpulan khutbah jum’at dan hari raya). pembantu kyai dalam mendidik para santri. Kedua karya ini dinisbahkan sebagai karya tulis KH Ahmad Umar Abdul Mannan. A¡l alQadr fī Kha¡a'i¡ Fa«ā'il Ahl Badr.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. karya KH Muhammad Arwani Kudus 2. Sementara kyai. Berangkat dari statusnya sebagai santri. beberapa karya yang ditulis dan atau dinisbahkan kepada para penjaga Al-Qur'an juga ada yang sudah diterbitkan dan diajarkan kepada para santri secara turuntemurun. kedudukan sebagai ustaz seringkali mempunyai dua fungsi. Selain itu. h. Tafsir al-Muntaha. sarana latihan penumbuhan kemampuan untuk menjadi kyai. karya KH Muhammad Dimyathi Ketiga.

2. 58 . Hal ini terus terjaga dan lestari hingga kini. personal experiences para penjaga Al-Qur'an yang ditemukan dalam penelitian ini cukup menggambarkan kegigihan. para santri. Penutup Karena sifat objeknya yang personal. dan penghafal Al-Qur'an dilahirkan. baik di Sumatera.[] sufistik serta berorientasi pada kehidupan ukhrawi. Namun demikian. Wallāhu a‘lam. para penjaga Al-Qur'an konsisten dalam posisinya. No. menyadarkan akan kedangkalan ilmu dan wawasan kita yang seringkali justru terbalut oleh selimut keangkuhan. hlm. Menyelami perjalanan hidup mereka. telah berhasil melahirkan para ahli Al-Qur'an. menjadi pengawal Al-Qur'an. ketulusan dan keikhlasan mereka dalam mengajarkan Al-Qur'an. Temuan penelitian ini menegaskan betapa para penjaga AlQur'an ini. Lihat. Dalam semangat kebangsaannya. Demikian dan seterusnya hingga tradisi intelektual pesantren terus berkelindan dalam gerak relasi santri – ustaz – kyai. Dalam tradisinya. Jawa. Informasi personal kehidupan para penjaga Al-Qur'an berhasil digali untuk kemudian disusun dalam sebuah biografi hingga bisa dijadikan sebagai kacabenggala bagi para santri.212 ¢u¥uf. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. pelajar. 4. pada hal-hal tertentu. Dari keistiqamahannya. serta luasnya kiprah dan dedikasi mereka dalam wilayah pengabdian masyarakat. dan kecintaan mereka dalam menjalani proses rihlah/muhibbah ilmiah. meski berangkat dari posisi marginal hingga terkadang jarang dikenal. Vol. penggalian informasi penting seputar pribadi objek terkesan belum terlalu mendalam sehingga masih menyisakan beberapa tanya yang perlu untuk terus didalami dalam kajian dan penelitian mendatang. Penelitian Biografi Huffaz di Indonesia yang dilakukan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an cukup berhasil menghimpun sejumlah informasi baru yang belum diperoleh pada penelitian Lajnah sebelumnya yang berfokus pada kelembagaan. 2011: 197 – 219 212 bermetamorfasa menjadi kyai yang menjadi tempat belajar para santri. Sayang. Nusa Tenggara. keuletan. peran dan fungsinya untuk ikut mencerdaskan anak bangsa terus dikembangkan dengan dasar keikhlasan hingga terlahir pribadi-pribadi yang berakhlak Al-Qur'an. Mastuhu. maupun Sulawesi.

Yogyakarta: t. Jakarta: Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. 2003. Azyumardi. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Romo Kyai Qodir: Pendiri Madrosatul Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Yogyakarta: Adicita. Ahmad Warson. al-Mu¥ī¯ fī al-Lugah. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepualauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Murtadho. Mastuhu. ‘Ali bin Nāyif. Ibn ‘Ibād.com/2008/12/01/kiprah/ http://id. 2011. Jakarta: Rajawali Pers. Tiga Guru Sufi Tanah Jawa: Abuya Dimyathi Banten. 2007. Sleman: Tiara Wacana. Yogyakarta: Pondok Krapyak Yogyakarta. Munawwir. Biografi KH M Arwani Amin. Jakarta: LP3ES. Jakarta: INIS. Asas-Asas Pendidikan Islam. 1975. . As′ad. Dhofier. Rusman. al-I‘jāz al-Lugawī wa al-Bayānī fi al-Qur'ān al-Kar³m. Jakarta: Proyek Penelitian Keagamaan Depag. Bambang. Hasan.daneprairie. Rosehan Anwar dan Muchlis. Mu¥ammad a¯-°āhir.com. Syaikh Romli Tamim Rejoso.p. Azra. KH M. Departemen Agama R. Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru. Direktori Pesantren 5. http://bahasakita.th.com. M.org/wiki/Tradisi http://wijayalabs. 2007. dkk. 1987. Al-Munawwir: Kamus Arab–Indonesia.I.tp: al-Bā¥i£ fi al-Qur'ān wa as-Sunnah edisi Maktabah asy-Syāmilah). 2011. http://akhmadsudrajat. 1982. M. 2011. as-Sa¥µd. Tafsīr at-Ta¥rīr wa at-Tanwīr. Khoeron 213 213 Daftar Pustaka Arifin.wikipedia. 1984. a¡-¢a¥īb. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. (t.. Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa. Tunis: ad-Dār at-Tūnisiyyah lin-Nasyr. 1994. Aly.alwarraq. 1999. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalitas Guru.com/2008/06/23/perbedaan-strategi-modelpendekatan-metode-dan-teknik/ Ibn ‘²syūr. Syaikh Muslih Mranggen. Fathurrohman. Mas’udi. Zamakhsyari. Moenawir. Pesantren sebagai Saluran Mobilitas Sosial: Suatu Pengantar Penelitian.wordpress. t. dalam http://www. Syamsul. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren.com/2011/01/27/model-pembelajaran-langsung.wordpress. http://www. Hadi.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. Langgulung. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Pranowo.

Yusuf S.th. 2. “Potret Lembaga Tahfiz Al-Qur'an di Indonesia: Studi Tradisi Pembelajaran Tahfiz. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. Bandung: Mizan. Mazhab Qiraat Asim Riwayat Hafsh di Nusantara. 2006 . Wawan Djunaidi. Moenauwir Al-Marhum: Pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Martin. 2009 . Laporan Akhir Penelitian Biografi Huffaz. Tim Penyusun. Pendidikan Tahfizul-Qur'an Indonesia-Saudi Arabia. 2004. Wahid. Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Bunyamin.214 ¢u¥uf. 2010. M. No. Studi Sejarah Ilmu. 2008 Tim Peneliti. No. dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia.” Suhuf Vol. Van Bruinessen. 2011: 197 – 219 214 Soffandi. Pesantren. Vol. 1995. Yogyakarta: LKiS. Jakarta. Yayasan Al­Firdaus. 1. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah. “Pesantren sebagai Subkultur” dalam Menggerakkan Tradisi.t. 4. KH. Kitab Kuning. Syatibi AH. M. Abdurrahman.2010. Jakarta. 1.

Khoeron 215 215 Lampiran Gambar 1. yang didapatkannya dari KH Arwani.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. Sanad KH Muhammad Munawwir yang dimiliki oleh KH Noor Hadi. Kudus. . Bali.

Arwani. Vol. 4. Sanad KH Muhammad Munawwir yang dimiliki oleh KH. 2011: 197 – 219 216 Gambar 2. Kudus. 2. No.216 ¢u¥uf. Ulil Albab yang didapatkannya dari KH. .

Khoeron 217 217 Gambar 3. Sanad KH Muhammad Munawwir yang dimiliki oleh KH Muhammad Najib yang didapatkannya dari KH Ahmad bin Munawwir dari KH Abdul Qadir. .Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh.

Ubay bin Ka'ab.1993) Rasulullah Zaid bin Sabit. No. Usman bin Affan Imam Abdurrahman as-Sullami Imam 'Ashim bin Abi an-Najud al-Kufi Imam Hafs bin Sulaiman Imam 'Ubaid ibn as-Sabah Imam Ahmad bin Sahl al-Asynani Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Shalih bin Dawud al-Hasyimi al-Misri Imam Tahir bin Galbun Imam Abu 'Amr Ustman Sa'id ad-Dani Imam Sulaiman bin Najah al-Andalusi Imam Ali bin Muhammad bin Huzail Imam Abu al-Qasim asy-Syatibi Abu Abdillah Muhammad bin Umar alQurthuby Abu Ali hasan bin Abdil Karim al'Ammawi Abu Muhammad Abdurrahman bin Ahmad bin Ali al-Bagdadi as-Syafii Imam Muhammad bin Muhammad alJazari Abi Thahir Muhammad bin Muhammad al-Aqil an-Nuwairi Syekh Abu Yahya Zakariyya al-Anshari Syekh Nasiruddin at-Tablawi Ahmad al-Masiry al-Mishry Muhammad Ja'far (Affandi) . Sanad KH M. Juneid Sulaiman dan Azra'i Abdur Rauf No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 KH. Vol. Ali bin Abi Thalib. M Juneid Sulaiman (1921 .1996) Rasulullah Zaid bin Sabit. Usman bin Affan Imam Abdurrahman as-Sullami Imam 'Ashim bin Abi an-Najud alKufi Imam Hafs bin Sulaiman Imam 'Ubaid ibn as-Sabah Imam Ahmad bin Sahl al-Asynani Imam Tahir bin Galbun Imam Abu 'Amr Ustman Sa'id adDani Imam Sulaiman bin Najah alAndalusi Imam Ali bin Muhammad bin Huzail Imam Abu al-Qasim asy-Syatibi Imam Abu al-Hasan Ali bin Syuja Imam Muhammad bin 'Abdul Khaliq al-Misri Imam Muhammad bin Muhammad al-Jazari Imam Ahmad as-Suyuti Syekh Abu Yahya Zakariyya alAnshari Syekh Nasiruddin at-Tablawi Syekh Sahazah al-Yamani Syekh Saifuddin 'Athaillah alFadlali Syekh Sultan al-Mizahi Syekh Ali bin Sulaiman alManshuri Syekh Hijazi Azra'i Abdur Rauf (1918 . Ali bin Abi Thalib. 2011: 197 – 219 218 Tabel 1. 2. 4. Ubay bin Ka'ab.218 ¢u¥uf. Abdullah bin Mas'ud. Abdullah bin Mas'ud.

Ali Syibramalisi. dan Muhammad al-Baqary Syekh Ali bin Sulaiman al-Manshuri Syekh Hijazi Syekh Mustafa Abdurrahman al-Azmiri Syekh Ahmad Ar-rasyidi Muhammad al-Baqary Ali ar-Ramily Ismail Ali al-Mihy al-Bashiry Musthafa al-Mihy Sulaiman as-Syahdawy Ali al-Halwa Ibrahim Khalil Amir al-Matwisi Muhammad Sabiq al-Iskandariyah Ahmad Hamid bin Abdurrazaq Ahmad Hijazi al-Faqih Azra'i Abdur Rauf . M Juneid Sulaiman Sahazah al-Yamani Abdirrahman al-Yamani Saifuddin al-Bashiry Sultan al-Mizahi.Benang Merah Huffaz di Indonesia — Moh. Khoeron 219 219 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 Syekh Mustafa Abdurrahman alAzmiri Syekh Ahmad Ar-rasyidi Syekh Ismail Basytin Syekh Ali al-Mihi al-Bashari Syekh Mustafa al-Mihi Syekh Ali al-Halwa Ibrahim Syekh Khalil Amir al-Matwisi Syekh Muhammad Sabiq alIskandariyah Syekh Ahmad Hijazi al-Faqih KH.