1

LEGAL STANDING DALAM PERSPEKTIF GUGATAN WARIS DAN URGENSINYA
Oleh : Drs. H. SUHADAK, SH., MH. Wakil Ketua Pengadilan Agama Mataram

Latar Belakang Salah satu prinsip yang mendasar dalam hukum kewarisan di Pengadilan Agama adalah Ijbari, prinsip ini berarti bahwa peralihan harta dari seorang yang telah meninggal dunia, berlaku dengan sendirinya menurut kehendak Allah swt. Ahli waris tidak berhak mengubah ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah tersebut, dan harus menerima kenyataan perpindahan harta pewaris kepada ahli waris sesuai menurut ketentuan dalam Nash. Prinsip Ijbari ini terlihat dari aspek legitimasi ahli waris, harta waris, dan bagian harta waris yang diterima ahli waris. Legitimasi ahli waris ditetapkan berdasarkan hubungan tertentu, terutama hubungan kekerabatan dan berhubungan pernikahan.1 Ada dua garis hubungan hukum yang harus terurai dalam gugatan waris dan harus dibuktikan untuk legitimasi ahli waris di Pengadilan Agama yakni : 1. Garis hukum hubungan perkawinan. Bahwa di antara keduanya(suami istri) sudah menikah secara sah. Dan antara suami istri masih dalam ikatan perkawinan di waktu salah satu pihak meninggal dunia. 2. Ketentuan yang di gariskan sesuai dengan hukum Islam dan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di Pengadilan Agama. Buku Nikah sebagai alat bukti Legitimasi ahli waris berarti menunjukan bahwa yang bersangkutan sudah menikah secara sah dan bahkan dilengkapi pula oleh pengakuan dari para pihak yang berperkara serta saksi-saksi. Kenyataan masih adanya oknom di masyarakat yang melakukan kawin cerai secara illegal atau masih adanya perkawinan yang tidak mempunyai akta cerai khususnya di wilayah hukum Pengadilan Tinggi Agama Mataram, menunjukan peluang adanya illegal standing dalam perspektif gugatan waris di wilayah Pengadilan Tinggi Agama Mataram (Data perkara Istbat Nikah Pengadilan Agama Selong, Praya, Giri menang dan Mataram
masing-masing lebih dari 100 perkara lihat perkara 2010).

1

Drs,Hajar M, Legitimasi Ahli waris di Pengadilan Agama Dalam Perspektif Fiqih. Majalah Mimbar Hukum No, 40, tahun 1988, hlm. 40.

kemudian nikah lagi di bawah tangan punya 2 (dua) anak. terutama dalam hal Legal Standing. kata Urgensi (Urgencies) berarti Keadaan yang mendesak. kemudian cerai liar dan kawin lagi dan seterusnya. Internet tanggal 17 November 2010. 2. Kata perspektif (perspectives) berarti Pemandangan. Data Up‐date godle. 2. Kata legal berarti Hukum. Standing dapat diartikan secara luas yaitu akses orang – perorangan ataupun kelompok/organisasi di Pengadilan sebagai pihak Penggugat. 3 . Putusan MK. Dr. Setidaknya ada dua permasalahan yang ingin Penulis angkat dalam Tulisan ini yaitu : 1. Apakah yang menjadi dasar hukum seorang Istri dalam mengajukan gugatan waris?. SH. bagaimanakah mengambil alternatif solusinya? Mungkinkah hakim di tingkat banding bersedia dalam menyikapi terhadap berkas yang diperiksa mengandung Ilegal standing? 2 Jimly Asshiddiqie. Oleh karena itu sebelum membahas lebih luas dan agar tidak terjadi salah arti dalam persepsi terhadap judul makalah “LEGAL STANDING DALAM PERSPEKTIF GUGATAN WARIS DAN URGENSINYA” maka perlu kiranya di urai maksud dari judul tersebut. 3 Dari uraian kata tersebut di atas. sehingga dalam penanganan perkara kewarisan perlu kehatihatian Majlis Hakim. Subekti) menurut Prof. Terkait anak-anak yang belum dewasa menggugat waris mendiang orang tuanya. Hal-hal apa sajakah yang harus di penuhi? Apa akibat hukum jika tidak memenuhi Legal Standing? Lantas bagaimana solusinya bagi hakim yang menangani perkara tersebut?. tak lama isterinya meninggal dunia. Terkait Isteri yang menggugat waris terutama tentang status perkawinannya.DR. maka maksud dari judul Makalah yang di kehendaki menurut pemahaman penulis adalah kedudukan Hukum Penggugat/ pihak berperkara dalam kaitanya pengajuan gugatan waris yang sangat perlu medapat perhatian khususnya bagi Hakim dalam menerima memeriksa dan memutus perkara warisan. Prof. Standing berdiri (kamus Hukum. Apa akibat Hukumnya jika status isteri tidak memenuhi Legal Standing?. Lalu suami menikah lagi di bawah tangan mempunyai 2 (dua) anak.007/PUU‐IV/2006. ilustrasi tersebut bukanlah fiktif akan tetapi telah terjadi. No. Jimly Asshiddiqie. Legal Standing diartikan kedudukan Hukum 2.2 Sebagai ilustrasi pewaris ketika masih hidup nikah secara resmi dan mempunyai buku Nikah. Apakah Anak yang masih belum dewasa dapat melakukan tindakan hukum dalam mengajukan perkara waris?. Dapatkah perkara waris di gabung dengan perkara istbat nikah?. Rumusan Masalah 1.

Merupakan Suatu Sengketa Sebagaimana ketentuan PS 118 HIR/132 Rbg. Hal ini sesuai azas point d’internt. Adanya Kepentingan Hukum Tidak setiap orang yang mempunyai kepentingan dapat mengajukan gugatan. maka ia dapat meminta Pengadilan untuk menyelesaikan masalah itu sesuai dengan hukum yang berlaku. SH. termasuk Legal standing.3 PEMBAHASAN Prinsip-prinsip gugatan dalam perkara Perdata. 7 tahun 1989 yang telah memberikan kepada Hakim Jurisdictio Volontaria seperti permohonan untuk ditetapkan sebagai ahli waris yang sah. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan apakah penggugat betul-betul orang yang berhak mengajukan gugatan.. Jakarta. d.pasal 142 ayat (1) Rbg menyebutkan gugatan dapat diajukan secara tertulis kepada Pengadilan. Kecuali yang yang telah ditentukan oleh Undang-undang. Prof. 2006 hlm. H. 4 Abdul Manan. dalam bukunya penerapan Hukum acara perdata di lingkungan Peradilan Agama 4adalah: a. Istbat Nikah dan lain-lain. Oleh karena itu dalam pembuatan surat gugatan harus di buat secara cermat dan selengkap-lengkapnya.Hum. Abdul Manan. Dr. Hum. apabila kepentingan itu tidak langsung dan melekat pada dirinya. identitas dan posita selanjutnya dapat dibuktikan dalam persidangan sehingga kedudukan hukum (Legal Standing) Penggugat menjadi jelas . Fajar Pratama Offset. e. gugatan yang diajukan tanpa adanya pihak Tergugat atau yang bersifat Valuntair bukanlah kewenangan Pengadilan untuk meneruskannya. Harus Ada Dasar Hukum.M. yang terurai dalam kedudukan pihak. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama.DR. b. Memahami Hukum Formil dan Matriil Dalam praktik Peradilan Agama sangat sulit ditemukan para Penggugat yang mengetahui Hukum Formil dan Matriil secara utuh. meskipun terkadang perkara yang diajukan menggunakan jasa pemberi bantuan Hukum.. c. Dibuat Dengan Cermat dan Terang Pasal 118 HIR jo. Dan Pasal 120 HIR/144 ayat (1) Rbg dapat juga diajukan secara lisan kepada Pengadilan. seperti UU no.Sip. 17‐23. Sesuai dengan ketentuan Pasal 118 HIR dan pasal 142 Rbg bahwa barang siapa yang merasa hak pribadinya dilanggar oleh orang lain sehingga mendatangkan kerugian. M. menurut Prof. penetapan Wali Adhal. point d’action atau geen belaang geenactie (tidak ada sengketa tidak ada perkara). . SIP. SH.

Yahya Harahap. 1 tahun 1974 menyebutkan bahwa orang tua dengan sendirinya menurut hukum berkedudukan dan berkapasitas sebagai wali anak-anak sampai mereka dewasa. Jakarta. 6 7 . 7 sebagaimana 5 M. Oleh karena itu orang tua adalah kuasa yang mewakili kepentingan anak-anak yang belum dewasa kepada pihak ke tiga maupun di depan Pengadilan tanpa memerlukan surat kuasa khusus dari anak tersebut. menurut penulis sangatlah urgen untuk dibahas.SH. Masih saja terjadi dengan tanpa memenuhi kriteria Legal Standing. Seharusnya Ibu yang menjadi wali. Jakarta. disamping bertindak atas nama sendiri juga bertindak atas nama anak-anaknya yang di bawah umur tetapi dalam prakteknya mereka justru membuat surat kuasa khusus. 1989.Yahya Harahap. Permasalahan Pertama Permasalahan Anak yang dibawah umur dalam kapasitas menjadi penggugat dalam perkara waris bersama ibunya. Pasal 51 Undang‐Undang Nomor. hlm. apakah harus membuat surat kuasa khusus atau mengajukan perkara perwalian terlebih dahulu ataukah tidak perlu membuat surat kuasa khusus?. 2004. M. ini merupakan esensi gugatan yang berisi hal-hal penegasan hubungan hukum antara Penggugat dengan obyek yang di sengkatakan pada satu segi.5 Berpijak dari prinsip-prinsip gugatan tersebut di atas dikaitkan dengan permasalahan yang sering terjadi dalam pemeriksaan perkara waris khususnya yang memenuhi Standar Legal Standing. Sinar Grafika. Sinar Grafika. maka berdasarkan Pasal 45 ayat (2) UU no. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan.SH. Ketika Ibu yang mengajukan gugatan waris bersama anak-anaknya yang belum dewasa. harus terekam jelas dalam identitas dan kedudukan para pihak dan harus terekam dengan jelas pula dalam posita. hubungan hukum antara Penggugat dengan Tergugat serta hubungan Tergugat dengan obyek sengketa pada segi lain. Hukum Acara Perdata. Hlm. I. 195. Contoh kasus: Dalam gugatan waris yang diajukan oleh anak-anak di bawah umur bersama Ibunya melalui Kuasa Hukum (Advokad). 9. Dalam hal orang tua yang bertindak hukum bersama anak-anaknya yang belum dewasa.4 Apapun yang menjadi prinsip dalam gugatan. 1 tahun 1974). Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama. ketentuan (Pasal 51 UU No. 6 Selanjutnya wali dengan sendirinya menurut hukum menjadi kuasa untuk bertindak mewakili kepentingan anak yang berada di bawah perwalian.

5 Masih ada kasus dalam hal penyerahan kuasa anak-anak yang belum dewasa terhadap penerima kuasa (oknom Pengacara). Disisi lain seorang Kuasa Hukum/oknom Pengacara telah bertindak atas nama anak-anak yang beleum dewasa tidak bersama orang tuanya berdasarkan surat kuasa khusus yang dibuat di hadapan Notaris. Akibat hukumnya. sehingga terpenuhi legal standing. istri tersebut sudah bercerai atau tidak. dan apakah statusnya ketika pewaris masih hidup. hal mana kedudukan hukum (Legal Standing) harus dibuktikan dengan akta nikah. Jadi tidak dengan cara membuat surat kuasa khusus. Permasalahan Kedua Permasalahan yang menjadi dasar hukum seorang istri dalam mengajukan gugatan waris ataupun menjadi pihak dalam perkara waris. Solusinya Hakim tingkat pertama sebelum memeriksa pokok perkara terlebih dahulu dengan cermat memeriksa Legal Standing terhadap pihak-pihak berperkara baik yang tertera dalam surat kuasa khusus maupun yang termuat dalam gugatan. oleh karena tidak memenuhi prinsip-prinsip gugatan. dalam posita terurai bahwa pewaris telah meninggalkan seorang istri tanpa menyebut status perkawinannya.8 (Pasal 6 ayat (2) KHI). . masih ditemukan pemberi kuasa tanda tangan dan ada yang cap jempol. maka akibat hukum terhadap ketidak jelasan kedudukan hukum pihak istri yang mengajukan gugatan warisan tidak memenuhi 8 Pasal 6 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam. kapan nikahnya. Sedangkan perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan PPN tidak mempunyai kekuatan hokum. di tunjuk terlebih dahulu walinya berdasarkan Penetapan Pengadilan Agama. Contoh kasus. Kasus seperti ini menurut penulis tidaklah memenuhi standar Legal Standing dalam perspektif gugatan waris. Karena terlebih dahulu tidak ditunjuk perwaliannya. dan gugatan menjadi tidak jelas dan kabur atau obscur Libel dan Error in persona dalam bentuk diskualifikasi. hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 7 Kompilasi Hukum Islam bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan dengan akta nikah yang dibuat oleh PPN. Seharusnya terhadap anak yang belum dewasa yang bertindak hukum tidak bersama orang tuanya. haruslah jelas tergambar eksistensinya. II. padahal mereka belum dewasa. maka Hakim harus menyatakan perkara tersebut tidak dapat diterima (Neet On Vrankelij Verklaaj). Berpijak dari ketentuan pasal tersebut.

maupun perkawinan yang tidak jelas antara pewaris dengan istrinya menyebabkan Cacat Formil. Akibatnya person yang illegal standing 1. Apabila telah ternyata hubungan hukum antara pewaris dengan istri tidak dapat dibuktikan dengan akta nikah. 2. sebagai bukti sahnya pernikahan antara pewaris dengan istri pewaris sehingga kriteria Legal Standing/ kedudukan hukum isteri menjadi jelas. karena pernikahannya di bawah tangan. Pada dasarnya HIR maupun Rbg tidak mengatur tentang komulasi gugatan. oleh karena itu. tidak cakap melakukan tindakan hukum. SH. Tidak cakap melakukan tindakan hukum. Menurut Yahya Harahap.9 Oleh karena itu agar penggabungan gugatan sah dan memenuhi syarat diantaranya harus terdapat hubungan yang sangat erat. Diskualifikasi in person terjadi apabila yang bertindak sebagai Penggugat orang yang tidak memenuhi syarat (diskualifikasi). karena antara gugatan yag pertama yaitu perkara waris dan kedua perkara istbat nikah keduanya saling terpisah dan berdiri sendiri. 103. Hukum Acara Perdata. Op‐Cit.Yahya Harahap. Akibat hukum jika tidak terpenuhi Legal Standing dalam perspektif perkara waris baik terhadap anak di bawah umur yang bertindak hukum. Apabila pernikahan antara pewaris dengan istri pewaris. Menurut penulis komulasi gugatan waris dengan istbat nikah tidak dapat dibenarkan. diskualifikasi mengandung error in persona. . hal ini terjadi atas kekeliruan atau kesalahan yang bertindak sebagai Penggugat maupun yang ditarik sebagai Tergugat. akan tetapi dalam perkembangannya. dan gugatan yang diajukan mengandung Cacat Formal Error in Persona dalam bentuk diskualifikasi karena yang bertindak sebagai Penggugat orang yang 9 M. karena perkawinan antara pewaris dengan istrinya tidak jelas. hlm. mereka tidak dapat bertindak sebagai Penggugat tanpa bantuan orang tua atau wali. maka istri pewaris dapat mengajukan perkara istbat nikah tersendiri. orang yang berada di bawah umur atau di bawah perwalian. Tidak mempunyai hak untuk menggugat perkara yang disengketakan. maka hakim harus menyatakan gugatan tidak dapat diterima/NO. yang tidak dapat dibuktikan dengan akta Nikah.6 kriteria Legal Standing dan prinsip-prinsip gugatan. kalau antara masing-masing gugatan terdapat hubungan erat penggabungan dapat dibenarkan untuk memudahkan proses dan menghindari terjadinya kemungkinan putusan yang saling bertentangan. apakah istri tersebut dapat mengajukan penggabungan perkara antara perkara warisan dengan perkara istbat nikah?.SH.

hlm 377). Adalah dengan mengambil alternative yang ke dua. Sebaliknya jika berpendapat bahwa perkara yang diperiksa oleh Pengadilan Tingkat Pertama terdapat kesalahan dalam penerapan hukum atau kekeliruan cara mengadilinya. maka PTA dapat memerintahkan Pengadilan Tingkat Pertama untuk menambah kesempurnaan pemeriksaan. (Kedududkan kewenangan dan acara pada peradilan Agama. maka Hakim di Tingkat Banding berwenang untuk menguatkan putusan tersebut dengan cara mengambil alih seluruh pertimbangan dan putusannya sendiri. Menurut Penulis hakim tingkat Banding adalah termasuk Yudex Faxtei.10 Oleh karena itu gugatan Cacat Formil yaitu error in personadalam bentuk diskualifikasi. ditemukan hal-hal yang memerlukan penyelesaian lebih lanjut. Namun harapan penulis Hakim Tingkat Banding dalam mengambil sikap. SH.1990. oleh PTA 10 Ibid. maka Pengadilan Tingkat Banding dapat menjatuhkan putusan Negatif yakni perkara tersebut di NO.11 Dalam menyikapi ketidak jelasan kedudukan hukum (Illegal Standing) terhadap tindakan hukum bagi anak di bawah umur dan status keabsahan istri yang mengajukan perkara waris atau menjadi pihak. yang menurut hakim mengandung cacat formil error in persona dalam bentuk diskualifikasi karena yang bertindak sebagai penggugat orang yang tidak memenuhi syarat. cepat dan biaya ringan. maka berwenang untuk membatalkanya dan mengadili sendiri dengan putusan yang dianggap benar sebagai koreksi dari pada putusan Pengadilan Tingkat Pertama. Sehingga apabila dalam pemeriksaan pada tingkat Banding. atau ada alternatif pilihan bahwa peperiksaan tambahan itu dapat dilaksanakan secara langsung. Tujuan utama pemeriksaan tingkat banding adalah untuk mengevaluasi dan mengeluarkan segala kesalahan dan kekeliruan dalam penetapan hukum. Harapan penulis ada alternatif Pemeriksaan di Tingkat Banding Menurut M. Op‐Cit. 344 11 . 111‐112. Yahya Harahap. guna menambah pembuktian. maka gugatan harus dinyatakan Neet On Vrankelij Verklaj (NO) atau tidak dapat diterima. terkait Legal Standing. Dengan menjatuhkan Putusan Sela terlebih dahulu sebelum Putusan akhir. Jika sekiranya Pengadilan Tingkat Banding berpendapat pemeriksaan sudah tepat menurut tata cara yag ditentukan oleh UU dan amar putusan sudah sesuai dengan hukum yang berlaku dalam perkara yang bersangkutan. ada cara yang lebih elegan dan memenuhi azas sederhana. baik terhadap kasus anak dibawah umur maupun terhadap status perkawinan isteri dengan pewaris. Terungkap bahwa. hlm.7 tidak memenuhi syarat. Abdul Manan. hlm.

dan harus di ajukan tersendiri. b. tentu diharapkan lebih teliti dalam memeriksa perkara. Ketidak Jelasan identitas. Anak di bawah umur apabila melakukan tindakan hukum dalam perkara waris harus bersama orang tuanya atau walinya. c. Cara yang kedua inilah yang menurut Penulis lebih memenuhi azas sederhana. yang dibuktikan dengan Akta Nikah. Perkara istbat Nikah tidak dapat di komulasikan dengan perkara Waris. 2. Jika pemeriksaan tembahan tersebut diperintahkan kepada Pengadilan Tingkat Pertama yang memutuskan perkara. Sekiranya pemeriksaan dilaksakan secara langsung. Walaupun demikian hakim di tingkat pertama. begitu juga dengan kuasa hukum harus pula dengan jelas tergambar kedudukan Hukum (Legal Standing). maka dalam amar Putusan Sela harus ditegaskan bahwa pemeriksaan tambahan tersebut dilakukan sendiri oleh PTA. yang pada akhirnya terpenuhi cita-cita Lembaga Peradilan yaitu Terciptanya Pengadilan yang Agung. akibatnya gugatan tidak dapat diterima (NO). sehingga “Legal Standing dalam Perspektif Perkara Waris dan Urgensinya” dapat memenuhi harapan bagi keadilan dimasyarakat dan dapat meningkatkan mutu pemeriksaan dan Putusan. kedudukan dan Posita menjadikan gugatan cacat formil Error in persona. kedudukan pihak maupun posita yang menjadikan gugatan cacat formil error in persona.8 terhadap pihak-pihak yang berperkara. maka amar Putusan Sela PTA sekaligus memuat perintah melakukan pemeriksaan serta memerinci hal-hal apa saja yang harus diperiksa lagi oleh Pengadilan Agama. Sesuai Visi dan Misi Peradilan. . c. cepat dan biaya ringan. KESIMPULAN Dari uraian permasalahan dan pembahasan tentang makalah yang berjudul Legal Standing dalam Perspektif perkara waris dan urgensinya. a. b. maka hakim harus menyatakan gugatan tidak dapat diterima (NO). maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut bahwa: 1. Isteri Pewaris yang berkedudukan sebagai Penggugat atau sebagai pihak berperkara harus tergambar dengan jelas tentang status perkawinannya. Dalam Surat gugatan harus tergambar dengan jelas bahwa kedudukan orang tua yang bertindak atas nama diri sendiri dan menjadi kuasa dari anak-anaknya. Ketidak jelasan identitas. a.

baik dari cara penulisan maupun mutu materi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan lumrah. Prof. oleh karena itu saran dan perbaikan oleh pembanding maupun peserta Rakerda di Wilayah PTA Mataram. Fajar Pratama Offset.cepat dan biaya ringan. Alternatif yang lebih Elegan apabila Hakim Tingkat banding tidak terburu menjatuhkan putusan Negatif dengan (NO) terhadap perkara yang tidak memenuhi Legal Standing. Putusan MK no.DR. dan Mohon maaf terutama Kepada Bapak WKPTA dan para senior Hakim Tinggi PTA Mataram dan para Bapak Ketua PA sewilayah PTA Mataram dan rekan-rekan Pansek serta peserta Rakerda di Wilayah PTA Mataram. S. M.Hum. Prof. ====================== PENUTUP Makalah ini tentunya banyak kekurangan. Dirbinbapera. Hajar. M. sehingga keadilan dirasa tuntas dan memenuhi azas. 2006. Nomor 40. Jakarta 2004. kekurangan tentunya pada hamba yang dhoif seperti penulis. Hanya kepada Alloh swt. Majalah Mimbar Hukum. . Akhirnya penulis sampaikan terima kasih atas kepercayaan yang di tugaskan oleh Bapak wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Mataram. karena singkatnya waktu yang diberikan dan terbatasnya keilmuan yang penulis miliki.IP. sangat di harapkan. tetapi dengan mengambil sikap dengan Putusan Sela untuk mengadakan Pemeriksaan Tambahan baik dengan memerintah kepada Hakim Tingkat pertama ataupun menggelar Sidang Perkara tersebut di Majlis Tingkat Banding terkait Legal Standing. penulis mohon Ridhonya amin.DR. SH. Drs. Sinar Grafika.9 d. yang sempurna hanyalah Alloh swt. Harahap Yahya M. Legitimasi Ahli Waris di Pengadilan Agama dalam Perspektif Fiqih. DAFTAR BACAAN Assiddiqei Jimly. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. Jakarta. Jakarta. 007/PUU-IV/2006 Abdul Manan. Hukum Acara Perdata.SH. oleh karena itu dengan Lapang dada penulis menerimanya. 1988. sederhana .

Kedudukan Kewenangan dan Acara Pengadilan Agama. Inpres nomor 1 tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam. Sinar Grafika.10 Harahap Yahya M. ============================== . 1989.SH. Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan. Jakarta. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.

Di Hotel Grand Legi Mataram Pada Tanggal 24-26 November2010 MATARAM .11 LEGAL STANDING DALAM PERSPEKTIF PERKARA WARIS DAN URGENSINYA OLEH: Drs. dalam Diskusi Permasalahan Hukum pada Rakerda Wilayah Pengadilan Tinggi Agama Mataram. Wakil Ketua Pengadilan Agama Mataram MAKALAH Di ajukan untuk memenuhi Tugas yang di Perintahkan oleh Bapak Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Mataram.SH.MH.SUHADAK.H.

12 2010 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful