P. 1
kEsaDaRaN SiSwa SD Thd KeaNekaRaGmN HaYaTi

kEsaDaRaN SiSwa SD Thd KeaNekaRaGmN HaYaTi

|Views: 6|Likes:
Published by floorfilla

More info:

Published by: floorfilla on Nov 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2014

pdf

text

original

MENUMBUHKAN KESADARAN DINI SISWA SEKOLAH DASAR PADA PERMASALAHAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI SEKITARNYA Oleh.

Aprizal Lukman * Indonesia adalah negara yang mempunyai permasalahan keanekaragaman hayati yang cukup parah. Hutan di Indonesia yang telah dikonversikan untuk berbagai keperluan sekitar 64%, dan diperkirakan sekitar 700 ribu sampai 1,2 juta hektar tiap tahunnya telah rusak. Pendidikan sangat memegang peranan penting dalam mengantisipasi kerusakan dan perbaikan selanjutnya di masa depan. Sepatutnyalah permasalahan lingkungan hidup ini diberikan sejak siswa duduk di sekolah dasar. Indonesia is facing a serious endanger biological environment varieties. About 64 % of Forest in Indonesia has been converted in to other usage and approximately 700 to 1,2 million hectare of them ruined every year. Ecosystem education is believed very important in reducing the rate of degradation in future. Because of that it is insisted to offer student an environment problem since they are in elementary school. Kata-kata Kunci: Menumbuhkan kesadaran sejak dini, permaslahan keanekaragaman Hayati di sekitar Pendahuluan Di Indonesia, terdapat keanekaragaman hayati yang sangat banyak dan beragam yaitu mengandung 10% spesies-spesies tumbuhan tinggi dari seluruh dunia; 12% spesiesspesies mamalia dari seluruh dunia; 16% spesies-spesies reptilia dan amfibia dari seluruh dunia; 17% spesies-spesies unggas dari seluruh dunia; dan 35% spesies-spesies ikan di seluruh dunia. Kekayaan spesies juga digandeng dengan endemisme yang berada seiring dengan perkembangan ekonomi yang besar, serta dengan populasi manusia yang sedang tumbuh dan mobilitas yang besar, yang kebanyakan berada di pedesaan dan bergerak di sector pertanian. Menurut data yang dikeluarkan BAPENAS tahun 2001 habitat alami *) Staf Dosen Pendidikan Biologi PMIPA FKIP Universitas Jambi

yang sudah dikonversi mencapai 64%. Jadi tidak mengherankan Indonesia memiliki daftar terpanjang di dunia mengenai jumlah spesies yang terancam punah, yakni 126 jenis burung, 63 mamalia dan 21 jenis binatang reptilia serta 65 spesies hewan Indonesia lainnya kini terancam punah (Mof/FAO, 2004). Beberapa tahun belakangan ini, diperkirakan sejumlah spesies telah mengalamai kepunahan, termasuk elang jawa (Vanellus macropterus) dan burung penangkap serangga (Eutrichomyas rowleyi) dari Sulawesi Utara, sama halnya seperti nasib Sub-spesies harimau di Jawa dan Bali. Namun, proporsi terbesar biota terdiri atas hewan invertebrata yang tidak diketahui namanya, dan banyak diantaranya berpersebaran terbatas dalam hutan hujan tropis dataran rendah yang mengalami tekanan besar untuk pengubahan tata guna tanah guna mendukung pembangunan ekonomi. Jadi, biarpun luas keseluruhan hutan berkisar antara 6% hingga 91% di berbagai kawasan berdasarkan penghitungan awal tahun 1980-an. Proporsi hutan pada daerah dataran rendah sesungguhnya hanya berkisar antara 0 hingga 75% saja. Pada saat itu, kebanyakan provinsi telah kehilangan 80% atau lebih kawasan hutan dataran rendahnya, dan 11 provinsi telah mengalami penggundulan lahan curam yang cukup besar (Dick, 1991 dalam KLH, 1994). Kecepatan lenyapnya hutan tidak diketahui dengan tepat, diperkirakan sekitar 700 ribu sampai 1,2 juta hektar tiap tahun. Lenyapnya hutan ini terutama disebabkan oleh kegiatan penebangan atau pembukaan hutan untuk pertanian dan perkebunan. Luas kawasan hutan yang lenyap ini berbeda-beda dari satu pulau ke pulau lainnya. Di luar Jawa sebagian besar kayu diambil dari hutan-hutan alam. Konsesi kayu meliputi 53,4 juta hektar, dan menghasilkan 93,5% dari seluruh produksi kayu Indonesia. Tebang pilih

menghasilkan 45 meter kubik per-hektar per-tahun, sehingga setiap tahun 890.000 hektar hutan harus ditebang untuk memenuhi permintaan sekitar 40 juta meter kubik per-tahun. antara tahun 1986-2010, ada 19,5 juta hektar akan ditebang dengan sistem tebang pilih atau tebang habis. Semua hutan konsesi akan ditebang dalam 30 tahun yang akan datang. Implikasinya di Indonesia adalah bahwa beberapa ratus spesies barangkali lebih dari 1 dalam sehari hilang setiap tahunnya. Diperkirakan kebanyakan merupakan hewan anvertebrata yang belum dipertelakan, karena angka tersebut diduga sedang bergerak cepat bersamaan dengan punahnya fragmen-fragmen habitat yang unik; lagipula populasi margasatwa menjadi terlalu sedikit untuk mampu mendukung dirinya sendiri. Masalah kehilangan keanekaragaman hayati di Indonesia paling gawat dialami pulau-pulau berpenduduk padat seperti Jawa, Bali karena hutan yang masih tersisa kebanyakan berupa peninggalan saja dan dataran rendah yang subur sudah terlalu lama dikelola secara intensif (WCMC/PHPA, 1991 dalam KLH, 1994). Di tempat lain yang kurang begitu padat penduduknya, bentuk ancaman terhadap keanekaragaman hayati agak berbeda dan degradasi hutan secara besar-besaran merupakan suatu fenomena yang relatif baru. Kita sadari pula bahwa kini sudah jarang kita lihat buah-buahan seperti duwet, gandaria, kepel, kecapi dan yang lain, sementara pasar kita dibanjiri apel Washington, anggur Ithaca, buah persik impor. Demikian pula kita hampir tidak pernah melihat lagi papaya local, karena sudah digantikan dengan satu jenis dari Bangkok, termasuk masyarakat kita sudah mulai menyukai dan membanggakan durian Bangkok. Di sector pertanian, ribuan varietas pada kini digantikan dengan hanya beberapa puluh varietas padi unggul yang umum dikenal sebagai IR, atau PB. Sayangnya informasi mengenai kepunahan spesies dan varietas di Indonesia masih amat langka.

Demikian pula, di sector kehutanan, tanaman pohon yang beragam diganti dengan satu jenis eukaliptus atau akasia dalam program Hutan Tanaman Industri. Pada tahun 1984, sebuah perusahaan HTI mengalami kerugian karena serangan hama menyebabkan sebagian besar pohon tersebut mati. Kasus hama lain yang terkenal adalah serangan kutu loncat pada tanaman lamtoro gung. Tanaman ini diperkenalkan dari Hawai ke Indonesia bagian timur dengan tujuan baik yaitu, untuk konservasi lahan dan menyediakan pakan ternak. Tetapi karena ditanam dalam sistem monokultur, lamtoro gung tidak mampu menahan serangan hama tersebut. Pengaruh perladangan berpindah dan pertanian pemula terjadi pada kawasan hutan yang cukup luas, sekitar 38,9 juta hektar. Perladangan berpindah ini telah menimbulkan lebih dari 10 juta hektar padang alang-alang di luar Jawa . Kebakaran hutan yang tidak terkendali juga telah menghancurkan 25.000 hektar per-tahun. Misalnya dalam tahun 1983 kawasan hutan Kalimantan timur terbakar seluas 3,6 juta hektar. Malapetaka ini disebabkan perpaduan antara musim kering yang sangat kering dengan penggunaan lahan hutan yang kurang baik (Lennertz dan Panzer dalam Anthony1995). Pada tahun 1997 telah pula habis terbakar hutan Kalimantan dan Sumatera mencapai 121.630 hektar hutan dalam berbagai klasifikasinya, sehingga menimbulkan kabut asap yang sampai di Negara tetangga Singapore, Malaysia dan Brunei Darusalam (Mardjoned, 1997:13). Ancaman kepunahan dari masalah kerusakan alam di Negara ini lebih banyak disebabkan oleh factor manusia yang salah dalam menangani dan mengurus alam ini maka perlu peranan pendidikan terhadap masyarakat ditingkatkan agar kesadaran akan pentingnya memahami alam dan segala konsekuensinya yang ditimbulkan oleh umat manusia itu perlu diberitahu sejak dini, ini disadari bahwa peranan pendidikan terhadap

seseorang itu akan dapat bermanfaat dan diaplikasikannya dalam kehidupannya kelak dikemudian sebagai khalifah di muka bumi ini. Tulisan ini bertujuan ingin memberikan sumbangan pemikiran kepada lembaga pendidikan agar dapat membantu mencari jalan keluar untuk memperbaiki alam ini. Melalui lembaga pendidikan, diyakini dapat lebih baik untuk memberi kesadaran

kepada masyarakat akan pentingnya memelihara alam untuk menjamin kelangsungan hidup manusia di masa akan datang. Berdasarkan akan hal diatas, tulisan ini akan mencoba merumuskan beberapa hal pokok memberikan solusi dengan mengenali permasalahan lingkungan hidup kepada siswa sejak di Sekolah Dasar, yang diaplikasikan dengan penyadaran mereka akan pentingnya kelestarian lingkungan terutama

keanekaragaman hayatinya yang ada di sekitar tempat tinggal dan sekolahnya. Hal ini dapat di masukan ke dalam kegiatan belajar-mengajar mereka sejak kelas II SD, sesuai dengan materi sains yang ada dalam kurikulumnya. Adapun hal pokok yang akan dibahas tulisan ini adalah sebagai berikut: 1) Hakikat pendidikan lingkungan hidup, 2) Memasukan permasalahan lingkungan dalam kegiatan pembelajaran sains di Sekolah Dasar, 3) Tawaran model pembelajaran lingkungan hidup pada siswa Sekolah Dasar, 4) Materi lingkungan yang signifikan pada pembelajaran sains di Sekolah Dasar.

Hakikat Pendidikan Lingkungan Hidup Pendidikan lingkungan hidup merupakan suatu tanggapan terhadap masalahmasalah lingkungan, baik lingkungan fisik dan keanekaragaman hayatinya, yang juga berdampak pada kehidupan social-kultural masyarakat. (Amien, 1988:194). Sampai saat ini Indonesia belum berhasil mengatasi masalah kerusakan lingkungan terutama ancaman

terhadap kepunahan keanekaragaman hayatinya, yang diperkirakan dalam waktu kurang dari 50 tahun lagi, Indonesia akan mengalami krisis sumber daya alam hayati yang sangat dahsyat, karena kerusakan yang ditimbulkan oleh ulah tangan manusia yang tidak arif dalam menanganinya sebagai sumber kehidupan dan kelulushidupan manusia di masa datang. Melihat permasalahan lingkungan hidup terutama ancaman kepunahan terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia, maka jelaslah bahwa sumber masalah tersebut pada saat ini terutama disebabkan oleh ketinggalan dan keterbelakangan dalam bidang pendidikan, dan disusul oleh bidang sains, teknologi dan ekonomi, yang semuanya itu digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang akhirnya malah bias mengancam kelulushidupan umat manusia itu sendiri. Oleh karena itu kita masing-masing harus menyadari dan melakukan apa yang harus dikerjakan oleh manusia untuk membuat lingkungan hidup lebih serasi, seimbang guna mendukung kehidupan umat manusia. Semestinya lembaga pendidikan sudah harus menyadari untuk menumbuhkan kesadaran dan kearifan (wisdom) sejak awal pada anak didik kita, agar kelak dikemudian hari mereka itu sudah mengganti generasinya dapat lebih bijaksana dalam mengolah hutan demi kelangsungan hidup generasi berikutnya.

Memasukan Permasalahan Lingkungan dalam Kegiatan Pembelajaran Sains SD Sejak kelas 2 siswa Sekolah Dasar sudah diberikan pembelajaran sains, mereka sudah diperkenalkan bermacam-macam komponen lingkungan hidup, seperti tumbuhan, air, hewan-hewan, dan lain sebagainya. Namun di dalam pelaksanaan pembelajaran guru lebih menekankan pada hubungan harmonis satu komponen dengan komponen lainnya,

tetapi hampir belum pernah menyinggung bagaimana hubungan satu komponen dengan komponen itu terganggu, sehingga dapat menimbulkan ketidakseimbangan alam yang membawa dampak buruk pada kehidupan umat manusia. Dalam suatu program pendidikan lingkungan yang baik siswa akan belajar bagaimana mengenal sebab-sebab konsekuensi perubahan-perubahan lingkungan, interaksi antara perubahan atau masalah lingkungan dengan konsekuensi pengambilan keputusan secara individual pada siswa, terhadap masalah lingkungan hidup yang dijumpainya. Konsekuensi-konsekuensi yang berasal dari berbagai masalah lingkungan di sekitar siswa, akan menambah sensitifitas siswa akan problematika ini, maka sangatlah logis untuk mengharapkan bahwa tiap pelajaran di sekolah dasar dapat melibatkan diri untuk memasukan masalah lingkungan hidup ini terutama masalah keanekaragaman hayati dalam perbincangannya atau di dalam rencana pembelajarannya. Menurut De Fina (1995:33) mata pelajaran sains yang memuat topik-topik biologi memberi kesempatan yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap lingkungan. Mungkin guru tidak perlu memandang apakah rencana pembelajaran itu bersifat subject centered, atau integrated yang penting isu-isu lingkungan ini perlu diperbincangkan pada siswa, agar siswa kita dapat memahami permasalahannya dan akhirnya akan tumbuh kesadaran dan kearifan setelah selesai mengikuti pembelajaran tersebut. Pendekatan yang bersifat fragmentasi tidak akan memadai, karena pendidikan lingkungan hidup ini akan memerlukan suatu pandangan yang luas tentang “lingkungan” baik lingkungan fisik dan keanekaragaman hayati. Di samping itu kemampuan guru dan kearifan guru dalam pembelajaran ini memang harus baik, disamping kerjasama yang

baik dengan pihak manajemen sekolah, agar tercipta kreativitas dalam pembelajaran lingkungan. Menurut Susilo (2001:4) dalam mengembangkan kreativitas sekolah dalam pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di SD ini, perlu diperhatikan 7 komponen utama yaitu: (1) Menggunakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar, (2) Praktik pengelolaan sampah (3) Meningkatkan kondisi halaman sekolah (4) Widyawisata ke lingkungan sekitar sekolah (5) Mencari tambahan bahan pustaka mengenai pendidikan lingkungan sekolah (6) Mencari ide-ide untuk meningkatkan keterampilan guru membelajarkan pendidikan lingkungan hidup (7) Mengadakan kesempatan untuk melaksanakan aksi lingkungan pada siswa SD.

Tawaran Model Pembelajaran Lingkungan Hidup pada Siswa SD Pendidikan lingkungan hidup pada siswa SD, adalah merupakan salah satu aspek pendidikan dengan menggunakan “lingkungan” sebagai alat dalam proses belajarmengajar, untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya dan tujuan pendidikan lingkungan khususnya. Menurut Amien (1988:204) pendidikan lingkungan memiliki dua proses dasar yang merupakan suatu bagian integral satu dengan yang lain yaitu, proses yang lebih menekankan pada “pemecahan masalah, dan proses kejelasan nilai”, dua proses ini sangat membantu siswa SD dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan proses yang diperlukan untuk melaksanakan suatu rencana tindakan yang efektif dan bermakna. Proses ini membantu siswa mengembangkan keterampilan kritis dan komunikasi antar pribadi yang akhirnya diharapkan menumbuhkan kesadaran dan

kearifan serat kesensitifan siswa SD sejak awal terhadap problematika permasalahan lingkungan hidup terutama masalah keanekaragaman hayati yang ada di sekitarnya. Ada pun proses dasar dari pendidikan lingkungan tersebut adalah sebagai berikut; a) Keterampilan Memecahkan Masalah Model pendidikan lingkungan yang diorientasikan pada pemecahan masalah, harus didasarkan pada keterlibatan siswa SD secara aktif, dalam melihat problematika masalah lingkungan terutama masalah keanekaragaman hayati dan berupaya di bawah bimbingan gurunya mencoba untuk mengidentifikasi semua masalah lingkungan hidup baik lewat Koran, majalah, media elektronik kemudian di bawa ke lingkungan sekitar sekolah atau lingkungan rumah masing-masing, selanjutnya siswa diajak memecahkan masalahnya, yang sesuai dengan tingkat kognitif siswa dan dibantu guru sebagai fasilitatornya. Masalah-masalah lingkungan tersebut misalnya, antara lain: (a) Mengenal/mengidentifikasi masalah-masalah lingkungan sekitarnya, (b) Merumuskan masalah tersebut di bawah bimbingan gurunya, (c) Guru membimbing siswanya untuk memahami dampak buruk dari masalah-masalah lingkungan tersebut, (d) Mengumpulkan informasi tentang masalah lingkungan terutama tentang keanekaragaman hayati, lewat media elektronik, koran, majalah, atau membawanya ke lingkungan yang bermasalah di sekitar sekolah atau lingkungan tempat tinggalnya, (e) Mengorganisasikan masalahmasalah keanekaragaman hayati itu sesuai dengan penyebabnya, (f) Mendiskusikan dalam kelompok-kelompok kecil, selanjutnya siswa disuruh berdebat dengan

mengemukakan alasan-alasan sesuai dengan tingkat kognitifnya (g) Hasil dari berbagai alternatif pemecahan tersebut siswa diminta untuk menerapkannya di dalam kehidupan sehari-harinya, atau siswa diberi tugas untuk melihat permsalahan keanekaragaman

hayati yang ada di sekitarnya baik di lingkungan sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya, kemudian mencoba memberikan alternatif pemecahannya sesuai dengan hasil diskusi atau debat yang telah direkomendasikan kelompok atas bimbingan gurunya.

b) Proses Kejelasan Nilai-nilai

Kemampuan siswa dalam mengambil keputusan dan merumuskan permasalahan lingkungan tidak terlepas dari nilai-nilai dan konsekuensi perilakunya. Langkah-langkah yang disarankan oleh beberapa ahli terutama Hawkins, Mary, E dan Kormondy dalam Amien (1988:205) antara lain; a. Siswa tersebut dihadapkan pada issue-isue. b. Siswa diminta memberikan alternatif pemecahannya. c. Siswa diminta memberikan pertimbangan konsekuensi-konsekuensi dari masingmasing alternatif pemecahannya itu. d. Siswa diminta untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya tentang masingmasing alternatif yang diberikan tersebut. e. Selanjutnya diminta kepada masing-masing siswa untuk membuat keputusan terhadap berbagai problematika masalah keanekaragaman hayati yang telah diketahuinya. Pendekatan value clarification ini, di dalam permasalahan lingkungan hidup diyakini dapat menumbuhkan kearifan dan kepekaan siswa, yang akhirnya akan membawa dampak positif dalam kehidupannya kelak, dan ini merupakan bagian yang fundamental dalam pendidikan lingkungan hidup, untuk menumbuhkan kesadaran siswa sejak awal terhadap semua permasalahan lingkungan terutama kepunahan keanekaragaman hayati

yang nyata-nyata akan berdampak serius terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Teknik ini dapat pula digunakan untuk memanifestasikan ide-ide, perasaan siswa dan pengalaman-pengalaman siswa serta menumbuhkan tingkah laku lingkungan yang bertanggung jawab. Menurut Howe dan Disinger dalam Susantini (2000:15) beliau mengatakan bahwa ada 7 variabel dalam pengembangan ide-ide dan perilaku siswa yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup, variable tersebut ialah, (1) pengetahuan tentang konsep lingkungan yang relevan, (2) pengetahuan tentang isu dan masalah lingkungan (3) perhatian terhadap kualitas lingkungan (4) pengetahuan tentang tindakan strategis yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah lingkungan, (5) keyakinan bahwa tindakan mereka dapat membuat suatu perbedaan (komitmen untuk mengambil tindakan, dan (7) pengalaman dalam melaksanakan tindakan berdasarkan kegiatan.

Materi Lingkungan yang Signifikan pada Pembelajaran IPA SD Materi pembelajaran IPA, yang memuat berbagai macam topic lingkungan memberikan kesempatan yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran serta kearifan siswa, terhadap permasalahan lingkungan hidup yang ada di sekitarnya. Menyajikan materi di lingkungan dengan memanfaatkan sebanyak mungkin lingkungan sekolah merupakan salah satu pendekatan yang sangat baik untuk dilaksanakan di sekolah dasar (Susilo, 2000:1). Selanjutnya Susilo menggagaskan agar di SD sudah saatnya melaksanakan program sekolah hijau, ini bertujuan untuk menggambarkan suatu kebijakan positif dalam pendidikan lingkungan hidup, artinya segala aspek kegiatannya harus mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan. Harapan dari gagasan ini jelas terkandung

muatan tujuan yang sangat jauh ke depan dalam memberikan kesadaran sejak awal padasetiap manusia kecil agar kelak dapat berbuat sesuai dengan kaidah-kaidah alam, dan memahami permasalahan lingkungan yang dapat mengganggu kelulushidupan umat manusia di masa akan datang. Baba Dioum seorang conservationist dalam De Fina (1995:33) Ia menyarankan kesadaran mengajarkan lingkungan adalah sangat vital untuk kelestarian sumber daya alam kita, jika kita tidak mau di masa akan datang hanya bias mengawetkan apa yang kita sayangi, dan hanya bisa melihat gambar-gambar tentang keanekaragaman hayati, tanpa pernah tahu bagaimana sebenarnya makhluk tersebut. Pesan peringatan dan kecemasan Baba Dioum sangat beralasan sekali, kita harus dapat menindaklanjuti. Strategi pemberian materi pada permasalahan lingkungan, dapat disisipkan pada setiap kegiatan dalam pembelajaran atau mungkin pula dikembangkan melalui kurikulum tersendiri untuk ajaran pendidikan lingkungan ini di sekolah dasar. Jika pengembangan ini sulit dilakukan maka alternatif yang segera dapat dilaksanakan adalah

menyisipkannya ke dalam mata pelajaran yang ada di sekolah dasar. Ide penyisipan ini dapat diterima oleh Hungeford dalam Susantini (2000:17), asal penyisipan itu digunakan untuk memberikan penekanan pada konservasi dalam seluruh kurikulum yang dimulai sejak kelas 1 sampai kelas 6. Misalnya pelajaran sains, dapat memasukkan topic tentang komponen ekologi di dalam ekosistem, misalnya pelajaran tentang hutan, semak belukar, burung dan hewan lainnya, ini akan memberikan makna lebih kepada siswa, jika informasi materi ini dikaitkan dengan informasi kebakaran hutan, penggundulan hutan, penangkapan secara liar hewan-hewan yang ada di dalamnya. Ekosistem air dapat dijadikan sebagai model bagi siswa untuk mengenal komponen-komponen yang rusak,

dan siswa diberi kesempatan untuk membongkar sendiri isu-isu polusi air, yang disebabkan oleh tumpahnya minyak bumi, serta penangkapan hasil lautan yang tidak mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan. Kemudian dimasukkan komentar-komentar dari guru dan juga alternatif-alternatif konservasinya dari siswa yang diambil dari hasil diskusi dan perdebatan siswa di bawah bimbingan guru. Strategi ini diyakini akan memberikan nilai pengetahuan lebih kepada siswa dalam menumbuhkan sikap bertanggung jawab, menambah kepekaan siswa, kearifannya dalam memandang lingkungan. Pelajaran bahasa Indonesia, dengan cara membuat puisi-puisi yang bernafaskan pesan lingkungan, setelah siswa diajak ke lapangan sekolah atau ke lingkungan yang telah rusak. Pelajaran IPS dengan pesan social-ekonominya dapat memberikan bekal pengetahuan pada siswa. Sejauh mana sumber daya alam itu dapat dimanfaatkan untuk membiayai dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hasil penelitian yang dilakukan Hungeford dkk, menyarankan agar materi pelajaran tersebut menekankan suatu pendekatan hirarki yang melibatkan 4 tingkatan kegiatan sebagai berikut : 1. Memberikan siswa konsep ekologi, ini memungkinkan siswa dapat membuat keputusan yang berlandaskan pertimbangan ekologis dalam menanggapi isuisu lingkungan. Pengetahuan ini mencakup konsep-konsep individu, populasi, interaksi, factor pembatas, siklues biogeokimiawi, pengaruh abiotik,

homoestasis, suksesi dan lain-lain. 2. Sadar konsep, tujuan pada tingkat ini adalah untuk mengembangkan sadar konsep, tentang bagaimana tingkah laku secara individu dan bersama-sama mempengaruhi hubungan antara kualitas hidup dan kualitas lingkungan.

3. Penyelidikan

dan

penilaian

isu-isu,

tingkatan

ini

bertujuan

untuk

mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan pembelajar untuk meneliti isu lingkungan dan menilai alternatif pemecahannya untuk remidiasi isu-isu tersebut, dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menilai sendiri tentang isu-isu tersebut. 4. Keterampilan tindakan lingkungan, tingkatan ini bertujuan untuk

mengembangkan keterampilan yang diperlukan siswa untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif untuk tujuan pemecahan atau membantu memecahkan masalah isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan. Hungeford melaporkan hasilnya, bahwa perubahan tingkah laku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan tidak akan terjadi jika siswa diarahkan untuk tujuan 1 dan 2 di atas. Data juga menunjukkan bahwa tingkah laku akan berubah jika siswa diarahkan pula ke tujuan 3 dan 4 yang ditambahkan ke tujuan 1 dan 2. Kualitas tindakan lingkungan pada siswa juga cenderung berubah dan dapat memperbaiki lingkungan jika mereka menggunakan analisis isu lingkungan. Beberapa tahun belakangan ini, diperkirakan sejumlah spesies telah mengalamai kepunahan, termasuk elang jawa (Vanellus macropterus) dan burung penangkap serangga (Eutrichomyas rowleyi) dari Sulawesi Utara, sama halnya seperti nasib Sub-spesies harimau di Jawa dan Bali. Namun, proporsi terbesar biota terdiri atas hewan invertebrata yang tidak diketahui namanya, dan banyak diantaranya berpersebaran terbatas dalam hutan hujan tropis dataran rendah yang mengalami tekanan besar untuk pengubahan tata guna tanah guna mendukung pembangunan ekonomi.

Jadi, biarpun luas keseluruhan hutan berkisar antara 6% hingga 91% di berbagai kawasan berdasarkan penghitungan awal tahun 1980-an. Proporsi hutan pada daerah dataran rendah sesungguhnya hanya berkisar antara 0 hingga 75% saja. Pada saat itu, kebanyakan provinsi telah kehilangan 80% atau lebih kawasan hutan dataran rendahnya, dan 11 provinsi telah mengalami penggundulan lahan curam yang cukup besar (Dick, 1991 dalam KLH, 1994). Kecepatan lenyapnya hutan tidak diketahui dengan tepat, diperkirakan sekitar 700 ribu sampai 1,2 juta hektar tiap tahun. Lenyapnya hutan ini terutama disebabkan oleh kegiatan penebangan atau pembukaan hutan untuk pertanian dan perkebunan. Luas kawasan hutan yang lenyap ini berbeda-beda dari satu pulau ke pulau lainnya. Di luar Jawa sebagian besar kayu diambil dari hutan-hutan alam. Konsesi kayu meliputi 53,4 juta hektar, dan menghasilkan 93,5% dari seluruh produksi kayu Indonesia. Tebang pilih menghasilkan 45 meter kubik per-hektar per-tahun, sehingga setiap tahun 890.000 hektar hutan harus ditebang untuk memenuhi permintaan sekitar 40 juta meter kubik per-tahun. antara tahun 1986-2010, ada 19,5 juta hektar akan ditebang dengan sistem tebang pilih atau tebang habis. Semua hutan konsesi akan ditebang dalam 30 tahun yang akan datang. Implikasinya di Indonesia adalah bahwa beberapa ratus spesies barangkali lebih dari 1 dalam sehari hilang setiap tahunnya. Diperkirakan kebanyakan merupakan hewan anvertebrata yang belum dipertelakan, karena angka tersebut diduga sedang bergerak cepat bersamaan dengan punahnya fragmen-fragmen habitat yang unik; lagipula populasi margasatwa menjadi terlalu sedikit untuk mampu mendukung dirinya sendiri. Masalah kehilangan keanekaragaman hayati di Indonesia paling gawat dialami pulau-pulau berpenduduk padat seperti Jawa, Bali karena hutan yang masih tersisa kebanyakan berupa

peninggalan saja dan dataran rendah yang subur sudah terlalu lama dikelola secara intensif (WCMC/PHPA, 1991 dalam KLH, 1994). Di tempat lain yang kurang begitu padat penduduknya, bentuk ancaman terhadap keanekaragaman hayati agak berbeda dan degradasi hutan secara besar-besaran merupakan suatu fenomena yang relatif baru. Kita sadari pula bahwa kini sudah jarang kita lihat buah-buahan seperti duwet, gandaria, kepel, kecapi dan yang lain, sementara pasar kita dibanjiri apel Washington, anggur Ithaca, buah persik impor. Demikian pula kita hampir tidak pernah melihat lagi papaya local, karena sudah digantikan dengan satu jenis dari Bangkok, termasuk masyarakat kita sudah mulai menyukai dan membanggakan durian Bangkok. Di sector pertanian, ribuan varietas pada kini digantikan dengan hanya beberapa puluh varietas padi unggul yang umum dikenal sebagai IR, atau PB. Sayangnya informasi mengenai kepunahan spesies dan varietas di Indonesia masih amat langka. Demikian pula, di sector kehutanan, tanaman pohon yang beragam diganti dengan satu jenis eukaliptus atau akasia dalam program Hutan Tanaman Industri. Pada tahun 1984, sebuah perusahaan HTI mengalami kerugian karena serangan hama menyebabkan sebagian besar pohon tersebut mati. Kasus hama lain yang terkenal adalah serangan kutu loncat pada tanaman lamtoro gung. Tanaman ini diperkenalkan dari Hawai ke Indonesia bagian timur dengan tujuan baik yaitu, untuk konservasi lahan dan menyediakan pakan ternak. Tetapi karena ditanam dalam sistem monokultur, lamtoro gung tidak mampu menahan serangan hama tersebut. Pengaruh perladangan berpindah dan pertanian pemula terjadi pada kawasan hutan yang cukup luas, sekitar 38,9 juta hektar. Perladangan berpindah ini telah menimbulkan lebih dari 10 juta hektar padang alang-alang di luar Jawa . Kebakaran hutan

yang tidak terkendali juga telah menghancurkan 25.000 hektar per-tahun. Misalnya dalam tahun 1983 kawasan hutan Kalimantan timur terbakar seluas 3,6 juta hektar. Malapetaka ini disebabkan perpaduan antara musim kering yang sangat kering dengan penggunaan lahan hutan yang kurang baik (Lennertz dan Panzer 1997). Pada tahun 1997 telah pula habis terbakar hutan Kalimantan dan Sumatera mencapai 121.630 hektar hutan dalam berbagai klasifikasinya, sehingga menimbulkan kabut asap yang sampai di Negara tetangga Singapore, Malaysia dan Brunei Darusalam (Mardjoned, 1997:13). Ancaman kepunahan dari masalah kerusakan alam di Negara ini lebih banyak disebabkan oleh factor manusia yang salah dalam menangani dan mengurus alam ini maka perlu peranan pendidikan terhadap masyarakat ditingkatkan agar kesadaran akan pentingnya memahami alam dan segala konsekuensinya yang ditimbulkan oleh umat manusia itu perlu diberitahu sejak dini, ini disadari bahwa peranan pendidikan terhadap seseorang itu akan dapat bermanfaat dan diaplikasikannya dalam kehidupannya kelak dikemudian sebagai khalifah di muka bumi ini.

Penutup Dalam menanggulangi permasalahan lingkungan hidup terutama dalam

mengantisipasi kepunahan keanekaragaman hayati di Indonesia, perlu dilibatkan seluruh potensi masyarakat. Sekolah dasar punya peranan penting dalam membina masyarakat masa depan yang sadar betul dengan peranan lingkungan, terutama peranan keanekaragaman hayatinya. Punahnya keanekaragaman hayati akan mengancam kelulushidupan umat manusia. Oleh sebab itu praktik untuk menyadarkan masyarakat sejak dini, yang dimulai sejak usia sekolah dasar dipandang sangat penting.

Kehacuran

habitat

akibat

kegiatan

manusia,

merupakan

awal

dari

kehancuran/kemusnahan keanekaragaman hayati, yang ternyata bersifat “tidak bisa pulih kembali”.Oleh sebab itu diyakini pula peranan pendidikan lingkungan hidup sangat mutlak diberikan pada siswa/masyarakat kita sejak usia dini, agar kita semua siap membangun masa depan yang lebih baik dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya memelihara dan menjaga lingkungan tempat hidupnya. Allahualam Bissawab,. Semoga…..! DAFTAR RUJUKAN Amien, Mohammad. 1988. Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Menggunakan Metode “Discovery dan Inquiry: Jakarta. Dirjen Dikti. De Fina, V, Anthony. 1995. Environmental Awareness: Realting current issue to biology. Departement Coordinator at Bishop Ford Central Catholic High School, 500-19 th Street, Brooklyn, NY 11215. Kependudukan Dan Lingkungan Hidup. 1994. Laporan hasil Studi Nasional Keanekaragaman Hayati Indonesia. Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Mallow, David. 1994. Biodiversity: Increase student awareness of this concept. Journal The Science Teacher. April 94, Vol.61 No.4 p;19-21. Mardjoned, Ramlan. 1997. Khutbah Jum’at; Ikatan Masjid Indonesia. Jakarta. Majalah Bulanan. Prakosa, Muhammad.2001. Ancaman Hutan Sumatera dan Kalimantan. Seputar Indonesia di RCTI. Tanggal 26 pukul 18.25 WIB.Jakarta. RCTI. Susantini , Endang.2000. Fortofolio Biologi Lingkungan; Kumpulan Sepuluh Artikel Pilihan Pendidikan Lingkungan. Jurusan Pendidikan Biologi PPS-Universitas Negeri Malang. Susilo, Herawati, 2001. Menggalakkan Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah Dasar Melalui “Sekolah Hijau”. Makalah disajikan dalam Sarasehan Peningkatan Kreativitas Guru dalam Pembelajaran PLH untuk SD di Jawa Timur, Universitas Negeri Malang, 26-2-2001.

Surasana, E. 1991. Keanekaragaman Hayati. Makalah Disajikan pada Pelatihan jangka Pendek Persiapan Perkuliahan Program Bersama MIPA-LPTK. Bandung. ITBBandung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->