P. 1
Makalah Masuknya Islam Indonesia

Makalah Masuknya Islam Indonesia

|Views: 3,606|Likes:
Published by Dei Gratia

More info:

Published by: Dei Gratia on Nov 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/04/2013

pdf

text

original

Tugas Mata Kuliah Studi Hadits

“MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Studi Hadits

Dosen Pengampu : ......................

Disusun Oleh : Marsudi Wahyudi Wahdaniya Lailatul Masna

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH

AL IBROHIMY
TANJUNGBUMI BANGKALAN 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat dan HidayahNya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA”. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk menambah pengentahuan penyusun dan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Islam. Demi kesempurnaan makalah ini, penyusun mohon kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun. Demikianlah makalah ini kami buat semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca semua, apabila ada kekurangan mohon maaf sebesar-besarnya. Sejarah

Tanjunbumi, 12 November 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN Dari seluruh Negara di dunia, Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki penduduk beragama Islam terbanyak di dunia. Masuknya agama Islam ke Indonesia dan menjadi agama yang besar di Indonesia, tentunya tidak terjadi begitu saja, namun mengalami proses yang cukup panjang. Proses itu meliputi jasa para da’i, mubalig, ulama, dan pemimpin bidang masing-masing dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia. Kedatangan Islam pada abad ke-7 M ke dunia, dianggap oleh sejarawan sebagai pembangunan dunia baru dengan pemikiran baru, cita-cita baru, kebudayaan serta peradaban baru. Selama lebih dari empat belas abad sejak nabi Muhammad menyebarkan ajaran-ajaran baru dalam bidang teologi monoteistis, bidang kehidupan individu, bidang kehidupan masyarakat, dan kenegaraan, terbentanglah peradaban Islam dari wilayah Spanyol sampai benteng Cina, dari lembah Sungai Wolga di Rusia sampai ke Asia Tenggara, belakangan bahkan sudah hampir keseluruh dunia, yang dirintis oleh Rasul Muhammad, Khulafa al-Rasyidin, Amawiyah, Abbasiyah. Saat Islam datang ke Indonesia, sebenarnya kepulauan nusantara sudah mempunyai peradaban yang bersumber dari kebudayaan asli pengaruh dari peradaban Hindu-Budha dari India, yang pengaruh penyebarannya tidak merata. Penyebaran Islam di sebagaian daerah di Indonesia berkembang dengan pesat. Hal itu disebabkan Islam yang dibawa oleh pedagang maupun para da’i dan ulama, penyebarannya menyiarkan suatu rangkaian ajaran dan cara serta gaya hidup yang secara kualitatif lebih maju dari peradaban yang ada. Dengan kedatangan Islam, masyarakat Indonesia mengalami transformasi dari masyarakat agraris feodal pengaruh Hindu-Budha kearah masyarakat kota pengaruh Islam.

BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di kepulauan nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi nusantara sambil berdakwah. Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari kepulauan nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni kerajaan Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada zaman Kerajaan Singosari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab. Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada peng-Islaman penduduk pribumi nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti, yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate.

Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Setiap kali para penjajah terutama Belanda menundukkan kerajaan Islam di nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan umat Islam nusantara dengan umat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan umat Islam nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi. Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke Indonesia, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Mekkah. Bahkan ikut mempertahankan Mekkah dari serbuan Turki Utsmani. Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa, Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara

mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).
B. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia Melalui Babak- Babak Yang Penting1

1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah). Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir nusantara. Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berkenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. 2. Babak kedua, abad 13 masehi. Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di nusantara, yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya di daerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.

1

www. masuknya islam ke Indonesia.com Tgl 20 Februari, 17. 45

3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda. Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda ke daerah nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong. Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang diabad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:

Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.

Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar ke Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan perjuangan terhadap penjajahan.

4. Babak keempat, abad 20 masehi Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah, yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan. Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo. Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928. Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembagalembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut. Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi

Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi. Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. 5. Babak kelima, abad 20 & 21. Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.

A. Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. 1. Teori Tentang Masuknya Islam Ke Indonesia Datangnya Islam ke Indonesia, mula-mula melalui Parsi dan India, dan bukan langsung dari timur tengah. Perubahan-perubahan terjadi mungkin secara lebih hebat dari Eropa, seperti Portugis. Pada abad ke-16, bangsa Belanda pada abad ke-17 sampai pada sebagian abad ke -20 agama Islam muncul dengan kegairahan baru. Kali ini dari timur tengah pada pertengahan abad ke-19 dan sampai pada sebagian abad ke-20. Akhirnya serangan sekali-sekali dari Tiongkok serta invasi militer Jepang pada perang dunia II.2 Secara historis maupun sosiologis, masuknya Islam ke Indonesia, mengalami banyak masalah baik tentang sejarahnya, maupun perkembangan awal Islam. Islam dalam batas tertentu disebarkan oleh pedagang, kemudian dilanjutkan oleh para guru agama (da’i) dan pengembara sufi. Orang yang terlibat dalam kegiatan dakwah pertama itu tidak bertendensi apapun, selain bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja. Sehingga ada banyak perbedaan pendapat tentang kapan, dari mana, dan dimana pertama kali Islam datang ke Indonesia. Namun, secara garis besar perbedaan pendapat itu dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut.
a. Pendapat pertama dipelopori oleh sarjana-sarjana Belanda, diantaranya Snouck

Hurgronje yang berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M dari Gujarat (bukan dari Arab langsung). Dengan bukti ditemukannya makam Sultan yang beragama Islam pertama Malik as-Sholeh, raja pertama kerajaan Samudra Pasai yang dikatakan berasal dari Gujarat.
b. Pendapat kedua dikemukakan oleh sarjana-sarjana Muslim, diantaranya Prof.

Hamka, yang mengadakan “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan tahun 1963. Hamka dan teman-temannya berpendapat bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah( + abad ke-7 sampai ke-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad ke-13.
c. Sarjana Muslim Kontemporer seperti Taufik Abdullah mengatakan, bahwa

memang benar Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 atau ke-8 Masehi, tetapi baru dianut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada abad ke2

Taufik Abdullah (editor), Islam di Indonesia , (Jakarta: Tinta Mas Indonesia, 1973), hlm. 34

13, barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik. Hal ini terjadi akibat arus balik kehancuran Baghdad ibukota Abbasiyah oleh Hulagu. Kehancuran Islam menyebabkan pedagang Muslim mengalihkan aktivitas perdagangan ke arah Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia tenggara.3
C. Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.4 1. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:

1) Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera. 2) Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China. 3) Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699 M. 4) Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan MalayaIndonesia pada 672 M. 5) Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
6) Prof. S. Muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnya berjudul

Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungannya dengan kaum Muslimin Indonesia.
7) W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled

From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang
3 4

Sunanto, Op.cit, hlm. 7-12 www.masuknya islam ke Indonesia. com. Tgl 20 Februari, 18.06 WIB

memberitahukan adanya Arab muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim). 8) T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
9) Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:

Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasasti huruf Arab Riq’ah yang berangkat tahun 1802 M.
10)

Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13: kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di Aceh, pada tahun 1292 M.

1) Catatan perjalanan Marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya

2) K.F.H. van Langen, berdasarkan berita Cina telah menyebut adanya kerajaan

Pase (mungkin Pasai) di Aceh pada 1298 M.
3) J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met

Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13.
4) Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan

Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan sudah adanya beberapa kerajaaan Islam di kawasan Indonesia.
5) Dengan datangnya para pedagang ke Indonesia, para da’i dan musafir juga

turut datang. Melalui jalur pelayaran itu pula mereka dapat berhubungan dengan pedagang dari negeri-negeri di ketiga Benua Bagian Asia. Hal ini memungkinkan terbentuklah untuk terjadinya hubungan timbal balik, sehingga perkampungan masyarakat Muslim. Pertumbuhan

perkampungan ini tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi membentuk struktur pemerintahan dengan mengangkat Meurah Silu, kepala suku Gampung Samudra menjadi Sultan Malik as-Sholeh. Tersebarnya Islam ke Indonesia dapat dibagi kedalam beberapa saluran, yaitu:

1) Perdagangan, yang mempergunakan sarana pelayaran.
2) Dakwah, yang dilakukan oleh mubalig (sufi pengembara) yang berdatangan

bersama para pedagang .
3) Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang Muslim, mubalig dengan

anak bangsawan Indonesia. Dengan perkawinan itu, secara tidak langsung orang Muslim tersebut status sosialnya dipertinggi dengan sifat kharisma kebangsawanan. Apalagi jika pedagang Muslim menikah dengan putri raja, maka keturunannya akan menjadi pejabat birokrasi, putra mahkota kerajaan dan sebagainya. 4) Pendidikan, setelah kedudukan para pedagang mantap, mereka menguasai kekuatan ekonomi di bandar-bandar seperti Gresik. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam. Misalnya, pusat-pusat pendidikan dan dakwah Islam di kerajaan Samudra Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang didatangi pelajar-pelajar dan mengirimi mubalig lokal, diantaranya mengirim Maulana Malik Ibrahim ke Jawa.
5)

Tasafuf dan tarekat. Datangnya para pedagang bersamaan denga para ulama, da’I, dan sufi pengembara mengakibatkan pengangkatan para ulama atau sufi menjadi penasehat dan pejabat agama di kerajaan. Misalnya, di Aceh, ada Syaikh Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin arRaniri, Abd. Rauf Singkel.

Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para sufi melalui dua cara, yaitu:
1) Dengan membentuk kader mubalig, agar mampu mengajarkan serta

menyebarkan agama Islam di daerah asalnya. Dengan demikian, Abd. Rauf mempunyai murid yang kemudian menyebarkan Islam ditempat asalnya, diantaranya Syaikh Burhanuddin Ulakan, kemudian Syaikh Abd. Muhyi Pamijahan di Jawa Barat, dan sebagainya.
2) Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca diberbagai tempat. Pada

abad ke-17, Aceh adalah pusat perkembangan karya-karya keagamaan yang ditulis para ulama dan para sufi.
3) Kesenian. Saluran yang banyak dipakai untuk penyebaran Islam terutama di

Jawa adalah seni. Wali Songo, terutama Sunan Kali Jaga, mempergunakan

banyak cabang seni untuk Islamisasi, seni arsitektur, gamelan, wayang, nyanyian, dan seni busana. Secara kasar, penyebaran Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu: 1) Dimulai dengan kedatangan Islam, yang diikuti oleh kemorosostan kemudian keruntuhan Majapahit pada abad ke-14 sampai ke-15.
2) Sejak datang dan mapannya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia

sampai abad ke-19.
3) Bermula

pada

awal

abad

ke-20

dengan

terjadinya

“liberalisasi”

kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda. Pada tahap pertama, penyebaran Islam masih relatif di kota pelabuhan. Namun, tidak lama kemudian Islam mulai memasuki wilayah pesisir lainnya dan pedesaan. Pada tahap ini pedagang, ulama-ulama guru tarekat (wali di Jawa) dengan murid-murid mereka memegang peranan penting. Mereka memperoleh patronase dari penguasa lokal dan dalam banyak kasus penguasa lokal juga ikut berperan dalam penyebaran Islam. Islamisasi tahap ini sangat diwarnai aspek tasafuf, meskipun aspek hukum (syariah) juga tidak diabaikan, hal ini disebabkan Islam tasafuf dengan segala penafsiran mistiknya terhadap Islam dalam beberapa segi tertentu cocok dengan latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi asketisme Hindu-Budha dan sinkritisme kepercayaan lokal.5 Pada mulanya Islam mendapatkan kubu-kubu terkuatnya di kota-kota pelabuhan sekaligus jadi ibu kota kerajaan, seperti Samudra Pasai, Malaka, dan kota-kota pelabuhan pesisir Jawa. Proses Islamisasi Nusantara berawal dari kotakota. Di perkotaan itu sendiri Islam adalah fenomena istana. Istana kerajaan menjadi pusat pengembangan intelektual Islam atas perlindungan resmi penguasa yang disusul kemunculan tokoh-tokoh ulama seperti, Hamzah Fansuri, Samsuddin Sumatrani, Naruddin al-Raniri, Abd Rauf Singkel dikerajaan Aceh dan Wali Songo di kerajaan Demak. Tokoh-tokoh ini mempunyai jaringan keilmuan yang luas, baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga menjadikan Islam Indonesia bersifat Internasional.

5

Sunanto, Op.cit hlm. 13

Kota pelabuhan yang juga menjadi istana kerajaan yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam didatangi muridmurid yang nantinya akan menjadi da’i yang menyebarkan Islam lebih lanjut ke daerah-daerah lain. Kota pelabuhan juga menjadi pusat penggemblengan kaderkader politik, dan kelak menjadi raja-raja Islam pertama di kerajaan-kerajaan baru. Tahap kedua, penyebaran Islam terjadi ketika VOC semakin mantap menjadi penguasa di Indonesia. Pada abad ke-17 VOC baru merupakan salah satu kekuatan yang ikut bersaing dalam kompetisi dagang dan politik di kerajaan Islam Nusantara. Akan tetapi pada abad ke-18 VOC berhasil tampil sebagai pemegang hegemoni politik di Jawa dengan terjadinya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang memecah Mataram menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Perjanjian tersebut menjadikan raja-raja Jawa tidak mempunyai wibawa karena kekuasaan politik telah jatuh ke tangan penjajah, sehingga raja menjadi sangat tergantung kepada VOC. Campur tangan VOC terhadap keraton makin luas termasuk masalah keagamaan. Peranan ulama di keraton menjadi terpinggirkan. Oleh karena itu, ulama keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan sambil memobilisasi petani membentuk pesantren dan melawan kolonial, seperti kasus Syaikh Yusuf alMakassari.6 Tahap ketiga, terjadi pada awal abad ke-20, ketika terjadi liberalisasi kebijaksanaan pemerintah Belanda mengalami defisit yang tinggi akibat menanggulangi tiga perang besar, seperti perang Diponegoro, perang Paderi dan perang Aceh, Belanda mengangkat Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memperkenalkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) yang mengharuskan petani membayar pajak dalam bentuk hasil pertanian yang dipaksakan. Dari situ, rakyat mulai mengenal berbagai tanaman untuk perdagangan internasional, sehingga terjadi revolusi ekonomi di Jawa.7 Pada tahun 1870 terjadi sistem ekonomi liberal, dimana kekuasaan elit lokal merosot hanya sebagai mandor penanaman. Untuk keperluan ekonomi liberal prasarana fisik dibangun, perkebunan diperbesar, irigasi, transportasi kereta api di Jawa dan Sumatera, pengangkutan laut, pelabuhan-pelabuhan baru dibangun di Tanjung Priuk pada tahun 1893.

6 7

Sunanto, Op.cit, hlm. 14 Ibid, hlm. 15

Namun pada tahun 1963 M di kota Medan, dalam sebuah seminar yang membicarakan tentang masuknya Islam ke Indonesia, menghasilkan hal-hal sebagai berikut: 1) Pertama kali Islam masuk Ke Indonesia pada abad 1 H/7M, yang langsung datang dari negeri Arab. 2) Daerah pertama yang dimasuki Islam adalah daerah pesisir Sumatera Utara. Setelah itu masyarakat Islam membentuk kerajaan Islam pertama, yaitu Kerajaan Aceh.
3) Para da’i Islam yang pertama, mayoritas para pedagang. Pada saat itu dakwah

disebarkan dengan damai.8

8

Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, ( Jakarta: Akbar, 2004), hlm. 336

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari penjelasan diatas tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kami menyimpulkan bahwa:
1. Sebelum Islam datang ke Indonesia, sebenarnya kepulauan nusantara sudah

memiliki peradaban tersendiri, yaitu peradaban yang bersumber dari kebudayaan asli pengaruh peradaban Hindu-Budha dari India. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebenarnya, Islam bukanlah peradaban pertama yang mendiami kepulauan nusantara.
2. Sejarah masuknya Islam ke Indonesia berlangsung dengan cepat dan pesat serta

mudah diterima oleh masyarakat Indonesia, walaupun masuknya Islam ke Indonesia berlangsung dalam beberapa bagian tahap atau babak. Cepat dan pesatnya masuknya Islam ke Indonesia dibuktikan dengan cara penyebarannya oleh para pedagang, da’i dan ulama, terutama dengan ajaran dan gaya hidup yang lebih maju dari peradaban yang ada.
3. Dari beberapa sumber yang diperoleh, maka dapat dicatat adanya perbedaan

dalam menentukan kapan masuknya agama Islam di Indonesia. Sumber-sumber yang dimaksud menetapkan bahwa masuknya Islam ke Indonesia adalah pada abad ke-7, abad ke-11, dan abad ke-13.
4. Agama Islam terus mengalami perkembangan di Indonesia, walaupun tidak

sedikit tantangan yang datang dari koloniallisme Belanda dan juga para penjajah dari bangsa lain. Perlawanan ini terutama ditunjukkan oleh kerajan-kerajaan Islam, maupun organisasi-organisasi kedaerahan dan juga took-tokoh Islam. Perkembangan selanjutnya pasca kolonialisme diwarnai dalam kekuatan politik Islam dengan dakwah Islam nasional dan didukung internasional yang menyentuh semua lapisan masyarakat hingga kini Indonesia menjadi Negara Muslim terbesar di Dunia. B. Saran  Alhamdulillah segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmatnya dan hidayahnya yang telah memberikan kesempatan untuk saya

hingga saya bisa menulis makalah ini, dan dengan kekurangan – kekurangan yang ada pada penulisan maka dari itu saya mengharap saran dan kritik untuk menuju kepada yang lebih baik.
 Penulis mohon kepada para pembaca agar lebih banyak belajar sejarah islam

supaya lebih menyatu dan kuat dalam beragama danh memahami tentang para pejuang islam. Ungkapan terimakasih kepada Dosen Pengampu sehingga kami dapat menyelesaikan tulisan ini. Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi apa yang kita kerjakan. Amin

KEPUSTAKAAN

Abdullah Taufik 1973 Islam di Indonesia , Jakarta, Tinta Mas Indonesia Sunanto Musyrifah 2005 Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta, Rajagarafindo Persada www.sejarah Islam Nusantara.com ww. masuknya Islam ke Indonesia.com www.google.search.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->