A.

Persiapan Sarana dan Sarana Menerut Agus 2003 Sarana dan fasilitas penunjang untuk usaha pembenihan udang skala kecil tidak jauh berbeda dengan hatchery skala basar.Beberapa sarana dan fasilitas yang secaraprinsip diperlukan untuk usaha pembenihan udang kapasitas produksi lima juta per ekor benur adalah sebagai berikut a. Bangunana hatchery Bangubnan hatchery terdiri ruang sebagai berikut : 1. Ruang untuk menempatkan bak- bak perkawinana induk udang vanamei berupa bangunan berukuran 12 mx14 m.bangunan ini beratap, tetapi tidak berdinding 2. Ruang untuk memelihara larva samapai PL udang, berupa bangunan berukuran 14.mx13m 3. Ruangkultur plankton untuk budidaya pengembengbiakan planktonsebagai makanan alami larva udang vannamei, berupa bangunan berukururan 7mx7m. bangunana ini dibuat dengan atap plastic bergelombang dab tidak berdinding 4. Ruang generator, merupakan bangunan untuk menempatkan generator untuk peneranagn maupun untuk operasioanal usaha pemebenihan udang vannamei ( Agus, 2003)

b. Bangunan kantor atau mess kantor digunakan untk melaksananakann program, perancanagn maupun kegiatan yang berkaitan dengan usaha pembenihan. Bangunan kantor dapat tdibuat berukuran 6mx7m. Sementara , mess untuk karyawan dibuat berukuran 6mx8 m. Pagar keliling dibuat untuk keperluan keamanan meupun untuk menghindari binatang yang berkeliaran di sekitar temapat pembenihan udang vannamei( Agus, 2003) c. perlengkapan bak Ada beberapa jenis bak yang perlu disiapkan, yaitu sebagai berikut.

1. Bak penampungan induk udang vannamei, yaitu bak untuk menempatkan induk yang
2. 3. 4. 5. 6. 7. dikawinkankan. Bak dapat dibuat dari batu merah, berukuran 4 m xc 2mx 1,5 m ( volume air 12 m3), dan berjumlah 1 buah bak perkawinan induk udang vannamei, untuk mengawinkan indduk udang jumlah yang dibutuhkan duabuah. Bak dapat dibuat dari batu merah. Berukuran 8mx5mx1,5 atau untuk volume air 60 m3 bak penetasan telur udang vannamei, untuk menetaskan telur hasil perkawinana induk udang . jumlah yang dibuthkan dua buah. Bak dapat dibuat dari batu merah, berkuran 2mx1x1 atau untuk volume air 2 m3 Bak larva udang vannamei. Jumlah yang dibutuhkan sepuluh buah. Bak dapat dibuatdari batu merah berukuran 4 mx1mx1,5 m tau untuk volume air 6 m3 bak penetasan artemia, untuk menetaskan telur artemia sebagai makan larva udang. Jumlah yang dibutuhkanempat buah. Bak berapasitas 0,5 m3, sebaiknay dibuat dari fibreglass bak recervoir, merupakan bak penampungan air laut untuk media pembenihan udang vannamei. Jumalh yang dibutuhkan satu buah. Recervoir dibuat dari beton bertulang, berukuranx5m 2 mx2 mx atau kapasitas volume 20 m3 Bak air tawar, meruakan bak penampungan air tawar untuk keperlukan membuat air payau, jumlah yang dibutuhkan satu buah. Bak air tawar dapat dibuat dari batu merah, berukuran 2 mx1mx1,5 atau kapasitas volume 3 m3 1. Peralatan hatchery

Peralatan yang harus ada dalam hatchery adalah sebagi berikut ;

Dalam pembenihan udang vannamei dibutuhkan 2 jenis air.untuk menganalisis air sehingga keadaad o2. Pompa iar laut berkapasitas200 liter menit ( 2 unit). Pengadaan air laut dapat diusahakan dengan menyedot air laut dengan menggunakan pompa dan pipa paralon (PVC) yang dipasanghorisontal. Selain peralatan tersebut. co2.2003) 1. kertas lakmus secukupnya dan pemanas ( 5 buah) 5. ujung pipa paralon hendaknya dilengkapi dengan saringan untuk menyaring kotoran. Pengadaan air laut langsung dari laut melalui pipa yang akandipasang di atas dasar laut 3. (Agus. dan 4 buah parang.nh3 dan NO 2 dalam media larva dapat dikontrol. Membuat air payau 1.Pengadaan air laut melalui pipa yang ditanam dalam bak filter di dasar laut 2. khussnya jika terjadi gangguan listrik PLN 2. yakni air laut dan air tawr. air dialirkan ke bak penyaringan. lapisan . pengadaan air laut melalui pipa yang ditanam di pantai 4. meskipun unit pembenihan tersebut mempergunakan sumber air tawar dari PAM 3. untuk mngatur aerasi. Bak penyaringan pertama dibagi menjadi tiga bagian. diperukan jarak pengambilan air dari garis pantai paling tidak 300 m. Ruang bagan kedua dilengkapii dengan saringan yang tersusun dari atas ke bawah: hampa busa. pembuatn air payau. generator 10-15 KVA ( 2 unit) lengkap dengan instalasinya. Peralatan analisis air. Menaikan air laut langsung dari laut ke reservoir dan 6. Air laut dari pipa saluran utama akan mendapatkan perlakukan pembersihan. kebutuhan lapangan 1 buah pemotong rumput. juga untuk menambah oksigen ke dalam media serta menekan terjadinya kanibalisme2. meskipun unit penbenihan tersebut memeprgunakan summer listrik PLN. Blowr berkapasitas 1 m 3/unit (1 unit). 1 set meja kursi kantor lengkap. mengambil air laut langsun dari laut ke unit pembenihan udang vannaei 5.2003) Ada beberpa alternative untuk memperoleh air laut yang bersih untuk keperluan pembenihan udang windu 1. Hal tersebut sangat penting untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan. air dalam pipa saluran pertama ditampung dalam bak penampungan selama semalam 2. 1 buah kalkulator. Tabung oksigenlengkap( 1unit). penampunganan benur. batu aerasi dan selang plastic. Persiapan Air media Faktor yang sangat menentukan dalam rangka pembenihan udang vannamei adalah system pengelolaan air. Blower diperlukan pada pemeliharaanlarva. Dari bak penampungna . lapisan pasir yang sudah bersih. Pompa airv twar3-4 HP ( 1 unit. Agar kebersihan laut yang akan disedot terjamin. Peralatan kantor dan lapangan. Pengadaan air laut melalui sumur yang dibuat di pantai Air laut yang kan digunakan untuk pembenihan udang vannamei harus jernih dan higienis. juga diperlukan refaktometer ( 2 buah) salinometer ( 1 buah) thermometer (2buah).( agus. Kebersihan air yang akan menetukan keberhasilan pembenihan udan. untuk mendistribusikan udara ke dalam media sehingga tekanan arus merata 4. untuk menambah oksigen ke dalam kantong berisi benur yang akan diangkut ke lokasi pemesana 3. Fungsi utama aerasi dalam bak larva selain untuk menyebar makanan. Bagian pertama tidak diberi perlakuan. 4 buah cangkul.1. dan pemeliharaan makanan alami larva dan benir. Pompa ini digunanakn unutk : 4. Peralatan ini sangat dibutuhka. Peralatan ini sangat dibutuhkan. Disamping itu. Adapun tahapan perlakuan tersebut adalah sebagai berikut : 1. untuk masuk ke bagian kedua melewati pipa penghubung bagian atas. serta kebutuhan tranportasi 1 buah mobil pck up dan 1 buah sepeda motor. meliputi kebutuhan administrasi (1buah mesin ketik.

air tawar selain berguna untuk keperluan pencician peralatan. air laut dari ruang bagian kedua masuk ke ruang bagianketiga. Persian Penerimaan Induk Yang perlu disapkan dalam penerimaan induk adalah : 1. Perlakuan ini bertujuan untuk menghilangakan organisme yang tidak terinfeksi yang mungkin masih lolos melalui saringan. Meningkatkan atau memeprthankan kandungan oksigen terlarut\ 2. ( agus. HHA). Pengelolaan induk Beberap hal yang perlu dibahas tentang pengadaan induk udang windu adalah sebagai berikut : 1. seperti salinitas air. pemberian aerasi. Mempertahankan larvaudang dan makan tetap tersuspensi dan 3.2003) Untuk menjaga kualitas air pada pembenihan udang. derajat keasaman ( pH) . 4. serta pembersihan kotoran dengan peyiponan.arang steril. Birulaut Khatulistiwa ( Hawaii. Untuk menghindari stress terhadap induk yang dikirim tersebut digunkan injeksi o2 dan penerunan suhu air packing sehingga saat di terima kondis media kantungh dalam keadan berbeda dengan kondisi di lingkungan normal PT Birulaut Khatulistiwa karena iu disiapkan bak penerimaan ( receiving) dengan kondisi yang sesuai dengan median kantung induk ( Aninomus. Dalam memenuhi kebutuhan induk L. 3. vannamei. Pengadaan air tawar umumnya dilakukan dengan menggnkan air dari sumur bor ( artesis). perlu juga diterapkan system aerasi. lapisan ijuk. Ruang tersebut juga diberilapisan penyaring sehingga air mengalami pencucian balik. Bak Penerimaan ( receiving ) sudah dibilas Sipakan instalasi untuk injeksi oksigen di katung induk Es balok 8-10 balok per bak untk peneurunkan suhu Thermometer untuk mengukur siuhu air kanting dan bak ( Anonimus. pemberian makannan yang tidak berlebuihan. dan senyawa beracun yang meliputi belerang dan ammonia. Mengoksidasi gas-gas beracun 1. air harus selalu diganti dengan system pengakiran. Pada bagian sudut bak penyaring kedua diberi saringanseperti pada bak penyaring pertama 4. 2. Ujung pipa dihubungkan dengan slang plastic kecil yang pada ujungnya diberi pemecah gelombang agar lebih efektif. Kualitas air dapat diketahui secra parametik dengan melakukan pemeriksaan. 2002) 1. Melalui pipa penghubung bagian bawah. Proses penerimaaan Induk ( Aklimatisasi) Induk udang yang berkualiatas sangat menentukan dalam keberhasilan memproduksi nauplii. bentang jarring atas kasa.. System aerasi akan lebih efektif jika menggunakan blower yang berfungsi sebagai erator. Merangsang Kematang Ginad induk Udang . Dari bak penyaringan pertama. Tahap terakhirdari perlakuan air laut yang akan digunakan untuk pembenihan udang vannamei adalah desinfeksi dengan menggunakan sinar ultraviolet ( UV). Untuk memeprtahankan agar kualiatas air tetap baik. Aerasi diberikan terus-menerus dan alirkan melalui pipa paralon(PVC). juga untuk mengatur salinitas air bagi keperluan pembenihan. temperature. 3. kandungan oksigen terlarut. 2002 ) 1. Manfaat aerasi adadalah sebagi berikut : 1. air laut masuk ke bak penyaringankedua. dan lapisan pecahan batu. aerasi. PT Birulaut Khatulistiwa mendatangkan induk yang lokasinya jauh dari PT.

2. dkk. Setelah telur menetas. 2003) Sebelu dilaksanakan ablasi. Setelah nauplii diketahui jumlahnya dan pencuciannya cukup. paa hari berkutnya( jam03. Pemijatan tangkai bola matan dan bola mata Pembakaran tangkai mata dengan menggunkan solder atau dengan benda perak nitrat Peningikatan tangkai mata Pemotongan atau pengguntingan tangkai mata Dari keempat cara tersebut.2003) Makanan berkualiats rendah juga daoat menggalkan pross pematangan gonad. naupli tersebut dipndahkan kedalam tank hatching ( kaki tiga) dengan volume 1 ton. Pemijahan Pemejahan terjadi di dalam bak maturasi yang padat penebaran untuk menghasilakan hasil yang terbaik berkisar antaa 1-3 ekor per m2 dengan perbandingan jumlah induk jantan dan betina adalah 1:2 ( Agustin.2002) F. naupli siap di packing unutk ditransfer ke hatchery. ( Agus. Di dalam tank hatching 1 ton ini naupli di cuci dengan air yang mengalir ( running water) selama 1 jam. Larutan formalin sangat bermanfaat untuk menghindarkan induk dari kemungkinan seranagn penyakit. Jika tangkai mata kepiting dihilangkan. Tank hatching yang digunkan adalah tank kaki tiga volume 500 liete. seperti daging kerang. Penetasan Telur Telur yang sudah disypon dari tank spawning kemudian dipindahkan ke tank hatching untuk ditetaskan. ( Agus. 3. cara yangpalingpraktis dan efektif serta meninjukan hasil yang baik adalah dengan melakukan pemotongan tangkaimata ( ablasi). Setelah tiga hari dari proses ablisi pertama dapat dilakukan sampling induk yang matang telur dan untuk selanjutnya dapat dilakuakn setiap hari. sebaiknya udang ditempatkan dalam bak berisi airlaut yang bersih dicampur larutan formalin 70 % dengan dosisi 4 ppm. Panen nupli dilakukan pada pagi ke-esokan harinya ( jam 07. selain memeprtinggi daya tahan tubuh induk udang . Pemeliharaan Larva a. bahkan pada TKG ini ovari meluas sampai ke bagian kepala. Telur dibiarkn dalam tank hatching deng diberi aerasi sedang sampai menetas. 1999) Ruang meturasi diusahakan gelap dengan suhu ruang berkisar antara 29o c-32oc. dkk.5 ppm. ( Aghus. tau kombinasi asi makanan segar dan buatan diketahui lebih efektif jika dibandingakn dengan makanan satu jenis. 4. Ablasi pada induk udang berpedoman pada perkembangan kelamin kepiting yangdihambat oleh hormin yang dikeluarkan oleh kelenjar pada tangaki mata.Merangsang kematangan telur pada induk udang betina agar cepa memijah dapat dilakukan dengan beberapa cara. Jumlah naupli diketahui dengan menghitungnya di dalamtank hatching 1ton . Kegiatan ini biasanya dilakukan ketinggian air dalam bak sebanyak 50 %. ikan segar. selain menurunkan vitalitas larva hasil penetasan. Dengan menggunkan seser. baik untuk induk udang hasil tangkapan laut maupun induk udang yang dibesarkan dalam tambakk. yang ditanddasi dengan ovari didaerah punggung dan akan terlihar jelas bila disorot dengan senter halogen. Seleksi dilakukan pada induk yang telah mencapa TKG III.00).( Aninomus. hormone yang mengahmbat perkembangan alat kelamin tidak diproduksi sehingga kepiting sangggup mematangkan telur dan memijah. 1999 ) 1.2003) 1. Bebrapa cara yang dapat dilakukan adalah sebagai berkut : 1. Pengelolaan Pakan alami Budi daya plankton merupakan salah satu cara memenuhi kebutuhan makanan alami .00) aerasi dikecilkan. udang jambret. (Agustin. Makanan yang cocok bagi induk udang untuk mendukung proses prodi=uksi adalah amakan segar dan bervariasi. Setiap tank berisi telur dari 3-4 ekor induk.

bak yang akan digunakan untuk budi daya harus bersih dan steril air laut yang digunakan harus bebas dari mikroorganisme lain temapat untuk budi daya massal terlindung darui curah hujan Pupuk yang dibunakan mudah diperoleh dan relatif murah harganya Bak yang digunakan untuk budi daya plankton berskala besar dapat terbuat dari fiberglass atau batu merah.2 Morfologi Udang Putih (Litopenaeus vannamei) . yang potensial adalah sekeltonema costatum. dan spirulina 2. 2003) 1.2003) Ada dua jenis plankton atau organisme renik yang digunakan sebagai makanna alami larva udang vannamei 1. Pengendalian Hama & Penyakit c. Pengelolaan Kualitas & Kuantitas air Litopennaus vannamei termasuk salah satu jenis Crustacean. yang potensial adalah nauplius artemia.(Agus. dan dikeringkan sampai bau klorin hilang. Chaetoceros calcitrans. Kultur Chaetocheros sp. dinetralisir dengan natrium tiosulfat 40 ppm. 4. Budidayy n alami bagi larva udang vannamei. Plankton hewani atau zooplankton. Sebelum digunakan. tetraslmis chuii. bak harus dicuci dengan detergen dan dibilas dengan air yag dicampur klorin 150 ppm. Adapun klasifiklasinya sebagai berikut : Phylum Class Ordo Famili Genus Spesies : Arthropoda : Crustacean : Decapoda : Penaidae : Litopenaeus : Litopenaeus vannamei 2.larva udang vannamei. Budi daya plankton bervolume besar akan megurangi biaya produksi jika dibandingkan dengan mengambil plankton dari laut. Selanjutnya.50 ppm. Plankton nabati atau phytoplankton. Cyclotella sp. 3. dicuci dengan air tawar bersih. 2. dan Thalasiosira sp serta Skeletonema sp b. Budi daya plankton untuk menghasilkan sejumlah besar lankton yang berkualitas prima memerlukan persian sebagai berikut 1. ( Agus.

Adultlescent (udang muda) Proporsi ukuran tubuh mulai stabil dan mulai tumbuh alat kelamin berupa Petasma untuk udang jantan dan Thelicum pada udang betina. Fase Larva Terdiri dari stadia nauplii. e. 6. meruncing disebut rostrum. Pada bagian abdomen terdapat pleopoda (kaki renang) sebanyak 5 pasang dan pada ruas keenam terdapat ekor (Uropoda) yang bagian ujunganya terdapat telson.3 Siklus hidup Udang Putih (Litopenaeus vannamei) Menurut Sastradiharja Singgih ( 2003 : 12 ) terbagi menjadi 6 fase yaitu : a. Fase Embrio Dimulai pada tahap saat pembuahan sampai penetasan b. d. Periopoda (kaki jalan) sebanyak 5 pasang yang pada kaki 1. Mysis. Bagian depan kerapas memanjang. dan 3 terdapat capit pada bagian ujungnya yang disebut chella. dan Postlarva. Juvenil Ditandai tanda dengan fluktuasi perbandingan ukuran tubuh yang mulai stabil. Perkembangan telur dimulai dari beberapa stadia pembelahan. 2003 : 12 ) 2. Pada chepalotorax terdapat antenula (sungut kecil) scophocerit (sirip kepal) antenna (sungut besar) mandibula (rahang) dan maxilla yang dilengkapi dengan maxsiliped. akhir fase ini ditandai dengan warna tubuh yang transparan. serta 6 ruas pada abdomen dengan ekor pada bagian belakanganya. Stadia pembelahan 1 sel ( Fertillized Egg ) Stadia pembelahan 2 sel ( Two-Cell Egg ) Stadia pembelahan 4 sel ( Four-Cell Egg ) Stadia pembelahan 8 sel ( Eight-Cell Egg ) Stadia pembelahan 16 sel ( Sixteen-Cell Egg ) Stadia Morula ( Morula Stage ) Stadia Blastula (Blastula Stage ) . Secara morfologis tubuh terdiri dari 2 bagian yaitu kepala. dimana pembelahannya dibagi beberapa tahap : 1. Chepalotorax terdiri dari 13 ruas yaitu 5 ruas pada kepala dan 8 ruas pada dada.Adult ( Dewasa ) Ditandai dengan kematangan gonad yang sempurna 2. 2. Sub Adult (menjelang dewasa ) Ditandai dengan pematangan kelamin yaitu adanya spermatozoa pada ampula terminalis pada udang jantan dan spermatozoa dalam thelicum udang betina. 2. ( Sastradiharja Singgih. 5. Setiap ruas memiliki anggota badan yang beruas – ruas.Seluruh bagian tubuh udang Vannamei tertutup kerangka luar yang terbuat dari chitin yang disebut eksoskeleton. f.4 Stadia Perkembangan Telur Udang Putih (Litopenaeus vannamei) Telur adalah calon benih yang dihasilkan akibat pertemuan antara sel kelamin jantan udang dengan sel kelamin betina sehingga menghasilkan embrio. 3. Zoea. Chepalotorax tertutup oleh kelopak kepala yang disebut carapacae. 4. c. 7. dada (Chepalotorax) dan perut atau abdomen.

3. banyak negara tertarik dengan spesies ini yang menurut informasi memiliki kualitas hampir sama dengan Penaeus monodon khususnya dari tingkat SR (Survival Rate).29 mm Jika diamati di bawah mikroskop akan berwarna hitam namun tidak merata 2. Kalianda. Pelaksanaan Magang Waktu dan Tempat Kegiatan magang dilaksanakan selama satu bulan.Rendam dan cairkan cumi yang masih beku dengan air laut yang mengalir sampai bersih . Pemberian Pakan Cacing . Embryonic Nauplius (Before Hatching) 12. Lampung Selatan.31 mm dan diameter rata-rata 0. ciri-ciri telur udang Vannamei sbb: 1. Berbentuk bulat Berwarna transparan Mempunyai diameter antara 0. Kegiatan dalam pelaksanaan produksi yang diikuti selama melaksanakan magang di CNPD-1. mulai tanggal 1 April s/d 30 April 2006 bertempat di CNPD-1 PT BIRULAUT KHATULISTIWA. meliputi : 3.1 Produksi Kegiatan produksi yang diikuti selama melaksanakan kegiatan magang di CNPD-1. HASIL MAGANG 1. Nauplii Menurut Suyanto Rachmatun (1999:15). Embryonic Stage 11.Cacing yang diberikan berupa cacing laut Cacing laut (Nereis virens) . 4. Cyclotella sp. Brian Hunter mengatakan bahwa beberapa negara sudah mulai membudidayakan udang dari jenis Vannamei.5 Distribusi (Penyebaran) Dr. 2000: 2). yaitu: 3. sbb : a. vannamei di masa yang datang mampu menandingi kualitas udang vannamei yang selama ini menjadi idola bagi pangsa pasar di dunia budidaya udang (Shrimp Aquaculture. Stadia Antogeni (Organogeni Stage) 10. A. Chaetocheros sp. 2.1 Pemberian Pakan Prosedur yang dilakukan dalam pemberian pakan. 1. Stadia Grastula (Grastula Stage ) 9.Timbang cumi tersebut sesuai dengan dosis yang akan diberikan per bak per jam pakan b. Merak Belantung. 10. Informasi di atas dapat diketahui bahwa minat dari para Budidayawan terhadap spesies ini sangat tinggi sehingga menutup kemungkinan udang L.1. Pemberian Pakan Cumi .8.27-0.2. 11.1. 9. 12. dan Thalasiosira sp serta Skeletonema sp III.

Seser induk yang telah matang telur dengan ditandai pada bagaian ovari yang berwarna orange atau merah dan tampak seperti bulan sabit 4.1. Angkat induk yang mati dari bak dengan menggunakan seser induk dan letakan di bibir bak pemeliharaan induk 3.3 Pembersihan Sisa Pakan (Sypon) Prosedur membersihkan sisa pakan (sypon).1.2. Hidupkan setiap lampu penerangan di bak maturasi dan matikan flow trough serta aerasi 3. Arah air flow trough berlawanan dengan arah jarum jam ( arah ke kiri ) 4. Lakukan pendataan waktu mati. sbb: 1. 4. jenis kelamin dan jumlah induk yang mati serta lakukan pencatatan pada data harian kematian induk dan serahkan induk yang mati ke bagian gudang untuk disimpan di Freezer 3. sbb : . Tank hatching volume 1.Timbang kebutuhan pakan cacing sesuai dengan dosis yang telah ditentukan .5 Pengaturan Air Prosedur yang dilakukan dalam pengaturan air. sbb : 1.5 “ dan hubungkan dengan pipa PVC Ø 4 “ yang dipasang pada saluran pembuangan di bak maturasi 2. Lakukan penyiponan dasar bak dari sisa pakan dan feses induk secara perlahan agar kotoran tidak berhamburan yang dapat menimbulkan air akan keruh 3. Lakukan pengecekan induk yang mati pada setiap bak 2. sbb : setiap bak yang akan diseleksi 1. Masukkan induk hasil seleksi ke dalam bak induk jantan yang letaknya tidak berjauhan dari bak betina dan hitung serta lakukan pendataan terhadap jumlah induk hasil seleksi 3.2.2 Pendataan dan Pengangakatan Induk Mati Prosedur yang dilakukan dalam pendataan dan pengangkatan induk mati.2. Pipa air untuk flow trough posisi terendam dalam bak maturasi agar tidak menimbulkan percikan yang dapat mengganggu induk matting 3.Pakan cacing diberikan dengan cara disebar merata pada bak pemeliharaan induk dengan menggunakan takaran berupa beaker glass sesuai dengan dosis 3. Siapkan seser induk.6 Pengaturan Aerasi Prosedur yang dilakukan dalam pengaturan aerasi. Flow trough induk vanamei sebanyak 250 % 2..Cuci cacing dengan air laut sampai bersih sebelum diberikan ke induk . Kecilkan aerasi dan air untuk sirkulasi untuk memudahkan dalam penglihatan 3.1.2 ton 3.2. Lakukan identifikasi terhadap induk yang mati terutama jenis kelaminnya 4. sbb : 1.1. Siapkan selang spiral/selang benang Ø 1. Bak maturasi volume 10 ton dengan ketinggiaan air 40 cm 5. whiteboard dan spidol sebagai alat pendataan hasil seleksi induk 2.2.1.4 Seleksi Induk Matang Telur Prosedur yang dilakukan dalam seleksi induk matang telur.

10 Penanganan Nauplii di Tank hatching Prosedur kerja yang dilakukan dalam penanganan nauplii di tank hatching. 3.2. hidupkan kembali aerasi dan flow trough 3.02 ppm per tank untuk mencegah timbulnya jamur pada nauplii 3.11 Panen Nauplii Prosedur kerja yang dilakukan dalam panen nauplii.2. sbb : .7 Seleksi Induk Matting Prosedur yang dilakukan dalam seleksi induk matting. Tank hatching yang telah berisi air laut sebanyak 1. sbb : 1. Aerasi di tank hatching diatur dengan tekanan kecil saat induk akan spent dimana terdapat 6 titik aerasi 4.2 ton dipasang 2 buah pengaduk yang diletakkan pada salah satu ujung kanan dan kiri dan aerasi sebanyak 4 titik dengan tekanan udara yang sedang 2. Cek posisi pangaduk dan aerasi 3. Aerasi di bak maturasi diatur dengan tekanan sedang dimana terdapat 12 titik aerasi setiap bak 2. Pengembalian induk yang telah spent dilakukan pada pukul 04. tetapi jika sebaliknya kembalikan induk betina tersebut ke bak asal 4. Seleksi dengan cara menyeser induk yang sudah matting secara perlahan-lahan dengan menggunakan seser induk 2.1. sbb : 1.9 Penanganan Telur di Tank hatching Prosedur yang dilakukan dalam penanganan telur di tank hatching . Induk yang telah matting diletakkan di tank hatching.1. 4.8 Pengembalian Induk setelah Spent Prosedur yang dilakukan dalam pengembalian induk setelah spent. Pemberian nomor urut pada tank tersebut untuk mempermudah proses pemanenan . dimana sperma harus menempel tepat pada bagian thelicum (alat kelamin betina) 3. Aerasi untuk treatment di tank hatching diatur dengan tekanan besar agar bahan dapat teraduk merata 3.1. Pengambilan induk di tank hatching dilakukan satu persatu Tutup induk yang akan dikembalikan ke bak asal dengan menggunakan handuk basah Pengambilan induk tersebut diusahakan hati-hati Pasang pengaduk telur dan lakukan pengaturan tekanan aerasi dan frekwensi pengadukan telur 3.2.2. Lakukan pengamatan. Angkat pengaduk yang terpasang pada tank hatching 2. 1. sbb: 1. Lakukan pengaturan aerasi dengan tekanan udara yang sedang 3.00 WIB 2.1. 5. Selesai melakukan seleksi. Aerasi di tank hatching saat induk sudah spent diatur tekanan kecil agar telur tidak pecah 3.2.1.1. 3. Masukkan larutan treflan dengan dosis 0. 3. sbb : 1. 4.

sbb: yang akan digunakan. Amati sample tersebut dengan bantuan lampu duduk dan hitung jumlah telur yang terdapat di dalam petri disk tersebut dengan menggunakan Hand Tally Counter 5. kertas karbon. Siapkan peralatan yang diperlukan dalam pemanenan nauplii yaitu ember. Beri label pada kantong packing berupa nama hatchery dan nomor bak pada hatchery tersebut 3. 9.1. seser nauplii.2. terdiri dari : 1. karet gelang danO2 2. atasnya serta hidupkan lampu penerangan Biarkan beberapa saat sampai nauplii naik dan berkumpul di permukaan tank Ambil nauplii menggunakan seser nauplii secara perlahan-lahan pada bagian permukaan tank Kumpulkan hasil nauplii yang diseser dengan cara menggoyang-goyangkan seser di atas permukaan tank dan ambil menggunakan gayung Masukkan nauplii hasil panen tersebut ke dalam ember yang telah diisi dengan air laut dan dipasang satu buah aerasi Ulangi penyeseran nauplii beberapa kali (4 kali) sampai nauplii yang berada dalam tank hatching habis 8. gelas ukur 10 ml. Ikat kantong packing tersebut dengan karet gelang dan pastikan kantong tersebut telah terikat secara kuat 3. 2. 4. 5. kemudian berikan kaporit dosis 1000 ppm dan bilas dengan air laut Cuci tank hatcing tersebut dan keringkan beaker plastik dan gayung 3. Menghitung Telur Prosedur yang dilakukan dalam menghitung jumlah telur. kalkulator dan alat tulis. lap kain. cawan petri disk. sbb : 1. 2. Buang air dalam tank hatching yang telah dipanen.1. Tampung hasil pengambilan sample telur tersebut dalam beaker plastik ukuran 500 ml yang terlebih dahulu telah diberi kode nomor tank hatching 3. 4. lampu duduk. Menyiapkan alat dan bahan beaker plastik 500 ml dan 2000 ml. Hand Tally Counter.1. Masukkan nauplii hasil panen ke dalam kantong packing dengan jumlah nauplii yang telah ditentukan dan beri Oksigen secukupnya pada kantong packing yang telah berisi nauplii dengan cara menginjeksi O2 ke bagian yang tidak mengarah ke air dengan tekanan O2 yang diberikan tidak terlalu besar untuk mencegah agar nauplii tidak strees 4.2. 3. 6. Lakukan penghitungan jumlah telur dengan cara menuangkan sedikit demi sedikit air sample yang berisi telur kedalam petri disk.12 Packing Nauplii Prosedur yang dilakukan dalam packing nauplii. Siapkan peralatan packing seperti kantong packing. 7.2. 4. Angkat semua aerasi yang terdapat pada tank hatching dan buka orchid net yang berada di 3.1 Laboratorium Kegiatan yang dilakukan di laboratorium adalah sebagai berikut : a. 8.2 Support Produksi 3. Ulangi kegiatan tersebut hingga air sample dalam beaker plastik habis .

2 Logistik dan Pakan Kegiatan yang dilakukan di logistik dan pakan. sbb: 1.Siapkan es balok untuk penurunan suhu dan bak fiber .2. Amati sample tersebut dengan bantuan lampu duduk dan hitung jumlah nauplii yang terdapat di dalam petri disk tersebut dengan menggunakan hand tally counter Ulangi kegiatan tersebut hingga air sample dalam beaker plastik habis Hitung dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan dan catat hasil penghitungan di dalam buku data harian. 4. hand tally counter. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 3. Biarkan mengendap beberapa menit agar telur dapat mengumpul di dasar beaker plastik Buang sedikit air pada beaker plastik dan sisakan sedikit air di bagian dasar beaker yang banyak mengandung telur 5. sbb : 1. Hitung dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan dan catat hasil penghitungan di dalam buku data harian. sbb : 1. lap kain. 3. terdiri dari : beaker plastik 500 ml dan 2.2.Lakukan pembersihan kotoran dan pisahkan antara bagian kepala cumi dengan tubuhnya . 2000 ml. Penerimaan dan Penanganan Cumi . 7. cawan petri disk. 3. 4. Pengambilan sample sebanyak 5 titik pada tiap-tiap tank hatching menggunakan gelas ukur 10 ml dengan terlebih dahulu mengaduk air dalam tank hatching tersebut 3. lampu duduk.6. kertas karbon. Masukan sample tersebut ke dalam test tube Amati sample tersebut dengan bantuan miskroskop untuk mengetahui jumlah telur yang fertil Hitung dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan dan catat hasil penghitungan di dalam buku data harian. kalkulator dan alat tulis. kertas karbon. lampu duduk. b.Bilaslah dengan air laut kemudian cumi dapat disimpan dalam frezeer . 5. terdiri dari : beaker plastik 500 ml dan 2. gelas ukur 10 ml. cawan petri disk. lap kain.Masukan cumi yang diterima ke dalam fiber tersebut . 3. 6. 6. Penerimaan Pakan Segar Prosedur yang dilakukan dalam penerimaan pakan segar. Pengambilan sample sebanyak 4 titik pada tiap-tiap tank hatching menggunakan gelas ukur 45 ml . sbb: 1. c. hand tally counter. Menghitung Fertilitas Telur Prosedur yang dilakukan dalam menghitung fertilitas telur. gelas ukur 45 ml. Lakukan penghitungan jumlah telur dengan cara menuangkan sedikit demi sedikit air sample yang berisi telur kedalam petri disk. 5. Menghitung Nauplii Prosedur yang dilakukan dalam menghitung nauplii. kalkulator dan alat tulis. 2000 ml. 4.

00 11.3 Water Treatment Kegiatan yang dilakukan water tretment. yang terdiri dari 3 modul yaitu modul A. Jadwal dan Dosis Pemberian Pakan Jam 08.00 05.2. Air laut dalam bak reservoir selanjutnya didistribusikan ke bagian modul melalui proses treatment 4.Lakukan pembersihan cacing dari kotoran dengan air laut . Adapun data mengenai jadwal dan dosis pemberian pakan untuk induk di CNPD-1 adalah sebagai berikut : Tabel 1.Cacing yang diberikan dalam kondisi masih hidup 3.Cacing yang diterima ditimbang beratnya .1 Produksi Kegiatan produksi nauplii di CNPD-1 sepenuhnya dilaksanakan di bagian modul. Masukan arang batok dan pasir silica kedalam bak sand filter kemudian alirkan air laut dari pump house ke sand filter secara bertahap terdiri dari lapisan batu koral.1.1. Penerimaan dan Penanganan Cacing . pasir silica dan terakhir arang aktif (karbon aktif) 3.1 Pemberian Pakan Pemberian pakan untuk induk di CNPD-1 dilakukan sebanyak 5 kali dalam sehari sesuai dengan dosis dan jadwal pemberian pakan yang telah ditentukan. Pemberian pakan cumi berfungsi untuk meningkatkan kualitas sperma. Jenis pakan yang diberikan adalah cacing laut dan cumi yang dikelola dan disiapkan oleh bagian gudang.00 Jenis Pakan Cumi-cumi Cumi-cumi Cumi-cumi Cacing Cumi-cumi Keterangan Dicuci bersih Dicuci bersih Dicuci bersih Dicuci bersih Dicuci bersih Dosis 3% 3% 4% 13 % 3% Total26 % Dosis pemberian pakan untuk setiap harinya dihitung berdasarkan populasi dan berat rata-rata setiap induk (ABW) dalam setiap bak pemeliharan induk. modul B. modul C.2. sbb : 1. diantaranya sbb: 4. sedangkan pakan cacing berfungsi untuk mempercepat kematangan gonad pada induk betina. Rumus penghitungan dosis pakan untuk induk adalah sebagai berikut : . Hasil penyaringan kemudian ditampung di bak reservoir 4. Sanitasi bak dengan cara mencuci bak – bak sand filter dan reservoir 2. Adapun kegiatan dalam modul yang diikuti.00 14.00 20.

Ovari tipis. 4. Tahap 1 .Ovari dibelah terlihat beberapa benang jaringan yang tidak berwarna dan tampak kosong b. Tahap III . Penambahan EDTA dilakukan untuk menetralisir . padat dan membesar pada bagian belakang di didaerah belakang di dalam perut . bening dan belum jelas dan menyambung pada punggung eksoskeleton . Flow trough dimatikan pada saat induk matting dan sampling induk.Tingkat dimana telur sudah dilepaskan dari ovari dan terlihat kosong.Ovari terlihat gumpalan telur jika dibedah d.Rumus Pakan = Populasi x ABW x % Dosis Pakan Keterangan : Populasi ABW % Dosis Pakan : Jumlah Induk dalam bak : Berat rata-rata induk : Persentasi pakan yang diberikan 4. Flow trough untuk bak induk betina dihidupkan selama 20 jam dan untuk induk jantan selama 15 jam Pengaturan air di tank hatching dilakukan pada saat pengisian air yang dipersiapakan untuk media penetasan telur.3 Pengaturan air Pengaturan yang dilakukan di CNPD–1 meliputi pengaturan air pada bak maturasi dan tank hatching.1. Tahap IV . Tahap II . Induk matang telur di bak maturasi diambil dan dicampur dengan induk jantan agar nantinya terjadi matting. Pengaturan air berupa pengisian air sampai kapasitas 1.30 WIB. Pengaturan air di bak maturasi dilakukan dengan cara flow trough dimana terdapat air masuk dan air yang keluar dengan ketinggian air dipertahankan 40 cm.Warna ovari terpecah dari putih suram sampai coklat muda c.2 ton dengan penambahan EDTA sebanyak 10 ppm untuk setiap tank. Induk yang disampling adalah induk yang sudah matang telur pada tingkat –3 dengan ciri – cirinya sebagai berikut : a.Ovari tipis seperti garis yang menumpuk dan menyambung pada eksoskeleton .2 Seleksi Induk Matang Telur Seleksi induk matang telur yang dilakukan di CNPD–1 dilaksanakan pada pagi hari setelah selesai pembersihan sisa pakan dan feses (sypon ) pukul 07.Tubuh terlihat membesar pada bagian depan dan tengah .1.Ovari terlihat tebal.

30 WIB).1. Tank hatching diisi induk yang matting sebanyak 5 – 6 ekor. Tekanan aerasi diatur besar untuk 2 titik di tengah dan 4 titik pada sudut tank dengan tekanan aerasi kecil. Tujuan pembersihan untuk memgambil kotoran yang dapat menyebabkan dekomposisi feases menjadi amoniak yang bersifat toksit sehingga dapat menghambat proses penetasan telur. untuk mempercepat proses pelarutan EDTA ke dalam air. Pengaturan aerasi dan pemasangan pengaduk dilakukan setelah induk ditransfer ke bak maturasi dengan tekanan aerasi sedang.2 ton pada saat matahari mulai terbenam (± pukul 18. Pembersihan feases dilakukan dengan cara menyeser feases yang ada dalam tank hatching. Tujuannya untuk menghindari induk tersebut stress akibat perubahan suhu yang mendadak dan dilakukan satu persatu. telur tidak menetas dan pecah oleh pargerakan air yang terlalu besar. 4. Mencegah agar sperma tidak lepas dari thelicum 3. 4. pengaturan dan pengecekan aerasi. Tank hatching dipasang aerasi sebanyak 6 titik.7 Penanganan Telur di Tank Hatching Kegiatan ini meliputi pembersihan feases induk. Penyebab lain adalah penurunan kualitas air yang ditandai dengan adanya lendir di permukaan air.1. dan tekanan aerasi dikurangi pada saat induk melakukan proses matting. Pengembalian (transfer) induk setelah spent dari tank hatching ke bak maturasi dilakukan dengan menggunakan seser induk yang ditutup handuk basah.00 WIB induk yang telah matting akan mengeluarkan telur dari ovarinya yang disebut proses spent.1.00 WIB s/d 02. begitu juga saat melakukan sampling induk matang telur aerasi dimatikan.. pengaturan tekanan aerasi pada saat pengisian air. Pengembalian induk dari tank hatching ke bak maturasi dilakukan pada pukul 04. kemudian pada pukul 20.1. aerasi diatur dengan tekanan kecil untuk menghindari timbulnya gerakan air yang mengganggu proses spent dan menghindari kerusakan pada telur yang dihasilkan.5 Seleksi Induk Matting Seleksi induk matting adalah seleksi induk yang sudah terbuahi oleh sperma. Tujuan dari pemakaian handuk basah tersebut : 1. suhu serta frekuensi pengadukan.00 WIB. Pengaturan aerasi dilakukan dengan cara mengatur aerasi sampai bertekanan sedang. 2. 4. Hal ini sangat penting untuk mencegah telur tidak mengendap di dasar tank .00 – 21. 3. . Pemindahan (transfer) induk matting dari bak maturasi ke tank hatching dilakukan dengan menggunakan seser yang ditutup dengan handuk basah. Tujuannya untuk menghindari timbulnya gerakan air (riak) sehingga akan mengganggu proses matting. Mengurangi stress pada induk 2. Menstabilkan suhu tubuh induk pada saat transfer dari bak maturasi ke tank hatching di mana terdapat perbedaan suhu antara bak maturasi ke tank hatching.4 Pengaturan Aerasi Aerasi dipasang pada bak maturasi berjumlah 12 titik.00 WIB karena kemungkinan induk belum mengeluarkan telur semua.00 WIB induk sudah mulai spent hingga pukul 02. 4. Induk yang akan spent.kandungan logam dalam air yang reaksi pencampuranya dibantu oleh aerasi dengan tekanan aerasi besar pada bagian titik tengah tank. Transfer induk dilakukan 1 persatu. Induk yang sudah matting dapat dipisahkan dari induk jantan ke dalam tank hatching 1.6 Pengembalian Induk setelah Spent Berdasarkan pengamatan antara pukul 20.

Pengadukan telur selain dengan bantuan aerasi juga dilakukan dengan menggunakan lempengan plastik PVC frekuensi pengadukan 2 jam sekali dengan cara mengaduk tanpa menyentuh dasar tank . diawali dengan pencabutan selang aerasi. Pengecekan suhu dilakukan sebanyak 4 kali dalam sehari yaitu pada pukul 07. Kisaran suhu air yang optimal dalam penetasan telur adalah antara 30 0C–31 0C.1. membuka orchid net dengan tujuan agar nauplii berkumpul di atas sehingga dapat memudahkan proses pemanenan. yang mempunyai tugas mengelola dan menyediakan sarana dan prasarana produksi. Suhu air dalam tank hatching harus diperhatikan. 14.2 Support Produksi Kelancaran kegiatan produksi nauplii di CNPD didukung juga oleh bagian yang disebut dengan Support Produksi. 4. Pemakaian Treflan dengan cara mengencerkannya dengan air laut kemudian disebarkan secara merata di tank hatching.10 Packing Nauplii Packing nauplii dilakukan setelah proses pemanenan selesai menggunakan kantong packing dengan kapasitas 500 ekor / kantong dalam 3 liter air. melakukan pendataan produksi. thermometer air dipasang pada tank hatching untuk mengetahui fluktuasi suhu dalam sehari.1.00 WIB. Pemberian treflan dengan dosis 0. mendata material produksi dan menjalankan administrasi di CNPD.12 jam dimana tekanan aerasi dikecilkan serta pengaduk diangkat. Penambahan oksigen dilakukan untuk mempertahankan daya tahan hidup nauplii selama pengangkutan ke hatchery.02 ppm / tank yang bertujuan sebagai antijamur pada nauplii . apabila menyentuh dasar tank dikhawatirkan dapat merusak telur. 11. meliputi : 1. 4.30 WIB.00 WIB dan 19. Pemanenan nauplii dilakukan dengan cara menyeser bagian atas permukaan air sedangkan bagian tengah dan bawah tidak diseser karena diketahui bahwa nauplii yang baik akan selalu mendekati cahaya. Kantong nauplii yang akan dikirim tertera nama hatchery dan nomor bak pada hatchery yang akan ditebar nauplii 4. Nauplii tersebut terlebih dahulu di cuci dengan air laut yang mengalir pada bak plastik sebelum ditampung di ember yang telah berisi air laut dan aerasi 4.00 WIB.8 Penanganan Nauplii di Tank Hatching Penetasan telur biasanya berkisar antara 8.1 Laboratorium dan Administrasi Laboratorium dan administrasi merupakan bagian dari support produksi yang mempunyai tugas memonitor perkembangan nauplii yang termasuk didalamnya kualitas dan kuantitas nauplii yang dihasilkan serta induk. Kegiatan yang dilakukan di laboratorium. jumlah oksigen tergantung lamanya pengangkutan.2. penerimaan dan penggunaan sarana prasarana produksi serta melakukan perbaikan-perbaikan secara kontinyu demi mencapai hasil pruduksi yang maksimal.1. Mengambil sample telur dan menghitung jumlah telur . Support produksi meliputi : 4.00 WIB. Frekuensi penyeseran nauplii dilakukan sebanyak 3-4 kali dengan tujuan untuk memaksimalkan hasil panen.9 Panen Nauplii Persiapan panen nauplii dilakukan pada pukul 06.

30 WIB dengan tujuan untuk mengetahui jumlah keseluruhan telur yang ada di tank hatching. Mendata Jumlah Induk yang Spent/Tidak Spent Melalui form data sampling dan hatching dapat diketahui jumlah induk yang spent/tidak spent berdasarkan periodenya dengan tujuan untuk mengetahui tingkat produktifitas dari induk tersebut. Mengecek dan Menghitung Fertilitas Telur Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan penghitungan jumlah telur. sbb : Jumlah Nauplii = Volume tank hatching Volume air sample X Jumlah sample nauplii 4. meliputi : . 4. menerima dan mengelola pakan serta mendata transaksi sarana. yang bertujuan untuk mengetahui persentasi jumlah telur yang telah terbuahi dan mengamati tingkat perkembangan telur. Adapun rumus yang digunakan dalam penghitungan fertilitas telur : Fertilitas (%) = Jumlah sample telur yang baik Jumlah seluruh sample X 100 % 3. Menghitung Jumlah Nauplii Kegiatan ini dilakukan pada pukul 14. Untuk penghitungan jumlah nauplii yang dijadikan acuan biasanya dilakukan oleh Risearch and Development Departement. Kegiatan yang dilakukan dalam unit ini.30 WIB.2 Logistik dan Pakan Bagian support produksi yang mempunyai tugas menyediakan sarana dan prasarana produksi. Rumus penghitungan nauplii yang digunakan.Kegiatan ini dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07. prasarana dan pakan di CNPD disebut dengan unit Logistik dan Pakan. Rumus penghitungan Jumlah Telur : Jumlah telur = Volume tank hatching Volume air sample X Jumlah sample telur 2. Jumlah telur di dalam tank hatching dapat diketahui dengan cara perbandingan antara volume air tank hatching dengan volume air sample dikalikan dengan jumlah sample telur.2. penghitungan jumlah nauplii ini hanya bersifat estimasi untuk mempermudah dalam penghitungan jumlah nauplii yang akan dipanen keesokan harinya.

Menjaga kebutuhan stock air laut secara kontinyu 5.3 Water Treatment Bagian ini mempunyai tugas sangat penting yaitu dalam penyediaan air secara kontinyu. pemeliharaan telur sampai menetas menjadi nauplii.2. . Penerimaan Pakan Segar Jenis pakan yang digunakan berupa pakan cumi dan cacing dengan frekuensi penerimaanpakan segar tersebut sebanyak 2 kali dalam seminggu. Adapun tahapan dari water treatment dimulai dari tahap sand filter yang terdapat koral. pasir silica kasar dan halus. sbb : 1. 1. arang batok yang berfungsi menyaring partikel-partikel kasar yang terbawa air laut. pemberian pakan. Berbagai tahap penyaringan sehingga di dapatkan air yang secara mutu memenuhi standar kualitas air. Kegiatan produksi di CNPD dapat berjalan baik dan lancar dengan adanya bagian support produksi yang terdiri dari unit logistik dan pakan.1 Kesimpulan Berdasarkan kegiatan magang yang telah dilaksanakan diperoleh kesimpulan. unit laboratorium dan administrasi serta water treatment. Memelihara dan membersihkan sand filter. Menyuplai air laut dari sand filter ke bak reservoir 2. 2. pengelolaan kualitas air. Mendistribusikan air dari reservoir ke setiap modul 3. Men-treatment air laut 4. Sedangkan untuk cacing laut hidup penanganannya berupa memasukkan cacing laut tersebut kedalam steroform yang telah berisi air laut dan diberi aerasi secara kontinyu. instalansi air. Air tersebut merupakan media hidup utama bagi induk yang dipelihara dan nauplii. kemudian ke pressure filter yang terdapat karbon aktif berfungsi menyaring partikel-partikel yang terbawa air laut baik dari bak sand filter maupun dari bak reservoir hingga tahap ozonisasi yang kemudian dapat ditransfer kebagian modul untuk digunakan sebagai media hidup dan kegiatan produksi lainnya.1. memisahkan antara bagian kepala dan tubuh cumi kemudian mencucinya dengan menggunakan air laut yang akhirnya dapat disimpan dalam freezer. dan panen nauplii. 4. pengelolaan induk. Beberapa tugas utama dari unit water treatment. Penanganan Pakan Segar Penanganan pakan segar ini berupa membuang bagian tubuh cumi yang tidak dapat diberikan kepada induk. mesin pompa dan mesin ozon serta blower 5. Kriteria pakan yang dapat diterima yaitu: a) Pakan Cumi Daging kenyal Tidak bau busuk Warna tubuh tidak kemerahan b) Pakan Cacing Dalam kondisi hidup Tubuh tidak lembek 2. sbb: 1. Serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam produksi nauplii. dimulai dari penerimaan induk.

3. agar dapat mencapai target produksi yang diinginkan. Nauplii yang diproduksi oleh CNPD-1 termasuk jenis Litopenaeus vannamei yang berasal dari induk impor yaitu Florida 1. Hendaknya dalam melaksanakan kegiatan produksi harus sesuai dengan SOP (Standar Operational Procedure) yang berlaku. Perlu adanya peningkatan kualitas SDM melalui penyuluhan.3. Telur udang Vannamei menetas menjadi nauplii membutuhkan waktu selama 8-12 jam 2. agar SDM yang ada dapat mengembangkan potensi diri.2 Saran Adapun saran yang ingin kami sampaikan berdasarkan hasil magang yang telah diikuti di CNPD-1. Diperlukannya kondisi kerja yang kondusif antara peserta magang dengan karyawan CNPD atau sesama karyawan sehingga tercipta suasana yang kerja yang harmonis. 2. Dalam melaksanakan kegiatan produksi keselamatan kerja perlu diperhatikan guna meminimalkan kecelakaan pada saat kerja. . Pemberian pakan untuk induk harus disesuaiakan dengan dosis dan waktu pemberiannya untuk menurunkan tingkat mortalitas induk 4. Pemaenen nauplii rutin di CNPD-1 dilakukan pada saat pagi hari ( pukul 07. yaitu : 1. dengan demikian dapat menunjang kelancaran produksi. 4. Pendataan kondisi induk perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat populasi induk yang masih ada sehingga dosis pakan yang diberikan dapat efisien 3.00 WIB ) dan hasil panen nauplii ditransfer langsung ke bagian hatchery berdasarkan data rencana produksi yang telah ditentukan 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful