P. 1
Laporan Fisiologi Hewan - Darah II

Laporan Fisiologi Hewan - Darah II

|Views: 909|Likes:

More info:

Published by: Syarif Hidayat Amrullah on Nov 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2013

pdf

text

original

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Fisiologi Hewan unit III dengan judul “Darah II” disusun oleh : Nama Nim Kelas/Kelompok : Syarif Hidayat A. : 071 404 092 : B/VII Makassar, Koordinator asisten Asisten April 2009

setelah diperiksa oleh Asisten dan Koordinator Asisten maka dinyatakan diterima.

Sitti Zainab Nim: 051404083

Aso Ki’ Lekso Nim: 061404001

Mengetahui Dosen Penanggung Jawab

Drs. Adnan, M.S NIP: 131 722 271

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Setiap makhluk hidup memiliki fungsi tertentu yang dimiliki oleh setiap organ tubuhnya. Ilmu fisiologi yang merupakan salah satu cabang ilmu dari biologi adalah ilmu yang membahas tentang fungsi dari alat-alat atau organ tubuh. Termasuk ke dalamnya fungsi sel, molekul, dan zat-zat yang terkandung di dalamnya sehingga dapat mempengaruhi kerja suatu individu. Terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), maka ilmu fisiologi ini tidak dapat dipisahkan dari cabang-cabang ilmu lainnya seperti morfologi, anatomi dan sebagainya. Hal ini disebaban ilmu fisiologi juga memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan. Untuk mengetahui fungsi dari suatu alat atau organ tubuh, harus diketahui terlebih dahulu tentang segala macam proses yang terjadi dalam organ tubuh tersebut. Fisiologi dari sebuah organ misalnya jantung dapat diketahui jika sebelumnya kita mengetahui bahwa jantung merupakan organ yang fungsinya memompakan darh ke seluruh bagian tubuh organisme. Proses yang terjadi dalam tubuh merupakan proses kimia dan fisika yang sangat kompleks. Karena itu diperlukan juga adanya keseimbangan antara prinsip ilmu kimia, fisika dan biologi yang masing-masing bergerak dalam bidang science. Jika salah satu dari prinsip ilmu ini tidak diketahui, maka prinsip dari ilmu fisiologi itu pun akan tergannggu. Darah mengalir di dalam pembuluh darah menuju jantung melalui pembuluh vena dan meninggalkan jantung melalui pembuluh arteri. Di dalam arteri darah mengalir dengan cepat. Jumlah darah dapat dihitung dengan menggunakan hemasitometer. Berdasarkan pada uraian di atas maka kami akan melakukan

praktikum. Pada praktikum ini akan di amati tentang darah manusia, yakni pengidentifikasian golongan darah, terbentuknya fibrin serta hemolisa dan krenasi. B. Tujuan Praktikum Praktikum ini bertujuan untuk: 1. Mempelajari cara mengidentifikasi golongan darah pada manusia.
2. Mengamati terbentukya fibrin pada darah. 3. Mengamati proses hemolisa dan krenasi pada sel darah pada larutan NaCl

0,4%; 0,6%; 0,8% dan 1 % C. Manfaat Praktikum Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah mahasiswa akan lebih memahami tentang fisiologi hewan khususnya pada fungsi dan struktur darah sebagai media transport dalam tubuh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. Pada serangga, darah (atau lebih dikenal sebagai hemolimfe) tidak terlibat dalam peredaran oksigen. Oksigen pada serangga diedarkan melalui sistem trakea berupa saluran-saluran yang menyalurkan udara secara langsung ke jaringan tubuh.

Darah serangga mengangkut zat ke jaringan tubuh dan menyingkirkan bahan sisa metabolisme (Anonim I, 2009). Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh saluran pembuluh darah aorta. Darah mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh melalui pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena cava superior dan vena cava inferior (AnonimII, 2009). Darah membawa hasil produk akhir dari pencernaan ke seluruh sel tubuh dan membawa O2 dan CO2 dari sel ke sel-sel jaringan. Pada hewan multiseluler system sirkulasi ini selalu dijumpai, kecuali pada hewan bersel satu. Pada insecta dan mollusca, dijumpai adanya system sirkulasi terbuka. Pada system ini, jantung dan arteri langsung membawa darah (dalam hal ini disebut hemolymph) yang memebawatenaga ke seluruh tubuh. Pada cacing tanah dan vertebrata lain di jumpai jantung/pembuluh yang berdenyut, arteri, kapiler dan vena yang merupakan system sirkulasi tertutup (Gadjahnata, 1989). Kegiatan pemompaan jantung menggerakkan aliran darah ke seluruh tubuh. Beberapa sel bahan-bahan keluar dari aliran darah, di beberapa tempat lewat melalui ruang antara sel pembuluh darah kecil. Bahan-bahan itu untuk sementara mengambil tempat di dalam cairan interstitial dan bergerak di dalam saluran system limpa. Kemudian bahan-bahan itu dikembalikan ke dalam aliran darah. Komponen yang lain terus mengalir melalui pembuluh system sirkulasi. Dengan ini bahan-bahan diangkut dengan pada tempatnya di permulaan ke sel tempat mereka masuk (Nangsari, 1988). Menurut Widjajakusuma (1986), dikenal ada 3 macam sel-sel darah, yaitu: 1. Sel darah merah (erythrocytes), 2. Sel darah putih (leucocytes), dan 3. Platelet (thrombocytes).

Leucocytes selanjutnya data dibagi menjadi (i) Leucocytes granular, terdiri atas: neutrophil, eosinophil dan basophil, (ii) Leucocytes Non-granular (Agranular), terdiri atas: lymphocytes dan monocytes. Jumlah sel darah merah dan sel darah putih dapat diketahui apabila besarnya pengenceran diketahui, demikian pula volume darah di daerah perhitungan. Bentuk dan ukuran sel darah merah bergantung pada jenis hewan. Pada mamalia sel darah merahnya tidak berinti, bentuknya bulat dan bikonkaf. Pada umumnya sel darah merah yang tidak berinti mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan sel darah merah yang berinti. Sel darah merah yang ukurannya paling besar terdapat pada hewan amphibian (Adnan, 2009). Menurut Wulangi (1993), darah mempunyai peranan-peranan sebagai berikut: (1) Merupakan alat pengangkut bermacam-macam substansi, yaitu (a) substansi yang mempunyai sangkut paut dengan respirasi yaitu O2 diangkut dari paruparu/insang, (b) substansi yang mempunyai sangkut paut dengan nutrisi yaitu glukosa, asam amino, asam lemak dan gliserol diangkut dari usus ke seluruh jaringan tubuh, (c) substansi yang mempunyai sangkut paut dengan ekskresi yaitu zat-zat ampas seperti urea, asam urat, kreatinin dan lain-lain di angkut ke organ ekskresi, (d) substansi yang mempunyai sangkut paut dengan pengaturan yaitu hormon diangkut dari sumbernya ke jaringan-jaringan yang memerlukannya. (2) Mengatur keseimbangan cairan antara darah dengan jaringan. (3) Mengatur keseimbangan asam-basa (pH) darah. (4) Mencegah pendarahan. (5) Merupakan alat pertahanan tubuh. (6) Mengatur suhu tubuh.

BAB III METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Hari/tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan Kegiatan I a. Alat 1. Plat tetes b. Bahan : Selasa / 31 Maret 2009 : Pukul 07.30 s/d 09.10 WITA : Laboratorium Biologi Lantai III Barat FMIPA UNM.

1. Kapas 2. Alcohol 70%

3. Blood lancet Kegiatan II a. Alat 1. Stopwatch b. Bahan
1. Alkohol 70%

2. Blood lancet 3. Pipa kapiler 4. Kapas Kegiatan III a. Alat 1. Mikroskop 2. Kaca preparat 3. Deck glass b. Bahan
1. Alkohol 70%

2. Larutan NaCl 0,4%; 0,6%; 0,8% dan 1 %
3. Kapas

4. Blood lancet C. Prisedur Kerja Kegiatan I
1. Membersihkan jari dengan menggunakan alcohol 70%, kemudian melukai

tangan dengan menggunakan blood lancet. 2. Membuang tetesan pertama dengan mengusapkan pada kapas, kemudian tetesan kedua diteteskan di atas plat tetes.
3. Menambahkan antiserum A di pada tetesan darah di plat A dan antiserum B

pada tetesan darah di plat B, kemudian masing-masing dihomogenkan.

4. Jika pada antiserum A terjadi penggumpalan, sedangkan pada antiserum B tidak, maka golongan darahnya adalah A. Sebaliknya jika pada antiserum B yang menggumpal dan pada antiserum A tidak, maka golongan darahnya adalah B. 5. Jika pada kedua antiserum terjadi penggumpalan, maka golongan darahnya adalah AB. Sebaliknya jika tidak terjadi penggumpalan, baik itu pada antiserum A, maupun B, maka golongan darahnya adalah 0. Kegiatan II
1. Membersihkan jari dengan alcohol 70% yang telah dioleskan pada kapas.

2. Menusuk jari dengan blood lancet. 3. Menempelkan pipa kapiler (kurang lebih 6cm) pada darah yang menetes dari jari yang telah dilukai. 4. Memotong pipa kapiler dengan interval 1 menit sampai melihat fibrin yang terbentuk.

Kegiatan III
1. Membersihkan jari dengan alcohol 70% yang telah dioleskan pada kapas.

2. Melukai jari kemudian membuang tetesan pertama. 3. Menyimpan tetesan darah berikutnya di atas kaca objek, kemudian ditambahkan larutan NaCl 0,4%; 0,6%; 0,8% dan 1 %, dihomogenkan kemudian menutupnya daengan deck glass.
4. Mengamati di bawah mikroskop.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
1) Kegiatan I

: Pengujian golongan darah

Data Golongan Darah Kelas B Kelompok I Nama Muh. Miftah Fauzan Winda Nur Handayani Suriani Abdul Wahid (116) Handayani Magfirah Rizkiani Razak A √ √ √ Golongan Darah B AB 0

√ √ √ √

Kelompok II Nama Puji Lestari Wiwin Pramita Arif Jumriani Irfan Wahid Lilis Asriani St. Hadijah Abdi Hasanuddin A √ √ √ √ √ √ Golongan Darah B AB √ 0

Kelompok III Nama Aliah Amaliah Iqbal Namriani Irmayanti Chairan Zibar L.P. Budiastuti Eka Yuswinardi S. Maulidin Alwi Kelompok IV Nama Fadillah Widawati F. Benazir Wafiek S. Ulfi Ismail Ali Saparuddin Fauzan Akbar A. Riska Astuti Hamzah Kelompok V Nama Arianto Imran Mustafa Dewi Karmila Sari A Golongan Darah B AB √ √ √ √ √ Golongan Darah B AB √ √ 0

A

0 √ √ √ √

√ Golongan Darah B AB

A

0 √ √ √

Melli Fitriani St. Kahfiah Hasnah Eka Ayu Pertiwi Lilis Endriani Kelompok VI Nama Algazali Irwan Abd. Hafid Raodah M.-nya Aso Annisa Nurul Utami H. Asriani Mawaddah Kelompok VII Nama Nurul Azmi Serliana Tinting Abd. Wahid (032) Muhammad Syarif Saipul Nur Afdaliah Ali Afianty Karisma

√ √ √ √

A √ √ √

Golongan Darah B AB

0 √

√ √ √ Golongan Darah B AB

A

0 √

√ √ √

Kelompok VIII Nama Syarif Hidayat A. Raya Agni Akmal Fadli Lina Sartika A √ √ √ √ Golongan Darah B AB 0 √

St. Jumriana Gisna Tanti E.T. Analisis Data
a. Jumlah praktikan seluruhnya b. Jumlah praktikan yang absen c. Jumlah praktikan yang di ambil sampel darahnya d. Jumlah praktikan bergolongan darah A e. Jumlah praktikan bergolongan darah B f. Jumlah praktikan bergolongan darah AB g. Jumlah praktikan bergolongan darah 0

: 57 orang : 5 orang : 52 orang : 19 orang : 12 orang : 2 orang : 19 orang

Persentase golongan darah: Persentase praktikan bergolongan darah A

= 36,54% Persentase praktikan bergolongan darah B

= 23,07% Persentase praktikan bergolongan darah AB

= 3,85% Persentase praktikan bergolongan darah 0

= 36,54%

2) Kegiatan II

: Pengamatan pembekuan darah Kelompok I II III IV V VI VII VIII Waktu Pembekuan (detik) 90 90 >360 >210 120 >240 660 >240

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Nama Muh. Miftah Fauzan Irfan Wahid Maulidin Alwi Hamzah Imran Mustafa Algazali Abdul Wahid (032) St. Jumriana

3) Kegiatan III

: Pengamatan hemolisa dan krenasi

a. Konsentrasi NaCl 0,4% Keterangan: Sel darah merah normal Sel darah merah yang terhemolisa

b. Konsentrasi NaCl 0,6%

Keterangan: Sel darah merah yang terkrenasi

c. Konsentrasi NaCl 0,8% Keterangan: Sel darah merah normal Sel darah merah yang terhemolisa

d. Konsentrasi NaCl 1% Keterangan: Sel darah merah yang terkrenasi

B. Pembahasan 1. Mengidentifikasi golongan darah Dalam tubuh manusia dikenal ada tiga jenis golongan darah utama yaitu golongan darah AB0, golongan darah rhesus (Rh) dan golongan darah MN. Pada pembahasan ini akan kami bahas mengenai golongan darah AB0. Ditinjau dari golongan darah AB0, manusia dikelompokkan menjai empat golongan. Pengelompokan itu didasarkan atas ada tidaknya aglutinogen (antigen), yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B. Menurut Wulangi (1993), golongan darah memiliki cirri-ciri sebagai berikut:

a. Seseorang disebut memiliki golongan darah A, bila di dalam sel darah terdapat algutinogen A. Sehingga bila ditetesi anti serum A, maka darah tersebut akan menggumpal. b. Seseorang disebut memiliki golongan darah B, bila di dalam sel darahnya terdapat aglutinogen B. Sehingga bila ditetesi anti serum B, maka darah tersebut akan menggumpal. c. Seseorang dikatakan memiliki golongan darah AB, bila di dalam sel darahnya terdapat aglutinogen A dan aglutinogen B sekaligus. Sehingga bila ditetesi anti serum A dan B, darah tersebut akan menggumpal. d. Seseorang disebut memiliki golongan darah 0, bila di dalam sel darahnya tidak mengandung algutinogen. Sehingga pada saat ditetesi dengan antiserum A dan B tidak tejadi penggumpalan sama sekali. Setelah melakukan pengamatan pada 52 orang praktikan, kami mendapatkan data bahwa mahasiswa yang bergolongan darah A berjumlah 19 orang, bergolongan darah B 12 orang, bergolongan darah AB 2 orang dan bergolongan darah 0 19 orang. Dengan melihat hasil pengamatan tersebut, maka dapat dilihat persentase praktikan yang bergolongan darah A sama dengan praktikan bergolongan darah 0. Sedangkan praktikan bergolongan darah AB hanya berjumlah 2 orang kurang dari 4% ari total praktikan yang diuji sampel darahnya. Untuk lebih lengkapnya telah dicantumkan pada lembar hasil pengamatan dan analisis data. 2. Proses terbentuknya fibrin dalam darah Reaksi yang pertama terjadi pada pembekuan darah (koaglasi) adalah perubahan fibrinogen (protein yang terlarut) menjadi fibrin (protein yang tidak terlarut). Setelah melakukan pengamatan pada beberapa praktikan dari masingmasing kelompok, dapat dilihat bahwa koagulasi setiap orang berbeda-beda. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal. Menutur Wulangi (1993), ada 12 faktor yang terlibat dalam proses pembekuan darah, dan faktor-faktor tersebut pada umumnya diberi symbol dengan menggunakan angka romawi. Nomor urut

angka romawi ini menunjukkan urutan penemuannya. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. Faktor I (fibrinogen), fibrinogen adalah protein yang larut, dengan berat molekul sebesar 330.000. Dengan pengaruh thrombin, fibrinogen diolah menjadi fibrin. Bila fibrinogen tidak ada, proses pembekuan darah tidak akan terjadi. Suatu keadaan di mana di dalam darah tidak terdapat fibrinogen disebut dengan afibrinogenemia. b. Faktor II (protrombin), tidak aktif dari thrombin. Dibuat di dalam hati dan pembentukannya dipengaruhi oleh vitamin K. perubahan protrombin menjadi thrombin ini dipengaruhi oleh protrombin aktifator.
c. Faktor III (faktor jaringan, ekstrak jaringan dan tromboplastin), faktor

jaringan ini mengubah protrombin menjadi thrombin. Perubahan ini juga dipengaruhi oleh faktor V, VII, X, ion kalsium dan fosfolipida.
d. Faktor IV (ion kalsium = Ca++), ion ini sangat penting dibutuhkan untuk

pembentukan aktifator protrombin dan juga pembentukan fibrin.
e. Faktor V (faktor labil), kehilangan faktor ini jarang sekali terjadi pada

pendarahan. Faktor ini dibutuhkan untuk mengubah protrombin menjadi thrombin dengan faktor jaringan an faktor plasma.
f. Faktor VII (faktor stabil dan otoprotrombin I), kekurangan faktor ini jarang

sekali terjadi. Faktor ini dibutuhkan untuk pembentukan aktifator protrombin oleh ekstrak jaringan.
g. Faktor VIII (anti hemophilia, glubolin anti hemophilia), faktor ini dibutuhkan

untuk pembentukan aktifator protrombin dari komponen darah. Selama pembekuan, faktor ini dikonsumsi maka dari itu tidak terdapat di dalam serum.
h. Faktor IX (chrismas, otoprotrombin II), kekurangan faktor ini akan

megakibatkan pendarahan yang keadaanya sama dengan hemophilia. Faktor ini diperlukan untuk pembentuk aktifator protrombrin dari komponenkomponen darah.

i.

Faktor X (faktor stuart-power), kekurangan faktor ini semenjak lahir dapat menimbulkan pendarahan. Faktor ini terdapat baik dalam plasma maupun serum.

j.

Faktor XI, kekurangan faktor ini semenjak lahir dapat menimbulkan pendarahan. Faktor ini dibutuhkan untuk pembentuk aktifator protrombrin dari komponen-komponen darah.

k. Faktor XII (faktor Hageman), kekurangan faktor ini dapat menyebabkan

pembekuan darah berlangsung lambat, tetapi tidak menunjukkan adanya pendarahan. Mempunyai peran dalam pembentuk aktifator protrombrin dari komponen-komponen darah. Faktor ini terdapat baik dalam plasma maupun serum.
l.

Faktor XIII (faktor pengstabil fibrin), faktor ini adalah protein plasma yang dapat menyebabkan polimerasi fibrin yang larut menjadi fibrin yang tidak larut. Kekurangan faktor ini semenjak lahir dapat menimbulkan pendarahan. Trombosit mengandung fospolipida yang diperlukan untuk pembekuan darah bila ekstrak jaringan tidak ada. Menutut Wulangi (1993), faktor-faktor yang mempengaruhi koagulasi

adalah sebagai berikut:
a. Pemanasan, pada suhu 300C darah akan lebih dapat membeku dari pada suhu

di bawahnya. b. Pengocokan, bila darah di kocok pelan-pelan, koagulasi akan dipercepat. Namun apabila dikocok keras akan memperlambat koagulasi karena jaringan fibrin akan pecah. c. Luas permukaan kontak, proses koagulasi akan dipercepat dengan menambah luas permukaan kontak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan kasa atau kapas dalam larutan darah. d. Larutan hemostatik, banyak orang berpendapat bahwa adrenalin akan mempercepat koagulasi, tetapi efek ini masih belum diketahui secara pasti.
3. Mengamati hemolisa dan krenasi pada sel darah

Setelah melakukan pengamatan sel darah yang ditetesi dengan larutan NaCl yang memiliki konsentrasi berbeda-beda, maka dapat kami lihat bahwa darah yag dicampur dengan larutan NaCl 0,4; 0,8 dan 1% mengalami hemolisa. Hemolisa merupakan peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah merah menu ke cairan di sekelilingnya yang disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah. Membran sel darah merah sendiri merupakan membran yang semipermeabel selektif. Sedangkan pada darah yang ditetesi larutan NaCl 0,6% dan larutan NaCl 1% terjadi krenasi, karena konsentrasi larutan di dalam sel darah merah lebih rendah dibandingkan larutan di luar sel, sehingga terjadi peristiwa hipertonis. Hal ini mengakibatan air dalam sel darah merah akan keluar.

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan Setelah melakukan praktikum, maka dapat kami simpulkan bahwa :
1. Untuk dapat mengetahui golongan darah seseorang, maka dibutuhkan antiserum

A dan B. Seseorang disebut memiliki golongan darah A, bila di dalam sel darah terdapat algutinogen A. Sehingga bila ditetesi anti serum A, maka darah tersebut akan menggumpal. Seseorang disebut memiliki golongan darah B, bila di dalam sel darahnya terdapat aglutinogen B. Sehingga bila ditetesi anti serum B, maka darah tersebut akan menggumpal. Seseorang dikatakan memiliki golongan darah

AB, bila di dalam sel darahnya terdapat aglutinogen A dan aglutinogen B sekaligus. Sehingga bila ditetesi anti serum A dan B, darah tersebut akan menggumpal. Seseorang disebut memiliki golongan darah 0, bila di dalam sel darahnya tidak mengandung algutinogen. Sehingga pada saat ditetesi dengan antiserum A dan B tidak tejadi penggumpalan sama sekali.
2. Proses pembekuan darah setiap orang berbeda-beda, ada yang memerlukan waktu

lama dan ada yang hanya sebentar. Pembekuan darah atau koagulasi terjadi karena perubahan fibrinogen menjadi fibrin dipengaruhi oleh enzim thrombin. 3. Hemolisa terjadi jika konsentrasi larutan dalam sel darah merah lebih tinggi dibandigkan dengan konsentrasi cairan diluar sel, sedangkan krenasi terjadi jika konsentrasi larutan dalam sel darah merah lebih rendah dari konsentrasi larutan di luar sel. B. Saran Diharapkan kepada para praktikan agar lebih serius dan teliti dalam mengamati agar hasil pengamatan dapat lebih maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2009. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Anonim I. 2009. Darah. http://www.wikipedia-Indonesia .co.id. Diakses tanggal 18 Maret 2009. Anonim II. 2009. Darah Manusia. http://www.wikipedia-Indonesia .co.id. Diakses tanggal 18 Maret 2009. Gadjahnata, K.H.O. 1989. Biologi Kedokteran I. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Nangsari, Nyanyu S. 1988. Pengantar Fisiologi Manusia. Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Widjajakusuma, Reviany dan Sikar S.H.S. 1986. Fisiologi Hewan Jilid I. Bogor: Jurusan Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Wulangi, Kartolo S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Jakarta: Depdikbud Dirjen Kependidikan Proyek Pembinaan.

Darah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. Pada serangga, darah (atau lebih dikenal sebagai hemolimfe) tidak terlibat dalam peredaran oksigen. Oksigen pada serangga diedarkan melalui sistem trakea berupa saluran-saluran yang menyalurkan udara secara langsung ke jaringan tubuh. Darah

serangga mengangkut zat ke jaringan tubuh dan menyingkirkan bahan sisa metabolisme. Pada hewan lain, fungsi utama darah ialah mengangkut oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan tubuh. Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen. Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata. Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan digunakan oleh hewan crustaceae. Cumi-cumi menggunakan vanadium kromagen (berwarna hijau muda, biru, atau kuning oranye).

Darah manusia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah. Darah manusia bewarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh saluran

pembuluh darah aorta. Darah mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran halus darah yang disebut pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena cava superior dan vena cava inferior. Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.
Komposisi

Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari darah. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah. Korpuskula darah terdiri dari:

Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%). Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita penyakit anemia. Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%) Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah. Sel darah putih atau leukosit (0,2%) Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia.

Plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung :-albumin , bahan pembeku darah , immunoglobin (antibodi) , hormon , berbagai jenis protein , berbagai jenis garam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->