PENDAHULUAN Sudah jamak kita saksikan di seluruh pelosok Nusantara, gairah belajar siswa tampak menurun.

BELAJAR DAN BERMAIN Belajar adalah kata yang akrab di telinga semua orang, disukai oleh orang-orang yang sudah tahu manfaatnya tapi tidak jarang pula yang bosan mendengarnya, bahkan ada yang merasa jengkel bila disuruh belajar. Hal ini mungkin saja terjadi karena sempit dalam memaknai kata belajar. Belajar dimaknai dengan duduk di belakang meja sambil membaca buku atau di depan seorang guru yang siap memberi tugas dan menghukum. Alhasil oeang tua atau guru merasa kesulitan menyuruh anaknya belajar serta sedih, prihatin dan was-was bila melihat anaknya sukanya bermain-main PS saja atau betah nonton sinetron atau ’kluyuran’ dengan teman-teman yang ’tidak jelas’. Belajar adalah aktifitas indera, rasa dan raga untuk mengoptimalkan akal seseorang. Aktifitas tersebut tidak dibatasi ruang, waktu atau benda dan bersifat indifidual [ subyektif ] sehingga belajar bisa sambil bekerja, bermain, berjalan, berkendara atau berdiam diri. Belajar bisa dilakukan sendiri atau berkelompok. Belajar banyak ragamnya, banyak metodenya.Belajar ilmu-ilmu eksakta berbeda dengan belajar ilmu-ilmu sosial, demikian pula dengan ilmu agama, seni, olah raga atau ilmu-ilmu praktis. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sebagaimana manusia, sehingga penguasaan ilmu masing-masing orang berbeda-beda dan cara belajarnyapun berbeda-beda. Sebagaimana belajar, bermain adalah kata yang akrab di telinga semua orang. Bedanya, bermain disukai semua orang bahkan cenderung menggoda seseorang, meskipun kadarnya berbeda-beda. Semakin tua seseorang, semakin menurun kesenangannya dengan bermain. Bahkan, bermain bisa digunakan untuk terapi penyakit-penyakit tertentu [ khususnya yang berhubungan dengan psikis ]. Bermain adalah aktifitas indera, rasa dan raga untuk menyegarkan pikiran dan jiwa seseorang. Aktifitas bermain adalah aktifitas yang bebas dan luas, bisa menggunakan alat / benda atau ranpa menggunakan bantuan apa-apa. Jalan-jalan, sendau gurau, nonton teve atau main kartu adalah aktifitas bermain yang tidak asing di masyarakat. Meskipun kadang harus memeras otak dalam suatu permainan, bermain tetap aktifitas yang menyenangkan dan menyegarkan pikiran seseorang. Apabila bisa menggabungkan belajar dan bermain dalam satu aktifitas, perkembangan akal seseorang akan cepat optimal. Seseorang tidak perlu khawatir frustrasi, strees atau depresi karena pikiran kelebihan beban. Orang tua dan guru pun tidak perlu marah-marah lagi pada anak-anak atau murid-muridnya. Anak-anak dan murid-murid tidak lagi takut / benci pada orang tua dan gurunya. Dengan demikian, kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak atau antara generasi tua dan generasi muda bisa diantisipasi, dan hidup jadi lebih indah.

SLTP. tidak mencukupi bila dipakai oleh guru bahasa secara bersamaaa. SLTA. Tugas membuat laporan. Pasangan-pasangan huruf tersebut memungkinkan pemain menemukan alternatif kata yang amat banyak. bisa dibuat oleh siapa saja serta mudah dibawa ke mana-mana sehingga bisa dimainkan kapanpun. berlawanan setengah. Umumnya siswa menyukai soal pilihan ganda karena lembar jawanan tetap akan terisi meski tidak bisa mengerjakan. berlawanan konsonan-vokal [ dengan susunan vokal berulang ] dan kartu bintang. kamus bahasa asing pun tidak semua siswa memiliki. makalah. 3 X 6 cm. memaknai suatu kata. skripsi pun akhirnya hanya sebatas contek sana-sini atau pesan ke jasa pengetikan. Tinggal menghitung kancing baju kata siswa pada umumnya. jawaban siswa kerap sulit dipahami maksudnya. bahkan ada yang memalsu tulisan orang lain dengan mengganti beberapa bagian tertentu saja. membuat kalimat. siswa tidak berkesan dan melupakannya. Apabila ada soal uraian dalam ujian. Kartu ini mempunyai bentuk dan ukuran seperti kartu domino. tapi bisa juga . KARTU KATA Kartu Kata adalah permainan kartu untuk pembelajaran mandiri siswa dalam penguasaan kosa kata mata pelajaran bahasa. Diajarkan sepintas. Alhasil. Kartu ini terdiri atas 75 kartu dan masing-masing kartu berisi dua huruf. Permainan kartu ini tidak dikhususkan untuk siswa pada jenjang sekolah tertentu. Pasangan hurufhurufnya disusun berlawanan penuh. dan seterusnya. menentukan jenis kata. Umumnya siswa tidak memiliki kamus bahasa bangsanya. Guru kerap menugasi siswa membuka kamus. Berlembar-lembar kertas terlepas dari bukunya lantaran gagal merangkai kata untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaannya. Sedangkan Kartu Bintang berperan memecahkan kebuntuan kata yang membuat suasana semakin persuasif. mahasiswa bahkan untuk masyarakat umum. tapi bisa dan mudah dimainkan siswa mulai tingkat SD. Pembelajaran dengan metode permainan kartu kata adalah salah satu alternatif solusi atas masalah kemiskinan kosa kata pada siswa. Apakah kondisi seperti ini tetap akan kita pertahankan? Jelas tidak. Kamus di perpustakaan sekolah pun terbatas. Miskinnya siswa dari perbendaharaan kata menyebabkan siswa merasa kesulitan bila ditugasi mengarang atau menulis.RUMUSAN MASALAH Pembelajaran materi kosa kata acap kali monoton dan menjemukan. Bentuknya sederhana. pembelajaran kosa kata tidak maksimal. di manapun dan oleh siapapun.

Komposisi Bintang [ berjumlah 2 kartu bintang ] : * ** * ** Keterangan : .Vokal [ berjumlah 21 kartu ] dengan formasi : B C D F G H J K L M N P Q R S T V W X Y Z A I U E O A I U E O A I U E O A I U E O A 4. Komposisi Berlawanan Penuh [ berjumlah 26 kartu ] dengan formasi : A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z Z Y X W V U T S R Q P O N M L K J I H G F E D C B A 2. yaitu dapat dimainkan minimal oleh dua orang pemain dan idealnya dilakukan oleh empat hingga enam pemain dalam posisi membentuk lingkaran dengan satu kamus. berwarna-warni atau bergambar [ disesuaikan dengan selera ]. sisa kartu ditaruh di tengah dalam keadaan tertutup setelah satu kartu ditaruh di temgah dalam keadaan terbuka sebagai huruf awal sebuah kata .Tanda bintang satu [ * ] berarti dapat menggantikan huruf vokal . Permainannya adalah sebagai berikut : A. kartu diucut supaya acak 2. Komposisi Berlawanan Setengah [ berjumlah 26 kartu ] dengan formasi : A B C D E F G H I J K L M M L K J I H G F E D C B A N O P Q R S T U V W X Y Z Z Y X WV UT S R Q P O N 3. Komposisi Konsonan . URUTAN PERMAINAN 1. Komposisi pasangan kartu kata ini adalah : 1.Tanda bintang dua [ ** ] berarti dapat menggantikan huruf konsonan TATACARA BERMAIN KARTU KATA Permainan KARTU KATA hampir sama dengan permainan kartu pada umumnya. kartu dibagikan kepada pemain satu-satu hingga tiap-tiap pemain memegang lima kartu 3.dibuat lebih besar.

nama produk d. pemain dikatakan menang apabila kartunya telah habis 6. demikian seterusnya hingga terbentuk satu kata. ATURAN PERMAINAN 1. permainan ini diulang terus hingga kartu habis atau tidak bisa lagi diwujudkan dalam sebuah kata B. permainan dimulai dari pemain yang mengucut kartu dan bergilir ke arah kanan 5. kosa kata bahasa asing b. apabila terjadi perselisihan antar pemain tentang kosa kata tertentu maka solusinya adalah membuka kamus atau bertanya pada guru. ia jadi pemain yang memegang jumlah kartu terbanyak c. singkatan 4. pemain ketiga memikirkan satu kata ’rahasia’ dan memasangkan huruf keempat yang sesuai dengan tiga huruf sebelumnya pada kata yang ia pikirkan 8. ia jadi pemain yang tidak pernah mewujudkan sebuah kata meskipun jumlah kartu sisa hanya sedikit 7. nama orang c.4. dan permainan dilanjutkan dimulai dari pemain yang berhasil mewujudkan kata dalam pikirannya 9. pemain yang tidak menemukan huruf untuk dirangkai menjadi sebuah kata pada kartu yang ia pegang ia harus mengambil kartu pada sisa kartu hingga menemukan huruf yang sesuai dengen kata ’rahasia’ yang ia pikirkan 5. pemain pertama memikirkan satu kata ’rahasia’ dan memasangkan huruf kedua yang sesuai dengan satu huruf awal pada kata yang ia pikirkan 6. pemain tidak boleh merangkai huruf sehingga menjadi : a. pemain boleh menutup kata dengan kata yang ia pikirkan meskipun rangkaian huruf tersebut masih bisa menjadi kata lain yang lebih panjang sehingga ia bisa memulai permainan kata baru lainnya 2. pemain dikatakan kalah apabila : a. pemain kedua memikirkan satu kata ’rahasia’ dan memasangkan huruf ketiga yang sesuai dengan dua huruf sebelumnya pada kata yang ia pikirkan 7. . ia jadi pemain terakhir yang memegang kartu b. pemain tidak perlu menyebutkan kata ’rahasia’ yang ia pikirkan kepada pemain lain kecuali bila SEMUA PEMAIN tidak bisa memikirkan kata ’rahasia’ dari rangkaian huruf tersebut 3.

siswa akan aktif mendiskusikan suatu kata dengan teman sepermainan. Hal ini akan menyebabkan suasana permainan semakin meriah dan pertemanan semakin akrab. berpidato. Siswa Aktif Mencari Kata Siswa yang ikut dalam permainan ini harus senantiasa aktif mencari kata-kata yang sesuai dengan rangkaian huruf-huruf awal yang dilempar di tengah permainan. 4. Siswa Menjadi Senang Belajar Bahasa Permainan kartu kata ini sangat menyenangkan sehingga siapapun yang masuk dalam permainan ini. 2. Siswa Aktif Mendiskusikan Kata dengan Teman Sepermainan Apabila dalam permainan tersebut tidak didampingi dengan kamus. Demikian seterusnya. Siswa Menjadi Kaya Kosa Kata Siswa yang terlibat dalam permainan ini akhirnya [ disadarinya atau tidak ] akan semakin banyak mengenal dan menghafal kosa kata. . disadari atau tidak. Agar permasalahanpermasalahan tersebut tidak mengganggu kelancaran permainan atau hal-hal yang tidak diinginkan maka pemain harus menyelesaikannya dengan aktif membuka kamus. Siswa Aktif Membuka Kamus Siswa terkadang menemui kesulitan dalam menemukan kata dari huruf-huruf yang terangkai atau bahkan antar pemain terjadi perbedaan pendapat tentang suatu kata [ baik dalam bidang rumpun kata. Kadang kata rahasia yang sudah dipikirkan terpaksa diubah lagi karena pemain lain melempar huruf yang tidak sesuai dengan kata dalam pikirannya. Permainan ini dapat dikembangkan dengan memberikan hukuman kepada pemain yang kalah. dia sedang belajar bahasa. dia sedang belajar kosa kata. makna kata atau ejaannya . yaitu dengan bercerita atau mendongeng. berpuisi atau bernyanyi dan bersandiwara. NILAI PAEDAGOGIS PERMAINAN 1.C. Siswa Aktif Memaknai Kata Siswa tidak hanya aktif mencari kata tapi juga harus senantiasa aktif memaknai katakata yang akan atau telah terangkai menjadi kata sehingga tidak ada pemain yang curang atau salah memikirkan kata [ menyalahi kesepakatan ] 3. Hal ini sangat berguna dalam memperlancar komunikasi sehari-hari. tanpa disadari. 5. 6.

sehigga pembelajaran bahasa bisa dilaksanakan di mana saja dan kapan saja secara mandiri [ tanpa kehadiran seorang guru ]. Siswa Dapat Belajar Bahasa Di Mana Saja dan Kapan Saja Permainan ini tidak hanya dapat dilakukan di dalam kelas pada jam-jam pembelajaran. .7. kekompakkan. Siswa Dapat Menstabilkan Pikiran yang Tegang Permainan ini juga merupakan media penyegaran pikiran dan dapat mengantisipasi stres atau depresi karena selalu dalam suasana yang menyenangkan. 9. kesatuan atau persahabatan di antara pemain. tapi juga bisa dilakukan di luar kelas atau di luar sekolah dan pada waktu kapan saja karena bentuk kartunya kecil [ mudah dibawa kemana-mana ]. Siswa Menjadi Akrab dengan Sesama Teman Suasana yang menyenangkan dalam permainan ini akan semakin mengakrabkan antar pemain. Perasaan akrab ini akan melahirkan sikap tolong menolong sehingga memudahkan siswa mendapatkan solusi apabila ia menemukan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. akan tercipta pula rasa kesetiakawanan. Apabila telah tercipta keakraban dalam pertemanan. 8.