I.

Tinjauan Umum Krisis yang terjadi di Amerika serikat Serikat berakar pada besarnya gelembung kredit yang dikucurkan ke perumahan. Harga rumah di Amerika serikat, rata-rata turun hampir 5 persen. Banyak analis yang memprediksi bahwa harga akan turun lagi sebesar 10 persen, di mana hal tersebut akan menyebabkan penurunan harga rumah secara kumulatif dalam depresi ini. Bahkan di negara lain dampaknya bisa lebih buruk. Secara global, bank sendiri telah dilaporkan mencapai kerugian sebesar 600 miliar US dolar dalam bentuk kredit dan telah mengeluarkan 430 miliar US dolar dalam bentuk modal baru. Bank-bank di Amerika serikat dan di Eropa akan mengucurkan dananya sebesar 10 triliun US dolar dalam bentuk aset, yang ekuivalen dengan 14,5 persen dari stok kredit bank di tahun 2009. Di Amerika serikat secara keseluruhan pertumbuhan kredit akan melambat di bawah 1 persen, turun dari rata-rata pertahun setelah masa perang yang mencapai 9 persen. Hal itu sendiri dapat menurunkan pertumbuhan perekonomian negara-negara barat sebesar 1,5 persen. Tanpa tindakan maju dari pemerintah yang akan mengucurkan dana sebesar 700 miliar US dolar, perhitungan IMF menunjukan bahwa kredit akan turun sebesar 7,3 persen di Amerika serikat, 6,3 persen di Inggris, dan 4,5 persen di seluruh Eropa. Sejumlah negara-negara kaya saat ini mengalami resesi, sebagian karena kredit yang ketat dan sebagian lagi karena melonjaknya harga minyak pada awal tahun ini. Pendapatan nasional di Inggris, Perancis, Jerman, dan Jepang turun. Dengan melihat cepatnya para pekerja yang kehilangan pekerjaannya dan lemahnya daya beli konsumen, perekonomian Amerika Serikat juga mengalami kemunduran. Sejarah mengajarkan pelajaran penting, bahwa krisis perbankan yang besar akhirnya diselesaikan dengan menggunakan sejumlah besar uang publik, dan kemudian tindakan pemerintah yang tegas, baik itu untuk merekapitalisasi bank atau mengambil alih kredit yang bermasalah, dapat meminimalkan biaya kepada pembayar pajak dan dampak krisis tersebut ke perekonomian.

Saat ini bagaimana Amerika serikat mengusulkan bekerjanya Troubled Asset Relief Programme (TARP) masih belum jelas. Kompleksitas dari ribuan hipotek yang dijamin dengan asset akan membuat hal ini menjadi sulit. dolar akan menguat. sejumlah uang yang sangat banyak sebesar 16 persen GDP dimana rata-rata krisis perbankan yang sistemik diselesaikan dengan biaya dari bantuan dana publik. Amerika Serikat memiliki keuntungan bahwa mata uangnya yakni dolar adalah mata uang cadangan devisa tiap negara. yaitu dolar. Departemen Keuangan dapat melakukan hal itu juga. Jepang harus menempuh satu dekade untuk pulih dari krisis keuangan dengan biaya pembayar pajaknya yang ekuivalen dengan 24 persen GDP nya. di mana bank menawarkan untuk menjual pada suatu harga tertentu dan pemerintah membeli dari harga terendah sampai tertingi. Masalahnya terletak pada besarnya difisit neraca berjalan Amerika serikat yang bergantung pada pembiayaan luar negeri. Secara kontras. Proses ini sekarang berbalik menjadi 3 jalan yang berbeda. dan sebagaimana kekacauan pasar finansial telah meluas. Bila rekapitalisasi bank secara langsung masih dibutuhkan. Bila orang asing melarikan dolar. Departemen Keuangan Amerika Serikat berencana membeli sejumlah besar utang yang bermasalah dengan menggunakan mekanisme lelang.Contohnya. maka Amerika Serikat akan mengalami dua mimpi buruk yang menghantui negaranegara emerging market dalam kehancuran pasar keuangan: secara simultan terjadi krisis mata uang dan perbankan. Pemerintah Amerika Serikat telah telah meletakkan 7 persen GDP nya pada garis batas. Swedia dengan cepat mengambil alih bank yang bermasalah setelah terjadinya kegagalan properti di awal tahun 1990-an dan pulih dengan cepat. tidak seperti utang-utang negara emerging market. Tetapi krisis kali ini juga menguji banyak fondasi dimana orang asing loyal terhadap dasar dolar. utang Amerika Serikat didenominasikan dalam bentuk mata uangnya sendiri. Tetapi kolapsnya dolar akan tetap menjadi sebuah bencana. seperti jangkauan pemerintah yang terbatas dan pasar modal yang stabil. Utang amerika serikat. . Hal yang utama adalah Amerika serikat harus bersiap-siap melakukan tindakan tegas.

keuangan negara-negara barat akan diregulasi. melarang expor dari komoditas penting. terutama di T bills (surat berharga) Pemerintah AS. wilayah yang paling bebas di keuangan modern. Overlaping dari pembuat peraturan akan diatur kembali. dimana politisi juga disalahkan karena adanya spekulasi keuangan. Deleveraging dalam perekonomian barat akan sedikit tidak terlalu terasa bila savings di negaranegara asia yang kaya dan negara pengekspor minyak menyuntikan dananya. bahkan pada kasus India. seperti 55 triliun US dolar untuk derivasi kredit akan diatur. Krisis Ekonomi Global dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia Imbas dari krisis lembaga keuangan AS pertama-tama amat terasa di pasar modal sebagaimana ditunjukkan oleh kemerosotan tajam IHSG. keseimbangan antara negara dan pasar berubah dalam wilayah selain keuangan. sehingga mereka akan meningkatkan bentuk keuangan masa depan. Amerika serikat kehilangan pengaruh ekonomi dan wewenang intelektual.Pertama. Untuk kebanyakan negara. baik pemerintah maupun korporasi. Peraturan akan modal akan diperiksa secara seksama untuk menurunkan solvabilitas dan meningkatkan daya rentang sistem. Kemerosotan IHSG ini diikuti pelemahan nilai rupiah yang sudah menembus angka Rp 10. menaikan subsidi. pemerintah di negaranegara emerging market memperluas jangkauannya. Sebagaimana negara-negera yang perekonomiannya sedang tumbuh pesat membentuk arah dari perdagangan global. II. Seperti China yang merupakan negara kaya kapital dan mudah dalam member kredit. Kedua. Pada tingkat minimalnya. shock yang sangat penting dalam beberapa tahun yang lalu adalah naiknya harga komoditi secara besar-besaran. Untuk meresponsnya. Pasar obligasi. memperbaiki harga.650 seiring penguatan dollar AS karena investor mencari perlindungan. Seberapa besar kontrol yang akan dikenakan akan kurang bergantung kepada ideologi daripada parahnya penurunan ekonomi. pemerintahnya melarang perdagangan future. Naiknya harga makanan di akhir 2007 dan awal 2008 telah menyebabkan adanya pemberontakan di 30 negara. Ketiga. juga tertekan menimbulkan kerugian besar pada perbankan dan institusi pemegang obligasi lainnya karena penghitungan .

Dampak Melalui Financial Channel Dampak krisis melalui jalur financial dimungkinkan secara langsung maupun tidak langsung. Kondisi ini dipicu oleh munculnya perilaku risk aversion yang berlebihan dari investor menyusul goncangan yang terjadi di pasar keuangan. Selain melalui keterkaitan terhadap aset bermasalah dan deleveraging.yang disesuaikan nilai pasar saat itu (mark-to-market). yaitu jalur financial (financial channel) dan jalur perdagangan (trade channel) atau jalur makroekonomi a. terutama di triwulan akhir. Selanjutnya perbankan dihadapkan persoalan ketatnya likuiditas. Tekanan pada kondisi NPI diantaranya didorong oleh . dampak langsung jalur finansial juga muncul melalui aksi flight to quality. Transmisi dampak krisis global ke perekonomian Indonesia pada dasarnya melewati dua jalur. Sementara itu dampak tidak langsung dari jalur finansial akan muncul melalui terganggunya ketersediaan pembiayaan ekonomi. Bahkan. bank amat membutuhkan dana dari masyarakat yang pertumbuhannya tidak sepadan dengan pertumbuhan kredit itu. yaitu penyesuaian portfolio dari aset yang dipandang berisiko ke aset yang lebih aman. Selain itu. Perkembangan NPI yang cukup positif di paruh pertama 2008 berubah secara signifikan di semester II-08. transmisi dampak krisis melalui jalur financial langsung juga muncul melalui aktivitas deleveraging. Dampak Melalui Trade Channel Intensitas dampak krisis melalui jalur perdagangan telah mengakibatkan menurunnya kinerja pembayaran Indonesia (NPI). di mana investor asing yang mengalami kesulitan likuiditas terpaksa menarik dana yang tadinya ditanamkan di Indonesia. Untuk mengimbangi pertumbuhan kredit yang amat tinggi. beberapa bank member bunga deposito hingga 12-13 persen untuk jumlah tertentu. yang mendorong peningkatan suku bunga deposito yang tinggi. atau meskipun tidak memiliki aset bermasalah namun memiliki kaitan dengan lembaga keuangan yang memiliki eksposur yang besar terhadap aset bermasalah. di atas 30 persen. Dampak secara langsung akan muncul apabila bank atau lembaga keuangan memiliki eksposur langsung terhadap aset-aset yang bermasalah (toxic assets). b. baik dollar AS maupun rupiah.

Rentannya ekspor Indonesia terhadap shock di kondisi eksternal ini sesungguhnya tidak terlepas dari karakteristik komoditas ekspor Indonesia. dampak krisis ke kinerja ekspor diperkirakan akan signifikan. menyusul melemahnya permintaan global dan anjloknya harga-harga komoditas dunia. teratas yaitu Jepang dan AS memilliki pangsa yang mulai menurun dalam 4 tahun terakhir. melampaui Singapura dan Korea. dan pertambangan. Singapura. mitra dagang utama Indonesia meliputi Jepang. di mana mitra dagang. AS. • Negara Tujuan Ekspor Negara tujuan utama ekspor Indonesia cenderung terkonsentrasi pada sejumlah negara. terdapat kecenderungan pergeseran dominasi. di mana lebih dari separuh pangsa ekspor tertuju ke empat sampai lima negara saja. Kontribusi sektor primer dalam struktur ekspor Indonesia tercatat cukup besar. Korea. Sektor-sektor yang paling terkena imbas krisis global adalah sektor yang mengandalkan permintaan eksternal (tradable). dan tingginya kandungan impor pada komoditas ekspor. seperti industri manufaktur. Meskipun demikian. disusul oleh kelompok komoditas pertambangan dan pertanian. dan China. Komoditas minyak dan gas merupakan komoditas primer dengan kontribusi terbesar. Ketiga sektor ini menyumbang lebih dari 50 persen PDB dan menyerap lebih dari 60 persen tenaga kerja nasional. Dengan karakteristik ekspor seperti yang diuraikan di atas. Secara rata-rata dari 2005-2008 pangsa komoditas primer dalam total ekspor mencapai hampir 50%. • Struktur Ekspor Beberapa hal yang terkait dengan struktur ekspor yang berpotensi memperbesar dampak krisis melalui jalur perdagangan adalah ketergantungan terhadap komoditas primer. Selama tahun 2000-2007. bahkan pada tahun 2007 China telah menjadi pasar tujuan ekspor ketiga.memburuknya kinerja neraca berjalan yang dipicu oleh menurunnya kinerja ekspor. Terpukulnya kinerja sektor-sektor ini pada akhirnya . pertanian. Sementara itu pangsa China cenderung meningkat. komoditas ekspor yang kurang terdiversifikasi.

Berdasarkan hasil analisis dengan memanfaatkan Tabel Input Output Indonesia tahun 2005.306 orang. Selain menyebabkan gangguan signifikan di sektor riil seperti diuraikan di atas. diketahui bahwa penurunan ekspor Indonesia sebesar 1% akan berimbas pada penurunan penyerapan tenaga kerja di sector industri sebesar 0. penurunan ekspor tersebut juga berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor lain. krisis global juga berpotensi memberikan tekanan bagi perusahaanperusahaan yang memiliki kewajiban dalam valas. Penyusutan di pasar domestik ini pada akhirnya akan bergulir kembali ke sektor bisnis dalam bentuk terpangkasnya margin laba pemilik modal. Lesunya perekonomian berpotensi menciptakan risiko kredit bagi perbankan. Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) sampai dengan akhir Desember 2008. mengingat dinamika konsumsi selama ini bergerak searah dengan perkembangan labor share dalam pendapatan nasional. Secara keseluruhan. seiring dengan terjadinya tekanan depresiasi Rupiah . Bagi sektor bisnis yang juga mengandalkan dana internal sebagai sumber pembiayaan bisnisnya. Selain berimbas ke sektor industri. jumlah pekerja yang dirumahkan telah mencapai sekitar 10. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi memperlemah pertumbuhan ekonomi.42%. yang pada akhirnya akan menghambat bank dalam mengucurkan kredit. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan belum adanya tandatanda perbaikan perekonomian dunia. Kondisi ini pada gilirannya akan berimplikasi pada penurunan konsumsi masyarakat secara agregat. Gangguan pada kinerja sektor riil ini pada gilirannya akan mempengaruhi kemampuan sektor-sektor yang selama ini melakukan pembiayaan ekonomi. penurunan ekspor di sektor industry akan berdampak terhadap penurunan total tenaga kerja sebesar 0. terutama sektor pertanian.akan berujung pada gelombang pemutusan hubungan tenaga kerja.17% Gelombang pemutusan hubungan kerja selanjutnya akan berdampak pada turunnya kontribusi tenaga kerja dalam pendapatan nasional. terganggunya tingkat keuntungan akan berdampak pada tertahannya pelaku usaha dalam melakukan ekspansi bisnis.

Permintaan domestik diperkirakan akan tetap menjadi kekuatan utama pertumbuhan ekonomi. Dampak krisis dipastikan akan memberikan tekanan yang cukup signifikan. sementara kinerja ekspor juga akan kembali mengalami penguatan sejalan dengan mulai bangkitnya perekonomian global pada tahun 2010. namun dalam jangka menengah perekonomian diperkirakan akan tetap bergerak dalam lintasan pertumbuhan ekonomi yang makin tinggi dengan laju inflasi yang tetap terkendali.III. Terjaganya keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran inilah yang merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan perekonomian mampu terus tumbuh tanpa harus mengorbankan stabilitas harga. Meskipun demikian. Rendahnya daya saing (competitiveness) terlihat dari semua aspek utama yang meliputi basic . lintasan pemulihan ekonomi (recovery path) dunia. Penguatan sisi permintaan domestik ini mampu diimbangi dengan meningkatnya daya dukung kapasitas perekonomian. Meskipun diperkirakan akan mengalami tekanan yang cukup kuat pada tahun 2009. tekanan yang cukup kuat terhadap perekonomian pada tahun 2009 menyebabkan akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang akan cenderung terhambat. Prospek Perekonomian Indonesia 2009-2014 Perkembangan perekonomian dunia yang terus memburuk dan belum munculnya tanda-tanda akan segera berakhirnya krisis global menyebabkan proyeksi perekonomian Indonesia ini dilakukan dalam nuansa ketidakpastian yang tinggi. Berdasarkan asesmen yang dilakukan. tidak saja pada perekonomian domestik jangka pendek. sehingga secara umum proyeksi perekonomian ini mengalami penyesuaian ke bawah dibandingkan proyeksi sebelumnya Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan daya saing ekonomi belum menunjukkan hasil yang signifikan. namun juga akan mempengaruhi lintasan variabel-variabel kunci ekonomi makro dalam jangka menengah. sehingga mampu menjaga kecukupan di sisi produksi. yang dimotori oleh negaranegara maju.

Hal tersebut diperburuk lagi dengan masih banyaknya hambatan dalam melakukan bisnis di Indonesia sebagaimana tercermin dari hasil survey Doing Business. Kebijakan Ekonomi Makro (Moneter dan Fiskal)  Dalam menghadapi imbas perlambatan kinerja ekonomi dunia dan ketidakpastian di pasar keuangan global yang berimbas ke perekonomian domestik. Oleh karena itu. Implikasi Kebijakan Pengamatan terhadap data ekonomi dalam satu dasawarsa terakhir menunjukkan indikasi kuat karakteristik perekonomian nasional yang mengarah pada domestic-demand led growth. Kekuatan market size ini juga diyakini merupakan salah satu penyebab lebih kuatnya daya tahan perekonomian terhadap kejutan eksternal belakangan ini. Meskipun demikian. kemampuan untuk meningkatkan kapasitas produksi domestik menjadi sangat penting. dalam jangka menengah panjang. Di sisi moneter. Berpijak pada karakteristik ini. dalam jangka menengah panjang. Hal itu dapat dilihat dari posisi Indonesia dalam Global Competitiveness Report 2008-2009 yang berada pada peringkat 55. arah kebijakan ekonomi secara umum harus diarahkan untuk tetap menjaga market size dan daya beli masyarakat. moneter dan sektor riil. efficiency dan innovation. Pemerintah dan Bank Indonesia senantiasa meningkatkan sinergi dan koordinasi dalam mengelola kebijakan fiskal. pelonggaran kebijakan moneter dibarengi dengan upaya penyempurnaan pengelolaan likuiditas di pasar uang untuk menjaga kestabilan pasar uang domestik dan peluncuran serangkaian .requirement. Berikut sejumlah kebijakan yang perlu dilakukan guna mendukung pencapaian performa perekonomian yang diharapkan: a. terutama pada aspek birokrasi Pemerintah yang dinilai tidak efisien dan infrastruktur yang kurang memadai IV. hanya kekuatan permintaan domestik yang mampu diimbangi oleh sisi produksi (penawaran) yang memungkinkan perekonomian mencapai pertumbuhan tinggi tanpa harus mengorbankan stabilitas harga. tidak jauh berbeda dengan periode sebelumnya (54).

dan menggairahkan sector riil. Pengawasan dini yang diterapkan Bank Indonesia dengan mengembangkan model deteksi dini antara lain stress tests. dalam merespons krisis keuangan global Pemerintah berkoordinasi dengan Bank Indonesia mengeluarkan 10 langkah Stabilisasi Ekonomi yang bertujuan menjaga kegiatan ekonomi agar tidak banyak mengalami gangguan. mitigasi risiko di sektor keuangan juga perlu dilakukan dengan memperkuat surveillance. Selain itu. maka langkah-langkah penyempurnaan kebijakan moneter di tingkat operasional juga akan terus dilakukan. tetap pelaksanaan tersebut dilakukan dengan mengupayakan keseimbangan yang optimal antara mempertahankan kestabilan harga. financial stability index. belajar dari krisis finansial global yang terjadi. dan melakukan respons terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi pelaku ekonomi serta menjaga masyarakat dari dampak yang merugikan. dan analisis probability of default. menjaga ketenangan pasar keuangan. baik di tingkat makro maupun mikro.  Di sisi fiskal. perlu terus disempurnakan. dalam rangka meningkatkan kepercayaan terhadap perbankan dan kepastian hokum penyelesaian krisis telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) yang berlaku per 15 Oktober 2008. menjaga keselamatan dan keamanan perekonomian. Pemerintah juga melakukan penambahan stimulus fiskal sebagai kebijakan countercyclical yang dilakukan dalam rangka .  Di bidang perbankan. mengawal integritas sistem. Meskipun demikian. Guna mendukung implementasi ITF.  Kebijakan moneter akan secara konsisten dilakukan dengan mengacu kepada Inflation dari Targeting ITF Framework akan (ITF).kebijakan baik dari sisi pengelolaan permintaan maupun pasokan valuta asing. Di bidang perbankan. maka langkahlangkah memperkuat manajemen risiko dan prinsip good governance di lembaga-lembaga keuangan bank dan non-bank perlu makin diperkuat. Selain itu.

serta menangani dampak PHK dan mengurangi tingkat pengangguran melalui peningkatan belanja infrastruktur padat karya. Selain itu. Dalam jangka menengah. Dari sisi pengeluaran. upaya pengendalian inflasi di tingkat daerah melalui Tim Pengendalian . Dalam jangka pendek. perlu adanya suatu mekanisme kebijakan yang yang menekankan pencapaian hasil tertentu atas alokasi anggaran yang telah disediakan. perlu diciptakan suatu mekanisme untuk mengoptimalkan pemanfaatan surplus di pemerintah daerah guna meningkatkan stimulus fiskal di daerah. Tim Pengendalian Inflasi dan Tim Koordinasi Stabilisasi Pangan Pokok akan terus diperkuat dan ditingkatkan. langkah-langkah koordinasi kebijakan yang selama ini telah berlangsung melalui Forum Koordinasi Pengendalian Inflasi. koordinasi yang baik dan harmonisasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah akan menjadikan sasaran inflasi lebih kredibel.  Kebijakan fiskal secara umum akan tetap diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara tetap memberikan stimulus ke perekonomian dan mempertahankan kesinambungan fiskal. Dalam hal pengendalian inflasi. memperbaiki daya saing dan daya tahan sektor usaha. Dalam penetapan sasaran inflasi misalnya.mempertahankan daya beli masyarakat. Kemitraan strategis dan koordinasi yang selama ini telah terjalin antara Pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus dipererat. rencana stimulus fiskal sebagai bagian dari kebijakan publik yang bersifat countercyclical guna menahan pelemahan ekonomi yang lebih dalam. diharapkan dapat berjalan optimal dan tepat waktu. langkah-langkah optimalisasi penerimaan negara perlu terus dilakukan dengan tetap memperhatikan perlunya insentif fiskal untuk sektor-sektor prioritas guna tetap memacu investasi di dalam negeri. Selain itu. berdasarkan pengamatan terhadap perkembangan realisasi APBD beberapa tahun terakhir.  Koordinasi fiskal dan moneter mutlak diperlukan demi terciptanya konsistensi dan keselarasan kebijakan yang diambil.

Kebijakan Ekonomi Mikro (Struktural)  Untuk mendorong sektor riil agar bergerak lebih cepat dan berdaya tahan tinggi. Infrastruktur yang baik akan menjamin kelancaran arus barang modal dan input antara guna terciptanya proses produksi yang lancar dan fleksibel dalam merespons permintaan pasar serta menjamin kelancaran distribusi barang komoditas maupun hasil industri. mengingat relative masih belum terlalu baiknya peringkat daya saing Indonesia khususnya di negara-negara kawasan. Hal ini mencakup perbaikan-perbaikan yang terkait investasi (baik perizinan. Ketersediaan infrastruktur dan kualitas institusi yang memadai merupakan bagian penting dari terciptanya iklim investasi yang kondusif. peningkatan kapasitas kelembagaan perlu diberi prioritas yang tinggi. perbaikan iklim investasi merupakan faktor yang sangat penting. serta distribusi barang dan jasa. Di samping itu. Perbaikan iklim investasi ini juga sangat penting guna mendorong peningkatan daya saing ekonomi Indonesia. human capital development (keterampilan. .Inflasi Daerah yang merupakan koordinasi antara instansi terkait di daerah dengan Kantor Bank Indonesia akan terus diintensifkan. b. efisiensi dan produktivitas produksi. pendidikan dan kesehatan). keamanan dan kepastian usaha).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful