PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam interaksi antar warga negara dengan pemerintah, dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang praktikpraktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh karena itu, seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-pengetahuan, perasaan dan sikap warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik dan lai-lain. Banyak pandangan atau pendapat dari para ahli ilmuwan antara lainnya yaitu Sosialisasi politik menurut Almond ( Mochtar Mas’oed dan Colin Mac Andrew’s, 2001 ) adalah bagian dari proses sosialisasi yang khusus membentuk nilai-nilai politik, yang menunjukan bagaimana seharusnya masing-masing anggota masyarakat berpartsipasi dalam sistem politiknya. II. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditarik pokok permasalahan untuk di analisis dan dikaji dalam pembuatan makalah ini. Adapun permasalahan yang akan dikaji dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut: a. Konsep sosialisasi politik b. Proses sosialisasi politik c. agen sosialisasi politik d. Tahapan sosialisasi politik. e. Sosialisasi politik pada berbagai tipe masyarakat III. Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa mempelajari dan mengetahui bagaimana ilmu yang sangat berguna yang bisa di dapatkan dalam materi ini. Materi tentang sosialisasi ini kami buat sebagai acuan serta motivasi dan semangat mahasiswa dalam belajar, supaya bisa berguna pada diri mahasiswa tersebut serta supaya bisa menciptakan suasana belajar yang kondusif dan nyaman. Agar mahasiswa paham akan tata cara bersosialisasi politik dikalangan apapun. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa sosialisasi politik itu perlu di sosialisasikan di kalanganh keluarga, sekolah bahkan masyarakat primitif sekalipun.

PEMBAHASAN
I. Konsep sosialisasi politik Sosialisasi Politik merupakan proses yang sulit dipahami. Secara luas dikatakan sosialisasi politik merupakan transmisi dari budaya politik kepada generasi yang baru di suatu masyarakat tertentu (Almond and Verba, 1963). Sosialisasi politik merupakan produk dari fenomena mikro dan makro yang saling bertautan. Masyarakat politik membawakan pola-pola yang telah terpola dari pemikiran, tindakan, hukum dan norma serta tradisi melalui agen-agen sosialisasi politik seperti keluarga, sistem pendidikan, kelompok bermain, organisasi masyarakaat, media, lembaga politik, organisasi masyarakat, dan organisasi keagamaan serta militer (Beck, 1977). Pada level makro sistem politik, sosialisasi politik merupakan alat yang digunakan masyarakat politik untuk menanamkan norma-norma dan praktek-praktek yang tepat kepada warganya (Sapiro, 2004: 2). Pada level mikro, sosialisasi politik merupakan pola-pola dan proses yang dilalui individu dalam melibatkan diri dalam pembangunan dan pembelajaran politik, membentuk konteks yang khusus dengan lingkungan politik tempat tinggalnya (Sapiro, 2004: 3). Sosialisasi politik pada dasarnya merupakan suatu proses bagaimana memperkenalkan sistem politik pada seseorang, dan bagaimana orang tersebut menentukan tanggapan serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Beberapa ahli ilmu sosial menggunakan istilah sosialisasi untuk menunjukkan cara bagaimana anak-anak diperkenalkan pada nilai-nilai dan sikap-sikap yang dianut masyarakat mereka, serta bagaimana mereka mempelajari perananperanan yang diharapkan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa. Sosialisasi politik menunjukkan bagaimana seharusnya masing-masing anggota masyarakat berpartisipasi dalam sistem politiknya. Kebanyakan anak- anak, sejak masa kanakkanaknya, belajar memahami sikap-sikap dan harapan- harapan politik yang hidup dalam masyarakatnya. Jadi sosialisasi politik menunjuk pada proses-proses pembentukan sikapsikap politik dan pola-pola tingkah laku. Disamping itu sosialisasi politik juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk “mewariskan” patokan-patokan dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi sesudahnya, proses ini disebut tranmisi kebudayaan ( Mas;ud, 1995:34 ).

Sosialisasi politik menurut Almond ( Mochtar Mas’oed dan Colin Mac Andrew’s, 2001 ) adalah bagian dari proses sosialisasi yang khusus membentuk nilai-nilai politik, yang menunjukan bagaimana seharusnya masing-masing anggota masyarakat berpartsipasi dalam sistem politiknya. Hybert Hyman ( Rush dan Althoff, 2005 ) memberi batasan bahwa sosialisasi politik sebagai proses dengan mana sikap dan nilai politik ditanamkan kepada anak sampai mereka dewasa dan orang-orang dewasa direkrut kedalam peranan tertentu (Rush dan Althoff, 2005). Fred T. Greentein dalam Intenational Encylopedia of the social sciences mengemukakan batsan sosialisasi politik secara sempit dan luas. secara sempit sosialisasi politik diartikan sebagai penanaman informasi politik yang sengaja, nilai-nilai dan praktik yang oleh badan instruksional secara formal ditugaskan untuk tanggung jawab ini. Sedangkan secara luas adalah semua usaha mempelajari politik, baik formal maupun informal disengaja atau tidak direncanakan pada setiap siklus kehidupan dan termasuk didalamnya tidak hanya secara eksplisit masalah belajar politik saja, akan tetapi juga secara nominal belajar bersikap nonpolitik mengenai karakteristik-karakteristik kepribadian yang bersangkutan (Rush dan Althoff, 2005). Menurut Almond ada dua hal penting yang perlu diperhatikan mengenai sosialisasi politik : 1. Sosialisasi berlangsung secara terus menerus selama hidup seseorang. Pengetahuan, sikapsikap dan nilai-nilai yang berbentuk pada masa anak-anak akan bisa terus berubah dan berkembang selama hidupnya seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh. 2. Sosialisasi bisa dalam wujud transmisi dan pengajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika sosialisasi melibatkan komunikasi informasi, nilai-nilai dan perasaan politik secara eksplisit maka sosialisasi ini bersifat langsung.

II. Proses sosialisasi politik Sosialisasi politik merupakan proses bagaimana memperkenalkan sistem politik pada seseorang dan bagaimana orang tersebut menentukan tanggapan serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Melalui sosialisasi politik, individu-individu diharapkan mau dan mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan politik. Dalam hal ini sosialisasi politik merupakan suatu proses pedagogis ( proses pendidikan ), atau suatu

proses pembudayaan insan-insan politik. Proses ini melibatkan orang-orang baik dari generasi tua maupun generasi muda. Proses ini dimulai sejak dini, ketika seorang anak masih kecil, dimana keluarga berperan sebagai pelaku utama dalam sosialisasi. Selain keluarga, sekolah ( pendidikan ), kelompok sebaya, kelompok agama, dan media massa berperan sebagai agen atau pelaku sosialisasi politik ( Rafael Raga Maram, 2007:136 ). Menurut Ijwara ( 1995 ) tipe sosialiasasi politik adalah bagaimana cara atau mekanisme sosialisasi politik berlangsung. Oleh karena itu, tipe sosialisasi politik dapat disebut pula dengan mekanisme sosialisasi politik. Ada dua tipe sosialisasi politik yaitu langsung dan tidak langsung ( Ijwara, 1995: 15 ) a. Sosialisasi politik langsung Sosialisasi politik langsung berlangsung dalam satu tahap saja, yaitu bahwa hal-hal yang diorientasikan dan ditranmisikan adalah hal-hal yang bersifat politik saja. Sosialisasi politik langsung dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut : 1) Peniruan Perilaku ( imitasi ) Proses menyerap atau mendapatkan orientasi politik dengan cara meniru orang lain. Yang ditiru bukan hanya pandangan politik, tetapi juga sikap- sikap politik, keyakinan politik, harapan mengenal politik, tingkah laku politik, serta ketrampilan dalam berpolitik. 2) Sosialisasi Antisipatori Sosialiasai politik dengan cara belajar bersikap dan berperilaku seperti tokoh politik yang diidealkan. 3) Pendidikan Politik Sosialisasi politik melalui pendidikan politik adalah upaya yang secara sadar dan sengaja serta direncanakan untuk menyampaikan, menanamkan, dan

memberikan pelajaran kepada anak untuk memiliki orientasi politik tertentu. Pendidikan politik bisa dilakukan di Sekolah, organisasi, partai politik, media massa, diskusi politik, serta forum-forum politik. 4) Pengalaman Politik

Pengalaman politik adalah belajar langsung dalam kegiatan-kegiatan politik atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya publik. Terlibat langsung dalam kegiatan partai politik. b. Sosialisasi politik tidak langsung Sosialisasi politik tidak langsung adalah warga negara pada mulanya berorientasi pada hal-hal yang bukan politik ( non politik ), namun kemudian mempengaruhinya untuk memiliki orientasi politik. Terdapat dua tahap dalam sosialisasi politik tidak langsung yaitu tahap pertama berorientasi pada non politik, tahap kedua digunakan untuk orientasi pada politik. Sosialiasai politik secara tidak langsung ini dapat dilakukan melalui tiga cara 1) Pengalihan hubungan antar individu ( Interpersonal ) Hubungan antar individu yang pada mulanya tidak berkaitan dengan politik, namun nantinya akan berpengaruh ketika berhubungan atau berorientasi dengan kehidupan politik. Contohnya, hubungan mahasiswa dengan dosen, nantinya akan membentuk siswa manakala ia bertemu dengan walikota/bupati. 2) Magang Magang merupakan bentuk aktivitas sebagai sarana belajar. Magang di tempattempat tertentu atau orientasi non-politik, nantinya akan mempengaruhi seseorang ketika berhubungan dengan politik. Contohnya, mahasiswa ikut organisasi kemahasiswaan, dalam organisasi tersebut mereka belajar mengenal rapat, melakukan voting, dan membuat keputusan. kegitan ini akan sangat membantu manakala mahasiswa nanti benar-benar terjun ke dalam dunia politik praktis. 3) Generalisasi Kepercayaan dan nilai-nilai yang diyakini selama ini yang sebenarnya tidak ada kaitannya secara langsung dengan politik dapat mempengaruhi seseorang untuk berorientasi pada obyek politik tertentu. Contohnya, seseorang yang memiliki kepercayaan bahwa semua orang pada dasarnya baik, maka kepercayaan ini akan menjadikan ia berprasangka baik terhadap semua pejabat negara. Sebaliknya, jika seseorang berpendapat bahwa semua orang pada dasarnya buruk, ia akan hati-hati manakala bertemu dengan pejabat. Jadi

kepercayaan

atau

nilai-nilai

yang

diyakini

digeneralisasikan kepada

kehidupan politik

III. Agen Sosialisasi Politik Sosialisasi dijalankan melalui bermacam-macam lembaga. Beberapa diantaranya, seperti pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah-sekolah, dengan sengaja dirancangkan demi tujuan sosialiasasi politik, disamping juga untuk tujuan lain. Lainnya, seperti kelompok bergaul dan bekerja, hanya cenderung untuk mempengaruhi sosialisasi politik secara tidak langsung. Sarana sosialisasi politik dapat melalui : 1. Keluarga Pengaruh kehidupan keluarga baik langsung maupun tidak langsung sebagai lembaga sosialisasi pertama yang dialami seseorang sangat kuat dan kekal. Pengaruh yang paling jelas dari keluarga ini adalah dalam hal pembentukan sikap terhadap wewenang kekuasaan. 2. Sekolah Orang terpelajar lebih sadar terpengaruh pemerintah terhadap kehidupan mereka, lebih memperhatikan kehidupan politik, lebih banyak memperoleh informasi tentang proses politik, dan lebih komponen dalam tingkah lakun politiknya. Sekolah memberikan pengertian pada kaum muda tentang dunia politik dan peranan mereka didalamnya. Sekolah juga merupakan saluran pewarisan nilai dan sikap masyarakatnya. 3. Kelompok pergaulan Meskipun sekolah dan keluarga merupakan sarana yang paling jelas dalam proses sosialisasi, ada juga beberapa unit sosial lain yang biasa membentuk sikap politik seseorang. Salah satunya adalah kelompok pergaulan, termasuk kelompok bermain dimasa anak-anak, kelompok persahabatan dan kelompok kerja yang kecil, dimana setiap anggotanya mempunyai kedudukan yang relatif sama dan saling memiliki ikatan yang erat. 4. Pekerjaan Pekerjaan dan organisasi-organisasi formal maupun nonformal yang dibentuk berdasarkan lingkungan pekerjaan itu, seperti serikat buruh, klub sosial dan semacam itu juga merupakan saluran komunikasi informasi dankeyakinan yang jelas. 5. Media massa

Masyarakat Modern tidak dapat hidup tanpa komunikasi yang luas, cepat dan secara umum seragam. Di era globalisasi, informasi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dimana saja didunia segera menjadi pengetahuan umum dalam beberapa jam saja. 6. Kontak-kontak politik langsung Meskipun pandangan terhadap sisitem politik yang telah ditananmkan oleh keluargakeluarga atau sekolah begitu positif, tetapi apabila kenyataan dalam masyarakat sangat berbeda dan cendrung negatif, seperti adanya diskriminasi oleh partai pemerintah, adanya kesenjangan ekonomin maka pandangan terhadap dunia politik sangat mungkin berubah. Artinya, kontak-kontak langsung dengan pemerintah, lembaga politik, dan kehidupan politik sangat mempengaruhi sikap dan prilaku politik individu dan kelompok-kelompok untuk tetap setia atau tidak, bersedia mendukung atau tidak terhadap sistem politik, pemerintah, atau partai politik yang semula didukungnya. Jadi sosialisasi politik adalah proses yang berlangsung lama dan rumit yang dihasilkan dari usaha saling mempengaruhi diantara kepribadian individu dengan pengalaman politiknya yang relevan. Pengalaman tersebut tidak perku khas bersifat politik, akan tetapi pengalaman tersebut disebut relevan karena memberi bentuk terhadap tingkah laku politiknya.

IV. Tahapan sosialisasi politik Tahapan sosialisasi politik yang dimaksud dalam kegiatan belajar ini adalah fase-fase sosialisasi politik yang dialami manusia sepanjang hidupnya,yang dalam pembahasan ini adalah pada masa anak-anak dan anak remaja,serta pada masa dewasa. A. Sosialisasi politik pada masa anak-anak dan remaja Tahapan perkembangan sosialisasi politik pada anak-anak dan remaja diantaranya dapat ditemukan dari hasil riset yang dilakukan frank dan elizabeth estvan serta david easton dan robert hess (rush dan althoff, 2005 ). dalam buku the childs word, frank dan elizeth estvan menjelaskan bahwa anak-anak secara berangsur-angsur menyadari lingkungannya ke arah yang lebih besar.seiring dengan bertambahnya usia,anak-anak juga semakin bertambah tanggap dalam mereaksi situasi-situasi khusus dan seluruh pandangan mereka menjadi semakin berpautan dan semakin total, berbeda dengan sebelumnya yang masih bersifat terpisah-pisah dan terbatas.

Temuan lain menunjukkan bahwa lingkungan merupakan faktor penting dalam sosialisasi politik. Hal ini ditunjukkan oleh pengetahuan sangat berbeda antara anak-anak yang berasal dari kota dengan anak-anak yang berasal dari desa tentang gedung capitol. Sosialisasi pada masa anak-anak sangat dipengaruhi oleh peranan keluarga. Sebagaimana diketahui dan dijelaskan didepan bahwa keluarga merupakan agen sosialisasi yang penting dan paling awal.robert lane mengemukakan bahwa terdapat tiga kepercayaan politik yang dapat diletakkan melalui dan dalam keluarga,yaitu antara lain: 1) Dengan indoktrinasi terbuka dan indoktrinasi tertutup 2) Dengan jalan menempatkan anak dalam satu konteks sosial khusus 3) Dengan jalan membentuk kepribadian anak B. Sosialisasi politik masa dewasa Sosialisasi politik pada masa dewasa merupakan kelanjutan atau merupakan suatu yang berbeda dari masa sebelumnya. Secara logika sikap dan tingkah laku politik dimasa depan dapat ditentukan dimasa-masa yang lebih muda, walupun sering kali terjadi interaksi di masa dewasa turut dan sangat memberikan peran yang cukup penting. Sebagai contoh badan legislatif mengalami proses sosialisasi segera sesudah pemilihan dan tingkah laku legislatif berikutnya sebagian ditentukan oleh pengetahuan, niali-nilai dan sikap mereka seperti yang ada terdapat sebelum pemilihan, dan sebagian lagi oleh pengalaman-pengalaman mereka semasa menjadi anggota badan legislatif, ditambah dengan reaksi mereka terhadap lingkungan baru di dalam lembaga legislatif.

V. Sosialisasi politik pada berbagai tipe masyarakat a. Sosialisasi politik pada masyarakat demokratis Sosialisasi politik tidak pernah benar-benar berhenti. Begitu kita lihat dalam kelompok dan peranan sosial baru, berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Bergeser ke atas dan ke bawah dalam jenjang tangga sosial dan ekonomi, menjadi orang tu, mendapatkan atau menghilangkan pekerjaan, bertambah umur. Semua pengalaman ini cendrung untuk merubah persepsi politik sekarang. Sosialisasi berfungsi untuk mempertahankan atau merubah orientasi, nilai-nilai, sikap-sikap dan tingkah laku politik. Sosialisasi politik tergantung pada rezim yang berlangsung pada saat sosialisasi itu berlangsung. b. Sosialisasi politik pada masyarakat totaliter

Negara totaliter adalah negara berusaha untuk mengontrol semua aspek kehidupan masyarakatnya. Dalam negara demikian ideologi negara menjadi basis resmi bagi semua tindakan dan aktivitas. Sosialisasi politik tidak dapat mencari salurannya sendiri. Peralihan dari non-totaliter kepada totaliter menggambarkan adanya perbedaan yang terdapat dalam sosialisasi politik. c. Sosialisasi politik pada masyarakat berkembang Negara-negara berkembang pada umumnya adalah negara-negara bekas koloni atau jajahan negara-negara barat.pada saat penjajahan berlangsung negara-negara kolonial tersebut memperkenalkan lembaga-lembaga politik barat, birokrasi, kubudayaan, dan pendidikan. Persamaan dalam sosialisasi politik antara negara-negara berkembang dan negara-negara demokrasi modern adalah dalam hal identifikasi partai, penelitian terhadap sosialisasi politik dijamaika menemukan identitas partai yang kuat dikalangan anak-anak sekolah, dimana anak-anak dari kalangan tertentu berkecenderungan pada partai-partai tertentu dan anak-anak lain berkecenderungan pada partai lainnya Le vine selanjutnya mengemukakan bahwa ada 3 faktor penting dalam sosialisasi politik ditengah masyarakat yaitu : 1. Pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang dapat melampaui kapasitas mereka yang memodernisir keluarga tradisonal lewat industrialisasi pendidikan. 2. Sering terdapat perbedaan yang besar dalam pendidikan dan nilai-nilai tradisional antara jenis-jenis kelamin sehingga kaum wanita lebih erat terikat pada nialai tradisional. 3. Pengaruh urbanisasi, yang selalu dianggap sebagai satu kekuatan perkasa untuk menumbangkan nilai-nilai tradisional, paling sedikitnya secara parsial juga terimbangi oleh peralihan dari nilai-nilai kedalam perkotaan, khususnya dengan pembentukan komunitas-komunitas kesukuan dan etnis di daerah ini. Le vine akhirnya menyimpulkan bahwa adalah menyesatkan untuk menganggap nilai-nilai tradisional sebagai sesuatu yang harus dimusnahkan atau diganti. Seharusnya hal ini bisa dikombinasikan dengan lembaga-lembaga baru dan pola tingkah laku yang baru. d. Sosialisasi politik pada masa primitif Dalam masyarakat primitif peranan sosialisasi sangat jelas, yaitu untuk menegakkan tradisitradisi kemasyarakatan yang kuat, yangt menetapkan struktur dan peranan

masyarakat.walaupun terdapat perbedaan dalam sosialisasinya, masyarakat primitif tidak mengenal diferensiasi seperti yang terdapat dalam masyarakat modern yang kompleks. Sosialisasi politik merupakan satu bagian integral dari kegiatan mempelajari peranan kemasyarakatan pada umumnya dari pada peranan politik pada khususnya. Proses sosialisasi pada masyarakat primitif banyak sekali perbedaannya, tetapi pada umumnya memiliki ciri-ciri umum tertentu yang sama.

KESIMPULAN Sosialisasi politik merupakan suatu cara dalam mengembangkan dan

menginformasikan politik, maka fungsi yang paling mendasar dari sosialisasi politik ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan pembelajaran kepada masyarakat agar mereka mengetahui dan memahami secara benar tentang apa yang ada dalam politik. Dengan adanya informasi yang benar maka kelak dikemudian hari akan tercipta suatu masyarakat yang anggotaanggotanya memiliki pengetahuan politik yang baik dan diharapkan dengan mempunyai pengetahuan tersebut mereka dapat ikut berperan aktif dalam kegiatan politik dan peduli terhdap kondisi politik negaranya. Menurut Michel Rush dan Philip Althoff ( 2005 ) menyatakan, ada beberapa segi penting dari sosialisasi, antara lain : 1. Sosialisasi secara Fundemental, merupakan proses hasil belajar, belajar dari pengalaman 2. Hasil belajar itu berupa tingkah laku indinidu yang mencakup batas-batas y ang luas, khususnya mnegenai pengetahuan atau informasi, motif atau nilai-nilai dan sikap-sikap. 3. Sosialisasi itu tidak terbats pada masa anak-anak atau remaja saja, melainkan berlangsung sepanjang kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA Ijwara, 1995, Pengantar Ilmu Politik, Angkasa, Bandung Dan Nimmo, 2001, Komunikasi Politik, PT Remaja Rosdakarya, Bandung Komarudin dkk, 2007, Sosiologi Politik, Universitas Terbuka: jakarta Budiarjo, Miriam, 2008, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful