CARA MENENTUKAN SISWA YANG MENGALAMI MASALAH BELAJAR_TUGAS KULIAH

Pendahuluan

Latar Belakang Tugas utama seorang guru adalah membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa bila guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa berajar atau belajar. Namun adakalanya didalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sering ditemukannya masalah-masalah yang berkenaan dengan belajar yang dialami siswa tersebut. Masalah-masalah tersebut dipengaruhi oleh faktor internal (yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri) dan juga oleh faktor eksternal (yang berasal dari luar siswa itu sendiri). Masalah-masalah yang dialami oleh siswa apabila tidak segera di atasi tentunya akan menghambat proses belajar siswa dan akan berdampak pada pencapaian tujuan dari belajar tersebut. Siswa akan berhasil dalam proses belajar apabila siswa itu tidak mempunyai masalah yang dapat mempengaruhi proses belajarnya. Jika terdapat siswa yang mempunyai masalah dan permasalahan siswa tersebut tidak segera ditemukan solusinya, siswa akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah prestasinya/tidak lulus, rendahnya prestasi belajar, minat belajar atau tidak dapat melanjutkan belajar. Untuk itu, sebagai seorang guru ataupun pendidik kita harus mengetahui kondisi siswa agar tercipta proses pembelajaran yang baik dan kondusif. Rumusan masalah Apakah pengertian dari masalah belajar? Jelaskan masalah-masalah yang mempengaruhi proses belajar? Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar? Jelaskan langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar? Jelaskan masalah belajar siswa? Jelaskan upaya-upaya penanggulangan masalah belajar? Tujuan Tujuan dari pembelajaran mengenai cara menentukan masalah-masalah yang dialami siswa : Pembaca mengetahui definisi dari masalah belajar. Pembaca dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang mempengaruhi proses belajar. Pembaca dapat menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar. Pembaca dapat menentukan langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar siswa. Pembaca dapat menanalisis masalah belajar siswa. Pembaca dapat menemukan solusi untuk penanggulangan atau pemecahan masalah-masalah pembelajaran.

Pembahasan Definisi Masalah Belajar masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan ―Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya‖. ―Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya‖ ( Anita E, Wool Folk, 1995 : 196 ). Menurut ( Garry dan Kingsley, 1970 : 15 ) ―Belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas), ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan‖. Sedangkan menurut Gagne (1984: 77) bahwa ―belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman‖. Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut : ―Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan‖. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalahmasalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas. Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar. Faktor-Faktor yang dialami dan dihayati oleh siswa dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar: Faktor-Faktor Internal Belajar Untuk bertindak belajar siswa menghadapi masalah-masalah secara intern. Jika siswa tidak dapat mengatasi masalahnya, maka ia tidak dapat belajar dengan baik. • Sikap Terhadap Belajar Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tenyang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian terhadap sesuatu memberikan sikap menerima, menolak atau mengabaikannya begitu saja. Selama melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari pembelajaran tersebut. Pemahaman siswa yang salah terhadap belajar akan membawa kepada sikap yang salah dalam melakukan pembelajaran. Sikap siswa ini

akan mempengaruhinya terhadap tindakana belajar. Sikap yang salah akan membawa siswa mersa tidak peduli dengan belajar lagi. Akibatnya tidak akan terjadi proses belajar yang kondusif. Tentunya hal ini akan sangat menghambat proses belajar. Sikap siswa terhadap belajar akan menentukan proses belajar itu sendiri. Ketika siswa sudah tidak pesuli terhadap belajar maka upaya pembelajaran yang dilakaukan akan sia-sia. Maka siswa sebaiknya mempertimbangkan masak-masak akibat sikap terhadap belajar. • Motivasi Belajar Tidak diragukan bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus dipelihara secara terus menerus. Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus. Motivasi yang diberikan dapat meliputi penjelasan tentang keutamaan ilmu dan keutamaan mencari ilmu. Bila siswa mengetahui betapa besarnya keutamaan sebuah ilmu dan betapa besarnya ganjaran bagi orang yang menuntut ilmu, maka siswa akan merasa haus untuk menuntut ilmu. Selain itu bagaimana seorang guru mampu membuat siswanya merasa membutuhkan ilmu. Bila seseorang merasa membutuhkan ilmu maka tanpa disuruhpun siswa akan mencari ilmu itu sendiri. Sehingga semangat siswa untuk menunutut ilmu sangat tinggi, dan hal ini akan memudahkan proses belajar. • Konsentrasi Belajar Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian guru perlu melakukan berbagai strategi belajar mengajar dan memperhatikan waktu belajar serta selingan istirahat. Yang perlu diperhatikan oleh guru ketika memulai proses belajar ialahsebaiknya seorang guru tidak langsung melakukan pembelajaran namun seorang guru harus memusatkan perhatian siswanya sehingga siap untuk melakukan pembelajaran. Sebab ketika awal masuk kelas perhatian siswa masih terpecah-pecah dengana berbagai masalah. Sehingga sangat perlu untuk melkukan pemusatan perhatian dengan berbagai strategi. Menurut seorang ilmuan ahli psikologis kekuatan belajar seseorang setelah tigapuluh menit telah mengalami penurunan. Ia menyarankan agar guru melakukan istirahat selama beberapa menit. Istirahat ini tidak harus keluar kelas melainkan dapat berupa obrolan ringan yang mampu membuat siswa merasa rileks kembali. Dengan memberikan selingan istirahat, maka perhatian dan prestasi belajar dapat ditingkatkan. • Mengolah Bahan Belajar Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menrima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar merupakan nilai nilai dari suatu ilmu pengetahuan, nilai agama, nilai kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan siswa dalam mengolah bahan pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan aktif selama proses belajar. Misalnya, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang disampaikan, sehingga siswa benar-benar memahami materi yang telah disampikan. Siswa akan mengolah bahan belajar dengan baik jika mereka merasa materi yang diampaikan menarik, sehingga seorang guru sebaiknya menyampaikan materi secara menarik sehingga siswa akan memusatkan

perhatiannya terhadap materi yang disampaikan oleh guru. • Menyimpan Perolehan Hasil Belajar Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang. Proses belajar terdiri dari proses pemasukan , proses pengolahan kembali dan proses penggunaan kembali. Biasanya hasil belajar yang disimpan dalam jagka waktu yang panjang akan mudah dilupakan oleh siswa. Hal ini akan terjadi jika siswa tidak membuka kembali bahan belajar yang telah diberikan oleh seorang guru. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya guru mengingatkan akan materi yang telah lama diberikan, serta memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Sehingga mau atau tidak mau siswa akan berusaha untuk mengingat kembali materi yang telah lama disampaikan serta membuka kembali buku yang berkaitan dengan materi tersebut. Sehingga Ingatan yang disimpan dalam jangka panjang akan semakin kuat. • Menggali Hasil Belajar Yang Tersimpan Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal baru maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali atau mengaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama maka siswa akan memanggil atau membangkitkan kembalipesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar. Ada kalanya siswa mengalami gangguan dalam menggali pesan dan kesan lama. Gangguan tersebut bukan hanya bersumber pada pemanggilan atau pembangkitannya sendiri. Gangguan tersebut dapat dikarenakan kesukaran penerimaan, pengolahan dan penyimpanan. Jika siswa tidak memperhatikan dengan baik pada saat penerimaan maka siswa tidak memiliki apa apa. Jikasiswa tidak berlatih sungguh sungguh maka siswa tidak akan memiliki ketrampilan. • Kemampuan Berprestasi Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan. Siswa menunjukan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau menstransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik. Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh pada proses-proses penerimaan, pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk pembangkitan pesan dan pengalaman. • Rasa Percaya Diri Siswa Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diriyang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Semakin sering siswa mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi maka siswa akan merasa lemah percaya dirinya. • Intelegensi Dan Keberhasilan Belajar Intelegensi merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi actual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan seharihari. Dengan perolehan hasil belajar yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau kurangnya kesungguhan belajar, berarti terbentuknya tenaga kerja yang bermutu rendah . Hal ini akan merugikan calon tenaga kerja itu sendiri. Oleh karena itu pada tempatnya mereka didorong

Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Cita-cita merupakan harapan besar bagi siswa sehingga siswa selalu termotivasi untuk belajar dengan serius demi menggapai cita-cita tersebut. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya. ruang kesenian. Mengatasi masalah-masalah keutuhan secara pribadi. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran. kota besar. • Kebiasaan Belajar Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya dalam berlatih dan menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. tempat ibadah. Kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dapat ditemukan di sekolah-sekolah pelosok. • Cita-Cita Siswa Cita-cita sebagai motivasi intrinsic perlu didikan. Faktor-Faktor Ekstern Belajar Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Sebagai seorang pribadi ia juga mengembangkan diri menjadi pribadi utuh. Disamping itu proses belajar juga dapat terjadi. Faktor-faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut: • Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar Guru adalah pengajar yang mendidik . belajar tidak teratur. dan peralatan olahraga. tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Dengan penghasilan yang diterimanya setiap bula ia dituntut berkemampuan hidup layak sebagai seorang pribadi guru. datang terlambat bergaya pemimpin. alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan berbagai media pengajaran yang lain. Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan pribadi. Dengan kata lain aktifitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik. Kebiasaan buruk tersebut dapat berupa belajar pada akhir semester. Ditinjau dari segi siswa. Kemampuan mengatasi kedua masalah tersebut merupakan keberhasilan guru membelajarkan seorang siswa. maka ditemukan beberapa faktor eksternal yang berpengaruh pada aktivitas belajar. Guru juga menumbuhkan diri secara professional. pemenuhan kebutuhan hidup sebagai manusia. Didikan memiliki cita-cita harus ditanamkan sejak mulai kecil.untuk melakukan belajar dibidang kterampilan. menyia-nyiakan kesempatan belajar. Untuk sebagian kebiasaan tersebut dikarenakan oleh ketidakmengertian siswa dengan arti belajar bagi diri sendiri. gedung sekolah ruang belajar. Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah merupakan faktor eksternal belajar. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. bila didorong oleh lingkungan siswa. Justru disinilah muncul bagaimana mengolah sarana dan prasaranapembelajaran sehingga tersenggara proses belajar yang berhasil dengan baik. atau menjadi bertambah kuat. • Kebijakan Penilaian Kegiatan penilaian merupakan proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau . kota kecil. bergaya jantan seperti merokok. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuannya sendiri. • Prasarana Dan Sarana Pembelajaran Prasarana pembelajaran meliputi sarana olahraga. bersekolah hanya untuk bergengsi. Ia bekerja dan bertugas mempelajari profesi guru sepanjang hayat. ia juga menghadapi masalah pengembangan diri. Hal ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan melakukan proses pembelajaran yang baik. dan pertumbuhan profesi sebagai guru merupakan pekerjaan sepanjang hayat. Tuntutan hidup layak tersebut sesuai dengan wilayah tempat tinggal dan tugasnya. buku bacaan.

konflik atau perkelahian. Dengan kemajuan dan perkembangan masyrakat timbul tuntutan kebutuhan baru dan akibatnya kurikulum sekolah perlu direkonstruksi. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif. Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa. dari sisi siswa hasil belajar merupak tingkat perkembangan mental yang lebing baik bila dibandingkan pada saat pra belajar. khususnya dalam masalah belajar murid di SD. taraf kecerdasannya cenderung kurang. malas dalam belajar. peranan dan tanggung jawab sosial tertentu. tingkat sekolah dan tingkat nasional. Jika digolonhkan lulus maka dapay dikatakan proses belajar siswa dan tindak mengajar guru berhenti sementara. Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. serta penyakit menahan ( alergi. Hasil belajar dinilai dari ukuran-ukuran guru. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan sosial tertentu. alat bicara. Dalam kehidupan tersebut terjadi hubungan akrab kerjasama.unjuk kerja siswa. Adanya rekonstruksi itu menimbulkan kurikulum baru. dan sebagainya ). kerja berkoprasi. • Kurikulum Sekolah Kurikulum yang diberlakukan di sekolahadalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah. terjadilah proses belajar ulang bagi siswa dan mengajar ulang bagi guru. gangguan panca indera. Karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar. • Kelemahan emosional. kegiatan belajar mengajar berubah serta evaluasi berubah. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut maka proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian. Pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru. atau yayasan pendidikan. karena masalah belajar cenderung sangat kompleks. maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar Kesulitan belajar ini merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan (manifestasi). Dengan demikian. seperti merasa tidak aman. efektif. kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment ). Seorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya. Perubahan kurikulum sekolah menimbulkan masalah seperti tujuan yang akan dicapai mungkin akan berubah. tercekam rasa takut. antara lain: • Gangguan secara fisik. . isi pendidikan berubah. seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan. hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi. • Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah. bersaing. Pada dasarnya dari setiap jenis-jenis masalah. cacat tubuh. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar. sepertimenampakkan kurangnya kemampuan mental. dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran. asma. Meskipun seorang guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadi masalah yang sesungguhnya. cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya ( penyebabnya ). dan psikomotorik. dan antipati serta ketidakmatangan emosi. benci. berkompetisi. Selanjutnya guru dapat melaksanakan tahap berikutnya. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyrakat. • Lingkungan Sosial Siswa Di Sekolah Tiap siswa dalam lingkungan sosial memiliki kedudukan. yaitu mencari sebabsebab terjadinya masalah yang dialami murid dalam belajar. Jika digolongkan tidak lulus. Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu : Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ). • Ketidakseimbangan mental ( adanya gangguan dalam fungsi mental ).

akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri dalam diri murid. apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak segera mendapat bantuan. Langkah ini "sangat mendasar sekali" dan merupakan awal kegiatan bimbingan terhadap siswa yang bermasalah. Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya Keadaan ekonomi. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani. kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. guru yang memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya. Menurut Belmon dan Morolla (1971 : 107) menyimpulkan dari hasil penelitiannya. bahwa anakanak yang berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak. diartikan sebagai rumusanrumusan masalah siswa. terutama guru. jenis kesulitan serta latar belakang kesulitan dalam pelajaran. masalah yang terjadi dijaga kerahasiaannya. menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan. mempunyai keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang jumlah anaknya sedikit. 5) Follow up (tindak lanjut) 1. wawancara. yaitu berasal dari a). Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya. Prognosa Prognosa merupakan kegiatan memperkirakan permasalahan. tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah. Pemberian Bantuan . Guru yang akrab dengan murid. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar adalah : 1) Identifikasi masalah siswa. Identifikasi Masalah Siswa Identifkasi masalah siswa adalah untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sangat memerlukan bantuan. antara lain : Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis. Metode pengumpulan data melalui observasi.Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ). Dalam bimbingan belajar siswa. 4) Pemberian Bantuan. Melalui contoh sikap sehari-hari. 2) Diagnosa. 3) Prognosa. serta kesulitan belajar atau masalah yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari sehingga mempengaruhi belajarnya. 3. 4. Sekolah. Bertujuan untuk menentukan bantuan yang dapat diberikan kepadanya. Keluarga (rumah). instrumen. Diagnosa Diagnosa dilakukan dalam bimbingan belajar. antara lain : Sifat kurikulum yang kurang fleksibel Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru) Metode mengajar yang kurang memadai Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar b). untuk menentukan masalah yang dialaminya. 2. sehingga muridmuridnya juga akan memiliki penilaian diri yang positif. Menurut Lindgren.

untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan atau ketidakberhasilan. Mengenal siswa yang mendapat kesulitan belajar dengan menggunakan norma atau ukuran kriteria tertentu. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi . motivasi.Bantuan yang diberikan dengan menggunakan pengarahan. Sucitae. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik. 3. baik kemampuan yang dimilikinya maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan dapat bertanggung jawab dalam menentukan jalan hidupnya atau memecahkan sendiri kesulitan yang dihadapi serta dapat memahami lingkungannya secara tepat sehingga dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya. mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai. Tindak Lanjut Tindak lanjut kegiatan bimbingan belajar. Langkah-langkah bimbingan belajar: 1. 1991 : 49). Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. 1. atau gangguan psikologis lainnya. akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan. Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada individu atau kelompok siswa agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri. secara rutin. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut. 2. Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas. Jika permasalahan siswa tidak segera ditemukan solusinya. 1972 : 2). Pada dasarnya. tinju dan sejenisnya. sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. 3. Cara mengatasi masalah kesulitan belajar melalui latihan-latihan dan tugas baik individu maupun kelompok. gangguan alat dria. diantaranya : (a) learning disorder. Mencari usaha untuk membantu memecahkan kesulitan-kesulitan itu. minat belajar atau tidak dapat melanjutkan belajar (S. dan (e) learning disabilities. rendahnya prestasi belajar. (c) underachiever. yang mengalami kekacauan belajar. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley. belajar. Mengadakan pencegahan supaya kesulitan yang dialami seseorang tidak menular kepada yang lain (Sutijono. 5. siswa akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah prestasinya/tidak lulus. (d) slow learner. meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental. usaha-usaha memberikan bantuan pemecahan masalah yang telah diberikan. maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik. S. 2. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate. namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley. (b) learning disfunction. Mencari sebab-sebab siswa mendapat kesulitan. 4. potensi dasarnya tidak dirugikan.

sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan. 5. sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. dusta dan sebagainya. (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140). tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah c. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar. 2. sehingga harus menjadi pengulang (repeater) Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar. Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar. antara lain : a. 4. 3. datang terlambat.intelektual yang tergolong di atas normal. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference). tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah. b. tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Burton (Abin Syamsuddin. mengganggu di dalam atau pun di luar kelas. dan sebagainya. f. berpura-pura. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar. e. tidak mau mencatat pelajaran. sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. bakat. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya. Sementara itu. yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. tidak teratur dalam kegiatan belajar. atau kecerdasan yang dimilikinya. dan sebagainya. seperti : pemurung. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. seperti membolos. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan. (2) kedudukan dalam kelompok. menentang. Upaya-Upaya Penanggulangan Masalah Belajar . dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan. Menurut Burton bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila : 1. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar. seperti: acuh tak acuh. maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan. mudah tersinggung. pemarah. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature). dan (4) kepribadian. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah. tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. d. Menunjukkan perilaku yang berkelainan. tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal.

3. Komunikasi Masa kecil kita. Sejak dini biasakan anak berperilaku sportif dan pandai menyampaikan pendapatnya. Selamat mencoba.dan guru pembimbing. Bila saat belajar. Tidak bisa dipungkiri perhatian terhadap mata pelajaran. Memperkirakan alternatif pertolongan. Perhatikan Mood Untuk mengenal mood anak. Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Karena itu. 2. Nah di sini tugas orangtua untuk menyenangkan hati si anak. dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. seorang ibu harus mengenal karakter dan kebiasaan belajar anak. c) Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat. berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list e) Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas. tentu ada kaitan dengan cara guru mengajar di kelas. kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.1. a) Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi b) Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam ―record academic‖ kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut. pelajaran yang disukai tergantung bagaimana cara guru itu mengajar. 5. Selain itu. anak Anda aktif maka banyak sekali cerita yang lahir termasuk bagaimana guru kelas memperhatikan baju. Misalnya bercerita kepada anak tentang bagaimana dahulu ibunya menyelesaikan mata pelajaran yang dianggap sulit. Jika. coba untuk mencari tahu penyebab munculnya rasa kesal itu. saat mengajari anak ini Anda bisa melakukannya dengan menularkan cara belajar yang baik. 7. ikat rambut. ketidakhadiran. Jika belajar dalam suasana hati yang senang. Siapkan Ruang Belajar Kesulitan belajar anak bisa juga karena tempat yang tersedia tidak memadai. seperti catatan keterlambatan penyelesaian tugas. dan sepatunya. biarkan anak-anak bercerita tentang gurunya. Sempatkan juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara guru mereka mengajar di sekolah. . 6. Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya. Khusus soal komunikasi ini. coba sediakan tempat belajar untuk anak. Biasanya anak cepat larut dengan cerita ibunya sehingga ia mencoba mencocok-cocokkan dengan apa yang dijalaninya sekarang. 4. Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Apakah karena pelajaran yang sulit atau karena konsentrasi yang pecah. Apakah anak belajar dengan senang hati atau dalam keadaan kesal. Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan. ia merasa kesal. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif). maka apa yang akan dipelajari lebih cepat ditangkap. d) Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas.

Dengan memahami jenis masalah. diharapkan pendidik mempu memberikan solusi penanggulangan sesuai dengan masalah yang bersangkutan. Disusun Oleh Kelompok 6 Anggota : Asia Kurniasari (06091008009) Sri Handayani (06091008006) Seprina Andriani(06091008038) Yuni Fitriyah (06091008039) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIVERSITAS SRIWIJAYA Teknik dan Instrumen Penilaian Posted on 14 Oktober 2009 by Kak Ichsan 8 Votes Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. prosedur.Penutup Kesimpulan Kesulitan dalam pembelajaran atau belajar merupakan suatu hal yang sering ditemui oleh para pendidik. . Dalam hal ini pendidik dalam hal ini guru di sekolah dan orang tua di rumah dituntut untuk benar-benar mengerti akan tipe atau jenis masalah yang dihadapi oleh siswa/anak. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Sebagai upaya untuk memberikan terapi terhadap permasalahan kesulitan belajar maka dapat ditempuh melalui berbagai media penanganan yang khusus intensif serta terpadu antara pendidik. Karena walau bagaimanapun juga sebagaian waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah dari pada di sekolah di bawah pengawasan orang tua. siswa dan orang tua di rumah. terutama guru. diperlukan standar penilaian. Untuk itu.

Jenis Ulangan Posted on 14 Oktober 2009 by Kak Ichsan . 4. observasi. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi. adalah merepresentasikan kompetensi yang dinilai. Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah dalam bentuk UN memenuhi persyaratan substansi. 6. Teknik tes berupa tes tertulis. bahasa. adalah memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan. 3. konstruksi. Ada 4 (empat) tulisan/judul posting yang merupakan satu rangkaian: 1. Jenis Penilaian Prinsip Peniliaian Teknik dan Instrumen Penilaian Mekanisme dan Prosedur Penilaian Tulisan ke-3: Teknik dan Instrumen Penilaian 1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes. 2. dan bahasa. 7. penugasan perseorangan atau kelompok. 3. serta memiliki bukti validitas empirik. dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. dan memiliki bukti validitas empirik serta menghasilkan skor yang dapat diperbandingkan antarsekolah. tes lisan. adalah menggunakan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik. dan (c) bahasa. Instrumen penilaian hasil belajar yang digunakan pendidik memenuhi persyaratan (a) substansi. 2. dan antartahun. Teknik observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran. 5. 4. konstruksi.Tulisan tentang Standar Penilaian Pendidikan ini saya dasarkan pada lampiran permendiknas 20/2007. (b) konstruksi. Teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek. dan tes praktik atau tes kinerja. antardaerah.

Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester tersebut. melakukan perbaikan pembelajaran. 2. ada jenis ulangan yang dunamakan ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional (UN). dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. 4. ulangan akhir semester. Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Jenis Penilaian Prinsip Peniliaian Teknik dan Instrumen Penilaian Mekanisme dan Prosedur Penilaian Tulisan ke-1 : Jenis Penilaian Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran. 2. 1. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan pendidikan. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. dan ulangan kenaikan kelas dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi satuan pendidikan. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut. perlu ditetapkan KKM. Tulisan tentang Standar Penilaian Pendidikan ini saya dasarkan pada lampiran permendiknas 20/2007.1 Votes Peraturan Mendiknas No 20 tahun 2007 tentang Sandar Penilaian Pendidikan menyebut bahwa Ulangan tengah semester. 4. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan untuk kelompok mata pelajaran selain ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan nilai batas ambang kompetensi. Mata pelajaran yang diujikan adalah mata pelajaran kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik kelompok mata . Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. Selain itu. untuk memantau kemajuan. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Ada 4 (empat) tulisan/judul posting yang merupakan satu rangkaian: 1. 3. Untuk mengukur keberhasilan proses pencapain kompetensi peserta didik. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. 5. 3.

2. prosedur. 2. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. objektif. Prinsip Peniliaian Posted on 14 Oktober 2009 by Kak Ichsan Rate This Bagaimana penilaian dilaksanakan? Peraturan Mendiknas Nomor 20 Tahun 2007 mengatur standar penilaian pendidikan. 3. berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. sahih. 4. Ada 4 (empat) tulisan/judul posting yang merupakan satu rangkaian: 1. berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan. Jenis Penilaian Prinsip Peniliaian Teknik dan Instrumen Penilaian Mekanisme dan Prosedur Penilaian Tulisan ke-2: Prinsip Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. 6.pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang akan diatur dalam POS Ujian Sekolah/Madrasah. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. . Yang dimaksud tandar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. Tulisan tentang Standar Penilaian Pendidikan ini saya dasarkan pada lampiran permendiknas 20/2007.

sistematis. baik dari segi teknik.3. untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. 7. berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. maupun hasilnya. berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. dan pemerintah. Mekanisme dan Prosedur Penilaian Posted on 14 Oktober 2009 by Kak Ichsan 9 Votes Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Mendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Stnadar Penilian Pendidikan bahawapPenilaian hasil belajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan oleh pendidik. berarti prosedur penilaian. menyeluruh dan berkesinambungan. dan gender. 6. berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. suku. 9. 8. Ada 4 (empat) tulisan/judul posting yang merupakan satu rangkaian: 1. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. terbuka. 3. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. 4. adil. kriteria penilaian. Jenis Penilaian Prinsip Peniliaian Teknik dan Instrumen Penilaian Mekanisme dan Prosedur Penilaian Tulisan ke-4: Mekanisme dan Prosedur Penilian . prosedur. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan. 4. budaya. 5. beracuan kriteria. 2. akuntabel. satuan pendidikan. Tulisan tentang Standar Penilaian Pendidikan ini saya dasarkan pada lampiran permendiknas 20/2007. status sosial ekonomi. adat istiadat. terpadu.

Penilaian mata pelajaran muatan lokal mengikuti penilaian kelompok mata pelajaran yang relevan. 7. 6. dan (e) melaporkan dan memanfaatkan hasil penilaian.Bagaimana mekanisme dan prosedur penilaian? 1. 2. ulangan akhir semester. dilakukan oleh guru agama dengan memanfaatkan informasi dari pendidik mata pelajaran lain dan sumber lain yang relevan. Penilaian hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan pada UN dan aspek kognitif dan/atau aspek psikomotorik untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan oleh satuan pendidikan melalui ujian sekolah/madrasah untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Penilaian akhir hasil belajar oleh satuan pendidikan untuk mata pelajaran kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani. Kegiatan ujian sekolah/madrasah dilakukan dengan langkah-langkah: (a) menyusun kisi-kisi ujian. . Ulangan tengah semester. Keikutsertaan dalam kegiatan pengembangan diri dibuktikan dengan surat keterangan yang ditandatangani oleh pembina kegiatan dan kepala sekolah/madrasah. (b) mengembangkan instrumen. 4. 3. (c) melaksanakan ujian. 9. dan ulangan kenaikan kelas dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi satuan pendidikan. 10. adalah bagian dari penilaian kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian oleh guru pendidikan kewarganegaraan dengan memanfaatkan informasi dari pendidik mata pelajaran lain dan sumber lain yang relevan. Perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan silabus yang penjabarannya merupakan bagian dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 8. Penilaian akhir hasil belajar peserta didik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan oleh satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik berdasarkan hasil penilaian oleh pendidik dengan mempertimbangkan hasil ujian sekolah/madrasah. 5. (d) mengolah dan menentukan kelulusan peserta didik dari ujian sekolah/madrasah. Penilaian akhlak mulia yang merupakan aspek afektif dari kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. olahraga dan kesehatan ditentukan melalui rapat dewan pendidik berdasarkan hasil penilaian oleh pendidik. yang merupakan perwujudan kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga masyarakat dan warganegara yang baik sesuai dengan norma dan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Penilaian kepribadian. sebagai perwujudan sikap dan perilaku beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.

13. Hasil UN disampaikan kepada satuan pendidikan untuk dijadikan salah satu syarat kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan dan salah satu pertimbangan dalam seleksi masuk ke jenjang pendidikan berikutnya.11. . 15. disertai dengan deskripsi kemajuan belajar. pengamatan. 7. 5. mengembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai balikan/komentar yang mendidik. Hasil ulangan harian diinformasikan kepada peserta didik sebelum diadakan ulangan harian berikutnya. menginformasikan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian pada awal semester. penugasan. A. Penilian oleh Pendidik Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan. 6. UN diselenggarakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bekerjasama dengan instansi terkait. Hasil analisis data UN disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan serta pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. 16. 2.Kegiatan penilaian oleh pemerintah dilakukan melalui UN dengan langkah-langkah yang diatur dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN. 3. Hasil penilaian oleh pendidik dan satuan pendidikan disampaikan dalam bentuk satu nilai pencapaian kompetensi mata pelajaran. bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. mengolah hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik. Penilaian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut: 1. memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran. mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk dan teknik penilaian yang dipilih. 14. mengembangkan indikator pencapaian KD dan memilih teknik penilaian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran. 4. dan/atau bentuk lain yang diperlukan. Peserta didik yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedi. melaksanakan tes. 12.

ulangan akhir semester. 4. 3. 9. karakteristik mata pelajaran. menyelenggarakan ujian sekolah/madrasah dan menentukan kelulusan peserta didik dari ujian sekolah/madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi satuan pendidikan penyelenggara UN. olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik. B. Penilaian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut: 1. melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik dengan kategori sangat baik. menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik sesuai dengan kriteria: . menentukan kriteria program pembelajaran bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem kredit semester melalui rapat dewan pendidik. 9. dan kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik. melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan pendidikan. 5. 8. baik. 10. menentukan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket melalui rapat dewan pendidik. melaporkan hasil penilaian mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan dalam bentuk satu nilai prestasi belajar peserta didik disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi utuh. 7. 2. Penilian oleh Satuan Pendidikan Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.8. 6. menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani. atau kurang baik. menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik dan nilai hasil ujian sekolah/madrasah. dan ulangan kenaikan kelas. menentukan KKM setiap mata pelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta didik. mengkoordinasikan ulangan tengah semester.

Hasil UN digunakan sebagai salah satu penentu kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan yang kriteria kelulusannya ditetapkan setiap tahun oleh Menteri berdasarkan rekomendasi BSNP. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Penilian oleh Pemerintah 1. 3. dan adil. dan kelompok mata pelajaran jasmani. 2. c. b. Hasil UN menjadi salah satu pertimbangan dalam pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah dilakukan dalam bentuk UN yang bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. 12. jujur. olahraga. menerbitkan ijazah setiap peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan bagi satuan pendidikan penyelenggara UN. dan kesehatan. 2011 .a. menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) setiap peserta didik yang mengikuti Ujian Nasional bagi satuan pendidikan penyelenggara UN. RANAH PENILAIAN KOGNITIF. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. DAN PSIKOMOTORIK Posted on November 26. Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan kelulusan peserta didik pada seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. 11. AFEKTIF. 6. Dalam rangka penggunaan hasil UN untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan. lulus ujian sekolah/madrasah. d. 5. 4. UN didukung oleh suatu sistem yang menjamin mutu dan kerahasiaan soal serta pelaksanaan yang aman. Pemerintah menganalisis dan membuat peta daya serap berdasarkan hasil UN dan menyampaikan ke pihak yang berkepentingan. lulus UN. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. c. kelompok mata pelajaran estetika.

menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah. TINJAUAN PUSTAKA 2. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir. Ciri-ciri. ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. dan Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Kognitif 2. Benjamin S. baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir. menganalisis. mengaplikasi.1. dan pengamalannya (aspek psikomotor).1 Pengertian Ranah Penilaian Kognitif Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Diantara ketiga ranah itu. maupun dari segi penghayatan (aspek afektif). Menurut Bloom. ranah afektif. dan ranah psikomotorik. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:  Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge) . maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Salah satu prinsip dasar yang harus senantiasa diperhatikan dan dipegangi dalam rangka evaluasi hasil belajar adalah prinsip kebulatan. Sasaran kegiatan evaluasi hasil belajar adalah: 1) Apakah peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan pada mereka? 2) Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya? 3) Apakah materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari? Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. mensintesis. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain(daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. penilaian berfungsi sebagai alat untuk mengtahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. yakni ranah kognitif. dan kemampuan mengevaluasi. mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi.PENDAHULUAN Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. dengan prinsip evaluator dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar dituntut untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap peserta didik. Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. termasuk didalamnya kemampuan menghafal. yaitu: a) Ranah proses berfikir (cognitive domain) b) Ranah nilai atau sikap (affective domain) c) Ranah keterampilan (psychomotor domain) Dalam konteks evaluasi hasil belajar. memahami.1 Pengertian Ranah Penilaian Kognitif. baik dari segi pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek kognitif). Dengan kata lain.

tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan. prinsip-prinsip. dan sebagainya. sekolah. menerjemahkan dan menuliskannya secara baik dan benar. Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik dilingkungan keluarga. sebagai salah satu materi pelajaran kedisiplinan yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama Islam di sekolah. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis. dalam situasi yang baru dan kongkret.  Penerapan (application) Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum. Dengan kata lain. sebagai bagian dari ajaran Islam. tata cara ataupun metode-metode. rumus-rumus. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi. sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. dan dalam kehidupan sehari-hari di tengahtengah masyarakat. Salah satu jasil belajar kognitif . istilah. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah. disekolah. ide.  Pemahaman (comprehension) Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis.  Analisis (analysis) Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagianbagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa dirumah. maupun masyarakat. teori-teori dan sebagainya.Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.  Sintesis (syntesis) Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini misalnya: Peserta didik atas pertanyaan Guru Pendidikan Agama Islam dapat menguraikan tentang makna kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-‗Ashar secara lancar dan jelas. Salah satu contoh hasil belajar kognitif pada jenjang pengetahuan adalah dapat menghafal surat al-‗Ashar. rumus-rumus. memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi.

Overlap antara enam jenjang pada ranah kognitif.  Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation) Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Keterangan : Pengetahuan (1) adalah merupakan jenjang berpikir paling dasar. aplikasi (3). Keenam jenjang berpikir ranah kognitif bersifat kontinum dan overlap (tumpang tindih). Penilaian (Evaluation) Sintesis (Syntesis) Analisis (Analysis) Penerapan (Aplikation) Pemahaman (Comprehensi) Pengetahuan (Knowledge) GAMBAR 1. misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada. Aplikasi atau penerapan (3) mencakup pemahaman (2)dan pengetahuan (1). Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi. Evaluasi(6) meliputi juga sintesis (5) . jika diurutkan secara hirarki piramidal adalah sebagai tertulis pada gambar 1. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental . Pemahaman (2) mencakup pengetahuan (1). analisis (4). Enam jenjang berpikir pada ranah kognitif 6 5 4 3 2 1 GAMBAR 2. gagasan.dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam. nilai atau ide. pemahaman (2) dan pengetahuan (1). pemahaman (2) dan pengetahuan (1). yaitu mengingat. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana. sehingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan penilaian. bahwa kwdisiplinan merupakan perintah Allah SWT yang waji dilaksanakan dalam sehari-hari. Sintesis (5) meliputi juga analisis (4). Overlap di antara enam jenjang berfikir itu akan lebih jelas terlihat pada gambar 2. Keenam jenjang berpikir yang terdapat pada ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom itu. sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide. metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. dimana ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada dibawahnya. aplikasi (3). Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang evaluasi adalah: peserta didik mampu menimbang-nimbang tentang manfaat yang dapat dipetik oleh seseorang yang berlaku disiplin dan dapat menunjukkan mudharat atau akibat-akibat negatif yang akan menimpa seseorang yang bersifat malas atau tidak disiplin.

analisis. konsep. Keenam tingkat tersebut yaitu: 1. sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Tingkat analisis (analysis). sintesis dan evaluasi. Menurut Taksonomi Bloom (Sax 1980). editorial. Dengan demikian aspek kognitif adalah sub-taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. Tingkat sintesis (synthesis). metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Pada tingkat pengetahuan. kemampuan kognitif adalah kemampuan berfikir secara hirarki yang terdiri dari pengetahuan. komposisi. prinsip atau prosedur yang telah dipelajari.2 Ciri-ciri Ranah Penilaian Kognitif Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan memahami. peserta didik diminta untuk untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian. informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan. pada tahap ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya. 2. teori-teori yang termasuk di dalamnya judgement terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan. peserta didik dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi yang baru. terminologi strategi problem solving dan lain sebagianya. 2. rumus. sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide. Tingkat pemahaman (comprehension). Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar. menghafal. 4. membedakan fakta dan pendapat serta menemukan hubungan sebab—akibat. gagasan. analisis merupakan kemampuan mengidentifikasi. mensistesis dan kemampuan mengevaluasi. Tingkat pengetahuan (knowledge). 5. aplikasi. mengaplikasi. hipotesa atau kesimpulan. peserta didik mengevaluasi informasi seperti bukti.yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. pemahaman. Pada tingkat pemahaman peserta didik dituntut juntuk menyatakan masalah dengan kata-katanya sendiri. memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta. Aspek kognitif terdiri atas enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana. . menemukan asumsi. Tingkat penerapan (application). memberi contoh suatu konsep atau prinsip. dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi. Pada tingkat aplikasi. peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan saja. yaitu mengingat. pendapat. Pada tingkat evaluasi. hipotesis atau teorinya sendiri dan mensintesiskan pengetahuannya. Pada tingkat sintesis. sejarah. serta memecahlcan berbagai masalah yang timbuldalam kehidupan sehari-hari. asumsi. Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang telah didengar dengan katakata sendiri. misalnya fakta. menganalisis. penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi yang baru. Pada tingkat analisis.1. peserta didik dituntut untuk menghasilkan suatu cerita. 3.

peristiwa. Contoh kegiatan belajar:      Mengemukakan arti Menentukan lokasi Mendriskripsikan sesuatu Menceritakan apa yang terjadi Menguraikan apa yang terjadi 2 Pemahaman Arti:pengertian terhadap hubungan antar-faktor. prosedur. Sedangkan tingkat analisis. daftar.dll. tahun. sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan. metode. evaluasi merupakan level tertinggi yang mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan. konsep.6. antar konsep. seperti pengetahuan. teori. dan antar data hubungan sebab akibat penarikan kesimpulan Contoh kegiatan belajar: ¨ Mengungkapakan gagasan dan pendapat dengan katakata sendiri ¨ Membedakan atau membandingkan ¨ Mengintepretasi data ¨ Mendriskripsikan dengan kata-kata sendiri ¨ Menjelaskan gagasan pokok ¨ Menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri Arti: Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari Contoh kegiatan:     3 Aplikasi Menghitung kebutuhan Melakukan percobaan Membuat peta Membuat model . pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah. Tabel Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek kognitif No 1 Tingkatan Pengetahuan Deskripsi Arti: Pengetahuan terhadap fakta. nama. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik. Tingkat evaluasi (evaluation). definisi. Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan. pemahaman dan sedikit penerapan. produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu.

seperti pengetahuan. Pengukuran hasil belajar ranah kognitif dilakukan dengan tes tertulis. pemahaman dan sedikit penerapan. (1) tes atau pertanyaan lisan di kelas. baikburuk.1. istilah. (7) portopolio dan (8) performans. definisi. penyelesaian. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik. Arti: mempertimbangkan dan menilai benar-salah.dst. aturan. pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah. bermanfaat-tidak bermanfaat Contoh kegiatan belajar: Mempertahankan pendapat Membahas suatu kasus Memilih solusi yang lebih baik Menulis laporan. atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar bagian tersebut Contoh kegiatan belajar:      Mengidentifikasi faktor penyebab Merumuskan masalah Mengajukan pertanyaan untuk mencari informasi Membuat grafik Mengkaji ulang 5 Sintesis Artinya: menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan/konsepatau meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru Contoh kegiatan belajar: v Membuat desain v Menemukan solusi masalah v Menciptakan produksi baru. (6) menjodohkan. Cakupan yang diukur dalam ranah Kognitif adalah: a.dst. sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan. fakta. Ditandai dengan kemampuan menyebutkan simbol. urutan. (4) uraian non obyektif atau uraian bebas. (3) uraian obyektif. . Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. (5) jawaban atau isian singkat. 6 Evaluasi 2. metode. Sedangkan tingkat analisis. Merancang strategi 4 Analisis Artinya: menentukan bagian-bagian dari suatu masalah. Bentuk tes kognitif diantaranya.3 Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Kognitif Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan. (2) pilihan ganda.

mengkategorikan. sikap. Ditandai dengan kemampuan menghubungkan. emosi. Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek menjadi lebih rinci. motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya. situasi. minat. mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar. membedakan. yaitu: (1) receiving (2) responding (3)valuing (4) organization (5) characterization by evalue or calue complex Receiving atau attending (= menerima atua memperhatikan). memindahkan. menemukan. mengembangkan. Sintesis (C5). memperkirakan. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan. simbol pada situasi baru/nyata. menggunakan. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Penerapan (C3). Ciri-ciri. gejala dan lain-lain. dan mereka mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu.1. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan. yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat tentang teori. Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan. mengorganisasikan. penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya. memilih.2. sistem nilai. Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. menafsirkan. c. Contah . menginterprestasikan. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. e. mempertimbangkan dan menentukan. Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus. Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap sustu situasi. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka. mengklasifikasikan. Ditandai dengan kemampuan membandingkan. Receiving atau attenting juga sering di beri pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. menentukan. 1. menyusun. menyimpulkan. Evaluasi (C6). Ditandai dengan kemampuan menilai. mengkhususkan.1 Pengertian Ranah Penilaian Afektif Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Seperti: perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam. untuk dapat melukis jaring-jaring kubus setidaknya diperlukan pengetahuan (kognitif) tentang bentuk-bentuk jaring kubus dan cara-cara melukis garis-garis tegak lurus. menghasilkan. kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah. dan nilai. dan Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Afektif 2. metoda. menafsirkan. Contohnya siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang. menganalisis. menghubungkan. prinsip. 2.2 Pengertian Ranah Penilaian Afektif. persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. 1. mengubah struktur. Analisis (C4). mengalokasikan. Namun. menerapkan. adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah.

J Nitko (1983) dapat di gambarkan sebagai berikut: Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif. Responding (= menanggapi) mengandung arti ―adanya partisipasi aktif‖. Menghargai. Valuing adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Nilai itu mulai di camkan (internalized) dalam dirinya. termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain. Characterization by evalue or calue complex (=karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai). Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik. pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan ―itu adalah baik‖. peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena. artinya memper-temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal. Contoh nilai efektif jenjang organization adalah peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional yang telah dicanangkan oleh bapak presiden Soeharto pada peringatan hari kemerdekaan nasional tahun 1995. dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. sehingga membentu karakteristik ―pola hidup‖ tingkah lakunya menetap. Organization (=mengatur atau mengorganisasikan). Contoh hasil belajar afektif pada jenjang ini adalah siswa telah memiliki kebulatan sikap wujudnya peserta didik menjadikan perintah Allah SWT yang tertera di Al-Quran menyangkut disiplinan. dan Karakteristik suatu nilai. Valuing (menilai=menghargai). Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek . sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan jauh-jauh. Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Merespon. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi. maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Secara skematik kelima jenjang afektif sebagaimana telah di kemukakan dalam pembicaraan diatas. baik disekolah. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving. Mengorganisasi. menurut A. yaitu baik atau buruk. Contoh hasil belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang kuat pada diri peseta didik untuk berlaku disiplin. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar.hasil belajar afektif jenjang receiving . sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan. Contoh hasil belajar ranah afektif responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli lebih dalam lagi. dirumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat. karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. baik kedisiplinan sekolah. yang membawa pada perbaikan umum.. ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang mapan. dirumah maupun ditengah-tengan kehidupan masyarakat. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama. yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang. karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan). Menilai atau menghargai artinya mem-berikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek. konsisten dan dapat diramalkan. misalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan.

1. perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. minat. sedang kecemasan dimaknai negatif. Oleh sebab itu. Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. kondisi pembelajaran. 2. aktivitas. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif. melalui rentangan nilai tertentu. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. konsep diri. dan sebagainya. dan target. atau pembelajaran. atau ide sebagai arah dari perasaan. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. pernyataan-pernyataan yang diajukan. Oleh sebab itu. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Hasilnya berupa kategori sikap. maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu. atau orang. situasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. yakni mendukung (positif). pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori. . dan moral. tujuan yang ingin dicapai. afeksi. menolak (negatif). Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut. Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden. yakni kognisi. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah. dan konsistensi terhadap sesuatu. kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran. setuju. misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. nilai. matematika. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes. Dalam skala Likert. 1981:4). arah. dan konasi. ada beberapa kemungkinan target. Target mengacu pada objek. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama. Pertama. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau. yaitu sikap. sangat tidak setuju. pendidik. baik pernyataan positif maupun negatif. Sikap Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif. apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya. yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif. keteguhan. Kedua. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain.diantaranya skala sikap. Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek. situasi sosial. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. tidak setuju. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran.2. Ada tiga komponen sikap. dan netral.2 Ciri-ciri Ranah Penilaian Afektif Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen. perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas. konsep. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain. sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. dinilai oleh subjek dengan sangat setuju. tidak punya pendapat. Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya.

Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham. Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya. minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583).    mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. . Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. 1. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat. pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik. mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya. Arah konsep diri bisa positif atau negatif. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. misalnya bahasa Inggris. yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Konsep Diri Menurut Smith. Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. bahan pertimbangan menentukan program sekolah. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut:    Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik. Minat Menurut Getzel (1966). 1999). Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif. Penilaian minat dapat digunakan untuk:     mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran. Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran. Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik. Mengelompokkan didik yang memiliki peserta minat sama. Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai. arah. meningkatkan motivasi belajar peserta didik. konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus. o Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik. yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum. f. pemahaman. Target. aktivitas. menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas. dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi. 1.

Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7). aktivitas. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu. Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik. Misalnya menipu orang lain. Peserta didik dapat mencari materi sendiri. Moral Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. sikap. yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek. Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki. 1. atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. dan kepuasan. Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.o o o o o o o o o o o o o Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. sikap. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Peserta didik mampu menilai dirinya. Jadi moral berkaitan dengan prinsip. tindakan. Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain. Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan. Target nilai cenderung menjadi ide. membohongi orang lain. aktivitas. hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan. Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya. bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak. Peserta didik memahami kemampuan dirinya. Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik. 1. atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat. atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat. Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. dan kepuasan. Ranah afektif lain yang penting adalah: . target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. dan keyakinan seseorang. Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Nilai Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan. dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat. yaitu nilai adalah suatu objek. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi. sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. nilai.

Tabel Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Afektif Tingkat Penerimaan (Receiving) Contoh kegiatan pembelajaran Arti : Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan) terhadap fenomena/stimult menunjukkan perhatian terkontrol dan terseleksi Contoh kegiatan belajar : -sering mendengarkan musik . puas meresponsi (mendengar) Contoh kegiatan belajar : ü mentaati aturan ü mengerjakan tugas ü mengungkapkan perasaan ü menanggapi pendapat ü meminta maaf atas kesalahan ü mendamaikan orang yang bertengkar ü menunjukkan empati ü menulis puisi ü melakukan renungan ü melakukan introspeksi Arti : Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai. termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti Tingkatan : menerima.senang menyanyikan lagu Arti : menunjukkan perhatian aktif melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena setuju. Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai. lebih menyukai.senang mengerjakan soal matematik . misalnya moral dan artistik. Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang. ingin.ingin menonton sesuatu .senang membaca puisi . Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.    Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain. dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh Kegiatan Belajar : Responsi (Responding) Acuan Nilai ( Valuing) .

novel. Menerima (memperhatikan). gejala. mematuhi peraturan . karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: 1. meliputi kepekaan terhadap kondisi. kesadaran. atau barang antik menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran HAM menjelaskan alasan senang membaca novel Organisasi Arti : mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam suatu sistem menentukan saling hubungan antar nilai memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana memantapkan suatu nilaimyang dominan dan diterima di manamana Tingkatan : konseptualisasi suatu nilai. Merespon. Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif. merasa puas dalam merespon. mengarahkan perhatian 2. b) pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.       mengapresiasi seni menghargai peran menunjukkan perhatian menunjukkan alasan mengoleksi kaset lagu. kerelaan. organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar :         rajin. meliputi merespon secara diam-diam.2. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu: a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim. tepat waktu berdisiplin diri mandiri dalam bekerja secara independen objektif dalam memecahkan masalah mempertahankan pola hidup sehat menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan menyarankan pemecahan masalah HAM menilai kebiasaan konsumsi mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antarteman 2. bersedia merespon.3 Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Afektif Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar.

6 5 4 3 2 1 Contoh Skala Likert: Minat terhadap pelajaran sejarah 1. Pelajaran sejarah sulit 1. Pelajaran sejarah bermanfaat 1. mengutamakan suatu nilai. komitmen terhadap nilai 4. Skala Likert. Contohnya mengamati tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar berlangsung. meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya. Tidak semua harus belajar sejarah 1. Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah Skala Thurstone. Mengorganisasi. Sekolah saya menyenangkan SS S TS STS Keterangan: SS : Sangat setuju S : Setuju TS : Tidak setuju STS : Sangat tidak setuju Contoh Lembar Penilaian Diri Siswa Minat Membaca Nama Pembelajar:_____________________________ . meliputi mengkonseptualisasikan nilai.3. Contoh Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran sejarah 7 Saya senang balajar sejarah Pelajaran sejarah bermanfaat Pelajaran sejarah membosankan Dst…. mengorganisasi sistem suatu nilai Karakteristik suatu nilai. meliputi menerima suatu nilai. memahami hubungan abstrak. dan Skala Beda Semantik. Menghargai.

(1) peserta didik bertanya kepada guru pendidikan agama Islam tentang contoh-contoh kedisiplinan yang telah ditunjukkan oleh Rosulullah SAW. (6) peserta didik dapat memberikan contoh kedisiplinan di rumah. (3) peserta didik dapat memberikan penejelasan kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. saluran air. dan sebagainya. melukis.No 1 Deskripsi Saya lebih suka membaca dibandingkan dengan melakukan hal-hal lain Banyak yang dapat saya ambil hikmah dari buku yang saya baca Saya lebih banyak membaca untuk waktu luang saya Dst…………. (7) peserta didik dapat memberikan contoh kedisiplinan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. dan lain-lain. majalah-majalah atau brosur-brosur. (4) peserta didik menganjurkan kepada teman-teman sekolah atau adik-adiknya. tertib dan tenag dalam mengikuti pelajaran.1 Pengertian Ranah Penilaian Psikomotor Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. maka wujud nyata dari hasil psikomotor yang merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif afektif itu adalah. di siplin dalam mengikuti tata tertib yang telah ditentukan oleh sekolah. dan . di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat. para ulama dan lain-lain. tidak kebut-kebutan. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. dan lain-lain. ibadah puasa. seperti datang ke sekolah sebelum pelajaran di mulai. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik. surat kabar dan lain-lain yang membahas tentang kedisiplinan. pekarangan. agar berlaku disiplin baik di sekolah. baik di sekolah. atau kepada adik-adiknya di rumah atau kepada anggota masyarakat lainnya. di siplin dalam menjaga kebersihan rumah. memukul. para sahabat.3. seperti disiplin dalam belajar. tertib dalam mengenakan seragam sekolah. di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat. tentang kedisiplinan diterapkan. disiplin dalam mennjalannkan ibadah shalat. Ciri-ciri. seperti menaati ramburambu lalu lintas. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). misalnya lari.3 Pengertian Ranah Penilaian Psikomotorik. dan Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Psikomotorik 2. (2) peseta didik mencari dan membaca buku-buku. dengan suka rela mau antri waktu membeli karcis. Hasi belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif dengan materi kedisiplinan menurut agama Islam sebagaimana telah dikemukakan pada pembiraan terdahulu. melompat. (5) peserta didik dapat memberikan contoh-contoh kedisiplinan di sekolah.. Ya/Tidak 2 3 4 2. menari.

menampilkan ekspresi yang berbeda . memeluk. menggambar. mendrible bola ¨ melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan ¨ memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang . berlari. dan (8) peserta didik mengamalkan dengan konsekuen kedisiplinan dalam belajar. menggunting. · Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok.berjalan. juru parkir . kedisiplinan dalam menaati peraturan lalu lintas. Gerakan Persepsi Arti : Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu ( Perceptual kemampuan perseptual Contoh kegiatan belajar: obilities) ¨ menangkap bola. 2. respons terhadap stimulus tanpa sadar. · Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola.meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin II Gerakan dasar Arti: gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat Diperhalus (basic fundamental melalui praktik gerakan ini terpola dan dapat ditebak movements) Contoh kegiatan belajar:     · contoh gerakan tak berpindah: bergoyang. mendorong. Gerakan Refleks Deskripsi Arti: gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak. memukul. muluncur. merentang.lain-lain. Misalnya:melompat. Tabel Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Psikomotorik Tingkat I. dan sebagainya. menggambar dengan krayon. membungkuk. III. melompat dan lain sebagainya.2 Ciri-ciri Ranah Penilaian Psikomotor Ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. maju perlahanlahan.menunduk. berjalan. menggenggam. menulis. memegang Contoh kegiatan belajar: . memanjat. menarik.meniru gerakan polisi lalulintas.mengupas mangga dengan pisau .menggerakkan leher dan kepala. berputar · contoh gerakan berpindah: merangkak. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan aktivitas fisik.memotong dahan bunga . misalnya. meloncat-loncat. blok atau mainan.3. berputar mengitari. memegang dan melepas objek. kedisiplinan dalam beribadah.

Gerakan Kemampuan fisik (Psycal abilities) Arti: gerak lebih efisien. kaki dan perut menari melakukan senam melakukan gerakan pesenam. gerakan terampil Arti: dapat mengontrol berbagai tingkat gerak – terampil. pemain bola V. (Skilled movements) tangkas.ukurannya bervariasi ¨ membaca melihat terbangnya bola pingpong ¨ melihat gerakan pendulun menggambar simbol geometri ¨ menulis alfabet ¨ mengulangi pola gerak tarian ¨ memukul bola tenis. Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive Arti: mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah . pingpong ¨ membedakan bunyi beragam alat musik ¨ membedakan suara berbagai binatang ¨ mengulangi ritme lagu yang pernah didengar ¨ membedakan berbagai tekstur dengan meraba IV. berdansa membuat kerajinan tangan menggergaji mengetik bermain piano memanah skating melakukan gerak akrobatik melakukan koprol yang sulit VI. berkembang melalui kematangan dan belajar Contoh kegiatan belajar: menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu berlari jauh mengangkat beban menarik-mendorong melakukan push-up kegiatan memperkuat lengan. cekatan melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks) Contoh kegiatan belajar:           melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga menari. pemain biola.

(5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan. tes identifikasi. yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan. Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. 1) Tes simulasi Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini. Pengisian hasil observasi dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara bebas dalam bentuk uraian mengenai tingkah laku yang tampak untuk diobservasi. Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. partisipasi peserta didik dalam simulasi.3. dan produk. proses. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja. keterampilan. dan tes unjuk kerja. dan sikap. melukis. tes simulasi. (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Dengan kata lain. atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik. (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol.communicatio) gerakan kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran Contoh kegiatan belajar: v kerja seni yang bermutu (membuat patung. Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan. observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Observasi dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik. lalu dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. menari baletr v melakukan senam tingkat tinggi v bermain drama (acting) v keterampilan olahraga tingkat tinggi 2.3 Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Psikomotor Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Tes tersebut dapat berupa tes paper and pencil. kegiatan diskusi peserta didik. dan penggunaan alins ketika belajar. (3) kecepatan mengerjakan tugas. (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan. sehingga peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau . Pengamat terlebih dahulu harus menetapkan kisi-kisi tingkah laku apa yang hendak diobservasinya. baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (√) pada kolom jawaban hasil observasi. (2) sesudah mengikuti pembelajaran. Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati.

berperaga seolah-olah menggunakan suatu alat yang sebenarnya. siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus.dll) atau tanpa alat. diskriminasi kinestetik. Lembar observasi Beri Tanda (√) Nama Siswa Mengerjakan Tugas (OnTask) Tidak Mengerjakan Tugas (Off-Task) Catatan Guru Damar Ayu Dst…. sudut. Lembar observasi dapat menggunakan daftar cek (check-list) ataupun skala penilaian (rating scale). kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. kurang. menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar. Contohnya kemampuan psikomotor yang dibina dalam belajar matematika misalnya berkaitan dengan kemampuan mengukur (dengan satuan tertentu. garis. (4) keterampilan fisik. (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif. Pengukuran hasil belajar ranah psikomotor menggunakan tes unjuk kerja atau lembar tugas. bangun ruang. 2) Tes unjuk kerja (work sample) Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini. Dengan kata lain. (3) keterampilan perseptual. Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi (1) gerak refleks. dilakukan dengan sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah psikomotor. semuanya dapat diperoleh dengan observasi langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. (5) gerakan terampil. keterampilan perseptual yang terkoordinasi. . diskriminasi auditoris.. diskriminasi taktis. Kemampuan dalam melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari gerak tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat melukis. kurang. dan tidak baik. Tabel Instrumen (alat) Asesmen Kinerja (unjuk kerja) Berpidato dengan numerical Rating Scale Nama : ……………………………………………. (2) gerak dasar fundamen. Psikomotorik yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari sangat baik. Contoh lainnya. Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan. baik. diskriminasi visual. gerakan interprestatif. baik satuan baku maupun tidak baku). Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya Tes simulasi dan tes unjuk kerja. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah kognitif dan afektifnya.

Kelas : ……………………………………………. perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Petunjuk: Berilah skor untuk setiap aspek kinerja yang sesuai dengan ketentuan berikut: (4) bila aspek tersebut dilakukan dengan benar dan cepat (3) bila aspek tersebut dilakaukan dengan benar tapi lama (2) bila aspek tersebut dilakukan selesai tetapi salah (1) bila dilakukan tapi tidak selesai ( 0 = tidak ada usaha) No Aspek yang dinilai Skor 4 3 2 1 1. yaitu: (1) receiving (2) responding (3) valuing (4) organization (5) characterization by evalue or calue complex. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan. dan sebagainya. 3. perilaku harus tipikal perilaku seseorang. emosi. 1981:4). dan nilai. 3) Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Pertama. Kedua. 2) Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. minat. menari. menganalisis. melukis. 4. 4) Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan memahami. melompat. dan target. mensistesis dan kemampuan mengevaluasi 5) Ciri ranah penilaian afektif yaitu pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik. menghafal. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas. arah. Berdiri tegak menghadap penonton Mengubah ekspresi wjah sesuai dengan pernyataan Berbicara dengan kata-kata yang jelas Tidak mengulang-ulang pernyataan Berbicara cukup keras untuk didengar penonton PENUTUP 1) Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). 5. sikap. Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. misalnya lari. mengaplikasi. 2. misalnya cinta lebih kuat . memukul.

8) Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif. (4) keterampilan fisik. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama. Analisis (C4). mengaplikasi. (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif. dan sikap. dan Evaluasi (C6). diskriminasi auditoris. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif.dari senang atau suka. (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Menghargai. gerakan interprestatif . Target mengacu pada objek. menganalisis. termasuk di dalamnya kemampuan menghafal. yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan. atau ide sebagai arah dari perasaan. Sintesis (C5). rnemahami. diskriminasi taktis. Merespon. Penerapan (C3). keterampilan perseptual yang terkoordinasi. sedang kecemasan dimaknai negatif. diskriminasi kinestetik. Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi (1) gerak refleks. (5) gerakan terampil. 6) Ranah kogniti berhubungan erat dengan kemampuan berfikir. (2) sesudah mengikuti pembelajaran. (2) gerak dasar fundamen. diskriminasi visual. Pemahaman (C2). Mengorganisasi. 9) Hasil belajar keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui: (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung. aktivitas. keterampilan. (3) keterampilan perseptual. maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. mensintesis dan kemampuan mengevaluasi 7) Cakupan yang diukur dalam ranah Kognitif adalah: Ingatan (C1). Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan).