PENGERTIAN SYARIAT, FIKIH DAN HUKUM ISLAM 1.

Syariat Secara etimologis, kata syariat, (dalam bahasa Arab, aslinya, syarî‘ah/ ‫ )ةعيرش‬berasal dari kata syara‘a ( ‫ )عرش‬yang berarti jalan ke tempat keluarnya air untuk minum atau tempat lalu air di sungai. Dalam perkembangannya, kata syari‘ah digunakan orang Arab untuk konotasi jalan lurus ( ‫ةقيرطلا‬ .( ‫ال م س ت ق يمة‬ Dalam al-Qur`an kata syara`a, dalam berbagai bentuknya diungkapkan sebanyak lima kali, yaitu surat al-Maidah/ 5: 48, al-A`raf/ 7: 163; al-Syûra/ 42: 13 dan 21, dan dalam surat al-Jâtsiyah/ 45: 18. Kata syariat pada ayat-ayat tersebut mengandung arti jalan yang lurus dan jelas menuju kebahagiaan hidup. Pengertian ini menurut para ahli, identik dengan pengertian agama (al-din/ ‫ .) ال‬Karena hanya

agamalah yang dapat membimbing manusia kepada kebenaran hakiki untuk memperoleh kemenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Firman Allah dalam surat al-Jâtsiyah ayat 18. ‫ا‬ ‫ة‬

Artinya : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu. Dalam surat al- Syûra ayat 13 ditegaskan: ‫ال‬ ‫ال‬ ‫عل‬ ‫ا ي‬ ‫يم ا ال‬ ‫يس‬ ‫ا ي‬ ‫ي‬ ‫ي لي‬ ‫ي‬

Artinya : Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu; tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.

Kata syariat dalam ayat di atas, tampaknya, identik dengan agama, yang mengandung arti mengesakan Allah, mematuhi dan mengimani utusan-Nya, kitab-kitab-Nya, hari pembalasan, dan mentaati segala sesuatu (perintah dan, atau larangan Allah) yang membawa seseorang menjadi muslim dalam arti sesungguhnya.

Apabila dicermati arti syariat secara bahasa di atas, tampaknya terdapat keterkaitan kandungan makna antara syari‘at dengan air, seperti dijelaskan Amir Syarifuddin, bahwa orang yang mematuhi syariat, ia akan mengalir dan bersih jiwanya. Allah menjadikan air sebagai penyebab kehidupan lahiriah (fisik) sebagaimana Dia menjadikan syariat sebagai penyebab kehidupan jiwa (batiniah) manusia. Menurut istilah, Mannâ‘ al-Qatthân mengemukakan, bahwa syariat adalah: ‫الت‬ ‫دات ا خ الق ال م‬ ‫ال‬ ‫قئ‬ ‫ال‬ ‫ده‬ ‫ع هللا ل‬

Artinya : Segala ketentuan Allah yang disyariatkan bagi hamba-Nya baik menyangkut akidah, ibadah, akhlak maupun mu`amalah.

Defenisi di atas, tampaknya masih mengacu pada pengertian agama (al-dîn), dimana aspek-aspek pokok ajaran agama (Islam) dimasukkan ke dalam cakupan syariat. Muhammad ‗Alî al-Sâyis. Berdasarkan kesimpulannya terhadap pendapat para ulama, mengatakan bahwa syari‘at adalah: ‫ال ي ا خ ة‬ ‫س‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ا‬ ‫هللا ل ده لي‬ ‫الت‬ ‫ا‬

Artinya : Hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah agar manusia beriman dan beramal saleh, yang dapat membuat mereka bahagia di dunia dan di akhirat. Menurut al-Sâyis, pengertian syari‘at seperti ini mengandung tiga dimensi; salah satunya adalah dimensi hukum, yaitu meliputi tindakan-tindakan manusia, seperti ibadah, mu`amalah, hukuman dan lain sebagainya yang termasuk ke dalam kajian fikih. Pengertian inipun masih berorientasi pada pengertian agama. Sementara, menurut Mahmûd Syaltût, syariat adalah: ‫خي‬ ‫ل ح ية‬ ‫ال‬ ‫خي المس‬ ‫ال‬ ‫ل‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫س‬ ‫ل لي خ ا س‬ ‫هللا‬ ‫الت‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫س‬ ‫ا‬

Artinya : Ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah atau hasil penalaran atas dasar ketentuan tersebut, untuk dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan umat manusia, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan umat manusia; sesama muslim atau non muslim, maupun dengan alam sekitarnya.

Pengertian yang dikemukakan Syaltût ini dengan jelas telah memisahkan antara agama dengan syariat. Menurutnya, agama (Islam) terdiri dari dua ajaran pokok, yaitu akidah dan syariat, dimana syariah lebih dikhususkan pada persoalan amaliah. Lebih lanjut, masih menurut Syaltût, aspek akidah merupakan pondasi tempat tumbuh dan berkembangnya syariah. Sedangkan syariah adalah sesuatu yang harus tumbuh dari akidah itu.

Defenisi di atas juga menunjukkan, bahwa syariat --sebagai ketentuan yang mengatur persoalanpersoalan amaliah-- terdiri dari dua kategori; pertama, ketentuan-ketentuan hukum yang secara langsung ditetapkan oleh Syâri‘ (Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur`an dan Sunnah). Ketentuanketentuan tersebut bersifat abadi dan tidak berubah, karena tidak ada yang punya wewenang merubahnya kecuali Allah.

Kedua, ketentuan-ketentuan hukum hasil kajian para ulama mujtahid yang merujuk pada al-Qur`an dan Sunnah dengan menggunakan metode-metode istinbâth hukum seperti kias, mashlahah almursalah, istihsan, sadd al-dzarî‘ah ataupun metode ijtihad lainnya. Ketentuan-ketentuan hukum

Di beberapa tempat. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa awal Islam. hukum dan akhlak sebagai bagian yang dicakup oleh terminologi fikih. adalah bukti nyata di mana Abu Hanifah memasukkan persoalan-persoalan akidah. paling tidak ada empat hal yang membedakan istilah fikih. menurut Hasan. al-Fiqh al-Akbar. Berdasarkan defenisi di atas. melainkan khusus pada hukum-hukum syari‘ah yang berkaitan dengan perbuatan manusia. yaitu pemahaman. fiqh/ ‫ هـقف‬bermakna mengetahui sesuatu dan memahaminya dengan baik. dalam perkembangan berikutnya. berjalan sampai pada abad kedua Hijriah. tauhid. terminologi fikih mulai mengarah pada kedalaman intensitas keyakinan. Sebuah buku yang terkenal. Kendati demikian. istilah fikih belum memiliki arti khusus. fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat. dalam mengkaji fikih para mujtahid menggunakan metode-metode atau pendekatan tertentu. hukumhukum dan ajaran Islam lainnya. fikih adalah suatu ilmu. yaitu:  Pertama.kategori kedua ini tidak memiliki sifat keabadian dan bisa berubah-ubah dan amat dipengaruhi oleh keilmuan mujtahid yang bersangkutan serta lingkungan dan dinamika kultur masyarakat. kata fikih berasal dari bahasa Arab.). seperti kias. dimana terminologi fikih mencakup persoalan-persoalan teologis. sadd al-dzarî`ah. Akan tetapi. Fikih Secara lughawi (semantis). muatan terminologi fikih tidak lagi bersifat umum. 150 H. atau metode ijtihad lainnya. yang dinisbahkan pada Abu Hanifah (w. sudah jelas. imbauan al-Qur`an ‫ال‬ ‫( "ليت ق ا‬untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama) menunjukkan bahwa fikih tidak menegaskan suatu pengertian eksklusif tentang hukum. fikih memiliki tema pokok dengan kaidah-kaidah serta prinsip-prinsip khusus. akhlak dan hukum. sebagai salah satu disiplin ilmu keislaman. dengan selainnya. mashâlih al-mursalah. al-Qur`an menggunakan kata‖faqiha/ ‫ ‖ هـقف‬dalam berbagai bentuknya untuk pengertian yang umum. Secara istilah defenisi fikih yang dikemukakan oleh para ulama fikih (fuqahâ`) berkisar: ‫ي ية‬ ‫دلت الت‬ ‫ية ال م ية الم تس‬ ‫ال‬ ‫اال‬ Artinya : Ilmu tentang hukum-hukum syarak yang bersifat amaliah yang ditemukan dari dalil-dalilnya yang rinci.  Kedua. Penggunaan kata " ‫ب األح كام‬ "(tentang hukum-hukum syariat) menunjukkan bahwa kajian dan ruang lingkup fikih menyangkut ketentuan-ketentuan yang bersifat syar`i dan tidak mencakup persoalan-persoalan yang di luar . Karenanya. istihsan. 2. Keadaan seperti ini menurut kesimpulan Ahmad Hasan. Sebagai suatu ilmu. melainkan suatu pemahaman yang mendalam tentang agama (Islam) secara umum.

Artinya. tidak termasuk ke dalam kajian fikih. seperti hukum-hukum akal. Sementara fikih. akan tetapi keduanya memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. sari atau inti. fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syarak yang bersifat amaliah.pasti karena berasal dari kehendak Allah (sebagai Syâri‘ atau Pembuat syariat). Contoh. atau istinbâth (deduksi atau penyimpulan). satu adalah separoh dari dua. Karena. hanya Allah yang berhak menetapkan hukum syarak. Fikih bisa saja diubah dan dirombak sesuai dengan perbedaan tempat. Dalam . melainkan nisbi (relatif). pokok. Dari definisi fikih dan penjelasannya di atas dapat dipahami. ajaran yang ideal serta berlaku secara universal. atau perwujudan dan syariat. seperti masalah-masalah yang berkaitan dengan dasar-dasar iman (i`tiqâdiyyah) serta cabang-cabangnya. tidak termasuk ke dalam pengertian fikih. apakah haram. hukum-hukum fikih diambil atau digali dari sumbernya yaitu nash al-Qur`an atau hadis melalui proses istidlâl (pencarian hukum dengan dalil). Perbedaan itu dapat dilihat. Seperti ditegaskan Abu Zahrah.berbeda dengan syariat. dan. antara lain dari segi di mana syariat itu bersifat tetap dan --kebenaran serta keadilannya-. salah satu contoh. Begitu juga kebenaran dan keadilan fikih tidak bersifat pasti. karena hal ini secara langsung (tekstual) dapat ditemukan di dalam nash. atau kategori hukum lainnya.  Keempat. Sementara fikih. Pengetahuan tentang kewajiban shalat lima waktu. maksudnya adalah satuan-satuan dalil yang masing-masing menunjukkan kepada suatu hukum dari suatu perbuatan tertentu.hukum syarak. adalah cabang (furû). syariat bukan fikih. Dengan demikian. dan faktor-faktor lainnya ikut mempengaruhi bagaimana bentuk atau corak suatu fikih. Satu hal lagi. berdasarkan fakta sejarah pembentukan fikih. bahwa fikih --yang menurut Amir Syarifuddin adalah dugaan kuat yang dicapai oleh seorang mujtahid dalam usahanya menemukan hukum Allah-. Sifat fikih yang demikian disebabkan fikih adalah interpretasi terhadap hukum syarak. wajib.  Ketiga. dan tidak bisa diingkari. Meskipun demikian. hukumhukum non amaliah. Kata amaliah menunjukkan bahwa hukum-hukum fikih selalu berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan manusia baik dalam bentuk ibadah maupun mu`amalah. syariat adalah asal. perubahan waktu. Adapun kata tafshili. makruh. tidak termasuk ke dalam pengertian fikih menurut istilah. serta lingkungan dan dinamika kultur masyarakat di mana fikih itu diterapkan. fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syarak yang bersifat amaliah yang ditemulkan dari dalil-dalilnya yang tafshîlî. politik. tidak bersifat tetap. atau analisis (nazhar). bahwa faktor sosio kultural.

Begitu juga dalam literatur hukum Islam klasik. fikih adalah bagian dari syariat. fikih harus responsif terhadap persoalanpersoalan di sekitarnya. tujuan. Hal di atas adalah suatu keniscayaan sehingga fikih. Muhammad ‗Alî al-Sâyis mengatakan bahwa formulasi fikih tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh yang bersifat kultural. syarî‘ah atau syara‘. sebagai ajaran yang diyakini. tetapi ia sering mendapat kesulitan untuk menerangkannya kepada orang lain dalam bentuk sebuah defenisi yang tegas. Memang. yang sering dijumpai dalam literatur yang berbahasa Barat. al-Qur`an tidak pernah menggunakan kedua kata ini secara bergandengan. Konsekuensinya. tidak mudah untuk membicarakan istilah hukum jika ingin memulainya dengan sebuah defenisi yang memuaskan. pengamalan hukum-hukum fikih adalah bagian dari pengalaman syariat juga. dan karenanya. Dan. Dengan demikian. selalu up to date (cocok sepanjang zaman). sejauh yang penulis ketahui tidak pernah menggunakan kata hukum Islam. Untuk memudahkan dalam memahami istilah hukum Islam.biasanya adalah kata syarî‘ah al-Islâm. Dengan ungkapan lain. niat dan adat istiadat. situasi. seperti diutarakan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah.harus diterjemahkan dalam tataran praktis. . Dalam kaitan ini. menurut Hart (seorang pemerhati hukum dari Universitas Oxford) sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh perbedaan cara melihat hukum itu sendiri daripada perbedan pandangan tentang apa yang dimaksud hukum. lagi-lagi melalui fikih. dan. pengembangan syariat sangat tergantung pada fungsi dan pola fikih. terlebih dahulu harus dipahami apa pengertian hukum itu sendiri. Orang yang bergerak di bidang hukum. hukum syara‘. Para pakar hukum Islam menduga. bahwa istilah hukum Islam merupakan terjemahan Indonesia dari islamic law. Keragaman defenisi hukum tersebut. hanya bisa dibuktikan melalui fikih. perubahan dan perbedaan fatwa atau opini hukum dapat terjadi karena perbedaam waktu. masa berlakunya bersifat temporal sesuai dengan kebutuhan ruang dan zaman tertentu. wujud nyata atau dibumikan --meminjam istilah Quraish Shihab-. Konsep-konsep syariat yang ideal --dan untuk kategori hukum yang berhubungan dengan kategori kemasyarakatan umumnya bersifat global-. Berbagai ahli mengemukakan beragam defenisi tentang hukum sesuai dengan sudut pandang masing-masing. 3.dalam realitas sosial. tetapi bukan syariat itu sendiri. Akan tetapi. tempat. atau fikih. keduanya berasal dari bahasa Arab dan digunakan dalam al-Qur`an di beberapa tempat. lanjut Hart.kedudukannya sebagai cabang atau perwujudan dari syariat. Hukum Islam Kata hukum dan Islam. Ungkapan yang digunakan – yang mengandung konotasi hukum-. Syariat. sebagai perwujudan syariat memiliki adaptabilitas dengan dinamika kehidupan sosial yang setiap saat terus berubah dan berkembang. umumnya mengetahui hukum tersebut. Di sinilah letak pentingnya arti fikih bagi syariat.

Kedua. Dari sinilah terbentuk kata al-hukm ( . maka dapat dirumuskan bahwa hukum pada hakekatnya merupakan kaedah atau pegangan bagi manusia yang digunakan sebagai pembatas sikap. (3) keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (dalam pengadilan). Dari sejumlah defenisi tersebut. Jelasnya menurut pandangan ini. Pertama. Jika seseorang telah mematuhi hukum yang berlaku. (Itulah sebabnya mengapa seorang mukalaf yang bertindak menurut hukum (Islam) dalam segala macam . di mana suatu negara atau masyarakat tertentu menerima aturan-aturan tersebut. Bahkan melihat tuhan sebagai sumber hukum yang utama. yang penting disebutkan di sini adalah: (1) peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat.Secara leksikal. maupun terhadap sesama makhluk. Di antaranya.kehendak Allah. sebagaimana telah disinggung. berarti menolak kezaliman atau penganiayaan. yaitu: kumpulan aturan. dan. tidak hanya sesuatu yang berdiri sendiri. oleh Hazairin. kata hukum juga mengandung beberapa pengertian. baik sebagai hasil pengundangan formal maupun dari kebiasaan. serangkaian perhubungan tertentu yang timbul dalam. para ahli memberikan defenisi yang beragam tentang hukum. yang kedua. Adapun menurut istilah. dinamakan dengan paham kemasyarakatan. pemerintah.berasal dari bahasa Arab. atau berbuat sesuai dengan hukum. Yakni. menurut Hazairin. Yang disebut pertama. antara lain menolak. dapat dikelompokkan kepada dua pandangan. sebagaimana yang telah diutarakan sebelumnya. melainkan ada kaitannya –yang sangat erat—dengan Tuhan. dikukuhkan oleh penguasa. baik terhadap dirinya sendiri. dan dari masyarakat tertentu pula. maka orang tersebut akan menolak berbuat zalim atau aniaya. kata hukum --seperti disebutkan di atas-. vonis. dinamakannya dengan paham ketuhanan. terhadap sesama manusia. prilaku dalam melangsungkan hubungan dan kegiatan dengan sesama manusia lainnya dalam pergaulan hidup masyarakat. Dalam bahasa Indonesia. Apabila dihubungkan defenisi Muslehuddin ini dengan pengertian hukum secara bahasa di atas. pendapat yang mengatakan bahwa hukum hanyalah suatu segi dari penjelmaan hidup kemasyarakatan. Dengan kata lain. agaknya mendekati kedua paham (pandangan) di atas. atau otoritas. Defenisi hukum yang dikemukakan Muhammad Muslehuddin (cendikiawan muslim lulusan Fakultas Hukum Universitas London). (2) undang-undang. hukum adalah seperangkat peraturan hidup yang berpokok kepada hak dan kewajiban yang berlaku selama didukung oleh masyarakat itu. dan sebagainya.gnay ( ‫ال ح‬antara lain. yaitu hukm ( ‫ح‬ ). Bila hukum itu dihubungkan dengan hukum Islam atau hukum syara‘. pendapat yang mengatakan bahwa hukum bukanlah hanya suatu segi dari penjelmaan hidup masyarakat saja. peraturan. jamaknya ahkâm ( ‫ ) ا ح‬yang berarti. maka akan terbayang bahwa hukum Islam adalah hukum yang sesuai dengan --atau berdasarkan-. dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat.

Hasil pemahaman tersebut. Artinya. dalam penggunaan kata-kata hukum Islam --dikalangan umat Islam Indonesia-. Sedangkan kata ‖sesuai kebutuhan masyarakat‖ menunjukkan bahwa hukum Islam itu harus dinamis. ditegaskan Amir Syarifuddin-. disamping harus memiliki daya adaptabilitas dengan realitas kehidupan masyarakat. KONSEP MAZHAB DALAM ISLAM Terwujudnya berbagai mazhab-mazhab dalam Islam adalah untuk memberi kemudahan setiap insan muslim mengerjakan ibadat. fikih atau hukum Islam memiliki perbedaan yang cukup mendasar dengan syariat dalam pengertian teknis. Dengan demikian. ruang dan waktu serta kondisi-kondisi tertentu akan mempengaruhi corak hukum Islam. Untuk itu. dimana koleksi daya upaya fuqahâ` (fikih-fikih klasik). Dengan dasar pemikiran seperti di atas. hukum Islam dalam berbagai negara nasional tetap berasal dari sumber yang sama. hukum Islam adalah koleksi daya upaya fuqahâ (ahli hukum Islam) untuk menerapkan syariat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.adalah yang bernama fikih dalam literatur Islam yang berbahasa Arab. Manakala.t kurniakan kepada umatNya disebabkan situasi yang berbeza-beza yang tidak boleh disatukan seperti keadaan geografi dan sebagainya. bahwa yang dimaksud dengan hukum Islam --seperti. Akan tetapi. negara jiran indonesia mengamalkan syafi'f dan hanbali dan negara Barat pula kebanyakkannya mengamalkan mazhab Hanafi dan Hambali. . hukum Islam yang berlaku pada suatu negara nasional bisa saja berbeda dengan hukum Islam yang berlaku di negara nasional lain seperti perbedaan suatu mazhab dengan mazhab lain dalam pengertian fikih tradisional. sering diidentikkan dengan syariat dalam arti sempit.w. seperti ditegaskan Amir Syarifuddin. seperti telah dijelaskan. Kata ‖koleksi … syariat‖ dalam defenisi di atas menunjukkan. juga. lanjut Amir.tidak harus dilaksanakan secara kaku atau tekstual. yaitu syariat sebagai hukum Ilahi yang bertujuan menjaga lima hal seperti tersimpul dalam maqâshid al-syarî‘ah (tujuan hukum disyariatkan). dinamakan fikih. --untuk babbab tertentu-. Sebagai contoh. negara Malaysia mengamalkan mazhab Syafi'i.sering menimbulkan kebingungan. dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang al-Qur`an dan hadis (syariat) itu. seperti disinggung Hasbi dalam defenisi di atas. Menurut Hasbi. seperti halnya fikih. Sungguhpun begitu. Istilah hukum Islam. melainkan harus melalui transformasi. Ini adalah rahmat yang Allah s. maka pernyataan Hasbi Ash-Shiddieqy yang menyamakan fikih Islam dengan hukum Islam dapat diterima. Cuma saja.situasi dan kegiatan dianggap memenuhi kehendak Allah). Hukum Islam dalam konteks ini adalah hukum Islam (fikih) lokal. yang dituangkan dalam bentuk ketentuan rinci. sebagian besar kehendak Allah itu tersimpan di balik apa yang tertulis dalam al-Qur`an dan hadis Rasul-Nya (syariat). Padahal.

... perlu diambil perhatian bahawa jika kita ingin berpindah ke mazhab lain untuk melakukan ibadat atau mengerjakan satu-satu ibadat disyaratkan hendaklah dengan taqlid yang jazam (pasti). Hadis nabi s. Fiqh al-Mazahib HAKIKAT IBADAH Allah berfirman (yang artinya). 17 cetakan Dar Ibnu Hazm).w bermaksud : " Aku telah tinggalkan kepada kamu 2 perkara. maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur'an dan sunnahku " Rujukan: 1. Perlu diingat bahawa tidak pernah atau termaktub dalam sejarah dari dahulu sehinggalah sekarang di mana Imam Syafi'i atau mana-mana Imam lain memperkecilkan atau menyalahkan di antara satu sama lain bahkan mereka saling hormat menghormati pendapat masing-masing.. Di samping itu mereka juga terdiri dari ahli mujtahid dan ahli sunnah wal Jamaah.‖ (QS.. Apakah makna ibadah? Berikut ini kami nukilkan keterangan Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah di dalam Fath Al-Majid (hal..w.. Kita dilarang berpindah dari satu mazhab ke satu mazhab lain kerana ia boleh menyebabkan ibadat yang kita lakukan itu tidak sah.. Adz-Dzariyat : 56). Inilah yang menunjukkan kemudahan dan keindahan Islam kerana Islam itu mudah sebagaimana firman Allah s. Allah menciptakan kita untuk beribadah. Ini bermakna kita mesti mengetahui asas-asas hukum dengan dalil-dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadist) dan dalil-dalil 'aqli... Beliau memaparkan : ..dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. Fiqh al-Ghayah 2.. Pendapat yang mengatakan hanya mazhab yang kita ikuti sahaja yang betul itu adalah salah kerana imam-imam pengasas mazhab itu semuanya berilmu dan tafsiran mereka sememangnya mengikut Al-Qur'an.w.t yang bermaksud: " . ―Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.a. hadis dan sunnah Nabi s. sekiranya kamu berpegang dengan kedua-duanya.." (al-Hajj : 78) Walaubagaimanapun.Ini bertepatan sekali dengan maksud hadis : " Berbeza pendapat ulama' itu adalah satu rahmat ".a.

‖ Saya katakan (Syaikh Abdurrahman). makruh. Berbagai tugas/beban syari‘at yang diberikan kepada manusia (mukallaf) dinamai dengan ibadah. Adz-Dzariyat : 56). Sebab makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah ta‘ala yang mengandung puncak ketundukan. Allah pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. yang tampak maupun yang tersembunyi. Barangsiapa dapat menyempurnakan itu semua maka dia telah menyempurnakan tingkatan-tingkatan penghambaan (ubudiyah). ―Ibadah berporos pada lima belas patokan. Bahkan mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. ―Makna ayat tersebut. ―Makna asal dari ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan. perendahan diri. berupa ucapan maupun perbuatan.‖ Beliau juga menjelaskan. ucapan lisan. dan perbuatan anggota badan. Sedangkan hukum-hukum yang berlaku dalam kerangka ubudiyah itu terbagi lima : wajib. lisan. haram.Syaikhul Islam mengatakan. ―Ibadah adalah istilah yang meliputi segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Adz-Dzariyat : 56) adalah Allah ta‘ala memberitakan bahwa tidaklah Dia menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepadaNya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. ―Makna beribadah kepada-Nya yaitu menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Barangsiapa yang taat kepada-Nya akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. dan kepatuhan.‖ Al-Qurthubi mengatakan. Beliau (Ibnu Katsir) juga memaparkan tatkala menafsirkan ayat ini (QS. ―Itulah hikmah yang dikenal dengan nama hikmah syar‘iyah diniyah.‖ Ibnul Qayyim mengatakan. dan anggota badan. sesungguhnya Allah ta‘ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Keterangannya ialah sebagai berikut : Ibadah terbagi menjadi ibadah hati. dikarenakan mereka harus melaksanakannya dengan penuh ketundukan kepada Allah ta‘ala. Masing-masing hukum ini berlaku meliputi isi hati. Inilah hikmah penciptaan mereka. Makna ayat tersebut (QS. Itulah hakikat ajaran agama Islam. dan mubah.‖ Selesai ucapan Ibnu Katsir.‖ . mustahab/sunnah.‖ Al-‘Imad Ibnu Katsir mengatakan. ―Ibadah adalah melakukan ketaatan kepada Allah yaitu dengan melaksanakan perintah Allah yang disampaikan melalui lisan para rasul. Allah adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka.

" (HR. yang tunduk dan patuh kepada Rabb penguasa jagad raya. Di hadist lain Rasulullah bersabda.‖ (QS. "Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sungai air tawar yang mengalir didepan rumah siapa saja diantara kamu. bukan menjadi budak hawa nafsu dan ambisi-ambisi dunia. ―Maknanya adalah tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah agar mereka Ku-perintahkan beribadah kepada-Ku. Wa shallallahu ‗ala nabiyyina Muhammadin wa ‗ala alihi wa shahbihi wa sallam. Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya Dengan demikian orang yang benar-benar mengerti kehidupan adalah yang mengisi waktunya dengan berbagai macam bentuk ketaatan. ―Tafsiran ini didukung oleh makna firman Allah ta‘ala. Post : Yogyakarta.‖ Tafsiran serupa ini juga dipilih oleh Az-Zajjaj dan Syaikhul Islam. Walhamdulillahi Rabbil ‗alamin. Ibadah adalah tujuan hidup kita Kedua. dapat disimpulkan bahwa : Pertama. Sebab dengan cara itulah tujuan hidupnya akan terwujud. ―Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan begitu saja dalam keadaan sia-sia. baik dengan melaksanakan perintah maupun menjauhi larangan. Dia mandi di situ setiap hari . AlQiyamah : 36). ―(Apakah mereka Kubiarkan) Tanpa diperintah dan tanpa dilarang?!‖… Sampai di sini keterangan yang kami nukil dari Fath Al-Majid. permulaan bulan Dzulqa‘dah 1429 H PERUMPAMAAN SHALAT "Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali. ―Tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah untuk Aku perintah dan Aku larang. Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada kita untuk menjadi hambaNya yang sejati. Dengan memperhatikan keterangan beliau di atas. Asy-Syafi‘i menjelaskan tafsiran ‘sia-sia‘ yaitu.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu‘anhu mengatakan mengenai ayat ini.‖ Sedangkan Mujahid mengatakan. Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridhai dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah Ketiga. Beliau (Ibnu Katsir) mengatakan. Bukhari dan Muslim).

Nya. beliau bersabda. Firman Allah swt. . maksudnya: ―Dan Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (menyembah) kepada Ku‖. Tugas beribadah dan mengabdi diri kepada Allah dalam rangka melaksanakan segala aktiviti pengurusan bumi ini yang tidak terkeluar dari garis panduan yang datang dari Allah swt. "Shalat lima waktu itu dapat menghilangkan dosa sbagaimana air membersihkan kotoran." Kemudian. bermaksud: ―Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebaha-gian (yang lain) beberapa darjat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu‖. Tugas dan tanggungjawab manusia sebenarnya telah nyata dan begitu jelas sebagaimana terkandung di dalam al-Quran iaitu tugas melaksanakan ibadah mengabdikan diri kepada Allah dan tugas sebagai khalifah-Nya dalam makna mentadbir dan mengurus bumi ini mengikut undang-undang Allah dan peraturan. dan dikerjakan segala kegiatan pengurusan itu dengan perasaan ikhlas kerana mencari kebahagian dunia dan akhirat serta keredaan Allah. Apakah menurutmu hal itu akan meninggalkan kotoran pada badannya?" Para sahabat menjawab. (al-An‘aam: 165) Tugas sebagai khalifah Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta mengurusnya dengan peraturan dan undang-undang Allah. Tetapi penciptaan makhluk manusia di bumi ini adalah mempunyai suatu tujuan dan tugas risalah yang telah ditentu dan ditetapkan oleh Allah Tuhan yang menciptanya. "Tidak sedikitpun.lima kali." KONSEP IBADAH DALAM ISLAM Mukaddimah Hidup manusia dibumi ini bukanlah suatu kehidupan yang tidak mempunyai tujuan dan matlamat dan bukanlah mereka boleh melakukan sesuatu mengikut kehendak perasaan dan keinginan tanpa ada batas dan tanggungjawab. (Az-Zaariyaat: 56) Firman Allah swt.

menurut. Para Nabi dan Rasul merupakan hamba Allah yang terbaik dan sentiasa melaksanakan ibadah dengan penuh kesempurnaan di mana setiap arahan Tuhannya. taat. lebih seronok dari kemanisan iman yang lahir . tunduk. Firman Allah swt. Mereka menjadi contoh teladan yang paling baik kepada kita semua dalam setiap pekerjaan dan amalan sebagaimana yang dianjurkan oleh al-Quran itu sendiri. Perintah Allah dan Rasul-Nya ini hendaklah ditunaikan dengan perasaan penuh sedar. telah menyediakan garis panduan yang lurus dan tepat kepada manusia dalam rangka pengurusan ini. maksudnya: ―Sesungghnya bagi mu. kasih dan cinta kepada Allah.Allah swt. Ibadah dari segi bahasa bererti patuh. bukan kerana terpaksa atau kerana yang lain dari cintakan kepadaNya. menyembah dan memperhambakan diri kepada sesuatu. dan hati yang sihat dan sejahtera tidak merasa sesuatu yang lebih manis. lebih lazat. iaitu nama bagi sesuatu yang disukai dan kasihi oleh Allah swt. mengikut dan mengikat diri dengan sepenuhnya kepada segala perkara yang disyariatkan oleh Allah dan diserukan oleh para Rasul-Nya. (alAhzab: 21) Sesetengah ulama mengatakan bahawa perhambaan (ibadah) kepada Allah hendaklah disertai dengan perasaan cinta serta takut kepada Allah swt. Pengertian Ibadah Kalimat ibadah berasal daripada kalimat `abdun‘. mereka patuhi dengan penuh perasaan cinta dan kasih serta mengharap keredaan dari Tuhannya. Allah dengan rasa kasih sayang yang bersangatan kepada manusia diturunkannya para rasul dan bersamanya garis panduan yang diwahyukan dengan tujuan supaya manusia itu boleh mengurus diri mereka dengan pengurusan yang lebih sempurna dan bertujuan supaya manusia itu dapat hidup sejahtera dunia dan akhirat. Ibnu Taimiah pula memberi takrif Ibadah. sama ada ia berbentuk suruhan atau larangan. apa yang ada pada diri Rasulullah itu contoh yang paling baik‖. setia. Dari segi istilah agama Islam pula ialah tindakan.

Firman Allah swt. hendaklah mengikuti sunahnya sebagaimana firman Allah swt. maksudnya: ―Katakanlah (Muhammad) jika ibu bapa kamu.dosa kamu‖. anak-anak kamu. Dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang fasik‖. tidak kerana yang lain Kasihkan kepada Rasulullah saw. Allah akan turunkan keseksaan-Nya kepada manusia yang telah meyimpang dari ketentuan-Nya.dari pengabdian (ibadah) kepada Allah swt. dan rumahtangga yang kamu sukai itu lebih kamu kasihi daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad untuk agama Allah. Mereka mengasihi makhluk yang lain hanyalah kerana Allah semata-mata. maka tunggulah (kesiksaan yang akan didatangkan) oleh Allah. maksudnya: ―Katakanlah (wahai Muhammad) sekiranya kamu kasihkan Allah maka ikutilah aku (pengajaranku) nescaya Allah akan mengasihi kamu dan mengampunkan dosa. (At-Taubah: 24) Ruang lingkup Ibadah dan Hubunganya dengan kehidupan Sebgaimana yang dijelaskan di atas nyatalah ibadah itu itu bukanlah sesempit apa yang difahami oleh sebahagian dari kalangan manusia yang tidak dapat memahami kesempurnaan . saudara mara kamu. Dengan ini maka akan bertautlah hatinya kepada Allah dalam keadaan gemar dan reda terhadap setiap perintah serta mengharapkan supaya Allah menerima amalan yang dikerjakan dan merasa bimbang serta takut kalau-kalau amalan tidak sempurna dan tidak diterima oleh Allah seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya yang bermaksud: ―(Ia itu) Oran yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat‖. (Al-Imran: 31) Dan andainya kecintaan kamu kepada selain Allah dan Rasul-Nya itu mengatasi dan melebihi dari kencintaan dan kasih kepada yang lain. perniagaan yang kamu bimbangkan kerugiannya. kaum keluarga kamu. suami isteri kamu. pula kerana ia membawa Risalah Islam. harta benda yang kamu usahakan. sama ada dalam perkara yang ia suka atau yang ia tidak suka dan mereka mencintai dan mengasihi Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain-lainnya. (Qaf: 33) Orang yang memperhambakan dirinya (beribadah) kepada Allah mereka akan sentiasa patuh dan tunduk kepada kehendak dan arahan Tuhannya. cintakan kepada Rasulullah saw.

Islam itu sendiri di mana pada anggapan mereka Islam itu hanya suatu perbicaraan pasal akhirat (mati) dan melakukan beberapa jenis ibadah persendirian tidak lebih dari itu. mengajar dan membimbing orang yang jahil adalah ibadah. menolong orang yang teraniaya. tolong merengankan beban dan kesukaran hidup orang lain. memenuhi hajat keperluan orang lain adalah iabadah. Kefahaman seperti ini adalah akibat dari serangan fahaman Sekular yang telah berakar umbi ke dalam jiwa sebahagian dari kalangan orang-orang Islam. Ibadah dalam Islam meliputi semua urusan kehidupan yang mempunyai paduan yang erat dalam semua lapangan hidup dunia dan akhirat. menepati janji. puasa. tikar sembahyang. doa. amanah. Bercakap benar. seperti dikerjakan dengan ikhlas kerana Allah semata-mata bukan kerana mencari kepentingan dan mencari nama serta ada niat mengharapkan balasan dari manusia atau ingin mendapat pujian dan sanjungan dari manusia. Termasuk juga dalam makna ibadah ialah setiap perbuatan. memenuhi keperluannya. insya‘-Allah. di mana dunia merupakan tanaman atau ladang yang hasil serta keuntungannya akan dituai dan dinikmati pada hari akhirat kelak. Berdasarkan kepada konsep ibadah tersebut maka setiap perbuatan pertolongan baik kepada orang lain seperti membantu orang sakit. yang merangkumi semua bidang kehidupan dunia dan akhirat. surau. Dengan kata lain setiap amalan atau pekerjaan yang membawa manfaat kepada individu dan masyarakat selama ia tidak bercanggah dengan syarak jika sekiranya ia memenuhi syaratsyaratnya. membaca al-Quran. tahlil. taat kepada ibu bapa. perkataan manusia zahir dan batin yang disukai dan diredai oleh Allah swt. Islam mengajarkan kepada kita setiap apa juga amalan yang dilakukan oleh manusia ada nilai dan balasan sama ada pahala atau siksa. Begitu juga bila disebut ibadah apa yang tergambar hanyalah masjid. zikir dan sebagainya iaitu kefahaman sempit disekitar ibadah-ibadah khusus dan ritual sahaja tidak lebih dari itu. Inilah keindahan Islam yang disebut sebagai ad-Deen yang lengkap sebagai suatu sistem hidup yang boleh memberi kesejahteraan hidup penganutnya di dunia dan di akhirat. Islam adalah suatu cara hidup yang lengkap dan sempurna. maka amalan-amalan yang demikian akan mejadi ibadah yang diberi pahala di sisi Allah swt di akhirat kelak. tidak ada pemisahan antara kerja-kerja mencari kehidupan di muka bumi ini dan hubungannya dengan balasan akhirat. . berakata benar.

maka dengan ini dapatlah difahami iman itu bukanlah sekadar ucapan lidah dan keyakinan dalam hati sahaja tetapi amalan merupakan sebagai bukti kesempurnaan. memberi pertolongan kepada sesama manusia. Kesimpulannya ruanglingkup ibadah dalam Islam adalah terlalu terlalu luas yang merangkumi semua jenis amalan dan syiar Islam dari perkara yang sekecil-kecilnya seperti cara makan. Imam al-Ghazali menjelaskan dalam hubungan ini dengan katanya: ―Iman itu ialah akidah. membaca al-Quran semuanya itu juga adalah sebahagian dari ibadah. Hadis Rasulullah saw. Begitu juga termasuk dalam pengertian ibadah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. minum dan masuk ketandas hinggalah kerja-kerja menguruskan kewangan dan pentadbiran negara semuanya adalah dalam makna dan pengertian ibadah dalam ertikata yang luas apabila semuanya itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya dengan menurut adab dan peraturan serta memenuhi syarat-syaratnya. keteguhan dan kemantapan iman seseorang. dan kepada binatang. Dengan makna akidah itu sebagai membenarkan dan mepercayai dengan hati kepada segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. bersyukur menerima nikmat. menguatkan adanya hubungan yang sangat erat di antara iman dan amal. maksudnya: . Perkataan adalah sebagai ikrar dan pengakuan dengan lisan dan perbuatan adalah sebagai beramal melaksanakan segala perintah Allah dengan anggota (badan yang lahir). berjihad. sembahyang. reda terhadap qadha‘ dan qadar-Nya dan banyak lagi kegiatan dan tindakan manusia yang termasuk dalam bidang ibadah. dengan sabdanya sebagai berikut: Sabda Rasulullah saw. berdoa. sabar menerima ujian. Hubungan Iman dan Amal Iman bukanlah sekadar suatu keyakinan dan pembenaran dalam hati terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. (perkara yang mudah (dharuri) dari agama). pengucapan di lidah serta melaksanakan amalan dengan anggota badan iaitu melakukan amalan soleh. perkataan dan perbuatan‖. menyuruh perkara kebaikan dan mencegah segala kejahatan.Menuntut ilmu. puasa. melaksanakan hukum-hukum Allah. tetapi iman yang hakiki dan sebenar ialah merangkumi pembenaran dan keyakinan di dalam hati.

tidak riak. Ibadah Umum Ibadah khusus ialah semua amalan yang tercantum dalam bab al-Ibadaat yang utamanya ialah sembahyang. Ibadah Umum pula ialah segala amalan dan segala perbuatan manusia serta gerak-geri dalam kegiatan hidup mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut: 1) Amalan yang dikerjakan itu di akui oleh syarak dan sesuai dengan Islam. ujub dan um‘ah.Bukhari) Hadis ini menyatakan dengan jelas perbuatan membuang sampah sebagai sebahagian dari iman. yang paling tingginya La-Ilaaha-Illallaah dan dan yang paling rendahnya membuang sampah dari tengah jalan‖. ulamakulamak Islam membahagikan ibadah kepada dua bahagian sebagai berikut: 1. 4) Amalan itu hendaklah dikerjakan dengan sebaik-baiknya 5) Ketika mengerjakan amalan tersebut tidak lalai atau mengabaikan kewajipan ibadah khusus seperti sembahyang dan sebagainya. khianat dan sebagainya 3) Amalan tersebut dikerjakan dengan niat ikhlas semata-mata keranaAllah swt.R. Ini bermkna iman itu jelas bukan sekadar keyakinan dan kepercayaan dalam hati tetapi ia juga merangkumi amal atau perbuatan manusia. 2) Amalan tersebut tidak bercanggah dengan syariat. zakat dan haji. ( . Ibadah khusus 2. Firman Allah swt. tidak zalim. maksudnya: . Pembahagian Ibadah Untuk memudahkan bahasan dan perbincangan kita berhubung dengan ibadah ini.―Iman itu lebih dari enam puluh cabang. puasa.

dengan menyangka kita telah banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi pada hakikatnya tidak demikian. apa yang lebih penting lagi ialah kita membetulkan amalan batin iaitu amalan hati supaya betul iaitu niat dengan ikhlas. mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang‖. Kesimpulan secara mudah ialah seorang lelaki yang memakai pakaian untuk menutup aurat dari kain sutra. Ini kerana kita melakukan amalan dan kerja-kerja kebajikan itu tidak menepati dan tidak selari dengan ketentuan dan syarat-syarat ibadah dan amal soleh yang dikehandkki itu. . nampaklah kepada kita bahawa sesuatu amalan yang dikerjakan oleh seseorang begitu sukar sekali untuk mencapai kesempurnaan dalam makna ibadah dengan ertikata yang sebenar-benarnya mengikut syarat-syarat dan ketentuan tersebut di atas. oleh itu kita hendaklah bersungguh-sungguh dalam mengusahakan amalan kita supaya dapat mencapai matlamat ibadah yang sempurna dengan menyempurnakan segala syarat-syaratnya. ujub. amalan itu semata-mata kerana Allah tidak kerana yang lain dari-Nya. atau seorang menderma dengan tujuan supaya dipuji dan digelar sebagai dermawan atau seorang yang rajin bersembahyang dengan niat tujuan supaya digelar sebagai ahli ibadah oleh manusia. Dan kita juga hendaklah sentiasa menjaga keikhlasan hati kita ini dari penyakit-penyakit yang boleh merusakannya seperti riak. takabur dan sebagainya. Dan kita hendaklah sentiasa meneliti dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh agar kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri. kita takut akan tergolong ke dalam golongan manusia yang tertipu dan sia-sia amalan kita dan apa yang kita dapat hanyalah penat dan lelah.―Lelaki yang tidak dilalaikan mereka oleh perniagaan atau jual beli dari mengingati Allah. (An-Nur: 37) Amalan-Amalan yang Tidak Menjadi Ibadah Dilihat dari syarat-syarat di atas. dan perempuan yang berpakaian meliputi badannya tetapi masih menampakan susuk badannya masih lagi tidak dinamakan ibadah. itu semua tidak termasuk dalam makna ibadah yang diterima oleh Allah swt. sum‘ah. Dari itu disamping kita melaksanakan segala amalan zahir dengan sempurna mengikut petunjuk dari Rasulullah saw.

Allah. Maha Penyayang serta bersifat Maha Memberi kepada semua makhuk-Nya dan Dia tidak menyuruh kita mengerjakan sesuatu melainkan perkara itu mendatangkan kebaikan bagi makhluk itu sendiri. Dialah Tuhan Maha Pemurah. Maha Mulia. Yang Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mendapat sebarang faedah dari ketaatan orang yang menyembah-Nya dan tidak memberi mudarat sedikitpun dari keengganan orang yang menentang dan engkar kepada perintah-Nya.Dengan demikian jelaslah kepada kita segala amalan yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas itu tidak dikira sebagai ibadah. makhluk manusia ini terlalu kecil. serba kekurangan dan sentiasa berhajat dan memerlukan kepada-Nya. Ini kerana Allah Maha Kaya dan mempunyai segala-galanya kerana semua yang ada di alam ini menjadi milik-Nya belaka sedangkan kita manusia adalah satu dari makhluk Allah yang banyak itu. Begitu juga tidak menambahkan kuasa keagungan pemerintahan-Nya oleh puji-pujian orang yang memuji-Nya dan tidak mengurangi keagungan kekuasaan-Nya oleh keengkaran orangorang yang mengengkari perintah-Nya. Allah Yang Maha Pencipta dan juga kita telah mengetahui bahawa pengertian ibadah dalam Islam merangkumi semua bidang amalan dalam kehidupan manusia. maksudnya: . Firman Allah swt. Niat dan tujuan serta matlamat adalah sangat penting dalam sesuatu amalan di samping amalan tersebut tidak bercanggah serta diakui sah oleh syariat Islam. Dan di sini timbul pertanyaan kenapa kita mengabdi menyembah Allah dan apakah matlamat ibadah itu ? Apakah ada faedah untuk-Nya atau apa faedah yang boleh didapati oleh seseorang hamba yang menyembah-Nya ? Jawapannya ialah bahawa Allah swt. Matalamat dan Tujuan Ibadah Sebagaimana kita ketahui dan maklum bahawa pengutusan manusia ke dunia ini tidak lain melainkan untuk beribadah (memperhambakan diri) kepada al-Khaliq. hina dan miskin.

kelazatan ini akan timbul apabila adanya hubungan hamba dengan Tuhannya yang begitu erat dan di mana seorang hamba begitu gembira dan begitu senang memuji-muji kebesaran Allah swt. para sahabat. (Luqman: 12) Dari itu kita wajiblah mensyukuri segala nikmat dan kurniaan Allah swt. sebenarnya dia bersyukur dagi faedah dirinya sendiri dan sesiapa yang ingkar. maksudnya: ―Demi sesungguhnya Kami mengetahui bahawa engkau (Muhammad) bersusah hati dengan apa yang mereka katakan maka hendaklah engkau bertasbih memuji Tuhanmu serta jadilah dari golongan orang-orang yang sujud beribadah dan sembahlah Tuhanmu sehingga tiba kepadmu perkara yang tetap (iaitu mati)‖. (al-Hijr: 97-99) Begitu juga di waktu orang-orang mukmin mendapat kurnia ia bersyukur seterusnya memuji kepada Allah swt. ini semua berlaku dari sebab makrifat-nya (kenalnya) seseorang hamba itu kepada Tuhannya sehingga hamba itu merasa rindu apabila ia tidak dapat menghadap Tuhannya. maksudnya: . Firman Allah swt. begitulah besar dan banyaknya pemberian Allah kepada kita semua sebagai makhluk-Nya.―Sesungguhnya Kami telah kurniakan hikmat (ilmu pengetahuan) kepada Luqman supaya dia bersyukur kepada Allah dan sesiapa yang bersyukur. tabi‘in dan para solihin. B begitu juga apabila seorang hamba mengalami sedikit kesusahan tentulah ia akan mengadu ketempat yang dapat menerima pengaduan dan boleh menyelesaikan masalah dan kesusahannya. Kelazatan Bermunajat dan Mentaati Allah Kelazatan beribadah ini dapat digambarkan dari beberapa peristiwa yang berlaku kepada baginda Rasulullah saw. Firman Allah swt. kepada kita semua yang mana sekiranya kita hendak menghitugnya sudah tentu kita tidak mampu untuk berbuat demikian. sesungghnya Allah Maha Kaya lagi Terpuji‖. dan merasa gelisah kerana tidak dapat bertemu dengan yang dicintai dan dikasihinya. Tiada tempat yang layak untuk berbuat demikian melainkan kepada Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa.

kerana Allahlah yang boleh membebaskan hati nurani manusia dari perhambaan kepada sebarang makhluk dan memerdekakannya dari perhambaan dan kehinaan serta tunduk kepada yang lain dari Allah seperti tunduk kepada Tuhan-Tuhan palsu. (anNasr: 1-4) Ibadah Hanya Untuk Allah Pada hakikatnya pengabdian terhadap Allah swt. Tidak ada sesuatu pekerjaan yang paling mulia bagi manusia yang berakal selain dari beribadah menyembah Allah yang menciptanya dan menjadikan dirinya dengan sebaikbaiknya dan perkerjaan yang seburuk-buruknya kepada seorang manusia itu pula ialah menafi dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka menyembah dan mengabdikan diri mereka kepada Tuhan yang lain dari Allah swt. yang satu menyuruh hamba itu melakukan sesuatu yang ditegah oleh yang lain. manusia yang selalunya memperhamba dan mengongkong keyakinan manusia dengan sekuat-kuatnya miskipun pada lahirnya mereka bertindak seperti tuan yang bebas dan merdeka. maka alangkah susah dan deritanya hamba tersebu itu untuk melakukan perintah-perintah Tuhan yang saling bertentangan perintahnya antara satu Tuhan dengan Tuhan yang lain. Manakala seorang hamba yang dimiliki oleh beberapa orang tuan selalu bertelingkah antara sesama mereka. Seorang hamba abdi yang taat kepada tuannya tentulah akan merasa senang dan gembira kerana ia tahu apa yang disukai oleh tuannya lalu disempurnakannya suruhan itu dengan segala senang hati dan disempurnakan dengan sebaik-baiknya. jalan bagi mencapai kepada ketuannan yang sejati. Jika yang disembah itu bukan Allah Yang Maha Esa tentulah manusia akan meraba-raba meyembah bermacam-macam Tuhan dari setiap objek benda dan khayalan yang ada dalam pemikiran dan yang berada di sekeliling mereka. maka ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya. Perhambaan diri kepada Allah itu membebaskan manusia daripada perhambaan sesama makhluk kerana dalam hati manusia ada keperluan sejati kepada Allah. merupakan suatu kebebasan yang hakiki. kepada Tuhan yang disembah yang mana dia bergantung kepadanya dan berusaha serta bekerja untuk mencapai keredaan-Nya. berhala.―Bila datang pertolongan Allah dan kemenangan (pembukaan Makkah) dan engkau lihat manusia berduyun-duyun masuk agama Allah swt. . sesungguhnya Dia suka menerima taubat‖.

tidak ia memusuhi kecuali orang yang Allah memusuhinya. tidak ia memberi kecuali kerana Allah dan tidak ia melarang kecuali kerana Allah. Hati atau keyakinan manusia tidak akan terlepas dari perhambaan kepada makhluk kecuali mereka menjadikan Allah sebagai Tuhannya yang sebenar dan sejati. maka begitulah juga orang yang takabur menjadi musyrik (orang syirik). ataupun kepentingan dunia atau faedah-faedah dunia menjadi pendorong seseorang untuk melakukan printah ibadah kepada Allah swt. . dengan sempurna ubudiyahnya kepada Allah maka sempurnalah kesuciannya dari sifat syirik. Tidak merasa gembira melainkan dengan apa yang disukai dan diredai-Nya. berkata: ―Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kamu daripada perbuatan orang yang takabur yang tidak percaya hari Perhitungan‖. tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah. semakin besar kesyirikannya dengan Allah. Tidak ia benci melainkan apa yang dibenci oleh Allah. yang demikian mereka akan menjadi musyrik dengan sebab menjadikan dirinya hamba (menyembah) kepada selain dari Allah swt. (al-A‘raf: 27) Kajian menunjukan bahawa semakin besar keangkuhan seseorang yang enggan tunduk dan patuh beribadah (mengabdi diri) kepada Allah. Kerana menurut kebiasaannya semakin banyak takabur tidak mahu menyembah Allah semakin bertambahlah pergantungan manusia itu terhadap makhluk yang dicintainya yang menjadi pujaan utama bagi hatinya. Tidak Harus Kepentingan Dunia Dijadikan Tujuan Ibadah Sama sekali tidak sesuai dengan tujuan Islam yang suci di mana tujuan atau kepentingan dunia menjadi matlamat dalam amalan atau ibadah seseorang. tidak ia kasih melainkan kepada orang yang di kasihi oleh Allah. Semakin tulus keikhlasan seseorang itu kepada Allah maka semakin sempurnalah ubudiyahnya (perhambaanya) kepada Allah dan terlepas dari pergantungannya kepada sesama makhluk. demikianlah Allah meterikan setiap hati orang yang takabur lagi bermaharajalela‖. sebagaimana Firaun kerana kesombongan dan takaburnya. tiada tempat bergantung dan meminta pertolongan melainkan dari-Nya.sebabkan ia melakukan perbuatan syirik).Kalau orang yang menyembah selain dari Allah menjadi musyrik (kafir di. bermaksudnya: ―Nabi Musa as. sebagaimana firman Allah swt.

menghindarkan diri dari perasaan riak. (al-Hajj: 11) Begitulah keadaan orang yang beribadah dengan tujuan mendapatkan faedah-faedah dunyawi jika sampai dan berhasil tujuan dan kehendaknya bergembiralah dia dan kuatlah tujuannya tetapi lemahlah ibadahnya jika tujuannya tidak berhasil dia meninggalkan ibadah itu. Itulah kerugian yang amat nyata‖. Ia juga . dikerjakan mengikut peraturan dan syarat-syaratnya. Kesimpulan Sebagaimana yang telah kita faham sebelum ini runglingkup ibadah itu adalah terlalu luas sebagaimana yang telah dijelaskan iaitu ibadah merupakan semua kegiatan hidup manusia itu sendiri yang sesuai dengan syariat Islam yang suci dan murni itu. orang baik dan ingin disebut-sebut sebagai ahli ibadah oleh orang ramai dan juga suka berbangga dengan memberi tahu kepada orang lain akan amal kebajikannya. oleh itu bolehlah difaham ibadah dalam Islam bermula sejak dari adab-adab masuk ketandas mengerjakan qadha‘ hajat hinggalah sampai kepada bagaimana cara mengurus kewangan dan mentadbir negara. Kegiatan hidup manusia ini akan termasuk ke dalam makna ibadah yang diberi ganjaran dan pembalasan pahala baik di akhirat apabila ia menepati dengan kehendak syarak.‖Orang-orang yang beribadah dengan maksud yang demikian termasuk di bawah pengertian ayat al-Quran yang maksudnya: ―Sebahagian daripada manusia yang menyembah Allah secara tidak tetap. untuk mendapatkan kesucian jiwa dan dengan itu dapat mengembara ke alam arwah dan dapat melihat malaikat serta dapat melakukan sesuatu yang luar biasa. malah akan menjadi ibadah kepada Allah itu sebagai jalan menuju ke arah demikian yang mana pada akhirnya lebih hampir kepada meninggal ibadah. mendapat keramat (kemuliaan) dan ilmu ladunni. ingin dipuji dan terkenal sebagai orang yang rajin. bila mendapat kebaikan dia teruskan dan bila terkena kesusahan dia berpaling tadah. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. tidak menyeleweng dari kehendak dan ketentuan Allah swt.Begitu juga kalau tujuan beramal dan beribadah kepada Allah swt. tidak kerana yang lain dari-Nya. (menunjuk-nunjuk). Ia merupakan ramalan kepada ilmu atau perkara ghaib. disertai pula dengan niat yang betul dan ikhlas semata-mata dilakukan kerana mencari keredaan Allah swt. Semuanya ini disangkal oleh para ulamak dengan katanya: ―Yang demikian adalah terkeluar daripada jalan ibadah. tekun.

. tetapi ibadah merangkumi. puasa. haji dan sebagainya yang disebut sebagai ibadah khusus. mencari rezki. semuanya itu akan menjadi ibadah sekiranya ia dilakukan menurut cara dan kehendak Islam serta niat dari hati yang ikhlas semata-mata kerana Allah swt. sahinggalah kepada mengurus dan mentadbir negara. Oleh itu ibadah dalam Islam bukanlah terhad kepada amalan-amalan ibadah yang ritual semata-mata seperti sembahyang. Blog pada WordPress. | Theme: Andreas09 by Andreas Viklund. kerja-kerja kemasyarakatan dan sosial. Wallahu a‘lam.com.hendaklah menghindarkan diri dari merasa bangga kerana ia telah banyak berbuat kebajikan dan berbuat amal ibadah. zikir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful